Page 1


COMMUNICATION

ISSN 2086 - 5708

Volume 6, Nomor 1 April 2015

Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Budi Luhur, dua kali dalam setahun. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan sebagai media pertukaran informasi, pengetahuan yang berlandaskan perkembangan, dan kajian Ilmu Komunikasi serta keterkaitannya dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan lainnya.

Penasihat

: Dr. Krisna Adiyarta, M.Sc

Penanggung Jawab

: Dr. Hadiono Afdjani, MM.,M.Si.

Pemimpin Redaksi

: Dr. Umaimah Wahid, M.Si

Ketua Editor

: Dudi Iskandar, M.I.Kom

Dewan Editor

: Indah Suryawati, M.Si Nawiroh Vera, M.Si Ahmad Toni, M.I.Kom Muhammad Isnaini, M.I.Kom

Tata Letak

: Arief Ruslan, M.Sn

Sekretaris

: Armaini Lubis, MM

Alamat Redaksi Lembaga Riset, Universitas Budi Luhur, Jl. Ciledug Raya, Petukangan Utara, Jakarta Selatan 12260. Tel. 021-5853753, Fax. 021-7371164, 5853752 Website : http://www.budiluhur.ac.id


EDITORIAL Pertama, adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan sebagai makhluk bertuhan, yaitu bersyukur atas segala karunia-Nya hingga detik ini. Tanpa karunia-Nya berwujud kesehatan, kekuatan, dan daya nalar, tidak mungkin karya kecil ini bisa dituntaskan serta dihadirkan ke hadapan pembaca. Kedua, sebagaimanusiabiasa yang membutuhkanteladan, sangatarifjikamemanjatkandoakeselamatanuntukteladanterbaiksepanjangmasa, Nabi Muhammad SAW. Karenaperilakunya, penulismasihmemegang agama rasionalini.Sehinggaberimplikasipositifbagipengembanganpribadi, keluarga, danmasyarakat. Jurnal Communication edisi ini menampilkan beberapa tulisan. Antara lain, Komunikasi Dalam Perspektif Pendekatan Islam(Telaah Teoretis tentang Kajian Komunikasi dengan Allah melalui Shalat dan Membaca Al-Qur’an)dari Zikri Fachrul Nurhadi yang mengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Garut, Jawa Barat. Selanjutnya adaStrategi Komunikasi Pemasaran Mobil Low Cost Green Car Melalui Sales Promotion Pada Pt. Astra Internasional Tbk Cabang Ciledug Kota Tangerangdari Rini Lestari Yang Kini Menjadi Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur, Jakarta.Content Website “101youngceo.Com� Sebagai Hubungan Komunikasi Dengan Pelanggan Hasil Penelitian Ricky Widyananda Putra Yang Juga Pengajar Di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta Selanjutnya tulisan berjudul Strategi Komunikasi Pemasaran Dalam Membangun Kesadaran Merek(Studi Kasus Private Label pada Fast Moving Consumer Goods Giant Ekstra Central Business District, Bintaro, Tangerang Selatan) dari Rachmi Kurnia Siregar lulusan Magister Komunikasi Universitas Budi Luhur, Jakarta. Tulisan Analisis Hubungan Antara Media Sosial Dan Kesadaran Merek(Studi Kasus pada Komunitas Backpacker Indonesia Wilayah Jabodetabek) dari Putti Nurul Chairani dan Ulani Yunusdari Marketing Communication Department, Faculty of Economic and Communication, Binus University, Jakarta. Pemberitaan Media Penyiaran Terkait Peristiwa Bencana Gempa Bumi Berpotensi Tsunami (Analisis Wacana Kritis Naskah Siaran Radio Sindo Trijaya FM pada 11 April 2012) karya Dyah Rachmawati (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dan terakhir Fashion Sebagai Media Komunikasi (Analisis Semiotik Fashion Kontroversial Lady Gaga) hasil penelitian Christiany Judithapegawai Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Makassar, Kementerian Komunikasi dan Informatika Tidak ada keparipurnaan selain Tuhan. Begitu juga dengan karya ini. Akan sangat bijak jika kamimembuka pikiran dan hati untuk membuka kritik dan saran. Kapan dan di mana pun. Hanya kepada Tuhanlah, kamikembalikan semua usaha keras, usaha cerdas, dan usaha ikhlas ini. Semoga, Ia selalu mencurahkan rahmat, hidayah, dan taufik-Nya kepada kita semua. Amiin.

Jakarta, April 2015 Redaksi


DAFTAR ISI

COMMUNICATION

ISSN 2086 - 5708

Volume 6, Nomor 1 April 2015 FASHION SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI (Analisis Semiotik Fashion Kontroversial Lady Gaga) Christiany Juditha PEMBERITAAN MEDIA PENYIARAN TERKAIT PERISTIWA BENCANA GEMPA BUMI BERPOTENSI TSUNAMI (Analisis Wacana Kritis Naskah Siaran Radio Sindo Trijaya FM Pada 11 April 2012) Dyah Rachmawati ANALISIS HUBUNGAN ANTARA MEDIA SOSIAL DAN KESADARAN MEREK (Studi Kasus Pada Komunitas Backpacker Indonesia Wilayah Jabodetabek) Putti Nurul Chairani Dan Ulani Yunus STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DALAM MEMBANGUN KESADARAN MEREK (Studi Kasus Private Label Pada Fast Moving Consumer Goods Giant Ekstra Central Business District, Bintaro, Tangerang Selatan) Rachmi Kurnia Siregar CONTENT WEBSITE “101YOUNGCEO.COM” SEBAGAI HUBUNGAN KOMUNIKASI DENGAN PELANGGAN Ricky Widyananda Putra STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN MOBIL LOW COST GREEN CAR MELALUI SALES PROMOTION PADA PT. ASTRA INTERNASIONAL TBK CABANG CILEDUG KOTA TANGERANG Rini Lestari KOMUNIKASI DALAM PENDEKATAN ISLAM (Telaah Teoretis Tentang Kajian Komunikasi Dengan Allah Melalui Shalat Dan Membaca Al-Qur’an) Zikri Fachrul Nurhadi

1

19

37

48

71

89

105


Communication ISSN 2086-5708 Volume 6, Nomor 1 April 2015 Terbit dua kali setahun April dan Oktober berisi tulisan yang diangkut dari bidang Ilmu Komunikasi

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan diberikan kepada para pakar selaku mitra bestari yang telah bersedia menjadi reviewer dalam jurnal Communication Volume 6, Nomor 1 April 2015 Daftar mitra bestari tersebut yaitu : Prof. H. Deddy Mulyana, Ph.D. M.A. (Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung) Prof. Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si. (Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten) Yuliandre Darwis, Ph.D (Pengajar Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas) Dr. Turnomo Rahardjo (Pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro) Dr. Eko Harry Susanto (Pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Taruma Negara)


FASHION SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI (ANALISIS SEMIOTIK FASHION KONTROVERSIAL LADY GAGA) CHRISTIANY JUDITHA email: christiany.juditha@kominfo.go.id Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Makassar, Kementerian Komunikasi dan Informatika ABSTRACT American pop singer Lady Gaga is known for controversial with her fashions unusual. Many religious groups in several countries rejected it because of the controversy. The reason Lady Gaga often use symbols that are insulting and blasphemous religious costumes reflected her shows. This study aimed to get a picture of Lady Gaga's controversial fashion as a medium of communication. The method used is to approach Pierce semiotic analysis to determine the meaning of the symbols in fashion Lady Gaga controversy which consists of a sign, object and interpreter. The result of the study concludes that Lady Gaga is known for using the symbols of religious insult. However, despite much criticism, but through costumes that Lady Gaga wants to communicate about him being free and not governed by any rules and free to do whatever he likes, including wearing fashion. Keywords : fashion, media communication, semiotics, Lady Gaga. ABSTRAKPenyanyi pop Amerika Lady Gaga dikenal kontroversial dengan fashion-fashion-nya yang tidak lazim. Banyak kelompok agama disejumlah negara menolaknya karena kontroversi tersebut. Alasannya Lady Gaga sering menggunakan simbol-simbol yang menghina dan menghujat agama yang tercermin dari busana-busana show-nya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang fashion kontroversial Lady Gaga sebagai media komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis semiotik dengan pendekatan Pierce untuk mengetahui makna simbol-simbol pada fashion kontroversi Lady Gaga yang terdiri dari tanda, objek dan penafsir. Hasil penelitian meyimpulkan bahwa Lady Gaga dikenal karena menggunakan simbol-simbol penghinaan agama. Namun meskipun banyak mendapat kritikan, tetapi melalui kostumkostumnya itu Lady Gaga ingin mengkomunikasikan tentang dirinya yang bebas dan tidak diatur oleh aturan apapun serta bebas melakukan apa saja yang ia sukai termasuk mengenakan fashion. Kata kunci : fashion, media komunikasi, semiotika, Lady Gaga. PENDAHULUAN Masih hangat dibenak kita bagaimana konser artis pop Amerika, Lady Gaga yang rencananya akan digelar di Indonesia 3 Juni 2012, gagal total. Penolakan berbagai kelompok masyarakat

baik itu kelompok-kelompok Islam garis keras dan anggota DPR sampai menteri agama harus dihadapi artis seksi ini. Penolakan ini dipicu karena Lady Gaga dinilai sebagai artis yang sering menggunakan pakaian seksi serta gerakan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

1


tarian erotisnya yang akan merusak generasi muda. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan ada 8 elemen yang memberi masukan agar konser Lady Gaga tersebut tidak diberi rekomendasi yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI), Fraksi PPP dan PKS, Front Umat Islam (FUI), Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Umat Anti Maksiat (Gumam), Wahdah Islamiah dan Lembaga Adat Besar RI. Karenanya promotor Lady Gaga membatalkan konser setelah kalangan Islam garis keras mengancam akan melakukan tindakan kekerasan jika konser tersebut tetap dilakukan. Bahkan Front Pembela Islam, atau FPI, telah mengancam akan mengerahkan 30.000 anggotanya untuk secara fisik mencegah konser Lady Gaga sejak turun dari pesawat. Polisi Indonesia pun telah menolak untuk mengeluarkan ijin yang diperlukan kecuali jika Lady Gaga bersedia untuk mengikuti semua aturan yang berlaku di Indonesia padahal lebih dari 52.000 tiket telah terjual habis (Voaindonesia.com, 2012). Indonesia bukan satu-satunya negara yang yang menolak konser Lady Gaga. Korea Selatan, Pilipina dan Malaysia juga menolak artis nyentrik ini. Kelompokkelompok Kristen di Korea Selatan menghendaki ikon pop Lady Gaga membatalkan konsernya di Korea. Karena menilai Lady Gaga simbol pornografi dan mengkampanyekan homoseksual. Pemerintah Korea Selatan telah tunduk kepada tekanan publik dan melarang warga berusia dibawah 18 tahun menghadiri konser Lady Gaga. Tak hanya dari aktivis agama, aktivis sosial yang menamakan diri mereka sebagai Alliance for Sound Culture In Sexuality juga menyuarakan keprihatinan terhadap pertunjukkan konser LadyGaga yang dianggap porno. Mereka mengadakan pertemuan masal dan doa bersama untuk menolak konser Gaga. Poster-poster penolakan juga ditempel di setiap sudut kota dengan menyebutkan bahwa Lady

Gaga telah menyebarkan budaya seksualitas yang tidak sehat. Hampir sama dengan, Korea Selasan, di Filipina juga terjadi gelombang demo dari berbagai kelompok dan ormas agama. Salah satunya dari kelompok yang bernama i Filipino Christian Youths (FCY). Kelompok ini menggalang ratusan demonstran, dan membuat poster-poster penolakan Gaga. Salah satu yang menonjol dari bunyi poster demo adalah kecaman terhadap lagu berjudul ―Judas‖ milik Lady Gaga yang dinilai menghina Tuhan. Sementara di Malaysia sendiri, Menteri Koordinator Hukum dan Keamanan Malaysia, Dato Seri Mohamed Nazri Bin Abdul Azis, menegaskan pihaknya mengambil keputusan yang sama dengan pemerintah Indonesia, yang melarang konser penyanyi pop tersebut di negaranya (Shoutussalam, 2012). Sejak awal pemerintah Malaysia telah menolak permohonan konser penyanyi ini. Tidak hanya itu saja, negara ini juga melarang semua lagu-lagunya masuk. Bulgaria dan Cina juga merupakan negara lainnya yang memprotes konser Lady Gaga yang akan diselenggarakan di negara mereka. Gereja Ortodoks Bulgaria merasa bahwa lirik lagu dan juga penampilan penyanyi itu mendorong orang lain untuk berbuat dosa. Uskup Znepole Yoan mengatakan bahwa perbuatan dosa itu tidak patut dibanggakan. Sedangkan Cina yang merupakan negara komunis yang juga menolak kedatangan dan konser Lady Gaga. Langkah yang diambil oleh pemerintah China sama dengan Malaysia, yaitu dengan melarang lagu-lagu Gaga beredar di negeri tirai bambu ini (Ciricara, 2012). Sementara itu, Lady Gaga sendiri memilih membatalkan konser daripada harus mematuhi peraturan sensor dan tekanan kelompok agama. Manajer Lady Gaga, Troy Carter, mengatakan bila dipaksa menggelar konser secara 'lebih sopan' Lady Gaga akan membatalkan jadwal konser. Menurut Carter kelompokkelompok garis keras di Korea Selatan,

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

2


Filipina, dan Indonesia tidak akan bisa dipuaskan dan karena itu Lady Gaga tidak akan mengubah penampilan. Manajemen Lady Gaga berpendapat ada kesenjangan budaya dan generasi yang kemudian muncul aspek politik dan agama. Persoalan ini lebih rumit dari hanya sekedar baju-baju Lady Gaga (BBC, 2012). Penolakan dari negara-negara ini memunculkan berbagai pertanyaan yang menarik untuk dikaji soal sosok Lady Gaga dengan segala kontroversinya. Hal yang menarik karena penyanyi Pop ini sering menggunakan baju-baju (fashion) untuk keperluan show yang dinilai kontroversi dan ditolak banyak kalangan religi. Benarkah fashion-fashion yang dikenakan Lady Gaga seperti yang disangkakan banyak kalangan sebagai media yang menggambarkan diri dan apa yang dianut olehnya? Karena itu berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana fashion kontroversial Lady Gaga sebagai media komunikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang fashion kontroversial Lady Gaga sebagai media komunikasi. KERANGKA PEMIKIRAN Secara etimologis, fashion berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu ‗factio‘, yang artinya membuat atau melakukan. Kata lain yang mengawali kata fashion adalah ‗facere‘ yang artinya juga membuat dan melakukan. Karena itu, arti asli kata fashion mengacu pada hal yang berkaitan dengan suatu kegiatan. Jadi, fashion merupakan sesuatu yang dilakukan seseorang. Bukan hanya seperti pemaknaan yang dewasa ini lebih mengemuka, yakni memaknai fashion sebagai sesuatu yang dikenakan oleh seseorang (Barnard, 2011:11). Dalam fashion sebagai komunikasi, Barnard membahas fashion dan pakaian sebagai cara mengkomunikasikan identitasidentitas kelas, gender, seksualitas dan

sosial dan dipahami sebagai fenomena modern dan posmodern. Berbicara tentang fashion atau pakaian sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang sangat erat dengan diri kita. Tak heran, kalau dalam kata-kata Thomas Carlyle, pakaian menjadi ―perlambang jiwa‖ (emblems of the soul). Pakaian bisa menunjukkan siapa pemakainya. Dalam kata-kata tersohor dari Umberto Eco, ―I speak through my cloth‖ (aku berbicara lewat pakaianku). Pakaian yang kita kenakan membuat pernyataan tentang busana kita. Bahkan jika kita bukan tipe orang yang terlalu peduli soal busana, orang yang bersua dan berinteraksi dengan kita tetap akan menafsirkan penampilan kita seolah-olah kita sengaja membuat suatu pesan. Pernyataan ini membawa kita pada fungsi komunikasi dari pakaian yang kita kenakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam suasana formal maupun informal Komunikasi artifaktual didefinisikan sebagai komunikasi yang berlangsung melalui pakaian, dan penataan pelbagai artefak, misalnya, pakaian, dandanan, barang perhiasan, kancing baju, atau furnitur di rumah dan penataannya, ataupun dekorasi ruangan. Karena fashion atau pakaian menyampaikan pesan-pesan nonverbal, ia termasuk komunikasi non verbal. (Barnard, 2011:vi-vii). Davis mengatakan bahwa fashion sendiri dapat diartikan sebagai komunikasi non-verbal karena tidak menggunakan kata-kata lisan maupun tertulis Tidak sulit untuk memahami fashion sebagai komunikasi non-verbal, meskipun garmen diungkapkan dalam kata-kata seperti merk maupun slogan, disana tetap saja ada level komunikasi non verbal yang memperkuat makna harfiah slogan atau merek tersebut. Sedangkan Eco mengatakan bahwa pertanyaaan pasti muncul setelah sebuah pernyataan fashion dan pakaian diartikan sebagai bentuk komunikasi non verbal. Eco menyatakan ―berbicara melalui pakaianya‖, yang dimaksud disini adalah menggunakan pakaian untuk melakukan apa yang dilakukan dengan kata-kata

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

3


maupun lisan dalam konteks lain (Barnard, 2011). Pengirim dalam fashion ini adalah hal yang sangatlah penting, karena pesan yang berada diatas segalanya, mesti disusun berdasarkan prinsip bias diperoleh kembali (retrievable) atau bisa ditemukan (discoverable). Pesan yang tak pernah diperoleh bukanlah pesan dan komunikasi tak bisa berlangsung dalam kondisi seperti itu. Efisiensi atau efektivitas proses transmisi juga penting; bila pesan tak sampai pada penerima atau sampai dalam bentuk yang berbeda atau terdistorsi, maka salah satu bagian dari proses komunikasinya, mungkin mediumnya dipandang mengandung kegagalan. Dan, efek pada penerima sangat penting dalam pandangan mahzab ini karena efek pada penerima itulah yang membentuk interaksi; interaksi sosial di sini dirumuskan sebagai proses yang dengannya seorang memengaruhi perilaku, pikiran atau respon emosional orang lain (Fiske, 1990: 2). Fiske (1990) menegaskan bahwa komunikasi tidak dilihat hanya sebagai transmisi pesan, melainkan juga pada produksi dan pertukaran pesan, yaitu dengan memperhatikan bagaimana suatu pesan atau teks berinteraksi dengan masyarakat yang bertujuan memproduksi makna. Konsep ini menunjukkan bahwa pesan adalah susunan tanda-tanda yang menghasilkan makna. Karena itu, teks dan bagaimana membacanya menjadi bagian yang penting dalam proses pemaknaan. Di sini yang dimaksud dengan membaca adalah proses menemukan makna-makna ketika seseorang berhadapan dengan teks. Dengan demikian, pengertian pesan selanjutnya mengacu pada pengertian makna. Secara intuitif untuk menyatakan bahwa seseorang mengirim pesan tentang dirinya sendiri melalui fashion dan pakaian yang dipakainya. Berdasar pengalam sehari-hari pakaian dipilih sesuai dengan apa yang akan dikakukan pada hari itu, bagaimana suasana hati seseorang, siapa

saja yang akan dietemuinya dan seterusnya, tampaknya hal ini menegaskan bahwa fashion dan pakaian dipergunakan untuk mengirimkan pesan tentang diri seseorang kepada orang lain. Dalam pemikirannya, Gramsci (1971) memaparkan bagaimana ideologi selalu berada dalam konfrontasi dengan ideologi lain, hingga ada satu diantaranya cenderung mampu bertahan dan mengokohkan dirinya dalam suatu masyarakat. Pemikiran Gramsci tentang hegemoni ini jelas terlihat dalam industri fashion dimana fashion, sebagai representasi dari ideologi dibelakangnya, selalu mengalami kontestasi untuk menjadi pilihan gaya hidup masyarakat. Walaupun tidak berarti mematikan ideologi lain namun dalam kontestasi ini dapat terlihat bahwa masyarakat pada kelas sosial tertentu cenderung untuk memilih satu gaya berpakaian tertentu. Roach & Eicher (1979:18) berpendapat bahwa fashion atau pakaian/busana/baju telah menjadi fenomena kultural ketika hal itu menunjukkan praktik-praktik penandaan. Melalui fashion, berproses dengan caranya sendiri dialami dan dikomunikasikan tatanan sosial. Fashion dan pakaian secara simbolis mengikat satu komunitas Hal ini menunjukkan bahwa kesepakatan sosial atas apa yang akan dikenakan merupakan ikatan sosial itu sendiri, yang pada gilirannya akan memperkuat ikatan sosial lainnya. Fungsi mempersatukan dari fashion dan pakaian berlangsung untuk mengkomunikasikan keanggotaan satu kelompok kultural baik kepada orangorang yang menjadi anggota kelompok tersebut maupun bukan. Perlindungan, kamuflase, kesopanan dan ketidaksopanan, semuanya mengkomunikasikan suatu posisi dalam dalam suatu tatanan sosial dan kultural, baik pada anggota tatanan itu maupun yang berada di luar tatanan itu. Fashion juga melibatkan tanda dan kode. Tanda adalah material atau tindakan yang menunjuk pada ‗sesuatu‘, sementara kode adalah sistem di mana tanda-tanda

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

4


diorganisasikan dan menentukan bagaimana tanda dihubungkan dengan yang lain. Disain fasyen yang dikenakan, jenis bahan, merek, adalah tanda-tanda yang tersusun dalam kode-kode sesuai dengan konteks penggunaanya. Pemilihan disain pakaian yang dihubungkan dengan bahan dan merek dari pakaian tersebut secara sistemik disusun untuk menyampaikan atau mengkomunikasikan posisi sosial dari peng-gunannya. Sehingga komunikasi yang terjadi bukan sematamata melalui bahasa verbal namun dilakukan melalui pesan-pesan dalam tanda. Hal ini sesuai dengan pendapat Fiske bahwa komunikasi atau interaksi sosial dapat dilakukan melalui pesan. Roach & Eicher (1979:7-8) mengatakan bahwa pakaian dan fashion digunakan untuk merefleksikan, meneguhkan, menyembunyikan, atau membangun suasana hati. Warna cerah dan kontras bisa saja merefleksikan hati yang gembira, setidaknya di bagian-bagian tertentu. Jadi, setidaknya untuk untuk orang–orang yang memakai pakaian dengan garis dan warna yang kontras bisa mengekspresikan suasana hati yang gembira pada orang lain dan juga meneguhkan suasana hati yang sama pada pemakainya. Mengenakan pakaian yang dipersepsi sebagai keceriaan dan kegembiraan, mungkin digunakan dalam upaya untuk mengubah suasana hati orang, dari bersedih menjadi gembira. Individuindividu pun mungkin memperoleh kesenangan estetis baik dari ―penciptaan pameran pribadi‖ maupun dari apresiasi dari orang lain, meski sifat-sifat estetis ini tak pelak akan memberikan makna nonestetis. Hal tersebut akan ditafsirkan atau digunakan untuk menunjukkan bahwa pakaian bukan hanya sekadar menunjukkan estetika. Roach dan Eicher menunjukkan bahwa daya hidup emosional manusia agak bergantung pada kemampuannya untuk menjaga keseimbangan antara menyesuaikan diri dengan masyarakat dan menjaga identitas dirinya.

Penelitian ini mengkaji fashion kontroversi Lady Gaga yang dianalisis dengan secara semiotik. Semiotik sendiri berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ―tanda‖. Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik inferensial (Sobur, 2004:95). Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis, semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (van Zoest, 1993:1). Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Ahli sastra Teeuw (1984:6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala sastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dipelajari secara lebih sistematis pada abad kedua puluh. Dalam analisis semiotiknya Peirce membagi tanda berdasarkan sifat ground menjadi tiga kelompok yakni qualisigns, sinsigns dan legisigns. Qualisigns adalah tanda-tanda yang merupakan tanda berdasarkan suatu sifat. Legisigns adalah tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi, sebuah kode. Peirce memfokuskan diri pada tiga aspek tanda yaitu ikonik, indeksikal dan simbol. Ikonik adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk obyeknya (terlihat pada gambar atau lukisan). Indeks adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan petandanya, sedangkan simbol adalah penanda yang melaksanakan fungsi sebagai penanda

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

5


yang oleh kaidah secara kovensi telah lazim digunakan dalam masyarakat. Model tanda yang dikemukakan Peirce adalah trikotomis atau triadik, dan tidak memiliki ciri-ciri struktural sama sekali (Hoed, 2002:21). Prinsip dasarnya adalah bahwa tanda bersifat reprsentatif yaitu tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain (something that represent ssomething else). Proses pemaknaan tanda pada Peirce mengikuti hubungan antara tiga titik yaitu representamen (R)-Object (O)Interpretant (I). R adalah bagian tanda yang dapat dipersepsi secara fisik atau mental, yang merujuk pada sesuatu yang diwakili olehnya (O). Kemudian I adalah bagian dari proses yang menafsirkan hubungan antara R dan O. Oleh karena itu bagi Pierce, tanda tidak hanya representatif, tetapi juga interpretattif. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis semiotik dengan pendekatan kualitatif. Analisis semiotik adalah analisis yang meneliti tentang tanda yang dalam penelitian ini adalah tanda dan simbol-simbol yang terdapat pada fashion kontroversi penyanyi pop Lady Gaga. Penerapan analisis semiotik membuka peluang untuk menyingkapkan lebih banyak arti yang mendasari teks, yang diambil secara keseluruhan, ketimbang yang akan mungkin dilakukan dengan hanya mengikuti kaidah tata bahasa atau berpedoman pada arti kamus dari kata-kata yang terpisah. Cara ini mengandung manfaat khusus yang dapat diterapkan pada ‗teks‘ yang mencakup lebih dari satu sistem tanda dan tanda (misalnya kesan visual dan bunyi) untuk mana tidak ada tata bahasa yang ditetapkan dan kamus juga tidak tersedia (McQuail, 1996). Dalam penelitian ini teks yang diteliti mencakup foto, gambar dan video fashion Lady Gaga. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan mendokumentasikan data-data yang

diperoleh dari berbagai sumber baik dari buku teks dalam bentuk teori dan konsepkonsep, dokumentasi fashion-fashion dari sejumlah penampilan dan konser/show Lady Gaga dari berbagai media, serta artikel-artikel pendukung yang berhubungan dengan pengayaan penelitian ini. Observasi juga dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung melalui media internet (Youtube) yang mendokumentasikan berbagai video show atu penampilan Lady Gaga I berbagai tempat dan waktu juga beberapa video klip albumnya. Unit analisis penelitian ini adalah foto, gambar dan video fashion Lady Gaga diberbagai acara. Adapun unit analisis yang akan dikaji, ditentukan secara acak dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu dimana fashion tersebut terbilang kontroversi oleh berbagai pihak karena mengandung simbol-simbol terselubung dari apa yang dianut oleh Lady Gaga. Sedangkan teknik analisis data adalah setelah data primer dan sekunder terkumpul, data kemudian dikoding dan diklasifikasi sesuai dengan kategori yang diteliti. Setelah itu kemudian dilakukan analisis data secara deskriptif dengan menggunakan teknik analisis semiotik Pierce. Pierce mengembangkan semiotik untuk mengetahui makna simbol-simbol pada objek (fashion kontroversi Lady Gaga). Adapun kategori yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah Tanda, Objek dan Penafsiran oleh Peirce (Fiske, 2011:45) yang digambarkan pada tabel berikut ini: Tabel 1. Kategori Semiotik Fashion Kontroversi Lady Gaga

Kategori Semiotik Fashion Kontroversi Lady Gaga 1. Tanda

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

Unit Analisis

Gambar, rupa, bentuk, warna pada fashion kontroversi 6


2. Objek

3. Penafsir

Lady Gaga Makna dari tandatanda yang ada pada fashion kontroversi Lady Gaga Sikap dan pola pemikiran masyarakat serta para ahli tentang fashion kontroversi Lady Gaga

Pesan-pesan atau tanda-tanda dalam fashion kontroversi Lady Gaga ini berupa gambar, rupa, bentuk maupun warna yang merupakan fenomena dari penyanyi Pop ini sebagai sesuatu yang penting untuk diteliti. Tanda-Tanda ini mengandung objek yang didalamnya ada konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda yaitu fenomena yang dianut Lady Gaga, sehingga menimbulkan interpretan atau konsep sikap dan pemikiran dari orang yang menafsirkan tanda tentang suatu makna tertentu tentang objek yang dirujuk oleh tanda. HASIL PENELITIAN Tanda, Objek dan Penafsir pada Berbagai Fashion Kontroversi Lady Gaga Siapa sebenarnya Lady Gaga, sang artis yang sangat terkenal di seluruh penjuru dunia ini sehingga beberapa kelompok di Indonesia menolak kehadirannya? Tidak lain adalah karena artis yang bernama lengkap Stefani Joanne Angelina Germanotta selalu tampil dengan berbagai konstroversi termasuk di negara asalnya pun, ia kerap jadi bahan perdebatan. Setidaknya, ada beberapa kontroversi mengenai Gaga (Tempo.co, 2012) antara lain cover album lagu ciptaannya berjudul Born This Way dianggap sudah mencapai level keanehan yang ekstrim. Pada sampul album ini, Gaga terlihat seperti manusia siluman. Bagian kepalanya ada di bagian atas stang sepeda motor dengan ekspresi wajah menggeram dan rambut awut-awutan,

bahunya menjelma jadi setang sepeda motor dengan kedua tangan menjadi besi yang tersambung pada roda motor bagian depan. Badannya tak lagi terlihat seperti manusia, tetapi menjadi sadel sepeda motor. Kontroversi berikutnya, pada tahun 2010, Gaga diwawancara kritikus rock The Telegraph Neil McCormick. Perempuan kelahiran 28 Maret 1986 ini bercerita, sebelum dia terkenal seperti sekarang, sumber pendapatan utamanya adalah dengan menjadi penari Burlesque. Sebagai penari, Gaga berdiri di atas panggung dengan hanya mengenakan thong (celana dalam minim yang tidak menutupi bagian bokong) yang talinya menggantung dibokongnya. Sedangkan lampu sorot yang menyinari rambut, menari go-go untuk Black Sabbath yang menyanyikan lagu-lagu tentang seks oral. Dan lagu-lagu semacam ini pun selalu tampak dalam lagu-lagu Gaga yang sekarang.

Gambar 1. Simbol kontroversi (mulai dari All-Seeing Eye, hingga Baphomet) yang selalu mengiringi pertunjukan Lady Gaga (berbagai sumber)

Kontroversi berikutnya, pada tahun 2010, Gaga diwawancara kritikus rock The Telegraph Neil McCormick. Perempuan kelahiran 28 Maret 1986 ini bercerita, sebelum dia terkenal seperti sekarang, sumber pendapatan utamanya adalah dengan menjadi penari Burlesque. Sebagai penari, Gaga berdiri di atas panggung dengan hanya mengenakan thong (celana

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

7


dalam minim yang tidak menutupi bagian bokong) yang talinya menggantung di bokongnya. Sedangkan lampu sorot yang menyinari rambut, menari go-go untuk Black Sabbath yang menyanyikan lagulagu tentang seks oral. Dan lagu-lagu semacam ini pun selalu tampak dalam lagu-lagu Gaga yang sekarang. Gaga juga mendapat kecaman terbuka karena video-video klipnya. Dalam video-videonya, ia kerap tampil separuh hingga sepenuhnya telanjang. Gaga menyajikan seks masokis seperti dalam lagunya berjudul Telephone serta mencampurkan adegan seks dan religi dalam Alejandro. Tidak puas dengan kehebohan lagu dan video klip Alejandro yang dianggap menghujat religi, Gaga meluncurkan lagu Judas Song. Lewat liriknya, Gaga menyatakan cintanya kepada Yudas, rasul yang mengkhianati Yesus atau Isa Almasih. Lagu ini bocor kepada publik beberapa hari menjelang Paskah. Banyak pihak menganggap ini disengaja dan bagian dari promosi.

keluar dari genital. Logo ini diartikan bahwa fokus kepada kurangnya kesadaran pikiran dari si penyanyi. Bagian badan terlihat seperti mannequins tanpa kepala aneh yang biasa dijumpai di toko pakaian. Sambaran petir mengimplikasikan tubuh tanpa pikirannya telah di ―charged‖ oleh suatu kekuatan yang memberikan hidup (Tribunnews, 2012).

Gambar 3. Lady Gaga dalam Berbagai Fashion (berbagai sumber)

Gambar 2. Fashion Lady Gaga dari kostum daging mentah, kembang api hingga Red Riding Hood (berbagai sumber)

Logo Lady Gaga juga banyak diperdebatkan karena mengungkapkan badan seorang wanita tanpa kepala dengan sambaran petir sepanjang tubuhnya dan

Gaga juga dikenal dengan beberapa simbol yang menjadi kontroversi yaitu patung kepala semacam kambing jantan bertanduk. Simbol ini muncul dalam beberapa klip video dan kostum Lady Gaga. Salah satunya dalam klip Bad Romance. Kambing jantan ini disebutsebut sebagai Baphomet, yang merupakan lambang gereja setan. Simbol berikutnya adalah si mata satu alias one eye. Lambang ini kerap muncul dalam konser dan klip videonya. Berwujud piramida, dimana terdapat satu mata pada bagian atas yang terpisah dari bawahnya. Lambang ini disebut-sebut sebagai lambang Illuminati yang bernama All-Seeing Eye yang artinya bisa melihat segalanya. Simbol Illuminati Mata Horus yang mengungkapkan sifat

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

8


sejati kekuatan Horus, putra Osiris dan Isis, dewa-dewi Mesir Kuno. Lady Gaga gemar sekali pada All-Seeing Eye, dan juga simbolisme rahasia. Ia pernah berpose dengan tangan mengacu pada Tangan Fatima (Hand of Fatima), gerak yang identik dengan Baphomet. Dalam berbagai fotonya, Gaga juga kerap berpose sambil menutupi satu matanya. Simbol lainnya yang sering digunakan Lady Gaga adalah salib terbalik dalam video klip Alejandro. Ini adalah lambang anti-Kristus, setan, dan okultisme (Tempo.co, 2012). Kajian tentang video klip Alejandro ini pernah diteliti oleh Amellia (2013) dengan judul ―Simbolisasi Illuminati pada Video Klip Lady Gaga (Analisis Semiotika Video Klip Lady Gaga versi Alejandro)‖. Kajian ini menyimpulkan bahwa tampilan visual dari video klip Lady Gaga versi Alejandro ini mempresentasikan simbolisasi Illuminati yang terlihat dalam lima tampilan. Tampilan-tampilan tersebut memperlihatkan adegan dimana para pemeran dalam video klip tersebut membentuk gesture-gesture yang menyimbolkan Illuminati, seperti simbol segitiga piramid dan mata horus. Selain itu juga ditemukan beberapa benda atau properti yang terdapat dalam adegan tersebut, seperti benda berbentuk lingkaran, segitiga, heksagram, tanduk, lensa teleskop, senjata dan pakain yang menjurus pada kepercayaan okultisme, paganisme, dan sejenisnya yang mencerminkan Illuminati. Artinya bahwa Penyanyi Pop Amerika ini sudah sangat fasih dengan simbol-simbol tersebut dalam setiap penampilannya dalam show. Berikutnya ada konstroversi tentang perusahaan es krim Covent Garden ice cream parlour The Icecreamists yang pernah meluncurkan rasa baru pada produk es krimnya yang dinamai Baby Gaga. Kandungan es krim ini berisi kacang polong dengan vanila, lemon, dan air susu ibu. Ternyata, Gaga tak menyukainya dan mengancam mengambil tindakan hukum. Perempuan ini juga pernah mengaku menyukai sesama jenis, sekaligus

menyukai lawan jenis (biseks). Pandangannya mengenai biseksual juga terlihat dalam lagu hitnya berjudul Poker Face.

Gambar 4. Lady Gaga dalam Berbagai Fashion (berbagai sumber)

Berikutnya ada konstroversi tentang perusahaan es krim Covent Garden ice cream parlour The Icecreamists yang pernah meluncurkan rasa baru pada produk es krimnya yang dinamai Baby Gaga. Kandungan es krim ini berisi kacang polong dengan vanila, lemon, dan air susu ibu. Ternyata, Gaga tak menyukainya dan mengancam mengambil tindakan hukum. Perempuan ini juga pernah mengaku menyukai sesama jenis, sekaligus menyukai lawan jenis (biseks). Pandangannya mengenai biseksual juga terlihat dalam lagu hitnya berjudul Poker Face. Gaga menjadi perdebatan dalam hal budaya populer karena penampilan, musik pop, dan gaya busananya. Professor Mathieu Deflem dari University of South Carolina pun menjadikannya sebagai penelitan dan membuat kajian akademis berjudul Lady Gaga and the Sociology of Fame. Gaga juga terbiasa mengenakan baju aneh. Ternyata karier Gaga telah diwarnai serangkaian pakaian yang nyeleneh. Misalnya baju Red Riding Hood alias seperti dalam cerita dongeng Si Tudung Merah, baju seperti surai singa dan sangkar burung, serta pakaian ala mandi busa. Dan yang paling kontroversi saat dia menggunakan busana dari daging hewan yang sudah mati rancangan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

9


desainer Argentina, Franc Fernandez ketika menghadiri MTV Video Music Awards 2010. Banyak orang yang mempertanyakan hal ini apakah ini seni yang berarti ungkapan pernyataan melawan penindasan? Atau justru sebaliknya, terlihat menjijikkan? Inilah yang menjadi perdebatan. Lady Gaga juga pernah tampil dengan sepatu yang tingginya 15 cm tanpa hak. Sepatu karya perancang Jepang, Noritaka Tatehana ini hanya bertumpu pada paruh kaki bagian depan saja. Pemilik label sepatu Prugna Indonesia, Dewi Arrum berpendapat bahwa model yang tampak ‗seram‘ yang dipakai Lady Gaga ini cukup aman dan nyaman untuk dipakai sehingga label sepatu milik Dewi juga terinspirasi untuk membuat model sepatu seperti itu namun sedikit modifikasi. Menurut Dewi semakin aneh modelnya, maka orang akan semakin senang membelinya (Kompas, 2012).

Gambar 5. Koleksi sepatu-sepatu ‗aneh‘ Lady Gaga (berbagai sumber)

PEMBAHASAN Lady Gaga dikenal karena pakaiannya yang provokatif dan ekstravagan serta pengaruhnya yang besar terhadap selebiritis lainnya. Gaga memiliki kegemarannya di bidang fashion yang dianggap paling nyentrik. Beberapa kostum Lady Gaga yang sangat menghebohkan dunia fashion antara lain baju yang terbuat dari daging mentah. Kabarnya, baju daging itu juga dikenakan

pada tur Born This Way Ball. Baju tersebut terbuat dari 100% daging asli yang telah melalui proses pengawetan panjang. Tak hanya bebas belatung, baju itu juga berbau wangi. Topi Paku Lady Gaga punya tempat sendiri untuk mempopulerkan koleksi fashion aneh dan eksentriknya. Seperti dua buah penutup kepala yang digunakannya. Salah satunya seperti batok penuh dengan paku, sedangkan topi lainnya membuatnya bagai ditutupi helai bulu dari lempeng logam berhiaskan manik-manik. Kostumkostum Lady Gaga untuk tur Asia (termasuk di Indonesia tetapi gagal) berkolaborasi dengan perancang busana ternama, Giorgio Armani. Armani mengatakan berkolaborasi dengan Lady Gaga selalu menjadi pengalaman yang sangat menarik. Kolaborasi Armani dan Lady Gaga ini bukan kerja sama untuk yang pertama kalinya. Armani pernah membuatkan baju untuk Gaga saat tampil di Grammy Awards 2010 (Detik.com, 2012). Setiap penampilannya, Lady Gaga tidak lepas dari hal-hal kontroversi. Mulai dari gaun, rambut, lirik lagu, performa konser, adegan video musik hingga simbol-simbol dalam pertunjukan dan videonya. Penyanyi bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta ini disebutsebut kerap menggunakan simbol dan gaya busana Illuminati untuk publisitas. Beberapa simbol yang menjadi kontroversi tersebut antara lain Patung kepala semacam kambing jantan bertanduk jantan. Simbol ini muncul dalam beberapa klip video dan kostum Lady Gaga. Salah satunya dalam klip Bad Romance. Kambing jantan ini disebut-sebut Baphomet, yang notabene lambang gereja setan. Simbol berikutnya adalah si mata satu alias one eye. Lambang ini kerap muncul dalam konser dan klip videonya. Berwujud piramida, terdapat satu mata pada bagian atas yang terpisah dari bawahnya. Disebutsebut sebagai lambang Illuminati. Lambang ini bernama All-Seeing Eye yang

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

10


artinya bisa melihat segalanya. Simbol Illuminati Mata Horus yang mengungkapkan sifat sejati kekuatan Horus, putra Osiris dan Isis, dewa-dewi Mesir Kuno. Lady Gaga gemar sekali pada All-Seeing Eye, dan juga simbolisme rahasia. Ia pernah berpose dengan tangan mengacu pada Tangan Fatima (Hand of Fatima), gerak yang identik dengan Baphomet. Dalam berbagai fotonya, Gaga juga kerap berpose sambil menutupi satu matanya. Ada pula simbol salib terbalik dalam video klip Alejandro. Ini adalah lambang anti-Kristus, setan, dan okultisme. Muncul dalam klip Alejandro. Dan nama Gaga sendiri yang thesaurus, berarti pikiran yang kosong. Sinonimnya adalah berkepala kosong, dungu, bertingkah sembarangan, sembrono, irasionalitas, gila, sakit jiwa. Penggunaan simbol-simbol ini oleh Lady Gaga dalam penampilannya masih menjadi perdebatan, apakah hal itu hanya sebagai mode dan style saja atau memang benar dia memang penganut dibalik simbol-simbol tersebut. Tidak hanya sekedar pelindung, fashion sebenarnya juga dapat menceritakan banyak hal tentang siapa diri yang sebenarnya bagi para menggunakannya. Bicara tentang fashion berarti bicara tentang sesuatu yang sangat erat dengan kehidupan. Kata ‗fashion‘ sendiri berasal bahasa Ingris yang artinya busana atau pakaian. Sedangkan jika dilihat dari bahasa Latin yang adalah ‗factio‘ artinya adalah membuat atau melakukan. Arti kata fashion sendiri mengacu pada kegiatan yaitu sesuatu yang dilakukan seseorang (Barnard, 2011:11). Tanpa disadari, fashion adalah alat komunikasi non-verbal yang dapat dilihat dari cara berpakaian. Fashion yang kenakan mencerminkan tentang siapa diri penggunanya. Dalam bukunya Fashion sebagai Komunikasi, Malcolm Barnard membahas bahwa fashion atau pakaian sebagai cara mengkomunikasikan identitas-identitas kelas, gender, seksualitas dan sosial.

Fashion juga merupakan cerminan dari ideologi sebuah kelompok. Secara nyata, fashion dapat menjadi identitas dari suatu kelompok sosial tertentu. Misalnya kelompok Punk dengan gaya berpakaian mereka yang nyentrik atau cara berpakaian orang-orang Barat yang kadang lebih memilih pakaian yang cenderung lebih terbuka sedangkan orang Timur dikenal dengan nilai kesopanan yang dalam berbusana cenderung lebih tertutup. Apa yang kemudian ditampilkan oleh Lady Gaga dalam fashion-fashionnya bisa jadi itulah cerminan ideologi sang penyanyi. Karena apa yang dikatakan oleh Carlyle, seperti dikutip Barnard (2011:vi), ketika seseorang memilih pakaian sebaiknya harus disesuaikan dengan kepribadian karena pakaian merupakan perlambangan jiwa yang menggunakan. Fashion Lady Gaga seperti yang diungkapkan perancang Giorgio Armani bahwa cara Gaga menggunakan fashion sebagai sumber inspirasi dan bentuk kepribadian Gaga yang menarik. Dan sekalipun ia mendapatkan kritikan pedas dari para kritikus dan menyulut kemarahan organisasi PETA saat menggunakan gaun dari daging mentah, Gaga tetap membela dirinya. Menurutnya, itu merupakan haknya untuk memakai apapun yang ia inginkan. Gaga juga mengatakan bahwa ia merupakan manusia yang paling bebas di bumi ini. Dan berpendapat jika ia tidak tidak membela apa yang ia percaya, dan tidak membela hak-haknya, maka ia akan segera memiliki banyak hal sebagai daging di tulangtulangnya (Okezone, 2010). Ini menunjukkan bahwa Lady Gaga memiliki jiwa bebas dan tidak ingin terikat dengan aturan apapun kecuali dirinya sendiri. Ideologi kebebasan inilah yang kemudian dikomunikasikan melalui kostum-kostum yang dipakainya yang kebanyakan ide-idenya berasal dari dirinya sediri yang kemudian diterjemahkan oleh sang desainer. Ia seolah tak pernah kehabisan ide untuk menciptakan fashionfashion baru. Gaga telah menjadikan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

11


fashion sebagai elemen penting dalam karier musiknya. Penyanyi yang mengidolakan perancang busana Donatella Versace itu memiliki produksi sendiri tim kreatif yang disebut House of Gaga yang memproduksi sendiri kostum-kostumnya. Timnya ini menciptakan banyak pakaian, perlengkapan panggung, dan tata rambut. Penelitian tentang kebebasan berekspresi Lady Gaga pernah dilakukan oleh Nugraha (2012) dengan judul: ―Simbol-Simbol Visual dalam Proses Penandaan Penampilan Lady Gaga‖. Penelitian ini menunjukkan bahwa kebebasan berkarya dan berekspresi dijadikan sebagai ajang untuk mengeluarkan seluruh pemikiran. Termasuk pesan-pesan yang memiliki makna dan tujuan tertentu dapat disalurkan melalui satu media hiburan seperti musik dan penampilan panggung oleh Lady Gaga. Hasilnya, simbol-simbol tersebut mempunyai pencitraan sebagai unsur kekuatan magis dan seolah ingin memengaruhi masyarakat melalui bentuk visual serta verbalnya. simbol salib terbalik misalnya yang sering digunakan Lady Gaga sering dihubungkan dengan satanisme (pemujaan kepada setan) dan sikap-sikap anti-agama karena simbol ini dilihat sebagai tanda lawan Kristiani dengan cara memutarbalikkan simbol utamanya, salib Latin. Simbol sang mata satu juga merupakan sebuah simbol yang mengeksistensi adanya ilmu sihir dan iblis. Sedangkan simbol tanduk kepala kambing menyimbolkan tanduk kambing baphomet yaitu satu dari pujaan kaum Kaballis yang mewakili setan. Dari sini menunjukkan bahwa sebagai pribadi yang bebas, apapun itu digunakan oleh Lady Gaga untuk menunjukkan eksistensinya sebagai penyanyi melalui berbagai fashion dan asesoris yang dipakainya, sekalipun berbagai pihak menafsirnya sebagai pribadi pengikut setan atau anti Kristus. Cinta Lady Gaga kepada fashion datang dari ibunya. Dan saat ia sedang menulis lagu dan menciptakan musiknya, Gaga juga sedang berpikir tentang pakaian

yang ingin dipakainya di atas panggung. Menurutnya ini semua tentang segala sesuatu yang sama, seni pertunjukan, seni pop, dan fashion (Detikhot, 2012). Sebagai media yang komunikatif (dimensi informasi tentang individu yang diakibatkan oleh pakaian), pakaian memiliki beberapa fungsi seperti yang disebutkan oleh Kefgen dan Specht (Sihabudin, 2011), yaitu melambangkan dan mengkomunikasikan informasi tentang emosi komunikator. Hal ini bisa dilihat dengan adanya istilah-istilah Glad Rags (pakaian ceria), Widowâ€&#x;s Weed (pakaian berkabung), dan Sunday Clothes (pakaian hari minggu atau baju santai). Pakaian juga berpengaruh terhadap tingkah laku pemakainya sebagaimana juga tingkah laku orang yang menanggapinya. Dan pakaian berfungsi untuk membedakan seseorang dengan orang lain atau kelompok satu dengan kelompok lainnya. Fungsi komunikatif fashion sejalan dengan defenisi tentang fashion sebagai fenomena kultural. Bahwa budaya pada diri sendiri dibentuk atau didefenisikan dalam artian komunikasi. Jadi budaya dibentuk sebagai suatu bentuk komunikasi melalui fashion dan budaya sebagai fenomena kultural (Malcolm, 1996: 100). Dan Lady Gaga tampaknya mampu merangkum semuanya ini dalam fashionfashionnya diberbagai penampilan. Ia mampu mengkomunikasikan emosinya ini tampak dari berbagai perubahanperubahan konstumnya yang ekstrim, bisa tampak ceria, berkabung, santai, nyeleneh dan lain-lain. Lady Gaga juga mampu mempengaruhi orang-orang yang melihatnya melalui fashionnya berdecak kagum atau bahkan menyebutnya orang gila. Dan tidak kalah pentingnya bahwa ia mampu menciptakan perbedaan yang sangat besar dengan penyanyi-penyanyi lainnya karena fashion-fashionnya yang tidak sama dengan yang lain. Atau dengan kata lain, Lady Gaga sangat berani tampil beda. Fashion adalah konstituen penting identitas seseorang dalam modernitas,

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

12


yang membantu menentukan bagaimana dia dikenali dan diterima. Fashion menawarkan pilihan pakaian, gaya, dan citra yang dengannya seseorang dapat menciptakan identitas individual. Di satu sisi, fashion adalah fitur konstituen modernitas, yang ditafsirkan sebagai era sejarah yang ditandai oleh inovasi terus menerus, penghancuran yang tanda penciptaan yang baru. Fashion sendiri dianggap sebagai sumber penciptaan citarasa, gaya, pakaian, dan perilaku baru. Dan nyatanya Lady Gaga mampu melakukan hal itu dalam kehidupan shownya sebagai penyanyi top dunia. Fashion juga disebut jujur dan apa adanya serta akan bercerita tentang keadaan diri pengguna melalui pesanpesan non-verbal yang dibuat sendiri melalui cara berpakaian. Fashion-lah yang akan berusaha mengatakan siapa diri penggunanya kepada orang yang belum dikenal tetapi hanya sekedar melihat. Fashion juga yang akan membuat orang tertarik atau tidak untuk mengenal kita. Kostum-kostum yang dikenakan Lady Gaga juga menceritakan tentang keadaan dirinya yang sesungguhnya yang kadang cantik, manis, nyentrik, menakutkan bahkan hingga terkesan gila. Dari apa yang dikenakan terkesan ekstrim tersebut membuat dia begitu cepat dikenal orang. Karena itulah Rob Fusari yang juga adalah mantan produser sekaligus mantan pacarnya memberikannya sebuah nama yaitu ‗Lady Gaga‘ yang dalam Thesaurus, Gaga berarti pikiran yang kosong yang memiliki sinonim berkepala kosong, dungu, bertingkah sembarangan, sembrono, irasionalitas, gila atau sakit jiwa. ―My Name is Lady Gaga. Aku adalah harapanmu, impianmu, ketakutanmu, rasa ketidakamananmu. Aku adalah segala yang kalian sukai. Aku adalah segala yang kalian benci.‖ Itulah kata-kata yang diucapkan sang penyanyi dalam konser di Singapura Mei 2012 (Kompas, 2012). Pribadi Lady Gaga secara keseluruhan (entah itu cuma dibuat-buat

atau tidak) merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada mind control/pengendalian pikiran, dimana menjadi seseorang yang berotak kosong/bodoh/tidak cerdas/tidak berotak tajam, kacau dan pelupa/tukang ngelamun menjadi hal yang modis (fashionable). Dalam bukunya berjudul ―Lady Gaga: Critical Mass‖, Goodman (2012) mengungkapkan bahwa tidak ada superstar lainnya yang memiliki paket lengkap seperti Lady Gaga. Dalam waktu kurang dari satu tahun, dia berubah dirinya dari ikon penyanyi pop, berkat bakatnya, dan juga fashion-nya. Lady Gaga telah mencapai tingkat baru dan menjadi tenar dengan desainer-desainer top dunia yang mencintainya. Hal ini berhubungan erat dengan apa yang disampaikan oleh Claik (1993:1) bahwa pakaian sering juga dianggap sebagai sebuah topeng untuk memanipulasi tubuh, sebagai cara untuk membangun dan menciptakan citra diri. Pakaian membangun habitus pribadi, sebagai sebuah perangkat penting untuk berkomunikasi dengan lingkungannya; pakaian dibentuk dan disesuaikan dengan kondisi tertentu. Peran penting seseorang pencipta atau desainer pakaian, mempengaruhi identitas pakaian, sekaligus citra tubuh penggunanya. Dalam hal ini, para desaider fashion Lady Gaga sangat mampu mengimplementasikan keinginankeinginan dari penyanyi Pop ini dalam bentuk pakaian-pakaian untuk menunjang penampilannya. Bisa jadi inilah citra diri sesungguhnya dari Lady Gaga. Apa yang ada dalam diri sang penyanyi serta pemikiran-pemikirannya yang kemudian dimanifestasikan dalam kostum-kostum yang terkesan ‗sembarangan‘ dan mirip orang yang sedang ‗sakit jiwa‘. Seperti saat ia dengan berani mengenakan kostum dari daging mentah tersebut. Terkesan sangat gila. Bahkan penyanyi pop Cher sangat terkejut ketika memeluk Lady Gaga di atas panggung karena dia percaya gaun tersebut tidak nyata. Cher mengira apa yang

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

13


dikenakan Lady Gaga hanyalah bahan yang terbuat plastik yang menyerupai daging hewan, tetapi ternyata itu merupakan daging sungguhan (Okezone, 2010). Lady Gaga mengatakan bahwa pada intinya, seseorang harus menjadi dirinya sendiri. ―Setiap hari saya bertanya, who is the real Lady Gaga? Saya adalah Lady Gaga dan rasanya mengerikan. Bayangkan jika setiap hari orang bertanya siapa sebenarnya Lady Gaga. Ya, setiap hari begitu susahnya menjadi diri sendiri‖ (Kompas, 2012). Satu sisi, sang penyanyi ini ingin menjadi dirinya sendiri dengan mengeksplor diri dengan segala bentuk kebebasan berekspresi melalui fashionfashionnya yang bebas, namun satu sisi lagi, Gaga juga bingung dan merasa sulit menjadi dirinya sendiri, terlihat dari dandanan yang setiap saat berubah-rubah, bahkan hampir disetiap tampilannya dia bisa tampak sangat berbeda dengan sosok aslinya. Itulah Lady Gaga. Seperti yang dikutip oleh Idi Subandi Ibrahim, 2007 dalam pengantar Malcolm Barnard, Fashion dan Komunikasi, bahwa Thomas Carlyle mengatakan, pakaian adalah perlambang jiwa. Pakaian tak bisa dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia. Fashion bisa dimetaforakan sebagai kulit sosial yang didalamnya membawa pesan dan gaya hidup suatu komunitas tertentu yang adalah suatu bagian dari kehidupan sosial. Di samping itu fashion juga mengekspresikan suatu identitas tertentu. Fashion yang dipilih oleh Lady Gaga bisa jadi menunjukkan bagaimana dia memilih gaya hidup yang dilakukan. Lady Gaga yang dinilai dunia sebagai trendsetter mode secara tidak langsung telah mengkonstruksi dirinya sebagai seseorang dengan gaya hidup yang menurutnya modern dan selalu mengikuti trend yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa dalam dunia modern gaya hidup membantu untuk menentukan sikap dan nilai-nilai serta menunjukkan kekayaan dan posisi sosial.

Fashion juga adalah media untuk menunjukkan ideologi, interest dan kecenderung/keberpihakan. Fashion sebagai media komunikasi non-verbal karena di dalamnya terdapat praktikpraktik penandaan. Fungsi fashion, pakaian, dandanan, busana dan gaya, bukan hanya sebagai perlindungan dan untuk memenuhi kebutuhan kesopanan, tetapi juga sebagai media ekspresi diri, mendefinisikan peran dan status sosial, simbol politis, dan sebagai media rekreasional. Fashion merupakan simbol dari keseluruhan, untuk mengartikannya bisa dilihat dari berbagai sisi, dan akan mengeluarkan berbagai interpretasi. Berbicara tentang fashion tidak hanya membahas model, ukuran dan warna saja, tetapi juga akan berbicara tentang simbol simbol sosial bahkan akan mengarah ke strata sosial. Lady Gaga berbicara tentang rambut dan makna kebebasan hidup seperti yang seperti yang ia tulis dalam lagunya berjudul Hair dalam konsernya di Singapura pada 2012. Rambut menurut Gaga adalah free entertainer of body. Karena kita bisa memotong, mewarnainya, membuatnya jadi putih dan rambut akan terus tumbuh. ―My point is dalam hidup ini kita bisa bebas seperti rambut yang akan selalu tumbuh kembali.‖ Sekali lagi Lady Gaga sangat mengusung kebebasan dan simbol-simbol kebebasan itu juga teruang pada fashion-fashionnya termasuk kebebasan berekspresi dengan apa yang dikenakannya. Hal ini diperkuat juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tampubolon (2014) yang berjudul “The Girl Power In The Way of Lady Gaga‟s dressing on Her Performances Lady Gaga‖. Hasil penelitian ini adalah beberapa aspek dari Girl Power yang dimanifestasikan dari pertunjukan Lady Gaga dari bagian rock dan seksualitas; aksinya untuk melanggar aturan dalam gaya berpakaiannya di panggung dan khalayak umum, dia memakai baju seperti laki-laki dalam penampilannya, versi Lady

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

14


Gaga dalam girl culture yang diikuti secara setia oleh para fansnya. Itulah Lagi Gaga. Maka tidak heran jika para kelompok religius sangat enggan jika penyanyi pop ini mengadakan konser di negara-negara mereka. Atau lagu-lagunnya yang dilarang masuk ke negara-negara ini. Alasannya sangat jelas bahwa mereka tidak ingin generasi muda yang notabene masih polos mengikuti gaya berbusana Lady Gaga yang mereka sendiri tidak mengerti apa makna dari simbol-simbol yang terkandung pada busana-busana tersebut. Bahkan hingga menyelami setiap kalimat-kalimat dari lagu-lagu penyanyi itu yang sangat kontroversi dan dinilai melanggar aturan-aturan agama. Apalagi dalam sebuah kajian yang dilakukan Click dkk (2013) menyebutkan bahwa Lady Gaga juga mampu membangun hubungan yang baik antara dirinya dengan pada fans. Bahkan para fansnya diberi nama ‗Little Monsters‟ sedang dia sendiri menyebut dirinya ‗Mother Monsters‟. Sejak kedatangannya dikancah musik populer di tahun 2008, Lady Gaga memiliki kekuatan jelas pada budaya populer di dalam musik, fashion, kinerja, dan aktivis sosial. Kehadirannya memecahkan rekor di media sosial memiliki dimana membantu menumbuhkan ikatan timbal balik yang inovatif dengan Monster Kecil yang memiliki dampak sifat hubungan fanselebriti. Sebagai "Ibu," Gaga mendorong dan memberdayakan para penggemarnya, memungkinkan mereka untuk menggunakan dia untuk merenungkan diri identitas mereka sendiri, untuk membangun kepercayaan diri, dan merangkul perbedaan mereka dari budaya mainstream. Saat sebagian orang berpendapat apa yang dikenakan Lady Gaga baik itu pakaian, sepatu maupun semua asesoris terlihat aneh dan tidak biasa, tetapi bagi Lady Gaga hal itu merupakan bentuk kebebasan berekspresi diri dalam panggung. Seperti yang disampaikan oleh Stone bahwa pakaian menyampaikan

pesan. Menurut Stone pakaian bisa dilihat sebelum kata-kata terdengar. Pesan yang dibawa oleh pakaian bergantung pada sejumlah variabel, seperti latar belakang budaya, pengalaman dan sebagainya. Dan Lady Gaga masuk dalam salah satu kategori yang disebutkan oleh Reed (Sihabudin, 2011) sebagai wanita fashion yaitu kategori orang yang memiliki perhatian besar kepada pakaian, dan membelanjakan sejumlah besar penghasilannya untuk pakaian. Kebanyakan wanita seperti ini cenderung tidak sependapat dengan kedua orang tuanya dalam masalah sosial, tidak menyukai kegiatan religius, cenderung menganut filosofis new left, tetapi mereka gemar terlibat program kemanusiaan. KESIMPULAN Fashion, pakaian dan busana disebut sebagai fenomena kultural sejauh ketiganya menunjukkan praktik-praktik penandaan. Melalui ketiganya, dengan caranya sendiri dialami dan dikomunikasikan menjadi tatanan sosial. Fashion juga dugunakan untuk mengekspersikan, merefleksikan, meneguhkan, menyembunyikan atau bahkan membangun sesuatu yang ada dalam diri seseorang. Tetapi apapun yang dipakai manusia, akan bermakna dan menjelaskan apa saja makna-makna fashion dan pakaian yang dikenakan serta bagaimana makna tersebut diproduksi atau dibangkitkan serta bagaimana fashion mengkomunikasikan makna-makna tersebut. Fashion selain bisa sebagai media dalam berkomunikasi, juga menggambarkan ciri kepribadian seseorang. Fashion-fashion kontroversial dan ‗aneh‘ yang dikenakan Lady Gaga dalam setiap penampilannya baik di panggung pertunjukkan, video klip maupun fotofotonya (yang semuanya merupakan teks yang diteliti) bisa jadi itulah gambaran sesungguhnya seorang pop lady ini. Jika ia juga banyak menggunakan simbolsimbol penghinaan bagi agama dalam

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

15


beberapa penampilannya bisa jadi itulah ideologi yang sesungguhnya yang dianut oleh Lady Gaga yang hendak dikomunikasi melalui fashion-fashionnya. Karena simbol-simbol tersebut tidak saja ada pada penampilannya, tetapi juga divisualisasikan melalui beberapa video klipnya hingga syair-syair lagu yang cenderung sama dan mendukung menganutan simbol-simbol yang kontroversial tersebut. Sekalipun tanda dan simbol-simbol tersebut memiliki makna yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama, namun dengan percaya diri Lady Gaga menggunakan simbol-simbol tersebut sebagai penunjang dalam setiap penampilannya, terlepas dari pro dan kontra terhadap simbol-simbol itu. Apapun itu, pro kontra dalam menilai sebuah fashion pasti akan selalu ada. Tetapi orang-orang yang menilai fashion secara positif dan melihat fashion sebagai bukti kreativititas dan produksi kultural adalah mereka yang menyadari bahwa disana banyak terdapat berbedaan tetapi tetap bergembira menikmati perbedaan kultural tersebut. Dan menyadari bahwa ide-ide perbedaan itu menghasilkan makna dan orang tidak melihat perbedaan itu sebagai sesuatu yang harus dikungkung atau dilenyapkan. Karena itulah sebenarnya yang disebut watak fashion. DAFTAR PUSTAKA Buku - Barnard, Malcolm 2011. Fashion sebagai Komunikasi, Cara Mengkomunikasikan Identitas

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

-

-

-

-

-

Sosial, Seksual, Kelas dan Gender. : Yogjakarta Jayasutra.Hal.vi,vii,11,100. Claik, Jennifer. 1993. The Face Of Fashion: Cultural Studies In Fashion. New York: Routledge. Hal 1. Fiske, John. 2011. Memahami Budaya Populer. Yogyakarta : Jalasutra. Hal.45. Fiske, John.1990. Cultural & Communication Studies. Bandung: Jalasutra. Gramsci, A. 1971. Selections from the Prison Notebooks of Antonio Gramsci. Edited and translated by Q. Hoare and G. Nowell Smith. London. Lawrence Wishart McQuail, Dennis.1996.Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga. Roach, M.E. dan Eicher, J.B. 1979. The Language of Personal Adornment dalam J.M Cordwell dan R.A Scharz (ed). The Fabrics of Culture. The Hague: Mouton. Sihabuddin, Ahmad. 2011. Komunikasi Antar Budaya (Satu Perspektif Multidimensi). Jakarta: PT. Bumi Aksara Sobur, Alex. 2004. Semiotika komunikasi. Bandung: Rosda. Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.hal.6. Van Zoest, Art dan P. Sudjiman.ed. 1996. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta. Gramedia Pustaka Umum.

16


PEMBERITAAN MEDIA PENYIARAN TERKAIT PERISTIWA BENCANA GEMPA BUMI BERPOTENSI TSUNAMI (Analisis Wacana Kritis Naskah Siaran Radio Sindo Trijaya FM pada 11 April 2012) DYAH RACHMAWATI Email: dyah.humas@gmail.com Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ABSTRACT This study aims to criticize the function of radio is not only as a medium of information, but also as a part of early warning chain of earthquake and tsunami.The lack of knowledge possessed by broadcasters in Indonesia, especially radio, seems as reason why media has not been optimal in the dissemination of the earthquake information and tsunami early warning BMKG. Based on the text analysis of Sindo Trijaya FM radio broadcasts, this study indicate those information broadcast against catastrophic events 11 April 2012 have mention several tsunami early warning messages which sent by the BMKG, but producers and broadcasters still seemed not to understand the meaning of warning messages. Cognition Journalists in Producing News Earthquake and Tsunami in Sindo Trijaya FM Radio in this study had started, but not supported by a written policy specifically regarding reporting procedures earthquake and tsunami disaster. Another facts is Disaster Issues in this radio is not a priority. Keywords: Radio Broadcasting, Earthquakes, Tsunami. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkritik fungsi radio tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga sebagai bagian dari rantai peringatan dini gempa dan tsunami.The kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh lembaga penyiaran di Indonesia, khususnya radio, tampaknya menjadi alasan mengapa media belum optimal dalam penyebaran informasi gempa dan peringatan dini tsunami BMKG. Berdasarkan analisis teks siaran radio Trijaya FM Sindo, penelitian ini menunjukkan informasi yang disiarkan terhadap peristiwa bencana 11 April 2012 telah menyebutkan pesan peringatan dini tsunami yang beberapa dikirim oleh BMKG, namun produsen dan penyiar masih tampak tidak memahami arti peringatan pesan. Kognisi Jurnalis di Gempa Berita Memproduksi dan Tsunami di Sindo Trijaya FM Radio dalam penelitian ini telah dimulai, tetapi tidak didukung oleh kebijakan yang ditulis secara khusus mengenai prosedur pelaporan bencana gempa dan tsunami. Fakta lain adalah Isu Bencana di radio ini bukan prioritas. Kata Kunci: Siaran Radio; Gempabumi; Tsunami. PENDAHULUAN Sumber utama data dalam penelitian ini didapatkan dari siaran Radio Sindo Trijaya FM pada 11 April 2012.Penelitian ini mulai disusun paska

bencana gempabumi tsunami di Sumatera 2012.Selanjutnya, penyusunan secara sistematika penelitian deskriptif dimulai pada 2013 sebagai bagian dari output kajian media dalam Program Prioritas Nasional 9 Lembaga Ilmu Pengetahuan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

17


Indonesia (LIPI).Pada 2014, penelitian ini kembali ditinjau, namun dari pendekatan kritis.Alasan penelitian ini kembali diangkat adalah karena ketertarikan peneliti terhadap kerja media dalam memberitakan peristiwa bencana, di mana bencana adalah sebuah peristiwa yang selalu berulang. Media massa merupakan sarana informasi bagi publik. Peran media sangat penting dalam kondisi apapun, khususnya dalam kondisi darurat.Fenomena gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Sumatra pada tanggal 11 April 2012 lalu sangat menyedot perhatian masyarakat.Pemahaman masyarakat tentang bencana gempa bumi dan tsunami perlu terus diisi.Demikian juga pemahaman pelaku media terhadap pengetahuan tentang bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami. Masih ada media yang menganggap bahwa yang dinamakan tsunami adalah gelombang besar yang menyapu kota seperti pada peristiwa Aceh, tahun 2004. Media massa yang dimaksud dalam penelitian ini difokuskan pada media massa elektronik televisi dan radio. Namun, lebih khusus lagi, objek penelitian ini adalah media radio. Dengan karakteristik keunggulan yang dimiliki oleh media radio, yaitu tercepat dalam menyiarkan informasi dan mudah diperoleh, serta memiliki jangkauan siar yang luas. Untuk itu, pembaharuan penerimaan informasi yang diterima oleh media juga perlu diprioritaskan.Lembaga yang terkait, seperti BMKG, BNPB, dan LIPI harus mampu bergerak cepat dan akurat dalam menyuplai informasi, tentunya sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing lembaga. Penelitian ini memilih Sindo Trijaya FM Radio sebagai objek penelitian. Beberapa hal yang melatarbelakangi pemilihan media ini antara lain adalah keterlibatan Sindo Trijaya FM Radio (dulu bernama Radio Trijaya FM) dalam aktivitas terkait

sosialisasi kebencanaan dan keaktifannya dalam forum diskusi kebencanaan dengan lembaga terkait, baik pemerintah maupun nonpemerintah. Dua di antaranya, dalam kegiatan Indonesia Ocean Wave pada tahun 2009 dan penyusunan buku Panduan Informasi Peringatan Dini bagi Lembaga Penyiaran di Indonesia (Jilid I) pada tahun 2010.Sebagai media penyiaran yang bernaung di bawah PT. Media Nusantara Citra (MNC), jangkuan siar Sindo Trijaya FM Radio juga representatife di wilayah Sumatra.Tersebarnya koresponden, contributor, dan beberapa jaringan stasiun radio lokal di beberapa wilayah mendukung peran Sindo Trijaya FM Radio sebagai salah satu mata rantai peringatan dini tsunami di Indonesia.Selain itu, jaringan hubungan Sindo Trijaya FM Radio dengan media lokal lainnya juga terjalin baik.Sindo Trijaya FM Radio merupakan salah satu media yang menerima peringatan dari BMKG dan menyiarkannya. Sindo Trijaya FM Radio, sewaktu bernama Radio Trijaya FM, pernah bekerja sama dengan BMKG membentuk sebuah Alert Center for Tsunami. Fungsinya kurang lebih sebagai media senter yang membantu BMKG dalam menyebarluaskan informasi di kalangan media. Sindo Trijaya FM, dengan pengalamannya yang pernah memiliki Alert Center for Tsunami, memiliki pengalaman dalam hal memberitakan pesan peringatan dini tsunami sesuai dengan aturan internal yang pernah dibuatnya. Beberapa hal yang ingin peneliti ketahui antara lain adalah terkait alat penerima pesan peringatan dini dari BMKG, langkah kerja tim redaksi dalam menerima, mengolah berita, dan menyiarkannya, siapa petugas penerima pesan peringatan dini dari BMKG, seperti apa materi siaran yang dibacakan oleh Sindo Trijaya FM Radio setelah menerima peringatan dini gempa bumi dan tsunami, dan bagaimana metode pengembangan pesan.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

18


Penelitian ini dilakukan dalam rangka menganalisis secara kritis mengenai pemberitaan media terhadap kejadian bencana gempa bumi di Aceh, Padang, dan sekitarnya pada tanggal 11 April 2012 lalu. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, peneliti merumuskan permasalahan dalam sebuah pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana pemberitaan Sindo Trijaya FM Radio sebagai media penyiaran terkait peristiwa bencana gempa bumi berpotensi tsunami tanggal 11 April 2012, ditinjau dari metode analisis wacana kritis? Tujuan dari penelitian ini secara umum adalah untuk menghasilkan sebuah analisis wacana kritis terhadap Sindo Trijaya FM Radio dalam perannya sebagai salah satu mata rantai sistem peringatan dini di Indonesia.Tujuan khususnya adalah menajamkan respons Sindo Trijaya FM Radio dalam hal pemberitaan terhadap kejadian bencana gempa bumi di Aceh, Padang, dan sekitarnya pada tanggal 11 April 2012 lalu.Manfaat penelitian ini secara akademis diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penelitian dalam bidang ilmu komunikasi, khususnya media literasi.Secara praktis, penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi Sindo Trijaya FM Radio dan lainnya dalam menyiarkan informasi peringatan dini yang dikeluarkan secara resmi oleh BMKG. KERANGKA PEMIKIRAN Posisi Paradigma dalam Penelitian Dalam wacana ini, paradigma yang diaplikasikan adalah paradigma kritis. Paradigma kritis (critical paradigm) adalah semua teori sosial yang mempunyai maksud dan implikasi praktis dan berpengaruh terhadap perubahan sosial. Paradigma ini tidak sekedar melakukan kritik terhadap ketidakadilan sistem yang dominan yaitu sistem sosial kapitalisme, melainkan suatu paradigma untuk mengubah sistem dan struktur tersebut menjadi lebih adil. Bisa ditarik sebuah contoh: Masyarakat menerima berbagai

terpaan informasi dari pihak yang mengatasnamakan pemerintah mengenai keamanan dan keselamatan jiwa mereka dari bencana alam dari berbagai sumber saluran komunikasi. Hal ini membuat masyarakat mempunyai suatu pegangan. Di sinilah titik paradigma kritis dapat bekerja. Paradigma kritis dapat melihat bahwa apa yang telah disampaikan oleh pihak yang mengatasnamakan pemerintah tidak sepenuhnya dapat dipegang. Dalam hal ini, perlu ditunjang oleh berbagai sumber informasi, data, dan saksi yang berdasar kepada fakta yang ada, bukan hanya suatu rekayasa belaka. Pihak yang mengatasnamakan pemerintah mungkin mempunyai maksud ‗udang di balik batu‘. Ada hal-hal yang melatarbelakangi kegerakkan mereka tersebut. Paradigma kritis mencoba mengkritisi kepada pihak tersebut, dan secara tidak langsung masyarakat pun terkena dampaknya. Masyarakat bisa lebih sadar dan dapat berpikir lagi untuk kembali berpegang terhadap apa yang telah disampaikan oleh pihak tersebut kepada mereka. Informasi akurat dan terpercaya layak dan wajib disampaikan oleh media, khususnya radio sebagai media informasi publik yang memiliki kecepatan dalam menyampaikan informasi dan menjangkau masyarakat yang lebih luas. Diskursus Wacana Dalam salah satu kamus bahasa Inggris terkemuka, mengenai wacana atau discourse dituliskan sebagai berikut: Kata discourse berasal dari bahasa Latin diskursus yang berarti lari kian-kemari (yang diturunkan dari dis—‗dari, dalam arah yang berbeda‘, dan currere ‗lari‘) 1. Komunikasi pikiran dengan katakata; ekspresi ide-ide atau gagasangagasan; konversasi atau percakapan 2. Komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu subjek studi atau pokok telaah 3. Risalat tulis; disertasi formal; kuliah; ceramah; khutbah

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

19


(Webster, 1983:522, Eriyanto, 2001:10)

dalam

Sebuah tulisan adalah sebuah wacana. Tetapi, apa yang dinamakan wacana itu tidak perlu hanya sesuatu yang tertulis seperti yang diterangkan dalam kamus Websters. Kita mengenal wacana lisan dan wacana tertulis. Sejalan dengan pendapat Henry Guntur Tarigan bahwa ―Istilah obrolan dipergunakan untuk mencakup bukan hanya percakapan atau obrolan, tetapi juga pembicaraan di muka umum, tulisan, serta upaya-upaya formal seperti laporan ilmiah dan sandiwara atau lakon‖ (Tarigan, 1993:23 dalam Eriyanto, 2001: 10) Penjelasan Samsuri (dalam Sudjiman, 1993:6) yang menyatakan bahwa ―Wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan‖. Kleden menyebut wacana sebagai ―ucapan dalam mana seorang pembicara menyampaikan sesuatu tentang sesuatu kepada pendengar‖ (Kleden, 1997: 34).Berdasarkan berbagai pendapat di atas, Eriyanto (2001: 11) merangkumnya dengan berpendapat bahwa ―rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.‖ Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa materi informasi yang disampaikan oleh penyiar dan percakapannya dengan narasumber yang didengar melalui media radio mengenai suatu peristiwa juga boleh dikatakan sebagai salah satu diskursus wacana. Komunikasi Massa Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh

Bittner (2007: 3), adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu harus menggunakan media massa. Definisi komunikasi massa yang lebih terperinci dikemukakan oleh ahli komunikasi lain, yaitu Gerbner. Menurut Gerbner (1967) : ―Mass Communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of massaged in industria societies” (Ardianto, Dkk, 2010: 13). (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri). ―Komunikasi Massa Suatu Pengantar‖ menjelaskan tentang karakteristik komunikasi massa Pertama, yaitu berlangsung satu arah, di mana komunikator tidak mengetahui tanggapan khalayak yang jadi sasarannya. Tidak mengetahui, maksudnya pada waktu proses komunikasi itu berlangsung. Kedua, komunikator pada komunikasi massa berlembaga, di mana komunikatornya merupakan suatu lembaga atau institusi atau organisasi. Ketiga, pesan yang disampaikan bersifat umum karena ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan umum. Media massa tidak menyiarkan pesan yang tidak menyangkut masyarakat umum. Keempat, media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Media massa mampu menimbulkan keserempakan pada pihak khalayak dalam menerima pesan-pesan yang disebarkan. Kelima, komunikan komunikasi massa bersifat anonim dan heterogen. Dalam keberadaannya, komunikan dipastikan tidak bertatap muka, karena menggunakan media atau sarana sehingga tidak diketahui sifat, watak ataupun perilaku dari khalayaknya. Disebut heterogen karena komunikannya berpencar-pencar, tidak dalam satu daerah yang sama, tidak saling mengenal, terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, dan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

20


tidak memiliki kontak pribadi. Media massa merupakan sumber kekuatan, alat kontrol, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat, yang dapat diberdayakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya. Media Massa Media massa (mass media) adalah saluran-saluran atau cara pengiriman bagi pesan-pesan massa (Turner, 2007: 120). Pada praktiknya, apa yang disebut sebagai kebenaran sangat ditentukan oleh jalinan banyak kepentingan. Hal yang paling utama adalah kepentingan survival media itu sendiri, baik dalam pengertian bisnis ataupun politis. Realitas yang ada di media merupakan realitas semu yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi politik. Stuart Hall mengungkapkan realitas secara sederhana dapat dilihat sebagai salah satu set fakta, tetapi hasil dari ideologi atau pandangan tertentu. Media bisa menjadi subjek dalam menafsirkan dan memberi definisi sendiri terhadap suatu realitas untuk disebarkan pada khalayak.Isi dan struktur media bukan sesuatu yang bersifat netral, melainkan sebuah konstruksi yang bersifat subjektif.Media pada akhirnya harus dipahami dalam keseluruhan produksi dan tahapannya serta struktur sosial yang ada (Ardianto, Dkk, 2004: 34). Di balik fungsi media massa yang tampaknya sudah komunikatif, terdapat fungsi internal yang disadari ataupun tidak telah menentukan pemikiran, persepsi, opini bahkan perilaku seseorang. Dalam studi media, terdapat tiga pendekatan untuk menjelaskan media (sudibyo, 2005: 2-4).Pertama, pendekatan politik ekonomi media.Pendekatan ini berpendapat bahwa isi media lebih ditentukan oleh kekuatankekuatan ekonomi dan politik di luar pengelolaan media. Seperti faktor pemilik media, modal dan pendapatan media dianggap lebih menentukan bagaimana wujud isi media. Faktor-faktor inilah yang menentukan suatu peristiwa atau berita

bisa atau tidak ditampilkan di media, dan juga ke arah mana kecenderungan sebuah pemberitaan hendak diarahkan.Kedua, pendekatan organisasi. Dalam pendekatan organisasi, kekuatan eksternal di luar konteks pengelola media yang menentukan apa yang seharusnya diberitakan. Pendekatan organisasi melihat pengelola media sebagai pihak yang aktif dalam proses pembentukan dan produksi berita. Dalam pendekatan ini, berita dilihat sebagai hasil dari mekanisme yang ada dalam ruang redaksi.Praktik kerja, profesionalisme, dan tata aturan yang ada dalam ruang organisasi adalah unsur-unsur dinamik yang memengaruhi pemberitaan.Ketiga, pendekatan kulturalis.Pendekatan ini merupakan gabungan pendekatan ekonomi politik media dan pendekatan organisasi. Proses produksi berita dilihat sebagai mekanisme yang rumit yang melibatkan faktor internal media. Mekanisme yang rumit itu ditunjukkan dalam ruang pemberitaan.Media pada dasarnya memang mempunyai mekanisme untuk menentukan pola aturan organisasi, tetapi berbagai pola yang dipakai untuk memaknai peristiwa tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekuatan politik ekonomi media di luar media itu sendiri. Shoemaker dan Reese (2005: 227228), mengusulkan lima kategori utama pengaruh isi media, yaitu 1. Pengaruh dari pekerja media secara individu. Di antara pengaruhpengaruh ini adalah karakteristik pekerja komunikasi, latar belakang professional, dan kepribadian sikap pribadi dan peran profesional. 2. Pengaruh-pengaruh rutinitas media. Apa yang diterima media massa dipengaruhi oleh praktik komunikasi sehari-hari komunikator, termasuk batas waktu (deadline) dan kendala waktu yang lainnya, kebutuhan ruang dalam penerbitan, struktur piramida terbalik menulis berita, standar

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

21


objektivitas, dan kepercayaan reporter pada sumber berita. 3. Pengaruh organisasi terhadap isi. Organisasi media memiliki beberapa tujuan dan menghasilkan uang sebagai salah satu yang paling umum digunakan. Tujuan organisasi media ini bisa berdampak pada isi melalui berbagai cara. 4. Pengaruh terhadap isi dari luar organisasi media. Pengaruh ini meliputi kelompok kepentingan yang melobi untuk mendapatkan persetujuan (atau menentang) jenisjenis isi tertentu, orang-orang yang menciptakan pseudovent untuk mendapatkan liputan media dan pemerintah mengatur isi secara langsung dengan undang-undang pencemaran nama baik dan ketidaksopanan. 5. Pengaruh ideologi. Ideologi menggambarkan fenomena tingkat masyarakat. Di Amerika Serikat, ideologi diasasikan dengan ―kepercayaan dalam nilai sistem ekonomi kapitasis, kepemilikan pribadi, pencapaian laba dengan wiraswasta untuk kepentingan pribadi dan pasar bebas‖. Ideologi ini mungkin memengaruhi isi media massa dengan banyak cara. Berbagai persoalan ideologis pada media muncul ketika apa yang disampaikan media, dikaitkan dengan kenyataan sosial (dunia nyata), memunculkan berbagai problematika ideologis di dalam kehidupan sosial budaya. Ketika media dikendalikan oleh kepentingan ideologi media di baliknya, media sering dituduh sebagai perumus realitas (definer of reality) sesuai dengan apa yang dilandasinya. Ideologi menyusup dan menanamkan pengaruhnya lewat media secara tersembunyi (tidak terlihat dan halus) dan ia dapat mengubah pandangan setiap orang secara tidak sadar.

Media Penyiaran Radio Media radio siaran merupakan media elektronik yang memiliki khas sebagai media audio. Saat khalayak menerima pesan dari pesawat radio siaran, khalayak berada dalam tatanan mental yang pasif dan bergantung pada jelas atau tidaknya kata yang diucapkan oleh penyiar. Kelebihan dari media radio siaran yaitu pesan yang dibawakan oleh komunikator dapat ditata menjadi suatu cerita yang dihiasi dengan backsound serta sound effect agar dapat terdengar menjadi lebih dramatis. Radio berfungsi sebagai media ekspresi, komunikasi, informasi, pendidikan, dan hiburan. Sebagai medium komunikasi yang makin diperlukan oleh masyarakat yang aktif bekerja, radio memiliki tiga kekuatan, yaitu 1. Mobilitas tinggi: radio dapat ―membawa pendengarnya ke manamana‖ sambil tetap bekerja di suatu lokasi. 2. Realitas: radio menggiring pendengar ke dalam kenyataan dengan suara-suara aktual dan bunyi dari fakta yang terekam dan disiarkan. 3. Kesegeraan: radio menyajikan dari petunjuk yang dibutuhkan pendengar secara cepat, bahkan secara langsung pada saat kejadian. Pendengar dapat berinteraksi dengan penyiar secara mudah melalui fasilitas telepon (Masduki, 2004: 17-18). Beberapa karakteristik radio adalah 1. Segera dan Cepat Laporan peristiwa atau opini di radio harus sesegera mungkin dilakukan untuk mencapai kepuasan pendengar dan mengoptimalkan sifat kesegeraannya sebagai kekuatan radio. 2. Aktual dan Faktual

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

Berita radio adalah hasil liputan peristiwa atau opini yang segar dan akurat sesuai fakta, yang sebelumnya 22


tidak diketahui oleh khalayak. Opini terkait dengan upaya pendalaman liputan (investigasi) atau suatu data atau peristiwa.

3. Fungsi memengaruhi Fungsi ini pada radio secara implisit terdapat pada adlips, spot, iklan, dan artikel. Khalayak dapat terpengaruh oleh pesan-pesan yang ada dalam pembicaraan penyiar sehingga tanpa disadari khalayak melakukan tindakan yang sesuai dengan apa yang diinginkan radio tersebut.

3. Penting bagi masyarakat luas Harus ada keterkaitan dengan nilai berita (news value) yang berlaku dalam pengertian jurnalistik secara umum untuk memenuhi kepentingan masyarakat. 4. Relevan dan berdampak luas Masyarakat selaku pendengar merasa membutuhkannya dan akan mendapatkan manfaat optimal dari berita radio, yaitu pengetahuan dan kemampuan bersikap atau mengambil keputusan tertentu sebagai respons atas sebuah berita. Sebagai salah satu media massa, radio memiliki fungsi: 1. Fungsi Informasi Fungsi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar informasi bagi pembaca, pendengar atau pemirsa. Khalayak sebagai manusia sosial akan selalu membutuhkan informasi tentang segala hal yang terjadi di sekitarnya. Khalayak media massa mendengarkan radio siaran karena ingin mendapatkan informasi mengenai peristiwa yang sedang terjadi, apa yang dilakukan, diucapkan atau dilakukan orang lain. 2. Fungsi Pendidikan Radio yang merupakan salah satu dari media massa merupakan sarana pendidikan bagi khalayaknya karena ia banyak memberikan hal-hal yang sifatnya mendidik. Salah satu cara mendidik yang dilakukan media massa adalah melalui pengajaran nilai, etika, dan aturan yang berlaku. Media massa melakukannya melalui drama, diskusi atau artikel.

Penelitian ini menitikberatkan pada sumber teks yang merupakan catatan bahasa siaran Sindo Trijaya FM Radio pada 11 April 2012.Selanjutnya, penelitian ini menganalisis faktor kognisi sosial dan wacana yang berkembang dalam masyarakat yang disebut analisis sosial atau konteks.Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Adapun aspek konteks mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah (Eriyanto, 2001: 224). METOE PENELITIAN Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian (Guba dan Lincoln, 1988: 89115).Penelitian ini menitikberatkan pada sumber teks yang merupakan catatan bahasa siaran Sindo Trijaya FM Radio pada 11 April 2012.Selanjutnya, penelitian ini menganalisis faktor kognisi sosial dan wacana yang berkembang dalam masyarakat yang disebut analisis sosial atau konteks.Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

23


strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Adapun aspek konteks mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah (Eriyanto, 2001: 224). Berikut ini bagan kerangka pemikiran penelitian:

Transkrip siaran Sindo Trijaya FM Proses Produksi Berita

Type penelitian ini adalah deskriptif.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Biklen (1982) dalam Moleong (2002), analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mengintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, serta memutuskan apa

yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2008: 243). Di pihak lain, masih dari sumber yang sama, Seiddel (1998) menyatakan bahwa proses berjalannya analisis data kualitatif ada tiga tahap. Pertama, yaitu mencatat yang menghasilkan catatan lapangan dengan memberikan kode pada sumber data agar tetap dapat ditelusuri.Kedua, mengumpulkan, memilah-milah, mengklarifikasikan, mengintesiskan, membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya. Tahapan ketiga adalah proses berfikir, yaitu dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari, dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, serta membuat temuan-temuan umum. Peneliti sengaja mengaitkan metode penelitian dengan apa yang diungkapkan Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2002), juga Seiddel, karena peneliti ingin menemukan pola ideology yang menyangkut kepentingan publik. Menurut Janice McDrury (Collaborative Group Analysis of Data, 1999), tahapan analisis data kualitatif adalah membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data, mempelajari katakata kunci itu dan berupaya menemukan tema-tema yang berasal dari data, menuliskan ‗model‘ yang ditemukan, serta koding (Moleong, 2008: 248).

Struktur a. Teks Menganalisis bagaimana strategi wacana yang dipakai untuk menggambarkan seseorang atau peristiwa tertentu. Bagaimana strategi tekstual yang dipakai untuk menyingkirkan atau memarjinalkan suatu kelompok, gagasan atau peristiwa tertentu. Dalam struktur

Metode Critical Linguistics. Dalam penelitian ini, peneliti mengkritisi teks siaran Sindo Trijaya FM Radio pada saat kejadian gempa bumi Aceh tanggal 11 April 2012, mulai dari pesan peringatan dini pertama dikirimkan oleh BMKG hingga pesan peringatan dini ke empat yang berarti peringatan dicabut.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

24


teks, metode yang dipakai adalah metode critical linguistic. Dilihat dari arti kata tersebut, dimana suatu wacana yang disajikan dalam bentuk teks akan diteliti berdasarkan struktur yang tersusun sehingga tercipta teks tersebut, antara lain bahasa yang dipakai, cara penempatan kata-kata, dan bentuk kata-kata tersebut (formal atau informal). b. Kognisi Sosial

Wawancara Mendalam

Menganalisis bagaimana kognisi wartawan dalam memahami seseorang atau peristiwa tertentu yang akan ditulis. Dalam struktur ini, metode yang digunakan adalah wawancara mendalam, di mana wartawan berperan besar dalam hal ini. Di metode ini, struktur yang tercipta bisa juga dipengaruhi oleh ideologi dari si wartawan (fenomenologi) tersebut. c. Analisis Sosial)

Sosial

Wawancara dilakukan oleh peneliti terhadap wakil pemimpin redaksi Sindo Trijaya FM Radio. Dalam tugasnya, wapemred tersebut bertanggung jawab terhadap jalannya pemberitaan.

(Konteks Studi Pustaka

Peneliti melakukan penelusuran sejumlah Menganalisis bagaimana wacana data dari buku-buku yang berkaitan dengan yang berkembang dalam masyarakat, bencana gempa bumi dan tsunami serta proses produksi, dan reproduksi metode analisis wacana kritis seseorang atau peristiwa digambarkan. Metode yang dipakai adalah studi pustaka dan penelusuran sejarah. Metode tersebut bisa berkaitan dengan data sekunder yang didapat. Sumber: diolah dari Eriyanto (2001) dan Sobur (2009) Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis. Dari sekian banyak model analisis wacana, peneliti memilih model van Dijk. Van Dijk melihat suatu wacana terdiri atas berbagai struktur/tingkatan, yang masingmasing bagian saling mendukung. Van Dijk membaginya ke dalam tiga tingkatan:

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

a. Struktur Makro Ini merupakan makna global/umum dari suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik dari suatu teks.Tema wacana ini bukan hanya isi, tetapi juga sisi tertentu dari suatu peristiwa.

25


b. Superstruktur Kerangka suatu teks: bagaimana struktur dan elemen itu disusun dalam teks secara utuh.

Struktur/elemen wacana dikemukakan Van Dijk ini digambarkan seperti berikut :

yang dapat

c. Struktur Mikro Makna wacana yang dapat diamati dengan menganalisis kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, paraphrase yang dipakai dan sebagainya. Struktur Wacana

Hal yang diamati

Elemen

Struktur Makro

TEMATIK (apa yang dikatakan?)

Topik

Superstruktur

SKEMATIK (bagaimana pendapat disusun dan dirangkai?)

Skema

Struktur Mikro

SEMANTIK (makna yang ingin ditekankan dalam teks berita)

Latar, detail, maksud, praanggapan, nominalisasi

Struktur Mikro

SINTAKSIS (bagaimana pendapat disampaikan?)

Bentuk kalimat, koherensi, kata ganti

Struktur Mikro

STILISTIK (bagaimana pendapat disampaikan?)

Leksikon

Struktur Mikro

RETORIS (bagaimana dan dengan cara apa penekanan dilakukan?)

Grafis, metafora, ekspresi

Sumber: Diadopsi dari Eriyanto (2000a:7-8) dan Eriyanto (2001:228-229), dalam Eriyanto (2001: 74)

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

26


Operasionalisasi Konsep a. Struktur Makro Ini merupakan makna global/umum dari suatu teks yang dapat dipahami dengan melihat topik dari suatu teks. Tema wacana ini bukan hanya isi, tetapi juga sisi tertentu dari suatu peristiwa.Dalam hal ini, struktir makro ditujukan pada tema siaran tentang peristiwa bencana gempa bumi dan tsunami 11 April 2012 b. Superstruktur Pada superstruktur, peneliti mencermati bagaimana berita diproduksi dan disampaikan ke public (pendengar). c. Struktur Mikro Makna wacana pada struktur mikro diamati dengan menganalisis kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, paraphrase yang dipakai, yaitu Semantik (Latar, detail, maksud, praanggapan, nominalisasi), sintaksis (Bentuk kalimat, koherensi, kata ganti), stilistik (Leksikon), dan retoris (Grafis, metafora, ekspresi). HASIL PENELITIAN Berdasarkan data hasil penelitian yang diperoleh dari wawancara antara penulis dan tim redaksi Sindo Trijaya FM Radio pada tanggal 3 Mei 2012 di Menara Kebon Sirih Lantai 15 pukul 15.45-17.30 diketahui bahwa alarm berada di ruang produser, dan ruang tersebut bersebelahan dengan ruang siaran. Ketika gempa bumi terjadi, tone tidak disiarkan.Waktu penerimaan Peringatan Dini (PD) 1 dari WRS dicatat secara manual oleh produser dan dibantu oleh asisten produser yang

sedang bertugas.Berita kemudian disiarkan 2-3 menit setelah bunyi. Dari hasil wawancara, diketahui bahwa alat penerima pesan peringatan dini dari BMKG yang dimanfaatkan oleh Sindo Trijaya FM Radio adalah Warning Receiving System (WRS). Langkah kerja tim redaksi dalam menerima, mengolah berita, dan menyiarkannya dilakukan secara manual. Hal ini disebabkan instalasi WRS ada di ruang produser sehingga narasi berita perlu diketik ulang oleh produser dan dikirimkan ke penyiar (di ruang siaran) via chatting online.Petugas penerima pesan peringatan dini dari BMKG adalah produser yang sedang bertugas, dibantu oleh asisten produser. Berikut ini adalah hasil pengolahan data yang bersumber dari transkrip siaran penyiar Sindo Trijaya FM Radio: Pada awalnya informasi disebarkan pada pukul 16:02 WIB melalui segmen Sindo Trijaya FM Round Up. Informasi berisi mengenai gempa yang terjadi di sebagian daerah Sumatra dengan kekuatan mencapai 8,5 SR. Gempa berpusat di Simelu pada kedalaman 10 km. BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami pada wilayah Bengkulu, Lampung, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pada pukul 16:05 kembali diberitakan mengenai informasi gempa dalam segmen Sindo Trijaya FM Prime. Informasi berisi mengenai gempa yang terasa di sejumlah daerah antara lain Aceh, Nias, dan sekitarnya. Komunikasi interaktif berlangsung via telepon dengan Jojo, seorang warga di Banda Aceh. Terjadi tanya jawab antara penyiar dari Sindo Trijaya FM dengan Jojo, warga yang berada di Banda Aceh. Jojo menuturkan bahwa ketika gempa terjadi, dia sedang dalam

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

27


posisi berkendara di depan pendopo Gubernur Aceh. Setelah gempa berhenti, para warga segera menuju ke daerah seputaran Lambaru, Aceh Besar, dan ke bandara Sultan Iskandar Muda.Jarak menuju tempat-tempat tersebut dari tempat dia berada adalah sekitar empat kilometer.Jojo memaparkan suasana di sekitar jalan Iskandar Muda bahwa para warga mulai menuju tempat-tempat yang telah disebutkan tadi.Jojo juga memberi informasi mengenai dampak gempa terhadap gedung dan lainlain.Dia mengatakan bahwa ada beberapa baliho yang bergeser, namun belum terlihat ada bangunan yang mengalami kerusakan cukup parah.Jojo menuturkan bahwa bentuk gempa yang terjadi ialah seperti ‗ngeper‘. Daerah Sultan Iskandar Muda merupakan daerah yang memiliki dataran yang lebih tinggi dan jauh dari laut, di mana warga banyak menuju ke sana karena berdasar informasi yang ada bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami. Berikutnya ada koresponden Sindo Trijaya FM di Padang Sumatra Barat, Bukit Tinggi yaitu Rus Akbar.Rus menuturkan bahwa gempa juga terasa kuat di Padang sehingga membuat warga menjadi panik dan keluar berhamburan dari rumah mereka masing-masing. Rus mengatakan bahwa waktu terjadinya gempa sekitar pukul 15:00. Para warga langsung mengungsikan diri ke daerah perbukitan yang tinggi. Selain di Padang, gempa juga terasa di daerah Bukit Tinggi. Pada awalnya, warga mengira sumber gempa berasal dari gunung yang meletus, namun setelah mendapat beberapa sumber informasi dan akhirnya diketahui bahwa sumber gempa berada di Aceh.Rus menuturkan bahwa bentuk gempa seperti di ‗buai‘.Rus juga mengatakan bahwa dua hari yang lalu sempat

terjadi gempa di Kepulauan Mentawai, namun tidak terasa kuat sampai di Padang. Pada pukul 16:14 Sindo Trijaya FM kembali menginformasikan peringatan dini dari BMKG yaitu peringatan dini tsunami di daerah Bengkulu, Lampung, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara dengan kekuatan 8,5 SR dengan waktu gempa pada pukul 15:38 WIB, berlokasi di 2,31º LU dan 92,67 BT, kedalaman pusat gempa 10 km. Berikutnya telah tersambung dengan koresponden Sindo Trijaya FM Medan, yaitu Ari Lubis. Ari menuturkan bahwa gempa terasa juga di kota Medan dengan durasi 2 sampai 3 menit. Gempa terasa 12 menit lalu, denagn durasi gempa 23 menit.Reaksi warga (staf) di kejaksaan tinggi berhamburan keluar, begitu juga di wilayah seputaran gedung, gempa menyebabkan sedikit pening. Papan reklame tidak ada yang rusak.Saat ini Ari berada di BMKG Sumut.BMKG masih memantau, dan dari Aceh didapatkan informasi relatif aman dari tsunami. Pencabutan PD masih menunggu pantauan beberapa tempat dari Aceh, Sumut, dan Lampung selama 30 menit-1 jam, menunggu kondisi relatif kondusif. Berikutnya ada informasi dari Dolly Ramadhon perwakilan BNPB mengenai pemutakhiran data.Puluhan petugas BNPB melakukan pemutakhiran data lapangan, kondisi listrik mati di Aceh. Ada juga informasi dari Kepala Humas BNPB, Sutopo: informasi terakhir yang kami terima, kami masih kontak terus dengan daerah, khususnya Aceh, pantai barat Sumatra Barat dan pantai barat Sumatra Utara. Dari analisis melalui travel tsunami (perjalanan waktu tsunami), potensi tsunami terjadi di sepanjang pantai barat Sumatra, dari Aceh sampai dengan Lampung, di mana untuk

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

28


pantai Aceh, Sumbar, dan Sumut berlangsung sekitar 1 jam, sampai Lampung sekitar 2,5 jam. Beberapa dampak gempa di daratan dirasakan cukup keras, terutama dari segi intensitas dalam skala MMI, sekitar pantai utara Sumatra mencapai 7, yang sifatnya keras sekali.Kami masih berkoordinasi dengan sumber daya nasional seperti TNI dan POLRI, dan kita sudah menyiapkan satuan reaksi cepat yang sewaktu-waktu didatangkan dari Halim.Informasi dari lapangan dilaporkan warga sudah banyak yang berlarian menuju tempat yang tinggi dan kondisi listrik masih padam. Ada informasi dari Pak Sutopo yang mengatakan bahwa belum ada pencabutan status dari BMKG.Berikut ada informasi dari Wawako Sabang, Islamudin. Beliau mengatakan bahwa gempa terasa di kota Sabang membuat masyarakat panik dan keluar dar rumah. Sejauh pengamatan, belum terlihat kerusakan apapun.Gempa terasa 1 kali dengan kekuatan yang sangat keras, dilihat dari tiang listrik dan papan iklan yang bergoyang dengan durasi gempa sekitar 3 sampai 4 menit. Penyiar kemudian memberitakan informasi dari BMKG, yaitu adanya gempa susulan dengan kekuatan 6,5 SR yang terjadi pada pukul 16:28 WIB dan tidak berpotensi tsunami. Pusat gempa berada di 510 km BD Simelue dengan kedalaman 42 km, 1,21 LU dan 91,72 BT. Berikut ada informasi dari perwira TNI Aceh, dia mengatakan bahwa masyarakat lari ke dataran yang lebih tinggi. Pusat perbelanjaan di Aceh langsung ditutup dan terjadi gangguan komunikasi.Reaksi masyarakat Aceh yang berada di daerah Pantai Bireun berlarian tidak lama setelah merasakan gempa. Menurut penuturan Suhardjono dari BMKG, pencabutan peringatan dini belum dilakukan, menunggu 1,5 sampai 2 jam ke depan

(jam 6). Informasi yang dapat diperbaharui adalah gempa susulan yang cukup kuat yaitu 6,5 SR dengan kedalaman 42 km di daerah sekitar gempa utama. Masyarakat yang sudah dievakuasi menunggu informasi status gelombang pasang akan terjadi atau tidak. BMKG kemudian menginformasikan pada awalnya adalah dari data yang bisa diolah dalam kurun waktu tercepat (kurang dari 5 menit).Data tersebut kemudian disempurnakan lagi dari hasil perkembangan data baru. Mobil BNPB berkeliling dan meminta warga untuk ke bukit.Hanya beberapa detik setelah gempa terjadi, BNPB sudah berkeliling. Demikian laporan warga di sana kepada media. Petugas meminta warga naik ke bukit dengan kendaraan sedapatnya.Kemudian warga berhamburan, ada yang menggunakan sepeda motor, sebagian menggunakan mobil. Berdasarkan pantauan sampai satu jam kemudian, tidak ada kerusakan yang dilaporkan dan seluruh warga sudah ada di perbukitan. Seperti yang disampaikan Pak Suharjono, Kepala Informasi BMKG, BMKG masih terus memantau apakah masih ada tandatanda akan terjadi tsunami. Pemantauan akan dilakukan satu sampai dua jam. Peristiwa gempa berkekuatan 8,5 SR yang diikuti peringatan Tsunami, mengacaukan lalu lintas di pusat Kota Banda Aceh. Warga yang trauma dengan musibah tsunami pada tahun 2004 silam, panik dan coba menyelamatkan diri menuju ke tempat yang lebih tinggi. Rambu lalu lintas pun tidak dipedulikan lagi sehingga kendaraan saling beradu arus dan menimbulkan kemacetan parah. Gempa susulan kembali dirasakan di Simeleu Aceh dengan kekuatan yang lebih rendah yaitu 6,5 SR. Sementara itu, di Banda Aceh getaran gempa membuat banyak plafon dan atap

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

29


rumah roboh dan arus listrik terputus, internet terganggu, dan akses telepon terhambat. Gempa tidak hanya dirasakan di Aceh dan Sumatra, menurut pusat peringatan tsunami wilayah Pasifik di Hawaii, gempa berpotensi tsunami dirasakan kuat di India bagian selatan. Diperkirakan tsunami akan berdampak luas hingga Malaysia, Sri Lanka, Australia, Myanmar, Thailand, Kepulauan Maladewa, Pakistan, Somalia, Oman, Iran, Bangladesh, Kenya, Afrika Selatan, dan Singapura. BNPB memperkirakan gempa yang terjadi di Aceh tidak akan mengakibatkan tsunami yang besar karena gempa dipicu oleh pergeseran sesar bukan karena sesar naik atau disebut Megathrust. Meskipun demikian, warga diminta untuk tetap waspada.Dial di Kabupaten Subusalam, Aceh, berada pada posisi 75 km dari pantai. Aktivitas sudah normal dan tidak merasakan gempa susulan, namun gempa yang pertama dirasakan cukup lama, sekitar lima menit. Listrik padam sekitar 30 menit.Berikutnya informasi dari Kapolres Singkil, Bapak Bambang Safrianto.Beliau menuturkan bahwa masyarakat melakukan evakuasi menyelamatkan diri masingmasing.Kebanyakan menuju ke arah Kecamatan Gunung Muria karena daerah tersebut sudah ditetapkan sebagai titik aman dan sebagai pusat perekonomian.Sudah tidak ada lagi warga di pesisir, hanya tinggal beberapa orang yang memang bertugas memantau kondisi ketinggian air.Gempa susulan tidak dirasakan kuat. Kemudian diikuti oleh info dari Aceh Info: tsunami sudah melanda Calang dan Simeleu, Tebah Selatan dengan ketinggian 6m. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, selanjutnya peneliti

di bahas dalam tiga bagian, yaitu teks transkrip siaran Sindo Trijaya FM Radio pada tanggal 11 April 2012, proses produksi berita, dan info peringatan dini tsunami. Berikut ini adalah pembahasannya. Analisis Teks Siaran Sindo Trijaya FM Radio pada 11 April 2012 Data dan analisis ini meliputi satu wacana dari sebuah wawancara yang dilakukan beberapa kali sesuai dengan perkembangan kebutuhan dalam proses penelitian. Berdasarkan metode analisis wacana kritis, penulis menganalisis dari elemen-elemen yang dikemukakan van Dijk pada struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro, yaitu sebagai berikut. a. Struktur Makro (Tematik): Tema siaran adalah informasi paska bencana gempabumi dan tsunami di Sumatera pada 11 April 2012.Sumber informasi dari BMKG adalah yang ditunggu-tunggu oleh Sindo Trijaya FM Radio. Selebihnya, Radio Sindo Trijaya menghimpun data terbaru bencana tersebut b. Superstruktur (Skematik/Alur) Bagan di atas dimunculkan oleh peneliti untuk mempermudah pemahaman alur bagaimana berita diproduksi dan disampaikan ke public (pendengar). Berikut ini adalah penjelasannya: BMKG sebagai pusat informasi dan pesan warning receiver system (WRS) yang terkadang bunyi telah mempengaruhi konten materi pemberitaan. Penyusun berita ialah produser yang bertugas pada waktunya. Berita ditulis manual (chat ke ruang siaran). Selain itu, berita yang sudah teragendakan ditulis oleh Newsletter.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

30


Sindo Trijaya FM Round Up: update news, tiga berita : olahraga, fashion, dan gadget. Hingga pukul 6 tidak ada info tiga berita. Setelah melihat impak yang tidak terlalu banyak maka intensitas dan muatan berita dikurangi. Terjadi kehilangan informasi saat konfrensi pers antara BNPB dengan BMKG. Sindo Trijaya FM melakukan relay siaran langsung BMKG dari TV (TVRI-karena Lembaga Penyiaran Publik, Group MNC, RCTI, TV One, Metro TV). Alasan terjadinya kehilangan informasi dikarenakan audio di BMKG kurang representatif. Grup radio meminta bahan berita sehingga siarannya agak lama dari Sindo Trijaya FM. Materi siaran diperoleh dari web group. Berbeda dengan 19 radio jaringan Sindo Trijaya FM di berbagai daerah yang menerima berita otomatis secara langsung. Sindo Trijaya FM direlai penuh oleh beberapa radio ‗gelap‘ di Indonesia, misalnya di Ende NTT, Sulawesi Barat, Bojonegoro, dan Jeddah (streaming). c.

Struktur Mikro : i.

Analisis Semantik

Latar: Semua berita yang naik berisi mengenai gempa besar/kecil, berpotensi tsunami/tidak. Terjadinya simpang siur informasi dan pesan yang beredar dan dapat mengakibatkan terjadinya kebingungan bagi masyarakat. -

Detail:

Transkrip siaran yang merupakan sumber data primer penelitian ini tidak hanya berisi tentang ucapan penyiar menginformasikan bencana kepada pendengar, namun juga terdapat komunikasi langsung melalui telepon antara penyiar dengan contributor atau narasumber.

Dari pihak BMKG sebagai komunikator kurang mempersiapkan jalur penyampaian informasi atau pesan kepada media (radio), yang mana mereka sebagai rantai sistem penyalur informasi atau pesan kepada masyarakat. Hal tersebut membuat kredibilitas BMKG di mata masyarakat dipertanyakan. -

Maksud: Eksplisit.

Penyiar memberitakan Informasi BMKG yang pada awalnya adalah berasal dari data yang bisa diolah dalam kurun waktu tercepat (kurang dari lima menit). Data tersebut kemudian disempurnakan lagi dari hasil perkembangan data-data baru. Namun isi peringatan tidak disampaikan in time (sesuai pada waktu sesaat sebelum peristiwa terjadi) Hal lain yang lebih rinci, penyiar dan produser menyiarkan isi berita tanpa editing/ pemotongan/ manipulasi data. Hal ini diketahui dari jawaban narasumber atau para koresponden Sindo Trijaya FM yang cenderung terbuka apa adanya, di beberapa daerah dalam penyampaian informasi. Disampaikan secara terperinci, dimulai dari ukuran kuatnya gempa, waktu terjadinya gempa, dan situasi kondisi dari daerah tersebut ketika dan seusai terjadinya gempa. ii.

Analisis Sintaksis

Bentuk kalimat dalam makna koherensi: produser menghubungi kontributor atau warga yang berada di sekitar lokasi kejadian untuk mendapatkan informasi kondisi terbaru dan terlengkap. Kata ganti: hampir ditemukan kata ganti dalam teks siaran, kecuali kata ganti ―kita‖ yang bermakna Sindo Trijaya FM Radio dan pendengar. Contohnya,

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

31


―...pendengar Sindo Trijaya FM, kita akan kembali menghubungi....‖. Dalam konteks kalimat ini, kata ‗kita‘ digunakan penyiar untuk menimbulkan kesan dekat (proximity) antara penyiar dengan pendengar. iii. Analisis Stilistik/ Leksikon (Makna Kata) Kekuatan gempa dan situasi diceritakan/ digambarkan dengan sangat deskriptif dari narasumber dan diulang penyampaiannya oleh penyiar. Data deskriptif yang dimaksud adalah sebagai berikut: - ―bentuk gempa yang terjadi ialah seperti ‗ngeper‘‖ - ―Bentuk gempa seperti dibuai‖ - ―Gempa pening‖

menyebabkan

sedikit

- ―Tiang listrik dan papan iklan bergoyang dengan durasi gempa sekitar 3 sampai 4 menit‖ - ―Plafon dan atap rumah roboh dan arus listrik terputus, internet terganggu, dan akses telepon terhambat‖ iv. Stailistik (Retoris) -

Gaya Penulisan berita yang dibacakan oleh penyiar: Deskripsi

-

Grafis: adanya alur cerita yang tersusun rapi, bahkan penambahan informasi dan pesan dari berbagai daerah oleh koresponden Sindo Trijaya FM Radio yang menyempurnakan suatu alur yang rapi dan kokoh. Yang terpenting dan terutama adalah keikutsertaan data-data lengkap dan cukup akurat yang dikumpulkan bukan hanya dari satu sumber saja, melainkan dari banyak sumber.

Kognisi Jurnalis dalam Memproduksi Berita Gempa Bumi dan Tsunami di Radio Sindo Trijaya FM Sumber yang pertama kali dihubungi oleh Sindo Trijaya FM Radio adalah kontributor di daerah yang terdampak langsung.Jika kontributor tidak dapat dihubungi maka Sindo Trijaya FM menghubungi warga setempat untuk menanyakan kondisi di lokasi kejadian.Sindo Trijaya FM melakukan itu karena merupakan strateginya memaksimalkan waktu yang ada. MenurutWakil Pemimpin Redaksi Sindo Trijaya FM Radio, Gaib Maruto Sigit, line telepon BMKG akan sangat sulit dihubungi karena semua media pasti akan menghubungi institusi tersebut. Mengapa Sindo Trijaya FM Radio tidak menghubungi BNPB karena menurut Gaib, BNPB ‗bereaksi‘ pada fase paskabencana. Lagipula, BNPB melalui nomor pribadi Kepala Pusdatin, Sutopo Purwonugroho, lebih cepat mengirimkan pesan kepada media dibandingkan dengan peringatan dini yang dikirimkan oleh BMKG melalui Warning Receiver Syste (WRS). Sindo Trijaya FM Radio menjalankan SOP pemberitaan terkait bencana.Setiap bencana gempa bumi yang berpotensi tsunami wajib diberitakan dalam program itu.Sedangkan bencana gempa bumi yang tidak berpotensi tsunami juga wajib disiarkan dalam format siaran biasa. Melihat hal ini, peneliti mengkritisi fungsi dan peran radio sebagai media informasi publik.Radio dengan banyak kelebihannya menjadikan fungsi dan perannya dalam kondisi darurat bencana menjadi penting. Peran ini akan menjadi optimal jika ada kesadaran dan kerja samaantara masyarakat, pihak media, dan pemerintah akan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

32


perannya masing-masing bencana melanda. Analisis Sosial Bencana dalam Trijaya FM Radio

ketika

terhadap Isu Siaran Sindo

Isu yang menjadi prioritas redaksi Sindo Trijaya FM Radio adalah isu politik dan ekonomi. Menurut Gaib, kedua isu inilah yang paling dibutuhkan oleh pendengar/publik. Berdasarkan hasil wawancara dengan Wakil Pemimpin Redaksi Sindo Trijaya FM Radio, diketahui bahwa isu bencana selalu diberitakan/dimunculkan setiap kali bencana terjadi, tidak terkecuali gempa bumi yang tidak berpotensi tsunami. Namun, dengan metode wawancara terhadap narasumber yang sama, diketahui bahwa isu bencana bisa dikatakan tidak menarik. Hal tersebut dikemukakan berdasarkan jumlah sms atau pesan blackberry yang masuk ke nomor resmi kantor redaksi Sindo Trijaya FM Radio. KESIMPULAN Pemberitaan Sindo Trijaya FM Radio sebagai media penyiaran pada saat bencana gempa bumi berpotensi tsunami 11 April 2012, ditinjau dari metode analisis wacana kritis yaitu melihat dari Analisis Teks Siaran Sindo Trijaya FM Radio pada 11 April 2012, Kognisi Jurnalis dalam Memproduksi Berita Gempa Bumi dan Tsunami di Sindo Trijaya FM Radio, dan Analisis Sosial terhadap Isu Bencana dalam Siaran Sindo Trijaya FM Radio adalah sebagai berikut. 1. Media radio tidak hanya berfungsi sebagai saluran komunikasi yang menyampaikan/ menyiarkan informasi, namun lebih dari itu, radio merupakan

bagian penting dalam rantai peringatan dini gempabumi dan tsunami. Fungsi radio sangat penting dalam mendiseminasikan informasi mengenai waktu landa tsunami, arah evakuasi, titik aman evakuasi, serta tidak menambah kepanikan warga yang sedang terdampak. Artinya, radio turut mengambil peran sebagai saluran informasi yang dapat mengurangi jumlah korban bencana. 2. Analisis teks siaran Sindo Trijaya FM Radio menunjukkan bahwa informasi yang disiarkan oleh Sindo Trijaya FM Radio terhadap peristiwa bencana 11 April 2012 sudah menyebutkan beberapa pesan peringatan dini tsunami yang dikirimkan oleh BMKG. Namun, pembaca dan pengolah pesan, dalam hal ini produser dan penyiar masih tampak belum memahami makna pesan peringatan dini. Hal tersebut dapat diketahui dari tidak disebutkannya jenis peringatan dini. Pengembangan isi pesan belum dilakukan secara optimal, baik oleh produser maupun penyiar. Pesan siaran masih seputar bagaimana gempa dirasakan, apa yang dilakukan saat gempa, bagaimana kondisi terkini. Metode pengembangan pesan dilakukan lebih banyak dengan menghubungi narasumber di lapangan, seperti warga, aparat setempat, dan kontributor/koresponden. Adapun narasumber dihubungi di tingkat nasional adalah BNPB dan BMKG. Pertanyaan untuk narasumber disusun oleh produser dan penyiar berhak mengembangkan pertanyaan tanpa perlu berkonsultasi lebih dulu dengan produser.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

33


3. Kognisi Jurnalis dalam Memproduksi Berita Gempa Bumi dan Tsunami di Sindo Trijaya FM Radio menurut kajian ini sudah cukup baik, namun belum didukung oleh kebijakan yang tertulis secara khusus mengenai prosedur pemberitaan bencana gempa bumi dan tsunami.

4. Hasil analisis pemberitaan, Isu Bencana dalam Siaran Sindo Trijaya FM Radio tidaklah menjadi isu prioritas. Walaupun demikian, Sindo Trijaya FM Radio selalu memberitakan semua peristiwa gempa bumi walaupun tidak berpotensi tsunami, berdasarkan informasi yang

5. diterima dari BMKG. DAFTAR PUSTAKA - Arkunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (Edisi Revisi IV). Jakarta: Rineka Cipta. - Ardianto, Elvinaro. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Simbiosa Rekatama Media. Bandung: Simbosa Rekatama Media. - Ardianto, Elvinaro. 2007. KomunikasiMassaSuatuPengantar. Bandung: Simbosa Rektama Media. - Ardianto, Elvirano, Lukiati Komala, Siti Karlinah. 2010. KomunikasiMassasuatupengantar edisi revisi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. - Eriyanto. 2001. AnalisisWacanaPengantarAnalisisT eksMedia. Yogyakarta: LKIS. - Guba, E. dan Y. Lincoln. 1988a. Do Inquiry paradigm Imply Inquiry Methodologies? In D. Fetterman (Ed.) Qualitative Approaches to Evaluation in Education. New York: Preager. - Moleong, Lexi J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. - Mulyana, Deddy. 2006. Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu

-

-

Sosial lainnya. Bandung: Remaja Rosda Karya. Nazir, Moh. 1998. Metode Penelitian. Cetakan ke tiga. Jakarta: Ghalia Indonesia. Pamela J. Shoemaker and Stephen D. Reese. 2005. Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content, edisi ke-2. New York: Longman Publisher. Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosda Karya. Sudibyo, Agus. 2005. Politik Media dan Pertarungan Wacana, cetakan 1. Yogyakarta: LKiS.

- West, Richard and Lynn H. Turner. 2007. Introducing Communication Theory: Analysis and Application edisi ke-3. Jakarta: Salemba Humanika. Sumber lain: - http://repository.usu.ac.id/ - Wawancara dengan Wakil Pemimpin Redaksi Sindo Trijaya FM Radio (Gaib Maruto Sigit) pada 15 Agustus 2012 di Kantor Redaksi Sindo Trijaya FM Radio, Kebon Sirih, Jakarta

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

34


ANALISIS HUBUNGAN ANTARA MEDIA SOSIAL DAN KESADARAN MEREK (Studi Kasus pada Komunitas Backpacker Indonesia Wilayah Jabodetabek) PUTTI NURUL CHAIRANI DAN ULANI YUNUS Email: puttinurul@hotmail.com dan uyunus@binus.edu Marketing Communication Department, Faculty of Economic and Communication, Binus University, Jakarta ABSTRACT Research Purpose, to know is there any significant correlation between media social and brand awareness of Logbook application. Research Method, this research was conducted with quantitative methods where research was allowed to use closed questionnaire for data gathering, sample of this research focused on Community of Indonesia Backpacker Jabodetabek Region). The Analysis of this research is using Pearson Correlation to the result of correlation between social media with brand awareness .Result, according to the analysis, social media and brand awareness has significant relations the amount is 65,90%. Conclution, social media has a strong correlation with brand awareness, through this research we expected the social media of Logbook application will be able to build a better relationship with the audience. (PNC) Keywords: Media, Awareness, Brand, Correlation ABSTRAK Tujuan Penelitian, ialah untuk mengetahui apakah ada hubungan yang sifnifikan antara media sosial dengan kesadaran merek aplikasi Logbook pada komunitas Backpacker Indonesia Wilayah Jabodetabek. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan kuesioner sebagai metode untuk pengumpulan data dan menggunakan angket tertutup yang disebarkan kepada Komunitas Backpacker Indonesia Wilayah Jabodetabek. Analisis yang digunakan adalah analisis korelasi Perason untuk mengetahui besarnya kekuatan hubungan antara media sosial dengan kesadaran merek. Hasil yang dicapai adalah hubungan antara medi sosial dengan kesadaran merek mempunyai hubungan signifikan sebesar 65,90%. Simpulan yang dapat diambil adalah media sosial mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kesadaran merek atau dalam membangun kesadaran merek dan diharapkan kedepannya media sosial aplikasi Logbook dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan audiendsnya. (PNC) Kata kunci: Media, Kesadaran, Merek, Hubungan

PENDAHULUAN

Di masa kini kegiatan traveling sudah menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati oleh kalangan masyarakat terutama anak muda. Banyak yang menghilangkan rasa bosan dengan beralih ke traveling dan tak sedikit masyarakat yang menganggap traveling sudah menjadi hobi dan lifestyle, karena traveling sendiri sudah menjadi trending

topic di mata masyarakat terutama anak muda. Umumnya kegiatan traveling yang dilakukan akan dijadikan topik di akun media sosial mereka seperti twitter, facebook, path dan instagram Sudah banyak komunitas traveler yang ada di Indonesia salah satunya adalah Indiscoveria, awalnya mereka hanya sebuah komunitas pemuda yang didirikan di kota Bandung pada awal

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

35


tahun 2013, komunitas ini mempunyai visi untuk membantu pemuda pemudi bangsa mengenal tanah airnya, mereka percaya bahwa masa depan Indonesia yang sejahtera ada di tangan pemuda yang mengenal baik tanah airnya. Dengan itu mereka hadir sebagai wadah serta teman belajar para pemuda Indonesia dalam mengenal Indonesia. Sudah lama bertaut dengan segala kegiatan traveling dan sudah lama juga mempertanyakan kendala-kendala yang paling sering dihadapi oleh masyarakat dalam melakukan traveling. Oleh karena itu komunitas Indiscoveria memutuskan untuk membuat organisasi mereka menjadi PT Indiscoveria Jelajah Nusantara agar bisa membuat suatu produk yang bermanfaat bagi para pemuda pemudi Indonesia yang menyukai traveling dan ketika melihat pertumbuhan mobile device dan mobile application yang sangat pesat di masa ini mereka memutuskan untuk menciptakan aplikasi yang bernama Logbook, yaitu aplikasi yang membantu para expert traveler dan newbie traveler agar bisa berbagi dan mencari informasi seputar traveling. Ide terbentuknya aplikasi ini sudah terbentuk dari Februari 2013 dan diluncurkan pada bulan desember 2013, tujuan dari dibuatnya aplikasi ini adalah sebagai tools untuk mewujudkan visi PT Indiscoveria Jelajah Nusantara, yaitu mengantar pemudapemudi Indonesia untuk lebih mengenal tanah air-nya dan menyebarkannya kepada masyarakat melalui wadah yang praktis dan fleksibel yaitu Logbook. Aplikasi ini akan memberikan berbagai tempat wisata rekomendasi kepada pengguna Logbook sehingga para traveler tidak akan bingung dalam menentukan tempat tujuan mereka dan bisa melihat secara rinci dan detail mengenai tempat apa saja yang sudah dituju para traveler lainnya dan berapa banyak biaya yang dikeluarkan. Aplikasi ini ditujukan untuk para traveler khususnya yang mempunyai smart

phone, dan aplikasi ini bisa didapatkan di sistem iOS dan Android. Dalam upaya membangun kesadaran merek aplikasi Logbook di mata traveler, public relations aplikasi logbook menggunakan media sosial sebagai wadah promosi mereka, media sosial yang digunakan adalah Facebook, Twitter karena kedua channel tersebut dianggap sebagai channel yang paling berpengaruh dalam memasarkan suatu produk terutama di kalangan anak muda. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalahnya adalah apakah ada hubungan yang signifikan antara media sosial dengan kesadaran merek aplikasi Logbook pada Komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek?‖ Tujuan penelitiannya adalah untuk manganalisis hubungan antara media sosial dengan kesadaran merek aplikasi Logbook pada Komunitas Backpacker Indonesia Wilayah Jabodetabek. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Public Relations On Net

Social Media

Brand Awareness

1. Quality

1. Top of Mind

2. Intent of Purchase

2. Brand Recall

3. Feedback and Interactions

3. Brand Recognition 4. Unaware of Brand

4. Awareness

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Dari bagan diatas dijelaskan bahwa public relations on net melakukan promosi dan menjalankan interaksi melalui media sosial yang diturunkan menjadi beberapa indikator yaitu :

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

36


a. Quality untuk mengetahui seberapa besar kualitas konten yang di post oleh media sosial aplikasi Logbook Travel di mata Komunitas Backpacker Indonesia b. Feedback and interactions untuk mengetahui apakah respon dan interaksi dari admin media sosial aplikasi Logbook Travel dengan user berjalan dengan baik dalam hal memberikan informasi atau menjawab pertanyaan user c. Purchase intent untuk mengetahui apakah media sosial aplikasi Logbook Travel mempengaruhi para user untuk mengunduh aplikasi Logbook Travel d. Awareness untuk mengetahui diantara media sosial facebook dan Twitter apakah ada yang mempunyai hubungan signifikan dalam membangun kesadaran merek aplikasi Logbook. Kemudian ada variabel kesadaran merek yang diturunkan menjadi 4 dimensi yaitu: a. Top of Mind, untuk mengetahui apakah aplikasi Logbook sudah berada di dalam puncak pikiran anggota komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek. b. Brand Recall untuk mengetahui apakah konsumen mempunyai kemampuan untuk mengingat aplikasi Logbook ketika dibantu dengan pengenalan logo atau deskripsi umum aplikasi Logbook. c. Brand Recognition untuk mengetahui apakah konsumen dapat mengenal aplikasi logbook ketika dibantu dengan penyebutan tagline atau ciri-ciri yang mendalam mengenai aplikasi Logbook. d. Unaware of Brand untuk mengetahui apakah anggota komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek merasa

sangat asing dengan keberadaaan aplikasi Logbook tersebut dan hampir tidak mengenali eksistensi dari produk tersebut. Dari variabel media sosial dan kesadaran merek ingin diketahui apakah terdapat hubungan signifikan antara variabel media sosial dan kesadaran merek dan diantara media sosial Twitter dan Facebook manakah yang paling mempunyai hubungan signifikan dalam membentuk atau membangun kesadaran merek. Hipotesisnya adalah: H0: Tidak ada hubungan signifikan antara media sosial dengan brand awareness aplikasi Logbook pada komunitas Backpacker Indonesia Ha: Adanya hubungan signifikan antara media sosial dengan brand awareness aplikasi Logbook pada komunitas Backpacker Indonesia METODE PENELITIAN Penelitian ini melakukan metodologi kuantitatif, seringkali metode kuantitatif dianggap sebagai metode tradisional karena sudah mentradisi metode ini digunakan dalam sebagian besar penelitian, metode ini juga dikenal sebagai metode yang positivis karena berlandaskan pada filsafat positivis. Dalam melakukan penelitian terhadap hubungan antara media sosial dengan kesadaran merek aplikasi Logbook maka jenis penelitian yang akan dipakai adalah metode survey karena dalam metode ini dituntut untuk mendapatkan data dari tempat yang alami (bukan dari tempat buatan). Data akan dikumpulkan menggunakan kuesioner dan penghitungan kuesioner digunakan dengan menggunakan skala likert yaitu 1 (Sangat Tidak Setuju), 2 (Tidak Setuju), 3 (Ragu-Ragu), 4 (Setuju), 5 (Sangat Setuju) Variabel mempunyai 2 sisi yaitu variabel dependen dan variabel

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

37


independen. Variabel independen merupakan variabel yang menyebabkan pengaruh terhadap variabel lainnya dan variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya (Kriyantoro, 2012: 20). Variabel dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel Pengaruh atau Bebas (Independen), merupakan variabel yang mempengaruhi variabel lainnya, yaitu: X = Media Sosial Yang menjadi variabel independen disini adalah variabel media sosial dan mempunyai 4 dimensi di dalamnya yaitu quality, interactions and feedback, puechase intent dan Awareness 2. Variabel Tergantung atau Tidak Bebas (Dependen), merupakan variabel yang akan dipengaruhi oleh variabel pengaruh atau bebas, yaitu: Y = Kesadaran Merek Yang menjadi variabel dependen disini adalah variabel kesadaran merek dimana mempunyai 4 dimensi didalamnya yaitu puncak pikiran, pengingatan kembali terhadap merek, pengenalan merek dan tidak menyadari keberadaan merek. Variabel media sosial mempunyai 8 butir pertanyaan dan variabel kesadaran merek mempunyai 12 butir pertanyaan. Populasi yang digunakan untuk mendukung pengumpulan data adalah anggota komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek sebanyak 734 anggota dan penentuan sampel akan ditentukan menggunakan rumus slovin. Sugiyono menyatakan salah satu teknik untuk menetukan jumlah sampel dari suatu populasi adalah dengan

menggunakan rumus sebagai berikut:

slovin

n N e

: Jumlah sampel : Jumlah populasi : Batas toleransi kesalahan (Sugiyono,2012:164) Dalam penggunaan rumus ini harus ditentukan batas toleransi kesalahan. Penentuan batas toleransi dinyatakan dalam bentuk persentase, semakin kecil persentase kesalahannya maka semakin akurat sampel tersebut bisa menggambarkan populasinya. Umar dalam Sugiyono (2012:164) menyatakan bahwa batas kesalahan yang ditolerir bagi setiap populasi yang tidak sama adalah 1%, 2%, 3%. 4%, 5%. Atau 10%. Batas toleransi kesalalahan yang digunakan untuk populasi komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek adalah 10%. Berdasarkan hasil dari perhitungan rumus slovin diatas maka akan diambil sampel sebanyak 88 anggota Komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek.

Dalam melakukan penelitian ini yaitu apakah ada hubungan antara media sosial dengan kesadaran merek aplikasi Logbook maka akan dilakukan beberapa langkah pengujian yaitu uji validitas, uji realibilitas, uji normalitas, analisis korelasi dan uji hipotesis.

HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil penelitian maka ditemukan data-data sebagai berikut: Uji Validitas Uji validitas akan dilakukan menggunakan corrected item total correlation dengan menggunakan r-tabel sebagai alat ukur (nilai ď Ą = 0.05; n:30)

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

38


dan apabila disesuaikan dengan r-tabel butir-butir pertanyaan dalam kuesioner maka hasilnya adalah 0.361, dengan tersebut tidak valid. Apabila terdapat persyaratan apabila nilai r positif (r ď Ą butir pertanyaan yang tidak valid 0,361) maka butir-butir pertanyaan maka akan dilakukan penghapusan dalam kuesioner itu valid akan tetapi terhadap pertanyaan tersebut agar bisa apabila nilai r negatif (r < 0.361) maka disebar kepada 88 responden. Tabel 1.1 Uji Validitas Variabel X (Media Sosial) NO

Pertanyaan

rhitung

r table

Kesimpulan

P1

Saya mendapatkan informasi yang saya butuhkan dari media sosial aplikasi logbook

0.645

0.361

Valid

0.727

0.361

Valid

0.739

0.361

Valid

0.521

0.361

Valid

0.513

0.361

Valid

0.501

0.361

Valid

0.566

0.361

Valid

0.608

0.361

Valid

P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8

Informasi yang diberikan oleh akun media sosial logbook travel berkualitas dan menarik Media sosial memberikan pengaruh kepada saya untuk mengunduh aplikasi logbook travel Saya tertarik untuk mengunduh aplikasi logbook karena ramai diperbincangkan di media sosial Media sosial menjadi sarana komunikasi yang baik bagi user dan admin Logbook Travel Respon admin media sosial Logbook Travel jelas dan interaktif Saya menyadari keberadaan aplikasi Logbook Travel melalui media sosial Twitter Saya menyadari keberadaan aplikasi Logbook Travel melalui media sosial Facebook

Sumber: Hasil Pengolahan Menggunakan SPSS 21 Tabel 1.2 Hasil Uji Validitas Variabel Y (kesadaran Merek)

NO P1 P2 P3 P4 P5

Pertanyaan Saya sangat familiar dengan aplikasi logbook Saya selalu menyebutkan aplikasi Logbook setiap ada yang bertanya kepada saya mengenai aplikasi untuk traveling Ketika memikirkan traveling saya langsung teringat untuk menggunakan aplikasi logbook travel Saya mengingat jelas aplikasi logbook apabila ada yang membicarakannya Saya mengenali dengan jelas aplikasi logbook apabila melihat logonya

rhitung

r table

Kesimpulan

0.791

0.361

Valid

0.804

0.361

Valid

0.818

0.361

Valid

0.725

0.361

Valid

0.842

0.361

Valid

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

39


Saya bisa menyebutkan fitur aplikasi logbook ketika ada yang bertanya Saya tidak bisa mengenali/mengingat jelas aplikasi logbook apabila tidak ada yang menyebutkan secara detail isi dan kegunaannya Saya mengenal aplikasi logbook travel apabila ada yang menyebutkan tagline nya Saya mengenal aplikasi logbook travel apabila ada yang menyebutkan tagline nya Saya hampir tidak menyadari keberadaan aplikasi Logbook Saya merasa asing dengan aplikasi logbook Saya tidak pernah mendengar aplikasi logbook sebelumnya

P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12

Dari hasil uji validitas yang dilakukan didapatkan hasil bahwa semua variabel media sosial mempunyai nilai yang valid pada setiap butir

1 2

0.896

0.361

Valid

0.771

0.361

Valid

0.730

0.361

Valid

0.709

0.361

Valid

0.291

0.361

Tidak Valid

0.425

0.361

Valid

0.140

0361

Tidak Valid

pernyataannya dan pada variabel kesadaran merek terdapat 2 butir pernyataan yang tidak valid sehingga 2 pernyataan tersebut tidak akan disebar kepada 88 responden.

Tabel 1.3 Uji Reliabilitas Cronbach Alpha No Variabel Nilai Alpha Total item Keterangan Cronbach Media Sosial 0.878 8 Reliabel Brand Awareness 0.926 10 Reliabel Sumber: Hasil pengolahan data menggunakan SPSS 21

Uji Realibilitas Uji realibilutas dilakukan dengan meggunakan cronbach alpha, dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,70 (Ghozali, 2013: 48). dijelaskan bahwa setiap variabel mempunyai nilai yang reliabel karena setiap variabel mempunyai nilai diatas 0.70 (> 0.70) sehingga kuesioner memenuhi persyaratan untuk disebarkan kepada 88 responden yang sudah ditetapkan sebelumnya. Uji Normalitas Uji statistik KolmogorovSmirnov digunakan untuk mengetahui apakah sebaran suatu data terdistribusi secara normal atau tidak, kesimpulannya

adalah apakah data yang didapat dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Tolak ukur normalitas suatu data mengacu pada nilai signifikan diatas 0,05 (> 0,05) (Ghozali, 2013: 32) Untuk mendeteksi normalitas data perlu dilakukan pengujian data dengan menentukan hipotesis pengujian terlebih dahulu yaitu: H0: Data terdistribusi secara normal Ha: Data tidak terdistribusi secara normal

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

40


awareness aplikasi Logbook pada komunitas Backpacker Indonesia Untuk menguji signifikansi hubungan antar variabel sehingga bisa mengetahui hasil uji dari (H0) dan (Ha) perlu dilakukan uji dengan rumus korelasi product moment pearson :

Tabel 1.4 Uji Normalitas KolmogorovSmirnov

Variabel Media Sosial Kesadaran Merek

Nilai K-S 0,901

Nilai Distribusi Sig. 0,391 Normal

0.681

0.743 Normal

Sumber: Hasil Data Menggunakan SPSS 21

Tabel 1.4 menunjukkan bahwa sebaran distribusi bersifat normal karena memenuhi syarat pengujian. Uji Korelasi dan Hipotesis Untuk menguji korelasi antar variabel perlu ditentukan terlebih dahulu hipotesis yang akan diuji yaitu: H0: Tidak ada hubungan signifikan antara media sosial dengan brand awareness aplikasi Logbook pada komunitas Backpacker Indonesia Ha: Adanya hubungan signifikan antara media sosial dengan brand

t = 0.659 88-2 t = 8,125

 1  (0.659)2

Selanjutnya nilai t hitung dibandingkan dengan harga t tabel dengan acuan sebagai berikut: a. N – 2 = 86 b. /2 = 5% 2 c. Setelah dilakukan pembandingan dengan tabel t maka didapatkan hasil t tabel sebesar 1,988

Tabel 1.5 Hasil Uji Korelasi dan Signifikansi Variabel X dan Y Hubungan Variabel Nilai r Kekuatan Keterangan thitung ttabel X dan Y Hubungan Media sosial dengan 0.659 Kuat 8,125 1.988 Signifikan kesadaran merek Sumber: Hasil Pengolahan Data Menggunakan SPSS 21

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

41


Dari hasil uji diatas terbukti bahwa hubungan antara media sosial dengan kesadaran merek apabila mengacu pada skala koefesien korelasi adalah kuat dan uji hipotesis terbukti bahwa Ho ditolak karena t hitung lebih besadr daripada t tabel.

PEMBAHASAN

Dimensi Quality mempunyai nilai yang tertinggi diantara dimensi lainnya oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semakin berkualitas konten yang dibuat oleh admin media sosial aplikasi Logbook maka akan semakin meningkatkan kesadaran audiens terhadap aplikasi Logbook. Powell, Steven, Dimos (2011:112) menyatakan bahwakualitas suatu pesan merupakan suatu hal yang sangat bagus untuk meningkatkan kesan persuasif mengenai produk yang di perbincangkan, kualitas dalam media sosial sendiri bisa terbentuk melalui bahasa yang dipergunakan, seberapa sering frekuensinya dan bagaimana admin dari media sosial tersebut bisa menempatkan produk mereka di tengah-tengah masyarakat tanpa mengganggu masyarakat. Selanjutnya terlihat, dimensi interactions and feedback mempunyai skor yang tinggi, dari hal ini bisa disimpulkan bahwa interaksi yang dilakukan oleh admin media sosial aplikasi Logbook berhasil membangun kesadaran komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek. Rohim (2009: 15) menyatakan bahwa suatu umpan balik bisa berupa verbal ataupun nonverbal karena suatu umpan balik merupakan alat ukur seorang komunikator untuk bisa mengetahui apakah pesan yang diberikan sudah tersampaikan secara keseluruhan atau tidak, merujuk pada tabel 4.5 maka bisa disimpulkan bahwa interaksi yang dilakukan antara admin media sosial aplikasi Logbook dengan Komunitas Backpacker Indonesia berjalan dengan baik dan makna yang disampaikan bisa ditangkap oleh kedua belah pihak. Dimensi purchase intent merupakan dimensi untuk mengukur seberapa besar pengaruh media sosial dalam memberikan

informasi kepada Komunitas Backpaker Indonesia sehingga bisa mempengaruhi audiens untuk mengunduh apikasi Logbook, skor dari purchase intent terbilang cukup tinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa media sosial memberikan pengaruh yang cukup besar kepada para audiens untuk mengunduh aplikasi Logbook. Powell, Steven, Dimos menyatakan bahwa apabila media sosial berhenti mengiklakan suatu produk maka kemungkinan besar hasrat masyarakat untuk memiliki produk tersebut semakin menurun karena media sosial mempunyai dampak yang sangat besar untuk segala aspek terutama aspek kesadaran. Awareness merupakan dimensi yang digunakan untuk mengukur apakah ada perbedaan antara media sosial Twitter dan facebook dalam membentuk kesadaran merek di komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek, apabila diukur dari segi skor maka media sosial Twitter yang mempunyai peran signifikan dalam membentuk kesadaran merek pada Komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek. Variabel kesadaran merek terbagi menjadi 4 dimensi yaitu puncak pikiran, pengingatan kembali terhadap merek, pengenalan merek dan tidak menyadari merek sama sekali. Total pertanyaan dari dari variabel kesadaran merek berjumlah 10 pertanyaan yang disebarkan kepada 88 responden. Dimensi top of mind mendapat skor terendah, hal ini membuktikan bahwa komunitas Backpacker Indonesia belum melihat Logbook sebagai suatu merek yang selalu ada dalam pikiran mereka dan juga membuktikan bahwa media sosial belum mempunyai hubungan yang signifikan secara spesifik terhadap pembentukan puncak pikiran audiens khususnya Komunitas Backpacker Indonesia wilayah jabodetabek. Brand recall mendapatkan skor tertinggi, hal ini membuktikan bahwa aplikasi Logbook sudah mempunyai tempat

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

42


yang bagus di dalam pikiran anggota Komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek. Rangkuti (2009:41) menyatakan bahwa brand recall merupakan tahapan dimana seseorang tidak memerlukan bantuan untuk mengingat tetapi hanya saat diminta untuk menyebutkan produk itu. Kesimpulannya adalah media sosial membentuk kesadaran merek dalam tingkatan yang cukup bagus yaitu brand recall. Brand recognition merupakan suatu tingkat kesadaran merek secara minimal, Rangkuti (2009:4) menyatakan bahwa brand recognition merupakan tingkat paling minimal seseorang untuk mengenali suatu merek, sehingga dibutuhkan usaha pengingatan yang kuat untuk bisa mengingat merek dari suatu produk. Dalam komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek tidak sedikit anggota yang masih berada pada tingkatan tersebut, kesimpulannya adalah admin media sosial aplikasi Logbook harus lebih meningkatkan segala aspek agar peningkatan kesadaran merek bisa terjadi. Dimensi unaware of brand merupakan tingkatan paling bawah dalam piramida kesadaran merek, tingkatan unaware of brand dalam Komunitas Backpacker Indonesia wilayah Jabodetabek terbilang cukup tinggi , dalam hal ini perlu dilakukan bantuan pengenalan terhadap aplikasi Logbook, hal ini bisa dilakukan dengan cara memaksimalkan penyampaian informasi melalui media sosial

kesadaran merek aplikasi Logbook, maka diharapkan PT Indiscoveria Jelajah selaku pencipta aplikasi Logbook agar bisa menjadi semakin baik kedepannya

KESIMPULAN Hubungan antara media sosial dengan kesadaran merek aplikasi logbook mempunyai hubungan nilai sebesar 0,659 atau sebesar 65,90% dan apabila dimasukkan kedalam tabel skala korelasi maka dapat disimpulkan bahwa variabel media sosial dan kesadaran merek mempunyai nilai hubungan yang kuat. Setelah dilakukan penyebaran kuesioner terhadap anggota Komunitas Backpacker Indonesia dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara media sosial dengan

DAFTAR PUSTAKA Buku - Ardianto, A.(2011). Metodologi Penelitian Untuk Public Relations Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. -

Eriyanto. (2013). Analisis Isi Pengantar Metodologi Untuk Penelitian Ilmu Komunikasi Dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

-

Ghozali, I. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 21. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

-

Kriyantono, R. (2012). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran, Jakarta: Kencana Prenada Media Group

-

Powell, G & Groves, S.W. & Dimos, J. (2011). ROI Of Social Media.Singapore: John Wiley & Sons

-

Rangkuti, F. (2009). The Power Of Brands. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

-

Rohim, S. (2009). Teori Komunikasi: Persepektif, Ragam dan Aplikasi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

-

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

- Trihendradi, C. (2013). Step By Step IBM SPSS 21: Analisis Data Statistik. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET -

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

West. R. & Turner, L.(2009). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika. 43


-

Wiryanto. (2008). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Grasindo.

-

Ruslan, R. (2001). Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta: Rajawali Pers.

Jurnal - Elmore, K. March, (2010). What is Social Media. Kentucky Banker Magazine, halaman 12-13. Ghozali, I. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS 21. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

-

- Haque, A. (2013). Online Brand Awareness: Determining the Relative Importance of Facebook and Other Strategies Among the Malaysian. Scholarly Journals (Online), Vol 5, No. 4. Diakses Maret 2014 dari http://eresources.pnri.go.id

diakses Maret http://ejurnal.its.ac.id

2014

dari

- Metz, S. (2012). The Internet, New Media and The Evolution of Insurgency. Scholarly Journals (Online), Vol 42, No. 3, diakses pada April 2014 dari http://eresources.pnri.go.id - Setyani, N.E., Hastjarjo, S., & Amal, N.N. (2013). Penggunaan Media Sosial Sebagai Sarana Komunikasi bagi Komunitas, Jurnal Komunikasi (Online), diakses Maret 2014 dari www.dglib.uns.ac.id - Shojaee, S. & Azman. A. (2013). An Evaluation of Factors Affecting Brand Awareness in The Context of Social Media in Malaysia. Journal of Business (online), Vol 9, No. 17. Diakses Maret 2014 dari http://e-resources.pnri.go.id -

Bough, B., & Agresta, S. (2011). Perspectives on social media marketing. USA: Cengage Learning.

- Maharani, et al. (2012). Faktor-Faktor Pengaruh Media Sosial Terhadap Keungulan Bersaing : Studi Kasus Website Coffee Toffee Indonesia. Jurnal - http://www.backpackerindonesia.com/ Komunikasi (Online), Vol 1, No. 1, about, retrieved july 15th 2014 -

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

44


STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DALAM MEMBANGUN KESADARAN MEREK (Studi Kasus Private Label pada Fast Moving Consumer Goods Giant Ekstra Central Business District, Bintaro, Tangerang Selatan) RACHMI KURNIA SIREGAR Email: rachmiks@yahoo.com Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur, Jakarta ABSTRACT Retail business related private label products in Indonesia continue racing with increasing needs and desires of consumers who crave quality products at low prices. One of them was intense Giant Ekstra offers a variety of private label products are oriented to customers. Related to this phenomenon, the study aims to examine the marketing communication strategy Giant Ekstra Central Business District (CBD) Bintaro, South Tangerang in building awareness of private label brands in the fast moving consumer goods (FMCG). This study used a retail communication mix of Levy & Weitz Retail (2009) includes communication tap-mouth (WOM), advertising, sales promotion and store atmosphere. Methods of research used a qualitative approach and case studies based on the conceptual framework of private label, fast moving consumer goods (FMCG), brand awareness and retail communications mix. The results of the study, the use of retail communications mix of Levy by Giant Ekstra indicated not make private label as a FMCG Giant Ekstra on top of brands and top of mind. Giant Ekstra advised continuously improve the quality of private label products with intense enhance performance such as WOM marketing communications, sales promotion, advertising and store atmosphere. And more aggressive in communicating private label products in the FMCG by activating the function of personal selling and direct marketing. Also create a database of customers, establish membership and customer communities. Key words: retail communications mix, brand awareness, private label. ABSTRAK Bisnis ritel terkait produk private label di Indonesia terus melesat seiring meningkatnya kebutuhan dan keinginan konsumen yang mendambakan produk bermutu dengan harga murah. Salah satunya Giant Ekstra yang intens menawarkan aneka ragam produk private label yang berorientasi kepada pelanggan. Terkait fenomena tersebut, penelitian bertujuan mengkaji strategi komunikasi pemasaran Giant Ekstra Central Business District (CBD) Bintaro, Tangerang Selatan dalam membangun kesadaran merek private label pada fast moving consumer goods (FMCG). Penelitian ini menggunakan Teori Bauran Komunikasi Ritel dari Levy & Weitz (2009) meliputi komunikasi ketuk tular (WOM), iklan, promosi penjualan dan store atmosphere. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan studi kasus berdasarkan kerangka konsep pada private label, fast moving consumer goods (FMCG), kesadaran merek dan bauran komunikasi ritel. Hasil penelitian, penggunaan Teori Bauran Komunikasi Ritel dari Levy oleh Giant Ekstra diindikasikan belum menjadikan private label Giant Ekstra pada FMCG sebagai top of brands dan top of mind. Giant Ekstra disarankan terus meningkatkan mutu produk private labelnya dengan intens meningkatkan kinerja komunikasi pemasaran seperti WOM, promosi penjualan, iklan dan store atmosphere. Serta lebih agresif lagi dalam mengkomunikasikan produk-produk private label pada FMCG dengan mengaktifkan fungsi personal selling dan direct marketing. Juga membuat database pelanggan, membentuk keanggotaan dan komunitas pelanggan. Kata kunci: bauran komunikasi ritel, kesadaran merek, private label.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

45


PENDAHULUAN Perdagangan eceran atau ritel di Indonesia kian meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan peluang pasar yang menjanjikan. Derap ritel lokal dimotori Hero Supermarket pada 1972, Gelael Supermarket dan Toko Serba Ada (Toserba) Matahari, Ramayana, Rimo dan Metro. Ritel modern tumbuh menjadi industri strategis yang banyak diincar pihak asing. Circle K (waralaba asal USA) pada 1987 membuka jaringan convienence store (warung yang beroperasi 24 jam) dan â&#x20AC;&#x2014;Sogoâ&#x20AC;&#x2DC; asal Jepang bekerja sama dengan grup Gajah Tunggal menjadi pionir ritel asing dalam penetrasinya di Indonesia. Di era tahun 2000-an, usaha ritel asing di Indonesia terus menggurita. Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat pertumbuhan bisnis ritel di Indonesia berkisar antara 10 hingga 15 persen per tahun. Pada 2012, pertumbuhan ritel berkisar 10-15 persen per tahun atau mencapai Rp138 triliun. Penjualan dari kelas hypermarket menjadi kontributor terbesar dalam penjualan ritel modern disusul minimarket dan supermarket. Pada 2014 omzet ritel modern nasional tumbuh berkisar 10% senilai Rp162,8 triliun. Permintaan produk fast moving consumer goods (FMCG) terutama makanan dan minuman menjadi kontributor utama (>60%) (Sumber: PT Bank Mandiri volume 16, September 2014). Dalam merebut pangsa pasar yang semakin kompetitif, para pengecer harus mampu membuat produk dengan keunggulan tersendiri, unik atau berbeda dengan produk dari pesaing (diferensiasi). Produk yang memiliki merek yang kuat akan lebih mudah memenangkan persaingan (Rangkuti,2009:2). Peritel menyiasati

Tabel 1. 1: Pertumbuhan Omset Ritel Nasional

Sumber: (www.bankmandiri.co.id/indonesia/eriv iew-pdf/OJHH51192704.pdf). diferensiasi itu di antaranya dengan membuat produk yang dijual dengan kemasan dan merek pribadi (private label) bekerjasama dengan pemasok (supplier) yang ditunjuk. Merek memiliki peran strategis dengan menjadi pembeda antara produk yang ditawarkan suatu perusahaan dengan merek-merek saingannya (Shimp, 2003:8). Merek yang kuat adalah merek yang bernilai dan memiliki ekuitas merek. Merek suatu produk/jasa dikomunikasikan melalui serangkaian komunikasi pemasaran antara lain iklan, promosi penjualan, komunikasi ketuk tular dan identitas korporasi. Komunikasi pemasaran berperan penting dalam membangun kesadaran merek, menjalin interaksi, membangun loyalitas pelanggan dan mendukung keunggulan kompetitif berkelanjutan. Satu peritel lokal di Indonesia yakni PT. Hero Supermarket Tbk yang pada 2002 bermitra dengan Dairy Farm International asal Hongkong dan menjalankan bisnis usaha berbendera Giant. Dairy Farm International menguasai 37 persen saham PT Hero Supermarket Tbk. Pada 26 Juli 2002, Giant Hypermarket di Indonesia diawali

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

46


dengan pembukaan gerai baru di Villa Melati Mas, Serpong, Tangerang. Pada 2003 Giant memproduksi private label (PL) dalam berbagai produk mulai barang-barang kebutuhan pokok termasuk yang dijual dengan harga khusus dan cepat terjual atau fast moving consumer goods (FMCG), produk non-pangan/tekstil, peralatan rumah tangga hingga peralatan elektronik. Produk PL ini menggunakan merek Giant. Kehadiran PL bertujuan memenuhi kebutuhan konsumen yang sensitif terhadap harga produk yang berkualitas dan menawarkan aneka pilihan produk dalam berbelanja. Pada 2012 Giant Ekstra meluncurkan ulang PL sebagai brand refresh sekaligus menawarkan aneka produk yang berorientasi kepada konsumen. Dari latar belakang tersebut perumusan masalah sebagai berikut: ‖Bagaimana strategi komunikasi pemasaran dalam membangun kesadaran merek: studi kasus private label pada fast moving consumer goods (FMCG) Giant Ekstra Central Business District (CBD) Bintaro, Tangerang Selatan? KERANGKA PEMIKIRAN a. Komunikasi Pemasaran Tjiptono (1997:219) mendefinisikan komunikasi pemasaran sebagai aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, memengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan. Komunikasi pemasaran merupakan semua elemen-elemen promosi dari marketing mix (bauran pemasaran) yang melibatkan komunikasi antar organisasi dan target audience pada segala bentuknya yang

ditujukan untuk performance pemasaran (Pickton dalam Prisgunanto,2006:18). Komunikasi pemasaran berupaya membentuk konsumen menjadi pelanggan setia. Ada tiga tahap dalam komunikasi pemasaran ditujukan kepada konsumen (Soemanegara, 2006:59) yakni: 1. Perubahan pengetahuan, produsen hanya terbatas menginformasikan produk yang ditawarkan di pasar kepada konsumen. 2. Perubahan sikap konsumen. Untuk merubah sikap tersebut, ada tiga unsur yang berperan yakni Cognitioin (pengetahuan), Affection (perasaan) dan Conation (perilaku). 3. Perubahan perilaku. Produsen kerja keras supaya konsumen terbiasa menggunakan produk yang ditawarkan juga yang terpenting agar konsumen itu loyal dan tidak berpaling kepada produk lain. 4. b. Strategi Komunikasi Pemasaran Kata strategi berasal dari bahasa Yunani klasik yaitu ‗stratos‟ yang artinya tentara dan kata ‗agein‘ yang berarti memimpin (Changara, 2013:61). Strategi adalah perencanaan dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan (Effendy,2007:300). Strategi merupakan arah jangka panjang dan cakupan organisasi, memperhatikan pengadaan keunggulan kompetitif secara ideal dan berkelanjutan sepanjang waktu dengan menggunakan perspektif jangka panjang secara keseluruhan (Faulkner dan Jhonson (1992) dalam Purwanto (2012:14). b.1 Segmentasi, Targeting dan Positioning 1.1 Segmentasi Segmentasi adalah kegiatan pemasaran yang mengelompokkan pasar

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

47


berdasarkan sifat dan karakteristik pelanggan yang sama (Solomon & Elnora, 2012: 185). Segmentasi bertujuan memudahkan produsen dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan sehingga dapat pula memuaskan konsumen yang dituju berdasarkan karakteristik tertentu. Dalam segmentasi terdapat tiga variabel: 1. Segmentasi Demografi dengan mengelompokkan pasar ke dalam kelompok usia, jenis kelamin, suku, tempat tinggal, pendapatan, pendidikan dan pekerjaan. 2. Segmentasi Psikografis dengan mengelompokkan pasar ke dalam kelompok yang berlainan seperti gaya hidup, kelas sosial, kepribadian dan lainnya. 3. Segmentasi Perilaku membagi pasar berdasarkan tingkah laku konsumen terhadap keberadaan produk dan bagaimana pula dalam menggunakannya. Dalam segmen ini mengelompokkan pengguna ataupun non-pengguna produk. Kasali (1998:122) menguraikan lima keuntungan dengan melakukan segmentasi pasar yaitu mendesain produk-produk yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar, menganalisis pasar, menemukan peluang (niche), menguasai posisi yang superior dan kompetitif serta menemukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien. 1.2 Targeting Targeting merupakan proses mengevaluasi seberapa menariknya tiap-tiap segmen dan memilih satu atau beberapa di antaranya untuk menjadi pelanggan (Solomon:2012:186). Pada hakekatnya targetting bertujuan mengalokasikan keterbatasan sumber daya secara efektif ke sasaran

yang tepat melalui proses evaluasi. Serta menunjukkan segmen mana yang akan dilayani sehingga perusahaan harus meninjau potensi menguntungkan dari sasaran pasar di masa mendatang (Kartajaya, 2009:56). Dalam targeting, perusahaan dapat memilih dari empat strategi penentuan sasaran pasar: a. Undifferentiated targeting strategy, strategi penentuan sasaran pasar ini hanya mengembangkan satu produk serupa dengan menggunakan satu bauran pemasaran untuk melayani semua pasar sehingga lebih ekonomis. Namun perusahaan harus kerja ekstra melalui produksi, distribusi dan periklanan untuk dapat menarik minat dari banyak konsumen lainnya. b. Differentiated targeting strategy merupakan strategi penentuan sasaran pasar dengan membuat produk yang memiliki karakteristik berbeda. Hal ini dilakukan produsen agar dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang kian beragam sesuai segmen pasarnya. c. Concentrated targeting strategy, perusahaan dalam strateginya lebih memprioritaskan dengan menawarkan beberapa produk potensial pada satu segmen. d. Custom targeting strategy, pendekatan pemasaran oleh produsen yang berorientasi kepada konsumen. 1.3 Positioning Positioning merupakan upaya pengembangan strategi pemasaran untuk memengaruhi seberapa pengaruhnya segmen pasar terhadap produk dan jasa dibandingkan dengan produk lainnya.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

48


Empat langkah dalam mengembangkan positioning strategi: 1. Menganalisis posisi pesaing agar mampu bersaing dan unggul, perusahaan harus mengembangkan positioning strategi yang efektif berdasarkan kondisi pasar dan dapat memberi nilai lebih akan produk yang ditawarkan. 2. Dalam menawarkan produk dan jasa dengan keunggulan kompetitif, perusahaan harus mampu menjelaskan kepada konsumen terkait kualitas produk yang ditawarkannya lebih baik dari pesaingnya. 3. Dengan menggunakan bauran pemasaran sesuai segmen yang diplih, produk yang ditawarkan pemasar harus mampu memiliki nilai lebih sehingga dapat memuaskan konsumennya. 4. Pemasar harus mampu mengevaluasi respon pasar sehingga dapat memodifikasi strategi jika diperlukan. Pemasar memilih STP sebagai strategi pemasaran karena memiliki â&#x20AC;&#x2014;nilaiâ&#x20AC;&#x2DC;. Nilai inilah yang dikonkritkan dalam bentuk marketing mix. Adapun bentuk marketing mix sangat luas mulai dari merancang dan pengembangan produk, sourcing (mencari dan membina pemasok), penetapan harga, distribusi seraya mengomunikasikan melalui tenaga pemasaran, strategi periklanan dan promosi penjualan seperti pameran dagang dan lainnya (Kasali, 1998: 317). c. Bauran Komunikasi Ritel Mengembangkan program promosi melalui strategi komunikasi pemasaran salah satunya dapat menggunakan bauran komunikasi ritel. Program ini dirancang untuk memperkenalkan layanan toko kepada

konsumen baru, menaikkan penjualan jangka pendek dan jangka panjang dan terpenting membangun loyalitas konsumen. Serta membangun citra merek pengecer di benak pelanggan, meningkatkan penjualan dan lalu lintas toko, memberikan informasi tentang pengecer kepada pelanggan dengan berbagai cara seperti iklan, promosi penjualan dan penjualan personal. Levy (2009:440-465) menyebutkan bauran komunikasi ritel meliputi 11 elemen dasar yaitu : Iklan (Advertising), Promosi Penjualan (Sales Promotion), Atmosfer Toko (suasana toko), Website Toko atau Laman, Penjualan Personal (Personal Selling),, Surat Langsung, E-mail (Surat Elektronik), Marketing Commerce, Publisitas (Publicity), Word of Mouth (komunikasi dari mulut ke mulut) atau komunikasi ketuk tular dan community building. Terkait hal ini Giant Ekstra menggunakan lima elemen dalam menjalankan strategi komunikasi pemasarannya meliputi iklan, promosi penjualan, WOM, store atmosphere dan website. Peneliti membatasi pada empat elemen yakni iklan, promosi penjualan, WOM dan store atmosphere untuk memudahkan penelitian. c.1.Komunikasi ketuk tular (WOM) merupakan komunikasi personal yang dianggap penting dan efektif dalam memberikan informasi terhadap suatu produk (Smith,1996:19) dalam Asâ&#x20AC;&#x2DC;ari (201:26). Levy dan Weitz (2009:453) menjelaskan peritel berkomunikasi dengan para pelanggannya melalui WOM ataupun komunikasi antar individu yang membahas tentang suatu ritel. Tiga karakteristik penting dalam WOM (Kotler, 2013:192) yakni:

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

49


a.

Kredibel: karena orang memercayai orang lain yang dikenal dan hormati, pemasaran dari mulut ke mulut bisa sangat berpengaruh. b. Pribadi: pemasaran dari mulut ke mulut bisa menjadi dialog yang sangat akrab yang mencerminkan fakta, pendapat dan pengalaman pribadi. c. Tepat waktu: pemasaran dari mulut ke mulut terjadi ketika orang menginginkannya dan ketika mereka paling tertarik dan seringkali mengikuti acara atau pengalaman penting/berarti.

c.2. Iklan (Advertising) Iklan merupakan saluran media massa berbayar yang ditujukan kepada konsumen dengan menggunakan saluran komunikasi non personal seperti surat kabar, televisi, radio, direct mail dan internet. atau media lainnya (Levy dan Weitz,2009:447). Shimp (2003:5) menjelaskan iklan sebagai suatu bentuk dari jenis komunikasi massa cetak, elektronik ataupun komunikasi langsung yang dibayar dan didesain khusus untuk pelanggan antar bisnis (business to business). c.3. Promosi penjualan Promosi penjualan menawarkan promosi nilai tambah dan insentif kepada pelanggan untuk mengunjungi toko atau pembelian barang selama periode waktu spesifik (Levy dan Weitz,2009:448). Smith (1996) mengemukakan promosi penjualan merupakan penggunaan insentif yang diberikan oleh perusahaan untuk membujuk konsumen supaya membeli produk.

Promosi yang paling umum adalah penjualan. Promosi penjualan lainnya melibatkan acara khusus, demo produk di toko, kontes produk dan pemberian kupon. Perusahaan harus mampu menggunakan dengan tepat promosi penjualan dalam mempromosikan produk dan jasa untuk mencapai tujuan. c.4. Store Atmosphere Atmosfer toko sebagai elemen utama dari penampilan toko yang menampilkan keseluruhan melalui tata letak fisik toko, dekorasi dan lingkungan sekitarnya (Lamb et al,2001:105). Levy dan Weitz (2009:449) menyebutkan peritel berupaya membangun komunikasi non personal kepada para pengunjung melalui atmosfer toko/suasana toko. Adapun suasana toko itu sendiri sebagai refleksi dari karakteristik fisik toko yang mencakup rancang bangun, tata letak, tanda-tanda/komunikasi visual, warna, pencahayaan, suhu, musik dan aroma yang bersamasama bertujuan membangun citra di benak konsumen. d. Merek Merek yang berhasil menjadi tulang punggung bagi produk atau jasa yang hebat. Didukung perencanaan seksama, komitmen jangka panjang serta pemasaran yang dirancang dan dijalankan secara kreatif dan inovatif. Merek yang kuat menghasilkan loyalitas konsumen yang tinggi (Kotler & Keller,2012:257). Kemampuan pemasar profesional yang paling unik adalah untuk menciptakan, mempertahankan,

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

50


memajukan dan melindungi merek. Kemampuan ini berhubungan erat dengan persepsi konsumen. Diperlukan ketrampilan khusus pemasar dalam hal ini. Mengingat produk semakin mudah dibuat di pabrik tapi merek dibuat dalam benak pikiran pelanggan (Tai & Chew, 2012:304). Branding bukanlah pertarungan untuk menentukan siapa yang dapat membuat produk lebih baik. Melainkan sebagai pertarungan untuk menentukan siapa yang dapat menciptakan persepsi lebih baik. Jadi pertempuran dalam dunia bisnis saat ini tak lagi hanya berkutat pada persoalan produksi barang dan jasa. Tapi yang jauh lebih penting bagaimana strategi produsen dalam membentuk persepsi positif merek suatu produk dan jasa di benak konsumen. Karena kekuatan merek sesungguhnya berada di pikiran konsumen. Merek pada hakekatnya tidak terlepas dari janji produsen kepada konsumen yang menjamin produk/jasanya berkualitas. Hal ini seperti diungkapkan Chevron dalam Shimp (2003:8): Merek adalah sebuah janji kepada konsumen dengan hanya menyebut namanya, timbul harapan merek tersebut akan memberikan kualitas yang terbaik, kenyamanan, status, dan lain-lain yang menjadi pertimbangan konsumen ketika melakukan pembelian. Berdasarkan definisi di atas, penulis memahami merek sangat penting sebagai aset perusahaan demi kelangsungan bisnis. Merek harus pula memiliki nilai tambah dan mampu mencerminkan persepsi total konsumen sebagai

hasil pembedaan dengan produk lain yang bertujuan memenuhi kebutuhan pelanggan. e. Kesadaran merek Aaker dalam Kotler dan Keller (2012:266) menetapkan kesadaran merek sebagai dimensi dasar dalam ekuitas merek dari perspektif konsumen meliputi loyalitas merek, persepsi kualitas dan asosiasi merek dan aset lainnya. Kesadaran merek mengacu kepada kemampuan pelanggan potensial untuk mengenali atau mengingat suatu merek produk/jasa (Levy dan Weitz,2009:444). Untuk meningkatkan kesadaran merek pelanggan terhadap merek produk, menurut Kartajaya (2010:65) perusahaan dapat melakukan beberapa aktivitas sebagai berikut: a. Membuat pesan yang singkat agar pelanggan cepat ingat tapi sulit melupakannya. b. Menggunakan tagline yang pendek untuk mendukung jingle yang menarik. c. Mengembangkan simbol yang memiliki keterkaitan erat dengan merek, contohnya simbol MTV yang memiliki singkatan dan karakter simbol kuat terhadap merek program televisi yang berisikan musik-musik. d. Menggunakan publisitas sebagai pelengkap iklan. Hal ini bukan saja sebagai media promosi, tapi juga untuk mengkomunikasikan pesan dan proses penciptaan citra. e. Memanfaatkan kesempatan untuk menjadi sponsor suatu acara, dengan cara melakukan barter dan melakukan sponsorship. f. Mempertimbangkan untuk menempatkan merek pada produk lain (brand extension), namun sebaiknya jangan terlalu banyak

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

51


g.

extension karena akan sulit untuk mengelolanya. Menggunakan icon untuk membantu pelanggan sadar akan merek.

Kemampuan pelanggan untuk mengenali atau mengingat merek suatu produk dipengaruhi proses komunikasi merek atau persepsi pelanggan terhadap produk yang ditawarkan. Empat tingkatan dalam kesadaran merek berupa piramida menurut Aaker (1997:92) dalam Kartajaya (2010:64) yaitu: 1. Ketidaktahuan akan merek (Unaware of brand) : Pada tahapan ini, pelanggan merasa ragu atau tidak yakin apakah sudah mengenal merek yang disebutkan atau belum. Tingkatan ini yang harus dihindari perusahaan. 2. Pengenalan merek (Brand recognition) : Pada tahapan ini, pelanggan mampu mengindentifikasi merek yang disebutkan. 3. Pengingatan kembali merek (Brand Recall) : Pada tahapan ini, pelanggan mampu mengingat merek tanpa diberikan stimulus. 4. Puncak dari persepsi (Top of mind) : Pada tahapan ini, pelanggan mengingat merek sebagai yang pertama kali muncul di pikiran saat berbicara mengenai kategori produk tertentu.

Gambar 2.1 Piramida Kesadaran Merek (Aaker, 1997:92) f. Private label Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

Kalangan pengecer kini semakin agresif dalam mengelola private label (PL) dan membuat PL menjadi primadona dalam pengembangan usaha bagi peritel untuk meraup keuntungan selain dengan menjual produk bermerek nasional. Peritel memiliki kekuatan power full terkait proses produksi, kualitas, penempatan produk di toko maupun penetapan harga melalui negosisasi dengan pemasok yang dipilih sebagai mitra bisnis. Perantara mencari produsen dengan kapasitas berlebih yang akan menghasilkan merek pribadi dengan biaya rendah (Kotler & Keller,2013:156). Dengan memproduksi private label, peritel tidak perlu mengeluarkan biaya untuk riset dan pengembangan dan lainnya sehingga merek pribadi dapat dijual dengan harga yang lebih rendah tapi menghasilkan margin keuntungan yang lebih tinggi. Jalur-jalur distribusi (pedagang besar, pengecer atau ebusiness baru) dapat mengontrol kekuatan merek. Salah satu trend dalam dekade terakhir yakni pertumbuhan merek dengan label milik pengecer. Kelompok supermarket besar berhasil menggantikan merek produsen dengan merek mereka sendiri dengan persentase tempat rak yang meningkat (Sumarwan dkk,2011:259). PL merupakan keunggulan kompetisi sehingga harus dibangun dan dibesarkan jika peritel ingin menjadi pemimpin di pasarnya (Kanjaya dan Susilo,2010:136). Peritel harus mampu membangun merek yang kuat yang memiliki kemampuan menyapa atau halo effect yang bisa menjadi kekuatan 52


dan berpengaruh dalam proses balancing power. 1.Definisi Private label Vinamra dan Ashok (2014:1) mendefinisikan PL sebagai produk milik peritel yang dikendalikan dengan menjual secara eksklusif di tokonya. Private label adalah merek yang dikembangkan oleh pengecer atau pedagang grosir (Kotler & Keller,2013:155). 2.Strategi Private label Strategi PL menurut Fitzel (1982) dalam Marta (2004:61-66) memiliki tiga komponen yaitu: a.Kualitas Produk, jika kualitas produk PL dapat memuaskan kebutuhan konsumen maka mereka akan menyamaratakan seluruh kualitas dari produk-produk private label tersebut adalah baik. b.Harga Produk, produk PL ditetapkan dengan harga lebih rendah untuk mendorong minat beli konsumen. runkan harga maka dapat mendorong konsumen membeli produk tersebut. Produk-produk PL sering ditempatkan berdampingan dengan produk merek nasional agar konsumen dapat melihat dan membandingkan harganya. c.Kemasan Produk. Pemberian kemasan produk PL berkaitan dengan image yang dimiliki oleh pemasaran atau pelanggan. Dalam pemasaran PL memiliki lima aspek yang harus diperhatikan berkaitan dengan kemasan yaitu konfigurasi wadah, nama merek, simbol, ilustrasi dan logo. 3. Indikator private label Private label memiliki indikator (Sudhir dan Taluktar (2004) dalam Harcar et al

(2006:56) dikutip Asnawi (2009:77) meliputi: kualitas, harga, keterlibatan, loyalitas, familiaritas dan resiko. 1. Kualitas Keputusan pembelian dan loyalitas konsumen terhadap merek salah satunya dipengaruhi dari persepsi kualitas produk. Jika persepsi konsumen positif terhadap kualitas produk, produk akan diminati dan mendorong keputusan pembelian bahkan loyalitas. Assael (2010) dalam Wahyuwidiatri (2010:23) menguraikan tujuh dimensi persepsi kualitas yaitu kinerja, pelayanan, ketahanan, kerakteristik, kehandalan, kesesuaian dan hasil Nilai produk PL menurut Fitzell (1982) dalam Wijaya (2009:95), harus berkualitas baik sebagai karakteristik utama. Jika kualitas suatu produk PL dapat memuaskan kebutuhan konsumen maka mereka akan menyamaratakan seluruh kualitas dari produk-produk ersebut adalah baik. 2. Harga Harga merupakan salah satu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, elemen lain menghasilkan biaya. Melalui harga dapat mengkomunikasikan positioning nilai dari produk atau jasa perusahaan ke pasar. Produk yang dirancang dan dipasarkan dengan baik dapat dijual dengan harga tinggi dan menghasilkan laba yang besar (Kotler & Keller, 2013:67). Agar mampu bersaing dengan produk merek nasional, produk PL harus lebih rendah dengan merek nasional sesuai harapan konsumen (Lamb,2001:296). Namun jika

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

53


perbedaan harga antara merek privat dan merek nasional yang didisribusikan secara nasional terlalu besar, para konsumen cenderung untuk percaya bahwa merek privat mutunya rendah. Di sisi lain, jika pengjhematan tidak cukup, sedikit sekali insentif untuk membeli merek privat. 3.Keterlibatan Keputusan pembelian konsumen terhadap suatu produk ataupun jasa erat kaitannya dengan keterlibatan konsumen itu sendiri. Konsumen akan memiliki keterlibatan yang tinggi atau rendah terhadap produk tergantung dari kepentingan konsumen maupun dampak yang ditimbulkan. Keterlibatan adalah motivasi yang memberi energi dan mengarahkan proses kognitif dan afektif konsumen dan perilakunya saat mengambil keputusan (Peter & Olson,2013:84). 4. Loyalitas Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk mampu membangun loyalitas pelanggan secara berkesinambungan dan menjadi kunci keunggulan (Hasan,2008:78). Mowen dan Minor (1998) dalam Hasan (2008:81) mendefinisikan loyalitas merek sebagai sikap positif konsumen terhadap suatu merek, memiliki komitmen pada merek dan bermaksud melanjutkan pembelian akan merek tersebut di masa mendatang. 5. Familiaritas Familiaritas atau keakraban merek menurut Carrillat et al (2005) dalam Hartanto & Haryanto (2012:275) merupakan tingkatan pengalaman langsung maupun tidak langsung konsumen terhadap suatu

produk atau merek. Dengan kata lain keakraban merek dapat diartikan seberapa akrab konsumen terhadap suatu merek. Pengetahuan konsumen tentang merek yang terkenal dikarakteristikkan dengan asosiasi terstruktur yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengetahuan tentang merek yang kurang terkenal. 6. Resiko Schiffman dan Kanuk (2007) dalam Wahyuwidiatri (2010:24) menjelaskan tipe resiko yang akan dialami konsumen dalam memutuskan untuk membeli produk yaitu: 1. Resiko fungsional merupakan resiko tidak memiliki kegunaan seperti yang diharapkan konsumen. 2. Resiko fisik sebagai resiko yang ditimbulkan suatu produk terhadap diri konsumen. 3. Resiko keuangan merupakan resiko yang ditanggung konsumen saat membeli produk yang tidak sesuai harganya.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

7.Produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) Produk fast moving consumer goods (FMCG) yaitu produk kebutuhan pokok seharihari yang cepat laku terjual untuk dikonsumsi oleh konsumen secara pribadi dan bukan untuk dijual kembali (Sugiarta,2011:5). FMCG menurut Carol (2004:5) dalam Asnawi (2009:76) adalah produk yang dibeli konsumen dari peritel untuk dikonsumsi. FMCG mencakup makanan dan minuman, toiletries, kosmetik dan komponen pendukung lainnya. Jika dilihat dari sisi konsumen, FMCG adalah produk yang berharga murah, memiliki komitmen rendah,

54


keterlibatan dibeli.

rendah

dan

sering

METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan paradigma post-positivisme yakni memandang realitas sosial sebagai satu kesatuan yang holistik, utuh, kompleks, dinamis, penuh makna dan hubungan gejala bersifat interaktif (Sugiyono, 2009:8). Dikaitkan dengan metode penenelitian, post-positivisme dalam prakteknya menerapkan triangulasi data yakni penggunaan berbagai macam metode, sumber data, peneliti dan teori (Denzin dan Guba,2001:40) dalam Ardianto dan Bambang (2011:101). Alasan peneliti menggunakan paradigma post-positivisme untuk mengkaji secara menyeluruh dan utuh terkait strategi komunikasi pemasaran Giant Ekstra Central Business District (CBD) Bintaro, Tangerang Selatan. Serta didukung dengan triangulasi data serta membangun interaksi antara peneliti dengan objek penelitian. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Moleong (2013:6) menguraikan penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud memahami suatu fenomena pada subjek penelitian secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Analisis data yang dilakukan pada penelitian kualitatif bersifat induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan dan dikonstruksi menjadi hipotesa atau teori. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti yang

merupakan suatu nilai di balik data yang tampak (Sugiyono,2009:8-9). Peneliti menggunakan metode penelitian studi kasus dengan tipe intrinsik dan desain penelitian single case holistic yang mengungkapkan fenomena private label pada fast moving consumer goods (FMCG) terkait strategi komunikasi pemasaran Giant Ekstra CBD Bintaro. Strategi tersebut dikaji melalui bauran komunikasi ritel dari Levy dan Weitz (2009) meliputi iklan, promosi penjualan, komunikasi ketuk tular dan suasana toko. Penelitian ini menggunakan triangulasi data yakni melakukan wawancara mendalam dengan sejumlah informan, observasi dan studi kepustakaan. Yin (2000:18) membatasi metode studi kasus sebagai riset yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan jelas dan di mana multisumber bukti dimanfaatkan (Kriyantono,2006:65). Studi kasus memiliki tipe sebagai berikut: 1. Studi kasus intrinsik: memahami secara lebih baik suatu kasus tertentu. Peneliti ingin mengetahi secara intrinsik fenomena, keteraturan dan kekhususan suatu kasus dan bukan untuk tujuan eksternal lainnya. 2. Studi kasus instrumental : bertujuan untuk alasan eksternal, bukan karena ingin mengetahui hakikat kasus tersebut. Kasus sebagai sarana untuk memahami hal lain di luar kasus, seperti membuktikan suatu teori yang telah ada sebelumnya. 3. Studi kasus kolektif: studi yang dilakukan untuk menarik kesimpulan atau generalisasi dari fenomena atau populasi dari kasus-

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

55


kasus tersebut. Kasus kolektif digunakan untuk membentuk teori atas dasar persamaan dan keteraturan yang diperoleh dari kasus-kasus yang diteliti (Daymon & Holloway,2008) dalam Asâ&#x20AC;&#x2DC;ari (2012:45). Desain penelitian studi kasus menurut Yin (1994:2003) yaitu: 1. Single case holistic: terdapat satu kasus yang akan diteliti dengan satu level analisis. 2. Single case embedded: satu kasus yang akan diteliti dengan memiliki beberapa unit analisa. 3. Multi case holistic: beberapa kasus yang akan diteliti dengan satu unit analisa. 4. Multi case embedded: terdapat beberapa jenis kasus dengan beberapa unit analisis yang akan diteliti. Subjek penelitian ini adalah individu dari divisi yang terlibat dalam keberadaan produk private label di Giant Ekstra CBD Bintaro, Tangerang Selatan yakni General Marketing (GM) Merchandise Irene Putri Sitanggang, Nancy Carolina Siregar sebagai Manager Merchandise, Linda Hendra selaku Marketing Controller Asistant GM, Natalia Lusnita sebagai GM Corporate Social Reponsibility (CSR) dan Corporate Communication, Theodore Ernestin selaku GM Regional Operation dan Elsyiana Japar sebagai Store Manager Giant Ekstra CBD Bintaro. Sedangkan objek penelitian ini adalah perusahaan Giant Ekstra Central Business District (CBD) Bintaro, Tangerang Selatan. Dalam memilih atau mencari informan, peneliti menggunakan purposive sampling. Teknik ini menurut Sugiyono (2009:219) merupakan teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu untuk

memperoleh data atau informasi yang rinci dan mendalam. Di antaranya pertimbangan tersebut karena orang tertentu dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan peneliti atau mungkin ia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajah objek atau situasi sosial yang diteliti. Untuk lebih memahami datadata yang ada dalam penelitian ini, berikut definisi konsep terkait dengan judul penelitian yaitu: 1. Strategi komunikasi pemasaran adalah cara dan perencanaan yang mengandung tujuan jangka panjang perusahaan/organisasi sesuai visi dan misi untuk menginformasikan, membujuk dan mengingatkan konsumen akan produk dan jasa yang ditawarkan. Serta membangun hubungan interaksi dengan konsumen sehingga membentuk persepsi positif suatu merek di benak konsumen sekaligus sebagai upaya perusahaan dalam membangun ekuitas merek. 2. Kesadaran merek adalah ukuran kekuatan eksistensi merek dalam proses komunikasi merek sehingga konsumen mampu mengenal dan mengingat suatu merek yang kuat dari kategori tertentu di benak pikirannya (top of mind). Tingkatan kesadaran merek dimulai dari unaware of brand, brand recall, brand recognition hingga top of mind. 3. Membangun kesadaran merek adalah upaya Giant Ekstra untuk mencoba bangkit dalam meraih taraf kesadaran merek konsumen sehingga dapat mencapai top of mind khususnya pada private label fast moving consumer goods. 4. Private label adalah produk atau merek peritel yang dijual secara eksklusif hanya di toko peritel dan peritel berkuasa penuh dalam

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

56


5.

mengembangkan dan memasarkan produk private label. Fast moving consumer goods adalah produk kebutuhan hidup sehari-hari yang laris terjual untuk dikonsumsi secara pribadi oleh konsumen. Dalam penelitian ini penulis membatasi FMCG Giant Ekstra yakni gula pasir, mie instant, snack, handsoap, tissue kering dan kapas kecantikan.

HASIL PENELITIAN Giant Ekstra dalam naungan bendera PT Hero Supermarket Tbk gencar membuka gerai-gerai baru di sekitar kawasan bisnis terpadu (CBD) sebagai bagian kebijakan pelaksanaan dan pengembangan srategi merek di kawasan. Bekerja sama dengan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) lokal dan memanfaatkan sumber daya setempat untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Ekspansi secara geografis ke luar Pulau Jawa ditandai dengan dibukanya dua gerai Giant Ekstra di Sumatera. Persaingan antara peritel di sektor grocery dan hypermarket terus meningkat seiring kiprah dari pemain lama dan pemain baru untuk merebut pangsa pasar. Giant Ekstra melalui kebijakan strategis perusahaan intens membangun gerai-gerai baru, meningkatkan cakupan jaringan distribusi dan memperkuat supply. Pada 2003 Giant mengeluarkan produk berlabel pribadi atau private label (PL) dengan merek ―Giant‖. Saat ini Giant memiliki lebih dari 2000 produk merek ― Giant‖.

Gambar 4.13 Sebagian produk private label dengan merek Giant.

Pada 2013 Giant merubah identitasnya dari Giant Hypermarket menjadi Giant Ekstra. Giant Supermarket menjadi Giant Ekspress. Perubahan ini diikuti perubahan konsep dan pembedaan antara kedua format. Giant Ekstra ditargetkan menjadi pemimpin pasar dalam harga murah dengan produk lengkap untuk kebutuhan bulanan konsumen. Giant Ekspres diproyeksikan menjadi pemimpin pasar dalam harga murah dengan pelayanan cepat untuk melayani kebutuhan mingguan konsumen. Setiap gerai Giant Ekstra dipimpin seorang manager toko atau Store Manager yang diperkuat dengan sejumlah manager. Adapun gerai Giant Ekstra Central Business District (CBD) untuk selanjutnya disingkat CBD Bintaro merupakan salah satu dari 55 gerai Giant Ekstra di seluruh Indonesia dalam HERO Grup. Hasil paparan publik tahunan 2014 PT HERO Supermarket Tbk yang diakses melalui www.hero.co.id hingga September 2014 penjualan bersih dan margin laba kotor penjualan Rp 10,1 triliun. HERO Grup memiliki 706 gerai di seluruh Indonesia meliputi: 1. 36 gerai HERO Supermarket 2. 55 gerai Giant Ekstra 3. 129 gerai Giant Ekspress 4. 341 gerai Guardian

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

57


5. 145 gerai Starmart 6. 1 gerai IKEA. Private label Giant mengutamakan kualitas produk yang dipantau berkala. Harga yang diberikan umumnya lebih murah berkisar 10-15 persen dibandingkan produk merek swasta/nasional. Fokus pada penampilan design dari packaging produk yang dikemas apik. Giant mengutamakan kualitas dan keamanan dari produk-produk merek Giant, terbukti dengan dilakukannya internal & eksternal panel test (sensory dan visual). Giant Ekstra memiliki kekuatan kompetitif meliputi: 1. Posisi yang strategis untuk menangkap peluang di pasar dengan pertumbuhan yang tinggi. 2. Dengan menawarkan merek Giant pada produk private label sebagai produk termurah mampu memuaskan kebutuhan pelanggan. 3. Roda bisnis ritel ini terpusat pada skala ekonomi. 4. Memperluas kehadiran di tingkat lokal maupun nasional dengan lokasi yang nyaman sehingga mampu menghadirkan pengalaman berbelanja yang menyenangkan bagi para pelanggan maupun calon-calon pelanggan. 5. Giant Ekstra bernaung dalam HERO Grup menjadi bagian dari kelompok ritel terkemuka di Asia. 6. Memfasilitasi pemberdayaan sumber daya manusia yang kuat sebagai bagian dari strategi perluasan usaha dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Tantangan bagi Giant Ekstra dalam positioning sebagai peritel yang menjual produk termurah untuk menjadi

peritel terkemuka dengan sasaran pelanggan menengah di antaranya: 1. Belum memadainya struktur mata rantai pasokan di Indonesia. 2. Meningkatnya biaya produksi. 3. Regulasi dan perizinan. 4. Ancaman dari pendatang baru potensial 5. Berubahnya perilaku konsumen seiring meningkatnya standar hidup. Kondisi ini bagian dari persaingan industri yang akan menentukan profitabilitas perusahaan karena memengaruhi harga, biaya dan investasi yang diperlukan. Ketiga unsur ini merupakan komponen dari return on investment (ROI) terkait manajemen strategis perusahaan. Produk yang ditawarkan Giant Ekstra termasuk dengan merek Giant sangat tergantung pada pembeli, pemasok, produk pengganti maupun ancaman dari para pesaing. Kondisi ini harus mampu disiasati melalui kebijakan strategis dengan melakukan keseimbangan untuk mempertahankan maupun memperkuat eksistensi perusahaan. Dengan positioning sebagai peritel yang menjual produk termurah, Giant Ekstra membidik pelanggan dari kalangan menengah sebagai segmentasi sasaran. Tapi tetap membuka diri bagi pelanggan menengah ke bawah ataupun ekonomi kelas atas yang tetap mendambakan harga-harga termurah di kelasnya. Konsumen menjadi sangat berarti dalam bisnis ritel begitu pula bisnis lainnya, karena tanpa konsumen upaya yang dilakukan Giant Ekstra dengan memproduksi private label akan sia-sia. Untuk mengetahui dan mengkaji komunikasi pemasaran dalam membangun kesadaran merek pada private label fast moving consumer

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

58


goods (FMCG) melalui bauran komunikasi ritel, peneliti melakukan wawancara dengan General Marketing (GM) Merchandise Giant Ekstra, Irene Putri Sitanggang, Nancy Carolina Siregar sebagai Manager Merchandise, Linda Hendra selaku Marketing Controller Asistant GM, Natalia Jusnita sebagai GM Corporate Social Reponsibility (CSR) dan Corporate Communication, Theodore Ernestin selaku GM Regional Operation dan Elsyiana Japar sebagai Store Manager Giant Ekstra CBD Bintaro. Peneliti juga menggunakan data-data dari rapat publik expose PT Hero Supermarket Tbk 2014, laporan tahunan PT Hero Supermarket Tbk 2013 yang diakses melalui www.hero.co.id dan sumber pendukung lainnya. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi FMCG di Giant Ekstra CBD Bintaro meliputi gula pasir, beras, mie instant, tissue kering dan kapas kecantikan. Fungsi komunikasi pemasaran di Giant Ekstra ditangani oleh Divisi Marketing. Linda Hendra selaku Asisten GM Marketing menjelaskan: “Divisi Marketing bertugas mengembangkan dan melaksanakan strategi merek, mendukung penjualan, mengawasi dan melaksanakan strategi marketing, bekerja sama dengan tim penjualan perusahaan, mengelola media sosial untuk membangun reputasi serta menganalisis kontinyu lingkungan yang kompetitif dan tren konsumen.” a. Iklan Kegiatan periklanan ditangani Divisi Marketing. Linda Hendra selaku Asistant GM Marketing menjelaskan dengan pemasangan iklan di berbagai media menjadi tulang punggung dalam menggencarkan pemasaran produkproduk Giant Ekstra termasuk untuk produk merek Giant (private label).

Strategi ini sebagai bagian dari pelaksanaan dan pengembangan strategi merek sehingga dapat mencapai target penjualan. Berikut penjelasan Linda Hendra: “Divisi Marketing bertujuan mendongkrak promosi divisi operation termasuk Merchandise, secara woro-woro atau melibatkan seluruh potensi promosi yang ada berikut promosi penjualan agar hasilnya lebih bergaung di masyarakat terutama pelanggan maupun untuk menarik minat para calon pelanggan Giant Ekstra.” Giant Ekstra CBD Bintaro memasang iklan di koran nasional dan sejumlah koran daerah, di radio yakni Gen FM dan di RCTI pada jam tayang utama (prime time) di sinetron ‗Tukang bubur naik haji.‖ Posisi prime time di televisi antara pukul: 20.00-23.00 atau antara pukul 19.00-22.00 merupakan program yang terbaik dan termahal. Penonton paling banyak ada selama prime time dan jaringan-jaringan TV akan mengenakan harga tertinggi untuk biaya periklanan di prime time (Shimp, 2003:530). Hanya saja Giant Ekstra harus betul-betul selektif dan memastikan apakah penggunaan prime time di stasiun televisi tersebut memang dapat meningkatkan penjualan produk-produk yang ditawarkan termasuk produk merek Giant mengingat biaya iklan itu tentu mahal. b. Promosi Penjualan Promosi penjualan dilakukan Divisi Marketing bertujuan memotivasi konsumen dan anggota saluran distribusi untuk membeli barang dan jasa dengan segera. Serta meningkatkan penjualan jangka pendek.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

59


Promosi penjualan antara lain midnight sale (penjualan malam hari) dengan memberikan discount tertentu, pembelian dengan pembelian, cut price dan discount lima persen untuk pembelian seluruh produk private label Giant Ekstra bagi pemegang kartu kredit Permata Hero Card. Setiap pemegang Permata Hero Card mendapatkan potongan harga 5% untuk pembelian private label Giant. Promosi penjualan juga mencakup cuci gudang berbagai produk merek Giant hingga discount 50% dengan masa kadaluarsa yang berkisar 4 hingga 8 bulan ke depan. c.Suasana toko Suasana toko di Giant Ekstra CBD Bintaro ditangani oleh Regional Operation dan Store bertujuan melakukan komunikasi kepada konsumen melalui sarana yang ada di toko seperti penataan produk (display), leaflet, stiker, poster, spanduk, banner, dan lain-lain. Serta pencahayaan, musik, aroma dan warna toko. Display produk merek Giant pada kebutuhan pokok dipajang di rangkaian rak yang mudah dipandang atau searah pandangan mata (eye contact). Serta ditempatkan berdampingan dengan produk merek nasional sesuai kategori. Hanya sebagian kecil produk merek yang ditempatkan di rak khusus. Giant Ekstra mengistilahkan suasana toko sebagai store ambience yang penekanannya untuk menyenangkan dan memanjakan pelanggan dalam berbelanja sesuai trend ritel saat ini yakni berbelanja di pasar modern sebagai bagian dari gaya hidup (life style). Mulai dari penggunaan sarana komunikasi visual seperti petunjuk harga, musik, pencahayaan, aroma hingga display (penataan produk) yang disusun dalam

bentuk grid (lurus) mulai dari rak, gondola end maupun wagon. d. Komunikasi Ketuk Tular Komunikasi ketuk tular ditangani Divisi Merchandise bersama Divisi Marketing dan Store dengan target utama untuk memperkuat kesadaran merek produk merek Giant pada internal customer dalam hal ini para karyawan. Terutama karyawan di seluruh toko sebagai ujung tombak untuk menyakinkan customer yang sesungguhnya yang notabene adalah masyarakat umum. Para karyawan toko menjadi duta merek (brand ambassador) atas produk merek Giant yang selayaknya sudah lebih dulu mengonsumsi produk tersebut sehingga ada pengalaman pribadi. Begitu pula karyawan di kantor pusat yang diharapkan partisipasinya dalam lebih memasyarakatkan keberadaan produk PL Giant Ekstra di tengah-tengah masyarakat. Untuk mempercepat pengalaman pribadi yang merupakan fakta nyata dalam mengonsumsi produk merek Giant di kalangan karyawan demi menyukseskan penyebarluasan WOM, Divisi Merchandise melakukan berbagai terobosan seperti memberikan satu produk merek Giant secara gratis di toko dalam rentang waktu tertentu, mengadakan bazar produk merek Giant dengan discount 50% khusus untuk karyawan, pemberian sampling product merek Giant secara gratis sejak 2014 setiap Jumat untuk kategori tertentu took dan memberikan goody bag berisi satu paket produk merek Giant pada saat ulang tahun Giant 2014 lalu. Di setiap aktivitas komunikasi pemasaran, komunikator harus mampu merancang strategi jitu sebagai diferensiasi dengan pesaing dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada komunikan,

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

60


sehingga diharapkan dapat menghasilkan umpan balik sesuai keinginan komunikator selaku pengirim pesan. Nancy Carolina Siregar selaku Merchandise Manager menjelaskan perusahaan menetapkan serangkaian strategi seperti merancang segmentasi konsumen yang dituju disesuaikan dengan target yang hendak dicapai dikaitkan dengan posisi perusahaan dalam pangsa pasar di Indonesia. Kebijakan tersebut disebut juga dengan segmentasi, targeting dan positioning (STP). a. Segmentasi merupakan pengelompokkan karakteristik perilaku pelanggan yang sama. Giant Ekstra menetapkan segmentasi konsumen merupakan masyarakat menengah sesuai visi dan misi perusahaan, namun tidak menutup kemungkinan untuk membuka diri seluasnya kepada masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Sekaligus menjadikan area seluruh gerai sebagai lokasi one stop shopping sebagai bagian dari life style. b. Targeting menurut Solomon (2012: 186) sebagai proses mengevaluasi seberapa menariknya tiap-tiap segmen dan memilih satu atau beberapa di antaranya untuk menjadi pelanggan. Giant Ekstra menurut Irene Putri Sitanggang selaku GM Merchandise melakukan pendekatan pemasaran dengan berorientasi kepada konsumen melalui produk-produk private label yang dipasarkan. Sebelumnya pada 2003 di mana awal private label diproduksi, Giant hanya berorientasi dengan memproduksi item kategori sebanyak-banyaknya tanpa disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. c. Positioning merupakan upaya mengembangkan strategi pemasaran

untuk memengaruhi seberapa pengaruhnya segmen pasar terhadap produk dan jasa dibandingkan dengan produk lainnya. Giant Ekstra memposisikan usahanya untuk menjadi pengecer terkemuka di Indonesia dari segi penjualan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan sebagai peritel termurah dengan format besar diperkuat sarana promosi, modal, cakupan jaringan distribusi dan supply yang kuat. PEMBAHASAN Hubungan Strategi Komunikasi Pemasaran dengan Kesadaran Merek Komunikasi pemasaran memiliki andil dalam ekuitas merek dan mendorong penjualan dalam berbagai cara: dengan menciptakan kesadaran merek: menghubungkan asosiasi yang tepat dengan citra merek dalam ingatan konsumen: menciptakan penilaian atau perasaan merek yang positif: dan/atau memfasilitasi koneksi merek-konsumen yang lebih kuat (Kotler & Keller, 2013:174). Di era hiperkompetitif saat ini, Giant Ekstra selaku peritel yang tergabung dalam HERO Grup harus pro aktif dalam membangun kesadaran merek para konsumen khususnya terkait keberadaan produk dengan merek toko (private label) yang dijual dengan segmentasi masyarakat menengah. Kendati Giant Ekstra juga membuka diri untuk konsumen dari kalangan menengah ke bawah agar lebih bervariatif sehingga dapat meningkatkan margin. Mencegah dari keterpurukan, peritel harus lebih serius dalam mengelola dan mengembangkan PL. Laporan AC Nielsen pada tahun 2013 menyebutkan produk PL untuk di

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

61


kawasan Asia Pasifik dinilai gagal berdampak luas dalam pangsa pasar, ini ditandai dari rendahnya private label shares (PLS). Pada 2011-2012 Indonesia merupakan negara paling buncit di Asia Pasifik karena hanya meraih PLS 0,2 persen dari total pangsa pasar yang ada. Sedangkan Filipina 0,3%, Thailand 1,6%, Malaysia 2,3%, Korea 2,5%, Taiwan 3,2%, Hongkong 5,6%, Singapura 6%, New Zealand 12,7% dan Australia 24,8%. (Sumber: Nielsen Retail Index). Tabel 1.2: Private Label Shares di Asia Pasifik 2011-2012 (Sumber AC Nielsen)

Strategi komunikasi pemasaran melalui bauran komunikasi ritel yang digunakan Giant Ekstra CBD Bintaro meliputi: 1.Iklan Giant Ekstra memasang iklan private label pada prime time (pukul 21.00) di satu sinetron di RCTI. Hanya saja harus diperhatikan pada dasarnya konsumen jarang secara sengaja mencari informasi mengenai produk dan jasa saat mereka menonton televisi, tapi mereka secara kebetulan terpapar banyak informasi komersial selama menonton televisi di rumah (Peter & Olson, 2013:104). Iklan yang efektif khususnya untuk di televisi harus memiliki potensi paparan, mengundang perhatian serta pemahaman konsumen. Hal utama iklan harus

mengkomunikasikan informasi relevan tentang produk seperti penggunaan produk. Dalam mempromosikan produk yang tergolong fast moving consumer goods (FMCG) melalui iklan dalam pemasaran ritel di kawasan Asia Pasifik sesuai hasil riset AC Nielsen pada 2013 di 10 negara cenderung masih rendah. Indonesia di urutan kedua (20%) setelah Thailand 30% dan Hongkong 15%. Singapura dan Thailand sama sekali tidak mengiklankan FMCG di media. Sedangkan di negara maju porsi iklan FMCG juga minim yakni New Zealand (1%) dan 5% di Australia. Tabel 1.2: Iklan FMCG oleh peritel di negara Asia Pasifik 2011-2012

Untuk pemilihan media, survei AC Nielsen pada 2013 diketahui media yang dipilih untuk mempromosikan FMCG oleh peritel cenderung berminat ke koran daripada di televisi. Pemilihan ini mayoritas dilakukan oleh peritel di negara berkembang seperti Indonesia yang 90% mengiklankan di koran dan 8% di televisi (TV). Malaysia 81% persen iklan di koran dan 13% di TV serta Singapura iklan di koran 72% persen dan 11 persen di TV. Sebaliknya peritel di Taiwan dan Thailand lebih cenderung memasarkan produknya di TV. Begitu pula peritel di negara maju di Asia Pasifik yaitu New Zealand, peritel lebih tertarik memanfaatkan jasa iklan di TV yaitu 50% daripada di koran (31%). Serta Australia dengan 43%

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

62


untuk TV dan 30% di koran. Penjelasan tersebut seperti pada tabel di bawah ini: Tabel 1.3: Pemilihan media iklan untuk FMCG oleh peritel di kawasan Asia Pasifik pada 2011-2012 (Sumber: AC Nielsen)

2.Promosi penjualan Promosi penjualan menjadi salah satu motor dalam mendongkrak penjualan. Penelitian Yudhiartika dan Haryanto (2012:51) menyimpulkan promosi penjualan memberi efek positif untuk kesadaran terhadap merek. Kendati bersifat jangka pendek, sejatinya Giant Ekstra dapat lebih menggencarkan promosi penjualan untuk merangsang daya minat beli konsumen. Promosi penjualan yang dilakukan saat ini mencakup discount 5% khusus pembelian PL bagi pemegang kartu kredit tertentu, pembelian dengan pembelian dan cut price dapat lebih ditingkatkan frekwensi dan variasinya untuk menyemarakkan penjualan produk-produk merek Giant. 3. Komunikasi Ketuk Tular Sebelum membeli produk dan jasa, konsumen kerap kali membutuhkan informasi dan mencari informasi itu ke sumber-sumber terdekat selain dari iklan dan promosi lainnya. Rekomendasi dari teman, kerabat dan relasi yang sudah memiliki pengalaman ataupun menggunakan produk/jasa lebih dipercaya daripada promosi gencar oleh perusahaan yang dinilai sangat objektif terkait

meningkatkan penjualan (Lovelock 2010:216). Armeilini dan Villanueva (2010:7) dalam Sulistyowati (2014:7) menyebutkan komunikasi ketuk tular positif akan meningkatkan ekuitas merek. Komunikasi ketuk tular oleh Giant Ekstra dilakukan mulai karyawan di seluruh gerai dan di kantor pusat. Sebelumnya tim memberikan sejumlah treatment seperti pembagian tester, goody bag berisi produk private label, bazar dengan discount 50% untuk seluruh karyawan HERO Grup dan discount rutin 10% untuk pembelian produk merek Giant untuk seluruh karyawan. Treatment yang diberikan tersebut sebagai bagian dari proses internalisasi merek (internal branding) yaitu suatu aktivitas yang bertujuan agar core values atau jiwa merek dirasakan oleh setiap individu dalam organisasi (Soehadi,2005:13) dalam Rinaldi (2012:3). Internalisasi tersebut perlu dilakukan karena anggota organisasi perlu memahami tujuan yang ingin dicapai oleh brand perusahaan, memahami perubahan sikap dan perilaku yang dibutuhkan untuk mencapainya dan bersedia untuk berubah dan berperilaku on brand. Jadi internalisasi brand seharusnya memang dilakukan lebih dulu sebelum upaya eksternalisasi. Hal ini sangat penting untuk membangun pengalaman dalam mengonsumsi merek (brand experience). Pengalaman akan merek inilah yang pada akhirnya memungkinkan terbentuknya duta merek (brand ambassador) yang berkontribusi pada pencapaian ekuitas merek. Brand ambassador merupakan seseorang yang merepresentasikan potret terbaik dari produk/layanan (Soehadi,2005:20) dalam Rinaldi (2012:30) yang

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

63


merupakan karyawan perusahaan, konsumen/pelanggan, endorser dan lain-lain yang melakukan interaksi dengan merek terkait. Brand experience ini terutama yang menyangkut pengalaman merek yang positif yang memuaskan dan dikenal sebagai aktivitas komunikasi ketuk tular. 4. Suasana toko Giant Ekstra mengistilahkan suasana toko sebagai store ambience yang penekanannya untuk menyenangkan dan memanjakan pelanggan dalam berbelanja sesuai trend ritel saat ini yakni berbelanja di pasar modern sebagai bagian dari gaya hidup (life style). Mulai dari penggunaan sarana komunikasi visual seperti petunjuk harga, musik, pencahayaan, aroma hingga display (penataan produk) yang disusun dalam bentuk grid (lurus) mulai dari rak, gondola end maupun wagon. Peneliti berpendapat penempatan sebagian besar produk private label oleh Giant Ekstra berdampingan dengan produk merek nasional berpotensi membingungkan. Khususnya bagi konsumen awam yang sulit membedakan antara produk merek nasional dengan merek pribadi/peritel. Idealnya Giant Ekstra begitu pula peritel lainnya menyediakan display khusus untuk menegaskan keberadaan produk masing-masing. Kendati begitu di Giant Ekstra CBD Bintaro sudah ada produk merek sendiri yang ditempatkan di ras khusus terpisah dengan produk merek nasional tapi jumlahnya masih sangat terbatas. Hubungan Strategi Komunikasi Pemasaran Dengan Kesadaran Merek Private Label Strategi perusahaan diwujudkan melalui sarana komunikasi pemasaran yang dirancang apik untuk mencapai

tujuan. Kotler & Keller (2013:174) mempertegas pentingnya komunikasi pemasaran yang dilakukan perusahaan karena dapat menciptakan kesadaran merek dan ekuitas merek yang merupakan nilai yang dimiliki oleh sebuah merek produk/jasa. Kesadaran merek berperan penting untuk mengetahui posisi suatu merek di benak konsumen. Melalui kesadaran merek dapat menunjukkan kemampuan konsumen dalam mengetahui dan mengingat suatu merek sebagai bagian dari suatu kategori produk tertentu. Urutan kesadaran merek diketahui dari yang terendah yaitu brand unaware (tidak mengenal merek), brand recognition (mengenali merek), brand recall (mengingat kembali merek) dan top of mind (puncak pikiran). Untuk membangun kesadaran merek, Giant Ekstra CBD Bintaro menerapkan sejumlah marketing tools melalui bauran komunikasi ritel meliputi iklan, promosi penjualan, komunikasi ketuk tular dan suasana toko. Terkait pelaksanaan marketing tools tersebut pada kurun waktu tertentu masing-masing divisi dievaluasi oleh pihak manajemen sesuai key performance indicator (KPI) menyangkut omset penjualan dan lainnya. Hanya saja terkait kesadaran merek dan citra merek PL pada penerapannya pada industri hipermarket di Indonesia ternyata belum menjadi pilihan utama konsumen saat berbelanja (Asnawi, 2009:85). Terlepas dari itu nama besar peritel sangat berpengaruh terhadap penjualan private label (Belodina&Wysong,2007:227). Produk PL memiliki indikator untuk mengetahui kesuksesannya dalam penjualan dan terutama dalam kesiapan bersaing dengan produk merek nasional. Sudhir dan Taluktar (2004) dalam

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

64


Harcar et al (2006:56) menjelaskan pengukuran PL ditentukan oleh enam fakor meliputi: kualitas, harga, keterlibatan, loyalitas, familiaritas dan resiko. 1.Kualitas Kebijakan strategis peritel dengan menjaga mutu produk private label bertujuan membangun dan mempertahankan citra produk di benak konsumen. Upaya ini dilakukan dengan secara konsisten menerapkan produk merek terkemuka sebagai pembanding (benchmarking) dan melakukan audit secara berkala atas mutu produk yang dihasilkan para pemasok yang menjadi rekanan dengan melibatkan konsultan independen. Benchmark tidak hanya perlu untuk produk underdog. Melalui benchmarking, perusahaan menjadikan dirinya target untuk dilampui atau disamakan mencakup perbandingan kualitas, harga, performa dan aspek lainnya (Tai & Chew,2012:34). Giant Ekstra CBD Bintaro menggunakan benchmarking dalam memproduksi PL, pengujian secara rutin dengan menyambangi rumah produksi atau pabrikan dari pemasok secara berkala setiap 6 bulan serta pengawasan kualitas dengan melibatkan konsultan independent. 2.Harga Studi dari scanner data menurut Lamb (2001:296), jika terjadi perbedaan harga antara merek nasional dengan private label kurang dari 10 persen, konsumen cenderung tidak membeli private label. Namun jika perbedaan harga lebih rendah dari 20%, pelanggan akan mempersepsikan merek privat mutunya rendah. Untuk mendapatkan pembeli sebanyak mungkin, Giant Ekstra begitu pula dengan peritel lainnya semakin gencar dalam â&#x20AC;&#x2014;perang hargaâ&#x20AC;&#x2DC;. Padahal

kondisi tersebut justeru membuat konsumen menjadi tidak loyal dan sangat rentan berpindah ke peritel lain. Indikasi ini bisa diketahui dari kegemaran konsumen dalam mengoleksi kartu kredit diskon dari banyak peritel (Kanjaya & Susilo, 2010:143). Jadi yang perlu dibangun adalah persepsi murah, sedangkan perang harga hanya bertahan sesaat. 3.Keterlibatan Tingkat keterlibatan konsumen dipengaruhi empat faktor: jenis produk yang menjadi pertimbangan, karakteristik komunikasi yang diterima konsumen, karakteristik situasi di mana konsumen berada dan kepribadian konsumen. Keterlibatan juga dapat membangun loyalitas konsumen dan komunikasi ketuk tular (Mowen & Minor,2001:83). Jika keterlibatan produk tinggi (high involvement product), konsumen akan mengalami respon afektif kuat. Namun sebaliknya jika keterlibatan produk rendah (low involvement product), konsumen tidak memiliki keterlibatan yang besar terhadap produk sehingga tidak mengeluarkan usaha lebih untuk mencari informasi terkait produk ataupun jasa. Terkait PL pada produk kebutuhan pokok Giant Ektsra CBD Bintaro, keterlibatan konsumen terhadap produk tersebut tergolong rendah (low involvement) karena tidak perlu pemikiran khusus atau pertimbangan yang rumit untuk membeli produk merek Giant. Termasuk pertimbangan biaya yang harus dikeluarkan konsumen untuk beralih dari merek lain ke merek Giant ataupun sebaliknya (swiching the cost). Lain halnya jika konsumen akan membeli rumah sebagai investasi dengan biaya mahal sudah tentu harus dipertimbangan dengan cermat.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

65


4.Loyalitas Merek Loyalitas merek merupakan pembelian ulang sebuah merek secara konsisten oleh pelanggan. Loyalitas merek dapat ditinjau dari merek yang dibeli konsumen dan bagaimana perasaan atau sikap konsumen terhadap merek tertentu (Tjiptono,2012:81). Ukuran loyalitas berbasis perspektif behavioral dipengaruhi pada perilaku pembelian aktual konsumen, yang digolongkan dalam tiga elemen yaitu proporsi pembelian, urutan pembelian dan probabilitas pembelian. Terkait loyalitas konsumen akan produk merek Giant Ekstra CBD Bintaro perlu adanya penelitian lebih lanjut kepada konsumen secara menyeluruh. Irene Putri Sitanggang selaku GM Merchandise Giant Ekstra mengatakan pihaknya berusaha membentuk loyalitas merek kepada konsumen dengan memproduksi PL yang harganya lebih murah dari produk merek nasional dengan jaminan kualitas setara merek nasional. 5.Familiaritas Familiaritas pada produk menurut Mieres et al (2006) dalam Wahyuwidiatri (2010:24) merupakan suatu bentuk pemahaman atau pengetahuan konsumen atas suatu produk. Konsumen menyukai merekmerek yang telah akrab dan dikenal. Familiaritas menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pembentukan kesadaran merek maupun loyalitas pelanggan. Dikaitkan dengan familiaritas merek PL pada produk kebutuhan pokok Giant Ekstra, penulis berpendapat positioning produk PL oleh konsumen lazimnya masih terpusat pada kesan harga murah dengan kualitas rendah. Sehingga sebagian konsumen masih cenderung membeli produk merek nasional ketimbang merek pribadi. Namun terlepas dari itu, perlu

adanya penelitian lanjutan secara spesifik kepada responden yang lebih luas agar hasilnya dapat signifikan. 6.Resiko Peter & Olson (2005) dalam Hadi (2009:20) menjelaskan persepsi resiko yang dialami konsumen saat membeli produk PL dipengaruhi dua hal yaitu seberapa besar hal yang tidak menyenangkan akibat konsekuensi negatif yang terjadi dan kemungkinan konsekuensi negatif itu akan terjadi. Informasi yang lengkap dari peritel diperkuat dengan layanan terpadu dapat mengurangi resiko yang akan ditanggung konsumen seperti resiko keuangan, resiko fungsional maupun resiko fisik. Giant Ekstra CBD Bintaro hendaknya meminimalisir setiap resiko yang bakal terjadi dan menimpa konsumen dengan memproduksi barang-barang berkualitas dan layak dikonsumsi untuk kategori makanan dan minuman meski dijual dengan harga murah. Serta memberikan informasi yang lengkap kepada konsumen supaya tidak membingungkan saat akan melakukan keputusan pembelian. Serta menyediakan uji test untuk perangkat elektronik sebelum dibeli. Terkait keberadaan merek private label pada FMCG Giant Ekstra yang diproduksi sejak 2003, berdasarkan hasil riset Frontier Consulting Grup selaku penyelenggara Top Brand Award di Indonesia hingga Desember 2014 belum merupakan produk dengan merek terfavorit sesuai pilihan konsumen sehingga belum menjadi top of mind di benak konsumen. Hal ini sesuai penjelasan Hateya Ningsih (Januari,2014) dari Frontier Consulting Group bekerjasama dengan Majalah Marketing selaku penyelenggara Top Brand Award di

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

66


Indonesia bahwa hingga 2014 untuk produk FMCG dengan merek Giant seperti gula pasir bermerek, handsoap cair, handuk, tissue kering dan kapas kecantikan di kisaran 0,1% hingga 0,3 persen dan belum menjadi top of mind.â&#x20AC;? Adapun rinciannya untuk kategori gula pasir bermerek yakni Gulaku dengan Top of Mind (TOM) sebesar 96,5%, Rajagula (0,9%), Alfamart (0,5), Indomart (0,5%) dan merek Giant dengan 0,1%. Untuk kategori handsoap cair, produk merek Giant di peringkat ke-5 dengan 0,1%, untuk kategori tissue kering produk merek Giant di peringkat ke-7 dengan 0,1%, untuk kategori handuk produk merek Giant di peringkat ke-5 dengan 0,1% dan untuk kategori kapas kecantikan produk merek Giant di peringkat ke-7 dengan 0,3%. Linda Hendra, Asisten GM Divisi Marketing mengakui sepengetahuan dirinya bahwa produkproduk merek Giant khususnya produk FMCG belum meraih penghargaan top brand. Meski begitu Giant Ekstra terus memacu kinerja agar kelak produk dengan merek toko itu untuk kategori FMCG dapat menjadi top of mind di benak konsumen. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Giant Ekstra menetapkan strategi perusahaan dalam menyukseskan keberadaan produk berlabel pribadi untuk fast moving consumer goods melalui program bauran komunikasi ritel yang melibatkan sejumlah divisi dengan menerapkan iklan, promosi penjualan, suasana toko dan komunikasi ketuk tular. Giant

Ekstra tidak menerapkan penjualan personal dan pemasaran langsung. 2. Produk kebutuhan pokok dengan merek Giant hingga kini belum menjadi merek terfavorit (top of brands) pilihan konsumen. Produk merek Giant belum menjadi top of mind di benak konsumen. DAFTAR PUSTAKA Buku : Aaker, David A (1997). Manajemen Ekuitas Merek, Jakarta, Spektrum. Ardianto, Elvinaro, Q-Anees, Bambang (2011). Filsafat Ilmu Komunikasi, Bandung, Simbiosa Rekatama Media. Effendy, Onong Uchjana (2007). Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung, Citra Aditya Bakti. Hasan, Ali (2008). Marketing, Jakarta. Buku Kita. Kanjaya, Meshvara, Susilo, Yongki (2010). Retail Rules Melihat Keunggulan dan Potensi Bisnis Ritel Makanan di Masa Depan. Jakarta, Esensi. Kartajaya, Hermawan (2009). Mark Plus Basics. Jakarta, Esensi. -----------(2010), Brand Operation, Jakarta, Esensi. Kotler, Philip dan Keller, Kevin Lane (2012). Manajemen Pemasaran, Edisi 13 Jilid 1, Jakarta, Erlangga. -------------- (2013). Manajemen Pemasaran, Edisi 13 jilid 2, Jakarta, Erlangga. Kasali, Rhenald (1998). Membidik Pasar Indonesia, Gramedia, Jakarta. Lamb, Hair & Mc Daniel (2001). Pemasaran buku 2, Jakarta, Salemba Empat.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

67


-

-

-

-

-

-

Laporan Tahunan PT HERO Supermarket Tbk (2013). Jakarta. Levy, M & Barton, AW (2009). Retailing Management, 7th edition, New York, Mc Graw Hill International. Lovelock et al (2010). Pemasaran Jasa: Manusia, Teknologi Strategi Perspektif Indonesia, jilid 1, Jakarta, Erlangga. Moleong, Lexy J (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif edisi revisi, Bandung, Remaja Rosdakarya. Mowen, John C. dan Michael Minor (2002). Perilaku Konsumen. Alih Bahasa: Dwi Kartini Yahya. Jilid 2. Jakarta, Penerbit Erlangga Prisgunanto, Ilham (2014). Komunikasi Pemasaran Di Era Digital, Jakarta, Prisani Cendekia. ------------- (2006). Komunikasi Pemasaran Strategi dan Taktik, Bogor, Graha Indonesia. Peter JP dan Olson (2013). Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran, Jakarta, Salemba Empat. Rangkuti, Fredy (2002). Riset Pemasaran, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama. Sopiah dan Syihabudin (2008). Manajemen Bisnis Ritel, Yogyakarta, Andi Offset. Sugiarta, I Nyoman (2011). Panduan Praktis & Strategis Retail Consumer Goods, Jakarta, Expose. Sugiyono (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif & R&D, Bandung, Alfabeta. Sumarwan, Ujang dkk (2013). Riset Pemasaran Konsumen, Bogor, IPB Press. -------------- (2011). Pemasaran Strategik, Bogor, IPB Press. Susilo, Yongki (2014). Hasil Riset AC Nielsen untuk Asia Pasifik 2013.

-

-

-

-

Shimp, Terence A (2003). Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Terpadu, edisi ke 5 jilid 1, Jakarta, Erlangga. -------------- (2003). Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu, jilid 2 edisi kelima, Jakarta, Erlangga. Soemanegara, R. Dermawan & Kennedy, Jhon E. (2006). Marketing Communication Taktik & Strategi, Jakarta, PT Buana Ilmu Populer. Tai, Jacky dan Chew, Wilson (2012). Brand Management, Jakarta, PT Indeks. Tjiptono, Fandy (1997). Strategi Pemasaran, Yogyakarta, Andi. -------------- (2012). Pemasaran Strategik, Yogyakarta, Andi. Wirawan (2012). Evaluasi: Teori, Model, Standar, Aplikasi dan Profesi. Jakarta, Rajawali Press.

Tesis dan Skripsi: As‘ari, Eppstian Syah (2012). Evaluasi Strategi Komunikasi Pemasaran dalam Pengembangan Bisnis Online (Studi Kasus: Bisnis Undangan Online Kartun Vidiyan. Com), Universitas Indonesia. Hadi, Agustina Kurniawati (2009). Pengaruh Persepsi Nilai Konsumen Terhadap Perilaku Pembelian Private Label (Studi Kasus Giant Hypermarket Poins Square Lebak Bulus), Universitas Indonesia. Rinaldi (2012). Kegiatan Komunikasi Pemasaran Terpadu (IMC) dalam Mengelola Komunikasi Merek Studi Deskriptif Pada Kegiatan Pilar IMC dalam Mengelola Komunikasi Merek ‘12 Jalur Destinasi‘ Wisata Pesisir Jakarta Utara. Universitas Indonesia.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

68


-

-

-

Marta, Ceicilia (2004). Hubungan Antara Private Label dengan Ekuitas Merek Retailer (Studi Kasus pada Hero Supermarket), Universitas Indonesia. Wahyuwidiatri, Listrina (2010). Pengaruh Faktor-faktor Nilai Terhadap Preferensi Merek Toko Carrefour, Universitas Katolik Atma Jaya, Yogyakarta. Wijaya, Trisna (2009). Analisis Persepsi Konsumen Terhadap Produk Private Label di PT Lion Super Indo Jakarta, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Krida Wacana.

Jurnal: Asnawi, RA Aisah (2009). Analisis Literatur Hubungan Private Label Kesadaran Merek dan Citra Merek dan Penerapannya Pada Industri Hipermarket, Jurnal Bisnis dan Manajemen, Vol. X No 1 hal 72-86. Diakses pada Mei 2014. Cuneo, Andres et al (2012). Measuring Private Labels Brand Equity: A Consumer Perspective, European Journal of Marketing, Vol 46 No 7/8. Jain, Vinamra dan Sharma, Ashok (2014). Brand Equity of Private Labels in India, Vol 4 issue 3 ISSN 2249-1058. Hartanto, Adrian, Haryanto, Jony Oktavian (2012). Pengaruh Display, Kepercayaan Merek, Keakraban Merek, Persepsi Harga Terhadap Intensi Pembelian dan Pembelian Tak Terencana, Proceeding for Call Paper Pekan Ilmiah Dosen FEB-Universitas Kristen Sayta Wacana, Salatiga. Kwon, Kyoun-Nan, Mi-Hee Lee, Yoo Jin Kwon (2008). The Effect of Purceived Product Characteristies on Private Brand

-

-

-

-

Purchases, Journal of Consumer Marketing, 25 (20), 105-114. Sulistyowati, Dwi dkk (2014). Pengaruh Periklanan, Hubungan Masyarakat dan Word of Mouth Terhadap Ekuitas Merek Sepeda Motpr Matic Honda Vario (Studi Kasus Mahasiswa S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro), Universitas Diponegoro, Semarang. Tjandrasa, Benny B (2006). Potensi Keuntungan Private Label Serta Proses Pemilihan Produk dan Pemasarannya Pada Bisnis Ritel, Jurnal Manajemen Vol 6 No 1. Diakses pada Mei 2014. Vahie, Archna dan Paswan, Audhesh (2006). Private Label Brand Image: Its Relationship With Store Image and National Brand, International Journal of Retail and Distribution Management, 34,1, pg.67. Yudhiartika, Dian, Haryanto, Jony Oktavian (2012). Pengaruh Personal Selling, Display, Promosi Penjualan Terhadap Kesadaran Merek dan Intensi Membeli Pada Produk Pondâ&#x20AC;&#x2DC;s. ISSN 1410-4628 Volume 17 No 2 Agustus 2012, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Website: http://finance.detik.com/. http://www.suarapembaruan.co m/ekonomidanbisnis/tumbuh-10omzet-ritel-capai-rp-125triliun/4310). http://www.marketing.co.id http://fokus.news.viva.co.id http://www.idx.co.id. www.bankmandiri.co.id. www.hero.co.id

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

69


CONTENT WEBSITE â&#x20AC;&#x153;101YOUNGCEO.COMâ&#x20AC;? SEBAGAI HUBUNGAN KOMUNIKASI DENGAN PELANGGAN RICKY WIDYANANDA PUTRA Email: ricky_wputra@yahoo.co.id Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta ABSTRACT The development of today's Internet is very fast with the faster growth of the internet it is often used to communicate . The development of the internet is so rapid impact many websites , because the websites we can access any kind of information we want via the internet . In a message delivered today can use media such as websites , because there is content on the website that serves as a medium that can provide the information conveyed to the public . Under these conditions, the basic idea appears to develop a website that has content about the entrepreneur who became a key concept in the thesis research . Because this time to be an entrepreneur is being popular among people , especially the young people who want to have an income and want to have their own business . To increase the number of entrepreneurs in Indonesia, especially among young people , now has a lot of media that provide information about entrepreneurship . However , given the information media are still very common in nature , have not touched the basic needs of employers , namely : capital , motivation and courage , network or networks , business ideas , business mentor , business and science . Keywords: Communication, Website, Content, Entrepreneur ABSTRAK Perkembangan internet saat ini sangat cepat dengan semakin cepat pertumbuhan internet maka sering digunakan untuk berkomunikasi. Perkembangan internet yang begitu pesat berdampak banyaknya bermuculan website, karena dengan website kita dapat mengakses berbagai macam informasi yang kita inginkan lewat media internet. Dalam menyampaikan pesan pada saat ini bisa menggunakan media seperti website, karena pada website terdapat content yang berfungsi Sebagai media yang dapat memberikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka muncul ide dasar untuk mengembangkan website yang memiliki content tentang entrepreneur yang menjadi konsep utama dalam tesis peneliti. Karena saat ini untuk menjadi entrepreneur sedang popular di kalangan masyarakat, khususnya para anak muda yang ingin memiliki penghasilan dan ingin mempunyai bisnis sendiri. Untuk meningkatkan jumlah pengusaha di Indonesia khususnya di kalangan anak muda, kini telah banyak media yang memberikan informasi seputar kewirausahaan. Namun, informasi yang diberikan media-media tersebut sifatnya masih sangat umum, belum menyentuh kebutuhan dasar pengusaha, yaitu: modal, motivasi & keberanian, network atau jaringan, ide bisnis, mentor bisnis, dan ilmu untuk berbisnis. Kata kunci: Komunikasi, Website, Content, Entrepreneur

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

70


PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di dunia dari segi jumlah penduduk. Namun, bisa dilihat bahwa tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masih rendah. Berdasarkan badan pusat statistik, masyarakat yang pendidikan lulusan SD mencapai 54,62 juta orang, Sekolah Menengah Pertama sebanyak 20,29 juta orang, Sekolah Menengah Atas 17,77 juta orang, sedangkan untuk pendidikan lulusan universitas sebesar 7,94 juta orang. Hal tersebut menyebabkan timbulnya jumlah pengangguran pada tahun 2013 sebesar 7,17 juta orang atau 5,92% dari keseluruhan jumlah penduduk, jumlah ini menurun 0,45 juta orang dari tahun 2012 yang sebesar 7,61 juta orang Walaupun jumlah (BPS, 2013).1 pengangguran menurun sebesar 0,45 juta orang, masyarakat yang bekerja menurut pendidikan masih didominasi oleh berpendidikan rendah, yaitu SD ke bawah sebesar 54,6 juta orang, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas sebesar 38,0 juta orang, sedangkan yang berpendidikan tinggi sebesar 11,2 juta orang.2 Hal ini menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia masih rendah, dibandingkan sesama negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, bahkan Thailand. Gross Domestic Produk per kapita Indonesia baru di angka US$ 3.557, berada dalam posisi 104 dari 195 negara (IMF, 2012). Negara-negara yang memiliki tingkat pembukaan usaha baru yang lebih besar, memiliki GDP per kapita yang lebih besar pula, walaupun tidak selalu berbanding lurus. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut3. 1

Data ini menunjukkan jumlah tingkat pendidikan dan pengangguran penduduk indonesia pada tahun 2013, sumber berasal dari Badan Pusat Statistik. 2 Data jumlah masyarakat yang bekerja berdasarkan pendidikan, data Badan Pusat Statistik 2013. 3 Negara-negara Asia ini dipilih berdasarkan daftar negara yang diliput oleh TechInAsia.com, blog yang membahas perkembangan tentang digital startup dan entrepreneurship di Asia

Tabel 1. New Density Rate dan GDP per Kapita Beberapa Negara di Asia

No

Negara4

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Singapura Malaysia Korea Selatan Jepang Thailand Indonesia Filipina India Pakistan China

11

Vietnam

New Density Rate5 (World Bank, 2011) 8,45% 2,42% 1,83% 1,1% 0,59% 0,27% 0,19% 0,09% 0,03 (data tidak tersedia) (data tidak tersedia)

GDP per kapita (dalam US$) (World Bank, 2013) 51.709 10.381 22.590 46.720 5.474 3.557 2.588 1.489 1.290 6.091 1.596

Berdasarkan data di atas, Indonesia harus memiliki jumlah pengusaha lebih banyak lagi untuk dapat mengurangi jumlah pengangguran dan meningkatkan tingkat perekonomiannya. Salah satu yang dapat didorong untuk menjadi pengusaha adalah pemuda. Berdasarkan Undang 4

Negara-negara Asia ini dipilih berdasarkan daftar negara yang diliput oleh TechInAsia.com, blog yang membahas perkembangan tentang digital startup dan entrepreneurship di Asia 5 New density rate didefinisikan sebagai "% Jumlah Usaha Baru per 1.000 penduduk usia produktif (1564 tahun)". Data ini menunjukkan jumlah usaha formal berbentuk perseroan terbatas atau limited liability company (LLC) atau perseroan terbatas. Beberapa sumber data membedakan entrepreneurship berdasarkan jenis usahanya, formal (terdaftar) atau informal. Dalam penelitian ini, saya tidak membedakan jenis usaha.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

71


Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, pemuda didefinisikan sebagai ―warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.‖ Dijelaskan juga pada UU No. 40 Tahun 2009 pasal 16, ―pemuda memiliki peran aktif sebagai agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional‖, sehingga pemuda harus berperan aktif dalam menurunkan angka pengangguran lewat kewirausahaan yang akan membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Yang dimaksud dengan Kewirausahaan ialah sesuatu yang penting dalam pergerakan ekonomi modern, karena peningkatan jumlah bisnis baru dapat mendorong pertumbuhan dan persaingan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pembukaan usaha baru dan tingkat kepadatan pengusaha (density rate) berhubungan sangat erat dengan indikator perkembangan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara (Klapper, et al, 2007:2). Salah satu faktor yang mendorong perkembangan kewirausahaan adalah motivasi untuk mencapai suatu kesuksesan atau need for achievement (nAch), McClelland dalam buku What‟s Achievement Got To Do With It? The Role Of National Culture in The Relationship Between Entrepreneurship and Achievement Motivation karya de Pillis, menyatakan bahwa seseorang dengan tingkat need for achievement (nAch) yang tinggi menunjukkan dorongan yang sangat kuat untuk memikul tanggung jawab pribadi, untuk menciptakan dan mencapai tujuan yang sulit, dan untuk mendapatkan umpan balik atas perbuatan yang dilakukan. McClelland menyatakan bahwa need for achievement (nAch) merupakan salah satu kunci kewirausahaan. Lebih jauh, McClelland menyimpulkan bahwa hubungan antara need for achievement (nAch) dan kewirausahaan membuat need for achievement (nAch) sangat penting bagi perkembangan ekonomi suatu negara, dan negara yang ingin mempercepat

pertumbuhan ekonominya harus menaruh perhatian pada peningkatan need for achievement di dalam negaranya (de pillis, 1998:2). Berbagai pihak, baik media, perusahaan, maupun komunitas, berlombalomba mengangkat isu kewirausahaan di kalangan anak muda beberapa tahun ke belakang. Sebagai contoh pada saat ini di kampus, mulai bermunculan semacam entrepreneurship center yang mewadahi mahasiswa maupun dosennya untuk berwirausaha. Selain di kampus sekarang banyak kompetisi wirausaha untuk pemuda, bahkan media elektronik pun mengangkat program tentang kewirausahaan, seperti Bosan Jadi Pegawai di salah satu stasiun TV swasta nasional, Dragon's Den dan The Apprentice di jaringan TV kabel, program Seal The Deal di radio Hard Rock FM (87,6 FM Jakarta), dan film layar lebar seperti Social Network tentang pendiri Facebook atau film Thailand yang berjudul The Billionaire. Selain itu banyak menjamurnya buku-buku bertema kewirausahaan pada saat ini, salah satu buku yang bertemakan wirausaha adalah buku 101 Young CEO6. Didalam buku tersebut membahas tentang para wirausahawan yang telah sukses di dalam bidangnya masing-masing, dan menceritakan pengalaman mereka dalam mencapai sukses menjadi seorang entrepreneur. Namun hal tersebut tidak serta merta mendorong jumlah pengusaha muda meningkat jumlahnya. Para pemuda ini membutuhkan banyak hal untuk bisa membuat mereka memulai bisnisnya. Peneliti telah melakukan survei kepada 105 orang pemuda dengan menggunakan media sosial untuk menemukan apa sebenarnya yang mereka butuhkan memulai bisnis atau mengembangkan bisnis mereka Hasilnya, 76,19% responden 6

101 young CEO merupakan buku yang di buat oleh teman sekelompok peneliti yaitu Muhammad Ilman Akbar.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

72


mengatakan mereka memerlukan modal, 32,38% memerlukan motivasi & karakter diri, 29,52% mengatakan memerlukan network atau jaringan, 20% membutuhkan ide bisnis, 19% memerlukan mentor bisnis, dan 19% lainnya memerlukan ilmu untuk berbisnis.7 Dalam memenuhi kebutuhankebutuhan tersebut, para pengusaha dan calon pengusaha ini mengonsumsi informasi yang berasal dari berbagai media, baik media cetak, elektronik, maupun internet. Beberapa media yang fokus mengangkat isu kewirausahaan :

Tabel 2. Data media massa yang mengangkat isu kewirausahaan No Nama Jenis Keteran Berba Media gan yar/G (rubrik/ ratis keseluru han) 1 StartupBis Websi Keseluru Gratis nis.com te han 2 Majalah Majal Keseluru Berba Pengusaha ah han yar Indonesia 3 Kontan Tabloi Rubrik Berba d, yar Websi te 4 Majalah Majal Rubrik Berba Femina ah yar 5 Harian Koran Rubrik Berba Republika yar (Sumber : data diolah) Dari pemetaan di atas, terlihat bahwa berbagai media tersebut memberikan informasi yang terlalu umum dan beragam tentang kewirausahaan. Jika dipetakan ke kebutuhan pengusaha, berbagai isi yang ada di berbagai media tersebut belum tentu dibutuhkan oleh setiap pengusaha dan calon pengusaha muda. Berdasarkan kondisi tersebut, muncul sebuah peluang bisnis media, yaitu 7

Pemilihan sumber data di jelaskan pada bab 2.

media yang memberikan pemenuhan informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, atau dipersonalisasi. Informasi yang mereka terima dapat mereka pilih, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pribadi. Contohnya, apabila seorang pengusaha sedang membutuhkan modal saja, informasi yang akan mereka terima dari media ini hanya berhubungan dengan permodalan saja. KERANGKA PEMIKIRAN Komunikasi dalam masyrakat ialah bagian dari kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dari peradaban manusia. Kebiasan manusia sebagai makhluk sosial dalam berkomunikasi sendiri di pengaruhi oleh pengalaman yang dimilikinya. Ada pun definisi komunikasi secara umum yaitu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan. Berikut ini adalah beberapa definisi dari komunikasi menurut para ahli : menurut Poedjawijatna dan Hatta dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi mereka medifinisikan komunikasi sebagai ‖Usaha penyampaian pesan antar manusia dan karenanya kita nyatakan ilmu komunikasi sebagai ilmu yang mempelajari usaha penyampaian pesan antar manusia‖ (Dani, 2004:8). Sedangkan menurut Hovland, Janis dan Keley pada buku pengantar komunikasi, komunikasi adalah ‖Suatu proses melalui seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk prilaku orang-orang lainnya‖ (Sasa, 1999:7). Sedangkan Tubbs dan Moss dalam buku ilmu komunikasi suatu pengantar mendifinisikan komunikasi sebagai ‖Proses penciptaan makna antara dua orang atau lebih‖ (Deddy, 2004:59). Dari uraian-uraian di atas, peneliti mengamati bahwa yang di maksud dengan komunikasi adalah suatu usaha yang di lakukan seseorang dalam proses penyampaian pesan menjadi sebuah informasi kepada orang lain. Kaitan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

73


komunikasi dengan penelitian ialah, peneliti ingin mengetahui komunikasi yang di lakukan dengan menggunakan media website apakah efektif berkomunikasi dengan pelanggan dan ingin mengetahui sejauh mana pesan atau informasi yang di sampaikan dalam bentuk content website dapat di terima oleh para pengguna website, sehingga nantinya mereka memiliki dorongan atau motivasi untuk menjadi seorang entrepreneur. Komunikasi Massa Di sini peneliti akan mendifinisikan komunikasi massa dengan merujuk kepada pendapat Tan dan Wright pada buku komunikasi massa suatu pengantar : ‖Komunikasi massa merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam mengghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu‖ (Elvinaro, Lukiati, 2004:3). Selain itu, pengertian komunikasi massa menurut Wiryanto ialah: ‖Komunikasi massa kita adopsi dari istilah bahasa Inggris, mass communication, kependekan dari mass media communication (komunikasi media massa ) artinya, komunikasi yang menggunakan media massa. Istilah mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya yaitu mass media (media massa) kependekan dari media of mass communications‖ (Wiryanto, 2003:3). Dalam penulisan tesis ini, peneliti mencoba lebih memperdalam pembahasan pada tipe komunikasi massa, dikarenakan komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan fasilitas website dapat menjadi acun dalam berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi dengan website tidak menuntut kedekatan yang dalam antara orang-orang yang melakukan komunikasi.

Media Massa Media massa khusus digunakan untuk menyalurkan komunikasi massa. Jenis-jenis media yang tergolong media massa adalah : surat kabar, majalah, tabloid, radio, televisi, dan website. Penggunaan media massa dapat menjangkau khalayak yang tersebar secara geografis. Media massa adalah : ‖Alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunkan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan televisi‖ (Cangara, 2003:134). Menurut J.B. Wahyudi dalam bukunya Komunikasi Jurnalistik, media massa adalah media atau sarana untuk menyampaikan isi pesan kepada massa (Wahyudi, 1991:86). J.B.Wahyudi dalam buku yang sama juga memberikan pengertian lain dari media massa yaitu : ―Sarana untuk menyampaikan isi pesan atau pernyataan atau informasi yang bersifat umum, kepada sejumlah orang yang jumlahnya relatif besar, tinggalnya tersebar, heterogen, anonim, tidak terlembagakan, perhatiannya berpusat pada isi pesan yang sama dan tidak dapat memberikan arus balik secara langsung pada saat itu‖ (Wahyudi, 1991:90). Berdasarkan pengertian tersebut peneliti mendefinisikan media massa sebagai alat atau (media) saluran yang digunakan oleh komunikator untuk menyebarluaskan pesan dan informasi kepada komunikan dalam bentuk media massa cetak maupun elektronik, agar menjangkau khalayak (massa) sebanyak banyaknya dan dengan area seluas-luasnya. Jika dikaitkan dengan penelitian yang penulis teliti, maka pesan atau informasi yang disampaikan oleh melalui content website 101youngCEO.com dapat menimbulkan keserempakan dalam arti khalayak. Karena pesan yang ingin disampaikan dapat diterima oleh khalayak, melalui perantara media massa, sehingga pada saat yang bersamaan khalayak dapat memperhatikan pesan yang dikomunikasikan melalui media tersebut.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

74


Perkembangan Teknologi Komunikasi Semakin berkembangnya peradaban manusia, maka kemampuan untuk menciptakan temuan baru semakin luas. Kemampuan menciptakan temuan baru bukan terjadi di IPTEK saja, tetapi kemampuan untuk menciptakan temuan baru juga terjadi di bidang komunikasi. Temuan baru dibidang komunikasi haruslah bermanfaat bagi khalayak, setidaknya temuan tersebut dapat memberikan berbagai macam pilihan bagi khalayak agar lebih mudah berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Dengan adanya temuan baru dibidang komunikasi khususnya menyangkut teknologi, temuan tersebut harus bisa menawarkan kelebihan tertentu. Misalnya kemampuan untuk meminimalkan adanya jarak dan waktu, yang sejak dulu menjadi kendala setiap individu dalam berkomunikasi dengan individu lainnya. Dalam modul perkembangan teknologi komunikasi universitas terbuka jakarta, Nordenstreng dan Varis, menggemukakan empat titik penentu dalam sejarah komunikasi manusia sebagai berikut : 1. Perolehan Bahasa Kemampuan menciptakan dan menggunakan bahasa di pandang sebagai sebuah pencapaian intelektual terhebat. 2. Penemuan Tulisan Penemuan tulisan merupakan temuan manusia terbesar, dinilai lebih hebat dari komputer, karena dengan adanya tulisan manusia terbebas dari mengandalkan ingatan yang terbatas dan dapat pula menyampaikan sesuatu tanpa batas jarak dan waktu. 3. Era Percetakan Jumlah pembaca yang semakin banyak menyebabkan pengguna satu naskah saja tidak cukup, diperlukan teknik penduplikasian pesan yang efisien. Penemuan mesin cetak juga menandai bermulanya sejarah komunikasi massa,

metode ini pertama ditemukan oleh Johannes Gutenberg. 4. Era Elektronik Bentuk komunikasi elektronik pertama adalah telepon dan telegraf. Pada awal abad XX semua kota dan negara penting didunia telah dihubungkan dengan jaringan komunikasi yang menggunakan kabel (Nina, 2011:14). Perkembangan teknologi komunikasi ini dimulai dari pager, radio, televisi sampai media internet. Perkembangan internet sangatlah cepat, Karena semakin cepat pertumbuhannya maka media internet sering digunakan untuk berkomunikasi. Berikut ini adalah beberapa definisi tentang internet dalam buku internet marketing : â&#x20AC;&#x2022;Internet merupakan jaringan besar yang dibentuk oleh interkoneksi jaringan komputer tunggal diseluruh dunia, lewat saluran telepon, satelit dan system telekomunikasi lainnyaâ&#x20AC;&#x2013; (Riyeke, 2002:3). Perkembangan internet yang begitu pesat berdampak banyaknya bermuculan website, karena dengan website kita dapat mengakses berbagai macam informasi yang kita inginkan lewat media internet. Yang dimaksud dengan website adalah kamus komputer lengkap ialah â&#x20AC;&#x2013;kumpulan dari web page di world wide web (www) yang memberikan informasi (berupa teks, gambar, animasi, video, suara) tentang suatu badan usaha atau organisasi tertentu atau perorangan atau juga untuk kumpulan informasi mengenai subjek tertentuâ&#x20AC;&#x2013; (Aliminsyah, 2007:546). Dari pengertian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa internet adalah kumpulan-kumpulan jaringan yang terkoneksi melalui satu jaringan yang terpusat pada satu server yang tercipta melalui saluran komunikasi yang menjangkau jutaan orang diseluruh dunia. Sedangkan yang dimaksud dengan website adalah sebuah bentuk media yang digunakan untuk mencari berbagi informasi yang ingin kita ketahui dan dapat diakses oleh para pengguna internet diseluruh dunia. Karena peneliti membuat

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

75


project tesis tentang website untuk para entrepreneur, kaitan dengan perkembangan teknologi komunikasi ialah peneliti ingin mengetahui komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan fasilitas website dapat menjadi acun dalam berkomunikasi. Entrepreneurship (Kewirausahaan) Entrepreneurship atau kewirausahaan, definisinya masih sangat beragam. Saat ini belum terdapat satu konsep definisi yang jelas mengenai entrepreneurship (Meeks et al, 1998:1). Sedangkan menurut Kuratko wirausahawan atau entrepreneur sebagai ―individu yang mengenali peluang saat orang lain melihat kekacauan dan kebingungan serta seseorang yang mengorganisir, mengatur, dan menanggung resiko sebuah bisnis‖ (Kuratko, 2009:3-4). Meeks et al mendefinisikan entrepreneur sebagai ―individu (atau tim) yang mengidentifikasi peluang, mengumpulkan kebutuhan yang diperlukan, menciptakan dan bertanggung jawab atas sebuah organisasi‖ (Meeks et al,1998:8). Mengenai kewirausahaan atau entrepreneurship, definisinya adalah ―aktivitas-aktivitas dari individu atau grup yang mengarah pada penciptaan aktivitas ekonomi di sektor formal di bawah bentuk bisnis yang legal (Klapper, 2007:3).― Definisi lain mengenai entrepreneurship adalah ―Proses penemuan, evaluasi, dan eksploitasi peluang terciptanya barang/jasa di masa depan (Venkataraman, 1997:218)‖. Berdasarkan definisi tersebut, ―entrepreneur muda‖ atau ―pengusaha muda‖ dapat didefinisikan sebagai ―individu yang berusia di antara 16 hingga 30 tahun, yang dapat mengidentifikasi peluang bisnis dan menciptakan sebuah organisasi bisnis.‖ Artinya, yang disebut entrepreneur muda tidak harus memiliki badan usaha yang formal atau legal terlebih dahulu.

METODE PENELITIAN Reception Analysis Reception Analysis atau analisis penerimaan adalah studi yang berfokus pada penerimaan dan interprestasi khlayak terhadap isi pesan yang disampaikan media. Interprestasi didefinisikan sebagai kondisi aktif seseorang dalam proses berpikir dan kegiatan kreatif pencarian makna. Setiap teks (informasi) yang diberikan oleh media massa akan dimaknai oleh khalayak. Hal ini dikarenakan khalayak tidak diam saja saat menerima pesan dari media tetapi akan secara aktif memaknai isi teks tersebut. (Ang dalam Downing, 1990:160-162). Khalayak disini ialah audien yang menerima pesan atau memaknai pesan yang di sampaikan oleh komunikator, adapun pengertian audien ialah ―pencipta aktif makna dalam kaitannya dengan teks (pesan), mereka membawa kompetensi cultural yang telah mereka dapatkan untuk dikemukakan dalam teks sehingga audien yang terbentuk berbeda akan mengerjakan makna yang berbeda pula‖. (Barker, 2011:34). Ketika seseorang melihat dan mengamati informasi yang terdapat dalam website 101youngCEO.com, orang tesebut bukan berati pasif dalam menerima informasi tersebut. Melainkan di dalam pemikirannya ia sedang melakukan suatu pemaknaan terhadap teks-teks (Informasi) yang disampaikan oleh website 101youngCEO.com. Hasil pemaknaan yang dilakukan oleh khalayak yang satu dengan yang lainnya akan berbeda karena mereka memahaminya sesuai dengan pemikiran yang mereka telah yakini. Pesan yang disampaikan oleh media massa saling berhubungan dan saling mempengaruhi terhadap Khalayak, hal ini dikarenakan peran dalam media tidak akan bermanfaat jika penerima pesan tidak menginterprestasikan pesan yang diberikan oleh media massa. Reception Analysis bertujuan untuk mengetahui bagaimana khalayak yang berbeda-beda memaknai isi pesan yang

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

76


disampaikan oleh media massa.8 Dalam proses pemakanaan, khalayak akan memaknai pesan yang disampaikan oleh media massa sesuai dengan budaya dan sudut pandang yang khalayak terima dan yakini. Hal tersebut yang menyebabkan makna terbentuk berbeda-beda antara khalayak yang satu dengan lainnya. Reception Analysis menempatkan khalayak sebagai partisipan aktif dalam menciptakan dan menginterprestasikan makna berdasarkan apa yang mereka baca, dengar dan lihat. Pada dasarnya, fokus dari reception analysis adalah adanya hubungan antara proses penulisan, produksi dan pengiriman pesan (encoding) dan proses memecahkan atau memaknai pesan yang disampaikan oleh media massa (decoding) (Barker,2011:287). Dalam proses encoding dan decoding secara khusus, produksi makna tidak memastikan adanya konsumsi makna itu sebagaimana yang dikehendaki oleh pengkodean pesan-pesan. Hal ini di karenakan makna yang dibentuk oleh khalayak distrukturkan dan di pengaruhi oleh konteks budaya yang khalayak miliki seperti pengalaman hidupnya misalkan pendidikan maupun pekerjaan. Salah satu ahli yang membahas reception analysis adalah Stuart Hall yang mengklasifikasikan tiga bentuk pemaknaan : 1. Pemaknaan Dominan (Dominan Code), tidak adanya perbedaan penafsiran antara produsen dan konsumen pesan. 2. Pemaknaan yang dinegosiasikan (Negotiated Code), yang terjadi ketika kode yang disampaikan oleh produsen teks dibaca dan dimaknai konsumen teks, terkait dengan kerangka kepercyaan yang diperlakukan oleh konsumen teks, yang kemudian dinegosiasikan dengan kode yang disediakan oleh produsen teks. 3. Pemaknan Oposisi (Oppositional Code), terjadi ketika konsumen teks

memahami secara berbeda pesan, teks, atau kode yang disampaikan oleh produsen dengan kerangka konsepsinya. (Eriyanto, 2009:94).

Gambar 1. Teori Stuart Hall Secara sederhana, pemikiran Hall dapat diartikan pemaknaan dominan ialah ketika khalayak menerima dan mengolah pesan-pesan yang disampaikan sesuai dengan apa yang dikatakan dan diinginkan oleh pengirim pesan. Ketika khalayak menerima dan mengiyakan pesan tersebut, namun menolak penerapannya dalam kasus yang spesifik dari pesan yang disampaikan oleh media kemudian dikembangkan berdasarkan pemikiran dan kepercayaannya, maka khalayak tersebut tergolong pemaknaan yang dinegosiasikan. Sedangkan pemaknaan oposisi adalah ketika khalayak menolak dengan apa yang disampaikan oleh media karena perbedaan pandangannya dan berusaha untuk tidak menerimanya. Dalam hal ini ada ketidakcocokan antara produsen pesan dengan konsumen pesan. Penjelasan ini diharapkan dapat membantu peneliti untuk mengkategorikan member website dalam menentukan tipe pemaknaan dalam memaknai content pada website 101youngCEO.com berdasarkan pemaknaan khalayak.

8

Memaknai dalam penelitian dilakukan dengan persepsi.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

77


HASIL PENELITIAN Gambaran Umum 101YoungCEO.Com

Website

Website 101youngCEO.com merupakan situs yang menyajikan informasi untuk para entrepreneur, Informasi yang di sampaikan dalam situs ini, berupa content website yang berbentuk artikel, video, audio. Website 101youngCEO.com akan menfilter jenisjenis informasi yang akan di salurkan ke para pengguna website, berdasarkan kebutuhan setiap member. Setelah mereka join ke 101youngCEO.com, nantinya setiap member akan mendapatkan informasi ke e-mail masing-masing selain mendapatkan informasi di content website itu sendiri. Website 101youngCEO.com memiliki visi sebagai berikut : â&#x20AC;&#x153;Anak-anak Muda Indonesia harus Jadi Pengusahaâ&#x20AC;&#x2013;. Untuk mencapai tujuan itu, 101YoungCEO.com memiliki konten-konten yang dibutuhkan oleh para pengusaha dan calon pengusaha muda Indonesia, dengan kategori tulisan berikut ini : 1. Ide bisnis. Berisi ide-ide atau peluang bisnis yang bisa kamu jalankan. 2. Ilmu bisnis. Berisi ilmu-ilmu bisnis, seperti manajemen, marketing, dan sebagainya. 3. Event & Networking. Berisi informasi event atau tips untuk mengembangkan jaringan bisnis kita. 4. Modal & Keuangan. Berisi cara-cara mendapatkan modal dan ilmu pengelolaan keuangan. 5. Motivasi & Inspirasi Bisnis. Butuh semangat atau inspirasi untuk maju? Kategori ini tempatnya. Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa responden laki-laki 6 orang dengan persentase 60%, sedangkan responden perempuan sebanyak 4 orang dengan persentase 40%. Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

Diagram 1 . Distribusi Jenis Kelamin Responden

(Sumber : Data diolah) Kemudian umur dari responden berkisar 20-30 tahun, adapun responden berumur 20 tahun terdiri dari 1 responden dengan persentase 10%, responden berumur 21 tahun terdiri dari 7 orang responden dengan persentase 70%, responden berumur 22 tahun sebanyak 1 orang dengan persentase 10% dan responden berumur 30 tahun terdiri dari 1 orang responden dengan persentase 10%. Diagram 2 . Distribusi Umur Responden

(Sumber : Data diolah)

Pekerjaan responden terdiri dari 1 responden bekerja sebagai karyawan dengan persentase 10% sedangkan 9 orang lainnya bekerja sebagai mahasiswa dengan persentasi 90%.

78


Diagram 3 . Distribusi Pekerjaan Responden

Diagram 5 . Distribusi Situs Yang Diakses Responden

(Sumber : Data diolah)

(Sumber : Data diolah)

Kemudian responden yang memiliki usaha berjumlah 6 orang dengan persentase 60% dan yang belum memiliki usaha sebanyak 4 responden dengan persentase 40%.

Sedangkan hasil data content yang membantu responden dalam pemenuhan kebutuhan informasi sebagai berikut, ide bisnis terdiri dari 1 responden dengan persentase 10%, ilmu bisnis terdiri dari 2 orang responden dengan persentase 20%, modal terdiri dari 2 responden dengan persentase 20 %, network terdiri 1 orang responden dengan persentase 10% dan motivasi & inspirasi sebanyak 4 responden dengan persentase 40%.

Diagram 4 . Distribusi Kepemilikan Usaha Responden

Diagram 6 . Distribusi Konten Yang Membantu Responden

(Sumber : Data diolah)

Data berikut menunjukan situs yang sering diakses oleh responden, adapun datanya sebagai berikut 4 orang responden biasa mengakses situs yang memiliki unsur informasi dengan persentase responden 40% sedangkan 6 orang lainnya biasa mengakses situs yang berkaitan dengan jejaring sosial dengan persentase 60%.

(Sumber: Data diolah)

Berdasarkan hasil validitas, reliabilitas, dan distribusi frekuensi maka peneliti mendapatkan data bahwa, dari 5 content ternyata yang sering diakses dan dapat membantu responden dalam

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

79


mencarian informasi kewirausahan hanya 3 content yaitu content Motivasi & Inspirasi, Ilmu Bisnis, dan Modal. Tiga (3) content inilah yang akan peneliti kaitan dengan reception analysis dari Stuart Hall. Reception Analysis Stuart Hall Berikut peneliti akan mendeskripsikan pemaknaan 10 (sepuluh) informan dalam memaknai 3 (tiga) content yang sering diakses oleh para member website 101youngCEO.com. Berdasarkan hasil wawancara, peneliti akan mengkatagorikan para informan berdasarkan makna yang dihasilkan, yakni pemaknaan dominan, negosiasi, dan oposisi. pemaknaan dominan ialah ketika khalayak menerima dan mengolah pesan-pesan yang disampaikan sesuai dengan apa yang dikatakan dan diinginkan oleh pengirim pesan. Ketika khalayak menerima dan mengiyakan pesan tersebut, namun menolak penerapannya dalam kasus yang spesifik dari pesan yang disampaikan oleh media kemudian dikembangkan berdasarkan pemikiran dan kepercayaannya, maka khalayak tersebut tergolong pemaknaan yang dinegosiasikan. Sedangkan pemaknaan oposisi adalah ketika khalayak menolak dengan apa yang disampaikan oleh media karena perbedaan pandangannya dan berusaha untuk tidak menerimanya. Proses Encoding dalam Reception Analysis (Pandangan Pembuat Website 101youngCEO.com) Maksud dan tujuan dari website 101youngCEO.com, ialah membuat bisnis media yang berbasiskan website dan memberikan pemenuhan informasi yang sesuai dengan kebutuhan para pengusaha atau calon pengusaha. Kemudian akan dipersonalisasi isi dari

content website 101youngCEO.com. Content tersebut berupa artikel, video, audio, dan lainnya, yang akan diseleksi sesuai dengan kategori kebutuhan pengusaha dan calon pengusaha muda (modal, motivasi, network atau jaringan, ide bisnis, dan ilmu bisnis). Isi content tersebut, lalu ditampilkan di website 101youngCEO.com dan dikirimkan melalui email ke pelanggan secara gratis. Peneliti selaku pengelola website 101youngCEO.com, ingin mengajak dan membuat anak-anak muda Indonesia menjadi pengusaha atau berwirausaha. Agar para anak muda Indonesia tidak menjadi seorang pengganguran, apalagi menjadi pengganguran terdidik. Website 101youngCEO.com dibuat untuk mencapai tujuan tersebut, 101YoungCEO.com memiliki kontenkonten yang dibutuhkan oleh para pengusaha dan calon pengusaha muda Indonesia, dengan kategori tulisan dan content yang mudah dipahami dan bisa di terapkan pada kehidupan sehari-hari. Berikut ini merupakan tulisan yang terdapat pada website 101youngCEO.com : Gambar 5. Artikel yang terdapat pada content modal & keuangan

(Sumber : Pribadi)

Pada artikel tersebut di jelaskan bagaimana cara untuk memulai usaha

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

80


tanpa modal, beberapa cara yang dilakukan sebagai berikut : Pinjam uang pada teman, sewa tempat, Fokus, membuat website, kerja paruh waktu. Disini pengelola website ingin memberikan dan membuat pemahaman kepada mengakses situs 101youngCEO.com, bahwa untuk memulai usaha tidak harus dengan modal. Tetapi ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memulai usaha tanpa harus mengeluarkan modal. Kemudian pada content ilmu bisnis terdapat artikel yang berjudul â&#x20AC;&#x2022;hal-hal yang harus dipersiapkan dalam perencanaan bisnisâ&#x20AC;&#x2013;, pada artikel ini pengelola website ingin memberikan informasi ada empat hal dasar yang harus di persiapakan dalam berbisnis, yakni : produk/layanan, target pasar, pemasukan dan pengeluaran. Disini pengelola ingin menyampaikan bahwa empat hal tersebut harus diperhatikan dalam berbisnis atau memulai bisnis. Pengelola ingin mengetahui persepsi atau pun respon customer terhadap artikel tersebut, apakah ada hal lain yang harus di persiapkan untuk memulai bisnis. Gambar 6. Artikel yang terdapat pada content Ilmu Bisnis

(Sumber : Pribadi)

Selanjutnya menampilkan sebuah

pengelola video yang

berbentuk typography grpahic pada content motivasi & inspirasi, video tersebut berjudulkan pengusaha dapat mengubah dunia. Disini pengelola ingin memberikan informasi bahwa pengusaha dapat mengubah dunia, khususnya perekonomian tiap negara dan dapat mengurangi pengganguran. pengelola ingin menjelaskan kepada para pelanggan bahwa apabila menjadi pengusaha kalian dapat mengubah keadaan dunia (suatu negara). Gambar 7. Video Graphic berjudul pengusaha dapat mengubah dunia pada content motivasi & Inspirasi

(Sumber : Pribadi)

Proses Decoding dalam Analisis Stuart Hall (Pandangan Informan Tentang Artikel â&#x20AC;&#x153;8 Cara Usaha Tanpa Modal â&#x20AC;&#x153;) (Dominan) Pemaknaan dominan terjadi ketika produsen pesan menggunakan kode-kode yang bisa diterima secara umum sehingga ia akan menerima dan mengolah pesan-pesan yang disampaikan sesuai dengan apa yang dikatakan dan diinginkan oleh produsen pesan sehingga tidak ada perbedaan penafsiran antara produsen pesan dan konsumen pesan.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

81


Informan 1 : “yang aku pakai, salah satunya dengan membuat website kenapa itu, karena menurut aku membuat website bisa mengkurangkan biaya. Contohnya kita membuat blog, wordpress, siapa tau kita bisa jualan. Sebagai media promosi juga, Teknologi sudah moderen masa pakai brosur itu jaman dulu banget. Aku setuju banget dengan artikel 8 cara usaha tanpa modal, karena nggak semua mahasiswa banyak duit, biasanyakan mahasiswa itu ada usaha sampingan gitukan. Jadi harus bisalah kayak bagi-bagi waktu untuk usaha dan kuliah.” Menurutnya artikel tentang ―8 Cara Usaha Tanpa Modal‖ yang terdapat pada content modal, merupakan cara yang dipakai informan 1 untuk melakukan promosi produknya. Salah satu cara yang ia pakai adalah dengan membuat website dan ia pun sangat setuju dengan artikel mengenai ―8 Cara Usaha Tanpa Modal‖ karena ia menerapkan hal tersebut pada bisnisnya. Informan 2 : “yang saya pakai dalam bisnis saya adalah dengan menggunakan media website, karena apa, bisnis saya merupakan online shop jadi untuk memperkenalkan produk-produk yang saya jual adalah dengan menggunakan media website. Hal ini yang saya lakukan untuk memulai bisnis tanpa harus mengeluarkan biaya dan memperkenalkan bisnis saya ke orang-orang, karena sifat nya preoder bisnis yang saya geluti, maka dari itu bisa menekan pengeluarn yang berlebih, karena apa kalo ada uang baru ada barang dan saya setuju dengan artikel “8

Cara Usaha Tanpa Modal” karena saya mengalami hal tersebut. ” Informan 2 mengatakan artikel ―8 Cara Usaha Tanpa Modal‖ yang terdapat pada content modal, merupakan cara yang dipakai informan 2 untuk melakukan promosi produknya dan bisa menekan pengeluaran yang berlebih, karena bisnis yang ia geluti bersifat preorder. Ia setuju dengan artikel mengenai ―8 Cara Usaha Tanpa Modal‖ karena ia menerapkan hal tersebut pada bisnisnya. Informan 4 : “Saya lebih setuju dengan artikel “8 Cara Usaha Tanpa Modal”, pernyataan yang mengatakan cari pekerjaan paruh waktu, karena menurut saya dari pada kita minjam uang, istilahnyakan utang tambah susah dan ribet jadi lebih pas, cari pekerjaan paruh waktu terus uangnya dibuat modal bikin usaha. ” Informan 4 setuju dengan artikel ―8 Cara Usaha Tanpa Modal‖ dan acara yang di pilih ialah kerja paruh waktu, menurutnya kerja paruh waktu dapat memulai membuat usaha, karena uang paruh waktu dapat digunakan sebagai modal. Informan 5 : “Cara yang di pakai itu, sewa tempat jadi memulai hal tersebut dari yang kecil dulu kayak pakai rumah atau ruangan yang nggak di pakai untuk memulai bisnis tersebut gitu, jadi memanfaatkan hal-hal yang kita punya dulu. Iya saya setuju, karena isi dari content tersebut mudah dipahami dengan bahasa yang simpel, nggak bertele-

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

82


tele dan to the point jadi mudah di pahami dan di terapkan.”

diterapkan berbisnis.

Informan 5 mengatakan cara yang ia pakai ialah sewa tempat untuk memulai usaha tanpa modal, artian dari sewa tempat sendiri bagi informan ialah menggunakan hal-hal yang kita punya dulu misalkan memanfaatkan ruangan yang tidak dipakai. Ia pun setuju dengan artikel ―8 Cara Usaha Tanpa Modal‖ karena bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan mudah dipahami sehingga bisa langsung diterapkan.

Informan 7 : “ Kalo menurut saya berdasarkan yang saya alami,cara yang saya pakai sewa tempat, cari rekanan kerja, buat website, fokus kemudian cari pekerjaan paruh waktu. Kenapa sewa tempat karena bisnis yang bagus memiliki tempat yang tetap di mata konsumen, kemudian kita butuh rekan kerja ataupun partner, karena dalam berbisnis kita akan susah kalo tidak memiliki partner, dalam artian networking. Kemudian buat website karena orang pada saat ini gampang untuk mengakses internet, tapi saya juga menggunakan aplikasi notefication, karena background saya IT jadi kan website berintegrasi dengan internet karena jaringan internet yang luas dan penggunanya di masyarakat tinggi maka sangat efektif untuk mempromosikan bisnis kita. Kemudian cara lainya ialah dengan bergabung dikomunitas dampaknya besar untuk mencari rekan kerja yang sesuai, saya setuju dengan artikel tersebut, karena sesuai dengan apa yang saya alami.”

(Negosiasi) Pemaknaan yang dinegosiasikan terjadi apabila pemirsa menerima dan mengiyakan pesan yang disampaikan produsen teks, namun menolak penerapannya dalam kasus yang spesifik sehingga ia menegosiasikan sesuai dengan kepercayaan dan kulturalnya. Informan 3 : “ Cara yang efektif membuat website, tapi bisa juga dengan menggunakan media sosial sebagai media promosi, karena menurut saya, media sosial gratis tidak harus mengeluarkan uang seperti membuat facebook atau pun twitter. Saya setuju dengan artikel “8 Cara Usaha Tanpa Modal” karena hal tersebut bisa diterapkan secara langsung dalam hal berbisnis.” Informan 3 mengatakan cara yang efektif ialah dengan menggunakan website, tetapi selain menggunakan website menurutnya bisa juga menggunakan media sosial (facebook dan twitter) karena yang sifatnya gratis dan ia pun setuju tentang artikel ―8 Cara Usaha Tanpa Modal‖. Menurutnya hal yang terdapat pada artikel dapat

secara

langsung

dalam

Informan 7 setuju dengan artikel ―8 Cara Usaha Tanpa Modal‖ dan cara yang efektif ialah dengan menggunakan sewa tempat, cari rekanan baru, website, fokus, dan cari pekerjaan paruh waktu. Tetapi selain hal tersebut ada hal lain yang bisa dilakukan untuk memulai usaha, menurutnya bergabung ke komunitas wirausaha akan efektif untuk mendapatkan partner yang sesuai. Informan 8 : “ Saya setuju dengan artikel “8 Cara Usaha Tanpa Modal” tapi cara yang

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

83


saya gunakan mengembangkan networking yang sudah ada, jadi nambah-nambah temen gabung ke perusahaan, ajak temen untuk gabung keperusahaan kita. â&#x20AC;? (Oposisi) Pemaknaan oposisi terjadi ketika konsumen pesan memaknai secara berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh produsen teks. Hal ini diakibatkan karena perbedaan pandangan diantara keduanya yang ditandai dengan ketidaksukaan atau ketidak cocokan terhadap isi pesan yang disampaikan. Dalam hal ini, berdasarkan hasil penelitian dari 10 informan, tidak ada yang memiliki pandangan oposisi yang bertolak belakang dengan produsen teks. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, maka peneliti akan menguraikan pembahasan masalah sesuai dengan judul tesis peneliti tentang â&#x20AC;&#x2022;content website 101youngCEO.com sebagai hubungan komunikasi dengan pelangganâ&#x20AC;?. Peneliti akan mendeskripsikan pemaknaan para informan yang terdiri dari sepuluh orang yang memiliki latar belakang dan pekerjaan yang berbeda-beda mengenai makna yang terdapat dalam content 101youngCEO.com (Modal, Ilmu Bisnis, dan Motivasi). Peneliti akan mengkatagorikan bentuk pemaknaan informan berdasarkan teori Stuart Hall yang terdiri dari pemaknaan dominan, negosiasi dan oposisi. Pemaknaan dominan ialah ketika khalayak menerima dan mengolah pesan-pesan yang disampaikan sesuai dengan apa yang dikatakan dan diinginkan oleh pengirim pesan. Ketika khalayak menerima dan mengiyakan pesan tersebut, namun menolak

penerapannya dalam kasus yang spesifik dari pesan yang disampaikan oleh media kemudian dikembangkan berdasarkan pemikiran dan kepercayaannya, maka khalayak tersebut tergolong pemaknaan yang dinegosiasikan. Sedangkan pemaknaan oposisi adalah ketika khalayak menolak dengan apa yang disampaikan oleh media karena perbedaan pandangannya dan berusaha untuk tidak menerimanya. Dalam hal ini ada ketidakcocokan antara produsen pesan dengan konsumen pesan. Pada artikel yang terdapat pada content modal di jelaskan bagaimana cara untuk memulai usaha tanpa modal, beberapa cara yang dilakukan sebagai berikut : Pinjam uang pada teman, sewa tempat, Fokus, membuat website, kerja paruh waktu. Disini pengelola website ingin memberikan dan membuat pemahaman kepada mengakses situs 101youngCEO.com, bahwa untuk memulai usaha tidak harus dengan modal. Tetapi ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memulai usaha tanpa harus mengeluarkan modal. Berdasarkan hasil wawancara dengan 10 (sepuluh) informan, ternyata didapatkan hasil bahwa 6 (enam) orang informan setuju dengan informasi yang disampaikan oleh 101youngCEO.com (Dominan). Namun 4 (empat) orang lainnya masih menegosiasikannya dengan kultur yang ia miliki, mereka berempat mengiyakan informasi yang disampaikan tetapi ada cara lain untuk melakukan hal tersebut (Negosiasi). Ada pun pernyata dari 4 (empat) informan tersebut sebagai berikut : Berdasarkan hal diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa informasi yang disampaikan pada content motivasi dapat diterima dan pemaknaan mereka akan pesan yang disampaikan sesuai dengan tujuan pengelola website, disini

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

84


pengelola website ingin memberikan dan membuat pemahaman kepada mengakses situs 101youngCEO.com, bahwa untuk memulai usaha tidak harus dengan modal. Kemudian pada content ilmu bisnis terdapat artikel yang berjudul ―hal-hal yang harus dipersiapkan dalam perencanaan bisnis‖, pada artikel ini pengelola website ingin memberikan informasi ada empat hal dasar yang harus di persiapakan dalam berbisnis, yakni : produk/layanan, target pasar, pemasukan dan pengeluaran. Disini pengelola ingin menyampaikan bahwa empat hal tersebut harus diperhatikan dalam berbisnis atau memulai bisnis. Pengelola ingin mengetahui persepsi atau pun respon customer terhadap artikel tersebut, apakah ada hal lain yang harus di persiapkan untuk memulai bisnis. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, ternyata didapatkan hasil bahwa 1 (satu) informan, ia menegosiasikannya dengan kultur yang ia miliki, informan tersebut mengiyakan informasi yang disampaikan tetapi ada cara lain untuk melakukan hal tersebut (Negosiasi) dan 1 (satu) informan tidak setuju dengan artikel yang di tampilkan pada content ilmu bisnis tentang ―hal-hal yang harus dipersiapkan dalam perencanaan bisnis‖, informan ini masuk kedalam kode oposisi. Ada pun pernyata dari 2 (dua) informan tersebut sebagai berikut : Selanjutnya pengelola menampilkan sebuah video yang

berbentuk typography grpahic pada content motivasi & inspirasi, video tersebut berjudulkan ―pengusaha dapat mengubah dunia‖. Disini pengelola ingin memberikan informasi bahwa pengusaha dapat mengubah dunia, khususnya perekonomian tiap negara dan dapat mengurangi pengganguran. pengelola ingin menjelaskan kepada para pelanggan bahwa apabila menjadi pengusaha kalian dapat mengubah keadaan dunia (suatu negara). Hasil wawancara dengan informan, ternyata didapatkan hasil bahwa 10 (sepuluh) informan, setuju dengan informasi yang berada di dalam video ―pengusaha dapat mengubah dunia‖. Dari 10 (sepuluh) informan, 6 (enam) orang termotivasi ingin menjadi pengusaha sukses setelah melihat video yang ditayangkan pada content motivasi dan informasi yang di sampaikan pada website 101youngCEO.com cukup efektif. Hasil penelitian ini memperoleh adanya pemaknaan dominan, negosiasi dan oposisi, namun pemaknaan dominanlah yang paling menonjol dalam memaknai 3 (tiga) content 101youngCEO.com, hal ini menjelaskan bahwa komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan media website efektif dan dapat menjelaskan mengenai persepsi (pemaknaan) informan terhadap suatu informasi yang disampaikan dengan menggunakan media website. Berikut merupakan tabel hasil dari pemaknaan para informan :

Tabel 10. Jumlah Hasil Pemaknaan Informan Dominan Negosiasi Oposisi Pandangan Informan Tentang Artikel “8 6 4 Cara Usaha Tanpa Modal “ Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

85


Pandangan Informan Tentang Artikel “Halhal Yang Harus Dipersiapkan Dalam Perencanaan Bisnis” Pandangan Informan Tentang Video “Pengusaha Dapat Mengubah Dunia”

8

1

1

10

-

-

5

1

24 JUMLAH (Sumber : Data diolah) KESIMPULAN Setelah peneliti mendapatkan data-data yang diperlukan, maka berdasarkan hasil validitas, reliabilitas, dan distribusi frekuensi maka peneliti mendapatkan data dan dapat disimpulkan bahwa pemaknaan (persepsi) pengakses website 101youngCEO.com terdapat tiga pemaknaan : 1. Dari 5 content ternyata yang sering diakses dan dapat membantu responden dalam mencarian informasi kewirausahan hanya 3 content yaitu content Motivasi & Inspirasi, Ilmu Bisnis, dan Modal. 2. Pemaknaan dominan, yaitu memaknai content motivasi berupa video yang berjudul ―pengusaha dapat mengubah dunia‖, sesuai dengan yang disampaikan oleh pengelola website. Pengelola ingin para pengakses website memiliki motivasi untuk menjadi pengusaha setelah melihat video tersebut. 3. Pemaknaan negosiasi terlihat pada content modal dan ilmu bisnis, disini pengakses website mengiyakan informasi yang didapat, tetapi mereka memiliki persepsi lain tentang informasi yang

disampaikan. Seperti yang terlihat pada artikel ―8 Cara Usaha Tanpa Modal‖, beberapa orang sependapat dengan cara yang ditawarkan pada artikel tersebut, tetapi mereka memiliki cara lain untuk memulai usaha tanpa modal. Contohnya dengan menggunakan media website, tetapi menurut informan lebih efektif dengan menggunakan sosial media walaupun setuju dengan artikel yang ditulis. oposisi yaitu 4. Pemaknaan pemaknaan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh produsen teks (pengelola website). Hal ini dapat dilihat dari artikel tentang‖Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam memulai bisnis‖, seorang informan tidak setuju dengan artikel tersebut, ia memiliki cara lain yaitu untuk memulai bisnis terlebih dahulu. Berdasarkan hal tersebut dan data-data yang ada, maka peneliti menarik kesimpulan bahwa saat mengkonsumsi isi pesan ternyata para informan memiliki pemikiran yang berbeda-beda berdasarkan latar belakang mereka dan kultur yang tertanam pada diri mereka. Namun walaupun seperti itu dapat diperoleh

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

86


data bahwa pemaknaan dominanlah yang paling menonjol, hal ini menunjukan bahwa website 101youngCEO.com dapat menjadi media komunikasi yang efektif terhadap pelanggan dan dapat mengetahui persespsi pelanggan setelah mengakses 101youngCEO.com, juga dapat memotivasi mereka untuk menjadi pengusaha.

-

-

DAFTAR PUSTAKA

-

-

-

-

-

Aliminsyah. 2007 Kamus Komputer Lengkap, Bandung : Guten Technosains Ardianto, Elvinaro dan Dra. Lukiati Komala Erdinaya, M.Si. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Bandung : Simbiosa Rektama Media Arikunto,Suharsimi. 2006. Prosedur,Penelitian,Suatu,Pendekat an,Praktik. Jakarta: PT.Rineka Cipta. Azhar, Muhammad. 2003 Pendidikan, Antikorupsi.Yogyakarta: LP3 UMY. Barker, Chris. 2011 Cultural Studies, “Teori dan Praktek”, Yogyakarta : Kreasi Wacana Cangara, Hafied. 2003 Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta : RajaGrafindo Dewi, Liza Dwi Ratna. 2008 Teori Komunikasi, Pemahaman dan Penerapan, Tangerang : Renata Pratama Media De Pillis, Emmeline G. 1998 What‟s Achievement Got To Do With It? The Role Of National Culture in The Relationship Between Entrepreneurship and Achievement Motivation. Frontiers of Entrepreneurship Research

-

-

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

Downing, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1990 Questioning the media; a critical introduction, New Delhi: SAGE Publications Djuarsa Sendjaja, Sasa. 1999 Pengantar Komunikasi, Jakarta : Universitas Terbuka, Depdikbud Eriyanto. 2009 Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media, Yogyakarta : LkiS Kuratko, Donald F. 2009 Entrepreneurship: Theory, Process, Practice, 8e. Ohio: SouthWestern Cengage learning Klapper, Leora; Amit, Raphael; Guillen, Mauro F.; dan Quesada, Juan Manual. 2007 Entrepreneurship and Firm Formation Across Countries. The Policy Research Working Paper Series. Maleong, Lexy J. 2011 Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Venkataraman, S. 1997 The distinctive domain of entrepreneurship research: an editor‟s perspective. In J. Katz, & R. Brockhaus (Eds.), Advances in entrepreneurship, firm emergence, and growth, vol. 3 (pp. 119–138). Greenwich, CT: JAI Press dalam Shane dan Venkataraman

87


STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN MOBIL LOW COST GREEN CAR MELALUI SALES PROMOTION PADA PT. ASTRA INTERNASIONAL TBK CABANG CILEDUG KOTA TANGERANG RINI LESTARI Email: rini.lestari@budiluhur.ac.id Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur, Jakarta ABSTRACT PT. Astra Internasional Tbk-Daihatsu-Ciledug is a single agency and official distributor of the Daihatsu in Indonesia. Marketing communications through sales promotion is one of the activities of PT.Astra Internasional Tbk-Daihatsu-Ciledug in promoting the product in the competition that is becoming more competitive.The purpose of this research is to find out and explain sales promotion as a strategy of marketing low cost car green car (lcgc) Daihatsu Ayla produced by PT. Astra Internasional Tbk Daihatsu in Ciledug and constraints and opportunities in implementing the sales promotion.The theory used in this research is about marketing communication, that is, hotchpotch of marketing communications focused on sales promotion (kotler and keller). The research uses qualitative research approach , with research method of case study, method with in-depth interviews, observation and documentation..The result showed that the company: First, Astra Internasional Daihatsu Ciledug conduct sales promotion in the forms of: the refund cash discount, the frequency program, free gifts, free trials, product guarantee, the sales exhibition, and special advertising. Second, opportunities found in PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug in carrying out an activity to promote the sale of (sales promotion)include: facilitating the increase of the sales volume, facilitating the purchase of recurring repeat order, and facilitating the increase of customer loyalty .The constraints found in undertaking activities of sales promotion are as follows: the lack of human resources especially in the field of sales, PT .Astra Internasional Daihatsu Ciledug does not have the department with specialty of handling marketing communications, and customers do not immediately make purchase decisions. Keywords: Sales Promotion, Marketing Communications Strategy, Low Cost Green Car ABSTRAK PT. Astra Internasional Tbk-Daihatsu-Ciledug merupakan agen dan distributor resmi produk Daihatsu di Indonesia, Komunikasi pemasaran melalui sales promotion adalah salah satu kegiatan agar Daihatsu Ayla dapat bertahan dalam persaingan yang semakin kompetitif.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan menjelaskan strategi komunikasi pemasaran kebijakan mobil Low Cost Green Car (LCGC) melalui sales promotion pada Daihatsu Ayla PT. Astra Internasional Tbk Cabang Ciledug Tangerang dan hambatan-hambatan dan peluang dalam melaksanakan sales promotion mobil Daihatsu Ayla PT. Astra Internasional Tbk Cabang Ciledug Tangerang. Teori penelitian adalah komunikasi pemasaran, bauran komunikasi pemasaran memfokuskan pada sales promotion (Kotler dan Keller). Pendekatan penelitian kualitatif, metode penelitian studi kasus dengan wawancara mendalam, pengamatan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug melakukan kegiatan promosi penjualan (sales Promotion) dalam bentuk-bentuk: penawaran Pengembalian Dana Tunai (diskon), Program Frekuensi, Hadiah dan Undian, Percobaan Gratis, Garansi Produk, Pameran Dagang, Kontes Penjualan dan Iklan Khusus. Peluang yang ditemukan pada PT. Astra Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

88


Internasional Daihatsu Ciledug dalam melaksanakan kegiatan promosi penjualan (sales Promotion) adalah: Membantu meningkatkan volume penjualan, Meningkatkan pembelian berulang “repeat order”, Meningkatkan loyalitas customer. Hambatan yang ditemukan dalam melaksanakan kegiatan sales Promotion adalah sebagai berikut: Segi sumber daya manusia terutama di bidang sales, PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug belum memiliki bagian/departemen khusus yang menangani bidang komunikasi pemasaran, Customer tidak segera melakukan keputusan pembelian. Kata kunci : Sales Promotion, Strategi, Komunikasi Pemasaran, Low Cost Green Car

PENDAHULUAN Daihatsu merupakan salah satu merek mobil yang ikut berpartisipasi dalam meramaikan industri otomotif di Indonesia. Berkembangnya inovasi, teknologi serta berbagai tipe kendaraan yang dikeluarkan oleh Daihatsu mendorong produsen kendaraan itu sendiri untuk mempromosikan berbagai kelebihan produk-produk yang dimilikinya, dengan tujuan konsumen agar lebih paham akan berbagai informasi yang berkaitan dengan produk, berbagai kelebihan dan teknologi yang digunakan maupun kemudahan dan jaminan yang diberikan oleh Daihatsu. Maka dari itu itu diperlukan strategi komunikasi pemasaran yang tepat untuk dapat bersaing dalam industri otomomotif di tanah air. PT. Astra Internasional Tbk Daihatsu merupakan salah satu perusahaan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) terbesar di Indonesia dan juga memiliki jumlah pelanggan yang cukup besar. Daihatsu sebagai salah satu pesaing dalam bisnis otomotif secara khusus, mobil-mobil keluaran Daihatsu termasuk dalam kategori terjangkau untuk masyarakat secara luas. Peneliti tertarik dengan strategi komunikasi pemasaran PT Astra Internasional Daihatsu Ciledug dengan diluncurkan kendaraan Low Cost Green Car (LCGC) Daihatsu Ayla. Karena pada tahun 2013 beberapa perusahaan otomotif berlomba-lomba meluncurkan mobil

dengan tag line Low Cost Green Car (LCGC). Alasan yang lain adalah PT. Astra Internasional Tbk - Daihatsu Ciledug merupakan agen tunggal Daihatsu terbesar di wilayah Ciledug, Petukangan dan Kebayoran. Dan merupakan wilayah dengan istilah ―Red Zone” di mana disuatu wilayah terdapat banyak agen tunggal Astra Daihatsu maupun dealer resmi Daihatsu yang ada di daerah tersebut, jadi membuat persaingan semakin kompetitif dan menjadi tantangan tersendiri PT. Astra Internasional Tbk - Daihatsu Ciledug dalam melaksanakan poromosi penjualan (sales promotion). KERANGKA PEMIKIRAN Pengertian Strategi Menurut Stephen Robbins (1990) yang dikutip Morissan (2008:152) mendefinisikan strategi sebagai berikut: ― The determination of the basic long-term goals and objectives of an enterprise, and the adoption of course action and the allocation of resources necessary for carrying, out this goals”. Strategi adalah penentuan tujuan jangka panjang perusahaan dan memutuskan arah tindakan serta mendapatkan sumbersumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Mengandung pengertian bahwa strategi adalah meliputi tindakan memperkirakan atau membangun tujuan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

89


masa depan yang diinginkan, menentukan kekuatan-kekuatan yang akan membantu atau yang akan menghalangi tercapainya tujuan, serta merumuskan rencana untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Sedangkan menurut The Big Book of Business Quotations yang dikutip oleh Barney dan Hesterly (2008:4) strategi diartikan sebagai “Theory about how to gain competitive advantage” artinya strategi adalah teori tentang bagaimana memperoleh keunggulan kompetitif atau bersaing. Sedangkan menurut Demsetz yang dikutip oleh Barney (2008:5), “strategy is theory of how to achieve high levels os performance in the markets ang industries within which it is operating”. Strategi adalah teori bagaimana mencapai kerja tingkat tinggi di pasar dan industri di mana perusahaan tersebut beroperasi di dalamnya. Kedua pengertian tersebut memperlihatkan bahwa tujuan perusahaan dan implementasi strategi yang dilakukan oleh perusahaan adalah untuk memperoleh kemenangan di kancah persaingan melalui upaya-upaya yang dapat mendorong tercapainya tingkat kerja yang optimal. Komunikasi Pemasaran Menurut Kotler dan Keller (2009:173) komunikasi pemasaran adalah sarana dimana perusahaan dalam upaya untuk menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung atau tidak langsungtentang produk dan merek yang mereka jual. Dalam pengertian tertentu, komunikasi pemasaran menggambarkan ‖suara‖ merek dan merupakan sarana yang dapat digunakan untuk membangun dialog dan membangun hubungan dengan konsumen. Pengertian komunikasi pemasaran adalah semua elemen-elemen promosi dari marketing mix yang melibatkan komunikasi antarorganisasi dan target audience pada segala bentuknya yang ditujukan untk

perfomance pemasaran (Pickton & Broderick dalam Prisgunanto, 2006:8). Komunikasi pemasaran (Marketing Communication) adalah segenap elemen dan teknik yang diperlukan untuk berkomunikasi dengan pasar, yakni mulai dari pembuatan kartu nama, label atau merek dagang, pegemasan produk, sampai pada periklanan, penyelenggaran kegiatankegiatan humas dan penyediaan pelayanan purna jual (Jefkins, 1995: 369). Bauran Komunikasi Pemasaran (Marketing Communication Mix) Kotler dan Keller (2009:174) bauran komunikasi pemasaran terdiri dari delapan model komunikasi utama: 1. Pemasaran Langsung (Direct Marketing). Bentuk-bentuk pemsaran langsung adalah penggunaan surat, telepon, faksimile, e-mail, atau internet untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau meminta respons atau dialog dari pelanggan dan prospek tertentu. 2. Promosi Penjualan (Sales Promotion). Dalam Hal ini berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong percobaan atau pembelian produk atau jasa. Selanjutnya Tjiptono (1997:229) yang menyatakan bahwa ―promosi penjualan adalah untuk merangsang pembelian dengan segera atau untuk meningkatkan jumlah pembelian barang yang dilakukan oleh pelanggan 3. Hubungan Masyarakat dan Publisitas. Merupakan berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atauproduk individunya. Bilson Simamora (2003:315) menyatakan ―hubungan masyarakat merupakan bagian dari upaya promosi perusahaan, yang

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

90


didesain untuk mempengaruhi pasar sasaram khususnya dan public‖. Public Relations memiliki ruang lingkup yang lebih luas dan lebih mengarah ke pembentukan opini bagi perusahaan dan produk yang dihasilkan. 4. Penjualan Personal. Penjualan personal adalah interaksi tatap muka dengan satu atau lebih pembeli prospektif untuk tujuan melakukanpresentasi, menjawab pertanyaan, dan mengadakan pesanan. Lebih jauh Shimp (2003:5) bahwa ―penjualan perorangan (personal selling) sebagai bentuk komunikasi antar individu dimana tenaga penjual atau wiraniaga menginformasikan, mendidik, dan melakukan persuasi kepada calon pembeli untuk membeli produk perusahaan‖. 5. Periklanan (Advertising). ―Iklan adalah segala bentuk presentasi nonpribadi dan promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor tertentu yang harus dibayar. Iklan dapat merupakan cara yang berbiaya efektif guna menyebarkan pesan, entah untuk membangun preferensi merek, citra merek dan untuk mendidik orang‖. 6. Acara dan Pengalaman (Event Marketing). Merupakan kegiatan dan program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindngi citra perusahaan atau produk individunya. Salah satu cara yang ampuh dalam menyampaikan pesan sebuah brand adalah dengan mengajak customer dan potential customer untuk terlibat dalam sebuah event yang diselenggarakan perusahaan.

7. Pemasaran Interaktif (Interactive Marketing). Kegiatan dan program online yang dirancang untuk melibatkan pelanggan atau prospek dan secara langsung atau tidak langsung menigkatkan kesadaran, memperbaiki citra, atau menciptakan penjualan produk dan jasa. 8. Pemasaran dari mulut ke mulut (Word of Mouth). Merupakan komunikasi lisan, tertulis dan elektronik antarmasyarakat yang berhubungan dengan keunggulan atau pengalaman membeli atau menggunakan produk atau jasa. Dapat disimpulkan bahwa pemasaran dari mulut ke mulut merupakan pertukaran informasi atau pengalaman antar anggota masyarakat yang berhubungan dengan keunggulan, kelebihan dan kualitas produk atau jasa dan berbagi informasi tentang pengalaman membeli. Promosi Penjualan Promosi Penjualan merupakan aktivitas pemasaran yang mengusulkan nilai tambah dari suatu produk (untuk mendapatkan lebih dari sekedar yang ada dari nilai produk) dalam jangka waktu tertentu dalam rangka mendorong upaya yang dilakukan oleh tenaga penjualan (sales force) (Agus Hermawan, 2012:127) Sales Promotion the use os incentives to generate a spesific (usually short term) reponse. Capable of targeting and with s high degree of control over design and placement. Generally regarded as having low credibility although cause-related promotins may have a very posive effect. they are seen to and value for consumers but may bring forward future sales.(Jon Egan, 2014) Menurut Kotler dan Keller (2009:219) Promosi Penjualan adalah

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

91


bahan inti dalam kampanye pemasaran, terdiri dari koleksi alat insentif, sebagian jangka pendek, yang dirancang untuk menstimulasi pembelian yang lebih cepat atau lebih besar atas produk atau jasa tertentu oleh konsumen atau perdagangan. Semantara menurut Tjiptono (2008:546) â&#x20AC;&#x2022;promosi penjualan (sales promotion) merupakan segala bentuk penawaran atau intensif jangka pendek yang ditujukan bagi pembeli, pengecer atau pedagang grosir dan dirancang untuk memperoleh respon spesifik dan segeraâ&#x20AC;&#x2013;. Menurut Kotler dan Keller (2009:221) bentuk-bentuk promosi penjualan adalah sebagai berikut: 1. Sampel, Menawarkan sejumlah produk atau jasa gratis yang diantarkan dari pintu-pintu, dikirim melalui surat, diambil di toko, ditempelkan ke produk lain. 2. Kupon, Sertifikat yang membuat pemegangnya memiliki hak atas penghematan yang tertulis terhadap pembelian produk tertentu: dikirimkan melalui surat, terbungkus dalam produk lain, ditempelkan pada produk tersebut atau disisipkan dalam majalah atau surat kabar. 3. Penawaran Pengembalian Dana Tunai (Rabat), Memberikan penurunan harga setelah pembelian: konsumen mengirimkan bukti pembelian tertentu kepada produsen yang mengembalikan sebagian harga. 4. Kemasan Harga, Menawarkan konsumen menghemat harga reguler produk, ditempelkan pad label atau kemasan. Kemasan harga murah adalah kemasan tunggal yang dijual pada harga murah (seperti dua untuk harga satu barang). Kemasan terikat adalah dua produk berhubungan yang diikat menjadi satu. Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

5. Premi (Hadiah), Barang-barang yang ditawarkan pada biaya relatif rendah atau gratis sebagai insentif membeli produk tertentu. Premi dalam kemasan menyertai produk di dalam atau kemasan. 6. Program Frekuensi, Adalah program yang memberikan penghargaan yang berhubungan dengan frekuensi dan intensitas konsumen dalam membeli produk atau jasa. 7. Hadiah (Kontes, Undian, Permainan), Adalah penawaran peluang untuk memenangkan uang tunai, perjalanan, atau barang sebagai hasil pembelian sesuatu. Kontes mengharuskan konsumen memberikan masukan untuk dipelajari panel dewan juri yang akan memilih masukan terbaik. Undian meminta konsumen mengumpulkan nama mereka yang diundi. Permainan menampilkan suatu permainan kepada konsumen setiap kali mereka membeli. 8. Percobaan Gratis, Mengundang calon pembeli mencoba produk secara gratis dengan harapan konsumen akan membeli. 9. Garansi Produk, Janji eksplisit atau implisit oleh penjual bahwa produk akan berkinerja dengan baik, jika tidak penjual akan memperbaikinya atau mengembalika uang pelanggan sepanjang periode tertentu. 10. Promosi Terikat, Dua atau lebih merek atau perusahaan bermintra mengeluarkan kupon, pengembalian dana. 11. Tampilan dan Demontrasi Titik Pembelian (POP), Adalah tampilan dan demontrasi yang dilakukan pada titik pembelian atau penjualan. 12. Penurunan Harga, Diskon langsung dari harga resmi untuk 92


setiap pembelian sepanjang periode waktu yang ditentukan. 13. Insentif (Allowance), Jumlah yang ditawarkan untuk mendapatkan kesempatan pengecer guna menampilkan produk dengan beberapa cara. Insentif iklan memberi kompensasi kepada pengecer karena mengiklankan produk. Insentif pelanggan memberi kompensasi kepada pengecer karena memberi tempat pajangan khusus bagi produk. 14. Pameran Dagang dan Konvensi, Asosiasi industri mengadakan pameran dagang dan konvensi tahunan. Manfaatnya adalah menghasilkan arahan penjualan baru, mempertahankan kontak pelanggan, memperkenalkan produk baru, bertemu dengan pelanggan baru, menjual lebih banyak ke pelanggan saat ini. 15. Kontes Penjualan, Kontes penjualan diarahkan untuk mendorong tenaga penjualan atau penyalur meningkatkan hasil epnjualan mereka sepanjang periode yang ditentukan, dengan hadiah (uang, perjalana, cendera mata, atau poin) yang diberikan kepada mereka yang berhasil. 16. Iklan Khusus, Terdiri dari barang murah yang bermanfaat serta mencantumkan nama dan alamat perusahaan, dan kadang-kadang pesan iklan yang diberikan wiraniaga ke calon pelanggan dan pealnggan. Barang yang umum adalah bolpoint, kalender, gantungan kunci, senter, tas jinjing dan memo. Tujuan Promosi Penjualan Menurut Kotler dan Keller (2009:219) tujuan dari promosi penjualan sangat beraneka ragam yakni merangsang permintaan, meningkatkan hasrat konsumen untuk mencoba produk,

membentuk goodwill, meningkatkan pembelian konsumen, juga bisa mendorong konsumen untuk membeli lebih banyak serta meminimimkan perilaku berganti-ganti merek, atau mendorong konsumen untuk mencoba pembelian produk baru. Tujuan lainnya juga bisa berupa untuk mendorong pembelian ulang produk, dapat menarik pelanggan baru, mempengaruhi pelanggannya untuk mencoba produk baru, menyerang aktifitas promosi pesaing. Promosi penjualan bertujuan untuk merangsang tanggapan pembeli yang cepat (quick buying response) yang antara lain adalah perlombaan, pemberian hadiah, kombinasi penawaran, kupon, dan potongan harga untuk konsumen. Jadi tujuan promosi penjualan adalah untuk mempengaruhi suatu konsumen dalam mengambil keputusan untuk meningkatkan volume penjualan, di segi lain ada juga dari promosi yaitu menjual suatu barang atau jasa. Dalam promosi kita tidak hanya sekedar berkomunikasi ataupun menyampaikan informasi, tetapi juga menginginkan komunikasi yang mampu menciptakan suasana/keadaan dimana para pelanggan bersedia memilih dan memiliki produk. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Studi kasus menurut Creswell (1998) menyatakan bahwa pertanyaan penelitian yang diajukan lebih sering diawali dengan kata How dan Why karena dalam studi kasus, seorang peneliti hendak mencari keunikan kasus yang diangkat sehingga lebih memfokuskan bidang pertanyaan kepada proses (How) dan alasan (Why). Menurut Robert K. Yin (2013: 46) karakter umum dalam penelitian berperan sebagai latar untuk memikirkan desain yang spesifik bagi studi kasus. Empat tipe desain penelitian studi kasus yaitu: (a). Desain kasus tunggal holistic (b). Desain kasus tunggal

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

93


terpancang (c). Desain multi kasus holistic (d). Desain multi kasus terpancang. Rasional untuk keempat tipe desain dimaksud sebagaimana dijelaskan sebagai berikut: Terkait dengan topik permasalah penelitian ini, maka tipe desain studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah Desain Kasus Tunggal Terjalin, karena penelitian ini memfokuskan diri atau berusaha menjawab masalah-masalah: Untuk mengetahui kegiatan Sales Promotion Sebgai Komunikasi Pemasaran Mobil Low Cost Green Car (LCGC) Daihatsu Ayla PT. Astra Internasional Tbk Cabang Ciledug Tangerang dan untuk mengetahui hambatan-hambatan dan peluang apa yang ditemukan ketika melaksanakan kegiatan Sales Promotion Mobil Daihatsu Ayla PT.ASTRA Internasional Tbk Cabang Ciledug Tangerang. HASIL PENELITIAN Penawaran Pengembalian Dana Tunai (Rabat) Memberikan penurunan harga setelah pembelian: konsumen mengirimkan bukti pembelian tertentu kepada produsen yang mengembalikan sebagian harga. Rabat juga merupakan potongan harga atau lebih dikenal dengan istilah diskon. PT. Astra Internasional Tbk, Daihatsu, Ciledug memberikan potongan harga kepada customer sebagai berikut adalah bentuk pemberian diskon: promosi akhir tahun 2014 yaitu dengan memberikan potongan harga atau diskon yaitu terios 20 juta, Xenia 20 juta dan Ayla 4 juta. Diskon bentuk lain yaitu diberikan kepada customer yang melakukan pembelian produk secara berulang/frekuensi akan diberikan potongan harga yang lebih jika dibandingkan dengan pembeli baru. Ada satu hal yang harus digarisbawahi bahwa potongan harga atau diskon tidak diberikan untuk produk baru

dalam jangka empat bulan pertama, diskon diberikan ketika menginjak bulan kelima. Astra internasional selalu memberikan potongan harga atau diskon kepada customernya di setiap bulan, tetapi jika akhir tahun ada potongan harga atau diskon yang jumlahnya lebih jika dibandingkan dengan bulan-bulan biasa Program Frekuensi Adalah program yang memberikan penghargaan yang berhubungan dengan frekuensi dan intensitas konsumen dalam membeli produk atau jasa. Bagi customer yang melakukan pembelian berulang akan mendapat tambahan diskon. Contohnya Universitas Budi Luhur dan karyawannya jika melakukan pembelian baik cash maupun kredit akan mendapat tambahan diskon yang berbeda dengan customer lain. Hadiah (Kontes, Undian, Permainan) Adalah penawaran peluang untuk memenangkan uang tunai, perjalanan, atau barang sebagai hasil pembelian sesuatu. Kontes mengharuskan konsumen memberikan masukan untuk dipelajari panel dewan juri yang akan memilih masukan terbaik. Promosi penjualan dalam bentuk pemberian hadiah dan undian yang dilakukan oleh Astra internasional Daihatsu adalah melalu program akhir tahun dengan tema â&#x20AC;&#x2022;pesta sahabatâ&#x20AC;&#x2013; selama empat bulan dari bulan September â&#x20AC;&#x201C; Desember 2014 dan diundi di akhir bulan, yaitu: 120 ayla, 120 ipad Air, 120 Samsung Galaxy tab4, 120 Samsung Galaxy S5. Pemberian hadiah juga diberikan dalam bentuk yang agak berbeda juga dilakukan yaitu khusus pada bulan Desember dalam rangka menyambut natal dan tahun baru. Hadiah ini diberikan bagi customer yang melakukan pembelian cash di kantor, khusus hari minggu selama bulan Desember 2014. Percobaan Gratis Mengundang calon pembeli mencoba produk secara gratis dengan harapan konsumen akan membeli.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

94


Berkaitan dengan hal ini PT. Astra Internasional Tbk, Daihatsu, Ciledug dalam memberikan kesempatan percobaan gratis dengan istilah internal ―hunting stir” kalau diistilah umum lebih dikenal dengan test drive, jadi customer ditawarkan umtuk melakukan tes mengemudi yang didampingi oleh sales. Garansi Produk PT. Astra Internasional Tbk, Daihatsu, Ciledug memberikan garansi mesin selama jangka waktu 3 tahun atau 10.000 km, dari kedua hal tersebut dari segi mana yang tercapai duluan. Apabila customer melakukan service di luar bengkel resmi Daihatsu maka pemberian garansi gugur. Pameran Dagang Yaitu mengadakan pameran dagang dan konvensi tahunan. Manfaatnya adalah menghasilkan arahan penjualan baru, mempertahankan kontak pelanggan, memperkenalkan produk baru, bertemu dengan pelanggan baru, menjual lebih banyak ke pelanggan saat ini. Bentuk kegiatan yang dilakukan Astra Internasional Daihatsu Ciledug adalah melakukan pameran di mall-mall, pusat perbelanjaan, pasar, di pom bensin bahkan di tempat-tempat tertentu yang menjadi pusat kerumunan. Kegiatan pameran dagang dapat disimpulkan bahwa pameran dagang tidak harus tempat elite seperti di mall dan pusat perbelanjaan. Di mana di suatu tempat yang banyak dikunjungi orang dapat digunakan sebagai media untuk pameran dagang seperti pom bensin, pelataran parkir, di daerah kemacetan pun dapat dijadikan tempat pameran seperti yang dilakukan Astra Internasional Daihatsu Ciledug. Kontes Penjualan Bentuk kegiatan yang dilakukan Astra Internasional Daihatsu Ciledug adalah dengan mengadakan seperti kompetisi tetapi lebih bersifat meningkatkan kinerja sales, sales yang memenuhi target tertentu akan mendapat

reward yang dijanjikan tiket perjalanan dan mendapat poin. Tujuan perjalanan bagi sales yang memenuhi target adalah ke Barcelona Spanyol. Iklan Khusus Terdiri dari barang murah yang bermanfaat serta mencantumkan nama dan alamat perusahaan, dan kadangkadang pesan iklan yang diberikan wiraniaga ke calon pelanggan dan pealnggan. Barang yang umum adalah bolpoint, kalender, gantungan kunci, senter, tas jinjing dan memo. Astra Internasional Daihatsu melakukan iklan khusus tetapi bentuknya adanya kerjasama denga rekanan (credit financial) seperti ACC, BCA dan MNC. Rekanan bisanya membuatkan merchendise beruapa barang-barang antara lain: Bolpoint, gantungan kunci, miniatur mobil, senter, pewangi mobil. Peluang dan hambatan yang dihadapi bagian promosi penjualan PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug. Dalam melaksanakan kegiatan promosi penjualan sebuah perusahaan pasti adanya peluang dan mengalami adanya hambatan, demikian juga juga dengan PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug dalam melakukan kegiatan promosi penjualan mengalami beberapa kendala .Peluang dan hambatan PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug dalam melakukan kegiatan promosi penjualan adalah sebagai berikut: Peluang promosi penjualan (sales promotion) PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug. Peluang-peluang yang ditemukan dalam melaksanakan kegiatan sales promotion bersasarkan tujuan sales promotion, diantaranya adalah membantu meningkatkan volume penjualan, meningkatkan pembelian berulang “repeat order‖, meningkatkan loyalitas customer. Peluang yang dimiliki dalam kegiatan sales promotion sangat besar

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

95


berdasarkan tujuan utamanya yaitu membantu meningkatkan volume penjualan. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian target penjualan tahun 2014 untuk semua produk tercapai termasuk Daihatsu Ayla. Peluang sales promotion yang dilakukan PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug, dalam membantu meningkatkan volume penjualan cukup bagus. Sales promotion khususnya program diskon dan hadiah sangat membantu dalam keputusan pembelian seorang customer. Hambatan Promosi Penjualan (sales promotion) PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug. Hambatan yang ditemukan dalam melakukan promosi penjualan (sales promotion) adalah terjadinya pergantian dari segi sumber daya manusia terutama dibidang sales, sehingga sales supervisor dan sales executive harus mendidik dan mengajari mereka berkaitan dengan materi produk yang disampaikan. PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug belum memiliki bagian/departemen khusus yang menangai bidang komunkasi pemasaran sehingga kebijakan dilakukan oleh kepala cabang dan sales sales supervisor. Customer tidak segera melakukan keputusan pembelian ketika datang ke Astra Internasional Daihatsu Ciledug, customer mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang produk yang mereka inginkan dan dibandingkan dengan produk lain dahulu dan setelah mereka olah kemudian baru menentukan pembelian. Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunity (peluang) dan Threats (ancaman) PT.ASTRA Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug. Analisis SWOT adalah sarana penilaian kondisi eksternal dan aplikasinya terhadap kemampuan internal perusahaan. Di dalam analisis SWOT komponen yang digunakan berkaitan

dengan faktor-faktor penting bagi perusahaan dan berhubungan dengan masa depan perusahaan yang terdiri dari strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunity (peluang) dan Threats (ancaman). Analisis Kekuatan (Strengths). Kekuatan merupakan suatu kelebihan khusus yang berasal dari perusahaan dan memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan di dalam suatu industri, dan akan mendukung perkembangan usaha. Kekuatan mengamati sumber dana, citra, kepemimpinan, pasar, hubungan dengan konsumen ataupun pemasok-pemasok dan semua hal yang meliputi produk, harga, tempat dan promosi yang mempunyai keunggulan bersifat positif jika dibandingkan dengan perusahaan lain. 1. Sumber Dana/Modal. PT. Astra Internasional Tbk – DaihatsuCiledug merupakan perusahaan tidak hanya dalam tarif nasional tetapi sudah menjadi perusahaan yang bertaraf internasional. 2. Kepemimpinan. PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug mempunyai sosok pemimpin yang memenuhi sifatsifat tertentu yang memenuhi kriteria kepemimpinan seperti kepribadian yang hangat, ramah, mengayomi, peduli, ketauladanan, kemampuan atau skill dan memiliki daya kesanggupan. 3. Citra PT. Astra Internasional di mata eksternal maupun internal sudah baik. PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug mempunyai citra yang baik dilihat dari mata konsumen maupun dari karyawan internal perusahaan. 4. Pasar. PT. Astra Internasional Daihatsu mempunyai segmen pasar yang luas dan menjanjikan karena target pasarnya adalah menengah dan bawah. Masyarakat

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

96


Indonesia yang kurang lebih jumlah penduduknya 250 juta kebanyakan berada di taraf menengah ke bawah. 5. Kekuatan Produk. PT Astra Internasional Daihatsu mempunyai kekutan produk dalam hal: satu jenis kendaraan diproduksi dalam banyak tipe yang bisa disesuaikan dengan kemampuan/daya beli customer berarti keunggulan produknya adalah dalam memproduksi dalam banyak variant/type untuk keseluruhan jenis. 6. Kekuatan Tempat. Lokasi strategis yang dimiliki oleh Astra Internasional Daihatsu Ciledug karena didukung oleh hal-hal sebagai berikut: segment Daihatsu cukup berhasil di lokasi ini karena perumahan kelas 1 ke bawah termasuk segment Daihatsu., ditambah juga karena dekat pusat bisnis ada CBD, Plaza baru Ciledug, Mall Ciledug, Pom bensin dan dekat perumahanperumahan. Analisis Kelemahan (Weaknesses) Kelemahan adalah hal-hal dari dalam perusahaan yang dapat menghambat perkembangan usaha, misalnya kekurangan sumber daya, keahlian, kemampuan manajemen, fasilitas sumber dana dan lain-lain. 1. Kelemahan Sumber Daya Manusia. Kelemahan dalam bidang sumber daya manusia yang ditemukan di Astra Internasional Daihatsu Ciledug adalah sering terjadi perombakan khususnya sales yaitu sering terjadi pergantian karyawan. Perbandingan sales lama dengan sales baru adalah 30 berbanding 70. 2. Kelemahan Administrasi. Kelemahan dalam bidang

administrasi yang ada pada Astra Internasional Daihatsu Ciledug adalah tidak semua cabang Astra Internasional dapat melayani proses administrasi secara langsung karena prosesnya harus dibawa ke cabang yang lebih besar. 3. Kelemahan Lokasi/tempat. Kelemahan dari segi lokasi/tempat yang ditemukan Astra Internasional Daihatsu Ciledug adalah masalah lahan parkir, genangan air dan sampah. 4. Kelemahan Produk. Kelemahan tentang produk yang dapat disampaikan adalah kelemahan pada Daihatsu Ayla tentang belum adanya pengamanan untuk pengemudi dan penumpang yaitu air bag dan dari segi body bagian depan penyerap udara terlalu lebar jadi tidak sesuai dengan bodinya yang kecil. Selain dari segi keamanan dan estetika ditambahkan juga kelemahan dari segi kenyamanan bahwa suara dari luar mobil masih terdengar cukup jelas meskipun sudah menutup pintu dan menyalakan AC (air conditioner). Analisis Peluang (Opportunities) Peluang merupakan situasi yang baik dari lingkungan perusahaan yang dapat memberikan keuntungan pada perusahaan. 1. Peluang Pesaing. Semakin kompetitifnya kegiatan pemasaran antar perusahaan otomotif sehingga menuntut pihak Astra Internasional Daihatsu lebih berinovasi dalam pengembangan produk, pemasaran, pemasaran dan pelayanan. Peluang yang dimiliki Astra Internasional Daihatsu adalah Daihatsu Ayla yaitu mobil yang irit dan ramah lingkungan, mobil murah tetapi

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

97


kualitas terjamin, dan harapanya Ayla bisa tetap berkompetisi di dalam segmentnya.â&#x20AC;&#x2013; 2. Perkembangan Teknologi. Perkembangan teknologi dimanfaatkan sepenuhnya dan sebaik-baiknya oleh pihak Daihatsu yaitu salah satu bentuknya dengan teknologi air bag yang tadinya diperuntukkan untuk Terios dan Xenia (type tertentu) kedepannya Gran Max dan Ayla kemungkinan akan mengadopsi teknologi air bag dan ditambah dengan teknologi low cost green car (LCGC). Analisis Ancaman (Threats) Ancaman yang dimaksudkan adalah dapat timbul dari internal maupun eksternal suatu perusahaan. Internal perusahaan misalnya berkaitan dengan sumber daya manusia yang kurang maksimal dan eksternal datang dari kebijakan pemerintah, misalnya regulasi baru, dan datang dari pesaing. Ancaman yang dihadapi oleh Astra Internasional Daihatsu dalam bidang sumber daya manusia adalah sumber daya manusia di bidang sales karena sering terjadi pergantian dengan adanya sales yang masuk dan keluar dalam jangka waktu yang pendek. Seringnya terjadi pergantian sumber daya manusia di bidang sales dikarenakan keluar/masuknya anggota sales baru. Hal itu disebabkan para sales ada yang dikeluarkan, keluar atas kemauan sendiri dan karena kontrak kerja habis tidak diperpanjang. PEMBAHASAN Promosi Penjualan (Sales Promotion) PT. Astra Internasional Tbk â&#x20AC;&#x201C; Daihatsu â&#x20AC;&#x201C; Ciledug. Komunikasi pemasaran yang dilaksanakan oleh perusahaan atau lembaga akan menentukan keberhasilan perusahaan atau lembaga tersebut supaya dikenal dan dipergunakan oleh

masyarakat. Demikian juga komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug akan menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan pemasaran produknya untuk sampai ke target sasarannya. Kegiatan promosi penjualan saat ini semakin beragam karena didukung oleh perkembangan teknologi. Demikian juga dengan kemampuan dan pemahaman masyarakat yang semakin selektif dalam memilih suatu produk yang sesuai dengan kebutuhannya. Hal tersebut memerlukan keahlian dan kejelian dari bagian komunikasi pemasaran dalam menentukan bentuk kegiatan komunikasi pemasarannya agar berjalan sesuai yang diharapkan. Penawaran Pengembalian Dana Tunai (Rabat). Memberikan penurunan harga setelah pembelian: konsumen mengirimkan bukti pembelian tertentu kepada produsen yang mengembalikan sebagian harga. Rabat juga merupakan potongan harga atau lebih dikenal dengan istilah diskon. Potongan harga inilah yang disebut rabat (diskon). Biasanya diskon (rabat) ini diperhitungkan dengan persen. Dalam Hal program frekuensi. Program yang memberikan penghargaan yang berhubungan dengan frekuensi dan intensitas konsumen dalam membeli produk atau jasa. PT. Astra Internasional Tbk, Daihatsu, Ciledug dalam memberikan program frekuensi kepada para customer dalam istilahnya â&#x20AC;&#x153;repeat orderâ&#x20AC;?. Diskon bentuk lain yaitu diberikan kepada customer yang melakukan pembelian produk secara berulang/frekuensi akan diberikan potongan harga yang lebih jika dibandingkan dengan pembeli baru. tujuan untuk:1). Meningkatkan Volume penjualan Promosi penjualan sangat bermanfaat dalam meningkatkan volume penjualan, jadi pelanggan terangsang untuk membeli produk dalam jumlah yang banyak karena akan mendapat diskon yang besar pula. 2). Meningkatkan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

98


Pembelian Ulang, Strategi promosi penjualan dengan cara promosi pembelian kembali bisa digunakan untuk meningkatkan pembelian tetap atau pembelian dalam jumlah besar. Promosi pembelian kembali juga bisa digunakan untuk ―menganggu‖ peluncuran produk pesaing dan membuat pelanggan terbiasa menggunakan produk yang dibuat. 3). Meningkatkan Loyalitas, Promosi loyalitas berbeda dengan strategi promosi penjualan seperti pemberian diskon langsung. Promosi loyalitas lebih ke memberikan daya tarik berupa manfaat jangka panjang kepada konsumen. Contohnya adalah memberikan sebuah kupon berisi manfaat tertentu. Bagi siapa saja yang mendapatkan kupon tersebut berhak menjadi anggota klub yang di dalamnya berisi fasilitas-fasilitas yang berikan secara khusus. Bentuk promosi penjualan dengan sistem promosi hadiah (kontes, undian dan permainan) ini adalah penawaran peluang untuk memenangkan uang tunai, perjalanan, atau barang sebagai hasil pembelian sesuatu. Kontes mengharuskan konsumen memberikan masukan untuk dipelajari panel dewan juri yang akan memilih masukan terbaik. Undian meminta konsumen mengumpulkan nama mereka yang diundi. (a). Promosi penjualan dalam bentuk pemberian hadiah dan undian yang dilakukan oleh Astra internasional Daihatsu Ciledug adalah melalui program akhir tahun dengan tema ―pesta sahabat‖ selama empat bulan dari bulan September – Desember 2014 dan diundi setiap hari, yaitu: 120 Ayla, 120 ipad Air, 120 Samsung Galaxy Tab4, 120 Samsung Galaxy S5, Grand Prize 1 milyar diundi di bulan Januari 2015. Sistem promosi percobaan gratis, mengundang calon pembeli mencoba produk secara gratis dengan harapan konsumen akan membeli. Berkaitan dengan hal ini PT. Astra Internasional Tbk, Daihatsu, Ciledug dalam memberikan kesempatan

percobaan gratis dengan istilah internal ―hunting stir” kalau diistilah umum lebih dikenal dengan test drive, jadi customer ditawarkan umtuk melakukan tes mengemudi yang didampingi oleh sales. Jarak tempuh test drive ini biasanya kurang lebih 1 sampai dengan 2 km. Berikut hal-hal yang harus diperhatiakan ketika melakukan test drive: (1). Memperhatikan eksterior & interior, serta bagasi mobil sebelum mencoba. Melihat desain bodinya, dari depan, samping & belakang. Lalu, coba duduk di jok mobilnya, baik untuk pengemudi & penumpang, nyalakan fitur-fiturnya seperti AC, jok elektris, foglamp, GPS, dan lain-lain. Buka bagasinya, apakah lapang sesuai klaim atau tidak. Kenyamanan mengendarai mobil sangat penting, agar anda betah mengendarainya. (2). Menyesuaikan posisi mengemudi yang paling nyaman bagi anda. Saat masuk ke kabin, atur dulu posisi setir,jok & spion yang paling ergonomis & nyaman bagi anda. Jangan lupa, lihat area blindspot yang muncul di mobil, dan bagaimana mengatasinya, seperti dengan mengatur spion atau menyalakan kamera & sensor parkir. (3). Melihat kondisi jalan yang akan tempuh, karena kondisi jalanan mencakup hampir seluruh kondisi mengemudi di jalanan, seperti lurus & datar, menanjak, berkelok-kelok, sampai macet dan berlubang. (4). Mengendarai mobil dengan normal, namun waspada. Jangan mengetes mobil dengan ugal-ugalan & sembarangan. Intinya adalah mengemudi dengan normal seperti biasa, namun anda tetap memperhatikan kondisi mobil, kakikaki, body dan mesin. (5). Menyalakan & test fitur mobil, sewaktu berjalan. Menyalakan semua fitur yang disediakan. Garansi produk sebagai bentuk promosi penjualan dilakukan oleh perusahaan dengan memberikan jaminan bahwa produk akan berkinerja dengan baik, jika tidak penjual akan memperbaikinya atau mengembalikan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

99


uang pelanggan sepanjang periode tertentu. Garansi ini dapat berbentuk surat keterangan dari suatu produk bahwa pihak produsen menjamin produk tersebut bebas dari kesalahan pekerja dan kegagalan bahan dalam jangka waktu tertentu. Jadi pihak Astra Internasional Daihatsu Ciledug memberikan garansi mesin selama 3 tahun atau 10.000 km. Tetapi dengan syarat dan ketentuan berlaku yaitu selama jangka waktu yang ditentukan harus rutin service di bengkel resmi Astra Internasional Daihatsu Ciledug. Apabila customer melakukan service di luar bengkel resmi Daihatsu maka pemberian garansi gugur. Strategi promosi melalui Pameran dagang, ialah dengan mengadakan pameran dagang dan konvensi tahunan. Manfaatnya adalah menghasilkan arahan penjualan baru, mempertahankan kontak pelanggan, memperkenalkan produk baru, bertemu dengan pelanggan baru, menjual lebih banyak ke pelanggan saat ini. Bentuk kegiatan yang dilakukan Astra Internasional Daihatsu Ciledug adalah melakukan pameran di mall-mall (CBD, Plaza Baru Ciledug, Mall Ciledug), pusat perbelanjaan, pasar, di pom bensin bahkan di tempat-tempat tertentu yang menjadi pusat kerumunan. Kegiatan pameran dagang dapat dilaksanakan di mana saja, tidak harus - tempat elite seperti di mall dan pusat perbelanjaan. Di mana di suatu tempat yang banyak dikunjungi orang dapat digunakan sebagai media untuk pameran dagang seperti pom bensin, pelataran parkir, di daerah kemacetan pun dapat dijadikan tempat pameran seperti yang dilakukan Astra Internasional Daihatsu Ciledug. Strategi promosi kontes penjualan. Kontes penjualan diarahkan untuk mendorong tenaga penjualan atau penyalur meningkatkan hasil penjualan mereka sepanjang periode yang ditentukan, dengan hadiah (uang, perjalanan, cendera mata, atau poin) yang diberikan kepada mereka yang berhasil.

Bentuk kegiatan yang dilakukan Astra Internasional Daihatsu Ciledug adalah dengan mengadakan seperti kompetisi tetapi lebih bersifat meningkatkan kinerja sales, sales yang memenuhi target tertentu akan mendapat reward yang dijanjikan tiket perjalanan ke Barcelona Spanyol dan mendapat poin. Jadi Astra Internasional Daihatsu Ciledug akan memberikan reward kepada para sales yang memenuhi target penjualan yang ditentukan berdasarkan kebijakan . Hal itu menuntut para sales untuk bekerja lebih keras, dedikasi tinggi, pantang menyerah, itu merupakan tantangan para sales yang harus dipecahkan. Selanjutnya strategi promosi iklan khusus. Dalam hal ini vairian iklan khusus terdiri dari barang murah yang bermanfaat serta mencantumkan nama dan alamat perusahaan, dan kadangkadang pesan iklan yang diberikan wiraniaga ke calon pelanggan dan pelanggan. Barang yang umum adalah bolpoint, kalender, gantungan kunci, senter, tas jinjing dan memo. Astra Internasional Daihatsu melakukan iklan khusus tetapi bentuknya adanya kerjasama denga rekanan (credit financial) seperti ACC, BCA dan MNC. Rekanan biasanya membuatkan merchendise beruapa barang-barang antara lain: Bolpoint, gantungan kunci, miniatur mobil, senter, pewangi mobil. Dalam hal ini Astra Internasional Daihatsu Ciledug sama sekali tidak mengelurkan biaya untuk pembuatan merchandise tersebut, karena biaya pembuatannya ditanggung oleh rekanan. Peluang dan hambatan Promosi Penjualan PT. Astra Internasional Tbk â&#x20AC;&#x201C; Daihatsu â&#x20AC;&#x201C; Ciledug. Peluang-peluang yang ditemukan dalam melaksanakan kegiatan sales promotion berdasarkan tujuan sales promotion, diantaranya adalah a. Membantu meningkatkan volume penjualan. Strategi promosi penjualan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

100


sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan tujuan jangka pendek bisnis. Sales promotion khususnya program diskon dan hadiah sangat membantu dalam keputusan pembelian seorang customer. Pemberian diskon dan hadiah sangat berpengaruh terhadap keputusan customer yaitu menambah keyakinan terhadap suatu produk. Sehingga hal tersebut membantu mendorong terjadinya pembelian dan akhirnya berimbas pada target penjualan untuk seluruh produk termasuk Daihatsu Ayla. b. Meningkatkan pembelian berulang “repeat order”. Promosi Penjualan (sales promotion) diharapkan meningkatkan pembelian tetap, pembelian dalam jumlah besar atau untuk meningkatkan pembelian berulang hal ini juga bertujuan untuk mencegah konsumen menggunakan produk pesaing atau beralih ke mobil merek lain. c. Meningkatkan loyalitas customer. Promosi Penjualan (sales promotion) diharapkan meningkatkan pembelian loyalitas customer dan mencegah konsumen menggunakan produk pesaing atau beralih ke mobil merek lain. Dalam melaksanakan kegiatan promosi penjualan sebuah perusahaan pasti mengalami adanya hambatan dan kendala, demikian juga juga dengan PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug dalam melakukan kegiatan promosi penjualan mengalami beberapa kendala. Hambatan dan kendala PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug dalam melakukan kekiatan promosi penjualan adalah sebagai berikut: terjadinya pergantian dari segi sumber daya manusia terutama dibidang sales, sehingga sales supervisor dan sales executive harus mendidik dan mengajari mereka berkaitan dengan materi produk yang disampaikan. PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug belum

memiliki bagian/departemen khusus yang menangai bidang komunkasi pemasaran sehingga kebijakan dilakukan oleh kepala cabang dan sales sales supervisor. Customer tidak segera melakukan keputusan pembelian ketika datang ke Astra Internasional Daihatsu Ciledug, customer mencari informasi sebanyakbanyaknya tentang produk yang mereka inginkan dan dibandingkan dengan produk lain dahulu dan setelah mereka olah kemudian baru menentukan pembelian. KESIMPULAN Berdasarkan dengan hasil penelitian dan pembahasan berkaitan dengan kegiatan pada promosi penjualan (sales Promotion) oleh PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug, maka peneliti menyampaikan beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1) PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug memiliki faktor-faktor penting bagi perusahaan dan berhubungan dengan masa depan perusahaan yang terdiri: Kekuatan, Sumber dana: PT. Astra Internasional Tbk – DaihatsuCiledug merupakan perusahaan tidak hanya dalam tarif nasional tetapi sudah menjadi perusahaan yang bertaraf internasional. Kepemimpinan: PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug mempunyai sosok pemimpin yang memenuhi sifat-sifat tertentu yang memenuhi kriteria kepemimpinan seperti kepribadian yang hangat, ramah, mengayomi, peduli, ketauladanan, kemampuan atau skill dan memiliki daya kesanggupan. Citra: PT. Astra Internasional Tbk – Daihatsu – Ciledug mempunyai citra yang baik dilihat dari mata konsumen maupun dari karyawan internal perusahaan. Pasar: Target masyarakat menengah ke bawah, di Indonesia ini

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

101


merupakan pasar yang sangat luas mengingat penduduk Indonesia yang sangat besar, dan sebagian besar masuk dalam golongan menengah ke bawah. Produk: diproduksi dalam banyak tipe yang bisa disesuaikan dengan kemampuan/daya beli customer. Kebijakan garansi mesin yang diberikan kepada customer adalah produk baru tiga tahun atau 10.000 km, karakteristik mobil gesit, irit, mungil, ramah lingkungan.. Harga: penetapan harga yang relatif rendah dibandingkan dengan mobil yang sejenis dari merek lain. Tempat/lokasi: lokasi strategi yang dimiliki oleh Astra Internasional Daihatsu Ciledug karena didukung oleh hal-hal sebagai berikut: segment Daihatsu cukup berhasil di lokasi ini karena perumahan kelas 1 ke bawah termasuk segment Daihatsu., ditambah juga karena dekat pusat bisnis ada CBD, Plaza baru Ciledug, Mall Ciledug, Pom bensin dan dekat perumahan-perumahan. Jalan HOS Cokroaminoto merupakan jalur protokol yang menghubungkan wilayah Tangerang ke Jakarta Selatan. 2) PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug melakukan kegiatan promosi penjualan (sales Promotion) dalam bentuk-bentuk: penawaran Pengembalian Dana Tunai (diskon), Program Frekuensi, Hadiah dan Undian, Percobaan Gratis, Garansi Produk, Pameran Dagang, Kontes Penjualan dan Iklan Khusus. 3) Peluang yang ditemukan pada PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug dalam melaksanakan kegiatan promosi penjualan (sales Promotion) adalah: a) Membantu meningkatkan volume penjualan.b) Meningkatkan pembelian berulang â&#x20AC;&#x153;repeat orderâ&#x20AC;?. c) Meningkatkan loyalitas customer. 4) Hambatan-hambatan yang ditemukan pada PT. Astra Internasional

Daihatsu Ciledug dalam melaksanakan kegiatan promosi penjualan (sales Promotion) adalah sebagai berikut: 1) Segi sumber daya manusia terutama dibidang sales yaitu sering terjadi pergantian sales, sehingga sales supervisor dan sales executive harus mendidik dan mengajari mereka berkaitan dengan materi produk yang disampaikan. 2) PT. Astra Internasional Daihatsu Ciledug belum memiliki bagian/departemen khusus yang menangani bidang komunikasi pemasaran sehingga kebijakan dilakukan oleh kepala cabang dan sales sales supervisor. 3) Customer tidak segera melakukan keputusan pembelian ketika datang ke Astra Internasional Daihatsu Ciledug, customer mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang produk yang mereka inginkan. 5) Promosi penjualan (sales Promotion) merupakan komponen penting dari sebuah perusahaan. Pada intinya promosi penjualan adalah kegiatan pemasaran yang menambah nilai dasar di balik suatu produk untuk waktu yang terbatas untuk merangsang pembelian konsumen, menjual efektivitas, atau usaha dari gaya penjualan. DAFTAR PUSTAKA Buku - Barney, Jay B & Stephen D. Perry, dan Mary Anne Moffitt. 2008. Communication Theories: For Evwry Life, Person Education: Boston. - Creswell, John W. 2009. Research Design; Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, Sage: Los Angeles. - Egan, Joh. 2014. Marketing Communications. Second Edition, https://books.google.com

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

102


-

-

-

-

Herdiansyah, Haris. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan ke-3, Salemba Humanika: Jakarta. Hermawan, Agus. 2012. Komunikasi Pemasaran, Erlangga, Jakarta Kotler, Philip & Keller, Kevin Lane. 2009. Manajemen Pemasaran, Edisi 13, Jilid 1, Erlangga: Jakarta. Kotler, Philip. 2000. Marketing Management, The Melenium Edistion, Prentice Hall Internasional: New Jersey. Morrisan, Manajemen Public Relations:Stategi Menjadi Humas Profesional, Edisi ke-1, Cetakan ke1, Kencana: Jakarta. Mulyana, Deddy. 2010. Metodologi Penelitian Kualitataif, Cetakan ke7, Remaja Rosdakarya :Bandung. Prisgunanto, Ilham. 2006. Komunikasi Pemasaran, Ghalia Indonesia: Bogor. Shimp, Terence A.2005. Integrated Marketing Communications in Advertising and Promotion.

-

-

Simamora, Bilson.2001. Memenangkan Pasar dengan Pemasaran Efektif dan Profitabel, Gramedia. Tjiptono, Fandy. 2002. Strategi Pemasaran, Edisi kedua,Andi: Yogyakarta. Yin, Robert K. 1997. Studi Kasus (Desain dan Metode), Cetakan ke-2, Rajagrafindo Persada: Jakarta.

Website -

-

-

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

http://www.daihatsu.com http://kakgoegun.blogspot.com/2011 /01/sejarah-analisis-swot.html, diunduh tanggal 10 September 2014, pukul 18.00 Sumberhttp://www.astradaihatsuciledugtangerang.com/, Diunduh pada tanggal 3 Januari 2015, pukul 13:15 wib Sumber http://www.datsun.co.id/idID/models/go-plus.aspx,Diunduh pada tanggal 3 Januari2015,pukul13:2wib

103


KOMUNIKASI DALAM PENDEKATAN ISLAM

(Telaah Teoretis tentang Kajian Komunikasi dengan Allah melalui Shalat dan Membaca Al-Qur’an) ZIKRI FACHRUL NURHADI Email: kiky_81@yahoo.co.id Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Garut, Jawa Barat ABSTRACT Al-Qur‟an as Words of God actually is the channel of communication between God and man. Based on the system of revelation from God to Gabriel, from Gabriel to Muhammad, from Muhammad to man, it shows the possibility of opening abstract or non verbal communication between God and man. When one reads Al-Qur‟an actually he/she communicates with God. When one observes shalat or haji or says a word of Qur‟an, he/she behaves like Muhammad when he recieved or communicated with God and Gabriel. In terms of Wahyu there were two dimensions: aural dan oral. People had both like Muhammad SAW, if they read the Qur‟an. So, reading the Qur'an and observing prayers are part of communicating with the Creator. Keyword: Qur'an, Communication, Revelation, Channel. ABSTRAK Al-Qur'an sebagai Firman Tuhan sebenarnya adalah saluran komunikasi antara Allah dan manusia. Berdasarkan sistem wahyu dari Allah kepada Jibril, dari Jibril kepada Nabi Muhammad, dari Nabi Muhammad kepada manusia, itu menunjukkan kemungkinan membuka abstrak atau non komunikasi verbal antara Allah dan manusia. Ketika seseorang membaca Al-Qur'an sebenarnya dia berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika seseorang melakukan shalat atau haji atau kata-kata Al-Qur'an, dia berperilaku seperti Muhammad ketika menerima atau komunikasi dengan Allah dan Jibril. Dalam aspek Wahyu ada dua dimensi: aural Dan oral. Orang memiliki kedua itu seperti Nabi Muhammad SAW, jika mereka membaca Al-Qur'an. Jadi, membaca Al-Qur'an dan Shalat merupakan bagian dari berkomunikasi dengan sang pencipta. Kata Kunci: Al-Qur‘an, Komunikasi, Wahyu, Saluran.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

104


PENDAHULUAN Dalam Surat Asy Syura ayat 51 disebutkan bahwa ada 3 cara Allah SWT berkomunikasi dengan manusia yaitu: (1) dengan perantaraan wahyu yang langsung muncul didalam hati dan pikiran manusia; (2) dari belakang tabir atau hijab; (3) dengan perantaraan utusan (Malaikat) yang menyampaikan pesan dari Allah. Setiap orang bisa berkomunikasi dengan Allah, asal mau dan mengikuti cara serta prosedur yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri. Allah adalah penguasa tertinggi di Alam Jagat Raya, Dia maha tinggi, Maha agung, Maha kuasa, Maha mulia, Maha terpuji dan maha segala-galanya. Kita adalah makhluk ciptaan-Nya yang sangat kecil dan lemah. Diri kita sangat tidak berarti dan berharga jika dibandingkan dengan alam semesta yang diciptakan-Nya ini. Sangat tidak wajar dan tidak patut kalau kita ingin berkomunikasi dengan Allah, menggunakan cara semau kita sendiri. Dia akan menutup pintu jika kita berkomunikasi dengan-Nya secara seronok menggunakan cara kita sendiri. Allah telah menyiapkan perangkat dan prosedur untuk berkomunikasi dengan-Nya. Kita yang butuh pada-Nya bukan Dia yang butuh pada kita. Ikutilah tata cara dan prosedur yang telah ditetapkan-Nya. Dia akan menerima kita dengan senang dan penuh perhatian. Nikmatilah berkomunikasi dan bercakap cakap dengan-Nya. Dia siap menerima kita dalam pembicaraan secara khusus seorang diri ataupun secara beramai- ramai (berjamaâ&#x20AC;&#x2DC;ah).

Pikiran dan hati adalah alat utama untuk berkomunikasi dengan Allah, kita tidak mungkin bertemu Allah secara fisik. Kita harus melatih kepekaan hati dan pikiran untuk berkomunikasi dengan-Nya. Allah maha tahu tentang keadaan kita, Dia selalu menjawab pertanyaan kita baik yang diucapkan secara lisan maupun dalam hati. Masalahnya hati dan pikiran kita kurang peka sehingga tidak mampu menangkap isyarat atau jawaban dari Allah. Untuk dapat menangkap isyarat dari Allah kita harus melatih kepekaan hati dan pikiran untuk memahami dan menangkap isyarat yang diberikan Allah kepada kita dalam kehidupan sehari hari. Setiap saat Ia selalu mengingatkan kita akan berbagai hal yang merupakan bimbingan, petunjuk atau peringatan akan adanya bahaya yang mengancam. Orang yang hati dan pikirannya kusut dan kasar, tertutup berbagai dosa dan maksiat tidak akan mampu menangkap isyarat tersebut. Merekalah orang yang hidup dalam kegelapan, kebingungan, kesesatan dan terpuruk dalam penderitaan berkepanjangan didunia dan akhirat. Menurut Tafsir, (1992: 28) dalam perspektif Islam, komunikasi di samping untuk mewujudkan hubungan secara vertical dengan Allah Swt, juga untuk menegakkan komunikasi secara horisontal terhadap sesama manusia. Komunikasi dengan Allah Swt tercermin melalui ibadah-ibadah fardhu (shalat, puasa, zakat dan haji) yang bertujuan untuk membentuk takwa. Sedangkan komunikasi dengan sesama manusia terwujud melalui penekanan hubungan sosial yang disebut muamalah, yang

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

105


tercermin dalam semua aspek kehidupan manusia, seperti sosial, budaya, politik, ekonomi, seni dan sebagainya. Soal cara (kaifiyah), dalam Al-Quran dan Al-Hadits ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif. Kita dapat mengistilahkannya sebagai kaidah, prinsif, atau etika berkomunikasi dalam perspektif Islam. Kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam ini merupakan panduan bagi kaum Muslim dalam melakukan komunikasi, baik dalam komunikasi intrapersonal, interpersonal dalam pergaulan sehari hari, berdakwah secara lisan dan tulisan, maupun dalam aktivitas lain. Shalat dengan khusyu dan benar adalah salah satu cara berkomunikasi dengan Allah, yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri. Maka Rasulullah bersabda: ″As shalatu mi‟rojul mu‟min″, Shalat itu adalah Mi‘rajnya orang mukmin―. Barang siapa yang ingin berdialog dan bercakap cakap dengan Allah, lakukanlah shalat dengan khusyu‘ dan benar. Kalau kita sudah terbiasa berdialog dengan Allah dalam shalat, kebiasan berdialog itu akan muncul secara otomati diluar shalat, ketika kita menghadapi berbagai masalah. Insya Allah kita akan selalu mendapat bimbingan-Nya dalam mengatasi berbagai masalah yang menghampiri kita. Melakukan shalat dengan khusyu dan benar membutuhkan latihan. Kita perhatikan banyak orang yang shalat asal-asalan. Antara gerakan shalat, bacaan, pikiran dan hatinya tidak sinkron. Dia tidak mengerti apa yang dibaca dalam shalat, hati dan pikirannya melayang kemana mana. Ia tidak pernah serius

menghadap Allah. Shalat hanya sekedar kewajiban ritual yang harus dipenuhi. Orang yang melakukan shalat seperti ini tidak akan merasakan nikmatnya berkomunikasi dan bercakap cakap dengan Allah. Saat shalat adalah saat kita bercakap cakap dan berdialog dengan Allah Swt. Kalimat yang kita gunakan dalam shalat adalah kalimat AlQur‘an, tidak bisa kita ubah dengan bahasa kita sendiri atau bahasa lain (Izutsu, 1962) . Itu adalah prosedur yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri. Kita tidak bisa membuat aturan semau kita sendiri, kita harus patuh pada aturan dan prosedur yang telah ditetapkan-Nya. Untuk mendapatkan kekhusyu‘an dalam shalat kita harus mengerti apa yang kita baca dan ucapkan dalam shalat tersebut. Jika tidak, dijamin pikiran akan melayang kemana mana dan kondisi khusyu tidak akan pernah tercapai. Shalat adalah proses latihan untuk berkomunikasi dengan Allah Swt. Jika kita sudah terbiasa dan lancar berdialog dengan-Nya dalam shalat, kita bisa melanjutkan komunikasi dengan-Nya diluar shalat, tentunya menggunakan bahasa ibu atau bahasa kita sendiri. Menggunakan bahasa apa saja yang kita pahami didunia ini, karena Ia maha mengetahui segala bahasa. Allah mewajibkan kita mengerjakan shalat minimal 5 kali sehari. Namun untuk meningkatkan kepekaan hati dan pikiran kerjakanlah shalat sunah sebanyak banyaknya, terutama pada sepertiga malam terakhir. Saat shalat malam atau shalat tahajud adalah saat yang paling tepat untuk melatih kepekaan diri. Rasulullah selama

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

106


hidupnya tidak pernah meninggalkan shalat malam. Menurut Graham (1993: 23), bercakap, mendengar, menonton, membaca, menulis, berdoa, menilai diri dan sebagainya adalah aktiviti komunikasi. Perkataan komunikasi juga mempunyai persamaan maksud dengan perkataan bahasa arab. Dalam Islam, perkataan dakwah,

ittisal (menyampaikan) dan wasa‘ili‘lam (kaedah penyampaian) digunakan bagi menggambarkan maksud komunikasi dalam Islam. Terdapat banyak perkataan lain dalam Al-Qur‘an yang menerangkan aktivitas komunikasi, antaranya:

Tabel 1 Perkataan Al-Qur’an Sebagai Aktivitas Komunikasi Perkataan yang Menerangkan Aktiviti Komunikasi Qara‘a Baligh Bashir Qul Dia‘a Tawassa Sa‘ala Sama‘a

Maksud

Nama Surah dalam Al-Qur’an

Membaca Sampaikan Khabarkan Katakan Menyeru Berpesan-pesan Bertanya Bertanya

Surah al-Nahl : 98 Surah al-Maidah : 67 Surah al-Nisa : 138 Surah al-Ikhlas : 1 Suran al-Imran : 104 Surah al-Asr : 3 Surah al-Maidah : 4 Surah al-Maidah : 108

Terdapat tiga (3) contoh komunikasi yang terdapat dalam AlQur‘an, yaitu: a. Komunikasi Allah Swt dengan malaikat dan para rasul; b. Komunikasi para rasul dengan manusia; dan c. Komunikasi sesama manusia. Terdapat sembilan (9) prinsip yang perlu ada dalam komunikasi individu berdasarkan Al-Qur‘an yaitu: a. Memulakan percakapan dengan ucapan ―Assalamualaikum‖; b. Bercakap dengan lemah lembut (Al-Taa ayat 43); c. Menggunakan perkataan yang baik (Al-Isra‘ ayat 53);

d. Menyebut perkara yang baikbaik tentang diri (Hadis Nabi); e. Menggunakan hikmah dan nasihat yang baik (al-Nahl ayat 125); f. Bercakap benar (al-An‘am ayat 152); g. Menyesuaikan bahasa dan isi percakapan dengan tingkat kecerdasan pendengar (Hadis Nabi); h. Berdialog dengan cara yang lebih baik (al-Nahl ayat 125) dan i. Berdoa kepada Allah SWT jika memikul tanggungjawab komunikasi yang besar (alTaha ayat 25).

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

107


Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada pendahuluan, maka yang menjadi rumusan masalah dalam telaah teoretis tentang komunikasi dengan Allah Swt yaitu Bagaimana Komunikasi dengan Allah Swt dipandang dari segi perspektif Islam (Shalat dan Membaca Al-Qur‘an)? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Komunikasi dengan Allah Swt dipandang dari segi perspektif Islam (Shalat dan Membaca Al-Qur‘an). Adapun manfaat yang dapat di ambil dari penulisan ini adalah: 1. Memberikan wawasan keilmuan khususnya dalam melakukan komunikasi spiritual yang berkenaan dengan pendekatan Islam yang merangkumi pengertian komunikasi yang didalamnya tersirat ayat-ayat AlQur‘an. 2. Memberikan konsep simbolisasi dalam mengenal diri sebagai manusia yang memiliki hubungan dengan sang penciptanya melalui shalat, dzikir, berdo‘a dan tafakur. KERANGKA PEMIKIRAN Pengertian Komunikasi Islam Komunikasi Islam berfokus pada teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh para pemikir Muslim (Abdullah, 1990: 56). Tujuan akhirnya adalah menjadikan komunikasi Islam sebagai komunikasi alternatif, terutama dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang bersesuaian dengan fitrah penciptaan manusia. Kesesuaian nilai-nilai komunikasi dengan dimensi penciptaan fitrah kemanusiaan itu memberi manfaat terhadap kesejahteraan manusia

sejagat. Sehingga dalam perspektif ini, komunikasi Islam merupakan proses penyampaian atau tukar menukar informasi yang menggunakan prinsip dan kaedah komunikasi dalam Al-Qur‘an. Menurut Jalal (1998: 34), Komunikasi Islam dengan demikian dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian nilai-nilai Islam dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang sesuai dengan AlQur‘an dan Al-Hadist. Teori-teori komunikasi yang dikembangkan oleh Barat lebih menekankan aspek empiris serta mengabaikan aspek normatif dan historis. Adapun teori yang dihasilkan melalui pendekatan seperti ini sangat bersifat premature universalism dan naive empiricism. Dalam konteks demikian Majid Tehranian (1988: 34) menguraikan bahwa pendekatan ini tidak sama implikasinya dalam konteks kehidupan komunitas lain yang memiliki latar belakang yang berbeda. Sehingga dalam perspektif Islam, komunikasi haruslah dikembangkan melalui Islamic World-View yang selanjutnya menjadi azas pembentukan teori komunikasi Islam seperti aspek kekuasaan mutlak hanya milik Allah, peranan institusi ulama dan masjid sebagai penyambung komunikasi serta aspek pengawasan syariah yang menjadi penunjang kehidupan Muslim. Dalam aspek perubahan sosial dan pembangunan masyarakat, komunikasi Barat cenderung bersifat positivistik dan fungsional yang berorientasi kepada individu, bukan kepada keseluruhan sistem sosial dan fungsi sosio-budaya yang sangat

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

108


penting untuk merangsang terjadinya perubahan sosial. Kualitas komunikasi menyangkut nilai-nilai kebenaran, kesederhanaan, kebaikan, kejujuran, integritas, keadilan, kesahihan pesan dan sumber, menjadi aspek penting dalam komunikasi Islam. Oleh karenanya dalam perspektif ini, komunikasi Islam ditegakkan atas sendi hubungan segitiga (Islamic Triangular Relationship), antara ″Allah, manusia dan masyarakat″. Dalam Islam, Al-Qur‘an merupakan sumber panduan utama yang dilengkapi dengan Al-Hadits. Al-Qur‘an meliputi seluruh aspek kehidupan manusia dan memberikan prinsip-prinsip umum untuk diterapkan pada situasi-situasi di kehidupan nyata. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa subjek dan audiens utama dari sumber pengetahuan ini adalah manusia. Menurut Mawdudi, dalam Towards Understanding The Qur‟an, tujuan dari Al-Qur‘an adalah membawa manusia ke jalan yang benar dan menerangkan panduan Tuhan yang sesungguhnya yang sudah seringkali hilang akibat kelalaian dan kebutaan manusia atau rusak akibat kejahatannya. Dengan memfokuskan pada tema dan tujuan sentral ini, jelas bahwa tujuan dasar dari pedoman ini adalah untuk mengarahkan manusia, ciptaan Tuhan yang paling mulia, untuk menjadi khalifah yang berhasil. Oleh sebab itu, Al-Qur‘an dan Al-Hadits sangat mengutamakan pembinaan umat manusia. Al-Qur‘an dan sunnah tidak menganggap bahwa hubungan interpersonal, yang tidak bisa terjalin tanpa komunikasi, terpisah atau seperti pengertian

sekuler yang sempit dan berorientasi pada komersil modern, di mana keefektifan komunikasi memiliki tujuan yang sifatnya duniawi. Sebaliknya sumber-sumber pengetahuan terbuka memandang hubungan interpersonal sebagai aktivitas etika yang paling penting dan mengintegrasikannya dengan keseluruhan sistem hubungan manusia. Bagaimana Islam Memandang Kegiatan Komunikasi Islam adalah nilai dan tatanan yang diwahyukan Allah SWT sebagai petunjuk kehidupan manusia dalam segala aspek. Nilai ketauhidan, ketaqwaan, kemanusiaan dan kaidah-kaidah Islam lainnya dijadikan sandaran pokok dalam segala aspek perbuatan manusia. Di dalam Al-Qur‘an beberapa kata kunci yang berkaitan dengan kegiatan komunikasi diantaranya adalah Al-Bayan (penjelasan) dan AlQawl (perkataan). Kegiatan komunikasi dalam Islam ditujukan untuk mewujudkan hubungan vertikal antara ―hamba― dengan Allah Swt dan hubungan horizontal sesama manusia. Hubungan vertikal tersebut dilakukan dengan amalan ibadah seperti shalat, doa, dzikir dan ibadah lain yang merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Komunikasi horizontal sesama manusia terlaksana dalam praktek muamalah dalam berbagai bidang seperti sosial, budaya, politik, seni dan lainnya. Muara dari kegiatan komunikasi tersebut adalah meningkatnya ketaqwaan seseorang dan juga terbentuknya transformasi masyarakat yang lebih baik dalam

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

109


naungan prinsip-prinsip ajaran Islam yang rahmatan lil ’alamin (membawa rahmat bagi semua). Hal ini, tentu berbeda dengan konsep kegiatan komunikasi dalam perspektif pemikiran Barat yang memandang komunikasi dari sisi pragmatis, materialistik dan menekankan pada kapitalisme semata. Pesan dalam kegiatan komunikasi diarahkan pada pencapaian keuntungan secara materi baik antar individu maupun mengeruk keuntungan melalui sarana komunikasi massa seperti media cetak maupun elektronik. Aspek moral dan etika menjadi diabaikan sehingga berbagai produk komunikasi yang dihasilkan seringkali membawa dampak negatif yang besar. Sebagai contoh adalah banyaknya tampilan kekerasan terhadap anak, pornografi, fitnah, adu domba, mistik dan pencabulan yang menghiasi tayangan media massa dan dikonsumsi oleh masyarakat. Komunikasi dalam Islam yang senantiasa mengedepankan aspek ketelitian dan tanggungjawab membutuhkan adanya check dan recheck dalam setiap informasi yang diterima (Djamarah, 2004: 31). Upaya tersebut dilakukan agar informasi yang didapat telah tersaring dan bisa dipertanggungjawabkan. Di dalam Al-Qur‘an disebutkan ‖Hai orangorang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu― (Q.S Al-Hujurat:

6). Di ayat lain Allah Swt menerangkan pentingnya aspek tanggungjawab yang disebutkan dalam Surat Al Israa‘ ayat 36 yang artinya ―Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Menurut Ahmad (1996: 34), prinsip-prinsip dalam Al-Qur‘an tersebut bisa disarikan menjadi tiga konsep yaitu qawlan sadidan, qawlan balighan, dan qawlan layyinan. Qawlan sadidan artinya pembicaraan yang benar, jujur, lurus, tidak bohong, dan tidak berbelitbelit. Benar artinya sesuai dengan kriteria kebenaran Al-Qur‘an dan AlSunnah baik dalam bentuk ucapan maupun tulisan. Konsep kedua adalah qawlan balighan yang berasal dari kata ″baligh″ yang dalam bahasa Arab artinya sampai, mengenai sasaran, atau menciptakan tujuan. Jadi qawlan balighan artinya jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Oleh karena itu qawlan balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif. Konsep ketiga adalah qawlan layyinan (perkataan yang lembut) yaitu mengedepankan persuasi dan mengarahkan pada solusi yang bijaksana. Ketika Allah Swt mengutus Nabi Musa dan Harun kepada Fir‘aun maka yang diperintahkan adalah menggunakan bahasa yang lembut. Sejelek apapun pemerintah, organisasi maupun individu tentu akan lebih mengena jika nasehat atau masukan diberikan dengan cara-cara yang lembut.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

110


METODE PENELITIAN Komunikasi dalam perspektif pendekatan Islam ini, akan lebih terfokus jika di pandu oleh suatu metode penelitian yang akan mengarah kepada suatu hasil yang lebih optimal. Dalam konteks sekarang, bagaimana sesungguhnya komunikasi kita dengan Tuhan? Manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhan melalui amalanamalan batin, seperti sholat, berdoa zikir, membaca Al-Qur‘an dan lainlain. Pada waktu kita sholat sesungguhnya kita sedang melakukan berkomunikasi dengan Tuhan. Tuhan bertindak sebagai komunikan (penerima pesan), sedang kita bertindak sebagai komunikator (pengirim pesan). Dalam konteks ini, maka metode penelitian yang diambil adalah hermeneutika. Dalam hermeneutika, seorang penafsir (hermeneut) dalam memahami sebuah teks misalnya (Al-Qur‘an), dituntut untuk tidak sekedar melihat apa yang ada pada teks (Al-Qur‘an), tetapi lebih kepada apa yang ada dibalik teks. Paling tidak hermeneutika dapat dipilih dalam tiga kategori: sabagai filsafat, sebagai kritik, dan sebagai teori. Pertama Hermeneutika Teoritis, adalah bentuk hermeneutika yang menitikberatkan kajiaanya pada problem ―pemahaman‖ yakni bagaimana memahami dengan benar. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki teks (Al-Qur‘an) yang dijadikan pedoman atau pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya komunikasi dalam perspektif pendekatan Islam dalam dapat dicapai jika sesuai

dengan pedoman atau pegangan kita yaitu Al-Qur‘an dan Al-Hadist. HASIL PENELITIAN Dalam tulisan ini, penulis akan menguraikan aspek-aspek yang harus kita renungkan dan kita cermati secara baik-baik yang dirangkum dalam pembahasan ini, yaitu: 1. Kegiatan Shalat Sebagai Wujud Dalam Melakukan Komunikasi dengan Allah Swt Shalat adalah proses latihan untuk berkomunikasi dengan Allah Swt. Jika kita sudah terbiasa dan lancar berdialog dengannya dalam shalat, kita bisa melanjutkan komunikasi dengannya di luar shalat, tentunya dengan menggunakan bahasa kita sendiri. Dalam melakukan shalat umumnya manusia terbagi menjadi 3 golongan yaitu: a. Orang yang Menganggap Shalat Sebagai Beban atau Kewajiban Ini adalah shalat yang umum dan paling banyak dilakukan orang, ia menganggap shalat sebagai kewajiban ritual yang harus dilakukan setiap hari. Ia merasa shalat sebagai beban yang cukup mengganggu aktifitasnya sehari hari. Ia melakukan shalat dengan perasaan berat dan malas. Terkadang shalatnya dilakukan dengan asal-asalan, yang penting sudah melaksanakan shalat sesuai waktu yang ditetapkan. Umumnya mereka menunaikan shalat sudah diakhir waktu. Kadang kala mereka menggambung dua waktu shalat jadi satu tanpa alasan yang bisa dibenarkan.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

111


b. Orang yang Menganggap Shalat sebagai Kebutuhan Kelompok ini sudah lebih meningkat pemahamannya tentang shalat, ia sudah menyadari bahwa shalat itu dilakukan untuk keperluan dirinya, bukan untuk keperluan Allah (Allah tidak butuh dengan sekalian alam). Ia melaksanakan shalat dengan ikhlas dan ridho, penuh harapan pada-Nya. Umumnya mereka mengerjakan shalat diawal waktu. Seringkali mereka mengerjakan shalat sunat baik shalat sunah rawatib maupun shalat malam dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Mereka yakin dengan shalat yang benar dan khusyu hidup jadi mudah. c. Orang yang Menganggap Shalat sebagai Suatu Kenikmatan Ini adalah kelompok yang lebih tinggi lagi. Mereka sudah dapat merasakan nikmatnya mengerjakan shalat. Mereka mengerjakan shalat dalam rangka bersenang-senang dan asyik berdialog dengan Allah Swt. Mereka tidak merasa lelah mengerjakan shalat, walaupun sampai lama (dalam beberapa jam). Sebagaimana Rasulullah mengerjakan shalat malam sampai beberapa jam hingga kaki beliau bengkak. Dalam satu rakaat beliau biasa membaca surat yang panjang seperti surat Al-Baqarah, Ali-Imran atau Al-Maidah. 2. Shalat dan Hajj: Merupakan Saluran Komunikasi Mikro dan Makro Shalat mensyaratkan kewajiban membaca surah pertama Al-Qur‘an, Al-Fatihah, dalam setiap raka‘at shalat. Lima kali Shalat wajib

sehari terdiri dari 17 rakaat. Ini berarti bahwa setiap muslim harus membaca Fatihah sebanyak 17 kali dalam sehari. Jumlah bacaan AlFatihah ini secara dengan sendirinya akan meningkat jika seorang muslim juga melaksanakan shalat sunah atau yang juga disebut nawafil. Sebuah analisis yang singkat atas satu rakaat shalat akan membuktikan bahwa shalat memberikan sebuah canel komunikasi yang sederajat atau sama dengan pola komunikatif yang khas, yang melaluinya Al-Qur‘an diwahyukan. Shalat dimulai dengan takbir, yakni mengagungkan Allah yang Maha Besar, yang menjadi rukun untuk memasuki shalat. Takbir kemudian diikuti dengan isti‟adhah, yakni meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk dan kemudian membaca basmalah, atas Nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kemudian diikuti dengan membaca Al-Fatihah. Lebih jauh lagi, karena dalam setiap rakaat terdiri dari takbir, dzikir, hamdalah, tasbih dan do‟a, maka sesungguhnya shalat itu dibangun di atas bacaanbacaan Qur‘ani, qira‟a, yang kemudian menekankan keunikannya sebagai sebuah canel komunikasi antara manusia dan Tuhan. Sedangkan taslim, assalamu`alaykum wa-rahmatullahi wabarakatuh, merupakan rukun untuk mengakhiri komunikasi sebagaimana takbir, rukun untuk memasuki shalat. Menurut riwayat hadist yang terkenal yang disandarkan kepada Nabi sebagai hadith Qudsi, dan dimasukkan dalam semua koleksi kitab hadist, shalat itu disamakan

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

112


dengan pembacaan Al-Fatihah, yang gilirannya memberikan sebuah permohonan dan jawaban, do‟aistijaba, antara orang beriman dan Tuhannya. Dalam membaca AlFatihah, orang yang beriman ini sedang menyapa Tuhan dan Tuhanpun meresponnya. Suara manusialah yang dengan jelas terdengar, meskipun apa yang dibaca merupakan surah Al-Qur‘an. Di samping makna pentingnya sebagai cannel komunikasi antara Tuhan dan manusia, Al-Fatihah, sebagai inti shalat itu sendiri terangkum dalam tujuh ayat pendek, menurut alGhazali. Semua topik terangkum secara detail di dalam keseluruhan Al-Qur‘an. Karena dirangkum dalam shalat, maka sebuah bentuk mikro Al-Qur‘an sedang dipersembahkan. Karena menempati posisi keagamaan yang paling tinggi dan dominan, di samping tidak diyakini sebagai tindakan individualistik bahkan juga dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah, sesungguhnya shalat menggambarkan domain pertemuan keseharian antara Tuhan dan manusia. Dimensi aural dan oral yang kita temukan di dalam struktur wahy dapat juga ditemukan di dalam shalat. Nabi Muhammad dan begitu juga orang-orang yang beriman, tidak dianjurkan untuk melaksanakan shalat dengan suara keras maupun sangat pelan. Namun suara yang sedang lebih baik (Q.S, 17:110). Melakukan shalat dengan nada suara yang keras akan mengurangi aspek aural, insat, sementara itu melakukannya dengan suara yang sangat pelan secara negatif akan mempengaruhi aspek oral, qira‟a

atau tartil. Rasanya tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa di dalam shalat, Al-Qur‘an diringkas dan kemudian memberikan situasi semiwahy keseharian, yang di dalamnya orang-orang beriman menjadi pembaca dan sekaligus pendengar, dan kemudian berlaku sebagai pembicara dan penerima wahyu pada saat yang sama. 3. Makna Shalat

ْ ُ‫َحافِظ‬ َّ ‫ت وال‬ َّ ‫وا َعلَى ال‬ ‫صالَ ِة‬ ِ ‫صلَ َوا‬ ْ ‫ْال ُو ْسطَى َوقُو ُم‬ ‫ين‬ َ ِ‫وا ِ ّلِلِ قَانِت‬

"Peliharalah semua shalatmu dan shalat wustho, berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) yang khusuk ( Al- Baqoroh: 238). Makna lahiriah dari shalat diajarkan oleh rosul mulai dari: takbir; ruku; sujud; salam dan sebagainya, seperti diajarkan dalam ilmu fiqih, namun pada hakekatnya shalat adalah ibadah yang melibatkan kegiatan semua elemen manusia artinya tidak saja melibatkan panca indera tapi juga hati yang bersifat rohani. Memelihara shalat berarti memelihara ibadah itu dari kegiatan bersifat lahiriah dan hati sebagai kegiatan bersifat rohaniah. Jadi apabila ibadah ini dipelihara dan dilaksanakan dengan benar maka akan tumbuh makna yang mempunyai pengaruh positif seperti yang dimaksud dalam AlQur‘an yaitu sebagai sarana permintaan hamba kepada Tuhannya, alat komunikasi dengan Tuhan, dan sarana perjalanan rohani menuju Allah sehingga berperan sebagai pengendali, pencegah kemungkaran manusia dan menjadi jalan menuju pintu pertolongan Allah kepada hamba-Nya.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

113


4. Shalat Yang Berkualitas Firman Allah: "Peliharalah shalat dan shalat wustha" firman ini oleh Abdul qadir al Jilani rohimaullah diartikan sebagai shalat secara zahir dan shalat wusta (hati), secara zahir shalat dilakukan secara berdiri, membaca Al-Fatihah rukuâ&#x20AC;&#x2DC;, sujud, duduk antara dua sujud dan seterusnya, gerakan dalam shalat ini melibatkan anggota badan, inilah shalat jasmani atau fiskal. Disebut dalan firman itu shalawati (segala shalat) yang mengandung arti jamak, dan tidak disebutkan Shalah itulah shalat bagian pertama dari firman itu. Bagian kedua dari firman itu adalah shalat wustha, maksudnya adalah shalat hati, Abdul Qadir AlJilani Rohimaulah menjelaskan; wustha dapat diartikan tengah karena hati terletak ditengah yaitu ditengah diri, maka dikatakan salat wustha sebagai shalat hati dengan tujuan mendapatkan ketentraman dan kedamaian hati. Shalat dan ibadah yang sebenarnya adalah shalat dan ibadah hati bila hati tidak khusuk atau tidak konsentrasi maka shalat jasmaninya berantakan sehingga shalat tersebut kurang berkualitas atau berbobot. Oleh karena itu, shalat berkualitas berarti shalat dengan hati yang khusuk Komunikasi dengan Allah berarti komunikasi dengan yang maha gaib, atau bersifat rohani, hati memegang peran penting dalam shalat. Bila hati tidak baik maka jasmaninya tidak akan baik artinya shalatnya menjadi kacau. Memperbaiki shalat berarti memperbaiki kondisi hati sehingga jasmani pun jadi baik, demikian juga rukun dan syaratnya harus sesuai syariat. Jadi shalat dianggap

sempurna bila zahirnya memenuhi syarat syarat hukum fiqih dan batiniyahnya memenuhi syarat sayarat amalan batin. 5. Shalat Dalam Kehidupan Marilah sejenak meneliti diri masing masing, perhatikan rutinitas kegiatan sehari-hari dimulai dengan bangun tidur, makan minum bekerja mencari nafkah atau belajar dan kegiatan lainnya kemudian pulang istirahat, tidur. Dari hari kehari bulan kebulan dan tahun ketahun bahkan seterusnya rutinitas ini kita jalani, shalat kita terselip dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Bila rangkaian kegiatan aktivitas seperti di atas dilakukan setiap hari tanpa ingat kepada Allah kira-kira bisakah shalat kita khusuk? sudah pasti jawabnya adalah tidak. Aktivitas dan kegiatan sehari hari kita harus selalu ingat kepada Allah, berusaha sebanyak mungkin mengingat Allah, karena hal ini akan berpengaruh kepada kadar khusuknya shalat kita. Banyak sedikitnya serta dangkal atau dalamnya mengingat Allah, langsung berakibat pada kualitas dari shalat. Kekhusukan dan kedekatan kita dengan Allah pada waktu shalat adalah refleksi ke ingatan kita kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Memahami kualitas shalat dan usaha meningkatkan kualitas shalat, berarti memahami daya-daya ruhani di alam pikiran dan daya-daya rohani di alam hati dalam pelaksanaan shalat, sehingga shalat yang bersifat tafakur menjadi ke tahanut (meditasi, semedi, khusuk). Dengan demikian, kita siap siaga jika pada saat yang tak terduga Allah swt berkenan mengutus malaikat untuk memberi bisikan ke dalam hati baik

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

114


yang berupa petunjuk dan pimpinan pertolongan atau lainnya yang cukup lembut. Apakah ada cara untuk memperbaiki tingkat ingat kita kepada Allah? jawabnya adalah ada. Yaitu jika kita melaksanakan sesuatu dengan niat, ikhlas semata mata karena Allah. Niatkan segala sesuatu sebagai ibadah kepada Allah semata tidak karena lainya. Kita berangkat kerja niatkan diri untuk ibadah kepada Allah, memenuhi kewajiban tanggung jawab kepada penghidupan keluarga, ketika berangkat sekolah niatkan diri untuk beribadah karena kewajiban setiap hamba Allah untuk menuntut ilmu agar menjadi umat yang mulia. Pendek kata setiap kegiatan hanya semata karena Allah. Selingi setiap mulai dan mengakhiri kegiatan dengan doâ&#x20AC;&#x2DC;a. Mulai belajar atau bekerja dengan doa "Ya Allah Limpahkan Rezeki Atau Ilmu Kepadaku Agar Aku Bisa memenuhi Kewajibanku Sebagai Hamba Mu: Mohon Selamat; Mohon Petunjuk; Mohon Bimbingan atau doa lainya. Jika hal ini kita kerjakan berarti

berusaha sebanyak mungkin berkomunikasi dengan Allah. Pengaruhnya adalah ketika kita mendengar adzan, seketika itu ingat kepada Allah, sehingga ada komunikasi, bila tidak mendengar adzan maka hati bertanya apakah sudah adzan? pertanyaan ini menunjukkan telah terjadi komunikasi dengan Allah, demikian seterusnya bila kita berwudlu, memasuki shalat dari takbiratul ikhrom sampai salam akan terjadi komunikasi dengan Allah diteruskan setelah selesai shalat berdoa merupakan dialog komunikasi seorang hamba kepada tuhannya sampai kita selesai shalat dan kembali bekerja kita usahakan komunikasi dengan Allah dan selalu mengingat Allah Swt. Dalam keadaan normal shalat dilakukan dengan melibatkan semua aparatur tubuh, alam pikiran, dan hati manusia yang sedang melaksanakan shalat, menjadi aktif. Gambaran kondisi orang shalat dapat digambarkan pada tabel 2.

Tabel 2 Gambaran Orang Dalam Melaksanakan Shalat Type 1 2 3 4

Kondisi Aktivitas Pikiran

Indera

Perasaan

Ingatan

Hati

Aktif Pasif Pasif Aktif ke Pasif

Aktif Aktif Aktif Aktif ke Pasif

Aktif Pasif Aktif Pasif

Aktif Pasif Aktif Aktif ke Pasif

Aktif Pasif Pasif Aktif

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

Paham Bahasa Arab Ya Tidak Tidak Tidak Atau Ya

115


Salat type satu Adalah shalatnya imam, seperti seorang pemimpin, imam selain memikirkan dirinya juga harus memikirkan makmumnya, pemusatan perhatian kepada Allah disertai dengan aktivitas pikiran, ingatan terhadap kepentingan makmum, suara mereka dibawa meghadap Allah, imam sebaiknya faham bahasa arab. Shalat type dua Shalat type 2 ini adalah shalatnya seorang yang tak paham bahasa arab, akan tetapi sepeti kita ketahui bahwa shalat memakai bahasa arab, sehingga paham atau tidak seorang yang melakukan shalat harus mengucapkan kata kata arab karena tidak mengerti kata demi kata, ia tak berfikir mengenai isi dan makna yang diucapkan berarti pikiran, panca inderanya aktif atau pasif tergantung kemampuan konsentrasi. Pemusatan perhatian ditujukan kepada ingatan hafalan maka perasaan pasif, ia tidak bicara dengan hatinya sebab tak tahu arti kata-kata yang diucapkan sehingga hatinya pasif. Shalat Type Ketiga Shalatnya orang orang yang menangis atau bergembira (syukur) dihadapan Allah adalah termasuk shalat type ini. Ia mengucapkan kata kata bahasa arab dan tidak mengerti artinya. Ketika mengucapkan "Allahu Akbar" atau baca Al-Fatihah, asal membaca (hafalan), sehingga ingatan aktif, kemudian ia menumpahkan perasaan duka atau gembira dihadapan Allah, tetapi tidak seirama atau sejalan dengan ucapan mulutnya hati dan pikiran tidak seirama dengan ucapan-ucapanya. Shalat Type Empat Inilah shalat yang kita dambakan yaitu shalat yang kusuk,

shalat yang dapat melambungkan ruh kita ke hadirat Allah dan seolah olah kita bertemu dihadapanya (bukan bersatu), shalat yang dapat berkomunikasi dengan Allah sehingga Allah memberi jawaban atas segala pertanyaan dan beban hidup kita, pertolongan, bisikan hati, ilham, petunjuk dan pancaran cahaya Illahi dapat kita rasakan atau kita tangkap dalam hati. Segala yang ia tumpahkan lewat ucapan mulut atau hanya dalam hati adalah isi hati, ucapan suara hati kandungan hati. Hatinya aktif berbicara memanjatkan kata-kata kepada Allah, pikiran dan ingatanya aktif saat mengucapkannya, namun setelah konsentrasi berhasil pikiran dan ingatan jadi pasif, saat hati bicara dengan bantuan pikiran dan ingatan, tercapailah konsentrasi (tafakur), kemudian pikiran dan ingatnya jadi pasif, sehingga tercapai keadaan tahanut (semedi) seperti yang digambarkan oleh K.H Syamsul Alam (1996). Menurut beliau shalat type ini adalah tingkat shalat maksimal yang dapat dicapai oleh manusia, biasanya orangnya paham bahasa arab, tetapi shalat type ini bisa juga dicapai orang yang tidak paham bahasa arab, pada waktu hubungan hatinya dengan Allah sesudah selesai salam, yaitu pada waktu dzikir dan munajad. 6. Pembacaan Al-Qur’an Sebagai Sebuah Disiplin Qira‟at Al-Qur‟an, inti dari shalat mikro dan makro itu sendiri, dan oleh karena menjadi medium komunikasi manusia-Tuhan, berkembang sebagai sebuah disiplin yang berdiri sendiri dengan aturanaturan dan metode-metodenya sendiri. Seorang pembaca Al-Qur‘an yang profesional, qari‟, akan membacakan Al-Qur‘an dengan cara yang agak dihiasi atau disebut dengan tartil, suatu istilah yang digunakan dua kali di

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

116


dalam al-Qur‘an untuk mengatakan ‗bacaan‘ (Q.S. 25:33; 73:4). Diriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda, ―Hiasilah Al-Qur‘an dengan suaramu.‖ Diriwayatkan juga bahwa beliau bersabda, ―Barang siapa yang tidak membaca Al-Qur‘an secara indah, maka dia bukan golonganku.‖ Menurut aturan-aturan semacam itu, Nabi Muhammad menambahkan contoh pribadinya, ketika pada suatu hari ketika beliau masuk ke Makkah, beliau terlihat di atas punggung unta perempuannya secara bergetar melantunkan ayat-ayat Surat „lfath. Aturan-aturan membaca dengan memperindah bacaan atau tartil menjadi sebuah disiplin tersendiri yang disebut dengan tajwid. Tajwid adalah sebuah wilayah pengetahuan interdisciplinary yang meliputi linguistik, penguasaan seni performa yang berhubungan dengan musik dan juga qira‟at, ragam pembacaan al-Qur‘an. Membaca dan menghapal AlQur‘an merupakan bagian dari tradisi pendidikan muslim yang penting. Langkah awal dalam pendidikan anakanak Islam adalah menghapalkan sejumlah ayat-ayat pendek seperti surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, dan AlMu‟awwidhatayn secara berurutan. Langkah awal ini diikuti oleh langkahlangkah lainnya hingga anak-anak hapal seluruh Al-Qur‘an pada umur sepuluh tahun atau dua belas tahun. Sistem pendidikan Islam tradisional, apakah dalam madrasah-madrasah klasik atau belajar privat, biasanya dimulai dengan memahami Al-Qur‘an. Menghapal seluruh al-Qur‘an merupakan pra-syarat yang memakan waktu yang lama bagi seorang murid untuk diijinkan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, atau yang disebut tingkat al-alimiyya, di Universitas AlAzhar Kairo. Pentingnya hadist ini bagi muslim tidak bisa dijelaskan secara baik kecuali dengan mengutip pernyataan

Graham: ―Aksi belajar sebuah teks ‗dengan menghapal‘ itu sendiri menginternalisasikan teks tersebut dalam sebuah cara yang keakrabannya dengan bahkan sebuah buku yang sering dibaca‖. Menghapalkan merupakan sebuah aprosiasi yang intim terhadap teks secara khusus dan kemampuan untuk mengutip atau membaca sebuah teks dari hapalan merupakan sebuah sumber spiritual yang secara otomatis bisa dimunculkan dalam setiap aksi refleksi, shalat atau pertimbangan moral, begitu juga pada saat-saat keputusan personal maupun komunal atau krisis. Menurut Nasr (1997: 19), di dalam pengantar sistem pendidikan sekuler modern, pengajaran Al-Qur‘an dianggap sebagai pelajaran penting dalam kurikulum dari semua tingkat sekolahan, sebuah kenyataan yang memegang kebenaran bagi semua negara Muslim. Di tengah-tengah membludaknya perkenalan pendidikan massa di dalam setiap negara muslim selama era post-kolonial, belajar AlQur‘an bahkan menjadi sebuah fenomena yang tersebar luas yang jarang sekali diacuhkan. Bahkan komunitas-komunitas Muslim di Diaspora, apakah hidup di negara-negara Barat atau non-Barat, ditentukan untuk memilih sekolahan mereka sendiri di mana mereka bisa mengajarkan Islam dan Al-Qur‘an kepada anak-anak. Sekarang tidak diragukan lagi tentang ―hubungan antara penggunaan oral kitab suci dan gerakan-gerakan reformasi keagamaan‘ sebab ‗internalisasi‘ teks-teks penting melalui tahfidz atau hapalan dan pembacaan dapat menjadikan sebuah disiplin pendidikan atau indoktrinasi yang efektif‖. Akhir-akhir ini, gerakan-gerakan Islam radikal yang memperkenalkan dirinya sebagai pengganti terbaik untuk

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

117


rezim politik sekarang, menggunakan sebuah penggunaan pembacaan AlQur‘an yang sangat baik, di antara hal tersebut adalah, untuk menyebarkan ideologi-ideologi mereka. Pemerintahpemerintah di negara-negara muslim tidak enggan menggunakan metode yang sama dengan cara menyemangati penghapalan dan pembacaan Al-Qur‘an dengan membelanjakan uangnnya dalam jumlah yang besar untuk ―musabaqah tilawatil Qur‟an dan „musabaqah tahfidz Al-Qur‘an”. Di Mesir, misalnya, musabaqah tertinggi untuk pembacaan dan hapalan Al-Quran diseponsori oleh Menteri Waqaf, wizarat al-awqaf. Hadiah-hadiah lomba tersebut dipersembahkan kepada pemenang oleh President atau Perdana Menteri pada puncak malam laylat lqadr di setiap tahunnya. Karena menjadi elemen penting dari kehidupan keagamaan sehari-hari Muslim, tartil Al-Qur‘an tidak hanya menjadi sebuah profesi tetapi juga sebuah institusi. Pembacaan Al-Qur‘an disiarkan setiap hari dari semua radio dan canel televisi di semua negaranegara Muslim. Paling tidak, pembacaan itu, disiarkan dua kali sehari, pada awal dan akhir siaran setiap harinya. Di samping itu, programprogram keagamaan di mana ayat-ayat Al-Qur‘an dikutip dan dijelaskan berjumlah sekitar 25 persen dari waktu siaran setiap harinya. Pemerintah Mesir juga sebuah stasiun radio idha`at AlQur‟an Al-Karim, hanya untuk menyiarkan tilawah Al-Qur‘an program-program Al-Qur‘an lainnya. PEMBAHASAN Setelah hasil penelitian dalam tulisan ini dapat diinterpretasikan, maka penulis melakukan pembahasan secara singkat yaitu Al-Qur‘an selalu menunjukkan bahwa wahyu telah

menjadi canel yang melaluinya kitab suci-kitab suci sebelumnya diturunkan. Oleh karena itu, wahyu tidak bisa disebut identik dengan Al-Qur‘an sebagaimana yang diklaim oleh Izutsu. Wahyu adalah canel yang melaluinya Kata Tuhan secara umum diwahyukan kepada manusia-manusia. Secara jelas, Al-Qur‘an menunjukkan bahwa hanya ada tiga saluran komunikasi yang mungkin antara Tuhan dan Manusia: ―Baik melalui wahyu atau dari balik tabir atau dengan mengirimkan utusan untuk mewahyukan (dengan wahyu) atas izin Tuhan kepada siapa yang Dia kehendaki (Q.S. 42:51). Saluran pertama, wahyu adalah sebuah bentuk komunikasi non-verbal. Saluran kedua dari belakang tabir, merupakan saluran yang melaluinya Tuhan berbicara kepada Musa dari balik tabir dan atau di balik gunung. Namun lagi-lagi, pertanyaan mengenai ‗bagaimana‘ Tuhan berbicara kepada Musa masih menyisakan persoalanpersoalan yang sama dan telah menjadi inti pembahasan Al-Qur‘an. Saluran ketiga diyakini sebagai saluran pewahyuan Al-Qur‘an di mana misi mediator atau rasul Jibril adalah mengkomunikasikan Kalam Tuhan kepada Muhammad dengan wahyu, komunikasi non-verbal. Kesimpulannya kemudian adalah bahwa wahyu itu secara semantik tidaklah sinomin (di dalam penggunaannya dengan) Kalam Tuhan di dalam Al-Qur‘an. Sejalan dengan makna secara leksikal, Islam berarti penyerahan diri secara absolut kepada Allah, Tuhan semesta. Al-Qur‘an berulang kali menekankan ―Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Q.S.2:112). Meskipun bersifat universal dan untuk

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

118


semua manusia sebagaimana diklaim selama ini, pesan Al-Qur‘an itu diekspresikan dalam bahasa Arab yang jelas, secara senderhana sebab Tuhan selalu mempertimbangkan bahasa orang-orang yang kepadanya pesan ini dikirim. ―Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (Q.S.14:4). Oleh karena itu, rasanya tidak mungkin berasumsi bahwa Al-Qur‘an menyuguhkan firman Tuhan secara harfiyah dan ekslusif. Menurut asumsi ini, Kalam Tuhan hanya akan terbatas pada AlQur‘an saja, sehingga meniadakan kitab suci-kitab suci sebelumnya dari mempersembahkan Kalam Tuhan yang sama di dalam bahasa-bahasa asli mereka. Ini secara otomatis akan mengantarkan pada pemegang-teguhan bahasa Arab, paling tidak sebagaimana yang dilakukan oleh muslim Arab, sebagai sebuah bahasa yang suci. Jadi, kita bisa memberikan sebuah cerminan dan pedoman bahwa Shalat dan AlQur‘an merupakan sarana atau media untuk mengingat, berserah, berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Pembahasan ini menitikberatkan kepada apabila ingin meminta bantuan ataupun pertolongan kepada seseorang, maka yang pertama kita lakukan adalah menjalin komunikasi dan hubungan baik kepada sesorang yang kita minta pertolongan. Dengan demikian, komunikasi dan hubungan baik adalah faktor utama dalam meminta pertolongan. Agar komunikasi itu lancar dan cepat maka memilih sarana komunikasi adalah faktor penting lainya. Sarana komunikasi yang canggih tentu akan mempermudah sampainya pesan yang disampaikan (meminta pertolongan) kepada yang diminta pertolongannya. Jadi faktor lain yang

membantu lancarnya pertolongan adalah sarana alat komunikasi yang baik melalui Shalat dan membaca Al-Qur‘an, dan dengan di dukung oleh tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari. KESIMPULAN Pada dasarnya, Shalat dan AlQur‘an adalah saluran di mana manusia dan Allah SWT berkomunikasi. Pembacaan terhadap Al-Qur‘an memberikan sebuah domain komunikasi di mana baik Tuhan maupun manusia bertemu. Dengan sering membaca AlQur‘an atau mempergunakan kata-kata dari Al-Qur‘an dalam setiap kehidupan sehari-hari, pada dasarnya manusia telah melibatkan Allah, telah berkomunikasi dengan-Nya. Dalam perkembangannya, komunikasi ini mulai menjadi suatu disiplin ilmu yang mesti kita pelajari, karena dalam mengarungi romantika kehidupan ini kita tidak akan terlepas dari interaksi dengan sang kholik atau penciptanya, dan interaksi antar sesama. Kedua interaksi itu tercermin dalam komunikasi. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang apabila suatu pesan yang diberitahukan komunikator dapat diterima dengan baik atau sama oleh komunikan, sehingga tidak terjadi salah persepsi. Berangkat dari penilaian penulis, bahwa saat ini masih banyak orang yang belum memaksimalkan kemampuan komunikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Baik berkomunikasi dengan Tuhan (horizontal) maupun dengan sesama (vertikal). Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mempelajari dan meningkatkan kembali kemampuan berkomunikasi kita agar dalam menjalani hidup ini bisa berada dalam suatu keharmonisan yang sejatinya itu dimiliki oleh kita semua sebagai insan Allah yang mulia.

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

119


DAFTAR PUSTAKA -

-

-

-

-

-

-

Abdullah, Abdurrahman Saleh. 1990. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur‘an. Jakarta: Rineka Cipta. Ahmad, Syarbashi. 1996. Dimensi-Dimensi Kesejatian AlQur‘an. Yogyakarta: Kanisius Cet. 1. Djamarah, Syaiful Bahri. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak Dalam Keluarga (Sebuah Perspektif Pendidikan Islam). Jakarta: PT. Rineka Cipta. Izutsu, Toshihiko. 1962. Revelation as a Linguistic Concept in Islam, dalam ―Studies in Medieval Thought‖, The Japanese Society of Medieval philosophy, Tokyo: Vol.5. Jalal, Abdul Fattah. 1988. AzasAzas Pendidikan Islam Cet. Ke II. Bandung: Diponogoro. Nasr, Hamid Abu Zayd. 1997. Al-Qurân: al-Alam Biwasfihi Alama. Beirut and Casablance, Cet. Ke-2. Tafsir, Ahmad. 1992. Ilmu Pendidikan Islam Dalam Perspektif Islam Cet. Ke II. Bandung: Remaja Rosdakarya. William A. Graham. 1993. Beyond the written word: Oral Aspects Of Scripture In The History of Religion. Cambridge: University Press.

Sumber Al-Qur’an: Q.S. Asy Syura ayat 51 Q.S al-Nahl ayat 98 Q.S al-Maaidah ayat 67 Q.S al-Nisa ayat 138 Q.S al-Ikhlas ayat 1 Q.S al-Imran ayat 104 Q.S al-Asr ayat ayat 3 Q.S al-Maidah ayat 4 Q.S al-Maidah ayat 108 Q.S al-Taa ayat 43 Q.S al-Isra‘ ayat 53 Q.S al-Nahl ayat 125 Q.S al-An‘am ayat 152 Q.S al-Nahl ayat 125 Q.S al-Taha ayat 25 Q.S al-Hujurat ayat 6 Q.S al-Israa‘ayat 36 Q.S al-Baqoroh ayat 238

Journal Communication Volume 6 No. 1 April 2015

120


PEDOMAN PENULISAN JURNAL COMMUNICATION Beberapa hal yang harus diperhatikan penulis dalam penulisan jurnal adalah sebagai berikut: Maksud dan Tujuan Jurnal Communication diterbitkan Lembaga Riset Universitas Budi Luhur sebagai media penyebarluasan hasil penelitian yang dilakukan peneliti di lingkungan Universitas Budi Luhur dan peneliti lain. Ruang Lingkup Jurnal ini memuat hasil penelitian dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilmu Komunikasi, termasuk yang menunjang pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan pembangunan nasional. Bahasa Tulisan yang dimuat dalam jurnal ini menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baku dan baik. Penggunaan istilah hendaknya menggunakan pedoman dari lembaga pembinaan bahasa atau Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Bentuk Naskah Naskah diketik pada kertas ukuran A4 putih dengan spasi 1,2. Tulisan mempunyai jarak 3 centimeter dari kanan, kiri, atas dan bawah kertas berjarak 2,5 cm. Panjang naskah tidak lebih dari 20 halaman dan sekurang-kurangnya 10 halaman termasuk gambar dan tabel. Tulisan menggunakan jenis font Times New Roman ukuran 12, naskah diketik dengan bentuk satu kolom. Isi Naskah Naskah disusun dalam urutan sebagai berikut : 1. Judul (Bahasa Indonesia dan menggunakan huruf kapital serta tebal/bold). Untuk sub-judul ditulis huruf kecil dan tebal/bold 2. Nama penulis (menggunakan huruf kapital dan tebal/bold) 3. Menyertakan nama lembaga/instasi dan alamat email. 4. Panjang tulisan antara 15-20 halaman dengan kertas ukuran A4 5. Abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris antara 200-300 kata. Abstrak berisi tujuan, metode, dan hasil penelitian. Untuk abstrak bahasa Inggris ditulis miring. 6. Sistematika penulisan adalah ď&#x201A;ˇ Pendahuluan (berisi latar belakang dan perumusan masalah) ď&#x201A;ˇ Kerangka pemikiran ď&#x201A;ˇ Tujuan penelitian


 Metode penelitian (alat, bahan, cara, dan metode analisis)  Hasil penelitian dan pembahasan  Kesimpulan  Daftar pustaka, lampiran (kalau ada). 7. Kutipan menggunakan pola bodynote (di dalam naskah), bukan footnone (catatan kaki) atau endnote (catatan akhir). 8. Penggunaan kata-kata dari bahasa asing harus ditulis miring. 9. Tidak ada jarak setelah setelah judul dan sub-judul. 10. Harus ada jurnal dalam referensi/daftar pustaka 11. Ukuran huruf dalam tulisan :  Isi memakai huruf jenis Times New Roman ukuran 12  Daftar pustaka memakai huruf jenis Times New Roman ukuran 11  Abstrak huruf jenis Times New Roman ukuran 10 12. Halaman setiap Bab menggunakan angka 1 , 2 , 3 dst, sedangkan untuk Subbab menggunakan angka misalnya 1.1 , 1.2 , 2.1 2.2 dst Judul Tulisan dan Nama Penulis Judul tulisan harus mencerminkan isi dari tulisan. Kalimatnya pendek, ringkas, dan mudah dipahami. Nama lembaga/instansi pengarang harus jelas dicantumkan pada halaman pertama. Bila penulis lebih dari satu orang, maka perlu diurutkan sesuai dengan kode etik penulisan. Tabel dan Gambar Tabel dan gambar diberi judul yang singkat dan jelas maksudnya. Judul tabel berada di atas, sedangkan judul pada gambar berada di bawah. Setiap tabel dan gambar diberi nomor urut (1,2,… dst) dengan menggunakan huruf Arial Bold ukuran 10 . Daftar Pustaka Penulisan daftar pustaka disusun menurut pedoman APA diketik 1 (satu) spasi untuk setiap pustaka dan berjarak 2 (dua) spasi untuk pustaka yang satu dengan yang lain. Alamat Redaksi Naskah dikirim ke redaksi dalam bentuk file (copy disket, copy CD) dan 1 print out ke Lembaga Riset Universitas Budi Luhur, Jalan Ciledug Raya, Petukangan Utara, Jakarta Selatan 12260, Telp. (021) 5853753 Ext. 251 (ALAMAT EMAIL BELUM ADA). Kelengkapan naskah dalam bentuk soft dan hard copy tersebut di atas harus diserahkan ke Lembaga Riset Universitas Budi Luhur. Redaksi berhak mengedit dan mengubah tulisan sepanjang tidak mengganggu substansi hasil penelitian.

Profile for Arief Ruzlan

Jurnal communication april 2015  

Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Budi Luhur, dua kali dalam setahun. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan sebagai me...

Jurnal communication april 2015  

Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Budi Luhur, dua kali dalam setahun. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan sebagai me...

Advertisement