Page 1

Yossi Shain dan Aharon Barth, mengemukakan, diaspora sebagai sekelompok masyarakat yang menetap di luar batas wilayah negara asal namun tetap mengakui dirinya sendiri, serta dilihat oleh orang lain, memiliki identitas yang sama dengan masyarakat dari negara asalnya. Lokasi yang terpisah dari negara asalnya namun dengan asalusul yang sama, membuat para agen diaspora sangat mementingkan arti identitas.

DISUSUN OLEH: Agita Mahlika Anindita Fitria Tiffany Clevelyn Tobing Deasy Augusti Wiranda Nur Aini Annapurna

Identitas Agen Diaspora Mahasiswa Korea Universitas Indonesia Diaspora merupakan salah satu isu yang hangat diperbincangkan belakangan ini. Hal ini disebabkan oleh maraknya kedatangan bangsa asing ke Indonesia dengan berbagai macam tujuan seperti mengenal Indonesia lebih lanjut melalui pendidikan, budaya, dan lain sebagainya, begitu pula dengan banyaknya warga negara Indonesia yang juga dengan berbagai macam alasan menetap di luar negeri. Selain itu, hal lainnya yang menjadikan diaspora sebagai objek perbincangan saat ini adalah tindakan negara yang mulai menaruh perhatian besar di dalam diaspora Indonesia. Contohnya seperti Kongres Diaspora Indonesia I yang diadakan di Los Angeles pada Juli 2012. Kongres ini merupakan ide dari Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa, dan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal. Perhatian negara akan diaspora kembali ditunjukkan lewat Kongres Diaspora Indonesia II yang dibuka langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta Convention Centre (JCC) pada Senin, 19 Agustus 2013. Acara ini diikuti oleh 6000 agen diaspora Indonesia yang ‘pulang kampung’ untuk berpartisipasi langsung di dalamnya. Hal inilah yang kemudian menarik perhatian penulis untuk meneliti lebih lanjut masalah diaspora, terkhusus kepada agen penyebarannya serta efeknya kepada negara asal maupun kepada negara tertuju. Korea Selatan, adalah salah satu negara yang memberi pengaruh cukup besar kepada Indonesia. Hubungan Indonesia dan Korea telah dimulai sejak tahun 1973, dengan melalui berbagai kerjasama bilateral dalam berbagai sektor, seperti budaya, edukasi atau pertukaran pelajar, komunikasi serta ekonomi. Korea Selatan pun juga merambah ke dunia hiburan Indonesia. Contoh yang sangat kentara adalah Korea Pop atau K-Pop yang sudah tidak dapat dielakkan lagi telah banyak menginspirasi anak muda Indonesia. Tak heran kemudian bahwa banyak yang akhirnya “mengimitasi� dengan membentuk boyband dan girlband yang mengikuti gaya K-Pop. Sehingga tanpa disadari, selera dan taste para anak muda Indonesia tersebut menjadi berubah yang kemudian mempengaruhi identitas mereka. Sebaliknya, agenda diaspora yang dilakukan pihak Korea Selatan pun terbilang cukup banyak, salah satunya melalui mahasiswa-mahasiswa asal Korea Selatan yang kuliah di Universitas Indonesia. Adanya interaksi antara mahasiswa Korea dengan mahasiswa asli Indonesia yang kemudian menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian tentang diaspora mahasiswa Korea di Universitas Indonesia.


KEDATANGAN AGEN DIASPORA MAHASISWA KOREA SELATAN UNIVERSITAS INDONESIA Oleh Clevelyn Tobing Kedatangan agen diaspora Korea, khususnya mahasiswa, ke Indonesia sekiranya memunculkan sejumlah pertanyaan di dalam benak masyarakat Indonesia. Sejumlah pertanyaan ini dapat dikatakan erat kaitannya dengan tujuan kedatangan mereka ke Indonesia. Tujuan ini tentunya bersentuhan dengan identitas mereka sebagai warga negara Korea ketika datang ke Indonesia. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tujuan mereka dapat secara langsung maupun tidak langsung merepresentasikan identitas mereka yang tercipta sebelum datang ke Indonesia. Permasalahannya adalah Indonesia dengan status sebagai negara berkembang, dibandingkan dengan sejumlah negara-negara lain yang masih memiliki problema-problema dalam hal yang sederhana hingga ke taraf kompleks bila dilihat dari berbagai macam aspek kenegaraan. Tidak hanya di dalam aspek kenegaraan, Indonesia juga masih terus berjuang di dalam mensejahterakan rakyatnya di dalam berbagai macam bidang seperti ekonomi, sosial, pendidikan, dll. Pendidikan sebagai salah satu aspek terpenting di dalam fungsinya bagi masyarakat untuk mencetak lulusan yang kompeten dan bermanfaat bagi negara masih jauh tarafnya ketimbang pendidikan di negara lain, khususnya negara maju. Perguruan tinggi di Indonesia bahkan dikatakan masih tertinggal jauh dibandingkan dengan universitas di luar negeri terutama di negara maju (dilansir dari artikel Perguruan Tinggi Indonesia Tertinggal Jauh oleh Ika). Di dalam hal inilah kemudian kedatangan mahasiswa korea untuk menuntut ilmu kembali memunculkan tanda tanya besar di dalam pikiran masyarakat Indonesia. Apakah mereka datang dengan tujuan untuk studi/ melanjutkan studi di Indonesia? Atau apakah mereka datang karena tertarik pada kebudayaan khususnya untuk belajar Bahasa Indonesia? Pertanyaan selanjutnya kemudian mengarah kepada interaksi yang pasti dialami oleh mahasiswa Korea selama tinggal di Indonesia. Apakah interaksi ini berperan dan dapat menyurutkan atau membangkitkan motivasi mereka untuk mencapai tujuan awal? Serta pertanyaan terakhir dan yang terutama adalah bagaimana identitas mereka dapat direpresentasikan lewat tujuan kedatangan ke Indonesia? Kedatangan mahasiswa Korea di Indonesia, sesuai dengan jawaban sebagian besar responden wawancara pribadi yaitu mahasiswa BIPA di Universitas Indonesia, memang erat kaitannya dengan kebudayaan, secara terkhusus Bahasa Indonesia. Hal inilah kemudian yang menjadi dasar mereka untuk datang dan belajar Bahasa Indonesia hingga lulus dari BIPA. Mereka paham bahwa salah satu cara untuk beradaptasi dengan mudah adalah lewat komunikasi, yang tidak dapat dipungkiri menggunakan Bahasa Indonesia. Salah satu responden mengatakan bahwa pada awalnya Ia bahkan tidak tahu bahwa Indonesia memiliki Bahasa tersendiri, berbeda dari Filipin ujarnya. Belajar Bahasa Indonesia berarti juga (secara langsung maupun tidak langsung) membuat mahasiswa Korea belajar kebudayaan di Indonesia. Faktor lain yang memegang peranan besar berkaitan dengan tujuan kedatangan mereka ke Indonesia adalah kerabat. Mayoritas dari responden memasukan kerabat di dalam sederet alasan mereka untuk datang bahkan menetap di tanah air. Mempunyai kerabat yang sudah tinggal/ menetap di Indonesia mempermudah akses untuk memiliki tempat tinggal, transportasi, dll. Salah satu tujuan utama ketika memutuskan Indonesia sebagai pilihan kepergian ternyata terkait kepada ekonomi, secara spesifik dapat dikatakan lapangan kerja di tengah masyarakat. Mahasiswa Korea melihat besarnya peluang di dalam memasuki dunia kerja, bahkan untuk menjabat posisi-posisi tinggi tertentu yang dapat diraih di Indonesia.

Hal ini kemudian menjadi tujuan utama yang harus dipenuhi di dalam kedatangan mereka ke Indonesia. Identitas yang terepresentasikan disini mungkin mengarah kepada suatu motivasi di dalam diri yang berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang berbeda dibanding dengan di Korea. Kehidupan yang berbeda disini mneyangkut kepada kebudayaan, lingkungan keluarga di luar Korea, serta pekerjaan yang lebih mudah diraih di Indonesia ketimbang di negeri asal. Identitas ini mungkin besar pengaruhnya oleh karena kebudayaan di Korea- menurut jawaban respondenyang selalu berusaha keras di dalam segala sesuatu. Hal ini menyebabkan munculnya suatu ide untuk mencari hal-hal baru yang menguntungkan di luar Korea. Indonesia seakan menemui ekspektasi tersebut dan mungkin dapat memenuhi tujuan yang terepresentasi dari identitas mereka. Sedikitnya ketiga faktor inilah yang menjadi pertimbangan besar bagi mahasiswa Korea untuk datang dan bahkan menetap di Indonesia. Ketika ditilik lebih lanjut lewat pembicaraan dengan responden, ketiga faktor ini menjadi alasan utama untuk beradaptasi dan bertahan di tengah masyarakat Indonesia, yang dapat dikatakan memiliki sejumlah perbedaan di dalam segi kebudayaan. Untuk mencapai tujuan mereka, tentunya banyak strategi yang pada umumnya terkait dengan bersentuhan langsung dengan orang lokal. Memiliki banyak teman Indonesia dan berkomunikasi secara oral menjadi salah satu cara mereka untuk ‘masuk’ di dalam kehidupan bermasyarakat. Interaksi dengan masyarakat lokal menentukan seberapa cepat atau lambat adaptasi mereka saat menetap di Indonesia. Faktor ini juga dapat menguatkan dan melemahkan motivasi mereka untuk menggapai tujuan awal untuk bekerja di Indonesia. Mayoritas responden merasa interaksi yang tercipta saat menetap bernuansa positif, meski ada juga yang bersifat negatif. Beberapa dari responden mengatakan bahwa interaksi bersifat positif datang dari perlakuan ramah dan helpful dari sebagian kalangan berpendidikan secara akademis di UI. Interaksi berkesan negatif, menurut responden, datang dari sebagian orang yang kurang berpendidikan seperti pembantu dan supir yang malas dan sulit diajak bekerja sama. Interaksi yang terjadi selama tinggal di Indonesia, pada akhirnya menjadi salah satu pertimbangan mereka untuk menetap atau kembali ke Korea. Sebagian dari mereka sebenarnya merasa terganggu oleh interaksi bersifat negatif , namun seluruh responden lebih memilih untuk terus memperjuangkan tujuan utama dengan tidak terlalu memperdulikan faktor tersebut. Dengan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa interaksi memang memegang peranan, tetapi tidak menyurutkan tujuan awal dan utama mereka di Indonesia. ****


PERLAKUAN MASYARAKAT TERHADAP AGEN DIASPORA MAHASISWA KOREA SELATAN UNIVERSITAS INDONESIA

PENYEBARAN BUDAYA KOREA - SECARA SADAR ATAU TIDAK? oleh Deasy Augusti Wiranda

Oleh Anindita Fitria Tiffany

Kebudayaan Korea di Indonesia saat ini sedang marak-maraknya terutama dikalangan anak muda di Indonesia yang banyak terserang virus Korean Wave. Korean Wave atau gelombang Korea adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya Korea pada berbagai negara di dunia. Demam Korea atau Korean Wave sekarang sedang berkembang di Indonesia. Hal ini diakibatkan karena penyebaran dan pengaruh budaya Korea di Indonesia, terutama melalui dunia entertainment seperti musik Kpop dan beberapa drama Korea. Siapa yang tidak tau Super Junior, SNSD , F(x), dan masih banyak boyband dan girl band korea yang diidamidamkan oleh para remaja, karena pada kenyataannya para pencinta korea sebagian besar adalah para remaja, para remaja ini seperti dibius oleh makin banyaknya boy band dan girl band yang bermunculan di korea. Selain paras para artis tersebut cantik dan gagah, nyanyian yang di susun secara apikpun semakin membuat banyak orang suka. Demam korea di Indonesia juga memberikan pengaruh yang cukup besar bagi para remaja Indonesia seperti cara berpakaian, dan bahkan hal ini juga dappat terlihat dengan adanya kemunculan dari boyband dan girlband asal Indonesia. Kemunculan boyband dan girlband di Indonesia juga cukup memberikan pengaruh pada remaja Indonesia. Bagi remaja Indonesia yang pada dasarnya mencintai musik Indonesia, tentulah kemunculan boyband dan girlband tanah air memberikan warna baru yang dapat meramaikan industri musik Indonesia. Sebaliknya, bagi para remaja yang sudah lama menyukai musik luar daerah, banyak yang beranggapan bahwa boyband dan girlband Indonesia banyak yang menjiplak boyband dan girl band Korea yang sudah lebih dulu ada. Tidak hanya dari dunia entertainment, di Indonesia juga banyak orang Korea yang tinggal atau hanya sekedar belajar di Indonesia khusus nya di Universitas Indonesia ini. Dan tidak hanya dari drama korea, girl band, dan boyband rupanya kebudayaan sehari-hari yang biasanya mereka lakukan juga berbeda dari Indonesia seperti orang Korea yang selalu tepat waktu dan berbeda dengan orang Indonesia yang cenderung santai, mereka bila diberikan tugas langsung mengerjakan tugas mereka tidak menunda-nunda seperti orang Indonesia yang mengerjakan tugas mereka mepet dengan waktu yang diberikan. Sehingga orang Indonesia dianggap kurang disiplin seperti orang Korea pada umumnya. Kemudian orang Korea menggunakan waktu santai mereka dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Orang korea juga cenderung tidak cepat percaya kepada orang lain yang sangat berbeda dengan orang Indonesia yang mudah percaya kepada orang lain dan juga menurut orang Korea terlalu banyak senyum memiliki arti sombong maka di Korea bila atasan sedang memberikan arahan kepada bawahan nya dan bawahan sering senyum itu berarti bawahan sombong dan di anggap kurang sopan oleh atasan. Di kehidupan sehari-hari pun cara orang Korea berpakaian memang seperti yang ada di film–film, yaitu menggunakan warna yang cenderung terang dan untuk wanita cenderung yang berpakaian ala lolita dan mayoritas memilih untuk memakai pakaian yang mini dan lebih colourfull. Kemudian untuk rambut, mereka cenderung mewarnai rambut mereka seperti yang kita biasa lihat di Universitas Indonesia ini banyak sekali mahasiswa yang berpenampilan seperti itu. Walaupun dinilai kurang lumrah bila di Indonesia berpenampilan seperti itu bila di kampus Indonesia namun tidak sedikit banyak pula mahasiswa Indonesia yang meniru cara berpakaian mereka. Seorang ilmuwan di Korea sangat dihormati karena seorang ilmuwan dianggap sebagai pembawa kemajuan bangsa. Oleh karena itu seorang ilmuwan di Korea diharapkan menciptakan banyak terobosan baru bagi kemajuan bangsa. ****

Korea merupakan negara yang memiliki hubungan baik dengan Indonesia, terlebih lagi, maraknya budaya K-pop (Korean-Pop) yang berkembang pesat di negaranya maupun di Indonesia membuat para kawula muda menyukai hal-hal yang berhubungan dengan negeri Ginseng tersebut. Keunikan dari Korea adalah masyarakatnya yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran serta adat istiadatnya yang kental. Hal ini disebabkan oleh masih kuatnya sistem Monarki yang tumbuh dalam diri masyarakat Korea. Budaya Korea menyebar dengan sangat pesat, dimulai pada awal tahun 2000-an. Pada masa tersebut yang paling digemari adalah serial televisi yang bersifat romantis serta penuh dengan impian anak muda. Karena hal tersebut, budaya Korea semakin mendapat tempat di hati masyarakat, khususnya para kawula muda di Indonesia. Perlakuan masyarakat Indonesia terhadap budaya Korea sangat variatif, meskipun sebagian besar menyukainya, namun tidak sedikit yang tak acuh bahkan menentang gaya hidup mereka. Perlakuan masyarakat terhadap diaspora kebudayaan tersebut cenderung positif. Masyarakat senang dengan cara berpakaian serta gaya hidup mereka yang terlihat modern dan fashionable. Menurut beberapa mahasiswa Korea yang kami temui, mereka mengatakan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya teman-teman mereka (mahasiswa-mahasiswa FIB UI) sangat ramah dan sering tersenyum menyapa mereka. Para mahasiswa ini pun menganggap bahwa masyarakat Indonesia sangat menerima dengan baik kehadiran mereka, "mereka sangat ramah, apalagi masyarakat di pedesaan, mereka sangat sering tersenyum jika berpapasan dengan Saya", ujar Leo (Mahasiswa BIPA UI tingkat 3). Namun, Leo pun memiliki masalah dengan sifat-sifat dasar masyarakat kita seperti sering telat dan tidak memenuhi janji. "Saya juga memiliki pengalaman negatif, sekarang hubungan saya dengan asisten rumah tangga dan supir saya kurang begitu baik, mereka sangat sering ingkar janji. Jika lebaran, mereka tidak kembali ke rumah tepat waktu, begitupun saat bekerja, mereka terlihat malas dan jika disuruh melakukan sesuatu, mereka mengerjakannya dengan muka masam" ungkap Leo. Perbedaan perlakuan masyarakat dipengaruhi pula dengan perbedaan pendidikan mereka, "Saya selalu merasa tidak dapat memasuki pergaulan teman-teman Indonesia saya. Itu disebabkan karena saya tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia, jadi saya agak ketinggalan jika mereka membicarakan tentang masalah-masalah politik dan ekonomi yang sedang terjadi", keluh Leo. Selain itu, Jyun (BIPA UI, tingkat 3) juga mengatakan bahwa dia sangat sulit bergaul dengan orang Indonesia. Menurutnya banyak orang-orang disini yang menganggapnya sombong. "Sebenarnya orang korea lebih banyak bersikap diam (cool) dan kita tidak menyapa orang, jika tidak terlalu kenal. Mungkin disitulah kami dianggap sombong. Terkadang jika sudah kenal pun, hanya bertatap mata sebentar sudah berarti suatu sapaan." Perbedaan budaya menjadi satu hal penting yang menyebabkan permasalahan dalam penerimaan agen diaspora di kalangan masyarakat. Di satu sisi mereka merasa bahwa masyarakat Indonesia ramah dan senang menolong, namun di sisi lain, mereka tetap merasa menjadi orang asing di sini. Penyebaran budaya Korea yang merebak di Indonesia tidak menjadi tolak ukur masyarakat dalam memperlakukan agen diaspora. Masyarakat memang mengagumi budaya korea serta dunia gemerlapnya, namun dalam keseharian, para agen diaspora tersebut tidak selalu diperlakukan sebagai bintang layaknya dalam drama-drama layar kaca. ****


SIFAT INTERAKSI HUBUNGAN AGEN DIASPORA MAHASISWA KOREA SELATAN UNIVERSITAS INDONESIA oleh Agita Mahlika

¡

¡

Secara sadar ataupun tidak, interaksi para agen diaspora (mahasiswa Korea) dengan orang Indonesia sebagai hostland membawa dampak perubahan tersendiri terhadap identitas sang agen. Baik perubahan tersebut cenderung melemahkan maupun menguatkan identitas mereka. Mahasiswa Korea sendiri merasakan begitu banyak perbedaan identitas antara Korea dengan Indonesia, baik dari segi kebudayaan, perilaku, sikap, serta kebiasaan-kebiasaan kecil. Berikut ini hasil wawancara dengan para agen diaspora akan dirangkum lalu diklasifikasikan berdasarkan 3 kekuatan identitasnya (action, rhetoric, cognition) Cognition merupakan identity strength yang memaknai apa yang terjadi di sekitar dan didasari oleh logika, sehingga lebih memudahkan mereka untuk menjelajahi dan merenungkan identitas mereka. Dalam interview dengan para mahasiswa Korea, bahasa merupakan masalah yang paling krusial dalam usaha berkomunikasi dengan orang Indonesia. Seringkali keterbatasan mereka dalam berbahasa Indonesia akhirnya menghalangi mereka untuk berinteraksi. Akibatnya, mereka semakin menjadi terasing dan kemudian mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang Indonesia. Tidak hanya dari segi bahasa yang menjadi penghalang mereka untuk berinteraksi, perbedaan perilaku serta sikap pun juga menghalangi. Seperti tidak bisa tegas (masih sering tidak enakan), kurang bisa tersenyum ramah dan kurang sering menyapa, kemudian terlalu disiplin akan waktu dan pekerjaan. Hal-hal seperti itu yang ternyata kurang cocok dengan ‘adat’ Indonesia sehingga menimbulkan keenganan untuk berinteraksi lebih jauh. Sehingga timbullah kesadaran dari para agen diaspora bahwa supaya bisa berinteraksi dengan orang Indonesia, mereka perlu menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada di Indonesia. Akhirnya para agen diaspora pun berusaha mempelajari bahasa Indonesia lebih jauh demi bisa berkomunikasi dengan lancar. Kemudian beradaptasi dengan habits orang Indonesia, termasuk merubah kebiasaan-kebiasaan, sikap, serta perilaku mereka agar sesuai dengan Indonesia. ****

LEO


Orang-orang selain Jakarta, yang tinggal di desa yang selalu ‘tersenyum’, dibanding orang Korea yang selalu stress pekerjaan, berusaha mencapai karir dan gaji tinggi. *LEO BIPA tingkat 3


Perlakuan agen

masyarakat

terhadap

diaspora sangat beragam,

tergantung diaspora

dimana

relasi

ditempatkan.

agen

Jika

ada

relasi kuasa (ex: majikan-supir) maka

agen

diaspora

maupun

individu yang bersangkutan tidak selalu berhubungan dengan baik, begitupun

dalam

pergaulan

di

masyarakat. Para agen diaspora tidak selalu mendapat perlakuan positif walupun berasal dari negara yang populer dan digemari saat ini.

Aspek kekuatan identitas yang paling

menunjukkan

pengaruh

hostland terhadap agen diaspora adalah aspek cognitive, yaitu logika dan pola pikir, yang mendorong mereka untuk melakukan adaptasi.

Identitas Agen Diaspora Mahasiswa Korea Universitas Indonesia  

Kindly check this bulletin, and drop your feedback. Thank you :) Disusun oleh : Agita Mahlika (Sastra Inggris, FIB UI) Anindita Fitria Tif...

Advertisement