Issuu on Google+

Indonesian Up Date

Maret 2009

15

Artis Ramai-ramai Jadi Caleg Pemilu 2009 ini bakal lebih semarak dan greng. Hem.., mengapa? Banyak artis nan cantik dan ganteng dalam pesta demokrasi lima tahunan ini menjadi calon anggota legislatif (caleg). Sejumlah partai politik (parpol) peserta Pemilu 2009 memang banyak yang menggaet artis untuk dijadikan caleg mereka. Semua pun menjadi paham.

P

emasangan caleg dari artis tersebut tiada lain kecuali untuk mendulang suara besar dari ketenaran artis tersebut di tengah masyarakat. Mengingat, kalangan artis jauh lebih dikenal masyarakat ketimbang kader partai sendiri meski otak mereka lebih encer. Apalagi, anggota dewan yang terhormat (DPR-RI) juga tak membutuhkan orang berotak encer saja. Maka, artis pun bisa dipakai. Ini fenomena menonjol dalam komposisi caleg Pemilu 2009. Yakni, maraknya caleg dari panggung hiburan (artis). Artis dari berbagai ranah entertainment, mulai ‘dilebeli’ partai menjadi bagian dari strategi pemasaran politik guna mendulang suara sebesar-besarnya dari kontestasi politik, yakni Pemilu 2009 ini. Maka, pesta demokrasi akan menghadirkan ornamen kian ge-

merlap dengan hijrahnya “para penghibur” ke dunia politik itu. Sebuah hijrah dari panggung simbolik hiburan ke panggung politik, yang kerapkali samasama membangun realitas mimpi, bahkan hyper reality. Panggung hiburan dan panggung politik sama-sama menuntut citra, reputasi, publisitas, koneksi dan lain-lain di luar substansi peran dan tanggung jawab publik masing-masing. Tak tanggung-tanggung, partai politik yang di masa sebelumnya lekat dengan caleg dari kaum intelektual seperti PAN, kini memboyong sejumlah artis dalam daftar calegnya. Deretan nama para pesohor seperti Wulan Gurtino, Marini Zumarnis, Eko Patrio, Ikang Fawzi, Derry Drajad, Adrian Maulana, Raslina Rasyidin, Tito Soemarsono, Maylaffayza, Mandra, Mara Karma, Cahyono, Krisna Mukti, Henidar Amroe, Eka Sapta, Lucky Artadipraja, Intan

Sevilla, Poppy Maretha, Irene Librawati terpampang menjadi ‘jualan manis’ PAN. Begitu pun dengan Partai Golkar, caleg artis yang diusungnya antara lain, Tantowi Yahya, Nurul Arifin, Jeremy Thomas dan

Dharma Oratmangun. Caleg artis dari kubu PPP adalah Marissa Haque, Evie Tamala, Lyra Virna, Ferry Irawan, Okky Asokawati, Ratih Sanggarwati, Emilia Contessa, Denada, Mieke Wijaya, Rahman Yacob, dan Soultan Saladin. Sementara PDIP memasang Rieke Dyah Pitaloka, Edo Kondologit dan Dedy “Mi`ing” Gumelar. Fenomena ini pun terjadi di partai-partai peserta Pemilu 2009 lainnya. Banyak dari para caleg artis tadi, tanpa harus berkecimpung dan berkeringat dalam mekanisme kepartaian bisa dengan nyaman tampil menjadi politisi dadakan. Dalam konteks ini seringkali caleg instan atau caleg dadakan seperti artis mendapatkan momentumnya. Lantas, salahkah jika sang artis terlibat di panggung politik? Tentu saja tidak, karena partisipasi politik merupakan hak setiap warga negara. Terlebih jika artis-artis itu sejak awal membangun kapasitas individualnya dalam memahami, mengerti dan memperjuangkan nilai-nilai politik yang diyakini mereka. Sementara aktualnya minat berpolitik caleg artis tak lepas dari adanya distribusi power dlam komposisi penetapan caleg. Sebuah distribusi yang dalam tradisi politik di Indonesia memungkinkan laris-manisnya caleg elite atau caleg dadakan.

Inilah salah satu kekuatan para artis dari dunia hiburan. Banyak dari mereka telah memiliki kekuatan finansial memadai. Artis bisa menjadi salah satu lumbung partai selain juga dapat mendongkrak popularitas partai bersangkutan. Sangat wajar jika banyak partai politik meminang para artis guna meningkatkan pendapatan partai sekaligus dapat memanfaatkan free ride publicity dari sosok “si penghibur” tadi. Kekuatan yang ada pada sosok si penghibur karena keahliannya. Kita tak menyangkal, bahwa ada juga artis yang menjadi caleg betul-betul karena dia memang memiliki kemampuan di ranah politik. Sebagai contoh, sebut saja misalnya nama Nurul Arifin (Caleg Partai Golkar) dan Rieke Dyah Pitaloka (Caleg PDIP). Selain mereka rajin mengasah pengetahuan politik di pendidikan formal dan LSM, mereka juga banyak terlibat secara serius di isu-isu yang terkait dengan perhatian mereka. Sekali lagi perlu kita tegaskan, berbondong-bondongnya para artis hijrah dari panggung hiburan ke panggung politik, jangan sekedar menjadi ornamen glamournya partai yang mencalonkan, akan tetapi menjadi momentum artikulasi politik mereka di dunia nyata dan bukan di dunia peran. arie/toto

Mereka di Komisi VIII & X DPR-RI

J

ika sejumlah artis mampu meraup sekitar 33.000 suara, maka dipastikan akan benar-benar melenggang ke Senayan. Dengan pasti Komisi VIII dan X DPR RI akan penuh dengan gawajah-wajah yang akrab dengan pemirsa televisi di seluruh Indonesia. Mengapa? Sekadar diketahui, artis caleg yang lolos itu menyatakan keinginannya untuk berkantor di Komisi VIII dan X DPR RI jika terpilih menjadi anggota DPR RI dalam pemilihan legislatif 2009 mendatang. Komisi VIII adalah komisi di DPR RI yang membidani isu-isu agama, sosial dan pemberdayaan perempuan. Sementara Komisi X membidangi isu pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian, perfilman, kebudayaan dan perpustakaan. Dengar saja pengakuan pelawak Eko Patrio, rocker Ikang Fawzi, pembawa acara Sonny Tulung dan aktris Tamara Geraldine yang hadir dalam sarasehan artis caleg di Financial Club, Graha Niaga Jakarta. “Eko ingin berkarya dalam jalur yang sesuai dengan keahlian Eko; pendidikan, seni dan budaya,” ujar artis yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN) di daerah pemilihan Jawa Timur VIII ini. Sementara itu, Tamara mengaku tak ingin ngotot untuk duduk di Komisi X, jika Partai Damai Sejahtera (PDS) sebagai partai yang mengusungnya memiliki kebijakan yang berbeda. Namun dirinya memiliki visi besar jika diizinkan berkarya melalui komisi ini. “Olahraga itu adalah basis pembangunan

bangsa. Kalau saya di Komisi X, saya ingin membubarkan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Pemuda dan olahraga itu dua hal yang berbeda. Pemuda untuk regenerasi, sementara olahraga itu pembibitan untuk bidang olahraga,” ujar Tamara yang harus bertarung dengan Puan Maharani (PDI-P) dan Hidayat Nur Wahid (PKS) di dapil Jawa Tengah V. Sejumlah aktris yang juga menyatakan keinginannya untuk berkarya melalui Komisi VIII adalah Jane Salimar, Inggried Kansil, Marini Zumarnis dan Venna Melinda. Inggried yang diusung oleh Partai Demokrat di dapil Jawa Barat IV ini mengaku akan fokus ke masalah pendidikan dan pemberdayaan perempuan mengingat kondisi pendidikan dan perempuan di negara ini perlu dibangun. arie/dila


page 15