Issuu on Google+

Dari Redaksi

Pembaca sekalian, di edisi akhir tahun 2007 kali ini ORGANIS lebih banyak mengupas mengenai hak mendasar kaum tani. Karena kita tahu bahwa sekitar 60-80 persen negara di dunia ini memiliki petani, nelayan, peternak, dan buruh. Namun, hingga abad milenium ini, kelompok tersebut masih saja tertindas dan terbelenggu. Dan salah satu elemen masyarakat yang patut mendapat perhatian utama dalam pengakuan hak asasinya adalah kaum tani. Selain karena mayoritas, kaum tani merupakan kelompok rentan akan pelanggaran HAM.

Kepemilikan atas tanah adalah merupakan hak asasi petani yang seringkali dirampas oleh para penguasa. Wajar saja jika para petani kemudian memperjuangkan hak mereka melalui aksi-aksi pendudukan kembali atas lahan-lahan yang pernah dirampas oleh penguasa atau pengusaha tersebut. Karena seorang petani hanya disebut petani, bukan buruh tani! apabila ia memiliki lahan yang cukup untuk menopang kehidupan keluarganya. Dan seiring dengan rencana pemerintah untuk mulai melaksanakan reforma agraria di tahun 2007 ini, maka untuk memberdayakan petani, pemerintah harus memberikan akses pada hak-hak mendasar kaum tani yaitu tanah dan air. Kita memang tengah membutuhkan komitmen nasional untuk mencegah laju konversi lahan pertanian, menciptakan kedaulatan pangan, sekaligus melindungi hak-hak asasi petani. Karenanya, jika masyarakat Indonesia ingin makmur, maka petani harus berdaulat. Petani harus berdaulat atas sumber produksi pertanian seperti tanah, benih, dan air. Jika petani berdaulat maka petani akan sejahtera. Dan jika petani sejahtera maka 80% masyarakat Indonesia akan sejahtera. Karena Edisi 17 ini adalah edisi terakhir yang dibagikan secara free (untuk edisi selanjutnya dikenakan biaya cetak dan kirim), maka ORGANIS juga menyelipkan sebuah angket untuk perbaikan ORGANIS mendatang. Mohon para pembaca sudi meluangkan waktu sedikit untuk mengisinya. Akhirnya, selamat membaca dan semoga apa yang tersaji bermanfaat. (**)

DAFTAR ISI Dari Redaksi Hal 1

Pustaka

Surat Pembaca

Ketika Petani dan Nelayan Mempertahankan Hak-nya

Hal 2

Hal 12

Isu Utama Ketika Tidak Boleh Menjadi Kisah mengenai ubi jalar atau singkong dan Pak Mukibat adalah cerita mengenai ...

Petani

Kabar dari BIOCert

Mengenal Sistem Mutu Produksi Organik Sistem mutu organik diperlukan untuk menjamin bahwa produk organik yang dihasilkan sesuai dengan kaidah...

Hal 4 - 6

Hal 13 - 14

Hama & Tanah

Hortikultura & Padi

Mewujudkan Pembaruan Agraria Budidaya Salak Secara Organik Atas Inisiatif Rakyat Sebelum salak pondoh masuk daerah Banjarnegara, Jawa Tengah, yang ada cuma salak lokal.

Hal 7 - 8

Kebun & Ternak Sebagian besar petani mete di Buton, Sulawesi Tenggara, menjual ...

Hal 9 - 10

Jendela Konsultasi Sertifikat Organik Untuk Tepung Pisang Hal 11

Petani dan tanah merupakan satu kesatuan, sulit dibayangkan bagaimana kondisi kehidupan petani jika ...

Hal 15 - 16

Konsumen

Pemanasan Gl o bal ? Apa yang Dapat Kita Lakukan Hal 17 - 18

Opini

Pertanian Organik Mengembalikan Kedaulatan Petani Jika membicarakan hak petani maka kita perlu melihat hak dasar petani sebagai ...

Hal 19 - 20

Profil PENERBIT: Aliansi Organis Indonesia PEMIMPIN REDAKSI: Sri Nuryati TIM REDAKSI: Indro Surono, Rasdi Wangsa DESAIN GRAFIS: Andreas Setiyawan ALAMAT REDAKSI: Graha Sukadamai Lt.2, Jl. Sukadamai Indah 1, Budi Agung, Bogor Telp./Fax: 0251-331 785 e-mail: organicindonesia@organicindonesia.org website: www.organicindonesia.org Buletin ORGANIS diterbitkan oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI), sebuah organisasi masyarakat sipil yang dibentuk oleh sejumlah LSM, akademisi, organisasi tani, koperasi, peneliti, dan pihak swasta Yang bergerak di bidang pertanian organik dan fair trade di Indonesia.

2

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

Wahana Cory Farm: Merangkul Masyarakat Dengan Pertanian Organik Kiprahnya dalam bidang pertanian organik masih terbilang baru. Namun, di lahan yang semula diperuntukkan untuk ...

Hal 21 - 22

Agenda Hal 23


Tertarik ORGANIS Dimana Dapat Membeli ORGANIS? Saya berniat untuk bertani secara organik, tepatnya di Desa Panaruban, Kecamatan Sagala Herang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dulu saya pernah melihat buletin ORGANIS dari teman saya dan saya tertarik dengan buletin tersebut. Dan karena saya membutuhkan informasi mengenai pertanian organik, bisakah kami dikirimi buletin tersebut? Rikki Hendrawan Komplek Taman Kopo Indah 1 H-160 Bandung 40226 Jawa Barat Telp.085221776854

Saya tinggal di Jogjakarta. Dimana saya dapat membeli ORGANIS? Mohon alamat yang jelas. Andy Jetisharjo, Jogjakarta Jawa Tengah

Redaksi: Tentu saja bisa. Semoga informasi yang tersaji bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan mengenai pertanian organik anda. Selamat bertani organis...

ORGANIS Untuk Anggota Taruna Tani Syifa Herbal Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas kiriman majalah ORGANIS. Apakah kami bisa mendapatkan 20 eksemplar lagi agar dapat dibagikan ke anggota kami? Saat ini anggota kami melakukan budidaya jahe merah organik dan telah memproduksi jahe merah dan kunyit putih instan. Oh ya, apakah kami boleh bergabung dengan Aliansi Organis Indonesia?

Redaksi: Untuk tahun 2007 ini ORGANIS masih dapat diperoleh secara cuma-cuma. Silakan kirim alamat lengkap Bapak ke redaksi ORGANIS atau melalui e-mail ke: organicindonesia@organicindonesia.org. Atau, Bapak juga dapat mendown load-nya di website Aliansi Organis Indonesia di www.organicindonesia.org

Taruna Tani Syifa Herbal Jl. Kartini No. 4 B RT 42 Dusun Sukorejo Lempake, Samarinda Kalimantan Timur 75118 Telp. 0541-7124816

Ingin Tahu Pertanian dan Sertifikasi Produk Organik

Rimpang Jahe Zingiber of ficinale L. Sumber foto: Aziz Rahimy, http://bebas.vslm.org

Redaksi: Senang sekali kami mendapat respon positif dari teman-teman di Samarinda. Syukur deh buletin kami sudah sampai, Semoga apa yang tersaji bermanfaat. Mengenai permintaan 20 eksemplar buletin ORGANIS untuk dibagikan ke anggota Taruna Tani Syifa Herbal tentu saja boleh. Kami senang jika apa yang kami lakukan untuk perkembangan pertanian organik dapat berguna bagi teman-teman semua. Mengenai keinginan untuk bergabung, tentu saja boleh. Jika ingin tahu lebih banyak mengenai AOI, silakan klik di website kami www.organicindonesia.org.

Saya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang tengah melakukan penelitian mengenai pertanian organik dan sertifikasi produk organik di Indonesia. Bagaimana saya dapat memperoleh informasi seputar permasalahan tersebut? Bolehkah saya berkunjung ke AOI? M. Nugraha Adi Mulia Tokyo University of Agriculture Setagayaku Sakuragaoka 1-1-1 Tokyo Redaksi: Kirimkan saja pertanyaan-pertanyaan anda ke organicindonesia@organicindonesia.org. Atau, jika ingin berkunjung ke AOI, silahkan datang ke Graha Sukadamai Lt.2, Budi Agung, Bogor

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


Ketika Tidak Boleh Menjadi Kisah mengenai ubi jalar atau singkong dan Pak Mukibat adalah cerita mengenai ketidak-adilan, ketidak-mengertian terhadap dan pengingkaran hak petani di Indonesia. Tetapi sekaligus juga cerita tentang inovasi dan kemandirian petani.

Petani Oleh: Hira Jhamtani

Sekitar limapuluh tahun lalu, seorang petani bernama Mukibat mengembangkan teknik budidaya singkong yang bisa meningkatkan hasil hingga lima kali lipat. Ia hanya menempelkan umbi singkong ke akar pohon karet liar dari genus yang sama dengan singkong yaitu Manihot. Dengan cara ini, umbi mendapatkan lebih banyak sinar matahari dan unsur hara. Teknik ini diabaikan para ilmuwan dan baru dilaporkan dalam tulisan ilmiah 20 tahun kemudian (Forest dkk., 1994 dalam Fernandes dkk, 2002). Kenyataan ini mungkin mencerminkan ketidak-pedulian atau ketidak-tahuan para ilmuwan tentang inovasi petani, atau semata-mata karena singkong dianggap sebagai tanaman berstatus tidak penting walaupun ratusan juta orang mengandalkannya untuk kelangsungan hidup mereka. Dalam angka-pun singkong punya cerita yang diabaikan. Sementara produktivitas padi turun (42,5 kg/ha pada 1999 menjadi 42,2 kg/ha pada 2001 (www.agroekonomika.or.id) dan produktivitas jagung hanya 2,8 ton/ha dibanding 5-6 ton di Cina (FAO, 2003), produktivitas singkong justru meningkat dari 117 qu/ha pada 1995 menjadi 155 qu/ha pada 2004. Produksi nasional meningkat dari 15,4 juta ton pada 1995 menjadi 19,5 juta ton pada 2004 (Badan Pusat Statistik, 2004). Potensi ini hampir tidak dilirik pemerintah sebagai sumberdaya untuk ketahanan pangan dan ekonomi Foto:sny rakyat. Para pakar dan pembuat kebijakan perlu bertanya mengapa kedua tanaman pangan yang mendapatkan

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


Perhatian penuh mempunyai produktivitas rendah sementara pangan yang tidak diperhatikan mempunyai produktivitas lebih tinggi? Kisah singkong adalah cermin dari kebijakan pertanian di Indonesia yang hampir tidak pernah meletakkan hak, kebutuhan dan pengetahuan sebagai landasan pembuatan keputusan. Ini bukan sesuatu yang baru, sudah diketahui secara luas, sering dibahas, jadi bahan tulisan dan kritik, namun tidak pernah dijadikan bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan pertanian maupun ketahanan pangan, terutama dalam konteks pembangunan nasional secara keseluruhan. Akibat dari kebijakan tersebut juga sudah sering dibahas yaitu

petani kehilangan kedaulatan atas sumberdaya pertanian: lahan, air dan benih. Tetapi ada hal yang lebih mendasar yaitu petani telah kehilangan haknya menjadi petani, kehilangan jati dirinya sendiri. Revolusi Hijau misalnya, sering dianalisis dalam konteks pencemaran lingkungan, erosi sumberdaya genetik padi, dan dampak sosial ekonomi terhadap petani. Semua ini benar adanya, namun proses itu juga merampas hak petani sebagai pemulia benih, sebagai pengembang pengetahuan mengenai sumberdaya pertanian mereka sendiri, dan awal dari pelecehan kehidupan mereka sebagai petani mandiri menjadi petani yang harus tunduk pada perusahaan dan ilmuwan arus utama. Kasus Mukibat adalah indikasi

Tetapi ada hal yang lebih mendasar yaitu petani telah kehilangan haknya menjadi petani, kehilangan jati dirinya sendiri.

bahwa sistem pengetahuan ilmiah arus utama tidak mengakui sistem pengetahuan lokal. Padahal inovasi teknologi yang berasal dari masyarakat teknokrat dan ilmiah ternyata juga belum mampu menyelesaikan masalah pertanian dan pangan yang dihadapi dunia saat ini. Ketika kepiawaian petani tidak diakui, maka timbul pencitraan petani sebagai kaum yang miskin, bodoh, kumuh dan tidak bisa mandiri. Pencitraan ini sedemikian kuat melalui propaganda pembangunan dan pandangan masyarakat ilmiah sehingga para petani-pun ikut mencitrakan dirinya sendiri sebagai bodoh dan tidak berdaya. Mereka mulai sangsi dengan kemampuan dan kepakaran sendiri. Akibatnya tidak ada petani yang ingin anaknya menjadi petani. Ini adalah pelanggaran hak petani yang paling azasi. Tidak ada satupun program pemerintah yang ditujukan untuk menghapus pencitraan ini sehingga anda semua silakan melihat data jumlah mahasiswa yang masuk ke Fakultas Pertanian di universitas manapun dari tahun ke tahun. Pasti ada indikasi penurunan tajam dalam animo mahasiswa baru mengambil jurusan pertanian. Bahkan belajar pertanian secara modern-pun tidak diminati. Perkembangan terakhir dalam peta pertanian adalah bahwa petani tidak boleh menjadi petani. Mereka dipaksa menjadi buruh atau produsen pertanian yang bekerja untuk memenuhi pasar. Hal ini dilakukan melalui sistem contract farming dan sejenisnya dimana petani seolah-olah diberi dana oleh sektor swasta tetapi sebenarnya diikat dalam kontrak untuk menghasilkan produk bagi pasar, tanpa mereka mengetahui atau boleh mengetahui haknya. Mekanisme ini meletakkan produksi pangan oleh petani ke tangan mekanisme pasar dalam bentuk kontrak dengan pemodal, tanpa perlindungan pemerintah. Ini adalah hubungan yang tidak seimbang alias eksploitatif. Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


Selanjutnya proses pertanian ditransformasi dari sebuah proses yang berlandaskan budaya dan pengetahuan serta diatur oleh sistem sosial menjadi kegiatan teknis semata-mata. Proses budaya dihilangkan dari proses pertanian, yang artinya menghapuskan hak budaya suatu masyarakat petani. Jadi hak petani sebagai ilmuwan, sebagai mahkluk sosial dan berbudaya serta sebagai orang mandiri ditiadakan dalam proses pembangunan berbasis pasar yang terjadi di Indonesia sejak jaman kolonial hingga pasca kemerdekaan. Akibatnya negara yang Kawasan Baduy yang berbukit (foto: akan sny) sumberdaya hayati setiap kaya tahun menghadapi persoalan rawan pangan di beberapa daerah dan sebenarnya justru mengimpor banyak produk bahan makanan. Jika Indonesia ingin mencapai ketahanan pangan, maka produsen pangan yaitu petani harus menjadi pusat dari semua kebijakan. Untuk itu diperlukan perubahan paradigma dalam melaksanakan pertanian. Perubahan mendasar yang diperlukan adalah pengakuan bahwa pemerintah, ilmuwan dan perusahaan tidak bisa memberi makan dunia tanpa adanya kebijakan dan praktik yang memungkinkan masyarakat untuk memberi makan dirinya sendiri. Jadi, solusinya tidak terletak dalam memberi makan dunia, tapi justru membiarkan dunia memberi makan dirinya sendiri (Greenpeace, 2001). Untuk itu citra pertanian diubah dan petani perlu diberdayakan.

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

Ada tiga hal mendasar dalam hal ini. Pertama adalah kita perlu merumuskan kebijakan, institusi dan insentif yang tepat. Pemerintah selama ini merumuskan kebijakan dan institusi terpusat yang menghapuskan institusi lokal dan asli padahal institusi lokal inilah yang mengatur pengelolaan sumberdaya pertanian secara adil dan berkelanjutan. Walaupun ada proses desentralisasi, tapi sentralisasi kebijakan di tangan kaum elit tetap terjadi. Contoh paling jelas adalah pengambil alihan subak, institusi irigasi masyarakat yang swasembada menjadi sistem pengelolaan di bawah pemerintah. Institusi lokal seperti ini harus dikembangkan kembali, atau didukung jika masih ada. Kedua, pemerintah dan ilmuwan harus mengakui keanekaragaman serta keterkaitan agroekologi dan sosio-budaya serta menjadikan hal itu landasan bagi pembuatan kebijakan. Selama ini proses sosio-budaya diceraikan dari proses pertanian sehingga setiap masalah dalam program pertanian didekati dengan penyelesaian teknis. Dalam sistem tradisional, hubungan sosial dan pola budaya mengatur pengetahuan teknis tentang pertanian. Dan inilah kunci untuk pemberdayaan jati diri petani.

selama ini memperluas kesenjangan antara petani miskin dan kaya karena tidak diatur oleh institusi lokal. Akibatnya petani kehilangan hak menggunakan dan mengadaptasi pengetahuannya sendiri. Pertanian organik (baca: berkelanjutan), apabila dilaksanakan dengan prinsip perubahan paradigma di atas dapat membangun kembali jati diri petani (ada pertanian organik dan monokultur yang dikuasai perusahaan besar, ini yang perlu diwaspadai). Pertama, inovasi petani dalam pemuliaan benih diakui dalam gerakan pertanian organik. Kedua, proses sosio-kultural juga diakui walaupun pengembangan institusinya masih lemah. Terakhir, yang paling penting, pertanian organik bisa mendorong petani untuk menghasilkan pangan bagi dirinya dan keluarganya sendiri dulu sehingga mereka mendapatkan haknya sebelum menjual sisanya ke pasar. Tetapi gerakan pertanian organik belum terlalu mampu mengubah citra petani. Jadi hak petani untuk dihormati sebagai petani masih belum tercipta. Inilah pekerjaan besar bagi para advokat pertanian organik. (**)

Ketiga, inovasi apapun dalam pertanian harus menjami keadilan bagi petani. Banyak inovasi teknologi Hira Jhamtani Peneliti lingkungan Hidup dan Globalisasi Tinggal di Bali


Budidaya Salak Secara Organik Oleh: Sumardi

menggunakan bahan kimia. Disamping hemat, perawatan tanaman juga mudah, buah lebih awet dan rasanya lebih enak. Untuk itu kami tetap akan melakukan cara bertani organik yang ramah lingkungan dan berwawasan ekologi dalam budidaya tanaman apapun. Foto :http://www.indomerapi.com

Sebelum salak pondoh masuk daerah Banjarnegara, Jawa Tengah, yang ada cuma salak lokal. Salak lokal cara perawatannya sangat mudah, tanpa menggunakan pupuk dan racun kimia. Petani cukup mengolah tanah dan menggunakan pupuk kandang serta dahan tanaman salak yang membusuk secara alami sebagai pupuk. Setelah salak pondoh masuk Banjarnegara, sedikit demi sedikit budidaya salak lokal mulai berkurang dan perawatan yang dulu alami berangsur terkikis menjadi menggunakan bibit salak hasil cangkokan (membeli). Petani sekarang lebih senang cara mudahnya, memakai bibit berlabel dan pestisida yang serba membeli sehingga biaya operasional tinggi sehingga keuntungan relatif sedikit.

Pengolahan Lahan untuk Budidaya Secara Organik Pengolahan lahan merupakan tahap awal. Pengolahan dilakukan dengan bantuan alat sehingga kesuburan tanah berangsur pulih sesuai kebutuhan yaitu pH 5,6 s/d 6,7. - pH 5,6 kebawah mengandung air - pH 7 keatas kering gersang

Kami melakukan budidaya salak pondoh dan lokal secara organik. Belum pernah menggunakan pupuk kimia maupun racun kimia. Petani jaman dahulu yang tidak menggunakan bahan kimia dapat berumur sampai ratusan tahun dan sehat. Hal ini berbeda bila dibandingkan dengan kondisi saat ini. Tujuan pengolahan tanah: 1. Menggemburkan tanah Ketika masih muda sudah sering 2. mematikan rumput sakit-sakitan dan terserang beraneka 3. Mengurangi ragam penyakit. Hal ini merupakan keasaman/kelembaban dampak dari bahan kimia tersebut, 4. Mematikan Organisme disamping biaya produksi yang mahal Pengganggu Tanaman (OPT) dan hasil yang menurun. 5. Menambah kesuburan tanah Kami berkesimpulan bahwa bertani Pengolahan tanah yang baik organik biayanya relatif rendah dilakukan pada akhir kemarau. karena pupuk dan pestisida dapat Caranya sangat bergantung pada jenis dibuat sendiri dengan memanfaatkan tanaman yang akan ditanam dan berat sumber daya alam yang ada di sekitar. ringannya tanah/kondisi tanah Kami dapat menghemat biaya produksi hingga 50%-90% dibandingkan biaya bertani dengan

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


hortikultura Penanaman Dilakukan dengan membuat lubang dengan ukuran 50x50x15 cm dengan jarak tanam: 1. Ukuran 2x2,5 m satu induk, satu anak 2. Ukuran 3x2,5 m satu induk, dua anak 3. Ukuran 3x2 m satu induk Setiap lubang diberi pupuk kandang (kompos) 10 kg dan kalsit Âź kg. Campuran ini berguna untuk h setebal 3-10 cm dan didiamkan selama 1-2 minggu. Setelah 2 minggu lahan siap ditanami. mencegah peningkatan keasaman tanah. Kemudian ditutup dengan tanah setebal 3-10 cm dan didiamkan selama 1-2 minggu. Setelah 2 minggu lahan siap ditanami. Pada waktu penanaman, kita harus memperhatikan: 1. Suhu 2. Tempat 3. Sinar Matahari

4. Curah hujan Perawatan 1. Dilakukan dengan memberi perlindungan menggunakan pohon yang sekaligus bermanfaat sebagai pupuk hijau dan sebagai pakan ternak. Tanaman salak juga dapat ditumpang-sarikan dengan tanaman sayuran seperti bayam, kangkung, tomat, lombok, dan sebagainya. 2. Pengamatan secara intensif dilakukan untuk mengetahui perkembangan tanaman. Seperti adanya bibit yang rusak maupun bibit yang mati, dan juga hama tanaman maupun penyakit tanaman (OPT) 3. Penyulaman dilakukan pada saat tanaman berumur 1-2 bulan setelah tanam 4. Penyiangan dilakukan untuk membersihkan gulma agar kemampuan kerja akar dalam

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

menyerap sari makanan tidak terhambat 5. Pemangkasan dilakukan dengan maksud agar tidak terlalu rimbun sehingga sinar matahari bisa masuk. Limbah hasil pemangkasan digunakan sebagai pupuk 6. Pemupukan dilakukan satu tahun sekali. Setiap pohon diberi 10 kg kompos. 7. Pengendalian hama dan penyakit secara PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dan PHA (Pengendalian hama Alternatif) Misalnya: Jamur, dikendalikan dengan cara penyemprotan menggunakan pestisida alami. Ulat buah, dikendalikan dengan menggunakan pestisida alami, EM5, insektisida alami cair. Ulat pohon (gendon salak), dikendalikan menggunakan garam dapur yang dililitkan ke kain bersih dan disisipkan pada setiap pelepah. Lama kelamaan garam dapur mencair terkena embun dan air hujan. Air garam akan masuk dengan sendirinya ke dalam pelepah dan gendon akan mati. 8. Peremajaan dilakukan dengan cara melihat/mengamati tanaman di sekitar. Bila ditemukan adanya tanaman yang mati kita tanam bibit pengganti dengan cara membuat lubang disebelahnya dan diberi pupuk organik (rabuk). 9. Dalam budidaya salak pondoh dikenal tiga macam penyerbukan, yaitu:

-

Terjadi secara alami dengan bantuan angin atau serangga. - Dengan cara ditanami salak jantan pada tepi kebun sebagai pagar tanaman, atau setiap 10-20 batang salak betina ditanami satu salak jantan. - Campur tangan manusia. Caranya adalah dengan mencari bunga salak jantan yang diserbukkan secara langsung pada bunga betina yang sedang mekar dengan membuka dan membersihkan kelopak bunga, kemudian ditutup dengan pucuk daun salak dengan harapan agar menghasilkan buah yang optimal. Panen Salak pondoh biasanya mulai berbuah pada umur tiga hingga empat tahun setelah tanam. Buah awal biasanya belum optimal. Salak berbuah maksimal pada umur lima hingga sepuluh tahun. Musim berbuah salak pondoh seperti tanaman tahunan lainnya . Ada juga saat tertentu dimana salak tidak berbuah.(**)

Disadur dari buku BELAJAR DARI PETANI Editor: St. Wangsit dan Daniel Supriyana Penerbit: SPTN-HPS-Lesman-Mitra Tani (**)Petani organik di Banjarnegara Jawa Tengah


Pengkacipan Mete di Desa Mone Oleh: Arman Manila Nuhu Sebagian besar petani mete di Buton, Sulawesi Tenggara, menjual hasil produksi mereka dalam bentuk jambu mete gelondongan. Dari segi ekonomi tentu hal itu kurang menguntungkan karena seharusnya para petani dapat memperoleh nilai tambah jika sebelum dijual, jambu mete tersebut terlebih dahulu diolah menjadi produk kacang mete. Disamping nilai jualnya akan meningkat, usaha pengkacipan jambu mete dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak terutama ibu-ibu rumah tangga.

Desa Mone adalah sebuah desa pesisir di Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton namun terletak di daratan pulau Muna. Desa yang terbentang di Teluk Lasongko ini dapat diakses dari Kota Bau-Bau sekitar 1 jam melalui perjalanan dengan menggunakan kapal laut dan dilanjutkan dengan kendaraan darat. Desa ini dihuni oleh 492 Kepala Keluarga (2.123 Jiwa) yang terdiri dari 1.065 orang kaum lelaki dan 1.068 orang kaum perempuan. Mata pencaharian utama penduduk di desa ini adalah petani jambu mete dan nelayan (sebagian besar bermata pencaharian ganda, disamping bertani juga melaut) yang jumlahnya mencapai sekitar 80%, selebihnya adalah pedagang, Pegawai Negeri Sipil/PNS dan lain-lain. Bagi masyarakat Mone, bertani jambu mete tidak menyita waktu sepanjang tahun. Karena jambu mete adalah tanaman yang hanya berbuah sekali dalam setahun. Maka, biasanya petani akan melakukan pembersihan kebunkebun mereka dari tanaman penggangu menjelang musim jambu berbuah (jambu mete mulai berbuah sekitar bulan Juli dan akan memasuki masa panen pada bulan OktoberJanuari - red). Agar mutu buah mete

maksimal, maka jambu mete dibiarkan masak di pohon dan biji-biji jambu mete tersebut akan dipungut setelah jatuh. Disinilah pentingnya kebunkebun mete harus bersih untuk memudahkan mengambil hasil panen mereka. Sudah sejak lama desa Mone dikenal sebagai salah satu sentra pengacipan mete. Bayangkan, dari total 492 KK populasi penduduk, 482 KK (98%) diantaranya 'berprofesi' sebagai pengkacip mete. Pengkacipan umumnya dilakukan oleh ibu-ibu dan biasanya dibantu oleh anak-anak mereka sepulang dari sekolah. Sebagian kecil lagi dilakukan oleh perempuan yang belum berumah tangga yang jumlahnya sekitar 194 jiwa. Proses Pengkacipan Jambu Mete Sebelum menjadi kacang mete yang banyak terlihat di toko-toko, ternyata cukup panjang proses menjadi kacang mete siap jual. Tahap awal adalah penjemuran gelondong. Tujuannya adalah untuk menurunkan kadar air jambu mete serta mempercepat proses pengeringan kulit jambu mete sehingga memudahkan pemisahan antara kulit jambu mete dan isi. Petani

tidak memerlukan teknologi tertentu karena bahan yang diperlukan hanya berupa terpal sebagai lantai jemur yang biasanya dihamparkan di halaman rumah atau di tempat-tempat yang mudah terkena sinar matahari. Penjemuran ini memakan waktu sekitar 7-8 jam sehari dan lamanya tergantung dari seberapa banyak gelondongan yang akan dijemur. Untuk satu karung gelondongan (Âą 50 kg) umumnya memerlukan waktu penjemuran selama 2-3 hari. Setelah dijemur, proses selanjutnya adalah pengkacipan atau pemisahan antara kulit jambu mete (eksocarp) dengan isi (endocarp). Pengkacipan ini dilakukan dengan memakai alat yang disebut kacip yang terbuat dari potongan balok sepanjang 40-50 cm. Diatas balok tersebut terpasang alat pembelah yang berbentuk seperti parang bergigi satu. Alat ini digunakan untuk mengeluarkan isi jambu mete yang masih berada didalam biji jambu mete dalam keadaan isi tetap utuh. Setelah dikacip, maka dilakukanlah pengupasan kulit ari dengan pemanasan. Proses pemanasan ini menggunakan alat-alat seperti kuali besar, talang atau penutup panci besar,

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


Kebun Ternak Terkadang penutup drum bekas. kacang mete hasil pengkacipan ditaburkan diatas penutup drum yang diletakkan diatas kuali untuk kemudian sekitar 10-15 menit kacang metenya dibolak balik memakai tangan. Apabila telah ada yang dirasa cukup kering untuk dikelupas (untuk merasakannya kacang mete diambil dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk kemudian jari-jari tersebut digerakgerakkan sambil menekan kulit ari kacang mete tersebut - red). Setelah dirasa cukup kering, lalu diambil dari wadah pemanas dan dikelupas menjadi kacang mete yang siap untuk dijemur.

Aspek Pemasaran Selama ini petani maupun pengacip menjual kacang metenya kepada pengumpul kecil dan pengumpul besar dari daerah setempat. Letak wilayah yang berjauhan dan kesulitan prasarana publik ini pula yang menyebabkan para petani lebih banyak bergantung pada kehadiran pengumpul desa. Bagi petani, kehadiran pengumpul desa lebih banyak membantu mereka untuk menghemat biaya transportasi distribusi produk serta memperoleh uang tunai secepatnya guna memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kemampuan petani

Bagan Jalur distribusi kacang mete:

Pengum-Pengum pul Besar luar pulau

Petani PengumPengumpul Kecil

Pengecer Pengacip

Pengum pul Besar

Kon-Kon sumen Akhir Akh ir

Sebagian besar pengacip mete di desa Mone langsung menjual kacang mete mereka (setelah kulit ari dilepas) tanpa menjemurnya terlebih dahulu. Penjemuran kacang mete dilakukan oleh para pengumpul di tingkat desa sebelum dikemas untuk selanjutnya dikirim ke Surabaya atau Makasar.

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

Dan karena keterbatasan keterampilan, teknologi dan pasar, pemanfaatan bagian-bagian mete yang lain masih belum dapat dilakukan. Selama ini, limbah kacang mete terbuang begitu saja dan menimbulkan bau dan busuk. Di Buton, harga penjualan kacang mete gelondongan berkisar antara Rp.7.000 Rp.9.000/kg. Sedangkan harga mete kupas berkisar antara Rp.40.000 Rp.42.000/kg. Dan harga ini ditentukan oleh para pengumpul setempat dengan mengikuti perubahan harga pasar. Malangnya petani dan pengacip tidak mengetahui informasi harga pasar yang sebenarnya.

Eksportir

PerusahaPerusahaan berberbahan baku kacang

Penjemuran dilakukan lebih kurang 23 jam tergantung dari keadaan cuaca (sinar matahari). Tujuan dari penjemuran ini adalah untuk mengeringkan kacang mete sehingga kadar airnya bisa lebih diturunkan lagi sehingga kacang mete siap untuk dikemas.

kualitas Grade A (putih, bersih, dan utuh). Kacang mete Buton terkenal besar namun kurang gurih dibanding kacang mete dari Madura dan Wonogiri, Jawa Tengah.

untuk memotong jalur distribusi selalu terbentur oleh masalah modal, akses informasi, sarana dan prasarana publik untuk dapat mencapai pasar. Keterbatasan mereka inilah yang membuat mereka tidak dapat berkutik apalagi dengan persaingan pasar yang demikian ketat. Kacang mete yang selama ini dijual adalah dalam bentuk gelondongan atau sudah dikupas (dikacip). Pengemasan mete hanya menggunakan karung dan belum di beri merek. Pemerekan biasanya setelah berada di tangan pengecer. Mete Buton adalah mete dengan

Bagi petani, kehadiran pengumpul desa lebih banyak membantu mereka untuk menghemat biaya transportasi distribusi produk serta memperoleh uang tunai secepatnya. Namun, dengan sedikit pengolahan (digoreng) harga jual mete sedikit terdongkrak, harganya dapat mencapai Rp. 60.000/kg. Jadi perubahan bentuk mete dari gelondongan menjadi kupas dan dari kupas menjadi goreng memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kacang mete itu sendiri.

Arman Manila Nuhu Koordinator Jaringan Pengembangan Kawasan Pesisir (JPKP) Buton, Sulawesi Tenggara


Buah Pare Kecil dan Berwarna Kuning Saya adalah Ibu rumah tangga dan tengah mencoba berkebun di halaman depan rumah. Salah satu tanaman yang saya tanam adalah pare. Pertumbuhannya bagus, daunnya lebat. Namun buahnya kok walaupun sudah tua tetapi tidak bisa besar-besar? Buah pare tersebut malah ada yang menjadi agak melengkung dan berwarna kuning sehingga tidak dapat dimasak? Lidya Inawati Bubulak, Kampung Semplak Bogor Jawa Barat

Daryanto menjawab: Kemungkinan besar buah pare (Momordica charantia L.) tersebut terkena serangan lalat buah. Lalat buah biasanya meletakkan telurnya di buah pare yang masih kecil sehingga menimbulkan luka dan menyebabkan buah pare tidak dapat tumbuh normal. Agar buah pare tumbuh normal, plastiki (kondomi) buah pare sewaktu kecil agar lalat buah tidak dapat meletakkan telurnya di dalam buah pare tersebut.

Pare (Momordica charantia L.) Foto: http://www.nybg.org/bsci/belize/ Momordica_charantia_fr.jpg

Sertifikat Organik Untuk Tepung Pisang Dapatkah BIOCert memberikan sertifikasi organik untuk produk tepung pisang? Agung Prawoto menjawab: Irwanto Desa tandem Hilir 2 Kec. Hamparan Perak Kab. Deli Serdang Sumatera Utara

Keorganikan produk organik (tepung pisang) ditentukan oleh proses produksinya dari lahan hingga produk akhir. Budidaya, pemanenan dan penanganan pasca panen dilakukan secara organik, termasuk selama pengangkutan (transportasi) dan penyimpanan produk pisang tidak mengkontaminasi produk. Pengolahan Sumber foto:http://www.google.co.id pisang menjadi tepung dilakukan dengan memenuhi prinsip organik, artinya tidak menggunakan bahan-bahan yang tidak diperkenankan dalam standar dan menggunakan peralatan khusus untuk membuat tepung organik. Titik kritis pada tahap pengolahan produk organik seperti tepung adalah potensi kontaminasi dari peralatan dan penanganan pengolahan pisang menjadi tepung. Untuk tujuan sertifikasi, semua pihak yang terlibat dalam produksi tepung pisang dan tahapan proses produksi dari lahan hingga produk akhir (tepung pisang) dicatat.

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


Ketika Petani dan Nelayan Mempertahankan Hak-nya Bertani dan melaut adalah cara untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup petani kecil dan nelayan tradisional. Pemenuhan hak atas pangan seharusnya menjadi inti dari hak asasi agar setiap individu mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri melalui penguasaan alat produksi (tanah dan sumberdaya laut) dan input produksi (benih, pupuk, dan lainlain). Masalah pangan seharusnya bukan hanya terkait dengan ekonomi dan perdagangan tetapi justru tidak dapat dipisahkan dari masalah sosial, politik, budaya dan kemanusiaan. Bertani adalah merajut kehidupan tempat kesejahteraan manusia dijamin. Bagi perempuan dan petani kecil serta nelayan tradisional,

Judul Penulis

Penyunting Penerbit

Tebal

pertanian masih merupakan sumber utama kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung, bukan hanya sekedar komoditas. Membaca buku ini ingatan kita segera melintas pada peristiwa perlawanan kaum tani (juga sering disebut dengan pemberontakan kaum tani) di Indonesia mulai abad ke-19 yang dipimpin oleh ulama pedesaan, guru dan elite desa lainnya. Perlawanan yang muncul akibat tidak adanya akses dan kontrol petani dan nelayan terhadap alat produksi dan hirarki budaya yang selalu menempatkan petani dan nelayan pada posisi paling rendah dan dieksploitasi. Buku ini menampilkan beberapa kasus pelanggaran Hak Asasi ,

: Potret Pelanggaran Hak Asasi Petani dan Nelayan : Bendra Wardhana, Usin Abdisyah, Agustam Rachman,Yudi Saputra, Agus Sabri, Irmansyah, Syarif Anshori, Yuliadin, Rudi Gustav, Ahmad Farid, Zainal Abidin, Nur Hafsah, Muhamad Yamin, Dhe : Nur Hafsah : Bina Desa Jl. Saleh Abud 18-9, Otto Iskandardinata, Jakarta 13330 Telp. 021-819 9749, 851 9611, Faks.: 021-850 0052 : ix + 127 hal.

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

Manusia (HAM) yang berhubungan dengan konflik agraria yang berkaitan dengan peri kehidupan kaum petani dan nelayan. Secara garis besar, konflik terjadi karena mata pencaharian mereka yang bertumpu pada sumber daya agraria telah direbut oleh kepentingan kekuasaan yang lebih kuat. Dan konflik mempunyai kecenderungan yang mengarah pada tindak kekerasan seperti pemukulan, penembakan, pembakaran atau bahkan berujung pada kematian petani atau nelayan yang mencoba mempertahankan haknya. Meskipun demikian, ada satu isyarat yang tergambar dari kasus-kasus ini, rakyat petani dan nelayan, telah bangkit memperjuangkan hak asasinya sebagai manusia._(sny)


Mengenal Sistem Mutu Produksi Organik Oleh: MM Diyan H Sistem mutu organik diperlukan untuk menjamin bahwa produk organik yang dihasilkan sesuai dengan kaidah-kaidah produksi organik. Dokumen sistem mutu organik yang dibuat akan menjadi pedoman bagi seluruh personil yang terlibat dalam produksi organik dalam menjalankan pekerjaannya. Selain itu, dimilikinya dokumen sistem mutu organik menjadi salah satu persyaratan untuk mendapatkan sertifikasi organik BIOCert. Apakah sistem mutu produksi organik itu? Sistem mutu produksi organik merupakan sistem yang tercatat mengenai tata kelola (manajemen) dan persyaratan teknis produksi organik. Ketika inspeksi dilakukan seorang inspektor pangan organik akan mengecek apakah seorang pemohon sertifikasi memiliki sistem mutu produksi organik atau tidak. Juga mengecek apakah praktek produksi organik yang dilakukannya benarbenar dilakukan berdasarkan dokumen sistem mutu yang dibuat atau tidak.

yang akan menjadi acuannya. Misalnya, jika produk organik yang dihasilkan rencananya akan dipasarkan untuk pasar nasional maka SNI (Standar Nasional Indonesia) akan menjadi acuan dalam pembuatan dokumen sistem mutu. Dan jika pasar produk organik yang dihasilkan adalah Jepang maka JAS (Japanese Agricultural Standard) lah yang menjadi acuan. Untuk itulah maka setiap produsen organik harus memahami standar organik dari pasar tujuan produk organiknya.

Dalam pembuatan dokumen mutu organik, hal penting yang harus dipertimbangkan dan menjadi acuan adalah pasar dari produk organik yang dihasilkan. Tujuan pemasaran akan menjadi penentu standar organik apa

Dokumen sistem mutu organik biasanya dibuat oleh penanggung jawab produksi atas produk organik yang dihasilkannya (biasanya manajer produksi). Meskipun begitu, dalam penyusunannya, tidak menutup kemungkinan untuk melibatkan

seluruh personil yang terlibat dalam produksi organik. Dengan keterlibatan seluruh personil dalam penyusunan dokumen mutu organik, maka harapannya dokumen mutu ini akan lebih mudah diterapkan. Sistem mutu organik biasanya dirumuskan dalam sebuah dokumen sistem mutu organik. Hal-hal yang harus ada dalam dokumen sistem mutu organik adalah: w Penjelasan mengenai pemohon: bentuk perusahaan (perorangan/kelompok tani/koperasi), struktur organisasi, termasuk data personil yang terlibat dalam produksi organis yang berisi posisi dan tanggung jawab dari personil tersebut. Jika operator berupa organisasi produsen atau kelompok tani, maka diperlukan data dari setiap petani anggota kelompok tani yang mencakup kepemilikan lahan, luas dan lokasi lahan, waktu dan kapasitas produksi dan status keorganikan lahan. w Bila operator berupa organisasi kelompok produsen, maka perlu memiliki mekanisme keanggotaan yang mengatur siapa saja yang dapat bergabung dalam organisasi tersebut, termasuk sanksi yang dikenakan bagi anggota yang melanggar aturan main. Organisasi produsen perlu menunjuk penanggung jawab yang akan menjalankan komitmen dan aturan main tersebut. Setiap

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


Kabar dari BIOCert orang yang bergabung dalam organisasi produsen didaftar dan mendapatkan nomor identitas. Nomor tersebut hanya dimiliki oleh satu orang sebagai identitas dari orang tersebut yang akan digunakan untuk mengecek jumlah dan jenis produk yang dihasilkan oleh orang tersebut dan dapat pula dicantumkan dalam kemasan untuk mempermudah penelusuran kembali jika ada keluhan dari konsumen. Apabila orang tersebut tidak bergabung kembali dalam organisasi produsen karena dikeluarkan atau meninggal, maka nomor tersebut tidak dapat dialihkan penggunaannya kepada orang lain. Gambaran mengenai produk yang dihasilkan (sifat dan mutu produk serta tindakan apa yang diperlukan untuk menjaga kualitas produk). Pernyatan komitmen dari operator (baik sebagai perorangan maupun organisasi /perusahaan/kelompok

tani/koperasi) untuk menjalankan produksi organik secara konsisten.

w

Standar produksi organik yang menjadi acuan teknis produksi organik. Jika operator membuat standar yang lebih sederhana, agar mudah dipahami oleh seluruh personil yang terlibat dalam produksi organik, maka standar yang lebih sederhana tersebut dicantumkan dalam dokumen sistem mutu organik dengan mencantumkan dokumen standar organik yang diacu.

w

Diagram alir proses produksi yang dilakukan. Alur proses produksi menggambarkan tahapan kegiatan yang dilakukan hingga pemasaran. Apa saja kegiatan yang dilakukan, bahan/alat yang digunakan, kapan kegiatan tersebut dilakukan, penanggung jawab kegiatan, dan sebagainya. Semua itu perlu dicantumkan dalam diagram alir proses produksi. Diagram ini juga dilengkapi

Contoh: Standar Pertanian Organik PT XX (berdasarkan SNI ) ÂżTidak boleh menggunakan input kimia pertanian (pupuk, pestisida, herbisida) ÂżPetani harus melakukan tindakan untuk mencegah erosi tanah. ÂżKompos perkotaan tidak diperbolehkan digunakan. Bahan organik yang digunakan sebaiknya berasal dari lahan produksi sendiri. ÂżKotoran ayam dari peternakan yang intensif dilarang digunakan. Kotoran dari peternakan ayam yang dibiarkan berkeliaran diperbolehkan. ÂżKotoran manusia dilarang digunakan. ÂżDilarang membakar bahan ÂżBenih tidak boleh diberi perlakuan dengan bahan kimia yang dilarang sebelum disebarkan. ÂżBenih digunakan untuk produksi organik sebaiknya berasal dari lahan organik ÂżBenih hasil rekayasa genetika dilarang digunakan ÂżPeralatan pertanian yang digunakan untuk pertanian konvensional sebaiknya tidak digunakan untuk pertanian organik ÂżSumber dari seluruh input pertanian harus diketahui dan dicatat. ÂżKarung dan kontainer yang digunakan untuk pengangkutan dan penyimpanan produk harus bersih atau baru. Karung bekas pupuk sintesis tidak boleh digunakan.

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

dengan analisa risiko kontaminasi yang mungkin terjadi di setiap tahap produksi.

w

Sebagai lanjutan dari diagram alir proses produksi dan analisa resiko kontaminasi, organisasi produsen perlu membuat pedoman persyaratan teknis sebagai acuan bersama terhadap produksi organik. Pedoman persyaratan teknis ini berisi tentang apa dan bagaimana tahapan produksi yang dilakukan dengan mengacu pada aturan main (standar) produksi. Pedoman tersebut juga memuat hal-hal yang boleh dilakukan dan dilarang dalam aturan main kelompok serta apa yang perlu dilakukan bila kontaminasi terhadap keorganikan proses produksi terjadi.

Dokumen sistem mutu ini hendaknya diketahui oleh seluruh personil yang terlibat dalam produksi organik yang dilakukan. Setelah memiliki dokumen sistem mutu, maka operator perlu melakukan pencatatan dari penerapan atas dokumen sistem mutu yang sudah dibuat. Pencatatan inilah yang akan menjadi bukti bahwa pemohon sudah melakukan sistem produksi organik. Selain untuk keperluan sertifikasi, dokumen sistem mutu dapat Foto: koleksi pribadi digunakan sebagai alat promosi dari produk organik yang Anda hasilkan. Dengan memberikan dokumen ini kepada konsumen, konsumen akan mendapatkan informasi mengenai produk organik Anda dan bagaimana produk organik tersebut dihasilkan.

Oleh: MM Diyan H Manajer Mutu BIOCert


Mewujudkan Pembaruan Agraria Atas Inisiatif Rakyat Oleh: Arief Miharja & Daniel Mangoting (Sebuah Catatan Pengorganisasian Petani di Desa Tajur Halang dan Sukaharja, kecamatan Cijeruk, Kab. Bogor)

Petani dan tanah merupakan kesatuan tak terpisahkan. Sulit dibayangkan bagaimana jadinya kehidupan petani jika tidak memiliki tanah. Tapi itulah kenyataan yang dialami masyarakat petani di desa Tajur Halang dan desa Sukaharja, kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Ketiadaaan akses atas tanah telah menggerakkan petani di kedua desa ini untuk merebut kembali hak atas tanahnya yang pernah dirampas di masa lalu.

Kilas Balik Sejarah Pada tahun 1970-an, lahan-lahan pertanian di desaTajur Halang dan desa Sukaharja sebagian besar masih dimiliki oleh masyarakat petani. Selain menggarap di lahan milik sendiri, petani menggarap di lahan-lahan yang berstatus tanah negara seperti tanah perkebunan (eks kebun teh PPN Pondok Gede) dan tanah hutan negara yang dikelola Jawatan Kehutanan (lahan eks Perum Perhutani; yang sekarang dikelola Taman Nasional Gunung Halimun Salak). Pada tahun 1972, tanah-tanah perkebunan negara yang terlantar, dibuka oleh masyarakat. Lahan ditanami dengan berbagai jenis tanaman seperti nenas, pisang, talas dan beberapa jenis tanaman keras bernilai ekonomis seperti cengkeh, pete, pala dan jengkol. Namun pada tahun 1976, lahan perkebunan yang telah digarap petani, diambil-alih kembali oleh pihak perkebunan (PPN) dengan alasan akan ditanami teh. Pengambil-alihan ini menimbulkan konflik karena pihak perkebunan melakukan pembabatan tanaman nenas milik petani. Perlawanan lalu dilakukan petani. Pihak perkebunan mengalah. Sebagian lahan perkebunan akhirnya bisa dikelola kembali oleh masyarakat. Pengelolaan lahan berlangsung hingga tahun 1985. Pada periode ini (1970-1985), masyarakat tani di kedua desa ini bisa

menikmati penghasilan yang sangat memuaskan dari berbagai komoditi pertanian yang mereka usahakan, terutama cengkeh, nenas dan pete. Pada tahun 1984, dimulailah pelaksanaan program redistribusi tanah (land reform) oleh pemerintah pusat di kedua desa ini. Lewat program ini, sebagian lahan perkebunan diberikan kepada masyarakat petani di desa Tajur Halang dan Sukaharja. Selain mendapatkan lahan, petani diberikan sertifikat sebagai bukti pemilikan tanah tersebut. Setelah proses pembuatan sertifikat selesai, masyarakat diminta membayar sejumlah uang tertentu agar bisa mendapatkan sertifikat tanah hasil redistibusi. Bersamaan dengan itu, masuk pula sejumlah pemodal (investor) dari luar desa. Para pemodal ini menawarkan untuk membeli tanahtanah masyarakat yang baru disertifikasi tersebut. Untuk mendapatkan tanahtanah petani, para pemodal bekerja sama dengan para calo tanah baik dari dalam maupun dari luar desa, aparat pemerintah desa, dan aparat kantor agraria. Masyarakat yang telah mendapatkan sertifikatnya ditakuttakuti dan diancam oleh para calo tanah dan pemerintah desa agar segera menjual tanah yang baru didapatnya.

Akibatnya, sebagian besar masyarakat terpaksa menjual tanahnya dengan harga murah. Pada tahun 1985, pemerintah menerbitkan sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) atas nama PTP XI (selama 25 tahun) pada tanah perkebunan yang telah menjadi garapan petani. Sertifikat HGU ini menjadi dasar bagi PTP XI untuk mengambil-alih tanah garapan petani. Awalnya, terjadi konflik karena rakyat mencoba mempertahankan tanah garapannya. Pihak PTP XI lalu menawarkan santunan ganti rugi mulai Rp 5/m2. Awalnya warga menolak. Mereka secara sembunyi-sembunyi menjaga tanaman yang ada di lahan garapannya. Namun, mandor-mandor perkebunan akhirnya berhasil mengusir petani dari lahannya. Tanaman petani dibabat oleh mereka. Akhirnya, masyarakat mengalah dan menerima santunan dari pihak PTP XI sebesar Rp. 5/m2 Rp 50/m2. Tanah perkebunan tersebut akhirnya dikuasai kembali oleh PTP XI dan ditanami teh. Pada tahun 1996, lahan HGU milik PTP XI ini dioper-alih ke PT Bahana Sukma Sejahtera (PT BSS) lewat proses yang terindikasi Korupsi-KolusiNepotisme. PT BSS ini mendapatkan Hak Guna Bangun (HGB) dari

Sekitar 80%, dari seluruh luasan tanah di kedua desa ini sudah beralih kepemilikannya ke pihak luar.

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


pemerintah berdasarkan sertifikat HGB No. 10.1008.11.300001/1997 untuk pembangunan kawasan pemukiman dan wisata. Dalam kenyataannya, tanah tersebut diterlantarkan. Keadaan lahan masih berupa kebun teh yang produktif dan kebun teh yang tidak terawat dengan tinggi pohon mencapai lebih dari 5 meter. Periode tahun 1990-1997 merupakan periode di mana tanah-tanah pertanian masyarakat beralih kepemilikannya ke pihak luar. Pada akhir tahun 1997, hampir semua tanah pertanian di desa Sukaharja dan Tajur Halang, pemilikannnya telah beralih ke pihak luar desa yang notabene adalah orang kaya dari Jakarta, Bogor dan sekitarnya serta beberapa perusahaan pengembang. Diperkirakan, sekitar 80% dari total luasan lahan di kedua desa ini, sudah dimiliki pihak luar. Masyarakat di kedua desa ini berada dalam keadaan tidak bertanah (tuna lahan). Dari segi status, terjadi perubahan yaitu dari petani pemilik menjadi petani penggarap dan buruh tani. Akibatnya, tidak ada jaminan bagi petani untuk bertani dengan tenang. Karena sewaktu-waktu lahan garapan petani bisa diambil kembali oleh pihak pemilik lahan atau orang yang diberi kuasa oleh pemilik tanah untuk mengelola lahan tersebut. Sejak tahun 2000-an akses petani akan lahan garapan di kedua desa ini menjadi sangat terbatas. Salah satu sebabnya adalah karena di atas tanah-tanah pertanian itu kini telah banyak berdiri rumah-rumah mewah (villa) milik orang kaya dari kota. Keterbatasan pemilikan dan akses terhadap lahan garapan menyebabkan akses masyarakat petani terhadap sumber penghidupan di sektor pertanian menjadi sangat berkurang. Untuk mengatasi masalah tersebut, petani melakukan pekerjaan lain seperti: memburuh (tani, bangunan, bengkel sendal), berdagang, masuk ke hutan untuk membuat arang kayu, mengambil kayu dan hasil hutan lainnya, serta sebagian bekerja di sektor informal.

petani desa Sukaharja (Kp. Cijulang) yang tergabung dalam kelompok tani Waspada-Saluyu pada awal tahun 2006 mulai membahas rencana pembukaan lahan kebun teh PT BSS. Awalnya, lahan kebun teh yang akan dibuka adalah lahan kebun teh yang terlantar . Lewat wadah kelompok tani, masyarakat petani di kedua desa ini berproses bersama untuk memperoleh kembali akses atas tanah yang dulunya diambil alih secara paksa oleh pihak PTP XI dan pihak PT BSS. Untuk mewujudkan rencana tersebut, dilakukan pertemuan kelompok secara rutin baik secara formal maupun informal guna mempersiapkan rencana aksi pembukaan lahan tersebut. Ada 3 tujuan pokok dari pertemuan rutin tersebut. Pertama, untuk membangun pandangan dan sikap yang sama diantara para petani mengenai tujuan dan rencana penguasaan/pengelolaan lahan eks perkebunan tersebut. Kedua, untuk mempersiapkan petani menghadapi berbagai resiko yang mungkin timbul dalam pelaksanaan pendudukan lahan tersebut. Ketiga, untuk mempersiapkan rencana teknis aksi pendudukan lahan di lapangan. Proses pengorganisasian petani untuk sampai pada tahap aksi pendudukan lahan eks perkebunan di kedua desa ini dalam kenyataannya berlangsung cukup lama. Aksi pendudukan/pembukaan lahan pertama kali dijalankan petani pada pertengahan bulan Mei tahun 2007. Aksi ini diikuti oleh sekitar 75 orang petani dari 3 kampung yaitu kp. Tajur Halang Pojok, kp. Tajur Halang Peuntas (desa Tajur Halang) dan kp. Cijulang (desa Sukaharja). Aksi tersebut awalnya mendapat tentangan dari pihak PT BSS; dalam hal ini kepala kebun dan para mandor. Tekanan terhadap kelompok tani juga datang dari pihak aparat keamanan (Polsek Cijeruk dan Koramil setempat). Beberapa tokoh penggerak aksi sempat didatangi dan diancam untuk ditangkap oleh pihak perusahaan dan pihak Perjuangan Petani Merebut Hak kepolisian (Polsek Cijeruk). Bahkan Atas Tanah beberapa mandor PT BSS sempat Berangkat dari persoalan di atas, melakukan aksi pencabutan tanaman di masyarakat petani desa Tajur Halang lahan garapan petani. Berkat yang tergabung dalam kelompok tani kekompakan petani, tekanan dari Mekar Sari (kp. Tajur Halang Pojok) dan pihak-pihak tersebut akhirnya dapat kelompok tani Damai Harapan (kp. diatasi. Tajur Halang Peuntas) serta masyarakat Hingga saat ini, proses pengelolaan dan

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

perluasan pembukaan lahan masih berlangsung. Bahkan perluasan lahan telah memasuki kebun teh yang masih produktif (teh masih dipanen oleh pihak mandor perusahaan). Lahan yang telah dibuka diperkirakan telah mencapai 20 hektar dengan jumlah penggarap sekitar 60 orang. Dengan demikian rata-rata seorang petani menggarap lahan sekitar 3000 m2. Tanaman pokok yang diusahakan adalah nenas, pisang dan talas. Selain itu petani menanam tanaman sela berupa tanaman sayuran umur pendek seperti; buncis, kacang panjang, kacang tanah, kacang merah, jagung, cabe, timun, terong, labu, tomat, bawang daun, bawang merah, dan kucai. Petani juga menanami lahannya dengan berbagai jenis pohon buah-buahan dan kayu. Buah Perjuangan Petani Hingga saat ini setidaknya telah ada 4 (empat) capaian penting dari perjuangan petani di kedua desa ini. Pertama, petani sudah bisa menikmati manfaat dari lahan tersebut lewat berbagai hasil panen. Sebagian besar hasil panen dijual, sebagian dikonsumsi sendiri. Kedua, mulai terbangunnya kesadaran petani akan pentingnya organisasi/kelompok sebagai wadah perjuangan untuk merebut hak atas tanah. Ketiga, mulai tumbuhnya modal sosial lewat berbagai kegiatan bersama seperti arisan kerja dan tabungan. Keempat, mulai tumbuhnya upaya untuk membangun kesepakatan bersama berupa aturan main dalam pengelolaan lahan garapan. Keberhasilan tersebut diharapkan dapat menopang keberlanjutan pengelolaan lahan eks perkebunan teh yang telah dikuasai dan dimanfaatkan oleh petani di desa Tajur Halang dan desa Sukaharja. (Arf/Sdm).

Arief Miharja & Daniel Mangoting Koordinator dan Staf Program Penguatan Akses Sumbert Daya Agraria ELSPPAT


Pemanasan Global?

Apa yang Dapat Kita Lakukan Oleh: Bibong Widyarti

Manusia terus bertambah, tetapi luas bumi tetap saja, sehingga bumi yang makin tua ini kelebihan beban, tidak cukup waktu untuk melakukan pemulihan dan keseimbangan karena dahsyatnya perusakan yang terjadi.

perginya hamparan sawah hijau, pasukan itik dan burung kuntul itu? Semua itu berubah drastis hanya dalam kurun waktu 40 tahun! Sumber: http://ayuprameswary.blogspot.com

Beberapa waktu belakangan ini ada beberapa isu yang menarik mulai dari pemanasan global sampai dengan kedaulatan pangan. Jika direnungkan, apa sih yang sebenarnya terjadi? Hal ini sebenarnya sudah lama di rasakan tetapi kadangkala kesadaran harus melakukan sesuatu baru dilakukan setelah ada hal yang merugikan. Mulai dari bencana lingkungan seperti terjadinya banjir, tanah longsor, kekeringan, polusi udara, polusi air, dan penyakit. Semua terjadi dan dirasakan dalam beberapa tahun terakhir ini di tanah air tercinta ini. Ingatan saya kembali pada waktu yang lalu, tidak usah terlalu jauh-jauh lah… Waktu kecil di tahun 1967-an, saya sering bepergian dengan orangtua melalui jalur Pantura. Rasanya senang sekali melihat daerah Karawang, Jawa Barat, dimana sawah hijau masih terhampar. Juga di daerah Brebes, Jawa Tengah, dimana masih terlihat sepasukan kawanan itik yang

digembalakan serta burung Kuntul yang tengah mencari makan di sawahsawah yang baru saja dipanen, kawasan bakau di Pantai Eretan, Jawa Barat, yang masih rapat, di daerah Bromo, Jawa Tengah, yang bukitbukitnya masih hijau. Namun kini bukan deretan pepohonan yang terlihat melainkan deretan pipa paralon dan selang untuk menyalurkan air ke ladang-ladang kentang bahkan sampai di bukit-bukit terjal yang sudah gundul. Kini, Karawang tidak lagi hijau, jalan tol telah membelah kota ini. Sawah hijau yang terkadang masih nampak digantikan oleh alang-alang. Memang terkadang masih nampak sehampar sawah, namun itupun telah diapit oleh beberapa bangunan pabrik dengan cerobong yang mengeluarkan asap. Pantai Eretan kini makin dekat garis pantainya, dan kini pemandangannya telah tertutup oleh bangunan dan tanggul penahan ombak. Kemana

Modernisasi… itulah alasan yang sering terdengar. Memang, industri diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kita, ladang kentang untuk konsumsi pangan kita. Namun apakah sedemikian parahnya lingkungan ini diperah untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai konsumen? Desember 2007 yang akan datang di Bali akan ada pertemuan akbar yang akan membahas masalah “Pemanasan Global “. Istilah kerennya “Global Warming“ yang dibuat semakin popular oleh Al Gore. Lantas apa yang dapat kita lakukan sebagai konsumen yang katanya ramah lingkungan atau konsumen hijau ini? Sebagai penghuni planet bumi, setiap detik yang kita lalui berkontribusi atas terjadinya pemanasan global. Kalau saja kita mau sadari ternyata banyak yang dapat dilakukan bersama untuk mengurangi atau setidaknya menahan, bukan semakin memperparah, rusaknya kualitas kehidupan dan lingkungan kita.

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


Sebagai individu yang juga konsumen, ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menyayangi bumi ini, diantaranya adalah: ? Mengurangi dan menghemat penggunaan daya listrik. o matikan lampu dan peralatan listrik yang tidak di gunakan. o gunakan lampu dan perlengkapan listrik rumah tangga yang hemat energi. ? Mengurangi dan menghemat penggunaan air. o untuk mencuci, gunakan sabun rendah busa dan ramah lingkungan sehingga menghemat penggunaan air saat membilas. o tidak membiarkan adanya kran atau saluran air yang bocor sehingga air tidak terbuang sia-sia. o bila memungkinkan, lakukan daur ulang seperti air bilasan sayur atau beras digunakan untuk menyiram tanaman pot di sekitar rumah. o tampung air dari Air Conditioner (AC) untuk menyiram tanaman. Dari AC ukuran 1 PK dihasilkan air kurang lebih 6 liter air. o buat sumur resapan sehingga air hujan dapat terserap masuk ke dalam tanah tidak terbuang percuma. ? Mengurangi sampah dengan cara menghindari produk yang sekali pakai, kemasan produk dari plastik yang berukuran kecil. o tissue - yang dapat diganti dengan handuk atau saputangan. o perlengkapan/wadah makanan plastik - gunakan yang dapat digunakan berulang kali (konvensional seperti sendok garpu logam/ kayu) atau pilih produk yang dibuat dari serat alami atau jagung (sekarang sudah ada dipasaran) sehingga mudah di daur ulang. o tas plastik untuk belanjaan bawalah dan gunakan tas kain, kemasan kardus, kemasan dari kertas yang

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

?

?

?

?

didaur ulang atau kemasan yang ramah lingkungan. o belilah produk dalam kemasan besar serta pembungkusnya yang memungkinkan dapat didaur ulang sehingga mengurangi tumpukan sampah. o kurangi dan hindari penggunaan plastik seperti Styorofoam (PS kode 6), PVC (kode 3) yang terbukti merugikan untuk kesehatan dan dalam proses produksinya mencemari lingkungan serta sulit didaur ulang bahkan tidak dapat di daur ulang. Mengurangi atau mengganti penggunaan bahan-bahan kimia sintetis yang berpotensi merugikan kesehatan dan lingkungan. o ganti pembasmi serangga dengan menjaga kebersihan lingkungan, gunakan minyak esensial seperti sereh atau lavender. o gunakan bahan pembersih rumah tangga dengan bahan yang ramah lingkungan dan terurai. o kurangi atau hentikan produk yang berupa aerosol . Memilih produk yang: o ramah lingkungan o fair trade, organik o dapat di daur ulang (semua dapat di lihat pada label di kemasannya) o beli serta pilih produk pangan lokal sehingga membantu peningkatan ekonomi lokal, menjaga keanekaragaman hayati dan menjaga kearifan lokal. Melakukan penghijauan di sekitar tempat tinggal, tanam pohon tahunan (tanaman keras) bila arealnya memungkinkan tiap keluarga setidaknya menanam 1 pohon untuk setiap anggota keluarga. Menghemat dalam penggunaan bahan bakar. o gunakan transportasi umum bila memungkinkan.

o o o

berjalan kaki atau gunakan sepeda untuk jarak dekat. gunakan bahan bakar yang ramah lingkungan. lakukan pemeriksaan secara berkala terutama kualitas emisi asap untuk kendaraan bermotor sehingga mengurangi pemborosan bahan bakar dan mengurangi pencemaran udara.

Yang saya ingin sampaikan adalah: ? Tentukan kebutuhan sejak dini bukan keinginan, sehingga tidak terjadi pemborosan atas sumber daya. ? Jadilah konsumen yang bijak, pilihan ada ditangan kita dan Tomat pilihan organik di kebun Wahana Cory, Bogor kita menentukan kualitas kehidupan bumi dimasa yag akan datang. ? Buatlah perbedaan mulai dari hal sederhana di sekitar kita. Dengan melakukan hal sederhana secara rutin setiap hari akan membentuk karakter, perilaku yang ramah lingkungan serta secara tidak langsung kitapun bertanggung jawab dan berperan menjaga bumi yang akan kita wariskan ke anak-anak kita kelak.

Bibong Widyarti Konsumen organik tinggal di Depok, Jawa Barat


Pertanian Organik Mengembalikan Kedaulatan Petani Oleh: Nana Suhartana

Hak petani adalah hak yang paling dasar dalam sejarah hak asasi manusia, karena hak tersebut sudah melekat sejak manusia mengenal sistem pertanian. Beberapa hak petani yang wajib dilindungi dan dikembangkan misalnya: perlindungan keterampilan dan pengetahuan tradisional akan sumber-sumber genetik, perlindungan akan hak atas sumber-sumber kehidupan, baik mahluk hidup maupun sumber air dan hak atas lahan, hak untuk melindungi dan mengembangkan benih dan hak lainnya yang sangat penting dalam usaha melestarikan dan mengembangkan kehidupan petani. Kasus yang terjadi dewasa ini adalah privatisasi berbagai sumber kehidupan, baik berupa air, benih dan kekayaan intelektual tradisional oleh berbagai perusahaan yang jelasjelas telah menyengsarakan kehidupan petani. Pada tataran umum kehidupan petani di Jawa, sejak lebih dari 10 tahun terakhir tidak ada perkembangan yang nyata, yang dapat dilihat dari semakin merananya kehidupan di desa-desa lumbung pangan. Kehidupan petani jauh dari sejahtera, kalau tidak boleh dikatakan semakin miskin dan merana. Hal yang sama dapat dilihat di luar pulau Jawa, dimana ketergantungan terhadap pemodal menjadi pemicu kemiskinan petani. Sementara itu kebijakan pertanian justru mundur jauh ke belakang menjauhi kepentingan petani. Resistensi terhadap berkembangnya industri pertanian masal yang mengedepankan produktivitas dan mengabaikan kelestarian alam telah “ditentang” dengan mengembangkan pertanian berkelanjutan (PB). Sistem PB telah dikembangkan hampir sekitar 15 tahun di Indonesia. Di beberapa tempat kita melihat hasil yang maksimal dari PB, sementara

masih banyak petani yang tidak berorganisasi yang tetap mengandalkan bagaimana bisa menghasilkan produktivitas yang tinggi dengan memanfaatkan “ramuan” Revolusi Hijau, dan hasil yang didapat adalah impor besarbesaran produk Revolusi Hijau dari negara lain karena produk Revolusi Hijau di Indonesia sudah tidak bisa maksimal akibat kerusakan tanah hasil dari input luar yang berlebihan. Pertanian berkelanjutan berusaha menjawab Revolusi Hijau dengan kembali mengedepankan hak petani untuk mandiri baik dalam hal pengolahan lahan maupun penyediaan bibit serta pupuk dan sarana produksi lainnya. PB adalah sebuah proses, sementara Revolusi Hijau adalah bentuk revolusi yang jauh lebih cepat dan besar pengaruhnya, seperti yang kita rasakan saat ini. Walaupun demikian, hasil dari PB saat ini sudah bisa dirasakan, petani yang mengembangkan PB dan model Pengendalian Hama Terpadu (PHT) telah mendapatkan kembali sebagian dari hak mereka untuk berdaulat dalam bertani. Sistem kemandirian dalam PB berhasil menjawab tantangan akan hilangnya kedaulatan petani dan hak petani untuk mengembangkan berbagai kearifan dan pengetahuan pertanian menjadi semakin kuat. Trend yang saat ini berkembang adalah Pertanian Organik (PO). Pertanian organik pada dasarnya adalah hasil dari proses yang sudah cukup lama dilakukan oleh petani dalam mengembangkan PB. Namun, melihat isu yang berkembang, maka saat ini PO lebih dominan. Mungkin kesalahan dari kita sebagai orang yang mengkampanyekan PO sehingga akhirnya konsumen melihat PO adalah sebagai produk.

Perhatikan saja jika ada orang yang mengatakan bahwa si A bertani organik, maka orang akan menjawab, “Produknya apa? Berapa harganya? Mahal ya?” Sementara jika orang mengatakan si A mengembangkan PB, maka orang akan bertanya “Apa sih PB? Apa yang dilakukan? Bagaimana prosesnya?” Sebenarnya PO adalah proses, tujuan akhir bukanlah produk. Baik PB maupun PO semuanya menghasilkan produk. PO memiliki prinsip yang menjadi landasan dalam bertani. Setelah prinsip bisa dipenuhi, maka kemudian dikembangkanlah standar PO. Dari semua proses yang terjadi inilah petani berusaha untuk mendapatkan kembali hak mereka. Hak untuk mendapatkan sumbersumber kehidupan, keanekaragaman hayati, hak untuk perlindungan terhadap in situ dan ex situ, dan lainnya. PO adalah usaha resisten terhadap asupan luar dengan mengusahakan perbaikan lahan, bibit dan lingkungan sekitar. Dalam kondisi sistem pertanian yang sudah hancur, maka pengembangan PO berusaha kembali mengembangkan ternak, memperbaiki lahan dan mengembangkan pengetahuan untuk membuat pupuk, dan lainnya. Selain itu PO berusaha untuk mengembalikan hak-hak yang telah lama dirampas oleh Revolusi Hijau. Usaha untuk mengembangkan bibit, pupuk dan sebagainya adalah bentuk perlawanan terhadap industri, dengan cara yang halus, PO melawan perkembangan industri kimia yang begitu pesat telah mengembangkan berbagai pupuk, pestisida dan “obatobatan” lain yang sebenarnya tidak berguna dan justru merusak lingkungan. Pengembalian hak petani dengan menjalankan PO mencakup berbagai

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


hak yang seharusnya dimiliki oleh petani. Hak tentang pengetahuan tradisional yang sudah tercerabut, hak untuk mengembangkan sumber genetik, hak untuk melindungi varitas lokal, hak intektual petani, dan hak-lainnya sebagai petani dan hak asasi lainnya seperti berorganisasi dan hak atas lahan. Perjuangan PO bisa dikatakan sebagai perjuangan yang halus dalam usaha untuk mengembalikan hak petani. Seharusnya perjuangan tersebut juga harus dengan perlawanan yang lebih keras, misalnya hak atas lahan. Beberapa organisasi tani telah membuktikan bahwa perjuangan hak atas lahan perlu diperjuangkan dengan keras, karena hal tersebut tidak bisa diperoleh hanya dengan “ahimsha”, termasuk dalam hal irigasi, karena sekarang ini banyak kasus perebutan lahan dan sumber air yang harus berhadapan dengan penguasa dan sektor swasta. Selain itu, bentuk perjuangan hak petani dalam PO saat ini adalah dengan mengikuti sistem yang berlaku (walupun tidak semua sistem harus diikuti). Hanya saja, hal ini masih perlu diperjuangkan oleh berbagai pihak guna mendukung kekuatan yang lebih besar. Sebagai misal, petani yang mengembangkan ramuan pupuk, maka hal tersebut bisa dipatenkan, termasuk temuantemuan petani lainnya. Memang hal ini bertentangan dengan spirit PO, namun hal ini bisa disiasati dengan pemberian hak pakai kepada petani lain, sementara untuk kepentingan komersial, maka pihak yang akan mengembangkan harus mendapatkan hak pengembangan dari petani. Hak petani adalah hak yang sudah melekat dalam sejarah ketika manusia mulai mengenal sistem bercocok tanam. Selain hak dasar sebagai manusia, masih ada beberapa hak khusus petani yang masih harus diperjuangkan. Mari renungkan, mereka sudah sejak awal menguasai lahan, memiliki berbagai sumber kehidupan (semisal benih) dan

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

pengetahuan yang ditularkan dan dikembangkan secara turuntemurun. Hak lainnya adalah pengetahuan petani yang sudah lama dikembangkan yang menyatukan antara alam dan kebudayaan lokal, dan pengetahuan lokal masyarakat setempat. Dengan demikian, petani memiliki hak penuh untuk mengontrol semua sumber hayati yang ada di sekitarnya. Sehingga apabila ada pihak lain yang berusaha mengembangkan dan mengambil alih sumber hayati di sekitar mereka, maka pihak tersebut wajib mendapat ijin dari petani. Apabila hal ini dilanggar, maka bisa dikategorikan sebagai bentuk “piracy” terhadap sumber hayati yang dimiliki oleh petani. Kawasan, lahan, air dan udara adalah bentuk lain yang dimiliki oleh petani dalam usaha mengembangkan sumber hayati. Petani memiliki hak atas kawasan pertanian, memiliki hak akan sumber air dan kebersihan udara. Hak-hak tersebut adalah hak kolektif petani yang wajib dilindungi dan dipertahankan dalam usaha pengembangan usaha tani dan perlindungan terhadap kedaulatan petani untuk mendapatkan ketahanan pangan, pelestarian sumber kehidupan lokal dan perlindungan terhadap sumber daya yang ada. Perkembangan PO dalam hal pengembangan hak petani, bisa dikatakan lebih maju, karena prinsip dasar PO adalah usaha untuk mengembalikan kedaulatan petani. Penerapan berbagai pengetahuan dalam PO membantu petani untuk mandiri dan mampu berhadapan langsung dengan industri pertanian. Walaupun PO sendiri akhirnya justru ditiru oleh industri dengan mengambangkan PO, tetapi tidak memiliki spirit PO, hanya mengembangkan produk saja. Dengan posisi yang sejajar, maka petani memiliki posisi tawar yang

lebih. Sistem dan regulasi yang dikembangkan oleh penguasa dan industri diikuti oleh petani PO, dengan demikian petani belajar lebih dari sebelumnya yang hanya sebagai produsen. Pengembangan ilmu petani akan membantu mereka dalam usaha mengembangkan usaha taninya. PO memiliki prinsip, menerapkan standar dan yang lebih maju lagi adalah perlakuan sertifikasi. Dengan posisi seperti ini, maka dengan mengembangkan PO, petani bisa melindungi hak intelektual mereka, mempertahankan lahan yang sudah diupayakan dengan susah payah untuk mengembalikan menjadi lahan yang sehat, mengawasi sumber air dan melindungi sistem irigasi yang juga berguna untuk memperbaiki ekosistem. Melakukan pengawasan terhadap beredarnya pupuk kimia dan pupuk “organik” buatan pabrik, resistensi terhadap berbagai bahan kimia buatan industri dan sebagainya merupakan usaha perjuangan hak petani. Semua itu tidak akan bisa terwujud apabila penguatan kepada petani masih lemah. Berbagai hak yang ada, baik hak dasar, hak ekonomi, kepemilikan, intelektual, dan hak-hak lainnya, dewasa ini menjadi sangat penting untuk kembali diraih oleh petani. Walaupun proses pertanian adalah bentuk evolusi, tetapi petani tidak bisa lagi berevolusi dalam pemikiran, karena industri pertanian sudah melakukan revolusi yang begitu luas dampaknya bagi nasib dan kehidupan petani. (**)

Nana Suhartana Koordinator JAKER PO


Wahana Cory Farm: Merangkul Masyarakat Dengan Pertanian Organik Kiprahnya dalam bidang pertanian organik masih terbilang baru. Namun, di lahan yang semula diperuntukkan untuk rumah peristirahatan tersebut, di sekelilingnya kini telah terhampar kebun organik yang cukup luas. Dengan merangkul masyarakat di sekitar kebun yang dijadikan mitra, Kebun Wahana Cory mampu menjadi pemasok rutin sayuran organik pada sebuah pasar swalayan di Ibukota Jakarta.

Gunung Salak ternyata tak Cuma menyajikan keelokan rupa dan pemandangan. Selain Curug Nangka dan Curug Luhur, dua buah air terjun yang selalu menjadi tujuan wisata anak-anak muda Bogor, kawasan kaki Gunung Salak yang berhawa sejuk ini juga menjadi lahan yang cocok untuk bertani. Selain kebun bunga, di kawasan ini juga banyak dijadikan kebun-kebun pertanian organik, salah satunya adalah Wahana Cory Farm. Wahana Cory Farm, atau yang dikenal dengan nama WACO ini terletak di Desa Tamansari, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Sekitar 15 km dari pusat kota Bogor. Kebun yang baru satu setengah tahun melakukan budidaya organik ini awalnya adalah sebuah tempat peristirahatan/vila. Namun sang pemilik ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitar lingkungannya. “Karena sang pemilik senang berkebun, maka dirintislah kebun organik ini,” ungkap Daniel, sang manager kebun kepada ORGANIS yang berkunjung ke kebun WACO ini. Namun niat baik tidaklah selalu disambut dengan baik pula. Awalnya, hasil pertanian di kebun yang luas lahan efektifnya sekitar dua hektar ini selalu saja tak luput dari pencurian. “Awalnya memang tidak mudah, ada saja yang mencuri,” kata Daniel. Namun sang pemilik dan para pekerja di kebun ini akhirnya mencari cara agar hasil kebunnya tidak dicuri namun juga tidak melukai warga

Konsumen dapat langsung memetik buah dan sayur

masyarakat di sekitar kebun sekaligus memberi alternatif tambahan bagi mereka. “Kemudian diajaklah beberapa petani untuk bersama-sama mengelola kebun. Lalu dikembangkan juga sistem inti plasma, mereka menanam dan kami beli, lanjut Daniel. ”Dan hingga saat ini sudah ada 3 orang petani mitra,” tambah Daniel. Masyarakat di sekitar kebun yang ingin bergabung namun tidak memiliki lahan untuk bertani, dapat bekerja di kebun WACO ini. Namun bagi mereka yang telah memiliki kebun sendiri, mereka tetap dapat menanam di kebun mereka dan hasil kebunnya dibeli oleh WACO. Selain menerapkan sistem inti plasma, kebun yang saat ini mempunyai

pegawai 40 orang ini juga melakukan pengolahan kompos sendiri. Tempat pengolahan kompos di WACO ini terletak di sebelah kiri bagian muka kebun. Kompos yang berasal dari kotoran sapi yang didatangkan dari Sukabumi, Jawa Barat ini diproduksi secara rutin di tempat ini. Kotoran sapi yang sudah padat diolah lagi dengan menambahkan nutrisi. Kirakira selama 7 hari kerja baru kompos tersebut siap digunakan. Ada juga yang dikemas untuk dijual. Di tempat ini, dengan merogoh kocek Rp.1000,anda sudah dapat membawa 1 kg kompos siap pakai. Penghasilan dari menjual kompos ini ternyata juga digunakan untuk mengelola kebun. ”Kalau tidak dijual, usaha ini tidak akan jalan. Karenanya kita mengimbangi dari penjualan pupuk juga,” kata Daniel.

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)


Profil Di kebun ini juga ada buah-buahan yang dibudidayakan secara organik seperti pepaya, nanas, pisang, dan lain lain. Dan biasanya, mereka yang berkunjung ke kebun dapat langsung memetik sendiri sayuran dan buah yang diinginkannya. Ibu Bibong, konsumen organik yang bersama penulis berkesempatan mengunjungi kebun WACO ini sempat memanen tomat dan selada organik di kebun ini. ”Di sebelah sini nih banyak yang sudah tua (tomatnya),” kata salah seorang pekerja yang tengah berada di kebun saat itu. Selain karena talas, nanas dan kacang Bogornya, di kalangan penggiat organik, Bogor dikenal pula sebagai penghasil produk organik, terutama sayuran organik dataran tinggi. Lihat saja di WACO ini, selain buahbuahan, di kebun yang terletak di ketinggian 680 dpl ini juga ditanami beragam sayuran organik, diantaranya adalah kangkung, bayam merah, bayam hijau, caisim, pakcoi, kailan, selada head, selada keriting, terong ungu, kemangi, cabai, dll. Sayuran ini dipanen seminggu dua kali dan sebagian besar dipasok ke Jakarta. “Panennya RabuKamis dan SabtuMinggu. Panenan Rabu-Kamis untuk suplai ke Super Indo. Sabtu-Minggu kita delivery sale. Kita punya toko di dekat daerah Sunter, Jakarta,” kata Daniel sembari menemani kami melihat-lihat kebun WACO. ”Jumlah pasokan ke Super Indo ada sekitar 8 item dengan jumlah sekitar 85120 kg/panen. Itu tergantung

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)

permintaan super market. Kapasitas panenannya mencapai 150 kg/panen, sisanya biasanya dikirim ke konsumen,” tambah Daniel. Sayuran dan buah organik tidaklah selalu berpenampilan mulus dan cemerlang warnanya. Sayuran organik bisa dicirikan dengan penampilannya yang bersahaja. Tak jarang sayuran ini nampak bolong-bolong dan dimakan ulat atau bentuknya yang terkadang tidak menarik, dan lain lain (Walau kini banyak pula sayuran organik yang tidak kalah penampilannya dengan sayuran yang konvensional -red). Tidak semua jenis sayuran dapat tumbuh dengan bagus di lahan WACO ini. ”Lihat saja ini, wortel kurang bagus ditanam disini, memang tumbuhnya bagus tetapi saat dipanen umbinya jadi begini (bentuknya melintir, dan kecil-kecil red). Memang rasanya manis tapi penampilannya kurang menarik. Nah, kebanyakan konsumen mengeluhkan penampilan sayuran yang seperti ini,” papar Daniel panjang lebar sembari memperlihatkan tanaman wortelnya. Jika berbicara mengenai organik, sebenarnya yang ingin dibangun adalah kepercayaan antara konsumen dan produsen. Namun terkadang masih timbul kendala dalam produk pertanian organik itu sendiri. Kebanyakan konsumen masih merasa riskan (ragu) ketika melihat bentuk tampilan sayur organik yang bolongbolong sehingga terlihat kurang menarik.

Memang, secara kasat mata sayuran organik tidak jauh berbeda dengan sayuran konvensional. Dan Daniel menyadari betul bahwa produk organik WACO belum murni organik. Namun menurutnya, sebisa mungkin budidaya tanaman di kebun WACO dilakukan secara organik, karena sulit bagi WACO untuk menghindari faktor eksternal yang dapat mempengaruhi keorganikan produk. “Jika sistemnya sudah organik, tetapi tetap saja ada efek dari eksternal. Kita belum bisa menjamin jika misalnya ada (polusi) dari jalan, atau ada yang berkebun (konvensional) di gunung,” katanya. (kebun WACO ini dibelah oleh sebuah jalan utama yang menghubungkan kawasan Ciapus dengan Ciampea, kabupaten Bogor red). Sebenarnya banyak kebun-kebun organik di seputaran wilayah kota Bogor ini. Namun sebagian besar dari mereka malah menjadi pemasok kebutuhan organik warga Jakarta. Akibatnya, para konsumen organik di Bogor kesulitan mencari produkproduk organik. Karenanya, Daniel berharap agar mereka-mereka yang peduli terhadap pertanian organik mau menjadi jembatan agar tercipta komunikasi diantara produsen dan konsumen organik di kota hujan ini. ”Agar konsumen organik di Bogor tidak bingung lagi kemana harus mencari produk organik,” kata Daniel mengakhiri pembicaraan dengan ORGANIS. (sny)


Oktober 2007 Peringatan ”Hari Pangan Sedunia Tahun 2007” Waktu : 27-29 Oktober 2007 Tempat : Training Center Sayum Sabah (TCSS) Desa Sayum Sabah, Kec. Sibolangit, Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara Penyelenggara : Yayasan BITRA, Medan, didukung KONPHALINDO, Jakarta

Dalam rangka memperingati hari pangan sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2007, BITRA Indonesia, Medan, sebuah lembaga nir-laba di bidang pertanian bersama organisasi rakyat dampingannya serta Konpalindo menyelenggarakan sebuah kegiatan yang bertema “Hak Rakyat Atas Pangan yang Sehat dan Berkualitas”. Acara yang digelar selama tiga hari dari Sabtu-Senin (27-29 Oktober 2007) di Training Center Sayum Sabah (TCSS), Desa Sayum Sabah, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara ini dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti: seminar, pelatihan, pameran, perlombaan dan diskusi umum dengan beberapa tokoh masyarakat. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi sebuah media pertemuan bagi masyarakat, instansi pemerintah, akademisi, tokoh masyarakat, LSM dan lainnya dalam upaya mensosialisasikan dan membangun pemahaman yang sama tentang kedaulatan pangan. Melalui kegiatan ini para peserta dan pengunjung yang terdiri dari petani, NGO, instansi pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat umum lainnya, dapat berbagi informasi melalui foto-foto, teks, poster dan tampilan lain tentang kedaulatan pangan, seputar transgenik, informasi tentang undang-undang yang mendukung kedaulatan pangan, hak asasi manusia, punahnya keanekaragaman hayati, pertanian selaras alam, dampak pestisida terhadap kesehatan dan lingkungan._(sny)

November 2007

Januari 2008

1. Shared Learning VII: Kewirausahaan Sumber Daya Alam Ramah Lingkungan Waktu : 19 27 November 2007 Tempat : Ciloto, Puncak, Bogor dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Bogor Penyelenggara : CIFOR dan PILI, Bogor.

“Sura Raya Tani Alami” Temu Produsen Konsumen Organis

2. Workshop ”Pemasaran dan Pemrosesan Produksi Pertanian Dalam Rangka Peningkatan Perekonomian Pedesaan” bagi Mitra EED di Indonesia Waktu : 20-24 November 2007 Tempat : Tana Toraja, Sulawesi Selatan Penyelenggara : Yayasan Matepe, Makasar, Sulawesi Selatan 3. “Pelatihan Inspektor Internal Untuk Kelompok ICS JAMBU” Waktu : 26-27 November 2007 Tempat : Desa Banga, Buton, Sulawesi Tenggara Penyelenggara : AOI, Bogor dan JPKP, Buton

Waktu : 22 Januari 2008 (tentatif) Tempat : Desa Cijulang, Bogor Penyelenggara : AOI, ELSPPAT, Kelompok Perempuan Mandiri /KPM Cijeruk, dan Kelompok Tani 'Saluyu' Cijulang, Bogor. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang tujuan utamanya adalah mempertemukan produsen, konsumen organik dan pihak pemerintah untuk bersama melihat realita yang ada di pertanian, khususnya di wilayah kota Bogor.

Edisi No. 17/Th 4 (Nov - Des 2007)



organis edisi 17