Page 1


Assalam'ualaikum Wr Wb

Pemimpin Umum Bey Erest

Pemimpin Redaksi Satria Nova

Reporter Erik Sugianto Ashar Khoirul A. Jalil Irfanartiko Tristiandinda Permata Aldya Nur R

Layouter Zendi Bayu Pradana

Misi gila! Sebelumnya misi kami berkeliling kampus ITS, mengampanyekan bangkitnya FSLDJ. Saya kira itu sudah gila-gilaan. Tiba-tiba saja tercetus. Padahal saya masih menghadapi ujian Tugas Merancang di minggu pertama bulan Januari. Minggu yang seharusnya sudah waktunya liburan semester. Ide kami: mewawancarai LDK-LDK di kota-kota besar di Jawa. Kami memutuskan untuk terjun ke Surabaya, Malang, Jakarta, Bogor, Bandung, Jogja dan Semarang. Kenapa saya sebut gila? Karena yang mengerjakan ini semua hanya tiga orang! Orang-orang yang memang saya pilih. Kalau Bob Marley bilang No Woman, No Cry. Maka saya bilang misi ini, No Money, No Bondo, Mboten Nopo-Nopo and No Money No Dong. Ya jelas, siapa sih orang yang mau membiayai orang gila seperti kami. Rektorat? terlalu ribet mengurusnya. Kami pun merasa bekerja santai menyenangkan tanpa beban. Misi ini hanya bertujuan untuk memenuhi dahaga rasa ingin tahu kami. Dapat bayarankah kami? Ya‌dapatlah, Allah yang membayar kita langsung. Tunai! Tidak pakai banyak cing cau. Edisi ini adalah bentuk pertanggung jawaban saya atas edisi sebelumnya. Cerita seputar hubungan Lembaga Dakwah Jurusan/Fakultas dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Hal ini sangatlah penting, melihat keterbelakangan kita dalam mengatasi masalah klasik ini. Akhirnya tiga orang diterjunkan untuk mengunjungi beberapa universitas di beberapa kota. Misi pun sukes walau terseok-seok. Saya sebenarnya ingin melatih intuisi penulis adik-adik di Ultras. Ya, ternyata lumayanlah. So far, kinerja dan tekad mereka sudah baik. Edisi inilah, akhir perjumpaan dengan anda. Saya memecat diri saya sendiri. Kalau Allah mengizinkan, mulai edisi ke depan, saya tak ambil bagian lagi dalam proses zine ini. Dari segi ide sampai pendanaan. Saya amanahkan ke adik-adik 2008. Cukuplah empat edisi ini sebagai pelajaran bagi mereka. Kalau mereka berhasil menjalankan, hal itu menjadi amal jariyah bagi saya. Kalau gagal, berarti ada yang salah dengan diri saya. Atas atensi dan bantuan baik dukungan semangat dan material yang diberikan selama ini, saya mengucapkan terima kasih. Jazzakumullah Khairon Katsiro. Sayonara!

Email ultrassafinah@gmail.com

Contact Person 085655479927

Pemimpin Umum


D

Mukadimah Belajar Dari Mereka

DAFTAR ISI Journey Begin

5

Mission Possible

9

UI, Truly Movement

11

Interview with salam UI

15

Interview with pimred sabili

16

Paris Van Java : Beautiful Movement Jogja, Never Ending Movement

25

Beginilah Caraku Mencintai

28

Kami tak sedang menjadi Utopis

31

Naval Miracle

33

Akhwat Zone

34

Resensi

35

19

Di saat suntuk saya sering membaca-baca Zine local Hardcore/Punk yang diberi Mas Adit Sa'i. Ada Beyond The Barbed Wire-nya Tremor, Zine keluaran Kolektif Kontra Kultura (KKK-beda dengan Ku Klux Klan lho!), Subciety-nya Chotax dsb (hasil surfing di internet). Membaca Zine itu membuat saya bersemangat. Sama ketika saya membaca buku bertema perjuangan/jihad. Mereka (anak-anak Punk) kalau boleh saya bilang adalah orang-orang yang cerdas. Mungkin zine inilah yang merubah pandangan saya terhadap anak Punk. Saya mengenal mereka sebagai orang jalanan yang tidak pernah mandi, pakaian serba gelap dan bolong-bolong, penuh rantai di sekujur tubuh, tindikan, merokok (bahkan sesekali baks ganjs atau pake psikotropika lain dan bir) jadi hiburan dan rambut modisnya. Sebenarnya Punk zine sama seperti fanzine yang lain. Hanya saja, beberapa diantara mereka punya nafas ideologis. Mereka kadang menjadi penulis realis sedikit ngajak ribut dengan bahasa sarkasnya, kadang pula jadi penulis mellow yang minta diperhatikan orang. Pola pikir outsider atau melawan arus dan paham Do It Yourself-nya sangat kental dalam setiap lembar zine. Seperti makna dari Beyond The Barbed Wire: Diluar Kawat Berduri. Maksudnya, kehidupan dunia itu bagi mereka adalah penjara yang disebabkan kebobrokan sistem. Secara terbuka, mereka menyebut dirinya sebagai orang-orang yang anti kapitalisme, anti fascism, pro buruh/tani dan masyarakat kelas bawah lainnya, pro anarkisme dan ilegalisme. Bahkan terkadang mereka juga anti Tuhan. Memang terasa seperti paham Marxisme-Sosialisme, tapi kebanyakan mereka menyangkal. Ini Punk! Rata-rata (bahkan hampir semuanya) para pembuat zine tersebut adalah para pemain band. Dalam liriknya pun ideologis walaupun cara bermusiknya kalau boleh saya bilang ngawur abis. Selain itu, mereka secara aktif bergerak seperti mengadakan aksi bersama pada peringatan May Day, demo anti kapitalisme, demo saat kunjungan pemimpin negara kapitalis, kegiatan sabotase terhadap korporasi asing dll. Tindakan yang lebih simpatik juga dilakukan seperti komunitas Food Not Bombs yang membagikan makanan gratis, ada beberapa komunitas yang membuka ruang baca untuk masyarakat sekitar. Semua tanpa orientasi profit, murni! Mereka juga tak berharap dapat pahala dari Tuhan. Semua didasarkan humanity. Mereka cerdas! Kalau anda tahu tebal zine mereka, anda akan terbengong-bengong. Ultrassafinah saja baru mampu merilis sekitar 5 lembar A4 dengan font 9 tiap edisi. Itu

Ultrassafinah Edisi IV

3


Mukadimah pun belum dikurangi lay out yang terkadang berlebihan (berarti tulisannya tidak penuh). Mereka biasa merilis 20-30 lembar A4 (terkadang F4) pada tiap edisinya. Dengan tulisan font 6-7, penuh! Hanya sedikit gambar sketsa tangan sebagai pemanis. Yang mengerjakan itu semua tidak lebih dari 5 orang. Saudaraku, menulis sebanyak itu bukan perkara mudah. Mereka hanya meng-interview Alam: alam sekitarnya dan alam bawah sadarnya. Ultrassafinah sendiri punya pasukan yang cukup banyak. Tapi kebanyakan belum menjiwai urgensi berdakwah lewat tulisan. Padahal kita dari kampus. Kalau saya ibaratkan, bagi mereka ngeband adalah sholat, membuat dan membaca zine adalah berdakwah dan membaca quran, tidak mengonsumsi barang-barang korporasi asing adalah puasa, dan aksi-aksi jalanan adalah jihad mereka. Saya merasakannya seperti itu. Mereka cinta hal tersebut sebagaimana kita (para aktivis dakwah) mencintai hal yang disebut setelahnya. Bahkan teman-teman yang sudah hijrah pemikiran kepada Islam, mereka berbalik arah menyerang ideologi yang berkembang di kalangan Punk. Beberapa yang dikenal seperti Divan Semesta, Pengkhianat Yang Tak Pernah Musnah (PYTM) dan Thufail Al Ghifari. Mereka banyak berjasa dengan pergerakan dakwah di ranah underground. Dua orang pertama adalah pencetus lahirnya Liberation Youth, gerakan underground radikal, kumpulan Punker yang putar haluan ke Islam dan membuat kolektif bernafas perjuangan Islam. Dan tulisan kedua orang tadi, dahsyat Bung! Kalau membaca tulisannya, bertanya dalam hati saya,�Ini tulisan dosen filsafat ya?�. Thufail sendiri seorang muallaf. Rapper ini lahir dan besar di keluarga pendeta. Lucunya, ia bersyahadat di depan teman-teman underground, saking kuatnya keinginan masuk Islam. “Peristiwa itu terjadi tahun 2002, yang menjadi saksi saya adalah teman-teman yang memakai baju Sepultura, Metallica, Kurt Cobain,� akunya pada sebuah wawancara dengan media Islam. Selain sebagai rapper Islami, ia adalah vokalis The Roots of Madinah dan aktivis kolektif Berandalan Puritan. Maret besok mereka mengadakan gathering pertama bertema Urban Garage bersama Tengkorak (band

underground legendaris) dan GunXRose, (mungkin) mereka akan menggemakan suara-suara Islam dalam gathering tersebut. Ya Basta! (Cukup Sudah!). Sama seperti seruan Subcommandante Marcos ketika turun dari pegunungan Chiapas, meminta keadilan. Sudahlah, saya tidak mau membandingkan dengan aktivitas mereka yang lain. Hal itu hanya membuat kami malu. Mereka bisa bersemangat menyebarkan ideologinya dengan niat dan dukungan sendiri. Mereka bangga jadi kaum marjinal karena mempertahankan prinsip. Mereka pun pandai beretorika ilmu sosial seperti Marx, Freud, Feurbach, Engels, Nietzche, Kaczynski, Negri, Althusser, Cleaver dll yang baru dipelajarinya kemarin sore. Saya sedikit paham dengan teori itu. Tapi kalau disuruh melawan, hancur saya. Mereka punya niat belajar tinggi dan berani menyebarkan. Bandingkan dengan Islam yang sudah dipelajari sejak kita lahir. Buktinya, setiap bayi muslim yang lahir selalu dikumandangkan adzan. Ironis, jangankan mendekat, sekarang ini eranya anak muda menjauhi agamanya sendiri. Malu kali dibilang sok alim. Ya, lebih baik daripada sok kafir?! Saya hanya belajar dari mereka. Saya pun tak berminat masuk ke dalam lingkaran mereka. Kami punya cara yang berbeda untuk merubah dunia. Ada lagi sih persamaannya. Kita sama-sama nggak punya uang. Hanya modal niat, tekad, dan sedikit rasa sok idealis saja. Kalau istilah aktivis dakwah: Sunduquna Juyubuna (dakwah dari kantong sendiri)! Wahai orang-orang yang mengaku aktivis dakwah kampus! Kemanakah engkau? Apakah engkau sudah lupa dengan Masjid-Masjid yang seharusnya makmur itu. Masihkah disibukkan permasalahan sepele? Jadilah manusia-manusia pengubah wajah dunia. Kuliah tetap jalan, Bakti orang tua tetap jalan, bakti pada bangsa tetap konsisten, terakhir bakti pada agama adalah sebuah keharusan!

Bey Erest

Do not be an apparent friend of Allah in open and a secret enemy of Allah in private 4

Ultrassafinah Edisi IV


Journey Begin Baru saja tiba di kampung halaman, handphone berdering. Saya mendapat tantangan dari pucuk pimpinan ultras untuk melakukan journey ke berbagai universitas terkemuka yang ada di pulau jawa. Ide gila yang luar biasa. Tanpa pikir panjang tawaran itupun langsung saya terima. Sebenarnya terasa berat untuk melakukannya. Apalagi saya baru tiba di kampung halaman. Ditanbah lagi rasa capek masih terasa setelah tiga hari mengikuti Program Studi Islam 2 (PSI 2), program kaderisasi JMMI ITS. Mosok lagek muleh budal maneh rek?! Kataku dalam hati. Dan satu lagi dompet menipis. Memang kampung halamanku tidak terlalu jauh dengan tempat tujuan. Cukup dua jam jika ditempuh menggunakan kereta. Tapi tetap saja rasa berat meninggalkan rumah masih hinggap di hati. Misi gila ini mengingatkanku kepada kisah biksu Tong beserta murid-muridnya dalam melakukan perjalanan ke barat mengambil kitab suci dalam serial kera sakti. Bahkan sekarangpun serial itu masih diputar di salah satu tv swasta setiap sore. Perjalanan yang berat dengan 99 rintangan dan 33 cobaan persis seperti yang kami alami (lebay:mode on). Setelah melakukan persiapan akhirnya empat hari kemudian saya berangkat ke Surabaya. Saya mendapat bagian untuk melakukan liputan di jawa bagian timur. Awalnya saya bingung harus berbuat apa. Akhirnya saya hubungi beberapa teman saya untuk mencari informasi. Infopun didapat dan peliputanpun dimulai. Jujur saya tidak mempunyai kendaraan. Untungnya ada teman saya yang jauh-jauh dari sidoarjo rela menjemput saya dan mengantar saya ke berbagai kampus yang dituju. Interview with Indra Kusuma Aryanto, Ketua Janur Unair Pertama kali bertemu dengan ketua LDK Unair, familiar rasanya. Ternyata benar. Dialah Indra Kusuma Aryanto yang pernah menjadi pembicara ketika As Safiinah menggelar acara Ballast tahun lalu. Mahasiswa jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan ini menjelaskan secara detail kondisi dakwah yang tengah berjalan dikampus Airlangga.

Lembaga dakwah kampus disana bernama Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI). Berdiri sejak tahun 1984 yang awalnya adalah takmir masjid dan pada tahun 2007 berganti nama menjadi Jamaah Nuruzzaman Unair (Janur Unair). Bermarkas di masjid Nuruzzaman yang terletak di kampus B Unair, Janur mengatur segala aktivitas dakwahnya. Janur didukung oleh 5 departemen. Kelima departemen tersebut antara lain Departemen Kaderisasi yang betugas mencetak kader-kader penerus dakwah. Departemen syiar dan pelayanan umat yang bertanggung jawab menghidupkan nuansa islam di kampus dengan mengadakan berbagai macam kegiatan, misalnya kajian rutin, SMS (Saturday Morning Spirit), FBI (Forum Belajar Islami), Islamic Book fair, tabligh akbar dll. Lalu ada departemen Syiar dan Media yang mengurusi buletin, mading, website, blog, facebook dll. Ada juga departemen Pembinaan Baca AlQuran (PBA). Terakhir adalah Departemen Kemuslimahan yang bertugas membentuk kaum hawa disana menjadi seorang muslimah sejati. Disamping itu Janur juga didukung oleh 2 DSO (Departemen Semi Otonom). Diantaranya adalah Sosial Kemasyarakatan (Soskem). Kegiatannya adalah membina anak-anak jalanan berikut orang tuanya melalui pembekalan baik itu secara akidah maupun akademik. Prestasi luar biasa pernah dicapai oleh Soskem yaitu berhasil membuat beberapa anak jalanan mejadi muallaf. Ada juga Sayang anak bangsa (Sansa) yang memperjuangkan adik-adik asuh binaan Sansa (Abinsa) agar mereka tetap bisa sekolah. Bantuan yang diberikan kepada mereka berupa pemberian beasiswa dan bimbingan belajar. Satu lagi pendukung Janur adalah Deputi Humas dan Ke-LDK-an. Kebetulan tahun ini Janur ditunjuk sebagai Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas). Untuk menjadi anggota Janur bukanlah hal yang mudah. Bisa dibilang orang-orang yang tergabung disana adalah orang-orang pilihan. Janur bekerjasama dengan lembaga dakwah fakultas (LDF) dalam membentuk kader-kader penerus dakwah. Pada semester 1 mahasiswa baru, dibina dalam pelatihan dakwah 1 yang diadakan oleh fakultas masing-masing. Uniknya, jika mahasiswa tidak mengikuti kegiatan itu, ia Ultrassafinah Edisi IV

5


bisa mengikutinya melalui fakultas lain yang sedang mengadakan acara tersebut. Lalu ada Suplemen 1 yang diselenggarakan oleh Janur yang diperuntukkan bagi semua mahasiswa baru unair. Sedangkan di semester 2 mendapat pelatihan dakwah 2 dari fakultas masingmasing dan juga Suplemen 2 yang diselenggarakan oleh Janur. Pada semester 3 barulah mahasiswa bisa bergabung menjadi pejuang dakwah, itupun baru ditingkat fakultas. Disemester ini pula diadakan kaderisasi tingkat lanjut yang bernama LASKAR yang diadakan oleh Janur UKMKI. Disemester 4 dan 5 mahasiswa bisa menjadi PH dimasing-masing fakultas. Barulah pada semester 6 mahasiswa bisa bergabung dalam barisan dakwah Janur. Namun tak menutup kemungkinan bagi mahasiswa baru bergabung dengan Janur. Mereka bisa bergabung asalkan masuk kedalam DSO bukan pada departemen inti. Ketika ditanya soal mentoring, pria yang akrab dipanggil indra ini menjelaskan bahwa di unair tidak terdapat mentoring wajib sepeti yang ada di ITS. Namun sebagai gantinya disana ada Pembinaan Baca Al-Qur'an (PBA). Disini mahasiswa dilatih bagaimana membaca Al-Qur'an secara baik dan benar. Ini merupakan syarat wajib bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Agama karena nilainya akan masuk pada mata kuliah tersebut. Beliau juga menjelaskan bahwa dalam tahun ini Mata kuliah agama menjadi 2 semester. Hal ini sangat menguntungkan karena porsi pendidikan agama yang dirasa sangatlah kurang. Nyaris tidak ada kendala yang dialami oleh Janur selama perjalanan dakwah berlangsung. Justru Kendala banyak ditemui pada LDF. Unair terkenal dengan kampus sosial sehingga berbagai macam ideologi pun berkembang disana. Dari ekstrem kiri sampai ekstrem kanan. Pernah suatu saat kegiatan dakwah di fakultas tertentu dilarang. Pernah juga pembinaan baca Al-Qur'an dilarang oleh dekanat padahal kegiatan itu telah berkoordiasi dengan dosen agama. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap mengembangkan sayap-sayap dakwah dikampus Airlangga. Indra berharap dakwah semakin berkembang dan bisa mencetak kader-kader penerus perjuangan sehingga tongkat estafet dakwah tidak berhenti disini. “Setidaknya 10% dari mahasiswa baru bisa bergabung dalam gerakan yang mulia ini,� imbuhnya. Interview With Yoyok Saifullah, Ketua UKKI Unesa

6

Ultrassafinah Edisi IV

Ditemui di sela-sela menghadapi UAS, Yoyok Saifullah yang sekarang menjabat sebagai ketua umum Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) menjelaskan panjang lebar mengenai dakwah yang berjalan di kampus negeri Surabaya. Berdiri sejak tahun 1988, UKKI merupakan wadah bagi mahasiswa yang hatinya tergerak untuk kembali menghidupkan syariat islam. Berawal dari remaja masjid (remas) yang akhirnya berubah menjadi sebuah lembaga dakwah setelah perjuangan panjang nan melelahkan. Berbeda dengan ITS yang lembaga dakwahnya berpusat pada JMMI, Unesa memiliki beberapa pusat lembaga dakwah. Masing-masing memiliki struktur kepengurusan dan program kerja sendiri. Bisa dibilang setiap wilayah memiliki UKKI masing-masing. Hal ini dikarenakan letak kampus satu dengan lainnya terpisah jauh. Namun tetap ada lembaga pusat yang mengatur itu semua yaitu UKKI yang bermarkas di masjid Baitul Makmur yang terletak di kampus ketintang. “Terkadang hal ini membuat iri wilayah lain karena kegiatan banyak terpusat di kampus ketintang yang notabene terdapat UKKI pusat,� tutur mahasiswa asal jombang tersebut. UKKI pusat memiliki empat depatemen. Diantaranya adalah departemen pendidikan yang mengurusi masalah pendidikan baik itu bagi mahasiswa maupun masyarakat sekitar. Kegiatannya berupa kajian, TPA, Bimbel dll. Lalu ada departemen kaderisasi yang bertanggung jawab membentuk kader-kader yang berkualitas demi tegaknya syariat islam. Ada juga departemen Pembinaan. Kegiatannya berupa kajian ilmiah (Kail) yang mengupas islam dari segi ilmiah. Seni dan budaya yang menampung minat dan bakat mahasiswa, misalnya nasyid dan Qira'ah. Infokom yang bertanggung jawab atas buletin, website dan mading. Departemen terakhir adalah keputrian yang mengurusi masalah yang berhubungan dengan muslimah tentunya. Ketika ditanya soal mentoring, pemuda yang hobi sepak bola ini menjelaskan bahwa mentoring belum bisa berjalan lancar. Kendala yang dihadapi diantaranya adalah belum adanya buku pegangan. Namun sebagai penggantinya disana ada yang namanya Ta'limul Qiraatil Qur'an (TQQ) yang mempelajari bagaimana membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. TQQ sendiri merupakan syarat wajib bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah agama karena nilai dari TQQ akan masuk sebagai nilai mata kuliah tersebut.


Unesa sendiri tidak memiliki kajian jurusan namun disana terdapat kajian fakultas. Kajian ini sendiri berada dibawah naungan BEM Fakultas. Kegiatannya mengurusi kajian keislaman semata sehingga kegiatan dakwah lainnya banyak yang didalangi oleh UKKI. Tidak hanya masalah dakwah keislaman. UKKI mencoba sebisa mungkin untuk berguna bagi mahasiswa dan masyarakat umum. UKKI biasa mengadakan pelatihan. Diantaranya adalah pelatihan jurnalistik dan Design Grafis. Satu hal yang membuat saya tertarik adalah adanya kegiatan Bakti Karya Mahasiswa (BKM) yang dilaksanakan setiap tahunnya. Setelah tahun lalu sukses mengadakan BKM di daerah Bluluk-Lamongan, tahun ini UKKI berencana mengadakan hal serupa di daerah Wonosalam-Jombang. Tahukah anda bagaimana bentuk kegiatan BKM itu? Wow, kegiatan ini sungguh luar biasa. Anggota UKKI terjun langsung ke suatu daerah. Biasanya daerah terpencil. Mereka tinggal disana selama sekitar 12 hari. Bayangkan, hampir 2 minggu mereka tinggal dirumah penduduk setempat. Seperti acara tukar nasib yang pernah ditayangkan di TV, mereka membantu setiap kegiatan pemilik rumah yang mereka tinggali. Mahasiswa yang kebetulan tinggal dirumah seorang petani, tentu saja dia akan menjadi petani juga. Selama itu pula mereka menyerbu setiap instansi ataupun lembaga yang ada didaerah itu untuk ambil bagian. Eits, jangan salah. Mereka menyerbu bukan untuk membuat kerusuhan tapi datang untuk memberi bantuan. Diantaranya adalah karang taruna, sekolah, TPA, lembaga sosial, majelis ta'lim dll. Untuk TPA dan sekolah misalnya, mereka ikut ambil bagian dengan cara mengajar adik-adik yang ada disana. Para akhwat juga tak mau kalah. Mereka membantu majelis ta'lim yang diadakan oleh ibu-ibu setempat. Tak lupa berbagai macam lomba juga mereka adakan disana. Selain itu juga mereka mengadakan pengobatan gratis, kajian, kerja bakti dan pembagian sembako. Mungkin sobat muslim heran bagaimana bisa mereka diterima disana. Bahkan diijinkan untuk tinggal dalam waktu yang bisa dibilang cukup lama. Tentu saja, jauh hari sebelum mereka datang kesana mereka melakukan koordinasi dengan kepala desa setempat. Acara ini merupakan acara favorit bagi anggota UKKI. “Bisa dibilang BKM merupakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi para aktivis dakwah UKKI, karena acara ini merupakan ajang show off untuk menyalurkan kemampuan yang selama ini dipelajari dikampus,”

ungkap mahasiswa jurusan pendidikan sejarah itu. Yoyok berharap UKKI bisa berkembang dan lebih dikenal masyarakat. “Kami ingin membuat acara yang besar yang melibatkan masyarakat luas. Selama ini kami hanya membuat acara-acara yang hanya diperuntukkan bagi mahasiswa,” tegasnya. UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) Latar belakang Lembaga dakwah kampus di Universitas Muhammadiah Malang bermula dari pergerakan dakwah mahasiswa pada tahun 2000 yang m e n g i n g i n ka n a d a nya s u at u wa d a h u nt u k mengembangkan keislaman dan ke muhammadiahan di kampus, sehingga sebelum tahun 2004 berdirilah sebuah Lembaga Dakwah Kampus yang bernama JMAF (Jamaah Masjid Ar Fahruddin) yang sekarang ini berganti nama menjadi JF (Jamaah Fahruddin), Jamaah Fahruddin mempunyai misi antara lain yaitu berdakwah, Sebagai penyeimbang paham-paham yang bersifat negatif seperti Hedonisme, Sekularisme dan Sukuisme yang marak berkembang di kehidupan kampus. Pada kepengurusan periode ini, Jumlah staf dari JF(Jamaah Fahruddin) adalah berjumlah 45 orang dengan kinerja yang sangat maksimal ,ketika kami bertanya kepada Ketua Umumnya, apakah rahasianya ?, beliau menjawab “dengan cara menjaga silaturahim dan menjaga keistiqomahan pada setiap departement yang ada dengan berbagai macam cara misalnya makan-makan ataupun bepergian ke suatu tempat bersama-sama,sehingga terjalin suatu komunikasih yang baik diantara kami”. Selama ini hubungan JF (Jamaah Fahruddin) dengan pihak birokrasi sangatlah baik ,hal ini dibuktikan dengan adanya respon positif serta pemberian dana yang cukup baik pada setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh Jamaah Fahruddin.Acara-acara yang diadakan Jamaah Fahruddin sangatlah beraneka ragam yang mempunyai manfaat yang anmat besar sekali sehingga membantu mahasiswa dalam mengembangkan diri baik dari Akademis maupun Organisasinya ,yang menjdi andalannya antara lain yaitu Seminar, Beda Buku,dan Acara-Acara pada awal semester. Dari tahun ke tahun minat mahasiswa UMM (Universitas Muhammadiah Malang) sangatlah baik dari tiap tahun ,hal ini menjadi bukti bahwa JF (Jamaah Fahruddin) sangat diminati mahasiswa.Bagi mahasiswa yang baru masuk di JF(Jamaah Fahruddin) akan Ultrassafinah Edisi IV

7


mengalami apa yang dinamakan Kaderisasi dimana kaderisasi tersebut dibagi menjadi 3 tahap yaitu Recruitment ,Salam ,dan TOP(Training Organisasi Pengurus) .Yang pertama adalah Recruitment merupakan proses pembentukan kader-kader dengan cara penempatan (magang) di setiap departemen yang ada untuk melatih kemampuan kader-kader baru.Yang Kedua adalah Salam merupakan proses pendidikan selektive bertujuan untuk mengasah minat dan bakat mereka terhadap departement-departement yang mereka minati.dan Yang Ketiga adalah TOP(Trining Organisasi Pengurus) merupakan tahap kaderisasi yang terakhir yaitu untuk menentukan kemempuan yang mereka miliki di bidang mana,sehingga mereka dapat menentukan departement mana yang cocok untuk mereka. Seperti LDK (Lembaga Dakwah Kampus) pada umumnya,JF (Jamaah Fahruddin) merupakan lembaga yang melakukan pembinaan-pembinaan yang bersifat islami seperti yang dinamakan Mentoring, dimana di dalamnya setiap mahasiswa bisa belajar banyak mengenai islam dan kehidupan sekitarnya, pada awal mulanya Mentoring di JF(Jamaah Fahruddin) pernah dilegalkan namun karena terjadi suatu masalah yang mungkin cukup besar ,sehingga pada tahun 2004 pihak institusi mengubah statusnya menjadi illegal, hal ini sangat disayangkan sekali karena hanya karena suatu kesalahan saja status dari JF(Jamaah Fahruddin) menjadi berubah. Walaupun begitu pembinaan Mentoring yang sekarang sedang berjalan sangatlah baik hal ini dibuktikan pada minat mahasiswa yang begitu besar dan keikut sertaan dari mereka pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sehingga menjadikan kegiatan tersebut menjadi sukses,sehingga dengan kata lain JF(Jamaah Fahruddin) sangat memberikan kontribusi terhadat pada perubahan perilaku yang baik kepada mahasiswa UMM (Universitas Muhammadiah Malang). Politeknik Negeri Malang (Polinema) RISPOL adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di lingkungan Politeknik Negeri Malang (Polinema) yang bergerak dalam bidang kerohanian Islam. Latar belakang berdirinya RISPOL yaitu karena adanya keinginan agar nilai-nilai Islam dapat terealisasi dan terimplementasikan dengan baik terutama di lingkungan Polinema. RISPOL memiliki tujuan besar dalam proses perkembangannya yaitu agar menjadi pusat kajian ilmu

8

Ultrassafinah Edisi IV

dan informasi ke-Islaman terutama bagi kalangan mahasiswa sendiri yang pada kenyataannya sebagian besar adalah muslim. Selain itu, RISPOL juga menterjemahkan tujuan awal RISPOL ke dalam program kerja yang bertujuan untuk menanamkan dan mnyebarkan nilainilai Islami di lingkungan Polinema. Hal itu semua dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatankegiatan yang bertaraf lokal ( mendatangkan pemateri lokal ) maupun tingkat nasional ( pemateri nasional seperti Lutfiah Sungkar dan Jusuf Mansur ). Kesemuanya dilakukan untuk menunjang agar nilainilai Islami sedikit demi sedikit dapat ter-internalisasi dalam lingkungan Polinema. Semuanya tetap berpedoman dan berpegang teguh pada Al Qur'an dan Hadist. Visi besar RISPOLl adalah Menghantarkan Politeknik Negeri Malang munuju kondisi yang Islami baik di seluruh elemen yang ada. Dan untuk mewujudkan visi tersebut Rispol mempunyai beberapa misi, diantaranya, menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al Qur'an dan Hadist, menjalin ukhuwah Islamiyah / tali persaudaraan diantara civitas akademika dengan anggota RISPOL dan menjadikan RISPOL sebagai pusat pengembangan ilmu ke-Islaman yang dapat diakses oleh siapapun terutama mahasiswa muslim Polinema. Untuk merealisasikan visi dan misi Rispol, perlu diadakan program-programm yang mendukung visi dan misi tersebut, antara lain Techno Creative, manajemen musholla, OMELET (Organization Management & Leadership Training), WAFO ( Warung Informasi ), KaPe ( Kajian Pengurus ), FANTASI ( Forum Kajian & Ta'aruf Islam Awal Studi ), PANDAI ( Pembelajaran Dasar Islam ), eSeM ( Seminar Muslimah ) dan Training Jenazah Struktur Organisasinya sendiri, RISPOL berada dibawah Pembantu Direktur III dan didampingi Pembina UKM. Pemimpin tertinggi terletak pada Ketua Umum (Ketum), Ketum membawahi sekretaris umum, bendahara umum dan enam departermen. Enam departemen itu adalah departemen keta'miran, depaetemen dakwah, departemen kederisasi, departeman humas, departeman keputrian dan departeman dana dan usaha.


Mission Possible By Ammar Yassir

Akhirnya setelah ujian pada tanggal 5 Januari 2010, saya baru bisa memikirkan perencanaan liputan. Setelah surat tugas turun, saya pun mulai merencanakan aksi. Kebetulan saya kebagian jatah, wilayah Jawa bagian Barat dan Tengah. Saya punya rencana untuk berkeliling Jakarta-Depok-Bogor-BandungJogja-Semarang kemudian kembali ke Surabaya. Dalam waktu kurang satu minggu. Cukup berat. Memang sih saya berasal dari Jakarta, tapi saya punya waktu sedikit untuk melaksanakan semua misi itu. Saya masih punya tanggung jawab BW alias Birrul Walidain di rumah, karena sudah setahun saya tak pulang ke Jakarta. Saya pun masih harus mengurus beberapa surat yang memang sudah habis jangka waktunya. Hal itu butuh proses panjang dan njelimet. Saya hanya punya satu minggu (kurang). Tanggal 18 Januari saya harus kembali ke Surabaya untuk kerja praktek di sebuah perusahaan pelayaran terbesar di Indonesia. Rabu (6/1), saya pun memutuskan beli tiket pesawat untuk pulang ke Jakarta. Biar tambah tipis itu dompet, yang penting saya bisa segera bertemu orang tua dan membagi waktu dengan tugas peliputan. Kamis (7/1), saya mulai mengontak teman-teman SMA di berbagai kampus. Teman saya Adit dari Planologi ITB dan Reza dari Kedokteran UGM langsung menjawab kebutuhan saya. “Oke…ana tunggu di kampus ana, masalah tempat tinggal, gampang bos,”. Akhi Muhardani, teman satu kelompok mentoring saya dulu, pun bersedia untuk menemani saya jalan-jalan dan berdiskusi. Terutama soal gerakan dakwah di UI. Bahkan ia juga bersedia mempertemukan saya dengan mentor saya dulu. Sudah 4 tahun saya tak berjumpa dirinya. Saya juga sudah mencari nomor Ridwansyah Yusuf (Ucup), Mantan Kepala Gamais yang sekarang jadi Presiden KM ITB. Kemudian dari Mas Adit Sa'i, saya mendapatkan nomor kawan yang punya afiliasi dengan Liberation Youth (LY). Sementara, misi saya ke Ujung Berung Bandung, masih belum ada kejelasan. Di sana ada komunitas pembuat zine. Tapi kabarnya, daerah itu jauh dari ITB. Saya juga masih kesulitan mendapatkan kontak teman-teman UNJ, Usakti dan UIN Jakarta. Niat saya, ketika di UIN, saya mau ketemu sama kelompok liberal di sana. Yang paling parah, misi di Semarang. Saya tidak punya kontak sama sekali. Pikiran saya sudah: “Mbambung ae koen le…” Sementara kawan saya di IPB, masih sibuk dengan Ujian Akhir Semesternya. Tapi tidak apa-apa, dengan mental Bonek, saya akan terobos semuanya. Bermodal uang gajian saya bulan November sekitar Rp 500.000, akhirnya saya berangkat. Hahaha…No bondo blas arek iki! Kalau dihitung-hitung mana cukup. Makannya setiap saya sebelum tidur, saya selalu berpikir,”Besok pagi masih bisa hidup apa nggak ya?”. Perjalanan di kampus-kampus Jadebotabek, tidak jadi masalah bagi saya. Masih bisa saya jangkau dengan motor butut yang pernah jadi andalan saya saat SMA dulu. Dan pasti masih bisa makan dan tidur di rumah sendiri. Jauh lebih nyaman.

Demi keselamatan jiwa, maka saya mengorganisir ini uang. Jatah pulsa: 20.000, jatah fotokopi Ultraz sekitar 5000 untuk tiap komunitas, sehingga totalnya 50.000. Kemudian jatah makan: maksimal 4000 sekali makan, berarti selama lima hari sekitar 2,5x5x4000=50.000. Kenapa 2,5? Bisa jadi makan 2x/hari atau 3x/hari. Minum 2000/hari, total 10.000. Jatah transportasi: nah… ini yang agak sulit, saya belum tahu medannya, jadi untuk poin ini saya kasih ruang banyak, jatah oleh-oleh buat teman (ongkos numpang): maksimal 10.000. Total teman ada sepuluh, jadi 100.000. Biaya tak terduga: sesuai pelajaran ekonomi, 10% dari u a n g y a n g t e r s e d i a b e r a r t i 5 0 . 0 0 0 . To t a l n y a (3x50.000)+10.000+100.000+50.000 =310.000. Sehingga sisanya sekitar 190.000. Saya cuma bisa berdoa pada Allah, supaya uang itu cukup. Berita buruk. Kamis (7/1) saya dapat kabar, kalau Sabtu tanggal 16 Januari, saya harus kembali ke Surabaya, karena ada rapat kerja penting. Tidaaakkk…saya harus mereschedule ulang. Malamnya saya mendapat kontak Kang Ucup, Presiden KM ITB dan Gilang yang punya afiliasi dengan Liberation Youth, saya langsung menghubungi mereka. Saya juga menghubungi kawan saya dari UNJ Jakarta dan UNS Solo. Keduanya teman SMP. Tapi dari orang-orang yang saya hubungi, belum mendapat hasil. Jumat (8/1), saya berangkat Syuting (Syuro Penting) ke daerah Kampus B Unair. Pagi buta saya ditelpon teman SMP. Akh Dewan yang lagi sibuk skripsi bersedia membagi tempat tidurnya kalau saya jadi ke Solo. Sementara SMS balasan dari Akh Budi,”UNJ masih ujian Akh,”. Waduh…Kampus UNJ di Rawamangun cukup jauh dari rumah saya. Saya harus pikir-pikir kalau mau nekat ke sana. Dan sepertinya juga, rute saya ganti. Semarang dihapus, Solo menggantikan. Pesawat saya berangkat jam 18.00. Saya butuh waktu untuk mempersiapkan peralatan. Syuro selesai 10.30. Lalu saya segera meluncur ke Hi Tech Mall, berniat membeli Hardisk Eksternal. Rencananya, saya mau membajak semua data dari masing-masing LDK. Saya butuh banget, di kantong saya hanya ada flashdisk 2 GB yang saya beli 200.000, dulu sekali. Itu pun sudah full. Jam 11.00, saya menginjakkan kaki di THR. Dengan modal seadanya, dimulailah proses mblusuk-mblusuk dari satu toko ke toko lain. Tak dinyana, harganya naudzubillah…hardisk eksternal 250 GB saja masih kisaran 500 ribu-700 ribu. Bahkan ada beberapa merek terkenal 160 GB saja masih 500 ribu ke atas. Hampir semua toko seperti itu. Akhirnya saya cari alternatif, mencari flesdisk 8 GB, harganya masih 170 ribuan. Sementara 4 GB sekitar 90 ribuan. Lah…kok saya jadi kayak pedagang di THR gini. Akhirnya saya alihkan perhatian saya. Saya mencari MP 3, untuk memudahkan dalam proses reportase. Jadi tidak perlu repot-repot lagi kejar-kejaran antara tangan saya dengan mulut narasumber. Praktis, notes tidak lagi dominan. Tapi harganya tetap 250 ribuan. Padahal cuma bisa merekam 2 jam Ultrassafinah Edisi IV

9


saja. Wah…mahal banget. Akhirnya saya ditawari recorder professional, bisa sampai 250 jam rekam. Mau tahu harganya? 525 ribu! Akhirnya saya mutung, berhenti. Begini nih, wong miskin ngimpi nggowo mercy. 11.20, saatnya sholat jumat! Karena tidak tahu masjid terdekat dari THR, akhirnya saya membuntuti orang kopiahan atau orang yang menyelendangkan sajadahnya tanpa tahu, mau dibawa kemana. Berjalan menyebrangi jalan depan THR, saya langsung dihadapkan Taman Makam Pahlawan. Dari sana berjalan sampai Jalan Jagung Suprapto. Akhirnya, saya sampai pada sebuah bangunan tinggi. Terus mana Masjidnya… Wah, ternyata dibalik bangunan itu ada kelenteng, eh salah, Masjid Cheng Ho. Alhamdulillah, sejak saya di Surabaya baru kali ini saya ke sana. Dulu pas Masjid ini baru berdiri, saya bersama keluarga pergi ke sana, kira-kira tahun 2003. Bangunan masjidnya sebenarnya sempit, namun oleh panitia diberi tenda lengkap dengan alas karpet untuk jamaah yang meluber keluar. Saya pun buru-buru untuk segera mendapat tempat di dalam Masjid. Alhamdulillah dapat. Berkat tubuh kecil, gampang nyempil-nyempil. Khotibnya kalau tidak salah Ustad Haryanto Ong. Pria yang kalau lagi berada di THR pasti dikira juragan komputer. Cina abis! Tapi beliau muslim. Cina Muslim tidak lebih dari 5% keturunan Cina di Indonesia. Mereka tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Di zaman Orde Baru, agar memudahkan asimilasi keturunan Cina, maka semua orang Cina harus mengganti nama berbau-bau Cina, termasuk PITI yang berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Islam. Bedug mulai dipukul, sebelum khatib naik mimbar seperti biasa ada pengumuman. “Para Jamaah diharap tidak pulang dulu seusai sholat Jumat, karena akan ada doa bersama untuk KH Abdurrahman Wahid dan KH Abdul Chalim,”. Hah...Innalillahi. Kalau berita Gus Dur saya sudah tahu. Tapi kalau berita dari sosok Abdul Chalim, Muallaf yang menjadi garda terdepan dalam dakwah di komunitas keturunan Cina, saya baru tahu. Saya terkaget, Juara Gulat Dunia dua kali pada awal tahun 80-an, Abdul Chalim MZ atau Abah Halim dengan nama Cina Li Guang Lin telah pergi. Hari itu, tepat 7 harinya ia meninggal. Sosoknya sederhana, tapi tekad dakwahnya luar biasa besar. Ia adalah pendiri dari PITI dan Yayasan HM Cheng Ho. “Sederhana saja, dalam Islam saya temukan kenangan batin. Saya bisa menangis ketika membaca Quran,” katanya di sebuah wawancara. Ceritanya mempertahankan Islam sebagai agamanya mirip cerita para sahabat Rasul. Setelah Chalim masuk Islam, pria yang muallaf ketika umur 28 tahun ini mulai dijauhi teman-teman Cinanya. Ia pun dianggap pengkhianat. Alhasil bisnisnya bangkrut karena sabotase. Ia sempat jatuh miskin, tapi tetap istiqomah dan Allah sedikit demi sedikit menaikkan derajatnya. Ustad Ong pun menyampaikan hal yang mak jleb-jleb banget. Ia mengingatkan saya (dan para jamaah lainnya) untuk mengingat kematian. Salah satunya adalah dengan memperbaiki Sholat kita. Waduh...kalau lima waktu insya Allah jalan. Nah, kalau tepat waktu dan berjamaah itu yang sering bolong. Jujur, terutama

10

Ultrassafinah Edisi IV

Shubuh. Masya Allah. Ternyata ada hikmahnya saya pergi ke THR. Walaupun benda-benda yang saya impikan itu tinggallah mimpi. Selesai dari THR langsung tancap gas ke ITS. Tujuannya untuk membeli souvenir ITS di Kopma. Souvenir itu rencananya diberikan ke teman-teman yang akan saya repoti. Di tengah perjalanan saya ditelpon pihak Merpati Nusantara. “Mas...pesawatnya delayed sampai jam 21.40,”. Tak berkutik. Kemungkinan sampai Bandara Soetta jam 23.00. Tidak ada bis Damri! Transportasi bandara termurah. Kalau dari Bandara ke Terminal Kampung Rambutan hanya 20 ribu. Kalau Taksi bisa 150 ribu! Gawat...uangku menipis. Sore itu, Kang Ucup kasih jawaban, “Ultras tuh apaan?”. Saya jelaskan panjang kali lebar kali tinggi. “Boleh deh, kabar-kabarin lagi aja,” balas Ucup. Ia terima tawaran wawancara Ultras. Setelah itu giliran Bang Gilang,”Emang LY (Liberation Youth) masih ada?:))”. Yah dia bercanda. “Pokoknya aye cari komunitas penggiat Zine berbasis dakwah, otomatis mereka mantan Punker yang banting setir Bang,” jawab saya. Terus beberapa jam kemudian Gilang membalas lagi,”Coba kontak Berandalan Puritan. Katanya mereka mau bikin gigs (konser),”. Ah...makanan macam apalagi itu. Saya memang tak paham Punk secara mendalam. Saya cuma cari penggiat zine baik dalam bentuk fanzine/political zine/music zine dkk. Nah, kebetulan saja saya tahu, Punkers cukup giat dalam hal ini. (Kelak saya mengetahui bahwa Bang Gilang adalah sosok sebenarnya dari PYTM yang terkenal dan dihormati di kalangan underground) Singkat cerita, saya sampai Juanda dan kemudian tahu kalau pesawat delayed lagi sampai 22.30. Itu pesawat Merpati, yang masih saudaraan dengan Garuda Indonesia. Harganya saja mirip. Tapi kok dikasihnya pesawat perintis Indonesia Timur. Kenyamanan kurang, ditambah telat pula. Habis sudah uangku. Mau tidak mau saya harus naik taksi untuk mencapai ke rumah. 150 ribu melayang. Dan masalah bertambah ketika saya menginjakkan kaki di Bandara Soetta. “Oh iya charger hapeku...,”. Semua data kontak orang-orang yang saya butuhkan di perjalanan dan peliputan ada di memori hape. Pesawat mendarat jam 23.00. Sementara saya sampai rumah jam 01.30. Dan info yang paling menyakitkan adalah uang gajianku habis bersih untuk tiket pesawat dan ongkos taksi. Malah kurang. Benar, sesuai perkiraan saya, uang 500 ribu itu nggak ada artinya kalau sudah di Jakarta. Belum jalan-jalan, uang saya sudah habis. Mak inang, macam mana ini, aku tak lagi punya uang. Mudah-mudahan mamakku berbaik hati memberikan sumbangan dana untuk perjalanan selanjutnya. Sabtu (9/1), sebenarnya ada acara dari teman-teman Salam UI berjudul from Jakarta to Gaza Strip. Menurut pamflet, jadwal hari Sabtu ada Menteri Pendidikan M.Nuh (Rektor kita dulu nih, hehehe, norak banget sih!), Prof. Arif Rahman, Fitra Ratori (Reporter TV One), Dr Soeripto (Ketua Komite Nasional untuk Rakyat Palestina/KNRP), Taufik Ismail dan tim nasyid EdCoustic. Tapi tunggu dulu yah...saya harus berbagi kasih dengan orang tua dulu. Maklum jarang-jarang pulang kampung. Sudah tiga kali lebaran dan tiga kali puasa. Hehehe, kayak Bang Thoyib saja. It's time to go around the world with my family.


UI Pantas! Pantas sudah...Anda tahu mengapa Arif Rahman Hakim, Soe Hok Gie, Hariman Siregar, Munir, Budiman Sudjatmiko, Rama Pratama, Dita Indah Sari lahir sebagai sosok mengagumkan nan revolusioner ketika mahasiswa? Karena mereka lahir dari kampus yang mengagumkan nan revolusioner pula! Ingat, bukan dari kampus banci, kampus yang mengekang mahasiswanya untuk kreatif dan kritis dengan pola pikir kolot. Kabar tentang takutnya loreng-loreng terhadap jaket kuning sudah lama saya dengar. Kisah culik-culikan Kopassus dan mahasiswa UI pada saat pergerakan tahun 8090an sudah tak asing lagi. Mereka tak gentar. Tahun 1966, 1974, periode 1980-an dan puncaknya 1998 jadi saksi keperkasaan anak-anak muda tak bersenjata menghadapi peluru tajam ketidakadilan. Pertanyaanya, mengapa bisa? Jawabannya adalah kaderisasi dan iklim yang mendukung untuk itu. Minggu (10/1), akhirnya saya menginjakkan kaki di Kampus UI yang asri. Stasiun berada tepat setelah pintu masuk dari arah Pasar Minggu. Kalau berjalan menyusuri jalan besarnya maka anda akan dibawa berkeliling ke suatu hutan rindang, paru-paru kota tua renta bernama Jakarta. Namun beberapa lahan sudah dibuka untuk pembangunan gedung. Sesekali saya melihat bis kuning berkeliaran membantu mobilisasi mahasiswa. Bis dengan cat baru yang terlihat memperkuat kampanye green campus UI. Nampaknya, tiap universitas sedang berdandan memperbaiki diri. Maklum, saingan Go-International! Saya berhenti sebentar, membaca baliho besar bertuliskan Fourth International Symposium, Education is One Step for Doing Gaza Reconstruction. Acara ini berlangsung dua hari sejak kemarin. Pembicaranya di hari pertama, Ustad Muqodas dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP), Fasli Djalal (Wakil Menteri Pendidikan Nasional) dan Fitra Ratori, wartawan khusus TV One untuk perang invasi Israel ke Gaza tahun 2008. Dan MC-nya...siap-siap kaget yah...Dude Herlino! Kata teman saya yang hadir di hari pertama, ketika Dude naik panggung, peserta perempuan pada teriak semua. Ia kaget, dikira ada kebakaran, hahaha. Dasar fans berat. Untuk hari kedua ada Shofwan Al Banna (Mawapres Nasional 2006 dan penulis buku Palestina Emang Gue Pikirin! Pernah juga beberapa kali ke ITS), Herry Nurdi (Pemred Sabili), Yoyoh Yusroh (anggota DPR dan delegasi Indonesia yang berusaha menembus blokade Gaza untuk memberi bantuan bersama beberapa negara lain), Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa serta Dubes Arab Saudi, Mesir dan Palestina. Dan...MC-nya adalah eng ing eng. Khoirul Azzam, aktor Ketika Cinta Bertasbih. Tim Nasyid yang hadir dari Tim Nasyid Salam, Brigif, Izzatul Islam, dan Shoutul Harokah. Like This Abis!

Truly Movement Mau tahu biaya registrasinya? Rp 0,00 alias gratis tis tis! Wah...panitia pengertian banget nih, tahu kalau saya tidak punya uang. Tak banyak cin cai, saya segera menggeber motor dua tak saya seperti pembalap Cassey Stoner. Tujuan saya Auditorium FE UI, lokasi acara. Saya sampai pukul 09.00 dan acara berjalan tepat waktu. Disana pesertanya sudah berjubel. Tata panggung pun dibuat apik seperti di TV-TV. Sementara di luar tempat seminar ada TV besar yang menyiarkan jalannya cerita untuk pada peserta yang tak dapat masuk ke ruang auditorium karena peserta membludak. Kemudian galery foto dan posko promosi serta penggalangan dana juga berada di bagian luar. Ups...ingat, tujuanku ke sini bukan sekedar jadi peserta, tapi memberi inspirasi bagi pembaca Ultraz. Judul dan mukadimah saya tepat. Jaga jantung anda, jangan sampai copot. Semua kemegahan acara yang saya sebutkan tadi itu dikelola oleh mahasiswa yang baru masuk bulan Agustus 2009. Maba! 100% panitia dari A sampai Z adalah Mahasiswa Baru 2009. Tentu ada arahan dari senior. Tapi kendali ada di Maba. Project Officer-nya Ruslan Arif, mahasiswa Sastra Arab UI 2009. Ia dibantu sekitar 25 panita ikhwan dan 100 panitia akhwat. Semuanya new student yang masih bau kencur. “Kurang dari 30% yang paham tentang kerja dakwah,” tutur Ruslan. Ruslan memang layak jadi ketua. Sejak SMP ia sudah ikut gerakan dakwah. Kepanitiaan besar ini hanya diberi waktu 1 bulan belum dipotong kesibukan suksesi massal dan isu Pemira di UI. “Praktis hanya tiga minggu waktu efektifnya,” ujar pria asal Lampung ini. Sumpah, acara ini rapih banget. Panitia seragam semua, seragam batik formal. Handy Talkie dimana-mana. Tukang parkir juga dimana-mana. Peserta dapat pelayanan memuaskan. Dapat konsumsi, tempatnya representatif (tapi masih kurang luas untuk ukuran seminar internasional), Mic menyala dengan baik (trauma sama mic di Graha yang biasanya menggema), moderatornya cerdas-cerdas, drummer elektriknya juga keren lho! Cocok buat jingkrak-jingkrak pas nasyidan dll. Bukannya tanpa hambatan. Mereka harus pontang-panting menutup biaya sekitar 70 jutaan untuk acara ini. “Alhamdulillah, semua tertutup dari sponsor dan donatur,” jawabnya. Bahkan tempat acara, baru didapat H-2 pelaksanaan. “Padahal tempat ini (Auditorium FE) plan ke-7 dari 8 plan yang kami siapkan. Allah suka yang ganjil Akh,” candanya. Tadinya mereka khawatir target peserta sekitar 500 orang sulit tercapai. “Alhamdulillah hari pertama yang hadir 800 orang. Hari kedua mungkin lebih banyak karena hari ini puncaknya,” tuturnya. Acara ini bukan sekedar menggelar tanpa tahu esensi. Kenapa gratis? “Agar semua orang tertarik untuk ikut, bukan hanya aktivis dakwah saja. Biar masyarakat luas tahu Ultrassafinah Edisi IV

11


penderitaan saudara-saudara kita di Palestina. Kalau bayar, nggak ada yang ikut,” tegas Ruslan. Terus apa hubungannya Palestina dengan tema pendidikan yang anda angkat? Ruslan menjawab pertanyaan saya seperti dosen ilmu pendidikan. Ia mengaku tujuan acara ini adalah me-lobby Departemen Pendidikan Nasional untuk memberikan kemudahan bagi pemuda Palestina untuk berkuliah di Indonesia. “Makannya kita datangkan Pak Fasli Djalal,” tegasnya. Hasilnya? Pak Fasli bersedia untuk memberi kemudahan itu. “Dalam waktu dekat, kami akan diajak rapat untuk kebijakan ini,” tambahnya. Dari segi biaya hidup dan segala tetek bengek-nya dari pelajar palestina itu, para mahasiswa baru ini bahkan mereka sudah me-lobby beberapa donatur dan sponsor. “Dana di Gaza memang banyak. Tapi sektor pendidikan sudah dihancurkan Israel. Tanpa pendidikan, perjuangan tak akan pernah lengkap. Biarkan kaum intelektual yang menuntaskan perjuangan rakyat Paletina,” tutupnya. Subhanalloh, itu Maba 2009 yang ngomong! Bukan Presiden BEM UI. Kalau di ITS, Maba 2009 saat ini masih masamasa plukuthu-isasi dari seniornya, hehehe, termasuk saya. Paling cuma bisa ngomong,”Nggih..Mas,” atau “Siap Ting (Komting)!”. Mas...jangan curhat masalah pengaderan disini donk. Maaf...memang begitu kenyataannya. Termasuk aturan tunduk setunduk-tunduknya pada senior karena dianggap lebih tahu (sedikit), walaupun ternyata senior itu mahasiswa abadi. Hanya satu kata: Lawan budaya kolot! Ruslan dan teman-temannya adalah wujud kecil dari sistem kemahasiswaan yang berlaku di UI. Bagaimana sejak awal mahasiswa sudah diarahkan sesuai dengan bakat dan minatnya. Dan yang perlu diperhatikan, UI punya pola kaderisasi yang panjang. Bahkan pimpinan-pimpinan UKM di tataran universitas, harus molor kuliahnya. Bukan karena mereka bodoh, pola kaderisasinya yang panjang melatih kematangan kepemimpinan mereka. Begitu juga para panitia yang tergabung dalam Salam Muda Mandiri (Salman). Setelah Orientasi Universitas, UKM-UKM universitas melakukan promosi dan menjaring anggota. Kira-kira di bulan September. Dari hasil itu, Salam bisa menjaring 400-500 anggota baru. Bulan Oktober, para calon anggota dikumpulkan kembali dalam Silaturahim Akbar untuk magang dan ditugaskan program angkatan, ya acara simposium ini. Lalu pada semester depan, mereka sudah bisa mengabdi di Badan Pengurus Harian (BPH) Salam setelah melalui proses fit and proper test.

Palestina dan Heroisme Dulu ada Revolusi Iran, kemudian kisah Mujahidin Afghan melawan komunis, kisah solidaritas untuk muslim Bosnia Herzegovina, kisah heroiknnya pejuang Chechen, kisah perjuangan Palestina dll. Kisah-kisah itu tak kalah heroik dengan Pasukan Islam dibawah Pangeran Dipenogoro, Imam Bonjol, Sisingamangaraja, Sultan Hasanudin. Tak kalah

12

Ultrassafinah Edisi IV

menggelegarnya dengan takbirnya Bung Tomo sebelum banjir darah di Surabaya dan Istiqomahnya Jenderal Sudirman bergerilya membela merah putih. Kisah inspiratif itu membangkitkan semangat, menggoda nurani, dan melecutkan keinginan untuk bebas dari penindasan. Dan kisah heroik ini tak kalah dari kisah pengembaraan Che Guevarra mencari arti kata keadilan, Turunnya Subcommandante Marcos turun gunung bersama tentara rakyat tradisional dan Berjayanya Vietkong menghabisi penjajahan gaya baru Amerika di Vietnam. Bagi saya perjuangan revolusioner di belahan dunia mana pun sama saja. Saya tidak peduli Hamas masuk daftar black list Uni Eropa dan Amerika Serikat. Saya juga tidak peduli Bush sembarangan menyebut Chavez, Ahmadinejad, dan Morales sebagai poros syetan. Lebih syetan mana, Morales Si Petani Miskin dengan Bush Si Pembunuh Rakyat Sipil Afghan. Atau Lee Kuan Yew yang menyebut Indonesia sebagai sarang Islam fundamentalis. Terserah Bapak Pendiri Singapura itu, saya juga boleh menyebut Singapura sarang penadah koruptor garis keras! Saya kira mereka pemimpin besar, ternyata mulutnya saja yang besar. Kalau anda bertanya, Kenapa kita perhatian pada Palestina yang jauh berkilo-kilo meter? Saya balik bertanya Kenapa Che Guevarra jauh-jauh ke Bolivia, Afrika, Havana, padahal ia asli Argentina? Emang negaranya sendiri sudah benar? Kenapa juga Malcolm X rela berkeliling Afrika untuk mencari asal-usul nenek moyangnya kaum Afro-Amerika. Mengapa tak pikirkan saja kaumnya yang ada di Amerika, padahal mereka sedang tertindas? Mengapa pula Indonesia mengirim Pasukan Garuda yang terkenal itu ke berbagai daerah konflik? Bukankah permasalahan dalam negeri saat itu masih banyak? Begitulah sosok personal/bangsa berjiwa besar, mereka tidak dibatasi perbedaan area, kemampuan, kekuatan, pemikiran dll. Pertanyaan-pertanyaan tadi adalah bukti egoisme. Islam itu syumul (menyeluruh). Tidak ada yang namanya Islam Indonesia, Islam Arab, Islam Afrika, Islam Afghanistan dll. Selama berpanduan pada Quran dan Sunnah, mereka saudara kami. Ingat, dalam Palestina itu ada kiblat pertama kaum Muslimin: Masjidil Aqsha. Kalau anda yang Kristen dilarang ke Vatikan, yang Budha dilarang ke Lumbini, tempat lahir Budha, yang Hindu dilarang ke Amritsar dll, apa yang anda lakukan? Lawan! Kalau Umat Muslim dilarang masuk untuk menegakkan Sholat di Masjid bersejarah dan kiblat pertamanya? Jawabannya sama, Lawan! Sampai kapanpun, kisah Palestina akan memberi inspirasi. “Kalau ada orang Indonesia yang mengaku nasionalis tapi antipati pada perjuangan Palestina, maka ia adalah penghianat Nasionalisme!” tegas Shofwan, pria yang sedang studi master Hubungan Internasional di Jepang ini. Ia melanjutkan, dahulu Indonesia mengalami posisi yang sama dengan Palestina saat ini. Kami di penjara di negeri kami sendiri, harta kami dirampok, semua tokoh perjuangan


dibunuh dan dipenjara dll. Bahkan dulu, Indonesia pernah dipaksa merayakan kemerdekaan Belanda dari tangan penjajah Perancis. Bukankah kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa? “Taruh dimana nurani mereka!” Shofwan menyalakan api semangat,“Jadilah orang yang terbaik di bidang antum masing-masing. Rebut kepemimpinan!”. Herry Nurdi menyampaikan hal yang lebih membangkitkan semangat. Ia membongkar mengapa Palestina dan dunia Islam tak kunjung meraih kejayaan. Negara Islam belum mampu mengelola sumber dayanya. Dan solidaritas atau ukhuwah islamiyahnya tidak ada. Ia mencontohkan, suatu ketika UNHCR mengundang beberapa negara untuk menyaksikan 3000 pengungsi di daerah tak bertuan (no mans land). Apabila pengungsi itu dibiarkan maka semua akan mati. Akhirnya negara-negara itu mengambil beberapa orang pengungsi. Perancis mengambil 80 orang, Inggris 20 orang, negara kecil Oceania juga turut serta. Ketika giliran itu sampai ke negaranegara Islam, tak ada satu pun yang mau mengambil untuk dirawat. Padahal mereka saudara seiman. Sudah siapkah pemuda Indonesia? Padahal 41 pemuda Indonesia mati tiap harinya karena Narkoba. Belum lagi kisah siswi/mahasiswi yang hamil di luar nikah. Tahun ini saja, 15.800 kasus HIV AIDS yang terdata. Sedangkan propinsi pemegang rekor pertumbuhan terbesar HIV/AIDS adalah Sumatera Barat. Masya Allah, nagari para Buya, nagarinya Tuanku Imam Bonjol, Hamka, Natsir dll. Bukankah kejayaan itu terletak di tangan pemuda? Dan bukankah mayoritas pemuda Indonesia adalah pemuda Islam juga? Terakhir, Ustad Herry menceritakan suatu hal yang membangkitkan semangat saya. Anda tahu mengapa Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih menjadi sosok pejuang Islam teladan? Karena ia hidup dalam lingkungan yang terbina secara ruhiyah. Ia lahir dari keluarga yang taat beragama. Setiap ke Konstantinopel, Ibu Kota Kerajaan Byzantium atau Romawi Timur, Sang Ibu selalu memberi motivasi kepadanya. “Nak, suatu saat nanti kamu akan merebutnya (Konstantinopel),”. Sementara Ustadnya mampu memaknai hadist Rasulullah tentang anak muda yang sholeh dan memimpin orang-orang yang juga sholeh untuk merebut Konstantinopel. Dan terbukti, Muhammad Al Fatih merebut Konstantinopel ketika umurnya masih 19 tahun. Umur anda berapa sekarang? Modal kemenangan perjuangan Islam tidak sekedar modal ilmu. Suatu hal yang sering kita lupakan adalah kekuatan iman dan takwa. Iman artinnya meyakini, takwa artinya sejauh mana hubungan hamba dan Tuhannya. Berapa fakta sejarah yang membuktikan bahwa kekuatan besar tidak selamanya menang. Umat Islam sekarang memang dipandang remeh. Tapi Insya Allah, kalau Umat Islam kembali mengingat ajarannya, kemenangan bukan perkara sulit. Walaupun ketapel-ketapel dipaksa melawan tank-tank canggih. A l k i s a h , s e u s a i p e ra n g b e s a r m e re b u t

Konstantinopel, Muhammad Al Fatih mengumpulkan semua prajuritnya sembari melepas lelah. Kemudian ia menyuruh para prajuritnya berdiri. “Saya ingin mengajukan tiga pertanyaan sederhana,”. Kalau kata teman-teman pemandu LKMM, ini lagi sesi ice breaking. 1. Barangsiapa diantara orang yang hadir di sini yang sejak akil baligh pernah meninggalkan sholat fardhu berjamaah sekali pun, silahkan duduk. Maka tidak ada satu pun diantara pasukan Muhammad Al Fatih yang duduk. 2. Barangsiapa yang dari akil baligh pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib sekali pun, silahkan duduk. Maka baru setelah pertanyaan ini, sebagian pasukan pun duduk. 3. Barangsiapa yang dari akil baligh belum pernah meninggalkan sholat Qiyamul Lail satu malam pun, maka silahkan tetap berdiri. Semua pasukan buru-buru duduk (yang sudah duduk jadi telentang kali ya?!?!). Hanya tersisa seorang pria yang berdiri. Dialah Muhammad Alfatih Sang Penakluk Konstantinopel. Saya tidak bisa berkomentar apa-apa. Are You Ready To Rock??? Mengarungi samudera kehidupan Kita ibarat para pengembara Hidup ini adalah perjuangan Tiada kata tuk berpangku tangan Merah Saga, Bingkai Kehidupan, Panglima Perang, Jejak, Ini Langkahku, Bangkitlah Negeriku, Harapan Itu Masih Ada dan beberapa hits klasik menggoncang panggung. Dua tim nasyid haroki idola saya akhirnya tampil: Izzatul Islam (Izzis) dan Shoutul Harokah (Shouhar). Saya pun berjingkrak. Suatu hal yang biasa kalau nonton nasyid haroki jingkrak-jingkrakan. Kalau konser band biasanya disebut moshing. Kalau saya bilangnya gerakan memperkeruh keadaan. Setiap penonton bebas bertindak, termasuk mendorong, meloncat, dan terakhir memukul di area moshing pit. Puas! Tapi kalau nasyid, ya tidak sampai segitunya. Pada hari sebelumnya, Tim Nasyid Brigif tampil. Mereka adalah reinkarnasi IRA, tim nasyid yang selalu menutup wajahnya dengan kafiyeh seperti pejuang palestina. Sampai saat ini, identitas personal IRA tidak ada yang mengetahui. Orang hanya mengenal suara dan lagu-lagunya saja. Keren yah, kayak Gorrilaz dengan kartunnya atau Slipknot dengan topeng para penghuni dunia lain. Sebagai orang yang pernah bergulat beberapa tahun dalam seni musik nasyid, tentu acara ini memberi bekas tersendiri. Terakhir saya menonton konser nasyid ketika Milad 10 Tahun Izzis di Tenis Indoor Senayan. Itu lima tahun yang lalu. Surabaya memang ketinggalan jauh untuk masalah nasyid. Peringkat pertama diduduki Bandung, sebagai biang Pop Culture, lalu daerah kosmopolit Jakarta dan terakhir daerah basis mellow Yogyakarta. Wilayah Jawa Timur, praktis hanya Ultrassafinah Edisi IV

13


Malang yang punya tim nasyid legendaris: Suara Persaudaraan. Malang memang memiliki karakter mirip seperti Bandung. Kalau Surabaya, ah...terlalu saklek orangorangnya, dan itu membuat nasyid mati. Saya menangis terharu. Nyanyian Merah Saga, Bingkai Kehidupan, dan Jejak adalah lagu kenangan bagi saya. Segera saya teringat teman-teman tim nasyid dulu yang dengan penuh perjuangan untuk bertahan hidup. Tetap memberi nafas pada nasyid dengan suara kami yang paspasan, olah vokal seadanya, tak punya banyak referensi, tak punya dana untuk mengembangkan diri dll. Saya rindu berdakwah lewat nasyid. Semasa di kampus, saya memang pernah nasyidan juga. Tapi karena atensi dan apresiasi kurang, saya lebih memilih mundur dan mengasah kemampuan saya yang lain. Izzis, saya kenal sejak saya membeli kaset Kembali! Hampir sepuluh tahun lalu. Yups, suara lengkingan Bang Afwan Riyadi tetap jadi ikon pelopor Nasyid Haroki Indonesia yang berdiri 8 Desember 1994. Tepat di hari pecahnya Intifadha pertama di tahun 1987. Izzis terbentuk ketika mereka masih jadi mahasiswa FMIPA UI. Nama Izzatul Islam diambil dari nama Musholla di FMIPA UI. Tak banyak nasyid seangkatan Izzis yang masih eksis. Sebut saja Harmony Voice/HV (Bandung) dan Asysyabaab (Bekasi) dan As Salam (Jakarta) yang sama-sama 'alumni' pagelaran nasyid di Erasmus Huis tahun 1996, sudah lenyap ditelan bumi. Mungkin hanya HV yang tak asing. Sepuluh tahun yang lalu, ketika saya memburu kaset Kembali!. Saya bingung, beli HV atau Izzis, sama-sama bagus sih. Kupilih Kembali, karena album ini benar-benar melegenda. Aktivis dakwah seangkatan saya, biasanya punya kaset itu. Setelah Kembali!, Izzis mengeluarkan album kompilasi 'Berderap di Jalan yang Panjang' dan VCD Marching Out!. Keduanya sangat fenomenal. Izzis bukan tanpa rintangan. Izzis berkali-kali ganti personel. Tiga album pertama personelnya 'kegemukan' sampai 12 orang, lalu kempes jadi 7 orang di album 'Kembali!'. Ada yang keluar, ada juga karena restrukturisasi menuju tim professional. Biasalah..masing-masing punya pilihan hidup. Wajar, munsyid (orang yang bernasyid) tidak bisa menjadikan grup nasyidnya sebagai lahan menggaruk uang. Tapi mereka terus berkarya. Kalau anda dengar lagu-lagunya, sangat sederhana. Pada album Kembali!, belum ada hentakan drum, tata aturan vokal juga belum bervariasi. Menurut Prihati Widya, pengamat nasyid, lagu Izzis punya garis melodi sederhana dan dinyanyikan berulang. Lead vokal akan menuntun lirik, kemudian diikuti koor baik secara unisono (satu suara) ataupun dengan dua atau tiga suara yang disusun secara paralel pada jarak terst, kwint, sekt, sampai oktaf. Teksturnya merupakan gabungan monophoni dan homophoni. Mereka menampilkan garis melodi utama yang diringi oleh seluruh personel secara paralel.

14

Ultrassafinah Edisi IV

Tangga nada mengacu pada diatonik Barat, modus Arab kadang ada pada akhir frase lagu. Lagu Izzis banyak dipakai sebagai Mars aksi/demo. Selain bertema perjuangan dengan lirik yang sukses mencampuradukkan emosi, Izzis memakai pola ritme pendek-pendek dengan birama 2/4 atau 4/4. Ditambah lagi dengan tempo Marcia yang menghentak, membuatnya lagu-lagunya layak diadopsi. Walaupun terlihat tidak ngepop. Tapi di sanalah letaknya orisinalitas Izzis. Shoutul Harokah, muncul setelah Ar Ruhul Jadid (RJ). Mereka mendobrak instrumentasi dan musikalisasi yang biasa dipakai Izzis dan RJ. Sementara RJ sendiri sebenarnya hadir dengan suasana yang lebih radikal ketimbang Izzis. Hentakan drumnya dan suara koor-nya lebih ramai. Lirikliriknya cadas. Kemudian Shouhar hadir saat gencarnya promosi nasyid (Haroki) pada masyarakat umum. Karena sebelumnya peredaran kaset nasyid tersembunyi dan yang mendengar hanya para aktivis dakwah. Saya ibaratkan mereka seperti Linkin Park dan Limp Bizkit-nya nasyid haroki alias new wave. Oh iya, kapan-kapan saya cerita tentang tim Nasyid Al Quds, inspirasi dari gerakan nasyid Haroki Indonesia. Tujuan modernisasi musik nasyid adalah masyarakat mampu mendengungkan mars-mars dakwah tanpa harus takut dicap radikal. Bahkan yang terakhir, musik Shouhar seperti house music alias musik ajep-ajep. Saya sudah mulai tidak suka. Jelas, ruh nasyid sebagai penyemangat jadi hilang. Kalau Izzis dan RJ membuat badan loncat-loncat. Kalau Shouhar kadang-kadang bisa membuat kepala nganggukngangguk. Kapan ya kampusku bisa memproduksi nasyid? Padahal kampus lain sudah banyak yang memproduksi tim Nasyid. Tadi dari aliran Haroki. Kalau dari accapella khas Boys II Man dipelopori Snada. Mereka hadir sebelum Izzis. Terbentuk saat mereka masih jadi mahasiswa Fakultas Sastra UI. Albumalbum awal banyak mengisahkan tentang penindasan yang dialami muslim Bosnia. Lain halnya dengan Justice Voice dengan gerakan nasyid kreatifnya yang gue banget, mereka lahir dari Rohis Kampus di Jogja. Lalu ada Alveoli yang merupakan kumpulan mahasiswa Fak. Kedokteran Unpad. Mereka adalah dokter muda ganteng-ganteng dengan suara bagus banget. Kang...Nasyid mah nggak butuh ganteng, juga nggak butuh suara sebagus Afghan, Ello atau bahkan David Archuletta. Terpenting adalah ruh dan pesan yang dibawa. Pokoknya, acara hari ini seru abis! Terakhir saya kasih sepenggal lirik dari lagu Jalan Juang by Izzis: Sabarlah wahai saudaraku/Tuk menggapai cita/Jalan yang kau tempuh sangat panjang/Tak sekedar bongkah batu karang Pancang tekadmu/Jangan mudah mengeluh/Pastikan azzammu semakin meninggi/Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi/Namun janji Allah yang haq dan pasti!


Special Interview Ahmat Setiabudi, Ketua Salam UI Dakwah Harus Integral! Di sela-sela Ishoma, saya menemui Bang Ahmat. Mahasiswa Psikologi angkatan 2005 tergolong susah ditemui. Wajarlah, seorang kepala LDK terbesar dan terapih di Indonesia (menurut saya). Perawakannya kecil tapi kata-kata yang terlontar dari mulutnya sangat sistematis dan sebenarnya tak mudah dicerna orang yang awam tentang Dakwah Kampus/bahasa langit. Organ pencernaan saya lagi eror, sehingga kadang-kadang saya nggak dong dengan penjelasannya. Tapi tak apa, saya berikan apa yang saya tangkap. Oh iya, hari itu sebenarnya hari-hari suksesi di Salam UI. Beberapa poster terlihat diberbagai mushola fakultas. Kalau tidak salah ada 5 orang calon, hanya satu dari angkatan 2007, sisanya 2006. Kata teman saya, pemilihan Ketum Salam seperti pemilihan Presiden BEM. Mereka kampanye dari satu fakultas ke fakultas lain untuk memaparkan rencana kerjanya. “Hal itu untuk mengenalkan Salam ke masyarakat luas,” katanya. Kemarin JMMI baru melakukan polling ketik Reg spasi Jodoh, oh salah, Ketik Reg spasi Ketum JMMI. Mungkin bagus juga kalau Ketum JMMI harus kampanye ke jurusan-jurusan. Biar anak-anak JMMI tidak ngendon terus di beberapa tempat yang itu-itu saja. Kalau tidak Sekretariat, BU dalam, BU Luar, TU lt.2,dll. Ahmat menjelaskan bahwa sejarah Salam UI justru dibentuk atas prakarsa LDF-LDF di UI. Mungkin mirip seperti di ITS. Tapi pertanyaan besar adalah bagaimana bisa, para Ketua LDF yang bersepakat membentuk Salam UI, padahal posisi Salam jelas lebih tinggi daripada LDF itu sendiri? “Karena ketika itu para pimpinan LDF menyadari arti integralitas Dakwah Kampus. Niat mereka tulus untuk memperluas area dan jangkauan dakwah, bukan merasa tersaingi,” jawabnya dengan diplomatis. Jawaban yang pantas mengingat UI punya 12 fakultas. Dan jangan lupa, di UI, Rohis-Rohis Jurusan juga bepengaruh penting dalam pergerakan dakwah. Mereka secara kultural berkoordinasi dari tingkat yang paling bawah (Rohis Jurusan) sampai LDK. Bahkan jenjang kaderisasinya bertingkat dari bawah pula. “LDF sendiri tak punya hubungan organisatoris dengan Salam UI. Mereka berdiri sendiri, otonom dan posisinya sejajar dengan BEM Fakultas,” tambah Ahmat. Kalau tak ada hubungan sama sekali sepertinya tidak mungkin. Mereka punya buku Pedoman Dakwah Kampus yang merupakan hasil konsensus bersama para

Ketua LDF yang tergabung dalam Badan Koordinasi Lembaga Dakwah (BKLD) dan Badan Pengurus Harian (BPH) Salam UI. “Nah disinilah letak sinergisitasnya, LDK berfungsi sebagai koordinator. Kita bersama-sama membuat Rencana Strategis (Renstra) untuk menuju gerakan yang masif,” tegasnya. Pedoman yang sama dalam posisi dan porsi masing-masing membuat Proker terbingkai dalam 1 visi dan 1 misi. Ada beberapa program wajib yang harus dilaksanakan LDF. Sebagai contoh adalah pengelolaan isu. Masing-masing LDF punya media sebagai corong pergerakan. Sesuai kesepakatan maka secara serentak menjadikan suatu isu bersama, misal momen penerimaan mahasiswa baru. LDK dalam hal ini memberikan arahan untuk dimanifestasikan dalam program yang berlaku di LDF. Salam UI tidak bertindak diktator menentukan acara harus A atau B. Semua tetap berada pada kewenangan LDF asal sesuai dengan arahan umum. Sinkronisasi BKLD dan BPH berlangsung baik. “Jadi nggak ada tuh, kita mengadakan acara yang seragam sama persis. Karena porsi dan fungsi sudah dibagi,” tambahnya. Dalam proses sinergisasi, BPH Salam berfungsi sebagai basis ideologis. Mereka merencanakan dan membreakdown menjadi poin-poin yang lebih kecil pada BKLD. Hal-hal strategis ditentukan bersama dan dikomandokan terpusat oleh Salam UI. Ketika saya tanya apakah kesepakatan itu selalu berakhir dengan mufakat? Ahmat menjawab tegas,”Ya, karena orang-orang yang berada pada BKLD dan BPH punya kepahaman yang sama untuk tujuan bersama yang lebih besar kebaikannya,”. Mereka rela memimpin dan dipimpin. Akreditasi antar LDF memang sudah setara. Dan memahamkan para pengambil kebijakan di tingkat fakultas adalah kunci suksesnya jalannya koordinasi terpusat. Mereka lebih bangga menamakan diri mereka anak Salam UI, walaupun seharihari aktif di LDF. Pembicaraan kita berhenti karena Shouhar sebentar lagi main, hehehe. Intinya, Ahmat dan Salam UI benar-benar memahami ayat Al Quran yaitu tentang berperang dalam barisan yang rapih dan teratur.

Ultrassafinah Edisi IV

15


Stop Door Interview Herry Nurdi (Pemred Sabili) and Afwan (Vokalist Izzis) Dakwah Adalah Idealisme! Tak percuma saya seharian di UI. Dengan gaya nekat, saya membuntuti Target Operasi (TO). Dialah Fery Nurdi, Pemred Sabili yang mengubah wajah Sabili jadi lebih garang, dan Bang Afwan, ikon Izzis, sebuah grup nasyid legendaris. Kedua orang ini memang sibuk banget. Bang Fery baru saja mengisi acara di Bogor, terus Bang Afwan bersama Izzis baru saja nasyidan dari Makassar. Tapi sabodo teuing alias gak ngurus, ini kesempatan langka, sayang untuk dilewatkan. Acara rehat untuk Sholat Dzuhur. Saya bergegas mencegat Bang Herry. Selain saya 'intai', Ia juga sedang diintai anak-anaknya. Mungkin sudah kangen dengan ayahnya. Dengan penuh perhatian, ia mendengarkan celotehan mereka. Namanya anak kecil kadang-kadang cerewetnya melebihi orang tuanya. Saya sempat ragu-ragu untuk interview, ia kelihatan letih. Tapi ia menyambut saya dengan senyum ketika saya memanggil namanya. “Wawancaranya disini aja ya, ana sama keluarga belum pulang sejak tadi Shubuh dari Bogor lanjut kesini,” jawabnya ketika saya meminta waktu untuk sekedar sharing. Sepertiya ia akan bergegas pulang. Pertanyaan saya memang simple. Kenapa Sabili yang berarti Jalanku, begitu melegenda di kalangan aktivis dakwah? Sekedar cerita, kalau anda tahu majalah Sabili yang bagus sekarang itu, dulu hanyalah majalah tipis dengan kertas kualitas rendah (banget). Sekarang mah enak, dulu Sabili itu nggak ada ceritanya mejeng di lapaklapak koran. Sabili disebar dari satu halaqah ke halaqah lain atau dari satu dauroh ke dauroh lain. Pokoknya underground-lah. Nasibnya persis seperti buku-buku kiri. Coba sekarang ke Gramedia, buku macam Das Kapital-nya Marx atau Madilog-nya Tan Malaka malah dipajang. Kalau dulu, jangankan yang jual, yang ketahuan punya saja bisabisa masuk penjara atau dibunuh secara rahasia. Walaupun Sabili disebar terbatas, oplahnya mencapai angka 60.000 eksemplar. Sebuah prestasi yang sulit dicapai majalah apapun di Indonesia. Bahkan isi buku itu jadi pedoman dan inspirasi gerakan dakwah. Kalau anda merasa saya terlalu membesar-besarkan. Silahkan baca tulisan in depth-nya Agus Muhammad di Majalah Pantau yang judulnya “Jihad Lewat Tulisan, Kisah Sukses Majalah Sabili dengan Beragam Ironi”. Tulisan lengkap seputar majalah underground tersukses di Indonesia. Kredibilitas Pantau dalam mengawasi pelaksanaan jurnalisme di Indonesia sudah diakui.

16

Ultrassafinah Edisi IV

Menurut Herry, Sabili hadir untuk memecah kebuntuan dalam gerakan Islam: masalah komunikasi antar gerakan. Sabili memang menjual idealisme. Ia berani bertahan dalam prinsip dan komitmen kuat menjadi advokat bagi gerakan Islam. Sabili pun pernah di-breidel, mirip nasib Tempo. Alasannya sama: mengganggu stabilitas negara. Ya, negara tiran bernama Orde Baru. Dan lucunya, Tempo hancur, para alumninya membentuk majalah sejenis dengan nama Editor, Detik (yang akhirnya di-breidel juga) dll. Sabili juga begitu. Alumninya bergerak bebas dengan majalah baru seperti Al Ishlah, Inthilaq, Al Muslimun dll. Tetap dengan suasana konsevatifnya. Ya itulah. Majalah boleh saja digulung paksa, tapi idealisme letaknya bukan pada percetakkan atau pada peraturan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Idealisme letaknya di hati. Sesekali anda baca tentang SIUPP dan apa pengaruhnya pada dunia Pers Indonesia saat Orde Baru. Ngefek banget pada perubahan pola pikir jurnalisme. Harus pandai-pandai pilih kata. Uang bisa dicari, tapi idealisme tak bisa dibeli. “Sabili berdiri dengan komposisi 80% semangat militansi dan 20% skill,” tegasnya. Sabili hadir sebagai pelopor media pendobrak majalah Islam lainnya yang lebih memilih jaga sikap dengan penguasa. Bang, gimana kalau majalah tidak punya biaya, kebanyakan kita sering mengeluh masalah itu, akhirnya nggak terealisasi. “Ya biasa itu, yang penting doa ente, terus ibadah dibaikin tuh dan perbaiki juga hubungan dengan manusia (muamalah),” sarannya. Saya jadi ingat sebuah cerita. Percaya atau tidak, tulisan-tulisan Majalah Hidayatullah itu ditahajudin lho dan didoain bener-bener. Mereka takut salah menulis dan membuat orang tersesat. Maksudnya, berdoa supaya tulisannya membawa dampak baik. Wajar, Hidayatullah yang baca kan banyak. Sampai segitunya yah... Saya juga menanyakan bagaimana bisa membangun sebuah media solid dengan pendukung yang fanatik pula. “Antum harus belajar 17 tahun untuk menjadi seperti Sabili,” candanya. Ia juga menyarankan bahwa seorang penulis harus punya ruh dalam tulisannya. Benar juga sih, tulisan baik adalah tulisan yang mampu mentransfer ruh penulis ke pembaca, sehingga pembaca kerasukan, lho?! Kok jadi kemana-mana ya. *** Karena bertemu Bang Herry, saya kehilangan jejak Bang Afwan. Setelah saya sholat Dzuhur di Mushola


FEUI, saya kembali ke tempat acara. Alhamdulillah, saya memang selalu beruntung. Ketika Bang Afwan bergegas pulang, saya pun berpapasan. Tanpa pikir panjang, hajar bleh... Anda pernah melihat acara di TV yang mempertemukan fans berat ke idolanya. Ya, pertemuan ini mirip-mirip seperti itu. Tapi saya nggak sampai menangis histeris kayak orang gila. Nggak banget deh. Cuma ada perasaan plong atau senang pas lagi ngobrol. Selama ini saya hanya melihat dari sampul kaset atau dari panggung, itu pun seperti melihat dari sedotan alias duduk di bangku belakang. Tentu cerita awal Izzis menarik bagi saya. Mereka berasal dari mahasiswa MIPA yang banyak berkonsentrasi di Lembaga Dakwah Fakultas Mushola Izzatul Islam. Seperti aktivis dakwah lain, ia juga membina di kampus. “Bahkan kami (personel Izzis), berdakwah keluar juga. Masing-masing memegang desa binaan,” tambahnya. Di desa itu anak-anak Izzis mengelola Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan berbagai kegiatan untuk memakmurkan masjid. Ketika mendirikan Nasyid Izzis, tak ada embelembel cari untung atau cari terkenal. “Semua semangat itu lahir karena tempaan zaman. Mengharapkan uang adalah suatu hal yang tercela dan finansial itu nomor sekian bagi kami,” jelasnya. Wajar, Izzis memang lahir saat masa-masa represif terhadap Dunia Islam, saat ADK masih sedikit, saat gerak dakwah tak semudah dan selanggeng saat ini. Afwan merasakan sekali hasil dari tempaan itu membuat militansi ADK-ADK masa-masa tersebut tinggi. “Makannya tematema yang diusung Izzis menyuarakan kebebasan dari tekanan (tema radikal),” tegasnya. Dikecam? Sudah sering baginya. “Tapi namanya anak muda. Dilarang malah tambah bandel,” candanya. Saya balik menanya, apakah ADK sekarang harus dikondisikan sama seperti antum saat mahasiswa dulu supaya semangatnya tinggi. Melihat kondisi ADK sekarang yang loyo-loyo dan manja-manja. Dia malah ketawa. “Nah, kami dulu itu punya cita-cita mewujudkan dakwah tanpa hambatan. Sekaranglah saatnya, ngapain harus mundur ke belakang lagi,” balasnya. Sekarang beralih ke aktivitasnya yang lain. Semasa mahasiswa ia pernah mendirikan majalah Al Izzah. Awalnya majalah ini beredar hanya di kampus MIPA UI. Lalu berkembang ke satu kampus UI. Majalah mengembangkan sayap ke sekolah-sekolah se-Jadebotabek melalui jaringan Rohis. Bahkan kalau anda main ke Perpus Manarul, anda akan menemukan majalah itu. Hebat kan?! Ternyata majalah tipis itu punya efek besar di Kampus. Sasaran tembak mereka bukan aktivis dakwah, tapi masyarakat kampus secara umum. “Bahasa yang

dipakai pun harus disesuaikan,” ujarnya. Bahkan suatu ketika, kontributor majalah menulis tentang konser musik (terutama band rock) di Balairung UI yang selalu berakhir dengan kericuhan dan pengrusakan fasilitas di dalamnya. Balairung adalah Grha Sepuluh Nopembernya UI. Waktu itu yang jadi sample adalah konser Slank dan Gigi di UI. Judul tulisannya “Ketika Balairung Menangis”. Segera setelah majalah disebar, Senat UI mengadakan rapat. Hasilnya, melarang konser musik (keras) di Kampus UI. Afwan menuturkan, menulis dan berbicara adalah sebuah kebutuhan komunikasi. Kita bisa menulis apapun dengan kapasitas basic ilmu yang dikuasai. Ia melanjutkan, sebenarnya orang yang mengaku tidak bisa menulis adalah orang-orang yang tak tahu apa yang mau ditulis. “Berarti ilmunya masih dipendam sendiri,” ujarnya. Yah, kira-kira begitulah, hasil saya talkingtalking dengan dua orang inspiratif itu. Semoga bermanfaat! Senin (12/1), saya janjian dengan Muhardani di Kampus MIPA UI. Saya pun minta ditunjukkan Mushola Izzatul Islam. Saya penasaran. “Antum pasti kaget kalau melihat musholanya,” sindirnya. Saya seperti terhipnotis dengan nama yang berarti Kejayaan Islam itu. Eh bener, Musholanya juga sempit dan biasa saja. Tapi jauh lebih sempit Mushola FTK ITS. “Yang penting itu hasilnya Akh, bukan fasilitasnya,” ujar Dani mengacu pada keberhasilan ADK FMIPA UI menjadikan lingkungannya sebagai pesantrennya UI. “Yah, terserah ente deh Dan,”. Hari ini tujuanku adalah menemui teman-teman SMA dan menemui mentorku. Setelah nongkrong dengan beberapa teman sampai sore, saya pun bergegas ke rumah mentor saya dulu. Hati Tak Mampu Dibohongi Ketika SMA dulu saya pernah mengikuti mentoring. Bukan mentoring wajib (paksaan) seperti di ITS. Mentoring dari hati, kalau hati sreg ya ikut kalau nggak sreg ya nggak ikut nggak papa. Ada perasaan kangen pada teman-teman satu kelompok mentoring dulu. Karena kita dulu kalau mentoring dari rumah ke rumah. Jadi kami saling kenal bahkan dengan keluarga masing-masing. Dan mentoringnya pun jauh-jauh, kadang di Bekasi, kadang di Depok, Kadang di Pasar Minggu, Pasar Rebo, pokoknya nama-nama hari deh. Kalau di ITS, yah tempatnya itu-itu mulu, ML dah! Apaan tuh? Manarul Lagi Manarul Lagi... Ketika pulang ke Jakarta, saya berusaha menyempatkan bertemu mereka. Hasilnya, mereka telah berubah. Teman saya yang di FHUI jadi aktivis diskusi tentang hukum dan anak band, yang di Tekfis ITB jadi anak band tulen pula sama aktivis winning eleven, hehehe alias Pro Gamer (pecinta game), yang di Mesin UI jadi aktivis dan Ultrassafinah Edisi IV

17


akademisi, yang lain seperti teman saya yang di FK Yarsi, D3 Sipil PNJ, tidak ada kabar. Yah, kita terbiasa hidup berwarna-warni, pilihan hidup orang biarlah jadi urusannya. Mungkin suatu saat nanti saya jadi anak band pula, who knows? Saya memang punya hasrat untuk ke sana. “Ayo, ke Rumah Bang Maman,” kata Dani, panggilan akrab Muhardani. Pria berdarah Batak ini mengajak saya ke mentor kami pas SMA dulu. Betapa senangnya saya. Sudah empat tahun saya tak berjumpa. Bahkan saya pun tak bisa hadir dan memberikan kado buatnya saat ia menikah. Padahal selama tiga tahun, ia membimbing saya secara spiritual. Bang adalah panggilan akrab mente ke mentornya di wilayah Jakarta dan sekitarnya (Yah Jakarta dan sekitarnya? udah kayak adzan maghrib aja). Kalau di Surabaya ya Mas, kalau di Bandung ya Akang atau Aa. Maman sebenarnya adalah nama panggilan kesayangan yang kami (teman-teman 1 kelompok) sematkan pada dirinya. Nama aslinya Hermanto. Sederhana banget ya?! Perawakannya tinggi, kulitnya putih, hidung mancung, ideal banget. Bahasa singkatnya: tampan. Tapi penampilannya sederhana, cara bicaranya merendah, tak pernah tertawa terbahak-bahak, padahal ia kocak banget ketika memberikan materi. Intinya, ia seorang teladan. Dulu saya termasuk anak bandel yang suka menyela ketika ia memberi materi. Maksudnya, mengeluarkan joke-joke segar dan anehnya ia selalu bisa menangkis joke-joke saya. Terakhir kali bekerja sebagai akuntan dan umurnya terpaut kira-kira 10 tahun dengan kami. Kami sebenarnya tak tahu alamatnya dan ketika kami kontak tak ada tanggapan. Cuma karena rasa kangen itu, kami nekat berangkat ke rumah orang tuanya untuk bertanya. Kami bertemu ayahya dan diberitahulah tempat tinggal Bang Maman. Ternyata rumahnya tak jauh-jauh dari rumah orang tuanya. Kami pun menelponnya untuk memastikan karena rumah yang sesuai petunjuk orang tuanya ternyata banyak alias mirip-mirip. “Alhamdulillah diangkat..,” gumam Dani. Emang dasar jodoh, pas lagi telpon-telponan ternyata suara Bang Maman terdengar oleh saya. Yah, ternyata kita lagi di depan rumahnya persis. Rumah kontrakan yang sangat-sangat sederhana. “Afwan, ane agak males kalau nerima nomor Kontak yang nggak dikenal, nomor Antum ganti?” tanya Bang Maman ke Dani. Sudah beberapa bulan terakhir Bang Maman riwa-riwi cari kerja dan sedang menunggu panggilan. Pernah buka usaha tapi gagal. “Coba kalau nomer antum CDMA, pasti ane angkat,”. Kok bisa? “Ya, ane itu lagi nunggu penggilan kerja. Kan nggak mungkin, perusahaan nelpon pake GSM. Biasanya pakai nomor kantor,”. Kami tergelak mendengarnya.

18

Ultrassafinah Edisi IV

Saya tidak bisa melukiskan kata bagaimana perasaan senang ketika bertemunya. Mungkin kalau anda pernah mentoring, anda akan merasakannya di kemudian hari. Ia masih seperti yang dulu. Sambil menggendong mujahid kecilnya bernama Rais, ia bercerita banyak seputar perkembangan dirinya dan tak lupa menanyakan perkembangan kami. Hidangan pisang goreng dan teh hangat jadi teman kami melepas kangen. Sederhana memang, tapi hal itu mengingatkan saya pada masa-masa mentoring dulu. Kalau kata teman saya dulu, logika berbanding lurus dengan logistik. Kalau tidak ada jajanan pas mentoring, materi mentoring tidak bisa masuk. Alasan! Pertanyaan saya pun terjawab sudah. Dari dulu, ia tak pernah memaksa mentenya untuk selalu ikut mentoringnya. Kalau ada kesempatan ya ikut kalau tidak ya nevermind-lah. Tapi entah mengapa, teman-teman selalu berusaha hadir. Walau terkadang, ia berhalangan tak bisa hadir. Kami pun tak pernah kecewa. Saya pun bertanya, mengapa ketika saya kuliah di Surabaya, ia sama sekali tak mengarahkan saya. Minimal mengarahkan agar mengikuti komunitas dakwah seperti di SMA dulu. Saya sempat kecewa. Tapi apa jawabannya,”Ane sengaja, karena yang tahu diri antum ya antum sendiri. Ane nggak mau memaksakan. Biar berjalan alami,”. Jawaban paling diplomatis yang pernah saya dengar. Ia pun tak merasa kaget ketika tahu kabar teman-teman yang lain. “Mereka sekarang jadi ini...itu...,” jelas kami. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, ia harusnya merasa rugi. Ia sudah berusaha membina dan mengarahkan, tapi tak ada yang jadi aktivis dakwah. “Kalau jadi ya Alhamdulillah. Kalau tidak ya nggak papa,” jawabnya sederhana. Yups, namanya hidayah itu punya Allah semata. Kita tidak berhak sama sekali! Pembicaraan beralih ke kabar Rohis SMA. Kami bercerita banyak tentang sejarah dan suka dukanya. Alangkah kagetnya saya karena ternyata dirinya masih memikirkan dakwah dan Rohis di SMA saya. Ia masih membina di sana. Padahal sudah berapa tahun dia bergerak di sana. Kagak bosen Bang? Ya...namanya jalan hidup, tancap aje Bang! Saat ini kondisi di SMA saya sedang kritis. Pembinaan jalan terseok-seok, regenerasi mandek dll. Semoga Allah mudahkan perjuangan ini dan menguatkan mereka. Waktu Maghrib sebentar lagi. Sementara saya harus segera pulang untuk membantu orang tua di rumah. Semoga sukses Bang! Barokallah…


Paris Van Java Beautiful Movement

Selasa pagi (13/1), teman kampus menelpon saya. Saya bertanya dalam hati,”Tumben nih orang,”. Belum ditinggal seminggu sudah kangen. Tapi dari lubuk hati saya ngeledek,”Yeh, siapa yang kangen. Nagih utang kali!,”. Yasudah, diangkatlah itu telepon. ”Woy! Kerja prakteknya besok, darurat!” teriaknya tanpa basa-basi. Saya kaget bukan kepalang. Estimasi saya, praktek dimulai Senin tanggal 18. “Lobby dulu dong, undur sampai Senin,” jawab saya. Aduh...Saya masih berada di Jakarta. Kampus yang baru saya kunjungi pun baru UI. Sementara komunitas pers Suara Mahasiswa UI belum bisa saya temui. Perjalanan saya masih harus dilanjutkan ke Bandung, Jogja dan Solo. Sementara Akhi Azis, Ketua LDK Solo sudah siap menampung saya di hari Jumat. Dan Kang Teguh Sarwono mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman UPI Bandung, Ketua Kelompok Studi Palestina (KSP), sudah menunggu saya untuk bertemu dan berdiskusi dengan Unfair Band, Band Hardcore yang biasa menyuarakan Free Palestine pada setiap liriknya. Setelah mendapat telepon itu, saya langsung berdiskusi dengan Ibu saya. Saya tahu ia tidak akan mengizinkan, masih kangen katanya. Saya pun sedih, hanya sebentar bertemu orang tua. Tapi bagaimana lagi, tak bisa berlama-lama. Saya segera ke terminal Cibinong-Bogor, terminal terdekat dari rumah, untuk cek jadwal bis ke Bandung. Perjalanan saya ke kota Bandung dimulai pukul 15.30. Gara-gara telepon dari teman saya tentang kerja praktek, maka saya harus bersiap dan menyegerakan pergi ke Bandung. Saking mendadaknya, saya sampai tidak sempat memberi tahu ayah karena beliau bekerja dan pulang sekitar pukul 22.00. Tapi Alhamdulillah beliau mengikhlaskan saya untuk pergi setelah saya SMS. Tentu dengan pertanyaan besar,”Kenapa tidak tunggu Papa pulang?”. Maafkan aku Pah... Perjalanan memakan waktu tiga jam lebih sedikit. Inilah kali pertama saya ke Bandung sendirian. Dulu ketika masih kecil, sering liburan ke sana, sekedar menikmati kesejukannya. Bus MGI jurusan Cibinong-Bandung Via Cipularang, yang berjasa mengantarkan saya ke sana. Tiket cukup mahal, 40 ribu. Bis ini cukup terpercaya dan menurut saya ideal dengan harga segitu. Hampir tiap jam, bis ini stand by di terminal Cibinong. Tapi karena kurang pengalaman dan takut ketinggalan bis, saya sudah stand by di kabin bis setengah jam sebelum berangkat. Pancen ndueso koen iku… Sungguh indah, menikmati perjalanan ke Bandung. Awal perjalanan cukup membosankan. Dari terminal Cibinong bergerak keluar ke arah Citeureup menuju tol Jagorawi. Lalu masuk ke tol Jakarta-Cikampek. Ketika bis berbelok ke arah Padalarang, pemandangan pegunungan

asri baru terasa. Tentu dilangkapi dengan area pemukiman penduduk di beberapa bukit. Terlihat terasing, tapi keren lho. Kemudian di celah-celah bukit tadi ada rel kereta api. Subhanalloh, jembatan rel itu benar-benar melintas di atas jurang sangat dalam, tanpa pelindung jembata di sisi-sisinya. Yang membuat (lumayan) takjub, jalan tol ini belah bukit (bukan belah duren ya). Namun tak ada apa-apanya sih. Kalau di luar negeri malah mbolongi gunung atau menyusur di dasar laut. Berangkat pukul 15.30 dan sampai terminal Leuwi Panjang-Bandung pukul 18.30. Menginjak tanah Bandung pertama kali, hawa dingin belum terasa. Ya mungkin, gara-gara lama di bis AC. Saya pun dijemput teman SMA dulu, Adit dari Planologi ITB 2006. Ia jadi aktivis kampus, sekarang amanahnya adalah senator Kongres KM ITB. Ketika sampai di kosnya di daerah Cisitu. Hawa menusuk itu baru terasa. Apalagi ketika pertama kali saya menyentuh air untuk berwudhu. ”Ini air apa es sih?!”. Malam ini saya isi dengan Curcol-Curcol bersama teman-teman SMA di ITB. Ngobrol nggak terasa karena di kos teman saya itu tidak ada nyamuk. Fasilitasnya AC alam, kasur spring bed, TV kabel, internet, gitar, playstation dan kenikmatan dunia lainnya, hehehe. Wajar, kos-kosan itu harganya 4 juta/tahun. Sembari curcol, saya juga menyusun jadwal interview dengan TO dan tentunya jalan-jalan. Tujuan saya ke Gamais, masjid Salman, KSP UPI dan kalau ada waktu ke Gegerkalong/Darut Tauhid.

Special Interview With Ridwansyah Yusuf, Ex-Ka Gamais ITB, Presiden KM ITB Dakwah Harus Merangkul! Ini orang beda dari Ketum LDK yang pernah saya temui. Biasanya Ketum LDK punya gaya klimis, jenggot rapih, pakaian sederhana, celana kain kadang dicincing alias di atas mata kaki, cara ngomongnya juga ane-ente. Ridwansyah Yusuf atau Ucup beda banget! Penampilannya seperti anak Orkay (orang kaya), perlente, pakai jin (bukan jin ifrit, maksudnya celana Jeans), dagunya sepi dari rambut (dicukur terus ya Kang?), ngomong-nya pun kadang-kadang keceplosan lu-lu-gue-gue, maklum dari Jakarta. Tapi jangan tanya kontribusinya dalam dakwah. Ia adalah aktor dari tercetusnya ide LDK Gamais GoInternational. Termasuk orang yang paling getol menyuarakan kemandirian LDK alias bagaimana caranya LDK bisa membiayai dirinya dari usaha mandiri LDK tersebut. Ia pula yang mampu mengartikulasikan Dakwah Kampus sebagai suatu teori bukan sekedar pengalaman kultural. Buku Panduan LDK dan beberapa buku teoritis lainnya Ultrassafinah Edisi IV

19


berasal dari prakarsannya dan terbit atas nama Gamais Press (juga atas prakarsanya). Kurang lebih 15 buku terbit dari percetakan itu. Blog pribadinya, ridwansyahyusufahmad.wordpress.com, sering menjadi acuan ADK-ADK di Indonesia. Saat ini ia telah menulis 2 buku berjudul Rekayasa Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Analisa Instan Problematika Dakwah Kampus. Ia mampu mengokohkan bahwa Gamais adalah contoh ideal dari LDK. “Saya sedang menyelesaikan dua buku lagi yang berjudul Rekayasa Dakwah Kampus (lebih luas dari Rekayasa LDK) dan Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum,” tambahnya. Kedua buku yang akan terbit sebentar lagi ini adalah buah pengalamannya menjadi Presiden KM ITB. Tulisan-tulisannya memang memberi inspirasi dalam gerakan dakwah kampus. Mengenai tulis menulis, ia juga punya jasa untuk menebarkan jurnalisme dakwah di kampus. Ia mewajibkan PH Gamais punya blog pribadi. Tiap Prodi dirangsang untuk membuat buletin-buletin dakwah. “Tidak boleh ada copy paste. Minimal rewriting-lah dengan kadar bahasa yang dimiliki!” tegasnya. Apa tipsnya? “Setiap kejadian menarik selalu segera saya tuliskan. Keburu lupa!” lanjutnya. Bukubukunya adalah tulisan berseri alias tulisan-tulisan pendek yang dibukukan. Bukan suatu analisa struktural. Sekedar pandangan pribadi dengan dasar-dasar dari apa yang ia baca. Dalam pandangan personal, mahasiswa Planologi ITB angkatan 2005 ini adalah inspirasi. Tak berlebihan memang. Dari sisi akademis, IP-nya bagus, miripmirip sama saya gitu deh. Kalau IP terkecilnya 3,2, mirip banget sama saya yang IP terkecilnya 2,3, hehehe. Saya tidak tahu IP terkecilnya berapa. Tapi yang pasti, dalam blognya ia mengaku pernah dapat IPS 3,9 di semester 6 dan 7. Ckckck...tiap hari makan apa lu Cup? Ketika Maba ia adalah Kepala Mahasiswa Muslim ITB angkatan 2005. Menjadi Kepala Gamais sejak semester 4 (sampai semester 7) dan sekarang menjadi Presiden KM ITB, dengan tingkat elektabilitas 70% saat pemilihan berlangsung. Hebat, Pemira di ITS kemarin, fifty-fifty. Tapi sampai sekarang saya tidak habis pikir, dari Ketua LDK terus jadi Presiden KM. “Gila kali nih orang,” ujar saya dalam hati. Kabar terbaru, manuvernya diikuti juniornya, Panji, Kepala Gamais sekarang yang mau maju jadi Presiden. Weleh-weleh, ayaaya wae! Saya janjian dengannya pukul 09.00. Kemarin sebenarnya ada pertemuan antara Kabinet KM ITB dan BEM ITS. Waktu itu saya belum di Bandung. Pagi hari, ia sms saya untuk janjian bertemu di Bank BNI ITB. Saya pun sepakat, maklum rakyat kecil seperti saya harus menyadari kesibukan pejabat. Beberapa menit kemudian ia sms balik, maksudnya merubah jadwal. “Kalau jam 1 bisa”. Wah, jam segitu saya sudah ada jadwal dengan teman-teman KSP UPI. Ia

20

Ultrassafinah Edisi IV

berargumen bahwa ada panggilan mendadak. Tapi bagaimana lagi, jadwal saya juga mepet. Sore nanti saya harus berangkat ke Jogja. Akhirnya ia bermurah hati. “Demi ente, awak cancel (rapatnya),” katanya. Wawancara berlangsung santai, bertempat di Kantin, wilayah GKU Timur. Sambil sarapan pagi Ucup berdialog dengan saya (saya tidak sarapan, cuma mampu beli es teh). Pembicaraan memang difokuskan pada pola DK ITB. Ketika saya bercerita bahwa LDJ di ITS banyak yang tidak jalan dan hanya 10% yang bergerak masif, ia kaget. “LDJ itu tulang punggung Dakwa Kampus,” tegasnya. Di ITB disebutnya Lembaga Dakwah Program Studi (LDPS). Jumlah totalnya ada 29 LDPS. “Nah, Gamais ITB itu adalah LDPS yang ke-30,” ia menyimpulkan. Kalau kita mau belajar mengenai pola hubungan LDJ dan LDK sepertinya lebih pas ke ITB. Mereka memiliki karakteristik yang mirip dengan ITS. Beberapa diantaranya seperti pola hubungan yang tersendat karena masih adanya sekat (fanatisme) jurusan, kaderisasi macet, Syiar tak Optimal, LDJ hidup segan mati tak mau dll. Cukup berbeda dengan yang ada di UI. Salam UI lebih menerapkan pola semi komando yang tegas. Salam UI adalah lembaga dakwah satu-satunya yang diakui dan simbol di tingkat internal maupun eksternal kampus. Sementara Gamais lebih mewujudkan pola komunikasi antar lembaga dalam sebuah forum karena kuatnya posisi masing-masing lembaga. Gamais merangkul LDPS dan menjadikan partner dakwah yang solid. “Gamais hanya memainkan nada saja,” ungkapnya. Kedua hal itu beririsan pada kepahaman untuk membentuk Dakwah Kampus yang masif dan terkoordinir rapih untuk hasil yang lebih besar. Ia juga bercerita bahwa pada kepengurusannya, Gamais pernah menggelar Muktamar untuk membahas Renstra (Rencana Strategis) 2007-2012. “Sampai 2012 bukan karena mau kiamat, kebetulan saja,” candanya. Sebanyak 400 ADK hadir selama rapat dalam waktu satu minggu penuh itu. Salah satu fokus utama adalah integralistik Dakwah Kampus itu sendiri.

Kaderisasi Terpusat, Syiar Merakyat Pada awal kepemimpinannya ia memang bertekad menyatukan LDPS-LDPS di ITB. Selama 4 bulan, ia bergerilya ke setiap LDPS memberi kesadaran tentang integrasi LDPS-LDK. Ia meraih kesadaran pimpinan LDPS bahwa 'ada yang salah dengan dakwah kampus kita'. Kemudian LDPS diklasifiksikan menjadi tiga bagian yaitu Muda, Madya, Mandiri. Parameter yang berlaku adlaah jumlah SDM, kegiatan dakwah, keuangan dll. “Bahkan punya tidaknya jaket khas LDPS termasuk pertimbangan, karena jaket itu bukti eksistensi,” tambahnya.


Pada saat pendataan, masih banyak LDPS Muda. Sementara LDPS mandiri baru sekitar 60%-70%. Menjadi tugas Gamais untuk mengentaskan mereka menuju LDPS mandiri. “Alhamdulillah, sekarang sudah tidak ada LDPS Muda,” ungkapnya. Kemudian dibangunlah forum sebagai wadah komunikasi bukan sebagai lembaga baru dalam struktur Gamais. Lalu dari komunikasi itu muncullah ide kaderisasi terpusat dan syiar wilayah. Artinya, Kaderisasi memang dipusatkan Gamais. Gamais membaginya menjadi dua yaitu kaderisasi aktif dan pasif. “Konsentrasi Gamais memang banyak terkuras pada kaderisasi,” tuturnya. Memang tak gampang mengelola SDM satu kampus. Kaderisasi aktif melalui dauroh kepemimpinan dan soft skill lainnya. “Peserta Diklat di Lembang kadangkadang bisa mencapai 500-500 orang,” katanya. Bayangkan bagaimana cara mengurusi orang segitu banyak. Sementara kaderisasi di LDPS hanya mengangkat tema kekhasan sesuai Prodi, atau tema ke-LDPS-an. Selain itu, Gamais juga punya program Terminal Dakwah (TD). Setiap malam minggu para ADK berkumpul dalam acara Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit). Beberapa agenda dalam TD, seperti materi kajian, setoran hafalan, diskusi dll. “Intinya, ini adalah momen ADK kumpul di Salman,” tegasnya. Kaderisasi pasif melalui mentoring. Ucup menegaskan bahwa Gamais tak terlalu berharap dari Program Wajib Asistensi Agama Islam yang sebenarnya juga mentoring. Sehingga mereka membuka Open Recruitment Mentoring. “Kita mau mengajak orang tanpa paksaan atau embel-embel wajib,” ujarnya. Gamais menyediakan 150 mentor. Masingmasing mentor menuliskan data diri (kapabilitas) dan jadwal mereka mengisi mentoring. Total ada 250 jadwal kelompok mentoring. Semua data itu disebar ke seantero kampus. Sehingga kelompok mentoring kemungkinan besar terdiri dari berbagai Prodi. Semua mahasiswa muslim diberi kebebasan mendaftar dan memilih sesuai keinginan. “Misal saya, Ridwansyah Yusuf, Kepala Gamais ITB. Jadwal saya adalah Selasa Malam. Maka anak-anak yang mau belajar organisasi dengan saya, bisa memilih saya sebagai mentornya. Pokoknya cocok dengan kepribadian mereka dan jadwalnya klop,” ujarnya memastikan. Begitu juga mentor dengan keahlian enterpreuner, akademis, aktivisme dll. Hal itu terlihat dari deskripsi di pamfletnya. Menurut Ucup, cara ini tergolong sukses dengan tingkat keberhasilan sekitar 80%. Sementara gerak syiar secara dinamis dan sporadis dilakukan LDPS. Gamais dan LDPS menyepakati tema syiar per periode waktu. Ia bercerita, dahulu pas tema cinta (mungkin untuk melawan kebiasaan valentine day), semua anggota LDPS wanita diinstruksikan memakai

pakaian berwarna Pink. Sekaligus menyebarkan maksud dari tindakan ini. “Dan kampus benar-benar jadi pink,” ujarnya. Pernah juga tema Palestina, dengan penyebaran opini sampai tingkat jurusan. Sehingga suasana kampus benarbenar terwarnai dan terkondisikan. Selain itu, kajian-kajian keislaman juga dibuat rutin dan dilakukan bukan di Masjid Kampus. “Rutin dari satu Prodi ke Prodi lain,” tambahnya. Mereka menempelkan jadwal Kajian selama satu periode, beserta pembicara dan temanya. Sehingga mahasiswa yang tertarik ikut bisa tahu kemana harus pergi ke tempat kajiannya. Ia mengarahkan Gamais sebagai lembaga yang inklusif. Ia mengungkapkan bahwa semua orang punya hak untuk merasakan berislam, jangan tutup peluang itu. “Binaan saya pun sekarang ada yang masih pacaran, kita hargai proses,” tambahnya. Ia pun menyadari bahwa ada perubahan dari para peserta mentoring ke arah yang lebih baik walaupun waktu yang diperlukan berbeda-beda. Ia mengaku kader Gamais ketika awal masuk 1/3nya tidak berjilbab. Bukan berarti ini sebuah kegagalan. Gamais pun punya target capaian (Muwashofat) kepribadian kader dakwah. “Semua butuh proses Akhi,” tegasnya. Bahkan dari 30-an orang pengurus, hanya 3 orang yang pernah aktif di Rohis pada masa sekolahnya dulu. “Gamais ada memang untuk mencetak kader dakwah,” tutupnya. Ketika ia bicara seperti itu, saya teringat teman TPB dulu. Ia memang tak berjilbab, tapi ia punya alasan kuat yaitu orang tua tak mengizinkan. Saya tidak tahu alasan orang tuanya, tapi menurut saya itu persoalan rumit. Ia pernah mengadu pada saya. “Sebenarnya aku pengen banget masuk JMMI terus ikut-ikut kajiannya. Tapi ketika kumpul dengan mereka (anggota putri JMMI), mereka tidak ramah dan memandang saya sinis. Apa mungkin gara-gara saya tak pakai Jilbab seperti mereka ya?”. Speechless!

KSP: Membela Orang Tertindas Saya tak akan pernah lupa dengan kebaikan dan keramahan sahabatku Teguh Sarwono dkk. Mereka adalah anggota Kelompok Studi Palestina (KSP) UPI Bandung. Saya berkenalan dengan Teguh saat acara di UI. Perkenalan kami pun singkat. Tak ada ngobrol panjang lebar, hanya berkenalan dan minta nomor kontak sambil saya menjanjikan akan menyambangi KSP kalau lagi di Bandung. Dan sebenarnya KSP tidak masuk jadwal pengembaraan saya. Tapi entah magnet apa yang membuat rasa keingintahuan saya meninggi. Di tengah Ujian Akhir Semester (UAS), Teguh bela-belain menjemput saya seusai interview dengan Kang Ucup di ITB. Padahal jaraknya lumayan jauh, setengah jam ke Ultrassafinah Edisi IV

21


arah gunung (daerah Lembang mungkin). Ia pun dengan sabar menunggu sekitar 30 menit di pertigaan dekat Kebun Binatang Bandung karena interview belum selesai. Ia menyambut saya dengan ramah. Kami saling berpelukan. Padahal siapa saya? Manusia jelek dan bodoh. Teguh sendiri mantan Kepala Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman UPI. Bisa saja sebenarnya kalau membiarkan saya begitu saja karena saya bukan siapa-siapa. Malamnya ketika saya baru datang di Bandung. Ia agak khawatir. ”Antum nginep dimana malam ini?”. Saya yakin seandainya saya jawab tidak tahu, pasti ia memberikan tempat penginapan. Pada pertemuan itu, saya seperti tamu kehormatan, dijamu, dikasih makan (makan bareng), bahkan mereka secara sigap memudahkan saya mencari info untuk akomodasi ke Jogja dan bersedia mengantar saya ke terminal atau stasiun terdekat. “Antum tamu pertama kami. Bagaimanapun kami harus menghormati tamu,” ujar Teguh. KSP benar-benar menganggap saya seperti saudara sendiri. Katanya, saya adalah tamu pertama sejak komunitas ini berdiri Ramadhan 1430 kemarin. Sama seperti Ultraz. “Kemarin Punk Muslim juga sudah kontak kita, mau mampir ke sini. Kita masih mikir gimana cara menyambut mereka,” katanya. Kemudian saya diajak berkeliling kampus UPI. Subhanalloh, kampus ITS kalah jauh. Saya nggak bohong. Gedung mereka baru-baru, sudah seperti Mall. Ditambah suasana sejuk khas pegunungan. Maaf, menyindir kampus sendiri Saya perlu mengingatkan teman-teman yang mau ke UPI. Banyak-banyak istighfar kawan. Kalau iman belum kuat, bawa kaca mata hitam. Biar dunia dan seisinya terlihat hitam pekat. Saya saja heran, ini kampus apa sekolah modelling ya? Pantes kalau ada mitos yang bilang kalau cewek-cewek Bandung geulis-geulis euy! Tapi Si Teguh malah bilang,”Sekarang bukan lagi mitos, tapi realita Kang!”. Hahaha. Saya nggak kebayang imannya ADK-ADK Ikhwan Bandung nih setebal baja kapal kali ya?! Kata teman saya sih, selain cuaca dingin dan tak ada sengatan matahari, mereka juga merawat diri dengan makanan-makanan alami. “Makannya kulitnya pada bagus,” katanya. Makanan alami? Maksud lo?! makan rumput langsung dari kebun gitu ya?! Mungkin juga faktor keturunan. So sebabnya banyak orang bilang perbaikan keturunan. Mungkin Bandung salah satu yang direkomendasikan. Cukup-cukup, kalau dibahas lagi, Zine ini bisa berubah jadi majalah Aneka Yess!. Teguh mengajak saya ke jurusannya. Ternyata di sana sudah berkumpul anak-anak KSP. Satu per satu saya dikenalkan. Dan saat itulah pemahaman saya berubah. Saya pikir KSP berisi orang-orang berjenggot dengan jidat itemnya dan wanita-wanita berjilbab besar. Setahu saya, pembela Palestina ya orang-orang dari spesies itu. Ternyata

22

Ultrassafinah Edisi IV

saya dikenalkan sama anak mantan anggota Brigez, gang motor yang pernah masuk TV itu, sama wanita-wanita yang tak berjilbab, cowok-cowok gaul, macam-macam lah, tapi tetap ada Aktivis Dakwah yang turut aktif. “Bahkan ada beberapa yang non muslim Akh,” tegas Teguh. Oh iya, sebelumnya Teguh memberitahu saya bahwa ada band Hardcora/Punk yang konsisten membuat lagu tema perjuangan Palestina. Namanya Unfair dan vokalisnya bernama Dias. Semua personilnya adalah anggota KSP. Maksud saya, dari band itu saya bisa mendapat link ke Liberation Youth RIP di Bandung yang punya No Compromise Zine. Sepertinya nama No Compromise! diambil dari lirik Soldier of Allah (SoA), Rap Nasheed dari USA. Keren lah… Itu sebagai obat karena tidak bisa bertemu LY Jakarta (kabarnya memang sudah bubar) atau berandalan puritan atau apalah namanya. Nah, saya baru sadar ketika tahu LY di Bandung namanya LY RIP (Rest In Peace), karena memang sebenarnya LY sudah bubar. No Compromise sendiri termasuk zine terkenal. Didalamnya ada nama Divan Semesta, seorang penulis progresif dari kalangan Underground. Bandung adalah kiblat anak Hardcore/Punk. Makannya saya bela-belain mau ke Ujung Berung, salah satu sentral komunitas itu. Tapi teman ITB saya bilang,”Ujung Berung jauh banget dari sini (ITB),”. Saya berubah pikiran,”Unfair juga ndak papa lah,”. KSP terbentuk atas inisiasi dosen jurusan Bahasa Jerman UPI, Putra Sulung Baginda. Kemudian berkumpulah mahasiswa yang punya kepedulian terhadap Palestina. Mereka mengadakan kelompok diskusi lalu menyebarkan pamflet berisi berita up date tentang Palestina dan melakukan aksi peduli Palestina. KSP terbagi empat divisi: Keislaman, Secret Society, Media, dan kajian Timur Tengah. Teguh menekankan bahwa studi mengenai Palestina tidak bisa lepas dari konspirasi Zionisme. Secret Society sendiri salah satu ujung tombak utama dalam membongkar kedok konspirasi tersebut. Mereka mengumpulkan data, membahas dan mengabarkan ke lingkungan kampus. KSP tidak hanya menekankan perjuangan Palestina sebagai perjuangan Islam semata, tapi perjuangan membebaskan manusia dari cengkraman Zionisme. Saya sepakat dengan hal ini. Kalau kita teliti dengan baik, teori-teori sosial/ekonomi/politik, walau terlihat saling bertentangan, ternyata menuju pada satu sumber: Zionist Protocol untuk menghancurkan peradaban. Bahkan kalau ditilik para pencipta teori itu, pasti punya darah Yahudi. Kaum Zionis yakin bahwa kaum yang pantas menduduki bumi ini hanya orang Yahudi. Hal itu diamini Teguh. ”Anda tidak pernah mengira. Ternyata ada bukti bahwa Presiden AS masingmasing memiliki hubungan darah: Yahudi,” tambahnya. Ia


mencontohkan bahwa Presiden Obama punya hubungan darah dengan Presiden George Bush. Saya tentu tak langsung percaya karena saya termasuk orang yang punya harapan besar pada Obama. Mukanya saja beda jauh banget. Mereka juga beda partai, Obama Demokrat yang liberal, Bush Republik yang konsevatif. Kemudian hari, saya cekidot ke Mbah Google. Benar! Bahkan Abner Mikva, Jubir Zionis, mantan anggota kongres, dan penasihat Bill Clinton, mengatakan ”Obama adalah Presiden Yahudi Pertama Amerika,”. Seperti dikabarkan BBC, Obama adalah sepupu kesepuluh Bush. Pertalian darah bermula dari Samuel Hinkley yang meninggal tahun 1662. Hal ini berdasar penelitian tim New England Historical Genealogy Society, Burkes Peerage, the Roman Poiso Homepage, dan beberapa peneliti genealogy terpecaya lainnya. Mereka membongkar silsilah kebangsawanan raja-raja Eropa. Mencengangkan. Hasil penelitian menyebutkan dari 44 Presiden AS, 35 diantaranya keturunan Charlemagne, Raja Perancis termasyhur yang membuka jalan Yahudi menguasai perekonomian Eropa. Sementara sisanya keturunan King Edward III (Prince of Wales), pendiri Dinasti Windsor yang kita kenal saat ini dengan United Kingdom-nya. King Edward jelas-jelas berdarah Yahudi. Selain itu, KSP juga membahas konspirasi penguasaan ekonomi dunia. Salah satunya dengan keberadaan World Bank dan IMF yang sukses menghancurkan ekonomi negara dunia ketiga. Zionis juga memainkan peran untuk menghancurkan umat beragama dunia. Termasuk mengirimkan kader-kadernya masuk ke dalam dan menghancurkan dari dalam. ”Mereka (Zionis) membebaskan umat Yahudi untuk memilih agama dan kewarganegaraan. Kemudian mereka menguasainya dan menghancurkan agama dan negara tersebut. Tujuannya adalah tatanan dunia baru (the new world order),” tutur Teguh. Saya jadi teringat kata-kata Mantan Kepala Bakin (sekarang BIN) Letjen (Purn) ZA Maulani,”Menurut kaidah Freemasonry Yahudi (sekte rahasia Zionis terbesar), ada tiga jenis manusia di dunia ini. Pertama, mereka yang mengamati kemana arah peristiwa berjalan. Kedua, mereka yang bingung melihat peristiwa berjalan. Ketiga, mereka yang tidak pernah mengerti kemana dan mengapa suatu peristiwa berjalan. Sebagian besar kita adalah bagian kedua dan ketiga. Dan Usamah Bin Ladin orang dengan kategori pertama,”. Kalau saya bahas semua, bisa jadi satu buku sendiri. Tapi pada intinya KSP berusaha untuk menyadarkan lingkungan sekelilingnya, bahwa Zionisme itu sebenarnya dekat dalam kehidupan kita. Permasalahan paling sederhana adalah para pemuda sudah disesatkan dengan Narkoba, Dunia Gemerlap, Pornografi, berbagai

entertainment lain. Secara tidak langsung menghancurkan suatu bangsa. Kan pemuda harapan bangsa. KSP sendiri sudah melebarkan sayap ke beberapa kampus. ”Februari nanti, rencana launching KSP. Doakan saja,” tutupnya. Selesai ngobrol dengan KSP'ers, kami sholat Dzuhur jamaah di base camp-nya. Setelah itu Unfair datang deh.

Unfair: Percayalah Wahai Pejuang Palestina! Destroy! Destroy! Destroy! Destroy the tank with the stone Destroy! Destroy! Destroy! Destroy the troops with the gun Believe our god will destroy you, I believe our god will beside us! Itulah sepenggal lirik dari lagu berjudul Believe. Ketika pertemuan dengan KSP, saya diberi kesempatan mendengarkan salah satu lagu dari Unfair. Unfair sendiri baru terbentuk pada tahun 2007. Mereka tergabung dalam komunitas hardcore. Yah, dengan kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan menurut saya, tapi mereka saya apresiasi besar karena mampu berjuang dengan jalur yang berbeda. Salut! Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Sang vokalis datang. Namanya Diaz. Ia baru saja selesai UAS. Ketika menunggu, saya sedikit berkhayal. “Orangnya kayak apa ya?!”. Di bayangan saya hanya ada bayangan orang dengan muka sangar, rambut skin atau gondrong, fanatik body piercing, dan pakai baju bolong-bolong kayak abis perang gitu. Eh…ternyata, yang datang lelaki plontos (nggak ada skin-skinana pisan euy), badannya gempal, tingginya mungkin setara dengan saya, bajunya ya bagus, tidak bolong-bolong (ya..namanya baru selesai ujian, pakaian harus rapih). Bayangan saya yang paling mendekati adalah ia suka memakai pakaian hitam-hitam. Dari rambut sampai kaus kaki, hitam semua. Overall, Diaz orang yang sangat ramah dan humoris. Namanya juga anak muda, maunya yang anehaneh, termasuk pilihan aliran musik. Ada yang suka pop, blues tipe melankolis, Rhytm and Blues (R&B), dangdut bahkan sampai Metal (Melayu total seperti Kangen (Kaenjen) Band, eS Teh dua gelas dll). Nah, ada segeintir orang yang suka lagu metal (beneran) atau hardcore. Yah, kalau yang tidak biasa mendengar, bisa mual-mual. Orangnya punya ciri tipe idealis, modis rada aneh, mukamuka brandalan dan biasanya eksklusif. Seperti kebanyakan band Hardcore/Punk, mereka pun menyuarakan masalah sosial, politik bahkan sampai agama dan ideologi. Warna dan ruh lagu Unfair mirip lagu-lagu Avenged Sevenfold. Atau band lawas seperti Sex Pistols, Blackflag dan The Ramones. Musikalisasi diiringi dengan suara growl yang mantap lumayan mendekati beberapa Ultrassafinah Edisi IV

23


master growling seperti Max Cavalera Sepultura, Mark Greenway Napalm Death atau Jonathan Davis KoRn. Kalau di Indonesia mungkin mirip olahan nada dari Jamrud zaman baheula, God Bless atawa AKA dengan vokalisnya Si Ucok yang baru aja meninggal itu. Musik-musik cadas alias batu (rock) banget! Menurut pengakuannya, Diaz sudah nge-Punk sejak dia SMP. Sekarang ia sudah kuliah di UPI, semester 7. Semua berawal dari band. Dan hampir semua Punkers juga berawal dari band. “Biasalah Ababil (Abege Labil),” katanya. Berkecimpungan dalam lingkungan tersebut membuatnya sedikit merasakan kenikmatan dunia termasuk mabuk dan ganja. “Saya pilih yang alami saja (ganja/Canabis/Marijuana),” candanya. Maksudnya bukan bahan psikotropika sintetis seperti heroin, kokain atau amphetamin. Tapi sekarang ia mengaku lebih baik. “Sholat saya mulai baik. Tidak lagi nyimeng (pake ganja) bahkan tidak merokok,” akunya .Alhamdulillah. Lirik tadi mengisahkan rakyat Palestina yang berjuang merebut haknya kembali. Believe adalah salah satu lagu dari lima lagu Unfair yang menyuarakan perjuangan Palestina. Ide lagu ini gara-gara mereka terheran-heran saja melihat bocah kecil Palestina yang sedang membawa ketapel berhadapan face to face dengan Tank Merkava Israel. Persis di depan moncong peluncur rudalnya. “Maksudnya, kita memberi pesan pada pejuang Palestina. Percayalah kalau mereka akan menang melawan Zionis,” kata Diaz. Menurutnya, alasan kuat ia membela Palestina adalah kemanusiaan (humanity). Ketika tampil di gigs, mereka selalu menyebar pamflet untuk menggalang simpati. Terkadang beberapa teman dalam satu komunitasnya memandang sinis apa yang diperjuangkannya. “Pas kami lagi teriak 'Free Palestine!'. Mereka pada bengong. Mungkin dalam hatinya mereka bertanya 'Ngapain sih nih orang” candanya. Ia juga menyoroti agenda new world order seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Termasuk penguasaan dunia hiburan seperti musik dan film. Ia juga menyoroti beberapa lagu Pop yang ternyata menyesatkan. “Lagu Ahmad Dhani kalau ditelisik lebih jauh. Banyak lagu yang mengajak untuk freesex. Jadi tidak benar kalau underground lebih buruk dari pop,”. Kegiatannya juga termasuk menilisik lagu dan film hollywood yang menyampaikan “pesan-pesan tersembunyi”. Saya kehabisan kata-kata. Obrolan kami terlalu banyak dan njelimet. Takutnya pembaca tidak paham. Kemudian saya diantar Teguh kembali ke ITB. Mampir sebentar ke Masjid Kampus pertama di Indonesia, Masjid Salman. Sembari menunggu Ashar, saya berbincang

24

Ultrassafinah Edisi IV

dengan pegawai Yayasan Masjid Salman. Berbincang banyak mengenai sejarah Masjid Salman termasuk dedengkotnya Salman, Imaduddin Abdulrahim (terkenal dengan nama Bang Imad) yang berjasa lewat Latihan Mujahid Dakwah. Ia juga inisiator berdirinya ICMI, Republika dan Bank Syariah. Pembicaraan juga seputar pengelolaan yayasan ini seperti pengelolaan zakat, bimbingan haji, bimbingan ruhani, pengembangan ekonomi syariah, kajian keislaman, perpustakaan, sampai kaderisasi pemuda Salman. Salman adalah inisiator Asosiasi Masjid Kampus Indonesia yang banyak memberikan pelatihan dan pengembangan ke daerah-daerah. Banyak lah...cari sendiri di internet. Setelah itu saya mampir ke gedung sebelah timur Masjid. Di sana tempat sekretariat sayap-sayap dakwah Salman. Saya pun mampir ke Karisma (Keluarga Remaja Islam Salman). Organisasi ini yang biasa mengumpulkan siswa SMA/SMP se-Bandung untuk beragam acara pelatihan dan pembinaan di Masjid Salman. Kemudian saya pergi ke lantai dua, menuju sekretariat Gamais ITB. Ternyata saya kurang beruntung, sekretariat yang mungil itu lagi tutup. Sebelumnya saya cerita kehebatan Gamais dan anda akan tertawa lebar melihat sekretariatnya. “Hah, kecil banget!”. Berkali-kali lipat lebih kecil Sekretariat Putra JMMI. Kondisinya lebih mirip seperti sekretariat UKM yang ada di M-Web sekarang ini. Acara jalan-jalan selesai. Saatnya kembali ke kos Adit. Saya harus segera bersiap karena nanti malam saya harus bertolak ke Yogyakarta. Jadwal berangkat kereta Kereta Kahuripan pukul 20.25 di Stasiun Kiara Condong. Dengan harga 24 ribu, kereta ekonomi ini akan menemani saya menuju stasiun Lempuyangan Jogja sekitar 10 jam. Sementara Kircon (sebutan populer Kiara Condong), lumayan jauh dari Cisitu. Kira-kira 30 menit perjalanan dengan angkot jurusan Riung-Dago. Biayanya hanya tiga ribu perak. Menarik. Saya cerita pada Adit mengenai salah satu tujuan saya berpetualang yaitu bersilaturahim dengan teman lama. Ia pun merasa terpanggil. “Ane suka cara antum,” katanya. Akhirnya, dengan persiapan seadanya, ia ikut saya berpetualang ke Jogja dan Solo. Alhamdulillah akhirnya ada teman. Dan saya akan mengajaknya ngesotngesot untuk mencapai kedua kota itu. Karena sebagai anak orang kaya, mungkin ia terbiasa hidup serba cukup. Tapi kita akan coba melihat dunia sebenarnya, termasuk praktik tentang teori analisa sosial.


Jogja

Never Ending Movement

Selepas Isya kami berangkat. Tanpa pengalaman, kami mengestimasi bahwa kami bisa mengejar kereta itu. Tak dinyana, sampai pukul 20.20, kami masih duduk di angkot. Supir angkot pun merasa kami sedang gelisah. Ia memacu mobil dengan kencang. Pukul 20.25, kami sampai di ujung stasiun. Jarak 200 meter menuju kereta. Kami terpaksa harus berlari untuk mengejar kereta yang sebenarnya sudah datang. Kami berdoa supaya masih bisa diberi kesempatan untuk meraih kereta itu. Sedikit berdesakan dan serobotan, kami dapat tiketnya. Langsung berlari ke kereta. Beberapa detik kami menginjakkan kereta, masinis menekan klakson dan kereta pun berangkat. Alhamdulillah. Seandainya kami ketinggalan kereta. Kami harus menunggu sampai jam 11 malam. Suasana perjalanan sebenarnya mengaksyikan. Sayang, hari itu malam hari, hanya terlihat gemilau lampulampu rumah penduduk yang berada di perbukitan. Saya pun merasakan sebuah kekhawatiran ketika kereta ini melintas di tengah sebuah jurang dalam. Satu lintasan tanpa pembatas di samping-sampingnya. Sebuah pemandangannya yang saya lihat ketika saya di bis dalam perjalanan ke Bandung. Pemandangan kereta api ekonomi jalur selatan tak jauh beda. Sama persis seperti pemandangan kereta ekonomi apa pun di Jawa. Oalah Mas…bayar murah, minta enak! Orang miskin kayak saya harus sadar diri. Kalau kata Eko Prasetyo, tokoh kiri yang lumayan terkenal dari Jogja bilang: Orang Miskin Dilarang Sekolah! Maka saya bilang Orang Miskin Dilarang Naik Kereta yang Layak. Bedanya, jalur selatan lebih sepi dan tidak banyak orang yang tidur di sepanjang jalan gerbong kereta atau orangorang yang “menguasai” WC untuk tempat tidur. Ini pengalaman pertama Adit naik kereta Ekonomi antar kota. Maaf kawan, karena faktor finansial, saya berikan pengalaman baru. Kalau saya sih sudah biasa. Sebenarnya ada tempat duduk. Tapi katanya, itu ruang restoran. Saya harus bayar 20 ribu kalau mau duduk. Heh?! Saya tidak habis pikir. Akhirnya kami diusir. Jangankan duduk, masuk gerbongnya saja tidak boleh. Ia pun tak terbiasa tidur sambil berdiri atau tidur sambil semi jongkok. Saya pun sebenarnya juga merasa berat. Hanya uang yang bisa bicara. Sebenarnya 1 tahun terakhir, saya tidak diizinkan orang tua untuk naik Ekonomi. “Cari yang lebih manusiawi,” kata Ibu saya. Tapi Alhamdulillah saya punya pengalaman banyak tentang naik Ekonomi sebelum ketahuan Ibu saya, hehehe. Bagi saya, jangan sebut diri anda aktivis kalau belum pernah tidur satu Koran dengan mereka (rakyat bawah). Kata teman saya, kereta ekonomi adalah kelas mata kuliah analisa perilaku sosial. Ada-ada saja. Sesekali ku gantungkan kakiku di ujung pintu gerbong. Kaki terasa pegal. Terkadang pula aku tidur sambil berdiri karena tiba-tiba gerbong penuh setelah transit pada sebuah stasiun. Di kereta itu kami bercerita banyak hal. Dari

masa-masa SD sampai SMA dan kemudian berlanjut ke masamasa kuliah. Adit adalah teman akrab saya sejak SD sampai SMA. Bahkan keluarga kami sudah seperti saudara. Saya hafal betul karakternya. Cerita tak berhenti padahal waktu sudah tengah malam. Ya, bagaimana mau tidur, setiap stasiun saya adalah orang yang membukakan pintu gerbong. Belum lagi lalu lalang orang yang mau ke WC ditambah teriakan para pedagang menjajakan barang-barangnya. Lengkap sudah. Mentari sudah tiba. Pemandangan indah pun tak malu lagi menampakkan diri. Aku mengeluarkan kepalaku dari pintu. Ku nikmati laju angin pagi. Sedikit awas memperhatikan tiang yang menyambar sisi kereta. Aku pun melihat ke belakang, alangkah panjangnya kereta ini sehingga ketika rel berbelok, kereta benar-benar melengkung cantik seperti senyum. Mentari pula yang mengingatkan bahwa Jogja sudah dekat. Menurut jadwal, pukul 5 pagi seharusnya kereta ini sudah sampai di Stasiun Lempuyangan. Ah, memang Indonesia. Telat lagi...kereta sampai hampir pukul 7. Padahal kalau di Jepang, Shinkansen telat satu menit saja, masinisnya bisa-bisa dipecat. ”Hey, sepur koyok gedhek mbok mbandingno ambe Shinkansen, Yo Opo sih koen iku?!?”. Maaf-maaf Bos. Siapa tahu Indonesia bisa belajar dari wong Jepang. Lalu kami menunaikan sholat shubuh di Mushola stasiun. Padahal jam 7. Saya punya alasan kuat menundanya. Masak sholat di depan WC kereta? Di kereta ekonomi tak ada tempat bersih dan kami tidak nyaman ibadah dengan kondisi seperti itu. Akhirnya Reza menjemput kami. Ia adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM. Sebentar lagi jadi dokter muda. Masuk UGM lewat Ujian Mandiri. Waktu itu dia pasang yang paling rendah, kalau tidak salah yang biaya masuknya 20 juta. Sebuah prestasi yang luar biasa menurut saya. Dari lahir otaknya memang sudah encer. Kalau saya kan kental kadang-kadang beku. Susah mikir jadinya. Sekarang ia adalah mahasiswa binaan PPSDMS Regional Yogyakarta. Pernah jadi Sekjen BEM Fakultas dan Pengurus Harian Sie Kerohanian Islam (SKI) Fakultas. Dulu, ia adalah Ketua Remas SMA saya. Super Duper hebat lah. Akademis OK, aktivis juga Oke. Kampus UGM itu unik banget. Delapan belas fakultasnya saling terpencar. Walau ada beberapa yang di dalam kompleks. Kalau UI luas tapi jalannya bukan jalan raya umum. Sementara UGM juga luas, tapi sekat-sekat yang membatasinya adalah jalan raya umum. Saya pun melihat kampus FK, sudah kayak Hotel Indonesia, gedungnya tinggi dan melebar. Saya juga mengunjungi Masjid Salahudin. Tidak sebesar Manarul, tapi di sekelilingnya ada taman yang indah. Sayang, ITS gersang. Jadi tanaman yang indah-indah sudah males duluan mau tumbuh di ITS. Sedangkan letak asrama Asrama PPSDMS Yogya agak jauh dari kampus UGM. Di sebuah rumah besar dengan dua tingkat. Nyaman sekali. Sudah dapat pesangon bulanan, Ultrassafinah Edisi IV

25


fasilitas lengkap dan gratis, dapat materi pengembangan diri lagi. Seperti kegemaran saya. Saya pun mengunjungi rak besar di ruang tamu asrama. Kemudian waktu saya habiskan untuk membaca buku. Sore hari kami diajak berkeliling kampus. Sholat Ashar di Masjid Salahudin, kemudian istirahat sebentar. Di tengah istirahat, temannya Reza datang dan sekedar say hello pada kami. Reza pun memberitahu bahwa kami orang jauh. Ia memberi saya oleh-oleh buku tentang belajar tajwid. Kemudian setelah ia pergi, saya diberitahu Reza bahwa orang tadi yang menjadi pioner madrasah-madrasah Tahfidz Qur'an untuk pelajar. Sistemnya mereka tetap bisa belajar di sekolah, tapi malamnya harus ke madrasah untuk menghafal. Subhanalloh. Kami juga cerita banyak tentang fenomena Masjid Jogokariyan. Kata Reza, sejarahnya masjid itu dulu berada di lingkungan basis abangan atau kejawen. Sampai akhirnya masjid itu berkembang, bahkan sekarang menjadi kampung muslim di Jogja yang sangat terkenal. Saya memang pernah mendengar kehebatan masjid ini. Kabarnya, kepadatan sholat shubuh berjamaah di sana hampir sama dengan sholat jumat. Masjid ini benar-benar menjadi centre of society. Subhanalloh. Sukses mengembalikan fungsi masjid seperti zaman Rasulullah. Bukan seperti sekarang, sehabis sholat pintu masjid dikunci rapat. Penggeraknya adalah seorang yang bernama Ustadz HM Jazir ASP, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan dan Ketua Dewan Nasional Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI). Orang yang dihormati berbagai organisasi dan gerakan Islam di Jogja. Kemudian dari cerita ngalor-ngidul-nya Si Reza, diketahui Ustad itu punya anak bernama Shofwan Al Banna. Ealah mbulet ae laan? Malam pun tiba, kami tidur nyenyak di kamar tidur tamu yang memang sengaja disediakan pihak PPSDMS. Pagi hari saya janji bertemu Aqil, Kepala Jamaah Shalahudin UGM yang baru. Baru dua minggu menjabat. Saya dikasih waktu interview setengah jam saja. Di Asrama, anak-anak PPSDMS lagi ada gawean. Pemilihan kabinet internal PPSDMS. Sudah seperti BEM lah. Ada Pemilu, presiden, menteri, program kerja dkk. Aqil juga lagi buru-buru, katanya jam 6 pagi ada syuro PH JS. Yah, akhirnya saya laporkan seadanya saja. Aqil mengaku bahwa JS juga sedang menyusun format terbaik untuk forum lembaga dakwah di jurusan atau fakultas. Mereka menyebutnya Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Intra Kampus (FSLDIK). FSLDIK hadir dengan visi mengoptimalkan syiar Islam. Ruang lingkup kerjanya adalah melakukan fungsi syiar, pengolahan dan penyikapan isu serta melakukan fungsi pendampingan. Dilihat dari sejarahnya, LDK UGM hadir lebih dulu ketimbang LDF dan SKI jurusannya. Justru, LDK yang memprakarsai berdirinya satelit-satelit dakwah baru di lingkup yang lebih kecil. Unik, jauh beda dengan UI, ITB bahkan ITS. Aqil melanjutkan bahwa tahun ini JS sedang gencar membangun

26

Ultrassafinah Edisi IV

komunikasi dengan LDF-LDF se-UGM. Mereka coba menyamakan persepsi dan menyeragamkan langkah. Satu pemahaman yang harus tertanam dalam jiwa penggiat LDF adalah LDF berada dalam naungan LDK. Terbukti dengan ditempatkannya pimpinan LDF sebagai anggota kehormatan JS UGM. FSLDIK membentuk Badan Koordinasi (Badko) yang berisi mas'ul-mas'ul LDF. Di bawahnya ada lima jaringan antar LDK yang menjadi fokus koordinasi. Hal itu antara lain Jaringan Khusus (Jarsus) Kaderisasi, Syiar, Media dan Opini, Humas dan Kemuslimahan. Mirip komisi-komisi yang ada dalam struktur FSLDK. Atau seperti jejaring yang setahu saya dibangun BEM ITS, seperti Koordinasi antar Departemen Ristek Hima se-ITS dan departeman lainnya. Menurut Aqil, hal itu sangat membantu. Tidak ada lagi namanya LDK yang krisis kader. Semua kader LDF adalah kader LDK juga. LDF melaksanakan dua tahapan kaderisasi yang biasa disebut Latihan Kader (LK). Semantara JS punya tiga lapis kaderisasi yang bias disebut Training Kepemimpinan (TK). Materi di LK akan dimatrikulasikan dengan materi TK JS. Sehing ga pengetahuan tentang ke-LDK-an tetap tersampaikan. 'Bukan tidak mungkin, Ketua LDF bisa menjadi Ketua LDK' tegasnya. Malah kader purna LDF sengaja diarahkan untuk membangun LDK dengan pengalaman mereka. Mereka terakselerasi secara alamiah dibanding kader yang dari awal memang sudah aktif di JS. Menurut pengamatan saya, JMMI menutup peluang itu. Ketua Umum JMMI ya orang yang sejak lama berkecimpung di JMMI. Ketua Kajian Jurusan yang tak pernah berinteraksi dengan JMMI, mustahil jadi Ketum JMMI walau punya kualitas mumpuni. Penyebabnya adalah tak ada kesetaraan dan keseragaman lembaga. FSLDIK bukan tanpa hambatan. Aqil sebagai ketua LDK berusaha tidak menampilkan warna yang ada dalam tubuh lembaga dakwah. 'Hal itu tak perlu ditunjukkan. Tunjukkanlah apa kontribusi yang bisa kita berikan ?' tanyanya retoris. Arus komunikasi dibina dengan rapih baik secara bottom up maupun top down. 'FSLDIK hadir untuk mengatasi permasalahan global. Tidak mengekang dan mempersempit ruang gerak. Semua dikonsep dengan matang,' tutupnya.

Solo: Kingdom of Movement Hanya semalam kami menginap di Asrama PPSDMS Jogja. Pagi buta, kami bersiap. Jadwal kereta terdekat menurut jadwal yaitu pukul 07.00. Karena kami belum makan, kami pilih kereta yang berangkat jam 08.30. Saya dibonceng Wildan, mahasiswa Sosiologi UGM angkatan 2006 yang sedang sibuk mengerjakan TA. TA-nya seputar pertimbangan sosiologis komunitas mural/grafiti. Kebetulan saya pernah menulis tentang mural di Surabaya untuk koran lokal. Waktu itu saya bertemu dosen DKV UK Petra yang menjadi pelaku dan pengamat perkembangan grafiti di Surabaya. Wildan pun mengambil sumber dari sana. Jadilah, kita mengobrol panjang


tentang hal itu (dalam hati sebenarnya saya malu, kapan ya saya bisa mengambil TA dan segera lulus?!). Kemudian kita makan pecel. Dan Alhamdulillah, saya ditraktir lagi. Hahaha. Uuueenak tenaaaan le… Sampailah kami di Lempuyangan. Setelah menunggu setengah jam di mushola stasiun, kami foto-foto dan kereta pun datang. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga kereta yang lebih manusiawi: Prambanan Ekspres atau yang biasa disingkat Prameks. Dari cat luarnya saja kita tahu bahwa kereta ini lebih santun dan bersahabat ketimbang kereta Kahuripan yang kami naiki kemarin. Kereta nglaju Jogja-Solo ini mirip dengan kereta Pakuan yang melayani rute Jakarta-Bogor. Saya biasa menaikinya kalau mau berlibur ke Kebun Raya Bogor. Harga Prameks hanya Rp 8000 untuk waktu tempuh sekitar 1 jam (Lempuyangan-Solo Jebres). Satu jam lebih cepat bila menggunakan mobil. Pertama diluncurkan tahun 1994, penglaju SoloJogja masih cinta dengan bis. Tapi karena Prameks menang cepat, akhirnya Prameks jadi andalan para penglaju. Kereta bermesin diesel ini merupakan hibah dari pemerintah Jepang. Yang namanya hibah, kita mesti nerimo. Prameks buatan tahun 1970-an kemudian dimodifikasi PT INKA ala kadarnya. At least, wajah Prameks mampu mendobrak orientasi rel-rel panjang seperti Jakarta-Surabaya atau Bandung-Surabaya dan mampu memberi pelayanan layak untuk mass transportation. Satu jam lebih sedikit, kami sampai di Stasiun Solo Jebres. Jebres memang akses termudah menuju UNS. Sementara Solo Balapan lebih mudah ke arah kota Solo. Menginjakkan kaki di Solo, saya terasa dilempar ke beberapa dekade lampau. Peradaban pedesaan masih sangat kental. Pribadi masyarakat yang santun, ramah, dan tepa selira jauh beda dengan kondisi di Jakarta atau Surabaya yang cenderung individualistis. Secara sosial, sangat besar peran kekuasaan sentral keraton Surakarta. Sampai saat ini, masih sangat tampak keberadaan pasar tradisional, kendaraan tradisional, nama jalan dengan aksara jawa, bangunan tua dengan arsitektur jawa dan jalanan yang sepi tidak seperti di kota besar. Sumpek. Dewan menjemput kami setelah selesai ujian. UNS sedang ujian sama seperti kampus lain yang saya kunjungi sebelumnya. Azis Ketua LDK Nurul Huda UNS, pun mengabari masih ujian jadi belum bisa menyambut kami. Lalu Dewan mengajak berkeliling UNS sebelum kami menegakkan sholat Jumat. Bangunan kampus sederhana, bahkan kalau boleh menilai, cukup ketinggalan jaman. Begitu juga peralatan didalamnya, saya seperti terlempar ke masa-masa 10 tahun lalu. Saya mengunjungi sekretariat SKI FMIPA. Di ruang sederhana itu, terdapat ratusan anggota yang tiap hari keluar masuk sekretariat. “Kalau rekrutmen, SKI termasuk paling banyak. Bisa sampai 100 orang lebih,” kata Dewan. Di balik kesederhanaan itu, mereka cukup tangguh dan solid. Terlihat dari ramainya sekretariat, entah rapat, sekedar cangkruk, atau latihan nasyid. Saking sederhananya, mereka membuat

spanduk untuk sebuah acara dari kain lalu ditempelkan satu per satu huruf dari potongan kertas karton. “Yaelah, ini mah kayak jaman gue SMP!” gerutu hati saya. Tidak bermaksud mengejek, saya tetap salut dengan ketahanan mereka menghadapi gempuran budaya dan tren dari luar. Kami pun diajak makan di kantin dekat kampusnya. Nasi pecel euy! Dan luar biasa kagetnya saya ketika membayar makanan tadi. Harga nasi pecel hanya dua ribu Padahal makan sampai perut mau meledak. Sumpah, saya tidak habis pikir. Mungkin budaya nerimo-nya orang Solo masih benar-benar kental. Down to Earth. Oh iya, Dewan ini sahabat saya ketika SMP. Pernah aktif di Rohis SMP, bahkan jauh lebih militan dibanding saya. Pengetahuannya, bukan lagi seputar dakwah kampus, tapi sudah dakwah regional. Walaupun secara kasat mata, ia seperti pemuda biasa yang suka guyonan juga. Rumahnya berada persis dibalik tembok Keraton Surakarta. Sekarang ia mahasiswa Fisika UNS. Sayang, rumah dekat dengan keraton ternyata tak membuat kami lega menikmati keunikan keraton. Hari itu (setiap Jumat) keraton memang tutup. Jadilah kami seperti turis kesasar, foto-foto nggak jelas. Saya dulu paling hobi mencari tahu tempat bersejarah. Cukup terpuaskan juga, melihat bangunan megah yang dibangun sekitar tiga abad lampau. Sore hari, Akh Azis menemui saya di halte depan kampus UNS. Saya sudah berpisah dengan Adit. Adit dan Dewan balik ke Jakarta, sementar saya meneruskan perjalanan ke Surabaya. Di bawah rintik hujan, kami melepas kangen. Akh Azis orang teramah yang saya kunjungi selama perjalanan saya, setelah teman-teman KSP. Pokoknya orang Solo banget deh, halus. Kami bercerita banyak hal. Sebenarnya nanti malam di Masjid Nurul Huda UNS, ada pertemuan akbar LDK dan LDF se-UNS. Sayang, saya sudah terlalu lelah. Ingin sesegera mungkin pulang ke Surabaya. Tiga puluh ribu, sebuah harga pantas untuk bis sekelas Sumber Bencono. Ups, Sumber Kencono. Teman saya sering memplesetkannya karena bis ini terkenal sebagai jawara jalanan Jawa Timur. Peraturan bis ini hanya satu,”Sesama Bis Sumber Kencono dilarang saling mendahului,”. Benar saja, selama perjalanan tujuh jam, sang supir sukses membuat saya melotot melihat jalan. Bayangkan, di depan sudah ada Container segede gajah, masih saja menyalip dan mengambil lajur dari arah berlawanan. Kata teman saya, supir-supir Sumber Kencono itu mantan pilot. Jadi kecepatannya disesuaikan sama pesawat. Ada lagi yang bilang, mereka itu pensiunan balapan formula satu. Teman saya yang lain lebih lucu lagi. Katanya, mereka itu sudah pikun semua, lupa mana pedal rem mana pedal gas. Ada yang balas menimpali,”Bis Sumber Kencono mah nggak punya rem kaleee....,”. Alhamdulillah, setelah berjam-jam spot jantung, jam setengah 12 malam saya sampai Surabaya. Mission Succeeded! Ultrassafinah Edisi IV

27


Beginilah Caraku Mencintai Ingatkah kawan kita pernah saling memimpikan. Berlari-lari tuk wujudkan kenyataan. Lewati, segala keterasingan. Arungi jalan sempit yang tak pernah bertuan. Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan. Memaksa kita memendam kepedihan. Memaksa kita merubah jadi tawa. Penggalan lagu Kesepian Kita dari Pas Band terasa sangat bermakna. Pas Band, band indie yang dulu ketika SMP sempat aku idolakan. Orang-orang yang saya temui dalam perjalanan kemarin adalah representatif dari lagu ini. Sepuluh tahun lalu, aku masih anak SMP yang sedang mencari jati diri. Mencoba adalah salah satu kegemaranku. Terutama hal-hal yang sifatnya melawan pattern. Sepuluh tahun lalu, aku adalah pemberontak. Keinginanku melepaskan diri dari ikatan pada orang tua sangat kuat. Aku ingin mencoba sesuatu yang ”keren” menurutku. Apabila dilarang, maka aku makin menjadi. Ku panjat pagar tajam di depan rumah, lari sejauh-jauhnya. Tak jarang kulontarkan kata-kata kotor pada Ibuku. Aku marah besar. Kadang ia menangis sendu. Mungkin menyesal telah melahirkanku. Tapi mana kupeduli. Puncaknya, aku hancurkan perabotan di rumah. Walaupun aku tahu bahwa keluargaku bukanlah keluarga serba cukup kalau tak mau dikatakan miskin. Rihlah kemarin bukan sekedar jalan-jalan. Perjalanan selama 5 hari itu sungguh bermakna bagiku. Aku berhasil membangkitkan semangatku. Memori kenanganku terbuka lebar. Lembar-lembar sejarah hidupku tersusun kembali. Berjilid rapih menuju lembaran terakhir yaitu sebuah cita dari seorang yang penuh tekad. Hidup Mulia atau Mati Syahid! Pertemuanku dengan Afwan, Herry Nurdi, Bang Maman, Ucup, Adit, Reza, Dewan dll, melempar jasadku jauh memutari waktu. Ya, sembilan tahun lalu, pertama kali aku diajak seorang seniorku di SMP untuk berkumpul melingkar. Mereka menamakannya mentoring. Kelak aku mengetahui, seniorku itu menjadi seniorku di ITS, setelah tidak bertemu selama 5 tahun. Orang yang pertama menjadi mentorku adalah seorang siswa SMA. Namun, selang setengah tahun, mentorku berganti karena ia harus melanjutkan studi ke STAN. Nah, mentorku yang baru adalah mahasiswa UI. Kurang lebih tiga tahun aku dibinanya. Dan Adit adalah mas'ulku pertama. Orang pertama yang kukenal memiliki jiwa revolusioner. Mereka mulai membelokkan jalan hidupku. Mereka mulai mengajariku mengingat sholat.

28

Ultrassafinah Edisi IV

Mereka pula yang menyemangatiku untuk menjaga sholat berjamaah di masjid. Akhirnya dalam hatiku tumbuh cinta pada bangunan nan menyejukkan itu. Mereka mendidikku untuk bersikap santun pada orang tua, guru, dan teman di sekitar. Egoku berkata aku tak akan bisa menjalankan hal itu. Tapi mereka selalu berujar,”Biarlah waktu yang berbicara,”. Mereka sering bercerita tentang Rasulullah. Aku pun semakin cinta pada akhlaknya. Pelajaran paling sederhana adalah jujur. Aku melatih diri menjadi orang jujur termasuk ketika ujian di sekolah. Dilarang menyontek, itulah yang menjadikan kami juara di kelas kami masing-masing. ”Seseorang dihormati karena akhlak dan ilmunya,” ujar Rasulullah. Mereka mulai mendekatkanku pada Alquran. Selepas lulus dari Taman Pendidikan Alquran (TPA) ketika SD, aku memang tak lagi memegang Alquran. Padahal dulu, aku murid terbaik di TPA tersebut. Aku pun mengenal mushaf kecil atau yang biasa disebut Alquran kantong. Panjangnya hanya sejempol. Terbiasalah tangan ini membukanya dan mulut ini membacanya. Walau hanya membaca satu ayat saja, mereka tak marah dan hanya berujar,”Yang penting rutin,”. Ya, syarat itu yang mengiringi setiap pesan kebaikan dari tiap pertemuan mentoring kami. Kebaikan sebesar apapun tak ada gunanya kalau tidak dilakukan rutin. Ibadah sunah tak terlewatkan dari kurikulum. Gara-gara mereka, aku jadi terbiasa sholat Dhuha, walau dulu aku benar-benar tak hafal surat Ad Duha dan Asy Syams. Sesekali aku melatih perutku untuk berpuasa Senin-Kamis. Mereka juga mengajarkan aku bagaimana nikmatnya bersaudara. Bagaimana nikmatnya makan satu nampan bersama teman satu kelompok mentoring. Merasakan juga sulitnya membiasakan minum sambil duduk dan meneguknya perlahan. Membiasakan salam pada saudara yang muslim dan selalu mengucapkan kalimat kebaikan seperti Alhamdulillah ketika mandapat rezeki, Masya Allah ketika kaget dll. Sederhana kan?! Sembilan tahun lalu, pertama kali aku diajari bagaimana tetap mempertahankan darah musikku walau sekarang aku menjadi anak Rohis (Rohani Islam). Aku pun masih ingat ketika seniorku mengajarkanku dan temanteman bernyanyi Assalamualaykum, Aku Anak Rohis, Muslim Watashiwa sampai Hai Mujahid Muda. Kami senang, walau kami tak pernah menjadi munsyid terkenal seperti Snada, Izzis, The Fikr, SP dll. Tapi syair dalam liriklirik itu masih membekas di otakku. Aku pun terkadang tertawa sendiri, ketika kami


menyanyikan Muslim Watashiwa yang sebenarnya kami tidak tahu sama sekali karena liriknya yang full bahasa Jepang itu. Aku tersenyum ketika kami menyanyikan lagu Aku Anak Rohis. ”Aku anak Rohis/Selalu optimis/Dengan ciri-ciri berwajah manis/Berjenggot tipis/Tidak berkumis/Walau berkantong tipis/Tetap aktivis. Hahaha, padahal dari sisi medis, anak seumuran segitu (awal SMP) jarang ada yang sudah berkumis atau berjenggot. Lah, bicara masalah kantong ya memang tipis. Wong, kita masih SMP, uang jajan dari orang tua paling hanya dua ribu perak. Aktivis lagi, mau demo pakai baju putih biru?? Lagu lain yang aku ingat adalah My Sister My Brother there is good word to remember when we walk together and meet to the other, say Assalamualaykum... Aku ingat, ketika aku bersama teman-teman tampil dalam sebuah peringatan hari besar Islam di depan semua siswa SMP-ku. Dengan ”berani”, kami menyanyikan lagu Kami Harus Kembali. Kabarnya, lagu legendaris itu juga dinyanyikan mujahidin Maluku ketika melawan orang-orang yang mengusirnya dari tanah kelahirannya, membunuhi keluarganya, menginjak-injak agamanya, melecehkan nabinya, dan membakar masjidnya. Sayang, tak banyak orang yang tahu itu. Wajar, media masa di Indonesia sudah sejak lama dikuasai orang-orang yang ”sok membela HAM dan berlagak cinta damai”. Pertemuanku dengan Afwan Riyadi jelas memberiku inspirasi baru. Segera setelah sampai Surabaya, aku membongkar koleksi kaset nasyidku. Kubuka album Kembali!. Nampaknya, pria yang tampak tampan di album seharga Rp 12.000 itu, sudah mulai keriput ketika aku bertemunya. Umur telah mengendurkan kulitnya. ”Separuh hidupku diberikan untuk dakwah dalam nada nasyid haroki,” ujarnya. Lihat, apa yang Izzis tuliskan pada prolog album itu. ”Dengan nasyid ini kami menyeru untuk gugah kehormatan diri, ummat, dan agama yang lama tercabik dihinakan. Kami kembali untuk seruan yang tetap lantang dikabarkan. Allahu Akbar!”. Ya, sembilan tahun lalu, aku diajak oleh seniorku ke satu-satunya toko muslim di daerahku. Toko kecil, sederhana dan terlihat tidak punya dana untuk pengembangan. Tapi sejak mengenalnya aku semakin jatuh cinta. Hampir tiap minggu aku kunjungi toko itu. Entah membeli kaset nasyid dari hasil tabunganku, atau sekedar membaca. Kegilaanku akan membaca terpuaskan. Kadang kalau cukup uang, aku membeli buku tebal tentang pemikiran. Maaf saja, aku bukan tipe pecinta novel-novel remaja dengan segala pergulatannya. Alangkah bahagianya ketika bertemu bos Sabili, Herry Nurdi. Majalah yang menjadi mentorku sejak saya

masih berbaju putih biru. Biasanya sambil menunggu mentor datang, aku puaskan membaca Sabili yang berjejer di lemari Perpus masjid. Hebatnya, Sabili di lemari itu kebanyakan Sabili tahun 90-an. Tipis-tipis tapi berisi. Sejak itulah, nuraniku terbuka lebar. Sudah saatnya, Islam bangkit dan berontak melawan penindasan. Aku mengenal banyak penindasan terhadap Islam. Di negeri sendiri, aku tidak akan lupa kisah Tanjung Priok, penghilangan aktivis (dakwah), larangan pemakaian jilbab di sekolah-sekolah negeri, pembunuhan Ulama di Banyuwangi oleh ninja yang dispekulasikan mirip pembantaian ulama NU oleh Pemuda Rakyat atau Barisan Tani Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin, pembantaian santri pesantren Walisongo (Poso) dan muslim Tobelo-Galela (Maluku). Kalau luar negeri, aku tak lupa kisah genosida Srebrenica (Bosnia) dan Sabra-Shatila (Lebanon). Kisah penindasan Muslim Pattani, Mindanao, Uighur, Rohingya, India, dan Palestina yang tak kalah menggetarkan. Aku pun tertawa geli melihat ketakutan dunia apabila Islam menang, seperti yang diukir Mujahidin Afghan, Front Islamic de Salute (Aljazair), Refah Partisi (Turki), dan Hamas (Palestina). Bahkan ketika aku SMP, aku sudah kenal tokohtokoh pergerakan dunia Islam. Dari Izzudin Al Qassam, Imad Aqil, Syamil Besayev, Ahmad Deedat sampai M.Natsir. Majalah ini juga memberiku pengetahuan tentang perang pemikiran. Aku sedikit tahu tentang Zionisme, Kristologi, Islam liberal, Islam kiri, sosialisme, kapitalisme dll. Banyak deh! Mungkin anda tertawa. Gara-gara membaca Sabili, aku punya tekad pergi ke Palestina atau Afghanistan. Apa sih yang bisa dilakukan seorang bocah SMP? Mau memanggul RPG yang setinggi badanku? Bahkan seandainya diizinkan orang tua, saya berani berjihad ke Maluku. Ulasan up to date ketika konflik Maluku, sangat menginspirasi. Apalagi setelah saya bertemu rombongan Jamaah Tabligh yang sedang mampir ke masjid dekat rumah. Sebagian mereka alumni jihad Maluku, aku semakin bersemangat setelah mendengar cerita mereka. Anda mungkin tak tahu perasaanku. Tapi cobalah membaca dua buku tentang konflik Maluku. Buku pertama tentang konspirasi di balik konflik Maluku yang ditulis Brigjen (Purn) Rustam Kastor, mantan Kepala Staf Kodam Trikora. Anda akan terkejut dengan paparan data dan hati nurani seorang perwira tinggi itu. Buku kedua tulisan Azimah Rahayu yang berjudul Senja Merah di Tanah Maluku. Buku itu berkisah panjang tentang perjuangan dokter-dokter muda UI yang nekat pergi ke Maluku ketika konflik sedang panas-panasnya. Kemudian Ultrassafinah Edisi IV

29


mereka menamakan diri dengan nama Medical Emergency Rescue-Committe (MER-C) pimpinan dr Jose Rizal Jurnalis. Gara-gara buku ini pula, aku sempat bercitacita menjadi dokter. Mereka memberi saluran rasa cintaku terhadap sepak bola. Dalam suasana keakraban, kami bermain. Bahkan tak sedikit, mereka yang terpanggil dalam jalan dakwah ini karena olahraga yang satu ini. Sebelum bertanding kami diberi syarat. Pertama harus tetap menutup aurat. Kami menyebutnya under knee law (celana harus di bawah lutut). Kedua tak boleh berkata kotor, mengasari pemain, dan jujur. Kalau handball, ya ngaku aja. Kalau tidak ngaku malah dapat kartu merah. Terakhir, setiap mencetak gol, semua harus bertakbir, Allahu Akbar! Kalau tidak, gol dianulir. Ada saja pelawak yang ikut bermain. Jadinya, setiap pertandingan lebih banyak tertawa sampai sakit perut daripada bermainnya. Terlalu banyak hal konyol yang harus aku ceritakan. Mereka pula yang mengajariku mendaki gunung melatih diri survive di tengah keterbatasan. Aku jadi merasa seperti Soe Hok Gie. Mereka melatih mentalku untuk mempertahankan prinsip. Mereka mengajariku memakan apa yang ada di alam. Sumpah, mirip orang primitif! Tapi seru brader! Itulah pelajaran uzlah (mengasingkan diri) dari rutinitas yang membuat otak mau pecah. Sekalian menikmati keindahan alam yang tak akan pernah didapat di Jakarta. Walau orang tajir-tajir seJakarta dikumpulkan untuk membangun gunung dan pemandangan indah itu di Jakarta. Tak akan bisa! Adit, sosok tak terlupakan. Ketika SMP, ia adalah orang yang paling keras suaranya ketika bertakbir untuk membangkitkan semangat. Paling menggebu-gebu ketika bercerita tentang penderitaan saudara seiman. Tapi paling kencang tangisannya saat ber-muhasabah. Saat kami disuruh memilih nama samaran kami dari nama sahabat Rasulullah, ia pilih nama Umar bin Khattab. Sedangkan saya pilih Usman bin Affan. Jelas, ia adalah orang pertama yang berani maju menghadap ke Kepala Sekolah SMP, memohon agar dibolehkan memakai seragam celana panjang berwana biru. Berhasil. Setelah itu, makin banyak anak SMP yang pakai celana panjang. Bahkan dia juga dedengkot yang mengusahakan seragam pakaian taqwa tiap hari Jumat. Ketua Rohis paling militan. Bahkan kalau disuruh menjabat Ketua LDK, ia sudah pantas. Allah berkata lain. Adit ketika SMA berbeda dengan ketika SMP. Berputar 360 derajat. Awal memang sempat bergabung dengan Remaja Masjid SMA. Ketika

30

Ultrassafinah Edisi IV

kelas satu, ia sudah disegani baik teman satu angkatan maupun seniornya. Namun karena suatu hal ia berpaling dari Remas. Bahkan cenderung menampakkan resistensinya. Perilakunya berubah jadi hedon. Sampai pada taraf menghentikan aktivitasnya ke Masjid. Padahal dulu, ia orang yang paling rajin mengajak ke Masjid. Auranya dan kharismanya sudah tak tampak lagi di mata saya. Saya sampai kehabisan akal. Kok bisa? Orang yang dulu sangat militan tiba-tiba berubah. Allah memang Zat yang membolak-balikkan hati. Pertemuan terakhir saya di Bandung, membuat saya mengagumi kebesaran Allah. Kharisma yang lama hilang, sekarang nampak lagi. Di balik kulitnya yang putih dan badannya yang tinggi kekar, Adit kembali menjadi pejuang dakwah. Setelah ia tahu bahwa jalan hedonisme yang ditempuhnya selama SMA, tak membuat hatinya tenang. Jenggot tipisnya mengiringi senyumnya. Perkataannya benar-benar seperti mutiara, seperti Ketua Rohisku yang dulu kukagumi. Di kos itu, kami berbagi cerita, bagaimana Allah mengatur skenario kehidupan setiap hamba-Nya. Mereka memberiku rasa cinta baru dan cinta rasa baru. Pengalaman ini benar-benar tak terlupakan. Tak terasa, sembilan tahun sudah aku berkenalan. Selayaknya cinta sepasang suami-istri, tentu ada pasang-surut. Sering tersirat di otakku untuk meninggalkan cinta ini. Sesekali menikmati dunia yang begitu luas melenakan. Tapi rahmat Allah ternyata jauh lebih luas. Benar kata Yukie, vokalis Pas Band. Hidup di dunia itu serpihan saja. Ada kehidupan yang lebih indah di luar sana. Sejak awal aku sadar bahwa aku tergabung dalam generasi asing. Rasulullah berkata,�Islam hadir dalam keadaan asing dan berakhir dalam keadaan asing juga,�. Nampaknya hal itu memang menjadi kenyataan. Sembilan tahun lalu, aku berkenalan dengan jalan yang terkadang sempit, berliku dan penuh kerikil ini. Saat ini aku pun masih berada dalam jalan ini. Entah sampai kapan. Semoga Allah selalu tunjukkan kepadaku sesuatu yang baik bagi-Nya dan matikanlah aku ketika membelaMu. Amin.


Kami Tak Sedang Menjadi

Utopis By. Bey Erest

Utopis adalah impian-impian ideal yang tak mungkin dapat tercapai. Kata utopis banyak diasosiasikan dengan sosialisme-nya Karl Marx. Utopia sendiri berasal dari kisah pulau Utopia karangan Thomas Moore, seorang negarawan Inggris. Pertanyaan besar dalam benak kita adalah apakah prinsip yang kita pegang kuat selama ini akan menjadi nyata di kemudian hari? Siapa yang tak kenal Sekulerisme, Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, Pluralisme, Feminisme, Liberalisme, Hedonisme dan isme-isme yang lain? Mereka ada di sekeliling kita sekarang. Lantas, prinsip siapakah yang akan memenangi peperangan ideologi di kancah dunia modern saat ini? Apakah Islam masuk sebagai pecundang atau malah dapat mengalahkan paham-paham buatan manusia tadi. Sudah sempurnakah Islam? Menarik kita simak buku Dr Kuntowijoyo yang berjudul Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi. Pada bagian kedua buku itu dibahas pertanyaan-pertanyaan di atas. Kalau membicarakan agama dalam kontrol sosial tentu akan layak disandingkan dengan paham sekulerisme. Lima abad lampau, Niccolo Machiavelli berjasa besar merumuskan sekulerisme. Dalam buku Il Principe yang masyhur itu, ia menegaskan bahwa untuk menjadi pemimpin besar sebuah negara, ia harus menjauhi nilai moral dan agama dalam trik rekayasa sosialnya. Bukan berarti pemimpin itu tampil brengsek di depan rakyatnya. Bohongilah rakyatnya dengan penampilan seakan-akan berintegritas, beragama dan bermoral tinggi. Tapi di balik layar, selalu ada kesepakatan rahasia antara orang-orang yang tak lagi peduli akan moral untuk sebuah kejayaan. Sosiolog terkenal, Prof Selo Sumardjan berpendapat bahwa tahun 2012, yaitu tahun selesainya Pelita V, masyarakat Indonesia akan mengalami sekulerisasi. Pendapat ini dilontarkan ketika Orde Baru dalam posisi puncak dan tentu jauh sebelum film 2012 ada. Menurutnya, sekulerisasi itu tak akan terelakkan bagi masyarakat Indonesia. Hal itu disebabkan industrialisasi berkembang pesat mempengaruhi kehidupan sosial politik, ekonomi, budaya dsb. Dalam perjalanannya menggeser peran agama dan norma dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan sosial.

Kuntowijoyo mengkritik cara berpikir bahwa sekulerisme adalah keharusan sejarah. Walaupun dalam dunia ekonomi saat ini, pertimbangan yang dipakai menyangkut bagaimana tetap untung tak pernah rugi. Berkembangnya rasionalis sebagai penopang sekulerisme akan mematikan eksistensi kemanusiaan. Benar terjadi di dunia barat saat ini. Di tengah perkembangan IPTEK, kebudayaan barat mengalami kekosongan yang hebat. Mereka hidup tanpa makna. Akhirnya pergi mencari pelarian dengan spekulasi-spekulasi filsafat untuk menjustifikasi bahwa kehidupan ini sangat membosankan. Manusia dipenjara dalam sistem yang dibuatnya sendiri. Menurutnya, itulah problem yang dialami manusia modern. Masalah yang muncul dari perasaan untuk berlepas diri dari agama atau agnostisisme. Teknologi modern yang sesungguhnya diciptakan untuk pembebasan manusia dari kerja, berbalik jadi alat perbudakan baru. Karena motif rakus dalam keuntungan, perusahaan memaksakan semua faktor produksi untuk bekerja termasuk manusianya. Manusia yang semula merdeka, merasa jadi pusat dari segala sesuatu, berbalik menjadi mesin modern. Sebuah nilai rendah bagi kemanusiaan. Hidup manusia dikendalikan pasar. Kualitas kerja manusia bahkan kualitas kemanusiaan suatu bangsa ditentukan pasar. Manusia benar-benar jadi bulan-bulanan pasar. Pola pikir kapitalistik ini ternyata tak lebih ringan dari malapetaka komunis. Dalam masyarakat komunis, manusia benar-benar jadi budak materialisme birokrasi. Manusia yang lebih kuat akan membunuh manusia dalam derajat yang lebih rendah dengan embel-embel persamaan hak. Pertentangan kelas terus terjadi karena manusia sejak lahir dianggap sebagai suatu faktor produksi industri. Apa yang Islam ajarkan? Manusia diletakkan dalam tempat terhormat. Banyak sekali ayat Al Quran menyerukan agar manusia menemukan esensi dirinya, memikirkan kedudukannya dalam struktur realitas. Manusia diposisikan sebagai khalifah alam semesta. Sebuah kepercayaan besar yang diberikan Tuhan pada manusia. Sungguh berbeda dengan mitologi YunaniRomawi yang tertanam pada bangsa Eropa. Bagi mereka, manusia ditempatkan sebagai alat permainan dan skenario para dewa kemudian menuntun manusia seperti seorang guru TK mengajari muridnya. Manusia Ultrassafinah Edisi IV

31


diposisikan sebagai makhluk bodoh yang tak bisa berjuang menentukan nasibnya. Sementara dalam filsafat Kristen, manusia digambarkan sebagai sosok penuh dosa sejak lahir. Islam hadir sebagai teologi pembebasan. Kalau barat beranggapan akan maju kalau meninggalkan agamanya, Islam sebaliknya. Islam bukan sekedar agama, ia adalah sebuah peradaban besar. Peradaban yang dapat mengatur sampai struktur terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. ”Sungguh sudah saatnya Islam tampil kembali memimpin peradaban dan menyelamatkan manusia dari belenggu dunia modern,” ujar Kuntowijoyo. Apakah Islam adalah paham utopis? Ya, bagi orang-orang yang illfeel dengan Islam. Mereka takut karena Islam punya kekuatan besar. Ekspansi Islam tak lagi berkutat di Asia dan Afrika. Eropa dan Amerika sudah menerima Islam. Bukan tak mungkin, kenangan kejayaan masa lampau menjadi api semangat umat untuk bangkit dan berbalik memimpin. Bukankah dulu bangsa barat belajar dari Islam. Percayalah, semua paham itu sifatnya utopis, hanya orang yang yakin dengan paham tersebutlah yang bisa membuat sesuatu yang utopis menjadi realis. Apa kita tidak tertawa, bagaimana aktivis komunis mendengungkan persamaan hak. Sama rata, sama rasa. Mereka bercita-cita semua orang di dunia hidup sejahtera semua. Hal itu sama saja dengan bercita-cita membuat semua orang di dunia ini memiliki tinggi badan yang sama. Benar-benar, Mimpi kosong. Jugakah kita tak tertawa, orang yang mengaku Pancasialis. Padahal sila-sila Pancasila juga utopis. Lihat, ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Omong kosong! Lihat pemimpin kita yang memperkaya diri, membuncitkan perut dan berdiri sombong di atas penderitaan orang miskin Indonesia yang jumlahnya puluhan juta. Pluralisme dan liberalisme? Kebebasan dalam keragaman? Jaringan Islam Liberal, komunitas yang rajin mendengungkan bahwa semua agama di dunia ini sama, tidak masuk akal. KH Hamka jauh-jauh hari telah menyindir orang-orang itu. ”Kalau semua agama sama. Lantas, buat apa kita beragama?”. Sama seperti kalau kita mengikuti ujian sekolah, lalu semua peserta ujian diberi nilai sempurna semua, Ngapain sekolah? Wong, kita tidak tahu mana benar mana salah. Orang yang mengaku liberalis/pluralis benar-benar inkonsisten. Mati-matian, mereka orang yang berbeda

32

Ultrassafinah Edisi IV

agama dengannya, tapi di lain pihak menyerang habishabisan orang yang mau menegakkan agamanya secara menyeluruh. Katanya moderat, tapi kok rajin berdebat. Muslim tidak perlu diajari pluralisme. Islam sudah mengajarkan bagaimana menjalin hubungan dengan manusia. Islam kan artinya kedamaian. Semua memang utopis. Tapi tidak bagi orang yang yakin tak akan menjadi utopis. Kawan saya banyak yang marxis. Mereka yakin ”Nabi” Marx benar-benar membawa cahaya keselamatan bagi kaum miskin tertindas (proletar). Kawan saya yang lain seorang sekuler bahkan anti agama. Ia yakin tak ada zat apa pun yang berhak mengaturnya, termasuk Tuhan. Telinganya terasa panas kalau ada orang yang berbicara agama di depannya. Teman saya yang hedonis mengatakan kenikmatan di dunia harus dinikmati, mumpung. Teman saya seorang kapitalis, sangat gila dengan uang. Rela melakukan apa saja demi uang, termasuk ”melacurkan diri”. Tapi mereka tetap teman saya, walau kami berbeda prinsip. Wahai aktivis dakwah. Sudah yakinkah dengan jalan yang kau tempuh saat ini? Sudah siapkah cacian, teror, pengucilan yang akan anda hadapi? Kalau anda belum yakin dan siap. Silahkan keluar dari jalan ini. Kami tidak akan memusuhi anda karena kami yakin, Allah hanya memilih hamba-Nya yang sabar. Tapi kalau anda yakin, bergabunglah bersama kami. Mari gelorakan semangat untuk bersama membangun kembali citra Islam. Menempatkan kader Islam terbaik dalam berbagai bidang seperti teknologi, ekonomi, budaya, hukum dll. Bukankah di akhir hidupnya, Rasulullah mengabarkan bahwa Islam telah sempurna (Al Maidah: 3). Kenapa kita tidak yakin? ”I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the principles of the Qur'an which alone can lead men to happiness.” (Saya meramalkan bahwa tidak lama lagi akan dapat dipersatukan semua manusia yang berakal dan berpendidikan tinggi untuk memajukan satu kesatuan kekuasaan yang berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam, karena hanyalah Qur'an itu satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada kebahagiaan). Dikutip dari perkataan Napoleon Bonaparte, pemimpin besar Perancis dalam buku Bonaparte et L'Islam karya Christian Cherfils.


Naval miracel Dan sesungguhanya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (QS 54:15) Telah dijelaskan didalam Al- Qur'an bahwa Allah menjadikan kapal sebagai suatu pelajaran. Adakah yang mau mengambil pelajaran??Jika ditanya begitu maka kami jawab ya, ada. Merekalah mahasiswa jurusan Teknik Perkapalan ITS. Pada kesempatan kali ini, tim redaksi akan sedikit megulas tentang bagaimana sebenartnya sebuah kapal bisa terapung di air. Mungkin temanteman sering bertanya kenapa kapal yang begitu besar dengan berat ribuan ton bisa mengapung di air sementara sebuah batu yang beratnya hanya beberapa kilogram tenggelam jika dilemparkan ke air. Pertanyaan sederhana yang sering kali menjebak kita dalam suatu jawaban yang sederhana juga untuk dijelaskan. Dipandang dari segi agama jelaslah semua itu karena kehendak Allah SWT seperti yang telah dijelaskan di dalam Al Quran. Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar dilaut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS 31:31) Jika ditinjau dari ilmu pengetahuan ternyata hal itu sangatlah berkaitan. Diantara alasan mengapa kapal dapat mengapung di laut adalah karena masa jenis dari kapal lebih kecil dari air. Akan tetapi hal itu hanya berlaku untuk kapal dengan bahan kayu seperti bahtera Nabi Nuh as dan tidak berlaku jika bahan kapal dari besi ataupun baja. Baja sendiri memiliki massa jenis 7850 kg/m3 jauh lebih besar dari air laut yang memiliki massa jenis 1250 kg/m3. Lalu mengapa kapal masih bisa terapung di laut???? Sesuai dengan hukum Archimedes yang menyatakan bahwa suatu benda yang berada di dalam cairan baik tenggelam maupun terapung akan mendapatkan gaya angkat sebesar gaya berat cairan yang dipindahkan. Dari pernyataan inilah alasan

mengapa suatu kapal dapat terapung di laut. Kapal dapat mengapung di laut karena adanya suatu ruangan atau dengan kata lain berongga. Jadi jika kapal berbentuk massif kapal tidak akan terapung. Seprti biji baja kita celupkan kedalam air pasti akan tenggelam namun tidak dengan kapal yang memiliki berat ratusan bahakan ribuan ton. Rongga ini lah yang akan mengurangi volume yang tercelup di air. Sebagai bukti akan kita lakukan perhitungan tentang hal ini. Suatu kubus dengan sisi 5 m dan berongga di dalamnya. Volume luar kubus adalah 125 m3 dan rongga dibuat di tengah tengah dan berbentuk kubus dengan volume 124 m3 dan sisi rongga adalah 4,987 m dan tebal dinding kubus 0,5 * (5-4.987) =0,0065 m jadi volume baja tetap 1 m3. Sesuai hukum Archimedes Gaya angkat = berat benda. Gaya angkat yang terjadi = Volume kubus seluruhnya * massa jenis air * gaya gravitasi, didapatkan 1.226.250 N. Berat benda = Volume baja tetap * massa jenis baja * gaya gravitasi, didapat 77.008,5 N. Dengan asumsi massa jenis air 1000kg/m3,dan dimasukan ke rumus. Dapat dilihat bahwa gaya angkat yang terjadi lebih besar dari berat benda sehingga benda akan mengapung di air. Sekarang jika benda massif, maka gaya angkat yang dihasilkan 1.226.250 N dan gaya berat yang terjadi adalah 125 m3 x 7850 kg/m3 x 9,81 kg/ ms2 = 9.626.062,5 N. Dengan data yang sama dengan kubus yang sebelumnya hanya saja untuk yang ini kubus berbentuk massif atau padat. Diketahui bahwa gaya berat lebih besar daripada gaya angkat sehingga dapat dipastikan benda akan tenggelam. Semoga dari uraian ini, rasa penasaran teman-teman tentang bagaimana mungkin kapal yang terbuat dari baja dengan berat ribuan ton bisa terapung dilautan sedikit terobati. Masih banyak rahasia-rahasia tentang dunia perkapalan yang belum kami ulas. So, wait for the new secret of the ship pada ultras edisi selanjutnya. (ji,sat)

Ultrassafinah Edisi IV

331


Rebonding

AKHWAT ZONE

AZ

halal atau haram Belakangan ini, kita dihebohkan dengan adanya kabar Pengharaman Rebonding rambut. Nah lho, padahal banyak banget akhwat-akhwat di sekitar kita yang sudah melakukannya. Rebonding bahkan sudah basi, sudah mode lama. Tapi, mengapa hukumnya malah baru muncul sekarang??? Banyak pihak yang berpendapat mengenai hal ini, ada yang membolehkan, ada pula yang bersemangat mengharamkan. Sebenarnya bagaimana sich?? Yang bener yang mana?? Menurut MUI, hukum rebonding sangat tergantung dari konteksnya. Asal hukumnya, rebonding mubah dan dibolehkan sesuai syariat Islam. Namun, jika tujuan dan dampaknya negatif maka hukumnya bisa menjadi haram. Sebaliknya, jika tujuan atau dampaknya positif maka rebonding bisa saja dianjurkan. “Rebonding sebagai sebuah cara untuk berhias diri, hukum asalnya dibolehkan sepanjang tidak menyebabkan bahaya, baik secara fisik, psikis, maupun sosial. Syarat lainnya, obat yang digunakan harus halal” demikian dikatakan Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am Sholeh. Dalam perspektif hukum Islam, menurut Niam, menjaga kebersihan dan keindahan adalah sangat dianjurkan. "Jika rebonding ditempatkan dalam konteks merawat tubuh dan menjaga keindahan, maka justru ini dianjurkan," ujar Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta ini. Menurut Ni'am, kontroversi hukum haram rebonding yang dihasilkan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri se-Jatim di Lirboyo Kediri itu, harus dipahami lengkap dengan konteksnya agar tidak menyesatkan masyarakat. Penetapan haramnya rebonding bagi perempuan yang belum beristri, dimungkinkan jika rebonding sebagai sarana terjadinya kemaksiatan. Tapi, hukum asalnya tetap boleh. "Jika tujuannya baik, misalnya agar rambut mudah dirawat dan dibersihkan, atau lebih mudah dalam pemakaian jilbab, rebonding justru dianjurkan. Bahkan bisa jadi wajib,” ujar Direktur al-Nahdlah Islamic Boarding School Depok ini. Isu soal rebonding ini, imbuh Ni'am, juga akan menjadi peluang bagi pelaku usaha perawatan rambut untuk menyediakan jasa khusus bagi wanita. "Pasarnya cukup banyak, di sini justru ditangkap sebagai peluang. Bukan dieksploitasi untuk kepentingan lain,” tambahnya. Pemahaman hukum tentang rebonding ini secara utuh, dinilai Ni'am, sangat penting untuk memberikan kepastian di tengah masyarakat sehingga tidak menyebabkan keresahan. "Jangan sampai ini disalahpahami atau diinformasikan secara salah, sehingga membuat masyarakat resah,” pungkasnya Kalau menurut Al-Qur'an bagaimana ya??? Rasullah shallallahu'alaihi wa salam telah diutus selama kurang lebih 22 tahun untuk menyebarkan risalah yang

34

Ultrassafinah Edisi IV

mulia, untuk memperbaiki akhlaq manusia. Dan seseorang tidak bisa disebut berakhlaq terkecuali ia mengikuti apa kata Al Khaliq. Yaitu dengan mengikuti Allah dan Rasul-Nya, beristiqomah di jalan yang lurus. Orang yang berakhlaq berarti orang yang patuh terhadap Allah dan Rasul-Nya.Dan agama ini sudah sempurna, yaitu telah menjelaskan apapun di dunia ini, yang halal sudah jelas yang haram sudah jelas. Adapun di antara keduanya ada yang syubhat. Mengenai kesempurnaan Islam, Allah berfirman yang artinya: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu”. {Q.S. Al Ma'idah : 3} Dari Abu Najih 'Irbadh bin Sariyah rodhiallohu 'anhu dia berkata, “Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam pernah menasihati kami dengan nasihat yang menggetarkan hati dan mencucurkan air mata. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti ini adalah nasihat perpisahan, karena itu berilah kami nasihat”. Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap menjaga ketakwaan kepada Alloh 'azza wa jalla, tunduk taat (kepada pemimpin) meskipun kalian dipimpin oleh seorang budak Habsyi. Karena orang-orang yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk (Allah). Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid'ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan shahih”) Inilah Islam, agama yang sempurna, menjawab seluruh persoalan di dunia ini baik yang manusia ketahui maupun yang tidak. Banyak para ulama yang menjelaskan bahwa kita tidak butuh pemikiran-pemikiran lain dalam masalah agama ini. Sebab sekarang ini banyak orang yang menyerahkan permasalahan hukum, pemikiran pada hukum dan pemikiran selain Islam. Padahal, hal tersebut bukanlah cara salaf. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menyebutkan bahwa kaum salaf menyerahkan hukum kepada ayat-ayat AlQur'an dan hadits-hadits Nabi. Mereka merasa cukup dengan nash-nash tersebut. Mereka jadikan pemahaman-pemahaman akalnya patuh pada nash-nash itu, sebab “akal” menurut Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam ada sesuatu yang bisa ada jika ada pemilik (pelaku)nya. “Akal” bukanlah dzat yang bisa berdiri sendiri seperti anggapan kaum filosof. Karena sudah sempurnanya Islam, karena sudah lengkapnya Islam, karena sudah cukupnya nash-nash Al Qur'an dan As Sunnah, maka dengan mematuhi keduanya hukumnya wajib. Hal ini harus disadari dulu, sebab banyak orang yang berkata dan berpendapat terhadap suatu masalah dalam urusan agama, tapi kepatuhannya terhadap Al Qur'an dan As Sunnah masih setengah-setengah. (tp)


R

Resensi

Judul

: Kesaksian Seorang Dokter

Penulis

: dr. Khalid bin Abdul Aziz al Jubair, SpJP

Penerbit

: Darus Sunnah

Cetakan

: Kesebelas, Januari 2009

dr. Khalid bin Abdul aziz Al-Jubair, Sp.JP., seorang dokter spesialis bedah dan jantung yang bekerja di Rumah Sakit Riyadh, Saudi Arabia, sampai sekarang. Buku setebal 178 halaman ini memuat 17 kisah nyata yang sarat dengan pelajaran, nasehat dan hikmah yang bisa kita ambil yang dapat dibaca oleh kalangan mana saja. Kisah-kisahnya membuat kita merenung dan berintrospeksi terhadap diri kita, agar semakin dekat dengan Allah Jalla wa 'Ala. Di samping sebagai seorang dokter spesialis bedah dan jantung, penulis adalah seorang da'i yang mahsyur. Sehingga setiap pelajaran dan nasehat yang disampaikannya selalu disertai penjelasan dari Al Quran dan As Sunnah. Beliau juga sering menyampaikan dakwahnya di masjid dan seminar-seminar. Jantung Seorang Muadzin Menumandangkan Adzan Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu alla ilaha illallah'‌. Itulah suara adzan yang terdengar melalui stetoskop yang diletakkan di atas dada seorang pasien yang telah meninggal dunia. Dokter Jasim al-Haditsy berkata, "Saya rasa suara itu adalah adzan subuh. Kemudian saya bertanya kepada salah seorang perawat, 'Jam berapa sekarang?' Ia menjawab, "Jam satu malam." Saya tahu bahwa saat ini belum tiba saatnya adzan subuh, kemudian saya kembali meletakkan stetoskop di atas dadanya dan saya kembali mendengarkan adzan tersebut selengkapnya. Maka saya bertanya kepada keluarga pasien yang meninggal ini tentang keadaannya semasa hidup, mereka menjelaskan, "Ia bekerja sebagai muadzin pada sebuah masjid, biasanya ia datang ke masjid seperempat jam sebelum tiba waktunya atau

kadang lebih awal lagi, ia selalu menghatamkan AlQur`an dalam tiga hari dan sangat menjaga lisannya dari kesalahan.� “Amat disayangkan, sebagian orang ketika sakit, maka yang diingat pertama kali adalah dokter. Harusnya yang diingat pertama kali adalah Allah, karena Dia-lah yang menyembuhkan dan dokter hanyalah perantara saja. Keyakinan ini tidak boleh terlupa dan tidak boleh dilupakan oleh kaum muslimin, karena termasuk dalam perkara tauhid. Agar ketika kita sakit, kita langsung ingat bahwa yang menyembuhkan hanyalah Allah Jalla wa 'Ala.� kutipan halaman 60 "Ketika orang yang sakit mempunyai hubungan yang kuat dengan Tuhan yang menguasai segala penyakit beserta obatnya, maka saat itu ia telah memiliki obat yang lebih bagus dari obat-obatan apapun. Keyakinan ini harus ada pada hati kaum muslimin, berdasarkan ayat al Qur'an: "Dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang Menyembuhkan aku." (QS. As Syuara': 80). Untuk lebih jelasnya, silahkan cari dan baca bukunya. (al)

Ultrassafinah Edisi IV

35


Ultrassafinah Edisi #4  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you