Page 1

REPUBLIKA

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011 / 10 SYAWAL 1432 H n 1

Ekonomi Berbasis Masjid laporan utama

P

engembangan ekonomi berbasis masjid bukan lagi sekadar wacana. Beberapa lembaga turun tangan, memberdayakan takmir dan pemuda masjid untuk berkegiatan ekonomi. Mereka memperoleh pelatihan dan kucuran dana untuk memulai usaha. Bahkan, Ketua Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Aksa Mahmud, mengatakan banyak peluang di masjid. Dengan demikian, takmir dan pemuda masjid dapat membangun kemandirian ekonomi yang berimbas pada masyarakat luas melalui masjid. Sekjen Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI), Juni Supriyanto, menyatakan kemandirian ini merupakan impian besar yang mesti dicapai dengan kerja sama semua pihak, agar kegiatan ekonomi berjalan di masjid di seluruh Tanah Air. 2 AGUNG SUPRIYANTO

8

Pelajaran Berharga dari Kehidupan

MUSLIMHERITAGE.COM

Ashabiyah

4

Banyak orang bilang, kehidupan manusia bagai roda. Ada kalanya posisinya berada di atas, tapi suatu waktu berada di bawah. Oleh karena itu, banyak hal yang dapat dipelajari dari kehidupan, baik itu yang menyenangkan maupun sebaliknya, yang pahit.

Ashabiyah merujuk pada ikatan sosial budaya yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan kelompok sosial. Ini telah berkembang sejak pra-Islam. Selanjutnya, muncul istilah ashabiyah al-Islamiyah atau semangat keislaman dan ashabiyah al-Jinsiyyah atau semangat kesukuan. Ashabiyah bisa baik juga buruk.

12

Akrab dengan Daerah Bencana Berkecimpung dalam aktivitas kemanusiaan tak lagi asing bagi Ita Muswita Muslim. Dengan ilmu keperawatan yang dipunyainya, ia membantu para korban di daerah bencana atau konflik. Tak heran ia jamak menyambangi dua tipe daerah itu. Ia merasa ingin selalu berbagi dan memberikan yang terbaik bagi mereka yang dibantunya, lewat kecakapannya sebagai perawat.

I TA M U S W I TA M U S L I M AGUNG SUPRIYANTO

AP

Apa Makna Al-Masyriq dan Al-Maghrib?

8

Dalam pandangan sufistik, al-masyriq (timur) dan al-maghrib (barat) tak melulu menunjukkan tempat atau wilayah geografis. Menurut mereka, kedua istilah ini menggambarkan pula banyak pesan dan makna, termasuk pesan kosmologi, teologi, antropologi, ataupun sosiologi.


REPUBLIKA

laporan utama

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

2

Menggarap Potensi Takmir Berbekal pengetahuan dan modal, mereka memulai usaha. Oleh Indah Wulandari

A

li Mustofa (25 tahun) se hari-hari dikenal sebagai takmir Masjid alHurriyah, Kampus IPB, Bogor. Ia juga pedagang mainan anak-anak di Pasar Cibinong, Bogor. Hasil berdagang ia gunakan untuk memenuhi hidup serta kebutuhan kuliahnya. Kemandirian merasuk ke dalam dirinya dengan tekad agar ia tak terlalu bergantung pada orang lain, khususnya orang tua. Ramadhan lalu, ia berkesempatan menambah pengetahuan dalam kewirausahaan. Ia mengikuti pelatihan kewirausahaan. “Bersyukur sekali saya mendapat kesempatan pelatihan pemberdayaan ekonomi untuk takmir masjid,” terang Ali, Senin (5/9). Selain mengasah kemampuannya berwirausaha, pelatihan ini memperluas cakrawala berpikirnya. Usai berdiskusi dengan para praktisi wirausaha selama tiga hari, mahasiswa Jurusan Akuntasi STIE Pandu Madania, Bogor, ini makin mantap berjalan di rel pengusaha. “Saya ingin menjadi pengusaha yang membuka peluangpeluang kerja baru. Memang minat saya disini,” ujarnya. Ali, dengan menyambi sebagai pedagang main-

an, cukup lama merasakan pahit getir menjadi pedagang. Berawal dari modal ratusan ribu rupiah, nyatanya dia mampu menuai omzet sekitar Rp 2,5 juta dalam waktu sebulan. Jika dibandingkan dengan kegiatannya menjadi guru honorer, lanjutnya, kondisi ekonomi pedagang seperti dirinya jauh lebih mapan. Ia mengaku, di awal usahanya banyak menuai cibiran dari orang lain. Namun, ia mengacuhkannya dan bersiteguh meneruskan usaha dagangnya lantaran dia merasakan banyak manfaat yang didapatkan jika menekuni sebuah usaha. Salah satunya, dia merasa bisa lebih fleksibel mengatur waktu antara kegiatan ibadah, kuliah, dan berdagang. Setelah menempuh pelatihan, yaitu melalui program Proactive Youth Dompet Dhuafa, Ali bakal memanfaatkan modal yang didapatnya dari mereka dengan usaha baru. Rencananya, modal sekitar Rp 2,5 juta menjadi awal usaha martabaknya. Perputaran modal miliknya nanti dimanfaatkan pula bagi takmir serta jamaah masjid lainnya. “Kelak, usaha ini bisa meningkatkan taraf hidup takmir masjid dan menciptakan kemandirian di bawah pertolongan Allah,” papar Ali. Kelak, dia bercita-cita membuka outlet produk ciptaannya sendiri.

Harapan yang sama dilontarkan Eman (29 tahun). Jamaah Masjid Alumni IPB, Bogor, ini merasakan pula berkah keaktifannya di masjid. Sebulan lalu, dia ditunjuk menjadi salah satu wakil pelatihan yang sama. Alhasil, kreativitas yang ada pada diri Eman terbangkitkan. Sebelumnya, ia hanya menawarkan jasa pijat refleksi di lingkungan masjid sejak empat tahun lalu. Sekarang, dengan menggunakan modal yang dimilikinya, ia membeli beragam obat herbal untuk melengkapi jasa pijak refleksinya. “Saya ingin menjadi pengusaha yang berkah,” cetusnya. Usaha obat herbalnya pun tak sebatas di lingkungan masjid. Eman mencoba menawarkannya berkeliling Kota Bogor. Strategi promosinya pun kian meluas. Tak sekadar promosi mulut ke mulut, Eman kini melengkapinya dengan selebaran di beberapa titik kota. “Yang terpenting, saya menjaga kedekatan hati dengan pelanggan dan niatnya ibadah,” jelasnya. Selain itu, motivasi yang diperoleh dari pelatihan juga mengubah Rahmat Munif (29) untuk mencoba mengembangkan usaha. Takmir Masjid al-Mujahiddin, Kemang, Kota Bogor, ini berani membuka usaha sendiri untuk memberdayakan masjid tempatnya bernaung. “Trainer membantu mendorong motivasi pengurus masjid agar tak selalu berada di zona nyaman,” terang Rahmat. Pada akhirnya, ia dan seorang temannya memantapkan hati untuk memulai usaha sendiri. Mereka memilih membuka usaha martabak mini jika kucuran modal telah turun. n ed: ferry kisihandi FOTO-FOTO: AGUNG SUPRIYANTO

Yang Bergerak di Ranah Masjid Oleh Indah Wulandari agam program disuguhkan. Tujuannya, denyut perekonomian berlangsung di tengah masjid yang umumnya sekadar buat shalat dan mengaji. Di antara sejumlah lembaga yang sudah bergerak menawarkan suguhan program pemberdayaan itu adalah Dompet Dhuafa, Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI, serta Baitul Maal Muamalat (BMM). Dompet Dhuafa mengusung “Proactive Youth”, yang telah berjalan dalam kurun waktu setahun ini. Berbagai bentuk pelatihan keterampilan dan seminar kewirausahaan digelar untuk para takmir masjid di seputar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Gayung pun bersambut, para takmir rata-rata menyambutnya dengan antusias. “Kita menginginkan agar takmir masjid punya aset perekonomian dan kegiatan jamaahnya di masjid tersebut lebih jauh berkembang dibandingkan sebelumnya,” terang Direktur Program Dompet Dhuafa,

R

Yuli Pujihardi, Rabu (7/9). Strategi utamanya, pendekatan dengan konsep kemandirian. Setiap masjid yang disasar bisa mengirimkan dua wakilnya untuk mengikuti pelatihan dan seminar. Mereka bebas memilih jenis keterampilan yang ingin dikembangkan. Dompet Dhuafa mengundang para praktisi wirausaha yang mumpuni, mulai dari pengusaha seluler, makanan, hingga jasa servis elektronik. Dompet Dhuafa, imbuh Yuli, intens mendampingi perwakilan dari masjid-masjid ini selama setahun. Tak lupa, mereka dibekali ilmu pengelolaan keuangan dan tata usaha. Lantaran, setelah pelatihan mereka diberi uang hibah dengan besaran Rp 2,5 juta–Rp 3 juta. Dompet Dhuafa pun punya target dalam program ini. “Kita menargetkan ada 2.000 orang takmir masjid yang dikasih keterampilan hingga akhir tahun ini,” ungkap Yuli. Dompet Dhuafa bakal memantau serta mengevaluasi setiap guliran modal yang digunakan melalui laporan dari dewan kemakmuran masjid. Seandainya terus mengalami kega-

galan, praktisi akan memotivasi dan menyarankan untuk mencoba jenis usaha baru hingga setahun. Yuli menegaskan, prinsipnya setiap modal tadi dipertanggungjawabkan bersama untuk kepentingan kemakmuran masjid. Lain lagi dengan YBM BRI yang mengandalkan program bertajuk “Bangkitnya Surau Kami”. General Manager YBM BRI, Nasir Tajang, mengatakan YBM mengikuti jejak sejarah bank milik pemerintah ini yang bermula dari pengumpulan kas sebuah masjid di Purwokerto, Jawa Tengah. Ada tekad memajukan masjid sebagai sentra perekonomian rakyat. “Kegagalan masjid memakmurkan takmir dan jamaahnya juga menginspirasi program ini,” jelasnya. YBM BRI merambah program lainnya, yaitu pendidikan, pembenahan kelembagaan masjid, serta pendataan jamaah masjid. Khusus bidang ekonomi, mereka mengembangkan unit-unit usaha jamaah masjid dengan gelontoran modal dan sarana usaha. Bentuk bantuan lainnya diinisiasi dari kebutuhan masjid-masjid area pedesaan. Bantuannya berupa bibit

ternak seperti sapi dan kambing. Seluruh pengelolaannya diserahkan ke pihak masjid. Biasanya, mereka menerapkan bagi hasil antara jamaah yang memelihara ternak. Hasil usaha setelah bagi hasil murni dimanfaatkan untuk perputaran modal ekonomi jamaah lainnya. “Pihak masjid tetap melaporkan neraca keuangan, tapi modal dan hasil semuanya diperuntukkan bagi mereka,” jelas Nasir. Hingga kini, YBM menggulirkan sekitar Rp 3 miliar agar ekonomi di lingkungan masjid menggeliat. Ia menuturkan, pada periode setahun awal ini YBM masih fokus menggarap potensi masjid di Pulau Jawa. Selanjutnya, mereka akan merambah ke seluruh masjid pedesaan seIndonesia. Semuanya, imbuh Nasir, bergantung pada inisiatif masyarakat menggunakan modalnya. Secara jangka panjang, YBM BRI memberikan beasiswa kepada 50 orang remaja masjid. Mereka dibiayai kuliah untuk mempelajari ekonomi Islam serta dididik menjadi pendakwah. Harapannya, setelah lulus mereka menempati pos-pos yang dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan ibadah dan ekonomi masyarakat. Semoga, kata Nasir, mereka juga diharapkan piawai mengelola koperasi syariah ataupun baitul maal wa tamwil. “Ini untuk mengatasi kendala kekurangan sumber daya manusia yang meneruskan kegiatan di masjid,” ujar Nasir. Lembaga lainnya adalah BMM. Mereka mengembangkan Komunitas Usaha Mikro Muamalat Berbasis Masjid (KUM3) yang dibentuk sejak pertengahan 2006. Cakupannya yang mencapai 24 provinsi, 28 kabupaten, dan 185 masjid menjadi modal bagi BMM meraih Indonesia Magnificence Zakat Award 2011. “KUM3 menjadi diferensiasi program layanan masjid kami yang ingin menjadikan jiwa umat mandiri dengan skala ekonomi yang layak,” papar Manager Perencanaan Komunikasi dan Standar Organisasi BMM, Hasis Purwanto. Sistem bantuan kredit tanpa bunga yang ditawarkan, ujar dia, nyatanya mampu menjaring hampir 5.000 orang mustahik. Total dana yang dikucurkan

hingga kini sebesar Rp 10,69 miliar. Hasis menjelaskan, sistem cicilan kredit tanpa bunga tadi membuat para mustahik loyal serta berkomitmen tinggi untuk melunasi. “Cara ini membina mental mereka agar sungkan dan memacu produktivitas mereka karena tak terbebani bunga,” terangnya. Modal bukan satu-satunya hal yang diberikan BMM, mereka juga memberi dasar keagamaan dalam setiap pertemuan kelompok mustahik yang dipinjami modal. Pembinaan tarbiyah ini dimaksudkan agar ada sinergi dengan konsep mandiri secara keislaman. Secara langsung, peran BMM tak sekadar pihak pemberi modal usaha. Sistem pendampingan dengan memberi nilai-nilai keislaman mampu meningkatkan rasa saling percaya. Tengok saja di tiap evaluasi kredit mustahik. Mereka yang tidak bisa mengembalikan kredit dengan lancar masih mau berusaha melunasi dengan mencari peluang bisnis baru. “Harapannya, mereka tak selalu bergantung pada modal kita seterusnya, tapi layak tumbuh sebagai wirausahawan Muslim,” kata Hasis. Kondisi tersebut membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Para jamaah dan mustahik lainnya berkeinginan membuka peluang usaha. Mereka ingin mandiri secara ekonomi. Sedangkan, dampak langsung ke masjid sebagai pusat pembinaannya, yakni mulai terlihat kegiatan ekonomi dari jamaah dan para takmirnya. Secara bertahap, imbuh Hasis, koperasi yang dikelola para takmir menjadi pusat kegiatannya. Namun, dia tak memungkiri jika ada kendala yang dihadapi. Salah satunya, daya serap bantuan modal yang tak bisa diaplikasikan ke semua masjid. Biasanya, ini terjadi karena kemampuan sumber daya manusianya yang belum andal untuk mengelola keuangan. Bentuk sinergi memakmurkan masjid sebagai sentra kegiatan Muslim juga dilakukan dalam Aksi Tanggap Muamalat. Berbagai perbaikan sarana masjid di seluruh wilayah Indonesia menjadi bentuk pelayanan publik bank syariah pertama ini. n ed: ferry kisihandi


REPUBLIKA

laporan utama

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

3

Banyak Peluang dari Masjid

FOTO-FOTO: AGUNG SUPRIYANTO

Berhasilnya kegiatan perekonomian masjid berdampak bagi masyarakat sekitar.

Oleh Damanhuri Zuhri

P

eluang bertebaran di masjid, khususnya untuk membangun kegiatan dan kemandirian ekonomi yang bermanfaat bagi masjid dan masyarakat sekitarnya. Ketua Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Aksa Mahmud, mengatakan pihaknya paling tidak telah memanfaatkan apa yang mungkin bisa dilakukan di masjid dalam sisi ekonomi. Anak-anak usia muda yang beraktivitas di MASK, sejak semula diajari bahwa masjid bukan saja untuk beribadah. Sebaliknya, di masjid banyak kegiatan positif yang memungkinkan dikerjakan, termasuk pengembangan kekuatan ekonomi. Setiap pekan keempat, jelas dia, mereka diajak mendengar

wawancara ewujudkan kemandirian ekonomi pemuda dan remaja masjid serta membangun ekonomi berbasis masjid diyakini sebuah rencana besar yang diharapkan berjalan mulus. Sekjen Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI), Juni Supriyanto, mengatakan JPRMI dengan “Gerakan Nasional Ayo ke Masjid” mengarah ke sana. Merintis kewirausahaan dan kemandirian ekonomi menjadi satu pilarnya. Belum lama ini, JPRMI memberikan pelatihan kewirausahaan kepada remaja dan pemuda masjid dari perwakilannya di puluhan provinsi di Indonesia. Ia mengatakan, ternyata pelatihan saja tak cukup. Butuh hal pembinaan lain untuk mewujudkan impian besar itu. Misalnya, modal dan pembinaan manajemen keuangan. “Secara teknis juga, tantangan lainnya adalah masih minimnya remaja dan pemuda yang tertarik untuk berkeringat. Kewirausahaan ini mencakup sektor riil yang butuh kerja keras,” katanya kepada wartawan Republika, Damanhuri Zuhri, Selasa (6/9). Juni mengungkapkan, banyak rumusan bagaimana membina pemuda masjid. Berikut petikannya.

M

Apa pentingnya membina para pemuda masjid, pengurus masjid, dan masyarakat sekitar masjid untuk mengembangkan ekonomi mandiri atau kewirausahaan? Dalam membahas urgensi membina para pemuda masjid dan masyarakat sekitar masjid, saya mengambil tiga kata kunci, yaitu remaja atau pemuda, masjid, dan ekonomi. Remaja atau pemuda dalam struktur demografi penduduk Indonesia menduduki porsi yang besar atau kurang lebih 37,2 persen dari total penduduk Indonesia. Selain kuantitas, mereka mempunyai ciri tersendiri, yaitu pemikirannya semangat dan penuh kreativitas. Ini pula yang membedakan mereka dengan kelompok usia tua yang cenderung status quo. Dari kondisi seperti itu, mereka cocok dibina sebagai agen perubahan. Kata kunci kedua adalah masjid yang belum dapat digunakan meningkatkan syiar Islam dalam membangun peradaban. Fakta penting yang terjadi adalah masjid dibangun sedemikian banyak. Sayangnya belum mampu mengantarkan masyarakat Indonesia seperti para sahabat Rasulullah. Menurut rekapitulasi masjid dan mushala di DKI Jakarta, jumlah masjid yang berada di wilayah DKI sebanyak 2.831 unit dan 5.661 mushala. Sedangkan di Indonesia, diperkirakan ada 700

tausiah, termasuk mengenai ekonomi. Tidak berhenti pada tataran konsep, masjid ini kini telah melangkah pada hal yang bersifat praktik. Aksa menuturkan, salah satu masalah besar yang dihadapi masjid di Indonesia adalah keuangan. “Kita melakukan sesuatu guna memperoleh uang, tentu yang masih dalam tataran dakwah dan halal,” katanya kepada Republika, Senin (5/9). Ia mencontohkan, pengurus masjid mengumpulkan khotbah Jumat sepanjang 2010 yang memang khatibnya adalah orang-orang mumpuni ilmunya, seperti Quraish Shihab, Nasaruddin Umar, dan Ali Mustafa Yaqub. Kumpulan khotbah itu kemudian dicetak menjadi buku. Masjid menggandeng sponsor, yaitu Bank Rakyat Indonesia. “Kita jual Rp 50 ribu per eksemplar.” Ternyata, itu menghasilkan cukup banyak uang karena peminatnya tinggi. Pengurus mencetak 2.000 eksemplar dan

peminatnya membeludak sehingga dicetak ulang. Dana yang dibutuhkan guna mencetak buku kumpulan khutbah sebesar Rp 84 juta. Hasil penjualan buku itu mencapai Rp 500 juta. “Ini artinya, banyak peluang menghasilkan uang di masjid,” kata Aksa. Ia menunjuk kegiatan lainnya, tempat penitipan sandal, dalam sebulan saja memperoleh pendapatan sebesar Rp 2 juta. Setiap bulan, aktivitas ceramah, shalat Dhuha, iktikaf, dan beragam acara lainnya menelurkan uang yang mengantarkan masjid pada kondisi keuangan surplus. Dalam sebulan, MASK berpendapatan sekitar Rp 400 juta dan pengeluaran Rp 250 juta. Dari perhitungan ini, ada kelebihan sebanyak Rp 100 sampai Rp 150 juta per bulan. Jadi, dalam setahun bisa terhimpun Rp 10 miliar dari kelebihan itu. Aksa memaparkan, merunut pada pemasukan dan pengeluaran itu, berarti ada pelatihan kegiatan ekonomi di masjid. Ia menambahkan, pada Ramadhan yang baru saja berlalu, ada 1.000 hingga 1.500 orang berbuka puasa di MASK. Demi memenuhi kebutuhan berbuka, pengurus masjid menggandeng sebanyak 30 katering. Merekalah yang menyediakan takjil buat berbuka, tetapi kriteria makanan ditentukan pengurus agar pihak katering tak sembarangan menyediakan makanan berbuka. Cara ini membina mereka berpartisipasi dalam kegiatan di masjid. Bahkan, pada 27 Ramadhan jumlahnya membengkak, yaitu 6.000 orang. Pihak masjid mengeluarkan uang Rp 600 juta selama bulan puasa kepada 30 katering. Aksa mengatakan, kenyataan tersebut menggambarkan bagaimana perputaran yang terjadi. Masjid mampu sebagai generator atau penggerak ekonomi. Ia mengisahkan, kerja sama dengan 30 katering itu tak begitu saja terjadi. Awalnya, pengurus mengumpulkan katering yang berminat menyediakan makanan untuk berbuka dan sahur jamaah. Ada pula pelatihan. Bila ada yang merusak menu, pengurus memberikan pendidikan dengan tidak boleh ikut selama 10 hari karena tak mengikuti kesepakatan yang telah dibuat. Setelah Lebaran ini, ungkap Aksa, pihaknya berencana mendirikan tempat parkir. Mereka yang datang dididik untuk membayar parkir mobilnya. Uang parkir mereka masuk kas masjid sebagai amal

mereka dan kegiatan dakwah masjid. Kalau di mal atau hotel, uang parkir yang dibayarkan tentu bukan amal yang dimanfaatkan demi syiar. Pemanfaatan dana di MASK diberdayakan pula melalui remaja dan pemuda masjid. Ada PASKA yang berisi anakanak SD hingga SMP dan RISKA yang terdiri atas anak-anak usia SMA dan mahasiswa. PASKA mengemban tugas membina anak-anak dhuafa, sedangkan RISKA fokus pada kerja sama membantu masjid-masjid kampung di Jakarta Pusat. Mereka mendatangi masjid yang memang butuh bantuan. Misalnya, tempat untuk beribadah atau tempat buang airnya kurang bagus, maka dibantu diperbaiki. Anak-anak RISKA datang ke sana melakukan kerja bakti. “Jadi, uang yang ada dan dihasilkan bukan semata-mata untuk kepentingan Sunda Kelapa, melainkan pula untuk masjid lain,” ungkap Aksa. Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI), Natsir Zubaidi, mengatakan untuk meraih keberhasilan dalam merintis kegiatan ekonomi atau kewirausahaan berbasis masjid, terlebih dahulu harus ada perubahan pola pikir. Selama ini umat Islam, termasuk kalangan pemudanya, terlalu berorientasi pada politik. Tekad mereka hanya ingin menjadi ketua partai atau anggota DPR dan gubernur atau bupati. “Pemuda kita jarang sekali yang berpikir menjadi kader umat atau pengusaha,” kata Natsir. Fenomena ini, papar Natsir, membuat DMI dalam rapat kerja nasionalnya belum lama ini fokus pada ekonomi. Bidikan utama adalah pemuda dan remaja masjid. Ke depan, masjid harus jadi lembaga dakwah komprehensif. Maknanya, masjid berfungsi mempersiapkan kader ulama, intelektual, serta kader-kader pengusaha sekaligus kalau memungkinkan membina kader politik. Kemandirian berpeluang berkembang di masjid. Ia mengatakan, DMI bekerja sama dengan Dompet Dhuafa menjalankan program kemandirian ekonomi berbasis masjid. Ia pun yakin program-program ekonomi di masjid akan berhasil. Apalagi, masjid adalah satu-satunya institusi keagamaan yang akuntabel. Sebab, urai dia, setiap Jumat pengurus masjid menyampaikan laporan keuangannya kepada publik. n ed: ferry kisihandi

Juni Supriyanto

Tak Sebatas Pelatihan ribu masjid. Kendala terbesarnya, masjid baru menjadi bangunan megah, tetapi sepi dari roh umat, kosong, dan hanya untuk kegiatan-kegiatan ibadah mahdah. Kata kunci ketiga adalah ekonomi. Persoalan mendasar dari remaja atau pemuda bangsa Indonesia adalah pengangguran. Maka, diperlukan konsep pembangunan pemuda yang terencana. Apa saja bentuknya? Pembangunan pemuda harus dititikberatkan pada persiapan mereka menghadapi ketidakpastian masa depan, yang mencakup sisi fisik tetapi juga memba-

ngun karakter dan kapasitas mereka berupa kompetensi, pendidikan, pelatihan, dan keterampilan. Dengan melihat itu semua, kita sepakat membina remaja atau pemuda masjid dengan kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan adalah penting. Apa yang ingin dicapai dari upaya ini? Sebenarnya, tujuan kita sederhana, yaitu ingin memakmurkan masjid. Hal ini sudah kita canangkan melalui “Gerakan Nasional Ayo ke Masjid”. Salah satu pilar yang kita usung adalah fokus pada ekonomi. Seperti kita ketahui, jumlah penduduk kita yang lebih dari 220 juta jiwa merupakan pasar yang sangat besar. Indonesia saat ini masuk dalam kelompok G-20. Itu berarti secara ekonomi sangat menjanjikan. Perlukah pembinaan dilakukan di seluruh masjid di Indonesia dan mitra paling penting siapa? Jika ditanya perlu atau tidak, semua pasti menjawab perlu. Hanya saja, kita masuk ke tahap berikutnya, bagaimana mengimplementasikan impian tersebut. Tahap awal, kita terus melakukan konsolidasi internal dan eksternal. Konsolidasi internal adalah untuk menghimpun organisasi pemuda remaja masjid yang siap untuk

menjadi bagian dari rencana besar ini karena JPRMI tidak akan bisa bergerak sendiri. Kemudian, konsolidasi eksternal kita kuatkan yang tujuannya mencari mitra serta pendukung proyek besar ini. Kegiatan yang kita lakukan, ada pelatihan kewirausahaan yang mengundang perwakilan dari provinsi di seluruh Indonesia. Dalam pelatihan tersebut juga terjadi kesepakatan-kesepakatan program antara perwakilan wilayah dan perwakilan dari Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI, yaitu melalui program sapi untuk masjid. Apakah hanya sebatas pelatihan kewirausahaan atau bantuan keuangan saja yang dibutuhkan? Sebenarnya, pertanyaan ini persis yang selama ini kita tanyakan ke beberapa jaringan kita di beberapa kesempatan yang lalu. Apakah kita hanya memberikan pelatihan? Ternyata berdasarkan obser vasi, kalau cuma itu pengembangan kemandirian ekonomi yang kita tuju tidak akan maksimal. Persoalan di lapangan, setelah mereka mendapat pelatihan, bagaimana memulainya? Niat ada, waktu banyak, tenaga siap, tapi modal tidak ada, ya nggak jalan juga. Dari situ kita merancang tidak hanya pelatihan kewirausahaan, lebih jauh kami meminta peserta pelatihan membawa proposal wirausaha berbasis masjid. Selain pelatihan kewira-usahaan dan bantuan keuangan adalah pembinaan baik secara manajemen keuangan maupun pembinaan agamanya. Selanjutnya, dibantu untuk pemasaran dan informasi peluang. Apa yg dilakukan JPRMI? Ada beberapa komunitas masyarakat yang sudah digarap oleh temen-temen JPRMI, seperti pedagang kecil, produksi kerajinan tangan, budi daya ikan, dan ternak sapi, melalui pembinaan manajemen, agama, serta pelatihan kewirausahaan dan dukungan pendanaan. Apakah program ini dilakukan di semua masjid di Indonesia? Saat ini kita baru fokus pada jaringan kita yang ada di 16 provinsi. Jadi, belum di seluruh Indonesia. Insya Allah, pada 2011 ini, kita targetkan 80 persen pengurus wilayah terbentuk, atau kurang lebih 25 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. n ed: ferry kisihandi


REPUBLIKA

tuntunan

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

4

Memanfaatkan Waktu

ADITYA PRADANA PUTRA

Banyak keuntungan bagi orang yang menggunakan waktu untuk beribadah dan hal yang bermanfaat.

Oleh Ferry Kisihandi

P

ada suatu masa, seseorang menyampaikan pertanyaan kepada Muhammad SAW. “Amal apakah yang paling Allah SWT cintai?” Seketika, orang itu memperoleh jawaban dari Muhammad, “Shalat tepat pada waktunya.” Menurut Amr Khaled, cendekiawan Muslim asal Mesir, pernyataan Rasul mengingatkan pada Muslim mengenai berharganya waktu yang mereka miliki. Banyak keterangan dalam hadis dan Alquran yang mengaitkan segala kegiatan dengan waktu. Bagi dia, ini menandakan betapa pentingnya waktu. Rasulullah mengingatkan perihal masa. Pada hari kiamat kelak, kaki manusia tak akan bergeser dari hadapan Tuhan sebelum ditanya mengenai empat hal penting, yaitu bagaimana umurnya selama hidup dipergunakan. Masa mudanya dihabiskan untuk apa saja. Harta kekayaan yang dinikmati di dunia diperoleh dan dibelanjakan ke mana saja serta apa yang diperbuat seseorang dengan ilmunya. Dalam pandang-

an Khaled, seorang Muslim akan diminta pertanggungjawaban atas menit demi menit yang dibelanjakannya selama di dunia. Tak ada secuil pun yang berlalu dalam kesia-siaan. “Sangat menggembirakan kalau setiap waktu terisi oleh ibadah dan kegiatan bermanfaat,” kata Khaled dalam bukunya, Buku Pintar Akhlak. Ulama besar Ibnu Qayyim mengatakan, sangat penting bagi seseorang memaknai hidup dan menyadari berlalunya setiap menit dari kehidupannya. Setiap embusan napas yang berlalu tanpa ketaatan kepada Allah akan melahirkan kerugian bagi orang tersebut. Seharusnya, masa yang berlalu membawa Muslim melahirkan manfaat bagi dirinya, keluarganya, agama, masya rakat, dan bangsanya. Lebih jauh, ulama lainnya, Hasan al-Bashri, melontarkan nasihat berguna. Menurut dia, setiap kali mentari terbit, hari menyampaikan seruannya, “Hai manusia, aku hari baru. Aku menyaksikan amalmu. Manfaatkan aku dan berbekal dariku.” Jika hari telah pergi, tak mungkin ditarik kembali. Ia menyatakan, itu berarti sebagian kehidupan yang ada pada diri manusia juga telah pergi. Betapa pentingnya waktu membuat ulama ter-

nama al-Muhasibi menyampaikan pernyataan, “Demi Allah, seandainya waktu dapat dibeli dengan uang tentu aku akan belanjakan semua hartaku.” Ia bertekad menggunakan waktunya demi kejayaan Islam. Ada sekelompok orang yang penasaran dengan sikapnya dan bertanya dari mana al-Muhasibi membeli waktu. “Dari orang-orang yang menganggur,” kata al-Muhasibi tegas. Pada sebuah kesempatan, kata Amr Khaled, ia melihat orang tua di sebuah masjid. Di sana ada sekelompok pemuda. Si orang tua memandang mereka kemudian menangis. Dia bertanya kepada orang itu, menangis dan meluncurlah rahasia dari bibirnya. “Aku terbiasa mendatangi masjid dan shalat tatkala sudah tua. Aku melihat para pemuda itu dan menangis karena telah menyiakan usiaku dengan tidak mengenal shalat sebelumnya. Alangkah beruntungnya para pemuda itu.” Ia mengatakan, berbagai krisis yang terjadi pada umat Islam sekarang ini akibat alamiah dari umat yang me nganggur dan membuang-buang waktu. Tak adanya kemauan tinggi dari umat untuk melakukan perubahan akan membuat keadaan lebih buruk. Pantas, ujar dia, orang asing yang giat dan datang ke

negeri Muslim mampu mengambil kekayaan negeri-negeri yang didatanginya. Padahal sebelumnya, banyak Muslim mengukir prestasi dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Mereka sarat tekad dan kuat mengelola waktu. Seseorang meminta Ibnu Qayyim alJawzi untuk berhenti sejenak untuk bercakap-cakap. Ia dengan tegas menyatakan, “Hentikanlah matahari kalau bisa.” Ia tak ingin membuang waktu percuma. Ibnu Aqil menulis sebuah kitab besar berjudul Al-Funun yang terdiri atas 800 jilid. Di usianya yang ke-80 tahun, ia mengatakan, dengan umurnya itu ia berkeinginan menggunakannya seperti waktu berusia 20 tahun. Ia memilih cara makan tak seperti orang kebanyakan guna menghemat waktu sehingga lebih banyak kesempatan menulis buku. Ia menuangkan air pada makanannya sehingga menjadi bubur dan ia makan dengan cepat-cepat sehingga dapat menghemat waktu. Sosok lainnya, Usamah bin Zaid. Ia telah memimpin pasukan sejak usianya 16 tahun. Ia tidaklah memimpin orang-orang sembarang, tetapi para sahabat utama Nabi Muhammad. Menurut Nabi, Usamah memang pantas memimpin pasukan. n

ensiklopedi

shabiyah berasal dari kata ashaba yang berarti mengikat dan ashabah dengan makna ikatan. Ashabiyah merujuk pada ikatan sosial budaya yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan kelompok sosial. Istilah ini sudah dikenal sejak zaman pra-Islam. Ibnu Khaldun, cendekiawan Muslim, menjadikannya sebagai konsep sosial dalam bukunya Muqadimmah. Menurut Ensiklopedi Islam, pada perkembangan selanjutnya, muncul istilah al ashabiyah al Islamiyah (semangat keislaman) dan al ashabiyah al jinsiyyah (fanatisme kesukuan). Bangsa Arab, terutama sebelum Islam, menganut sistem dan hidup dalam kelompok kekerabatan yang besar. Struktur masyarakat didasarkan atas klan yang anggotanya berdasarkan hubungan darah. Sistem hubungan demikian menumbuhkan solidaritas kesukuan yang kuat. Lebih jauh, ashabiyah ini dapat melahirkan chauvanisme atau sifat patriotisme berlebihan. Suku lain dianggap musuh yang harus dibinasakan. Satu suku yang ashabiyahnya kuat menaklukkan suku yang ashabiyahnya lemah. Ashabiyah juga dipahami sebagai solidaritas sosial. Penekanannya pada kesadaran, kepaduan, dan persatuan kelompok. Ashabiyah merupakan fenomena sosial, psikologis, fisik, dan politik. Ashabiyah tak mesti bersifat nomadis dan tak mesti berdasarkan hubungan darah. Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern menyebut maknanya dekat dengan gagasan Emile Durkheim tentang kesadaran kolektif. Ashabiyah berperan menyatukan sekelompok orang dalam

A

Ashabiyah

berhadapan dengan orang asing sekaligus mengukuhkan nilai dan norma kelompok itu. Semangat dan moral saling berkelindan, terutama dalam masyarakat nomadis. Ashabiyah nomadis pra-Islam sangat dilaknat oleh Nabi Muhammad karena sering digunakan sebagai penggerak perang suku. Seperti sifat manusia lainnya, ashabiyah bisa baik atau buruk tergantung tujuan penggunaannya. Sejarah Islam memberikan banyak contoh me-

ngenai hal ini terutama pada masa kekhalifahan. Dalam pandangan Ibnu Khaldun, pemberontakan Muawiyah terhadap khalifah yang sah, Ali bin Abu Thalib, dan pengambilalihan kekhalifahan dengan kekerasan terjadi akibat ashabiyah Muawiyah yang kuat. Gagalnya perlawanan yang dilakukan Husain, putra Ali, menurut Ibnu Khaldun, diakibatkan kuatnya ashabiyah Yazid. Dalam konteks ini, kelompok

pemikir Ikhwan al-Shafa dan Ibnu Khaldun menyaksikan kebangkitan dan kejatuhan banyak negara selama kekuasaan Islam. Sejarah Islam memperlihatkan, ashabiyah juga dapat meningkatkan atau menurunkan kekuasaan, mengikuti perubahan situasi. Banyak pemimpin yang kehilangan ashabiyah setelah menderita kekalahan. Lainnya, memperoleh ashabiyah kuat usai mengalami kemenangan. Ibnu Khaldun, Ikhwan al-Shafa, dan pemikir Muslim lainnya meyakini pula bahwa sepanjang sejarah Islam terdapat hubungan kuat antara ashabiyah dan agama. Menurut mereka, agama memperkukuh kepaduan kelompok. Fungsi sosial agama dalam menyatukan orang terlihat setelah bangsa Arab menjadi Muslim. Tatkala ashabiyah kesukuan orang Arab berpadu dengan beberapa aspek agama, mereka menjadi sangat religius. Mereka memperlihatkan semangat dan kesetiaan yang mengagumkan kepada Islam. Setelah Rasulullah wafat, ashabiyah mereka ditujukan kepada kaum tak beriman di luar Arab. Pada abad ke-19 dan ke-20, bangsa Arab yang berada di bawah pemerintahan asing merasakan kebutuhan akan persatuan, solidaritas, dan penentuan nasib sendiri yang merupakan unsur utama ashabiyah. Sesudah itu, lahir kesadaran bersama melakukan perlawanan. Secara spesifik, hal itu berhubungan pula dengan penyerbuan Napoleon ke Mesir, pendudukan yang dilakukan oleh Italia terhadap Tripoli, Deklarasi Balfour pada 1917, dan kemudian berdirinya Israel. n ferry kisihandi

WIKIPEDIA.COM


REPUBLIKA

fatwa

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

Dibolehkan asalkan memiliki tujuan jelas dan kemaslahatan bagi manusia.

5

Menggunakan Hewan untuk Eksperimen Oleh Ferry Kisihandi

K

emajuan di bidang kesehatan menuntun pada terjadinya eksperimen yang dilakukan terhadap hewan. Di dalamnya, termasuk transplantasi organ hewan pada tubuh manusia. Menurut Dr Abul Fadl Mohsin Ebrahim, guru besar studi Islam pada Universitas Durban, Afrika Selatan, syariat memang tak secara langsung membahas isu ini. Meski demikian, ada sejumlah hal yang terkait kepentingan manusia sebagai pertimbangan bagi para ahli fikih membahas persoalan ini, yaitu agama, jiwa, keluarga, akal pikiran, dan harta benda. Bila eksperimen pada hewan dilangsungkan pada kondisi tertentu mengacu pada pertimbangan itu, jelas Ebrahim dalam bukunya Fikih Kesehatan, dapat dibenarkan. Dengan kata lain, eksperimen itu memungkinkan dengan syarat bertujuan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi kelestarian kehidupan manusia dan hewan. Maka itu, menjadikan hewan sebagai objek eksperimen yang bersifat

menyakiti dan tindakan lain yang mengakibatkan kebutaan dan kecacatan pada hewan, hukumnya haram. Perlakuan sembarangan terhadap hewan untuk eksperimen atau tak adanya tujuan jelas dari eksperimen itu, tidak boleh. Di sisi lain, dibolehkan pengujian obat-obatan terkait dengan penyelamatan nyawa pada hewan sebelum dinyatakan aman untuk digunakan pada manusia. Ebrahim menambahkan, perlu juga upaya mencari alternatif menggantikan hewan dalam eksperimen. Catatan sejarah, khususnya dalam perkembangan ilmu kesehatan di dunia Islam, pemanfaatan hewan sudah lama berlangsung. Misalnya, oleh Abu Bakr Muhammad bin Zakariya al Razi, di Barat dikenal dengan nama Rhazes. Ia mengenalkan campuran merkuri sebagai obat pencuci perut, yang terlebih dahulu diujicobakan pada monyet kemudian diberikan kepada pasiennya. Abu al-Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni al-Khawarizmi, bapak farmasi dan biologi kelautan, menulis sebuah buku dalam bidang farmasi yang berjudul Shaydanah. Buku ini terbagi menjadi dua. Dalam bagian kedua, dibahas gambaran asal-

usul hewan. Misalnya, disebutkan merpati karang untuk membantu menambah darah bagi penderita anemia. Al-Zahrawi ialah orang pertama yang menggunakan usus bersih hewan yang telah digosok dan dihaluskan dalam bedah luka. Dalam bidang kedokteran gigi, ia berbicara soal pembuatan gigi palsu dari tulang hewan. Menurut Ebrahim, jelas sekali para ahli pengobatan Muslim klasik terlibat dalam berbagai bentuk eksperimen pada hewan. Transplantasi organ hewan pada manusia juga memperoleh perhatian. Akademi Fikih Islam Liga Dunia Muslim, Makkah, menetapkan bahwa syariat membenarkan pengambilan organ hewan halal yang disembelih dengan cara Islam untuk ditransplantasikan ke tubuh manusia. Pandangan serupa disampaikan oleh Akademi Fikih Islam India. Sedangkan, almarhum Syekh Jad alHaqq Ali Jad al-Haqq, yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Al Azhar, Mesir, mengatakan gigi manusia yang tanggal boleh diganti dengan gigi hewan yang halal. Sikap yang sama muncul dari Dr Fayshal Ibrahim Zahir dari Departemen Kedokteran Islam Universitas King Fayshal.

ANTARA

Menurut dia, tak ada larangan mentransplantasikan organ tubuh hewan halal pada tubuh manusia dengan maksud menyelamatkan nyawa atau meningkatkan kualitas hidup si penerima organ. Perbedaan pendapat mengemuka pada transplantasi organ babi. Beberapa di antara mereka mempermasalahkannya dengan alasan babi dan seluruh bagiannya haram. Kelompok lainnya membolehkan karena adanya kebutuhan mendesak, seperti halnya dalam kondisi tertentu boleh mengonsumsinya. Dalam buku Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, yang merupakan kumpulan keputusan muktamar, musyawarah nasional, dan konbes Nahdlatul Ulama (NU), dinyatakan transplantasi gigi dengan organ babi dan sejenisnya, hukumnya tidak boleh. Sebab, masih banyak benda lain yang bisa digunakan sebagai pengganti dan karena belum pada tingkat kebutuhan yang mendesak. Transplantasi organ babi menggantikan organ sejenisnya pada manusia hukumnya juga tidak boleh. Kecuali jika sangat dibutuhkan serta tak ada organ lain yang sama efektif seperti organ babi tersebut, menurut pendapat Imam Romli, Asnawi, dan Subki, boleh. n

halalan thayyiban

Kandungan Alkohol pada Tapai Oleh Ferry Kisihandi apai tak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat. Ada dua jenis tapai yang bisa ditemui dan dikonsumsi, yaitu yang terbuat dari ketan atau singkong. Pada Lebaran, kata pakar pangan Anton Apriyantono, di beberapa daerah, tapai menjadi suguhan favorit. Ia menuturkan, masih ada pertanyaan mengenai makanan ini, terutama soal kandungan alkoholnya. Apakah termasuk dalam kategori khamar yang tentunya tak boleh dikonsumsi atau bukan. Rasul menyatakan bahwa setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap khamar hukumnya haram. Dalam kesempatan lain, Umar dalam pidatonya yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menegaskan, khamar itu sesuatu yang mengacaukan akal. “Kedua dalil ini berlaku bagi segala sesuatu yang biasa dikonsumsi,� katanya. Misalnya, minuman beralkohol dan narkoba. Untuk sesuatu yang tak bisa dikonsumsi, seperti alkohol dalam bentuk murninya atau pelarut organik mestinya

T

tak terkena hukum ini. Anton mengatakan, ada dasar hukum lain mengenai khamar ini, yaitu jika banyaknya memabukkan, sedikitnya pun haram. Islam pun mencegah segala sesuatu ke arah haram. Ini berhubungan dengan adanya sesuatu yang berpotensi berubah menjadi minuman haram meski tidak bersifat memabukkan. Islam menetapkan hukum untuk mencegah Muslim ke arah yang haram. Dalam hal ini, ia mencontohkan jus buah. Jus buah atau yang sejenisnya, ketika disimpan pada suhu kamar dalam kondisi terbuka selama lebih dari dua hari, termasuk ke dalam khamar. Fermentasi alkohol pada jus selama lebih dua hari membuatnya tak boleh dikonsumsi karena telah tergolong sebagai khamar. Saat berbuka, Rasulullah pernah disodori jus yang telah mengeluarkan gelembung. Beliau menolaknya dan menyatakan jus itu berubah menjadi khamar. Jadi, salah ciri lain khamar yang dibuat dari jus adalah adanya gas dari jus itu. Tapi, ini bukan gas karbondioksida yang sengaja ditambahkan seperti pada minuman berkarbonasi. Bagaimana de-

UMEKDIDAPUR.COM

ngan tapai? Apakah tapai yang baru jadi atau yang masih segar bersifat memabukkan? Anton mengatakan, belum ada laporan tapai yang masih segar memabukkan. Anton menambahkan, tapai memang tak terbuat dari jus, tetapi begitu tapai khususnya dari ketan, disimpan di suhu ruang maka terbentuk jus yang bisa dianalogikan dengan jus buah-buahan,

tak boleh diperam lebih dari dua hari. Jadi, tapai ketan tak boleh disimpan pada suhu ruang lebih dari dua hari. Itu dihitung dari mulai jadi tapai. Pada hari ketiga, tapai ini dapat digolongkan ke dalam khamar. Sebab, tapai ketan yang disimpan lebih dari dua hari biasanya melahirkan cairan bergelembung dan berbusa. Kondisi ini bisa dikaitkan dengan penolakan Rasul atas

jus berbusa yang dinyatakan sebagai khamar. Mengenai kadar etanol atau alkohol pada tapai ketan, Anton mengungkapkan setelah fermentasi satu hari kadar alkoholnya mencapai 1,76 persen. Setelah dua hari kadarnya menjadi 3,3 persen. Bila fermentasi hingga tiga hari tentu kadarnya lebih tinggi lagi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menetapkan minuman masuk dalam kelompok minuman keras saat mengandung alkohol satu persen atau lebih. Ini berlaku pula pada kandungan alkohol pada tapai. Meski pada akhirnya, ujar Anton, pilihan terletak pada tangan masing-masing. Kalau tapai atau peuyeum bandung tak masalah karena selalu keras dan biasanya digantung. Cara ini membantu tapai tak mengandung alkohol tinggi. Berbeda dengan tapai singkong yang cara pembuatannya ditumpuk, niscaya memicu produksi alkohol lebih tinggi. “Kita harus memperhatikan tapai singkong yang ditumpuk, terutama kalau sudah berair sebab kemungkinan kandungan alkoholnya relatif tinggi. Lebih baik dihindari,� kata Anton menegaskan. n


REPUBLIKA

muhibah

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

6

AQL Sulawesi Selatan

Giatkan Tadabur Alquran

FOTO-FOTO: AQL

Ada keinginan untuk menyadarkan masyarakat memahami dan mempraktikkan Alquran.

Oleh Damanhuri Zuhri

R

atusan jamaah Masjid Raya Makassar, Sabtu (27/8) lalu, berdecak kagum menyaksikan kemampuan dua bocah yang dengan fasih melafalkan ayatayat suci Alquran. Yang menarik, dua bocah itu, Kaisa Irsanila dan kakaknya, Muhammad Habib Al Kamali tak hanya melafalkan Alquran, tapi menghafalnya. Mereka menghafal Surah An-Nabaa meski dengan terbata-bata. Seusai menyelesaikan Surah An-Nabaa, putra pasangan Ustaz Kamaluddin dan Laili Tri Lestari itu melanjutkan melantunkan Surah An-Naziat yang cukup panjang, 46 ayat. Keduanya unjuk kemampuan dalam acara ‘Sehari Bersama Alquran’ yang diselenggarakan Ar Rahman Quranic Learning (AQL) Sula-

wesi Selatan dan membuat ratusan jamaah terkesima. Tidak sedikit jamaah yang merangsek ke barisan depan demi melihat lebih dekat kakak beradik itu, lalu mengambil gambarnya. Menurut sang bunda, Ustazah Laili Tri Lestari, sejak di dalam kandungan, Kaisa dan Habib diperdengarkan lantunan ayat-ayat Alquran. Apalagi, Laili yang sehari-hari mengajar di TPA dan TK Pusdikari ini selalu membawa anaknya ke tempatnya mengajar. “Alhamdulillah, tanpa terasa kebiasaan saya mengaji ketika tengah mengandung keduanya ataupun mengajar anak-anak di TK dan TPA Pusdikari, ternyata sangat berdampak pada kemampuan mereka dalam membaca ayat-ayat suci Alquran,” ungkap Ustazah Laili penuh rasa syukur kepada Republika di Makassar. Ustaz Kamaluddin menambahkan, peran orang tua sangat tinggi dalam menumbuhkan se-

mangat anak-anak untuk mencintai Alquran. Ketua AQL Sulawesi Selatan ini mengungkapkan kiat-kiat yang dilakukan untuk melahirkan anak-anak penghafal Alquran. “Alhamdulillah, kami usahakan di rumah senantiasa memperdengarkan Alquran. Itu sangat memotivasi anak-anak kami mempelajari Alquran.” Selain menampilkan Kaisa dan Habib, acara ‘Sehari Bersama Alquran’ di Masjid Raya Makassar itu juga menampilkan keterampilan trio bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar, yakni Putri yang tampil berpidato bahasa Indonesia, Aini yang berpidato bahasa Inggris, dan Hamsia yang berpidato dalam bahasa Arab. Ketiganya melakukannya dengan fasih. Majdah M Zain, istri wakil gubernur Sulawesi Selatan yang juga dewan pembina Forum Kajian Cinta Alquran (FKCA) Makassar, mengaku bahagia menyaksikan kemampuan anak-

anak itu dalam melantunkan ayat-ayat Alquran ataupun berpidato dalam tiga bahasa, yaitu Indonesia, Arab, dan Inggris. Ia mengajak umat Islam Makassar menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup. “Marilah kita jadikan Alquran sebagai jalan hidup dan bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Majdah yang juga merupakan rektor Universitas Islam Makassar (UIM). Elfirah Salviah, mahasiswi Manajemen dan Keuangan Universitas Hasanuddin (UNHAS) yang juga pengurus AQL cabang Makassar, Sulawesi Selatan, mengatakan semangat pengurus AQL Makassar mengadakan acara ‘Sehari Bersama Alquran’ menjadikan kegiatan tersebut disambut hangat masyarakat Makassar. Oma, panggilan akrab Elfirah Salviah, mengatakan kegiatan itu semakin membuat pihaknya ingin melakukan hal yang sama dengan konsep berbeda. Tujuannya agar masyarakat semakin menyadari arti penting Alquran dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada keinginan besar untuk terus memberikan penyadaran kepada masyarakat mengenai Alquran. Lebih lanjut Ustaz Kamaluddin, ketua AQL Sulawesi Selatan, mengungkapkan latar belakang kegiatan ‘Sehari Bersama Alquran’ tersebut diselenggarakan. Menurut dia, acara ini terwujud, tak lepas dari semangat warga Makassar dalam upaya memberantas buta aksara Alquran. Mereka bisa berbangga atas keberhasilan dalam memberantas buta aksara Alquran.

Di antaranya dengan bermunculannya taman kanak-kanak (TK) dan taman pendidikan Alquran (TPA) hampir di setiap masjid di Sulawesi Selatan. Namun, jelas dia, kegemaran membaca Alquran yang tidak dibarengi dengan pemahaman, tidak terlalu banyak bisa diharapkan untuk kemajuan dan kejayaan Islam. Oleh karena itu, imbuh dia, AQL Sulawesi Selatan bekerja sama dengan FKCA merasa perlu mengadakan acara ‘Sehari Bersama Alquran’. Acara yang berlangsung di Masjid Raya Makassar itu ditutup dengan diskusi panel mengenai mukjizat Alquran, yang menghadirkan Ustaz Bachtiar Nasir, pimpinan AQL Jakarta dan Noor Bahri Noor, dosen Universitas Hasanuddin. Ustaz Bachtiar mengingatkan, selama 15 tahun Ramadhan dijadikan bulan Alquran, yakni 13 tahun ketika Rasulullah dan umat Islam masih di Makkah plus dua tahun setelah hijrah ke Madinah. Setelah itu, Ramadhan dijadikan sebagai bulan puasa. Maknanya apa? Menurut dia, puasa di siang hari dan shalat di malam hari sesungguhnya untuk memudahkan proses persenyawaan Alquran sebagai roh dengan kalbu seorang Mukmin di bulan Ramadhan. “Ibarat sebatang besi yang dibakar hingga membara untuk ditempa menjadi sebilah pedang, tetapi dibiarkan dingin kembali tanpa tempaan, demikianlah orang yang tidak menghayati dan mentadaburi Alquran setelah puasa dan shalat,” ujarnya bertamsil. n ed: ferry kisihandi

rohis

PUSKOMDA PURWOKERTO

Membentuk Desa Binaan Oleh Ferry Kisihandi usat Komunikasi Daerah (Puskomda) Purwokerto, Jawa Tengah, membentuk desa binaan. Ini merupakan program unggulan Puskomda yang merupakan kepanjangan tangan Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia (FSLDK). Unit Kegiatan Kerohanian Islam Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)

P

kini diamanati sebagai Puskomda. Koordinator Puskomda Purwokerto Muhammad Doni R mengatakan, kegiatan desa binaan dengan tema ‘Berkarya untuk Bangsa’ adalah aplikasi sabda Rasulullah, yaitu sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk yang lain. Dengan ini, mereka mencoba mengubah stigma bahwa mahasiswa kurang dekat dengan masyarakat. Tapi, terlepas dari stigma itu, jelas

dia, hal terpenting adalah menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku perguruan tinggi serta menimba pengalaman dari masyarakat. “Desa binaan sudah berlangsung sejak Mei tahun ini,” kata Doni kepada Republika, Selasa (6/9). Desa Pageralang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas terpilih sebagai desa binaan. Sebagai awalan, Puskomda merancang tiga jenis program, yaitu jangka pen-

FOTO-FOTO: PUSKOMDA

dek, menengah, dan jangka panjang. Program jangka pendek berjalan melalui pengobatan gratis dan bakti sosial. Sedangkan jangka menengah, pemberian pelatihan keterampilan bagi para ibu, penyuluhan pertanian, dan pelatihan kewirausahaan. Pada program jangka panjang, ada pembinaan taman baca Alquran, sosialisasi hidup bersih dan sehat ke sekolah dasar yang ada di sekitar desa, serta sosialisasi keuangan syariah. Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Banyumas mengulurkan tangan untuk bekerja sama dengan Puskomda dalam mengembangkan desa binaan tersebut. Doni mengatakan, pihaknya juga memfasilitasi warga desa yang mengembangkan kewirausahaan dengan lembaga keuangan syariah, yaitu baitul maal wa tamwil.” Kami hanya menghubungkan

mereka dengan sumber dana, selanjutnya warga yang menjalin komunikasi dengan lembaga keuangan syariah itu,” ujarnya. Ada sekitar 40 warga yang memang tertarik mengembangkan usaha dan membutuhkan modal untuk mengembangkan usahanya. Melalui desa binaan ini, terungkap banyak potensi yang dimiliki mereka, namun belum tergali dan berkembang dengan baik. Pembinaan membantu mereka mengoptimalkan potensi itu. Pemantauan berkala dilakukan terhadap desa binaan dengan harapan terdapatnya komunikasi yang berlanjut, berbagi pengalaman, serta bersama mengatasi masalah. Doni berharap, setiap lembaga dakwah kampus (LDK) mengembangkan desa binaannya sendiri. Sebab, program ini telah membuahkan hasil yang memuaskan. n


REPUBLIKA

komunitas

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

Warga Lamakera Bereuni arga Lamakera, Nusa Tenggara Timur (NTT), melakukan reuni yang berlangsung dari 25 Agustus hingga 5 September 2011. Ini reuni keempat. Ketua Persatuan Keluarga Lamakera Solor (PKLS) dan penanggung jawab reuni HM Syarifien Maloko mengatakan, acara tersebut bukan sekadar ajang mudik dan silaturahim. “Ini juga momentum bagi kebangkitan Islam jilid dua di NTT,” katanya. Terlebih, kini, berdiri menara masjid setinggi 38 meter di dalam kompleks Masjid Al-Ijtihad, Lamakera, yang merupakan menara masjid tertinggi di NTT untuk berbagai kepentingan syiar Islam. Menara itu akan diresmikan awal tahun depan. Menara dan Madrasah Aliyah Plus yang juga baru berjalan merupakan cikal bakal lahirnya Lamakera Islamic Centre (LIC) yang dicita-citakan sebagai pusat kegiatan pembangunan peradaban Islam di NTT. Dengan pertimbangan ini, tak heran jika reuni diisi kegiatan syiar Islam. Putra terbaik Lamakera mengisi syiar itu, sebut saja misalnya Ali Thaher Parasong, yang sekarang menjabat staf khusus Menteri Kehutanan. Beberapa kegiatan syiar, di antaranya pelatihan dakwah, pelatihan manajemen masjid, dan pelatihan memandikan jenazah. Ekspedisi dakwah oleh putra-putra Lamakera dilakukan ke desa-desa sekitar, kirab obor malam takbir, serta halal bihalal. Ada pula pelatihan teknologi informasi, pelatihan jurnalistik, pengobatan massal, bersih lingkungan dan penghijauan, serta munas pertama PKLS se-Indonesia. Tidak kalah pentingnya, kata Rakhmad Zailani Kiki, konsultan yang diundang terkait pendirian LIC, sebelum reuni dilakukan, diadakan penelitian titik-titik sumber air minum bagi masyarakat di sana. Ditemukan 10 titik sumber air minum yang secara berta-

W

7

Pesantren Darut Tafsir Kelola Agribisnis esantren Darut Tafsir mengelola usaha agribisnis bidang peternakan dan perikanan untuk membekali santri dengan pengetahuan praktis usaha tersebut. “Kita berharap setelah menyelesaikan pendidikannya, santri bisa mandiri dengan bekal keterampilan di bidang agribisnis,” kata pengasuh Pesantren Darut Tafsir KH Numan Istichory di Bogor, Selasa (6/9). Dengan bekal ilmu itu, jelas dia, mereka dapat menjadi teladan di tengah umat. Kemampuan dalam beternak dan perikanan membuat sebagian santri mandiri dan memberikan kontribusi bagi warga ma-

P

hap akan dijadikan sumur. Menurut Kiki, ini patut disyukuri karena jika air minum tersedia secara melimpah, LIC berdiri dan didukung kaum mudanya yang berpendidikan sarjana dan masyarakat Lamakera tetap kompak, dan tetap taat beribadah, impian kebangkitan Islam jilid dua di NTT dari Lamakera menjadi kenyataan. Lamakera yang terdiri atas dua desa, yaitu

syarakat di sekitarnya. Sebab, mereka membuka lapangan kerja. Di bidang pendidikan, pesantren ini mengelola lembaga pendidikan, yaitu madrasah tsanawiyah dan aliyah. Kegiatan usai Idul Fitri 1432 Hijriah, santri pesantren yang berlokasi di Kecamatan Ciampea, Bogor, itu menyelenggarakan halal bihalal dengan mendatangi pengasuh dan dewan guru pesantren setempat. Mulai Kamis lalu, berbondong-bondong mereka menggelar acara itu, meski sebagian masih ada yang libur karena pulang ke kampung halaman. Menurut Numan, alumni

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), setiap hari puluhan hingga ratusan santri berdatangan ke kediamannya ataupun asrama guru untuk halal bihalal. Bahkan, ada yang dari Serang dan Tangerang. Sebenarnya, pesantren menetapkan jadwal halal bihalal akbar yang melibatkan santri, alumni, dan dewan guru pada Sabtu (10/9). Pesantren Darut Tafsir merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Bogor, yang terletak sekitar tiga kilometer arah barat kampus IPB Darmaga, tepatnya di Desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea. n antara, ed: ferry kisihandi

Jamaah As-Sajadah Bantu Dai Pedalaman

DOK PKLS

Desa Watobuku dan Desa Moton Wutun, terletak di ujung Pulau Solor, NTT. Belakangan, melalui SK Gubernur NTT, Lamakera dinobatkan bersama Lamarera sebagai kampung nelayan. Di Lamakera, semua warganya beragama Islam. Mereka sudah memeluk Islam hampir sama lamanya dengan kaum Muslimin yang ada di Jawa, jauh sebelum penyebar Katolik datang ke NTT. Kiki yang juga anggota PKLS mengatakan, sejarah mencatat tentang kepahlawanan ekspedisi kaum Muslimin Lamakera. Mereka mampu memorakporandakan kekuatan Portugis di Benteng Ford Hendrikus, Lewohayong, dan memburu kekuatan Portugis sampai di tanah Timor. n kiriman pkls ed: ferry kisihandi

engalaman dakwah yang dituturkan dai di pedalaman menggugah jamaah Masjid As-Sajadah Serpong, Tangerang, untuk memberikan bantuan bagi dakwah mereka. “Para dai di pedalaman berjuang dengan segenap keterbatasannya,” kata Ketua DKM Masjid As-Sajadah, Hery Kustanto. Para jamaah, terutama ibu-ibu, terharu dengan penuturan dai yang bertugas di pedalaman itu. Keputusan memberikan dukungan bagi mereka disepakati. Akhirnya, belum lama ini mereka menyampaikan donasi sebesar Rp 25 juta plus empat unit sepeda gunung

P

yang digunakan untuk berdakwah. Donasi diserahkan kepada lembaga para dai itu bernaung, yaitu Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). “Di sini, kita mengaji di tempat yang nyaman,” kata Hery. Mereka harus mampu mengatasi banyak tantangan demi keberhasilan dakwahnya. Hery mengungkapkan, Masjid As-Sajadah ini bermula dari sebuah mushala dengan nama sama. Pembangunan mushala dirintis sejak Juli 2002 dan mulai digunakan pada November 2002. Masjid ini kelak dikembangkan sebagai pusat peningkatan kuali-

tas dan kuantitas umat Islam. Yusman, dai asal Pulau Nias, menuturkan kisahnya. Ia bersama istrinya tidur di atas lantai tanpa bantal. Lengannya dipakai istrinya untuk bantal. Saat dakwah berkembang, kata dia, dia kena fitnah sehingga nyaris diusir dari tempatnya berdakwah, Desa Solang, Kecamatan Bula. Tapi, Yusman bersyukur. Dakwah di desa berpenghuni sebanyak 3.000-an mualaf itu cukup berjalan mulus. Warga tak hanya semakin religius, tetapi juga mandiri dengan hasil pertanian olahan. n kiriman as sajadah dan ddii ed: ferry kisihandi

Operated by:

Posko Mudik PGN,

Melayani Sepenuh Hati D

alam rangka menyambut Idul Fitri 1432 H, untuk kedua kalinya PT PGN (Persero) Tbk. bersama Rumah Zakat mendirikan Posko Mudik PGN yang memiliki tujuan memberikan fasilitas kepada para pemudik yang ingin beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan ke kampung halaman. Dengan hadirnya Posko PGN ini diharapkan para pemudik dapat melakukan perjalanan dengan lancar. Tahun ini ada 2 Posko PGN yang didirikan, yakni di Rumah Makan Bareh Solok Jl. Soekarno Hatta 171, Kel. Labuhan Ratu Kec. Kedaton, Bandar Lampung, dan di SPBU Bendungan Desa Pangenan Kabupaten Cirebon. Kedua Posko tersebut akan terus melayani sebelum dan sesudah Ramadhan 1432 H yaitu pada 26 Agustus - 5 September 2011. Adapun pelayanan yang didapatkan oleh para pemudik di Posko tersebut antara lain cek kesehatan, pijat gratis, makanan ringan, internet gratis, ruang istirahat, ruang laktasi, serta pemberian suplemen vitamin.

Posko Mudik PGN Cirebon

Posko Mudik PGN Cirebon

Setiap harinya pengunjung posko layanan mencapai angka lebih dari 200 orang dengan mayoritas pengguna sepeda motor. Santoso (53) salah seorang pemudik tujuan Yogyakarta merasakan manfaat dari kehadiran posko ini. “Alhamdulillah masih ada perusahaan BUMN yang peduli dengan kondisi masyarakat yang melakukan mudik lebaran tahun 2011 sekarang ini, saya sekeluarga menuju Yogyakarta sekalian mengisi bahan bakar mampir ke Posko Perusahaan Gas Negara (PGN), periksa dokter, pijat alhamdulillah jadi segar lagi untuk melanjutkan perjalanan dari Cengkareng Jakarta,” ujar Santoso yang mampir di Posko Mudik PGN di Cirebon, Minggu (28/8).

Posko Mudik PGN Bandar Lampung

Head office: Jl. Turangga No. 25C, Bandung Call centre 0804 100 1000 | SMS centre 0815 7300 1555 welcome@rumahzakat.org | www.rumahzakat.org


REPUBLIKA

tasawuf

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

Apa Makna

Al-Masyriq dan Al-Maghrib? Prof Dr Nasaruddin Umar Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

(Bagian Pertama)

D

alam pandangan sufistik, al-masyriq (timur) dan al-maghrib (barat) ternyata bukan hanya menunjukkan tempat atau wilayah geografis, melainkan juga banyak makna dan pesan. Termasuk di dalamnya adalah pesan kosmologi, teologi, mitologi, antropologi, sosiologi, dan metodologi. Tidak kurang dari 13 kali kata al-masyriq dan al-maghrib terulang di dalam Alquran. Ada dalam bentuk mufrad (al-masyriq/al-maghrib) seperti dalam QS alBaqarah [2]:115, bentuk mutsanna (almasyriqain/al-maghribain) seperti dalam QS al-Rahman [55]:17, dan ada dalam bentuk jama’ (al-masyariq/al-magarib), misalnya, pada QS al-Ma’arij [70]:40. Al-masyriq berasal dari akar kata syaraqa-yasyruq berarti terbit, bersinar, kemudian membentuk kata al-masyriq (timur, sinar yang masuk di celah-celah lubang), al-musytasyriq (orientalis). Lalu, kata gharaba-yaghrubu berarti pergi menjauh, terbenam, asing, beracun, lalu membentuk kata al-maghrib (barat, tempat/waktu terbenam matahari), almusytagrib (oksidentalis). Dalam kitab-kitab tafsir klasik, kata al-masyriq dan al-maghrib lebih banyak diartikan dengan kata timur dan barat dalam arti geografis, yakni timur dan barat tempat, waktu terbit, serta tenggelamnya matahari, seperti dijelaskan dalam QS al-Baqarah [2]:115, “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya), lagi Maha Mengetahui.’’

Kata al-masyriq dan al-maghrib dihubungkan dengan tempat yang menjadi kiblat shalat umat Islam di Madinah, yang tadinya menghadap ke barat, yaitu ke Baitul Maqdis, dan ke timur, yaitu ke Ka’bah, kota suci Makkah. Demikian pula ulama-ulama tafsir mu’tabarah lainnya di kalangan Sunni. Dalam pandangan ulama tasawuf, timur dan barat lebih banyak menekankan makna kosmologis dan hermeneutiknya. Kata al-masyriq (timur) dihubungkan dengan sebuah dunia yang lebih menekankan arti penting nilai-nilai spiritual-psikologis, sedangkan kata almaghrib (barat) dikaitkan dengan sebuah dunia yang lebih menekankan aspek filsafat dan logika (lihat bagian kedua dari artikel ini). Perdebatan dunia Timur dan Barat bukan hanya terjadi pada abad modern, melainkan juga sudah muncul sejak dahulu kala. LWH Hull, seorang profesor yang amat disegani di AS, dalam karya monumentalnya, History and Philosophy of science: An Introduction, mengungkapkan, siklus pergumulan antara agama, filsafat, dan ilmu terjadi setiap enam abad. Pergumulan itu dikaitkan dengan hubungan dialektis antara Timur dan Barat. Ia memulai penelitiannya dengan mengkaji enam abad sebelum Masehi. Periode ini ditandai dengan lahirnya tokoh-tokoh filsafat Yunani di Barat yang amat tersohor sampai saat ini, seperti Tales (ahli filsafat, astronomi, dan geometrika), Pythagoras (geometrika dan aritmatika), Aristoteles (ahli filsafat, ahli ilmu empiris, lebih dikenal sebagai pendiri Mazhab Alexandria, yang lebih menekankan pendekatan induktif), Plato (ahli filsafat, ahli ilmuilmu rasional, lebih dikenal dengan pendiri Mazhab Atena, yang lebih menekankan pendekatan deduktif). Pada periode ini, para filosof menenggelamkan peran dan popularitas pemimpin politik dan pemimpin agama, yang umumnya lahir dan berkembang di Timur. Perlu diingat bahwa semua agama besar, seperti Hindu, Buddha, Konghucu, Tao, Yahudi, Nasrani, dan Islam lahir di Timur. Tidak ada agama besar

hidup. Periode ini dilukiskan sebagai periode ideal untuk sejarah kemanusiaan, di mana ilmu dan agama menyatu dalam kehidupan umat manusia. Inilah yang menempatkan Nabi Muhammad sebagai the Best Leader dan the Best Manager sepanjang sejarah kemanusiaan, sebagaimana diungkapkan Michael Hart dan Thomas Carlyle. Pada periode ini, banyak sekali prestasi kemanusiaan yang dapat dicatat, antara lain, lahirnya tokoh-tokoh agama, seperti lahirnya empat imam Mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad Ibnu Hambal) dan tokoh-tokoh sains dan filsafat, bangkitnya kembali pemikiran dan filsafat ala Yunani, sehingga periode ini disebut periode filsafat Yunani II. Masa kejayaan Islam terjadi ketika dunia Islam tidak mempertentangkan Timur dan Barat, tetapi melakukan sintesis positif antara keduanya, sesuai dengan hadis, “Al-hikmah dhalat almu’min fa haitsu wajadaha fa huwa ahaqq biha” (hikmah/kebaikan adalah milik orang yang beriman, di mana pun engkau jumpai, ambillah). Ini juga sejalan dengan ayat berikut: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); mereka itulah orangorang yang bertakwa.” (QS al-Baqarah 2:177). Nabi pernah mengirim ekspedisi keilmuan ke Timur, khususnya Cina, yang terkenal dengan hadisnya, “Uthlub al‘ilm walau bi al-shin” (tuntutlah ilmu

yang lahir di Barat. Katolik dan Protestan yang besar di Barat itu baru belakangan. Kristen berkembang di Barat setelah 600 tahun Nabi Isa (Yesus Kristus) wafat. Periode kedua, ditandai dengan lahirnya Nabi Isa (1 M) sampai lahirnya Nabi Muhammad (VI M) di Palestina (Timur). Periode ini ditandai dengan merosotnya pengaruh dan popularitas para filosof (di Barat) dan menguatnya peran raja yang sekaligus penguasa gereja. Mereka mengatasnamakan diri sebagai wakil Tuhan di bumi. Otoritas dan penentu kebenaran berada di tangan raja (Romawi). Dalam periode ini, hampir tidak ditemukan tokoh pemikir dan filsafat. Sebaliknya, tercatat sejumlah raja yang sangat full power. Pada masa ini, orang-orang tidak berani berpikir dan mengkaji ilmu pengetahuan karena bisa saja berarti malapetaka baginya. Terutama, jika teori dan hasil pemikirannya berbeda, apalagi bertentangan dengan pendapat gereja. Tidak sedikit jumlah pemikir dan ilmuwan yang menjadi korban karena mereka mencoba memperkenalkan kebenaran di luar gereja. Akibatnya, muncullah zaman kegelapan yang tidak ada lagi keberanian untuk melakukan pengkajian dan aktivitas ilmu pengetahuan. Inilah yang kemudian disebut dengan zaman jahiliah dan sekaligus menjadi background lahirnya agama Islam. Periode ketiga, ditandai dengan lahirnya Nabi Muhammad (abad VI M) di Makkah (Timur) sampai abad kebangkitan Eropa (abad XIII M). Periode ini diawali dengan abad kegelapan Kristen Eropa sebagai akibat dominannya raja yang mengambil alih otoritas gereja. Periode ini juga ditandai dengan kelahiran seorang tokoh fenomenal, yaitu Nabi Muhammad SAW. Ia lahir dalam peta geografi yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh dua negara adidaya ketika itu, yaitu Kerajaan Romawi-Bizantium di Barat dan Kerajaan Sasania-Persia di Timur. Figur Nabi Muhammad menjadi central factor pada periode ini. Tentu yang amat penting dalam periode ini adalah kehadiran wahyu Alquran sebagai pedoman

8

walau sampai ke tanah Cina). Pada kesempatan lain, Nabi mengutus diplomat dan ekspedisi keilmuan ke Barat, yang hasilnya dalam sejarah Nabi mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari raja-raja Barat (Eropa). Ini semua menjadi penting untuk dunia Islam. Jika ingin kembali menguasai masa depan, polarisasi Timur-Barat harus dihilangkan, sebagaimana terjadi pada masa the golden age. Sayang sekali masa kejayaan Islam selama enam abad tidak bisa berlangsung lebih lama karena pusat-pusat kerajaan Islam terlalu jauh meninggalkan roh al-Islam. Perpecahan dan bahkan perang saudara terjadi antara dinastidinasti Islam. Selain itu, mulai terjadi dekadensi moral di dalam masyarakat. Perintah dan larangan ajaran Islam banyak dilanggar sehingga tidak ada kekuatan dan otoritas untuk menegakkan kembali ajaran luhur itu karena figur kalangan atas tidak memberi contoh yang baik. Apa yang terjadi pada masa jahiliah kembali diadopsi anggota keluarga raja dan kalangan elite bangsa Arab, misalnya, tradisi harem (gunditgundit keluarga raja) yang sudah pernah tidak kedengaran pada masa awal Islam, kembali marak lagi. Menurut Fatimah Mernissi, seorang pakar woman studies, di antara seluruh raja yang pernah berdaulat di Dinasti Bani Abbasiyah, hanya dua orang yang lahir dari permaisuri sah, selebihnya berasal dari istri selir. Hal lain yang perlu dicatat ialah merosotnya aktivitas ilmu pengetahuan. Pemikiran mu’tazilah yang menjunjung tinggi pikiran dan logika seolaholah dipandang sebagai aliran sesat. Akibatnya, aktivitas pemikiran dan ilmu pengetahuan mandek. Kebetulan, setelah pemikiran mu’tazilah menurun, digantikan aktivitas tasawuf, yang lebih menekankan aspek rasa dan spiritualitas. Khurafat, bid’ah, pemikiran mistik, serta spekulatif berkembang cepat di dunia Islam. Pandangan dunia (Islamic world view) berbalik dari periode-periode sebelumnya. Periode ini betul-betul memalukan bagi dunia Islam. Menurut teori politik Ibnu Khaldun, periode sejarah kerajaan dibagi ke dalam empat periode, yakni periode perintis, pembangun, penikmat, dan periode penghancur. Periode penghancur ini terjadi pada abad XIII. Cepat atau lambatnya siklus Ibnu Khaldun ini bergantung pada konsisten atau tidaknya para pelaku politik di dalam memerankan peran politiknya. Mungkinkah masa kejayaan ini bisa kembali? Semua bergantung pada sejauh mana umat Islam bisa mengindahkan rumus-rumus sejarah yang digambarkan di dalam Alquran. n

AP

rehal

Fatwa Penting Sehari-hari asulullah menegaskan dalam salah satu hadis sahih yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, “Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Dan, di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia….” Sesungguhnya permasalahan halalharam dalam Islam merupakan perkara yang vital. Ia merupakan perkara yang menentukan sempurna atau tidaknya iman-Islam seseorang. Sebab, halal-haram tidak hanya menyangkut masalah ibadah dan muamalah, tetapi juga masalah akidah. Halal-haram juga bisa menjadi indikasi selamat atau tidaknya seseorang dari siksa di akhirat, bahkan mungkin siksa di dunia. Dan, sudah barang tentu siksa di akhirat jauh lebih besar daripada siksa di dunia. Buku ini berisi fatwa-fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin—seorang ulama kontemporer terkemuka—tentang kehalalan dan keharaman yang mencakup masalah akidah, ibadah, dan muamalah. Banyak hal mengenai masalah itu yang tidak diketahui mayoritas umat Islam. Penulis membagi bukunya menjadi 17 bab. Bab pertama tentang iman, memuat berbagai persoalan sehari-hari kaum Muslimin dewasa ini. Banyak di antaranya yang seringkali dikerjakan oleh kaum Muslimin disebabkan kebodohan mereka. Misalnya, memakai gelang, benang, dan sejenisnya untuk mengusir atau menangkal setan; mencari berkah kepada pohon, batu, dan sejenisnya; sikap berlebihan kepada orang-orang saleh dan kubur-kubur mereka; mempercayai dukun; menganggap sial terhadap sesuatu; larangan

R

Judul Penulis Penerbit Cetakan Halaman

: : : : :

Halal Haram dalam Islam Syekh Muhammad Shalih Al-Utsaimin Pustaka As-Sunnah I, Mei 2011 720

mengucapkan “seandainya”; dan larangan membangun masjid di atas kuburan. Bab berikutnya tentang ilmu, yang membahas soal berfatwa tanpa ilmu dan larangan mencela ulama. Bab ketiga bicara thaharah. Banyak sekali hal yang mungkin dianggap biasa oleh sebagian besar kaum Muslimin ternyata merupakan persoalan serius di mata Allah dan Rasul-Nya. Contohnya, larangan buang air besar di air tergenang, hukuman bagi orang yang tidak menjaga diri dari air kencing, haram berdiam di toilet lebih dari keperluan, larangan buang air kecil di jalan, dan tempat berteduh yang bermanfaat. Selanjutnya, ia menguraikan azan disusul bab shalat. Beberapa hal yang sangat perlu dibaca dan diketahui umat Islam dalam bab ini adalah hukum mengakhirkan shalat Subuh sampai habis waktunya, hukum meninggalkan shalat berjamaah dan makmun yang mengangkat kepala sebelum imam. Pada bab puasa, yang sangat perlu diperhatikan adalah perempuan yang mengonsumsi pil pencegah haid di bulan Ramadhan, berbuka bagi perempuan hamil dan menyusui, serta hukum menggunakan infus bagi orang yang berpuasa. Masih banyak pembahasan lain yang dimuat dalam buku ini, seperti haji, kurban, nikah, jual beli, makanan dan minuman, adab, pakaian dan perhiasan, serta kitab pidana dan kafarat. n irwan kelana

Pelajaran Berharga dari Kehidupan total pendapatan per da yang mebulan mencapai ratusan ngatakan keJudul : Belajar pada Kehidupan juta rupiah. hidupan manuPenulis : Dwi Bagus MB Namun, dia tinggal di sia layaknya Penerbit : Mizania sebuah gang sempit sebuah roda. Ada kalaCetakan : Juni 2011 yang jika ada motor hennya di atas, namun di Halaman : 237 dak lewat harus mematilain waktu berada di kan mesinnya. Di rumah bawah. Banyak hal yang tersebut semua pekerbisa kita pelajari dari jaan domestik dilakukehidupan, baik itu yang kannya sendiri bersama menyenangkan maupun sang istri. Tidak ada yang pahit. pembantu rumah tangga Semua kejadian yang di dalamnya. menimpa kita terkanDari Senin sampai dung hikmah yang besar Jumat, Pak Arif dijemput di baliknya. Kisah-kisah keoleh sopir dari kampus ke hidupan itulah yang dirangrumahnya. Sebab, dia mekum penulis dalam buku ini. mang tidak punya kendaraSemuanya merupakan kisah an. Dan mobil dinas kampus nyata di mana penulis terliitu hanya digunakan untuk bat di dalamnya. keperluan yang ada hubungBerbagai kisah tersebut annya dengan urusan kamdituturkan dengan bahasa pus. yang enak dan tidak kaku Dia tidak menyalahgunakan fasilitas sehingga mudah dimengerti. Makna yang tersebut untuk kepentingan pribadi. terkandung di dalamnya pun sering kali Sungguh, ini merupakan kisah yang jarang menyentuh sisi kemanusiaan yang paling ditemui saat ini. Kekayaan yang dimiliki tak mendalam. membuatnya silau dan berfoya-foya. Membacanya kita seakan menemukan Pada bagian lain, penulis juga mengisahpelajaran kehidupan yang sungguh sangat kan seorang kaya bernama Pak Abdurrahberharga. Antara lain tentang kejujuran, man, yang hidupnya layaknya seorang sufi. kepercayaan, keikhlasan, kesederhanaan, Dia memilih hidup di rumah yang sangat cinta kasih, persaudaraan, ketabahan, sederhana. Karena sikap inilah, istri dan semangat hidup, dan kepasrahan. anak-anaknya memilih hidup terpisah karena Soal kesederhaan, misalnya, penulis menganggapnya aneh. Selain dua kisah termengisahkan tentang seorang dosen sebuah sebut, masih banyak cerita inspiratif lainnya perguruan tinggi bergengsi di Jawa Timur yang ditampilkan penulis. n anjar fahmiarto bernama Pak Arif. Dia punya usaha lain yang

A


REPUBLIKA

zakat & wakaf

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

9

Laznas BSM Gulirkan Wakaf Satu Juta Alquran Oleh Damanhuri Zuhri

L

e m b a g a Amil Zakat Nasional Bank Syariah Mandiri (Laznas BSM) belum lama ini menggulirkan program Wakaf Sejuta Alquran. Direktur Laznas BSM Ki Agus Tohir mengatakan, melalui program ini pihaknya mengusung tema “Satu Umat, Satu Alquran”. Menurut dia, belum semua Muslim di Indonesia mempunyai Alquran. “Di tengah umat masih ada kelangkaan Alquran,” imbuhnya. Padahal, Alquran adalah kitab suci yang harus menjadi panduan hidup umat Islam. Saat ini masih sekitar 60 juta penduduk Muslim di Indonesia belum memiliki Alquran. Ia mengatakan, wakaf satu juta Alquran ini ditujukan ke seluruh umat Islam di Indonesia. Namun, untuk sementara prioritas utama wilayah Indonesia Timur. Alasannya, wilayah itu secara geografis jauh dari pusat Ibu Kota. Sebenarnya, program seperti ini pernah diperkenalkan pada 2007. Alquran berhasil dibagikan kepada sebanyak 15 ribu orang. “Kami melihat respons masyarakat di Indonesia Timur cukup tinggi. Mereka sudah tahu ada Alquran, tapi belum memiliki karena ke-

sulitan akses,” kata Ki Agus. Mushaf Alquran yang didistribusikan kepada masyarakat adalah mushaf yang dilengkapi terjemah dan tajwid. Dengan begitu, Laznas BSM berharap masyarakat tidak hanya bisa membaca ayat Alquran, tetapi juga bisa membaca terjemahnya. Dalam pengadaan mushaf, kata Ki Agus, pihaknya bekerja sama dengan penerbit Alquran. Dana untuk satu buah mushaf Alquran, ungkap dia, sebesar Rp 70 ribu. Semakin banyak masyarakat ikut serta, semakin cepat target wakaf satu juta Alquran dapat dipenuhi. Di sisi lain, lembaga ini menempuh percepatan dengan mengumpulkan dana dari keluarga besar BSM, seperti direksi dan karyawan, termasuk dana dari nasabah BSM di seluruh Indonesia. Ki Agus mengatakan, lembaga yang dipimpinnya bekerja sama dengan kantor cabang BSM mencari mereka yang benar-benar berhak memperoleh mushaf Alquran. Selain program wakaf satu juta Alquran, program lain yang menjadi garapan utama Laznas BSM adalah Didik Umat. Program ini adalah pemberian bantuan dana pendidikan untuk pelajar dan mahasiswa dari keluarga dhuafa. Bantuan diberikan mulai tingkat sekolah dasar hingga

perguruan tinggi. Sebesar 50 persen anggaran zakat, infak, dan sedekah yang masuk lembaga ini dialokasikan untuk beasiswa dan renovasi bangunan sekolah. Dengan bantuan pendidikan, Ki Agus Tohir berkeyakinan masa de-

pan anak-anak akan lebih terbuka. Ia mengatakan, pendidikan baik akan membuat kesejahteraan bangsa lebih baik begitu seterusnya hingga kondisi perekonomian bangsa meningkat. n ed: ferry kisihandi

FOTOI-FOTO: LAZNAS BSM

Dana yang Dihimpun BAZ Kota Bogor Meningkat Oleh Damanhuri Zuhri

D

ana yang berhasil dihimpun oleh Badan Amil Zakat (BAZ) Kota Bogor, Jawa Barat, mengalami peningkatan hingga Idul Fitri 1432 Hijriah. Ketua BAZ Kota Bogor, Endang Oman, mengatakan dana zakat, infak, dan sedekah persentasenya meningkat hingga 117,22 persen dibandingkan 2010. Dari Januari hingga Agustus 2011, dana yang terkumpul Rp 6.607.658.270. Tahun lalu, periode Januari sampai September 2010, hanya terkumpul Rp 3.041.907.227, 71. “Jadi, peningkatannya sangat besar,” kata

Endang, Selasa (6/9). Ia menambahkan, informasi mengenai capaian ZIS tersebut sudah dilaporkan kepada umat Islam di Kota Bogor menjelang shalat Idul Fitri 1432 Hijriah di Plaza Balaikota Bogor, Rabu (31/8). Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 2.585.090.428 berasal dari zakat mal atau harta. Sedangkan dari zakat fitrah terkumpul sebesar Rp 1.362.343.840, dan dari infak/sedekah besarnya mencapai Rp 5.498.282.009. Endang mengungkapkan, ZIS dikum-pulkan melalui unit pengumpul zakat di lingkungan Pemkot Bogor dan unit pengumpul di masjid binaan BAZ Kota Bogor. Belum lama ini, BAZ Kota Bogor yang bermitra dengan

Dinas Pendidikan Kota Bogor menggagas Gerakan Seribu Cinta untuk Senyum Sesama (Gebu Cinta). Gerakan yang sudah dicanangkan sejak beberapa bulan lalu ini mampu membentuk sikap kepedulian para pelajar. Sejumlah sekolah berperan optimal mengembangkan Gebu Cinta. Para pelajar di sekolah itu diajak langsung meringankan beban pelajar tak mampu di sekolahnya, sekolah lain, atau membantu warga umum yang mengalami keterbatasan kemampuan ekonomi. Mereka membantu membayar iuran bulanan sekolah sampai membelikan sepatu baru. Penguatan Gebu Cinta dilakukan melalui pesantren kilat

pada awal Agustus 2011 lalu yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, dan bertempat di GOR Pajajaran, Bogor. Tema yang diangkat dalam kegiatan itu adalah ‘Berbagi sebagai Gaya Hidup Pelajar Bogor’. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik), Aim Halim Hermana, mengatakan mendukung peningkatan kepedulian pelajar. Di beberapa sekolah, setiap pengumpulan dana bisa mencapai Rp 1 juta. Aksi kepedulian, jelas dia, merambah ke wilayah lebih luas. Pada Juni lalu, mereka menyampaikan bantuan sembako kepada 40 fakir miskin dan bedah rumah seorang warga di Sukamulya, Kelurahan Sukasari. n antara, ed: ferry kisihandi

DOKREP

Oleh Rakhmad Zailani Kiki Koordinator Pengkajian JIC

akarta dengan kelebihan-kelebihannya, sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, serta hiburan di Tanah Air, secara otomatis mengubahnya menjadi magnet raksasa yang menarik ribuan orang untuk datang dan bermukim. Orang-orang ini berasal dari berbagai daerah, latar belakang etnis, dan agama. Sehingga dapat dipastikan, pertambahan jumlah penduduk di Jakarta bukan karena tingginya tingkat kelahiran, melainkan tingginya kedatangan kaum urban. Bukti banyaknya kaum pendatang yang memadati Jakarta tecermin dari hasil sensus penduduk, seperti sensus 2000, yaitu Jawa 35,16 persen, Betawi 27, 65 persen, Sunda 15,27 persen, Tionghoa 5,53 persen, Batak 3,61 persen, Minangkabau 3,18 persen, Melayu 1,62 persen, Bugis 0,59 persen, Madura 0,57 persen, Banten 0,25 persen, dan Banjar 0,10 persen. Hasil sensus 2010, dengan jumlah penduduk Jakarta menjadi 9,5 juta jiwa, komposisi etnis dari sensus pada 2000 tidak banyak berubah pada sensus 2010. Dengan realitas ini, Jakarta juga merupakan sebagai titik temu etnis dan agama. Dikaitkannya etnis dengan agama karena ada di beberapa etnis tersebut yang anggota etnisnya

J

Halal Bihalal, Lebaran Betawi, dan Interkulturalisme memiliki kepercayaan yang hampir sama namun berbeda dengan etnis lainnya, misalnya etnis Batak. Mereka menganut agama Kristen Protestan. Begitu pula etnis Tionghoa yang anggota etnis ini sebagian beragama Buddha dan juga etnis Madura yang anggota-anggotanya beragama Islam. Pengalaman Jakarta sebagai titik temu agama dan etnis ini bukan hanya terjadi kali ini saja. Jakarta memiliki sejarah panjang tentang hal ini, bahkan sebelum kemerdekaan. Ini bisa dilihat dari hasil penelitian Prof Dr Yasmine Zaki Shahab tentang komposisi etnis yang ada di Jakarta pada 1673, 1815, dan 1893. Dengan sejarah panjang ini, multikulturalisme— pandangan dunia yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat— telah menjadi milik setiap penduduknya. Terlebih didukung oleh keberadaan etnis Betawi sebagai etnis asli atau tuan rumah yang dikenal memiliki watak ramah, periang, humoris, dan terbuka kepada siapa saja. Namun, paham multikulturalisme saja tidaklah cukup untuk mencegah konflik antaretnik yang sering terjadi di Jakarta. Dibutuhkan pemahaman inkulturalisme di mana tiap-tiap budaya dan etnik bertumbuh kem-

bang sambil sengaja giat bergaul dengan yang lain. Salah satu wahana yang efektif untuk melakukan kegiatan dalam kerangka interkulturalisme ini adalah melalui kegiatan halal bihalal yang dilakukan lintas etnik. Selama ini kegiatan halal bihalal hanya dilakukan oleh dan untuk anggota etnik sendiri. Padahal, dosa yang dibuat juga sering berhubungan dengan etnik lain yang perkaranya lebih rumit dan penyelesaiannya lebih sulit daripada dosa yang dibuat dengan sesama anggota satu etnik. Menghadirkan halal bihalal dalam kerangka interkulturalisme ini, sebaiknya etnik lain perlu meniru etnik Betawi lewat kegiatan yang dinamakan dengan Lebaran Betawi. Sudah tiga kali atau tiga tahun Lebaran Betawi diadakan. Menurut Beny Mardhani selaku ketua penyelenggara tahun lalu, Lebaran Betawi merupakan sebuah fragmentasi dari peristiwa tradisi masyarakat Betawi yang digambarkan dengan salah satu gaya bersilaturahim saat Lebaran dengan menggunakan anteran atau antaran. Anteran atau gegawan berupa makanan khas seperti dodol, geplak, wajik, semur daging, dan lainlain. Seiring berkembangnya peradaban, ditambahkan pula parsel yang merupakan pemberian dari seorang anak atau yang muda kepada orang tua atau

orang yang dituakan. Tradisi antaran ini masih dapat ditemui pada masyarakat Betawi di beberapa tempat, misalnya di daerah Setu Babakan. Namun, pada Lebaran Betawi tahun lalu, ada yang berbeda dengan Lebaran Betawi sebelumnya. Sebab, tema yang diangkat adalah “Membangun Persaudaraan Universalitas” yang merupakan bagian dari upaya membangun kebersamaan antara semua anak bangsa dalam membangun Jakarta yang pluralis. Atas dasar tema ini, Lebaran Betawi pada tahun lalu bukan hanya milik orang Betawi, tetapi juga milik etnik lainnya. Inilah halal bihalal lintas etnik yang patut ditiru. Karena jika semua etnik melakukan halal bihalal seperti Lebaran Betawi tahun lalu secara terusmenerus, diperluas kepesertaannya dan diadakan secara merata di seluruh tempat di Jakarta, halal bihalal lintas entik dapat menjadi wahana yang sangat efektif baik untuk meredam terjadinya konflik antaretnik maupun mengobati luka lama yang paling sulit disembuhkan sekalipun. Karena bagaimanapun Jakarta adalah rumah besar milik semua etnik, di mana kekokohan rumah ini sangat bergantung pada kualitas interaksi para pemiliknya. n


REPUBLIKA

mujahidah

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

10

Malika Tindu Ratu dari Baghdad Selama delapan tahun Tindu berada di atas takhta.

Oleh Ferry Kisihandi

J

ulukan Mongol Queen of Baghdad melekat pada diri Malika Tindu. Asal-usul membuatnya menyandang nama itu. Tindu, salah satu ratu Mongol yang memperoleh penghargaan tinggi di Baghdad. Ia menduduki posisi tertinggi dalam pemerintahan Dinasti Jallariah, cabang Dinasti Ilkhan yang dibentuk oleh Jengis Khan. Dinasti ini memerintah di Baghdad, Irak, pada abad ke-14 hingga 15. Tepatnya pada 1336 sampai 1411 Masehi. Ia adalah anak perempuan Raja Awis dari Mongol yang terkenal dengan paras cantiknya. Raja Awis termasuk salah satu penguasa terbesar. Namun, kekuatannya kian tergerus dan posisi mereka tak lagi kuat seperti sebelumnya. Ini disebabkan oleh serangan intens oleh pasukan Tamerlane. Mereka harus mampu mempertahankan kekuasaan dengan membentuk sekutu dengan pihak lain. Awis akhirnya memilih Mamluk yang berasal dari Mesir. Meski sebelumnya mereka terlibat pertikaian dengan Mongol. Dari Mamluklah mereka menuai bantuan dalam menghadang serangan pasukan militer Tamerlane. Tindu memperkuat posisi ayahnya dalam persekutuan itu. Ia menikah dengan alZahir Barquq, raja kedua terakhir Mamluk yang memegang takhta dari 1382 hingga 1389 Masehi. Tapi, bukan itu saja alasannya. Barquq benar-benar jatuh hati pada Tindu. Ia merasakannya saat melihatnya dalam sebuah perjalanan bersama pamannya. Barquq memutuskan untuk meminang Tindu. Pinangan ini diterima dengan baik oleh keluarga Tindu. Pada akhirnya, Tindu mesti meninggalkan Baghdad mengikuti suaminya ke Kairo, Mesir. Melalui pernikahan ini, pasukan dari Mesir menambah kekuatan Jallariah dalam menghadang serangan militer. Tapi, Tindu tak lama tinggal di sana karena gagal mengatasi kerinduan yang amat dalam pada tanah kelahirannya, Baghdad. Ditambah, Tindu tak menyukai kehidupan di Kairo. Dengan dasar cinta pula, Barquq akhirnya mengizinkan Tindu dan melepasnya untuk kembali ke Baghdad. Ikatan

MIKEWEFNER.ORG

pernikahan itu terurai. Setelah itu, ia menikah lagi dengan sepupunya bernama Syah Walad, yang kala itu menduduki takhta kekuasaan di Baghdad. Fatima Mernissi dalam bukunya, RatuRatu Islam yang Terlupakan, mengatakan beberapa waktu kemudian Tindu ditinggal mati suami keduanya itu. Seusai kematian Syah Walad, pada 817 Hijriah atau 1411 Masehi, perempuan ini menggantikan kedudukan suaminya, memerintah negeri. “Tindu memegang kendali kekuasaan selama delapan tahun sampai kematian menjemputnya,” kata Mernissi. Hanbali melalui karyanya Syazarat jilid tujuh halaman 155 yang dikutip Mernissi, mengungkapkan khotbah diucapkan atas namanya dari mimbar ke mimbar. Mata uang dicetak atas namanya, berakhir saat kematiannya. Tampuk kekuasaan diambil oleh putranya yang meneruskan pemerintahan yang diwarisi oleh ayah dan ibu si anak tersebut. Menurut Mernissi, Tindu menjadi satu dari beberapa ratu Mongol yang menerima

penghormatan tertinggi dan memerintah di Baghdad. Sejumlah ratu lainnya tak memerintah di Irak, tapi di wilayah Persia. Misalnya, Kutlug Turkan dan putrinya yang bernama Padisyah Khatun. Dawlat Khatun dan Sati Bek termasuk di dalamnya. Bukan Tindu saja ratu Mongol yang kemudian berislam memiliki kedudukan di pemerintahan di luar Persia. Sejarawan Badriye Ucok Un menyebut Sultanah Fathimah Begum. Ia menganggapnya sebagai ratu Mongol terakhir. Fathimah Begum dikenal oleh orang-orang Rusia dengan nama lain, yaitu Sultanah Sayyidovna. Ia memerintah Dinasti Ilkhan di Qasim, Asia Tengah, antara 1679 dan 1681 Masehi. Mernissi mengatakan, selain disebutkan oleh Badriye Ucok Un, tak tertulis nama Fathimah Begum dalam karya-karya bahasa Arab. Mestinya, Fathimah Begum memperoleh hak untuk disebutkan namanya dalam khotbah seperti ratu-ratu Islam lainnya dan dicetak namanya pada mata uang, layaknya yang dialami oleh Malika Tindu tatkala berkuasa di Baghdad. n

WIKIMEDIA.COM

fikih muslimah

Berobat Oleh Ferry Kisihandi etiap penyakit ada obatnya. Menurut Nabi Muhammad, jika sakit telah diobati, penyakit tersebut akan sembuh dengan izin Allah SWT. Dalam pernyataan lainnya, ia menegaskan, Allah tidak menurunkan penyakit melainkan juga menurunkan obatnya. Oleh karena itu, setiap orang termasuk Muslimah yang menderita penyakit mesti berobat. Menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah dan Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah melalui bukunya, Fiqih Wanita, laki-laki boleh mengobati perempuan dan sebaliknya perempuan pun boleh mengobati laki-laki jika dalam keadaan darurat. Bahkan kala keadaan terpaksa, dokter laki-laki tak mengapa melihat aurat perempuan yang menjadi pasiennya. Rubayyi binti Muawwidz bin Afra meriwayatkan apa yang pernah dialaminya. “Kami ikut berperang bersama Rasulullah dan bertugas melayani dan memberi minum tentara serta mengantarkan jenazah ke Kota Madinah.” Keterangan ini dijadikan dasar praktik pengobatan yang melibatkan dokter dan pasien yang berlawanan jenis. Al Hafiz dalam Al-Fatah memandang boleh mengobati orang-orang berbeda jenis kelamin dalam keadaan darurat. Ibnu Muflih, yang dikutip Sabiq, menyampaikan pendapat senada. Menurut dia, bila suatu saat ada seorang perempuan jatuh sakit dan tak ada dokter yang mengobatinya kecuali laki-laki, tak ada masalah dokter itu melihat anggota tubuh perempuan, termasuk bagian kemaluan. Di sisi lain, seorang Muslimah dapat berobat kepada dokter perempuan yang non-Muslim. Tentu

S

AGUNG SUPRIYANTO

saja, dokter itu memang ahli dan dipercaya serta tak ada dokter Muslimah yang menguasai spesialisasi ilmu yang dikuasai dokter non-Muslim itu. Syekh Taqiyyuddin menyatakan, seorang Nasrani atau Yahudi yang ahli dalam ilmu kedokteran dan bisa dipercaya boleh diangkat menjadi dokter. Sebagaimana mereka memperoleh kepercayaan untuk dititipi harta atau menjalin hubungan perdagangan. Ada sejumlah peristiwa yang dijadikan landasan. Sewaktu hijrah, Muhammad mengupah seorang penunjuk jalan bukan Muslim yang sarat pengalaman. Orang-orang dari suku Khuza’ah, baik

yang telah memeluk Islam maupun belum, digunakan sebagai mata-mata. Sayyid Sabiq menuturkan, Rasulullah pernah menyuruh berobat ke Harits bin Kaldah sedangkan dia adalah orang kafir. Hanya saja, sepanjang masih ada dokter Muslim baik perempuan maupun laki-laki berobatlah kepadanya. Sama halnya dengan menitipkan harta dan menjalin hubungan erat dalam perniagaan. Ada ketentuan yang sebaiknya diketahui oleh Muslimah saat sakit. Sabiq mengungkapkan, barang yang dipakai sebagai obat bukanlah yang berstatus

haram. Ulama bersepakat, pengobatan dengan khamar dan barang terlarang lainnya, tak boleh. Thariq bin Suwaid pernah bertanya kepada Nabi soal khamar yang digunakan sebagai obat. Lantas Nabi menjawab, “Itu bukan obat, tetapi penyakit.” Lebih lanjut, Sabiq mengatakan, beberapa tetes yang tidak banyak, tidak kelihatan, serta tak memabukkan kalau dicampurkan dengan adonan obat hukumnya tidak haram. Sama kasusnya dengan sedikit sutra yang tercampur dengan kain. Bukan itu saja, Rasulullah melarang jampi dan jimat dalam pengobatan. Siapa saja yang menggantungkan tamimah, Allah tak akan menyelamatkannya dan siapa yang menggantungkan wadiah, Allah tidak akan memeliharanya. Tamimah merupakan secarik kain yang biasa digantungkan pada bagian tubuh anak-anak dengan tujuan menurut yang memercayainya, akan mampu mengusir setan. Praktik semacam ini dibatalkan oleh Islam. Rasul mendoakan agar orang yang meyakininya tidak akan diselamatkan dan dilindungi Allah. Beliau pernah melihat di pergelangan seorang laki-laki terdapat rantai dari tembaga. Nabi bertanya, “Apa ini?” Lakilaki itu menjelaskan, rantai itu adalah penangkal wahinah atau lemah syaraf yang biasanya menyerang di bahu dan seluruh tangan. Sebagian orang menyatakan, wahinah ini penyakit yang menyerang pergelangan tangan. Maka itu, ada dari mereka mengikatkan rantai di pergelangan tangan karena percaya rantai tersebut menjaganya dari rasa sakit. Dengan kenyataan itu, Rasulullah melarang perilaku itu dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk jimat. n


REPUBLIKA

silaturahim

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011

11

MAJELIS TAKLIM CIHUYERRS

Belajar Agama dengan Cara Asyik

Oleh Indah Wulandari ajelis taklim ini merupakan wadah para perempuan muda. Mereka bergabung dan memantapkan keinginan untuk selalu berada di jalan yang diridhai Allah SWT. Dengan cara yang lebih gaul, mereka rajin mengkaji ilmu keislaman. Tak mau ketinggalan dari orang-orang lain dalam mendalami keyakinan agamanya. Cara gaul sengaja ditempuh dan bukannya tanpa tujuan. “Kita ingin membahasakan konteks agama yang terkesan saklek menjadi hal yang asyik,” kata Koordinator Majelis Taklim Cihuyerrs, Indadari Mindrayanti, di Jakarta, belum lama ini. Ia mengistilahkan hal itu dengan sebutan lebih cihuy. Nama majelis taklim ia anggap lebih fleksibel itu disepakati sejak Juli 2008 silam. Dengan nama dan format ini, kata dia, anggota majelis taklim menghindari acara pengajian yang terkesan formal dan kaku. Menghindari formalitas mereka terapkan pula dalam kepengurusan organisasi. Tak ada tatanan baku dalam strukturnya. Sekitar 25 jamaah majelis taklim ini secara bergantian menjadi penanggung jawab acara atau kajian. Semua jamaah, imbuh Inda, harus turun tangan

M

SITI, SARI, ULI

ARIE, DIAN, INDA

DINI, ALFI, INDA, KATHRIN

menyemarakkan acara sesuai kemampuan masingmasing. “Cara ini kami yakini sangat ampuh untuk mempererat kerja sama serta kebersamaan di antara jamaah,” ungkapnya. Berbagai acara diadakan oleh jamaah setiap bulan dan mereka berusaha semaksimal mungkin menyukseskannya. Di setiap acara, selain diawali dengan pembacaan ayat-ayat Alquran, kelompok nasyid The Mumtaz ataupun kelompok shalawat Talbina bentukan mereka sendiri, selalu tampil dan unjuk kemampuan di hadapan jamaah. “Ini cara kami syiar ilmu dengan cara yang menyenangkan,” papar salah satu personelnya, Syifa. Langkah lain majelis taklim ini adalah mendekatkan diri dengan publik. Salah satu caranya dengan memilih tempat kajian yang dengan mudah diakses publik, seperti di mushala outlet jilbab Rabbani, Rawamangun, Jakarta Timur. Mereka berharap kegiatan semacam itu merekatkan hubungan dan silaturahim dengan orang lain di luar majelis taklim. Terkadang secara ber gantian mereka mengaji di rumah salah satu jamaah majelis taklim. Setidaknya, kata Inda, sebulan sekali mereka bertemu. Keragaman profesi jamaah membutuhkan penyesuaian waktu. Mereka memperoleh ilmu dari sejumlah ustaz yaitu Ustaz Qodrat SQ, Bang Jack, dan Ustaz Yahya Abu Fikar. n ed: ferry kisihandi

RATIH, SYIFA, DELLA FOTO-FOTO: INDAH WULANDARI/REPUBLIKA


REPUBLIKA

JUMAT, 9 SEPTEMBER 2011 / 10 SYAWAL 1432 H n 12

Ita Muswita Muslim

Akrab dengan Daerah Bencana Oleh Indah Wulandari

Kejutan-kejutan diyakini membuat hidupnya kian berkualitas.

M

impi itu telah dirajutnya sejak belia. Impian itu adalah mewujud menjadi sesosok perawat dan Ita Muswita Muslim berhasil menggapainya. Dengan kecakapannya, ia berbagi kebaikan terhadap sesama. Keikhlasan selalu merembes ke dasar hatinya hingga ia seakan ketagihan untuk selalu berbuat yang terbaik bagi orang yang membutuhkan pertolongannya, terutama dalam aktivitas kemanusiaan. Ilmu keperawatan yang ditekuninya selama beberapa masa akhirnya menggiringnya sebagai relawan kemanusiaan. “Selalu ada kejutan-kejutan mengesankan yang membuat hidup saya lebih berkualitas,” ujar Ita di Jakarta, belum lama ini. Pengalaman Ita diawali pada pertengahan 1998. Saat itu, perang di Bosnis tengah berkecamuk. Ita yang baru lulus sekolah perawat hendak mendaftar menjadi sukarelawan medis. Dia bergabung dengan sebuah organisasi nonprofit asing. Namun, itu tak berlangsung lama. Perawat di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, ini di kemudian hari bergabung dengan lembaga kemanusiaan Medical Rescue Emergency Rescue Committee (MER-C). Bencana tsunami Aceh, menjadi pembuka jalan baginya untuk mengenal lembaga ini. Ia terjun ke lokasi bencana dengan bekal uang transportasi yang tak begitu banyak. Ini membuat dia dan relawan lain harus memutar otak demi bertahan hidup. Serangkaian kejutan ia rasakan kala itu dan mendidiknya selalu bersyukur atas segala kondisi yang dihadapinya. Menurut dia, ada saja bantuan yang berasal dari warga yang dinilainya sebagai berkah. Keikhlasan dalam membantu yang terus berkembang di dadanya terbalaskan. Para korban bencana mengulurkan kehangatan kepada diri dan relawan lainnya. Bahkan, di sela kesusahan mereka, warga berbagi dan bahumembahu mengatasi kondisi darurat. Pengalaman serupa dirasakan tatkala ia bersama lima relawan di tempat ia aktif bertolak ke Pakistan pada Agustus 2010. Mereka dikirim untuk memberikan bantuan media bagi korban banjir bandang yang menghantam sebagian besar wilayah tersebut sejak akhir Juli. Tim membawa bantuan obat-obatan dan peralatan medis untuk standar pengobatan umum dan operasi bedah umum. Obat-obatan yang dibawa tim dari Indonesia hanya dalam jumlah terbatas. Obat-obatan yang diperlukan lainnya dibeli di Pakistan. Sebelumnya, mereka berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Islamabad dan organisasi setempat, Federation of Islamic Medical Association (FIMA), dan dan Pakistan Islamic Medical Association (PIMA). Tim menginjakkan kaki di negara Pakistan sebanyak tiga kali. Ita mengatakan, pengalaman pertama adalah ketika menunaikan misi kemanusiaan buat korban perang Afghanistan pada 2001 dan 2002. Dari Islamabad, tim menempuh jalur darat untuk mencapai Afghanistan. Saat wilayah Kashmir, Pakistan, diguncang gempa dahsyat pada 2005, lembaga kemanusiaan ini juga mengirimkan enam orang relawan medis ke wilayah tersebut. Di tengah keterbatasan, ke-

FOTO-FOTO: AGUNG SUPRIYANTO

jutan menanti mereka. Kelima sukarelawan ternyata ditempatkan di sebuah rumah penduduk dengan fasilitas hotel bintang lima. Bahkan, istri tuan rumah yang berprofesi sebagai dokter justru memaksa mencuci baju para relawan. “Subhanallaah, di tengah bencana, mereka masih memikirkan kebutuhan orang lain,” kenang Ita. Relawan biasanya juga bekerja sama dengan lembaga dan elemen-elemen yang ada untuk melakukan mapping lokasi bencana guna mencari wilayah-wilayah atau pengungsian yang belum atau masih minim bantuan medis. Di wilayah-wilayah seperti inilah tim bekerja. Di satu sisi, Ita paling merasakan pengalaman mendebarkan saat gempa melanda Yogyakarta dan Padang pada 2010 lalu. Saat diterjunkan di kedua tempat itu, Ita dan tim medis bekerja mati-matian hampir 24 jam di rumah sakit sentral bencana lantaran banyak korban yang memerlukan tindakan bedah. Ritme kerja yang tinggi selama sepekan membuat ia melupakan kesehatan dirinya. Ternyata, perhatian justru datang dari penduduk sekitar. Mereka membawakan makanan dan suplemen. “Kejutan seperti ini sebagai penyemangat kerja,” ungkap Ita. Dukungan penuh dari keluarga dan tempat kerja Ita juga menjadi pelecut untuk terus mengabdi di bidang sosial. Apalagi, menurut pengakuannya, dia besar di tengah keluarga yang mendukung kegiatan sosial kemanusiaan. Kegiatan sebagai relawan pun dirasakan Ita sebagai muara akhir ibadahnya sebagai seorang Muslimah. Dukungan juga mengalir dari tempat kerja Ita. Situasi darurat serta panggilan mendadak acap kali menuntut ia meninggalkan pekerjaannya. Malahan, Ita ingin menunjukkan dedikasi profesi sebagai perawat tak terbatas hanya di lingkungan rumah sakit. “Di lingkungan relawan, saya dididik untuk menyebarkan hal positif tanpa mengotak-kotakan status seseorang,” tegasnya. Ita pun tak patah arang untuk mengelaborasi keilmuannya di bidang lain. Menempuh pendidikan ilmu komunikasi menjadi caranya untuk menyambung relasi yang baik dengan masyarakat. Bergabung dengan organisasi profesi Ikatan Perawat Ortopedi membuka wawasan tentang keahliannya. Berbagi pengalaman di lapangan pun memperkaya batinnya. Deraan kesibukan tak membuat Ita melupakan kodratnya sebagai perempuan. Meski masih melajang, dia berharap suatu saat menemukan seorang pria yang menjadi imam sekaligus yang bisa mengerti kegiatannya sebagai seorang pekerja sosial. n ed: ferry kisihandi

Biodata Nama Lahir Ayah Ibu

: : : :

Ita Muswita Muslim Jakarta, 16 Juli 1971 Muslim Bachri Syahniar Saen

Pendidikan: l D1 SPK Pelni Petamburan l Program Pendidikan Bidan, Bandung l S1 Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Terbuka

Dialog Jumat  

Republika, 9 September 2011

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you