Issuu on Google+

Unair Berakselerasi Menuju Excellence

Edisi 57 |Tahun VI |Juni 2010

Pelantikan Wakil Rektor Universitas Airlangga

hal.

04

Sehatkah Anak Muda Indonesia?

hal.

13

Paper Toys Kesehatan Gigi dan Mulut

Excellence with Morality

Dari kiri: Wakil Rektor I, Prof. Dr. A. Syahrani, Apt., MS, Wakil Rektor II,Dr. Moh. Nasih, MT., Ak. , dan Wakil Rektor III, Prof. Soetjipto, dr. MS., Ph.D saat mengucapkan sumpah jabatan pada acara pelantikan (25/6).

REKTOR Universitas Airlangga melantik Wakil Rektor I, II dan III Periode 2010 – 2015 hari ini (Jum’at, 26/6). Mereka adalah Prof. Dr. A. Syahrani, Apt., MS sebagaiWakil Rektor I, Dr. Moh. Nasih, MT., Ak. sebagai Wakil Rektor II dan Prof. Soetjipto, dr. MS., Ph.D sebagai Wakil Rektor III. Acara yang diadakan di Ruang Garuda Mukti Lantai V Kantor Manajemen Universitas Airlangga itu dihadiri oleh pimpinan dan anggota Majelis Wali Amanat, pimpinan dan anggota Senat Akademik, guru besar, pimpinan universitas, fakultas, program pascasarjana, badan, satuan dan lembaga, pimpinan dan anggota Dharma Wanita di lingkungan universitas. Dalam sambutannya, Rektor Universitas Airlangga, Prof. Dr. H. Fasich, Apt,, menyatakan bahwa pelantikan wakil rektor Periode 20102015 adalah tahapan penting bagi rektor untuk dapat melangkah melanjutkan pekerjaan yang sudah menanti. Dikatakannya, bahwa melalui program kerja yang tersusun sejak tahun 2007, sivitas akademika telah melakukan penataan, pengendalian dan pengembangan sistem manajemen yang bermuara pada peningkatan kualitas proses yang menjadi prasyarat menuju terwujudnya universitas unggulan. Bukanlah sesuatu yang mudah, namun melalui berbagai indikator yang tersedia, kerja keras itu telah menghasilkan capaian yang membanggakan. Salah satu capaian yang patut disyukuri adalah pengakuan keberadaan Universitas Airlangga oleh dunia internasional dalam bentuk kenaikan peringkat. Pada saat ini Universitas Ailangga menduduki peringkat ke-109 dari 200 perguruan tinggi se-Asia, berdasarkan penilaian Bersambung ke hal. 14

16

www.unair.ac.id

Pelantikan Rektor Universitas Airlangga

Yit-Warta Unair Bes-Warta Unair

hal.

Prof. Dr. H. Fasich, Apt., (kiri), Ketua Majelis Wali Amanat Sudi Silalahi, SH, dan Ketua Senat Akademik, Prof. Sam Soeharto, dr., SpMK pada acara pelantikan Rektor Universitas Airlangga periode 2010 – 2015.

MOMEN bersejarah kembali terjadi di Kampus Universitas Airlangga. Hari Jumat (11/6) Prof. Dr. H. Fasich, Apt., dilantik secara resmi sebagai Rektor Universitas Airlangga periode 2010 – 2015. Bertempat di Ruang Garuda Mukti Lantai

V Kantor Manajemen Universitas Airlangga, prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Sudi Silalahi, SH, selaku Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Airlangga. Pelantikan Rektor pertama di era BHMN itu diawali dengan pembacaan

ketetapan MWA dan pengambilan sumpah jabatan. Kemudian dilanjutkan dengan pelantikan resmi dan penandatangan dokumen, hingga pemasangan kalung kebesaran Rektor. Pemasangan kalung tersebut secara simbolik turut menandai dipercayakannya jabatan Rektor Universitas Airlangga Badan Hukum Milik Negara (BHMN) kepada Prof. Fasich. Prof. Fasich, juga merupakan Rektor UNAIR yang pertama kali dilantik oleh Ketua MWA, sesuai dengan ketetapan Peraturan Pemerintah No. 30 tahun 2006, tentang penetapan Universitas Airlangga sebagai Badan Hukum Milik Negara, berikut Peraturan Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga tentang Anggaran Rumah Tangga Universitas Airlangga. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa pemilihan dan pelantikan rektor dilaksanakan oleh MWA Universitas Airlangga. Upacara ini dihadiri oleh Menteri Pendidikan Nasional, Prof. M. Nuh dan Menteri Kesehatan RI, Dr. Endang Rahayu S. selaku anggota Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga dari unsur masyarakat. Hadir pula Muspida Tingkat I Jawa Timur, perwakilan Negara Asing, Kepala Daerah, Bersambung ke hal. 14

Untuk pertama kalinya, Universitas Airlangga menyelenggarakan pemilihan rektor setelah berstatus badan hukum milik negara. Selain melewati beberapa tahapan, ada beberapa organ universitas yang bertanggung jawab dalam pelaksanaannya. Melalui penerbitan kali ini, Warta Unair memuat informasi mengenai hal itu.

Mencari Rektor UNAIR BHMN Baru lalu, Universitas Airlangga berhasil melaksanakan proses seleksi dan pemilihan Rektor untuk yang pertama kali di era BHMN. Untuk yang pertama kali pula, Rektor Universitas Airlangga dilantik oleh Majelis Wali Amanat (MWA) dalam sebuah prosesi khusus. Berbeda dengan era sebelumnya, kali ini Mendiknas hadir sebagai salah satu anggota MWA Universitas Airlangga. ................................................................................................. Proses seleksi dan pemilihan Rektor Universitas Airlangga BHMN, mungkin masih menyisakan beberapa pertanyaan bagi civitas akademika. Mengapa tidak dilakukan pemilihan langsung ? Mengapa orang luar boleh mendaftar ? Dan seterusnya, dan seterusnya. Saat ini, organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, berada pada titik persaingan global yang demikian ketat.

Prof. Dr. H. Fasich, Apt., saat dilantik sebagai Rektor Universitas Airlangga periode 2010 – 2015. Yit-Warta Unair

Struktur, desain, perubahan, dan kultur organisasi Universitas Airlangga BHMN telah ditata sedemikian rupa dengan merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2006 tentang Penetapan Universitas Airlangga sebagai Badan

Hukum Milik Negara. Seperti yang diungkapkan oleh Gareth R Jones (2004) dari Texas A & M University, bahwa eksistensi sebuah organisasi disebabkan oleh kemauannya Bersambung ke hal. 15


02

NO :

57

Tahun VI Juni 2010

EDITORIAL

LETIH KOTA besar memang selalu menarik minat orang untuk datang dan berjuang. Buruh, pegawai, pedagang, mahasiswa, semua bermimpi untuk bisa menikmati kesempatan menggali rejeki, mendapatkan kedudukan dan menyelesaikan pendidikan. Bukan hal yang aneh dan tidak perlu diperbincangkan lagi, karena memang demikianlah fenomena dalam kehidupan bersosialisasi, seperti makna peribahasa: ada gula ada semut. Khusus di Pulau Jawa, kehidupan ditempat terpencil yang semakin sulit makin memperkuat pendapat dan keinginan mereka mengadu nasib di kota besar. Inilah yang menjadi salah satu penyebab sulitnya pemerintah daerah mencegah arus urbanisasi dari desa ke kota, seperti yang terjadi di Jakarta. Kota besar menjadi penuh sesak dan tidak mempunyai cukup lahan serta sarana lain untuk hidup layak. Tetapi, dengan cara apapun, pendatang tetap mengalir , walaupun harus menetap di gubuk-gubuk tepian sungai. Ini karena, seperti yang sudah kita ketahui, bahwa hanya dengan bekerja sebagai pemulung di kota besar, mereka bisa mendapatkan uang yang cukup untuk bertahan hidup sambil beranak pinak. Keadaan yang sudah berlangsung bertahuntahun lamanya itu mulai memperlihatkan dampaknya belakangan ini. Coba ikuti berbagai berita televisi dan koran secara teratur, maka kita sudah tidak pernah lagi mendapatkan manfaat daripadanya. Begitu bangun pagi kita sudah mendapat suguhan berita kejadian yang beraneka ragam, yaitu kebakaran, kecelakaan lalu lintas, pembunuhan, perampokan, praktek a susila (sodomi, perkosaan). Sedemikian banyaknya kejadian itu, sampai ada stasiun televisi yang membuat program khusus kriminalitas. Apa sebenarnya penyebab utama dari meningkatnya kriminalitas? Awalnya tentu adalah kesulitan keuangan, yaitu yang berhubungan dengan perut. Selanjutnya, secara pasti akan terjadi banyak variasi penyebab lain dari timbulnya masalah keuangan, yaitu meningkatnya kebutuhan, termasuk seks, pengobatan, rokok, narkoba. Kebanyakan dari kita pasti berpikir bahwa pelaku tindak kriminal kebanyakan adalah mereka yang kepepet dalam arti sebenarnya. Yaitu, sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, sehingga dengan kemampuan intelektualitas yang paspasan nekad berbuat kejahatan. Tapi ternyata, nafsu berbuat kriminal, termasuk white collar crime, semakin menambah variasi kasus yang layak tayang televisi. Contoh konkrit adalah penggelapan uang pajak, penyalahgunaan dana masyarakat dan masih banyak lagi. Sampai kapan kita harus “menikmati” suguhan berita seperti itu? Pertanyaan itu harus dijawab, karena tanpa disadari suguhan itu membuat otak kita menjadi “letih” sesaat sebelum berangkat menunaikan tugas setiap hari. Keletihan dalam bentuk apa pun tidak pernah memberikan dampak positif. Keletihan otak pasti akan menyebabkan hilangnya semangat bekerja dan berusaha. Hilangnya semangat itu pasti akan membunuh kreativitas dan mimpi indah untuk maju. Ujungnya adalah sakit, baik sakit secara fisik maupun psikis, dan inilah akhir dari segalanya. Pertanyaan yang muncul selanjutnya: apa yang dapat kita harapkan dari generasi muda Indonesia yang sudah mengalami keletihan otak ? Apakah mereka masih punya semangat untuk mewujudkan mimpi indah bagi perubahan dan kemajuan negaranya? Apakah kita harus menyaksikan korban berjatuhan karena digerogoti penyakit fisik dan psikis? Sudah tiba saatnya bagi kita untuk menghindarkan diri dari informasi media massa yang meletihkan otak. Banyak kegiatan menonton dan membaca yang meningkatkan kesegaran otak, dan selanjutnya menyegarkan tubuh secara fisik dan psikis. Lakukan sekarang juga sebelum terlambat. Mangestuti

MAHASISWA seringkali bertanya mau kerja apa setelah lulus. Jarang muncul dibenak mereka ingin jadi apa nanti, setelah berhasil merampungkan pendidikannya di peguruan tinggi. Pernyataan kedua ini harusnya bisa dimunculkan oleh setiap mahasiswa yang akan menghadapi dunia ‘yang sebenarnya’. Dengan bertanya ingin jadi apa, orang akan berpikir tentang visi ke depan, bagaimana pekerjaan yang akan digeluti dapat membawa pada perkembangan karir. Disinilah, sering orang salah dalam memaknai istilah “bekerja” dan “berkarir”. Definisi bekerja adalah alat atau perantara untuk mendapatkan uang dengan menjalankan fungsi perusahaan. Sedangkan berkarir mempunyai arti lebih dari itu, tak sekadar hanya menjalankan sesuatu karena arahan dari pemberi kerja. Karir berkaitan dengan sesuatu yang berkelanjutan, dilakukan berkat dorongan “passion” yang membawanya pada prestasi kerja. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Iwan Wahyu Widayat, Mpsi., Psi. koordinator pelaksana kegiatan Airlangga Career Workshop (5/6), “Banyak lulusan yang cenderung mencari kerja secara membabi buta, demi mempercepat masa tunggu tanpa suatu persiapan yang matang dan terencana sebelumnya”. Iwan menjelaskan bahwa perlu adanya upaya untuk meluruskan paradigma tentang karir bagi mahasiswa, “itulah mengapa pelatihan semacam ini perlu digencarkan, agar mahasiswa mampu merancang karirnya sejak dini dengan mengetahui potensi diri dan strategi untuk mewujudkannya” terang Ketua Bidang Pelatihan dan Konsultasi PPKK UNAIR. Faktanya, orang cenderung mengukur tingkat kesuksesan kerja dari masa tunggu yang cepat. Harusnya juga dilihat apakah dengan waktu tunggu kerja yang singkat itu berbanding lurus dengan lamanya waktu bertahan dalam sebuah pekerjaan. “Kalau kita hanya sekadar mencari kerja, setiap ada kesempatan kerja apapun itu, akan dikejar tanpa berpikir apakah pekerjaan itu akan mendukung karirnya” ungkap Iwan. Banyak yang kemudian bekerja tanpa passion dan tak lama kemudian berhenti dari pekerjaan karena berbagai alasan, salah satunya adalah faktor ketidak cocokan. Melalui upaya merancang karir sejak dini, maka tidak hanya masa tunggu yang cepat, tetapi

Salah satu sesi dalam Airlangga Career Workshop, menggali kemampuan mengkomunikasikan diri melalui simulasi. Naf-Warta Unair

juga masa kerja yang bertahan lama akan dapat diwujudkan. Kuncinya adalah dengan memilki visi karir yang didasari pada kemampuan mengenal potensi diri dan daya mengkomunikasikan diri atau strategi “menjual diri”. Pelatihan yang bertajuk “Discover Your Strength to Plan Your Career” ini juga memberikan panduan kepada mahasiswa tentang tips wawancara kerja dan strategi membuat CV yang menarik dan berkualitas. Disamping itu, mahasiswa juga diberikan bekal untuk menghadapi situasi lingkungan kerja yang sistemik melalui simulasi mind map. Sebuah kesalahan kerja yang dibuat oleh seseorang, akan berdampak secara sistemik pada perubahan lingkungan kerja yang akhirnya dapat mempengaruhi kinerja orang lain. “Pelatihan ini memang ditujukan untuk mahasiswa tingkat akhir, selain agar lebih fokus, mereka juga lebih siap secara penerimaan materi”, papar Dr.Elly Munadziroh, M.S, drg. Peserta yang datang memang tidak terlalu banyak, sebagian besar adalah delegasi dari fakultas. Dr Elly menjelaskan bahwa jumlah peserta yang datang menggambarkan tingkat kesadaran dan kemauan untuk merancang karir sejak dini mahasiswa masih kurang, padahal berbagai upaya sosialisasi telah dilakukan. Salah satu output dari kegiatan ini adalah meningkatnya kesadaran

mahasiswa untuk mempersiapkan karir sejak di bangku kuliah dan kesiapan memasuki persaingan dunia kerja. “Kami akan pantau mereka melalui jejaring yang telah dibuat, apakah lulusan pelatihan ini dapat menerapkan ilmunya, dengan melihat tingkat penerimaan pekerjaan oleh perusahan, ataupun perkembangan wirausaha yang telah dijalankan” Jelasnya. Sejumlah peserta mengaku banyak manfaat yang diperoleh setelah tiga hari mengikuti pelatihan. Salah satunya adalah Yudiawan Fajar Kusuma, mahasiswa jurusan Fisika semester 8 ini mengaku mendapatkan banyak pencerahan tentang visi karirnya ke depan. Mahasiswa yang bercita-cita ingin menjadi ilmuwan dan wirausahawan ini semakin mantab untuk berkarir di bidangnya. “Paling tidak bisa bekerja di laboratorium atau menjadi pengawas Lab, selain itu rencananya juga ingin mengembangkan sedikit usaha untuk sampingan” akunya. Ia berpendapat bahwa pelatihan semacam ini penting untuk mahasiwa. Banyak lulusan, yang biasanya baru disibukkan mencari informasi lowongan pekerjaan pasca kelulusan mereka. “Padahal kalau kita tahu, karir itu sudah mulai bisa dirancang dan dipersiapkan semenjak di bangku kuliah, minimal kita telah mempunyai visi karir dan mampu mengenal potensi diri” jawabnya mantab di akhir sesi wawancara. Naf

Surat Pembaca Berita untuk Warta Unair T: Bagaimana caranya minta liputan kegiatan untuk dimuat di tabloid Warta Unair? Mohon penjelasan, terima kasih. BEM Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga J: Sampaikan kabar kegiatan yang ingin diliput melalui telepon ke kantor Humas Universitas Airlangga dengan no. 031 5915551dan kami akan mengirimkan wartawan Warta Unair. Atau, anda dapat juga menulis sendiri berita kegiatan dan memotret, untuk selanjutnya dikirimkan kepada kami. Kami tunggu. Red.

Penasehat : Rektor Universitas Airlangga, Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III; Penanggung Jawab : Sekretaris Universitas; Pemimpin Redaksi : Ketua Bidang Humas dan Protokol, Mangestuti; Redaksi : Bambang Edi Santoso, Darundiyo P, Ginanjar W, Winda H, Yitno Ramli; Koresponden : Margareta Mulyaningtyas, Dwi Afrilianti, Ahmad N. Mabruri ; Dewan Redaksi : Wakil Dekan III masing-masing fakultas di lingkungan Universitas Airlangga; Pracetak : Rahmad Untoro; Sirkulasi/Pemasaran : Amak; Alamat Redaksi : Bidang Humas & Protokol Unair, Lt.1 Gedung Rektorat Unair, Kampus C Jl. Mulyorejo Surabaya; Telepon/Faks : (031) 5915551; E-mail : humas@unair.ac.id Diterbitkan oleh Bidang Humas Universitas Airlangga Surabaya Redaksi menerima tulisan/artikel mini satu setengah halaman kuarto

Terbit Satu Bulan Sekali


NO :

LAPORAN UTAMA

57

Tahun VI Juni 2010

03

Senat Akademik Universitas Airlangga Senat Akademik Universitas Airlangga adalah sebuah badan normatif yang merepresentasikan staf pendidik, dimana tugasnya antara lain adalah merumuskan norma dan etika akademik serta mengawasi penerapannya, memberikan masukan kepada Majelis Wali Amanat (MWA) tentang penilaian kinerja Rektor dalam penyelenggaraan kebijakan akademik, serta merumuskan kebijakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan mengawasi pelaksanaannya

Anggota organ ini terdiri atas Rektor, Wakil Rektor, Dekan, perwakilan dari Profesor, dan perwakilan dari Dosen bukan Profesor.

Prof. Sam Soeharto, dr., SpMK

Dalam proses seleksi dan pemilihan Rektor lalu, Senat Akademik (SA) ditugasi oleh Majelis Wali Amanat (MWA) untuk menyelenggarakan proses seleksi Rektor, Menurut Ketua SA, Prof. Sam Soeharto, dr., SpMK,, Senat Akademik sudah berusaha untuk melaksanakan keseluruhan proses, mulai dari seleksi awal, uji masyarakat kampus, uji kelayakan dan kepatutan dengan maksimal. “semua proses telah dijalankan secara optimal sesuai dengan mekanisme. “ akunya. Ia menekankan, bahwa pemimpin universitas haruslah orang yang memiliki kemampuan networking yang kuat serta berkompeten untuk mengelola universitas menjadi lebih baik. Menurutnya, terpilihnya kembali Prof. Dr. H. Fasich, Apt sebagai Rektor UNAIR periode 2010-2015, memberikan harapan baru pada perkembangan Universitas Airlangga selanjutnya. Apa, bagaimana, dan kemana langkah universitas tidak akan lepas dari kemampuan kepemimpinan Rektor dan jajarannya dalam periode lima tahun ke depan.

Pekerjaan rumah besar bagi rektor terpilih yang sedang menanti adalah penyelesaian proyek Rumah Sakit Pendidikan (RSP) dan Rumah Sakit Penyakit Tropik Infeksi (RSTI). Pengelolaannya hendaknya melibatkan seluruh komponen universitas secara sinergi dan bersifat multidisiplin.Artinya, tidak hanya melibatkan unsur kesehatan semata. Prof. Sam mengatakan, bahwa setelah pembangunan fisik RSP dan RSTI terealisasi, berkembanglah sebuah gagasan untuk menjadikan Universitas Airlangga sebagai Health and Science Centre (HSC) yakni sebagai pusat rujukan ilmu pengetahuan dan kesehatan di tingkat nasional bahkan internasional. “Kita memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan ke arah itu” tegasnya. Modal dasarnya adalah sumber daya manusia yang berkualitas, didukung kerjasama yang baik dengan berbagai pihak serta pengelolaan yang maksimal. “kita harus optimis untuk dapat mewujudkannya, inilah bentuk pengabdian yang sesungguhnya bagi masyarakat dan wujud sumbangsih, serta bentuk tanggung jawab pendidikan kepada negara” jelas Prof. Sam. Naf

Dok-Warta Unair

MWA, Lahir dari Semangat Kemandirian “OTONOMI bermaksud menggiring UNAIR sebagai suatu sistem pendidikan tinggi yang berkualitas, menjamin akses bagi semua calon peserta didik yang memenuhi persyaratan mutu akademik, serta memiliki otonomi yang dapat menjamin terselenggaranya kegiatan akademik yang efisien dan berkualitas, “ demikian terang Ketua Senat Akademik, Prof. Sam Soeharto, dr., Sp.MK., di awal perjalanan UNAIR BHMN. Berbekal PP Nomor 30 tahun 2006, Universitas Airlangga berusaha mewujudkan diri sebagai salah satu kekuatan moral dan intelektual di tanah air. Yaitu, menjadi penyelenggara pendidikan yang otonom, adil, transparan dan akuntabel bagi peningkatan efisiensi dan kemandirian. Dalam era BHMN, kemandirian merupakan dasar pengelolaan uni-

versitas. Berdasarkan azas kemandirian dan moralitas, UNAIR BHMN memerlukan organ pelaksana, penunjang, dan satuan yang sanggup merangkum kebutuhan Universitas. Sudah merupakan kebutuhan kita bersama untuk mewujudkan UNAIR yang mampu meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan. Majelis Wali Amanat (MWA) sebagai bagian dari Universitas, merupakan organ tertinggi yang berfungsi mewakili pemerintah dan masyarakat. “MWA ini memegang peran penting bagi kemajuan UNAIR ke depan,” tegas salah satu anggota MWA Universitas Airlangga, Prof. Sam Soeharto beberapa waktu lalu. Selain memilih, mengangkat dan memberhentikan Rektor, MWA diperkenankan untuk menyelesaikan persoalan yang tidak mampu diselesaikan oleh organ universitas yang lain. Peraturan yang ditetapkan

MWA, merupakan peraturan tertinggi dalam lingkup universitas. Sebagai wakil stakeholder, MWA berwenang menetapkan kebijakan umum. MWA juga berhak mengevaluasi kinerja Universitas, menyusun dan menetapkan Anggaran Rumah Tangga, melaksanakan pengawasan dan pengendalian umum, mengesahkan rencana strategis, rencana kerja dan anggaran, melakukan evaluasi tahunan, mengusahakan pemenuhan kebutuhan, serta mengevaluasi laporan pertanggungjawaban. Kemandirian, pada akhirnya mendorong Universitas Airlangga BHMN agar bertindak reaktif dalam menghadapi tantangan dan peluang masa depan. MWA pun hadir mewakili peran pemerintah dan masyarakat bagi keberlangsungan pendidikan seumur hidup (lifelong education). Her

Figur di Balik Pemilihan Rektor Prof. Dr. Moch. Dikman Angsar, dr., SpOG.

Memperkaya Silaturahmi Unair Yit-Warta

BAGI Prof. Dr. Moch. Dikman Angsar, dr., SpOG., kegiatan pemilihan rektor sudah diikutinya sejak tahun 2005, yaitu ketika Universitas Airlangga bersiap merubah statusnya menjadi badan hukum milik negara (BHMN). Pengalaman itulah yang selanjutnya membawanya kembali terlibat pada kegiatan Panitia Seleksi Calon Rektor Universitas Airlangga periode 2010-2015 lalu, yaitu sebagai koordinator tim pengarah.Ternyata ke dua kesempatan itu memberikan kesan yang mendalam bagi dirinya. “Melalui dua kali perhelatan pemilihan rektor itu, secara pribadi saya mempunyai kesempatan untuk mengenal teman-teman yang duduk dalam kepanitiaan secara lebih dekat. Tidak saja staf pengajar , namun juga tenaga kependidikan . Ini adalah kesempatan memperkaya silaturahmi yang Bersambung ke hal. 15

Prof. Dr. Noor Cholies Zaini, Apt.

TIDAK MASALAH PANITIA Seleksi Calon Rektor Universitas Airlangga Periode 2010-2015 diketuai oleh Prof. Dr. Noor Cholies Zaini, Apt. Guru besar yang berasal dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga itu saat ini menjabat sebagai Sekretaris Senat Akademik Yit-Warta Unair Universitas Airlangga. Baginya, tanggung jawab sebagai ketua panitia seleksi rektor cukup berat, terutama karena harus mengikuti aturan baru untuk yang pertama kali. Karena baru, maka peraturan itu belum sepenuhnya dapat langsung dipahami secara baik oleh sivitas akademika. Terdapat dua hal yang banyak menimbulkan pertanyaan, yaitu diperbolehkannya kandidat dari luar Unair dan tidak adanya batasan usia kandidat. “Namun karena sudah menjadi keputusan Majelis Wali Amanat universitas, maka saya pun harus dapat melaksanakannya,” katanya. Bersambung ke hal. 15

MWA UNAIR, Siapa Saja Mereka ? Seperti halnya yang tertuang dalam PP Nomor 30 tahun 2006, disebutkan bahwa anggota Majelis Wali Amanat (MWA) terdiri dari menteri, Rektor, unsur Senat Akademik, unsur dosen, unsur tenaga kependidikan, dan unsur masyarakat. Kesemuanya berjumlah 21 orang yang kemudian ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional, melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 74/MPN.A4/KP/2010. Anggota MWA Universitas Airlangga BHMN :


04

NO :

57

Tahun VI Juni 2010

LAPORAN UTAMA

 Universitas Airlangga di kancah Internasional

Unair Berakselerasi Menuju Excellence

Dok-Warta Unair

Tjitjik Srie Tjahjandarie, Dra., PhD.

UNIVERSITAS Airlangga akhirnya berhasil menempati peringkat ke-109 dari seluruh perguruan tinggi se-Asia, berdasarkan penilaian dari Asian University Ranking-

QS.com. Dari ranking tersebut, Unair juga meraih posisi ke-17 dari seluruh universitas se-Asia Tenggara dan urutan ketiga di tingkat nasional. Ranking itu didasarkan pada tiga penilaian, yaitu research quality (kualitas penelitian), teaching quality (kualitas pengajaran), dan graduate employability (tingkat penerimaan pekerjaan). Hal ini merupakan lompatan yang besar, mengingat pada tahun sebelumnya peringkat Unair berada di nomor 130. Menurut Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan Universitas Airlangga Tjitjik Srie Tjahjandarie, Dra., PhD., QS ranking ini jauh lebih prestisius dibanding ranking webometric. Ini dikarenakan QS ranking menggunakan academic excellence sebagai patokan. Untuk target selanjutnya, Unair berusaha untuk bisa masuk peringkat 100 besar QS ranking pada tahun 2015 nanti. Jika dibandingkan dengan Universitas Indonesia yang meraih ranking 50 se-Asia, Unair masih ketinggalan di bidang prestasi mahasiswa di tingkat internasional. UI

mampu meraih peringkat 50 karena didukung dengan prestasi yang diraih mahasiswanya. Menurut Tjitjik, meskipun saat ini prestasi mahasiswa semakin baik, namun kualitasnya menurun, mahasiswa Unair kurang terlibat dalam event-event nasional dan internasional. Jumlah event yang diikuti memang banyak, namun kurang dii-

kuti dengan peningkatan prestasi. Tjitjik berharap bahwa peningkatan prerstasi mahasiswa hendaknya masuk ke dalam pengembangan strategi Unair ke depan. Setiap tahun BPP pasti melakukan identifikasi kelemahan, untuk menjadi prioritas program tahun berikutnya. Dengan diraihnya peringkat QS ini, berarti Unair sudah mulai di-

perhitungkan di tingkat internasional dan disetarakan dengan universitas kelas dunia lain. Sudah saatnya Unair melangkah ke tingkat global dengan membuka kelas internasional. Untuk itu, Unair juga harus mulai membangun branding universitas, agar pihak luar semakin mengenal Unair. Persoalan academic Bersambung ke hal. 14

Mengemban Otonomi Prof. Dr. H. Muhamad Zainuddin, Apt., mengatakan, bahwa Unair harus terus melakukan akselerasi yang luar biasa. Dinamika yang terjadi di luar begitu luar biasa dan bila tidak dapat mengimbanginya, maka Unair yang akan terbuang. “ Unair memang harus bangga pada apa yang telah diraih, namun juga patut mawas diri. Apa yang sudah dicapai ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan, bukan hanya untuk dibanggakan saja,” ujar Prof. Zainuddin. Prof. Zainudin juga mengatakan bahwa keberhasilan Unair dalam

meningkatkan performa dalam ranking Asia ini juga sekaligus merupakan bukti kemampuan Unair untuk mengemban amanah pemerintah Indonesia sebagai badan usaha yang bersifat otonom. Esensi otonomi adalah untuk mengelola sebuah perguruan tinggi mandiri secara akademik dan finansial. Hasilnya, adalah capaian-capaian yang telah dilalui oleh Unair selama ini. Jika masih menggunakan paradigma lama, hal tersebut justru mustahil untuk diraih dan membuat Unair terbuang. Pengakuan peringkat Unair

lewat QS ranking merupakan indikator bahwa Unair sudah diakui oleh dunia internasional. Prestasi ini sekaligus merupakan bukti kemampuan Unair dalam memikul dan melaksanakan tanggung jawab nasional. Menurut Prof. Zainuddin, kemampuan itu didukung oleh terdapatnya berbagai disiplin ilmu di Unair. Prestasi Unair di kancah global secara otomatis akan memberikan nilai tambah bagi lulusan yang dihasilkannya. Mereka yakin kelak akan mampu berkompetisi dengan lulusan lain dari luar Indonesia. gin

Webometrics, Salah Satu Pintu Menuju World Class University UNIVERSITAS Airlangga BHMN bergegas meraih predikat world class university. Webometrics, merupakan salah satu pemeringkat berkelas dunia yang mempublikasikan prestasi dan kualitas sebuah Perguruan Tinggi. Apa itu Webometrics, dan di mana posisi UNAIR saat ini ? Berikut, wawancara khusus bersama Direktur Sistem Informasi UNAIR, drs. Imam Siswanto, M.Si. Warta Unair (WU) : Melalui Ketua Majelis Wali Amanat (MWA), UNAIR didaulat untuk menjadi center of excellence melalui peningkatan prestasi dan kualitas. Sejauh mana kiprah UNAIR di Webometrics, dan kita ada di peringkat berapa saat ini? Imam Siswanto (IS) : Saat ini kita ada di peringkat 9 nasional. Februari kemarin, Webometrics menempatkan UNAIR di posisi ke-45 se Asia Tenggara. WU : Sebenarnya apa itu Webometrics, dan apa bedanya dengan pemeringkatan yang lain ? IS : Webometrics itu adalah pemeringkat kinerja institusi, sama juga seperti yang lain. Hanya saja, Webometrics menggunakan search engine (SE). Tapi ingat, Webometrics itu bukan sekedar perlombaan IT. Sebenarnya yang diukur kinerja-

nya, bukan sekedar IT itu sendiri. WU : Apakah benar, Perguruan Tinggi yang kuat di IT, maka dialah jawara webometrics ? IS : Pengukuran webometrics itu melalui internet. Hanya kampus yang siap, yang bisa masuk. Mereka yang tidak konsen, tidak bisa masuk. Konsen di sini, memang juga harus didukung dengan kekuatan IT. Namun, kriteria penilaian mereka tidak terkait infrastruktur. IT hanyalah wadah, agar bisa diakses, dan akhirnya bisa dibaca oleh SE. WU : Bagaimana peluang UNAIR ? IS : Institusi yang besar dengan infrastruktur, kemampuan atau bandwidth yang besar, harusnya peringkatnya juga tinggi. Tapi ini tidak. Mestinya sekarang, posisi UNAIR di Webometrics bisa berada di seputar 5 besar nasional. Jadi di sini, mereka yang punya bandwidth besar tidak lantas memiliki skor yang tinggi. WU : Mengapa demikian ? IS : Prinsip yang dianut Webometrics itu sebenarnya menyangkut kekuatan informasi terhadap bidang-bidang pendidikan, yang utamanya meliputi aktivitas pendidikan dan pengajaran. Jadi

harusnya, posisi UNAIR di Webometrics, itu sama dengan posisi kita pada hasil penilaian pemeringkat lain, yakni ada pada kisaran ranking ke-3 atau ke-4 nasional. WU : Apa yang terjadi dengan Webometrics ? Mengapa hasilnya berbeda ? IS : Penilaian atau proses pengukuran yang mereka lakukan itu melalui SE. Jika pemeringkat lain memerlukan proses submit untuk data tertentu, maka untuk Webometrics itu tidak ada. Untuk ikut Webometrics, kita tidak perlu mendaftar. Cukup dengan memiliki domain, maka SE akan mengukur sendiri. Saat ini, ada 18.000 institusi yang mereka nilai. WU : Jadi peringkat Webometrics itu tergantung pada keberadaan Web institusi ? IS : Web itu bukan yang utama, hanya sebagai sarana untuk mengukur. Tentang apa yang diukur, sebenarnya juga berlaku sama dengan pemeringkat lain. WU : Jika memang sama, untuk peer review, dalam Webometrics ditunjukkan melalui indikator yang mana ? IS : Jika kampus itu terkenal secara IT, itu akan ditunjukkan de-

Kejar Peringkat Webometrics, Berdayakan USI Fakultas! SALAH satu peluang untuk meningkatkan peringkat Universitas Airlangga dalam Webometrics, melalui optimalisasi Unit Sistem Informasi (USI) yang tersebar di Fakultas. Menurut Direktur SI UNAIR, drs. Imam Siswanto, M.Si., intensitas forum komunikasi antar USI perlu segera digalakkan. “Itu perlu segera dilakukan. Dengan begitu, kita bisa melihat perkembangan masing-masing. Saya yakin, semua bisa menilai Web masing-masing. Jika nanti ada masalah, kita bisa selesaikan bersama melalui transfer of knowledge. Setidaknya sebulan sekali, ada pertemuan,” terang Imam Siswanto, M.Si. Hal senada, juga dikatakan oleh Drs. Musa, selaku Kasubdit Pe-

ngembangan Sistem DSI UNAIR. Dikatakan oleh Musa, bahwa DSI memang tengah berusaha untuk memberdayakan peran USI, demi mendongkrak peringkat UNAIR dalam Webometrics. Diantaranya, melalui publikasi bahan ajar, karya ilmiah, penelitian, atau pun kegiatan akademik yang memungkinkan untuk dipublikasikan. “Itu akan kita publikasikan dalam format pdf, ps, doc, atau ppt. Bahkan ke depan, kita prediksi akan ada format xls yang berasal dari excel,” terang drs. Musa. Menurutnya, ada beberapa langkah yang tengah dirancang DSI untuk merapatkan barisan bersama USI di Fakultas. Diantaranya, dengan mensti-

mulasi kerja USI, agar dapat lebih memanfaatkan keberadaan Web dan Blog. Menurut Musa, pengelolaan content tersebut, diharapkan bisa menarik perhatian site luar untuk menanamkan link UNAIR pada diri mereka. Selain itu, sivitas akademika perlu didorong untuk rajin dalam memberikan komentar positif pada site eksternal. Tentunya, dengan menyertakan alamat Web atau Blog milik UNAIR. “Kita juga bermaksud membantu pembangunan Web Departemen, hingga mendorong setidaknya untuk setiap Fakultas, agar membuat forum online yang sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing,” demikian pungkas drs. Musa. Her

Indikator Penilaian Webometrics :

ngan semakin banyaknya jumlah link ke dalam Web mereka. Agar bisa diukur, SE itu pun, sebenarnya bisa diakali. Namun jika ketahuan, perolehan skor nanti, bisa dipotong hingga 50 %. Itu pernah terjadi pada mereka di Brazil dan Taiwan. WU : Baik. Jadi Webometrics, ternyata juga mengukur kinerja secara keseluruhan. Selain beberapa hal tersebut, apa yang menyebabkan UNAIR tidak berada di posisi yang seharusnya ? IS : Iya, harusnya kita memang ada di 5 besar. Ada beberapa masalah, menyangkut content dan kebijakan. WU : Bisa dijelaskan ? IS : Kita tentu punya banyak hasil penelitian dan pengajaran. Hanya saja, tidak semua dokumen yang tersedia itu, bisa diakses melalui Web. Tidak semua mau materi ajarnya diakses secara bebas. WU : Lalu, soal policy itu bagaimana ? IS : Itu harus mampu mengawal seluruh informasi penelitian dan pengajaran, agar dapat terakses, didukung sampai di level bawah, dan segera dikerjakan. Kita memang punya penelitian banyak, tetapi tidak dipublikasikan secara luas melalui Web. WU : Jadi, apa yang terpenting untuk kiprah UNAIR dalam Webometrics ini ?

IS : Isi adalah hal yang penting dari Webometrics. Perguruan Tinggi besar dengan content bagus, punya infrastruktur IT yang bagus, maka ia akan terindeks dengan cepat, dan tentuanya akan memiliki skor yang tinggi. WU : Untuk ke depan, langkah apa yang akan dilakukan ? IS : Kita akan berdayakan USI. Content itu banyak terdapat di Departemen. Intensitas forum untuk USI ini perlu ditingkatkan. WU : Ada hal lain ? IS : Perlu ada “care” dari pimpinan di tingkat Fakultas. Termasuk kebijakan yang relevan terhadap pemberdayaan USI. Perlu juga adanya integrasi content dalam satu domain. Itu agar informasi jangan sampai tercecer, sehingga memudahkan SE untuk masuk. WU : Selain itu, apa kelemahan UNAIR yang perlu segera diperbaiki? IS : Menurut saya, size memang perlu segera dibenahi, karena ternyata penilaiannya tidak disusun secara akumulatif. Selain itu, perlu dipelajari keterkaitan antara indikator penilaian yang ada. Misalnya, antara scholar dan rich file. WU : Caranya ? IS : Salah satunya, membangun keterbukaan dengan masyarakat. Tidak selalu mengisi content dengan Bersambung ke hal. 15


NO :

WARTA SIVITAS

57

Tahun VI Juni 2010

05

Kembangkan Pengajaran dan Sistem Edukasi FKG Jalin Kerja Sama dengan University of Malaya Kampus C- Warta Unair Sembilan orang dari University of Malaya mengunjungi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga dalam rangka student exchange. Ini merupakan tahap awal dari kerja sama antara FKG Unair dengan University of Malaya. Kerja sama dengan University of Malaya ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Namun, karena beberapa alasan, kerja sama tersebut menjadi vakum untuk beberapa lama. Kemudian pada tahun 2008 FKG Unair mengadakan kerja sama dengan Hiroshima University dan membuka twinning program. Secara bergantian FKG Unair dan Hiroshima University mengirimkan staf mereka untuk bertukar ilmu dan pengalaman. Baru saat itulah diketahui pula Hiroshima University juga melakukan kerja sama dengan University of

Malaya. Mengetahui hal itu, FKG Unair kembali meneruskan kerja sama dengan University of Malaya. “Jadi FKG Unair sekarang memiliki program internasional dengan Hiroshima University dan University of Malaya,” terang Dekan FKG Prof. Dr. Ruslan Efendi, drg., MS., Sp.KG. Fokus utama kerja sama dengan Unviersity of Malaya ini adalah pertukaran pelajar dan staf untuk pengembangan pengajaran dan sistem edukasi. FKG Unair dan University of Malaya saling mengirimkan pelajar dan stafnya untuk membandingkan kemajuan masing-masing. Sembilan orang mahasiswa inilah yang menjadi duta pertama bagi University of Malaya. Selama sepuluh hari mereka akan mengikuti perkuliahan dan praktikum seperti layaknya mahasiswa FKG Unair. Selain itu mereka juga belajar budaya Indonesia, terutama budaya Surabaya. Untuk berikutnya giliran FKG Unair yang akan mengirim perwakilan mahasiswa dan staf ke University of Malaya. Rencananya pada Oktober nanti beberapa mahasiswa FKG Unair akan berangkat ke Malaysia. Menurut Prof. Ruslan, student exchange ini masih tahap permulaan

Mahasiswa student exchange dari university of Malaya bersama pejabat FKG.

dari kerja sama yang lebih besar. Nantinya kerja sama ini akan dibuat lebih dalam. Misalnya dengan melakukan alih kredit antara FKG Unair dengan University of Malaya,

sehingga mahasiswa FKG Unair yang dikirim ke sana atau mahasiswa University of Malaya yang dikirim ke sini memiliki ijazah yang sama. Ini semua agar FKG Unair bisa me-

Gin-Warta Unair

nyamakan pengajaran dengan Malaysia. “Kami ingin menunjukkan kepada pihak luar negeri apa yang sudah dicapai oleh Unair selama ini,” ujar Prof. Ruslan.gin

Persiapan ke Saudi Arabia

Fakultas Keperawatan Tingkatkan Kualitas Lulusan

dok-Warta Unair

Pimpinan Universitas dan Fakultas Keperawatan berpose bersama perwakilan Avans University Belanda yang melakukan pertukaran pelajar.

Warta Unair – Kampus C Menghadapi kelulusan bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi lulusan merasa senang, namun di sisi lain pastilah muncul kekhawatiran : dimana selanjutnya harus bekerja dan siapkah untuk menghadapi persaingan dunia kerja. Ini adalah tantangan, baik bagi mahasiswa maupun pimpinan tiap fakultas. Tak terkecuali seperti yang juga dihadapi oleh Fakultas Keperawatan di Universitas Airlangga. Dua tahun sudah fakultas ini berdiri sendiri, dimana sebelumnya program studi keperawatan berada di bawah naungan Fakultas Kedokteran. Usia yang masih dini, namun fakultas yang satu ini berhasil membuktikan kiprahnya, khususnya dalam hal kualitas pendidikan. Hal ini diakui sendiri oleh Purwaningsih, selaku Wakil Dekan III Fakultas Keperawatan yang sehari-harinya banyak berhubungan langsung dengan mahasiswa. “Untuk masalah kualitas lulusan tidak diragukan lagi, terbukti bahwa tidak sampai tiga bulan, para alumni sudah langsung mendapat pekerjaan di berbagai rumah sakit,” terangnya. Bahkan bukan isapan jempol belaka

bahwa banyak mahasiswa yang sudah mendapat tawaran pekerjaan sebelum mereka lulus. “Kami berani mengatakan bahwa tidak ada lulusan kami yang menganggur,” ujar Purwaningsih mantap. Peluang kerja yang tersedia untuk lulusan keperawatan ternyata tak hanya sebatas wilayah lokal saja, tetapi sudah terbuka lebar hingga ke kancah internasional. Hal ini mampu diwujudkan lewat kerjasama yang dilakukan oleh Fakultas Keperawatan dengan salah satu lembaga tenaga kerja yang telah ditunjuk secara khusus oleh Menakertrans. Saat ini empat orang lulusan telah diberangkatkan untuk bekerja di rumah sakit negara Saudi Arabia. Empat orang ini menandatangani kontrak kerja selama dua tahun, baru setelahnya mereka bebas memutuskan untuk melanjutkan atau pulang ke Indonesia. “Kami harapkan mereka pulang ke Indonesia setelah kontrak kerjanya habis. Nanti setelah kembali mereka bisa mengajarkan ilmu yang didapat di sana pada teman-teman sesama perawat disini,” ungkap Purwaningsih. Program ini sudah lama digagas, dan untuk realisasinya sendiri membutuhkan persiapan selama kurang lebih enam

bulan. Purwaningsih harus berkeliling kesana-kemari, meninjau kelayakan dari berbagai Rumah Sakit yang mengajukan penawaran kerjasama. Akhirnya, dipilihlah Rumah Sakit di Saudi Arabia sebagai tujuan pertama. “Di sana empat alumni kami tersebar di rumah sakit besar di empat propinsi yang berbeda. Setiap hari mereka selalu menghubungi saya, sekedar memberikan kabar, ataupun berkonsultasi,” tutur Purwaningsih seraya menunjukkan email yang dikirimkan salah satu anak didiknya. Wakil Dekan ini optimis program tersebut akan sukses dan bisa dilakukan secara berkesinambungan. Namun sebelum berangkat tentunya ada persiapan khusus, semacam pembekalan, yang terbagi menjadi pelatihan skill dan bahasa yang berlangsung selama tiga bulan. Untunglah fakultas memberikan fasilitas, yaitu melalui penyelenggaraan Nursery Training Centre yang berguna dalam peningkatan skill serta kompetensi anak didik. Kendala bahasa diatasi melalui kerjasama dengan Pinlabs untuk memberikan kursus bahasa. “Tujuan utama kami memotivasi alumni untuk bekerja di luar negeri tidak lain adalah. selain untuk pengembangan kompetensi diri secara pribadi, juga nantinya mampu meningkatkan pelayanan, keilmuan serta persaingan di dunia keperawatan,” tukas Purwaningasih optimis. Sejauh ini kendala yang dihadapi adalah menyakinkan alumni untuk mau bekerja di luar negeri, rata-rata dari mereka masih kurang percaya diri. Disamping itu, membuat orangtua mau melepaskan anaknya juga hal yang cukup berat. “Solusinya adalah melakukan pendekatan secara personal. Melalui penjelasan tentang situasi dan kondisi

disana, barulah biasanya orangtua mau mengerti.” Saat ini sedang dilakukan persiapan untuk kembali memberangkatkan alumni, yaitu empat orang ke Amerika Serikat, dua orang ke Kanada, dan empat orang ke Saudi Arabia. Sekarang sudah ada kerjasama lain, yaitu dengan rumah sakit Paqwee yang berpusat di Singapura. “Rumah sakit ini meminta duapuluh orang alumni untuk dikirimkan ke jaringan rumah sakit mereka yang tersebar di negara Singapura, Thailand, Malaysia dan India. Bila di tempat lain kontrak kerja berlangsung selama dua tahun, maka dengan Paqwee agak lebih lama, yaitu lima tahun. Tapi nanti mereka bersedia membiayai pendidikan profesi yang memang wajib ditempuh mahasiswa keperawatan selama satu tahun.” Selain mengirimkan lulusannya untuk bekerja di luar negeri, Fakultas Keperawatan juga memiliki program student exchange yang dilaksanakan setiap tahun. Khusus untuk student exchange ini sengaja dibuat sistem kompetisi bagi siapa saja yang hendak berangkat. Gunanya untuk memotivasi antar mahasiswa supaya bersaing secara sehat, agar mereka termotivasi untuk terus melakukan skill upgrading.. “Baru-baru ini kami menerima mahasiswa pertukaran dari Belanda. Mereka disini selama tiga bulan. Saling share pengalaman dan wawasan. Akhir tahun nanti giliran kami yang mengirimkan wakil,” tutur Purwaningsih menjelaskan. Acungan jempol untuk fakultas satu ini. Memang tidak mudah untuk mewujudkan sebuah cita-cita besar. Namun integrasi yang baik dari seluruh komponen fakultas nampaknya mampu membuat kemustahilan itu menjadi mungkin. Lalu bagaimanakah dengan fakultas lain. dee


06

NO :

57

Tahun VI Juni 2010

WARTA SIVITAS

 ERASMUS MUNDUS

Unair Terima Mahasiswa dan Guru Besar Asing FISIP – Warta Unair Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Drs. I Basis Susilo, MA atas nama Wakil Rektor III Unair, Jumat (21 Mei 2010) menerima dua orang Guru Besar (Professor) asal luar negeri untuk mengajar di Unair dalam program Erasmus Mundus External Cooperation Windows (EMECW) untuk lot 11 tahun 2009-2012. Dua dosen yang sudah bergelar Professor tersebut adalah Prof. Kemal Kilic (Sabanci University, Turki) dan Prof. Kamil Zajaczkowski (Warsawa University of Polandia). Program EMECW adalah program pertukaran mahasiswa dan dosen/Guru Besar antara Universitas Airlangga dengan beberapa universitas di luar negeri. Melalui program ini, Unair mendapatkan kesempatan untuk mengirim dan menerima mahasiswa S-1, S-2, S-3 serta para dosen untuk skema Post-Doctoral dan Academic Staff Exchange (ASE). I Basis Susilo menyambut baik kepercayaan dan kesediaan yang sudah diberikan melalui Program EMECW, yang memberikan kesempatan mahasiswa menimba ilmu dari dosen perguruan tinggi negeri lain. Dalam kesempatan tersebut ia menyerahkan modul perkuliahan di Universitas Airlangga. Dalam penjelasannya, I.G.A.K Satrya Wibawa yang didampingi Kabid Kerjasama Luar Negeri Eropa-Amerika IOP Unair Jani

Purnawanty, SH., SS., LLM., menjelaskan bahwa selain menerima dua staf pengajar asing tersebut, pada Maret 2010 lalu sudah datang dua mahasiswa asing, yaitu Jan Van der Aa (Fontys University, Netherland) untuk mahasiswa S-1, serta mahasiswa S-2, Maciej Tomasz Klimiuk (Warsawa University – Polandia). “Academic Staff dan PostDoctoral Program itu diproyeksikan sebagai think-tank bagi program EMECW dimasa mendatang. Jadi tugas utama para akademisi yang terlibat dalam program ASE adalah menjadi agen untuk pengembangan akademik dan kerjasama bagi masing-masing universitas,” tambah Jani Purnawanty. Ditambahkan bahwa pada semester gasal mendatang Universitas Airlangga akan menerima 12 mahasiswa asing, yaitu 9 mahasiswa asal Polandia (dua orang S3, empat orang S2 dan tiga orang S1), serta empat mahasiswa dari Belanda. Sembilan mahasiswa Polandia tersebut dari Warsawa University yaitu Grzgors Miaskiewicz dan Mateusz Rybinski (masuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis/FEB Unair), Favid Forouzan (FISIP), Natalia Laskowska (Postgraduate), Emil Czornej (FEB), Wiktor Glinski (Fak Hukum), Kamila Jozwik (FK), Martyna Glaz (Fak hukum), dan Aleksandra Olszanska (Psikologi). Sedangkan empat mahasiswa asal Belanda yaitu dari Fontys University adalah Sofie Nelissen (Fak Psikologi), Lars Barrens (FEB), Wijnand

Bes-Warta Unair

PROF Kemal Kilic dari Sabanci University Turki saat berpidato pada acara perkenalan dalam penerimaan program MECW di Gedung FISIP Unair, Jumat (21/5).

Veugelers (FEB) dan Mirjam Kalmijn (Psikologi). Mahasiswa Unair berangkat Sedangkan mahasiswa Universitas Airlangga yang akan berangkat dalam program EMECW untuk kategori undergraduate exchange program ada enam, yaitu Betharia noor Indahsari (Ilmu Hukum Internasional di Deusto University, Spain), Briggiv Aditya (International Relation - Warsaw University), Cahyani

Ekowani P (Chemical - UCTM Bulgaria), Maria Chitra (International Relation – VUB Brussel, Berlgium), Ali Affandi Mattaliti (Economic – Fontys University, Netherland), dan Abdul Ali Faza (International Law – Deusto University, Spain). Selain itu terdapat seorang dosen Unair yang berangkat untuk program Master, yaitu Puguh Budi Sesetio, S.Hum di jurusan Linguistic pada Warsaw University Polandia. Dua orang dosen Unair yang

 Kunjungan Bank Dunia

Fakultas Farmasi Trendsetter Pendidikan Farmasi Indonesia TEKAD Fakultas Farmasi Universitas Airlangga untuk menjadi trendsetter pendidikan tinggi kefarmasian di Indonesia diakui oleh dunia. Itu setelah perwakilan Bank Dunia, Senior Health Specialist Puti Marzoeki melakukan kunjungan ke Fakultas Farmasi Unair untuk mapping pendidikan kesehatan di Indonesia. Mapping pendidikan kesehatan Indonesia ini merupakan langkah awal untuk desain proyek yang akan dilakukan oleh Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia. Kunjungan Bank Dunia ke Fakultas Farmasi Unair kali ini berkaitan dengan rencana pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas bidang kesehatan di Indonesia. Pemerintah Indonesia berencana mengajukan pinjaman sebesar 77 juta Dollar Amerika ke Bank Dunia untuk program tersebut. Salah satu strategi dalam program tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan agar SDM kesehatan di Indonesia lebih memadai. Untuk memulainya, Bank Dunia melakukan pemetaan kualitas pendidikan kesehatan di Indonesia, baik di bidang kedokteran, keperawatan, farmasi, hingga kesehatan masyarakat. Bank Dunia juga ingin membandingkan kesenjangan kemampuan yang terjadi di antara universitas-universitas di Indonesia. Selain di Unair, Fakultas Farmasi lain yang dikunjungi oleh tim Bank Dunia adalah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan Universitas Gadjah Mada. Bersama dengan beberapa ahli dari bidang kesehatan, seperti dari Monash Unviersity dan dari industri farmasi Indo-

Gin-Warta Unair

Tim Bank Dunia meninjau Fakultas Farmasi.

nesia, Bank Dunia melakukan background study untuk mengetahui permasalahan pendidikan kesehatan di Indonesia dan melakukan benchmarking antara universitas di Indonesia dengan di luar negeri. Para ahli ini dilibatkan untuk memberi masukan tentang sistem yang seharusnya digunakan. Selain mengunjungi universitas dan pendidikan tinggi kesehatan, tim Bank Dunia juga mengunjungi industri kesehatan farmasi serta rumah sakit-rumah sakit.

Melihat model pendidikan yang diterapkan oleh Fakultas Farmasi Unair, Puti mengatakan sangat memuji apa yang dilakukan oleh Unair. Menurutnya, model keahlian yang diterapkan oleh Unair sesuai dengan standar internasional dan mirip dengan kerangka yang akan diajukan oleh Bank Dunia kepada pendidikan farmasi Indonesia. “Model ini mendekati program yang dipakai di luarn negeri dan sesuai standar internasional, sehingga lebih mudah dijual,”

berangkat untuk program doktor adalah Andi Hamim Zaidan (FisikaNano Technology UCTM Bulgaria) bersama Yeyen dari FH Unair. Sedangkan dosen Unair yang berangkat untuk program ASE ada tiga orang, yaitu I.G.A.K Satrya Wibawa ke Warsaw University, Muhammad Jalal, M.Hum ke Sabanci University, dan Jani Purnawanty, SH., SS., LLM ke VUB Brussel-Belgium dan ke Deusto University Spanyol. Bes

kata Puti. Puti bahkan mengatakan, sebenarnya dia sudah memiliki gambaran mengenai kerangka model yang akan diajukan untuk dipakai oleh pendidikan kesehatan di seluruh Indonesia, namun ternyata Unair sendiri sudah siap dengan model yang serupa. Karena itulah dia sangat terkesan dengan kemampuan yang dimiliki oleh Unair. Dekan Fakultas Farmasi Unair Prof. Dr. Ahmad Syahrani mengatakan, model pendidikan yang dipakai oleh Fakultas Farmasi Unair memang mengacu pada pendidikan farmasi global. Model tersebut berfokus pendidikan farmasi bukan hanya tentang produk atau obat saja, tapi juga pasien, karena kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Farmasis adalah orang yang membuat obat, karena itu harus mengawasi obat tersebut dari pra produksi, pasca produksi, hingga sampai dikonsumsi dan dikeluarkan oleh pasien sebagai sekresi. “Sejak awal kami ingin Fakultas Farmasi Unair sebagai trendsetter bagi pengembangan pendidikan tinggi farmasi di Indonesia. Unair ingin mengembangkan karakteristik farmasi yang holistik sebagai ciri khas,” ungkap Prof. Syahrani. Dengan jumlah mahasiswa dan tenaga pengajar terbesar di Indonesia, Fakultas Farmasi semakin percaya diri melangkah. Apalagi dengan adanya pengakuan dari Bank Dunia seperti ini, Prof. Syahrani yakin Fakultas Farmasi bisa memenuhi harapan tersebut. Fakultas Farmasi Unair sendiri sedang berusaha memasukkan model pendidikan tersebut ke dalam Kerangka Kualitas Nasional Indonesia (KKNI). Untuk itu, Fakultas Farmasi Unair sudah mulai membina beberapa fakultas dan jurusan farmasi dari beberapa universitas di Indonesia untuk mengikuti model yang diterapkan oleh Unair, seperti Universitas Negeri Jember, Universitas Muhammadiyah Malang, Unviersitas Negeri Surakarta, Unviersitas Udayana, dan Universitas Lambung Mangkurat.gin


NO :

WARTA SIVITAS

57

Tahun VI Juni 2010

07

Sebarkan Ilmu Perbankan Syariah pada Dosen-dosen di Indonesia  Departemen Ekonomi Syariah selenggarakan Seminar Tiga Hari GELIAT aktivitas perbankan syariah dewasa ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan di Indonesia. Namun sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan pengetahuan yang memadai dari para pelaku ekonomi dan masyarakat. Menyikapi hal tersebut ,Departemen Ilmu Ekonomi Islam di FE Unair berinisiatif menggelar acara bertajuk ’Training of Trainer Perbankan Syariah bagi Dosen Perguruan Tinggi’. Peserta adalah para akademisi yang sengaja diundang melalui universitas masing-masing. ”Sesuai dengan misi dari departemen kami, yaitu menjadi pusat pengetahuan ilmu ekonomi khususnya di Indonesia, kami sepakat mengadakan seminar ini. Gunanya adalah meningkatkan kompetensi para dosen di bidang ekonomi syariah dan mendorong para dosen untuk

Seminar Bank Syariah.

menyosialisasikannya di lingkungan akademik mereka,” tutur Noven Suprayogi, ketua panitia acara tersebut. Rupanya antusiasme peserta seminar cukup besar yang terbukti dari jumlah ratusan peserta. Mereka adalah dosen FE dan FH dari perguruan tinggi di Jawa

Usai, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2010 Kampus B – Warta Unair Pelaksanaan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) tahun 2010 telah berakhir ((17/6). Seleksi yang berlangsung selama dua hari sejak tanggal 16/6 tersebut diselenggarakan secara nasional, dan diikuti oleh perguruan tinggi negeri di Indonesia yang terbagi ke dalam 4 wilayah. Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur berada dalam wilayah III, sementara 5 perguruan tinggi negeri yang berada di kota Surabaya terkonsentrasi dalam Panitia Lokasi 50 SNMPTN. Ke 5 perguruan tinggi negeri tersebut adalah Institut Agama Islam

Negeri (IAIN)Sunan Ampel, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Trunojoyo (Unijoyo). Menurut Koordinator Humas SNMPTN Panitia Lokasi (Panlok) 50 SNMPTN, Prof. Imam Mustofa, sebanyak 30.131 peserta mengikuti seleksi di Surabaya, yaitu yang tersebar ke dalam beberapa lokasi. Selain kampus dimana ke 5 perguruan tinggi negeri Surabaya tersebut berada, lokasi ujian juga diadakan di kampus Universitas Dr. Sutomo, Universitas Tujuh Belas Agustus, Universitas PGRI Adibuana, Universitas Bhayangkara, SMP dan SMA Kemala

dee-Warta Unair

Timur, bahkan beberapa di antaranya berasal dari Universitas di kota Palu, Ternate, dan Ujung Pandang. Dari Jawa Timur sendiri pesertanya antara lain dari Universitas Negeri Surabaya, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Negeri Jember, dan Universitas Trunujoyo

Bhayangkari II, SMP dan SMA GIKI 2. Ujian untuk kelompok IPC diadakan di kampus Unair, kelompok IPA di ITS dan ITATS, sedangkan IPS di lokasi yang lain. Posko Panlok 50 berada di Gedung Serba Guna Unair, dimana soal didistribusikan dan lembar jawaban dikumpulkan. Validasi dan koreksi dilaksanakan di ITS, dan hasil seleksi akan diumumkan pada 17 Juli 2010. Khusus kampus Universitas Airlangga, terdapat 5.172 peserta yang melakukan ujian di berbagai lokasi di fakultas di lingkungan Kampus B, dan 1917 orang di Kampus C. Data resmi menyebutkan, bahwa daya tampung mahasiswa yang diterima melalui SNMPTN adalah 1.489 di Unair, 995 di Unesa, 1.376 di ITS, 485 di IAIN Sunan Ampel dan 545 di Unijoyo. Prof. Imam Mustofa mengatakan, bahwa sejauh ini pelaksanaan seleksi di Surabaya berjalan lancar dan sampai berakhirnya ujian tidak ada indikasi perjokian.Menurutnya, hal itu merupakan salah satu bukti keberhasilan sistem pendaftaran secara “on-line” yang baru diterapkan mulai tahun 2010. Melalui sistem ini, tidak terbuka peluang bagi peserta untuk saling mengatur tempat duduk atas kemauan mereka. Begitu seseorang

Madura. “Tidak sia-sia mereka jauh-jauh datang kemari. Justru kami lihat motivasi mereka cukup besar sekali. Mereka ingin bisa menularkan ilmunya yang di dapat dari seminar ini ke kotanya masing-masing,” imbuh Noven. Selama tiga hari pelatihan, peserta mendapat beragam materi menarik seputar dunia perbankan syariah. Dimulai dari pengenalan konsep dasar ekonomi syariah, kemudian seluk-beluk perbankan syariah, produk & jasa yang dimiliki bank syariah, akuntansi perbankan, serta pengawasan bak syariah. Rata-rata peserta mengaku kesulitan dalam menghafal dan membedakan produk dalam perbankan syariah. Hal ini diakui juga oleh Noven, “Oleh karena itu kami lantas mengajarkan pada peserta bagaimana membuat mindmapping yang benar sehingga mereka bisa memahaminya dengan mudah.” Seminar ini diselenggarakan Departemen Ekonomi Syariah bekerjasama Bank Indonesia. “Harapannya setelah acara ini selesai tidak lantas putus begitu saja. Namun kami akan menjalin komunikasi secara berkesinambungan baik dengan peserta maupun dengan perguruan tingginya,” pungkas Noven. dee

memilih perguruan tinggi dan kota tempat ujian dengan sistem “on-line”, maka komputer akan mengacak dan mengolah data untuk menetapkan lokasi ujian. “ Dengan cara ini, maka sindikat perjokian tidak lagi dapat menjalankan aksinya seperti yang sudah-sudah. Mereka tidak mungkin mengatur tempat duduk saling bersebelahan seperti yang terjadi tahuntahun sebelumnya,” katanya Prof. Imam. Kemungkinan praktek kerjasama melalui pemakaian alat elektronik telah diantisipasi oleh panitia. Caranya, peserta ujian tidak diperkenankan masuk ke ruang ujian membawa peralatan selain kartu tanda penduduk, fotokopi ijazah dan kartu peserta ujian. Prof. Imam mengatakan, bahwa setiap pengawas ujian bertanggung jawab atas 10 peserta ujian, sehingga pengawasan dapat dilaksanakan secara intensif. SNMPTN merupakan satu-satunya pola seleksi yang dilaksanakan secara bersama oleh seluruh Perguruan Tinggi Negeri dalam satu sistem yang terpadu dengan menggunakan soal yang sama atau setara dan diselenggarakan secara serentak. Pada saat ini, terdapat 57 perguruan tinggi negeri di Indonesia yang menyelenggarakan seleksi SNMPTN.

Yit-Warta Unair

Suasana Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tahun 2010.


08

NO :

57

WAWANCARA

Tahun VI Juni 2010

Wawancara Khusus dengan Prof. Dr. H. Fasich, Apt.

condition). Hal itu juga saya lakukan ketika memulai pekerjaan sebagai rektor periode 2005-2010, bersama pimpinan lain. Permasalahan yang ada

with morality. WU Bagaimana makna yang paling mendasar dari motto itu pak? F Ya, banyak pihak yang secara sederhana mengartikannya sebagai lulusan Unair harus unggul dan bermoral agama yang kuat. Sesungguhnya, motto itu bermakna lebih luas, yaitu :

Prof. Dr. H. Fasich, Apt. kembali menyandang amanah sebagai Rektor Universitas Airlangga periode 2010 – 2015. Pada awal periode masa jabatan sebelumnya, ia bersama jajaran pimpinan, memulai pekerjaan besarnya dengan mengadakan sebuah forum khusus yang bertujuan melakukan upaya refleksi untuk mengkaji permasalahan yang timbul di lingkungan negeri kita. Forum itulah yang selanjutnya melahirkan moto : excellence with morality. Bagaimana sebenarnya cara yang paling tepat untuk memaknai arti yang terkandung di dalam motto itu? Inilah materi perbincangan antara Warta Unair dan Prof. Dr. H. Fasich, Apt.

Warta Unair (WU) Suasana apa yang ikut melahirkan motto Excellence with Morality? Fasich (F) Saya memang selalu memulai pekerjaan besar yang menjadi tanggung jawab saya dengan menciptakan suasana yang memungkinkan dilakukannya kajian terhadap permasalahan yang kita hadapi , yaitu yang merefleksikan kondisi yang ada (existing

pada waktu itu sebenarnya merupakan refleksi dari lemahnya penegakkan kejujuran, kurangnya kerjasama antar manusia dll. Perbincangan dalam forum itu ternyata berlanjut dengan keinginan untuk membangun suatu budaya baru yang bersifat lebih mencerahkan, dan bukan cuma sekedar untuk mengatasi permasalahan yang bersifat teknis saja. Inilah awal lahirnya motto: Excellence

yang merasakan keanehan ketika sebuah universitas menetapkan motto itu. Bagaimana pandangan Bapak? F Benar, banyak perguruan tinggi yang menetapkan jargon dengan pemilihan kata-kata bombastis, sehingga motto Unair terdengar aneh buat mereka. Tapi, perlu diketahui, bahwa setelah motto itu diterapkan, tiba-tiba kita dihadapkan pada isu nasional yang berkaitan dengan masalah moralitas. Nah, disitulah baru semua orang menjadi paham bahwa gagasan yang ada dalam motto Unair memenuhi semua kriteria yang dibutuhkan guna mencari jalan keluar dari permasalahan itu. Ini lah nilai lebih Unair. Belum ada perguruan tinggi lain yang mempunyainya. Hal ini selanjutnya yang menarik perhatian seorang kandidat S-3 dari Universitas Pajajaran untuk membuat disertasi tentang excellence with morality. WU Seberapa besar urgensi motto itu ditengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mensyaratkan sumber daya manusia yang unggul dalam bidangnya dan bisa memenangkan persaingan

Kalau sebelumnya mereka hanya memikirkan keuntungan besar, kini mereka punya konsep CSR (corporate social responsibility). dan ini tentu berlawanan dengan paham mereka. WU Dalam prakteknya, apa syarat utama untuk dapat melakukan tugas yang sangat mulia itu? F: Kepemimpinan dalam segala lini adalah yang diperlukan dan ini tentu berkaitan dengan ketersediaan sumber daya manusia yang kapabel. Selanjutnya harus ada practical guideline untuk pelaksanaannya bagi komunitas kepemimpinan. Harus ada penegasan komitmen lembaga pada moralitas. WU: Lalu, apakah sumber daya manusia yang ada saat ini mampu menerima dan melaksanakannya Pak? Sementara mayoritas SDM saat ini lahir di tengah situasi moralitas yang memprihatinkan? F: Saya melihat sisi lain, yaitu dimensi nurani mereka yang masih dapat diajak untuk berdialog, yaitu untuk tujuan penguatan. Artinya, saya masih optimis untuk terjadinya perubahan , karena mereka adalah orang-orang yang juga pernah memperoleh pembelajaran nurani. Pembelajaran nurani adalah sebuah pergulatan yang berat dalam hidup ini. Mereka mendapatkan pelajaran agama dan mereka juga memahami perlunya sebuah kedamaian. Mangestuti

meraih keunggulan berbasis moralitas dalam setiap langkah dan ruang gerak. Ini berarti, F: misalnya, produk akademik Motto itu mendapatkan Unair tidak pernah akan tergoda momentumnya saat ini, yaitu untuk melakukan praktek ketika tren demoralisasi semakin plagiat. Demikian pula, mengkhawatirkan. Kita dengar dan penanggung jawab keuangan saksikan adanya praktek plagiat, tidak akan tergoda untuk demoralisasi lembaga negara dll. melakukan kecurangan. Jadi, Sementara, paham kapitalisme sesungguhnya motto itu harus saja sudah merubah pola pikirnya. menjiwai dan memberikan makna yang DAFTAR RIWAYAT HIDUP bernilai lebih dalam. Moralitas memang dapat Nama : Prof. Dr. H. Fasich, Apt. dipahami sebagai Pangkat dan ruang golongan : Guru Besar (IV/d) sesuatu yang tidak Tanggal lahir : 31 Desember 1946 bertepi, sehinggga selalu Tempat lahir : Lawang, Malang akan berkembang sesuai Agama : Islam tuntutan jaman. Namun, Status pernikahan : menikah. kita perlu norma dasar Nama isteri : Mughnijah (58 tahun) yang dapat Putra : menyesuaikan dengan Achmad Chusny Ramdhani ( 34 tahun ) tuntutan zaman. Nur Rochmah ( 31 tahun ) WU Jujur, banyak pihak

Muhammad Yasir ( 29 tahun ) Nur Hidayati ( 22 tahun ) Cucu : 3 orang Pendidikan : a. Sekolah Rakyat (SR) Semboro 1, Tanggul – jember, lulus 1959 b. Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Ii bagian B, Jember, lulus 1962 c. Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Negeri, Paspal, Jember, lulus tahun 1965 d. Universitas Airlangga (Fakultas Farmasi): Lulus sarjana tahun 1974 Lulus apoteker tahun 1976 e. Institut Teknologi Bandung : Doktor MIPA tahun 1982 Pengalaman jabatan: 1. Kepala Lab. Biofarmasetika – Farmakokinetika, Jurusan Farmasetika, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, 1990 – sekarang. 2. Sekretaris Tim Pengelola Program Pendidikan Apoteker Spesialis Farmasi Rumah Sakit, Universitas Airlangga, 1991-1994 3. Pembantu Rektor Universitas Bangkalan – Madura, 1987 – 1990 4. Rektor Universitas Bangkalan-Madura, 1990 – 1994 5. Anggota Dewan sosial Politik Daerah E,. 1992 – 1998 6. Pjs. Ketua Program Studi Ilmu Farmasi, Program Pascasarjana, 1993 7. Asisten Direktur I Bidang Akademik Program Pascasarjana Univ. Airlangga, 1994 – 1998 8. Dekan Fakultas Farmasi Univ. Airlangga, 1998 – 2002 9. Pembantu Rektor Bidang Akademik Universitas Airlangga 2002 – 2006 10. Rektor Universitas Airlangga 2006 – 2010 11. Rektor Universitas Airlangga 2010 – 2015

Yit-Warta Unair


NO :

WARTA SIVITAS

57

Tahun VI Juni 2010

09

 Lunch Buffet D3 Pariwisata Unair MENIKMATI makan siang dengan menu berupa masakan khas Sunda jarang sekali bisa dilakukan di Surabaya. Karaktersitik rasa masakan Sunda yang pedas berbeda dengan masakan Jawa Timur yang asin dan gurih membuat masakan Sunda sulit ditemui di Surabaya. Karena itu, ketika mendapat undangan untuk mengikuti lunch buffet dengan tema Saung Sunda yang diadakan oleh mahasiswa D3 Pariwisata Universitas Airlangga saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Ini kedua kalinya saya diundang untuk mengikuti acara lunch buffet seperti ini. Meskipun chef dan waiter/ waitress-nya masih mahasiswa, namun mereka mampu membuktikan diri bahwa mereka dididik secara profesional. Terbukti dari bagaimana mereka mengemas acara, menata ruangan, melayani tamu, hingga rasa masakannya, mereka melakukannya seperti hotelman yang sudah berpengalaman. Suasana pedesaan di Jawa Barat terasa dihadirkan dalam ruangan tempat lunch buffet berlangsung, dengan adanya gubuk kecil, taman dalam ruang,

dan lantunan seruling. Ditemani oleh chef utama, Imel, saya mulai menikmati menumenu yang disajikan. Tentu saja yang pertama adalah menu apettizer. Untuk tema kali ini para mahasiswa menyuguhkan asinan Bogor yang terkenal itu. Irisan buah-buahan seperti mangga muda, mentimun, pepaya mengkal, dan nanas disajikan dalam kuah dari campuran cabe rawit dan asam. Hmm, rasanya segar sekali menikmati asinan Bogor di kota yang panas seperti Surabaya ini. Rasanya yang asam dan sedikit pedas membuat lidah terangsang untuk merasakan menu selanjutnya.

Selanjutnya Imel merekomendasikan untuk mencoba menu soup, yaitu soto Bandung. Jujur, ini baru pertama kalinya saya mencicipi soto Bandung. Pertama kali mendengar kata soto pasti yang teringat adalah makanan berkuah kuning dengan isian daging. Tapi, berbeda dengan soto dari daerah lain, kuah soto Bandung ini bening. Kuahnya tidak menggunakan banyak bumbu atau rempah, hanya kaldu sapi dan serai. Sekilas terasa seperti sop buntut, tapi terasa lebih segar karena perasan jeruk limau yang dipercikkan ke dalam kuahnya. Isiannya berupa irisan

Gin-Warta Unair

Mahasiswa D3 pariwisata siap melayani lunch buffet.

Gin-Warta Unair

Nasi tutug oncom, gurami bakar saus mangga, tahu bandung dan lalapan serta segelas es goyobod.

daging sapi, lobak, kacang kedelai goreng, dan irisan daun seledri. Daging yang dipakai adalah daging lulur, sehingga lemaknya sedikit dan terasa empuk. Selesai menikmati soto Bandung, saya meneruskan menikmati main course. Sebenarnya para mahasiswa menyiapkan beberapa menu main course, seperti nasi tutug oncom, nasi timbel, ayam goreng Cirebon, gurami bakar saus mangga, pais patin lauk saung Sunda, hati ampela sambal Parahiangan, lalapan Sunda, tahu Bandung, dan lainlain. Tetapi Imel menyarankan saya untuk menikmati nasi tutug oncom dengan gurami bakar, lalapan, hati ampela sambal Parahiangan, dan tahu Bandung. Menurutnya ini menu yang istimewa, karena bahan-bahannya langsung didatangkan dari Bandung. Saya pun mengiyakan. Dengan sigap Imel menghidangkan nasi tutug oncom yang disajikan dalam daun pisang ditemani ikan bakar, lalapan, dan

MADURA VILLAGE IN UNAIR SELASA tanggal 25 Mei 2010 adalah momen yang mengesankan bagi para mahasiswa D-3 Pariwisata. Pada hari tersebut mereka menggelar sebuah kegiatan yang bertajuk “Madura Village”. Bertempat di gedung D lantai 2 FISIP Unair, acara tahunan tersebut dihelat untuk melatih selling skill para mahasiswa. Para mahasiwa dituntut untuk bisa mengelola semua hal yang berkenaan dengan kegiatan tersebut. Mulai dari aspek pengelolaan SDM, produksi (seperti membuat aneka makanan khas madura), pemasaran, penjualan, hingga keuangan. Kegiatan semacam ini sudah diselenggarakan selama 13 tahun oleh mahasiswa D-3 Pariwisata, namun pemilihan tema “madura village” sengaja dipilih dikarenakan sebelumnya tidak pernah ada yang mengangkat tema tersebut.

Alhasil, panitia yang terdiri dari angkatan 2008 sebanyak 12 orang haruslah merancang sendiri dekorasi maupun pernak-pernik lainnya untuk benar-benar menghadirkan nuansa madura dalam event tersebut. Demi mewujudkan itu semua, para panitia bahkan sampai melakukan survey ke pulau garam tepatnya di kota Bangkalan agar bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh terkait konsep yang direncanakan bersama tersebut. Survey pun dilakukan di berbagai lokasi seperti rumah makan, pantai hingga ke rumah-rumah penduduk sekitar. Hasilnya pun cukup memuaskan. Mereka sampai bisa menyuguhkan aneka makanan khas madura seperti nasi goreng jagung, sate kelapa, adun bangkalan, rujak tolet dan lain-lain. Mulai dari dekorasi tenda makanan, ornamenornamen di dinding, pemilihan pakaian

daerah hingga alunan musik yang mengiringi semuanya bernuansa madura. Bahkan untuk mendekorasi ruangan, tiga hari sebelum berlangsungnya acara, mereka menghabiskan waktu di kampus mulai pagi hingga malam. Saat ditanya tentang kesan yang diperoleh ketika menyelenggarakan kegiatan tersebut. Tara, salah seorang panitia penyelenggara mengungkapkan bahwa menyelenggarakan kegiatan tersebut cukup susah. Misalnya dalam hal penjualan, panitia ditarget oleh dosen untuk mendapatkan minimal 40 undangan baik VIP maupun reguler. Namun dengan berbagai upaya dari para panitia akhirnya target minimal tersebut dapat terpenuhi. Akan tetapi bagaimanapun juga, para panitia merasa puas atas realisasi kegiatan karena mereka telah mengupayakan yang terbaik demi suksesnya kegiatan tersebut. Vick

tahu Bandung. Nasi tutug oncom adalah masakan khas Sunda di mana nasi ditanak bersama dengan bumbu oncom, sehingga nasi memiliki aroma oncom. Aroma nasi tutug yang hangat membuat air liur mengalir dan ingin segera menyantap menu utama siang itu. Untuk mendampingi nasi yang nikmat tersebut, Imel memilihkan ikan bakar dan tahu Sunda yang “diimpor” langsung dari Bandung. Ditemani lagu-lagu khas Sunda yang dimainkan oleh anak-anak anggota Sanggar Alangalang membuat suasana makan siang itu menjadi lebih terasa. Puas menikmati menu utama, saatnya beralih ke makanan penutup. Untuk makanan penutup, para mahasiswa D3 Pariwisata sudah menyiapkan surabi Bandung dan es goyobod. Berbeda dengan serabi Solo, surabi Bandung dimakan tanpa kuah. Selain itu, surabi Bandung juga memiliki isian di dalamnya, seperti coklat, keju, dan pisang. Sedangkan es goyobod adalah sejenis es campur dengan kuah santan dan isian kolang kaling, kelapa muda, alpukat, agar-agar, dan nata de coco. Rasanya yang segar pas sekali menutup rangkaian acara makan siang itu. Praktek lunch buffet yang diadakan setahun sekali ini merupakan ajang praktek mahasiswa D3 Pariwisata Unair ini ternyata sanggup menunjukkan keahlian mereka dalam hal pariwisata. Karena itu, mereka mengundang kalangan luar seperti orang tua, stakeholder, dan teman-teman mahasiswa untuk mempertunjukkan keahlian mereka. Jika ada kesempatan untuk mengunjungi acara lunch buffet semacam ini lagi, pastikan untuk tidak melewatkannya.gin


10

NO :

57

Tahun VI Juni 2010

WARTA SIVITAS

Komisi X DPR RI Ajukan Revisi UU Sisdiknas Kampus C – Warta Unair Sebanyak 20 orang anggota Komisi X DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Universitas Airlangga (22/6). Kunjungan tersebut ditujukan untuk melakukan dengar pendapat dengan rektor universitas negeri dan swasta di Jawa Timur mengenai berbagai masalah pendidikan tinggi. Hadir dalam pertemuan itu antara lain Rektor Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Rektor UPN Veteran Surabaya, pimpinan Universitas Negeri Surabaya dan pimpinan Universitas Wijayakusuma. Dalam penjelasannya, Rektor Unair Prof. Fasich, Apt., mengatakan, bahwa pemberian otonomi bagi pendidikan tinggi merupakan sebuah keharusan. Otonomi, menurutnya, merupakan kebutuhan perguruan tinggi agar dapat melaksanakan misinya menghasilkan lulusan yang berkualitas. Dalam dialog yang berlangsung, pimpinan perguruan tinggi yang hadir menyampaikan berbagai permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian, antara lain yang timbul setelah dibatalkannya UU BHP. Ketua rombongan Komisi X DPR RI Heri Akhmadi mengatakan, dicabutnya UU

Drs. Heri Akhmadi (tengah) dalam dialog di Universitas Airlangga. Yit-Warta Unair

BHP seharusnya tidak memberikan pengaruh bagi perguruan tinggi BHMN, walaupun diakuinya polemik tentang hal

itu masih juga berlangsung. Heri yang juga wakil ketua Fraksi PDIP ini sependapat bila perguruan tinggi harus memperoleh

otonomi. Karena itulah, Komisi X DPR sedang melakukan kajian untuk merevisi UU Sisdiknas agar dapat mengakomodir kebutuhan dunia pendidikan secara umum dan pendidikan tinggi secara khusus. Heri mengatakan, yang menjadi permasalahan dalam UU BHP adalah seolah-olah semua badan pendidikan harus diseragamkan menjadi badan hukum pendidikan. Padahal banyak di antaranya yang dimiliki oleh yayasan, sehingga sulit untuk diubah sesuai ketentuan perundangan tersebut. “Pemberian otonomi menurut UU BHP itu kan sebenarnya tidak dilarang. Tetapi ada pasal yang mensyaratkan semua harus diubah menjadi badan hukum pendidikan. Padahal kan ada perguruan tinggi yang dimiliki oleh yayasan. Masa’ yang seperti itu juga dijadikan BHP,” ungkap Heri. Setelah mendengarkan semua permasalahan dari para rektor dan Koordinator Kopertis Wilayah VII, Heri berjanji akan membawa masalah pendidikan tinggi ini ke tingkat pusat secepatnya agar segera dicarikan jalan keluar, misalnya dengan membuat peraturan pengganti. Gin

 Joint Scientific Meeting in Dentistry

Regenerasi Tulang Banyak Diminati

Bes-Warta Unair

Seorang peserta seminar yang sedang mengajukan pertanyaan.

FKG - Warta Unair Sasaran kedepan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga untuk menjadi FKG yang diperhitungkan di tingkat internasional mendapat sambutan sangat positif dari para praktisi dokter gigi di Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari kerjasama FKG Unair dengan Hiroshima University (Jepang) dan University of Malaya (Malaysia) melalui kegiatan seminar internasional “Joint Scientific Meeting in Dentistry”, diikuti oleh 403 peserta. Sebagian besar mereka adalah dokter gigi praktik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Seminar dilaksanakan dua hari, 15-16 Mei 2010 di Sheraton Hotel Surabaya, dengan topik yang diakui sangat menarik, yaitu “New Vision in Oral Health-Present and Future”. Karena tema tersebut dinilai berat atau berbobot, maka panitia semula hanya memperkirakan maksimal diikuti 200an peserta, namun ternyata setelah pendaftaran animo peserta itu menjadi berlipat dua kalinya. “Terus terang karena temanya berat kami hanya memprediksi sekitar 200 peserta saja. Jadi luberan peserta ini benarbenar diluar dugaan kami,” kata Ketua Panitia, drg. Ketut Suardita, Sp.KG., Ph.D., disela berlangsungnya seminar di hari

pertama Sabtu, 15 Mei 2010 kemarin. Seminar tersebut kemarin dibuka oleh Wakil Rektor I Universitas Airlangga, Prof. Dr. Muhamad Zainuddin, Apt., didampingi Dekan FKG Unair Prof. Dr. drg. Ruslan Effendy, MS., SpKG. Dalam laporannya pada acara pembukaan, Ketut Sudiarta mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai arena memupuk kerjasama ketiga FKG di tiga universitas tersebut yang sudah sejak lama menjalin kerjasama. Jadi dalam hal ini FKG Unair sebagai penyelenggara mengajak mitra-mitra kerjanya baik yang berasal dari FKG dalam negeri dan luar negeri untuk menjadi pembicara utama (lihat daftar pemakalah). Regenerasi Tulang Tema “New Vision in Oral Health-Present and Future” itu dipilih dengan harapan peserta dapat mengetahui perkembangan baru dalam dunia kedokteran gigi, sehingga baik secara akademik maupun praktik dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan gigi kepada masyarakat. Karenanya sesuatu yang sekarang sedang “in” dan apa yang kelak akan dibutuhkan juga dibahas dalam seminar ini. Salah satu hal yang paling menarik untuk diantisipasi pada masa depan adalah

bagaimana melakukan regenerasi tulang, dalam hal ini tulang gigi. Selama ini regenerasi pada kerusakan tulang masih tetap menggunakan metode yang sudah kurang sesuai lagi, sementara dunia ilmu pengetahuan sudah membahas penggunaan materi yang dapat memperbaiki kerusakan gigi secara lebih cepat. Diantara metode yang akan terus dikembangkan kedepan itu, menurut Ketut, adalah stem-cell .Unair juga sudah diketahui secara internasional sebagai anggota jaringan pengembang stem-cell, walaupun masih pada tahap awal dan belum seperti di Jepang yang sudah sampai pada tahap rehabilitasi klinik. “Kegiatan seminar internasional ini sekaligus secara akademik diharapakn dapat meningkatkan kompetensi FKG Unair dan Universitas Airlangga menuju World Class University,” kata Ketut. Untuk itulah dalam seminar ini juga diadakan “Table Clinic”, yaitu acara

dengan makalah “Tissue regeneration therapy for the defects of bony structures and teeth in the craniofacial region”; Prof. Dr. Zainal arif Abdul Rachman (Malaya) dengan makalah “Computerised Craniomaxillofacial Surgery”, Yasusei Kudo, DDS., Ph.D (Hiroshima) dengan makalah Indentification and characterization of new invasion relating molecules of head and neck squamous cell carcinoma”, Prof. Hiroki Nakawa, DDS., Ph.D (Hiroshima) dengan makalah “Nobel strategies for oral health from biofilm research”; Prof. Dr. drg. Iwa Soetardjo RS, SU., Sp.KGA(K) (Univ Gajahmada) membahas tentang “Holistic approach to solve the problems of tooth movement in growt and development stage”, dan Prof. Dr. H. Eky S. Soemantri, drg., Sp.Ort (Unpad) yang membahas “ Orthodontic treatment of dentofacial anomalies: an integrated edtheticfunctional approach”. Pada hari kedua, Minggu 16 Mei 2010, pembicara utama: Prof. Zeti Adura Che Abdul Azis (Univ Malaya) – Root canal treatment-present and future); Prof. Hiroyuki Kawaguchi, DDS., PhD (Hiroshima – Periodontal tissue regeneration-present status and future); Prof. Dr. Phrabhakaran Nambiar (Univ Malaya – Evaluation of mandibular canal atmental foramen region employing cone beam Bes-Warta Unair Prof. Kazuo Tanne (Hiroshima University) menyampaikan computed tomography); Prof. M. Dharma Utama, paparan makalahnya. drg., Ph.D., Sp.Pros (Unhas pelatihan langsung secara praktik oleh para – Analysis relationship of masticatory peserta dibawah pengawasan para ability with nutrition status on elderly of ahlinya. Terdapat enam tema “Table buginese and mandarnese tribe on Clinic” yaitu periodontic, conservative Sulawesi); Prof. Bambang Irawan, drg., Ph.D dentistry, orthodontics, pediatric (UI – Dental Biomaterials, present and dentistry, prosthodontic, dan oral future in dentistry); Prof. Coen Pramono surgery. D, drg., SU., Sp.BM(K) (Universitas Airlangga Pada hari pertama, Sabtu 15 Mei – Mandibulator reconstruction usin tampil sebagai pembicara utama adalah autogenus bone graft applied in Prof. Kazuo Tanne, DD., Ph.D (Hiroshima) decorticated cortical bone). Bes


NO :

WARTA SIVITAS

57

Tahun VI Juni 2010

11

 Kuliah Tjokroaminoto Untuk Kebangsaan dan Demokrasi

Keadilan untuk Prospek Ke-Indonesia-an Masa Depan BELAKANGAN ini berita mengenai ketimpangan dalam hukum kerap menghiasi media-media. Berbagai cerita tentang masyarakat miskin dan lemah menjadi korban ketidakadilan hukum mewarnai keseharian. Carut marutnya peradilan di Indonesia membuat masyarakat kecewa dan tidak lagi percaya kepada aparat penegak hukum. Akibatnya masyarakat menjadi apatis, menganggap hukum tidak lagi berpihak kepada rakyat kecil, hanya kepada mereka yang berduit dan memiliki kuasa, dan bertindak berdasarkan aturan mereka sendiri. Merebaknya isuisu tersebut, menurut Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Dr. H. Mahfud M.D. mengingatkan kita, bahwa sebuah bangsa akan hancur jika dipimpin oleh orang-orang yang tidak adil. Sejarah sudah mencatat bangsa-bangsa yang bernasib demikian, mulai dari Firaun hingga Sriwijaya dan Majapahit. Berbicara dalam Kuliah Tjokroaminoto Untuk Kebangsaan dan Demokrasi dengan tajuk “Prospek Ke-Indonesia-an dalam Perspektif Penegakan Hukum” di Aula Garuda

Mukti Kantor Manajemen Universitas Airlangga (7/6), Mahfud MD mengatakan, negara membuat hukum dan Undang-Undang untuk menegakkan keadilan. Jika dalam hukum justru termuat hal-hal yang memungkinkan seseorang untuk berlaku tidak adil, maka lebih baik hukum tersebut ditinggalkan saja. Pasal-pasal hukum yang harus diikuti adalah denyut-denyut kehidupan masyarakat sehari-hari. Sebagai hakim, Mahfud sadar betul selalu merasakan dilema dalam melaksanakan tugas. Setiap aparat penegak hukum, hakim, jaksa, hingga pengacara, mengerti akan selalu ada perdebatan di antara mereka dengan dalil masingmasing yang masuk akal. Karena itu, mereka bisa mempengaruhi opini orang lain akan suatu perkara. Yang menjadi berbahaya, jika hakim, jaksa, dan pengacara kemudian berembug untuk menentukan hasil perkara. Inilah yang menjadi cikal bakal mafia hukum yang mencederai rasa keadlian masyarakat. Hal inilah yang membuat Indonesia tersandera oleh masa lalu dan politik kekinian. Tersandera

masa lalu karena praktek-praktek korupsi yang sudah merajalela sejak rezim Orde Baru. “Akibatnya orang jadi susah untuk berbuat baik karena memiliki catatan masa lalu yang buruk. Menegakkan hukum menjadi susah karena banyak aparat penegak hukum yang korup,” kata Mahfud. Hal itu seperti yang terjadi dalam kasus Susno, di mana dia berusaha membongkar keburukan institusinya, namun dia sendiri terjerat pada kasus masa lalu. Sedangkan maksud tersandera pada politik kekinian adalah di mana para pemimpin tampil ke depan publik dengan bantuan cukong-cukong politik. Mereka membayar untuk bisa maju ke dalam panggung politik dan untuk memperoleh jabatan, sehingga ketika sudah berhasil menjabat, mereka berusaha mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan. Akhirnya siklus pun kembali berulang. “Basis terdepan nasionalisme kita adalah justice atau keadilan. Keadlian berarti titik temu antara common sense, undang-undang, dan hati nurani. Penyeimbang dari

Gin-Warta Unair

Prof. Dr. H. Mahfud M.D. (kiri) dalam acara Kuliah Tjokroaminoto.

ketiga hal tersebut adalah hati nurani,” ujar Mahfud. Hati nurani menurutnya, dapat merasakan hal yang terasa mengganjal di hati kita jika kita melakukan sesuatu yang dirasa salah. Karenanya, untuk mengembalikan nasionalisme dan keadilan kita ke jalan yang benar, bangsa Indonesia harus kembali ke hati nurani. Jika keadlian sudah

P R E S T A S I

Ukir Prestasi di Ajang Olimpiade Akuntansi FAKULTAS Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga kembali mengukir prestasi di kancah nasional dengan keberhasilannya meraih juara dalam ajang olimpiade akuntansi. Pada olimpiade yang berlangsung selama tiga hari tersebut (20 – 22 Mei 2010), tim Unair yang terdiri dari Vicky Vendy, Jocelin Go dan Lisa Imawati Fibrina, ketiganya mahasiswa program studi akuntansi angkatan 2007, meraih juara II pada National Accounting Olympiad yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada olimpiade kali ini, tim yang turut bertanding secara keseluruhan berjumlah 39 tim dari 22 universitas di seluruh Indonesia. Pada hari pertama, tim tersebut haruslah melewati babak penyisihan tahap pertama yang selanjutnya diambil 20 besar untuk masuk pada penyisihan tahap kedua. Tahap tersebut berupa paper-based test. Pada tahap ini masing-masing individu mengerjakan materi yang berbeda. Tiap personil mengerjakan soal akuntansi keuangan, akuntansi manajemen dan biaya, dan auditing. Pada tahap ini, tim Unair menduduki peringkat ketiga dan bahkan salah satu personilnya yaitu Vicky meraih penghargaan sebagai The Most Valuable Player (MVP) karena memiliki nilai tertinggi dalam pengerjaan auditing. Penyisihan tahap kedua pun bertujuan untuk menyeleksi sembilan tim terbaik yang berhak memasuki babak semifinal untuk bertanding kembali keesokan harinya. Atas upaya yang gigih dari para personil, tim Unair pun berhasil menempati peringkat pertama pada penyisihan tahap kedua. Walhasil, capaian tersebut mengantarkan mereka masuk pada babak selanjutnya. Pada hari kedua, sembilan tim yang mengikuti babak semifinal ditandingkan kembali yang kemudian akan diambil tiga besar untuk masuk

Vicky Vendy (tengah), Jocelin Go dan Lisa Imawati Fibrina saat vick-Warta Unair menerima hadiah dalam Olimpiade Akuntansi di UGM.

ke babak final. Kali ini materi babak tersebut sangat berbeda dengan babak penyisihan. Materi gamebased mendominasi babak semifinal. Namun tim Unair berhasil mengatasi hal tersebut dan mencapai posisi ketiga, sehingga mereka pun berhak untuk melenggang ke babak final. Pada babak final yang terdiri dari babak adu cepat menjawab soal dan presentasi kasus, dengan segala daya dan upaya tim Unair akhirnya mampu finish dengan poin tertinggi kedua yang akhirnya menempatkan mereka sebagai jawara kedua pada event tahunan yang dihelat oleh Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada tersebut. Kemenangan yang diraih di UGM tersebut sebenarnya bukanlah hal yang pertama kali bagi mereka. Tim tersebut sebelumnyajugatelahmeraihmasing-masing juara pertama pada olimpiade akuntansi nasional yang dihelat oleh Universitas Brawijaya Malang (17/11/09) dan Universitas Padjadjaran Bandung (18/02/10). Kunci keberhasilan atas kemenangan di olimpiade tersebut terletak pada tim yang solid dan spesifikasi kompetensi yang dimiliki masing-masing

personil. Lisa yang kapabel di akuntansi manajemen dan perpajakan, Jocelin Go di akuntansi keuangan, dan Vicky di auditing. Selain itu, modal menjadi juara pertama pada olimpiade-olimpiade sebelumnya secara tidak langsung membentuk mental juara yang kuat pada tim tersebut. “dari awal berangkat ke Jogja kami sudah sangat berambisi untuk menang”, Ujar Vicky yang juga ketua Association of Sharia Economics Studies (AcSES) FEB Unair tersebut. Saat ditanya tentang kesan yang didapat selama mengikuti rangkaian olimpiade, Lisa pun berucap,”dari ketiga olimpiade yang sudah kami ikuti, yang paling amazing ya di UGM. Selain itu, perlawanan dari tim-tim pesaing juga sangat kuat, mereka semua ingin meraih kembali kejuaraan”. Hal tersebut bisa dimaklumi mengingat rival-rival yang ikut berlaga di UGM sebelumnya juga pernah bertemu saat olimpiade di Unibraw dan Unpad. Itulah sebabnya olimpiade di UGM pun menjadi ajang bagi tim universitas-universitas lain untuk membalas kekalahan mereka dari tim Unair.vicky

tidak lagi ada, maka keadilan akan mencari jalan nya sendiri, seperti yang telah ditunjukkan saat reformasi. “Belajar hidup dalam kejujuran, karena jika hidup dengan tidak jujur, kita akan selalu dalam ketakutan dan ketidaktenangan,” pesan Mahfud ketika menutup Kuliah Tjokroaminoto.gin

Prestasi Nasional Muchammad Zaenal Fanani NAMA Muchammad Zaenal Fanani, menambah rangkaian mahasiswa Universitas Airlangga yang berhasil meraih prestasi. Mahasiswa program studi Kimia Angkatan 2006 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) ini meraih penghargaan sebagai Pemuda Berprestasi Nasional pada Festival Pemuda Berprestasi Tingkat Nasional Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI Jakarta pada 5 Januari 2010. Pemuda yang telah belasan kali berpartisipasi dalam berbagai PKM tersebut menuturkan, bahwa proses untuk mendapatkan penghargaan tersebut cukup menantang. Mahasiswa yang berkeinginan untuk mengikutinya haruslah mengirimkan sebuah karya tulis yang selanjutnya diseleksi. Siapa yang lolos seleksi berhak untuk mempresentasikannya di kantor Kemenpora. Fanani tergerak untuk membuat sebuah karya tulis yang berjudul “Pemanfaatan Lumpur Lapindo sebagai Adsorben Amonia Pada Limbah Cair Amonia PT. Petrokimia Gresik”. Dia ingin meneliti apakah lumpur lapindo yang diaktifkan terlebih dahulu dapat digunakan sebagai adsorben amonia dari limbah petrokimia. Ia juga membahas bagaimana kemampuan adsorben lumpur lapindo dalam mengadsorbsi amonia bila dibandingkan dengan karbon aktif Alasan mengangkat topik itu adalah, meskipun lumpur lapindo merupakan sebuah musibah, namun ia yakin terdapatnya sisi positif yang masih bisa dimanfaatkan demi meningkatkan nilai guna dan mereduksi dampak negatifnya. Fanani pun berhak menyajikan karya tulisnya saat dinyatakan sebagai salah satu dari 20 makalah yang lolos seleksi tahap awal. Dari ke 20 makalah itu, 10 diantaranya terpilih untuk mendapatkan penghargaan. Fanani adalah salah satu dari 10 mahasiswa yang memperoleh penghargaan dalam ajang tersebut. Fanani yang pernah menjadi Kepala Departemen Biokimia Ikatan Himpunan Mahasiwa Kimia Indonesia (IKAHIMKI) mengatakan, ia termotivasi oleh kakak-kakak kelasnya yang kerap kali menjadi jawara dalam bidang karya tulis ilmiah. “ Melalui ajang kompetisi, saya mendapatkan kesempatan pergi melihat kota lain dan juga menambah uang saku,” katanya. Ia mengaku, bahwa kunci utama keberhasilan terletak pada ketekunan membaca. Hobi membaca membuat seseorang mempunyai berbagai ide sebagai modal utama dalam membuat karya tulis. Ia juga mengakui masih terdapatnya kesulitan yang menurutnya menghambat proses pembuatan karya ilmiah, yaitu sulitnya mengakses jurnal ilmiah. Pemuda yang pernah menjabat sebagai staf R&D BEM FST tersebut juga menyarankan kepada teman mahasiswanya agar rajin mencari informasi penyelenggaraan ajang kompetisi ilmiah melalui internet. VicVen


12

NO :

57

Tahun VI Juni 2010

OPINI

Peran (ke)budaya(an) dalam Membangun Peradaban IPTEKs

Urgensi Value dalam Kebudayaan Kita Mengapa nilai menjadi penting dalam membentuk kemajuan? Lawrence E. Harrison and Samuel P. Hutington (2000) dalam Culture Matter: How Values Shape Human Progress mengatakan bahwa nilai dalam setiap budaya memiliki andil yang menentukan keberhasilan perubahan yang hendak ditentukan. Hutington, dkk (2000: xv) mendefinisikan budaya sebagai istilah yang subjektif seperti nilai-nilai, sikap, kepercayaan, orientasi, dan praduga mendasar yang lazim di antara orang-orang

berbeda yang justru menghambat terjadinya kemajuan bagi negara tersebut.

O leh :

Dok Pribadi -Warta Unair

K

EBUDAYAAN tidaklah bermakna tunggal. Selalu hadir varian kebudayaan tergantung dari paradigma yang digunakan untuk mengkonstruksikannya. Titik singgung yang sama berkaitan dengan kebudayaan menurut JWM. Bakker (1984: 17) bahwa dalam kebudayaan kedudukan manusia adalah sentral, bukan sebagai orang, tetapi sebagai pribadi. Kepadanya segala kegiatan diarahkan sebagai tujuan. Itulah yang katanya membedakan agama dengan kebudayaan. Beda dengan agama, kebudayaan adalah spesifik insani, realisasi dari bawah, bukan rahmat dari atas. Karenanya, tidaklah heran jika dalam setiap konstruksi kebudayaan, peran manusia tidak pernah bisa diabaikan. Melalui kebudayaan, manusia memaknakan kehadirannya di dunia yang berbeda dengan makhluk lain. Pun melalui kebudayaan, manusia merealisasikan nilai-nilai kemanusiaannya demi kepentingan membentuk peradaban yang lebih konstruktif. Berbagai kemajuan peradaban modern seperti temuan di bidang IPTEKS pada dasarnya terlahir karena ada kultur yang mendorong kondusif terciptanya tradisi keilmuan yang baik. Beberapa negara yang menjadi ‘kiblat’ keilmuan modern, seperti Jerman, Inggris, Amerika Serikat, dan juga Jepang sesungguhnya terbentuk melalui pergulatan tradisi filsafat yang cukup panjang. Dialektika keilmuan di negara tersebut terbentuk melalui perdebatan kreatif para filsuf yang justru menggerakkan lahirnya sebuah tradisi berfilsafat demi peradaban keilmuan. Tampaknya, mereka adalah negara yang sadar betapa pentingnya peran kebudayaan dalam menggerakkan terciptanya sebuah tradisi keilmuan yang positif.

Listiyono Santoso (Staf Pengajar Departemen Sastra Indonesia, FIB UA) dalam suatu masyarakat. Mereka memberi contoh dua Negara Ghana dan Korea Selatan yang pada tahun 1960an awal menyebutkan betapa miripnya ekonomi keduanya. Mereka memiliki Produk Domestik Bruto per kapita yang setara, porsi ekonomi mereka yang serupa di antara produk manufacturing dan jasa primer, serta berlimpahnya ekspor produk primer. Pada‘tahun yang sama keduanya menerima bantuan ekonomi dalam jumlah yang seimbang. 30 tahun kemudian, Korea Selatan menjadi raksasa industri dengan ekonomi terbesar ke-14 di dunia, sementara Ghana tidak ada perubahan sama sekali, bahkan PDBnya seperlimabelas dari Korea Selatan. Bagaimana menjelaskan perbedaan yang luar biasa dalam perkembangan ini? Tahun 90an, Hutington dkk meneliti keduanya. Ditemukan fakta mengejutkan bahwa tidak diragukan lagi ternyata budaya memainkan peran besar dalam membentuk peradaban masing-masing. Orang Korea Selatan menghargai hidup hemat, investasi, kerja keras, pendidikan, organisasi, dan disiplin, sebaliknya Ghana mempunyai nilai yang

K E R J A

Strategi Kebudayaan Apa yang bisa ditangkap kemudian, ternyata nilai memiliki faktor penting dalam mendesain arah kemajuan peradaban kemanusiaan sebuah bangsa, termasuk di dalamnya adalah keinginan perubahan dalam Universitas Airlangga-BHMN. Menjadi lebih konstruktif atau justru destruktif, tergantung bagaimana kita memperlakukan nilai dalam kebudayaan. Sebagai sebuah institusi, Universitas Airlangga juga memiliki berbagai nilai yang harus diperjuangkan bersama dan menjadi praktik hidup setiap melaksanakan tugas, pokok dan fungsinya. Nilai bersama itulah yang kemudian bisa disebut sebagai identitas. Bagi Universitas Airlangga, identitas menjadi penting, agar perjalanan sebagai sebuah institusi, sekaligus warga kampus di dalamnya mencerminkan praktek hidup sebagaimana nilai yang diperjuangkan. Identitas Universitas Airlangga menjadi seperangkat nilai (values system) yang diperjuangkan, dipertahankan dan ditransformasikan kepada setiap warga kampus agar menjadi identitas ke-Universitas Airlangga-an yang sama. Bagaimanapun sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Airlangga selalu dikembangkan agar tetap seusai dengan perkembangan jaman dan selalu memiliki berbagai inovasi agar memiliki kebaruan ilmu pengetahuan, tekonologi dan seni (Ipteks) yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam setiap kebaruan inovasi yang ditemukan oleh Universitas Airlangga tentu saja berimplikasi pada resiko perubahan dalam sistem sosial dan sistem nilai yang selama ini dipegang teguh atau diperjuangkan. Konsep excellence with morality yang menjadi jargon perubahan memiliki makna strategis dalam rangka menciptakan sumberdaya manusia yang kompeten dalam profesinya dan bermoral sebagai manusia, baik personal maupun sosial. Dalam rangka kepentingan tersebut, strategi kebudayaan menjadi penting dilakukan. Bagaimana menciptakan manusia yang excellence dan bermoral jelas memerlukan strategi pencapaian. Karena problema besar yang selama ini kita hadapi adalah menghasilkan keluaran pendidikan yang integrated, cerdas sekaligus bermoral. Begitu juga, bagaimana pelak-

sanaan Tridharma perguruan tinggi tetap mengedepankan kompetensi, sekaligus berada dalam pagar moralitas. Dalam konteks ini, strategi kebudayaan untuk kepentingan capaian excellence with morality bisa dilakukan melalui 2 cara; teknologisasi kebudayaan dan rekayasa kebudayaan. Teknologisasi kebudayaan merupakan strategi bagaimana memaksa orang agar sesuai dengan prinsip nilai yang hendak dicapai, sedangkan rekayasa kebudayaan adalah melalui cara mendorong orang agar berbuat sesuai dengan prinsip nilai yang ditetapkan. Yang pertama bersifat mewajibkan, sedangkan yang kedua bersifat penyadaran. Tidak menjadi persoalan, mana yang harus didahulukan, mana yang belakangan. Namun, mendorong orang berbuat positif bukankah lebih baik dari pada memaksa orang untuk berbuat positif. Dengan demikian, dalam kondisi-kondisi tertentu memang dibutuhkan teknologisasi kebudayaan. Dalam masyarakat yang serba permisif dan tidak memiliki semangat untuk hidup dalam tertib sosial, dibutuhkan kelompok penekan yang memaksa dan mewajibkannya mengikuti aturan main yang disepakati. Michel Foucault dalam Dicipline and Punish (1930) mengatakan bahwa melalui pemaksaan diri, sebuah kekuasaan dapat mengontrol orang yang dikuasainya agar kian mudah dikuasai. Sementara rekayasa kebudayaan diperlukan pada masyarakat dalam situasi normal, masyarakat yang sejak awal memiliki kesadaran tentang pentingnya aturan main itu. Masyarakat yang sudah terbiasa hidup dalam tertib sosial, bergerak berdasarkan komitmen bersama. Itulah sebabnya, strategi kebudayaan menjadi penting dalam rangka menciptakan keluaran pendidikan sekaligus pengelolaan institusi yang berkarakter Excellence with Morality. Mewajibkan dan mendorong sivitas akademika Universitas Airlangga-BHMN agar menjalankan aktivitas Tridharma sesuai dengan nilai yang hendak diperjuangkan menjadi penting diwacanakan. Tanpa strategi kebudayaan yang jelas, dikhawatirkan jargon tersebut tidak bermakna implementatif. Beban berat ini yang harus dipikul oleh semua sivitas akademik, agar Universitas Airlangga benarbenar menjadi universitas yang melahirkan keluaran pendidikan yang excellence sekaligus bermoral. Semoga.

S A M A

Kerjasama Penelitian dan Pendidikan FK Unair-KMU Taiwan FK – Warta Unair. Program internasionalisasi kegiatan akademik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga berlanjut. Program yang terbaru adalah jalinan kerjasama yang diresmikan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding dengan Kaohsiung Medical University (KMU), Taiwan, pada hari Selasa (11/6) di Ruang Sidang Khusus FK Unair. Penandatanganan dilakukan sendiri oleh Dekan FK, Prof. Dr. Muhammad Amin, dr. Sp. P(K) dan Dekan Kaohsiung Medical University Chung Sheng Lai, M.D., Ph.D. Acara tersebut disaksikan pula oleh utusan dari KMU, yaitu Vice President sekaligus Chair Professor KMU Department of Public Health KMU Chien-Hung Lee PhD., Ying-Chin Ko MD PhD., dan Director MD PhD Program KMU Aij-Lie Kwan MD PhD MSc. Dalam sambutannya, Prof. Amin mengatakan, bahwa sebenarnya kerjasama antara ke dua institusi tersebut sudah berlangsung sejak 2007, dimana direktur program MD PhD KMU Taiwan menawarkan kerja sama kepada pegawai dan mahasiswa FK Unair untuk belajar ilmu bedah saraf atau

neurosurgery di kampusnya. Selain bekerja sama di bidang ilmu bedah saraf, para dokter dari Taiwan sebenarnya tertarik untuk meneliti potensi tanaman pinang dan sirih. Alasannya, ke dua tanaman itu ternyata berkhasiat sebagai pencegah kanker mulut. “Tanaman itu bisa dengan mudah kami temukan di Surabaya,” tambah Ying Chin Ko dalam bahasa Mandarin. Prof. Amin menyambut baik keinginan itu. “Berdasarkan ketentuan Pemerintah tentang Material Transfer Agreement (MTA), kami tetap akan melakukan penelitian sesuai dengan peraturan yang ada, dimana seluruh aktivitas penelitian di lakukan di dalam negeri, mulai dari pengambilan sampel hingga proses penelitiannya”. Ditambahkan oleh Prof. Amin, dalam kerjasama tersebut, KMU juga menawarkan beasiswa Program Pascasarjana S2 dan S3 untuk FK Unair.”Tawaran beasiswa tersebut merupakan peluang emas, mengingat jumlah tenaga doktor di FK Unair masih mencapai angka 60-70%. Diharapkan, peluang itu akan meningkatkan jumlah tenaga yang bergelar doktor” ungkapnya. fy

Bes-Warta Unair

Dekan FK, Prof. Dr. Muhammad Amin, dr. Sp. P(K) dan Dekan Kaohsiung Medical University Chung Sheng Lai, M.D., Ph.D. (kanan) dalam acara penandatanganan nota kesepahaman Fakultas Kedokteran Unair dan Kaohsiung Medical University (KMU), Taiwan


NO :

OPINI

57

Tahun VI Juni 2010

13

Sehatkah Anak Muda Indonesia? O leh :

Dr. Mangestuti Agil, MS., Apt. Dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Dok Pribadi -Warta Unair

B

ARU-BARU ini, sebuah perusahaan negara yang terkenal di Indonesia mengumumkan hasil tes kesehatan terhadap 100 orang pelamar lulusan perguruan tinggi (fresh graduate). Hasilnya sungguh mengejutkan, yaitu 60 diantara 100 pelamar dinyatakan gugur karena mengidap penyakit. Terdapat 4 jenis penyakit yang mengakhiri peluang mereka untuk maju ke babak tes selanjutnya, yaitu tingginya kadar asam urat , lemak dan gula dalam darah, tingginya tekanan darah dan berbagai gangguan jantung. Perusahaan itu bahkan berjanji akan mengirimkan hasil tes ke perguruan tinggi asal pelamar sebagai bahan masukan. Kabar tentang anak muda yang mengidap jenis penyakit seperti itu sangat memprihatinkan dan seharusnya mendapatkan tanggapan serius dari berbagai pihak. Mengapa? Alasan yang paling utama adalah, bahwa penyakit yang mereka derita disebabkan oleh gangguan fungsi berbagai organ vital tubuh, termasuk hati (liver), jantung dan ginjal. Kita semua tahu, bahwa kerusakan fungsi salah satu organ vital saja cepat atau lambat akan merambat kepada organ-organ vital lain, dan selanjutnya terjadilah kekacauan sistem kerja tubuh secara keseluruhan. Keadaan akan menjadi semakin buruk apabila terjadi pada seseorang yang semasa tumbuh kembang tidak mendapatkan perawatan cukup yang diperlukan untuk pertumbuhan organ tubuh secara sempurna. Pada orang-orang yang demikian, secara fisik terlihat sehat , namun kualitas kesehatannya perlu dipertanyakan. Hal itu tak ubahnya seperti mobil buatan sebuah negara berkembang yang mutunya pasti berbeda dengan buatan negara maju, walaupun dari luar sama-sama keren. Perbedaan mutu itu sudah tentu mempengaruhi daya tahan mobil, apalagi kalau mobil itu tidak mendapatkan perawatan secara teratur. Jadi, seorang anak yang sejak kecil kurang perawatan tentu daya tahan tubuhnya berbeda dibandingkan mereka yang dirawat secara baik, yaitu yang mendapatkan semua unsur yang dibutuhkan bagi

pertumbuhan dalam jumlah yang cukup. Penyebab pokok timbulnya masalah kesehatan seperti yang dialami pelamar kerja usia produktif itu pasti adalah buruknya gaya hidup. Yang termasuk ke dalam pengertian ini mencakup pola makan, olahraga, istirahat dan manajemen stres. Pemilihan gaya hidup seseorang menentukan daya tahan tubuhnya terhadap berbagai beban yang harus disangga untuk mempertahankan hidup. Daya tahan tubuh yang rendah akan menyebabkan orang menjadi mudah kena serangan penyakit, baik akibat infeksi mikro organisme maupun kerusakan organ tubuh. Salah satu gaya hidup yang memberikan andil sangat besar pada lemahnya daya tahan tubuh adalah pola makan. Pada saat ini pola makan sudah menjadi sebuah permasalahan yang sangat kritis hanya karena bagian terbesar masyarakat Indonesia sudah tidak menghiraukan lagi konsep empat sehat lima sempurna. Pengabaian itu bukan semata disebabkan oleh keterbatasan keuangan, na-

mun lebih pada rendahnya pemahaman bahwa sehat identik dengan daya tahan tubuh yang kuat. Rendahnya pemahaman itu selanjutnya termanifestasikan pada perilaku makan, yaitu hanya untuk mengisi tenaga dan bersifat rekreasi. Sebagai pilihan utama penambah tenaga pastilah nasi dan atau mie dalam jumlah banyak, sementara penetapan jumlah dan variasi lauk pauk disesuaikan dengan kemampuan kocek, keterbatasan waktu dan selera. Dasar pertimbangan penetapannya lebih kepada faktor rasa dan mungkin itulah asal mulanya timbul istilah wisata kuliner. Padahal, kita semua sebenarnya tahu bahwa melalui makanan dan minuman sehari-hari sel tubuh kita harus mendapatkan bahan bakar (karbohidrat, protein, lemak) dan bahan lain yang diperlukan untuk menyelenggarakan aktivitas metabolisme sel. Yang termasuk ke dalam kelompok bahan lain adalah mineral, vitamin, serat, yang harus tersedia walaupun hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Kalau kebutuhan itu terpenuhi ,maka metabolisme sel pasti berlangsung lancar dan menghasilkan kalori yang cukup yang dibutuhkan untuk aktivitas manusia sehari-hari. Selain aktivitas fisik, aktivitas sehari-hari itu juga mencakup pemeliharaan tubuh, seperti pergantian sel yang rusak dengan yang baru, pemeliharaan kesehatan jaringan saraf, pemeliharaan jaringan pembuluh darah dan lain-lain. Nah, ini lah yang sekarang luput dari perhatian banyak orang dan akibatnya ber potensi untuk menggerogoti fungsi organ tubuh vital. Asupan melalui makanan dan minuman yang lebih ditujukan bagi kenikmatan lidah itu pasti didominasi rasa manis, gurih, legit, dan itu semua didapat melalui penambahan gula, bahan kimia penyedap rasa, kaldu dari daging dan tulang hewan dalam jumlah berlebih. Inilah pangkal terjadinya kelebihan asupan gula dan lemak yang menjadi cikal bakal penyakit diabetes dan kelebihan kolesterol. Selanjutnya kelebihan kolesterol memicu pembuntuan pembuluh darah yang adalah awal timbulnya gangguan jantung. Se-

mentara tingginya kadar asam urat dalam darah merupakan indikator tingginya asupan protein melebihi kebutuhan orang dan kegagalan ginjal mengeluarkannya melalui air seni. Fenomena baru yang juga secara perlahan tapi pasti mengancam jiwa manusia adalah penggunaan bahan-bahan kimia yang mampu membuat makanan menjadi terasa enak seperti tuntutan selera konsumen. Bahan itu mengancam kesehatan sel dan ini yang ditakutkan sebagai pemicu terjadinya kanker dan tumor. Sudah tiba saatnya bagi kita untuk bertindak guna menghentikan dan mencegah hancurnya kesehatan anak muda Indonesia akibat pola makan yang keliru. Kehancuran kesehatan mereka adalah kehancuran masa depan generasi penerus bangsa. Oleh sebab itu, sudah tiba saatnya bagi kita untuk mengingat kembali nasehat Hippocrates, Bapak Kedokteran dunia, yaitu: “ Let foods be our medicines, and medicines be our foods�. Artiya , jadikanlah makanan sebagai obat bagi kita dan bukan menyebabkan timbulnya penyakit. Sedemikian mendesaknya pemecahan atas permasalahan kesehatan itu, maka tidak ada yang lebih ampuh selain memberikan pencerahan kepada keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat untuk merubah gaya hidup. Satu-satunya yang harus bertanggung jawab bagi pengadaan makanan dan minuman sehat adalah keluarga. Bentuk dan ajarkan pola makan sehat secara konsisten sejak masa tumbuh kembang anak, sehingga mereka akan selalu patuh dan menjalankannya dimana dan kapan saja. Agar berhasil, yang harus diutamakan pada saat ini adalah perubahan mindset, yaitu makan untuk kesehatan dalam arti sebenarnya dan bukan makan untuk kesenangan. Marilah kita bersama mengajak keluarga Indonesia untuk melaksanakan pola makan “empat sehat lima sempurna� secara konsisten, sebagai cara yang sudah terbukti keampuhannya dalam memperoleh keadaan sehat. Bukankah kita mendambakan anak muda Indonesia yang sehat jasmaniah dan rohaniah?

Motivasi Belajar (customer satisfaction) dalam dunia pendidikan, sehingga memudahkan mahasiswa lulus dianggap sebagai memberikan kepuasan kepada pelanggannya (mahasiswa) Pasar kerja di Indonesia semakin mengerti, bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi tidak lagi dipandang dari gelar kesarjanaan yang disandangnya, melainkan dari isi kepalanya. Akan terjadi seleksi alamiah dimana hanya orang-orang yang benar-benar ingin menguasai bidang ilmu tertentu saja, yang dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi yang lebih tinggi. Sedangkan, orang-orang yang hanya berburu gelar kesarjanaan akan menjadi tersingkirkan. Pada kondisi itu, maka kinerja perguruan tinggi tidak lagi diukur dari kemampuan dalam menghasilkan sebanyak-banyaknya sarjana, melainkan dari kemampuan dalam menghasilkan sarjana yang berkualitas, yang diukur dari penguasaan terhadap ilmu pengetahuan (Arko Pujadi, 2007). Di Universitas Airlannga kualitas lulusan sudah menjadi commitment para pengurus dan dosennya. Hal ini tampak misalnya dari ketersediaan fasilitas pembelajaran yang sangat memadai. Universitas Airlangga juga telah mencanangkan dimulainya pengembangan e-learning. Hampir semua dosen telah menjalani pelatihan e-learning untuk melaksanakan proses belajar dan mengajar. Namun, semua itu tidak berarti apa-apa bagi penciptaan sarjana yang berkualitas jika tidak dibarengi dengan upaya untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswanya (Pujadi, 2007) Pemuasan kebutuhan manusia merupakan tujuan dari motiv yang menggerakan perilaku seseorang. Motivasi dapat dipandang sebagai suatu rantai reaksi yang dimu-

O leh :

Dr. Soegeng Soetedjo, Akuntan (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga)

Dok Pribadi -Warta Unair

P

ADA saat ini timbul gejala kebanyakan mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dengan tujuan utamanya hanya sekedar untuk memperoleh gelar kesarjanaan. Bukan hanya mahasiswa pada tingkat S1, tetapi juga pada mahasiswa tingkat S2 bahkan S3. Gejala ini nampak dari beberapa kepala daerah atau pejabat daerah tertentu yang terkejut karena secara tiba-tiba stafnya sudah bergelar Magister Manajemen atau doctor, bahkan ada yang yang professor, padahal tidak pernah mendengar dan melihat staf tersebut mengikuti kuliah di perguruan tinggi tertentu. Anehnya gelar tersebut asli, meskipun mungkin palsu. Jelas bagi mahasiswa tersebut memperoleh gelar kesarjanaan ditempuh dengan segala cara tanpa melalui proses belajar dan mengajar yang wajar, sehingga sarjana semacam ini tidak memiliki pemahaman keilmuan sesuai bidang kesarjanaannya. Memang terdapat perguruan tinggi yang menfasilitasi kondisi ini, karena meskipun kualitas penguasaan ilmunya diragukan, namun demi kelangsungan hidup perguruan tinggi, mahasiswa tersebut harus diluluskan. Kondisi seperti itu jelas tidak akan menimbulkan motivasi belajar bagi mahasiswanya, karena tanpa belajarpun mahasiswa pasti lulus, lagi pula tujuan mengikuti pendidikan di perguruan tinggi memang hanya untuk mendapatkan gelar kesarjanaan. Praktek seperti ini menjadi berkesinambungan, karena kemauan mahasiswa sesuai atau sama dengan kemauan perguruan tingginya. Seperti yang disinyalir oleh Arko Pujadi (2007) banyak perguruan tinggi swasta yang salah kaprah menerapkan konsep kepuasan pelanggan

lai dari adanya kebutuhan, yang akhirnya menimbulkan keinginan. Barelson dan Steiner dalam Koontz (2001:115) yang kemudian dikutip oleh Pujadi, misalnya, mendefinisikan motivasi sebagai suatu keadaan dalam diri sesorang (innerstate) yang mendorong, mengaktifkan atau menggerakkan dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku kearah tujuan. Teori hirarki kebutuhan (hierarchy of needs) yang dikembangkan Maslow (1954) memandang kebutuhan manusia berjenjang

dari yang paling rendah hingga paling tinggi, dimana jika suatu tingkat kebutuhan telah terpenuhi, maka kebutuhan tersebut tidak lagi berfungsi sebagai motivator. Hirarki kebutuhan Maslow yang dikutip oleh Pujadi (2007) adalah sebagai berikut : 1. Kebutuhan fisik dan biologis (physiological need), yaitu kebutuhan untuk menunjang kehidupan manusia seperti makanan, air, pakaian, dan tempat tinggal. 2. Kebutuhan akan keselamatan dan keamanan (safety and security needs), yaitu kebutuhan untuk terbebas dari bahaya fisik dan rasa takut kehilangan. 3. Kebutuhan sosial (affiliation or acceptance needs), yaitu kebutuhan untuk bergaul dengan orang lain dan untuk diterima sebagai bagian dari yang lain. 4. Kebutuhan akan penghargaan (esteem or status needs), yaitu kebutuhan untuk dihargai oleh orang lain. Kebutuhanini akan menghasilkan kepuasan seperti kuasa, prestis, status dan kebanggaan akan diri sendiri. 5. Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization needs), yaitu kebutuhan untuk mengaktualisasikan semua kemampuan dan potensi yang dimiliki hingga menjadi orang seperti yang dicita-citakan. Dengan meminjam berbagai definisi tentang motivasi, maka motivasi belajar mahasiswa dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dalam diri mahasiswa yang mendorong dan mengarahkan perilakunya kepada tujuan yang ingin dicapainya dalam mengikuti pendidikai tinggi. Idealnya, tujuan mahasiswa dalam mengikuti pendidikan tinggi adalah untuk menguasai bidang ilmu yang dipelajarinya. Bersambung ke hal. 14


14

NO :

57

Tahun VI Juni 2010

Motivasi Belajar >>> Sehingga dalam mempelajari setiap bahan ajar, mahasiswa terdorong untuk menguasai bahan ajar dengan baik, dan bukan hanya untuk sekedar lulus meski dengan nilai sangat baik sekalipun. Meskipun nilai dan index prestasi mahasiswa dipakai sebagai tolok ukur penguasaan keilmuan, namun nyatanya nilai dan index prestasi yang tinggi belum tentu menjadi cerminan penguasaan keilmuan.. Sebaliknya bila seorang mahasiswa menguasai bahan ajar, insyaalah dia akan mendapatkan nilai dan index prestasi yang tinggi. Hal ini akan dapat dicapai bila proses belajar mengajar terstruktur dengan rapi termasuk sistim penilaiannya. Perlu disadarkan secara pelan-pelan, bahwa tujuan mengikuti pendidikan di perguruan tinggi adalah penguasaan ilmu atau aktualisasi diri (sesuai teori Maslow). Untuk mencapai tujuan ideal tersebut, kebutuhan mahasiswa dalam konteks pendidikannya perlu ditingkatkan dari hanya sebagai kebutuhan akan penghargaan. menjadi kebutuhan akan aktualisasi diri. Jika pendidikan tinggi dianggap hanya sebagai kebutuhan akan penghargaan, maka gelar kesarjanaanlah dan bukan penguasaan ilmu yang akan menjadi tujuan utama mahasiswa dalam mengikuti pendidikan tinggi. Sehingga ketika dalam kenyataannya, tujuan itu bisa dicapai tanpa harus susah payah belajar, buat apa pula belajar. Kelak diakhir proses pendidikannya, mahasiswa sudah merasa puas bisa menyan-

dang gelar kesarjanaan dan dengan demikian membuatnya bangga. Sebaliknya, jika pendidikan tinggi dianggap sebagai kebutuhan akan aktualisasi diri, maka mahasiswa akan mengeluarkan semua kemampuan dan potensi yang dimilikinya untuk memahami setiap bahan pembelajaran dengan baik. Pada tahap ini, belajar akan menjadi kegemaran yang mengasyikan kerena adanya keinginan atau semangat yang kuat untuk memahami bahan ajar dengan baik. Pada tahap ini belajar dengan menghadiri kuliah, membaca buku, artikel, jurnal, hasil penelitian, dan semua sumber ilmu yang relevan sangat perlu dilakukan. Kelak di akhir proses pendidikan, ia akan puas dan merasa pantas menyandang gelar kesarjanaan, karena sudah memahami atau menguasai ilmunya. Jadi jelas bahwa kedua tingkat kebutuhan tersebut, yaitu kebutuhan aktualisasi diri, merupakan faktor motivasi. Dengan demikian menjadi tugas perguruan tinggi dari hanya sebagai kebutuhan akan penghargaan (mendapatkan gelar) menjadi kebutuhan akan aktualisasi diri (penguasaan ilmu) harus dilakukan dari dalam diri mahasiswa. Instrument dalam perguruan tinggi yang tepat untuk menjalankan tugas ini adalah dosen dan penasehat akademik yang biasanya dijabat oleh seorang dosen juga. Dosen dan penasehat akademik perlu memberi pemahaman kepada mahasiswa bahwa pendidikan tinggi merupakan kesempatan yang baik

Unair Berakselerasi >>> excellency memang harus diimbangi dengan branding universitas. Untuk persoalan branding tersebut, Unair akan menempatkan posisi sebagai research university yang berkontribusi kepada medik, ekonomi, sosial, dan budaya. Pada saat ini, Unair merencanakan untuk mengembangkan diri menjadi national health science center. Tjitjik menegaskan riset yang menjadi perhatian universitas bersifat multi disiplin. “Misi branding universitas ini adalah untuk membangun Unair yang utuh, bukan hanya kumpulan fakultas tertentu saja. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan diharapkan selalu terintegrasi, mencakup bioekososiokultural,” terang Tjitjik. Peringkat QS juga menyebutkan beberapa universitas lain, baik di Indonesia maupun di luar negeri, mengalami penurunan peringkat. Melihat hal tersebut, Tjitjik mengatakan hal itu harus menjadi evaluasi bagi Unair ke depan nanti. Penurunan yang dialami oleh universitas lain dan keberhasilan yang diraih oleh Unair harus dicermati sebagai tantangan baru. Berbagai perencanaan dan pengembangan harus terus digenjot. Tugas Pertama Rektor Terpilih Setelah rektor baru terpilih, prioritas utama dalam strategi pengembangan Unair difokuskan pada pencitraan keunggulan Unair. Menurut Tjitjik, selama ini Unair kurang bisa mensosialisasikan citra unggul di mata masyarakat. Untuk itulah mulai sekarang pengelolaan branding menjadi pekerjaan pertama Prof. Fasich setelah terpilih kembali sebagai rektor. Tjitjik mengatakan, selama ini Unair lemah dalam melakukan branding karena beberapa pihak intern Unair sulit membuka diri untuk melakukan pencitraan atau me-

kan atau penurunan tingkat suku bunga bank sentral Amerika ke harga saham di Bursa Efek Indonesia, dan lain pengetahuan yang mungkin sangat berguna dalam pengembangan atau aplikasi disiplin ilmu kita. 3. Belajar dari internet. Dalam era IT modern seperti sekarang sepertinya tidak ada batas negara dalam berkomunikasi. Begitu cepatnya ilmu berkembang atau informasi menyebar keseluruh dunia. Dengan internet kita dapat bertukar pikiran dan berkonsultasi. Contoh, pada waktu penulis menjalani Program Academic Recharging (PAR) di London Business School (United Kingdom) selama November, Desember 2009 dan Januari 2010 tetap dapat membimbing skripsi, tesis, dan disertasi melalui jaringan internet dan facebook tanpa kesulitan yang berarti. Akhirnya ada resep sukses dari William A. Ward: Belajar ketika orang lain tidur, bekerja ketika orang lain bermalasan, dan bermimpi ketika orang lain berharap. Pesan dari penulis sebagaimana sabda Rasulullah: Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Carilah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan carilah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Tulisan ini juga saya sampaikan kepada rekan-rekan dosen di Universitas Airlangga, karena ketiga pesan tersebut relevan dengan tugas kita sebagai dosen. Semoga berkenan, amin.

Unair Harus >>> nunjukkan keunggulan mereka. Banyak yang masih kurang sadar dan kurang mengelola keunggulan mereka. “Orang-orang Unair itu terlalu low profile. Kalau mau dikenal masyarakat, harus ada self positioning dengan penyadaran potensi diri, self assesment, dan membandingkan dengan dunia luar. Karena itu, perlu pemimpin yang agresif,” ungkap Tjitjik. Mengenai masalah peringkat, Tjitjik yakin peringkat Unair akan tetap aman hingga tahun 2011 nanti. Pasalnya, penilaian peringkat pada tahun 2011 dilakukan berdasar data tahun 2010. Berdasar koleksi data 2010, performance Unair masih sangat baik. Jika dilihat dari peringkat dan perbandingan dengan tujuh universitas kelas dunia lain di Indonesia, kompetitor Unair saat ini adalah Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Meskipun dalam peringkat Institut Teknologi Bandung (ITB) berada di atas Unair, karena karakteristik dan bidangnya yang berbeda, ITB tidak bisa disebut kompetitor. Banyak yang mengatakan kompetitor Unair adalah Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), namun Tjitjik mengatakan itu sebenarnya sudah tidak tepat lagi. Unair sudah menang jauh dari ITS, hanya saja ITS mampu melakukan branding lebih baik. Itulah sebabnya Unair perlu melakukan branding yang lebih baik lagi. Tjitjik juga mengatakan saat ini Unair terlalu berkonsentrasi pada pengembangan program-program S1. Program-program S1 sebenarnya sudah sangat baik, tapi sudah waktunya bagi Unair untuk meningkatkan profesionalisme di program-program S2. Program-program S2 perlu lebih dikembangkan lagi karena sangat prospektif dalam hal SDM, income, dan share value yang dihasilkan.gin

Pelantikan Wakil >>> dari Asian University Ranking-QS.com. 2010. Dari ranking tersebut, Unair juga meraih posisi ke-17 dari seluruh universitas se-Asia Tenggara dan urutan ketiga di tingkat nasional. Prof. Fasich menegaskan, bahwa setelah capaian itu, terbentang semua tanggung jawab untuk mempertahankan dan meningkatkannya. Tanggung jawab itu harus dilaksanakan, terutama untuk membuktikan komitmen bersama dalam menjalankan amanah, yaitu sebagai tempat dihasilkannya lulusan pendidikan tinggi yang unggul, berkualitas dan bermoral agama. Rektor mengajak segenap sivitas akademika untuk memelihara momentum

bagi mahasiswa untuk menampilkan semua kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Keberadaan dosen dan penasehat akademik sangat penting karena ia merupakan instrument dalam perguruan tinggi yang bekerja dari dalam untuk memompa motivasi belajar mahasiswa, sementara instrument lainnya bekerja dari luar (ekstrinsik). Yang perlu disadari adalah berdasarkan teori kebutuhan Maslow, yang dikutip oleh AsianBrain.com terdapat faktor-faktor yang membedakan motivasi (termasuk motivasi belajar) setiap orang atau mahasiswa, sehingga penanganan untuk memompa motivasi belajar mahasiswa tidak dapat disamaratakan. Namun tetap saja bahwa motivasi belajar seharusnya diarahkan pada kebutuhan yang tertinggi, yaitu aktualisasi diri. AsianBrain.com juga memberikan tip-tip untuk meningkatkan motivasi belajar, yaitu: 1. Bergaulah dengan orang-orang yang senang belajar. Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar dan berprestasi akan menstimulasi kemauan belajar. Ingat pepatah: bermain air basah, bermain api, hangus. Ya oleh karenanya bergaulah dengan orang yang senang belajar, supaya ketularan gemar belajar. 2. Belajar apapun. Kita bisa belajar tentang berbagai pengetahuan yang mungkin sekali relevan dengan disiplin ilmu kita dari berbagai sumber, seperti koran harian dan majalah. Contoh bagaimana mewasdai revaluasi yuan, bagaimana pengaruh kenai-

keberhasilan dan menjaga agar makin progresif, sehingga dapat mencetak berbagai prestasi lain, baik yang berskala lokal, regional maupun global. Pada bagian akhir sambutannya, rektor menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada pejabat lama atas kerjasama yang sudah ditunjukkan, sehingga dapat mencapai prestasi yang membanggakan sebagai wujud pengabdian kepada bangsa dan negara melalui Almamater Universitas Airlangga. Rangkaian acara pelantikan tersebut terdiri atas penyumpahan, pelantikan, serah terima jabatan, pemasangan kalung jabatan dan penyerahan memorandum akhir jabatan. ***

beberapa pejabat, alumni, sivitas akademika, serta pimpinan bank dan industri yang selama ini sudah menjalin kerjasama dengan Universitas Airlangga. Dalam sambutannya, Sudi Silalahi SH menyatakan, bahwa Rektor terpilih adalah sosok yang tepat untuk mengemban tanggung jawab Universitas Airlangga dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi. Menurut Ketua MWA, diperlukan sebuah university governance yang mempunyai kemampuan optimal untuk dapat melaksanakan semua tanggung jawab yang tidak ringan itu, terutama di tengah ketatnya kompetisi antar perguruan tinggi dalam meningkatkan peringkat dunia. Dikatakannya lebih lanjut, bahwa di era otonomi perguruan tinggi ini, Majelis Wali Amanat, rektor dan sivitas akademika bertanggung jawab dalam menentukan jalannya perguruan tinggi secara otonomi. Pelantikan otonom pada hari ini adalah modal sosial bagi semua pihak untuk berjuang tanpa henti bagi mewujudkan otonomi akademik dan non akademik yang diperlukan bagi terbentuknya knowledge-based society. “BHMN memperluas peran Universitas untuk membangun dengan lebih mandiri. Saya berharap UNAIR bisa menjadi research university berkelas dunia. Mampu menciptakan masyarakat berbasis pengetahuan dan menjadi penggerak utama

perubahan masyarakat,” tandas Sudi Silalahi. Pada akhir sambutannya, Ketua MWA mengingatkan tentang perlunya memperbanyak aktivitas pengabdian masyarakat oleh sivitas akademika. Melalui aktivitas itu, Universitas Airlangga harus mampu mendorong perannya dalam meningkatkan martabat bangsa dan negara Indonesia. “Pelantikan Rektor ini adalah langkah awal untuk bekerja. Melanjutkan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama untuk meningkatkan prestasi dan kualitas. Beri sumbangan yang konstruktif. BHMN ini adalah asset nasional untuk cerdaskan kehidupan bangsa. Jadikan UNAIR ini peka terhadap dinamika masyarakat dan pembangunan,” demikian pungkas Ketua MWA. Sebelumnya, sebagai Rektor terpilih, Prof. Fasich, telah melewati serangkaian proses seleksi dan pemilihan Calon Rektor. Pada akhirnya, Prof. Fasich berhasil memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan Rektor yang digelar oleh Majelis Wali Amanat bulan Mei (22/ 5) lalu, mengungguli kedua calon rektor lain, Prof. Dr. A. Syahrani, Apt. dan Dr. M. Nasih. Dalam wawancara singkat setelah pelantikan, Prof. Fasich menyatakan bahwa target penting yang harus dipenuhinya adalah meningkatkan peringkat Universitas Airlangga di tingkat internasional. Menurutnya, ini adalah langkah yang paling penting untuk mempersiapkan sumber daya lulusan UNAIR agar mampu memenangkan persaingan di tingkat global. ma/her

Daftar Nama Rektor Universitas Airlangga No

Nama

Masa Bakti

1.

Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo

1954 - 1961

2.

Prof. Moh. Toha Ronodipuro, dr

1961 - 1965

3.

Kol. CKH. Chasan Doeryat, SH

1965 - 1966

4.

Prof. Dr. Eri Soedewo, dr

1966 - 1970

5.

Prof. Dr. Eri Soedewo, dr

1970 - 1974

6.

Prof. Kwari Setjadibrata, dr. Sp.A

1974 - 1975

7

Prof. Abdoel gani, SH., MS

1976 - 1980

8

Prof. Marsetio Donosepoetro, dr

1980 - 1984

9.

Prof. Dr. H. Soedarso Djojonegoro, dr., AIF

1984 - 1989

10.

Prof. Dr. H. Soedarso Djojonegoro, dr., AIF

1989 - 1993

11.

Prof. H. Bambang Rahino Setokoesoemo, dr

1993 - 1997

12.

Prof. H. Soedarto, dr. DTM&H, Ph.D

1997 - 2001

13.

Prof. Dr. Med. H. Puruhito, SpB

2001 - 2006

14.

Prof. Dr. H. Fasich, Apt

2006 - 2010

15.

Prof. Dr. H. Fasich, Apt.

2010 - 2015


NO :

57

Tahun VI Juni 2010

15

Mencari Rektor >>> untuk menciptakan value dan penerimaan terhadap peran dan fungsi stakeholders. Seperti halnya MWA, organizational stakeholders disebut oleh Jones terdiri dari inside and outside stakeholders. Inside stakeholders merupakan orang-orang yang memiliki kedekatan dengan organisasi, kekuatan atau pengaturan terhadap sumber daya organisasi, yang terdiri dari : shareholders (menteri/wakil pemerintah pusat sebagai pemilik), managers (Rektor), dan the workforce (Senat Akademik, tenaga pengajar, tenaga kependidikan). Sementara outside stakeholders, diterangkan sebagai pihak-pihak yang bukan merupakan pemilik organisasi dan bukan employee’s, namun memiliki perhatian terhadap keberlangsungan organisasi (mahasiswa dan wakil masyarakat). Selain ketentuan yang tertuang dalam PP No. 30/2006, konsepsi tentang organisasi dan stakeholders inilah yang membuat Rektor UNAIR BHMN tidak dapat dipilih langsung. Dalam hal ini Universitas Airlangga bukan dipandang sebagai lembaga birokrasi (eksekutif), melainkan sebagai sebuah korporasi non profit oriented milik pemerintah. Lantas, mengapa orang luar boleh mendaftarkan diri sebagai Bakal Calon Rektor ? Sejalan dengan konsep perubahan organisasi, diperlukan seorang manajer yang mampu menggerakkan seluruh sumber daya organisasi, hingga memaksimalkan kerja organisasi, guna menciptakan value. Seorang Rektor, diharapkan mampu berperan sebagai CEO (the chief executive officer) yang responsif dan mampu mengarahkan strategi dan kebijakan organisasi, sejalan dengan harapan stakeholders. “Rektor terpilih harus mempunyai komitmen yang tinggi untuk melanjutkan program UNAIR menjadi salah satu universitas berkelas dunia,” tegas Ketua Senat Akademik, Prof. Sam Soeharto baru lalu. Menurut Howie Fenton, seorang konsultan senior di NAPL - sebuah lembaga konsultan manajemen bisnis ternama - untuk membangun sebuah world class university diperlukan problems and leader solutions. Dengan dibukanya kesempatan bagi siapa saja untuk mendaftarkan diri, diharapkan akan terpilih CEO terbaik yang mampu memecahkan setiap permasalahan, membangun solusi, tak gentar menghadapi tantangan, dan

sigap mengemban harapan stakeholders. “Rektor diharapkan memiliki kemampuan akademis, manajerial, dan leadership yang tinggi, serta wajib melakukan pekerjaannya berdasarkan prinsip-prinsip yang disepakati, termasuk akuntabilitas dan tranparansi,” demikian tandas Prof. Sam Soeharto. Ingin Jadi Rektor ? “Asal memenuhi syarat pendaftaran dan kriteria, siapapun boleh mendaftarkan diri,” demikian terang Prof. Noor Cholies Zaini, selaku Ketua Panitia Seleksi Calon Rektor Universitas Airlangga (UNAIR) tahun 2010. Memang benar, status Universitas Airlangga sebagai BHMN, memungkinkan bagi siapa saja, termasuk Bakal Calon Rektor dari luar UNAIR untuk mendaftarkan diri. Menurut Ketua PSCR Universitas Airlangga 2010, keberadaan PP No. 30/ 2006, yang kemudian diperkuat dengan lahirnya AD/ART milik UNAIR BHMN, memungkinkan bagi Universitas Airlangga untuk menentukan Calon Rektor-nya sendiri, sesuai dengan harapan ke depan. Jika dulu, pemilihan Rektor ditentukan oleh pemerintah pusat melalui Mendiknas, maka kini cukup ditetapkan oleh MWA yang telah memiliki kewenangan untuk memilih, mengangkat, dan memberhentikan Rektor. Jika dulu Rektor dapat langsung dipilih tanpa melalui seleksi, sekarang Senat Akademik (SA) ditugaskan oleh MWA untuk menyeleksi para calon rektor. “Rektor dipilih oleh MWA, yang berarti unsur masyarakat dan mahasiswa yang duduk sebagai anggota MWA juga akan ikut mengawasi. Selain itu, panitia juga akan mengadakan Uji Masyarakat Kampus, yang memberikan kesempatan kepada wakil mahasiswa, dosen, dan masyarakat untuk mendengarkan secara langsung visi, misi dan program para calon rektor,” terang Ketua Senat Akademik, Prof. Sam Soeharto. Saat ini, MWA telah berhasil menentukan pilihannya. Namun sebelumnya, Prof. Dr. Fasich, Apt., sebagai Rektor terpilih, beserta ke-11 Bakal Calon Rektor yang lain telah sampai pada tahap Uji Kepatutan dan Kelayakan. Bersama kedua Calon Rektor yang lain, Prof. Fasich juga telah berdiri di depan rapat pleno MWA. Her

Tidak Masalah >>> Pengalaman yang memberikan kesan khusus dalam dirinya adalah saat harus menghadapi demonstran mahasiswa. Mereka adalah utusan mahasiswa yang datang untuk menyampaikan pendapat dan meminta penjelasan seputar pelaksanaan seleksi rektor. Ia pun menjelaskan, bahwa suara mahasiswa sudah terwakilkan oleh Presiden Badan

Eksekutif Mahasiswa yang duduk sebagai salah seorang anggota Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga. Oleh sebab itu, pendapat mahasiswa dapat disampaikan melalui wakilnya. “Saya adalah bapak mereka dan oleh karena itu saya perlakukan mereka laiknya seorang anak yang memerlukan penjelasan dari ayahnya. Tidak ada masalah,” katanya.Bes

Memperkaya Silaturrahmi >>> dapat menjadi siraman hati yang sejuk,” kata Prof. Dikman kepada Warta Unair. Menurut Prof. Dikman, pemilihan rektor yang baru berlangsung di Kampus Universitas Airlangga merupakan perwujudan proses demokrasi yang berlangsung secara transparan dan akuntabel. Oleh sebab itu, didalamnya terkandung nilai-nilai tanggung jawab dan keadilan. Hal itulah, yang menurutnya, membuat Universitas Airlangga layak dijadikan contoh perguruan tinggi negeri lain. “ Tahun lalu, sebuah perguruan tinggi

negeri di Sulawesi Tengah bertanya kepada saya tentang konsep pemilihan rektor Unair yang menurutnya dapat dijadikan contoh,” jelasnya. Dibanding Pemilihan Rektor tahun 2005 dimana ia menjadi ketuanya, pemilihan tahun 2010 telah dilaksanakan sesuai dengan aturan Perguruan Tinggi BHMN. Menurutnya, pelaksanaan tahun 2010 bersifat lebih sederhana. “ Walaupun demikian, saya bangga karena ternyata semua berjalan lancar sehingga Unair dapat dijadikan model,” katanya. Bes

Webometrics, Salah >>> artikel, tetapi juga membuka surat pembaca atau forum online. Nanti bisa membuka topik yang bervariasi. Masing-masing juga ditangani oleh moderator secara tersendiri. WU : Ada kiat lain ? IS : Jika tentang infrastruktur, itu relatif bisa dikejar. Namun kita juga harus menggarap urusan eksternal. Jika ingin dikenal, harus

ada kerjasama. WU : Maksudnya ? IS : Misalnya, ada staf UNAIR yang sekolah di luar negeri. Mereka harus berani menunjukkan identitas UNAIR. Hal kecil, misalnya melalui biodata. Mereka harus menyertakan alamat Web atau Blog UNAIR. WU : Jika semua berjalan dengan baik, sampai 5 tahun ke

depan, peringkat Webometrics UNAIR harusnya berada di mana ? IS : Kita memang sempat kalah start, tapi nanti UNAIR bisa berada di posisi 3 atau 4 nasional. Dan, jika mau bekerja lebih keras lagi, kita pun maish bisa masuk ranking 2 nasional. WU : Baik. Terima kasih atas informasinya. IS : Terima kasih. her


16

NO :

57

Tahun VI Juni 2010

WARTA SIVITAS

Paper Toys Kesehatan Gigi dan Mulut:

FKG-Warta Unair Susahnya mengajak anak untuk menggosok gigi selalu menjadi masalah bagi orangtua. Padahal anak-anak, khususnya balita adalah kelompok umur yang rentan terhadap masalah kesehatan gigi, seperti karies dan gigi berlubang. Data dari Depkes RI diketahui hanya 7,3 persen anak yang mampu menggosok gigi di waktu dan dengan cara yang benar, yakni pada pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Pada rentang usia 3-5 tahun, hendaknya anak-anak sudah mulai dibiasakan menggosok gigi. Permasalahannya adalah bagaimana memberikan pengetahuan kepada anak tentang pentingnya kebiasaan gosok gigi tersebut. Penemuan mahasiswa FKG UNAIR ini mungkin bisa menjadi salah satu solusinya. Mereka menciptakan sebuah permainan dari kertas yang dimodifikasi, menjadi sebuah media edukasi kesehatan gigi yang menarik untuk anak usia dini. Paper

Toys namanya, berupa mainan yang terbuat dari bahan kertas yang dilipat dan digunting sesuai bentuk dan dirangkaikan (dengan lem) menjadi bentuk tiga dimensi. Ide membuat paper toys kesehatan gigi dan mulut muncul karena penyuluhan pendidikan di bidang kesehatan gigi dan mulut, khususnya untuk anak usia dini, masih jarang. Media edukasi yang ada saat ini belum mampu menyesuaikan dengan kebutuhan perkembangan dan daya imajinasi mereka. Kebanyakan masih menggunakan metode ceramah dengan media poster atau model gigi. Padahal untuk anak usia 3-5 tahun, daya konsentrasinya masih rendah dan sangat mudah untuk berpindah dari kegiatan satu ke kegiatan lain, sehingga metode seperti itu kurang cocok untuk diterapkan. Anak usia 3-5 tahun memiliki daya imajinasi yang tinggi dan kekuatan fisik yang mulai berkembang. Anak mulai memunculkan keterampilan baru, baik berupa keterampilan fisik maupun keterampilan yang

Dok Istimewa-Warta Unair

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UNAIR (kiri-kanan) Nur Riflianty, Syafira Arieffah dan Ufo Pramigi, bersama tropi Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah “Hasanuddin Dentistry Fiesta” tingkat nasional di Universitas Hasanuddin Makassar.

s

Contoh Desain paper toys kesehatan gigi dan mulut

diukur berdasarkan mentalitasnya. Biasanya, keterampilan baru akan sering dicoba berulang-ulang oleh anak, misalnya anak usia 2 tahun akan sering mengulangi kata-kata yang baru dia kenali. Anak usia 3 tahun mulai bisa menggunting dan akan sibuk sekali menggunting benda-benda (kertas atau kain) yang dia temui, sedangkan anak usia 4 tahun pada saat dia mulai menguasai keterampilan motoriknya, dia akan menyukai gerakan gerakan motorik kasar (meloncat-loncat, memanjat, meluncur dan lain sebagainya). Oleh karena itu, Paper Toys bisa menjadi sebuah media edukasi kreatif dan inovatif yang berorientasi pada kebutuhan anak dan sesuai dengan fase perkembangannya. Proses pembuatan paper toys cukup mudah, biayapun relatif murah. Peralatan pertama yang harus ada untuk membuat paper toys adalah kertas. Untuk menciptakan atau mengkreasikan bentukbentuk mainan, kertas yang digunakan bisa dari bermacam jenis. Bahkan, kertas tipis HVS biasa dapat dijadikan media. Namun, jika ingin karakter paper toys lebih awet dan tampak lebih bagus, biasanya kertas yang digunakan adalah kertas AP 245 gram atau kertas glossy yang biasa dipakai untuk mencetak foto. Dengan ketebalan kertas seperti ini, paper toys kita tidak akan mudah

rusak dan tampak lebih hidup dengan tampilan dari permukaan yang menarik, mengkilap dan tampak seperti gambaran animasi tiga dimensi sesungguhnya. Setelah digunting, dilipat dan dirangkaikan menjadi bentuk karakter yang memiliki berbagai ekspresi, misalnya karakter anak dengan ekspresi sakit gigi, kemudian dimainkan sesuai jalan cerita. Banyak manfaat dari penggunaan paper toys sebagai media edukasi bagi anak, antara lain dapat mengenalkan warna dan bentuk untuk melatih kemampuan motorik, melatih konsentrasi, dan mengenalkan konsep sebab akibat. Selain itu juga bisa melatih bahasa dan wawasan tentang pentingnya menggosok gigi. Kebiasaan bermain paper toys secara perlahan akan menambah pengetahuan anak. Mereka mulai bisa memahami pentingnya menggosok gigi, bagaimana akibatnya jika malas gosok gigi, yang dapat dipahami melalui ekspresi karakter tokoh dan jalan cerita permainan. Harapannya, setelah pengetahuannya meningkat, akan diikuti dengan perubahan sikap dan perilaku anak untuk rajin menggosok gigi. Dalam pelaksanaannya perlu kerjasama dari berbagai pihak yakni orang tua, guru, dokter, dan sebagainya. Naf

“Televisinya Masih Sekolah…”

SEORANG gadis berjilbab warna oranye muda duduk manis di bangku belakang tempat berlangsungnya acara Pelantikan Rektor Universitas Airlangga periode 2010-2015. Senyumnya merekah, antara bahagia dan bangga. Gadis itu adalah Nur Hidayati, putri bungsu Prof. Dr. Fasich, Apt - rektor Unair yang sedang dilantik. “Kami empat bersaudara, dan saya yang paling bungsu,” ujar Nur mengawali ceritanya. “Anak-anaknya ayah tidak ada yang meneruskan berkuliah di fakultas farmasi, kakak pertama dan kedua kuliah di fakultas kedokteran, sedang kakak ketiga kuliah Desain Produk,” lanjutnya. Prof. Fasich memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena ia membebaskan putra-putrinya berkembang sesuai keinginannya. Nur sendiri sekarang duduk di semester 8 Fakultas Psikologi Unair. “Teman-teman selalu mengatakan bahwa ayah pasti tidak pernah marah, karena terlihat sabar dan kalem. Jangan salah, karena ayah kalau di rumah galak, lo,” tegasnya. Sejak kecil, memang mantan dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yang diangkat kembali sebagai rektor ini menerapkan disiplin tinggi pada putera-puterinya. Beliau mewajibkan anak-anak masuk di taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang berlandaskan agama.

“Waktu kecil dulu sih kesal, tapi disiplin itu efeknya baru terasa sekarang. Apalagi di masa sekarang, saat hedonisme menjadi budaya yang lumrah dalam lingkungan masyarakat sekitar kita,” lanjutnya lagi. Waktu masih kecil, orang tua Nur tidak memasang pesawat televisi di rumah. Nur mengaku baru bisa menonton televisi jika diajak ke kantor ayahnya. Orang tua Nur memang sengaja tidak menaruh televisi di rumah. “Televisinya masih sekolah,” kalimat itulah yang sering terucap jika Nur bertanya tentang televisi. Televisi menyebarkan banyak “polusi”, sehingga sangat perlu bagi seorang anak mendapatkan pendampingan orang tua saat sedang menonton televisi. Ayah Nur menyadari jika hanya punya waktu yang terbatas bersama anak-anaknya, sehingga ia tidak bisa menemani mereka menonton televisi. Keterbatasan waktu itulah yang membuat ia sering mengajak anak-anaknya ke kantor. Selain membuat anak-anak lebih mudah diawasi, membawa anak-anak ke kantor membuat mereka mengetahui pekerjaan orang tuanya, sehingga diharapkan bisa lebih menghargai orang tua. Ketidakhadiran televisi juga membuat Nur jadi lebih banyak kesempatan bermain dengan temanteman, dan hal ini membuat masa kecilnya pun jadi lebih menyenangkan.

Nur yang saat ini sedang menyelesaikan skripsi dengan obyek penelitian penyakit Lupus ini memang paling sering diajak ayah dan ibunya ke kantor. Ia mengaku sering ikut menghadiri acara kantor. Hal ini membuatnya mengenal banyak orang di Kantor Rektorat Unair. Nur paling sering mengikuti acara Dhamawanita yang diketua oleh ibunya. “menyenangkan juga, karena menambah pengalaman,” ujarnya. Keterbatasan waktu juga sering membuat ayah dan ibu Nur seringkali mengadakan acara kumpul keluarga secara dadakan. “Spontan dan menyenangkan, walau kadang harus mengatur ulang jadwal,” ujar Nur sambil tertawa renyah. Sebagai mahasiswa yang masuk setelah pelantikan ayahnya menjadi rektor di Unair tahun 2006, Nur sering menjadi bahan pergunjingan. Padahal, dia bisa lulus dan masuk Unair karena memang mampu. Nur menyadari bahwa ayahnya bukan hanya Ayah dalam keluarganya, tapi juga Ayah dari Universitas Airlangga. Oleh karena itu, ia senantiasa berusaha memilih waktu yang tepat untuk dapat berdiskusi dengan ayahnya. Kesempatan itu tak jarang dimanfaatkannya untuk menyampaikan keluhan-keluahan teman-temannya tentang Unair, terutama yang berkaitan dengan fasilitas di Universitas Airlangga. Intan

Nur Hidayati Intan-Warta Unair


Warta Unair