Issuu on Google+

Pengamalan Tharekat 2 : Suluk Posted on June 30, 2008 by admin

http://salafytobat.wordpress.com/2008/06/30/pengamalan‐tharekat‐2‐suluk/

JANGAN BURU2 MENYESATKAN ORANG!!! Hati keras, ibadah tidak khusu’, doa tidak makbul, menganggap orang lain bodoh, sombong, hati tidak mereakan kemanisan dalam beribadah…..coba pelajari tasauf” Hadits nabi : “barangsiapa menghukumi perkara agama tanpa ada ilmu, maka ia akan mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya…( HR imam suyuti) sebelum membaca risalah ini sebaiknya membaca artikel : Pengamalan tharekat 1 : Taubat http://salafytobat.wordpress.com/category/pengamalan-tharekat-i-taubat/ SULUK fADHILAT DZIKIR : Allah SWT berfirman : “Dan sebutlah (dengan lidah dan hatimu) akan nama Tuhanmu (teru menerus siang dan malam), serta tumpukanlah (amal ibadatnu) kepadanya dengan sebulat-bulat tumpuan” (Al-Muzammil ayat 8) AllahSWT berfirman : “Ketahuilah!!! Dengan dzikrullah itu, tenang dan tentramlah hati manusia” (Ar’ad : 28) DARIPADA ZUBAIR BIN ABDULLAH RA meriwayatkan bahwa baginda saw bersabda : ” Tiada satu amal yang lebih menyelamatkan manusia dari azab Allah yang lebih dari dzikurullah ketika ditanya : Walaupun jihad fiisabilillah? Nabi bersabda : “walaupun jihad fii sabilillah tidak dapat menandingi dzikrullah, kecuali dia berjuang dengan berani memukul pedangnya kesana kemari hingga pedangnya patah (HR atharani dalam al austh dan jami’ushoghir,hadits shohih, majmu’zawaid 71/1) Dari abdullah bin busrin ra meriwayatkan bahwa seseorang berkata kepada baginda nabi Rasulullah saw : Ya rasulullah, sesungguhnya hukum-hukum islam telah banyak (yang semestinya kami amalkan tetapi) berikan kepadaku satu amal supaya tetap menjadi amalanku Baginda SAW bersabda : Janganlah putus-putus lidah kamu basah dari mengingati Allah” (HR Tirmidzi, mutakhab 75/368)

a. Pengertian Suluk yang berarti menempuh jalan menuju kepada Tuhan Allah SWT. Suluk juga disebut khalwat, yaitu berada ditempat yang sunyi sepi, agar dapat beribadat dengan khusuk dan sempurna. Suluk ini juga disebut iktikaf. Seseorang yang melaksanakan suluk dinamakan salik. Orang suluk beriktikaf di masjid atau surau, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW atau Salafus Shaleh. Masa suluk itu dilaksanakan 10 hari, 20 hari atau 40 hari. Orang yang melaksanakan suluk itu wajib di bawah pimpinan seorang yang telah ma’rifat, dalam hal ini adalah Syekh Mursyid. Pengertian suluk adalah ikhtiar menempuh jalan menuju kepada Tuhan Allah, semata-mata untuk mencari keridlaan-Nya. Hakikat suluk adalah usaha, ikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk membersihkan diri rohani maupun jasmani, dengan bertobat dan mengosongkan diri pribadi dari sifat-sifat buruk (maksiat lahir maupun batin), dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, taat


lahir maupun batin. Setiap orang yang suluk meyakini, bahwa dirinya akan menjadi bersih dan tobatnya akan diterima oleh Allah SWT, sehingga dia menjadi taqarrub, dekat diri kepada-Nya. Syekh Amin Al Kurdi mengatakan, tidak mungkin seseorang itu sampai kepada makrifatullah dan hatinya bersih serta bercahaya, sehingga dapat musyahadah kepada yang mahbub, yang dicintai yaitu Allah SWT, kecuali dengan jalan suluk atau berkhalwat. Dengan cara inilah seseorang salik yang menghambakan dirinya kepada Allah SWT semata-mata, bisa sampai kepada yang dimaksud (Amin Al Kurdi 1994 : 430). Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya menegaskan lima hal pokok yang harus dijaga dan dilestarikan pelaksanaannya oleh pengamal (murid) tarikatullah Naqsyabandiyah : a. Melaksanakan zikir sendiri-sendiri, sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Syekh Mursyid kepadanya. b. Melaksanakan Khatam Tawajuh bersama-sama, di Alkah-alkah atau Surau-surau pada malam yang ditetapkan. c. Melaksanakan Suluk, bagi orang yang mempunyai kelapangan dan waktu, di tempat-tempat yang telah ditentukan. d. Melaksanakan penghidmatan, dalam pembinaan dan peningkatan peramalan ini. e. Melaksanakan dan memelihara adab terhadap mursyid, adab terhadap sesama murid dan adab terhadap diri sendiri. Tentu saja penjagaan dan pelestarian kelima hal tersebut, harus dilandasi dengan pelaksanaan syariat yang kuat terutama melaksanakan kewajiban shalat, zakat, puasa dan haji, serta kewajiban-kewajiban lainnya yang ditetapkan oleh Syarak, seperti berbuat baik kepada orang tua (ibu,bapak), hak dan kewajiban suami isteri dalam rumah tangga, hak dan kewajiban sebagai warga negara dan sebagainya. Dengan kata lain seseorang murid itu baru bisa berhasil dengan baik untuk meningkatkan kualitas Iman dan Takwanya, bertaqarrub kepada Allah, manakala melaksanakan ibadat uluhiyah (hablumminallah) dan ibadat muamalah (hablumminannas) dengan baik dan sempurna. Demikian fatwa Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya yang disampaikan beliau berulangkali. b. Dasar Hukum Bersuluk, berkhalwat atau beriktikaf dalam pengertian di atas, mempunyai dasar hukum naqli Al Quran maupun Al Hadis. Firman Allah SWT, Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan orang-orang yang mensucikan diri. (Q.S. Al Baqarah 2 : 222). Firman Allah SWT, Artinya : Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya. (Q.S. Al Kahfi 18 : 110). Firman Allah SWT, Artinya : Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu 30 malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya 40 malam (Q.S. Al Araf 7 : 142). Firman Allah SWT,


Artinya : Maka tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu (Q.S. An Nahl 16 : 69). Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Barangsiapa menempuh jalan untuk menggali ilmu (termasuk dengan beramal), Allah akan memudahkan baginya jalan ke Syurga. Dari ayat-ayat tersebut di atas, dengan tegas Allah menyukai dan mencintai orang yang selalu bertobat dari dosa lahir maupun dosa batin, yang dia ketahui ataupun yang dia tidak ketahui. Demikian juga Allah menyukai dan mencintai orang-orang yang selalu mensucikan dirinya dengan berwuduk secara syariah, dan mengisi batin rohaninya dengan Allah SWT secara hakikat. Orang yang bertobat dan mensucikan dirinya, kemudian mengisinya dengan amal-amal saleh dan tidak menserikatkan-Nya dengan sesuatu pun, Allah menjanjikan akan ada perjumpaan dengan-Nya nanti. Untuk melaksanakan isi kandungan ayat-ayat tersebut, maka Nabi-Nabi sebelum Rasul Muhammad SAW seperti Nabi Musa a.s telah melaksanakan khalwat di bukit Tursina. Nabi Muhammad SAW sendiri melaksanakannya di gua Hira’. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Nabi Muhammad diberi kesenangan menjalankan khalwat di gua Hira’, dengan tujuan beribadat kepada Allah SWT pada beberapa malam yang tidak sebentar (H.R. Bukhari). Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Barang siapa beramal dengan ikhlas karena Allah SWT selama 40 hari, niscaya terpancarlah sumber-sumber hikmah dari hatinya ke lidahnya. (H.R. Ahmad). Sabda Rasulullah SAW : Artinya ari Aisyah r.a., dia berkata, “Adalah Nabi SAW melaksanakan iktikaf dalam sepuluh hari akhir Ramadhan, lalu saya buatkan kelambu untuk beliau, lalu Rasul shalat Shubuh, kemudian Rasul memasukinya. (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Gua Hira’ terletak di Jabal Nur beberapa kilometer di luar kota Mekkah. Gua Hira’ adalah gua yang tidak luas (sempit) yang cukup untuk satu orang saja kalau berkhalwat di dalamnya. Adalah sulit di beberapa tempat, apalagi di masa kini untuk berkhalwat di gua semacam itu, sedangkan yang ingin berkhalwat itu tidak hanya ratusan jumlahnya, tapi ribuan orang. Karena itu para Syekh Mursyid memodifikasikannya dengan memakai kelambu. Kelambu ini berfungsi tidak hanya bebas dari ganggguan orang, tetapi juga bebas dari gangguan nyamuk, sekaligus juga menjaga temperatur udara yang dingin. Empat puluh hari adalah masa maksimal satu suluk, tapi oleh sebab pertimbangan kesempatan, biaya, tugas dan sebagainya, maka waktu itu dapat dibagi atau dicicil menjadi beberapa hari. Selanjutnya apabila mengkaji lebih dalam lima ayat yang pertama turun dalam surat Al Alaq, kita jumpai di sana ada dua kalimat iqra’. Sudah pasti iqra’ pertama berbeda dengan kandungan iqra’ kedua. Firman Allah SWT, Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (Q.S. Al Alaq 96 : 1-2). Iqra pertama ini berarti kita disuruh berzikir dengan menyebut nama Allah Ismuz Zat atau Nafi Isbat, sebagai suatu metode untuk membersihkan diri rohani kita yang menjadi landasan, fondamen dan memberi jiwa keikhlasan terhadap ibadat yang zahiriahnya dilakukan oleh


jasmani. Karena itulah kita melihat dengan waktu yang cukup lama, antara turunnya surat Al Alaq ini dengan turun ayat berikutnya, Rasulullah berkhalwat di gua Hira sebagai realisasi pelaksanaan kandungan Iqra pertama ini. Firman Allah SWT, Artinya : Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S.Al Alaq 96: 3-5). Iqra kedua ini berarti kita disuruh bekerja dan beramal dengan ketentuan dan peraturan syariat Allah SWT. Berbuat dan beramal itu harus dengan ilmu pengetahuan yang melandasinya, baik untuk amalan syariat yang akan meningkatkan kualitas Iman dan Takwa (imtak), maupun berbuat dan beramal untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup duniawi dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek) yang canggih. Pelaksanaan kandungan Iqra’ kedua ini setelah turun surat Al Muddatstsir yang mengandung perintah supaya Rasul mulai berdakwah. Secara historis periode Mekkah adalah periode memantapkan Iman dan Takwa melalui zikrullah, seperti yang terkandung dalam Iqra pertama, dilanjutkan periode Madinah melaksanakan syariat, baik Ubudiyah Uluhiyah maupun Ubudiyah Muamalah, seperti yang terkandung dalam Iqra kedua. Kedua-dua kandungan Iqra itu harus dikerjakan dan diamalkan dengan utuh, selaras, serasi dan seimbang. Dari penjelasan di atas yang didasarkan kepada Al Quran dan Al Hadis, dapat kita simpulkan bahwa suluk atau berkhalwat adalah meneruskan sunnah Rasul yaitu Nabi Musa a.s berkhalwat di bukit Tursina dan Nabi Muhammmad SAW berkhalwat di gua Hira’. c. Persiapan Suluk Seseorang yang akan melaksanakan suluk, harus siap fisik dan mental. Secara fisik orang yang akan suluk harus menyelesaikan dahulu segala sesuatu urusan duniawiyahnya, misalnya membayar utang piutangnya kalau dia berhutang, menyerahkan kegiatan usahanya kepada orang lain, minta ma’af kepada orang tua, sanak famili dan handai taulan, sebab orang yang suluk itu bertekad seolah-olah dia menuju kepada zikrul maut (ingat kepada mati). Jadi kalau ingat kepada mati, dia harus melupakan dan menyelesaikan segala urusan dunianya terlebih dahulu. Kalau seorang anak minta izin orang tuanya, bila istri minta izin suaminya dan seterusnya. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Rasakanlah mati sebelum engkau mati. Secara mental seseorang yang akan suluk, harus terlebih dahulu bertobat dari segala dosa lahir dan dosa batin, serta mengakui bahwa dia mempunyai banyak dosa. Karena itu dia harus berniat dengan ikhlas untuk melaksanakan suluk semata-mata karena Allah, semata-mata mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, serta mengikuti petunjuk-petunjuk Syekh Syekh Mursyidnya. Sebelum pelaksanaan suluk, seseorang itu harus mandi taubat dengan air yang bersih dengan niat, bahwa dia mandi taubat dari dosa lahir maupun batin karena Allah SWT. Setelah mandi taubat barulah dia melaksanakan beberapa shalat sunat, yaitu shalat sunat wudlu 2 rakaat, shalat sunat taubat 2 rakaat, dan shalat hajat untuk melaksanakan suluk 2 rakaat. Setelah itu dia berniat suluk menempuh jalan menuju kepada Tuhan Allah dengan melaksanakan ‘akmalush shalihat, amal-amal ibadat sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para ahli silsilah Tarikat Naqsyabandiyah. Menurut DR. Mustafa Zahri setelah itu dia berdo’a dengan do’a sebagai berikut :


- “Ya Tuhan, jadikanlah hatiku berjalan kepada-Mu, sehingga aku memperoleh keridlaan-Mu yang aku cari.” - “Ya Tuhan, hilangkanlah hijab dalam hatiku dan bukakanlah hijab yang menutupi aku untuk menemukan Engkau.” - “Ya Tuhan, limpahkan kepadaku Nur Makrifat-Mu dalam hatiku, supaya aku melihat wajahMu.” - “Ya Tuhan, kembalikanlah aku kepada kudrat-Mu dan iradat-Mu.” - “Ya Tuhan, berikanlah aku keridlaan-Mu dan janganlah aku disiksa di hari kemudian.” (Mustafa Zahri 1991 : 257). d. Syarat Suluk Syekh Amin Al Kurdi dalam bukunya “Tanwirul Qulub” mengatakan ada 20 syarat suluk: 1). Berniat ikhlas, tidak riya dan sum’ah lahir dan batin. 2). Mohon ijin dan do’a dari syekh mursyidnya, dan seorang salik tidak memasuki rumah suluk sebelum ada ijin dari syekh selama dia dalam pengawasan dan pendidikan. 3). ‘Uzlah (mengasingkan diri), membiasakan jaga malam, lapar dan berzikir sebelum suluk. 4). Melangkah dengan kaki kanan pada waktu masuk rumah suluk. Waktu masuk seorang salik mohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan dan membaca basmalah, setelah itu dia membaca surat An Nas tiga kali, kemudian melangkah kaki kiri dengan berdo’a, Artinya : Ya Allah, yang menjadi pelindung di dunia dan akhirat, jadikanlah aku sebagaimana Engkau telah menjadikan penghulu kami Muhammad SAW dan berilah aku kurnia, rizki mencintai-Mu. Berilah aku kurnia, rizki mencintai kekasih-Mu. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan kecantikan-Mu dan jadikanlah aku termasuk hamba-Mu yang ikhlas. Ya Allah hapuskanlah diriku dengan tarikan zat-Mu, wahai Yang Maha Peramah yang tidak ada orang peramah bagi-Nya. Ya Tuhan, janganlah Engkau biarkan aku tinggal sendirian, sedangkan Engkau adalah sebaik-baik orang yang mewarisi. Setelah itu dia masuk ke Musholla lalu mengucapkan, Artinya : Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada yang menciptakan langit dan bumi dalam keadaan hanif/lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Kalimat itu dibaca 21 kali. Setelah itu baru melaksanakan shalat sunat 2 rakaat. Setelah membaca Al Fatihah di rakaat pertama, dibaca ayat kursi (Al Baqarah 2 : 255) dan di rakaat kedua setelah membaca Al Fatihah, dibaca Amanar Rasul (AlBaqarah 2 : 285). Dan setelah salam membaca Ya Fatah ( ) 500 kali. Artinya : Seseorang itu memohon kepada Allah agar dibukakan makrifat-Nya. 5). Berkekalan wudlu atau senantiasa berwudlu. 6). Jangan berangan-angan untuk memperoleh keramat. 7). Jangan menyandarkan punggungnya ke dinding. 8). Senantiasa menghadirkan musyid. 9). Berpuasa. 10). Diam, tidak berkata-kata kecuali berzikir atau terpaksa mengatakan sesuatu yang ada kaitannya dengan masalah syariat. Berkata-kata yang tidak perlu akan menyia-nyiakan nilai khalwat dan akan melenyapkan cahaya hati. 11). Tetap waspada terhadap musuh yang empat, yaitu syetan, dunia, hawa nafsu dan syahwat. 12). Hendaklah jauh dari gangguan suara-suara yang membisingkan.


13). Tetap menjaga shalat jum’at dan shalat berjama’ah karena sesungguhnya tujuan pokok dari khalwat adalah mengikuti Nabi SAW. 14). Jika terpaksa keluar haruslah menutupi kepala sampai dengan leher dengan memandang ke tanah. 15). Jangan tidur, kecuali sudah sangat mengantuk dan harus berwudlu. Jangan karena hendak istirahat badan, bahkan jika sanggup, jangan meletakkan rusuk ke lantai/berbaring dan tidurlah dalam keadaan duduk. 16). Menjaga pertengahan antara lapar dan kenyang. 17). Jangan membukakan pintu kepada orang yang meminta berkat kepadanya, kalau meminta berkat hanya kepada Syekh-Syekh Mursyid. 18). Semua nikmat yang diperolehnya harus dianggapnya berasal dari Syekh-Syekh Mursyid, sedangkan Syekh-Syekh Mursyid memperolehnya dari Nabi Muhammad SAW. 19). Meniadakan getaran dan lintasan dalam hati, baik yang buruk maupun yang baik, karena lintasan-lintasan itu akan membuyarkan konsentrasi munajat kepada Allah SWT sebagai hasil dari zikir. 20). Senantiasa berzikir dengan kaifiat yang telah ditetapkan oleh syekh Syekh Mursyid baginya, hingga sampai dengan dia diperkenankan atau dinyatakan selesai dan boleh keluar (Amin Al Kurdi 1994 : 430-431). Pelaksanaan suluk pimpinan Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya disamping memenuhi syarat suluk tersebut, adalagi ketentuan adab suluk yang pada prinsipnya sama dengan syarat suluk yang 20 tadi. Ada 21 adab suluk yang inti pokoknya mengatur ketentuan-ketentuan orang yang suluk itu supaya mendapatkan hasil maksimal dalam suluknya. Ada lagi 9 (sembilan) adab setelah keluar dari suluk, yang harus diperhatikan dan dipedomani agar hasil Ubudiyah suluk itu dapat dipertahankan dan bahkan dapat lebih ditingkatkan lagi. e. Zikrullah Orang dalam suluk seluruh hidup dan kehidupannya harus bernilai ibadat dan tidak boleh ada padanya yang bernilai sia-sia. Karena itu ibadat-ibadat yang dilakukan baik yang wajib maupun yang sunat, sama saja dengan ibadat yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak suluk, sesuai dengan ketentuan syariat. Orang dalam suluk berusaha bermujahadah, bersungguh-sungguh melaksanakan itu semua dengan lebih intensif, dengan konsentrasi penuh, dengan khusuk lillahi ta’ala. Tidak ada sedikit pun peramalan itu yang menyimpang, apalagi keluar dari ketentuan syariat. Tidak ada peramalan bid’ah, apalagi menjurus kepada khurafat dan syirik, bahkan orang suluk berusaha untuk mendapatkan tauhid yang semurni-murninya, tidak hanya dalam bentuk ilmul yakin atau ‘ainul yakin tapi dalam bentuk hakkul yakin. Untuk mendapatkan itu tidak mungkin dengan metode belajar saja, tapi harus dengan beramal dengan metodenya yang benar dan tahkik. Beramal dengan metode yang benar dan tahkik inilah, pengamal Tarikat Naqsyabandiyah sebagaimana halnya pengamal-pengamal tarikat lainnya, wajib memerlukan seorang Syekh Mursyid dalam arti sesungguhnya (memenuhi kriteria Mursyid) sebagai pembimbing rohani dalam beramal. Syekh-Syekh Mursyid itu telah menerima bimbingan rohani dari Syekh-Syekh Mursyidnya, dan begitulah seterusnya sambung bersambung (silsilah) sampai dengan junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang beliau juga menerima bimbingan itu dari Jibril a.s. Menurunkan silsilah atau mengijazahkan peramalan kepada muridnya dengan statuta yang sah. Dengan demikian tidak semua murid Syekh Mursyid


itu nantinya berhak menjadi Syekh Mursyid pula, paling-paling dia berstatus sebagai khalifah atau pembantu Syekh Mursyid. Disamping ibadat wajib dan sunat sesuai dengan ketentuan syariat, orang dalam suluk peramalan utamanya adalah zikrullah. Peramalan zikrullah bagi setiap murid, dilaksanakan sesuai dengan ketetapan Syekh Mursyid terhadapnya. Mengamalkan zikrullah harus sesuai dengan tatacara dan kaifiat yang telah ditetapkan pada masing-masing tarikat. 1). Adab Zikir Untuk mendapatkan kualitas zikir yang tinggi dan dampak yang maksimal, seseorang yang berzikir itu harus melaksanakan adab zikir. Syekh Amin Al Kurdi mengatakan ada 11 adab zikir, yaitu : (1). Suci dari hadas kecil atau seseorang itu dalam keadaan berwudlu. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Wudlu itu menghapus dosa-dosa. (H.R. Ahmad). (2). Shalat sunat dua rakaat. (3). Menghadap kiblat di tempat yang sunyi. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Sebaik-baik majlis ialah menghadap kiblat. (H.R. Thabrani). Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Tujuh orang yang mendapat perlindungan Allah pada suatu hari yang tidak ada perlindungan kecuali daripada-Nya. Di dalam hadis itu disebutkan antara lain : Dan seorang lakilaki berzikir di tempat yang sunyi kemudian dia menangis dengan mengeluarkan air matanya. (H.R. Bukhari Muslim). (4). Duduk tawarruk, yaitu kebalikan dari duduk tawarruk dalam shalat. Sebagaimana duduknya para sahabat di hadapan Rasulullah SAW. Duduk tawarruk seperti itu memudahkan seseorang untuk mendapatkan tawaduk dan konsentrasi. (5). Istighfar atau minta ampun dari semua maksiat dan kesalahan yang telah lalu. Dalam mengucapkan istighfar itu, dia membayangkan semua maksiat dan kesalahan-kesalahannya secara keseluruhan, sambil dia percaya dan membayangkan Allah melihatnya sekarang ini. Karena itu dia meninggalkan semua kesibukan dan fikiran duniawiyah. Yang dibayangkannya, hanyalah kebesaran dan keagungan Allah SWT yang hadir pada saat ini, yang bersifat Maha Pemurah lagi Maha Pengampun. Setelah itu dia mengucapkan Astaghfirullah ( ) 5 kali atau 15 kali atau 25 kali. Yang terbaik adalah 25 kali. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Barang siapa yang lestari terus menerus mengucapkan istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar baginya dari segala kesempitan dan menghilangkan segala yang menggelisahkan dan memberikan rezki dari sumber yang tidak dia duga sebelumnya. (H.R. Ahmad dan Hakim). (6). Membaca surat Al Fatihah satu kali dan surat Al Ikhlas tiga kali dan menghadiahkan pahalanya kepada roh Nabi Muhammad SAW dan kepada arwah sekalian Syekh ahli silsilah Tarikat Naqsyabandiyah, terutama kepada Syekh Mursyid. (7). Memejamkan kedua mata dan menutup mulut dan menongkatkan lidah ke langit-langit. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan kekhusukan yang sempurna dan lebih memastikan lintasan-


lintasan hati yang harus diperhatikan. (8). Rabithah Kubur, artinya seseorang yang berzikir itu membayangkan seolah-olah dirinya sudah mati. Karena itu dia membayangkan dirinya dimandikan, dikafankan, dishalatkan, diusung ke kubur dan akhirnya dimakamkan (dikebumikan). Semua keluarga dan sahabat handai taulan meninggalkan kita sendirian dalam kubur. Pada waktu itu ingatlah kita bahwa segala sesuatu tidak berguna lagi kecuali amal saleh. Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau sedang dalam perjalanan dan karena itu persiapkanlah dirimu untuk pada suatu saat menjadi penghuni kubur (H.R. Tarmizi). (9). Rabithah Mursyid, artinya murid merabithahkan atau menghubungkan rohaniahnya kepada rohaniah mursyid yang akan membimbingnya atau bersama-sama menuju kehadirat Allah SWT. Rohaniah mursyid itu dalam kajian orang tasawuf, ibarat corong atau pancuran untuk mendapatkan limpahan kurnia dan berkah dari Allah SWT. Firman Allah SWT, Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya pasti kamu mendapat keberuntungan (sukses). (Q.S. Al Maidah 5 : 35). Firman Allah SWT, Artinya : Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (Q.S. At Taubah 9 : 120). Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Seseorang itu akan selalu bersama dengan orang yang dia kasihi. (H.R. Bukhari Muslim). Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Abu Sofyan bin Waki’ menceritakan kepada kami dari Ashim bin Ubaidillah dari Salim dari Ibnu Umar dari Umar bahwa sesungguhnya Umar bin Khatab minta izin kepada Nabi SAW untuk melaksanakan ibadat umrah, maka Nabi bersabda, “Wahai saudaraku, ikut sertakan kami (ingatkan kami) pada waktu engkau berdo’a nanti dan jangan sekali-kali engkau melupakan kami.� (H.R. Abu Daud dan Tarmizi). Sabda Rasulullah, Artinya : Besertalah kamu dengan Allah, tapi kalau belum sanggup, maka hendaklah kamu beserta dengan orang-orang yang telah beserta dengan Allah, karena sesungguhnya bersamasama orang itulah kamu akan sampai kepada Allah SWT.(H.R Abu Dawud). Kata orang-orang arif, Artinya : Fana pada syekh adalah mukaddimah untuk fana kepada Allah SWT. (10). Mengkonsentrasikan semua panca indera dan memutuskan hubungan dengan semua yang membimbangkan untuk ingat kepada Allah. Konsentrasi hanya ditujukan kepada Allah saja lalu mengucapkan, Artinya : Wahai Tuhanku, Engkaulah yang kumaksud dan keridhoan-Mulah yang aku tuntut (dibaca tiga kali). Sesudah itu barulah mulai berzikir ismus zat dalam hati dengan meresapkan perhatian ismus zat itu yakni : Dialah zat yang tiada sesuatu pun setara dengan Dia. Dia hadir, memperhatikan semua hal, sesuai dengan sabda Rasul dalam menafsirkan makna Al Ikhsan,


Artinya : Hendaklah engkau beribadat kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jikalau engkau tidak melihat-Nya maka yakinilah bahwa sesungguhnya Allah SWT melihat engkau (H.R. Bukhari Muslim). Sabda Rasulullah SAW : Artinya : Iman yang paling baik adalah anda mengetahui / merasakan bahwa sesungguhnya Allah menyaksikan anda di mana pun anda berada (H.R. Thabrani). (11). Menunggu sebentar datangnya sesuatu yang akan muncul pada waktu berzikir hampir berakhir sebelum membuka dua mata. Apabila datang sesuatu yang ghaib, maka hendaklah waspada dan berhati-hati karena cahaya hati akan berpancar. Demikian Amin Al Kurdi menjelaskan tentang adab zikir. (Amin Al Kurdi 1994 : 443 – 444).  


Pengamalan Tharekat 2 : Suluk