Issuu on Google+

Pada tahun 1973 berdasarkan program pemerintah, maka diadakan pertukaran antar siswa/i dari sekolah Negeri dengan sekolah Swasta (salah satunya sekolah Methodist), tujuan dari program pemerintah dalam pertukaran siswa/i tersebut adalah mempersatukan anak-anak bangsa Indonesia dengan cara membaurkan antar siswa/i supaya tidak ada perbedaan diantara anakanak bangsa Indonesia di dalam negeri sendiri. Program pertukaran antar siswa/i sekolah ini dilakukan baik pada tingkat Sekolah Dasar maupun pada tingkat Sekolah Menengah Pertama, program tersebut di atas dijalankan oleh seluruh sekolah yang ada di Bagansipaiapi, tak terkecuali sekolah Methodist Bagansiapi-api sehingga ada beberapa siswa dari Methodist pindah (berbaur) ke sekolah Negeri dan begitu juga hal yang sebaliknya ada beberapa siswa dari sekolah Negeri pindah (berbaur) sekolah Methodist dan sekolah swasta lainnya.

gereja Methodist pusat yang ada di Medan (Sumatera Utara) segera mengutus pengganti kepala sekolah yang lama. Sebagai gantinya diutus Guru Injil Saibun selaku kepala sekolah di Methodist Bagansiapi-api dan penginjil di gereja Methodist Bagansiapi-api. Pada masa kepemimpinan beliau gedung sekolah SMP yang terletak di jalan Utama Bagansiapi-api mulai dibangun, di saat bersamaan jumlah siswa terus bertambah hingga kegiatan belajar mengajar dibagi menjadi 2 shift yakni pagi dan siang, walau demikian tetap kesulitan untuk menampung jumlah siswa yang terus meningkat dan pada saat memasuki tahun ajaran baru 1978 gedung sekolah baru diresmikan, di gedung baru ini khusus untuk siswa tingkat SMP, sementara gedung lama atau yang di jalan Aman Bagansiapi-api dipakai untuk Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Setahun kemudian Guru Injil Saibun beserta keluarga meninggalkan kota Bagansiapi-api, karena mendapat tugas melayani gereja Methodist di kota lain. Waktu terus berjalan, sebagai gantinya Guru Injil Saibun di gereja Methodist Bagansiapi-api maka oleh gereja Methodist pusat di Medan diutuskan Guru Injil Simon Peter untuk memimpin gereja Methodist, beliau adalah seorang putra daerah Bagansiapi-api, orangtua dan keluarganya juga merupakan majelis dan jemaat yang taat akan Tuhan Jesus di gereja Methodist Bagansiapi-api.

Fasilitas sekolah Methodist Bagansiapi-api 2009

Setelah menjalankan tugas yang sangat mulia dan juga tanggung jawab yang sangat berat maka akhirnya pada tahun 1973 bapak Daniel Tiopan selaku kepala sekolah yang kedua di SD dan SMP Methodist Bagansisapi-api mengundurkan diri dari jabatan tersebut, dan juga bertepatan dengan tamatnya Angkatan Pertama SMP Methodist Bagansiapi-api, karena itu sampai saat ini beliau terkadang masih dipanggil pak guru oleh alumni-alumni Methodist Bagansiapi-api, beliau juga sangat dihormati dan disegani di kalangan komunitas Methodist Bagansiapi-api khususnya dan komunitas Bagansiapi-api pada umum. Saat ini beliau juga merupakan salah seorang pengusaha yang sukses di Jakarta. Setelah mundurnya Bapak Daniel Tiopan dari jabatan kepala sekolah, tentu saja jabatan tersebut tidak bisa dibiarkan kosong, maka dari

34 KOMUNITAS BAGANSIAPI-API

Sedangkan Guru Injil Benyamin Tarigan untuk memimpin sekolah Methodist Bagansiapi-api. Bapak Benyamin Tarigan adalah seorang penginjil yang sejak kecil sekolahnya di sekolah swasta yang sebagian besar siswanya berbahasa Mandarin dan Hokkian sehingga menyebabkan beliau menjadi sangat fasih dalam berbahasa Mandarin maupun Hokkian walaupun beliau adalah seorang keturunan dari suku Batak, hal ini tentu menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi sekolah Methodist maupun gereja Methodist, karena seorang penginjil yang bersuku Batak tapi fasih dalam berbahasa Mandarin dan Hokkian. Pada tahun 1981 bapak Hasnan, B.A (Tan Tek Hai) menggantikan posisi bapak Benyamin Tarigan sebagai kepala sekolah, beliau adalah alumnus dari SMP Methodist Bagansiapi-api. Dan Guru Injil Sudiarto menggantikan posisi Guru Injil Simon Peter sebagai pemimpin gembala sidang di gereja Methodist.


34