Issuu on Google+

STANDAR OPERATIONAL PROSEDUR (SOP)

PT. ARFAK INDRA Kantor Pusat : Wisma Nugraha Lt. 4 Jl. Raden Saleh No. 6 Jakarta Pusat Telepon (021)31904328 Fax (021)31904329 Kantor Perwakilan : Jl Yos Sudarso No.88 Fakfak Papua Barat Indonesia Telepon (0956)22854


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA

1

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

PENGERTIAN

Pemantauan flora dan fauna adalah serangkaian kegiatan untuk mengetahui perubahan dan perkembangan flora dan fauna yang ada di dalam areal hutan produksi. TUJUAN

2

Adapun tujuan dari kegiatan pemantauan flora dan fauna ini adalah untuk mengetahui perkembangan, perubahan dan kerusakan flora dan fauna yang terjadi di dalam areal hutan produksi yang meliputi : jumlah/populasi, ukuran dan struktur populasi, tingkat kerusakan, penyebaran/pergerakan flora dan fauna. 3

SASARAN

Teridentifikasinya dan terkumpulnya data tentang keberadaan jenis, jumlah, ukuran, kondisi dan penyebaran seluruh flora dan fauna (termasuk jenis endemik/langka/dilindungi) yang terdapat di areal hutan. 4

PENANGGUNGJAWAB 4.1 Kepala Seksi Kelola Lingkungan Kepala Seksi pengelolaan dan pemantauan bertanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan pemantauan flora dan fauna di lapangan sampai dengan proses pelaporan. 4.2 Kepala Bagian Kelola Lingkungan dan SCR Kepala bagian Kelola Lingkungan dan SCR bertanggung jawab atas kebenaran proses pengolahan dan pelaporan data. 4.3 Camp Manager Camp Manager bertanggung jawab atas kebenaran pelaksanaan dan hasil pekerjaan yang dilakukan di lapangan.

5

MASUKAN YANG DIBUTUHKAN

Beberapa masukan yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan pemantauan flora dan fauna adalah: (1)

Peta kerja skala 1 : 10.000 dan peta RKT 1 : 50.000

(2)

Kapasitas kerja setiap team per periode

(3)

Tabel supply logistik, material dan medikal survey


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA 6

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

KELUARAN YANG DIHASILKAN

Register pemantauan flora dan fauna terdiri atas : (1)

Rekapitulasi data hasil inventarisasi flora dan fauna yang terdapat di hutan produksi

(2)

Rekapitulasi data jumlah dan jenis flora dan fauna yang terdapat di areal hutan produksi.

(3)

Peta penyebaran flora dan fauna.

7

CYCLE TIME

Waktu pelaksanaan kegiatan pemantauan flora dan fauna diatur sebagai berikut: (1)

Waktu pelaksanaan pemantauan flora dan fauna disesuaikan dengan schedule pada rencana kegiatan pada Seksi Lingkungan atau bagian kelola lingkungan dan SCR.

(2)

Pemantauan flora dan fauna dilakukan pada areal blok bekas tebangan, areal virgin forest (belum ditebang) dan areal kawasan lindung

8

PROSES KERJA

8.1

Persiapan Kerja

Susunan Team, terdiri atas: (1)

1 orang kepala regu (merangkap sebagai pendata)

(2)

3 orang pengenal jenis tumbuhan

(3)

2 orang pengenal jenis satwa

(4)

1 orang pendata

(5)

2 orang perintis jalur

(6)

1 orang pembantu umum

Peralatan dan perlengkapan Kerja, terdiri atas: (1)

Peta kerja skala 1 : 10.000 dan peta RKT 1 : 50.000

(2)

Buku lapangan, alat-alat tulis, tally sheet

(3)

Kompas

(4)

Clinometer

(5)

Hagameter

(6)

Parang

(7)

Meteran dan diameter tape

(8)

Teropong

(9)

Kamera

(10)

Kaca pembesar

8.2

Pelaksanaan Kerja

8.2.1

PEMILIHAN LOKASI


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

(1)

Lokasi plot pengamatan mula-mula ditentukan melalui data sekunder berupa peta tebangan, peta topografi dan peta penutupan lahan.

(2)

Penentuan plot dilakukan secara acak terhadap seluruh areal bekas tebangan

(3)

Berikan tanda di peta kerja dengan tinta merah mengenai rencana calon lokasi yang akan dibuat plot pengamatan.

(4)

Lakukan survey pendahuluan di lokasi calon plot pengamatan yang bertujuan untuk melihat kelayakan kawasan ditinjau dari syarat-syarat yang diperlukan untuk dijadikan areal pemantauan vegetasi dan satwa liar.

(5)

Buatkan tanda-tanda batas sementara calon lokasi di lapangan, dan perkirakan luasan areal yang dapat dibuat sebagai areal plot pengamatan.

8.2.2

PENDATAAN VEGETASI DI LAPANGAN

8.2.2.1.

Pembuatan Jalur Pengamatan

(1)

Buat jalur-jalur pengamatan dengan lebar ± 20 meter berupa rintisan yang dibersihkan dari semak-semak atau tumbuhan bawah selebar ± 1 meter arah Utara-Selatan

(2)

Pembuatan rintisan agar memperhatikan terhadap jenis-jenis endemik/langka/dilindungi agar tetap dipertahankan dan dilakukan pemeliharaan

(3)

Pasang patok jalur pada setiap sumbu jalur dan beri nomor urut 1 – dst.

(4)

Sketsa dan contoh tata letak jalur pengamatan Plot Ke-1 20 m

5m 10 m

Plot ke-2

tumbuhan

plot ke-3

10 m

2m

Jalur rintisan

Keterangan:    

2mx2m = 5mx5m = 10 m x 10 m 20 m x 20 m

8.2.2.2.

Plot pengamatan permudaan tingkat semai Plot pengamatan permudaan tingkat pancang = Plot pengamatan permudaan tingkat tiang = Plot pengamatan permudaan tingkat tiang

Pendataan Vegetasi

Kegiatan pengambilan data dilaksanakan dengan melakukan inventarisasi vegetasi di dalam areal contoh (petak pengamatan) dengan sistem pengamatan jalur berpetak, dimana dalam setiap jalur


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

akan terdiri dari unit-unit satuan pengamatan yang terkecil yang dinamakan dengan plot melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: (1)

Lakukan pencatatan dan pengamatan terhadap jenis-jenis vegetasi di dalam plot pengamatan dengan ketentuan: (a) (b) (c) (d)

Tingkat Pohon. Di dalam petak ukur 20 m x 20 m dihitung jumlah, diameter, tinggi, jenis semua pohon yang berdiameter 20 cm up. Tingkat Tiang. Di dalam petak ukur 10 m x 10 m dihitung jumlah dan jenis semua pohon berdiameter 10 cm – 20 cm. Tingkat Pancang. Di dalam petak ukur 5 m x 5m dihitung jumlah dan jenis permudaan berukuran tinggi lebih dari 1.5 meter sampai diameter 10 cm. Tingkat Semai. Di dalam sebuah petak ukur 2 m x 2 m dihitung jumlah dan jenis permudaan berukuran tinggi kurang dari 1.5 meter.

(2)

Pengukuran diameter pohon dilakukan pada ketinggian ± 130 cm di atas tanah atau 20 cm di atas banir (apabila tinggi banir pohon lebih dari 130 cm) dengan satuan cm.

(3)

Tinggi pohon yang diukur adalah pucuk tertinggi dari bagian pohon dengan menggunakan satuan meter. Pendataan jenis vegetasi menggunakan nama daerah setempat, dan untuk jenis-jenis yang belum diketahui nama daerah maka dibuatkan herbarium. PENDATAAN POTENSI SATWA LIAR DI LAPANGAN

8.2.3

Cara untuk mengetahui jenis dan jumlah satwa di dalam areal contoh (petak pengamatan) dilakukan dengan pengamatan satwa metode sensus jalur berpetak. Pengamatan satwa liar yang akan diinventarisasi dipilah berdasarkan ukuran dan sifat jenis-nya, yaitu jenis mamalia, burung, reptil dan ikan. 8.2.3.1.

Pembuatan Lokasi Pengamatan (Metode King)

(1)

Blok-blok pengamatan dipilih pada tempat-tempat yang dianggap ideal yang setiap waktu didatangi oleh sekelompok satwa obyek.

(2)

Areal yang menjadi obyek pengamatan diharapkan keadaannya cukup untuk mudah melihat satwa di dalamnya pada jarak jauh.

(3)

Blok-blok pengamatan dibagi atas garis-garis jelajah (transek) dan jarak transek satu dengan lainnya berkisar antara 0.4 – 0.8 km.

(4)

Dari garis-garis transek, kemudian ditentukan transek-transek contoh berdasarkan pemilihan secara acak atau sistematis.

(5)

Bagan teknik sensus satwa per unit contoh menurut metode King:

0,5 km

D1

Y1

Ө

D3

Y3

Ө

A

Garis jelajah

X1 0,5 km

Ө D2

Ө X3

X2 Y2

X4 D4

Y4


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

Keterangan: P = Populasi satwa tiap luas petak contoh A = Luas petak contoh (jalur jelajah X = Panjang rintis (garis jelajah yang telah dilalui) Y = Jarak rata-rata tempat terlihatnya satwa dengan garis jelajah D = Jarak rata-rata antara satwa dengan penyensus Z = Jumlah satwa yang terlihat 8.2.3.2.

Pendataan satwa Liar

Penyensus bergerak maju mengikuti garis jelajah (transek contoh) yang telah direncanakan dengan melakukan pencatatan satwa di dalam plot contoh berdasarkan metode pengamatan dan klas satwa sebagai berikut: SENSUS MAMALIA Pengamatan satwa liar dari klas mamalia dilakukan dengan cara pengamatan dalam petak contoh. Metode pengamatan di dalam unit contoh dilakukan dengan cara pengambilan data satwa liar di dalam unit contoh dengan menggunakan metode jalur. Tahap awal ditentukan lokasi unit contoh, arah dan titik permulaan jalur. Pengamatan dilakukan dengan mencatat spesies yang ditemukan, jumlah dan tipe vegetasi dengan strategi pengamatan sebagai berikut: (1)

Pola Gerakan Satwa Dalam mengamati pola gerakan satwa, pengetahuan dasar tentang sifat-sifat khas binatang akan sangat membantu membatasi daerah-daerah yang akan dilakukan kegiatan pengamatan satwa. Pergerakan satwa di hutan alam jika tidak terganggu habitatnya akan bergerak dengan pola yang teratur dan sering berputar-putar di sekeliling persediaan makanan. Umumnya satwa liar kelas mamalia akan makan di pagi hari dan malam hari, serta beristirahat, tiduran, dan berteduh di siang hari. Satwa liar mamalia cenderung untuk bergerak di tempat yang paling tinggi pada siang hari dan akan turun kembali di waktu malam hari.

(2)

Pengamatan Jejak Pengamatan jejak yang perlu diperhatikan adalah perbedaan bentuk jejak dan garis-garis jejak. Kedua perbedaan tersebut akan sangat membantu mengidentifikasi jenis, populasi dan umur mamalia.

(3)

Kotoran Mamalia (Exreta) Mengenal kotoran binatang adalah salah satu cara yang baik untuk mengidentifikasi spesies. Apabila menemukan kotoran binatang masih dalam keadaan mengukus (berasap), ini berarti bahwa species tersebut tidak begitu jauh lokasinya dari tempat yang baru saja ditinggalkan. Kotoran binatang pada umumnya sampai beberapa hari masih kelihatan lunak dan segar bila sering terkena air hujan.

(4)

Sisa Makanan Secara tidak langsung sisa makanan yang ditinggalkan dapat mengidentifikasikan ciri dan jenis satwa liar. Terpenting yang perlu diperhatikan sisa makanan adalah ukuran, jenis dan bekas gigitan.

(5)

Perjumpaan Perjumpaan merupakan pengamatan secara langsung yang dilakukan dengan sistem menunggu di lokasi tertentu (di bukit atau pohon), pengamatan dengan mengendap-ngendap (stalking)


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

dan banyak lagi cara lain sesuai dengan kondisi lokasi pengamatan. Yang perlu diperhatikan pada pengamatan sistem ini adalah kesabaran dan kehati-hatian serta pengetahuan secara akurat tentang insting/naluri binatang, untuk menghasilkan data dan hasil yang sempurna dan yang diinginkan. Ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pengamatan untuk mengantisipasi karakteristik dari jenis-jenis satwa liar yang pada umumnya mempunyai alat penglihatan, pendengaran dan penciuman yang tajam, serta memiliki kemampuan lari yang lebih cepat serta kemampuan untuk menyerupai dengan alam di sekitarnya. SENSUS BURUNG Pengamatan satwa liar dari klas burung dilakukan dengan metode pengamatan dalam petak contoh. Untuk keperluan itu, maka dibuat plot pengamatan burung yang teramati dicatat meliputi spesies dan jumlah teramati, dengan strategi sebagai berikut: (1)

Sensus atas Dasar Unit Waktu Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah waktu harian, waktu tahunan, intensitas matahari dan hujan. Keistimewaan dari metode ini adalah bila dilakukan secara benar, akan membatasi kesalahan terlewatinya burung dari perhitungan yang disebakan oleh kegagalan dalam pengamatan. Pekerjaan ekstra dilakukan dengan cara menyiapkan plot-plot contoh.

(2)

Sensus Kuadrat dan Sensus Strip Sensus dengan metode ini akan memberikan cara guna memperoleh data kelimpahan nilai nisbi burung untuk tahun-tahun berurutan pada plot-plot yang tetap, serta untuk memperbandingkan populasi-populasi contoh yang berlainan dari tipe yang sama. Kelemahan dari metode ini adalah kesalahan yang ditimbulkan oleh gagalnya kegiatan mengamati semua burung dalam kuadrat. Variasi dalam persentase burung-burung yang diamati dalam kuadrat akan mewakili tempat hidup dengan tingkat kepadatan yang bermacam-macam.

(3)

Sensus Sarang Cara ini penting dilakukan untuk mempelajari suatu spesies burung yang harus dipertimbangkan dalam studi kawasan serta faktor-faktor lain yang membatasi kepadatan suatu populasi. Kelemahan dari metode ini yaitu, sulitnya mencari sarang burung, waktu persarangan, kecendrungan pemakaian sarang yang dilakukan secara berkala serta kesulitan dalam menentukan sarang baru dan yang lama.

(4)

Sensus Suara Burung Metode ini merupakan cara yang tercepat dalam menentukan kelimpahan nisbi populasi burung yang sedang bernyanyi dan berbiak. Kelemahan dari metode ini adalah tidak semua burung yang sedang bernyanyi selama musim berbiak dan tidak setiap waktu burung kawin. SENSUS REPTIL

Sensus reptil dilakukan dengan pengamatan secara langsung di lapangan dengan membuat plot-plot contoh. Pengamatan populasi reptil dapat didekati dari berdasarkan tempat hidupnya, yaitu di pohon, di daratan, di sungai/air atau di rawa-rawa. Disamping itu data dan informasi dari masyarakat akan sangat membantu menghitung jenis dan populasi reptil. SENSUS IKAN


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

Ikan di sensus dengan menggunakan jaring, jala dan keranjang. Kelimpahan jenis ikan akan dapat diketahui dengan menggunakan sistem plot tambak, yaitu menghitung jenis dan jumlah ikan pada jarak tertentu di sungai dengan cara menambak kedua ujung-ujung sungai dengan jaring atau keranjang. Disamping itu juga data dan informasi dari masyarakat yang sebagian hidupnya mencari ikan akan sangat membantu menghitung jenis dan populasi ikan. 8.2.4

BEBERAPA RUMUS PENGOLAHAN DATA VEGETASI

8.2.4.1.

Indeks Nilai Penting

Sistem penghitungan dalam pencarian Indeks Nilai Penting (INP) dapat dijelaskan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: INDEKS NILAI PENTING (INP) INDEKS NILAI PENTING (INP)

= =

KR + FR + DR (300% untuk tingkat pohon dan tiang) KR + FR (200%, untuk tingkat permudaan pancang dan semai)

Jumlah Jenis Diketemukan Dalam suatu Plot Jumlah luas seluruh plot

KERAPATAN

=

KERAPATAN RELATIF (KR)

=

FREKUENSI

=

FREKUENSI RELATIF (FR)

=

Frekuensi Suatu Jenis Frekuensi Seluruh Jenis

x

100%

DONINANSI

=

Jumlah LBDS Suatu jenis Jumlah Luas Plot pengamatan

=

M2/Ha

DOMINANSI RELATIF (DR)

=

Dominansi Suatu jenis Dominansi seluruh Jenis

x

100%

8.2.4.2.

Kerapatan Suatu Jenis Kerapatan Seluruh Jenis

x

=

N/Ha

100%

Junlah Plot Diketemukannya Suatu Jenis Jumlah Seluruh Plot

Penyebaran Individu

Pola penyebaran individu dilakukan perhitungan dengan menggunakan Indeks Morisita (Poole, 1974) sebagai berikut:

I

N ∑ ni (n-1) I=1 --------------------- N n (n-1)

=

dimana: I ni n

= = =

Indeks Morisita Individu di dalam contoh kuadrat ke-I Jumlah semua individu dalam seluruh kuadrat yang diamati I

=

1

Penyebaran Acak

I

>

1

Penyebaran berkelompok

I

<

1

Penyebaran seragam


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA 8.2.4.3.

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

Indeks Keanekaragaman Jenis

Nilai indeks keanekaragaman jenis ditentukan dengan rumus Shannon-Wienner sebagai berikut: H

=

-∑ pi log 2 pi

dimana: pi ni N

= = =

ni / N Individu suatu jenis Individu seluruh Jenis

8.2.4.4.

Indeks Jenis Tumbuhan Bawah

Perhitungan indeks kesamaan (index similarity, IS) untuk tumbuhan bawah adalah sebagai berikut:

IS

2w -----------a+b

=

x

100%

dimana: a b w

= = =

Jumlah INP tumbuhan bawah sebelum kegiatan Jumlah INP tumbuhan bawah di bawah tegakan Jumlah terkecil individu yang sama

8.2.4.5.

Potensi Pohon

 VOLUME PER POHON Vi

¼ Л D2 x T x 0.7

=

Dimana: Vi = D = T = 0.7=

Volume pohon ke-I (m3) Diameter pohon (cm) Tinggi pohon bebas cabang (m) Faktor koreksi angka bentuk

 VOLUME PER PLOT Vn

=

Vi x Nn

Dimana: Vn = Nn =

Volume per plot pada plot ke-I (m3) Jumlah pohon pada plot ke-n

 VOLUME PER HA V

rataan

=

∑ Vn -------N

Dimana: V rataan = Volume rata-rata per plot


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA N Vn

= =

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

Jumlah plot Volume pohon per hektar

8.2.5

BEBERAPA RUMUS PENGOLAHAN DATA SATWA LIAR

8.2.5.1.

Indeks Nilai Penting

Sistem penghitungan dalam pencarian Indeks Nilai Penting (INP) dapat dijelaskan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: INP

=

KERAPATAN

=

Jumlah Suatu Jenis Jumlah Semua Jenis

KERAPATAN RELATIF (KR)

=

Kerapatan Suatu Jenis Kerapatan Seluruh Jenis

FREKUENSI

=

FREKUENSI RELATIF (FR)

=

8.2.5.2.

Kerapatan Relatif + Frekuensi Relatif

x

100%

Jumlah Plot Diketemukannya Suatu Jenis Jumlah Seluruh Plot Frekuensi Suatu Jenis Frekuensi Seluruh Jenis

x

100%

Indeks Keanekaragaman Jenis

Nilai indeks keanekaragaman jenis satwaliar ditentukan dengan rumus Shannon-Wienner sebagai berikut: H

- â&#x2C6;&#x2018; pi ln pi

=

Dimana ni N 8.2.5.3.

i = =

= ni / N jumlah INP jenis ke-i jumlah INP seluruh jenis

Populasi Satwa Liar

Sistem penghitungan satwaliar dilakukan dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut (Metode King):

P

=

A Z ------X.2.Y

atau P

=

Keterangan

A Z --------X.2.D P A X Y D

= = = = =

Populasi satwa tiap luas petak contoh Luas petak contoh Panjang rintis (garis jelajah yang telah dilalui) Jarak rata-rata tempat terlihatnya satwa dengan garis jelajah Jarak rata-rata antara satwa dengan penyensus


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMANTAUAN FLORA DAN FAUNA Z

=

No. Dok.

: SOP-0506

Revisi

: 04

Terbit

: 19/11/2011

Jumlah satwa yang terlihat

8.2.6

PROSES PENGOLAHAN DATA

8.2.6.1.

Analisis Vegetasi

Analisis data vegetasi yang digunakan selain data potensi rata-rata tingkat pohon dan tingkat tiang, menganalisis juga tentang Indeks Nilai Penting (INP) dari tingkat permudaan semai, pancang, tiang hingga pada tingkat pohon. Untuk tingkat permudaan perhitungan nilai Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 200% yaitu berdasarkan perhitungan Kerapatan Relatif (KR) dan Frekuensi Relatif (FR). Adapun tingkat pohon dan tingkat tiang perhitungan Indeks Nilai Penting sebesar 300%, berdasarkan penjumlahan dari Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan dominansi Relatif. 8.2.6.2.

Potensi Satwa Liar

Parameter-perameter populasi satwa yang dilakukan pengolahan data antara lain meliputi:

(1)

Kepadatan populasi (density), yang merupakan jumlah individu suatu jenis satwa dalam suatu areal dan waktu tertentu.

(2)

Pola penyebaran (distribution), yang merupakan keadaan penyebaran satwa dari suatu areal dalam waktu tertentu.

(3)

Frekuensi, yaitu berapa kali suatu jenis satwa dapat dijumpai dalam tiap unit contoh selama waktu pengamatan.

(4)

Perbandingan jantan dan betina suatu jenis satwa (sex ratio) dalam suatu kelompok individu dalam waktu tertentu untuk dapat berkembang biak secara ideal.

9

PENCATATAN DAN PELAPORAN

Hal-hal yang perlu dicatat antara lain : (1)

Nomor dan Luas Petak

(2)

Waktu pelaksanaan pemantauan

(3)

Pemantauan flora meliputi;

(4)

 Nomor dan jenis pohon dan atau permudaan  Ukuran pohon (diameter dan tinggi)  Jumlah permudaan (tiang, pancang dan semai) Pemantauan satwa liar meliputi:

(5)

 Jumlah dan Jenis satwa liar  Jenis aktivitas satwa  Lokasi perjumpaan satwa liar Keterangan

Adapun laporan kegiatan pemantauan flora dan fauna diserahkan kepada instansi kehutanan bersama laporan bulanan TPTI.


Sop pemantauan flora & fauna