Page 1


INTIMACY

Penerbit Š ARA Studio 2016

Penulis

Astri Isnaini Dewi Defry Ardianta Goya Tamara Kolondam Realrich Sjarief Rifandi Septiawan Nugroho

Perancang Grafis Dimar Resi Utama

ARA Studio

Jl. Trunojoyo 91 Surabaya www.ara-studio.com

Editor

Ayos Purwoaji Wahyu Gunawan

Tim Kuratorial

Harzha Syafarian Mahdi Irfani Francis Siallagan Astri Isnaini Dewi Mungki Jati Bayu Rizky Ramadhan

thingswedoinara.wordpress.com info@ara-studio.com


Kuratorial

Lali Rupane, iling Rasane Ayos Purwoaji Perjalanan melintasi wilayah Pantura selalu menarik. Terutama ketika perjalanan sudah mulai membosankan dan saya mencari hiburan lain dengan memperhatikan berbagai mural bak truk yang seringkali ajaib. Suatu hari, saya terpaku pada sebuah mural bak truk yang kata-katanya seperti mantra sihir; “ lali rupane, iling rasane �. Abai rupa, namun ingat rasa. Saya merasa adagium ini memiliki lapisan makna yang menarik. Tentang bagaimana rupa dan rasa dipersepsikan lalu disimpan dalam ingatan.

Menakar adagium tersebut, seolah-olah rupa adalah sesuatu yang remeh dan tidak substansial. Sehingga mudah dilupakan. Sedangkan rasa , merupakan entitas yang lebih bersifat subtil dan bekerja pada skala individu. Rasa merupakan buah pengalaman dari sebuah aktifitas fisik yang komplek dan intens, dengan begitu dapat melekat lebih dalam dan karenanya susah dilupakan. Dua entitas ini melekat dalam sebuah proses berarsitektur. Namun, pertama-tama, seorang arsitek lahir dalam disiplin untuk mengolah rupa, tampak, bentuk dan pukal. Bagaimana sebuah karya arsitektur dikonsumsi, pertama-tama adalah melalui rupanya. Karena rupa adalah sifat fisik yang paling mudah dicitra dan dicandra. Maka banyak arsitek yang bekerja kemudian untuk mengejar tampak. Rupa menjadi obsesi dan -seringkali- menjadi ukuran kerja kreatif seorang arsitek. Bentuk-bentuk dikejar, geometri diadaptasi. Ekstatik. Tak lagi penting, apakah pada akhirnya eksplorasi rupa itu hanya akan menjadi sebuah ketidaknyamanan yang mahal (expensive discomfort) dan kemudian segera dilupakan karena manusia selalu bergerak untuk mencari bentuk-bentuk yang lebih baru.


Dalam pameran ini bukanlah rupa rancang-bangun arsitektural yang akan ditampilkan sebagai sajian utama. Namun, pameran ini justru ingin menghadirkan narasi tentang proses -yang sama abstraknya seperti rasa. Sayangnya, proses hanya dapat dialami, namun sulit untuk dilihat wujudnya. Hingga kemudian sebuah proses hanya meninggalkan sebaran jejak dan artefak pada perjalanannya. Seperti karat pada besi kolom atau lumut yang menempel di sudut tembok. Jika sebuah proses adalah entitas yang menyatu dalam laku arsitektur, maka karat dan lumut tersebut seharusnya menjadi penanda penting mengenai jejak proses yang sedang atau telah berlangsung. Sama seperti pemikiran, dialog, semangat, tegangan, dan kritik yang ARA Studio lalui dalam mengembangkan budaya studionya selama empat tahun terakhir.

Pameran ini tidak ditujukan sebagai monograf dari sebuah studio perancangan, melainkan sebagai sebuah modus kritik atas pandangan bahwa proses berarsitektur acapkali hanya disorot secara parsial. Terutama hanya pada bagian akhirnya saja. Padahal, sebelum sebuah karya arsitektur lahir, ada serangkaian proses panjang yang mendahului. Untuk itu, kepekaan memahami proses berarsitektur hanya dapat bangun melalui sebuah kacamata yang intim, bukan melalui teropong jarak jauh yang hanya bisa meraba permukaan tanpa menimbulkan impresi mendalam. Sebagai usaha untuk menghadirkan kedekatan dan keintiman tersebut, pameran ini dirancang dengan pendekatan relasional dan interaktif. Penonton diajak masuk untuk merespon obyek serta wajah ruang pamer, sehingga batas antara penonton dan yang ditonton melebur. Dari situ, sebuah narasi dimanifetasikan, bahwa proses adalah serangkaian aksi dan reaksi yang berlangsung simultan.


Daftar Isi OPEN

L A B Bagiku Proses Desainku, Bagimu Proses Desainmu

08

14

Defry Ardianta

30

Otodidak Goya Tamara Kolondam


More is More

40

Astri Isnaini

58

Heart and Agenda in Intimacy

On Conversation

Rifandi Septiawan Nugroho

50

Realrich Sjarief

86

Colophon


Praktik seorang arsitek tidak pernah lepas dari konteks yang berada di sekelilingnya. Mulai dari pendidikan, kultur, media, kritik, lingkungan, hingga kemajuan teknologi. OpenLAB adalah serangkaian program yang dijalankan oleh staff ARA Studio. Program ini dijalankan dalam bingkai relasional untuk melihat sejauh mana posisi arsitek dalam medan sosial yang melingkupinya.


OPEN

L A B


openLAB Programs

announcement media


05.

04.

02.

09.


OPEN

L A B 07.


Bagiku Proses Desainku, Bagimu Proses Desainmu

*Defry Ardianta

Satu-satunya orang yang memahami sebuah proses desain adalah si desainer itu sendiri. Apakah hal tersebut lantas membuat sebuah proses desain tidak dapat disampaikan ke orang lain untuk diketahui, dan lebih jauh lagi untuk dipahami?

Proses kreatif tidak dapat dipisahkan dengan aktivitas desain, karena kreativitaslah yang menjadi bahan bakar

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, sebaiknya kita telusuri dahulu bagaimana sebenarnya sebuah proses desain, atau lebih jelasnya proses kreatif seseorang dalam melakukan kegiatan merancang.

proses tersebut. Berbicara tentang kreativitas pun cukup rumit dan tidak mudah untuk dijelaskan secara gamblang.


Kreativitas dapat diartikan sebagai aspek alamiah yang dimiliki manusia dalam usahanya menyelesaikan tantangantantangan kehidupan (Ward et al, 1995) yang menunjukkan bahwa sebenarnya dan seharusnya manusia selalu bisa bertindak kreatif sesuai dengan kondisi yang dihadapinya. Pengertian ini mengindikasikan bahwa kreativitas adalah sesuatu yang dimiliki setiap orang sejak lahir. Pengertian lain menjelaskan bahwa kreativitas berkaitan dengan suatu kemampuan yang akan dimiliki manusia seiring dengan latihan, pembelajaran dan faktor lingkungan serta bukan hanya bermodalkan sifat lahiriah (Kraft, 2005). Dari dua contoh pengertian kreativitas di atas, menandakan sebuah kerja otak dan pikiran manusia yang diawali dengan kemampuan dasar yang dimilikinya dan dapat berkembang seiring peningkatan wawasan dan pengetahuan yang dilakukannya. Nick Skillicorn, seorang CEO dan pendiri Improvides dari Durham University menyampaikan bahwa kreativitas memang berasal dari pengetahuan yang ada dalam otak manusia. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki maka akan semakin banyak pula ide/ gagasan yang dapat dimunculkan olehnya. Namun ada beberapa perbedaan mengenai ‘ide’ tersebut, karena otak manusia dapat dikatakan sebagai organ tubuh yang ‘paling malas’ dan selalu memilih jalan yang mudah dan pintas daripada jalan yang lebih berliku dalam mengeluarkan ide ataupun solusi.

Disebutkan oleh Skillicorn bahwa sesuatu yang dikeluarkan oleh otak manusia itu dapat berupa memory, ordinary ideas, dan special ideas . Yang dimaksudkan dengan memory itu adalah seseorang hanya menyampaikan sesuatu yang didasari oleh pengetahuan yang direkam oleh otaknya, sedangkan ordinary ideas adalah ketika sesorang menyampaikan sesuatu yang didasari oleh pengetahuan yang dimilikinya namun terdapat penambahan value olehnya atau juga modifikasi atas existing knowledge . Special ideas -lah sebenarnya yang akan berkaitan dengan sebuah kreativitas, karena yang dimunculkan adalah sesuatu yang berlandaskan existing knowledge namun telah mengalami beberapa proses di dalam otak sehingga muncul sebagai sesuatu yang belum dijumpai sebelumnya. Proses ini seringkali dijabarkan dalam tahapan Absorbing knowledge – Incubation – llumination – Verification . Tahapan tersebut secara sederhana dapat dijelaskan sebagai kondisi di mana seseorang mulai menyerap informasi dan pengetahuan, kemudian dia akan memasuki masa inkubasi dan otaknya akan mengalami semacam masa “perenungan” sampai dengan mendapatkan sebuah pencerahan, yang kemudian selalu mengalami pengecekan ulang untuk memastikan gagasan yang muncul tersebut akan sesuai dengan kondisi yang akan direspon.


Usia sekitar 4-5 tahun adalah ketika saya pertama kali melakukan sebuah proses kreatif, layaknya kebanyakan anak kecil lain, yaitu menggambar. Saya masih ingat komentar-komentar orang di sekitar saya waktu itu yang mengatakan bahwa saya pandai menggambar, sementara saya sendiri tidak paham bagaimana parameter pandai dan tidak pandai tersebut. Yang saya tahu adalah ada orang-orang di sekitar saya yang menyebut dirinya tidak pandai menggambar. Label tersebut perlahan bertemu dengan beberapa kondisi yang dapat menjadi alasan, yaitu ketika mereka menggambar sebuah obyek ternyata hasil gambarnya tidak seperti apa yang ada di benak saya tentang obyek tersebut. Seiring waktu, beberapa teman pernah meminta dibuatkan gambar dan juga diajari cara menggambar. Sampai dengan saat ini saya merasa tidak mudah mengajarkan cara menggambar ataupun menjelaskan proses menggambar ke orang lain. Saya merasa sangatlah rumit menjelaskan hal yang rasanya sederhana tersebut: melihat sesuatu/ membayangkan sesuatu kemudian menerjemahkannya pada secarik kertas. Yang bisa saya lakukan adalah mengajak orang lain untuk mencermati sendiri proses ketika saya menggambar, secara real-time dan bukan setelah saya membuat sebuah gambar, dan kemudian saya ulangi cara menggambarnya untuk dijelaskan.

Entah kenapa saya tidak bisa melakukannya, ataupun jika ada yang bisa melakukannya menurut saya dia tidak membuat gambar yang tadi dibuatnya melainkan gambar lain dengan obyek serupa. Pengalaman semacam itulah yang menurut saya serupa dengan kondisi di mana seseorang melakukan sebuah proses desain. Proses desain, tentu arsitektur termasuk di dalamnya, akan selalu terdiri dari sekian rangkaian berpikir dan tindakan menggubah yang tidak sederhana dan sulit untuk dipenggal-penggal menjadi bagian-bagian terpisah. Para ahli merumuskan proses desain Arsitektur dalam beragam model. Secara umum semua membaginya dalam tiga tahapan utama yaitu Input – Process – Output , di mana setiap ahli memiliki perhatian khusus terhadap masing-masing tahapan dan juga membaginya dalam tahap yang lebih rinci lagi. Nigel Cross (2000) membaginya dalam empat tahapan yaitu Exploration – Generation – Evaluation – Communication . Tahapan-tahapan tersebut didasarkan pada aktivitas utama yang dilakukan dalam kegiatan perancangan. Tahapan ini memiliki kemiripan dengan tahapan proses kreatif dalam diri manusia.


Keduanya memiliki tahapan pemunculan ide/gagasan/solusi dan selalu mengalami verifikasi atau evaluasi. Bruce Archer, seorang desainer industri menyatakan bahwa proses desain adalah sikuensial dari aktivitas yang berbasis pada orientasi dan tipe tugas yang dihadapinya. Di mana dalam setiap tahap terdapat alur balik pada tahap sebelumnya, untuk memberikan umpan balik sekaligus proses evaluasi. Archer membagi seluruh tahap tersebut menjadi tiga fase yaitu fase analitis, fase kreatif, dan fase eksekusi. Fase kreatif menempati tahapan di tengah, dimana dari analisa yang dilakukan terhadap data akan beranjak untuk disintesakan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam fase kreatif tersebut seorang desainer akan dihadapkan pada kondisi dimana dia harus memutuskan sesuatu, dan harus dapat merajut berbagai pertimbangan dengan gagasan yang akan dia munculkan. Kembali pada pertanyaan di awal, menjadi lebih jelas bahwa dalam proses desain terdapat beberapa hal yang tidak hanya terkait dengan kreativitas tindakan (menarik garis, memotong, menyambung, menekuk, melipat, dan sebagainya) namun ada hal-hal yang terkait dengan kemampuan memahami permasalahan, pengambilan keputusan, mengurai kemungkinankemungkinan, dan lain sebagainya, di mana hal tersebut memiliki keterikatan yang erat dengan momentum, waktu dan kondisi ketika seorang desainer tersebut menghadapinya. Hal itu pula yang akan membuat setiap proses menjadi unik. Satu desainer akan berbeda dengan desainer yang lain. Bagiku proses desainku, bagimu proses desainmu.

Tentu saja usaha untuk membuat sebuah proses desain dapat disampaikan ke orang lain untuk diketahui dan dipahami demi sebuah tujuan yang baik selalu dapat diupayakan. Sekolah-sekolah desain dan arsitektur pun saat ini banyak menitikberatkan evaluasi/ penilaian karya pada proses yang dilakukan. Namun perlu dipahami bahwa untuk dapat menilai dan memahami sebuah proses, caranya adalah mengikuti proses tersebut dari awal sampai akhir. Dan bukan hanya melihat hasil dari setiap tahap atau langkah yang dilalui sampai dengan hasil akhir, karena memahami proses itu layaknya harus meniti di sepanjang jalur dan bukan hanya mencermati setiap pos pemberhentian.

*designer’s designer, dapat ditinjau di @agathadefry

Referensi Dubberly, Hugh (2004). How Do You Design? A Compendium of Models. Dubberly Design Office. San Fransisco, California. Kraft, Ulrich (2005). Unleashing Creativity . In Scientific American Mind Volume 16 Number 1. Rowe, Peter G. (1995). Design Thinking. MIT Press. Cambridge, Massachusetts. Skillicorn, Nick (2014) The Science of Improving Your Brain’s Creativity . TEDx Talks at Durham University. Ward, Thomas B. Finke, Ronald A. Smith, Steven M. (1995). Creativity and The Mind: Discovering the Genius Within . Plenum Publishing Corporation. New York.


Lokakarya Pembuatan Maket untuk Anak SD 25 Mei 2016


ARA Play maket dibuat dari modul-modul yang geometrinya diolah dari bentuk enam bangunan yang pernah dirancang oleh ARA.


ARA Play

Infographics Guide


Subconcious Artifact Koleksi staff ARA Studio yang -bisa jadi- turut membentuk selera dan cara berpikir mereka dalam berarsitektur.


Photo Stories Beberapa project ARA Studio yang di abadikan secara estetis dalam sebuah ranah fotografi arsitektur


Otodidak Goya Tamara Kolondam

Beberapa waktu yang lalu perhatian saya tersita pada sebuah artikel di dunia maya yang membahas tentang sebuah rumah peristirahatan yang berada di Roquebrune-CapMartin, Prancis Selatan. Artikel yang ditulis sekitar setahun yang lalu itu menceritakan tentang proses restorasi dan rehabilitasi rumah peristirahatan yang dinamakan “E1027 House�; sebuah rumah yang

secara arsitektural diimplikasikan sebagai salah satu ikon dari pergerakan arsitektur modern. Namun diceritakan juga adanya kondisi terabaikan dialami oleh objek arsitektur ini, baik dari kondisi fisik maupun juga dari pembahasannya di wacana arsitektural secara umum, seakan-akan menghilang beserta dengan arsiteknya.


Mulanya ketertarikan saya pada artikel tersebut muncul karena dari tajuk artikel memuat nama arsitek yang tidak akrab di ingatan setidaknya bagi saya. Eileen Gray, nama arsitek tersebut, adalah seorang wanita kelahiran Irlandia yang mengawali karirnya sebagai seorang desainer produk. Selama hidupnya, ia menghasilkan beberapa produk perabot interior yang membuat namanya cukup dikenal, salah satunya adalah Bibendum Chair yang terinspirasi dari Michelin Man , sebuah simbol dari pabrik pembuat ban terkemuka. Pada tahun 1929, satu dasawarsa semenjak karya interior dan arsitekturnya diakui banyak orang, Gray menyelesaikan “E-1027 House� –nama rumah ini dibentuk dari inisialnya dan pasangannya Jean Badovic. Rumah yang dinarasikan sebagai salah satu objek arsitektural yang berhasil merelasikan ruang dengan penghuni dan lingkungannya ini, juga mengundang kekaguman dari Le Corbusier yang sempat menjadi salah satu tamu dari rumah tersebut di sela-sela menyelesaikan Villa Savoye. Kekaguman dan apresiasi yang ironisnya menjadi awal dari perseteruan

panjang antara Gray dengan arsitek yang disebut-sebut sebagai pionir dalam pergerakan arsitektur modern tersebut. Di kala membaca perselisihan tak usai, terselip fakta yang cukup menarik dari keduanya. Saya mulai menyadari bahwa keduanya arsitek tersebut sama-sama berangkat bukan dari pendidikan arsitektur secara formal. Mempunyai ayah seorang pelukis menginspirasi Gray untuk mengambil seni lukis sebagai studinya. Bisa dikatakan pengetahuan tentang arsitektur didapatnya secara otodidak, dan barangkali ini merupakan hal yang lumrah di masa itu. Mies Van Der Rohe, Le Corbusier, Frank Lloyd Wright dan Tadao Ando adalah beberapa contoh arsitek otodidak yang mungkin cukup akrab di kalangan pelajar dan praktisi arsitektur. Namun Eileen Gray dengan E-1027 House-nya, dengan perselisihannya yang timbul setelahnya, dan pembacaan ulang posisinya dalam sejarah arsitektur modern belakangan ini, menjadi titik berangkat yang menarik untuk membahas perihal otodidaktisme .


Sepanjang karirnya, tersirat bahwa Gray selalu dapat memanfaatkan praktik kerja menjadi suatu bentuk pembelajaran bagi dirinya. Melalui kronologi kekaryaannya, terdapat eskalasi lingkup kerja yang progresif. Bermula dari mendesain perabot, Gray terus meluaskan praktik kreatifnya hingga perancangan arsitektur, kendati hingga saat ini ia lebih dikenal sebagai desainer produk. Secara temporal, kita dapat melihat dengan jelas sebuah evolusi dari bentuk dan narasi karya-karya Gray. Bibendum Chair secara desain menjadi salah satu bagian dari pergerakan modernis, karena kualitas estetika dan bentuknya yang sangat

berbeda dibandingkan perabotperabot rancangan Gray sebelumnya yang bernuansa dekoratif dengan sentuhan lacquer. Begitu juga dengan E-1027 House yang seolah-olah dirancang agar bangunan ini dialami, dirasakan, dan pengunjung dipersilakan untuk bergerak merasakn ruang diantara tatanan perabot rancangannya dan kaca-kaca yang lebar membuat orang tetap terhubung dengan lingkungan yang melingkupinya. Tampaknya Gray belajar bagaimana orang berinteraksi secara intim dengan perabot yang dirancang dan menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam tatanan interior E-1027 House .

Apakah ini merupakan hasil dari pembelajaran dalam dirinya? Bisa jadi. Kenyataan bahwa Gray selalu berusaha mengambil kesempatan untuk memperdalam pengetahuan seiring pengalaman dan praktik artistiknya, dugaan sederhana hanya karena merasa dia perlu berkembang, membuat Eileen Gray menjadi seorang otodidak yang terus menerus berkembang.


Praktik-praktik artistik (di dalamnya termasuk desain dan arsitektur), yang selalu berhubungan dengan pengalaman estetika subjektif sebenarnya sangat dekat dengan otodidaktisme . Hal ini bukan hanya dalam arti bahwa seorang arsitek memang perlu mengikuti perkembangan jaman, dengan adanya pembaharuan aturan, metode atau perkembangan teknologi, tapi juga dalam pemahaman seseorang akan estetika. Namun praktik arsitektural seringnya cenderung menitikberatkan pada estetika sublim, pada pemaknaan daripada intuisi-indrawi yang terjadi di dunia nyata. Ironisnya, hal ini mengarahkan estetika dari arsitek untuk mengacu pada generalisasi yang bersifat universal, dan menjauhkan arsitek dari hal-hal yang bersifat personal, hal-hal yang tak terpikirkan, maupun hal-hal yang paradoksal.

Dalam berkarya maupun menikmati karya seni, menurut Gilles Deleuze, seseorang musti berada dalam sebuah kondisi relasional yang berulang dimana dia sekaligus melakukan namun juga membuat acuan pada pengalaman indrawi yang didapatnya kala proses berlangsung, dengan tindakan tersebut dia sekaligus meruntuhkan dogma-dogma pengetahuan juga memunculkan potensi-potensi dalam berkarya. Kondisi ini menitikberatkan pada intuisi-indrawi dan sensibilitas. Di artikel sebelumnya tentang E-1027 House , Eileen Gray membuat stensil di atas pintu rumah bertuliskan “ entrez lentement � yang artinya “masuklah perlahan�, sebuah ajakan untuk pengunjung meninggalkan masalah di belakang dan mengundang pengunjung untuk merasakan karya arsitekturnya.


Pada akhirnya, tindakan berkarya dan merasakan tidak bisa dipisahkan. Keduanya menjadi titik berangkat ataupun batas akhir bagi otokritik yang diperlukan dalam membentuk sebuah kontinuum pembelajaran bagi diri sendiri. Hal tersebut serupa dengan paham Constructivism dalam dunia pendidikan, dengan Jean Piaget sebagai pelopornya, yang memandang bahwa seseorang mampu menghimpun pengetahuan dan pemahaman melalui tindakan dan rasa, serta refleksi atas keduanya. Ketika seseorang secara berulang dan terus menerus merefleksikan keduanya, pengetahuan dan pemahaman mereka

akan bertambah baik dari segi kompleksitas maupun intensitasnya. Praktik berkarya selalu mempunyai kesempatan yang besar untuk merefleksikan rasa dan tindakan dalam prosesnya, dan membawa refleksi tersebut untuk memperbaharui pengetahuan dan pemahaman bagi setiap individu yang melakukannya.


Interactive Tablet

Dalam berbagai pameran arsitektur, sebagian besar informasi hadir secara frontal. Kali ini dilakukan

pendekatan yang berbeda di mana pengunjung diberikan kesempatan untuk memilih sendiri informasi yang akan diakses.


Media dan Kritik Arsitektur 27 Mei 2016

Diskusi ini mengetengahkan minimnya ruang kritik dalam sebagian besar publikasi arsitektur di Indonesia, dan sebagian besar media arsitektur justru menempatkan diri sebagai agen glorifikasi praktik dan karya arsitektur belaka. Apakah kritik memang tidak diperlukan dalam media arsitektur kita?

Atau tidak banyaknya penulis kritik arsitektur di Indonesia sehingga menyulitkan redaktur untuk menghadirkan sebuah rubrik yang konsisten? Keragaman perspektif untuk melihat permasalahan tersebut hadir dari tiga pembicara dengan tiga latar belakang karakter media yang berbeda.


More is More

Astri Isnaini

Dengan mengabaikan apa dan siapa arsitektur, serta mengamini konsep relativitas kepadanya, bagaimana kita berkenalan dengan arsitektur? Sebagian dari kita barangkali jatuh cinta dengan arsitektur pada pandangan pertama, ketika merasa kecil pada sebuah katedral atau terpesona pada sebuah desa yang penuh dengan rumah kayu tua. Sebagian lagi perlu dijodohkan dengan arsitektur. Seperti salah pilih jurusan, atau terpaksa meneruskan bisnis orang tua.


Dulu, manusia berkenalan dengan arsitektur secara naluriah. Ketika manusia pada masa Neolitikum membutuhkan perteduhan, mereka mulai membuat struktur bebatuan secara sederhana. Ketika Noah mendapatkan firman Tuhan, ia kemudian mengembangkan kemampuan bertukang dengan memanfaatkan peralatan sederhana untuk mengolah kayu dan membangun bahtera demi melindungi umatnya dari banjir besar. Berabad-abad setelah bencana dahsyat itu, di Mesir, Imhotep merancang sebuah struktur bebatuan untuk makam Raja Djoser, yang di kemudian hari dikenal sebagai gundukan ‘arsitektural’ pertama di dunia. Praktik tersebut berlangsung untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga spiritual. Melalui serangkaian percobaan dan pengetahuan yang diturunkan di masyarakat, manusia secara berangsurangsur melakukan perbaikan dan penyesuaian pada rancanganrancangan arsitekturnya. Pada masyarakat dengan tingkat peradaban yang sederhana, praktik berarsitektur atau ilmu apapun diajarkan melalui bentuk-bentuk informal. Anak-anak dapat mengamati bagaimana orang tua membangun rumah, dan ketika beranjak remaja, mereka mulai terlibat dalam kegiatan rancangbangun tersebut.

Namun pada perkembangannya, satu-satunya jalan mendekati arsitektur kini hanyalah melalui ruang-ruang belajar formal. Sebelum seorang arsitek berpraktik, ia perlu bersusah payah meraih gelar sarjana dan mendapat sertifikasi keprofesian. Semenjak Vitruvius menyarikan gaya dan aturan pada bukunya “ De Architectura � pada tahun 25 SM, perkembangan arsitektur kemudian berangsur-angsur mengikuti pola tersebut. Selama berabad-abad, dalil Vitruvius lalu menjadi semacam kesepakatan bersama, seperti hukum proporsi dan simetri yang kemudian menimbulkan Classicism , atau prinsip universalitas yang akhirnya memicu Modernism. Dalam diskursus mengenai pedagogi, pendidikan tinggi adalah salah satu bentuk pembelajaran formal. Bagi sebagian kritikus pendidikan, pola belajar formal memiliki karakteristik sebagai berikut; berorientasi hirarkis, durasi yang panjang, kurikulum yang bertahap, memerlukan kesadaran penuh untuk belajar dan menghasilkan pengetahuan yang teoritis.


Tanpa sadar pola formal perkuliahan menjadi ruang perantara dari arsitektur yang sesungguhnya. Disajikan dalam bentuk kuliah, presentasi tugas, asistensi desain dan maket model. Pendidikan tinggi pada akhirnya menjadi perkawinan antara berbagai macam interpretasi peraturan dan representasi gaya. Sistem belajar formal sebenarnya tidak pernah bisa lepas dari kerangka transaksional. Karena sistem tersebut muncul pada abad ke-17 dalam konteks tumbuhnya kebudayaan ekonomi industrialis. Definisi intelektual pada kala itu pun berada dalam lingkup pemikiran deduktif dan classical knowledge .

Sehingga banyak potensi terbuang karena tidak cocok dengan alur paradigma tersebut. Pembagian tangga sosial pun menjadi sebuah piramida industrial dimana para akademisi berada di puncak piramida sementara non-akademisi menjadi penyangganya. Hal ini masih terulang hingga kini karena keberadaan standar tersebut. Mereka yang kehilangan konsentrasi belajar di kelas menjadi tersisihkan, dan ADHD– Attention Deficit Hyperactivity Disorder , seolah menjadi penyakit menular yang prosentase peningkatannya sebanding dengan naiknya standar ujian kenaikan kelas maupun ujian masuk sekolah.


Bekerja sebagai seorang arsitek, bagi sarjana arsitektur, merupakan destinasi akhir dalam menjalin hubungan dengan arsitektur. Momen perkenalan dan proses pendekatan kita menjadi tolok ukur penting dalam masa depan hubungannya. Memang mengenyam pendidikan arsitektur sebelum menjadi arsitek adalah salah satu kewajiban yang harus dijalani calon arsitek. Namun ketika memutuskan untuk bekerja sebagai arsitek, melihat bagaimana perusahaan besar maupun kecil memiliki syarat-syarat tambahan selain ijazah bagi para pelamarnya, tentu saja sudah sewajarnya calon arsitek muda mulai waspada dan menambah asupan pengetahuan arsitektur lain di luar bangku kuliah. Asupan-asupan ini seringkali diabaikan para pelajar maupun profesional. Mayoritas akan memfokuskan diri pada ruangruang kuliah. Sementara untuk terus meningkatkan pengetahuan teori dan praktek dalam arsitektur diperlukan ruang lain yang lebih banal. Ruang-ruang informal. Belajar informal adalah model belajar lain yang berlawanan dengan formal. Model belajar ini memiliki

karakteristik berorientasi bebas, cakupan yang holistik, belajar dengan kesadaran parsial, dan menghasilkan pengetahuan yang diperolah dari pengalaman. Beberapa nilai lebih dari belajar informal ini adalah munculnya inisiatif, otonomi, dan yang terpenting adalah daya lentur. Contoh-contoh sederhana belajar informal adalah diskusi dengan teman kuliah, teman kantor dan juga atasan. Bahkan menonton video how-to di Youtube, dan googling berbagai informasi merupakan bagian dari belajar informal. Hasil sebuah riset yang dilakukan degreed.com pada pekerja usia 18-24 (Diakses tanggal 16 Juli 2016, 00:23 WIB), menunjukkan 32% sampel mendapatkan 80-100% ilmunya dari belajar secara informal, sementara 6% lainnya lebih cenderung pada belajar formal. 38.9% sampel tidak melanjutkan belajar formal setelah lulus kuliah, sementara 50.9% pekerja belajar secara informal setiap hari. Belajar secara informal terbukti telah menjadi kunci meningkatkan performa hubungan para profesional dengan pekerjaannya.


Beberapa contoh ruang informal yang dapat menjadi alternatif adalah diskusi-diskusi kecil dikemas dalam talks maupun status media sosial starchitect, yang kerap berubah menjadi diskursus arsitektur yang menarik untuk diikuti. Dua ruang contoh ini menjadi sebuah laboratorium kecil dalam memperbincangkan isu-isu yang sedang disorot publik, sehingga sudut pandang sang pembicara—baik online maupun offline , dan para komentator menjadi nilai tambah yang dapat kita peroleh diluar ruang formal. Bentuk lain belajar informal adalah magang dan mendatangi pameran. Apabila ruang kuliah menjadi sebuah kotak representasi dari arsitektur itu sendiri, dan adanya standarisasi terhadap interpretasi, maka magang dapat menjadi alternatif calon arsitek untuk melatih pola pikir yang jauh dari nilai A, B, C, namun lebih divergen. Dimana setiap konflik dan pertanyaan dapat memiliki banyak makna sekaligus banyak jawaban. Pameran arsitektur pun demikian. Kuratorial memang dapat menjadi peta seorang pengunjung dalam membaca konteks sebuah pameran. Namun sesungguhnya, pameran arsitektur sebagaimana ruang kuliah menghadirkan representasi, ia lebih memberikan kebebasan dalam berbagai interpretasi. Keliaran pembacaan pengunjung justru menjadi sebuah tolok ukur

keberhasilan sang kurator ketika merancang sebuah pameran menjadi sedemikian rupa. Dialog yang terjadi dalam ruang informal tidak berada dalam sebuah hirarki guru-murid, namun lebih cair. Berbagai latar belakang pemateri, ditabrakkan dengan berbagai latar belakang pemirsa akan menjadi sebuah perkawinan opini yang berkembang-biak dalam volume yang gigantis. Terlebih fasilitas ‘ after party ’ yang menyediakan pengalaman satu lawan satu bagi siapapun yang memberanikan diri menantang sang pembicara menjadi lawan diskusi, secara tidak sadar memberikan pengetahuan yang lebih personal dan nyata. Dimensi komunikasi yang terjadi dalam ruang informal tidak sekedar domain fisik atau konstruksi sosial, maupun hanya produksi konten belaka, namun reorientasi spesifik akan bentuk-bentuk kuasa dan resistensi dari kedua belah pihak. Hal ini menjadi penanda bahwa benar adanya kita sedang berada dalam kultur berjejaring. Dengan adanya ruang-ruang informal, dalam proses produksi pengetahuan siapapun dapat menjadi produsen, siapapun dapat menjadi konsumen, dan dalam komposisi yang tiap-tiap pihak dapat memilah sesuai keperluannya masing-masing.


Ruang informal membuka berbagai cara untuk belajar beriringan dengan kultur jejaring yang kembali mengambil porsi dalam perkembangan kehidupan manusia. Ruang informal dapat memproduksi pengetahuan tanpa henti dengan menghilangkan batasan-batasan hirarkis maupun konstruksi klasik-formal tentang benar-salah. Menunjukkan adanya cerminan atas apa yang dilakukan nenek moyang kita dahulu, dengan menghimpun pengetahuan kolektif dan berbagi dalam sebuah jejaring besar bagai sebuah rizoma. Paparan di atas tidak bermaksud untuk menunjukkan konsep pembelajaran ideal bagi arsitek. Namun lebih menjadi dorongan untuk mencoba mengalami proses pembelajaran pada konteks yang lebih makro. Dengan begitu, tidak ada larangan untuk merasa cukup dengan ilmu dari bangku kuliah. Namun, tidak ada salahnya pula menjadi bagian dari produksi pengetahuan tanpa batas. Karena dalam menghimpun pengetahuan tentu saja, more is more.

Rujukan: Reinhard ZĂźrcher, Teaching-Learning Processes Between Informality and Formalization. Setiadi Sopandi, Sejarah Arsitektur: Sebuah Pengantar. Sir Ken Robinson, Changing Education Paradigm. Tiziana Terranova Network Culture : Politics for the Information Age.


Chat Archive hasil obrolan antara beberapa arsitek ARA Studio dan kliennya


Obrolan Zine sesi-sesi obrolan yang kasual, Hasil wawancara dari tiga principal ARA Studio di tiga waktu dan tiga tempat yang berbeda


Heart and Agenda in Intimacy Realrich Sjarief

ARA has finished their exhibition named intimacy curated by Ayos Purwoaji; many people have come to the exhibition. The public can see that it is interesting to see the positioning of the exhibition to other architecture exhibition before. Or even, just to think about what has been done, what is our current state of Indonesian architecture exhibition? Do we need architecture exhibition? What is the current state of architecture appreciation? In what sense architecture exhibition would provide value to culture, society, and further agenda? Do we have a good reflection to our current paradigm? Is there any good critic attitude?


To see the quality of the exhibition, first, it really depends on the agenda of the curator, what the meaning of the exhibition is, why the exhibition, and how it is executed. Of course some curator might think that why do we need an agenda? Why don’t we just exhibit whatever we have, and let public decide? Inside the mastermind of the curator there are various agenda, I don’t believe that there is no agenda in the exhibition, there are only 2 types of agendas, private or social agenda. And there are 2 streams of paradigm in exhibition, the first one is the more introverted agenda, to show a set of skill, mastery in architecture. The other is the more extrovert, more

social about showing social agenda to the public. We can refer to David Hutama’s lecture in Omah Library, I summed that architect needs these 3 skills in architect profession: It could be skill as artisan, technician or even social businessperson.The two streams sometimes can be combined depending on the agenda, more introverted or more extroverted, mixed depending on the curator who is the driver of the exhibition. The exhibition quality depends on the depth of the agenda, and communicating the idea to the public.

Universitas Pelita Harapan once brought complete set of information to show mastery and social agenda, in their academic agenda, through the exhibition Waktu adalah Ruang curated by Fernissia Richtia, Robin Hartanto and Andreas Annex. The exhibition shows a complex stage from the basic in learning architecture, which was experienced by students by understanding the small: hinge and joint, to the big or macro which is the urban level. There are many details, big scale model, well written explanatory and finally there was book launching to sum up the whole information.


The models in Waktu adalah Ruang are exhibited with storyboard from intimate to more public project, showing the understanding from micro to macro. Meanwhile the exhibition such as Indobuildtech showing more commercial agenda and the exhibition Segar showing more political agenda in relation to the momentum of Indonesian Institution of Architect. Reflecting in this selection process and the empathy to the public. I criticized the exhibition titled Segar a few months ago. The curator selected the participant. I was thinking if this exhibition was intended to celebrate the election of the Indonesian Institute of Architects chief. Deep in my mind I have so many questions, but fundamentally why should we, that we are in Jakarta, which already has reputations, 50 architects

or more trying to show existence by having less agenda. It would be great if some of the architects, from outside Java, unheard, but has ingenious work and several limitations of information, could be invited to collaborate in exhibition as a part of a political agenda to unite architects in Indonesia. In the architecture, architects have their own label, and branding, of course it could be an attraction as the name is announced in the exhibition, but does the content is more important, because the architects who have great branding, started from zero by their amazing work, it’s not instant, it’s a long journey, to start the career, some of the architects like Gehry and Mayne need 10 years to train and produce a body of work.


One of the well known exhibition is curated by Bernard Rudofksy titled, Architecture without Architect with an agenda to explore exemplars of indigenous architecture, He travelled to places, took photograph and wrote paragraph about the story he found during the trip. We need to put his exhibition context to the year 1960 when Jane Jacobs criticized a city in United States, attacked architect for the responsibility in detaching architecture to people in the process of making architecture. The exhibition had opportunity to show architecture, which grew in the people and could change people the relationship to the city. The word to sum up the quality of the exhibition was ingenious. The exhibition followed with a book titled Architecture without Architects.

Another example is The Deconstructivist Architecture exhibition curated by Philip Johnson and Mark Wigley in New York. This exhibition featured works by Frank Gehry, Daniel Libeskind, Rem Koolhaas, Peter Eisenman, Zaha Hadid, Coop Himmelblau and Bernard Tschumi. They were new generations of architecture which breaks modern architecture by its product and process. Johnson and Wigley explained the manifesto in several points to conclude the architecture phenomena; they stated that the architects recognized the imperfectability of the modern world and seek to address, in Johnson’s words, the “pleasures of unease”. Obsessed with diagonals, arcs and warped planes, they intentionally violate the cubes and right angles of modernism.


Their projects continue the experimentation with structure initiated by the Russian Constructivists, but the goal of perfection of the 1920s is subverted. Disharmony, fracturing and mystery displace the traditional virtues of harmony, unity and clarity. The exhibition includes drawings, models and site plans for recent projects by Coop Himmelblau, Peter Eisenman, Frank Gehry, Zaha Hadid, Rem Koolhaas, Daniel Libeskind and Bernard Tschumi (11st of projects attached). Their works are preceded by an introductory section of constructivist paintings and sculptures drawn from the museum’s collection.


The two exhibitions: Architecture without Architects and Deconstructivist Architecture have strong agendas and informations that could be beneficial to the public and change the constellation of architecture in the world. Nevertheless, I think ARA’s exhibition Intimacy, in the appraisal of good exhibition’s framework has 4 agendas: First, intimacy tried to minimize the gap of architect and the public, showing with it’s title and the models which can be played by public and workshop by the kids. Second, it exhibited the layer of the architect’s studio shown by the relics, the things around designers such as, miniatures or even guitar played by the staffs or else. Third, it tried to exhibit the layers of communications between stakeholders such as principals and other party by notes showing communications inside Whatsapp group printed and hung on the wall. Fourth, it shows an introduction

for ARA’s work through models, text and some diagrams. These 4 layers are combined with an attitude to open their studio for public especially for architects, young designers, students for sharing ideas, discussions, or just for chatting.

The starting quality of the exhibition is promising. It’s promising because ARA started with 2 main cores: agendas and attitude, which shows that this exhibition has quality to be judged. For me this exhibition is not an ending or omega, it is just an introduction or starter or alpha for the next sequel exhibitions which can be continued with more discussions, discourse, and sharing to architecture community in Surabaya and we can hope for architecture appreciation to be better from time to time in Surabaya, hopefully greater in Indonesia.


Mind-Map Games Kertas rekat warna-warni yang berjasa untuk membantu ingatan,atau barangkali berhenti sebagai aksentuasi dekoratif ruang kerja.


On Conversation Rifandi Septiawan Nugroho

Pada pertengahan Mei lalu, saya mendatangi pameran Intimacy: ARA Studio yang digarap oleh tandem saya ketika mengerjakan pameran Harjono Sigit setahun yang lalu di Surabaya. Pameran ini berlangsung pada tanggal 20 Mei - 3 Juni 2016. Bertempat di sebuah rumah bergaya kolonial yang kini direnovasi menjadi kantor baru ARA Studio, sebuah biro konsultan muda yang cukup produktif. Pameran Intimacy merayakan pencapaian sekaligus kepindahan ARA Studio di rumah barunya dan menunjuk Ayos Purwoaji sebagai kurator.


Tema Intimacy dipilih kurator untuk membingkai pameran ini. Tema tersebut diangkat dan diterjemahkan sebagai metode, mulai dari proses kuratorial hingga presentasi dalam ruang pameran. Kuratorial tersebut bertujuan untuk melihat ARA Studio bukan dari objek rancangan fisik yang sudah dihasilkannya, tetapi ingin lebih dekat dan jujur lagi, menggambarkan dinamika dan tegangan yang dilewati oleh konsultan muda ini. Sedari temanya saja sudah terdengar cukup abstrak. Begitu pula isi pamerannya. Objek yang ditampilkan tidak menunjukan sama sekali portfolio utuh proyek ARA Studio, seperti apa yang ada di bayangan saya sebelum datang ke sana. Benda yang dipamerkan bukan berupa panel berisi gambargambar bangunan atau maket proyek yang biasa ditampilkan pada pameran arsitektur pada umumnya di Indonesia.

Secara makro, sekuen ruang pameran ini dibagi menjadi tiga. Ruangan pertama dibuat khusus untuk menampilkan karya arsitektur yang dapat diakses dengan cara “bermain�. Medium yang digunakan salah satunya adalah ARA Play, sebuah modul mainan kayu yang geometrinya diterjemahkan dari bangunanbangunan yang dirancang oleh ARA Studio. Mainan kayu ini bebas diintervensi, diolah, dan dibongkar pasang semaunya oleh pengunjung. Di samping ARA Play, terdapat beberapa papertoy yang merupakan hasil prakarya siswa SD dr. Sutomo VII yang letaknya di depan kantor ARA Studio. Proses pembuatannya melalui lokakarya yang diadakan sebagai satu rangkaian dalam pameran ini. Objek lainnya adalah penjelasan tentang proyek ARA Studio, interpretasi pengguna bangunan, dan otokritik dari para arsitek ARA Studio. Objek ini ditampilkan dalam bentuk aplikasi digital yang informasinya dapat diakses melalui sistem pindai QR Code terlebh dahulu.


Ruangan kedua dinamakan OpenLAB, tempat melakukan lokakarya, presentasi, dan diskusi yang menjadi rangkaian acara selama tiga minggu. Ada tiga objek yang ditampilkan secara tetap, di luar rangkaian acara tersebut, yakni zine yang berisi wawancara dengan ketiga principal, video kegiatan sehari-hari yang dibuat oleh pegawai ARA Studio, dan empat bundel cetakan hasil screenshot group chat yang diikuti oleh ketiga prinsipal ARA Studio; Hermawan Dasmanto, Goya Tamara, dan Erel Hadimuljono. Ruangan ini berusaha menampilkan kekisruhan yang terjadi baik di dalam studio maupun proyek. Ruangan ketiga adalah ruang yang paling kecil dan berisi barang pribadi para pegawai ARA Studio. Artefak-artefak pribadi yang ditampilkan merupakan benda-benda kesukaan mereka. Mulai dari mainan action figure Star Wars, gitar listrik dan amplifiernya, mixtape lagu kesukaan, buku harian, buku sketsa dan printilan lainnya. Benda-benda ini ditampilkan karena kurator percaya bahwa kegemaran pribadi mempengaruhi selera dan proses merancang di luar alam sadar. Pendekatan yang digunakan sebetulnya bukanlah hal yang baru, bahkan bisa dibilang sangat biasa ditemui di dalam keseharian praktik studio arsitek di Indonesia. Tetapi justru karena itu, hal yang sangat biasa ini ternyata masih kurang disadari oleh banyak arsitek bahwa menyimpan potensi yang cukup besar sebagai medium penyampaian pengetahuan arsitektur. Ayos Purwoaji melakukan pembacaan terhadap hal yang sangat gamblang itu dan menerjemahkannya ke dalam ruang pamer. Alhasil, pameran ini berlangsung dengan sederhana dan menjadi terkesan “tidak memaksa�. Pengunjung bisa saja tersesat di antara mainanmainan yang diletakan di sana atau tanpa sengaja duduk berdiskusi pada waktu dan topik yang sudah disiapkan. Jelas sekali bahwa intensi yang diinginkan kurator lebih mengarah pada alternatif baru penyajian pameran arsitektur ketimbang pengaruhnya pada praktik arsitektur sebagai sebuah disiplin keilmuan.


Hal yang kemudian patut dipertanyakan adalah sejauh mana tingkat efektivitas pameran semacam ini mampu menyampaikan pesan dan gagasan kurator? Apakah pengunjung yang datang mampu menelan informasi yang diinginkan oleh kurator secara baik? Atau pameran semacam ini sebetulnya hanya berhenti sebagai medium eksperimentasi dari kuratornya saja? Untuk itu saya melakukan obrolan singkat dengan Ayos Purwoaji terkait gagasan di balik pameran tersebut. Tepat sebelum saya bertanya, justru dia sudah menjelaskan terlebih dulu tentang metode relational aesthetics yang digunakan dalam pameran ini. Sebuah metode yang dikenal dalam diskursus seni rupa kontemporer yang menekankan hubungan antara karya dengan apresiasi pengunjung.

Apa itu relational aesthetics?

Itu masalah bagaimana kamu mengapresiasi sesuatu. Ada karya seni dan kemudian kamu menonton, kamu merasa senang, sedih, dan sebagainya, itu adalah responmu terhadap karya seni. Pada titik tersebut karya seni menjadi berharga. Itu prinsip dasar relational aesthetics. Mereka percaya bahwa karya seni tanpa adanya apresiator itu tidak ada artinya. Akhirnya dari situ muncul kenapa tidak melibatkan pengunjung saja sebagai bagian dari karya seni. Bentuknya macam-macam, Rirkrit Tiravanija, seniman di New York, membuka dapur di galeri sebagai karya seni. Seniman dan pengunjung memasak bersama dan makan bersama. Ada juga seniman Marina Abramovic yang mempersilakan pengunjung datang dan duduk di hadapannya. Abramovic menatap mata pengunjung selama setengah jam, dan mereka bisa sama-sama nangis! Itulah karya seni sekarang, begitu cair.


Mengapa memilih pendekatan relational aesthetics? Karena aku melihat ada kesamaan antara praktik berarsitektur dengan pendekatan relasional dalam seni rupa. Tegangannya mirip. Karya arsitektur itu kan sebetulnya hasil diskusi, obrolan, dan negosiasi antara arsitek dengan pemilik bangunan. Bisa jadi karya arsitektur itu adalah ekstensifikasi dari relational aesthetics itu sendiri, tapi dalam konteks yang berbeda. Dari situ aku menarik hubungannya, lalu diterjemahkan ke dalam tema dan presentasi pamerannya. Bagaimana sebuah pameran arsitektur didekati dengan metode seni rupa? Seperti itu intensinya.

Sebenarnya tujuan membuat pameran ini apa sih?

Akhir tahun lalu (2015) aku dihubungi ARA Studio untuk membuat sebuah pameran. Awalnya mereka membayangkan sebuah pameran karya dan portofolio gitu. Tapi kemudian aku mikir, kalau pameran karya semacam itu kan kalian (arsitek) pasti bisa melakukannya sendiri, apalagi tempat dan acaranya pun sudah banyak. Lalu aku coba tawarkan ke principal ARA untuk membuat sebuah pameran yang tidak terfokus pada karya, tapi pada proses, dan untungnya mereka sepakat.

Kenapa tidak berfokus pada karya? Karena menurutku ARA Studio ini adalah biro yang masih tergolong muda. Secara pemikiran belum matang, secara karakter karya pun belum cukup kuat. Sehingga kalau pameran ini diharapkan sebagai sebuah monograf, aku pikir belum bisa. Kalau cuma pameran portofolio aja, kok ya rasanya kurang asik. Akhirnya terpikir, kenapa nggak kita drive melalui sebuah narasi tentang sebuah biro arsitek muda yang bergulat dengan segala permasalahan, tegangan, dan kritik yang dihadapinya? Dari situ diskusinya dimulai.


Kenapa intimacy?

Awalnya karena aku melihat skala bangunan yang dibuat oleh ARA Studio semuanya masih tergolong intim, seperti kafe, rumah, dan bangunan-bangunan skala kecil lainnya. Bukan bangunan high rise atau mix use. Dari situ bayangan tentang intimacy muncul. Tapi intimacy pada akhirnya bukan hanya menjelaskan tipologi karya mereka saja, tapi juga tentang bagaimana kita melihat proses itu sendiri. Intimacy akhirnya menjadi kaca mata untuk membaca pameran ini.

Tujuan dari pameran ini sendiri, untuk ARA Studio pastinya publikasi. Tapi di luar itu, buat aku pribadi menjadi kritikku untuk ARA Studio dan juga untuk pameran-pameran arsitektur yang selama ini sudah pernah diadakan di Indonesia. Karena bagiku pameran arsitektur di Indonesia sebagian besar masih berkutat pada objek, seperti maket, foto karya, atau hasil 3D rendering. Semua terfokus pada objek arsitektur.


mungkin gak sih pameran arsitektur itu diabstrakan? Nah kembali ke tujuan pameran ini, sebenarnya jawabannya bisa banyak layer sih. Tinggal dari mana kamu bertanya? Kalau buat ARA memang publikasi, tapi bagi aku ini sebagai modus kritik. Modus kritikku terhadap ARA Studio dan termasuk diriku sendiri untuk pameran Harjono Sigit sebelumnya.


Tadi dikatakan “intimacy� dipilih sebagai metode. Maksudnya metode yang digunakan dalam mengkurasi atau metode dalam presentasi pamerannya saja? Dua-duanya, proses kurasi dan presentasinya.

Itu aplikasinya bagaimana?

Ini menarik pertanyaannya. Dari sudut pandangku, untuk memahami sebuah proses itu kita harus menggunakan pendekatan yang intim, tidak bisa hanya melihat dari tampaknya saja. Intimacy muncul salah satunya dari bagaimana aku mendekati ARA. Contohnya ada di beberapa objek. Salah satunya arsip group chat mereka, itu contoh bagaimana saya meyakinkan principal ARA untuk bisa mengakses percakapan pribadi mereka dengan klien untuk suatu proyek dari awal hingga selesai. Bagi sebagian besar arsitek, itu kan sebetulnya hal yang sangat privat dan sensitif ya. Tapi aku coba terus untuk meyakinkan mereka bahwa ini adalah sebuah objek yang penting untuk membicarakan proses berarsitektur. Pada akhirnya mereka mengijinkan saya untuk mengolah dan mempublikasikan 400 lembar screenshot group chat mereka untuk proyek Journey, sebuah restoran dim sum yang baru saja ditangani ARA Studio.


Obyek selanjutnya yang menampilkan intimacy saya ke ARA Studio adalah zine. Melalui obyek tersebut, dapat dilihat keintimanku sebagai kurator dengan para principal ARA. Aku mewancarai ketiga principal di tiga tempat dan waktu yang berbeda. Dari wawancara dan obrolanobrolan tersebut kami membicarakan sesuatu yang sangat personal, mulai dari pandangan mereka, obsesi mereka, kegagalan mereka di masa lalu, dan berbagai hal lain yang sangat personal. Aku pikir obrolan seperti ini adalah salah satu cara yang paling mudah untuk menangkap narasi tentang proses. Baik proses dalam konteks arsitektur atau bukan.

Selain itu, di bagian paling belakang, dapat dirasakan bagaimana aku meyakinkan stafstaf ARA untuk memajang barangbarang pribadi dan koleksi mereka. Kenapa aku merasa benda-benda tersebut penting untuk ditampilkan? Karena aku percaya ada hubungan resiprokal antara apa yang kamu sukai dan apa yang kamu hasilkan. Kamu suka jazz, saat mendesain pasti ada unsur jazz. Itu dari sudut pandang intimacy secara proses.

Kedua, intimacy sebagai presentasi dan metode pembacaan karya, bisa dilihat pada ruangan yang paling depan. Ada beberapa obyek seperti ARA Play, tablet interaktif, dan maket anak SD. Intimacy di sini terlihat dari bagaimana pengunjung hadir, merespon, dan berinteraksi dengan benda-benda di dalam ruang pamer. Menurutku itu penting, dengan begitu pengunjung menjadi tidak berjarak lagi dengan objek pameran. Itu menjadi salah satu kritikku untuk pameran arsitektur yang selama ini terjadi di Indonesia.


Apa kesulitan yang dihadapi dalam proses kurasi?

Masalah waktu ya. Terutama dalam hal pembuatan zine yang berisi wawancara para principal. Karena aku mewawancara mereka di tiga tempat dan waktu yang berbeda. Selain itu, masing-masing principal diwawancarai sebanyak tiga kali. Jadi ada sembilan kali sesi interview di berbagai tempat di Surabaya dan Bali. Bagi aku wawancara itu semacam layer. Pertemuan pertama kalau kita baru pertama ngobrol, orang masih sungkan untuk membuka semua informasi. Tapi begitu masuk obrolan yang kedua dan ketiga, mereka bisa lebih terbuka. Dan itu cukup time consuming. Kendala utamanya adalah menyesuaikan waktuku dengan mereka. Padahal persiapan pameran ini hanya tiga bulan. Itu belum produksi untuk obyek lainnya. Makanya, objek zine termasuk yang paling telat. Kalau untuk yang lain, aku punya cukup waktu untuk berdebat dengan mereka. Ada proses tarik ulur dan negosiasi yang aku lakukan.


Bagaimana objek pameran dirumuskan seperti ini? Ada maket ARA Play, tablet interaktif, OpenLAB, dan artefak pribadi?

Dari awal, zine dan ARA Play itu sudah dipastikan keberadaannya. Karena ya itu tadi, pameran ini mengarahnya ke arah yang abstrak karena kita membicarakan hal yang abstrak. ARA Play ini kritikku untuk pameran arsitektur Harjono Sigit yang aku buat sendiri. Di pameran itu, maket sebetulnya tidak boleh disentuh. Menjadi obyek yang seharusnya steril. Tapi pada praktiknya, pengunjung juga masih punya tendensi untuk menyentuh maket. Akhirnya obyeknya rusak, tangganya copot, dindingnya kotor, dan sebagainya. Dari situ aku berpikir kenapa nggak sekalian aja pengunjung dibolehkan berinteraksi dengan maket. Orang bisa merespon, melakukan intervensi. Akhirnya muncul ARA Play. Kalau zine aku sendiri terinspirasi oleh kurator Hans Ulrich Obrist, karena dia membuat seri buku Conversation Series yang berisi obrolannya dengan para arsitek, seniman, atau pemikir estetik penting. Obrolan bisa menjadi metode yang sangat oke untuk melihat pandangan-pandangan seseorang, keyakinannya terhadap sesuatu, dan proses tak kasat mata. Makanya aku dari awal sudah menentukan kedua obyek itu.


Di tengah perjalanan ide-ide kemudian berkembang. Ide mengenai tablet interaktif muncul ketika aku pulang dari Jepang, di IAMAS aku melihat sebuah pameran tugas akhir yang menggunakan itu. Sangat menginspirasi karena di situ pengunjung punya sebuah kebebasan untuk mengakses informasi yang dia inginkan. Selama ini dalam pameran arsitektur sendiri kan seluruh informasi ada di dinding dan seakan-akan kita dipaksa untuk melihat seluruh informasi ini. Karena ini ngomongin intimacy yang membicarakan tegangan antara arsitek dan pengunjung, maka harus ada kebebasan yang diberikan kepada pengunjung untuk mengakses informasi apa yang mereka inginkan. Terakhir adalah open lab, ini datangnya belakangan setelah ngobrol dengan Gugun. Karena ini pendekatannya menggunakan relational aesthetics kenapa enggak kita menisakan sebuah ruangan yang awalnya itu adalah ruang kosong dan diisi sebagai studio tempat staff ARA bekerja. Kita bisa melihat staff-staff ARA yang bekerja, karena ini tentang proses kan. Tapi mereka tidak sanggup, akhirnya setelah negosiasi ruangan yang kosong itu dikelola sendiri oleh kegiatan yang disi oleh anak ARA yang namanya open lab. Akhirnya kegiatannya bisa macem-macem Karena si Iwan suka jalan-jalan akhirnya dia buat tour pecinan, karena si Goya suka sama pendidikan akhirnya dia meminta ada diskusi tentang pendidikan, arsitektur, dan sebagainya. Ada staff ARA perempuan seneng masak akhirnya buat potluck. Itu akhirnya ada negosiasi yang cair sih, mereka mau apa kita mau apa. Ada Galih yang dari mahasiswa udah suka papertoy. Dia buat workshop pembuatan maket dari kertas, dan itu sangat pas dengan konteks kantor baru ini yang terletak di depab sekolah SD. Intinya harus ada kegiatan yang merepresentasikan antara ARA dan lingkungan sekitar.


Berkali-kali anda menyebutkan tentang pameran arsitektur yang selama ini berorientasi pada produk. Apa yang salah dengan hal tersebut? Pameran arsitektur menceritakan serangkaian informasi di balik karya, representasinya dengan apa itu hal lain. Latar belakangnya juga bisa menarik. Maket bisa menjadi representasi yang baik jika dia punya pemikiran yang baik di belakangnya.


Awalnya aku membaca sejarah kultur pameran di Indonesia. Sempet ngobrol sama Robin. Dari situ aku sempet membaca dari beberapa sumber. Ternyata format pameran arsitektur yang dilakukan hingga hari ini itu asalnya dari Bauhauss. Ketika ada tugas akhir, mahasiswa membuat pameran. Itu isinya berisi tentang informasi tugas akhir dan elaborasi kenapa bentuknya seperti itu. Dari situ terus aku membaca satu buku, Troy Conrad Therrien, salah satu kurator arsitektur di Guggenheim. Dia bilang “pameran arsitektur itu adalah sebuah modus terbaik untuk melakukan eksperimentasi.� Dari situ aku mulai mikir kok pameran arsitektur selama ini kok gitu-gitu aja ya. Formatnya ya gitu. Dengan maket, papan informasi, gambar bangunan, dan sebagainya. Apakah harus seperti itu formatnya? Dari situ aku udah menemukan format pameran arsitektur intimacy ini.


Ini di Indonesia ya ceritanya?

Iya di Indonesia. Aku akhirnya menemukan format intimacy ini dan agak abstrak. Dari situ aku ngobrol sama beberapa orang, mulai dari kamu, Pak Realrich, Rendy, nah itu akhirnya dapat banyak masukan. Menarik waktu ngobrol sama Rendy waktu dia baru pulang dari Jepang, dia habis nonton pameran Gehry. Ternyata dia juga ngomongin proses, dia majang maket studi yang dijejerin dari awal sampe jadi. Itu kan tentang proses dan itu representasinya lewat maket. Setelah aku ngobrol sama dia tentang format pameran yang lebih cair ini. Dia bilang ini menarik, tapi apa yang batasan yang membuat bahwa pameranku ini adalah pameran arsitektur? Aku tanya balik apakah sudah ada konvensi yang memberikan batasan arsitektur seperi apa? Aku rasa saat belum ada batasan ini justru ada waktu untuk bereksperimentasi, seperti kata Therrien tadi. Toh pada akhirnya sebetulnya yang ditampilkan pada pameran arsitektur sebenarnya kan adalah representasinya, bukan benda aslinya. Bagaimana kita memandang pameran arsitektur itu harusnya berbeda dengan kita memandang pameran benda seni. Kalau benda seni itu bendanya sendiri yang dipamerkan. Semisal rumah Andra Matin, itu tidak mungkin dimasukan ke galeri. Nah dari karya asli ke representasi itu saja sudah ada jarak, aku pikir ada ruang yang cukup lebar untuk kita melakukan eksperimentasi. Menurutku itu yang perlu dilakukan. Karena sayang kalau kita hanya harus berkutat pada format-format yang dianggap pakem. Ya menurut aku ga ada juga format yang membakukan itu. Dia bisa sangat naratif, eksploratif, imajinatif, itu bebas.


Terus menurut mas Ayos pameran ini pameran arsitektur atau bukan?

Iya aku menyebut pameran ini pameran arsitektur.


Bagaimana kamu memanfaatkan medium kuratorial demi menyampaikan uneg-uneg tentang arsitektur khususnya di dalam pameran intimacy ini? Kalau uneg-uneg mengenai arsitektur sebagai sebuah disiplin sih nggak ada. Karena sejak awal ini merupakan pameran tunggal dari biro ARA Studio, jadi pembacaannya nggak bisa meluas. Narasi besar yang dibawakan tetap menyorot proses, terutama bagaimana sebuah biro perancangan yang masih muda tumbuh. Tapi dari praktikpraktik yang pernah dilakukan ARA Studio, aku bisa membawanya ke hal-hal lain, seperti bagaimana hubungan antara media dan biro perancangan? Bagaimana hubungan antara arsitek - klien - tukang - bangunan terjadi? Seberapa jauh jarak yang muncul antara lulusan universitas dengan praktik kerja sebuah biro perancangan? Atau yang terpenting adalah bagaimana sebuah biro arsitektur menempatkan diri di tengah-tengah komunitas di lingkungannya? Itu mengapa dalam program pararel pameran ini, kami bikin workshop maket buat anak SD, soalnya kantor ARA Studio yang baru ada di depan sekolah SD. Mereka, murid-murid dan gurunya seneng banget, malah minta diadakan lagi. Hehehe.


Katakanlah di titik ini kamu cukup berhasil untuk mengenalkan metode baru dalam pameran arsitektur, dengan menggunakan relational aesthetics. Lalu apa relevansinya terhadap praktik arsitektur sendiri? Sudah aku bilang, kalau yang dimaksud adalah arsitektur sebagai sebuah disiplin, barangkali memang pameran ini nggak bisa kasih kontribusi apa-apa. Pameran ini lebih menyoroti gimana sebetulnya arsitektur itu dipresentasikan dan dipersepsikan, terutama di dalam ruang pamer. Kalau selama ini lebih ditekankan pada obyek, hasil akhir, atau mengedepankan metode atau sejarah bagaimana sebuah bangunan dirancang, nah pameran ini mencoba menarik lebih jauh lagi: bagaimana menampilkan proses berarsitektur dalam konteks yang lebih luas? Gimana menampilkannya dalam ruang pamer?


Dalam pameran ini respon pengunjung gimana?

Akhirnya muncul beberapa lapisan pemahaman dari masing-masing individu yang hadir ke pameran ini. Beberapa anak kecil dating sama orang tuanya dia main ARA Play puluhan menit sementara orang tuanya keliling. Kalau orang dewasa mungkin cenderung lebih suka baca yang zine, karena itu kan lebih mendalam, personal. Kalau praktisi mereka suka lihat chat archive. Itu sebagai dinamika proyek yang biasa mereka lewati dan itu muncul di dalam ruang pamer. Itu lapisan yang pastinya beragam karena latar belakang orangnya juga beragam. Ada yang suka sama mejanya buatan Galih, malah tanya tentang fabrikasinya gimana.


Pameran ini ingin menampillkan tegangan yang terjadi, tapi ada beberapa bahasa yang tidak cukup mudah untuk dibaca. Misalnya hubungan antara artefak pribadi dan selera rancangan. Dari mana melihat hubungannya? Itu kan tidak serta merta langsung terlihat. Jadi bukan misalnya kamu suka starwars rancanganmu jadi kayak star wars. Tapi itu pasti tanpa disadari sangat mempengaruhi dan sangat subtil. Jadi menurutku tidak perlu ditampilkan juga.


Setelah dua kali mengkurasi pameran arsitektur, apa pencapaian yang sudah dilewati? Apa yang dianggap berhasil dan tidak berhasil. Aku belum bisa jawab ya. Tapi yang pasti dari tiap pameran muncul gagasan baru lagi. Pameran ini merespon pameran pertama terlepas dari baik buruk berhasil tidaknya. Terus dari pameran ini juga aku punya gagasan yang lain lagi. Mungkin gak sih pameran arsitektur dibikin pameran keliling gitu, karena selama ini kan pameran arsitektur hadir di satu tempat dengan jangka waktu yang spesifik dan selesai. Orang yang mengakses pun terbatas. Mungkin gak sih dia dibuat bisa berpindah, seminggu di kota A kemudian pindah ke kota B. Pameran arsitektur yang aku pahami itu kan modus penyebaran pengetahuan. Ketika sebuah pameran itu hadir pada sebuah ruang dan waktu yang eksklusif, itu cukup membatasi penyebaran pengetahuan itu. Walaupun beberapa pameran muncul buku dan katalog yang baru, tapi aku masih berpikir bagaimana pamerannya ini bisa dibawa.


Kalau di luar arsitektur sudah banyak? Banyak. Pameran Picasso pindahpindah, galeri nasional juga beberapa kali buat.

Kalau pamerannya yang pindah apa yang spesifik dengan arsitekturnya? Aku masih belum tau. Masalahnya gini, satu pameran umumnya menempati satu ruangan yang spesifik. Di situ ada respon terhadap ruang, harus ada formulasi bagaimana membuat pameran ini beradaptasi pada beragam jenis ruang yang dihadapi. Aku gak mungkin bawa maket anak SD ini ke Bali karena

gak ada konteksnya. Itu menurutku harus diusahakan, kalau memang mau pameran ini sebagai modus penyebaran pengetahuan. Dulu ada pameran international style MoMA yang keliling juga, penyebaran nformasinya luas banget keliling amerika selama bertahun-tahun. Akhirnya itu jadi mahzab yang penting, orang banyak percaya pada kuratornya. Justru menurut aku itu yang pentingnya sih, tempat orang mendiseminasikan gagasan dan pengetahuan. Tanpa itu ya arsitektur hanya sekedar ada saja.


Mungkin pengetahuan pameran arsitektur itu masih belum umum di Indonesia?

Sebetulnya karena tradisi di Indonesia masih sangat muda. Kalo misalnya kita tarik ke belakang, mungkin AMI salah satu yang cukup berpengaruh dan gagasannya tersebar luas. Itu pun sebenarnya belum punya kurator loh. Menariknya, setelah Indonesia muncul di Venice Biennale seperti muncul babak

baru. Sebelumnya Robin pernah cerita waktu CP Biennale di Jakarta, itu kuratornya si Marco, dia memasukan beberapa nama arsitek di situ. Apakah itu bisa dibilang pameran arsitektur? Itu kan masih bisa berkembang. Bisa dikaji.

Jadi setelah ini mau buat pameran arsitektur apa lagi? Belum tau, tapi yang pasti modelnya moving exhibition.


Apakah ada pesan khusus atau kritik atau dampak yang kamu harapkan setelah pameran ini?

Tradisi pameran arsitektur di Indonesia masih sangat muda ya, jadi menurutku masih banyak yang bisa dilakukan, termasuk meluaskan batasan-batasan itu tadi. Di situ pameran arsitektur nggak cuma berhenti jadi ajang promosi, tapi juga uji gagasan dan eksperimentasi.


Open House pembukaan kantor dengan acara syukuran serta tumpengan bersama kerabat dekat


Colophon


Ucapan Terima kasih

Anitha Silvia

Oudysea Samodra

Bu Guru SD Dr. Soetomo

Gali Raka Siwi

Andi Mappajaya

Realrich Sjarief

Sylvania Hutagalung

Stephanus Evert Indrawan

Yusni Azis

Eunike Kristi Julistiono

Muhammad Darman

Danis Sie

Sebastian Partowidjojo

Cak Boker

Andriew Budiman

Ari Kurniawan

Tim Kerja

Manajer Proyek

Pengarah Acara

Erel Hadimuljono

Nerisha Arviani

Perancang Artistik

Oudysey Samodra

Hermawan Dasmanto

Periset

Wahyu Gunawan

Harzha Syafarian

ARA Staff

Goya T. Kolondam

Fransis Siallagan

Aditya .T

Ardi Ismana

Galih Sabdo Aji

Mahdi Irfani M.

R. Valent Prakoso

M.Firmansyah

Publikasi dan Sponsor

Mungki Jati

Adif Lazuardi

Nerisha Arviani

Veronica P

Steven Teterissa

Bayu Rizki

Perancang Grafis Dimar Utama

Intimacy catalog : Lali Rupane iling Rasane  

Exhibition Catalog about ARA Studio. Curated by Ayos Purwoaji

Intimacy catalog : Lali Rupane iling Rasane  

Exhibition Catalog about ARA Studio. Curated by Ayos Purwoaji

Advertisement