Page 1

STANDAR OPERATIONAL PROSEDUR (SOP)

PT. ARFAK INDRA Kantor Pusat : Wisma Nugraha Lt. 4 Jl. Raden Saleh No. 6 Jakarta Pusat Telepon (021)31904328 Fax (021)31904329 Kantor Perwakilan : Jl Yos Sudarso No.88 Fakfak Papua Barat Indonesia Telepon (0956)22854


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENDATAAN POHON RUSAK DAN LIMBAH PEMBALAKAN HUTAN

No. Dok

: SOP-0517

Revisi

: 00

Terbit

: 24/09/2012

A. PENGERTIAN Pohon rusak adalah tegakan tinggal berdiameter 20 cm keatas yang tidak termasuk dalam rencana pemanenan namu rusak akibat penebangan maupun penyaradan. Kerusakan itu antara lain berupa pohon roboh atau pohon masih berdiri yang bagian batang, banir atau tajuknya rusak dan diperkirakan tidak dapat tumbuh lagi dengan normal. Pohon digolongkan rusak apabila mengalami satu atau lebih keadaan sebagai berikut : a. Tajuk pohon rusak lebih dari 30 % atau percabangan pohon/ dahan besar patah. b. Luka batang mencapai lebih dari Âź keliling batang dengan panjang lebih dari 1,5 meter. c. Perakaran terpotong atau 1/3 banirnya rusak Kerusakan tegakan tinggal ditetapkan berdasarkan populasi pohon dalam plot, yaitu pembagian antara jumlah pohon yang rusak setelah kegiatan pemanenan kayu dengan jumlah pohon sebelum penebangan dikurangi dengan jumlah pohon yang ditebang. Berdasarkan populasi pohon dalam plot, kerusakan tegakan tinggal dapat dikelompokkan sebagai berikut : ď&#x201A;ˇ Kerusakan ringan (besarnya kerusakan tegakan tinggal <25%). ď&#x201A;ˇ Kerusakan sedang (25-50%) dan ď&#x201A;ˇ Kerusakan berat (>50%) Persentase dilihat dari kerapatan awal tegakan sebelum pemanenan dengan banyaknya pohon yang rusak akibat kegiatan pemanenan. Limbah pembalakan hutan adalah sisa pemanenan kayu yang tertinggal dalam blok kerja secara fisik maupun ukuran diameter dan panjang masih dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan limbah pembalakan hutan adalah untuk memanfaatkan kayu semaksimal mungkin dan mengurangi limbah pembalakan hutan yang sering tertinggal dalam blok kerja. Kriteria dalam menentukan limbah pembalakan hutan adalah sebagai berikut : 1. Tunggul tinggi (High Stump)


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENDATAAN POHON RUSAK DAN LIMBAH PEMBALAKAN HUTAN

No. Dok

: SOP-0517

Revisi

: 00

Terbit

: 24/09/2012

Adalah tunggul berdiri lebih dari 0,5 m diukur dari 20 cm di atas banir atau 1, 30 m di atas permukaan tanah pada diameter 30 cm ujung, sedangkan untuk pohon tidak berbanir penebangan bisa kurang dari 1, 30 m di atas permukaan tanah.

2. Tunggul Panjang (Butt Weste) Adalah tunggul rebah dengan panjang lebih dari 0,5 m yang sering terjadi akibat kesalahan pemotongan kayu (Bucking) dengan diameter ujung lebih dari 30 cm.

3. Ujung Patah (Broken crown) Adalah pohon yang masih berdiri tetapi kehilangan ujung akibat penebangan tidak terarah, dengan panjang lebih dari 8 m diukur dari 20 cm di atas banir atau 1, 30 m dari atas permukaan tanah dengan diameter ujung 30 cm. 4. Pohon Tertinggal (Left Log) Adalah pohon komersial dengan keadaan baik, panjang lebih 8 m dengan diameter ujung 30 cm tetapi tidak dilaksanakan penyaradan. Pohon inti yang rebah dan tertinggal termasuk kategori ini.


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENDATAAN POHON RUSAK DAN LIMBAH PEMBALAKAN HUTAN

No. Dok

: SOP-0517

Revisi

: 00

Terbit

: 24/09/2012

B. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud dan Tujuan Pendataan pohon rusak 7 limbah pembalakan adalah  Mengevaluasi efektivitas penerapan Reduce Impact Logging (RIL)  Mengetahui jumlah pohon yang rusak & limbah dari pembalakan hutan C. KETENTUAN PELAKSANAAN Pelaksanaan pendataan pohon rusak & limbah akibat pembalakan hutan : 1. Dilakukan pada blok RKT yang telah selesai dilaksanakan pemanenan 2. Pendataan atau pengumpulan data dengan menggunakan plot-plot sampling dengan ukuran 100 m x 100 m (1 Ha) sebanyak 20 plot. 3. Lokasi plot berada pada jalan-jalan sarad dan masing-masing petak ditentukan sebanyak 2 plot. D. PELAKSANAAN KEGIATAN 1. Tim Pelaksana 

Ketua Tim

: Superintendent Perencanaan.

Anggota Tim

: Staf Perencanaan & Staf Pemanenan

2. Peralatan dan Perlengkapan 

Peta Kerja

GPS

Phiband meter

Kompas dan Clinometer

Kamera Digital

Alat Tulis

Alat Transportasi

3. Pelaksanaan Lapangan 

Pendataan jumlah pohon (diameter diatas 20 cm) yang rusak maupun yang baik di dalam plot yang meliputikerusakan tajuk, batang, rebah, banir/akar

Mengukur diameter/panjang limbah yang meliputi tunggul tinggi, tunggul panjang, ujung patah, limbah bagian atas dan pohon tertinggal.

Menghitung jumlah pohon yang ditebang dalam plot

Mengambil koordinat plot

4. Pengolahan Data


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENDATAAN POHON RUSAK DAN LIMBAH PEMBALAKAN HUTAN

No. Dok

: SOP-0517

Revisi

: 00

Terbit

: 24/09/2012

4.1. Jumlah Pohon Rusak Akibat Pemanenan a. Jumlah pohon rusak dalam 1 hektar

b. Persentase jumlah pohon rusak dalam 1 Ha x 100 %

4.2. Jumlah Limbah dari Pembalakan Hutan a. Jumlah limbah dalam 1 Ha

b. Rekapitulasi limbah Jenis Limbah No

No Petak

Tunggul Tunggul

Ujung

Bagian

Kayu

Tinggi

Panjang

Patah

Atas

Tertinggal

(m3)

(m3)

(m3)

(m3)

(m3)

Jumlah (m3)

Ket

1. 2. 3. 4. 5. 6. dst

E. PELAPORAN Setelah selesai melaksanakan kegiatan di lapangan segera membuat laporan yang ditujukan kepada Manager Camp dan tembusan Forestry Division Manager. Laporan pendataan pohon rusak & limbah akibat pemanenan meliputi : a. Realisasi dan rekapitulasi kegiatan b. Tally Sheet hasil pengukuran c. Peta

Sop pendataan pohon rusak & imbah pembalakan hutan