Page 1

PENGUJIAN BAKTERIOLOGIS AIR ZAMZAM KEMASAN DI KOTA SURAKARTA

( BACTERIOLOGICAL TESTING OF BOTTLED ZAMZAM WATER IN SURAKARTA CITY )

JURNAL ILMIAH

Oleh : AKHMAD RIANOR ASRARI PUADI 28.10.2442 J

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA 2013


1

PENGUJIAN BAKTERIOLOGIS AIR ZAMZAM KEMASAN DI KOTA SURAKARTA ( BACTERIOLOGICAL TESTING OF BOTTLED ZAMZAM WATER IN SURAKARTA CITY ) A.R. Asrari Puadi, Ratno Agung Samsumaharto * INTISARI Air Zamzam sebagai bagian dari air minum merupakan air yang sangat popular bagi umat Islam di dunia terutama di Indonesia yang berpenduduk mayoritas beragama Islam. Air Zamzam termasuk air minum yang unik, karena dalam proses konsumsinya air ini tidak melalui proses perebusan dengan suhu 100 C seperti yang dilakukan pada air minum pada umumnya, akan tetapi disisi lain banyak dijumpai Air Zamzam dalam kemasan yang beredar di Kota Surakarta tidak terdaftar atau tidak mempunyai nomor registrasi dari BPOM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air Zamzam Kemasan secara Bakteriologis menurut Standar Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.06.1.52.4011. Pengujian menggunakan dua sampel Air Zamzam kemasan yang didapat dari pedagang Pasar Kliwon Surakarta, dengan metode pemeriksaan ALT, MPN Coliform, uji identifikasi Salmonella dan Pseudomonas aeruginosa. Hasil dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa jumlah bakteri dari metode ALT masih dalam batas standard dan hasil pada uji penduga MPN coliform adalah 0 (nol) , serta tidak terdapat adanya bakteri Salmonella dan Pseudomonas aeruginosa sehingga kedua sampel air Zamzam tersebut memenuhi syarat secara bakteriologis. Kata kunci : Air Zamzam, Air Minum Dalam Kemasan, Kualitas Air, Escherichia coli ABSTRACT Zamzam water is most popular water in Moslem in the world, especially in Indonesian Moslem. Zamzam water is unique water, because Zamzam water is not boiled like water usually in 100 C temperature. But in Surakarta City many found Bottled of Zamzam water distributed not have registrasion number from Indonesian Food and Drug Regulatory Agency ( BPOM ). This research have a purpose for know Bottled of Zamzam water quality in match with standart bacteriological of Indonesian Food and Drug Regulatory Agency ( BPOM ) number : HK.00.06.1.52.4011. This research use two sample Bottled of Zamzam water from Kliwon mart in Surakarta City, sample research with Standart Plate Count (SPC) or Total Plate Count (TPC) , Most Probable Number (MPN) Coliform method, identification Salmonella and Pseudomonas aeruginosa. In this research result that number of bacteriological Bottled of Zamzam Water sample are qualified in bacteriology. Keywords: Zamzam water, Bottled water, Water quality, Escherichia coli

*Program D-III Analis Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi


2

I.

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Air minum merupakan kebutuhan manusia paling penting, seperti diketahui kadar air dalam tubuh manusia mencapai 68 persen dan untuk tetap hidup air dalam tubuh tersebut harus dipertahankan. Kebutuhan air minum setiap orang bervariasi dari 2,1 liter hingga 2,8 liter per hari, tergantung pada berat badan dan aktivitasnya. Akan tetapi agar tetap sehat, air minum harus memenuhi persyaratan fisik, kimia, maupun bakteriologis (Suriawiria, 1986). Air Zamzam sebagai bagian dari air minum merupakan air yang sangat popular bagi umat Islam di dunia terutama di Indonesia yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, di setiap musim haji puluhan juta jamaah haji setiap tahunnya menggunakan air ini, namun airnya tidak kunjung habis. Mata air Zamzam keluar di daerah yang non perenial di tengah padang gurun yang gersang, di antara bukit Safa dan Marwah, letaknya sekitar 20 meter di sebelah timur Ka’bah, memiliki kedalaman sekitar 30.5 meter ( , 2005). Selama ini air Zamzam diyakini oleh masyarakat untuk kesehatan, dan beberapa studi menunjukkan bahwa air Zamzam mengandung kadar flouride yang tinggi, flouride ini memberikan manfaat khususnya untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, serta memiliki kandungan ion kalsium yang tinggi (Zuhair, 2006). Air minum dalam kemasan yang layak dikonsumsi harus memenuhi batasan cemaran mikroba sesuai Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.06.1.52.4011. Air Zamzam dalam kemasan yang beredar di Kota Surakarta ditemukan tidak terdaftar atau tidak mempunyai nomor registrasi dari BPOM, hingga memunculkan gagasan untuk memeriksa kualitas Air Zamzam dalam kemasan tersebut.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air Minum 2.1.1 Pengertian Air Minum Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang mememenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Kualitas air minum setingkat lebih tinggi daripada kualitas air bersih ditinjau dari berbagai paremeter pendukungnya. Agar air dapat dikategorikan sebagai air minum maka dipersyaratkan harus memenuhi ketentuan pemerintah berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.06.1.52.4011. 2.1.2 Kegunaan Air Minum Didalam tubuh manusia, air diperlukan untuk transportasi zat – zat makanan dalam bentuk larutan dan melarutkan berbagai jenis zat yang diperlukan tubuh. Misalnya untuk melarutkan oksigen sebelum memasuki pembuluh – pembuluh darah yang ada disekitar alveoli (Ricki, 2005).


3

Menurut Alamsyah (2007) manfaat air bagi tubuh manusia adalah : 1. Membantu proses pencernaan. 2. Mengatur proses metabolisme. 3. Mengangkut zat-zat makanan. 4. Menjaga keseimbangan tubuh. 2.2 Mikroba di Dalam Air 2.2.1 Bakteri Indikator Sanitasi Sanitasi air sangat penting terutama untuk air minum. Salah satu standar kebersihan dan kesehatan air diukur dengan ada tidaknya Coliform sebagai mikroorganisme indikator. Kehadiran mikroorganisme indikator tersebut di dalam air merupakan bukti bahwa air tersebut terpolusi oleh tinja dari manusia atau hewan dan berpeluang bagi mikroorganisme patogen untuk masuk kedalam air tersebut (Pelczar dan Chan, 1988). Bakteri yang paling banyak digunakan sebagai indikator sanitasi adalah Escherichia coli karena bakteri ini adalah bakteri komensal pada usus manusia dan umumnya bukan patogen penyebab penyakit. Escherichia coli yang terdapat didalam air apabila dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang akan berdampak pada timbulnya penyakit seperti radang usus, diare, infeksi pada saluran kemih dan saluran empedu. Oleh karena itu, standar air minum mensyaratkan Escherichia coli harus kosong dalam 100 ml. 2.2.2 Bakteri Patogen 1. Pseudomonas aeruginosa Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri Gram negatif anaerob obligat, berkapsul, mempunyai flagella polar sehingga bakteri ini bersifat motil, berukuran sekitar 0,5 - 1,0 Âľm. Bakteri ini tidak menghasilkan spora dan tidak dapat menfermentasikan karbohidrat. Bakteri ini secara luas dapat ditemukan di alam, contohnya di tanah, air, tanaman, dan hewan. Pseudomonas aeruginosa adalah patogen oportunistik, bakteri ini merupakan penyebab utama infeksi pneumonia nosokomial, meskipun begitu bakteri ini dapat berkolonisasi pada manusia normal tanpa menyebabkan penyakit (Dwidjoseputro, 1998). 2. Salmonella. Salmonella adalah suatu genus bakteri enterobakteria Gram negatif berbentuk batang yang menyebabkan penyakit tifus dan paratifus, ukuran 2-4 Îźm x 0.5 - 0.8 dapat bergerak karena memiliki flagel (Entjang, 2001). 2.3.2 Persyaratan Mikrobiologi Persyaratan mikrobiologis yang harus dipenuhi oleh air menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.06.1.52.4011, adalah sebagai berikut : Tabel 1. Batasan Maksimum Cemaran Mikroba dalam Air Minum Dalam Kemasan Parameter Batas maksimum ALT awal * 1x Koloni / ml ALT Akhir ** Maks. 1 x Koloni / ml Bakteri Coliform < 2 / 100 ml


4

Salmonella Pseudomonas aeruginosa

Negatif / 100 ml Negatif / ml *Sebelum pengemasan **Setelah pengemasan

2.4 Pengujian Mutu Air Minum Dalam Kemasan 2.4.1 Metode Hitungan Cawan Metode Hitungan cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni. Jadi jumlah koloni yang muncul pada cawan merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terkandung dalam sampel (Waluyo, 2007) Metode hitungan cawan dibedakan atas dua cara, yaitu Metode Tuang (Pour Plate) dan Metode Permukaan (Surface/Spread Plate) Media yang digunakan adalah Nutrien Agar (NA). Nutrien Agar adalah suatu medium yang mengandung sumber nitrogen dalam jumlah cukup yaitu 0,3 % ekstrak sapi dan 0,5 % pepton, tetapi tidak mengandung sumber karbohidrat, oleh karena itu baik untuk pertumbuhan bakteri tetapi kapang dan khamir tidak dapat tumbuh dengan baik. 2.4.2 Uji Kualitatif Coliform Uji kualitatif Coliform secara lengkap terdiri dari 3 tahap yaitu Uji penduga (Presumptive Test), Uji penguat (Confirmed Test) dan Uji pelengkap (Completed Test). III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat Penelitian Tempat : Laboratorium Mikrobiologi Universitas Setia Budi Surakarta 3.2 Bahan Penelitian Bahan : Beberapa produk Air Zamzam dalam kemasan yang beredar di Kota Surakarta 3.3 Teknik Penelitian Pemeriksaan dilakukan secara bakteriologis. 3.4 Tahapan Penelitian 3.4.1 Persiapan Sampel Cara pengambilan Sampel Pada saat pengambilan sampel air, botol di buka dan selalu didekatkan dengan api dan segera ditutup setelah diambil dengan pipet. 3.4.2 Pengujian 1. Menghitung jumlah bakteri, dengan metode Angka Lempeng Total (ALT). a. Pengenceran bertingkat dibuat dari sampel dengan pengenceran steril, dengan aquadest steril secara aseptik, lalu dikocok sampai homogen. 1) 1 ml sampel cair / suspensi dimasukkan ke dalam 9 ml pengencer steril pengenceran 10-1 (tabung I) 2) Diambil 1 ml sampel dari tabung I dan dimasukkan ke dalam 9 ml pengencer steril (tabung II)

pengenceran 10-2


5

3) dan seterusnya. b. 1 ml sampel dipipet dari masing-masing pengenceran dengan pipet ukur steril lalu dimasukkan ke dalam cawan petri steril yang aseptik. c. Media Nutrien Agar yang telah dicairkan (dengan suhu kira kira 50 C) dituang ke dalam cawan petri tersebut. d. Sampel dengan media yang telah cair dicampur secara merata dengan cara memutar cawan petri. e. Diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 - 48 jam. f. Jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan ditentukan jumlah bakteri mesofil total sesuai cara perhitungan yang mengacu pada SPC (Standart Plate Count). 2. Menghitung jumlah bakteri Coliform dan Escherichia coli, dengan metode Most Probable Number (MPN). a. 9 tabung media Lactose Broth (LB) yang telah dilengkapi dengan tabung Durham disiapkan. 1) 3 tabung diisi masing-masing 10 ml media 2) 3 tabung diisi masing-masing 5 ml media 3) 3 tabung diisi masing-masing 5 ml media b. Pipet sampel asli (tanpa pengenceran) sebanyak : 1) 10 ml sampel dimasukkan masing-masing ke dalam 3 tabung kelompok I 2) 1 ml sampel dimasukkan masing-masing ke dalam 3 tabung kelompok II 3) 0,1 ml sampel dimasukkan masing-masing ke dalam 3 tabung kelompok III c. Diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 - 48 jam. d. Jumlah tabung yang positif (keruh dan terbentuknya gas yaitu adanya rongga kosong pada tabung Durham) diamati. e. Dari tabung yang positif, diambil 1 â&#x20AC;&#x201C; 2 ose secara aseptik dan dimasukkan ke dalam media BGLB cair, kemudian diinkubasi pada : 1) Suhu 37 C selama 24 jam (untuk jumlah bakteri Coliform) 2) Suhu 44 C selama 24 jam (untuk jumlah bakteri Escherichia coli) f. Jumlah tabung BGLB yang positif (keruh dan terbentuknya gas pada tabung Durham) diamati. g. Hasil pengamatan kemudian dirujuk pada tabel MPN untuk menentukan jumlah bakteri Coliform atau Escherichia coli dalam 100 ml atau gram sampel. 3. Isolasi dan Identifikasi Salmonella. a. Bahan yang telah disediakan dimasukkan kedalam buffer pepton dengan perbandingan 1 : 10 dan diinkubasi selama 24 jam dalam suhu 37 C. b. Kemudian diinokulasi 1 ose ke dalam selenit dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. c. Diambil 1 ose kemudian digoreskan pada media Bismuth Sulfit Agar (BSA). 4. Isolasi dan Identifikasi Pseudomonas aeruginosa


6

a. Sampel cair ditanam pada media Pseudomonas Selective Agar (PSA) dengan perbandingan 1 : 10. b. Diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pemeriksaan 4.1.1 Pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT) Pengujian ALT untuk mengetahui jumlah koloni yang tumbuh pada media nutrient agar yang telah di inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 C yang diambil pada Air Zamzam Kemasan “A” dan “B” dengan hasil sebagai berikut : Tabel 2. Hasil pemeriksaan ALT, dari sampel air Zamzam “A” dan “B” No. Sampel A B

1 2 1 2

100 55 41 38 41

Jumlah koloni per pengenceran 10-1 10-2 10-3 10-4 9 6 29 15 5 4 32 20 16 8 6 3 7 3 2 21

10-5 0 0 0 0

Jumlah koloni/ ml

Standar BPOM

48

Maks. 1x Koloni / ml

39

4.1.2 Pemeriksaan MPN Coliform dan MPN Escherichia coli Metode MPN adalah salah satu cara untuk menghitung jumlah Esherichia coli didalam air secara empiris. MPN diartikan sebagai jumlah perkiraan terdekat. Sampel air dimasukan pada media Laktosa Broth yang di dalamnya diberi tabung Durham dengan tujuan untuk menangkap gas CO2 bila terjadi penguraian laktosa. Dari tabung uji penduga yang positif dilanjutkan ke uji penegas dengan ditanam pada media Briliant Green Laktosa Bile Broth (BGLB) dan diinkubasi lagi pada suhu 37 C selama 24 jam (yang dihitung sebagai angka Coliform), atau diinkubasi pada suhu 44 C selama 24 jam (yang dihitung sebagai angka Escherichia coli). Hasil pemeriksaan yang diperoleh adalah sebagai berikut : 1. Uji Penduga (presumptive test) Tabel 3. Hasil pemeriksaan Uji Penduga, dari sampel air Zamzam “A” dan “B” Jumlah hasil (+) tiap pengenceran 10 ml 1 ml 0,1 ml 1 A 2 1 B 2 Keterangan : (+) Keruh dan ada Gas (-) Jernih dan tidak ada Gas 2. Uji Penegas (confirmed test) Dari Uji penduga tidak terdapat sampel yang positif, sehingga tidak dilanjutkan pada Uji Penegas. No. Sampel


7

4.1.3 Isolasi dan Identifikasi Salmonella. Identifikasi bakteri Salmonella menggunakan media Bismuth Sulfit Agar (BSA) sebagai media pertumbuhan. Air Zamzam dimasukkan kedalam buffer pepton dengan perbandingan 1 : 10 dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Untuk selanjutnya diinokulasi 1 ose ke dalam selenit dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Kemudian diisolasi dengan cara menggoreskan pada media selektif yaitu Bismuth Sulfit Agar, dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Adanya bakteri Salmonella ditandai dengan tumbuhnya koloni berwarna coklat metalik (reaksi bismuth dengan H2S), dengan koloni spesifik koloni “mata ikan” (Fish Eye). Tabel 4. Hasil Identifikasi pada Media Bismuth Sulfit Agar Hasil Pertumbuhan bakteri No. Sampel

Buffer pepton

Selenite

BSA

Hasil

1 tidak terbentuk A Keruh Keruh Negatif koloni mata ikan 2 4.1.4 I 4.1.5 1 tidak terbentuk B Keruh Keruh Negatif 4.1.6 koloni mata ikan 1 4.1.7 4.1.8 solasi dan Identifikasi Pseudomonas aeruginosa Uji ini menggunakan Pseudomonas Selective Agar (PSA) sebagai media pertumbuhan mikrob. Sampel yang telah disediakan dimasukkan kedalam buffer pepton dengan perbandingan 1:10 dan diinkubasi selama 24 jam dalam suhu 370C. Hasil positif dengan ditandai tumbuhnya koloni bulat haus dengan fluoresensi kehijauan. Tabel 5. Hasil Identifikasi pada media Pseudomonas Selective Agar. No. Sampel A B

1 2 1 1

Hasil Pertumbuhan bakteri PSA Hasil tidak terbentuk koloni Negatif fluoresensi kehijauan tidak terbentuk koloni Negatif fluoresensi kehijauan

4.2 Pembahasan Dari sampel Air Zamzam Kemasan “A” dan “B” tidak menunjukan angka positif dari MPN dan pada metode ALT Air Zamzam Kemasan “A” terdapat pertumbuhan koloni yaitu 48 koloni/ml dan Air Zamzam Kemasan “B” terdapat pertumbuhan koloni yaitu 39 koloni/ml namun pertumbuhan itu masih memenuhi syarat Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.06.1.52.4011. Ada 3 faktor kemungkinan yang membuat Air Zamzam bebas dari bakteri coliform dan angka bakteri yang tergolong memenuhi standar. 1. Struktur sumur. 2. Sumber air. 3. Pengelolaan air.


8

a. Struktur sumur. Air Zamzam memiliki sumur dengan kedalaman sekitar 30.5 meter. Hingga kedalaman 13.5 meter teratas menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim. Lapisan ini merupakan lapisan pasir yang sangat berpori. Di bawah lapisan alluvial Wadi Ibrahim ini terdapat setengah meter (0.5 m) lapisan yang sangat permeable yang merupakan tempat utama keluarnya air-air di sumur Zamzam. Kedalaman 17 meter kebawah selanjutnya, sumur ini menembus lapisan batuan keras yang berupa batuan beku Diorit. Batuan beku jenis ini jarang dijumpai di Indonesia atau di Jawa, tetapi sangat banyak dijumpai di Jazirah Arab. Pada lapisan-lapisan inilah air mengalami proses sterilisasi secara alami, selain itu struktur tanah yang termasuk dalam golongan tanah pasir membuat sumur ini jarang ditumbuhi tanaman, dimana korelasi tanaman dan pertumbuhan mikroba berkaitan erat. Hal ini karena sifat tanah pasir menurut (Prawirohartono,1998) tidak mengandung unsur hara yang tinggi jumlahnya sehingga tanaman susah untuk tumbuh. b. Sumber air. Menurut SGS (Saudi Geological Survey) sumber air Sumur Zamzam berasal dari air hujan yang turun di daerah sekitar Mekkah. c. Pengelolaan air. Air Zamzam dikelola secara baik dengan memperhatikan kualitas maupun kuantitas air yang dikeluarkan, termasuk pengemasan Air Zamzam yang akan dibawa oleh jemaah haji untuk oleh-oleh. Air Zamzam dikelola oleh Badan Riset khusus sumur Zamzam yang berada di bawah SGS (Saudi Geological Survey) yang bertugas untuk : Memonitor dan memelihara untuk menjaga sumur tidak kering. Menjaga keadaan perkotaan disekitar Wadi Ibrahim karena mempengaruhi kuantitas air. Mengatur aliran air dari daerah tangkapan air (recharge area). Memelihara pergerakan air tanah dan juga menjaga kualitas melalui bangunan kontrol. Meng-upgrade pompa dan dan tangki-tangki penadah. Mengoptimasi supplai dan distribusi air Zam-zam. Selain itu Sumur Air Zamzam sangat dijaga dari kontak manusia langsung, serta dari segi mikrobiologis Air Zamzam dikelola dengan sangat ketat dan menggunakan sinar ultra â&#x20AC;&#x201C; violet untuk membunuh bakteri berbahaya. ( , 2006).


9

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Air Zamzam Kemasan “A” dan “B” memenuhi syarat secara bakteriologis sesuai standar Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.06.1.52.4011. 5.2 Saran 1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kualitas Air Zamzam kemasan, secara fisika dan secara kimia. 2. Bagi produsen agar memperhatikan proses pengemasan, terutama baik tidaknya kemasan yang dipakai, sehingga dapat mengurangi kontaminasi bakteri terhadap produk. 3. Konsumen perlu berhati-hati dalam memilih Air Zamzam dalam kemasan sebelum membeli untuk dikonsumsi, dengan memperhatikan kemasan produk, dan kejernihan produk. VI. DAFTAR PUSTAKA . 2005. Zamzam Studies and Research Center. Saudi Geological Survey. . 2006. Zamzam Water Publicaton. http://faculty.ksu.edu.sa. Diakses pada tanggal 1 Maret 2013.

Alamsyah, S. 2007. Merakit Sendiri Alat Penjernih Air. Jakarta : Kawan Pustaka. Dwidjoseputro, D. 1998. Dasar - Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan. Entjang Indan. 2001. Mikrobiologi & Parasitologi. Bandung : Citra Aditya Bakti. Pelczar, M.J., dan Chan, E.S. 1988. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UIPress. Prawirohartono, S. 1989. Biologi edisi Kedua. Penerbit : Jakarta : Erlangga. Ricki M.M, 2005. Kesehatan Lingkungan, Penerbit : Graha Ilmu. Suriawiria, U. 1986. Pengantar Mikrobiologi Umum. Bandung: Penerbit Angkasa Bandung. Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. Makassar : UMM Press. Zuhair. N. dan Khounganian. R. 2006. A Comparative Study Between the Chemical Composition of Portable Water and Zamzam Water and its Effect on Tooth Structure in Saudi Arabia. Saudi Arabia : Saudi Dental Journal King Saud University.

Jurnal Ilmiah - Pengujian Bakteriologis Air Zamzam Kemasan di Kota Surakarta  

Oleh : A.R. Asrari Puadi

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you