Page 10

10

KAMIS, 2 AGUSTUS 2012

SYARAT PENDONOR BAGI para ibu yang tidak dapat atau tidak sempat memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada si jabang bayi, beberapa pihak kini telah menyediakan donor ASI dari ibu lain. Karena ASI merupakan cairan hidup, maka penanganannya jelas berbeda dengan susu formula. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pendonor ASI. ’’ASI adalah makanan alamiah yang terbaik untuk bayi. Karena beberapa keadaan, ibu tidak bisa menyusui bayinya sehingga mencari donor ASI. Namun, donor ASI juga dapat menularkan penyakit HIV, hepatitis, herpes, dan bakteri,” kata Dr. Rosalina D. Roeslani, Sp.A.(K). Amerika Serikat dan beberapa negara maju

lainnya kini telah mengembangkan Bank ASI untuk menghimpun ASI yang diperoleh dari para donor untuk diberikan kepada ibu yang membutuhkan. Di Indonesia, aktivitas serupa yang ada sekarang ini adalah donor ASI. Berbeda dengan Bank ASI, donor ASI tidak mencampur ASI dari para donor, melainkan dikelompokkan sesuai nama donor. Untuk mendapatkan donor ASI yang ideal, diperlukan berbagai prosedur agar memastikan ASI dari donor benar-benar steril dan layak dikonsumsi bayi. Proses skrining seharusnya dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama adalah pemeriksaan lisan berupa pertanyaan seputar riwayat kesehatan pendonor. Tahap kedua berupa pemeriksaan medis

untuk mendeteksi adanya virus yang berbahaya. Setelah menjalani skrining, barulah pendonor diperkenankan mendonorkan ASI. Setelah didonorkan, ASI masih harus menjalani proses pasteurisasi untuk mematikan bakteri dan virus berbahaya. Tak hanya itu. Penyimpanannya pun juga membutuhkan wadah dan suhu khusus agar ASI tetap awet. ’’Biasanya ibu yang diperbolehkan mendonor minimal menghasilkan ASI 2–3 liter per hari, jadi tidak semua ibu boleh donor. Skrining terhadap donor juga dilakukan 3 bulan sekali. Setelah 6 bulan, pendonor tidak direkomendasikan lagi karena ASI yang dihasilkan mulai sedikit,” ungkap Dr. Rosalina. (dth/c2/dna)

Donor ASI BERISIKO TULARKAN VIRUS PARA ibu yang sibuk sering tak punya waktu menyusui si buah hati, solusinya adalah dengan mencari donor air susu ibu (ASI). Namun, hati-hati karena asal memberikan ASI dari donor bisa berisiko bahaya! ’’ASI adalah cairan hidup yang merupakan makanan terbaik bagi bayi. Sayangnya, ASI juga dapat menularkan berbagai virus,” kata Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A., I.B.C.L.C. dalam Seminar Media tentang ASI di kantor IDAI Jakarta kemarin. Seperti dikutip dari detikhealth, beberapa virus yang terdeteksi dalam donor ASI yang tidak steril, menurut dr. Elizabeth, adalah HIV, hepatitis, cytomegalovirus, west nile, dan human t-cell lymphotropic. Sebelumnya memang pernah ada penelitian dari University of North Carolina yang menemukan bahwa virus HIV akan mati ketika berada di dalam ASI. Tapi, penelitian itu dilakukan pada tikus sehingga belum tentu dapat digeneralisasi kepada manusia. WHO sendiri mengumumkan bahwa kemungkinan penularan HIV lewat ASI adalah sebesar 5–20

persen. Bahkan jika tidak mengonsumsi obat antiretroviral (ARV), menyusui selama 2 tahun atau lebih sudah dapat melipatgandakan risiko bayi terinfeksi HIV sekitar 40 persen. Selain HIV, salah satu jenis penyakit yang dapat ditularkan lewat donor ASI adalah infeksi human lymphotrophic virus (HTLV). Berbeda dengan HIV, virus ini menginfeksi sel limfosit di dalam tubuh dan memicu munculnya kanker darah atau leukemia serta merusak sistem saraf. Supaya dapat memunculkan leukemia, virus ini membutuhkan masa inkubasi selama 20 tahun. ’’Bayi yang meminum donor ASI mengandung HTLV adalah yang paling rentan. Sebab, bayi kandung dari ibu yang memiliki HTLV telah memiliki antibodinya. Untungnya, kasus HTLV yang berubah menjadi penyakit hanya 1–2 persen. Tapi, ibu yang terinfeksi berisiko menjadi carrier atau pembawa virus,” ungkap Dr. Rosalina D. Roeslani, Sp.A.(K) dari Satgas ASI IDAI. Adanya ancaman ini menegaskan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan pada ibu pendonor ASI dan ASI dari pendonor. Sebelum melakukan donor ASI, ibu sebaiknya menjalani pemeriksaan menyeluruh mengenai adanya risiko penyakit menular. Pemeriksaan pada ibu ini bisa dilakukan di laboratorium klinis. Supaya terhindar dari ancaman virus dan bakteri berbahaya, ASI dari donor harus mendapat penanganan khusus. Yakni dilakukan prosedur pasteurisasi pretoria. Caranya, ASI sebanyak 50–150 ml ditempatkan dalam wadah kaca tertutup 450 ml, lalu dimasukkan dalam panci aluminium 1 liter. Tuangkan air mendidih sebanyak 450 ml atau lebih, kemudian tunggu selama 30 menit. (dth/c2/dna)

Salat di Rumah Lebih Baik (4) DULU kaum perempuan pada masa Rasulullah SAW apabila keluar menuju salat, mereka tidak mengenakan perhiasan dan membungkus diri dengan kain sehingga mereka tidak bisa dikenali karena hari masih gelap. Apabila Rasulullah SAW mengucapkan salam (tanda salat selesai), beliau berkata kepada jamaah lelaki: ’’Tetaplah kalian di tempat hingga kaum wanita pergi.” Meski begitu, Rasulullah SAW mengatakan: ’’Salat kaum wanita di rumah mereka lebih afdal.” Lalu, bagaimana pula dengan perempuan-perempuan yang keluar memakai perhiasan dan parfum mengenakan pakaian yang paling indah? Sementara, ‘Aisyah telah mengatakan: ’’Kalaulah Rasulullah SAW mengetahui apa yang dilakukan oleh para wanita sepeninggal beliau, niscaya beliau akan melarang mereka keluar ke masjid.” Begitulah pernyataan beliau terhadap para shahabiyah dan para perempuan generasi pertama. Lalu, bagaimana pula sekiranya kalau beliau melihat perempuan-perempuan zaman sekarang?” (Silakan lihat Al-Muttajir Ar-Raabih fisawabil Amalis Shaalih tulisan Ad-Dimyaathi). Benar, bagaimana pula dengan kaum perempuan kita sekarang ini? Para perempuan keluar dari rumahnya dengan memakai parfum dan perhiasan yang indah, lalu pergi ke masjid, kecuali perempuan-perempuan yang dirahmati Allah. Sesungguhnya yang dilakukan oleh para perempuan ini terhadap dirinya dan agamanya merupakan peringatan terhadap hilangnya pahala amal kebaikan yang mereka lakukan pada bulan ini. Di mana, sebenarnya pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan dan setansetan dibelenggu. (*) FOTO NET

RADAR LAMPUNG | Kamis, 2 Agustus 2012  

Kamis, 2 Agustus 2012

RADAR LAMPUNG | Kamis, 2 Agustus 2012  

Kamis, 2 Agustus 2012

Advertisement