Issuu on Google+

JENDELA BUKU

8

MINGGU, 3 MARET 2013

Emansipasi dan Kesetiaan Ginko membuat ia meremehkan suaminya. Bahkan bersedia menutup kliniknya demi mengikuti jalan hidup sang suami. Inilah cerita dramatis yang dibangun Jun’ichi dengan alur yang menanjak. Namun, novel yang diterjemahkan Istiani Prajoko dari versi bahasa Inggris ini mendapat kritik dari beberapa peserta OPMI. Bukan penuturannya yang sudah runut dan enak dibaca, melainkan lebih karena ending story-nya yang menggantung. Perjalanan derita dan perjuangan Ginko yang keras hing ga dia sukses menjadi

Fitria Andriani LH Pelajar

dokter perempuan pertama di Jepang berakhir dengan mengikuti alur kisah hidup suaminya. Harapan bahwa Ginko seharusnya bisa membuat langkah-langkah lebih besar berkat kedudukannya di organisasi perempuan tidak tampak dalam novel setebal 463 halaman ini. Atau, mungkin inilah yang dimaui pengarang bahwa emansipasi perempuan Jepang beda dengan feminisme dalam kacamata Barat. (M-5)

miweekend @mediaindonesia.com

CERITANYA cukup menarik karena membahas perjuangan perempuan untuk menjadi dokter pertama di Jepang dan bagaimana perjuangannya di masa itu. Ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk perempuan yang mau berjuang. Ada sedikit yang mengganjal. Sayang sekali, ceritanya rada menggantung dan detailnya kurang. Terutama pada keanehan sikap Ginko yang pendiriannya cepat berubah karena Shikata, suaminya.

MI/IMMANUEL ANTONIUS

OPMI: Diskusi buku OPMI membedah novel Ginko karya Jun’ichi Watanabe di Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (23/2). Novel inspiratif ini mendapat perhatian peserta karena kisah hidup Ginko penuh makna. Persahabatan, kegigihan dan cinta kasih mencerminkan harga diri dan keperibadian perempuan Jepang yang berjiwa kuat.

SOELISTIJONO

E

Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI) Februari memilih Ginko karya Jun’ichi Watanabe yang diterbitan Serambi Ilmu Semesta. Novel ini berkisah tentang dokter perempuan pertama di Jepang yang harus menjalani hidupnya dengan penuh rintangan, menentang diskriminasi gender yang masih kuat di awal era Meiji.

RA Meiji di Jepang (1866-1869) sungguh merupakan era yang tak terlupakan bagi perjalanan hidup Gin Ogino, seorang gadis lugu, cantik, dan cerdas yang menikah di usia 16 tahun atas prakarsa keluarga dan harus menjalani hidupnya dengan penuh kepahitan. Belenggu budaya patriarkat yang masih mendominasi Jepang waktu itu begitu menambah beban berat hidupnya. Gin adalah korban. Setelah dua tahun menjalani hidup dalam ikatan perkawinan, ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya di Desa Tawarase. Gin pulang dengan membawa penyakit kelamin gonore yang ditularkan oleh suaminya. Sebenarnya tidak sedikit pe rempuan Jepang saat itu men derita penyakit ganas yang belum ada obatnya. Banyak di antara mereka yang menderita penyakit itu pasrah dan berujung pada maut yang mengenaskan. Namun, hal itu tidak ada dalam kamus hidup Gin. Musibah atas dirinya itu justru dijadikan perlawanan untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter--sebuah obsesi yang sepertinya mustahil diwujudkan akibat budaya dan birokrasi sisa era Edo yang menganggap profesi itu hanya untuk laki-laki. Belum lagi Gin harus menghadapi celotehan warga yang masih kolot. Namun, bukan Gin jika ti-

dak melakukan perlawanan. Dendam terhadap nasib dan keinginannya yang kuat untuk bisa mengobati penyakit gonore yang banyak diderita perempuan Jepang terus membakar semangatnya. Hari-hari Gin dipenuhi dengan perjuangan di tengahte ngah penderitaan karena penyakitnya yang terkadang masih kambuh. Inilah kehebatan Jun’ichi Watanabe, penulis buku Ginko yang diterbitkan Serambi Ilmu Semesta. Ia mampu mengadukaduk perasaan pembacanya. Jun’ichi berhasil memosisikan antara emansipasi, t ra d i s i , d a n penggambaran Jepang me nuju budaya modern serta kisah cinta Gin yang dramatis dalam novel biografi ini. Kisah inspiratif Ginko itu dibedah dalam Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI), di Restoran Koiki, Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (23/2).

rin tangan di rantau hingga diterima sebagai mahasiswa kedokteran, hari-hari Ginko semakin berat. Di kampusnya, dia menghadapi pelecehan seksual oleh teman laki-lakinya hingga penolakan warga yang dia rawat saat Ginko melakukan studi praktik. Akan tetapi, tekad yang kuat membawa Ginko berhasil melaluinya bahkan dia sukses menyelesaikan studinya dengan nilai terbaik. Namun bukan berarti kisah hidup Ginko berlanjut mulus. Ia masih harus menghadapi birokrasi pemerintahan Jepang yang belum memberi peluang bagi dokter perempuan-lulusan dalam negeri-untuk membuka praktik (klinik). Lagi-lagi penulis buku ini memberi pelajaran bahwa kegigihan individu dan niat tulus persahabatan pada akhirnya bisa membantu seseorang dalam menghadapi masa-masa sulit hidupnya. Persahabatan Ginko dengan dokter yang merawatnya dulu, dr Mannen, dan anaknya, Ogie, serta guru pertamanya, Prof Yorikuni (yang cintanya sempat ditolak Ginko), juga secara kebetulan adanya reformasi di pemerintahan Jepang, membantu Ginko mewujudkan cita-citanya membuka klinik pengobatan di Tokyo. Di klinik

Ginko melakukan visinya itu dengan melibatkan diri dalam kegiatan organisasi perempuan.

Emansipasi Timur Ginko ialah nama yang dipakai Gin saat mendaftar sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Kojuin. Nama itu ia pilih sebagai simbol perlawanan terhadap budaya patriarkat yang masih bercokol di Jepang selepas era Edo. Setelah melalui berbagai

itu Ginko lebih banyak melakukan misi sosial membantu warga atau perempuan yang berobat. Hingga akhirnya Ginko bertemu Shikata, seorang pemuda misionaris yang berhasil memikat hatinya. Hubungan mereka berlanjut hingga jenjang pernikahan meski Ginko menyembunyikan penyakit gonore yang masih dideritanya. Shikata berusia lebih muda 15 tahun dari Ginko dan tidak lulus kuliah. Perkawinan mereka pun mendapat tentangan dan cemoohan dari keluarga dan orang-orang dekat. Mereka menilai pernikahan Ginko tidak lazim. Namun cinta tetap menyatukan mereka. Mungkin inilah cara Ginko mempraktikkan emansipasi Ti mur. Dia melawan tradisi (patriarkat) tanpa bermaksud menjadikan kaum laki-laki tun duk kepadanya (perempuan). Bagi Ginko, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan di Jepang sudah seharusnya ada. Namun tidak berarti kodrat sebagai seorang perempuan ditanggalkan. Ginko melakukan visinya itu dengan melibatkan diri dalam kegiatan organisasi perempuan. Patuh kepada suaminya dan tidak menghalangi citacita Shikata yang ingin membangun komunitas Kristen di Pulau Hokaido yang masih tak berpenghuni. Zona nyaman yang Ginko dapat saat kliniknya sudah beroperasi tidak serta-merta

BUKU BARU

Aan Widiatman Staf Sekretariat ICMI

Anwar Khumaini Wartawan

Lusiana Ibu rumah tangga

Ali Sobry Penulis

AWALNYA saya kira ini novel cewek banget. Ternyata enggak. Ceritanya menarik. Saya lihat ini semacam autokritik penulis terhadap kaum lelaki. Pelajaran yang saya ambil dari novel ini ialah menjadi berhasil merupakan pembuktian terbaik perempuan Jepang, Ginko. Sedikit ada kekurangan, yakni penuturan yang kurang konsisten.

BUAT saya, secara keseluruhan novel ini bagus dan ceritanya menarik, terutama dalam upaya menggugah dan menampilkan emansipasi perempuan. Sayang sekali, saya tidak suka dengan cerita Ginko yang pada akhirnya mengikuti suami dan membuat kariernya ‘terbengkalai’.

NOVEL ini sarat makna tentang kehidupan, cita-cita, dan cinta seorang perempuan. Kekurangan buku ini hanya beberapa salah ketik, misalnya kurang huruf atau ada satu bagian yang berulang.

KITA bisa belajar banyak dari sosok Ginko. Ada semangat seorang wanita, tetapi juga ada ketaatan kepada suaminya meski secara akademis di bawahnya. Pesan lainnya untuk kita bahwa tiada kata terlambat untuk belajar. Namun sayang, tergambar juga sosok Ginko yang juga tidak jujur memberitahukan bahwa dirinya mengidap penyakit norin kepada suaminya. Kekurangan buku ini yakni ada paragraf yang berulang.

OPMI BULAN MARET

Mengulik Sejarah dari Diary

Pemilu, Demokrasi, dan Mahkamah Konstitusi

Sekolah Mandiri di Negara Berkembang

BANYAK hal yang bisa dilihat dari sebuah catatan harian. Misalnya saja diary Soe Hok Gie yang memperlihatkan suasana awal pemerintahan Orde Baru dari pandangan subjektif seorang Gie. Catatan harian ibarat sejarah yang amat subjektif karena ditulis dari pandangan dan perasaan manusia sendiri. Pengacara yang juga mantan Ketua Lembaga Bantuan Hukum ini menceritakan berbagai kejadian dari sudut pandangnya. Berawal dari cerita di 1 Januari 2009 tentang masih belum terungkapnya pembunuhan Munir sampai 31 Desember 2009, tentang upacara pemakaman presiden ke-4 Indonesia, Abdurahman Wahid. Diary sepertinya juga mengingatkan beberapa kejadian yang belum terselesaikan. (*/M-1) (Catatan Harian Todung Mulya Lubis: Buku 1/Todung Mulya Lubis/Penerbit Erlangga/606 halaman/2012/ISBN:978-602-241-279-3)

PEMILIHAN umum (pemilu) menjadi salah satu bentuk paling nyata dari penggambaran kedaulatan rakyat. Indonesia pascareformasi pun mulai menjalankan pemilu untuk pre siden dengan berbagai tahapan sampai akhirnya pada 2004 sukses melakukan pemilu langsung. Pemilihan umum pertama kali di Indonesia dimulai pada 1955 untuk memilih calon legislatif saat itu. Buku ini membahas pemilu di Indonesia hanya pascareformasi 1998. Selain tentang pemilu, penulis juga membahas filosofi hubungan antara demokrasi, konstitusi, dan pemilu. Tentu saja pasang surut praktik pemilihan umum di Indonesise setelah perubahan UUD 1945 ikut diulas. Politik Hukum Pemilu membagi tiga pokok bahasannya, antara lain, pemilu dalam perspektif umum dan nasional, demokrasi lokal, dan peran Mahkamah Konstitusi. (*/M-1) (Politik Hukum Pemilu/Janedjri M Gaffar/Konstitusi Press/244 halaman/2012/ISBN : 978-60218634-2-8)

SETELAH Tooley muda lulus kuliah dan langsung berminat untuk membantu masyarakat Zimbabwe di bidang pendidikan, pria asal Inggris itu meminta untuk ditempatkan di pinggiran kota. Alasannya agar bisa benar-benar membantu kaum miskin. Walaupun awalnya ditempatkan di sekolah elite, Tooley memberontak dan akhirnya berhasil mendapatkan tugas di daerah-daerah yang diinginkan. Setelah berjalan cukup lama mengitari sekolah kumuh di Afrika, Tooley kembali ke negaranya untuk melanjutkan studinya. Kisah pun berlanjut ketika Bank Dunia menawarkan penelitian di sekolah swasta di negara berkembang. Sampailah Tooley di kota kumuh, Hyderabad, India. Di sana dia dikejutkan oleh sekolah yang dibangun warga karena tak bisa berharap banyak terhadap bantuan pemerintah negaranya. (*/M-1) (Sekolah untuk Kaum Miskin James Tooley/ Alvabet/476 halaman/Februari 2013/ISBN: 978602-9193-27-5)

Tehanu Karya: Ursula K Le Guin OBROLAN Pembaca Media Indonesia (OPMI) yang akan diselenggarakan 23 Maret 2013 memilih buku berjudul Tehanu, karya Ursula K Le Guin terbitan Media Klasik Fantasi untuk dibedah. Novel bergenre fantasi ini bercerita tentang gadis cilik, Tehanu, gadis cilik yang secara fisik dan mental telah terluka, akan dibakar hidup-hidup, tapi diselamatkan oleh Tenar, seorang pendeta Makam Atuan. Tenar ingin menyembuhkan Tehanu dengan membawanya pergi menemui Ogion. Namun, sang mage tidak dapat membantu. Dan Ged yang diharapkan dapat menyembuhkan justru datang dalam keadaan terluka dan seluruh kekuatan sihirnya telah sirna. Siapakah Tehanu? Mengapa orang-orang takut kepadanya? Sungguh buku ini bisa membawa pembacanya berkelana di dunia fantasi yang mengasyikkan sekaligus menegangkan. Bagi pembaca yang berkeinginan ikut mengupas buku ini lewat OPMI, silakan mengirim data diri ke miweekend@ mediaindonesia.com, paling lambat Jumat (8 Maret 2013) dengan subjek OPMI Maret. Kami akan mengirim buku untuk Anda baca sebelum mendiskusikannya. Terima kasih atas partisipasinya. Salam.


Mediaindonesia 2013 03 03 8