E-Magazine AlFitrah

Page 1

Alfitrah Tabloid

Tabloid Alfitrah

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

Wawancara :

Mengenal

“Tungganai” FUAD

Menjalar Kerjasama, Merangkai Kolaborasi Institusi RIMBO BALAM Edisi 1 Tahun 2021 1


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

Salam Redaksi Berbagai aktifitas yang dilaksanakan di Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Batusangkar, merupakan wujud eksistensi FUAD ditengah masyarakat. Berbagai kegiatan-kegiatan kerjasama Dosen dan Mahasiswa telah memberikan dampak positif bagi keberadaan Fakultas. Majalah ini sampai ketangan anda, merupakan salah satu pertanggung jawaban kami dalam mengembangkan dunia pendidikan baik itu di skala institusi, nasional, maupun internasional. Tabloid Alfitrah, sebagai salah satu media yang dikembangkan oleh mahasiswa FUAD IAIN Batusangkar menjadi perpanjangan tangan Fakultas dalam menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Tidak hanya dalam bentuk cetak, Tabloid Alfitrah hadir dalam bentuk digital (e-magazine) sebagai salah satu cara kami dalam menyongsong revolusi industri 4.0. Kami berharap, dengan adanya tabloid Alfitrah ini menjadi sumber informasi bermanfaat dan dipercaya oleh masyarakat dalam perkembagan dunia pendidikan, khususnya pendidikan yang agamais. Salam redaksi !!!

Pengarah : Dr, Akhyar Hanif, S.Ag (Dekan FUAD IAIN Batusangkar) Penasehat : Dr. Alimin, L.C., MA (Wadek III FUAD IAIN Batusangkar) Pembina : Marhen, S.Sos., M.Pd.I, Anggota Pembina : Andri Maijar, M.Sn, Refika Mastanora, S.Kom., M.I.Kom, Oktri Permata Lani, M.Ikom, Redaksi Pemimpin Redaksi : Divo Oswaldo Redaktur : Dandy Purnama Wartawan : Rindi Ramadhani, Nadia Nopiana, Siti Aminah, Titi Nurjana Hesti Oktaviani, Delia Faramita, Immamul Muhda, Fahrika, Rizky Fajar Fadilla, Atika Fitri, Meily Puspita Sari, Melva Silvira, Muhammad Akbar, Putri Rindy Richardina, Rayhana Atqiya, Cindy Samta Indriani Fotografer : Salman Alfarizi, Siti Kholija, Bakti Haris Rahman, Meily Puspita Sari, Rihatul Jannah Saputri Layout : Muhammad Akbar, Sindi Samta Alamat Redaksi : Jl. Cubadak, Kampus II IAIN Batusangkar, Gedung Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Batusangkar Tanah Datar, Sumatera Barat E-mail: tabloid.alfitrah@gmail.com

2 Edisi 1 Tahun 2021


Tabloid Alfitrah

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

Daftar Isi Ranah Workshop Metodologi Survey Politik, Quict Count, dan Exit Poll - Hal 4 Wagub Sumbar: Jurusan PMI Ujung Tombak Menghadapi Era 5.0 - Hal 5

Fokus Menjalar Kerjasama, Merangkai Kolaborasi Institusi - Hal 6

Ranah Tahun Baru, Tenaga Baru, Di Rumah Baru - Hal 8 KKN dan Magang Terintegrasi, Terobosan Baru IAIN Batusangkar Hal 9

Oase Rimbo Balam - Hal 10

Wawancara Akhyar Hanif: Saya Hanya Ingin FUAD Menjadi Rumah Bagi Kita - Hal 14

Oase Penerapan Pola Asuh Terhadap Karakter Anak di Masa Depan - Hal 18

Edisi 1 Tahun 2021 3


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

RANAH

Prodi Pemikiran Politik Islam IAIN Batusangkar

Workshop Metodologi Survey Politik, Quict Count, dan Exit Poll Program Studi Pemikiran Politik Islam (PPI) telah menyelenggarakan workshop pada Rabu 14/07/2021. Workshop kali ini mengambil tema “Metodologi Survey Politik, Quict Count, dan Exit Poll.” Sebanyak lebih dari seratus orang peserta yang hadir dari berbagai kalangan. Acara yang menghadirkan Direktur Survey dan Data Spekturum Politika Institut dan Diretur Lembaga Kajian Studia Politika Dekan Fakultas Ushuluddin adab dan Dakwah Iain Batusangkar yang diwakili oleh Wakil Dekan III, Dr. Alimnin, Lc Menyampaikan terima kasih kepada narasumber yang hadir. Beliau juga mengemukakan tentang pentingnya pemahaman mengenai metodologi survey politik, quick count dan exit poll bagi mahasiswa prodi Pemikiran Politik Islam. Tidak hanya itu, Kultur Minang Kabau, khususnya Kabupaten Tanah Datar yang dikenal dengan “Luhak Nan Tuo” tempat asal muasal lahirnya Budaya Minang Kabau memiliki corak sosial dan politik yang unik yang patut untuk diketahui oleh mahasiswa dan masyarakat luas. Oleh karenanya, dengan bekal ilmu pengetahuan teknis survey politik diharapkan mahasiswa dapat semakin matang dalam memahami politik lokal dan nasional. Direktur Survey dan Data Spektrum Politika Institut, Andri Rusta menyampaikan materi terkait teknis metodologi survey politik, quick count dan exit poll, hal ini dijelaskan secara gamblang dan renyah. Mulai dari kajian teoritis hingga teknik pengambilan sampel, pembuatan instrumen, pengolahan data dan pembuatan laporan hasil survey

4 Edisi 1 Tahun 2021

Dalam Kesempatan yang sama, Direktur Lembaga kajian Studia Politika, Novi Budiman menyampaikan materi terkait dengan bagaimana lembaga survey bekerja dan memberikan kontribusi terhadap perpolitikan yang ada di Indonesia dan kedepan ini menjadi peluang bagi lulusan Prodi Pemikiran Politik Islam IAIN Batusangkar di tengah perkembangan politik elektoral dewasa ini Acara berlangsung lancar dan sukses, dan dibuka langsung oleh Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah IAIN Batusangkar, Bapak Dr. H. Alimin Lc., MA. Tanya jawab mewarnai dari penjelasan menarik yang disampaikan oleh para narasumber.(*)


RANAH

Tabloid Alfitrah

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

Wagub Sumbar: Jurusan PMI Ujung Tombak Menghadapi “Generasi muda harus siap menghadapi era Era 5.0 Society 5.0 di Indonesia dengan manfaatkan SDM Peran milenial (pemuda) sangat berpengaruh terhadap perubahan Era Sosiety 5.0, yaitu mempergunakan teknologi dengan sebaik-baiknya sehingga mampu mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik menjadi satu. Belakangan ini ini istilah Industri 4.0 santer menghiasi media massa maupun media sosial. Belum usai hirukpikuk akibat Revolusi Industri 4.0, yang dibarengi perkembangan era disrupsi, tiba-tiba kita dikejutkan dengan munculnya Society 5.0 (masyarakat 5.0). Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy mengatakan peran pemerintah dalam memberdayakan masyarakat di Era 5.0 dengan mempertahankan kearifan lokal perlu mengenalkan peran Society 5.0 pada kehidupan sehari-hari “Social Cyber System and Machine Learning in Era Society 5.0”. Hal ini disampaikan Wagub Sumbar pada acara Webiner Musyawarah Luar Biasa Forum Komunikasi Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam (Forkommasi) se Sumatera Barat di Auditorium Kampus II IAIN Batusangkar, pada Jum’at (2/7/2021). “Kita dikejutkan saat Pemerintah Jepang Tahun 2019 memperkenalkan Era 5.0 atau super smart society, dibuat sebagai solusi dan tanggapan dari revolusi industri 4.0 dan dianggap akan menimbulkan degradasi manusia,” kata Audy Joinaldy. Orang nomor dua di Sumbar yang juga “Milenial Minang” ini menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini masyarakat di dorong untuk dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0. “Society 5.0 ialah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 seperti Internet on Things (IoT), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia,” jelasnya. Untuk mengatasi itu, tentunya ada tiga kemampuan utama dalam menghadapi society 5.0 yaitu, yang pertama kemampuan memecahkan masalah kompleks dan dapat menjadi problem solver bagi dirinya serta orang banyak. Kedua kemampuan untuk berpikir secara kritis dan peka terhadap kehidupan sosial dan yang ketiga Kemampuan untuk berkreativitas berbasis Internet of Things (IoT). Selanjutnya Wagub Sumbar yang milenial ini juga menjelaskan menyikapi hal tersebut, peran aktif pemuda di era 5.0 harus memiliki kekuatan moral, kontrol sosial dan bisa menjadi agen perubahan.

yang ada, karena SDM di Indonesia tidak kalah dengan luar negeri. Society 5.0 sebagai komplemen revolusi Industri 4.0, perlu diarahkan pada generasi muda untuk kemajuan bangsa Indonesia dimasa mendatang,” harapnya. Menurut pandangannya konsep revolusi revolusi 4.0 dan Society 5.0 tidak memiliki perbedaan yang jauh. Sebenarnya konsep revolusi 4.0 dan Society 5.0 tidak memiliki perbedaan yang jauh. Hanya saja konsep Society 5.0 lebih memfokuskan konteks terhadap manusia. “Era 4.0 kita bisa mengakses juga membagikan informasi di internet. Dan Society 5.0 adalah era dimana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Internet bukan hanya sekedar untuk berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan”, ungkap Audy. Ia juga menambahkan bahwa dalam Society 5.0 Berbagai isu sosial akan teratasi dan manusia akan terlepas dari berbagai macam keterbatasan dalam hidup, seperti jarak dan lokasi sudah tidak lagi menjadi kendala. “Nantinya semua langkah kita bisa diketahui melalui JPS, bahkan jarak dan lokasi sudah tidak lagi menjadi kendala, dari segi pengiriman barang, kesehatan, pendidikan, pekerjaan seperti sekarang ini kerja tidak perlu dari kantor (work from home) semua bisa dilakukan secara jarak jauh dari rumah tanpa harus bertemu secara fisik,” tambahnya. Sementara itu, Rektor IAIN Batusangkar, Dr. Marjoni Imamora, M.Sc menyampaikan, bahwa revolusi industri 4.0 menggunakan kecerdasan buatan sebagai komponen utama dan Society 5.0 menggunakan teknologi modern dan mengandalkan manusia sebagai komponen utamanya. “Jika segala kecanggihan teknologi tidak akan membawa manfaat apabila manusia sebagai pengguna tidak dapat mengoperasikannya. Manusia tidak cukup hanya sebatas memahami atau diberikan sebuah sebuah teori saja, harus berpikir kritis, kreatif dan konstruktif,” ujar Marjoni. Adanya pembaharuan pada era tersebut dapat menghasilkan nilai baru dengan elaborasi dan kerja sama pada sistem, informasi dan teknologi yang juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan atau Human Capital. (*)

Edisi 1 Tahun 2021 5


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

FOKUS

Tapak Jejak Lembaga yang Kompetitif

Menjalar Kerjasama, Merangkai Kolaborasi Institusi “Sinergitas Antara DPRD dengan Perguruan Tinggi adalah sesuatu yang harus dilakukan guna mempercepat pembangunan Daerah.” Syahrial Kani (Ketua DPRD Kota Padang)

S

tep by step untuk menjadi salah satu fakultas yang unggul terus dikejar, jalinan kersama, kualitas Pengajaran, kualitas lulusan menjadi focus scop Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Batusangkar untuk menjadi fakultas yang memiliki daya saiang di tingkat Global. Jalinan kerjasama yang selalu dikejar tentu tidak hanya sebatas seremonial, Action dari kerjasama menjadi salah satu ruang FUAD IAIN Batusangkar dalam mewujudkan capaian yang lebih efektif untuk kemajuan dunia pendidikan. Berkaca dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu seperti jalinan kerjasama dengan berbagai tempat di Provinsi Sumatera Barat yang dimulai pada Juni 2021 lalu. Kerjasama ini dilakukan guna mempersiapkan tempat untuk kepentingan magang mahasiswa FUAD. Selain itu, beberapa tempat yang sudah

Edisi Tahun 2021 11 Tahun 2021 6 6Edisi

terlebih dahulu terjalin kerjasama dalam bentuk MoU ataupun MoA juga dilakukan penjajakan agar nantinya mahasiswa dapat ditugaskan untuk magang di instansi atau lembaga terkait. Contohnya saja Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Prov. Sumatera Barat. Kepala Dinas DPMD Sumbar Drs. H. Syafrizal Ucok, MM dengan semangat ingin menjalin kerjasama dengan FUAD bukan hanya dalam hal magang, akan tetapi lebih luas lagi yang nantinya dituangkan dalam bentuk MoU ataupu MoA. Lain halnya rancangan kerjasama Ketua DPRD beserta dan FUAD yang akan dirancangkan saat audiensi di kantor DPRD Kota padang yang langsung yang langsung dinahkodai oleh Dekan FUAD Dr. Akhyar Hanif, M.Ag. Ketua DPRD Kota Padang, Syafrial Kani, SH menuturkan Sinergitas Antara DPRD dengan Perguruan Tinggi adalah sesuatu yang harus dilakukan guna mempercepat pembangunan Daerah. Disamping itu ketua DPRD Kota padang memberi apresiasi dengan keberadaan prodi


FOKUS pemikiran Politik di IAIN Batusangkar. “Prodi ini yang sangat bagus, dimana mengintegrasikan dan menginterkoneksikan dua perpektif keilmuan yakni politik dan islam. Mudahmudahan prodi ini nanti dapat melahirkan para politisi dan birokrat yang tanguh”, Ujar Syafrial. Kerjasama antar kampus Tidak hanya dengan instansi pemerintah, kerjasama juga dilaksanakn dengan berbagai kampus-kampus keislaman dan umum. Kerjasama tersebut menjadi jalan untuk mewujudkan tri dharma perguruan tinggi dan kolaborasi kegiatan yang tentu saja bisa meningkatkan kualitas dari masing-masing institusi. Setiap kerjasama yang dilakukan FUAD IAIN Batusangkar selalau ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) sebagi legal standing dalam eksekusi kegiatan. Hal ini seperti yang dilakukan pada beberapa saat lalu seperti yang dilakukan dengan STAIN Madina pada Senin (26/4/21) lalu. Kegiatan yang sama juga dilaksanakan dengan UIN Ar-Raniry Banda Aceh di Gedung FUAD) IAIN Batusangkar pada Rabu (24/3/21) lalu. Kunjungan yang merupakan salah satu agenda perjalanan panjang FUF UIN Ar-Raniry ke Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang ada di pulau Sumatera. “Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mengunjungi IAIN Batusangkar khususnya FAUD ini, karena kita sama-sama Fakultas Ushuluddin, sama-sama PTKIN, dan sama-sama berada di pulau Sumatera”, ungkap Dekan FUF UIN Ar-Raniry Dr. Abd. Wahid, S. Ag, M.Ag dalam sambutannya. Dekan Fakultas Uhuluddin FUAD yang diwakili oleh Wakil Dekan Dr. Irman juga menambahkan bahwa Selain kunjungan dan penandatangann MoA, tentu saja kerjasama tersebut tidak hanya kerjasama pada secarik kertas bermateri lengkap. Tetapi tentu juga menjadi suatu langkah lanjutan dalam melakukan kegiatan kolaboratif.

Tabloid Alfitrah

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

dengan kampus lain seperti Prodi PMI IAIN Batusangkar dan Prodi PMI UIN Sunan Kalijaga mengadakan perjanjian kerjasama. Perjanjian ini dibuat bertujuan untuk menyongsong rencana pemberlakuan Kampus Merdeka yang mengharuskan adanya pertukaran pelajar diluar kampus atau prodi.

Akreditasi Menjadi Standar Akreditasi menjadi sebuah aset penting untuk menetapkan posisi sebuah lembaga institusi perguruan tinggi atau program studi dalam tataran kompetisi pengelolan dengan institusi perguruan tinggi dan program studi lain serta merupakan tolok ukur bagi lembaga pengguna produk program perguruan tinggi untuk memastikan lulusan tersebut layak karena dihasilkan dari proses pengelolaan yang terkawal dengan baik.

Mengawal merdeka belajar Sebagai bagian FUAD IAIN Batusangkar dalam meimplementasikan kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. FUAD IAIN juga mempersiapkan langkah kepada mahasiswa/i untuk memberikan kesempatan dari salah satu program Kampus Merdeka yang didukung LPDP. Program ini memberikan beasiswa untuk mahasiswa yang melakukan pertukaran ke perguruan tinggi lain di dalam negeri selama satu semester. Kegiatan ini bertujuan untuk saling mengenal antara satu daerah dengan daerah lainnya guna mempelajari keragaman kebudayaan Indonesia serta mendorong penguatan dan perluasan kompetensi akademik mahasiswa. Implementasi kegiatan tersebut juga dilakukan

Untuk menjadikan FUAD IAIN Batusangkar sebagai salah satu Fakultas yang terdepan dan bersaiang dengan fakultas sejenis, akreditasi menjadi landasan pijakan untuk mewujudkan visi dan misi tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, FUAD telah mendapatkan akreditasi B untuk 2 prodi antara lain Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam serta Prodi Ilmu Perpustakaan dan Infromasi Islam. Saat ini, ada 4 prodi lainya yang sedang mempersiapakan untuk di Assesment Lapangan oleh BAN-PT dengan mengarapkan mendapatkan nilai terbaik (*)

Edisi 1 Tahun 2021 7


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

RANAH

Tahun Baru, Tenaga Baru, Di Rumah Baru Balai Prasarana Permukiman (BPP) Wilayah Sumatera Barat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyerahkan swakelola gedung kepada Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Batusangkar, Rabu (20/1). Swakelola gedung ini langsung diserah terimakan oleh Kepala BPP wilayah Sumbar, Kusmoro Darwito kepada Rektor IAIN Batusangkar Dr. Marjoni Imamora, M.Sc. tepat di aula gedung baru FUAD yang berada di lantai dua. Dalam sambutannya, Rektor mengatakan, “kita semua bertekat untuk menggunakan gedung ini dengan sebaik-baiknya, kita gunakan dengan awalan basmalah (bismillah), dan berharap gedung ini dapat berguna bagi civitas akademika khususnya civitas akademika selingkup FUAD”. Selain itu, pada kesempatan yang sama Rektor juga mengharapkan agar dapat bekerjasama kembali dengan BPP atau Kementerian PUPR untuk menyelesaikan gedung lainnya yang sempat mangkrak atau tertunda penyelesaian pembangunannya. Kepala BPP wilayah Sumbar, Kusmoro Darwito juga sempat menyampaikan kesulitan yang dialami oleh timnya dalam penyelesaian gedung FUAD, karena sedang berada di tengah Pandemi. Akan tetapi, penyelesaian gedung terus dilakukan

8 Edisi 1 Tahun 2021

dengan tetap mengikuti protokol kesehatan berdasarkan instruksi oleh Kementrian PUPR. Gedung ini akhirnya berhasil diselesaikan dengan waktu 236 hari, bertepatan pada bulan September 2020 lalu. “Hal ini merupakan hasil jerih payah berbagai pihak, diantaranya kerjasama antara BPP Sumbar, IAIN Batusangkar, stakeholder terkait lainnya, dan juga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan”, ungkap Kusmoro Darwito. Gedung dengan total biaya sebesar 32 Milyar rupiah ini, diharapkan menjadi “rumah baru” bagi segenap civitas akademika khususnya bagi FUAD dan dapat meningkatkan fasilitas, kualitas serta kenyamanan mahasiswa dalam menimba ilmunya. Selain itu, gedung baru FUAD juga memiliki berbagai fasilitas laboratorium, baik laboratorium multimedia, laboratorium psikologi, laboratorium tahfizd, dan laboratorium perpustakaan diharap dapat meningkatkan kualitas para mahasiswa pada mata kuliah beban praktek. Acara swakelola ini juga dihadiri oleh kepala BPP Sumatera Barat sebelumnya Syafriyanti, para Wakil Rektor, Kabiro AUAK, Dekan setiap Fakultas di lingkungan IAIN Batusangkar, dan tentunya Dekan, Wakil Dekan, Kabag TU, serta para Ketua Jurusan FUAD yang terlihat berbahagia akan menggunakan “rumah baru” mereka.


RANAH

Tabloid Alfitrah

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

KKN dan Magang Terintegrasi, Terobosan Baru IAIN Batusangkar IAIN Batusangkar Kembali melakukan Kegiatan Magang dan KKN untuk mahasiswa semester 6. KKN dan Magang kali ini dilakukan secara kalobarasi yang secara pelaksaannya dilaksanakan secara serentak untuk mewujudkan integrasi keilmuan. Kollaborasi magang dan kkn yang dilakukan oleh pihak IAIN Batusangkar terbilang baru dan dilakukan secara serentak dengan jam yang berbeda. Bagaimana nantinya pihak kampus dari IAIN Batusangkar melakukan kegiatan magang dan kkn ditempat mereka berada. Dalam hal ini tentu sebagai terobosan baru yang dilakukan oleh pihak kampus maupun fakultas dalam melaksanakan kegiatan yang dilaksanakan secara kollaborasi. Berdasarkan kesepakatan dari pihak kampus dan fakultas syarat bagi mahasiswa dalam melaksanakan magang dan kkn terbilang sulit. Banyak dari mahasiswa tidak mengikuti magang dan kkn secara serentak. Magang dan kkn tersebut memiliki syarat yang benar-benar harus dipenuhi salah satunya adalah Sertifikat PPI (praktek pengamalan ibadah). Berdasarkan dari keputusan pihak rektor dalam magang dan kkn di fakultas FUAD, Dilangsir dari via telegram dalam informasi yang diterima 13 mahasiswa yang digagal dan ada 3 mahasiswa yang ditangguhkan. Jika salah satu syarat dari magang ataupun

kkn tidak terlaksana maka kedua kegiatan tersebut tidak bisa dilaksanakan ataupun bisa dilakukan tahun depan. Hal ini sebagai keuntungan dan kerugian yang diterima oleh mahasiswa terutama dari fakultas FUAD dalam kollaborasi antara magang dan kkn. Jika ini terbilang sukses ataupun pandemik berlanjut dari pihak kampus maupun fakultas bisa menerapkan kembali kollaborasi magang kkn ditempat mahasiswa berada. Dalam hal ini bisa jadi mahasiswa bisa saja mengikuti pesyaratan dengan serius dan bertanya dari dari mahasiswa yang telah melaksanakan magang dan kkn itu secara kollaborasi secara serentak. Pihak IAIN Batusangkar melakukan terobosan baru dalam melaksanakan kollaborasi magang dan kkn secara serentak sebagai waktu yang panjang bagi mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan selanjutnya dalam menyelesaikan studi perkuliahan ataupun menyelesaikan perkuliahan itu sendiri. Mahasiswa yang menyelesaikan kegiatan magang dan kkn secara serentak bisa serius ataupun santai dalam melanjutkan kegiatan tersebut. Dalam hal ini banyak pihak yang mengapresiasi dalam melaksanakan kollaborasi magang dan kkn yang dilaksanakan oleh pihak IAIN Batusangkar dalam menunjang pendidikan dalam bermasyarakat.

Edisi 1 Tahun 2021 9


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

OASE

RIMBO BALAM

Saat jumlah rakyat mulai berkurang, seorang laki-laki hebat yang konon berilmu ghaib tinggi mengajak rakyat yang tersisa untuk pergi dari perkampungan, hingga mereka memutuskan untuk tinggal di sebuah hutan tak berpenghuni yang bernama Rimbo Balam.

Puluhan tahun berlalu, saat terjadinya perang antara rakyat Indonesia dengan pasukan Belanda. Saat di mana rakyat menderita, ketakutan, kelaparan, hingga terasingi. Ribuan warga tewas karna serangan bom dan senjata. Anak-anak tak kenal lagi dengan wajah orangtua mereka, dengan wajah yang tak berbentuk akibat perihnya sayatan senjata, hingga tembusnya peluru-peluru canggih ke dalam tubuh yang tak berdosa itu. Hanya

10 Edisi 1 Tahun 2021

malang yang ada dalam benak rakyat, tak dapat bertindak apa-apa. Terkadang tak kuasa menahan sakit, mereka lakukan perlawanan hanya dengan sebatang bambu runcing yang tak terbandingkan hebatnya peluru-peluru serta dahsyatnya ledakan bom. Derita-derita itu dirasakan oleh setiap rakyat hingga ke pelosok negeri sekalipun. Saruaso, adalah salah satu dari daerah yang merasakan


OASE

derita yang bertubi-tubi dari pasukan musuh. Saat jumlah rakyat mulai berkurang, seorang laki-laki hebat yang konon berilmu ghaib tinggi mengajak rakyat yang tersisa untuk pergi dari perkampungan, hingga mereka memutuskan untuk tinggal di sebuah hutan tak berpenghuni yang bernama Rimbo Balam. Rimbo Balam merupakan sebuah hutan tak berpenghuni yang saat itu mulai diisi oleh rakyat

Tabloid Alfitrah

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

saruaso. Bukan orang-orang biasa yang biasa menempati rimbo tersebut, kebanyakan dari warga yang menempati Rimbo Balam adalah orang-orang yang memiliki ilmu ghaib, berkekuatan mistis. Sejak jauh dari perkampungan dan jangkaun pasukan musuh, masyarakat yang bermukim di Rimbo Balam itu mulai merasakan ketenangan. Hidup mereka mulai damai dan sangat menegaskan untuk tidak memperkenalkan kata kesombongan dan kebohongan. Dan mulai mengajarkan ilmu-ilmu ghaib kepada anak-anak mereka yang umurnya sudah dirasa cukup. Saat ilmu-ilmu ghaib itu mulai dikuasai oleh anak-anak mereka, perkampungan baru itu mulai berhawakan mistis di setiap sudutnya. Sehingga orang lain dari luar perkampungan itu tidak berani untuk masuk maupun berkunjung ke dalam perkampungan baru Rimbo Balam. Seiring berjalannya waktu, tetua-tetua Rimbo Balam itu mulai wafat satu persatu. Hingga yang tersisa hanyalah anak-anak mereka. Ilmu-ilmu yang diwariskan itu digunakan untuk melanjutkan serta sebagai alat untuk kelangsungan hidup. Dengan ilmu tersebut mereka bisa mendapatkan makanan hanya dengan pejaman mata. Ketika mereka yang tertinggal itu mulai merasa bosan dengan hidup, mereka melakukan tindakan bunuh-membunuh sesama mereka. Dan pada akhirnya tak ada lagi seorangpun yang hidup di Rimbo Balam tersebut. Dengan demikian, pada saat sekarang ini Rimbo Balam dikenal sebagai hutan yang angker dan penuh dengan mistik. Untuk masuk ke dalam Rimbo Balam itu harus memiliki sikap kehati-hatian, seperti yang ditekankan oleh tetua-tetua Rimbo Balam yang tidak mengenal kata kebohongan dan kesombongan. Jika seandainya itu terjadi, maka ada saja malapetaka yang akan di dapat oleh seorang yang melakukan hal tersebut. Jilatang, Masiak, Piyau dan Iyuih adalah empat sekawan yang dari kecil sudah terbiasa bersama. Ketika mereka sedang asik bermain bola, dengan mengeluarkan tenaga yang luar biasa, Jilatang menendang bola dengan sangat kuat hingga bola yang ditendang melambung sangat tinggi, hingga bola tak lagi tampak dari pandangan mereka. “ang cari bola de liek!!, kok dak basuo, awas ang!!” (“cari bolanya!!, kalau tidak ketemu, awas!!) ujar Masiak dengan sangat kesalnya. Dengan wajah polosnya, Jilatang berusaha untuk mencari bola yang ia hilangkan. Saat mencari bola itu, tiba-tiba Jilatang melihat sekumpulan orang dewasa yang sedang berbincang-bincang. Dengan rasa penasaran yang tinggi, iapun menguping pembicaraan orang-orang dewasa itu. Dari apa yang ia dengarkan, ia dapat menangkap sedikit dari pembicaraan mereka yang membahas tentang keberadaan dan mistis yang ada di Rimbo Balam. Dengan membawa bola yang telah berhasil ia dapatkan, Jilatang pun berlari dengan sangat kencang menuju teman-temannya yang sudah lama menunggu. Saat sampai di dekat teman-temannya, ia pun terengah-engah tak

Edisi 1 Tahun 2021 11


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

karuan dengan kata yang terputus-putus dalam berbicara.”ndeh miang, ndeh miang, ndeh miang” bentuk keluh Jilatang dengan terengah-engah. Ia berusaha menjelaskan apa yang baru saja ia dengar dari sekumpulan orang dewasa tadi. Namun napasnya yang tidak beraturan membuat ia sulit untuk berbicara dengan lancar. Masiak dan piyau pun makin emosi melihat tingkah jilatang. “ang jan bagora jo, ang caritoan lah apo nan tajadi, pado den lakak ang jo kayu nyak beko” (“kamu jangan bercanda, ceritakan apa yang terjadi, dari pada nanti kamu saya pukul”) ucap Masiak dengan wajah yang sudah memerah. “Saba lu miang, tonangan ongok den lu baru bisa den mangecek,ko ang dosak jo den” (bersabarlah dulu, saya tenangkan napas setelah itu baru bisa saya bicara, jangan didesak) jawab jilatang. Sambil menenangkan napas, Piyau pun menyuruh Jilatang untuk duduk dan memberinya segelas air putih untuk diminum. Air tersebut adalah air yang baru saja di bawa oleh Iyuih dari rumahnya yang tak jauh dari tempat mereka berkumpul. Setelah merasa tenang, Jilatang pun mulai membuka pembicaraan dengan menceritakan apa yang baru ia dengar dari perbincangan orang-orang dewasa tadi. “oii... lai tau kalian? Sangkek den mancari bola tadi, den dak sangajo mandangaan kecek urangurang gadang nan sadang bakumpua di tampek tu. Nan den tatangkok dari kecek tu dek den, kalau di tompek awak ko ado rimbo nan angker jo mistis, namonyo rimbo balam. Den penasaran jo tompek tu.” (oii... kalian tau tidak?? Ketika saya mencari bola tadi, saya tak sengaja mendengar percakapan orang-orang dewasa yang sedang berkumpul di tempat itu. Yang dapat saya tangkap dari percakapan mereka adalah bahwa di tempat kita ini ada hutan yang angker dan mistis, saya penasaran dengan tempat itu.”) “Iyo ge miang? ang ota kami awas ang, ko lai ado kayu palokak ang ha” (“benarkah? Jika kamu berbohong, ini ada kayu yang bakal mukulin kamu”) ujar Masiak. “Den pernah lo mandongo carito tu mah, carito tu lah tamasuak carito lamo, gaek den nan mangecek an ka den. Tapi bakpo ka batanyo ka gaek den, gaek den lah maningga satahun nan lalu.” (“saya juga pernah mendengar cerita itu, cerita itu termasuk ke dalam cerita lama, kakekku yang menceritakan. Tapi bagaimana cara bertanya kepada kakekku, dia sudah meninggal dua tahun lalu”) sambut Iyuih dengan wajah serius. Dengan memasang wajah bingung bercampur dengan penasaran yang tinggi, keempat sekawan ini mencari berbagai informasi yang menyangkut dengan keberadaan Rimbo Balam yang angker dan mistik itu. Hingga pada akhirnya, informasi itu berhasil ia dapatkan dari orang tua-tua yang ada di

12 Edisi 1 Tahun 2021

OASE

dekat rumah mereka. “Gek, lai tau gek jo Rimbo Balam gek?” (“kek, apa kakek tau dengan Rimbo Balam?”) tanya iyuih kepada seorang kakek yang berada di dekat rumahnya. “Bakpo kok itu nan kalian tanyo? Lah jaleh tompek tu de tompek babahayo, banyak jin di sinan de. Kok nak poi ka sinan kalian, ancak jaan lai, dak babaliak kalian beko.” (“kenapa itu yang kalian tanyakan? Jelas tempat itu berbahaya, banyak jin disana. Jika ingin berniat pergi kesana, lebih baik jangan, nanti kalian ga akan bisa pulang”) Jawab kakek. Dengan rasa penasaran yang makin menggebu, Jilatang bersikeras kepada kakek untuk menjelaskan mengapa ia tidak dibolehkan untuk pergi ke sana? apa yang membahayakan? ada apa di sana? Bagaimana bentuknya? Apakah tidak ada kesenangan di sana? Sehingga kakek melarang empat sekawan itu untuk masuk ke Rimbo Balam. Dengan melihat wajah-wajah empat sekawan ini makin penasaran, akhirnya kakek mau membuka cerita mengenai Rimbo Balam. Lama kakek bercerita, hingga kakek memberi pesan “kok jadi jo kalian poi ka Rimbo Balam tu, banyak nan ka basobok dek kalian beko mah. Hal aneh-aneh tu ka nampak di mato kalian, walau itu sakijok mato nan tampak tu. Kok ado kalian basuo jo nan mode tu, jan takabua , jan sombong, ciek lai jan sampai baduto kalian disinan. Elok-elok jo laku jo parangai, lai jaleh dek kalian!!! Itu pasan gek ka kalian nyo.” (“seandainya kalian jadi pergi ke Rimbo Balam, banyak yang akan kalian temui disana. Hal anehaneh itu akan tampak di pandangan kalian, walau itu sekejap mata. Jika kalian bertemu dengan hal seperti itu, jangan takabur, jangan sombong, satu lagi jangan sampai berbohong di sana. Baik-baiklah tingkah di sana, mengerti!!! Hanya itu pesan kakek untuk kalian”) Dengan mulut terbungkam saat mendengar cerita dan pesan kakek, keempat sekawan itu hanya bisa mengangguk-anggukan kepala. Dua hari setelah mendengar penjelasan dari kakek, keempat sekawan itu kembali berkumpul dan merancang keberangkatan mereka untuk masuk ke Rimbo Balam yang penuh mistis itu. Dengan penuh semangat yang terbawa oleh rasa penasaran yang tinggi, mereka langsung berniat untuk pergi esok pagi sebelum pukul tujuh. Saat matahari mulai menampakkan sinar merah yang masih diselingi oleh kabut, mereka pun berkumpul di samping rumah Iyuih, dengan membawa berbagai perlengkapan. Mulai dari tenda, makanan, minuman, senjata tajam berupa parang dan pisau untuk waspada adanya hewan buas, serta perlengkapan lainnya. Sebelum berangkat, Piyau kembali mengingatkan pesan dari kakek kepada teman-temannya “kawan-kawan, beko pas wak dalam pajalan masuak ka Rimbo


Tabloid Alfitrah

OASE

Balam tu, jan sampai ado nan takabua, sombong, jo baduto, apopun keadaannyo beko, den nio awak barampek ko baliak jo badan nan salamaik, tu bisa mambaok pengalaman nan luar biasa ko.” (“teman-teman, ketika dalam perjalanan masuk ke Rimbo Balam nanti, jangan sampai ada yang takabur, sombong, dan berbohong, apapun itu keadaannya.”) Mereka pun mulai melangkah kan kaki menuju jalan masuk ke Rimbo Balam. Dalam lamanya perjalanan, kaki mereka terhenti untuk beristirahat di bawah sebuah pepohonan. Mereka menyantap perbekalan yang di bawa dalam ranselnya. Saat beristirahat, Piyau tidak tahan untuk buang air kecil, dan pergi memisah agak sedikit jauh dari tempat peristirahatan mereka. Lama menunggu, Masiak pun tak tahan menunggu Piyau untuk kembali. “poi wak lai lah, lamo bono piyau ko, lah balangau lo wak manunggunyo disiko, ntah apo nan nyo kaluaan.” (“ayo lah, dia lama sekali, sudah lama kita menunggu, ntah apa yang dikeluarkannya.”) “eh, jaan miang...kawan awak juo ko mah, jak ketek wak basamo tu ka batinggannyo disiko. Lah jaleh ko dak tompek awak, dak tau nyo jalan babaliak beko. Caliak an lah setia kawan wak ko dalam keadaan mode ko!!!” (“eh, jangan... dia teman kita juga, dari kecil kita sudah terbiasa bersama, tidak mungkin untuk ditinggalkan. Sudah jelas ini bukan tempat kita, takutnya dia tidak tau jalan pulang. Perlihatkanlah kesetiakawanan kita dalam keadaan seperti ini.”) sambar Iyuih dengan wajah yang agak kesal mendengar lontaran Masiak. Dengan lama menunggu, akhirnya Masiak dan Jilatang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Iyuih hanya diam dan tak mau bergerak sedikitpun dari tempat ia duduk. Karena Iyuih tidak mau meninggalkan Piyau sendiri di dalam perjalanan yang hampir memasuki Rimbo Balam. Akhirnya mereka terpisah menjadi dua kelompok. Tak lama kemudian, Piyau pun datang ke hadapan Iyuih dengan wajah yang kegirangan. Tak tau apa yang telah dialami oleh Piyau selama ia pergi. “bakpo dek sonang no hati ang? dek apo ang?apo nan nampak dek ang?” (“kenapa hatimu terlihat senang sekali? Ada apa denganmu? Apa yang kamu saksikan?”) tanya Iyuih yang heran melihat kegirangan piyau. “lai tau ang apo nan den rasoan tadi? Tadi den basobok jo apak-apak bajangguik putiah, awalnyo den takuik mancaliak apak tu, kironyo apak tu elok ka den. Den diagiehnyo buah cimangko duo buah. Disuruahnyo den maagiah kalian, tu den iyoan. Dak lamo sudah tu den disuruah dek apak tu baliak ka tampek kalian.” (kamu tau tidak apa yang tadi saya rasakan? Tadi saya bertemu

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

dengan bapak-bapak berjenggot putih, awalnya saya takut melihat bapak itu, ternyata bapak itu sangat baik kepada saya. Dia memberi saya dua buah semangka. Dia menyuruh saya untuk membagikannya kepada kalian. Tidak lama setelah itu dia menyuruh saya kembali ketempat kalian.) penjelasan Piyau terhadap pertanyaan Iyuih. Sejenak Iyuih terdiam, dan kemudian menjelaskan bahwa Masiak dan Jilatang telah melanjutkan perjalanan terlebih dahulu. Mendengar penjelasan Iyuih, Piyau pun ikut merasakan sedih karna kebersamaan mereka terputus akibat lamanya ia pergi dan membuat temannya lama menunggu. Masiak dan Jilatang mulai berpikir dalam perjalanannya. Yang ada dalam pikiran mereka saat itu hanyalah mengapa mereka meninggalkan Piyau dan Iyuih di belakang. Ada sedikit penyesalan dalam diri mereka, pertemanan yang sejak kecil mereka bina kandas hanya karana permasalahan menunggu. Akhirnya Masiak dan Jilatang memutuskan untuk berbalik dan mengahampiri Iyuih dan piyau ke belakang. Namun, apa yang mereka harapkan hanyalah sia-sia. Mereka tidak dapat lagi bertemu dengan iyuih dan Piyau disebabkan perkataan sombong yang terlontar dari mulut Masiak. Bukan hanya itu, Masiak dan Jilatang pun tak tau lagi arah jalan pulang walaupun mereka belum sampai ke tempat yang mereka tujukan. Dengan wajah yang sedih penuh penyesalan, Iyuih dan Piyau tidak lagi melanjutkan perjalanan. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah mereka kembali. Saat sampai di rumah, Iyuih dan Piyau selalu teringat akan keberadaan Masiak dan Jilatang yang belum juga pulang. Hingga berbulan-bulan lamanya, dua orang temannya itu tak kunjung menampakkan diri di hadapan mereka. Hari-hari Iyuih dan Piyau tidaklah seasik dulu, saat mereka bisa berkumbul, bermain bola, bercanda ria dengan empat sekawan dari kecil itu. Dalam pikiran Iyuih dan Piyau saat itu adalah, kedua temannya berhasil ditelan Rimbo Balam akibat kesombongan.

Oleh: Siti Aminah

Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Batusangkar

Edisi 1 Tahun 2021 13


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

WAWANCARA

IAIN itu kan “A” nya adalah agama. Kalau kita berbicara Islam tentu ada keilmuan Islam yang fundamental mungkin kita sebut Jurusanjurusan yang berakar dari rumpun ilmu keislaman, dan itu ada di FUAD,

14 Edisi 1 Tahun 2021


Tabloid Alfitrah

WAWANCARA

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

Mengenal “Tungganai” FUAD

Akhyar Hanif: Saya Hanya Ingin FUAD Menjadi Rumah Bagi Kita Hari ini (14/4/21) suasana Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) tidak begitu ramai, hanya beberapa orang mahasiswa dan dosen di pelantaran Gedung FUAD. Beberapa mahasiswa ada yang sedang menunggu dosen untuk melakukan bimbingan dan beberapa urusan Admisnitrasi. Di lantai II gedung FUAD juga terlihat beberapa dosen yang sedang berdiskusi, sedikit menguping, kami mendengarkan mereka berbicara tentang pesiapan akreditasi salah satu Jurusan/prodi di FUAD IAIN Batusangkar. Kami mencoba masuk di salahsatu ruangan yang cukup besar dan rapi, disana kami dihadapkan dengan ruang pertemuan dan juga ada rungan lainnya yang bertuliskan nama Dekan Dr. Akhyar Hanif, M.Ag. Kami meminta izin masuk untuk berbincang dengan beliau. Di ruangan berukuran sekitar 6x4 meter tersebut, tertata berbagai plakat dan piagam penghargaan yang tepajang rapi di dinding, kami disambut dengan sangat ramah. Beliau adalah Dr. Akhyar Hanif, Dekan FUAD periode 2020-2024. Sedikit berbasa-basi, kami menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami, beliau dengan hangat menerima dan bersedia untuk berbincang dengan kami, pertanyaan demi pertanyaan pun kami layangkan, berikut kutipannya.

seperti komunikasi, politik, psikologi, pmi, pustaka, setidaknya latar belakang tafsir, dan ilmu sosial masih dekat dengan bidang keilmuan Ana. Tapi Ana hanya ingin, dengan ditempatkan ditempat yang dekat dengan keilmuan Ana, Ana bisa membuat sesuatu yang membangun. Ketika Pelantikan, apa perasaan bapak akhirnya di lantik menjadi Dekan di FUAD? Kalau Ana boleh jujur, Ana tidak mengerti betul dengan peta bagaimana dengan FUAD itu, apalagi dengan banyaknya bidang ilmu di sana. Saat pelantikan itu, Ana ingat bahwa Ana adalah tamatan UIN Jakarta, dan biasanya UIN dikenal sebagai orang dengan pemikirian bebas, pemahannya lebih inklusif, tidak ekslusif. Nah, dengan pemikiran seperti itulah setidaknya Ana mencoba bagaimana menggairahkan

Apa yang Bapak ingat tentang prapelantikan menjadi Dekan FUAD? Ana adalah salah satu di antara kompetitor calon Rektor IAIN Batusangkar yang waktu itu Ana rasa ananda tau, dan ternyata yang terpilih oleh Menteri Agama adalah Dr. Marjoni Imamora. Nah, seteleh dilantiknya Rektor Marjoni menggantikan Dr. Kasmuri, Ana diajak oleh Rektor terpilih untuk bergabung dan membantunya untuk membangun IAIN Batusangkar ini. Ketika ana diajak oleh Rektor, saat itu Ana jawab, Ana ingin Chalenged Job, sesuatu yang menantang. Jika Ana diletakan di Wakil Rektor, Ana mau di bidang I atau bidang III, dan jika Ana diletakan sebagai dekan, Ana ingin di FUAD atau FTIK. Dalam pemilihan jabatan, Ana ingin ditempatkan setidaknya ditempat yang dekat keilmuannya dengan Ana. Jika seandainya Ana diletakan di FEBI, pasti Ana tolak. Tapi walaupun FUAD itu sangat komplek dalam bidang keilmuan Edisi 1 Tahun 2021 15


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

pemahaman seperti itu di Fuad. Nah konsep ini yang Ana rasa sesuai dengan konsep moderasi beragama yang diluncurkan Kemenag, dan itu tentu sangat sejalan dengan konsep yang Ana ingin capai. Hampir satu tahun kepimpinan bapak di FUAD, apa yang Bapak rasakan? Saat Ana pertama kali menginjakkan kaki di FUAD ini, Ana temukan generasi muda yang energik dan Ana yakin kita bisa berbuat sesuatu untuk FUAD. Memang selang beberapa saat setalah pelantikan, ada rotasi, Ana juga

sempat down bahwa teman-teman yang muda yang kemudian dipindahkan ke unit lain di IAIN Batusangkar. Tetapi dengan adanya teman-teman baru (CPNS 2019), semangat Ana kembali bangkit, FUAD punya Real Resource yang bisa membawa FUAD berlari sangat kencang, dan Ana yakin itu. Memang, untuk program kerja FUAD yang kita laksanakan tahun ini adalah program kerja yang telah dibuat di tahun sebelumnya. Tapi setidaknya dengan program-program yang telah berjalan kita berharap program tersebut bisa berjalan dengan maksimal. Tapi, di tahun depan dengan program yang telah kita rancang, bagaimana kegiatan tersebut berbasis anggaran. Pada tahun 2022 nanti kita akan membuat skala prioritas untuk mencapai kegiatan yang lebih baik. Bagaimana Bapak melihat FUAD sebagai multidisiplin keilmuan

16 Edisi 1 Tahun 2021

WAWANCARA

IAIN itu kan “A” nya adalah agama. Kalau kita berbicara Islam tentu ada keilmuan Islam yang fundamental mungkin kita sebut Jurusan-jurusan yang berakar dari rumpun ilmu keislaman, dan itu ada di FUAD, Contoh IAT, Jurusan yang berbicara tentang Al-Quran dan Tafsir, berbeda dengan KPI yang ada ilmu Komunikasi dengan konsep “Profan”. Tapi tentu saja integrasi keilmuan ini menjadi kekuatan bagi kita. FUAD terdiri dari fakultas-faklutas yang “digabung”. Betul 3 fakultas IAIN secara “terpaksa” digabungkan menjadi satu, tapi Ana yakin ini akan mendapatkan jati dirinya sendiri. Integrasi

keilmuan seperti Komunikasi dalam bahasa “profan” dan dakwah itu secara substansi bisa kita didekatkan, dakwah itu salahsatu isinya adalah komunikasi, istilah komunikasi adalah istilah yang populis, sedangkan dakwah kemudian menjadi sesuatu yang eklusif. Begitu juga dengan jurusanjurusan lainya di FUAD. Islam itu sangat Integrated. Apa yang Bapak lihat untuk membangun FUAD? Menurut Ana, membangun sebuah lembaga khusunya FUAD itu adalah pekerjaan besar. Ini butuh waktu. Untuk mengukur suatu keberhasilan suatu pendidikan tinggi tidak bisa kita lihat beberapa tahun saja. Untuk melihat sebuah proses pendidikan itu berhasil atau tidak menurut Ana harus bisa kita lihat dari satu atau dua dekade. Bagi Ana, setidaknya Ana mencoba target minimal kita itu bagaimana kita membangun iklim


WAWANCARA

Tabloid Alfitrah

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

akademis yang pluralis. Membangun kolektifitas, menyatukan kawan yang muda-muda, membangun pemikiran, membangun image, merangkum teman-teman belajar agama supaya lebih ekslusif, tidak inklusif, menobrak kejemutan berpikir, itu yang harus kita lakukan sekarang, apalagi banyak yang bukan dari institusi keagamaan. Tapi sebenarnya, yang harus kita lakukan untuk FUAD ini agar bisa take off tentu tidak sederhana, apalagi dengan kondisi saat ini kita tidak bisa berbuat banyak. Terkadang ada rasa pesimis, tapi tentu saja kita tidak boleh pesimis dalam membangun FUAD.

Bagi Ana, harapan kedepannya tentu saja pengembangan SDM, dan itu pasti. Tapi selain itu, juga bagaimana kawan-kawan yang masih S2 ini bisa didorong untuk menjadi Doktor. Dan tentu saja bagi kawan-kawan yang punya peluang untuk ke luar negeri, dan walaupun masih CPNS, kenapa tidak kita dobrak untuk diberikan izin keluar negeri. Tapi ini ke luar negri ya, Ana berani bertarung. Kalau bisa tahun 2024 sudah ada 5 atau 7 orang Doktor di FUAD. Terkait akreditasi, kita yakin seperti beberapa jurusan yang ada dan sudah diakreditasi, Ana yakin dua atau tiga jurusan di FUAD ini bisa unggul.

Sekarang masing-masing fakultas itu ada semacam kompetisi sebenarnya, kompetisi bagaimana fakultas itu menjadi leading dalam berbagai sektor. Seperti FTIK mencoba untuk menjadi leading di penelitian dan publikasi, termasuk seminar internasional. Tapi dikita kan tidak ada itu, Ana rasa bagaimana tidak, kita bisa menjadi leading di sektor pengabdian kepada masyarakat. Kita sangat potensi untuk pengabdian itu, seperti contohnya PMI yang mungkin berkalobarasi dengan Jurusan lain di FUAD. Barangkali Ana untuk beberapa tahun kedepan kita bisa melihat, dan menggarap, dan fokus di bidang pengabdian sebagai salah satu tridharma perguruan tinggi, dan kenapa tidak kita bisa fokus dibidang ini. Apalagi jumlah pengabdian kita di IAIN Batusangkar ini masih sedikti untuk bidang Pengabdian. Insyaalah tahun depan akan lebih banyak anggaran kita untuk pengabdian ini.

Apalagi dengan teman-teman yang luar biasa, untuk masalah akreditasi kita bisa lebih baik dari sekarang. Untuk bidang pengabdian, dalam masa jabatan Ana ini, Ana berharap kita punya beberapa nagari binaan yang kita bimbing oleh FUAD. Apapun persoalan nagari yang kita dampingi itu sinergis dengan FUAD. Kemudain luarannya, insyaallah selagi kawan-kawan dosen begini caranya, kita coba persamakan, tentu bisa. Tentu saja Ana bukan segala-galanya dan bukan tahu semuanya. Bagi Ana memimpin itu bagaimana kita bisa menyentuh hati yang dipimpin sehingga kita bisa bekerja bersama-sama seperti keluarga. Ana hanya ingin FUAD ini menjadi rumah bagi kita, rumah tempat kita bersama-sama seperti keluarga dalam menghadapi berbagai pesoalan yang ada untuk mewujudkan FUAD yang jauh lebih baik.

Bagaimana harapan kedepannya menurut Bapak sebagai Dekan FUAD?

*TIM REDAKSI

Edisi 1 Tahun 2021 17


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

OASE

Penerapan Pola Asuh Terhadap Karakter Anak di Masa Depan “Perkembangan kepribadian seorang anak dipengaruhi oleh apa yang ia terima pada masa golden age yaitu usia 0-6 tahun pertama kehidupan serta kemampuan untuk melewati setiap fase perkembangan, apabila seorang anak mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang baik maka akan mengakibatkan anak memiliki kepribadian yang baik pada saat dewasa.” Setiap manusia memiliki cara serta teknik yang berbeda-beda dalam menyikapi ataupun menanggapi segala sesuatu. Sama hal nya dengan Pola Asuh, setiap orang tua memiliki cara dan tindakan tersendiri dalam mendidik buah hatinya. Hal ini pun dapat membentuk karakter dan

18 Edisi 1 Tahun 2021

berpengaruh terhadap anak tersebut. Secara etimologi, pola berarti bentuk, tata cara, sedangkan asuh berarti menjaga, merawat dan mendidik (Muslima, 2015). Sehingga pola asuh berarti bentuk atau system dalam menjaga, merawat dan mendidik (Muslima, 2015).


Tabloid Alfitrah

OASE

Jika ditinjau dari terminology, pola asuh anak adalah suatu pola atau system yang diterapkan dalam menjaga, merawat, dan mendidik seorang anak yang bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu (Muslima, 2015). Pola asuh orang tua dalam lingkungan keluarga juga adalah usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (Muslima, 2015). Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap (Muslima, 2015). Sedangkan kata asuh dapat berarti menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu, melatih dan sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga (Muslima, 2015). Menurut Sigmund Freud dalam teori Psikoanalisa menyebutkan bahwa perkembangan kepribadian seorang anak dipengaruhi oleh apa yang ia terima pada masa golden age yaitu usia 0-6 tahun pertama kehidupan serta kemampuan untuk melewati setiap fase perkembangan, apabila seorang anak mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang baik maka akan mengakibatkan anak memiliki kepribadian yang baik pada saat dewasa (Ayun, 2017). Pola asuh orang tua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dan anak dalam berinteraksi, berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan (Badria, Fitriana, & Siliwangi, 2018). Setiap orang tua mempunyai pola asuh yang berbeda, oleh karena itu akan menghasilhan pola hasil yang berbeda pada setiap anak, atau anak akan memiliki karakter yang berbeda antara satu dengan yang lainnya (Badria, Fitriana, & Siliwangi, 2018). Menurut Baumrind (1967) dalam (Badria, Fitriana, & Siliwangi, 2018) terdapat empat pola asuh orang tua terhadap anaknya yaitu: Pola asuh Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap berlebihan yang melampaui kemampuan anak dan memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan. Pengaruh pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya. Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti. Orang tua tipe ini cenderung

Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

memaksa, memerintah, menghukum. Orang tua beranggapan bahwa anak harus mengikuti aturan yang ditetapkan, karena peraturan yang ditetapkan orang tua semata mata demi kebaikan anak. Orang tua tak mau repot berfikir bahwa peraturan yang kaku justru akan menimbulkan serangkaian efek. Pola asuh otoriter biasanya berdampak buruk pada anak, biasanya pola asuh seperti ini akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, gemar menentang, suka melanggar norma-norma, dan berkepribadian lemah. Pola Asuh Permisif Pola asuh ini memberiakan pengawasan yang sangat longgar memberikan kesempatan kepada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup dari orang tua. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam keadaan bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun, orang tua tipe ini bersifat hangat sehingga seingkali disukai oleh anak. Pola asuh permisif akan menghasilkan anak yang tidak patuh, manja, kurang mandiri mau menang sendiri dan kurang percaya diri. Pola Asuh Penelantar Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anakanaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka seperti bekerja. Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah sering bolos dan bermasalah dengan teman. Dengan perbedaan penerapan pola asuh akan menghasilkan karakter serta sikap yang berbeda-beda pula tiap individunya. Hal ini dapat mempengaruhi kegiatan yang akan dilakukan oleh anak tersebut, karena pada dasarnya pembelajaran yang utama didapat oleh seseorang dimulai dari aktivitas nya bersama keluarga, hal ini bisa menjadi patokan individu tersebut dalam aktivitas yang akan dilakukannya diluar rumah. Dengan ini, penerapan Pola asuh yang baik dan benar hendaknya di terapkan oleh orangtua agar anak terbentuk pada karakter yang baik dan mampu menjalankan kehidupan dengan cara yang benar.

Oleh: Nadia Nopiana Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Batusangkar

Edisi 1 Tahun 2021 19


Tabloid Alfitrah Fakultas Ushuluddhin Adab dan Dakwah

VISI FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH IAIN BATUSANGKAR

“Unggul dalam kajian keilmuan ushuluddin, adab dan dakwah yang integratif dan interkonektif, berkearifan lokal dan bereputasi global pada tahun 2039”

20 Edisi 1 Tahun 2021


Millions discover their favorite reads on issuu every month.

Give your content the digital home it deserves. Get it to any device in seconds.