Page 1


Metode Khusus

i


Hak cipta pada penulis Hak penerbitan pada penerbit Tidak boleh diproduksi sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun Tanpa izin tertulis dari pengarang dan/atau penerbit Kutipan Pasal 72 : Sanksi pelanggaran Undang-undang Hak Cipta (UU No. 10 Tahun 2012) 1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal (49) ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masingmasing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1. 000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 5. 000.000.000,00 (lima miliar rupiah) 2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau hasil barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

ii

Metode Khusus


Metode Khusus

Dr. Aprina, SKp., Mkes Neneng Siti Lathifah, SST., M.Kes

Metode Khusus

iii


Perpustakaan Nasional RI:

Katalog Dalam Terbitan (KDT) Metode Khusus Penulis Dr. APRINA, SKp., M.kes Neneng Siti Lathifah, SST., M.Kes

Desain Cover & Layout Team Aura Creative Penerbit AURA (CV. Anugrah Utama Raharja) Anggota IKAPI No.003/LPU/2013 ISBN : 978-602-6238-68-9 Alamat Jl. Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro, Komplek Unila Gedongmeneng Bandar Lampung HP. 081281430268 E-mail : aura_print@ymail.com Website : www.aura-publishing.com x+ 195hal :15,5 x 23 cm Cetakan, Oktober 2016

iv

Metode Khusus


Kata Pengantar

Dengan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, buku ajar Metode khusus untuk mahasiswa kebidanan dapat diterbitkan. Buku ajar ini merupakan penuntun bagi mahasiswa dalam melaksanakan perkuliahan Metode khusus. Penyusunan buku ajar ini penulis mengacu pada literatur yang ada ditambah beberapa penyempurnaan dengan harapan buku ajar ini dapat memenuhi kebutuhan para mahasiswa dalam proses belajar mengajar Metode khusus. Buku ajar ini disusun sesuai dengan silabus Metode khusus yang terdiri dari 10 BAB. Penulis menyadari buku ajar ini masih banyak terdapat kekurangan, diharapkan masukan, kritik dan saran untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga buku ajar ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa Kebidanan. Akhirnya penulis tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada semua semua pihak yang telah membantu terwujudnya buku ajar ini.

Bandar Lampung, Oktober 2016 Penulis,

Metode Khusus

v


vi

Metode Khusus


DAFTAR ISI

Kata pengantar~~v Daftar isi~~vii BAB I 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Konsep Belajar di Laboratorium~~1 Konsep belajar dilaboratorium~~2 Pengertian Pembelajaran di Laboratorium~~2 Tujuan Dan Kegunaan Pembelajaran Laboratorium~~7 Fungsi dan Peranan Laboratorium~~8 Hak-hak Klien~~12 Tips Belajar Efektif dan Efisien ~~21

BAB II Rencana Pembelajaran di Laboratorium~~24 1. Rencana Pembelajaran di Laboratorium~~24 2. Penuntun Belajar ~~~24 3. Daftar Tilik~~37 4. SAP~~54 BAB III Metode Pembelajaran di Laboratorium~~73 1. Metode Pembelajaran Kebidanan~~73 2. Metode Role Play~~87 3. Bed Side Teaching~~93 4. Metode Peer Learning~~99

Metode Khusus

vii


BAB IV Pratik Pembelajaran di Laboratorium Kebidanan~~103 1. Praktek Pembelajaran Di Laboratorium~~103 2. Ciri – Ciri Latihan Keterampilan Dalam Laboratorium~~105 3. Tugas Dosen Dalam Rangka Pembelajaran Praktek Laboratorium~~107 4. Ciri – Ciri Dosen Yang Efektif ~~107 5. Sarana ~~108 6. Rencana Pembelajaran Praktikum ~~108 7. Bimbingan Praktikum~~110 8. Penilaian Praktikum ~~111 BAB V 1. 2. 3.

Evaluasi Pembelajaran di Laboratorium~~114 Pengertian Evaluasi~~114 Tujuan Evaluasi~~115 Pengertian Keterampilan~~117

BAB VI 1. 2. 3. 4. 5.

Konsep Pembelajaran Klinik~~121 Pengertian Pembelajaran Klinik~~121 Tahapan Klinik Pembelajaran?~~123 Perencanaan Pembelajaran Klinik~~123 Lingkungan belajar yang Kondusif di klinik~~128 Standar Pelayanan Kebidanan~~130

BAB VII Pendekatan Pembelajaran Klinik~~142 1. Preseptoring ~~142 2. Mentoring~~145 BAB VIIIMetode Pembelajaran Klinik~~150 1. Metode Pembelajaran Klinik~~150 2. Pre Conference~~153 3. Bed Side Teaching~~155 4. Coaching~~175

viii

Metode Khusus


BAB IX Praktik Pembelajaran Klinik~~180 1. Praktek Klinik Kebidanan~~180 2. Tujuan Pembelajaran Klinik ~~182 3. Tempat Praktek Klinik~~182 4. Deskripsi Pembimbing~~183 BAB X Evaluasi Pembelajaran Klinik ~~187 1. Evaluasi Pembelajaran klinik ~~187 Daftar Pustaka~~193

Metode Khusus

ix


x

Metode Khusus


Bab 1 Konsep Belajar di Laboratorium

Tujuan Pembelajaran Setelah Mempelajari Bab Ini Anda Diharapkan Mampu: 1. Menjelaskan Konsep belajar dilaboratorium 2. Menjelaskan Pengertian Pembelajaran di Laboratorium 3. Menjelaskan Sistem Pembelajaran di Laboratorium 4. Menjelaskan Tujuan Belajar di Laboratorium 5. Menjelaskan Lingkungan belajar di Laboratoraborium yang Kondusif 6. Menjelaskan Hak-hak Klien 7. Menjelaskan Tips Belajar Efektif dan Efisien

Konsep Belajar di Laboratorium Perkembangan Pembelajaran Di Laboratorium Penggunaan laboratorium untuk sarana pembelajaran di universitas mulai diperkenalkan pada pertengahan abad sembilan belas dalam rangka untuk mendukung meningkatnya jumlah mahasiswa yang mempelajari ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Pada awalnya praktikum dimaksudkan untuk meningkatkan keahlian mahasiswa dalam pengamatan, dan meningkatkan ketrampilan, serta sebagai sarana berlatih dalam menggunakan peralatan. Beberapa penelitian membandingkan pembelajaran di laboratorium dengan metode Metode Khusus

1


pembelajaran yang lain menunjukkan bahwa praktikum di laboratorium lebih efektif untuk memperoleh kemampuan pengamatan dan ketrampilan teknik, tetapi Pusat Berdasarkan temuan dalam rangka peninjauan ulang terhadap proses pembelajaran di laboratorium konvensional, dapat disimpulkan bahwa perlu ditambahkan beberapa hal antara lain: kegiatan untuk meningkatkan pengalaman dan kemampuan kognitif, mengurangi pekerjaan yang sifatnya pengulangan, serta menyusun aktivitasaktivitas yang hemat waktu. Pembelajaran di laboratorium saat ini cenderung berubah dari cara dan peran pengajaran menjadi lebih berorientasi pada pembelajaran mahasiswa secara madiri (independent learning by students).

Saat ini, pembelajaran di laboratorium dimaksudkan untuk: 1. Pembelajaran ketrampilan sesuai dengan subjek praktikum 2. Pemahaman prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan tahap-tahap dalam penelitian ilmiah. 3. Mengembangkan ketrampilan dalam pemecahan masalah secara sistematik. 4. Membina pengembangan sikap atau perilaku profesional, praktis, dan komitmen.

Pengertian Laboratorium Laboratorium adalah tempat belajar mengajar melalui metode praktikum yang dapat menghasilkan pengalaman belajar dimana siswa berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati secara langsung dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari jadi suatu laboratorium sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan mutu serta system pengajaran. Kata laboratorium merupakan bentuk serapan dari bahasa Belanda dengan bentuk asalnya laboratorium (Jumariam, dkk, 1996). Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Poerwadarminta, 2002)

2

Metode Khusus


laboratorium diartikan sebagai tempat mengadakan percobaan (penyelidikan dan sebagainya). Menurut Soejitno (1983) laboratorium dapat diartikan dalam bermacam- macam segi, yaitu : 1. Laboratorium dapat merupakan wadah, yaitu tempat, gedung, ruang dengan segala macam peralatan yang diperlukan untuk kegiatan ilmiah. Dalam hal ini laboratorium dilihat sebagai perangkat keras (hard ware). 2. Laboratorium dapat merupakan sarana media dimana dilakukan kegiatan belajar mengajar. Dalam pengertian ini laboratorium dilihat sebagai perangkat lunaknya (soft ware). 3. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat kegiatan ilmiah untuk menemukan kebenaran ilmiah dan penerapannya. 4. Laboratorium dapat diartikan sebagai pusat inovasi. Dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sebuah laboratorium diadakanlah kegiatan ilmiah, eksperimentasi sehingga terdapat penemuan-penemuan baru, cara-cara kerja, dan sebagainya. 5. Dilihat dari segi “clientele� maka laboratorium merupakan tempat dimana dosen, mahasiswa, guru, siswa, dan orang lain melaksanakan kegiatan kerja ilmiah dalam rangka kegiatan belajar mengajar. 6. Dilihat dari segi kerjanya laboratorium merupakan tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untuk menghasilkan sesuatu. Dalam hal demikian ini dalam bidang teknik laboratorium, di sini dapat diartikan sebagai bengkel kerja (work shop). 7. Dilihat dari segi hasil yang diperoleh maka laboratorium dengan segala sarana dan prasarana yang dimiliki dapat merupakan dan berfungsi sebagai pusat sumber belajar (psb).

Metode Khusus

3


Menurut Rustaman & Rustaman (1997) laboratorium merupakan salah satu sarana penunjang yang banyak digunakan dalam proses belajar mengajar, sedang sarana pada pembelajaran dapat diartikan sebagai beberapa hal, seperti berikut : 1. Sebagai unsur pencapaian tujuan, artinya sarana bukan sematamata sebagai alat bantu atau alat pelengkap, melainkan bersamasama dengan materi dan metode berperan dalam proses kegiatan belajar mengajar, agar tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan. 2. Sebagai pengembang kemampuan, terutama alat-alat yang dapat dimanipulasi atau dirakit atau dimodifikasi atau media yang sengaja direncanakan untuk meningkatkan kemampuan tertentu, seperti kemampuan mengamati, menafsirkan, menyimpulkan, merakit alat, mengukur, memilih alat yang tepat. 3. Sebagai katalisator dalam pemahaman materi, misalnya melalui alat yang diperagakan, perbuatan, pengalaman langsung. 4. Sebagai pembawa informasi, terutama dalam bentuk media misalnya gambar, radio, televisi, film, slide film.

Pemanfaatan Laboratorium Sebagai Sumber Belajar Laboratorium disingkat denga Lab,yaitu tempat riset ilmiah eksperimen. Pengukuran atau pelatihan ilmiah yang dilakukan laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Pengertian laboratorium sebagai sumber belajar. Pengertian laboratorium sebagai sumber belajar suatu tempat dimana dilakukannya kegiatan kerja untuk menghasilkan kamar, ruangan terbuka. Misal kebun dan lain-lain. Jika ditilik dari pengertian tersebut hakikat laboratorium adalah tempat untuk melakukan kegiatan praktikum. Penelitian pelayanan masyarakat dan menunjang kegiatan belajar mengajar. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya. Misal laboratorium fisika. Laboratorium kimia, laboratorium komponen dan lain-lainnya.

4

Metode Khusus


Manfaat laboratorium yaitu sebagai sumber belajar dan mengajar sebagai metode pengamatan dan metode percobaan. Sebagai prasarana pendidikan atau sebagai wadah dalam proses belajar mengajar.

Menurut Sukarso, secara garis besar laboratorium dalam proses pendidikan adalah sebagai berikut: 1. Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan mengkaji gejala-gejala lain. 2. Mengembangkan keterampilan motorik siswa, siswa akan bertambah keterampilannya dalam mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran. 3. Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang ilmuan. 4. Memberi rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau penemuan yang diperolehnya. Kelebihan Dan Kekurangan Pembelajaran Di Laboratorium Kelebihan 1. Melibatkan siswa secara langsung dalam mengamati suatu proses. 2. Siswa dapat menyakini akan misalnya, karena langsung mendengar , melihat, meraba dan menCIum yang sedang dipelajari. 3. Siswa cenderung tertarik pada objek nyata di dalam sekitarnya. 4. Membangkitkan rasa ingin tahu, memperkaya pengalaman keterampilan kerja dan pengembangan ilmiah. Kelemahan 1. Guru harus benar-benar mampu menguasai materi dan keterampilan. 2. Tidak semua mata pelajaran dipraktekkan dan tidak semua diajarkan dengan metode praktek 3. alat dan bahan-bahan mahal harganya, dapat menghambat untuk melakukan praktek.

Metode Khusus

5


Laboratorium Sebagai Sumber Pembelajaran Belajar mengajar atau boleh dikatakan proses pembelajaran adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif. Belajar mengajar adalah suatu proses yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan. Tujuan adalah sebagai pedoman kearah mana akan dibawa proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar akan berhasil bila hasilnya mampu membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai-nilai dalam diri anak didik. Maka dalam buku lain dikatakan bahwa “ bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukan oleh guru”. Pada dasarnya belajar merupakan suatu proses yang berakhir pada perubahan. Belajar tidak pernah memandang siapa pengajarnya, dimana tempatnya dan apa yang diajarkan. Tetapi dalam hal ini lebih menekankan pada hasil dari pembelajaran tersebut. Perubahan apa yang terjadi setelah melakukan pembelajaran. Seringkali kita mendengar kata “Belajar” bahkan tidak jarang pula menyebutkannya, tetapi kita belum mengetahui secara detail makna apa yang sebenarnya terkandung dalam belajar itu. Menurut Hudojo “belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Pengetahuan ketrampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk, di modifikasi dan berkembang di sebabkan belajar.” Karena itu seseorang dikatakan belajar bila dapat di asumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku. Menurut Sadiman dkk “belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat.” Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersikap pengetahuan (kognitif) dan ketrampilan (psikomotorik) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif). Menurut Winkel belajar didefinisikan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, ketrampilan dan nilai-nilai sikap yang bersifat relatif konstan dan berbekas. Jadi titik tekan belajar disini adalah perubahan, baik kognitif, afektif maupun psikomotorik.

6

Metode Khusus


Kegiatan belajar biasanya dapat diwujudkan, jika ada kegiatan mengajar. Maka muncullah statement kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar dan mengajar dapat berhasil dengan baik apabila ditunjang dengan faktor-faktor pembelajaran. Salah satu faktor tersebut adalah sumber belajar. Sumber belajar mutlak diperlukan untuk mempermudah akses pembelajar dalam menerima dan mencari materi pelajaran. Salah satu sumber belajar yang mempunyai peranan penting adalah laboratorium. Tanpa laboratorium, maka pembelajar akan sulit memahami pelajaran, terutama materi yang bersifat aplikasi. Laboratorium biasanya ada dalam pembelajaran sains, atau bahasa. Namun, jarang laboratorium dalam pelajaran selain keduanya itu. Padahal secara filosofis, laboratorium itu diperlukan oleh semua pelajaran, karena merupakan sumber belajar. Maka mestinya setiap pelajaran yang ideal harus ada laboratoriumnya, karena setiap pelajaran tentu membutuhkan aplikasi.

Tujuan Dan Kegunaan Pembelajaran Laboratorium Dalam rangka mencapai tujuan yang bersifat multi dimensi dalam proses pembelajaran di laboratorium, maka pembelajaran di laboratorium sangat efektif untuk mencapai tiga ranah secara bersama-sama, sebagai berikut: Ketrampilan kognitif yang tinggi 1. Berlatih agar dapat memahami teori 2. Berlatih agar segi-segi teori yang berlainan dapat diintregasikan 3. Berlatih agar teori dapat diterapkan pada permasalahan nyata Ketrampilan afektif 1. Belajar merencanakan kegiatan secara mandiri 2. Belajar bekerja sama 3. Belajar mengkomunikasikan informasi mengenai bidangnya 4. Belajar menghargai bidangnya Ketrampilan psikomotor 1. Belajar memasang peralatan sehingga betul-betul berjalan 2. Belajar memakai peralatan dan instrumen tertentu

Metode Khusus

7


Fungsi dan Peranan Laboratorium Menurut Sukarso (2005), secara garis besar fungsi laboratorium dalam proses pendidikan adalah sebagai berikut: 1. Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam. 2. Mengembangkan keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah keterampilannya dalam mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran. 3. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu objek dalam lingkungn alam dan sosial. 4. Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuan. 5. Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau penemuan yang diperolehnya. Lebih jauh dijelaskan dalam Anonim (2003), bahwa fungsi dari laboratorium adalah sebagai berikut: 1. Laboratorium Sebagai Sumber Belajar Laboratorium sebagai sumber untuk memecahkan masalah atau melakukan percobaan. Berbagai masalah yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 3 ranah yakni: ranah pengetahuan, ranah sikap, dan ranah keterampilan/afektif. 2. Laboratorium Sebagai Metode Pembelajaran Di dalam laboratorium terdapat dua metode dalam pembelajaran yakni metode percobaan dan metode pengamatan. 3. Laboratorium Sebagai Prasarana Pendidikan Laboratorium sebagai prasarana pendidikan atau wadah proses pembelajaran. Laboratorium terdiri dari ruang yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan dengan bermacam-macam kondisi yang dapat dikendalikan, khususnya peralatan untuk melakukan percobaan. Fungsi laboratorium yaitu sebagai sumber belajar dan mengajar, sebagai metode pengamatan dan metode percobaan, sebagai prasarana pendidikan atau sebagai wadah dalam proses belajar mengajar.

8

Metode Khusus


Menurut Soejitno (1983) secara garis besar fungsi laboratorium adalah sebagai berikut: 1. Memberikan kelengkapan bagi pelajaran teori yang telah diterima sehingga antara teori dan praktik bukan merupakan dua hal yang terpisah. Keduanya saling kaji-mengkaji dan saling mencari dasar. 2. Memberikan keterampilan kerja ilmiah bagi mahasiswa/siswa. 3. Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakikat kebenaran ilmiah dari sesuatu obyek dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial. 4. Menambah keterampilan dalam menggunakan alat dan media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran. 5. Memupuk rasa ingin tahu mahasiswa/siswa sebagai modal sikap ilmiah seorang calon ilmuwan.

Engkoswara (1982) mengatakan bahwa melalui kegiatan praktikum yang biasanya dilakukan di laboratorium, siswa diharapkan dapat : 1.

Mengembangkan Berbagai Keterampilan Secara Terintegrasi.

2.

Mengenal Berbagai Peralatan Laboratorium.

3.

Mengenal Berbagai Desain Dan Peralatan Untuk Eksperimen.

4.

Mengembangkan Keterampilan Mengumpulkan Dan Menginterprestasikan Data.

5.

Mengembangkan Sikap Untuk Melakukan Sesuatu Secara Tepat Dan Akurat.

6.

Mengembangkan Keterampilan Dalam Mengobservasi.

7.

Mengembangkan Kemampuan Dalam Mengkomunikasikan Hasil Eksperimen.

8.

Mengembangkan Kecakapan Dalam Menulis Laporan.

9.

Mengembangkan Kemampuan Untuk Belajar Dan Melakukan Percobaan Sendiri.

10. Menambah Keberanian Berfikir Sendiri Dan Menanggung Resiko. Metode Khusus

9


11. Merangsang Berfikir Siswa Melalui Eksperimen. 12. Mengembangkan Keterampilan Dalam Memecahkan Masalah Dengan Berbagai Variabel Yang Banyak Dan Berbagai Kemungkinan Pemecahannya 13. Mengembangkan Keberanian Untuk Mengadakan Kerja Sama, Mengembangkan Inisiatif, Dan Menggunakan Berbagai Sumber 14. Mengembangkan Tanggung Jawab Pribadi 15. Mengembangkan Kecakapan Untuk Bekerja Secara Efektif Sebagai Anggota Dari Suatu Tim. Melihat betapa pentingnya kegiatan praktikum, maka di tiap-tiap sekolah sudah seharusnya melaksanakan praktikum dengan mengacu pada Garis Besar Program Pengajaran atau kurikulum yang berlaku. Kegiatan pemanfaatan laboratorium dapat dilihat dari intensitas praktikum yang dilaksanakan oleh masing-masing sekolah. Jika guru sering melaksanakan praktikum menunjukkan bahwa guru tersebut telah berusaha untuk mewujudkan pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi belajar dan memberikan pengalaman pengalaman nyata bagi siswanya. Motivasi menentukan tingkat keberhasilan atau gagalnya kegiatan belajar siswa. Hasil belajar optimal akan tercapai apabila siswa terlibat secara aktif baik fisik, mental, maupun emosional dalam proses pembelajaran. Kegiatan laboratorium merupakan salah satu cara untuk memotivasi siswa dalam belajar, sehingga hasil belajar akan lebih optimal. Ditinjau dari tujuan kegiatan laboratorium yaitu membantu mendorong siswa untuk aktif belajar dengan memberi kesempatan pada siswa untuk mencoba sendiri atau mengamati keadaan nyata, dapat memotivasi siswa untuk belajar dan meningkatkan hasil belajar. Semangat belajar pada diri siswa akan selalu ada jika siswa tersebut selalu termotivasi. Jadi, jika praktikum rutin/ sering dilaksanakan maka siswa akan termotivasi dan hasil belajarnya dapat meningkat. Disisi lain, keberhasilan pelaksanaan praktikum juga dapat ditunjang oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor sekolah, guru, siswa, fasilitas, dan waktu. Untuk faktor siswa, pada kenyataannya antara siswa yang satu dengan siswa yang lain

10

Metode Khusus


mempunyai kemampuan melaksanakan praktikum yang berbedabeda. Hal ini karena masing-masing anak mempunyai intelegensi yang berbeda, sehingga penguasaan konsep dasar dari masing-masing siswa juga berbeda. Woolnough (dalam Rustaman dkk, 2003) mengemukakan bahwa bentuk praktikum bisa berupa latihan, investigasi (penyelidikan) atau bersifat pengalaman. Bentuk praktikum yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan aspek tujuan dari praktikum yang diinginkan.

Kendala Umum Pembelajaran Di Laboratorium Beberapa penelitian melaporkan bahwa ada kecenderungan pembelajaran di laboratorium untuk tujuan peningkatan ketrampilan tingkat rendah, hanya mempelajari pengetahuan bagian permukaan atau pengetahuan dengan tingkat pemahaman rendah terhadap hubungan antara teori dan praktik. Selain itu sering dijumpai kebiasaan negatif yang dilakukan mahasiswa dalam pembelajaran di laboratorium, biaya pelaksanaan yang tinggi, kurang efektifnya pemanfaatan biaya karena rendahnya perhatian dosen dalam pelaksanaan kegiatan, dan tidak sebandingnya fungsi praktikum terhadap jumlah waktu yang dicurahkan untuk kegiatan tersebut.

Beberapa kendala umum dan penyebab rendahnya mutu pembelajaran praktikum di laboratorium, adalah sebagai berikut: 1. Sering kali praktikum di laboratorium menjadi sebuah kebiasaan karena mahasiswa mengikuti petunjuk rutin dan tidak menggunakan kemampuan berpikirnya. 2. Sering kali ada anggapan bahwa proses pembelajaran terjadi dengan sendirinya jika mahasiswa diberi informasi. Hal ini tidak benar, karena pemahaman secara tuntas dalam proses pembelajaran diperlukan beberapa faktor antara lain; waktu untuk belajar, pemikiran, keseriusan, komitmen, dan ekplorasi aktif mahasiswa untuk memperoleh pengalaman tersebut. Oleh sebab itu praktikum di laboratorium yang didominasi dengan instruksi oleh dosen/instruktur akan menyebabkan sedikitnya Metode Khusus

11


jumlah mahasiswa yang mau mengembangkan komitmen, pemikiran, dan eksplorasi aktifnya (Ramsden,1992). 3. Potensi pembelajaran di laboratorium sangat tergantung pada program yang disusun (konsep kunCI), tetapi tingkat pemahaman dalam pembelajaran praktikum sering kali terbatas pada pembelajaran di bagian luar di mana ilmu pengetahuan ditempatkan di dalam unit isolasi dan tidak terhubung dengan pembelajaran ilmu yang lainnya. 4. Bekal pengetahuan awal (pre-requisite knowledge) sebelum melakukan praktikum adalah penting oleh karena itu bekal ilmu pengetahuan sebelumnya yang tidak cukup menyebabkan mahasiswa sulit mengikuti proses pembelajaran praktikum di laboratorium. Bila mahasiswa baru saat masuk universitas memiliki pengertian yang keliru tentang fenomena ilmiah dan tidak mau menanggalkan pola pikir lama mereka, serta secara kaku mengikuti tata cara pembelajaran yang terstruktur, maka hal ini cenderung menambah kelangsungan ketidakesfisiensian pembelajaran di laboratorium. Oleh karena itu kebebasan untuk merancang percobaan dan “menemukan� ilmu pengetahuan baru di laboratorium menjadi menurun.

Hak-hak Klien Hak dan kewajiban klien adalah batasan yang memiliki aspek perlindungan hukum, yang mana setiap orang menurut Pasal 4 UU No 23/1992, mempunyai hak untuk sehat dan hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan secara optimal. Pelayanan kesehatan bagi yang kurang mampu pun dijamin oleh pemerintah untuk dapat terselenggara dengan baik berdasarkan Pasal 8. Sehingga, tiada alasan untuk menolak melayani masyarakat yang kurang mampu. Demikian pula terhadap tindak kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan tugas medis, bagi mereka yang dirugikan, diberi kesempatan menuntut ganti rugi. Berdasarkan Pasal 55 UU No 23/1992, setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan. Ganti rugi ini dapat dituntut berdasarkan Pasal 1365 KHU

12

Metode Khusus


Perdata, yang mana setiap orang (tenaga medis dalam hal ini, dokter, dan para medis yang mencakup mantri, perawat, dan bidan) yang karena kesalahan atau kelalaiannya mengakibatkan ruginya orang lain (pasiennya), wajib bagi sang tenaga medis untuk memberi ganti rugi atas kerugian yang dialami si pasien. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasien sebagai konsumen kesehatan memiliki perlindungan diri dari kemungkinan upaya kesehatan yang tidak bertanggungjawab seperti penelantaran. Pasien juga berhak atas keselamatan, keamanan, dan kenyamanan terhadap pelayanan jasa kesehatan yang diterima. Dengan hak tersebut maka konsumen akan terlindungi dari praktik profesi yang mengancam keselamatan atau kesehatannya. Hak-hak pasien juga dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pasal 14 undang-undang tersebut mengungkapkan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kesehatan optimal. Pasal 53 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak atas informasi, rahasia kedokteran, dan hak opini kedua. Pasal 55 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak mendapatkan ganti rugi karena kesalahan dan kelalaian petugas kesehatan.

Hak dan Kewajiban pasien dalam pelayanan Kesehatan Hak pasien dalam memperoleh pelayanan kesehatan termasuk perawatan tercantum pada UU Kesehatan no 23 tahun 1992 yaitu : 1. Pasal 14 mengungkapkan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kesehatan optimal. 2. Pasal 53 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak atas informasi, rahasia kedokteran, dan hak 3. opini kedua. 3. Pasal 55 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak mendapatkan ganti rugi karena kesalahan dan Kelalaianpetugaskesehatan.

Metode Khusus

13


Hak dan kewajiban adalah hubungan timbal balik dalam kehidupan sosial sehari-hari. Pasien memiliki hak terhadap bidan atas pelayanan yang diterimanya. Hak pasti berhubungan dengan individu, yaitu pasien. Sedangkan bidan mempunyai kewajiban/keharusan untuk pasien, jadi hak adalah sesuatu yang diterima oleh pasien. Sedang kewajiban adalah suatu yang diberikan oleh bidan. Seharusnya juga ada hak yang harus diterima oleh bidan dan kewajiban yang harus diberikan oleh pasien. Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas, dan legalitas. Dewasa ini klien juga untuk meminta untuk lebih dapat menentukan sendiri dan mengontrol tubuh mereka sendiri bila sakit. Persetujuan, kerahasiaan, dan hak klien untuk menolak pengobatan merupakan aspek dari penentuan diri sendiri. Kebutuhan untuk hak klien adalah hasil secara luas dari dua keadaan yaitu kerentanan (vulnerability) klien dari penyakit dan kompleksitas hubungan dalam tatanan asuhan kesehatan. Ketika sakit, seseorang sering tidak mampu menyatakan hak-haknya sebagaimana bila ia sakit. Menyatakan hak memerlukan energi dan kesadaran tentang hak seseorang dalam situasi tersebut. Oleh karenanya seseorang yang lemah atau terkait dengan penyakitnya, mungkin tidak mampu menyatakan hak-haknya. Pola baru dari hubungan asuhan kesehatan muncul sebagai akibat dari beberapa kekuatan di masyarakat, mencakup konsumen yang lebih berpengetahuan dan pengakuan dari peranan gaya kehidupan di dalam penyakit. Tujuan kesehatan meliputi pengembalian otonomi dan kemendirian klien serta penerimaan kesehatan yang baik sebagai tanggung jawab pemberi asuhan, klien, serta masyarakat. Tujuan ini tidak dapat di capai, kecuali klien menerima tanggung jawab secara aktif untuk kesehatan mereka dan asuhan kesehatan, serta kecuali klien dan pemberi asuhan saling menghargai. Penggerakan hak-hak klien meningkatkan hubungan kesehatan yang baru ini, dan perawat dewasa ini di cegah untuk mengurangi hak-hak klien dengan mengidentifikasi dan melindungi hak klien serta pembantu klien menyatakan haknya (Healey, 1983).

14

Metode Khusus


Pada tahun 1973 di American Hospital AssoCIation menerbitkan a Patient’s Bill of Rights dalam upaya meningkatkan hak klien yang dirawat. Seringkali klien tidak mengetahui haknya, walaupun banyak rumah sakit dewasa ini memberi klien pada saat masuk pernyataan haknya.

Empat hak yang dinyatakan dalam fasilitas asuhan kesehatan (Annas dan Healey, 1974) 1. Hak untuk kebenaran secara menyeluruh 2. Hak untuk privasi dan martabat pribadi 3. Hak untuk memelihara penentuan diri dengan berpartisipasi dalam keputusan sehubungan dengan kesehatan seseorang 4. Hak untuk memperoleh catatan medis, baik selama maupun setelah dirawat Hak-hak klien/pasien:

1. Pasien berhak memperoleh informasi. 2. Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi,adil dan jujur. 3. Pasien berhak memeperoleh pelayanan kebidanan sesuai dengan profesi bidan tanpa diskriminasi

4. Pasien berhak memilih bidan yang akan menolongnya sesuai keinginannya.

5. Pasien berhak mendapatka informasi tentang kehamilannya, persalinan, nifas dan bayinya yang baru dilahirkan.

6. Pasien berhak mendapat pendampingan suami atau keluarga selama proses persalinan berlangsung.

7. Pasien berhak memilih dokter dan laboratorium perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di RS.

8. Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat kritis dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.

Metode Khusus

15


9. Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di RS ( second opinian )terhadap penyakit yang dideritanya,sepengetahuan dokter yang merawat.

10. Pasien berhak meminta atas privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.

11. Pasien berhak memperoleh informasi yang meliputi: 1) Penyakit yang diderita,2)Tindakan kebidanan yang dilakukan,3)Alternatif terapi lainnya,4).Prognosisnya,5)Perkiraan biaya pengobatan.

12. Pasien berhak menyetujui/memmberikan ijin atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritannya.

13. Pasien berhak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggungjawab sendiri sesudah memperolehinformasi yang jelas tentang penyakitnya.

14. Pasien berhak didampingi keluarga dalam keadaan kritis. 15. Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaannya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.

16. Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di RS.

17. Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moril atau spirituial.

18. Pasien berhak mendapatkan perlindungan hukum atas terjadinya kasus malpraktek.

16

Metode Khusus


Kewajiban Pasien Pasien atau penanggungnya berkewajiban untuk memenuhi hal hal yang selalu disepakati atau perjanjian yang telah dibuatnya 1.

Pasien dan keluarganya berkewajiban mentaati segala peraturan dan tata tertib RS atau institusi pelayanan kesehatan.

2.

Pasien berhak mematuhi segala instruksi dokter,bidan,perawat yang merawatnya.

3.

Pasien atau penanggungjawabnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan atas jasa pelayanan kesehatan,dokter,bidan dan perawat.

4.

Pasien atau penanggungjawabnya berkewajiban memenuhi halhal yang selalu disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya.

MenCIptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif Salah satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran bagi anak adalah penCIptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Lingkungan pembelajaran dalam hal ini, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif berarti kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya, sehingga pada diri anak terjadi proses pengolahan informasi menjadi pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil dari proses belajar. Lingkungan belajar dapat diCIptakan sedemikian rupa, sehingga dapat memfasilitasi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi bagi kesuksesan seluruh anak secara individual. Dengan demikian, lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Menurut Saroni (2006) dalam Kusmoro (2008), lingkungan pembelajaran terdiri atas dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup Metode Khusus

17


sekolah, dalam hal ini dalam ruang laboratorium belajar di sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana laboratorium, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya. Sedangkan lingkungan sosial merupakan pola interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran. Interaksi yang dimaksud adalah interkasi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, lingkungan sosial yang baik memungkinkan adanya interkasi yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Menurut Mulyasa (2006), dalam upaya menCIptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi anak, guru harus dapat memberikan kemudahan belajar kepada siswa, menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai, menyampaikan materi pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Oleh karena itu, peran guru selayaknya membiasakan pengaturan peran dan tanggung jawab bagi setiap anak terhadap terCIptanya lingkungan fisik laboratorium yang diharapkan dan suasana lingkungan sosial laboratorium yang menjadikan proses pembelajaran dapat berlangsung secara bermakna. Dengan terCIptanya tanggung jawab bersama antara anak dan guru, maka akan terCIpta situasi pembelajaran yang kondusif dan bersinergi bagi semua anak (Kusmoro, 2008).

Desain Lingkungan fisik Dalam manajemen laboratorium efektif, lingkungan fisik merupakan faktor yang sangat penting. Oleh Karena itu, lingkungan fisik harus dapat didesain secara baik dan lebih dari sekedar penataan barang-barang di laboratorium. Menurut Everston et al. (2003) dalam Santrock (2008), terdapat empat prinsip yang dapat dipakai dalam menata laboratorium, yaitu: 1. Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang. Daerah ini antara lain

area belajar kelompok, bangku siswa, meja guru, dan lokasi penyimpanan alat tulis, rak buku, computer dan lokasi lainnya. Area-area harus dapat dipisahkan sejauh mungkin dan dipastikan mudah diakses, karena gangguan dapat terjadi pada daerah yang sering dilewati.

18

Metode Khusus


2. Pastikan bahwa Guru dapat dengan mudah melihat semua anak.

Sebagai manajer laboratorium, guru penting untuk memonitor anak secara cermat. Pastikan ada jarak pandang yang jelas dari meja guru, lokasi instruksional, meja anak, dan semua anak. 3. Materi Pengajaran dan Perlengkapan anak harus mudah diakses.

Hal ini akan meminimalkan waktu persiapan dan perapian, serta mengurangi kelambatan dan gangguan aktivitas. 4. Pastikan siswa dapat dengan mudah melihat semua presentasi

laboratorium. Tentukan di mana anda dan siswa anda akan berada saat presentasi laboratorium diadakan. Pada aktivitas ini, anak tidak boleh memindahkan kursi atau menjulurkan lehernya. Dalam mengorganisasikan ruang fisik laboratorium, juga sangat ditentukan oleh tipe aktivitas pembelajaran yang direncanakan untuk dilaksanakan oleh anak. Dalam hal ini, perbedaan level laboratorium, kecepatan materi antar laboratorium, aktivitas kelompok dan aktivitas individual harus dapat terakomodasi secara fleksibel dalam penataan lingkungan fisik laboratorium. Menurut Renne (2007) dalam Santrock (2008), penataan laboratorium standar dapat dilakukan dalam lima gaya penataan, yaitu auditorium, tatap-muka, off-set, seminar, dan klaster. 1. Gaya auditorium, gaya susunan laboratorium di mana semua siswa duduk menghadap guru. 2. Gaya tatap muka, gaya susunan laboratorium di mana siswa saling menghadap. 3. Gaya off-set, gaya susunan laboratorium di mana sejumlah siswa (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain. 4. Gaya seminar, gaya susunan laboratorium di mana sejumlah besar siswa (sepuluh atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U. 5. Gaya klaster, gaya susunan laboratorium di mana sejumlah siswa (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil.

Metode Khusus

19


Penataan susunan meja yang mengelompok dapat mendorong interaksi sosial di antara siswa. Sedangkan susunan meja yang berbentuk lajur akan mengurangi interaksi sosial di antara siswa dan mengarahkan perhatian siswa kepada guru. penataan meja dalam lajur-lajur dapat bermanfaat bagi anak pada saat mengerjakan tugas individu, sedangkan meja yang disusun mengelompok akan membantu proses belajar kooperatif (Santrock, 2008). Menurut Weinstein dan Mignano (1997) dalam santrock (2008), laboratorium juga penting untuk dilakukan personalisasi, meskipun bagi sekolah yang menggunakan sistem moving class terdapat beberapa laboratorium yang belajar dalam satu hari. Personalisasi laboratorium dapat dilakukan dengan memasang foto siswa, karya siswa, tugas, diagram tanggal lahir siswa (SD), ekspresi siswa yang positif serta media pembelajaran yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari anak. Personalisasi ini, dapat bermanfaat sebagai inspirasi dan motivasi untuk belajar bagi anak serta dapat menjadi sumber belajar bagi anak. Selain itu, modifikasi pajangan dinding yang up to date dapat memberikan kesan dinamisasi lingkungan, anak mendapatkan objek pandang yang senantiasa bermakna bagi proses belajar.

Laboratorium Kebidanan Sarana dan prasarana pendukung pembelajaran pratik asuhan kebidanan tersedia laboratorium kebidanan didalam kampus dengan peralatan praktik yang telah sesuai dengan Per. Men. Kesehatan RI Nomor 1192/MENKES/PER/X/2008

20

Metode Khusus


Tips Belajar Efektif dan Efisien 1. MenCIptakan suasana yang kondusif dalam belajar. Tak kalah pentingnya dan harus Anda ingat dalam menCIptakan suasana yang kondusif untuk merangsang dorongan berprestasi belajar adalah perlu diperhitungkan unsur perasaan. Karena unsur perasaan lebih dominan dan melatarbelakangi segala aktivitas seseorang. Dengan kata lain produktif atau tidaknya aktivitas seseorang sangat tergantung pada unsur perasaan dalam melaksanakan aktivitas tersebut. Oleh karena itu, anda harus memperhitungkan dan memperhatikan unsur perasaan untuk mewujudkan harapan-harapan. Tentunya kita semua mengetahui bahwa kegembiraan bersifat menggerakkan. Segala sesuatu yang dilakukan dengan gembira (senang hati), tentunya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Kekecewaan atau unsur tertekan bersifat melembekkan atau melemahkan. Suatu aktivitas yang dilaksanakan karena ada tekanan atau kekecewaan, tentunya akan menghasilkan sesuatu yang mengecewakan atau ketidakpuasan atau mutu yang rendah. Oleh karena itu, suasana gembira harus senantiasa terpelihara dapat belajar dengan baik dan memunculkan gagasan-gagasan yang brilian. Begitu juga terangsang mengaktualisasikan dirinya sepenuhnya dalam mencapai harapan-harapan kita. 2. Mengembangkan jiwa kompetitif Untuk memacu dorongan berprestasi yang baik perlu dikembangkan suasana kompetetif yang sehat dan konstruktif diarahkan menjadi dirinya sendiri. Disadarkan dirinya punya potensi yang siap untuk dikembangkan. Kemauan atau hasrat harus dibangkitkan, agar dirinya senantiasa merasa tertantang untuk ingin tahu segala-galanya dan ingin selalu menonjol lebih dari yang lainnya. Tentunya Anda menyadari orang yang tetap bertahan hidup, memiliki tempat dan memegang peranan penting di tengah-tengah masyarakat, hanyalah orang-orang yang memiliki kecakapan yang brilian dan tahu mempergunakan, menempatkan kelebihannya tersebut. Bagi mereka yang tidak dapat mendayagunakan kemampuan secara optimal akan tersisih atau terpinggirkan dan hanya Metode Khusus

21


menjadi kelompok marginal. Hidup ini merupakan kompetisi, hanya orang-orang yang mampu memanfaatkan peluang secara optimal yang berhasil mendapatkan tempat utama. Hal yang perlu Anda ingat, bahwa setiap orang memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk berkembang mengaktualisasikan diri dan yang berhasil adalah yang benar-benar menyadari potensi yang dimilikinya dan mampu mengimplementasikan kemampuannya tersebut pada proses kemajuan dirinya. Anda jangan terpaku hanya dengan slogan IQ harus jenius baru bisa jadi orang. IQ itu hanya satu persen saja yang mendorong seseorang berhasil dengan baik dan yang 99 persen adalah kemauan dan kerja keras untuk mewujudkan impian dan mengetahui cara yang efektif untuk merealisasikan impian tersebut. Banyak yang memiliki IQ tinggi, namun pada akhirnya mubazir, karena tidak mendapatkan pengarahan yang tepat untuk mendayagunakan kelebihan kemampuannya tersebut. Banyak orang yang berhasil malah dengan IQ pas-pasan, namun mendapat bimbingan dan pengarahan kemampuannya dengan tepat. Untuk memperoleh keunggulan dalam suasana kompetetif adalah tugas Anda memberi bekal pola berpikir, pola berbuat yang terencana, sistematis dan cara-cara yang efektif. Anda diharapkan mampu mengarahkan perujukan dalam pengembangan bakat-bakat khusus.

3. Mengembangkan rasa percaya diri Sumber energi yang membangkitkan dorongan berprestasi dari dalam diri adalah rasa percaya diri. Oleh karena itu, sangat perlu ditumbuhkan atau dibangkitkan keyakinan terhadap kemampuan dirinya untuk dapat mempelajari berbuat atau melakukan sesuatu. Keyakinan dalam hati akan membuat diri berusaha keras dan mencari cara untuk mewujudkan keyakinannya itu dengan banyak membaca sehingga wawasan pengetahuannya luas.

22

Metode Khusus


Latihan: Petunjuk: 1. Sebelum latihan soal mahasiswa wajib membaca modul metode khusus terlebih dahulu. 2. Mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari maksimal 3 (tiga) orang dalam satu Kelompok. 3. Soal untuk masing-masing kelompok sama. 4. Masing-masing kelompok mendiskusikan soal latihan kemudian di presentasikan menggunakan PPT.

Soal latihan: 1. Jelaskan menurut kelompok mengapa lingkungan belajar di laboratorium perlu kondusif ? 2. Jelaskan menurut kelompok mengapa seorang bidan perlu mempelajari hak-hak klien ? 3. Jelaskan menurut kelompok mengapa mahasiswa kebidanan perlu belajar di Laboratorium?

Metode Khusus

23

Metode khusus  
Metode khusus  
Advertisement