Issuu on Google+

MAKNA CHENG BENG

Hasil Karya : Lusiana Siswi SMA Kelas 2 Sekolah Bintang Laut Bagansiapi-api

Istilah Cheng Beng ini juga dikenal dengan sejumlah istilah lain, diantaranya : Hari Semua Arwah, Festival Bersih Terang, Festival Ziarah Kuburan, Hari Menyapu Kuburan, Peringatan Pertengahan Musim Semi. Tradisi yang sama ditemukan di beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki persamaan dalam menghormati leluhur yang dikenal dengan istilah Nyekar. Hari Menyapu Kuburan (Hari Pembersihan Pusara) dan Festival Bersih Terang adalah terjemahan yang paling umum dalam mengartikan 'Qîngmíng. Upacara ini adalah sangat penting bagi kebanyakan orang Tionghoa, terutama petani, dan biasanya dapat dilaksanakan 10 hari sebelum atau sesudah hari Qîngmíng . Juga pada waktu Qîngmíng , orang melakukan tamasya keluarga, mulai membajak sawah pada musim semi. Hal populer lain yang melakukan adalah memainkan layang-layang (dalam berbagai bentuk binatang, atau karakter dari opera Cina). Festival Qîng Míng atau Cheng Beng pertama kali di cetuskan oleh Kaisar pada tahun 732 (Dinasti Tang ). Pada waktu itu orang Cina kuno mengadakan upacara pemujaan nenek moyang dengan cara terlalu mahal dan rumit. Dalam usaha untuk menurunkan biaya tersebut, Kaisar Xuanzong mengumumkan penghormatan tersebut cukup dilakukan dengan mengunjungi kuburan nenek moyang pada pertengahan musim semi di hari Qîngmíng. Pada mulanya, tradisi ini dicetuskan oleh putra mahkota dari Dinasti Tang. Karena difitnah oleh salah seorang selir raja, Chong Er terpaksa melarikan diri ke gunung bersama para pengawalnya. Selama pelarian mengalami

22 KOMUNITAS BAGANSIAPI-API

kelaparan, salah seorang pengawal bernama Jie Zhitui memotong bagian badannya dan memasaknya untuk sang putra mahkota. Mengetahui pengorbanan pengawal setianya itu, Chong Er merasa sedih, tetapi Jie menghibur sang putra mahkota dan memintanya agar tetap teguh bertahan hingga Chong Er dapat kembali ke istana dan merebut tahtanya kembali. Setelah tiga tahun bertahan hidup di gunung hingga akhirnya sang selir meninggal dunia. Sepasukan tentara menjemput Chong Er untuk kembali ke istana, saat itu dia melihat Jie Zhitui mengemasi sebuah tikar tua ke atas kuda. Chong Er mentertawakannya dan meminta Jie untuk membuang tikar itu, tetapi Jie menolaknya dan berkata,”hanya penderitaan yang dapat hamba bagi bersama paduka, bukan kemakmuran”. Jie berpamitan kepada Chong Er untuk tetap tinggal di gunung bersama ibunya. Setelah Chong Er kembali ke istana, beliau bermaksud mengundang Jie Zhitui, tetapi Jie tidak berhasil ditemukan. Chong Er memerintahkan tentara untuk membakar hutan digunung itu agar Jie segera keluar menemuinya. Yang terjadi malah sebaliknya, mereka menemukan Jie Zhitui mati bersama ibunya di bawah pohon willow. Chong Er sangat sedih melihat pengawal setianya itu malah mati karena keinginannya. Sejak itu Chong Er memperingati hari itu sebagai hari Hanshi. Pada saat peringatan Hanshi ini, kaisar tidak mengijinkan siapapun menyalakan api untuk memasak, sehingga peringatan ini juga dikenal dengan sebutan Perayaan Makanan Dingin. Pada hari Hanshijie , orang tidak diijinkan menggunakan api untuk memanaskan makanan, yang kemudian dijuluki Festival Makanan Dingin.


22