Issuu on Google+


PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) PADA PENENTUAN LAHAN KRITIS DI WILAYAH SUB DAS LESTI KABUPATEN MALANG USING SYSTEM INFORMATION OF GEOGRAPHY ( SIG) FOR DETERMINATION OF CRITICAL LAND IN SUB REGION DAS LESTI KABUPATEN MALANG Ruslan Wirosoedarmo 1 , Bambang Rahadi 1 dan Dony Anggit Sasmito 2 1 Jurusan Teknik Pertanian,Fakultas Teknologi Pertanian,Universitas Brawijaya 2 Alumni Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya Jl. Veteran Malang 65145 ruslanwirosoedarmo@yahoo.co.id ABSTRACT Sub DAS Lesti is a part of Brantas river catchments area which is the upstream area and represent a priority for being sub river atachment which was destroyed, eroded, and landsliding. The need of quick, precise and reasonable information of for decision making, include the spatial information is crucial. The System Information Geography ( SIG) is spatial tecnology information that produce digital data for giving information about the features of an area, and also the distructing potential that can be used as supporting data for land use management and sustainable practices in Lesti Sub DAS area. The research was carried on in Sub DAS Lesti lied between 7°40'-7°55’ LS and 112°10'-112°25’ BT with elevation of 2363676 m above sea level. The total area of Sub DAS Lesti is 58384 ha, consisted of some Sub-DASes including Lesti upstream 28790 ha, Genteng 11551 ha and Lesti downstream 18043 ha. Methods used in this research is survey which is a combination of field observation for getting the actual condition in field and interview. The critical level in the Sub DAS Lesti area is categorized potent critical as large as 4654 ha, rather critical 1120 ha and critical 531 ha, spreading out in each Sub DAS.. The erosion level occurred 1.733.109,18 ton year -1 or average 29.68 ton ha -1 year


-1 . Key words : Information System Geography ( SIG), critical land. ABSTRAK Sub DAS Lesti merupakan bagian DAS Brantas yang terdapat di bagian hulu dan merupakan Sub DAS prioritas, yang mempunyai permasalahan terhadap kerusakan lahan, erosi, tanah longsor. Kebutuhan informasi yang cepat, tepat dan layak sangat dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, termasuk diantaranya informasi spasial. Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan teknologi informasi spasial yang menghasilkan data digital yang dapat memberikan informasi mengenai karakteristik dari suatu wilayah, serta mengilustrasikan potensi kerusakan lahan yang dapat digunakan sebagai penunjang dalam pengelolaan sumber daya lahan secara berkelanjutan di wilayah Sub DAS Lesti. Penelitian dilakukan di wilayah Sub DAS Lesti terletak pada 7Ú40’7Ú55’ LS dan 112Ú10’-112Ú25’ BT dengan ketinggian 236- 3676 m dpl. Luas seluruh Sub DAS Lesti adalah 58.384 ha, terbagi Sub-sub DAS yaitu Lesti Hulu (28.790 ha), Genteng (11.551 ha) dan Lesti Hilir (18.043 ha). Metode yang dilakukan adalah metode survey yang merupakan gabungan dari observasi lapang mengetahui kondisi aktual di lapangan dan wawancara. Tingkat kekritisan lahan wilayah Sub DAS Lesti di kategorikan menjadi potensial kritis seluas 4654 ha, agak kritis seluas 1120 ha dan kritis seluas 531 ha, tersebar di tiap-tiap Sub-sub DAS. Tingkat erosi yang terjadi 1.733.109,18 ton tahun -1 atau rata–rata 29.68 ton ha tahun -1 . Kata kunci : Sistem Informasi Geografi (SIG), lahan kritis


Wirosoedarmo R et al., JIPI PENDAHULUAN Pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air menyebabkan terjadinya degradasi lahan yang pada akhirnya akan menimbulkan lahan kritis. Sub DAS adalah bagian dari DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama. Setiap DAS terbagi habis ke dalam Sub – sub DAS (RLKT, 2000). Lahan merupakan bagian bentang alam (landscape) yang mencakup pengertian dari fisik termasuk ilkim, topografi (relief), hidrologi dan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara potensial berpengaruh terhadap penggunaan lahan (Djaenudin, 1997). Kemampuan penggunaan lahan merupakan kesanggupan lahan untuk memberikan hasil penggunaan pertanian pada tingkat produksi tertentu. (FAO, 1976 ; Sanchez, 1993). Lahan kritis adalah lahan/tanah yang saat ini tidak produktif karena pengelolaan dan penggunaan tanah yang tidak/kurang memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air sehingga menimbulkan erosi, kerusakan- kerusakan kimia, fisik, tata air dan lingkungannya (Soedarjanto dan Syaiful, 2003). Menurut Kartasapoetra (2000), menyatakan bahwa pengelolaan lahan merupakan suatu upaya yang dimaksudkan agar lahan dapat berfungsi optimal sebagai media pengatur tata air dan produksi. Bentuk pengelolaan lahan yang baik adalah dapat menciptakan suatu keadaan yang mirip dengan keadaan alamiahnya (Arsyad, 2000). Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran situasi ruang muka bumi (Asmarul, 2001). Komponen utama SIG dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu: perangkat keras, perangkat lunak, organisasi (manajemen) dan pemakai. Kombinasi keempat komponen ini akan menentukan kesuksesan pengembangan SIG dalam suatu organisasi ( Arronof , 1993). Menurut Barus dan Wiradisatra (2000) dan

453


Soedarjant dan Syaiful. (2003) bahwa kegunaan Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah sebagai alat bantu (tools), data lebih padat karena dalam bentuk digital, kemampuan analisa spasial lebih cepat dan tipe analisa dapat dikembangkan, pemakai mendapatkan informasi yang lebih akurat, cepat dan dapat memanipulasi sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan Penelitian bertujuan membuat sistem informasi geospasial yang berkaitan dengan lahan kritis di wilayah Sub DAS Lesti Kabupaten Malang, serta mengkaji perolehan informasi geospasial lahan kritis di wilayah Sub DAS Lesti untuk keperluan analisa data lebih lanjut mengenai perencanaan rehabilitasi lahan kritis. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2005 bertempat di Wilayah Sub DAS Lesti. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian, yaitu: Data Spasial terdiri dari: Peta Topografi, Peta Tata Guna Lahan, Peta Kemiringan Lereng, Peta Tanah Tinjau dengan skala 1: 50.000; dan Data Atribut/ Non Spasial terdiri dari, data jenis tanah, jenis vegetasi, penggunaan lahan, curah hujan dengan kisaran 10 tahun. Metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode deskriptif meliputi survei lapangan yang dilaksanakan dalam penelitian ini untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala yang ada dan metode deskriptif berkesinambungan yang dilakukan dengan menggunakan teknik panel berupa wawancara (interview method) Pelaksanaan penelitian Pengumpulan data Jenis data yang dikumpulkan adalah data skunder meliputi data spasial dan data atribut. Survei lapang Survei lapang dilakukan untuk mendapatkan kebenaran adanya lahan kritis dilapang serta melihat gejala-gejala yang memungkinkan meluasnya wilayah lahan kritis serta pengambilan titik-titik koordinat lahan kritis dan dokumentasi lahan.


Penggunaan Sistem Informasi Geografi (SIG) JIPI Identifikasi kekritisan lahan Identifikasi tingkat kekritisan lahan dilakukan

454


dengan cara: A. Penentuan tingkat bahaya erosi Tingkat bahaya erosi dihitung dengan cara membandingkan tingkat erosi di suatu lahan dan kedalaman tanah efektif lahan tersebut. Dalam hal ini tingkat erosi dihitung dengan rumus Universal Soil Loss Equation (USLE). B. Penentuan kekritisan lahan Tingkat kekritisan lahan ditentukan dari jumlah nilai yang diperoleh untuk masing-masing kriteria sesuai fungsi lahannya. Pengolahan data Pengolahan data dilakukan pada masingmasing tipe data. Pengolahan data untuk jenis data dilakukan sebagai berikut: A. Data atribut Pengolahan pada data atribut ditujukan untuk menelusuri, mengedit dan menganalisis data atribut. Data atribut yang dimasukkan dikelompokkan menurut jenis dan kesamaannya. Proses pengolahan dilakukan dengan Microsof Excel yang kemudian ditransformasikan ke Arc View. B. Data spasial Data spasial adalah jenis data yang merepresentasikan dari obyek-obyek geografi yang penyajian datanya secara keruangan. Pengolahan data spasial meliputi digitasi peta, memperbaiki kesalahan (editing), pembuatan topologi, transformasi dan analisa spasial. HASIL DAN PEMBAHASAN Topografi dan bentuk wilayah Sebagian besar topografi Sub DAS Lesti adalah datar yaitu 20.435 ha (35%) dengan kemiringan lereng 0-8 %. Topografi berombak (21.34%), bergelombang (21.98%) dan berbukit (18.12%) dengan kemiringan lereng 8-45% Bentuk topografi bergunung (3.58%) dengan klas kemiringan lereng > 45% di wilayah Sub DAS Lesti Hulu. Bentuk topografi Sub DAS Lesti ditampilkan pada Gambar 1. Gambar 1. Peta topografi wilayah sub DAS Lesti Gambar 2. Peta jenis penggunaan lahan Penggunaan lahan Penggunaan lahan wilayah Sub DAS Lesti


saat ini terdiri atas sawah (15%), tegal (32.42%), pekarangan (20.07%), kebun campuran (7.77%), perkebunan (5.3%), hutan (10.66%), semak (1.42%) dan belukar (7.27%), terdiri atas di luar kawasan hutan 47.046 ha (80.56%) dan didalam kawasan hutan 11.348 ha (19.44%) (Gambar 2). Hasil analisa bahaya erosi yang terjadi di wilayah Sub DAS Lesti menunjukkan bahwa total erosi terbesar terjadi pada Sub – sub DAS Lesti Hulu yaitu 1.246.453,13 ton tahun -1 dan terendah pada Sub-sub DAS Genteng sebesar 235.543,88 ton tahun -1 . Erosi rata- rata terbesar terjadi pada wilayah Sub-sub DAS Lesti Hulu yaitu 43,29 ton/ ha/tahun. Terendah pada Sub-sub DAS Lesti Hilir sebesar 13.92 ton ha -1 tahun -1 . Rata- rata erosi yang terjadi di wilayah Sub DAS Lesti adalah 29.68 ton ha -1 tahun -1 dengan total erosi sebesar 1.773.109,18 ton tahun -1 . Tingginya tingkat erosi yang terjadi di wilayah Sub DAS Lesti disebabkan oleh bentuk topografinya sebagian besar berombakbergelombang dan berbukit-bergunung dengan kemiringan lereng 8-45 %. Intensitas dan curah hujan yang tinggi di wilayah Sub DAS Lesti ( >


2400 mm tahun -1 ) berdampak terhadap besarnya erosi tanah. Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Tingkat bahaya erosi adalah perkiraan erosi tahunan rata- rata menurut kedalaman tanah/ solum pada setiap lahan (Gambar 3). Tingkat bahaya erosi di wilayah Sub DAS Lesti adalah seperti berikut: 1. Sub-sub DAS Lesti Hulu, Tingkat Bahaya Erosi sangat ringan 16.148 ha, ringan 7.085 ha, sedang 2.440 ha, berat 118 ha dan sangat berat 57 ha. Solum tanah untuk semua wilayah > 90 cm. 2. Sub-sub DAS Genteng, Tingkat Bahaya Erosi sangat ringan 5.672 ha, ringan 3.847 ha, sedang 1.122 ha erosi, berat 71 ha dan sangat berat 140 ha. TBE sangat ringan, ringan dan sedang terjadi pada solum tanah lebih dari 90 cm dan TBE berat dan sangat berat terjadi pada solum tanah dangkal (< 30 cm) dengan erosi yang terjadi kurang dari 15 ton ha -1 tahun -1 dan lebih dari 15 ton ha -1 tahun -1 . 3. Sub-sub DAS Lesti Hilir, Tingkat Bahaya Erosi sangat ringan 11.688 ha, ringan 2.606 ha, sedang 1.366 ha, berat 1.069 ha dan sangat berat 76 ha. TBE sangat berat dan berat terjadi pada solum tanah <60 cm, untuk TBE ringan dan sangat ringan terjadi pada kedalaman tanah > 90 cm dengan erosi yang terjadi < 60 ton ha -1 tahun -1 . Luas lahan dengan bahaya erosi ringan dan


sangat ringan di wilayah Sub DAS Lesti berturut â&#x20AC;&#x201C; turut 13.538 ha dan 33.508 ha dan lahan dengan bahaya erosi sedang, berat, dan sangat berat 4.928 ha, 1.258 ha dan 273 ha. Bahaya Erosi wilayah Sub DAS Lesti ditunjukkan pada Gambar 4. Wirosoedarmo R et al., JIPI Gambar 3. Peta kedalaman tanah Gambar 4. Peta tingkat bahaya erosi sub DAS Lesti Gambar 5. Peta lahan kritis wilayah sub DAS Lesti Analisa lahan kritis Lahan kritis di wilayah Sub-sub DAS Lesti Hulu, Genteng dan Lesti Hilir berturut - turut terjadi pada jenis penggunaan lahan berupa tegal, tegal dan belukar, tegal dan kebun campuran.Terjadi lahan kritis disebabkan oleh kemiringan lereng yang curam yaitu 25-45%, sangat curam (1545%), dan curam (8-45%), kedalaman tanah > 90 cm, 25-90 cm, dan dangkal (30-60 cm) dan dalam (>90 cm). dan erosi yang terjadi berat, berat yaitu > 180 ton ha -1 tahun -1 , berat, dengan luas 134 ha, 140 ha, dan 257 ha. Lahan kritis pada peta ditunjukkan dengan warna kuning. Kondisi lahan agak kritis, di wilayah Sub-sub DAS Lesti Hulu, Genteng dan Lesti Hilir disebabkan oleh kemiringan lereng yang agak curam (15-25%), landai (8-15%) dan lereng curam (24-45%) dan landai (8-15%), kedalaman tanah > 90 cm, (> 90 cm), > 90 cm, erosi yang terjadi sedang dan ringan, sedang, dan ringan sampai berat, luas lahan seluas 290 ha, 80 ha dan 750 ha, ketiganya terjadi pada jenis penggunaan lahan berupa tegal. Luas lahan agak kritis seluas 750 ha. Lahan kategori agak kritis ditunjukkan pada peta dengan warna coklat. Lahan potensial kritis di wilayah Sub-sub

455


DAS Lesti Hulu, Genteng dan Lesti Hilir, berturut - turut terjadi pada lahan dengan kemiringan lereng landai (8-15%) dan kemiringan lereng agak curam (15-25%), landai < 8% sampai kemiringan lereng 15-25% dan 8 % - (15-25%), dengan kedalaman tanah dalam (> 90 cm), > 90%, dan antara 25-90 cm. Bahaya erosi yang terjadi pada lahan ringan dan sangat ringan pada jenis penggunaan lahan tegal dan kebun campuran, penggunaan lahan tegal dan kebun campuran, dan penggunaan lahan tegal, luas lahan potensial kritis 2.181 ha, 1.442 ha, dan 1.031 ha. Lahan potensial kritis pada peta ditunjukkan dengan warna abu-abu. Analisa peta lahan kritis Peta lahan kritis digambarkan dalam bentuk peta Tematik, yaitu peta yang menunjukkan lokasi lahan kritis dan koordinatnya beserta bentuk atributnya seperti ditunjukkan Gambar 5. Sebagai contoh operasi query yang dilakukan yaitu mencari lokasi lahan potensial kritis dengan tingkat bahaya erosi ringan berwarna kuning KESIMPULAN Sub-sub DAS Lesti Hulu kategori Kritis 134 ha, Agak Kritis 290 ha, Potensial Kritis 2.181 ha. Sub-sub DAS Genteng kategori Kritis 140 ha, Agak Kritis 80 ha, Potensial Kritis 1.442 ha. Sub-sub DAS Lesti Hilir kategori Kritis 257 ha, Agak Kritis seluas 750 ha, Potensial Kritis 1.031 ha. Penggunaan Sistem Informasi Geografi (SIG) JIPI DAFTAR PUSTAKA RLKT. 2000. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah, Jakarta Arronof . 1993. Geographic Information System: A Management Perspective. WDL Publication : Otawa, Canada Arsyad. 2000. Pengawetan Tanah dan Air. Penerbit Institut Pertanian Bogor, Bogor Asmarul, A. 2001. Sistem Informasi Geografi (SIG). http:// www.bakosurtanal.go.id/ signas vi/papers.sig asmarul.pdf Barus, B dan U.S. Wiradisastra. 2000. Sistem

456


Informasi Geografi (Sarana Manajemen dan Sumberdaya). Lab. Penginderaan Jauh dan Kartografi. Jurusan Tanah. IPB, Bogor Djaenudin, D Marwan.1997. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Puslitnak, Bogor FAO. 1976. A Frame Work of Land Evaluation. FAO Soil Bulletin. No.32/IILRI. Pub no.22 Rome Italy Kartasapoetra. 2000. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. PT. Rineka Cipta, Jakarta Sanchez, P A.1993. Sifat dan Pengelolaaan Tanah Tropika. Penerbit ITB. Bandung Soedarjanto, Saparis dan Syaiful. A. 2003. Informasi Geospasial Lahan Kritis untuk Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai. GeoInformatika 10(2).


Lesti data