Issuu on Google+

Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa cmyk

1


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

Jadi Kampus Bebas Rampok LAGI dan lagi Universitas Riau (UR) disantroni rampok. Tak tanggung-tanggung, satu unit mesin ATM milik Bank Mandiri dibawa kabur. Kurang lebih Rp 200 juta raib. Parahnya lagi, saat kejadian sembilan security berhasil dilumpuhkan. Menurut Syahrul Akmal Latif, pengamat kriminologi Riau, ini organized crime (kejahatan terorganisir, red). Melihat kasus yang terjadi di UR, ia menilai pelaku tak perlu perencanaan yang matang. “Tak terencana betul. Mungkin UR paling mudah.” Betapa tidak, menurut Syahrul, tingkat kewaspadaan UR rendah. Pengamanan lemah, dengan perencanaan yang lemah pun bisa berhasil. Syahrul memaparkan bahwa kejadian serupa sering melibatkan orang dalam. “Pagar makan tanaman itu sudah biasa,” ujarnya berandai. Syahrul tidak meragukan adanya orang dalam. “Ketika dia tau ada uang, tentu kita curiga ada orang dalam. Itu tidak diragukan lagi. Kok bisa tau dia. Berarti ada kerjasama.” Melihat kasus diatas, kita harus bertanya kembali. Sudahkah UR memiliki pengamanan yang maksimal. Mari mengkaji sistem keamanan Unri hari ini. Selang setahun lebih, sudah tiga kali format security diubah. Alasannya sederhana, mulai soal kontrak gaji dan inkonsisten security melakukan pengamanan. Lihat saja, saat terjadi kehilangan, esoknya mereka muncul disetiap fakultas. Beberapa bulan setelahnya hilang lagi. Kalau lah benar dugaan Syahrul soal adanya ‘orang dalam’ yang ‘main’, tentu mental security benar-benar harus diubah total. Ada dua hal yang melatarbelakangi persoalan ini. Mental security yang tak professional atau jangan-jangan ongkos operasional dari pihak kampus yang membuat sikap security uringuringan. Belakangan ini mencuat persoalan dana operasional untuk patroli keliling kampus tak ada. Satu lagi soal security, up grading kinerja security harus selalu dilakukan pihak Engineering Service and Security Unit (ESSU). ESSU seharusnya punya perhatian lebih terhadap security. Apa yang jadi persoalan dasar yang dihadapi security hari ini. ESSU harus paham, karena ia ‘bapak’ dari security. Artinya mulai mental, sampai kinerja di lapangan ESSU harus pantau. Ini baru soal personal security. Belum lagi kondisi kampus UR panam yang sangat mudah dimasuki rampok. Ini melihat banyak pintu ‘darurat’ yang ada di kampus panam. Banyak tembok kampus yang jebol. Hari ini, tak cukup, hanya pengamanan dari security. Perlu kerjasama antara kepolisian dengan security untuk mengamankan UR. Sekarang semuanya harus berbenah, jika tak mau melihat kampus ini jadi target rampok berikutnya. ***

Budaya Akademis Kurang

2

Musik Ganggu Belajar

Fasilitas Tak Lengkap

Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih pada Bahana Mahasiswa yang bersedia memuat keluhan saya. Saya mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Riau (UR) angkatan ’08. Ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, budaya akademis di lingkungan UR masih kurang. Contoh, saat ini banyak mahasiswa yang apatis terhadap acara-acara yang bersifat akademis. Baik dalam lingkup fakultas atau hima. Lebih disayangkan lagi dukungan pihak dekanat dan rektorat sangat kurang dalam hal ini. Demikian. Terima kasih.

Assalamualaikum Wr.Wb Saya pernah dengar, setiap oplet yang masuk area UR harus pakai pass dan tidak boleh menghidupkan musik. Tapi mengapa sekarang larangan itu tak berlaku lagi? Oplet sering menghidupkan musik dengan keras. Ini pernah terjadi di simpang Kampus Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UR. Saking kerasnya, suara musik dalam oplet itu sampai terdengar sampai ke lantai tiga gedung kuliah FMIPA. Jujur kami sangat terganggu dengan suara musik itu. Dosen pun mengeluh karena mengganggu konsentrasi saat memberi materi. Saya ucapkan terima kasih telah memuat keluhan ini.

Assalamuaalaikum Wr.Wb. Saya mahasiswa FKIP, ingin menyampaikan keluhan saya. Mengapa ruang A4 (di sebelah mushala FKIP) dan A5 (di belakang gedung Prodi Sejarah) fasilitasnya tak lengkap? Misalnya, bangku kuliah sering kurang, padahal mahasiswanya banyak. Lalu kipas angin ada, tapi tak berfungsi. Kami jadi tak nyaman belajar. Tolong dengar keluhan kami. Terima kasih.

M. Ahyaruddin Mahasiswa Fakultas Ekonomi UR

Nova Mahasiswi FMIPA UR

AS Mahasiswa FKIP PLS UR

Menjelang DJMTL Se-Sumatera SETIAP hari kru BM menelusuri kampus. Mencari berita terbaru. Bertemu narasumber. Wawancara. Usai itu, kata demi kata disusun membentuk tulisan. Hasilnya BM yang kini ada di tangan pembaca. Berbagai rutinitas lain bukan hambatan bagi BM tetap berkarya. Girang. Perasaan yang muncul saat BM bisa hadir kembali di hadapan pembaca. Terima kasih kepada pembaca yang masih setia menanti kehadiran BM. Tanggal 24-29 Mei BM akan menaja Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut (DJMTL) se-Sumatera. Kini sudah didapat 20 orang peserta dari berbagai daerah. Ada dari Aceh, Medan, Lampung, Palembang, dan Riau tentunya. Budi Setiono dan Basilus Triharyanto dari Yayasan Pantau didaulat jadi pemateri. Semoga diklat ini bisa membuat dunia jurnalistik semakin berkembang dan bermutu.

utama soal UR disatroni perampok. Siapakah perampok itu? Di rubrik khasanah, BM mengangkat soal khasiat labu air yang bisa

Pembaca budiman, Edisi kali ini BM mengangkat laporan

menyembuhkan beragam penyakit. Sebuah khasanah budaya yang mulai ditinggal penduduknya. Selamat membaca! ***

Doc BM

Hampir setiap hari rapat digelar menjelang pelaksanaan DJMTL se-Sumatera

STT: Surat Keputusan Menteri Penerangan RI No.1031/SK/Ditjen PPG/STT/1983. ISSN:0215 -7667 Penerbit: Lembaga Pers Mahasiswa Bahana Mahasiswa UR. Penasehat: Prof. Dr Ashaluddin Jalil, M.S (Rektor Universitas Riau). Drs. Rahmat, MT (Pembantu Rektor III Universitas Riau). Pemimpin Umum: Made Ali Pemim pin Redaksi:Aang Ananda Suherman Pemimpin Perusahaan: Athika Fatria Linggawati Bendahara Umum: Intan Yanelda Sekretaris Umum: Lovina Litbang: Ari Mashuri MS Redaktur Pelaksana: Lovina Redaktur:Athika Fatria Linggawati Reporter: Maikel Fitriadi, Ardansyah Fotografer: Maikel Fitriadi Artistik/Lay Out/Ilustrator: Ari Mashuri MS Sirkulasi:Maikel Fitriadi Perpustakaan dan Dokumentasi dan Staf Iklan: Intan Yanelda Alamat Redaksi/Tata Usaha/Iklan: Kampus Universitas Riau Jl. Pattimura No.9 Pekanbaru 28131 Telp.(0761) 47577 Fax (0761) 36078. Dicetak pada: PT. Riau Pos Graindo Pekanbaru. Isi di luar tanggung jawab percetakan.

email: bahanaonline@yahoo.com.

facebook: bahana mahasiswa

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

Redaksi menerima tulisan, asal sesuai dengan misi pers mahasiswa. Tulisan berupa naskah asli, karya orisinil, belum pernah dipublikasikan di media massa manapun, dan diketik rapi dua spasi. Redaksi berhak melakukan penyuntingan sepanjang tidak mengubah hakikat dan makna tulisan. Bagi tulisan yang tidak dimuat akan menjadi milik redaksi


Sempena

Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

Indra Purnama

3

Kegelisahan dalam Kata Oleh Erliana

Istimewa

BERAWAL dari hobi membaca dan menganalisis buku. Kini Indra Purnama gemar menulis. Mahasiswa semester enam Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (UR) ini berkecimpung di dunia tulis menulis sejak tahun 2005. Saat itu, ia duduk di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Model Pekanbaru. “Waktu itu kelas dua,” kenangnya. Awalnya Indra hanya menulis di majalah dinding. Ia lalu disarankan buat sebuah tabloid di MAN 2 Model. Alhasil, tanggal 5 September 2005, Indra dan kawan-kawan berhasil mendirikan tabloid Aksi. Ia pun jadi makin sering menulis. Baginya, menulis bukan hal sulit. “Pengalaman bisa dituangkan jadi tulisan,” tutur pria kelahiran 19 Mei 1989 ini. Indra mengaku, awal menulis ia sempat tak percaya diri. “Grogi kalau tulisan jelek dan orang nggak suka.” Rasa grogi itu sedikit demi sedikit berkurang seiring banyaknya lomba yang diikuti dan dimenangkan Indra. “Sekarang juga masih dalam tahap belajar,” ujarnya merendah. Tak ayal Indra sering bergadang selesaikan tulisan. “Bahkan nggak tidur.” Itu biasa dilakukannya bila tak ada agenda di kampus. Akhir-akhir ini Indra mengaku waktu menulis agak berkurang. “Tersita agenda kampus yang padat.” “Menulis itu asyik,” komentarnya. Kerap

Indra merasa tertantang dengan proses yang dialami selama menulis. “Bagaimana bisa menghasilkan karya terbaik.” Triknya, saat menulis ia selalu menempatkan diri sebagai penulis sekaligus pembaca. “Jika jadi pembaca, saya ingin seperti apa. Tapi sebagai penulis saya membuat yang berbeda,” ujarnya. Selain menulis di tabloid, Indra sering ikut lomba menulis. Seperti lomba puisi, karya tulis ilmiah, sains, dan banyak lagi. Prestasinya pun banyak. Tahun 2007, ia Juara II Lomba Puisi Peringatan Hari Ibu yang ditaja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UR dan Juara I Darma Siswa Chevron Riau (DCR) Angkatan ke-7 tahun 2007 di Rumbai. Pria bertubuh tinggi ini juga pernah membuat dua antologi cerpen dan satu tulisan tentang perekonomian. Indra lahir di Pekanbaru. Semua jenjang pendidikan dilaluinya di Pekanbaru. Tahun 2006-2008, Indra sempat kerja di Riau Pos sebagai wartawan masa depan. Kini ia sedang buat buku Jalan-jalan Kepri Melancong ke Negeri Kelong terbitan Gagas Media. “Insya Allah akan segera terbit.” Ia juga pernah jadi Pemenang Naskah Jalan-Jalan Terbaik pada Penerbit Gagas Media Jakarta tahun 2009. Menulis artikel dan buku tak ada bedanya bagi Indra. “Yang penting bisa nulis dan menyebarkan dakwah lewat tulisan.” Ia mengaku, ada kenikmatan batin saat menulis. “Merasa jadi orang berguna. Apalagi bila tulisan itu bisa buat orang berubah jadi lebih baik. “Tulisan saya sebagai bentuk kegelisahan manusia terhadap sekitar.” ***

Mendatar 1. Pulau Terbesar di Dunia 5. Gulungan Rambut Wanita diatas Kepala 6. Memeras supaya keluar Airnya 9. Peredaran 10. Bernafas tersendap-sendap (diulang) 13. Istilah badak 15. Kota di Italia 16. Sesuai; sepadan 17. Wanita suka sesama jenis 18. Penyakit kulit

Menurun 1. Lawan sendok 2. Sambungan besi dengan dibakar 3. Keras kepala 4. Peristwa telah terjadi ditayangkan secara singkat 7. Nama benua 8. Hubungan Internasional 10. Logam 11. Ketakutan 12. Gelar bangsawan Jawa (diatas Raden) 13. Ramu 14. Bidik Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

Kemiskinan Bangsaku Saat ini hatiku menangis… Terhempas perih melihat dunia Bagaikan gelas-gelas kaca Yang pecah terbuang dan hancur Mengapa? Sebagai anak dari bangsa yang besar ini Aku terpekik dalam tanya Mengapa begitu rapuhnya kekuatanmu Wahai Ibu Pertiwi … Di setiap jengkal kehidupan saudara kita Ada saja ku melihat air mata darah Dan… Urat nadi yang merintih karena kemiskinan Mereka juga saudaraku Saudara kita semua … Wahai bapak ibu di atas Yang sangat terhormat dan terdidik Tolonglah… Selamatkan bangsa ini Hapus air mata dari kemiskinan mereka Coba lihat ke bawah rakyat ini Tak tersentuhkah hati kalian? Dewi Shinta Dame S Mahasiswi Fakultas Hukum UR

Kembali Pada-Nya Semua langkah memiliki satu arti Jalanan tiada henti mengelilingi kehidupan Saat semua tinggal hening Mencekam… Bayangkan semua tiada mempedulikanmu Ayunan kehidupan tak kan pernah hilang Walau sedetik… Mengalir terus sampai ia bertemu Sang Agung Meraih segala hal yang telah Engkau jalani… Kini… Saatnya engkau berdiri tenang Menyambut kehidupanmu yang kekal Hidupmu telah kau tumpahi dengan kemaksiatan Hadapilah Dia yang telah kau lupakan selama ini Sinar Ilfat Mahasiswi FKIP Bahasa Indonesia UR


Karikatur

Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010 Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

4 4

Sembilan Security ‘Lumpuh’ “Tiarap.” Oleh Ardansyah AHAD dini hari, 16 Mei 2010. Pukul 03.00. Jalan SM Amin gelap gulita. Tak ada penerangan di pinggir jalan. Sebelah kanan jalan ada rumah warga dan sebelah kiri ada dua ruko. Cahaya ruko sedikit menerangi Jalan SM Amin. Universitas Riau (UR) sepi. Tak ada kendaraan lalu lalang. Lampu warna kuning menyala, menerangi tulisan Universitas Riau. Di pos Amin—pos yang terletak di Jalan SM Amin—terlihat dua security sedang berjaga: Fauzan dan Ali Damanik. Dari kejauhan, Fauzan, 21 tahun, melihat dua mobil masuk menuju pos Amin. Kijang Innova hitam—posisi depan dan kijang Krista biru tua—posisi belakang. Lampu mobil mati. Ketika sampai di pos, lampu dinyalakan. Fauzan dan Ali Damanik mendekat. Saat mereka ingin bertanya, tibatiba ada yang menodongkan pistol. Pistol jenis FN ditodongkan ke Fauzan. Tiga orang keluar dari mobil. Mereka berjaket cokelat, ada yang bertopi. Setahu Fauzan, sopir mobil itu seperti aparat polisi; Rambut cepak, badan tegap, tinggi sekitar 170 sentimeter. “Tiarap,” kata perampok. Fauzan ditendang. “Kita hanya menjalankan misi,” ujar perampok lainnya. Fauzan dan Ali Damanik lalu disuruh masuk ke dalam pos. “Kami ditendang, kedua tangan diikat dengan tali sumbu kompor,” aku Fauzan. Dua perampok mengikat mereka. Dua orang lagi pegang pistol sambil menodongkan pistolnya ke arah Fauzan dan Ali Damanik. Sampai di pos, Fauzan dan Ali Damanik disuruh tengkurap. Mata, mulut, kecuali hidung ditutup lakban. Selanjutnya mereka disuruh masuk ke mobil Kijang Innova. “Di rektorat ada brangkas?” tanya perampok kepada Fauzan. Pistol masih mengarah ke kepalanya. “Tidak ada,” ujar Fauzan. “Yang jaga di rektorat berapa orang?” tanya perampok kembali. “Empat orang,” papar Fauzan. Sekitar sepuluh menit Fauzan dan Ali Damanik dibawa putar-putar. “Barang-barang security jangan diambil,” ucap perampok. Fauzan mendengar, para perampok ada yang berlogat Batak, Jawa dan Palembang.

Kronologis Pembobolan ATM lDi Pos Amin q 16 Mei 2010 pukul 03.00 di pos Amin. Fauzan dan Ali Damanik sedang berjaga. q Kijang Innova hitam dan kijang Krista biru tua mendatangi pos Amin. q Penumpang dalam mobil menodotongkan pistol ke arah Fauzan. q Tiga orang keluar dari dalam mobil. q Fauzan dan Ali Damanik disuruh masuk ke dalam pos. Mereka diikat. Mata dan mulut diberi lakban. q Fauzan dan Ali Damanik dibawa putar-putar sekitar 10 menit sebelum dibawa ke rektorat. lDi Rektorat q Andika, satpam UR melihat dua mobil menuju rektorat. Ia keluar dari gedung rektorat untuk melihat lebih jelas. q Dua perampok turun dari mobil. Mereka mengarahkan senjata ke arah Andika. q Andika dan dua satpam lain—Rano dan Khairul Naldi—diikat. Mata dan mulut dilakban. q Santana dan Ellianto, dua satpam lain yang sedang tidur di rektorat turut disekap. q Tali ikatan Santana berhasil lepas. Ia pun membuka tali ikatan satpam lain yang disekap. q Zulmendra, satpam yang turut disekap minta Santana cari bantuan. q Santana cari bantuan keluar. Karena mengira ada perampok yang melihat, ia lalu lari keliling kampus. Dari Faperika-Faperta-FE-FISIP lalu ke rumah Suko Nurdin, Kepala Keamanan UR. q Perampok berhasil membawa kabur satu mesin ATM Mandiri yang terletak di depan rektorat.

Ilustrasi: Ari BM

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010 Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

Foto: Adit BM

Pos Amin--Di pos ini dua satpam UR, Fauzan dan Ali Damanik disekap perampok bermobil Kijang Innova hitam dan Kijang Krisra biru tua. Saat itu tali ikatan Fauzan sedikit longgar, ternyata diketahui perampok. “Jangan cobacoba jadi pahlawan,” ujar perampok. Tali ikatan Fauzan kemudian dikencangkan kembali. Saat Fauzan balik ke Pos Amin, satu handy talking, satu handphone milik Ali Damanik, rokok, dan jaket sudah raib.

tinggi perampok rata-rata 170-175 sentimeter. Saat proses penyekapan, Khairul Naldi mengaku ditendang satu kali dan pinggangnya diinjak. Andika, Rano, dan Khairul Naldi disekap di lobi rektorat. Sementara Santana dan Ellianto, dua satpam lain yang ikut disekap, tidak sedang bertugas. Tiap malam mereka tidur di rektorat. Saat kejadian, Santana dan Ellianto tidur pulas. Santana mengaku ditendang. “Saya lihat seorang perampok bertopi cokelat, pakai jaket, di dalamnya baju kemeja putih bergaris cokelat. Celana jins biru. Postur tubuhnya lumayan tinggi. Berkulit sawo matang. Ia juga memegang senjata FN warna hitam.” Saat disekap, Santana dan Ellianto disuruh tengkurap. Tangan dan mata mereka ditutup dan disuruh jalan menunduk ke bawah. Rupanya tali ikatan Santana berhasil lepas. Ali Damanik menggesekkan tali ke meja lobi. Setelah berhasil melepaskan diri, Santana segera buka tali Khairul Naldi, Rano, dan satpam lain yang turut disekap. Zulmendra, satpam UR yang turut disekap langsung minta Santana cari bantuan. Karena tak ada handphone, Santana coba cari bantuan keluar. Ia lihat ruang akademis terbuka lalu mengira perampok ada di dalam. Karena itu, Santana lari menuju Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan (Faperika). Lari terus ke Fakultas Pertanian (Faperta). “Saya berhenti sekitar satu menit di tanaman sawit.” Lari lagi ke Fakultas Ekonomi (FE). “Saya ketemu Budi Suhada di sana,” aku Santana. Budi Suhada juga satpam UR. Saat itu Budi

Suhada sedang tidur. Santana terus lari ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). “Dari kejauhan saya lihat mobil kijang Innova berada disamping ATM.” Santana kemudian berlari menuju rumah Suko Nurdin, Kepala Keamanan UR. Saat perampokan berlangsung, Zulmendra dan Nartimbang sedang patroli menggunakan sepeda motor. Mereka singgah ke rektorat, hendak ambil minum. Begitu masuk areal rektorat, mereka berdua dicegat sekawanan perampok. Dari arah depan Zulmendra melihat tiga perampok. Mereka memegang pistol dan senjata tajam dua mata. Sementara Nartimbang mengaku melihat lima perampok. “Ada sembunyi di parit, dekat pohon. Dari gerak-gerik, bukan seperti perampok, tapi aparat,” ujar Nartimbang. Zulmendra dan Nartimbang disuruh turun dari motor. Sambil jalan menunduk, mereka menuju rektorat. Tiba di rektorat, tangan, mata, dan hidung mereka ditutup lakban. “Kepala dan pinggang saya diinjak pakai sepatu,” aku Nartimbang. Sekitar satu jam sembilan security itu diikat dan disekap perampok. lll

Senin siang, 17 Mei 2010, kondisi ATM depan rektorat rusak parah. Plang warna hitam kuning diletakkan memanjang di depan pintu. Kabel putus berserakan di sana-sini. Ada dua keranjang biru dan merah di sana. Dua mesin ATM tersisa mati total. Satu mesin raib. Kamera CCTV pecah. Keramik hancur. ***

lll

Di rektorat. Andika, satpam UR, mengaku melihat dua mobil menuju rektorat. Satu warna hitam—kijang Innova dan satu lagi ia tak tahu persis. Mobil Innova berhenti di depan rektorat. Saat itu Andika bersama dua satpam lain—Rano dan Khairul Naldi— keluar dari gedung rektorat. Sampai di pintu, Andika melihat dua perampok turun dari mobil. Mereka mengarahkan senjata api laras pendek ke arah Andika, Rano dan Khairul Naldi. Saat mereka mau beranjak kembali ke dalam gedung rektorat, “Jangan bergerak! Kalau bergerak, kalian aku tembak,” tutur salah seorang perampok dengan suara keras. “Tiarap,” perintah perampok lagi. Tanpa pikir panjang mereka bertiga langsung tiarap. Andika sempat melihat perampok itu mengenakan topi dan kaca mata serta kulitnya sawo matang. Saat mau diikat, Andika mengaku dipukul dan ditendang tiga kali. Mata dan mulut ditutup lakban. Sama dengan Fauzan, Andika juga menuturkan perampok berlogat Palembang dan Batak. Para perampok lalu mengeraskan suara TV. Khairul Naldi, 23 tahun, memperkirakan

Foto: Adit BM

ATM Dibobol Maling--Satu mesin ATM UR telah raib dibobol maling Ahad (16/5) dini hari.

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

5 5


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010 Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

6

6

Ada Organized Crime “Ketika dia tau ada uang, tentu kita curiga ada orang dalam. Itu tidak diragukan lagi. Kok bisa tau dia. Berarti ada kerjasama.” Oleh Athika Fatria Linggawati

D

i tangga depan Rektorat Universi tas Riau (UR), Kamis 20 Mei, duduk tujuh orang. Di antaranya Ali Damanik, security UR dan Deki, staf bagian kemahasiswaan. “Itu dari Poltabes,” ujar salah satu security yang sedang bertugas menunjuk lima dari tujuh orang itu. Seorang pria bertopi hitam sedang berbincang dengan Ali Damanik. Rekannya yang lain turut bertanya. “Tingginya hampir sama dengan saya,” jelas Ali Damanik. Tangan pria itu mengambil sebuah telepon gen ggam. Ia mengutak-atik telepon genggam itu. Mencari foto. Ia tunjukkan satu per satu pada Ali Damanik. “Kulitnya sawo matang,” ingat Ali Damanik lagi. Di samping Ali Damanik duduk seorang pria. Ia berkaos lengkap dengan topi putih. Ia perlihatkan foto-foto di laptopnya. Ali Damanik mengamati. Mencoba mengenali wajah. lll

Beberapa hari sebelumnya, tanggal 16 Mei 2010, di kampus UR Panam. Sebuah mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) dibobol. Security yang bertugas malam itu dilumpuhkan. Mereka disekap di lobi Rektorat. Pukul lima subuh. Laporan kejadian pembobolan ATM di UR masuk ke Kepolisian Sektor (Polsek) Tampan. Sejumlah anggota polisi turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Mereka melakukan olah TKP untuk mengumpulkan bukti. Mereka temukan mesin ATM di pojok kanan telah raib. Closed Circuit Television (CCTV) rusak dan diarahkan ke dinding. Di Rektorat CCTV tak berfungsi. CCTV hanya bisa menangkap gambar tanpa bisa menyimpan data. “Kami kehilangan bukti,” ujar Imelda Permila, penyelidik dari Polsek

Foto: Aang BM

Evaluasi--Hendrawan, Kepala Security UR sedang mengevaluasi para security UR di halaman samping gedung rektorat.

Tampan. Imelda tak heran kejadian ini terjadi di UR. “Akses untuk ke UR banyak. Dari samping aja bisa. Apalagi daerah Panam ini rawan.” Kasus ini masih dalam penyelidikan. “Saya belum bisa pastikan adanya keterlibatan orang dalam,” ujar Imelda. Syahrul Akmal Latif, pengamat krimonologi Riau punya analisa tentang kasus ini. “Ini organized crime (kejahatan terorganisir). Mereka pasti sudah memantau,” ujarnya. Menurutnya, struktur, manajemen, dan konsolidasi jadi penting dalam tindak kriminal yang terencana. Melihat kasus yang terjadi di UR, ia menilai pelaku tak perlu perencanaan yang matang. “Tak terencana betul. Hanya tinggal nunggu waktu saja.” Organized crime punya target yang telah ditetapkan. “Bukan UR saja. Mungkin UR yang paling mudah.” Betapa tidak, menurut Syahrul, tingkat kewaspadaan UR rendah. “Pengamanan lemah, dengan perencanaan yang lemah pun bisa berhasil.”

Tak cukup pengamanan dari security. Menurut Syahrul, perlu kerjasama antara kepolisian dengan security untuk pengamanan. “Kita perlu mengencangkan ‘tali pinggang’ untuk waspada.” Menurutnya lagi, akses ke kampus harus diperketat. “Sekarang maling bisa jadi mahasiswa, mahasiswa pun bisa jadi maling,” analisisnya. Syahrul menilai motif kejadian ini murni perampok biasa. “Beruntung tak beruntung lihat nanti, yang penting barangnya berhasil diambil.” Pelaku bukanlah orang baru. “Orangnya itu-itu saja. Pemain lama. Bukan barang baru bagi dia,” ujar Syahrul. Menilik dari cara pelaku melumpuhkan korban, Syahrul menilai pelaku orang profesional. “Kalau pelaku jarang gagal saat melakukan eksekusi, artinya itu dilakukan orang terlatih. Secara mental, strategi dan eksekusi. Bisa saja pelaku mantan reserse, tentara atau polisi.” Kecurigaan keterlibatan orang dalam timbul pada kejadian ini. Syahrul memaparkan kejadian serupa sering

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

melibatkan orang dalam. “Pagar makan tanaman itu sudah biasa,” ujarnya berandai. Ia mengakui, sekarang banyak penjahat yang bekerja sama dengan penegak hukum. “Ini tidak menutup kemungkinan. Misal pada kejadian ini, disuap security itu masing-masing lima juta. Diminta pura-pura disekap.” Syahrul tidak meragukan adanya orang dalam. “Ketika dia tau ada uang, tentu kita curiga ada orang dalam. Itu tidak diragukan lagi. Kok bisa tau dia. Berarti ada kerjasama.” Yanuar Hamzah, Pembantu Rektor II UR, tak mau berkomentar soal orang dalam. “Di mana pun bisa terjadi kemalingan,” ujarnya. Ia bersyukur security tak apa-apa. “Security hanya bertugas mengamankan dan menjaga aset UR. Mereka tidak disiapkan unruk melawan perampok yang memakai senjata.” lll

Di Poltabes Kota Pekanbaru. Jumat 21 Mei, siang. “Di ruang ini (Jantras-red) semua penyidik. Tapi belum ada yang kesana (UR Panam-red). Belum ada pelimpahan kasusnya ke sini,” ujar salah satu penyidik di ruang itu.l intan


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010 Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

7

7

‘Mengintip’ Pengamanan Kampus “Jumlah itu sebenarnya tak memadai.” Oleh Intan Yanelda SENIN 17 Mei 2010. Dua satpam berseragam berada di pos belakang Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Riau (UR). Jam menunjukkan angka 18.10. Mereka Ali Damanik dan Rano, satpam yang sempat disekap kawanan perampok bersenjata Minggu 16 Mei 2010, dini hari. Saat itu pintu pagar gerbang belakang UR belum dikunci. Orang bebas keluar masuk. Kontras dengan pengamanan di Pos Amin, Rabu 19 Mei 2010. Saat itu pukul 18.00. Dua orang satpam juga berada di sana. Mereka membuka dan menutup portal. Sambil menginterogasi pengendara yang ingin masuk kawasan UR. Sementara di pos depan Hotel Mona, tak ada satu orang satpam pun yang berjaga. Pintu pagar dikunci. lll

Pengamanan di UR dilakukan oleh security yang bertugas 24 jam. Mereka terbagi tiga shift. Shift pagi pukul 07.00-15.00. Shift siang pukul 15.00-23.00. Dan shift malam pukul 23.00-07.00. Security, kata Hendrawan, hanya bertugas

Foto: Adit BM

mengamankan aset UR. “Pembobolan ATM bukan tanggung jawab security UR.” Hendrawan melaporkan, saat ini security UR berjumlah 70 orang yang tersebar di kampus UR Panam, Gobah, rumah dinas, dan rumah pribadi rektor. “Jumlah itu sebenarnya tak memadai,” ungkap Hendrawan. Untuk daerah Panam, security ditempatkan di empat buah pos, di antaranya dua security di Pos Amin, satu security di pos depan Masjid Arfaunnas dan satu security di pos dekat Fakultas Ekonomi (FE). “Tiga satpam mengamankan Rektotat,” kata Hendrawan. Selebihnya, satu security mengamankan tiap fakultas, satu security mengamankan Sekolah Tinggi Farmasi (Stifar) UR. “Tapi satpam Stifar hanya bertugas malam hari,” ujar Hendrawan. Setiap security dilengkapi satu pentungan, satu senter, dan satu peluit. “Kalau mau punya sangkur (semacam pisau, red) untuk mengamankan diri, harus beli sendiri,” aku Andika, ketua regu security.

Lalu setiap pos dilengkapi alat pengirim pesan ke pos lain. “Satu buah HT (handy talking),” ujar Rano, salah seorang satpam. “Khusus malam hari UR menggunakan portal untuk membatasi orang keluar masuk,” ujar Hendrawan. Dengan portal, Hendrawan mengakui pengamanan malam hari agak terkontrol. “Sayang di UR banyak jalan-jalan kecil. Jadi kadang ada juga yang bisa menyusup. Tapi ada satpam yang keliling berpatroli.”

terlalu sangar,” ujar Hendrawan. Terakhir tes fisik, seperti push up, sit up, dan lari. Semua hasil tes lalu dirangking. Satpam yang lulus diambil dari rangking teratas sesuai kebutuhan. Lalu, mereka diberi pendidikan berupa pembinaan fisik (binsik) sekali dua minggu dan pembinaan mental (binsal) sekali seminggu. “Setiap satpam wajib kenal wilayah kerjanya. Karena itu mereka rutin berpatroli setiap saat tanpa kenal waktu,” lapor Hendrawan.

lll

lll

Perekrutan satpam selama ini dilakukan melalui proses perundingan dengan manajemen security. Pembukaan lamaran dilakukan dua minggu. Tesnya terbagi empat. Pertama, tes administrasi, minimal tamat SMA dengan menyerahkan bukti ijazah, surat lamaran, foto, dan sertifikat security. Kedua, tes wawancara, menilai sejauh mana komitmen pelamar terhadap pekerjaannya. Ketiga, tes performance untuk melihat keadaan fisik dan perawakan satpam. “Jangan

Sejak tahun 2007—masa kepemimpinan Prof Ashaluddin Jalil—CCTV (closed circuit television) khusus dipasang di ruang rektor. November 2009, rektorat mulai memakai CCTV di delapan tempat. “Untuk pengamanan,” ujar Azhar Kasymi, Kepala Bagian Unit Hukum Tata Laksana Perlengkapan (UHTP) UR. “Tapi belum bisa merekam,” aku Azhar. Setahunya, kendala pengoperasian CCTV ada pada penyedia layanannya. “Sampai sekarang belum disiapkan.” ***

Foto: Adit BM

Pengamanan UR--Setiap security yang bertugas mengamankan aset UR dibekali pentungan, senter, dan peluit.

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

8

8

Izarman S Nabai

Merantau Demi Wartawan “Kami bekerja tanpa bayaran.” Oleh Athika Fatria Linggawati Derai air mata sanak keluarga pecah kala mengantarkan kepergian Izarman S Nabai ke perantauan. Sebagai satu-satunya anggota keluarga yang memilih jalan hidup sebagai perantau, membuat ibunya sedih. “Saya anak bungsu, jadi paling disayang.” Kala itu tahun 1988. Kompas—salah satu koran terbesar di Indonesia—sedang mencari wartawan untuk bekerja di Pers Daerah (Persda) Sriwijaya Post, Palembang. Izarman tertarik. Ia mengirim lamaran ke Jakarta. Sebuah telegram ia terima. Berisi panggilan dirinya mengikuti tes di Palembang. Ia berangkat dengan modal Rp 40 ribu. “Saya yakin akan lulus tes.” Keyakinan Izarman terbukti. Bersama sepuluh pelamar lain, ia berhasil menyisihkan sekitar 200-an pelamar. Nilai terbaik selalu ia dapatkan saat mengikuti tiap tes. “Semua ini karena godokan Bahana, jadi saya sudah siap,” ujar pria kelahiran Sulit Air, Sumatera Barat ini. Pelatihan di bidang jurnalistik ia dapatkan sebelum bertugas di daerah. Izarman tugas di Kabupaten Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Selang tiga bulan bertugas di daerah, ia diangkat menjadi asisten redaktur. Dua bulan berikutnya posisi redaktur ia raih. Karir Izarman di Sriwijaya Post berakhir tahun 1993. “Saya keluar karena ada masalah intern,” jelasnya. Satu tahun Izarman menganggur. Ia sempat pulang ke Riau mencari pekerjaan. Karena tak cocok, Izarman menolak. Tahun 1994. Ari Batubara—rekannya di Sriwijaya Post—mengajak bergabung mengelola Harian Nusa milik Aburizal Bakrie. Ia menerima ajakan Ari. Perjalanannya berlanjut ke Bali. Di Harian Nusa, Izarman bertugas sebagai redaktur. Harian Nusa tak punya kantor. Segala kegiatan mulai mendidik wartawan baru hingga proses perekrutan dilakukan di hotel

Istimewa

selama sebulan. Tiga buah buku sempat ia telurkan selama di Harian Nusa. Di antaranya Bung Karno: Saya Berdarah Bali (1998), Tjokorda Bagus Sayoga (1999), dan Hindu Dihujat Bali Menggugat (1998). “Karena saya terakhir di divisi penerbitan.” Izarman tak lama di Nusa. Tahun 2000, ia keluar dari Nusa. Namun langkahnya di dunia jurnalistik tak berhenti. Kala itu, ia melihat kecenderungan berita banyak membahas masalah politik. Izarman ingin menampilkan hal berbeda. Izarman lalu merintis tabloid supranatural pertama di Indonesia. Modus namanya. Tabloid ini merupakan gabungan antara kriminal dan supranatural. Ide ini muncul setelah melihat karakter masyarakat Bali kental dengan budaya magis. “Saat polisi tidak menemukan pelaku kejahatan, supranatural yang bekerja.” Modus mendapat sambutan dari masyarakat. Tabloid ini awalnya tersebar di Bali dan oplah per edisi mencapai 18 ribu eksemplar dan tersebar di seluruh Indonesia. Tapi Izarman tak mendapatkan kepuasan. “Itukan bisnis. Batin saya tidak puas, karena itu maunya pemilik modal.” Tabloid Modus cetak di Surabaya. Namun mereka menemui kendala. Percetakan pun pindah di Jakarta. “Otomatis harus ada biro di Jakarta.” Ini membuat Izarman dan keluarga harus pindah ke Ibukota Republik Indonesia. “Karena kawan-kawan di Modus belum pernah ada yang ke Jakarta.” Di Jakarta Izarman bertemu teman lama di Sriwijaya Post. Temannya berencana membuat koran bernama Transparan. “Dia dapat modal dari perusahaan kertas di Sumatera Selatan,” ujarnya. Izarman diajak. Dia sempat tergiur. “Tapi saya sayang meninggalkan

Modus.” Alasannya, dirinya adalah pendiri tabloid ini. Bujukan teman lama mengalahkan rasa sayang. Izarman menetapkan syarat. “Saya minta uang transpor.” Ia juga memberikan batasan kontrak. Cuma dua tahun. Temannya menyanggupi. Izarman tak bisa menolak. Ia kembali ke Palembang. Di Transparan Izarman ditempatkan sebagai Pimpinan Redaksi. Kebetulan bertepatan akhir kontrak, ibunda Izarman meninggal dunia. Ia pun kembali ke Riau dan menetap di kota ini demi keluarga. Di Riau Izarman tetap menjadi wartawan. Tahun 2003 ia diminta menjadi Redaktur Pelaksana (redpel) di Intermezzo. Karena Intermezzo bergabung dengan Horas Plus—koran budaya batak—sehingga Izarman harus rangkap menjadi redpel di koran itu. “Sampai redpel aslinya siap.” Tahun 2006 salah seorang teman kembali mengajaknya mengelola Tuah Sakti—majalah Kepolisian Daerah (Polda) Riau. Ia pun keluar dari Intermezzo dan Horas lalu bergabung di Tuah Sakti sebagai Wakil Pemimpin Redaksi. Ia juga diajak bergabung di tabloid Mentari. Tugasnya di Mentari berakhir tahun 2008 dengan posisi terakhir sebagai Pimpinan Redaksi. Namun ia masih tetap bertahan di majalah Tuah Sakti hingga kini. Hidup berpindah-pindah dirasakan sebagai konsekuensi jadi wartawan bagi Izarman. “Saya tidak pernah menyesal.” Justru hidup di perantauan merupakan tantangan baginya. lll

Sejak kecil tak pernah terlintas dalam pikiran Izarman menjadi penulis. Pernah, saat mengikuti lomba siswa teladan tingkat Sekolah Dasar (SD) se-kecamatan, Izarman tak bisa membuat karangan. Sebelum lomba dimulai ia dibuatkan sebuah karangan oleh gurunya. “Karangan itu yang saya hapal dan saya tulis ulang waktu pertandingan,” kenangnya. Izarman berpikir cara guru itu bisa menulis. Ini menjadi dorongan baginya agar bisa menulis. Ia mulai menulis. Curahan hati ia torehkan di kertas-kertas sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat mengenyam pendidikan di Sekolah Teknik Mesin (STM) 80—kini Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2—ia menulis di majalah dinding (mading). Puisi karangannya selalu menghiasi mading STM 80. Setelah menamatkan pendidikan STM, Izarman melanjutkan pendidikan di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau (UR). Disinilah ia mengenal Bahana. Awalnya ia hanya mengirim cerpen. Berlanjut mengikuti lomba penulisan puisi antar mahasiswa se-Indonesia sempena ulang tahun pertama Bahana. Izarman kirim puisi berjudul Di Bawah Tudung Lengkung Langit. “Puisi saya dapat juara dua, tapi waktu itu tidak ada juara satunya.”

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

Lewat tulisannya, Izarman ditawari Fakhrunnas MA Jabbar—salah satu pendiri Bahana—bergabung. Izarman tak langsung menerima. Ia merasa tak punya kemampuan jurnalistik. Fakhrunnas meyakinkan pria ini kalau ilmu jurnalistik bisa dipelajari. “Dia bilang yang penting modal menulis sudah ada. Karena sudah bisa buat cerpen,” ujar Izarman meniru perkataan Fakhrunnas. Tahun 1984. Ia bergabung di Bahana. Ia di bawah koordinator Said Suhil Achmad. “Dia yang ngajari saya, walaupun Fakhrunnas ngajari secara umum.” Tak berapa lama Izarman diangkat jadi koordinator reportase Bahana. Ia punya cerita saat di Bahana. “Saya dulu diajak sama Ridar Hendri karena dia suka wawancara artis. Bahkan Meriam Belina pernah jadi cover.” “Di Bahana banyak menyumbangkan pemikiran bagaimana di Riau ini ada harian,” kata Izarman. Kala itu tahun 1985, Bahana taja seminar soal harian di Riau. “Kemudian Bahana juga perkenalkan kepada masyarakat Riau sudah memperlihatkan cikal bakal bahwa inilah yang jadi. Kami pernah melakukan pelatihan tingkat lanjut. Itu seluruh pers kampus se-Sumatera.” Di Bahana, Izarman menemukan wadah menyalurkan minat sebagai penulis. “Itu saya kembangkan keluar dengan menghasilkan beberapa cerpen atau puisi.” Beberapa cerpen Izarman pernah dimuat di Harian Merdeka dan Majalah Wanita Indonesia. Bersama beberapa rekan di Bahana, seperti Kazzaini KS, Mosthamir Thalib, Zainir Rifni, ia sempat menerbitkan sebuah kumpulan puisi berjudul Rama-rama. Kumpulan puisi ini mereka perbanyak hanya dengan mesin foto copy. Bahana ajarkan banyak hal pada Izarman. Ada nilai kekompakan. Saat deadline semua kru turun tangan. “Dulu semua masih manual,” ucapnya. Sulitnya menerbitkan sangat dirasakan Izarman dan kawan-kawan. Sampai-sampai muncul istilah untuk menerbitkan Bahana sama susahnya melahirkan seorang anak bagi perempuan. Semasa di Bahana, Izarman merasa sebagai wartawan. Misalnya dinamika bekerja sama dengan wartawan profesional lainnya. Namun status mahasiswa yang melekat pada diri kru Bahana memberikan nilai lebih. “Kami bekerja tanpa bayaran.” Selama kuliah, Izarman bergabung dengan media di luar kampus, seperti Majalah Prestasi— milik Departemen Kebudayaan—sekitar tahun 1986, Waspada, dan Harian Genta (1984-1987). Di Genta, ia dipercaya menjadi redaktur budaya. Cerita bersambungnya yang berjudul Riak-riak Menderai juga dimuat di Genta. Izarman memilih profesi wartawan bukan tanpa alasan. Kemampuan menulis membuatnya percaya dapat hidup dengan menghasilkan tulisan. “Pekerjaan wartawan tidak akan ada ujungnya,” ujarnya optimis. Kalau pun tidak lagi memiliki media, menulis akan tetap ia lakoni. Suatu saat akan muncul kerinduan untuk menulis. “Mungkin nanti saya bikin website.” Menulis punya arti dalam hidup Izarman. Menulis merupakan pekerjaan untuknya. “Tak menulis berarti saya menganggur, kalau seperti itu tidak ada harga.” Ia berandai-andai jika kontrak kerjanya habis di Tuah Sakti, ia tetap akan mencari media lain. Karena ia hidup dari menulis. “Saya tidak bisa berdagang, apalagi jual narkoba.” ***


Bahana Mahasiswa

99

Edisi 1-15 Mei 2010

“Di Cina labunya agak runcing ke atas, sedangkan labu di sini bulat.”

Oleh Aditia Bagus MENGENDARAI sepeda motor, kami menuju Desa Betung, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau. Jaraknya sekitar 18 kilometer dari jalan lintas timur Sorek. Awalnya kami melewati jalan beraspal, lalu ada jalan dari tanah kuning dan berkerikil. Kemudian kami lewati jalan aspal kembali sebelum sampai ke desa Betung. Tiba di Betung, kami langsung menuju rumah kepala desa. Sebuah rumah khas melayu. Ada tangga di depan rumahnya. Dinding-dinding tangganya dihiasi ukiran jepara bewarna kuning dan hijau. Oleh istri kepala desa, kami dipersilahkan duduk di kursi dari anyaman bambu. Kursi ini merupakan hasil kerajinan desa Betung. Tak berapa lama, Agus Salim, Kepala Desa Betung tiba. Kami berbincang ringan. Agus lalu membahas soal labu. Labu adalah sebuah benda tempat menyimpan air minum. “Ini kebudayaan unik. Air yang dimasukkan dalam labu akan terasa segar dan sejuk,” tutur Agus. lll

Tak ada yang tahu pasti kapan labu ini mulai digunakan untuk menyimpan air. “Yang jelas sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu,” ujar Agus. Anum, warga Desa Langgam mengatakan, konon labu berasal dari Cina. Para pendekar dari Negeri Tirai Bambu ini menggunakan labu sebagai tempat menyimpan arak. Anum mengakui, ada perbedaan mendasar antara labu Cina dengan labu asal Pelalawan. “Di Cina labunya agak runcing ke atas, sedangkan labu di sini bulat.” Selain itu, labu Cina juga punya leher lebih panjang dibanding labu Pelalawan. “Tapi bentuknya sama, seperti angka delapan,” tambah Anum. Umumnya labu berwarna hijau muda. Ada juga yang berwarna putih. Bentuk labu asal Pelalawan ini menyerupai badan manusia, ada kepala dan badan. Bagian kepala rata-rata sebesar kepalan tinju anak-anak. Sedangkan badannya sebesar kepala orang dewasa. Lebar labu umumnya sejengkal orang dewasa, ada juga yang lebih dari dua jengkal orang dewasa. Tingginya bervariasi, umumnya dua jengkal orang dewasa. Proses pembuatannya tak rumit. Waktu yang dibutuhkan sekitar dua minggu. “Tapi sekarang tak banyak yang buat. Karena kebudayaan ini sudah mulai ditinggalkan,” sesal Agus Salim. Agus menceritakan proses pembuatannya.

Labu yang sudah besar dan matang diambil dari batangnya. Labu yang diambil biasanya labu pahit. Untuk tahu labu pahit atau tidak, bisa dilihat sewaktu berbunga. “Bisa dicicip bunganya. Kalau rasanya pahit, berarti labu pahit.” Jangan lupa pilih labu yang cukup besar supaya banyak menampung air. Labu air yang sudah dipetik, dijemur sekitar tiga hari untuk mendapatkan kulit yang keras dan tahan jika direndam. Setelah dijemur, buat lubang di atasnya. Tepat di tangkai batang labu melekat. Lubang ini berfungsi agar air bisa masuk dan isi labu cepat busuk. “Lubang ini juga yang digunakan untuk membuang isi labu,” kata Agus. Selanjutnya labu direndam dalam air. “Ini membuat isi labu membusuk.” Proses ini dibiarkan seminggu sehingga isinya benar-benar busuk dan bisa dibuang. Setelah itu dibuat lubang satu lagi di samping labu atau sekitar lima sentimeter ke bawah dari lubang awal. Lubang itu berfungsi untuk sirkulasi udara sehingga isi labu yang busuk bisa mudah dikeluarkan. Lubang ini juga berfungsi mengeluarkan air minum jika labu telah jadi tempat penyimpan air. Setelah isi keluar, yang tinggal hanya biji labu saja. Usai itu labu dikeringkan dengan cara dijemur. Waktunya tak dapat dipastikan. Yang jelas sampai labu berubah warna menjadi cokelat muda atau cokelat tua. Makin kering labu, kulit yang dihasilkan makin bagus dan kuat. Terakhir mengeluarkan biji yang masih tertinggal. Cara mengeluarkannya juga unik. “Harus pakai rotan,” ungkap Agus. Rotan sepanjang 20 sentimeter seukuran kelingking dibengkokkan. Bagian yang dibengkokkan dimasukkan lewat lubang atas. Lalu rotan itu dikeluar masukkan sehingga biji-biji keluar. Setelah biji keluar, labu tinggal dicuci dan dibersihkan dengan air bersih. “Setelah itu labu siap diisi air minum. Air ini pasti terasa lebih segar dan nikmat dibanding bila disimpan di tempat lain.” Ini diakui seorang anak kecil yang dari tadi memperhatikan kami berbincang dengan Agus. “Betul Bang, enak kali kalau diminum,” ujarnya.

obat. Berbagai jenis penyakit bisa disembuhkan. “Termasuk penyakit karena diguna-guna,” kata Agus. Air itu disebut sulung air. “Tapi harus ada manteranya dulu,” aku Agus. Hanya orang-otang tua dulu yang tahu

lll

Air dalam labu bisa juga digunakan untuk

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

mantera itu. “Sekarang sudah banyak yang meninggal.” Karena keunikan labu ini, banyak orang tertarik. Tak hanya dalam negeri, turis mancanegara pun tertarik. Salah satunya dari Jepang. “Selama berbulan-bulan mereka meneliti tentang labu,” aku Agus. Diakui, labu memang banyak di Desa Betung. “Mata pencarian penduduknya banyak yang bertani, selain nelayan dan beternak.” Labu punya banyak khasiat dan manfaat. “Sayang sejak ada botol-botol yang lebih praktis dan mudah digunakan, labu ditinggalkan begitu saja,” tutup Agus. lmaikel

Foto:Adit BM


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

10

Seminar Nasional Pendidikan

Foto:Maikel BM Seorang mahasiswi tampak memasukkan surat suara ke dalam kotak suara saat Pemilihan Raya Universitas beberapa waktu lalu. dalam pemilihan tersebut Adi Hamdani dan Age Pranata terpilih sebagai Ketua dan Wakil Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Riau 2010-2011.

Pengukuhan Yusmar Yusuf Kamis (29/4) lalu aula lantai empat Rektorat Universitas Riau (UR) tampak ramai. Hari itu berlangsung sidang senat terbuka UR dalam rangka pengukuhan guru besar Yusmar Yusuf. Dosen Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ini meraih gelar profesor untuk bidang Studi Masyarakat Melayu. Prosesi pengukuhan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Disambung lagu Mengheningkan Cipta yang dipimpin ketua senat UR, Ashaluddin Jalil. Lalu ia pun membuka sidang senat terbuka hari itu. Yusmar Yusuf dikukuhkan sebagai guru

besar oleh ketua senat UR. Acara berlanjut dengan menyanyikan himne UR. Usai itu, Yusmar Yusuf menyampaikan orasi guru besarnya, berjudul Melayu: Saujana Kosmopolitan, Penyerbukan Silang (Lontarlah Masa Kini ke Masa Depan pada Anjakan yang Mustari). Dalam pidatonya, Yusmar Yusuf menyebutkan bahwa melayu dikenal sebagai pendukung sebuah kebudayaan yang terbuka. Demikian pula dengan melayu Riau. “Persemaian awal, melalui para pembawa agama: Hindu, Budha, Islam dan Kristen telah ikut memperkaya khasanah dalam perjalanan panjang peradaban Melayu hingga hari ini.” lthika

Milad KaSEI KAJIAN Studi Ekonomi Islam (KaSEI) Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Riau (UR) taja seminar, lomba debat, dan presentasi ilmiah, Kamis-Sabtu (6-8/5). Acara digelar guna memperingati ulang tahun KaSEI ke-8. Kegiatan yang diadakan di Yudisium FE ini bertajuk: Saatnya Menyongsong Era Baru Ekonomi Islam. Tak hanya dari UR, panitia juga mengundang Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Qasim (Susqa) dan Universitas Islam Riau (UIR). Hari pertama, panitia adakan lomba debat ekonomi dan presentasi ilmiah. Tujuannya, membentuk budaya akademis di lingkungan FE. “Melatih mahasiswa bicara,” ujar M. Ahyaruddin, Ketua Panitia. Ada empat juri yang menilai pertandingan. Dua juri untuk debat ekonomi dan dua juri untuk presentasi. Di debat ekonomi ada Ando Fahda Aulia—Dosen Ilmu Ekonomi UR dan Ahmad Fauzan Fathoni—Alumni KaSEI. Sedangkan di lomba presentasi ilmiah ada Sri Endang Kornita—Dosen Ilmu Ekonomi UR dan Marhadi—Dosen Manajemen UR. Lomba debat ekonomi diikuti empat tim. Tiap tim terdiri dari tiga orang. “Sebetulnya yang daftar lima tim. Satu tim mengundurkan diri,” tutur Ahyaruddin. Temanya ada empat: pro dan kontra

penggunaan dinar atau dirham, pro dan kontra bank konvensional dan syariah, pro dan kontra perdagangan bebas (CAFTA, China Free Trade Area), dan pro dan kontra bail out dana Bank Century. Sementara lomba presentasi diikuti lima orang peserta. “Tapi yang hadir hanya tiga orang,” ungkap Ahyaruddin. Sabtu (8/5), pemenang lomba diumumkan. Sebelum pengumuman, panitia menyelenggarakan seminar tentang Prospek Perkembangan Ekonomi Islam untuk Menjadi Sistem Ekonomi di Indonesia. Seminar dimulai pukul 09.00. J. Ardhan Mardan didaulat jadi pemateri. “Dengan itikad yang kokoh dari semua pemegang kebijakan bangsa, ekonomi syariah mampu menjadi sistem ekonomi Indonesia,” ujarnya saat penyampaian materi. Hal ini, lanjutnya, didukung oleh institusiinstitusi Ekonomi Islam yang kian membaik, mayoritas jumlah penduduk muslim di Indonesia, serta potensi sumber daya alam yang luar biasa. Satu setengah jam kemudian, seminar usai. Acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba debat ekonomi dan presentasi ilmiah. Lomba debat dimenangkan KaSEI FE UR dan lomba presentasi dimenangkan oleh Abdurrahman Al Jauzi dari FISIP UR.l14

JUMAT-SABTU (7-8/5), Program Pasca Sarjana Universitas Riau (UR) taja Seminar Nasional di Hotel Ratu Mayang Garden. Temanya Manajemen Pendidikan Berteraskan Budaya Melayu. Acara ini bertujuan mewujudkan sumber daya manusia yang kompetitif. Selain itu, “Mengedepankan nilai budaya melayu dan menemukan pola manajemen pendidikan yang berteraskan budaya melayu, jujur, santun, dan bertanggung jawab,” tutur Salfen Hasri, Ketua Pelaksana. Hari pertama berlangsung acara seremonial, pendaftaran dan akomodasi peserta, serta temu ramah. Sayang Gubernur Riau, Rusli Zainal— yang diundang—tak bisa hadir. Baru hari kedua seminar nasional berlangsung. Jumlah peserta sekitar 300 orang. Berasal dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Qasim (UIN Susqa), Universitas Negeri Lampung, Universitas Negeri Medan, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember, Universitas Kristen Maranatha Bandung, Jawa Barat, semua dosen perguruan tinggi swasta (PTS), dosen perguruan tinggi negeri (PTN),

kepala sekolah dan guru pendidikan dasar dan menengah Propinsi Riau, serta mahasiswa magister pendidikan UR. “Peserta sangat antusias saat acara mulai,” ujar Salfen. Ada empat narasumber yang diundang. Sailah—Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Jakarta), Sakdanur— Ketua Program Studi Manajemen Program Pasca Sarjana UR. Ia memaparkan soal Manajeman Pendidikan Berteraskan Budaya Melayu. Anny Nurbasri—dosen Kopertis Wilayah IV Jawa Barat, memaparkan Pengaruh Globalisasi dan Strategi Bersaing dalam Perspektif Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan yang Berorientasi Keunggulan Lokal. Titiek Rohanah Hidayati— dosen STAIN Jember, memaparkan Perkembangan Budaya Religius sebagai Sistem Nilai dalam Penciptaan Budaya Mutu Sekolah. Salfen berharap semua praktek pendidikan bisa menerapkan nilai-nilai melayu. “Kendala tak ada,” aku Salfen. “Ini disebabkan pendanaan dibantu alumni yang sudah mapan, serta didukung oleh Gubernur Riau dan Bupati Rokan Hulu,” tutup Salfen. lardan

Jalin Kebersamaan di FISIP FAKULTAS Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) gelar Fisip On Gathering. Acara ditaja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Universitas Riau (UR) selama empat hari (5-8/ 5). Acara dibuka Pembantu Rektor (PR) II, Yanuar Hamzah. “Sebenarnya Rektor (Ashaluddin Jalil, red) yang buka, tapi berhalangan,” kata Musliyandi, Ketua Pelaksana. Tujuannya, menjalin kebersamaan. “Tak ada kendala selama acara,” aku Aan, panggilan akrab Musliyandi. Untuk panitia acara, kata Wan Mohd. Ikhsan Kurniawan—Ketua BEM FISIP UR— ada proses seleksi bila ingin jadi panitia. “Acara ini bukan main-main. Ini bisa disebut pra FISIP Inaugurate. Jadi panitia yang terpilih berlanjut jadi panitia FISIP Inagurasi,” ujar Wawan. Banyak rangkaian acara digelar di FISIP on Gathering. Salah satunya bazar. Sebanyak 18 stand dihadirkan. Antara lain Asykar Teking, PSPS, UVO, Toyota, Warung Jujur, Vanholand, Latansa Bakery, Indosat, Trimedia, Erlangga, Tribun Pekanbaru, Oriflame, Famous, Himagara, dan Almadani. Ada juga berbagai lomba. Akustik, debat, puisi, karikatur untuk mahasiswa dan mewarnai untuk taman kanak-kanak. Palang Merah Indonesia (PMI) UR dan

Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Sakai FISIP UR turut memeriahkan acara. PMI buat simulasi, sedangkan Sakai buat outbound. Ada pula pertunjukan sepeda BMX dari klub Rainbow—salah satu klub sepeda BMX di Pekanbaru. “Kita undang anak yatim 83 orang. Mereka diberi sumbangan dan sertifikat,” tutur Aan. Mereka dari berbagai panti asuhan: Arrohim, Aisyiah Putra, dan Aisyiah Putri. Alrazi, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Matematika UR menang lomba debat. Ia berkomentar, acaranya menarik. “Sayang partisipasi mahasiswa FISIP sendiri kurang,” keluhnya. Syafriharto, Pembantu Dekan (PD) III FISIP UR diminta menutup acara. “Banyak yang antipati terhadap acara ini. Karena itu, ke depannya kita harus lebih mensosialisasikan agenda yang kita buat,” tuturnya. Namun Wawan mengaku sudah melakukan sosialisasi maksimal. “Jauh hari sudah disebar selebaran. Tapi banyak dicopot mahasiswa,” terang Wawan. Saat penutupan, Wawan diminta tanding juggling dengan pemain PSPS, Herman Dzumafo. Dalam pertandingan itu, Wawan menang dan dihadiahi sebuah topi.l*4

Foto:Aang BM

Juggling--Wan Mohd. Ikhsan Kurniawan menang juggling melawan Herman Dzumafo, pemain PSPS Pekanbaru.

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

Dekan Cup Faperta DUA puluh balon dilepas ke udara oleh Usman Pato, Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Riau (UR). Saat itu Sabtu (1/5) pukul 16.00, Usman berdiri di tengah lapangan bola depan kampus Faperta. Usai melepas balon, Usman juga diminta menendang bola. Itu sebagai tanda acara Dekan Cup resmi dibuka. Beragam pertandingan dibuat Jaswandi, Ketua Pelaksana. Ada sepak bola, voli, takraw, dan kaligrafi. Di samping itu ada pula majalah dinding (mading) award. Ini merupakan bentuk apresiasi bagi juara lomba mading seFaperta yang digelar April lalu. “Pemenangnya dari Agroteknologi,” ujar Jaswandi. Lomba sepak bola dan kaligrafi diikuti semua lembaga di Faperta. Ada himpunan mahasiswa program studi Hama Penyakit Tanaman (HPT), Teknologi Hasil Pertanian (THP), Agronomi, Ilmu Tanah, Sosial Ekonomi Pertanian (SEP), Non Reguler, UKMI Nurul Fallah dan kelompok pecinta alam Mapala Sungkai.

Untuk lomba voli, selain semua lembaga, juga dimeriahkan oleh pegawai dan mahasiswa pasca sarjana Faperta. Begitu pula dengan takraw. Dosen dan karyawan juga turut serta. “Karena itu voli dan takraw digelar tiap hari,” ucap Jaswandi. Dekan Cup mengusung tema Tunjukkan Prestasi, Jalin Silahturahmi, Junjung Krestivitas Berolahraga. Sesuai tema, kata Jaswandi, acara ini bertujuan melatih mental sportifitas mahasiswa serta menjalin silahturahmi antar sesama mahasiswa dan antar mahasiswa dengan dosen. Walau sempat terkendala kepanitiaan, Jaswandi berharap acara ini berjalan lancar. Acara ini digelar guna menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Faperta ke-19 tanggal 24 Juli mendatang. “Dilakukan lebih cepat untuk mengantisipasi mahasiswa yang akan sibuk KKN (Kuliah Kerja Nyata, red).” “Ini pertama kali di Faperta,” kata Jaswandi. Acara akan ditutup tanggal 30 Mei, sekaligus penyerahan piala dari dekan alias Dekan Cup.lintan

Pendaftaran Online Pendaftaran jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Universitas Riau (UR) dibuka. Pendaftaran terbagi jadi dua kelompok. Tanggal 2-14 Mei bagi calon peserta lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat tahun 2008/2009. Sedangkan tanggal 2-31 Mei untuk calon peserta tamatan SMA atau sederajat tahun 2010. Bagi calon peserta SNMPTN yang ujian susulan UAN, pendaftaran kembali dibuka pada 10-12 Juni. “Semua pendaftaran secara online,” kata Usman Manan, Kepala Biro Administrasi Akademis Kemahasiswaan (BAAK). “Saat ngisi formulir lewat online hatihati, supaya tidak salah,” kata Usman. Calon mahasiswa dikenakan biaya formulir. Untuk IPA Rp 150 ribu, IPS Rp 150 ribu, dan IPC Rp 175 ribu. Ujian seleksi berlangsung 16-17 Juni. Hasil ujian dimumkan 17 Juli. Lokasi ujian tersebar. IPA di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Qasim (Susqa) Panam, IPS di kampus UR Gobah, Sekolah

Menengah Atas Negeri (SMAN) 8, SMAN 9, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bhayangkari, UIN Susqa Sukajadi, Gelanggang Olahraga Remaja Jalan Sudirman, Gelanggang Basket Ball Rumbai, sedangkan IPC di kampus UR Panam. Ujian terbagi jadi beberapa sesi. Ada tes potensi akademik (TPA), pengisian data, tes bidang studi dasar Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, tes bidang studi IPA, pengisian biodata, dan tes bidang studi IPS. UR menampung 1.172 orang dari jalur SNMPTN. Rinciannya, IPA 665 orang, IPS 1.063 orang, dan IPC 725 orang. Pengumuman hasil ujian tersebar melalui website: www.snmptn.ac.id dan koran. Selain SNMPTN, UR juga buka jalur masuk melalui ujian lokal. Ada dua gelombang. Pendaftaran gelombang pertama pada 21-29 Juni. Ujiannya 30 Juni sampai 1 Juli. Hasil ujian diumumkan pada 21 Juli. Pendaftaran gelombang kedua dibuka 26-31 Juli. Ujiannya 2-3 Agustus. Dan pengumuman ujian 9 Agustus.lardan

Foto:Ari BM

Pendaftaran Online--UR Gobah menampilkan flowchart pendaftaran SNMPTN. Pendaftaran menggunakan sistem online.

11

Foto:Maikel BM

Semirata--FMIPA dan PMIPA FKIP UR taja Seminar Nasional dan Rapat Tahunan (Semirata) di Hotel Pangeran, 10-11 Mei. Ini merupakan Semirata ke-23.

Semirata Soal MIPA

Senin pagi hingga selasa sore (10-11/5), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (PMIPA) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (UR) taja Seminar Nasional dan Rapat Tahunan (Semirata) bidang ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Ini merupakan tahun ke-23 kegiatan berlangsung. Tema yang diusung Peran Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia. Acara bertempat di Hotel Pangeran, Pekanbaru. Peserta yang hadir sekitar 581 orang, berasal dari 30 institusi, meliputi 17 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), 11 Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dan 2 lembaga penelitian di wilayah Indonesia bagian Barat, salah satunya Kalimantan Barat. “Target peserta dibatasi 400 orang. Kalau tidak dibatasi, bisa sampai 700 orang,” ujar Delita Zul—ketua panitia. Senin pagi, acara dimulai pukul 08.00.

Hadir sebagai narasumber: Fasli Jalal—Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Shigeo Kobayashi—Graduate School of Asian and African Area Studies, Kyoto University, Shaidan Radiman, dan Roberd Saragih—Departemen Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB). Pukul 13.30 berlangsung rapat dekan di Family Room dan rapat ketua jurusan/prodi di Balairung Room, dilanjutkan seminar paralel. Selasa pagi, acara dilanjutkan dengan pemaparan makalah dari peserta. Delita menuturkan, saat acara dimulai, peserta sangat antusias, bahkan peserta dari Medan mendukung dan meminta untuk diakomodir supaya ikut seminar. “Tujuan Semirata untuk menjembatani silaturahmi antar civitas akademika di lingkungan FMIPA perguruan tinggi wilayah Barat agar menghasilkan kerjasama ilmiah dan mencari permasalahan-permasalahan aktual yang dialami FMIPA serta mencari solusinya,” tutur Delita. Kendalanya, diakui Delita, selain dana, banyak peserta yang daftar di hari terakhir. “Itu menyulitkan panitia.”lardan

FH Adakan Family Day Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Riau (UR) menaja family day pada Kamis-Sabtu (6-22/ 5) di lapangan samping gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UR Gobah. Acara ini dimeriahkan seluruh civitas kampus FH. “Tujuannya menjalin silaturahmi,” ujar Ridho Aprysoni, ketua pelaksana. Banyak rangkaian acara diadakan selama tujuh belas hari. Perlombaan ada tiga jenis: futsal, takraw, dan tarik tambang. Khusus tarik tambang ada dua kategori, putra dan putri. Pesertanya mahasiswa, dosen dan pegawai. Selain perlombaan, digelar pula pemilihan dosen humoris, dosen favorit, dan dosen disiplin. Dosen humoris jatuh pada Abdul Ghafur, sementara dosen favorit dan disiplin diberikan pada Erdiansyah. Proses pemilihan dilakukan melalui pemungutan suara kepada setiap mahasiswa FH. Hingga Sabtu (22/5), acara berjalan lancar. Sebagai acara puncak, di hari terakhir itu setiap kelas menampilkan beragam jenis hiburan. Tepat pukul 20.00, acara dibuka oleh dua or-

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

ang pembawa acara dari semester dua: Novida Manalu dan Bayu Prakoso. Beberapa dosen turut hadir, antara lain Gusliana HB, Saipullah Yophi, Meksasai Indra, Abdul Ghafur, Erdiansyah, dan Rika Lestari. Beragam hiburan ditampilkan pada malam itu. Semester 4b menampilkan pencak silat asli Rokan Hilir yang dibawakan oleh Suardi beserta beberapa rekannya. Semester 4b juga menampilkan drama tentang seorang dosen yang diktator dan menjual nilai kepada mahasiswa. Dosen itu lalu didemo para mahasiswa. Sedangkan semester 2a menampilkan pentas seni berupa band. Begitu pula dengan semester 2b, mereka menampilkan pentas seni tapi hanya menggunakan gitar. Usai acara hiburan, dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba. Untuk pemenang lomba takraw dan tarik tambang kategori putra diraih tim dari semester 2a. Sementara tarik tambang putri dimenangkan semester 6b. Sedangkan lomba futsal dimenangkan oleh semester 4a.l*14


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

Mardianto Manan Pengamat Perkotaan

12

Wajah Kota, Wajah Walikota KOTA Pekanbaru lekat dengan motto Bertuah (Bersih, Tertib, Usaha Bersama, Aman dan Harmonis). Motto itu disematkan Hj. Mahanum HS, camat perempuan pertama Kota Pekanbaru tahun 1990. Empat kali piala Adipura ‘mampir’ di kota ini. Gelar Presiden pada kota terbersih di negeri ini. Tapi apa benar kota ini Bertuah? Baru-baru ini, seorang pengamat perkotaan, Mardianto Manan, dalam bukunya: Kata Kato Kota Kita—Mengamati Kota Pekanbaru dari Dekat Sekali, mengkritik pola pengembangan kota Pekanbaru. Misal, untuk menggaet piala Adipura tak sedikit dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) digelontorkan. Hari ini Pekanbaru jadi objek studi banding kota lain, meski WC umum belum ada. Ibarat “Kota Tanpa Kakus”. Selasa (11/5) lalu, Mardianto menerima kedatangan kru BM—Aang Ananda Suherman di kantornya di Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Daerah Propinsi Riau (LPJK-D), Jalan Sumatera Pekanbaru. Tepat pukul 15.20, dengan semangat, Mardianto bicara soal kota. Apa dasar permasalahan pembangunan kota ini? Berikut nukilannya. Apa yang ingin anda sampaikan dalam buku ini? Ini untuk melepaskan pemikiran yang bernas. Hampir 80 sampai 90 persen tulisan itu sudah dimuat media massa beberapa waktu lalu. Dalam buku ini, perlu kita teropong tentang eksistensi dari kota. Misal, saya mengkritisi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Pekanbaru lama yang diubah jadi pustaka Soeman HS. Tergambar di arsitek bangunannya seperti rehal (tempat Al Quran) bayangan huruf x. Tapi terbangun seperti huruf y, hilang satu tangkai. Satu tangkai butuh dana banyak. Saya yakin ratusan juta hilang. Dana itu ke mana? Jadi tak transparan. Fenomena masa itu dan sebagian pada masa kini tertuang di buku ini.

mencerminkan kebudayaan kita. Jadi seperti apa pembangunan kota saat ini? Sekarang seperti politik belah bambu. Kecil ditarik, yang besarnya diinjak. Maksudnya? Sarana Angkutan Umum (SAUM) nyaman, di luar SAUM, orang macet total. Contoh lagi, di belakang kantor DPRD Kota Pekanbaru, dulu ada tempat pembuangan sampah, sekarang jadi taman kota. Ada taman labuai yang terbengkalai. Makanya sekarang la tabuai-buai (sudah terbuaibuai, red). Yang kita sayangkan, bentukan bangunan tua di kota ini hilang satu per satu. Misalnya, kita dulu punya stadion Hangtuah. Itu dirobohkan. Lalu dibuat taman kota. Ada Masjid Agung An-nur yang dihancurkan. Dibangun Masjid Agung An-nur bernuansa baru. Saya berpikir, carikan lokasi lain untuk masjid baru. Jadi dapat dua. Gitu juga Masjid Raya Pekanbaru yang hancur sekarang. Juga gedung Dang Merdu yang akan dibangun Bank Riau 19 lantai. Dang Merdu punya sejarah soal Riau. Saya tak bisa bayangkan, saat kantor gubernur hanya sembilan lantai, Bank Riau 19 lantai. Hilang kedikdayaan kantor gubernur, yang notabene pusat pemerintahan. Lihat juga kasus, eks bangunan MTQ. Dirobohkan ditimpa anjungan Idrus Tintin. Kan sayang? Betapa bersejarahnya MTQ bagi kita dan sangat terkenal waktu itu. Muncul persepsi, mungkin Idrus Tintin akan dihancurkan lagi. Selain itu? Perlu kita kritisi soal IMB. Silahkan dikeluarkan, tapi sesuai Peraturan Daerah (Perda) nomor 14 tahun 2000, diganti Perda nomor 01 tahun 2010. Disana dijelaskan, jika punya ruang 100 meter, hanya 60 persen dibangun. 40 persen open space. Walikota harusnya tak buat target untuk dinas

tata kota. Kalau ditarget, dinas mencari akal memperbanyak duit masuk. Makanya, banyak IMB dikeluarkan akan merusak citra kota. Bagaimana dengan lima kali meraih piala Adipura dari Presiden? Soal kebersihan kota, Herman Abdullah (Walikota Pekanbaru) patut kita puji. Saat dapat piala Adipura pertama dan kedua, saya menulis Adipura itu sebagai adi yang berpura-pura. Walikotanya pura-pura bersih kemudian dipotret. Lalu dapat juara. Setelah empat kali, saya rasa terlalu capek walikota pura-pura mengeluarkan uang untuk mendapatkan itu. Kota Pekanbaru sudah bersih. Namun mungkin jantung kota, jalan Sudirman, Diponegoro dan sekitar. Di Panam, jalan Melati Indah, jalan Lobak atau sekitar Tangkerang Tengah, jalan Kereta Api, jalan Paus, itu kotor juga.

Apa pun gerakan pembangunan, APBD itu dianggarkan untuk rakyat. Bukan untuk sapi, kuda dan lainnya. Buat parit rakyat jangan banjir. Buat jalan rakyat jangan macet, mengadakan lampu rakyat jangan gelap gulita. ***

Jadi bagaimana harusnya pembangunan kota ini? Saya rasa dimulai dengan master plan yang bagus. Master plan atau rencana tata ruang wilayah harus signifikan dengan gerakan perkembangan kota. Kita harus konsisten melaksanakan aturan yang kita buat. Misal master plan Pekanbaru 2020, jauh sebelum 2020, sekarang semua arahan bangunan mengacu pada master plan itu. Ini harus jadi kompas dalam pembangunan. Apa penilaian Anda pada kinerja walikota hari ini? Sangat besar. Tapi penampilan kota Pekanbaru meninggalkan masa lalu atau membunuh karakter masa lalu. Ada anekdot, kalau ingin melihat wajah walikota, lihatlah wajah atau penampilan kotanya. Mungkin ia tak suka masa lalu.

Bagaimana soal RTRW kota? Dalam UU nomor 26 tahun 2007, dinyatakan kewajiban bagi kota ini, daerah ini, propinsi ini, untuk merevisi RTRW sekali lima tahun. Sekarang saya tidak tahu, mungkin tinggal mengesahkan, atau sudah disahkan. Saya dengar RTRW kota belum disahkan, karena pengesahan RTRW propinsi bermasalah dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Apa sebenarnya persoalan mendasar pembangunan Kota Pekanbaru? Pemimpin kota ini tak konsisten. Kota ini mengambang bagai kapal di tengah lautan yang terombang-ambing. Segi fisik. Ada bangunan bernuasa melayu dengan ditempel di selembayung. Tapi hanya satu antara sepuluh bangunan. Dinas tata kota tak punya konsep dan standar bangunan yang berstandar melayu. Tata ruangnya seperti apa? Modelnya seperti apa? Standarisasinya seperti apa? Beberapa tahun lalu, dibangun gedung Idrus Tintin. Tapi kalah oleh ruko yang menjamur sepanjang gerbong kereta api, tanpa Ilustrasi: Adit BM

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

Internet


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

13

Student’s Intangibles MAHASISWA adalah aset bangsa! Tapi itu berlaku jika eksistensinya memberi nilai tambah pada peningkatan daya saing perguruan tinggi dan bangsa. Jika tidak? Pasti jadi beban, bagi diri sendiri, masyarakat, negara, dan bangsa. Lalu, apa langkah pertama yang mesti dilakukan agar nilai tambah meningkat? Menyadari bahwa meningkatkan nilai tambah itu tanggung jawab Anda yang memikul amanah orang tua untuk belajar. Sehingga kelak jadi sarjana tahan banting sebagai cerminan karakter enterpreneur! Mahasiswa kaya bukan mahasiswa yang hidup dari warisan orang tua atau punya harta berwujud (tangibles), seperti emas, intan atau berlian, kayu, kelapa sawit, timah, pasir, belacan dan sebagainya. Melainkan mahasiswa yang membangun kualitas tak terlihat wujudnya (intangibles) melalui aktivitas perkuliahan yang sungguh-sungguh, seperti disiplin, kerja keras, jujur, dan bertanggungjawab sebagai pondasi wirausaha, kepemimpinan, dan perubahan (Rhenald Kasali, 2010). Karakter entrepreneur yang dibangun melalui kekuatan intangibles, tak lahir begitu saja. Dibentuk melalui integritas, komitmen, dan disiplin, secara konsisten. Integritas diwujudkan dengan memegang amanah secara sungguh-sungguh dan konsisten. Komitmen adalah ketekunan dan kebulatan tekad meraih cita-cita. Perlu disiplin tinggi untuk menjaga komitmen. Disiplin masalah kebiasaan. Kebiasaan yang terus diulang, dipantau, dan diperbaiki sesuai perubahan lingkungan sehingga meningkat jadi kebiasaan belajar. Kebiasaan belajar yang terbentuk memberi hadiah (reward) berupa kunci meraih kejayaan yaitu budaya disiplin. Budaya disiplin menentukan kualitas elemen pengungkit nilai tambah, yaitu sumber daya, ide (gagasan), relasi (network), dan keahlian (expertise) yang dapat

digali dari kawah candradimuka bernama KULIAH! Celakanya; dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, sebagian besar energi mahasiswa dikuras untuk membangun budaya mediokritas. Mahasiswa lebih suka demonstrasi ketimbang membangun budaya disiplin membangun intangibles internal yang melekat pada tangan, kaki, hati, dan pikiran mahasiswa. Wahai aktivis kampus, perubahan tak akan berhasil sebelum Anda berhasil mengubah cara berpikir. Perubahan yang kekal dan berpondasi kuat adalah perubahan yang dibangun di atas pondasi intangibles. Renungkan nasehat Vince Lombardi bahwa “Setiap orang punya hak untuk jadi pemenang, tetapi sedikit sekali yang mempersiapkan dirinya sungguh-sungguh untuk menjadi pemenang.” Belajarlah secara konsisten dan bertungkus lumus untuk meraih kemahiran baru (new skills). Sebab intangibles tidak serta merta dapat dimiliki. Ia butuh waktu untuk ditumbuhkan dan tak diperoleh dalam tempo sekejap apatah lagi belajar asal asalan. Ia tak cukup sekedar latihan biasa, melainkan latihan luar biasa (deep practice). Coyle (2009) menandaskan bahwa untuk memiliki world class skill, dibutuhkan deep practice selama tidak kurang dari 10 ribu jam. Ini sangat mungkin dilakukan selama siklus pendidikan di perguruan tinggi intensif. Hanya mahasiswa yang punya modal intangibles lebih besar yang berhasil melakukan perubahan dan meraih brand images sebagai enterpreneur. Untuk menjadi intangibles dibutuhkan disiplin kolektif civitas akademika. Itu membutuhkan culture of discipline melalui transformasi budaya akademik. Penghambat kemajuan diri

bukan kekurangan yang kita miliki, tapi tidak ada keyakinan yang kuat, sikap pantang menyerah, dan azam mewujudkan visi individu maupun organisasi. Untuk membangun karakter entrepreneur mahasiswa di perguruan tinggi, tak cukup melalui sebuah mata kuliah kewirausahaan. Dosen mesti melakukan transformasi diri jadi nukleus reaktor transformatif modal insan. Dalam perspektif itu, shaping academic leadership dirasa perlu digesa dalam bingkai transformasi budaya akademik agar dapat meluluskan mahasiswa berkarakter tangguh. Ini agaknya esensi tema peringatan Hardiknas tahun 2010, yaitu Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa. Dalam perjalanan pendidikan nasional, rancangan sistem pendidikan yang utuh, menyeluruh, dan terpadu, menitikberatkan pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa. Kurang fokus pada pembinaan karakter mahasiswa. Sebab itu kita kebanjiran dosen yang pandai mengajar (teach) tapi kurang lihai mendidik (educate/scholarship of teaching). Hasilnya? Setiap tahun dihasilkan lebih dari 300 ribu lulusan perguruan tinggi, namun pengangguran intelektual meningkat dari 6,16 persen tahun 2006 jadi 7,02 persen tahun 2007 (KOMPAS, 11/2/2008). 75,28 persen lulusan perguruan tinggi bekerja sebagai buruh, karyawan, atau pegawai. Sementara yang berusaha dibantu buruh tetap atau dibayar 5,17 persen, yang berusaha dibantu buruh tidak tetap atau tidak dibayar 7,12 persen, dan berusaha sendiri tanpa buruh 6,12 persen. Ada pekerja tak dibayar sebesar 5, 46 persen. Fakta status pekerjaan lulusan perguruan tinggi tersebut merefleksikan urgennya upaya peningkatan nilai tambah mahasiswa lewat pengembangan karakter entrepreneurship yang juga dapat memperbaiki citra perguruan tinggi

Firdaus LN

Edupreneur & Pendidik di FKIP Universitas Riau

dan meningkatkan daya saing lulusan. Tugas kita sebagai dosen pendidik membantu mahasiswa mampu menemukan faktor pemicu pengembangan diri. Caranya memfungsikan peran dosen sebagai fasilitator, motivator, dan manager perubahan lewat kemasan pembelajaran yang memikat dan berpusat pada mahasiswa dengan penuh integritas, komitmen, dan disiplin. Tanpa budaya disiplin, tak ada masa depan, respect, dan kemajuan. Tanpa budaya disiplin, intangibles yang dapat dimobilisasi merakit perubahan meraih kecemerlangan tak terbentuk. Universitas bisa hidup dan mati. Mahasiswa yang mesti berubah mindset-nya pun bisa mati, termasuk dosen dan pegawai. Tanpa intangibles, tak ada perubahan signifikan. Tanpa perubahan, tak ada pembaharuan. Karenanya perlu spirit of entrepreneurship. Mahasiswa entrepreneur merasa hidupnya kurang nyaman dengan kondisi sekarang dan berani berselancar di gelombang ketidak nyaman itu. Agar terus bersemangat, jangan batasi tantangan yang Anda hadapi, tapi tantang keterbatasanmu. Jadi, “Belajar lah betul-betul sampai mati…!”***

Popi Kurniawan

Bukan Superman POPI Kurniawan kenakan baju abu-abu berlambang S, Superman Last the Hero tertulis di baju itu. S adalah lambang Superman--pahlawan superhero. Ikat pinggang berlogo S juga melingkar di pinggangnya. Hari itu Pay—sapaan akrabnya— duduk di sofa depan Sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa dan Sastra (Batra) Universitas Riau. Penampilan sehari-hari Pay, salah satu staf Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia identik dengan lambang S. “Kalau kerja hanya ikat pinggang aja yang berlambang Superman,” kata Pay. Tak hanya itu, motor Pay juga melekat stiker berlambang S. “Itu dari Lampung,” ujarnya sembari menunjuk ke arah sepeda motornya. Pay gandrung dengan semua pernak-pernik berlambang S sejak kelas dua Sekolah Menengah Atas. “Padahal waktu itu sedang musim baju underground,” ingat Pay. Tapi ia tak mencari baju itu. Kala SMA, bersama teman-teman, Pay jalan-

jalan di sebuah mal di Palembang. Temannya sibuk cari baju underground. Saat itu mata Pay tertuju pada sebuah kaos biru berlambang S di tengahnya. Pay tertarik. “Unik,” katanya. Tapi Pay hanya tertarik dengan lambang S pada Superman. “Bukan tokoh Superman.” Baju itu lalu diambilnya. Teman-teman mencibirnya. “Kayak anak kecil,” ujar Pay mengulang kalimat temannya. Ia tak peduli. Sejak saat itu, setiap melihat produk berlambang S, langsung dibelinya. “Kalau lagi ada duit.” Seiring waktu, koleksinya bertambah. Ada tas, gantungan kunci, topi, ikat pinggang. Semua berlambang S. Awalnya Pay mengaku banyak yang tak mendukung. Ia tetap pada pendirian. Lama-lama temannya mulai mendukung. “Malah mereka yang belikan,” ujar Pay. Salah satunya bed cover berlambang S. Tahun 2002. Saat itu berlangsung

pertemuan seni tingkat nasional untuk mahasiswa di Yogyakarta. Pay ikut. Di sana ia buat tato temporary berlambang S dari tokoh Superman. “Orang yang bikin tato bilang jangan kena baju. Biarkan kering.” Tapi Pay gelisah. “Dari pada baju disingsingkan lebih baik dibuka.” Alhasil, hari itu Pay keliling Yogyakarta hanya mengenakan celana. “Gila,” ujar teman-teman Pay saat ia pulang ke penginapan. Koleksi barang berlambang S milik Pay kini sudah banyak. “Tak terhitung,” ucapnya. Pay berniat semua koleksi bajunya dimuseumkan. “’Baju yang udah nggak layak pakai disimpan dalam lemari.” Kadang timbul rasa cemburu melihat orang lain pakai lambang S. “Aku lebih cocok makai itu,” ujarnya. Memang saat ini sudah banyak mahasiswa yang pakai barang berlambang S itu. “Tapi aku duluan yang make.” thika

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

Istimewa


Bahana Mahasiswa

14

Edisi 1-15 Mei 2010

S

IANG ini beda dari hari lain. Di tempat biasa aku berjalan, kini ramai oleh sepeda motor lalu lalang. Mereka anak SMA yang baru pulang sekolah di desa seberang. Pakaian putih abu-abu serta raut wajah lega. Aku sibuk memperhatikan pola coretan di tiap baju pengemudi sepeda motor. Hingga sebuah suara menyadarkanku dari lamunan. “Mau pulang Za?” suara itu bertanya. “Nebeng ya Bang,” seruku sambil naik ke motornya. Namanya Guru. Salah satu siswa SMA dari desa seberang itu. Maklum, di desa kami hanya ada sekolah sampai SMP. “Bagaimana ujiannya Bang?” tanyaku sembari melihat pemandangan desa kami yang sebagian besar masih hutan. “Ya lumayanlah sudah selesai. Jadi bisa libur besok,” jawabnya lega. “Rencana Abang mau lanjut ke mana?” aku mulai basa-basi. “Abang mau jadi guru,” katanya datar. Walau kami baru bertetangga dua bulan, aku tahu Guru orang baik. Hidup dari keluarga guru membuatnya sadar akan pentingnya pendidikan. Orang tuanya ingin ia bisa jadi guru dan memajukan desa. Pendidikan di desa kami sangat kurang. Tak banyak guru mau mengajar tetap dan tinggal di desa ini. Akhirnya desa kami memanggil guru honorer dari desa seberang. *** Esok sore aku temui Guru di warungnya. “Assalamualaikum,” sapaku. “Waalaikumsalam,” balas Guru. “Mau beli apa?” tanya Guru sambil menggambar sesuatu di atas kertas. “Gak ada Bang, Reza mau minjem bola, mau main,” kataku lagi. “O, tunggu ya, Abang ambil dulu,” Guru pergi meninggalkanku dan kertas berisi gambar itu. Guru menggambar pohon jambu yang tumbuh di rumah tetangga depan rumahnya. Aku tahu karena gambar itu sangat mirip dengan pemandangan aslinya. Mulai dari pohon, tanah, rumah, pagar kayu, hingga beberapa rumput liar yang tumbuh di halamannya. “Ini bolanya,” kata Guru sambil memberi bola kaki itu padaku. “Gambarnya bagus, mirip aslinya,” aku memuji gambar itu. “Ah biasa saja,” jawab Guru merendah dengan raut wajah memerah. “Abang cocok jadi guru lukis,” seruku lagi. “Mungkin bisa,” gelak kami berdua. *** Malam minggu selalu ditunggu anak muda, termasuk Guru dan aku. Kami berjanji ke pasar malam bersama. “Jangan kemalaman pulangnya, nanti sakit,” perintah ibu Guru dengan nada sedikit marah. “Iya Bu,” kata Guru sambil menghidupkan mesin motor. “Assalamualaikum,” ucapnya lagi. Guru lalu menjemputku. Setelah pamit dengan ibu, aku naik ke motor Guru dan melaju melintasi malam yang cukup dingin. Daun pohon melambai mengikuti arah angin yang dihiasi cahaya bulan. Jalan gelap jadi terang karena diterangi lampu motor dan mobil yang melintasi jalan antar desa ini. Meski jarak antar desa cukup jauh, tetap ada pejalan kaki di pinggir jalan. Setelah kurang lebih setengah jam kami lewati rumah penduduk dan hutan, akhirnya kami sampai di pasar malam. Kami bergabung dengan teman masing-masing. Aku dengan teman sebayaku, begitu pula dengannya. “Bang Guru tetanggamu kan?” tanya Rudi memulai percakapan. “Ya,” jawabku

Jabosar Ronggur Mahasiswa Fakultas Teknik UR

Sekolah dari Guru sembari melihat Guru dengan temantemannya. “Bang Guru banyak dibicarakan di sekolahnya lo,” Salim mulai mengubah topik pembicaraan. “Kenapa?” tanyaku sedikit heran. “Ya, katanya dia mau jadi guru untuk mengembangkan desa kita,” kata Salim dengan sedikit berbisik. “Ya, baguslah,” kataku lagi. “Memang bagus, beda dengan orang lain di desa kita. Maunya ke kota dan kerja,” kata Salim sambil meneguk cola di tangannya. “Abangku kerja jadi peternak untuk bantu Ayah di kandang,” Rudi menambahkan. “Kalau Abangku ke kota untuk cari kerja, tapi sepertinya nanti gak balik lagi,” kata Salim. “Iya, jarang ada pemuda seperti Bang Guru,” kataku sambil melihat Guru menolak sebatang rokok dari temannya. Tanpa kami sadari artis dari kota datang. Kami dan pengunjung pasar malam lain berhambur ke depan panggung untuk menikmati lagu. Malam telah larut namun aksi sang penyanyi belum usai. Guru mengajakku pulang. Aku lalu meninggalkan teman-temanku yang masih asyik menikmati malam. Itu malam terakhir aku jalan bersama Guru. Hari Senin ia akan pergi ke kota untuk ikut bimbingan belajar masuk universitas. Saat pergi tak lupa Guru pamitan pada ketua RT dan tetangga agar didoakan lulus seleksi masuk universitas. Cukup banyak barang dan buku yang dibawanya. *** Lima bulan setelah kepergian Guru, hasil seleksi masuk universitas diumumkan. Warga desa penasaran dengan kelulusan Guru, termasuk aku. Pagi itu sebelum masuk kelas, aku membaca koran. Aku cari nama Guru di kolom pengumuman ujian masuk universitas di koran itu. Nama Guru tak aku temukan. Kucoba periksa lebih teliti. Tapi nama Guru tak terdaftar dalam pengumuman siswa yang lolos. Aku terkejut dan bingung. Apakah benar Guru tak lulus? Atau Guru tak ikut seleksi? Saat aku pulang sekolah ada ibu-ibu duduk sambil mengobrol di depan rumah Guru. Mama termenung di teras sambil melihat ibu-ibu yang berkumpul tersebut. “Ma, rumah Bang Guru kosong?” tanyaku penasaran. “Iya, semua keluarganya pergi ke kota tadi pagi,” kata mama tenang. “Loh tumben,” seruku. “Guru tak lulus seleksi,” jawab mama tenang. “Ha?” aku terkejut. “Keluarganya ke kota untuk bertemu saudaranya yang tinggal di kota. Katanya sih Guru malu balik ke kampung karena tak lulus,” jawab mama datar. “Loh kok gitu?” aku tambah heran. “Entahlah,” jawab mama sambil masuk ke rumah. Aku di teras melihat rumah Guru yang

kosong sambil berpikir keras tentang ketidak lulusannya. Guru terkenal pintar di desa kami. Cukup mengherankan bila ia tak lulus. Namun, persaingan masuk universitas sangat ketat. Tak lama berselang, ibuibu yang duduk di depan rumah Guru pulang. Kulihat pagar rumah Guru terkunci, tak ada orang. Aku bertekad mencari tahu apa yang terjadi dengan Guru. *** Hari ini aku selesai melaksanakan ujian nasional SMA. Sepulang sekolah aku melewati sebuah sekolah yang baru dibangun di desa kami. Sekolah itu tak terlalu besar tapi terlihat sangat bagus di desa kami. Sekolah itu dilengkapi hiasan relief yang unik dan terlihat asri dengan tanaman dan bunga yang segar. Esok hari sekolah tersebut diresmikan pemerintah setempat sebagai sekolah SMA pertama di desa ini. “Sekolahnya bagus ya,”

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

Ilustrasi: Ari BM

kata salah seorang anak SMP yang sedang duduk di depan sekolah itu. Aku menghentikan langkahku. Melihat sekolah itu sekali lagi. “Ya, memang bagus,” kataku sambil tersenyum melihat sekolah itu. “Abang tau arsiteknya?” tanya anak SMP lain sambil melihat sekolah itu. Aku diam sejenak sambil tersenyum. “Namanya Guru,” jawabku bangga. Anak-anak SMP itu lalu melihatku dengan pandangan heran. ***


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

15

Trimurti Kapan Bicara Kapan Mendengar ALLAH pasti mendengar yang disuarakan makhluk-Nya. Allah Maha Mendengar orang yang hatinya selalu berzikir. Hikmah apa yang bisa kita dapat dari sifat As-Sami’ (Maha Mendengar) ini? Hikmah pertama hati-hati menjaga lisan. Jangan bicara kecuali benar dan bermanfaat. Karena setiap kata didengar Allah dan dipertanggung jawabkan di akhirat. Islam mengistilahkan kebenaran dalam perkataan sebagai qaulan sadiida. Apa syaratnya? Pertama, harus benar. Artinya, perkataan yang kita ucapkan harus sesuai dengan realita. Abu Mas’ud ra berkata, “Rasulullah SAW pernah bersabda, biasakanlah berkata benar, karena benar itu menuntun kepada kebaikan dan kebaikan itu menuntun ke surga. Hendaklah seseorang itu selalu berkata benar dan berusaha supaya tetap benar, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang as-siddiq (amat benar).” (HR. Bukhari Muslim). Kedua, setiap kata ada tempat yang tepat dan sebaliknya. Dengan orang tua tepat, tapi belum tentu tepat bagi anak. Dengan guru tepat, dengan murid belum tentu tepat. Jadi bicara tak cukup benar, tapi harus pandai membaca situasi dan objek yang kita ajak bicara. Ketiga, harus bisa mengukur apakah katakata kita melukai atau tidak. Karena sensitifitas tiap orang berbeda. Terakhir, pastikan perkataan itu bermanfaat. Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari Muslim). Hikmah kedua, belajar mendengarkan. Mendengar belum tentu mendengarkan. Mendengar hanya menyerap suara lewat telinga. Sedang mendengarkan, menyimak dan mengolah yang kita dengar. Mendengarkan erat kaitannya dengan keterampilan untuk fokus. Kalau kita konsentrasi, informasi dan ilmu akan fokus, hingga semangat kita menyala. Kalau semangat sudah menyala, tidak ada penghalang untuk sukses. Karenanya, dalam mendengar informasi harus fokus dan tuntas. Jadi kita harus belajar mendengarkan, menyimak, dan memfokuskan diri untuk memahami. Dengan pemahaman yang benar insya Allah kita bisa bertindak benar dan proporsional. Sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa banyak bicara, niscaya banyak kesalahannya; barang siapa banyak kesalahannya, niscaya akan banyak dosanya; dan barang siapa banyak dosanya, maka neraka menjadi lebih utama baginya.” (HR. Abu Nu’aim). Wallahu a’lam bish-shawab.*** Jefriadi Staf PPSDM UKMI Ar-Royyan UR

Jasadmu sudah lama terbaring. Tapi aku ingin mengenangmu saat ini, ketika republik merayakan kemerdekaannya. Trimurti. Aku melihatmu di layar kaca, tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang kayu. Badanmu kurus tapi jiwamu berontak. Gelisah. Ikatan di tanganmu tak kuasa menahannya. Lalu kau terbaring kaku. Wafat. Kau pergi ketika “merdeka” belum jadi sepenuhnya. Hanya sekali aku berada di sisimu. Di tahun 2002 itu, kau nyanyikan sebuah lagu dengan penuh semangat, dengan bahasa Belanda yang terlatih. Aku tak tahu judulnya. Tapi kuingat kau mengacungacungkan kepalan tanganmu. Satu pesanmu masih kuingat, ketika kau jabat erat tanganku: “Jadilah wartawan yang baik, yang berguna bagi bangsa dan negaramu.” Kini aku hanya bisa membaca ketikan tanganmu, yang terselip di rak-rak bukuku. Kau lah wartawan tulen itu. Kau sudah menjadi wartawan sejak 1933. Dalam usia semuda itu, 21 tahun, kau sudah membantu dan menulis untuk majalah Fikiran Rakjat di Bandung. Ah, rasanya aku bisa mengerti kegugupanmu saat itu ketika Soekarno memberi perintah: “Tri, bikin tulisan untuk majalah Fikiran Rakyat.” Kau merasa seperti disambar geledek. Kau galau karena berpikir majalah ini majalah politik yang isinya berat, penulisnya hebat-hebat. “Saya ini apa? Cuma gurem,” kau membatin. Ini jalan yang sudah kau pilih. Ketika kau dengar pidato Bung Karno pada rapat umum Partindo di Purwokerto pada 1932, kau sudah bertekad berguru politik padanya. Kau tinggalkan posisimu sebagai pegawai negeri, sebagai guru sekolah dasar puteri. Kau masuk asrama wanita untuk murid-murid politik Bung Karno di dekat Astana Anyar, Bandung. Kau sudah rasakan gemblengannya. Kau ingat saat dia meminta kau berpidato, dan kau rasakan diinterogasi PID. Kali ini, di tahun 1933, kau rasakan lagi perintahnya. Kau cari inspirasi. Hoplah, akhirnya ketemu. Kau menulis tentang kejahatan penjajahan Belanda, sikap rakusnya yang mengakuti kekayaan Indonesia ke negerinya, untuk membangun negerinya, sementara rakyat Indonesia yang bekerja keras, memeras keringat, tak diberi hak demokrasi. Tentu saja kau kena delik pers. Beruntung kau bebas dari hukuman. Kau tak gentar jua. Kau menulis dan

menulis lagi di harian Berjoang (Surabaya), majalah Bedug dan Genderang (Solo), majalah wanita Marhaeni (Yogyakarta), majalah yang kemudian jadi harian Pesat (Semarang), majalah Suluh Kita dan harian Sinar Selatan (Semarang), harian Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), dan majalah Mawas Diri (Jakarta). Kau pernah rasakan penjara wanita di Semarang karena delik pers. Jepang mendarat. Kau ditangkap, setahun jadi orang tahanan di Semarang. Kau didakwa melawan atau berusaha melawan pemerintah fasis Jepang. Kau terima hadiah itu, cuma sedikit tapi cukup berkesan bagimu: beberapa kali pukulan pakai pentung. Beruntung kau kenal Soekarno. Atas usahanya kau dipindahkan ke Jakarta dan bekerja di kantor Pusat Tenaga Rakyat, lalu pindah ke Jawa Hokokai Honbu. Tapi status tahananmu belum dicabut. Kau harus hatihati, tak bikin kegiatan apapun atau

menghubungi kawan seperjuangan. Jepang hanya seumur jagung. Ia kalah perang. Para pemuda ingin proklamasi kemerdekaan segera diumumkan sebelum Sekutu datang. Kau ikut dalam arus pemudapemuda itu. 17 Agustus pagi itu, kau tertidur pulas. Semalam kau hadiri pertemuan di Kebon Sirih Nomor 80 untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang dan menguasai alat-alat komunikasi yang penting. Tapi tak ada Bung Karno atau Bung Karni cs di sana. Tak ada perintah aksi. Bung Karni cs, yang datang tengah malam, malah meminta para pemuda bubar. Kau pulang dengan hati kecewa. Mendongkol, merasa ditipu. Sampai di rumah sudah hampir pagi. Kau mengantuk. Tak lama, kawan-kawan seperjuangan menghampirimu. “Yu, mari kita ke Pegangsaan Timur Nomor 56, ke rumah Bung Karno untuk mendengarkan proklamasi.” “Mengapa tidak di Lapangan Ikada seperti rencana semula?” “Ah, diam sajalah dulu. Di

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

Budi Setiyono Penulis bergiat di Yayasan Pantau

sana sudah banyak serdadu Jepang dengan senjata lengkap. Nanti kita ditembaki kalau ke sana,” ujarnya sambil meninggalkanmu. Kau bangun, mandi, sarapan pagi, dan bergegas ke Pegangsaan Timur. Di halaman rumah Bung Karno, sudah penuh orang. Kau dan mereka berbaris di halaman depan. Bung Karno, Bung Hatta, dan Fatmawati datang. Pakaian mereka kusut. Juga wajah mereka. Pukul sepuluh pagi, bendera dipasang. Terdengar suara: “Yu Tri, kerek bendera itu.” “Tidak,” jawabmu. “Lebih baik saudara Latif (Hendraningrat) saja. Dia dari PETA.” Bendera merah-putih pun berkibar. Kau dan Fatmawati berdiri di depan bendera, berhadap-hadapan dengan Bung Karno dan Bung Hatta yang berdiri di beranda. Tak lama kemudian, Bung Karno membacakan teks proklamasi, Internet dengan suara rendah, perlahan tapi khidmat. Berita proklamasi itu disiarkan ke seluruh negeri. Trimutri, kau pernah menulis, perkenalanmu dengan Bung Karno telah mengubah jalan hidupmu. Dari seorang pegawai negeri yang tunduk, menjadi orang mandiri, yang bisa mengeluarkan pendapat tanpa rasa takut. Dan hampir setiap kali kau menghadapi gejolak, kau rasakan otot-otot menjadi lebih kencang, lebih kuat. Daya tahan meningkat, dan rasanya di depan mata, tidak pernah ada penghalang yang berarti. Saat ini kurasakan semangatmu itu. Dalam belenggu rasa sakit, kau masih berontak. Otot-ototmu mengejang. Aku tahu, kau ingin bebas. Dan Tuhan pun membebaskanmu, ketika azan magrib usai berkumandang, ketika negerimu merayakan dua abad kebangkitannya, pada 20 Mei 2008. Namamu akan dikenang. Namamu, sudah diabadikan untuk penghargaan kepada aktivis dan wartawan perempuan yang berjuang untuk kebebasan pers dan kebebasan berekspresi. Dan aku ingin mengenangmu di hari kemerdekaan ini. Merdekalah Trimurti, “merdekalah” tanah air kita.***


Bahana Mahasiswa Edisi 1-15 Mei 2010

16 16

Matinya Taman Bacaan Kami Oleh Athika Fatria Linggawati Sebuah bangunan berarsitektur melayu berwarna kuning berdiri tepat di tepi jalan Yos Sudarso. Di empat sudut bangunan itu ada tangga. Jembatan kayu menghubungkan bangunan dengan jalan raya. “Taman Bacaan Masyarakat”. Tertulis di plang nama di depannya. Rumah kuning, biasa penduduk setempat menyebutnya. Di sekitarnya tak banyak bangunan. Hanya rumput tumbuh liar. Di kanannya, berjarak sekitar empat meter sebuah warung kecil menjajakan makanan ringan ke warga sekitar. Dua kali Saya menjambangi bangunan ini. Hanya ada bangunan dengan terali besi berwarna coklat digembok. Namun pintu dan jendelanya masih terbuka. Kali kedua, Saya putuskan datang ke rumah ketua Rukun Tetangga (RT) 5 Kelurahan Meranti Pandak Kecamatan Rumbai Pesisir—Wan Idrus. Di rumahnya, Wan Idrus menyambut ramah. Ia membawa ke taman baca itu. Idrus membuka gembok yang terpasang di terali besi bangunan itu. Tepat di samping kanan berjejer meja dan kursi. Disusun empat pasang dengan arah membelakangi satu sama lain. Selebihnya hanya lantai beralaskan karpet merah. Enam buah lemari disusun sepasang membentuk tiga baris. Mengisi ruangan dari bagian kiri. Isinya buku. Di depannya ada meja dan kursi penjaga taman baca dan lemari kaca berisi beberapa buku. Jenis bukunya beragam. Ada buku sekolah, budaya, perikanan, dan lainnya. Di sela antara buku dengan rak bergantung sarang laba-laba. Ada ruang lagi di sampingnya. Lebih lapang. Di kanan dan kirinya, masing-masing satu buah rak bersandar di dinding. Berisi buku-buku. Rak di samping kiri berisi buku. Debu dan sarang laba-laba melapisi buku dan rak itu. Di kanan, selain buku juga ada koran. Terbitan tahun 2006. Juga tahun 2007. Tetap berlapis debu. Buku yang ada di taman

Foto:Maikel BM

baca ini merupakan sumbangan. Diantaranya dari perusahaan swasta, Universitas Riau, dan Gerakan Hibah Sejuta Buku (GHSB). Kini tercatat ada 5459 buku di taman baca ini. Jumlah itu tak cukup. Kadang hanya ada satu buku untuk satu judul. “Kalau mau baca ada yang berdua atau bertiga untuk satu buku,” ujar Rika Rahayu, penjaga Taman Baca Masyarakat (TBM). Di dinding kanan, ada foto Susilo Bambang Yudhoyono di dampingi Jusuf Kalla, “Ruang ini biasanya dipakai untuk membantu masyarakat saat Rumbai kena banjir,” kata Idrus. Langit-langit bangunan ini banyak yang terkelupas. Tak ada satu pun bola lampu terpasang. Sakelar di TBM ini kebanyakan rusak. Tidak melekat lagi di dinding. lll

Tahun 2002, bangunan ini dibangun sebagai show room kursi rotan. Setiap pengrajin rotan yang ingin menjual karyanya memamerkan karya itu di show room. Tujuannya membantu pengrajin rotan. Tapi tak berfungsi. Selang dua tahun, pemerintah daerah mengalihkan fungsi show room sebagai TBM . “Ini memang untuk masyarakat,” ujar Idrus. Sejak jadi TBM, pengelolaannya diberikan ke Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru di bawah pengelolaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Kecamatan Rumbai Pesisir. Idrus diberi tanggung jawab mengelola TBM. Selain Idrus ada tiga lagi yang bekerja di TBM. Masingmasing pembersih ruangan, penerima pengunjung dan penjaga keamanan. Di Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru hanya Idrus yang terdaftar sebagai pekerja harian lepas. “Ada satu orang yang digaji dari sini (Dinas Pendidikan Kota, red),” ujar Sadunir, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru. Ada sebuah berkas bernomor 814.2/ sekretaris.1/XII/2009/8085 tentang

pengangkatan harian lepas (PHL) sebagai tenaga administrasi di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru tahun 2002. Tertulis nama Idrus, yang ditempatkan di UPTD Pendidikan Rumbai. Mutlak, Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru hanya mengeluarkan gaji untuk Idrus. Di daftar pembayaran honorarium tenaga harian lepas kantor Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru tahun 2010 di bulan Maret 2010 gaji Idrus tertulis sebesar Rp 950 ribu. “Gaji itu saya bagi,” kata Idrus. Pembagiannya, Daniar—pembersih TMB, mendapat Rp 200 ribu. Rp 200 ribu untuk keamanan. Rika Rahayu mendapat Rp 250 ribu. Selebihnya untuk Idrus. Menurut Idrus, dulunya hanya dia yang ditunjuk mengelola TBM. “Tapi tak mungkin saya sendiri.” Ia pun mencari orang yang bisa membantu membersihkan ruangan. “Pak Anas (kepala UPTD Rumbai kala itu-red) yang mencari penjaga TBM.” lll

Taman baca ini dibuka tiap hari Senin hingga Jumat. Pengunjung bisa datang mulai pukul 8 pagi hingga 12 siang. Jangan heran jika pada jam kunjung yang ada hanya terali besi yang dikunci. Artinya, saat itu Ayu sedang ada di kampus. “Ayu lebih mementingkan kuliah daripada di sini (taman baca-red).” Ayu pernah mengusulkan ke UPT Dinas Pendidikan Rumbai Pesisir agar TBM memiliki dua shift jaga. “Pagi Ayu yang jaga, siang bisa yang lain.” Tapi hingga kini Ayu masih sendiri. Selama menjadi penjaga taman baca ini Ayu telah berkali-kali mengikuti pelatihan pustakawan. “Tapi ilmu yang Ayu dapat tidak bisa diterapkan disini. Ayu pernah usulkan untuk buat perlombaan di sini. Tapi tidak ada tanggapan.” Ayu merasa kurang semangat bekerja di sini. Alasannya, kesejahteraannya kurang diperhatikan. “Gaji aja cuma Rp 250 ribu. Status juga nggak jelas. Masak masih muda udah jadi tenaga sukarela? Ayu masih memikirkan masa depan. Jadi gimana sepenuh hati disini?” Padahal Ayu melamar sebagai pekerja di TBM dengan membuat lamaran kerja. “Ayu ikut prosedur, tapi Ayu tidak terdaftar di Dinas Pendidikan Kota. Jadi buat apa Ayu rajin-rajin di taman baca ini? Buat apa Ayu bersih-bersih? Kalau bagus, bukan Ayu yang diliat,” ucapnya semangat. Ayu berniat meninggalkan TBM. “Ayu udah ditawari kerjaan lain sebagai guru. Ini lebih sesuai dengan jurusan Ayu. Pengganti di sana (TBM-red) udah disiapin. Tapi masih Ayu pikirkan,” ujar mahasiswi Pendidikan

Taman Bacaan Masyarakat--Taman bacaan yang berlokasi di Rumbai ini sering dijadian tempat pasangan muda-mudi memadu kasih.

Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Riau Bahana Mahasiswa

Anak Usia Dini (PAUD) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Aisyiyah. Namun Ayu masih mempertimbangkan kerja di tempat lain. “Ayu mau lihat dulu kondisi nanti. Lagipun sayang meninggalkan TBM.” lll

Menurut Idrus masyarakat jarang datang ke taman baca ini. “Ndak rame. Minat baca kurang kalau ke masyarakat. Ndak seberapa. Kondisi ekonomi jadi salah satu penyebab. “Orang miskin begini tidak mungkin membaca kalau perutnya kosong,” ujarnya. Nefriyenti, salah satu warga Kecamatan Rumbai Pesisir tinggal di pemukiman tak jauh dari taman baca. Namun sekalipun ia tak pernah mencari buku di sana. “Ya mau cari buku apa? Taman baca ini ndak nampak manfaatnya. Ndak ada orang yang ke sana.” Hampir tiap hari ia melewati jalan di depan taman baca itu. “Tiap kali lewat nggak buka.” Malah, menurutnya taman baca ini bukan dijadikan tempat membaca. “Banyak yang pacaran disana,” ungkapnya. Mardianto Manan, pengamat perkotaan, pernah mendengar tentang taman baca masyarakat di Rumbai. “Tapi saya belum pernah kesana.” Menurutnya ada beberapa faktor yang menyebabkan rumah baca itu jarang dikunjungi. “Perlu faktor pendorong dan penarik.” Kemudahan akses ke taman baca dan waktu luang yang dimiliki masyarakat menurut Mardianto jadi faktor pendorong. Sementara, fasilitas yang disediakan dapat jadi daya tarik pengunjung. “Buku yang ada. Bisa juga diberikan fasilitas internet di sana,” ujar Mardianto. “Kalau tidak ada daya tarik, orang tidak akan datang kedua kalinya kesana,” tambahnya lagi. Menurutnya, evaluasi dari pengelola harus dilakukan. TBM tak banyak pengunjung. Sejak tahun 2007 hingga sekarang taman baca ini hanya dikunjungi 38 orang. Kebanyakan dari mereka anak sekolah. “Mahasiswa pernah ke taman baca. Namun kecewa karena buku yang mereka cari tak ada,” cerita Ayu. lll

Bagi Idrus perhatian pihak UPT Dinas Pendidikan Rumbai Pesisir ke TBM kurang. “Kita tidak punya pendidikan. Hanya menanti yang berwenang (UPT Dinas Pendidikan Rumbai Pesisir-red) yang tahu pengembangannya. Saya hanya memerima dan memelihara (taman baca-red). “Orang UPT Dinas Pendidikan baru tak pernah ke taman baca,” ucap Idrus. Namun ia tepat berharap pada UPT Dinas Pendidikan Rumbai Pesisir. “Taman baca ini bisa diperhatikan. Sekarang tidak diperhatikan. Manajemennya kurang.” Ayu sepakat. Menurutnya pengelolaan TBM dari UPT Dinas Pendidikan kurang bagus. “Untuk apa dibangun bagus-bagus? Ni kayaknya mati aja.” ***


Bahana Mahasiswa Edisi Mei 2010