Page 1

Dari Redaksi

Di edisi awal tahun 2008 ini ORGANIS lagi-lagi mengupas isu di seputaran petani. Kali ini Indro Surono, Koordinator Dewan Perwakilan Anggota Aliansi Organis Indonesia (AOI) membagikan pengalamannya ketika berkunjung ke sebuah organisasi petani kecil di Thailand yang kini sukses menjadi eksportir beras organik terbesar di negeri gajah putih ini. Organisasi petani ini berhasil mematahkan anggapan bahwa petani kecil sulit mengorganisir diri. Reportase ini dapat menjadi pembelajaran berharga bagi pengembangan model penjaminan kelompok tani di Indonesia.

Di rubrik profil pun kami mengetengahkan kesahajaan seorang petani organik yang tinggal di sebuah kampung di kaki Gunung Salak, Bogor. Beliau tetap mempraktekkan pertanian organik di lahan garapannya walau sebagian besar petani di kampungnya tersebut sudah enggan mempraktekkan sistem pertanian yang menurut mereka pertanian jaman baheula. Sementar di rubrik pustaka, ada buku yang memaparkan pengalamanpengalaman petani di berbagai wilayah dalam mengelola benih khususnya padi. Dan masih mengenai padi, edisi kali ini ada juga kupasan mengenai budi daya padi SRI. Apa dan bagaimana SRI dapat anda simak di rubrik hortikultura dan padi. Tak panjang lebar, kami berharap semoga apa yang tersaji dapat bermanfaat bagi kita semua. Selamat membaca. (**)

DAFTAR ISI Dari Redaksi Pustaka

Hal 1

Surat Pembaca Hal 2

KEMBALINYA HAK PETANI ATAS BENIH PADI

Isu Utama

Hal 12

Progressive Farmer ...

Kabar dari BIOCert

Organisasi Petani Kecil yang Sukses Menjadi Eksportir Beras Organik Terbesar di Thailand

PT ATINA INDONESIA:

Hal 4 - 6

Membangun ICS Dalam Budidaya Udang Organik

Hortikultura & Padi

Hal 13 - 14

Hama & Tanah

SRI, Sistem...

Hal 7 - 8

Awalnya SRI muncul karena keinginan untuk meningkatkan sistem pertanian khususnya ...

Kebun & Ternak

Vanili Organik... Sungguh kondisi yang amat jauh berbeda pada kurun waktu 4 tahun lalu ...

Jendela Konsultasi

Hal 9 - 10

Apakah Sertifikat Organis Ditarik Jika Gagal Panen? Hal 11

Jahe: Penyakit dan ... Jahe merupakan tanaman obat ... Hal 15 - 16

Konsumen

�Mengulik� Sampah Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas ... Hal 17 - 18

Opini

Manatap Perjalanan Pertanian Organis Setelah belasan tahun ... Hal 19 - 20

PENERBIT: Aliansi Organis Indonesia PEMIMPIN REDAKSI: Sri Nuryati TIM REDAKSI: Indro Surono, Rasdi Wangsa DESAIN GRAFIS: Andreas Setiyawan ALAMAT REDAKSI: Graha Sukadamai Lt.2, Jl. Sukadamai Indah 1, Budi Agung, Bogor Telp./Fax: 0251-331 785 e-mail: organicindonesia@organicindonesia.org website: www.organicindonesia.org Buletin ORGANIS diterbitkan oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI), sebuah organisasi masyarakat sipil yang dibentuk oleh sejumlah LSM, akademisi, organisasi tani, koperasi, peneliti, dan pihak swasta Yang bergerak di bidang pertanian organik dan fair trade di Indonesia.

Profil Ki Karma:

Bertani Organik karena Harga ... Usia tak menghalanginya ...

Hal 21 - 22

Agenda Hal 23

2

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


Bagaimana Bergabung Dengan AOI?

Budidaya Padi SRI

Kami dari LPMA tertarik untuk bergabung menjadi anggota Aliansi Organis Indonesia. Bagaimanakah prosedur dan persyaratannya?

Saya ingin bertanya tentang budidaya padi organik terutama yang memakai sistem SRI. Dimanakah saya dapat belajar menanam padi SRI? Apakah di Medan sudah ada pelatih atau PPL nya?

Hamsuri LPMA Borneo Komp. HKSN Permai No.28 RT.25 Blok II A Kel. Alalak Utara Kec. Banjarmasin Utara Banjarmasin 70125 Kalimantan Selatan

Redaksi: Terima kasih atas keinginan lembaga anda untuk bergabung dengan AOI.Kami sangat menyambut baik keinginan tersebut.Silakan berkirim surat/e-mail ke sekretariat AOI mengenai keinginan anda tersebut. Nanti anda akan dikirimkan formulir dan syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Ingin Kirim Artikel ke ORGANIS Terima kasih atas kiriman majalah ORGANIS-nya kepada kami. Sangat bermanfaat bagi koleksi perpustakaan kami. Saya tertarik untuk dapat mengirimkan tulisan ke buletin ORGANIS. Apa saja syarat-syaratnya? Terima kasih atas informasinya. Muhammad Pustakawan Bina Desa Jl Saleh Abud No.18-19 Otto Iskandardinata Jakarta

Redaksi: Senang sekali anda ingin mengirimkan artikel untuk ORANIS. Syaratnya mudah kok...Artikel ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, cukup 3 halaman dengan ukuran kertas A4 dengan jarak spasi 1,5 dan ukuran huruf 11. Kirimkan artikel anda via e-mail atau surat ke redaksi ORGANIS. Kami tunggu ya...

Rudy Surbakti Medan

Redaksi: Jika ingin belajar mengenai padi SRI di Medan, silakan hubungi Bung Sabirin di PANSU dengan alamat Dusun Bhakti II atau Kebun Sayur No 38 Desa Sekip Kecamatan Lubuk Pakam Deli Serdang, Medan, telepon 061-7952655.

Ingin Bermitra Saya mengetahui AOI dari teman saya di lembaga Sawerigading, Palopo, Sulawesi Selatan. Saat ini saya tengah memberdayakan masyarakat di sekitar saya melalui pengurangan pemakaian pupuk kimia dengan memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi kompos sehingga dapat digunakan sebagai pupuk untuk sayuran mereka. Bagaimana agar kami dapat bermitra dengan AOI? Parlindungan Tandigau Forum Mitra Lingkungan Jl. Batara lr.3 No.15 Kelurahan Boting Kota Palopo 91923 Sulawesi Selatan

Redaksi: Terima kasih atas ketertarikannya untuk bermitra dengan AOI. Kami akan kirimkan form keanggotaan AOI beserta syarat dan keuntungan menjadi anggota AOI ke alamat Bapak.

Redaksi menerima masukan baik dalam bentuk mater,i komenta,r saran dan kritik atas artikel yang dimuat. Silahkan kirim masukan anda ke redaksi ORGANIS. Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


PFA: Organisasi Petani Kecil Progressive Farmer Association, Thailand:

Eksportir Organik yang Sukses Beras Menjadi Eksportir Beras Organik Terbesar di Thailand Terbesar di Thailand Oleh: Indro Surono Anggapan bahwa petani kecil sulit mengorganisir diri dan membangun organisasi sosial ekonomi yang kuat tidak selamanya benar. Adalah Progressive Farmer Association (PFA), organisasi petani kecil di Ubon Ratchathani, satu propinsi sebelah timur laut Thailand, yang mematahkan anggapan ini. Didirikan tahun 1986, PFA awalnya hanya membantu petani dalam mengatasi persoalan pupuk dan kelangkaan air. Namun dalam perjalanannya mereka mulai mengembangkan pertanian organik. Hanya dengan beberapa puluh petani di awal berdiri, saat ini PFA berhasil mengorganisir ratusan petani. Beras organik jasmine yang dikembangkan sukses menembus pasar Eropa. Kini mereka menjadi eksportir beras organik terbesar di Thailand.

penyediaan pupuk disadari kemudian justru tidak memperbaiki kesuburan tanah dan petani tetap tergantung pada pihak luar. Akhirnya sejak tahun 2001 PFA mulai mengembangkan pertanian organik,� tambahnya.

Daerah Ubon Ratchathani adalah kawasan kering seperti daerah Indonesia Timur. Hujan tidak banyak turun, dan untuk bercocok tanam, petani sangat tergantung dari air hujan. Selain kelangkaan air, petani disana juga mengalami banyak masalah seperti kondisi kesuburan tanah yang buruk akibat praktek pertanian intensif, juga banyaknya penebangan kayu yang menyebabkan deforestasi dan erosi. Kompleksitas masalah diatas ditambah dengan keterbatasan teknologi yang dikuasai mengakibatkan produktivitas dan hasil panen yang rendah. Masalah ini diperparah dengan sulitnya petani kecil memperoleh kredit benih dan pupuk dari bank. Jika ada, petani harus membayar

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)

bunga hingga 120% per tahun. Terkadang bunga yang harus dibayar bisa lebih tinggi dari pendapatan petani. Selain itu, luasan lahan yang sempit (sekitar 2-3 hektar/petani) dan ketiadaan gudang memaksa petani menjual cepat hasil panennya dengan harga yang murah. Keinginan untuk mengatasi persoalan diatas, mendorong para petani tersebut untuk mendirikan Progressive Farmer Association. “PFA mulai dirintis tahun 1986. Saat itu kami bekerja dengan beberapa petani saja. Kegiatan kami semata hanya dalam hal teknis, yakni bagaimana membantu petani memperoleh pupuk dan air yang memadai,� ujar Montri Gosalawat (65), sekjen PFA. “Namun sadari

Meski di awal PFA hanya menyalurkan pupuk, aktivitas mereka untuk membantu petani kian meningkat. PFA menyediakan kredit murah untuk petani, mengadakan pelatihan teknis budidaya, mengembangkan bank benih, bank kerbau untuk penyediaan pupuk kandang dan pembuatan kolam ikan. Selain itu PFA juga membeli gabah anggotanya dengan harga lebih tinggi. Saat ini PFA bahkan telah memiliki fasilitas pasca panen yang bagus: satu jembatan timbang dan tiga gudang besar untuk menyimpan beras organik. Organisasi Yang Solid dan Modern Foto:sny Adalah Kun Paisan, ketua PFA yang lantas menjelaskan kepada saya mengenai organisasi PFA. Menurutnya, keberhasilan PFA tidak terlepas dari kesolidan organisasi dan pengurusnya. Petani yang berminat bergabung ke PFA akan dilatih terlebih dahulu selama seminggu. Pelatihan menyangkut aspek organisasi dan yang utama menyangkut praktek budidaya dan pemasaran beras organik. Setiap


tahun diadakan pelatihan lanjutan mengenai dua aspek ini. Selain itu, PFA juga memiliki 11 staf lapang yang betugas melakukan pendampingan teknis budidaya organik sekaligus monitoring mutu produk organik yang dihasilkan. Organisasi di PFA juga dijalankan secara tertib. Mereka mengadakan rapat umum anggota setiap 3 tahun untuk memilih dewan ketua dan sekjen. Dewan ketua dipilih dari berbagai keterwakilan seperti daerah, usia dan gender. Pengurus juga mengadakan pertemuan rutin bulanan dan tahunan guna membahas perkembangan dan persoalan yang ada. Jika ada petani atau pengurus yang melanggar aturan akan dikenai sanksi tegas. Untuk pembiayaan organisasi, PFA memungut iuran anggota dan terutama dari penyisihan keuntungan pemasaran beras. Mereka memiliki dana khusus yang disisihkan dari kelebihan harga premium yang dipakai untuk menjalankan organisasi dan kepentingan sosial lainnya. Pemakaian dana diawasi dan dipertanggung jawabkan secara teratur. Budidaya Padi Organik Meski kering dan panas, Ubon Ratchathani adalah daerah yang sangat cocok untuk pertumbuhan padi jasmine atau 'home mali rice' yang wangi dan sudah terkenal di seluruh dunia. Padi jasmine adalah jenis padi umur panjang (long grain) yakni sekitar 6 bulan mulai dari tanam di bulan Mei hingga dipanen pada bulan November. Dalam setahun petani hanya bisa sekali menanam padi. Dan setelah panen hingga musim tanam berikutnya petani hanya menanam kacang-kacangan atau dibiarkan bero. Dalam budidaya padi, umumnya petani disana masih menggunakan metode tradisional. Untuk mengolah tanah mereka masih memakai bajak yang ditarik kerbau. Di setiap sudut

Panen padi biasanya dilakukan secara manual dengan bergotong royong. Setelah dipotong dengan sabit, padi biasanya langsung dirontokkan di sawah pada hari yang sama. Gabah yang dihasilkan kemudian dimasukan dalam karung atau gudang beras Benih padi yang digunakan adalah (mirip leuit di Baduy) di dekat benih padi organik yang berasal dari sawah/rumah. Hampir sama dengan kebun bibit PFA. Ada tujuh petani di Indonesia, pekerja dibayar dalam kader yang menjadi pemulia benih dan bentuk bagi hasil berupa gabah. pemasok benih bermutu bagi anggota Produk yang akan dijual ke PFA PFA. Benih yang dipakai dihasilkan kemudian dimasukkan ke dalam dari galur murni yang dimiliki oleh karung goni yang disediakan oleh bank benih PFA. Kontrol mutu ini PFA. Di setiap karung ditempeli dilakukan agar produktivitas padi nomor kode petani yang petani tetap stabil. bersangkutan. sawah terdapat kolam yang berfungsi untuk menampung air sekaligus memelihara ikan. Semua aktivitas di sawah ini dikerjakan oleh tenaga kerja keluarga.

Untuk kesuburan, lahan petani organik disana umumnya hanya mengan-dalkan pupuk organik yang dibuat sendiri dari campuran jerami, sekam, kotoran sapi ditambah dengan larutan molase (semacam bokashi). Sumber pupuk (jerami dan sekam) diperoleh dari lahan sendiri. Demikian juga untuk kotoran sapi yang berasal dari ternak sendiri. PFA mengembangkan program 'bank kerbau' (buffalo bank) dengan memberikan kredit pengadaan ternak. Program ini cukup berhasil karena rata-rata petani anggotanya memiliki 5-10 kerbau yang mampu menyediakan pupuk kandang secara mandiri. Hanya molase yang dipasok oleh PFA. Umumnya petani anggota PFA tahu dan mahir cara membuat pupuk bokashi ini, karena mereka dilatih untuk ini saat masuk PFA dan dievaluasi lagi setiap tahun.

Sertifikasi Kelompok Tani Organik Selain merancang sistem rantai suplai input sampai pasar, PFA mengajukan sertifikasi organik untuk petani anggotanya. Mereka mulai mengembangkan panduan mutu bagi seluruh mata rantai produksi beras PFA. Hal ini dilakukan dengan mempelajari standar organik internasional, standar mutu produk (kadar air, beras pecah, dll) juga mengembangkan sistem pelatihan dan pendampingan bagi petani. Mereka juga membangun sistem pengawasan internal (ICS) yang disyaratkan dalam program sertifikasi untuk kelompok tani kecil. Saat ini, jumlah petani organik disana mencapai lebih dari 550 orang.

Di fase awal PFA memulai program organik dari petani yang sudah mau saja. Awalnya, hanya sekitar 50-70 Untuk menghindari kontaminasi ke petani yang bersedia. Bersama dengan sawahnya, baik berupa aliran air atau petani yang mau ini, PFA kemudian pestisida dari sawah non organik, menyusun dan memberikan pelatihan petani disana telah melakukan beberapa upaya. Beberapa diantaranya pertanian organik, menyusun standar internal organik dan mengembangkan adalah dengan meninggikan tanggul formulir serta pencatatan yang atau galengan, menanam tanaman sederhana dan mudah dipahami oleh pagar di sepanjang pematang seperti petani. Petani yang mau bergabung rumput gajah, sejenis tanaman perdu, diikat dengan kontrak yang antara lain dsb. Selain itu juga menutup saluran berisi kesediaan petani untuk air yang masuk ke sawahnya yang menjalankan standar organik dan berasal dari sawah non organik. Secara menerima sanksi jika melanggar, serta rutin petugas lapangan (semacam kewajiban PFA untuk melakukan PPL) dari PFA akan memeriksa pembinaan dan memasarkan hasil kondisi ini, apakah pencegahan petani. kontaminasi ini cukup memadai atau tidak.

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


Selanjutnya PFA merekrut staf yang ditugaskan menjadi petugas lapangan untuk memastikan program organik ini berjalan lancar. Petugas ini berfungsi terutama membantu petani jika mengalami kendala dalam PO. Sebagian dari staf lapangan ini juga dilatih dan berfungsi sebagai inspektor internal. Untuk menghindari konflik kepentingan, petugas lapangan tidak boleh melakukan inspeksi internal di daerah yang didampinginya.

Pengelolaan Pasca Panen yang Modern Sebelum masuk gudang, truk berisi gabah dari para petani ditimbang dahulu oleh staf PFA dan dari beberapa karung, diambil sampelnya. Setelah dicek dokumen pengiriman dari petani dan kesesuaian dengan estimasi panen, gabah dibongkar di gudang sesuai statusnya. Setelah bongkar, truk kembali ditimbang untuk mengetahui tonase gabah yang dikirim oleh petani.

Monitoring PFA dilakukan minimal dua kali dalam setahun yakni sekali Kawasan Baduy yang berbukit oleh lapangan dan sekali oleh (foto: petugas sny) inspektor ICS. Selain mancatat data usaha tani, monitoring ini juga memberikan masukan dan rekomendasi bagi perbaikan kinerja budidaya organik para petani. Hasil monitoring ini dilaporkan kepada manajer ICS dan dijadikan dasar penentuan status keorganikan petani serta menyusun daftar petani yang disetujui (approved farmer list). Dokumentasi ini disimpan rapi di sekretariat PFA. Petani juga menyimpan sebagian dokumen ICS yang relevan.

Sampel yang diambil langsung diperiksa oleh staf PFA. Sebagian sampel beras dicek kadar airnya. Dari kadar air dan kualitas beras ini, PFA bisa menetapkan harga gabah yang harus dibayarkan ke petani sesuai mutunya. Sehingga saat keluar dari PFA petani sudah menerima nota penjualan menyangkut tonase, potongan, harga dan jumlah uang yang dia terima.

Secara formal PFA mengikuti sertifikasi organik pada tahun 2004. Setahun kemudian sebagian produknya sudah dapat dijual sebagai produk organik. Meski sudah memenuhi standar organik Eropa dan Amerika Serikat, sejauh ini produk beras organik PFA masih dipasarkan ke Eropa saja. Tahun 2007 PFA mengajukan sertifikasi organik untuk pasar Jepang. Sertifikat organik dikeluarkan oleh IMO Swiss.

Gabah di gudang PFA juga tidak disimpan lama. Umumnya setelah maksimal 3 minggu gabah dipindah ke unit prosessing untuk digiling menjadi beras. PFA mengelola satu unit pengolahan beras bernama Golden Quality Mill, Ltd. Lokasinya terletak sekitar 2 km dari sekretariat PFA. Penggilingan gabah ini sangat modern dan skala besar. Gabah dari PFA kemudian digudangkan dan dijemur di penggilingan ini sebelum diproses menjadi beras. Unit prosesing beras yang dikelola mampu mengolah hingga 20 ton beras per hari. Mesin pengolah beras berukuran besar dan otomatis, petugas tinggal memasukkan gabah

kemudian mesin langsung mengolah hingga menjadi beras. Beras yang telah diproses ditampung dalam kantong besar ukuran 1 ton. Setelah dilabel, kantong ini kemudian dimasukkan ke dalam kontainer dan siap ekspor. Selain sertifikat organik, penggilingan gabah ini juga memiliki sertifikat ISO 22000 untuk standar keamanan pangan. Setiap pengiriman kontainer dari penggilingan ini, produk diperiksa dahulu oleh staf dari badan keamanan pangan. Selain memproses produk organik anggotanya, penggilingan ini juga menggiling padi dari petani di propinsi ini. “Untuk menjamin tidak ada pencampuran dengan produk non organik, kami memisahkan tempat khusus untuk gabah dan beras organik, serta membuat aturan cleaning sheet yang jelas bagi mesin sebelum mengolah gabah organik,� kata Montri Gosalawat. PFA juga langsung mengekspor produk beras ke Eropa. Hanya karena aturan UU di Thailand tidak memungkinkan organisasi non profit seperti PFA menjadi eksportir, maka PFA mendirikan perusahaan ekspor sendiri dengan nama Progressive Farmer Business (PFB). “Tahun 2006-2007 kami mengekspor hampir 200 ton beras organik ke Swiss. Ini belum termasuk beras yang dipasarkan secara organik fairtrade yang mencapai sekitar 80 ton,� ujar Kun Mook Gosalawat, manajer PFB yang juga istri Montri Gosalawat. Selain organik, PFA juga telah memperoleh sertifikat fairtrade dari FLOCert Jerman sejak 2005. (**)

Indro Surono Koordinator Dewan Perwakilan Anggota (DPA) Aliansi Organis Indonesia

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


Hortikultura & Padi

SRI, Sistem Intensifikasi Padi Oleh: MM Diyan H. Awalnya SRI muncul karena keinginan untuk meningkatkan sistem pertanian khususnya produksi padi para petani di Malagasy. Metode ini diperkenalkan oleh Pastor Henri de Launie, SJ dalam interaksinya dengan para petani. Di Indonesia sendiri, petani lulusan SLPHT di Ciamis sudah mempraktekkan SRI sejak tahun 2000.

Persemaian dan penanaman semaian di lahan (www.srivideo.zoomshare.com)

Apakah itu SRI? SRI adalah sebuah metode yang digunakan untuk meningkatkan produksi padi dan memunculkan produktifitas dari tanah, tenaga kerja dan modal melalui beberapa praktek pengelolaan yaitu: 1. Persemaian dan Penanaman Semaian di Lahan l Penanaman semaian di lahan dilakukan saat umur semaian masih muda. Pemindahan ke lahan dilakukan saat semaian berumur 8-12 hari yang di tandai dengan ciri fisik seperti hanya memiliki 2 helai daun kecil. Penyemaian biasanya dilakukan di wadah khusus bukan di sebagian petak lahan seperti yang umumnya dilakukan. Ini dilakukan guna mencegah rusaknya akar dan menjaga agar pertumbuhan padi dapat maksimal. l Proses penanaman dilakukan dengan hati-hati dan cepat untuk meminimalkan trauma yang dialami akar. l Untuk mencegah persaingan akar, padi ditanam secara tunggal.

l

Dan untuk mendorong perakaran yang kuat serta tumbuhnya kanopi, maka jarak tanam dibuat lebih lebar. Ada beberapa jarak tanam yang biasa dipakai yaitu 25X25 cm, 30x30 cm, 40x40 cm atau bahkan sampai 50x50 cm tergantung kualitas tanah.

2. Pengelolaan Tanah Tanah diusahakan tetap lembab tetapi drainase dan aerasi tetap terjaga dengan baik karena padi sebenarnya adalah tanaman yang membutuhkan air tetapi bukanlah tanaman air. Drainase dan aerasi harus tetap terjaga karena akar membutuhkan oksigen untuk dapat berkembang dengan baik. Jika dalam kondisi tergenang dalam periode yang cukup lama, maka pasokan oksigen untuk akar akan berkurang dan menyebabkan kerusakan akar sehingga akar tidak bisa menjalankan tugasnya (sebagai pemasok bahan makanan) dengan baik. Dalam SRI, tanah tidak dipandang sebagai benda mati melainkan sebagai benda hidup,

karena jika kita lihat menggunakan mikroskop, tanah sebenarnya adalah rumah bagi banyak makhluk hidup yang berguna bagi tanaman. Dengan drainase dan aerasi yang baik maka mahkluk hidup di dalam tanah dapat hidup dan berkembang dengan baik yang berarti mereka dapat menjalankan fungsinya untuk mendukung pertumbuhan tanaman dengan maksimal. Mutu dan kesehatan tanah adalah kunci untuk bisa mendapatkan produksi yang baik. 3. Pengelolaan Air Jumlah air yang digunakan selama budidaya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman padi itu sendiri. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, selama masa pertumbuhan vegetatif, tanaman padi hanya membutuhkan sedikit air. Air hanya digenangkan dengan ketebalan yang tipis selama tahap pembungaan dan pengisian bulir. Di beberapa negara yang telah mempraktekkan SRI, untuk menghemat waktu kerja, beberapa petani mengairi dan mengeringkan sawahnya dengan

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


Hortikultura & Padi siklus 3-5 hari. Praktek pengelolaan air di suatu lokasi tergantung tipe tanah, ketersediaan tenaga kerja serta faktor lainnya seperti iklim atau karakter dari varietas padi itu sendiri. Petani harus melakukan percobaan untuk menemukan bagaimana cara terbaik untuk mengelola air.

pengendalian gulma biasanya dilakukan mulai 10-12 hari setelah pemindahan semaian ke lahan. Dan proses pengendaliannya biasanya dilakukan 3-4 kali sampai seluruh kanopi (daun-daun padi) menutupi tanah, yang secara alami menghambat pertumbuhan gulma.

4. Unsur Hara Dalam SRI sebaiknya unsur hara yang menjadi sumber bahan makanan padi diberikan dalam bentuk bahan organik atau dicampur dengan kompos yang terbuat dari sumber daya yang tersedia di sekitar lokasi produksi. Pemberian kotoran ternak selain kompos menunjukkan hasil panen yang lebih baik. Bahan organik sangat baik untuk mempertahankan struktur tanah, menjaga mutu tanah sehingga banyak mikroba tanah yang berguna bagi tanaman dapat hidup di tanah. Selain itu, bahan organik sangat baik sebagai pengikat air dalam tanah.

Bukan Paket Teknologi SRI bukanlah sebuah paket teknologi melainkan sebuah paket prinsip dan pemahaman bagaimana menanam padi secara lebih baik dan lebih bermanfaat. Petani diharapkan untuk melakukan percobaan terhadap metode ini dan mengadaptasikan metode ini sesuai dengan kondisi tanah, iklim, ketersediaan tenaga kerja sehingga mendapatkan sebuah rumusan praktek SRI terbaik untuk dirinya.

International_29.www.reap-canada.com.gif

5. Pengendalian Gulma Karena lahan digenangi maka gulma akan menjadi sebuah masalah yang akan dihadapi oleh petani. Berdasarkan pengalaman,

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)

Para petani yang sudah menerapkan SRI biasanya mendapatkan manfaat berupa menurunnya biaya produksi karena jumlah benih yang dibutuhkan menurun (dari yang biasanya 50-100 kg/hektar menjadi 5-10 kg/hektar), pupuk yang digunakan berasal dari bahan organik yang ada di sekitar lahan sehingga tidak harus membeli dan mendapatkan hasil panen yang lebih banyak.

dengan kepemilikan lahan yang luas maupun yang sempit. 4. Menjadikan peran petani menjadi penting. Seperti yang sudah disebutkan, bahwa SRI bukanlah sebuah paket teknologi melainkan sebuah paket prinsip dan pemahaman bagaimana menanam padi secara lebih baik dan lebih bermanfaat, maka peran petani untuk keberhasilan metode ini sangat menetukan. 5. Kualitas bulir yang dihasilkan biasanya meningkat. Ketika padi SRI di giling biasanya prosentasi yang dihasilkan meningkat karena berkurangnya jumlah bulir yang kosong atau pecah. 6. Di beberapa tempat seperti di India dan Kamboja, penerapan metode ini mempercepat waktu panen. 7. Dengan pengurangan pemakaian bahan kimia pertanian maka beras yang dihasilkan adalah beras dengan residu bahan kimia dalam jumlah yang rendah sehingga lebih sehat untuk dikonsumsi. Berbagai manfaat yang ditawarkan oleh SRI diatas juga membawa sebuah sederetan konsekuensi yang harus dilakukan oleh petani. SRI hanyalah sebuah tawaran dan petani lah yang akan menjadi penentu apakah tawaran ini akan diambil atau tidak. (**)

Manfaat lain yang didapat dari metode ini adalah: Disarikan dari: http://ciifad.cornell.edu/sri/ 1. Meningkatkan produktifitas sumber daya air, tanah dan tenaga kerja. 2. Ramah terhadap lingkungan. Pengurangan pengunaan air memungkinkan penggunaan air untuk keperluan lain. Tanah tidak menjadi rusak dan menjaga keanekaragaman hayati tanah. Padi yang tidak digenangi tidak akan memproduksi metana sebuah gas yang termasuk golongan utama penyebab efek MM Diyan H rumah kaca. Q Consulting and Training 3. Dapat diterapkan baik oleh petani


Vanili Organik di Villa Domba Oleh: Agus Ramada S. “Percuma bertanam vanili, harganya sekarang sudah jatuh dan menjualnya juga sulit!� nada pesimis yang seringkali terdengar setiap kali orang ditanya komentarnya mengenai jenis komoditi rempah yang awalnya berasal dari pedalaman hutan Meksiko ini. Sungguh kondisi yang amat jauh berbeda pada kurun waktu 4 tahun lalu, tanaman vanili menjadi primadona yang buah keringnya banyak dicari karena memiliki nilai ekonomis tinggi di pasar rempah dunia. Benarkah harga vanili jatuh? Bagaimana dengan peluang pasarnya saat ini? Sulitkah bertanam vanili?

Vanili dan Domba Berawal dari kecintaannya pada bidang pertanian dan perkebunan, Ir. Suhadi Sukama, bapak dari empat anak dan satu cucu ini memulai impiannya dengan merintis usaha agribisnis di Desa Jatisari, Kecamatan Cangkuang, Kota Banjaran, Kabupaten Bandung. Di lahan yang dulunya tidak produktif ini, lelaki lulusan Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung angkatan tahun 1971 ini bersama isteri, putra dan putrinya merintis usaha perkebunan vanili organik dan mensinergikannya dengan usaha peternakan domba Garut. Saat pertama kali merintis, untuk mengembalikan kondisi lahan yang tandus, penyuburan dan penghijauan dilakukannya dengan memanfaatkan kotoran ternak domba sebanyakbanyaknya. Untuk penyuburan lahan tandus tersebut, setiap 1 ha paling

tidak membutuhkan 60 ton pupuk kandang/tahun (ini dengan asumsi 1 ha ditanami 3000 tanaman vanili, dimana 1 tanaman membutuhkan pupuk kandang sebanyak 20 kg/tahun). Bila harga pupuk kandang mentah atau belum diolah diasumsikan rata-rata Rp. 200,-/kg, maka untuk membeli kotoran ternak setiap 1 ha saja dibutuhkan alokasi dana sebesar Rp. 12.000.000,Sehingga untuk kebun vanili seluas 4 ha maka biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 48.000.000,- setiap tahunnya! Inilah yang menjadi alasan mengapa perkebunan vanili organik di bilangan Bandung ini disinergikan dengan peternakan domba Garut. Tidak hanya itu, dari usaha ternak yang dijalankannya, Pak Suhadi juga dapat memperoleh keuntungan atas hasil penjualan dombanya, terutama saat Hari Raya Idul Adha tiba.

Optimis Kerjasama teknis dengan berbagai pihak khususnya para peneliti, perguruan tinggi dan lembaga strategis lainnya juga dijalin di perkebunan vanili organik yang kini dikenal dengan sebutan Villa Domba ini. Kerjasama ini dimaksudkan untuk memperoleh produksi buah yang berkualitas dan memenuhi standar kriteria pasar. Dan karena potensi penyerapan produksi buah vanili organik di pasar dunia terbuka lebar seiring dengan kesadaran masyarakat internasional terhadap konsumsi produk berbahan baku pertanian yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya untuk kesehatan, maka kakek dari seorang cucu beserta putra putrinya yang berkegiatan di kebun Jatisari ini selalu optimis mengelola kebun vanili organiknya.Terlebih supply buah vanili organik dunia dari beberapa negara produsen kompetitor saat ini seperti Madagaskar, Meksiko dan India masih terbilang rendah.

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


Kebun Ternak Tidak hanya tanaman vanili, untuk memanfaatkan potensi lahan agar lebih optimal maka di area lahan tersebut juga ditanami beberapa tanaman sela seperti kopi, kemiri dan tanaman produktif lainnya. Tak perlu khawatir dengan tanaman sela ini karena tanaman sela tidak akan merusak perakaran vanili. Pergerakan akar tanaman vanili di dalam tanah adalah +/- 20 cm termasuk area pemberian pupuk kandang.

oleh faktor supply dan demand.

Foto: Agus R.S

Karena permainan kartel vanili di Madagaskar, harga vanili non organik terendah terjadi pada tahun 1997 yang berada di kisaran US$ 19/kg. Kenaikan harga mulai terjadi pada kurun waktu antara tahun 1999 dan mencapai puncaknya pada tahun 2004 sebesar US$ 304/kg, karena hancurnya perkebunan vanili di Madagaskar sebagai produsen vanili terbesar dunia akibat bencana angin topan. Tahun 2004 inilah tahun di Benarkah Harga Vanili Jatuh? mana masyarakat agribisnis Indonesia Di pasar rempah dunia kurun waktu beramai-ramai menanam vanili. Dan 4 tahun lalu, vanili menjadi harga vanili non organik kembali ke primadona yang buah keringnya titik stabil US$ 30/kg sejak tahun dianggap memiliki nilai ekonomis Bagan Jalur distribusi kacang mete: 2005 hingga sekarang. tinggi. Bahkan banyak pelaku agribisnis yang rela menyulap lahannya dan beralih melakukan Kendala Pasar budidaya vanili. Berbeda dengan Di pasaran dunia, kualitas vanili keadaan saat ini, dimana banyak Indonesia masih tergolong rendah.Ini pelaku agribisnis yang menyatakan karena banyak petani yang memanen bahwa bertanam vanili bukan buah vanili tidak sesuai waktu panen merupakan pilihan investasi yang yang dianjurkan (panen muda) menguntungkan. �Untuk apa sehingga berpengaruh terhadap bertanam vanili? Harganya jatuh dan kualitas buah vanili kering yang menjualnya juga sulit!� Demikian dihasilkannya. Selain karena buah nada pesimis yang seringkali banyak vanili rawan pencurian, para petani didengar setiap kali membahas tergesa memanen karena didorong komiditi rempah aromatik ini. oleh faktor kebutuhan ekonomi yang

Gambar di atas adalah penjelasan mengenai fluktuasi harga vanili dunia non organik di pasar konvensional pada kurun waktu 1995 hingga 2005 yang diperoleh dari berbagai sumber. Dapat dilihat bahwa setiap tahunnya, harga vanili dunia non organik mengalami fluktuasi, sesuai hukum pasar dimana harga sangat ditentukan Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)

dihasilkannya pada kurun waktu 2000 - 2004, entah ulah siapa pelakunya yang jelas AS sempat melakukan larangan impor buah vanili kering asal Indonesia karena terbukti mengandung merkuri serta pengoplosan dengan belut! Tidak hanya dari AS, tahun lalu ketika perwakilan delegasi provinsi Hainan, Cina melakukan kunjungan ke perkebunan vanili organik Villa Domba, kritikan tajam terlontar untuk vanili asal Indonesia karena ditemukan paku di dalamnya! Upaya perbaikan citra Indonesia atas produksi buah vanili yang dihasilkan tentunya harus dilakukan, terlebih produksi buah vanili merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan kontribusi besar bagi pendapatan devisa negara. Vanili Organik Tren vanili di pasar dunia saat ini adalah kebutuhan buah vanili kering organik yang cukup tinggi. Bayangkan saja, secara keseluruhan kebutuhan dunia atas buah vanili organik baru terpenuhi 1% nya dari supply produksi vanili dunia. Artinya seiring kesadaran masyarakat internasional untuk mengkonsumsi produk organik di mana buah vanili organik merupakan komoditi rempah aromatik yang banyak dibutuhkan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman di kawasan Eropa, Asia dan Amerika, maka peluang pasar yang ada sangat terbuka lebar tentunya. Data yang diperoleh dari website Fair Trade Labelling Organization, harga buah vanili organik kering saat ini adalah sekitar US$ 60/kg. Sungguh menjanjikan! (**)

Perkembangan harga vanili dunia

meyebabkan mereka memanen buah vanili hijau dalam usiaharga yangvanili relatif Perkembangan dunia muda. Perilaku tidak terpuji sempat mencemari citra Indonesia sebagai produsen terbesar kedua atas produksi buah vanili yang

Agus Ramada Setiadi Petani Vanili Organik & Peternak Domba Garut


Apakah Sertifikat Organis Ditarik Jika Gagal Panen? Jika gagal panen, semisal yang saat ini dihadapi oleh Asosiasi Periau Danau Sentarum [APDS], dimana karena air danau pasang mengakibatkan banyak tikung (sarang lebah hutan buatan) terendam air sehingga tidak dapat memanen madu, apakah inspeksi tahunan tetap dilaksanakan? Dan apakah sertifikat organis yang telah didapat ditarik kembali? Jenne de Beer Non-Timber Forest Product Exchange Programme (NTFP-EP) 92-A Masikap Extension Barangay Central, Diliman Quezon City 1100 The Philippines

Agung Prawoto menjawab: Inspeksi tahunan tetap dilakukan untuk melihat komitmen, efektifitas dan kebenaran APDS dalam menjalankan ICS (apakah sistem ICS berjalan dengan benar atau tidak, mengecek ke lapangan, ke petani dan dokumen). Juga untuk melihat keefektifan langkah-langkah yang dilakukan APDS bila terjadi sesuatu yang mempengaruhi mutu produk dan keorganikan produk seperti banjir. Ditarik atau tidaknya sertifikat dilihat apakah APDS mampu menjalankan ICS secara benar dan efektif, termasuk mengidentifikasi dan melakukan perbaikan terhadap pelanggaran-pelanggaran standar yang terjadi.

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


KEMBALINYA HAK PETANI ATAS BENIH PADI

Judul Penulis

: Kembalinya Hak Petani Atas Benih : Titiek Eka Sasanti, Suparlan, Edhy Setiawan, Sri Wahyuningsih Penyunting : Rossana Dewi R, Ir. Imam Suharto, MSc Penerbit : GITA PERTIWI Jl. Griyan Lama No.20, Baturan Solo, Jawa Tengah Telp./Fax: 0271-710465/718956 e-mail: gita@indo.net.id; www.gita.or.id Tebal : vii + 102 hal.

Semenjak Revolusi Hijau digaungkan, banyak pemimpin dunia yang meyakini bahwa kebutuhan pangan dunia dapat diatasi, salah satunya, dengan industri benih. Petani kemudian diharuskan bergantung pada asupan benih luar yang seringkali tidak cocok. Tidak mengherankan jika kemudian benihbenih dikuasai oleh pengusaha atau pabrik besar. Buku ini mengantarkan kita untuk belajar dari pengalaman pengalaman petani di berbagai wilayah dalam mengelola benih khususnya padi. Mengerti tentang benih, mendorong untuk semata-mata tidak memusatkan perhatian pada sisi

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)

teknis, tetapi sekaligus analisis dalam mengembangkan perbenihan yang menyentuh segi makro dan mikro. Hal ini mengandung implikasi yang mengaitkan bukan saja teknologi, hukum, sosial, ekonomi, juga dalam pembentukan sumber daya manusianya. Dengan perkataan lain, perbenihan tidak hanya ditujukan pada permasalahan teknis, tetapi meluas kepada masalah kelembagaan yang ada kaitannya dengan pengaturan perbenihan di masyarakat. Juga mengemukakan pengalamanpengalaman petani pada skala lokal di kabupaten Wonogiri, Ngawi, Sragen, Sukoharjo dan Kulon Progo yang mengupayakan kebutuhan benih padi melalui berbagai strategi praktis.

Dampak dari upaya ini ternyata mampu menjadikan petani sebagai penghasil atau produsen benih sehingga ketergantungan terhadap benih pabrik dapat diminimalisir. Upaya ini juga merupakan bukti bahwa perbenihan tidak hanya dapat dikuasai oleh pabrik atau pengusaha, tetapi petanipun mampu melakukan perbenihan dengan kualitas yang dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini mampu mematahkan pendapat bahwa yang dapat memproduksi benih hanyalah pengusaha yang memerlukan syarat-syarat tertentu dan modal besar yang kemungkinan besar petani tidak dapat menjangkaunya. (sny)


PT ATINA INDONESIA:

Membangun ICS Dalam Budidaya Udang Organik Oleh: Agung Prawoto Selain terkenal dengan petis-nya, udang Sidoarjo terkenal pula akan udangnya. Sidoarjo memang kaya tambak. Luasnya sekitar 15,539 hektar, membentang mulai dari tepi Kali Jangir, Surabaya di sebelah Utara, hingga tepi Kali Kuntulan, Pasuruan di Selatan. Para petambakpun umumnya mengelola secara tradisional. Dengan dampingan ATINA Indonesia dan OCeAN, para petambak di kawasan Timur pulau Jawa ini berhasil mengekspor udang - udangnya ke

Foto - foto: Apr

negeri matahari terbit, Jepang.

Saat akan mendarat di Bandara Juanda Surabaya di pertengahan Desember 2007, dari langit Sidoarjo nampak petakan-petakan tambak udang di sekitar pesisir pantainya. Di Jawa Timur, kawasan ini memang dikenal sebagai penghasil utama udang dan ikan bandeng.

“Budidaya udang di Sidoarjo sebagian besar masih dikelola secara tradisional. Tidak menggunakan pakan tambahan karena makanan seperti ganggang, lumut, plankton, dan organisme-organisme dasar yang hidup pada area tambak berasal dari tambak tersebut,” ucap Harry Yulie, Manajer Lapangan PT ATINA Indonesia (ATINA), sebuah perusahaan pengolahan udang organik yang melakukan pembinaan

dan pembelian udang organik dari para petambak udang di Sidoarjo. Udang-udang tersebut sebagian besar dipasarkan ke Jepang. “Pengolahan tanah dasar, pemupukan dan pengeringan tanah dapat menumbuhkan pakan alami. Untuk pemupukan, kami menggunakan pupuk alami seperti guano (kotoran kelelawar), blotong tebu, bekatul (dedak). Bahan-bahan tersebut berguna untuk memperbaiki struktur tanah dan menumbuhkan pakan alami tersebut,” jelas Harry.g

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


Kabar dari BIOCert “Di sekitar pematang tambak ditanami pepohonan, seperti pohon api-api, tunjangan, nimba. Daunnya yang jatuh ke tambak dibiarkan menjadi bangeran untuk makanan plankton. Begitu juga gulma yang tumbuh di pematang, dipangkas dan dibuang ke tambak untuk makanan plankton,” jelas Fajar Kurniawan, koordinator OCeAN, sebuah LSM lokal yang menjadi mitra ATINA untuk mendampingi budidaya udang organik. “Bandeng dibudidayakan bersamaan dengan udang untuk membantu sirkulasi udara di tambak yang berguna bagi udang,” tambah Fajar. ATINA dan OCeAN mengembangkan sistem pengawasan mutu internal (Internal Control SystemICS) untuk memastikan bahwa semua petani yang bergabung dalam program udang organik ini memenuhi kriteria standar (organik dan mutu produk) dan prosedur ATINA, mengembangkan kemampuan teknis petambak, membantu perencanaan produksi serta memonitoring pelaksanaan standar organik ke petambak secara regular.

serta dalam order produksi harus diinspeksi,” papar Harry. Laporan inspeksi tersebut diajukan ke Komisi Persetujuan ATINA untuk mendapatkan persetujuan, apakah petambak tersebut sudah sesuai dengan kriteria dan standar ATINA atau belum. Komisi Persetujuan juga memberikan status tambak, apakah organik atau non organik serta perkiraan maksimal hasil panen mendatang,” papar Harry panjang lebar. Seminggu sebelum panen, dilakukan tes produk. Dari setiap tambak yang disetujui untuk mengikuti order produksi terdekat, 500 gram udang diambil untuk uji mikrobiologi dan logam berat. Bila sesuai dengan standar ATINA, maka tambak tersebut dapat ikut serta dalam order produksi mendatang.

Panen udang dilakukan pada saat usia udang sudah mencapai 90 - 120 hari “OCeAN memberikan pembinaan dan sudah mencapai ukuran rutin ke petambak. Biasanya konsumsi. Bagi petani tambak membahas mengenai hal teknis Sidoarjo, panen mengikuti masa budidaya udang dan penjelasan kalender Jawa yang menganut sistem mengenai prosedur dan standar udang pasang surutnya air. Dalam satu bulan organik ATINA,” jelas Fajar. ”Dalam program organik ini, OCeAN sebagai kalender Jawa terjadi dua kali pasang pembina sekaligus membantu petani besar yang lebih dikenal dengan masa (prapuh) Purnama (tanggal 12 - 18 dalam mencatat proses produksi kalender Jawa ) dan masa Peténgan udangnya,” tambahnya. (tanggal 25 - 2 kalender Jawa). Pada masa tersebut memungkinkan untuk Setiap tahunnya, ATINA memiliki dilakukan panen dengan mengurangi rencana produksi udang organik lalu volume air tambak hingga mencapai order produksi ini diinformasikan ke 10 - 25 % pada saat kondisi surut dan petambak yang telah terdaftar dalam memasukkan air perlahan-lahan di program organik ini. Bila tertarik saat air mulai pasang. untuk menjual udangnya dalam periode order produksi mendatang, Panen dilakukan pagi hari dan petambak kemudian dapat disaksikan inspektor ATINA. Udang mendaftarkan tambaknya. ”Untuk dari tambak ditimbang dan dimasukan dapat berpartisipasi dalam produksi dalam cool box berisi es dan bersegel, mendatang, semua tambak yang ikut

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)

Fajar Kurniawan (kanan) koord. OCeAN dan Harry Yulie (kiri) Manajer Lap. PT ATINA

lalu dibawa ke tempat pengumpulan terdekat melalui motor atau perahu. Selain inspeksi rutin, ATINA melakukan inspeksi konservasi untuk memonitoring pertumbuhan pepohonan di bedengan tambak. Kendala yang dihadapi saat ini adalah banjir laut pasang akibat perubahaan cuaca. ”Beberapa tambak jebol akibat banjir pasang pada November 2007 sehingga menyebabkan kegagalan panen,” kata Harry. ATINA mengembangkan standar udang organik yang disesuaikan dengan kondisi dan pengetahuan lokal. Standar ini mengacu pada standar Aquakultur Naturland, yaitu sebuah lembaga sertifikasi organik dari Jerman. Sejak 2002, ATINA telah Foto: koleksi pribadi mendapatkan sertifikat organik dari lembaga ini. (**)

Agung Prawoto Direktur Eksekutif BIOCert


Jahe: Penyakit dan Pengendaliannya Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu yang berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional.

Foto: wordpress.com

Jenis-Jenis Jahe Berdasarkan ukuran, bentuk, warna dan rimpangnya, jahe dibedakan menjadi 3 jenis. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu: 1. Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak. Rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini biasa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan. 2. Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit. Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.

3. Jahe Merah Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil. sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan. Manfaat Rimpang jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa ini para petani cabe menggunakan jahe sebagai pestisida alami. Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak atsiri dan koresin yang

diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis danlain-lain. Adapun manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah Empedu. Penyakit dan Pengendaliannya 1. Penyakit Layu Bakteri Gejala: Mula-mula helaian daun bagian bawah melipat dan menggulung kemudian terjadi perubahan warna dari hijau menjadi kuning dan mengering. Kemudian tunas batang menjadi busuk dan akhirnya tanaman mati rebah. Bila diperhatikan, rimpang yang sakit itu berwarna gelap dan sedikit membusuk, kalau rimpang dipotong akan keluar lendir

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


Gejala penyakit layu bakteri Ralstonia (Pseudomonas solanacearum)

berwarna putih susu sampai kecoklatan. Penyakit ini menyerang tanaman jahe pada umur 3-4 bulan dan yang paling berpengaruh adalah faktor suhu udara yang dingin, genangan air dan kondisi tanah yang terlalu lembab. Pengendalian: Teknis  Menanam bibit yang sehat  Tidak menanam jahe pada areal yang terserang penyakit minimal 5 tahun, sebaiknya ditanami tanaman yang bukan inang R. Solanacearum antara lain padi dan jagung  Di daerah endemik, harus dilakukan rotasi dengan tanaman lain yang bukan inang patogen ini Mekanis ¨ Membuat saluran-saluran drainase yang baik agar tidak tergenang air ¨ Melakukan sanitasi dan pemeliharaan kebun dengan teratur dan intensif, yaitu mencabut tanaman sakit, mencabut gulma dengan baik ¨ Pemakaian abu sekam dan ekstrak bawang merah pada tanah terkontaminasi R. Solanacearum dapat menekan serangan penyakit sampai 33%. Biologis Pemakaian kompos atau agen antagonis seperti Gliocladium sp., Trichoderma sp., atau Pseudomonas fluorescens dapat menekan serangan penyakit.

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)

Gejala penyakit busuk rimpang Akibat serangan Rhizoctonia solani

2. Penyakit Busuk Rimpang Penyakit ini dapat masuk ke bibit rimpang jahe melalui lukanya. Ia akan tumbuh dengan baik pada suhu udara 20-25 derajat C dan terus berkembang akhirnya menyebabkan rimpang menjadi busuk. Gejala: Daun bagian bawah yang berubah menjadi kuning lalu layu dan akhirnya tanaman mati. Pengendalian: Teknis ¨ Memilih benih yang sehat dan cukup umur, tidak terdapat terdapat luka ¨ Menanam jahe di lahan yang drainasenya baik ¨ Mengadakan pergiliran/rotasi tanaman Biologis Bekas tanaman yang sakit diberi kompos matang atau agen antagonis seperti trichoderma spp. Atau Gliocladium spp. Atau Pseudomonas fluorescens. 3. Penyakit Bercak Daun Penyakit ini dapat menular dengan bantuan angin, akan masuk melalui luka maupun tanpa luka. Gejala: Pada daun yang bercak-bercak berukuran 3-5 mm, rwarna

Gejala penyakit bercak daun Phyllosticta sp

selanjutnya bercak-bercak itu berwarna abu-abu dan ditengahnya terdapat bintikbintik berwarna hitam, sedangkan pinggirnya busuk basah. Tanaman yang terserang bisa mati. Pengendalian: Baik tindakan pencegahan maupun penyemprotan penyakit bercak daun sama halnya dengan cara-cara yang dijelaskan di atas. ¨ ¨ ¨

Kultur Teknis: Jarak tanam tidak terlalu rapat agar kelembaban di sekitar tanaman tidak terlalu tinggi ¨ Sanitasi kebun ¨ Perbaikan drainase

Sumber: warintek.bantul.go.id, warintek.ristek.go.id, ditsayur.hortikultura.go.id.


�Mengulik� Sampah Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah ini sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas dari 'pengelolaan' gaya hidup masyarakat. Memang tidak mudah mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan mengelola sampah sejak dari rumah masing-masing. Masyarakat tampaknya memang lebih suka menyerahkan urusan sampah kepada petugas kebersihan. Kemana larinya sampah sepertinya bukan urusan kita. Padahal jika tidak dikelola dengan baik, sampah bisa menjadi sumber malapetaka. Tentu kita masih ingat pada bencana longsor di tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwi Gajah, Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu yang memakan korban jiwa. Atau buruknya pemandangan kota di Jakarta dan Bandung karena sampah menumpuk di semua penjuru kota akibat ketiadaan petugas yang mengangkut sampah. Sebenarnya kita dapat turut berperan serta dalam meminimalisasi dan mengolah sampah di sekitar lingkungan kita. Sebagai Konsumen organis, apa sih sebenarnya yang dapat kita lakukan?

Jenis-Jenis Sampah Secara umum, sebenarnya sampah dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah an organik (sampah kering). Sampah basah adalah sampah yang berasal dari mahluk hidup, seperti daundaunan, sampah dapur dan lain lain. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 6070% dari total volume sampah. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng dan lain lain, sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.

1. Kelompok Besi/Logam contoh: kaleng, tutup toples, besi, dll. sebelum di buang... apakah masih bisa digunakan?

Untuk lebih memudahkan para pemulung memilah sampah an organik, alangkah baiknya jika kita memilah sampah an organik yang akan dibuang ke dalam tiga kelompok yaitu:

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


2. Kelompok Kertas contoh: kertas bekas, koran, buku, dll. sebelum di buang... pisahkan kertas Basah dan karton tebal (bisa digunakan untuk kompos) atau bisa dimanfaatkan menjadi kertas daur ulang 3.

Kelompok Pecah-Belah contoh: botol, cangkir, dll. sebelum di buang... hati-hati dengan pecahan Kaca, maka simpanlah di tempat aman.

Mengapa Sampah Harus Dipisahkan? Karena sampah akan berguna jika kita pisahkan menurut jenisnya, misalnya: ď Ź

Jenis sampah seperti kaleng, botol, kendi dan lain lain bisa diolah ulang menjadi kerajinan tangan seperti vas bunga atau tempat pulpen. Jika memang sudah tidak dapat dipergunakan pastikan diambil pemulung untuk didaur ulang.

Sampah organik seperti dedaunan atau sisa makanan, dapat digunakan untuk pupuk yang sangat berguna bagi tanaman dan kebun kita.

ď Ź

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)

l Sampah kertas dapat diolah kembali menjadi kertas daur ulang atau dapat digunakan se-bagai dekorasi juga dapat dipergunakan sebagai hiasan. Selalu ingat untuk menggunakan kedua sisi dari kertas yang kamu gunakan. (**)

ď Ź

Sampah plastik sangat berbahaya untuk lingkungan hidup disekitarkita dan juga bagi kesehatan kita. Sampah plastik ini sangat susah untuk didaur ulang. Jika berbelanja, usahakan menggunakan tas yang terbuat dari kain dan jangan menerima tas plastik.

Tomat organik di kebun Wahana Cory, Bogor

Sumber: www.idepfoundation.org, www.walhi.or.id

INGAT! 1. Jangan Membakar Sampah jika sampah dibakar, racun yang ada dalam sampah tersebut akan membuat polusi di udara termasuk pada udara yang kita hirup sehingga dapat membuat kita sakit. 2. Jangan Mengubur Sampah Karena racun yang ada di dalam sampah akan meresap atau merembes kedalam tanah & membuat air yang ada dalam tanah tercemar begitu juga lingkungan di sekitarnya. 3. Jangan Membuang Sampah Karena racun yang ada dalam sampah dapat mencemari lingkungan di sekitar kita, mahluk hidup dan lingkungan kita akan mengalami kerusakan dan racun akan terus bertambah dimana mana.


Manatap Perjalanan Pertanian Organis Oleh: St. Wangsit Setelah belasan tahun pertanian organis dikembangkan, muncul pertanyaan yang penting untuk direfleksikan yakni sejauh mana keberhasilan gerakan pertanian organis?

Dari pengalaman bergelut dalam pengembangan gerakan pertanian organis, ternyata yang paling bisa dilihat dan dirasakan adalah semakin banyak pihak yang mengakui dan menerima pertanian organis. Pemerintah, lembaga donor, LSM, organisasi tani, konsumen, bahkan kalangan industri meyakini bahwa pertanian organis baik untuk dilaksanakan. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga mengakui bahwa dari berbagai aspek, pertanian organis memenuhi syarat untuk dikembangkan. Karena bersifat low external input, maka kelestarian lingkungan pertanian lebih terjaga (ecologically sound). Harga produk yang lebih tinggi sementara biaya produksi lebih rendah, menjadikan

pertanian organis layak secara ekonomi (economically viable). Bagaimana halnya dengan pelaksanaan pertanian organis di kalangan petani? Penelusuran dan perjumpaan dengan petani di berbagai daerah, baik itu KTNA dan HKTI, petani dampingan LSM, ternyata masih sangat sedikit petani yang secara konsisten dari waktu ke waktu melaksanakan pertanian organis. Banyak petani yang mengaku bertani organis, tetapi seringkali diselingi dengan sistem budidaya non organis dalam suatu kurun waktu tertentu. Bahkan banyak pula petani yang awalnya merupakan penggerak pertanian organis namun kemudian kembali ke pertanian non organis. Mengapa?

Faktor Petani Pada pertengahan hingga akhir tahun 90-an, gerakan pertanian organis banyak diwarnai dan dimaknai sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni penguasa. Hal itu sah saja, dan ternyata membangkitkan semangat petani untuk melakukan pertanian organis. Dan pada awal tahun 2000-an hingga sekarang, peningkatan kesadaran konsumen untuk mengkonsumsi produk organik menjadi daya tarik yang kuat bagi petani untuk melaksanakan pertanian organik karena harga jual produk yang menggiurkan. Disamping dua faktor dominan tersebut, muncul pula faktor-faktor pendukung lain yang menyebabkan petani (mencoba) beralih ke pertanian organis,

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


diantaranya adalah kesadaran lingkungan, kesadaran keagamaan, dan sebagainya. Rupanya, pertanian organis sebagai bentuk perlawanan tidak cukup kuat menjadi daya dorong petani untuk konsisten melaksanakan pertanian organis. Konstelasi politik tanah air yang lebih terbuka tidak bisa lagi menempatkan pertanian organis sebagai “arena” perlawanan petani. Maka yang terjadi kemudian adalah banyak petani yang kembali lagi ke pertanian non organis. Harapan yang lebih bersifat ekonomis atau lebih tepatnya keinginan untuk menikmati harga jual produk pertanian dengan cara melaksanakan pertanian organis kemudian menjadi daya tarik luar biasa. Booming konsumen produk pertanian organis disertai informasi harga jual tinggi atas produk pertanian organis menarik perhatian petani untuk bertani organis. Namun melambungnya harapan petani ini ternyata tidak sepenuhnya terwujud. “Pasar” di kota-kota besar tidak bisa dengan mudah diakses petani. Kalaupun kemudian akses pemasaran terbuka, ternyata juga tidak bisa berhubungan langsung dengan konsumen dimaksud. Diperlukan perantara agar produk organis milik petani sampai di tangan konsumen. Pada akhirnya, selisih harga yang dinikmati petani organis hanya sedikit. Harga beras organis di tingkat petani di Yogyakarta dan Jawa Tengah misalnya, hanya berselisih Rp 500,- sampai dengan Rp 1.500,dibandingkan dengan beras non organis. Faktor Pemerintah Beberapa tahun belakangan ini pemerintah memang sangat terbuka terhadap gerakan pertanian organik.*) Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah telah mempunyai program pengembangan pertanian organik. Berbagai kebijakan telah dibuat dalam kerangka pengembangan pertanian organik. Sayangnya, bagi sebagian besar pejabat pemerintah, pertanian

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)

organik masih dipahami sebagai mengganti pupuk dan pestisida kimia dengan pupuk dan pestisida organik. Pemahaman demikian ini membawa dampak pada kegagalan pertanian organik itu sendiri. Secara umum, pertanian organik yang dikembangkan pemerintah adalah melalui demplot, berbagai pelatihan maupun penyediaan pupuk organik bagi petani. Sebagai program yang relatif masih “baru” maka pelaksanaan berbagai program pengembangan pertanian organik tersebut diatas masih bersifat “event” yang tidak jelas tindak lanjutnya. Perangkat pendukung yang diperlukan juga tidak disiapkan. Petani sebagai “obyek” program pemerintah pada akhirnya hanya menangkap pertanian organik sebagai proyek yang bersifat parsial. Faktor LSM Dewasa ini hampir semua LSM pemberdayaan petani mengusung pertanian organis sebagai isu utama dalam budidaya, walaupun dengan istilah yang berbeda-beda. Tetapi sebaliknya, sangat sedikit LSM yang mengkhususkan diri dalam pengembangan pertanian organis. Yang banyak terjadi adalah pengembangan pertanian organis hanya sebagai pelengkap program. Pertanian organis bukan sebagai fokus. Pada kasus seperti ini tenaga pengampu pertanian organik bukanlah orang yang ahli dalam pertanian organis, melainkan sekedar tahu mengenai pertanian organis. Metode pembelajaran “belajar bersama petani” pada kenyataannya berkembang menjadi realita dimana pendamping sungguh-sungguh belajar dari petani. Karena perannya hanya sebagai pelengkap program, maka sumber daya yang dialokasikan juga tidak maksimal. Pengembangan pertanian organis kemudian hanya dikhususkan dalam aspek budidaya. Sementara hal lain seperti pengorganisasian produksi misalnya

tidak disiapkan. Padahal pengorganisasian produksi sangat diperlukan untuk menjaga kontinuitas dalam pemasaran. Baik Untuk Diri Sendiri Pengalaman sangat berharga justru muncul dari petani di Pituruh – Purworejo yang sejak tahun 1996 hingga sekarang konsisten melaksanakan pertanian organis. Satu alasan yang disampaikan adalah: “Awit kula angge piyambak...” atau “karena untuk saya sendiri ...” Ungkapan sederhana ini bermakna luas, dan ternyata justru menjadi kekuatan untuk konsisten dengan apa yang telah diyakininya. Apa yang dinyatakan petani pituruh diatas mengisyaratkan banyak hal setidaknya :  Produk pertanian organis yang dihasilkan terutama dikonsumsi sendiri. Tentunya ini bermanfaat bagi kesehatannya;  Tanah yang subur karena tidak tereksploitasi juga akan memudahkan dirinya dalam menggarap sawah;  Penghematan biaya produksi, karena sarana pertanian tidak beli akan memudahkan baginya mencukupi kebutuhan hidup lainnya; Akhirnya, bukan karena harapan harga tinggi, bukan karena ingin membangkang, dan bukan karena saran pihak lain. Konsistensi bisa muncul tatkala sampai pada kesadaran “baik untuk diri sendiri.” (**)

*) sengaja digunakan pertanian organik sebagaimana dipahami oleh pemerintah

St. Wangsit penggemar pertanian organis tinggal di Bantul, Jawa Tengah


Ki Karma:

Bertani Organik karena Harga Relatif Stabil Oleh: Sri Nuryati Usia tak menghalanginya untuk melestarikan dan mengkampanyekan pertanian organik. Kegigihan dan kekritisan membuatnya dipilih menjadi ketua Kelompok Tani Saluyu yang menyuarakan pentingnya pertanian selaras alam. Dan walau banyak petani disekitarnya enggan ber-organik, namun melalui kelompok taninya, Bapak dua cucu ini tetap coba untuk merangkul mereka agar turut melestarikan pertanian yang menurutnya adalah pertanian jaman baheula (dulu) ini.

Lelaki yang mempersilahkan say masuk tersebut adalah Ki Karma, Ketua Kelompok Tani Saluyu yang berada di kampung Cijulang, Desa Harjasari, Bogor. Walau usianya mendekati 70 tahun, namun anggota Kelompok Tani Saluyu masih mempercayakan kepemimpinan kelompok taninya kepada beliau. Hal ini karena kegigihan dan kekritisannya dalam memasyarakatkan pertanian organik khususnya di sekitar kampungnya.

Ki Karma

Siang itu mendung masih menggayut ditemani hujan yang mulai turun ketika sayai tiba di sebuah rumah sederhana di kaki Gunung Salak yang terletak di Selatan kota Bogor. Saya disambut ramah oleh seorang perempuan tengah baya yang tengah memilah-milah tomat yang nampaknya baru saja dipetik dari kebun. “Masuk, masuk…,” sapanya ramah. Tak berapa lama, dari dalam rumah muncullah sang empunya rumah “Bapa juga baru aja nyampe, ayo masuk,” ajaknya mempersilakan saya masuk ke rumahnya.

Ketertarikannya pada pertanian organik berawal di sekitar tahun 2000an saat ada pendampingan dari ELSPPAT, LSM yang peduli pada pengembangan pertanian organik. Mulanya para petani di sekitar kampung Cijulang tidak ada yang bertani secara organik. ”Mula-mula Bapa ikut (menjadi anggota kelompok tani) tuh,” kata lelaki yang pernah menjadi nayaga (pemain kendang–red) ini. ”Dan dari sekian banyak petani, yang bagus paling cuma empat atau lima. Yang jelek lebih banyak,” tambahnya. ”Abis itu bubar, dan Bapa sempat keluar dari kelompok,” akunya. ”Kemudian Bapa menyarankan agar ada pasarnya. Kalau dulu kan dijualnya ke

pelanggan-pelanggan di Bogor saja. Nah, Bapa masuk lagi (menjadi anggota kelompok tani Saluyu) setelah ada pasarnya,” urainya. Tidak puas cuma ada pasar, Bapak empat anak ini juga mengusulkan agar setiap petani yang tergabung dalam kelompok tani Saluyu dan menerapkan budidaya organik di lahan kelompok juga harus mempraktekannya di lahannya masing-masing. Petani Penggarap Di kampung Cijulang ini, hampir semua petani adalah petani penggarap. Sebagian besar lahan di daerah Cijulang ini dimiliki oleh orang-orang kota atau dikuasai oleh sebuah perusahaan (masyarakat sekitar menyebutnya 'lahan PT'-red). Begitupun Ki Karma, sekitar satu ha lahan yang dikelolanya adalah lahan garapan. ”Milik orang kota,” katanya. ”Bapa mah tidak punya lahan,” ungkapnya merendah. ”Lahan yang sekarang Bapa garap adalah lahan kepunyaan orang,” tambahnya. Petani yang mempraktekkan pertanian organik relatif masih sedikit di desa yang terletak sekitar 8 km dari pusat kota Bogor.

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


Dari seluruh petani yang menghuni Kampung Cijulang ini (sekitar 50 orang), hanya 10 orang saja yang masih dengan tekun mempraktekkan pertanian yang ramah lingkungan ini, itupun kebanyakan dari mereka sudah tidak muda lagi. ”Anak muda disini kebanyakan pada kerja sebagai buruh sepatu,” ungkap Ki Karma ketika ditanya mengapa hanya orang-orang tua saja yang tertarik bertani organik. Inilah Kebun Bapa Ki Karma kemudian mengajak saya ke kebunnya yang jaraknya sekitar 1 km dari rumahnya. Setelah melalui jalan licin dan kontur tanah yang naik turun, dan melewati beberapa hamparan sawah, tibalah kami di kebun garapan Ki Karma. ”Inilah kebun Bapa,” katanya pada saya sembari menunjukkan batasbatasnya. Di lahan yang terletak di lembah itu memang tidak semuanya diolah dengan budidaya sistem organik. Nampak beberapa lahan yang ditanami nanas, bayam, kangkung, sawi, tomat dan beberapa tegakan pohon pelindung yang menjulang diantaranya. Dari sekitar 1 ha lahan garapan Ki Karma tersebut, dua petak diantaranya, sekitar 800 m2, diolah dengan sistem organik. Di petak pertama ditanami caysim dan daun

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)

kacang panjang dan cabai, juga oyong dan jagung. Sedangkan di petak kedua yang letaknya agak di bawah nampak tanaman tomat yang habis dipanen dan caysim yang nampaknya tengah dibuat bibit. “Ini sudah bisa diambil untuk dijadikan bibit,” katanya seraya memotong beberapa tangkai bibit caysim. “Kalau bibit seperti caysim, bayam, kacang, tomat, bikin sendiri,” katanya. “Tapi kalau bibit wortel, belum bisa bikin bibitnya. Kalau di kelompok tani belum punya ya kita beli di Cisarua (Bina Sarana Bhakti – red),” tambahnya. Panen Dari dua petak lahan yang diolah secara organik itulah Ki Karma dan istrinya seminggu dua kali dapat memanen sayuran dan buah organik. Panen di kebun dilakukan setiap hari Senin dan Rabu. Keesokan harinya (Selasa dan Kamis) akan ada anggota kelompok tani yang bertugas memasarkan produk anggota kelompok yang akan datang mengambil dan memasarkannya di sebuah sekolah swasta yang cukup ternama di kota Bogor ini. ”Setiap minggu kita bisa dapat sekitar Rp. 77.000,-” katanya saat disinggung berapa rupiah perolehan hasil panennya setiap minggunya. ”Setiap bulan berarti sekitar Rp.300.000,- dari dua petak kebun organik tersebut. Sekarang mah lagi panen sawi sama daun singkong,” tambahnya sembari

Ki Karma dengan bibit cay sim

dua petak kebun organik tersebut. Sekarang mah lagi panen sawi sama daun singkong,” tambahnya sembari menunjuk tumpukan sawi dan saun singkong yang baru saja dipanen oleh sang istri. Harga stabil Bapak berperawakan kurus ini mengaku senang bertani organik karena harga jual yang relatif stabil ketimbang bertani non organik. ”Semisal harga nanas, kalau di pasar tidak ada nanas, harga pasti mahal. Tapi kalau di pasar banyak (nanas), pasti harga turun,” katanya. ”Tapi di organik tidak. Kita merasakan tetap (harganya),” tambahnya. Selain itu, saat menjual produk ke konsumen tidak ada potongan harga. ”Jadi bayam satu ikat Rp.1000,- kita juga dapat Rp.1000,- bukan Rp.800,- ” katanya. Hujan yang mulai turun tak membuatnya berhenti bekerja di kebunnya. Ada saja yang dikerjakannya. Dari membuang rumput hingga menggemburkan tanah. Dan karena tak mau menggangu ritme kerja beliau, sayapun mohon pamit masih ditemani mendung yang tetap menggayut dan hujan yang mulai turun. (**)


Sura Raya Tani Alami Bogor, 13 Januari 2008 Acara yang digelar dengan tajuk Sura Raya Tani Alami ini diinisiasi oleh Kelompok Tani Alami Saluyu Cijulang, Kelompok Perempuan Mandiri Cijeruk, Aliansi Organis Indonesia (AOI) dan ELSPPAT, Bogor. Kegiatan ini disandingkan dengan upacara �Sereun Taun,� yaitu perayaan menyambut pergantian awal tahun baru (1 Sura/Muharam) untuk memberi penghormatan dan ungkapan syukur kaum tani atas kelimpahan tanah yang subur dan hasil bumi yang melimpah yang diwujudkan dengan mempersembahkan hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian (sikep hejo buah beti). Kegiatan ini merupakan acara tahunan masyarakat kampung Cijulang, Bogor dan kali ini dihadiri oleh hampir 100 orang peserta. Acara ini juga sekaligus untuk mempertemukan kelompok tani alami, konsumen organik dan pihak pemerintah guna bersama-sama melihat realita dan masalah yang ada di pertanian organik serta mendiskusikan dan mencarikan solusi nyata dari berbagai pihak. (Sny)

Pertemuan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) ke-4 Riau, 1-3 Februari 2008 Pertemuan yang dilaksanakan di Minas, sekitar dua jam perjalanan dari Pekan Baru ini dihadiri oleh 32 orang peserta yang terdiri dari anggota JMHI ditambah beberapa mitra JMHI. Kegiatan kali ini banyak membahas mengenai masalah pengorganisasi di tubuh organisasi yang diinisiasi sejak Januari 2005. Tiga hal utama yang dibahas adalah: 1. Manajemen organisasi JMHI 2. Up dating data madu dan masyarakat dampingan anggota JMHI 3. Diversifikasi produk madu hutan Yang menarik, di sesi diversifikasi produk, peserta diajak mengenal dan membuat lilin-lilin cantik berbahan dasar limbah sarang lebah. (Sny)

Edisi No. 18/Th 5 (Jan - Mar 2008)


CONSULTING AND TRAINING “HELP YOU DEVELOPING YOUR QUALITY SYSTEM” “REACH BETTER MARKET TROUGH BETTER QUALITY”

Our Services: Developng Organic Quality System for Organic Certificatian (Single Operator) Developing Internal Control System for Organic Groups Certification C.A.F.E PRACTICE Training & Consulting

Further information please contact: Q Consulting and training Ms. Diyan Hastarini Perum Bukit Mekar Wangi Blok C.15 No.27 Mekarwangi Tanah Sareal Bogor 16168 Phone: +62 251 7535008 Fax: +62 251 7535008 Mobile: +62 813 10312357 Email: office@qcat.org Web: www.qcat.org


organis edisi 18  

organis magazine

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you