Page 1

2015

BUKU PANDUAN PROGRAM CONTRA WAR EDISI KE-2

BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG


PROGRAM CONTRA WaR ( Contraceptive For Women At Risk ) EDISI KE - 2 STRATEGI INOVATIF DALAM MENDUKUNG RENCANA AKSI DAERAH TERHADAP PERCEPATAN PENCAPAIAN TUJUAN KE 4 DAN 5 MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS TENTANG PENURUNAN ANGKA KEMATIAN ANAK DAN PENINGKATAN KESEHATAN IBU

P E M E R I N T AH K AB U P AT E N M AL AN G

B AD AN K E L U AR G A B E R E N C AN A J L. Merdeka Timur No 0 3 Telp. ( 0341 ) 3650 85 Fax ( 0341 ) 36508 4 Website : http//kb.malangkab.go.id  email : kb@malangkab.go.id

MALANG 2


TIM PENYUSUN BUKU PANDUAN PROGRAM CONTRA WAR (CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35.

dr. HADI PUSPITA Drs. R. NONO RATNADIE, MM Dra.LILIK WAHYUNI drg. DESSY DELIYANTI R. Ay. SARI RATIH MALA DEWI, SE Drs.NANANG SUGIANTO PULUNG NGULANDORO , SH MOHAMMAD KHOLIK , SH Ir.PAMUJI HANDOKO, MAP SRI WAHYUNINGSIH , SE Ir.AUNUR ROFIQ, MM EMY ISWINARTI , SE Dra. RATNA WIDYAWATI SRI WAHYUNI, Amd. Keb ABDUL ROKHIM , SH IWAN KARTIKAWANTO , SP.MAP RUKANA , S.Sos. CHUSNUL CHOTIMAH , SE. MM DAIMATUN SRI SUFIYANI HARI KUSTANTO SISWADI TITIS WARIJANTI KOLIPAH MAYASARI DWI AGUSTINA, SE MOCHAMMAD CHORIS Dra.MARLIA SAPTI SULASTIAH SRI WAHJOENI ANDJANI, S.AP NURHAYATI , SE SASONGKO HUDI BRAHMATYO, S.Kom RIKO ANDI FARDIAS ATIK DIAN SETYO UTAMI, SE HENDIK NURMAWAN IWAN PURWANTO,SE PPLKB, PKB, PLKB SE KABUPATEN MALANG

i


KATA PENGANTAR Puji syukur patut kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana dengan rahmat, taufik serta hidayahnya sehingga Buku Panduan Program CONTRA WAR ini dapat diselesaikan tepat waktu. Buku ini tersusun sebagai panduan bagi Program Inovatif Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang untuk mendukung proses percepatan pencapaian Program Millennium Developments Goals Indikator Ke-4 dan Ke-5 (Penurunan angka kematian Ibu dan Bayi) pada akhir tahun 2015. Teriring ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1.

Bupati Malang, selaku Pelindung sehingga Program CONTRA WAR ini dapat terlaksana di Kabupaten Malang.

2.

Sekretaris Daerah, selaku Pengarah sehingga Program CONTRA WAR ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan awalnya.

3.

Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D., selaku Ketua Yayasan Damandiri.

4.

Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D, SpGk, selaku mantan Kepala BKKBN Pusat.

5.

Ir. Dwi Listyawardhani, M.Sc. Dip. Com, selaku Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur.

6.

Ir. Bambang Basuki Hanugrah, MM, selaku pembimbing penyusunan Kertas Kerja

Proyek

Perubahan

Instansional

Badan

Keluarga

Berencana

Kabupaten Malang “Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan Metoda Kolaborasi Program CONTRA WAR (Contraceptive for Women at Risk) dan SUTERA EMAS (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) di Kabupaten Malang�. 7.

Tim Internal Program CONTRA WAR (Badan Keluarga Berencana) yang terdiri dari : a. Kepala Badan Keluarga Berencana b. Sekretaris Badan c. Kepala Bidang Data & Informasi d. Kepala Bidang Penggerakan Masyarakat e. Kepala Bidang Keluarga Sejahtera f.

Kepala Bidang Keluarga Berencana

ii


g. Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian h. Kepala Sub Bagian Keuangan i.

Kepala Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi & Pelaporan

j.

Kepala Sub Bidang Jaminan Pelayanan KB/KR

k. Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi Remaja l.

Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Ekonomi Keluarga

m. Kepala Sub Bidang Pembinaan Ketahanan Keluarga n. Kepala Sub Bidang Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) o. Kepala Sub Bidang Institusi dan Peran Serta p. Kepala Sub Bidang Pengolahan Data dan Informasi q. Kepala Sub Bidang Penyebarluasan Data dan Pengembangan Informasi r.

Staf pada Badan Keluarga Berencana -

Mayasari Dwi Agustina, SE

-

Mochammad Choris

-

Sasongko Hudi Brahmatyo, S.Kom

-

Riko Andi Fardias

-

Atik Dian Setyo Utami, SE

s. Pengendali PLKB, PKB dan PLKB yang tersebar di 33 Kecamatan Se Kabupaten Malang

Karena berkat bantuan dan dukungannya maka buku Panduan Program CONTRA WAR dapat tersusun dengan baik dan saat ini telah masuk pada cetakan edisi ke-2. Demikian prakata kami, apabila ada hal-hal yang kurang berkenaan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhir harapan kami semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Malang ,

April 2015

Tim Pengendali Program CONTRA WAR

iii


SAMBUTAN BUPATI MALANG

Assalamu’alaikum

Warrahmatullahi

Wabarakatuh

dan

Salam

Sejahtera bagi kita sekalian. Pertama - tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah S.W.T atas segala Berkah, Karunia, Taufik dan Hidayah-Nya semata

sehingga

penyusunan

“BUKU

PANDUAN

PROGRAM CONTRA WAR EDISI KE-2” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu, seiring atau selaras dengan Visi dan Misi Kabupaten Malang dengan maskot “MADEP MANTEB” yang ditandai simbol logo dominasi

warna

“Kuning

Emas

dan

Merah”,

dimana

Program

Contraceptive For Women At Risk (CONTRA WAR) atau Kontrasepsi bagi Wanita Usia Subur Beresiko Tinggi, adalah merupakan Program Inovatif dari Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang dan satu-satunya Program Surveilans dibidang Kekeluarga Berencanaan di Indonesia. Dari 39 kasus kematian ibu pada tahun 2013 dan 27 kasus kematian ibu pada tahun 2014, 75% diantaranya disebabkan oleh penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya sebelum mereka hamil, sehingga disaat proses kehamilan selanjutnya dapat berpotensi meningkatkan resiko pada kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian ibu maupun bayi. Program CONTRA WAR yang merupakan program unggulan Pemerintah Kabupaten Malang telah memulai proses pelaksanaan surveilans kekeluarga berencanaan di Indonesia dengan menekankan pada penemuan, pelaporan dan penanganan dini terhadap wanita usia subur beresiko tinggi yang berusia 15 s/d 49 tahun yang telah menikah, belum atau sedang dalam keadaan hamil, belum ber KB, berusia <20 tahun dan >35 tahun serta sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya.

iv


Untuk itu saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh anggota Tim Pengendali Program CONTRA WAR Kabupaten Malang yang juga didukung oleh BKKBN Pusat melalui Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur dalam rangka mewujudkan VisiMisi Pemerintah Kabupaten Malang yang Mandiri, Agamis, Demokratis, Produktif, Maju, Aman, Tertib dan Berdaya Saing. Selanjutnya besar harapan saya agar buku panduan ini dapat bermanfaat bagi pelayanan kekeluarga berencanaan baik dilingkungan Pemerintah maupun swasta serta seluruh masyarakat di Kabupaten Malang, sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan pendekatan lebih dini pada periode sebelum menjalani kehamilan. Ihdinashirratal mustaqim Sekian Terima Kasihâ&#x20AC;Ś.

Malang, April 2015 Bupati Malang

H. RENDRA KRESNA

v


SAMBUTAN Prof. Dr. HARYONO SUYONO, M.A. Ph.D.

Pembangunan kesehatan di Indonesia sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010 - 2014 mempunyai delapan fokus prioritas yang salah satunya adalah meningkatkan status kesehatan ibu, bayi dan balita dan Keluarga Berencana. Beberapa indikator penting yang terkait dengan status kesehatan ibu dan bayi antara lain AKI (angka kematian ibu) dan AKB (angka kematian bayi). Hal tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan millenium (MDGs) 2015 untuk menurunkan AKI menjadi 102/100000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dan AKB menjadi 23/1000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Untuk mencapai target di atas diperlukan upaya inovatif untuk mengatasi penyebab utama kematian ibu dan bayi, serta adanya kebijakan dan sistem yang efektif dalam mengatasi berbagai kendala yang timbul selama ini. Penyebab utama tingginya angka kematian ibu adalah adanya faktor resiko berupa penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya sebelum mereka hamil, sehingga disaat proses kehamilan selanjutnya dapat berpotensi menigkatkan resiko kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian ibu maupun bayi. Dipandang perlu adanya suatu program untuk menanggulangi masalah tersebut, salah satunya di Kabupaten Malang melalui Badan Keluarga Berencana telah melaksanakan suatu program inovatif yang bernama CONTRA WAR (Contraceptive for Woman At Risk) atau Penggunaan Kontrasepsi yang tepat bagi wanita usia subur beresiko tinggi. Program CONTRA WAR (Contraceptive for Woman At Risk) bertujuan untuk menunda kehamilan wanita usia subur yang beresiko tinggi dengan penggunaan alat kontrasepsi yang tepat bagi penyakit yang dideritanya serta pada saat yang sama penyakitnya diobati sampai vi


sembuh atau telah memungkinkan untuk hamil kembali, selanjutnya alat kontrasepsi dilepas dan yang bersangkutan dapat hamil dan bersalin dengan normal. Pelaksanaan surveilans bagi wanita usia subur beresiko tinggi melalui program CONTRA WAR ini diharapkan dapat menekan angka kematian ibu dan bayi secara lebih bermakna.

Saya mengucapkan selamat dan apresiasi kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan dan penerbitan buku ini.

Semoga buku pedoman ini dapat memudahkan para petugas keluarga berencana dalam menemukan calon akseptor yang tepat dan bagi para petugas kesehatan dalam melaksanakan proses penapisan reproduksi serta pelayanan kekeluarga berencanaan, maupun pihak-pihak yang terkait di dalam mendukung pelaksanaan serta keberlangsungan program CONTRA WAR di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.

Malang,

April 2015

Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D.

vii


DAFTAR ISI TIM PENYUSUN BUKU ............................................................................. i KATA PENGANTAR ................................................................................ ii SAMBUTAN BUPATI MALANG .............................................................. iv SAMBUTAN dari Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D....................... vi DAFTAR ISI ........................................................................................... viii PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG........................................................................... B. DASAR HUKUM ................................................................................

1 5

C. ISU STRATEGIS ............................................................................ 13 D. KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH .................................... 15 E. PROGRAM CONTRA WAR................................................................. 17 F. KONSEP DASAR PROGRAM CONTRA WAR.................................... 17 G. SASARAN PROGRAM CONTRA WAR .............................................. 18 H. RIWAYAT KEHAMILAN PATOLOGIS YG PERLU DIPERTIMBANGKAN DLM PROSES PENAPISAN REPRODUKSI.... 20 I. PERSYARATAN MEDIS PENGGUNAAN KONTRASEPSI .................. 21 J. KONDISI YANG DIHARAPKAN ........................................................... 64 K. ALUR PELAPORAN PROGRAM CONTRA WAR BADAN KELUARGA BERENCANA ...................................................................................... 65 L. ALUR KEGIATAN PROGRAM CONTRA WAR BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG................................................ 65 M. MODEL KONFIGURASI JARINGAN SERVER CONTRA WAR – SUTERA EMAS ................................................................................... 66 N. PROGRAM - PROGRAM UNGGULAN DINAS KESEHATAN DAN BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG .............. 66 O. PENGORGANISASIAN....................................................................... 67 P. MANFAAT KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS .................................................................................................. 68 Q. CONTOH-CONTOH PENYAKIT PADA WANITA USIA SUBUR YANG DAPAT MENYEBABKAN KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR .. 70 R. PENUTUP ......................................................................................... 114 DAFTAR PUSTAKA viii


PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sulitnya upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Bayi (AKB) melalui program-program regular di bidang keluarga berencana dan kesehatan disebabkan oleh sedemikian kompleks nya akar penyebab masalah yang ada. Di tingkat nasional, dari hasil SDKI pada tahun 2007 dan 2012 menunjukkan lonjakan AKI dari 228/100.000 kelahiran hidup (KH) menjadi 359/100.000 KH, sementara target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s (Millenium Development Goals) pada akhir 2015 harus bisa mencapai 102/100.000 KH. Sementara itu telah terjadi penurunan AKB walaupun belum signifikan, pada tahun 2005 sebesar 39 / 1000 KH dan pada tahun 2012 masih > 34 / 1000 KH, sedangkan target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir 2015 harus bisa mencapai 23 / 1000 KH. Sedangkan di kabupaten Malang , target pencapaian AKI sudah tercapai bahkan berada dibawah target nasional, pada tahun 2007 sebesar 65/100.000 KH, tahun 2012 sebesar 61/100.000 KH, sedangkan pada tahun 2013 terjadi peningkatan menjadi 89/100.000 KH. Adanya trend peningkatan kasus kematian Ibu dari 25 kasus (2012) menjadi 39 kasus (2013) dan 21 kasus ( s/d Agustus 2014) , menjadikan kita harus lebih waspada, karena tidak tertutup kemungkinan akan terjadi peningkatan kasus kematian Ibu pada tahun mendatang, bahkan akan bisa melebihi target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir tahun 2015. Adapun AKB di kabupaten Malang telah berada dibawah target nasional, yakni 5,42/1000KH (2011) , 4,31 (2012) dan 4,02 (2013). Walaupun pencapaiannya telah jauh dibawah target nasional, namun mengingat penyebab kematian tertinggi pada bayi baru lahir adalah kasus BBLR (Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah) yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan kwalitas kehamilan yang buruk, misalnya karena menderita penyakit menular, tidak menular, bawaan atau dengan status gizi buruk, yang sebenarnya apabila dapat ditemukan lebih dini akan dapat ditunda dulu kehamilannya, maka peluang untuk lebih menurunkan lagi AKB di kabupaten Malang masih sangat mungkin untuk dilakukan.

1


Menyikapi hal tersebut, BKKBN telah melaksanakan berbagai upaya untuk meningkatkan cakupan peserta KB aktif semua metoda (Contraceptive Prevalence Rate / CPR), dari 57,4% (2007) menjadi 57,9% (2012) dan target pada tahun 2015 diharapkan bisa mencapai 65%, sementara di kabupaten Malang telah melampaui target nasional sebesar 78,68% (2011), 78,55% (2012) dan 78,9% (2013), namun pada kenyataannya belum dapat berdaya ungkit secara langsung terhadap penurunan AKI dan AKB, karena sasaran peserta KB baru masih belum ter fokus kepada Wanita Usia Subur ber Resiko Tinggi. Pada hal yang sama upaya BKKBN tersebut telah berhasil menurunkan angka Unmet Need ( Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani ) di tingkat nasional, dari 9,1% (2007) menjadi 8,5% (2012), sedangkan target nasional pada tahun 2015 sebesar 5%. Sementara di kabupaten Malang penurunan Unmet Need masih sulit dilakukan dan belum ter fokus pada WUS ber resiko tinggi, serta pencapaiannya masih diatas target nasional sebesar 9,77% (2011), 9,63% (2012) dan 10% (2013). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan cakupan peserta KB Aktif (CPR) ternyata belum berhasil menurunkan Angka Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani (Unmet Need) khususnya bagi WUS ber resiko tinggi , sehingga pada saat mereka hamil penyakit yang diderita belum sempat mendapatkan penanganan spesialistik dan akan ber

resiko mengalami komplikasi kehamilan yang

dapat

mengakibatkan kematian. Beranjak dari kondisi diatas, Badan Keluarga Berencana kabupaten Malang menerapkan inovasi melalui program unggulan Contra WaR (Contraceptive for Women at Risk / Kontrasepsi yang tepat bagi Wanita Usia Subur berisiko tinggi).

Yang

dimaksud

dengan

Program

Contra

(Contraceptive for Women at Risk) : Adalah program

WaR yang

dilaksanakan secara terencana dan terpadu melalui proses surveilans aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkelanjutan, serta melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penyakit (menular , tidak menular atau bawaan) dan mempunyai faktor-faktor resiko terhadap kehamilan, serta

pernah

mempunyai

riwayat 2

kehamilan

beresiko

tinggi


sebelumnya, yang dapat membahayakan proses kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan penggunaan kontrasepsi yang tepat selama masa penyembuhan penyakitnya. Sementara itu, pada saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Malang telah melaksanakan program inovatif Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) yang dimulai sejak tahun 2009 dan merupakan program surveilans berbasis masyarakat yang pertama di Indonesia, dengan konsep dasar one RTâ&#x20AC;&#x201C;one cadre & one human at riskâ&#x20AC;&#x201C;one cadre (satu wilayah RT diamati oleh seorang kader kesehatan dan satu penduduk beresiko tinggi didampingi oleh seorang kader kesehatan) , serta mempunyai filosofi early case finding, early case reporting, early case handling, community empowering & realtime activities (penemuan, pelaporan dan penanganan kasus secara dini, pemberdayaan masyarakat serta kegiatannya berlangsung setiap saat). Program ini ternyata sangat efektif dalam menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi serta menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit bawaan serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kesehatan lainnya. Program Sutera Emas yang merupakan program percontohan nasional, sejak tahun 2009 masih dilaksanakan di puskesmas Kepanjen dan sejak tahun 2014 telah mulai di replikasi ke puskesmas Turen dan Sumber Pucung, sedangkan target pada tahun 2015 seluruh puskesmas di kabupaten Malang ( 39 puskesmas ) telah mulai menerapkan program Sutera Emas dengan bantuan anggaran program AIPD (Australia Indonesia Partnership of Decentralization) dari AusAid. Upaya penurunan AKI dan AKB masih terkendala oleh sangat kompleks nya masalah yang ada, diantaranya yang paling mendasar adalah rendahnya tingkat kepatuhan tenaga kesehatan swasta yang melayani ibu hamil terhadap prosedur pelayanan standar. Mengingat hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Malang memandang perlu melaksanakan kebijakan inovatif berupa Metoda Kolaborasi 3


Program Contra WaR (Contraceptive fo Women at Risk) dan Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) oleh Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Dari 39 kasus kematian Ibu yang terjadi pada tahun 2013, ternyata 29 kasus diantaranya masih dapat dicegah apabila dapat ditemukan lebih dini dan telah dilakukan penundaan kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi yang tepat sesuai hasil penapisan, serta pada saat yang sama dilakukan pengobatan sesuai rekomendasi dari dokter spesialis terhadap penyakitnya

sampai sembuh serta telah memungkinkan

untuk hamil kembali, maka dengan Strategi Kolaborasi program Contra WaR dan Sutera Emas tersebut diharapkan para Wanita Usia Subur (WUS) berusia 15 sampai 49 tahun yang telah menikah dan tidak dalam keadaan hamil serta belum ber KB (Unmet Need), yang mempunyai faktor-faktor resiko tinggi seperti sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular dan penyakit bawaan, serta ber usia terlalu muda (<20 th) atau terlalu tua (>35 th), serta pernah memiliki riwayat

kehamilan dengan jarak terlalu rapat (<2 th),

mempunyai anak terlalu banyak ( >4 ) atau pernah mengalami kehamilan ber resiko tinggi sebelumnya dapat ditemukan lebih dini. Untuk selanjutnya yang bersangkutan akan dirujuk dan dilakukan penapisan oleh para dokter spesialis terkait di RSUD Kepanjen untuk direkomendasikan menjadi akseptor KB MKJP tertentu, serta sekaligus dapat dilakukan penanganan spesialistik terhadap penyakitnya sampai sembuh. Pada akhirnya penggunaan kontrasepsi bagi WUS ber resiko tinggi tersebut dapat dihentikan dan akan dapat hamil serta melahirkan dengan selamat. Walaupun Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di kabupaten Malang pada saat ini telah berada dibawah target nasional, namun mengingat jumlah penduduk kabupaten Malang adalah no 2 terbanyak setelah kota Surabaya, maka diharapkan upaya penurunan 4


AKI dan AKB di kabupaten Malang akan berdampak besar terhadap penurunan AKI dan AKB di Jawa Timur maupun nasional.

B. Dasar Hukum 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular. Pasal 1 : Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1.1 Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. 1.2 Sumber penyakit adalah manusia, hewan, tumbuhan, dan bendabenda yang mengandung dan/atau tercemar bibit penyakit, serta yang dapat menimbulkan wabah. 1.3 Kepala

Unit

Kesehatan

adalah

Kepala

Perangkat

Pelayanan

Kesehatan Pemerintah. 1.4 Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan.

Pasal 2 : Maksud dan tujuan Undang-Undang ini adalah untuk melindungi penduduk dari malapetaka yang ditimbulkan wabah sedini mungkin, dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.

5


2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Pasal 42 : 42.1

Teknologi dan produk teknologi kesehatan diadakan, diteliti, diedarkan, dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kesehatan masyarakat.

42.2

Teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup segala metode dan alat yang digunakan

untuk

mencegah terjadinya penyakit, mendeteksi adanya penyakit, meringankan

penderitaan

akibat

penyakit,

menyembuhkan,

memperkecil komplikasi, dan memulihkan kesehatan setelah sakit. 42.3

Ketentuan mengenai teknologi dan produk teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan.

Pasal 43 : 43.1

Pemerintah membentuk lembaga yang bertugas dan berwenang melakukan

penapisan,pengaturan,

pemanfaatan,

serta

pengawasan terhadap penggunaan teknologi dan produk teknologi. 43.2

(2) Pembentukan lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan

Pasal 52 : 52.1

Pelayanan kesehatan terdiri atas: a. pelayanan kesehatan perseorangan; dan b. pelayanan kesehatan masyarakat.

52.2

Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Pasal 53 : 6


53.1 Pelayanan

kesehatan

perseorangan

ditujukan

untuk

menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga. 53.2

Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit suatu kelompok dan masyarakat.

53.3

Pelaksanaan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendahulukan pertolongan keselamatan nyawa pasien dibanding kepentingan lainnya.

Pasal 54 : 54.1

Penyelenggaraan bertanggung

pelayanan

jawab,

aman,

kesehatan bermutu,

dilaksanakan serta

merata

secara dan

nondiskriminatif. 54.2

Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

54.3

Pengawasan terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Pasal 55 55.1

Pemerintah wajib menetapkan standar mutu pelayanan kesehatan.

55.2

Standar mutu pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 Tentang

Perkembangan

Kependudukan

Keluarga

7

dan

Pembangunan


Pasal 1 : 1.5 Kualitas penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan nonfisik yang meliputi derajat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, tingkat sosial, ketahanan, kemandirian, kecerdasan, sebagai ukuran dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang bertakwa, berbudaya, berkepribadian, berkebangsaan dan hidup layak. 1.6 Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. 1.7 Pembangunan

keluarga

adalah

upaya

mewujudkan

keluarga

berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat. 1.8 Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. 1.9 Pengaturan kehamilan adalah upaya untuk membantu pasangan suami istri untuk melahirkan pada usia yang ideal, memiliki jumlah anak, dan mengatur jarak kelahiran anak yang ideal dengan menggunakan cara, alat, dan obat kontrasepsi.

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1994 Tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Pasal 12 : 12.1 Pengaturan kelahiran diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kesadaran dalam menunda kehamilan pertama sampai pada usia ideal melahirkan dan mengatur jarak kelahiran. 12.2 Pengaturan kelahiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan melalui: a. Penundaan kehamilan pertama sampai tercapai usia ideal 8


melahirkan; b. Perencanaan jumlah dan jarak antara kelahiran anak.

Pasal 13 : Usia ideal melahirkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 adalah usia yang ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor : a. risiko akibat melahirkan; b. kemampuan tentang perawatan kehamilan, pasca persalinan dan masa di luar kehamilan dan persalinan; c. derajat kesehatan reproduksi sehat; d. kematangan mental, sosial, ekonomi dalam keluarga.

Pasal 16 : 16.1 Pelaksanaan penundaan kehamilan, perencanaan jumlah dan jarak antara kelahiran anak dilakukan sendiri oleh pasangan suami isteri atas dasar kesadaran dan kesukarelaan. 16.2 Pelaksanaan penundaan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan menggunakan alat, abat, dan/atau cara pengaturan kehamilan yang dapat diterima pasangan suami isteri sesuai dengan pilihannya. 16.3 Jenis alat, abat, dan cara pengaturan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan memperhatikan: a. daya guna dan hasil guna; b. resiko terhadap kesehatan; c.

nilai agama dan nilai yang hidup dalam masyarakat.

16.4 Jenis alat, obat, dan cara pengaturan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditentukan oleh Menteri setelah mendapat persetujuan Menteri Kesehatan.

Pasal 17 : 17.1 Penggunaan alat, obat, dan cara pengaturan kehamilan dilakukan 9


dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan dari segi kesehatan, serta mempertimbangkan nilai-nilai etik dan agama. 17.2 Penggunaan alat, obat, dan cara pengaturan kehamilan yang menimbulkan risiko terhadap kesehatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang berdasarkan standar profesi.

5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor : 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan. Pembangunan

bidang

kesehatan

di

Indonesia

saat

ini

mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit infeksi dan menular masih memerlukan perhatian besar dan sementara itu telah terjadi peningkatan penyakit-penyakit tidak menular seperti penyakit karena perilaku tidak sehat serta penyakit degeneratif. Kemajuan transportasi dan komunikasi, membuat penyakit dapat berpindah dari satu daerah atau negara ke negara lain dalam waktu yang relatif singkat serta tidak mengenal batas wilayah administrasi. Selanjutnya berbagai penyakit baru (new emerging diseases) ditemukan, serta kecenderungan meningkatnya kembali beberapa penyakit yang selama ini sudah berhasil dikendalikan (re-emerging diseases). Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami

hanya

sebagai

kegiatan

pengumpulan

data

dan

penanggulangan KLB, pengertian seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagi bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. Menurut

WHO,

surveilans

adalah

proses

pengumpulan,

pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis

atau

kajian

epidemiologi 10

serta

pemanfaatan

informasi


epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit

atau

masalah-masalah

kesehatan

dan

kondisi

yang

mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unitunit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab, oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan sendiri, diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program, sehingga perlu dikembangkan subsistem survailans

epidemiologi

kesehatan

yang

terdiri

dari

Surveilans

Epidemiologi Penyakit Menular, Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan Dan Perilaku, Surveilans

Epidemiologi

Masalah

Epidemiologi Kesehatan Matra

11

Kesehatan,

dan

Surveilans


6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor : 1479/MENKES/SK/X/2003

tentang

Pedoman

Penyelenggaraan

Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu. Prioritas surveilans penyakit yang perlu dikembangkan adalah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang potensial menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa, penyakit menular dan keracunan, demam berdarah dan demam berdarah dengue, malaria, penyakit-penyakit zoonosis antara lain antraks, rabies, leptospirosis, filariasis serta tuberkulosis, diare, tipus perut, kecacingan dan penyakit perut lainnya, kusta, frambusia, penyakit HIV/AIDS, penyakit menular seksual, pneumonia, termasuk penyakit pneumonia akut berat (severe acute respiratory syndrome), hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner,

diabetes

menahun,

mellitus,

gangguan

mental

neoplasma, dan

penyakit

gangguan

paru

kesehatan

obstuksi akibat

kecelakaan.

7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor : 747/MENKES/SK/VI/2007 tentang Pedoman Operasional Keluarga Sadar Gizi di Desa Siaga. Sekitar 30 juta wanita usia subur menderita kurang energi kronis (KEK), yang bila hamil dapat meningkatkan risiko melahirkan BBLR. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 350 ribu bayi BBLR (â&#x2030;¤ 2500 gram), sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka gizi kurang dan kematian balita.

8. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor : Nomor 15 Tahun 2010 dan Nomor 162 /MENKES/PB/I/2010 tentang Pelaporan Kematian dan Penyebab Kematian. a. bahwa dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan diperlukan data kematian dan penyebab kematian; 12


b. bahwa data kematian dan penyebab kematian pada tingkat desa/kelurahan sampai tingkat nasional belum dapat diperoleh secara akurat dan tepat waktu; c. bahwa data kematian dan penyebab kematian dibutuhkan untuk menyusun

kebijakan, prioritas,

dan

pengembangan

program

kesehatan;

C. ISUE STRATEGIS Beberapa isu-isu penting yang perlu ditindaklanjuti oleh Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang adalah sebagai berikut : 1. Tingginya Angka Kematian Ibu Di tingkat nasional, dari hasil SDKI pada tahun 2007 dan 2012 menunjukkan lonjakan AKI dari 228/100.000 kelahiran hidup (KH) menjadi 359/100.000 KH, sementara target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s (Millenium Development Goals) pada akhir 2015 harus bisa mencapai 102/100.000 KH. Sedangkan di kabupaten Malang , target pencapaian AKI sudah tercapai bahkan berada dibawah target nasional, pada tahun 2007 sebesar

65/100.000 KH, tahun 2012

sebesar 61/100.000 KH, sedangkan pada tahun 2013 terjadi peningkatan menjadi 89/100.000 KH.

2. Lonjakan kasus kematian Ibu Adanya trend peningkatan kasus kematian Ibu di kabupaten Malang, dari 25 kasus (2012) menjadi 39 kasus (2013) dan 21 kasus ( s/d Agustus 2014) , menjadikan kita harus lebih waspada, karena tidak tertutup kemungkinan akan terjadi peningkatan kasus kematian Ibu pada tahun mendatang, bahkan akan bisa melebihi target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir tahun 2015.

13


3. Tingginya Angka Kematian Bayi Baru Lahir yang disebabkan oleh BBLR (Bayi Berat Badan Lahir Rendah)

Di tingkat nasional telah terjadi penurunan AKB walaupun belum signifikan, pada tahun 2005 sebesar 39 / 1000 KH dan pada tahun 2012 masih > 34 / 1000 KH, sedangkan target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir 2015 harus bisa mencapai 23 / 1000 KH Adapun AKB di kabupaten Malang telah berada dibawah target nasional, yakni 5,42/1000KH (2011) , 4,31 (2012) dan 4,02 (2013). Walaupun pencapaiannya telah jauh dibawah target nasional, namun mengingat penyebab kematian tertinggi pada bayi baru lahir adalah kasus BBLR (Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah) yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan kwalitas kehamilan yang buruk, misalnya karena menderita penyakit menular, tidak menular, bawaan atau dengan status gizi buruk (Kurang Energi Kalori), yang sebenarnya apabila dapat ditemukan lebih dini akan dapat ditunda dulu kehamilannya, maka peluang untuk lebih menurunkan lagi AKB di kabupaten Malang masih sangat mungkin untuk dilakukan.

4. Tingginya Angka Kebutuhan ber-KB yang tidak Terpenuhi (Unmet Need)

BKKBN telah berhasil menurunkan angka Unmet Need ( Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani ) di tingkat nasional, dari 9,1% (2007) menjadi 8,5% (2012), sedangkan target nasional pada tahun 2015 sebesar 5%. Sementara di kabupaten Malang penurunan Unmet Need masih sulit dilakukan dan belum ter fokus pada WUS ber resiko tinggi, serta pencapaiannya masih diatas target nasional sebesar 9,77% (2011), 9,63% (2012) dan 10% (2013). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan cakupan peserta KB Aktif (CPR) ternyata belum berhasil menurunkan Angka Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani (Unmet Need) khususnya bagi WUS ber resiko tinggi , sehingga pada saat mereka hamil 14


penyakit yang diderita belum sempat mendapatkan penanganan spesialistik dan pada saat harus hamil maka akan beresiko mengalami komplikasi kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian.

D. KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH Root Caused Analysized (Analisa Akar Penyebab Masalah) dan Solusi Pemecahan Masalah ISU/GEJALA MASALAH

PENYEBAB MASALAH

AKAR PENYEBAB UTAMA

ALTERNATIF SOLUSI

REKOMENDASI SOLUSI

1 Pelaksanaan Surveilans Aktif Berbasis Masyarakat bagi WUS beresiko tinggi yang belum ber KB dan tidak dalam keadaan hamil, yang ditangani secara terpadu oleh Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang 2 Penetapan Sistem Kesehatan Kabupaten Malang

Pelaksanaan Kebijakan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi dengan program inovatif Contra War (Contraceptive For Women At Risk)

(LEVERAGE)

Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir

1. Banyaknya Wanita Usia Subur beresiko tinggi yang belum ber KB, dimana apabila suatu saat mengalami kehamilan maka akan membahayakan kesehatan dan beresiko kematian pada saat kehamilan, persalinan dan pada saat masa nifas 2. Kelompok Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need) belum terdata by name, by address, by case 3. Kelompok Wanita Usia Subur beresiko tinggi yang belum ber KB (unmet need) masih banyak yang belum menggunakan kontrasepsi yang tepat 4. Banyaknya Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum

15

1 Belum adanya guidance (pedoman) yang dapat digunakan untuk menemukan, melaporkan dan melakukan intervensi secara dini terhadap kelompok Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need) 2 Sistem Kesehatan Nasional dan Sistem Kesehatan Daerah belum di implementasik an sampai ke wilayah 3 Belum dilakukannya Surveilans Aktif Berbasis Masyarakat


terlayani (unmet need) 5. Tingginya Angka Kematian Ibu beresiko tinggi yang belum ber KB 6. Tingginya persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan yang tidak kompeten 7. Penemuan, pelaporan dan penanganan kasuskasus resiko tinggi pada Ibu dan Bayi belum terlaporkan secara realtime 8. Peningkatan cakupan peserta KB aktif (CPR / Contraceptive Prevalence Rate) belum berdampak langsung terhadap penurunan angka kematian ibu dari kelompok unmet need 9. Banyaknya tenaga kesehatan yang tidak memiliki ijin praktek 10. Banyaknya lulusan sekolah tinggi kebidanan yang tidak kompeten 11. Banyaknya bidan yang belum pernah melakukan pertolongan persalinan selama mengikuti penddikan 12. Panjangnya rantai rujukan persalinan akibat berkembangnya fee rujukan oleh rumah sakit â&#x20AC;&#x201C; rumah sakit swasta 13. Banyaknya rumah sakit - rumah sakit swasta yang tidak memiliki unit perawatan intensif bagi Ibu &Bayi ( ICU/PICU/NICU ) 14. Belum adanya guidance (pedoman) yang dapat digunakan untuk menemukan,melapor

16

bagi WUS beresiko tinggi, Ibu Hamil beresiko tinggi dan Bayi beresiko tinggi 4 Belum dilaksanakann ya penanganan terpadu oleh Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang terhadap WUS beresiko tinggi


kan dan intervensi secara dini terhadap kelompok Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need)

E. PROGRAM CONTRA WAR Adalah program Keluarga Berencana berupa penundaan atau pembatasan kehamilan, yang dilaksanakan secara terencana dan terpadu lintas program dan lintas sektor, melalui proses surveilans aktif yang dilaksanakan oleh masyarakat secara berkesinambungan dan berkelanjutan, serta proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur

yang

sedang

menderita

suatu

penyakit

(menular/tidak

menular/bawaan), yang beresiko tinggi apabila hamil atau yang pernah mempunyai riwayat kehamilan resiko tinggi sebelumnya , yang dapat membahayakan proses kehamilan dan persalinan berikutnya serta kesehatan bayi yang akan dilahirkannya. CONTRA WAR adalah merupakan suatu strategi inovatif terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir dengan penggunaan kontrasepsi terpilih bagi wanita usia subur beresiko tinggi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia.

F. KONSEP DASAR PROGRAM CONTRA WAR 1. One RW â&#x20AC;&#x201C; One Cadre (Satu wilayah RW diamati oleh satu orang kader KB) 2. One High Risk Acceptor â&#x20AC;&#x201C; One Cadre (Satu akseptor beresiko tinggi didampingi oleh satu kader KB terlatih) 17


3. Selected Contraceptive For Selected Woman (Pemberian Kontrasepsi yang tepat bagi wanita yang tepat)

G. SASARAN PROGRAM CONTRA WAR Program Contra War ini ditujukan bagi wanita usia subur yang telah menikah, belum ikut KB dan tidak dalam keadaan hamil (unmetneed) , yang sedang atau pernah menderita penyakit-penyakit tertentu dan atau sedang menjalani pengobatan tertentu. Adapun beberapa kondisi resiko tinggi pada Wanita Usia Subur yang telah menikah, belum ber KB dan tidak dalam keadaan hamil, serta akan beresiko tinggi apabila hamil, adalah sebagai berikut : 1.

Pendarahan pervaginam

2.

Endometriosis

3.

Tumor ovarium jinak

4.

Dismenorea berat

5.

Penyakit trofoblas

6.

Kanker mamme

7.

Kanker endometrium

8.

Kanker ovarium

9.

Fibroma uteri

10. Kelainan anatomis 11. Penyakit radang panggul 12. Infeksi Menular Seksual 13. Resiko tinggi HIV 14. Terinfeksi HIV 15. AIDS 16. Tuberkulosis 17. Penyakit Tiroid 18. Hepatitis virus 19. Sirosis Hepatis 20. Tumor hati 18


21. Talasemia 22. Anemia bulan sabit 23. Anemia defisiensi Fe 24. Pascapersalinan ( laktasi / non-laktasi ) termasuk pasca sectio caesarea 25. Pasca keguguran 26. Riwayat operasi pelvis 27. Hipertensi 28. Riwayat hipertensi dalam kehamilan 29. Trombosis vena permukaan 30. Riwayat penyakit jantung iskemik 31. Stroke 32. Penyakit katup jantung 33. Dekompensasio kordis 34. Miokard infark akut 35. Epilepsi 36. Kurang Energi Kalori 37. Asthma Bronchiale 38. Diabetes Melitus 39. TORCH : 1. Toxoplasmosis 2. Other ( syphilis, varicella, mumps, parvovirus dan HIV ) 3. Rubella ( German Measles ) 4. Cytomegalovirus 5. Herpes simpleks 40. Penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi enzim - enzim hati 41. Penggunaan Rifampisin 42. Penggunaan Antikonvulsan tertentu

19


H. RIWAYAT

KEHAMILAN

DIPERTIMBANGKAN

PATOLOGIS

DALAM

PROSES

REPRODUKSI

1. Abortus spontan : - Complete - Incomplete 2. Abortus Provocatus Criminalis Infeksiosa 3. Kehamilan Ekstra Tubae 4. Mola hydatidosa 5. Chronic Hyper Emesis Gravidarum 6. Anemia gravidarum 7. Midtrimester bleeding 8. Partus prematurus 9. Ante Partum Bleeding : - Placenta praevia - Solutio placenta 10. Pre eclampsia Ringan 11. Pre eclampsia Berat 12. Eclampsia 13. Kelainan letak janin 14. Kelainan ketuban 15. Post term 16. Penyakit sistemik 17. Hemorrhagic Post Partum 18. Emboli air ketuban 19. Distosia / kelainan letak 20. Partus lama ( kasep / sisa dukun ) 21. Late Haemorrhagic Post Partum 22. Infeksi nifas

20

YANG

PERLU

PENAPISAN


I. PERSYARATAN MEDIS PENGGUNAAN KONTRASEPSI 1. Umum Pelayanan

dan

informasi

Keluarga

Berencana

merupakan

intervensi kunci dalam upaya meningkatkan kesehatan perempuan dan anak, serta merupakan hak asasi manusia Telah

terjadi

perkembangan

yang

berarti

dalam

teknologi

kontrasepsi, misalnya transisi dari estrogen dosis tinggi ke dosis rendah pada pil kombinasi atau dari AKDR inert ke AKDR yang mengeluarkan levonorgestrel. Perkembangan ini telah menghasilkan pilihan lebih banyak tentang metode kontrasepsi yang lebih aman dan efektif. Di lain pihak, masih sangat banyak pasangan di seluruh dunia yang belum mendapatkan akses terhadap pelayanan Keluarga Berencana karena berbagai faktor seperti masalah logistik, sosial, perilaku, organisasi dan prosedur dalam sistem pelayanan kesehatan yang perlu diperbaiki. Untuk meningkatkan akses terhadap pelayanan KB yang bermutu dilakukan berbagai strategi, misalnya : -

Hak-hak

klien

perlu

dipertimbangkan

dalam

perencanaan,

manajemen dan penilaian dalam pelayanan Kb -

Meningkatkan ketersediaan berbagai metode kontrasepsi sehingga klien dapat memilih metode kontrasepsi yang paling cocok untuk mereka

-

Melaksanakan konseling dan pelayanan KB berdasar kriteria dan persyaratan medis yang terkini

2. Isu tentang mutu pelayanan dan akses yang mempengaruhi pemberian kontrasepsi -

Klien harus memperoleh informasi yang cukup sehingga dapat memilih sendiri metode kontrasepsi yang sesuai untuk mereka. Informasi tersebut meliputi pemahaman tentang efektifitas relativ dari metode kontrasepsi, cara kerja, efek samping, manfaat dan 21


kerugian

metode

ditindaklanjuti

tersebut,

diklinik

atau

gejala fasilitas

dan

tanda

kesehatan,

yang

perlu

kembalinya

kesuburan dan perlindungan terhadap Infeksi Menular Seksual. -

Untuk metode yang memerlukan prosedur bedah, insersi atau pencabutan alat oleh tenaga terlatih, maka perlu dilengkapi dengan fasilitas yang cukup agar prosedur tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan standar termasuk prosedur pencegahan infeksi.

-

Peralatan dan pasokan yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan harus tersedia

-

Petugas pelayanan harus dilengkapi dengan panduan-panduan yang

memungkinkan

mereka

melaksanakan

penapisan

dan

pelayanan terhadap klien sebaik-baiknya dan dapat menghindari resiko yang tidak diinginkan. -

Petugas pelayanan harus mendapat pelatihan yang cukup dalam konseling Keluarga Berencana. Konseling merupakan elemen kunci dalam mutu pelayanan, mulai dari kunjungan awal serta ulang, dan meliputi bukan hanya tentang kontrasepsi melainkan juga masalahmasalah seksualitas dan pencegahan Infeksi Menular Seksual termasuk HIV/AIDS.

3. Efektivitas Dalam hubungan pilihan kontrasepsi, klien perlu diberi informasi tentang : -

Efektifitas relatif dari berbagai metode kontrasepsi yang tersedia

-

Efek negatif kehamilan yang tiak diinginkan pada kesehatan dan resiko kesehatan potensial pada kehamilan dengan kondisi medis tertentu.

22


Tabel efektivitas berbagai metode kontrasepsi :

Tingkat Efektivitas

Sangat efektif

Tingkat Efektivitas

Metode Kontrasepsi

Implan Vasektomi Suntikan kombinasi Suntikan DMPA/NET-EN Tubektomi AKDR CuT-380A Pil progesteron (masa laktasi)

Metode Kontrasepsi

Efektif dalam pemakaian biasa, sangat efektif jika dipakai secara tepat dan konsisten

Metode Amenorea Laktasi Pil Kontrasepsi kombinasi Pil progesteron (bukan masa laktasi)

Efektif jika dipakai seara tepat dan konsisten

Kondom pria Senggama terputus Difragma + spremisida KB alamiah Kondom perempua Spermisida Tanpa KB

Kehamilan per 100 perempuan dalam 12 bulan pertama pemakaian Dipakai secara Dipakai secara tepat dan biasa konsisten 0,05 0,05 0,15 0,1 3 0,05 3 0,3 0,5 0,5 0,8 0,6 1

0,5

Kehamilan per 100 perempuan dalam 12 bulan pertama pemakaian Dipakai secara Dipakai secara tepat dan biasa konsisten 2 0,5 8 0,3 0,5

15 27 29 25 21 29 85

2 4 18 1-9 5 18 85

4. Beberapa kondisi medis yang akan meningkatkan resiko jika terjadi kehamilan - Keadaan-keadaan dibawah ini akan meningkatkan resiko jika disertai kehamilan a. Hipertensi (tekanan darah >160/100 mmHg)

23


b. Diabetes, insulin dependen, dengan nefropati/neuropati/retinopati atau penyakit vaskular lain atau >20 tahun telah menderita diabetes c. Penyakit jantung iskemik d. Stroke e. Penyakit katup jantung dengan hipertensi f. Karsinoma payudara g. Karsinoma endometrium atau ovarium h. Infeksi menular seksual i. HIV/AIDS j. Sirosis hari k. Hepatoma l. Penyakit trofoblas ganas m. Penyakit sel sickle (sel bulan sabit) n. Skistosomiasis dengan fibrosis hati o. Tuberkulosis - Pada keadaan-keadaan diatas perlu dipilihkan metode kontrasepsi yang lebih efektif 5. Kembalinya kesuburan - Semua metode kontrasepsi, kecuali kontrasepsi mantap (sterilisasi) tidak mengakibatkan terhentinya kesuburan - Kembalinya kesuburan berlangsung segera setelah pemakaian metode kontrasepsi dihentikan, kecuali DMPA dan NET-EN yang waktu rata-rata kembalinya kesuburan adalah masing-masing 10 dan 6 bulan terhitung mulai suntikan terakhir - Kontrasepsi mantap harus dianggap sebagai metode permanen 6. Klasifikasi persyaratan medis - Keadaan atau kondisi yang mempengaruhi persyaratan medis dalam penggunaan setiap metode kontrasepsi yang tidak permanen dikelompokkan dalam 4 kategori : -1 : Kondisi dimana tidak ada pembatasan apa pun dalam penggunaan metode kontrasepsi -2 : Penggunaan kontrasepsi lebih besar manfaatnya dibandingkan dengan resiko yang diperkirakan akan terjadi -3 : Resiko yang diperkirakan lebih besar daripada manfaat penggunaan kontrasepsi -4 : Resiko akan terjadi bila metode kontrasepsi tersebut digunakan - Kategori 1 dan 4 cukup jelas. Kategori 2 menunjukkan bahwa metode tersebut dapat digunakan tetapi memerlukan tindak lanjut yang seksama. Kategori 3 memerlukan penilaian klinik dan akses 24


terhadap pelayanan klinik yang baik. Seberapa besar masalah yang ada dan ketersediaan serta penerimaan metode alternatif perlu dipertimbangkan. Dengan perkataan lain pada kategori 3 metode kontrasepsi tersebut tidak dianjurkan, kecuali tidak ada cara lain yang lebih sesuai tersedia. Perlu tindak lanjut yang ketat. - Khusus untuk kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi) digunakan klasifikasi lain, yaitu: -A : Tidak ada alasan medis yang merupakan kontraindikasi dilakukannya kontrasepsi mantap. -B : Tindakan kontrasepsi mantap dapat dilakukan tetapi dengan persiapan dan kewaspadaan khusus -C : Sebaiknya tindakan kontrasepsi mantap ditunda sampai kondisi medis diperbaiki. Sementara itu berikan metode kontrasepsi lainnya -D : Tindakan kontrasepsi mantap hanya dilakukan oleh tenaga yang sangat berpengalaman, dan perlengkapan anestesi tersedia. Demikian pula fasilitas penunjang lainnya. Diperlukan pula kemampuan untuk menentukan prosedur klinik serta anestesi yang tepat 7. Penggunaan klasifikasi dalam penapisan klien - Klasifikasi yang diuraikan dalam bab ini tidaklah kaku. Tingkat pengetahuan dan pengalaman petugas kesehatan serta sumbersumber yang tersedia perlu menjadi pertimbangan. - Ditempat pelayanan dengan fasilitas pemeriksaan klinik terbatas, misalnya di Puskesmas, klasifikasi 1 sampai 4 dapat disederhanakan menjadi 2. Klasifikasi 1 dan 2 digabung menjadi klasifikasi 1; klasifikasi 3 dan 4 menjadi 2. Untuk klasifikasi 1 (dengan fasilitas terbatas) metode kontrasepsi tertentu dapat digunakan, untuk klasifikasi 2 tidak boleh digunakan. Pada tempat pelayanan dengan fasilitas lengkap, misalnya di Rumah Sakit Kabupaten, pakailah klasifikasi 1, 2, 3 dan 4. Klasifikasi persyaratan medis dalam penapisan klien Kondisi

Pil kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

NETEN

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

4

4

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Kehamilan

-

-

25

-

-

-


Menars-

Menars-

Menars-

Menars -

Menars -

Menars -

Menars20:2

40:01:00

40:01:00

18:01

18:2

18:01

20:02

≥20:1

≥40:2

≥40:2

18-45:1

1845:1 ≥45:1

≥20:1

≥45:1

1845:1 ≥45:2

2 1

2 1

*<21 hari *≥21 hari Pascapersalinan(lakta si/non-laktasi)termasuk pascasecsio sesarea

2

3

*<48 jam *≥48 jam-<4 minggu

3 1

3 1a

Usia

Paritas *Nulipara *multipara

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

Laktasi *<6 minggu pascapersalinan

4 3

4 3

3 1

3 1

3 1

*6 minggu -<6 bulan laktasi

2

2

1

1

1

Pascapersalianan

3

3

1

1

1

*(tanpa laktasi)

1

1

1

1

1

*≥6 bulan pascapersalinan

26


*≥4 minggu

4

4

*sepsispuerperalis Pasca keguguran

1

1

1

1

1

1

1

*trimester 1

1

1

1

1

1

2

2

*trimester2

1

1

1

1

1

4

4

Pascakehamilan etopik

1

1

2

1

1

1

1

Riwayat operasi pelvis

1

1

1

1

1

1

1

2

2

1

1

1

1

1

3 4

2 3

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

Impia n

AKDR

*pascaabortus septik

(termasuk secsio sesarea) Merokok *usia<35

*usia≥35 - <15 batang/hari

- ≥15 batang/hari

Kondisi Obesitas

Pil Kombina si

Suntikan Kombina si

Pil Progesti n

2

2

1

27

DMPA NETEN 1

1

Cu 1

AKDR Progesti n 1


*â&#x2030;¤30kg/m² body mass index(BMI)

Penyakit kardiovaskuler Faktor resiko multipel penyakit kardiovaskuler (seperti usia muda,tua,merokok,diab etes,hipertensi)

Hipertensi

03-Apr

34

2

3

2

1

2

3

3

2

2

2

1

2

3

3

1

2

1

1

1

*riwayat hipertensi tidak dapat dievaluasi,termsuk hipertensi dalam kehamilan

*hipertensi terkontrol

*tekanan darah meningkat

28


-sistolik 140-160 atau diastolik 90-100

-sistolik.160 ataudiastolik>100

3

3

1

2

1

1

1

*penyakit vaskular

4

4

2

3

2

1

2

4

4

2

3

2

1

2

Riwayat hipertensi dalam kehamilan

2

2

1

1

1

1

1

Trobosis vena dalam/emboli paru

4

4

2

2

2

1

2

*riwayat TVD/EP

4

4

3

3

3

1

3

*TVD/EF saat ini

2

2

1

1

1

1

1

4

4

2

2

2

1

2

-imobilisasi lama

2

2

1

1

1

1

1

-tanpa imobilisasi lama

1

1

1

1

1

1

1

*riwayat keluarga dengan TVD/EF

*bedah mayor

29


*bedah minor tanpa imobilisasi

Trombosis vena permukaan

1

1

1

1

1

1

1

*varises *troboflebitis

2

2

1

1

1

1

1

Riwayat penyakit jantung iskemik

4

4

M L

3

M L

1

M L

2 3 Stroke

4

4

(riwayat cardiovaskuler accident)

M L

2 3 3

2 3

M L

2 3 1

2

2 3

Hiperlipidemia

2/3b

2/3b

2

2

2

1

2

Penyakit katup jantung

2

2

1

1

1

1

1

*Tanpa komplikasi

4

4

1

1

1

2

2

*Dengan komplikasi(hipertensi pulmonal,fibrilasi atrial,endokarditis bakterial subakut)

Nyeri Kepala

Kondisi Neurologis M M M L L L

30

M L

M L

1

M L


 Nonmigrain (ringan/berat)

-

1 2

12

11

11

11

11

23 34

23 34

12 12

22 22

22 22

1 22 1 22

44

44

23

23

23

1 23

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

Migrain

Tanpa aura

Usia < 35 Usia>=35 dengan aura (semua usia)

Epilepsi Depresi

1

1 Depresi 1

1

Infeksi dan Kelainan Alat Reproduksi Perdarahan 1 pervaginam

 Perdarahan ireguler

1

 Perdarahan banyak/lama

1

2

2

2

1 ML

1

2

2

2

2 11

12

31


2

Perdarahan pervaginam yang belum di ketahui penyebabnya

2

2

3

3 ML

ML

42

42

Sebelum penilaian Endometriosis

1

1

1

1

1

1

1

(termasuk kista)

1

1

1

1

1

1

1

Dismenorea berat

1

1

1

1

1

2

1

penyakit trofoblas jinak

1

1

1

1

1

3

3

penyakit trofoblas ganas

1

1

1

1

1

4

4

Ektropion serviks

1

1

1

1

1

1

1

NIS (Neoplasia Intra Serviks)

2

2

1

2

2

1

2

Tumor ovarium jinak

Penyakit trofoblas

Kanker serviks

M

M L

2

2

1

2

2

4

4 2

Kondisi

Pil kombi nasi

Suntikan Pil DMPA kombi proges NETnasi tin EN

Penyakit mamma

32

Impian

L

AKDR Cu

2

AKDR proges tin


massa tidak terdiagnosis

2

2

2

2

2

1

2

penyakit mamma jinak

1

1

1

1

1

1

1

riwayat kanker dalam keluarga

1

1

1

1

1

1

1

4

4

4

4

4

1

4

3

3

3

3

3

1

3

kanker mamma -

saat ini

riwayat lampau, tidak kambuh dalam 5 tahun

Kanker endometrium

M

L

M L

1

1

1

1

1

4

2

4

M

L

M

2 Kanker ovarium

L 1

1

1

1

1

3

2

3 2

Fibroma uteri

menggangu kavum uteri

1

1

33

1

1

1

1

1


1

4

4

menggganggu kavum uteri

4

4

tidak mengganggu kavum uteri

2

2

tidak mengganggu kavum uteri

1

1

1

1

Kelainan anatomis

Penyakit radang panggul

M

L

1

1

M L

riwayat PRP

- dengan kehamilan

1

- tanpa kehamilan

1

1

1

1

1

1 1

1

1

1

2

1

2 2 2

4 PRP saat ini

1

1

1

1

2

1 4 2

Kondisi

Pil kombi nasi

Suntikan Pil kombi proges nasi tin

IMS

34

DMPA NETEN

Impian

AKDR Cu

AKDR proges tin

M

M


L Servisiti s purulen atau infeksi klamidia atau gonorea

1

1

1

1

1

IMS lainnya (kecuali HIV dan hepatitis)

1

Vaginitis (termasuk trikomonas vaginitis bakterial)

1

1

1

1

1

Risiko IMS meningkat

1

1

1

1

1

L

4

4 2

1

1

1

2

1 2

2

2

2

2

2

2

2

4

2

4

2

HIV/AIDS Risiko tinggi HIV 1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

M 2

L M 2 2

L 2

2

2 2

2

Terifeksi HIV

AIDS 35


1

1

1 1 Infeksi lain

1

3

2 3

2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

Skistosomiasis  

Tanpa komplikasi Fibrosis hati

Tuberkolosis  

Non pelvis pelvis

Malaria Kondisi

1

1

1

1

1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

Pil kombi nasi

Suntikan kombi nasi

Pil progesti n

M 1

L M 1 1

L 1

4

3 4

3

1

1

DMP A NETEN

Impia n

AKD R Cu

AKDR progesti n

Penyakit endokrin Diabetes riwayat diabetes gestasional

1

1

1

1

1

1

1

noninsulin dependen

2

2

2

2

2

1

2

insulin dependen

2

2

2

2

2

1

2

penyakit nonvaskular

36


nefropati/retin opati/ neuropati

3/4

3/4

2

3

2

1

2

penyakit vaskular lain/ diabetes > 20 tahun

3/4

3/4

2

3

2

1

2

Penyakit tiroid

goiter hipertiroid

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

hipotiroid

1

1

1

1

1

1

1

Penyakit gastrointestinal Penyakit kantung empedu simptomatik

terapi kolesistektomi

2

2

2

2

2

1

2

diobati dengan obat saja

3

2

2

2

2

1

2

-

3

2

2

2

2

1

2

2

2

2

2

2

1

2

saat ini

asimptomatik

37


Riwayat kolestasis

berhubungan dengan kehamilan

2

2

1

1

1

1

1

berhubungan dengan kontrasepsi

3

2

2

2

2

1

2

4

3/4

3

3

3

1

3

1

1

1

1

1

1

1

Pil kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMP A NETEN

Impia n

AKDR Cu

AKDR proge stin

3 4

2 3

2 3

2 3

2 3

1 1

2 3

1

1

2

1

Hepatitis virus

aktif karier

Kondisi

Sirosis ringan berat

Talasemia

1

1

Anemia 1

Penyakit bulan sabit

2

2

1

1

1

2

1

Anemia difesiensi Fe

1

1

1

1

1

2

1

Interaksi obat

38


Obat yang mempengaruhi enzim- enzim hati rifampisin

3

2

3

2

3

1

1

antikonvulsan

3

2

3

2

3

1

1

griseofulvin

2

1

2

1

2

1

1

antibiotik lain

1

1

1

1

1

1

1

2

M L 2/3 2

M L 2/3 2

Antibiotik

Terapi antiretroviral 2

2

2

2

Kontrasepsi Mantap Perempuan (Tubektomi)

Kehamilan Usia muda Paritas  

Kondisi Kategori Karakteristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi C B

Nulipara Multipara

A A A

Laktasi Pascapersalinan 

-

-

< 7 hari

A

7 – < 42 hari

C

39


42 hari 

A

Preeklampsia / eklampsi

-

Preeklampsi ringan

A

-

Preeklampsi berat / eklampsi

C

Ketuban pecah lama

C

> 24 jam

C

Infeksi nifas

C

Perdarahan antepartum

Trauma berat pada daerah genitalia

Ruptur uterus

-

C D

Pascaabortus 

Tanpa komplikasi

Sepsis pascakeguguran

Perdarahan pascakeguguran

Trauma alat genital / serviks / vagina saat

A C C C

pengguguran 

Perforasi uterus

Hematometra

D C

Kehamilan ektopik lampau Merokok

A

Usia < 35 tahun

A

Usia > 35 tahun

A

Obesitas 

≥ 30 kg/m2 IMT (Indeks Massa Tubuh) 40

B


Kondisi Penyakit Kardiovaskuler Faktor risiko multipel penyakit kardiovaskular Hipertensi 

Hipertensi terkontrol

Kenaikan tekanan darah

Kategori D B

-

Sistolik 140 – 160 atau diastolik 90 – 100

B

-

Sistolik > 160 atau diastolik > 100

D

Penyakit vaskular

D

Riwayat hipertensi selama kehamilan Trombosis Vena Dalam / Emboli Paru

A

Riwayat TVD/EP

A

TVD/EP saat ini

C

Riwayat keluarga dengan TVD/EP

A

Bedah mayor

-

Dengan imobilisasi lama

C

-

Tanpa imobilisasi lama

C

Bedah minor

A

Mutasi trombogenik Trombosis Vena Permukaan

A

Varises

A

Tromboflebitis

A

Penyakit Jantung Iskemik 

Saat ini penyakit jantung iskemik

D

Riwayat penyakit jantung iskemik

B

Stroke Hiperlipedemia Penyakit Jantung Ventrikular

B A

Tanpa komplikasi

B

Dengan komplikasi

D Kelainan Neurologis 41


Nyeri kepala 

Non migrain

Migrain

A

-

Tanpa aura

A

-

Dengan aura

A

Kondisi

Kategori B

Epilepsi Depresi Depresi

B

Infeksi dan Kelainan Alat Reproduksi Perdarahan pervaginam 

Perdarahan ireguler

A

Perdarahan banyak

A

Perdarahan yang tidsak jelas sebabnya 

Sebelum penilaian

C

Endometriosis Tumor Ovarium Jinak Dismenorea berat Penyakit trofoblas

D A A

Penyakit trofoblas jinak

A

Penyakit trofoblas ganas

C

Ektropian Serviks Neoplasia Intarepitelial Serviks Kanker Serviks Penyakit Mamma

A A C

Massa tidak terdiagnosis

A

Penyakit mamma jinak

A

Riwayat kanker dalam keluarga

A

Kanker mama

-

Saat ini

B

-

Riwayat lampau, tidak kambuh dalam 5

A

42


tahun Kanker endometrium Kanker ovarium Fibroma uterus

C C

Tanpa gangguan kavum uteri

B

Dengan gangguan kavum uteri

B

Penyakit radang panggul 

Riwayat PRP

-

Dengan kehamilan berikutnya

A

-

Tanpa kehamilan

B

Saat ini

C

Kondisi Infeksi Menular Seksual

Kategori

Purulen servisitis / infeksi klamidia / gonorea

C

IMS lain (kecuali HIV dan hepatitis)

A

Vaginitis

A

Risiko IMS meningkat

A HIV / AIDS

Risiko tinggi HIV

A

Terinfeksi HIV

A

AIDS

D Infeksi lain

Skistosomiasis 

Tanpa komplikasi

A

Fibrosis hati

B

Tuberkolosis 

Nonpelvis

A

pelvis

D

Malaria

A 43


Penyakit Endokrin Diabetes 

Riwayat diabetes gestasional

Penyakit nonvaskular

A

-

Noninsulin dependen

B

-

Insulin dependen

B

Nefropati/retinopati/neuropati

D

Penyakit vaskular lain Diabetes > 20 tahun

D

Penyalit tiroid 

Golter

A

Hipertiroid

D

Hipotiroid

B Penyakit Gastrointestinal

Penyakit kandung empedu 

Simptomatik

-

Terapi kolesistektomi

A

-

Diobati dengan obat saja

A

-

Saat ini

C

asimptomatik

A

Kondisi

kategori

Riwayat kolestasis 

berhubungan dengan kehamilan

A

berhubungan dengan pil kontrasepsi

A

Hepatitis virus 

aktif

C

karier

A

Sirosis 

ringan

B

berat

D 44


Tumor hati 

jinak (adenoma)

B

malignan (hepatoma)

B Anemia

Talasemia

B

Penyakit bulan sabit

B

Anemia defisiensi Fe 

Hb < 7 g%

C

Hb antara 7 – 10 g%

B

Keadaan lain yang relevan dengan tubektomi Infeksi kulit abdomen

C

Gangguan peredaran darah

D

Penyakit paru 

Bronkhitis , pneumonia

C

Asthma , emfisema, infeksi paru

D

Infeksi sistemik / gastroenteritis

C

Perlekatan uterus oleh karena pembedahan /

D

infeksi lampau Hernia umbilikalis atau abdominal

D

Hernia diafragmatikus

B

Penyakit ginjal

B

Defisiensi gizi berat

B

Pembedahan abdominal / pelvik terdahulu

B

Sterilisasi bersamaan dengan pembedahan abdominal

B

Elektif

C

Emergensi

C

Keadaan infeksi

Sterilisasi bersamaan dengan seksio sesaria 45

A


Kontrasepsi Laki-Laki (Vasektomi)

Kondisi

Kategori

Karakteristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Usia muda

B Depresi

Depresi

B HIV / AIDS

Risiko tinggi HIV

A

Terinfeksi HIV

A

AIDS

D Penyakit EnBdokrin

Diabetes

B Anemia

Penyakit bulan sabit

A

Keadaan lain yang relevan dengan Vasektomi Infeksi lokal 

Infeksi kulit skrotum

C

IMS aktif

C

Epididimitis / orkitis

C

Gangguan peredaran darah

D

Riwayat infeksi skrotum

B

Infeksi sistemik / gastroenteritis

C

Varikokel besar

B

Hidrokel besar

B

Filariasis / elefantiasis

C

Massa intraskrotal

C

Kriptorkhisme

B

Hernia inguinalis

D 46


8. Infeksi Menular Seksual dan Kontrasepsi Infeksi saluran reproduksi (ISR) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah penyakit yang mendapat perhatian penting pada kesehatan masyarakat diseluruh dunia. Rata-rata terdapat lebih dari satu juta orang setiap hari yang terinfeksi IMS. Insiden tinggi ISR dan IMS diantara perempuan yang menjalani perawatan antenal, kesehatan seksual dan reproduksi atau penyakit ginekologik lain mengindikasikan adanya masalah ISR/IMS yang meluas. Orang yang mengalami ISR/IMS mempunyai resiko lebih tinggi tertular HIV atau menularkan HIV pada pasangannya. Pada orang-orang yang terinfeksi HIV, pengobatan ISR/IMS akan lebih sulit, yang berarti dalam keadaan terinfeksi serentak akan meningkatkan kemungkinan penyebaran HIV. Berbagai jenis mikroorganisme (kurang lebih 20 jenis) dapat ditularkan melalui hubungan seks dan berdampak pada organ reproduksi seseorang. Bahkan ada pula penyakit seperti infeksi Hepatitis dan AIDS yang bisa ditularkan melalui hubungan seks tetapi pada organ reprosukdinya tidak ada kelainan. Di Indonesia data pasti tentang jumlah penderita ISR dan IMS tidak mudah didapat, karena pencatatan laporan hanya didapat dari rumah sakit pemerintah, swasta dan praktik dokter pribadi tertentu sedangkan kenyataannya banyak penderita yang mengobati dirinya sendiri atau mereka yang berobat ke dokter praktik tidak dilaporkan. Tipe infeksi Istilah ISR/IMS mencakup 4 tipe infeksi yaitu : -

Infeksi yang merusak saluran reproduksi

-

Infeksi pada saluran reproduksi perempuan tidak disebabkan karena penularan melalui hubungan seks tetapi merupakan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang normal ada dalam vagina (bakteri vaginosis dan jamur)

-

Infeksi melalui hubungan seks yang memberi dampak lebih luas selain alat reproduksi (sifilis dan HIV/AIDS)

47


-

Infeksi pada saluran reproduksi perempuan akibat komplikasi dari tindakan yang

dilakukan untuk membantu kasus persalinan, keguguran dan

pengguguran, insersi AKDR atau operasi obstetri ginekologi Beberapa jenis IMS yang banyak didapat di Indonesia -

Gonore

-

Sifilis

-

Klamidia

-

Kandidiasis

-

Trikomoniasis

-

Bakterial vaginosis

-

Herpes simpleks

Peran

petugas

kesehatan

pada

pelayanan

kontrasepsi/kesehatan

reproduksi Banyak orang khususnya perempuan yang mengalami ISR/IMS tidak mendapat perawatan dan pengobatan dengan tepat, karena : -

Baik laki-laki dan perempuan mungkin tidak ada gejalanya. Penelitian telah menunjukkan sekitar 70% perempuan dan 30 % laki-laki yang terinfeksi tidak mempunyai gejala

-

Orang-orang yang menunjukkan gejala ISR/IMS tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya terinfeksi. Banyak perempuan yang tidak mendapat informasi tentang cairan vagina yang normal dan tidak normal, sehingga mereka akan menganggap cairan vagina yang keluar walaupun akibat ISR/IMS sebagai sesuatu yang wajar

-

Banyak orang yang menduga bahwa mereka mungkin terinfeksi tetapi tidak segera berobat karena tidak menganggap penyakit ini penting, merasa malu, penyakit yang diderita merupakan stigma sosial, tidak mengetahui akses berobat dan tidak dapat menjangkau pengobatan.

Pelayanan kontrasepsi dapat sekaligus memberikan pelayanan terhadap ISR maupun IMS seperti :

48


-

Pendidikan tentang pencegahan IMS dan pengenalan gejala dan tanda ISR/IMS serta komplikasi IMS

-

Konseling mengenai perilaku seksual perilaku seksual yang beresiko, alternatif perilaku seksual yang aman, kepatuhan klien untuk berobat hingga tuntas dan perlunya pasangan klien juga ikut berobat

-

Skrinning atau penapisan ISR/IMS, termasuk pemeriksaan vagina (selain dilakukan sebagai pemeriksaan rutin atau lebih ditekankan pada orang yang beresiko)

-

Pengobatan ISR/IMS

-

Merujuk kefasilitas yang lebih lengkap

-

Menyediakan kontrasepsi dengan perlindungan ganda (dual action) seperti kondom.

Tabel Komplikasi IMS Pada perempuan

Pada bayi baru lahir

Pada laki-laki

-

Radang panggul

-

Prematuritas

-

Epididimitis

-

Infertilitas

-

Berat lahir rendah

-

Prostatitis

-

Kehamilan ektopik

-

Sifilis kongenital

-

Struktur uretra

-

Keguguran

-

Oftalmia neonatorum

-

Infertilitas

-

Lahir mati

-

Pneumonia klamidia

-

AIDS

-

Kanker serviks

-

Septikemia

-

Hepatitis

-

AIDS

-

AIDS

-

Hepatitis

-

Hepatitis

Skrinning atau penapisan klien -

Skrinning klien dapat dilakukan dengan anamnesis yang cermat atau melalui konseling. Apabila mungkin pemeriksaan organ reproduksi dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium sederhana untuk melihat mikroorganisme yang ada (pemeriksaan duh kelamin dengan mikroskop dan pewarnaan Gram, larutan NaCl dan KOH)

-

Berikan pengobatan sesuai dengan hasil temuan mikroorganisme atau dari hasil pendekatan sindrom

-

Selalu tanyakan pada klien adakah :

49


ď&#x201A;ˇ

Duh vagina atau uretra

ď&#x201A;ˇ

Lesi atau ulkus pada alat kelamin

ď&#x201A;ˇ

Pembengkakan

pada

kelenjar

getah

bening

didaerah

inguinal

(selangkangan) ď&#x201A;ˇ

Nyeri perut bagian bawah

-

Tanyakan juga apakah pasangannya mengalami hal seperti di atas.

-

Riwayat hubungan seks seminggu sampai sebulan terakhir

-

Apakah klien atau pasangannya berganti pasangan dalam waktu sebulan ini ?

-

Apakah klien atau pasangannya mempunyai aktivitas atau profesi yang menyebabkan ia berganti pasangan atau sering berpindah tempat ?

-

Apakah klien menyadari ia terkena IMS dan adakah usaha yang dilakukan sebelum datang ke fasilitas ini ?

Diagnosis dan pengobatan ISR/IMS -

Diagnosis ISR/IMS pada fasilitas kesehatan bisa dilakukan berdasarkan pendekatan sindrom dengan identifikasi gejala yang spesifik sesuai dengan jenis mikroorganisme penginfeksi dan penilaian tentang resiko penularan

-

Pemeriksaan duh tubuh dengan laboratorium dan pemeriksaan serologi akan sangat baik untuk mendapatkan ketepatan diagnosis dan pengobatan. Paling tidak fasilitas pelayanan kontrasepsi atau pelayanan kesehatan reproduksi mempunyai perangkat pemeriksaan laboratorium sederhana

-

Apabila diagnosis klien meragukan dan pengobatan tidak memberikan hasil yang memuaskan, klien harus dirujuk ke fasilitas pelayanan lain yang lebih lengkap dan kemajuan penyembuhannya harus selalu dipantau.

Tabel : Kontrasepsi dan pencegahan IMS Jenis Kontrasepsi Kondom lateks

Keterangan -

Merupakan metode terbaik untuk pencegahan IMS

dan

HIV/AIDS

bila

digunakan

terus

menerus dan benar -

Tapi kondom tidak melindungi infeksi yang berasal dari ulkus atau lesi pada selangkangan yang tidak tertutup oleh kondom

50


Female

Condom

(kondom -

wanita)

Walaupun data klinis terbatas, kondom ini cukup efektif untuk pencegahan kontak dengan sprema maupun bakteri penyebab IMS dan HIV

-

Sebagai alternatif apabila kondom untuk lakilaki tidak ada atau tidak bisa digunakan

-

Terbatasnya pemakaian kondom perempuan juga disebabkan oleh faktor harga dan kurang nyaman

Spermisida

-

Tidak

melindungi

penularan

IMS/HIV

oleh

karena itu pemakaian spermisida saja tanpa pengaman (barrier) lain tidak dianjurkan Diafragma

-

Digunakan bersama dengan spermisida, daapat mengurangi

transmisi

IMS.

Perlindungan

terhadap HIV belum pernah dibuktikan -

Sebagai alternatif apabila penggunaan kondom laki-laki tidak bisa dilakukan

Metode kontrasepsi lain

-

Seluruh metode kontrasepsi yang lain tidak dapat melindungi klien dari IMS dan HIV

-

Perempuan yang berisiko terhadap IMS perlu menggunakan tambahan kondom disamping pemakaian metode kontrasepsi yang lain

REMAJA DAN KONTRASEPSI Pengertian -

Remaja adalah kelompok penduduk yang berusia 10-19 tahun

(menurut

WHO dan Departemen Kesehatan) atau 10-24 tahun (menurut UNFPA) dan belum menikah -

Proporsi remaja Indonesia (10-24 tahun) pada tahun 2005 mencapai lebih dari 30% dari jumlah penduduk

-

Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk pengaturan kehamilan, dan merupakan hak setiap individu sebagai makhluk seksual.

51


Masalah -

Sebagian remaja sudah mengalami pematangan organ reproduksi dan bisa berfungsi atau bereproduksi, namun secara sosial mental dan emosi mereka belum dewasa. Mereka akan mengalami banyak masalah apabila pendidikan dan pengasuhan seksualitas dan reproduksi mereka terabaikan. Banyak diantara mereka sudah seksual aktif bahkan berganti-ganti pasangan seks. Akibatnya banyak terjadi infeksi menular seksual, kehamilan dini, kehamilan yang tidak diinginkan dan usaha aborsi tidak aman diantara mereka.

-

Informasi yang tepat tentang masalah seksual dan reproduksi bagi remaja sangant kurang dan akses pelayanan yang bersifat youth friendly juga tidak memadai bahkan hampir tidak ada.

-

Kurangnya

pengetahuan

dan

komitmen

petugas

kesehatan

untuk

menganani masalah remaja dan terbatasnya fasilitas, membuat remaja tidak pernah mendapat perlindungan dan pemeliharaan dengan tepat. -

Remaja merupakan kelompok marginal dan kesalahan yang mereka lakukan dianggap aib oleh masyarakat sehingga persoalan reproduksi remaja di Indonesia tidak diperhitungkan oleh pembuat kebijakan.

-

Fakta yang terbaru menyebutkan bahwa : ď&#x201A;ˇ

15% remaja sudah melakukan hubungan seks diluar nikah

ď&#x201A;ˇ

Jumlah penderita HIV-AIDS pada akhir tahun 2005 sebanyak 46,19% adalah remaja (usia 15-29 tahun) dimana 43,5% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 50% tertular lewat jarum suntik

ď&#x201A;ˇ

60% dari pekerja seks di Indonesia adalah remaja perempuan berusia 24 tahun atau kurang dan 30% nya adalah mereka yang berumur 15 tahun atau kurang

ď&#x201A;ˇ

20% dari 2,3 juta kasus aborsi setiap tahun di Indonesia dilakukan oleh remaja dan mereka mendapatkan tindakan aborsi tidak aman serta menyebabkan komplikasi yang dapat membawa mereka pada kematian.

-

Peran pengambil kebijakan dan petugas kesehatan ď&#x201A;ˇ

Perlu dikaji ulang bagaimana peraturan maupun undang-undang yang ada (UU no 23 tentang kesehatan, UU no 10 tentang kependudukan dan isi KUHP), aspek sosial, adat dan budaya masyarakat yang banyak hal akan menghambat pemberian pelayanan bagi remaja

52


Petugas kesehatan baik pemerintah, swasta dan LSM yang punya komitmen terhadap kesehatan remaja, perlu memahami bahasa dan perilaku remaja agar dapat memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan karakteristik dan keinginan remaja

Pelayanan konseling juga diperlukan sebelum memberikan pelayanan kepada remaja, agar hak mereka untuk mendapatkan informasi dan pelayanan dapat terpenuhi yang pada akhirnya remaja dapat terhindar dari IMS/HIV-AIDS, kehamilan tidak diinginkan dan usaha aborsi tidak aman.

-

Solusi masalah 

Informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi yang dibutuhkan remaja sudah waktunya diberikan untuk melindungi mereka dari penularan IMS dan HIV/AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan

Pemberian pelayanan ini sebaiknya juga diberikan dalam satu paket dengan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja

-

Hal-hal yang perlu diperhatikan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pelayanan kontrasepsi pada remaja, antara lain : 

Pelajari dulu perilaku seksual remaja tersebut, apakah ia sudah mulai berhubungan seks sejak masih sangat muda, apakah ia berganti-ganti pasangan, adakah riwayat IMS, adakah riwayat kehamilan dan aborsi ?

Dasar pemberian kontrasepsi pada remaja adalah untuk pencegahan kehamilan dan pencegahan IMS, sebelum remaja siap untuk merubah perilakunya kembali pada fase abstinensi atau sebelum mereka siap membentuk sebuah keluarga dan mempunyai anak

Kontrasepsi pada remaja bersifat temporer dan harus tidak memberikan efek samping dan kesulitan pada pengembalian kesuburan

Pelayanan pap smir dan pemeriksaan laboratorium untuk skrinning IMS perlu dilakukan terutama bagi remaja yang sudah aktif berhubungan seksual lebih dari 1 tahun dan ada riwayat berganti-ganti pasangan.

KONTRASEPSI UNTUK PEREMPUAN BERUSIA LEBIH DARI 35 TAHUN

53


Perempuan berusia lebih dari 35 tahun memerlukan kontrasepsi yang aman dan efektif karena kelompok ini akan mengalami peningkatan morbiditas dan mortalitas jika mereka hamil. Bukti-bukti terakhir menunjukkan bahwa baik pil kombinasi maupun suntikan kombinasi dapat digunakan dengan aman oleh klien >35tahun sampai masa menopause, jika tidak terdapat faktor resiko lain. Kekhawatiran tentang resiko kanker mamma pada pemakaian kontrasepsi hormonal sesudah usia 35 tahun, menurut penelitian terakhir tidak terbukti. Disamping terbukti turunnya tingkat prevalensi kanker payudara diantara perempuan usia >35tahun, juga ternyata resiko kanker endometrium dan kanker ovarium juga turun. Namun, perempuan usia lebih 35 tahun yang merokok sebaiknya tidak menggunakan pil kombinasi atau pun suntikan komb inasi. Tabel : Berbagai cara kontrasepsi pada perempuan berusia >35 tahun Jenis Kontrasepsi Pil

kombinasi

/

Keterangan

Suntikan -

kombinasi

Sebaiknya tidak digunakan oleh perempuan >35tahun yang perokok

-

Perokok

berat

(>20batang

/hari)

jangan

menggunakan pil/suntikan kombinasi -

Pil kombinasi dosis rendah dapat berfungsi sebagai

terapi

sulih

hormon

pada

masa

perimenopause Kontrasepsi progestin (implant,

-

Dapat digunakan pada masa perimenopause

kontrasepsi suntikan progestin,

-

Dapat digunakan oleh perempuan berusia

kontrasepsi pil progestin)

>35th dan perokok -

Implan dapat digunakan pada perempuan >35 tahun yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang, tetapi belum siap untuk kontrasepsi mantap

AKDR

-

Dapat digunakan oleh perempuan >35 th yang tidak terpapar pada infeksi saluran reproduksi dan IMS

-

AKDR Cu dan progestin : ď&#x201A;ˇ

54

Sangat efektif


-

Kondom

Tidak perlu tindak lanjut

Efek jangka panjang

Satu-satunya metode kontrasepsi yang dapat mencegah infeksi saluran reproduksi dan IMS (HBV,HIV-AIDS)

-

Perlu motivasi tinggi bagi pasangan untuk mencegah kehamilan

-

Kontrasepsi mantap

Sangat tepat untuk pasangan yang benar-benar tidak ingin tambahan anak lagi

KONTRASEPSI PASCAPERSALINAN Pada umumnya klien pasapersalinan ingin menunda kehamilan berikutnya paing sedikit 2 tahun lagi, atau tidak ingin tamabahan anak lagi. Konseling tentang keluarga berencana atau metode kontrasepsi sebaiknya diberikan sewaktu asuhan antenatal maupun pascapersalinan. -

Klien pascapersalinan dianjurkan 

Memberi ASI eksklusif (hanya memberi ASI saja) kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Sesudah bayi berusia 6 bulan diberikan makanan pendamping ASI, dengan pemberian ASI diteruskan sampai anak berusia 2 tahun

Tidak menghentikan ASI untuk mulai suatu metode kontrasepsi

Metode

kontrasepsi

pada

klien

menyusui

dipilih

agar

tidak

mempengaruhi ASI atau kesehatan bayi -

Infertilitas pascapersalinan 

Pada klien pascapersalinan yang tidak menyusui, masa infertilitas ratarata berlangsung sekitar 6 minggu

Pada klien pascapersalinan yang menyusui, msa infertilitas lebih lama. Namun, kembalinya kesuburan tidak dapat diperkirakan

-

Metode amenorea laktasi (MAL) 

Menyusui secara eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama klien belum mendapat haid, dan

55


waktunya kurang dari 6 bulan pascapersalinan. Efektivitas dapat mencapai 98% ď&#x201A;ˇ

Efektif bila menyusui lebih dari 8 kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per laktasi.

-

Saat mulai menggunakan kontrasepsi ď&#x201A;ˇ

Waktu mulai kontrasepsi pascapersalinan tergantung dari status menyusui. Metode yang langsung dapat digunakan adalah :

-

1.

Spermisida

2.

Kondom

3.

Koitus interuptus

Klien menyusui ď&#x201A;ˇ

Klien

menyusui

tidak

memerlukan kontrasepsi

pada

6

minggu

pascapersalinan. Pada klien yang menggunakan MAL waktu tersebut dapat sampai 6 bulan. ď&#x201A;ˇ

Gambar berikut menunjukkan waktu yang dianjurkan untukm mulai suatu metode kontrasepsi. Jika klien menginginkan metode selain MAL, perlu didiskusikan efek samping metode kontrasepsi tersebut terhadap Laktasi dan kesehatan bayi. Sebagai contoh pil kombinasi dan suntikan kombinasi merupakan pilihan terakhir. Pil kombinasi, meskipun dengan pil dosis rendah (30-35 mg EE) akan mengurangi produksi ASI, dan secara teoritis akan berpengaruh terhadap pertumbuhan normal bayi pada

6-8

minggu

pascapersalinan.

Tunggulah

8-12

minggu

pascapersalinan sebelum mulai pil kombinasi atau suntikan kombinasi. Kontap

3 minggu

6

6

minggu

bulan

Metode Amenorea laktasi AKDR Kontap Kondom Kontrasepsi Progestin

56


Kontrasepsi Kombinasi

-

Klien tidak menyusui ď&#x201A;ˇ

Klien tidak menyusui umumnya akan mendapat haid kembali dalam 4-6 minggu pascapersalinan. Kurang lebih 1/3 nya berupa siklus ovulatir. Oleh karena itu kontrasepsi harus mulai pada waktu atau sebelum hubungan

seksual

pertama

pascapersalinan.

Karena

masalah

pembekuan darah masih terdapat pada 2-3 minggu pascapersalinan, kontrasepsi

kombinasi

jangan

dimulai

sebelum

3

minggu

pascapersalinan. ď&#x201A;ˇ

Sebaiknya kontrasepsi progestin dapat segera dimulai pascapersalinan karena metode ini tidak meningkatkan resiko masalah pembekuan darah. Persalinan

3 minggu

6 minggu

6 bulan

AKDR Kontap Kondom Kontrasepsi Progestin Kontrasepsi Kombinasi Tabel Metode kontrasepsi pascapersalinan Metode kontrasepsi MAL

Kontrasepsi kombinasi

Waktu Ciri-ciri khusus pascapersalinan - Mulai segera - Manfaat kesehatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi Memberikan waktu - Efektivitas tinggi sampai 6 bulan untuk memilih pasca persalinan metode dan belum haid kontrasepsi lain - Jika menyusui - Selama 6-8 Jangan dipakai minggu pasca sebelum 6-8 persalinan, minggu kontrasepsi pascapersalinan kombinasi akan Sebaiknya tidak mengurangi ASI

57

Catatan - Harus benar-benar ASI eksklusif - Efektivitas berkurang jika mulai suplementasi - Kontrasepsi kombinasi merupakan pilihan terakhir pada klien menyusui - Dapat diberikan


Kontrasepsi progestin

AKDR

dipakai dalam dan pada klien dengan waktu 6minggu â&#x20AC;&#x201C; mempengaruhi riwayat tumbuh kembang preeklampsia atau 6bln pasca persalinan bayi hipertensi dalam kehamilan - Jika pakai MAL - Selama 3 minggu pasca persalinan, - Sesudah 3 minggu tunda sampai 6 kontrasepsi bulan pasca persalinan tidak kombinasi - Jika tidak meningkatkan meningkatkan menyusui dapat resiko pembekuan resiko masalah dimulai 3 minggu pembekuan darah darah pasca persalinan - Jika klien tidak mendapat haid dan sudah berhubungan seksual, mulailah kontrasepsi kombinasi setelah yakin tidak ada kehamilan - Sebelum 6 minggu - Selama 6 minggu - Perdarahan pasca persalinan, pertama pasca ireguler dapat klien menyusui persalinan, terjadi jangan progestin menggunakan mempengaruhi kontrasepsi tumbuh kembang progestin bayi - Jika menggunakan - Tidak ada pengaruh terhadap MAL, kontrasepsi ASI progestin dapat ditunda sampai 6 bulan - Jika tidak menyusui, dapat segera dimulai - Jika tidak menyusui, lebih dari 6 minggu pasca persalinan atau sudah haid kontrasepsi progestin dapat dimulai setelah yakin tidak ada kehamilan - Dapat dipasang - Tidak ada - Insersi langsung pasca pengaruh terhadap postplasental

58


persalinan, ASI memerlukan sewaktu seksio - Efek samping petugas terlatih sesarea atau 48 khusus lebih sedikit pada jam pasca klien yang - Konseling perlu persalinan menyusui dilakukan sewaktu - Jika tidak, insersi asuhan antenatal ditunda 4-6 - Angka pencabutan minggu pasca AKDR tahun persalinan pertama lebih - Jika laktasi atau tinggi pada klien haid sudah dapat, menyusui insersi dilakukan - Ekspulsi sopntan sesudah yakin lebih tinggi 6-10% tidak ada pada pemasangan kehamilan pasca plasental - Sesudah 4-6 minggu pasca persalinan teknik sama dengan pemasangan waktu interval Kondom / - Dapat digunakan - Tak ada pengaruh - Sebaiknya pakai setiap saat terhadap laktasi kondom yang spermisida pascapersalinan diberi pelicin - Sebagai cara sementara sambil memilih metode lain Diafragma - Sebaiknya tunggu - Tak ada pengaruh - Perlu pemeriksaan sampai 6 minggu terhadap laktasi dalam oleh pasca persalinan petugas - Penggunaan spermisida membantu mengatasi masalah kekeringan vagina KB alamiah - Tidak dianjurkan - Tidak ada - Lendir serviks sampai siklus haid pengaruh terhadap tidak keluar kembali teratur laktasi seperti haid reguler lagi - Suhu basal tubuh kurang akurat jika klien sering terbangun waktu malam untuk menyusui Koitus - Dapat digunakan - Tidak ada - Beberapa setiap waktu pasangan tidak pengaruh terhadap interuptus atau laktasi atau sanggup untuk abstinensia tumbuh kembang sbstinensi

59


Kontrasepsi mantap (tubektomi)

- Dapat dilakukan dalam 48 jam pasca persalinan - Jika tidak, tunggu sampai 6 minggu pasca persalinan

Vasektomi

- Dapat dilakukan setiap saat

bayi - Abstinensi 100% efektif - Tidak ada pengaruh terhadap laktasi atau tumbuh kembang bayi - Minilaparotomi pasca persalinan paling mudah dilakukan dalam 48jam pasca persalinan - Tidak segera efektif karena perlu sedikit 20 ejakulasi (+ 3bulan) sampai benar-benar steril

- Perlu konseling - Perlu anestesi lokal - Konseling sudah harus sewaktu sauhan antenatal

- Merupakan salah satu cara KB untuk pria

KONTRASEPSI PASCA KEGUGURAN -

Keterkaitan asuhan pasca keguguran dengan Keluarga Berencana Asuhan pasca keguguran mungkin merupakan kesempatan yang langka bagi seorang perempuan terpapar dengan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, hal ini merupakan kesempatan untuk memberikan informasi dan pelayanan KB. Pelayanan kontrasepsi pasca keguguran mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Konseling tentang kontrasepsi 2. Jaminan tersedianya pasokan kontrasepsi 3. Akses terhadap asuhan lanjutan 4. Informasi tentang perlindungan terhadap IMS 5. Hal-hal khusus berkenan dengan pribadi klien, kondisi klinis dan kemampuan fasilitas kesehatan setempat

-

Waktu mulai Kontrasepsi pascakeguguran perlu dimulai segera karena ovulasi dapat terjadi 11 hari sesudah terapi keguguran / abortus. Sekurang-kurangnya klien perlu mendapat konseling dan informasi agar mereka mengerti bahwa : 1. Klien dapat hamil lagi sebelum haid berikutnya datang 2. Ada kontrasepsi yang aman untuk menunda atau mencegah kehamilan

60


3. Dimana dan bagaimana klien dapat memperoleh pelayanan -

Jenis kontrasepsi yang dapat dipakai 1. Kontrasepsi yang dianjurkan sesudah keguguran trisemester I, sama dengan yang dianjurkan pada masa interval 2. Kontrasepsi yang dianjurkan sesudah keguguran trisemester II, sama dengan yang dianjurkan pada masa pasca persalinan Tabel : Metode kontrasepsi pasca keguguran Metode kontrasepsi Pil kombinasi

Waktu mulai penggunaan - Segera dimulai

Kontrasepsi prograstin Suntikan kombinasi Implan

AKDR

Trisemester I - AKDR dapat langsung dipasang jika tidak ada infeksi - Tunda pemsangan sampai luka atau infeksi sembuh, perdarahan diatasi, anemia diperbaiki Trisemester II - Tunda pemasangan 4-6 minggu pasca keguguran kecuali jika tenaga terlatih dan peralatan untuk insersi tersedia - Yakinkan tidak ada infeksi. Jika ternyata ada infeksi, tunda pemasangan

61

Ciri-ciri khusus

Catatan

- Dapat segera - Jika konseling dan informasi belum dimulai walaupun cukup, tunda terdapat infeksi suntikan pertama - Sangat efektif atau pemasangan - Langsung efektif implan. Berikan - Mengurangi metode sementara kehilangan - Untuk implan perlu darah/anemia tenaga terlatih - Jika konseling dan informasi belum cukup, tunda pemasangan - Perlu tenaga terlatih untuk pemasangan AKDR - Pada trisemester II kemungkinan resiko perforasi sewaktu pemasangan lebih besar


Kondom spermisida KB alamiah

Tubektomi

sampai infeksi teratasi 3 bulan / - Mulai segera - Metode sederhana sewaktu mulai sambil menunggu hubungan seksual metode lain - Tidak dianjurkan - Waktu ovulasi pertama pasca keguguran sulit diperkirakan - Secara teknis, - Minilaparotomi - Perlu konseling tubektomi dapat sesudah dan informasi keguguran yang cukup langsung trisemester I sama dikerjakan dengan waktu sewaktu terapi interval keguguran kecuali jika ada - Sesudah perdarahan keguguran banyak atau trisemester II sma infeksi dengan prosedur pasca persalinan

Tabel : Panduan Metode kontrasepsi pada beberapa kondisi klinis Kondisi klinis

Perlu hari-hati

- AKDR : jangan dipasang sampai - Tanda â&#x20AC;&#x201C;tanda infeksi infeksi teratasi (3 - Tanda-tanda aborsi bulan) tidak aman - Tubektomi : jangan - Tidak menyingkirkan dilakukan sampai infeksi infeksi teratasi (3 bulan) Perlukan jalan lahir - AKDR jangan dipasang sampai - Perforasi uterus perlukaan sembuh - Perlukan vagina atau - Diafragma jangan serviks dipasang sampai perlukaan sembuh - Spremisida jangan dipasang sampai perlukaan sembuh - Tubektomi jangan dipasang sampai perlukaan sembuh Perdarahan banyak - Implan tunda sampai anemia diatas Hb <8% - Kontrasepsi suntik tunda sampai anemia Infeksi

62

Rekomendaasi - Kontrasepsi kombinasi dapat segera diberikan - Kontrasepsi progestin dapat segera diberikan - Barier dapat digunakan - Kontrasepsi kombinasi dapat segera diberikan - Kontrasepsi progestin dapat segera diberikan - Barier dapat digunakan

- Kontrasepsi kombinasi dapat segera diberikan - Kontrasepsi


diatas progestin dapat segera diberikan - Kontrasepsi progestin tunda - Barier dapat sampai anemia diatas digunakan - AKDR tunda sampai anemia diatas - Tubektomi tunda sampai anemia diatas

63


J. KONDISI YANG DIHARAPKAN KONDISI SEKARANG 1. Tingginya sebesar

KONDISI YANG DIHARAPKAN

Angka Kematian 39

kasus

Ibu

1

Percepatan Penurunan Angka Kematian

kematian

Ibu menjadi <70 / 100.000 Kelahiran

(89/100.000 Kelahiran Hidup) pada

Hidup pada akhir 2014 dan <50 /

tahun 2013

100.000 Kelahiran Hidup pada akhir 2015

2. Adanya lonjakan kasus kematian 2

Terjadinya penurunan kasus kematian

dari 25 kasus pada tahun 2012

Ibu menjadi 75% pada akhir tahun 2014

menjadi 39 kasus pada tahun 2013.

dan 50% pada akhir tahun 2015

3. Angka Kematian Bayi Baru Lahir ( 3

Angka Kematian Bayi Baru Lahir dapat

yang sebagian besar disebabkan

dipertahankan

oleh BBLR / Bayi Berat Badan

Kelahiran Hidup pada akhir tahun 2014

Lahir Rendah) sebesar 176 kasus

dan < 4 / 1.000 Kelahiran Hidup pada

kematian

akhir tahun 2015

(4,02/1.000

Kelahiran

sebesar

4

/

1.000

Hidup) pada tahun 2013 4. Tingginya Angka Kebutuhan ber- 4

Penurunan Angka Kebutuhan ber-KB

KB yang tidak Terpenuhi (Unmet

yang tidak Terpenuhi (Unmet Need)

Need) sebesar 10,49% pada tahun

menjadi 9% pada akhir 2014 dan 6,5%

2013

pada akhir 2015

64


K. ALUR PELAPORAN PROGRAM CONTRA WAR BADAN KELUARGA BERENCANA

L. ALUR

KEGIATAN

PROGRAM

CONTRA

WAR

BADAN

KELUARGA

BERENCANA KABUPATEN MALANG GRAND STRATEGY PERCEPATAN PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN PROGRAM CONTRA WAR ( CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK ) DI KABUPATEN MALANG

Pelaksanaan Surveilans Aktif Oleh Kader KB Setiap Saat / REAL TIME ď&#x192; ONE RT - ONE CADRE

Setelah penderita dinyatakan sembuh dari penyakit nya atau sudah dinyatakan layak menjalani kehamilan, maka atas rekomendasi Dokter dilakukan penghentian penggunaan kontrasepsi

7

Kader KB Melaporkan Data WUS (wanita usia subur) yang Belum Ber KB Kepada PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) setiap saat ( REAL TIME ) Proses Penapisan Reproduksi dan Pemilihan Kontrasepsi yg tepat bagi WUS Risti sesuai Rekomendasi dari Dokter Puskesmas / Dokter Spesialis, serta sekaligus dilakukan Penatalaksanaan terhadap Penyakit nya sampai sembuh

Hamil Normal dan Persalinan Aman

Bidan Desa / PLKB Melakukan kunjungan Ke lokasi ( Home Visit )

Rujukan WUS Risti ke Puskesmas / Rumah Sakit

Penurunan Angka Kematian Ibu & Bayi

65

Tim Contra War Melakukan Analisa Kasus dan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat

Bidan desa melakukan Pemeriksaan untuk Mengetahui faktor resiko Tinggi yang ada

PLKB mengirimkan laporan melalui SMS Gateway ke server Contra WaR setiap saat ( REAL TIME )


M. MODEL KONFIGURASI JARINGAN SERVER CONTRA WAR – SUTERA EMAS Grid Antena

Grid Antena

TP Link 5210 TP Link 5210 Router Hub

PC Server SMS Gateway

Server DINKES

Wavecom FastLink GSM modem

N. PROGRAM - PROGRAM UNGGULAN DINAS KESEHATAN

DAN

BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG NO 1

SASARAN A PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN EMERGENCY MATERNAL NEONATAL

PROGRAM

TUJUAN

EMAS

PENURUNAN AKI, AKB

SEKTOR TERKAIT USAID, DINAS KESEHATAN, RS PEMERINTAH / SWASTA, RB, KLINIK, DPS DAN BPS

SUMBER DANA USAID, APBD, CSR

B PENINGKATAN KUALITAS SISTEM RUJUKAN EMERGENCY 2 SASARAN BARU IBU HAMIL 3

4

1. PENURUNAN AKI DAN AKB

A. MONITORING KEHAMILAN RESIKO TINGGI B. REMINDER WAKTU PERSALINAN A. RUJUKAN IBU HAMIL TERENCANA B. SURVEILANS PENYAKIT MENULAR, TIDAK MENULAR DAN FAKTOR RESIKO TINGGI DIBIDANG KESEHATAN

5 WUS (UNMETNEED) BERESIKO TINGGI 6 SOSIALISASI PENURUNAN AKI & AKB, UNMETNEED, TFR

SUTERA EMAS

CONTRA WAR

2. PENURUNAN ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN AKIBAT PENYAKIT MENULAR & TIDAK MENULAR PENURUNAN AKI & AKB, UNMETNEED, TOTAL FERTILITY RATE, PENINGKATAN CONTRACEPTIVE PREVALENCE RATE

66

APBD PEMPROV, APBD PEMPROV, PEMKAB, AIPD-AusAID, KABUPATEN, AIPD PKK, APPI, CSR AusAID, CSR

BKKBN PUSAT, BKKBN PROV., BKKBN, AusAID, PEMKAB, PEMKAB MALANG, AusAID, CSR, CSR, SWADAYA PKK, APPI, DINAS KESEHATAN, RS PEMERINTAH / SWASTA, RB, KLINIK, DPS DAN BPS, ORMAS, KADER KESEHATAN, PPLKB, PKB, PLKB, PKBD, PPKBD


PEMANFAATAN PROGRAM UNGGULAN DINAS KESEHATAN DAN BADAN KELUARGA BERENCANA DALAM RANGKA PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR

 PERIODE PRA NIKAH

CONTRA WAR

 PERIODE PRA

KEHAMILAN SUTERA EMAS

 PERIODE KEHAMILAN  PERIODE PERSALINAN

EMAS

 PERIODE NIFAS DAN

NEONATAL

O. PENGORGANISASIAN

Bupati + 10

DPRD +8

Sekda +10 Ass Adm

PKK +8

Ass Kesra +10

RSUD +10

AIPD AusAid +10

Badan Keluarga Berencana (Tim Contra War )

DINKES +10

PUSKESMAS +10

+10

EMAS USAID +10

KP3A +10

Tim Medis / Paramedis RSUD +10

Pemerintahan

Bappeda +10

Tim Sutera Emas +10

Camat +9

PPLKB +10

CW – SE

Collaboration program stakeholdership

Bidan Desa +10

Kader Kes +10

Bagian Hukum +9

Lur ah / Kades +9

PLKB +10

Kepala RW / RT +9

67

Kader KB +10

Keterangan : 1. Reporting 2. Coordinating 3. Advocation 4. Funding 5. Information 6. Tim Kolaborasi Contra War – Sutera Emas


P. MANFAAT KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS Manfaat dari proyek perubahan Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan metoda kolaborasi program Contra WaR (Contraceptive for Women at Risk) dan Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) adalah : 1.

Meningkatkan kinerja Badan Keluarga Berencana sesuai visi dan misi Pemerintah Kabupaten Malang

2.

Memudahkan petugas untuk dapat mengetahui sasaran Unmet Need (WUS yang butuh ber KB tetapi belum terlayani) by name, by address dan by case

3.

Meningkatkan pemahaman petugas bahwa peningkatan cakupan akseptor KB baru seharusnya berbanding lurus dengan penurunan AKI dan AKB

4.

Mengurangi mindset ego sektoral dan ego program

5.

Merangsang semangat petugas untuk bekerja lebih inovatf dan lebih bertanggung jawab

6.

Memudahkan petugas dalam melakukan pendampingan terhadap akseptor KB dari kelompok Unmet Need dalam melaksanakan kehamilan yang terencana

7.

Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral

8.

Meningkatkan

kwalitas

pelayanan

keluarga

berencana

bagi

masyarakat 9.

Data Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmetneed) yang sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit bawaan serta mempunyai riwayat

faktor resiko tinggi kebidanan pada kehamilan

sebelumnya, dapat diperoleh secara otomatis dari server Sutera Emas Dinas Kesehatan 10. Data diperoleh dari kegiatan surveilans yang berlangsung secara terus menerus 24 jam non stop serta pelaporannya berlangsung realtime (setiap saat)

68


11. Sasaran baru program kesehatan by name, by address bermanfaat untuk update data akseptor aktif dan unmetneed 12. Adanya

guidance

yang

mempermudah

penemuan

dan

penatalaksanaan Wanita Usia Subur yang berisiko tinggi 13. Meminimalisir kemungkinan terjadinya under dan double recording dalam pelaporan data Wanita Usia Subur berisiko tinggi 14. Update data peserta KB Aktif dan unmetneed sangat mudah dan cepat dilakukan karena sudah tersedia guidance (pedoman) yang merupakan output data dari Program Sutera Emas 15. Jumlah calon akseptor baru dari kelompok WUS Risti (unmetneed) yang menjalani penapisan reproduksi tidak terbatas karena datandata tersebut di ekspor secara otomatis oleh server Sutera Emas ke server Contra WaR 16. Data by name by address WUS Risti dari server Contra War akan terkirim secara otomatis ke nomor-nomor HP PPLKB 17. Terjadinya peningkatan cakupan Akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur (Unmet Need) beresiko tinggi melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penyakit (menular , tidak menular atau bawaan) dan mempunyai faktor-faktor resiko terhadap kehamilan, serta pernah mempunyai riwayat kehamilan beresiko tinggi sebelumnya, yang dapat membahayakan proses kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan

penggunaan

kontrasepsi

penyembuhan penyakitnya

yang

tepat

selama

masa

sesuai rekomendasi dokter puskesmas

dan dokter spesialis 18. Terajadinya peningkatan pelayanan kesehatan bagi akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur ber resiko tinggi (Unmet Need) 19. Mempercepat rencana aksi Pemerintah Kabupaten Malang dalam pencapaian tujuan MDGâ&#x20AC;&#x2122;s

69


Q. CONTOH-CONTOH PENYAKIT PADA WANITA USIA SUBUR YANG DAPAT MENYEBABKAN KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TBC PARU

Penderita yang terserang basil tersebut biasanya akan mengalami demam tapi tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Gejala lain, penurunan nafsu makan dan berat badan, batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah), perasaan tidak enak (malaise), dan lemah. Gejala utama : Batuk terus-menerus dan berdahak selama tiga pekan atau lebih. Gejala tambahan yang sering dijumpai 

Dahak bercampur darah/batuk darah

Sesak nafas dan rasa nyeri pada dada

Demam/meriang lebih dari sebulan

Berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas

Badan lemah dan lesu

Nafsu makan menurun dan terjadi penurunan berat badan

Paling mudah untuk mengetahui seseorang terkena tuberkulosis jika dia berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas. Walaupun tidak bisa langsung ditetapkan tuberkulosis karena harus 70


didiagnosis, tapi itu salah satu pertanda. Jika Anda lemas, batuk tak berhenti, nyeri pada dada, dan keringat pada malam hari, langsung segera periksa," tambah dr Arifin Nawas Sp(P), salah seorang tenaga ahli klinis tuberkulosis di RSUP Persahabatan di tempat sama. Penyebab Infeksi TBC Penyakit ini diakibatkan infeksi kuman mikobakterium tuberkulosis yang dapat menyerang paru, ataupun organ-organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah bening, usus, ginjal, kandungan, tulang, sampai otak. TBC dapat mengakibatkan kematian dan merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan kematian tertinggi di negeri ini. Kali ini yang dibahas adalah TBC paru. TBC sangat mudah menular, yaitu lewat cairan di saluran napas yang keluar ke udara lewat batuk/bersin & dihirup oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak semua orang yang menghirup udara yang mengandung kuman TBC akan sakit. Pada orang-orang yang memiliki tubuh yang sehat karena daya tahan tubuh yang tinggi dan gizi yang baik, penyakit ini tidak akan muncul dan kuman TBC akan "tertidur". Namun,pada mereka yang mengalami kekurangan gizi, daya tahan tubuh menurun/ buruk, atau terus-menerus menghirup udara yang mengandung kuman TBC akibat lingkungan yang buruk, akan lebih mudah terinfeksi TBC (menjadi 'TBC aktif') atau dapat juga mengakibatkan kuman TBC yang "tertidur" di dalam tubuh dapat aktif kembali (reaktivasi).

Infeksi TBC yang paling sering, yaitu pada paru, sering kali muncul tanpa gejala apa pun yang khas, misalnya hanya batuk-batuk ringan sehingga sering diabaikan dan tidak diobati. Padahal, penderita TBC paru dapat dengan mudah menularkan kuman TBC ke orang lain dan kuman TBC terus merusak jaringan paru sampai 71


menimbulkan gejala-gejala yang khas saat penyakitnya telah cukup parah. Pengobatan Penyakit TBC Untuk mendiagnosis TBC, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik,

terutama

di

daerah

paru/dada,

lalu

dapat

meminta

pemeriksaan tambahan berupa foto rontgen dada, tes laboratorium untuk dahak dan darah, juga tes tuberkulin (mantoux/PPD). Pengobatan TBC adalah pengobatan jangka panjang, biasanya selama

6-9

bulan

dengan

paling

sedikit

3

macam

obat.

Kondisi ini diperlukan ketekunan dan kedisiplinan dari pasien untuk meminum obat dan kontrol ke dokter agar dapat sembuh total. Apalagi biasanya setelah 2-3 pekan meminum obat, gejala-gejala TBC akan hilang sehingga pasien menjadi malas meminum obat dan kontrol ke dokter. Jika pengobatan TBC tidak tuntas, maka ini dapat menjadi berbahaya karena sering kali obat-obatan yang biasa digunakan untuk TBC tidak mempan pada kuman TBC (resisten). Akibatnya, harus diobati dengan obat-obat lain yang lebih mahal dan "keras". Hal ini harus dihindari dengan pengobatan TBC sampai tuntas.

Pengobatan jangka panjang untuk TBC dengan banyak obat tentunya akan menimbulkan dampak efek samping bagi pasien. Efek samping yang biasanya terjadi pada pengobatan TBC adalah nyeri perut, penglihatan/pendengaran terganggu, kencing seperti air kopi, demam tinggi, muntah, gatal-gatal dan kemerahan kulit, rasa panas

di

kaki/tangan,

lemas,

sampai

mata/kulit

kuning.

Itu sebabnya penting untuk selalu menyampaikan efek samping yang timbul pada dokter setiap kali kontrol sehingga dokter dapat menyesuaikan dosis, mengganti obat dengan yang lain, atau 72


melakukan

pemeriksaan

laboratorium

jika

diperlukan.

Pengobatan untuk penyakit-penyakit lain selama pengobatan TBC pun sebaiknya harus diatur dokter untuk mencegah efek samping yang lebih serius/berbahaya. Penyakit TBC dapat dicegah dengan cara: ď&#x201A;ˇ ď&#x201A;ˇ

Mengurangi kontak dengan penderita penyakit TBC aktif. Menjaga standar hidup yang baik, dengan makanan bergizi, lingkungan yang sehat, dan berolahraga.

ď&#x201A;ˇ

Pemberian vaksin BCG (untuk mencegah kasus TBC yang lebih berat). Vaksin ini secara rutin diberikan pada semua balita.

ď&#x201A;ˇ

Perlu diingat bahwa mereka yang sudah pernah terkena TBC dan diobati, dapat kembali terkena penyakit yang sama jika tidak mencegahnya dan menjaga kesehatan tubuhnya.

Kurang Energi kalori (Kurang gizi) dengan gejala : 1. Kurus 2. Lingkar lengan atas <= 23 cm 3. Bayi yang dilahirkan sering BBLR (bayi berat badan rendah, dan sering menyebabkan kematian pada bayi baru lahir) 4. Penyebab utama dari KEK adalah gizi buruk dan TBC Paru

73


Pre eclampsia berat (ibu hamil dengan kelainan tekanan darah tinggi yang berat) dengan gejala : 1. Ibu hamil dengan tekanan darah tinggi yang berat 2. Kaki bengkak 3. Mulai muncul pada hamil bulan ke 4 dan seterusnya 4. Bisa terjadi pada trimester II dan III kehamilan

Trombosis vena permukaan ( penyakit varises dengan infeksi) dengan gejala : 1. Ada penonjolan pembuluh darah dibawah kulit, lebih sering terjadi di tungkai bawah 2. Trombosis vena permukaan ( penyakit varises dengan infeksi)

74


Stroke (celebro vascular accident)

Gejala Stroke, Penyebab dan Cara Pencegahan Mengenal penyakit stroke, mulai dari gejala, penyebab dan cara pencegahan. Apa itu stroke? Stroke adalah serangan otak yang timbulnya mendadak akibat tersumbat atau pecahnya pembuluh darah otak. Dengan kata lain penyakit stroke ini merupakan penyakit pembuluh darah otak (serebrovaskuler) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) hal ini disebabkan karenakan adanya penyumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah menuju otak sehingga pasokan darah dan oksigen ke otak berkurang dan menimbulkan serangkaian reaksi biokimia yang akan merusakkan atau mematikan sel-sel saraf otak.

75


Jumlah penderita stroke di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Pada akhir tahun 2012 lalu, sebuah lembaga mencatat telah terjadi sekitar 500.000 kasus penderita stroke dengan angka 12.500 orang meninggal akibat penyakit tersebut. Sementara sisanya mengalami cacat, baik ringan maupun berat. Karena itu pengobatan awal serta pencegahan menjadi perang penting dalam memerangi stroke.

Penyebab Penyakit Stroke Ada dua faktor yang merupakan penyebab stroke yaitu resiko medis dan resiko perilaku 1

Faktor risiko medis Faktor resiko medis yang menyebabkan atau memperparah stroke antara lain hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi), kolesterol,

arteriosklerosis

(pengerasan

pembuluh

darah),

gangguan jantung, diabetes, riwayat stroke dalam keluarga (faktor keturnan) dan migren (sakit kepelah sebelah). Menurut data statistik 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosklerosis. 2

Faktor risiko perilaku Faktor resiko perilaku disebakan oleh gaya hidup dan pola makan

yang

menkonsumsi

tidak

sehat

minuman 76

seperti

bersoda

kebiasaan

dan

beralkohol

merokok, gemar


mengkonsumsi makanan cepat saji (fast food dan junk food). Faktor resiko perilaku lainnya adalah kurangnya aktifitas gerak / olah raga dan obesitas. Salah satu pemicunya juga adalah susasana hati yang tidak nyaman seperti sering marah tanpa alasan yang jelas.

Gejala Serangan Stroke Pada tingkat awal, masyarakat, keluarga dan setiap orang harus memperoleh informasi yang jelas dan meyakinkan bahwa stroke adalah serangan otak yang secara sederhana mempunyai lima tanda-tanda utama yang harus dimengerti dan sangat difahami. Hal ini penting agar semua orang mempunyai kewaspadaan yang tinggi terhadap bahaya serangan stroke.

Tanda-tanda utama serangan stroke : 

Rasa bebal atau mati mendadak atau kehilangan rasa dan lemas pada muka, tangan atau kaki, terutama pada satu bagian tubuh saja

Rasa bingung yang mendadak, sulit bicara atau sulit mengerti

Satu mata atau kedua matamendadak kabur

Mendadak

sukar

berjalan,

terhuyung

dan

kehilangan

keseimbangan 

Mendadak merasa pusing dan sakit kepala tanpa diketahui sebab musababnya

Selain itu harus dijelaskan pula kemungkinan munculnya tandatanda ikutan lain yang bisa timbul dan atau harus diwaspadai, yaitu; 

Rasa mual, panas dan sangat sering muntah-muntah

Rasa pingsan mendadak, atau merasa hilang kesadaran secara mendadak 77


Cara Mencegah Penyakit Stroke Adapun, untuk menghindari stroke seseorang bisa melakukan tindakan pencegahan termasuk membiasakan diri menjalani gaya hidup sehat. Berikut adalah 10 langkah yang dapat Anda lakukan guna menghindarkan diri dari serangan stroke. 1

Hindari dan hentikan kebiasaan merokok Kebiasaan ini dapat menyebabkan atherosclerosis (pengerasan dinding pembuluh darah) dan membuat darah Anda menjadi mudah menggumpal.

2

Periksakan tensi darah secara rutin Tekanan darah yang tinggi bisa membuat pembuluh darah Anda mengalami tekanan ekstra. Walaupun tidak menunjukkan gejala, ceklah tensi darah secara teratur.

3. Kendalikan penyakit jantung Kalau Anda memiliki gejala atau gangguan jantung seperti detak yang tidak teratur atau kadar kolesterol tinggi, berhatihatilah karena hal itu akan meningkatkan risiko terjadinya stroke. Mintalah saran dokter untuk langkah terbaik. 4. Atasi

dan

kendalikan

stres

dan

depresi

Stres dan depresi dapat menggangu bahkan menimbulkan korban fisik. Jika tidak teratasi, dua hal ini pun dapat menimbulkan problem jangka panjang. 5. Makanlah dengan sehat Anda mungkin sudah mendengarnya ribuan kali, namun penting artinya bila Anda disiplin memakan sedikitnya lima porsi buah dan sayuran setiap hari. Hindari makan daging merah terlalu banyak karena lemak jenuhnya bisa membuat pembuluh darah

mengeras.

mengendalikan

Konsumsi lemak

makanan

berserat

dalam

Kurangi garam Karena garam akan mengikatkan tekanan darah. 78

dapat darah.


6. Pantau berat badan Memiliki badan gemuk atau obes akan meningkatkan risiko Anda mengalami tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan diabetes, dan semuanya dapat memicu terjadinya stroke. 7. Berolahraga dan aktif Melakukan aktivitas fisik secara teratur membantu Anda menurunkan tensi darah dan menciptakan keseimbangan lemak yang sehat dalam darah. 8. Kurangi alkohol Meminum alkohol dapat menaikkan tensi darah, oleh karena itu menguranginya berarti menghindarkan Anda dari tekanan darah tinggi. 9. Mencari Informasi Dengan mengikuti perkembangan informasi tentang kesehatan, banyak

hal

penting

yang

diperoleh

guna

menghindari

kemungkinan atau menekan risiko stroke. Berhati-hatilah, beragam hormon termasuk pil dan terapi penggantian hormon HRT diduga dapat membuat darah menjadi kental dan cendrung mudah menggumpal

Kanker payudara (carcinoma mammae)

79


Gejala Kanker Payudara dan Penyebabnya Pada wanita khususnya, payudara adalah salah satu organ paling pribadi. Penting artinya memeriksa kondisi payudara secara berkala. Benjolan, penebalan, dan perubahan warna kulit menjadi kemerahan patut diwaspadai sebagai indikasi kanker. Rasa gatal, kulit mengelupas, atau ruam di payudara selama bermingguminggu juga perlu diwaspadai. Perubahan lain pada kulit payudara, seperti bengkak, kulit tertarik ke dalam, atau mengerut, juga harus dicurigai sebagai gejala.

Kanker payudara adalah jenis lain dari kanker yang terjadi pada jaringan sel payudara. Ketika sel abnormal membagi dan tidak terkontrol, mereka dapat menjadi besar dengan membentuk jaringan ekstra, atau tumor, yang dapat menjadi jinak atau ganas. Sel tumor jinak tidak menyebar ke jaringan tubuh yang lain, biasanya

dapat

diangkat

dan

tidak

akan

timbul

kembali.

Sel tumor ganas (kanker) dapat menyebar ke jaringan tubuh yang terdekat dan melepaskan diri dari bentuk tumor primer menjadi bentuk tumor sekunder dimanapun di bagian tubuh.

Macam-Macam Kanker Payudara Ada beberapa tipe umum kanker payudara : ď&#x201A;ˇ

Infiltrating/Invasive Ductal Carcinoma (IDC) terjadi pada 65 sampai 85 persen kasus kanker payudara. Dimulai di sel saluran susu dan dapat menembus dinding saluran untuk menyerang jaringan yang berlemak. Dapat menyebar dengan darah atau getah bening. Dengan mammogram (pemotretan sinar X) biasanya terlihat sebagai jaringan yang tidak biasa, flek kecil atau keduanya. Muncul sebagai gumpalan yang biasanya terasa keras daripada jaringan disekitarnya. 80


Infiltrating/Invasive Lobular Carcinoma (ILC) terjadi pada 5 sampai 10 persen kasus kanker payudara. Terdapat pada kelenjar penghasil susu, dan dapat menyebar ke jaringan lemak dan dimanapun pada tubuh. Dengan mammogram, dapat terlihat seperti IDC, tapi pemeriksaan fisik biasanya tidak menemukan adanya gumpalan yang keras – jaringan yang agak samara ketebalannya. Dapat terjadi lebih dari satu tempat di dada atau pada kedua dada secara simultan.

Tiga subtipe slow-growing invasive adalah Medullary, Mucinous dan Tubular Carcinomas. Yang secara bersamaan terjadi pada 12 persen kasus kanker payudara. Mereka dapat diketahui dengan secara lebih baik dari pada kanker ganas lainnya.

Inflammatory

Carcinoma

adalah

subtipe

IDC.

Memiliki

karakteristik payudara menjadi merah, bengkak dan terasa panas, dan kulit menebal dan dapat membentuk benjolan kecil. Ini terjadi karena pertumbuhan kanker yang cepat dan menyumbat jaringan getah bening. Pada 90 persen kasus, kanker telah menyebar pada jaringan getah bening saat terdiagnosa. Ini merupakan kanker yang agresif dan umumnya dilakukan perawatan dengan chemotherapy. Pembengkakan kanker terjadi pada satu dari empat persen kasus yang terjadi. 

Paget's disease dimulai pada saluran susu dan dapat menyebar pada

puting susu

dan

areola,

menyebabkan

pengerasan. Jika tidak ada gumpalan yang terasa, dan biopsi menunjukkan tidak ada kanker ganas, itu pertanda baik. Perawarannya sama dengan kanker ganas lain. 

Tumor jaringan lunak: Tumor dapat terjadi di jaringan pendukung pada payudara. Tumor ini adalah jenis yang tidak umum.

Gejala Kanker Payudara Tanda dan gejala kanker payudara antara lain : 81


Benjolan pada payudara atau terasa menebal dan berbeda dari jaringan di sekitarnya

Keluar darah pada puting susu

Perubahan ukuran atau bentuk payudara

Perubahan pada kulit payudara, contohnya lesung

Bentuk puting susu yang terbalik

Pengelupasan kulit puting susu

Kemerahan pada kulit payudara, seperti kulit jeruk

Penyebab Kanker Payudara Kanker payudara paling sering dimulai pada saluran produksi susu. Dokter menyebut jenis kanker ini cancer invasive ductal carcinoma. Kanker payudara juga dapat dimulai dari lobulus (invasive lobular carcinoma) atau sel pada payudara. Ilmuan mengidentifikasi hal yang dapat meningkatkan risiko anda memiliki kanker payudara. Tapi tidak jelas apa kenapa beberapa orang tidak memiliki faktor risiko mengalami kanker, sementara orang lain yang memiliki faktor risiko tidak pernah mengalaminya. Sepertinya kanker payudara disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik dan lingkungan anda.

Kanker payudara karena keturunan Dokter memperkirakan bahwa 5 sampai 10 persen kanker payudara berhubungan pada mutasi genetik pada generasi di dalam keluarga. Sejumlah gen rusak yang diwariskan dapat meningkatkan kemungkinan kanker payudara telah diidentifikasi. Yang umum adalah gen kanker payudara 1 (BRCA1) dan gen kanker payudara 2 (BRCA2), keduanya meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium. Jika anda memiliki catatan keluarga yang kuat dengan kanker payudara

atau

kanker

lain, 82

tes

darah

dapat

membantu


mengidentifikasi BRCA yang rusak atau gen lain yang terdapat di dalam keluarga.

Faktor risiko Terkena Kanker Payudara Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara antara lain: 

Wanita. Wanita lebih memiliki kemungkinan mengalami kanker payudara daripada laki-laki.

Bertambahnya usia. Risiko anda mengalami kanker payudara meningkat seiring usia. Wanita yang berusia lebih dari 60 tahun memiliki risiko lebih besar daripada wanita dengan usia yang lebih muda.

Catatan pribadi dengan kanker payudara. Jika anda memiliki kanker pada satu payudara, anda memiliki peningkatan risiko mengalami kanker pada payudara yang lain.

Sejarah keluarga dengan kanker payudara. Jika anda memiliki ibu, saudara perempuan atau anak perempuan dengan kanker payudara, anda memiliki peluang yang lebih besar terdiagnosa dengan kanker payudara. Tetapi secara umum mereka yang memiliki kanker payudara tidak memiliki sejarah keluarga dengan kanker payudara.

Gen keturunan yang meningkatkan risiko kanker. Mutasi gen tertentu yang meningkatkan risiko kanker payudara dapat menurun dari orang tua kepada anak. Mutasi gen yang dimaksud adalah BRCA1 dan BRCA2. Gen tersebut dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara dan kanker lain, tetapi mereka tidak membuat kanker pasti terjadi.

Terkena radiasi. Jika anda menerima perawatan dengan radiasi pada dada saat anak-anak atau orang dewasa yang muda, anda lebih memiliki kemungkinan mengalami kanker payudara di kemudian hari. 83


Obesitas.

Memiliki

kelebihan

berat

badan

atau

obesitas

meningkatkan risiko anda mengalami kanker payudara. 

Datang bulan yang dimulai pada usia lebih muda. Masa datang bulan yang dimulai sebelum usia 12 tahun meningkatkan risiko kanker payudara.

Menopause yang dimulai pada usia yang lebih tua. Jika masa menopause anda dimulai setelah usia 55 tahun, anda akan memiliki kemungkinan lebih mengalami kanker payudara.

Memiliki anak pertama pada usia yang lebih tua. Wanita yang baru memiliki anak setelah usia 35 dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Terapi hormon postmenopausal. Mereka yang menggunakan pengobatan terapi hormon yang mengkombinasikan esterogen dan progesterone untuk mengobati tanda dan gejala menopause memiliki peningkatan risiko kanker payudara.

Minum alkohol. Minum alkohol dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Herpes simpleks 1. Benjolan berisi cairan disekitar mata, mulut, hidung, telinga, alat kemaluan 2. Terasa nyeri 3. Mudah menyebar kedaerah lain 4. Bisa

ditularkan

melalui

hubungan seks

84


Penyakit herpes merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus herpes. Virus herpes ada dua, yaitu herpes zoster dan herpes simpleks. Kedua jenis virus ini seringkali memiliki efek yang sama pada kulit. Yang berbeda hanyalah daerah penyebarannya. Herpes berasal dari bahasa Yunani yang artinya merayap. Virus herpes memiliki karakteristik bergerak dari satu saraf kecil ke saraf kecil dengan cara merayap. Pergerakannya akan berakhir ketika virus-virus tersebut sampai di kumpulan saraf. Penyakit herpes masuk dalam kelompok penyakit TORCH. TORCH merupakan sebutan atau akronim dari kelompok penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pada perkembangan janin, terdiri dari: 1. Toxoplasmosis 2. Other (seperti syphilis, varicella, mumps, parvovirus dan HIV) 3. Rubella 4. Cytomegalovirus 5. Herpes simpleks TORCH kadang disebut dengan STORCH atau TORCHES. Adapun penyebabnya bisa virus, bakteri, maupun protozoa. Kelompok penyakit ini memiliki beragam akibat, yang paling umum adalah kelainan janin, keguguran, hingga penularan pada bayi. Tipe Herpes Simplex dan Penularannya Pada pengkajian lebih lanjut, penyakit herpes dibagi menjadi dua tipe yakni Herpes Simplex Tipe 1 (HSV-1) dan Herpes Simplex Tipe 2 (HSV-2). HSV-1 menyerang mulut dan bibir, berupa cold sore yakni semacam lepuhan-lepuhan kecil yang kadang nampak seperti jerawat dengan warna kemerahan. Herpes tipe ini bisa ditularkan dari organ genital ke mulut melalui hubungan seks oral (lewat mulut).

85


HSV-2 menyerang organ genital. Penularannya juga terjadi terjadi lewat kontak kulit antar organ genital maupun dari organ genital ke mulut melalui seks oral. Penularan ini karena dalam seks oral maupun intercourse (memasukkan Mr. P ke Mrs. V) terjadi pertukaran cairan. Jika seseorang terinfeksi virus herpes, akan dengan mudah menularkan penyakit ini kepada siapapun yang menjalin kontak dengannya. Penyakit Herpes Genitalis Gejala herpes berbeda antara satu penderita dengan yang lainnya. Pasalnya, penyakit ini tidak selalu terekspresi, dalam artian adakalanya virus aktif dan adakalanya tidak. Untuk memastikannya adalah hanya dengan tes laboratorium, apakah seseorang memiliki virus Herves Simpleks atau tidak (baik HSV 1 dan atau HSV 2). Gejala herpes genitalis diantaranya adalah: ď&#x201A;ˇ

Gejala herpes genital pada pria akan muncul gelembung kecil sepertu bisul yang kemudian pecah lalu menjadi koreng. Luka tersebut muncul di organ genital dan sekitarnya seperti penis, skortum, paha, anus, pantat, kandung kemih, hingga saluran kencing.

ď&#x201A;ˇ

Gejala herpes genital pada wanita akan muncul bentuk luka sama seperti pada pria. Pada wanita juga menyerang organ genital dan sekitarnya seperti vagina, pantat, paha, anus, hingga servics (leher rahim).

Pengaruh virus herpes pada kehamilan dan cara aman melahirkan Ibu hamil yang terinfeksi virus herpes pada minggu-minggu awal bisa mengalami keguguran. Pun misalkan tidak sampai terjadi keguguran dan bayi bisa diselamatkan, umumnya tetap berbahaya bagi janin karena infeksi virus herpes dapat menyebabkan cacat sistem syaraf dan penglihatan. 86


Jika ibu terinfeksi HSV-2 di bulan-bulan akhir kehamilan, meski janin diketahui sehat, baiknya hindari melahirkan secara normal. Sebagaimana dijelaskan bahwa HSV-2 menyerang organ genital. Saat bayi lahir secara normal, kulit bayi bersinggungan dengan kulit vagina ibu sehingga beresiko tertular herpes. Terdapat dua jenis penyakit herpes yang bisa menginfeksi manusia yaitu penyakit herpes zooster (shingles) yang terlihat seperti cacar dan juga penyakit herpes genital (herpes simplex). Cara Penularan Penyakit Herpes Genital Penyakit herpes genitalis menular melalui kontak kulit langsung yaitu dari daerah yang terinfeksi ke daerah yang tertular. Misalnya saat

seseorang

yang

terinfeksi

mencium

atau

melakukan

hubungan seks seperti oral, vagina atau dubur, maka bisa menyebabkan pasangannya tertular. Herpes jenis ini paling mudah menular jika kondisi seseorang sedang sakit, biasanya ditandai dengan rasa gatal, kesemutan dan sensasi lain sebelum muncul apapun di kulit. Ada 2 penyakit infeksi menular seksual yang sering dijumpai pada penderita HIV positif, yaitu: Herpes genital Penyakit herpes genital yang terjadi pada penderita HIV umumnya tidak memiliki gejala yang khas. Namun ukuran ulkus (luka) yang timbul cenderung lebih besar dan juga lebih dalam. Kejadian rekurensi (munculnya) juga cenderung lebih sering yang membuat proses pengobatannya lebih lama dibandingkan dengan orang yang memiliki herpes genital tanpa HIV. Penyakit ini lebih banyak menular melalui hubungan kontak kulit dengan penderita. Umumnya gejalanya adalah timbul bintil-bintil di bagian

luar

alat

kelamin

yang

bentuknya

memerah

dan

membengkak. Virus ini juga bisa menulari bagian tubuh lain seperti mulut. 87


Toxoplasmosis

Toxoplasmosis atau toxo merupakan

sering penyakit

hanya yang

disebut penyakit disebabkan

oleh

parasit Toxoplasma gondii. Dalam banyak kasus, infeksi pada manusia terjadi terutama setelah parasit tersebut tertelan. Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala, tetapi penyakit ini memiliki beberapa

potensi

untuk

orang,

menyebabkan

terutama

pada

masalah

mereka

serius

yang

pada

mengidap

penyakit immunodepressed dan pada wanita hamil karena dapat menyebabkan keguguran.

Jika

timbul

gejala,

pembengkakan

biasanya

kelenjar

getah

menyerupai bening,

flu

malaise)

(nyeri

otot,

dan

dapat

berlangsung selama beberapa minggu. Pada beberapa kasus, infeksi yang berat dapat menyebabkan masalah pada organ mata, gangguan otak, kejang, dan jarang, menyebabkan kematian. Obatobatan tertentu, baik secara tunggal maupun dalam kombinasi, dapat digunakan untuk mengobati toxoplasmosis. 88


Sebagian besar orang terkena infeksi dari makan daging yang terinfeksi atau mengonsumsi makanan yang terkontaminasi kotoran kucing atau anak kucing. Pencegahan penyakit ini terutama berpusat pada usaha menghindari kontak dengan daging yang mentah/terkontaminasi

dan

kontak

dengan kucing/kotoran

kucing.

Organisme ini pertama kali diamati pada tikus pada tahun 1908. Toxoplasma tercatat menyebabkan infeksi kongenital (artinya diturunkan dari ibu ke janin selama kehamilan) pada tahun 1930 dan menjadi dikenal luas sebagai penyebab penyakit pada orang dengan immunodepressed pada akhir tahun 1960. Lebih banyak infeksi yang tercatat mulai tahun 1983 ketika orang-orang dengan HIV / AIDS terserang Ensefalitis toksoplasma (peradangan otak).

CDC

menganggap

toxoplasmosis

menjadi

penyebab

ketiga

kematian paling umum yang disebabkan oleh makanan di AS dan memperkirakan sekitar 60 juta orang di Amerika Serikat membawa parasit Toxoplasma gondii. Kebanyakan orang yang terinfeksi memiliki sistem kekebalan yang menekan parasit, sehingga sebagian besar orang tidak menunjukkan gejala. Namun, jika sistem kekebalan tubuh menjadi tertekan, parasit tersebut dapat menyebabkan penyakit serius.

Penyebab Toxoplasma

Toxoplasma gondii merupakan parasit protozoa yang menginfeksi sebagian besar spesies hewan berdarah panas (misalnya, kucing, babi,

domba,

dan

manusia)

dan

menyebabkan

penyakit

toksoplasmosis. Hanya kucing (kucing domestik dan kerabat

89


lainnya dalam keluarga Felidae) yang dikenal sebagai hewan inang yang memungkinkan parasit untuk melengkapi siklus hidupnya.

Picture credit to Cambridge University Press

Ketika kucing memangsa tetikus atau burung yang terinfeksi, bradyzoit yang tertelan berkembang menjadi baik takizoit atau ookista. Siklus hidup Toxoplasma selesai ketika ookista keluar melalui kotoran kucing. Manusia dan hewan lain bukan bagian dari siklus hidup lengkap (kecuali dimakan oleh kucing); sebagian besar infeksi terjadi ketika manusia, peliharaan atau hewan lain menelan makanan, tanah, atau hewan lain yang mengandung baik ookista yang telah bersporulasi atau jaringan hewan yang mengandung Toxoplasma bradyzoit.

90


Siklus Hidup Toxoplasma Gondii Manusia

biasanya

terinfeksi

dengan

mengkonsumsi

daging,

makanan, atau air yang terkontaminasi. Infeksi juga dapat ditularkan

melalui

transfusi

darah

yang

terkontaminasi,

transplantasi organ terinfeksi, atau dari ibu yang terinfeksi kepada janin. Yang terakhir, penyakit ini dapat diperoleh dengan langsung terhisap kotoran kucing, yang mungkin terjadi saat membersihkan kotak kotoran kucing.

Gejala Toxo

Sekitar 80% -90% dari orang yang terinfeksi Toxoplasma tidak menunjukkan gejala. Mereka yang mengalami gejala biasanya mengalami pembengkakan kelenjar getah bening serviks dan gejala mirip flu yang hilang dalam beberapa minggu atau bulan tanpa pengobatan. Organisme ini sebenarnya masih berada di 91


tubuh dalam kondisi laten dan dapat aktif kembali jika orang tersebut menjadi immunodepressed. Sebagai contoh, pasien dengan AIDS dapat terkena lesi di otak akibat reaktivasi Toxoplasma. Pasien kemoterapi dapat terserang pada organ mata, jantung (miokarditis), paru-paru atau otak ketika parasit menjadi aktif kembali.

Infeksi bawaan Toxoplasma bisa menyebabkan masalah serius pada mata, telinga, dan kerusakan otak pada saat lahir. Namun, infeksi bawaan mungkin asimtomatik sampai beberapa tahun pertama kehidupan atau bahkan sampai dekade kedua atau ketiga ketika mata (penurunan penglihatan atau kebutaan), telinga (pendengaran), atau gejala kerusakan otak (kejang, perubahan status mental) terkena. Toxoplasmosis merupakan penyebab utama retinochoroiditis (peradangan retina dan koroid mata) di Amerika Serikat.

Kapan saatnya Mencari Perawatan Medis Karena sebagian besar orang tidak mengalami gejala pada Toxoplasmosis, kebanyakan orang yang terinfeksi tidak berusaha mencari layanan kesehatan. Namun, orang yang mengalami kelenjar getah bening leher yang membesar dan mengalami sindrom mirip flu dan curiga atau tahu bahwa mereka telah memiliki asosiasi dekat dengan kucing atau makanan/air yang mungkin terkontaminasi

harus

mempertimbangkan

mencari

perawatan

medis. Jika wanita yang sedang merencanakan kehamilan atau sedang hamil mengalami gejala ini, mereka harus segera mencari perawatan medis. Orang dengan immunodepressed, terutama mereka yang terinfeksi HIV, juga harus mencari perawatan medis jika gejala yang disebutkan di atas terjadi atau jika mereka merasakan perubahan pada mata atau perubahan status mental. 92


Pemeriksaan dan Tes Toxoplasma Kebanyakan orang yang terinfeksi tidak akan memiliki kelainan fisik yang terasa, tetapi pada pemeriksaan fisik, beberapa orang akan memiliki kelenjar getah bening serviks yang membesar (temuan fisik yang paling umum), atau pembesaran limpa atau hati. Orang dengan infeksi sedang sampai berat mungkin menunjukkan penyakit kuning (terutama bayi), peningkatan lebam karena masalah pada organ hati, masalah mata (penurunan penglihatan atau kebutaan), meningoencephalitis (radang otak dan lapisan otak), kejang, pneumonitis, dan perubahan status mental.

Sayangnya,

banyak

penyakit

ringan

dan

berat

lain

dapat

menyebabkan gejala yang sama (misalnya, penyakit Chagas, giardiasis, malaria, penyakit cakaran kucing, abses otak, sepsis, cytomegalovirus, dan banyak lainnya). Untungnya, ada sejumlah tes yang dapat membantu membedakan Toxoplasmosis dari penyakit lain dan memberikan bukti untuk diagnosis sementara atau definitif.

Diagnosis definitif Toxoplasmosis dibuat dengan mengidentifikasi organisme Toxoplasma gondii dalam darah, cairan tubuh (misalnya, cairan tulang belakang atau ketuban), atau jaringan (sampel biopsi). Selain itu, cairan tubuh dapat disuntikkan ke tikus, sehingga tikus tersebut akan terkena penyakit jika parasit berada dalam cairan tubuh yang disuntikkan. Juga, cairan tubuh dapat diinokulasi ke dalam kultur sel dimana parasit dapat berkembang biak. Tes ini biasanya dilakukan di laboratorium khusus oleh personel yang berpengalaman.

93


Tes-tes

lain

dapat

menghasilkan

diagnosis

presumptif

dan

didasarkan pada respon kekebalan seseorang terhadap parasit. Cairan tubuh dapat diuji dengan PCR atau teknik enzim-linked immunosorbent assay (ELISA) yang dapat menunjukkan infeksi akut. Tes lain, seperti tes Sabin-Feldman, mengukur antibodi IgG pasien yang ditujukan terhadap parasit Toxoplasma gondii dan merupakan tes acuan standar untuk Toxoplasmosis. Antibodi IgG menunjukkan bahwa infeksi toksoplasma telah terjadi di masa lalu tetapi tidak mengatakan apakah infeksi saat ini adalah sebagai akibat Toxoplasma gondii.

Tes lain yang biasa digunakan adalah dengan mendeteksi antibodi IgM yang diarahkan terhadap parasit dan dapat mendeteksi antibodi ini pada minggu pertama infeksi. Tes ini paling sering dilakukan dan tes ini dilakukan oleh laboratorium khusus. Waktu tes adalah penting, karena akan mempengaruhi interpretasi hasil. Beberapa

orang

mungkin

memiliki

hasil

positif

karena

ia

sebelumnya telah terinfeksi, akan tetapi gejala yang ia rasakan sekarang merupakan dikarenakan penyakit yang lain bukan karena Toxoplasma gondii. Konsultasi dengan ahli penyakit menular dapat membantu menentukan diagnosis ketika hanya bukti dugaan yang tersedia.

Wanita hamil dan mereka yang berencana untuk hamil bisa diuji dengan tes imunologi serupa seperti yang disebutkan di atas untuk diagnosis dan menentukan apakah ada risiko bagi ibu untuk menularkan infeksi toksoplasma pada janin. Jika seorang wanita tidak memiliki antibodi dalam aliran darahnya, dia rentan untuk terkena dan dapat dipantau lebih dekat.

94


Pengobatan Toxoplasma Toxoplasmosis dapat ditangani secara medis. Ada beberapa obat, biasanya digunakan dalam kombinasi, untuk mengobati infeksi oleh parasit ini. Tiga obat yang paling sering digunakan ke pasien, termasuk orang dengan HIV adalah pirimetamin (Daraprim), sulfadiazin (Microsulfon), dan asam folinic. Namun, pasien hamil diobati

dengan

spiramisin

(Rovamycine)

dan

leucovorin

(Wellcovorin) di samping obat yang tercantum di atas. Pasien dengan HIV biasanya membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk menjaga parasit tetap ditekan. Obat lain kadang-kadang digunakan adalah klindamisin (Cleocin), azitromisin (Zithromax), atau atovakuon (Mepron). Obat ini digunakan terutama ketika pasien

alergi

terhadap

pirimetamin

atau

sulfadiazin.

Dosis

bervariasi, cara terbaik untuk menentukan perawatan medis individu adalah didasarkan pada situasi kesehatan pasien.

Sayangnya, pirimetamin (Daraprim) dan sulfadiazin (Microsulfon) dapat menyebabkan efek samping yang signifikan, terutama pada janin. Dua dari efek samping utama adalah penekanan sumsum tulang (pengobatan leucovorin dapat mengurangi penekanan ini) dan toksisitas hati untuk pirimetamin. Untuk sulfadiazin, efek samping bisa mual, muntah, toksisitas hati, kejang, dan gejala lainnya. Obat ini digunakan pada wanita hamil karena risiko infeksi oleh Toxoplasma biasanya lebih parah daripada efek samping obat. Dokter yang merawat harus diberitahu cepat jika efek samping terjadi.

Pencegahan Toxoplasma Pencegahan Toxoplasmosis utamanya adalah untuk menghindari masuknya parasit. Berikut ini disarankan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terinfeksi Toxoplasmosis: 95


Benar-benar memasak semua daging (daging beku selama beberapa hari juga mengurangi kemungkinan Toxoplasma).

Mencuci tangan dan peralatan dengan benar setelah menyentuh daging mentah.

 

Cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi Jangan minum susu yang tidak dipasteurisasi atau minum air mentah.

Beri makan kucing dengan makanan yang dimasak dengan matang.

Jangan mengadopsi atau memegang kucing liar.

Jangan memelihara kucing baru saat hamil.

Wanita hamil harus memakai sarung tangan saat berkebun, benar-benar

mencuci

tangan

mereka

setelah

itu,

dan

menghindari kontak dengan kotoran kucing, dan sebaiknya meminta orang lain untuk membersihkan kotak kotoran kucing (bersihkan kotak kotoran kucing setiap hari). 

Taruh kotak pasir kotoran kucing di luar ruangan saat tidak digunakan.

Ibu hamil yang terinfeksi Toxoplasma dapat menginfeksi janin, akan tetapi pengobatan terhadap sang ibu dapat mengurangi 96


kemungkinan menginfeksi janin. Organ dan darah donor terinfeksi Toxoplasma bisa menularkan parasit ke penerima, pengujian donor untuk parasit dapat mencegah jenis infeksi ini. Studi sedang berlangsung untuk menghasilkan vaksin Toxoplasma, namun sampai saat ini, tidak ada vaksin yang tersedia atau diproduksi secara komersial baik untuk manusia maupun kucing.

Gondok endemis dengan gejala : 1. Benjolan pada leher, semakin lama semakin besar 2. Akibat kekurangan yodium 3. Sering mengakibatkan kelainan pada jantung 4. Bisa menyebabkan kelainan pada bayi baru lahir (kretinisme) 5. Bisa menyebabkan kematian ibu dan bayi baru lahir

HIV â&#x20AC;&#x201C; AIDS AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome,

yaitu

sekumpulan

gejala

yang

didapatkan

dari

penurunan kekebalan tubuh akibat kerusakan sistem imun oleh infeksi virus HIV. Sedangkan HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency

Virus,

yang

menyerang

sel

CD4

dan

menjadikannya tempat untuk berkembang biak dan kemudian merusaknya. Diagnosis

97


- Tes dan konseling HIV pada ibu hamil dilakukan atas inisiatif petugas kesehatan (TIPK) atau provider-initiated HIV testing and counseling (PITC). - Di daerah epidemi meluas dan terkonsentrasi, tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan wajib menawarkan tes HIV kepada semua ibu hamil secara inklusif pada pemeriksaan laboratorium rutin lainnya saat pemeriksaan antenatal atau menjelang persalinan - Di daerah epidemi HIV rendah, penawaran tes HIV oleh tenaga kesehatan diprioritaskan pada ibu hamil dengan IMS dan TB - TIPK dilakukan dengan memberikan informasi pra-tes kepada ibu hamil tentang: o Risiko penularan penyakit kepada bayi o Keuntungan diagnosis dii penyakit pada kehamilan bagi bayi yang akan dilahirkan, termasuk HIV, malaria, dan atau penyakit tidak menular lainnya seperti hipertensi, diabetes, dan lain-lain o Cara mengurangi risiko penularan penyakit dari ibu ke anaknya - Tes HIV atas inisiatif petugas kesehatandan konseling (TIPK) dilakukan secara option out, yaitu bila ibu menolak, ibu hamil harus menyatakan ketidaksetujuannya secara tertulis, dan diinformasikan serta ditawarkan kembali untuk menjalani tes pada kunjungan/kontrol berikutnya. Bila ibu tetap menyatakan option out, maka diperkenalkan Konseling dan Tes Sukarela (KTS) dan dilakukan rujukan ke KTS. - Pemeriksaan diagnostik infeksi HIV yang dilakukan di Indonesia umumnya adalah pemeriksaan serologis menggunakan rapid test HIV atau ELISA. - Pemeriksaan

diagnostik

tersebut

dilakukan

secara

serial

menggunakan tiga reagen HIV berbeda dalam hal preparasi antigen, prinsip tes, dan jenis antigen, yang memenuhi kriteria 98


sensitivitas

dan

spesifitas.

Pemilihan

jenis

reagen

yang

digunakan berdasarkan sensitivitas dan spesifisitas, merujuk pada Standar Pelayanan Laboratorium Kesehatan Pemeriksa HIV dan Infeksi Oportunistik, Kementerian Kesehatan. - Hasil pemeriksaan dinyatakan reaktif jika hasil tes dengan reagen 1 (A1), reagen 2 (A2), dan reagen 3 (A3) ketiganya positif (lihat alur diagnosis di halaman berikut).

- Untuk ibu hamil dengan faktor risiko yang hasil tesnya indeterminate, tes diagnostik HIV dapat diulang dengan bahan baru yang diambil minimal 14 hari setelah yang pertama dan setidaknya tes ulang menjelang persalinan (32-36 minggu).

99


Tatalaksana a. Tatalaksana Umum o Rujuk ibu dengan HIV ke rumah sakit. Tatalaksana HIV pada kehamilan sebaiknya dilakukan oleh tim multidisiplin meliputi dokter yang ahli mengenai HIV, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, bidan yang ahli, dan dokter spesialis anak o Periksa hitung CD4 dan viral load untuk menentukan status imunologis dan mengevaluasi respons terhadap pengobatan b. Tatalaksana Khusus - Terapi antiretroviral Berikan antiretroviral segera kepada semua Ibu hamil dengan HIV, tanpa harus mengetahui nilai CD4 dan stadium klinisnya terlebih dahulu, dan dilanjutkan seumur hidup. Rekomendasi pengobatan sesuai situasi klinis ibu dapat dilihat di tabel berikut.

100


ď&#x201A;ˇ

Penggunaan Nevirapin (NVP) pada perempuan dengan CD4 >250 sel/mm3 atau yang tidak diketahui jumlah CD4-nya dapat menimbulkan reaksi hipersensitif berat

ď&#x201A;ˇ

Efavirens tidak boleh diberikan pada ODHA hamil trimester 1 karena teratogenik

Tatalaksana infeksi oportuistik ď&#x201A;ˇ

Ibu sebaiknya diperiksa untuk mendeteksi infeksi menular seksual di usia kehamilan 28 minggu, kemudian diberikan terapi yang sesuai 101


ď&#x201A;ˇ

Tatalaksana penyakit infeksi oportunistik pada ibu dengan HIV sesuai dengan panduan yang berlaku

Pilihan persalinan

Pemberian makanan bayi ď&#x201A;ˇ

Jika bayi, tidak diketahui status HIV-nya: -

Pemilihan makanan bayi harus didahulu konseling terkait risiko penularan HIV sejak sebelum persalinan. Pengambilan keputusan

dapat

dilakukan

oleh

ibu/keluarga

setelah

mendapat informasi dan konseling secara lengkap -

Bila ibu memilih ASI, berikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan. Untuk itu, ibu dengan HIV perlu mendapat konseling laktasi dengan baik sejak perawatan antenatal pertama sesuai pedoman

-

Ibu dengan HIV diperbolehkan memberikan susu formula bagi bayinya yang HIV atau tidak diketahui status HIV-nya jika

SELURUH

feasible/mampu

syarat laksana,

AFASS

(affordable/terjangkau,

acceptable/

dapat

diterima,

sustainable/berkesinambungan dan safe/aman) -

Sangat tidak dianjurkan mencampur ASI dengan susu formula

ď&#x201A;ˇ

Jika bayi telah diketahui HIV positif: -

Ibu sangat dianjurkan memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan

-

Setelah berusia 6 bulan, bayi diberikan MP-ASI dan ASI tetap dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun 102


Tatalaksana untuk bayi 

Mulai pemberian zidovudine (AZT) profilaksis dengan ketentuan sebagai berikut: -

Jika bayi cukup bulan, berikan zidovudine (AZT)dengan dosis 4 mg/ kgBB/12 jam selama 6 minggu

-

Jika bayi prematur dengan usia kehamilan <30 minggu, berikan zidovudine (AZT)dengan dosis 2 mg/kgBB/12 jam selama 4 minggu, kemudian 2 mg/kgBB/8 jam selama 2 minggu berikutnya

-

Jika bayi prematur dengan usia kehamilan 30-35 minggu, berikan zidovudine (AZT) dengan dosis 2 mg/kgBB/12 jam selama 2 minggu pertama, kemudian 2 mg/kgBB/8 jam selama 2 minggu berikutnya, dan diikuti 4 mg/kgBB/12 jam selama 2 minggu berikutnya

Selanjutnya anak dapat diberikan kotrimoksazol profilaksis mulai usia 6 minggu dengan dosis4-6 mg/kgbb, satu kali sehari, setiap hari sampai usia 1 tahun atau sampai diagnosis HIV ditegakkan.

Jika bayi diketahui HIV positif, lakukan pemeriksaan viral load sekali pada usia 1 bulan, kemudian sekali pada usia 4-6 bulan. Periksa ELISA kembali di usia 18 bulan.

Edukasi untuk ibu 

Berikan edukasi mengenai perilaku seks yang aman dan penggunaan kondom untuk mencegah penularan dan superinfeksi HIV

Ibu juga dianjurkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang atau kontrasepsi mantap bila tidak ingin punya anak lagi

Sarankan ibu dengan HIV positif memeriksakan status HIV seluruh anaknya

Ibu dengan HIV positif sebaiknya diskrining hepatitis B, sifilis, dan rubela, dan diperiksa darah untuk hepatitis C, varicella zoster, campak dan toksoplasma 103


ď&#x201A;ˇ

Ibu sebaiknya dianjurkan untuk divaksin hepatitis B dan pneumokokus

Keterangan Lainnya Beberapa tahapan infeksi HIV hingga terjadi AIDS: 1. Periode jendela HIV masuk kedaam tubuh samapi terbentuk antibodi terhadap HIV dalam darah. Gejala belum muncul dan penderita masih merasa sehat. Tahap ini umumnya berkisar 2 minggu hingga 6 bulan dan Tes HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus 2. HIV positif (asimptomatik) selama 5-10 tahun HIV berkembang biak daam tubuh, namun penderita masih terlihat sehat. Tes HIV sudah dapat mendeteksi adanya virus ini. Dan penderita dapat tetap tampak stabil selama 5-10 tahun namun tergantung dengan imun penderita itu sendiri. 3. HIV positif (simptomatik) Sistem kekebalan tubuh semakin menurun, disertai gejala infeksi oportunistik lainnya, misal pembengkakan kelenjar limfe, diare terus menerus, infeksi paru, dll. 4.

AIDS Kondisi imun tubuh menurun drastis dan infeksi oportunistik semakin parah

104


Penyakit sifilis (raja singa) dengan gejala : 1. Timbul benjolan keras (ulcus durum)

atau

borok

(ulcus

molor) pada alat kemaluan 2. Ditularkan

melalui

hubungan

seksual 3. Sulit disembuhkan 4. Bisa menyerang organ tubuh yang lain 5. Dapat

menyebabkan

keguguran, lahir prematur, bayi lahir cacat atau mati 6. Bisa

menyebabkan

kematian

ibu Penderita HIV yang memiliki penyakit sifilis atau penderita sifilis saja gejalanya tidak berbeda dan tidak menunjukkan gejala yang khas. Perjalanan penyakit ini lebih lambat dalam arti penyakit ini bisa menetap lama di stadium yang sama, serta hasil serologi bisa tidak sesuai dengan stadiumnya.Namun seringkali seseorang yang mengalami kondisi ini disertai dengan adanya kelainan pada matanya. Penderita positif HIV yang memiliki sifilis memeriksakan diri ke bagian saraf, mata dan pendengaran. Jika ditemukan tanda bercakbercak merah di telapak tangan dan kulit yang tidak gatal patut dicurigai sebagai sifilis.

Hepatitis virus dengan gejala : 1. Disebabkan oleh virus hepatitis 105


2. Pada hepatitis tipe B bisa berkembang menjadi kanker hati 3. Bisa menular pada bayi yang dilahirkan 4. Bisa menyebabkan kematian ibu dan bayi baru lahir

Hepatitis adalah suatu kondisi medis yang didefinisikan oleh peradangan hati dan ditandai dengan adanya sel-sel inflamasi di jaringan organ. Hepatitis dapat terjadi dengan gejala yang sedikit atau bahkan tidak ada, namun sering menyebabkan penyakit kuning, anoreksia (nafsu makan yang buruk) dan malaise (rasa gelisah). Hepatitis dapat sembuh sendiri tanpa konsekuensi yang signifikan, atau juga bisa berkembang menjadi jaringan parut hati. Hepatitis akut terjadi ketika berlangsung kurang dari enam bulan, dan hepatitis kronis ketika terjadi lebih lama dari waktu tersebut. Sekelompok virus yang dikenal sebagai virus hepatitis (hepatitis A, B dan C) telah menyebabkan sebagian besar kasus hepatitis di seluruh dunia. Namun hepatitis juga bisa disebabkan oleh zat beracun (berasal dari alkohol, obat-obatan tertentu, dan beberapa pelarut organik untuk tanaman atau industri), infeksi lain, dan penyakit autoimun. Sekitar 250 juta orang di dunia diperkirakan mengalami penyakit hepatitis C, sedangkan sekitar 300 juta orang diperkirakan mengalami hepatitis B. Tidak Semua Bentuk Hepatitis Menular Tidak semua bentuk hepatitis dapat menular. Obat-obatan tertentu, alkohol dan bahan kimia mungkin buruk untuk hati dan dapat 106


menyebabkan peradangan.

Selain itu, seseorang juga bisa

mempunyai penyakit hepatitis karena faktor genetik, gangguan metabolisme, atau masalah kesehatan yang terkait dengan kekebalan tubuh. Begitu pula dengan obesitas yang juga dapat menyebabkan kerusakan hati dan menyebabkan peradangan. Namun kesemuanya ini bukanlah bentuk hepatitis yang menular dan tidak dapat menyebar ke orang lain. Jenis-Jenis Hepatitis Ada lima jenis utama penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus, A, B, C, D, dan E â&#x20AC;&#x201C; ditambah jenis X dan G. Hepatitis A Hepatitis ini disebabkan karena makan makanan dan minuman yang tercemar/terinfeksi oleh virus yang disebut HAV (Hepatitis Virus A). Hubungan intim juga dapat menjadi penyebabnya. Hampir semua orang yang mengidap hepatitis A dapat sembuh secara total dan ini tidak menyebabkan penyakit kronis. Hepatis B Hepatitis jenis ini disebabkan oleh virus HBV(Hepatitis B Virus) dan bisa menular melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, air mani, dan beberapa cairan tubuh lainnya. Seseorang bisa tertular hepatitis B karena hal-hal berikut ini : ď&#x201A;ˇ

Melalui hubungan intim dengan orang yang terinfeksi. Selain itu, penggunaan jarum suntik yang sebelumnya digunakan oleh orang yang terinfeksi (sering terjadi pada pecandu narkoba) juga dapat menyebabkan hepatitis B.

ď&#x201A;ˇ

Melakukan proses pen-tatoan dengan jarum suntik yang tidak steril. Selain itu, berbagi barang pribadi seperti sikat gigi atau pisau cukur dengan orang yang telah terinfeksi.

ď&#x201A;ˇ

Seorang bayi dapat terinfeksi melalui air susu ibunya jika si ibu telah terinfeksi lebih dulu.

ď&#x201A;ˇ

Digigit oleh seseorang yang terinfeksi. 107


Hati

dari

orang

yang

terinfeksi

Hepatitis

B

cenderung

membengkak. Pasien dengan hepatitis jenis ini dapat menderita kerusakan hati yang parah akibat infeksi dan mengakibatkan kanker. Untuk beberapa pasien hepatitis B, kondisi mereka bisa menjadi kronis (sangat jangka panjang atau seumur hidup). Proses pendonoran darah selalu diuji untuk Hepatitis B. Hepatitis C Hepatitis C biasanya menyebar melalui kontak langsung dengan darah orang yang memiliki penyakit. Hal ini disebabkan oleh virus HCV (Hepatitis C Virus). Hati bisa membengkak dan menjadi rusak. Pada hepatitis C, seperti hepatitis B, risiko kanker hati hanya meningkat pada orang yang mengalami sirosis hati (konsekuensi dari penyakit kronis hati) dan hanya 20% dari pasien hepatitis C yang mengalami sirosis. Proses pendonoran darah juga diuji untuk Hepatitis C. Hepatitis D Hepatitis jenis ini hanya terjadi pada orang yang sudah terinfeksi Hepatitis B. Hepatitis D disebabkan oleh virus HDV (Hepatitis D Virus). Peradangan bisa terjadi melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, hubungan intim dengan orang yang terinfeksi, dan perforasi kulit dengan jarum yang terinfeksi. Hati orang dengan Hepatitis D biasanya juga membengkak. Hepatitis E Seseorang

dapat

terinfeksi

dengan meminum

air

yang

mengandung HEV (Hepatitis E Virus). Hati membengkak tetapi tidak

ada

konsekuensi

jangka

panjang.

Penularan

juga

dimungkinkan melalui hubungan intim. Hepatitis X Hepatitis yang tidak dapat dikaitkan dengan virus hepatitis A, B, C, D, atau E, maka hal itu disebut dengan Hepatitis X. Dengan kata lain, hepatitis yang tidak diketahui virusnya. 108


Hepatitis G Ini adalah jenis hepatitis yang disebabkan oleh virus Hepatitis G (HGV). Biasanya tidak ada gejala, dan kalaupun ada, maka gejalanya sangat ringan.

Epilepsi

1 Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang, yang disebabkan oleh muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi. 2 Kejang pada epilepsi umumnya tidak dipengaruhi oleh kehamilan 3 Kehamilan pada wanita dengan riwayat epilepsi mempunyai kecenderungan:  Hipertensi  Persalinan prematur  Bayi berat badan lahir rendah  Bayi dengan kelainan bawaan  Kematian perinatal Faktor Predisposisi  Idiopatik  Faktor keturunan, genetik, kelainan kongenital  Gangguan metabolik, infeksi, trauma, neoplasma 109


 Kelainan pembuluh darah, keracunan, dll Diagnosis  Kejang  Riwayat kejang sebelumnya  Tekanan darah normal  Protein urin normal  Diagnosis ditegakkan dengan bantuan elektroensefalogram (EEG).

Gangguan jantung

Gangguan jantung pada pembahasan ini adalah gagal jantung. Gagal jantung adalah sindrom klinis akibat kelainan struktural maupun fungsional jantung yang menyebabkan terganggunya fungsi pengisian dan pengosongan ventrikel. 110


Diagnosis Diagnosis gangguan jantung kadang sulit dilakukan karena perubahan fisiologis pada kehamilan sering menyerupai tanda dan gejala gangguan jantung. Berikut ini adalah tanda dan gejala yang dapat mendukung kecurigaan adanya penyakit jantung pada kehamilan. 

Dispneu atau ortopneu yang memberat

Batuk di malam hari

Hemoptisis

Pingsan

Nyeri dada

Sianosis

Jari tabuh

Distensi vena leher yang menetap

Murmur sistolik grade 3/6 atau lebih

Murmur diastolik

Kardiomegali

Aritmia yang menetap

Split bunyi jantung kedua yang menetap

Diagnosis

lebih

lanjut

ditegakkan

berdasarkan

pemeriksaan

penunjang seperti EKG, ekokardiografi, dan foto rontgen dada (harus dilakukan dengan pelindung radiasi untuk melindungi janin). Untuk mendukung tatalaksana, penting juga untuk mengenali klasifikasi kondisi klinis ibu. Tabel Klasifikasi Klinis New York Heart Association (NYHA).

111


Faktor predisposisi Faktor predisposisi terjadinya gagal jantung bergantung pada kelainan struktural maupun fungsional yang mendasari. Gagal jantung juga dapat terjadi secara idiopatik. Tatalaksana Konseling prakonsepsi Untuk menurunkan morbiditas da mortalitas wanita penderita penyakit jantung dalam kehamilan, persalinan, dan nifas, perlu dilakukan konseling prakonsepsi dengan memperhatikan risiko masing-masing penyakit. Pasien dengan kelainan jantung kelas 3 dan 4 sebaiknya tidak hamil dan dapat memilih cara kontrasepsi AKDR, tubektomi, atau vasektomi pada suaminya. Penanganan kelas I dan II selama kehamilan - Morbiditas kehamilan

rendah, dan

tetapi

nifas

diperlukan

untuk

kewaspadaan

mencegah

dan

pada

deteksi

dini

kemungkinan terjadinya gagal jantung. - Sebaiknya ibu dirujuk ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis jantung dan unit perawatan intensif yang memadai. - Cegah infeksi dengan cara: ď&#x201A;ˇ Hindari kontak dengan penderita infeksi saluran napas termasuk influenza ď&#x201A;ˇ Dilarang merokok dan menggunakan obat-obatan narkotik - Gejala dan tanda ke arah kegagalan jantung umumnya bertahap, mulai dari ronkhi basah serta batuk-batuk, sesak napas dalam 112


aktivitas sehari-hari dan kemudian dapat terjadi hemoptisis, edema, dan takikardia. Penanganan gagal jantung selama persalinan - Baringkan ibu dalam posisi miring ke kiri untuk menjamin aliran darah ke uterus - Batasi pemberian cairan intravena untuk mencegah overload cairan - Berikan analgesia yang sesuai - Jika perlu oksitosin, berikan dalam konsentrasi tinggi, dengan tetesan

rendah

dan

pengawasan

keseimbangan

cairan.

JANGAN beri ergometrin. - Persalinan pervaginam dengan mempercepat kala II. - Sedapat mungkin hindari mengedan. - Jika perlu, lakukan episiotomi dan akhiri persalinan dengan ekstraksi vakum atau cunam. - Penanganan aktif kala III. Penanganan gawat jantung selama seksio sesarea Lakukan anestesia lokal (infiltrasi) dan sedasi. Jangan lakukan anestesia spinal. Gagal jantung akibat anemia (berat) - Transfusi packed red cell dengan tetesan perlahan. Jika darah tak dapat disentrifus, biarkan kantong darah tergantug sehingga sel darah terpisah di bagian bawah. Infus sel tersebut perlahanlahan, buang serumnya. - Berikan furosemid 40 mg IV untuk tiap 100 ml packed red cell. Gagal jantung akibat penyakit jantung - Tangani gagal jantungya. Berikan obat sebagai berikut: ď&#x201A;ˇ Morfin 10 mg IM dosis tunggal ď&#x201A;ˇ ATAU furosemid 40 mg IV diulang jika perlu ď&#x201A;ˇ ATAU digoksin 0,5 mg IV dosis tunggal 113


 ATAU nitrogliserin 0,3 mg sublingual, diulang setiap 15 menit jika perlu.  Rujuk ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis jantung dan unit perawatan intensif yang memadai. Masa nifas - Ibu dengan kelainan jantung yang melalui masa kehamilan dan persalinan tanpa masalah dapat bermasalah pada masa nifas. Oleh karena itu, lanjutkan pemantauan pada masa nifas. Hal-hal yang dapat menimbulkan gagal jantung pada nifas:  Perdarahan  Anemia  Infeksi  Tromboemboli Pada masa nifas kontrasepsi harus diberikan. Pada kondisi yang stabil, tubektomi dapat dilakukan. Penanganan kelas III dan IV - Jika seorang ibu hamil adalah penderita kelainan jantung kelas III dan IV, ada 2 kemungkinan penanganan, yaitu:  Terminasi kehamilan.  Meneruskan

kehamilan

dengan

tirah

baring

total

dan

pengawasan ketat.  Ibu dalam posisi setengah duduk.  Persalinan dilakukan dengan seksio sesarea. Berikan furosemid agar volume darah berkurang dan beban jantung menurun. Di samping itu, berikan juga oksigen. Jika terdapat gagal napas, lakukan intubasi dan ventilasi mekanik. R. PENUTUP 1. Kesimpulan c. Percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi

dengan

metoda kolaborasi program CONTRA WAR (Contraceptive For 114


Women At Risk) dan SUTERA EMAS (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) guna mendukung rencana aksi daerah dalam pencapaian tujuan ke 4 dan 5 Millennium Development Goals tentang penurunan angka kematian anak dan peningkatan kesehatan ibu di Kabupaten Malang adalah strategi inovatif yang pertama di Indonesia. d. Dari 39 kasus kematian ibu pada tahun 2013 dan 27 kasus kematian ibu pada tahun 2014, 75% diantaranya disebabkan oleh penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya sebelum mereka hamil, sehingga disaat proses kehamilan selanjutnya dapat berpotensi meningkatkan resiko pada kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian ibu maupun bayi. Hal ini sebenarnya masih dapat dicegah apabila dapat ditemukan lebih dini dan telah dilakukan penundaan kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi yang tepat sesuai hasil penapisan, serta pada saat yang sama dilakukan pengobatan sesuai rekomendasi dari dokter spesialis terhadap penyakitnya

sampai sembuh serta

telah memungkinkan untuk hamil kembali, maka dengan Strategi Kolaborasi program Contra WaR dan Sutera Emas tersebut diharapkan para Wanita Usia Subur (WUS) berusia 15 sampai 49 tahun yang telah menikah dan tidak dalam keadaan hamil serta belum ber KB (Unmet Need), yang mempunyai faktor-faktor resiko tinggi seperti sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular dan penyakit bawaan, serta ber usia terlalu muda (<20 th) atau terlalu tua (>35 th), serta pernah memiliki riwayat kehamilan dengan jarak terlalu rapat (<2 th), mempunyai anak terlalu banyak ( >4 ) atau pernah mengalami kehamilan ber resiko tinggi sebelumnya dapat ditemukan lebih dini.

Untuk selanjutnya yang bersangkutan akan dirujuk dan

dilakukan penapisan oleh para dokter spesialis terkait di RSUD 115


Kepanjen untuk direkomendasikan menjadi akseptor KB MKJP tertentu,

serta

spesialistik

sekaligus

terhadap

dapat

dilakukan

penyakitnya

sampai

penanganan

sembuh.

Pada

akhirnya penggunaan kontrasepsi bagi WUS ber resiko tinggi tersebut

dapat

dihentikan

dan

akan

dapat

hamil

serta

melahirkan dengan selamat. e. Program Contra WaR (Contraceptive for Women at Risk) : Adalah program

yang dilaksanakan secara terencana dan

terpadu melalui proses surveilans aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkelanjutan, serta melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penyakit (menular , tidak menular atau bawaan)

dan

mempunyai

faktor-faktor

resiko

terhadap

kehamilan, serta pernah mempunyai riwayat kehamilan beresiko tinggi

sebelumnya,

yang

dapat

membahayakan

proses

kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan penggunaan kontrasepsi

yang

tepat

selama

masa

penyembuhan

penyakitnya. f. Program inovatif Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) yang dimulai sejak tahun 2009 dan merupakan program surveilans berbasis masyarakat yang pertama di Indonesia,

dengan konsep dasar

one RTâ&#x20AC;&#x201C;one

cadre & one human at riskâ&#x20AC;&#x201C;one cadre (satu wilayah RT diamati oleh seorang kader kesehatan dan satu penduduk beresiko tinggi didampingi oleh seorang kader kesehatan) , serta mempunyai filosofi early case finding, early case reporting, early case handling, community empowering & realtime activities (penemuan, pelaporan dan penanganan kasus secara dini, pemberdayaan masyarakat serta kegiatannya berlangsung setiap saat). Program ini ternyata sangat

efektif dalam

menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi serta menurunkan 116


angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit bawaan serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kesehatan lainnya.

2. Rekomendasi a.

Jangka menengah (Minggu II Des 2014 s/d minggu I Des 2016) : -

Pelaksanaan kesiapan sumber daya Kolaborasi Program Contra

WaR

-

Sutera

Emas

di

Badan

Keluarga

Berencana, RSUD Kanjuruhan, RSUD Lawang dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang -

Pengusulan

anggaran

pengembangan

Kolaborasi

Program Contra WaR – Sutera Emas -

Pelaksanaan Kolaborasi Program Contra WaR - Sutera Emas di seluruh wilayah Kabupaten Malang

-

Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan penyempurnaan Kolaborasi Program Contra WaR – Sutera, Emas pada Periode Jangka Menengah secara periodic

-

Pelaksanaan

pelaporan

perkembangan

Kolaborasi

Program Contra WaR – Sutera Emas kepada sponsor program (Sekretaris Daerah) dan Bupati secara periodik -

Mewujudkan Penurunan Angka Kebutuhan ber KB yang Tidak Terpenuhi (Unmet Need) menjadi 6,5 %

-

Mewujudkan Peningkatan cakupan Akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur ber resiko tinggi (Unmet Need) sesuai rekomendasi dokter spesialis

-

Mewujudkan Peningkatan pelayanan kesehatan bagi akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur ber resiko tinggi (Unmet Need)

b.

Jangka Panjang (Minggu II Des 2016 s/d minggu I Des 2021 ) : 117


-

Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan penyempurnaan Kolaborasi Program Contra WaR â&#x20AC;&#x201C; Sutera Emas pada Periode Jangka Panjang secara periodik

-

Pelaksanaan

pelaporan

perkembangan

Kolaborasi

Program Contra WaR â&#x20AC;&#x201C; Sutera Emas program (Sekretaris Daerah) dan Bupati secara periodik -

Mewujudkan Penurunan Angka Kematian Ibu ( AKI ) menjadi < 50 / 100.000 kelahiran hidup

-

Mewujudkan Penurunan Angka Kematian Bayi ( AKB ) sebesar < 4 / 1000 kelahiran hidup

118

Buku panduan program contra war ttd  
Buku panduan program contra war ttd  
Advertisement