Page 1

2015

BUKU PANDUAN KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR – SUTERA EMAS EDISI KE - 2

1

BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG


KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR (CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK)

dan

SUTERA EMAS (SURVEILANS EPIDEMIOLOGI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT)

EDISI KE - 2 STRATEGI INOVATIF DALAM MENDUKUNG RENCANA AKSI DAERAH TERHADAP PERCEPATAN PENCAPAIAN TUJUAN KE 4 DAN 5 MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS TENTANG PENURUNAN ANGKA KEMATIAN ANAK DAN PENINGKATAN KESEHATAN IBU

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG BADAN KELUARGA BERENCANA JL. Merdeka Timur No 03 Telp. ( 0341 ) 365085 Fax ( 0341 ) 365084 Website : http//kb.malangkab.go.id  email : kb@malangkab.go.id MALANG

1


TIM PENYUSUN BUKU PANDUAN PROGRAM KOLABORASI CONTRA WAR (CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK) DAN SUTERA EMAS (SURVEILANS EPIDEMIOLOGI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35.

dr. HADI PUSPITA Drs. R. NONO RATNADIE, MM Dra.LILIK WAHYUNI drg. DESSY DELIYANTI R. Ay. SARI RATIH MALA DEWI, SE Drs.NANANG SUGIANTO PULUNG NGULANDORO , SH MOHAMMAD KHOLIK , SH Ir.PAMUJI HANDOKO, MAP SRI WAHYUNINGSIH , SE Ir.AUNUR ROFIQ, MM EMY ISWINARTI , SE Dra. RATNA WIDYAWATI SRI WAHYUNI, Amd. Keb ABDUL ROKHIM , SH IWAN KARTIKAWANTO , SP.MAP RUKANA , S.Sos. CHUSNUL CHOTIMAH , SE. MM DAIMATUN SRI SUFIYANI HARI KUSTANTO SISWADI TITIS WARIJANTI KOLIPAH MAYASARI DWI AGUSTINA, SE MOCHAMMAD CHORIS Dra.MARLIA SAPTI SULASTIAH SRI WAHJOENI ANDJANI, S.AP NURHAYATI , SE SASONGKO HUDI BRAHMATYO, S.Kom RIKO ANDI FARDIAS ATIK DIAN SETYO UTAMI, SE HENDIK NURMAWAN IWAN PURWANTO,SE PPLKB, PKB, PLKB SE KABUPATEN MALANG

i


KATA PENGANTAR Puji syukur patut kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana dengan rahmat, taufik serta hidayahnya sehingga Buku Panduan Program Kolaborasi Program CONTRA WAR dan SUTERA EMAS ini dapat diselesaikan tepat waktu. Buku ini tersusun sebagai panduan bagi Program Inovatif Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang untuk mendukung proses percepatan pencapaian Program Millennium Developments Goals Indikator Ke-4 dan Ke-5 (Penurunan angka kematian Ibu dan Bayi) pada akhir tahun 2015. Teriring ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1.

Bupati Malang, selaku Pelindung sehingga Program CONTRA WAR ini dapat terlaksana di Kabupaten Malang.

2.

Sekretaris Daerah, selaku Pengarah sehingga Program CONTRA WAR ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan awalnya.

3.

Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D., selaku Ketua Yayasan Damandiri.

4.

Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D, SpGk, selaku mantan Kepala BKKBN Pusat.

5.

Ir. Dwi Listyawardhani, M.Sc. Dip. Com, selaku Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur.

6.

Ir. Bambang Basuki Hanugrah, MM, selaku pembimbing penyusunan Kertas Kerja

Proyek

Perubahan

Instansional

Badan

Keluarga

Berencana

Kabupaten Malang “Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan Metoda Kolaborasi Program CONTRA WAR (Contraceptive for Women at Risk) dan SUTERA EMAS (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) di Kabupaten Malang�. 7.

Tim Internal Program CONTRA WAR (Badan Keluarga Berencana) yang terdiri dari : a. Kepala Badan Keluarga Berencana b. Sekretaris Badan c. Kepala Bidang Data & Informasi d. Kepala Bidang Penggerakan Masyarakat e. Kepala Bidang Keluarga Sejahtera f.

Kepala Bidang Keluarga Berencana

ii


g. Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian h. Kepala Sub Bagian Keuangan i.

Kepala Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi & Pelaporan

j.

Kepala Sub Bidang Jaminan Pelayanan KB/KR

k. Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi Remaja l.

Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Ekonomi Keluarga

m. Kepala Sub Bidang Pembinaan Ketahanan Keluarga n. Kepala Sub Bidang Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) o. Kepala Sub Bidang Institusi dan Peran Serta p. Kepala Sub Bidang Pengolahan Data dan Informasi q. Kepala Sub Bidang Penyebarluasan Data dan Pengembangan Informasi r.

Staf pada Badan Keluarga Berencana -

Mayasari Dwi Agustina, SE

-

Mochammad Choris

-

Sasongko Hudi Brahmatyo, S.Kom

-

Riko Andi Fardias

-

Atik Dian Setyo Utami, SE

s. Pengendali PLKB, PKB dan PLKB yang tersebar di 33 Kecamatan Se Kabupaten Malang

Karena berkat bantuan dan dukungannya maka Buku Panduan Program Kolaborasi Program CONTRA WAR dan SUTERA EMAS dapat tersusun dengan baik dan saat ini telah masuk pada cetakan edisi ke-2. Demikian prakata kami, apabila ada hal-hal yang kurang berkenaan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhir harapan kami semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Malang , 09 April 2015Maret 2013

Tim Pengendali Program CONTRA WAR

iii


SAMBUTAN BUPATI MALANG Assalamu’alaikum

Warrahmatullahi

Wabarakatuh

dan

Salam

Sejahtera bagi kita sekalian. Pertama - tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah S.W.T atas segala Berkah, Karunia, Taufik dan Hidayah-Nya semata sehingga penyusunan “BUKU PANDUAN PROGRAM KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS EDISI KE-2”

dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu, seiring atau selaras dengan Visi dan Misi Kabupaten Malang dengan maskot “MADEP MANTEB” yang ditandai simbol logo dominasi warna “Kuning Emas dan Merah”, dimana Program Contraceptive For Women At Risk (CONTRA WAR) atau Kontrasepsi bagi Wanita Usia Subur Beresiko Tinggi, adalah merupakan Program Inovatif dari Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang dan satu-satunya Program Surveilans dibidang Kekeluarga Berencanaan di Indonesia. Dari 39 kasus kematian ibu pada tahun 2013 dan 27 kasus kematian ibu pada tahun 2014, 75% diantaranya disebabkan oleh penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya sebelum mereka hamil, sehingga disaat proses kehamilan selanjutnya dapat berpotensi meningkatkan resiko pada kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian ibu maupun bayi. Program CONTRA WAR yang merupakan program unggulan Pemerintah Kabupaten Malang telah memulai proses pelaksanaan surveilans kekeluarga berencanaan di Indonesia dengan menekankan pada penemuan, pelaporan dan penanganan dini terhadap wanita usia subur beresiko tinggi yang berusia 15 s/d 49 tahun yang telah menikah, belum atau sedang dalam keadaan hamil, belum ber KB, berusia <20 tahun dan >35 tahun serta sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya. iv


Untuk itu saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh anggota Tim Pengendali Program CONTRA WAR Kabupaten Malang yang juga didukung oleh BKKBN Pusat melalui Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur dalam rangka mewujudkan VisiMisi Pemerintah Kabupaten Malang yang Mandiri, Agamis, Demokratis, Produktif, Maju, Aman, Tertib dan Berdaya Saing. Selanjutnya besar harapan saya agar buku panduan ini dapat bermanfaat bagi pelayanan kekeluarga berencanaan baik dilingkungan Pemerintah maupun swasta serta seluruh masyarakat di Kabupaten Malang, sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan pendekatan lebih dini pada periode sebelum menjalani kehamilan. Ihdinashirratal mustaqim Sekian Terima Kasihâ&#x20AC;Ś.

Malang, April 2015 Bupati Malang

H. RENDRA KRESNA

v


SAMBUTAN Prof. Dr. HARYONO SUYONO, M.A. Ph.D.

Pembangunan kesehatan di Indonesia sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010 - 2014 mempunyai delapan fokus prioritas yang salah satunya adalah meningkatkan status kesehatan ibu, bayi dan balita dan Keluarga Berencana. Beberapa indikator penting yang terkait dengan status kesehatan ibu dan bayi antara lain AKI (angka kematian ibu) dan AKB (angka kematian bayi). Hal tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan millenium (MDGs) 2015 untuk menurunkan AKI menjadi 102/100000 kelahiran hidup pada tahun 2015 dan AKB menjadi 23/1000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Untuk mencapai target di atas diperlukan upaya inovatif untuk mengatasi penyebab utama kematian ibu dan bayi, serta adanya kebijakan dan sistem yang efektif dalam mengatasi berbagai kendala yang timbul selama ini. Penyebab utama tingginya angka kematian ibu adalah adanya faktor resiko berupa penyakit menular, penyakit tidak menular serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kebidanan lainnya sebelum mereka hamil, sehingga disaat proses kehamilan selanjutnya dapat berpotensi menigkatkan resiko kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian ibu maupun bayi. Dipandang perlu adanya suatu program untuk menanggulangi masalah tersebut, salah satunya di Kabupaten Malang melalui Badan Keluarga Berencana telah melaksanakan suatu program inovatif yang bernama CONTRA WAR (Contraceptive for Woman At Risk) atau Penggunaan Kontrasepsi yang tepat bagi wanita usia subur beresiko tinggi. Program CONTRA WAR (Contraceptive for Woman At Risk) bertujuan untuk menunda kehamilan wanita usia subur yang beresiko tinggi dengan penggunaan alat kontrasepsi yang tepat bagi penyakit yang dideritanya serta pada saat yang sama penyakitnya diobati sampai vi


sembuh atau telah memungkinkan untuk hamil kembali, selanjutnya alat kontrasepsi dilepas dan yang bersangkutan dapat hamil dan bersalin dengan normal. Pelaksanaan surveilans bagi wanita usia subur beresiko tinggi melalui program CONTRA WAR ini diharapkan dapat menekan angka kematian ibu dan bayi secara lebih bermakna.

Saya mengucapkan selamat dan apresiasi kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan dan penerbitan buku ini.

Semoga buku pedoman ini dapat memudahkan para petugas keluarga berencana dalam menemukan calon akseptor yang tepat dan bagi para petugas kesehatan dalam melaksanakan proses penapisan reproduksi serta pelayanan kekeluarga berencanaan, maupun pihak-pihak yang terkait di dalam mendukung pelaksanaan serta keberlangsungan program CONTRA WAR di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.

Malang,

April 2015

Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D.

vii


DAFTAR ISI TIM PENYUSUN BUKU ............................................................................. i KATA PENGANTAR ................................................................................ ii SAMBUTAN BUPATI MALANG .............................................................. iv SAMBUTAN dari Prof. Dr. Haryono Suyono, M.A. Ph.D....................... vi DAFTAR ISI ........................................................................................... viii

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ...........................................................................

1

B. DASAR HUKUM ................................................................................

5

C. ISU STRATEGIS ............................................................................

12

D. KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH .................................... 14 E. PROGRAM CONTRA WAR................................................................. 16 F. KONSEP DASAR PROGRAM CONTRA WAR.................................... 16 G. SASARAN PROGRAM CONTRA WAR .............................................. 17 H. RIWAYAT KEHAMILAN PATOLOGIS YG PERLU DIPERTIMBANGKAN DLM PROSES PENAPISAN REPRODUKSI.... 19 I. PERSYARATAN MEDIS PENGGUNAAN KONTRASEPSI .................. 20 J. KONDISI YANG DIHARAPKAN ........................................................... 62 K. ALUR PELAPORAN PROGRAM SUTERA EMAS .............................. 63 L. ALUR PELAPORAN PROGRAM CONTRA WAR BADAN KELUARGA BERENCANA ...................................................................................... 63 M. ALUR KEGIATAN PROGRAM CONTRA WAR BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG ................................................ 64 N. ALUR PELAPORAN KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS ................................................................................... 64 O. MODEL KONFIGURASI JARINGAN SERVER CONTRA WAR – SUTERA EMAS ................................................................................... 65 P. ALUR KEGIATAN KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS ................................................................................... 65 viii


Q. PERBEDAAN PENDEKATAN PROGRAM ......................................... 66 R. PERBEDAAN OUTPUT PROGRAM ................................................... 67 S. PROGRAM - PROGRAM UNGGULAN DINAS KESEHATAN DAN BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG .............. 70 T. PENGORGANISASIAN ....................................................................... 71 U. IDENTIFIKASI STAKEHOLDER INTERNAL EKSTERNAL ................. 71 V. TATA KELOLA PROYEK .................................................................... 74 W. MANFAAT KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS .................................................................................................. 76 X. KRITERIA KEBERHASILAN................................................................ 78 Y. CONTOH-CONTOH PENYAKIT PADA WANITA USIA SUBUR YANG DAPAT MENYEBABKAN KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR .. 79 Z. PENUTUP............................................................................................ 85

DAFTAR PUSTAKA

ix


PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sulitnya upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Bayi (AKB) melalui program-program regular di bidang keluarga berencana dan kesehatan disebabkan oleh sedemikian kompleks nya akar penyebab masalah yang ada. Di tingkat nasional, dari hasil SDKI pada tahun 2007 dan 2012 menunjukkan lonjakan AKI dari 228/100.000 kelahiran hidup (KH) menjadi 359/100.000 KH, sementara target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s (Millenium Development Goals) pada akhir 2015 harus bisa mencapai 102/100.000 KH. Sementara itu telah terjadi penurunan AKB walaupun belum signifikan, pada tahun 2005 sebesar 39 / 1000 KH dan pada tahun 2012 masih > 34 / 1000 KH, sedangkan target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir 2015 harus bisa mencapai 23 / 1000 KH. Sedangkan di kabupaten Malang , target pencapaian AKI sudah tercapai bahkan berada dibawah target nasional, pada tahun 2007 sebesar

65/100.000 KH, tahun 2012 sebesar 61/100.000 KH,

sedangkan pada tahun 2013 terjadi peningkatan menjadi 89/100.000 KH. Adanya trend peningkatan kasus kematian Ibu dari 25 kasus (2012) menjadi 39 kasus (2013) dan 21 kasus ( s/d Agustus 2014) , menjadikan kita harus lebih waspada, karena tidak tertutup kemungkinan akan terjadi peningkatan kasus kematian Ibu pada tahun mendatang, bahkan akan bisa melebihi target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir tahun 2015. Adapun AKB di kabupaten Malang telah berada dibawah target nasional, yakni 5,42/1000KH (2011) , 4,31 (2012) dan 4,02 (2013). Walaupun pencapaiannya telah jauh dibawah target nasional, namun mengingat penyebab kematian tertinggi pada bayi baru lahir adalah kasus BBLR (Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah) yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan kwalitas kehamilan yang buruk, misalnya karena menderita penyakit menular, tidak menular, bawaan atau dengan status gizi buruk, yang sebenarnya apabila dapat ditemukan lebih dini akan dapat ditunda dulu kehamilannya, maka peluang untuk lebih menurunkan lagi AKB di kabupaten Malang masih sangat mungkin untuk dilakukan. Menyikapi hal tersebut, BKKBN telah melaksanakan berbagai upaya untuk meningkatkan cakupan peserta KB aktif

1

semua metoda (Contraceptive


Prevalence Rate / CPR), dari 57,4% (2007) menjadi 57,9% (2012) dan target pada tahun 2015 diharapkan bisa mencapai 65%, sementara di kabupaten Malang telah melampaui target nasional sebesar 78,68% (2011), 78,55% (2012) dan 78,9% (2013), namun pada kenyataannya belum dapat

berdaya ungkit

secara langsung terhadap penurunan AKI dan AKB, karena sasaran peserta KB baru masih belum ter fokus kepada Wanita Usia Subur ber Resiko Tinggi. Pada hal yang sama upaya BKKBN tersebut telah berhasil menurunkan angka Unmet Need ( Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani ) di tingkat nasional, dari 9,1% (2007) menjadi 8,5% (2012), sedangkan

target nasional pada tahun 2015

sebesar 5%. Sementara di kabupaten Malang penurunan Unmet Need masih sulit dilakukan dan belum ter fokus pada WUS ber resiko tinggi, serta pencapaiannya masih diatas target nasional sebesar 9,77% (2011), 9,63% (2012) dan 10% (2013). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan cakupan peserta KB Aktif (CPR) ternyata belum berhasil menurunkan Angka Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani (Unmet Need) khususnya bagi WUS ber resiko tinggi , sehingga pada saat mereka hamil penyakit yang diderita belum sempat mendapatkan penanganan spesialistik dan akan ber resiko mengalami komplikasi kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian. Beranjak dari kondisi diatas, Badan Keluarga Berencana kabupaten Malang menerapkan inovasi melalui program unggulan Contra WaR (Contraceptive for Women at Risk / Kontrasepsi yang tepat bagi Wanita Usia Subur berisiko tinggi).

Yang dimaksud dengan Program Contra WaR (Contraceptive for Women at Risk) : Adalah program

yang dilaksanakan secara

terencana dan terpadu melalui proses surveilans aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkelanjutan, serta melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penyakit (menular , tidak menular atau bawaan) dan mempunyai faktor-faktor resiko terhadap kehamilan, serta pernah mempunyai riwayat kehamilan beresiko tinggi sebelumnya, yang dapat membahayakan proses kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan penggunaan kontrasepsi yang tepat selama masa penyembuhan penyakitnya. Sementara itu, pada saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Malang telah melaksanakan program inovatif Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi 2


Terpadu Berbasis Masyarakat)

yang dimulai sejak tahun 2009 dan

merupakan program surveilans berbasis masyarakat yang pertama di Indonesia, dengan konsep dasar one RTâ&#x20AC;&#x201C;one cadre & one human at riskâ&#x20AC;&#x201C;one cadre (satu wilayah RT diamati oleh seorang kader kesehatan dan satu penduduk beresiko tinggi didampingi oleh seorang kader kesehatan) , serta mempunyai filosofi early case finding, early case reporting, early case handling, community empowering & realtime activities (penemuan, pelaporan dan penanganan kasus secara dini, pemberdayaan masyarakat serta kegiatannya berlangsung setiap saat). Program ini ternyata sangat efektif dalam menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi serta menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit bawaan serta faktor-faktor resiko tinggi di bidang kesehatan lainnya. Program Sutera Emas yang merupakan program percontohan nasional, sejak tahun 2009 masih dilaksanakan di puskesmas Kepanjen dan sejak tahun 2014 telah mulai di replikasi ke puskesmas Turen dan Sumber Pucung, sedangkan target pada tahun 2015 seluruh puskesmas di kabupaten Malang ( 39 puskesmas ) telah mulai menerapkan program Sutera Emas dengan bantuan anggaran program AIPD (Australia Indonesia Partnership of Decentralization) dari AusAid. Upaya penurunan AKI dan AKB masih terkendala oleh sangat kompleks nya masalah yang ada, diantaranya yang paling mendasar adalah rendahnya tingkat kepatuhan tenaga kesehatan swasta yang melayani ibu hamil terhadap prosedur pelayanan standar. Mengingat hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Malang memandang perlu melaksanakan kebijakan inovatif berupa Metoda Kolaborasi Program Contra WaR (Contraceptive fo Women at Risk) dan Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) oleh Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. 3


Dari 39 kasus kematian Ibu yang terjadi pada tahun 2013, ternyata 29 kasus diantaranya masih dapat dicegah apabila dapat ditemukan lebih dini dan

telah

dilakukan

penundaan

kehamilan

dengan

menggunakan

kontrasepsi yang tepat sesuai hasil penapisan, serta pada saat yang sama dilakukan pengobatan sesuai rekomendasi dari dokter spesialis terhadap penyakitnya

sampai sembuh serta telah memungkinkan untuk hamil

kembali, maka dengan Strategi Kolaborasi program Contra WaR dan Sutera Emas tersebut diharapkan para Wanita Usia Subur (WUS) berusia 15 sampai 49 tahun yang telah menikah dan tidak dalam keadaan hamil serta belum ber KB (Unmet Need), yang mempunyai faktor-faktor resiko tinggi seperti sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular dan penyakit bawaan, serta ber usia terlalu muda (<20 th) atau terlalu tua (>35 th), serta pernah memiliki riwayat

kehamilan dengan jarak terlalu

rapat (<2 th), mempunyai anak terlalu banyak ( >4 ) atau pernah mengalami kehamilan ber resiko tinggi sebelumnya dapat ditemukan lebih dini.

Untuk selanjutnya yang bersangkutan akan dirujuk dan dilakukan

penapisan oleh para dokter spesialis terkait di RSUD Kepanjen untuk direkomendasikan menjadi akseptor KB MKJP tertentu, serta sekaligus dapat dilakukan penanganan spesialistik terhadap penyakitnya sampai sembuh. Pada akhirnya penggunaan kontrasepsi bagi WUS ber resiko tinggi tersebut dapat dihentikan dan akan dapat hamil serta melahirkan dengan selamat. Walaupun Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di kabupaten Malang pada saat ini telah berada dibawah target nasional, namun mengingat jumlah penduduk kabupaten Malang adalah no 2 terbanyak setelah kota Surabaya, maka diharapkan upaya penurunan AKI dan AKB di kabupaten Malang akan berdampak besar terhadap penurunan AKI dan AKB di Jawa Timur maupun nasional.

4


B. Dasar Hukum 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Wabah Penyakit Menular. Pasal 1 : Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1.1 Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. 1.2 Sumber penyakit adalah manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda yang mengandung dan/atau tercemar bibit penyakit, serta yang dapat menimbulkan wabah. 1.3 Kepala Unit Kesehatan adalah Kepala Perangkat Pelayanan Kesehatan Pemerintah. 1.4 Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan.

Pasal 2 : Maksud

dan

tujuan

Undang-Undang

ini

adalah

untuk

melindungi penduduk dari malapetaka yang ditimbulkan wabah sedini mungkin, dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat.

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Pasal 42 : 42.1 Teknologi dan produk teknologi kesehatan diadakan, diteliti, diedarkan, dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kesehatan masyarakat. 42.2 Teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup segala metode dan alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit, mendeteksi adanya penyakit, meringankan penderitaan akibat 5


penyakit, menyembuhkan, memperkecil komplikasi, dan memulihkan kesehatan setelah sakit. 42.3 Ketentuan mengenai teknologi dan produk teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. Pasal 43 : 43.1 Pemerintah membentuk lembaga yang bertugas dan berwenang melakukan penapisan,pengaturan, pemanfaatan, serta pengawasan terhadap penggunaan teknologi dan produk teknologi. 43.2 (2) Pembentukan lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pasal 52 : 52.1

Pelayanan kesehatan terdiri atas: a. pelayanan kesehatan perseorangan; dan b. pelayanan kesehatan masyarakat.

52.2 Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Pasal 53 : 53.1 Pelayanan kesehatan perseorangan ditujukan untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga. 53.2 Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit suatu kelompok dan masyarakat. 53.3 Pelaksanaan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendahulukan pertolongan keselamatan nyawa pasien dibanding kepentingan lainnya.

6


Pasal 54 : 54.1 Penyelenggaraan

pelayanan

kesehatan

dilaksanakan

secara

bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan nondiskriminatif. 54.2 Pemerintah

dan

pemerintah

daerah

bertanggung

jawab

atas

penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 54.3 Pengawasan

terhadap

penyelenggaraan

pelayanan

kesehatan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Pasal 55 55.1 Pemerintah wajib menetapkan standar mutu pelayanan kesehatan. 55.2 Standar mutu pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Pasal 1 : 1.5 Kualitas penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan nonfisik yang meliputi derajat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, tingkat sosial, ketahanan, kemandirian, kecerdasan, sebagai ukuran dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang bertakwa, berbudaya, berkepribadian, berkebangsaan dan hidup layak. 1.6 Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. 1.7 Pembangunan keluarga adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat. 1.8 Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, 7


dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. 1.9 Pengaturan kehamilan adalah upaya untuk membantu pasangan suami istri untuk melahirkan pada usia yang ideal, memiliki jumlah anak, dan mengatur jarak kelahiran anak yang ideal dengan menggunakan cara, alat, dan obat kontrasepsi.

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1994 Tentang Penyelenggaraan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Pasal 12 : 12.1 Pengaturan kelahiran diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kesadaran dalam menunda kehamilan pertama sampai pada usia ideal melahirkan dan mengatur jarak kelahiran. 12.2 Pengaturan

kelahiran

sebagaimana

dimaksud

dalam

ayat

(1)

diselenggarakan melalui: a. Penundaan

kehamilan

pertama

sampai

tercapai

usia

ideal

melahirkan; b. Perencanaan jumlah dan jarak antara kelahiran anak.

Pasal 13 : Usia ideal melahirkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 adalah usia yang ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor : a. risiko akibat melahirkan; b. kemampuan tentang perawatan kehamilan, pasca persalinan dan masa di luar kehamilan dan persalinan; c. derajat kesehatan reproduksi sehat; d. kematangan mental, sosial, ekonomi dalam keluarga.

Pasal 16 : 16.1 Pelaksanaan penundaan kehamilan, perencanaan jumlah dan jarak 8


antara kelahiran anak dilakukan sendiri oleh pasangan suami isteri atas dasar kesadaran dan kesukarelaan. 16.2 Pelaksanaan penundaan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan menggunakan alat, abat, dan/atau cara pengaturan kehamilan yang dapat diterima pasangan suami isteri sesuai dengan pilihannya. 16.3 Jenis alat, abat, dan cara pengaturan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan memperhatikan: a. daya guna dan hasil guna; b. resiko terhadap kesehatan; c.

nilai agama dan nilai yang hidup dalam masyarakat.

16.4 Jenis alat, obat, dan cara pengaturan kehamilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditentukan oleh Menteri setelah mendapat persetujuan Menteri Kesehatan.

Pasal 17 : 17.1 Penggunaan alat, obat, dan cara pengaturan kehamilan dilakukan dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan dari segi kesehatan, serta mempertimbangkan nilai-nilai etik dan agama. 17.2 Penggunaan alat, obat, dan cara pengaturan kehamilan yang menimbulkan risiko terhadap kesehatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang berdasarkan standar profesi.

5. Keputusan

Menteri

Kesehatan

1116/MENKES/SK/VIII/2003

Republik

tentang

Indonesia,

Pedoman

Nomor

:

Penyelenggaraan

Surveilans Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan. Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit infeksi dan menular masih memerlukan perhatian besar dan sementara itu telah terjadi peningkatan penyakit-penyakit tidak menular seperti penyakit karena perilaku tidak sehat serta penyakit degeneratif. Kemajuan transportasi dan komunikasi, 9


membuat penyakit dapat berpindah dari satu daerah atau negara ke negara lain dalam waktu yang relatif singkat serta tidak mengenal batas wilayah administrasi. Selanjutnya berbagai penyakit baru (new emerging diseases) ditemukan, serta kecenderungan meningkatnya kembali beberapa penyakit yang selama ini sudah berhasil dikendalikan (re-emerging diseases). Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB, pengertian seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagi bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. Menurut WHO, surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit

atau

masalah-masalah

kesehatan

dan

kondisi

yang

mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data,

pengolahan

dan

penyebaran

informasi

epidemiologi

kepada

penyelenggara program kesehatan. Sistem

surveilans

epidemiologi

merupakan

tatanan

prosedur

penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat 10


Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab, oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan

oleh

sektor kesehatan sendiri, diperlukan tatalaksana

terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program, sehingga perlu dikembangkan subsistem survailans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular, Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan Dan Perilaku, Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan, dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra

6. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia,

Nomor

:

1479/MENKES/SK/X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu. Prioritas surveilans penyakit yang perlu dikembangkan adalah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit yang potensial menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa, penyakit menular dan keracunan, demam berdarah dan demam berdarah dengue, malaria, penyakit-penyakit zoonosis antara lain antraks, rabies, leptospirosis, filariasis serta tuberkulosis, diare, tipus perut, kecacingan dan penyakit perut lainnya, kusta, frambusia, penyakit HIV/AIDS, penyakit menular seksual, pneumonia, termasuk penyakit pneumonia akut berat (severe acute respiratory syndrome), hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, neoplasma, penyakit paru obstuksi menahun, gangguan mental dan gangguan kesehatan akibat kecelakaan.

7. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia,

Nomor

:

747/MENKES/SK/VI/2007 tentang Pedoman Operasional Keluarga Sadar Gizi di Desa Siaga. 11


Sekitar 30 juta wanita usia subur menderita kurang energi kronis (KEK), yang bila hamil dapat meningkatkan risiko melahirkan BBLR. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 350 ribu bayi BBLR (â&#x2030;¤ 2500 gram), sebagai salah satu penyebab utama tingginya angka gizi kurang dan kematian balita.

8. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor : Nomor 15 Tahun 2010 dan Nomor 162 /MENKES/PB/I/2010 tentang Pelaporan Kematian dan Penyebab Kematian. a. bahwa dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan diperlukan data kematian dan penyebab kematian; b. bahwa

data

kematian

dan

penyebab

kematian

pada

tingkat

desa/kelurahan sampai tingkat nasional belum dapat diperoleh secara akurat dan tepat waktu; c. bahwa data kematian dan penyebab kematian dibutuhkan untuk menyusun kebijakan, prioritas, dan pengembangan program kesehatan;

C. ISUE STRATEGIS Beberapa isu-isu penting yang perlu ditindaklanjuti oleh Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang adalah sebagai berikut : 1. Tingginya Angka Kematian Ibu Di tingkat nasional, dari hasil SDKI pada tahun 2007 dan 2012 menunjukkan lonjakan AKI dari 228/100.000 kelahiran hidup (KH) menjadi

359/100.000

Development

Goals)

KH, pada

sementara akhir

target

2015

MDGâ&#x20AC;&#x2122;s

harus

bisa

(Millenium mencapai

102/100.000 KH. Sedangkan di kabupaten Malang , target pencapaian AKI sudah tercapai bahkan berada dibawah target nasional, pada tahun 2007 sebesar 65/100.000 KH, tahun 2012 sebesar 61/100.000 KH, sedangkan pada tahun 2013 terjadi peningkatan menjadi 89/100.000 KH. 12


2. Lonjakan kasus kematian Ibu Adanya trend peningkatan kasus kematian Ibu di kabupaten Malang, dari 25 kasus (2012) menjadi 39 kasus (2013) dan 21 kasus ( s/d Agustus 2014) , menjadikan kita harus lebih waspada, karena tidak tertutup kemungkinan akan terjadi peningkatan kasus kematian Ibu pada tahun mendatang, bahkan akan bisa melebihi target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir tahun 2015.

3. Tingginya Angka Kematian Bayi Baru Lahir yang disebabkan oleh BBLR (Bayi Berat Badan Lahir Rendah)

Di tingkat nasional telah terjadi penurunan AKB walaupun belum signifikan, pada tahun 2005 sebesar 39 / 1000 KH dan pada tahun 2012 masih > 34 / 1000 KH, sedangkan target MDGâ&#x20AC;&#x2122;s pada akhir 2015 harus bisa mencapai 23 / 1000 KH Adapun AKB di kabupaten Malang telah berada dibawah target nasional, yakni 5,42/1000KH (2011) , 4,31 (2012) dan 4,02 (2013). Walaupun pencapaiannya telah jauh dibawah target nasional, namun mengingat penyebab kematian tertinggi pada bayi baru lahir adalah kasus BBLR (Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah) yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan kwalitas kehamilan yang buruk, misalnya karena menderita penyakit menular, tidak menular, bawaan atau dengan status gizi buruk (Kurang Energi Kalori), yang sebenarnya apabila dapat ditemukan lebih dini akan dapat ditunda dulu kehamilannya, maka peluang untuk lebih menurunkan lagi AKB di kabupaten Malang masih sangat mungkin untuk dilakukan.

4. Tingginya Angka Kebutuhan ber-KB yang tidak Terpenuhi (Unmet Need) BKKBN telah berhasil menurunkan angka Unmet Need ( Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani ) di tingkat nasional, dari 9,1% (2007) menjadi 8,5% (2012), sedangkan target nasional pada tahun 2015 sebesar 5%. Sementara di kabupaten Malang penurunan 13


Unmet Need masih sulit dilakukan dan belum ter fokus pada WUS ber resiko tinggi, serta pencapaiannya masih diatas target nasional sebesar 9,77% (2011), 9,63% (2012) dan 10% (2013). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan cakupan peserta KB Aktif (CPR) ternyata belum berhasil menurunkan Angka Kebutuhan ber KB yang Belum Terlayani (Unmet Need) khususnya bagi WUS ber resiko tinggi , sehingga pada saat mereka hamil penyakit yang diderita belum sempat mendapatkan penanganan spesialistik dan pada saat harus hamil maka akan beresiko mengalami komplikasi kehamilan yang dapat mengakibatkan kematian.

D. KERANGKA PIKIR PEMECAHAN MASALAH Root Caused Analysized (Analisa Akar Penyebab Masalah) dan Solusi Pemecahan Masalah ISU/GEJALA MASALAH

AKAR PENYEBAB UTAMA

PENYEBAB MASALAH

ALTERNATIF SOLUSI

REKOMENDASI SOLUSI

1 Pelaksanaan Surveilans Aktif Berbasis Masyarakat bagi WUS beresiko tinggi yang belum ber KB dan tidak dalam keadaan hamil, yang ditangani secara terpadu oleh Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang 2 Penetapan Sistem Kesehatan

Pelaksanaan Kebijakan percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi dengan program inovatif Contra War (Contraceptive For Women At Risk)

(LEVERAGE)

Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir

1. Banyaknya Wanita Usia Subur beresiko tinggi yang belum ber KB, dimana apabila suatu saat mengalami kehamilan maka akan membahayakan kesehatan dan beresiko kematian pada saat kehamilan, persalinan dan pada saat masa nifas 2. Kelompok Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need) belum terdata by name, by address, by case 3. Kelompok Wanita Usia Subur beresiko

1 Belum adanya guidance (pedoman) yang dapat digunakan untuk menemukan, melaporkan dan melakukan intervensi secara dini terhadap kelompok Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need) 2 Sistem Kesehatan Nasional dan

14


tinggi yang belum ber KB (unmet need) masih banyak yang belum menggunakan kontrasepsi yang tepat 4. Banyaknya Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need) 5. Tingginya Angka Kematian Ibu beresiko tinggi yang belum ber KB 6. Tingginya persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan yang tidak kompeten 7. Penemuan, pelaporan dan penanganan kasuskasus resiko tinggi pada Ibu dan Bayi belum terlaporkan secara realtime 8. Peningkatan cakupan peserta KB aktif (CPR / Contraceptive Prevalence Rate) belum berdampak langsung terhadap penurunan angka kematian ibu dari kelompok unmet need 9. Banyaknya tenaga kesehatan yang tidak memiliki ijin praktek 10. Banyaknya lulusan sekolah tinggi kebidanan yang tidak kompeten 11. Banyaknya bidan yang belum pernah melakukan pertolongan persalinan selama mengikuti penddikan 12. Panjangnya rantai rujukan persalinan akibat berkembangnya fee rujukan oleh rumah sakit â&#x20AC;&#x201C; rumah sakit swasta

Sistem Kesehatan Daerah belum di implementasik an sampai ke wilayah 3 Belum dilakukannya Surveilans Aktif Berbasis Masyarakat bagi WUS beresiko tinggi, Ibu Hamil beresiko tinggi dan Bayi beresiko tinggi 4 Belum dilaksanakann ya penanganan terpadu oleh Badan Keluarga Berencana, RSUD Kanjuruhan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Malang terhadap WUS beresiko tinggi

15

Kabupaten Malang


13. Banyaknya rumah sakit - rumah sakit swasta yang tidak memiliki unit perawatan intensif bagi Ibu &Bayi ( ICU/PICU/NICU ) 14. Belum adanya guidance (pedoman) yang dapat digunakan untuk menemukan,melapor kan dan intervensi secara dini terhadap kelompok Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur beresiko tinggi yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmet need)

E. PROGRAM CONTRA WAR Adalah program Keluarga Berencana berupa penundaan atau pembatasan kehamilan, yang dilaksanakan secara terencana dan terpadu lintas program dan lintas sektor, melalui proses surveilans aktif yang dilaksanakan

oleh

masyarakat

secara

berkesinambungan

dan

berkelanjutan, serta proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur

yang

sedang

menderita

suatu

penyakit

(menular/tidak

menular/bawaan), yang beresiko tinggi apabila hamil atau yang pernah mempunyai riwayat kehamilan resiko tinggi sebelumnya , yang dapat membahayakan proses kehamilan dan persalinan berikutnya serta kesehatan bayi yang akan dilahirkannya. CONTRA WAR adalah merupakan suatu strategi inovatif terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir dengan penggunaan kontrasepsi terpilih bagi wanita usia subur beresiko tinggi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia.

F. KONSEP DASAR PROGRAM CONTRA WAR 1. One RW â&#x20AC;&#x201C; One Cadre (Satu wilayah RW diamati oleh satu orang kader KB) 16


2. One High Risk Acceptor â&#x20AC;&#x201C; One Cadre (Satu akseptor beresiko tinggi didampingi oleh satu kader KB terlatih) 3. Selected Contraceptive For Selected Woman (Pemberian Kontrasepsi yang tepat bagi wanita yang tepat)

G. SASARAN PROGRAM CONTRA WAR Program Contra War ini ditujukan bagi wanita usia subur yang telah menikah, belum ikut KB dan tidak dalam keadaan hamil (unmetneed) , yang sedang atau pernah menderita penyakit-penyakit tertentu dan atau sedang menjalani pengobatan tertentu. Adapun beberapa kondisi resiko tinggi pada Wanita Usia Subur yang telah menikah, belum ber KB dan tidak dalam keadaan hamil, serta akan beresiko tinggi apabila hamil, adalah sebagai berikut : 1.

Pendarahan pervaginam

2.

Endometriosis

3.

Tumor ovarium jinak

4.

Dismenorea berat

5.

Penyakit trofoblas

6.

Kanker mamme

7.

Kanker endometrium

8.

Kanker ovarium

9.

Fibroma uteri

10. Kelainan anatomis 11. Penyakit radang panggul 12. Infeksi Menular Seksual 13. Resiko tinggi HIV 14. Terinfeksi HIV 15. AIDS 16. Tuberkulosis 17. Penyakit Tiroid 18. Hepatitis virus 17


19. Sirosis Hepatis 20. Tumor hati 21. Talasemia 22. Anemia bulan sabit 23. Anemia defisiensi Fe 24. Pascapersalinan ( laktasi / non-laktasi ) termasuk pasca sectio caesarea 25. Pasca keguguran 26. Riwayat operasi pelvis 27. Hipertensi 28. Riwayat hipertensi dalam kehamilan 29. Trombosis vena permukaan 30. Riwayat penyakit jantung iskemik 31. Stroke 32. Penyakit katup jantung 33. Dekompensasio kordis 34. Miokard infark akut 35. Epilepsi 36. Kurang Energi Kalori 37. Asthma Bronchiale 38. Diabetes Melitus 39. TORCH : a. Toxoplasmosis b. Other ( syphilis, varicella, mumps, parvovirus dan HIV ) c. Rubella ( German Measles ) d. Cytomegalovirus e. Herpes simpleks 40. Penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi enzim - enzim hati 41. Penggunaan Rifampisin 42. Penggunaan Antikonvulsan tertentu 18


H.

RIWAYAT KEHAMILAN PATOLOGIS YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM PROSES PENAPISAN REPRODUKSI

1. Abortus spontan : - Complete - Incomplete 2. Abortus Provocatus Criminalis Infeksiosa 3. Kehamilan Ekstra Tubae 4. Mola hydatidosa 5. Chronic Hyper Emesis Gravidarum 6. Anemia gravidarum 7. Midtrimester bleeding 8. Partus prematurus 9. Ante Partum Bleeding : - Placenta praevia - Solutio placenta 10. Pre eclampsia Ringan 11. Pre eclampsia Berat 12. Eclampsia 13. Kelainan letak janin 14. Kelainan ketuban 15. Post term 16. Penyakit sistemik 17. Hemorrhagic Post Partum 18. Emboli air ketuban 19. Distosia / kelainan letak 20. Partus lama ( kasep / sisa dukun ) 21. Late Haemorrhagic Post Partum 22. Infeksi nifas

19


I.

PERSYARATAN MEDIS PENGGUNAAN KONTRASEPSI

1. Umum Pelayanan dan informasi Keluarga Berencana merupakan intervensi kunci dalam upaya meningkatkan kesehatan perempuan dan anak, serta merupakan hak asasi manusia Telah terjadi perkembangan yang berarti dalam teknologi kontrasepsi, misalnya transisi dari estrogen dosis tinggi ke dosis rendah pada pil kombinasi

atau

dari

AKDR

inert

ke

AKDR

yang

mengeluarkan

levonorgestrel. Perkembangan ini telah menghasilkan pilihan lebih banyak tentang metode kontrasepsi yang lebih aman dan efektif. Di lain pihak, masih sangat banyak pasangan di seluruh dunia yang belum mendapatkan akses terhadap pelayanan Keluarga Berencana karena berbagai faktor seperti masalah logistik, sosial, perilaku, organisasi dan prosedur dalam sistem pelayanan kesehatan yang perlu diperbaiki. Untuk meningkatkan akses terhadap pelayanan KB yang bermutu dilakukan berbagai strategi, misalnya : -

Hak-hak klien perlu dipertimbangkan dalam perencanaan, manajemen dan penilaian dalam pelayanan Kb

-

Meningkatkan ketersediaan berbagai metode kontrasepsi sehingga klien dapat memilih metode kontrasepsi yang paling cocok untuk mereka

-

Melaksanakan konseling dan pelayanan KB berdasar kriteria dan persyaratan medis yang terkini

2. Isu tentang mutu pelayanan dan akses yang mempengaruhi pemberian kontrasepsi -

Klien harus memperoleh informasi yang cukup sehingga dapat memilih sendiri metode kontrasepsi yang sesuai untuk mereka. Informasi tersebut meliputi pemahaman tentang efektifitas relativ dari metode kontrasepsi, cara kerja, efek samping, manfaat dan kerugian metode tersebut, gejala dan tanda yang perlu ditindaklanjuti diklinik atau 20


fasilitas kesehatan, kembalinya kesuburan dan perlindungan terhadap Infeksi Menular Seksual. -

Untuk metode yang memerlukan prosedur bedah, insersi atau pencabutan alat oleh tenaga terlatih, maka perlu dilengkapi dengan fasilitas yang cukup agar prosedur tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan standar termasuk prosedur pencegahan infeksi.

-

Peralatan dan pasokan yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan harus tersedia

-

Petugas pelayanan harus dilengkapi dengan panduan-panduan yang memungkinkan mereka melaksanakan penapisan dan pelayanan terhadap klien sebaik-baiknya dan dapat menghindari resiko yang tidak diinginkan.

-

Petugas pelayanan harus mendapat pelatihan yang cukup dalam konseling Keluarga Berencana. Konseling merupakan elemen kunci dalam mutu pelayanan, mulai dari kunjungan awal serta ulang, dan meliputi bukan hanya tentang kontrasepsi melainkan juga masalahmasalah seksualitas dan pencegahan Infeksi Menular Seksual termasuk HIV/AIDS.

3. Efektivitas Dalam hubungan pilihan kontrasepsi, klien perlu diberi informasi tentang : -

Efektifitas relatif dari berbagai metode kontrasepsi yang tersedia

-

Efek negatif kehamilan yang tiak diinginkan pada kesehatan dan resiko kesehatan potensial pada kehamilan dengan kondisi medis tertentu.

Tabel efektivitas berbagai metode kontrasepsi :

Tingkat Efektivitas

Sangat efektif

Metode Kontrasepsi

Implan Vasektomi

21

Kehamilan per 100 perempuan dalam 12 bulan pertama pemakaian Dipakai secara Dipakai secara tepat dan biasa konsisten 0,05 0,05 0,15 0,1


Tingkat Efektivitas

Efektif dalam pemakaian biasa, sangat efektif jika dipakai secara tepat dan konsisten Efektif jika dipakai seara tepat dan konsisten

Metode Kontrasepsi

Suntikan kombinasi Suntikan DMPA/NET-EN Tubektomi AKDR CuT-380A Pil progesteron (masa laktasi) Metode Amenorea Laktasi Pil Kontrasepsi kombinasi Pil progesteron (bukan masa laktasi)

Kehamilan per 100 perempuan dalam 12 bulan pertama pemakaian Dipakai secara Dipakai secara tepat dan biasa konsisten 3 0,05 3 0,3 0,5 0,5 0,8 0,6

Kondom pria Senggama terputus Difragma + spremisida KB alamiah Kondom perempua Spermisida Tanpa KB

1

0,5

2 8 -

0,5 0,3 0,5

15 27 29 25 21 29 85

2 4 18 1-9 5 18 85

4. Beberapa kondisi medis yang akan meningkatkan resiko jika terjadi kehamilan -

Keadaan-keadaan dibawah ini akan meningkatkan resiko jika disertai kehamilan a. Hipertensi (tekanan darah >160/100 mmHg) b. Diabetes, insulin dependen, dengan nefropati/neuropati/retinopati atau penyakit vaskular lain atau >20 tahun telah menderita diabetes c. Penyakit jantung iskemik d. Stroke e. Penyakit katup jantung dengan hipertensi f. Karsinoma payudara g. Karsinoma endometrium atau ovarium h. Infeksi menular seksual 22


i.

HIV/AIDS

j.

Sirosis hari

k. Hepatoma l.

Penyakit trofoblas ganas

m. Penyakit sel sickle (sel bulan sabit) n. Skistosomiasis dengan fibrosis hati o. Tuberkulosis -

Pada keadaan-keadaan diatas perlu dipilihkan metode kontrasepsi yang lebih efektif

5. Kembalinya kesuburan -

Semua metode kontrasepsi, kecuali kontrasepsi mantap (sterilisasi) tidak mengakibatkan terhentinya kesuburan

-

Kembalinya kesuburan berlangsung segera setelah pemakaian metode kontrasepsi dihentikan, kecuali DMPA dan NET-EN yang waktu ratarata kembalinya kesuburan adalah masing-masing 10 dan 6 bulan terhitung mulai suntikan terakhir

-

Kontrasepsi mantap harus dianggap sebagai metode permanen

6. Klasifikasi persyaratan medis -

Keadaan atau kondisi yang mempengaruhi persyaratan medis dalam penggunaan

setiap

metode

kontrasepsi

yang

tidak

permanen

dikelompokkan dalam 4 kategori : -1 : Kondisi dimana tidak ada pembatasan apa pun dalam penggunaan metode kontrasepsi -2 : Penggunaan kontrasepsi lebih besar manfaatnya dibandingkan dengan resiko yang diperkirakan akan terjadi -3 : Resiko

yang

diperkirakan

lebih

besar

daripada

manfaat

penggunaan kontrasepsi -4 : Resiko akan terjadi bila metode kontrasepsi tersebut digunakan -

Kategori 1 dan 4 cukup jelas. Kategori 2 menunjukkan bahwa metode tersebut dapat digunakan tetapi memerlukan tindak lanjut yang seksama. Kategori 3 memerlukan penilaian klinik dan akses terhadap 23


pelayanan klinik yang baik. Seberapa besar masalah yang ada dan ketersediaan

serta

penerimaan

metode

alternatif

perlu

dipertimbangkan. Dengan perkataan lain pada kategori 3 metode kontrasepsi tersebut tidak dianjurkan, kecuali tidak ada cara lain yang lebih sesuai tersedia. Perlu tindak lanjut yang ketat. -

Khusus

untuk

kontrasepsi

mantap

(tubektomi

dan

vasektomi)

digunakan klasifikasi lain, yaitu: -A : Tidak

ada

alasan

medis

yang

merupakan

kontraindikasi

dilakukannya kontrasepsi mantap. -B : Tindakan kontrasepsi mantap dapat dilakukan tetapi dengan persiapan dan kewaspadaan khusus -C : Sebaiknya tindakan kontrasepsi mantap ditunda sampai kondisi medis diperbaiki. Sementara itu berikan metode kontrasepsi lainnya -D : Tindakan kontrasepsi mantap hanya dilakukan oleh tenaga yang sangat berpengalaman, dan perlengkapan anestesi tersedia. Demikian pula fasilitas penunjang lainnya. Diperlukan pula kemampuan untuk menentukan prosedur klinik serta anestesi yang tepat 7. Penggunaan klasifikasi dalam penapisan klien -

Klasifikasi yang diuraikan dalam bab ini tidaklah kaku. Tingkat pengetahuan dan pengalaman petugas kesehatan serta sumbersumber yang tersedia perlu menjadi pertimbangan.

-

Ditempat pelayanan dengan fasilitas pemeriksaan klinik terbatas, misalnya di Puskesmas, klasifikasi 1 sampai 4 dapat disederhanakan menjadi 2. Klasifikasi 1 dan 2 digabung menjadi klasifikasi 1; klasifikasi 3 dan 4 menjadi 2. Untuk klasifikasi 1 (dengan fasilitas terbatas) metode kontrasepsi tertentu dapat digunakan, untuk klasifikasi 2 tidak boleh digunakan. Pada tempat pelayanan dengan fasilitas lengkap, misalnya di Rumah Sakit Kabupaten, pakailah klasifikasi 1, 2, 3 dan 4.

24


Klasifikasi persyaratan medis dalam penapisan klien Pil

Kondisi

kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

NETEN

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Kehamilan Usia

-

-

-

-

-

4

4

Menars-

Menars-

Menars-

Menars -

Menars -

Menars -

Menars20:2

40:01:00

40:01:00

18:01

18:2

18:01

20:02

≥20:1

≥40:2

≥40:2

18-45:1

1845:1 ≥45:1

≥20:1

≥45:1

1845:1 ≥45:2

2 1

Paritas *Nulipara *multipara

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

Laktasi *<6 minggu pascapersalinan

4 3

4 3

3 1

3 1

3 1

*6 minggu -<6 bulan laktasi

2

2

1

1

1

Pascapersalianan

3

3

1

1

1

*(tanpa laktasi)

1

1

1

1

1

*≥6 bulan pascapersalinan

*<21 hari *≥21 hari

25

2 1


Pil

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

Pascapersalinan(lakta si/non-laktasi)termasuk pascasecsio sesarea

2

3

*<48 jam *â&#x2030;Ľ48 jam-<4 minggu

3 1

3 1a

*â&#x2030;Ľ4 minggu

4

4

Kondisi

kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

NETEN

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi

*sepsispuerperalis Pasca keguguran

1

1

1

1

1

1

1

*trimester 1

1

1

1

1

1

2

2

*trimester2

1

1

1

1

1

4

4

Pascakehamilan etopik

1

1

2

1

1

1

1

Riwayat operasi pelvis

1

1

1

1

1

1

1

*pascaabortus septik

(termasuk secsio sesarea)

26


Pil

Kondisi

kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

NETEN

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Merokok

2

2

1

1

1

1

1

3 4

2 3

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

2

2

1

1

3

2

*usia<35

*usia≥35 - <15 batang/hari

- ≥15 batang/hari

Obesitas

1

1

1

*≤30kg/m² body mass index(BMI)

Penyakit kardiovaskuler Faktor resiko multipel penyakit kardiovaskuler (seperti usia muda,tua,merokok,diab etes,hipertensi)

03-Apr

27

34

2

1

2


Pil

Kondisi

kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

NETEN

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Hipertensi

3

3

2

2

2

1

2

3

3

1

2

1

1

1

-sistolik.160 ataudiastolik>100

3

3

1

2

1

1

1

*penyakit vaskular

4

4

2

3

2

1

2

4

4

2

3

2

1

2

2

2

1

1

1

1

1

*riwayat hipertensi tidak dapat dievaluasi,termsuk hipertensi dalam kehamilan

*hipertensi terkontrol

*tekanan darah meningkat

-sistolik 140-160 atau diastolik 90-100

Riwayat hipertensi dalam kehamilan

28


Pil

Kondisi

kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

NETEN

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Trobosis vena dalam/emboli paru

4

4

2

2

2

1

2

*riwayat TVD/EP

4

4

3

3

3

1

3

*TVD/EF saat ini

2

2

1

1

1

1

1

4

4

2

2

2

1

2

-imobilisasi lama

2

2

1

1

1

1

1

-tanpa imobilisasi lama

1

1

1

1

1

1

1

Trombosis vena permukaan

1

1

1

1

1

1

1

*varises *troboflebitis

2

2

1

1

1

1

1

Riwayat penyakit jantung iskemik

4

4

M L

3

M L

1

M L

*riwayat keluarga dengan TVD/EF

*bedah mayor

*bedah minor tanpa imobilisasi

2 3 Stroke

4

4

29

M L

2 3 3

M L

2 3 1

2


Pil

Kondisi

kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

NETEN

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi (riwayat cardiovaskuler accident)

2 3

2 3

Hiperlipidemia

2/3b

2/3b

2

2

2

1

2

Penyakit katup jantung

2

2

1

1

1

1

1

*Tanpa komplikasi

4

4

1

1

1

2

2

*Dengan komplikasi(hipertensi pulmonal,fibrilasi atrial,endokarditis bakterial subakut)

Kondisi Neurologis Nyeri Kepala ď&#x201A;ˇ Nonmigrain (ringan/berat)

ď&#x201A;ˇ

-

M L

M L

1 2

12

Migrain

Tanpa aura

30

M L 11

M L

M L

11

11

1

M L 11


Pil

Kondisi

kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

NETEN

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Usia < 35 Usia>=35 dengan aura (semua usia)

Epilepsi

23 34

23 34

12 12

22 22

22 22

1 22 1 22

44

44

23

23

23

1 23

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1 Depresi

Depresi

1

1

Infeksi dan Kelainan Alat Reproduksi Perdarahan pervaginam

1

1

2

2

2

1 ML

ď&#x201A;ˇ Perdarahan ireguler

1

1

2

2

2

2 11

ď&#x201A;ˇ Perdarahan banyak/lama

Perdarahan pervaginam yang belum di ketahui penyebabnya

12

2

31

2

2

3

3 ML

ML


Pil

Kondisi

kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMPA

Impian

AKDR

AKDR

Cu

Progesti n

NETEN

M=Mulai, L=Lanjutan Karateristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Sebelum penilaian

42

Endometriosis

42

1

1

1

1

1

1

1

(termasuk kista)

1

1

1

1

1

1

1

Dismenorea berat

1

1

1

1

1

2

1

penyakit trofoblas jinak

1

1

1

1

1

3

3

penyakit trofoblas ganas

1

1

1

1

1

4

4

Ektropion serviks

1

1

1

1

1

1

1

NIS (Neoplasia Intra Serviks)

2

2

1

2

2

1

2

Tumor ovarium jinak

Penyakit trofoblas

Kanker serviks

M

M L

2

2

1

2

2

4

4 2

Kondisi

Pil kombi nasi

Suntikan Pil DMPA kombi proges NETnasi tin EN

L 2

Impian

AKDR Cu

AKDR proges tin

2

1

2

Penyakit mamma massa tidak terdiagnosis

2

2

32

2

2


penyakit mamma jinak

1

1

1

1

1

1

1

riwayat kanker dalam keluarga

1

1

1

1

1

1

1

4

4

4

4

4

1

4

3

3

3

3

3

1

3

kanker mamma -

saat ini

riwayat lampau, tidak kambuh dalam 5 tahun

Kanker endometrium

M

L

M L

1

1

1

1

1

4

2

4

M

L

M

2 Kanker ovarium

L 1

1

1

1

1

3

2

3 2

Fibroma uteri

menggangu kavum uteri

1

1

1

1

1

1

1

tidak mengganggu kavum uteri

1

1

1

1

1

4

4

33


Kelainan anatomis menggganggu kavum uteri

4

4

tidak mengganggu kavum uteri

2

2

Penyakit radang panggul

M

L

1

1

M L

riwayat PRP

- dengan kehamilan

1

- tanpa kehamilan

1

1

1

1

1

1 1

1

1

1

1

2

2 2 2

4 PRP saat ini

1

1

1

1

2

1 4 2

34


Kondisi

Pil kombi nasi

Suntikan Pil kombi proges nasi tin

DMPA NETEN

Impian

IMS Servisiti s purulen atau infeksi klamidia atau gonorea

1

1

1

1

1

IMS lainnya (kecuali HIV dan hepatitis)

1

1

1

1

1

Vaginitis (termasuk trikomonas vaginitis bakterial)

1

1

1

1

1

Risiko IMS meningkat

1

1

1

1

AKDR Cu

AKDR proges tin

M

L

M

L

4

2

4

2

2

2

2

2

2

2

2

2

4

2

4

2

1

HIV/AIDS Risiko tinggi HIV

M 2 1

1 35

1

1

1

L M 2 2

L 2


Terifeksi HIV 1

1

1

1

1

2

2 2

2

1

1

1 1 Infeksi lain

1

3

2 3

2

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

AIDS

Skistosomiasis  

Tanpa komplikasi Fibrosis hati

Tuberkolosis  

Non pelvis pelvis

Malaria Kondisi

1

1

1

1

1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

Pil kombi nasi

Suntikan kombi nasi

Pil progesti n

M 1

L M 1 1

L 1

4

3 4

3

1

1

DMP A NETEN

Impia n

AKD R Cu

AKDR progesti n

Penyakit endokrin Diabetes riwayat diabetes gestasional

1

1

1

1

1

1

1

2

2

2

2

2

1

2

penyakit nonvaskular

noninsulin dependen

36


insulin dependen

2

2

2

2

2

1

2

nefropati/retin opati/ neuropati

3/4

3/4

2

3

2

1

2

penyakit vaskular lain/ diabetes > 20 tahun

3/4

3/4

2

3

2

1

2

Penyakit tiroid

goiter hipertiroid

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

1 1

hipotiroid

1

1

1

1

1

1

1

Penyakit gastrointestinal Penyakit kantung empedu simptomatik

terapi kolesistektomi

2

2

2

2

2

1

2

diobati dengan obat saja

3

2

2

2

2

1

2

-

3

2

2

2

2

1

2

saat ini

37


asimptomatik

2

2

2

2

2

1

2

berhubungan dengan kehamilan

2

2

1

1

1

1

1

berhubungan dengan kontrasepsi

3

2

2

2

2

1

2

4

3/4

3

3

3

1

3

1

1

1

1

1

1

1

Pil kombina si

Suntikan kombina si

Pil progesti n

DMP A NETEN

Impia n

AKDR Cu

AKDR proge stin

3 4

2 3

2 3

2 3

2 3

1 1

2 3

1

1

2

1

1

1

2

1

Riwayat kolestasis

Hepatitis virus

aktif karier

Kondisi

Sirosis ringan berat

Talasemia

1

1

Anemia 1

Penyakit bulan sabit

2

2

1

38


Anemia difesiensi Fe

1

1

1

1

1

2

1

Interaksi obat Obat yang mempengaruhi enzim- enzim hati rifampisin

3

2

3

2

3

1

1

antikonvulsan

3

2

3

2

3

1

1

griseofulvin

2

1

2

1

2

1

1

antibiotik lain

1

1

1

1

1

1

1

2

2

2

2

2

M L 2/3 2

M L 2/3 2

Antibiotik

Terapi antiretroviral

Kontrasepsi Mantap Perempuan (Tubektomi)

Kehamilan Usia muda Paritas ď&#x201A;ˇ ď&#x201A;ˇ

Kondisi Kategori Karakteristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi C B

Nulipara Multipara

A A A

Laktasi Pascapersalinan

39


-

< 7 hari

A

7 – < 42 hari

C

42 hari 

A

Preeklampsia / eklampsi

-

Preeklampsi ringan

A

-

Preeklampsi berat / eklampsi

C

Ketuban pecah lama

C

> 24 jam

C

Infeksi nifas

C

Perdarahan antepartum

Trauma berat pada daerah genitalia

Ruptur uterus

-

C D

Pascaabortus 

Tanpa komplikasi

Sepsis pascakeguguran

Perdarahan pascakeguguran

Trauma alat genital / serviks / vagina saat

A C C C

pengguguran 

Perforasi uterus

Hematometra

D C

Kehamilan ektopik lampau Merokok

A

Usia < 35 tahun

A

Usia > 35 tahun

A 40


Obesitas ≥ 30 kg/m2 IMT (Indeks Massa Tubuh)

B

Kondisi Penyakit Kardiovaskuler Faktor risiko multipel penyakit kardiovaskular Hipertensi

Kategori

Hipertensi terkontrol

Kenaikan tekanan darah

D B

-

Sistolik 140 – 160 atau diastolik 90 – 100

B

-

Sistolik > 160 atau diastolik > 100

D

Penyakit vaskular

D

Riwayat hipertensi selama kehamilan Trombosis Vena Dalam / Emboli Paru

A

Riwayat TVD/EP

A

TVD/EP saat ini

C

Riwayat keluarga dengan TVD/EP

A

Bedah mayor

-

Dengan imobilisasi lama

C

-

Tanpa imobilisasi lama

C

Bedah minor

A

Mutasi trombogenik Trombosis Vena Permukaan

A

Varises

A

Tromboflebitis

A

Penyakit Jantung Iskemik 

Saat ini penyakit jantung iskemik

D

Riwayat penyakit jantung iskemik

B

Stroke Hiperlipedemia Penyakit Jantung Ventrikular

B A

41


Tanpa komplikasi

B

Dengan komplikasi

D Kelainan Neurologis

Nyeri kepala 

Non migrain

Migrain

A

-

Tanpa aura

A

-

Dengan aura

A

Kondisi

Kategori B

Epilepsi Depresi Depresi

B

Infeksi dan Kelainan Alat Reproduksi Perdarahan pervaginam 

Perdarahan ireguler

A

Perdarahan banyak

A

Perdarahan yang tidsak jelas sebabnya 

Sebelum penilaian

C

Endometriosis Tumor Ovarium Jinak Dismenorea berat Penyakit trofoblas

D A A

Penyakit trofoblas jinak

A

Penyakit trofoblas ganas

C

Ektropian Serviks Neoplasia Intarepitelial Serviks Kanker Serviks Penyakit Mamma

A A C

Massa tidak terdiagnosis

A

Penyakit mamma jinak

A

Riwayat kanker dalam keluarga

A

42


Kanker mama

-

Saat ini

B

-

Riwayat lampau, tidak kambuh dalam 5 tahun

A

Kanker endometrium Kanker ovarium Fibroma uterus

C C

Tanpa gangguan kavum uteri

B

Dengan gangguan kavum uteri

B

Penyakit radang panggul 

Riwayat PRP

-

Dengan kehamilan berikutnya

A

-

Tanpa kehamilan

B

Saat ini

C

Kondisi Infeksi Menular Seksual

Kategori

Purulen servisitis / infeksi klamidia / gonorea

C

IMS lain (kecuali HIV dan hepatitis)

A

Vaginitis

A

Risiko IMS meningkat

A HIV / AIDS

Risiko tinggi HIV

A

Terinfeksi HIV

A

AIDS

D Infeksi lain

Skistosomiasis 

Tanpa komplikasi

A

Fibrosis hati

B

Tuberkolosis 

Nonpelvis

A 43


pelvis

D

Malaria

A Penyakit Endokrin

Diabetes 

Riwayat diabetes gestasional

Penyakit nonvaskular

A

-

Noninsulin dependen

B

-

Insulin dependen

B

Nefropati/retinopati/neuropati

D

Penyakit vaskular lain Diabetes > 20 tahun

D

Penyalit tiroid 

Golter

A

Hipertiroid

D

Hipotiroid

B Penyakit Gastrointestinal

Penyakit kandung empedu 

Simptomatik

-

Terapi kolesistektomi

A

-

Diobati dengan obat saja

A

-

Saat ini

C

asimptomatik

A

Kondisi

kategori

Riwayat kolestasis 

berhubungan dengan kehamilan

A

berhubungan dengan pil kontrasepsi

A

Hepatitis virus 

aktif

C

karier

A

Sirosis 44


ringan

B

berat

D

Tumor hati 

jinak (adenoma)

B

malignan (hepatoma)

B Anemia

Talasemia

B

Penyakit bulan sabit

B

Anemia defisiensi Fe 

Hb < 7 g%

C

Hb antara 7 – 10 g%

B

Keadaan lain yang relevan dengan tubektomi Infeksi kulit abdomen

C

Gangguan peredaran darah

D

Penyakit paru 

Bronkhitis , pneumonia

C

Asthma , emfisema, infeksi paru

D

Infeksi sistemik / gastroenteritis

C

Perlekatan uterus oleh karena pembedahan /

D

infeksi lampau Hernia umbilikalis atau abdominal

D

Hernia diafragmatikus

B

Penyakit ginjal

B

Defisiensi gizi berat

B

Pembedahan abdominal / pelvik terdahulu

B

Sterilisasi bersamaan dengan pembedahan abdominal

B

Elektif

C

Emergensi

C 45


Keadaan infeksi

Sterilisasi bersamaan dengan seksio sesaria

A

Kontrasepsi Laki-Laki (Vasektomi)

Kondisi

Kategori

Karakteristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi Usia muda

B Depresi

Depresi

B HIV / AIDS

Risiko tinggi HIV

A

Terinfeksi HIV

A

AIDS

D Penyakit EnBdokrin

Diabetes

B Anemia

Penyakit bulan sabit

A

Keadaan lain yang relevan dengan Vasektomi Infeksi lokal 

Infeksi kulit skrotum

C

IMS aktif

C

Epididimitis / orkitis

C

Gangguan peredaran darah

D

Riwayat infeksi skrotum

B

Infeksi sistemik / gastroenteritis

C

Varikokel besar

B

Hidrokel besar

B

Filariasis / elefantiasis

C

Massa intraskrotal

C 46


Kriptorkhisme

B

Hernia inguinalis

D

8. Infeksi Menular Seksual dan Kontrasepsi Infeksi saluran reproduksi (ISR) dan Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah

penyakit

yang

mendapat

perhatian

penting

pada

kesehatan

masyarakat diseluruh dunia. Rata-rata terdapat lebih dari satu juta orang setiap hari yang terinfeksi IMS. Insiden tinggi ISR dan IMS diantara perempuan yang menjalani perawatan antenal, kesehatan seksual dan reproduksi atau penyakit ginekologik lain mengindikasikan adanya masalah ISR/IMS yang meluas. Orang yang mengalami ISR/IMS mempunyai resiko lebih tinggi tertular HIV atau menularkan HIV pada pasangannya. Pada orang-orang yang terinfeksi HIV, pengobatan ISR/IMS akan lebih sulit, yang berarti dalam keadaan terinfeksi serentak akan meningkatkan kemungkinan penyebaran HIV. Berbagai jenis mikroorganisme (kurang lebih 20 jenis) dapat ditularkan melalui hubungan seks dan berdampak pada organ reproduksi seseorang. Bahkan ada pula penyakit seperti infeksi Hepatitis dan AIDS yang

bisa

ditularkan melalui hubungan seks tetapi pada organ reprosukdinya tidak ada kelainan. Di Indonesia data pasti tentang jumlah penderita ISR dan IMS tidak mudah didapat, karena pencatatan laporan hanya didapat dari rumah sakit pemerintah,

swasta

dan

praktik

dokter

pribadi

tertentu

sedangkan

kenyataannya banyak penderita yang mengobati dirinya sendiri atau mereka yang berobat ke dokter praktik tidak dilaporkan.

Tipe infeksi Istilah ISR/IMS mencakup 4 tipe infeksi yaitu : -

Infeksi yang merusak saluran reproduksi 47


-

Infeksi pada saluran reproduksi perempuan tidak disebabkan karena penularan melalui hubungan seks tetapi merupakan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang normal ada dalam vagina (bakteri vaginosis dan jamur)

-

Infeksi melalui hubungan seks yang memberi dampak lebih luas selain alat reproduksi (sifilis dan HIV/AIDS)

-

Infeksi pada saluran reproduksi perempuan akibat komplikasi dari tindakan yang dilakukan untuk membantu kasus persalinan, keguguran dan pengguguran, insersi AKDR atau operasi obstetri ginekologi

Beberapa jenis IMS yang banyak didapat di Indonesia -

Gonore

-

Sifilis

-

Klamidia

-

Kandidiasis

-

Trikomoniasis

-

Bakterial vaginosis

-

Herpes simpleks

Peran

petugas

kesehatan

pada

pelayanan

kontrasepsi/kesehatan

reproduksi Banyak orang khususnya perempuan yang mengalami ISR/IMS tidak mendapat perawatan dan pengobatan dengan tepat, karena : -

Baik laki-laki dan perempuan mungkin tidak ada gejalanya. Penelitian telah menunjukkan sekitar 70% perempuan dan 30 % laki-laki yang terinfeksi tidak mempunyai gejala

-

Orang-orang yang menunjukkan gejala ISR/IMS tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya terinfeksi. Banyak perempuan yang tidak mendapat informasi tentang cairan vagina yang normal dan tidak normal, sehingga mereka akan menganggap cairan vagina yang keluar walaupun akibat ISR/IMS sebagai sesuatu yang wajar 48


-

Banyak orang yang menduga bahwa mereka mungkin terinfeksi tetapi tidak segera berobat karena tidak menganggap penyakit ini penting, merasa malu, penyakit yang diderita merupakan stigma sosial, tidak mengetahui akses berobat dan tidak dapat menjangkau pengobatan.

Pelayanan kontrasepsi dapat sekaligus memberikan pelayanan terhadap ISR maupun IMS seperti : -

Pendidikan tentang pencegahan IMS dan pengenalan gejala dan tanda ISR/IMS serta komplikasi IMS

-

Konseling mengenai perilaku seksual perilaku seksual yang beresiko, alternatif perilaku seksual yang aman, kepatuhan klien untuk berobat hingga tuntas dan perlunya pasangan klien juga ikut berobat

-

Skrinning atau penapisan ISR/IMS, termasuk pemeriksaan vagina (selain dilakukan sebagai pemeriksaan rutin atau lebih ditekankan pada orang yang beresiko)

-

Pengobatan ISR/IMS

-

Merujuk kefasilitas yang lebih lengkap

-

Menyediakan kontrasepsi dengan perlindungan ganda (dual action) seperti kondom.

Tabel Komplikasi IMS Pada perempuan

Pada bayi baru lahir

Pada laki-laki

-

Radang panggul

-

Prematuritas

-

Epididimitis

-

Infertilitas

-

Berat lahir rendah

-

Prostatitis

-

Kehamilan ektopik

-

Sifilis kongenital

-

Struktur uretra

-

Keguguran

-

Oftalmia neonatorum

-

Infertilitas

-

Lahir mati

-

Pneumonia klamidia

-

AIDS

-

Kanker serviks

-

Septikemia

-

Hepatitis

-

AIDS

-

AIDS

-

Hepatitis

-

Hepatitis 49


Skrinning atau penapisan klien -

Skrinning klien dapat dilakukan dengan anamnesis yang cermat atau melalui konseling. Apabila mungkin pemeriksaan organ reproduksi dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium sederhana untuk melihat mikroorganisme yang ada (pemeriksaan duh kelamin dengan mikroskop dan pewarnaan Gram, larutan NaCl dan KOH)

-

Berikan pengobatan sesuai dengan hasil temuan mikroorganisme atau dari hasil pendekatan sindrom

-

Selalu tanyakan pada klien adakah : ď&#x201A;ˇ

Duh vagina atau uretra

ď&#x201A;ˇ

Lesi atau ulkus pada alat kelamin

ď&#x201A;ˇ

Pembengkakan

pada

kelenjar

getah

bening

didaerah

inguinal

(selangkangan) ď&#x201A;ˇ

Nyeri perut bagian bawah

-

Tanyakan juga apakah pasangannya mengalami hal seperti di atas.

-

Riwayat hubungan seks seminggu sampai sebulan terakhir

-

Apakah klien atau pasangannya berganti pasangan dalam waktu sebulan ini ?

-

Apakah klien atau pasangannya mempunyai aktivitas atau profesi yang menyebabkan ia berganti pasangan atau sering berpindah tempat ?

-

Apakah klien menyadari ia terkena IMS dan adakah usaha yang dilakukan sebelum datang ke fasilitas ini ?

Diagnosis dan pengobatan ISR/IMS -

Diagnosis ISR/IMS pada fasilitas kesehatan bisa dilakukan berdasarkan pendekatan sindrom dengan identifikasi gejala yang spesifik sesuai dengan jenis mikroorganisme penginfeksi dan penilaian tentang resiko penularan

-

Pemeriksaan duh tubuh dengan laboratorium dan pemeriksaan serologi akan

sangat

baik

untuk

mendapatkan

ketepatan

diagnosis

dan

pengobatan. Paling tidak fasilitas pelayanan kontrasepsi atau pelayanan 50


kesehatan reproduksi mempunyai perangkat pemeriksaan laboratorium sederhana -

Apabila diagnosis klien meragukan dan pengobatan tidak memberikan hasil yang memuaskan, klien harus dirujuk ke fasilitas pelayanan lain yang lebih lengkap dan kemajuan penyembuhannya harus selalu dipantau.

Tabel : Kontrasepsi dan pencegahan IMS

Jenis Kontrasepsi Kondom lateks

Keterangan -

Merupakan metode terbaik untuk pencegahan IMS dan HIV/AIDS bila digunakan terus menerus dan benar

-

Tapi kondom tidak melindungi infeksi yang berasal

dari

ulkus

atau

lesi

pada

selangkangan yang tidak tertutup oleh kondom Female

Condom

(kondom -

wanita)

Walaupun data klinis terbatas, kondom ini cukup

efektif

untuk

pencegahan

kontak

dengan sprema maupun bakteri penyebab IMS dan HIV -

Sebagai alternatif apabila kondom untuk lakilaki tidak ada atau tidak bisa digunakan

-

Terbatasnya pemakaian kondom perempuan juga disebabkan oleh faktor harga dan kurang nyaman

Spermisida

-

Tidak melindungi penularan IMS/HIV oleh karena itu pemakaian spermisida saja tanpa pengaman (barrier) lain tidak dianjurkan

Diafragma

-

Digunakan daapat

bersama mengurangi

dengan

spermisida,

transmisi

IMS.

Perlindungan terhadap HIV belum pernah dibuktikan 51


-

Sebagai

alternatif

apabila

penggunaan

kondom laki-laki tidak bisa dilakukan Metode kontrasepsi lain

-

Seluruh metode kontrasepsi yang lain tidak dapat melindungi klien dari IMS dan HIV

-

Perempuan yang berisiko terhadap IMS perlu menggunakan tambahan kondom disamping pemakaian metode kontrasepsi yang lain

REMAJA DAN KONTRASEPSI Pengertian -

Remaja adalah kelompok penduduk yang berusia 10-19 tahun (menurut WHO dan Departemen Kesehatan) atau 10-24 tahun (menurut UNFPA) dan belum menikah

-

Proporsi remaja Indonesia (10-24 tahun) pada tahun 2005 mencapai lebih dari 30% dari jumlah penduduk

-

Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk pengaturan kehamilan, dan merupakan hak setiap individu sebagai makhluk seksual.

Masalah -

Sebagian remaja sudah mengalami pematangan organ reproduksi dan bisa berfungsi atau bereproduksi, namun secara sosial mental dan emosi mereka belum dewasa. Mereka akan mengalami banyak masalah apabila pendidikan

dan

pengasuhan

seksualitas

dan

reproduksi

mereka

terabaikan. Banyak diantara mereka sudah seksual aktif bahkan bergantiganti pasangan seks. Akibatnya banyak terjadi infeksi menular seksual, kehamilan dini, kehamilan yang tidak diinginkan dan usaha aborsi tidak aman diantara mereka. -

Informasi yang tepat tentang masalah seksual dan reproduksi bagi remaja sangant kurang dan akses pelayanan yang bersifat youth friendly juga tidak memadai bahkan hampir tidak ada. 52


-

Kurangnya pengetahuan dan komitmen petugas kesehatan untuk menganani masalah remaja dan terbatasnya fasilitas, membuat remaja tidak pernah mendapat perlindungan dan pemeliharaan dengan tepat.

-

Remaja merupakan kelompok marginal dan kesalahan yang mereka lakukan dianggap aib oleh masyarakat sehingga persoalan reproduksi remaja di Indonesia tidak diperhitungkan oleh pembuat kebijakan.

-

Fakta yang terbaru menyebutkan bahwa : 

15% remaja sudah melakukan hubungan seks diluar nikah

Jumlah penderita HIV-AIDS pada akhir tahun 2005 sebanyak 46,19% adalah remaja (usia 15-29 tahun) dimana 43,5% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 50% tertular lewat jarum suntik

60% dari pekerja seks di Indonesia adalah remaja perempuan berusia 24 tahun atau kurang dan 30% nya adalah mereka yang berumur 15 tahun atau kurang

20% dari 2,3 juta kasus aborsi setiap tahun di Indonesia dilakukan oleh remaja dan mereka mendapatkan tindakan aborsi tidak aman serta menyebabkan komplikasi yang dapat membawa mereka pada kematian.

-

Peran pengambil kebijakan dan petugas kesehatan 

Perlu dikaji ulang bagaimana peraturan maupun undang-undang yang ada (UU no 23 tentang kesehatan, UU no 10 tentang kependudukan dan isi KUHP), aspek sosial, adat dan budaya masyarakat yang banyak hal akan menghambat pemberian pelayanan bagi remaja

Petugas kesehatan baik pemerintah, swasta dan LSM yang punya komitmen terhadap kesehatan remaja, perlu memahami bahasa dan perilaku remaja agar dapat memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan karakteristik dan keinginan remaja

Pelayanan konseling juga diperlukan sebelum memberikan pelayanan kepada remaja, agar hak mereka untuk mendapatkan informasi dan pelayanan dapat terpenuhi yang pada akhirnya remaja dapat terhindar 53


dari IMS/HIV-AIDS, kehamilan tidak diinginkan dan usaha aborsi tidak aman. -

Solusi masalah 

Informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi yang dibutuhkan remaja sudah waktunya diberikan untuk melindungi mereka dari penularan IMS dan HIV/AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan

Pemberian pelayanan ini sebaiknya juga diberikan dalam satu paket dengan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja

-

Hal-hal yang perlu diperhatikan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pelayanan kontrasepsi pada remaja, antara lain : 

Pelajari dulu perilaku seksual remaja tersebut, apakah ia sudah mulai berhubungan seks sejak masih sangat muda, apakah ia berganti-ganti pasangan, adakah riwayat IMS, adakah riwayat kehamilan dan aborsi ?

Dasar pemberian kontrasepsi pada remaja adalah untuk pencegahan kehamilan dan pencegahan IMS, sebelum remaja siap untuk merubah perilakunya kembali pada fase abstinensi atau sebelum mereka siap membentuk sebuah keluarga dan mempunyai anak

Kontrasepsi

pada

remaja

bersifat

memberikan

efek samping dan

temporer

kesulitan

dan

pada

harus

tidak

pengembalian

kesuburan 

Pelayanan pap smir dan pemeriksaan laboratorium untuk skrinning IMS perlu dilakukan terutama bagi remaja yang sudah aktif berhubungan seksual lebih dari 1 tahun dan ada riwayat berganti-ganti pasangan.

KONTRASEPSI UNTUK PEREMPUAN BERUSIA LEBIH DARI 35 TAHUN Perempuan berusia lebih dari 35 tahun memerlukan kontrasepsi yang aman dan efektif karena kelompok ini akan mengalami peningkatan morbiditas dan mortalitas jika mereka hamil. 54


Bukti-bukti terakhir menunjukkan bahwa baik pil kombinasi maupun suntikan kombinasi dapat digunakan dengan aman oleh klien >35tahun sampai masa menopause, jika tidak terdapat faktor resiko lain. Kekhawatiran tentang resiko kanker mamma pada pemakaian kontrasepsi hormonal sesudah usia 35 tahun, menurut penelitian terakhir tidak terbukti. Disamping terbukti turunnya tingkat prevalensi kanker payudara diantara perempuan usia >35tahun, juga ternyata resiko kanker endometrium dan kanker ovarium juga turun. Namun, perempuan usia lebih 35 tahun yang merokok sebaiknya tidak menggunakan pil kombinasi atau pun suntikan komb inasi. Tabel : Berbagai cara kontrasepsi pada perempuan berusia >35 tahun Jenis Kontrasepsi Pil

kombinasi

/

Keterangan

Suntikan -

kombinasi

Sebaiknya tidak digunakan oleh perempuan >35tahun yang perokok

-

Perokok

berat

(>20batang

/hari)

jangan

menggunakan pil/suntikan kombinasi -

Pil kombinasi dosis rendah dapat berfungsi sebagai terapi sulih hormon pada masa perimenopause

Kontrasepsi progestin (implant, -

Dapat digunakan pada masa perimenopause

kontrasepsi suntikan progestin, -

Dapat digunakan oleh perempuan berusia

kontrasepsi pil progestin)

>35th dan perokok -

Implan dapat digunakan pada perempuan >35 tahun yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang, tetapi belum siap untuk kontrasepsi mantap

AKDR

-

Dapat digunakan oleh perempuan >35 th yang tidak terpapar pada infeksi saluran reproduksi dan IMS

-

AKDR Cu dan progestin : ď&#x201A;ˇ

55

Sangat efektif


-

Kondom

Tidak perlu tindak lanjut

Efek jangka panjang

Satu-satunya metode kontrasepsi yang dapat mencegah infeksi saluran reproduksi dan IMS (HBV,HIV-AIDS)

-

Perlu motivasi tinggi bagi pasangan untuk mencegah kehamilan

Kontrasepsi mantap

-

Sangat tepat untuk pasangan yang benarbenar tidak ingin tambahan anak lagi

KONTRASEPSI PASCAPERSALINAN Pada umumnya klien pasapersalinan ingin menunda kehamilan berikutnya paing sedikit 2 tahun lagi, atau tidak ingin tamabahan anak lagi. Konseling tentang keluarga berencana atau metode kontrasepsi sebaiknya diberikan sewaktu asuhan antenatal maupun pascapersalinan.

-

Klien pascapersalinan dianjurkan 

Memberi ASI eksklusif (hanya memberi ASI saja) kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Sesudah bayi berusia 6 bulan diberikan makanan pendamping ASI, dengan pemberian ASI diteruskan sampai anak berusia 2 tahun

Tidak menghentikan ASI untuk mulai suatu metode kontrasepsi

Metode

kontrasepsi

pada

klien

menyusui

dipilih

agar

tidak

mempengaruhi ASI atau kesehatan bayi -

Infertilitas pascapersalinan 

Pada klien pascapersalinan yang tidak menyusui, masa infertilitas rata-rata berlangsung sekitar 6 minggu

Pada klien pascapersalinan yang menyusui, msa infertilitas lebih lama. Namun, kembalinya kesuburan tidak dapat diperkirakan

-

Metode amenorea laktasi (MAL) 56


Menyusui secara eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama klien belum mendapat haid, dan waktunya kurang dari 6 bulan pascapersalinan. Efektivitas dapat mencapai 98%

Efektif bila menyusui lebih dari 8 kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per laktasi.

-

Saat mulai menggunakan kontrasepsi 

Waktu mulai kontrasepsi pascapersalinan tergantung dari status menyusui. Metode yang langsung dapat digunakan adalah : 1. Spermisida 2. Kondom 3. Koitus interuptus

-

Klien menyusui 

Klien menyusui tidak memerlukan kontrasepsi pada 6 minggu pascapersalinan. Pada klien yang menggunakan MAL waktu tersebut dapat sampai 6 bulan.

Gambar berikut menunjukkan waktu yang dianjurkan untukm mulai suatu metode kontrasepsi. Jika klien menginginkan metode selain MAL, perlu didiskusikan efek samping metode kontrasepsi tersebut terhadap Laktasi dan kesehatan bayi. Sebagai contoh pil kombinasi dan suntikan kombinasi merupakan pilihan terakhir. Pil kombinasi, meskipun dengan pil dosis rendah (30-35 mg EE) akan mengurangi produksi ASI, dan secara teoritis akan berpengaruh terhadap pertumbuhan

normal bayi pada

6-8 minggu

pascapersalinan.

Tunggulah 8-12 minggu pascapersalinan sebelum mulai pil kombinasi atau suntikan kombinasi.

57


Kontap

3 minggu

6 minggu

6 bulan

Metode Amenorea laktasi AKDR Kontap Kondom Kontrasepsi Progestin Kontrasepsi Kombinasi

-

Klien tidak menyusui ď&#x201A;ˇ

Klien tidak menyusui umumnya akan mendapat haid kembali dalam 46 minggu pascapersalinan. Kurang lebih 1/3 nya berupa siklus ovulatir. Oleh karena itu kontrasepsi harus mulai pada waktu atau sebelum

hubungan

seksual

pertama

pascapersalinan.

Karena

masalah pembekuan darah masih terdapat pada 2-3 minggu pascapersalinan, kontrasepsi kombinasi jangan dimulai sebelum 3 minggu pascapersalinan. ď&#x201A;ˇ

Sebaiknya

kontrasepsi

progestin

dapat

segera

dimulai

pascapersalinan karena metode ini tidak meningkatkan resiko masalah pembekuan darah. Persalinan

3 minggu

6 minggu

AKDR Kontap Kondom Kontrasepsi Progestin Kontrasepsi Kombinasi

58

6 bulan


Tabel Metode kontrasepsi pascapersalinan Metode kontrasepsi MAL

-

Kontrasepsi kombinasi

-

-

-

Kontrasepsi progestin

Waktu pascapersalinan Mulai segera pasca persalinan Efektivitas tinggi sampai 6 bulan pasca persalinan dan belum haid Jika menyusui Jangan dipakai sebelum 6-8 minggu pascapersalinan Sebaiknya tidak dipakai dalam waktu 6minggu â&#x20AC;&#x201C; 6bln pasca persalinan Jika pakai MAL tunda sampai 6 bulan Jika tidak menyusui dapat dimulai 3 minggu pasca persalinan

- Sebelum 6 minggu pasca persalinan, klien menyusui jangan menggunakan kontrasepsi progestin - Jika menggunakan MAL, kontrasepsi progestin dapat ditunda sampai 6 bulan - Jika tidak menyusui,

59

Ciri-ciri khusus

Catatan

- Manfaat kesehatan bagi ibu dan bayi - Memberikan waktu untuk memilih metode kontrasepsi lain - Selama 6-8 minggu pasca persalinan, kontrasepsi kombinasi akan mengurangi ASI dan mempengaruhi tumbuh kembang bayi - Selama 3 minggu pasca persalinan, kontrasepsi kombinasi meningkatkan resiko masalah pembekuan darah - Jika klien tidak mendapat haid dan sudah berhubungan seksual, mulailah kontrasepsi kombinasi setelah yakin tidak ada kehamilan - Selama 6 minggu pertama pasca persalinan, progestin mempengaruhi tumbuh kembang bayi - Tidak ada pengaruh terhadap ASI

- Harus benar-benar ASI eksklusif - Efektivitas berkurang jika mulai suplementasi - Kontrasepsi kombinasi merupakan pilihan terakhir pada klien menyusui - Dapat diberikan pada klien dengan riwayat preeklampsia atau hipertensi dalam kehamilan - Sesudah 3 minggu pasca persalinan tidak meningkatkan resiko pembekuan darah

- Perdarahan ireguler dapat terjadi


Metode kontrasepsi

-

AKDR

-

-

Waktu Ciri-ciri khusus pascapersalinan dapat segera dimulai Jika tidak menyusui, lebih dari 6 minggu pasca persalinan atau sudah haid kontrasepsi progestin dapat dimulai setelah yakin tidak ada kehamilan Dapat dipasang - Tidak ada pengaruh langsung pasca terhadap ASI persalinan, sewaktu - Efek samping lebih seksio sesarea atau sedikit pada klien 48 jam pasca yang menyusui persalinan Jika tidak, insersi ditunda 4-6 minggu pasca persalinan Jika laktasi atau haid sudah dapat, insersi dilakukan sesudah yakin tidak ada kehamilan

Kondom spermisida

/ - Dapat digunakan setiap saat pascapersalinan

Diafragma

- Sebaiknya tunggu sampai 6 minggu pasca persalinan

KB alamiah

- Tidak

dianjurkan

60

Catatan

- Insersi postplasental memerlukan petugas terlatih khusus - Konseling perlu dilakukan sewaktu asuhan antenatal - Angka pencabutan AKDR tahun pertama lebih tinggi pada klien menyusui - Ekspulsi sopntan lebih tinggi 6-10% pada pemasangan pasca plasental - Sesudah 4-6 minggu pasca persalinan teknik sama dengan pemasangan waktu interval - Tak ada pengaruh - Sebaiknya pakai terhadap laktasi kondom yang diberi pelicin - Sebagai cara sementara sambil memilih metode lain - Tak ada pengaruh - Perlu pemeriksaan terhadap laktasi dalam oleh petugas - Penggunaan spermisida membantu mengatasi masalah kekeringan vagina - Tidak ada pengaruh - Lendir serviks tidak


Metode kontrasepsi

Waktu pascapersalinan sampai siklus haid kembali teratur

Ciri-ciri khusus

Catatan

terhadap laktasi

Koitus - Dapat digunakan setiap waktu interuptus atau abstinensia Kontrasepsi mantap (tubektomi)

- Dapat dilakukan dalam 48 jam pasca persalinan - Jika tidak, tunggu sampai 6 minggu pasca persalinan

Vasektomi

- Dapat dilakukan setiap saat

keluar seperti haid reguler lagi - Suhu basal tubuh kurang akurat jika klien sering terbangun waktu malam untuk menyusui Tidak ada pengaruh - Beberapa pasangan terhadap laktasi tidak sanggup untuk atau tumbuh sbstinensi kembang bayi - Perlu konseling Abstinensi 100% efektif Tidak ada pengaruh - Perlu anestesi lokal terhadap laktasi - Konseling sudah atau tumbuh harus sewaktu kembang bayi sauhan antenatal Minilaparotomi pasca persalinan paling mudah dilakukan dalam 48jam pasca persalinan Tidak segera efektif - Merupakan salah karena perlu sedikit satu cara KB untuk 20 ejakulasi (+ pria 3bulan) sampai benar-benar steril

KONTRASEPSI PASCA KEGUGURAN -

Keterkaitan asuhan pasca keguguran dengan Keluarga Berencana Asuhan pasca keguguran mungkin merupakan kesempatan yang langka bagi seorang perempuan terpapar dengan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, hal ini merupakan kesempatan untuk memberikan informasi dan pelayanan KB. Pelayanan kontrasepsi pasca keguguran mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Konseling tentang kontrasepsi 2. Jaminan tersedianya pasokan kontrasepsi 3. Akses terhadap asuhan lanjutan 61


4. Informasi tentang perlindungan terhadap IMS 5. Hal-hal khusus berkenan dengan pribadi klien, kondisi klinis dan kemampuan fasilitas kesehatan setempat -

Waktu mulai Kontrasepsi pascakeguguran perlu dimulai segera karena ovulasi dapat terjadi 11 hari sesudah terapi keguguran / abortus. Sekurang-kurangnya klien perlu mendapat konseling dan informasi agar mereka mengerti bahwa : 1. Klien dapat hamil lagi sebelum haid berikutnya datang 2. Ada kontrasepsi yang aman untuk menunda atau mencegah kehamilan 3. Dimana dan bagaimana klien dapat memperoleh pelayanan

-

Jenis kontrasepsi yang dapat dipakai 1. Kontrasepsi yang dianjurkan sesudah keguguran trisemester I, sama dengan yang dianjurkan pada masa interval 2. Kontrasepsi yang dianjurkan sesudah keguguran trisemester II, sama dengan yang dianjurkan pada masa pasca persalinan Tabel : Metode kontrasepsi pasca keguguran Metode kontrasepsi Pil kombinasi

Waktu mulai penggunaan - Segera dimulai

Ciri-ciri khusus

Kontrasepsi prograstin Suntikan kombinasi Implan

AKDR

Trisemester I - AKDR dapat langsung dipasang jika tidak ada infeksi - Tunda pemsangan sampai luka atau infeksi sembuh,

62

Catatan

- Dapat segera - Jika konseling dan dimulai walaupun informasi belum terdapat infeksi cukup, tunda suntikan pertama - Sangat efektif atau pemasangan - Langsung efektif implan. Berikan - Mengurangi metode sementara kehilangan - Untuk implan perlu darah/anemia tenaga terlatih - Jika konseling dan informasi belum cukup, tunda pemasangan - Perlu tenaga terlatih untuk pemasangan AKDR - Pada trisemester II


perdarahan diatasi, anemia diperbaiki Trisemester II

Kondom spermisida KB alamiah

Tubektomi

kemungkinan resiko perforasi sewaktu pemasangan lebih besar

- Tunda pemasangan 4-6 minggu pasca keguguran kecuali jika tenaga terlatih dan peralatan untuk insersi tersedia - Yakinkan tidak ada infeksi. Jika ternyata ada infeksi, tunda pemasangan sampai infeksi teratasi 3 bulan / - Mulai segera - Metode sederhana sewaktu mulai sambil menunggu hubungan seksual metode lain - Tidak dianjurkan - Waktu ovulasi pertama pasca keguguran sulit diperkirakan - Secara teknis, - Minilaparotomi - Perlu konseling dan tubektomi dapat sesudah keguguran informasi yang langsung dikerjakan trisemester I sama cukup sewaktu terapi dengan waktu keguguran kecuali interval jika ada perdarahan - Sesudah keguguran banyak atau infeksi trisemester II sma dengan prosedur pasca persalinan

Tabel : Panduan Metode kontrasepsi pada beberapa kondisi klinis Kondisi klinis

Perlu hari-hati

Rekomendaasi

- AKDR : jangan dipasang - Kontrasepsi kombinasi sampai infeksi teratasi (3 dapat segera diberikan - Tanda â&#x20AC;&#x201C;tanda infeksi bulan) - Kontrasepsi progestin - Tanda-tanda aborsi tidak - Tubektomi : jangan dapat segera diberikan aman dilakukan sampai infeksi - Barier dapat digunakan - Tidak menyingkirkan teratasi (3 bulan) infeksi Perlukan jalan lahir - AKDR jangan dipasang - Kontrasepsi kombinasi sampai perlukaan dapat segera diberikan - Perforasi uterus sembuh - Kontrasepsi progestin - Perlukan vagina atau - Diafragma jangan dapat segera diberikan serviks dipasang sampai - Barier dapat digunakan perlukaan sembuh Infeksi

63


Kondisi klinis

Perlu hari-hati

Rekomendaasi

- Spremisida jangan dipasang sampai perlukaan sembuh - Tubektomi jangan dipasang sampai perlukaan sembuh - Implan tunda sampai - Kontrasepsi kombinasi anemia diatas dapat segera diberikan - Kontrasepsi suntik tunda - Kontrasepsi progestin sampai anemia diatas dapat segera diberikan - Kontrasepsi progestin - Barier dapat digunakan tunda sampai anemia diatas - AKDR tunda sampai anemia diatas - Tubektomi tunda sampai anemia diatas

Perdarahan banyak Hb <8%

J. KONDISI YANG DIHARAPKAN KONDISI SEKARANG

KONDISI YANG DIHARAPKAN

1. Tingginya Angka Kematian Ibu 1 Percepatan sebesar

39

kasus

(89/100.000

kematian

Kelahiran

Hidup)

pada tahun 2013

Penurunan

Angka

Kematian Ibu menjadi <70 / 100.000 Kelahiran Hidup pada akhir 2014 dan <50 / 100.000 Kelahiran Hidup pada akhir 2014

2. Adanya

lonjakan

kasus 2 Terjadinya

penurunan

kasus

kematian dari 25 kasus pada

kematian Ibu menjadi 75% pada

tahun 2012 menjadi 39 kasus

akhir tahun 2014 dan 50% pada akhir

pada tahun 2013.

tahun 2015

3. Angka Kematian Bayi Baru Lahir 3 Angka Kematian Bayi Baru Lahir (

yang

sebagian

besar

dapat dipertahankan sebesar 4 /

disebabkan oleh BBLR / Bayi

1.000 Kelahiran Hidup pada akhir

Berat

tahun 2014 dan < 4 / 1.000 Kelahiran

Badan

Lahir

Rendah)

sebesar 176 kasus kematian (4,02/1.000

Kelahiran

Hidup) 64

Hidup pada akhir tahun 2015


KONDISI SEKARANG

KONDISI YANG DIHARAPKAN

pada tahun 2013

4 Penurunan Angka Kebutuhan ber-KB

4. Tingginya Angka Kebutuhan ber-

yang tidak Terpenuhi (Unmet Need)

KB yang tidak Terpenuhi (Unmet

menjadi 9% pada akhir 2014 dan

Need) sebesar 10,49% pada

6,5% pada akhir 2015

tahun 2013

K. ALUR PELAPORAN PROGRAM SUTERA EMAS PEMERINTAH KABUPATEN MALANG DINAS KESEHATAN Jalan Panji 120 Kepanjen

PROGRAM SUTERA EMAS ( SURVEILANS EPIDEMIOLOGI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT )

KONDISI SAAT INI

65


L. ALUR

PELAPORAN

PROGRAM

CONTRA

WAR

BADAN

KELUARGA

BERENCANA

M. ALUR KEGIATAN PROGRAM CONTRA WAR BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG GRAND STRATEGY PERCEPATAN PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN PROGRAM CONTRA WAR ( CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK ) DI KABUPATEN MALANG

Pelaksanaan Surveilans Aktif Oleh Kader KB Setiap Saat / REAL TIME ď&#x192; ONE RT - ONE CADRE

Setelah penderita dinyatakan sembuh dari penyakit nya atau sudah dinyatakan layak menjalani kehamilan, maka atas rekomendasi Dokter dilakukan penghentian penggunaan kontrasepsi

7

Kader KB Melaporkan Data WUS (wanita usia subur) yang Belum Ber KB Kepada PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) setiap saat ( REAL TIME ) Proses Penapisan Reproduksi dan Pemilihan Kontrasepsi yg tepat bagi WUS Risti sesuai Rekomendasi dari Dokter Puskesmas / Dokter Spesialis, serta sekaligus dilakukan Penatalaksanaan terhadap Penyakit nya sampai sembuh

Hamil Normal dan Persalinan Aman

Bidan Desa / PLKB Melakukan kunjungan Ke lokasi ( Home Visit )

Rujukan WUS Risti ke Puskesmas / Rumah Sakit

Penurunan Angka Kematian Ibu & Bayi

66

Tim Contra War Melakukan Analisa Kasus dan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat

Bidan desa melakukan Pemeriksaan untuk Mengetahui faktor resiko Tinggi yang ada

PLKB mengirimkan laporan melalui SMS Gateway ke server Contra WaR setiap saat ( REAL TIME )


N. ALUR PELAPORAN KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS PEMERINTAH KABUPATEN MALANG BADAN KELUARGA BERENCANA Jalan Trunojoyo 10 Kepanjen Malang 65163 Telp (0341)395294 Fax (0341)397300 website : http//kb.malangkab.go.id email : kb@malangkab.go.id

KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR ( CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK ) DAN SUTERA EMAS ( SURVEILANS EPIDEMIOLOGI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT )

KONDISI YANG DIHARAPKAN Pengiriman informasi ke PLKB Bidan melaporkan hasil temuan penyakit mell sms gateway ke server

SUTERA EMAS

PPLKB, PKB, PLKB

Server CONTRA WAR

Kader Memberikan informasi seluruh kasus kesakitan kpd Bidan desa / Perawat Desa setiap saat ( real time )

Ke lokasi (Home Visit)

Bidan Desa & PLKB melakukan home visit dan mempersiapkan penatalaksanaan selanjutnya sesuai prosedur

Menemukan kasus di wil RT nya ( one RT – one Cadre )

O. Model Konfigurasi Jaringan Server Contra War – Sutera Emas Grid Antena

Grid Antena

TP Link 5210 TP Link 5210 Router Hub

PC Server SMS Gateway

Server DINKES

Wavecom FastLink GSM modem

67


P. ALUR KEGIATAN

KOLABORASI PROGRAM

CONTRA WAR DAN

SUTERA EMAS GRAND STRATEGY PERCEPATAN PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR ( CONTRACEPTIVE FOR WOMEN AT RISK ) & SUTERA EMAS ( SURVEILANS EPIDEMIOLOGI TERPADU BERBASIS MASYARAKAT ) DI KABUPATEN MALANG

Pelaksanaan Surveilans Aktif Oleh Kader Kesehatan & KB Setiap Saat / REAL TIME  ONE RT - ONE CADRE

Bidan Desa /Perawat / PLKB melakukan home visit sesuai

7

guidance

Rujukan WUS Risti ke Puskesmas / Rumah Sakit

Kader kesehatan / KB Melaporkan Semua Temuan Kasus Kepada Bidan Desa / Perawat Ponkesdes / PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) setiap saat ( REAL TIME )

Tim Contra War Melakukan Analisa Kasus dan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat

Bidan Desa / Perawat Ponkesdes melakukan Konfirmasi Kasus Ke lokasi ( Home Visit )

Data WUS Risti by name /by case/ by address tsb secara otomatis akan dikirim oleh server Contra WaR ke masing2 nomor HP PLKB yang telah ter Registrasi sesuai Lokasi kasus ( REAL TIME )

Proses Penapisan Reproduksi dan Pemilihan Kontrasepsi yg tepat bagi WUS Risti sesuai Rekomendasi dari Dokter Puskesmas / Dokter Spesialis, serta sekaligus dilakukan Penatalaksanaanterhadap Penyakit nya sampai sembuh

Laporan Kasus Kesakitan by name/by case/by address pada WUS Risti (Wanita Usia Subur Beresiko Tinggi) yang Belum Hamil & Ber KB ( Unmetneed ) yang ditangkap oleh server Sutera Emas  secara otomatis akan diteruskan ke server Contra WaR ( REAL TIME )

Setelah penderita dinyatakan sembuh dari penyakit nya atau sudah dinyatakan layak menjalani kehamilan, maka atas rekomendasi Dokter dilakukan penghentian penggunaan kontrasepsi

Hamil Normal dan Persalinan Aman

Penetapan Suspect Dx / Dx Kerja oleh Bidan Desa / Perawat Ponkesdes/ Dokter Puskesmas

Bidan Desa / Perawat Ponkesdes mengirimkan laporan melalui SMS Gateway ke server Sutera Emas setiap saat ( REAL TIME )

Penurunan Angka Kematian Ibu & Bayi

Q. ALUR JARINGAN IT KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS

68


F. PERBEDAAN PENDEKATAN PROGRAM SUTERA EMAS

CONTRA WAR

1. Surveilans aktif terhadap penyakit

1. Surveilans aktif terhadap Wanita

menular, penyakit tidak menular,

Usia Subur dari Pasangan Usia

penyakit

Subur yang butuh ber KB tetapi

tinggi

bawaan,

kebidanan

faktor dan

resiko

masalah-

belum terlayani (unmetneed)

masalah kesehatan lainnya 2. Pelaksana surveilans adalah kader kesehatan / posyandu terlatih

2. Pelaksana surveilans adalah kader PPKBD

(Petugas

Pembantu

Keluarga Berencana Desa) dan Sub PPKBD (Sub

Petugas Pembantu

Keluarga Berencana Desa) terlatih

3. Koordinator surveilans tingkat desa adalah Bidan Desa

3. Koordinator surveilans tingkat desa adalah PPLKB (Pembantu Petugas Lapangan Keluarga Berencana)

4. Koordinator

surveilans

kecamatan/wilayah Puskesmas Sutera

kerja

adalah

Emas

tingkat

dan

Koordinator

4. Koordinator

surveilans

tingkat

kecamatan adalah PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana)

Koordinator

Bidan Puskesmas 5. Data diperoleh dari kegiatan dalam gedung dan luar gedung

5. Data diperoleh dari kegiatan luar gedung

6. Berfungsi ganda dalam pemetaan sasaran baru program kesehatan

6. Berfungsi ganda

dalam pemetaan

akseptor aktif by name, by address

by name, by address 7. Bermanfaat

sebagai

kewaspadaan Kejadian

dini

Luar

Biasa

sistem

7. Apabila

terhadap

kurang

serta

pencegahan terhadap kematian Ibu dan Bayi baru lahir

69

dilakukan

sendiri

bermanfaat

akan dalam

pencegahan kematian Ibu dan Bayi baru lahir


G.

PERBEDAAN OUTPUT PROGRAM KOLABORASI PROGRAM

CONTRA WAR

CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS

1. Surveilans aktif terhadap Wanita

1. Surveilans aktif terhadap Wanita

Usia Subur dari Pasangan Usia

Usia Subur dari Pasangan Usia

Subur yang butuh ber KB tetapi

Subur yang butuh ber KB tetapi

belum terlayani (unmetneed)

belum terlayani (unmetneed) yang sedang menderita penyakit menular, penyakit

tidak

menular,

penyakit

bawaan serta mempunyai riwayat faktor resiko tinggi kebidanan pada kehamilan sebelumnya 2. Pelaksana surveilans adalah kader PPKBD dan Sub PPKBD terlatih

2. Pelaksana surveilans adalah kader PPKBD

dan Sub PPKBD , serta

Kader Kesehatan / Posyandu terlatih 3. Koordinator surveilans tingkat desa

3. Koordinator surveilans tingkat desa

adalah PPLKB (Pembantu Petugas

adalah PPLKB (Pembantu Petugas

Lapangan Keluarga Berencana)

Lapangan Keluarga Berencana) dan Bidan Desa

4. Koordinator

surveilans

tingkat

4. Koordinator

surveilans

tingkat

kecamatan adalah PLKB (Petugas

kecamatan adalah PLKB (Petugas

Lapangan Keluarga Berencana)

Lapangan Koordinator

Keluarga Sutera

Berencana), Emas

dan

Koordinator Bidan Puskesmas 5. Data diperoleh dari kegiatan dalam gedung dan luar gedung

5. Data diperoleh dari kegiatan dalam dan luar gedung dan berlangsung secara terus menerus 24 jam non stop serta pelaporannya realtime

6. Berfungsi ganda dalam pemetaan akseptor aktif by name, by address

6. Berfungsi ganda

dalam pemetaan

akseptor aktif dan sasaran baru program kesehatan by name, by address (bermanfaat untuk update

70


KOLABORASI PROGRAM

CONTRA WAR

CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS

data akseptor aktif dan unmetneed) 7. Apabila

dilakukan

kurang

sendiri

bermanfaat

akan

7. Apabila dilakukan secara kolaboratif

dalam

maka akan ada guidance dalam

pencegahan kematian Ibu dan Bayi

penemuan

baru lahir

bagi

dan

Wanita

penatalaksanaan

Usia

Subur

yang

berisiko tinggi, sehingga bisa segera dilakukan intervensi dengan penggunaan metode KB yang tepat selama menjalani pengobatan terhadap penyakitnya 8. Mungkin

akan

terjadi

double

8. Sangat kecil kemungkinan terjadi

recording dalam pelaporan Wanita

under dan double recording dalam

Usia Subur yang berisiko tinggi

pelaporan Wanita Usia Subur yang berisiko tinggi

9. Update data peserta KB Aktif dan unmetneed perolehan

tergantung data

yang

9. Update data peserta KB Aktif dan

dari

unmetneed sangat mudah dan cepat

tanpa

dilakukan karena sudah tersedia

guidance (pedoman)

guidance

(pedoman)

yang

merupakan output data dari Program Sutera Emas 10. Jumlah calon akseptor baru dari

10. Jumlah calon akseptor baru dari

kelompok WUS Risti (unmetneed)

kelompok WUS Risti (unmetneed)

yang

yang

menjalani

penapisan

reproduksi terbatas.

menjalani

reproduksi

tidak

penapisan terbatas

dan

datanya di eksport secara otomatis oleh server Sutera Emas ke server contra War

71


H. PROGRAM - PROGRAM UNGGULAN DINAS KESEHATAN DAN BADAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN MALANG NO 1

SASARAN A PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN EMERGENCY MATERNAL NEONATAL

PROGRAM EMAS

TUJUAN

SEKTOR TERKAIT

PENURUNAN AKI, AKB

USAID, DINAS KESEHATAN, RS PEMERINTAH / SWASTA, RB, KLINIK, DPS DAN BPS

SUMBER DANA USAID, APBD, CSR

B PENINGKATAN KUALITAS SISTEM RUJUKAN EMERGENCY 2 SASARAN BARU IBU HAMIL 3

4

1. PENURUNAN AKI DAN AKB

A. MONITORING KEHAMILAN RESIKO TINGGI B. REMINDER WAKTU PERSALINAN SUTERA EMAS

A. RUJUKAN IBU HAMIL TERENCANA B. SURVEILANS PENYAKIT MENULAR, TIDAK MENULAR DAN FAKTOR RESIKO TINGGI DIBIDANG KESEHATAN

5 WUS (UNMETNEED) BERESIKO TINGGI

CONTRA WAR

6 SOSIALISASI PENURUNAN AKI & AKB, UNMETNEED, TFR

APBD PEMPROV, APBD 2. PENURUNAN ANGKA PEMPROV, PEMKAB, AIPD-AusAID, KABUPATEN, AIPD KESAKITAN DAN PKK, APPI, CSR AusAID, CSR KEMATIAN AKIBAT PENYAKIT MENULAR & TIDAK MENULAR PENURUNAN AKI & AKB, UNMETNEED, TOTAL FERTILITY RATE, PENINGKATAN CONTRACEPTIVE PREVALENCE RATE

BKKBN PUSAT, BKKBN PROV., BKKBN, AusAID, PEMKAB, PEMKAB MALANG, AusAID, CSR, CSR, SWADAYA PKK, APPI, DINAS KESEHATAN, RS PEMERINTAH / SWASTA, RB, KLINIK, DPS DAN BPS, ORMAS, KADER KESEHATAN, PPLKB, PKB, PLKB, PKBD, PPKBD

PEMANFAATAN PROGRAM UNGGULAN DINAS KESEHATAN DAN BADAN KELUARGA BERENCANA DALAM RANGKA PENURUNAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR

 PERIODE PRA NIKAH

CONTRA WAR

 PERIODE PRA

KEHAMILAN SUTERA EMAS

 PERIODE KEHAMILAN  PERIODE PERSALINAN

EMAS

 PERIODE NIFAS DAN

NEONATAL

72


I.

PENGORGANISASIAN

Bupati + 10

DPRD +8

Sekda +10 Ass Adm

PKK +8

Ass Kesra +10

RSUD +10

+10 EMAS USAID +10

KP3A +10

Tim Medis / Paramedis RSUD +10

Pemerintahan

Bappeda +10

Badan Keluarga Berencana ( Tim Contra War )

Tim Sutera

DINKES +10

PUSKESMAS +10

Emas +10

Camat +9

PPLKB +10

CW – SE

Collaboration program stakeholdership

Bidan Desa +10

Kader Kes +10

Bagian Hukum +9

AIPD AusAid +10

Lurah / Kades +9

PLKB +10

Kepala RW / RT +9

Kader KB +10

Keterangan : 1. Reporting 2. Coordinating 3. Advocation 4. Funding 5. Information 6. Tim Kolaborasi Contra War – Sutera Emas

J. IDENTIFIKASI STAKEHOLDER INTERNAL DAN EKSTERNAL INTERNAL NO

DESKRIPSI

PERAN

PENGARUH

1

Sekretaris Daerah Kabupaten Malang

Sponsor

Positif Primer / Besar

2

Kepala Badan KB

Ketua

Positif Primer / Besar

3

Sekretaris Badan

Sekretaris

Positif Primer / Besar

4

Kepala Bidang Keluarga Berencana pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

5

Kepala Bidang Keluarga Sejahtera pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

6

Kepala Bidang Penggerakan Masyarakat pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

73


NO

DESKRIPSI

PERAN

PENGARUH

7

Kepala Bidang Data & Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

8

Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

9

Kepala Sub Bagian Keuangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

10

Kepala Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi & Pelaporan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

11

Kepala Sub Bidang Jaminan Pelayanan KB/KR pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

12

Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi Remaja pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

13

Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Ekonomi Keluarga pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

14

Kepala Sub Bidang Pembinaan Ketahanan Keluarga pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

15

Kepala Sub Bidang Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

16

Kepala Sub Bidang Institusi dan Peran Serta pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

17

Kepala Sub Bidang Pengolahan Data dan Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

74


NO

DESKRIPSI

PERAN

PENGARUH

18

Kepala Sub Bidang Penyebarluasan Data dan Pengembangan Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

19

Staf pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang.Kabupaten Malang;

Anggota

Positif Primer / Besar

a. Mayasari Dwi Agustina, SE b. Mochammad Choris c. Sasongko Hudi Brahmatyo, S.Kom d. Riko Andi Fardias e. Atik Dian Setyo Utami, SE

20

Pengendali Petugas Lapangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 33 Kecamatan;

Anggota

Positif Primer / Besar

21

Penyuluh pada pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 33 Kecamatan;

Anggota

Positif Primer / Besar

22

Petugas Lapangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 390 Desa/Kelurahan.

Anggota

Positif Primer / Besar

EKSTERNAL NO

DESKRIPSI

PERAN

PENGARUH

1

Kepala Badan KB

Ketua

Positif Primer / Besar

2

Asisten Kesejahteraan Rakyat

Anggota

Positif Primer / Besar

3

Kepala Bappeda

Anggota

Positif Primer / Besar

4

Kepala Badan Keluarga Berencana

Anggota

Positif Primer / Besar

5

Kepala Dinas Kesehatan

Anggota

Positif Primer / Besar

6

Direktur RSUD Kanjuruhan

Anggota

Positif Primer / Besar

75


NO

DESKRIPSI

PERAN

PENGARUH

7

Kepala Kantor Pemberdayaan Anggota Perempuan dan Perlindungan Anak

Positif Primer / Besar

8

District Facilitator Program AIPD AusAid

Anggota

Positif Primer / Besar

District Facilitator Program EMAS USAID

Anggota

Positif Sekunder / Besar

Wakil Ketua Tim Sutera Emas

Anggota

Positif Primer / Besar

9 10

Keterangan - Primer

: Langsung dipengaruhi program

- Sekunder : Tidak langsung dipengaruhi program

K. TATA KELOLA PROYEK Struktur

Deskripsi Sponsor Proyek ( Sekretaris Daerah )

Sponsor Proyek

Sekretaris Daerah Coach

Dr. Abdul Malik, SE, M.Si

Ir.Bambang BH MM

Project leader

Coach  Memberikan bimbingan, monitoring kegiatan, dan memberikan intervensi terhadap permasalahan yang dihadapi.

Kepala Badan Keluarga Berencana

Hadi Puspita

Tim Internal

Tim Eksternal

Tim Contra WaR

Tim

Badan Keluarga

Kolaborasi Program

Berencana Kab Malang

Contra WaR – Sutera Emas

Keterangan :

Memberikan persetujuan, dukungan, arahan dan saran terhadap kegiatan proyek perubahan. Membantu menyelesaikan hambatan.

Project Leader (Kepala Badan KB)  Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan proyek perubahan.  Mendorong pencapaian kinerja, memantau dan menindak lanjuti kemajuan proyek.  Membantu menyelesaikan hambatan yang terjadi.  Menentukan Ketua Tim Internal dan Tim Eksternal  Menentukan tugas pokok dan fungsi masing-masing Tim.  Melakukan monitoring dan evaluasi kinerja Tim Internal dan Tim Eksternal

Tim Internal (Tim Contra WaR) terdiri dari :

76


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18.

19. 20. 21.

Kepala Badan KB Sekretaris Badan Kepala Bidang Keluarga Berencana pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Bidang Keluarga Sejahtera pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Bidang Penggerakan Masyarakat pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Bidang Data & Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bagian Keuangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bagian Perencanaan, Evaluasi & Pelaporan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Jaminan Pelayanan KB/KR pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Kesehatan Reproduksi Remaja pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Pemberdayaan Ekonomi Keluarga pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Pembinaan Ketahanan Keluarga pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Institusi dan Peran Serta pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Pengolahan Data dan Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Kepala Sub Bidang Penyebarluasan Data dan Pengembangan Informasi pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang; Staf pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang.Kabupaten Malang; a. Mayasari Dwi Agustina, SE b. Mochammad Choris c. Sasongko Hudi Brahmatyo, S.Kom d. Riko Andi Fardias e. Atik Dian Setyo Utami, SE Pengendali Petugas Lapangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 33 Kecamatan; Penyuluh pada pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 33 Kecamatan; Petugas Lapangan pada Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang di 390 Desa/Kelurahan.

Tim Eksternal ( Tim Kolaborasi Program Contra WaR – Sutera Emas ) terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Asisten Kesejahteraan Rakyat Kepala Bappeda Kepala Badan Keluarga Berencana Kepala Dinas Kesehatan Direktur RSUD Kanjuruhan Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak District Facilitator Program AIPD AusAid District Facilitator Program EMAS USAID Wakil Ketua Tim Sutera Emas

77

Tim Internal Contra WaR    

 

Menyusun draft SK Bupati tentang Contra WaR Menyusun Buku Pedoman Program Contra War Menyusun Buku Pedoman Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Menyusun Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Tim Medis Rumah Sakit dan Dokter Puskesmas Menyusun Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Bidan Rumah Sakit dan Bidan Puskesmas Menyusun Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Bidan Desa dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana Menyusun Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Kader Keluarga Berencana Menetapkan tugas pokok dan fungsi masing-masing anggota tim Melaksanakan sosialisasi bagi anggota Tim Kolaborasi Program Contra WaR Sutera Emas bagi Pengurus PKK Kabupaten Melaksanakan sosialisasi dan bimbingan teknis bagi Kepala Puskesmas,Paramedis RSUD Kanjuruhan, PKB, PPLKB, PLKB,Bidan Desa dan Kader KB Melaksanakan monitoring, evaluasi dan penyempurnaan Program Contra WaR periode jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

Tim Eksternal    

Menyempurnakan rumusan draft SK Bupati tentang Tim Kolaborasi Program Contra WaR Sutera Emas Menetapkan tugas pokok dan fungsi masing-masing anggota tim Menyempurnakan Buku Panduan Kolaborasi Program Contra WaR - Sutera Emas Menyempurnakan Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Tim Medis Rumah


 

Sakit dan Dokter Puskesmas Menyempurnakan Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Bidan Rumah Sakit dan Bidan Puskesmas Menyempurnakan Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Bidan Desa dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana Menyempurnakan Buku Pedoman Teknis Kolaborasi Program Contra War dan Sutera Emas Bagi Kader Keluarga Berencana Mempersiapkan sumber daya Kolaborasi Program Contra WaR- Sutera Emas di instansi masing -masing Melaksanakan monitoring, evaluasi dan penyempurnaan Kolaborasi Program Contra WaR Sutera Emas pada periode Jangka Menengah dan Jangka Panjang secara periodik Menyusun rencana anggaran pengembangan Kolaborasi Program Contra WaR – Sutera Emas pada periode Jangka Menengah dan Jangka Panjang Menilai out come Kolaborasi Program Contra WaR – Sutera Emas Berupa Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir pada periode Jangka Panjang Melaporkan pelaksanaan Kolaborasi Program Contra WaR– Sutera Emas secara periodik kepada sponsor program (Sekretaris Daerah) dan Bupati.

L. MANFAAT KOLABORASI PROGRAM CONTRA WAR DAN SUTERA EMAS Manfaat dari proyek perubahan Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan metoda kolaborasi program Contra WaR (Contraceptive for Women at Risk) dan Sutera Emas (Surveilans Epidemiologi Terpadu Berbasis Masyarakat) adalah : 1. Meningkatkan kinerja Badan Keluarga Berencana sesuai visi dan misi Pemerintah Kabupaten Malang

78


2. Memudahkan petugas untuk dapat mengetahui sasaran Unmet Need (WUS yang butuh ber KB tetapi belum terlayani) by name, by address dan by case 3. Meningkatkan pemahaman petugas bahwa peningkatan cakupan akseptor KB baru seharusnya berbanding lurus dengan penurunan AKI dan AKB 4. Mengurangi mindset ego sektoral dan ego program 5. Merangsang semangat petugas untuk bekerja lebih inovatf dan lebih bertanggung jawab 6. Memudahkan petugas dalam melakukan pendampingan terhadap akseptor KB dari kelompok Unmet Need dalam melaksanakan kehamilan yang terencana 7. Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral 8. Meningkatkan

kwalitas

pelayanan

keluarga

berencana

bagi

masyarakat 9. Data Wanita Usia Subur dari Pasangan Usia Subur yang butuh ber KB tetapi belum terlayani (unmetneed) yang sedang menderita penyakit menular, penyakit tidak menular, penyakit bawaan serta mempunyai riwayat faktor resiko tinggi kebidanan pada kehamilan sebelumnya, dapat diperoleh secara otomatis dari server Sutera Emas Dinas Kesehatan 10. Data diperoleh dari kegiatan surveilans yang berlangsung secara terus menerus 24 jam non stop serta pelaporannya berlangsung realtime (setiap saat) 11. Sasaran baru program kesehatan by name, by address bermanfaat untuk update data akseptor aktif dan unmetneed 12. Adanya

guidance

yang

mempermudah

penemuan

dan

penatalaksanaan Wanita Usia Subur yang berisiko tinggi 13. Meminimalisir kemungkinan terjadinya under dan double recording dalam pelaporan data Wanita Usia Subur berisiko tinggi 79


14. Update data peserta KB Aktif dan unmetneed sangat mudah dan cepat dilakukan karena sudah tersedia guidance (pedoman) yang merupakan output data dari Program Sutera Emas 15. Jumlah calon akseptor baru dari kelompok WUS Risti (unmetneed) yang menjalani penapisan reproduksi tidak terbatas karena datandata tersebut di ekspor secara otomatis oleh server Sutera Emas ke server Contra WaR 16. Data by name by address WUS Risti dari server Contra War akan terkirim secara otomatis ke nomor-nomor HP PPLKB 17. Terjadinya peningkatan cakupan Akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur (Unmet Need) beresiko tinggi melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penyakit (menular , tidak menular atau bawaan) dan mempunyai faktor-faktor resiko terhadap kehamilan, serta pernah mempunyai riwayat kehamilan beresiko tinggi sebelumnya, yang dapat membahayakan proses kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan penggunaan kontrasepsi yang tepat selama masa penyembuhan penyakitnya

sesuai rekomendasi dokter

puskesmas dan dokter spesialis 18. Terajadinya peningkatan pelayanan kesehatan bagi akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur ber resiko tinggi (Unmet Need) 19. Mempercepat rencana aksi Pemerintah Kabupaten Malang dalam pencapaian tujuan MDGâ&#x20AC;&#x2122;s

M. KRITERIA KEBERHASILAN 1. Penurunan Angka Kebutuhan ber-KB yang tidak Terpenuhi (Unmet Need) menjadi 9% pada akhir 2014 dan 6,5% pada akhir 2015

80


2. Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu menjadi <70 / 100.000 Kelahiran Hidup pada akhir 2014 dan <50 / 100.000 Kelahiran Hidup pada akhir 2015 3. Terjadinya penurunan kasus kematian Ibu menjadi 75% pada akhir tahun 2014 dan 50% pada akhir tahun 2015 4. Angka Kematian Bayi Baru Lahir dapat dipertahankan sebesar 4 / 1.000 Kelahiran Hidup pada akhir tahun 2014 dan < 4 / 1.000 Kelahiran Hidup pada akhir tahun 2015 5. Peningkatan cakupan Akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur (Unmet Need) beresiko tinggi melalui proses penapisan reproduksi terhadap Wanita Usia Subur yang sedang menderita suatu penyakit

(menular , tidak menular atau bawaan) dan mempunyai

faktor-faktor resiko terhadap kehamilan, serta pernah mempunyai riwayat

kehamilan

beresiko

tinggi

sebelumnya,

yang

dapat

membahayakan proses kehamilan dan persalinan selanjutnya, dengan penggunaan kontrasepsi yang tepat selama masa penyembuhan penyakitnya

sesuai rekomendasi dokter puskesmas dan dokter

spesialis 6. Peningkatan pelayanan kesehatan bagi akseptor KB baru dari kelompok Wanita Usia Subur ber resiko tinggi (Unmet Need)

N. CONTOH-CONTOH PENYAKIT PADA WANITA USIA SUBUR YANG DAPAT MENYEBABKAN KEMATIAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR TBC PARU dengan gejala : 1. Batuk berdahak lebih dari 3 minggu disertai darah 2. Berat badan semakin menurun 3. Ada riwayat kontak dengan penderita TBC 4. Bisa menyebabkan kematian ibu 5. Gambar penderita TBC : 81


Kurang Energi kalori (Kurang gizi) dengan gejala : 1. Kurus 2. Lingkar lengan atas <= 23 cm 3. Bayi yang dilahirkan sering BBLR (bayi berat badan rendah, dan sering menyebabkan kematian pada bayi baru lahir) 4. Bisa menyebabkan kematian ibu 5. Gambar Kurang Energi kalori (Kurang gizi) :

Pre eclampsia berat (ibu hamil dengan kelainan tekanan darah tinggi yang berat) dengan gejala : 1. Ibu hamil dengan tekanan darah tinggi yang berat 2. Kaki bengkak 3. Mulai muncul pada hamil bulan ke 4 dan seterusnya 4. Gambar Pre eclampsia berat (ibu hamil dengan kelainan tekanan darah tinggi yang berat) 5. Bisa menyebabkan kematian ibu

82


Trombosis vena permukaan ( penyakit varises dengan infeksi) dengan gejala : 1. Ada penonjolan pembuluh darah dibawah kulit, lebih sering terjadi di tungkai bawah 2. Trombosis vena permukaan ( penyakit varises dengan infeksi) 3. Bisa menyebabkan kematian ibu

Stroke (lumpuh separuh tubuh) dengan gejala : 1. Kelumpuhan terjadi mendadak atau lambat laun 2. Mengenai

otot-otot

separuh

bagian

tubuh, mulai dari otot wajah sampai otot kaki 3. Munculnya

bisa

disertai

hilangnya

kesadaran atau tetap sadar 4. Kelumpuhan pada otot wajah bisa berupa mulut perot dan kelopak mata tidak bisa menutup 83


5. Gangguan pergerakan tangan dan kaki 6. Berjalan menyeret

Kanker payudara dengan gejala : 1. Benjolan menetap pada payudara, semakin hari semakin membesar 2. Nyeri apabila ditekan 3. Pada fase lanjut, bisa timbul borok 4. Sulit sembuh dengan pengobatan cara biasa 5. Bisa

menjalar

ke

organ

tubuh

lainnya 6. Bisa menyebabkan kematian ibu

Herpes simpleks (penyakit dap pada sekitar lubang-lubang tubuh) dengan gejala : 1. Benjolan

berisi

cairan

disekitar

mata, mulut, hidung, telinga, alat kemaluan 2. Terasa nyeri 3. Mudah menyebar kedaerah lain 4. Bisa ditularkan melalui hubungan seks 5. Bisa menyebabkan kematian ibu

84


Tokso plasmosis dengan gejala : 1. Ditularkan

melalui

binatang

pengerat (tikus) kucing, dan anjing 2. Bisa

menimbulkan

keguguran

atau bayi lahir cacat 3. Bisa menibulkan kematian bayi 4. Bisa menyebabkan kematian ibu

Penyakit tiroid dengan gejala : 1. Benjolan pada leher, semakin lama semakin besar 2. Akibat kekurangan yodium 3. Sering disertai dengan dada berdebar 4. Bisa menyebabkan kelainan pada bayi baru lahir 5. Bisa menyebabkan kematian ibu

HIV - AIDS dengan gejala : 1. Demam tinggi dengan penyebab tidak jelas 2. Tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan biasa 3. Menyerang sistem kekebalan tubuh 4. Bisa ditularkan melalui hubungan seks, menggunakan narkoba suntik dan transfusi darah 85


5. Anak yang dilahirkan bisa menderita HIV 6. Bisa menyebabkan kematian ibu

Penyakit sifilis (raja singa) dengan gejala : 1. Timbul benjolan keras atau borok pada alat kemaluan 2. Ditularkan

melalui

hubungan

seksual 3. Sulit disembuhkan 4. Bisa menyerang organ tubuh yang lain 5. Dapat menyebabkan keguguran, lahir prematur, bayi lahir cacat atau mati 6. Bisa menyebabkan kematian ibu

Penyakit Kuning dengan gejala : 1. Disebabkan oleh virus hepatitis 2. Pada hepatitis tipe B bisa berkembang menjadi kanker hati 3. Bisa menular pada bayi yang dilahirkan 86


4. Bisa menyebabkan kematian ibu dan bayi baru lahir

O. PENUTUP

Demikian buku panduan Kolaborasi Program CONTRA WAR SUTERA EMAS telah selesai disusun, tentu masih sangat banyak kekurangannya. Besar harapan kami kiranya buku pedoman ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian khususnya Tim Pengendali Program Contra War didalam pelaksanaan program dimaksud. Teriring ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya atas pengabdian tanpa pamrih selama ini. SELAMAT BERJUANG…………..

87

Buku panduan kolaborasi program contra war sutera emas  
Buku panduan kolaborasi program contra war sutera emas  
Advertisement