Issuu on Google+


INI hanyalah buku-bukuan, yang dikerjakan dengan penuh kesungguhan, seperti anak rajin yang mengerjakan hasta karya, tapi Anda tidak usah menanggapinya secara serius. Santai sajalah. Janji, ya?

2

Antyo Rentjoko


Kedai Merahh

i


Kedai Merahh: Kumpulan Karangan Gombal

Penulis Antyo Rentjoko Penata visual dan ilustrator Antyo Perancang sampul Rentjoko Š Gambar-gambar asli sumber kolase belum diketahui kecuali foto rokok CCCP dan rokok Che oleh perancang sampul. Hak cipta dilindungi hukum. Siapapun diperkenankan menyalin dan menyebarkan sebagian atau keseluruhan karya ini asalkan untuk kepentingan nirlaba dan menyertakan informasi sumber. Diterbitkan oleh Ahagia Entosa Ejahtera dan Rasakertas Jakarta, Juli, 2010

ii

Antyo Rentjoko


Kedai Merahh

iii


Untuk pembaca yang sudah meluangkan waktu, tenaga, mata, setrum, dan bandwidth – juga tinta dan dluwang misalkan mencetaknya. ~ Biar kayak buku beneran ~

iv

Antyo Rentjoko


PER MISI

Mengarang-ngarang si Hidung Belang

Carilah di Google: “lomba mengarang” dan “sayembara mengarang”. Yang belum ada itu lomba atau sayembara “mengarang-ngarang”.

Kata

ini

tak

hanya

berarti

menceritakan yang tidak faktual tetapi juga mengada-ada. Mengada-ada artinya membuat cerita yang berlebihan bahkan tak masuk akal, yang sebagai isapan jempol maupun pelipur lara pun tidak menarik. Hal itulah yang saya lakukan di sini. Mengada-ada, bukan dalam arti berlebihan, tetapi menceritakan hal yang tidak menarik. Kalaupun berlebihan, itu terlihat pada judul. Bombastis. Biasa, meniru (sebagian) penerbit juga. Judul keren, isi cemen. Untuk menyebutnya fiksi saya pun tidak berani karena fiksi berarti punya derajat sastra (oh ya?) padahal saya tidak Kedai Merahh

v


paham sastra dan bukan penikmat (su)sastra. Yang saya buat adalah seolah-olah sketsa sosial, dengan tuturan linier dan datar, pun hehehe... menjemukan sebagai perjamuan kata, dan tidak mengantarkan Anda kepada pengalaman maupun pemahaman baru tentang kehidupan. Malah ada yang ceritanya saya biarkan ngelantur. Saya

lakukan

ini

untuk

menjemput

kembali

kegembiraan mengarang. Tapi, eh... padahal, waktu masih sekolah nilai mengarang saya buruk. Memang tidak merah karena dalam mengarang tak ada nilai merah kecuali kertasnya hanya berisi judul. Maksud saya, karangan saya tidak pernah dibahas oleh guru. Artinya karangan saya tidak menarik karena kemampuan menulis saya buruk. Lebih buruk lagi: saya hanya mengarang kalau ada tugas – tapi menikmatinya dan tak peduli akan dinilai berapa. Meskipun

begitu

kegembiraan

mengarang

itu

sebetulnya tidak menguap lalu lenyap. Kalau tenggelam memang, bahkan lama, tapi kali ini saya coba munculkan lagi agar mengambang. Untuk apa? Iseng. Murah atau mahal, keisengan tetaplah sebuah kemewahan. Layak dirayakan dengan suka cita. Salam,

(bukan lelaki iseng, tapi hidungnya kadang belang)

vi

Antyo Rentjoko


Senarai Karangan 1

Pensiunan

1

Karangan 2

Teman-teman Cina

9

Karangan 3

Kedai Merahh

17

Karangan 4

Sensus Akhir Pekan

23

Karangan 5

Ketua RT

29

Karangan 6

Undangan Pernikahan

37

Karangan 7

Tonggak ke-39

43

Karangan 8

Anak-anak Jakarta itu...

51

Karangan 9

Sang Doktor

59

Karangan 10

Mister Blogger

71

Karangan 11

Busana Ibadah

81

Karangan 12

Kamar Kontrakan

89

Karangan 13

Gang Amoy

99

Karangan 14

Sang Purnawirawan

111

Karangan 15

Well Updated

125

Karangan 16

Psikologi Uang

135

Karangan 17

Spiker Dinding

143

Karangan 18

Nama-nama Sialan

155

Kedai Merahh

vii


viii

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 1

Pensiunan

“Masih diambil sendiri ya, Bu?” “Iya. Ibu masih kuat kok, Lé1).” Tiga bulan lalu hal itu juga yang kutanyakan. Tiga bulan sebelum tiga bulan lalu juga juga kutanyakan. Tahun sebelumnya dan tahun-tahun sebelumnya juga kutanyakan. Jawabannya sama. Lalu ditutup dengan sama-sama tersenyum. Pertanyaanku selalu terlontar saat menatap kalender besar dengan angka besar yang terbaca jelas oleh mata

1)   Dari kata tholé, panggilan untuk anak lelaki. Konon kata tholé berasal dari (maaf) "kontholé", artinya penis(nya). Hal sama berlaku untuk "wuk", panggilan untuk anak perempuan, yang berasal dari kata gawuk dan kemudian bawuk – belum jelas kedua kata itu berarti vulva atau vagina, pokoknya kemaluan perempuan. Tapi untuk vulva, orang Jawa punya istilah sendiri, yaitu (maaf, ya) "turuk". :)

Kedai Merahh

1


sehat dari jarak empat meter itu. Kalender seukuran dua kali kuarto, berbahan HVS, tanpa gambar. Selasa, minggu kedua saban bulan, kecuali tanggal merah, selalu dilingkari spidol merah. Kalender dekat meja makan itu. Sejak dulu posisi meja dan kalender tak berubah. Dan aku tahu di buku agenda ibu, seukuran separo novel supaya bisa masuk tas – tapi untuk membacanya harus dengan melepas dan memasang kacamata berulangkali – tanda yang sama juga melekati tanggal tertentu, disertai keterangan. Termasuk tanggal arisan pensiunan kelompok Melati, arisan RT, arisan keluarga Jayengmanukan, dan tanggal angsuran ke penagih keliling dari koperasi dan bank perkreditan rakyat. Ada dua hal yang aku kurang sreg. Mengambil pensiun sendiri dan utang ke koperasi serta BPR Profita Warga itu. Untuk utang aku tak mempersoalkan pokok dan bunganya, toh aku tahu itu tak memberatkan Ibu. Aku kurang sreg karena utang itu bukan untuk Ibu, tapi untuk Yu Jiyem, pembantu setia kami, dan entah untuk siapa lagi karena setiap kali lunas langsung diperbarui secara otomatis untuk kepentingan yang lain lagi. “Ndak apa-apa, Ibu masih bisa ngangsur dan sejauh ini ndak pernah ada masalah, Lé. Orang BPR kenal Ibu semua. Waktu Ibu ulang tahun itu dikirimi lapis legit dari Toko Bahagia...” “Ya, Bu...” “Kalau Koperasi Rakjat Sedjahtera itu kan bagus,

2

Antyo Rentjoko


Ibu ngutang malah dapat deviden. Yang koperasi itu Ibu sudah ikut empat puluh tahun, LĂŠ. Dulu untuk keperluan sekolahmu juga dari

sana.

Kalau

BPR,

yah kamu tahu, kan baru lima tahun ini. Kebetulan yang mimpin anaknya Pak Bambang rumahnya

Brewok, di

yang

pertigaan

itu.� “Ya, Bu...� Bukan informasi baru. Aku selalu menyimak lagu lama itu. Dan mengangguk, tersenyum. Ibu juga. Tapi soal mengambil uang pensiunan ke kantor pos itu, kali ini aku sangat tidak sreg. Kenapa tak suruhan dengan memberi surat kuasa? Memang dalam umur 76 Ibu masih sentosa untuk ukuran usianya, lagi pula belum terlalu pikun karena rajin mengisi teka-teki silang. Becak langganan tinggal menjemput pukul tujuh seperempat, mengantar ke kantor pos sejauh dua kilometer dari rumah, kemudian menjelang

Kedai Merahh

3


pukul dua belas menjemput, lalu mengantar Ibu mengudap di Soto Ayam Sadremo dekat Balai Kota, dan sekeluar dari warung sudah meneteng rantang berisi soto untuk Pak Bagong, tukang becak itu. Orang warung sudah hapal. Beberapa teman lama, yang juga anak pensiunan, tahu rutinitas bulanan itu. Memang begitu. Jadi apa masalahnya? Aku takut Ibu tersambar sepeda motor. Terutama saat menyeberangi jalan. Dalam lima tahun terakhir aku rasakan setiap kali pulang: jumlah sepeda motor terus bertambah, dan para penunggangnya semakin liar. Inilah akibatnya jika SIM dapat dibeli, dan urusan tilang dapat diselesaikan di bawah pohon peneduh jalan. Ibu pun pernah mengeluhkan kelakuan para pemotor itu, “Apa mereka ndak diajari nunggang dengan bener ya, LĂŠ? Bapaknya bisa belikan pitmontor2) tapi ndak ngajari soal budi pekerti dan cara nunggang yang bener.â€? Kalau sudah begitu keluarlah jurusku agar Ibu suruhan orang saja. Intinya adalah agar Ibu tak keluar sampai jalan raya, jauh dari rumah. Kota kecil ini sudah berubah. Sepeda motor semakin banyak. Bahkan yang lewat depan rumah pun selalu ngebut. Lagi-lagi setiap sampai ke masalah itu jawaban Ibu

2)   Berasal dari kata serapan "pit" (sepeda, dari bahasa Belanda fiets; adapun sepeda dari kata velocipide) dan "montor" (mobil). Di kemudian hari sebagian orang Jawa terbelah, ada yang masih mengartikan montor sebagai mobil, di sisi lain ada yang mengartikan montor sama dengan sepeda motor dan menyebut mobil ya sebagai mobil.

4

Antyo Rentjoko


juga tetap. Misalnya, “Lé, Ibu kan juga butuh bergaul, bermasyarakat. Datang pagi sebelum loket buka itu ketemu teman-teman, dapat kabar siapa yang sakit, malah siapa yang meninggal...” “Ya, Bu...” “Bukan hanya itu, Lé. Setelah Ibu ngambil di loket lalu ketemu lagi sama yang lainnya, duduk di bangku angkringan ronde, di bawah pohon kelengkeng kantor pos itu lho, iya... yang dulu buat parkir sepeda, untuk saling tukar kabar." “Ya, Bu...” “Sekarang ini teman ibu ngajar dulu di SMP, tinggal tiga. Padahal lima tahun lalu masih sepuluh orang. Empat yang bapak-bapak sudah pada kapundhut3) duluan, Lé. Lainnya nyusul. Dari yang tinggal tiga orang itu, yang satu selalu pakai suruhan keponakannya. Dia itu, Bu Sri, itu lho... yang dulu ngajar bahasa Indonesia, stroke sejak empat bulan lalu...” Bukan alasan baru. Masih sama. Hanya jumlah yang hidup yang kadang berkurang selama cerita yang sama, selama bertahun-tahun setiap kali aku pulang tiga bulan sekali selama dua malam. Kepulangan aku jadikan selingan supaya berjarak dari Jakarta. Pulang ke rumah, sejauh 413 kilometer menurut odometer mobil, tapi aku selalu naik pesawat lalu disambung taksi ke ke kotaku, juga berarti menikmati perjalanan

3)   Arti harfiahnya diambil, terambil. Kata ini juga berarti meninggal, diambil kembali oleh Tuhan.

Kedai Merahh

5


waktu yang normal, tak sebergegas Ibu Kota. Di kotaku waktu berjalan normal, tanpa pagi lalu tiba-tiba sore, dan aku selalu punya kemewahan bernama tidur siang. Kepulanganku juga berarti pagi mengudap ke soto ayam di warung Pak Witono, siang ke lotek Mbok Darmi, lalu malamnya ke nasi cap jay Oom Njoo. Oh ya, di kotaku, orang-orang Cina pun menyebut cap jay, bukan cap cay. Ketika aku bekerja di Jakarta 25 tahun lalu selalu ditertawakan setiap kali menyebut “cap jay” – mungkin juga karena aku melafalkannya “cap jahé”. Kepulanganku sebagai anak tunggal ya tetap bertemu topik tentang uang pensiun itu, terutama sejak dua tahun terakhir. Sebuah percakapan tanpa kesimpulan karena salah satu pihak, yaitu Ibu, tidak menganggapnya sebagai masalah. Dan terbukti sejauh ini tak ada masalah. Aku kalah. Kekhawatiranku patah. Alasanku lemah. Kepulanganku juga akan berujung ke topik yang selalu mencuat beberapa jam sebelum mobil carteran menjemputku untuk mengantar ke bandara di ibu kota provinsi. Biasanya sekitar dua jam sebelum penjemput tiba. “Kamu masih tahan sendirian to, Lé? Apa ndak bosen? Mosok ndak ada perempuan yang mau sama anak lanangku yang bagus ini?” Jawabanku juga cuma senyum, kadang tertawa kecil, lalu disambung canda, dan belakangan semakin semaunya. Tak ada kesimpulan. Dan sejak aku tolak dengan uring-

6

Antyo Rentjoko


uringan, soal penjodohan delapan tahun lalu itu, Ibu tak berani lagi melakukannya. Kepulangan tiga bulan sekali, dengan topik bahasan yang itu-itu juga, bagiku bukan soal. Atau jangan-jangan semacam ritual? Jika ya, maka yang terucap seperti mantra, apapun makna kata demi kata tak penting, karena yang utama yang mendatangkan rasa nyaman bagi masingmasing pihak karena merasa telah saling memperhatikan. ••••• Saling memperhatikan. Itu yang membahagiakan kami. Aku mengingatnya sambil melamun dengan rasa senang, tanpa duka, meskipun ini peringatan empat puluh hari wafatnya Ibu. Beliau berpulang karena serangan jantung saat berdiri di depan loket pensiunan di kantor pos, pada antrean ketiga dari orang terdepan. Malam ini – tadi, maksudku – orang-orang katering sudah memberesi semuanya.  Barusan ketua pramusajinya pamit. Aku masih merokok di teras.   Setelah berjalan sekitar lima langkah, punggung ketua pramusaji berbatik itu bergeser.  Tahulah aku dengan siapa dia berpapasan. Ah, lelaki tua itu! Berani-beraninya datang pada saat yang tidak tepat!   Dengan tertatih-tatih dibantu tongkat, datang dalam gelap. Aku menyebutnya Bejo Bajul – tanpa diawali Pak. Ibu selalu tersinggung setiap kali aku menyebut nama

Kedai Merahh

7


karangan itu. Nama karangan untuk duda kerempeng, dulunya pegawai dinas pertanian. Seingatku dia tak pernah berkunjung ke rumah, tapi sejak SMP aku sudah mendengar bahwa Ibu ada hubungan khusus dengan dia.   Sindiran tentang janda beranak satu, yang ditinggal suaminya berlayar tanpa berita, lalu si janda menggoda suami orang, bisa membuatku meradang dan mengajak berkelahi siapa saja meskipun kalah. Dia, lelaki yang kunamai Bejo Bajul itu, setahuku tak pernah berkunjung ke rumah. Tapi di kota kecil ini, yang cuma 26 kilometer persegi dalam satu kecamatan, orang bisa saling tahu meski tak mengenal. Bahkan bisa tahu rumahnya, atau setidaknya kampung tempat dia berdiam. Topik tentang Bejo Bajul tak pernah kami bahas dalam setiap kepulanganku yang tiga bulan sekali sejak 25 tahun sejak aku bekerja di Jakarta itu. Aku dan Ibu sama-sama menjaga diri. Menjaga perasaan. Bejo Bajul kian dekat. Berjalan tertatih, berhenti sebelum keset rajutan kawat, dengan agak terengah. Aku berdiri. Kami bertatapan sejenak. Lalu aku masuk.

Pondokgede, 12 Juli 2010 (final Belanda vs Spanyol; ada 5 orang di rumah, yang 4 perempuan, dan satu-satunya yang tak menonton sepakbola adalah saya)

8

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 2

Teman-teman Cina

Rahmat Anwar Husodo. Mengajak berteman. Siapa dia? Kulihat di halaman profilnya di Facebook. Tidak terkunci. Tapi temannya baru satu. Kulihat dengan siapa dia berteman. Aku tak mengenalnya. Maksudku belum pernah mendengar namanya. Oh dia baru bergabung di Facebook rupanya. Sama seperti orang-orang sebayaku. Facebook menjadi alasan untuk berinternet, bahkan punya e-mail pun supaya bisa mendaftar ke Facebook dan lainnya. Beberapa yang masih kikuk, karena masih baru, tak mengirim pesan saat mengajak berteman. Rahmat Anwar Husodo. Masih minim info. Tapi ada tanggal dan tahun kelahiran: 20 Januari 1960. Besar Kedai Merahh

9


kemungkinan dia temanku semasa SMP atau SMA. Bukan semasa SD, karena aku ingat nama-nama teman SD-ku yang hanya satu kelas. Aku mengerahkan ingatan. Tak ada nama Rahmat dalam blok ingatanku. Yang ada Rahmat lain, kakaknya Didik, temanku sekelas, anak bintara polisi militer yang tinggal di asrama depan penjara. Rahmat Anwar Husodo. Domisili Blora. Oh, mungkin teman kuliah. Tapi aku tak dapat mengingat nama teman kuliah, terutama yang berbeda jurusan dan berlainan angkatan. Yang pasti tak ada teman SMA-ku yang berasal dari Blora. Memang di SMA dulu banyak anak dari luar kota, bahkan yang jauh, dari Bagansiapiapi nun di Sumatra Utara, dan dari Palangkaraya di Kalimantan Tengah pun ada. Tak ada Blora. Tak ada Rahmat. Kukirim pesan, “Halo. Maaf boleh tahu Anda siapa?” Pesan itu kukirim lima bulan lalu, sebelum tahun berganti. Pagi tadi ada e-mail notifikasi di kotak masukku. Balasan dari Rahmat, dalam bahasa Jawa halus, “Punapa panjenengan kesupèn marang kula to, kanca lami ing Salatiga? Kula panci

boten kaétang déning sinten

kémawon, punpa malih déning priyagung ingkang misuwur kados panjenenganipun...” Artinya, “Apakah Anda lupa terhadap saya, teman lama dari Salatiga? Saya memang tak dianggap oleh siapapun, apalagi oleh orang tenar seperti Anda...”

10

Antyo Rentjoko


© FOtO PRAOLAH: REPRO DARI KARYA ANDREAS HARSONO "Yang Dihapus Kutulis Ulang, 2009. Instalasi dengan perabot, kertas, tinta cina, dan 5 video." / GALERI NASIONAL

Hanya itu. Bahasa menunjukkan siapa dia mestinya. Yang pasti bukan anak usia di bawah 25 seperti sebagian bloggers yang menjadi temanku, apalagi bloggers Jakarta yang kebetulan keturunan Jawa. Aneh memang, di Jakarta ini orang saling ajak berteman melalui Facebook, dan juga Twitter, padahal masih satu kota, satu wilayah. Maksudku Jakarta dan sekitarnya, termasuk Depok,

Bekasi, dan

Tangerang – tanpa Bogor karena dalam persepsiku Bogor sudah luar kota, sudah kota sendiri. Biasanya main petak umpet tidak aku ladeni. Ini sudah biasa dalam SMS oleh teman lama. Semakin aku penasaran, dan keliru tebak, makin menjadilah mereka. Maka biasanya balasanku lewat SMS adalah, “Anda keliru krm ke org yg salah. Maaf. :)” Kedai Merahh

11


Bahwa bakal segera datang SMS balasan, malah disusul panggilan masuk, berisi umpatan, itu sudah kuduga. Yang penting dalam umpatan ada pembukaan diri siapa dia. Setelah itu aku menelepon, menyapa, minta maaf, bercanda, bertukar kabar, dan saling ledek – bila perlu saling memaki. Tapi yang ini tidak. Aku tak tega. Dan jujur saja aku penasaran karena dalam profilnya di Facebook tak ada foto diri maupun info lainnya. Hanya ada foto rantang. Akhirnya aku balas Rahmat dengan bahasa Jawa halus, yang berarti ini: “Maaf ingatan saya sudah meluntur dikarenakan usia dan penyakit keturunan.” Terlalu juga, untuk hal sepele aku membawa-bawa dan menyalahkan leluhur di alam baka. Tak aku sangka, balasan dari dia cepat. Sorenya langsung masuk, “Kalau soal usia, kita sama, malah saya lebih tua. Tak ada alasan untuk pikun.” Aku lekas membalas agar tak bertele-tele. “Oh ya? Gini aja, siapa sebetulnya Anda.” Kusertakan nomor ponselku yang ketiga. Malamnya, serampung aku rapat di kedai, ponselku bergetar. Ada panggilan masuk. “Assalamualaikum, Dul! Ini aku yang di Facebook ngirim pesen ke kamu. Alhamdulillah akhirnya teleponku bisa masuk, dari tadi ketolak terus. Lupa ya sama Hwa Djay?” Astaga! Hwa Djay! Lengkapnya Liem Hwa Djay. Itu nama teman lama. Nama itu tak kulupakan.

12

Antyo Rentjoko


Dia anak IPA, aku IPS, tapi kami cukup dekat. Meski tak sering, belum tentu tiga bulan sekali, tapi kadang kami saling berkunjung. Aku ke rumahnya, bangunan kolonial yang berhalaman depan luas, lalu masuk lewat lorong samping, nah di dekat gudang tembakau ada kamar ukuran empat kali lima meter persegi, itu kamar dia. Kamar dengan banyak buku dan piringan hitam. Tak banyak teman bertandang ke situ karena Hwa Djay memang tak banyak kawan. Kalaupun menerima kunjungan, bahkan dari sesama keturunan Cina, dia hanya menerimanya di teras depan rumah yang berkursi kayudan-rotan. Atau di bawah pohon rambutan – “pohon acé”, kami menyebutnya. Aku beringsut menjauhi keramaian dan kepulan asap rokok meja kedai, sekalian mencari sinyal yang lebih baik dan hawa segar di dekat parkiran. Kami saling bertukar ingatan dan canda. Dan akhirnya terjawablah pertanyaanku di awal perbincangan ponsel, sejak kapan Liem Hwa Djay menjadi Rahmat Anwar Husodo. Tadi dia hanya menjawab, “Ceritanya nanti.” Dulu dalam buku presensi pun namanya Liem Hwa Djay. Teman-teman tahunya juga Hwa Djay, si culun alim anak juragan tembakau, yang rumahnya dekat perempatan pangkalan dokar. Sebetulnya kepanglingan nama itu bukan hal baru bagiku, terutama sejak ada Facebook. Nama lama temanteman Cina sudah berubah. Tapi dengan melihat info, foto,

Kedai Merahh

13


dan jaringan pertemanan, aku segera mengenali siapa saja mereka. Apalagi jika ada ajakan berkawan kembali – inilah keanehan Facebook: orang sudah berteman diajak berkawan – dengan menyebut nama lama. Misalnya, “Dul, ini aku Hoo Liong.” Atau, “Pasti situ masih inget Siu Lan sing ayu banget bikin klepek-klepek itu.” Hoo Liong jadi Albert Ongkowijaya. Siu Lan jadi Cecilia Indah Tanujaya, dan akhirnya ditambahi Gunawan, nama belakang suaminya. Ada juga yang tiba-tiba nyelonong melalui SMS karena nomor utama ponselku beredar di kalangan teman lama dan terus beredar. Misalnya ini, “Halo, dul. Pakabar? Ini aku, hwie tjoen. Tp namaku di fb teddy raharja.” Juga ini, “Alooo dul, ini aku siok lan. Nama lama, kalo skrg ya lanny salim. Pakabar? Msh inget?” Misalkan bersua, dalam lingkup bersama orang luar, aku tahu diri untuk tidak memanggil lama nama mereka di luar yang tertulis kartu nama. Beberapa kawan menjadi petinggi perusahaan di Jakarta, dan kantornya beberapa kali menggelar perjamuan bisnis. Foto bersama di Facebook, termasuk reuni temanteman di Salatiga, membuatku lega. Masalah Cina dan nonCina tidak penting bagi kami. Sejak dulu. Bahkan beberapa teman enak saja meledek sesamanya, “Dia memang masih Cina banget. Pelitnya minta ampun! Hahaha!” Ada juga, “Dasar Jawa, kebatinan melulu, apa-apa dibatin. Hehehe!”

14

Antyo Rentjoko


Bahkan ketika Soen Yen menikah dengan Cina Makassar, yang berkulit gelap, seorang teman Jawa meledek, "Ah bohong kamu. Bojomu bukan Cina. Jauh-jauh dapat bojo, eh item. Kalo cuma item, di sini banyak. Jawa ganteng yang ndak gosong juga banyak." Perihal Hwa Djay ini berbeda. Dia tak punya kawan. Hanya satu temannya di Facebook, dan akan bertambah lagi satu yaitu aku. Sulit untuk mengenali. Tahu-tahu menjadi Rahmat Anwar Husodo dari Blora. Padahal seperti banyak kawan, dia dulu masih WNA. Ini bukan pilihan tapi akibat politik dan birokasi Orde Baru yang masih berbuntut hingga sekarang. Itulah Hwa Djay yang sejak lima tahun lalu menjadi mualaf. Sekarang membuka toko elektronik di Blora. Istrinya seorang Cina muslimah. Mereka belum dikaruniai anak. Memang sebuah cerita biasa. Ingatanku masih ke nama-nama lama mereka, nama yang diberikan oleh tradisi leluhur, tapi perkembangan zaman, yang mungkin juga dengan sejumlah ketidakenakan, akhirnya membuat kawan-kawanku memiliki nama baru. Nama-nama baru dengan pola yang mudah ditebak karena jarang dipakai oleh orang Jawa. Dini hari ini, pukul satu serepermpat setelah aku matikan komputer, sebuah SMS masuk, “Halo, dul kampret abdulhadi sugimantoro joyomartono. Ini aku, tjeuw kwie lan. Dl di sl3. Msh ingat? 2 jam lg kl blh aku yg nelp km.

Kedai Merahh

15


Ini sdh mau take off. Sorry. Kl telp gak km angkat aku gak kntk lg, km jg gak bisa kntk aku.� Tjeuw Kwie Lan? Nama yang lengkap, menyertakan she atau marga. Siapa dia? Ingatanku sudah pol dan buntu. Tapi aku yakin belum pernah dengar nama itu. Aku ingat nama temanku sejak TK sampai SMA – untuk yang masa TK sampai SD, aku ingat nama lengkap mereka. Adapun jukukan lengkap Dul Kampret hanya teman sekolah yang tahu. Ini akibat sejak TK sampai SMA aku bersekolah di yayasan yang sama, dalam satu kompleks. Nama terus melekat. Tapi Abdulhadi Soegimantoro Djojomartono? Nama ini tak ada dalam rapor, terutama dua nama terakhir dari ramaku dan eyang kakungku. Kini malu rasanya kalau harus menanya kepada teman-teman tentang Tjeuw Kwie Lan. Khawatir dianggap sombong, dan lebih khawatir lagi aku akan dipermainkan dengan merujuk ke nama toko, bengkel, dan restoran yang salah. Memang nama-nama usaha keluarga menjadi salah satu identifikasi untuk menggali ingatan. Dua jam lagi. Tapi kantukku semakin membuai. *) Semua kemiripan nama di sini hanya kebetulan belaka.

16

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 3

Kedai Merahh

Anak kalimat yang disisipkan dalam tubuh berita, sehingga seolah tak penting, itu menggembirakanku. Tertulis di sana, “Joko, yang kabarnya mantan aktivis 80an, itu selalu berbusana santai. Kalau bukan jins ya celana khaki, terkadang malah celana pendek.” Gayaku mengelak bisa membuat terkesan reporter majalah mingguan itu. Editornya juga tak teliti, sehingga lupa menanya kenapa “kabarnya”, yang mestinya bisa ditanyakan langsung saat wawancara, bisa lolos. Tinggal menunggu lima hari maka versi online majalah Kutub akan menayangkan aku. Google, Bing, atau lainnya, akan menemukan tulisan itu. Lengkap dengan fotoku berlatar dinding kafeku, Kedai Merahh (ya, “merahh” – biar nge-brand), yang serbamerah. Kedai Merahh

17


Dua bulan lalu, tabloid bisnis Wirausaha Indonesia juga menyisipkan kata-kata manis: “Jackie, demikian Joko dipanggil kalangan dekatnya, yang bekas aktivis pers mahasiswa itu,

menghias

kafenya

dengan

tokoh-tokoh

revolusioner.� Aku

enggan menyebutkan nama univer-

sitasku. Cukup kota saja: Yogyakarta. Yang penting adalah citraku sebagai orang kreatif yang dulunya aktivis. Citra itu perlu justru perlu karena pelanggan Kedai Merahh di Jakarta BizSquare adalah orang-orang kantoran biasa yang menurut kesanku apolitis, bukan bekas aktivis. Dalam

wawancara

aku

ketika

reporter

menghindar

selalu

berlagak

menanyakan

selentingan masa laluku. Selentingan itu mereka petik dari kekeliruan beberapa blog anak-anak muda yang menyebutku “mantan aktivis 80-an�. Mereka mendengarnya dari obrolan di warung. Aku menyukai citra baruku. Baru? Entah. Tapi aku sudah berbeda. Setelah dua lalu mengambil pensiun dini dalam usia 50, maka kutinggalkan kemapanan sebagai art director beberapa majalah di lingkungan sebuah kelompok penerbit besar. Dengan pesangon yang bagus, dan ditambah warisan istri, kubuka Kedai Merahh. Pakaian harianku berubah. Dari dulu aku selalu berbusana santai, tapi sekarang lebih.

18

Antyo Rentjoko


Š FOTO ASLI CANGKIR PRAOLAH OLEH Julian Cenkier (SXC.HU)

Celana pendek, sneakers, kadang boots, dan kaos. Kaosku pun bertema perjuangan. Yang sering kupakai adalah kaos produk Kedai Merahh. Ada yang bergambar Che (wajib!), Lenin (harus), Mao (kudu), Tan Malaka (hasil pencarian di internet menunjukkan dia hebat), dan Bob Marley (dengar-dengar selain musiknya asyik dia juga pejuang). Lalu ada yang usul gambar John Lennon. Lalu ada yang usul gambar Samaoen dan Darsono – entah siapa mereka, tapi anak-anak sering menyebutnya. Aku

bangga

akan

tema

kafeku.

Serbamerah.

Dindingnya. Mejanya. Kaos polo pramusajinya. Untuk cangkir dan cawan pakai hitam saja. Yang penting merah. Kedai Merahh

19


Apalagi tema visualnya. Yang terbaru adalah olahan grafisku terhadap bungkus rokok CCCP dan Che. Yang pertama kudapatkan di Rusia, yang kedua di Jerman, dalam kunjungan wisata bonus kesetiaan dari kantor lama. Aku senang ketika seorang cewek kantoran, berstoking hitam, menanya, “Ini kafe kiri ya, Mas?” “Itu kan menurut Anda. Kanan atau kiri sama saja kok,” kataku. Aku semakin bergairah karena fanpage kafeku di Facebook sudah diikuti 1.200 penggemar dalam dua bulan – padahal aku yakin sebagian besar belum pernah singgah. Kubiarkan penggemar membesar-besarkan kata “perjuangan”, “revolusioner”, dan “kiri” – juga “kekirikirian”. Aku bangga ketika seorang pensiunan letnan jenderal, oom dari temanku, singgah di kafeku lalu mengernyitkan kening sambil berkata, “Apa? Cuma buat lucu-lucuan? Di mana lucunya? Kalau dulu kafe kayak gini sudah membuat sampeyan diambil, nginep di markas.” Aku bangga karena lima anak muda menyaksikan itu lalu menyiarkannya melalui Twitter. Salah satunya, “@jackiexxx80 si @kedaimerahh kena damprat mantan jenderal. dia tetap cool.” Kemudian pekan lalu, datanglah rombongan pemesan buka puasa bersama itu. Mereka sebaya aku. Beberapa orang tak puasa, hanya datang untuk silaturahmi dengan kawan-kawan lama saja, dan merokok sebelum jam buka

20

Antyo Rentjoko


tiba. Satu dari mereka itu memperkenalkan diri. Namanya Alex Purnomo. Kartu namanya menunjukkan bahwa Alex adalah seorang kepala SMA swasta. “Saya baca di mana lupa, Mas Jackie bikin tema kafe ini cuma buat lucu-lucuan ya? Alasannya angkot dan truk juga sering pake gambar Che. Malah kaos Che dijual di Pasar Projo Ambarawa, tuh fotonya dipasang di sana,” katanya sambil menunujuk foto dekat lorong menuju toilet. “Iya.” Kerumunan kecil tujuh orang, termasuk aku, itu tertawa bersama. Seorang teman Alex menyergah, “Omong-omong, Anda dulu aktivis ya? Juga di pers mahasiswa? Di mana, Mas?” “Ah nggak. Itu kan kata media. Bukan kata saya.” Satu orang lagi mendesak, menanyakan sejumlah nama. Mungkin nama aktivis di Yogya tahun 80-an. Aku hanya angkat bahu dan akhirnya mengatakan, “Sudahlah, itu kata media.” “Mas Jackie dulu kuliah di mana?” tanya orang yang lainnya lagi. “Ah nggak penting. Sekolah saya kan kacau. Ya kampusnya, ya sayanya. Hahaha...” Jam buka puasa pun tibalah. Mereka asyik bersantap dan bergurau. Beberapa orang meninggalkan tempat untuk salat di musala milik mal. Di toilet aku bersua salah satu dari pengerumun tadi.

Kedai Merahh

21


“Mas kenal Mbak Nancy Suganda, yang notaris kan? Juga kenal Oom Bambang Gajah?” tanyanya. Aku kaget. Tentu kenal. Mereka teman lama. “Anda kenal mereka di mana?’ “Nggak kenal langsung sih. Saya dulu kan di majalah Kabar Indonesia, Mas” Hmmm... majalah yang kemudian disingkat Kabin itu yang sepuluh tahun lalu, akhir 90-an, memuat petikan kisah pergermoan di kalangan mahasiswi Yogya tahun awal 80-an. Akulah salah satu mucikari amatir itu. Nancy adalah primadona. Bisnis yang laku. Adapun Bambang adalah koordinator. Bos. Dia sekarang jadi corporate secretary sebuah perusahaan pertambangan. Nama-nama kami disamarkan. “Oh ya Mas, dapat salam dari Pak Budiarto Sudirdjo. Itu oom saya. Beliau sekarang menikmati hari tua di Cipayung, dekat Taman Mini. Katanya senang melihat perkembangan bisnis Mas sekarang.” Budiarto Sudirdjo. Dulu masih kapten. Pensiun sebagai mayor jenderal. Kariernya tak bagus, padahal teman seangkatannya melejit, ada yang jadi panglima segala. Kepadanya, dulu, aku harus menyampaikan sejumlah informasi kampus. Sesuai perintah, setara proteksi. Suatu hal yang aku selalu ingin mengenyahkannya dari ingatan karena ada sejumlah korban. Diciduk aparat. Kuliahnya terhenti. Termasuk kangmasnya pacarku saat itu. Karier kepegawainegerian keluarga mereka terganggu.

22

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 4

Sensus Akhir Pekan

“Besok Sabtu aja sekalian. Kita kan free,� kataku. “Iya sih. Tapi gimana lagi, maunya Jumat yang buat kita, bukan pekerjaan. Launching party rampung jam berapa coba? Tapi namanya juga client kan kudu diservis baguslah.� Lalu dia berangkat. Aku suka kerena dia penuh semangat menapaki karier. Hari masih pagi dia berangkat sebelum three-in-one (Oh, apakah orang berbahasa Inggris juga memakai istilah ini? Nggak, kata teman, orang kita saja yang sok-sokan). Aku menyukainya. Dalam usia 29, tahun kemarin, dia mencoba mengibarkan bisnis sendiri bersama temantemannya. Dia pun dewasa, tak banyak merajuk dan minta perhatian. Dia mandiri. Tekun. Gigih. Tidak manja. Semoga Kedai Merahh

23


ini pelabuhan terakhirku. Untuk selamanya. Semoga inilah yang namanya cinta senyatanya, bukan hanya syahwat semata. Apa lagi yang kusuka dari dia? Kreatif. Sering meluangkan waktu untuk corat-coret di buku khusus. Bisa berjilid-jilid sketsanya. Mestinya yang cat air itu dikemas sebagai album terpisah. Serial sketsa terbingkai, ada delapan, tentang dunia sekitar, yang diambil dari unit aparteman ini bagus banget. Tapi ada yang lebih bagus. Paling bagus. Bergambar sudut trotoar dengan sepeda terparkir. Kondisi asli sih tanpa sepeda. Lalu dia menambahkan sepeda. Mirip sepedaku. Lukisan cat air 30 x 40 cm, terbingkai lis hitam, dengan passepartout putih dari karton katun, itu memang istimewa. Itu sebagai hadiah untuk setahun perayaan hubungan kami. Pagi mendung. Sisa hujan semalam pastilah masih meninggalkan genangan. Kalau ditambahi gerimis jadilah kemacetan bertambah. Ah, dia bisa terjebak macet lalu siasialah usaha untuk memasuki kantor paling dini. Coba kulihat TV. Ingin tahu apa berita kota pagi ini. Tak ada yang menarik. Gonta-ganti channel sama saja. Lebih baik baca berita kemarin. Koran pagi masih terlipat rapi. Yang kucari adalah iklan display tentang big sale dan diskon untuk bersantap malam akhir pekan. Ponsel bernyanyi. Dari dia. “Aku udah nyampe. Nggak kena macet kok,� katanya. Lalu dia langsung ngopi katanya.

24

Antyo Rentjoko


© sumber foto gillete, dior fahrenheit, dan bvlgari after shave tidak diketahui

Bikin sendiri. Karena office boy belum datang. “Roti

gandumnya

masih

kan?

Habisin

aja,

hehehe,”katanya. “Ada dua malah.” “Iya yang di tembok jangan dimakan dong. Keras. Hehehe. Oke, aku harus mulai tune in ya.” Yang di tembok itu lukisan dia juga. Roti gandum. Dialah yang mengajariku hidup lebih sehat. Aku bisa mengurangi daging. Lebih banyak sayur. Malah sudah dua bulan aku berhenti merokok. Dia juga yang mengajakku untuk kembali ke gym. “Kalo bicara usia, setiap orang kan nambah. Jadi kalau ngomong inget usia, ya berlaku buat semua orang kan?” katanya. Sungguh cara menyatakan pendapat secara nyaman. Basa-basi biar, tapi bagiku yang sudah memasuki Kedai Merahh

25


usia 45 itu tidak terasa sebagai serangan. Jumat ini sebetulnya kami berencana mencoba ke Pluit, tepatnya Pantai Mutiara. Jauh memang. Dari Selatan ke Utara, mepet batas peta daratan. Sebelum ke The Icon mampir dulu ke kafe dekat dermaga, menikmati sore. Tapi itu baru rencana. Tapi ya sudahlah. Masih banyak waktu untuk menjalani kebersamaan. Kebersamaan?

Misalnya

sama-sama

tidak

bisa

memasak. Tapi bagusnya mulai ada perkembangan bagus. Dia mulai belajar memasak. Dari buku dan internet. Hasilnya, untuk sementara, bisa membuat kami tertawa bersama. Yang pasti belanja bersama menjadi tambah menyenangkan. Memilih kebutuhan dapur menjadi sarana belajar bersama. Memilih dan berdebat kecil akan jajan di mana untuk berguru soal rasa juga mengasyikkan. Rampung membaca koran, tepatnya tiga koran, aku mandi. Tak ada kegiatan penting di kantor. Tapi aku harus datang supaya solidaritas korps terjaga. Sekadar datang, nongol, dan sesekali menampung curhat. Biarlah Jumat menjadi hari yang tak terlalu berat bagi anak-anak kantor. Senin saja yang berat, dengan serangkaian pelaporan dan rapat. ••••• Sabtu siang. Tak ada rencana masak maupun belanja. Hanya kubuka dan melihat sekilas kit baru miniatur kereta

26

Antyo Rentjoko


api. Besok Minggu saja merakitnya. Dia sibuk dengan mainan barunya. Sibuk mengedit gambar hasil bidikan Olympus PEN-2 yang dibelinya dua minggu lalu dengan harga murah, mengoper milik teman di kantornya yang membeli dari katalog kartu kredit. Aku mendekat ke meja. Berdiri di belakangnya, tanganku kuletakkan di bahunya. Kulihat layar monitornya. Kebanyakan gambar daun, yang diambilnya tadi pagi di taman seberang yang ada jogging track-nya. “Aku lebih suka daun daripada bunga. Daun itu lambang kehidupan. Butuh pengetahuan buat menebak gambar daun itu dari pohon apa,” katanya sambil tangan kirinya memegang tangan di bahu kanannya. “Itu yang kecoklatan, di atas paving block, daun apa?” “Itu dia! Belum aku pelajari. Hehehe!” Sebelum daun, dengan kamera lama, DSLR Nikon jenis pemula, dia memotreti seluruh perkakas kerjaku. Termasuk obeng-obeng kecil untuk hobiku. Juga alat bor. “Perkakas itu cerminan man at work. Benda mati yang menyimbolkan pekerjaan dan upaya manusia memperpanjang tangannya,” katanya suatu kali. “Lagian sangat manly, hehehe...” katanya lagi. Tritttttt. Telepon dari satpam berdering. Menanyakan apakah kami ada janji dengan petugas sensus. Tentu saja aku iyakan. Sebetulnya bukan kami, tapi aku, yang kemarin menyanggupi melalui manajemen apartemen. Lantas

Kedai Merahh

27


aku bilang kepadanya, “Udah, santai aja. Mereka nggak nyampurin urusan pribadi kita.” “Civil status kita apa?“ “Cohabitation. Hahahaha!” Beberapa

hari

sebelumnya

sudah

ada

titipan

pemberitahuan dari petugas, dan secuil kertas informasi jumlah penghuni di unitku. Tidak ada yang mendadak. Kasihan kalau mereka ditolak. Secuek apapun aku terhadap kebrengsekan negeri ini aku masih berharap bahwa data hari ini akan berguna untuk menyiapkan hari esok. Dua orang datang. Berbatik. Berbasa-basi sebentar – dan sempat terucap, “Nggak semua penghuni di sini bersedia” – orang yang jangkung berpeci itu pun memulai tugasnya. Ini kunjungan pertama sebelum verifikasi, katanya. “Maaf, kalau kepala rumah tangga siapa, Pak?” “Saya dong, Pak.” “Lalu, maaf, kalau adik ini siapa?” “Pasangan saya, Pak.” Oh, “adik ini”. Hohoho! Aku suka sapaan petugas sensus itu. Si “adik ini” sedikit gelisah. Mengusap dagu kasarnya. Sudah dua hari dia belum mencukur kumis, cambang, dan jenggotnya. Tapi hanya aku yang tahu, selalu ada after shave lotion di dagu dan pipinya, saban pagi. After shave lotion yang berbeda dari punyaku.

28

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 5

Ketua RT

Sabtu malam itu, ketika saya tiba, di depan rumah ada kerumunan sekitar lima belas orang. Pembantu sudah membukakan gerbang carport, tapi saya tetap turun dulu, menghampiri kerumunan di bawah lampu merkuri itu, lalu mengucap salam. “Malam, Bos. Maaf menganggu,� kata Pak Jufri. Dialah ketua RT. Jari manis kanan dan kiri cincin berakik besar. Tinggalnya di seberang jalan, pada posisi dua rumah setelah saya. Beberapa kali dia membualkan masa mudanya yang bengal. Pekan lalu, saat bertemu saya di warung rokok 24 jam dekat pangkalan ojek, dia bilang ingin membuat posko Front Warga Asli, dan itu sudah direstui markas komando di Cakung. Kedai Merahh

29


“Ada apa, Pak?” sahut saya, sambil menengok ke dalam mobil. Istri dan kedua anak saya masih tertidur pulas setelah seha rian beredar. “Iya deh, Bapak masukin mobil dulu. Biar Ibu dan anak-anak masuk ke rumah, entar saya jelasin.” Mobil saya masukkan. Istri dan anak turun dengan terkantuk-kantuk. Saya menghambur ke jalan, tepatnya pertigaan depan rumah, untuk bergabung. Sebagian besar isi kerumunan tak saya kenal tapi saya tahu mereka warga sekitar. Saya mengangguk kepada mereka. Perbincangan mereka yang seperti dengung tawon itu terhenti. Pak Jufri, yang kami sapa Pak RT itu, meneruskan percakapan, “Gini Pak Theo. Bapak emang bukan warga resmi sini karena ngontrak, tapi yang jelas Bapak lapor ke kami, lagian bayar ini dan itu selayaknya warga, malah ikut siskamling segala, padahal Pak Theo ini sibuk, kadang pagi baru pulang. Nah ada baiknya tahu persoalan juga, apalagi rame-rame ini kan di depan rumah Bapak.” “Ya, Pak Jufri...” Saya memang hanya sementara bermukim di situ, untuk mengungsi karena sedang membongkar dan membangun rumah, di kompleks yang sama, tepatnya di RT sebelah. Di sanalah domisili saya selama sepuluh tahun terakhir. Pak Jufri melanjutkan, “Gini, kita ini lagi rapat darurat. Maaf aja kalo tempatnya di depan rumah Bapak,

30

Antyo Rentjoko


kayak laron ngerubung lampu, huehehehehehehhhhh... Habis udah malem gini. Jam berapa coba, hampir jam dua belas, nggak mungkinlah di rumah kita-kita.” Mereka sedang rapat karena hasil rapat pertama sore tadi, di rumah Pak Jufri, belum dapat dieksekusi. Rapat sore tadi adalah pemilihan ketua RT. Secara aklamasi, demikian Pak Jufri tegaskan, warga memilih Pak Kamso sebagai ketua RT yang baru. Tata tertib pemilihan, yang

disepakati

sebulan

sebelumnya,

membolehkan

memilih calon yang tidak datang. “Gitu Pak ceritanya...,” kata Pak Tetangga Kanan yang merokok seperti lokomotif. Saya hanya diam. Tak berani beropini karena tak berwenang. “Masalahnya, Pak,” kata Pak Jufri lagi, “Pak Kamso

Kedai Merahh

31


nggak mau.” Pak Kamso belum pulang dari acara kantor. Kata istrinya dia tak berani pulang. Pak Kamso dan istrinya sudah tegas menolak. Bahkan

Pak

Kamso,

melalui

istrinya,

sudah

menegaskan kepada delegasi RT yang tadi ke rumahnya bahwa dirinya tetap tak merasa dan tak bersedia sebagai ketua RT 09 / RW 14. Karena diajak bicara terus, bukan hanya oleh Pak Jufri tapi juga beberapa tetangga, maka saya pun tergerak untuk menanggapi. Apalagi beberapa kalimat ditutup dengan, “Ya, nggak?” atau “Ya kan, Pak?” dan itu ditujukan kepada saya. Saya bertanya, penuh kehati-hatian, “Maaf saya nimbrung. Pak Erwe sudah tahu kan hasil rapat ini? Juga maaf apakah setiap orang yang dicalonin dimintai kesanggupan?” Entah siapa yang menjawab, pokoknya lebih dari dua, bahwa ketua RW tadi menyaksikan dan mengesahkan pemilihan lalu pulang. Adapun soal kesanggupan si tercalonkan, Pak Jufri menyatakan, “Tata tertib hasil musyawarah membuat semuanya jadi amanah.” Dia lanjutkan, "Hampir semua orang, sejak kompleks ini berdiri dua puluh tahun lalu, udah kebagian njabat pengurus erte. Cuma Pak Kamso yang belum. Harapan kitakita sih setelah jadi ketua erte dia jadi lebih bermasyarakat, mau bergaul sama warga lain, nggak cuma sibuk nyari duit

32

Antyo Rentjoko


di luar, ngurusi keuangan tempat dugem." Saya mengangguk tanpa memahami apa yang saya setujui. Lalu kerumunan kembali berdengung lagi, ngalorngidul. “Deadlock nih!” celetuk seorang pria muda, menantu Mbah Barjiman, tetangga kiri seberang rumah. “Makanya kita bikin sidang umum istimewa di bawah tiang lampu ini! Gimana sih ente?” sahut Pak Jufri. "Gimana dong solusinya? Keburu subuh, nih!" kata seorang bapak yang tinggalnya di sebelah Pak Jufri. “Gini, bapak-bapak. Mohon perhatian. Saya ada ide,” kata Pak Jufri. Lalu dia lanjutkan, “Kita minta bantuan Pak Theo buat ngebujuk Pak Kamso. Pak Theo ini kan obyektif, justru karena bukan warga resmi makanya Pak Theo ini bisa berjarak. Gimana Bapak-bapak?” “Akuuuurrrr! Amiiiinnn!” “Wah saya jangan dilibatin dong, saya kan...” kata saya. “Bukan soal, Bos!” Pak Jufri terus nyerocos, “Bahkan kalo Pak Kamso kagak bisa dibujuk, sehingga kita perlu pemerintahan sementara, buat transisi barang nem bulan, maka Pak Theo bisa bantu! Maksudnya ya Pak Theo yang pegang kendali. Kalo warga setuju, urusan ke Pak Erwe saya yang beresin. Ke kelurahan juga gampang diatur...” “Tapi...,” saya menyahut, dengan suara agak tercekat.

Kedai Merahh

33


“Buat Pak Theo, ini amanah. Pindah jadi warga resmi bisa diatur. Lagian sori Bos, itu rumah di sono kayaknya brenti ngebangunnya. Artinya paling tidak masih setahun tinggal di erte kita sebelum kembali ke erte asal. Urusan operasional kan entar dipegang sekretaris erte. Tinggal ditunjuk.” Gumam, atau apa, saya tak tahu. Dengungnya kian padat dan ramai. Sempat terdengar, ”Ini baru solusi, supaya kita-kita nggak repot, tetep bisa kerja.” “Sebentar, sebentar...,” saya menukas. Tangkas nian Pak Jufri, ”Ah apanya yang sebentar, Bos? Lagian Pak Theo ini kan wartawan, koneksinya luas, gampang nyari sponsor kalo ada tujuh belasan, huhehehehehe... Gimana, Bapak-bapak?” Tak perlu saya jelaskan apa isi dengung yang berubah jadi paduan suara. Dari jauh tampak lampu mobil mendekati. Yang pasti sudah terbukti, setiap kali Pak Jufri menyebut saya “Bos”, secara sok akrab, maka ada maunya. Misalnya minta sumbangan. “Tuh Pak Kamso dateng,” kata seseorang. Malam semakin berat. Malah hari sudah berganti. Saya lihat arloji. Pukul 01.15. Saya belum pernah bertemu apalagi berbicara dengan Pak Kamso. Kami sama-sama orang yang pulang selewat tengah malam. Kerumunan terurai. Sebagian menyongsong Pak

34

Antyo Rentjoko


Kamso. Sempat saya dengar ucapan pelan seseorang yang membelakangi saya kepada orang di sebelahnya, “Sampeyan yang sedari tadi nge-SMS dia kan? Hape saya low batt sih.� Mereka berdua bergegas, mendahului yang lain, menyongsong mobil yang kian dekat.

Kedai Merahh

35


36

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 6

Undangan Pernikahan

Mariska, desainer undangan itu, bingung: “Polos gini, nggak pake embel-embel? Bener? Enar kalo udah diapprove gak bisa ditambahin lho. Kecuali bikin undangan baru.” Aku dan Nita mengangguk. “Beneran nih?” “Iya,” kata Nita. “Gelar kan urusan di kampus, buat kegiatan akademis. Bukan buat kawinan. Emang ini undangan dies natalis atau promosi doktor?” aku mendukung calon istriku. Mariska

mengangguk-angguk. Lalu menimpali,

“Lagian yang diundang juga tahu, Mas kan doktor antropologi dari Belanda. Dan Mbak kan doktor komunikasi dari Amrik. Ya, kan?” Kedai Merahh

37


“Bukan gitu, Non!” kata Nita. “Iya, emang bukan soal orang tahu apa nggak. Ini soal kawinan, urusan non-akademis, Mar,” kataku. “Oh ya, denger-denger dulu itu kalo sarjana sini nerusin Es Dua ke Belanda dapetnya cuma De-er-es ya? Rugi dong?” Mariska menanya. Kami hanya tertawa. Ketika kami pulang, Mariska mengantarkan kami hingga ke mobil yang kami parkir di depan ruko sebelahnya. “Pihak keluarga sudah tahu soal nama yang nggak pake embel-embel ini?” Kami tertawa. Nita nyeletuk, “Kita kan bukan orang Jerman yang suka masang doktor di segala kesempatan.” ••••• Lima hari kemudian proof, tepatnya mockup undangan, itu sudah jadi. Bentuk undangannya adalah buku cerita anak-anak yang terkemas dalam bos karton. Semuanya berbahan kertas kertas daur ulang. Mariska memang desainer yang bagus. Dia bekerja dengan hati, apalagi jika gagasan klien itu menantang dari sisi kreatif dan sekaligus sesuai dari sisi nilai-nilai yang dia pegang. Yang membuat cerita adalah Nita, begitu juga ilustrasinya dia yang membuat. Sudah sebelas tahun dia menjadi penulis cerita anak-anak. Tetapi menjadi ilustrator baru sekarang. Untuk diri sendiri. Penerima undangan kami imbau memberikan kepada

38

Antyo Rentjoko


putra-putrinya, atau keponakannya, atau anak tetangga, atau anak siapapun yang berminat. Judul buku itu adalah Ani dan Kucing Terbang. Mockup yang bagus. Persis seperti yang kami mau. Undangan terbatas, untuk seratus terundang – artinya yang datang bisa dua ratus orang – tinggal diteruskan produksinya. Tiga minggu mendatang undangan sudah jadi dan siap disebarkan. Tapi namanya juga keluarga, maka urusan dua orang menjadi urusan puak. Orangtua Nita mengatakan undangan itu unik dan bagus. Perihal gelar, papanya berkata, “Memang pesta pernikahan ini kalian yang urus, dibantu organizer. Ibaratnya Papa dan Mama tinggal datang. Tapi karena Kedai Merahh

39


kalian dapet gelar itu bukan dengan membeli,

pakai

perjuangan, nggak ada jeleknya dipasang.” Nggak ada jeleknya. Bukan keharusan. Semacam seyogianya. Tapi bagiku ini seperti perintah. Harus dilalui dengan debat – tapi itu nanti. Untunglah maminya dengan ringan mengatakan, “Itu sih nggak prinsip. Kalo kalian nggak punya gelar tapi masang gelar itu namanya lelucon. Itu bisa membuat yang punya gelar beneran kesinggung, apalagi kalo gelar itu menyangkut profesi. Go ahead!” Kami lega. Tinggal urusan dengan orangtuaku. Bapak hanya tersenyum, “Sebelum emeritus, Bapak itu sudah jadi promotor untuk delapan doktor sosiologi. Tapi bagi Bapak, urusan gelar hanya berlaku untuk kepentingan akademis. Jelas kan?” Duh, leganya. Kemudian Ibu menimpali, “Kalau Ibu nggak bisa menghindar. Gelar kan soal profesi, dan itu dipasang di papan depan pagar kita. Hanya yang bergelar dan berizin praktik yang boleh masang. Itu soal tanggung jawab kepada masyarakat dan sumpah profesi. Tapi soal gelar Bapak sama Ibu nggak dipasang di undangan, itu nggak masalah. Gitu juga gelar kalian. Terserah.” “Apalagi,” kata Bapak, “zaman sekarang sudah inflasi gelar. Hahaha...” Ibu menyahut, “Ah jadi inget baliho waktu kampanye pemilu kemarin. Ada tuh yang gelarnya rangkep-rangkep

40

Antyo Rentjoko


tapi kayaknya belum pernah nulis di jurnal. Baca jurnal aja mungkin nggak pernah. Hihihi...” Beres semuanya. ••••• Resepsi berlangsung meriah di sebuah rumah peristirahatan sejuk di pinggir kota. Inilah pesta terbatas. Semua orang riang. Apalagi mereka bisa bertemu sanak dan sahabat yang lama tak berjumpa. Katering pun memuaskan. Sayang, organizer yang membekali sepuluh awaknya dengan handy talky sehingga mirip petugas keamanan itu alpa membekali pembaca acara. Berkali-kali MC meracau, “Doktor Handoko Adinoto, putra tunggal dari Bapak Profesor Doktor Slamet Sawunggaling Prawirodirjo dan Ibu Dokter Sri Rejeki...” Tentu dilengkapi, “Doktor Yuanita Wijaya, putri tunggal dari Bapak Akuntan Doktorandus Chandra Wijaya dan Ibu Apoteker Doktoranda Lindawati Oetomo Chandra...” Tiga ucapan selamat, dalam iklan kecil pada dua koran lokal, yaitu Getar Kota dan Kabar Warga, juga mengatakan yang mirip, tapi lebih ringkas. Hanya gelar-gelar yang disingkat, tanpa tambahan profesi.

Kedai Merahh

41


42

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 7

Tonggak ke-39

Jumat malam tanggal sembilan belas bulan ketujuh ini adalah saatku memeluk tonggak. Setahun lagi aku berkepala empat. Seberapa pentingkah tonggak usia, tahun demi tahun? Seperti yang kuinginkan, tak perlu ada perayaan berlebihan, itu sebabnya aku lega ketika hari jadi jatuh pada Jumat merah. Aku beruntung orang kantor kemarin sudah sibuk mempersiapkan akhir pekan panjang. Hanya atasanku yang ingat, sore sebelum pulang dia ucapkan selamat, sehari lebih awal katanya, dan mengecup pipiku. Dia berikan sebuah kotak merah berpita putih. Isinya buku, katanya. Tebal, berat, hampir seukuran kuarto. Buka saja di rumah, katanya lagi. Ternyata dua buku. Kesehatan Kedai Merahh

43


perempuan dan olah spiritual orang urban yang di dalamnya ada olah fisiknya. Aku tersenyum. Aku memahami dan mengenal dia karena akulah pegawai terlama selain sopir direktur utama. Orang lain tak berani memberikan buku itu karena takut dianggap melecehkan perempuan lajang matang. Dan aku tahu dia tak ada niat itu. Sudah kukatakan tadi bahwa aku mengenalnya dengan baik. Mengenal istrinya. Mengenal kedua anaknya, cowok dan cewek, kini sudah remaja, yang sejak kecil memanggilku Miss. Sore tadi kujalani hari tanpa kekhususan. Tonggak ke tiga puluh sembilan hadir di apartemenku sebagai sahabat sejati. Tak diajak bicara pun bukan soal karena masing-masing tahu kapan harus berbicara tanpa saling mengganggu. Seharian tonggak itu menemaniku tanpa mengganggu. Di ranjang, di karpet, di sofa, di meja rias, di meja makan, di kamar mandi... Juga dalam laptop, ponsel, dan BlackBerry. Puluhan SMS datang sejak pagi. Masih datang lagi. Kuintip Facebook. Dindingku penuh ucapan. Kutengok Twitter, ramai kicauan demi kicauan. Aku hanya membalas SMS. Yang lainnya besok, atau besoknya. Kapankah SMS, bahkan panggilan telepon dari seseorang, yang kunantikan itu menyapa, mengucapkan selamat?

44

Antyo Rentjoko


Dalam hati aku bertanya kepada tonggak tak berwujud. Jawabannya seperti kata hatiku. Malu rasanya menanyakan apalagi menantikan itu. Tapi tonggak juga membesarkan hatiku melalui bisikan yang seperti kata batinku. Ini bukan soal usia, karena kerinduan yang mendayu, juga menggebu, bukan hanya milik remaja dan mereka yang pantas dianggap atau menganggap diri belia. Sudah pukul sembilan malam. Kuambil white wine, kutuang perlahan penuh khidmat, kubaui aromanya, lalu kececap lembut. Bukan, bukan. Aku aku pilih karena adanya hanya itu. Hanya itu, karena itu pemberian dari dia. Buat icip-icip katanya. Ya, dia pun bukan penilai anggur, dan tak peduli anggur putih dan merah cocoknya untuk apa tapi dia suka yang putih. Yang diberikan kepadaku yang putih, anggur muda buatan 2008, tapi misalkan aku diberi anggur tua aku pun tak dapat membedakannya. Anggur Vendange California Chardonnay dalam wadah karton kemasan setengah liter, mirip kemasan jus jambu Buavita seliter; ya, bukan dalam botol – kurang chic, kurang romantis, kurang memanjakan snobisme. Anggur Australia, bukan Prancis, tapi aku yakin

Kedai Merahh

45

Š sumber gambar-gambar asli tidak diketahui

bukan penikmat anggur. Yang putih


teman-teman cewek yang memuliakan anggur Prancis, dan juga cerutu Kuba, sesungguhnya tak paham benar. Tonggak tak tampak itu ikut menikmati. Mencecapi. Tentu tanpa terlihat. Tanpa membuat isi gelas maupun botol berkurang. Tak perlu bersulang tapi aku dan tonggak samasama merasakan kehangatan yang nyaman. Kubiarkan waktu merambat dalam alir kesadaranku. Aku tak ingin mengkhianati alir waktu dengan kesibukan yang kucari-hari, misalnya membaca dan menonton TV, dengan harapan kantuk akhirnya menjemput. Pada hari-hari lain, malam-malam lain, memang pernah begitu. Tapi tidak untuk malam ini. Malam khusus ini biarlah kunikmati sendiri penuh kesantaian dan kesadaran. Itu sebabnya ponsel sudah kumatikan dua puluh menit lalu. Hangat anggur membuatku ringan, nyaman. Oh, sialan, tadi terlintas soal cerutu. Aku bukan perokok, tak tahu nikmatnya, dan aku bukan pula pencerutu, bukan penikmat asap tanpa menelan. Aku tak becermin tapi aku tahu wajahku memerah saat teringat cerutu. Dalam kebersamaan di tempat tersembunyi, suatu kali cerutu menjadi bagian dari kenakalanku dan dia. Kutirukan yang pernah kulihat di Zeedijk, Amsterdam. Tonggak

seperti

terkikik-kikik

nakal

kegelian

dan

mencubitku. Aku menengok. Kudengar tawanya, tak keras. Pasti dia melihat rona tersipuku yang berhias senyum. Baru setengah sepuluh malam. Aku berdiri, mendekati

46

Antyo Rentjoko


jendela, menutup tirai. Tak menarik melihat keluar untuk mengamati pembangunan apartemen dan mal baru di sebelah. Kemarin-kemarin, lima menit melihat crane bekerja malam hari itu adalah selingan bagiku. Kadang aku merasa operator crane di ketinggian itu seperti aku: sendirian, dan mungkin kesepian, di tengah ingar bingar. Tirai tertutup. Meski di luar hitam terasa juga bahwa tertutupnya tirai membuat ruang kecilku jadi agak terasing. Bukan bagian dari geliat kota. Mungkin karena TV mati. Mungkin karena radio mati. Mungkin karena mini-hifi mati. Tapi aneh, aku menikmati sepi ini. Sepi yang terus merambat bersama jarum jam. Kurasakan tonggak, yang hadir setahun sekali, itu mulai dibuai kantuk. Bisikan hatiku kian kuat, berwujud tanya, kenapa dia, yang kunantikan ucapanya, tak menyapa walau sekadar melalui SMS? Kubenamkan tanya itu sebisanya ke dalam kantong gelap diriku. Berulangkali akhirnya berhasil. Lalu aku ke kamar. Ganti baju. Aku kenakan yang baru kubeli pekan lalu tapi belum aku anyari, si hitam terawang baby doll three piece lingerie. Untung tonggak sudah tidur. Aku malu jika dia menanya kenapa lagi-lagi ada crotchless thong, ibarat pintu yang mempersilakan itu. Aku juga malu jika tonggak melihat aku tak segera menghapus rias tipisku dan mencuci muka. Belum, belum terlalu malam. Pergantian hari masih

Kedai Merahh

47


jauh. Tapi kantong gelap tak lagi sanggup menahan isi. Apakah aku menangis karena kurasakan mataku basah? Dia tak kunjung mengirimkan ucapan meski hanya SMS sekali kirim dan mestinya malah bisa lebih dari sekadar SMS misalnya menelepon barang semenit. Aku tak ke kamar. Aku memilih di sofa jingga saja. Lalu beranjak, ke jendela, membuka lagi tirai dengan harapan tak lama lagi ada sinar Mentari. Lampu sudut berbalut linen yang diperlengkapi dimmer dan tadi aku redupkan, satusatunya yang masih menyala, pun aku matikan. Biarlah

aku

menjemput

diriku

sendiri,

untuk

kuterbangkan ke langit malam, meraih gumpal demi gumpal mendung, meremasnya agar menjadi gerimis, dan akhirnya nanti akan kurenggut halilintar yang membakar semuanya, sampai aku tak tersadar barang sejenak, sehingga aku tak tahu apakah hanya melenguh atau menjerit kecil. Aku baru menjemput diri, masih awal, belum menyapa mendung penggerimis, masih jauh dari petir. Seperti malam-malam lain, di luar hari jadiku, aku akan menjalaninya sepenuh rasa. Lengan crane di luar jendela bergerak pelan, terprogram, dengan lampu-lampu halogennya, seperti mencoreti malam di sebuah kota yang tak pernah tidur. Akalku

masih

berbisik,

mengingatkanku

untuk

memaklumi. Malam ini dia merayakan ulang tahun kedua puluh perkawinannya. Aku tak ingin mengusik kehidupan keluarganya. Ada

48

Antyo Rentjoko


wilayah tak berpagar yang aku jaga bersamanya, sejak enam tahun silam. Tetapi tahun depan aku empat puluh, masihkah jalinan tanpa kejelasan ini berlangsung? Jalinan tak jelas namun setara, karena aku bukan simpanan, bukan bagian dari pos penting pengeluarannya, tapi aku dan dia selalu bersembunyi. Di depan khalayak seperti teman akrab biasa. Tanpa kemesraan. Demi keluarganya. Lipatan tersembunyi dalam kantong gelapku akhirnya tak tahan. Khazanah umpatan di dalam terlontar, tapi bukan menyumpahi siapapun, dan yang tabu terucapkan sehari-hari, bukan kata-kata klinis yang ensiklopedis, mulai menguar liar. Overtur pun terbangun. Malam ini, seperti sejumlah malam-malam lain sebelumnya, aku ingin membebaskan diri dan memanjakan diri. Biarlah tonggak tertidur, karena memang itu yang kuharapkan. Crane di luar jendela, yang kadang bergerak terteguntegun itu, akan mengiringi perjalananku menjemput diri, membakar diri, sampai akhirnya tinggal arang beku yang tercelup ke dalam telaga kelegaan. Semuanya di tengah kesendirian.

Kedai Merahh

49


50

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 8

Anak-anak Jakarta itu...

Saya tetap menyebut mereka anak-anak. Dalam bahasa Jawa tentu saya katakan "bocah-bocah". Padahal mereka, lima anak saya itu, sudah punya anak. Oh ya, perlu saya beritahukan bahwa cucu terkecil saya baru tiga tahun. Malah cucu saya dari anak sulung itu tiga bulan lagi menikah. Kalau cucu perempuan saya itu tidak mengikuti orang lain yang menunda kehamilan, mungkin tahun depan saya sudah punya cucu buyut. Bisa saja Cenil, panggilan cucu saya itu, nanti seperti anak-anak Jakarta segenerasinya yang tak ingin cepat punya anak padahal sudah menikah karena ingin melakukan banyak perjalanan wisata. Begitulah cerita yang sering saya dengar. Maaf pengantar saya terlalu panjang. Kedai Merahh

51


Kembali ke soal cucu, ya. Saya tak tahu apakah nanti saya juga menyebut cucu buyut saya sebagai anakanak, tepatnya anak-anak Jakarta, seperti saya menyebut orangtua dan kakek-nenek mereka. Salah satu nenek mereka adalah saya, yang mendapat nama baru akibat cucu ketiga saya, empat tahun silam, belum dapat mengeja Mbah Putri melainkan Mbah Uti. Jadilah saya Mbah Uti. Itulah panggilan anak-anak Jakarta untuk saya, tapi bagi saya bukan soal. Saya menyebut mereka sebagai anak-anak Jakarta ketika saya berbicara dengan pembantu saya, ngobrol dengan tetangga saya, berbincang saat arisan, dan saat rewang1) kalau ada perhelatan. Saya sebut mereka anak-anak Jakarta karena tinggal di Jakarta. Hanya jika menyangkut anak per anak maka saya menyebutnya anak-anak Gandaria, anak-anak Kemayoran, anak-anak Kelapa Gading, anak-anak Serpong, dan anakanak Pondokgede. Untuk saya, semuanya itu di Jakarta; sama seperti umumnya kami, orang Temanggung, kota yang jauh dari lapangan terbang di Yogya maupun Semarang, menyebut semua wilayah di Jabodetabeksertangsel sebagai Jakarta, kecuali yang jelas-jelas kentara sebagai wilayah Kota

1)   Artinya membantu. Dalam masyarakat tradisional Jawa juga berarti kegiatan membantu dapur keluarga lain yang sedang punya hajat, misalnya menikahkan anak. Biasanya dilakukan oleh ibu-ibu, yang masing-masing berbekal pisau sendiri. Kegiatan sosial ini cenderung menyusut seiring penetrasi katering (jasa boga) dan gedung sewaan.

52

Antyo Rentjoko


Bogor. Maaf saya bertutur terlalu banyak, mungkin karena saya pensiunan guru, tepatnya guru IPS di SMP. Saya menyebut mereka anak-anak Jakarta juga karena kami, tepatnya saya, membutuhkan pembeda berdasarkan kediaman. Tiga anak saya, bawaan almarhum suami dari istri pertama yang sudah lebih dahulu berpulang, tetap tinggal di Temanggung; yang dua menjadi guru dan yang satu menjadi pegawai pemerintah kabupaten. Di manakah saya sekarang? Dalam usia 67 saya masih dikaruniai kesentosaan yang lumrah untuk perempuan seusia saya. Maka selama seminggu ini saya di Serpong. Dua hari sebelum hijrah ke Serpong, saya di Kelapa Gading. Kedai Merahh

53


Kami, maksud saya termasuk anak-anak dan menantu, cukup terbuka mendiskusikannya. Tak mungkin saya berlama-lama di apartemen anak keempat, kakak dari si bungsu (putri saya itu adalah anak yang terakhir menikah ), yang anak perempuannya baru dua tahun. Saya tidak tahan di pagupon2) yang tak punya halaman, karena rasanya seperti tinggal berlama-lama dalam hotel, atau malah rumah sakit, dan ketika membuka pintu yang tampak hanyalah koridor. Saya lebih nyaman tinggal di rumah kecil tapi punya halaman, ketika membuka pintu disambut sepetak latar (isinya hanya pot bunga, tak mungkin menanam pohon mangga atau jambu), dan langsung ikut merubung gerobak penjual sayur yang setiap pagi berhenti di depan tetangga kiri. Dulu rumah si sulung, yang sekarang di Gandaria, kecil seperti itu, di Tangerang sana. Maafkan saya, terlalu banyak yang saya katakan. Tetapi anak-anak saya maklum, begitu pula menantu saya. Hanya sebagian dari sebelas cucu, termasuk yang belum bisa bicara, yang sering kurang sabar, sehingga sering memotong, misalnya, “Terus gimana dong, Mbah Uti? Tadi masalahnya apa? Hayooo... lupa ya?� Ah, namanya juga anak-anak Jakarta, maunya serbaringkas dan cepat, tapi tahan berjam-jam di depan komputer.

2)   Rumah burung dara yang bersusun, setiap dek memiliki beberapa lubang.

54

Antyo Rentjoko


Jadi, saya ulangi supaya jelas, saya sedang di Serpong, di rumah anak saya yang kedua. Kemudian nanti pindah ke rumah anak berikutnya supaya merata. Bisa satu setengah bulan saya di Jakarta. Semoga tahun depan saya masih kuat untuk kembali lagi ke kota yang orangnya terburu-buru, mudah gusar, dan sibuk dengan urusan masing-masing ini. Oh ya, Jakarta yang maju ini melemparkan warganya ke masa lalu, seperti di luar kotakota kawedanan di Jawa, karena orang-orangnya berangkat kerja kota utama sangat pagi, kadang sebelum Matahari menampakkan diri. Bedanya, Jakarta lebih mentereng dan makmur. Di Jakarta, satu setengah bulan kunjungan saya berlangsung singkat karena waktu seperti berlari estafet penuh gegas tanpa kesudahan, sehingga kalender lekas disobek. Di Temanggung itu waktu berjalan wajar, tidak cepat tidak lambat, karena Matahari, misalkan langit cerah, tahu diri seberapa lama pantasnya menghangati Bumi. Di Temanggung tak ada pagi lalu tiba-tiba malam. Meskipun begitu, selama sepuluh tahun terakhir, dengan setahun sekali ke Jakarta, dan seiring perkembangan kesejahteraan anak-anak maupun pertumbuhan cucu, maka kunjungan saya pun makin lama, dan saya

dapat

lebih mengakrabi Jakarta. Salah satunya adalah tidak bisa mendadak bertamu ke rumah orang, termasuk anak sendiri,

Kedai Merahh

55


tanpa kangsèn 3). Tentu akhirnya saya juga paham kenapa umumnya rumah-rumah orang Jakarta kurang mengutamakan ruang tamu karena jarang menerima tamu. Akhirnya saya paham, menerima banyak tamu di rumah itu tak hanya merepotkan dalam urusan dapur dan cuci piring (padahal ada pembantu), tetapi juga merepotkan tetangga karena mobil para tetamu akan memenuhi jalan, menghalangi regol mereka. Hanya kalangan dekat dan terbatas yang bisa bertamu lebih dari tiga puluh menit. Tamu yang dekat tidak ngobrol di ruang tamu tetapi di meja makan. Padahal anak-anak saya, ya anak-anak Jakarta itu, tumbuh di Temanggung, dari TK sampai SMA. Jarang sekali ada tamu yang ngobrol di meja makan. Meja makan dengan taplak batik, atau kain sulaman, yang dilapisi plastik itu, hanya dipakai saat makan. Peruntukan sesuai nama, yakni meja makan. Ketika anak-anak masih bersama saya, mereka saya larang menonton TV dari meja makan. Tentu kalau salah satu anak ingin belajar atau mengerjakan tugas sekolah, misalnya membuat peta atau hasta karya, maka meja makan boleh dipakai karena nyatanya setelah semua makan maka meja itu bersih. Ah lagi-lagi saya bercerita terlalu panjang. Maafkan saya.

3)  

56

Janji untuk bertemu atau melakukan kegiatan bersama.

Antyo Rentjoko


Maka baiklah, sekarang saya coba bercerita secara ringkas saja. Sore ini, hari Sabtu, masih pukul empat, saya sudah bersiap. Sebentar lagi berangkat. Barusan Hanny, menantu saya, memastikan pesanan tempat melalui handphone ke rumah makan baru, khusus menu vegetarian, di... mana ya? Saya lupa. Pokoknya di tengah kota, sejauh 30 kilometer dari Serpong. Anak-anak sudah mengatur jadwal dua hari lalu agar kami dapat makan malam bersama. Hanny memang menantu yang cakap, cekatan, dan tangkas. Pantaslah karier dan peruntungannya sebagai sekretaris bagus. ”Sudah beres semua, Bu. Paling lima menit lagi si Joko datang pakai motor, lalu kita berangkat,” katanya. Lalu dia minum air putih. Oh, lupa saya jelaskan. Joko adalah sopir pocokan keluarga Hadi dan Hanny. Si Hadi, anak saya, masih ada tugas ke Cayman Island. Katanya sih mengurusi duit orang-orang kaya yang dipakai selayaknya mainan oleh si empunya. Ah, bukan urusan saya. Yang penting anak saya tidak akan dikecrèk4) oleh KPK. Dua teguk air segar telah menyegarkan Hanny. Lalu dia duduk di samping saya, memegang pergelangan saya, “Ibu beneran?” Saya tersenyum, “Lha nyatanya barang-barangnya Ibu

4)   Dari kata kecrèk, artinya borgol

Kedai Merahh

57


sudah kamu masukin mobil kan?” “Iya tapi...” “Kenapa kok tapi...” “Aneh aja rasanya, tapi kalau ibu sudah bulat ya anakanak bisa apa? Masa sih Bu, serah terima kepindahan Ibu di resto? Waktu berangkat Ibu sama kami, lantas di tengah perjalanan Ibu dioper. Kok kayak naik bus aja. “Tadi barusan teleponan dan SMS-an sama anak-anak lain, dan kami sepakat kalau kepindahan bisa ditunda kapan saja, yang penting malam ini ketemuan, makan bersama, senang-senang. “Bisa di-cancel kan, Bu? Wandi memang sudah siap menyambut Ibu, benang-benang wol impor buat nyulam sudah dia pesankan via internet, tapi dia yang ngotot kalau minggu depan bisa njemput ke sini, bukan serah terima di resto setelah makan malam selesai, Bu.” Saya lihat harap dan pinta, dan terlebih lagi ketulusan dalam sorot matanya. Saya memercayai anak-anak saya dan menantu-menantu saya. Termasuk Wandi dan Jenny, anak dan menantu saya yang di Pondokgede. Saya terharu sambil menahan tawa. Saya merasa amat santai; kalau menirukan perkataan cucu-cucu maka saya enjoy, tanpa beban. “Gimana, Bu?” “Lho bukannya kalian mestinya senang karena Ibu malah lebih rasional, tahu mana yang praktis dan efisien, sesuai dengan kehidupan Jakarta?”

58

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 9

Sang Doktor

“Doctor, are you going home tonight? Hihihi...,” kudengar Rima menelepon bapaknya sambil cekikan. Doctor.

Tepatnya

doktor,

bukan

dokter,

justru

terlontar dari bapaknya anak-anak. Itu singkatan “mondok di kantor”. “Ah, guyon jayus,” kataku enam bulan lalu, sambil menahan tawa, saat kami sarapan hari Minggu, kesempatan langka, cukup seminggu sekali. “Oke. Panggil aja aku Doktor Jayusman, hahaha...,” sahutnya. “Namaku aku ganti jadi Rima Kenanga Jayusman aja,” kata si sulung. “Kalo aku lebih lengkap” kata adiknya. Serentak kami bertanya, “Apa?” Kedai Merahh

59


“Teja ‘Teddy’ Turangga Jayusman Basiwan Garingan.” Kami terbahak-bahak. Rima sampai tersedak. Mas Marwan, orang yang sedang dibahas itu, tertawa berkepanjangan sampai keluar air matanya dan kian tipis suaranya. “Untung Basiwan, bukan Basiyo,” katanya. “Siapa itu Basiyo, Pak?” tanya Teddy. Seperti biasa, jika menyangkut masa lalu, apalagi untuk hal yang dikuasainya, Mas Marwan bisa menjelaskan secara ringkas dan sekaligus bernas. Apalagi cara dia mengutip lelucon Basiyo, yang naif dan garing untuk ukuran sekarang (Mas menyebutnya “dhagelan kéré”), memang pas banget. Padahal mungkin ngarang. Misalnya, “Lha wong saya ndak nyuri sapinya, cuma ngambil talinya.” “Jadi, kesimpulannya, nama Bapak sekarang Doktor Basiyo,” kataku, setelah tanpa aba-aba berbagi tugas memberesi meja. “Dan ibu kalian jadi Bu Basiyo. Sayang benar nama indah Ratri Wulandari itu.” Yah, pagi yang menyenangkan. Karena doktor jarang di rumah. Dua bulan setelah dia keluar dari pekerjaaannya pada perusahaan penerbit yang dia renangi selama tujuh belas tahun itu, dengan alasan soal hati, Mas Marwan bertemu beberapa teman baru dan membuat perusahaan jasa komunikasi. Sudah dua tahun dia mencoba berbisnis sendiri. Karena masih merintis usaha maka satu orang menjalani multitugas. Mas Marwan tak punya waktu untuk

60

Antyo Rentjoko


pulang. Demi kesehatan, karena paginya harus presentasi ke calon klien, bahkan sesekali mengajar hal ihwal media di bekas kantornya, maka dia memilih tak menempuh jalur pulang sepanjang 37 kilometer. Aku

sih

memaklumi.

Meski

pendapatan

jauh

berkurang, amat sangat jauh nian, dia tampak bergairah. Lebih hidup. Kelihatan betul kalau dia menikmatinya. Seakan dia kembali masa mahasiswa ketika kreativitasnya masih meluap-luap, begitu pula nafsunya untuk selalu belajar hal baru secara otodidak. Semangat hidup itu yang melegakan. Wajahnya bersinar. Seperti bocah yang mendapatkan sepaket mainan baru model rakitan yang kompleks tapi mengasyikkan, Kedai Merahh

61


hingga terus berasyik diri selama berbulan-bulan. Jika bicara soal kesepian, terutama diriku, ah... pastilah. Tapi ini semua toh tidak mendadak. Karena dulu, ketika masih menjadi jurnalis, dia juga kadang tak pulang, atau tiba di rumah ketika loper koran sudah berkeliling membagikan peristiwa kemarin. Tidak mendadak. Aku sudah terbiasa

dan harus

lebih membiasakan lagi karena sekarang kian mendoktor, memiliki laboratorium pribadi yang jauh dari rumah. Semuanya itu proses. Kami pacaran sejak usia lima belas (benar!), lalu menikah pada usia dua puluh lima. Aku dan dia merasa sudah saling mengenal dengan baik. Sekarang kami berempat. Rima sudah menjadi gadis dewasa dua puluh tahun. Tapi Teddy masih ABG tiga belas tahun dengan pita suara yang mulai meleset dari trek. ••••• “Hmmhhhh... cepet banget waktu berjalan ya, Rat. Tahu-tahu anak sudah besar. Butuh biaya lebih dan makin lebih,” katanya suatu malam, kira-kira sebulan setelah penganugerahan gelar doktor di meja makan itu. “Emang iya, Mas. Wajar kan?” Aku memanggilnya

Mas setelah kami menikah.

Tepatnya tujuh hari setelah menikah.

Itu karena

keinginanku, bukan atas kemauannya. Dia sih tetap memanggilku Rat, dan kadang Ndhuk. Malah dia, sebelum

62

Antyo Rentjoko


Rima lahir, ingin agar anak-anaknya hanya memanggil bapaknya sebagai Marwan atau Wan saja. Tentu saja aku tolak. “Mungkin karena kita hidup di Jakarta, waktu berjalan cepat.” “Sudah gitu Mas jadi doktor pula. Buat Mas semuanya jadi cepat.” Dia menumpangkan tangan di bahuku. Seperti memijit dengan lembut. Lalu sambil menoleh ke arahku dia katakan, “Rasanya baru kemarin potong kuku, eh udah panjang lagi. Rasanya baru tadi pagi cukur kumis ama jenggot, eh udah kasar lagi sorenya.” Kami bertatapan. Sama-sama tersenyum. “Kalo buatmu,” katanya, “mungkin kayak dulu, rasanya baru minggu kemarin dapet eh udah dapet lagi.” “Hush! Sembarangan! Itu buatmu, bukan buatku. Perempuan selalu sadar kalender, Mas!” Dia juga tertawa. Tapi aku langsung menyela, “Bentar, yang Mas maksud dapet itu siapa? Aku atau... ya itu tuh?” “Kamu dong. Mana tahu aku jadwal orang lain. Eh, itu tuh? Siapa?” “Bo’ong.” “Ngapain bo’ong?” “Nggak percaya.” “Aku kan laki-laki. Nggak peduli jadwal. Kalau diajak berarti yang ngajak lebih ngerti kapan saat yang tepat

Kedai Merahh

63


buat...” “Buat apa?” “Nggak.” “Iya!” “Siapa sih mau sama aku? Gigi tambah jelek, rambut makin tipis, perut tambah maju. Tenang sajalah, Ndhuk...” Sempat terlintas seleret kilat dalam ingatanku tentang seseorang yang sempat aku anggap faktor pengganggu. Perempuan yang aku kenal baik, tujuh tahun di bawahku, bahkan kami dulu sering pergi berdua, termasuk ketika belanja pakaian dalam, dan ketika tiba di indekosan kami tanpa canggung membuka belanjaan di depan Mas Marwan. Perempuan yang mulanya tak aku cemburui, bahkan ketika di kamar ganti bisa dia bercanda, “Kalo liat aku pake ini, Mas Marwan bisa lupa diri. Hihihi...” Kuakui tanpa iri apalagi dengki, tubuhnya memang bagus. Proporsional. Lehernya jenjang. Rambut lurus panjang, sejengkal di atas pinggang. Punggungnya mulus. Putih bersih. Mmmm... ingatan sekilas itu. Terang seperti kilat di kejauhan. Tak terlampau menyilaukan. Sama kilatnya dengan ingatan tentang apa saja yang membuatku cemburu karena dia, perempuan itu, secara tersamar mengaku sudah beberapa kali (apa? beberapa? bukannya sering?) menuntaskan apa yang pernah menjadi fantasinya

sebagai

gadis

muda,

setelah

meminjam

serangkaian buku dan majalah, dan juga video, milik Mas sebelum era internet. Aku tahu fantasinya: memetik bunga

64

Antyo Rentjoko


kedewasaan di taman hijau berkolam jernih, merasakan segarnya embun pagi rerumputan, membaui aroma cemara, terpijat telapak kakinya oleh kerikil-kerikil bersih, dan memunguti daun kekuningan yang gugur padahal belum kering. Huh, pendeknya serangkaian hal yang mestinya hanya aku yang menempuhnya bersama seorang Mas Marwan. Apalagi saat itu, saat belum punya anak, bahkan sebelum aku menikah, Mas Marwan masih gagah dan tegap, karena dia rajin jogging dan suka basket – suatu hal, yang oleh perempuan berkulit putih bersih karena asal muasal itu, dikatakan sebagai sosok pejal berkulit tembaga yang kian memikat karena peluh berkilat. Dia. Perempuan yang jujur mengakui galau malamnya saat tak dapat tidur karena aroma jantan sore hari yang menguar dari pejal berkulit tembaga setelah basket. Bau yang disebutnya khas dan aneh tapi mendesakkan sesuatu yang asing dan menggelisahkan, pun melenakan, dari ruang terdalam di tubuh sesosok betina. Tapi waktu menyembuhkan luka. Mungkin aku wanita tradisional, yang menenggang apapun yang dilakukan suami di luar rumah. Atau mungkin aku sengaja membius diri, lebih baik tidak tahu daripada tahu akhirnya hanya menyakiti diri? Sekarang aku memaafkannya. Bukan sekarang. Sudah lama. Lama sekali. Bahkan kini aku kangen kepadanya. Sudah lima belas tahun tak berjumpa. Tapi aku yakin Mas

Kedai Merahh

65


Marwan beberapa kali berjumpa. Lamunan sekilas selalu berjalan cepat dengan jejalan ribuan kata yang melebihi hajaran juru ketik tercepat manapun,

atau

berondongan

robot

perangkai

kata

manapun. Meski sebentar, Mas Marwan tahu apa yang terlintas di benakku. Tapi dia diam, melihat ke arah jendela, sambil membelai rambutku. “Dia sekarang gimana kabarnya, Mas?” “Dia siapa, Ndhuk?” “Halah, pake pura-pura. Itu... anggrekmu,” kataku lalu menjulurkan lidah. “Masih tetep melajang. Nggak pengin kawin. Dia cuma pacaran saja.” “Masih cantik kan? Dia nggak ada di Facebook sih, jadinya aku nggak tahu.” “Masih. Juga tetep seksi. Slim, firm, fit. Apalagi setelah jadi vegetarian dan instruktur yoga. Bulan kemaren dia muncul di majalah wanita STW... Pake foto segala.” “Mas suka dong?” ••••• Tentang dia, si anggrek itu, bukan lagi soal bagiku. Juga tentang anggrek lain, ungu atau putih tak penting, yang aku dengar, aku tahu tanpa sengaja, atau ehmmm... karena prasangkaku yang aku yakini sebagai naluri tapi tak

66

Antyo Rentjoko


perlu aku tindak lanjuti dengan investigasi. Aku mengenal Mas dengan baik sejak aku masih memanggilnya Wan saja. Sedari pacaran aku tahu dia kadang terpeleset. Karena tergoda. Padahal dia bukan playboy, tak gampang membuai wanita dengan kemesraan dan kehangatan karena masih banyak cowok yang lebih menarik bagi cewek-cewek. Bahaya hanya muncul jika ada lawan jenis kian akrab dan kagum. Aku tahu kelemahan perempuan. Pada tahap kesekian, tak perlu jauh, pesona ragawi pria bukan lagi urutan pertama daya tarik – hanya bonus yang sebisa mungkin dirawat dan diawasi agar tak dicicipi oleh pesaing. Tentang naluri, aku merasa bahwa angin, bukan kabar angin yang ditiupkan orang-orang, telah berbaik hati dengan mengirim getar lembut isyarat. Tak dapat kuperikan apa isyarat itu tapi aku merasakannya. Bukan yang pertama. Dulu-dulu selalu terbukti benar meskipun tak sampai ke rincian. Sekarang? Mondok di kantor. Lalu pindah sebentar ke hotel, atau motel, atau guest house, atau apartemen, atau paviliun, atau malah kamar kos, adalah sesuatu yang mudah dan sederhana. Toh aku juga jarang mengecek ke telepon kantornya karena aku lebih sering mengontak ponselnya, dan kadang juga melalui Yahoo! Messenger, atau pesan pribadi di Twitter – oh ya, kami jarang menggunakan Facebook untuk berkomunikasi. Angin pembawa isyarat tak pernah kutunggu,

Kedai Merahh

67


tak pernah kucegat. Tapi ketika dia melintas aku tak menjauhinya apalagi menghalaunya, tak juga menahannya berlama-lama apalagi memenjarakannya. Alami saja. Ini soal bahasa hati. Dan mungkin juga kelonggaran seorang istri yang lahir dari lingkungan abangan keluarga batik di Solo, yang mengenal kata-kata bersayap, “Ngono ya ngono ning aja ngono.” Begitu ya begitu, silakan saja, asal jangan sampai keterlaluan. Sebuah ketidakjelasan yang justru menjadi ujian penimbang rasa dan penakar nalar dari masingmasing pihak dan setiap pasangan. Aku tidak cemburu. Tapi tadi sore Rima bertanya, “Bu, apa Bapak punya pacar? Kok rasaku gitu ya. Maaf, Ibu jangan marah... Ini kelepasan kok. Becanda aja. Kangen ama Bapak...” Aku hanya tertawa kecil. Seingatku aku menegur lembut, “Ah kamu. Ada-ada saja. Ibu kenal Bapak kok, Rim...” Aku ingat satu hal meskipun ini bukan buah kesepakatan. Mas katakan sejak pacaran bahwa lebih baik nakal selagi muda ketimbang nakal saat tua; jangan sampai ketika anak-anak sudah besar, bapaknya masih nakal karena waktu muda sok alim. Apalagi nakal dengan cewek sebaya anaknya. Besok, tepatnya seperempat jam lagi, sudah hari Kamis. Mas masih di kantor. Besok dia genap berusia lima puluh. Anak-anak sudah besar.

68

Antyo Rentjoko


Kubuang pandanganku dari TV. Kuraih cordless phone di ujung sofa. Dia sendiri yang memasukkan hotline di meja kantornya ke dalam memori pada handset. Seingatku belum ada sepuluh kali, malah mungkin cuma enam kali selama dua tahun, aku menghubunginya dari telepon rumah. Tapi tak pernah, tepatnya belum pernah, aku meneleponnya menjelang pergantian hari – saat dia masih beruap penuh gagasan atau justru sudah tertidur pulas untuk kemudian terbangun pukul setengah empat pagi. Oh! Saat aku tak mau mengganggunya itu. Adakah dia selalu di kantor? Se-la-lu? Ini bukan soal aku diperdayai oleh kepercayaanku sendiri lalu aku sesali. Ini soal desakan dari bilik di sudut hati yang sekian lama pintunya aku gembok rapat-rapat, atas nama akal sehat dan juga kecongkakan diri. Di dalam bilik ada boneka imut bernama rasa ingin tahu. Handset masih aku pegang. Kutatap lagi layar TV yang aku lupa sejak kapan tayangannya berpindah ke saluran olahraga yang tak pernah kutonton itu.

Kedai Merahh

69


70

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 10

Mister Blogger

Seorang kawan mengabarkan itu. Saya ingat itu disampaikan awal tahun ini, kira-kira pertengahan Januari. Dia katakan bahwa ketersesatannya di mail-archive. com memberikan temuan menarik. Entah penerusan dari mana, seorang anggota milis menimpakan teks yang disalin dari e-mail saya ke dalam sebuah thread yang mempergunjingkan bloggers. Saya lupa siapa yang balasi e-mail waktu itu, tiga tahun lalu, tapi saya ingat itu memang tolakan saya. “Terima kasih atas kepercayaan dan harapan Anda. Tetapi mohon maaf keinginan Anda tak dapat saya penuhi. Salam, Mister Blogger.�

Kedai Merahh

71


Itulah yang saya tulis. Pendek. Saya menolak tawarannya untuk membuat posting bagi kepentingan kliennya, yang isinya adalah menjelekjelekkan kompetitor. Saya tak bertanya apakah jenis produknya apalagi mereknya. Bukan urusan saya. Biarlah itu jadi jalan rezeki dia. Tapi tetap saja aneh bagi saya. Orang bukannya menitipkan produk untuk ditulis secara positif – artinya ya memuji-muji, syukur kalau tak kentara – tapi orang minta seorang blogger, dalam hal ini saya, untuk menyerang pihak lain. Saya pikir persoalannya selesai. Ternyata tidak. Dia mengirim e-mail lagi, tetap dengan akun berdomain kantornya, sebuah perusahaan

komunikasi pemasaran

yang kurang dikenal, bahkan sayup terdengar pun belum. “Oh gitu ya, Bos? Mentang2 udah top lantas gak mau terima order. Padahal ini baru langkah awal. Kalo kerja sama kita ini oke, proyek berikutnya mengalir. Asal tahu aja, beberapa bloggers lain sudah bekerja sama dengan kami. Kalo pengin tahu siapa aja mereka, kita bisa kopdar sembari ngopi.� Saya pun membalasnya tetap dengan cara yang santun:

72

Antyo Rentjoko


“Terima kasih. Namun dengan menyesal saya katakan lagi bahwa saya tidak dapat menerima tawaran Anda. Salam.� Ada-ada saja cara orang berjualan. Empat bulan lalu saya menerima tawaran agar memasang spanduk digital di blog saya dan membuat advertorial tentang cara meraup uang melalui blog. Kemudian si pengirim bertanya, "Kalau boleh tahu berapa tarif di blog Bapak?" Dengan sopan saya tolak permintaan itu: “Terima kasih atas kepercayaan Anda. Hanya saja

Kedai Merahh

73


maaf, sampai kini kapling banner di blog saya masih penuh, lagi pula saya kurang paham soal cepat kaya dari blog. Coba hubungi bloggers lain.” Balasannya, “Boleh tahu tarif tertinggi yang pernah Bapak terima? Berapa harga setiap banner per posisi di blog Bapak sekarang? Saya tidak mempersoalkan trafik Bapak tapi saya akan membayar dua kali dari yang tertinggi itu. Ini bisnis, jadi biasa saja kalau Bapak menulis artikel sponsor tentang produk dan layanan yang kurang Bapak pahami.” Jawaban saya, “Terima kasih. Maaf saya tidak bisa. Tentang tarif, dari banner yang terpasang, semuanya gratis karena sebagian milik sendiri dan sebagian milik teman. Ada juga yang gratis padahal saya tak kenal siapa pemilik produknya, dan mereka tak minta diiklankan. Saya memasangnya karena suka. Itu saja. Salam.” Balasannya, “Apa benar Anda mematok harga semauanya, hanya ada gratis dan mahal semahal-mahalnya?”

74

Antyo Rentjoko


Petikan e-mail itu

lolos ke lima milis komunitas

blogger. Komentarnya macam-macam. Misalnya, “Biasa, blogger sok idealis. Sombong. Cuma nurutin ati.” Ada lagi, “dia emang sok kaya. padahal duitnya cekak. kalahlah duit dia sama kita yang players ini.” Yang ini juga ada, “Orangnya emang sok nyeniman. Tapi tengil. Ngeselin.” Mau tahu komentar lain? Ini dia: “...halah sok aja dia. jangan2 dia piara banyak blog tuyul juga. emang kita tau?” Setelah itu tak saya lihat lagi mail-archive.com. Hanya menambahi pekerjaan kalau saya terlalu sering mencari tahu apa kata orang tentang saya di internet. Bisa-bisa waktu saya habis untuk menikmatinya sampai tak sempat membuat posting. Ketika kawan saya yang satunya lagi, dalam obrolan di

Kedai Merahh

75


kedai tiga bulan lalu mengabarkan temuan sejenis di mailarchive.com, saya pun tak tertarik untuk melongoknya. Temuan sejenis. Artinya serupa dengan yang dulu. Tak ada yang baru. Biarin aja. Saya tetap menulis di blog-blog saya. Isinya sesuka saya. Dengan syarat kalau saya sedang sempat dan niat. Saya tak peduli berhala bernama Page Rank. Saya hanya tahu cara menambah bandwitdth kalau blog saya tiba-tiba kering karena menjadi bak air yang diserbu penimba. Saya tetap punya pembaca setia. Sebagian dari pembaca setia adalah penanggap setia, yang selalu meninggalkan komentar. Sebagian besar dari pemberi komentar adalah bloggers juga. Hanya sedikit, mungkin dua dari sepuluh, yang bukan bloggers, atau tak mau menyebutkan blognya dalam tautan. Dari yang sedikit itu ada satu yang istimewa. Dia lebih sering mengirim pesan secara japri. Isinya pendek. Misalnya, “Nah yang soal SPBU itu keren.� Bisa juga, “Yang soal lingerie itu bikin gemes. Bulan depan diulang ya. ;)� Ada juga,

76

Antyo Rentjoko


“Mana nih kok belum ditulis? Udah dilompati tiga posting lain lho.” Atau ini, “Kalo yang soal PLN kurang sinis. Ayo dong, nulis lagi, yang lebih nendang.” Beberapa kali itu terjadi. Saya harus membuat penjelasan, dan tentu disertai permintaan maaf. Misalnya karena saya sibuk, tapi ketika sudah sempat menulis tak mungkin saya paksakan karena topiknya sudah basi. Mestinya dia tahu, saya ngeblog sesuka saya. Bisa setiap hari, bahkan sehari lima posting (malah pernah sepuluh posting di blog yang berbeda), bisa tiga bulan sekali. Saya orang merdeka. Saking merdekanya, bahkan ketika sedang malas ngeblog maka saya pun tidak menjenguk blog saya. Akibatnya spams pun bertumpuk. Oh, kapan ya saya terakhir posting tahun ini, padahal dua minggu lagi sudah tahun baru? Kalau tak salah ingat 21 Juni lalu. Ah biarin aja. Biarin. Saya malas menengok blog saya. Bahkan kalau terlalu lama prei saya lupa password saya. •••••

Kedai Merahh

77


Pagi yang biasa tadi itu. Seperti pagi-pagi sebelumnya: alarm pembangun harus bersitegang dengan selimut untuk memperebutkan kesadaran saya. Saya bangun. Karena kebelet pipis. Lalu tidur lagi. Saya bangun, ya barusan ini, sudah pukul dua belas kurang lima. Saya raih dan nyalakan BlackBerry untuk melihat agenda hari ini. Tumben ingatan saya cocok dengan kenyataan. Hari ini tak ada janji. Saya bisa menjemput anak-anak dan istri, lalu mengajaknya ke tempat baru yang mereka belum pernah mendatangi. Setelah menutup agenda saya pun memeriksa e-mail yang masuk ke dalam lima akun saya. Busyet, banyak banget. Ada tujuh puluhan. Baiklah, nanti saja saya periksa di desktop. Tapi nanti dulu, saya ingin memeriksa akun e-mail yang itu, akun khusus yang tak dibanjiri pesan masuk. Mailbox yang itu memang untuk menampung pesan yang ditulis di halaman kontak saya. Dulu mailbox itu kerap menerima pesan. Tapi setelah pengguna Facebook kian banyak, makin sedikit pembaca yang mengirim pesan melalui halaman kontak. Tadi saya bilang nanti dulu. Benar, ada satu e-mail masuk. Dari itu, pembaca setia blog saya tadi, yang saya kategorikan sebagai orang khusus karena dia sering membuat memo khusus tentang posting saya. Mau tahu isinya? Baca ya.

78

Antyo Rentjoko


“Mas,

jangan

keterlaluan

kalo

prei

ngeblog.

Masalahnya saya kan udah transfer untuk pesanan sepulun topik. Mas kan tahu begitu saya pesan maka selalu transfer padahal Mas belum nulis. Rp 2-3 jt per pesanan di blog utama Mas tuh nggak bisa dibilang sedikit lho, apalagi kalo Mas lagi rajin, seminggu bisa sepuluh posting.� Huh. Sombong banget sih. Bukannya nanya kabar dulu tapi langsung menagih. Mentang-mentang... Saya tidak kenal dia secara pribadi. Kopdar pun belum pernah. Selalu kontak via e-mail – dia selalu dari Gmail. Kami tak punya nomor ponsel masing-masing. Tentang kemasan visual dia, selama satu setengah tahun saya sempat terkecoh oleh satu-satunya foto yang dia kirimkan. Sosok seorang wanita berat, misalkan tingginya 150 cm maka bobot dia 98 kg. Kulitnya hitam, wajahnya berminyak, brocel karena jejak jerawat. Rambutnya ikal, sebahu. Usia sekitar 40. Jauh dari selera saya. Nama

dia

dalam

catatan

transfer

menggiring

keisengan saya untuk mencari tahu. Namanya punya banyak kembaran karena saking generiknya, tapi akhirnya saya pastikan setelah menanya via e-mail dengan sebuah pemancing, "Gimana Mbak, Henry sudah sembuh?" Henry itu nama seekor doberman piaraannya. Perlu saya katakan, dan akui, dari giringan mesin pencari akhirnya saya mendapatkan beberapa foto tentang

Kedai Merahh

79


dirinya. Langsing, putih, bermata lebar untuk etnisitasnya, rambut lurus, tinggi hampir 170 cm (saya bandingkan dengan sebelahnya, pria yang saya tahu siapa), dan... cantik. Kakinya indah. Lebih penting lagi: lajang. Usianya baru 37. Pujian saya terhadap kecantikannya tidak dia tanggapi. Apa pekerjaannya, saya tidak tahu. Yang pasti, fotofoto yang disodorkan oleh mesin pencari selalu bersuasana sama: pembukaan pameran seni rupa. Dia selalu hadir dengan gaun atau atasan berbahu terbuka. Sebuah tebar keindahan di ruang publik. Itu amal, bukan kejahatan sosial. Penutup e-mail-nya, “Semua bukti transfer, termasuk dari HP, selalu saya buatin screenshots-nya.� Sudah saatnya saya pensiun sebagai blogger. Tinggal mencari-cari alasan saja.

80

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 11

Busana Ibadah

Setiap kali dia membungkuk, celana dalam gadis di depanku itu mengintip keluar, bersamaan dengan belah atas dari pantatnya. Aku hanya khawatir kalau-kalau dia kentut, misalnya karena salah sarapan, sehingga gambar Betty Boop di celana dalam itu akan menutup hidung. Buang gas sembarangan jelas mengganggu misa. Memang sih, sejauh aku tahu belum ada petikan dari serial surat Paulus yang secara khusus mengatur kentut dalam kegiatan komunal, khususnya ibadah. Tata gereja dan liturgi1) pun tidak mengaturnya. Hanya itu yang menjadi urusanku. Selebihnya bukan

1)   Tata ibadah gereja.

Kedai Merahh

81


bidangku. Aku berada dalam gereja itu untuk memotreti sakramen pernikahan kedua sahabatku yang menjadi mempelai. Bukan atas permintaan tetapi atas niat. Sebuah kejutan kecil karena mereka tahu aku khusus datang dari luar kota, sejauh 300-an kilometer. Mereka mengira aku hanya datang ke resepsi – itu pun kalau aku bisa datang. Gereja yang ini sebenarnya tak asing bagiku. Aku mengenal beberapa gembalanya. Beberapa bekas aktivis Mudika2)-nya pun aku kenal. Aku pernah kuliah dan bekerja di sini. Maka setelah acara usai, dan aku tak menyusul mempelai ke rumah pihak perempuan karena nanti sore pasti berjumpa lagi di gedung resepsi, aku ngobrol dengan beberapa orang. Romo Astono, yang aku kenal likuran tahun sehingga sampai sekarang aku memanggilnya sebagai Mas Romo, hanya tersenyum ketika aku tanya kenapa anak sekarang berangkat misa dengan pakaian yang aneh. Ya, dia tersenyum karena kenal aku. Perbedaan gereja bukan masalah. Jangankan soal aliran, aku tahu pastor Jawa alumnus Universitas Santo Thomas Aquinas, Roma, ini berkawan lintas-agama. Minggu depan dia berdiskusi dengan beberapa anak muda Islam di Yogyakarta. “Saya tahu, njenengan itu selalu berpakaian santai, kadang cuma bersandal dan bercelana pendek. Tapi saya

2)   Muda-mudi Katolik. Nama wadah kepemudaan di setiap paroki.

82

Antyo Rentjoko


© hak cipta gambar jins: girlsgonegod.com

juga tahu, njenengan itu kalau ke gereja njenengan – maksud saya dulu dan semoga sekarang masih – selalu berpakaian rapi.” Kemudian dia melanjutkan, sambil menengok sepatu sandalnya, “Saya kalah rapi lho dari njenengan.” Aku tertawa, “Hahahaha! Dulu Taman Siswa dan seminari punya persamaan di sepatu sandal.” Dia pun tertawa. Lalu dia meraba kemeja linenku yang berkerah separo, “Bagus ini. Keren lho. Saya punya dua yang seperti ini, dikasih adik saya.” Selebihnya dia membicarakan hal lain yang ringan, ramah, dan kocak. Tapi karena aku tak puas maka kelancanganku bertambah takaran, “Apa karena tadi itu Kedai Merahh

83


anak-anak dari luar paroki sini, Mas Romo?” Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Saat itu beberapa cewek remaja melintas, mengucap salam kepada Romo. Anak-anak itu memakai pants dan tank tops – padahal kota ini bukan termasuk kota gerah pemeras peluh. Maka aku pun hanya bisa membelokkan masalah, “Iya, ya, gereja terdekat adalah parokiku.” Kami tertawa bersama, tapi pelan. “Gereja yang Kudus dan Am,” guraunya, sambil mengedipkan mata. Kami menahan tawa sambil menutupi mulut masing-masing. Gereja-gereja Protestan menggunakan kata “am” dalam sahadat atau kredo atau Pengakuan Iman Rasuli, sedangkan gerejanya Romo ini menggunakan “Gereja Katolik yang Kudus”. Romo masih ingat gurauanku dua puluh tahun silam, “Am juga berarti banyak denominasi. Setiap Minggu ada gereja baru gara-gara setiap orang menemukan kebenaran baru. Maka lihatlah di warung-warung yang dikunjungi orang sepulang dari gereja: Alkitab orang Protestan itu kumal, dan penuh coretan Stabilo.” Dengan Mas Romo aku bebas berdiskusi. Dengan cepat dia menggunakan kata "jemaat" jika menyangkut gereja Protestan, dan aku pun secara otomatis memakai kata "umat" jika menyangkut gereja Katolik. Denominasi. Sesungguhnya aku tak paham benar. Apalagi tadi Romo bergurau, “... dulu dan semoga sekarang masih...”. Romo tahu aku abangan. Apalagi sekarang.

84

Antyo Rentjoko


Tapi dengan segala keabanganku aku tahu selera busana sudah berubah. Ikut kebaktian hanya memakai jins dan oblong bukan hal baru. Sejak tahun 80-an sudah ada dan kian menjadi sejak awal 90-an. Tapi dulu jarang cewek beroblong. Sekarang ibu-ibu pun beroblong saat ke gereja. Sedangkan aku, ketika masih tergerak bergereja, bahkan ketika singgah di kota lain, tak berani ikut kebaktian jika baju yang kupenatukan di hotel belum diantar ke kamar. Kaos oblong, apalagi dengan celana pendek, bagiku hanya cocok untuk anak-anak Sekolah Minggu. Bahkan ketika aku masih SMA, dan mengajar Sekolah Minggu, aku selalu berkemeja, dan aku masukkan – segerah apapun cuacanya. Aku jarang mempersoalkan ini karena belum-belum khawatir akan datangnya dua tanggapan, yang sebetulnya belum pernah aku dengar. Pertama: “Memangnya Tuhan mempersoalkan pakaian?” Kedua: “Yang penting ke gereja, kan?” Misalkan kedua jawaban itu muncul, aku tak punya bahan penyanggah. Anehnya, sudah lama sih,

aku pernah bereaksi

terhadap rasan-rasan di dekatku, di teras gereja, oleh seorang ibu, “Pakaian yang nggak sopan itu dipelopori oleh gereja-gereja yang mayoritas jemaatnya, nuwun sèwu ya Jeng, keturunan Chinese.” Aku segera menyergah, “Jangan rasis to, Bu. Ini bukan

Kedai Merahh

85


soal Cina!” Ibu pemuka wanita jemaat itu merah padam, menatapku, lalu menjauh. Teman-teman bincangnya juga. Aku merasa sebagai si kusta dalam Injil. Setelah berpisah dari Romo, dan meninggalkan gereja, aku melamun dalam taksi. Sebagai bujang lapuk 47 tahun aku teringat para keponakanku. Yang cewek juga pakai kaos kalau ke gereja. Apalagi yang cowok – malah ada yang pakai celana 7/8, dan tampil di depan saat mengisikan musik akustik. Lima dari tujuh cowok itu memakai anting. Yang dua bertato di lengannya karena lengan kemejanya digulung, bahkan lengan baju itu punya kancing agar gulungan tak melorot sehingga menampakkan lengan kencang. Zaman sudah berubah. Aku ingat simbah kakungku saat ke gereja, tiga puluh tahun silam. Kalau bukan berbusana rapi – dengan setelan khaki tersetrika licin (bajunya seperti safari lengan panjang, dengan pengetat pinggang) dan peci ala Bung Karno – Mbah Kakung memakai kain batik, surjan, dan blangkon. Ke gereja itu seperti berdinas, katanya. Harus rapi melebihi sehari-hari, katanya lagi. Dulu, ketika aku masih semester pertama dan di gereja duduk di sebelahnya, Mbah Kakung melihat Puma putihku dan berbisik, “Kamu ini mau olahraga atau kebaktian?” Oh, zaman! Aku semakin tua! Aku mulai gagap melihat perubahan. Tak terasa taksi tiba di depan lobi hotel. Saat petugas

86

Antyo Rentjoko


pintu membukakannya untukku, sebuah pesan masuk ke ponselku. Ehm, dari dia yang aku semakin dekat denganku itu, nun hampir sejam terbang dengan pesawat dari bandara terdekat dari kota ini. Dialah wanita usia 31 yang mau mencoba memahamiku. “Mas, aku jg lg di grj nih. Ngurusin bazaar habis kebaktian. Liat dong mas jualanku. Lucu2, sbntr lg laris manis.” Kubuka foto terlampir itu. Dia sedang menjaga stan pernak-perniknya, memakai pants dari denim, low rise, dan tank top bukan jenis bertali spaghetti. Oh, doktor sastra Jawa dengan disertasi tentang Wulangrèh3) itu!

3)   Karya Paku Buwono IV (1768 – 1820), berisi piwulang atau ajaran tentang kehidupan, yang dikemas sebagai tembang.

Kedai Merahh

87


88

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 12

Kamar Kontrakan

“Gimana Mbak kalau kita bekerja sama saja? Samasama mudah, Mbak nggak capek, saya juga,” kata ajun inspektur polisi satu yang ganteng itu. Wajahnya bersih. Terbaui olehku aroma after shave lotion segar. Rambutnya basah. Sorot matanya agak kekanakan, jauh dari kesan penggoda wanita. Dia berkemeja biru dengan dasi kuning bergambar pesawat capung. “Pengacara saya belum datang,” kataku. “Itu nanti. Tapi sebelumnya kita bersepekat dulu supaya semuanya lebih mudah buat kita Mbak...” Sejak awal dia memanggilku "mbak", bukan "bu". Aku suka. ••••• Kedai Merahh

89


Baru sebulan setelah kepergian Mas Andri aku mendapatkan informasi itu. Dari si induk semang, seorang ibu yang dua puluh tahun di atasku, datang diantar sopir, setelah tadi pagi menelepon meminta waktu untuk bertemu. “Jadi begitu itu, Jeng. Saya berkewajiban melaporkan keberadaan harta benda almarhum di rumah saya. Kalau soal sewa, seperti tadi Jeng katakan, nggak ada masalah. Malah mau saya kembaliin aja sisanya yang tiga bulan, soalnya Mas Andri kan bayarnya buat enam bulan.� Aku mencoba tenang padahal bingung, dan tak berani menanyakan banyak hal. Sebagai istri aku harus tampak memaklumi, tidak boleh terkaget-keget, dan yang jauh lebih penting dari itu adalah jangan sampai pertemuan ini membuatku limbung gara-gara aku mendapatkan informasi yang tak kuharapkan sekaligus aku takutkan tentang seorang suami yang diamdiam mengontrak kamar tanpa setahu istrinya. Ibu itu mengatakan baru tahu kabar suamiku kemarin sore, dari salah satu anak kos yang berteman dengan seorang karyawati di lingkungan Mas Andri tapi beda unit. Yang aku ingat sebelum Ibu itu pulang adalah mengulangi untuk keempat kalinya, “Saya nggak nyangka lho, Jeng. Mas Andri itu sehat, gagah. Orangnya baik nggak rewel, nggak macam-macam. Memang sih dia pendiam, tapi pada saat yang tepat bisa bertindak hebat...� Yang hebat? Yang aku ingat dari kesaksian Ibu itu

90

Antyo Rentjoko


adalah “ngusir anak mabuk” dan “membetulkan menara air”. Sejak kapan Mas Andri mau ribut-ribut kecuali membelaku, seperti saat pacaran dulu? Juga sejak kapan dia mau buang waktu untuk memanjat menara air kecuali di rumah sendiri dan tak ada tukang yang bisa dipanggil? Ternyata aku kurang mengenal suamiku. ••••• Sesuai kesepakatan maka Selasa pagi itu, sekitar pukul sepuluh, dua hari setelah dia bertamu, aku sudah tiba di Kedai Merahh

91


rumahnya. Tadi aku menyetir sendiri. Sudah minta izin khusus dari kantor, dan bos mempersilakan saja. Jadi inilah kamar itu. Kamar di sudut bangunan L, menghadap ke taman dan pelataran parkir dengan grass block yang cukup untuk empat mobil. Dengan cepat, sebelum masuk kamar, aku amati sudut latar, tempat jemuran. Pakaian wanita semua. Tidak ada daster kumal. Di teras peranginan jemuran aku lirik celana dalam dan bra di sana – terutama celana dalam. Dari desainnya aku tahu isi pondokan itu wanita-wanita muda. Ada beberapa G-strings. Kumasuki kamar itu. “Ini Jeng,” kata Ibu itu. Dia membuka pintu lebar-lebar. Juga jendelanya yang terdiri atas dua daun berengsel kupu-kupu. Hmm... kamar yang luas: 5 x 4 meter. Kamar mandi di lorong luar sebelah pintu. “Setiap hari dibersihin tapi si Rusman saya ingatin jangan ngubah apapun dan jangan ngambil apapun. Dia bisa dipercaya kok, Jeng,” katanya tentang pembantu, bocah usia di bawah 20, yang sedari tadi berdiri di luar pintu itu. “Ini kamar paling gede, Jeng. Delapan kamar lainnya cuma ukuran tiga kali tiga. Gimana kalau saya di luar dulu, di rumah induk? Sumangga. Kalau ada apa-apa tinggal panggil saya, atau langsung masuk. Saya lagi nonton acara masak di TV...” katanya lagi.

92

Antyo Rentjoko


Kamar pangeran! Paling besar dari yang lain. Hanya satu-satunya pria di pondokan itu. Baiklah kuceritakan hal yang mengagetkanku. Tata ruang perabot di sini seperti ruang kerjanya di rumah. Bedanya di sini ada bed lipat. Hanya bed lipat model tenaga paramedis di lapangan. Aku sempat terganggu oleh lamunan sesaatku... misalkan di situ ada spring bed berarti ada kemungkinan.... Ah sudahlah! Tiga rak buku itu mirip yang di rumah – tepatnya di ruang kerja, belum seberapa bila dibandingkan rak-rak lain yang menurupi dinding rumah. Bahkan buku-bukunya pun sebagian besar sama. Kulirik meja ukuran setengah biro tanpa laci. Buku yang tergeletak di atas meja pun sama dengan yang di rumah: Southeast Asia: An Introductory History, karya Milton Osborne. Buku-buku lain tak kuhapal judulnya tapi aku ingat di rumah juga ada. Aku ingat desainnya, terutama rupa punggung bukunya.

Banyak yang bagus.

Malah ada

serial buku yang kalau dijejer maka punggungnya akan membentuk gambar. Mirip jigsaw puzzle memanjang. Di atas lantai kayu kamar itu aku seperti berjengket, lalu membuka lemari. Oh, jadi ini rupanya kalau kadang dia tak pulang beberapa hari dan membawa bekal pakaian, lalu beralasan, “Aku titipin di laundry kiloan deket kantor. OB yang ngurus.� Sebentar aku lega. Tak ada pakaian wanita. Semuanya rapi. Kubuka laci. Perlahan. Berdebar.

Kedai Merahh

93


Siapa tahu ada jejak kehadiran orang lain. Stok pembalut, misalnya. Perhiasan etnis yang bukan emas, misalnya. Atau, oh semoga tidak, kondom atau test pack. Ohhh... melegakan. Hanya ada struk belanja kecil dan kuitansi pembayaran kamar untuk Ibu itu. Kenapa dia harus indekos di belakang kantornya, yang harus dicapai dengan memutar sejauh lima kilometer dari kantornya, tapi nyatanya tak ada orang kantor yang tahu, atau pura-pura tidak tahu, bahkan Ruri, sekretarisnya, kemarin aku tanya malah menjawab dengan bersumpah segala, “Mbak karena ini bukan menyangkut rahasia perusahaan, lagi pula hubungan kita baik, maka misalnya saya tahu dia indekos pasti saya beritahukan kepada ahli waris karena Pak Andri sudah tidak ada lagi. Tapi saya nggak tahu, Mbak. Bener!” Yo wis! Terserah! Biar akhir pekan nanti aku angkuti semuanya. Ketika aku pamit, sempat kutanyakan, “Maaf Bu, saya tidak memaksa. Misalnya Ibu nggak keberatan, apakah bisa kasih tahu saya siapa saja tamunya?” Ibu itu tersenyum. Sorot matanya hangat. Sebagai sesama perempuan dia tahu maksudku. Dia pegang lenganku, “Jeng, saya berkata sejujurnya. Setahu saya yang jarang keluar kota ini, Mas Andri nggak pernah terima tamu. Sampai di kamar dia nggak keluar. Kadang kalau saya cari angin malam di taman dan lewat kamar dia, saya cuma dengar musik pelan, ya bangsanya jazz gitu deh...

94

Antyo Rentjoko


atau instrumental, dan saya liat dia lagi baca karena gorden nggak ditutup. Sama itu lho, maaf ya Jeng, asap rokok ngepul terus...� Rokok jahanam! Ketika Mas Andri di unit perawatan intensif karena stroke, perusahaan rokok yang terdaftar di bursa saham itu, yang serial iklannya di TV selalu mengedepankan pesan persaudaraan dan kepedulian itu, tidak mengirim karyawannya untuk mem-bezoek. Ketika dia diperabukan, tak ada karangan bunga dari pabrik rokok favoritnya. Pabrik jahanam haram jadah itu! Aku yakin juragannya dan para eksekutifnya tak semuanya perokok. Juga tidak ada karangan bunga dari toko-toko buku langganannya. Tidak pula dari toko-toko CD langganannya. Padahal untuk buku, atau CD, sekali belanja bisa habis Rp 2 juta! Dalam perjalanan pulang aku ingat cekcok terakhir. Kalimat itu terngiang-ngiang terus. Diucapkan pada suatu Sabtu sore, dengan marah tapi jelas, tanpa berteriak, dan puanjaaannnngggg... Padahal dia jarang berceramah kecuali diminta. “Aku tahu Nur, kamu tuh nggak suka baca selain majalah fashion yang banyak gambarnya. Yang kamu suka tuh ngobrol sama nonton TV, atau muter DVD. Makanya kamu nggak puas kita punya lima pembantu karena supaya ada saja orang yang kamu ajak ngobrol ngalor ngidul nggak penting. Aku beliin buku tapi kamu nggak baca. Kamu hanya menikmati buku sebatas ngeliat rak kita yang banyak

Kedai Merahh

95


bukunya, puas bisa banggain ke mana-mana, dapet pujian dari temen-temenmu itu. “Kamu membenci buku karena dengan buku aku bisa tenggelam dalam duniaku. Tapi di sisi lain kamu juga butuh aku, butuh informasiku, untuk mendapatkan jawaban ini dan itu. Tapi secara umum kamu tuh nyemburuin buku, membencinya, nganggep seteru. “Aku tahu Nur, kamu udah nyobekin beberapa buku lamaku. Kalo hanya nyebut sepuluh judul, lengkap dengan nama pengarang dan penerbitanya, sekarang juga aku bisa!” Aku menyalak, “Emang iya! Trus kenapa, Mas?! Di rumah ini nggak ada momongan, cuma ada delapan kucing, lantas siapa yang aku jadikan teman selain suami? Aku memang nggak suka baca dari kecil soalnya kalo baca jadi pusing, ngantuk, tapi bangga karena rumah kita banyak buku, dulu bangga punya pacar yang luas pengetahuannya. “Sekarang, sana cari cewek seksi yang kutu buku! Kalian bisa making love di atas tumpukan buku! Sana! Di luaran banyak pecun yang doyan baca! Itu cewek-cewek terpelajar yang ingin menggoda seorang editor sontoloyo dan novelis semprul! Cewek-cewek seksi tapi nggak jelas masih kuliah atau kerja, yang pasti duitnya cekak, suka ngamatin pria matang belanja, kayak yang sering main mata denganmu di Aksara dan Times. Taik!” Dia diam, menghela napas, dan tenang saja menanggapi, “Akhirnya setelah sepuluh puluh tahun menikah, dan

96

Antyo Rentjoko


sebelumnya lima tahun pacaran, kamu akui itu. Nggak suka buku. Selama ini kamu jaga gengsi, termasuk ketika belanja bareng temen-temenmu, lantas kamu mampir toko buku...” Sejak itu kami tak saling berbicara. Sejak tiga bulan lalu sampai dia koma dan pergi. Dia tampak lega dengan keterusteranganku dan bisa menikmati hari-harinya. Tapi aku tidak. Semua sudah kulontarkan penuh kesumat tapi malah membuatku meradang dan makin meradang. ••••• Malam itu, menjelang kedai kopi tutup, ketika last order sudah dicangkan dua puluh menit sebelumnya, seruputan terakhir hot lemon tea-ku membuatku agak segar. Patrick, si hitam legam keriting bekas komandan satpam kantorku, yang lima tahun lalu secara otomatis dipecat karena terlibat kecil dan jauh dalam suatu kasus pembunuhan, tapi tetap kontak denganku untuk minta uang, bisa mengatur agar rumah itu dijilat api. Maksudku kamar-kamar kontrakan di belakang. Tabungan Mas Andri cukup untuk mengongkosi proyek ini. Tapi aku salah perhitungan. Aku kira setiap akhir pekan, tepatnya Sabtu sore, semua penghuni menginap di luar – namanya juga wanita

Kedai Merahh

97


lajang sekarang, tidak mau sendirian di rumah apalagi indekosan. Ternyata tidak. Ada satu cewek yang tetap di kamar karena sedang flu berat. ••••• “Gimana, Mbak?” tanya ajun inspektur polisi satu yang juga bernama Andri itu. “Tunggu pengacara saya dulu,” jawabku. Lalu kusedot minuman dari gelas plastik. Itu gelas ketiga.

98

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 13

Gang Amoy

“Gara-gara info dari Mas, akhirnya aku iseng juga ke sana. Kemarin sore. Nanya-nanya soal kos, Mas,” kata Melati, sekretarisku. “Dapet nggak, Mel?” “Nggak, Mas. Ada satu, kamarnya bagus, bersih, kamar mandi di dalem, tapi sebulan minta dua setengah. Bisa jadi termiskin di dunia aku, hihihi...” “Rumah yang mana tuh, Mel. Gue apal lho...” “Kalo apal kenapa nanya?” sahutnya disusul tertawa kecil, lalu pandangannya kembali ke layar komputernya. “Nggak sopan lu, Mel! Terlaluhhh...” “Emang Mas mau ngekos di sana? Atau... udah ada inceran ya?” serampung ngoceh dia menengok ke arahku, mengedipkan mata, dan tersenyum. Kedai Merahh

99


Telepon

masuk

menghentikan

percakapan.

Jawabannya standar, “Maaf Pak Bawono sedang meeting. Mungkin Ibu bisa meninggalkan pesan?” Memang sepuluh menit lagi aku rapat di lantai enam, selantai di atas kantorku. Urusan gedung, tak ada hubungannya dengan tenggat kerja majalahku, yang akan padat mulai sore nanti. ••••• Aku sempatkan ke jendela ujung dekat perpustakaan. Brengos,

orang

dokumentasi,

masih

asyik

dengan

komputernya tapi sempat menyapa, “Ada yang bisa saya bantu, Mas?” “Nggak, Ngos. Cuma mau melongok dunia luar aja dari sini.” “Tumben nggak motreti, Mas. Kapan itu saya dengar dari security kalo Mas motreti sekitar dari atap di atas lantai tujuh. Hasilnya bagus nggak?” Kujawab sekenanya. Aku sudah menempel di lis logam krom pembatas kaca. Aku lihat lorong itu. Lorong sempit. Lorong yang kuceritakan ke Melati, tapi tak kuduga dia pun akhirnya masuk ke sana dengan alasan mencari kos. Ah, anak itu! Pasti Melati penasaran dengan yang kuceritakan. Dari lorong labirin, sejauh seratus meter dari perempatan di depan kantor, ada lorong sempit yang sulit sekali untuk berpapasan.

100

Antyo Rentjoko


Š hak cipta gambar-gambar praolah tidak diketahui

Kebiasaanku jalan-jalan di sekitar kantor memberikan temuan menarik. Dari mulut lorong itu, setiap pagi antara pukul setengah delapan sampai pukul delapan, selalu muncul gadis-gadis putih seperti tamatan Pond's Institute. Gadisgadis berambut lurus. Gadis-gadis langsing, kencang, cantik, dengan mata segaris, sebagian besar berpakaian kantor, rapi, yang cara berjalannya agak berjingkat dan penuh gegas, seolah kawasan itu berisi begal dan binatang buas. Bukan hanya betis bersih yang kulihat, kadang kalau sepatunya terbuka kulihat tumit halus kemerahan tidak

Kedai Merahh

101


kapalan apalagi pecah-pecah seperti ampelas yang terbuka dari lipatan lama. Itulah lorong sempit yang mulutnya menghadap ke jalan sepi sepanjang 200 meter karena sisi kanan dan kiri hanya berisi tembok dan beberapa mobil terparkir. Lorong tak bernama. Alamat di sana, kata Acan, komandan

hansip,

juga

menggunakan

nama

Jalan

Kemajuan1) tapi nomornya ratusan, padahal rumah lain di Jalan Kemajuan tak sampai ratusan. ••••• Setelah dua minggu (pada hari kerja) mengamati maka pada suatu pagi pukul enam (ya! aku kadang tiba di kantor sebelum anak-anak cleaning service!), sebelum gadis-gadis dewasa itu berangkat, kubulatkan tekat masuk ke lorong. Pagi ini. Dari mulut lorong, sepanjang seratus meter, dengan dua kali belok menyiku ke kanan dan kiri, hanya ada tembok yang sebagian berlumut. Tak ada mural yang menarik selain grafiti membosankan yang hanya bertuliskan nama orang dan lema kamus bordil. Tidak kreatif. Aku tak berpapasan dengan anak kecil, padahal ini

1)   Ada blok permukiman di sekitar Gedung Arsip Nasional, Jalan Gajah Mada, Jakarta Kota, yang menggunakan nama jalan berawalan "ke" dan berakhiran "an". Misalnya Kejayaan, Kemurnian, Kebahagiaan, Kemenangan, dan Kerajinan. Nama Kemajuan? Tidak ada. :) Saya belum tahu toponimi jalan-jalan itu.

102

Antyo Rentjoko


termasuk kawasan padat di Kota2), pecinannya Jakarta. Hanya sekali berpapasan dengan seorang anak, pengasong koran. Kubeli dua koran, supaya ada alasan bercaka-cakap. Tapi dia hanya menjawab singkat, "Nggak tahu, Oom." Pernah kutanyakan kepada para pemilik warung di sekitar kantor tentang lorong sempit itu. Ternyata mereka tak dapat bercerita. Tukang-tukang parkir juga tak banyak tahu isi lorong itu. Kutanya Ahong, pemilik warung di ujung jalan, 50 meter dari kantor, yang merangkap agen gas dan Aqua. "Ya isinya rumah-rumah, Bos. Emang napa?" Akhirnya

kemarin

kutanya

Kemin,

anak

liar

bersosok dan bertampang usia 10 tahunan dengan sedikit kerterbelangan mental yang gemar merokok itu. Dia sering beredar di sekitar situ, dan mendapatkan uang ataupun makanan dari warung-warung, karena dia bisa disuruh melakukan pekerjaan sederhana misalnya memindah bangku dan melipat meja. Tentang

lorong

itu,

Kemin

menjawab

sambil

mengepulkan rokok tanpa memegang, dia letakkan kedua telapak tangan dada seperti memegang bola, lalu setelah tangan kirinya selesai memperagakan buah dada maka jari tangannya membentuk formasi jempol diapit telunjuk dan jari tengah. Lalu merenges.

2)   Karena dulunya kawasan sekitar Museum Bank Mandiri adalah pusat kota Jakarta. Sebelum ada kode pos, pertengahan 80-an, alamat bisnis di kawasan Glodok dan sekitarnya adalah "Jakarta Kota".

Kedai Merahh

103


Uh! Sok tau! Dasar Kemin! Jorok! Begitulah, maka pagi ini, barusan, pukul enam lebih sedikit, aku sudah melewati tikungan ketiga. Mulai tampak rumah. Macam-macam modelnya tapi tidak bisa disebut mewah, yang pasti bersih terawat. Rata-rata rumah punya halaman kira-kira sedalam dua hingga tiga meter ke arah rumah. Ada yang berumput tapi sebagian besar ditutupi paving block. Tak ada pohon. Hanya pot tanaman dan sulur maupun belitan tanaman rambat. Berapa

lampu

teras

masih

menyala,

pertanda

kehidupan harian untuk menyambut Matahari belum dimulai. Apa? Matahari? Dalam lorong sempit ini hanya nanti mulai pukul sepuluh Matahari menyapa halaman dan tembok rumah-rumah yang tak bertingkat itu. Rumah-rumah itu sebagian besar berpagar. Ada juga yang tidak. Tak ada sepeda motor yang terparkir. Tapi bagiku menarik, ini di derah pecinan kenapa tak ada pagar tinggi, rapat, dengan ujung pagar berupa tombak runcing membengkok ke arah luar? Hmmm... aku tak mendengar kesibukan pagi. Tak ada suara TV. Tak suara radio. Tak ada suara lagu Mandarin – untuk gampangnya sebut saja Mandarin, padahal mungkin Canto-pop meskipun di kawasan ini banyak orang Hokkian dan Khek 3).

3)   Tentang Hokkian, nama salah satu suku Cina di Indonesia, ada yang menuliskannya Hokkien, tapi umumnya orang melafalkannya "hokkian". Adapun

104

Antyo Rentjoko


Di sini juga tak kudengar suara anjing rumahan. Anjing-anjing kecil yang cerewet. Tak juga kupergoki tikus melintas seperti di blok lain. Terlalu pagi untuk mendapati jemuran di halaman. Tapi mestinya ada orang menyapu. Aha, setelah lima kali belok, dari ruas ke ruas yang masing-masing sepanjang 30 meter, kulihat dari kejauhan seorang wanita beruban, dengan rok lusuh kembang-kembang tanpa lengan model 70-an, rambutnya pendek, sedang menyapu. Kami bertatapan ketika jarak kami sudah sepuluh meter. Aku mengangguk, tersenyum. Dia juga. Ketika sampai di depannya aku menyapa, “Pagi, Tante...� Dia hanya mengangguk, tersenyum, kemudian berbalik badan, dengan membawa sapu, membuka pintu, masuk ke rumah. Tak sempat kuintip isi rumah karena gelap dan cepat sekali pintu kayu bercat hijau rak piring itu ditutup. Aku terus berjalan. Sambil melamun tapi juga sekalian mempertajam pengamatan. Gadis-gadis itu mungkin barusan bangun. Atau sudah mandi. Bisa jadi ada yang sedang menyetrika baju karena kemarin sore atau kemarin malam tak sempat. Aku tak tahu kapan mereka pulang

Khek, yang berindukkan suku Han, sering disebut sebagai Hakka. Ada beberapa perhimpunan Khek di Indonesia, bahkan di Jakarta ada beberapa gereja Kristen yang menggunakan ibadah dalam bahasa Khek, termasuk GIPB Sion Hakka di Jalan Jayakarta, sebagai kelanjutan Gereja Kristen Tionghoa (Chung Hua Ja She Kauw Fie).

Kedai Merahh

105


ke rumah karena tak sempat mengamati saat sore hingga malam sekitar pukul setengah malam – itulah saat gadisgadis kawasan ini pulang kerja, tapi bukan gadis-gadis lorong ini, dan malam nanti mulai pukul setengah malam ada pula gadis-gadis lain yang sudah berdandan hendak masuk kerja ke tempat hiburan, dan selalu pulang pagi. Aku kenal mami-mami4) mereka di tempat kerjanya. Oh, lorong sempit ini. Ada yang berbeda. Gotnya tidak berbau seperti blok lain. Padahal di Kota semua got berair hitam, mampet, dan berbau busuk – tapi kalau malam menjadi pemantul neon warna-warni penanda rumah hiburan, termasuk panti pijat. Kutengok got di sini, hanya ada sedikit air. Mengalir. Aku berpikir bagaimana cara mereka memasukkan perabot rumah, dari spring bed, kulkas baru, sofa baru, TV baru? Aku tak ingat berapa kelokan yang sudah aku lalui. Tapi tetap sepi. Tampaknya aku mulai melewati rumah-rumah yang sama karena kuingat rumah nomor 239 menggunakan kapur untuk menomori kepingan tripleks yang ditempelkan pada dinding teras, berdampingan dengan dudukan hio5) berbahan seng merah karatan. Ya! Hio! Terlalu lama berkantor di Kota membuat

4)   Sebutan untuk wanita koordinator gadis penghibur (anggap saja gadis) di tempat hiburan pria. Jika koordinatornya pria gagah gemulai, tetap saja panggilannya mami. 5)   Dupa cina, umumnya berbentuk batang lidi. Ada juga yang berupa spiral, seperti obat nyamuk, untuk digantungkan.

106

Antyo Rentjoko


hidungku terbiasa. Lorong sempit ini beraroma hio. Sama seperti blok lainnya. Sudah berapa lama aku di sini? Masih sepi. Tapi keramaian di Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, yang mulai memasuki jam three-in-one, mulai mengalirkan getar kebisingan. Untuk mencapai Jalan Gajah Mada, dari mulut lorong yang kumasuki tadi, hanya butuh waktu paling banyak lima menit. Oh ya, suara bajaj dari jalan sekitar juga terdengar sejak tadi. Sudah berapa lama aku berputar-putar? Mestinya tak terlalu lama. Terobosan Matahari belum sampai di sini. Aku terus berjalan. Menyusuri lorong. Dan kurasakan gelombang kebisingan Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk yang makin terasa di gendang telinga. Klakson makin ramai. Three-in-one sudah usai. Aku terus berjalan dan tak menjumpai orang. Tak ada sua dengan gadis-gadis itu. Apakah mereka libur serentak meskipun kantornya berlainan? Aku tak memakai arloji sejak dua hari lalu karena dijambret di Grogol. Aku tak membawa ponsel karena masih aku charge di kantor. Aku tak membawa kamera sakuku sehingga tak dapat mengintip jam. Tak terasa hari kian gelap padahal aku belum merasakan Matahari. Aku terus berjalan. Bosan. Segera mencari jalan ke

Kedai Merahh

107


arah mulut lorong. Perutku lapar, sangat lapar. Bibirku kering didera dahaga. Tak juga kudapatkan jalan keluar. Makin lama semua rumah bertampang seragam. Lampu-lampu teras sudah menyala. Hari cepat sekali berjalan tapi sejak pagi aku tak bersirobok dengan tukang sayur atau penjual daging babi pikulan. Waktu memang cepat berlalu dan ingatan manusia kian pendek. Jika bercampur dengan impuls untuk melakukan apa saja maka bekal ingatan di benak seperti tertendang keluar. Mestinya lima menit lagi aku keluar dari labirin sempit yang untuk berpapasan saja salah satu orang harus memiringkan badan, apalagi jika berlainan kelamin. Lima menit lagi pasti aku sudah di luar, di Jalan Kemajuan, dan tiga menit setelahnya tinggal menyeruput es jeruk peras lalu menyantap nasi campur dengan irisan daging babi merah ditambah setusuk sate babi di emper toko kimia Bahagia Jaya, Jalan Gajah Mada. Tapi aku tak kunjung keluar. Ah, cara tubuh bekerja memang aneh. Dalam haus dan lapar keterlaluan ingatan itu merayapi bagian dalam kepalaku. Tentang peristiwa dua belas tahun silam di bulan Mei. Apakah tempat-tempat yang dijarah, dibakar, dengan sejumlah wanita Cina dinistakan secara biadab itu, sejauh satu setengah kilometer dari sini, juga memakan korban dari penghuni lorong ini tetapi kejadiannya di tempat kerja

108

Antyo Rentjoko


mereka? Tiba-tiba aku ingat lontaran tanpa sengaja dari Pak Maing, komandan satpam yang sebulan lalu pensiun, tapi ketika kutanya apa maksudnya dia tak mau menjawab selain, “Ah sudahlah.” Aku ingat dari mulutnya sempat terucap, “Sono noh, di Gang Amoy6)...” Dua belas tahun silam, Pak Maing yang jagoan silat itu menjadi komandan keamanan wilayah secara dadakan. Kejohanannya dikenang orang-orang Cina di sini. Aku tahu, pos hansip dekat kantor masih menyetor rokok kepadanya, kecuali setelah pensiun. Hari sudah malam. Aku belum bisa keluar. Aroma hio makin terasa, bahkan seperti menyumbat lubang hidungku.

6)   Dalam perjalanan penggunaan, kata "amoy" (artinya adik) untuk menyebut gadis keturunan Cina dalam suatu situasi komunikasi atau penyampaian pesan tertentu kadang dianggap pejoratif, apalagi jika diucapkan oleh kalangan non-Cina.

Kedai Merahh

109


110

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 14

Sang Purnawirawan

Sungguh merupakan ulang tahun daripada sebuah gereja yang ramai penuh semangat persaudaraan yang penuh akan keguyuban. Perlu saya nyatakan bahwasanya perayaan 20 tahun daripada sebuah gereja di pinggirannya Jakarta ini, yang mana sebetulnya sudah di luar kota DKI, sangatlah kaya akan warna. Tua dan muda terlibat di dalamnya kegiatan melalui pelbagai acara, dari lomba ketangkasan, balap karung, sampai pertunjukan musik dan lawak. Di dalam pendopo sebelahnya gereja saya duduk melihat ke seantero pandang. Melihat anak-anak sekolah Minggu yang riang memanjati pohon rambutan dari kebun seluas 800 meter persegi yang sudah dibeli oleh gereja, dan tetap menjadi kebun, hanya saja lebih rapi, karena ada Kedai Merahh

111


rumput yang terawat dan jalan setapak melingkar. Puas sekali rasanya saya dapat mengantarkan gereja ini sampai menjadi dewasa, bukan lagi sekadar cabang daripada gereja pusat di kota. Saya lakukan semuanya semenjak awal, dan proses demi proseslah yang menjadikan saya sebagai anggota gereja yang aktif, tidak hanya menjadi penetua secara resmi tetapi juga yang tidak resmi sehingga sering dimintai pertimbangan dan saran untuk aneka permasalahan, termasuk di dalamnya sudah barang tentu sebagai bagian daripada panitia pemandirian dan pembangunan gereja. Kalau boleh saya katakan dengan jujur dan penuh puji syukur, inilah berkah dalam sisa usia saya, khususnya dalam mewujudkan kehidupan beriman, yakni bersekutu, bersaksi, dan melayani. “Salaman dulu sama Eyang Wito, sayang,� ujar Menuk, putrinya Pak Markus Haryanto itu, kepada anak perempuannya yang berusia empat tahun, ketika mereka berdua menghampiri saya. Tidak lama kemudian melintaslah Agung Budianto, pria muda gagah 30 tahunan, putranya Pak Ngadimin, yang dengan tergopoh-gopoh mendatangi dan menyalami saya dengan sepenuh takzim, “Apa kabar Pakde Wito? Masih seger aja padahal sudah usia tujuh lima. Malu lho saya yang muda ini...� Puji Tuhan! Ini sungguh sebuah karunia besar. Saya dikelilingi orang-orang terkasih yang kadang menganggap

112

Antyo Rentjoko


© gambar tangan: Albrecht Dürer | gambar sepatu: wholesalearmysurplus.com

saya sebagai orangtuanya sendiri. ••••• Kami

sama-sama

tahu kehadiran masingmasing. Kami juga samasama menghindar. Jangan sampai

terjebak

dalam

situasi harus bercakapcakap dan bersalaman. Sebisanya jangan sampai... Jangan. Apakah aku harus mengatakan bahwa semua luka telah sembuh? Kaki kananku pincang, sejak 44 silam. Remuk tulang keringku tidak ada yang dapat menyembuhkan. Kedua kupingku tak dapat mendengar dengan jelas, kecuali aku pakai alat bantu dengar. Rabun di mata kiriku sudah terlalu telat untuk disembuhkan dikarenakan penundaan oleh tiadanya biaya dan pertambahan usia. Film lama dalam diriku itu sudah banyak gores bahkan lapisan kimianya mengelupas, tidak jelas lagi gambarnya maupun suaranya, paling tidak di mata dan telinga orang

Kedai Merahh

113


lain. Memang kadang potongan film itu masih terputar dalam proyektor diriku, melalui proyeksi di alam mimpiku, termasuk saat tidur siang dan terlebih lagi tidur malam. Seiring perjalanan waktu, karena aku mencoba berdamai dengan diri sendiri, gangguan tidur itu pun berkurang. Tapi sejak tahun lalu, tepatnya semenjak aku pindah ke Rawakangkung ini, dan akhirnya menemukan gereja terdekat, setiap kali melihat Wito maka rekaman itu terputar lagi dengan cepat, renteten gambar menjadi jelas kembali, tetapi terputar dalam empat-lima kali kecepatan normal; hanya saja isinya tetap 24 bingkai per detik. Serentetan gambar, suara, dan rasa yang memang singkat namun sungguh menyiksa. Membuat aku tersengal lalu sesak napas. “Si-apa na-ma-mu? Sia-pa?� Pertanyaan yang terus diulang-ulang. Kadang selagi tidur kelelahan pun aku dibangunkan hanya untuk menjawab nama, dan soal lain semisal tempat lahir, nama orang tua, kakek-nenek, pernah sekolah di mana, dan apa saja pekerjaan maupun kegiatanku, untuk dicocokkan dengan kertas doorslag1) berisi tiktikan kabur hasil tembusan karbon rangkap. Diulang-ulang. Dengan bentakan. Sesekali dengan

1)   Dari bahasa Belanda, dibaca "door-slah". Kertas tipis, seperti kertas untuk layangan, lebih tipis daripada kertas HVS 60 gram.

114

Antyo Rentjoko


halus bersahabat, lantas mendadak sontak suasana nyaman itu dikoyak oleh bentakan, pukulan, sundutan rokok, tendangan, bahkan penyetruman. Yang namanya kata “kamu� terucapkan kepada siapa saja tanpa pandang usia baik oleh prajurit maupun atasannya. Pertanyaan yang terus diulang-ulang, tentang banyak hal yang aku tak tahu, sejak urusan partai, revolusi, perjuangan buruh sedunia, dan ah sudahlah. Pokoknya banyak. Bahkan di sana pula aku baru mendengar lagu Internationale versi Belanda yang dinyanyikan penuh keterpaksaan, ketakutan, dan keputusasaan dalam derita, mirip ratapan penuh getar, oleh seorang insinyur yang sebelumnya tak kukenal tapi kami dipertemukan oleh nasib. Di sana itu yang kumaksudkan adalah bekas sekolah Cina yang kemudian menjadi tempat penampungan kami 44 tahun lalu selama empat tahun sebelum dipindah ke tempat lain, lalu dilepaskan tanpa rehabilitasi kecuali bagi yang sudi meminta, tapi biar meminta pun bukan jaminan mudah dan lekas mendapatkannya. Meminta surat sama saja mewajibkan diri untuk melapor dua kali lebih kerap. Di sana bekas ruang kelas menjadi kaleng sarden berjejal manusia; ada yang asma, ada yang TBC2), yang pasti kami semua akhirnya berpanu, berkadas, dan berkudis.

2)   Singkatan lama untuk tuberkulosis yang sekarang disebut TB. Sampai akhir tahun 70-an TB sering dihubungkan dengan nestapa dan derita batin, dan bahkan kemiskinan.

Kedai Merahh

115


Itu belum seberapa. Neraka jahanam ada di bekas ruang perpustakaan. Di sana ada meja besar dari kayu jati berpelitur, seukuran meja pingpong; kap lampu yang bisa digerakkan, dengan bolam 100 Watt lebih, lalu didekatkan ke wajah kami ketika ruang digelapkan. Di sana tersedia bentakan, dan hinaan, dan cacian, dan siksaan, dan ancaman bahwa istri dan anak-anak perempuan kami akan mengalami hal yang mengerikan. Kami juga yang setiap hari mengepel tegel warisan Belanda di ruang perpustakaan dengan menggunakan karbol seperti membersihkan kamar mandi dan WC petugas, terutama tegel-tegel berwarna kuning berhias kembang merah dan hijau yang menjadi garis penghias hamparan lantai. Itulah petak demi petak tegel terang yang menampung ludah dan dahak si pembentak dan penyiksa, air liur dan ingus si teraniaya, serta tetesan darah... Yang lebih dari itu tak perlu aku ceritakan. Tak perlu kupaparkan luka yang bukan ragawi. Pendeknya terlalu berat untukku yang saat itu masih bujangan 20 tahun, sedang senang-senangnya kuliah di tingkat awal baccalaurĂŠat3) sambil magang di bagian pembukuan kantor cabang sebuah perusahaan perkebunan di kota dingin, hanya tahu politik

3)   Tingkat kedua dan ketiga, kalau lulus menjadi sarjana muda (B.A. atau B.Sc.). Tingkat sebelum itu disebut propadeuse. Strata satu (S1) di perguruan tinggi baru bisa berlaku hingga tuntas pada awal 1980-an, sehingga mahasiswa beberapa universitas hingga 1983 masih memiliki ijazah sarjana muda.

116

Antyo Rentjoko


dari koran dan obrolan kawan-kawan. Di bekas sekolah Cina itu ada kepala sekolah baru. Seorang perwira pertama di tataran bawah, tinggi-kurus, usia 30-an, berkumis tipis, sisa kuncungnya rapi tersisir tahan embusan angin, bibirnya tak pernah lepas dari rokok cap Anggur, pakaian dinasnya selalu tersetrika licin, sepatu kulitnya selalu berkilau;

kesemuanya itu membungkus

kebengisan yang menggerinda nyali, bahkan bisa membuang kesadaran si teraniaya bahwa dirinya manusia. Kekejaman

itu

terkadang

diiringi

nyanyian

Diwadjahmu Kulihat Bulan , dengan suara mirip kaleng 4)

pastiles Wybert dibalikkan lalu digesekkan ke lantai, tapi si pelantun dengan penuh aksi merasa setara Sam Saimun, sementara saat yang sama seorang terperiksa hampir pingsan oleh setruman. Perwira itu adalah Wito. Lengkapnya Soewito. Tanda tangannya pada sebuah dokumen di atas meja, ketika sebelah mataku belum lamur, terbaca jelas olehku: "S. Wito" – dalam huruf latin miring, bergaris bawah dengan imbuhan koma dan strip, seperti penutup angka rupiah, setelah huruf "o" . Dia sekarang agak tambun, dengan sisa rambut beberapa helai. Pernah kulihat tanda tangannya dalam selebaran panitia pembangunan gereja. Belum berubah.

4)   Lagu karya Mochtar Embut (1934-1973). Pada masa itu, tahun 1960-an, belum berlaku Ejaan yang Disempurnakan (EyD, Agustus 1972), sehingga penulisan judul lagu pun tak membedakan "di" sebagai awalan maupun sebagai kata depan.

Kedai Merahh

117


••••• Sudah barang tentu saya tahu itu orang, lelaki pincang usia 64 tahun dengan alat bantu dengar yang sebelah matanya agak rabun, yang menjadi bagian dari jemaat ini sejak tahun lalu itu. Daya ingat saya cukuplah bagus, mungkin dikarenakan saya terus menerus mengasahnya dengan berorganisasi, yang mana di dalamnya harus mencatat dan mengingat isi rapat, termasuk kemudian dalam urusan yang berkenaan dengan gereja. Hanya berkat Tuhanlah yang memungkinkan itu semua terjaga sesuai tingkat usia. Pun begitulah ingatan saya terhadap cara berjalannya yang tegak, dagu sedikit terangkat, tapi semua dapat saya runtuhkan selama dalam pembinaan di bekas sekolah Cina itu. Lagak angkuh itu hampir menjadi gaya umumnya tahanan yang berasal dari kaum yang merasa dirinya terpelajar, yang seolah dalam hatinya menyepelekan kami, anak-anak petani, bukan anak priyayi. Sekarang dia sudah renta, tidak lagi tampak sentosa, akan tetapi sisa keangkuhannya masihlah punya jejak. Berusaha tetap tegak biarpun tulang punggung kurang mendukung, dagu diupayakan tetap terangkat kendatipun tulang dan otot leher telah berkurang dayanya. Ini ciri khas mereka, orang-orang kiri itu, dengan maupun tanpa ada

118

Antyo Rentjoko


sangkutan dengan komunisme khususnya PKI. Pernah sekali kami terjebak di dalam situasi di mana kami tanpa sengaja saling menatap. Sekilas, oh tidak, maksudnya saya hanya sekejap saja, namun demikian saya dapat merasakan adanya tatapan angkuhnya yang seakan-akan menegaskan satu hal utama yakni, "Saya tidak bersalah." Maka baiklah saya pun dapat pula mengatakan bahwasanya saya juga tiada bersalah sama sekali. Saya menjalankan tugas daripada korps dan daripada negara, tiada yang lebih luhur daripada itu semua. Oleh karenanya sama sekali tidak ada yang perlu disesalkan karena tugas adalah tugas, dan sebagaimana layaknya seorang prajurit terhormat yang namanya tugas negara itu mulia adanya, demi kehormatan dan martabat bangsa maupun negara. Saya ada ingatan penuh tentang dia punya nama, yaitu R.M. Abimanyu. Kami memanggilnya Cikrak, kadang Raden Mas Cikrak. Keangkuhannya untuk tidak menoleh manakala mendapatkan nama baru yang lebih sesuai dengan keadaannya itulah yang menjadi awal daripada rusaknya daya pendengarannya. Kemudian waktu demi waktu anak buah sayalah yang membuatnya menjadi semangkin parah dikarenakan oleh kebebalannya, dan tentu saja keangkuhannya. Orang koppig5) tak tahu diri sudah pantas menuai akibatnya.

5)   Dari bahasa Belanda, dibaca "kop-pĂŞkh", artinya keras kepala.

Kedai Merahh

119


Sekarang hidup saya untuk Tuhan, tetapi sesungguhnya sejak dulu hidup saya juga untuk Tuhan. Yang saya lakukan adalah demi Kerajaan Surga. Sejak dulu, bahkan dalam keadaan bertugas di manamana tempat terpencil, saya selalu berusaha sedapatdapatnya untuk mengikuti ibadah Minggu di tempat terdekat. Saya yakin Roh Kudus akan senantiasa menyertai saya dalam mengemban tugas negara. Saya tidak ingin kedamaian di hari tua saya sekarang dirongrong oleh ingatan yang berlebihan sekaligus tidak perlu terhadap hari-hari tugas pada sebuah rentang dinas di kurun lampau. ••••• Hari Minggu ini sudah menjemput awal sore. Jemaat mulai berkurang, puas dan lelah oleh perayaan. Aku masih membenahi stan yang menjual mebel dari besi tempa yang berpadu dengan anyaman rotan hasil rakitan bengkelku. Kulihat Wito berkeliling dari stan ke stan yang sedang mengemasi barangnya. Menyalami pemilik dan penjaga stan, mengucapkan terima kasih, dan bersenda gurau. Aku tahu, di depan banyak orang maka dia mau tidak mau akan berlaku serupa di stanku, stan terakhir dalam urutan edar, yang bernaung di bawah pohon kecapi ini. Apalagi Pak Pendeta menyertainya. Begitu pula dua anggota majelis gereja. Tak mungkin dia akan berbalik atau

120

Antyo Rentjoko


berbelok langkah. Semuanya sudah diberesi oleh anak buahku, apalagi aku sudah lelah, maka aku duduk saja di atas kursi seng hijau kebiruan yang disewa panitia, kaki kiriku aku tumpangkan pada kardus berisi tali dan perkakas. Penuh penghayatan aku keluarkan kantong kulit lipat Savinelli, lalu sejumput tembakau Erinmore Balkan Mixture aku susupkan ke mulut pipa Svenborg; kesemuanya itu kiriman rutin dari anak tiriku di Belgia, satu dari tiga anak bawaan istriku, dan mereka semua tetaplah anakku, terlebih karena aku dan Marni, istriku, tak dikaruniai anak. Setelah semuanya siap maka aku nyalakan dan hisap. Kepulan pertama yang nikmat, dan pasti melebihi rokok cap Anggur. Meski tidak kunantikan akhirnya Wito tiba juga di stanku, stan terakhir ini, ketika aku sedang menikmati pipaku sambil melamun. Kudengar Pak Pendeta menyapa, “Waduh enjoy sekali kayaknya Pak Abimanyu ini...” Kuperbaiki dudukku. Kaki kiriku aku turunkan dari kardus. Kusambut uluran salaman Pak Pendeta dan kedua anggota majelis. “Sumangga, silakan tetap lenggah6) saja, Pak Abimanyu...” Pak Adinoto, salah satu anggota majelis, menimpali, “Aromanya itu lho, wahhh... Untung saya sudah berhenti

6)   Dari bahasa Jawa halus, artinya duduk.

Kedai Merahh

121


merokok lima belas tahun lalu...� Adapun Pak Agusman, anggota majelis satunya, berkata, “Saya sih nggak ngerokok, tapi bisa menikmati asap tembakau yang enak. Maklumlah bapak saya dulu kan pendeta model lama, masih merokok...� Aku, Pak Pendeta, dan dua anggota majelis itu tertawa. Canda yang akrab membuat lebih sering tertawa sampai akhirnya kami sama-sama kehabisan bahan dan diam sejenak. Kami, lima orang ini, sama-sama tahu sejak tadi ada satu yang tidak terlibat dalam obrolan, bahkan tidak salaman, dengan posisi berdiri di belakang lainnya, dan ekor mataku tahu dia berusaha menyembunyikan wajah di antara kepala orang lain. Dalam sekian detik diam kehabisan bahan canda itu aku melihat tatapan sekilas Pak Pendeta kepada dua anggota majelis. Segi tiga saling tatap sekilas itu mudah terbaca, yaitu antara heran dan sungkan karena satu orang yang mereka hormati tidak mau melibatkan diri. “Bagaimana kalau kami mohon diri dulu, Pak Abi? Silakan dilanjutkan santainya. Matur nuwun sanget Pak Abi sudah berkenan meramaikan kegiatan perayaan,� ujar Pak Pendeta. Kedua anggota majelis kemudian mengucapkan kalimat berpamitan. Tetapi mereka tidak lekas beranjak. Bahasa

tubuh

mereka

bertiga

jelas

menampakkan

kecanggungan untuk bergerak. Masing-masing dari ketiga

122

Antyo Rentjoko


orang itu mencoba mengatasi kekikukan dengan menatap ke arah yang berbeda. Pak Agusman merogoh ponsel dari celananya, lalu menelepon istrinya, “Gimana Ma, masih belum rampung urusan di konsistori?� Kuraih korek api. Bara dalam pipaku ternyata padam. Pipa kembali kuisap. Asap aku embuskan. Semua masih diam. Wito sejak sebelum Pak Pendeta pamit sudah memutar tubuh, membelakangi kami dengan arah hadap agak ke kiri dari posisiku, kedua tangan di belakang, kepalanya mendongak mengamati pohon rambutan. Berbahagialah manusia, karena tak hanya memiliki bahasa yang terkatakan tetapi juga bahasa yang tak terucapkan. Cukup aku mengangguk pelan, ketiga orang itu perlahan menyingkir, menjauhiku dan Wito yang masih memandangi pohon rambutan sambil membelakangiku. Kuangkat lagi kaki kiriku lalu kuletakan di atas kardus. Pipa kunyalakan lagi. Sore semakin berat. Tapi aku merasa santai sekali, amat nyaman, melebihi hari-hari lain di gereja. Aku merasa telah menggenggam hari, lantas nanti setelah terurai menjadi serbuk maka isi genggaman akan kutaburkan ke atas luka masa lalu. Dalam diam mematungnya, punggung dan tungkai depan-belakang orang di depanku itu masih mengirimkan sinyal kepercayaan diri dan kejumawaan seorang bekas brigadir jenderal. Sisa kewibawaannya masih melapisi badan. Endapan penguasaan dirinya masih memancar.

Kedai Merahh

123


Bongkah kebengisannya yang tersimpan rapi di dalam tak dapat sepenuhnya tertutupi dari mata orang yang tahu. Tapi aku merasa nyaman sekali. Sore yang belum gelap sudah kumasukkan ke dalam pipa. Belum pernah aku mengalami ini. Begitu ringan, begitu imbang. Kucabut pipa dari jepitan bibir dan gigiku. Aku bersenandung, “Di wajahmu...� Hanya sepotong, dua kata kalau mengikuti ejaan sekarang, tak perlu sampai sebait komplet apalagi bait berikutnya.

124

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 15

Well Updated

“Lho nanti dulu. Ini soal apa? Siapa?” tanya saya, di tengah obrolan warung. “Ngabdul. Lagi demen sama istri orang,” jawan Melati, satu dari enam orang di meja. “Terus?” “Terus? Kok aneh nanyanya? Kalo nganggep nggak penting nggak usah nanya, Mas!” “Lho kok aku kayak dimarahin?” “Gini, Mas,” kata Barjiman menenangkan, ”ini ngomongin yang tadi lagi rame di Twitter...” “Ooooo...” “Makanya punya Twitter account tuh dipake, minimal buat monitoring. Itu BB dipake, jangan cuma buat BBM dan ngemail,” sahut Bambang. Kedai Merahh

125


“Ooooo...” saya pun hanya bisa bilang begitu sambil manggut-manggut karena nggak tahu harus bilang apa. Makin lama saya makin bingung. Ketika sejumlah orang bertemu, maka masing-masing berceloteh, minta perhatian, tapi sambil memainkan BlackBerry, iPhone, dan ponsel pintar masing-masing. Apa topik utama mereka? Apa yang tadi dan sekarang sedang ramai di Twitter. Jadi inilah perkembangan zaman. Yang namanya berita dan memenuhi kelayakan verita adalah kabar yang ada di Twitter. Biarpun dilansir oleh media bereputasi, kalau belum disebarkan di Twitter maka belum layak berita. Maksud saya, kalau sebuah berita tidak menarik bagi kawan-kawan di Twitter, maka berita itu belum layak dibaca. Apakah tautan ke halaman web berita yang dikomentari juga dibaca? “Kalo pake mobile ya maleslah, Mas – kecuali pake iPad. Yang penting kita tahu apa isinya. Entar kan ada orang lain yang nyebutin isinya, kayak ringkesan, gitu. Yang penting kita well updated,” kata Tuti, dalam kesempatan di luar meja warung. Baiklah, saya sudah mendapatkan kuliah menarik. Well updated! Ada satu hal yang penting: setiap orang menjadikan dirinya sebagai sumber berita selayaknya pesohor yang urusan remeh pribadinya menarik bagi orang lain. Inilah demokrasi, pikir saya. Informasi menarik tidak bergantung dari media semacam koran, majalah, radio dan

126

Antyo Rentjoko


TV. “Kalo

masalahnya

cuma lagi laper, atau lagi makan di kafe, atau lagi jatuh cinta, itu kan bukan cuma urusan artis. Kita juga bisa. Malah justru yang dari kita-ita sendiri yang

penting

karena

orang lain kan kenal kita,� kata Murni, yang kartu

nama

barunya

bertuliskan “social media specialist�. Memang nangkan

menye-

mendapatkan

kuliah dari kelas besar bernama

kehidupan

nyata. Fakta dan gejala dulu,

baru

kemudian

kita teorikan. Ngawur pun bukan soal. Tapi dari hari ke hari saya makin bingung. Merasa tertinggal oleh hiruk-pikuk, mungkin karena faktor usia. Memakai desktop berlayar 21,5 inci, sambil membiarkan BlackBerry menyala, tidak bisa membuat saya bermultitugas. Bolak-balik ke dua peranti hanya membuat capek.

Kedai Merahh

127


Tapi di sisi lain, mendayagunakan layar 21,5 inci untuk pelbagai urusan juga tidak mungkin karena hambatan bukan ada pada komputer dan internet melainkan saya sendiri. TweetDeck menyala, dan terus mengabarkan kicauan, tapi tak sempat saya baca. Ya, saya kian menua. Saya semakin terseok untuk terlibat, tapi di sisi lain juga semakin tak paham ketika apa yang saya andaikan terlalu pribadi dengan mudah diungkap oleh yang bersangkutan sendiri. Misalnya seorang calon janda usia 45 yang memuat luapan asmaranya dengan seorang pemuda 21. Komentar orang lain yang meledek di Twitter, juga di Facebook, karena updating dilakukan serentak, akan dia tanggapi dengan, “Reseh! Napa sih kalian nggak bisa liat orang lain seneng?� Sebuah bahan kuliah lagi yang menarik, pikir saya. Tapi sebetulnya tidak baru. Kecenderungan pamer ada sejak dulu, sebelum ada internet. Dan adab sosial mengajarkan kita agar jangan mengganggu keriangan hati orang lain. Tapi adab sosial juga mengajarkan kalau tidak mau mendapatkan tanggapan di luar yang diinginkan, ya jangan terlalu gampang mengumumkan diri. Meskipun begitu janganlah menganggap saya benci orang pamer apalagi menganggap saya bukan eksibisionis. Bagi saya kecenderungan pamer adalah bukti bahwa seseorang memiliki kesadaran sosial, masih membutuhkan orang lain untuk mendapatkan peneguhan. Artinya orang macam itu masih normal.

128

Antyo Rentjoko


Itulah lamunan saya selagi duduk di atas kloset tapi koran tak saya baca karena tidak ada kabar maupun iklan menarik. Siang setelah paginya melamun itu, saya mendapatkan penjelasan, padahal si penjelas tidak sedang merasa sebagai dosen. Partinah memberi kuliah, “Gini lho Mas, kalo kita nggak update di Twitter, dan sesekali di Facebook, maka kita nggak dianggap ada. Orang bisa lupa sama kita. Kalo kita nggak dianggap ada, maka ketika ada orang buka lowongan, kita tuh nggak diinget, akibatnya peluang bisnis hilang. Kalo kita nggak dianggep, nggak bakal ada tiket konser gratis, nggak ada kiriman product samples, nggak ada ajakan makan-makan buat nambah relasi.” “Jadi,” katanya lagi, “minimal lima kali sehari kita ngoceh, apa isinya nggak penting, yang penting ocehan kita bisa bikin orang lain ngerespon. Misalnya ngucapin selamat pagi, nanya kabar.” Maka saya pun menjadi paham mengapa Partinah selalu menghadiri acara ini dan itu, tepatnya hanya datang menengok, terutama acara yang dihadiri para pengguna Twitter. Dia harus selalu kelihatan hadir, melalui updating status di Twitter dan to be mentioned oleh orang lain, syukur kalau selalu di-retweet. Apa isi acara tidak penting, apalagi kalau isinya diskusi, lukisan aneh, dan musik keriting. Saya teringat beberapa orang yang isi kicauannya

Kedai Merahh

129


selalu sama setiap kali tidak bisa menghadiri sebuah acara. Intinya menyesal karena tidak bisa bertemu orang-orang yang mereka kenal. Ketemu teman, bukan acaranya maupun tempatnya, itulah yang perlu bahkan utama. Selalu terkabarkan ada bersama kalangannnya. Itulah sosialita yang harus terfoto dalam setiap pesta. Bedanya, media sosial bisa menjadikan setiap orang sebagai sosialita – sepanjang lingkungannya bisa menenggang dan menerima. Yah, saya semakin memahami dunia baru ini. Saya sudah mendapatkan pencerahan. Lantas sorenya saya kembali merasa gagap dalam gelap ketika tiba-tiba empat puluhan orang datang ke kantor. Kata mereka akan ada diskusi tentang klepon setelah magrib nanti. Tempatnya ya di pelataran kantor saya, seperti acara-acara sebelumnya – yang tentu saja tersiarkan secara langsung melalui Twitter oleh para hadirin. Maka saya pun menanya teman saya di kantor, “Lho, acara apa lagi ini? Kapan ngumuminnya? Kapan kita ngebahasnya kok tahu-tahu orang pada datang? Aku juga nggak dapet notice via e-mail.” Pardiman, teman saya, menoleh sebentar kepada saya lantas melanjutkan kesibukannya ber-BlackBerry, “Barusan aku umumkan di Twitter. Rapatnya ya mulai tiga puluh menit lalu di Twitter sama teman-teman yang datang itu. Sampeyan nggak buka Twitter, to?” Akhirnya saya terbiasa dengan itu semua. Juga terbiasa

130

Antyo Rentjoko


jika balasan saya di Twitter tidak ditanggapi oleh banyak orang karena selalu telat, bahkan sampai seminggu, malah bisa lebih. Kicauan saya dianggap basi, tapi orang sungkan mengatakannya, mungkin karena saya tua, sehingga cara paling sopan adalah mendiamkan saya. Akhirnya saya tahu diri. Respon basi saya itu dianggap tak menghargai orang lain, lagi pula merusak public timeline. Ada juga hal lain yang membuat saya dimarahi seseorang. Dia selalu mempersoalkan kenapa saya punya waktu untuk berbalas kicauan di Twitter, padahal jarang, dan selalu punya waktu menanggapi komentar di Facebook, padahal juga ringkas dan tidak setiap saat, tapi tidak menyisihkan waktu untuk membalas SMS-nya yang bisa 40 pesan per hari, ditambah 20 pesan pribadi via Facebook, plus sepuluh missed calls dari dia. Apakah saya sibuk atau tidak, bukan soal baginya. Soal utama adalah mengapa saya tak membuka pintu japri 24 jam sehari untuknya, lantas media sosial dan pengisinya dia kambinghitamkan. Malam ini, seperempat jam sebelum pergantian hari, selagi masih di kantor, saya mendapatkan telepon dari Murni, sang social media specialist dengan 5.000-an pengikut di Twitter, dan di Facebook sudah menambah akun karena akun pertama sudah melewati kuota jumlah teman, “Cepetan datang ke rumahku, Mas.� Ada suara bingung di seberang sana, tapi bukan dalam

Kedai Merahh

131


nada orang sedang terancam. Dalam sepuluh menit bersepeda saya tiba di rumah yang dia kontrak bersama dua teman. Di kamarnya dia tampak kusut, hanya memakai celana pendek dan kaos lusuh, rambutnya berantakan, tampaknya sudah dua hari tidak mandi, dan sudah sehari tidak makan. Laptop masih tercolok listriknya, layarnya hanya menampilkan screensaver berupa slide show foto sneakers. iPhone tergeletak di dekat bantal. BlackBerry masih diganduli kapasitor daya. Saya duduk. Diam. Tidak bertanya. Saya menunggu dia yang bercerita. Setelah menyelesaikan rokoknya, dia bilang, “Aku harus gimana? Capek rasanya!” “Kalo capek ya istirahat, Ndhuk. Makan yang banyak lalu tidur. Atau refreshing ke luar kota.” “Nggak mungkin.” “Kenapa?” “Aku lagi pegang lima clients, semuanya harus aku rawat komunikasinya di Twitter dan Facebook. Emang sih ngelibatin beberapa teman, kayak Agung, Noni, sama Tuti. Tapi aku capek! Emang sih client yang permen cicak itu menyatakan puas, terus client yang Zegerh Juice juga puas, tapi yang rokok Ampuh Lights malah kecewa karena eksposnya kegedean padahal maksudnya nggak boleh terlalu tebal mainnya. Kalo yang Qeren MusicFezt itu cuma

132

Antyo Rentjoko


bilang not bad tapi kontrak diperpanjang...” “Terus?” “Jenuh! Capek! Di sisi lain aku juga harus terus ngetweet supaya nggak dianggep nge-tweet kalo ada maunya. Jadinya aku bisa kehabisan bahan. Kayak ngulang-ngulang. Cuma ngelempar business wisdom, online marketing tips, atau new info juga nggak diklik orang karena mereka bacanya di mobile. Yang terakhir, lima kali aku komen diketawain orang-orang congkak itu. Dibilangnya aku gak paham sejarah, yah nggak eksplisit sih, misalnya soal Orde Baru dan Koes Plus. Padahal aku lagi nyoba naikin mutu supaya tetep diperhatiin, diikutin orang...” “Cuek aja kenapa sih? Orang-orang sok ilmiah itu juga nggak tahu semua hal, kan? Harga cabe aja mereka nggak ngerti, tapi suka ngoceh soal ekonomi. Rileks aja, Ndhuk...” “Tapi waktu aku nanggepin, secara becanda yang udah biasa sih, bahwa aku belum lahir, misalnya soal kejayaan Koes Plus, sama pidato Soeharto soal antikorupsi, eh malah si Anggurbijaxbajix bilang itulah cara berkilah orang yang gak paham sejarah. Aku ngerasa dipermalukan.” “Biarin aja. Nggak semua orang peduli apa yang kamu lontarin, lagian besok udah pada lupa kok, Ndhuk. Aku juga pernah salah waktu nanggepin ini-itu karena aku emang nggak tahu banyak hal. Kalo nggak ditunjukin teman, sampe hari ini aku ngira Keong Racun itu hama sawah, makanya aku sempat penasaran kenapa koran-koran nggak melaporkan.”

Kedai Merahh

133


“Aku capek tapi aku juga pengin tambah beken, dianggep keren, tambah teman, banyak followers, selalu keliatan ceria, punya banyak ide, lucu, nakal, bikin gemes... Aku pengin kayak dulu lagi, bisa sesukaku, tanpa beban, online bukan buat bisnis tapi buat suka-suka, nambah teman...� Saya diam. Lalu membuka Twitter di BlackBerry saya, suatu hal yang sudah lima minggu tak saya lakukan, karena saya memilih desktop. Ternyata public timeline sedang riuh menanggapi kicauan Partinah, yang aku anggap dosen media sosialku dan punya 8.000-an pengikut itu. Khalayak pengicau tersengat oleh lontarannya sepuluh menit lalu, "Twitter sucks! F**k u tweeps! Good bye!!!" Satu lagi orang bermasalah. Kali ini saya updated banget.

134

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 16

Psikologi Uang

Istilah gagah ini tercipta secara spontan. Ternyata dianggap keren oleh beberapa teman saya yang sering berkonsultasi. Istilah itu adalah “psikologi uang�. Kata itu terucapkan ketika saya dimintai pendapat oleh Panjul yang mengeluhkan perilaku istrinya. Intinya, si istri hanya tahu beres sehingga tak peduli bagaimana suaminya mencari uang untuk memenuhi kebutuhan. Kenapa bisa? Selama 15 tahun menikah, Panjul dan Mari, istrinya, memegang rekening masing-masing. Karena gaji Panjul sebagai jurnalis penerbitan besar lebih menggembung (ditambah nyambi mengurusi NGO), padahal istrinya hanya pegawai puskesmas, maka sebagian pengeluaran ditanggung oleh Panjul. Kedai Merahh

135


Jangan ditanya soal pengeluaran rutin, semisal listrik, telepon, air, cicilan mobil, cicilan rumah, asuransi, dan biaya pendidikan kedua anaknya. Semuanya pasti beres karena suami. “Akibatnya,” kata Panjul, “Mari itu nggak peduli nilai uang. Uang bulanan dia cepat habis untuk hal-hal yang nggak jelas. Bolak-balik aku nombok. Malah tombokan tambah gede aja. Sampai akhirnya aku cuma seperti pegang uang saku harianku sendiri.” Begitulah keluh kesah Panjul tiga tahun lalu. Lantas saya mengatakan, “Itulah yang namanya psikologi uang.” “Apa itu, Mas?” “Ya kasus kalian itu. Nah mulai akhir bulan ini, transferlah biaya rutin dan lainnya ke rekening Mari. Biarkan dia yang membayar. Tapi jangan kamu transfer semua biaya. Cukup yang rutin dan mendadak saja. Misalnya biaya perjalanan keluarga, yang mendadak, ke luar kota.” “Kenapa, Mas?” “Sudahlah, kamu coba saja.” Sebulan berikutnya saya mendapatkan laporan dari Panjul, semua tagihan yang uangnya sudah dititipkan ke istrinya ternyata tak dibayarkan. Kata Panjul, “Mari owel1) banget buat ngelepas duit.

1)   Dari bahasa Jawa: artinya ketat sekali dalam memegang barang berharga, bakan cenderng tak mau melepaskan.

136

Antyo Rentjoko


Katanya éman-éman2). Masih

pake

ngeluh

pula kok apa-apa mahal ya?” Saya

hanya

tertawa kecil. Dia pun mengaku bahwa dirinya akhirnya paham kenapa saya

memintanya

mentransfer

uang

secara pas sesuai nilai tagihan. Empat kemudian mampir sawo

Panjul ke

sambil

bulan kantor

membawakan dan

kupasan,

nangka buah

kesukaan saya. Dia bilang, “Mas, ekonomi rumah sudah mulai agak stabil, terkendali. Mari nggak menggampangkan uang. Sudah mulai berhitung ketat.” Saya tersenyum dan memuji istrinya, “Beruntung kamu dapat Mari yang cepat belajar dan mau ngerti.” Sejak kasus tiga tahun lalu itu, istilah ngawur “psikologi uang” makin ber-edar dan cepat menyebar. Teman-teman

2)   Bahasa Jawa: sayang, menyayangi sesuatu, dan menimbulkan sesal jika dilepaskan.

Kedai Merahh

137


saya yang sering berkonsultasi mulai paham maknanya. Yang juga ikut paham, tentu saja, mayoritas dari mereka yang menyerahkan seluruh pendapatannya, termasuk bonus dan uang kaget, kepada istrinya. Mereka semakin paham kenapa istri-istri mereka cenderung ketat mengeluarkan uang. Karena mereka memegang uang. Menjadi kasir besar. Bendahawati negara. Bukan sekadar dititipi uang lewat. Lama kelamaan istilah “psikologi uang” menjadi basi, tak layak diperbincangkan lagi, sampai kemudian pada suatu malam, enam bulan lalu, Hardiman datang dengan bersungut-sungut. “Maaf Mas, psikologi uang itu ternyata ngaco.” “Kok bisa, Har?” “Sudah enam bulan aku terapkan ternyata hasilnya hanya azab.” “Azab knalpot?” “Jangan guyon to, Mas...” “Lha apa?” “Kerjaku semakin keras supaya pendapatan dobel. Si Tuti tetap nggak bisa ngontrol duit. Dulu ketika aku pegang sebagian, sampai gajian bulan berikutnya semua terkendali. Setelah aku nyerahkan ke dia, eh tagihan nggak dibayar, malah buat entah apa yang ndak penting, akibatnya jadi utang. Tabunganku habis buat nutupin utang sama nalangin tagihan yang nunggak.” “Ohhh...”

138

Antyo Rentjoko


“Apanya yang oh? Psikologi uang nggak jalan gitu kok?” “Hmmmm... namanya juga teori, Har. Tepatnya teoriteorian. Lha wong teori beneran saja belum tentu berlaku universal, kecuali untuk fisika dan kimia...” “Pokoké ngrekaos3), Mas. Jadi ginilah kondisiku, punya istri kerja tapi aku cilaka. Saben bulan aku nunggu duit dari kantor dan seminggu sekali nunggu duit dari bojo4) tapi penerimaanku nggak dobel. Teori matematika nggak jalan! Lha buat apa aku kerja? Kéré ndomblé! Clèrèt gombèl!” “Sebelumnya istrimu tahu take home pay-mu nggak, termasuk sabetan kanan-kiri?” “Nggak!” “Kamu tahu pendapatan dia?” “Nggak! Itu privasi masing-masinglah, komitmen sejak pacaran, sejak hidup bareng sebelum nikah.” “Terus...” “Setelah tahu gajiku gara-gara mulut bocor ibu lain di arisan, bojoku satu ini nganggep punya piutang ke aku. Ngerasa selama ini diuriki5). Lalu dia mempertanyakan ke mana uang lainnya, dan sampailah dia pada suatu kesimpulan ngawur bahwa uang itu ngalir ke perempuan

3)   Bahasa Jawa, artinya, "Pokoknya berat" 4)   Bojo bisa berarti suami, bisa juga istri. Dari bahasa Jawa. 5)   Bahasa Jawa, artinya dicurangi

Kedai Merahh

139


lain. Makanya dia sekarang semaunya pakai uangku dengan alasan saatnya nagih hak!” “Gini, Har...” “Halah, pasti njenengan6) mau kasih saran aku buka rekening baru, terus ngasih tahu bagian keuangan supaya ditransfer ke situ. Udah, Mas! Mentok. Bojoku ngadep atasanku, sekantor jadi tahu.” “Mmmm... kamu kan bisa jelaskan ke Tuti ke mana saja uang yang dia curigai itu?” “Sudah, Mas. Uang itu ya untuk pengeluaran orang rumah, dari jalan-jalan, jajan, nyumbang keluarga, ngasih sangu adik-adiknya Tuti kalau datang, ngirim ke orangtuanya kalau disambati7). Aku ini yatim piatu, mau nyumbang diam-diam ke mana coba? Tapi bojoku tetap nggak mau nggak terima alasan itu. Kéré tenan! Pingin rasanya aku manjat BTS dekat rumah buat bunuh diri.” “Jangan cari perhatian dan milih cara nggak praktis kalau mau bunuh diri. Minjem pistolku kan bisa, Har. Lalu tembak sendiri kepalamu itu!” “Habis gimana lagi?” “Itu kan bukti bahwa psikologi uang itu bener. Kalo sejak awal kamu serahin duit ke istri, semuanya, pasrah bongkokan, pasti nggak akan gini jadinya, terlepas dari

6)   Dari bahasa Jawa, lengkapnya "panjenengan", berarti Anda. Ini cara yang sopan untuk menyebut orang kedua. 7)   Dari kata"sambat", artinya mengeluh.

140

Antyo Rentjoko


kamu leluasa atau tidak, Har. Anggap saja itu sisi buruk perkawinan bagi pria.” “Huh! Mumet ndhasku8)! Utang kartu kredit sudah pol. Asuransi macet karena premi telat terus. Bulan depan kalo nggak menuhi kewajiban, orang leasing mau narik mobilku.” “Gini, Har. Mulai besok kamu ajukan resign. Paling lama sebulan sesudah besok kamu sudah merdeka. Jadi pengangguran, tanpa pesangon. Uang rokokmu dan kebutuhan pribadimu, bukan keluarga, aku yang nanggung. Itu penting untuk mendidik istrimu yang aneh. Berani?” Itu enam bulan lalu. Karena tiada kabar kelanjutan maka saya anggap Hardiman, pegawai perpustakaan kantor penerbit majalah itu, sudah memberesi persoalannya. Saban bulang saya mentransfer uang setara biaya hidup bujangan lega dan bahagia sebagaimana mestinya pria muda. Lima menit yang lalu, Tuti, istri Hardiman, datang ke kantor saya. Langsung datang, menyeruak ke ruang kerja saya, padahal tanpa janji, sehingga sekretaris saya panik, nyaris memanggil security. Sorot mata Tuti, wanita keriting gemuk hitam 35 tahun dengan wajah berminyak dan taburan marning bekas jerawat, itu seperti menyemburkan api biru las listrik bahkan dengan percikan menyilaukan. Katanya, “Saya nggak nyangka di balik kekacauan

8)   Dari bahasa Jawa, "ndhas" untuk menyebut kepala tapi kasar. Biasanya diterapkan untuk binatang dan benda.

Kedai Merahh

141


ini adalah njenengan, Mas. Tapi saya nggak mau minta cerai dari Hardiman karena pasti enak di dia sebagai pengangguran. Kasihan anak-anak. Nah, sebagai bujang lapuk merdeka setengah abad yang banyak uang, juragan galeri dan kafe laris, selalu gonta-ganti pacar tanpa mau menikahi, tugas Mas adalah menanggung pengeluaran keluarga saya. Apakah Mas masih nanggung Hardiman atau stop, itu bukan urusan saya. Adil kan?� “Iya, Mas. Adil... Hehehehe!� Saya tengok asal suara yang saya kenal itu. Hardiman berdiri di luar pintu ruang kerja saya, memakai baju putih rapi dan dasi merah tua bergaris hitam, dengan celana halus warna hitam, tapi beralas kaki sandal gunung. Sorot matanya seperti orang lain yang belum saya kenal.

142

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 17

Spiker Dinding

Kantor baru. Sudah semestinya bersuasana baru. Sebelumnya, di kantor lama, rumah kontrakan tiga lantai yang kami pakai sebagai kantor, kami tak leluasa mengatur ruang. Harus mengalah kepada desain bangunan. Di kantor baru, sejak enam bulan lalu, di lantai 18 dari sebuah gedung berlantai 22 ini, saya ingin semuanya berubah. Desainer interior memahami kemauan saya dan tim. Anak-anak kantor juga senang karena ada kebebasan berekspresi, setiap orang boleh menghiasi bilik dan dinding sesukanya sepanjang temannya tidak keberatan.

Mau

dibikin seperti los pasar pun tak soal – tapi, hehehe..., saya yang keberatan. Acil, karyawan termuda, masih 23, sudah kegirangan Kedai Merahh

143


membayangkan cat semprot. Sebagai bekas bomber1), dia ingin kembali ke suasana lama: dunia mural jalanan, tapi yang ini nantinya bukan di ruang publik. Tumi, karyawati usia 28, tamatan sekolah seni rupa yang sempat menjadi dekorator toserba selama tiga tahun, membayangkan instalasi dari manekin yang setiap minggu berganti kemasan. “Terserah kalian saja,” kata saya. Tujuh belas karyawan di biro iklan ini bertepuk tangan semua. Tentang

lalu

lintas

kantor,

mereka

tak

mempermasalahkan meskipun yah... ada juga celetukan, “Nggak enak nih kalo ruang bos di pojok, saben hari bos atau tamu harus ngelewatin kita-kita sepanjang tiga puluh meter, dari resepsionis sampai ruang bos.” “Lho bukannya kita suka keterbukaan dan kolaborasi?” tanya saya. Lalu saya lanjutkan, “Biar saja semua proses kreatif kita menjadi etalase. Lagian biar tamu-tamu kita belajar egaliter, datang maupun pulang harus say hello sama kalian.” Akhirnya hari besar kami itu tiba. Jumat kami tutup, karena hari itu sampai Minggu untuk pindahan. Perusahaan jasa pemindahan yang kami sewa menjalankan tugas dengan baik. Minggu siang semuanya sudah terletakkan seperti rencana set. Bahkan tak sampai

1)   Sebutan untuk pembuat grafiti dan mural yang menggunakan cat semprot.

144

Antyo Rentjoko


Š sumber gambar asli tidak diketahui

sore, celengan lempung berupa ayam jago, milik Benny, art director, sudah nangkring di meja baru dengan penuh wibawa. Hari Senin sangat ceria. Kiriman bunga untuk meja berdatangan, isinya ucapan selamat. Anak-anak menikmatinya. Makan siang menjadi satu dengan selamatan kantor baru. Hari Selasa keceriaan itu berkurang. Selepas makan siang, milis kantor dipadati protes. Saya tetap diam, meminta mereka menahan diri sampai Jumat. Saya katakan lama-lama akan terbiasa. Tapi hari Rabu pukul sepuluh mereka, termasuk beberapa anak yang mestinya lagi tugas keluar buat urusan klien, memadati ruang saya. Masing-masing dengan

Kedai Merahh

145


headphones atau earphones-nya. “Bos, nggak bisa dong kalo otoriter gini. Kita jadi nggak happy. Kenapa nggak diganti semuanya pake lagu mars aja? Atau tambahi CCTV aja sekalian?� Baiklah saya jelasan kepada Anda, para pembaca. Ada satu hal yang ketika kami akan pindah tidak saya beritahukan kepada mereka. Saya menginstalasi sistem audio, bukan di langit-langit melainkan di dalam partisi. Ada 40 spiker kecil khusus yang saya tanam dalam partisi ruang. Sekali lagi: di dalam partisi, bukan spiker yang ditanam di dinding dengan corong menghadap keluar. Spiker ini tidak kelihatan. Ada di dalam rongga dinding, kecuali di ruang saya. Spiker ini seukuran tiga per empat kepalan saya, beratnya hampir satu kilogram. Bikinan Taiwan dengan teknologi Jerman. Memang dirancang untuk ditaruh di tempat khusus. Misalkan ditaruh di ujung meja panjang, tanpa volume pol, maka orang di ujung lain bisa merasakan getaran auditifnya dengan jelas. Ketika deretan spiker saya tanam dalam partisi berbahan gypsum, tanpa diisi glass wool, maka aliran suaranya akan menggenangi ruang. Ini berbeda dari spiker khusus untuk langit-langit yang suaranya terasa sebagai tumpahan dari atas. Posisi spiker dinding ini saya letakkan setinggi kepala, maksud saya sih setinggi telinga orang duduk. Sama seperti staging untuk spiker stereo model rak buku pada umumnya:

146

Antyo Rentjoko


tinggi tweeter setara kuping orang dewasa duduk. Jadi meskipun volume yang dipompakan oleh power amplifer 300 Watt (ada di ruang saya) tanpa subwoofer itu hanya ambient, bahkan empat puluh persen dari batas normal, tapi misalkan terhalang cubicle pun getarannya terasa. Tidak bising tapi terdengar. Saya ngawur saja, tidak berkonsultasi dengan audiophile manapun. Saya malas menanya teman-teman di What Hi-Fi Indonesia. Anak-anak kantor merasa terjajah oleh selera dan pilihan musik sayayang gado-gado: Pat Metheny, Trilok Gurtu, MGMT, Radiohead, Spock's Beard, Didi Kempot, bahkan lagu anak-anak waktu Sherina dan Agnes Monica masih bocah. Saya

merindukan

masa-masa

indah

tapi

juga

mengesalkan itu. Waktu saya masih SD di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, saya harus jalan kaki empat kilometer, tapi kalau memilih potong kompas melalui kampung demi kampung, maka jaraknya tinggal dua setengah kilometer. Saya tak punya arloji. Melewati rumah demi rumah membuat saya sadar waktu. Kenapa? Radio yang diputar masing-masing rumah adalah stasiun yang itu-itu saja. Kalau bukan Radio Kartika YDA7C5 (milik Kodim) ya Radio Chusus Pemerintah Daerah YDA7C2. Isinya hampir sama. Pukul 06.30 merelai RRI Semarang, dengan station ID berupa sepenggal lagu

Kedai Merahh

147


Gambang

Semarang2),

instrumental

pada

“Empat

penari...” sehingga anak-anak memelesetkannya sebagai lagu “setengah pitu” (=setengah tujuh) dengan nada yang sama. Pada pukul 07.00 semua stasiun merelai RRI Jakarta, dengan petikan lagu Rayuan Pulau Kelapa, dengan insrumental pada refrain, “Melambai lambai, nyiur di pantai, berbisik bisik...” lalu fade out dengan dibarengi suara tutu-tut-tut modulasi radio seperti timer. Mungkin aneh, sekolah saya masuk pukul 07.30, bukan pukul 07.00, sehingga ketika Warta Berita berkumandang saya masih di jalan. Bahkan saya ingat lagu untuk Varia Nusantara, dengan suara kemeresek tebal piringan hitam yang tak saya ketahui judul lagunya selain kira-kira begini, “mi... fa... sol-siiiii... do-si-sol-fa-mi...” Sekecil itu, kelas tiga sampai kelas enam SD, 1970-1973, saya merasakan sebuah derita karena harus mendengarkan apa yang orang lain mainkan, tepatnya putarkan. Kebosanan itu membuat saya bisa menulikan diri. Tapi sering gagal juga. Menyusuri lorong yang diapit pohon pace (dengan buah berbusa dan mblenyèk di atas tanah, saat itu pace belum memiliki nilai komersial) dan pohon lamtoro, perjalanan saya diiringi oleh siaran sialan – selain sesekali

2)   Beberapa sumber menyebutkan lagu ini diciptakan oleh Oei Yok Siang, salah satu penggerak gambang Semarang pada 1930-an. Tentang judul, ada yang mengatakan tajuk lagu ini adalah Empat Penari, bukan Gambang Semarang.

148

Antyo Rentjoko


ditladhung babon3) yang merasa anak-anaknya terganggu oleh langkah saya, dan beberapa kali nyaris disosor angsa. Siaran sialan. Sumbernya sama. Isinya juga sama. Hanya ada tiga rumah, berlainan kampung, jaraknya berjauhan, yang menyetel radio berbeda. Yang pertama rumah kayu berlantai semen tanpa halaman dari sebuah keluarga

Ambon,

di

Margosari.

Sekeluarga

senang

bernyanyi dengan iringan gitar di teras (papinya selalu memainkan ukulele). Saya tak tahu pekerjaan si Papi, tapi putra-putrinya yang remaja tampaknya tak bersekolah karena selalu di rumah. Keluarga ini sering menyetel radio luar negeri, tapi saya tak tahu bahasa apa. Mungkin siaran Hilversum atau Bonn. Yang kedua, di Leyongan. Ada sebuah rumah kayu yang terawat, dengan lantai ubin gaya Belanda, jendela kacanya bertirai renda, punya dua anak perempuan cantik, kirakira empat dan enam tahun di atas saya, selalu berangkat pagi, dilepas oleh ibunya yang berkebaya di pintu pagar. Penampilan ibu itu meskipun sederhana menyiratkan sosok priyayi. Begitu pula sang ayah, kalau pagi masih berpiyama, membaca buku (kenapa bukan koran, ya?), dan ya itu tadi: menyetel radio asing yang bersiaran dalam bahasa Indonesia. Sempat saya dengar suara penyiarnya, “...masih bersama Radio Australia.� Yang ketiga di Jangkungan, rumah tanpa halaman,

3)   Bahasa Jawa: tladhung adalah serangan berupa patukan ayam terhadap makhluk lain. Babon adalah induk ayam.

Kedai Merahh

149


milik seorang bapak usia 45-an yang selalu bersarung batik dan berkaos oblong putih. Setiap pagi dia hanya berjemur di tepi gang depan rumah sambil mendengarkan radio transistror, mungkin Ralin4), warna abu-abu yang diletakkan di tangga teras. Saya tidak tahu siaran asing apa yang dia dengar. Yang saya tahu putri sulungnya adalah guru TK. Suara radio mereka timbul tenggelam. Namun saya mendapati sebuah gairah semasa: setiap orang senang dengan radionya. Bukan hanya setiap orang tetapi juga setiap keluarga. Radio menjadi jendela informasi, termasuk informasi tentang lagu baru, yang hadir di rumah sendiri, bukan rumah tetangga. Ernie Djohan masuk ke rumah-rumah. Onny Sujono dan Tuty Subardjo juga. Tapi S. Warno dengan Sapu Tangan Merah Djambu tetaplah kampiun. Begitu juga Tjondro Ireng yang meratapi nasib karena Tanpa Titel. Masuknya radio transistor menghadirkan pemandangan serupa di perkampungan: pagi hari saya lihat sejumlah rumah menjemur baterai kuning,5) dengan

4)   Salah satu merek lokal untuk radio transistor rakitan Indonesia yang laris pada awal Orde Baru. Radio penerima ini dirakit dengan onderdil buatan Philips, Belanda. Selain itu ada pula pesawat radio Tjawang, rakitan PT Transistor Radio Mfg. Co. (M. Thayeb Gobel), sejak 1950-an. Transistor membuat pemilikan radio kian meluas karena harganya menjadi lebih terjangkau bila dibandingkan radio tabung. Sebelum ada radio transistor, pemilik radio tabung di sebuah kampung harus merelakan pesawatnya menjadi kebutuhan publik (tetangga), baik untuk mendegarkan berita maupun penanda waktu karena tak setiap keluarga memiliki jam. 5)   Batu baterai dari kelas termurah, apapun mereknya. Di atas itu ada yang

150

Antyo Rentjoko


harapan setrum akan dipulihkan, untuk mendorong biduan dan biduanita berdendang. Tapi ada yang lebih penting: sekecil itu oleh lingkungan saya sudah diracuni ilmu intelijen kelas kacang bawang dalam mengidentifikasi orang. Kalau ada orang terpelajar, bisa bahasa asing dan senang membaca, apalagi suka berdiskusi, bukan dalam usia pensiun tapi sudah menganggur, maka besar kemungkinan mereka itu “orang kiri” yang berarti “tersangkut PKI”. Maka otak bocah saya pun terpengaruh, melabeli mereka sebagai PKI. Perjalanan bersama siaran radio sepanjang dua seperempat kilometer sangat membekas dalam diri saya. Memang tak semuanya berisi berita. Tapi siaran beritalah yang sangat menguasai ingatan saya, termasuk suara penyiarnya yang saya duga masuk ke kolong meja agar suaranya berat dan gemlenggeng6) berwibawa, padahal isi beritanya tidak saya ingat. Kalau tidak bergaya kolong meja, cara mereka membaca siaran seperti berpidato di podium alun-alun. Mereka, para penyiar itu, seperti bus dan truk: siapa penumpangnya, apa muatannya, tidak saya ketahui, tidak saya ingat, tapi suara kendaraannya saya kenali. Tapi mereka itu, kadangkala, mengilustrasi mimpi

berwarna hijau, biru, merah, dan seterusnya. Baterai hitam (heavy duty) baru muncul akhir 70-an. 6)   Bahasa Jawa: suara bulat dan penuh tapi empuk, seperti bunyi spiker yang dihadapkan ke dalam mulut gentong

Kedai Merahh

151


saya hingga dewasa. Stasiun radio ibarat guru tidak menyenangkan yang harus saya jumpai setiap hari. Ketika saya duduk di SMP dan SMA, kenangan aneh atau buruk dengan radio itu tak begitu terasa, karena rumah-rumah yang saya lewati sudah memiliki pemutar kaset – mono, belum stereo. Saya hanya ingat, Koes Plus adalah favorit semua rumah. Ketika saya SMA, Rafika Duri, Betharia Sonata dan Iis Sugianto mendekam dalam kaset beberapa rumah dan setiap pagi suara mereka dilepaskan. Hanya satu-dua rumah yang memiara Chrisye. Kemudian ketika saya kuliah di Yogyakarta, sekitar 100 kilometer dari kota asal saya, pengalaman mirip radio terulang. Dari TVRI. Hanya ada satu stasiun negara, dengan beberapa cabang di beberapa deerah. Malam pukul sembilan ke atas, semuanya TVRI. Semuanya Golkar. Ketika saya menyusur lorong demi lorong, dalam perjalanan ke rumah sepulang dari nonton bioskop, dolan, atau pameran atau konser, suara yang keluar dari setiap rumah sama. Kalau belum lama dari pukul sembilan malam ya Dunia dalam Berita. Kemudian setelah itu, pada hari tertentu, ya Kamera Ria dan Aneka Ria Safari. Dari setiap rumah. Oh ya, tentu ditambahi Thomas Cup dan All England – kalau lagi ada. Masa-masa itu saya jadi membenci televisi tapi kadang merindukannya ketika saya terlalu lama menyepi ke sebuah rumah di desa yang belum berlistrik dan tidak bertelevisi. Kerinduan bertemu apa yang saya benci adalah alasan

152

Antyo Rentjoko


untuk pamit kepada Sibu, sang pemilik rumah di pinggir sawah, sekitar 45 kilometer dari rumah saya. Pesawat TV multikanal, tapi hanya bisa diset untuk menampung siaran TVRI pusat maupun daerah, serasa menjadi pengejek ketidakberdayaan rakyat. Seolah leluasa memilih saluran tapi hasilnya sama. Sesak rasanya hidup tanpa pilihan dan digiring oleh sebuah corong besar milik penguasa. Lebih sesak lagi, tak sampai seminggu setelah acara musik di tertayang TVRI (misalnya Aneka Ria Safari dan Selecta Pop) maka bus SoloYogya memutar play list yang sama, dengan salah satu hit teratas lagu entah apa dari Endang S. Taurina, Dian Pisesha, atau Hedi Diana. Kaset diputar secara auto reverse. Awak bus menjadi diktator selama hampir dua jam perjalanan. TVRI sangat membosankan. Seringkali teks yang dibacakan selama Dunia dalam Berita, terutama jika menyangkut berita luar negeri,

sama dengan koran.

Mungkin karena sumbernya sama, dari Antara yang menjadi penghubung kantor berita luar negeri. Cara bertutur untuk media tulis dipindahkan begitu saja ke dalam tuturan lisan. Jika ditambah siaran langsung acara kepresidenan, maka semakin lengkaplah kebosanan kita – sama bosannya dengan ketika Anda membaca tururan ini. Bertele-tele, tak menukik ke pokok persoalan, bahkan klise. Ke mana arah cerita ini? Pada 1999, saya membaca majalah D&R yang salah satu edisinya mengikuti Seno Gumira Ajidarma dalam

Kedai Merahh

153


suatu hari. Di sana diceritakan, ketika mengajar penulisan kreatif di IKJ, Cikini, Jakarta, Seno memutar Wynton Marsallis. Mahasiswa protes, merasa tertekan oleh musik yang tak cocok. Jawaban Seno, kurang lebih, “Pram di Pulau Buru menerima tekanan yang jauh lebih besar tapi itu tak menindas daya ciptanya.� Latar belakang itulah yang menjadi alasan saya memasang spiker dinding di kantor. Celakanya saya tidak mampu memaparkan semua itu, selain jawaban ringkas, “Ini adalah cara supaya kalian tetap kreatif, seberat apapun tekanan yang kalian terima. Dalam beberapa hal, otoriter itu perlu.� MP3 dari desktop dan iPod hanya boleh didengarkan dengan headphones atau earphones. Hanya peralatan audio-visual di ruang rapat yang boleh merdeka, itu pun saat presentasi. Di luar jadwal harus wireless headphone. Saya yakin kebijakan ini tepat. Meneruskan dan melembagakan apa yang saya lakukan di kantor lama: suara keras dari pemutar musik hanya boleh ada dari audio di ruang saya. Pekan berikutnya setelah penjelasan itu sebelas anak mengajukan permohonan diri dan semuanya sudah mendapat calon tempat baru. Untung saya mendapatkan pengganti. Spiker dinding itu tetap tertanam di sana, tapi tidak saya bunyikan lagi sejak sebulan terakhir. Selama masa jaya spiker, satu anak (cewek) saya keluarkan tanpa ampun karena membobol gypsum dan memotong kabel. 154

Antyo Rentjoko


K A R A NGA N 18

Nama-nama Sialan

Nama-nama. Bukan hanya nama sebenarnya. Karena jika menyangkut nama maka satu nama bisa mencakup banyak orang. Seperti kita membuka buku telepon, ada banyak Ali di dalamnya. Maka yang kumaksudkan adalah sejumlah pribadi yang tentu saja bernama. Mereka itulah yang menjadi paku berkarat dalam hatiku. Mereka membuatku tak dapat tidur nyenyak karena membuat Abang tertarik, bahkan terpikat, malah tampaknya ada yang membuat hati Abang senantiasa menjadi pot subur yang setiap hari diisi bunga mekar. Kalau harus kukatakan dengan jujur maka aku sangat tidak menyukai mereka, bahkan sampai membencinya. Aku tak pernah menyebut nama mereka di depan Abang. Aku Kedai Merahh

155


© sumber gambar asli tidak diketahui

selalu menggunakan sebutan pengganti. Puas rasanya bisa mengecilkan orang lain sambil seolah-olah tak mengakui jati diri mereka. Apakah kalian ingin tahu siapa mereka? Maaf kalau yang kutuliskan kasar. Aku sudah mencoba mengeditnya berulangkali, menghaluskannya, tetapi tetap saja gagal. Bahkan sepuluh nama sudah aku coret, padahal masing-masing adalah binatang pengganggu. Maka kupilih beberapa saja yang utama. 1. Astuti Wiraguna Aku mengartikan Astuti sebagai singkatan “Asli Tukang Tipu”. Untuk ringkasnya, apalagi di depan Abang, aku menyebutnya “penipu” – dengan “p” kecil kalau ditulis. Bukan urusanku apakah dia pernah menipu, tapi aku puas menamai dia begitu. Kesalahan terbesar dia adalah membuat Abang 156

Antyo Rentjoko


mencium kedua pipinya selayaknya sahabat padahal aku yakin Abang baru bertemu langsung dua kali – ketiga di depanku. Selama ini mereka hanya bersua di blogosfer. Dasar Abang playboy! Tapi ada sepersekian detik pemandangan yang menyiksaku. Ketika wajah Abang mendekat, penipu itu langsung memiringkan wajah, memasang posisi pipi kiri sebagai tempat pendaratan kecupan. Kalau dia wanita baik-baik mestinya punya waktu untuk menghindar, atau minimal jangan sampai terkecup tapi hanya gesekan pelan pipi. Dasar gatel! Ih, perempuan tak tahu malu! Murahan! Tidak cantik, tapi tubuhnya bagus, payudaranya membusung karena pad, suka pakai baju berbelah rendah, karena dia tahu lelaki akan tertarik. 2. Gracia Sukoco Aku menyebutnya, Miss Kampret. Aku tahu Abang menyukainya, menyayanginya, mengaguminya, memujinya Kedai Merahh

157


sejak sepuluh tahun silam. Abang katakan si kampret ini cantik, padahal menurutku tidak cantik. Hanya kebetulan kulitnya terang kerena cetakan etnis. Abang katakan si kampret ini seksi, padahal menurutku tidak, apalagi sekarang setelah usianya menapaki kepala empat. Memang tubuhnya proporsional, dan kencang, tapi dari foto-foto dia media aku menganggapnya standar. Memang sih, harus akui wajahnya memancarkan keyakinan diri yang tinggi. Dia desainer interior dan aku yakin dia menapaki sukses dengan memanfaatkan pesona fisik meskipun aku tak menganggapnya memesona. Tetapi lelaki mana yang nggak doyan sama perempuan yang suka memamerkan tubuh? 3. Clara Tjahjadi Singkat saja, aku menyebutnya lonte. Maaf kalau kasar, tapi aku puas bisa menjuluki begitu. Kesalahan utama dia adalah menyusup ke hati Abang selama dua puluh tahun lebih, dan mendekam terus di sana. Abang bilang belum pernah pacaran, kali lain bilang nggak ada hubungan khusus, terus bilang hanya sayang selayaknya kakak terhadap adik (apa? sayang? maksudnya syahwat?), tapi naluriku mengatakan mereka dulu sering tidur bareng, mempersatukan fantasi jalang masingmasing.

158

Antyo Rentjoko


Dia tidak cantik tapi Abang bilang cantik. Dia tidak seksi tapi Abang bilang seksi. Dia biasa saja tapi Abang katakan smart. Perempuan tanpa kelebihan istimewa tapi bisa membuat lelaki terpikat berarti punya keunggulan di ranjang bahkan menjadikannya sebagai jalan kehidupan. Maka layak disebut sebagai, maaf, lonte. Aku tak sudi memaparkan info lain yang aku yakin valid. 4. Rina Dorodjatun Aku menyebutnya Miss Piggy karena avatarnya di Twitter bergambar celengan. Di Facebook juga gonta-ganti profil dengan gambar celengan. Dia suka bergenit-genit, misalnya di Facebook menyebut Abangku dengan kata “sayang”, lalu ditambahi embel-embel menjijikkan seperi “peluk-peluk”, “pengin nyender”, dan “kangen”. Dasar babi betina! Padahal dia sudah bersuami dan punya anak remaja. Hih! Jijay! Terhadap pria matang lain dia juga begitu. Dasar! 5. Happy Hanya dua bulan kubenci setengah mati karena sering disebut ketika aku chatting di Y!M dan ngobrol via telepon dengan Abang. Ternyata dia lelaki, nama lengkapnya Happy Sulistiarto. Tapi namanya kadung aku ganti Miss Veggie – bukan karena dia vegetarian tapi aku mengikuti cara majalah sini menyebut vagina. Dia manajer IT di kantor Abang.

Kedai Merahh

159


6. Ambar Selama sebulan dia kubenci, sehingga kunamai Ambyar. Ternyata seperti halnya Happy, dia itu lelaki, komandan satpam di kantor Abang. Dulu kalau aku telepon atau di aku tanya di Y!M, malam-malam di kantor sama siapa, Abang menjawab “Sama si Ambar.” Ternyata Ambar Sulaksono. Dulu sempat aku ubah jadi Ambyar Sontoloyo. Nama-nama

lain

masih

ada,

tapi

ah...

malas

menuliskannya. Kasus Happy dan Ambar aku contohkan sebagai bukti bahwa Abangku tersayang tidak bisa dipercaya, senang merahasiakan informasi, membiarkan hatiku terpanggang, sampai aku meradang, dan ujungujungnya aku jadi tampak bodoh. Jadi bukan karena aku mengada-ada. Salah satu hal yang paling tidak kusukai dari Abang adalah ucapannya ketika hatiku tertusuk dan terbakar seperti sate kiloan: “Aku aja nggak mempermasalahkan siapa teman priamu tapi kenapa kamu ngerecokin aku? Aku juga nggak pengin mengaturmu harus bergaul dengan siapa, tapi kenapa kamu jadi seperti ibuku?” Aku membenci kata-kata itu karena tidak bisa menjawabnya selain, “Biarin!” Dasar lelaki! Maunya setiap sikap dan tindakan memiliki alasan yang dipaparkan secara masuk akal, bukan sekadar “Biarin!” 160

Antyo Rentjoko


Huh, kenapa aku belum lega ya, padahal sudah menumpahkan ini semua? Aku sudah memasukkan dua kipas angin bertenaga besar tapi tetap saja rongga dada dan perutku panas. Sisa arang pembakar sate sulit padam baranya. Malah sekarang aku mulas dan gatal-gatal. Gara-gara mereka yang keparat terkutuk itu. Pasti sebentar lagi jerawatku nongol. Orang yang tak tahu persoalan dan membaca ini pasti menganggap aku kolokan, tidak rasional. Padahal, ohhh... bagaimana mengatakannya... persoalannya nggak sesimpel itu. Ini soal hati. Hati. Ngerti nggak sih? Mungkin inilah kehidupan, banyak orang tak dapat bersikap adil terhadap perasaan orang lain karena menganggap hal yang rumit dapat disederhanakan. Baiklah, kalau masalahnya adalah penyederhanaan persoalan, maka yang aku sampaikan tadi adalah penyederhanaan. Tapi tetap saja menyakitkan, karena apa yang aku sederhanakan malah membuat aku tampak bodoh, tidak dewasa, bahkan ganjil, dan bisa juga mengerikan. Kalian tahu nggak sih, ini soal hati! Bukan soal otak! Sekali lagi: ha-ti! Uh, bagaimana membuat paparan ini lebih jernih, bukan hanya sebagai nampan berisi kue bantat panas yang isinya bara? Aku sudah lelah, tercemari oleh racun yang sengaja diteteskan Abang ke dalam hatiku. Apapun yang aku nyatakan menjadi konyol, mengundang cemooh, bahkan

Kedai Merahh

161


menjadi bahan tertawaan. Kalau sudah begini kadang aku ingin punya senapan mesin, memberondongkan peluru panas dan tajam ke tubuh perempuan-perempuan sialan itu. Perempuan-perempuan terkutuk itu, tak hanya sebatas mereka yang namanya sudah aku sebutkan – pengecualian berlaku untuk Happy dan Ambar. Tapi, tentu, aku takkan menembuskan pelor ke tubuh Abang karena aku membutuhkannya. Lagian terlalu enak bagi Abang kalau dia mati duluan, lantas di neraka reuni sama perempuan-perempuan gatal yang kepanasan dan kegerahan lalu buka baju itu. Apa lagi yang bisa kukatakan, karena aku sudah blakblakan? Izinkan aku mengambil napas panjang dulu, minum seteguk air putih – ini juga meniru cara Abang. Uh lumayan lega, nggak sesak napas lagi. Aku mulai tenang. Kubuka jendela saja, supaya angin malam menyusup. Sejuk. Menyegarkan. Keringat di kulit kepala dan tengkuk mulai terembus. Tiba-tiba aku pengin ngerokok, meniru the ganjens yang gatal itu ketika pada menenangkan diri. Tapi sudah terlalu malam. Masa ke Circle K seberang rumah cuma pakai daster dan kardigan, lantas lampu mobil akan menembus dasterku dan payudaraku yang nobra? Uh, enak aja! Emang aku perempuan ganjen gatal murahan kayak mereka? Lagian aku kan bukan perokok. Hanya karena kebaikan

162

Antyo Rentjoko


hatikulah maka Abang bisa berkepul-kepul di depanku. Oh ya, masih ada yang akan kuceritakan tapi tidak meledak-ledak, toh aku sudah tenang sekarang. Akan kujelaskan seringan tisu melayang yang diterbangkan kipas angin. Maka kuakui saja, ada satu perempuan lain yang aku tak punya alasan apapun untuk tidak menyukainya apalagi membencinya. Dia pun bukan ancaman bagiku meski sebetulnya bisa digolongkan sebagai penghambat. Tak perlu kusebutkan namanya maupun caraku menyebutnya. Dia adalah istri Abang, ibu dari dua putra dan dua putri. Puas?

Kedai Merahh

163


164

Antyo Rentjoko


TENTANG PENULIS

Saya tidak tahu bagian ini harus diisi apa seperti umumnya buku. Jadi lebih baik Anda cari saja di Google "antyo rentjoko". Bukan karena saya merasa penting atau tenar, tapi sekarang nama orang yang tidak berurusan dengan internet pun bisa terendus oleh mesin pencari. Semoga di sana Anda mendapatkan temuan yang memuaskan Anda maupun saya. Lho? Bisa saja temuan Anda malah tidak saya sukai. :) flavors.me/antyo

Kedai Merahh

165


Buku yang mengesalkan. Padahal saya belum membacanya, dan tidak akan. Ndoro Kangkung jurnalis, ahli akupunktur, Tangerang

Apaan sih? Idih! SimbokĂŠ TholĂŠ pengusaha dendeng & abon, Cileungsi, Bogor

Endorsement ini pasti dummy tapi dibiarkan. Slamet Katro tukang jilid fofokopian, Gandaria, Jakarta

Daripada sampul belakang ini kosong maka saya isi saja. Sampul ini saya kerjakan ketika saya menyelesaikan karangan berjudul Kedai Merahh. Kenapa judulnya itu, selain buat gagah-gagahan juga karena judul berikutnya belum ada – maklumlah naskahnya belum saya tulis. Memang pemuatan karangan di sini diurutkan sesuai kerampungan. Saya malas kalau harus menata ulang halaman demi keselarasan kompilasi. 166

Antyo Rentjoko


"Kedai Merahh: Kumpulan Karangan"