Page 1

Sama. mengintip dunia anak autis

ARIF WIBOWO 1


2


Sama. mengintip dunia anak autis

3


“

If I could snap my fingers and be nonautistic, I would not. Autism is part of what I am.

“

-Temple Grandin

4


FOREWORD.

5


Takdir itu

bernama anak Autis.

B

agi sebagian orang, foto adalah emosi yang mereka keluarkan, bahagia hingga duka. Baik yang menciptakan maupun yang memandang foto. Bagi yang menciptakan foto kini dengan semakin beragamnya alat dan media yang bisa digunakan untuk memotret dan mempublikasikannya, semakin mudah untuk menyembulkan emosi yang mereka rasakan untuk disajikan ke khalayak massa agar orang lain dapat melihat apa yang dia rasakan, lalu berharap pula orang merespon apa yang dia foto. Setiap memotret, entah ini baik atau tidak, saya selalu berpikir “Bagaimana cara membuat orang merasakan apa yang akan saya sampaikan dalam foto yang dibuat?” dan “Apa yang saya ciptakan, berguna atau bermanfaat untuk orang lain”?. Hal itu yang selalu berputar di kepala. Tiga tahun belajar tekun pada sebuah ilmu bernama fotografi adalah proses membangun pondasi akademis untuk perjalanan hidup yang lebih panjang, meniti benang ilmu yang dituntaskan oleh sebuah karya tugas akhir. Sepanjang proses itupula keinginan membuat karya yang bermanfaat untuk orang lain seakan menjadi obsesi. Berbagai kegiatan atau akivitas yang berkaitan dengan fotografi dijalankan. Tuhan memang sudah menggariskan cerita untuk seluruh ciptaan-Nya dengan amat rahasia namun penuh tanda. Kegiatan yang sering dilakukan selalu berkaitan dengan anak-anak sebagai obyeknya mulai dari memotret ulang tahun, event, panti asuhan. Itu yang membuat saya berasumsi bahwa anak-anak adalah takdir dari tuhan untuk saya. Hingga diakhir semester masa perkuliahan ketika harus menentukan apa yang akan dipilih sebagai karya akhir mahasiswa, saya mem-brainstorming diri, apa yang paling dekat dengan obsesi saya. Kata yang selalu bergulir adalah sosial. Ber­­sosialisasi dengan orang lain yang bersifat positif dapat menumbuhkan

6


manfaat, kesenangan dan meringankan beban orang lain. Dari akar ini pemikiran terus berkembang dan fleksibel begitu pula dengan ilmu yang didapat khusunya ilmu fotografi yang sesuai dengan passion yaitu jurnalistik. Anak dan sosial me­munculkan pertanyaan, “Apa masalah sosial yang terdapat pada anak-anak?” Jawaban yang timbul antara lain pendidikan, penyakit, kekerasan, gangguan kejiwaan dan lain-lain. Pertanyaan mulai menyentuh pada sisi fotografi, mencari hal yang paling ekspresif dalam citra dan menarik pada cerita. Singkatnya dari berbagai usaha pencarian informasi, gangguan kejiwaan pada anak dipilih sebagai yang mewakili dari sisi fotografi. Agar lebih terarah, isu ha­rus ditetapkan. Anak berkebutuhan khusus, biasa disingkat abk menjadi isu kuat dari masalah gangguan kejiwaan pada anak salah satu yang paling menonjol itu autisme anak-anak berekonomi rendah. Anak autis menjadi jalan takdir selanjutnya. Dimulailah proses pra produksi, produksi sampai terciptanya pameran tunggal yang diberi tajuk ‘SAMA.’ ini. Setelah beberapa bulan ini bersama anak-anak penyandang autis. Saya merasakan sekali energi kuat yang keluar dari mereka. Semangatnya seperti bola pijar abadi. Mereka manusia spesial yang diciptakan tuhan dibumi ini. Mereka jauh melebihi kita yang hanya manusia biasa. Mereka banyak memberikan pelajaran yang akan terus tertanam seumur hidup saya. Semoga apa yang saya hasilkan dari karya tugas akhir ini menghasilkan emosi yang saya tangkap dan saya rasakan untuk ditransfer kepada siapa saja yang melihat karya saya, sehingga obsesi saya untuk memberikan manfaat bagi anak-anak penyandang autis yang menjadi subyek karya maupun kepada yang melihat kumpulan gambar yang disajikan ini. Mungkin tak sempurna dan tak akan pernah sempurna. Namun satu hal yang pasti, ini bukanlah akhir tapi awal jejak kaki dan jejak takdir yang saya pijak untuk terus, terus dan terus mencoba memberikan nilai positif dari jalur yang saya pilih: fotografi.

Arif Wibowo Fotografer

7


8


CONTENT.

9


02.

Content

01.

foreword

Takdir itu bernama anak Autis.

03.

Mengintip DUNIA IRFAN. 10


05.

thanks to.

06.

biografi singkat.

04.

autisme.

11


mengintip

d un i a

IRFAN.

12


Autism is part of who I am. - Temple Grandin

13


mengintip Dunia irfan

I

rfan Fauzi buah hati pertama dari pasangan Widi Janarko dan Anita Irawati ini dilahirkan di Jakarta 4 Mei tiga belas tahun silam. Lahir dengan sehat dan normal layaknya bayi-bayi lain yang dikaruniakan Tuhan kepada sepasang keturunan adam dan hawa. Satu setengah tahun kemudian Irfan memiliki adik. Mempunyai adik membuat Irfan kecil senang dia selalu ingin mengajak adiknya itu bermain. Semua berjalan biasa tanpa pernah terpikir apa yang akan disandang Irfan kecil hingga saat ini sampai pada saat usia 2 tahun dia menunjukan gejala-gejala yang tak umum. Irfan mulai berubah menjadi pendiam, murung dan sering memojokan diri dikamar. Tentu saja hal itu membuat Ibu Irfan menyadari akan berubahan itu. Orang tua Irfan mendatangi psikiater untuk berkonsultasi apa yang terjadi dengan anak mereka. Hasilnya Irfan dideteksi mengalami penurunan fungsi otak, hal itu akibat Irfan mengikuti imunisasi ( seperti hepaptitis dan lain-lain) yang biasa didapatkan oleh Balita. Tubuh Irfan seakan menolak dan daya tahan tubuhnya tak kuat menerima imunisasi tersebut, “kadang rasanya agak nyesel sih� kata ibu Irfan. Semua garis Tuhan yang tak bisa dilawan, Irfan akhirnya dirujuk ke rumah sakit jiwa grogol. Disana Irfan diikutsertakan kedalam program penelitian yang dilakukan dokter dari Amerika Serikat. Dari sekian banyak anak yang mengikuti program tersebut, hanya Irfan yang memiliki kadar autistik yang tinggi pada kasus autisme yang diakibatkan dari imunisasi anak. Sebetulnya dibeberapa Negara lain seperti halnya Amerika Serikat, imunisasi itu sudah dilarang karena dapat menimbulkan hal-hal seperti

14


apa yang terjadi pada Irfan. Irfan terpilih sebagai subyek penelitian tersebut yang seluruh biayanya ditanggung pihak peneliti. Diusia 6 tahun, Irfan mulai disekolahkan di SLB yang berlokasi di Bogor. Dua tahun dijalani Irfan bersekolah disana yang selalu diantar Ibunya pulang-pergi Jakarta-Bogor membuat Ibu Irfan kelelahan. Akhirnya Irfan hanya mengikuti terapi Autisme di Jakarta dan beberapa kali pula ia pindah tempat terapi. 3 tahun silam orang tua Irfan memutuskan untuk menyekolahkan dan mengikuti terapi di Rumah Autis Bekasi. Yayasan CAGAR pemilik Rumah Autis menerima anak-anak berkebutuhan khusus biasa disingkat ABK bagi keluarga kurang mampu dengan biaya sukarela bahkan gratis. Irfan mendapat kan beasiswa karena Ayah Irfan hanyalah seorang Salesman kendarv Dahulu Irfan yang memiliki kebiasaan buruk yakni jika dia marah, dirinya sering menyakiti diri sendiri dengan menjepitkan tangannya ke pintu atau mengadukan kepalanya ketembok kini Irfan dapat mengendalikan dirinya. Namun yang belum menurun adalah sifat hiperaktif dan sulitnya menerima Bimbingan Akademik. Irfan saat ini hanya ditekankan ke bimbingan kemandirian seperti makan sendiri, mencuci, menyapu, membaca huruf hijaiyah dan lain-lain. Bahkan yang membuat orang tuanya cukup kaget adalah Irfan dapat mengoperasikan computer sampai bermain Game di komputer. Rumah Autis memang melatih hal-hal tersebut pada kemampuan Vocatinal Skill yang kegiatannya adalah Data Entri, Program Animasi,Filing, dan Praktik Kerja. Tuhan selalu mempunyai rencana untuk kita seberat apapun yang dihadapi di dunia ini. Asal terus berusaha tanpa menyerah dan doa tak mustahil keajaiban datang kepada kita termasuk Irfan. Tidak akan ada yang pernah tahu rahasia Tuhan.

15


16


Meraih.

Mencoba meraih sayang bebek dalam gambar, seperti ingin mengajak bermain bersama.

17


18


Children are the hands by which we take hold of heaven.

- Henry Ward Beecher

19


Bermusik.

Irfan bersama teman-temannya dikelas musik.

20


21


I rfa n da n hari-Harinya. Ini adalah keseharian Irfan.

22


23


24


25


Self portraiit. Irfan mengambil, membalik kamera lalu menekan shutter.

26


“

“

Jika rumah itu istana, maka Ibu adalah surganya.

27


Gelang identitas.

Gelang ini diberikan ibunya, karena Irfan pernah kabur dari rumah sendiri.

28


29


30


Serius.

Entah apa yang ada dipikirnya namun Irfan nampak serius sekali.

31


autisme.

32


Tertawa.

Mellihat temannya melakukan hal yang aneh membuat ia tertawa. Mereka pun masih memiliki rasa humor.

33


autisme. K

ombinasi dari beberapa gangguan perkembangan saraf, otak dan perilaku pada anak yang secara tipikal muncul pada tiga tahun pertama usia anak. Kata ‘autisme’ itu sendiri, berasal dari bahasaYunani “autos”, yang berarti diri sendiri. Sehingga biasanya anak-anak penyandang Autisme itu seakanakan hidup dalam dunianya sendiri, meski di tengah keramaian sekalipun.

Gejala-gejala yang Meremukkan Batin

Autisme muncul dalam karakteristik atau gejala-gejala dengan berbagai kombinasi gangguan dari yang ringan sampai berat.Gangguan ini umumnya mencakup beberapa aspek, yakni:

• Komunikasi

Terlambat atau sama sekali tidak dapat berbicara. Tidak bisa menghubungkan kata-kata dengan arti yang lazim.

• Bersosialisasi (bergaul)

Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman.

• Kelainan Penginderaan

Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.

• Perilaku

Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam).

Walaupun autisme dapat didefinisikan sebagai sekumpulan gejala, tapi anakanak dengan gangguan autisme dapat menunjukkan kombinasi perilaku de­

34


ngan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Namun yang pasti anak autis bukanlah anak yang memiliki kelainan jiwa (gila). Ia adalah anak normal yang hanya mengalami gangguan perkembangan. Masa depannya bisa kembali berjalan baik bila, dan hanya bila, mendapat penangan multi terapi yang memadai dan optimal.

Ragam Penyandang Autis

Autisme dapat terjadi pada siapa saja tanpa mengenal perbedaan status sosial, ekonomi, pendidikan, maupun golongan etnik dan bangsa. Kalaupun kelihatannya anak-anak autis identik dengan orang-orang berpunya, ini karena biaya terapi autis memang terbilang sangat mahal sehingga hanya mereka yang bisa menjalani terapi. Sementara, orang-orang tua autis yang tergolong dhuafa tidak bisa menjangkaunya. Terlepas dari belum pastinya penyebab autisme, yang pasti masyarakat belakangan ini mulai ‘terusik’ oleh kehadirannya. Menurut sejumlah penelitian, jumlah penyandang autis kian hari kian meningkat (laporan terakhir dari negeri seberang tentang rasio perbandingan anak autis dan normal yakni 1:100, dan dianggap berlaku juga di Indonesia).

Konsekuensi Batin: Mengasuh Badai, Menguras Air Mata

Dilihat dari beban yang harus ditanggung oleh anak autis maupun orang tua­ nya, gangguan ini terasa amat memilukan. Bisa dibayangkan betapa remuknya hati para orang tua yang tidak siap mental bila harus ditakdirkan menerima titipan amanah seorang anak autis. Perasaan buntu menghadapi manusia-manusia spesial itu menyebabkan tidak sedikit para orang tua yang mengalami depresi, bahkan sampai broken home. Masih sangat panjang derai air mata yang dikuras dari keberadaan anak-anak autis.

Konsekuensi Lahir: Mencekik Dompet

Kepedihan di atas belum termasuk yang diakibatkan oleh beban upaya terapi yang harus ditanggung orang tua autis dengan mengeluarkan uang dalam jumlah habis-habisan, karena proses terapinya yang terbilang sangat mahal. Apalagi terapi untuk anak autis memakan waktu yang cukup lama dan tidak bisa dipastikan akhirnya, tergantung parah-tidaknya gangguan yang diderita. Sumber: rumahautis.org

35


36


37


38


Mendekat Tuhan.

Mereka juga sama seperti kita yang wajib menyembah Tuhannya.

39


40


41


42


thanks to.

A

llah yang maha segalanya, karena-Nya lah pameran ini dapat terselenggara. Ibu Retini, ibu terhebat didunia. Bapak Haji Djumadi, terimakasih atas perjuangannya untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga seting­ gi ini. Dona Apriani, terimakasih support, bantuan sampai detik ini. Bapak Syukron dengan singkat namun padat membantu, membim­bing sehigga karya ini Lahir. Bapak Misbah, Dosen keren yang membimbing penulisan Tugas Akhir. Dosen Pengajar Polimedia. Mba Sasha, Mas Denny Tumbelaka (KuFoto team) atas ilmu diluar kampusnya yang bahkan lebih dari yg didapat dikampus. Teman seperjuangan Hafidz, Zulfikar, Randy sohib paling the best, tempat diskusi dan bercanda. Seluruh sobat Angkatan I Fotografi Polimedia kita adalah ‘The Prototype’. HIMA Fotografi Polimedia. Seluruh Mahasiswa Program Studi Fotografi. Yayasan CAGAR dengan Rumah Autisnya, Staf Pengajar, Terapis, Relawan dan adik-adik siswa Rumah Autis Bekasi. Bapak Dani yang membantu menyadi penghubung dan memberi informasi seputar Autis dan Irfan. Bapak Widi dan Ibu Nita, orang tua dari Irfan dan orang-orang hebat lainnya yang turut membantu saya mulai dari dilahir kan hing­ga kini, yang tak bisa disebutkan satu persatu. Tengs Beraaaat!

43


biografi singkat.

M

anusia yang lahir tanggal 21, bulan September, tahun seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan yang di beri nama ARIF WIBOWO ini mulai berminat di dunia jurnalistik mulai di bangku SMP. Aktif menekan shutter sejak tahun 2008 lalu tekun dengan fotografi setelah masuk D3 Program Studi Fotografi di Politeknik Negeri Media Kreatif. penghargaan Polimedia Photo Award 2011 kategori Jurnalistik dan Best Photo di 3rd Portraits LIFO UI pernah diraih. Fotojurnalistik dipilih sebagai langkah hidup. Karya-karya yang pernah dihasilkan bisa dilihat dari blog pribadinya di alamat : thearifwibowo.tumblr.com atau me-scan QR Code dibawah ini:

44


Pameran tunggal

Fotografi

ARIF WIBOWO 03足-08 okt 2013

45


46

SAMA. (Essay-Photo By Arif Wibowo  

Mengintip Dunia Anak Autis. This a book published as an introduction to a solo exhibition of photography.

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you