Page 1

drama kala media komunikasi dan informasi teater

2 WACANA

DramaKala, Kelas Menengah, Dan Teater Kita

3 BERITA UTAMA

DramaKala Fest: Ruang Alternatif Bagi Pencapaian Kreatif

4 KHASANAH 8 MATA KALA

DramaKala Dan Teater Yang Nirkala

DramaKala Fest: Sebuah Kemungkinan Lain Dari Ruang Yang Bernama Kreatifitas

Edisi FEBRUAR I

20

07

12 - M ARET 2 0

12

DramaKala Fest

Ruang Alternatif Bagi Pencapaian Kreatif


2

Edisi 6 - Desember 2011 KALA MEMBACA

drama kala Dewan Eksekutif IDEAL Pembina Penasihat Direktur Internal Direktur Eksternal General Manager Koordinator

: Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR : Arswendo Atmowiloto : Chrisdina Wempi : Rafael Jolongbayan : Renata Tirta Kurniawan : Maulia Rori Rarasati

Dewan Redaksi Pimpinan Redaksi Wakil Pimpinan Redaksi Staf Redaksi Editor Layout

: Harris Priadie Bah : Andi Bersama : Dediesputra Siregar Dendi Madiya Hery Saragih : Malhamang Zamzam : Aditya Nugroho Pratomo

Alamat Redaksi STIKOM The London School of Public Relations - Jakarta Komplek Perkantoran Sudirman Park Jl. K.H. Mas Mansyur Kav. 35 Jakarta Pusat 10220

Waktu memang tak terasa bergerak dengan cepat bagi sebuah pekerjaan yang dengan senang dan cinta kita kerjakan, sebaliknya akan terasa melama dan berat bagi diri yang terbebani oleh pekerjaan tersebut. Bagi kami, yang mengerjakan dramakala ini, waktu setahun terasa begitu cepat, seakan baru memulai langkahkan kaki. Setelah setahun hadir dalam dunia perteateran dengan menerbitkan beritaberita dan informasi serta komunikasi seputaran perihal teater, yang mana memang menjadi kekhususan media ini, kami akan merayakannya dengan menyelenggarakan sebuah peristiwa festival yang kami beri tajuk “dramakala Fest” dan akan diberlangsungkan di kampus Stikom London School of Public Relations pada tanggal 28 dan 29 Februari ini, sebuah agenda spesial bersebab tanggal pelaksanaannya bertepatan dengan tahun kabisat. Festival ini akan memfasilitasi pertemuan kelompok-kelompok teater dan monologer-monologer dalam sebuah ruang kompetisi. Untuk kelompok teater kami adakan kompetisi drama pendek dan kompetisi Monolog untuk para aktor monolog. Kedua kompetisi ini berlangsung saling mengisi pada setiap harinya dengan ruang pertunjukan yang berbeda, kompetisi drama pendek berlangsung di Prof DR. Djajusman Auditorium and Performance Hall sedangkan kompetisi Monolog dilakukan di Drama Room. Seluruh peristiwa ini akan menjadi materi berita dan informasi dari dramakala edisi @7 ini dan @edisi 8 pada bulan April. Adapun “dramakala Fest” ini diniatkan untuk diselenggarakan setiap tahun, dan diharapkan bisa menjadi forum silahturahmi yang penting bagi para teaterawan. Semoga kehadiran dramakala terus menjadi inspirasi dan berkat bagi pembaca yang budiman secara luas dan para teaterawan secara khusus. Selamat membaca. (HPBah).

Cover Anwari - GEN - Monolog

Redaksi

WACANA

Drama Kala, Kelas Menengah dan Jurnalisme Teater Kita

B

alai Kartini, awal Februari, saat naskah ini ditulis. Berton-ton set yang dikirim langsung dari Amerika tengah diloading di panggung untuk persiapan pentas Phantom of The Opera. Aktor-aktor Broadway itu didatangkan oleh promotor baru di dunia entertainment kita bernama Big Dady. Mereka ini yang mendatangkan Rod Steward kemarin dan juga Roxette awal Maret nanti. Adalah menarik pentas “sang hantu di gedung opera Paris itu” diadakan di Balai Kartini – yang kita ketahui belum pernah dipakai sebagai tempat pertunjukan teater. Bukan di Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki atau Gedung Kesenian Jakarta.Kita tak tahu apakah yang dipentaskan adalah versi utuh karya Andrew Lloyd Weber,petilan-petilannya atau sekedar franchise nama saja. Pertengahan Oktober nanti—direncanakan mereka juga menghadirkan Cirque du Soleil (Sirkus Matahari) kelompok akrobat dari Kanada —yang banyak menjadi inspirasi para seniman dunia di istora Senayan. Bila ini sukses, saya duga bukan tidak mungkin impresario lain akan juga mendatangkan drama-drama musikal sejenis. Setelah musim semi operaopera lokal seperti Ali Topan, Laskar Pelangi beberapa tahun ke depan maka giliran musim semi opera-opera musikal import baik apakah itu asli atau sekedar imitasi Broadway. Singapura,kita tahu sudah memulai itu . Setelah Esplanade -

mereka membangun –sebuah gedung di Marina Bay Sands --yang satu lokasi dengan kasino. Terakhir saya menonton The Wicked. Saya –membeli karcis yang paling murah dan duduk di balkon paling tinggi, sehingga gerak gerik Elphaba tokoh -perempuan berubuh hijau yang bisa terbang itu tampak kecil. Teater sebagai bagian show entertainment –perlahan akan merasuki Jakarta. Induistri teater belum ada di sini . Teater masih seperti hidup dan mati. Tapi oleh para impresario itu tontonan itu diboyong ke sini bukan untuk dibidikkan pada pekerja teater— tapi kepada kelas konsumen yang haus terhadap segala “estetika pop “. Kelas konsumen yang juga menjadi incaran Java Jazz atau pasar kehidupan malam cafe-cafe di Kemang. Pada titik ini—jurnalisme teater memasuki babakan baru. Jurnalisme teater dituntut –bukan hanya membaca teater dari sisi estetika tapi membaca teater sebagai masalah sosial . Jurnalisme teater bisa mengamati benturan-benturan dan ketegangan kreatif antara teater underground kita dengan opera-opera—baik yang pseudo maupun yang tidak. Apakah teater underground kemudian makin memiliki impact positif – makin memiliki akses terhadap sumber-sumber finansial maesenas, promotor-promotor,atau lembagalembaga kebudayaan asing yang mau mendanai proses berkesenian karena mereka melihat bahwa teater meluas penontonnya? Apakah reaksi

“ideologis” teater underground kita . Makin dalamkah menggeluti tematema eksistensial? Makin politiskah? Makin menjurus absurdkah? Makin menggali tradisikah ? Makin gilakah mereka menggeluti visi-visi estetika kontemporer? Atau justru kehilangan arah ? Atau jalan sendiri-sendiri? Sebab di Indonesia munculnya dialektika antara “Teater elite” dan “Teater perlawanan” tidak sama dengan di Amerika. Di New York, munculnya off off Broadway adalah bagian dari pemberontakan tehadap terhadap simbol kemapanan drama musikal kawasan up town. Di kawasan Green Wich Village,bagian down town Manhattan , di tahun 70-an teater-teater alternatif awalnya muncul darri sebuah cafe pizza kecil bernama Cafe Cinno – milik Joe Cinno,seorang imigran Italia. Yang kemudian merebak di kafe-kafe kecil lain dan gudang-gudang yang dibuat “100 kursi” . Memang di New York pun sekarang sewa- gudang-gudang di Greenwich Village untuk markas teater sudah mahal. Banyak komunitas teater pindah ke Brooklyn. Kritik menyatakan bahwa kini Off Off Broadway sudah kehilangan greget. Bila dahulu ideologi Off Off Broadway –memang pemberontakan kini banyak yang hanya menjadikan batu loncatan untuk bisa masuk ke Broadway. Tapi dalam satu musim panas di tahun 2007 saya pernah menghadiri acara New York Innovative Theater Award. Ini acara tahunan untuk memilih kelompok teater off off Broadway

Oleh :

Seno Joko Suyono

terbaik. Perhelatan ini kiranya ingin menandingi ajang tahunan Tony Award—ajang pemberian hadiah pertunjukan Broadway terbaik . Berdiri di panggung memberi kata sambutan adalah Edward Albee. Dramawan kampiun yang kita kenal lewat karyanya Zoo Story itu, dengan kalimat bergetar—mengatakan keyakinanya tentang tentang spirit Off Off yang tak akan mati : “Inilah teater yang benar, teater yang suci. Di Indonesia,teater-teater perlawanan lebih dahulu muncul daripada opera-opera musikal. Di zaman Orde Baru muncul Rendra, Teater Dinasti, Teater SAE,Teater Kubur .Lalu sekarang muncul Teater Garasi, Teater Lampung, Unlimeted Actor, Teater Studio Indonesia Serang dan sebagainya. Mereka kelompokkelompok teater yang menyodorkan teater bukan semata hiburan.Tapi perenungan tentang manusia. Tiba-tiba tiga tahun muncul fenomena hiburan opera yang sukses. Rata-rata opera ini dibuat dengan dana produksi besar. Muncul segmen penonton baru yang mungkin sebelumnya belum pernah menonton teater atau tari kontemporer kita. Bahkan mendengar nama tokoh-tokoh seperti Saini K.M, Wisran Hadi, Putu Wijaya,Akhudiat, Afrizal Malna, Yudhi Tajudin, Iswadi Pratama, Rahman Sabur, Radhar Panca Dahana, Dindon WS pun—mungkin belum pernah. Para penonton itu adalah penonton tanpa sejarah teater. (bersambung)* (sjy)


BERITA UTAMA Edisi 6 - Desember 2011

3

“DramaKala Fest”

Ruang Alternatif bagi Pencapaian Kreatif “Sebagai suatu pencapaian gagasan, Dramakala Fest patut diacungi dua jempol.” Pedje, sutradara teater Pohon

K

reatifitas yang memicu. Tanpa ini rasanya tidak kunjung muncul produksi dan produktifitas. Pentas dan pementasan selalu saja memuara pada yang satu ini. Kreatifitas atau daya cipta pula yang menggulirkan Dramakala Fest, festival drama pendek dan monolog pendek lahir dan mengayakan kreatifitas teater, setidaknya di Jakarta. Inilah rasanya ibarat pepatah pucuk di cinta ulam pun tiba. Festival yang semula sempat meragukan inisiatornya yaitu IDEAL (Indonesia Drama Educators Association), penerbit koran Dramakala justru disambut tangan terbuka dan perasaan lega oleh setidaknya 11 grup teater di Jakarta plus Banten, grup peserta Dramakala Fest, serta tak kurang 20 pemonolog yang beberapa di antaranya telah memenangkan festival monolog yang lebih dulu ada. Para kreator dari 11 grup dan 20 pemonolog itu, bagian terbesar dari mereka, muncul meramaikan acara technical meeting Dramakala Fest, pertengahan februari 2011 di Prof. DR. Djajusman Auditorium and Performance Hall STIKOM The London School of Public Relations - Jakarta, panggung yang menjadi tumpahnya kreasi-kreasi para kreator teater. Untuk memastikan seberapa jauh antusiasme, perasaan suka cita para peserta terhadap kehadiran Dramakala Fest berikut pula kendala yang terhadapi dalam persiapan dan pewujudan produksi mereka masingmasing, redaksi koran Dramakala yang menjadi partnership penyelenggaraan, melakukan sebaran kuisioner. Terdapat lima pertanyaan disertakan pada kuisioner ditujukan kepada grup teater dan pemonolog. Yaitu, pendapat para peserta tentang Dramakala Fest, daya tarik apa yang terdapat di dalam Dramakala Fest yang pada gilirannya mendorong untuk ikut, kendala apa yang terhadapi sebagai peserta, bagaimana menyiasati aturan main dan apa harapan terhadap penyelenggaraan Dramakala Fest.

Fest sebagai bak angin segar. Sebagai suatu pencapaian gagasan, Dramakala Fest patut diacungi dua jempol. Ini dikatakan Pedje, sutradara teater Pohon yang mementaskan Musuh Politik pada event ini. Karena yang melahirkannya lembaga yang bernaung di bawah perguruan tinggi, yang memang sudah semestinya menjadi pusat keunggulan, termasuk dalam hal kreatifitas seni yang sudah mentradisi di banyak perguruan tinggi di negara-negara maju. Sifatnya yang lomba, durasi yang pendek, dan tempat penyelenggaraan di kampus LSPR adalah pemicu mengapa mereka memastikan ikut Dramakala Fest. Sejumlah grup teater dan pemonolog berkeinginan tampil sebagai pemenang. Iming-iming hadiah yang disebutkan penyelenggara tak pelak ikut menguatkan kehendak itu. Tapi beberapa pemonolog dan grup lainnya, nyaris tak melihat imingiming hadiah. Bagi mereka format lomba dan durasi rupanya lebih menggelitik hasrat untuk berpartisipasi. Boleh di kata perkara menang atau kalah adalah berikutnya. “Saya ingin manggung,” ujar Busrok Yusuf Busro, pemonolog yang akan memainkan reportoar Opelia Amok Kapak. Anto RistarGie, sutradara teater Stageman Art Indonesia jiwanya tergugah untuk berpartisipasi lantaran reportoar yang dipentaskan pendek. “Ini tantangan kreatif,” tukasnya karena dalam durasinya yang pendek itu kita harus menyuguhkan sebuah karya yang bisa menyampaikan pesan dan isi sekaligus. Sedangkan kampus sebagai

Persiapan “DramaKala Fest”

seni pertunjukan seperti halnya Taman Ismail Marzuki atau gelangganggelanggang remaja Jakarta, atau kantong-kantong kesenian.lain yang mana juga selama ini kampus LSPR hanya lebih dikenal dan melekat di benak sebagai lembaga pendidikan formal untuk ke-pi-ar-an. Sudah Garisnya

Tantangan Secara umum, hampir semua peserta menyambut baik kehadiran Dramakala Fest. Mereka menyebutkan Dramakala Fest adalah ajang kreatifitas yang membukakan ruang alternatif bagi pengucapan dan pencapaian artistik, idiom-idiom dan momenmomen dramatik. Pendapat demikian diutarakan peserta, karena mereka menganggap sampai saat ini di Jakarta hanya ada satu festival teater yang telah rutin digelar (baca: FTJ). Format dan pencapaian-pencapaian yang “rutin” pada festival itu, tampaknya telah menjadi situasi yang mentok. Terhadap kondisi demikian, beberapa peserta menyebutkan kehadiran Dramakala

lain banyak mahasiswa dari kampus itu dapat mengapresiasi pementasan dan presentasi monolog. Sekali pun tak tertutup kemungkinan pula, publik juga jadi boleh lebih mengenal dan ngeh bahwa kampus tersebut ternyata memiliki ruang atau panggung bagi

Persiapan “DramaKala Fest”

tempat penyelenggaraan, dilihat juga oleh mereka sebagai hal yang menarik sebab tempat atau lokasi kampus itu dapat dijadikan ruang kemungkinan bagi kreatifitas teater di mana antara

Tentang kendala terhadap durasi yang pendek, pendapat grup dan pemonolog terhadap hal itu, relatif variatif. Beberapa grup menyebutkan vdurasi pendek adalah rintangan yang menantang. Beberapa grup yang lain menyebutkan cukup direpotkan mendapatkan naskah-naskah drama pendek yang siap pakai sesuai ketentuan penyelenggara. Ada naskah yang durasinya sesuai namun jumlah pemainnya melebihi kuota. Grup-grup yang pilihan naskahnya telah sreg mengait tema, isi pesan dan karenanya telah lebih dulu mengeksplorasi, jadi terganggu karena mau tidak mau perlu “memendekkan”. Pada gilirannya ratarata grup memang melakukan siasat artistik. Set properti dan konsep artistik misalnya mereka lakukan dengan pendekatan minimalis dan simbolik. “Properti kami sesederhana mungkin. Yang kami tonjolkan adalah emosi dan psikologi karakter tokoh-tokoh,” ujar Dadang Badoet, sutradara grup Stage Corner Community. Tak kurang dari itu adalah para pemonolog. Mereka yang

mengusung tubuh sebagai media pengucapan reportoarnya, nyaris tak terkendala dengan ketentuan durasi dan sempitnya waktu persiapan yang singkat. Eksplorasi yang menjadi fokus memungkinkan para pemonolog ini leluasa. Pepeng, Hendra Setiawan, Galuh Tulus Utama, satu-satunya pemonolog dari Surabaya, di antaranya tak terlalu dipusingkan. Mereka siap dan siaga dengan memanfaatkan ruang dan tubuhnya masing-masing untuk pencapaian momen-momen dramatik. Akan halnya pemonolog yang melakukan tumpuan pada naskah bercerita, toh tak lepas dari siasat meminimalkan properti. Lina Erent, Jean Marais, Pikiyah, Haikal Sanad dan beberapa lainnya telah sigap dengan kondisi yang ada. Set yang minimal tapi dikuatkan pada kepadatan dramatik. Ady Santoso lain lagi pendapatnya. Menurutnya tak ada siasat-siasatan. “Durasi pendek sudah garisnya, jadi ikuti saja,” katanya. Dengan kata lain, antusiasme peserta memang dapat teratasi melalui kreatifitasnya masingmasing. Namun demikian baik pula mendengar komentar lain mereka di luar artistik. Kendala yang ikut memusingkan peserta patut menjadi masukan bagi penyelenggaraan sekuel berikutnya di tahun depan. Beberapa peserta menyayangkan persiapan penyelenggara yang terkesan mendadak. Sosialisasi mereka rasakan kurang. Bahkan seorang pemonolog mengatakan komunikasi dengan penyelenggara ikut merepotkan di antaranya sulit dihubungi. Berbagai kendala, kritik penyelenggaraan adalah baik. Pasti akan dieliminasi berbagai kekurangan yang muncul sebab mahfum even ini merupakan yang pertama digelar. Dan tahun-tahun berikutnya penyelenggaraan akan lebih antisipatif dan matang karena “telur telah pecah”. Kekurangan dan kelebihan jauh lebih terlihat. Seyogyanya penyelenggaraan akan lebih siap. Inilah antara lain harapan yang dikemukakan sebagian besar para peserta. Pihak penyelenggara memang sudah memastikan akan kembali menggelar Dramakala Fest. Kreatifitas harus terus dijelajah, diciptakan berbagai celah mediumnya. Drama pendek dan monolog pendek telah sama-sama disepakati sebagi ruang kemungkinan yang membuka cakrawala energi kreatif, ruang alternatif bagi tumpah-ruahnya beragam idiom baru pengucapan. Menjadi perlu dan penting karena karya-karya kreatif selalu beriringan dengan dinamika sosial dan pertumbuhan situasi masyarakat yang mengitari dan terus tak henti bergerak.* (tim redaksi)


4

S

Edisi 6 - Desember 2011 KHASANAH

DramaK ala dan Teater yang Nirkala

eberapa jauhkah dinamika dan perkembangan pesat dunia kesenian bila tanpa diimbangi oleh kalangan akademisi, pengamat, penjabar, bahkan ilmuwan yang dapat menjembatani seni untuk masyarakat awam? Memang ada konsekwensi logis lain yang tak hanya berupa positif bagi para seniman (termasuk teater) bahwa teater akan terkesan dipilah, dikotak-kotakkan, dilogikakan, dirasionalkan. Namun inilah ruang irisan yang terjadi antara para seniman, sastrawan, teaterawan, seni rupawan, vis a vis, dengan pengamat, kuratorial, jurnalis, penikmat, pecinta, pemerhati. Masyarakat ada di tengah-tengah dua kubu ini. Dramakala, adalah media cetak, tabloid, yang seperti koran, majalah, atau situs internet, yang tak hanya menjembatani hubungan dialog antar teater dan masyarakat, namun juga memiliki konsekwensi lain berupa amatan, pandangan, penilaian, pemilahan, pemikiran, bahkan vonis terhadap suatu karya seni teater. Demikianlah, dari bentuk lenong, ketoprak, opera Batak, di tanah Nusantara, lalu teater yang diproklamirkan sebagai bentuk seni peran yang modern, kemudian menjadikan dunia seni peran tak hanya dinikmati secara estetis belaka, namun kemudian mengarah pada kepada tuntutan pendidikan, pengajaran, bahkan sebagaimana seni kontemporer lainnya mengharapkan kebaruan dan pembaruan, keunikan, misi dan visi, bahkan pandangan dunia - sebagaimana dilontarkan Lucien /

Goldman - bahwa seni termasuk teater bukan hanya menyumbangkan estetik, tematik, narasi tapi juga membaca visi dunia dan kemanusiaan, bahkan meski pun dia mengemasnya dalam bentuk suara lokal sekali pun. Bukan kelokalan Jawa di Bengkel Teaternya mendiang Rendra, suara Cirebon dan suara etnik Tionghoa yang sesekali diungkap oleh Teater Komanya Nano Riantiarno, atau teror dan kekhasan lokal Putu Wijaya saja yang diminta oleh “dunia”, “dunia” mengharapkan lebih dari keunikan itu, dunia butuh bahkan lebih dari keindahan seni tubuh, seni akting, lebih dari “tubuh yang berumah” namun juga tubuh baru yang menyuarakan dan menangkap nafas dunia, “tubuh lokal yang mendunia” sekaligus “tubuh mendunia yang tak melepaskan kelokalannya”. Segudang pertanyaan terhadap kekuatan pandangan itu, dari teater Indonesia yang terus bergerak, sebutlah Teater Kubur, Teater Kami, Teater Tetas, Teater Garasi, Teater Syahid, Teater Payung Hitam, Teater Bejana, untuk menyebutnya secara acak. Tabloid seperti Dramakala, seperti juga tanggung jawab media koran, situs, majalah di ruang-ruang budaya, para penulis esai, kolom, feature, bahkan berita dari para jurnalis, adalah menangkap fenomena dan dinamika itu tanpa kecuali. Tanpa kecuali! Terbuka dan lega lila, tak menengok apa nama teaternya, siapa pendiri teaternya, siapa sutradaranya. Kita butuh teater yang kuat, yang memiliki nuansa

Oleh :

S. Ramses Simatupang

lokal di tengah global, namun telah hadir dengan kebaruan wajah sekaligus pandangan dunianya. Teater ini tak selalu lahir dari nama-nama sutradara dan aktor yang kesohor, tak harus dari para teaterawan jebolan akademisi, tapi dari para insan teater yang kerap bertukar rupa, terbuka dan mau berdiskusi dengan insan seni lainnya, bahkan dalam genre seni yang berbeda sekali pun. Kenyataan sejarah menunjukan, sebuah teknik, madzab, bentuk, pemikiran baru dan segar tak selalu hadir hanya dari seni teater, sastra, seni rupa, filsafat tapi juga dari wilayah lainnya. Terimalah para pengamat, pecinta seni, penikmat seni, penulis esai, kurator, akademisi termasuk para jurnalis, termasuk penulis di tabloid Dramakala, karena dinamika tak hanya berlangsung di atas panggung, dalam pentas dan latihan, tapi juga di rasa, pemikiran dan tubuh. Teater yang terus berolah dan bergerak dan merumah di dalam tubuh manusia. Harapan kita, seperti juga media lainnya, Dramakala sebagaimana keberaniannya menyebut kata “kala”, sang waktu, harus berani bergerak dan tak bersender pada sejarah masa lalu dan perkembangan kekinian, tapi juga menangkap perkembangan teater ke masa depan, dari tiap daerah, tiap kota dan desa, semua sama prosesnya di hadapan dunia. Untuk itu, Dramakala sebaiknya tak hanya menbuat catatan dan fenomena atas pementasan, tapi juga

latihan, konsep pemikiran, membedah diskusi di balik panggung, eksperimentasi para pelaku teaternya, menyelami penjabaran para aktor dan sutradara atas perkembangan seni peran dunia yang terkemuka sekaligus membongkar, reinterpretasi seni lokal untuk digarap di panggung teater modern. Konsep yang nirkala, melampaui waktu, tak diukur waktu... Aktor dan komunitas teater semua sama, semua berhak bicara, semua patut dicatat, semua patut mendapatkan tempat! Semoga dramakala trengginas dan berhidung sekaligus bertelinga tajam, menyusuri perkembangan seni peran, dari teater dan monolog, dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud! Dari seluruh daerah itu, percayalah, mereka teaterawan di tiap daerah, di tiap generasi, terus berolah tubuh, berolah vokal, berolah meditasi, berolah panggung, untuk menyuarakan manusia, menyuarakan dunia! Bukan tak mungkin, teater masa depan justru ada di pundak mereka, karena para tokoh pun, yang begitu kita kenal dan akrab di telinga kita, bahkan pernah berlahiran dari setiap daerah, disana, karena mereka kini sedang menggoresi teater di atas wajah seni peran Indonesia. Menggores dengan pemikiran, dengan wacana, dengan jiwa: dengan tubuhnya sendiri! Salam teater!* (srm)

tang akting dengan seorang aktor sekaligus sutradara film dan teater senior di Indonesia. Beliau mengatakan, bahwa banyak permainan pemeranan dalam drama di film atau teater yang belum sampai pada akting. Peran hanya dibawa ke gaya dan tingkah laku kebiasaan dari pemerannya, atau peran hanya menjadi pura-pura. Kita bisa mencari tahu tentang bagaimana seorang aktris terbaik peraih piala citra pemeran Cut Nyak Dien, harus menyatu dengan masyarakat dan alam aceh selama lebih dari setahun untuk dapat menyatu dengan perannya. Juga peraih Academy Award yang tinggal di India untuk menyatu dengan masyarakat dan alamnya selama hampir dua tahun untuk memerankan Mahatma Ghandi. Ada sesuatu yang kompleks dipersiapkan dari pekerjaan yang dinamai ketrampilan, entertainment dan hiburan, menyangkut manusia dan tubuhnya. Bahwa suatu kepribadian sedang dibentuk untuk menciptakan dunianya. Bukan hanya untuk orang lain, tapi demi dirinya sendiri, yang bertanggung-jawab pada kehidupan yang lebih luas lagi. Ada apa didalam konsepsi Grotowsky yang memilah aktor atau aktris dalam kategori Courtesan Actor dan Holy Actor ? Secara umum, seluruh pertunjukan dalam Festival Teater ke-8 LSPR cukup memberikan kekaguman tertentu. Antusiasme peserta dan maraknya penyelenggaraan cukup mampu membakar gairah untuk terus mencipta dan merayakan kebersamaan menyusun potensi profesional yang dibutuhkan individu dan masyarakat

untuk membangun dirinya dan kebudayaan. “Teater adalah perpaduan seni peran, tari, musik dan juga suara. Namun tak banyak yang tahu bahwa teater juga tempat dimana karakter seseorang dibentuk melalui proses kebersamaan, yang tercipta bersamaan dengan proses latihan teater” (Prita Kemal Ghani, MBA, MCIPR, APR-Director and Founder STIKOM LSPR).

SESUDAH PERTUNJUKKAN

KREATIFITAS KOMUNIKASI DALAM DRAMA SATU JAM PERTUNJUKAN adalah mahasiswa strata satu Psenieserta tahun pertama jurusan ilmu komunikasi pertunjukan di LSPR-Jakarta. Dalam

penyelenggaraan ke-8, mereka dibagi menjadi dua belas kelompok dengan dua belas karya seni pertunjukan berbahasa Inggris, bukan karya Indonesia yang diterjemahkan. Kreatifitas berbasis teori dan ilmu komunikasi, serta memilih naskah drama dari dokumen kampus atau luar kampus untuk karya berdurasi maksimal satu jam pertunjukan. Satu hari dua pertunjukan selama enam hari pelaksanaan. Tampak usaha menyampaikan apa yang sudah mereka persiapkan selama 2-3 bulan latihan, untuk mendapat penilaian tidak sekadar pencapaian akademik, juga menjadi semacam refleksi budaya dari suatu almamater bercitra internasional dalam mengembangkan wawasan global untuk membangun individu dan masyarakat. Kegiatan terselenggara sejak 8 Pebruari 2012 sampai dengan 13 Pebruari 2012. Dewan Juri melibatkan unsur Budayawan Terkemuka (Arswendo Atmowiloto/Penulis), Editor Media Massa Harian Terkemuka (Putu Fajar Arcana/ Kompas), berdampingan dengan Immanuel Hutagalung, selaku Associate Dean of Business Department LSPR-Jakarta, dan Harris Priadie Bah,Teaterawan Komunitas dari Teater Kami dan Pimpinan Redaksi Dramakala. Dan pada 14 Pebruari 2012,

kesepakatan pencapaian kemampuan terbaiknya diumumkan. Sebagian pertunjukan mempunyai persoalan mengenai tubuh, ruang dan bahasa yang digunakan. Tubuh seperti dibekap oleh pakaian karena benturan budaya yang terjadi. Tubuh jadi kaku dan selalu ketinggalan, terseret pakaian, yang bergerak tanpa keikhlasan jiwa dari tubuhnya. Cahaya dimata para pemeran tidak mendukung tata rias wajah untuk menjadi ekspresi yang utuh. Bahasa ucapan dari mulut kehilangan sugesti dramatiknya, menjadi hanya rekayasa artificial tentang karakter, tingkah laku dan pengadeganan. Tampak bahasa yang digunakan belum maksimal menjadi budaya para pemeran, hingga cenderung menjadi sekadar hapalan. Dan pilihan karakter yang disimpulkan stereo- type, semisal penjahat dan pistol, maka memilih preman negro broklyn yang raper. Bisnis akting cenderung mengadaada, seperti kolonel yang melulu bertanya lalu menuliskan jawaban seperti wartawan, tapi terus menerus mem-push up ballpointnya. Cerita berdurasi panjang yang harus diedit menjadi satu jam pertunjukan dengan merangkum banyak babak, cenderung mencipta pengadeganan yang melemahkan sugesti dramatik yang sudah dibangun, seperti black out yang terlalu lama. Ada hasil wawancara penulis ten-

Keputusan Dewan Juri tentang pencapaian terbaik dalam Festival Teater ke-8 LSPR adalah * BEST SUPPORTING FEMALE ACTOR Sitti Shafura as Old Marie ( The Sin of A Mother) * BEST SUPPORTING MALE ACTOR Adryo Rachmat as Charlie (Sun Country) * BEST LEAD FEMALE ACTOR Brenda Pangemanan as Rose (The Sin of A Mother) * BEST LEAD MALE ACTOR Glenovian Armando Marcell as Earl (Madonna) * BEST COSTUME AND MAKE-UP He Who Get Slapped * BEST PRODUCTION DESIGN The Weirdest Honeymoon Ever * BEST DIRECTOR John Q * BEST PRODUCTION The Sin of A Mother Semoga dapat menjadi pemicu kreatifitas selanjutnya. Bravo, LSPR! Good Luck and Congratulation!* (ded)


TANYA JAWAB Edisi 6 - Desember 2011 Berikut ini adalah jawaban questioner tentang dramakala fest yang dilakukan oleh tim redaksi DramaKala. 1. Apa pendapat anda tentang “dramakala fest” ini ? Menarik membuka ruang berkarya untuk sekaligus mendokumentasikanya lewat media cetak DRAMAKALA,sehingga informasi tentang kekaryaan dapat di ketahui masyarkat dan pekerjasa seni, sebagai corong kesenian di Indonesia, dramakala fest menjadi acuan bagi pertemuan para pekerja seni. (Galuh Tulus Utama) Sangat menarik, dalam suatu perkembangan teater nusantara memberikan ruang pada pelaku seni teater untuk berkarya sehingga lahir sebuah wacana baru dalam berkesenian. (Anwari) Saya rasa ini positif dalam berapresiasi khususnya seni teater. (Lina Erent) Ruang kemungkinan lain ini (dramakala fest) selayaknya menjadi angin segar bagi pelakupelaku teater yang “kurang laku” di panggungpanggung festival teater yang ada. Selain itu semestinya ruang ini juga bisa menjawab kegelisahan dari persoalan-persoalan festival yang rutin di adakan di Jakarta. Dengan format atau alasan apapun event ini harus dapat menjadi manifestasi dan ruang kemungkinan lain dari sebuah festival. (Hidayatulloh) Bagus kok ! Sebab penyelenggarannya lembaga pendidikan. Dan seingat saya, tak pernah terjadi. (Jean Marais) Sebuah ajang untuk memajukan dunia pertunjukan. Memberi kesempatan kepada teaterawan untuk berkreatifitas. (Noersan Guntur) Bagus. Memikat. Dan saya betul-betul ingin mengetahui forum ini. (Rian Hamzah) Saya belum dapat menyimpulkan, tapi saya hanya menilai lewat imajinasi ”ini menakjubkan” (Adi Santoso) Sebuah terobosan baru dan lebih sering-sering lah mengadakanya. (Haikal) Sederhana saja ... menarik ... Mungkin baru kali ini di Jakarta yang memberi ruang untuk teater alternatif. (Sriwidodo, Topeng Arena) Dramakala fest adalah sebuah ajang yang bagus bagi perkembangan teater, khususnya di Jakarta yang selama ini grup/komunitas teater hanya berorientasi pada ajang (event) FTJ saja. Kedua, menjadi alternatif proses kreatif bagi eksistensi grup teater. (Anto Ristargie & Ayak MH, Teater Nusantara Stageman Art) Buat grup kami, karena ini baru pertama kali ikut, kami belum bisa banyak memberikan pendapat, tapi kami cukup mengapresiasi. Semoga ini terus berlanjut. (Budi Yasin, Teater Alamat) Gagasannya patut diacungi dua jempol, karena sejauh ini di Jakarta hanya ada satu festival teater yang berlangsung secara rutin. Selain itu, gagasan festival ini lahir dari lembaga yang bernaung di bawah perguruan tinggi, yang memang sudah semestinya menjadi pusat keunggulan, termasuk dalam hal kreativitas seni, seperti telah mentradisi di banyak perguruan tinggi di negara-negara maju. (Pedje, Teater Pohon)

2. Apa yang membuat anda tertarik mengikuti “dramakala fest” ini ? Dramaka Fest ajang pertemuan gagasan kekaryaan meskipun pendek secara durasi membuat tantangan tersendiri, semoga pertemuan ini menciptakan karya-karya monolog mempunyai nilai yang lebih, melahirkan kemungkinan baru tentang penjelajahan estetika para pekerja seni, mempertemukan dan ajang sharing yang mengikuti kegitanini dan terdokumentasikan lewat majalah dramakala sehingga info kesenian dapat tersebar ke khalayak umum akhirnya kesenian tidak jauh dari masyarakatnya. (Galuh Tulus Utama) Dramakala mewadahi gagasan pelaku seni

khususnya teater dalam menghadirkan idiom-idiom baru, dan tidak semua seniman beruntung untuk bisa mengikuti festival ini. (Anwari) Jalinan silaturahmi antar komunitas teater tetap terjaga. Saya baru pertama kali mengikuti festival monolog ini. (Lina Erent) Format monolog adalah fokus kami (extro) hari ini, seperti gayung bersambut pencarian kreatif kami mendapatkan ruang presentasi dengan diselenggarakannya dramakala fest. Format dan aturan main menjadi ketertarikan kami untuk mengemas pertunjukan menjadi singkat dan tentukan mampu menyampaikan sebuah informasi kepada penonton. (Hidayatulloh) Ya, lagi coba untuk kemampuan diri. (Jean Marais) Kebetulan saya suka monolog. Lebih mudah ketimbang dengan teater dengan banyak pemain. Tapi di monolog ada beberapa karakter yang harus saya mainkan. Itu menariknya buat saya. (Noersan Guntur) Karena ada festival drama pendek. (Rian Hamzah) Saya ingin bereksplorasi dengan karya saya. (Adi Santoso) MONOLOG, hanya itu saja. (Haikal) Ya karena memberi ruang untuk memungkinkan yang lain : unik. (Sriwidodo, Topeng Arena) Pertama, sebagai bentuk tantangan kreatif, kedua Menjangkau gagasan ke dalam bentuk proses drama pendek, ketiga sebuah kebanggaan bisa pentas di London School. (Anto Ristargie & Ayak MH, Teater Nusantara Stageman Art) Sebagai ajang kreatifitas kami yang selama ini baru mengikuti event di wilayah saja. (Budi Yasin, Teater Alamat) YA itu tadi, penyelenggaranya berada di bawah naungan perguruan tinggi dan tempat penyelenggaraannya pun di perguruan tinggi, yang kemungkinan besar penontonnya adalah para mahasiswa/mahasiswi, yang merupakan bagian dari elite di negeri ini (karena jumlahnya relatif sedikit dibanding penduduk negeri ini) dan mahasiswa/mahasiswi di negeri ini punya beban sejarah sebagai agen perubahan sosial. (Pedje, Teater Pohon)

3. Kendala apa yang anda hadapi sebagai peserta “dramakala fest” ini ? Kendala transfortasi menjadi kendala dikarenakan jarak surabaya ke jakarta cukup jauh, namun kami tetap semangat namun masalah panggung prosenium menutupi keliaraan kreatifitas karena serasa monolog selalu di batasi, tidak diliarkan begitu saja hingga lahir kemungkinan-kemungkinan pertunjukan. (Galuh Tulus Utama) Mungkin pada kondisi lapangan yang akan dihadapi ini, dan tranprot mungkin, hahaha … (Anwari) Ini masalah klise tapi memang kendala dari group kami secara finansial, kami harus mencari dana sendiri dari proses latihan sampai pertunjukan. (Lina Erent) Secara umum belum ada kendala yang berarti, karena segalanya masih tahap proses, jika ada kendala masih bisa teratasi dengan baik. (Hidayatulloh) Naskah! Nakah yang sesuai dengan ukuran waktu. (Jean Marais) Mungkin komunikasi dengan panitia, karena saya tidak begitu terbiasa dengan e-mail. Teknis pertunjukan sih saya sudah siap. (Noersan Guntur) Belum ada kendala. (Rian Hamzah) Contact Person yang susah dihubungi, dan informasu yang tidak sampai ke saya mengenai perkembangan dramakala fest (khususnya via Handphone). (Adi Santoso) Secara keseluruhan belum ada, tetapi …. ya belum ada. (Haikal)

Biaya produksi dan rekruitmen pemain. (Sriwidodo, Topeng Arena) Kendalanya waktu yang singkat, kurang mendapat informasi tentang area panggung dan fasilitas yang disediakan. (Anto Ristargie & Ayak MH, Teater Nusantara Stageman Art) Pertama, lokasinya cukup jauh, kedua pendanaan untuk transportasi, ketiga durasi yang cuma 30 menit. (Budi Yasin, Teater Alamat) Kendala terbesar adalah menyiasati waktu pertunjukan yang hanya setengah jam. Padahal, kami sedang melakukan pentas keliling ke 4 kota, dengan membawakan lakon berdurasi lebih dari satu jam. Perhelatan pentas keliling baru akan berakhir tanggal 22 Februari 2012. Itu artinya kami hanya punya waktu kurang dari seminggu untuk memadatkan waktu pertunjukan agar bisa sesuai dengan persyaratan yang diminta panitia. Kendala lain adalah dana produksi, karena kami tak mendapatkan sponsor untuk pentas keliling kami. Donasi yang diberikan oleh beberapa teman kami pun sangat tidak cukup untuk menutupi biaya produksi minimal—walau sangat membantu kami. (Pedje, Teater Pohon)

4. Bagaimana anda mensiasati aturan main dari dramakala fest ini, misalnya menghadapi durasi yang pendek itu ? dan juga waktu persiapan yang hanya satu jam itu ? Durasi yang pendek membuat pekerja seni lebih kreatif dalam memperhitungkan teknis dan secara isi pertunjukan lebih lebih sampai ketimbang waktu yang lama membuat penonton tertidur pulas. Namun pada akhirnya semoga bukan teks saja yang lahir dari aktor tapi juga tubuh dan ekplorasi artistik lainnya yang tentunya lebih matang. (Galuh Tulus Utama) Sebagai peserta tidak hanya berharap penghargaan tapi ini dengan suatu karya dan gagasan yang dibawa. Juga yang akan disajikan maka dengan durasi yang sepeti itu sebagian peserta harus memikirkan bagaimana dengan waktu yang diberikan dapat maksimal dalam suatu pertunjukan ini. (Anwari) Pemilihan naskah yang tidak terlalu panjang, set yang sederhana. Pada dasarnya kami akan sesuaikan dengan durasai yang telah ditentukan panitia. (Lina Erent) Seperti sebuah juice apel, naskah akan kami “blender” sehingga menjadi juice yang siap minum. Jika kita makan buah apel secara utuh tentunya akan berbeda sensasinya dengan apel yang di juice. Kami pun akan memblender naskah, memeras sehingga menjadi padat dan nikmat, begitulah pertunjukan kami ! (Hidayatulloh) Mau tidak mau soal artistik seefektif mungkin. Begitu pula tempo, irama disesuaikan pula dengan waktu. (Jean Marais) Pesannya yang penting sampai. Apa yang diinginkan sampai. Ada yang nyangkut meskipun tidak semua. (Noersan Guntur) Kita harus tepat waktu. Jangan kedodoran. Saya sudah pernah mengalami pentas-pentas dengan durasi pendek. (Rian Hamzah) Tidak ada pensiasatan, ini memang sudah garisnya, jadi ikuti saja. Hee. (Adi Santoso) Waktu yang pendek menjadi kendala tersendiri,tetapi bisa kita siasati walaupun sulit, dimonolog kalau tidak salah hanya 15 menit persiapan? Mission Imposeble tapi tidak ada yang tidak mungkin di dalam teater… (Haikal) Meminimalis set dan tata lampu tetapi tidak lepas dari isi. (Sriwidodo, Topeng Arena) Menggunakan setting yang minimalis, bermain simbol dalam menyampaikan gagasan di atas panggung. (Anto Ristargie & Ayak MH, Teater Nusantara Stageman Art) Membangun set minimalis, b. tidak cukup untuk eksplorasi gagasan secara utuh, belum mengenal medan panggung, tapi tetap berusaha adaptasi nantinya. (Budi Yasin,

5

Teater Alamat) Karena lakon yang akan kami bawakan kebetulan sedang kami bawa pentas keliling, upaya yang kami lakukan untuk memendekkan durasi pertunjukan adalah dengan melakukan perubahan (penyuntingan) pengadeganan. Untuk penyiasatan waktu persiapan, kami sedang berupaya mengubah setting panggung agar lebih simpel dan praktis. (Pedje, Teater Pohon)

5. Apa harapan anda terhadap penyelenggaran “dramakala fest” ini ke depan ? Semoga DRAMAKALA FEST bukan hanya ajang lomba semata melainkan pertemuan gagasan yang menarik antara pekerja seni sehingga terjalin hubungan komunikasi yang intens yang membuka cakrawala berpikir dan berkarya menuju penjelajahan estetika. (Galuh Tulus Utama) Saya sebagai peserta berharap kegiatan ini bisa menjadi suatu ifen yang memberikan ruang pada seni teater dan senimanseniman nusantara dan itu pun harus dengan penyeleksian dalam memilih peserta. Mungkin kegiatan ini bisa memberikan penghargaan pada setiap pelaku seni teater yang saat ini terus berkarya dan aktif membangun teater, adalagi kalau bisa pelaksanaanya setiap tahun tempatnya berpindah kota, bisa dibandung, bali, banjarmasin, dan Surabaya ... hahaha … (Anwari) Festival ini harus dibina terus, bila perlu harus ditingkatkan lagi kualitas dan kuantitasnya walaupun baru pertama kali, saya yakin ini sangat positif. (Lina Erent) Rutin !! dan mampu membuat terobosan, agar memacu pelaku teater untuk berkarya dengan kualitas memukau. (Hidayatulloh) Semoga sukses ! Dengan hadiah di atas lumayan ... (Jean Marais) Terus ada sehingga teaterawan mempunyai ruang yang lebih banyak. (Noersan Guntur) Keinginan saya jadi pemenang. Dramakala ajang yang bagus untuk silaturahmi. (Rian Hamzah) Publikasi yang lebih lama, informasi yang luas. Selebihnya saya percaya kepada penyelenggara. (Adi Santoso) Menjadi ajang yang terus ada setiap tahunnya terutama Monolog karena jarang sekali mendapatkan Fesitival semacam ini. (Haikal) - Sederhana, semoga dramakala fest ini tetap diselenggarakan tiap tahun. - Dan semoga melahirkan kemungkinan yang lain. (Sriwidodo, Topeng Arena) Tetap berlanjut, lebih luas dan jelas perihal informasi penyelenggaraan, menjadi pesta bukan lomba. (Anto Ristargie & Ayak MH, Teater Nusantara Stageman Art) Tambahan durasi, informasi cukup waktu. (Budi Yasin, Teater Alamat) Durasi pertunjukan diperpanjang, setidaknya 45 menit. Juga, lakukan kurasi dengan kriteria yang ketat, agar festival ini bisa menjadi barometer pertunjukan teater yang berkualitas di Indonesia. (Pedje, Teater Pohon) Demikian hasil tanya-jawab tim redaksi DramaKala kepada peserta Dramakala Fest 2012. Dan, kami menyampaikan permohonan maaf karena questioner yang dilakukan, belum mampu menjangkau keseluruhan peserta.* (tim redaksi)


6

Edisi 6 - Desember 2011 SEBELUM PERTUNJUKKAN

01.Teater Studio Indonesia THE DOCTOR Karya NN Sutradara : Chandra Kudapawana dan Farid Ibnu Wahid Durasi 30 menit Pemain : Ferdinand Daniel Y sebagai Doctor, Femia Yumaniastuti sebagai Student Doctor, Sally Al-Farqir sebagai Patient Musik : Ina Setiawati Konsep pertunjukan : Realis. Pilihan naskah : The Doctor memungkinkan grup melakukan penggalian psikhis dari masing-masing karakter yang ada. Sinopsis Mengisahkan seorang dokter, pasien dan mahasiswa kedokteran. Konflik terjadi diawali ketika dokter salah menyebut dan menduga yang datang antara mahasiswa kedokteran dan pasiennya. Kontak 08176961532 Alamat : Jalan Raya Taktakan Kompleks Golden Faradise Blok I No 11 Lontar Baru, Kota Serang, Banten 02.Teater Stageman@rtIndonesi@ MIMPI DAN SEBONGKAH BALOK ES Karya Ayak MH. Sutradara : Anto RistarGie Durasi 30 menit Pemain 6 Orang Konsep artistik pementasan adalah bangunan set realis minimalis, simbolik. Mengangkat sebuah realitas hidup dengan menjadikan sebuah refleksi pada diri kita. Memunculkan kemungkinan-kemungkinan bentuk-bentuk teater imajiner Sinopsis Nikmatilah setiap apapun yang kau rasakan, seorang diri. Menjadi seorang diri itu tidaklah menakutkan. Kenapa harus takut melihat bayangan diri sendiri. Nikmatilah itu seperti sebongkah balok es yang perlahan-lahan mencair. Kontak 085719247778 Alamat : Kampung Baru (Komp. Green Garden) RT. 002 RW. 010 Kel. Kembangan Utara Kec. Kembangan Kota Adm. Jakarta Barat 11610 03. Teater Stage Corner Community WONG ASU (Diangkat dari cerpen “Legenda Wongasu” karya Seno Gumira Ajidarma)

Naskah dipentaskan atas seijin Seno Gumira Ajidarma Karya Ratu Selvi Agnesia Sutradara : Dadang Badoet Durasi 30 menit Pemain 2 orang Konsep pementasan realis tanpa megalomania artistik. Menonjolkan emosi, gesture, psikologis tokoh-tokoh. Menggunakan bentuk laboratorium observasi parsipatoris (mengalami langsung). Sinopsis Sejak di PHK hingga isterinya menjadi pelacur, Sukab memutuskan menjadi penangkap Anjing. Menangkap anjing, menjual dan memberi makan anak dan isterinya kepala anjing sisa hasil tangkapan. Mereka sekeluarga dijuluki Wongasu (manusia anjing). Karmapala dari Sukab sebagai penangkap Anjing. Kontak Ratu Selvi Agnesia (Selvi) 085721941986

Alamat jalan Mangga Rt 05 Rw 06 No 28 Utan Kayu Utara Jakarta Timur 13120 Email stagecornercommunity@yahoo. co.id dan selvi_innocent@yahoo.com 04.Gema Teater Setia Budhi (Gates)Rangkasbitung REPORTOAR AIR Karya/Sutradara DC Aryadi Durasi 30 menit Pemain Konsep pementasan, hasil eksplorasi tubuh terhadap air. Tubuh yang sering sakitsakitan. Tapi tubuh harus bisa menjadi seperti air. Tubuh yang dapat menempati ruang kosong dan waktu, menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Pemain mengeksplorasikan diri terhadap ide-ide pementasan. Sinopsis Tubuh sakit-sakitan . Tubuh ruang tubuh waktu. Empat peristiwa: Tubuh yang menggugat, Tubuh yang bereksplorasi terhadap air. Gerak rampak tubuh, Andai aku (Tubuh) menjadi air. Grup berasal dari kota Rangkasbitung, tepatnya dari sebuah kampus pendidikan. Kontak DC Aryadi 087771576263, Abdul Madjid 087871001021 Email brandalbaduy@yahoo.co.id 05.Teater Alamat KONSEP Karya/sutradara : Budi Yasin Misbach

Durasi 30 menit Pemain 4 orang Konsep pertunjukan realisme. Konflik dalam rumah tangga. Set properti minimalis. Terdiri hanya kursi, kotak. Beberapa ornamen kain dan bra. Dan baju-baju pasangan suami istri. Sinopsis “Aku keluar,” itulah kalimat kekecewaan laki-laki itu. Ketika pada suatu malam ia tidak mendapatkan apa yang diinginkan dari istrinya. Istri punya alasan kuat mengapa menolak keinginan suaminya itu. Semata-mata ia tak mau komitmen mereka berantakan. Konflik tidak berlanjut. Karena mereka mencari pengganti. Justru saat sudah menemukan, suami enggan melakukannya. Kontak 083873360349/083873360348 Alamat Kompleks Kopti jalan H.Aseni Rt 006/011 No 63 Email tengku.rasya@gmail.com 06.Teater Topeng Arena LUSIVERT Karya Dediesputra Siregar

Sutradara Sriwidodo Durasi 30 menit Pemain 5 orang Konsep pertunjukan, artistik minimalis

dengan tetap mengedepankan isi yang menyeluruh. Ini bukan cara mudah. Sekali pun drama dengan durasi pendek adalah tantangan dan rintangan. Inti drama dengan durasi pendek adalah ruang alternatif kreatif. Sinopsis Kucari aku. Yang tak tersusun. Dari hari lalu. Menyapa kekinian. Orang-orang melecut. Tak kutinggalkan. Semua menyapa. Kudiamkan. Kilat tubuhku bercahaya. Di pojokan. Menjahit kepingan diri. Dari riwayat yang kutinggalkan. “Lingsir wengi, anakku!” Kontak Londo 02192057819 Alamat jalan Raya Mabes Hankam Rt.07/08, Kelurahan Bambu Apus, Cipayung – Jaktim Email topengarena@ymail.com 07.Teater Tukang MENCARI JATI DIRI Karya/Sutradara Nanang Hamzah Durasi 30 menit Pemain 5 orang Konsep pertunjukan bebas. Menyiasati durasi singkat dengan tepat waktu. Tak ada kendala berarti. Karena cukup sering mementaskan cerita berdurasi pendek. Justru itu yang mendorong sikap kesertaan grup pada even yang menurut konsep artistik grup sebagai ajang silaturahmi dan “terjun langsung” sebab mengundang daya tarik. Sinopsis Sebuah pencarian identitas diri dari seseorang atau kelompok orang. Untuk menghasilkan keakuan diri dari hal ikhwal kesemrawutan jiwa-jiwa. Hingga akhir apa yang didapat antara negatif dan positif yang didapat dari pencarian jati diri. Kontak 087878598759 Alamat jalan B Rt.08/09 no.14 Cipinang Muara - Jakarta Timur 13420 Email teatertukang@ymail.com 08.Teater Pohon MUSUH POLITIK Karya Kenneth Sawyer Goodman

Adaptasi : Pedje Sutradara : Pedje Durasi 30 menit Pemain 4 orang Konsep pementasan, realisme distorsif. Yakni realis yang mengalami distorsi sebagai upaya menggugah kesadaran masyarakat demi mampu melawan lupa. Sinopsis Mengisahkan Harry Mandera, aktivis radikal yang mengalami sindroma ketidaksabaran revolusioner. Itu yang mendorong ia segera ingin membunuh Jenderal Alex Dursina, tokoh paling licik, kejam, berpengaruh dalam pemerintahan. Harry diculik kaki tangan Jenderal Alex yang dalam dirinya sedang mengalami sindroma megalomania. Ia berkeinginan kuat menepis anggapan miring atas dirinya. Kontak Irawati 08159993117 Alamat Tomang Pulo No 31 Rt 012/05, Jatipulo, Palmerah Email teaterpohon010511@gmail.com 09.Teater Indonesia LUKISAN HITAM DI ATAS KANVAS HITAM Karya Ichal Vrigar Sutradara : Budi Ketjil

Durasi 30 menit Pemain 3 orang Konsep pertunjukan sebuah persoalan manusia yang diangkat ke panggung pertunjukan dengan menggunakan simbolsimbol. Sinopsis Seluruh anggota tubuhku bersekongkol menyiksaku, tidak dapat lagi dikendalikan oleh hatiku, menyisakan sakit berkepanjangan, sudah kusabun berjuta kali, namun kenapa kotoran terus melekat, seandainya seluruh jagat mengagungkan nurani, maka yang terdengar musik merdu kebahagiaan, jalan itu ada di hati nurani paling dalam. Kontak Budi 081381754300, Poetoy 08561002966 Alamat Sasana Krida Karang Taruna, jalan Kampung Rawa Selatan III no.39 Kelurahan Kampung Rawa, Jakarta Pusat Email poetoysubarkah.dharma@yahoo. com 10.Teater Merah Maroon KUCING LIAR BELANG SEMBILAN Karya/sutradara Tmr Joule Durasi 30 menit Pemain 5 orang Konsep pertunjukan mengeksplorasi tubuh manusia dalam mendeskripsikan naluri keliaran-keliaran manusia dalam wujud kucing dan binatang. Sinopsis Monty adalah kucing yang lahir normal namun mengalami proses pengebirian sejak kecil. Ia dibuang manjikannya, dan mencari sisa-sisa makanan yang sudah terkontaminasi karena kondisi alam sudah tidak lagi baik. Monty lantas bertemu dengan Boris, kucing liar. Ia tak lagi menemukan impian. Cita-cita. Ia pesimis. Kontak Tmr Joule 089653949579 Alamat Sekertariat Teater Merah Maroon, Jl. Pepaya 3 no. 28c, Jakarta Utara Email teatermerahmaroon@yahoo.com 11.Teater Damai PENAGIH HUTANG Karya Anton Chekov Sutradara : Yudhi Kurniawan Durasi 30 menit Pemain 4 orang Kontak Yudhi K 0818117383 Alamat Jl. Bukittinggi no.3 Manggarai Jakarta Selatan Email yudhi.k77@gmail.com Kelompok Monolog 01.Busrok Yusuf Busro OPHELIA AMOK KAPAK Karya Heiner Muller Terjemahan Dewi Noviami Durasi 25 menit Sinopsis: Perempuan sejak lahir tertekan lingkungan, ingin keluar dari keadaan yang tidak dikehendaki. Kontak 085882010098 02.Hidayatulloh KUNJUNGAN KE RUMAH WAKTU Karya Roy Hakim

Durasi 25 menit


Sinopsis: Bau luka di udara, bau batu di ujung-ujung kuku. Seorang lelaki mengiris waktu dengan tubuhnya yang berdebu. Ia mengumpulkan tanda-tanda cuaca yang terburai dari tubuhnya sendiri. Membedah nafasnya dengan nafasnya sendiri, membedah wajahnya dengan wajahnya sendiri, membedah kelaminnya dengan kelaminnya sendiri. Lalu cahaya menggilasgilas tengkorak kepalanya dan segala kosong bertukar rupa dengan isi dan segala isi bertukar rupa dengan kosong sampai saatnya rumah waktu mengosongkan tubuhnya. Kontak Adi Bujkelgan Kurniawan 081585226819 Alamat Jl. Balai Rakyat No.1 Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur Email extro_com@yahoo.com 03.Lina Erent Judul IPOH Karya Arthur S. Nalan

Durasi 25 menit Sinopsis: Mengangkat tema hak asasi manusia yang telah direnggut oleh segelintir orang, menghilangkan kehormatan dan martabat sehingga membuat korban menjadi tak berarti dalam hidup. Kontak 02194687524 Alamat Balai Latihan Kesenian (BLK) Jakarta Timur Jl. H. Naman No. 17 Jakarta Timur. 04.Rian Hamzah CERMIN Karya Rian Hamzah Durasi 25 menit Sinopsis Kekalutan hidup dari orang-orang yang ada di belahan bumi Indonesia, ketika harga diri hanya dipandang sebelah mata. Yang muda tidak menghargai yang tua. Yang tua tidak menghormati yang muda. Bagaimana dengan cermin diri. Bercerminlah… Kontak 081318274323 Alamat Perum GMG Blok 17 No 23 BEKASI Email nananghamzah@gmail.com 05.Hendra Setiawan KRISIS IDENTITAS Karya Hendra Setiawan Durasi 25 menit Sinopsis Spontanitas tubuh. Mencipta ruang. Mencipta benda. Mencipta ciptakan. Peristiwa, ruang, benda-benda, orang-orang-orang termasuk tubuhnya sendiri. Menciptakan pula momenmomen dramatik tak terduga. Klik, entahlah menjadi apa ! Kontak 02199400157 Alamat Pondok Gede, Jakarta Timur Email hendrasetiawan@yahoo.com 06.Jean Marais DI ATAS KURSI TAK BERDAYA Karya Harris Priadie Bah Durasi 25 menit Sinopsis Usia senja membawanya pada kesadaran bahwa hidup begitu singkat dan sia-sia. Maka dijemputlah akhir hidupnya dengan cinta dan air mata. Kontak 08128552906 Alamat jalan Joe Gang Haji Lahab No 20 Lenteng Agung, Jakarta Selatan 07.Matrozhy Anakibuku

Edisi 6 - Desember 2011 DITARIK INGATAN Karya Anakibuku Durasi 25 menit Sinopsis John Gembel, pemilik barber shop yang tidak berdaya menghadapi kenyataan hidup, lalu berkeinginan pulang ke masa lalunya. Kontak 085695276958

08.Ican TECHNOSTRESS Karya Ican Durasi 25 menit Sinopsis Aku telah ada, aku telah hilang dalam gelombang industri besar. Kontak 085289324841 Email pakican@rocketmail.com 09.Anwari GEN Karya Anwari Durasi 25 menit Sinopsis Terdiam membeku, sahdu menjamah lagu batu hangat derita lupakan salju di atap rumah. Inilah cerita anak lugu dalam rahim ibu. Tubuh kaku terpaku di antara waktu. Kau anak lugu dalam rahim ibu. Berkhayalah mimpilah tentang masa lalu, masa kini, masa depan. Kau anak lugu dalam rahim ibu. Membusuk tanpa debu. Kontak 08983903790 Email teater.anwari@gmail.com 10.Haikal Sanad TRIK Karya Putu Wijaya Durasi 25 menit Sinopsis Ternyata idealisme itu harus luntur oleh harta, tahta, wanita Kontak 087775533465 Email haikal.sanad@yahoo.com 11.Andri TIM JAMAN NGEK-NGOK DI NEGRI PRAHARA Karya AG Sakti Durasi 20 menit Sinopsis Kenapa saya berbicara seperti ini orangorang pada ngeliatin sedangkan orangorang yang bicara sendiri di jalan di mobil tidak ada yang ngeliatin. Kontak 02198392723/083876566029 Email Indonesia_hargamati@yahoo. com 12.Ady Santoso GEMBROT YANG TAK BERTALENTA KINI HADIR Karya Ady Santoso Durasi 25 menit Sinopsis Gembrot adalah nama sebuah tokoh yang tidak sesuai dengan panggilannya, karena Gembrot adalah tokoh yang tidak bertubuh gembrot. Gembrot dikonotasikan sebagai tokoh yang mau melakukan apa pun demi mendapatkan uang, baik yang halal maupun tidak halal. Tetapi pada akhirnya Gembrot ini lebih banyak mendapatkan uang dari yang tidak halal. Gembrot adalah nama yang lebih dikenal karena dia siap melayani dan mengerjakan apa saja, walau dia tidak mengerti tentang apa yang sebenarya diorder oleh orang kepada Gembrot. Gembrot yang tidak memiliki kemampuan apa pun, tetapi mau mengerjakan apa pun. Gembrot yang bertalenta kini hadir. Kontak 08568017083 13.Galuh Tulus Utama KEBUN

Karya Galuh Tulus Utama Durasi 20 menit Sinopsis Dunia yang chaos, dunia yang lingkungannya mengalami berbagai kerusakan alam, udara tercemar menyebabkan manusia harus menggunakan masker, seorang ilmuan mencoba mengungkap data dari memori seorang aktor dan mevisualisasikan kembali apa yang aktor perankan, sebuah cerita dari dunia yang hilang. Kontak 085755431065 Email sundanologiakata@yahoo.com 14.Bey KEMBALI Karya Putu Wiaja Durasi 25 menit Sinopsis Pak Maman membaca di koran berita buruk tentang tahun baru. Bencana dahsyat akan menghacurkan Indonesia. Apakah ini yang disebut kiamat? Tak ada orang peduli apa yang Pak Maman pedulikan. Pak Maman menganggap orang-orang sudah tidak peka terhadap persoalan yang dihadapinya. Pak Maman menolak kedatangan tahun baru. Kontak 081586140126 Alamat jalan Kenari I G 62 Rt 005 Rw 03 Kelurahan Kenari Jakarta Pusat 15.Petrus Adi Utomo IMPIAN ANAK LAUT Karya Independen

Durasi 25 menit Sinopsis Laut merupakan sahabat manusia, luas laut lebih luas 3 X dari daratan, maka harus dipelajari, dirawat dan dijaga. Laut harus dibudidayakan seoptimal mungkin dan dipelihara perlu pendidikan kelautan dan maritim di penjuru nusantara Kontak 08156757355 Alamat jalan Apel 2 No 7 Jajar Solo 57144, Jawa Tengah 16.Mifta TIM PENDERITA AIDS JUGA MANUSIA Karya Mifta

Durasi 25 menit Sinopsis Virus AIDS telah menyebar ke seluruh tubuhku. Virus telah merusak semua jaringan tubuh, memperlemah fisik dan mengundang beberapa penyakit baru. Kontak 081225560477 Alamat jalan Menteng Email Indonesia_hargamat@yhaoo.com 17.Pepeng TIM PESAN DARI TUBUH (CERITA DARI AKHIR DAN AWAL TAHUN) Karya Aidil Usman Durasi 20 menit Sinopsis Tubuh sebagai media utama menyam-

7

paikan gagasan dari pertunjukan, setiap dialog maupun gerak tubuh adalah teks itu sendiri, semua menjadi unsur semiotik yang akan dihadirkan di atas panggung. Kontak 08998186179 Email pepengchepi@yahoo.com 18.Yudhi Kurniawan TERTAWA Karya Yudhi Kurniawan Durasi 25 menit Kontak 0818117383 Alamat Perumahan The Address, Cibubur, Cluster Deluxe Blok E37 Email yudhi.k77@gmail.com 19.Noersan Guntur BALADA SULAIMAN Karya Noersan Guntur Durasi 25 menit Sinopsis Secara fisik, memang bapak Sulaiman buta. Tapi ternyata beliau punya ketajaman mata hati yang luar biasa. Usia sudah separuh baya lebih, tapi belum diberi keturunan. Mengangkat anak, ternyata durhaka. Namun tetap tulus menjadi cahaya bagi banyak manusia. Pijat…pijat…pijat… begitulah rutinitasnya dijalani dengan sepenuh sukacita. Kontak 087882572659 Alamat jalan Buluh Perindu Raya Rt 18/06, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur Email gnoersan@yahoo.co.id 20.Pikiyah TOLONG Karya N Riantiarno Durasi 25 menit Sinopsis Atikah adalah TKW, pembantu rumah tangga di Fillipina. Padahal baru menikah tiga bulan sebelumnya. Nasibnya nelangsa gara-gara menolak perbuatan tak senonoh majikannya. Lantas ia mengalami penyiksaan keluarga majikan karena dituduh mencuri. Ia divonis masuk penjara. Bayang-bayang suaminya menemani selama mendekam di penjara. Ia teriak sekeras-kerasnya demi pemerintah mendengar nasib para TKW yang menderita sama dengannya. Kontak person DC Aryadi 087771576263, Dedi Sumarna 087772997457 Alamat - Email brandalbaduy@yahoo.co.id


8

Edisi 6 - Desember 2011 MATA KALA

“Dramakala Fest” Sebuah

Kemungkinan Lain Dari Ruang Yang Bernama Kreatifitas

“dramakala fest” adalah sebuah event festival teater yang diselenggarakan oleh IDEAL (Indonesia Drama Educators Association) bekerjasama dengan STIKOM The London School of Public RelationsJakarta dalam rangka merayakan satu tahun usia berdirinya IDEAL dan penerbitan koran teater dramakala yang diterbitkannya itu yang jatuh pada bulan Februari tanggal 18 tahun 2012. Sebuah peristiwa teater yang lahir dari maksud dan keinginan sederhana untuk memberikan semacam ruang kemungkinan lain bagi presentasi semangat dan kreatifitas berkarya pekerja teater. Sebagai sebuah “ruang kemungkinan lain” idealnya tentu saja dia bisa memberikan pilihan-pilihan dan nuansa yang unik dan tak sama dengan ruang-ruang yang telah sudah pernah ada dan diberlangsungkan. Dengan passion yang lebih kurang seperti itulah maka digagas sebuah bentuk festival teater yang agak beda tastenya dan rasanya belum banyak diselenggarakan, kalau tidak dapat

dikatakan belum pernah ada sama sekali, yakni event festival dengan dua bentuk kompetisi sekaligus di dalamnya, yakni Festival Drama Pendek dan Festival Monolog. Nuansa yang lain dan unik kiranya dapat dengan mudah dan cepat menyeruak dalam benak setiap orang manakala tahu kalau event festival ini sesungguhnya diselenggarakan oleh STIKOM LSPR-Jakarta, sebuah lembaga pendidikan yang, mendirikan IDEAL sebagai perkumpulan pelaku teater dan menerbitkan koran “aneh” yakni koran teater dramakala. Festival Drama Pendek ini sendiri merupakan sebuah festival yang unik di mana pesertanya hanya boleh menampilkan pertunjukan

media partner :

dengan durasi yang pendek, dalam hal ini tidak boleh lebih dari 30 menit. Ini boleh jadi menghadirkan tantangan tersendiri bagi setiap peserta. Hal lain yang juga tak sama antara Festival Drama Pendek ini dengan festival teater yang pernah ada sebelumnya adalah dalam soal naskah atau materi pertunjukan yang ditampilkannya di mana peserta d i b e r i k a n k e b e b a s a n sangat luas untuk mengambil materi, mengonsepsi ide serta gagasan awalnya dari bentuk karya apa pun dan dari mana pun, yang dalam hal ini bisa berupa cerpen, puisi, lukisan, syair lagu dan tentunya naskah drama yang standart. Gagasan ini sejatinya berbau “politis” bersebab dari padanya

Oleh : Harris Priadie Bah

diharapkan agar dapat menjadi semacam salah satu perlawanan terhadap kecenderungan yang terjadi belakangan ini dalam panggungpanggung teater Indonesia, yakni kecenderungan untuk menggarap pertunjukan dengan biaya produksi besar serta pendukung pertunjukan yang juga besar itu. Semacam perlawanan ideologi estetik artistik terhadap napsu napsu megalomania artistik yang menghamba pada rupiah. Pada gilirannya kelak, “dramakala fest” ini akan menjadi agenda rutin yang diberlangsungkan setiap tahun pada bulan Februari. Keberhasilannya tentu saja dimungkinkan oleh dukungan, bantuan dan peran serta kita semua, persona teater yang masih belum mau tunduk pada silau kapitalisme.* (HPBah)

Dramakala 7  

Dramakala 7

Advertisement