Page 1

2015

BUKU PEDOMAN TEKNIS KOLABORASI PROGRAM

CONTRA WAR – SUTERA EMAS BAGI TIM MEDIS RUMAH SAKIT DAN DOKTER EDISI KE-2

1

BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG


KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR (CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK)

dan

SUTERA EMAS (SURVEILANS EPIDEMIOLOGI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT)

EDISI KE-2 STRATEGI INOVATIF DALAM MENDUKUNG RENCANA AKSI DAERAH TERHADAP PERCEPATAN PENCAPAIAN TUJUAN KE 4 DAN 5 MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS TENTANG PENURUNAN ANGKA KEMATIAN ANAK DAN PENINGKATAN KESEHATAN IBU

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG BADAN KELUARGA BERENCAN A J L. Merdeka Timur No 0 3 Telp. ( 0341 ) 3650 85 Fax ( 0341 ) 36508 4 Website : http//kb.malangkab.go.id  email : kb@malangkab.go.id MALANG

2


TIM PENYUSUN BUKU PEDOMAN TEKNIS PROGRAM KOLABORASI CONTRA WAR (CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK) DAN SUTERA EMAS (SURVEILANS EPIDEMIOLOGI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT) BAGI TIM MEDIS RS DAN DOKTER 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35.

dr. HADI PUSPITA Drs. R. NONO RATNADIE, MM Dra.LILIK WAHYUNI drg. DESSY DELIYANTI R. Ay. SARI RATIH MALA DEWI, SE Drs.NANANG SUGIANTO PULUNG NGULANDORO , SH MOHAMMAD KHOLIK , SH Ir.PAMUJI HANDOKO, MAP SRI WAHYUNINGSIH , SE Ir.AUNUR ROFIQ, MM EMY ISWINARTI , SE Dra. RATNA WIDYAWATI SRI WAHYUNI, Amd. Keb ABDUL ROKHIM , SH IWAN KARTIKAWANTO , SP.MAP RUKANA , S.Sos. CHUSNUL CHOTIMAH , SE. MM DAIMATUN SRI SUFIYANI HARI KUSTANTO SISWADI TITIS WARIJANTI KOLIPAH MAYASARI DWI AGUSTINA, SE MOCHAMMAD CHORIS Dra.MARLIA SAPTI SULASTIAH SRI WAHJOENI ANDJANI, S.AP NURHAYATI , SE SASONGKO HUDI BRAHMATYO, S.Kom RIKO ANDI FARDIAS ATIK DIAN SETYO UTAMI, SE HENDIK NURMAWAN IWAN PURWANTO,SE PPLKB, PKB, PLKB SE KABUPATEN MALANG

i


KATA PENGANTAR Puji syukur patut kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana dengan rahmat, taufik serta hidayahnya sehingga Buku Pedoman Teknis Program CONTRA WAR bagi Kader Keluarga Berencana (PPKBD dan Sub PPKBD) ini dapat diselesaikan tepat waktu. Buku ini tersusun sebagai panduan bagi Program Inovatif Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang untuk mendukung proses percepatan pencapaian Program Millennium Developments Goals Indikator Ke-4 dan Ke-5 (Penurunan angka kematian Ibu dan Bayi) pada akhir tahun 2015. Teriring ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1.

Bupati Malang, selaku Pelindung sehingga Program CONTRA WAR ini dapat terlaksana di Kabupaten Malang.

2.

Sekretaris Daerah, selaku Pengarah sehingga Program CONTRA WAR ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan awalnya.

3.

Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D., selaku Ketua Yayasan Damandiri.

4.

Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D, SpGk, selaku mantan Kepala BKKBN Pusat.

5.

Ir. Dwi Listyawardhani, M.Sc. Dip. Com, selaku Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur.

6.

Ir. Bambang Basuki Hanugrah, MM, selaku pembimbing penyusunan Kertas Kerja

Proyek

Perubahan

Instansional

Badan

Keluarga

Berencana

Kabupaten Malang “Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan Metoda Kolaborasi Program CONTRA WAR (Contraceptive for Women at Risk) dan SUTERA EMAS (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) di Kabupaten Malang�. 7.

Tim Internal Program CONTRA WAR (Badan Keluarga Berencana) yang terdiri dari : a. Kepala Badan Keluarga Berencana b. Sekretaris Badan c. Kepala Bidang Data & Informasi d. Kepala Bidang Penggerakan Masyarakat e. Kepala Bidang Keluarga Sejahtera

ii


f.

Kepala Bidang Keluarga Berencana

g. Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian h. Kepala Sub Bagian Keuangan i.

Kepala Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi & Pelaporan

j.

Kepala Sub Bidang Jaminan Pelayanan KB/KR

k. Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi Remaja l.

Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Ekonomi Keluarga

m. Kepala Sub Bidang Pembinaan Ketahanan Keluarga n. Kepala Sub Bidang Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) o. Kepala Sub Bidang Institusi dan Peran Serta p. Kepala Sub Bidang Pengolahan Data dan Informasi q. Kepala Sub Bidang Penyebarluasan Data dan Pengembangan Informasi r.

Staf pada Badan Keluarga Berencana -

Mayasari Dwi Agustina, SE

-

Mochammad Choris

-

Sasongko Hudi Brahmatyo, S.Kom

-

Riko Andi Fardias

-

Atik Dian Setyo Utami, SE

s. Pengendali PLKB, PKB dan PLKB yang tersebar di 33 Kecamatan Se Kabupaten Malang

Karena berkat bantuan dan dukungannya maka Buku Pedoman Teknis Program CONTRA WAR bagi Kader Keluarga Berencana (PPKBD dan Sub PPKBD) dapat tersusun dengan baik dan saat ini telah masuk pada cetakan edisi ke-2. Demikian prakata kami, apabila ada hal-hal yang kurang berkenaan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhir harapan kami semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Malang ,

April 2015

Tim Pengendali Program CONTRA WAR

iii


SAMBUTAN BUPATI MALANG

Assalamu’alaikum

Warrahmatullahi

Wabarakatuh

dan

Salam

Sejahtera bagi kita sekalian. Pertama - tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah S.W.T atas segala Berkah, Karunia, Taufik dan Hidayah-Nya semata sehingga penyusunan “BUKU PEDOMAN TEKNIS PROGRAM CONTRA WAR BAGI KADER KELUARGA BERENCANA (PPKBD DAN SUB PPKBD) EDISI KE-2” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu, seiring atau selaras dengan Visi dan Misi Kabupaten Malang dengan maskot “MADEP MANTEB” yang ditandai simbol logo dominasi

warna

“Kuning

Emas

dan

Merah”,

dimana

Program

Contraceptive For Women At Risk (CONTRA WAR) atau Kontrasepsi bagi Wanita Usia Subur Beresiko Tinggi, adalah merupakan Program Inovatif dari Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang dan satu-satunya Program Surveilans dibidang Kekeluarga Berencanaan di Indonesia. Dari 39 kasus kematian ibu pada tahun 2013 dan 27 kasus kematian ibu pada tahun 2014, 75% diantaranya disebabkan oleh penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya sebelum mereka hamil, sehingga disaat proses kehamilan selanjutnya dapat berpotensi meningkatkan resiko pada kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian ibu maupun bayi. Program CONTRA WAR yang merupakan program unggulan Pemerintah Kabupaten Malang telah memulai proses pelaksanaan surveilans kekeluarga berencanaan di Indonesia dengan menekankan pada penemuan, pelaporan dan penanganan dini terhadap wanita usia subur beresiko tinggi yang berusia 15 s/d 49 tahun yang telah menikah, belum atau sedang dalam keadaan hamil, belum ber KB, berusia <20 tahun dan >35 tahun serta sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya. iv


Untuk itu saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh anggota Tim Pengendali Program CONTRA WAR Kabupaten Malang yang juga didukung oleh BKKBN Pusat melalui Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur dalam rangka mewujudkan VisiMisi Pemerintah Kabupaten Malang yang Mandiri, Agamis, Demokratis, Produktif, Maju, Aman, Tertib dan Berdaya Saing. Selanjutnya besar harapan saya agar buku panduan ini dapat bermanfaat bagi pelayanan kekeluarga berencanaan baik dilingkungan Pemerintah maupun swasta serta seluruh masyarakat di Kabupaten Malang, sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan pendekatan lebih dini pada periode sebelum menjalani kehamilan. Ihdinashirratal mustaqim Sekian Terima Kasihâ&#x20AC;Ś.

Malang, April 2015 Bupati Malang

H. RENDRA KRESNA

v


SAMBUTAN Prof. Dr. HARYONO SUYONO, M.A. Ph.D.

Pembangunan kesehatan di Indonesia sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010 - 2014 mempunyai delapan fokus prioritas yang salah satunya adalah meningkatkan status kesehatan ibu, bayi dan balita dan Keluarga Berencana. Beberapa indikator penting yang terkait dengan status kesehatan ibu dan bayi antara lain AKI (angka kematian ibu) dan AKB (angka kematian bayi). Hal tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan millenium (MDGs) 2015 untuk menurunkan AKI menjadi 102/100000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dan AKB menjadi 23/1000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Untuk mencapai target di atas diperlukan upaya inovatif untuk mengatasi penyebab utama kematian ibu dan bayi, serta adanya kebijakan dan sistem yang efektif dalam mengatasi berbagai kendala yang timbul selama ini. Penyebab utama tingginya angka kematian ibu adalah adanya faktor resiko berupa penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya sebelum mereka hamil, sehingga disaat proses kehamilan selanjutnya dapat berpotensi menigkatkan resiko kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian ibu maupun bayi. Dipandang perlu adanya suatu program untuk menanggulangi masalah tersebut, salah satunya di Kabupaten Malang melalui Badan Keluarga Berencana telah melaksanakan suatu program inovatif yang bernama CONTRA WAR (Contraceptive for Woman At Risk) atau Penggunaan Kontrasepsi yang tepat bagi wanita usia subur beresiko tinggi. Program CONTRA WAR (Contraceptive for Woman At Risk) bertujuan untuk menunda kehamilan wanita usia subur yang beresiko tinggi dengan penggunaan alat kontrasepsi yang tepat bagi penyakit yang dideritanya serta pada saat yang sama penyakitnya diobati sampai vi


sembuh atau telah memungkinkan untuk hamil kembali, selanjutnya alat kontrasepsi dilepas dan yang bersangkutan dapat hamil dan bersalin dengan normal. Pelaksanaan surveilans bagi wanita usia subur beresiko tinggi melalui program CONTRA WAR ini diharapkan dapat menekan angka kematian ibu dan bayi secara lebih bermakna.

Saya mengucapkan selamat dan apresiasi kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan dan penerbitan buku ini.

Semoga buku pedoman ini dapat memudahkan para petugas keluarga berencana dalam menemukan calon akseptor yang tepat dan bagi para petugas kesehatan dalam melaksanakan proses penapisan reproduksi serta pelayanan kekeluarga berencanaan, maupun pihak-pihak yang terkait di dalam mendukung pelaksanaan serta keberlangsungan program CONTRA WAR di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.

Malang,

April 2015

Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D.

vii


DAFTAR ISI TIM PENYUSUN BUKU ............................................................................. i KATA PENGANTAR ................................................................................ ii SAMBUTAN BUPATI MALANG .............................................................. iv SAMBUTAN dari Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D....................... vi DAFTAR ISI ........................................................................................... viii A. LATAR BELAKANG........................................................................... 1 B. DASAR HUKUM ................................................................................ 5 C. ISU STRATEGIS ............................................................................ 12 D. KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH .................................... 14 E. PROGRAM CONTRA WAR................................................................. 16 F. KONSEP DASAR PROGRAM CONTRA WAR.................................... 16 G. SASARAN PROGRAM CONTRA WAR .............................................. 17 H. RIWAYAT KEHAMILAN PATOLOGIS YG PERLU DIPERTIMBANGKAN DLM PROSES PENAPISAN REPRODUKSI.... 19 I. PERSYARATAN MEDIS PENGGUNAAN KONTRASEPSI .................. 20 J. KONDISI YANG DIHARAPKAN ........................................................... 62 K. ALUR PELAPORAN PROGRAM SUTERA EMAS .............................. 63 L. ALUR PELAPORAN PROGRAM CONTRA WAR BADAN KELUARGA BERENCANA ...................................................................................... 63 M. ALUR KEGIATAN PROGRAM CONTRA WAR BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG................................................ 64 N. ALUR PELAPORAN KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS ................................................................................... 64 O. MODEL KONFIGURASI JARINGAN SERVER CONTRA WAR – SUTERA EMAS ................................................................................... 65 P. ALUR KEGIATAN KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS ................................................................................... 65 Q. PERBEDAAN PENDEKATAN PROGRAM ......................................... 66 R. PERBEDAAN OUTPUT PROGRAM ................................................... 67 S. PROGRAM - PROGRAM UNGGULAN DINAS KESEHATAN DAN BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG .............. 70 T. PENGORGANISASIAN ....................................................................... 71 U. IDENTIFIKASI STAKEHOLDER INTERNAL EKSTERNAL................. 71 V. TATA KELOLA PROYEK .................................................................... 74 W. MANFAAT KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS .................................................................................................. 76 X. KRITERIA KEBERHASILAN................................................................ 78 Y. CONTOH-CONTOH PENYAKIT PADA WANITA USIA SUBUR YANG DAPAT MENYEBABKAN KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR .. 79 Z. ALAT KONTRASEPSI ....................................................................... 121 PENUTUP.............................................................................................. 173 DAFTAR PUSTAKA viii


PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sulitnya upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Bayi (AKB) melalui program-program

regular

di

bidang

keluarga

berencana

dan kesehatan

disebabkan oleh sedemikian kompleks nya akar penyebab masalah yang ada. Di tingkat nasional, dari hasil SDKI pada tahun 2007 dan 2012 menunjukkan lonjakan AKI dari 228/100.000 kelahiran hidup (KH) menjadi 359/100.000 KH, sementara target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s (Millenium Development Goals) pada akhir 2015 harus bisa mencapai 102/100.000 KH. Sementara itu telah terjadi penurunan AKB walaupun belum signifikan, pada tahun 2005 sebesar 39 / 1000 KH dan pada tahun 2012 masih > 34 / 1000 KH, sedangkan target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir 2015 harus bisa mencapai 23 / 1000 KH. Sedangkan di kabupaten Malang , target pencapaian AKI sudah tercapai bahkan berada dibawah target nasional, pada tahun 2007 sebesar

65/100.000 KH, tahun 2012 sebesar 61/100.000 KH,

sedangkan pada tahun 2013 terjadi peningkatan menjadi 89/100.000 KH. Adanya trend peningkatan kasus kematian Ibu dari 25 kasus (2012) menjadi 39 kasus (2013) dan 21 kasus ( s/d Agustus 2014) , menjadikan kita harus lebih waspada, karena tidak tertutup kemungkinan akan terjadi peningkatan kasus kematian Ibu pada tahun mendatang, bahkan akan bisa melebihi target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir tahun 2015. Adapun AKB di kabupaten Malang telah berada dibawah target nasional, yakni 5,42/1000KH (2011) , 4,31 (2012) dan 4,02 (2013). Walaupun pencapaiannya telah jauh dibawah target nasional, namun mengingat penyebab kematian tertinggi pada bayi baru lahir adalah kasus BBLR (Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah) yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan kwalitas kehamilan yang buruk, misalnya karena menderita penyakit menular, tidak menular, bawaan atau dengan status gizi buruk, yang sebenarnya apabila dapat ditemukan lebih dini akan dapat ditunda dulu kehamilannya, maka peluang untuk lebih menurunkan lagi AKB di kabupaten Malang masih sangat mungkin untuk dilakukan. Menyikapi hal tersebut, BKKBN telah melaksanakan berbagai upaya untuk meningkatkan cakupan peserta KB aktif

1

semua metoda

(Contraceptive


Prevalence Rate / CPR), dari 57,4% (2007) menjadi 57,9% (2012) dan target pada tahun 2015 diharapkan bisa mencapai 65%, sementara di kabupaten Malang telah melampaui target nasional sebesar 78,68% (2011), 78,55% (2012) dan 78,9% (2013), namun pada kenyataannya belum dapat

berdaya ungkit

secara langsung terhadap penurunan AKI dan AKB, karena sasaran peserta KB baru masih belum ter fokus kepada Wanita Usia Subur ber Resiko Tinggi. Pada hal yang sama upaya BKKBN tersebut telah berhasil menurunkan angka Unmet Need ( Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani ) di tingkat nasional, dari 9,1% (2007) menjadi 8,5% (2012), sedangkan

target nasional pada tahun 2015

sebesar 5%. Sementara di kabupaten Malang penurunan Unmet Need masih sulit dilakukan dan belum ter fokus pada WUS ber resiko tinggi, serta pencapaiannya masih diatas target nasional sebesar 9,77% (2011), 9,63% (2012) dan 10% (2013). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan cakupan peserta KB Aktif (CPR) ternyata belum berhasil menurunkan Angka Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani (Unmet Need) khususnya bagi WUS ber resiko tinggi , sehingga pada saat mereka hamil penyakit yang diderita belum sempat mendapatkan penanganan spesialistik dan akan ber resiko mengalami komplikasi kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian. Beranjak dari kondisi diatas, Badan Keluarga Berencana kabupaten Malang menerapkan inovasi melalui program unggulan Contra WaR (Contraceptive for Women at Risk / Kontrasepsi yang tepat bagi Wanita Usia Subur berisiko tinggi).

Yang dimaksud dengan Program Contra WaR (Contraceptive for Women at Risk) : Adalah program

yang dilaksanakan secara

terencana dan terpadu melalui proses surveilans aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkelanjutan, serta melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penyakit

(menular , tidak menular atau bawaan) dan mempunyai

faktor-faktor resiko terhadap kehamilan, serta pernah mempunyai riwayat kehamilan beresiko tinggi sebelumnya, yang dapat membahayakan proses kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan penggunaan kontrasepsi yang tepat selama masa penyembuhan penyakitnya. Sementara itu, pada saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Malang telah melaksanakan program inovatif Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi 2


Terpadu Berbasis Masyarakat)

yang dimulai sejak tahun 2009 dan

merupakan program surveilans berbasis masyarakat yang pertama di Indonesia, dengan konsep dasar one RTâ&#x20AC;&#x201C;one cadre & one human at riskâ&#x20AC;&#x201C;one cadre (satu wilayah RT diamati oleh seorang kader kesehatan dan satu penduduk beresiko tinggi didampingi oleh seorang kader kesehatan) , serta mempunyai filosofi early case finding, early case reporting, early case handling, community empowering & realtime activities (penemuan, pelaporan dan penanganan kasus secara dini, pemberdayaan masyarakat serta kegiatannya berlangsung setiap saat). Program ini ternyata sangat efektif dalam menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi serta menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit bawaan serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kesehatan lainnya. Program Sutera Emas yang merupakan program percontohan nasional, sejak tahun 2009 masih dilaksanakan di puskesmas Kepanjen dan sejak tahun 2014 telah mulai di replikasi ke puskesmas Turen dan Sumber Pucung, sedangkan target pada tahun 2015 seluruh puskesmas di kabupaten Malang ( 39 puskesmas ) telah mulai menerapkan program Sutera Emas dengan bantuan anggaran program AIPD (Australia Indonesia Partnership of Decentralization) dari AusAid. Upaya penurunan AKI dan AKB masih terkendala oleh sangat kompleks nya masalah yang ada, diantaranya yang paling mendasar adalah rendahnya tingkat kepatuhan tenaga kesehatan swasta yang melayani ibu hamil terhadap prosedur pelayanan standar. Mengingat hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Malang memandang perlu melaksanakan kebijakan inovatif berupa Metoda Kolaborasi Program Contra WaR (Contraceptive fo Women at Risk) dan Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) oleh Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang.

3


Dari

39 kasus kematian Ibu yang terjadi pada tahun 2013, ternyata 29

kasus diantaranya masih dapat dicegah apabila dapat ditemukan lebih dini dan

telah

dilakukan

penundaan

kehamilan

dengan

menggunakan

kontrasepsi yang tepat sesuai hasil penapisan, serta pada saat yang sama dilakukan pengobatan sesuai rekomendasi dari dokter spesialis terhadap penyakitnya

sampai sembuh serta telah memungkinkan untuk hamil

kembali, maka dengan Strategi Kolaborasi program Contra WaR dan Sutera Emas tersebut diharapkan para Wanita Usia Subur (WUS) berusia 15 sampai 49 tahun yang telah menikah dan tidak dalam keadaan hamil serta belum ber KB (Unmet Need), yang mempunyai faktor-faktor resiko tinggi seperti sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular dan penyakit bawaan, serta ber usia terlalu muda (<20 th) atau terlalu tua (>35 th), serta pernah memiliki riwayat

kehamilan dengan jarak terlalu

rapat (<2 th), mempunyai anak terlalu banyak ( >4 ) atau pernah mengalami kehamilan ber resiko tinggi sebelumnya dapat ditemukan lebih dini.

Untuk selanjutnya yang bersangkutan akan dirujuk dan dilakukan

penapisan oleh para dokter spesialis terkait di RSUD Kepanjen untuk direkomendasikan menjadi akseptor KB MKJP tertentu, serta sekaligus dapat dilakukan penanganan spesialistik terhadap penyakitnya sampai sembuh. Pada akhirnya penggunaan kontrasepsi bagi WUS ber resiko tinggi tersebut dapat dihentikan dan akan dapat hamil serta melahirkan dengan selamat. Walaupun Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di kabupaten Malang pada saat ini telah berada dibawah target nasional, namun mengingat jumlah penduduk kabupaten Malang adalah no 2 terbanyak setelah kota Surabaya, maka diharapkan upaya penurunan AKI dan AKB di kabupaten Malang akan berdampak besar terhadap penurunan AKI dan AKB di Jawa Timur maupun nasional.

4


B. Dasar Hukum 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular. Pasal 1 : Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1.1 Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. 1.2 Sumber penyakit adalah manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda yang mengandung dan/atau tercemar bibit penyakit, serta yang dapat menimbulkan wabah. 1.3 Kepala Unit Kesehatan adalah Kepala Perangkat Pelayanan Kesehatan Pemerintah. 1.4 Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan.

Pasal 2 : Maksud dan tujuan Undang-Undang ini adalah untuk melindungi penduduk dari malapetaka yang ditimbulkan wabah sedini mungkin, dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Pasal 42 : 42.1

Teknologi dan produk teknologi kesehatan diadakan, diteliti, diedarkan, dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kesehatan masyarakat.

42.2

Teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup segala metode dan alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit, mendeteksi adanya penyakit, meringankan penderitaan akibat

5


penyakit, menyembuhkan, memperkecil komplikasi, dan memulihkan kesehatan setelah sakit. 42.3

Ketentuan mengenai teknologi dan produk teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan.

Pasal 43 : 43.1

Pemerintah membentuk lembaga yang bertugas dan berwenang melakukan penapisan,pengaturan, pemanfaatan, serta pengawasan terhadap penggunaan teknologi dan produk teknologi.

43.2

(2) Pembentukan lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan

Pasal 52 : 52.1

Pelayanan kesehatan terdiri atas: a. pelayanan kesehatan perseorangan; dan b. pelayanan kesehatan masyarakat.

52.2

Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Pasal 53 : 53.1

Pelayanan kesehatan perseorangan ditujukan untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga.

53.2

Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit suatu kelompok dan masyarakat.

53.3

Pelaksanaan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendahulukan pertolongan keselamatan nyawa pasien dibanding kepentingan lainnya.

6


Pasal 54 : 54.1 Penyelenggaraan

pelayanan

kesehatan

dilaksanakan

secara

bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan nondiskriminatif. 54.2

Pemerintah

dan

pemerintah

daerah

bertanggung

jawab

atas

penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 54.3 Pengawasan

terhadap

penyelenggaraan

pelayanan

kesehatan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Pasal 55 55.1

Pemerintah wajib menetapkan standar mutu pelayanan kesehatan.

55.2

Standar mutu pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Pasal 1 : 1.5 Kualitas penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan nonfisik yang meliputi derajat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, tingkat sosial, ketahanan, kemandirian, kecerdasan, sebagai ukuran dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang bertakwa, berbudaya, berkepribadian, berkebangsaan dan hidup layak. 1.6 Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. 1.7 Pembangunan keluarga adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat. 1.8 Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, 7


dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. 1.9 Pengaturan kehamilan adalah upaya untuk membantu pasangan suami istri untuk melahirkan pada usia yang ideal, memiliki jumlah anak, dan mengatur jarak kelahiran anak yang ideal dengan menggunakan cara, alat, dan obat kontrasepsi.

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1994 Tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Pasal 12 : 12.1 Pengaturan kelahiran diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kesadaran dalam menunda kehamilan pertama sampai pada usia ideal melahirkan dan mengatur jarak kelahiran. 12.2 Pengaturan

kelahiran

sebagaimana

dimaksud

dalam

ayat

(1)

diselenggarakan melalui: a. Penundaan

kehamilan

pertama

sampai

tercapai

usia

ideal

melahirkan; b. Perencanaan jumlah dan jarak antara kelahiran anak.

Pasal 13 : Usia ideal melahirkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 adalah usia yang ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor : a. risiko akibat melahirkan; b. kemampuan tentang perawatan kehamilan, pasca persalinan dan masa di luar kehamilan dan persalinan; c. derajat kesehatan reproduksi sehat; d. kematangan mental, sosial, ekonomi dalam keluarga.

Pasal 16 : 16.1 Pelaksanaan penundaan kehamilan, perencanaan jumlah dan jarak 8


antara kelahiran anak dilakukan sendiri oleh pasangan suami isteri atas dasar kesadaran dan kesukarelaan. 16.2 Pelaksanaan penundaan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan menggunakan alat, abat, dan/atau cara pengaturan kehamilan yang dapat diterima pasangan suami isteri sesuai dengan pilihannya. 16.3 Jenis alat, abat, dan cara pengaturan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan memperhatikan: a. daya guna dan hasil guna; b. resiko terhadap kesehatan; c.

nilai agama dan nilai yang hidup dalam masyarakat.

16.4 Jenis alat, obat, dan cara pengaturan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditentukan oleh Menteri setelah mendapat persetujuan Menteri Kesehatan.

Pasal 17 : 17.1 Penggunaan alat, obat, dan cara pengaturan kehamilan dilakukan dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan dari segi kesehatan, serta mempertimbangkan nilai-nilai etik dan agama. 17.2 Penggunaan alat, obat, dan cara pengaturan kehamilan yang menimbulkan risiko terhadap kesehatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang berdasarkan standar profesi.

5. Keputusan

Menteri

Kesehatan

1116/MENKES/SK/VIII/2003

Republik

tentang

Indonesia,

Pedoman

Nomor

:

Penyelenggaraan

Surveilans Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan. Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit infeksi dan menular masih memerlukan perhatian besar dan sementara itu telah terjadi peningkatan penyakit-penyakit tidak menular seperti penyakit karena perilaku tidak sehat serta penyakit degeneratif. Kemajuan transportasi dan komunikasi, 9


membuat penyakit dapat berpindah dari satu daerah atau negara ke negara lain dalam waktu yang relatif singkat serta tidak mengenal batas wilayah administrasi. Selanjutnya berbagai penyakit baru (new emerging diseases) ditemukan, serta kecenderungan meningkatnya kembali beberapa penyakit yang selama ini sudah berhasil dikendalikan (re-emerging diseases). Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB,

pengertian

seperti itu

menyembunyikan

makna

analisis

dan

penyebaran informasi epidemiologi sebagi bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. Menurut WHO, surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit

atau

masalah-masalah

kesehatan

dan

kondisi

yang

mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data,

pengolahan

dan

penyebaran

informasi

epidemiologi

kepada

penyelenggara program kesehatan. Sistem

surveilans

epidemiologi

merupakan

tatanan

prosedur

penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat 10


Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab, oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan

oleh

sektor

kesehatan

sendiri,

diperlukan

tatalaksana

terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program, sehingga perlu dikembangkan subsistem survailans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular, Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan Dan Perilaku, Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan, dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra

6. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia,

Nomor

:

1479/MENKES/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu. Prioritas surveilans penyakit yang perlu dikembangkan adalah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang potensial menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa, penyakit menular dan keracunan, demam berdarah dan demam berdarah dengue, malaria, penyakit-penyakit zoonosis antara lain antraks, rabies, leptospirosis, filariasis serta tuberkulosis, diare, tipus perut, kecacingan dan penyakit perut lainnya, kusta, frambusia, penyakit HIV/AIDS, penyakit menular seksual, pneumonia, termasuk penyakit pneumonia akut berat (severe acute respiratory syndrome), hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, neoplasma, penyakit paru obstuksi menahun, gangguan mental dan gangguan kesehatan akibat kecelakaan.

7. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia,

Nomor

:

747/MENKES/SK/VI/2007 tentang Pedoman Operasional Keluarga Sadar Gizi di Desa Siaga.

11


Sekitar 30 juta wanita usia subur menderita kurang energi kronis (KEK), yang bila hamil dapat meningkatkan risiko melahirkan BBLR. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 350 ribu bayi BBLR (â&#x2030;¤ 2500 gram), sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka gizi kurang dan kematian balita.

8. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor : Nomor 15 Tahun 2010 dan Nomor 162 /MENKES/PB/I/2010 tentang Pelaporan Kematian dan Penyebab Kematian. a. bahwa dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan diperlukan data kematian dan penyebab kematian; b. bahwa

data

kematian

dan

penyebab

kematian

pada

tingkat

desa/kelurahan sampai tingkat nasional belum dapat diperoleh secara akurat dan tepat waktu; c. bahwa data kematian dan penyebab kematian dibutuhkan untuk menyusun kebijakan, prioritas, dan pengembangan program kesehatan;

C. ISUE STRATEGIS Beberapa isu-isu penting yang perlu ditindaklanjuti oleh Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang adalah sebagai berikut : 1. Tingginya Angka Kematian Ibu Di tingkat nasional, dari hasil SDKI pada tahun 2007 dan 2012 menunjukkan lonjakan AKI dari 228/100.000 kelahiran hidup (KH) menjadi

359/100.000

Development

Goals)

KH, pada

sementara akhir

target

2015

MDGâ&#x20AC;&#x2122;s

harus

bisa

(Millenium mencapai

102/100.000 KH. Sedangkan di kabupaten Malang , target pencapaian AKI sudah tercapai bahkan berada dibawah target nasional, pada tahun 2007 sebesar

65/100.000 KH, tahun 2012 sebesar 61/100.000 KH,

sedangkan pada tahun 2013 terjadi peningkatan menjadi 89/100.000 KH.

12


2. Lonjakan kasus kematian Ibu Adanya trend peningkatan kasus kematian Ibu di kabupaten Malang, dari 25 kasus (2012) menjadi 39 kasus (2013) dan 21 kasus Agustus 2014) ,

( s/d

menjadikan kita harus lebih waspada, karena tidak

tertutup kemungkinan akan terjadi peningkatan kasus kematian Ibu pada tahun mendatang, bahkan akan bisa melebihi target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir tahun 2015.

3. Tingginya Angka Kematian Bayi Baru Lahir yang disebabkan oleh BBLR (Bayi Berat Badan Lahir Rendah)

Di tingkat nasional telah terjadi penurunan AKB walaupun belum signifikan, pada tahun 2005 sebesar 39 / 1000 KH dan pada tahun 2012 masih > 34 / 1000 KH, sedangkan target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir 2015 harus bisa mencapai 23 / 1000 KH Adapun AKB di kabupaten Malang telah berada dibawah target nasional, yakni 5,42/1000KH (2011) , 4,31 (2012) dan 4,02 (2013). Walaupun pencapaiannya telah jauh dibawah target nasional, namun mengingat penyebab kematian tertinggi pada bayi baru lahir adalah kasus BBLR (Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah) yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan kwalitas kehamilan yang buruk, misalnya karena menderita penyakit menular, tidak menular, bawaan atau dengan status gizi buruk (Kurang Energi Kalori), yang sebenarnya apabila dapat ditemukan lebih dini akan dapat ditunda dulu kehamilannya, maka peluang untuk lebih menurunkan lagi AKB di kabupaten Malang masih sangat mungkin untuk dilakukan.

4. Tingginya Angka Kebutuhan ber-KB yang tidak Terpenuhi (Unmet Need) BKKBN telah berhasil menurunkan angka Unmet Need ( Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani ) di tingkat nasional, dari 9,1% (2007) menjadi 8,5% (2012), sedangkan target nasional pada 13


tahun 2015 sebesar 5%. Sementara di kabupaten Malang penurunan Unmet Need masih sulit dilakukan dan belum ter fokus pada WUS ber resiko tinggi, serta pencapaiannya masih diatas target nasional sebesar 9,77% (2011), 9,63% (2012) dan 10% (2013). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan cakupan peserta KB Aktif (CPR) ternyata belum berhasil menurunkan Angka Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani (Unmet Need) khususnya bagi WUS ber resiko tinggi , sehingga pada saat mereka hamil penyakit yang diderita belum sempat mendapatkan penanganan spesialistik dan pada saat harus hamil maka akan beresiko mengalami komplikasi kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian. D. KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH Root Caused Analysized (Analisa Akar Penyebab Masalah) dan Solusi Pemecahan Masalah ISU/GEJALA MASALAH

AKAR PENYEBAB UTAMA

PENYEBAB MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

REKOMENDASI SOLUSI

1 Pelaksanaan Surveilans Aktif Berbasis Masyarakat bagi WUS beresiko tinggi yang belum ber KB dan tidak dalam keadaan hamil, yang ditangani secara terpadu oleh Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang 2 Penetapan Sistem Kesehatan

Pelaksanaan Kebijakan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi dengan program inovatif Contra War (Contraceptive For Women At Risk)

(LEVERAGE)

Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir

1. Banyaknya Wanita Usia Subur beresiko tinggi yang belum ber KB, dimana apabila suatu saat mengalami kehamilan maka akan membahayakan kesehatan dan beresiko kematian pada saat kehamilan, persalinan dan pada saat masa nifas 2. Kelompok Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need) belum terdata by name, by address, by case 3. Kelompok Wanita Usia Subur beresiko

1 Belum adanya guidance (pedoman) yang dapat digunakan untuk menemukan, melaporkan dan melakukan intervensi secara dini terhadap kelompok Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need) 2 Sistem Kesehatan Nasional dan

14


tinggi yang belum ber KB (unmet need) masih banyak yang belum menggunakan kontrasepsi yang tepat 4. Banyaknya Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need) 5. Tingginya Angka Kematian Ibu beresiko tinggi yang belum ber KB 6. Tingginya persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan yang tidak kompeten 7. Penemuan, pelaporan dan penanganan kasuskasus resiko tinggi pada Ibu dan Bayi belum terlaporkan secara realtime 8. Peningkatan cakupan peserta KB aktif (CPR / Contraceptive Prevalence Rate) belum berdampak langsung terhadap penurunan angka kematian ibu dari kelompok unmet need 9. Banyaknya tenaga kesehatan yang tidak memiliki ijin praktek 10. Banyaknya lulusan sekolah tinggi kebidanan yang tidak kompeten 11. Banyaknya bidan yang belum pernah melakukan pertolongan persalinan selama mengikuti penddikan 12. Panjangnya rantai rujukan persalinan akibat berkembangnya fee rujukan oleh rumah sakit â&#x20AC;&#x201C; rumah sakit swasta

Sistem Kesehatan Daerah belum di implementasik an sampai ke wilayah 3 Belum dilakukannya Surveilans Aktif Berbasis Masyarakat bagi WUS beresiko tinggi, Ibu Hamil beresiko tinggi dan Bayi beresiko tinggi 4 Belum dilaksanakann ya penanganan terpadu oleh Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang terhadap WUS beresiko tinggi

15

Kabupaten Malang


13. Banyaknya rumah sakit - rumah sakit swasta yang tidak memiliki unit perawatan intensif bagi Ibu &Bayi ( ICU/PICU/NICU ) 14. Belum adanya guidance (pedoman) yang dapat digunakan untuk menemukan,melapor kan dan intervensi secara dini terhadap kelompok Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need)

E. PROGRAM CONTRA WAR Adalah program Keluarga Berencana berupa penundaan atau pembatasan kehamilan, yang dilaksanakan secara terencana dan terpadu lintas program dan lintas sektor, melalui proses surveilans aktif yang dilaksanakan

oleh

masyarakat

secara

berkesinambungan

dan

berkelanjutan, serta proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur

yang

sedang

menderita

suatu

penyakit

(menular/tidak

menular/bawaan), yang beresiko tinggi apabila hamil atau yang pernah mempunyai riwayat kehamilan resiko tinggi sebelumnya , yang dapat membahayakan

proses

kehamilan

dan

persalinan

berikutnya

serta

kesehatan bayi yang akan dilahirkannya. CONTRA WAR adalah merupakan suatu strategi inovatif terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir dengan penggunaan kontrasepsi terpilih bagi wanita usia subur beresiko tinggi

di Kabupaten

Malang, Jawa Timur, Indonesia.

F. KONSEP DASAR PROGRAM CONTRA WAR 1. One RW â&#x20AC;&#x201C; One Cadre (Satu wilayah RW diamati oleh satu orang kader KB) 16


2. One High Risk Acceptor â&#x20AC;&#x201C; One Cadre (Satu akseptor beresiko tinggi didampingi oleh satu kader KB terlatih) 3. Selected Contraceptive For Selected Woman (Pemberian Kontrasepsi yang tepat bagi wanita yang tepat)

G. SASARAN PROGRAM CONTRA WAR Program Contra War ini ditujukan bagi wanita usia subur yang telah menikah, belum ikut KB dan tidak dalam keadaan hamil (unmetneed) , yang sedang atau pernah menderita penyakit-penyakit tertentu dan atau sedang menjalani pengobatan tertentu. Adapun beberapa kondisi resiko tinggi pada Wanita Usia Subur yang telah menikah, belum ber KB dan tidak dalam keadaan hamil, serta akan beresiko tinggi apabila hamil, adalah sebagai berikut : 1.

Pendarahan pervaginam

2.

Endometriosis

3.

Tumor ovarium jinak

4.

Dismenorea berat

5.

Penyakit trofoblas

6.

Kanker mamme

7.

Kanker endometrium

8.

Kanker ovarium

9.

Fibroma uteri

10. Kelainan anatomis 11. Penyakit radang panggul 12. Infeksi Menular Seksual 13. Resiko tinggi HIV 14. Terinfeksi HIV 15. AIDS 16. Tuberkulosis 17. Penyakit Tiroid 18. Hepatitis virus 17


19. Sirosis Hepatis 20. Tumor hati 21. Talasemia 22. Anemia bulan sabit 23. Anemia defisiensi Fe 24. Pascapersalinan ( laktasi / non-laktasi ) termasuk pasca sectio caesarea 25. Pasca keguguran 26. Riwayat operasi pelvis 27. Hipertensi 28. Riwayat hipertensi dalam kehamilan 29. Trombosis vena permukaan 30. Riwayat penyakit jantung iskemik 31. Stroke 32. Penyakit katup jantung 33. Dekompensasio kordis 34. Miokard infark akut 35. Epilepsi 36. Kurang Energi Kalori 37. Asthma Bronchiale 38. Diabetes Melitus 39. TORCH : 1. Toxoplasmosis 2. Other ( syphilis, varicella, mumps, parvovirus dan HIV ) 3. Rubella ( German Measles ) 4. Cytomegalovirus 5. Herpes simpleks 40. Penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi enzim 18


enzim hati 41. Penggunaan Rifampisin 42. Penggunaan Antikonvulsan tertentu

H. RIWAYAT

KEHAMILAN

PATOLOGIS

YANG

PERLU

DIPERTIMBANGKAN DALAM PROSES PENAPISAN REPRODUKSI

1. Abortus spontan : - Complete - Incomplete 2. Abortus Provocatus Criminalis Infeksiosa 3. Kehamilan Ekstra Tubae 4. Mola hydatidosa 5. Chronic Hyper Emesis Gravidarum 6. Anemia gravidarum 7. Midtrimester bleeding 8. Partus prematurus 9. Ante Partum Bleeding : - Placenta praevia - Solutio placenta 10. Pre eclampsia Ringan 11. Pre eclampsia Berat 12. Eclampsia 13. Kelainan letak janin 14. Kelainan ketuban 15. Post term 16. Penyakit sistemik 17. Hemorrhagic Post Partum 18. Emboli air ketuban 19. Distosia / kelainan letak 20. Partus lama ( kasep / sisa dukun ) 21. Late Haemorrhagic Post Partum 19


22. Infeksi nifas

I. PERSYARATAN MEDIS PENGGUNAAN KONTRASEPSI 1. Umum Pelayanan dan informasi Keluarga Berencana merupakan intervensi kunci dalam upaya meningkatkan kesehatan perempuan dan anak, serta merupakan hak asasi manusia Telah terjadi perkembangan yang berarti dalam teknologi kontrasepsi, misalnya transisi dari estrogen dosis tinggi ke dosis rendah pada pil kombinasi

atau

dari

AKDR

inert

ke

AKDR

yang

mengeluarkan

levonorgestrel. Perkembangan ini telah menghasilkan pilihan lebih banyak tentang metode kontrasepsi yang lebih aman dan efektif. Di lain pihak, masih sangat banyak pasangan di seluruh dunia yang belum mendapatkan akses terhadap pelayanan Keluarga Berencana karena berbagai faktor seperti masalah logistik, sosial, perilaku, organisasi dan prosedur dalam sistem pelayanan kesehatan yang perlu diperbaiki. Untuk meningkatkan akses terhadap pelayanan KB yang bermutu dilakukan berbagai strategi, misalnya : -

Hak-hak klien perlu dipertimbangkan dalam perencanaan, manajemen dan penilaian dalam pelayanan Kb

-

Meningkatkan ketersediaan berbagai metode kontrasepsi sehingga klien dapat memilih metode kontrasepsi yang paling cocok untuk mereka

-

Melaksanakan konseling dan pelayanan KB berdasar kriteria dan persyaratan medis yang terkini

2. Isu tentang mutu pelayanan dan akses yang mempengaruhi pemberian kontrasepsi -

Klien harus memperoleh informasi yang cukup sehingga dapat memilih sendiri metode kontrasepsi yang sesuai untuk mereka. Informasi tersebut meliputi pemahaman tentang efektifitas relativ dari metode 20


kontrasepsi, cara kerja, efek samping, manfaat dan kerugian metode tersebut, gejala dan tanda yang perlu ditindaklanjuti diklinik atau fasilitas kesehatan, kembalinya kesuburan dan perlindungan terhadap Infeksi Menular Seksual. -

Untuk metode yang memerlukan prosedur bedah, insersi atau pencabutan alat oleh tenaga terlatih, maka perlu dilengkapi dengan fasilitas yang cukup agar prosedur tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan standar termasuk prosedur pencegahan infeksi.

-

Peralatan dan pasokan yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan harus tersedia

-

Petugas pelayanan harus dilengkapi dengan panduan-panduan yang memungkinkan mereka melaksanakan penapisan dan pelayanan terhadap klien sebaik-baiknya dan dapat menghindari resiko yang tidak diinginkan.

-

Petugas pelayanan harus mendapat pelatihan yang cukup dalam konseling Keluarga Berencana. Konseling merupakan elemen kunci dalam mutu pelayanan, mulai dari kunjungan awal serta ulang, dan meliputi bukan hanya tentang kontrasepsi melainkan juga masalahmasalah

seksualitas dan

pencegahan Infeksi Menular Seksual

termasuk HIV/AIDS. 3. Efektivitas Dalam hubungan pilihan kontrasepsi, klien perlu diberi informasi tentang : -

Efektifitas relatif dari berbagai metode kontrasepsi yang tersedia

-

Efek negatif kehamilan yang tiak diinginkan pada kesehatan dan resiko kesehatan potensial pada kehamilan dengan kondisi medis tertentu.

21


Tabel efektivitas berbagai metode kontrasepsi :

Tingkat Efektivitas

Sangat efektif

Tingkat Efektivitas

Metode Kontrasepsi

Implan Vasektomi Suntikan kombinasi Suntikan DMPA/NET-EN Tubektomi AKDR CuT-380A Pil progesteron (masa laktasi)

Metode Kontrasepsi

Efektif dalam pemakaian biasa, sangat efektif jika dipakai secara tepat dan konsisten

Metode Amenorea Laktasi Pil Kontrasepsi kombinasi Pil progesteron (bukan masa laktasi)

Efektif jika dipakai seara tepat dan konsisten

Kondom pria Senggama terputus Difragma + spremisida KB alamiah Kondom perempua Spermisida Tanpa KB

Kehamilan per 100 perempuan dalam 12 bulan pertama pemakaian Dipakai secara Dipakai secara tepat dan biasa konsisten 0,05 0,05 0,15 0,1 3 0,05 3 0,3 0,5 0,5 0,8 0,6 1

0,5

Kehamilan per 100 perempuan dalam 12 bulan pertama pemakaian Dipakai secara Dipakai secara tepat dan biasa konsisten 2 0,5 8 0,3 0,5

15 27 29 25 21 29 85

2 4 18 1-9 5 18 85

4. Beberapa kondisi medis yang akan meningkatkan resiko jika terjadi kehamilan - Keadaan-keadaan dibawah ini akan meningkatkan resiko jika disertai kehamilan a. Hipertensi (tekanan darah >160/100 mmHg) b. Diabetes, insulin dependen, dengan nefropati/neuropati/retinopati atau penyakit vaskular lain atau >20 tahun telah menderita diabetes 22


c. Penyakit jantung iskemik d. Stroke e. Penyakit katup jantung dengan hipertensi f. Karsinoma payudara g. Karsinoma endometrium atau ovarium h. Infeksi menular seksual i. HIV/AIDS j. Sirosis hari k. Hepatoma l. Penyakit trofoblas ganas m. Penyakit sel sickle (sel bulan sabit) n. Skistosomiasis dengan fibrosis hati o. Tuberkulosis - Pada keadaan-keadaan diatas perlu dipilihkan metode kontrasepsi yang lebih efektif 5. Kembalinya kesuburan - Semua metode kontrasepsi, kecuali kontrasepsi mantap (sterilisasi) tidak mengakibatkan terhentinya kesuburan - Kembalinya kesuburan berlangsung segera setelah pemakaian metode kontrasepsi dihentikan, kecuali DMPA dan NET-EN yang waktu ratarata kembalinya kesuburan adalah masing-masing 10 dan 6 bulan terhitung mulai suntikan terakhir - Kontrasepsi mantap harus dianggap sebagai metode permanen 6. Klasifikasi persyaratan medis - Keadaan atau kondisi yang mempengaruhi persyaratan medis dalam penggunaan setiap metode kontrasepsi yang tidak permanen dikelompokkan dalam 4 kategori : -1 : Kondisi dimana tidak ada pembatasan apa pun dalam penggunaan metode kontrasepsi -2 : Penggunaan kontrasepsi lebih besar manfaatnya dibandingkan dengan resiko yang diperkirakan akan terjadi -3 : Resiko yang diperkirakan lebih besar daripada manfaat penggunaan kontrasepsi -4 : Resiko akan terjadi bila metode kontrasepsi tersebut digunakan - Kategori 1 dan 4 cukup jelas. Kategori 2 menunjukkan bahwa metode tersebut dapat digunakan tetapi memerlukan tindak lanjut yang seksama. Kategori 3 memerlukan penilaian klinik dan akses terhadap pelayanan klinik yang baik. Seberapa besar masalah yang ada dan ketersediaan serta penerimaan metode alternatif perlu dipertimbangkan. Dengan perkataan lain pada kategori 3 metode 23


kontrasepsi tersebut tidak dianjurkan, kecuali tidak ada cara lain yang lebih sesuai tersedia. Perlu tindak lanjut yang ketat. - Khusus untuk kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi) digunakan klasifikasi lain, yaitu: -A : Tidak ada alasan medis yang merupakan kontraindikasi dilakukannya kontrasepsi mantap. -B : Tindakan kontrasepsi mantap dapat dilakukan tetapi dengan persiapan dan kewaspadaan khusus -C : Sebaiknya tindakan kontrasepsi mantap ditunda sampai kondisi medis diperbaiki. Sementara itu berikan metode kontrasepsi lainnya -D : Tindakan kontrasepsi mantap hanya dilakukan oleh tenaga yang sangat berpengalaman, dan perlengkapan anestesi tersedia. Demikian pula fasilitas penunjang lainnya. Diperlukan pula kemampuan untuk menentukan prosedur klinik serta anestesi yang tepat 7. Penggunaan klasifikasi dalam penapisan klien - Klasifikasi yang diuraikan dalam bab ini tidaklah kaku. Tingkat pengetahuan dan pengalaman petugas kesehatan serta sumbersumber yang tersedia perlu menjadi pertimbangan. - Ditempat pelayanan dengan fasilitas pemeriksaan klinik terbatas, misalnya di Puskesmas, klasifikasi 1 sampai 4 dapat disederhanakan menjadi 2. Klasifikasi 1 dan 2 digabung menjadi klasifikasi 1; klasifikasi 3 dan 4 menjadi 2. Untuk klasifikasi 1 (dengan fasilitas terbatas) metode kontrasepsi tertentu dapat digunakan, untuk klasifikasi 2 tidak boleh digunakan. Pada tempat pelayanan dengan fasilitas lengkap, misalnya di Rumah Sakit Kabupaten, pakailah klasifikasi 1, 2, 3 dan 4. Klasifikasi persyaratan medis dalam penapisan klien Kondisi

Pil kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

NETEN

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Kehamilan Usia

-

-

-

-

-

4

4

Menars-

Menars-

Menars-

Menars -

Menars -

Menars -

Menars20:2

40:01:00

40:01:00

18:01

18:2

18:01

20:02

≥20:1

≥40:2

≥40:2

18-45:1

1845:1 ≥45:2

1845:1 ≥45:1

≥20:1

≥45:1

24


Paritas *Nulipara *multipara

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

2 1

2 1

Laktasi *<6 minggu pascapersalinan

4 3

4 3

3 1

3 1

3 1

*6 minggu -<6 bulan laktasi

2

2

1

1

1

Pascapersalianan

3

3

1

1

1

*(tanpa laktasi)

1

1

1

1

1

Pascapersalinan(lakta si/non-laktasi)termasuk pascasecsio sesarea

2

3

*<48 jam *≥48 jam-<4 minggu

3 1

3 1a

*≥4 minggu

4

4

*≥6 bulan pascapersalinan

*<21 hari *≥21 hari

*sepsispuerperalis

25


Pasca keguguran

1

1

1

1

1

1

1

*trimester 1

1

1

1

1

1

2

2

*trimester2

1

1

1

1

1

4

4

Pascakehamilan etopik

1

1

2

1

1

1

1

Riwayat operasi pelvis

1

1

1

1

1

1

1

2

2

1

1

1

1

1

3 4

2 3

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

Impia n

AKDR

*pascaabortus septik

(termasuk secsio sesarea) Merokok *usia<35

*usia≥35 - <15 batang/hari

- ≥15 batang/hari

Kondisi Obesitas

Pil Kombina si

Suntikan Kombina si

Pil Progesti n

2

2

1

*≤30kg/m² body mass index(BMI)

26

DMPA NETEN 1

1

Cu 1

AKDR Progesti n 1


Penyakit kardiovaskuler Faktor resiko multipel penyakit kardiovaskuler (seperti usia muda,tua,merokok,diab etes,hipertensi)

Hipertensi

03-Apr

34

2

3

2

1

2

3

3

2

2

2

1

2

3

3

1

2

1

1

1

*riwayat hipertensi tidak dapat dievaluasi,termsuk hipertensi dalam kehamilan

*hipertensi terkontrol

*tekanan darah meningkat

-sistolik 140-160 atau diastolik 90-100

27


-sistolik.160 ataudiastolik>100

3

3

1

2

1

1

1

*penyakit vaskular

4

4

2

3

2

1

2

4

4

2

3

2

1

2

Riwayat hipertensi dalam kehamilan

2

2

1

1

1

1

1

Trobosis vena dalam/emboli paru

4

4

2

2

2

1

2

*riwayat TVD/EP

4

4

3

3

3

1

3

*TVD/EF saat ini

2

2

1

1

1

1

1

4

4

2

2

2

1

2

-imobilisasi lama

2

2

1

1

1

1

1

-tanpa imobilisasi lama

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

*riwayat keluarga dengan TVD/EF

*bedah mayor

*bedah minor tanpa imobilisasi

Trombosis vena permukaan

28


*varises *troboflebitis

2

2

1

1

1

1

1

Riwayat penyakit jantung iskemik

4

4

M L

3

M L

1

M L

2 3 Stroke

4

4

M L

2 3 3

2 3

(riwayat cardiovaskuler accident)

M L

2 3 1

2

2 3

Hiperlipidemia

2/3b

2/3b

2

2

2

1

2

Penyakit katup jantung

2

2

1

1

1

1

1

*Tanpa komplikasi

4

4

1

1

1

2

2

*Dengan komplikasi(hipertensi pulmonal,fibrilasi atrial,endokarditis bakterial subakut)

Kondisi Neurologis M M M L L L

Nyeri Kepala ď&#x201A;ˇ Nonmigrain (ringan/berat)

ď&#x201A;ˇ

1 2

12

Migrain

29

11

M L

M L

11

11

1

M L 11


-

Tanpa aura

Usia < 35 Usia>=35 dengan aura (semua usia)

Epilepsi Depresi

23 34

23 34

12 12

22 22

22 22

1 22 1 22

44

44

23

23

23

1 23

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1 Depresi 1

1

Infeksi dan Kelainan Alat Reproduksi Perdarahan 1 pervaginam

ď&#x201A;ˇ Perdarahan ireguler

1

1

2

2

2

1 ML

1

2

2

2

2 11

12

ď&#x201A;ˇ Perdarahan banyak/lama

Perdarahan pervaginam yang belum di ketahui penyebabnya

2

Sebelum penilaian

30

2

2

3

3 ML

ML

42

42


Endometriosis

1

1

1

1

1

1

1

(termasuk kista)

1

1

1

1

1

1

1

Dismenorea berat

1

1

1

1

1

2

1

penyakit trofoblas jinak

1

1

1

1

1

3

3

penyakit trofoblas ganas

1

1

1

1

1

4

4

Ektropion serviks

1

1

1

1

1

1

1

NIS (Neoplasia Intra Serviks)

2

2

1

2

2

1

2

Tumor ovarium jinak

Penyakit trofoblas

Kanker serviks

M

M L

2

2

1

2

2

4

4 2

Kondisi

Pil kombi nasi

Suntikan Pil DMPA kombi proges NETnasi tin EN

L 2

Impian

AKDR Cu

AKDR proges tin

Penyakit mamma massa tidak terdiagnosis

2

2

2

2

2

1

2

penyakit mamma jinak

1

1

1

1

1

1

1

31


riwayat kanker dalam keluarga

1

1

1

1

1

1

1

4

4

4

4

4

1

4

3

3

3

3

3

1

3

kanker mamma -

saat ini

riwayat lampau, tidak kambuh dalam 5 tahun

Kanker endometrium

M

L

M L

1

1

1

1

1

4

2

4 2

Kanker ovarium

M

L

M L

1

1

1

1

1

3

2

3 2

Fibroma uteri

menggangu kavum uteri

1

1

1

1

1

1

1

tidak mengganggu kavum uteri

1

1

1

1

1

4

4

Kelainan anatomis

32


menggganggu kavum uteri

4

4

tidak mengganggu kavum uteri

2

2

Penyakit radang panggul

M

L

1

1

M L

riwayat PRP

- dengan kehamilan

1

- tanpa kehamilan

1

1

1

1

1

1 1

1

1

1

2

1

2 2 2

4 PRP saat ini

1

1

1

1

2

1 4 2

Kondisi

Pil kombi nasi

Suntikan Pil kombi proges nasi tin

IMS

33

DMPA NETEN

Impian

AKDR Cu

AKDR proges tin

M L

M L


Servisiti s purulen atau infeksi klamidia atau gonorea

1

IMS lainnya (kecuali HIV dan hepatitis)

1

Vaginitis (termasuk trikomonas vaginitis bakterial)

1

Risiko IMS meningkat

1

1

1

1

1 4

4 2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

2

2

2

2

2

2

2

2

2

4

2

4

2

1

1

1

HIV/AIDS Risiko tinggi HIV

M 2

L M 2 2

L 2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

2

2 2

2

1

1 34

1

1

1

3

2 3

2

Terifeksi HIV

AIDS


Infeksi lain Skistosomiasis  

Tanpa komplikasi Fibrosis hati

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

Tuberkolosis  

Non pelvis pelvis

Malaria Kondisi

1

1

1

1

1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

Pil kombi nasi

Suntikan kombi nasi

Pil progesti n

M 1

L M 1 1

L 1

4

3 4

3

1

1

DMP A NETEN

Impia n

AKD R Cu

AKDR progesti n

Penyakit endokrin Diabetes riwayat diabetes gestasional

1

1

1

1

1

1

1

noninsulin dependen

2

2

2

2

2

1

2

insulin dependen

2

2

2

2

2

1

2

penyakit nonvaskular

35


nefropati/retin opati/ neuropati

3/4

3/4

2

3

2

1

2

penyakit vaskular lain/ diabetes > 20 tahun

3/4

3/4

2

3

2

1

2

Penyakit tiroid

goiter hipertiroid

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

hipotiroid

1

1

1

1

1

1

1

Penyakit gastrointestinal Penyakit kantung empedu simptomatik

terapi kolesistektomi

2

2

2

2

2

1

2

diobati dengan obat saja

3

2

2

2

2

1

2

-

3

2

2

2

2

1

2

2

2

2

2

2

1

2

saat ini

asimptomatik

36


Riwayat kolestasis

berhubungan dengan kehamilan

2

2

1

1

1

1

1

berhubungan dengan kontrasepsi

3

2

2

2

2

1

2

4

3/4

3

3

3

1

3

1

1

1

1

1

1

1

Pil kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMP A NETEN

Impia n

AKDR Cu

AKDR proge stin

3 4

2 3

2 3

2 3

2 3

1 1

2 3

1

1

2

1

Hepatitis virus

aktif karier

Kondisi

Sirosis ringan berat

Talasemia

1

1

Anemia 1

Penyakit bulan sabit

2

2

1

1

1

2

1

Anemia difesiensi Fe

1

1

1

1

1

2

1

Interaksi obat

37


Obat yang mempengaruhi enzim- enzim hati rifampisin

3

2

3

2

3

1

1

antikonvulsan

3

2

3

2

3

1

1

griseofulvin

2

1

2

1

2

1

1

antibiotik lain

1

1

1

1

1

1

1

2

M L 2/3 2

M L 2/3 2

Antibiotik

Terapi antiretroviral 2

2

2

2

Kontrasepsi Mantap Perempuan (Tubektomi)

Kehamilan Usia muda Paritas  

Kondisi Kategori Karakteristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi C B

Nulipara Multipara

A A A

Laktasi Pascapersalinan 

-

-

< 7 hari

A

7 – < 42 hari

C

38


42 hari 

A

Preeklampsia / eklampsi

-

Preeklampsi ringan

A

-

Preeklampsi berat / eklampsi

C

Ketuban pecah lama

C

> 24 jam

C

Infeksi nifas

C

Perdarahan antepartum

Trauma berat pada daerah genitalia

Ruptur uterus

-

C D

Pascaabortus 

Tanpa komplikasi

Sepsis pascakeguguran

Perdarahan pascakeguguran

Trauma alat genital / serviks / vagina saat

A C C C

pengguguran 

Perforasi uterus

Hematometra

D C

Kehamilan ektopik lampau Merokok

A

Usia < 35 tahun

A

Usia > 35 tahun

A

Obesitas 

≥ 30 kg/m2 IMT (Indeks Massa Tubuh) 39

B


Kondisi Penyakit Kardiovaskuler Faktor risiko multipel penyakit kardiovaskular Hipertensi 

Hipertensi terkontrol

Kenaikan tekanan darah

Kategori D B

-

Sistolik 140 – 160 atau diastolik 90 – 100

B

-

Sistolik > 160 atau diastolik > 100

D

Penyakit vaskular

D

Riwayat hipertensi selama kehamilan Trombosis Vena Dalam / Emboli Paru

A

Riwayat TVD/EP

A

TVD/EP saat ini

C

Riwayat keluarga dengan TVD/EP

A

Bedah mayor

-

Dengan imobilisasi lama

C

-

Tanpa imobilisasi lama

C

Bedah minor

A

Mutasi trombogenik Trombosis Vena Permukaan

A

Varises

A

Tromboflebitis

A

Penyakit Jantung Iskemik 

Saat ini penyakit jantung iskemik

D

Riwayat penyakit jantung iskemik

B

Stroke Hiperlipedemia Penyakit Jantung Ventrikular

B A

Tanpa komplikasi

B

Dengan komplikasi

D Kelainan Neurologis 40


Nyeri kepala 

Non migrain

Migrain

A

-

Tanpa aura

A

-

Dengan aura

A

Kondisi

Kategori B

Epilepsi Depresi Depresi

B

Infeksi dan Kelainan Alat Reproduksi Perdarahan pervaginam 

Perdarahan ireguler

A

Perdarahan banyak

A

Perdarahan yang tidsak jelas sebabnya 

Sebelum penilaian

C

Endometriosis Tumor Ovarium Jinak Dismenorea berat Penyakit trofoblas

D A A

Penyakit trofoblas jinak

A

Penyakit trofoblas ganas

C

Ektropian Serviks Neoplasia Intarepitelial Serviks Kanker Serviks Penyakit Mamma

A A C

Massa tidak terdiagnosis

A

Penyakit mamma jinak

A

Riwayat kanker dalam keluarga

A

Kanker mama

-

Saat ini

B

-

Riwayat lampau, tidak kambuh dalam 5 tahun

A

41


Kanker endometrium Kanker ovarium Fibroma uterus

C C

Tanpa gangguan kavum uteri

B

Dengan gangguan kavum uteri

B

Penyakit radang panggul 

Riwayat PRP

-

Dengan kehamilan berikutnya

A

-

Tanpa kehamilan

B

Saat ini

C

Kondisi Infeksi Menular Seksual

Kategori

Purulen servisitis / infeksi klamidia / gonorea

C

IMS lain (kecuali HIV dan hepatitis)

A

Vaginitis

A

Risiko IMS meningkat

A HIV / AIDS

Risiko tinggi HIV

A

Terinfeksi HIV

A

AIDS

D Infeksi lain

Skistosomiasis 

Tanpa komplikasi

A

Fibrosis hati

B

Tuberkolosis 

Nonpelvis

A

pelvis

D

Malaria

A Penyakit Endokrin 42


Diabetes 

Riwayat diabetes gestasional

Penyakit nonvaskular

A

-

Noninsulin dependen

B

-

Insulin dependen

B

Nefropati/retinopati/neuropati

D

Penyakit vaskular lain Diabetes > 20 tahun

D

Penyalit tiroid 

Golter

A

Hipertiroid

D

Hipotiroid

B Penyakit Gastrointestinal

Penyakit kandung empedu 

Simptomatik

-

Terapi kolesistektomi

A

-

Diobati dengan obat saja

A

-

Saat ini

C

asimptomatik

A

Kondisi

kategori

Riwayat kolestasis 

berhubungan dengan kehamilan

A

berhubungan dengan pil kontrasepsi

A

Hepatitis virus 

aktif

C

karier

A

Sirosis 

ringan

B

berat

D

Tumor hati 43


jinak (adenoma)

B

malignan (hepatoma)

B Anemia

Talasemia

B

Penyakit bulan sabit

B

Anemia defisiensi Fe 

Hb < 7 g%

C

Hb antara 7 – 10 g%

B

Keadaan lain yang relevan dengan tubektomi Infeksi kulit abdomen

C

Gangguan peredaran darah

D

Penyakit paru 

Bronkhitis , pneumonia

C

Asthma , emfisema, infeksi paru

D

Infeksi sistemik / gastroenteritis

C

Perlekatan uterus oleh karena pembedahan /

D

infeksi lampau Hernia umbilikalis atau abdominal

D

Hernia diafragmatikus

B

Penyakit ginjal

B

Defisiensi gizi berat

B

Pembedahan abdominal / pelvik terdahulu

B

Sterilisasi bersamaan dengan pembedahan abdominal

B

Elektif

C

Emergensi

C

Keadaan infeksi

Sterilisasi bersamaan dengan seksio sesaria Kontrasepsi Laki-Laki (Vasektomi)

44

A


Kondisi

Kategori

Karakteristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Usia muda

B Depresi

Depresi

B HIV / AIDS

Risiko tinggi HIV

A

Terinfeksi HIV

A

AIDS

D Penyakit EnBdokrin

Diabetes

B Anemia

Penyakit bulan sabit

A

Keadaan lain yang relevan dengan Vasektomi Infeksi lokal 

Infeksi kulit skrotum

C

IMS aktif

C

Epididimitis / orkitis

C

Gangguan peredaran darah

D

Riwayat infeksi skrotum

B

Infeksi sistemik / gastroenteritis

C

Varikokel besar

B

Hidrokel besar

B

Filariasis / elefantiasis

C

Massa intraskrotal

C

Kriptorkhisme

B

Hernia inguinalis

D

45


8. Infeksi Menular Seksual dan Kontrasepsi Infeksi saluran reproduksi (ISR) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit yang mendapat perhatian penting pada kesehatan masyarakat diseluruh dunia. Rata-rata terdapat lebih dari satu juta orang setiap hari yang terinfeksi IMS. Insiden tinggi ISR dan IMS diantara perempuan yang menjalani perawatan antenal, kesehatan seksual dan reproduksi atau penyakit ginekologik lain mengindikasikan adanya masalah ISR/IMS yang meluas. Orang yang mengalami ISR/IMS mempunyai resiko lebih tinggi tertular HIV atau menularkan HIV pada pasangannya. Pada orang-orang yang terinfeksi HIV, pengobatan ISR/IMS akan lebih sulit, yang berarti dalam keadaan terinfeksi serentak akan meningkatkan kemungkinan penyebaran HIV. Berbagai jenis mikroorganisme (kurang lebih 20 jenis) dapat ditularkan melalui hubungan seks dan berdampak pada organ reproduksi seseorang. Bahkan ada pula penyakit seperti infeksi Hepatitis dan AIDS yang bisa ditularkan melalui hubungan seks tetapi pada organ reprosukdinya tidak ada kelainan. Di Indonesia data pasti tentang jumlah penderita ISR dan IMS tidak mudah didapat, karena pencatatan laporan hanya didapat dari rumah sakit pemerintah, swasta dan praktik dokter pribadi tertentu sedangkan kenyataannya banyak penderita yang mengobati dirinya sendiri atau mereka yang berobat ke dokter praktik tidak dilaporkan. Tipe infeksi Istilah ISR/IMS mencakup 4 tipe infeksi yaitu : -

Infeksi yang merusak saluran reproduksi

-

Infeksi pada saluran reproduksi perempuan tidak disebabkan karena penularan melalui hubungan seks tetapi merupakan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang normal ada dalam vagina (bakteri vaginosis dan jamur)

-

Infeksi melalui hubungan seks yang memberi dampak lebih luas selain alat reproduksi (sifilis dan HIV/AIDS)

-

Infeksi pada saluran reproduksi perempuan akibat komplikasi dari tindakan yang dilakukan untuk membantu kasus persalinan, keguguran dan pengguguran, insersi AKDR atau operasi obstetri ginekologi

46


Beberapa jenis IMS yang banyak didapat di Indonesia -

Gonore

-

Sifilis

-

Klamidia

-

Kandidiasis

-

Trikomoniasis

-

Bakterial vaginosis

-

Herpes simpleks

Peran petugas kesehatan pada pelayanan kontrasepsi/kesehatan reproduksi Banyak orang khususnya perempuan yang mengalami ISR/IMS tidak mendapat perawatan dan pengobatan dengan tepat, karena : -

Baik laki-laki dan perempuan mungkin tidak ada gejalanya. Penelitian telah menunjukkan sekitar 70% perempuan dan 30 % laki-laki yang terinfeksi tidak mempunyai gejala

-

Orang-orang yang menunjukkan gejala ISR/IMS tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya terinfeksi. Banyak perempuan yang tidak mendapat informasi tentang cairan vagina yang normal dan tidak normal, sehingga mereka akan menganggap cairan vagina yang keluar walaupun akibat ISR/IMS sebagai sesuatu yang wajar

-

Banyak orang yang menduga bahwa mereka mungkin terinfeksi tetapi tidak segera berobat karena tidak menganggap penyakit ini penting, merasa malu, penyakit yang diderita merupakan stigma sosial, tidak mengetahui akses berobat dan tidak dapat menjangkau pengobatan.

Pelayanan kontrasepsi dapat sekaligus memberikan pelayanan terhadap ISR maupun IMS seperti : -

Pendidikan tentang pencegahan IMS dan pengenalan gejala dan tanda ISR/IMS serta komplikasi IMS

-

Konseling mengenai perilaku seksual perilaku seksual yang beresiko, alternatif perilaku seksual yang aman, kepatuhan klien untuk berobat hingga tuntas dan perlunya pasangan klien juga ikut berobat

47


-

Skrinning atau penapisan ISR/IMS, termasuk pemeriksaan vagina (selain dilakukan sebagai pemeriksaan rutin atau lebih ditekankan pada orang yang beresiko)

-

Pengobatan ISR/IMS

-

Merujuk kefasilitas yang lebih lengkap

-

Menyediakan kontrasepsi dengan perlindungan ganda (dual action) seperti kondom.

Tabel Komplikasi IMS Pada perempuan

Pada bayi baru lahir

Pada laki-laki

-

Radang panggul

-

Prematuritas

-

Epididimitis

-

Infertilitas

-

Berat lahir rendah

-

Prostatitis

-

Kehamilan ektopik

-

Sifilis kongenital

-

Struktur uretra

-

Keguguran

-

Oftalmia neonatorum

-

Infertilitas

-

Lahir mati

-

Pneumonia klamidia

-

AIDS

-

Kanker serviks

-

Septikemia

-

Hepatitis

-

AIDS

-

AIDS

-

Hepatitis

-

Hepatitis

Skrinning atau penapisan klien -

Skrinning klien dapat dilakukan dengan anamnesis yang cermat atau melalui konseling. Apabila mungkin pemeriksaan organ reproduksi dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium sederhana untuk melihat mikroorganisme yang ada (pemeriksaan duh kelamin dengan mikroskop dan pewarnaan Gram, larutan NaCl dan KOH)

-

Berikan pengobatan sesuai dengan hasil temuan mikroorganisme atau dari hasil pendekatan sindrom

-

-

Selalu tanyakan pada klien adakah : ď&#x201A;ˇ

Duh vagina atau uretra

ď&#x201A;ˇ

Lesi atau ulkus pada alat kelamin

ď&#x201A;ˇ

Pembengkakan pada kelenjar getah bening didaerah inguinal (selangkangan)

ď&#x201A;ˇ

Nyeri perut bagian bawah

Tanyakan juga apakah pasangannya mengalami hal seperti di atas.

48


-

Riwayat hubungan seks seminggu sampai sebulan terakhir

-

Apakah klien atau pasangannya berganti pasangan dalam waktu sebulan ini ?

-

Apakah klien atau pasangannya mempunyai aktivitas atau profesi yang menyebabkan ia berganti pasangan atau sering berpindah tempat ?

-

Apakah klien menyadari ia terkena IMS dan adakah usaha yang dilakukan sebelum datang ke fasilitas ini ?

Diagnosis dan pengobatan ISR/IMS -

Diagnosis ISR/IMS pada fasilitas kesehatan bisa dilakukan berdasarkan pendekatan sindrom dengan identifikasi gejala yang spesifik sesuai dengan jenis mikroorganisme penginfeksi dan penilaian tentang resiko penularan

-

Pemeriksaan duh tubuh dengan laboratorium dan pemeriksaan serologi akan sangat baik untuk mendapatkan ketepatan diagnosis dan pengobatan. Paling tidak fasilitas pelayanan kontrasepsi atau pelayanan kesehatan reproduksi mempunyai perangkat pemeriksaan laboratorium sederhana

-

Apabila diagnosis klien meragukan dan pengobatan tidak memberikan hasil yang memuaskan, klien harus dirujuk ke fasilitas pelayanan lain yang lebih lengkap dan kemajuan penyembuhannya harus selalu dipantau.

Tabel : Kontrasepsi dan pencegahan IMS Jenis Kontrasepsi Kondom lateks

Keterangan -

Merupakan metode terbaik untuk pencegahan IMS

dan

HIV/AIDS

bila

digunakan

terus

menerus dan benar -

Tapi kondom tidak melindungi infeksi yang berasal dari ulkus atau lesi pada selangkangan yang tidak tertutup oleh kondom

Female

Condom

(kondom -

wanita)

Walaupun data klinis terbatas, kondom ini cukup efektif untuk pencegahan kontak dengan sprema maupun bakteri penyebab IMS dan HIV

-

Sebagai alternatif apabila kondom untuk lakilaki tidak ada atau tidak bisa digunakan

-

Terbatasnya pemakaian kondom perempuan

49


juga disebabkan oleh faktor harga dan kurang nyaman Spermisida

-

Tidak

melindungi

penularan

IMS/HIV

oleh

karena itu pemakaian spermisida saja tanpa pengaman (barrier) lain tidak dianjurkan Diafragma

-

Digunakan bersama dengan spermisida, daapat mengurangi

transmisi

IMS.

Perlindungan

terhadap HIV belum pernah dibuktikan -

Sebagai alternatif apabila penggunaan kondom laki-laki tidak bisa dilakukan

Metode kontrasepsi lain

-

Seluruh metode kontrasepsi yang lain tidak dapat melindungi klien dari IMS dan HIV

-

Perempuan yang berisiko terhadap IMS perlu menggunakan tambahan kondom disamping pemakaian metode kontrasepsi yang lain

REMAJA DAN KONTRASEPSI Pengertian -

Remaja adalah kelompok penduduk yang berusia 10-19 tahun (menurut WHO dan Departemen Kesehatan) atau 10-24 tahun (menurut UNFPA) dan belum menikah

-

Proporsi remaja Indonesia (10-24 tahun) pada tahun 2005 mencapai lebih dari 30% dari jumlah penduduk

-

Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk pengaturan kehamilan, dan merupakan hak setiap individu sebagai makhluk seksual.

Masalah -

Sebagian remaja sudah mengalami pematangan organ reproduksi dan bisa berfungsi atau bereproduksi, namun secara sosial mental dan emosi mereka belum dewasa. Mereka akan mengalami banyak masalah apabila pendidikan dan pengasuhan seksualitas dan reproduksi mereka terabaikan. Banyak diantara mereka sudah seksual aktif bahkan berganti-ganti pasangan seks. Akibatnya

50


banyak terjadi infeksi menular seksual, kehamilan dini, kehamilan yang tidak diinginkan dan usaha aborsi tidak aman diantara mereka. -

Informasi yang tepat tentang masalah seksual dan reproduksi bagi remaja sangant kurang dan akses pelayanan yang bersifat youth friendly juga tidak memadai bahkan hampir tidak ada.

-

Kurangnya pengetahuan dan komitmen petugas kesehatan untuk menganani masalah remaja dan terbatasnya fasilitas, membuat remaja tidak pernah mendapat perlindungan dan pemeliharaan dengan tepat.

-

Remaja merupakan kelompok marginal dan kesalahan yang mereka lakukan dianggap aib oleh masyarakat sehingga persoalan reproduksi remaja di Indonesia tidak diperhitungkan oleh pembuat kebijakan.

-

Fakta yang terbaru menyebutkan bahwa : 

15% remaja sudah melakukan hubungan seks diluar nikah

Jumlah penderita HIV-AIDS pada akhir tahun 2005 sebanyak 46,19% adalah remaja (usia 15-29 tahun) dimana 43,5% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 50% tertular lewat jarum suntik

60% dari pekerja seks di Indonesia adalah remaja perempuan berusia 24 tahun atau kurang dan 30% nya adalah mereka yang berumur 15 tahun atau kurang

20% dari 2,3 juta kasus aborsi setiap tahun di Indonesia dilakukan oleh remaja dan mereka mendapatkan tindakan aborsi tidak aman serta menyebabkan komplikasi yang dapat membawa mereka pada kematian.

-

Peran pengambil kebijakan dan petugas kesehatan 

Perlu dikaji ulang bagaimana peraturan maupun undang-undang yang ada (UU no 23 tentang kesehatan, UU no 10 tentang kependudukan dan isi KUHP), aspek sosial, adat dan budaya masyarakat yang banyak hal akan menghambat pemberian pelayanan bagi remaja

Petugas kesehatan baik pemerintah, swasta dan LSM yang punya komitmen terhadap kesehatan remaja, perlu memahami bahasa dan perilaku remaja agar dapat memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan karakteristik dan keinginan remaja

Pelayanan konseling juga diperlukan sebelum memberikan pelayanan kepada remaja, agar hak mereka untuk mendapatkan informasi dan

51


pelayanan dapat terpenuhi yang pada akhirnya remaja dapat terhindar dari IMS/HIV-AIDS, kehamilan tidak diinginkan dan usaha aborsi tidak aman. -

Solusi masalah 

Informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi yang dibutuhkan remaja sudah waktunya diberikan untuk melindungi mereka dari penularan IMS dan HIV/AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan

Pemberian pelayanan ini sebaiknya juga diberikan dalam satu paket dengan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja

-

Hal-hal yang perlu diperhatikan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pelayanan kontrasepsi pada remaja, antara lain : 

Pelajari dulu perilaku seksual remaja tersebut, apakah ia sudah mulai berhubungan seks sejak masih sangat muda, apakah ia berganti-ganti pasangan, adakah riwayat IMS, adakah riwayat kehamilan dan aborsi ?

Dasar pemberian kontrasepsi pada remaja adalah untuk pencegahan kehamilan dan pencegahan IMS, sebelum remaja siap untuk merubah perilakunya kembali pada fase abstinensi atau sebelum mereka siap membentuk sebuah keluarga dan mempunyai anak

Kontrasepsi pada remaja bersifat temporer dan harus tidak memberikan efek samping dan kesulitan pada pengembalian kesuburan

Pelayanan pap smir dan pemeriksaan laboratorium untuk skrinning IMS perlu dilakukan terutama bagi remaja yang sudah aktif berhubungan seksual lebih dari 1 tahun dan ada riwayat berganti-ganti pasangan.

KONTRASEPSI UNTUK PEREMPUAN BERUSIA LEBIH DARI 35 TAHUN Perempuan berusia lebih dari 35 tahun memerlukan kontrasepsi yang aman dan efektif karena kelompok ini akan mengalami peningkatan morbiditas dan mortalitas jika mereka hamil. Bukti-bukti terakhir menunjukkan bahwa baik pil kombinasi maupun suntikan kombinasi dapat digunakan dengan aman oleh klien >35tahun sampai masa menopause, jika tidak terdapat faktor resiko lain. Kekhawatiran tentang resiko kanker mamma pada pemakaian kontrasepsi hormonal sesudah usia 35 tahun, menurut penelitian terakhir tidak terbukti. Disamping terbukti turunnya tingkat prevalensi

52


kanker payudara diantara perempuan usia >35tahun, juga ternyata resiko kanker endometrium dan kanker ovarium juga turun. Namun, perempuan usia lebih 35 tahun yang merokok sebaiknya tidak menggunakan pil kombinasi atau pun suntikan komb inasi. Tabel : Berbagai cara kontrasepsi pada perempuan berusia >35 tahun Jenis Kontrasepsi Pil

kombinasi

/

Keterangan

Suntikan -

kombinasi

Sebaiknya tidak digunakan oleh perempuan >35tahun yang perokok

-

Perokok

berat

(>20batang

/hari)

jangan

menggunakan pil/suntikan kombinasi -

Pil kombinasi dosis rendah dapat berfungsi sebagai

terapi

sulih

hormon

pada

masa

perimenopause Kontrasepsi progestin (implant,

-

Dapat digunakan pada masa perimenopause

kontrasepsi suntikan progestin,

-

Dapat digunakan oleh perempuan berusia

kontrasepsi pil progestin)

>35th dan perokok -

Implan dapat digunakan pada perempuan >35 tahun yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang, tetapi belum siap untuk kontrasepsi mantap

AKDR

-

Dapat digunakan oleh perempuan >35 th yang tidak terpapar pada infeksi saluran reproduksi dan IMS

-

Kondom

-

AKDR Cu dan progestin : ď&#x201A;ˇ

Sangat efektif

ď&#x201A;ˇ

Tidak perlu tindak lanjut

ď&#x201A;ˇ

Efek jangka panjang

Satu-satunya metode kontrasepsi yang dapat mencegah infeksi saluran reproduksi dan IMS (HBV,HIV-AIDS)

-

Perlu motivasi tinggi bagi pasangan untuk mencegah kehamilan

53


Kontrasepsi mantap

-

Sangat tepat untuk pasangan yang benar-benar tidak ingin tambahan anak lagi

KONTRASEPSI PASCAPERSALINAN Pada umumnya klien pasapersalinan ingin menunda kehamilan berikutnya paing sedikit 2 tahun lagi, atau tidak ingin tamabahan anak lagi. Konseling tentang keluarga berencana atau metode kontrasepsi sebaiknya diberikan sewaktu asuhan antenatal maupun pascapersalinan. -

Klien pascapersalinan dianjurkan 

Memberi ASI eksklusif (hanya memberi ASI saja) kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Sesudah bayi berusia 6 bulan diberikan makanan pendamping ASI, dengan pemberian ASI diteruskan sampai anak berusia 2 tahun

Tidak menghentikan ASI untuk mulai suatu metode kontrasepsi

Metode kontrasepsi pada klien menyusui dipilih agar tidak mempengaruhi ASI atau kesehatan bayi

-

Infertilitas pascapersalinan 

Pada klien pascapersalinan yang tidak menyusui, masa infertilitas rata-rata berlangsung sekitar 6 minggu

Pada klien pascapersalinan yang menyusui, msa infertilitas lebih lama. Namun, kembalinya kesuburan tidak dapat diperkirakan

-

Metode amenorea laktasi (MAL) 

Menyusui secara eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama klien belum mendapat haid, dan waktunya kurang dari 6 bulan pascapersalinan. Efektivitas dapat mencapai 98%

Efektif bila menyusui lebih dari 8 kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per laktasi.

-

Saat mulai menggunakan kontrasepsi 

Waktu mulai kontrasepsi pascapersalinan tergantung dari status menyusui. Metode yang langsung dapat digunakan adalah : 1.

Spermisida

2.

Kondom

54


3. -

Koitus interuptus

Klien menyusui ď&#x201A;ˇ

Klien

menyusui

tidak

memerlukan

kontrasepsi

pada

6

minggu

pascapersalinan. Pada klien yang menggunakan MAL waktu tersebut dapat sampai 6 bulan. ď&#x201A;ˇ

Gambar berikut menunjukkan waktu yang dianjurkan untukm mulai suatu metode kontrasepsi. Jika klien menginginkan metode selain MAL, perlu didiskusikan efek samping metode kontrasepsi tersebut terhadap Laktasi dan kesehatan bayi. Sebagai contoh pil kombinasi dan suntikan kombinasi merupakan pilihan terakhir. Pil kombinasi, meskipun dengan pil dosis rendah (30-35 mg EE) akan mengurangi produksi ASI, dan secara teoritis akan berpengaruh terhadap pertumbuhan

normal bayi

pada

6-8

minggu

pascapersalinan. Tunggulah 8-12 minggu pascapersalinan sebelum mulai pil kombinasi atau suntikan kombinasi. Kontap

3 minggu

6

6

minggu

bulan

Metode Amenorea laktasi AKDR Kontap Kondom Kontrasepsi Progestin Kontrasepsi Kombinasi

-

Klien tidak menyusui ď&#x201A;ˇ

Klien tidak menyusui umumnya akan mendapat haid kembali dalam 4-6 minggu pascapersalinan. Kurang lebih 1/3 nya berupa siklus ovulatir. Oleh karena itu kontrasepsi harus mulai pada waktu atau sebelum hubungan seksual pertama pascapersalinan. Karena masalah pembekuan darah masih terdapat pada 2-3 minggu pascapersalinan, kontrasepsi kombinasi jangan dimulai sebelum 3 minggu pascapersalinan.

55


ď&#x201A;ˇ

Sebaiknya kontrasepsi progestin dapat segera dimulai pascapersalinan karena metode ini tidak meningkatkan resiko masalah pembekuan darah. Persalinan

3 minggu

6 minggu

6 bulan

AKDR Kontap Kondom Kontrasepsi Progestin Kontrasepsi Kombinasi Tabel Metode kontrasepsi pascapersalinan Metode kontrasepsi MAL

Kontrasepsi kombinasi

Waktu pascapersalinan - Mulai segera pasca persalinan - Efektivitas tinggi sampai 6 bulan pasca persalinan dan belum haid - Jika menyusui Jangan dipakai sebelum 6-8 minggu pascapersalinan Sebaiknya tidak dipakai dalam waktu 6minggu â&#x20AC;&#x201C; 6bln pasca persalinan - Jika pakai MAL tunda sampai 6 bulan - Jika tidak menyusui dapat dimulai 3 minggu pasca persalinan

56

Ciri-ciri khusus

Catatan

- Manfaat kesehatan bagi ibu dan bayi - Memberikan waktu untuk memilih metode kontrasepsi lain - Selama 6-8 minggu pasca persalinan, kontrasepsi kombinasi akan mengurangi ASI dan mempengaruhi tumbuh kembang bayi - Selama 3 minggu pasca persalinan, kontrasepsi kombinasi meningkatkan resiko masalah pembekuan darah - Jika klien tidak mendapat haid dan sudah berhubungan

- Harus benar-benar ASI eksklusif - Efektivitas berkurang jika mulai suplementasi - Kontrasepsi kombinasi merupakan pilihan terakhir pada klien menyusui - Dapat diberikan pada klien dengan riwayat preeklampsia atau hipertensi dalam kehamilan - Sesudah 3 minggu pasca persalinan tidak meningkatkan resiko pembekuan darah


Kontrasepsi progestin

AKDR

seksual, mulailah kontrasepsi kombinasi setelah yakin tidak ada kehamilan - Selama 6 minggu - Perdarahan pertama pasca ireguler dapat persalinan, terjadi progestin mempengaruhi tumbuh kembang bayi - Tidak ada pengaruh terhadap ASI

- Sebelum 6 minggu pasca persalinan, klien menyusui jangan menggunakan kontrasepsi progestin - Jika menggunakan MAL, kontrasepsi progestin dapat ditunda sampai 6 bulan - Jika tidak menyusui, dapat segera dimulai - Jika tidak menyusui, lebih dari 6 minggu pasca persalinan atau sudah haid kontrasepsi progestin dapat dimulai setelah yakin tidak ada kehamilan - Dapat dipasang - Tidak ada - Insersi langsung pasca pengaruh terhadap postplasental persalinan, ASI memerlukan sewaktu seksio - Efek petugas terlatih samping sesarea atau 48 khusus lebih sedikit pada jam pasca perlu klien yang - Konseling persalinan menyusui dilakukan sewaktu asuhan antenatal - Jika tidak, insersi - Angka pencabutan ditunda 4-6 minggu pasca AKDR tahun persalinan pertama lebih - Jika laktasi atau tinggi pada klien menyusui haid sudah dapat, - Ekspulsi sopntan insersi dilakukan sesudah yakin lebih tinggi 6-10% tidak ada pada pemasangan kehamilan pasca plasental - Sesudah 4-6 minggu pasca

57


Kondom spermisida

/ - Dapat digunakan setiap saat pascapersalinan

Diafragma

- Sebaiknya tunggu sampai 6 minggu pasca persalinan

KB alamiah

- Tidak dianjurkan sampai siklus haid kembali teratur

Koitus - Dapat digunakan setiap waktu interuptus atau abstinensia

Kontrasepsi mantap (tubektomi)

- Dapat dilakukan dalam 48 jam pasca persalinan - Jika tidak, tunggu sampai 6 minggu pasca persalinan

Vasektomi

- Dapat dilakukan setiap saat

58

persalinan teknik sama dengan pemasangan waktu interval - Tak ada pengaruh - Sebaiknya pakai terhadap laktasi kondom yang diberi pelicin - Sebagai cara sementara sambil memilih metode lain - Tak ada pengaruh - Perlu pemeriksaan terhadap laktasi dalam oleh petugas - Penggunaan spermisida membantu mengatasi masalah kekeringan vagina - Tidak ada - Lendir serviks pengaruh terhadap tidak keluar laktasi seperti haid reguler lagi - Suhu basal tubuh kurang akurat jika klien sering terbangun waktu malam untuk menyusui - Tidak ada - Beberapa pengaruh terhadap pasangan tidak sanggup untuk laktasi atau tumbuh kembang sbstinensi - Perlu konseling bayi - Abstinensi 100% efektif - Tidak ada - Perlu anestesi pengaruh terhadap lokal laktasi atau - Konseling sudah tumbuh kembang harus sewaktu bayi sauhan antenatal - Minilaparotomi pasca persalinan paling mudah dilakukan dalam 48jam pasca persalinan - Tidak segera - Merupakan salah efektif karena satu cara KB perlu sedikit 20 untuk pria


ejakulasi (+ 3bulan) sampai benar-benar steril KONTRASEPSI PASCA KEGUGURAN -

Keterkaitan asuhan pasca keguguran dengan Keluarga Berencana Asuhan pasca keguguran mungkin merupakan kesempatan yang langka bagi seorang perempuan terpapar dengan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, hal ini merupakan kesempatan untuk memberikan informasi dan pelayanan KB. Pelayanan kontrasepsi pasca keguguran mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Konseling tentang kontrasepsi 2. Jaminan tersedianya pasokan kontrasepsi 3. Akses terhadap asuhan lanjutan 4. Informasi tentang perlindungan terhadap IMS 5. Hal-hal khusus berkenan dengan pribadi klien, kondisi klinis dan kemampuan fasilitas kesehatan setempat

-

Waktu mulai Kontrasepsi pascakeguguran perlu dimulai segera karena ovulasi dapat terjadi 11 hari sesudah terapi keguguran / abortus. Sekurang-kurangnya klien perlu mendapat konseling dan informasi agar mereka mengerti bahwa : 1. Klien dapat hamil lagi sebelum haid berikutnya datang 2. Ada kontrasepsi yang aman untuk menunda atau mencegah kehamilan 3. Dimana dan bagaimana klien dapat memperoleh pelayanan

-

Jenis kontrasepsi yang dapat dipakai 1. Kontrasepsi yang dianjurkan sesudah keguguran trisemester I, sama dengan yang dianjurkan pada masa interval 2. Kontrasepsi yang dianjurkan sesudah keguguran trisemester II, sama dengan yang dianjurkan pada masa pasca persalinan Tabel : Metode kontrasepsi pasca keguguran Metode kontrasepsi Pil kombinasi

Waktu mulai penggunaan - Segera dimulai

Ciri-ciri khusus

Catatan

- Dapat segera - Jika konseling dan dimulai walaupun informasi belum terdapat infeksi cukup, tunda suntikan pertama - Sangat efektif atau pemasangan - Langsung efektif

Kontrasepsi prograstin Suntikan

59


kombinasi Implan

AKDR

Trisemester I - AKDR dapat langsung dipasang jika tidak ada infeksi - Tunda pemsangan sampai luka atau infeksi sembuh, perdarahan diatasi, anemia diperbaiki Trisemester II

Kondom spermisida KB alamiah

Tubektomi

- Mengurangi kehilangan darah/anemia

-

-

-

-

-

implan. Berikan metode sementara Untuk implan perlu tenaga terlatih Jika konseling dan informasi belum cukup, tunda pemasangan Perlu tenaga terlatih untuk pemasangan AKDR Pada trisemester II kemungkinan resiko perforasi sewaktu pemasangan lebih besar

- Tunda pemasangan 4-6 minggu pasca keguguran kecuali jika tenaga terlatih dan peralatan untuk insersi tersedia - Yakinkan tidak ada infeksi. Jika ternyata ada infeksi, tunda pemasangan sampai infeksi teratasi 3 bulan / - Mulai segera - Metode sederhana sewaktu mulai sambil menunggu hubungan seksual metode lain - Tidak dianjurkan - Waktu ovulasi pertama pasca keguguran sulit diperkirakan - Secara teknis, - Minilaparotomi - Perlu konseling tubektomi dapat sesudah dan informasi keguguran yang cukup langsung trisemester I sama dikerjakan dengan waktu sewaktu terapi interval keguguran kecuali jika ada - Sesudah perdarahan keguguran trisemester II sma banyak atau

60


infeksi

dengan prosedur pasca persalinan

Tabel : Panduan Metode kontrasepsi pada beberapa kondisi klinis Kondisi klinis

Perlu hari-hati

- AKDR : jangan dipasang sampai - Tanda â&#x20AC;&#x201C;tanda infeksi infeksi teratasi (3 - Tanda-tanda aborsi bulan) tidak aman - Tubektomi : jangan - Tidak menyingkirkan dilakukan sampai infeksi infeksi teratasi (3 bulan) Perlukan jalan lahir - AKDR jangan dipasang sampai perlukaan - Perforasi uterus sembuh - Perlukan vagina atau - Diafragma jangan serviks dipasang sampai perlukaan sembuh - Spremisida jangan dipasang sampai perlukaan sembuh - Tubektomi jangan dipasang sampai perlukaan sembuh Perdarahan banyak - Implan tunda sampai anemia diatas Hb <8% - Kontrasepsi suntik tunda sampai anemia diatas - Kontrasepsi progestin tunda sampai anemia diatas - AKDR tunda sampai anemia diatas - Tubektomi tunda sampai anemia diatas Infeksi

61

Rekomendaasi - Kontrasepsi kombinasi dapat segera diberikan - Kontrasepsi progestin dapat segera diberikan - Barier dapat digunakan

- Kontrasepsi kombinasi dapat segera diberikan - Kontrasepsi progestin dapat segera diberikan - Barier dapat digunakan

- Kontrasepsi kombinasi dapat segera diberikan - Kontrasepsi progestin dapat segera diberikan - Barier dapat digunakan


J. KONDISI YANG DIHARAPKAN KONDISI SEKARANG 1. Tingginya sebesar

KONDISI YANG DIHARAPKAN

Angka Kematian 39

kasus

Ibu

1

Percepatan Penurunan Angka Kematian

kematian

Ibu menjadi <70 / 100.000 Kelahiran

(89/100.000 Kelahiran Hidup) pada

Hidup pada akhir 2014 dan <50 /

tahun 2013

100.000 Kelahiran Hidup pada akhir 2014

2. Adanya lonjakan kasus kematian 2

Terjadinya penurunan kasus kematian

dari 25 kasus pada tahun 2012

Ibu menjadi 75% pada akhir tahun 2014

menjadi 39 kasus pada tahun 2013.

dan 50% pada akhir tahun 2015

3. Angka Kematian Bayi Baru Lahir ( 3

Angka Kematian Bayi Baru Lahir dapat

yang sebagian besar disebabkan

dipertahankan

oleh BBLR / Bayi Berat Badan

Kelahiran Hidup pada akhir tahun 2014

Lahir Rendah) sebesar 176 kasus

dan < 4 / 1.000 Kelahiran Hidup pada

kematian

akhir tahun 2015

(4,02/1.000

Kelahiran

sebesar

4

/

1.000

Hidup) pada tahun 2013 4. Tingginya Angka Kebutuhan berKB yang tidak Terpenuhi (Unmet Need) sebesar 10,49% pada tahun 2013

4

Penurunan Angka Kebutuhan ber-KB yang tidak Terpenuhi (Unmet Need) menjadi 9% pada akhir 2014 dan 6,5% pada akhir 2015

62


K. ALUR PELAPORAN PROGRAM SUTERA EMAS PEMERINTAH KABUPATEN MALANG DINAS KESEHATAN Jalan Panji 120 Kepanjen

PROGRAM SUTERA EMAS ( SURVEILANS EPIDEMIOLOGI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT )

KONDISI SAAT INI

L. ALUR

PELAPORAN

PROGRAM

BERENCANA

63

CONTRA

WAR

BADAN

KELUARGA


M. ALUR KEGIATAN PROGRAM CONTRA WAR BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG GRAND STRATEGY PERCEPATAN PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN PROGRAM CONTRA WAR ( CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK ) DI KABUPATEN MALANG

Pelaksanaan Surveilans Aktif Oleh Kader KB Setiap Saat / REAL TIME  ONE RT - ONE CADRE

Setelah penderita dinyatakan sembuh dari penyakit nya atau sudah dinyatakan layak menjalani kehamilan, maka atas rekomendasi Dokter dilakukan penghentian penggunaan kontrasepsi

7

Kader KB Melaporkan Data WUS (wanita usia subur) yang Belum Ber KB Kepada PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) setiap saat ( REAL TIME ) Proses Penapisan Reproduksi dan Pemilihan Kontrasepsi yg tepat bagi WUS Risti sesuai Rekomendasi dari Dokter Puskesmas / Dokter Spesialis, serta sekaligus dilakukan Penatalaksanaan terhadap Penyakit nya sampai sembuh

Hamil Normal dan Persalinan Aman

Bidan desa melakukan Pemeriksaan untuk Mengetahui faktor resiko Tinggi yang ada

Bidan Desa / PLKB Melakukan kunjungan Ke lokasi ( Home Visit )

Rujukan WUS Risti ke Puskesmas / Rumah Sakit

Tim Contra War Melakukan Analisa Kasus dan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat

PLKB mengirimkan laporan melalui SMS Gateway ke server Contra WaR setiap saat ( REAL TIME )

Penurunan Angka Kematian Ibu & Bayi

N. ALUR PELAPORAN KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS PEMERINTAH KABUPATEN MALANG BADAN KELUARGA BERENCANA Jalan Trunojoyo 10 Kepanjen Malang 65163 Telp (0341)395294 Fax (0341)397300 website : http//kb.malangkab.go.id email : kb@malangkab.go.id

KOLABORASI PROGRAM

CONTRA WAR ( CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK ) DAN SUTERA EMAS ( SURVEILANS EPIDEMIOLOGITERPADU BERBASIS MASYARAKAT )

KONDISI YANG DIHARAPKAN Pengiriman informasi ke PLKB Bidan melaporkan hasil temuan penyakit mell sms gateway ke server

SUTERA EMAS

Server CONTRA WAR

Kader Memberikan informasi seluruh kasus kesakitan kpd Bidan desa / Perawat Desa setiap saat ( real time )

Ke lokasi (Home Visit)

PPLKB, PKB, PLKB

Menemukan kasus di wil RT nya ( one RT – one Cadre )

64

Bidan Des a & PLKB melakukan home visit dan mempersiapkan penatalaksanaan selanjutnya sesuai prosedur


O. Model Konfigurasi Jaringan Server Contra War – Sutera Emas Grid Antena

Grid Antena

TP Link 5210 TP Link 5210 Router Hub

PC Server SMS Gateway

Server DINKES

Wavecom FastLink GSM modem

P. ALUR KEGIATAN

KOLABORASI

PROGRAM

CONTRA WAR

DAN

SUTERA EMAS GRAND STRATEGY PERCEPATAN PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR ( CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK ) & SUTERA EMAS ( SURVEILANS EPIDEMIOLOGI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT ) DI KABUPATEN MALANG

Pelaksanaan Surveilans Aktif Oleh Kader Kesehatan & KB Setiap Saat / REAL TIME  ONE RT - ONE CADRE

Bidan Desa /Perawat / PLKB melakukan home visit sesuai

7

guidance

Rujukan WUS Risti ke Puskesmas / Rumah Sakit

Kader kesehatan / KB Melaporkan Semua Temuan Kasus Kepada Bidan Desa / Perawat Ponkesdes / PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) setiap saat ( REAL TIME )

Tim Contra War Melakukan Analisa Kasus dan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat

Penetapan Suspect Dx / Dx Kerja oleh Bidan Desa / Perawat Ponkesdes/ Dokter Puskesmas

Bidan Desa / Perawat Ponkesdes melakukan Konfirmasi Kasus Ke lokasi ( Home Visit )

Data WUS Risti by name /by case/ by address tsb secara otomatis akan dikirim oleh server Contra WaR ke masing2 nomor HP PLKB yang telah ter Registrasi sesuai Lokasi kasus ( REAL TIME )

Laporan Kasus Kesakitan by name/by case/by address pada WUS Risti (Wanita Usia Subur Beresiko Tinggi) yang Belum Hamil & Ber KB ( Unmetneed ) yang ditangkap oleh server Sutera Emas  secara otomatis akan diteruskan ke server Contra WaR ( REAL TIME )

Proses Penapisan Reproduksi Setelah penderita dan Pemilihan dinyatakan sembuh Kontrasepsi yg tepat dari penyakit nya bagi WUS Risti sesuai atau sudah dinyatakan Rekomendasi dari layak menjalani Dokter Puskesmas / kehamilan, Dokter Spesialis, serta maka atas rekomendasi Dokter dilakukan sekaligus dilakukan penghentian Penatalaksanaan terhadap penggunaan Penyakit nya sampai kontrasepsi sembuh

65

Hamil

Bidan Desa / Perawat Ponkesdes mengirimkan laporan melalui SMS Gateway ke server Sutera Emas setiap saat ( REAL TIME )

Normal dan Persalinan Aman

Penurunan Angka Kematian Ibu & Bayi


Q. PERBEDAAN PENDEKATAN PROGRAM SUTERA EMAS

CONTRA WAR

1. Surveilans aktif terhadap penyakit

1. Surveilans aktif terhadap Wanita

menular, penyakit tidak menular,

Usia Subur dari Pasangan Usia

penyakit

Subur yang butuh ber KB tetapi

tinggi

bawaan,

kebidanan

faktor dan

resiko

masalah-

belum terlayani (unmetneed)

masalah kesehatan lainnya 2. Pelaksana surveilans adalah kader 2. Pelaksana surveilans adalah kader

kesehatan / posyandu terlatih

PPKBD

(Petugas

Pembantu

Keluarga Berencana Desa) dan Sub PPKBD (Sub

Petugas Pembantu

Keluarga Berencana Desa) terlatih

3. Koordinator surveilans tingkat desa 3. Koordinator surveilans tingkat desa

adalah Bidan Desa

adalah PPLKB (Pembantu Petugas Lapangan Keluarga Berencana)

4. Koordinator

surveilans

kecamatan/wilayah Puskesmas Sutera

adalah

Emas

dan

tingkat kerja

Koordinator

4. Koordinator

surveilans

tingkat

kecamatan adalah PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana)

Koordinator

Bidan Puskesmas 5. Data diperoleh dari kegiatan luar 5. Data diperoleh dari kegiatan dalam

gedung

gedung dan luar gedung

6.

Berfungsi ganda dalam pemetaan sasaran baru program kesehatan

6. Berfungsi ganda

akseptor aktif by name, by address 7. Apabila

by name, by address

66

dalam pemetaan

dilakukan

sendiri

akan


kurang 7. Bermanfaat

sebagai

kewaspadaan Kejadian

Luar

dini

dalam

pencegahan kematian Ibu dan Bayi

sistem

baru lahir

terhadap

Biasa

bermanfaat

serta

pencegahan terhadap kematian Ibu dan Bayi baru lahir

R.

PERBEDAAN OUTPUT PROGRAM

KOLABORASI PROGRAM

CONTRA WAR

CONTRA W AR DAN SUTERA EMAS

1. Surveilans aktif terhadap Wanita

1. Surveilans aktif terhadap Wanita

Usia Subur dari Pasangan Usia

Usia Subur dari Pasangan Usia

Subur yang butuh ber KB tetapi

Subur yang butuh ber KB tetapi

belum terlayani (unmetneed)

belum terlayani (unmetneed) yang sedang menderita penyakit menular, penyakit

tidak

menular,

penyakit

bawaan serta mempunyai riwayat faktor resiko tinggi kebidanan pada kehamilan sebelumnya

2. Pelaksana surveilans adalah kader PPKBD dan Sub PPKBD terlatih

2. Pelaksana surveilans adalah kader PPKBD

dan Sub PPKBD , serta

Kader Kesehatan / Posyandu terlatih

3. Koordinator surveilans tingkat desa adalah PPLKB (Pembantu Petugas

3. Koordinator surveilans tingkat desa adalah PPLKB (Pembantu Petugas

67


Lapangan Keluarga Berencana)

Lapangan Keluarga Berencana) dan Bidan Desa

4. Koordinator 4. Koordinator

surveilans

tingkat

surveilans

tingkat

kecamatan adalah PLKB (Petugas

kecamatan adalah PLKB (Petugas

Lapangan

Lapangan Keluarga Berencana)

Koordinator

Keluarga Sutera

Berencana), Emas

dan

Koordinator Bidan Puskesmas

5. 5. Data diperoleh dari kegiatan dalam

Data diperoleh dari kegiatan dalam dan luar gedung dan berlangsung

gedung dan luar gedung

secara terus menerus 24 jam non stop serta pelaporannya realtime

6. Berfungsi ganda dalam pemetaan akseptor aktif by name, by address

6. Berfungsi ganda

dalam pemetaan

akseptor aktif dan sasaran baru program kesehatan by name, by address (bermanfaat untuk update 7. Apabila kurang

dilakukan

sendiri

bermanfaat

data akseptor aktif dan unmetneed)

akan dalam

pencegahan kematian Ibu dan Bayi

7.

Apabila dilakukan secara kolaboratif maka akan ada guidance dalam

baru lahir

penemuan bagi

dan

Wanita

penatalaksanaan

Usia

Subur

yang

berisiko tinggi, sehingga bisa segera dilakukan intervensi dengan penggunaan metode KB yang tepat selama menjalani pengobatan terhadap penyakitnya 8. Mungkin

akan

terjadi

double

recording dalam pelaporan Wanita Usia Subur yang berisiko tinggi

68

8. Sangat kecil kemungkinan terjadi


under dan double recording dalam 9.

Update data peserta KB Aktif dan

pelaporan Wanita Usia Subur yang

unmetneed

berisiko tinggi

perolehan

tergantung data

yang

dari tanpa

guidance (pedoman)

9. Update data peserta KB Aktif dan unmetneed sangat mudah dan cepat dilakukan

karena

guidance 10. Jumlah calon akseptor baru dari kelompok WUS Risti (unmetneed) yang

menjalani

sudah

tersedia

(pedoman)

yang

merupakan output data dari Program Sutera Emas

penapisan

reproduksi terbatas.

10. Jumlah calon akseptor baru dari kelompok WUS Risti (unmetneed) yang reproduksi

menjalani tidak

penapisan terbatas

dan

datanya di eksport secara otomatis oleh server Sutera Emas ke server contra War

69


S. PROGRAM - PROGRAM UNGGULAN DINAS KESEHATAN DAN BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG NO 1

SASARAN A PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN EMERGENCY MATERNAL NEONATAL

PROGRAM EMAS

TUJUAN PENURUNAN AKI, AKB

SEKTOR TERKAIT USAID, DINAS KESEHATAN, RS PEMERINTAH / SWASTA, RB, KLINIK, DPS DAN BPS

SUMBER DANA USAID, APBD, CSR

B PENINGKATAN KUALITAS SISTEM RUJUKAN EMERGENCY 2 SASARAN BARU IBU HAMIL 3

4

1. PENURUNAN AKI DAN AKB

A. MONITORING KEHAMILAN RESIKO TINGGI B. REMINDER WAKTU PERSALINAN SUTERA EMAS

A. RUJUKAN IBU HAMIL TERENCANA B. SURVEILANS PENYAKIT MENULAR, TIDAK MENULAR DAN FAKTOR RESIKO TINGGI DIBIDANG KESEHATAN

5 WUS (UNMETNEED) BERESIKO TINGGI

CONTRA WAR

6 SOSIALISASI PENURUNAN AKI & AKB, UNMETNEED, TFR

2. PENURUNAN ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN AKIBAT PENYAKIT MENULAR & TIDAK MENULAR PENURUNAN AKI & AKB, UNMETNEED, TOTAL FERTILITY RATE, PENINGKATAN CONTRACEPTIVE PREVALENCE RATE

APBD PEMPROV, APBD PEMPROV, PEMKAB, AIPD-AusAID, KABUPATEN, AIPD PKK, APPI, CSR AusAID, CSR

BKKBN PUSAT, BKKBN PROV., BKKBN, AusAID, PEMKA PEMKAB MALANG, AusAID, CSR, CSR, SWADAYA PKK, APPI, DINAS KESEHATAN, RS PEMERINTAH / SWASTA, RB, KLINIK, DPS DAN BPS, ORMAS, KADER KESEHATAN, PPLKB, PKB, PLKB, PKBD, PPKBD

PEMANFAATAN PROGRAM UNGGULAN DINAS KESEHATAN DAN BADAN KELUARGA BERENCANA DALAM RANGKA PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR

 PERIODE PRA NIKAH

CONTRA WAR

 PERIODE PRA

KEHAMILAN SUTERA EMAS

 PERIODE KEHAMILAN  PERIODE PERSALINAN

EMAS

 PERIODE NIFAS DAN

NEONATAL

70


T. PENGORGANISASIAN

Bupati + 10

DPRD +8

Sekda +10 Ass Adm

PKK +8

Ass Kesra +10

RSUD +10

+10

EMAS USAID +10

KP3A +10

Tim Medis / Paramedis RSUD +10

Pemerintahan

Bappeda +10

Badan Keluarga Berencana (Tim Contra War )

Tim Sutera

DINKES +10

PUSKESMAS +10

Emas +10

Camat +9

PPLKB +10

CW – SE

Collaboration program stakeholdership

Bidan Desa +10

Kader Kes +10

Bagian Hukum +9

AIPD AusAid +10

Lur ah / Kades +9

PLKB +10

Kepala RW / RT +9

Kader KB +10

Keterangan : 1. Reporting 2. Coordinating 3. Advocation 4. Funding 5. Information 6. Tim Kolaborasi Contra War – Sutera Emas

U. IDENTIFIKASI STAKEHOLDER INTERNAL DAN EKSTERNAL INTERNAL NO

DESKRIPSI

PERAN

PENGARUH

1

Sekretaris Daerah Kabupaten Malang

Sponsor

Positif Primer / Besar

2

Kepala Badan KB

Ketua

Positif Primer / Besar

3

Sekretaris Badan

Sekretaris

Positif Primer / Besar

4

Kepala Bidang Keluarga Berencana pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

5

Kepala Bidang Keluarga Sejahtera pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

6

Kepala Bidang Penggerakan Masyarakat

Anggota

Positif Primer / Besar

71


pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

7

Kepala Bidang Data & Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

8

Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

9

Kepala Sub Bagian Keuangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

10

Kepala Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi & Pelaporan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

11

Kepala Sub Bidang Jaminan Pelayanan KB/KR pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

12

Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi Remaja pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

13

Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Ekonomi Keluarga pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

14

Kepala Sub Bidang Pembinaan Ketahanan Keluarga pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

15

Kepala Sub Bidang Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

16

Kepala Sub Bidang Institusi dan Peran Serta pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

17

Kepala Sub Bidang Pengolahan Data dan Informasi pada Badan Keluarga

Anggota

Positif Primer / Besar

72


Berencana Kabupaten Malang;

18

Kepala Sub Bidang Penyebarluasan Data dan Pengembangan Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

19

Staf pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang.Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

20

Pengendali Petugas Lapangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 33 Kecamatan;

Anggota

Positif Primer / Besar

21

Penyuluh pada pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 33 Kecamatan;

Anggota

Positif Primer / Besar

22

Petugas Lapangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 390 Desa/Kelurahan.

Anggota

Positif Primer / Besar

a. Mayasari Dwi Agustina, SE b. Mochammad Choris c. Sasongko Hudi Brahmatyo, S.Kom d. Riko Andi Fardias e. Atik Dian Setyo Utami, SE

EKSTERNAL NO

DESKRIPSI

PERAN

PENGARUH

1

Kepala Badan KB

Ketua

Positif Primer / Besar

2

Asisten Kesejahteraan Rakyat

Anggota

Positif Primer / Besar

3

Kepala Bappeda

Anggota

Positif Primer / Besar

4

Kepala Badan Keluarga Berencana

Anggota

Positif Primer / Besar

5

Kepala Dinas Kesehatan

Anggota

Positif Primer / Besar

6

Direktur RSUD Kanjuruhan

Anggota

Positif Primer / Besar

73


7

Kepala Kantor Pemberdayaan Anggota Perempuan dan Perlindungan Anak

Positif Primer / Besar

8

District Facilitator Program AIPD AusAid

Anggota

Positif Primer / Besar

District Facilitator Program EMAS USAID

Anggota

Positif Sekunder / Besar

Wakil Ketua Tim Sutera Emas

Anggota

Positif Primer / Besar

9 10

Keterangan - Primer

: Langsung dipengaruhi program

- Sekunder : Tidak langsung dipengaruhi program

V. TATA KELOLA PROYEK Struktur

Deskripsi Sponsor Proyek ( Sekretaris Daerah )

Sponsor Proyek

Sekretaris Daerah Coach

 Project leader

Memberikan persetujuan, dukungan, arahan dan saran terhadap kegiatan proyek perubahan. Membantu menyelesaikan hambatan.

Coach  Memberikan bimbingan, monitoring kegiatan, dan memberikan intervensi terhadap permasalahan yang dihadapi.

Kepala Badan Keluarga Berencana

Tim Internal (Tim Contra WaR) terdiri dari :

Project Leader (Kepala Badan KB)  Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan proyek perubahan.  Mendorong pencapaian kinerja, memantau dan menindak lanjuti kemajuan proyek.  Membantu menyelesaikan hambatan yang terjadi.  Menentukan Ketua Tim Internal dan Tim Eksternal  Menentukan tugas pokok dan fungsi masing-masing Tim.  Melakukan monitoring dan evaluasi kinerja Tim Internal dan Tim Eksternal

1. 2.

Tim Internal Contra WaR

Tim Internal

Tim Eksternal

Tim Contra WaR

Tim

Keterangan :

Kepala Badan KB Sekretaris Badan

74


3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18.

19. 20. 21.

Kepala Bidang Keluarga Berencana pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Bidang Keluarga Sejahtera pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Bidang Penggerakan Masyarakat pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Bidang Data & Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bagian Keuangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi & Pelaporan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Jaminan Pelayanan KB/KR pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi Remaja pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Ekonomi Keluarga pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Pembinaan Ketahanan Keluarga pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Institusi dan Peran Serta pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Pengolahan Data dan Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Penyebarluasan Data dan Pengembangan Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Staf pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang.Kabupaten Malang; a. Mayasari Dwi Agustina, SE b. Mochammad Choris c. Sasongko Hudi Brahmatyo, S.Kom d. Riko Andi Fardias e. Atik Dian Setyo Utami, SE Pengendali Petugas Lapangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 33 Kecamatan; Penyuluh pada pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 33 Kecamatan; Petugas Lapangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 390 Desa/Kelurahan.

   

 

Menyusun draft SK Bupati tentang Contra WaR Menyusun Buku Pedoman Program Contra War Menyusun Buku Pedoman Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Menyusun Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Tim Medis Rumah Sakit dan Dokter Puskesmas Menyusun Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Bidan Rumah Sakit dan Bidan Puskesmas Menyusun Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Bidan Desa dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana Menyusun Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Kader Keluarga Berencana Menetapkan tugas pokok dan fungsi masing-masing anggota tim Melaksanakan sosialisasi bagi anggota Tim Kolaborasi Program Contra W aR Sutera Emas bagi Pengurus PKK Kabupaten Melaksanakan sosialisasi dan bimbingan teknis bagi Kepala Puskesmas,Paramedis RSUD Kanjuruhan, PKB, PPLKB, PLKB,Bidan Desa dan Kader KB Melaksanakan monitoring, evaluasi dan penyempurnaan Program Contra WaR periode jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Tim Eksternal Tim Eksternal ( Tim Kolaborasi Program Contra WaR – Sutera Emas ) terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Asisten Kesejahteraan Rakyat Kepala Bappeda Kepala Badan Keluarga Berencana Kepala Dinas Kesehatan Direktur RSUD Kanjuruhan Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak District Facilitator Program AIPD AusAid District Facilitator Program EMAS USAID Wakil Ketua Tim Sutera Emas

   

75

Menyempurnakan rumusan draft SK Bupati tentang Tim Kolaborasi Program Contra WaR Sutera Emas Menetapkan tugas pokok dan fungsi masing-masing anggota tim Menyempurnakan Buku Panduan Kolaborasi Program Contra WaR - Sutera Emas Menyempurnakan Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Tim Medis Rumah Sakit dan Dokter Puskesmas Menyempurnakan Buku Pedoman Teknis


 

Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Bidan Rumah Sakit dan Bidan Puskesmas Menyempurnakan Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Bidan Desa dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana Menyempurnakan Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Kader Keluarga Berencana Mempersiapkan sumber daya Kolaborasi Program Contra WaR- Sutera Emas di instansi masing -masing Melaksanakan monitoring, evaluasi dan penyempurnaan Kolaborasi Program Contra WaR Sutera Emas pada periode Jangka Menengah dan Jangka Panjang secara periodik Menyusun rencana anggaran pengembangan Kolaborasi Program Contra WaR – Sutera Emas pada periode Jangka Menengah dan Jangka Panjang Menilai out come Kolaborasi Program Contra WaR – Sutera Emas Berupa Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir pada periode Jangka Panjang Melaporkan pelaksanaan Kolaborasi Program Contra WaR– Sutera Emas secara periodik kepada sponsor program (Sekretaris Daerah) dan Bupati.

W. MANFAAT KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS Manfaat

dari

proyek

perubahan

Percepatan

Penurunan

Angka

Kematian Ibu dan Bayi dengan metoda kolaborasi program Contra WaR (Contraceptive for Women at Risk) dan Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) adalah : 1. Meningkatkan kinerja Badan Keluarga Berencana sesuai visi dan misi Pemerintah Kabupaten Malang 2. Memudahkan petugas untuk dapat mengetahui sasaran Unmet Need (WUS yang butuh ber KB tetapi belum terlayani) by name, by address dan by case 76


3. Meningkatkan pemahaman petugas bahwa peningkatan cakupan akseptor KB baru seharusnya berbanding lurus dengan penurunan AKI dan AKB 4. Mengurangi mindset ego sektoral dan ego program 5. Merangsang semangat petugas untuk bekerja lebih inovatf dan lebih bertanggung jawab 6. Memudahkan petugas dalam melakukan pendampingan terhadap akseptor KB dari kelompok Unmet Need dalam melaksanakan kehamilan yang terencana 7. Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral 8. Meningkatkan

kwalitas

pelayanan

keluarga

berencana

bagi

masyarakat 9. Data Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmetneed) yang sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit bawaan serta mempunyai riwayat faktor resiko tinggi kebidanan pada kehamilan sebelumnya, dapat diperoleh secara otomatis dari server Sutera Emas Dinas Kesehatan 10. Data diperoleh dari kegiatan surveilans yang berlangsung secara terus menerus 24 jam non stop serta pelaporannya berlangsung realtime (setiap saat) 11. Sasaran baru program kesehatan by name, by address bermanfaat untuk update data akseptor aktif dan unmetneed 12. Adanya

guidance

yang

mempermudah

penemuan

dan

penatalaksanaan Wanita Usia Subur yang berisiko tinggi 13. Meminimalisir kemungkinan terjadinya under dan double recording dalam pelaporan data Wanita Usia Subur berisiko tinggi 14. Update data peserta KB Aktif dan unmetneed sangat mudah dan cepat dilakukan karena sudah tersedia guidance (pedoman) yang merupakan output data dari Program Sutera Emas 77


15. Jumlah calon akseptor baru dari kelompok WUS Risti (unmetneed) yang menjalani penapisan reproduksi tidak terbatas karena datandata tersebut di ekspor secara otomatis oleh server Sutera Emas ke server Contra WaR 16. Data by name by address WUS Risti dari server Contra War akan terkirim secara otomatis ke nomor-nomor HP PPLKB 17. Terjadinya peningkatan cakupan Akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur (Unmet Need) beresiko tinggi melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penyakit (menular , tidak menular atau bawaan) dan mempunyai faktor-faktor resiko terhadap kehamilan, serta pernah mempunyai riwayat kehamilan beresiko tinggi sebelumnya, yang dapat membahayakan proses kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan penggunaan kontrasepsi yang tepat selama masa penyembuhan penyakitnya

sesuai rekomendasi dokter

puskesmas dan dokter spesialis 18. Terajadinya peningkatan pelayanan kesehatan bagi akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur ber resiko tinggi (Unmet Need) 19. Mempercepat rencana aksi Pemerintah Kabupaten Malang dalam pencapaian tujuan MDGâ&#x20AC;&#x2122;s

X. KRITERIA KEBERHASILAN 1. Penurunan Angka Kebutuhan ber-KB yang tidak Terpenuhi (Unmet Need) menjadi 9% pada akhir 2014 dan 6,5% pada akhir 2015 2. Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu menjadi <70 / 100.000 Kelahiran Hidup pada akhir 2014 dan <50 / 100.000 Kelahiran Hidup pada akhir 2015 3. Terjadinya penurunan kasus kematian Ibu menjadi 75% pada akhir tahun 2014 dan 50% pada akhir tahun 2015 78


4. Angka Kematian Bayi Baru Lahir dapat dipertahankan sebesar 4 / 1.000 Kelahiran Hidup pada akhir tahun 2014 dan < 4 / 1.000 Kelahiran Hidup pada akhir tahun 2015 5. Peningkatan cakupan Akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur (Unmet Need) beresiko tinggi melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penyakit

(menular , tidak menular atau bawaan) dan mempunyai

faktor-faktor resiko terhadap kehamilan, serta pernah mempunyai riwayat

kehamilan

beresiko

tinggi

sebelumnya,

yang

dapat

membahayakan proses kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan penggunaan kontrasepsi yang tepat selama masa penyembuhan penyakitnya

sesuai rekomendasi dokter puskesmas dan dokter

spesialis 6. Peningkatan pelayanan kesehatan bagi akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur ber resiko tinggi (Unmet Need)

Y. CONTOH-CONTOH PENYAKIT PADA WANITA USIA SUBUR YANG DAPAT MENYEBABKAN KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TBC PARU

Penderita yang terserang basil tersebut biasanya akan mengalami demam tapi tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Gejala 79


lain, penurunan nafsu makan dan berat badan, batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah), perasaan tidak enak (malaise), dan lemah. Gejala utama : Batuk terus-menerus dan berdahak selama tiga pekan atau lebih. Gejala tambahan yang sering dijumpai 

Dahak bercampur darah/batuk darah

Sesak nafas dan rasa nyeri pada dada

Demam/meriang lebih dari sebulan

Berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas

Badan lemah dan lesu

Nafsu makan menurun dan terjadi penurunan berat badan

Paling mudah untuk mengetahui seseorang terkena tuberkulosis jika dia berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas. Walaupun tidak bisa langsung ditetapkan tuberkulosis karena harus didiagnosis, tapi itu salah satu pertanda. Jika Anda lemas, batuk tak berhenti, nyeri pada dada, dan keringat pada malam hari, langsung segera periksa," tambah dr Arifin Nawas Sp(P), salah seorang tenaga ahli klinis tuberkulosis

di

RSUP

Persahabatan

di

tempat

sama.

Penyebab Infeksi TBC Penyakit ini diakibatkan infeksi kuman mikobakterium tuberkulosis yang dapat menyerang paru, ataupun organ-organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, usus, ginjal, kandungan, tulang, sampai otak. TBC dapat mengakibatkan kematian dan merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan kematian tertinggi di negeri ini. Kali ini yang dibahas adalah TBC paru. TBC sangat mudah menular, yaitu lewat cairan di saluran napas yang keluar ke udara lewat batuk/bersin & dihirup oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak semua orang yang menghirup udara yang mengandung kuman TBC akan sakit.

80


Pada orang-orang yang memiliki tubuh yang sehat karena daya tahan tubuh yang tinggi dan gizi yang baik, penyakit ini tidak akan muncul dan kuman TBC akan "tertidur". Namun,pada mereka yang mengalami kekurangan gizi, daya tahan tubuh menurun/ buruk, atau terus-menerus menghirup udara yang mengandung kuman TBC akibat lingkungan yang buruk, akan lebih mudah terinfeksi TBC (menjadi 'TBC aktif') atau dapat juga mengakibatkan kuman TBC yang "tertidur" di dalam tubuh dapat

aktif

kembali

(reaktivasi).

Infeksi TBC yang paling sering, yaitu pada paru, sering kali muncul tanpa gejala apa pun yang khas, misalnya hanya batuk-batuk ringan sehingga sering diabaikan dan tidak diobati. Padahal, penderita TBC paru dapat dengan mudah menularkan kuman TBC ke orang lain dan kuman TBC terus merusak jaringan paru sampai menimbulkan gejalagejala yang khas saat penyakitnya telah cukup parah. Pengobatan Penyakit TBC Untuk mendiagnosis TBC, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama di daerah paru/dada, lalu dapat meminta pemeriksaan tambahan berupa foto rontgen dada, tes laboratorium untuk dahak dan darah, juga tes tuberkulin (mantoux/PPD). Pengobatan TBC adalah pengobatan jangka panjang, biasanya selama 6-9 bulan dengan paling sedikit

3

macam

obat.

Kondisi ini diperlukan ketekunan dan kedisiplinan dari pasien untuk meminum obat dan kontrol ke dokter agar dapat sembuh total. Apalagi biasanya setelah 2-3 pekan meminum obat, gejala-gejala TBC akan hilang sehingga pasien menjadi malas meminum obat dan kontrol ke dokter. Jika pengobatan TBC tidak tuntas, maka ini dapat menjadi berbahaya karena sering kali obat-obatan yang biasa digunakan untuk TBC tidak mempan pada kuman TBC (resisten). Akibatnya, harus diobati dengan 81


obat-obat lain yang lebih mahal dan "keras". Hal ini harus dihindari dengan

pengobatan

TBC

sampai

tuntas.

Pengobatan jangka panjang untuk TBC dengan banyak obat tentunya akan menimbulkan dampak efek samping bagi pasien. Efek samping yang biasanya terjadi pada pengobatan TBC adalah nyeri perut, penglihatan/pendengaran terganggu, kencing seperti air kopi, demam tinggi, muntah, gatal-gatal dan kemerahan kulit, rasa panas di kaki/tangan,

lemas,

sampai

mata/kulit

kuning.

Itu sebabnya penting untuk selalu menyampaikan efek samping yang timbul pada dokter setiap kali kontrol sehingga dokter dapat menyesuaikan

dosis,

mengganti

melakukan

pemeriksaan

obat

dengan

laboratorium

yang jika

lain,

atau

diperlukan.

Pengobatan untuk penyakit-penyakit lain selama pengobatan TBC pun sebaiknya harus diatur dokter untuk mencegah efek samping yang lebih serius/berbahaya. Penyakit TBC dapat dicegah dengan cara: ď&#x201A;ˇ

Mengurangi kontak dengan penderita penyakit TBC aktif.

ď&#x201A;ˇ

Menjaga standar hidup yang baik, dengan makanan bergizi, lingkungan yang sehat, dan berolahraga.

ď&#x201A;ˇ

Pemberian vaksin BCG (untuk mencegah kasus TBC yang lebih berat). Vaksin ini secara rutin diberikan pada semua balita.

ď&#x201A;ˇ

Perlu diingat bahwa mereka yang sudah pernah terkena TBC dan diobati, dapat kembali terkena penyakit yang sama jika tidak mencegahnya dan menjaga kesehatan tubuhnya.

Kurang Energi kalori (Kurang gizi) dengan gejala : 1. Kurus 2. Lingkar lengan atas <= 23 cm 82


3. Bayi yang dilahirkan sering BBLR (bayi berat badan rendah, dan sering menyebabkan kematian pada bayi baru lahir) 4. Penyebab utama dari KEK adalah gizi buruk dan TBC Paru

Pre eclampsia berat (ibu hamil dengan kelainan tekanan darah tinggi yang berat) dengan gejala : 1. Ibu hamil dengan tekanan darah tinggi yang berat 2. Kaki bengkak 3. Mulai muncul pada hamil bulan ke 4 dan seterusnya 4. Bisa terjadi pada trimester II dan III kehamilan

Trombosis vena permukaan ( penyakit varises dengan infeksi) dengan gejala : 1. Ada penonjolan pembuluh darah dibawah kulit, lebih sering terjadi di tungkai bawah 83


2. Trombosis vena permukaan ( penyakit varises dengan infeksi)

Stroke (celebro vascular accident)

Gejala Stroke, Penyebab dan Cara Pencegahan Mengenal penyakit stroke, mulai dari gejala, penyebab dan cara pencegahan. Apa itu stroke? Stroke adalah serangan otak yang timbulnya mendadak akibat tersumbat atau pecahnya pembuluh darah otak. Dengan kata lain penyakit stroke ini merupakan penyakit pembuluh darah otak (serebrovaskuler) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) hal ini disebabkan karenakan adanya penyumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah menuju otak sehingga pasokan darah dan oksigen ke otak berkurang dan 84


menimbulkan serangkaian reaksi biokimia yang akan merusakkan atau mematikan sel-sel saraf otak.

Jumlah penderita stroke di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Pada akhir tahun 2012 lalu, sebuah lembaga mencatat telah terjadi sekitar 500.000 kasus penderita stroke dengan angka 12.500 orang meninggal akibat penyakit tersebut. Sementara sisanya mengalami cacat, baik ringan maupun berat. Karena itu pengobatan awal serta pencegahan menjadi perang penting dalam memerangi stroke.

Penyebab Penyakit Stroke Ada dua faktor yang merupakan penyebab stroke yaitu resiko medis dan resiko perilaku 1

Faktor risiko medis Faktor resiko medis yang menyebabkan atau memperparah stroke antara lain hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi), kolesterol, arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah), gangguan jantung, diabetes, riwayat stroke dalam keluarga (faktor keturnan) dan migren (sakit kepelah sebelah). Menurut data statistik 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosklerosis.

2

Faktor risiko perilaku Faktor resiko perilaku disebakan oleh gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok, menkonsumsi minuman bersoda dan beralkohol gemar mengkonsumsi makanan 85


cepat saji (fast food dan junk food). Faktor resiko perilaku lainnya adalah kurangnya aktifitas gerak / olah raga dan obesitas. Salah satu pemicunya juga adalah susasana hati yang tidak nyaman seperti sering marah tanpa alasan yang jelas.

Gejala Serangan Stroke Pada tingkat awal, masyarakat, keluarga dan setiap orang harus memperoleh informasi yang jelas dan meyakinkan bahwa stroke adalah serangan otak yang secara sederhana mempunyai lima tanda-tanda utama yang harus dimengerti dan sangat difahami. Hal ini penting agar semua orang mempunyai kewaspadaan yang tinggi terhadap bahaya serangan stroke.

Tanda-tanda utama serangan stroke : 

Rasa bebal atau mati mendadak atau kehilangan rasa dan lemas pada muka, tangan atau kaki, terutama pada satu bagian tubuh saja

Rasa bingung yang mendadak, sulit bicara atau sulit mengerti

Satu mata atau kedua matamendadak kabur

Mendadak sukar berjalan, terhuyung dan kehilangan keseimbangan

Mendadak merasa pusing dan sakit kepala tanpa diketahui sebab musababnya

Selain itu harus dijelaskan pula kemungkinan munculnya tanda-tanda ikutan lain yang bisa timbul dan atau harus diwaspadai, yaitu; 

Rasa mual, panas dan sangat sering muntah-muntah

Rasa pingsan mendadak, atau merasa hilang kesadaran secara mendadak

Cara Mencegah Penyakit Stroke Adapun, untuk menghindari stroke seseorang bisa melakukan tindakan pencegahan termasuk membiasakan diri menjalani gaya hidup sehat. 86


Berikut adalah 10 langkah yang dapat Anda lakukan guna menghindarkan diri dari serangan stroke. 1

Hindari dan hentikan kebiasaan merokok Kebiasaan ini dapat menyebabkan atherosclerosis (pengerasan dinding pembuluh darah) dan membuat darah Anda menjadi mudah menggumpal.

2

Periksakan tensi darah secara rutin Tekanan darah yang tinggi bisa membuat pembuluh darah Anda mengalami tekanan ekstra. Walaupun tidak menunjukkan gejala, ceklah tensi darah secara teratur.

3. Kendalikan penyakit jantung Kalau Anda memiliki gejala atau gangguan jantung seperti detak yang tidak teratur atau kadar kolesterol tinggi, berhati-hatilah karena hal itu akan meningkatkan risiko terjadinya stroke. Mintalah saran dokter untuk langkah terbaik. 4. Atasi

dan

kendalikan

stres

dan

depresi

Stres dan depresi dapat menggangu bahkan menimbulkan korban fisik. Jika tidak teratasi, dua hal ini pun dapat menimbulkan problem jangka panjang. 5. Makanlah dengan sehat Anda mungkin sudah mendengarnya ribuan kali, namun penting artinya bila Anda disiplin memakan sedikitnya lima porsi buah dan sayuran setiap hari. Hindari makan daging merah terlalu banyak karena lemak jenuhnya bisa membuat pembuluh darah mengeras. Konsumsi makanan berserat dapat mengendalikan lemak dalam darah. Kurangi garam Karena garam akan mengikatkan tekanan darah. 6. Pantau berat badan

87


Memiliki badan gemuk atau obes akan meningkatkan risiko Anda mengalami tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan diabetes, dan semuanya dapat memicu terjadinya stroke. 7. Berolahraga dan aktif Melakukan

aktivitas

fisik

secara

teratur

membantu

Anda

menurunkan tensi darah dan menciptakan keseimbangan lemak yang sehat dalam darah. 8. Kurangi alkohol Meminum alkohol dapat menaikkan tensi darah, oleh karena itu menguranginya berarti menghindarkan Anda dari tekanan darah tinggi. 9. Mencari Informasi Dengan mengikuti perkembangan informasi tentang kesehatan, banyak hal penting yang diperoleh guna menghindari kemungkinan atau menekan risiko stroke. Berhati-hatilah, beragam hormon termasuk pil dan terapi penggantian hormon HRT diduga dapat membuat darah menjadi kental dan cendrung mudah menggumpal

Kanker payudara (carcinoma mammae)

Gejala Kanker Payudara dan Penyebabnya Pada wanita khususnya, payudara adalah salah satu organ paling pribadi. Penting artinya memeriksa kondisi payudara secara berkala. Benjolan, penebalan, dan perubahan warna kulit menjadi kemerahan 88


patut diwaspadai sebagai indikasi kanker. Rasa gatal, kulit mengelupas, atau

ruam

di

payudara

selama

berminggu-minggu

juga

perlu

diwaspadai. Perubahan lain pada kulit payudara, seperti bengkak, kulit tertarik ke dalam, atau mengerut, juga harus dicurigai sebagai gejala.

Kanker payudara adalah jenis lain dari kanker yang terjadi pada jaringan sel payudara. Ketika sel abnormal membagi dan tidak terkontrol, mereka dapat menjadi besar dengan membentuk jaringan ekstra, atau tumor, yang dapat menjadi jinak atau ganas. Sel tumor jinak tidak menyebar ke jaringan tubuh yang lain, biasanya dapat diangkat

dan

tidak

akan

timbul

kembali.

Sel tumor ganas (kanker) dapat menyebar ke jaringan tubuh yang terdekat dan melepaskan diri dari bentuk tumor primer menjadi bentuk tumor sekunder dimanapun di bagian tubuh.

Macam-Macam Kanker Payudara Ada beberapa tipe umum kanker payudara : ď&#x201A;ˇ

Infiltrating/Invasive Ductal Carcinoma (IDC) terjadi pada 65 sampai 85 persen kasus kanker payudara. Dimulai di sel saluran susu dan dapat menembus dinding saluran untuk menyerang jaringan yang berlemak. Dapat menyebar dengan darah atau getah bening. Dengan mammogram (pemotretan sinar X) biasanya terlihat sebagai jaringan yang tidak biasa, flek kecil atau keduanya. Muncul sebagai gumpalan yang biasanya terasa keras daripada jaringan disekitarnya.

ď&#x201A;ˇ

Infiltrating/Invasive Lobular Carcinoma (ILC) terjadi pada 5 sampai 10 persen kasus kanker payudara. Terdapat pada kelenjar penghasil susu, dan dapat menyebar ke jaringan lemak dan dimanapun pada tubuh. Dengan mammogram, dapat terlihat seperti IDC, tapi pemeriksaan fisik biasanya tidak menemukan adanya 89


gumpalan yang keras – jaringan yang agak samara ketebalannya. Dapat terjadi lebih dari satu tempat di dada atau pada kedua dada secara simultan. 

Tiga subtipe slow-growing invasive adalah Medullary, Mucinous dan Tubular Carcinomas. Yang secara bersamaan terjadi pada 12 persen kasus kanker payudara. Mereka dapat diketahui dengan secara lebih baik dari pada kanker ganas lainnya.

Inflammatory Carcinoma adalah subtipe IDC. Memiliki karakteristik payudara menjadi merah, bengkak dan terasa panas, dan kulit menebal dan dapat membentuk benjolan kecil. Ini terjadi karena pertumbuhan kanker yang cepat dan menyumbat jaringan getah bening. Pada 90 persen kasus, kanker telah menyebar pada jaringan getah bening saat terdiagnosa. Ini merupakan kanker yang agresif dan umumnya dilakukan perawatan dengan chemotherapy. Pembengkakan kanker terjadi pada satu dari empat persen kasus yang terjadi.

Paget's disease dimulai pada saluran susu dan dapat menyebar pada puting susu dan areola, menyebabkan pengerasan. Jika tidak ada gumpalan yang terasa, dan biopsi menunjukkan tidak ada kanker ganas, itu pertanda baik. Perawarannya sama dengan kanker ganas lain.

Tumor jaringan lunak: Tumor dapat terjadi di jaringan pendukung pada payudara. Tumor ini adalah jenis yang tidak umum.

Gejala Kanker Payudara Tanda dan gejala kanker payudara antara lain : 

Benjolan pada payudara atau terasa menebal dan berbeda dari jaringan di sekitarnya

Keluar darah pada puting susu

Perubahan ukuran atau bentuk payudara

Perubahan pada kulit payudara, contohnya lesung

Bentuk puting susu yang terbalik 90


ď&#x201A;ˇ

Pengelupasan kulit puting susu

ď&#x201A;ˇ

Kemerahan pada kulit payudara, seperti kulit jeruk

Penyebab Kanker Payudara Kanker payudara paling sering dimulai pada saluran produksi susu. Dokter menyebut jenis kanker ini cancer invasive ductal carcinoma. Kanker payudara juga dapat dimulai dari lobulus (invasive lobular carcinoma) atau sel pada payudara. Ilmuan mengidentifikasi hal yang dapat meningkatkan risiko anda memiliki kanker payudara. Tapi tidak jelas apa kenapa beberapa orang tidak memiliki faktor risiko mengalami kanker, sementara orang lain yang memiliki faktor risiko tidak pernah mengalaminya. Sepertinya kanker payudara disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik dan lingkungan anda.

Kanker payudara karena keturunan Dokter memperkirakan bahwa 5 sampai 10 persen kanker payudara berhubungan pada mutasi genetik pada generasi di dalam keluarga. Sejumlah gen rusak yang diwariskan dapat meningkatkan kemungkinan kanker payudara telah diidentifikasi. Yang umum adalah gen kanker payudara 1 (BRCA1) dan gen kanker payudara 2 (BRCA2), keduanya meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium. Jika anda memiliki catatan keluarga yang kuat dengan kanker payudara atau kanker lain, tes darah dapat membantu mengidentifikasi BRCA yang rusak atau gen lain yang terdapat di dalam keluarga.

Faktor risiko Terkena Kanker Payudara Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara antara lain: ď&#x201A;ˇ

Wanita. Wanita lebih memiliki kemungkinan mengalami kanker payudara daripada laki-laki. 91


Bertambahnya usia. Risiko anda mengalami kanker payudara meningkat seiring usia. Wanita yang berusia lebih dari 60 tahun memiliki risiko lebih besar daripada wanita dengan usia yang lebih muda.

Catatan pribadi dengan kanker payudara. Jika anda memiliki kanker pada satu payudara, anda memiliki peningkatan risiko mengalami kanker pada payudara yang lain.

Sejarah keluarga dengan kanker payudara. Jika anda memiliki ibu, saudara perempuan atau anak perempuan dengan kanker payudara, anda memiliki peluang yang lebih besar terdiagnosa dengan kanker payudara. Tetapi secara umum mereka yang memiliki kanker payudara tidak memiliki sejarah keluarga dengan kanker payudara.

Gen keturunan yang meningkatkan risiko kanker. Mutasi gen tertentu yang meningkatkan risiko kanker payudara dapat menurun dari orang tua kepada anak. Mutasi gen yang dimaksud adalah BRCA1 dan BRCA2. Gen tersebut dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara dan kanker lain, tetapi mereka tidak membuat kanker pasti terjadi.

Terkena radiasi. Jika anda menerima perawatan dengan radiasi pada dada saat anak-anak atau orang dewasa yang muda, anda lebih

memiliki

kemungkinan

mengalami

kanker

payudara

di

kemudian hari. 

Obesitas.

Memiliki

kelebihan

berat

badan

atau

obesitas

meningkatkan risiko anda mengalami kanker payudara. 

Datang bulan yang dimulai pada usia lebih muda. Masa datang bulan yang dimulai sebelum usia 12 tahun meningkatkan risiko kanker payudara.

Menopause yang dimulai pada usia yang lebih tua. Jika masa menopause anda dimulai setelah usia 55 tahun, anda akan memiliki kemungkinan lebih mengalami kanker payudara. 92


ď&#x201A;ˇ

Memiliki anak pertama pada usia yang lebih tua. Wanita yang baru memiliki anak setelah usia 35 dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

ď&#x201A;ˇ

Terapi

hormon

postmenopausal.

Mereka

yang

menggunakan

pengobatan terapi hormon yang mengkombinasikan esterogen dan progesterone untuk mengobati tanda dan gejala menopause memiliki peningkatan risiko kanker payudara. ď&#x201A;ˇ

Minum alkohol. Minum alkohol dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Herpes simpleks 1. Benjolan

berisi

cairan

disekitar

mata, mulut, hidung, telinga, alat kemaluan 2. Terasa nyeri 3. Mudah menyebar kedaerah lain 4. Bisa ditularkan melalui hubungan seks

Penyakit herpes merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus herpes. Virus herpes ada dua, yaitu herpes zoster dan herpes simpleks. Kedua jenis virus ini seringkali memiliki efek yang sama pada kulit. Yang berbeda hanyalah daerah penyebarannya. Herpes berasal dari bahasa Yunani yang artinya merayap. Virus herpes memiliki karakteristik bergerak dari satu saraf kecil ke saraf kecil dengan cara merayap. Pergerakannya akan berakhir ketika virusvirus tersebut sampai di kumpulan saraf. 93


Penyakit herpes masuk dalam kelompok penyakit TORCH. TORCH merupakan sebutan atau akronim dari kelompok penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan janin, terdiri dari: 1. Toxoplasmosis 2. Other (seperti syphilis, varicella, mumps, parvovirus dan HIV) 3. Rubella 4. Cytomegalovirus 5. Herpes simpleks TORCH kadang disebut dengan STORCH atau TORCHES. Adapun penyebabnya bisa virus, bakteri, maupun protozoa. Kelompok penyakit ini memiliki beragam akibat, yang paling umum adalah kelainan janin, keguguran, hingga penularan pada bayi. Tipe Herpes Simplex dan Penularannya Pada pengkajian lebih lanjut, penyakit herpes dibagi menjadi dua tipe yakni Herpes Simplex Tipe 1 (HSV-1) dan Herpes Simplex Tipe 2 (HSV-2). HSV-1 menyerang mulut dan bibir, berupa cold sore yakni semacam lepuhan-lepuhan kecil yang kadang nampak seperti jerawat dengan warna kemerahan. Herpes tipe ini bisa ditularkan dari organ genital ke mulut melalui hubungan seks oral (lewat mulut). HSV-2 menyerang organ genital. Penularannya juga terjadi terjadi lewat kontak kulit antar organ genital maupun dari organ genital ke mulut melalui seks oral. Penularan ini karena dalam seks oral maupun intercourse (memasukkan Mr. P ke Mrs. V) terjadi pertukaran cairan. Jika seseorang terinfeksi virus herpes, akan dengan mudah menularkan penyakit ini kepada siapapun yang menjalin kontak dengannya. Penyakit Herpes Genitalis Gejala herpes berbeda antara satu penderita dengan yang lainnya. Pasalnya,

penyakit

ini

tidak

selalu

terekspresi,

dalam

artian

adakalanya virus aktif dan adakalanya tidak. Untuk memastikannya 94


adalah hanya dengan tes laboratorium, apakah seseorang memiliki virus Herves Simpleks atau tidak (baik HSV 1 dan atau HSV 2). Gejala herpes genitalis diantaranya adalah: ď&#x201A;ˇ

Gejala herpes genital pada pria akan muncul gelembung kecil sepertu bisul yang kemudian pecah lalu menjadi koreng. Luka tersebut muncul di organ genital dan sekitarnya seperti penis, skortum, paha, anus, pantat, kandung kemih, hingga saluran kencing.

ď&#x201A;ˇ

Gejala herpes genital pada wanita akan muncul bentuk luka sama seperti pada pria. Pada wanita juga menyerang organ genital dan sekitarnya seperti vagina, pantat, paha, anus, hingga servics (leher rahim).

Pengaruh virus herpes pada kehamilan dan cara aman melahirkan Ibu hamil yang terinfeksi virus herpes pada minggu-minggu awal bisa mengalami keguguran. Pun misalkan tidak sampai terjadi keguguran dan bayi bisa diselamatkan, umumnya tetap berbahaya bagi janin karena infeksi virus herpes dapat menyebabkan cacat sistem syaraf dan penglihatan. Jika ibu terinfeksi HSV-2 di bulan-bulan akhir kehamilan, meski janin diketahui

sehat,

baiknya

hindari

melahirkan

secara

normal.

Sebagaimana dijelaskan bahwa HSV-2 menyerang organ genital. Saat bayi lahir secara normal, kulit bayi bersinggungan dengan kulit vagina ibu sehingga beresiko tertular herpes. Terdapat dua jenis penyakit herpes yang bisa menginfeksi manusia yaitu penyakit herpes zooster (shingles) yang terlihat seperti cacar dan juga penyakit herpes genital (herpes simplex). Cara Penularan Penyakit Herpes Genital Penyakit herpes genitalis menular melalui kontak kulit langsung yaitu dari daerah yang terinfeksi ke daerah yang tertular. Misalnya saat seseorang yang terinfeksi mencium atau melakukan hubungan seks

95


seperti

oral,

vagina

atau

dubur,

maka

bisa

menyebabkan

pasangannya tertular. Herpes jenis ini paling mudah menular jika kondisi seseorang sedang sakit, biasanya ditandai dengan rasa gatal, kesemutan dan sensasi lain sebelum muncul apapun di kulit. Ada 2 penyakit infeksi menular seksual yang sering dijumpai pada penderita HIV positif, yaitu: Herpes genital Penyakit herpes genital yang terjadi pada penderita HIV umumnya tidak memiliki gejala yang khas. Namun ukuran ulkus (luka) yang timbul cenderung lebih besar dan juga lebih dalam. Kejadian rekurensi (munculnya) juga cenderung lebih sering yang membuat proses pengobatannya lebih lama dibandingkan dengan orang yang memiliki herpes genital tanpa HIV. Penyakit ini lebih banyak menular melalui hubungan kontak kulit dengan penderita. Umumnya gejalanya adalah timbul bintil-bintil di bagian luar alat kelamin yang bentuknya memerah dan membengkak. Virus ini juga bisa menulari bagian tubuh lain seperti mulut.

Toxoplasmosis

96


Toxoplasmosis atau sering hanya disebut penyakit toxo merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Dalam banyak kasus, infeksi pada manusia terjadi terutama setelah parasit tersebut tertelan. Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala, tetapi penyakit ini memiliki potensi untuk menyebabkan masalah serius pada beberapa orang, terutama pada mereka yang mengidap penyakit immunodepressed dan

pada

wanita

hamil

karena dapat

menyebabkan keguguran.

Jika timbul gejala, biasanya menyerupai flu (nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening, malaise) dan dapat berlangsung selama beberapa minggu. Pada beberapa kasus, infeksi yang berat dapat menyebabkan masalah pada organ mata, gangguan otak, kejang, dan jarang, menyebabkan kematian. Obat-obatan tertentu, baik secara tunggal maupun dalam kombinasi, dapat digunakan untuk mengobati toxoplasmosis.

Sebagian besar orang terkena infeksi dari makan daging yang terinfeksi atau mengonsumsi makanan yang terkontaminasi kotoran kucing atau anak kucing. Pencegahan penyakit ini terutama berpusat pada usaha menghindari kontak dengan daging yang mentah/terkontaminasi dan kontak dengan kucing/kotoran kucing.

Organisme ini pertama kali diamati pada tikus pada tahun 1908. Toxoplasma

tercatat

menyebabkan

infeksi

kongenital

(artinya

diturunkan dari ibu ke janin selama kehamilan) pada tahun 1930 dan menjadi dikenal luas sebagai penyebab penyakit pada orang dengan immunodepressed pada akhir tahun 1960. Lebih banyak infeksi yang tercatat mulai tahun 1983 ketika orang-orang dengan HIV / AIDS terserang Ensefalitis toksoplasma (peradangan otak).

97


CDC menganggap toxoplasmosis menjadi penyebab ketiga kematian paling

umum

yang

disebabkan

oleh

makanan

di

AS

dan

memperkirakan sekitar 60 juta orang di Amerika Serikat membawa parasit Toxoplasma gondii. Kebanyakan orang yang terinfeksi memiliki sistem kekebalan yang menekan parasit, sehingga sebagian besar orang tidak menunjukkan gejala. Namun, jika sistem kekebalan tubuh menjadi tertekan, parasit tersebut dapat menyebabkan penyakit serius.

Penyebab Toxoplasma

Toxoplasma gondii merupakan parasit protozoa yang menginfeksi sebagian besar spesies hewan berdarah panas (misalnya, kucing, babi, domba, dan manusia) dan menyebabkan penyakit toksoplasmosis. Hanya

kucing

keluarga Felidae)

(kucing yang

domestik dikenal

dan

kerabat

sebagai

lainnya

hewan

inang

dalam yang

memungkinkan parasit untuk melengkapi siklus hidupnya.

Picture credit to Cambridge University Press

Ketika kucing memangsa tetikus atau burung yang terinfeksi, bradyzoit yang tertelan berkembang menjadi baik takizoit atau ookista. Siklus hidup Toxoplasma selesai ketika ookista keluar melalui kotoran kucing. Manusia dan hewan lain bukan bagian dari siklus hidup lengkap (kecuali dimakan oleh kucing); sebagian besar infeksi terjadi ketika manusia, peliharaan atau hewan lain menelan makanan, tanah, atau 98


hewan lain yang mengandung baik ookista yang telah bersporulasi atau jaringan hewan yang mengandung Toxoplasma bradyzoit.

Siklus Hidup Toxoplasma Gondii Manusia biasanya terinfeksi dengan mengkonsumsi daging, makanan, atau air yang terkontaminasi. Infeksi juga dapat ditularkan melalui transfusi darah yang terkontaminasi, transplantasi organ terinfeksi, atau dari ibu yang terinfeksi kepada janin. Yang terakhir, penyakit ini dapat diperoleh dengan langsung terhisap kotoran kucing, yang mungkin terjadi saat membersihkan kotak kotoran kucing.

Gejala Toxo

Sekitar 80% -90% dari orang yang terinfeksi Toxoplasma tidak menunjukkan

gejala.

Mereka

yang

mengalami

gejala

biasanya

mengalami pembengkakan kelenjar getah bening serviks dan gejala mirip flu yang hilang dalam beberapa minggu atau bulan tanpa 99


pengobatan. Organisme ini sebenarnya masih berada di tubuh dalam kondisi laten dan dapat aktif kembali jika orang tersebut menjadi immunodepressed. Sebagai contoh, pasien dengan AIDS dapat terkena lesi di otak akibat reaktivasi Toxoplasma. Pasien kemoterapi dapat terserang pada organ mata, jantung (miokarditis), paru-paru atau otak ketika parasit menjadi aktif kembali.

Infeksi bawaan Toxoplasma bisa menyebabkan masalah serius pada mata, telinga, dan kerusakan otak pada saat lahir. Namun, infeksi bawaan mungkin asimtomatik sampai beberapa tahun pertama kehidupan atau bahkan sampai dekade kedua atau ketiga ketika mata (penurunan penglihatan atau kebutaan), telinga (pendengaran), atau gejala kerusakan otak (kejang, perubahan status mental) terkena. Toxoplasmosis

merupakan

penyebab

utama

retinochoroiditis

(peradangan retina dan koroid mata) di Amerika Serikat.

Kapan saatnya Mencari Perawatan Medis Karena

sebagian

besar

orang

tidak

mengalami

gejala

pada

Toxoplasmosis, kebanyakan orang yang terinfeksi tidak berusaha mencari layanan kesehatan. Namun, orang yang mengalami kelenjar getah bening leher yang membesar dan mengalami sindrom mirip flu dan curiga atau tahu bahwa mereka telah memiliki asosiasi dekat dengan kucing atau makanan/air yang mungkin terkontaminasi harus mempertimbangkan mencari perawatan medis. Jika wanita yang sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil mengalami gejala ini, mereka harus segera mencari perawatan medis. Orang dengan immunodepressed, terutama mereka yang terinfeksi HIV, juga harus mencari perawatan medis jika gejala yang disebutkan di atas terjadi atau jika mereka merasakan perubahan pada mata atau perubahan status mental.

100


Pemeriksaan dan Tes Toxoplasma Kebanyakan orang yang terinfeksi tidak akan memiliki kelainan fisik yang terasa, tetapi pada pemeriksaan fisik, beberapa orang akan memiliki kelenjar getah bening serviks yang membesar (temuan fisik yang paling umum), atau pembesaran limpa atau hati. Orang dengan infeksi sedang sampai berat mungkin menunjukkan penyakit kuning (terutama bayi), peningkatan lebam karena masalah pada organ hati, masalah

mata

meningoencephalitis

(penurunan (radang

penglihatan otak

dan

atau

lapisan

kebutaan),

otak),

kejang,

pneumonitis, dan perubahan status mental.

Sayangnya, banyak penyakit ringan dan berat lain dapat menyebabkan gejala yang sama (misalnya, penyakit Chagas, giardiasis, malaria, penyakit cakaran kucing, abses otak, sepsis, cytomegalovirus, dan banyak lainnya). Untungnya, ada sejumlah tes yang dapat membantu membedakan Toxoplasmosis dari penyakit lain dan memberikan bukti untuk diagnosis sementara atau definitif.

Diagnosis definitif Toxoplasmosis dibuat dengan mengidentifikasi organisme Toxoplasma gondii dalam darah, cairan tubuh (misalnya, cairan tulang belakang atau ketuban), atau jaringan (sampel biopsi). Selain itu, cairan tubuh dapat disuntikkan ke tikus, sehingga tikus tersebut akan terkena penyakit jika parasit berada dalam cairan tubuh yang disuntikkan. Juga, cairan tubuh dapat diinokulasi ke dalam kultur sel dimana parasit dapat berkembang biak. Tes ini biasanya dilakukan di laboratorium khusus oleh personel yang berpengalaman.

Tes-tes lain dapat menghasilkan diagnosis presumptif dan didasarkan pada respon kekebalan seseorang terhadap parasit. Cairan tubuh dapat diuji dengan PCR atau teknik enzim-linked immunosorbent assay (ELISA) yang dapat menunjukkan infeksi akut. Tes lain, seperti tes 101


Sabin-Feldman, mengukur antibodi IgG pasien yang ditujukan terhadap parasit Toxoplasma gondii dan merupakan tes acuan standar untuk Toxoplasmosis. Antibodi IgG menunjukkan bahwa infeksi toksoplasma telah terjadi di masa lalu tetapi tidak mengatakan apakah infeksi saat ini adalah sebagai akibat Toxoplasma gondii.

Tes lain yang biasa digunakan adalah dengan mendeteksi antibodi IgM yang diarahkan terhadap parasit dan dapat mendeteksi antibodi ini pada minggu pertama infeksi. Tes ini paling sering dilakukan dan tes ini dilakukan oleh laboratorium khusus. Waktu tes adalah penting, karena akan mempengaruhi interpretasi hasil. Beberapa orang mungkin memiliki hasil positif karena ia sebelumnya telah terinfeksi, akan tetapi gejala yang ia rasakan sekarang merupakan dikarenakan penyakit yang lain bukan karena Toxoplasma gondii. Konsultasi dengan ahli penyakit menular dapat membantu menentukan diagnosis ketika hanya bukti dugaan yang tersedia.

Wanita hamil dan mereka yang berencana untuk hamil bisa diuji dengan tes imunologi serupa seperti yang disebutkan di atas untuk diagnosis dan menentukan apakah ada risiko bagi ibu untuk menularkan infeksi toksoplasma pada janin. Jika seorang wanita tidak memiliki antibodi dalam aliran darahnya, dia rentan untuk terkena dan dapat dipantau lebih dekat.

Pengobatan Toxoplasma Toxoplasmosis dapat ditangani secara medis. Ada beberapa obat, biasanya digunakan dalam kombinasi, untuk mengobati infeksi oleh parasit ini. Tiga obat yang paling sering digunakan ke pasien, termasuk orang

dengan

HIV

adalah

pirimetamin

(Daraprim),

sulfadiazin

(Microsulfon), dan asam folinic. Namun, pasien hamil diobati dengan spiramisin (Rovamycine) dan leucovorin (Wellcovorin) di samping obat 102


yang tercantum di atas. Pasien dengan HIV biasanya membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk menjaga parasit tetap ditekan. Obat lain kadang-kadang digunakan adalah klindamisin (Cleocin), azitromisin (Zithromax), atau atovakuon (Mepron). Obat ini digunakan terutama ketika pasien alergi terhadap pirimetamin atau sulfadiazin. Dosis bervariasi, cara terbaik untuk menentukan perawatan medis individu adalah didasarkan pada situasi kesehatan pasien.

Sayangnya, pirimetamin (Daraprim) dan sulfadiazin (Microsulfon) dapat menyebabkan efek samping yang signifikan, terutama pada janin. Dua dari

efek

(pengobatan

samping

utama

leucovorin

adalah

dapat

penekanan

mengurangi

sumsum

penekanan

tulang

ini)

dan

toksisitas hati untuk pirimetamin. Untuk sulfadiazin, efek samping bisa mual, muntah, toksisitas hati, kejang, dan gejala lainnya. Obat ini digunakan pada wanita hamil karena risiko infeksi oleh Toxoplasma biasanya lebih parah daripada efek samping obat. Dokter yang merawat harus diberitahu cepat jika efek samping terjadi.

Pencegahan Toxoplasma Pencegahan Toxoplasmosis utamanya adalah untuk menghindari masuknya parasit. Berikut ini disarankan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terinfeksi Toxoplasmosis:

103


Benar-benar

memasak

semua

daging

(daging

beku

selama

beberapa hari juga mengurangi kemungkinan Toxoplasma). 

Mencuci tangan dan peralatan dengan benar setelah menyentuh daging mentah.

Cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi

Jangan minum susu yang tidak dipasteurisasi atau minum air mentah.

Beri makan kucing dengan makanan yang dimasak dengan matang.

Jangan mengadopsi atau memegang kucing liar.

Jangan memelihara kucing baru saat hamil.

Wanita hamil harus memakai sarung tangan saat berkebun, benarbenar mencuci tangan mereka setelah itu, dan menghindari kontak dengan kotoran kucing, dan sebaiknya meminta orang lain untuk membersihkan kotak kotoran kucing (bersihkan kotak kotoran kucing setiap hari).

Taruh kotak pasir kotoran kucing di luar ruangan saat tidak digunakan.

Ibu hamil yang terinfeksi Toxoplasma dapat menginfeksi janin, akan tetapi pengobatan terhadap sang ibu dapat mengurangi kemungkinan menginfeksi janin. Organ dan darah donor terinfeksi Toxoplasma bisa menularkan parasit ke penerima, pengujian donor untuk parasit dapat mencegah

jenis

infeksi

ini.

Studi

sedang

berlangsung

untuk

menghasilkan vaksin Toxoplasma, namun sampai saat ini, tidak ada vaksin yang tersedia atau diproduksi secara komersial baik untuk manusia maupun kucing.

104


Gondok endemis dengan gejala : 1. Benjolan pada leher, semakin lama semakin besar 2. Akibat kekurangan yodium 3. Sering mengakibatkan kelainan pada jantung 4. Bisa menyebabkan kelainan pada bayi baru lahir (kretinisme) 5. Bisa menyebabkan kematian ibu dan bayi baru lahir

HIV â&#x20AC;&#x201C; AIDS AIDS

merupakan

singkatan

dari

Acquired

Immune

Deficiency

Syndrome, yaitu sekumpulan gejala yang didapatkan dari penurunan kekebalan tubuh akibat kerusakan sistem imun oleh infeksi virus HIV. Sedangkan HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat untuk berkembang biak dan kemudian merusaknya. Diagnosis - Tes dan konseling HIV pada ibu hamil dilakukan atas inisiatif petugas kesehatan (TIPK) atau provider-initiated HIV testing and counseling (PITC). - Di daerah epidemi meluas dan terkonsentrasi, tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan wajib menawarkan tes HIV kepada semua ibu hamil secara inklusif pada pemeriksaan laboratorium rutin lainnya saat pemeriksaan antenatal atau menjelang persalinan - Di daerah epidemi HIV rendah, penawaran tes HIV oleh tenaga kesehatan diprioritaskan pada ibu hamil dengan IMS dan TB

105


- TIPK dilakukan dengan memberikan informasi pra-tes kepada ibu hamil tentang: o Risiko penularan penyakit kepada bayi o Keuntungan diagnosis dii penyakit pada kehamilan bagi bayi yang akan dilahirkan, termasuk HIV, malaria, dan atau penyakit tidak menular lainnya seperti hipertensi, diabetes, dan lain-lain o Cara mengurangi risiko penularan penyakit dari ibu ke anaknya - Tes HIV atas inisiatif petugas kesehatandan konseling (TIPK) dilakukan secara option out, yaitu bila ibu menolak, ibu hamil harus menyatakan ketidaksetujuannya secara tertulis, dan diinformasikan serta ditawarkan kembali untuk menjalani tes pada kunjungan/kontrol berikutnya.

Bila

ibu

tetap

menyatakan

option

out,

maka

diperkenalkan Konseling dan Tes Sukarela (KTS) dan dilakukan rujukan ke KTS. - Pemeriksaan diagnostik infeksi HIV yang dilakukan di Indonesia umumnya adalah pemeriksaan serologis menggunakan rapid test HIV atau ELISA. - Pemeriksaan

diagnostik

tersebut

dilakukan

secara

serial

menggunakan tiga reagen HIV berbeda dalam hal preparasi antigen, prinsip tes, dan jenis antigen, yang memenuhi kriteria sensitivitas dan spesifitas. Pemilihan jenis reagen yang digunakan berdasarkan sensitivitas dan spesifisitas, merujuk pada Standar Pelayanan Laboratorium Kesehatan Pemeriksa HIV dan Infeksi Oportunistik, Kementerian Kesehatan. - Hasil pemeriksaan dinyatakan reaktif jika hasil tes dengan reagen 1 (A1), reagen 2 (A2), dan reagen 3 (A3) ketiganya positif (lihat alur diagnosis di halaman berikut).

106


- Untuk ibu hamil dengan faktor risiko yang hasil tesnya indeterminate, tes diagnostik HIV dapat diulang dengan bahan baru yang diambil minimal 14 hari setelah yang pertama dan setidaknya tes ulang menjelang persalinan (32-36 minggu).

Tatalaksana a. Tatalaksana Umum o Rujuk ibu dengan HIV ke rumah sakit. Tatalaksana HIV pada kehamilan sebaiknya dilakukan oleh tim multidisiplin meliputi dokter yang ahli mengenai HIV, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, bidan yang ahli, dan dokter spesialis anak

107


o Periksa hitung CD4 dan viral load untuk menentukan status imunologis dan mengevaluasi respons terhadap pengobatan b. Tatalaksana Khusus - Terapi antiretroviral Berikan antiretroviral segera kepada semua Ibu hamil dengan HIV, tanpa harus mengetahui nilai CD4 dan stadium klinisnya terlebih dahulu, dan dilanjutkan seumur hidup. Rekomendasi pengobatan sesuai situasi klinis ibu dapat dilihat di tabel berikut.

ď&#x201A;ˇ

Penggunaan Nevirapin (NVP) pada perempuan dengan CD4 >250 sel/mm3

atau

yang

tidak

diketahui

menimbulkan reaksi hipersensitif berat 108

jumlah

CD4-nya

dapat


Efavirens tidak boleh diberikan pada ODHA hamil trimester 1 karena teratogenik

Tatalaksana infeksi oportuistik 

Ibu sebaiknya diperiksa untuk mendeteksi infeksi menular seksual di usia kehamilan 28 minggu, kemudian diberikan terapi yang sesuai

Tatalaksana penyakit infeksi oportunistik pada ibu dengan HIV sesuai dengan panduan yang berlaku

Pilihan persalinan

Pemberian makanan bayi 

Jika bayi, tidak diketahui status HIV-nya: -

Pemilihan makanan bayi harus didahulu konseling terkait risiko penularan

HIV

sejak

sebelum

persalinan.

Pengambilan

keputusan dapat dilakukan oleh ibu/keluarga setelah mendapat informasi dan konseling secara lengkap -

Bila ibu memilih ASI, berikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan. Untuk itu, ibu dengan HIV perlu mendapat konseling laktasi dengan baik sejak perawatan antenatal pertama sesuai pedoman

-

Ibu dengan HIV diperbolehkan memberikan susu formula bagi bayinya yang HIV atau tidak diketahui status HIV-nya jika SELURUH feasible/mampu

syarat laksana,

AFASS

(affordable/terjangkau,

acceptable/

dapat

diterima,

sustainable/berkesinambungan dan safe/aman) -

Sangat tidak dianjurkan mencampur ASI dengan susu formula 109


Jika bayi telah diketahui HIV positif: -

Ibu sangat dianjurkan memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan

-

Setelah berusia 6 bulan, bayi diberikan MP-ASI dan ASI tetap dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun

Tatalaksana untuk bayi 

Mulai pemberian zidovudine (AZT) profilaksis dengan ketentuan sebagai berikut: -

Jika bayi cukup bulan, berikan zidovudine (AZT)dengan dosis 4 mg/ kgBB/12 jam selama 6 minggu

-

Jika bayi prematur dengan usia kehamilan <30 minggu, berikan zidovudine (AZT)dengan dosis 2 mg/kgBB/12 jam selama 4 minggu, kemudian 2 mg/kgBB/8 jam selama 2 minggu berikutnya

-

Jika bayi prematur dengan usia kehamilan 30-35 minggu, berikan zidovudine (AZT) dengan dosis 2 mg/kgBB/12 jam selama 2 minggu pertama, kemudian 2 mg/kgBB/8 jam selama 2 minggu berikutnya, dan diikuti 4 mg/kgBB/12 jam selama 2 minggu berikutnya

Selanjutnya anak dapat diberikan kotrimoksazol profilaksis mulai usia 6 minggu dengan dosis4-6 mg/kgbb, satu kali sehari, setiap hari sampai usia 1 tahun atau sampai diagnosis HIV ditegakkan.

Jika bayi diketahui HIV positif, lakukan pemeriksaan viral load sekali pada usia 1 bulan, kemudian sekali pada usia 4-6 bulan. Periksa ELISA kembali di usia 18 bulan.

Edukasi untuk ibu 

Berikan

edukasi

mengenai

perilaku

seks

yang

aman

dan

penggunaan kondom untuk mencegah penularan dan super-infeksi HIV 

Ibu juga dianjurkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang atau kontrasepsi mantap bila tidak ingin punya anak lagi 110


ď&#x201A;ˇ

Sarankan ibu dengan HIV positif memeriksakan status HIV seluruh anaknya

ď&#x201A;ˇ

Ibu dengan HIV positif sebaiknya diskrining hepatitis B, sifilis, dan rubela, dan diperiksa darah untuk hepatitis C, varicella zoster, campak dan toksoplasma

ď&#x201A;ˇ

Ibu

sebaiknya

dianjurkan

untuk

divaksin

hepatitis

B

dan

pneumokokus Keterangan Lainnya Beberapa tahapan infeksi HIV hingga terjadi AIDS: 1. Periode jendela HIV masuk kedaam tubuh samapi terbentuk antibodi terhadap HIV dalam darah. Gejala belum muncul dan penderita masih merasa sehat. Tahap ini umumnya berkisar 2 minggu hingga 6 bulan dan Tes HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus 2. HIV positif (asimptomatik) selama 5-10 tahun HIV berkembang biak daam tubuh, namun penderita masih terlihat sehat. Tes HIV sudah dapat mendeteksi adanya virus ini. Dan penderita dapat tetap tampak stabil selama 5-10 tahun namun tergantung dengan imun penderita itu sendiri. 3. HIV positif (simptomatik) Sistem kekebalan tubuh semakin menurun, disertai gejala infeksi oportunistik lainnya, misal pembengkakan kelenjar limfe, diare terus menerus, infeksi paru, dll. 4.

AIDS Kondisi imun tubuh menurun drastis dan infeksi oportunistik semakin parah

111


Penyakit sifilis (raja singa) dengan gejala : 1. Timbul

benjolan

keras

(ulcus

durum) atau borok (ulcus molor) pada alat kemaluan 2. Ditularkan

melalui

hubungan

seksual 3. Sulit disembuhkan 4. Bisa menyerang organ tubuh yang lain 5. Dapat

menyebabkan

keguguran,

lahir prematur, bayi lahir cacat atau mati 6. Bisa menyebabkan kematian ibu Penderita HIV yang memiliki penyakit sifilis atau penderita sifilis saja gejalanya tidak berbeda dan tidak menunjukkan gejala yang khas. Perjalanan penyakit ini lebih lambat dalam arti penyakit ini bisa menetap lama di stadium yang sama, serta hasil serologi bisa tidak sesuai

dengan

stadiumnya.Namun

seringkali

seseorang

yang

mengalami kondisi ini disertai dengan adanya kelainan pada matanya. Penderita positif HIV yang memiliki sifilis memeriksakan diri ke bagian saraf, mata dan pendengaran. Jika ditemukan tanda bercak-bercak merah di telapak tangan dan kulit yang tidak gatal patut dicurigai sebagai sifilis.

Hepatitis virus dengan gejala : 1. Disebabkan oleh virus hepatitis 2. Pada hepatitis tipe B bisa berkembang menjadi kanker hati 3. Bisa menular pada bayi yang dilahirkan 112


4. Bisa menyebabkan kematian ibu dan bayi baru lahir

Hepatitis

adalah

suatu

kondisi

medis

yang

didefinisikan

oleh

peradangan hati dan ditandai dengan adanya sel-sel inflamasi di jaringan organ. Hepatitis dapat terjadi dengan gejala yang sedikit atau bahkan tidak ada, namun sering menyebabkan penyakit kuning, anoreksia (nafsu makan yang buruk) dan malaise (rasa gelisah). Hepatitis dapat sembuh sendiri tanpa konsekuensi yang signifikan, atau juga bisa berkembang menjadi jaringan parut hati. Hepatitis akut terjadi ketika berlangsung kurang dari enam bulan, dan hepatitis kronis ketika terjadi lebih lama dari waktu tersebut. Sekelompok virus yang dikenal sebagai virus hepatitis (hepatitis A, B dan C) telah menyebabkan sebagian besar kasus hepatitis di seluruh dunia. Namun hepatitis juga bisa disebabkan oleh zat beracun (berasal dari alkohol, obat-obatan tertentu, dan beberapa pelarut organik untuk tanaman atau industri), infeksi lain, dan penyakit autoimun. Sekitar 250 juta orang di dunia diperkirakan mengalami penyakit hepatitis C, sedangkan sekitar 300 juta orang diperkirakan mengalami hepatitis B. Tidak Semua Bentuk Hepatitis Menular Tidak semua bentuk hepatitis dapat menular. Obat-obatan tertentu, alkohol dan bahan kimia mungkin buruk untuk hati dan dapat menyebabkan peradangan. Selain itu, seseorang juga bisa mempunyai penyakit hepatitis karena faktor genetik, gangguan metabolisme, atau masalah kesehatan yang terkait dengan kekebalan tubuh. Begitu pula 113


dengan obesitas yang juga dapat menyebabkan kerusakan hati dan menyebabkan peradangan. Namun kesemuanya ini bukanlah bentuk hepatitis yang menular dan tidak dapat menyebar ke orang lain. Jenis-Jenis Hepatitis Ada lima jenis utama penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus, A, B, C, D, dan E â&#x20AC;&#x201C; ditambah jenis X dan G. Hepatitis A Hepatitis ini disebabkan karena makan makanan dan minuman yang tercemar/terinfeksi oleh virus yang disebut HAV (Hepatitis Virus A). Hubungan intim juga dapat menjadi penyebabnya. Hampir semua orang yang mengidap hepatitis A dapat sembuh secara total dan ini tidak menyebabkan penyakit kronis. Hepatis B Hepatitis jenis ini disebabkan oleh virus HBV(Hepatitis B Virus) dan bisa menular melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, air mani, dan beberapa cairan tubuh lainnya. Seseorang bisa tertular hepatitis B karena hal-hal berikut ini : ď&#x201A;ˇ

Melalui hubungan intim dengan orang yang terinfeksi. Selain itu, penggunaan jarum suntik yang sebelumnya digunakan oleh orang yang terinfeksi (sering terjadi pada pecandu narkoba) juga dapat menyebabkan hepatitis B.

ď&#x201A;ˇ

Melakukan proses pen-tatoan dengan jarum suntik yang tidak steril. Selain itu, berbagi barang pribadi seperti sikat gigi atau pisau cukur dengan orang yang telah terinfeksi.

ď&#x201A;ˇ

Seorang bayi dapat terinfeksi melalui air susu ibunya jika si ibu telah terinfeksi lebih dulu.

ď&#x201A;ˇ

Digigit oleh seseorang yang terinfeksi. Hati dari orang yang terinfeksi Hepatitis B cenderung membengkak. Pasien dengan hepatitis jenis ini dapat menderita kerusakan hati yang parah akibat infeksi dan mengakibatkan kanker. Untuk beberapa pasien hepatitis B, kondisi mereka bisa menjadi kronis 114


(sangat jangka panjang atau seumur hidup). Proses pendonoran darah selalu diuji untuk Hepatitis B. Hepatitis C Hepatitis C biasanya menyebar melalui kontak langsung dengan darah orang yang memiliki penyakit. Hal ini disebabkan oleh virus HCV (Hepatitis C Virus). Hati bisa membengkak dan menjadi rusak. Pada hepatitis C, seperti hepatitis B, risiko kanker hati hanya meningkat pada orang yang mengalami sirosis hati (konsekuensi dari penyakit kronis hati) dan hanya 20% dari pasien hepatitis C yang mengalami sirosis. Proses pendonoran darah juga diuji untuk Hepatitis C. Hepatitis D Hepatitis jenis ini hanya terjadi pada orang yang sudah terinfeksi Hepatitis B. Hepatitis D disebabkan oleh virus HDV (Hepatitis D Virus). Peradangan bisa terjadi melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, hubungan intim dengan orang yang terinfeksi, dan perforasi kulit dengan jarum yang terinfeksi. Hati orang dengan Hepatitis D biasanya juga membengkak. Hepatitis E Seseorang dapat terinfeksi dengan meminum air yang mengandung HEV

(Hepatitis

E

Virus).

Hati

membengkak

tetapi

tidak

ada

konsekuensi jangka panjang. Penularan juga dimungkinkan melalui hubungan intim. Hepatitis X Hepatitis yang tidak dapat dikaitkan dengan virus hepatitis A, B, C, D, atau E, maka hal itu disebut dengan Hepatitis X. Dengan kata lain, hepatitis yang tidak diketahui virusnya. Hepatitis G Ini adalah jenis hepatitis yang disebabkan oleh virus Hepatitis G (HGV). Biasanya tidak ada gejala, dan kalaupun ada, maka gejalanya sangat ringan.

115


Epilepsi

1 Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejalagejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang, yang disebabkan oleh muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi. 2 Kejang pada epilepsi umumnya tidak dipengaruhi oleh kehamilan 3 Kehamilan

pada

wanita

dengan

riwayat

epilepsi

kecenderungan:  Hipertensi  Persalinan prematur  Bayi berat badan lahir rendah  Bayi dengan kelainan bawaan  Kematian perinatal Faktor Predisposisi  Idiopatik  Faktor keturunan, genetik, kelainan kongenital  Gangguan metabolik, infeksi, trauma, neoplasma  Kelainan pembuluh darah, keracunan, dll Diagnosis  Kejang  Riwayat kejang sebelumnya  Tekanan darah normal 116

mempunyai


ď&#x201A;ˇ Protein urin normal ď&#x201A;ˇ Diagnosis

ditegakkan

dengan

bantuan

elektroensefalogram

(EEG).

Gangguan jantung

Gangguan jantung pada pembahasan ini adalah gagal jantung. Gagal jantung adalah sindrom klinis akibat kelainan struktural maupun fungsional jantung yang menyebabkan terganggunya fungsi pengisian dan pengosongan ventrikel.

Diagnosis Diagnosis gangguan jantung kadang sulit dilakukan karena perubahan fisiologis pada kehamilan sering menyerupai tanda dan gejala gangguan jantung. Berikut ini adalah tanda dan gejala yang dapat mendukung kecurigaan adanya penyakit jantung pada kehamilan. 117


Dispneu atau ortopneu yang memberat

Batuk di malam hari

Hemoptisis

Pingsan

Nyeri dada

Sianosis

Jari tabuh

Distensi vena leher yang menetap

Murmur sistolik grade 3/6 atau lebih

Murmur diastolik

Kardiomegali

Aritmia yang menetap

Split bunyi jantung kedua yang menetap

Diagnosis lebih lanjut ditegakkan berdasarkan pemeriksaan penunjang seperti EKG, ekokardiografi, dan foto rontgen dada (harus dilakukan dengan pelindung radiasi untuk melindungi janin). Untuk mendukung tatalaksana, penting juga untuk mengenali klasifikasi kondisi klinis ibu. Tabel Klasifikasi Klinis New York Heart Association (NYHA).

Faktor predisposisi Faktor predisposisi terjadinya gagal jantung bergantung pada kelainan struktural maupun fungsional yang mendasari. Gagal jantung juga dapat terjadi secara idiopatik. Tatalaksana 118


Konseling prakonsepsi Untuk menurunkan morbiditas da mortalitas wanita penderita penyakit jantung dalam kehamilan, persalinan, dan nifas, perlu dilakukan konseling prakonsepsi dengan memperhatikan risiko masing-masing penyakit. Pasien dengan kelainan jantung kelas 3 dan 4 sebaiknya tidak hamil dan dapat memilih cara kontrasepsi AKDR, tubektomi, atau vasektomi pada suaminya. Penanganan kelas I dan II selama kehamilan - Morbiditas rendah, tetapi diperlukan kewaspadaan pada kehamilan dan nifas untuk mencegah dan deteksi dini kemungkinan terjadinya gagal jantung. - Sebaiknya ibu dirujuk ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis jantung dan unit perawatan intensif yang memadai. - Cegah infeksi dengan cara: ď&#x201A;ˇ Hindari kontak dengan penderita infeksi saluran napas termasuk influenza ď&#x201A;ˇ Dilarang merokok dan menggunakan obat-obatan narkotik - Gejala dan tanda ke arah kegagalan jantung umumnya bertahap, mulai dari ronkhi basah serta batuk-batuk, sesak napas dalam aktivitas sehari-hari dan kemudian dapat terjadi hemoptisis, edema, dan takikardia. Penanganan gagal jantung selama persalinan - Baringkan ibu dalam posisi miring ke kiri untuk menjamin aliran darah ke uterus - Batasi pemberian cairan intravena untuk mencegah overload cairan - Berikan analgesia yang sesuai - Jika perlu oksitosin, berikan dalam konsentrasi tinggi, dengan tetesan rendah dan pengawasan keseimbangan cairan. JANGAN beri ergometrin. - Persalinan pervaginam dengan mempercepat kala II. - Sedapat mungkin hindari mengedan. 119


- Jika perlu, lakukan episiotomi dan akhiri persalinan dengan ekstraksi vakum atau cunam. - Penanganan aktif kala III. Penanganan gawat jantung selama seksio sesarea Lakukan anestesia lokal (infiltrasi) dan sedasi. Jangan lakukan anestesia spinal. Gagal jantung akibat anemia (berat) - Transfusi packed red cell dengan tetesan perlahan. Jika darah tak dapat disentrifus, biarkan kantong darah tergantug sehingga sel darah terpisah di bagian bawah. Infus sel tersebut perlahan-lahan, buang serumnya. - Berikan furosemid 40 mg IV untuk tiap 100 ml packed red cell. Gagal jantung akibat penyakit jantung - Tangani gagal jantungya. Berikan obat sebagai berikut:  Morfin 10 mg IM dosis tunggal  ATAU furosemid 40 mg IV diulang jika perlu  ATAU digoksin 0,5 mg IV dosis tunggal  ATAU nitrogliserin 0,3 mg sublingual, diulang setiap 15 menit jika perlu.  Rujuk ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis jantung dan unit perawatan intensif yang memadai. Masa nifas - Ibu dengan kelainan jantung yang melalui masa kehamilan dan persalinan tanpa masalah dapat bermasalah pada masa nifas. Oleh karena itu, lanjutkan pemantauan pada masa nifas. Hal-hal yang dapat menimbulkan gagal jantung pada nifas:  Perdarahan  Anemia  Infeksi  Tromboemboli 120


Pada masa nifas kontrasepsi harus diberikan. Pada kondisi yang stabil, tubektomi dapat dilakukan. Penanganan kelas III dan IV - Jika seorang ibu hamil adalah penderita kelainan jantung kelas III dan IV, ada 2 kemungkinan penanganan, yaitu: ď&#x201A;ˇ Terminasi kehamilan. ď&#x201A;ˇ Meneruskan kehamilan dengan tirah baring total dan pengawasan ketat. ď&#x201A;ˇ Ibu dalam posisi setengah duduk. ď&#x201A;§ Persalinan dilakukan dengan seksio sesarea. ď&#x201A;§ Berikan furosemid agar volume darah berkurang dan beban jantung menurun. Di samping itu, berikan juga oksigen. Jika terdapat gagal napas, lakukan intubasi dan ventilasi mekanik.

Z. ALAT KONTRASEPSI 1. Pil Kombinasi Kontrasepsi pil kombinasi adalah pil yang mengandung sintetik estrogen dan preparat progesteron yang mencegah kehamilan dengan cara menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur oleh indung telur) melalui penekanan hormon LH dan FSH, mempertebal lendir mukosa serviks (leher rahim), dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Pil kombinasi ada yang memiliki estrogen dosis rendah dan ada yang mengandung estrogen dosis tinggi. Estrogen dosis tinggi biasanya diberikan kepada wanita yang mengkonsumsi obat tertentu (terutama obat epilepsy). Selain untuk kontrasepsi, pil kombinasi dapat digunakan untuk menangani dismenorea (nyeri saat haid), menoragia, dan metroragia. Pil kombinasi tidak direkomendasikan untuk wanita menyusui, sampai minimal 6 bulan setelah melahirkan. Estrogen yang terdapat di dalam pil kombinasi yang diminum oleh ibu menyusui, dapat mengurangi jumlah air susu dan kandungan zat lemak serta protein dalam ASI. 121


Karena itu untuk ibu menyusui sebaiknya diberikan tablet yang hanya mengandung progestin, yang tidak mempengaruhi pembentukan air susu. Wanita yang tidak menyusui harus menunggu setidaknya 3 bulan setelah melahirkan sebelum memulai pil kombinasi karena peningkatan risiko terbentuknya bekuan darah di tungkai. Apabila 1 pil lupa diminum, 2 pil harus diminum sesegera mungkin ketika ingat, dan pack tersebut harus dihabiskan seperti biasa. Bila 2 atau lebih pil lupa diminum, maka bungkus pil harus tetap dihabiskan dan metode kontrasepsi lain harus digunakan, seperti kondom, untuk mencegah kehamilan. Jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu kurang dari 12 minggu setelah persalinan, maka pil KB bisa langsung digunakan dengan syarat Ibu tidak sedang menyusui. Jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu 12-28 minggu, maka harus menunggu 1 minggu sebelum pil KB mulai digunakan, sedangkan jika menstruasi terakhir terjadi dalam waktu lebih dari 28 minggu, harus menunggu 2 minggu sebelum pil KB mulai digunakan. Pil KB tidak berpengaruh terhadap obat lain, tetapi obat lain (terutama obat tidur dan antibiotik) dapat menyebabkan berkurangnya efektivitas dari pil KB. Obat anti-kejang (fenitoin dan fenobarbital) dapat meningkatkan perdarahan abnormal pada wanita pemakai pil KB. Pil kombinasi atau combination oral contraceptive pill adalah pil KB yang mengandung hormon estrogen dan progesteron.

122


Gambar. Pil kombinasi kemasan 28 pil Pil KB kombinasi mengandung hormon aktif dan hormon tidak aktif, termasuk: 1. Conventional Pack. 2. Continuous Dosing Or Extended Cycle. Conventional Pack Paket konvensional biasanya berisi 21 pil dengan hormon aktif dan 7 pil dengan hormon tidak aktif atau 24 pil aktif dan empat pil tidak aktif. Haid terjadi setiap bulan selama seminggu ketika minum pil pada hari ke 4-7 dari pil terakhir yang tidak aktif. Continuous Dosing or Extended Cycle Merupakan pil kombinasi yang berisi 84 pil dengan hormon aktif dan 7 pil dengan hormon tidak aktif. Haid terjadi setiap empat kali setahun selama seminggu ketika minum pil pada hari ke 4-7 dari pil terakhir yang tidak aktif. Tersedia juga pil KB yang mengandung 28 pil dengan hormon aktif yang dapat mencegah haid. Jenis Jenis pil kombinasi atau combination oral contraceptive pill antara lain: 1. Monofasik. 2. Bifasik. 3. Trifasik. Monofasik Monofasik adalah pil kombinasi yang tersedia dalam kemasan 21 123


tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Bifasik Bifasik adalah pil kombinasi yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Trifasik Trifasik adalah pil kombinasi yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Cara Kerja Pil kombinasi atau combination oral contraceptive pill mempunyai cara kerja sebagai berikut: 1. Mencegah implantasi. 2. Menghambat ovulasi. 3. Mengentalkan lendir serviks. 4. Memperlambat transportasi ovum. 5. Menekan perkembangan telur yang telah dibuahi. Efektifitas Efektifitas pil kombinasi lebih dari 99 persen, apabila digunakan dengan benar dan konsisten. Ini berarti, kurang dari 1 orang dari 100 wanita yang menggunakan pil kombinasi akan hamil setiap tahunnya. Metode ini juga merupakan metode yang paling reversibel, artinya bila pengguna ingin hamil bisa langsung berhenti minum pil dan biasanya bisa langsung hamil dalam waktu 3 bulan. Manfaat Pil kombinasi memberikan manfaat antara lain: 1. Resiko terhadap kesehatan kecil. 2. Memiliki efektifitas tinggi, apabila diminum secara teratur. 3. Tidak mengganggu hubungan seksual. 4. Siklus haid teratur. 124


5. Dapat mengurangi kejadian anemia. 6. Dapat

mengurangi

ketegangan

sebelum

menstruasi

(pre

menstrual tension). 7. Dapat digunakan dalam jangka panjang. 8. Mudah dihentikan setiap waktu. 9. Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat. 10. Dapat digunakan pada usia remaja sampai menopause. 11. Membantu

mengurangi

kejadian

kehamilan

ektopik,

kanker

ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, penyakit radang panggul, kelainan jinak pada payudara, dismenorea dan jerawat. Keterbatasan Pil kombinasi mempunyai keterbatasan antara lain: 1. Tidak mencegah penyakit menular seksual termasuk Hepatitis B maupun HIV/AIDS. 2. Pengguna harus minum pil setiap hari. 3. Tidak boleh digunakan pada wanita menyusui. 4. Mahal. 5. Repot. Efek Samping Efek samping yang dapat ditimbulkan dari penggunaan pil kombinasi ini antara lain: 1. Peningkatan risiko trombosis vena, emboli paru, serangan jantung, stroke dan kanker leher rahim. 2. Peningkatan tekanan darah dan retensi cairan. 3. Pada

kasus-kasus

tertentu

dapat

menimbulkan

depresi,

perubahan suasana hati dan penurunan libido. 4. Mual (terjadi pada 3 bulan pertama). 5. Kembung. 6. Perdarahan bercak atau spotting (terjadi pada 3 bulan pertama). 7. Pusing. 8. Amenorea. 125


9. Nyeri payudara. 10. Kenaikan berat badan.

Kriteria Yang Dapat Menggunakan Pil Kombinasi Pada prinsipnya hampir semua wanita yang ingin menggunakan pil kombinasi diperbolehkan, seperti: 1. Wanita dalam usia reproduksi. 2. Wanita yang telah atau belum memiki anak. 3. Wanita yang gemuk atau kurus. 4. Wanita setelah melahirkan dan tidak menyusui. 5. Wanita yang menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas tinggi. 6. Wanita pasca keguguran/abortus. 7. Wanita

dengan

perdarahan

haid

berlebihan

sehingga

menyebabkan anemia. 8. Wanita dengan siklus haid tidak teratur. 9. Wanita dengan nyeri haid hebat, riwayat kehamilan ektopik, kelainan payudara jinak. 10. Wanita dengan diabetus melitus tanpa komplikasi pada ginjal, pembuluh darah, mata dan saraf. 11. Wanita

dengan

penyakit

tiroid,

penyakit

radang

panggul,

endometriosis atau tumor jinak ovarium. 12. Wanita yang menderita tuberkulosis pasif. 13. Wanita dengan varises vena.

Kriteria Yang Tidak Dapat Menggunakan Pil Kombinasi Kriteria yang tidak dapat menggunakan pil kombinasi terbagi dalam: 1. Kontra indikasi absolut. 2. Kontra indikasi relatif. Kontra Indikasi Absolut 126


Yang

termasuk

dalam

tromboplebitis

atau

tromboemboli,

kelainan

kontra

indikasi

tromboemboli,

absolut

riwayat

serebrovaskuler

antara

lain:

tromboplebitis

atau

atau

penyakit

jantung

koroner, diketahui atau diduga karsinoma mammae, diketahui atau diduga karsinoma endometrium, diketahui atau diduga neoplasma yang tergantung estrogen, perdarahan abnormal genetalia yang tidak diketahui penyebabnya, adenoma hepar, karsinoma atau tumor-tumor jinak hepar, diketahui atau diduga hamil, gangguan fungsi hati, tumor hati yang ada sebelum pemakaian pil kontrasepsi atau produk lain yang mengandung estrogen. Kontra Indikasi Relatif Yang termasuk dalam kontra indikasi relatif antara lain: sakit kepala (migrain), disfungsi jantung atau ginjal, diabetes gestasional atau pre diabetes, hipertensi, depresi, varises, umur lebih 35 tahun, perokok berat, fase akut mononukleosis, penyakit sickle cell, asma, kolestasis selama kehamilan, hepatitis atau mononukleosis tahun lalu, riwayat keluarga (orang tua, saudara) yang terkena penyakit reumatik yang fatal atau tidak fatal atau menderita DM sebelum usia 50 tahun, kolitis ulseratif. Selain itu, kriteria lain yang tidak dapat menggunakan pil kombinasi adalah: 1. Wanita yang tidak dapat disiplin minum pil setiap hari. 2. Wanita yang dicurigai hamil atau hamil. 3. Wanita yang menyusui secara eksklusif. Waktu Mulai Menggunakan Pil Kombinasi Pil kombinasi mulai digunakan pada: 1. Hari pertama sampai hari ke tujuh siklus haid. 2. Sewaktu mendapat haid. 3. Setelah melahirkan (pasca keguguran, setelah 3 bulan tidak menyusui, setelah 6 bulan pemberian ASI).

127


4. Saat ingin berhenti kontrasepsi hormonal jenis suntikan dan ingin ganti pil kombinasi. Hal Khusus yang Perlu Diperhatikan dalam Penggunaan Pil Kombinasi Di bawah ini merupakan hal atau keadaan yang memerlukan perhatian. Keadaan

Saran darah Sistolik lebih dari 160 mmHg, Pil tidak boleh digunakan

Tekanan tinggi

diastolik lebih dari 90 mmHg.

Anemia bulan sabit

Pil tidak boleh digunakan

Kencing manis

Tanpa komplikasi

Migrain

Tanpa gejala neurologik lokalPil dapat diberikan yang

berhubungan

Pil dapat diberikan

dengan

nyeri kepala Konsumsi

fenitoin,

Pil etinilestradiol dengan

barbiturat, rifampisin Tanda

dosis 50 mikrogram Masalah

yang

Mungkin

Terjadi Sakit kepala hebat Kehilangan

penglihatan

kabur

Stroke, hipertensi, migraine atau Stroke, hipertensi, atau masalah vaskular

Nyeri dada hebat, batuk, nafas Serangan jantung atau bekuan pendek

darah dalam paru

Nyeri abdomen hebat

Penyakit

kandung

empedu,

bekuan darah, pankreatitis Tidak terjadi perdarahan/spotting Kemungkinan hamil setelah selesai minum pil Nyeri tungkai hebat (betis atau Sumbatan paha)

tungkai

128

pembuluh

darah


Efek Samping dan Penanganan Di bawah ini merupakan penanganan dari efek samping dari penggunaan pil kombinasi. Efek Samping Amenore

(tidak

perdarahan

Penanganan ada

atau

Lakukan tes kehamilan atau periksa dalam, bila tidak hamil dan cara minum sudah benar (tidak

spotting

masalah). 

Tidak haid kemungkinan kurang adekuatnya efek estrogen

terhadap

endometrium

(tidak

perlu

pengobatan). 

Berikan pil estrogen dosis 50 mikrogram atau dosis estrogen tetap, dosis progestin dikurangi.

Hentikan penggunaan pil dan yakinkan pasien tidak ada efek samping pada janin, bila kemungkinan hamil.

Perdarahan pervaginam

atau spotting

Lakukan

tes

kehamilan

atau

pemeriksaan

ginekologik. 

Sarankan minum pil yang sama.

Berikan penjelasan bahwa perdarahan biasa terjadi pada penggunaan 3 bulan pertama dan akan berhenti.

Bila perdarahan/spotting masih terjadi, berikan pil estrogen

dosis tinggi

(50

mikrogram) sampai

perdarahan teratasi, kemudian kembali ke dosis awal. 

Bila perdarahan berlanjut, lanjutkan pil estrogen dosis tinggi (50 mikrogram) atau sarankan dengan metode kontrasepsi lain.

Cara Minum Pil Kombinasi 129


Pil kombinasi terbagi dalam berbagai merk, dan biasanya di dalammya terdapat brosur tentang cara pemakaiannya. Sebelum menggunakan pil kombinasi, baca dengan seksama dan pahami bagaimana minum pil dalam keadaan khusus. Catatan: Tunjukkan cara mengeluarkan pil dari kemasannya dan pesankan untuk mengikuti anak panah (sesuai hari) yang menunjuk deretan pil berikutnya. Petunjuk Umum Berikut ini adalah panduan penggunaan pil kombinasi secara umum: 1. Pil kombinasi sebaiknya diminum setiap hari pada saat yang sama. 2. Pil yang pertama dimulai pada hari pertama sampai hari ke tujuh siklus haid. 3. Penggunaan pil kombinasi dianjurkan diminum pada hari pertama haid. 4. Pada kemasan 28 pil, dianjurkan mulai minum pil plasebo sesuai dengan hari yang ada pada kemasan. 5. Bila kemasan 28 pil habis, sebaiknya mulai minum pil dari kemasan yang baru. 6. Bila kemasan 21 pil habis, tunggu 1 minggu kemudian mulai minum pil dari kemasan yang baru. 7. Minum pil yang lain, apabila terjadi muntah dalam waktu 2 jam setelah meminumnya. 8. Penggunaan pil kombinasi dapat diteruskan, apabila tidak memperburuk keadaan saat terjadi muntah hebat atau diare lebih dari 24 jam. 9. Penggunaan pil apabila terjadi muntah dan diare berlangsung sampai 2 hari atau lebih sama dengan aturan minum pil lupa. 10. Tes kehamilan dilakukan apabila tidak haid. 130


Aturan Pil Lupa Apabila lupa minum 1 pil (hari 1-21), maka setelah ingat segera minum 2 pil pada hari yang sama (tidak perlu menggunakan metode kontrasepsi lain). Apabila lupa minum 2 pil (hari 1-21), sebaiknya minum 2 pil setiap hari sampai jadual yang ditetapkan (sebaiknya menggunakan

metode

kontrasepsi

lain

atau

tidak

melakukan

hubungan seksual sampai pil habis).

Petunjuk Untuk Pasien Post Partum yang Tidak Menyusui Pil kombinasi diminum setelah 3 minggu post partum. Jika sudah 6 minggu post partum dan sudah melakukan hubungan seksual, sebaiknya menunggu haid dan gunakan metode barier.

Petunjuk Untuk Pasien Post Partum yang Menyusui Petunjuk untuk pasien post partum yang menyusui sama dengan petunjuk umum dan aturan pil lupa. Sebelum menggunakan pil kombinasi, berikan konseling dan KIE pada pasien tentang berbagai metode kontrasepsi

2. Kontrasepsi Pil Progestin Kontrasepsi Pil Progestin Kontrasepsi pil progestin bekerja mencegah kehamilan dengan cara mempertebal lendir mukosa leher rahim,

mengganggu

pergerakan

silia saluran tuba, dan menghalangi pertumbuhan lapisan endometrium. Mini pil ini hanya mengandung progestin

saja

tanpa

estrogen.

Keefektifan berkurang bila pil tidak

131


diminum di waktu yang sama setiap harinya. Kontrasepsi ini diberikan pada wanita yang menginginkan kontrasepsi oral namun tidak bisa menggunakan pil kombinasi karena pengaruh estrogen dapat membahayakan, misalnya pada wanita yang sedang menyusui. a. Efektivitas Kehamilan terjadi pada 0,5â&#x20AC;&#x201C;5/100 wanita b. Keuntungan Mula kerja cepat (24 jam setelah pemakaian pil), menurunkan kejadian menoragia dan anemia. Dapat digunakan pada wanita menyusui. Mencegah terjadinya kanker endometrium, tidak memiliki efek samping yang berkaitan dengan estrogen (bekuan darah di vena tungkai) c. Kerugian Harus diminum di waktu yang sama setiap hari, kurang efektif dibandingkan pil kombinasi, membutuhkan resep dokter d. Efek samping Penambahan berat badan, jerawat, kecemasan, bercak, angka kejadian terjadinya perdarahan tidak teratur tinggi e. Cara pemakaian Pil harus diminum setiap hari, termasuk di waktu haid. Sebaiknya pil diminum pada waktu yang sama f. Pengembalian kesuburan Cepat ketika pil dihentikan

Mini pil adalah pil KB yang hanya mengandung hormon progesteron dalam dosis rendah. Pil mini atau pil progestin disebut juga pil menyusui. Dosis progestin yang digunakan 0,03-0,05 mg per tablet. Jenis Mini Pil Mini pil terbagi dalam dua jenis yaitu: 1. Mini pil dalam kemasan dengan isi 28 pil. 2. Mini pil dalam kemasan dengan isi 35 pil. 132


Mini pil dalam kemasan dengan isi 28 pil mengandung 75 mikro gram desogestrel. Sedangkan mini pil dalam kemasan dengan isi 35 pil mengandung 300 mikro gram levonogestrel atau 350 mikro gram noretindron.

Gambar. Mini pil kemasan 28 pil

Gambar. Mini pil kemasan 35 pil Contoh mini pil antara lain: 1. Micrinor, NOR-QD, noriday, norod mengandung 0,35 mg noretindron. 2. Microval, noregeston, microlut mengandunng 0,03 mg levonogestrol. 3. Ourette, noegest mengandung 0,5 mg norgeestrel. 4. Exluton mengandung 0,5 mg linestrenol. 5. Femulen mengandung 0,5 mg etinodial diassetat. Cara Kerja Cara kerja dari kontrasepsi pil progestin atau mini pil dalam mencegah kehamilan antara lain dengan cara: 1. Menghambat ovulasi. 2. Mencegah implantasi. 3. Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma. 133


4. Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma menjadi terganggu.

Efektifitas Pil progestin atau mini pil sangat efektif (98,5 persen). Penggunaan yang benar dan konsisten sangat mempengaruhi tingkat efektifitasnya. Efektifitas penggunaan mini pil akan berkurang pada saat mengkonsumsi obat anti konvulsan (fenitoin), carbenzemide, barbiturat, dan obat anti tuberkulosis (rifampisin). Adapun cara untuk menjaga kehandalan mini pil antara lain: 1. Minum pil setiap hari pada saat yang sama. 2. Penggunaan mini pil jangan sampai ada yang lupa. 3. Senggama dilakukan 3-20 jam setelah minum mini pil. Manfaat Kontrasepsi pil progestin atau mini pil mempunyai manfaat kontrasepsi dan non kontrasepsi. Manfaat Kontrasepsi Mini pil mempunyai manfaat kontrasepsi sebagai berikut: 1. Sangat efektif apabila digunakan dengan benar dan konsisten. 2. Tidak mempengaruhi ASI. 3. Nyaman dan mudah digunakan. 4. Hubungan seksual tidak terganggu. 5. Kesuburan cepat kembali. 6. Efek samping sedikit. 7. Dapat dihentikan setiap saat. 8. Tidak mengandung estrogen. Manfaat Non Kontrasepsi. Mini pil mempunyai manfaat non kontrasepsi sebagai berikut: 1. Mengurangi jumlah darah haid. 2. Mengurangi kejadian anemia. 3. Menurunkan pembekuan darah. 4. Mengurangi nyeri haid. 134


5. Mencegah kanker endometrium. 6. Melindungi dari penyakit radang panggul. 7. Penderita endometriosis, kencing manis yang belum mengalami komplikasi dapat menggunakan. 8. Tidak menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala dan depresi. 9. Mengurangi gejala pre menstrual sindrom.

Kerugian Kontrasepsi pil progestin atau mini pil mempunyai kerugian, antara lain: 1. Memerlukan biaya. 2. Harus selalu tersedia. 3. Efektifitas berkurang apabila menyusui juga berkurang. 4. Penggunaan mini pil bersamaan dengan obat tuberkulosis atau epilepsi akan mengakibatkan efektifitas menjadi rendah. 5. Mini pil harus diminum setiap hari dan pada waktu yang sama. 6. Angka kegagalan tinggi apabila penggunaan tidak benar dan konsisten. 7. Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk HBV dan HIV/AIDS. 8. Mini pil tidak menjamin akan melindungi dari kista ovarium bagi wanita yang pernah mengalami kehamilan ektopik. Efek Samping Efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan pil progestin atau mini pil antara lain: 1. Gangguan haid (perdarahan bercak, spotting, amenorea dan haid tidak teratur). 2. Peningkatan/penurunan berat badan. 3. Payudara tegang. 4. Mual. 5. Pusing. 6. Perubahan mood. 135


7. Dermatitis atau jerawat. 8. Hirsutisme (pertumbuhan rambut atau bulu yang berlebihan pada daerah muka), tetapi sangat jarang. Indikasi Kriteria yang boleh menggunakan pil progestin atau mini pil antara lain: 1. Wanita usia reproduksi. 2. Wanita yang telah memiliki anak maupun yang belum mempunyai anak. 3. Pasca persalinan dan tidak menyusui. 4. Menginginkan metode kontrasepsi efektif selama masa menyusui. 5. Pasca keguguran. 6. Tekanan darah kurang dari 180/110 mmHg atau dengan masalah pembekuan darah. 7. Tidak boleh mengkonsumsi estrogen atau lebih senang menggunakan progestin. 8. Perokok segala usia. Kontra Indikasi Kriteria yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi pil progestin atau mini pil antara lain: 1. Wanita usia tua dengan perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya. 2. Wanita yang diduga hamil atau hamil. 3. Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid. 4. Riwayat kehamilan ektopik. 5. Riwayat kanker payudara atau penderita kanker payudara. 6. Wanita pelupa sehingga sering tidak minum pil. 7. Gangguan tromboemboli aktif (bekuan di tungkai, paru atau mata). 8. Ikterus, penyakit hati aktif atau tumor hati jinak maupun ganas. 9. Wanita dengan miom uterus. 10. Riwayat stroke. Penanganan Efek Samping

136


Di bawah ini merupakan penanganan dari beberapa efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan mini pil. Efek Samping

Penanganan

Amenorea

Pastikan hamil atau tidak, jika tidak hamil tidak perlu tindakan khusus (cukup konseling). Bila hamil, hentikan pil dan berikan penjelasan bahwa mini pil tidak mengganggu pertumbuhan janin. Bila diduga terjadi kehamilan ektopik, rujuk pasien (jangan berikan obat-obatan hormonal).

Perdarahan

tidak Bila tidak menimbulkan masalah kesehatan,

teratur/spotting

tidak perlu tindakan khusus. Berikan alternatif kontrasepsi

lain,

bila

pasien

tidak

dapat

menerima kondisi tersebut.

Waktu Mulai Menggunakan Mini Pil Mini pil mulai dapat digunakan pada hari pertama sampai hari ke lima pada siklus haid (tidak memerlukan metode kontrasepsi lain) apabila: 1. Lebih dari 6 minggu pasca persalinan dan pasien telah mendapat haid. 2. Pasien sebelumnya menggunakan kontrasepsi non hormonal dan ingin ganti dengan mini pil. 3. Pasien sebelumnya menggunakan AKDR (termasuk AKDR yang mengandung hormon).

Mini pil mulai dapat digunakan setiap saat apabila: 1. Diduga tidak terjadi kehamilan. 2. Pasien mengalami amenorea (tidak haid) dan dipastikan tidak hamil (sebaiknya jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau gunakan kontrasepsi lain untuk 2 hari).

137


3. Menyusui antara 6 minggu dan 6 bulan pasca persalinan dan tidak haid (bila menyusui penuh, tidak memerlukan kontrasepsi tambahan). Selain itu, mini pil dapat digunakan saat: 1. Bila sebelumnya pasien menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin ganti dengan mini pil. Pil dapat segera diberikan dan tidak perlu menunggu

haid

berikutnya,

apabila

penggunaan

kontrasepsi

sebelumnya digunakan dengan benar dan tidak hamil. 2. Bila sebelumnya pasien menggunakan kontrasepsi suntikan dan ingin ganti mini pil. Pil dapat diberikan pada jadual suntikan berikutnya dan tidak memerlukan metode kontrasepsi tambahan lain.

Cara Minum Pil Progestin atau Mini Pil Di bawah ini merupakan petunjuk minum pil progestin atau mini pil, yaitu: 1. Mini pil diminum setiap hari pada saat yang sama sampai habis. 2. Pil pertama sebaiknya diminum pada saat hari pertama siklus haid. 3. Metode barier digunakan pada hari ke tujuh atau 4-6 minggu post partum walaupun haid belum kembali. 4. Pada pasien 9 bulan post partum sebaiknya beralih menggunakan pil kombinasi karena efektifitas mini pil mulai menurun. 5. Bila pasien muntah dalam waktu 2 jam setelah menggunakan pil, minum pil yang lain atau gunakan metode kontrasepsi lain jika akan melakukan hubungan seksual pada 48 jam berikutnya. 6. Meskipun pasien belum haid, mulai paket baru sehari setelah paket terakhir habis. 7. Bila pasien mendapat haid teratur setiap bulan dan kehilangan 1 siklus (tidak haid), atau merasa hamil, maka lakukan tes kehamilan. 8. Apabila pasien mengalami spotting atau perdarahan selama masa interval, tetap minum pil sesuai jadual (perdarahan biasa terjadi selama bulan-bulan pertama). 9. Apabila pasien mengalami kram, nyeri perut hebat atau demam maka segera periksa ke pelayanan kesehatan. 138


10. Sarankan

pada

pasien

untuk

menggunakan

kondom

ataupun

spermisida selain memakai mini pil apabila kemungkinan terinfeksi penyakit menular seksual (termasuk HBV dan HIV/AIDS) atau lupa minum pil. Aturan Pil Lupa Cara minum pil-pil yang terlupa selama 7 hari pertama antara lain: 1. Bila lupa minum pil atau terlambat minum pil, segera minum pil saat ingat dan gunakan metode barier selama 48 jam. 2. Bila pasien lupa minum 1 atau 2 pil, segera minum pil yang terlupa dan gunakan metode barier sampai akhir bulan.

Hal yang Perlu Disampaikan Pada Pasien Informasi yang perlu disampaikan pada pasien antara lain: 1. Penggunaan mini pil akan merubah pola haid terutama 2 atau 3 bulan pertama. Pada umumnya perubahan pola haid ini hanya bersifat sementara dan tidak mengganggu kesehatan. 2. Penggunaan mini pil akan menimbulkan efek samping seperti mual, pusing, ataupun nyeri payudara. 3. Efektifitas

penggunaan

mini

pil

akan

berkurang,

bila

pasien

mengkonsumsi obat-obatan tuberkulosis ataupun epilepsi. 4. Bila beberapa bulan mengalami haid teratur kemudian terlambat haid, kemungkinan terjadi kehamilan. 5. Bila mengeluh perdarahan bercak disertai nyeri hebat pada perut, kemungkinan terjadi kehamilan ektopik. 6. Masalah penglihatan kabur, nyeri kepala hebat, kemungkinan terjadi hipertensi atau masalah vaskuler. 7. Segere ke pelayanan kesehatan apabila menjumpai masalah-masalah di atas.

139


3. Suntikan Kombinasi Maksud disini

adalah

Progesteron.

istilah

kombinasi

suntikan

Estrogen-

Dengan

diberikan

secara intramuskular setiap bulan, mengandung

25

mg

depo

medroxyprogesteron asetat dan 5 mg

estradiol

cypionat.

Siklus

menstruasi terjadi lebih stabil setiap bulan. a. Efektivitas kehamilan

terjadi

pada

0,3/100 wanita b. Keuntungan mula kerja cepat dan sangat efektif, bekerja dalam waktu lama, tidak mengganggu menyusui, mengurangi rasa nyeri dan haid yang keluar, dapat dipakai pada hari ke 3 â&#x20AC;&#x201C; 5 pasca persalinan, dan segera setelah keguguran c. Kerugian meningkatkan berat badan karena nafsu makan yang meningkat, lapisan dari lendir rahim menjadi tipis sehingga haid sedikit, bercak atau tidak haid sama sekali, perdarahan tidak menentu, suntikan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan secara teratur, tidak melindungi dari PMS d. Efek samping Peningkatan berat badan, rambut rontok, tulang menjadi keropos, kelainan metabolisme lemak, ketidakteraturan menstruasi termasuk menometroragi (umumnya beberapa bulan pertama) dan amenorea (1 tahun pertama), jika pemakaian suntikan KB dihentikan, siklus menstruasi yang teratur akan kembali terjadi dalam waktu 6 bulan-1 tahun 140


e. Pengembalian kesuburan Tidak selama kontrasepsi suntikan progestin. Kontrasepsi testosteron.

suntik

Untuk

ada

suntikan

tiga

yaitu

kombinasi,

kombinasi

mengandung

progestin, 25

mg

dan depo

medroksiprogesteron asetat dan 5mg estradiol sipionat (cyclofem), atau 50 mg noretindron enantat dan 5 mg estradiol valerat. Cara kerja KB suntik hampir sama dengan KB pil kombinasi, hanya saja KB suntik diberikan sebulan sekali dengan dosis yang lebih tinggi dari pil sehingga cenderung merusak keteraturan hormon. Keuntungan, keterbatasan serta kontraindikasi KB suntik kombinasi juga sama dengan pil kombinasi, bedanya KB suntik memerlukan pelayanan kesehatan. Suntikan pertama dilakukan saat haid, 42 hari pasca persalinan, atau sewaktu-waktu dengan menggunakan kontrasepsi lain selama tujuh hari. Kandungan KB suntik progestin ada dua macam yaitu

depo

medroksiprogesteron asetat (depoprovera) yang diberikan tiap tiga bulan dan depo noretisteron enantat (depo noristerat) yang disuntikkan tiap dua bulan. Cara kerja, keuntungan, kerugian, sera kontraindikasinya sama dengan pil progestin, hanya saja kembalinya kesuburan lebih lama karena obat diberikan dalam dosis tinggi dengan jeda waktu yang lama, sehingga system kerja hormon tidak berjalan sebagaimana mestinya. Baru-baru

ini

ditemukan

jenis

kontrasepsi

hormonal

yang

menggunakan testosterone. Kontrasepsi ini diperuntukkan laki-laki dengan waktu injeksi setiap bulan. Keuntungan kontrasepsi ini adalah efektivitas 100% dan kesuburan bisa segera kembali setelah pemakaian dihentikan.

4. Kontrasepsi Suntikan progestin Kontrasepsi Suntikan Progestin Kontrasepsi suntikan progestin mencegah kehamilan dengan mekanisme yang sama seperti progestin pil namun kontrasepsi ini

141


menggunakan

suntikan intramuskular (dalam otot <bokong atau lengan

atas>). Yang digunakan adalah long-acting progestin, yaitu Norestiteron enantat (NETEN) dengan nama dagang depomedroksi progesterone acetat (DPMA), 150 mg yang diberikan setiap 3 bulan. a. Efektivitas kehamilan terjadi pada 0,3/100 wanita b. Keuntungan mula kerja cepat dan sangat efektif, bekerja dalam waktu lama, tidak mengganggu menyusui, mengurangi rasa nyeri dan haid yang keluar, dapat dipakai pada hari ke 3 â&#x20AC;&#x201C; 5 pasca persalinan, dan segera setelah keguguran c. Kerugian meningkatkan berat badan karena nafsu makan yang meningkat, lapisan dari lendir rahim menjadi tipis sehingga haid sedikit, bercak atau tidak haid sama sekali, perdarahan tidak menentu, suntikan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan secara teratur, tidak melindungi dari PMS d. Efek samping Peningkatan berat badan, rambut rontok, tulang menjadi keropos, kelainan metabolisme lemak, ketidakteraturan menstruasi termasuk menometroragi (umumnya beberapa bulan pertama) dan amenorea (1 tahun pertama), jika pemakaian suntikan KB dihentikan, siklus menstruasi yang teratur akan kembali terjadi dalam waktu 6 bulan-1 tahun e. Pengembalian kesuburan 5-7 bulan setelah penghentian suntikan

5. Implant Jenis-jenis : â&#x20AC;˘

Norplant â&#x2020;&#x2019; 6 btang silastik lembut berongga, panjang 3,4 cm, diameter 2,4 mm, dengan isi 36 mg levonorgestrel, lama kerja 5 tahun 142


Implanon → 1 batang putih lentur, panjang 40 mm, diameter 2 mm, isi 68 mg 3-kento-desogestrel, lama kerja 3 tahun

Jadena dan Indoplan → 2 batang, isi 75 mg levonorgestrel, lama kerja 3 tahun

Cara kerja : •

Lendir serviks jadi kental

Mengganggu motilitas tuba sehingga transport sperma maupun terganggu

Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi

Menekan ovulasi ( mengganggu keseimbangan hormon esterogen, progesteron, dan gonotropin )

Keuntungan : •

Efektifitas tinggi

Kontrasepsi jangka panjang

Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan

Bebas dari pengaruh esterogen

Tidak mengganggu ASI

Perdarahan

Mengurangi nyeri haid

Mengurangi jumlah darah haid

Melindungi tjdnya kanker endometrium

Melindungi diri dari PID

Efek samping : •

Nyeri kepala

Peningkatan atau penurunan berat badan

Nyeri payudara

Mual

Amenorea

Spotting

Ekspulsi 143


Infeksi pada daerah insersi

Waktu pemasangan : •

Hari ke 2 atau hari ke 7 siklus haid

Pasca keguguran

40 hari / 16 mggu pasca persalinan, setelah haid datang

Bila menyusui, antara 6 mggu sampai 6 bulan

Kontraindikasi : •

Hamil

Penyakit hati

Penyakit kuning

Hipertensi

Kelainan tromboembolik

Kanker payudara

Perdarahan yang tidak jelas

Kanker genital

Miom uterus

DM

Indikasi : •

Ingin kontrasepsi jangka panjang

Wanita menyusui

Pasca persalinan dan tidak menyusui

Pasca keguguran

Riwayat KET

TD < 160/90 mmHg

Pemasangan dan Pencabutan Batang (Rod) Implan Untuk meminimalisasi risiko infeksi pada klien setelah pemasangan maupun pencabutan implan, petugas klinik harus berupaya untuk menjaga lingkungan yang bebas dari infeksi. Untuk itu petugas perlu melakukan hal-hal berikut: 1. Meminta klien untuk membersihkan dengan sabun seluruh lengan yang akan dipasang implan dan membilasnya hingga tidak ada sisa sabun yang tertinggal (sisa sabun dapat mengurangi efektivitas beberapa bahan 144


antiseptik). Langkah ini sangat penting khususnya bila kebersihan klien sangat kurang. 2. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir. Untuk pemasangan maupun pencabutan batang, cuci tangan dengan sabun biasa selama 10 - 15 detik kemudian dibilas dengan air bersih yang mengalir sudah cukup. 3. Pakai kedua sarung tangan yang telah disterilisasi atau diDTT. (Gunakan sepasang sarung tangan yang berbeda untuk setiap tindakan guna menghindari kontaminasi silang). 4. Siapkan daerah pemasangan atau pencabutan dengan kapas yang telah diberi antiseptik; gunakan forsep untuk mengusapkan kapas tersebut pada daerah pemasangan/pencabutan implan. 5. Setelah selesai pemasangan maupun pencabutan batang implan, dan sebelum melenas sarung tangan, dekontaminasi instrumen dalam larutan klorin 0,5%. Sebelum membuang atau merendam jarum dan alat suntik, isi lebih dahulu dengan larutan klorin. (Setelah pemasangan, pisahkan plunger dari trokar. Darah kering akan menyulitkan waktu memisahkan plunger dan trokar). Rendam selama 10 menit; kemudian bilas segera dengan air bersih untuk menghindari korosi pada alat-alat berbahan metal. 6. Kain operasi (drape) harus dicuci sebelum digunakan kembali. Setelah dipakai, taruh pada wadah kering dan bertutup kemudian dibawa ke ruang pencucian. 7. Dengan

tetap

memakai

sarung

tangan,

buang

bahan-bahan

terkontaminasi (kasa, kapas, dll) ke dalam wadah tertutup rapat atau kantung plastik yang tidak bocor. Jarum dan alat suntik sekali pakai (disposable) harus dibuang ke dalam wadah yang tahan tusuk. 8. Masukkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%. Lepaskan sarung tangan dari dalam ke luar. Bila hendak membuang sarung tangan, taruh ke dalam wadah atau kantung plastik tahan bocor.

145


PERSIAPAN -

Penting bahwa alat-alat dalam kondisi yang baik (misalnya, trokar dan skalpel harus tajam). Selain itu, periksa semua alat dan bahan lain telah disterilisasi atau diDTT. Batang implan tersimpan dalam kemasan steril, beralas kertas, dan terlindung dari panas. Alkon tersebut akan tetap steril untuk 3 tahun selama tidak rusak dan tidak disimpan di tempat yang lembab dan panas.

Persiapan Klien -

Walaupun kulit dan integumennya sulit untuk disterilisasi, pencucian dan pemberian antiseptik pada daerah operasi tempat implan akan dipasang dapat mengurangi jumlah mikroorganisme di daerah kulit klien. Kedua tindakan ini pada kenyataannya sangat bermanfaat dalam mengurangi risiko terjadinya infeksi pada saat insersi atau pencabutan implan Norplant. Bila prosedur pencucian dan kaidah tindakan antiseptik dilakukan dengan benar, angka kejadian infeksi saat insersi dan pencabutan implan akan sangat rendah (kurang dari 1 persen). Dengan demikian pemberian antibiotik profilaktik tidak dianjurkan.

-

Peralatan dan Instrumen untuk Insersi 1. Meja periksa untuk berbaring klien. 2. Alat penyangga lengan (tambahan). 3. Batang implan dalam kantong. 4. Kain penutup steril (disinfeksi tingkat tinggi) serta mangkok untuk tempat meletakkan implan Norplant. 5. Sepasang sarung tangan karet bebas bedak yang sudah disteril (atau didisinfeksi tingkat tinggi). 6. Sabun untuk mencuci tangan. 7. Arutan antiseptik untuk disinfeksi kulit (misal: larutan betadin atau jenis golongan povidon iodin lainnya), lengkap dengan cawan/mangkok antikarat. 8. Zat anestesi lokal (konsentrasi 1% tanpa epinefrin).

146


9. Semprit (5-10 ml), dan jarum suntik (22 G) ukuran 2,5 sampai 4 cm (111/2 per inch). 10. Trokar 10 dan mandrin. 11. Skalpel 11 atau 15. 12. Kasa pembalut, band aid, atau plester. 13. Kasa steril dan pembalut. 14. Epinefrin untuk renjatan anafilaktik (harus tersedia untuk keperluan darurat). 15. Klem penjepit atau forsep mosquito (tambahan). 16. Bak/tempat instrumen (tertutup) -

Penerangan Kepada Klien 1. Bimbing/berikan kesempatan pada klien untuk bertanya tentang keterangan yang telah diberikan dan tentang apa yang akan dilakukan pada dirinya. 2. Peragakan peralatan yang akan digunakan serta jelaskan tentang prosedur apa yang akan dikerjakan. 3. Jelaskan bahwa klien akan mengalami sedikit rasa sakit saat penyuntikan zat anestesi lokal, sedangkan prosedur insersinya sendiri tidak akan menimbulkan rasa nyeri. 4. Prinsip-prinsip dan tata cara pemasangan dan pencabutan implan secara umum adalah sama, baik implan yang menggunakan 6 batang (Norplant) maupun dua batang (Indoplan). 5. Tenteramkan hati klien setelah tindakan insersi.

KUNCI KEBERHASILAN PEMASANGAN -

Untuk tempat pemasangan kapsul, pilihlah lengan klien yang jarang digunakan.

-

Gunakan cara pencegahan infeksi yang dianjurkan.

-

Pastikan kapsul-kapsul tersebut ditempatkan sedikitnya 8 cm di atas lipat siku, di daerah medial lengan.

-

Insisi untuk pemasangan harus kecil, hanya sekedar menembus kulit. Gunakan skalpel atau trokar tajam untuk membuat insisi. 147


-

Masukkan trokar melalui luka insisi dengan sudut yang kecil, superfisial tepat di bawah kulit. Waktu memasukkan trokar jangan dipaksakan.

-

Trokar harus dapat mengangkat kulit setiap saat, untuk memastikan pemasangan tepat di bawah kulit.

-

Pastikan 1 kapsul benar-benar keluar dari trokar sebelum kapsul berikutnya dipasang (untuk mencegah kerusakan kapsul sebelumnya, pegang kapsul yang sudah terpasang tersebut dengan jari tengah dan masukkan trokar pelan-pelan di sepanjang tepi jari tersebut.

-

Setelah selesai memasang, bila sebuah ujung kapsul menonjol keluar atau terlalu dekat dengan luka insisi, harus dicabut dengan hati-hati dan dipasang kembali dalam posisi yang tepat.

-

Jangan mencabut ujung trokar dari tempat insisi sebelum semua kapsul dipasang dan diperiksa seluruh posisi kapsul. Hal ini untuk memastikan bahwa keenam kapsul dipasang dengan posisi yang benar dan pada bidang yang sama di bawah kulit.

-

Kapsul pertama dan keenam harus membentuk sudut sekitar 75

-

Gambar tempat kapsul tersebut pada rekam medik dan buat catatan bila ada kejadian tidak umum yang mungkin terjadi selama pemasangan.

PENATALAKSANAAN UMUM

TINDAKAN SEBELUM PEMASANGAN Langkah 1 Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan kain bersih. Langkah 2 Pakai sarung tangan steril atau DTT (ganti sarung tangan untuk setiap klien guna mencegah kontaminasi silang). Catatan: Jangan menggunakan bedak untuk memakai sarung tangan. Butir-butir bedak yang halus dapat jatuh ke tempat insisi dan menyebabkan terjadinya jaringan

148


parut (reaksi jaringan ikat). Bila sarung tangan diberi bedak, bersihkan dengan kasa steril yang direndam dengan air steril atau air mendidih. Langkah 3 Atur alat dan bahan-bahan sehingga mudah dicapai. Hitung kapsul untuk memastikan jumlahnya. Langkah 4 Persiapkan tempat insisi dengan larutan antiseptik. Gunakan klem steril atau DTT untuk memegang kasa berantiseptik. (Bila memegang kasa berantiseptik hanya dengan tangan, hati-hati jangan sampai mengkontaminasi sarung tangan dengan menyentuh kulit yang tidak steril). Mulai mengusap dari tempat yang akan dilakukan insisi ke arah luar dengan gerakan melingkar sekitar 8 13 cm dan biarkan kering (sekitar 2 menit) sebelum memulai tindakan. Hapus antiseptik yang berlebihan hanya bila tanda yang sudah dibuat tidak terlihat. Langkah 5 Bila ada gunakan kain penutup (doek) yang mempunyai lubang untuk menutupi lengan. Lubang tersebut harus cukup lebar untuk memaparkan tempat yang akan dipasang kapsul. Dapat juga dengan menutupi lengan di bawah tempat pemasangan dengan kain steril Langkah 6 Setelah memastikan (dari anamnesis) tidak alergi terhadap obat anestesi, isi alat suntik dengan 3 ml obat anestesi (1% tanpa epinefrin). Dosis ini sudah cukup untuk menghilangkan rasa sakit selama memasang kapsul implan. Langkah 7 Masukkan jarum tepat di bawah kulit pada tempat insisi (yang terdekat dengan siku) kemudian lakukan aspirasi untuk memastikan jarum tidak masuk ke dalam pembuluh darah. Suntikkan sedikit obat anestesi untuk membuat gelembung kecil di bawah kulit. Kemudian tanpa memindahkan jarum, masukkan

ke

bawah

kulit

(subdermis)

sekitar

4

cm

Hal ini akan membuat kulit (dermis) terangkat dari jaringan lunak di bawahnya. Kemudian tarik jarum pelan-pelan sehingga membentuk jalur sambil menyuntikkan obat anestesi sebanyak 1 ml di antara tempat untuk 149


memasang, kapsul 1 dan 2, selanjutnya di antara kapsul 3 dan 4 serta 5 dan 6. Dari pengalaman didapatkan bahwa 3 jalur anestesi yang mengikuti bentuk kipas tersebut cukup memadai sehingga dapat mengurangi jumlah obat anestesi yang diperlukan. Satu mililiter obat anestesi cukup untuk setiap jalur. Lakukan pemijatan pada lengan, agar penyebaran obat anestesi merata, hal ini akan meningkatkan efektivitas anestesi. Catatan: Untuk mencegah toksisitas,

dosis

total

tidak

boleh

melebihi

10

ml ( 10 g/l) dari 1% anestesi lokal tanpa epinefrin.

Pemberian anastesi

PENATALAKSANAAN UMUM pemasangan implant Kapsul Norplant dipasang tepat di bawah kulit di atas lipat siku, di daerah medial lengan atas. Untuk tempat pemasangan kapsul, pilihlah lengan klien yang jarang digunakan. Pertama, cuci lengan dengan air dan sabun, kemudian usap dengan antiseptik dan suntik anestesi lokal. Buat insisi kecil hanya sekedar menembus kulit, sekitar 8 cm di atas lipat siku. Setiap kapsul dimasukkan melalui trokar khusus (nomor 10) dan dipasang tepat di bawah kulit dengan pola kipas yang membuka ke arah bahu, sehingga kedua kapsul paling luar akan membentuk sudut kurang lebih 75. Tidak diperlukan penjahitan untuk menutup luka insisi, cukup dengan band aid. Ingat: Yang terpenting kapsul dipasang superfisial, tepat di bawah kulit (dermis). Pemasangan yang dalam akan menyebabkan pencabutan

menjadi

sulit. Sebelum memulai tindakan, periksa kembali untuk memastikan apakah klien: 1. Sedang minum obat yang dapat menurunkan efektivitas implan Norplant, 2. Sudah pemah mendapat anestesi lokal sebelumnya, dan 3. Alergi terhadap obat anestesi lokal atau jenis obat lainnya.

150


PERSIAPAN PEMASANGAN

Langkah 1 Persilakan klien mencuci seluruh lengan dengan sabun dan air yang mengalir, serta membilasnya. Pastikan tidak terdapat sisa sabun (sisa sabun menurunkan efektivitas antiseptik tertentu). Langkah ini sangat penting bila klien kurang menjaga kebersihan dirinya untuk menjaga kesehatannya dan mencegah penularan penyakit. Langkah 2 Tutup tempat tidur klien (dan penyangga lengan atau meja samping, bila ada) dengankain bersih. Langkah 3 Persilakan klien berbaring dengan lengan yang lebih jarang digunakan (misalnya: lengan kiri) diletakkan pada lengan penyangga atau meja samping. Lengan harus disangga dengan baik dan dapat digerakkan lurus atau sedikit bengkok sesuai dengan posisi yang disukai klinisi untuk memudahkan pemasangan. Langkah 4 Tentukan tempat pemasangan yang optimal, 8 cm di atas lipatan siku, gunakan

pola

(template) dan spidol untuk menandai tempat insisi yang akan dibuat dan tempat keenam kapsul akan dipasang (bila akan menggunakan antiseptik yang mengandung alkohol gunakan spidol dengan tinta permanen). Langkah 5 Siapkan tempat alat-alat dan buka bungkus steril tanpa menyentuh alat-alat di dalamnya. Langkah 6 Buka dengan hati-hati kemasan steril implan dengan menarik kedua lapisan pembungkusnya dan jatuhkan seluruh kapsul dalam mangkok steril. Ingat: 151


Kapsul yang tersentuh kapas atau bahan lain akan menjadi lebih reaktif (lebih sering menyebabkan perlekatan atau jaringan parut karena partikel kapas menempel pada kapsul silastik). Bila tidak ada mangkok steril, kapsul dapat diletakkan dalam mangkok yang didisinfeksi tingkat tinggi (DTT) atau pada baki tempat alat-alat. Pilihan lain adalah dengan membuka sebagian kemasan dan mengambil kapsul satu demi satu dengan klem steril atau DTT saat melakukan pemasangan. Jangan menyentuh bagian dalam kemasan atau isinya

kecuali

dengan

alat

yang

steril

atau

DTT.

Catatan: Bila kapsul jatuh ke lantai, kapsul tersebut telah terkontaminasi. Buka kemasan baru dan teruskan pemasangan. (Jangan melakukan sterilisasi ulang

pada

kapsul

yang

terkontaminasi).

PEMASANGAN KAPSUL Sebelum membuat insisi, sentuh tempat insisi dengan jarum atau skalpel (pisau bedah) untuk memastikan obat anestesi telah bekerja. Langkah 1 Pegang skalpel dengan sudut 45_ , buat insisi dangkal hanya untuk sekedar menembus kulit. Jangan membuat insisi yang panjang atau dalam. Langkah 2 Ingat kegunaan ke-2 tanda pada trokar. Trokar harus dipegang dengan ujung yang tajam menghadap ke atas (Gambar 20-6). Ada 2 tanda pada trokar, tanda (1) dekat pangkal menunjukkan batas trokar dimasukkan ke bawah kulit sebelum memasukkan setiap kapsul. Tanda (2) dekat ujung menunjukkan batas trokar yang harus tetap di bawah kulit setelah memasang setiap kapsul.

Langkah 3

152


Dengan ujung yang tajam menghadap ke atas dan pendorong di dalamnya masukkan ujung trokar melalui luka insisi dengan sudut kecil. Mulai dari kiri atau kanan pada pola seperti kipas, gerakkan trokar ke depan dan berhenti saat ujung tajam seluruhnya berada di bawah kulit (2-3 mm dari akhir

ujung

tajam)

Memasukkan trokar jangan dengan paksaan. Jika terdapat tahanan, coba dari sudut lainnya. Memasukan trokar dengan sedut yg kecil Langkah 4 Untuk meletakkan kapsul tepat di bawah kulit, angkat trokar ke atas, sehingga kulit terangkat. Masukkan trokar perlahan-lahan dan hati-hati ke arah tanda (1) dekat pangkal (Gambar 20-6). Trokar harus cukup dangkal sehingga dapat diraba dari luar dengan jari. Trokar harus selalu terlihat mengangkat kulit selama pemasangan. Masuknya trokar akan lancar bila berada di bidang yang tepat di bawah kulit. Catatan: Jangan menyentuh trokar terutama bagian tabung yang masuk ke bawah kulit untuk mencegah trokar terkontaminasi pada waktu memasukkan dan menarik keluar. Langkah 5 Saat trokar masuk sampai tempat yang ideal, cabut pendorong dari trokar. Langkah 6 - Masukkan kapsul pertama ke dalam trokar. - Gunakan ibu jari dan telunjuk atau pinset atau klem untuk mengambil kapsul dan memasukkan ke dalam trokar. - Bila kapsul diambil dengan tangan, pastikan sarung tangan tersebut bebas dari bedak atau partikel lain. - Untuk mencegah kapsul jatuh pada waktu dimasukkan ke dalam trokar, letakkan satu tangan di bawah kapsul untuk menangkap bila kapsul tersebut jatuh) - Memasukan kapsul

153


- Dorong kapsul sampai seluruhnya masuk ke dalam trokar dan masukkan kembali pendorong Langkah 7 Gunakan pendorong untuk mendorong kapsul ke arah ujung trokar sampai terasa ada tahanan, tapi jangan mendorong dengan paksa. (Akan terasa tahanan pada saat sekitar setengah bagian pendorong masuk ke dalam trokar). Langkah 8 - Pegang pendorong dengan erat di tempatnya dengan satu tangan untuk menstabilkan. - Tarik tabung trokar dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk ke arah luka insisi sampai tanda (2) muncul di tepi luka insisi dan pangkalnya menyentuh pegangan pendorong. Hal yang penting pada langkah ini adalah menjaga pendorong tetap di tempatnya dan tidak mendorong kapsul ke jaringan. Langkah 9 - Saat pangkal trokar menyentuh pegangan pendorong, tanda (2) harus terlihat di tepi luka insisi dan kapsul saat itu keluar dari trokar tepat berada di bawah kulit (Gambar 20-11). - Raba ujung kapsul dengan jari untuk memastikan kapsul sudah keluar seluruhnya

dari

trokar.

Catatan: Pengasahan trokar yang berulang akan memendekkan trokar sehingga mengurangi jarak ke tanda (2), karena itu saat memakai trokar yang diasah, jangan menarik trokar terlalu jauh ke belakang karena akan keluar dari tepi luka insisi Melepaskan kapsul Hal yang penting adalah kapsul bebas dari ujung trokar untuk menghindari terpotongnya kapsul saat trokar digerakkan untuk memasang kapsul berikutnya.

154


Langkah 10 - Tanpa mengeluarkan seluruh trokar, putar ujung dari trokar ke arah lateral kanan dan kembalikan lagi ke posisi semula (Gambar 20-12) untuk memastikan kapsul pertama bebas. - Selanjutnya geser trokar sekitar 15 derajat, mengikuti pola seperti kipas yang terdapat pada lengan. - Untuk melakukan itu, mulamula fiksasi kapsul pertama dengan jari telunjuk dan masukkan kembali trokar pelanpelan sepanjang sisi jari telunjuk tersebut sampai tanda (1) (Gambar 20-13). - Hal ini akan memastikan jarak yang tepat antara kapsul dan mencegah trokar menusuk kapsul yang dipasang sebelumnya. - Bila tanda (1) sudah tercapai, masukkan kapsul berikutnya ke dalam trokar dan lakukan seperti sebelumnya (Langkah 5-9) sampai seluruh kapsul terpasang. Langkah 11 Pada pemasangan kapsul berikutnya, untuk mengurangi risiko infeksi atau ekspulsi, pastikan bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang lebih 5 mm dari tepi luka insisi. Juga pastikan jarak antara ujung setiap kapsul yang terdekat dengan tepi luka insisi (ujung kecil dari pola seperti kipas) tidak lebih dari lebar 1 kapsul. Ingat: Kapsul harus membentuk pola seperti kipas, setiap bagian sekitar 15_ ,sehingga antara kapsul terluar (1 dan 6) membentuk sudut sekitar 75_ . Langkah 12 Saat memasang keenam kapsul satu demi satu, jangan mencabut trokar dari luka insisi (lihat Langkah 10). Hal ini akan mengurangi trauma pada jaringan, menurunkan kemungkinan infeksi dan mempersingkat waktu pemasangan. Langkah 13 Sebelum mencabut trokar, raba kapsul untuk memastikan keenam kapsul semuanya telah terpasang.

155


Langkah 14 Ujung dari semua kapsul harus tidak ada pada tepi luka insisi (sekitar 5 mm). Bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekat dengan luka insisi, harus dicabut dengan hati-hati dan dipasang kembali di tempat yang tepat. Langkah 15 Setelah keenam kapsul terpasang semuanya dan posisi setiap kapsul sudah diperiksa, keluarkan trokar pelan-pelan. Tekan tempat insisi dengan jari menggunakan kasa selama 1 menit untuk menghentikan perdarahan. Bersihkan

tempat

pemasangan

dengan

kasa

berantiseptik.

TINDAKAN SETELAH PEMASANGAN KAPSUL Menutup luka insisi 1. Temukan tepi kedua insisi dan gunakan band aid atau plester dengan kasa steril untuk menutup luka insisi. Luka insisi tidak perlu dijahit karena dapat menimbulkan jaringan parut. 2. Periksa adanya perdarahan. Tutup daerah pemasangan dengan pembalut untuk hemostasis dan mengurangi memar (perdarahan subkutan). Perawatan klien Buat catatan pada rekam medik tempat pemasangan kapsul dan kejadian tidak umum yang mungkin terjadi selama pemasangan. (Gambar sederhana yang memperlihatkan kira-kira tempat pemasangan keenam kapsul pada lengan

klien,

akan

sangat

membantu).

ď&#x201A;ˇ Amati klien lebih kurang 15 sampai 20 menit untuk kemungkinan perdarahan dari luka insisi atau efek lain sebelum memulangkan klien. Beri petunjuk untuk perawatan luka insisi setelah pemasangan, kalau bisa diberikan secara tertulis.

6. Intra Uterine Devices JENIS AKDR : ď Ž Lippes loop ď Ž Cu â&#x20AC;&#x201C; T 156


 Cu – 7  Multiload Keuntungan AKDR :  Pemasangan tidak memerlukan teknis yang sulit  Kontrol medis yang ringan  Penyulit tidak terlalu berat  Pulihnya kesuburan setelah AKDR dicabut  Metode jangka panjang  Dapat digunakan samapai menopause ( 1 thn atau lebih) KERUGIAN AKDR :  Masih terjadi kehamilan in situ  Leokorea  Infeksi  Tali AKDR dapat menyebabkan perlukaan portio dan menggangu hubngan seksual  Tidak dapat mencegah PMS / HIV AIDS  Kejang perut selama 3-5 hari setelah pemasangan  Perdarahan hebat  Haid bertambah banyak dan lama  Penyakit Radang Panggul  Nyeri waktu senggama CARA KERJA AKDR :  Menghambat kemampuan sperma  Mempengaruhui fertilisasi  Mengentalkan lendir serviks KAPAN/WAKTU PEMASANGAN AKDR  Hari 2 atau hari 3 selama menstruasi  Selesai menstruasi  Tiga bulan pasca persalinan  Bersamaan dengan Sectio Sesarea  Setelah abortus atau kuretase 157


AKDR TIDAK DAPAT DIPASANG BILA :  Infeksi genetalia : servisitis dan vaginitis  Sedang hamil  Penderita Diabetes  Penderita tumor/kanker payudara  Penderita kanker servik atau tropoblas ganas  Perdarahan yang tidak diketahui sebab  Varises pada tungkai dan vulva KAPAN AKDR DICABUT :  Bila ingin hamil  Leokorea  Terjadi infeksi  Terjadi perdarahan  Terjadi kehamilan PEMERIKSA ULANG AKDR :  4 sampai 6 minggu setelah pemasangan  2 Bulan setelah pemasangan  6 bulan sampai 1 tahun setelah pemasangan KEMBALI KE KLINIK BILA :  Tidak dapat meraba benang AKDR  Merasakan bagian yang keras dari AKDR  AKDR terlepas/eksspulsi  Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan adanya infeksi

A. Pemasangan IUD Apabila prosedur pemasangan telah dijelaskan dan pertanyaan atau kekhawatiran wanita telah diatasi, maka ia kemungkinan besar menjadi lebih santai saat prosedur sehingga memfasilitasi pemasangan dan meminimalkan rasa tidak nyaman. Teknik pemasangan yang benar dapat secara bermakna

158


mengurangi risiko kehamilan dan komplikasi-ekspulsi, perdarahan dan nyeri, perlorasi serta infeksi. B. Peralatan Yang Diperlukan Untuk Pemasangan 1 Lampu 2 Speculum dua katup 3 Apusan bakleriologis (apabila diindikasikan) 4 Lidi kapas 5 Larutan antiseptik 6 Sarung tangan bersih 7 Wadah sekali pakai untuk instrument yang sudah dipakai dan sampah klinis 8 Baki/bengkok steril (wadah untuk instrument pemasangan) 9 Forseps steril 10 inci untuk memegang spons 10 Sonde uterus lentur steril yang berskla sentimeter 11 Forseps jaringan 12 inci atau tenaklum satu-gigi dengan ujung tumpul yang steril 12 Gunting yang cukup panjang sehingga dapat memotong benang C. Penentuan Waktu Pemasangan AKDR dapat dipasang setiap saat selama siklus menstruasi asalkan kehamilan sudah disingkirkan. AKDR dapat dipasang segera setelah terminasi kehamilan secara penghisapan atau evakuasi aborsi spontan, dan 6 minggu setelah persalinan per vaginam atau melalui seksio sesarea. Pemasangan AKDR pascaplasenta (dalam 48 jam setelah melahirkan) juga aman dan nyaman, terutama apabila wanita selanjutnya sulit berhubungan dengan petugas kesehatan, tetapi angka eksplulsinya tinggi. Pemasangan AKDR selama masa menstruasi secara konvensional dianjurkan karena beberapa alasan berikut: kecil kemungkinannya ada kehamilan, serviks lebih lunak dan os internus sedikit membuka, kemungkinan pemasangan lebih mudah, dan perdarahan setelah pemasangan tersamar oleh darah menstruasi. Namun, juga ada kekurangan-angka ekspulsi sedikit

159


lebih tinggi karena kontraktilitas uterus meningkat dan sebagian wanita tidak senang apabila diperiksa saat menstruasi.

D. Teknik Pemasangan Karena metode pemasangan berbeda untuk masing-masing alat, maka pemasangan paling aman apabila kita mengikuti petunjuk produsen dengan cermat. 1

Sepanjang prosedur, harus diterapkan teknik â&#x20AC;&#x153;jangan menyentuhâ&#x20AC;? (no touch technique). Bagian dari sonde dan alat pemasangan yang sudah terisi yang masuk ke dalam uterus jangan disentuh, bahkan dengan tangan yang sudah bersarung, kapanpun. Dengan demikian, pemakaian sarung tangan yang bersih (non-steril) sudah memadai.

2

Setelah pemeriksaan panggul bimanual, serviks dipajankan dengan speculum sementara wanita berbaring dalam posisi litotomi modifikasi atau posisi lateral.

3

Serviks dibersihkan dengan antiseptik dan dipegang dengan forseps atraumatik

12 inci (forseps Allis panjang sering digunakan). Tarikan

ringan untuk meluruskan kanalis uteroservikalis membantu pemasangan AKDR di fundus. 4

Sonde uterus dimasukkan dengan htai-hati untuk menentukan kedalaman dan arah rongga uterus serta arah dan kepatenan kanalis servikalis apabila

dijumpai

spasme/stenosis

serviks,

maka

mungkin

perlu

dipertimbangkan pemberian anestetik lokal dan dilatasi os serviks. 5

AKDR dimasukkan ke dalam alat pemasangan sehingga AKDR akan berletak rata dalam bidang transversal rongga uterus saat dilepaskan.

6

AKDR jangan berada di dalam alat pemasanga lebih dari beberapa menit karena alat ini akan kehilangan â&#x20AC;&#x153;elastisitasnyaâ&#x20AC;? dan bentuknya akan berubah.

7

Tabung alat pemasanga secara hati-hati dimasukkan melalui kanalis servikalis, AKDR dilepaskan sesuai instruksi spesifik untuk masing-masing alat kemudian alat pemasang dikeluarkan. 160


8

Setelah pemasangan, dianjurkan untuk melakukan sonde kanalis ulang untuk menyingkirkan kemungkinan AKDR terletak rendah. AKDR harus diletakkan di fundus agar insidensi ekspulsi dan kehamilan rendah.

9

Benang AKDR harus dipotong dengan gunting panjang sampai sekitar 3 cm dan os eksternus.

E. Teknik Pengeluaran 1. Benang terlihat a. Gunakan speculum untuk melihat serviks dan lihat dengan jelas adanya benang AKDR b. Jepit benang (-benang) dengan kuat dekat os eksternus dengan forceps arteri lurus. c. Lakukan tarikan lembut kea rah bawah. Biasanya AKDR akan tertarik dengan mudah dan dengan nyeri minimal. Apabila dijumpai tahanan, atau apabila pasien merasa nyeri, hentikan tarikan dan d. Periksa ukuran dan posisi uterus dengan pemeriksaan bimanual. e. Jepit serviks dengan forceps jaringan dan lakukan terikan lembut untuk meluruskan kanalis uteroservikalis. f. Lanjutkan terikan pada benang dan keluarkan AKDR seperti biasa. g. Kadang-kadang kita perlu memberikan anestesia lokal untuk mengurangi rasa tidak nyaman saat pengeluaran. 2. Apabila benang putus Sewaktu pengeluaran, kanalis servikalis harus dieksplorasi secara hatihati dengan forseps arteri lurus untuk memeriksa apakah ujung bawah AKDR telah turun ke kanalis servikalis. Apabila terasa, maka batang vertical AKDR dapat dijepit dan dikeluarkan. Apabila AKDR seluruhnya berada di dalam rongga uterus, maka dapat dilakukan eksplorasi rongga uterus dengan forceps bengkok yang kecil dan panjang atau â&#x20AC;&#x153;pengaitâ&#x20AC;? untuk mengetahui lokasi dan mengeluarkan AKDR. Dilatasi serviks dapat dicapai dengan pemberian misoprostol 400 Îźg per vagina 161


sebelum eksplorasi uterus. Hanyar dokter yang berpengalaman dalam teknik intrauterus yang boleh melakukan prosedur semacam ini. 3. Perubahan AKDR AKDR sebaiknya tidak diganti sebelum interval yang dianjurkan karena pengeluaran dan pemasangan kembali meningkatkan risiko kegagalan, ekspulsi, dan infeksi. Pada wanita yang berusia 40 tahun atau lebih, AKDR yang mengandung tembaga dapat dibiarkan di tempatnya sampai 12 bulan setelah periode menstruasi terakhir.

7. MEDIS OPERASI PRIA (MOP) / VASEKTOMI Pengertian Kontrasepsi mantap (kontap) merupakan suatu tindakan untuk membatasi keturunan dalam jangka waktu yang tidak terbatas, yang dilakukan terhadap salah seorang dari pasangan suami isteri atas permintaan yang bersangkutan, secara mantap dan sukarela. Kontap dapat di ikuti baik oleh wanita maupun pria. Tindakan kontap pada wanita disebut kontap wanita atau MOW (Metoda Operasi Wanita) atau tubektomi,sedangkan pria atau MOP (Metoda Operasi Pria) atau vasektomi, yaitu tindakan pengikatan dan pemotongan saluran benih agar sperma tidak keluar dari buah zakar. Pada tahun-tahun terakhir ini vasektomi makin banyak dilakukan dibeberapa Negara seperti India, Pakistan,Amerika Serikat, Korea dan lainlain, untuk menekan laju pertambahan penduduk. Di Indonesia vasektomi tidak termasuk dalam program keluarga berencana nasional. Vasektomi merupakan suatu operasi kecil dan dapat dilakukan oleh seseorang yang telah mendapat latihan khusus. Selain itu, vasektomi tidak memerlukan alat-alat banyak,

dapat

dilakukan

secara

poliklinis,

menggunakan anastesi lokal.

162

dan

dilakukan

dengan


Indikasi Vasektomi Pada dasarnya indikasi untuk melakukan vasektomi adalah pasangan suami istri yang tidak menghendaki kehamilan lagi dan pihak suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi dilakukan pada dirinya.

Kontra Indikasi Vasektomi Sebenarnya tidak ada kontra indikasi untuk melakukan vasektomi, hanya apabila ada kelainan lokal atau umum yang dapat menggangu sembuhnya luka operasi, kelainan tersebut harus disembuhkan telebih dahulu. Keuntungan vasektomi adalah : -

Tidak menimbulkan kelainan fisik maupun mental

-

Tidak menggangu libido seksualitas

-

Dapat dilakukan secara poliklinis

-

Sangat efektif dan permanen

-

Tidak ada efek samping dalam jangka panjang

-

Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99%

-

Tindakan bedah yang aman dan sederhana

Yang dapat menjalanankan Vasektomi (MOP) Untuk laki-laki subur yang sudah mempunyai anak cukup (2 anak) dan istri beresiko tinggi

Yang Sebaiknya Tidak Mrenjalani Vasektomi (MOP) -

Infeksi kulit di sekitar kemaluan

-

Menderita kencing manis

-

Hidrokel atau varikokel besar

-

Hernia inguinalis

-

Anemia berat, gangguan pembekuan darah atau sedang menggunakan antikoagulansi

163


Waktu Pelaksanaan Vasektomi (MOP) -

Tidak ada batasan usia, dapat dilaksanakan bila diinginkan. Yang penting sudah memenuhi syarat sukarela, bahagia, dan faktor kesehatan

-

Istri beresiko tinggi

Persiapan Sebelum Tindakan Vasrktomi (MOP) Hal-hal yang perlu dilakukan oleh calon peserta kontap pria adalah : -

Tidur dan istirahat cukup

-

Mandi dan membersihkan daerah sekitar kemaluan

-

Makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke klinik

-

Dating ke klinik tempat operasi dengan pengantar

-

Jangan lupa membawa surat persetujuan isteri yang di tanda tangani atau cap jempol

Teknik Vasektomi Mula- mula kulit skrotum di daerah operasi di suci hamakan. Kemudian dialkukan anastesi likal dengan larutan xilokain. Anastesi dilakukan di kulit skrotum dan jaringan sekitarnya bagian atas, dan pada jarinagan sekitar vas deferens. Vas dicari dan setalah ditentukan lokasinya, di pegang sedekat mungkin dibawah kulit skrotum. Setelah itu di lakukan sayatan pada kulit skrotum seitar 0,5 sampai 1 cm di dekat tempat vas deferens. Setelah vas deferens kelihatan, di jepit dan dikeuarkan dari sayatan (harus dioyakinkan betul, bahwa memang vas yang dikeluluarkan), vas di potong sepanjang 1 sampai 2 cm dan kedua ujungnya diikat, setelah kulit dijahit, tindakan diulang pada sebelah yang lain. Seseorang yang telah mengalami vasektomi baru dapat dikatakan betul-betul steril jika telah mengalami 8 samapi 12 ejakulasi setelah vasektomi. Oleh karena itu sebelum hal tersebut di atas tercapaimengalami vasektomi baru dapat dikatakan betul-betul steril jika telah mengalami 8 samapi 12 ejakulasi setelah vasektomi. 164


Oleh

karena

itu

sebelum

hal

tersebut

di

atas

tercapai,yang

bersangkutan dianjurkan pada koitus memakai cara kontrasepsi lain. Komplikasi Vasektomi anatar lain : -

Infeksi pada sayatan

-

Rasa nyeri atau sakit

-

Terjadinya hematoma oleh karena perdarahan kapilar

-

Epididimitis

-

Terbentuknya granuloma

-

Kegagalan Vasektomi dapat terjadi oleh karena terjadi rekanalisasi spontan, gagal mengenal dan memotong vas deferens, tidak di ketahui adanya anomaly vas deferns misalnya ada 2 vas disebelah kanan ato kiri, koitus dilakukan sebelum kantong seminalnya betul-betul kosong.

Perawatan Setelah Tindakan Vasektomi (MOP) -

Istirahat selama 1-2 hari dan hindarkan kerja berat selama 7 hari

-

Jagalah kebersihan dengan membersihkan diri secara teratur dan jaga agar luka bekas operasi tidak terkena air atau kotoran.

-

Makanlah obat yang diberi dokter secara teratur sesuai petunjuk

-

Pakailah celana dalam kering dan janagn lupa menggantinya setiap hari

-

Janganlah bersenggama jika luka belum sembuh. Boleh berhubungan seksual setelah tujuh hari setelah operasi. Bila isteri tidak menggunakan alat kontrasepsi, senggama dilakukan dengan memakai kondom sampai 3 bulan setelah operasi.

165


8. MEDIS OPERASI WANITA (MOW) / TUBEKTOMI

Kontrasepsi mantap pada wanita atau MOW (Metoda Operasi Wanita ) atau tubektomi, yaitu tindakan pemotongan dan pengikatan saluran telur agar sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma. Tubektomi pada wanita adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita atau tuba fallopii yang mengakibatkan wanita tersebut tidak dapat hamil atau tidak menyebabkan kehamilan lagi. Dahulu tubektomi dilakukan dengan jalan laporotomi atau pembedahan vaginal. Sekarang, dengan alat-alat dan teknik baru, tindakan tubektomi dilakukan secara lebih ringan dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit. Dalam tahun-tahun terakhir tubektomi merupakan salah satu bagian yang penting dalam program keluarga berencana di banyak Negara. Di Indonesia sejak tahun 1974 telah berdiri Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI), yang membina perkembangan metoda dengan opersai (M.O) atau kontrasepsi mantap secara sukarela, tetapi secara resmi tubektomi tidak termasuk kedalam program nasional keluarga berencan di Indonesia. Keuntungan Tubektomi 1 Motivasi hanya dilakukan sekali, sehingga tidak diperlukan motivasi berulang-ulang. 2 Efektivitas hampir 100% 3 Tidak mempengaruhi libido seksualitas 4 Kaegagalan dari pihak pasien tidak ada 5 Sangat efektif dan permanen 6 Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99% 7 Tidak ada efek samping dalam jangka panjang 8 Tidak mempengaruhi proses menyusui 9 Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi local

166


Kerugian Tubektomi Tindakan ini dapat dianggap tidak ireversibel, walaupun memang ada kemungkinan untuk membuka tuba kembali pada mereka yang akhirnya masih menginginkan anak lagi dengan operasi rekanalisasi. Oleh karena itu, penutupan tuba hanya dapat dikerjakan pada mereka yang menpunyai syaratsyarat tertentu.

Indikasi Metode Dengan Operasi ( M.O) Seminar kuldoskopi Indonesia pertama kali di Jakarta (18-19 Desember 1974) mengambil kesimpulan, sebaiknya tubektomi sukarela dilakukan pada wanita uang memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1 Umur termuda 25 tahun denagn 4 anak hidup 2 Umur sekitar 30 tahun dengan 3 anak hidup 3 Umur sekitar 35 tahun dengan 2 anak hidup Pada konferensi khusus perkumpulan untuk sterilisasi sukarela Indonesia di Medan (3-5 Juni 1976) dianjurkan pada umur anatara 24-40 tahun ,dengan jumlah anak sebagai berikut : 1 Umur antara 25-30 tahun dengan 3 anak atau lebih 2 Umur antara 30-35 tahun dengan 2 anak atau lebih 3 Umur antara 35-40 tahun dengan 1 anak atau lebih Umur suami sekuarang-kurangnya 30 tahun, kecuali apabila jumlah anak telah melebihi jumlah yang diinginkan oleh pasangan tersebut.

Syarat Setiap peserta kontap harus memenuhi 3 syarat, yaitu : 1. Sukarela Setiap calon peserta kontap harus secara sukarela meneriam pelayanan kontap, artinya secara sadar dan dengan kemauan sendiri memeilih kontap sebagai cara kontrasepsi. 2. Bahagia Setiap calon peserta kontap harus memenuhi syarat bahagia, artinya : 167


-

Calon peserta tesebut dalam perkawinan yang sah dan harmonis dan telah dianugerahi sekurang-kurangnya 2 orang anak yang sehat rohani dan jasmani

-

Biala hanya mempunyai 2 orang anak, maka anak yang paling kecil berumur sekitar 2 tahun

-

Umur isteri paling muda sekitar 25 tahun

3. Kesehatan Setiap calon peserta kontap harus memenuhi syarat kesehatan, artinya tidak di temukan adanya hambatan atau konta indikasi untuk menjalani kontap. Oleh karena itu setiap calon peserta harus diperiksa terlebih dahulu kesehatannya oleh dokter, sehingga diketahui apakah cukup sehat untuk dikontap atau tidak. Selain itu juga setiap calon peserta kontap harus mengikuti konseling (bimbingan tatap muka) dan menandatangani formulir persetujuan tindakan medik (Informed Consent)

Yang Dapat Menjalani Tubektomi (MOW) a. Usia lebih dari 26 tahun b. Sudah punya anak cukup (2 anak), anak terkecil harus berusia minimal 5 tahun c.

Yakin telah mempnyai keluarga yang sesuai dengan kehendaknya

d. Pada kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius e. Ibu pasca persalinan f.

Ibu pasca keguguran

Yang sebaiknya tidak menjalani Tubektomi (MOW) a. Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai) b. Kencing manis (diabetes) c.

Penyakit jantung

d. Penyakit paru-paru e. Perdarahan pervaginal yang belum diketahui sebabnya (sehingga harus di evaluasi) 168


f.

Infeksi sistemik atau pelvic yang akut ( hingga masalah tersebut disembuhkan atau dikontrol)

g. Belum memberikan persetujuan tertulis

Waktu Pelaksanaan Tubektomi (MOW) a. Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila di yakini secara rasional klien tersebut tidak hamil b. Hari ke-3 hingga ke-13 dari siklus menstruasi c.

Pasca persalinan - Minilap : di dalam waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12 minggu - Laraproskopi : tidak tepat untuk klien pasca persalinan

d. Pasca keguguran - Triwulan pertama : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap atau laparoskopi) - Triwulan kedua : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap saja)

Persiapan Sebelum Tindakan Tubektomi (MOW) Hal-hal yang perlu dilakukan oleh calon peserta kontap wanita adalah : a. Puasa mulai tengah malam sebelum operasi, atau sekurang-kurangnya 6 jam sebelum operasi. Bagi calon akseptor yang menderita maag (kelainan lambung agar makan obat maag sebelum dan sesudah puasa) b. Mandi dan membersihkan daerah kemaluan dengan sabun mandi sampai bersih dan juga daerah perut bagian bawah c. Tidak memakai perhiasan, kosmetik, cat kuku, dll d. Membawa surat persetujuan dari suami yang sudah di tandatangani atau di cap jempol e. Menjelang operasi harus kencing telebih dahulu f. Datang ke rumah sakit tepat pada waktunya, dengan di temani anggota keluarga (sebaiknya suami) 169


Cara Tubektomi a. Saat Operasi : Tubektomi dapat dilakukan pasca keguguran, pasca persalinan atau masa interval. Di anjurkan tubektomi pasca persalinan sebaiknya di lakukan dalam 24 jam, atau selambat-lambatnya dalam 48 jam setelah persalinan. Tubektomi pasca persalinan lewat 48 jam akan dipersulit oleh udema tuba, infeksi, dan kegagalan. Udema tuba akan berkurang setelah hari ke 7 â&#x20AC;&#x201C; 10 hari pasca persalinan. Tubektomi setalah hari itu akan lebih sulit dilakukan karena alat-alat genetal telah mengecil dan berdarah b. Cara Mencapai Tuba -

Laparotomi : cara mencapai tuba melalui laratomi biasa, terutama pada masa pasca persalinan

-

Minilaparotomi : laparotomi khusus untuk tubektomi ini paling mudah dlakukan 1-2 hari pasca persalinan. Uterus yang masih besar, tuba yang masih panjang, dan dinding perut masih longgar memudahkan mencapai tuba dengan sayatan kecil sepanjang 1-2 cm di bawah pusat

-

Laparoskopi : pasien dengan posisi litotomi-Kanula Robin dipasang pada kanalis servikalis dan bibir depan servik dijepit dengan tenakulum bersama-sama.

Pemasangan

alat-alat

ini

di

maksudkan

untuk

mengendalikan uterus selagi operasi dilakukan -

Kuldoskopi : pasien dengan pisisis menungging (posisi genupektoral) dan setelah speculum

-

Dimasukkan dan bibir belakang di jepit dan uterus di tarik keluar dan agak ke atas. Dilakukan fungsi dengan jarum tauhy di belakang uterus, dan melalui jarum tersebut udara masuk dan usus-usus terdorong ke rongga perut. Setelah jarum diangkat, lubang diperbesar, sehingga dapat dimasukkan kuldekop. Melalui kuldeskop dilakukan pengamatan adneksa dan dengan lunam khusus tuba dijepit dan di tarik keluar untuk dilakukan penutupan.

-

Kolpotomi Posterior : pasien dalam posisi litotomi. Dinding belakang vagina di jepit pada jarak 1 â&#x20AC;&#x201C; 3 cm dari serviks dengan 2 buah cunam. Lipatan 170


dinding vagina dianatara kedua dijepit digunting sekaligus sampai menembus peritoneum. Lubang sayatan diperlebar dengan dorongan speculum soonawalla. Tuba dapat langung terlihat atau di pancing dan di taik keluar. Mukosa vagina dan peritoneum dijahit secara jelujur, bersama atau di jahit sendiri-sendiri, lama perawatan 2-3 hari, seang anetesi yang dipakai ialah umum dan spinal.

c. Cara Penutupan Tuba -

Cara Pameroy : Tuba di jepit kira-kira pertengahannya, kemudian diangkat samapai melipat. Dasar lipatan diikiat dengan sehelai catgut biasa no. 0 atau no. 1. Lipatan tba dipotong diatas lipatan catgut tadi

-

Cara Kroener : Fimbria dijepit dengan sebuah klem. Bagian tuba proksimal dari jepitan diikat dengan sehelai benang sutera atau dengan catgut yang tidak mudah diabsorsi

-

Bagian tuba distal dari jepitan dipotong (fimbriektomi)

-

Cara Irving : tuba dipotong pada pertengahan panjangnya setelah kedua ujung potongan diikat dengan cutgut kromik no. 0 atau 00. Ujung potongan distal dianamakan di dalam ligamentum latum

-

Pemasanagan Cincin Falope : Cincin Falope (Toon Ring ) terbuat dari silicon. Dengan aplikator bagian ismus tuba di tarik dan cincin dipasang pada tuba tesebut

-

Pemasangan Klip : Klip filshie mempunyai keuntungan dapat digunakan pada tuba yang edema. Klip tidak memperpendek panjan tuba, maka rekanalisai lebih mungkin dikerjakan

Perawatan Setelah Tindakan Tubektomi (MOW) a. Istirahat selama 1-2 hari dan menghindari pekerjaan berat selama 7 hari b. Kebersihan harus dijaga terutama daerah luka operasi jangan sampai terkena air selama 1 minggu ( sampai benar-benar kering ) c. Makanlah obat yang diberikan dokter secara teratur sesuai petunjuk

171


d. Senggama boleh dilakukan setelah 1 minggu, yaitu setelah luka operasi kering. Tetapi bila tubektomi dilaksanakan setelah melahirkan atau keguguran, maka senggama baru boleh dilakukan setelah 40 hari.

172


PENUTUP

Demikian buku panduan Kolaborasi Program CONTRA WAR SUTERA EMAS bagi Tim Medis Rumah Sakit dan Dokter telah selesai disusun, tentu masih sangat banyak kekurangannya. Besar harapan kami kiranya buku panduan ini dapat bermanfaat bagi Tim Medis dan Dokter Puskesmas didalam menjalankan Kolaborasi Program CONTRA WAR SUTERA EMAS, terutama dalam pelaksanaan proses penapisan reproduksi serta penatalaksanaan kasus-kasus resiko tinggi, pemasangan kembali kontrasepsi pasca kehamilan serta monitoring kesehatan bagi wanita usia subur periode pranikah, hamil dan nifas serta bagi bayi baru lahir. Teriring ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya atas kerja keras dari Tim Pengendali Program CONTRA WAR Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang. Semoga sumbangsih kita semua cukup bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara terutama dalam percepatan proses penurunan angka kematian ibu dan bayi.

TERIMA KASIH DAN SELAMAT BERJUANG…………..

173

Buku pedoman teknis kolaborasi program contra war dan sutera emas bagi tim medis rumah sakit dan dok  
Buku pedoman teknis kolaborasi program contra war dan sutera emas bagi tim medis rumah sakit dan dok  
Advertisement