Page 28

LAMPUNG RAYA

28

KAMIS, 2 AGUSTUS 2012

Lampura-Lambar-Waykanan

Armada Belum Ideal, Tetap Siaga KOTABUMI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Utara menyiagakan dua unit mobil pemadam untuk mengantisipasi terjadi kebakaran di wilayah kawasan lahan dan perumahan padat penduduk. Dua mobil pemadam ditempatkan di depan kantor BPBD supaya cepat bertindak memberikan pertolongan jika terjadi musibah kebakaran dan lainnya. Kepala BPBD Lampura M. Amin mengakui jika jumlah mobil pemadam kebakaran meang belum ideal. Meski demikian, pihaknya tetap berupaya

maksimal. ’’Ya, kalau bisa dikatakan sih belum ideal jumlah mobil pemadamnya. Sebab melihat keadaan anggarannya,’’ ucap dia. Daerah mana saja yang rawan terjadi kebakaran saat musim kemarau, Amin mengungkapkan, lahan perkebunan tebu di Bungamayang dan perumahan padat penduduk. ’’Hutan juga, tapi yang paling mengkhawatirkan kalau di dua daerah rawan tersebut terjadi kebakaran,’’ tuturnya. Amin mengaku, penanggulangan bencana dilakukan terhadap objek

dan pusat kebakaran. ’’Kalau menyiram daerah rawan kebakaran seperti di perkebunan tebu Bungamayang dan hutan, itu dirasa berat. Namun bila terjadi kebakaran, kita memadamkan objeknya saja,’’ katanya. Untuk mengantisipasi kebakaran lantaran arus pendek listrik, Amin telah mengimbau kepada petugas PLN agar saat menyambungkan saluran listrik baru lebih memperhatikan sambungan kabel listrik. ’’Setiap pemasangan listrik baru, kita selalu mewanti-wanti kepada petugas

PLN agar memperhatikan sambungan listrik supaya tidak terjadi kebakaran yang diduga disebabkan korsleting listrik,’’ pungkasnya. (rnn/c3/dna) ANTISIPASI KEBAKARAN: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Utara menyiagakan dua unit mobil pemadam untuk mengantisipasi terjadi kebakaran di wilayah kawasan lahan dan perumahan penduduk yang padat. FOTO NURMAN AGUNG/RNN

Perpustakaan dan Museum Terbengkalai KOTABUMI – Gedung perpustakaan dan museum mini yang ada di lokasi eks Taman Makam Pahlawan Kotabumi, Lampung Utara, terbengkalai. Berdasarkan pantauan koran ini, masih sedikit buku yang ditempatkan di perpustakaan itu. Mebeler seperti meja dan kursi tidak tersedia. Dalam ruangan tersebut terdapat tiga staf dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Lampura. Saat ditanya jumlah buku yang tersedia di perpustakaan, mereka mengaku tidak tahu. ’’Yang tahu itu Kasi Perpustakaan. Kami ini cuma staf,’’ ujar salah satu staf yang enggan menyebutkan namanya. Begitu juga ketika ditanya keberadaan meja, kursi, dan berbagai fasilitas kelengkapan perpustakaan. Pengunjungnya pun sangat minim. Sementara, museum mini yang bersebelahan dengan taman bacaan itu masih kosong dan tak ada penghuni. Beberapa bagian dari bangunan sudah mengalami kerusakan. Seperti kayu pembatas teras banyak yang sengaja dipatahkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, tangga menuju pintu masuk kedua gedung mulai dimakan rayap. Belum ditempati gedung ini diduga menjadi penyebab terbengkalainya. Sementara itu, Kasi Perpustakaan KPAD Lampura Sudarmi mengatakan, jumlah buku yang terdapat di taman bacaan itu sebanyak 1.008 eksemplar dengan 552 judul. Jenisnya variatif mulai dari buku umum, bercocok taman, kuliner, hingga dongeng untuk anak-anak. Sementara jumlah seluruh perpustakaan yang sudah laik dipergunakan yakni perpustakaan desa sebanyak 30 unit, perpustakaan kelurahan 15 unit, dan perpustakaan sekolah 59 unit. Ia mengakui, minat baca masyarakat masih sangat minim, terbukti dengan sedikit sekali masyarakat yang datang ke perpustakaan. Sudarmi mengungkapkan, lokasi eks taman makam pahlawan juga sangat rawan aksi kejahatan. Buktinya, baru beberapa bulan pihaknya menempati perpustakaan mini, sudah ada beberapa insiden perusakan dan percobaan pencurian. Pendingin ruangan yang dipasang di perpustakaan mini nyaris dicuri. ’’Sebab, ketika itu diketahui mur dan baut sudah terlepas dari dudukannya. Kemudian kaca pintu dan jendela dilempar orang tak bertanggung jawab. Kemudian kayu yang menjadi pembatas teras dirusak,’’ pungkasnya. (rnn/c3/dna)

TAPAL BATAS

Masih Menggantung PEMERINTAH Kabupaten Lampung Barat belum juga mendapatkan kepastian waktu pembahasan tapal batas antara kabupaten ini dengan Tanggamus. Wacana pembahasan tapal batas antara dua kabupaten itu dilaksanakan secara khusus oleh pemerintah provinsi sudah bergulir sejak 2011. Kabag Tata Pemerintahan Setkab Lambar Ruspan Anwar ketika ditemui di ruang kerjanya mengakui, hingga kini belum ada informasi kapan pembahasan dilaksanakan. ’’Memang tapal batas khusus untuk Lambar dan Tanggamus akan dibahas secara tersendiri oleh provinsi. Namun, sampai sekarang kita belum tahu kapan waktunya,’’ jelas Ruspan. Pembahasan tersebut, jelas Ruspan, merupakan wewenang penuh pemprov. ’’Kita serahkan penuh kepada provinsi kalau masalah itu. Kemungkinan masalah ini baru akan dibahas setelah pilkada,’’ ujarnya. Diketahui, sampai saat ini masyarakat di Pekon Roworejo, Kecamatan Suoh, secara administrasi kependudukan masuk Lambar. Namun terkait PT Nataramining yang juga berada di daerah tersebut diklaim masuk Pekon Lembayong, Tanggamus. (gyp/c3/dna)

PROYEK JALAN

Minta DBM Turun

FOTO RIDUAN/RNN

RUSAK: Tampak kayu yang menjadi pagar bagian depan Museum Mini dirusak orang yang tidak bertanggungjawab, padahal gedung itu belum digunakan.

Bentuk Tim Gebrak CSR KOTABUMI – Komisi B DPRD Lampung Utara membentuk tim untuk menggebrak program corporate social responsibility (CSR) seluruh perusahaan yang terbilang minim disalurkan kepada masyarakat. Minimnya penyaluran ini tergambar saat hearing belum lama ini. Kepala Cabang Bank Mandiri Kotabumi Adi Zulkamal mengaku, selama tujuh tahun belum menyalurkan CSR ke warga. ’’Ini kan namanya mengangkangi aturan yang berlaku,’’ ungkap Ketua Komisi B Syahrul Saputra kemarin (1/8). Bukan hanya Bank Mandiri. Tapi juga

BCA, BNI 46, dan Bank Danamon, menurut Syahrul, belum sepenuhnya menyalurkan program CSR kepada masyarakat. Ia menduga, sebagian besar perusahaan negeri dan swasta lainnya yang berada di Lampura pun belum pernah melaksanakan CSR ke masyarakat. Ketua DPC Partai Bulan Bintang (PBB) Lampura ini menegaskan, komisi B akan mengawal dengan benar-benar penyaluran program CSR kepada masyarakat Lampura. ’’Perusahaan tidak semestinya menyalurkan program CSR tanpa pengawasan dari dewan dan media,’’ tegas Syahrul.

Untuk saat ini, sambungnya, komisi B masih terus berupaya menjadwalkan rapat hearing kepada seluruh perusahaan terkait penyaluran CSR ke masyarakat. ’’Saya minta komitmen untuk merealisasikan, bukan janji saja,’’ bebernya. Kapan komisi B mulai melakukan gebrakan mengenai CSR? ’’Karena, kawankawan anggota dewan lagi melaksanakan umrah. Oleh sebab itu, jika mereka kembali ke Lampura, nanti kita akan merumuskan pembahasannya lebih lanjut,’’ tutur dia. (rnn/c3/dna)

MASYARAKAT Kampung Banjarratu, Kecamatan Gununglabuhan, Waykanan, meminta Dinas Bina Marga (DBM) Lampung untuk turun melihat dari dekat pelaksanaan proyek pemeliharaan jalan sepanjang 2 km di kampung itu. Jalan dimaksud adalah ruas jalan Bukitkemuning, Lampung Utara hingga Simpangasam Banjit, Waykanan. Masyarakat curiga, pelaksanaan proyek sarat penyimpangan. Pengerjaannya sama sekali tidak memasang pelang nama. ’’Sehingga, kami tidak dapat mengetahui siapa pemiliknya? Berapa pagunya? Dan, apa saja yang dikerjakan? Akan tetapi, dari beberapa pekerja kami mendapatkan informasi bahwa borongan tersebut milik Hendrik, warga Bandarlampung,’’ ujar Herman, Arpan, dan Amir, perwakilan warga. Mereka memberikan surat penolakan lengkap dengan tanda tangan Kepala Kampung Banjarratu Abdul Muhi. Sayangnya, Hendrik yang dikatakan sebagai pemilik pekerjaan tidak menjawab telepon koran ini saat akan dikonfirmasi. (sah/c3/dna)

MAKANAN BERBAHAYA

Pemkab Belum Sidak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Waykanan belum menerima pengaduan masyarakat tentang adanya dugaan makanan berbahaya seperti ayam kedaluwarsa dan daging sapi gelonggongan. Satuan kerjanya juga belum turun ke lapangan guna melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar-pasar. Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan baru berjanji dalam waktu dekat akan sidak ke pasar yang diduga rentan menjual makanan berbahaya. Mereka belum turun karena terkendala tenaga. Di mana, di dinas ini hanya memiliki satu dokter hewan. ’’Jadi, pelaksanaannya selalu molor,’’ ujar Kabid Peternakan Waykanan Ir. Kardi Warisito kepada Radar Lampung kemarin. Menurut Kardi, satuan kerjanya juga akan mengecek kemungkinan ikan, buah, sayur, dan kebutuhan pokok lain yang diduga terkontaminasi dengan bahan kimia untuk menjaga keawetannya. Lalu supaya terlihat menarik dengan diberi zat pewarna mencolok dengan tujuan menjadi daya tarik. (sah/c3/dna)

RADAR LAMPUNG | Kamis, 2 Agustus 2012  

Kamis, 2 Agustus 2012

RADAR LAMPUNG | Kamis, 2 Agustus 2012  

Kamis, 2 Agustus 2012

Advertisement