Issuu on Google+

hh

-ît

7604 N

JLL

ENDANG KUNING

BIBLIOTHEEK KITLV

0041 1858

Ob^-p^

SELENDANG KUNING (Cerita Kepahlawanan Cut Nyak Dien dari Aceh)

Cetakan ke-I : Mei 1985

Pak Soet

SELENDANG KUNING (Cerita Kepahlawanan Cut Nyak Dien dari Aceh)

Bacaan Anak-anak Sekolah Dasar

Ilustrator: Har

Cetakan ke-I 1985

00

I

Kata Pengantar

Untuk mempersiapkan pendidikan humaniora yang dicanangkan oleh Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Prof. Nugroho Notosusanto, kiranya perlu anak-anak disajikan buku-buku bacaan ringan yang bertalian dengan perjuangan para pahlawan di tanah air kita Indonesia. Hal tersebut untuk membangkitkan dan menggugah rasa patriotisme dan nasionalisme anak-anak kita. Sebab sangat dirasakan, bahwa gejala-gejala adanya erosi patriotisme dan kesadaran kebanggaan berbangsa di kalangan remaja. Supaya kejadian itu tidak berlarut-larut, perlu adanya bacaan yang menarik sesuai dengan selera anak-anak yang dapat bersaing dengan bacaan dari luar negeri. Oleh karenanya kami mulai menyajikan bacaan seri kepahlawanan antara lain: 1. Nyai Ageng Serang diterbitkan oleh Penerbit "Tiga Serangkai" di Surakarta. 2. Pangeran Antasari diterbitkan oleh Penerbit Karunia Surabaya. 3. Lambung Mangkurat diterbitkan oleh Penerbit "Tiga Serangkai" Surakarta. 4. Perang Bolaang Kaidipan oleh Penerbit "Tiga Serangkai" Surakarta. 5. Sri Tapolung oleh Penerbit "Tiga Serangkai" Surakarta. 6. Wong Agung Wilis oleh Penerbit "Tiga Serangkai" Surakarta. Selendang Kuning

5

7. Tawang Alun oleh Penerbit Karunia Surabaya, dan lainlain, di samping bacaan-bacaan yang dapat menggugah anak-anak mengenal kebudayaan Indonesia yang berbentuk legenda dan cerita rakyat. Yang kesemuanya itu temanya tidak lain ikut menyajikan bacaan yang menuju ke arah pembangunan budi pekerti anak-anak. Dengan adanya upaya ini mudah-mudahan kami dapat memberikan saham dalam menciptakan generasi penerus sebagai manusia Indonesia seutuhnya, generasi penerus yang berjiwa Pancasila. Semoga tujuan kita ini mendapatkan berkat Tuhan dan penyusun cerita kanak-kanak ini tidak lupa mengucapkan berribu-ribu terima kasih kepada siapa saja yang membantu sehingga terciptanya buku ini. Surakarta Mei 1985 Penulis

6

Daftar Isi

5 9 27 41 48

Kata Pangantar 1. Teuku Syeh Gugur 2. Cut Nyak Dien Srikandi Aceh 3. Selendang Kuning, Semangat Perjuangan Kepustakaan

***

Selendang Kuning

7

1. Teuku Syeh Gugur

Anak-anak yang baik, setiap tanggal 10 November, kita selalu memperingati Hari Pahlawan. Hari itu mengingatkan kepada kalian bahwa kemerdekaan Indonesia itu diperoleh dari perjuangan para pahlawan kita yang gagah berani. Jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan itu tidak boleh hanya kita kenangkan saja, tetapi kita juga harus mengikuti suri teladan dan jejak langkah dari para pahlawan itu. Jiwa pahlawan itu, harus dimiliki oleh setiap bangsa Indonesia baik laki-laki maupun perempuan. Sebagai bangsa yang baik harus menghormati para pahlawannya. Perjuangan pahlawan kemerdekaan Indonesia itu dimulai sejak Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Kita kenal pahlawan Pattimura dari Ambon, Sultan Badarudin dari Palembang yang melawan Belanda pada tahun 1819. Pahlawan Imam Bonjol atau Tuanku Imam Malim Besar dari Minangkabau yang terjadi pada tahun 1822 - 1837. Tuanku Imam Bonjol adalah pemimpin gerakan kaum Padri. Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo, Sentot Ali Basya Prawirodirjo, Pangeran Mangkubumi, Sunan Paku Buwono VI, Teuku Syeh, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Teuku M. Daud, Panglima Polem, Cik Di Tiro, dan lain-lain. Cerita ini terjadi ketika terjadi perang Aceh pada tahun 1873 - 1904. Perang ini perang yang terlama pada zaman penjajahan Belanda. Perjuangan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar berjalan dengan seru selama kurang lebih tiga puluh tahun. Selendang Kuning

9

Pria dan wanita semua ikut berjuang dengan gigihnya melawan penjajah Belanda. Bagaimanakah hubungannya selendang kuning yang menjadi judul cerita ini dengan Perang Aceh? Demikianlah ceritanya: Perang pada saat itu sangat ramainya. Bunyi meriam dan peluru senapan serdadu Belanda berdentuman ke sana kemari. Peluru meriam dan senapan itu diarahkan ke pemukiman rakyat. Belanda memang benar-benar membabi buta, karena dari pihaknya banyak sekali yang jatuh korban. Rakyat Aceh melawan Belanda dengan rencongnya secara bergerilya. Apabila ada Belanda yang masuk ke pemukiman rakyat Aceh pasti mati. Dengan adanya kejadian itulah maka cara berperang serdadu Belanda membabi buta dan tidak mengenal peri kemanusiaan. Pada waktu itu, Kapten Yong Keiyer beserta anak buahnya menghujani peluru ke daerah pemukiman Teuku Syeh. Banyak penghuninya terkena sasaran peluru, walaupun mereka sudah banyak yang berlindung untuk menghindari peluru dari serdadu Belanda. Sebentar-sebentar terdengar suara Allahu Akbar, Allahu Akbar, dari penduduk pemukiman itu, sambil menghindar dan terus bergerak maju. Karena pemimpin pasukan terus memerintahkan bergerak maju membalik hendak menyerang pasukan Kapten Yong Keiyer, sambil mendengarkan aba-aba dari Teuku Syeh. "Maju . . . maju . . . serang . . . majuuu . . . . ! " Rakyat Aceh bergerak dari beberapa penjuru, mengkalangkabutkan siasat Kapten Yong Keiyer. Banyak serdadu yang tidak mengetahui kedatangan gerilya yang menyerang serdadu-serdadu sampai ke bentengnya, dan dapat merebut senjata. 10

Dengan senjata rampasan itulah, rakyat Aceh melawan dengan serangan senjata. Serdadu Belanda belum hapal benar medan perang Aceh, maka apabila mereka mengejar ke barat, tahu-tahu mereka malahan terkepung oleh rakyat Aceh. Bunyi bedil dan meriam makin tambah dahsyat. Namun rakyat Aceh tidak sudi menyerah. Pasukan yang ada di bawah pimpinan Teuku Syeh mendapatkan kemenangan yang gilang-gemilang dan dapat memperoleh senjata yang banyak dan dapat juga merampas gudang senjata dan peluru Belanda. Senjata dan peluru kemudian dibawa ke tengah hutan. Kapten Yong Keiyer kembali ke benteng diikuti oleh Letnan De Vrong Kapten Yong Keiyer segera lapor kepada Mayor De Groot, bahwa gerilya dapat merampas depo senjata yang ada di sektor B. Kata Mayor de Groot, "Kapten, apakah kerja Kapten, beserta kompi-kompi lain? Padahal kamu sudah dibantu altileri yang cukup tangguh, en toh kamu tidak dapat menangkap salah seorang panglima dari orang Aceh. Apa kerjamu. God verdom, kau. Kamu sebagai perwira menengah atau opsir yang sangat diandalkan dari Koningkelyke Leger, mengapa kalah dengan soldat dari pribumi. Apakah gunanya, pendidikanmu dari Akademi Militer itu, he ?" "Ya, Mayor, saya merasa salah. Kesalahan itu akan saya tebus. Sekali lagi saya minta izin akan kembali ke sektor A, dimana Teuku Syeh mempertahankan daerah itu. Akan saya hajar habis-habisan Teuku Syeh beserta anak buahnya," kata Kapten Yong Keiyer dengan tegap. "Jika demikian halnya, berangkatlah dengan kompi-kompi yang lain. Artileri dan kavaleri harus selalu siap siaga. Letnan De Jong engkau harus menunjukkan pamormu dalam pertempuran ini. Kamu harus membantu Kapten Yong Keiyer, \ Selendang Kuning

11

agar sektor A dapat aman dan dapat memadamkan perlawanan Teuku Syeh. Engkau tahu bukan, bahwa Teuku Syeh itu keras hatinya. Kemauannya tidak pernah dapat dipadamkan sebelum cita-citanya terlaksana. Dia menginginkan kepala saya dan Kapten Yong Keiyer. Jika Teuku Syeh tidak segera dibinasakan, makin lama bala tentara Kerajaan Belanda pasti akan mengalami kegagalan." "Siap Mayor! Tetapi apabila taktik Pemerintah Belanda tidak diubah, saya kira sulit Perang Aceh ini akan lekas padam. Karena kita memusuhi rakyat. Yang mana rakyat Aceh tidak dapat diperlakukan seperti rakyat-rakyat yang lain. Jadi, politik kekerasan Pemerintah Belanda harus diubah, dari politik kekerasan diganti dengan politik yang lunak. Artinya rakyat Aceh harus didekati dan diteliti apa yang ia minta, apa kesenangannya. Bagaimana perhatian kerajaan terhadap perkembangan agama Islam dan seterusnya. Tanpa politik yang lunak, pemerintah kerajaan hanya akan mengalami kekalahan dan banyak sekali biaya yang dipergunakan untuk berperang. Bukankah biaya untuk kepentingan perang menindas rakyat ini dapat dipergunakan untuk biaya kesejahteraan rakyat penjajahan ?" "God Verdom, kamu Letnan De Yong. Kamu masih ingusan. Saya ini menjadi Groot Mayor sudah lama. Saya sudah kenyang berperang dengan gerombolan Pangeran Diponegoro, sudah pernah memadamkan kerusuhan yang terjadi di daerah jajahan Nederland. Hampir semua daerah Nederland Oost Indie sudah saya jelajahi. Inlander harus ditindas dengan kekerasan. Biar Inlander itu menjadi orang yang bodoh. Inlander biar mampus, saya tidak setuju dengan usulmu itu. Saya akan buat laporan kepada Overste Knol, atas kelancanganmu itu Letnan De Yong." 12

"Mayor, sebagai orang intelek saya tidak setuju dengan pendapat mayor itu. Mayor selalu menganggap remeh dengan rakyat pribumi yang sudah lemah dan dijajah oleh bangsa kita. Sekarang kita balik, Mayor. Apabila yang ditindas itu bangsa Belanda bagaimana? Bukankah bangsa Belanda dahulu juga pernah menjadi jajahan Perancis? Bagaimanakah nasib dari orang yang dijajah? Mayor yang intelektual tentunya juga harus dapat mempertimbangkan. Bahwa menyengsarakan sesama makhluk hidup itu adalah perbuatan yang tercela. Tuhan akan menghukum kepada mereka yang berbuat serakah. Mayor jangan mempergunakan kekuasaan Mayor. Barang siapa menggunakan kekuasaannya akan mendapatkan murka dari Tuhan. Ingatlah Mayor De Groot, cacing diinjak akan berusaha mengelak, lebih-lebih manusia seperti saya ini. Saya tidak takut dilaporkan kepada atasan. Sebab saya tidak bersalah, bukankah saya hanya memberikan saran untuk baiknya dalam menghadapi lawan haruslah mengubah siasat. Saya seorang officier lulusan militer akademi, tidak akan membeo saja kepada atasan, walaupun disiplin militer harus saya jalankan. Tetapi apakah salahnya jika saya ini memberikan saran. Jika saya keliru dalam menjalankan tugas, bolehlah saya dilaporkan atau dianggap tidak disiplin. Tetapi karena saya ini menyarankan agar taktik perang ini harus diubah, salahkah saya Mayor? Saya ini bukan burung beo. Sudahlah, Mayor saya harus menjalankan tugas. Perintah Mayor saya harus mendampingi Kapten Yong Keiyer. Apabila saya tidak menjalankan tugas melaksanakan perintah Mayor nanti saya akan dicap tidak disiplin dan akan dilaporkan oleh Mayor kepada atasan. Siap berangkat Mayor!" katanya sambil memberikan hormat yang kemudian meninggalkan tempat Mayor De Groot. Mayor De Groot menjawab hormat dari Letnan De Yong Keiyer dengan agak malu, karena merasa kalah wibawa dengan bawahannya yang bijaksana itu. Selendang Kuning

\

13

Teuku Syeh terkena peluru di kepala dan dadanya. Beliau gugur sebagai ratna.

14

Kapten Yong Keiyer segera memerintahkan kepada komandan kompi sektor A sampai dengan sektor E agar maju serentak mengepung pertahanan Teuku Syeh. Sektor A di bawah pimpinan Letnan De Vrong, sektor B di bawah pimpinan Letnan De Vogel, sektor C di bawah pimpinan Letnan De Yong, sektor D di bawah pimpinan Letnan Hans, sektor E di bawah pimpinan Letnan Karel. Setelah ada perintah komando, maka terjadilah pertempuran yang mendadak. Bunyi meriam dan senapan mulai berdentuman lagi. Tentu saja hal tersebut para gerilyawan Aceh merasa kalang kabut. Teuku Syeh segera mengenakan selendang kuningnya bertindak sebagai panglima perang dan memanggil semua hulubalang agar siap sedia. Katanya, "Hei, hulubalang-hulubalang, rupanya Belanda sudah membabi buta lagi. Bagaimana Dinda Cut Nyak Dien, yang harus kita perbuat? Musuh kita marah karena senjatanya dapat kita rebut," kata Teuku Syeh kepada istrinya yang selalu mendampinginya. "Kanda, jangan berkecil hati, kita harus mengatur siasat menggunting markas. Coba Kanda ingat, bahwa dalam pertempuran Belanda ini selalu menggunakan siasat kepung. Oleh karena untuk menghindari supaya kita lepas dari kepungan, kita harus berpencar dan menggunting markas benteng Kapten Yong Keiyer dan Mayor De Groot. Saya sudah mengetahui sektor-sektor Belanda dari sektor A hingga sektor E itu. Para olebalang dan hulubalang serta para panglima harus dipecah agar mengacau setiap sektor. Kanda sendiri yang harus ada di garis depan. Hal tersebut untuk memberikan teladan dan membesarkan hati para prajurit. Sebab sebagai pemimpin harus selalu memberikan teladan yang baik. Pemimpin yang selalu dapat memberikan teladan kepada anak buahnya, akan selalu dihormati oleh anak buahnya. Seperti halnya jika seorang guru senantiasa memberikan teladan yang baik kepada Selendang Kuning

15

murid-muridnya, guru itu akan mendapatkan penghormatan dari murid-muridnya. Jangan sampai ada pepatah jika guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kakanda sebagai pemimpin harus bersifat bijaksana. Apabila tidak, Kanda akan menderita malu. Dalam kita membela kebenaran, selalu menghadapi rintangan. Namun hal yang benar, tetaplah benar. Semangat kepahlawanan kita tidak dapat dipatahkan oleh rintangan apa pun. Kita bela bumi Aceh dengan cucuran darah para putra dan putrinya. Walaupun Belanda menghabiskan peluru meriam segudang, jiwa kepahlawanan kita tidak mudah dibinasakan oleh harta benda dan kekejaman Belanda. Semboyan kita, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercer min bangkai. Kakanda, mati dan hidup manusia itu berada di tangan Tuhan. Hujan peluru harus kita lawan dengan semangat kepahlawanan. Ayo, maju. Maju . . . !" sahut Cut Nyak Dien. "Saya sependapat dengan Dinda. Bumi Aceh akan saya bela dengan cucuran darahku yang penghabisan. Andaikata saya harus gugur dalam membela tanah tumpah darahku, saya relakan. Hai para panglima dan para hulubalang, kacaulah sektor-sektor pertahanan Belanda! Perhatikanlah tugas yang saya berikan kepada kalian: Teuku Daud memimpin sektor E, Teuku Amir memimpin sektor D, Teuku Umar sektor C, Cut Mutiah sektor B dan Cut Nyak Dien sektor A. Saya sendiri yang berada di garis depan menghadapi Kapteng Yong Keiyer. Laksanakan perintah saya ini !" "Siap . . . !" jawab para panglima dan hulubalang bersama-sama. Pertempuran makin seru. Para gerilyawan Aceh mulai melaksanakan tugasnya masing-masing. Para komandan sektor yang diperintahkan mengepung pertahanan secara bersama-sama oleh Kapten Yong Keiyer, kurang perhitungan. Mar16

kas ditinggalkan, hanya tinggal beberapa orang saja. Benteng markas pertahanan Belanda yang didirikan di sektor-sektor tertentu dibakar habis oleh para panglima. Gudang-gudang pangan dan senjata dirampasnya, kemudian dibawalah ke tengah hutan. Teuku Umar yang mengacau sektor E bertemu dengan Letnan De Yong komandan sektor E yang tidak melaksanakan perintah Kapten Yong Keiyer, tetapi berada di luar benteng dan segera menemui Teuku Umar sambil berkata, "Selamat datang Teuku Umar, tentunya engkau heran saya datang menemuimu. Dan mengapa saya tidak menembak? Engkau juga janganlah melawan saya terlebih dahulu sebelum saya memberitahukan kepadamu. Marilah kita berbincang-bincang dahulu. Sebab saya perlu memberikan petunjuk pada Teuku Umar agar perjuanganmu berhasil. Tetapi apabila kata-kata saya ini tidak dianggap oleh Teuku Umar dan saya ini dianggap pengkhianat, terserahlah Teuku. Saya rela menghadapi rencong Teuku. Tetapi janganlah rencong Teuku Umar yang suci itu dinodai oleh darah orang yang tidak berniat jahat terhadap perjuangan rakyat Aceh. Bukankah ajaran agama Teuku juga melarang melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak berdosa? Ajaran agamaku Nasrani juga demikian. Seandainya saya tadi mau menembak Teuku Umar, saya dapat menembaknya. Karena saya ada di posisi yang menguntungkan. Tetapi karena saya tidak menghendaki demikian, dan saya benar-benar ingin memberikan saran agar Teuku Umar lebih berhasil dalam menghadapi serdadu Belanda, maka saya segera menemui Teuku Umar. Maukah Teuku Umar menerima nasihatku ?" Teuku Umar berpikir sejenak dan diam. Rupanya ia mendapatkan ilham dari Tuhan dan disesuaikan dengan nalar yang ada. Sebab seandainya Letnan De Yong mau menembaknya, pasti ia sudah menemui ajalnya. Tentunya opsir Belanda yang Selendang Kuning

17

masih muda itu mempunyai maksud tertentu. Kemudian setelah berpikir dua kali, dengan penuh kewaspadaan diulurkan tangannya kepada opsir Belanda yang masih muda itu sambil berkata, "Opsir muda, apabila maksud opsir baik akan selalu mendapat rida dari Tuhan, tetapi apabila maksud opsir tidak baik, opsir akan mendapat kutuk dari Tuhan." Jawab Letnan De Yong," Teuku, kenaikanlah nama saya De Yong komandan sektor E ini. Saya baru saja lulus dari Militer Akademi Breda di Nederland. Saya sama sekali tidak mengira bahwa akan mendapatkan tugas kemari. Sebenarnya, tugas ini bertentangan dengan hati nuraniku. Namun karena seorang militer, harus menjalankan disiplin, terpaksa harus saya jalankan. Walaupun antara tugas dan kewajiban selalu bertentangan. Saya sama sekali tidak senang pada penindasan. Pada penjajahan. Sebab orang yang dijajah itu tidak bebas. Segala sesuatunya diatur oleh yang menjajah. Yang paling saya benci ialah politik yang pura-pura. Karena dari politik pura-pura dan menipu itulah-yang menyebabkan kekalahan orang-orang Ternate, orang Ambon, orang Minahasa, orang Minangkabau, orang Jawa, dan orang lain di jajahan Belanda ini. Kalau Belanda dapat menjalankan tipu muslihat, mengapa Teuku tidak dapat berbuat demikian? Memang, benar menipu dan berpura-berpura itu munafik dan tidak dibenarkan oleh agama. Tetapi buat militer Kerajaan Belanda, tidak ada hal yang tabu. Yang penting dapat menjajah. Belanda itu sebenarnya licik, senang melakukan politik adu domba. Oleh karena itu, waspadalah terhadap adu domba itu. Agar gerakan Teuku itu dapat berhasil, galanglah persatuan ke dalam dahulu? Jika ke dalam sudah bersatu, keluar Teuku akan kuat menghadapi segala hal. Sebab hanya dengan persatuan dan kesatuanlah, senjata yang paling ampuh untuk membasmi ketidakadilan dan kejahatan. Dengan persatuan pulalah dapat 18

menyelesaikan segala hal yang perlu dihadapi. Itulah Teuku kenyataan sebenarnya yang dilakukan oleh militer Belanda. Siapakah Teuku dan apakah yang Teuku kehendaki, jika Teuku memerlukan pendapat dan bantuan. Percayalah bahwa tidak semua opsir dan serdadu Belanda itu berhati jahat. Ada satu dua orang yang masih mempunyai rasa cinta kasih kepada sesama manusia. Janganlah membunuh, janganlah berbuat bohong, jangan berbuat cabul. Hormatilah ibu bapak dan jangan bersaksi bohong dan sebagainya menurut ajaran Tuhan yang bertalian dengan agama saya. Bukankah semua agama itu tujuannya satu, ialah menuju kepada Tuhan. Mengagungkan nama Tuhan, berbakti kepada Tuhan dan mempertebal iman dan selalu berbuat baik terhadap sesama. Mungkin inti ajaran agama yang Teuku anut, sarinya sama dengan pendapat saya tadi." "Nama saya Teuku Umar. Saya adalah panglima yang bertugas untuk mengamankan daerah sekitar ini. Sekarang yang saya inginkan, supaya daerah ini jangan sampai dikuasai oleh siapa pun. Daerah Aceh harus bebas dari penjajahan. Apabila Belanda menghendaki bersahabat dengan kami, akan kami terima. Sebagai kawan yang baik, tentunya kita harus berpedoman pada Lakum dinukum waliyadin yang artinya kepentinganku adalah kepentinganku sendiri, dan kepentinganmu adalah kepentinganmu sendiri. Engkau jangan menggangguku. Sekarang untuk mewujudkan itu, bagaimana baiknya Letnan De Yong ?" "Teuku Umar, saya ada suatu usul, secara tidak tertulis. Saya dan Teuku Umar tidak akan terjadi saling menyerang. Saya akan memberikan saran apabila Teuku Umar dalam keadaan terdesak bersikaplah pura-pura seperti apa yang dilakukan oleh Belanda. Tetapi kemudian setelah Teuku Umar mendapatkan angin dan mendapatkan kekuatan, lawanlah. Selendang Kuning

19

Seperti apa yang dilakukan oleh Belanda. Jika Teuku memerlukan senjata dan peluru, ambillah di tempat yang tercantum dalam gambar peta ini. Saya akan selalu memberikan berita kepada Teuku Umar setiap terjadi perubahan. Teuku tahu sendiri, bahwa apabila hal ini sampai ketahuan oleh Kapten Yong Kieyer saya dapat ditembak mati. Hal ini berhubungan dengan rahasia jabatan saya. Hal ini terpaksa saya lakukan karena pribadi saya tidak setuju dengan cara-cara militer dalam menindas rakyat Aceh. Sebab rakyat Aceh juga makhluk Tuhan seperti saya. Lebih-lebih rakyat Aceh itu rakyat yang sangat taat menjalankan ibadat sesuai dengan agama yang dianut." "Saya tidak mengira sama sekali bahwa ada militer Belanda yang mempunyai peri kemanusiaan seperti Letnan De Jong. Kita orang-orang Aceh menganggap orang-orang Belanda adalah orang kafir. Letnan De Jong, maafkanlah kiranya apabila pendapat saya ini keliru. Jadi, jelaslah bahwa di antara kejahatan dan kekejaman itu ada juga budi luhur yang dimiliki oleh militer Belanda. Letnan De Jong, hanya Tuhanlah nanti yang akan melindungi budi baik Letnan. Petunjuk dari Letnan akan menambahkan semangat juang kami. Saya akan selalu mengikuti petunjuk Letnan, dan saya akan menaati apa yang telah saya ikrarkan. Letnan, untuk menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan, sebaiknya Letnan meninggalkan sektor E ini, seakan-akan Letnan saya serang dari belakang. Sebaiknya Letnan agak menghindar dari sektor D dan sektor B, karena medan ini sudah dikepung oleh para panglima yang lain. Panglima Polem sudah mengarahkan serangan ke arah tempat itu. Hal ini demi menjaga keselamatan Letnan." "Sebaiknya demikian Teuku Umar. Saya akan membuat taktik seakan-akan mengejar Teuku Umar." 20

Setelah Letnan De Jong pergi, Teuku Umar memerintahkan supaya membakar semak-semak sekitar benteng sektor E. Api menyala tinggi ke angkasa, seakan-akan timbul kebakaran yang besar. Letnan De Jong mengerahkan pasukannya dari arah yang berlawanan agar kelihatan terjadi pertempuran yang dahsyat, banyak peluru yang dibuang percuma. Tetapi kelihatannya, seakan-akan terjadi pertempuran yang dahsyat. Para olebalang yang ada di bawah pimpinan Teuku Umar maju terus, seakan-akan mengejar dan dikejar oleh pasukan Letnan De Jong. Pada hari itu, benar-benar terjadi pertempuran yang sangat dahsyat. Kapten Yong Keiyer seakan-akan kewalahan. Peluru meriam selalu diarahkan ke tempat pertahanan para panglima yang telah kosong. Kapten Yong Keiyer bergembira dan sedih, gembira dapat menggiring Teuku Syeh. Tetapi sedih karena benteng-benteng sektor banyak yang terbakar. Hal tersebut menjadikan Kapten Yong Keiyer gelap mata. Dia melepaskan peluru secara membabi buta, kebetulan ketika itu Teuku Syeh yang berselendang kuning sambil mengucapkan Allahu Akbar, Allahu Akbar, menyerbu ke tempat pasukan. Tetapi tidak diperhitungkan kewaspadaannya, bahwa yang dihadapi itu peluru. Peluru itu tidak dapat dilawan dengan dada dan hanya dengan doa-doa serta aji-aji saja. Peluru itu harus dilawan dengan taktik dan gerak. Bagaimana agar tidak terkena peluru. Harus merangkak, mengenakan topi baja dan sebagainya. Maka peluru jangan dianggap remeh. Kapten Yong Keiyer tahu bahwa Teuku Syeh, panglima yang memakai selendang kuning itu pemimpin yang sangat ditakuti oleh Belanda. Maka dibidikkanlah senapannya dan diarahkan ke tempat Teuku Syeh yang kurang waspada itu. Dor, dor, dor . . . .!" bunyi bedil yang dibidikkan oleh Kapten Yong Keiyer. Teuku Syeh kena peluru di kepala dan dadanya. Selendang Kuning

21

Beliau gugur sebagai ratna. Melihat kejadian itu, dibunyikan kentongan oleh para pengikut Teuku Syeh. Dengan segera Kapten Yong Keiyer dihujani peluru dan panah oleh semua gerilya putra-putra Aceh. Yong Keiyer tidak dapat bertahan lama ia melarikan diri, takut mati dan lari meninggalkan gelanggang. Sesudah Kapten Yong Keiyer lari, para komandan sektor juga ikut meninggalkan medan. Perlu akan memberikan laporan. Tetapi tentara gerilya mengejar terus pasukan Belanda, tentara Belanda lari kalang kabut. Cut Nyak Dien melihat suaminya gugur terkena mimis serdadu Belanda. Darahnya mengalir membasahi selendang kuning yang dipakainya, ia sedih sekali hatinya. Ia berdiri sambil menengadahkan tangannya ke atas mengucapkan demikian, "Ya, Tuhan, kuserahkan jiwa suamiku ke hadapan-Mu. Semoga arwahnya dapat Engkau terima. Ampunilah segala dosa dan kesalahannya selama hayat masih dikandung badannya. Ya, Tuhan, semoga sepeninggal suami saya, saya dapat meneruskan tugas ini dengan baik. Agar Nusantara umumnya dan Aceh khususnya lepas dari penjajahan Belanda. Karena hanya dengan perlindungan-Mulah bangsa Indonesia dapat lepas dari penjajahan. Satukanlah para pejuang pembela tanah air dalam menghadapi penjajahan Belanda. Karena sudah banyak para putra bangsa yang gugur membela tanah airnya. Kabulkanlah doa kami. Kakanda Teuku Syeh cucuran darahmu akan makin membangkitkan semangatku untuk melaksanakan dan meneruskan cita-citamu. Agar kita jangan sampai dijajah oleh Belanda. Setelah jenazah Teuku Syeh dikebumikan menurut upacara adat, Cut Nyak Dien berdiri sambil memegang selendang kuning yang sudah bernoda darah suaminya, sambil berkata di depan para yang memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum suaminya. Katanya dengan lantang sambil me22

ngacungkan rencong, "Kawan-kawanku senasib dan seperjuangan. Hartaku yang saya hargai dan saya junjung tinggi, suamiku sudah meneteskan darahnya untuk membasahi bumi Aceh yang sangat kita cintai. Saya berjanji akan meneruskan perjuangan suamiku, untuk membalas kekejaman Belanda itu. Belanda adalah penjajah yang kejam dan tidak kenal ampun. Mereka harus dibinasakan dari muka bumi ini. Maka dari itu, kawan-kawanku apakah kalian hanya akan tinggal diam saja menghadapi peristiwa ini? Tentunya tidak. Kita harus bangkit. Pimpinan perlawanan yang dipegang oleh Teuku Syeh, sejak hari ini, saya ambil alih. Saya yang memimpin pasukan itu. Saksikanlah dengan selendang kuning ini saya akan melanjutkan perjuangan. Selendang kuning ini tidak akan kulepaskan sebelum saya dapat membunuh Belanda yang membunuh suamiku tercinta. "Cut Nyak Dien, apakah segala sesuatunya sudah engkau siapkan dalam menyerang pasukan Belanda? Kita kalah persenjataan. Pelor bedil Belanda tidak dapat dilawan hanya dengan keberanian saja. Semuanya harus kita rencanakan dengan semasak-masaknya. Tanpa perencanaan yang matang, perjuangan kita akan sia-sia," sambung Panglima Polem. "Panglima Polem, kekuatan senjata, pelor yang berton-ton, akan dapat dipatahkan dengan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Seperti Belanda sendiri kaya senjata dan peluru, tetapi tidak mempunyai daya tahan tempur, mana dapat melawan para putra Aceh? Panglima Polem, saya sudah berjanji, saya pantang mundur dalam menghadapi musuh. Janjiku kepada Ibu Pertiwi akan tetap kulanjutkan. Ibarat rawe-rawe rantas malang-malang putung. Saya akan teruskan perjuangan suamiku. Heh, kawan-kawan, apakah kalian takut menghadapi musuh? Mengapa kalian diam saja? Apakah kalian rela bumi Aceh diinjak-injak oleh orang yang bengis serta kafir itu ?" Selendang Kuning

23

"Cut Nyak Dien, yang manis. . . janganlah engkau salah terka. Apabila kita mengaku orang Aceh tentu saja tidak akan merelakan buminya diinjak-injak oleh si kafir Belanda. Tetapi ketahuilah engkau anak manis . . . segala sesuatunya, harus diatur sebaik-baiknya. Segala sesuatunya, harus diselaraskan dengan keadaan. Sebab dalam kita bergerak ini, memerlukan suatu kesatuan dan persatuan. Kita harus satu arah satu tujuan. Ialah bersama-sama menghalau musuh dari bumi Aceh. Sekarang marilah kita beristirahat dahulu. Padamkan dahulu kemarahanmu! Sebab hal ini tidak akan selesai dengan kemarahan saja. Marilah kita bertahlil dahulu, agar arwah suamimu dapat diterima di sisi Tuhan. Sambil diadakan musyawarah dengan para hulubalang yang lain. Cut Nyak Dien yang manis, padamkanlah kemarahanmu itu dahulu! Marilah kita berbela sungkawa menghormati gugurnya suamimu," kata Panglima Polem menghibur Cut Nyak Dien. Rupa-rupanya kata Panglima Polem itu dapat meredakan hati Cut Nyak Dien. Rencong yang dipegang jatuh dari tangannya, ia menangis ingat akan cinta kasih suaminya, yang telah ditumpahkan kepadanya. Panglima Polem membiarkan putri Pahlawan itu menangis. Tetapi sesudah menangis, ia bangkit kemudian kembali ke markasnya dengan penuh duka dan nestapa. Walaupun Srikandi Aceh ini kelihatan gagah berani, namun kodrat kewanitaannya yang lembut dan berjiwa luhur serta cinta kasihnya terhadap suaminya tidak dapat dihilangkan begitu saja. Semuanya masih membekas dalam hati sanubarinya. Tetapi setelah dipikir panjang, kesemuanya diserahkan kepada Yang Mahakuasa, hatinya menjadi terang kembali. Darah juangnya mengalir kembali, maksud perjuangannya hendak melawan Belanda diteruskan kembali. 24

Sesudah para panglima dan hulubalang setuju dimulainya penyerangan, terjadilah perang yang seru lagi antara para putra Aceh melawan Belanda.

***

Selendang Kuning

25

26

2. Cut Nyak Dien Srikandi Aceh

"Zeg Officieren wat heb je gedaan (Zeg opsir apa yang engkau kerjakan). Saya lihat kerjamu tidak ada hasilnya sama sekali. Di sana-sini terjadi kebobolan. Sektor B,C,E kebobolan dapat dibakar oleh Inlander dan senjata semuanya dirampas, benteng dibakar, uah . . . uah . . . Contohlah saya. Saya dapat menembak mati Teuku Syeh panglima yang memakai selendang kuning dan bendera kuning. Jika dia sudah mati masakan Inlander Aceh akan berani melawannya. Ia pasti takut menderita seperti Teuku Syeh. Kalian hanya tidur saja, he opsir?" kata Kapten Yong Keiyer yang ketus itu. "Kapten, jangan asal bicara saja. Saya juga bekerja keras. Saya juga ikut bertempur melawan gerilya. Saya lihat Kapten secara kebetulan dapat menembak Teuku Syeh. Tetapi Kapten kemudian lari. Apakah itu yang disebut pahlawan? Pahlawan harus berani mengembalikan musuh dan menyerang musuh, tidak lari seperti Kapten," sahut Letnan De Jong dengan tandas. "God verdom zeg jonge officier De Jong. Apakah ada peraturan bahwa opsir rendahan seperti engkau berani dengan komandan kompi he ?" "Kapten, saya berani karena benar. Banyak opsir lain yang mengetahui perbuatan pengecut Kapten. Sebenarnya Kapten harus bergerak maju. Bukan malah mundur. Ketahuilah Kapten, Inlander Aceh itu ibarat patah satu tumbuh seribu. Kita dalam menghadapi mereka janganlah hanya dengan okol saja tetapi harus juga dengan akal. Kapten, memang saya tidak Selendang Kuning

27

berani dengan atasan saya, tetapi berani karena Kapten bertindak tidak konsekuen. Memberi contoh yang jelek terhadap anak buah. Jika guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kapten dapat berkaok-kaok pahlawan. Tetapi Kapten lari seperti pahlawan kesiangan." "Apa yang engkau maksudkan Letnan De Jong? Saya dapat menembakmu apabila perlu. Engkau akan saya laporkan kepada Overste atas keberanianmu dengan atasan. Engkau banyak mulut, Pasop . . . !" ancam Kapten Yong Keiyer. Belum sampai dijawab tiba-tiba terdengar suara bedil yang menyerang benteng tersebut. Kapten Yong Keiyer mendengar suara bedil yang diberondong itu, kelihatan pucat mukanya. Ia segera menyiapkan pasukan untuk mulai menyerang. Dan memberikan aba-aba, agar segera melancarkan serangan. Melihat kejadian tersebut, Letnan De Jong hanya tertawa dalam hatinya. Karena Kapten Yong Keiyer hatinya hanya sebesar menir dan kepalanya sebesar klenting. Letnan De Jong memberikan aba-aba pada anak buahnya agar mulai bersiap mengadakan penyerangan ke medan yang lain seperti yang telah ditunjukkan oleh Teuku Umar. Letnan De Vrong mengadakan penyerangan di garis depan. Kapten Yong Keiyer menyelinap berada di garis belakang. Ia takut akan terjadi sesuatu hal yang mungkin menimpa dirinya. Bunyi bedil makin lama makin gencar, baik dari pihak Belanda maupun dari pihak putra Aceh, yang dipimpin oleh Cut Nyak Dien. Dia mengenakan selendang kuning dan umbul-umbul sutera kuning. Sehari penuh pertempuran berlangsung dengan sengitnya, dan di waktu malam mereka berunding dan mengatur siasat untuk perang esok harinya. Di waktu malam sesudah sembahyang isyak, para panglima dan hulubalang berkumpul di markas. Ketika itu yang mendapat giliran untuk memimpin rapat adalah Cut Nyak Dien. Yang hadir 28

dalam pertemuan itu adalah Panglima Polem, Teuku Umar, Cut Mutiah, Cik Di Tiro, Teuku Mohamad Daud, Teuku Amir, dan lain-lain. Dalam pertemuan itu Cut Nyak Dien bertanya kepada Cut Mutiah, "Saudari Cut Mutiah, sampai di manakah tindakan Anda dalam mengadakan perlawanan dengan musuh ?" "Saudari Cut Nyak Dien, kita sudah mulai menyiapkan laskar wanita untuk membinasakan musuh dengan secara gerilya. Terutama yang kami perhatikan ialah menjaga agar para wanita Aceh tua dan muda jangan sampai memberikan atau menjual bahan makanan kepada musuh. Apabila ada orang yang ketahuan menjual bahan makanan kepada musuh, akan mendapat hukuman yang berat. Di samping itu, para wanita muda harus ikut bertempur melawan Belanda. Sebab peperangan ini sudah berkecamuk di seluruh Aceh. Orang Belanda kafir itu harus dihalau dari Aceh Raya ini," "Apakah wanita-wanita sadar bahwa mengusir penjajah itu juga menjadi kewajibannya?" tanya Cut Nyak Dien. "Bukan hanya sadar saja. Tetapi wanita Aceh sejak yang gadis maupun yang sudah dewasa, semangatnya berkobar-kobar untuk memerangi penjajah yang serakah itu. Mereka tidak mau ketinggalan dengan kaum pria. Semangat kepahlawanan itu, tidak hanya ada di tangan pria saja. Wanita pun mempunyai darah dan semangat pahlawan juga. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan sifat mau berkorban, mendahulukan kepentingan perjuangan daripada kepentingannya sendiri. Mereka mengetahui, apabila Aceh dapat dijajah oleh Belanda, hidup rakyat Aceh akan sengsara. Tidak dapat bergerak bebas dan sebagainya," jawab Cut Mitiah. "Apakah wanita Aceh juga sanggup berjuang sampai tujuan akhir yang kita cita-citakan tercapai ?" Selendang Kuning

29

"Semua sudah bertekad bulat akan mengikuti jejak kita berdua. Mereka tidak mau dikatakan bahwa wanita itu hanya pandai bersolek dan masak saja. Wanita juga ingin menjadi pahlawan. Seperti apa yang terjadi di Pulau Jawa. Misalnya Raden Ayu Serang atau Nyai Ageng Serang. Nyai Ageng Serang berjuang untuk kepentingan rakyatnya dalam Perang Diponegoro. Walaupun dia bangsawan tinggi, rela meninggalkan kebahagiaannya dalam istana. Rela turun ke bawah memimpin wanita dan taruna mengusir Belanda. Jika Raden Ayu Serang dapat berbuat demikian, mengapa kita tidak ?" "Cut Mutiah, saya sangat bangga bahwa pemudi-pemudi kita sudah bangkit semangatnya hendak mengusir penjajah. Memang seenak-enaknya hidup mewah di rumah orang, lebih enak hidup sederhana di rumah sendiri. Semangat para pemudi harus kita bangkitkan dan kita bina terus. Pemudi-pemudi tidak boleh hanya berpangku tangan, bersolek, menggantungkan pada orang lain dan sebagainya. Pemudi-pemudi harus bangkit menjadi pahlawan komplit. Ya pahlawan dalam rumah tangga, pahlawan dalam perjuangan melawan penjajahan, dan pahlawan pembangunan. Sebab siapa yang akan menjunjung martabat wanita, apabila tidak kita sendiri? Kita harus menjadi contoh baik dalam kata maupun perbuatan. Sebab pemimpin yang kata dan perbuatannya tidak sesuai dengan kenyataannya, kelak akan menderita malu. Oleh karena itu, gemblenglah selalu pemudi-pemudi Aceh agar tidak luntur semangatnya. Tunjukkanlah arti tugas dan kewajibannya. Jika mereka sudah mengetahui dan melaksanakan tugas serta kewajibannya barulah dapat menuntut haknya. Jangan dibalik, haknya yang didahulukan tetapi tugas dan kewajibannya diabaikan !"

30

Kalanya dengan suara lantang sambil mengacungkan

rencong.

Selendang Kuning

31

"Mudah-mudahan di bawah pimpinan Cut Nyak Dien, wanita Aceh ikut bergerak dengan tulus dan ikhlas melawan Belanda. Semoga Tuhan memberikan rakhmat kepada kita." "Cut Nyak Dien, jika para pemudi dan pemuda serta penduduk sudah siap siaga, sebaiknya kita segera mulai menyerang. Kita harus meningkatkan penyerangan tidak hanya di siang hari saja, tetapi juga pada setiap saat. Kita tingkatkan gerakan gerilya di malam hari juga. Dengan perang siluman ini kita akan banyak memperoleh kemenangan," sambung Teuku Umar. "Saya sependapat dengan usul Teuku Umar itu Cut Nyak Dien," sambung Teuku Cik Di Tiro. Panglima Polem menyambung, "Cut, apabila persiapan sudah siap marilah kita berikan aba-aba untuk mulai menyerang ke benteng-benteng Belanda di sektor A. Sektor A adalah benteng terdepannya. Letnan De Vrong kita beri umpan, agar masuk ke markas kita," Teuku Umar dan para panglima yang lain mengadakan persiapan dan mulailah penyerangan. Baru saja para putraputri Aceh berangkat mengepung benteng sektor A, tiba-tiba terdengar suara senjata Belanda dibidikkan ke tempat markas Cut Nyak Dien. Bunyi peluru itu makin lama makin banyak. Markas Cut Nyak Dien sudah diintai sejak lama oleh Letnan De Vrong, dan sudah dikepung oleh serdadu Belanda. Cut Nyak Dien berhenti sejenak, memanjatkan doa kepada Tuhan agar mendapatkan perlindungan. Cut Nyak Dien sudah mengira ia akan tewas. Selendang kuning yang bernoda darah suaminya dipakai, sambil pergi menemui Letnan De Vrong katanya, "Mengapa Letnan datang kemari? Letnan akan membunuh aku? Bunuhlah! Letnan menghendaki agar aku menyerah kepada Belanda? Tidak sudi aku menjadi begundal Belanda. Mari tembaklah saya! Siksalah saya !" Letnan De 32 /

Vrong menjawab dengan sabar, "Sabar dahulu Cut Nyak Dien. Memang benar sejak tadi saya mendapat perintah dari atasanku agar selalu mengamat-amati sepak terjangmu. Sayang Cut Nyak Dien yang cantik dan manis, menjadi pemimpin pemberontakan. Daripada Cut Nyak Dien nanti mati kutembak, lebih baik kita berdamai saja. Kasihan Rakyat Aceh banyak yang menjadi korban karena dari perbuatanmu. Engkau membangkitkan hati rakyat untuk melawan Pemerintah Kerajaan Belanda. Lebih baik hentikanlah gerakanmu itu. Kita berdamai saja semua pemimpin pergerakan akan kita berikan kedudukan yang enak dan jabatan yang tinggi jika engkau menyerah. Marilah kita berdamai saja. Maukah Cut Nyak Dien berdamai dengan saya ?" Cut Nyak Dien dengan muka yang manis dan penuh dengan senyum berkata kepada Letnan De Vrong, "Letnan, memang demikian itu baik. Kita harus berunding dengan kawan-kawan saya terlebih dahulu. Maka sebaiknya, kita juga sabar . . . ," katanya merajuk agar Letnan De Vrong lengah. "Syukurlah, apabila engkau akan menyerah. Ha . . . ha . . . Cut Nyak Dien tidak mengira bahwa engkau yang terkenal seperti harimau itu juga berhati lemah seperti kebanyakan wanita. Ha . . . ha . . . .ha," Letnan De Vrong tidak waspada, dalam keadaan gembira dan tertawa terbahak-bahak karena merasa dapat menangkap basah orang yang sangat ditakuti Belanda. Cut Nyak Dien waspada dengan secepat kilat ia merebut pistol yang dibawa oleh Letnan De Vrong, sambil berkata dengan marahnya: "God verdom zeg. Begitulah katamu terhadap bangsaku. Sebaliknya sekarang saya juga dapat mengucap God verdom zeg kepadamu Letnan. Saya tidak sudi menyerah kepadamu. Ayo angkat tangan! Kaukah yang membunuh suamiku? Selendang kuning yang bernoda darah suamiku ini selalu Selendang Kuning

33

akan memperingatkan perjuangan suamiku yang harus mengusir penjajah Belanda dari tanah airku. Ayo apa katamu .... babi . . . . Ketahuilah anak buahmu sudah dikepung oleh Panglima Polem dan Teuku Umar, satu pun tidak ada yang berani melawan. Jika engkau tidak mau menjawab siapakah yang membunuh suamiku, engkau pasti akan saya bunuh God verdom zeg, peluru pistol inilah yang akan menghabisi nyawamu. Ayo katakan siapakah yang membunuh suamiku . . . katakan . . . . ! " sambil membidikkan pistolnya ke dada Letnan De Vrong. Semua yang mendengar Cut Nyak Dien marah, merasa takut. Serdadu Belanda yang lainnya gemetar melihat kejadian itu. Lebih-lebih semuanya sudah dilucuti senjatanya oleh para prjurit sandi pengikut Cut Nyak Dien. Wibawa Cut Nyak Dien benar-benar dapat dikagumi oleh serdadu Belanda beserta anak buahnya. Maka kata Letnan De Vrong dengan agak gemetar, "Cut . . . hebat benar kau. Engkau memang prajurit yang tangguh. Prajurit pilihan. Saya minta hidup . . . Cut. Saya . . . tiii . . . dak . . . memmmm . . . bu . . . nuh . . . . suamimu. Saya minta hidup dan izinkanlah saya . . . kern . . . bali, "Nanti dulu. Jawablah pertanyaanku ini. Siapakah yang berani membunuh suamiku? Dengan cara yang tidak semena-mena. Cara biadab yang engkau lakukan itu adalah memuakkan. Jika engkau tidak mau menunjukkan siapa yang membunuh suamiku, akan kuhabisi nyawamu. Ayo . . . katakan . . . siapakah pembunuh suamiku!" katanya marah sekali. "Cut Nyak Dien, saya di sini belum lama. Kasihanilah saya. Kedatanganku kemari jangan sampai aku mati konyol. Saya tidak menyerahkan nyawaku. Menurut pengertianku, kalau tidak salah yang membunuh Teuku Syeh suamimu adalan Kapten Yong Keiyer," jawab Letnan De Vrong dengan mundur selangkah. Cut Nyak Dien matanya masih melotot merah, wajahnya masih kelihatan merah. Pelatuk pistolnya masih siap M

untuk ditembakkan ke dada Letnan De Vrong. Maka katanya dengan bengis, "Heh, babi Letnan De Vrong engkau boleh kembali. Katakanlah kepada Kapten Yong Keiyer, saya tunggu di markas ini kedatangannya. Saya akan membalas kematian suamiku. Utang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Apabila sampai Kapten Yong Keiyer tidak segera datang kemari, tahu rasa. Nyawamu yang akan kujadikan gantinya. Awas, Jika sampai engkau tidak menyampaikan pesanku ini. Ayo segera tinggalkanlah markas ini !" Letnan De Vrong dan anak buahnya yang sudah dilucuti senjatanya segera meninggalkan markas Cut Nyak Dien. Sesudah Letnan De Vrong berjalan agak lama, Cut Nyak Dien berkata kepada para pemuda dan pemudi yang menunggu markas dan para prajurit, "Wahai, pemuda, pemudi, para hulubalang dan rakyat sekalian. Mengapa kalian diam saja, melihat makanan empuk yang ada di depan kalian? Musuh itu selamanya tetap musuh. Walaupun hati kecilnya Letnan De Vrong sudah menyerah, tetapi dia tentu belum merasa kalah. Dia masih banyak mempunyai senjata, meriamnya sudah siap sedia menghantam kita. Masa ini, dalam keadaan perang. Sikatlah musuh sampai ke akar-akarnya. Kejar dan seranglah Letnan De Vrong itu!" perintah Cut Nyak Dien. Mereka mendengar perintah Cut Nyak Dien yang tangkas seperti Srikandi itu, segera mengejar Letnan De Vrong beserta anak buahnya masuk ke hutan di mana Letnan De Vrong lewat. Dengan mengibarkan bendera kuning dia berteriak dengan lantang dan berwibawa, "Maju, ma . . . ju . . . maju terus! Ayo usir serdadu Belanda dari bumi Aceh. Ayo . . . maju . . . maju !" Pemuda dan pemudi Aceh segera mengejar Letnan De Vrong. Setelah tertangkap dihajar setengah mati. Tetapi tidak dibunuh. Seperti halnya apabila Belanda menangkap pemuda dan prajurit Aceh juga disiksa. Letnan De Vrong dan Selendang Kuning

35

para prajurit menderita luka-luka terkena rencong yang dibawa oleh para pemuda. Penggunaan peluru dan bedil hanya jika dipandang sangat perlu, sebab peluru dan bedil itu merupakan senjata pamungkasnya. Letnan De Vrong dan serdadu yang lain dalam keadaan lumpuh. Mereka lari pergi melapor kepada Kapten Yong Keiyer. Setelah letnan dan anak buahnya yang dalam keadaan luka parah itu dirawat, maka Kapten Yong Keiyer makin kelihatan geram. Dendamnya kepada prajurit sandi Aceh yang apabila gugur satu kemudian tumbuh seribu, makin kejam. Ia keluar masuk kamarnya, karena sudah kehabisan akal. Dengan jalan yang bagaimanakah ia dapat membasmi Perang Aceh yang makin lama makin berkobar itu. Maka segera ia menghadap ke Mayor De Groot dan Overste Knol komandan resimen itu. Kata Kapten Yong Keiyer, "Mayor, Letnan De Jong dan kompi sektor A kebobolan dan senjata seluruh kompi dapat dilucuti oleh Cut Nyak Dien. Saya mengaku salah Mayor, karena usahaku selalu gagal dalam memimpin pertempuran ini. Saya siap menerima tugas baru atau hukuman apakah yang harus saya jalankan. Saya siap sedia." "Zeg, Kapten Yong Keiyer. Saya sudah mengetahui semua apakah yang engkau lakukan. Engkau sebagai pimpinan pasukan sebenarnya mampu. Nyatanya engkau dapat membinasakan Teuku Syeh. Tetapi engkau tidak dapat mengambil hati para komandan sektor. Engkau hanya marah-marah. Apakah akibatnya? Engkau sendirilah yang akan menderita. Jika engkau dapat mengubahmu, saya kira tidak akan terjadi demikian. Bagaimanakah khabar Letnan De Jong ?" "Mayor, saya sendiri heran. Mengapa sektor yang dipimpin oleh Letnan De Jong selalu dalam keadaan aman. Rakyat tidak berani mendekat ke sektor yang dipimpinnya. Keadaan 36

perlengkapannya selalu lengkap. Tidak sebatang senapan pun yang dapat dirampas olehnya. Walaupun agak mulut besar, tetapi jika diteliti semua kata-katanya itu banyak benarnya. Jadi apabila dikatakan berani kepada atasan, nyatanya dia selalu disiplin dalam menjalankan tugas. Apa perintah atasan selalu dilaksanakan tugasnya dengan baik dan selesai. Filsafatnya tinggi, berwibawa dalam membimbing anak buah. Memang lulusan dari militer akademi ini lain dap kita-kita yang karena pangalaman ini Mayor. Segala sesuatunya diperhitungkan terlebih dahulu akan sebab dan akibatnya nanti. Saya salut sekali dengan dia Mayor," "Overste, bagaimanakah pendapat dari Overste setelah mendengar laporan Kapten Yong Keiyer ini ?" "Brigadir General De Vreede telah mengirimkan telegram kepada saya agar Letnan De Jong ditarik dari pasukan dan dijadikan ajudan saya. Dan supaya nanti dapat melayani juga seorang sarjana Dr. Snock Horgronje dalam mempelajari situasi Aceh ini. Dan pangkatnya dinaikkan menjadi Kapten." "Siap Overste. Jadi, keliru sekali langkah saya dalam menangani Letnan De Jong. Saya merasa salah dan akan minta maaf kepadanya. Saya sekarang sangat yakin, bahwa okol itu akan dapat dikalahkan dengan akal. Seperti peristiwa Letnan De Vrong yang merasa bangga dikira dapat menangkap Cut Nyak Dien, tetapi karena akal Cut Nyak Dien, sebaliknya Letnan De Vrong yang kalah. Oleh karena itu, kita harus belajar dengan pengalaman Overste," "Benar Mayor. Komando sektor tetap dipercayakan kepada Kapten Yong Keiyer. Brigadir General De Vreede akan menaikkan pangkat Kapten Yong Keiyer menjadi mayor menggantikan Mayor De Groot. Karena Mayor De Groot akan diberikan tugas lain ke Detasemen Kavaleri di Bandung. Cepat dan tidaknya beslit dari Koningin tergantung kepada kalian semua." Selendang Kuning

37

Mendengar kata-kata Overste Knol komandan pertempuran Brigade Perang Aceh itu, Kapten Yong Keiyer dan Mayor De Groot merasa besar hati. Dalam hati kecilnya mereka ingin agar pelaksanaan beslit dari Ratu Belanda segera diturunkan. Maka mereka segera mengatur siasat pertempuran, melawan perjuangan rakyat Aceh. Cut Nyak Dien bersama Cut Mitiah segera menyusun kekuatan hendak menyerang benteng di mana Kapten Yong Keiyer berada. Setelah selesai persiapannya, mereka mulailah akan menyerang. Ketika akan dimulai menyerang, Letnan De Jong dan Teuku Umar mengadakan pertemuan. Kata Letnan De Jong kepada Teuku Umar, "Teuku Umar, saya akan ditarik menjadi Ajudan Overste Knol dan menjadi pembantu dari Dr. Snock Horgronje di Medan. Oleh karenanya saya minta diri. Jika ada kesalahanku pribadi, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya.pribadi tidak setuju dengan politik Belanda yang dijalankan di Hindia Belanda ini. Tetapi apa dayaku, saya hanya seorang diri. Tetapi saya percaya, bahwa perjuangan Saudara pasti akan berhasil. Jika kemerdekaan Nusantara tidak sekarang, tetapi entah kapan pasti berhasil. Anak cucu kita yang akan mengeyam. Semangat cinta damai ini harus kita tanamkan kepada seluruh dunia. Jika kita saling menghormati sesama bangsa dalam negara yang merdeka, kita pasti akan mendapatkan jalan keluar. Yang penting anjurkanlah bahwa seluruh suku bangsa yang ada di Nusantara ini dapat bersatu. Saya pernah membaca Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular di Musium Leiden, tentang ampuhnya persatuan yang ber "Bhinneka Tunggal Ika", dan Negara Kertagama karangan Empu Prapanca tentang kerajaan kesatuan Majapahit. Saya yakin bahwa Hindia Belanda pasti kembali ke tangan bangsa-bangsa yang mendiami Nusantara ini. Percayalah perjuangan Teuku tidak akan sia-sia."

38

"Selamat jalan Letnan. Saya berdoa kepada Tuhan agar cita-cita Letnan adanya dunia yang cinta damai dapat berjalan. Saya selalu akan melaksanakan pesan Letnan dalam menjalankan siasat perang. Saya sudah banyak merampas senjata dan senjata tambahan yang kami dapat/dari peta yang diserahkan oleh Letnan. Kapan Letnan akan berangkat ?" "Dalam minggu ini. Dan ketahuilah Teuku, Kapten yang sombong itu tidak lama lagi akan menyerang bersama-sama dengan Mayor De Groot. Karena apabila dapat memegang Panglima Polem dan Cut Nyak Dien akan segera dinaikkan pangkatnya. Karena dari gembiranya dia akan mengadakan serangan umum. Sebaiknya sesudah saya berangkat, laksanakan serangan kalian. Sebab daripada diserang terlebih dahulu, lebih baik seranglah dahulu! Serangan umum ini akan dibantu dengan kekuatan yang besar dari serdadu-serdadu Bumi putra KNIL yang berasal dari Jawa dan Ambon. Politik pemecah belah akan dijalankan lagi. Hati-hatilah Teuku Umar. Apabila kita nanti ditakdirkan dapat bertemu, kita pasti dapat bertemu. Sebab manusia itu dapat merencanakan sesuatu, tetapi keputusan ada di tangan Tuhan." Sepeninggal Letnan De Jong dari Aceh ke Medan, pada saat itu bala tentara KNIL yang merupakan serdadu bantuan terdiri orang-orang pribumi belum datang, tiba-tiba terjadilah serangan umum yang dilakukan oleh pemuda pemudi putra Aceh menyerang benteng Belanda di bawah pimpinan Cut Nyak Dien. Srikandi yang berselendang kuning dan mengibarkan panji-panji bendera kuning itu mengepung benteng Kapten Yong Keiyer dan Mayor De Groot yang sedang merencanakan serangan umum. Pada waktu itu terjadi tembak-menembak dengan gencarnya. Semua pemuda-pemudi Aceh bangkit. Semua kawat telepon diputus. Jalan-jalan yang menuju ke Medan dirusak. Selendang Kuning

39

Jembatan-jembatan dihancurkan. Teuku Umar mendapatkan penemuan baru. Ia menemukan sumber minyak. Sumber itu dijaga ketat kemudian diambil cairannya, diisikan dalam tabung. Tabung-tabung itu kemudian dilemparkan ke perahuperahu Belanda yang akan mengirimkan perlengkapan perang. Perahu yang dilempar dengan tabung dan botol akhirnya terbakar habis. Begitu pula benteng-benteng yang ada di sektorsektor dibakar habis sampai rata dengan tanah. Hanya benteng sektor di mana Letnan De Jong berada tidak dibakarnya.

***

40

3.Selendang Kuning, Semangat Perjuangan

"Alangkah terkejutnya Mayor De Groot dan Kapten Yong Keiyer dengan terjadinya serangan umum yang mendadak ini. Benteng Kapten Yong Keiyer dan Mayor De Groot kalang kabut. Lebih-lebih setelah melihat bahwa yang menyerang itu terdiri wanita-wanita dan pemuda-pemudi yang memakai selendang kuning. Para serdadu yang ada dalam benteng kalang kabut melihat panji-panji yang berwarna kuning. Mereka berteriak-teriak lari ke luar "Waspadalah Cut Nyak Dien menyerang. Cut Nyak Dien menyerang, kita lebih baik menaikkan bendera putih saja. Ayo kita naikkan bendera putih daripada mati konyol," "God Verdomme soldaten, wie is de comandant in deze Garnizoen? (God Verdomme serdadu-serdau, siapakah yang menjadi komandan dalam garnisun ini?). Mengapa engkau mengambil keputusan sendiri akan menaikkan bendera putih? Saya belum mau menyerah, total! Ayo siap sedia, hadapilah apa saja yang akan terjadi. Tunggu sebentar bala tentara bantuan akan segera datang." "Kapten, saya tidak mau mati konyol. Saya sudah tahu bahwa bala bantuan itu tidak akan segera tiba. Sebab apabila ada perahu yang datang dilempari api oleh satuan pimpinan Teuku Umar dan Panglima Polem. Kawat-kawat telepon sudah dirusak. Sehingga tidak dapat berhubungan telepon. Jalan-jalan dan jembatan yang menuju ke Medan sudah dihancurkan. Kita sudah dikepung dengan ketat. Cut Nyak Dien dan Teuku Umar sudah menunggu di luar benteng. Jika KapSelendang Kuning

41

ten tidak mau membuka pintu benteng, kita nanti pasti dapat diterobos. Saya datang kemari tidak akan menyerahkan nyawa dengan percuma. Jika Kapten tidak mau membuka pintu benteng, Kapten akan saya tembak sendiri," "Teuku Umar? Cut Nyak Dien? Panglima Polem, Cut Mutiah? Jalan sudah dirusak dan perahu-perahu dibakar, aduh . . . Bagaimanakah Mayor ini? Kita pasti mengalami malapetaka. Apa harus kita tunggu? Perlukah kita memasang bendera putih ?" "Yong Keiyer, kita tidak akan menyerah. Lebih baik kita hancur daripada kita menyerah demikian saja. Biar massa akan menyerbu kita. Mustahil Inlander dapat membuka benteng yang sekukuh itu." "Masa rakyat itu berkekuatan raksasa. Jika mereka mau menjebol benteng ini pasti dapat terlaksana, Mayor. Lebihlebih rakyat Aceh sudah benar-benar marah terhadap kematian Teuku Syeh. Tetapi karena itu sudah kehendak Mayor saya tidak dapat berbuat apa-apa." "Lebih baik kita berlindung di lubang perlindungan daripada menemui Inlander-Inlander ekstreem itu. Ayo kita masuk ke lubang perlindungan!" Suara gemuruh dari beribu-ribu rakyat bersatu untuk menjebol tembok benteng yang dari beton itu. Karena kekuatan rakyat yang beribu-ribu itu, maka jebollah pintu benteng. Teuku Umar dan Panglima Polem dengan gagahnya memasuki benteng dan melucuti semua yang berada di dalam benteng. Opsir-opsir ditanya oleh Cut Nyak Dien, "Hai Letnan De Vogel, Letnan Hans, Letnan Karel, di manakah Kapten Yong Keiyer bersembunyi? Ayo jawablah! Jika tidak mau menunjukkan, akan kuhabisi nyawamu," katanya sambil mengacungkan pistolnya kedada letnan-letnan tersebut.

42

Kapten Yong Keiyer, "Saya

sudah mengetahui semua yang engkau lakukan . . Selendang Kuning

43

"Ampun Cut Nyak Dien. Saya minta hidup. Saya lihat Kapten Yong Keiyer dan Mayor De Groot bersembunyi dalam lubang perlindungan sebelah sana." "Licik sekali dia. Anak buah yang disuruh kerja keras, tetapi dia bersembunyi takut mati. Pemimpin apa itu. Itu namanya pengecut. Bukan panglima pertempuran. Padahal perwira perang itu harus selalu di depan tidak seperti komandanmu yang culas itu. Ayo tunjukkanlah di mana tempat persembunyiannya! Ayo, lekas tunjukkan tolol!" bentak Cut Nyak Dien. Letnan-letnan itu merasa kalah wibawa melihat Cut Nyak Dien. Mereka bertiga menunjukkan tempat persembunyian Kapten Yong Keiyer dan Mayor De Groot yang dikunci rapat dari dalam. "Inilah Cut Nyak Dien tempat persembunyian opsir yang mengaku dirinya pemimpin itu. Tetapi ia licik. Sudah masuk dalam lubang perlindungan, tidak mau menghadapi musuh. Bahkan dalam perlindungan ia masih mengunci dirinya." "Apakah kuncinya dibawa oleh pengecut itu Letnan ?" "Benar, Cut ." "Jika demikian saya akan menggunakan kekuatan gaib, untuk membuka pintu lubang perlindungan ini. Lihatlah, dengan berkat pertolongan Tuhan pintu lubang perlindungan pasti akan terbuka," katanya sambil mengucapkan Al-Fatihah. Karena pertolongan Tuhan, maka lubang perlindungan dapat dibuka. Teuku Umar yang mengikuti Cut Nyak Dien segera masuk ke lubang perlindungan. Mayor De Groot dan Kapten Yong Keiyer ditarik dari lubang persembunyian dan ditampar mukanya oleh Teuku Umar sambil berkata, "Heh pemimpin kafir! Engkau memang licik. Banyak rakyat yang menjadi korban karena ulahmu yang sewenang-wenang. Engkau ingin menduduki jabatan tinggi dengan meniti bangkai 44

rakyat Aceh dan keberanian dari para serdadu-serdadu bawahanmu, pengecut! Pemimpin apa kau, babi! Ayo berduel dengan putra-putra Aceh yang tidak merelakan bumi kelahirannya engkau injak-injak! Teuku Syeh yang telah engkau jadikan korban, juga tidak akan puas sebelum engkau dipenggal kepalamu!" Baik Mayor De Groot dan Kapten Yong Keiyer tidak dapat berkutik lagi. Mulutnya sudah berlumuran darah karena tamparan Teuku Umar yang sudah tidak sabar lagi melihat muka kedua perwira yang terkenal kejam dan culas itu. Cut Nyak Dien melihat Kapten Yong Keiyer sudah tidak sabar lagi peluru pistol sudah meletus mengenai pundak Kapten Yong Keiyer dan Mayor De Groot di tembak kakinya. Keduanya jatuh tidak sadarkan diri. Setelah Kapten Yong Keiyer ingat, disuruh bangun oleh Cut Nyak Dien sambil ditanya, "Kau yang membunuh suamiku bukan? Sekarang aku yang akan membalasnya. Siap sedialah! Nyawamu akan saya antarkan ke neraka jahanam. Sebab utang nyawa, harus dibalas dengan nyawa. Utang bunuh harus dibunuh," "Cut Nyak Dien, jangan dibunuh Kapten ini. Biar kita korek dulu sampai di mana persiapannya hendak membinasakan rakyat Aceh. Tunggu dahulu Cut, hentikanlah amarahmu !" Tetapi ketika Teuku Umar memperingatkan itu peluru pistol Cut Nyak Dien sudah mengenai dada Kapten Yong Keiyer selanjutnya ia menghembuskan napas yang terakhir. "Bagaimana ini Cut Nyak Dien? Engkau sama sekali tidak mengindahkan kata-kataku. Aku ini engkau anggap apa Cut Nyak Dien?" tanya Teuku Umar agak marah. "Teuku Umar, seandainya engkau wanita, dan mengetahui orang yang membunuh suaminya yang sangat dicintai dengan cara sewenang-wenang, apakah yang akan engkau kerjakan? Tentunya terlebih dahulu harus membalas dendam buSelendang Kuning

45

kan? Saya ingin tahu orangnya apabila tidak demikian. Dalam peperangan ini kita hanya mengenal satu hukum perang. Bunuh-membunuh antara musuh untuk memperoleh kemenangan adalah lumrah. Teuku Umar apa perlunya kita bertengkar, dalam perang ini kita harus bersatu bukan? Perhatikan selendang kuning dan panji-panji sutera kuning itu. Bukankah antara hijau dan kuning itu harus bersatu ?" Teuku Umar tidak menjawab kata-kata Cut Nyak Dien yang cantik itu. Ia hanya menundukkan kepala saja. Bersamaan dengan itu rakyat Aceh yang beribu-ribu jumlahnya bersorak-sorak karena dapat menawan Mayor De Groot dan menewaskan Kapten Yong Keiyer yang terkenal kejam itu. Panji-panji kuning yang dimiliki Cut Nyak Dien dan panjipanji hijau yang dimiliki oleh Teuku Umar, diikuti oleh panjipanji lain yang merupakan panji kebebasan para panglima dan hulubalang berkibar-kibar mengadakan pawai merayakan kemenangan. Sebab dapat menaklukkan Kapten Yong Keiyer dan Mayor De Groot. Cut Nyak Dien akhirnya menjadi istri Teuku Umar. Peperangan Aceh tidak hanya sampai sekian saja. Karena Belanda selalu mendatangkan bala bantuan. Walaupun demikian Belanda selalu mengalami kekalahan. Berjuta-juta gulden biaya yang digunakan untuk membasmi para pejuang Aceh, namun sia-sia saja. Baru pada tahun 1904 Belanda dapat menguasai Aceh. Perang Aceh berkecamuk di mana-mana selama tiga puluh tahun lamanya. Tetapi karena liciknya, dengan cara tipu muslihat, akhirnya Aceh juga dapat dikuasai Belanda. Teuku Umar dengan gigih melanjutkan perjuangan melawan penjajah Belanda dengan dibantu oleh istrinya Cut Nyak Dien, Cut Mutiah dan kawan-kawannya. Suatu peristiwa Teuku Umar kehabisan senjata, dengan pura-pura ia bersama 46

istrinya menyerah dan berdamai, tetapi setelah berhasil mendapatkan senjata ia bangkit kembali melawan Belanda. Dengan kejadian itu, Belanda sangat kesal menghadapinya. Teuku Umar gugur dalam pertempuran. Namun demikian perjuangan rakyat Aceh tidaklah padam. Perjuangan diteruskan oleh Panglima Polem, Cik Di Tiro dan Teuku Moh. Daud. Selendang kuning yang dipakai oleh Cut Nyak Dien selalu memberikan hikmah bahwa dengan selendang kuning yang bernoda darah Teuku Syeh, membangkitkan semangat perjuangan rakyat Aceh dalam menghadapi musuh. Selendang kuning yang dipakai oleh Cut Nyak Dien mudah-mudahan juga memperingatkan para wanita Indonesia, terutama mudi-mudinya selalu bangkit darah kepahlawanannya dalam membela tanah air dan bangsanya. Cut Nyak Dien ditangkap oleh Belanda. Pada tanggal 6 November 1908 wafat di Sumedang Jawa Barat. Demikianlah anak-anakku yang baik, kisah Cut Nyak Dien dalam menghadapi perang dengan Belanda. Memang selendang kuning Cut Nyak Dien benar-benar bertuah terhadap perjuangan wanita di Indonesia dan Cut Nyak Dien ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Sampai sekian dahulu anak-anak sampai bertemu pada cerita yang lain. Selamat membaca !

***

Selendang Kuning

47

Kepustakaan

Armand Deddy, 1983. Cut Nyak Dien. Jakarta: PT. Garuda Metropolitan Press. Comisie Voor de Volks Lectuur. 1925. Perang Aceh. Batavia C: Balai Pustaka. Mulyono H.D. 1983. Umbul-umbul Kuning Cucuking Jurit. Yogyakarta: Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat. Suyono Drs. 1976. Sejarah Kebangsaan Indonesia Surakarta: Widyaduta. Winarno Hamiseno Drs. dkk. 1978 IPS Sejarah Untuk SMP I Solo - Yogyakarta: B. Djajanti.

***

Setting: Syamsudin Koreksi & Lay Out: Misngadi

48

$oqity<}


Selendang Kuning