Issuu on Google+

EDISI MARET-APRIL 2013-NO.272 TAHUN XXIX-WWW.BAHANAMAHASISWA.CO

UPT PPL , Tolong Kami BAHANA MAHASISWA

Edisi Maret-April Tahun 2013

1


DAFTAR ISI

COVER: Hidayat Sulaiman 0 3 REDAKSI YTH 0 4 SEKAPUR SIRIH 0 5 SEULAS PINANG 1 2 BEDAH BUKU 1 8 CERPEN 2 2 KOLOM 3 3 OPINI 3 4 KESEHATAN 3 5 KARIKATUR

LAPORAN UTAMA

ALUMNI

SIMPANG SIUR KEBIJAKAN 7 PRAKTIK MAHASISWA Menyibak kebijakan UPT PPL terkait penempatan sekolah, mengajar tak sesuai bidang serta kebijakan non teori saat PPL. - HAMZAH 10 DILEMA ANTARA DUA KEBIJAKAN Persoalan utama pada insentif untuk kepala sekolah dan guru pamong. Sempat ada wacana untuk menaikkan biaya pendaftaran, namun tak jadi - SURYADI

2 0 SEMUA KARENA ZAKY Terinspirasi untuk menolong anak berkebutuhan khusus karena putranya - HELDI SAPUTRA

SEMPENA 2 4 BELAJAR SAMBIL MELESTARIKAN TRADISI Mendalami pelajaran matematika melalui permainan tradisional - MUHAMMAD HASBI

KILAS BALIK GELAGAT 1 3 VESPA UNIK DIGGI Vespa dengan stang setinggi 2 meter. Walaupun berbahaya untuk keselamatannya, Diggi tetap setia mengendarainya - JEFFRI NOVRIZAL TORADE SIANTURI

KHASANAH 1 4 BEKOBA GENDANG KAYU LOSSO Tradisi bercerita dari pesisir dan pedalaman Sungai Rokan yang mulai ditinggalkan - REDHA ALFIAN

2 6 RUMAH MELAYU BEKAS MARKAS PERJUANGAN Sebuah rumah milik H. Yahya yang menjadi saksi bisu dalam memperjuangkan kemerdekaan Riau - SURYADI

BINCANG-BINCANG 2 8 RUU P2H: KRIMINALISASI MASYARAKAT ADAT Bincang-bincang dengan Efri Anto. Mencari tahu apakah RUU ini akan menambah atau mengurangi konflik? - AHLUL FADLI

ARTIKEL ILMIAH REPORTASE 1 6 MENGHARAP DUKUNGAN CIVITAS AKADEMIKA Saat kegiatan politik praktis masuk kampus, bagaimana civitas akademika menyikapinya - FENTA SETIA UTAMA 3 0 SEBONGKAH ASA PADA PRODI Usaha UR meningkatkan akreditasi. Masih butuh usaha keras. - JEFFRI NOVRIZAL TORADE SIANTURI

2

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

3 6 SEPEDA LISTRIK RAMAH LINGKUNGAN Ciptakan kendaraan ramah lingkungan dengan sumber energi listrik - HAMZAH

FEATURE 3 8 RUMAH SUSUN SEDERHANA BELUM DISEWA Tempat tinggal untuk mahasiswa UR. Masih belum jelas kapan bisa digunakan - HAMZAH


REDAKSI YTH

SAYA punya beberapa keluhan untuk FKIP terkait sarana dan prasarana. Pertama soal ruang gedung FKIP yang sudah dipasang tempat infokus. Sekarang tempat infokus itu tidak berfungsi sama sekali karena tidak ada infokusnya. Kenapa dulu dipasang Pak? Kedua soal kipas di beberapa ruangan kuliah yang tidak berfungsi. Ini sangat mengganggu perkuliahan. Ketiga soal bangku kuliah. Sering kali bangku kuliah di satu ruangan tak sesuai dengan jumlah mahasiswa. Mahasiswa sering tak kebagian kursi. Kami juga tak bisa lagi mengambil bangku dari ruangan sebelah karena sudah ada pengumuman tertulis bahwa kursi tak boleh dipindahkan. Tolong selesaikan masalah ini Pak karena saya ingin FKIP menjadi fakultas yang maju. Terima kasih. Arif Wahyudi Mahasiswa PLS FKIP UR Jawaban: Pihak fakultas sudah memenuhi bangku sesuai daya tampung ruangan.

Fadli BM

Demi Kemajuan FKIP

Ruang kuliah A5 untuk mahasiswa PLS. Tak tampak infokus pada tempat yang terbuat dari besi yang digantung di atap ruangan.

Jika ada ruangan yang kekurangan bangku, kemungkinan bangku sudah berpindah ke tempat lain dengan berbagai keperluan, seperti kegiatan himpunan mahasiswa atau ada mahasiswa yang mengulang sehingga ruangan melebihi kapasitas. Solusi yang dilakukan pihak fakultas dengan memberikan nomor tiap bangku sesuai ruangan. Untuk sementara infokus tidak

Kenapa Harus BNI? Assalamualaikum Wr. Wb., Yang terhormat Bapak Rektor UR. Semoga Bapak selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Ada satu yang ingin saya sampaikan mengenai beasiswa. Salah satu persyaratan beasiswa UR menggunakan tabungan Bank BNI. Saya sebagai angkatan 2011 merasa terbebani dengan persyaratan ini karena angkatan 2011 hanya punya rekening Bank BTN. Jadi apa gunanya rekening BTN? Apa hanya untuk KTM saja? Kenapa bukan rekening BTN yang digunakan saat pengurusan beasiswa? Jujur saya dan teman-teman merasa terbebani. Apalagi kebanyakan kami anak daerah, jadi untuk buka rekening BNI harus pulang kampung dulu baru bisa mengurus semuanya. Karena sangat banyak persyaratan yang diminta oleh pihak bank. Mohon penjelasannya Pak, terima kasih.

Wassalamu alaikum Wr. Wb. Putri Jonesti Hubungan Internasional FISIP ‘11 Jawaban: Pihak universitas tidak mempersulit proses pencairan beasiswa mahasiswa. Untuk mempermudah pencairan, sejak 2010 Bank BNI diberikan wewenang mengurus pencairan Beasiswa PPA dan BBM UR. Kenapa harus satu bank? Ini untuk permudah mendata mahasiswa yang menerima beasiswa secara profesional. Jika ada kendala seperti kesulitan buat rekening, pihak kemahasiswaan akan bantu, asalkan ada laporan langsung dari mahasiswa bersangkutan. Taufik Kepala Bagian Kemahasiswaan UR

diletakkan dalam ruangan belajar karena belum terpasang pintu terali besi sebagai sistem keamanan. Namun ini sudah masuk perencanaan. Jika ada sarana yang tidak bisa dipakai dan menghambat proses perkuliahan, harap melapor ke bagian perlengkapan agar segera diperbaiki. Drs. Jimmi Copriady, S.Pd, M.Pd Pembantu Dekan II FKIP UR

Pelayanan untuk Mahasiswa Mengecewakan SAYA ingin bertanya kepada Bapak/ Ibu, mengapa pelayanan di bagian kemahasiswaan Fakultas Pertanian sangat mengecewakan? Misalnya saat membuat berkas untuk syarat mengurus beasiswa, pegawainya sangat kasar melayani mahasiswa. Padahal sudah tugasnya sebagai pegawai untuk melayani mahasiswa. Terimakasih. Jusmi Sutrisna Agroteknologi Faperta’12 Jawaban: Terima kasih atas kritik dan masukan yang diberikan demi kemajuan Fakultas Pertanian. Agar pelayanan mahasiswa lebih baik, maka pimpinan Fakultas Pertanian Universitas Riau sudah melakukan rotasi pegawai pada Sub Bagian Kemahasiswaan. Prof. Usman Pato Dekan Faperta UR BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

3


SEKAPUR SIRIH STT: Surat Keputusan Menteri Penerangan RI No.1031/SK/Ditjen PPG/STT/1983. ISSN: 0215 -7667 Penerbit: Lembaga Pers Mahasiswa Bahana Mahasiswa UR. Penasehat: Prof. Dr Ashaluddin Jalil, M.S (Rektor Universitas Riau), Drs. Rahmat, MT (Pembantu Rektor III Universitas Riau). Pemimpin Umum: Lovina Pemimpin Redaksi/Perusahaan/ Bendahara: Nurul Fitria Sekretaris Umum: Suryadi

Istimewa

Litbang: Ahlul Fadli

Foto bersama sebelum Luviana kembali ke Jakarta usai mengikuti pemutaran film dan diskusi Di Balik Frekuensi di Gedung Sutan Balia FISIP UR.

Dapur Redaksi Bahana PADA 24 April lalu, kru Bahana, Herman dan Fenta Setia Utama hadiri pelucuran buku Dapur Media: Antologi Liputan Media di Indonesia. Salah satu penulisnya adalah Basil Triharyanto dari Yayasan Pantau. Buku ini bercerita bagaimana dapur redaksi media berhadapan dengan permasalahan independensi dan persaingan agar dapat bertahan di masyarakat. Beberapa kru Bahana juga terlibat dalam pemutaran film Di Balik Frekuensi. Film dokumenter tentang perjuangan wartawan Metro TV, Luviana untuk menuntut haknya bekerja namun akhirnya di-PHK. Film ini juga menceritakan pemberitaan media terkait korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Sidoarjo menuju Istana Negara. Semua ini terkait sikap media. Bagaimana media menyajikan informasi independen, tidak memihak pada salah satu kepentingan dan media dapat memperjuangkan hak-hak para pekerjanya. Begitu juga Bahana. Terus berusaha menyajikan informasi bermanfaat dengan tetap memper-

tahankan kekritisannya. Pembaca budiman, Majalah Bahana Mahasiswa kali ini menyajikan informasi seputar kampus dan beberapa liputan di luar kampus. Mulai dari kebijakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa FKIP yang tidak tepat sasaran. Akibatnya ilmu yang didapat tidak bisa direalisasikan pada tempat yang tepat. Tersaji juga reportase akreditasi tentang perjuangan Universitas Riau meningkatkan akreditasi dari C menjadi B melalui perbaikan dan program studi. Di rubrik Kilas Balik kami sajikan cerita situs sejarah di Pekanbaru, Rumah H. Yahya yang jadi markas tentara fisabilillah dalam memperjuangkan kemerdekaan. Ada pula cerita dosen berprestasi, Yenita Roza di rubrik Sempena. Ia menyederhanakan ilmu matemetika ke dalam permainan tradisional. Banyak lagi informasi yang kami sajikan kepada pembaca. Selamat membaca! #

Redaktur Pelaksana: Herman Redaktur: Suryadi, Hamzah Reporter: Fenta Setia Utama, Hamri Hompi, Jeffri Novrizal Torade Sianturi, Trinata Pardede Fotografer: Fenta Setia Utama Layout/Perwajahan: Hidayat Sulaiman Sirkulasi: Jeffri Novrizal Torade Sianturi Staf Iklan: Hamri Hompi Perpustakaan dan Dokumentasi: Trinata Pardede Alamat Redaksi/Tata Usaha/Iklan: Kampus Universitas Riau Jl. Pattimura No.9 Pekanbaru 28131 Telp.(0761) 47577 Dicetak pada: CV WITRA IRZANI. Isi di luar tanggung jawab percetakan.

Redaksi menerima tulisan berupa opini, kolom, artikel ilmiah asal karya orisinil. Redaksi berhak melakukan penyuntingan. Bagi tulisan yang tidak dimuat menjadi milik redaksi Email: bahanamahasiswa@yahoo.com Facebook: Bahana Riau Twitter: @Bahana_Riau

LEMBAGA PERS MAHASISWA BAHANA MAHASISWA

4

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

Website: www.bahanamahasiswa.co


SEULAS PINANG

PROGRAM Pengalaman Lapangan (PPL) menjadi wadah mahasiswa untuk mengenal lingkungan pendidikan melalui sistem administrasi sekolah, persiapan mengajar di kelas serta menghadapi murid. Bimbingan dosen dan guru di sekolah tentu bisa mengarahkan mahasiswa menjadi calon guru yang lebih kompeten. Namun apa jadinya bila mahasiswa mengajar tak sesuai ilmu yang dipelajari di kampus? Suardi, mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (PLS) merasakannya. Ia mengajar Pendidikan Jasmani di SMPN 1 Tapung. Sebagai mahasiswa PLS, harusnya ia mengajar di lembaga pendidikan non formal atau lembaga pemberdayaan masyarakat. Begitu pula yang dialami Zul Ifkar, mahasiswa Bimbingan Konseling. Ia mengajar Pendidikan Agama Islam di SMAN 10 Pekanbaru. Sementara ia tak menekuni mata pelajaran itu selama kuliah. Meski begitu, terpaksa juga ia mengajarkan apa yang ia ketahui saja. Seharusnya UPT PPL bisa menempatkan mahasiswa di sekolah yang tepat—sesuai bidang ilmu yang ditekuni mahasiswa. Ini sudah tertera jelas dalam buku panduan PPL, bahwa UPT PPL bertanggungjawab menentukan sekolah bagi praktikan—bagi mahasiswa PPL. Ini hanya satu keluhan. Masih ada keluhan lain yakni mahasiswa mencari sekolah sendiri untuk PPL. Padahal aturan menjelaskan bahwa mencari sekolah merupakan tanggung jawab UPT PPL. Peristiwa ini dialami Wahyu Ningsih dan Agus Sholehuddin, keduanya mahasiswa PLS. Sebelumnya mereka ditempatkan di SMAN 12 Pekanbaru, namun ditolak. Disarankan ke SMPN 10 Pekanbaru, juga ditolak dengan alasan sudah banyak mahasiswa PPL. “Sudah panas-panas, nggak dapet. Sangat memberatkan,” keluh Yuni, pang gilan akrab Wahyu Ningsih. Seharian ia mencari sendiri sekolah untuk PPL, namun tak dapat juga. Untung ia akhirnya diterima mengajar

Ilustrasi: Dayat

Solusi yang Tak Solutif

di Pondok Pesantren Daarul Qu’ran Kubang Raya. Itu pun karena rekomendasi temannya. Pihak UPT PPL membela diri. Jaiz, staf UPT mengatakan bahwa banyak mahasiswa yang sudah ditentukan tempat PPL-nya oleh UPT, namun ditolak oleh mahasiswa tersebut. “Alasannya jauh dari tempat tinggal,” kata Jaiz. Akhirnya Jaiz pun mengizinkan mahasiswa untuk mencari sendiri tempat PPL yang mereka inginkan, bila sudah dapat, lapor ke UPT PPL. Nursal, Kepala UPT PPL berjanji persoalan ini tak akan terulang pada PPL selanjutnya. “Malulah, seperti tidak ada yang mengurus,” ujarnya. Di tengah berbagai persoalan tersebut, PPL tetap berjalan. Lima bulan mahasiswa praktik mengajar di sekolah yang telah ditentukan, meski ada yang mengajar tak sesuai bidangnya. Namun persoalan tak selesai sampai di situ. Setelah PPL berakhir, ada lagi keluhan mahasiswa. Ada sekolah yang meminta mahasiswa PPL untuk memperbaiki lapangan basket. Ini terjadi di SMPN 8 Pekanbaru. Sulistiono, Jurusan Pendidikan Biologi yang PPL di sekolah tersebut menyatakan tak semua mahasiswa PPL yang setuju dengan kebijakan tersebut. Namun mereka terpaksa menerima karena sebagian besar setuju. “Saya hanya suruh mereka tinggal-

kan kenang-kenangan yang nampak di sekolah ini dari pada mereka berikan kado untuk guru-guru,” kata Desmi Erwinda, Kepala Sekolah SMPN 8 kala itu. Pihak fakultas tak mau ambil pusing. M Nur Mustafa, Dekan FKIP katakan belum ada laporan terkait hal tersebut. “Kalau ada, kita cari sekolah baru saja,” ujarnya enteng. Sebenarnya masalah utama yang dialami Sulistiono dan kawan-kawan ada pada dana. Mereka tentu harus ‘merogoh kocek’ lagi untuk membiayai perbaikan lapangan basket. Setelah dihitung-hitung, mahasiswa PPL di SMPN 8 harus menambah dana Rp 40 ribu per orang. Tak hanya dana terkait perbaikan infrastruktur, dana untuk insentif guru pamong dan kepala sekolah juga dikeluhkan mahasiswa PPL. Dana yang diang garkan untuk insentif guru pamong sebesar Rp 50 ribu per orang dan kepala sekolah Rp 10 ribu per orang dirasa tak sesuai dengan bimbingan yang telah mereka berikan. Pihak UPT PPL pun mengakui hal itu, buktinya ada saran dari pihak UPT untuk menggenapkan insentif menjadi Rp 200 ribu. Jika saran itu diterima, tentu mahasiswa PPL harus ‘merogoh kocek’ lagi di luar biaya pendaftaran PPL. Keresahan ini membuat pihak fakultas menggelar rapat mengenai PPL pada awal April lalu. Salah satu keputusan rapat yakni menaikkan biaya pendaftaran menjadi Rp 500 ribu per orang—awalnya Rp 300 ribu. “Dengan begitu mahasiswa tak perlu keluar uang lagi untuk bayar guru pamong,” kata Nursal, Kepala UPT PPL. Namun entah mengapa tiba-tiba kebijakan tersebut tak jadi dijalankan. Uang pendaftaran PPL tak jadi dinaikkan, tetap Rp 300 ribu. Alasan Dekan FKIP, M Nur Mustafa sederhana, tak ingin memberatkan mahasiswa. Lantas pertanyaannya, apakah dengan begitu sudah menyelesaikan masalah yang dikeluhkan mahasiswa PPL? # BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

5


6

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013


LAPORAN UTAMA

Simpang Siur Kebijakan Praktik Mengajar Oleh Hamzah

WAHYU Ningsih dan Agus Sholehuddin dari Program Studi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) FKIP UR kecewa dengan Unit Pelaksana Teknis Program Pengalaman Lapangan (UPT PPL). Saat kegiatan pembekalan PPL, mereka dinyatakan tak jebol untuk melaksanakan PPL di SMA Negeri 12 Pekanbaru. Alasannya karena sekolah tersebut sudah banyak menampung mahasiswa PPL. Pihak UPT sudah mencarikan sekolah lain untuk mereka, di SMP Negeri 10 Pekanbaru. Namun setelah datang ke sekolah tersebut, kekecewaan kembali diterima Yuni, panggilan akrab Wahyu Ningsih dan Agus. Mereka ditolak oleh pihak sekolah karena sudah banyak mahasiswa yang PPL di sana. Tak patah arang, Yuni dan Agus mengumpulkan teman lainnya yang juga belum dapat sekolah untuk PPL. Mereka sepakat mencari sendiri sekolah yang mau menerima mahasiswa PPL. Dicari ke sekolah-sekolah di daerah Sukajadi, tak diterima. ‘Lowongan’ penuh untuk PPL. Tak diterima di sekolah negeri, mereka beranjak ke sekolah swasta. Penolakan pun kembali diterima. “Sudah panas-panas, nggak dapet. Ini sangat memberatkan,” keluh Yuni. Beberapa hari kemudian Yuni mendapat informasi dari temannya kalau Pondok Pesantren Daarul Qur’an di Kubang Raya membutuhkan mahasiswa PPL. Ia dan Agus segera menuju ke pesantren Daarul Qur’an. Mereka diterima PPL di pesantren tersebut. Yuni kemudian menginformasikan ke lima teman lainnya yang masih belum dapat tempat PPL. Yang diberi tahu lima orang, yang datang ke Pondok Pesantren Daarul Qur’an sampai lima belas orang. Ini membuat pihak pesantren tak senang karena tak ada pemberitahuan se-

Menyibak kebijakan UPT PPL terkait penempatan sekolah, mengajar tak sesuai bidang, serta kebijakan non teori saat PPL. Meski simpang siur, kegiatan PPL tetap berjalan. Seolah semua baik-baik saja.

Istimewa Mahasiswa FKIP UR sedang melaksanakan PPL. Banyak persoalan terkait kebijakan yang dikeluhkan mahasiswa PPL semester ganjil 2012/2013

belumnya dari pihak kampus. “Bilang ya sama dosen kalian, jangan seperti ini lagi,” kata Yuni menirukan ucapan pihak pesantren. Meski begitu, mereka akhirnya diterima untuk mengajar PPL di sekolah tersebut. KEGIATAN PPL diwajibkan bagi seluruh mahasiswa FKIP UR dengan beban 4 SKS. Pada buku panduan untuk mahasiswa PPL tertulis tujuan khusus PPL tak lain agar mahasiswa kenal lingkungan fisik, administrasi, akademis serta sosial psikologi sekolah tempat PPL tersebut. Hasil praktik selama PPL akan disampaikan mahasiswa dalam bentuk laporan kegiatan. Tertulis beberapa syarat agar mahasiswa FKIP bisa ikut PPL. Lulus uji tampil pada mata kuliah PPL I atau telah mengikuti mata kuliah micro teaching dengan nilai minimal C. Wajib menyelesaikan 110 SKS bagi Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa serta 105 SKS bagi Jurusan Pendidikan

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Untuk pendaftaran, mahasiswa harus mengambil formulir di UPT PPL, melengkapi persyaratan, dan menyerahkannya ke UPT sekaligus membayar uang pendaftaran. Setelah itu, mahasiswa akan mengikuti pembekalan. UPT PPL memberikan pembekalan kegiatan PPL, seperti observasi dan keterampilan dasar pembelajaran. Setelah pembekalan, mahasiswa PPL akan diberitahu di sekolah mana mereka ditempatkan. Dosen pembimbing dari masing-masing prodi juga akan diumumkan. Selanjutnya proses administrasi berupa pengiriman surat pengantar ke sekolah yang dituju. Surat ini berisi pemberitahuan dari pihak UPT PPL disertai nama mahasiswa yang akan PPL di sekolah tersebut. Sekolah memberikan surat jawaban. Jika sekolah menerima, surat jawaban disertai nama guru pamong BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

7


LAPORAN UTAMA Pengumuman tentang PPL di ruang UPT PPL FKIP UR. Pengumuman ini disosialisasikan oleh pihak UPT sebelum PPL semester ganjil dilaksanakan.

Fadli BM

untuk mahasiswa PPL. Guru pamong direkomendasikan oleh kepala sekolah. Barulah kemudian diadakan penyerahan mahasiswa dari pihak UPT PPL ke sekolah. Mahasiswa akan melaksanakan PPL selama lima bulan. UPT PPL adalah lembaga yang menangani segala kebutuhan mahasiswa FKIP untuk melaksanakan PPL. Lembaga ini bertanggung jawab kepada Dekan FKIP. Dalam buku panduan untuk mahasiswa PPL dinyatakan, penentuan sekolah praktikan (mahasiswa PPL) merupakan tanggung jawab UPT PPL. Hal tersebut dipertegas oleh Zul Irfan, Pembantu Dekan I FKIP UR. “Mencari sekolah adalah kewajiban UPT PPL.” Namun kenyataannya, Wahyu Ningsih dan Agus Sholehuddin harus mencari sendiri sekolah untuk tempat PPL mereka. Tak hanya mereka, Imam mahasiswa PLS dan Firman mahasiswa Prodi Bimbingan Konseling (BK), juga mencari sendiri sekolah untuk PPL. Imam dan Firman cerita bahwa mereka diberi pilihan oleh pihak UPT PPL, mau mencari sekolah sendiri atau dicarikan oleh UPT. Mereka sepakat mencari sekolah sendiri. Firman PPL di SMP Negeri 7 Pekanbaru. Sedangkan Imam PPL di SMP Al Isla Pekanbaru dan mengajar mata pelajaran IPS.

8

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

Jaiz, pegawai UPT PPL yang bertugas mencarikan sekolah untuk mahasiswa membenarkan adanya mahasiswa yang mencari sekolah sendiri. “Banyak mahasiswa sudah diberi tempat PPL, tapi mereka menolak,” ujar Jaiz. Menurutnya mahasiswa banyak beralasan tempat PPL yang dicarikan pihak UPT cukup jauh dari tempat tinggal. “Kalau sekolahnya jauh membuat mahasiswa kesulitan menuju ke sana,” terang Agus, mahasiswa PLS. Nursal, Kepala UPT PPL berjanji kejadian mencari sekolah sendiri tak akan terulang pada PPL berikutnya. “Malulah, seperti tidak ada yang mengurus,” katanya. “SAYA ditanya bisa mengajar apa, saya pilih Pendidikan Jasmani karena hanya itu yang saya bisa,” kata Suardi, mahasiswa PLS angkatan 2009. Suardi tak pernah mempelajari materi Penjas saat kuliah, sehingga ia harus mengandalkan pengalaman untuk bisa mengajar Penjas kepada anak-anak di SMP Negeri 1 Tapung Kabupaten Kampar. Imam, juga mahasiswa PLS, merasakan hal yang sama dengan Suardi. Ia harus mengajar mata pelajaran IPS di SMP Al Isla Pekanbaru walau tak sesuai dengan bidang ilmu PLS yang

dipelajarinya di bangku kuliah. “Agak susah karena beda jalur. Kami dididik di bidang non formal tapi harus mengajar di sekolah formal,” keluh Tri Handoko, mahasiswa PLS lainnya. Tri melakukan PPL di SMP Negeri 10 Tapung, mengajar komputer. Aswandi Bahar, Ketua Prodi PLS menyatakan harusnya mahasiswa PLS mengajar di lembaga pendidikan non formal, sesuai bidang ilmunya. “Mereka tidak ada mata kuliah micro teaching, seperti yang disyaratkan untuk PPL di sekolah formal,” katanya. Namun karena fakultas mewajibkan semua mahasiswa Jurusan Keguruan maupun Ilmu Pendidikan untuk PPL di sekolah formal, maka mahasiswa jurusan Ilmu Pendidikan—di antaranya Prodi PLS dan BK—harus bersedia mengajar di sekolah formal meski tak sesuai bidang ilmunya. Di sisi lain, Aswandi Bahar melihat ada nilai positif bila mahasiswa PLS diharuskan mengajar di sekolah formal. “Secara logika memang tak tepat, tapi ini harus dilakukan,” katanya. Menurutnya, bila tak ada sertifikat PPL, mahasiswa yang sudah lulus dari FKIP tak akan diterima mengajar di sekolah formal. Sertifikat PPL hanya bisa didapat usai melaksanakan kegiatan PPL di sekolah formal.


LAPORAN UTAMA Untuk Prodi BK, Sardi Yusuf mengatakan mata kuliah micro teaching sudah diganti dengan Psikologi dan Bimbingan. Karena itu, mahasiswa BK bisa tetap mengikuti PPL Keguruan di sekolah formal. “Ada tercantum dalam kurikulum Prodi BK tahun 2008 tentang kegiatan PPL Keguruan. Bebannya 4 SKS,” kata Sardi Yusuf, Ketua Prodi BK. Meski begitu, Bahana masih menemukan mahasiswa Prodi BK yang mengajar di luar bidang ilmunya. Ia dialami Zul Ifkar yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 10 Pekanbaru. PERDEBATAN lain terkait PPL yakni soal kebijakan non teori saat mengambil mata kuliah PPL. Misalnya, mahasiswa yang sedang PPL tidak boleh mengambil mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (Kukerta). Ia dinilai bisa mengganggu kegiatan PPL karena Kukerta mewajibkan mahasiswa berada di suatu daerah selama dua bulan. Selain Kukerta, mahasiswa yang sedang PPL juga tidak dibolehkan mengambil mata kuliah lain yang bersifat tatap muka di kampus. Mahasiswa hanya boleh mengambil mata kuliah seminar, penulisan skripsi atau tugas akhir. “Agar mahasiswa bisa lebih fokus PPL,” kata Nursal, Ketua UPT PPL. Meski kebijakan tersebut sudah

baku, masih ada beberapa prodi yang melanggar. Seperti Prodi PLS. Aswandi Bahar, Ketua Prodi PLS menyatakan mahasiswa PLS diperbolehkan mengambil mata kuliah teori selama PPL asal tidak mengganggu jadwal mengajar di sekolah. “Saya menentang aturan non teori saat PPL itu ketika rapat,” katanya. Menurutnya, tidak logis ketika mahasiswa harus membayar uang semester yang sudah ditetapkan setiap semesternya, namun hanya bisa mengambil 4 SKS PPL. “Itu mubazir. Toh ketika mahasiswa mengajar pagi, mereka bisa kuliah sore,” jelasnya. Sardi Yusuf, Ketua Prodi BK sepakat dengan Aswandi Bahar. “Aturan di Prodi kami mahasiswa BK boleh mengambil teori selama PPL, asal tidak mengganggu,” katanya. Hal tersebut tertuang dalam Kurikulum BK. Firman, mahasiswa BK mengambil 12 SKS saat melaksanakan PPL. 4 SKS PPL, sisanya mata kuliah teori. Wan Syafi’i, mantan Pembantu Dekan I sebelum Zul Irfan menyatakan semasa jabatannya, mahasiswa dilarang untuk mengambil mata kuliah teori saat PPL. “Jika tetap diambil, nilainya tak akan keluar,” katanya. SELASA, 9 April pukul 10 Dekan FKIP M. Nur Mustafa menggelar rapat terkait persoalan PPL. Turut hadir

Pembantu Dekan I, Ketua Program Studi serta Jurusan se-FKIP. Rapat membahas soal Jurusan Ilmu Pendidikan yang harus melakukan PPL Keguruan, mengajar di sekolah formal. Hasil rapat memutuskan, kurikulum Jurusan Ilmu Pendidikan, khususnya PLS dan BK akan direvisi. “Mereka memang tidak dididik untuk mengajar di sekolah formal,” kata Nur Mustafa. Zul Irfan menambahkan bahwa akan ada peninjauan ulang terkait kriteria guru BK dan PLS. “Tahun 2013 ini menjadi momentum penting bagi FKIP untuk merekonstruksi kembali kurikulum di semua prodi dan jurusan,” katanya. Ini terkait rencana perubahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menjadi Kurikulum 2013. Zul Irfan berharap tahun 2014 kurikulum baru telah selesai dan bisa dipakai. Meski begitu, Prodi PLS sudah mulai menyusun kurikulum baru tersebut. Aswandi Bahar menambahkan mata kuliah micro teaching— salah satu syarat untuk bisa PPL di sekolah formal—dengan beban 2 SKS untuk mahasiswa semester enam. Dengan begitu, mahasiswa PLS bisa mengajar di sekolah formal meski tak sesuai bidang ilmunya. #

Kantor UPT PPL berada di dalam Gedung Micro Teaching. Kantor ini merupakan tempat pendaftaran mahasiswa PPL UR

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

9


LAPORAN UTAMA

Dilema Antara Dua Kebijakan LIMA puluhan mahasiswa berbagai program studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau (FKIP UR) masuk ke ruang micro teaching. Awal September lalu, Unit Pelaksana Teknis Program Pengalaman Lapangan (UPT PPL) melakukan pembekalan untuk mahasiswa yang melaksanakan PPL. Sebelum dimulai, UPT membagikan sebuah buku bersampul hijau dengan gambar gedung FKIP di bagian depan. Ini buku panduan untuk mahasiswa PPL. Buku ini berisi landasan, tugas dan peraturan terkait PPL. Tercantum pula format laporan yang harus diserahkan usai PPL. Sebenarnya buku dengan tebal 91 halaman ini tak dibagikan gratis. Mahasiswa sudah membayar Rp 300 ribu saat mendaftar PPL, termasuk untuk biaya buku panduan. Hanya tak ada rinciannya dalam kuitansi bukti pembayaran. Selain buku, mahasiswa juga mendapat lima lembar kertas blanko penilaian PPL. Tak ada mahasiswa PPL yang tahu detail peruntukan uang Rp 300 ribu yang dibayarkan ke UPT PPL. Setelah membayar, mahasiswa hanya diberikan selembar kuitansi berbentuk persegi berukuran 12 sentimeter. Tulisannya tanda terima untuk pembayaran PPL senilai Rp 300 ribu. Tertera pula nama, NIM dan Prodi mahasiswa bersangkutan. “Rincian dana ini memang tak diinformasikan ke mahasiswa yang daftar PPL,” kata Nursal, Ketua UPT PPL. Sebagian mahasiswa mempertanyakan transparansi dana ini. Ditambah lagi saat PPL akan berakhir, mahasiswa mendapat kabar bahwa guru pamong—guru pembimbing di sekolah tempat mahasiswa melaksanakan PPL—dan kepala sekolah wajib diberi insentif (uang lelah) oleh mahasiswa PPL. Kabar itu benar adanya. Setiap

10

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

Persoalan utama pada insentif untuk kepala sekolah dan guru pamong. Untuk mengatasinya, sempat ada wacana menaikkan biaya PPL, namun tak jadi dengan alasan tak mau memberatkan mahasiswa.

Suryadi BM

Oleh Suryadi

Dekan FKIP UR M. Nur Mustafa, pengambil kebijakan tertinggi PPL

mahasiswa yang sudah selesai PPL memang harus memberikan insentif untuk guru pamong dan kepala sekolah. Nursal menjelaskan bahwa biaya insentif tersebut sudah termasuk di dalam anggaran Rp 300 ribu yang dibayar mahasiswa saat mendaftar PPL. Jadi, ketika mahasiswa hendak memberikan insentif, mereka harus minta lagi dana dari UPT PPL sebesar peruntukan guru pamong dan kepala sekolah. Ditemui kru Bahana di ruangannya, Nursal menjelaskan rincian dana Rp 300 ribu tersebut. Untuk dosen pembimbing Rp 100 ribu, guru pamong Rp 50 ribu, kepala sekolah Rp 10 ribu, pembuatan buku panduan Rp 20 ribu, sertifikat mahasiswa PPL Rp 10 ribu, blanko penilaian Rp 5 ribu. Sisanya untuk uang pengelolaan dan pengurusan mahasiswa PPL. MASALAH uang kembali mencuat saat UPT PPL menyarankan agar mahasiswa memberikan insentif kepada kepala sekolah sebesar Rp 200 ribu. Persoalan timbul saat mahasiswa yang PPL di sekolah tersebut tak sampai 20 orang. Logikanya, dengan biaya insentif

untuk kepala sekolah hanya Rp 10 ribu per orang, otomatis mahasiswa tersebut harus menambah uang lagi untuk memberikan insentif pada kepala sekolah. Tak hanya kepala sekolah, hal serupa juga terjadi pada pembayaran insentif untuk guru pamong. Dengan anggaran dari UPT PPL sebesar Rp 50 ribu per mahasiswa, tak jadi soal bila satu guru pamong menangani 4-6 mahasiswa PPL. Namun bagaimana bila satu guru pamong hanya menangani satu mahasiswa PPL? “Tak mungkin lah pamong cuma dikasih Rp 50 ribu, setidaknya genapilah Rp 200 ribu,” kata Jaiz, staf UPT PPL. Seperti yang dialami Gusheri, mahasiswa FKIP Matematika angkatan 2009. Ia PPL di SMK Muhammadiyah 2 Pekanbaru dan diberi satu guru pamong. Dana untuk memberikan insentif sebesar Rp 50 ribu. “Sedangkan pihak UPT bilang minimal Rp 200 ribu,” ujarnya. Gusheri pun cari cara supaya guru pamong tidak kecewa karena hanya dibayar Rp 50 ribu setelah lima bulan mereka dididik di sekolah. Akhirnya Gusheri memberikan guru pamong-


LAPORAN UTAMA nya tiga meter kain seharga Rp 95 ribu. “Jadi diberikan dalam bentuk barang saja,” katanya. Dana insentif untuk kepala sekolah maupun guru pamong yang dinilai kecil oleh sebagian besar mahasiswa membuat sebagian dari mereka tak mau mengambil dana tersebut dari UPT PPL. Hal tersebut dibenarkan Zuhdi, Sekretaris UPT PPL. Ia memperkirakan masih ada 10 persen lagi mahasiswa yang PPL pada semester ganjil belum mengambil uang untuk insentif kepala sekolah maupun guru pamong. “Ada 110 sekolah yang jadi tempat PPL mahasiswa, yang ambil uang baru 89 sekolah,” jelas Zuhdi. Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa yang tidak mengambil dana insentif tak akan dikeluarkan sertifikat PPL-nya. “Kita belum bisa mengatasi persoalan kecilnya dana insentif itu. Karena anggarannya memang segitu,” kata M. Nur Mustafa, Dekan FKIP. Nursal selaku Kepala UPT PPL pun tak bisa berbuat banyak. “Kalau mereka tega bayar segitu ya silahkan. Kami hanya menyarankan, tak ada kewajiban untuk menggenapinya menjadi Rp 200 ribu,” ujarnya. SELAIN mengkritik kebijakan fakultas, kebijakan terkait pendanaan dari pihak sekolah tempat mahasiswa PPL juga dikeluhkan sebagian dari mereka. Paling krusial terkait permintaan sekolah memperbaiki lapangan basket. Ini dialami mahasiswa yang PPL di SMP Negeri 8 Pekanbaru. “Kami diminta perbaiki lapangan basket,” kata Sulistiono dari Pendidikan Biologi FKIP. Hal ini dibenarkan Desmi Erwinda, saat itu menjabat Kepala Sekolah SMP Negeri 8 Pekanbaru. “Saya hanya minta mahasiswa PPL meninggalkan kenang-kenangan yang nampak di sekolah ini. Dari pada mereka memberikan kado untuk guruguru pamong,” katanya. Di sekolah tersebut, selain mahasiswa UR, ada pula mahasiswa dari UIR dan UIN Suska yang juga melaksanakan PPL. Tak semua mahasiswa PPL yang mengajar di SMP Negeri 8 Pekanbaru setuju dengan kebijakan Desmi Erwinda. Namun karena sebagian besar setuju, terpaksa semua harus menyumbang untuk memperbaiki lapangan basket. “Masing-masing kami

Kuitansi tanda terima yang diberikan saat mahasiswa selesai mendaftar dan membayar biaya PPL.

menyumbang Rp 100 ribu,” kata Sulistiono. Bila dijumlahkan insentif untuk guru pamong dan kepala sekolah yang hanya Rp 60 ribu per orang, berarti setiap mahasiswa yang PPL di SMP Negeri 8 Pekanbaru harus menambah dana Rp 40 ribu lagi agar sumbangannya menjadi Rp 100 ribu seperti yang mereka sepakati. Kini Desmi Erwinda menjadi Kepala Sekolah di SMP Negeri 13 Pekanbaru. “Pihak fakultas tak pernah menerima laporan terkait kebijakan pihak sekolah tersebut. Kalau ada keluhan mahasiswa, kita akan cari sekolah baru untuk tempat PPL,” tegas M. Nur Mustafa, Dekan FKIP.

mahasiswa terkait pendanaan, pihak fakultas sempat mewacanakan akan menaikkan biaya pendaftaran PPL menjadi Rp 500 ribu per orang. “Jadi mahasiswa PPL tak perlu menambah dana lagi untuk bayar guru pamong,” kata Nursal. Namun informasi terakhir menyatakan bahwa biaya pendaftaran tak jadi dinaikkan. “Sudah kita kembalikan lagi menjadi Rp 300 ribu per orang. Kita tak mau memberatkan mahasiswa,” ujar M. Nur Mustafa, Dekan FKIP. Kalau begitu, apakah keluhan soal insentif kepala sekolah dan guru pamong akan terjadi lagi? Jawabannya akan ditemukan pada kegiatan PPL selanjutnya. #

UNTUK mengatasi berbagai keluhan

Fenta BM Lapangan basket SMP Negeri 8 Pekanbaru. Ada mahasiswa PPL FKIP UR diminta untuk memperbaiki lapangan basket sekolah ini.

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

11


BEDAH BUKU

Si Cabe Rawit oleh Bondan Maknyus

JOHANNES Baptista Sumarlin, putra dari Karmilah, buruh tani di Desa Ngadirejo, Blitar. Lahir di pematang sawah desanya pada 7 Desember 1932, pria bertubuh kecil dan

12

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

Internet

KORUPSI merajalela kala kepemimpinan Soeharto. Segala upaya sudah dilakukan untuk mengatasinya. Membentuk Tim Pemberantas Korupsi (TPK) yang diketuai Jaksa Agung maupun membentuk Komite Empat dengan tokoh sepuh dan berwibawa yang jadi anggota. Namun hanya kekecewaan yang diterima Soeharto. Hingga kemudian Sumarlin, kala itu menjabat Menteri Penertiban dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan), membuat Soeharto terhenyak dan bangga. Sumarlin berhasil memberantas tradisi pungutan liar di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Pungli dilakukan petugas Kantor Bendahara Negara (KBN) dengan cara meminta pelicin sebelum mencairkan gaji karyawan RSCM. Sumarlin melakukan penyamaran untuk mengungkap kasus ini. Ia menyamar sebagai Ahmad Sidik, seorang pegawai administrasi RSCM. Penyamarannya baru dibuka saat Menteri Keuangan datang. Semua orang kaget. Sumarlin berhasil mengungkap kasus pungli di RSCM. Selain penyamaran bak detektif, Sumarlin juga melakukan taktik lain untuk memberantas korupsi. Ia pernah melakukan inspeksi mendadak untuk proyek pembangunan perumahan anggota DPR di Kalibata. Pada kasus lain, Sumarlin berhasil membongkar tradisi pungli di kantor perpajakan dan kantor imigrasi. Jurus penyamaran yang dilakukan Sumarlin untuk memberantas tradisi pungli membuatnya diberi gelar Raja Harun Al Rasyid. Harun adalah raja dalam kisah 1001 Malam yang menyamar untuk memantau kebutuhan rakyatnya.

Judul J.B Sumarlin, Cabe Rawit yang Lahir di Sawah Penulis Bondan Winarno Penerbit Kompas Tahun terbit Januari 2013 Halaman 345 halaman

mendapat julukan “Si Cabe Rawit� ini malang melintang di era kepemimpinan Soeharto. Sumarlin kecil bernama Katoebin. Artinya akad-akad metu neng sabin—lahir di sawah pada hari Minggu. Namun orang dulu menganggap nama tersebut terlalu berat hingga membuat Sumarlin kecil sakit-sakitan. Ini membuat kakek dari jalur ibu, Toedjo Towinangoen mengubah namanya menjadi Sumarlin. Alasannya sederhana saja, karena abang Sumarlin bernama Sumarlan. Sumarlin berasal dari keluarga broken home. Ayah dan ibunya berpisah saat Sumarlin berusia 5 tahun. Ini membuat Sumarlin lebih dekat dengan kakeknya. Ia merasa kakeknya berperan besar pada kesuksesan hidupnya. Di bidang pendidikan, Sumarlin berhasil meraih gelar Guru Besar Emeritus Ilmu Ekonomi di Universitas Indonesia. Di organisasi, Sumarlin menjadi Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) serta turut mendirikan Asosiasi Profesor Indonesia. DETAIL perjalanan hidup Sumarlin terangkum dalam buku karya Bondan Winarno. Pria yang acap menjadi pembawa acara Wisata Kuliner ini menceritakan kisah Sumarlin dengan maknyus. Ia sudah kenal Sumarlin sejak

1985 saat bertugas menjadi Director of Public Relations di Anjungan Indonesia Expo 1986 di Vancouver BC Kanada. Bondan menceritakan perjalanan hidup Sumarlin dalam 7 bab, tiap bab diumpamakan sebagai pohon. Di bab Akar, Bondan menjelaskan latar belakang Sumarlin. Bab Batang menceritakan perjalanan Sumarlin menempuh pendidikan hingga bekerja. Bab Dahan, Cabang, Daun, Bunga hingga Buah bercerita tentang perjalanan Sumarlin di bidang pemerintahan. Pada bab terakhir, Bondan menyimpulkan buah pemikiran Sumarlin terhadap persoalan yang pernah dihadapinya selama era pemerintahan Soeharto. Mengapa ekonomi di Indonesia cepat panas. Sumarlin menilai masyarakat Indonesia kurang pandai menata ekonomi, seperti budaya menabung, investasi atau bersaham. Buku ini ditulis bak air mengalir. Sumarlin maupun Bondan tak menetapkan kapan buku ini harus selesai. Just go with the flow. No target. No deadline. Namun Penerbit Kompas memutuskan buku ini harus diterbitkan sebagai hadiah ulang tahun Sumarlin ke delapan puluh. #Fenta Setia Utama


GELAGAT

Vespa Unik Diggi Oleh Jeffri Novrizal Torade Sianturi PIPA besi hitam menjulang dua meter. Ia difungsikan sebagai stang vespa oleh Hasbi Ash Shiddigi. Pipa tersebut dibalut baju kaos usang dan dilengkapi topi hitam—mirip orang-orangan sawah. Bendera merah putih dipasang di bagian bawah pipa besi. Bila vespa melaju kencang, bendera tersebut akan berkibar. 18+ Bawalah KTP/SIM. Tulisan tersebut terpampang di kap depan vespa. Letaknya pas di atas plat BA 7437 LG. “Himbauan saja supaya masyarakat terus membawanya,” tutur Diggi, panggilan akrabnya. Vespa Diggi tak punya rem depan. Hanya ada rem belakang di pijakan kaki kanan. Transmisi untuk pemindahan gigi yang biasanya di stang kiri, berpindah ke pijakan kaki kiri. Untuk menukar kecepatan, Diggi gunakan kaki, padahal biasanya pengatur kecepatan atau gas berada di stang kanan. Aksesoris hingga perubahan fungsi kendaraan vespa sengaja dilakukan Diggi. “Biar unik,” ucapnya. Vespa Diggi tipe PS rakitan ’80-an. Body vespanya didesain ceper, stang menjulang, knalpot mengeluarkan suara keras serta bumper rendah. Perlu ekstra hati-hati untuk mengendarainya. Vespa ini selalu digunakan Diggi sebagai kendaraannya ke kampus. Kini ia tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Administrasi Negara FISIP UR angkatan 2012. “Agak sulit dikendarai waktu melewati polisi tidur, berbelok, serta saat jalanan macet,” ujarnya. Selain ke kampus, Diggi kerap berkeliling kota Pekanbaru bahkan keluar kota menggunakan vespa tersebut. Diggi bercerita pengalaman tak terlupakan saat ia mudik lebaran tahun lalu. Dalam perjalanan pulang dari Bukittinggi ke Pekanbaru, vespanya mogok. Untung Diggi cukup tahu otomotif. Vespanya dipreteli sendiri hingga bisa jalan kembali. “Pas lagi dorong, tiba-tiba dikejar anjing,” ceritanya sambil tertawa. Vespa ini peninggalan orangtua Diggi. Saat Vespa hendak dijual dan diganti motor lain, teman Diggi

menganjurkan agar Vespa itu tetap digunakan. Diggi setuju. Ia memodifikasi vespanya hingga berbentuk seperti yang dikendarainya sekarang. “Anggaran sejuta bikin stang ini,” katanya. Diggi amat mencintai vespanya. Kini ia tergabung dalam komunitas University Vespa Owner’s Randezous Bouncy People (UVORABLE), sebuah komunitas pecinta vespa yang berdiri sejak 30 Oktober 2008. Anggotanya kini mencapai 32 vespa. UVORABLE juga turut aktif bersama kepolisian

melaksanakan program safe riding. Rian, teman satu komunitasnya menilai Diggi cukup ekstrim menambahkan berbagai atribut pada vespanya. “Asal kegiatannya positif, kami dukung,” katanya. Diggi tak malu terus menggunakan kendaraannya walau diakuinya banyak orang tertawa melihat vespanya. “Terserah orang mau bilang apa, kita ya gini-gini aja kan.” Banyak yang menertawakan, namun tak sedikit pula yang ingin berfoto dengan vespa unik milik Diggi. #

Fenta BM

Diggi bersama Vespa unik warisan orang tuanya.

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

13


KHASANAH

Bekoba Gendang Kayu Losso Oleh Redha Alfian

ATUK Taslim sapaan akrabnya, salah seorang tukang koba asal Pasir Pengaraian Kabupaten Rokan Hulu. Ia berjarak sekitar 133 kilo meter dari Kota Pekanbaru. Atuk Taslim kini berusia 57 tahun, anak tertua dari enam bersaudara. Pendidikan terakhir Sekolah Rakyat. Atuk Taslim belajar koba dari neneknya. Koba adalah kesenian yang berkembang di sepanjang pesisir dan pedalaman Sungai Rokan (Kabupaten Rokan Hilir dan Rokan Hulu). Tradisi koba disampaikan lisan, isinya berupa dongeng, pantun atau pesan tertentu tergantung kreativitas tukang koba. Semua disampaikan dengan lagu, nada dan irama. Dalam situs warisanbudayaindonesia.info disebutkan bahwa koba merupakan Warisan Budaya Tak Benda Nasional sebagai khasanah khas Rokan Hulu. Kesenian berbentuk pertunjukan ini telah ada sejak akhir abad ke-19 dan berkembang pada abad ke-20 hingga pertengahan. Koba biasa ditampilkan saat perhelatan pernikahan, sunatan, mencukur rambut anak maupun kegiatan sosial masyarakat. Waktu pertunjukan biasanya setelah Isya dan

14

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

ditampilkan di tempat keramaian, seperti los pasar atau rumah keluarga yang punya hajatan. Jika kobanya panjang, maka akan disambung pada malam selanjutnya. “Bisa sampai tujuh hari tujuh malam,” ujar Atuk Taslim. Atuk Taslim katakan perlu IQ tinggi untuk belajar koba. Pasalnya harus cepat menangkap kata-kata yang digunakan untuk menyambung lirik di belakang cerita. “Suara dan fisik yang bagus juga diperlukan,” tambahnya.

MONDUO anak kutimang anak. Anak kutimang kami buaikan. Rumah godang buatok ijuk. Rambu tali kulindan puncari. Kololah godang anakku isuk. Ilmu cari nak kawanpun cari. Dibakalah pinang buribu. Asokno sampai ke Posoman. Dongakan pungaja Ibu. Surekkan juo ku tapak tangan. Kaik parodah sanguo Palembang. Baok muraodah kutongah rimbo. Paik darah umuo pun panjang. Amal ibadah janganlah lupo. Munagih tududu-dudu. Dek olah pisang suku kodang. Dori sonik dikasuh Ibu. Olah

godang carilah untong. Bulajalah kotorompek. Laoiknyo dalam umbak monimpo. Simak pungaja Ibu dan Bapak. Siang dan malam janganlah lupo. Sungai rapek tutian rambong. Songkudoik jangki ko soborang. Kolo munapek janganlah sombong. Murah awak dibonci urang. Buah polom di utan jirat. Cakuk sobuah masak mongka. Kololah kolom dunia akhirat. Isuk tibo baru badan munyosa. Dori ko Simang ko Dalu-dalu. Singgah digodang mu-nyerak jalo. Singan itu timang kito ko dolu. Jiko bosambung isuk pulo. Urang godong ko kampung lamu. Bumain rakik arilah kolom. Urang kampung mari bosamu. Mombang-kikkan toreh non turondam. Ini lirik Monduo Anak, salah satu jenis koba. Ia dinyanyikan saat menidurkan anak. Dulu kebiasaan di Pasir Pengaraian, Monduo Anak dinyanyikan mulai dari bayi hingga berusia tiga sampai empat tahun. Menurut Atuk Taslim, kini tak ada lagi orang tua yang mendendangkan Monduo Anak untuk

Redha BM

SEBELUM cerita dilantunkan, terdengar suara gendang mengiringi. Gendang kuning berbahan pohon kayu losso. Bukan sembarang kayu. Taslim mengambil kayu ini setelah warnanya menguning—terkena sambaran petir—barulah pohon ditebang. “Tak bisa sembarang diambil karena bisa gatal kena kulit,” jelas Taslim. Jika tak sedang ia gunakan untuk bekoba, gendang tersebut selalu diasapi dengan kemenyan. Setelah diasapi akan ia simpan. Pantangannya, gendang berbahan kulit kijang ini tak boleh dilangkahi. “Gendang ini suaranya lain dari yang lain.” Kini gendang jarang ia pakai. Pasalnya sudah sedikit pesta rakyat yang gunakan tradisi koba.

Taslim, pelantun koba sedang memainkan gendang berbahan pohon kayu losso.


KHASANAH

anaknya. “Sudah tak ada lagi yang tertarik dengan koba,” katanya. Panglimo Awang judul koba lainnya. Koba ini paling terkenal di Rokan Hulu, sekaligus paling panjang. Setiap perjalanan Panglimo Awang dikobakan. Mulai dari lahir, ditimang, dewasa, merantau, berperang, dan menikah. “Sampai Panglimo Awang punya anak diceritakan juga, makanya panjang,” jelas Atuk Taslim. Panglimo Awang berasal dari Negeri Ledong, di bagian Dolok Sordang. Diceritakan mulai lahir, kanak-kanak sampai remaja. Panglimo Awang menikahi Anggun Cik Suri. Mereka berbeda daerah. Anggun Cik Suri berasal dari Pulau Galang di bahagian Batam, sekarang sudah tenggelam. Anggun Cik Suri konon cantiknya tiada tara. Hidung mancung, kulit putih bersih, layaknya putri. Tiada yang menandingi kecantikan Angun Cik Suri. Untuk mandi saja, Anggun Cik Suri pakai wewangian, rempah, dan bunga. Minyak gajah. Anggun Cik Suri dan Panglimo Awang punya pertalian darah anak-mamak kontan. Hanya saja berbeda negeri. Belum pernah dipertemukan. Mereka sejak kecil sudah dipertunangkan, istilahnya Gonteh Pusek. Inilah sedikit penggalan koba Panglimo Awang versi Indonesia. Pertunjukan Panglimo Awang diiringi gendang. Bila memainkan koba ini, Atuk Taslim akan memainkan gendang kesayangan dari kayu losso. Tak semua koba dimainkan dengan musik pengiring. Saat pertunjukan koba, sirih sering dimakan tukang koba bersama penonton untuk mempererat silaturahmi. Tak ayal terjadi balas-membalas pantun di antara tukang koba dan penonton yang hadir. Setiap beberapa babak, tukang koba akan mengambil jeda istirahat. Jeda biasanya diisi dengan minum kopi, merokok, makan sirih maupun mengobrol dengan masyarakat. Setelah waktu jeda habis, tukang koba akan

foto melanjutkan cerita. Terkadang tukang koba sengaja memperlama waktu istirahat. Bila ini terjadi, masyarakat akan menyindir dengan pantun agar koba dilanjutkan. Berbalas pantun pun kembali dilakukan sebelum koba dilanjutkan kembali. Cerita yang disajikan tukang koba umumnya soal perjuangan tokoh

Redha BM

Atuk Taslim sedang bersantai di teras rumahnya.

lokal. Biasanya setiap cerita mengandung makna kehidupan. Tak jarang saat koba tamat didendangkan, menurut Amirullah dalam situs riauculture.blogspot.com, tukang koba melakukan ritual khusus, seperti menyembelih ayam atau kambing dengan persembahan pisau belati, limau purut dan kain putih. #

Menurut Atuk Taslim, kini tak ada lagi orang tua yang mendendangkan Monduo Anak untuk anaknya. “Sudah tak ada lagi yang tertarik dengan koba,” katanya. BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

15


REPORTASE

Mengharap Dukungan Civitas Akademika Oleh Fenta Setia Utama

AMBULANCE Universitas Riau. Bantuan Bupati Rokan Hilir. H. Annas Maamun. Tulisan itu tertera di dua sisi body mobil ambulance berwarna abuabu. Logo Kabupaten Rokan Hilir dan logo Universitas Riau mengapit tulisan tersebut. Ini mobil ambulance hibah dari Annas Maamun selaku Bupati Rokan Hilir. Serah terimanya dilakukan di sela-sela kegiatan seremoni wisuda Universitas Riau, 27 Februari hingga 2 Maret lalu. Perjanjian kerja sama (MoU) ditanda tangani oleh Dr. Adhy Prayitno, M.Sc mewakili Universitas Riau dan H. Annas Maamun mewakili Kabupaten Rokan Hilir. Mobil ambulance dilengkapi alat deteksi jantung dan pengukur tekanan darah. UR menilai baik hibah ambulance tersebut. “Niat baik harus kita terima,” kata Adhy Prayitno. Kini ambulance tersebut sudah beroperasi di Universitas Riau. Setiap hari keliling kampus, dari Rumah Sakit Universitas Riau menuju Rektorat UR. Ambulance juga terlihat bersiaga selama kegiatan Open Tournament Taekwondo Universitas Riau ke-1, 17-19 Mei 2013. Tulisan “H. Annas Maamun” berwarna kuning jelas terlihat di kedua sisi body ambulance tersebut. TEPAT pada 15 Januari 2013, Himpunan Mahasiswa Fisika (Himafi) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UR adakan seminar kewirausahaan di Lantai IV Gedung Rektorat Universitas Riau. Temanya Pengusaha Muda Kenapa Tidak. Jon Erizal menjadi pembicara. “Ia pengusaha muda sukses di Riau,” kata Yugo Setiawan, Ketua Himafi. Seratusan orang lebih mahasiswa menghadiri seminar tersebut. Dr. Tang Antoni, dosen Jurusan Fisika FMIPA UR mengawali pembicaraan pada seminar tersebut. Kemudian dilanjutkan penyampaian materi kewirausahaan oleh Jon Erizal. “Menjadi wirausaha tak sulit asal ada kemauan. Tak perlu tunggu modal besar. Cukup dari usaha kecil

16

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

dengan potensi yang ada pada kita,” ujar Jon Erizal. Ia juga menyampaikan motivasi dalam berwirausaha. “Kalau mau jadi wirausahawan, tidak boleh gengsi dan malas. Harus tekun dan pandai membaca peluang usaha,” tambahnya. Di akhir acara, Jon Erizal membagikan sebuah buku 6 halaman. Judulnya Entrepreneur & Ruh Pembangunan Sosial. Buku tersebut semacam orasi tertulis Jon Erizal untuk mengajak pembaca berwirausaha. Foto dirinya memakai jas hitam terpampang di kanan atas sampul depan. Sampul belakang berisi biodatanya. Di dalam buku diselipkan brosur dan stiker Jon Erizal. Brosur berwarna biru tua tertulis Jon Erizal Bakal Calon Gubernur Riau 2013-2018. Brosur berisi riwayat hidup Jon Erizal serta komentar beberapa tokoh terkait sosoknya. Begitu pun tulisan pada stiker. Foto Jon Erizal juga terpampang di stiker. “Hanya memotivasi agar mahasiswa mau berwirausaha,” kelit Yugo Setiawan saat ditanya mengapa mengundang Jon Erizal sebagai pembicara. Ia juga menjelaskan bahwa Tang Antoni yang menetapkan Jon Erizal sebagai pembicara utama seminar tersebut. “Kami hanya penyelenggara saja,” ujarnya. Pada 28 April, Himpunan Mahasiswa Matematika (Himaska) FMIPA meniru jejak Himafi. Jon Erizal didapuk sebagai pemateri utama pada seminar kewirausahaan yang mereka selenggarakan. Turut hadir Hendri Munief, Ketua Forum Bisnis Riau dan Ayat Cahyadi, Wakil Walikota Pekanbaru. Ia alumni Matematika FMIPA UR serta kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Rido, Ketua Himaska menjelaskan bahwa sesungguhnya seminar kewirausahaan tersebut diselenggarakan untuk alumni FMIPA Matematika. “Karena sedikit yang datang makanya kita ajak juga mahasiswa untuk meramaikan,” ujarnya. Ia mengakui Ayat Cahyadi selaku Ketua Alumni Himaska yang merekomendasikan Jon

Istimewa Annas Maamun memberikan hibah ambulance kepada UR yang diwakili Adhy Prayutno, PR IV UR pada acara wisuda UR.

Erizal untuk menjadi pemateri pada seminar tersebut. Jon Erizal dikenal sebagai pengusaha sukses. Ia kelahiran Bengkalis, namun kini beralamat di Jakarta. Dalam buku Entrepreneur & Ruh Pembangunan Nasional tercantum pekerjaan Jon Erizal sebagai pengusaha bidang perminyakan dan gas. Ia juga tercatat sebagai Bendahara Umum DPP Partai Amanat Nasional, Dewan Parkar ICMI dan Ketua Yayasan Masjid Cut Mutia. Pendidikan terakhir Program Pasca Sarjana UGM tahun 2012. Sarjananya di Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya, Jakarta, tamat 1987. DAFTAR Nama-nama Pendukung Calon Perseorangan dalam Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Ia ditujukan untuk para pendukung calon perseorangan Kepala Daerah Wan Abu Bakar dan calon perseorangan Wakil Kepala Daerah Isjoni. Bagi yang mendukung kedua calon ini menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Riau, diminta untuk mengisi nama, nomor KTP/NIK, tempat tanggal lahir/umur, alamat dan tanda tangan yang tertera pada selebaran. Intinya, selebaran ini sebagai bukti pernyataan dukungan terhadap Wan Abu Bakar dan Isjoni. Selebaran ini beredar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UR. Mahasiswa bisa mendapatkannya di ruang Sub Bagian


REPORTASE Akademis lantai dasar dekanat FKIP. Ide Erwina, Kasubag Akademis mengaku tak tahu menahu soal detail penyebaran selebaran dukungan tersebut. “Ibu Murni yang kasih. Kalau mau tahu banyak tanya saja sama Ibu itu. Saya tidak tahu,” katanya. Murni yang dimaksud Ide Erwina adalah Murni Baheram, dosen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) FKIP UR. Bahana gagal menemuinya untuk meminta penjelasan. Sudah berkali-kali ditelepon dan di-SMS. Terakhir kali, ia katakan bahwa ia tidak bersedia untuk memberikan komentar terkait hal tersebut. Isjoni merupakan alumni FKIP Sejarah UR. Sejak 1983, ia sudah mengajar di Jurusan Sejarah FKIP UR. Ia menjadi Dekan FKIP UR 2 periode (2003-2007 dan 2007-2011). Ia juga pernah menjadi Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Wilayah Riau. Isjoni pernah terlibat kasus plagiat buku ajar di Jurusan Sejarah FKIP UR. ANNAS MAAMUN, Jon Erizal, Wan Abu Bakar dan Isjoni tak asing lagi bagi kita. Mereka digaung-gaungkan akan berpartisipasi pada pencalonan gubernur dan wakil gubernur Riau 2013-2018. Foto, baliho, spanduk, dan iklan mereka sudah mulai tersebar di berbagai media massa maupun elektronik. Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau, pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur Riau dibuka pada 21-29 Mei 2013. Wan Abu Bakar bersama Isjoni memastikan diri maju pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau melalui deklarasi yang dilakukan di kediaman Wan Abu Bakar pada 3 April 2013. Tiga hari kemudian, mereka mendaftarkan diri ke KPU Riau melalui jalur independen. Tengku Edi Sabli, Ketua KPU Riau melalui riauterkini.com mengatakan bahwa pasangan Wan Abu Bakar dan Isjoni sudah memenuhi syarat minimal KTP yang ditetapkan KPU Riau, yakni 257 ribu orang. Jumlah dukungannya juga sudah lebih dari 7 kabupaten/kota di Riau. “Kita akan lakukan tahap verifikasi lanjutan,” ujarnya. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar melalui hasil rapatnya, 18 Mei, memastikan Annas Maamun akan diusung sebagai calon gubernur dari

partai Golkar. “Selama ketua atau kader partai itu sanggup dan siap, dia harus kita utamakan. Apalagi Pak Annas Maamun ini kader murni partai dan telah teruji kepiawaian dan kehebatannya memimpin partai dan Kabupaten Rohil selama dua periode,” kata Indra Gunawan, Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Bengkalis seperti dimuat Harian Tribun Pekanbaru pada 20 Mei. Jon Erizal mengambil formulir bakal calon Gubernur Riau pada 14 Mei. Ia diusung Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pada 19 Mei, Jon Erizal mengadakan acara Temu Bacaleg dan Konsolidasi PAN Riau di Hotel Grand Central Pekanbaru. Pada kesempatan tersebut, Jon Erizal juga paparkan hasil survei dari Lembaga Charta Politica, konsultan PAN. Survei itu menunjukkan Jon Erizal berada di posisi keempat. “Saya berterima kasih kepada Saudaraku sekalian yang telah bekerja keras. Namun kerja keras ini akan terus kita lakukan. Insya Allah kemenangan dapat kita capai,” ujarnya seperti dimuat situs riauterkini.com. “POLITIK di kampus haruslah dipandang sebagai objek ilmiah. Ia perlu dikaji, dibahas secara akademis dan diperdebatkan dalam suatu tulisan, penerbitan dan pertemuan ilmiah. Tujuannya, menemukan kebenaran atau hakikat politik. Jika ingin berpolitik praktis, silahkan di luar kampus,” tulis MA Syukron dalam kolom Majalah Bahana Mahasiswa edisi ini. MA Syukron setuju dengan pendapat Daoed Yoesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat Soeharto berkuasa. Pendirian Daoed tentang pendidikan, kaitannya dengan politik ada dua. Pertama bahwa di kampus tidak boleh ada kegiatan politik praktis. Mahasiswa, seperti dinyatakan dalam Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) tidak dibolehkan berpolitik praktis dalam kampus.Tetapi, kedua, Daoed mendukung pembelajaran dan pembahasan akademis mengenai politik di dalam kampus. Adlin, Dosen Ilmu Politik FISIP UR berpendapat sama, bahwa di dalam kampus tidak boleh ada unsur politik praktis. “Sudah ada peraturannya,” katanya. Peraturan yang dimaksud Adlin

berupa Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 26/Dikti/Kep/2002 tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik dalam Kehidupan Kampus. Pada poin pertama dinyatakan bahwa Dikti melarang segala bentuk organisasi ekstra kampus dan partai politik membuka sekretariat (perwakilan) dan atau melakukan aktivitas politik praktis di kampus. “Tak apa datang untuk bekerja sama, namun jangan sampai ada unsur kampanyenya,” lanjut Adlin. Unsur kampanye yang dimaksudnya terdiri dari tiga hal. Pertama foto orang yang ingin mencalonkan diri sebagai calon gubernur dan wakil gubernur, ada visi dan misi yang disampaikan, dan ajakan untuk memilih. Untuk kasus Isjoni, ajakan untuk memilih sudah jelas melalui selebaran pernyataan dukungan yang beredar di kampus FKIP UR. Seminar kewirausahaan Jon Erizal di Gedung Rektorat UR pertengahan Januari lalu diakhiri pembagian buku dengan selipan brosur dan stiker tertulis Jon Erizal Bakal Calon Gubernur Riau 2013-2018. Sedangkan Annas Maamun, kemana ambulance UR yang dihibahkannya pergi, selama itu pula nama H. Annas Maamun dibaca orang yang melihat ambulance tersebut. #

Formulir untuk mendukung pasangan Wan Abu Bakar dan Isjoni yang disebarkan di kampus FKIP UR, tempat Isjoni mengajar.

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

17


CERPEN Novaldi Herman Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UR angkatan 2011

Kampung Sebungkus Nasi DIRIKU punya macam-macam nama pang gilan. Pang gilan besar; nama pemberian ayah, panggilan sedang; bagi teman-teman biasa dan panggilan kecil; untuk orang terdekat. Panggilan besar tak akan terlalu banyak aku dengar. Sama seperti warga kampung lainnya, aku akan dipanggil dengan nama besar ketika telah menikah atau sudah menyelesaikan pendidikan di kampung kami. Kampung Pintar tempat tinggalku. Kampung ini dikenal melahirkan banyak orang pintar, pintar merumuskan jalan untuk mencapai kesejahteraan. Tidak ada catatan jelas yang menerangkan sejak kapan gelar itu disematkan pada kampung kami. Ibu pernah cerita tentang sekelompok orang yang dahulu meminta bantuan kepada warga kampung kami. Mereka menebar rumor dan menggadang-gadangkan kehebatan warga, sepulang dari Kampung Pintar. Itu asal usul Kampung Pintar. Semua warga Kampung Pintar terbilang makmur dan berada. Semua itu pengaruh besar donasi tamu kampung yang sangat apresiasi pada kepintaran kami. Suatu kebanggaan, ketika aku dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan mereka yang sudah membahana seantero negeri. Tak ada sekolah yang mendidik kami selama ini. Kami mandiri. Kami, anak-anak Kampung Pintar diajar langsung oleh keluarga, terutama ibu-ibu kami. Tradisi Kampung Pintar, setiap anak yang tidak lagi memiliki orang tua, oleh para tetua kampung

18

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

langsung dirangkul dan dididik jadi bakal calon pemintar masa depan. Ayahku seorang di antara para tetua kampung. Sudah banyak anak asuh yang dididik ayah. Namun, ayah selalu tak sejalan dengan para tetua kampung lain soal anak angkat. Kata ayah, anak-anak itu tetap saja anak dari ayahnya masingmasing. Sebenarnya para tetua kampung mengerti bagaimana ayah mereka dulu membesarkan namun ajal memisahkan, hingga mereka hidup sendiri. Karena tak sejalan, ayahku mengasuh dan mendidik anak-anak di asrama tersendiri. Ayah mengakui hanya punya dua anak, kakak dan aku. Banyak yang kami pelajari di kampung, mulai dari ilmu filsafat, politik, kesehatan, permesinan, sampai cara bertani dan melaut. Ilmu-ilmu itu selalu mengisi hari-hari kami. Terspesial, cara mengajar hanya diberikan untuk anakanak perempuan. Kabarnya, hanya perempuan saja yang akan menjadi pengganti para pengajar, tepatnya menjadi para ibu yang mengasuh anak-anaknya. Tidak ada persaingan, kami hanya berusaha untuk mengerti setiap ilmu yang diberikan agar esok kami bisa membantu orang-orang yang datang meminta penerangan kami. Ini tahun pertamaku, sejak ibu tahu bakatku di bidang diplomasi. Saat itu aku bisa membujuk kakak ikut menyembunyikan dasi ayah hingga ayah kocar-kacir mencarinya. Juga ketika menemui Pak Ugel pekan lalu, kakak yang terkenal dengan perangai baiknya tak mampu mengelakkan ajakanku berbuat jahil. “Kendati perangai itu adalah perilaku


CERPEN kurang baik, namun itu suatu wujud kelihaian diplomasi,� kata ibu. Tak taulah, aku hanya punya inisiatif yang buat susah ayah. Mejaku banyak buku terletak. Berbagai judul buku tak tersusun rapi; di kamar tidur, dapur, meja makan, sampai teras depan. Kakak sering bolak-balik buku musiknya sembari memainkan gitar pemberian ayah pekan lalu. Sejak dihadiahi benda itu, kakak semakin jarang mau main video denganku. Sejak itu pula aku sering jengkel, tak satu pun cara berdiplomasiku mampu membujuk kakak kembali menemaniku bermain. Pada waktu yang sama, hampir tiap hari ayah mengutak-atik apotek hidupnya di pekarangan depan saat ibu menyiapkan makan malam dan mencari resep baru di buku tata boganya. Aku? Ya, aku lebih memilih membaca buku bergambar yang beberapa hari belakangan ini sering dibagi-bagi gratis untuk anak-anak di kampung kami. Bapak-bapak yang membagikan buku tersebut mengatakan kalau buku-buku itu pemberian pemintar kampung sebelah agar anak di kampung kami jadi lebih giat membaca buku. IBU bangunkan aku. Aku langsung kaget. Ada suara bising ramai terdengar. Apa itu? Orang sekampungkah? Kenapa ada suara bapak-bapak berteriak di depan rumah? Selarut ini? Sudah jam berapa ini? Jelang subuh? Setiap kali mau bertanya pada ibu apa yang terjadi di luar, acap kali ibu menggelengkan kepala sembari terisak tak teratur. Aku keheranan dan bertanya-tanya. Benar saja, setiap isak ibu terdengar, selalu saja ada balasan makian dan teriakan orang di luar. Ayah?! Mana ayah? Tadi kenapa tak aku tanyakan dengan ibu. Tapi menjawab tanyaku tentang kenapa aku dibangunkan, ibu tak bersuara. Tak tahu lagi cara membuat ibu berhenti menangis, aku keluar dari kamar tidur dan meninggalkannya. Aku penasaran mencari tahu apa yang terjadi malam ini. Kenapa semua ribut? Ada apa? Kosong, tak ada orang di ruang tengah. Orang-orang bersuara riuh itu datang dari pintu depan. Gemetar aku mendekatinya. Aku coba buka, namun urung ku

Ilustrasi: Nata

lakukan. Ragu aku. Kakak berteriak di belakangku. Memanggilku dengan suara keras, bukan dengan nama kecil, namun dengan nama besar. Nama besar? Kenapa kakakku sendiri memanggilku dengan nama besar? Kakakku sendiri melanggar pantangan panggilan nama ke orang lain? Kakakku sendiri melangggar pantangan dan memanggilku dengan nama besar? Kakakku? Tanganku digenggam. Ditarik, dibawanya aku masuk ke kamarnya. Berserakan. Semua berserakan; bajunya, buku-buku, kumpulan benda buatan tangannya dikeluarkan. Berkemas. Dia segera berkemas, dia minta bantuanku. Lekas aku masukkan semua ke dalam kantong besar yang sedari tadi dijinjingnya. Setengah, hampir penuh kantong itu. Dia berlari ke kamarku. Lagi-lagi, dia memanggilku dengan nama besarku, yang seharusnya tak wajar jika saudaraku sendiri yang melepaskan panggilan seperti itu pada adik kandungnya. Kenapa kakak bertingkah aneh? Kenapa ibu menangis? Kenapa warga kampung semua ribut, melepaskan amarah di depan rumah kami? Dimana ayah? SAMPAI di tanganku sepucuk surat, petugas kurir yang mengantar dari salah satu kampung. Kampung Sebungkus Nasi? Dimana itu? Aku tak pernah mendengarnya. Mungkin satu perkampungan baru. Sejak aku menjadi pembesar negeri yang baru, banyak sekali surat ajuan permohonan bantuan yang datang. Namun, baru sekali ini surat ajuan dialamatkan ke kediaman pribadiku. Aku buka tergesa. Rasa pena-

saranku cukup besar. Aku baca khidmat dalam hati. Kepada Bapak Pembesar Negeri yang kami cintai dan hormati. Kampung kami, Kampung Sebungkus Nasi. Dulu, kampung kami bernama Kampung Pintar. Kampung dimana Bapak pernah berkehidupan di sana. Kami yakin Bapak masih memiliki kenangan saat tinggal di sana. Kampung Sebungkus Nasi tengah dilanda kesulitan yang menjadi-jadi. Kebutuhan sandang, pangan dan papan tak mampu lagi kami penuhi. Kami tak tahu mau mengadu kemana permasalahan kampung ini. Sejak terpilih pemimpin negeri sebelum Bapak sepuluh tahun lalu, kehidupan kami jadi kacaubalau. Tak satu pun janji yang diobral pemimpin saat mencalonkan diri terwujud, janji itu palsu. Rencana kami akan dibantu kehidupan yang layak dan kemakmuran tidak terjadi. Kampung kami sangat memerlukan kedermawanan Bapak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat ini kami kekurangan sandang, pangan dan papan. Kami harap adanya kedermawanan Bapak membantu kami menghadapi krisis ini. Kampung kami, Kampung Sebungkus Nasi, mengucapkan terima kasih atas bantuan yang Bapak berikan. Selembar kertas kosong dan satu pena di atas meja ruang tengah aku ambil. Aku tulis beberapa kalimat dan alamat sebelum aku beri pada Bang Panjul, pekerja kebunku yang sering aku minta tolong mengirimkan barang-barang bantuan ke kampungkampung. Aku mintakan padanya untuk memesan dan mengirimkan sebungkus nasi ke tiap-tiap rumah di Kampung Sebungkus Nasi tadi. Aku harap itu akan cukup. # BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

19


ALUMNI

Semua Karena Zaky Oleh Heldi Saputra AWAL April lalu Balai Serindit Gedung Daerah Riau dipenuhi orang berkaos biru muda. I Love Someone with Autism tertulis di bagian depan kaos. Mereka hendak tonton pemutaran film dalam rangka Hari Autis Sedunia yang diperingati setiap l 2 April. Usai pemutaran film, acara dimulai. Seorang wanita berjilbab berjalan tergesa mendekati Ketua Umum Forum Pengembangan Anak Penyan-dang Autis (F-PAPA), Dra. Hj. Septina Primawati, MM. Wanita itu adalah Rovanita Rama, SE, MH, Pendiri Klinik Terapi dan Sekolah Anak Mandiri. Klinik Terapi dan Sekolah Anak Mandiri didirikan Rovanita Rama untuk anak berkebutuhan khusus. Kepeduliannya pada anak-anak berkebutuhan khusus diawali ketika anaknya, Zaky Kairi Bagawan menderita autis. Zaky anak kedua Rovanita. Awalnya tak ada yang aneh pada kelahiran anaknya. Ia lahir dengan berat 3,94 kilogram dan panjang 51 sentimeter. Normal. Kejanggalan mulai dirasakan Rovanita saat Zaky tak pernah melakukan kontak mata pada usia 6 bulan. Ia juga alami gangguan pencernaan tiap selesai makan. Gerak motoriknya terbatas. Di usia 1 tahun, ia belum mampu minum sendiri serta sulit mengunyah maupun menelan makanan. “Zaky mampu berjalan pada usia 18 bulan tanpa melalui fase merangkak,” kata Rovanita. Sejak Zaky berusia 2 tahun, Rovanita mulai mengumpulkan informasi terkait permasalahan buah hatinya. Setahun penuh konsultasi rutin dengan dua psikolog, tiga dokter anak, satu dokter spesialis syaraf anak, satu dokter THT dan dua psikiater. Dokter syaraf menduga ada masalah dengan moto-rik Zaky. Ia merekomendasikan agar Zaky diperiksa di Singapura. Setelah diperiksa, hasilnya Zaky divonis menderita autis PPD-NOS. AUTIS dari kata auto berarti sendiri. Istilah autisme diperkenalkan pada

20

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

Istimewa

1943 oleh Leo Kanner seorang psikolog. Dari sisilain.net dinyatakan autis merupakan gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Gejalanya telah timbul sebelum anak berusia tiga tahun. Penyebab autis adalah gangguan pada sistem syaraf yang mempengaruhi otak. Hal ini menyebabkan anak tidak mampu berkomunikasi atau berinteraksi efektif dengan dunia luar. Gejala penyandang autis terlihat dari sikap anak yang tidak peduli lingkungan, menolak berinteraksi atau berkomunikasi serta asyik dengan dunianya sendiri. Penyandang autis juga sulit memahami bahasa dan berkomunikasi verbal. Pervasive Develompmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS) merupakan salah satu jenis gangguan autis. Dari klinikautisindonesia.wordpress.com dinyatakan istilah ini digunakan di Amerika Serikat. PDD-NOS merujuk pada gangguan autis yang berakibat rendahnya interaksi sosial dan komunikasi. Ia bisa memberikan respon tak wajar pada rangsangan sensorik. Sejak divonis menderita autis PPDNOS, Zaky intens mengikuti terapi hingga usia 3,5 tahun. Rovanita mulai

mempelajari soal autis saat suaminya pindah kerja ke California, Amerika Serikat. Di Amerika, Zaky sekolah di TK inklusi, sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Di sekolah itu Rovanita belajar cara menangani anak berkebutuhan khusus dengan seorang terapis. Ia juga ikut pelatihan bersertifikat dari asosiasi profesi terapis. Tahun 2000 Rovanita dan keluarga kembali ke Pekanbaru. Terapi Zaky terus berlanjut berbekal ilmu dari California. Saat itu pula Rovanita mulai berkeinginan menolong anak-anak lain seperti Zaky dengan membuka klinik terapi untuk anak autis. Tahun 2003 Rovanita memperdalam ilmu tentang autis dengan mengikuti pelatihan Texas Association for Behavior Analysis Autism Special Interest Group di University of Houston selama 2 tahun. Saat itu suaminya mendapat tugas kerja di Houston, Amerika Serikat. Tahun 2005 Rovanita bersama keluarga kembali ke Indonesia, namun tinggal di Jakarta. “Saat itu susah sekali mendapat sekolah bagus untuk Zaky, tidak seperti di Amerika,” katanya.


ALUMNI

imewa

Istimewa

ROVANITA Rama asal Jakarta. Saat orang tuanya pindah ke Pekanbaru untuk membuka usaha, seluruh keluarga turut ke Pekanbaru. Saat itu Rovanita berusia 5 tahun. Ia pun menyelesaikan jenjang pendidikannya di Pekanbaru. Berkat kecerdasannya, Rovanita tidak pernah merasakan duduk di bangku kelas 6 SD. Usai kelas 5, ia direkomendasikan melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 3 Pekanbaru. Ia dikenal sebagai anak pintar, selalu juara kelas. “Waktu kecil saya juga suka baca koran,” ujarnya. Tahun 1987, Rovanita mendaftar ke Universitas Riau Fakultas Ekonomi. Ia masuk melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru)-sekarang Seleksi Bersama Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Ia diwisuda tahun 1992. Selama kuliah, ia juga pernah menjadi mahasiswa teladan tiga se-Universitas Riau. “Alhamdulillah semasa kuliah semua baikbaik saja. Semua harus disyukuri dalam keadaan apapun,” ucapnya. KESULITAN Rovanita menemukan sekolah untuk Zaky membuatnya tergerak menolong anak-anak berke-

Foto bersama saat peresmian Klinik Terapi dan Sekolah Anak Mandiri (gambar kiri). Rovanita Rama (kerudung merah) bersama keluarganya (gambar kanan) Data Diri

butuhan khusus lainnya. Ia pun mendirikan Klinik Terapi dan Sekolah Anak Mandiri. Klinik sekaligus sekolah ini berlokasi di Jalan Kutilang Kecamatan Sukajadi Pekanbaru. Hingga kini sudah ada 150 anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di klinik tersebut. Rovanita menjelaskan Klinik Terapi didirikan untuk memperkuat motorik atau gerak syaraf tubuh anak. Sedangkan Sekolah Anak Mandiri menjadi wadah mendidik anak agar lebih mandiri dalam mengurus dirinya sendiri. “Paling tidak mengurus kebutuhan mereka sendiri, seperti makan, minum, menulis, berbicara, dan lainnya,” katanya. Klinik Terapi dan Sekolah Anak Mandiri didirikan tahun 2010. Tenaga dokter dan para terapis direkrut dari berbagai daerah, termasuk Jakarta. Semuanya memiliki izin praktik da ri Departemen Kesehatan Republik Indonesia. “Ilmu itu harus disebarkan karena tak ada ilmu yang tak bermanfaat.” #

Nama : TTL : Ayah : Ibu : Pendidikan

Rovanita Rama, SE, MH Jakarta, 16 Februari 1970 HB Ramayulis Hj. Matura Rama :SDN 035 Pekanbaru SMPN 3 Pekanbaru SMAN 1 Pekanbaru S1 Fakultas Ekonomi UR S2 Universitas Jayabaya Suami : Ir. Bagawan Isa Wahyudi, MBA Ibu dari tiga anak • 1999 : Pemilik dan Pengelola Pusat Pelatihan Terapi Anak Mandiri, Pekanbaru • 1999 : Volunteer di Special Education Class Bolinger Canyon, San Ramon - California, USA • 2002 : Pelatihan Teknis Pelayanan Pendidikan bagi Anak Autistik oleh Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Jakarta •2003 - 2005: Mengikuti Pelatihan pelatihan yangdiselenggarakan oleh Texas Association for Behavior Analysis Autism Special Interest Group di University of Houston, USA. • 2006-2008: Koordinator Kelas Khusus pada SD Inklusi 04 Batu Ampar, Jakarta • 2008-2009: Menulis untuk Majalah “Anak Spesial” Rubrik” Tips Bunda”. • 2010-sekarang: Penanggung Jawab “Parent BAHANA MAHASISWA Group Anak Mandiri” dan Edisi Maret-AprilSupport Tahun 2013 Pembicara/Narasumber Sosialisasi dan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus.

21


KOLOM

MA Syukron

Politik Masuk Kampus, Bolehkah? UNIVERSITAS dan politik punya hubungan tak biasa. Rumit ketika belum paham hakikat masing-masing. Di Indonesia cerita politik masuk kampus mulai dibicarakan serius saat Dr. Daoed Yoesoef, ekonom politik dan moneter internasional, menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983). Daoed mengaku ketika masih mahasiswa S3 ekonomi di Universitas Sorbonne, ia telah tulis pemikirannya tentang pendidikan dan dibahas bersama Hatta. Diperkirakan Bung Hatta lah yang mengusulkannya kepada Presiden Suharto, agar dia diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pendirian Daoed Yoesoef tentang pendidikan, kaitannya dengan politik ada dua; Pertama, bahwa di kampus tidak boleh ada kegiatan politik praktis! Mahasiswa, seperti dinyatakan dalam Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) tidak dibolehkan berpolitik praktis dalam kampus.Tetapi, kedua, beliau mendukung pembelajaran dan pembahasan akademis mengenai politik di dalam kampus. Politik di kampus haruslah dipandang sebagai objek ilmiah. Ia perlu dikaji, dibahas secara akademis dan diperdebatkan dalam suatu tulisan, penerbitan dan pertemuan ilmiah. Tujuannya, menemukan kebenaran atau hakikat politik. Jika ingin berpolitik praktis, silakan di luar kampus. Kampus harus menghasilkan ilmu dan konsep tentang politik. Bukan menjadi objek politik dengan menyelenggarakan politik praktis. Bila suatu kampus terkooptasi oleh politik—lalu akan disibukkan oleh politik praktis— maka lembaga apa lagi yang seyogyanya mengembangkan, menghasilkan ilmu, konsep politik, menemukan wujud politik dan memajukan budaya dan adab politik yang benar. Hubungan sesama dosen, sesama mahasiswa serta hubungan dosen dan

22

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

mahasiswa seharusnya menggambarkan suasana akademis. Sebagai ‘civitas academica’ suatu kampus ‘academia’ yang bersuasana ‘collegial’, suatu kemitraan dengan tujuan bersama memajukan ilmu, teknologi, senibudaya, serta peradaban suatu masyarakat dan umat manusia. Bila kampus menjadi objek politik, maka suasana dan budaya akademis tergusur. Akan terjadi kegalauan suasana akademis, seperti kekacauan politik di Indonesia dewasa ini. Perhatikanlah apa yang dipraktekkan oleh para elit politik di eksekutif, legislatif dan yudikatif yang jadi objek kekuasaan dan tujuan partai politik. Hubungan mereka tidak berkenaan dengan mengurus negara, bukan juga demi tercapainya tujuan bangsa Indonesia—memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut aktif membangun perdamaian dunia. Apa yang dilakukan kini lebih menampilkan prilaku dan kegiatan yang membuat negeri ini semakin terpuruk, serta rendah martabatnya di mata dunia. BILA suatu kampus sudah tercampur politik praktis, maka yang kita lihat seperti belakangan ini terjadi, dalam pemilihan rektor, dekan, BEM, dan lain-lain. Ia menjadi suatu kegiatan politik, penuh intrik, rasuah dan konspirasi. Memang sejak reformasi tahun 2000 ada tuntutan dari kalangan civitas academica agar kampus meniru apa yang dilakukan di gedung DPR/DPRD. Seorang profesor dalam suatu sidang senat dengan lantang menuntut agar universitas kita meniru apa yang dilakukan politik praktis di luar kampus. Dosen politik, filsafat, dan mahasiswa menuntut agar dilakukan demokratisasi kampus. Mereka memandang masyarakat akademis, ‘civitas

academica’ sama bahkan harus sama dengan masyarakat luar kampus. Justru yang dijadikan model ialah masyarakat politik praktis luar kampus. Karena salah persepsi hakikat kampus, mereka menyamakan diri dan meniru masyarakat politisi luar kampus. Terbukti para lulusan dan akademisi kampus sedang antri bersama pelaku politik lain masuk penjara, di pengadilan dan yang sudah diputuskan jadi penghuni penjara. Bangsa ini kehilangan model yang dipanut. Kampus dituntut harus ada pemisahan kekuasaan di senat universitas dan fakultas. Badan pemerintahan mahasiswa memisahkan kekuasan dalam dwi-politika! Bukan trias politica. BEM (eksekutif) dan BLM (legislatif), lantas mana badan yudikatif ? Jabatan di dalam lembaga mahasiswanya seperti membuat partai politik kecil di lingkungan kampus. Ada presiden, gubernur, menterimenteri. Sehingga seorang rektor merasa salah kaprah sewaktu harus melantik presiden mahasiswa berikut kabinetnya, yang di antaranya ada menteri pendidikan. Begitulah, jadi lucu bila kampus menyontoh politik praktis di luar kampus dan hilang warna ilmiah, logika dan aroma akademis. Mahasiswa diharuskan untuk menunjukkan kartu penduduk dalam proposal skripsinya agar dapat diarahkan memilih seorang calon wakil gubernur (benaran). Kampanye Pilgubri di media ternama Riau, seorang rektor diusung jadi wakil gubernur. Pengembangan keusahawanan dibungkus dengan kegiatan kampanye calon gubernur (politik praktis). Segelintir warga kampus sedang haus kekuasaan. Bila tak dapat berkuasa, melayani dan dekat-dekat dengan kekuasaan pun jadilah. Ketika pemilu DPR dan DPD, dosen yang berorientasi politik praktis


KOLOM sibuk mengajukan pengunduran diri dari warga akademis. Sebagai pegawai negeri, surat pengunduran diri dari PNS merupakan syarat untuk bisa jadi calon legislatif. Foto mereka terpampang di berbagai selebaran dan surat pencoblosan. Akan tetapi ketika tidak terpilih, ada yang mengaku sudah menarik diri dari pencalonan dan sibuk menuntut dan mengadu pada polisi. Ada yang minta agar surat pengunduran diri diabaikan. Ada isteri yang sambil menangis minta supaya suaminya tetap jadi dosen dan dia yang terima gajinya, walaupun sang suami sudah mengundurkan diri dan diberhentikan. Bahkan ketika surat persetujuan pengunduran diri alias surat pemberhentian dikeluarkan, ada yang merasa dirinya dizalimi dan tidak adil! Ada media mahasiswa dan koran lokal ikut membela sang dosen dengan pelbagai cara menyebarkan dusta. Dimanakah nilai ilmiah dan akademis semua suasana itu? Ternyata suasana ilmiah dan akademis sudah tergusur, kabur dan ngawur oleh segelintir kecil dosen dan mahasiswa yang orientasinya politik praktis. Bagi mereka suasana ideal seperti politik yang dilakukan para politikus di luar dan masuk ke kampus. Karena itu mereka berusaha agar politik praktis juga masuk kampus. DI NEGARA maju, yang masyarakatnya berbudaya dan beradab, para pemimpin dan politisinya hati-hati bahkan cenderung menghindar dari memanfaatkan kampus untuk tujuan politiknya. Mereka paham hakikat dan fungsi universitas, karena mereka umumnya lulusan universitas. Universitas yang tradisi akademisnya mapan, civitas academica-nya juga tidak akan latah mengundang para politikus mencemari suasana akademisnya. Jika ada yang coba hal itu, maka akan ada ‘backlash’. Calon pemimpin yang tidak ‘prudential’ tak akan dipilih masyarakat akademisnya. Logikanya sederhana. Belum berkuasa saja sudah curang, apa lagi saat berkuasa. Akan terbukti nanti, dahsyat kecurangannya, zalim dan korup! Politik praktis orientasinya kekuasaan. Kekuasaan berada di tangan rakyat (demokrasi: kekuasaan rakyat). Kekua-saan rakyat ditentukan oleh suara terbanyak dalam pemilihan raya.

Demi berkuasa apapun dilakukan untuk mendapatkan suara rakyat terbanyak. Bila telah berkuasa: zalim, otoriter dan korup. Upaya yang dilakukan adalah mempertahankan atau menambah waktu dan daerah kekuasaannya. Semakin berkuasa semakin korup dan zalim! Universitas dan civitas academica lazimnya berorientasi pada ilmu dengan tradisi akademis. Tujuannya menemukan kebenaran: keberadaan pengetahuan yang benar. Knowledge is power. Pengetahuan adalah kekuatan. Oleh sebab itu, usaha utama menemukan pengetahuan yang benar dan kebenaran ilmu itu tidak dapat diputuskan berdasarkan kekuatan orang yang banyak pengetahuan. Hasil suatu penelitian tidak ditentukan kebenarannya melalui pemilihan suara terbanyak dalam suatu seminar. Kebenaran suatu penelitian hanya bisa dibatalkan oleh penelitian lain yang membuktikan hasil penelitian itu palsu. Selama tidak ada penelitian yang membuktikan kepalsuannya falsification, maka suatu penelitian masih benar sampai saat itu. Walaupun kebenaran itu ditemukan oleh seorang

dan ditolak oleh banyak orang. Universitas yang ideal, kampusnya sebagai pusat kebudayaan. Suatu wahana yang memelihara, mengembangkan, memajukan budaya dan peradaban. Di sana berkumpul suatu masyarakat yang berbudaya. Tujuannya membangun budaya juga peradaban. Universitas di suatu masyarakat harus jadi sumber gagasan dan model budaya. Bahkan pembangun peradaban suatu masyarakat. Maka seyogyanya, masyarakatlah yang meniru budaya di universitas. Kampusnya tidak boleh dikendalikan masyarakat atau politisi. Universitas tidak patut menjadi pelayan politik praktis. Universitas tidak elok meniru apa yang dilakukan oleh partai politik; legislatif, eksekutif dan yudikatif sekalipun. Sebab universitas adalah sumber gagasan dan pengetahuan baru yang memajukan budaya dan peradaban dengan meneroka masa depannya. Di dalamnya termasuk politik sebagai ilmu, metoda, dan masyarakat. Jangan jadikan politik sebagai panglima di kampus! Sebagai akademia, kebenaran dan ilmu adalah logico-rational-nya universitas. #

Ilustrasi: Dayat BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

23


SEMPENA

Belajar Sambil Melestarikan Tradisi Oleh Muhammad Hasbi

DUA mahasiswa menghadap sebuah papan berbentuk perahu dengan tujuh lubang kecil sejajar dan dua lubang besar di ujungnya. Emi mengoper satu per satu biji dalam genggamannya ke setiap lubang. Sedangkan Faisal memandangi papan, menanti giliran. Permainan ini disebut congkak, salah satu permainan tradisional yang banyak mengandung konsep matematika. Sebelum permainan dimulai, semua lubang kecil harus diisi biji dengan jumlah sama banyak. Bermain congkak mengajarkan kita untuk jujur serta taat akan aturan yang ada. Congkak menjadi salah satu inspirasi Yenita Roza dalam melakukan penelitian. Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau Jurusan Matematika ini ingin mengenalkan kembali permainan tradisonal lewat pelajaran matematika. “Bagaimana konsep matematika bisa dipahami sambil bermain dan ada nilai karakternya,” kata Yenita.

Lengkapnya Yenita meneliti Analisis Pemikiran Matematika pada Permainan Tradisional dan Tradisi Rakyat Daerah Riau untuk Pengembangan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Matematika Realistik. Penelitian tersebut mendapat support dana Strategi Nasional (Stranas) pada tahun 2011 dan 2013. “Endingnya akan dibuat buku untuk guru matematika di sekolah,” ujarnya. SEMUA ini bermula dari tuntutan pemerintah melalui Dinas Pendidikan Nasional soal pendidikan berkarakter. Kurikulum 2013 mewajibkan semua mata pelajaran harus menerapkannya, tak terkecuali matematika. Yenita lantas berpikir nilai karakter pada matematika bisa diimplementasikan pada permainan tradisional. Yenita bersama timnya, Titi Solfitri dan Syarifah Nur Siregar mulai turun ke daerah pada Mei 2012. Ada tiga lokasi yang dipilih: Siak, Pekanbaru dan Kampar. Siak mewakili daerah yang

Suryadi BM

Data Diri Nama : Hj. Yenita Roza, Ph.D TTL : Painan, 14 Juni 1963 Pendidikan: S1 Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang BAHANA MAHASISWA S2 University of Kentucky Lexington Edisi Maret-April Tahun 2013 S3 Kansas State University Manhattan Organisasi: Bulan Tsabit Merah Provinsi Riau 2007 Pusat Data dan Informasi Perempuan Riau (Pusdatin Puanri)

24

masih kental tradisi. Pekanbaru dinilai sebagai daerah perkotaan yang permainan tradisionalnya mulai hilang. “Sedangkan Kampar merupakan daerah perbatasan kota dan kabupaten. Jadi bisa mewakili daerah lainnya,” jelas Yenita. Dari hasil jelajah, mereka putuskan ada tujuh permainan tradisional yang cukup besar kaitannya dengan pelajaran matematika. Selain congkak yang sudah dijelaskan di atas, permainan lainnya yakni besimbang. Besimbang banyak dimainkan di daerah pantai dengan alat bantu kulit kerang. Cara bermainnya, kulit kerang akan dilambung. Saat kulit kerang berada di atas, pemain harus sigap mengambil kulit kerang lain yang ada di lantai. Begitu seterusnya, diambil satu per satu hingga kulit kerang terambil semua. Para pemain besimbang duduk melingkar dengan jarak sama. Yenita menuliskan dalam penelitiannya, jarak ini menerapkan konsep lingkaran dalam ilmu matematika. Selain itu, konsep perhitungan—tambah-kurang-kali-bagi—juga ada dalam permainan ini. Nilai karakternya demokratis, jujur, cerdas, cermat dan tepat terutama dalam mengambil kulit kerang di lantai. Selain besimbang, guli atau kelereng juga menerapkan konsep lingkaran. Para pemain dituntut bisa mengukur jarak yang tepat sehingga guli yang dilentikkan tepat masuk ke lubang berbentuk lingkaran. Konsep bangun datar diterapkan Yenita melalui permainan galah. Ia biasa dimainkan dalam regu. Akan dibuat garis berbentuk bangun datar seperti persegi, persegi panjang atau segitiga. Regu yang bertahan akan menjaga garis lapangan agar regu penyerang tak bisa lewat. Regu bertahan berusaha menyentuh penyerang agar bisa menang. Sedangkan pe-


SEMPENA Internet

FOTO

nyerang berusaha melewati garis depan hingga belakang dan kembali lagi ke depan. Jika berhasil tak tersentuh, mereka menang. Permainan ini mengajarkan kita untuk sabar, jujur, gigih dan menerima kekalahan. Permainan tradisional ligu juga menerapkan konsep bangun datar. Permainan ini menggunakan tempurung kelapa yang belum terlalu tua serta sebilah bambu untuk memukul ligu. Cara bermainnya, pemain harus bisa menjatuhkan ligu lawan yang tertancap di tanah dengan ligu miliknya yang digerakkan dengan sebilah Bila berhasil, ia menang. Ligu bisa dibentuk menjadi apa saja sesuai keinginan pemain. Kreatif, terampil, cerdas, dan ketelitian diperlukan dalam permainan ini. Satu permainan tradisional lagi yang menerapkan konsep bangun datar yakni rimau. Permainannya mirip dengan catur. Biasanya digunakan media papan yang digores membentuk petak-petak seperti papan catur. Petak-petak tersebut diisi bebatuan kecil. Permainan ini mengajarkan menghitung peluang. Jika satu batu dipindahkan, berapa besar peluang bisa menang. Perlu kecerdasan

serta kekreatifan tinggi dalam bermain rimau. Begitu pula pada permainan setatak. Area bermain dengan bentuk persegi, trapesium maupun lingkaran mengajarkan materi bangun datar. SELAIN permainan tradisional, Yenita Roza juga membidik beberapa tradisi daerah yang menerapkan konsep matematika. Malamang misalnya. Makanan khas daerah Kampar ini dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang. Konsep matematikanya menyangkut luas daun pisang yang harus digunakan. Selain itu, “Berapa liter beras yang harus diisi ke bambu serta perbandingan banyaknya beras dan santan yang diperlukan,� jelas Yenita. Lampu Colok adalah tradisi lainnya dalam penelitian Yenita Roza. Konsep matematika diperlukan dalam merangkai lampu colok membentuk sebuah bangun yang diinginkan. Kendala waktu jadi persoalan tersendiri bagi Yenita untuk melakukan penelitian terkait tradisi masyarakat. Ia harus menunggu event besar, baik untuk Malamang maupun

Lampu Colok. Tradisi Lampu Colok bisa diamati Yenita melalui event Lomba Minggu Budaya di Siak. Sedangkan Malamang dilihatnya saat ada pernikahan seorang tetua di Kampar. YENITA Roza berharap hasil penelitiannya bisa merubah pendapat anakanak soal matematika. Ia juga ingin anak-anak tak melupakan permainan tradisional. “Anak sekarang mainnya komputer, games atau nongkrong dengan teman-teman. Padahal permainan tradisional asyik juga,� ujarnya. Ia coba mewujudkan asanya melalui penelitian ini. Suatu kali Yenita turut mengajarkan anak-anak SDN 018 Teluk Kenidai Kampar bermain setatak. Di setiap kotak diberi satuan uang. Anak-anak diajarkan pelajaran mata uang. Kegiatan tersebut membuat guruguru menjadi sadar ternyata pelajaran matematika bisa diterapkan melalui permainan tradisional. Dengan begitu, keinginan Yenita mengajarkan konsep matematika melalui permainan tradisional sekaligus melestarikan permainan tradisional yang kian langka menjadi kenyataan. # BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

25


KILAS BALIK

Rumah Melayu Bekas Markas Perjuangan Oleh Suryadi RUMAH pang gung berdinding papan dengan cat cokelat tua berada di pinggir Sungai Siak. Dua daun jendela dihiasi gorden putih terbuka menghadap sungai. Pintu masuk terletak di bagian samping rumah. Untuk masuk ke dalam rumah, tangga batu putih yang mulai kusam harus disusuri. Di kolong rumah ada pintu masuk lainnya, tertutup papan. Ruang bawah ini dijadikan gudang penyimpanan. Ini rumah H. Yahya. Catatan riwayat rumah tertempel rapi di dinding bagian kanan dekat pintu masuk. Ia akan terlihat ketika hendak menginjakkan kaki ke dalam rumah. Catatan tersebut dibuat Drs. H. A.Tanwir Ayang, MSi. “Bapak kena stroke, tak bisa bicara, tapi masih bisa berjalan,” ujar Irfan. Irfan anak Tanwir Ayang. Tanwir dikenal sebagai budayawan Riau yang telah lama menetap di Jalan Perdagangan Kampung Bandar Senapelan nomor 212. Ia menantu Hj. Razmah Yahya, anak kedua H. Yahya. Rumah H. Yahya bukan rumah biasa. Tiang penyangganya cukup tinggi, berbeda dari rumah sekitarnya. Elmustian Rahman, Ketua Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan (P2KK) Universitas Riau menyatakan, bentuk rumah cerminan strata sosial pemiliknya. “Semakin tinggi tangga batu rumahnya, semakin tinggi strata sosialnya di masyarakat,” jelas Elmustian. Model rumah melayu juga punya filosofi tersendiri. “Rumah beratap limas berdinding papan yang disusun vertikal, seperti rumah H. Yahya, hanya boleh dimiliki orang kaya atau yang punya kekuasaan di lingkungan itu,” kata M. Tohirin, anggota Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). BPCB berpusat di Batu Sangkar dengan wilayah kerja Sumatera Barat, Kepulauan Riau dan Riau.

26

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

Kini rumah H. Yahya terdiri dari tiga ruangan. Ruang depan diisi dua mesin tenun. Kegiatan menenun dilakukan warga sekitar. “Dengan kegiatan ini kita dapat ilmu, dari pada tidur di rumah, lebih bagus belajar menenun di sini,” kata Ruhaya sambil memainkan alat tenun. Ruhaya merupakan warga sekitar rumah H. Yahya yang aktif belajar menenun di rumah tersebut. Ruang tengah dibagi tiga kamar. Satu tiang penyangga menuju lantai atas berada di tengah ruangan. “Dulu kalau tamu datang anak-anak H. Yahya naik ke lantai atas sambil ngintip-ngintip tamu,” kenang Irfan. Kini lantai atas sudah tak digunakan lagi. Tiang penyangga untuk naik ke lantai atas pun sudah tak ada. Satu ruangan lagi dijadikan dapur, letaknya agak rendah dari ruang depan dan ruang tengah. Dapur ini sudah direnovasi. “Dulunya dinding kayu, sekarang sudah jadi beton,” kata Irfan. Tak hanya dapur, sebagian tiang rumah dan lantai juga sudah direnovasi. “Kayunya sudah mulai kering dan lapuk,” tambahnya. MENURUT catatan yang ditulis Tanwir Ayang juga dari pengakuan Irfan, anaknya, H. Yahya memang seorang kaya dan berpengaruh di lingkungannya. Ia seorang tauke getah karet dan pedagang komoditas pokok. Irfan bercerita, karet diambil dari Tapung—saat itu Tapung jadi pusat dagang karet terbesar—dibawa H. Yahya ke Pekanbaru. Kini Tapung merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kampar. Setelah tiba di Pekanbaru, karet dilayarkan dengan perahu ke Singapura. Seminggu kemudian, bahan pokok seperti gula dan beras dibawa kembali ke Pekanbaru dari Singapura. Model perdagangan barter seperti itu yang dilakukan H. Yahya.

Karet ditukar dengan komoditas pokok. Komoditas pokok yang dibawa dari Singapura ini kemudian dijual H.Yahya kepada masyarakat sekitar kampung. Dari hasil perdagangan itu ia membangun sebuah rumah di sekitar Sungai Siak pada 1887. “Agar mudah menambatkan perahu dan dekat dengan rumah,” jelas Irfan. Rumah itu kini dikenal sebagai rumah H. Yahya. Di rumah tersebut, H. Yahya tinggal bersama isterinya Zainab dan kelima anaknya: H. Abdul Hamid Yahya, Hj. Razmah Yahya, Kamsiah Yahya, Hj. Ramnah Yahya dan Nursiah Yahya. Sebelum kemerdekaan Indonesia, rumah H. Yahya pernah menjadi markas pergerakan pejuang fisabilillah. Pejuang fisabilillah membantu dalam merintis kemerdekaan Indonesia. Perjuangan dirintis lewat jalur dakwah. Anak pertama H. Yahya, Abdul Hamid Yahya ikut terlibat dalam perjuangan. Pejuang fisabilillah menjadikan rumah ini tempat berkumpul, rapat serta penyimpanan logistik sekaligus dapur umum. Menurut Irfan, sebenarnya para pejuang fisabilillah punya rumah masing-masing di sekitar kampung Bandar Senapelan. Namun rumah H. Yahya dijadikan tempat berkumpul karena rumahnya paling besar. Setahu Irfan, saat itu H. Yahya berperan menyediakan logistik untuk para pejuang fisabilillah. Ia juga bantu memasok senjata dari Singapura. Anak-anak perempuan H. Yahya membantu sediakan makanan. “Kalau sudah masak, anak perempuan membungkus nasi untuk pejuang fisabilillah,” kata Irfan. Tanwir Ayang dalam catatan riwayat rumah H. Yahya yang ditulisnya menyatakan penjajah Belanda mengetahui


KILAS BALIK Endut Gani, Umar Usman, A. Hasyim, T. Mahmud Anzam, Azhar Jalil, M. Taher. Langsung di bawah komando Gerakan Pembela Proklamasi 17 Agustus 1945, dipimpin Overste Suhendro dan Overste Magenda, mereka diberangkatkan dalam dua gelombang ke basis Tanjung Pinang. Untuk mengetahui pertahanan PRRI di sepanjang Sungai Siak dan Pekanbaru, M. Taher dan Hasyim dikirim ke Pekanbaru untuk mengambil laporan dan harus kembali sebelum 8 Maret 1958. Langkah pertama pemerintah RI dalam merencanakan operasi militer di daerah Riau adalah menduduki Pekanbaru dengan cara menguasai jalan Dumai-Pekanbaru dan jalan Sungai Pakning-Pekanbaru. Pukul 7.30 pasukan payung yang terdiri dari Regu Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan (Pasukan Gerak Tjepat Angkatan Udara Republik Indonesia (PGT AURI) diterjunkan di lapangan terbang Pekanbaru. Pukul 12.00 lapangan terbang dapat digunakan untuk mendaratkan pesawat-pesawat dan tepat pukul satu siang Kota Pekanbaru dan pelabuhan dapat diduduki. Pasukan PRRI satu batalyon menyerah tanpa perlawanan, ada yang melarikan

diri dan membuang senjata. SEIRING berjalan waktu, anak-anak H. Yahya menikah dan tinggal di rumah masing-masing. Namun Razmah, anak kedua H. Yahya, bersama suaminya, Muhammad Sech tetap menempati rumah H. Yahya. Tak berapa lama, Razmah pindah rumah sehingga rumah H. Yahya ditempati oleh anak keempatnya, Ramnah beserta suami H. Ibrahim. Di rumah tersebut, Ramnah dan H. Ibrahim mengajar mengaji anakanak sekitar kampung. Mereka juga mengajarkan menenun dan membuat songket. Ramnah juga menjadi Mak Andam, penghias pengganti pengantin saat pesta pernikahan. Terakhir, rumah tersebut ditempati Yusuf Ibrahim, anak Ramnah dan H. Ibrahim. Kini, kata Irfan, tak ada keluarga atau keturunan H. Yahya yang tinggal di rumah tersebut. Rumah hanya dijadikan tempat belajar menenun. Dua mesin tenun serta benang pemintalnya memenuhi ruang depan rumah. “Saya sering-sering datang ke sini untuk lihat-lihat,� kata Irfan. Rumah Irfan hanya selemparan batu dari rumah H. Yahya. # Fadli BM

keberadaan rumah dan tempat berkumpul pejuang fisabilillah tersebut. Sehingga demi alasan keamanan, tempat rapat dan pertemuan para pejuang dipindahkan ke Surau Irhaash di Jalan Senapelan. Selain markas pejuang fisabilillah, Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 1958 juga pernah menjadikan rumah H. Yahya markas sekaligus tempat tinggal mereka. Ini terjadi saat era penumpasan pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng) khususnya Riau. PRRI merupakan gerakan pertentangan antara pemerintah pusat (Jakarta) dengan pemerintah daerah, dideklarasikan pada 15 Februari 1958. Gerakan ini dipengaruhi adanya tuntutan otonomi daerah lebih luas. Tim penyusun Universitas Riau pada buku sejarah Riau menuliskan, di tengah pemberontakan, Soekarno, Presiden Republik Indonesia keluarkan perintah untuk menindak pemberontakan tersebut. Atas perintah Presiden, pejuangpejuang daerah Riau menggabungkan diri dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Mereka, H.R. Syamsuddin, A. Manaf Hady,

Fadli BM Rumah H. Yahya kini digunakan untuk kursus menenun bagi warga sekitar.

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

27


BINCANG-BINCANG

RUU P2H: Kriminalisasi Masyarakat Adat Istimewa

penden, dimana keanggotaannya terdiri dari komunitas masyarakat adat di Nusantara. AMAN mengadvokasi permasalahan terkait pelanggaran HAM, perampasan tanah adat, pelecehan budaya serta kebijakan yang berakibat pada kehidupan masyarakat adat. Berikut kutipannya.

Apa keuntungan adanya aturan ini? Dibaca dari pasal-pasalnya, tentu seakan-akan memberantas pembalakan dan perusakan hutan. Namun substansinya rancu dan sarat dengan kriminalisasi.

Efri Anto, Ketua Badan Pelaksana Harian AMAN Riau

RANCANGAN Undang-undang Pemberantasan Perusakan Hutan, disingkat RUU P2H sedang dalam tahap pembahasan oleh Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Komisi ini membidangi pertanian dan kehutanan. Rancangan dibahas dalam Sidang Paripurna untuk ditentukan disahkan atau tidaknya. Melalui rancangan ini, Kementerian Kehutanan berharap ada dasar hukum untuk berantas illegal logging serta penebangan illegal. Di tengah pembahasan, penolakan terhadap rancangan berdatangan. Salah satunya dari Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kelestarian Hutan, disingkat KMSKH. Menurutnya, rancangan ini memuat aturan-aturan yang mengkriminalisasi masyarakat sekitar hutan. Dikutip dari sawitwatch.or.id, ada ketentuan berisiko merugikan masyarakat. Ketentuan tersebut ada dalam pasal 11 huruf a juncto Pasal 82. Dinyatakan jika terjadi penebangan di kawasan hutan tidak sesuai perizinan yang dilakukan orang di sekitar dan dalam

28

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

kawasan maka dikenakan sanksi. Pidana penjara tiga bulan hingga sepuluh tahun serta denda hingga lima miliar rupiah. Protes juga datang dari Sulawesi. Rahman Dako, aktivis lingkungan dari Sustainable Coastal Livelihoods and Management (Susclam) Teluk Tomini katakan, di Gorontalo masih banyak desa di kawasan hutan. Mereka mudah terjerat aturan ini jika disahkan. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia biasa disebut Komnas HAM, meminta DPR RI menunda pembahasan RUU P2H sampai ada jaminan pemenuhan hak-hak masyarakat adat/lokal yang bergantung hidup dari hutan. Jangan sampai terjadi konflik lagi hingga masyarakat yang menjadi korban. Pertanyaannya, apakah RUU P2H ini akan mengurangi atau menambah konflik? Akhir April Kru Bahana Mahasiswa Ahlul Fadli berbincang dengan Efri Anto, Ketua Badan Pelaksana Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, disingkat AMAN Riau. Organisasi kemasyarakatan inde-

Maksudnya? Di Indonesia banyak masyarakat adat. Menurut data dari Dewan Kehutanan Nasional atau DKN dan Kementerian Kehutanan, sekitar 30 ribu desa di dalam kawasan atau sekitar hutan. Mereka hidup bergantung pada hasil hutan. Jika rancangan ini disahkan Komisi IV DPR RI, maka masyarakat sekitar hutan akan terancam dikriminalisasikan. Bagi masyarakat adat sendiri, hutan bukan hanya sumber pangan dan ekonomi, tapi ada keterikatan batin antara mereka dan hutan. Kriminalisasi seperti apa? Posisi masyarakat adat yang bermukim di sekitar atau dalam hutan sekitar 30 ribu desa. Mereka hidup dari hasil hutan. Jika aturan yang tidak berpihak kepada masyarakat adat disahkan, tentu mereka dikriminalisasi di kawasan mereka sendiri—lihat pasal 11 huruf a juncto pasal 82—masyarakat tak bisa mengambil hasil hutan, jika diambil tentu akan dikenakan sanksi. Dan akhirnya bisa saja menimbulkan konflik baik antar masyarakat ataupun pemerintah atau perusahaan. Apa yang telah AMAN lakukan untuk membela hak masyarakat adat?


BINCANG-BINCANG AMAN sudah melakukan judicial review terhadap UU 41 tahun 1999 ke Mahkamah Konstitusi. Permintaannya agar hutan adat diakui. Sampai saat ini persidangan telah selesai kita jalani, namun putusannya belum keluar. Kita juga mendesak agar RUU Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat segera disahkan. Aturan ini nantinya diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan sengketa hak masyarakat adat. Pasalnya selama ini pengakuan dan perlindungan hak adat hanya diakomodasi dalam Undangundang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang-undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil.

Selain itu, pemetaan partisipatif wilayah adat juga kita lakukan. Pemetaan yang bertujuan untuk pengorganisasian dan memberdayakan masyarakat untuk menyelesaikan konflik dan melakukan advokasi baik tingkat daerah atau nasional. Setelah adanya RUU P2H, kita langsung adakan hearing dengan DPR RI dan Komisi IV. AMAN Riau juga menolak adanya RUU ini dan menyampaikan kepada pemerintah melalui pertemuan-pertemuan dengan pihak terkait. Kita juga memberitakannya kepada Ketua Komisi IV melalui pesan elektronik.

Jika bukan RUU P2H, apalagi yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjaga hutan? Pertama, pemerintah mencabut atau merevisi Undang-undang 41 tahun 1999 tentang kehutanan. Sehingga hutan adat diakui dan dikelola masyarakat adat. Kedua reformasi agraria, penataan kembali penggunaan dan penguasaan agraria agar digunakan untuk kepentingan rakyat. Ketiga pemerintah dapat mengesahkan RUU Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat. Serta pemerintah memberi pengakuan utuh terhadap wilayah hutan adat. #

Istimewa

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

29


REPORTASE

Sebongkah Asa pada Prodi Oleh Jeffri Novrizal Torade Sianturi

UR berniat menaikkan akreditasinya yang kini C. Namun semua tergantung prodi

KARPET merah terbentang di pintu masuk dekanat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (Faperika) Universitas Riau (UR). Lantai dan anak tangga bersih. Buku tersusun rapi di samping anak tangga. Di lantai dua dekanat, beberapa orang keluar masuk ruang dekan. “Ada pertemuan dengan tim asesor,” kata pegawai dari Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP). Selesai pertemuan di ruang dekan, rombong an menuju Prodi MSP. Ketua dan Sekretaris mengecek lagi berkas lampiran dalam borang (dokumen) akreditasi. “Visitasi ini berlangsung dua hari. Hari ini evaluasi borang, setelah itu cek fisik,” ujar Prof. Dra. Norma Afiati, BSc, MSc, Ph.D, salah seorang asesor. Ia mengibaratkan visitasi seperti jepret keadaan. “Baru luarnya saja, bagian dalam kuasa BAN-PT,” tambahnya. Norma tak sendiri. Ia datang bersama Prof. Dr. Ir. H. Ari Purbayanto, MSc. Norma bertanggung jawab evaluasi sisi prodi, sedangkan Ari dari sisi institusi. AKREDITASI merupakan penilaian terhadap kualitas pendidikan. Tim penilainya (asesor) harus paham selukbeluk pengelolaan satuan pendidikan. Mutu pendidikan suatu perguruan tinggi dinilai dari akreditasinya. Pemberian akreditasi suatu perguruan tinggi maupun program studi merupakan wewenang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Untuk menjamin mutu akreditasi, sejak 1994 Kemendikbud membentuk Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Landasannya Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi. BAN-PT melaporkan tugasnya kepada Menteri Pendidikan Nasional.

30

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

Fadli BM

Spanduk sosialisasi akreditasi di depan kampus FISIP UR. Rektor sedang gencar menyosialisasikan peningkatan akreditasi di UR.

Ada tujuh standar penilaian dalam borang akreditasi. Pertama, visi, misi, tujuan dan sasaran serta strategi pencapaian. Prodi Ilmu Kelautan Faperika misalnya, mencantumkan tiga bidang pada sasaran pengembangannya. “Pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” kata Irvina Nurrachmi, Ketua Prodi IK. Standar kedua, tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu. Prinsipnya kredibilitas, transparansi, tanggung jawab dan keadilan. Mahasiswa dan lulusan prodi menjadi standar ketiga. Dijelaskan sistem penyeleksian prodi agar mendapatkan sumber daya kompeten sehingga mampu bersaing di kancah internasional. Standar keempat keunggulan sumber daya manusia. Intinya bagaimana prodi mendayagunakan mahasiswa dan dosen yang ada. Kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik dibahas pada standar kelima. Mulai dari bagaimana prodi merancang, melaksanakan, memonitor hingga meng-

evaluasi sistem pembelajaran. Termasuk bagaimana prodi menyusun mata kuliah sehingga bisa memenuhi standar. Selanjutnya standar keeanam menyoroti pembiayaan, sarana dan prasarana serta sistem informasi. Semua sarana dan pembiayaannya dinilai, seperti laboratorium, kantor, komputer dan lainnya. Standar terakhir terkait penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama. “Awalnya kita rapat jurusan dulu untuk bentuk tim pengisian borang,” kata Irvina menjelaskan prosedur untuk memperoleh akreditasi. Kini tim penyusun borang akreditasi IK tengah sibuk menyusun semua syarat yang diperlukan. Agustus tahun ini akreditasi IK akan kadaluarsa. Jurusan IK mendapat akreditasi A pada tahun 2008. Akreditasi berlaku selama lima tahun. Prosedur pengurusan akreditasi dimulai dengan pemberitahuan dari BAN-PT kepada prodi. Kemudian prodi mengadakan rapat untuk mem-


REPORTASE bentuk tim pengisi borang dan tim evaluasi diri. Setelah evaluasi, laporan dikirim ke BAN-PT dan akan dibalas dengan pemberian borang. Borang yang telah dilengkapi dikirim lagi ke BAN-PT yang nantinya akan dinilai. Setelah BAN-PT meninjau laporan, akan dilaksanakan visitasi. Tim asesor yang ditunjuk melakukan kunjungan lapangan untuk memverifikasi borang yang telah dikirim. Usai tinjau lapangan, diadakan evaluasi kembali. Laporan tim asesor menjadi bahan pertimbangan dari penilaian BAN-PT. Ujungnya diumumkan prodi tersebut terakreditasi atau tidak. Di Prodi IK, Joko Samiaji ditunjuk sebagai tim penyusun borang akreditasi. Perkembangan persiapannya, kata Ir vina, masih sampai tahap melengkapi berkas. “Masih ada beberapa lampiran yang belum diperoleh,” katanya. Sesuai aturan, mestinya borang sudah dikirim sejak Februari lalu. “Sampai kini belum ada dikasih peringatan karena terlambat,” ujar Irvina. “BAGI yang terlambat mengurus akreditasi akan dikenakan sanksi,” kata Aras Mulyadi, Pembantu Rektor I UR. Sanksinya, lanjut Aras, prodinya tidak diakui universitas. Kini pihak universitas sedang berusaha menaikkan akreditasi UR dari C menjadi B. Ini diakui Aras Mulyadi. “Kita mendorong prodi untuk mengurus akreditasi dengan memberi bantuan biaya,” ujarnya. Untuk menaikkan akreditasi UR, syaratnya, jelas Aras, harus ada 15 persen prodi berakreditasi A. Bahana mencari update data akreditasi dari situs resmi BAN-PT. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi mencatat ada 53 prodi di Universitas Riau, dari jenjang D-II, D-III, S-1, hingga S-2. Saat dicek per 16 Mei 2013, hasilnya 3 prodi terakreditasi A, 35 prodi akreditasi B dan 15 prodi akreditasi C. Akreditasi A diperoleh Prodi Budidaya Perairan, Ilmu Kelautan dan Teknologi Hasil Perikanan. Semuanya dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Sebanyak 16 prodi tercatat kadaluarsa akreditasinya. Data ini menunjukkan persentase akreditasi prodi-prodi di UR belum mencapai 15 persen. Berbagai cara dilakukan UR agar seluruh pihak serius mengurus akre-

ditasi. Salah satunya sosialisasi. Ia dilakukan UR di bawah Unit Kerjasama Hibah-Unit Koordinasi Non Hibah (UKH-UKNH) pada Oktober 2012. Pertemuan membahas bagaimana setiap prodi harus mempersiapkan akreditasi. UKH-UKNH juga meluncurkan Program Hibah Kompetensi bagi program studi yang sedang melakukan akreditasi. “Kita bantu mengurus akreditasi dengan memberi bantuan dana,” kata Aras Mulyadi. PONDOKAN usang berdiri di belakang gedung dekanat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), 29 April. Spanduk bertuliskan Seribu Uang Anda sangat Berarti bagi Kami terpasang di depan pondokan. Tak lupa bendera setengah tiang dan kotak sumbangan. Sejak pukul 10.00, Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom) FISIP melakukan aksi damai. Ini terkait laboratorium Komunikasi yang belum selesai. “Kotak sumbangan banyak yang mengisi, mahasiswa dan dosen,” kata Saipudin Ikhwan, Ketua Himakom. Aksi sekaligus penggalangan dana ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan karena pembangunan laboratorium tak kunjung selesai. “Pihak dekanat katakan paling lambat dilelang bulan April, tapi sampai sekarang belum juga selesai pembangunan. Kita dibohongi,” kata Saipudin. Laboratorium merupakan salah

satu standar penilaian akreditasi. Saat tim asesor datang meninjau ke lapangan, laboratorium Ilmu Komunikasi belum selesai. Ini terjadi tahun 2009 lalu. “Tertunda karena masalah dana,” kata Rusmadi Auza, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi. Sampai kini laboratorium tersebut belum juga selesai. Sarana praktikum mahasiswa Komunikasi lainnya berupa stasiun radio. Namun sejak beberapa bulan lalu stasiun ini tak difungsikan lagi. Ruangannya selalu tertutup. “Rusak,” kata Andi Arivai, Wakil Ketua Himakom. Pembantu Dekan I FISIP Yoserizal optimis persoalan tersebut bisa teratasi. “Kita terdaftar dalam program hibah kompetensi. Dapat bantuan dana dari universitas. Jadi masalah ini pasti selesai,” ujarnya. Cerita lain datang dari Prodi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) FKIP UR. Kendala prodi ini ada pada lulusannya. Akreditasinya C karena belum ada mahasiswa S-1 yang lulus. “Wajar saja. Sejak passing out, kita baru buka program S-1 pada 2009, jadi belum ada yang lulus,” kata Aswandi Bahar, Ketua Prodi PLS. Menurut Aras Mulyadi, kendala utama peningkatan akreditasi memang terletak pada ketersediaan fasilitas. Namun ia optimis akreditasi universitas bisa meningkat. “Saya berharap akreditasi UR bisa jadi B, mungkin A,” katanya. Memang butuh kerja ekstra prodi-prodi untuk mewujudkan harapan Aras. #

Bagi yang terlambat mengurus akreditasi akan dikenakan sanksi,” kata Aras Mulyadi, Pembantu Rektor I UR. Sanksinya, lanjut Aras, prodinya tidak diakui universitas.

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

31


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53

D-II D-III D-III D-III D-III D-III D-III D-III S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-1 S-2 S-2 S-2 S-2 S-2

Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Akuntansi Manajemen Informatika Perpajakan Teknik Elektro Teknik Kimia Teknik Mesin Teknik Sipil Agribisnis Akuntansi Arsitektur Biologi Budidaya Perairan Budidaya Pertanian Ekonomi Pembangunan Fisika Hubungan Internasional Ilmu Administrasi Negara Ilmu Administrasi Niaga Ilmu Hukum Ilmu Kelautan Ilmu Keperawatan Ilmu Komunikasi Ilmu Pemerintahan Kimia Manajemen Manajemen Sumber Daya Perairan Matematika Pemanfaatan Sumberdaya Perairan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Biologi Pendidikan Dokter Pendidikan Ekonomi Pendidikan Fisika Pendidikan Kimia Pendidikan Matematika Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Pendidikan Sejarah Sosial Ekonomi Pertanian Sosiologi Teknik Elektro Teknik Kimia Teknik Lingkungan Teknik Mesin Teknik Sipil Teknologi Hasil Perikanan Teknologi Hasil Pertanian Ilmu Administrasi Ilmu Politik Kajian Ilmu Lingkungan Manajemen Sosiologi

Peringkat C C C B C C C C B B C B A B B B B B B B A C B B B B B B B B C B B B B B B B B B B C B C C B A C B C B B B

Tingkat Daluarsa 15 Juni 2009 29 Juni 2012 30 April 2015 8 Desember 2016 20 Desember 2014 24 April 2014 10 Januari 2014 28 November 2013 18 Maret 2016 14 Juli 2016 18 Oktober 2017 6 Mei 2016 29 Desember 2016 17 Juni 2009 24 Oktober 2013 12 Januari 2013 18 Januari 2013 11 Februari 2016 17 Juli 2014 14 Agustus 2013 14 Agustus 2013 7 Januari 2016 23 Mei 2014 28 Agustus 2014 10 Juli 2014 14 Juli 2016 8 Desember 2011 23 Juni 2016 24 Agustus 2013 23 Juli 2009 29 November 2014 13 Januari 2012 9 September 2016 26 Mei 2012 30 Desember 2011 2 Juli 2009 30 Juni 2012 9 Juli 2008 21 Februari 2018 9 Juli 2008 14 Desember 2012 27 April 2017 13 November 2013 18 Oktober 2017 27 Juli 2017 16 September 2014 10 Agustus 2017 29 Mei 2014 8 Desember 2011 28 November 2013 23 Mei 2013 3 Agustus 2013 29 Mei 2014

Status Daluarsa Kadaluarsa Kadaluarsa Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Kadaluarsa 161 hari lagi kadaluarsa Kadaluarsa Kadaluarsa Masih berlaku Masih berlaku 90 hari lagi kadaluarsa 90 hari lagi kadaluarsa Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Kadaluarsa Masih berlaku 100 hari lagi kadaluarsa Kadaluarsa Masih berlaku Kadaluarsa Masih berlaku Kadaluarsa Kadaluarsa Kadaluarsa Kadaluarsa Kadaluarsa Masih berlaku Kadaluarsa Kadaluarsa Masih berlaku 181 hari lagi kadaluarsa Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Masih berlaku Kadaluarsa Masih berlaku 7 hari lagi kadaluarsa 79 hari lagi kadaluarsa Masih berlaku

Edisi Maret-April Tahun 2013

Program Studi

32

Tingkat

Sumber: ban-pt.depdiknas.go.id BAHANA MAHASISWA

Data Akreditasi Program Studi Universitas Riau per 16 Mei 2013

REPORTASE

No


OPINI Shariyani Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Riau Angkatan 2011

Pelayanan di Kampus, Puaskah Kit a? BIROKRASI jadi sorotan seiring bergulirnya reformasi. Lantas muncul ungkapan reformasi birokrasi. Banyak penilaian datang. Beberapa pihak mengkritisi kinerja birokrasi. Berbagai macam indikator digunakan. Salah satunya, melihat bagaimana cara penggerak motor birokrasi menjalankan tugas memberikan pelayanan. Tak jarang jawaban pahit kerap terdengar. Mendapat pelayanan baik menjadi kebutuhan setiap orang, kapan dan dimana saja. Salah satu lingkupnya ialah birokrasi kampus. Pertanyaannya adalah sudahkah mahasiswa merasakan pelayanan baik di kampus? Saya rasa belum sepenuhnya. Meski tak dipungkiri tentu ada pelayanan kampus yang berjalan baik, sesuai tugas pokok dan fungsinya, walau tak mendominasi. Ketika maha-siswa datang untuk mendapatkan informasi di bagian kemahasiswaan, akademik, pusat komunikasi, atau badan kampus lainnya, tak jarang disambut nada, bahasa dan mimik wajah kurang bersahabat. Kejadian ini yang menjadikan wajah birokrasi kampus jauh dari sempurna.

konsep Weber. Keefisienan yang dimaksud Weber masih jauh dalam penerapannya. Pelayanan lama, berteletele, sambutan tak bersahabat masih terjadi. Sampai mengoper mahasiswa ke sana sini. Birokrasi kampus seakan tak ingin diganggu oleh mahasiswa. Jika merasa tergang gu, apa sebenarnya ker ja mereka? Saya kira, tugas birokrasi tetap memberi pelayanan baik kepada mahasiswa. Lalu mengapa kerja mereka tidak melayani? Meluruskan Mindset Setiap masalah pasti ada akarnya. Jika kita paham bagaimana bentuk, situasi dan kondisi dari akar tersebut, pasti mudah menyelesaikannya. Dalam kaitannya dengan birokrasi kampus, pertama kita harus tahu akar buruk wajah birokrasi kampus. Menurut saya, kurangnya pemahaman pegawai kampus tentang tugas dan fungsi dari pekerjaan yang diembannya menjadi salah satu penyebab. Akibatnya pekerjaan jadi terbengkalai. Ketika tidak tahu, hal kedua yang

harus dilakukan adalah meluruskan mindset mereka. Bagaimana caranya? Gencar lakukan sosialisasi. Dengan begitu para penggerak birokrasi kampus akan ‘berkerja dengan hati’. Selanjutnya pihak kampus harus memberi kebebasan mahasiswa untuk menilai kinerja suatu birokrasi yang berjalan. Evaluasi berguna untuk melihat berhasil atau tidak upaya sosialisasi yang telah dilakukan. Kerja sama dari dalam yang berperan melakukan sosialisasi dan dari pihak luar sebagai pemberi penilaian berguna mewujudkan birokrasi yang lebih baik. Evaluasi rutin perlu dilakukan pimpinan kampus. Pimpinan harus mengimbangkan antara reward and reprimand (hadiah dan teguran) bagi penggerak birokrasi kampus. Reward bertujuan memacu semangat sedangkan teguran diberikan agar penggerak birokrasi kampus kembali konsisten menjalankan tugasnya. Dengan adanya sinergi antara sosialisasi, penilaian publik, evaluasi rutin, reward dan reprimand, birokrasi kampus yang baik pasti terwujud. # Iklan

Kurangnya Pemahaman Jauh sebelum muncul ungkapan reformasi birokrasi, Max Weber— pencetus utama istilah birokrasi—telah menjelaskan konsep birokrasi ideal. Weber mengatakan bahwa birokrasi harus punya semangat melayani tanpa mengenal orang tertentu yang formalistis (spirit of formalistic impersonality). Menurut Weber birokrasi merupakan tipe organisasi paling efisien (bureaucracy is the most efficient type of organization). Kita lihat birokrasi kampus kini sangat bertolak belakang dengan

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

33


KESEHATAN Insomnia Amat Mengganggu Assalamualaikum Wr. Wb., Terima kasih kepada Bahana Mahasiswa yang telah memuat keluhan saya. Akhir-akhir ini saya sangat terganggu dengan insomnia yang saya derita. Sulit sekali tidur padahal saya merasa sangat mengantuk. Karena insomnia ini saya sampai begadang dan akhirnya berimbas terhadap perkuliahan. Saya tidak datang kuliah karena terlambat bangun atau mengikuti kuliah dengan tidak konsentrasi. Bagaimana cara menghilangkan insomnia ini sehingga tidak mengganggu aktivitas perkuliahan saya lagi? Terima kasih. M. Haris Rafiqy Hubungan Internasional 2011 Jawaban dr. Mona: Untuk Haris, Sebagian besar insomnia berasal dari penyebab psikologis. Persoalan yang tidak diselesaikan, bertumpuk dengan persoalan lain. Semua itu akan semakin rumit dicari ujung pangkalnya dan menyebabkan otak kita terus berpikir tapi tidak bisa mencari solusi/ release-nya. Hal ini yang membuat otak

Menghilangkan Lingkaran Hitam DOKTER, saya ingin bertanya tentang lingkaran hitam pada mata saya. Mengapa setiap saya kurang tidur ada lingkaran hitam pada mata? Bagaimana cara menghilangkan lingkaran hitam itu? Lingkaran hitam membuat saya terlihat kelelahan dan lebih tua dari usia saya. Mohon bantuannya ya? Terima kasih. Desi Rahmiaty Jurusan Agroteknologi Faperta UR Jawaban dr. Mona: Desi Rahmiyati, Di bawah mata kita (yang terlihat dari luar) ada jaringan ikat longgar yang banyak mengandung pembuluh darah. Pada kondisi sehat, dimana pembuluh darah di daerah situ berjalan dengan lancar, maka warna kulit permukaannya akan bersemu merah seperti warna kulit di sekitarnya. Dalam kondisi tidak sehat (sedang sakit, kecapaian, anemia) daerah tersebut kekurangan suplai darah sehingga warna kulitnya menjadi

34

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

dr. Mona Amelia, M.Biomed Dosen Fakultas Kedokteran UR

jadi ‘hang’ dan sulit di ‘shut down/hibernate’. Hanya sebagian kecil insomnia yang disebabkan gangguan organik (gangguan produksi melatonin atau gangguan pusat tidur di otak). Jenis insomnia juga macammacam. Ada yang sulit memulai tidur, ada yang mudah terbangun walaupun sudah tertidur, ada juga yang sudah tidur tapi tidak merasa tidur dan bangun masih dalam kondisi lelah seperti tidak tidur. Ketahui dulu jenis insomnia yang Anda alami, lalu laporkan kepada dokter agar Anda diberikan obat tidur yang tepat. Obat tidur bukan solusi dalam mengatasi insomnia. Hanya membantu Anda beristirahat agar kondisi Anda tidak semakin memburuk. Tidak juga semua obat insomnia adalah obat tidur. Jika Anda mengalami insomnia karena kecemasan yang berkepanjangan, obat yang diberikan kepada Anda bukan obat tidur, tapi obat anti cemas (anti-anxietas). Jadi obat-obat ini sangat tergantung pada jenis insomnia Anda. Pengobatan insomnia yang utama adalah menemukan penyebab insomnia dan mengatasi penyebabnya. Posisi dokter di sini adalah sebagai fasilitator kebiruan/kehitaman. Kondisi-kondisi lain yang bisa menyebabkan daerah bawah mata menjadi kehitaman adalah kekurangan cairan (pada saat puasa, sedang mencret, diet berlebihan) atau kerusakan jaringan ikat di sekitar itu karena trauma (misalnya pernah memencet jerawat di daerah sana dan terjadi kerusakan jaringan ikat). Kondisi kecapaian terkadang menjadi suatu lingkaran setan dari kondisi lain. Terlalu banyak aktifitas yang tidak seimbang dengan istirahat akan menyebabkan sakit. Sakit menyebabkan penurunan nafsu makan. Kurang nafsu makan akan menyebabkan anemia. Anemia memudahkan kita menjadi mudah lelah dan tidak bisa bekerja maksimal (seolaholah pekerjaan lebih banyak dari pada istirahat), dan terus berlanjut seperti itu. Saran saya, perbaiki manajemen waktu Anda dalam pembuatan tugastugas kuliah, seimbangkan dengan istirahat. Misalnya jangan menumpuk tugas, tapi menyicil tugas Anda akan memberikan hasil lebih baik. Lalu

yang membantu Anda menemukan penyebab insomnia Anda/masalah Anda. Banyak pasien insomnia (sudah) tidak tahu (lagi) apa yang menyebabkan pikirannya kalut, karena satu masalah sudah ditumpuk dengan masalah lain. Jadi tugas dokter bukan hanya meresepkan obat saja, melainkan membantu anda mencari akar masalahnya. Anda bisa pergi ke dokter umum yang sudah menjadi langganan keluarga anda, dokter saraf, atau dokter psikiatri. Jangan antipati dengan psikiater, karena psikiater tidak identik dengan pasien gila. Psikiater adalah dokter yang mengkhususkan diri dengan penyakit-penyakit yang berawal dari kejiwaan, sehingga memiliki trik dan pengalaman tersendiri untuk membongkar tumpukan masalah Anda dan mencoba mencari akar masalah Anda. # perhatikan asupan vitamin dan cairan anda. Apakah Anda lebih banyak minum kopi/teh/soda? Jika iya maka anda segera perkecil asupan jenis minuman tersebut karena semua minuman itu akan menarik cairan tubuh dan mengeluarkannya melalui urine. Jika menurut Anda hitam di mata Anda memang sudah terlalu sering ada baiknya Anda periksakan Hb (kadar hemoglobin) ke dokter. Jika memang rendah Anda akan diberikan terapi yang tepat untuk mengatasi Hb yang rendah. Jika Anda hampir selalu merasa lelah padahal orang lain dengan beban pekerjaan yang sama tidak selelah Anda, bisa jadi Anda tidak bugar. Olahraga rutin (bukan olahraga sekalisekali) akan membantu Anda meng uptake oksigen lebih baik dari pada jika Anda tidak pernah/jarang berolahraga. asupan oksigen Anda akan lebih efisien sehingga Anda tidak mudah lelah. Olahraga sekali hanya akan membuat tubuh Anda pegal-pegal, tapi olahraga rutin membuat tubuh Anda bugar. #


KARIKATUR

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

35


ARTIKEL ILMIAH

Sepeda Listrik Ramah Lingkungan Oleh Hamzah BUKU itu setebal 28 halaman. Sampulnya mengkilap didominasi warna putih. Sampul belakang tertulis ringkasan isi buku, sedangkan sampul depan terpampang gambar sepeda serta judul buku: Teknik Perakitan Sepeda Listrik. Buku ini diterbitkan oleh UR Press Pekanbaru. Penulisnya M Dalil, ST, MT serta Mulyadi. M. DaliL, merupakan dosen Fakultas Teknik Universitas Riau. Sedangkan Mulyadi mahasiswa D3 Teknik Mesin UR. “Kami berharap buku ini dapat digu-nakan sebagai pedoman dalam pem-buatan sepeda listrik,” tulis mereka pada pengantar buku. Selain itu, penerbitan buku juga bertujuan untuk mengabadikan teknik perakitan sepeda listrik. “Kita perlu kendaraan ramah lingkungan, hemat energi, sekaligus jadi alat bantu olahraga,” ujar Mulyadi. Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia pada 2013 mencapai 94,2 juta unit, cukup tinggi dibanding tahun sebelumnya 84,19 juta unit. Data tersebut dimuat situs Kompas.com pada 26 Februari 2013. “Semuanya menggunakan bahan bakar minyak dan pelumas. Ini menambah polusi di Indonesia,” kata Mulyadi. Untuk mengatasi polusi tersebut, Hardian Putra, Angga Saputra dan Mulyadi membuat sepeda listrik. Ketiga mahasiswa Teknik Mesin UR ini dibimbing oleh dua dosen Teknik, M. Dalil ST, MT dan Dodi Sofyan Arief ST, MT. Pembuatan sepeda listrik sekaligus jadi tugas akhir mereka untuk menyelesaikan studi di UR. Sepeda listrik menggunakan sumberenergi dari baterai atau biasa disebut accumulator (aki). Ia tak perlu bahan bakar minyak untuk tenaga penggerak. Hanya perlu coke listrik di setiap tempat dengan meteran berkartu prabayar. “Perawatan juga lebih murah karena hanya perlu memperhatikan baterai,

36

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

dinamo dan charging,” tulis mereka dalam buku Teknik Perakitan Sepeda Listrik. Komponen pembuatan sepeda listrik terdiri dari roda, rangka, sistem kemudi, rantai, roda gigi, aki, rem, motor listrik dan controller. Ini alat-alat lumrah dalam merakit sepeda, hanya saja mereka agak kesulitan mencarinya. “Tiga hari kita hunting alat, ketemunya di Medan. Pekanbaru nggak ada,” kata Mulyadi. Roda dipilih jenis free wheels, bebas bergerak dengan karet mati agar bisa bergerak lebih ringan. Untuk rangka, mereka pilih material berbahan aluminium alloy yang bisa menahan beban hingga 90 kilogram. Sistem kemudi terdiri dari stang kemudi, kepala kemudi dan batang kemudi. Panjang pendek batang kemudi harus diperhatikan. Batang kemudi yang panjang akan ringan digerakkan, namun kendaraan menjadi tidak lincah. Sedangkan batang kemudi pendek membuat gerakan kendaraan menjadi lincah, namun berat dikendalikan. Rantai digunakan untuk menghubungkan dua poros besar antara roda gigi pada roda dan pedal. Roda gigi diperlukan untuk menghasilkan kecepatan putaran yang bisa diubahubah. Sementara rem digunakan untuk mengurangi kecepatan. Agar sepeda listrik bisa bergerak, digunakan motor listrik yang bisa mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Energi mekanik digunakan untuk memutar roda sepeda listrik. Aki merupakan kimia listrik yang bisa mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Ia diperlukan untuk menggerakkan sepeda listrik. Untuk mengatur kecepatan sepeda, digunakan controller. MULYADI cerita perakitan sepeda listrik dimulai saat kontes yang dia-

dakan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang). Mereka adakan lomba merancang bangun kendaraan roda dua menggunakan energi alternatif untuk wilayah Riau. Hardian Putra, Angga Saputra dan Mulyadi ikut lomba tersebut. Agar terkesan lebih modern, mereka mendesain sepeda berbentuk motor Harley Davidson. Untuk warna sepeda, mereka memilih kombinasi kuning emas dan hijau. “Terinspirasi konsep go green,” kata Mulyadi. Hal pertama yang mereka lakukan untuk mendesain sepeda adalah modifikasi rangka. Besi pipa dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan lalu dibengkokkan. Masing-masing pipa yang telah dipotong kemudian disatukan dan dibentuk seperti rangka sepeda. Setelah itu dilas dengan las listrik. Modifikasi rangka selesai. Selanjutnya perakitan roda gigi untuk roda belakang dan untuk pedal atau pengayuh. Roda gigi berfungsi sebagai alat untuk mentransmisikan daya pada roda agar dapat bergerak. Roda gigi bagian roda belakang dan roda gigi bagian pedal harus dihubungkan dengan rantai. Panjangnya tergantung jarak antara keduanya. Sitem kemudi dipasang pada bagian depan dan atas sepeda untuk mengatur arah sepeda. Sadel dipasang sejajar dengan sistem kemudi untuk tempat duduk pengendara sepeda. Roda dipasang pada rangka sepeda yang telah dibuat penyangga depan dan belakang. Caranya dengan memasukkan poros sebagai penahan roda dan mur sebagai pengunci. Roda depan pada sepeda rakitan Hardian, Angga dan Mulyadi menggunakan roda sepeda dengan rem cakram, sedangkan roda belakang menggunakan roda motor matic. Terakhir perakitan listrik. Motor listrik dirakit pada roda bagian be-


ARTIKEL ILMIAH lakang, kemudian dihubungkan dengan controller agar sepeda bisa bergerak menggunakan tenaga listrik yang berasal dari aki. Berdasarkan kualitas bahan dan kekuatannya, Hardian, Angga dan Mulyadi memperkirakan sepeda dapat melaju dengan kecepatan 40 kilometer per jam selama dua jam. “Itu karena dilengkapi motor listrik dan aki,” ujar Mulyadi. Sementara itu, roda gigi yang diberi sensor membuat sepeda terasa lebih ringan ketika dikayuh. “Meringankan beban walaupun berat rangkanya mencapai 100 kilogram,” tambahnya. Sepeda listrik yang dirakit selama dua pekan dengan empat aki berkapasitas 48 volt ini mengantarkan Haridan Putra, Angga Saputra dan Mulyadi meraih juara tiga pada lomba rancang bangun kendaraan roda dua dengan energi alternatif. “Kalau lihat kemampuannya, kita (UR) lebih unggul. Tapi lawannya dosen semua. Tentu mereka lebih paham soal listrik,” kata Usman Tang, Kepala Lembaga Penelitian UR. Menurutnya, perakitan sepeda listrik ini sudah sangat baik, hanya saja kalah saat presentasi. “Tak apa, ini sudah jadi prestasi untuk Riau, apalagi universitas,” tambah Usman.

Fadli BM Sepeda listrik hasil karya Mulyadi dan kawan-kawan (gambar atas). Mulyadi (kiri) bersama kedua dosen pembimbingnya saat memperlihatkan sepeda listrik ciptaan mereka (gambar bawah).

MESKI hanya gunakan motor listrik, sepeda listrik ini mampu menanjak di Fly Over dan berkeliling kota Pekanbaru selama satu jam. Waktu pengecasan aki hanya delapan jam. Sepeda listrik memiliki dua percepatan. Percepatan pertama mampu mencapai 20 kilometer per jam dan percepatan kedua mampu mencapai 40 kilometer per jam. Kini sepeda listrik rakitan Hardian Putra, Angga Saputra dan Mulyadi hanya terpajang begitu saja di Gedung Lembaga Penelitian UR. “Itu karena tak ada yang mau memproduksi massal,” kata Usman Tang. Ia berjanji, bila ada perusahaan yang mau produksi, Lemlit akan mendukung penuh. “Kan untuk harumkan nama UR juga.” Setidaknya penyebaran buku Teknik Perakitan Sepeda Listrik terbitan UR Press bisa membantu dalam promosi sepeda listrik rakitan Hardian Putra, Angga Saputra dan Mulyadi. # Fadli BM BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

37


FEATURE

Rumah Susun Sederhana Belum Disewa Oleh Hamzah SELAIN Stadion Utama Riau, Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) juga ada di kompleks Universitas Riau. Keduanya dipakai saat helat Pekan Olahraga Nasional (PON) di Riau Oktober lalu. Gembar-gembor sebelumnya, kedua aset ini akan dipakai UR bila helat PON usai. Namun hingga kini janji itu belum terealisasi. Pada 25 Januari 2013 Pembantu Rektor III Rahmat MT keluarkan pengumuman terkait Rusunawa. Surat ditujukan kepada Dekan se-Universitas Riau. Isinya, “Sehubungan akan difungsikannya Rusunawa diharapkan kepada Saudara untuk menginformasikan kepada seluruh mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi yang berminat untuk tinggal di Rusunawa tersebut agar dapat mendaftarkan diri di fakultas masing-masing atau ke Bagian Kemahasiswaan Rektorat Universitas Riau.” Rahmat juga menginformasikan fasilitas-fasilitas yang ada di Rusunawa: lapangan parkir luas, kantin, aula, ruang sholat, kamar full AC, lift (sedang renovasi), kamar mandi, kursi/meja belajar, lemari pakaian, tempat tidur di dalam kamar, jemuran pakaian, aliran listrik PLN, dan sumur bor. “Mahasiswa UR jalur PBUD dan penerima beasiswa Bidik Misi kita utamakan,” kata Rahmat. Pengumuman tinggallah pengumuman. Rusunawa belum bisa ditempati hingga kini. “Saat ini kami sudah semester dua, sebentar lagi sudah masuk mahasiswa baru. Jadi kapan kami bisa menempati Rusunawa seperti yang dijanjikan?” tanya Herdian mahasiswa jalur PBUD. Adhy Prayitno, Pembantu Rektor IV menjelaskan bahwa Rusunawa memang hanya untuk mahasiswa angkatan pertama. “Kita utamakan mereka karena anak baru biasanya susah cari kos.” Rahmat MT beri penjelasan terkait

38

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

belum difungsikannya Rusunawa. “Saat penyerahan surat pengumuman tersebut, memang sudah direncanakan untuk ditempati mahasiswa Bidik Misi dan PBUD. Namun setelah dicoba, ternyata mesin pompa air yang sudah tersedia tidak sanggup untuk menarik air hingga lantai paling atas. Sehingga penempatan Rusunawa tertunda sampai semua fasilitas pendukung lainnya selesai diperbaharui,” jelasnya. “Janji Rektor Rusunawa sudah bisa ditempati tahun 2013 ini. Kita tunggu saja. Jika tidak, kami tak akan tinggal diam,” sahut Zulfa Hendri bagian advokasi BEM UR. BILA masuk kampus UR dari gerbang utama (Jalan Muchtar Lutfi), melongok ke sisi kiri, akan terlihat gedung bercat kuning lima lantai. Gedung ini sedikit terlindung oleh pohon akasia dan semak belukar yang dibiarkan meninggi. Kesan kurang terawat sudah terasa dari awal. Jalan semen sekira lima belas meter mengantarkan kita ke halaman Rusunawa. Di tepi jalan semen dipasang lampu penerang. Ada sepuluh lampu di sepanjang jalan. Bila hari senja, lampu-lampu jalan ini tak menyala. Sudah tak berfungsi karena rusak. Sebagian bola lampu pecah, sebagian lagi tiangnya sudah tak tegak. Paving block segi lima terpasang di halaman Rusunawa. Tumpukan pasir sisa pembangunan masih terlihat. Rumput tumbuh di sela paving block. Makin meninggi karena tak dicabut. Kanopi biru dipasang untuk area parkir motor. Badan gedung ini terbagi dua, sisi kiri dan kanan. Di bagian tengah dihiasi pot yang ditanami bunga kertas. Tak ada bunga yang mekar. Daunnya pun mulai layu. Tampak tak terawat. Di sekeliling gedung ada tangga. Naik ke lantai atas bisa gunakan tangga

di sisi kiri, kanan, maupun belakang gedung. Tangga berbentuk spiral terdiri dari 16 anak tangga. Selain tangga, ada pula fasilitas lift untuk naik ke lantai atas. Pintu masuknya berwarna silver, sudah agak berkarat. “Lift tidak akan difungsikan karena biayanya mahal,” kata Rahmat. Pos satpam terletak di bagian depan gedung, sebelah kanan. Di seberangnya ada bak penampung air yang berasal dari sumur bor. Namun tak ada air di Rusunawa. Tak satu pun kran mengeluarkan air. “Mesinnya tahun ini baru ada,” jelas Rahmat. Di lantai dua dan seterusnya, berjejer dua belas kamar di tiap sisi gedung. Setiap tiga kamar dipisahkan sebuah ruangan. Ada tempat cuci muka maupun cuci piring berukuran 3 x 1 meter. Ada juga dua kamar mandi kecil berukuran 1 x 0.5 meter berhadapan dengan dua water closet (WC) berukuran sama. Di atasnya ada kipas sebagai pengatur sirkulasi udara. Ruang bersantai tersedia di tiap lantai. Ia berada setelah enam kamar, dilengkapi sofa dan meja kaca. Di depannya ada meja makan dengan kursi kayu. Lantai paling atas untuk menjemur pakaian. Total 96 kamar tersedia di Rusunawa. Setiap kamar luasnya sama: 4,2 x 3,6 meter. Dinding kamar dicat putih, dilengkapi AC, empat spring bed, dua lemari, dua meja belajar dan empat kursi. Fasilitas ini menggambarkan satu kamar memuat empat orang. Hampir semua furniture berdebu, tak terawat. RUSUNAWA mulai dibangun tahun 1999 oleh Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). Rahmat memastikan bahwa sebelum dilakukan serah terima ke UR, Kemenpera akan memperbaiki Rusunawa. “Semua yang tak beres dan tak cantik akan diperbaiki


FEATURE bulan Mei ini,” kata Rahmat. Setelah serah terima, UR akan menunjuk bagian Umum, Hukum, Tatalaksana dan Perlengkapan (UHTP) untuk mengelolanya. Ekki Gaddafi, Kepala Bagian UHTP mengiyakan. Soal harga sewa, ia mengaku belum

ditetapkan. “Setelah ditempati akan dihitung biaya perawatan dan kebutuhan Rusunawa per bulan. Setelah itu baru ditetapkan harga sewa per bulan,” jelasnya. Bertolak belakang dengan perawatan, demi alasan keamanan, UR

Internet

Fadli BM

sudah menempatkan satpam berjaga di Rusunawa 24 jam setiap hari. Ekki Gaddafi mengatakan bahwa penjagaan dilakukan atas keinginan Rahmat. “Wajar saja, gedung itu nanti akan jadi milik kita juga.” #

Rusunawa UR yang hingga saat ini belum ditempati (gambar kiri). Surat pemberitahuan penempatan Rusunawa oleh Rahmat, MT, PR III UR (gambar kanan).

Fadli BM Kondisi lemari dan WC di Rusunawa. Lemari sudah tak bisa digunakan lagi. WC tak berfungsi karena tak ada air.

Fadli BM BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013

39


Iklan Witra 40

BAHANA MAHASISWA Edisi Maret-April Tahun 2013


Majalah edisi Maret-April 2013