Page 1


Daur Subur


Daur Subur Penulis Albert Rahman Putra Amathia Rizqyani Arif Kurniawan Putra Delva Rahman M Yunus Hidayat Muhammad Riski Rizky Intan Nasochi Rizaldy Oktafiasrim Rizky Ogy Wisnu Suhandha Volta Ahmad Jonneva Zekalver Muharam Editor & Tata Letak Albert Rahman Putra Gambar Sampul Arsip Gubuak Kopi

Foto dan Gambar Litbang Gubuak Kopi Koleksi Arsip Elhaqki Effendi Koleksi Arsip Pak Irwin

Diterbitkan oleh Gubuak Kopi Solok, Juli 2017

Gubuak Kopi

Jln. Yos Sudarso, No. 427, Kel. Kampung Jawa, Kec. Tanjung Harapan Kota Solok, Sumatera Barat. 27323 email: gubuakkopi@gmail.com // web: http://gubuakkopi.id/

_________________________ Buklet ini merupakan bagian dari publikasi kegiatan lokakarya Kultur Daur Subur yang diselenggarakan oleh Gubuak Kopi di Galeri Gubuak Kopi, Solok, pada tanggal 10 – 20 Juni 2017


Editorial

Membaca Kembali Pertanian Dulu dan Kini Albert Rahman Putra Ibaraiknyo tanah: nan lereng tanami padi, nan tunggang tanami bambu, nan gurun jadikan parak, nan bancah jadikan sawah, nan padek kaparumahan, nan munggu jadikan pandam, nan gauang ka tabek ikan, nan padang tampek gubalo, nan lacah kubangan kabau, nan rawang ranangan itiak. (ibaratkan tanah: yang lereng tanami padi, yang curam tanami bambu, yang gurun jadikan ladang, yang menggenang jadikan sawah, yang padat untuk perumahan, yang membukit jadikan perkuburan, yang gauang untuk kolam ikan, yang padang tempat bergembala, yang berlumpur kubangan kerbau, rawa-rawa tempat itik berenang.) Mamangan di atas adalah ungkapan tentang pemanfaatan lahan secara efesien, menunjukan bahwa dalam kondisi apapun kita diciptakan memiliki potensi dan manfaat masing-masing. Menarik melihat ini sebagai manifestasi orang Minangkabau dulu mengemas data yang tersedia pada alam dan kemudian dikelola kembali secara praktikal maupun sebagai ilmu pengetahuan. Alam adalah data yang menuntut kita membaca kembali apa yang disimpannya. Orang Minangkabau pada ‘masa awal’, sepertinya telah menyadari itu, selain alam sebagai falsafah hidup, memanfaatkan dan mengolah hasil sumber daya alam merupakan profesi utama di Minangkabau. Profesi utama itu semisal bertani, yang kemudian memunculkan profesiprofesi lain untuk mendukung pertanian. Kebiasaan ini berjalan sudah sekian lama, sehingga ia juga tercermin sebagai unsur-unsur kebudayaan. Kedekatan masyarakat dengan pertanian dapat kita lihat pada bagaimana bahasa, teknologi, pendidikan, kepercayaan, kesenian, pola sosial, dan sistem ekonomi

dijalankan. Beragam praktek kebudayaan itu diadopsi dari sifat-sifat alam dan tumbuhan. Barang kali ini bukan sesuatu spesial lagi, banyak pula warga dunia melakukan hal serupa, dengan takaran pemahamannya masing-masing. Tapi yang menarik untuk dibaca kembali adalah bagaimana ia berkembang hingga hari ini di Sumatera Barat.

Sejak zaman pra-kolonial, kesuburan alam, kemampuan serta pengetahuan bertani yang sangat baik ini telah tersiar ke berbagai penjuru dunia. Tidak sedikit bangsa-bangsa di dunia ingin menikmati hasil alam Minangkabau, dan tidak sedikit pula memaksa untuk memilikinya. Pola-pola kolonial mulai diterapkan oleh Belanda. Masyarakat kemudian secara paksa harus menanam dalam skala yang besar untuk memenuhi sirkulasi kapital. Pendapatan sering kali tidak sesuai dengan keringat, alam menjadi rusak, seterusnya, ilmu-ilmu alam yang sebelumnya dipelajari pun menjadi tidak seimbang. Tapi setelah merdeka, seperti pandangan kakek saya, kita sepertinya sudah dibuat canggung oleh lamanya hidup sebagai bangsa yang terjajah. Bahkan beberapa generasi lahir ketika dunia menuntutnya untuk tunduk pada kolonial atau melawan tanpa tahu mengapa. Ilmu-ilmu pertanian secara tidak sadar dikesampingkan. Setelah merdeka kita kembali bangkit dengan segala keterbatasan pengetahuan, menghadapi dunia yang tahu-tahu sudah modern. Dari narasinarasi yang terkumpul terdengar, di era awal kemerdekaan (dan sedikit sekali saat ini), pengetahuan tentang pertanian itu masih tersimpan di ingatan kolektif warga. ***


Sekitar lima tahun lalu, kincir air di kampung saya masih berputar, menyalurkan air sungai ke sawah-sawah warga. Dua tahun kemudian, ia sudah menjadi bangkai, seiiring lahan persawahan berubah menjadi pertambangan emas, dan sungai yang kering. Beberapa petani sebenarnya lebih memilih untuk tetap bersawah, namun sungai tidaklah miliknya sendiri. Kekeringan yang sudah terjadi di hulu, baik itu karena penggerukan emas ataupun sawit tidak bisa ditangkalnya. Akhirnya menyerah juga, tanah dijual pada tambang.

Beberapa waktu lalu dalam diskusi kecil, kita bertanya-tanya. Apa yang akan kita makan 5 tahun lagi. Ada yang memilih mengembangkan pertanian rumahan, salah satunya dengan mengembangkan teknik hidroponik. Hal ini kini mulai banyak kita temukan di lingkungan perkotaan. Lalu apa yang akan terjadi dengan petani kita di perkampungan? Apakah kita akan mengamini ia tereliminasi. Atau mungkin ikut memikirkan caranya untuk sejahtera dan sebagainya. Sebelum berfikiran demikian kita harus terlebih dahulu sadar, petani tidak serta merta pekerjaan ‘tak berdaya’ seperti yang dicitrakan media dan sinetron belakangan ini. Sejak tahun 70an, pertanian menjadi prioritas utama untuk dikembangkan. Program-program besar untuk petani dirancang sedemikian rupa, hingga kita swasembada dan ekspor. Tapi tidak jarang prakteknya berdampak pada perlakukan petani sebagai alat produksi. Di sisi lain para petani masih saja belum sejahtera dan selalu dianggap sebagai rakyat miskin.

Seperti yang kita lihat, petani di mata pemerintah sering kali dianggap sebagai objek yang tidak berdaya, yang kemudian harus

diberdayakan dengan segala program pemberdayaan. Dalam hal ini petani selalu diagggap sebagai profesi yang tidak perlu mendapatkan pendidikan. Dengan demikian status sosialnya pun diletakan di bawah. Tapi ternyata tidak demikian, dalam lokakarya ini kita belajar banyak dari petani, ataupun dari orang-orang yang mengembangan ilmu alam ini secara organik.

Kembali lagi pada narasi pra-kolonial, alam dan segala tumbuhan adalah data yang jauh sebelumnya sudah dibaca dengan cukup baik oleh orang-orang yang mengelola alam, yang kini kita sebut petani secara general. Dalam pembacaan kali kita terkesan dengan bagaimana darah dapat mengusir babi, rambut yang dibakar dapat mengusir walang sangit, tentang aroma pupuk kandang yang ternyata mengumpan babi, dan banyak lainnyaa. Tentang bagaimana kincir dapat berputar secara otomatis, mengairi sawah ataupun menumbuk padi. Tapi memang kemudian kita masuk pada era modern yang turut membuat kita bergantung pada industri pupuk dan pestisida Eropa, atau industri besar di perkotaan. Seperti yang digambarkan tadi pengetahuan lama itu sempat seolah tidak berguna, seiring kerakusan penambang, kerakusan kita membuat lahan seluas-luasnya, penebangan liar, penanaman sawit dan karet dalam skala besar dan sebagainya. Tapi menarik pula mengkritisi diri kita yang tidak berdaya mengatasi persoalan itu, serasa malu menyadari pendahulu kita yang menciptakan alat-alat seperti kincir, yang sangat sederhana sekaligus sangat rumit di masanya. Pak El, salah seorang pemateri yang kita undang mengisi kuliah di lokakarya ini, menceritakan, dulu biasanya orang-orang yang


bertani itu mulai dari yang tidak sekolah hingga tamatan SMP, lalu dibimbing oleh orang-orang tamatan Sekolan Pertanian Menengah Atas (SPMA) langsung di lapangan. Biasanya SPMA tidak dianjurkan untuk kuliah di Unand, karena biasanya sarjanawan tidak mau turun ke sawah. Maka, biasanya diarahkan untuk melanjutkan sekolah ke akademi pertanian yang belajarnya sekitar satu sampai dua tahun. Tapi memang orangorang ini selalu turun ke sawah dan membantu petani secara langsung. Tidak jarang pula waktu itu orang-orang dinas selalu berlomba-lomba untuk tampil dan berlumpur di Sawah. Barang kali mereka sangat terkesan dengan gaya foto Suharto yang mengangkat tinggi padi hasil panen. Foto ini kemudian tersebar sebagai poster-poster berkaitan tentang kemakmuran yang didorong oleh negara. Berbeda tipis dengan cara realisme sosialis di Uni Soviet di Era Stanlin, yang divisualkan dengan kemakmuran petani yang berdaya dan mengangkat sendiri hasil panennya, di saat yang sama anak-anak memberikan bunga pada negarawan dan militernya. Tapi kini, seperti yang menjadi umpatan petani kebanyakan para terpelajar kita maupun pejabat mempetegas jarak itu dengan menunjuk-nunjuk dari atas pematang. Hal ini kemudian disemarakkan dengan konstruksi yang dibangun oleh media. Bagaimana media arus utama dan sinetron kita secara umum menampilkan para petani sebagai objek untuk dikasihani. Sebaliknya menampilkan kerja-kerja kapital dan bisnis lainnya sebagai pilihan pekerjaan tehormat.

Ketimpangan turut merambat pada kehidupan sehari-hari. Generasi saya atau generasi kini, semua sibuk bercita-cita yang jauh dari apa yang bisa dikembangkan di kampung halaman. SMK sibuk menciptakan mobil, sementara kita juga butuh alat-alat pertanian yang baik sebagai perkembangan terkini di kampung masing-masing. Namun ini sepertinya belum menjadi soal utama, karena spirit survival dan pengetahuan lampau masih bisa kita praktekan sesuai perkem-

bangan sekarang. Kini, di tangan beberapa warga kita bisa temukan styrofoam diolah menjadi lem. Seperti yang dilakukan oleh Buya Khairani, mulut odol bekas pun digunakan untuk penyambung gagang sabit, dan banyak lainnya. Dan tidak sedikit pula pengetahuan lama itu, tidak lagi relevan dengan keadaan sekitar, atau situasi sekitar tidak mendukung lagi. Baik itu masalah irigasi peralatan dan kultur masyarakat.

Demikian beberapa gambaran perkembangan lampau dan situasi terkininya bisa diperjelas melalui tulisan-tulisan di buku ini. Selain itu banyak juga praktek terkini yang menarik kita baca dan pahami. Di Kampung Jawa, Kota Solok, kita banyak menemukan rumah-rumah warga dengan taman yang indah dan mengembangkan pertanian ruamahan. Taman-taman tidak hanya diisi bunga-bunga hias, tetapi juga tanaman obat maupun sayuran. Tapi di tempat yang sama kita masih menemukan beberapa ruang terbuka, yang dibiarkan semak dan dipenuhi sampah. Ternyata kesadaran itu tidak bisa kita pukul rata, di beberapa titik menjaga dan merawat lingkungan masih terbatas di ruang privat. Goro-goro yang dicanangkan pemerintah menjadi solusi yang manja setelah kita membaca apa yang baru saja dilakukan warga Gang Rambutan. Tapi di Kampung Jawa juga, satu hingga dua rumah di tepian rel kereta yang sudah semak, warganya berinisiatif untuk membersihkan dan megelolanya menjadi taman. Bermanfaat dan indah dipandang, ketimbang membiarkannya menjadi semak, sarang ular, atau tempat sampah yang tak terkelola. Amathia Rizqyani, salah seorang partisipan lokakarya, ia berjalan ditepian sungai Batang Binguang di Kampung Jawa, menggali kembali ingatannya yang suka mandi di sungai itu sewaktu kecil. Seiring perkembangan zaman dan situasi sosial, sungai yang dulu menjadi kebutuhan, berubah menjadi tempat pembuangan, limbah rumah tangga atau pun sampah lainnya. Masih di Kampung Jawa, Joe Datuak, par-


tisipan lokakarya lainnya bertemu Da Eng dan beberapa warga lainnya yang berkeliling kampung mencari buah pinang. Ia membeli buah pinang yang tumbuh satusatu di halaman maupun pembatas taman warga untuk kelola kembali dan dijual. Profesi-profesi yang menarik, yang tumbuh dari situasi pertanian sekarang.

Hari ini kita membutuhkan pemikiranpemikiran yang segar, yang tidak menutup kemungkinan untuk mempelajari segala pengetahuan yang telah tersebar dan masih tersimpan dalam ingatan kolektif warga, yang kemudian kita kembangkan di hari ini. Saya tidak menyebutnya karena ceritacerita lampau, bahwa Eropa yang terkesima dengan cara-cara bertani kita yang sangat maju. Tetapi, tumbuh dengan potensi yang kita miliki rasanya pilihan yang baik. ***

Daur Subur adalah pengembangan praktek media kreatif berbasis komunitas yang digagas oleh Gubuak Kopi, dalam mengarsipkan dan membaca perkembangan kultur pertanian di Solok, secara khusus dan Sumatera Barat secara umum. Program ini dikembangkan melalui lokakarya dengan melibatkan para partisipan dari beberapa komunitas dan beragam latar pendidikan. Para partisipan selama lokakarya mendapat kuliah-kuliah umum dan diskusi lintas disiplin untuk memperkaya pembacaan isu.

Para partispan didorong untuk membaca kota Solok, dengan isu pertanian maupun lingkungan hidup sebagai garis merah. Pembacaan ini dilakukan dengan menerapkan pendekatan jurnalisme warga, aksi performatif, dan praktik media alternatif dengan memberdayakan teknologi yang dekat dengan kita, seperti telepon genggam pintar dan fitur-fitur media sosial. Temuan-temuan lokakarya dipresentasikan pada publik melalui kegiatan pameran, yang pada dasarnya bukanlah menampilkan hasil akhir, melainkan sketsa awal dari persoalan yang dibingkai oleh para partisipan

bersama fasilitator selama lokakarya. Bingkaian isu di antaranya dikemas ke dalam berbagai medium, seperti tulisan, gambar, fotografi, dan video. Aksi merekam ini merupakan salah satu cara untuk mengarasipkan isu-isu terkait pertanian dan lingkungan hidup, dalam rangka memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan secara luas. Menarik membaca kembali proses para partisipan, sebagai pilihan model dalam bermedia di era millennial. Kebebasan akses, produksi, dan distribusi, serta kebanjiran informasi saat ini pada dasarnya memiliki potensi akan kerancuan, sebaliknya dengan sikap kritis dan kesadaran akan cara kerja media, ia berpotensi sebagai penunjang kesetaran dan alat desentralisasi pengetahuan. Selain itu, pemanfaatan teknologi ini merupakan satu usaha alternatif membaca dan mengkritik diri sendiri, yang kali ini kita rayakan dengan peristiwa kesenian. *** Solok, Juli 2017


Sepenggal Kisah di Gang Rambutan Arif Kurniawan

Saya menulis tentang “Gang Rambutan� ini berawal ketika saya mengikuti kegiatan lokakarya di Komunitas Gubuak Kopi yang bertempat di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Dalam lokakarya ini kita belajar mempergunakan media untuk kepentingan bersama dan kemajuan kampung halaman kita. Diantanya, terdapat pelatihan menulis, fotografi, dan membuat video. Tentunya yang paling menarik, adalah diskusi-diskusinya yang sangat baru bagi saya.

Sebelumnya, kakak-kakak dari Komunitas Gubuak Kopi telah melakukan kunjungan ke tempat di mana saya tinggal. Menurut mereka gang ini cukup unik dan perlu menjadi contoh bagi gang-gang lain, karena gang ini terlihat berbeda, barik dari segi tampilan, maupun semangat gotong royong yang terihat dari tampilan yang bagus itu. Semangat gotong royong kini sudah mulai pudar di sebagian besar tempat di Kota Solok, tapi masih tetap ada sebagian kecil kelompok yang tetap aktif dan mungkin kurang terdengar. Dari riset kakak-kakak di Gubuak Kopi, maupun yang saya lihat, di Soloko memang banyak rumah-rumah dengan taman bagus, tapi kebanyakan itu hanya di pekarangan rumah saja. Tidak di ruang terbukanya, atau ruang bersama, seperti pos ronda, dan lainnya. Tempat-tempat di luar ruang pribadi warga itu jarang sekali dibenahi. Beruntung sekarang pemerintah membuat program semacam ‘Jumat Bersih’, tapi sayangnya sering kali terdengar orang-orang yang ikut goro Jumat Bersih ini diberi iming-iming dana juga. Memang dana dari pemerintah itu harus kita manfaatkan juga, misalnya untuk membuat gapura yang baik, membeli bunga-bunga yang bagus, pupuk, dan lainnya. Tapi terdengar juga, bahwa dana itu lebih banyak dibeli

untuk konsumsi dan mengganti transportasi orang-orang yang ikut goro. Saya tidak tahu ini salah atau tidak, tapi bagi saya ini menjanggal. Gotong royong bagi saya, akan lebih menyenangkan ketika kita lakukan tanpa bergantung pada ada atau tidaknya dana. Saya menulis ini karena saya ingin menceritakan apa yang saya pahami, dari apa yang pernah saya dan tetangga-tetangga saya lakukan di Gang Rambutan. Dan ini cukup sesuai juga dengan tama lokakarya: Kultur Daur Subur.

Gang Rambutan ini terletak di daerah Pandan Baru, Kelurahan Pasar Pandan Air Mati, masih di sektiaran pusat kota. Daerah ini dinamakan Pandan karena di sini dulunya banyak daun pandan. Saat bercerita-cerita dengan orang tua saya, konon dulunya lokasi yang kini menjadi Gang Rambutan ini adalah area persawahan yang luas. Rumah warga


letaknya berjauhan, dipisahkan oleh hamparan sawah dan semak belukar. Di sekitar sini awalnya hanya ada beberapa tetangga yaitu Ibuk Opet, Ibuk Pik, dan Ibuk Eli Yus. Sekarang mereka pun sudah pindah rumah. Waktu itu menurut ayah saya, walaupun letak rumah berjauhan, tetapi rasa persaudaraan sangat erat, Setiap permasalahan diseleaikan bersama-sama. Contohnya, tentang kebersihan lingkungan. Jika lingkungan di daerah kami tampak kotor, warga lainnya dalam lingkup RW (Rukun Warga) akan bergotong-royong membersihkannya, walaupun jaraknya jauh-jauh. Kegiatan gotong royong kala itu bukan dalam ruang lingkup RT(Rukun Tetangga) seperti sekarang, tetapi dalam cakupan yang lebih luas karena jumlah penduduk masih sedikit. Warga di sini turut serta dalam merintis pembangunan jalan di samping rel menuju Gang Rambuta. Mereka juga terlibat langsung dalam proses pembangunannya, karena warga sadar ini untuk kepentingan bersama juga. Salah satunya Pak Uwo Ali, yang merupakan tetangga sebelah rumah saya. Mereka selalu bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan ini. Jika dikerjakan beramai-ramai, tidak

ada pekerjaan yang terasa berat. Semenjak sudah ada akses jalan, jumlah penduduk semakin bertambah, perlahan-lahan tempat ini semakin padat, seperti sekarang. Kawasan yang dulunya area persawahan beralih fungsi menjadi bangunan rumah warga.

Dari cerita ayah dan beberapa tetangga, di zaman mereka masih muda, warga sekitar sering bermain voli setiap sorenya. Persaudaraan sangat kuat, tidak ada yang merasa sendirian, dan saya senang sekali mendengar cerita-cerita pada masa itu.

Tempat ini dinamakan Gang Rambutan karena di depan gang terdapat sebuah pohon rambutan, yang sampai sekarang masih ada dan menjadi ciri khas gang ini. Saya dilahirkan dan dibesarkan di tempat ini. Sudah banyak warga atau tetengga saya yang hijrah ke tempat lain dan begitu juga sebaliknya, banyak juga yang datang. Waktu kecil saya sering bermain dan berkumpul dengan teman-teman di sekitar sini. Di sini kami bebas bermain di jalanan karena gang ini adalah gang buntu dan tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang kecuali masyarakat sekitar. Sore hari adalah saat-saat yang sangat kami senangi karena merupakan waktu untuk kami bermain. Permainan yang kami mainkan waktu itu cukup banyak. Ada main kartu gambar, main kasti, sepak bola, caktum, cakbur, mancik mancik (petak umpet), kejarkejaran, ketapel, layang-layang, dan masih banyak lagi. Sering kali kami berebut untuk memenangkan permainan, terkadang samai berkelahi, tapi selalu segera baikan lagi.

Hal yang paling saya senangi adalah ketika bermain sepak bola di saat turun hujan. Kami bermain di lapangan dekat rumah. Dalam bermain sepak bola, berapapun skornya, tapi yang terakhir mencetak gol selalu jadi pemenang. Adzan magrib lah yang menjadi tanda permainan selesai dan kembali ke rumah masing-masing. Saat pulang kami merasa was-was takut dimarahi karena pulang basah kuyup dan penuh lumpur sep-


erti orang pulang dari sawah. Tapi, sekarang tempat itu telah menjadi tembok, aspal, dan rumah warga. Betapa indah masa-masa itu, memiliki tempat bermain yang nyaman.

Dahulu, di gang ini jalannya masih dari tanah dan berbatu, banyak rerumputan. Jika hari hujan, air menggenangi jalanan yang berlubang. Malamnya terasa sangat gelap, karena belum ada lampu jalan. Menjadi terang ketika bulan purnama saja. Malam hari saya dan teman-teman memang jarang ke luar juga, mungkin karena kami takut kegelapan. Tapi di situ saya memiliki waktu berkumpul dengan orang tua, setelah hampir seharian bermain di luar. Jalan di gang saya ini mulai diperbaiki ketika saya masih di bangku sekolah dasar dan juga pemasangan lampu jalan baru dilakukan ketika saya di bangku SMP, dan tidak terasa sekarang saya telah menamatkan bangku SMA.

Di awal tahun 2017 ini telah dilakukan pemilihan ketua RT, karena ketua RT lama telah beralih jabatan menjadi ketua RW (Rukun Warga). Hasil musyawarah warga di RT kami, maka terpilihlah ayah saya sebagai ketua RT baru. Selain sebagai ketua RT, ayah saya

juga bekerja sebagai pegawai di kantor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dikarenakan beberapa tahun lagi ayah saya akan pensiun, beliau mencari-cari kegiatan lain dan akhirnya mulai menanam bunga dan sayur-sayuran di lahan kosong depan rumah. Tanaman yang ditanam seperti jahe gajah, kunyit, cabe, kacang-kacangan, pitulo, dan lain sebagainya. Kegiatan berkebun itu baru pertama kali yang dilakukan ayah saya. Tanaman yang paling banyak ditanam adalah jahe gajah. Beliau cuma bertanya-tanya tentang bagaimana proses berkebun jahe kepada orang yang telah berpengalaman di bidang itu. Bibitnya dibeli di Pasar Pagi, di area Terminal Bareh Solok. Satu kilogram jahe dibeli seharga enam ribu rupiah saja, waktu itu ayah saya membelinya sebanyak 30 kilogram. Dari 30 kilogram jahe, bisa ditanami sekitar sembilan ratus polybag. Dan yang sekarang tinggal sekitar delapan ratus polybag, sisanya gagal tumbuh. Prosesnya sederhana, menurut ayah saya dimulai dengan menyiapkan media tanam seperti polybag dan karung. Selanjutnya mengolah tanah dan memberi pupuk, lalu dibiarkan selama kurang lebih satu minggu.


Setelah itu, baru ditanami bibit jahe yang telah muncul tunasnya. Empat bulan pertama adalah saat untuk memotong indukan jahe dan menambah tanah. Pemotongan indukan dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan jahe, tepatnya perkembangan akar, batang, dan daun baru. Sehingga setelah dilakukan pemotongan indukan, rimpang jahe akan tumbuh semakin cepat, dan rimpang jahe akan cenderung naik ke atas. Dari situlah proses vertikultur dimulai. Vertikultur artinya budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Ini juga pernah saya pelajari di sekolah, cara ini menghasilkan jahe yang bertingkat-tingkat.

Menurut ayah saya, setelah indukan dipotong, kita harus terus memantau perkembangannya. Terutama bekas pemotongannya, karena rawan menjadi busuk dan berjamur. Bahkan menurut ayah saya, pisau yang akan digunakan untuk memotong disterilkan dulu. Setelah beberapa minggu rimpang jahe akan terlihat dipermukaan. Pada saat itulah harus menambahkan tanah kira-kira setinggi 10 cm. Proses yang sama juga dilakukan setelah umur jahe sekitar delapan bulan. Setelah kurang lebih satu tahun, jahe baru bisa di-

panen. Satu polybag jahe diisi dengan dua rimpang jahe. Jika pertumbuhan jahe bagus, dalam satu polybag bisa menghasilkan lima kilogram jahe. Sekarang umur tanaman jahe ayah saya sekitar empat bulan, dan akan segera dilakukan proses pemotongan indukan dan penambahan tanah pertama. Hasil panen jahe ini nantinya rencananya akan dijual.

Melihat tanaman ayah saya mulai berseri, ibu-ibu di sekitar rumah saya juga berinisiatif untuk menanam tanaman di depan rumah mereka. Hal ini tentunya juga didukung oleh ayah saya selaku RT. Satu truk tanah, beberapa polybag, tanaman hias, dan sayursayuran dibeli dari dana dasawisma. Awalnya tanaman tersebut hendak dibagi ke setiap rumah, namun bunda saya sebagai ibu RT atau ketua Dasa Wisma, menyarankan tanaman tersebut tidak dibagi-bagi, tetapi disusun saja di sepanjang got gang ini menjadi mlilik bersama. Ibu-ibu yang lain setuju, maka bergotong-royonglah ibu-ibu di gang rambutan waktu itu. Tanaman yang dideretkan di sepanjang got ternyata menghasilkan pemandangan yang cukup indah. Hasil dari tanaman tersebut pun bisa digunakan untuk kebutuhan warga sehari-hari.Artinya, warga sekitar bebas mengambil secukupnya.


Melihat antusias ibu-ibu di gang kami, bapak-bapak juga bersemangat untuk memperindah gang. Timbul ide untuk membuat gapura di depan gang dari seorang warga. Menanggapi akan ide itu, masyarakat sekitar mulai bergotong-royong mencari bahanbahan yang akan digunakan untuk membuat gapura. Masyarakat sekitar gang sepakat untuk membeli pohon bambu yang ingin digunakan sebagai tonggak gapura. Lalu di waktu yang disepakati, beberapa warga mencari akar pohon di sebuah hutan di daerah Sarasah Aia Batimpo, yang lokasinya kurang lebih 5 km dari tempat saya. Akar ini digunakan sebagai hiasan. Warga juga membeli tumbuhan anggur plastik yang ditempelkan ke akar tadi bersamaan dengan lampu hias. Hal ini membuat gapura kami terlihat seakan menjalar tanaman anggur asli dan bercahaya. Sinaran cahaya yang dipancarkan oleh lampu ‘kelap-kelip’ ditambah catnya yang warna warni, memancing mata orang-orang yang lewat untuk memperhatikannya. Ide kreasi gapura ini dipelopori oleh Pak Anto, atau yang biasa saya panggil Pak Uncu. Bagi saya, Ia merupakan seorang seniman. Ketika gotong royog terlihat beragam ide kreatifnya muncul. Selain itu memang, sebelumnya ia

sering terlihat membuat rangkaian bungabunga, memanfaatkan barang-barang bekas, dan merawat taman menjadi lebih bagus.

Gotong royong ini dilakukan secara swadaya oleh warga Gang Rambutan, warga menyumbang untuk membeli bahan-bahan. Sementara untuk pendirian gapura, sempat sedikit kekurangan dana, dan beruntung waktu itu dibantu oleh Uda Bobby. Dia merupakan salah seorang warga Gang Rambutan juga yang kini maupun saat itu tengah di perantauan, ibu dan keluarganya masih di sini. Ia sangat senang mendengar kalau warganya sedang bergotong royong, dan ia pun tidak ragu untuk menyumbang lebih untuk kepentingan bersama.

Saat gotong-royong membersihkan dan mengias gang, yang puncaknya adalah pendirian gapura, saya sangat terkesan dengan rasa kebersamaan di antara kami, dan hubungan kekeluargaan pun semakin erat. Warga bekerja dari sore sampai malam. Dan malam itu, di saat bapak-bapak dan pemuda mendirikan gapura, ibu-ibu memasak untuk kita konsumsi bersama, sementara anak-anak bermain di sekitaran gang yang sudah mulai rapi. Ada juga salah seorang tetangga yang


menyumbangkan ayam miliknya sebagai lauk-pauk saat itu. Setelah gapura berdiri dengan bagus, kami pun makan bajamba di tengah jalan gang, berpiringkan daun pisang. Hal itu merupakan makan bajamba yang pertama kali saya rasakan bersama warga Gang Rambutan. Suasana saat itu penuh canda tawa dan menjadi kenangan yang takkan terlupakan. Beberapa hari setelah itu, bunda saya maupun ibu-ibu di RT kami, terpikir hendak membuat sebuah taman bersama. Tapi belum ada tempat yang cocok. Bunda juga berbicara kepada Pak Anto untuk merancang sebuah taman yang bagus, biar nanti bisa diaplikasikan ketika telah datang waktunya. Tapi Pak Anto sepertinya sudah tidak sabar, langsung saja membuat taman mini di depan rumahnya. Taman itu ia buat sendiri menggunakan barang dan bahan yang ada di sekitarnya. Untuk mengisi tamannya, istri Pak Anto atau yang biasa kami panggil Ucu Ema mencari tanaman-tanaman yang berbeda dan lebih unik. Alhasil, tamannya terlihat sangat bagus dengan tanaman hias itu maupun sayur-sayuran. Hal terbaru yang dilakukan Pak Anto adalah membuat pagar-pagar kecil yang diletakkan di dekat tanaman depan rumahnya. Melihat pagar yang cukup unik, warga sekitar gang juga meminta tolong kepada Pak Anto untuk membuatkan pagar-pagar kecil serupa. Kini, gang rambutan dari depan hingga ujung terlihat lebih asri dan menyejukkan mata orang-orang yang berada di sekitarnya. Begitu juga pendapat kakak-kakak Komunitas Gubuak Kopi yang datang berkali-kali ke gang kami. Di sana saya sadar, gotong royong ternyata tidak hanya meningkatkan rasa persaudaraan kita, tetapi juga menambah keluarga baru.***


Sensus Taman Warga Rizaldy Oktafiasrim Rizky

Sejauh mata memandang menembus pagar-pagar rumah warg di Kelurahan Kampung Jawa, atau yang biasa disebut Kampuag Jao ini, hampir setiap rumahnya memiliki sebuah taman. Berbagai macam tanaman tumbuh di sini, seperti tanaman hias, tanaman obat, maupun tanaman yang bisa dikonsumsi. Bagi saya ini menarik, karena kesadaran masyarakat terhadap lingkungan telihat dari bagaimana masyarakat itu sendiri mengelola lingkungannya. Ketertarikan saya dengan taman-taman ini, mengantarkan saya untuk menggali lebih jauh tentang taman warga di Kampung Jao. Kamis, 15 Juni 2017 lalu, saya mengawali observasi terkait taman warga tersebut. Saya menelusuri Kampung Jao, tepatnya di wilayah sekitaran RW 06, yang mana saya ditemani oleh Zekal seorang teman dari Komunitas Gubuak Kopi. Di perjalanan, terlihat oleh saya ada seorang warga yang sedang menyapu di halaman rumahnya. Saya dan Zekal menghampiri warga tersebut guna mencari beberapa informasi untuk mengobati keingintahuan saya.

Langsung saja kami memperkenalkan diri. Ibu tersebut bernama Maida. Ia adalah salah satu warga Kampung Jao yang memiliki taman di halaman rumahnya. Tanaman di taman Ibuk Maida mayoritas merupakan tanaman hias. Di antaranya adalah bunga anthurium, kuping gajah, lidah buaya, sri rezeki (aglaonema), dan masih banyak lagi. Ada tanaman yang unik di sini, warga Kampung Jao menyebutnya bungo naneh-naneh atau bunga yang dikenal dengan nama ilmiah Sansevieria kirkii brown. Tanaman ini sejenis bunga lidah mertua, daunnya memiliki banyak kelopak dan berwarna hijau, tetapi

tanaman ini memiliki ukuran yang lebih kecil.

Saya penasaran dari mana Ibuk Maida mendapatkan bibit-bibit tanaman tersebut. Ternyata itu ia diperoleh dari kampungnya, di Alahan Panjang, Kabupaten Solok. Tanaman di taman Ibuk Maida tumbuh dengan subur, daunnya lebar-lebar, dan bunganya sangat cantik. Terlihat dari beberapa bunga yang memiliki warna bervariasi. Saya juga penasaran dengan kesuburan tanaman-tanaman di taman milik Ibuk Maida, ataupun di taman-taman tetangga lainnya di Kampuang Jao. Menurut Ibu Maida, salah satu kunci kesuburan tanaman ini terletak pada pupuk yang diolahnya. Berbeda halnya dengan orang lain yang menggunakan pupuk kandang sebagai jurus andalan. Ibuk Maida justru menggunakan arang sebagai pupuk tanamnya. Arang yang dimaksud adalah sisa dari pembakaran ranting-ranting kayu. Ibuk Maida mengatakan bahwa arang memberikan kesuburan yang lebih bagi tanaman. Terlihat dari tanaman di taman Ibuk Maida yang memiliki daun yang lebar-lebar. Dengan keberagaman jenis tanaman dan kesuburannya, banyak warga yang meminta bibit tanaman di taman Ibuk Maida. Di samping tumbuhannya yang tumbuh subur, ternyata Ibuk Maida juga memiliki kendala. Ibuk Maida menjelaskan bahwa kendala tersebut timbul dari beberapa faktor eksternal, misalnya cuaca yang sering tidak menentu. Keadaan cuaca di Solok akhir-akhir ini susah ditebak, kadang hujan, kadang panas dalam waktu yang lama. Cuaca yang demikian menurut Ibuk Maida berdampak pada lambatnya pertumbuhan tanaman. Selain cuaca, hama juga seringkali menggerogoti tumbuhan. Tidak jarang ganguan juga datang dari hewan ternak milik warga lain,


seperti kambing yang tanpa sepengawasan memakan tumbuhan di taman Ibuk Maida.

Setelah cukup ngobrol di rumah Ibuk Maida, saya dan Zekal melanjutkan perjalanan dengan tujuan rumah Pak Suwardi. Dia adalah ketua RT 01/ RW 06, rumahnya tepat di sisi timur Lapangan Pacuan Kuda Ampang Kualo. Dalam perjalanan ke sana, banyak dijumpai anjing-anjing liar yang sedikit mengganggu perjalanan kami. Tidak mau mengambil resiko, kami pun segera bergegas meninggalkan anjing-anjing tersebut. Perjalanan kami lanjutkan, hingga akhirnya saya dan Zekal tiba di rumah Pak RT. Setibanya di sana, kami disambut oleh Buk RT. Pak Suwadri ternyata sedang tidak di rumah. Sembari menunggu Pak RT, kami menyempatkan diri melihat tamannya. Hijaunya pekarangan rumah Pak RT membuat saya merasa nyaman. Tanaman yang ditanam di sini berbagai macam, tetapi mayoritas adalah tanaman untuk dikonsumsi. Menurut Buk RT menanam tanaman yang bisa dikonsumsi, dapat membantu beban keluarga di bidang pangan. Bibit taman ini dibeli dari bantuan dana oleh Badan Ketahanan Pan-

gan, Provinsi Sumatera Barat. Bibit-bibit itu pada dasarnya digunakan untuk taman Dasa Wisma, tapi beberapa tunasnya juga ada yang ditanam untuk pribadi dan ada juga untuk dibagikan kepada warga yang berminat.

Setelah beberapa kali berbincang dengan Buk RT, perhatian saya teralihkan pada benda yang berbentuk drum berwarna biru, posisinya tepat di halaman rumah. Saya dibuat penasaran, lalu saya bertaya kepada Buk RT tentang benda itu. Rupanya itu adalah tempat pegolahan kotoran kuda dan sapi, serta limbah organik untuk menjadi pupuk kompos, alat ini disebut komposter. Buk RT juga menjelaskan bahwa itu adalah bantuan dari pemerintah, dan dikelola oleh Pak RT. Tidak lama beselang, Pak RT pun tiba, dan beliau menyapa kami dengan sangat ramah. Saya dan Zekal bergegas menyalaminya. Kami memulai sedikit obrolan dan perkenalan. Pak RT menjelaskan kepada kami cara kerja komposter tadi. Pertama-tama, kita harus memasukkan semua bahan seperti kotoran, tanah, sedikit air, dan cairan EM4 ke dalam lubang yang terdapat pada alat seruap drum tersebut, lalu diaduk dengan cara dip-


utar. Hasilnya adalah berupa tanah dengan warna yang hitam. Itulah hasil dari pengolahan kotoran tersebut, dan siap menjadi pupuk. Saya juga sempat menanyakan apakah pupuk ini ada kaitannya dengan pertumbuhan tanaman. Sama halnya dengan pendapat Buk Maida, Pak RT berpendapat bahwa pupuk dari arang lebih baik. Arang berguna untuk kesuburan tanaman. Sedangkan pupuk kotoran yang diolahnya berguna untuk reaksi kecepatan pertumbuhan tanaman.

Tepat di depan rumah Pak RT, kami menjumpai Dasa Wisma Nusa Indah 5, RT 01/ RW 06 Kampuang Jao. Berbagai macam tanaman dan bibit juga banyak dijumpai di sini. Contohya saja bibit tanaman obat, bibit tanaman konsumsi, dan juga bibit tanaman hias. Di sisi barat Dasa Wisma, kami menjumpai Pos Pemuda Badunsanak. Sangat disayangkan, di sekitar pos pemuda tidak dijumpai tanaman satu pun, hanya ada rumput liar. Saya mulai mempertanyakan kepada Pak RT tentang pos pemuda tersebut. Ternyata pos pemuda ini baru akan dikelola dengan baik pada bulan Agustus 2017, dengan membersihkan rumput liar yang berada di sekitar pos dan membentuk sebuah taman. Selain itu,

saya juga menanyakan tentang Dasa Wisma. Pak RT menjawab bahwa dasa wisma masih berjalan dengan baik. Yang mengelola Dasa Wisma adalah Buk RT. Di samping program Dasa Wisma, ada juga program goro bersama yang dinisasi oleh pemerintah melalui kelurahan, yang disebut Jumat Bersih atau program ini lebih lengkap disebut: Jumat Bersih, Sabtu Hijau, Minggu Sehat. Jumat Bersih pun masih terus berjalan, banyak warga yang rutin melakukan kegiatan tersebut. Tetapi ada juga sebahagian warga yang tidak menjalankannya. Entah karena kesibukannya masing-masing, ataupun ada faktor lain. Saya kembali melanjutkan “sensus taman warga� pada hari sabtu 17 Juni 2017. Kali ini saya ditemani oleh Volta, Ogy, Intan, dan Arif. Kami menelusuri Jalan Yos Sudarso di Kampuang Jao. Setidaknya, ada kurang lebih lima belas rumah yang kami kunjungi. Rumah tersebut adalah rumah yang memiliki taman di pekarangannya. Rumah pertama yang kami kunjungi adalah rumah Buk Zuriaty. Beliau adalah seorang bidan. Rumahnya terletak di tepi jalan, tepat di dalam pagar rumahnya terdapat sebuah taman kecil. Taman di rumah Buk Zuriaty memiliki media tanam yang


bervariasi. Ada yang menggunakan pot plastik, pot beton atau semen, dan juga ada yang ditanam langsung pada tanah. Sebelum mendata dan mendokumentasikan taman milik Buk Zuriaty, kami terlebih dahulu meminta izin. Dengan senang hati ia memperbolehkan kami mendokumentasikan taman miliknya.

Tadinya kami pergi menggunakan motor, tetapi ada salah satu teman kami yang merekomendasikan untuk berjalan kaki. Agar memudahkan perjalanan menelusuri rumahrumah warga yang jaraknya cukup berdekatan. Saya dan teman-teman tiba di rumah selanjutnya, rumah tersebut adalah rumah Pak Anwar. Di rumahnya terdapat sebuah deretan tanaman yang terletak di pekarangan temboknya, termasuk di tangga naik ke rumahnya. Pak Anwar sempat heran dengan kedatangan kami. Kami pun menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan. Sebelum mendata dan mendokumentasikan tamannya, tak lupa kami meminta izin terlebih dahulu.

Selain Buk Zuriaty dan Pak Anwar, ada juga Buk Yeyen. Ia juga memiliki taman di halaman rumahnya. Di samping memiliki taman, Buk Yeyen juga memiliki sebuah warung. Ia sempat menawarkan agar kami singgah di warungnya, tetapi dengan waktu yang terbatas kami pun bergegas menelusuri rumah selanjutnya. Di perjalanan, kami juga menjumpai sebuah PAUD dengan taman yang indah. PAUD tersebut bernama Miftahul Jannah 2, yang terletak di samping masjid. Karena tidak ada seorang pun di sana, kami tetap mendokumentasikannya tanpa minta izin.

Dalam kegiatan “sensus taman warga� ini, saya melihat banyak warga yang pada dasarnya peduli dengan lingkungan. Itu dibuktikan dengan cara bagaiamana mereka merawat tamannya. Tapi, tidak sedikit juga warga yang kurang memperhatikan lingkungannya, beberapa taman milik warga terlihat kurang dirawat. Area tamannya ditumbuhi rumput-rumput liar, bahkan ada beberapa tanaman yang sudah layu.

Saya berharap dari “sensus taman warga� yang dikembangkan melalui lokkarya ini, warga dapat terpancing untuk lebih peduli dengan lingkungannya secara umum maupun lingkungan privatnya. Selain memperindah lingkungan rumah dan penyuplai udara bersih, masih banyak lagi manfaat taman yang belum kita ketahui. Namun, tentu saja kita berharap ini tidak sebatas ruang privat saja, atau tidak sebatas di pekarangan rumah saja. Terdapat beberapa titik di ruang terbuka, di Kampuang Jao yang masih semak, bertebaran sampah, dan berpotensi untuk dijadikan taman.***


Taman Rel Rizky Intan Nasochi

Minggu, 11 Juni 2017 lalu, sekitar pukul 15:00 WIB, saya dan teman-teman Lokakarya Kultur Daur Dubur, bercerita tentang penggunaan barang bekas sebagai wadah bercocok tanam yang berada di sekitar warga Kampung Jawa, Kota Solok. Hal ini menarik untuk diberdayakan untuk ruang privat maupun publik. Karena selain segar, ini dapat memberikan nalar positif kita dalam merespon persoalan lingkungan. Saya sendiri tinggal di Kampung Jawa atau yang lebih suka saya sebut Kampuang Jao ini sekitar dua tahun. Memang sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan situasi taman-taman warga, maupun persoalan lingkungan umum di sini, tapi dalam lokakarya ini, pikiran saya tertarik untuk mengenal lebih jauh kondisi lingkungan di sini. Setelah berjalan-jalan di Kampuang Jao, terlihat banyak rumah warga yang memiliki tanaman di perkarangan rumahnya, bahkan tak sedikit di antaranya merupakan taman yang indah. Saya pun penasaran melihat beberapa titik rumah yang rapat dan padat. Saya memasuki beberapa gang di Kampuang Jao. Setelah saya amati sepertinya warga memang gemar sekali menanam dan berkebun. Terlihat banyak rumah yang dipadati bunga, baik itu ditanam di halaman yang seadanya, maupun pada media pot yang dibuat bertingkat atau bergantungan. Dari sekian banyak itu yang paling menarik perhatian saya adalah rumah Buk Ami. Keseharian beliau kini adalah seorang ibu rumah tangga, dan ia juga aktif di organisasi Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Ia sangat peduli pada lingkungan dan menyukai bunga-bunga. Pekarangan rumahnya dipenuhi dengan berbagai tanaman yang tumbuh mekar. Mulai dari buah-buahan, tanaman obat-obatan, hingga

tanaman hias. Buk Ami pun tidak sungkan berbagi tanamannya pada warga yang tertarik. Lalu saya penasaran dengan taman Dasa Wisma atau taman PKK di sini. Saya teringat dulu di sekitaran rel terdapat sebuah taman bekas Dasa Wisma. Saya berjalan di sisi belakang ruas utama Kampuang Jao bawah, Jalan Mara Hadin atau biasanya kami sebut jalan belakang pustaka, mengikuti rel. Saya berjalan di sepanjang rel kereta api. Di sana beberapa warga memanfaatkan tepian rel yang kosong untuk menanam tanaman, seperti sayur-sayuran, tanaman herbal, dan tanaman hias. Saya tertarik mencari tahu bagaimana warga sekitar memberdayakan lahan yang ada di pinggiran rel maupun rel itu sendiri.

Saya mulai dari titik rel dekat Perpustakaan Nagari Kampung Jawa. Di sana, tak jauh dari pos penyeberangan kerata, terdapat beberapa tanaman singkong yang tepat di pinggiran rel. Dahulunya di sana adalah tanah kosong, atau tanah PT KAI yang sudah menjadi semak sejak kereta tidak berjalan lagi. Kemudian, dari pada dibiarkan tanah itu kosong dan semak, maka ditanami singkong oleh salah seorang warga. Menurut Pak Cuk, Ketua RW 03 Kelurahan Kampung Jawa, pemilik singkong yang ada di dekat perpustakaan itu dulunya pemilik rumah petak yang ada di dekat sana. Setelah rumah petak itu kosong, jadi pemilik singkong itu sekarang adalah warga di sekitar sana, dan yang mengelolah juga warga sekitar. Ya, Selain tanaman singkong, rel ditumbuhi rerumputan liar. Hanya sebagian kecil warga yang memanfaatkan lahan rel. Cara pemanfaatannya macam, misalnya untuk kandang ayam, ada yang

sebenarnya di sekitar bermacammeletakkan mendirikan


warung non-permanen, dan beberapa memanfaatkannya sebagai taman atau kebun. Sepanjang saya menelusuri jalur rel yang melintasi Kampuang Jao ini, saya bertemu dengan rumah Buk Jusna yang cukup bersih. Buk Jusna atau yang biasa disapa Buk Jus membersihkan semak di rel tersebut, kemudian menanami berbagai tanaman, seperti sayuran, tanaman herbal, dan juga tanaman hias. Jenis tanaman itu lebih tepatnya adalah singkong, asam kapeh, sarai, tebu hitam, ruku-ruku, kumis kucing, daun sari wangi, dan beberapa jenis lainnya. Tetapi kebanyakan yang ditanam Buk Jus adalah tanaman herbal. Tanaman herbal ini tidak hanya untuk kepentingan pribadinya. Biasanya, warga di sekitar sana juga banyak yang memanfaatkannya. Keseharian Buk Jus hanyalah seorang ibu rumah tangga dan juga membuka warung di rumahnya. Suami Buk Jus yang bernama Pak Baharuddin seorang pensiun dari Perusahaan Jawatan Kereta Api, dan beberapa

bulan terakhir jarang keluar karena sakit. Buk Jus dan suaminya, dulu juga memelihara ikan di selokan, yang membatasi halaman rumahnya dengan rel. Selokan itu, kira-kira panjangnya 20 meter. Ia memanfaatkan selokan dengan membatasi jaring kawat setinggi lebih kurang 50 cm. Kebanyak jenis ikan yang Buk Jusna pelihara adalah ikan nila (Oreochronis niloticcus), ikan rayo atau ikan mas (cyprinus carpio), ikan lele (clarias), ikan patin (pangasius), dan jenis ikan lainnya. Tapi sekarang Buk Jus tidak memelihara ikan lagi, karena banyak anak-anak yang mengambil ikan tanpa sepengetahuannya. Dulu pernah satu malam anak dari Buk Jus, yang kebetulan belum tidur mendengar beberapa anakanak lain yang menangkap ikan itu. Langsung saja anak Buk Jus mengejar mereka, sampaisampai kerambanya bolong karena anak Buk Jus terjatuh ke dalam selokannya tersebut.

Menurut Buk Jus, di sebelah tamannya inilah dulu terdapat dasa wisma milik RT 01/ RW 05. Tapi sekarang sudah tidak lagi,


hanya ada rerumputan liar yang sudah tinggi seperti tidak ada yang mengurusnya. Biasanya Buk Jus dengan suaminya yang membersihkan, tapi beberapa bulan terakhir, terutama di bulan puasa Buk Jus sedikit lebih sibuk, dan suaminya sakit.

Beberapa ibu-ibu lain yang ada di sekitaran rel, dulunya juga pernah mencoba menanami sayur-sayuran di sepanjang rel. Seperti yang dilakukan Ibu Jusna, tapi dikarenakan tempat tersebut banyak batu kecil atau kerikil di dalam tanah, jadi ibu-ibu di sana tidak menanaminya lagi. Beberapa hari yang lalu saya juga melihat-lihat di sekeliling rel kereta api di Galanggang Batuang, Kelurahan Nan Balimo. Di sana banyak sekali warga yang memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rel kereta api dengan menanami banyak jenis tanaman, mulai dari jenis tanaman herbal, bunga hias, sampai sayur-sayuran yang tumbuh subur di sana. Dasa wisma yang ada di sana juga cukup aktif, terlihat dari kebun yang diberdayakan ibu-ibu Dasa Wisma terlihat subur. Sepanjang jalur rel yang saya tempuh menuju Galanggang Batuang, juga ada warga yang tidak memanfaatkan lahan di sekitar rel. Contohnya saja, di depan Sekolah Dasar Neg-

eri (SDN) 07 Kampung Jawa. Di sana terlihat hanya rumput liar yang tumbuh, terlihat kotras sekali dengan SDN 07 yang sangat asri. Tapi, tidak jauh dari sana, ke arah Galanggang Batuang, ada juga warga yang memanfaatkan tepian rel tesebut dengan cara berbeda. Di sana terlihat warga memanfaatkannya dengan menanam cabai dan beberapa jenis tanaman lainnya. Lahan rel yang semak dan berkerikil tetap dibersihkan namun tanaman ditanam pada media pot atau polybag. Cukup rapi dan enak dipandang. Selain itu juga ada yang membuat kandang ternak di tepi rel, seperti yang juga ada di dekat Perpustakaan Nagari Kampung Jawa. Sore itu, setelah saya melihat-melihat jalur di sepanjang rel, saya mampir ke rumah Pak Basri. Pak Basri adalah seorang pensiunan dan dia kesehariannya kebanyakan di rumah saja. Rumahnya berada di jalur utama Kampuang Jao bawah, di Jalan Yos Sudarso. Pak Basri juga aktif membudidayakan tanaman herbal dan juga sayuran. Waktu saya ke sana melihat koleksi-koleksi tanamannya, saya juga dikasih beberapa tanaman herbal untuk ditanam di taman Gubuak Kopi. Waktu itu saya diberi bawang tiwai dan juga


tanaman yang bernama ‘seribu penyakit’.

Dari apa yang saya lihat selama mengitari Kampuang Jao bawah ini, tampak sebagian besar warga yang tinggal di sekitar rel kereta – yang melintasi Kampung Jao hingga Galanggang Batuang – tidak begitu memanfaatkan lahan yang ada. Menurut saya apa yang dilakukan oleh Buk Jus dan beberapa warga lainnya, cukup menarik untuk dikembangkan. Tapi mungkin pandangan saya terlepas dari persoalan apakah salah atau tidak dimata hukum memanfaatkan tanah PT KAI ini. Tapi apa yang dilakukan Buk Jus dan beberapa warga lain, jauh lebih baik ketimbang membiarkan rel kereta yang belum difungsikan itu menjadi semak. Citra warga Kampuang Jao yang suka bertaman di halaman rumah ini seketika luntur dengan semak dan sampah di ruang terbukanya. Lagi pula, saya kira Ibuk Ami dan Bapak Basri pasti juga mau memberikan beberapa tanamannya untuk dikelola bersama. Seperti Dasa Wisma yang sebelumnya juga ada di sini, mungkin bisa ditanami agak sedikit dipinggiran, tapi entahlah ini terlambat atau sia-sia, konon dua tahun lagi kereta segera diaktifkan. Membiarkannya menjadi semak sepertinya itu sayang sekali, takutnya, malah menjadi tem-

pat sampah atau sarang binatang yang berbahaya, seperti ular dan lainnya, atau mungkin juga bisa menjadi sumber penyakit.***


Sepi di Taman Bidadari Ogy Wisnu Suhandha Siang itu, 15 Juni 2017, saya melanjutkan observasi terkait keberadaan komposter di Taman Bidadari. Taman ini merupakan salah satu taman yang berada di Kota Solok, yang sebelumya sering disinggahi pengunjung. Seiring berjalannya waktu dan fasilitas taman yang semakin banyak rusak, taman ini pun mulai sepi. Taman kota seharusnya menjadi poin penting dalam perencanaan sebuah kota, karena selain berfungsi untuk menjaga kualitas lingkungan perkotaan yang padat aktivitas, taman kota juga berpotensi menumbuhkan rasa sosial yang kini kebanyakan mengarah pada sikap individual. Menumbuhkan rasa toleransi, tidak hanya terhadap sesama manusia melainkan juga terhadap mahkluk hidup lainnya. Hal itu dapat tercermin dari taman kota yang baik. Taman yang baik merupakan cerminan kota dengan warga yang baik. Saya ditemani Arif salah satu partisipan lokakarya “Kultur Daur Subur� memantau demografi pengunjung Taman Bidadari siang itu. Tidak terlalu ramai. Hanya beberapa anak muda yang bersantai. Saya menghampiri dua orang siswa SLTP, mereka adalah Roni dan Fikar. Mereka sedang bercengkrama santai dan melepas penat sepulang mendaftarkan diri ke SLTA. Sekolah SLTP mereka tidak jauh dari taman ini, sekitar 3 kilometer. Sepulang sekolah ia bersama teman-temannya sering mampir untuk bersantai di taman ini. “di siko angker mah bang, jan sambarang mamvideoan, dulu lai penampakan bayangan hitam sawaktu suting video Mak Pono, nyo suting di bundaran basi nan di bawah tu...� (Di sini angker, tidak boleh sembarangan mengambil gambar, dahulu ada penampakan bayangan hitam sewaktu shooting video Mak Pono, ia shooting di bundaran besi yang di bawah sana), kata salah seorang dari mereka sambil menunjuk ke arah tempat yang dimaksud.

Roni dan Fikar menambahkan, sewaktu pembukaan Taman Bidadari, sekitar tahun 2013 lalu, pengunjung sangatlah ramai. Tempat ini dahulunya adalah salah satu pilihan wisata warga. Taman ini mulai tidak dibenahi ditandai sejak pincuran taman tidak memancarkan airnya lagi. Setelah itu, mulailah satu persatu fasilitas taman rusak. Ada yang rusak dimakan usia dan juga ada yang sengaja dirusak oleh pengunjung, dan sebagainya. Adik-adik yang saya temui ini berpendapat, bahwa yang merusak fasilitas taman ini adalah beberapa pembalap liar yang sering nongkrong di sini. Tak jauh dari taman ini terdapat sebuah jalan baru yang cukup lebar, yang sering menjadi arena balap atau ngebutngebutan oleh beberapa remaja atau pemuda Solok. Pembalap itu juga sering menjadi target razia polisi. Akhir tahun 2016, razia dilakukan hampir setiap sore, kemudian di awal tahun barulah balapan liar mulai berkurang. Jalan baru itu memang terlihat sepi tanpa orang-orang yang nongkrong di sana. Di sekitarnya belum banyak bangunan rumah maupun kedai. Jalanan yang cukup luas dan cukup terang di beberapa titik menarik beberapa remaja untuk nongkrong dan foto ria di tengah jalan. Tidak hanya di titik terang sebenarnya, sebelumnya juga pernah beberapa kali muda-mudi tertangkap mesum oleh warga di tempat yang cukup gelap, lalu akhirnya diserahkan kepada petugas. Di area ini, juga terdapat lampu taman yang difasilitasi oleh pemerintah. Lampu di area ini umumnya menggunakan tenaga surya (solar werk). Beberapa lampu yang ada di area ini sudah tidak berfungsi lagi, dikarenakan kurangnya pengawasan fasilitas yang berada di taman. Hanya satu lampu di bahagian depan saja yang masih berfungsi. Informasi yang saya dapat dari beberapa warga, setiap malam minggu banyak muda-mudi yang berpacaran di area ini. Karena beberapa pasangan muda yang sering tertang-


kap mesum di sekitar tempat itu, maka taman ini pun sering kali menjadi salah satu target intaian Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Di sini, Satpol PP sering melakukan razia untuk mengantisipasi terjadinya perbuatan yang ‘merusak moral’. Tidak hanya di malam hari

kan kegunaan dan keberadaan komposter yang ada di Taman Bidadari kepada mereka, mereka mulai menceritakan pegalamannya membuat pupuk kompos sewaktu di SMP kelas dua.

sebenarnya, saya juga menemukan beberapa pasangan yang sedang bermesraan pada siang hari di waktu puasa, yang mana untuk lingkungan Solok, atau Sumatera Barat, hal ini merupakan sesuatu yang dipandang negatif. Dan saya yakin mereka berani bermesraan mungkin juga dikarenakan taman itu sendiri yang sepi, serta tidak adanya pengawasan dari pihak taman.

di SMP kelas duo mah, tapi ndak taka tu alat nyo, kami pakai tong biaso se, kami disuruah guru mancari daun, rumpuik, kayu kariang, nan ndak mantapnyo disuruah mancari cik jawi”.

”pas di sinan latak kantua pengawasnyo, dulu lai ado pengawasnyo, kantuanyo lai ndak cayia tapi la kumuah, ndak tarawat, sajak pincuran tu mati lah, pas di situ bana”. (kantor pengawas taman ini letaknya di pojok depan, dulu pengawasnya masih ada, kantornya masih bagus tetapi sudah kotor setelah pincuran taman itu mati, letaknya persis di sebelah sana). Lalu saya menanyakan tentang keberadaan komposter yang berada di taman, mereka tidak terlalu mengerti apa itu komposter, lalu saya menjelas-

“kalau pupuak kompos tu pernah kami buek

(Pupuk kompos pernah kami buat sewaktu di SMP kelas dua, tetapi alatnya tidak seperti yang ada di taman, kami hanya memakai tong biasa, lalu di tugaskan mencari daun, rumput dan kayu kering, yang paling tidak disukai siswa mecari kotoran sapi, sebagai pencampur bahan kompos). Saya juga berkunjung ke rumah Pak RT yang bernama Suwardi, selaku RT 01/RW 06 di Kelurahan Kampung Jawa. Beliau banyak bercerita tentang situasi keadaan sosial di lingkungan Ampang Kualo. Untuk sosialisasi pupuk kompos sudah pernah dilakukan, dan diberikan bantuan alat komposter tiap kelompok yang ikut dalam partisipasi. Walau sudah diberikan pembelajaran dasar tentang cara pembuatan pupuk kompos, beberapa warga masih ada yang eng-


gan untuk memberdayakan limbah organik, dan ia juga sedikit meyinggung tentang alat komposter yang tidak diberdayakan di Taman Bidadari.

yang ada di halamannya. Buahnya tumbuh banyak dan segar, kami pun diberikan beberapa bibit untuk di tanam di kantor Gubuak Kopi.

“Warga di sini sudah diberikan bantuan alat komposter, tapi tidak digunakan. Apalagi di Taman Bidadari‌â€?.

14 Juni 2017, saya dan teman-teman yang terlibat dalam lokakarya berkumpul di Pendopo Taman Bidadari. Kami memberikan pandangan kritis tentang hasil observasi yang kami lakukan di TPA sebelumnya. Di sana kami juga berdiskusi tentang dampak sampah terhadap lingkungan, tentang ketidak-biasaan kita untuk memilah sampah orgaik dan nonorganik, serta tentang kurangnya inisiatif kita mengelola sampah. Sedikit dari warga yang mengolah limbah organik untuk dijadikan pupuk. Potensi pengolahan pupuk organik sangat tinggi, apalagi melihat sampah yang membeludak setiap tahunnya. Dari hasil observasi yang saya lakukan di TPA Regional Kota Solok sebelumnya, boleh dikatakan limbah organik untuk pengolahan pupuk kompos di sana sangat banyak sekali, tetapi tidak diberdayakan pihak TPA. Sepertinya dikarenakan kurangnya teknologi yang menunjang untuk pengolahan pupuk kompos. Beberapa warga mengolah limbah organik menjadi kompos meggunakan

Pak Suwardi memberi sedikit demo membuat pupuk kompos kepada saya. Caranya tidak terlalu sulit, mudah dilakukan di rumah, tidak harus memakai alat komposter. Alat alternatif lain seperti tong cat, karung, atau dengan menggali tanah juga bisa diberdayakan. Proses ini dimulai dengan cara memasukkan tanah terlebih dahulu ke dalam komposter. Lalu, masukkan limbah organik. Kemudian, kotoran hewan dan diberikan EM4 (Effective Microoganism 4), semacam cairan yang baik untuk kualitas tanah; dan yang terakhir adalah tanah itu sendiri. Vegetasi tanaman yang ada di area taman Pak RT umumnya menggunakan pupuk organik. Ia tidak pernah memakai pupuk pabrik. Ia yakin, melalui proses alami, buah atau bunga akan tumbuh sehat dan bagus. Ini diperjelasnya setelah ia mengajak kami melihat tanaman pare, tomat, cabe rawit, cabe Thailand


komposter sederhana, untuk skala yang kecil. Convoyer yang ada di Kota Solok hanya terdapat di TPA dan itupun sudah lama rusak. Setelah berdiskusi, seperti yang diagendakan sebelumnya fasiltator memberikan wacana kepada partispan dan fasilitator untuk merespon situasi Taman Bidadari ini. Kami semua mencari data tentang asal-usul taman ini. Tapi sayang, kami tidak menemukan keterangan yang valid terkait taman ini. Pada akhirnya kami sepakat membuat sejarah alternatif dengan praktik media, atau lebih tepatnya membuat sejarah terkini Taman Bidadari dengan cara bermain sembari merespon objek-objek yang ada di sekitar. Di Taman Bidadari sebenarnya kita menemukan banyak fasilitas yang menarik, pandopo yang teduh, taman air mancur, area refleksi rematik, wahana bermain, dan yang paling menarik adalah komposter atau alat pembuatan kompos. Sayang sekali semuanya berantakan, banyak sampah, tong sampah yang hilang dan tidak pada tempatnya, air mancur yang mati, dan komposter yang digenangi air. Padahal sangat berpotensi menjadi arena bermain dan belajar remaja, dalam menjaga dan merawat lingkungan.

*** Kembali pada pertemuan saya dengan Rony dan Fikar, setelah banyak berbincang dan bersenda gurau saya dan Arif memutuskan untuk berkeliling kampung sembari menghabiskan waktu sore menunggu adzan maghrib. Saya mengitari Kelurahan Kampung Jawa dan VI Suku. Banyak yang kami hampiri mulai dari Rumah Potong Hewan (RPH), pembagunan kolam renang, dan Taman Kota Solok yang baru. Setiba di Taman Kota Solok yang baru ini kami melihat keadaan taman yang tidak sangat terawat. Tempat ini terdapat belasan sapi yang sedang memakan rumput. Rumput-rumput yang ada di taman ini sudah sangat tinggi. Peternak sapi memanfaatkan tempat ini sebagai tempat menggembala sapi-sapinya. Selain semak dan sapi, pemandangan menjadi lucu melihat meja yang tersangkut di atas pohon. Tapi pada dasarnya, tidak jauh berbeda dengan Taman Bidadari, di area taman terdapat fasilitas bangku taman, parkir sepeda, wahana bermain anak, lapangan futsal yang terkunci dan pendopo. Semoga saja tidak bernasib sama dengan Taman Bidadari. Beberapa taman di Kota Solok terlihat tidak


terurus, berbanding terbalik dengan tamantaman yang ada di rumah warga Kelurahan Kampung Jawa, atau kelurahan lainnya. Tidak hanya Taman Bidadari, banyak taman lainnya seperti Taman Kota Solok, Pulau Belibis, dan Taman Kehati. Pemerintah mengeluarkan anggaran biaya yang besar dalam pembangunan taman, namun hasilnya terlihat tidak sebanding dengan dana yang dikeluarkan. Dari informasi yang di dapat dari DLH (Dinas Lingkungan Hidup), pada 16 Juni 2017, yang kebetulan waktu itu saya bertemu Bapak Wendri selaku bagian kesehatan, mengatakan bahwasannya petugas yang mengawas di beberapa taman kota di pindahkan ke Taman Syech Kukut, guna mengawasi taman yang paling ramai dikunjungi. Untuk Taman Bidadari, Kehati, Pulau Belibis dan beberapa taman yang berada di Kota Solok, DLH hanya mengurus pada bahagian pertamanan, untuk fasilitas yang ada di taman itu merupakan tugas dari kementerian. Taman Bidadari sendiri merupakan bahagian dari proyek tata ruang dan tata tanah, bukan muncul dari wacana DLH, melainkan wacana P2KH (Program Pengembangan Kota Hijau). “Taman Bidadari dibangun pada tahun 2013, saya kurang tahu mengapa diberi nama Taman Bidadari, sebab DLH hanya mengurus tanaman di taman ini pada awal Januari 2017”, kata Pak Wendri. Taman sejatinya merupakan ruang di dalam kota yang ditata untuk menciptakan keindahan, kenyamanan, keamanan, dan kesehatan bagi penggunanya. Jepang salah satu contoh penerapan taman secara eksklusif baik dari fungsi ekologis maupun fungsi sosial. Salah satunya adalah Taman Ryoanji Temple yang berlokasi di Kyoto. Taman ini merupakan cerminan dari budaya Jepang yang masih kental. taman ini, atau taman Jepang yang saya pahami merupakan kombinasi yang menarik dari segala aspek. Taman ini dikelola tanpa mengubah sifat natural dari alam tersebut. Benda-benda seperti batu, pasir, air, pohon dibiarkan begitu saja, hanya ditambah dengan penataan artistik yang terstruktur. Hal ini merupakan cara pemerintah tersebut menghormati alam dan budaya nenek

moyang mereka, sehingga taman ini tidak hanya menjadi tempat menikmati keindahan alam, tetapi juga menjadi situs budaya di Kota Kyoto. Taman kota yang kurang mendapat perhatian, ini menjadi pertanyaan bagi saya. Bahwasannya taman yang tidak dikondisikan secara maksimal, berbanding terbalik dengan sebagian besar lingkungan privat warga yang asri dan bersih. Baik itu di Kampung Jawa maupun di kelurahan lain, seperti Kelurahan Anam Suku, di sekitar Gurun Bagan. Pemanfaatan lahan di Kelurahan Anam Suku ini sama halnya dengan kelurahan Kampung Jawa. Walau belum terlalu maksimal, tapi di salah satu titik di Gurun Bagan, terlihat beberapa warga mencanangkan gerakan sadar lingkungan melalui kelompok Dasa Wisma. Warga memanfaatkan lahan kosong yang berada di sekitar rumah. Terlihat plang yang bertuliskan “selamat datang, anda memasuki kawasan desa mandiri pangan, kelompok afinitas beringin indah, Kelurahan VI Suku”. Dari tulisan plang ini saya beranggapan bahwasannya, di Kelurahan VI suku, warga berinisiatif untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Terlihat pula dari sebagian besar rumah warga yang memiliki ternak, menanam tanaman sayuran (holtikultura), dan juga ada beberapa taman yang dibuat oleh kelompok Dasa Wisma. Pada pembekalan lokakarya sebelumnya, saya juga mendapat pelajaran tentang peta kebudayaan agraria. Bahwasannya kultur bertani sangat identik dengan kita masyarakat Minangkabau. Akan tetapi beberapa masyarakat kita kini enggan bertani atau menanam. Hal ini salah satunya diakibatkan munculnya stigma yang secara sengaja atau tidak dikonstruksi oleh media bahwa bertani adalah pekerja rendahan, sebaliknya sebagian besar generasi kita di ‘daerah’ sibuk mengantungkan cita-cita di instansi pemerintahan atau diperusahan kapital. Hal ini tentu sah-sah saja, namun seperti yang dibincangkan dalam lokakarya, perlu disadari setiap orang bahwa semua profesi itu setara, termasuk kita yang bergiat di komunitas atau organisasi. Selain stigma yang ditimbulkan media, hal ini barangkali juga didukung oleh kesalah-pahaman dalam birokrasi


kita. Untuk itu literasi media – seperti diusung lokakarya ini, saya kira penting untuk digiatkan memperbaiki ketelanjuran stigma tadi. Selain itu, di hari ketujuh Lokakarya Kultur Daur Subur, juga dijelaskan oleh Bapak Elhaqki Effendi pada materi kuliahnya “Perkembangan Pertanian Di Solok� tentang peningkatan produksi pangan, pada tahun 1960-1970. Setelah masyarakat cukup memenuhi kebutuhan pangan di wilayah lokal, pemerintah mulai mencanangkan peningkatkan hasil produksi, khususnya beras. Mulai dari peralihan pupuk kandang ke pupuk pabrik, ini menimbulkan pro dan kontra pada masyarakat waktu itu. Pemakaian pupuk pabrik memang berdampak cepat pada pertumbuhan tanaman, akan tetapi berdampak pada kerusakan struktur tanah. Akhirnya, pupuk pabrik tetap digunakan untuk meningkatkan hasil produksi, sehingga masyarakat mulai terbiasa menggunakan pupuk pabrik hingga sekarang. Dalam hal ini, pihak pemerintah atau petani perlu pula menyadari pentingnya distribusi dan akses pengetahuan, agar setiap kebijakan dapat dikritisi dengan baik, hal ini seharusnya lebih mudah kita dapatkan sekarang di era internet, tapi tentu kita juga harus sangat selektif dan sadar cara kerja media itu sendiri. Seperti yang dicitakan melalui lokakarya ini banyak informasi dan pengetahuan yang tersebar di

kalangan warga itu sendiri, dan menarik untuk diketahui warga lainnya. Seperti penggunaan pupuk yang dikelola dari limbah organik, beragam caranya pun telah tersebar di internet.***


Kita, Sungai, dan Masa Depan Amathia Rizqyani

Solok adalah salah satu kota yang dianugerahi tanah yang subur. Hal ini tercermin dari citranya yang melekat diingatan banyak orang sebagai Kota Beras. Selain padi, berbagai macam jenis tumbuhan sebenanrya juga hidup subur di Solok. Beras merupakan komoditi utama di Solok, juga diimbangi dengan berbagai pertanian lain seperti jagung, sayuran, dan tumbuhan keras seperti cokelat dan kopi. Sesuai juga dengan tema Lokakarya yang diusung oleh Komunitas Gubuak Kopi kali ini yaitu ‘Kultur Daur Subur’ yang kemudian mengantar ketertarikan saya membahas persoalan lainnya di balik kesuburan. Lokakarya yang diselenggarakan oleh Gubuak Kopi ini, mendorong keinginan saya untuk membaca permasalahan lingkungan secara lebih dekat. Terutama yang berada dilingkungan kelahiran saya sendiri yaitu Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok atau yang biasa kami kenal dengan sebutan Kampuang Jao. Di sini saya melihat permasalahan lingkungan yang sepatutnya diperhatikan sedari dulu maupun sekarang.

Hari keempat lokakarya, saya kembali berjalan-jalan malam bersama seorang rekan sesama partisipan. Saya pergi keluar untuk melihat suasana malam di bulan Ramadhan di Kota Solok. Kota kecil yang hanya terdiri dari dua kecamatan ini, kalau dipikir-pikir lagi ternyata memiliki suasana malam yang cukup menarik. Bila di hari-hari biasanya malam cukup sepi, namun pada Bulan Ramadhan kita akan melihat Solok yang ramai. Barang kali ini dikarenakan sebagian perantau sudah kembali, guna merayakan lebaran di kampung halaman. Di antaranya, juga pemuda pemudi yang menuntut ilmu di luar kota, dan kini sudah memasuki masa liburan. Jadi, suasana Ramadhan di Solok semakin terasa

begitu meriah. Jika di hari-hari biasanya pada jam 10 malam sudah mulai lengang, kini Solok seperti kota hidup 24 jam. Apalagi mendekati hari lebaran, biasanya akan semakin ramai.

Salah satu titik keramainnya bisa kita lihat di Jalan Pandan, dan di sebuah taman yang berada di pusat Kota Solok, yang tidak jauh dari komplek pasar raya. Taman ini bernama Taman Syech Kukut atau yang lebih dikenal dengan Taman Kota. Lokasinya yang berada di jantung Kota Solok memang menjadi pilihan bagi masyarakat Kota Solok untuk dituju. Posisinya cukup strategis, cocok sekali untuk jalan-jalan keluarga, baik siang ataupun malam. Di dalam komplek Taman Syech

Kukut ada beberapa ruko yang menyediakan aneka ragam minuman, makanan, dan juga berbagai macam makanan ringan. Selain


itu, di dalam taman sendiri juga dilengkapi dengan fasilitas bermain anak, seperti perosotan, ayunan dan motor-motoran mini yang disewakan oleh beberapa pedagang. Apabila kita berkunjung pada malam hari, kita akan menemukan para kawula muda yang berkunjung, untuk swafoto di depan taman ataupun juga sekedar duduk-duduk melepas penat. Sementara itu, untuk wisata kuliner dipusatkan di Jalan Cengkeh, sebuah ruas jalan yang tidak jauh dari Taman Syech Kukut. Di sini, kita bisa menemui beraneka ragam kuiliner yang dijajakan melalui stan-stan yang sudah disediakan pemerintah sejak awal tahun lalu. Pusat kuliner ini biasanya mulai ramai

pada sore hari sampai sekitar pukul 10.00 malam. Selain pusat kuliner Jalan Cengkeh dan Taman Kota Syech Kukut, masih ada ta-

man lainnya di Kota Solok, seperti Taman Kehati, Taman Bidadari, Taman Pulau Belibis, dan Taman Makam Pahlawan Kota Solok yang tidak terlalu ramai dibanding Taman Syech Kukut. Dalam konteks Solok, jika ada aktivitas masyarakat, berarti di sana juga terdapat sampah yang menjadi salah satu masalah bagi kita bersama. Banyak lagi titik-titik lain di Kota Solok yang menjadi perhatian saya malam itu. Permasalahan ini terdapat hampir di setiap kelurahan.

Seperti yang saya lihat di depan Terminal Bareh Solok. Di sana terdapat sebuah tong sampah, yang sampah-sampahnya tampak tercecer, walaupun ada beberapa tong sampah yang disediakan. Malahan pemandangan ini terletak di bawah sebuah baliho besar, yang terdapat potret istri Walikota Solok sendiri. Sungguh sangat tidak sedap dipandang mata. Observasi saya kemudian berlanjut mengarah ke Kelurahan Kampai Tabu Karambia, atau biasa dikenal dengan KTK (dibaca: kateka). Saat baru memasuki kawasan KTK, lagi-lagi saya disambut oleh tumpukan sampah di pinggir jalan. Sangat jelas bahwa tumpukam ini merusak penglihatan dan juga menimbulkan bau yang tidak sedap, bahkan ketika kita melintasinya dengan sepeda motor. Apalagi kedua kelurahan tersebut merupakan jalur utama transportasi lintas Sumatera yang melewati Kota Solok. Selepas dari beberapa tempat tadi, saya melanjutkan observasi saya ke daerah Lukah Pandan, dan lagi pemandangan serupa saya temukan di beberapa titik. Lukah Pandan merupakan kawasan perkantoran Balai Kota Solok, dan sepanjang jalan menuju kantor Balai Kota sendiri terdapat beberapa bak sampah yang disediakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Solok. Tapi kawasan per-


kantoran tampaknya juga tidak luput dari masalah ini. Tetap saja tumpukan sampah dengan mudah bisa kita temukan di sini. Saya melihat ada sekitar 5 bak sampah, namun semua bak sampah ini tidak terawat. Ada yang sumbing dan ada juga yang tidak utuh lagi. Mulai dari bau, hingga bentuk yang tidak enak untuk dilihat, sepertinya ini mempengaruhi keinginan masyarakat untuk membuang sampah sampai ke dalam tong sampahnya. Tak sampai di sana saja, bahkan di bawah jembatan memasuki kantor Balai Kota Solok, ada tumpukan sampah yang tersangkut. Terlihat sepele, namun ini patut diperhatikan. Pasalnya hal ini dapat mengganggu pemadangan dan juga pengairan, karena air selokan atau parit yang cukup besar tersebut merupakan aliran irigasi sawah Solok yang terletak dibelakang Balai Kota. Alam Solok yang subur dan berpotensi ini, jika tidak dikelola dan dijaga dengan baik juga berpotensi memberi dampak yang buruk. Seperti yang sudah terjadi pada 05 Januari lalu di Batang Lembang, ratusan hektar sawah ikut terendam banjir dan juga keramba-keramba milik peternak ikan ikut tersapu olehnya. Batang Binguang, sungai kecil yang melintasi Kampuang Jao pun kala itu menunjukkan hal yang sama.

Sampah harusnya menjadi masalah yang serius. Jika dibiarkan untuk jangka waktu yang panjang tentunya ini akan menimbulkan masalah besar dan serius juga nantinya. Saya kira pemerintah ataupun kita sebagai warga harus cepat mengambil langkah dini. Seperti yang pernah saya baca di sebuah situs beberapa pemberitaan online, bahwa konsep penanganan sampah yang dikenal dengan 4R (Reuse, Reduce, Recycle, Reflace) akan menjadi rumit jika budaya masyarakat tidak siap memilah sampah berdasar jenis organik, an-organik logam- plastik-kaca. Upaya memasyaratkan pengomposan organik terkendala dengan bercampurnya aneka jenis sampah. Pembakaran menggunakan insinerator menjadi pilihan. Namun menurut pakar lingkungan tungku pembakaran di bawah 1000 derajat celcius tetap beresiko menghasilkan dioxin, semacam zat yang berbahaya bagi lingkungan. Maka jalan teraman, penanganan sampah secara berjenjang dan terdesentralisasi. Dimulai di level rumah - dengan memilah, kemudian menyediakan kontainer berdasar jenis, mendaur ulang jenis plastik-kertas-logam serta sisanya berupa sampah tidak terurai (undegradable) dan sampah klinis dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional.


Wilayah Solok sendiri memiliki sebuah TPA yang dikelola langsung oleh Dinas PU regional Provinsi Sumatera Barat, yang berada di Ampang Kualo Kota Solok. TPA Ampang Kualo sendiri merupakan TPA untuk daerah Kota dan Kabupaten Solok. Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa Kota Solok memang menjadi pelabuhan sampah untuk dua daerah yang berpenduduk kurang lebih 66.106 jiwa untuk Kota Solok, dan Kabupaten Solok sekitar 109.420 .

Lalu ingatan saya kembali ke sungai Batang Binguang, yang mana anak sungai ini menjadi fokus observasi saya. Mencoba membuka ingatan lalu saya, dulu saya sering sepulang sekolah berjalan kaki melintasi sungai Batang Binguang anatara Nan Balimo dan Tembok. Saat itu saya melihat banyak sekali ibu-ibu yang mencuci, mandi, dan bersihbersih di sungai itu. Ini berarti sungai Batang Binguang masih dipergunakan secara intens oleh masyarakat sekitarnya. Tak hanya manusia, hewan pun juga menjadi bagian dari kehidupan ekosistem sungai Batang Binguang. Sepengetahuan saya di sungai Batang Binguang masih terdapat berbagai jenis ikan yang hidup di dalamnya. Di antaranya, ikan lele, nila dan beberapa jenis ikan-ikan kecil yang tidak saya ketahui namanya. Bukan hanya ikan, Ular dan Biawak juga menjadi bagian dari ekosistem sungai ini. Tapi keberadaan makhluk berbisa ini sepertinya tidak mengganggu aktivitas MCK masyarakat di sini, dan hewan tersebut pun juga tidak mau mengganggu manusia yang ada di sana. Aliran sungai sendiri saat itu berwarna coklat ke abu-abuan dan lumayan bersih, jadi masih bisa untuk dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi itu sepuluh tahun yang silam, saat saya masih sekolah. Hari ini Batang Binguang tak lagi terlihat sejernih yang dulu. Airnya sudah berubah, warnanya menjadi cokelat dan terlihat semakin kumuh. Sampah-sampah tersangkut di sepanjang aliran sungai ini, airnya keruh dan sudah tidak ada lagi ibu-ibu yang mencuci atau mandi di sana. Kini yang ada hanya wajah

Batang Binguang yang kotor, dan intensitas air yang menyusut. Jika sudah hujan lebat, maka aliran sungai Batang Binguang akan meluap bahkan membanjiri kawasan di sekitaran aliran sungai ini. Semua sampah tidak serta merta akan terbawa hanyut oleh air. Beberapa sampah-sampah itu akan tersangkut di semak pinggiran sungai. Selain sampah, tak jarang juga bangkai binatang yang sudah mati dibuang begitu saja ke sungai ini. Selain itu, penyempitan dan pendangkalan dasar sungai juga menjadi persoalan baru. Kita tahu dasar sungai ini sebelumnya terdiri dari pasir dan kerikil saja, kini dasar sungai berubah jadi berlumpur. Saat masuk ke dalam sungai, kaki kita akan terbenam olehnya. Seperti banjir yang melanda Solok awal tahun lalu, yang mengakibatkan sawah terendam dibeberapa titik, seperti di Sawah Tapi, Salayo, Tanah Garam dan kawasan bypass Salayo. Sungai Batang Lembang yang juga menjadi muara dari Batang Binguang ini, meluap hingga tumpah ruah membanjiri semua yang ada di sepanjang alirannya. Menurut Bupati Solok di beberapa media, banjir diakibatkan oleh penyempitan dan pendangkalan sungai.

Ada rasa sedih bercampur kecewa jika menggambarkan Batang Binguang hari ini. Sekalipun saya tidak besar dan hidup disekita sana lagi, tapi saya selalu memperhatikan perkembangan sungai ini. Umumnya sampah yang terdapat di sungai ini adalah sampah rumah tangga. Masyarakat sepertinya sudah sangat terbiasa membuang sampah ke sungai. Mungkin karena lebih dekat dan juga cepat dibandingkan harus mengantarkan ke bak-bak sampah yang disediakan oleh pemerintah. Dari penglihatan saya, banyak dari penempatan bakbak sampah ini yang kurang tepat sasaran. Terkadang bak sampah disediakan jauh dari jangkauan, sehingga kadang kita membuangnya sembarangan. Mungkin karena bau dan kotor jadi orang dibuat merasa jijik untuk mendekati bak sampah. Masyarakat jadi lebih memilih sungai sebagai tempat sampah yang lebih mudah untuk dijangkau.


Tidak semua jenis sampah dapat larut dan hancur. Seperti halnya sampah plastik, ia butuh 10 sampai 12 tahun hingga terurai. Botol plastik bisa lebih lama lagi karena polimernya lebih besar dan tebal sehingga membutuhkan waktu hingga 20 tahun lamanya untuk hancur. Lain lagi styrofoam yang sering kita gunakan untuk membungkus makanan, ia membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk bisa hancur sempurna. Saya kawatir kebiasaan kita menyepelekan sampah ini akan berdampak tidak baik di masa mendatang. Saya kira, kita sebagai generasi kini, maupun para orang tua, penting untuk berendah hati dan meninggalkan kebiasaan itu dari sekarang, dan memberi contoh yang baik pada generasi berikutnya. Hal itu dapat kita kembangkan melalui pendidikan rumahan, sekolah, dan dibudayakan dengan cara-cara kreatif lainnya. Demi bumi yang layak untuk semua makhluk hidup. ***


Perjalanan Pinang M Yunus Hidayat

Siang itu, 16 Juni 2017, sehabis shalat Jumat, saya bersama seorang rekan berkunjung ke beberapa rumah warga penjemur pinang, yaitu rumah Da Eng dan rumah Buk Yen. Saya bertujuan melanjutkan observasi terkait proses pemetikan pinang, mulai dari batang sampai ke rumah si pengolah, dan berlanjut pada tempat penjualan oleh pengepul, serta observasi terkait pembuangan limbah pinang dan seterusnya. Rumah pertama yang saya kunjungi adalah rumah Buk Yen. Kebetulan siang itu Buk Yen sedang tidak di rumahnya, meskipun ada pinang yang dijemur di halaman. Jarak rumah Buk Yen dengan rumah Da Eng tidak terlalu jauh, saya langsung menuju ke rumah Da Eng. Beberapa waktu lalu, saya pernah melihat Da Eng menjemur pinang di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) 13 Kampung Jawa, Kota Solok, yang juga tepat berada di depan rumahnya. Siang itu kebetulan sekali saya bertemu seorang perempuan paruh baya di depan rumahnya. Ia memegang sebuah parang sambil mengayunkannya pada sebuah benda bulat, yang kemudian saya tahu bahwa itu adalah pinang. Sontak kami menghampiri si Ibu. Ternyata ia adalah orang tua dari Da Eng, yang biasa disapa Buk Yet. Sekeranjang pinang yang telah dibelah sengaja ditaruh di sebelahnya, sementara beberapa belahannya berserakan di sekitar andasan, yakni potongan pohon tempat pinang dicatuk. Satu, dua, dan tiga belahan juga terpelanting beberapa meter dari lokasi pencatukan. Belahan yang tercecer itu sengaja belum dikumpulkan, karena sekeranjang pinang belum selesai dibelah. Saya sedikit penasaran berapa harga pinang ini dijual. Setelah saya tanya, ternyata sedikit berbeda dengan dugaan saya sebelumnya. Awalnya saya mengira harga pinang bulat berkisar Rp.5.000,- sampai Rp.7.000,- per-

kilonya. Sebagian besar masyarakat menurut saya berani mengambil keuntungan separuh dari modal yang dikeluarkan. Hal tersebut menimbulkan perkiraan harga dihitung dari sepertiga atau setengah dari modal yang dikeluarkan. Waktu ditanyakan kepada Buk Yet, ia menyebutkan harga pinang bulat saat ini Rp.2.000,- per kilo. Ini merupakan harga ratarata, baik itu pinang berkualitas super yang berukuran lebih besar, ataupun pinang biasa. Di samping rumah Buk Yet juga berjejer beberapa keranjang pinang, yang ia dapati dengan memetiknya di sekeliling kampung. Biasanya ini dilakukan oleh Da Eng, yang kebetulah tepat saat itu pergi menjemput pinang ke suatu tempat. Selain keliling kampung, Da Eng biasanya mendapati telfon dari orang yang berniat menjual pinang siap panen. Kawasan jajahan Da Eng selain di sekitar tempat tinggalnya, juga meliputi daerah Paninjauan, Aripan, dan Kuncia yang berajak sekitar 15 hingga 20 menit dari Kampung Jawa. Perjalanan mencari pinang tersebut tidak selalu membuahkan hasil yang diinginkan, bisa jadi orang lain berperofesi sama lebih duluan mendapatkannya, jadi dalam hal ini membangun kepercayaan dan jaringan juga penting. Saya berbagi pengalaman kepada Buk Yet terkait pengolahan pinang yang pernah saya lakukan bulan lalu. Saya mempraktekkan cara pengupas pinang dari cangkangnya tanpa membelahnya terlebih dahulu. Meskipun cukup memakan waktu, tapi keuntungan yang didapati menurut saya dihargai setara dengan waktu dan pengerjaannya. Waktu itu pinang yang saya olah dihargai Rp.14.000,per-kilogram. Ketika mengupas pinang dari cangkangnya saya lakukan, Buk Yet menerangkan bahwa hasil yang dihargai seperti itu disebut pinang super bahkan lebih ber-


harga lagi pinang belah koin yang harganya berkisar Rp.15.000,- sampai Rp.45.000,per-kilonya, yang ini kebanyakan dicari oleh pengepul yang berasal dari Payakumbuh.

Para toke bersaing untuk membeli pinang atau rempah lain dengan harga tinggi, tergantung modal dan jaringan yang telah dibangunnya. Bagi pengolah pun, sebelum dijual kepada pialang dalam daerah, juga membandingkan harga yang ditawarkan antara satu dengan yang lain. Sekiranya sudah menemukan pialang dengan tawaran yang tinggi, pasti kepada pialang tersebut ia menjual hasil olahannya tersebut. Dari hal tersebut saya kira wajar saja pinang tersebut saat ini dicari oleh toke-toke besar, karena banyak manfaat yang sebagian besar berkasiat sebagai bahan obat-obatan. Beberapa kegunaan dan khasiat buah pinang yang saya ketahui, di antaranya juga tersebar di internet seperti yang lakukan orang tuatua di Minangkabau maupun di tanah Batak. Mereka sering mencampurkan buah pinang menjadi campuran sirih mereka, alhasil gigi mereka masih tetap awet dan kuat hingga mereka tua bahkan sampai meninggal dunia.

Selanjutnya, karena mengandung arekolin, ia juga dikenal berkhasiat untuk merangsang hormon seksual pada pria. Selain itu, buah pinang berkhasiat untuk mengecilkan rahim pada wanita yang baru melahirkan, dan kandungan flavonoidnya dapat menghambat dan mencegah tumbuhnya sel-sel kanker. Lalu, buah pinang juga dikenal bisa mencegah penyakit mata/katarak di usia tua, mimisan (hidung berdarah), mengurangi dan mengatasi rasa nyeri ketika menstruasi pada wanita, dan masih banyak lainnya. Selain itu, saya juga penasaran apa yang dilakukan selanjutnya dengan limbah pinang, apakah mungkin ia diolah kembali. Jawaban lugas yang saya dapatkan,

“kalau saroknyo ko, bacampak’an se ka batang aia dakek siko ko. Yo kalau ado nan maolah baliak, mungkin bisa lo dijadian mah, ndak ka babuang bagai doh.� (Kalau sampah ini, dibuang saja ke sungai yang dekat dari sini. Seandainya ada pengolahan limbah ini, mungkin kami akan bawa kesana dan tidak akan dibuang di sana), kata salah seorang penjual pinang kering ini.


Membuang sampah ke sungai sepertinya sudah menjadi kebiasaan warga sekitar sini, atau mungkin karena tidak tersedianya bak sampah, atau mungkin ada hal lain. Saya berinisiatif menelusuri sungai tempat pembuangan limbah tersebut. Sekitar 50 meter dari kediaman Da Eng, terdapat sebuah jembatan yang di bawahnya dialiri sungai kecil yang di kenal degan Batang Binguang. Sungai ini mengalir dari Nagari Kuncia, Laiang, Tanjuang Paku, Nan Balimo, Sawah Sianik, Tembok, Kampuang Jao, dan Galanggang Batuang, lalu menyatu dengan Batang Lembang. Pinggir sebelah kiri sungai ini terdapat tumpukan sampah

rumah tangga, dan beberapa jenis sampah lainnya, termasuk sampah pinang. Menurut saya, kurangnya perhatian pemerintah dalam memfasilitasi sarana pembuangan sampah di sekitar sana, manjadi salah satu penyebab banyaknya sampah di sungai ini. Hal ini saya ungkapkan karena di sepanjang perjalanan ke lokasi tersebut, hanya satu unit bak sampah yang saya temui, dan posisinya lebih dekat ke jalur utama, sulit dijangkau beberapa warga di tepian sungai.

Di atas jembatan terlihat limbah pinang yang berserakan. Kulit pinang ini sudah mulai kering, kemungkinan dibuang sekitar satu hari yang lalu. Saya memasuki sungai tanpa beral-


Sabtu siang, saya kembali ke tempat Buk Yen, pinang yang sudah dipisahkan dari cangkangnya sengaja dibentang sepanjang halaman rumahnya. Rumah keliahatan sepi, tapi pintu sengaja di buka separuh mungkin memberi isyarat bahwa ada orang di rumah ini. Seekor anjing buruan diikat pada tiang kosen rumah itu. Sedang di bagian dalamnya terdapat dua ekor lagi yang juga terikat di kusen jendela rumah tersebut. Karena tidak diberi daun jendela ataupun kaca layaknya rumah-rumah lain.

Dari halaman rumah itu agak dekat dari pintu, saya panggil memastikan ada orang atau tidaknya sambil mengucapkan salam. Terdengar sahutan dari seorang bapak sambil mengangkat sebuah ember berisikan kain yang kelihatannya baru selesai dicuci.

askan sendal, limbah yang ada di dalam sungai ternyata tidak hanya kantong plastik yang tersangkut, tapi juga ada pecahan piring, dan sampah-sampah yang berbobot berat lainnya, yang mengendap di dasar sungai. Saya tidak menemukan limbah pinang di sana. Lalu, ingatan saya kembali pulih, bahwasanya tadi malam hujan melanda Kota Solok, barang semuanya hanyut. Tapi ketika hendak naik ke darat, di sisi pinggir sungai, ternyata saya menemukan banyak limbah pinang. Informasi dan pengetahuan, serta pengalaman terkait pemanfaatan sarana dan prasana yang tidak sesuai fungsinya, bisa berdampak tidak baik terhadap kita dan generasi setelah kita.

Sekedar basa-basi, saya mulai bertanya pada si bapak sambil memperkenalkan diri, karena baru sekali ini saya bertemu dengannya. Sambil menjemurkan pakaian, saya terangkan bahwa kemaren dan beberapa waktu lalu saya pernah datang ke tempat ini dan berbincang-bincang soal. Bapak tadi menyambut pembicaraan dengan ramah, bahkan tak sungkan mempersilahkan saya masuk untuk melihat pinang sudah siap dijual kepada pengepul. Sasampainya di ruang belakang, memang terdapat kiloan pinang dilantai nyaris memenuhi ruangan itu. Semua ini sengaja dikumpulkan dahulu sebelum dijual langsung ke toke besar yang berada di Padang. Ini merupakan usaha salah seorang anaknya yang dan pinang ini akan disetor ke sana. Kenapa ke Padang? Menurutnya harga di sana lebih tinggi dari pada di sini. Di Padang harga bisa mencapai Rp.24.000,- per-kilo. Pinang yang telah terkumpul kali ini mencapai Âą200 Kg, di kumpulkan selama satu minggu. Sebelumnya pernah Rio menyewa sebuah kebun tak jauh dari wilayah Kampung Jawa. Di sana terdapat Âą 600 batang pinang, dikontrakkan selama 6 bulan. Selama disewa baru 2 kali dipanen. Dengan panen sebulan sekali tersebut pernah mendapat-


kan hasil mencapai 1,5 Ton. Kebun tersebut disewa dengan harga Rp.12.000.000,-. Andalan penyewa yang sangat membantu biaya sewa yaitu dari penjualan pinang muda. Pinang muda ini, lebih cepat dibeli pengusaha-pengusaha minuman sari buah atau jus. Paling lama ditaruh di rumah selama tiga hari. Tidak hanya pengusaha minuman sari buah, pengepul dari Payakumbuh pun banyak yang mencarinya. Untuk dikirim keluar kota seperti Pekan Baru, Medan, dan lainnya. Selain usaha pinang, Rio juga jadi pialang untuk buah atau rempah lainnya, seperti manggis, kulit manis, cengkeh, dan durian. Ibarat buah atau rempah yang sedang musim waktu itu, ia siap untuk jadi anak galeh yang menyetor pada toke-toke besar diluar kota. ***


Mensketsa Teknologi Pertanian Zekalver Muharam

Sebelumnya memaparkan terkait sejarah perkembangan media di hari pertama. Di hari kedua, Albert Rahman Putra mengerucutkan materi pada apa yang menjadi tema utama lokakarya itu sendiri, Kultur Daur Subur. Topik ini pada dasarnya membahas keterkaitan media sebagai sebuah aktivitas kebudayaan, perantara pesan, maupun teknologi, serta kaitannya dengan perkembangan pertanian terkini. Albert mengawali materi dengan mengutip catatan kedatangan bangsa Eropa pertama di dataran tinggi Minangkabau, yakni Sir. Thomas Stamford Raffles di tahun 1818. Dikatakan bahwa ia sangat kagum akan cara-cara pertanian di dataran tinggi Sumatera Barat, yang sangat maju. Kekayaan alam yang melimpah serta pengetahuan tentang pertanian yang baik kemudian membuat Eropa dan Belanda yang sebelumnya hanya berkedudukan di pelabuhan, berkeinginan kuat ingin menjajah di dataran tinggi. Berikutnya Albert menjabarkan kemajuan pertanian itu dengan mengupas unsurunsur kebudayaan Minangkabau. Tujuh unsur kebudayaan yakni, sistem bahasa, teknologi, sistem sosial, sistem ekonomi, pengetahuan, kesenian, dan kepercayaan, seperti yang dijabarkan Albert, mencerminkan betapa akrabnya masyarakat Minangkabau dengan praktek pertanian. Diskusi berlanjut pada dampak-dampak media tentang pertanian, tentang bagaimana pertanian kini dianggap sebagai profesi ‘yang dikasihani’, tentang infrastruktur yang ada tidak begitu mendukung perkembangan pertanian yang lebih baik, hingga generasi kita kini sibuk bercita-cita mencipta mobil ketimbang mencipta invasi-inovasi untuk mendukung perkembangan pertanian. Perubahan-

perubahan padangan terhadap pertanian salah satunya dipengaruhi oleh praktek media. Berkaitan dengan hal tersebut, melalui lokakarya ini Gubuak Kopi mengajak para partisipan mengembangkan media sebagai counter pandangan tersebut, serta mendukung munculnya sebuah inisitaif literasi pertanian. Di antaranya bisa kita lakukan dengan pengarsipan, memetakan, mengemas sebagai pengetahuan, dan mendistribusikannya melalui media, maupun dengan praktek media lainnya secara kreatif. Melalui lokakarya ini, di antaranya kita mencoba menggali kembali beberapa teknik dan teknologi pertanian yang pernah dikembangkan oleh masyarakat, ataupun yang masih dijalankan. Dengan kekayaan alam serta cara-cara pertanian yang sangat beragam, tentu masyarakat Minangkabau tidak lepas dari kemajuan teknologi pendukung pertanian saat itu. Berbagai ide kreatif dalam pendukung teknologi pertanian pada masa itu, ternyata masih ada dan bertahan keberadaannya sampai saat ini. Dan itu termasuk dalam riset Gubuak kopi dalam lokakarya “kultur daur subur”. Sebelumnya kita telah mengumpulkan beberapa narasi yang berkembang di antara warga terkait lingkungan hidup dan pemanfaatan lahan pertanian khususnya di Solok. Sementara itu para partisipan terus memperdalam tulisannya, mereka juga diminta untuk mengumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi dan pengetahuan pertanian tradisional di Solok bersama para fasilitator. Data ini nantinya akan diarsipkan dan didokumentasikan secara kreatif, salah satunya dengan mentransfernya ke bentuk sketsa gambar. Pada Jum’at 16 Juni 2017 lalu, masih dalam rangkaian lokakarya “Kultur Daur Subur”,


saya bersama beberapa partisipan berkeliling sekitaran Kelurahan Kampung Jawa, melihat aktivitas warga sambil mengabadikan. Selang tak beberapa lama kami berjalan, saya melihat pemandangan menarik, yaitu aktivitas warga yang sedang menyemprotkan pupuk pada buah naga. Saya pun berhenti, meminta izin untuk mengambil gambar kepada bapak yang sedang menyemprotkan pupuk itu. Saya penasaran pupuk apa yang digunakannya. Saya kira ada campuran khusus untuk buah naga ini. Buah tersebut katanya sudah berumur kurang lebih satu setengah tahun. Dan ternyata pupuk yang digunakan sederhana saja, hanya campuran pupuk kandang dan urea.

Setelah mengabadikan beberapa gambar di kebun buah naga itu, kami pun melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya, saya bersama teman-teman partisipan tiba di kediaman Buya Khairani, seorang tokoh masyarakat di Ampangkualo, Kelurahan Kampung Jawa, Solok. Selain tokoh masyarakat, ia juga aktif mengisi ceramah adat di siaran radio lokal, setiap hari minggu dan hari rabu. Di sela kesibukanya, ia juga aktif membuat karya ukiran, pajangan, dan membuat alat-alat kerja yang dikemas secara kreatif. Itu semua ia buat dengan memanfaatkan limbah ataupun bahan-bahan yang ada di sekitar. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 13 Juni 2017, ia juga menjadi salah seorang narasumber dalam rangkaian lokakarya Kultur Daur Subur, yang diadakan oleh Gubuak kopi. Pegiat Gubuak kopi beserta partisipan telah beberapa kali bertemu dan mengunjungi Buya Khairani, guna memperdalam informasi terkait perkembangan teknologi pendukung pertanian. Ketika itu, Buya menjabarkan pada kami terkait kreativitasnya tadi. Selain itu ia sempat menyinggung beberapa teknologi pertanian, yang sangat berhubungan dengan tema lokakarya kali ini. Menurut Buya, teknologi pertanian itu juga merupakan kreativitas masyarakat Minangkabau pada masa lalu, dan ia sangat fungsional. Kedatangan saya hari ini ke rumah Buya tak lain menggali ingatan Buya terkait teknologi

itu, untuk kita arsipkan dan baca lebih lanjut.

Dari sekian nama teknologi pertanian yang disebutkan Buya, ternyata masih banyak dari kami yang belum tahu alat-alat itu. Salah satunya yang beliau jelaskan adalah “isoh padati”, yaitu transportasi alternatif yang menggunakan bantuan tenaga sapi atau kerbau. Alat ini dapat mempermudah orangorang saisuak (orang zaman dulu) dalam mengangkut kayu-kayu besar di pebukitan. Transportasi inilah yang paling cocok dan sangat membantu orang-orang membawa beban berat. Berat barang bawaan tidak akan terlalu membebani kerbau, karena dalam hal ini posisi kayu-kayu besar tadi tidak disandang oleh kerbau, melainkan ditarik atau diseret. Kayu direbahkan dan dikaitkan pada padati yang disandangkan ke pundak kerbau. Kemudian di ujung depan kayu yang diseret itu, disumpal dengan bagian luar kulit kelapa yang bertekstur licin, sehingga ujungnya menjadi tumpul dan lebih mudah melaju. Dalam penggunaannya, orang tidak perlu menaiki “isoh padati” ini, mereka hanya mengiringi si kerbau atau sapi sembari memegang tali yang terikat pada padati sebagai pengendali alur jalannya. Selain untuk menarik kayu, isoh padati ini juga bisa dipakai membajak sawah, namun sebelumnya telah dipasangkan singka di bagian bawah padati. Selain isoh padati, ada juga alat pendukung pertanian lainnya yang di¬se¬but “Kudo Baban” atau kuda beban. Disebut begitu, karena memang masyarakat mengandalkan kuda untuk mengangkut beban ke¬bu¬tuhan hariannya, seperti lemari, semen, beras, garam, dan sice. Kondisi jalan tanah yang licin di kala hujan, berbatu de¬ngan medan yang mendaki dan


me¬nurun, membuat “kudo baban” menjadi sarana transportasi satu-satunya yang bisa diandalkan untuk me¬nembus belantara hutan. Kuda diberi pasangan dan beberapa kantong pada punggungnya, tanpa ditunggangi tapi juga diiring orang saat berjalan. Kecuali seusai membawa beban barulah kuda dinaiki orang,, tambah buya dengan tawa. Jadi harga barang bawaan yang diangkut saat itu dihitung perkilo tergantung batas tenaga kuda. Selain itu kata Buya ada juga transportasi lama bernama “cigak baruak” mirip dengan isoh padati menggunakan sapi sebagai mesin penggerak, dan memakai katayo atau tali yang disambungkan pada pundak sapi, yang juga disetalikan dengan kayu penopang, namun sudah diberi gerobak dan beroda kayu. Gerobak pedati inilah yang

disebut “cigak baruak” karena sebelumnya saya menyangka ada kaitannya dengan baruak dalam bahasa Minang berarti monyet. Cigak baruak ini fungsinya juga untuk mengangkut barang keseharian, ada juga gerobak untuk membawa kayu panjang-panjang yang modelnya masih sama. Namun dalam pengangkutan kayu ini kondisi papan tepian gerobak dibuat lebih rendah dan sedikit panjang, serta diberi bumper di tepi bawah agar dapat memuat roda lebih besar dan diberi tonggak kayu di bagian tengah. Tonggak ini menjorok ke bawah sebagai penyangga. Jika laju gerobak mulai bergerak cepat ketika jalan menurun dapat diberatkan kebelakang dan begitu sebaliknya, jadi fungsi sebenarnya tonggak kayu tersebut adalah sebagai pengatur agar memudahkan


membawa kayu-kayu yang panjang pula.

Setelah berbincang bincang seputar alat transportasi alternatif yang mempermudah pertanian ketika zaman beliau muda dulu. Ada beberapa narasi menarik terkait perkembangan pola yang sama pada hari ini. Sesuatu yang unik terlihat pada sebuah gagang dan mata pisau juga keris-keris buatan Buya. Alat itu sungguh membuat saya bersama teman-teman tertawa dan merasa tertipu oleh pisau ukiran buya. Ternyata alat itu terbuat dari bahan seadanya yang mudah ditemui sekitar kita yaitu dengan menggunakan ujung pasta odol yang telah dipotong, lalu disematkan antara gagang dan pisau. Kata buya, alat itu dinamakan saluik/bawa yaitu penyambung dari gagang ke pisau. Selain menggunakan pasta odol bekas beliau juga memakai paralon dan bekas tempat lipstick untuk dijadikan saluik/bawa.

Selepas itu kami diajak berkeliling rumah oleh Buya sembari memperlihatkan alat alat kreatif yang ia buat sendiri. Seperti, jemuran dari kayu, penyangkut gorden, tempat bakar ikan, dan hal-hal kreatif lainnya yang ia buat sendri. Saya juga melihat alat-alat umum yang sangat berpengaruh dalam pertanian. Namun kali ini bukanlah alat transportasi,

melainkan sebuah peralatan pertanian yang langsung menggunakan tangan manual (tenaga manusia). Beberapa alat tradisional ini di antaranya adalah, berupa kuie, cangkul kecil, sekop, sabik, dan ladiang. Kuie adalah alat untuk mengais/mengeruk, biasanya digunakan untuk mengeruk padi yang sedang dijemur, ada beberapa macam kuie, ada yang terbuat dari kayu dan juga besi. Cangkul kecil digunakan untuk menggemburkan tanah yang keras, dan sabik (sabit) serta ladiang (parang) dapat digunakan untuk menebas semak maupun untuk menggemburkan tanah. Di pertemuan berikutnya, Buya juga memberi sebuah trik lain terkait teknologi atau pemanfaatan limbah. Trik kali ini memakai limbah Styrofoam yang dilebur dengan campuran bahan tiner atau bensin, alhasil adalah carian perekat yang cukup kuat. Lem ini biasa ia pakai untuk merekatkan gagang parang atau sabit. Dahulunya sebelum pemakaian bahan-bahan perekat alternative tersebut. Petani menggunakan lem dari cirik samuik (kotoran semut), Perekat ini dulunya mudah ditemukan pada batangbatang kayu di hutan. Namun kini sudah jarang, bahkan hampir tidak ditemukan lagi. Pada Sabtu 17 Juni 2017, saya dan beberapa


kawan melihat proses pembangkitan padi pada sebuah heler di Jalan Lubuk Sikarah, Solok. Saat itu saya melihat beberapa pemanfaatan alat pendukung pertanian di sekitar heler. Seperti penggunaan kuie, sekop tangan, gerobak, timbangan padi, dan mesin penggilingan padi. Setelah beranjak dari situ, sesampai diperbatasan kota dan kabuten Solok juga terlihat beberapa petani sedang melakukan proses manongkang atau kegiatan memanen padi. Tampak para petani hilir mudik membawa padi yang sudah dikarungkan. Mereka membawanya dari pematang sawah dan dibawa ke tepi jalan untuk nantinya dijemput mobil pick-up, para petani mengangkat padi dengan cara menaruhnya di atas kepala yang sudah dialaskan sehelai kain. Terlihat sesama petani saling bergotong royong dalam proses pengangkatan ini. Di sana juga terlihat beberapa alat pendukung pertanian, diantaranya seperti bak tongkang(bak penampung padi), janjang tong(alat pemisah padi dari batang), dan lapiak tongkang(tikar yang dipasangi tonggak kayu untuk membatasi padi, saat di-tongkang). Menarik melihat proses ini sembari mengingat kembali transportasi pendukung pertanian yang diceritakan Buya.

Setelah itu kami bertandang ke studio yang dikelola oleh Uda Dayat. Ia adalah seniman yang aktif berpameran dalam berbagai kegiatan di Sumatera Barat (Sumbar) dan maupun nasional. Kebetulan saat bertemu, ia sedang tidak ada kesibukan. Dan bisa meluangkan waktu sejenak untuk berdiskusi tentang kesenian dan perkembangan pertanian di Sumbar. Uda Dayat dikabarkan masih menyimpan kincie atau kincir sepeninggalan kakeknya. Lokasi kincie ini tidak jauh dari studionya. Ia menjelaskan pada kami cara pengoperasian alat tersebut. Kerjanya dimulai dari perputaran kincir yang memanfaatkan arus irigasi. Aliran sengaja diarahkan menuju kincir dan membuatnya terdorong atau berputar. Kincir berputar paralel atau terhubung dengan batang tonggak yang menjadi poros kincir. Di saat yang sama sambungan tuas, yang dikaitkan pada batang poros, berputar mengger-

akkan tujuh tuas alu, yang menumbuk padi atau kopi di lasuang. Semuanya bekerja seperti gear-gear mesin. Lalu, kopi atau padi hasil dari tumbukan, diambil dan dipindahkan ke alat pengipas, sementara kipas ini masih sambungan dari putaran kincir. Fungsi kipas ini adalah untuk memisahkan kopi atau padi dari sakam-nya. Begitulah proses penggilingan berjalan. Namun kini, kincie milik kakek Uda Dayat tersebut tidak berfungsi lagi, ada beberapa bagian yang sudah rusak. Selain itu, saluran irigasi sudah tidak berair lagi karena sudah dialihkan langsung ke sawah atau parit. Selain itu, di kampung halaman Albert di Padang Sibusuk, Sijunjung, terdapat model lain dari kincie. Kincir di Sijunjung ini difungsikan untuk pengairan sawah. Skala instalasi kincir yang lebih ramping, namun ukuran roda kicir bermacam-macam, tergantung tinggi tebing sungai. Bahan utama kincir ini sebagian besar adalah berasal dari bambu, kecuali poros kincir sengaja terbuat dari kayu sebagai penopang. Poros dilubangi untuk pasak dari pondasi, pondasi kincir juga terbuat dari batang kayu panjang, seperti jari-jari roda sepeda. Segala konstruksi direkat dengan pasak atau diikat dengan kulit rotan, tapi belakangan juga menggunakan paku. Sisi luar roda kincir dibuatkan semacam kipas yang dianyam dari kulit bambu yang akan didorong oleh arus sunga, bersamanya tersangkut tabung dari bambu, berfungsi sebagai pengangkut air, bagian ini diposisikan miring (diagonal) agar air yang diangkut segera menuju irigasi sawah melalui bambu besar atau pipa. Sementara di titik sebelum arus menuju kincir, dipasang pagar bambu yang tidak rapat, agar perputaran kincir tetap stabil. Sangat menarik sekali dapat melihat kembali, dan membayangkan kecerdasan berpikir orang zaman dahulu, yang mampu menciptakan teknologi yang dapat mempermudah proses pertanian. Sementara itu partisipan juga mendalami informasi tentang perkembangan pertanian serta mengelola dan mengemas media dengan baik dan bijak.***


Dinamika Kultur Tani Muhammad Riski

Sore itu, setelah melihat beberapa aktivitas pertanian di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok, saya kembali ke kantor Gubuak Kopi. Di sana telah duduk Bapak Elhaqki Effendi. Ia hadir untuk membagi memberi kami sedikit materi dan berbagi pembacaannya tentang perkembangan pertanian di Solok. Sebelumnya, memang kami sudah mengundang beliau untuk mengisi diskusi kali ini, dan Jumat ini adalah hari yang tepat. Bapak Elhaqki atau yang akrab disapa Pak El adalah pernah bekerja di Dinas Pertanian sejak tahun 1976, dan sempat pindah ke Dinas Kehutanan dan Perkebunan, lalu pada 2015 ia pensiun sebagai pegawai Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Ini bukan perjalanan yang pendek untuk diceritakan, lebih kurang 29 tahun beliau menggeluti pekerjaan tersebut. Sempat belajar di sekolah kejuruan pertanian waktu itu bernama Sekolah Perntanian Menengah Pertama (SPMP) setara SMP, dan dilanjutkan di Sekolah Pertanian Menengah Akhir (SPMA) setara SMA. Sejak kecil ia sudah akrab dengan dunia pertanian. Setamat SPMA ia lanjut mendalami pertanian di akademi khusus pertanian. Sembari bekerja di pemerintahan, Pak El juga gemar mendokumentasikan kegiatannya melalui fotografi. Selain itu, ia juga sempat berkerja sambilan sebagai kontributor tulisan terkait pertanian dan kehutanan untuk beberapa media. Selain itu di beberapa daerah ia juga biasa dipanggil mantari (mantri) dan Panji Alam. Waktu itu, di kediamannya kita mendapat kesempatan untuk melihat beberapa koleksi arsipnya, dan beberapa dipinjamkan untuk kita teliti di Gubuak Kopi. Sore itu Pak El mengawalinya dengan penjabaran situasi pertanian pada zaman Orde Lama dan masa transisi ke Orde Baru. Waktu

itu padi diproduksi hanya satu sekali setahun, irigrasi pun yang belum maksimal, begitu juga dengan alat bajak atau peralatan lainnya yang belum memadai. Indonesia saat itu masih membeli beras ke Thailand untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat se Indonesia. Bahkan, waktu itu beberapa masyarakat kita yang makan nasi dicampur dengan jagung. Sekitar tahun 1970-an barulah masuk berbagai teknologi yang memadai untuk menunjang sektor pertanian. Pada masa ini, program-program pemerintah berfokus pada peningkatan produksi, sebelum berfokus pada peningkatan keuntungan. Kalau, biasanya padi dipanen satu kali setahun, saat itu secara perlahan ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali setahun. Mesin bajak yang memadai dan sistem irigrasi yang baik, kemudian mendorong peningkatan produksi masyarakat, hingga mencapai swasembada. Sementara giatnya usaha peningkatan produksi pertanian, di akhir tahun 60-an hingga tahun 70-an pemerintah merancang


Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang kemudian memunculkan programprogram seperti Panca Usaha dan lima sektor teknis untuk peningkatan produksi pangan. Di antaranya muncul Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) yang waktu itu berfokus pada pemunculan bibit pangan baru, lalu ada Pertani, kemudian di bidang perbangkan mencul BRI Unit Desa, kemudian kegiatan Bimbingan Massal (BIMAS), yang pertama Koperasi Unit Desa (KUD) untuk pengadaan sarana, dan dari pihak dinas muncul program Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL). Dan masih banyak program lainnya. Saat ini, program terbaru dari Dinas Pertanian yang masih kita tunggu dampaknya yaitu Pertanian Salibu. Ini sebenarnya sudah pernah dilakukan pada beberapa puluh tahun sebelumnya, berganti, dan kemudian dikembangkan lagi. Teknisnya, padi yang sudah dipanen atau dipotong dibiarkan tumbuh lagi dengan cara memberi pupuk secara teratur. Pak El baru saja tahu tentang pemberlakukan program ini dari kabar Whatsapp salah seorang mantan anggotanya yang saat ini bekerja di Dinas Pertanian, Kabupaten Solok. Program ini baru diterapkan

pada daerah Saok Laweh, dan masih dalam tahap percobaan. Kita masih menunggu hasil dari percobaan Dinas Pertanian ini. Sebelum masuknya teknologi yang serba mesin dan pestisida, masyarakat di Solok, dahulunya masih menjaga pertaniannya serta mengusir hama, dengan cara-cara tradisional, contohnya, Biasaya para petani mengambil darah sapi dan dioleskan ke ujung daun yang berada di sekitar ladang tersebut, agar kandiak (babi) tidak masuk ke ladang, memelihara burung hantu, itik, ular. Atau bisa juga dengan membakar rambut yang biasanya diambil dari sisa tukang cukur. Rambut yang dibakar tersebut mengeluarkan bau yang tidak disukai kandiak tadi. Lalu, untuk mengusir hama seperti pianggang(walang sangit) biasanya para petani akan menuliskan beberapa ‘kalimat arab’ semacam doa di daun kelapa. Cara-cara tradisional ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat pertanian itu sendiri, yang terus berkembang dari ekspermen dan pengalaman-pengalaman. Sekarang ini kepercayaan seperti itu sudah sangat jarang kita temui, karena masyarakat telah diarahkan untuk menggunakan pes-


tisida atau racun untuk mengusir hama. Tapi cara-cara terbaru ini, tidak jarang pula bisa berdampak negatif bagi kesehatan kalau pemakaian yang salah dan berlebihan. Pak El juga menceritan, di Nagari Kubang Duo pernah racun ini membunuh babi, yang kemudian babi itu hanyut dan membusuk di sungai. Alhasil, sungai tercemar, warga yang minum air dari sungai tersebut terkena penyakit begitu pula ikan-ikan yang berada di sekitar sana. Bahkan tidak jarang racun hama ini digunakan orang-orang yang depresi untuk bunuh diri. Waktu itu kuliah rasanya begitu singkat, masih banyak narasi-narasi terkait pertanian masa lampau yang menarik untuk dibaca kembali. Jumat 16 Juni 2017, saya dan Kak Depa menemui Pak El di kediamannya untuk melengkapi catatan saya dan menyambung diskusi. Terakhir, selain persoalan kebijakan, kearifan lokal, Pak El sempat menyingung beberapa poin terkait kebutuhan dasar manusia yang turut membentuk menekankan posisi pertanian sekarang.

Setidaknya ada delapan poin kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya untuk membaca kultur pertanian ini, pertama yaitu, persoalan pangan. Sama-sama kita ketahui setiap manusia yang lahir di bumi pasti membutuhkan pangan, kalau kita pertajam pangan ini adalah makan. Manusia yang lahir pasti akan membutuhkan makan untuk memenuhi kebutuhannya. Kalau kita analisis dari segi pertanian, sediet-dietnya manusia makan satu setengah kilogram perhari, Sedangkan masa panen itu 120 hari, dikali setengah kilogram berarti 60 kg. Jadi manusia wajib makan 60 kg per orang untuk satu periode tanam, kalau di rumah itu ada lima orang, maka persediaan berasnya harus 300 kg untuk satu periode panen. Kalau itu sudah cukup maka sumber pangan kita terpenuhi, seandainya kebutuhan pangan tidah terpenuhi, maka kita harus mendatangkan sumber pangan dari lintas Provinsi. Ini diperankan oleh Badan Urusan

Logistik (BULOG), badan yang dibentuk oleh pemerintah untuk menjamin ketersediaan beras bagi masyarakat. Ada cara menghitung atau menebak hasil panen dengan teknik UBIN, semacam tebak hasil pada hitungan rata-rata atau presentase. Teknik ini mendekati kebenaran hasil panen. Percobaannya dengan menanam padi dengan diameter 2,5 meter masing-masing sisi. Setelah panen kita timbang dan kita dapatkan hasilnya dengan perkalian yang telah diperhitungkan. Contoh, luas sawah di Koto Baru 1.000 hektar, dengan hasil panen 4.000 kilogram dikali 1.000 hektar sawah maka hasilnya 40.000 ton beras. Jadi kira-kira sebanyak itulah hasil padi yang ada di Koto Baru.

Dalam hitungan produksi jangka panjang dalam pandangan pemerintah maka kita harus tingkatkan produksi padi. Seperti

yang dimbarkan Pak El, beberapa prioritas dan hal yang bisa dilakukan adalah dengan cara memberi pupuk yang teratur, mengganti dengan benih yang bagus, pengolahan tanah harus baik, kalau dari segi hama, kita


memakai Burung Hantu untuk mengendalikan tikus, supaya jangan membunuh tikus dengan cara pemakaian Pestisida. Kalau dari segi perairan, kita datangkan Pekerjaan Umum (PU), untuk melancarkan irigasi ke sawah-sawah dan memperbaiki parit yang debit airnya kurang. Kalau sumber airnya kurang, kita lihat pula penyebabnya. Sumber air utama yang kita harapkan berkaitan dengan keberadaan hutan. Pak El memberi gambaran, kalau Air danau itu datangnya dari sekitar bukit di sekeliling danau, di sekeliling danau itu pohon tidak ada lagi, atau sudah gundul. Kalau terjadi hujan maka air lansung permukaan ke tanah hanya sedikit yang diserap oleh tanah, dan air mengalir ke tempat yang rendah, maka terjadilah banjir atau air bah. Kalau ada pohon, air akan diserap oleh akarnya semakin besar pohonnya maka se-

makin banyak air yang diserapnya. Kalau terjadi kemarau, maka air ini akan dilepaskan melalui mata-mata air yang ada di sekeliling danau tersebut. Tapi nyatanya pohon-pohon

di tepi hulu ini ditebangi untuk kepentingan semata dan tidak memikirkan dampaknya, tak heran kita terjadinya tradisi baru: banjir tahunan Batang Lembang di Solok.

Kebutuhan yang kedua yaitu, papan. Salah satu wujudnya adalah rumah. Setelah manusia lahir dan tumbuh dalam tuntutan sekarang, maka manusia ia membutukan perlindungan, dari angin, hujan, panas matahari dan lainnya. Sudah seperti konstruksi yang ideal dari seorang manusia kalau mereka harus memiliki rumah. Baik itu karena kebutuan dasar maupun demi status sosial. Sekarang banyak jenis rumah yang menggunakan bahan selain kayu untuk membangun rumahnya. Dahulu rumah masih dibuat dari bahan kayu, saat persedian pohon masih banyak, jumlah penduduk masih sedikit. Sekarang seiring pertumbuhan manusia dan pertambahan penduduk untuk memenuhi kebutuhan papan seperti tadi, maka hutan ditebang untuk bahan pembuatan rumah, dan perluasan lahan pemukiman. Penebangan hutan secara liar (ilegal loging) pun marak. Lalu, untuk kita di Sumatera Barat, rumah itu memerlukan tanah dan halaman, maka terpakailah lahan pertanian yang produktif untuk membangun rumah tersebut. Tapi seiring perkembangannya, sekarang sudah ada upaya menggantikan kayu, dengan pemakaian besi baja ringan untuk skor atap rumah, dan tembok sebagai dinding rumah. Semuanya adalah kebutuhan, tinggal bagaimana kita bisa tetap bijak dengan alam, agar sumber dayanya tetap lestari. Ketiga adalah kebutuhan sandang. Misalnya pakaian, ia juga memerlukan lahan, contohnya, pakaian dulu orang memakai benang yang dihasilkan dari pohon kapas, kapas ini memerlukan lahan, produksi kapas ini juga memakai lahan pertanian. Sekarang sudah banyak pakaian yang terbuat dari bahan sintetis. Layaknya seorang manusia normal pasti memerlukan pakaian, bahkan ini dianggap sebaga ukuran status sosal bagi beberapa orang. Keempat adalah kebutuhan pendidikan. Sepert yang sebutkan Pak El, agama pun me-


merintahkan kita untuk menuntut ilmu, ada hadist nabi mengatakan “tuntulah ilmu dari ayunan sampai liang lahat” dan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Ini memberi bukti bahwa pendidikan itu adalah proritas bagi kehidupan kita, begitu pula bagi agama lain maupun orang-orang yang tidak beragama. Dulu semasa Pak El remaja rata-rata pendidikan masyarakat hanya Sekolah Menengah Pertama (SMP), lalu bertani, seiring perkembangan zaman naik menjadi minimal Sekolah Menengah Atas (SMA), sedikit sekali yang berani untuk sarjana. Untuk kuliah dan mencapai sarjana kita pasti memerlukan banyak uang, kita ambil contoh di daerah Koto Baru, rata-rata penghasilan orang Koto Baru dari sawah, sedangkan sawah yang produktif sudah dipakai untuk pembangunan rumah, jadi untuk mencapai pendidikan yang tinggi atau sarjana bahkan doktor di daerah Koto Baru, bersumber dari padi. Sementara setelah kuliah tuntutannya adalah bekerja, dalam era sebelum sekarang kebanyakan orang d kampung berfikir, setelah tamat SMA mending langsung bekerja dan bertani. Maka tidak heran banyak orang mengaggap perkejaan bertan sebagai pekerjaan rendah, belum lagi prespetif media arus utama kita yang

sering memposisikan petani sebagai ‘profesi yang dikasihani’. Sekarang kita memerlukan akademisi-akademisi untuk memkirkan bagaimana aktivitas pertanian tetap sejahtera. Berikutnya adalah pekerjaan. Untuk memenuhi kebutuhan yang pertama tadi, manusia dituntut untuk bekerja untuk mendapatkan uang, sedangkan kalau tidak punya uang, tidak bisa makan. Ada pameo Minang menyebutkan, “dari pado cakak jo kalangkalang, bialah cakak jo urang” (dari pada berkelahi dengan perut, biarlah berkelahi dengan orang). Dalam situasi sekarang, pekerjaan menjadi hal pokok untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, sandang dan banyak lainnya. Yang bahayanya lagi, orang yang mempunyai pendidikan tapi tidak memiliki pekerjaan. Contohnya, orang yang membobol Bank, karena dia bisa ilmu komputer tapi tidak memiliki pekerjaan, dia melakukan hal itu untuk memenuhi kebutuhannya, yang disebut masalah sosial.

Lalu kebutuhan akan Kesehatan, kalau kesehatan ini tidak terpenuhi, maka akan menjadi beban orang lain. Contohnya, seseorang yang tidak terpenuhi kesehatannya, maka akan sakit. Ada pribahasa mengatakan “pemikiran


yang sehat berada di atas tubuh yang sehat�. Kalau sakit, dia tidak bisa melakukan pekerjaan, jadi dia harus sehat untuk memenuhi kebutuhannya. Kalau ilmunya hebat, uangnya banyak, tapi dia tidak sehat, akan sia-sia saja.

Setelah kesehatan, berikutnya adalah keamanan. Kalau pekerjaan sudah ada, pendidikan sudah tinggi dan memiliki kekayaan yang banyak, dia harus memiliki keamanan supaya kehidupannya aman dari ancaman. Kalau keamanan ini terganggu, maka akan mempengaruhi aktifitas yang lain. Contoh, ada kejadian huru-hara di sekitar rumah, ini bisa menghambat mereka untuk pergi ke sekolah, bekerja dan melakukan aktifitas sehari-hari. Seperti khasus perang di Palestina, kemananya tidak menjamin kehidupan orang-orang di sana, tempat itu sedang bergejolaknya perang, dan aktifitas terbatas selalu merasa waspada setiap saat. Jadi keamanan ini sangat penting untuk melakukan aktifisas sehari-hari. Dan tugas negara wajib menjamin keamanan rakyatnya. Dan terakhir kebutuhan pokok manusia itu, dalam konteks kita Sumatera adalah Agama. ini juga sangat penting, menyangkut dan mengatur hidup manusia. Kalau manusia

tidak ada yang ditakutinya, dan hukum yang akan mengatur, maka dia akan menjadi manusia yang akan mengganggu keamanan orang lain. Karena tidak ada yang mengaturnya dan tidak ada yang ditakutinya. Ini menyangkut masalah, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan tuhan. Ada banyak kesalingkaitan yang berasal dari kebutuhan manusia yang turut membentuk kita hari ini. Sore itu kami membawa pulang beberapa pemikiran yang harus kita sadari lebih dalam, terutama untuk membaca perkembangan pertanian dan kebudayaannya.***


Menanam Arsip Delva Rahman

Jauh sebelum kegiatan lokakarya ini berlangsung, Gubuak Kopi telah melakukan riset ke beberapa tempat yang ada di Kelurahan Kampung Jawa, karena kantor kami pun berada di kelurahan ini. Kebanyakan dari warga sekitar Kelurahan Kampung Jawa memiliki taman-taman pribadi, dan juga banyak terlihat beberapa kebun pepaya, coklat, jagung, durian, rambutan, singkong, buah naga, dan masih banyak lagi yang lain. Di sini partisipan menggunakan medium yang paling dekat dengan kehidupan seharihari, seperti smartphone (telepon pintar). Partisipan bisa mendokumetasikan apa saja yang berhubungan dengan tema lokakarya kali ini dengan handphone pribadi mereka. Seperti memfoto tanaman, sungai atau pun lingkungan sekitar, dan merekam video diary (vlog). Setelah partisipan mendapatkan berbagai foto, mereka disarankan mengupload foto tersebut dengan akun instagram masing-masing dengan #solokmilikwarga, yang nantinya akan repost oleh akun @solokmilikwarga yang dikelola Komunitas Gubuak Kopi. Begitu juga dengan vlog, setelah partisipan merekam kejadian di lapangan mereka akan menyetorkan video tersebut ke fasilitator, video tersebut diupload melalaui kanal youtube Gubuak Kopi. Selanjutya, apa yang mereka dapatkan di lapangan pun ditulis dalam kertas, gunanya untuk mengingat poinpoin penting selama di lapangan, setelah itu dilanjutkan dengan menulis dalam bentuk word, setelah tulisan tersebut diedit dan diupload melalui web www.gubuakkopi.id. Kebanyakan dari taman-taman yang ada di akun #solokmilikwarga adalah inisiatif dari per- warga itu sendiri. Mereka memanfaatkan lahan kosong yang ada di

perkarangan rumah mereka masing-masing. Pada tanggal 16 Juni 2017, kami kedatangan pemateri yang dulunya kerja di Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Solok yaitu bapak Elhaqki Effendi. Beliau menjelaskan tentang Perkembangan Pertanian di Solok. Selain bekerja pada pemerintahan beliau juga wartawan di salah satu koran di Sumatera Barat, sejak tahun 1985. Dengan dua profesi bapak El, ia meninggalkan salah satu profesinya tersebut yakni wartawan, ia fokus pada pekerjaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Walaupun aktif di pemerintahan Bapak El masih aktif menulis artikel pada satu kolom. Lebih dari 80 artikel yang beliau pinjamkan kan kepada kami, yang beliau tulis dan disusun dalam bentuk kliping, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan yang ia simpan dengan rapi di rumahnya. Pak El juga banyak menceritakan tentang pengalamannya turun langsung ke lapangan Selama bekerja di pemerintahan. Hal ini jauh berbeda dengan praktek pemerintahan sekarang. Kalau sebelumnya pemerintah bangga bisa berlumpur bersama warga, sekarang orang-orang senang menunjuk-nujuk. Walaupun beberapa diantaranya adalah penciteraan, tapi ini membangkitkan semangat kerja sama warga dan pihak pemeritahan dalam meningkatkan produktivitas hasil dari pertanian. Selain itu Bapak El juga menceritakan kedekatan antar sesama warga pada satu kampung dengan kampung lainnya. Seperti pembuatan jalan Taratak dengan Tanjung Gadang, Buluah Kasok, Kabupaten Sijunjung. Seperti yang kita lihat di foto milik Bapak El bagaimana kedekatan antar sesama warga, mereka saling bantu membantu


dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Begitu juga dengan pembangunan surau Buya Burhanudin di Katialo, Kecamatan X Koto di Ateh (atas) pada tahun 1978. Pada foto tersebut juga bisa kita lihat bagiamana antusias warga dalam membangun tempat ibadah di sana. Tidak hanya orang dewasa yang ikut membantu, anak-anak juga ikut dalam pembangunan tersebut sebisanya.

Selain itu, Bapak El juga menunjukkan koleksi arsip tulisan dan foto karyanya tentang tanaman, salah satu tulisan beliau yaitu tentang “Bunga Bougainville Sebagai Tanaman Hias�. Di dalam artikel itu ia menjelaskan bahwa bunga bougainville (bunga kertas) mempunyai nilai sosial yang cukup tinggi, karena bunga tersebut memiliki keindahan dengan bermacam-macam warna (merah, kuning, nila, orange, dan lain-lain). Bahkan dalam satu batang tanaman terdapat variasi warna. Selain mememiliki keindahan, bunganya pun tahan lama dan bisa dibentuk sesuai keinginan si pemiliknya. Kalau kita lihat dari segi nama, bunga ini tentu saja bukanlah

tanaman asli Indonesia, yang menemukan bunga ini pertama kalinya Philbert Commerson, seorang ahli pegetahuan alam berlayar dengan seorang kapten kapalnya. Bunga tersebut diberikan kepada kapten kapalnya, seorang navigator pada zaman raja Loius XVI yang bernama Lois Antoine De Bougainville. Bunga Bougainville atau biasa kita sebut dengan bunga kertas ini adalah jenis tanaman perdu, sedikit berduri pada batangnya, tumbuh ditanah baik dan subur. Biasanya tanam dan sangat cocok apabila ditanam pada tanah terurai. Namun juga bisa ditanam pada pot, dan cara menanamnya sangat mudah. Albert juga pernah membawa beberapa tanaman ke kantor Gubuak Kopi, dan salah satunya bunga kertas. Sekarang bunga tersebut ada dalam pot dekat kamar santai kami, dan beberapa rumah warga pun juga pernah saya lihat memiliki bunga tersebut.

Selain itu juga ada artikel beliau tentang “Penangan Cara Panen Untuk Meningkatkan Produksi Padi�. Dalam artikelnya kali ini Bapak El membahas tentang aktivitas


petani pasca panen. Banyak padi atau beras yang terbuang pasca panen, baik itu ketika menenteng, dijemur, dibangkit, dan lainnya, yang sebenarnya cukup berharga dan bisa dimanfaatkan. Penanganan lepas panen yang baik, dapat menekan kehilangan logistik pada produksi, yang berarti pula dapat menigkatkan produksi, baik secara kwalitas maupun kuantitas, sehigga hasil pengorbanan petani di saat panen lebih maksimal. Bapak El menunjukkan beberapa koleksi arsip fotonya kepada kami. Beberapa koleksi foto tersebut didapatkan dari warga yang ingin beliau tulis di koran tersebut. Dari foto-foto yang saya lihat bagaimana kedekatan antara pemerintah dan warga, adanya gotong-royong sesama warga.

Pada era yang modern ini, tidak terlalu banyak gotong royong di kampung-kampung maupun di kota. Hal itu bisa saya rasakan sendiri, karena kepadatan rutinitas warga. Jika ada panggilan gotong-royong, penjagaan keamanan pada malam hari setiap RT (Rukun Tetangga), dan dasawisma orang tua saya lebih memilih membayar denda dari pada menghadirinya. Dan pada akhirnya kegiatan gotong-royong itu dilakukan oleh jasa pembersih lingkungan. Pos ronda dekat rumah saya pun sekarang dibongkar dan digantikan dengan tempat sampah warga, begitu juga dengan dasawisma (taman RT) digantikan dengan tempat sampah. Saya baru menyadari hal seperti gotong-royong ataupun berkumpul bersama pun sangat penting, karena dari sana warga bisa menimbulkan ide-ide yang positif dan saling berhubungan baik. Hal-hal yang saya sebutkan di atas adalah beberapa pengetahuan dan kesan yang saya dapat setelah membaca beberapa arsip. Mengarsipkan memang tidak kerja yang tidak mudah, tapi harus kita mulai dari sekarang, karena apapun yang kita arsipkan berpotensi menjadi pengetahuan nantinya. Begitu juga inisiatif yang dilakukan oleh Bapak El, koleksi tulisan maupun fotonya, cukup mempermudah kita membaca perkembagan

pertanian di Solok pada masa lampau. Hal ini, saya kira sama pentingnya dengan apa yang dilakukan oleh para partisipan maupun pengguna media sosial lainnya, dan kemudian dirangkum oleh @solokmilikwarga.***


Merekam untuk Nanti Volta Ahmad Jonneva

Lokakarya Kultur Daur Subur yang diselenggarakan oleh Gubuak Kopi kali ini pada dasarnya bertujuan mengarispkan, membaca masalah serta perkembangan pertanian dalam lingkup lokal, Solok, melalui praktek bermedia secara kreatif. Tema ini sebelumnya juga pernah diangkat pada tahun 2016 lalu, dan dikembangkan kini sebagai program pemberdayaan media berbasis komunitas. Pertanian di Minangkabau hingga saat ini terus berkembang, bahkan kini pengetahuan pertanian malah banyak didapat dari luar. Tapi, baru-baru ini kita juga mendengar beberapa teknik pertanian masa lampau, diuji coba dan disesuaikan lagi dalam keadaan sekarang, seperti teknik salibu. Selain itu, dalam situasi terkini, pemanfatan sumber daya alam sering kali tidak diimbangi dengan dampak-dampak kerusakannya.

Di lokakarya kali ini, banyak kegiatan yang dilakukan para partisipan, mulai riset di lapangan, membuat film pendek. Lalu, partisipan juga melakukan kegiatan fotografi dan pendokumentasian seperti halnya program Solok Milik Warga, yakni program pendayagunaan hashtag #solokmilikwarga di media sosial dalam rangka mengumpulkan imageimage yang berhubungan dengan Kota Solok, sebagai bagian dari penelitian untuk membaca perkembangan kota. Sekaligus untuk mengarsipkan peristiwa-peristiwa kontemporer yang terjadi. Selain itu partisipan juga diperkenalkan dengan program Vlog Kampuang, sebuah program pengarsipan aktifitas warga melalui video diary yang didistribusikan secara online dan gratis melalui akun YouTube: Kanal Gubuak Kopi. Vlog diambil sendiri oleh warga, dari prespektif warga itu sendiri. Vlog diambil dengan media yang sederhana, atau yang dianggap dekat dengan warga tersebut. Contohnya

handphone, camdig, ataupun media rekam yang lainnya. Vlog sebenarnya melatih warga untuk peka terhadap isu-isu yang dianggap penting untuk didokumentasikan, dan melatih warga untuk merespon hal-hal kecil dengan media. Warga yang mengembil vlog dalam konteks lokakarya ini adalah partisipan, atau warga yang sebelumnya telah mendapat pendidikan literasi media, dan juga pendidikan mengengenai isu Kultur Daur Subur. Di sini warga diajarkan bagaimana cara-cara kerja media, potensi vlog, dan isu-isu apa saja yang diangkat melalui vlog, dan juga bernegosiasi dengan warga sebagai narasumber yang setara untuk mendapatkan informasi. Di sini kita dituntut untuk lebih cerdas menilai media, serta bagaimana kita dapat memilah informasi dari televisi atau media-media arus utama.

Selama ini, kita banyak dipengaruhi oleh televisi sebagai media raksasa, menerima informasi dan opini begitu saja tanpa menguji kebenarannya. Media juga mempengaruhi pemikiran kita dalam melihat praktek bertani sebagai sesuatu yang jauh dari cita-cita. Generasi terkini disibukan untuk mencapai cita-cita yang selalu tampak gagah di layar kaca, dan itu bagi media-media ini bukanlah petani. Ibu-ibu lebih sibuk menonton sinetron dan menyuruh anaknya menjadi seperti yang dilakoni bintang sinetron. Bapakbapak sibuk membicarakan isu-isu besar di luar sana. Tapi beruntung praktek seperti ini saya kira masih bisa diimbangi dengan apa yang kita punya. Di luar perbincangan yang berat itu, hal sederhana yang penting juga untuk kita ingat sedari kini adalah caracara kerja media seperti media arus utama tersebut sering kali membuat kita berjarak dengan kejadian menarik di sekitar kita. Padahal ada beragam aktivitas yang berpo-


tensi untuk dikemas sebagai pengetahuan.

Dalam lokakarya kali ini, para partisipan dianjurkan untuk membuat vlog yang kita sebut Vlog Kampuang sejak. Ada yang mengambil vlog mengenai isu taman rumahan dan sekolah di sekitar kantor Gubuak Kopi, juga ada yang mengambil isu- isu di sekitar Kampung Jawa bagian atas, yaitu di sekitar RW 6, tentang kebun-kebun maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di hari ketiga lokakarya para partisipan dan fasilitator mengunjungi TPA. Di sana para partisipan di ajak untuk melihat dan mencari informasi sebanyak mungkin mengenai TPA tersebut, dan juga melihat bagaimana proses pembuangan sampah menuju kolam yang telah disiapkan. Hal ini menarik, mengingat banyak di antara kita yang selama ini bertanya-tanya atau tidak peduli kemana sampah-sampah kita perginya lalu bagaimana ia diproses. Melalui vlog-vlog ini kita juga dapat menyaksikan alat berat yang beroperasi menyusun sampah tersebut. Dari beberapa isu yang menjadi sorotan oleh partisipan selama, ada yang memilih mendalami persoalan yang ada di Taman Bidadari,

ada yang memilih taman-taman warga, sungai, jalanan, suasana kota, kedai-kedai, dan lainnya. Banyak hal menarik yang terekam di sekitar kita, yang barangkali secara tidak sadar selama ini kita abaikan. Sesuai dengan tema lokakarya, sebagian besar isu yang terekam oleh partisipan adalah masalahmasalah lingkungan. Beberaa partisipan merekam aktifitas warga dalam menjaga dan memberdayakan lahan di sekitarnya. Mulai dengan membuat taman, kebun mini, dan menanam tanaman seperti bunga atau sayuran. Di dalam vlog Intan misalanya, salah seorang partisipan lokakarya, ia sempat mampir dan mengabadikan SDN 07 Kampung Jawa yang sangat sejuk dan asri. Di sana banyak sekali tanaman yang dibududayakan, tidak hanya tanaman, di sana juga banyak barang-barang bekas yang dimanfaatkan untuk pot-pot tanaman. Ia juga berbincang dengan salah seorang warga di dekat rel yang memanfaatkan lahan rel sebagai taman dan kebun. Apa yang dilakukan warga ini bisa jadi salah atau sah secara hukum, tapi yang pasti, apa yang dilakukan warga ini membuat lingkungan tampak lebih enak secara visual ketimbang sebagian be-


sar titiknya yang semak, berbanding terbalik dengan taman-taman indah di rumah warga.

Dari beberapa vlog lainnya saya juga melihat beberapa warga yang memanfaatkan potensi pekarangan kosong dan halaman rumah, dengan tanaman produktif yang cocok dengan lingkungan di masing-masing. Biasanya rumah-rumah hanya dilengkapi dengan tanaman hias. Namun selain tanaman hias, halaman rumah juga dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam jenis sayuran, tanaman buah, dan herbal. Beberapa vlog yang terkumpul merekam warga menyirami dan merawat tanaman sayur, buah, ataupun herbal di halaman rumahnya. Dengan bahasa bergaul yang akrab beberapa diantarnya dengan senang hati berbagi tips dan pengetahuan yang mungkin bisa kita pelajari juga.

Dengan adanya Vlog Kampuang ini, sebenarnya banyak hal-hal kecil yang penting untuk kita rekam dan publikasikan. Dari vlogvlog yang terkumpul, saya melihat banyak proses-proses media yang menarik untuk kita sadari pula. Vlog, dalam hal ini diambil dengan alat yang sangat familiar bagi warga, yakni handphone, tanpa proses-proses yang

kaku, mengalir, dan interaktif. Memberikan sensasi setara antara warga yang merekam dan warga yang direkam. Ada yang senang berbagi informasi dengan kita, ada juga yang risih, ada juga yang malu-malu ketika melihat kamera. Tetapi walaupun begitu, seperti yang disampaikan Albert Rahman Putra dalam lokakarya, salah satu hal yang perlu kita rayakan, bahwa praktek media secara ‘amatir’ ini adalah kesadaran kita untuk tidak menerima mentah-mentah apa yang dihadirkan, sebaliknya membangkitkan hasrat mengkritisi atau menggali lebih jauh apa yang direkam. Dan yang paling penting, apa yang terekam hari ini, yang didistribusikan secara gratis ini, adalah arsip yang sangat penting, baik itu untuk memancing atensi banyak warga, pemangku kebijakan, dan lainnya untuk peka terhadap persoalan di sekitar kita. Selain itu, tentunya ia juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengetahuan di masa mendatang. Tetaplah merekam.***


Daur Subur adalah pengembangan praktek media kreatif berbasis komunitas yang digagas oleh Gubuak Kopi, dalam mengarsipkan dan membaca perkembangan kultur pertanian di Solok, secara khusus dan Sumatera Barat secara umum. Program ini dikembangkan melalui lokakarya dengan melibatkan para partisipan dari beberapa komunitas dan beragam latar pendidikan. Para partisipan selama lokakarya mendapat kuliah-kuliah umum dari lintas disiplin untuk memperkaya pembacaan isu. Fasilitator Program

Albert Rahman Putra, Delva Rahman, Muhammad Riski, Volta Ahmad Jonneva, Zekalver Muharam. Partisipan Arif Kurniawan Putra, Amathia Rizqyani, M Yunus Hidayat, Risky Intan Nasochi, Rizaldy Oktafiasrim Risky, Ogy Wisnu Suhandha. Pemateri Kuliah Umum dan Diskusi Sejarah Perkembangan Media Albert Rahman Putra Zekalver Muharam

Kultur Daur Subur

Albert Rahman Putra

Pemanfaatan Alam dalam Pandangan Adat Buya Khairani

Perkembangan Praktek dan Kebijakan Pertanian Solok Elhaqki Effendi


Profil Fasilitator

Albert Rahman Putra (Solok, 31 Oktober 1991) adalah lulusan Jurusan Seni Karawitan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Dia adalah pendiri Komunitas Gubuak Kopi dan kini menjabat sebagai Ketua Umum. Albert aktif sebagai penulis di www.akumassa.org. Pernah terlibat dalam Proyek Seni DIORAMA Forum Lenteng. Ia juga memiliki minat dalam kajian yang berkaitan dengan media, musik, dan sejarah lokal Sumatera Barat.

Delva Rahman (Solok, 29 April 1993) adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai Sekretaris Umum. Ia aktif menari di Ayeq Mapletone Company, sebuah kelompok tari yang berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Pernah terlibat dalam loakarya literasi media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng (2017). Partisipan lokakarya video performance (2017). Pernah terlibat dalam pertunjukan "Perempuan Membaca Kartini" karya sutradara Irawita Paseban di Gudang Sarinah Ekosistem (2017). Muhammad Riski (Solok, 20 November 1995), adalah salah satu pegiat di Komunitas Gubuak Kopi, aktif sebagai pengarsip. Saat ini sedang menempuh studi di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Terlibat dalam lokakarya media "Di Rantau Awak Se", oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng. Selain itu ia juga aktif memproduksi karya seni mural dan stensil dan sibuk menggarap Minang Young Artist Project selaku ketua.

Volta Ahmad Jonneva (Kinari, 16 Mei 1995) adalah mahasiswa Jurusan Senirupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Saat ini aktif sebagai salah satu anggota Komunitas Gubuak Kopi. Sehariharinya, ia juga aktif di Komunitas Seni Belanak, serta terlibat mengelola Layar Kampus, sebuah inisiatif ruang tonton alternatif di kampusnya. Tahun 2017, ia juga terlibat dalam open studio "Di Rantau Awak Se" oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng.

Zekalver Muharam (Solok, 11 Juni 1994), adalah mahasiswa Jurusan Senirupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Saat ini aktif sebagai koordinator produksi di Komunitas Gubuak Kopi. Selain itu ia juga aktif membuat karya komik, mural, dan lukisan. Tahun 2017, ia turut terlibat dalam Open Studio: Di Rantau Awak Se, oleh Gubuak Kopi dan Forum Lenteng.


Profil Partisipan

Rizky Intan Nasochi, biasa disapa Intan lahir di Jakarta Desember 1997, berdomisili di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok. Saat ini menempuh pendidikan di Universitas Mahaputra Muhamad Yamin (UMMY) Solok, sejak tahun 2015, mendapalami ilmu Akuntansi. Sekarang sedang gemar-gemarnya menggambar dan juga aktif berkegiatan ilmu bela diri karate (INKANAS) Solok, dojo Kampung Jawa.

M Yunus Hidayat, biasa disapa Joe atau Datuak atau Joe Datuak (Muaralabuh, 05 Mei 1989), saat ini aktif di Komunitas TAKASIBOE (Takaran Seni Boedaja) Solok Selatan sebagai Inisiator sekaligus Sekretaris Umum. Jenjang pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, Fakultas Seni Pertunjukan Prodi Seni Karawitan dan tamat di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Selain itu sering berkeliaran diluar rumah keliling kampung untuk mencari teman yang sudah tua-tua untuk mencari informasi terkait Perkembangan Seni Budaya Tradisional di Daerah Domisili (Solok Selatan). Ogy Wisnu Suhandha, biasa disapa Ogy atau Cugik, lahir di Bukittinggi, Desember 1991. Saat ini menempuh pendidikan pendidikan di Seni Rupa, Universitas Negeri Padang. Aktif berkegiatan di Ladang Rupa Bukittinggi, Pengembangan seni dan budaya Kota Bukittinggi.

Rizaldy Oktafiasrim Rizky, biasa disapa Iki, lahir di Sawahlunto, Oktober 1995, Saat ini sedang menempuh pendidikan di Senirupa, Universitas Negeri Padang. Aktif berkegiatan di Kelompok Seni RANTAI Kota Sawahlunto, sebuah kelompok seni yang mengembangkan pengetahuan seni, kearifan budaya lokal, dan kegiatan sosial.

Amathia Rizqyani, biasa disapa Rizqy, lahir di Solok Selatan, April 1994. Adalah pemudi yang besar di Kelurahan Kampung Jawa, Solok yang saat ini berdomisili di Tembok. Saat ini tecatat sebagai mahasiawa di Universitas Mahapura Muhammad Yamin (UMMY) Solok, sejak tahun 2012 mendalami ilmu hukum. Selain itu ia juga aktif di organisasi UKM Mapala GEMPA UMMY, di SOARINGSolok Aero Paragliding di Kota Solok, serta sebagai salah satu instruktur outbound di Base Camp Adventure. Memiliki keterarikan dengan aktivitas fotografi dan menulis. Arif Kurniawan Putra, biasa disapa Arif, lahir di Solok, Januari 1999. Arif baru saja menyelesaikan sekolah menengah atas, dan sekarang sedang mencari perguruan tinggi yang cocok baginya. Arif merupakan partisipan titipan atau partisipan paling muda dalam Lokakarya Media: Kultur Daur Subur oleh Gubuak Kopi (2017). Sebelumnya, ia juga aktif dikegiatan OSIS di SMA N 1 Kota Solok. Saat ini ia sedang meminati aktivitas tulis menulis.


Tentang Gubuak Kopi Lembaga Pengembangan Pengetahuan Seni dan Media Gubuak Kopi, atau lebih dikenal dengan nama Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok, berdiri sejak tahun 2011. Komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media berbasis komunitas di lingkup lokal Kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mengorganisir kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga secara partisipatif, mengembangkan media lokal dan sistem pengarsipan, serta membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal. gubuakkopi@gmail.com

Penasehat

Kesekretariatan

Rilly Ade Fernando

Elya Gusrika Dinova

Albert Rahman Putra

Koordinator Produksi

Ketua Umum Sekretaris

Delva Rahman Bendahara

Tiara Sasmita

Manajer Program

Volta Ahmad Jonneva Zekalver Muharam

Koordinator Workshop Rafly Hidayat

Pengarsipan Muhammad Riski

Penelitian dan Pengembangan Manshur Zikri


Terima Kasih kami tuturkan kepada: Kedua orang tua kami Keluarga Rilly Ade Fernando Buya Khairani Haji Zambri Eri Rusdy Oktariansyah (Cudin) Riki Kobenk Bang Dani Takasiboe Rani Taksiboe Bapak Lurah Kampung Jawa, Kota Solok Warga Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok.


Daur Subur | 2017  

Pada tanggal 10 – 20 Juni 2017 lalu, Komunitas Gubuak Kopi menggelar serangkaian lokakarya yang bertajuk: Kultur Daur Subur. Lokakarya ini m...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you