Issuu on Google+

World Ophthalmology Congress, Japan


History

Sejarah berdirinya

“ Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan dokter mata di Indonesia harus ada sebuah center mata dengan bangunan yang nyaman, SDM yang Profesional di bidangnya dan peralatan yang canggih.�

C

ikal bakal berdirinya Rumah Sakit Mata SMEC ini sudah terbentuk sebelum tahun 2006 yang lalu. Ide cemerlang ini muncul karena adanya rasa keprihatinan dari beberapa orang dokter mata di kota Medan ( Sumatera Utara ), yang selalu melihat kesulitan yang dirasakan oleh masyarakat kota Medan dan sekitarnya untuk mendapatkan pelayanan mata yang paripurna. Hal ini juga diperkuat dengan informasi dan data statistik yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Kota Medan, dimana pada tahun 2005, grafik menunjukan setiap tahunnya lebih dari 600.000 pasien memilh pengobatan keluar negeri, ini dikarenakan oleh keterbatasan SDM, peralatan dan tempat yang memadai untuk sebuah pelayanan kesehatan di kota Medan. Dari jumlah angka tersebut, pasien yang dirujuk oleh dokter atau yang berangkat atas kemauan sendiri didominasi oleh pasien yang mengalami keluhan mata, karena pada saat itu memang belum ada satu center mata yang lengkap dan memadai di

SMEC

kota Medan. Atas dasar itulah munculnya gagasan cemerlang dari dr. Imsyah Satari. SpM untuk mendirikan satu Pusat Pelayanan Kesehatan Mata Terpadu yang kita kenal dengan nama SMEC ( Sumatera Eye Center ) sekarang ini. SMEC didirikan pada tanggal 4 Maret 2006 yang di resmikan oleh wali kota Medan yang pada saat itu dijabat oleh, Drs.Abdillah,SE,Ak. MBA. Pada tahun pertama berjalannya, SMEC langsung mendapat antusias yang begitu besar bagi masyarakat kota medan khususnya dan masyarakat Sumatera utara pada umumnya. Ditahun kedua SMEC tidak hanya lagi melayani masyarakat dari kota Medan dan Sumatera Utara. Keberadaan SMEC sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan Mata sudah mulai di ketahui oleh masyarakat di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dan

dr. Imsyah Satari, SpM ( Pendiri RS Mata SMEC )

begitulah seterusnya, dari tahun ketahun SMEC sudah dapat melayani masyarakat dari lima provinsi yang ada di Pulau Sumatera seperti Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan sebagian Jambi, sehingga gedung SMEC yang ada sudah tidak mampu lagi menampung pasien yang datang dari berbagai kota dan provinsi. Pada tahun 2010, SMEC meningkatkan fasilitas layanannya, dengan merubah statusnya menjadi Rumah Sakit Mata, yang merupakan Rumah Sakit Mata pertama dan satu-satunya di Pulau Sumatera. Selain memperluas bangunan fisiknya, SMEC juga meningkatkan sumber daya manusianya dengan merekrut dan mendatangkan dokter – dokter mata sub spesialis untuk bergabung di dalamnya. Dan pada tahun yang sama, dibukalah layanan Centra Retina dan Centra Glaukoma, yang selama ini menjadi keprihatinan bagi dokter- dokter mata di Sumatera Utara, dikarenakan tidak tersedianya dokter ahli retina dan glaukoma , dan juga tidak lengkapnya peralatan penunjang untuk kasus tersebut, sedangkan menurut data yang didapati, begitu banyak pasien yang memerlukan pelayanan dan penanganan untuk kasus-kasus ini. Kemudian seiring dengan perkembangannya yang cukup pesat, maka di tahun 2012, SMEC juga menghadirkan layanan Pediatric Ophthalmology ( pelay-

anan mata khusus anak ) sebagai bentuk pelayanan yang terbaik atas kepercayaan masyarakat atas keberadaan SMEC. Untuk menjawab tantangan permasalahan mata selanjutnya SMEC juga sudah berdiri di beberapa kota di Indonesia, seperti SMEC Balikpapan, SMEC Pekan Baru, SMEC Samarinda ,SMEC Kabanjahe dan SMEC Jakarta. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak begitu lama SMEC juga akan hadir di kota-kota lainnya. Sampai saat ini, sebanyak 28 orang dokter mata telah bergabung di RS Mata SMEC, dengan tujuh bidang pelayanan yaitu; bidang pelayanan katarak, glaukoma, retina, laser, rekontrksi,pediatrik oftalmologi, dan neuro oftalmlogi. Ke 28 dokter mata SMEC tersebar di enam cabang SMEC yang ada, dan dikelompokan kedalam 2 wilayah atau regional. Regional satu, berpusat di Medan, yang membawahi cabang SMEC Pekan Baru dan SMEC Kabanjahe. Sedangkan untuk regional 2 berpusat di Jakarta, dan membawahi cabang SMEC Balikpapan dan SMEC Samarinda. Untuk kedepannya SMEC sedang berencana untuk melakukan ekspansi ke kota-kota lainnya di Indonesia, supaya semua lapisan masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan mata di manapun mereka berada. ( r.u/l )


Close Up

Menikmati CSR ( Coorporate Social Responsibility ) di daerah pedalaman

KALIMANTAN TIMUR

bersama Dr. Eka Falintinawati, SpM ( Medical Retina )

ada edisi perdana ini SMEC realita akan mengupas informasi tentang figur salah satu dari dokter mata SMEC ( Sumatera Eye Center ), yaitu Dr. Eka Falintinawati,SpM. Tidak banyak dokter yang mau berbagi dengan masyarakat di daerah yang jauh dari keramaian, hanya untuk sebuah pengabdian.

Tapi tidak demikian halnya dengan Dr. Eka Falintinawati atau yang lebih akrab disapa dengan Dr. Eka. Saat ini Dr .Eka bertugas di SMEC Balikpapan, selain di RSUDKD Balikpapan. Beliau adalah seorang dokter yang sangat ramah, kominikatif dan selalu memberikan motivasi kepada pasien. Sikap yang demikian sudah tertanam pada diri ibu dari tiga orang anak ini, sejak beliau masih menjalani PTT ( Pegawai Tidak Tetap ) di kecamatan Barong Tongkok, kabupaten Kutai Barat. Dan hal itu berlanjut terus sampai beliau mendapatkan gelar sebagai seoramg dokter spesialis mata. Dr Eka mengakui bahwa," Saya merasa bangga apabila apa yang saya berikan, bisa bermanfaat bagi orang lain.” Pendidikan di bidang medis dimulai pada saat berumur 19 tahun, setalah tamat dari bangku SMA Negeri 1 Samarinda. Di perguruan tinggi beliau memasuki Fakultas Kedokteran di Universitas

Hang Tuah Surabaya, dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1997. Kemudian menjalani masa PTT selama tiga tahun di kecamatan Barong Tongkok dengan jarak tempuh selama 24 jam dengan transpotasi sungai dari Tenggarong ibu kota kabupaten Kutai Kartanegara. Walaupun perjalanan ke daerah tersebut sangat sulit, karena terbatasnya akses dan prasarana, namun itu tidak menyurutkan niatnya untuk mengabdi pada masyarakat di daerah yang dominan dihuni oleh masyarakat dari suku Dayak. Satu hal yang sangat berkesan selama pengabdian di kecamatan Barong Tongkok adalah, tidak tersedianya fasilitas penerangan kecuali selama jam kerja , dan juga pelayanan terhadap masyarakat yang tidak mempunyai jam kunjungan tertentu ( kapan pasien mau berobat mereka datang, meskipun sudah diluar jam kerja. /red ) terkadang beliau tertawa sendiri apabila mengingat kejadian tersebut. Tidak puas dengan gelar dokter yang sudah didapat, istri dari Dr. Agung Purnama SpAn, ini melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu

“ Saya merasa bangga apabila apa yang saya berikan, bisa bermanfaat bagi orang lain. “

Program Pendidikan Dokter Spesialis, di bidang Ophthalmology atau ilmu mata di Universitas Brawijaya Malang. Gelar dokter spesialis mata didapatnya pada tahun 2006, dan pada tahun itu juga sampai tahun 2008 beliau langsung ditempatkan di BKMOM ( Balai Kesehatan Mata dan Olahraga Masyarakat ) Balikpapan. Selama bertugas menjadi dokter mata , dokter yang sangat menyukai makanan khas Banjar ini sangat aktif menjalani kegiatan CSR ( Corporate Social Responsibilty ), yaitu program operasi katarak gratis yang dikelola oleh BKMOM sebagai kegiatan pengabdian kepada

masyarakat. Begitu banyak daerah-daerah terpencil yang beliau datangi, hanya untuk membantu program pemerintah dalam rangka mengurangi angka kebutaan di propinsi Kalimantan Timur, yang disebabkan oleh penyakit katarak . Kecamatan Melak,Sangkulirang, Tanjung Redeb adalah beberapa contoh daerah tempat pengabdiannya. Tapi, Dr.Eka sangat menikmati kegiatan tersebut, walaupun dilakukan dengan cara yang sederhana, dan fasilitas yang tersedia jauh dari standard kehidupan yang beliau jalani sehari-hari. “Ya, begitulah pengabdian”, ungkapnya. Dalam berpenampilan kesehariannya Dr .Eka sangat sederhana, dan sangat suka mengenakan baju batik, yang merupakan ciri khas orang Indonesia. Memang, cita-cita menjadi seorang dokter sudah tumbuh dalam jiwanya, sejak menjalani penddidikan di bagku SMA. Mata pelajaran Biologi adalah pelajaran yang paling disukai, apalagi tentang anatomi tubuh manusia. Bakat dan kegemaran

inilah yang memandunya untuk memilih fakultas kedokteran pada saat di perguruan tinggi. Dalam menjalani tugas sebagai dokter mata umum di RSUKD, rupanya dokter kita ini mendapatkan banyak kasus-mata yang berhubungan dengan saraf mata, terutama kasus retina. Tidak tersedianya dokter ahli retina di Kalimantan Timur, ternyata membuat keprihatinan terhadap dirinya. Karena begitu banyak pasien yang harus di rujuk ke luar pulau Kalimantan bahkan keluar negri, hanya karena keterbatasan instrment dan SDM untuk kasuskasus retina ini. Hal ini jugalah yang mendorong Dr. Eka untuk melanjutkan pendidikan spesialisnya di bidang retina. Aravin Eye Hospital yang terletak di kota Maduray - India Utara menjadi pilihannya untuk mendalami ilmu tersebut setelah 6 bulan sebelumnya didapatkanya di RSCM Jakarta. Disana beliau belajar selama dua bulan, sampai akhirnya mendapatkan sertifikat sebagai seorang dokter Medical Retina. Sekembalinya ke Indonesia, beliau diminta untuk bergabung dengan RS mata SMEC pada tahun 2011, dan menjadi dokter penanggung jawab di Kalesta Eye Center sebelum berubah nama menjadi SMEC Balikpapan Selain sebagai seorang dokter medical retina, dokter kita ini juga sangat mahir dalam melakukan operasi katarak. Terhitung sampai tahun 2014, dr.Eka sudah menangani sekitar 950 kasus katarak. ( r.u/l )


Our Facilites

p

Sentra Kata-

usat pelayanan katarak adalah layanan yang sangat penting di sebuah klinik mata atau sebuah RS mata. Di SMEC sendiri, layanan katarak menjadi prioritas utama, selain layananlayanan lainnya yang tersedia. Standar layanan katarak di SMEC sudah mengacu kepada standar layanan internasional, baik dari segi peralatan, metodelogi, SDM dan juga dari segi hasil pasca operasi. Setiap bulannya SMEC melayani operasi katarak sekitar 600 mata. Angka ini masih jauh dari target yang seharusnya dilakukan, dimana pertumbuhan katarak di indonesia adalah 1.000 dari sejuta penduduk setiap tahunnya. Sebagai contoh di Sumatera Utara, kepadatan penduduknya adalah sekitar 12.000.000 ( data statistik dari dinas kependudukan tahun 2010 ) .Berarti per-

Banyak diantara penderita katarak yang kami jumpai, masih mempertahankan ketajaman penglitan mereka yang sudah jauh dari penglihatan normal. Kondisi seperti terus berjalan sampai akhirnya mereka mengalami gangguan penglihatan yang sangat ekstrim sehingga sudah mendekati kebutaan. Dan yang paling disayangkan adalah, mereka terkadang masih dalam usia produktif dengan kondisi tersebut, sehingga hal itu dapat menghambat mereka untuk melakukan pekerjaan, bahkan untuk mencari nafkah. Kedua, kurangnya informasi tentang

menganggap operasi katarak itu adalah operasi besar yang memerlukan banyak persiapan. Dan yang keempat adalah adanya pemikiran masyarakat akan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalani operasi katarak, sampai akhirnya mereka mencari cara lain dengan menjalani pengobatan alternatif, yang menurut mereka lebih aman dan tidak beresiko. Sadar akan hal itu, makanya SMEC hadir di beberapa kota di Indonesia, untuk mengatasi semua permasalahan tersebut. Salah satu usaha yang dilakukan SMEC adalah dengan melakukan

keberadaan center-center mata di beberapa daerah, sehingga mereka tidak tahu, kemana harus mendatangi tempat pelayanan kesehatan untuk menangani katarak yang mereka derita. Ketiga adanya rasa takut bagi masyarakat untuk menjalani operasi katarak, karena sebagian besar masyarakat

sosialisasi tentang keberadaannya mulai dari kota sampai pelosok-pelosok daerah dengan cara melakukan penyuluhan dan kegiatan bakti sosial. Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin dari semua cabang SMEC yang ada. Dengan metode fakoemulsikasi maka tindakan operasi katarak bukanlah satu hal yang harus ditakuti. Karena metode ini mempunyai banyak keunggulan.

O perasi ini tidak menggunakan injeksi atau suntikan, tidak menggunakan bius, tidak menggunakan jahitan dan dapat dilakukan kapan saja, tanpa harus menunggu kataraknya matang. lebih dari pada itu, pelaksanaan operasi sangat cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit, selain perawatan yang singkat pasca operasi, serta aman bagi penderita diabetes ( kencing manis ) dan hipertensi. Metode ini adalah metode pembuangan katarak yang paling canggih saat ini baik di Indonesia maupun di luar negeri.

“ Dengan Metode Fekoemulsifikasi, pasien merasa nyaman pada saat menjalani operasi katarak karena tidak menimbulkan rasa sakit “ tumbuhan katarak di Suamatera Utara diperkirakan sebanyak 12.000 orang setiap tahun. Sedangkan dokter mata yang ada di Sumatera Utara adalah sebanyak 71 orang ( data dari keanggotaan PERDAMI Sumut tahun 2013 ). Jumlah dokter yang ada tidak sebanding dengan angka pertumbuhan katarak tersebut, sehingga terjadilah dead lock atau pasien yang tidak tertangani, dan angka deadlock ini akan menumpuk terus dari tahun ke tahun. Sedangkan di Kalimantan Timur,dengan jumlah penduduk sekitar 2'9 juta jiwa, Kaltim hanya memiliki 20 orang dokter mata, dan sebagian besar para dokter mata tersebut betugas di Balikpapan dan Samarinda. Dan

begitu juga dengan provinsi Riau dengan kepadatan penduduk 6,5 juta jiwa hanya memiliki 25 dokter mata. Bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di kabupaten lainnya? Atau bagi mereka yang tinggal jauh di pedalaman. Tentu saja akan sangat sulit bagi mereka untuk merasakan pelayanan operasi katarak yang sudah memenuhi standar. Yang menjadi permasalahan utama adalah kenapa sampai terjadi 'deadlock'. Setelah dilakukan survey terhadap pasien di beberapa daerah, jawaban yang didapat dari penyebab terjadinya deadlock adalah sebagai berikut. Pertama karena ketidak tahuan masyarakat tentang dampak dari katarak yang tidak tertangani.

Sedangkan untuk biaya operasi sendiri,SMEC menawarkan paket operasi sesuai dengan kemampuan dan kemauan pasien. Dengan adanya sentra katarak di SMEC, diharapkan SMEC dapat membantu program pemerintah dalam rangka memberantas angka kebutaan karena katarak dan semua permasalahan yang selama ini menjadi kendala, dapat teratasi. (r.u/l)


Better Life

Indahnya hidup di usia senja dengan mata sehat

H

“karena mencegah itu lebih baik daripada mengobati”

idup sehat merupakan dambaan setiap orang , tetapi tidak banyak orang yang mau menjalani pola hidup sehat tersebut. Penyesalan selalu datang belakangan, karena penyakit sering dirasakan setelah seseorang memasuki masa tua. Atas alasan itulah SMEC Realita memuat rubrik “ better life “ di salah satu halaman majalah ini. Pada kesempatan ini, radaksi ingin mengangkat kiat hidup sehat secara alami dari seorang tokoh masyarakat di Provinsi Kalimantan Timur. Dia adalah mantan Camat di kecamatan Barong Tongkok pada periode 1988 s/d 1993. Apa yang menjadi alasan redaksi untuk mengangkat tokoh ini adalah karena aktifitas rutin yang beliau lakukan setelah masa purnakarya. Beliau adalah Bapak Abdullah Sani, yang sekarang sudah menjalani usia yang ke 68. Saat dikunjungi redaksi, Bapak Abdullah sedang seriusnya mengamati dan merawat ladang beliau yang terletak di km 25 jalan besar Samarinda - Balikpapan, tepatnya di desa Loa Janan. Di lahan tersebut beliau membududayakan bermacam-macam pohon buah-buahan seperti rambutan,mangga, nangka, sampai durian. Lahan ini memang sudah dipersiapkan dan ditanami oleh bapak Abdullah sebelum masa persiapan pensiunan beliau sebagai Sekda kabupaten Kutai Kertanegara. Alasannya sangat tepat kenapa Bapak dari empat orang anak ini mempersiapkan lahan tersebut. Menurut beliau, lahan tersebut bukanlah sekedar investasi, lebih dari itu, tujuan sebenarnya adalah untuk kegiatan atau kesibukan yang akan beliau jalani nantinya pada masa pensiun. Benar saja, begitu masa itu datang ,Bapak Abdullah langsung menekuni, hobinya sebagai petani. selain lahan kebun tersebut, beliau juga memiliki lahan sawah yang cukup luas. Berbeda dengan orang kebanyakan, Bapak Abdullah tidak mau berdiam diri dirumah sebagai seorang purna bakti. Dan beliau

sangat menikmati kegiatan atau rutinitas yang beliau lakukan. Bapak Abdullah merasa kegiatan ini sangat positif, walaupun dua kali dalam seminggu, harus menempuh perjalan yang cukup jauh untuk sampai ketempat tujuan, tetapi hal itu membuat beliau terasa lebih sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Disamping itu beliau juga rajin berolah raga, seperti melakukan latihan treadmil. Selain menjaga kesahatan fisik, Bapak Abdullah juga tidak pernah lupa memeriksakan kesehatan mata secara rutin, walaupun dalam usia yang sudah lanjut, beliau masih merasakan penglihatan yang bagus dan terang. Kesadaran beliau dalam hal kepedulian terhadap kesehatan mata inilah yang membuat redaksi tertarik untuk mengangkat kisah bapak Abdullah pada edisi ini. Karena kebanyakan dari masyarakat, datang ke dokter mata apabila mereka merasakan ada keluhan pada penglihatan mereka. Bapak Abdullah biasanya datang ke Klinik mata SMEC sekali dalam tiga bulan, dan dari hasil diagnosa, terbukti mata beliau tidak ada mengalami masalah yang serius selain dari Presbiopia ( rabun dekat ) yang pasti dirasakan oleh semua orang pada usia diatas 40 tahun. Sewaktu redaksi memberikan pertanyaan, “ kenapa bapak selalu berobat mata sekali 3 bulan? Apakah ada gangguan yang serius pada mata bapak? Dengan senyum beliau menjawab,” Saya ke SMEC bukan berobat mata, tapi memeriksakan kondisi mata saya, seandainyan ada gangguan, karena mencegah itu lebih baik daripada mengobati” Jawaban yang beliau berikan, membuat tim redaksi sedikit malu, karena redaksi sendiri tidak mengikuti pola hidup seperti yang dilakukan bapak Abdullah. Maka untuk itu, melalui rubrik ini, redaksi ingin menyampaikan kepada pembaca tercinta untuk mengikuti pola seperti yang dilakukan bapak Abdullah. Semoga saja dengan membaca rubrik ini dapat memberi manfaat bagi pembaca. (r.u/l)


Your Vision We Care

Konsultasi dan Solusi Gangguan Penglihatan

Diasuh Oleh : Dr. Herman, SpM ( SMEC Pekanbaru )

Tanya: Tanya: SMEC yang terhormat, Saya seorang mahasiswa berusia 21 tahun. Sewaktu saya di bangku SMP, saya pernah jatuh dari sepeda motor, dan mengalami benturan di kepala sebelah kiri. Setelah itu, saya merasa penglihatan mata kiri saya terasa kabur dibandingkan dengan mata kanan. Dan saya coba membantu dengan memakai kacamata, tetapi hasilnya tetap tidak maksimal. Kira-kira permasalahan mata saya apa ya dokter, dan solusinya bagaimana? Arinda - Dumai Jawab: Arinda di Dumai, dari keterangan yang Arinda sampaikan secara garis besarnya ada beberapa hal yang bisa menyebabkan penglihatan tidak maksimal karena benturan. Salah satunya adalah karena katarak traumatika. Yang kedua terjadinya gangguan saraf mata karena benturan atau Traumatic Optic Neuropathy atau bisa juga terjadinya robekan di retina atau Ablasio Retina. Solusinya adalah Arinda harus menjalani pemeriksaan lengkap baik pemeriksaan dasar ataupun pemeriksaan penunjang. Dari data yang diperoleh barulah bisa diambil kesimpulan untuk penanganan selanjutnya.

Dokter SMEC yang terhormat, Pada tahun 1998 yang lalu saya pernah menjalani operasi katarak di sebuah Rumah Sakit Umum di daerah tempat tinggal saya. Tapi setelah menjalani operasi, saya dianjurkan memakai kacamata dengan ukuran minus 2.50 untuk bisa melihat lebih terang. Dari informasi yang saya dapatkan, di SMEC ada cara penanganan operasi katarak tanpa menggunakan kaca mata setelah operasi. Saya merasa tidak nyaman dengan kacamata yang saya pakai sekarang ini. Saya berumur 65 tahun. Apakah bisa mata saya yang sudah dioperasi ini di perbaiki di SMEC? Thamrin Amir - Dolok Sanggul Jawab: Bapak Thamrin di Dolok Sanggul. Untuk menjawab pertanyaan Bapak, memang harus kita lihat dulu metode operasi katarak yang bapak jalani dulu. Dan yang paling penting adalah, kita harus melihat dulu kondisi dari pada bagian belakang lensa yang dipasangkan lensa tanam ( posterior capsule ) dan juga tempat menggantungkan lensa tersebut ( sulcus). Jika kedua organ tersebut masih bagus, dan organ mata Bapak yang lainnya juga tidak mengalami kelainan, mudah- mudahan bisa dilakukan tindakan ‘secondary IOL implant’ atau mengganti lensa tanam yang sudah dipasang.

Tanya:

Tanya:

Dokter, Saya seorang ibu rumah tangga berumur 52 tahun. Keluhan yang saya alami adalah, mata saya terasa perih apabila terkena angin atau saat berada di ruangan berAC. Dan di bagian yang putih mata saya, terlihat seperti ada daging tumbuh. Apakah itu berbahaya dokter? Kalau memang berbahaya, bagaimana cara mengatasinya?

Dokter SMEC yang terhormat, Saya seorang mahasiswa berusia 22 tahun. Dalam kegiatan sehari-hari saya selalu menggunakan softlens. Belakangan ini saya melihat banyak penjualan softlens melalui media on line. Yang saya tanyakan adalah, apakah produk yang dipasarkan di media on line tersebut aman untuk di gunakan? Apakah ada cara lain yang bisa dilakukan untuk masalah kekaburan yang saya rasakan ini selain dari pada softlens. Teriamakasih atas jawabannya. Nancy - Bekasi

Paulina - Samarinda Jawab: Ibu Paulina, kalau dilihat dari keterangan yang ibu sampaikan, untuk sementara saya bisa mengatakan bahwa ibu mengalami satu penyakit mata yang dinamakan dengan Pterygium. Yaitu tumbuhnya jaringan atau tissue pada selaput bening mata. Keluhan seperti ini biasanya tidak mengganggu ketajaman penglihatan, kecuali jaringan yang tumbuh tersebut sampai menutupi pupil ( manikmanik mata). Tapi secara kosmetik, penyakit ini mengurangi keindahan bola mata, dimana iris ( lingkaran hitam pada mata ) tidak terlihat lagi bulat. Penanganannya yaitu dengan cara extirpasi ( pengangkatan ) Pterygium dan dicangkokan dengan jaringan yang sehat ( graft ) untuk mengantisipasi terjadinya recurrent atau tumbuh kembali.

Jawab: Dek Nancy, Sebetulnyan dokter mata sendiri tidak pernah menganjurkan untuk menggunakan softlens sebagai pengganti kacamata, karena penggunaan softlens yang terus menerus, dapat menyebabkan iritasi permanen pada mata, karena kornea kita kekurangan oksigen dari luar. Kecuali hanya untuk pemakaian sesaat. Mengenai produk softlens yang dipasarkan di media on line, kita tidak dapat menjamin kesterilan dari produk tersebut, sehingga bisa menyebabkan infeksi pada mata. Anjuran saya, pakailah softlens seperlunya dan belilah softlens di tempat yang sudah mendapatkan izin resmi. Untuk pengganti kacamata atau softlens, Dek Nancy bisa menjalani operasi Lasik yang tersedia di SMEC.

Untuk gangguan penglihatan, sampaikan keluhan dan pertanyaan anda pada alamat ini : Facebook : Rumah sakit mata SMEC Email : Twitter : SMS :


Event

Kata Mereka

Dunia serasa bersahabat kembali

puas dengan hasil operasi katarak yang memakai lensa tanam multifokal. Topik ini disampaikan oleh, beberapa pakar bedah refraksi seperti Ahmad Elmassry MD dari Mesir, Daijiro Kurosaka MD dari Jepang dan David Chang dari USA. Lebih dari pada itu, mereka juga membahas tentang cara penangnanan ‘black mata dari cataract’ atau katarak grade 5 dan ‘white cataract’ pada katarak grade 5 yang sering menjadi penyebab gagalnya operasi katarak. Dari RS SMEC diwakili oleh Dr. Beby Parwis,SpM ( SMEC Medan) yang mengahdiri seminar dibidang Glaukoma. Sedangkan seminar yang membahas penemuan baru di bidang refraksi diwakili oleh Dr. Yulizar,SpM ( SMEC Medan ), Dr. M. Yoserizal, SpM ( SMEC Balikpapan dan Dr. Amir Shidik,SpM ( SMEC Jakarta). Di tempat yang lain Dr. Rizafatmi,SpM ( SMEC Medan ) memilih menghadiri seminar tentang rekontruksi, begitu juga dengan Dr. Syntia,SpM( SMEC Jakarta ) hadir pada seminar Nuero ophthalmology. yang terakhir yaitu Dr. Eka Falintina Wati,SpM yang lebih memfokuskan hadir pada acara seminar Retina. Kehadiran dari dokter-dokter SMEC ini adalah salah satu dari bentuk perwujudan bahwa, SMEC akan selalu mengikuti penemuan-penemuan terbaru dan perkembangan teknologi di bidang ilmu mata.

World Ophthalmologist Congress Pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 18.000 dokter 137 negara di seluruh penjuru dunia.

Bapak Azhar A. Ali ( Ketua Perkumpulan Pensiunan Bank Indonesia Balikpapan)

“Apa yang saya takuti selama ini tentang tindakan operasi katarak ternyata tidak terjadi pada saya, dengan metode fakoemulsifikasi yang ada di SMEC, tindakan operasi dilakukan dengan waktu sangat singkat hanya sekitar 15 menit, saya tidak mengalami rasa sakit sedikitpun.”

Penyakit dibetis yang saya alami selama hampir 30

tahun, akhirnya terasa sangat mengganggu penglihatan saya. Penglihatan saya terasa begitu buram, terkadang juga terasa silau. Hal seperti ini juga sangat mengganggu aktivitas rutin saya sebagai Ketua Perkumpulan Pensiunan BI Balikpapan. Walaupun saya sudah menjalani masa pensiun, tapi saya tidak mau menghabiskan waktu saya hanya dengan berdiam diri saja. Selagi saya bisa mengabdi dan dan keberadaan saya masih bermanfaat bagi orang lain, kenapa tidak? Itulah bebrapa kalimat yang disamapikan oleh Bapak Azhar A Ali , yang lebih sering di sapa dengan bapak Azhar, ketika kami kunjungi di kediaman beliau di Jl. Markoni Atas no. 26 Balikpapan. Memang, belakang ini kegiatan beliau agak terganggu

karena penglihatan beliau yang makin lama-semakin kabur, terutama pada saat meminpin rapat dan pada saat menulis ataupun membaca. Pada saat beliau mengetahui, sudah adanya satu center mata yang lengkap di kota Balikpapan, beliau mencoba untuk berkonsultasi dengan salah satu dokter mata disana, dan dari hasil pemeriksaan, ternyata mata beliau di diagnosa menderita katarak dan Retinopati Diabetic. Dan disarankan untuk menjalani tindakan operasi katarak dan laser PRP. Tapi pada saat itu beliau agak takut dan kurang percaya dengan kemampuan dokter yang ada di SMEC, dan bahkan beliau meminta untuk dirujukan ke center mata di Jakarta. Seminggu kemudian, beliau mendapatkan informasi bahwa kakak kandung beliau sudah menjalani tindakan operasi katarak di Kilnik mata

SMEC. Tertarik akan hal itu, akhirnya beliau juga meminta keluhan yang beliau rasakan untuk ditangani di SMEC. Bebera hari setaelah menjalani operasi, beliau berkata,” Apa yang saya takuti selama ini tentang tindakan operasi katarak ternyata tidak terjadi pada saya, dengan metode fakoemulsifikasi yang ada di SMEC, tindakan operasi dilakukan dengan waktu sangat singkat hanya sekitar 15 menit, saya tidak mengalami rasa sakit sedikitpun. Dengan peralata-peralatan canggih yang mereka miliki, ditambah dengan pelayanan yang sangat ramah, membuat sya berani dan membatalkan niat saya untuk berobat ke Jakata. Alhamdulillah, sekarang saya sudah dapat beraktifitas kembali seperti biasa, dan dalam waktu dekat saya juga akan meminta supaya mata kiri saya juga dioperasi.

S

alah satu event yang terbesar bagi para dokter mata di tahun ini yaitu WOC (World Ophthalmologist Congres) ke 34 atau pertemuan dokter mata seluruh dunia. Event yang diselenggarakan dua tahun sekali ini , mengambil tempat di Negara Matahari Terbit Jepang, tepatnya di Tokyo International Forum dan Imperial Hotel. Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan ilmu mata seperti seminar, presentasi, program pendidikan spesialis mata dan lainnya di sajikan di negeri Sakura ini mulai dari tanggal 2 sampai 6 April 2014.

Pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 18.000 dokter mata dari 137 negara di seluruh penjuru dunia. Pada hari pertama tanggal 2 April acara diselenggarakan di Tokyo International Forum dan dihadiri langsung oleh tamu kehormatan Putra Mahkota Naruhito. Penyelenggaraan WOC ini bersamaan dengan pertemuan APAO ( Asia Pasific Academy of Ophthalmology) ke 29 dan JOS ( Japanese Ophthalmology Society ) yang ke 118. Bebarapa hal yang menarik yang dikupas pada pertemuan akbar ini antara lain adanya kontroversi pemasangan lensa tanam pada bayi yang mengalami katarak (congenital) atau bawaan dari lahir yang disampaikan oleh Sachiko Nishina MD dari Jepang, dilanjutkan oleh Ken K. Nischal MD dari USA membahas transplantasi kornea pada bayi adalah pekerjaan yang sia-sia. Sementara di Imperial Hotel ,seminar difokuskan pada tatalaksana operasi katarak, khususnya bagaimana memberikan solusi kepada pasien yang tidak


Technology

We are a team

OCT

( Ophthalmic Coherence Tomography ) “ Menampilkan kondisi pada setiap lapisan retina, seperti adanya peradangan, kebocoran , robekan,pembengkakan bahkan lapisan retina yang lepas “

O

CT atau Ophthalmic Coherence Tophography adalah alat atau mesin yang digunakan untuk mendapatkan kondisi retina dan papil. Dengan menggunakan gelombang, alat ini dapat menembus sampai kebagian paling belakang bola mata. Dari data dan gambar yang ditampilkan pada layar monitor, akan menjadi mudah bagi dokter untuk menegakkan se-

buah diagnosa,

dan melakukan penanganan selanjutnya. Mesin OCT terutama digunakan untuk mengetahui kelainan pada papil dan macula (sentral retina ) pada saat pemeriksaan, layar monitor akan langsung menampilkan kondisi pada setiap lapisan retina, seperti adanya peradangan, kebocoran , robekan,pembengkakan bahkan lapisan retina yang lepas juga akan terlihat. Mesin OCT juga memperlihatkan bagian saraf-saraf mata yang mengalami kelainan, sehingga dokter bisa memprediksi apa yang mungkin terjadi beberapa tahun kemudian apabila kondisi tersebut tidak cepat diatasi. OCT sudah mulai dipergunakan di SMEC sejak tahun 2010. Di Inonesia sendiri, tidak banyak klinik atau center mata yang menggunakan mesin OCT. Salah satu yang menjadikan SMEC sebagai pusat rujukan dokter-dokter mata adalah karena tersedianya mesin OCT di SMEC. Mesin ini juga sangat membantu dokter mata pada saat akan melakukan tindakan operasi refraksi atau yang berhubungan dengan ketajaman penglihatan, sperti operasi katarak atau lasik. Karena, dari data yang didapat dokter bisa menyimpulkan apakah,

operasi refraksi yang akan dilakukan tersebut bisa memberikan hasil yang maksimal atau tidak, karena adanya gambaran dari kondisi segment posterior atau bagian belakang bola mata. Apabila kelaianan tidak terdapat pada segmen posterior, maka tindakan operasi refraksi dapat dilakukan. Dan apbila terlihat kelainan, dokter akan memberitahukan prognosa atau prediksi dari hasil pasca operasi, sehingga pasien tidak akan merasa kecewa apabila hasil yang didapat sesuai dengan prediksi sebelum tindakan operasi dilakukan. Sebagai contoh pada gambar yang di tampilkan pada halaman ini, mata pasien mengalami katarak. Tapi selain itu pasien juga mengalami pembengkakan pada retina. Apabila dilakukan tindakan operasi katarak, maka hasilnya tidak akan maksimal seperti pada pasien yang tidak mengalami gangguan retina. Setelah pembuangan katarak, memang pasien akan merasa lebih terang, tapi tetap tidak maksimal. hasil yang tidak maksimal tersebut bukan dikarenakan kesalahan pada operasi kataraknya, tapi karena ada komplikasi yang lainnya.


Let’s Know

Diabetik Retinopati

Penglihatan Mata Normal

D

iabetes militus ( DM ) atau kencing manis di-

derita hampir 170 juta penduduk di seluruh dunia dan diperkirakan pada tahun 2030 mencapai 366 juta penduduk dengan jumlah terbanyak di negara - negara berkembang. Diabetes mempengaruhi hampir seluruh badan, termasuk mata, Komplikasi pada mata yang tersering dan yang paling mengancam penglihatan adalah Retinopati diabetika, yang dapat menyebabkan penurunan penglihatan dan bahkan kebutaan. Lebih dari 75 persen penderita DM selama lebih 20 tahun akan mengalami komplikasi tersebut diatas. Pada retinopati diabetika pembuluh darah kecil (kapiler) yang memberi oksigen dan nutrisi pada syaraf mata (retina) rusak sehingga terjadi kebocoran (keluarnya cairan/darah) dan pembuntuan pembuluh darah kapiler tersebut. Retina adalah lapisan sel syaraf-syaraf mata yang melapisi dinding dalam bola mata yang

Penglihatan Mata dengan Diabetik

mengandung jutaan sel fotoreseptor. Sel ini berfungsi menerima cahaya untuk di proses oleh sel-sel neuron dan kemudian diteruskan ke otak untuk diubah menjadi persepsi penglihatan. Ada dua jenis retinopati diabetika, pertama adalah Retinopati Diabetika Nonproliferatif (NPDR) dimana pembuluh darah kecil retina mengalami kebocoran menyebabkan pembengkakan retina, penimbunan lemak dan protein. Penglihatan biasanya tidak terganggu, tetapi pada beberapa kasus, cairan yang bocor mengumpul di makula, yaitu bagian pusat retina yang berfungsi sebagai penglihatan sentral sehingga menyebabkan keluhan kabur. Kedua adalah Retinopati Diabetika Proliferatif (PDR). Keadaan ini timbul seperti retinopati non proliteratif disertai munculnya pembuluh darah baru.

Pembuluh darah baru yang rapuh ini mudah pecah dan menimbulkan pendarahan dalam mata dan menyebabkan penurunan penglihatan mendadak. pembuluh darah bahkan bisa muncul di iris dan menyebabkan terjadi peningkatan tekanan bola mata ( Glaukoma ) sehingga mata terasa nyeri. Keadaan ini dapat mengakibatkan penurunan penglihatan berat, bahkan sampai kebutaan Retinopati yang ditemukan pada

stadium dini sering kali tidak memerlukan terapi tetapi cukup dengan pengawasan secara berkala dan kontrol kadar gula darah, tekanan darah dan kadar kolesterol darah. Pengobatan dianjurkan untuk menghentikan proses kerusakan retina dan bila mungkin memperbaiki tajam penglihatan dengan tindakan laser fotokoagulasi. Laser fotokoagulasi bertujuan untuk menutup pembuluh darah baru dan mencegah kerusakan retina lebih lanjut (mempertahankan penglihatan, mencegah kebutaan). Dilakukan dalam beberapa kali pertemuan untuk mencapai jumlah tembakan yang cukup. Efek samping terapi laser dalam jumlah banyak antara lain silau, penurunan tajam penglihatan, penyempitan lapang pandang, dan kesulitan dalam melihat pada malam hari. Umumnya efek samping ini akan berkurang setelah beberapa waktu. Retinopati diabetika yang sudah lanjut yang tidak ditangani dengan laser hampir selalu berakhir dengan kehilangan penglihatan yang berat. Bila terjadi pendarahan vitreus dimana laser tidak dapat dilakukan tembus, maka diperlukan tindakan Operasi Vitrektomi untuk menghilangkan pendarahan tersebut Umumnya efek samping ini akan berkurang setelah beberapa waktu. Retinopati diabetika yang sudah lanjut yang tidak ditangani dengan laser hampir selalu berakhir dengan kehilangan penglihatan yang berat. Bila terjadi pendarahan vitreus dimana laser tidak dapat dilakukan tembus, maka diperlukan tindakan Operasi Vitrektomi untuk menghilangkan pendarahan tersebut

UPAYA MEMPERLAMBAT PERJALANAN PENYAKIT * Regulasi Kadar Gula Darah Mempertahankan kadar gula darah senormal mungkin idealnya kadar gula darah puasa diantara 90-120 mg/dl dan kadar gula darah 2 j setelah makan < 180 mg.dl, HbA1C merupakan gambaran kontrol gula darah dalam 3 bulan terakhir. Obat - obatan, diet ( Konsumsi makanan ) ,dan olah raga rutin sesuai anjuran dari dokter penyakit dalam (endokrin ). * Kontrol Tekanan Darah Tekanan darah tinggi akan mempercepat pregresivitas retinopat diabetik. * Kontrol Kolesterol Kadar lemak darah yang tinggi berhubungan dengan peningkatan resiko kehilangan penglihatan pada retinopati diabetik. * Hentikan Merokok Rokok menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga akan merangsang pembuntuan

pembuluh darah. * Waspada Terahadap Perubahan Penglihatan Segera ke dokter spesialis mata bila terdapat perubahan penglihatan mendadak, seperti kabur, bayangan titik-titik hitam, dan nyeri pada mata.

INGAT... * Kerusakan syaraf mata ( Retina ) pada penderita kencing manis terjadi perlahan - lahan dan sering kali tanpa disertai keluhan kabur atau nyeri. Kerusakan syaraf mata terjadi permanen dan memnyebabkan Kebutaan. * Pemeriksaan berkala oleh dokter mata untuk pemeriksaan syaraf mata dan pengobatan yang sesuai seperti kontrol gula darah dan laser fotokoagulasi retina dapat mencegah kebutaan.


Multi News khatam Al-Qur’an yang diadakan sekali satu tahun, untuk murid-murid mengaji yang telah menamatkan bacaan Al-Qur’an. Sebagian penduduk, terutama para remaja, sudah mulai menghiasi masjid, mendekorasi, ‘gaba-gaba’ atau gapura dan sebagian yang lainnya berangkat ke hutan untuk mencari buah nangka muda dan rebung ( tunas mambu ) yang nantinya akan dijadikan sayur . Karena puncak acara akan diselenggarakan pada hari Minggunya, maka team

bincang dengan kepala dusun Pilubang yaitu Bapak Yondisman atau yang akrab disapa Mak Yon. Mak Yon menceritakan bahwa perayaan khatam Al- Qur’an tahun ini adalah yang 56. Berarti kebiasaan ini sudah dimulai sejak tahun 1957. Pada keesokan harinya ,pada hari Sabtu, terlihat beberapa penduduk berbondongbondong datang ke Masjid, lengkap dengan senjata tajam. Ternyata mereka akan memotong lembu yang akan di masak untuk perayaan tersebut. Ada tiga ekor lembu

‘kenagarian ‘ yaitu kenagarian Biaro Gadang. System pemerintahan Kenagarian ini cuma ada di Sumatera Barat. Jadi setelah jabatan Camat, di bawahnya ada yang menjabat sebagai ‘ Wali Nagari’ yang mengepalai beberapa dusun( desa ). Beberapa bulan sebelum perayaan, undangan juga di masyarakat yang tinggal diperantauan, sekaligus untuk meminta sumbangan dana perayaan, baik berupa uang maupun benda.

redaksi menumpang untuk bermalam di rumah Alamos. Suhu udara di desa Pilubang cukup dingin, apalagi pada malam hari pada saat team di ajak Almos untuk minum di kedai kopi. Pada umumnya penduduk memakai kain sarung yang dililitkan di leher atau ditutupkan kebadan untuk melawan hawa dingin. Disana kedai kopi tersebut team sempat berbincang

dan dua ekor kambing yang di potong pada hari itu. Betulbetul pesta besar,!!. Dan pada sore harinya langsung dimasak secara bergotong royong dengan satu komando ‘kepala dapur.’ Dua hari sebelum puncak acara penyelenggaraan, undangan sudah di sebar melalui pengumuman sebelum shalat Jum,at di lima desa tetangga. kelima desa tersebut tergabung dalam satu

ramai, para remaja desa tersebut berkumpul di masjid. hadiah- hadiah yang sudah terkumpul, baik yang didapat dari penduduk desa itu sendiri ataupun yang dari rantau di bagikan kedalam bentuk- bentuk paket, yang nantinya akan dibagikan untuk anak-anak yang ikut dalam perlombaan khatam Al-Qur’an. Yang paling menearik

Pada malam hari setelah shalat Isya, suasana semakin

Semaraknya Perayaan Khatam

P

Al- Qur’an di Kenagarian Biaro Gadang

erjalanan yang begitu jauh terasa terobati pada saat pertama team SMEC Realita melihat dua bendera ‘marawa’ telah berdiri megah setinggi 15 meter,yang seolah olah menjadi gapura selamat untuk memsuki desa tersebut. Dan juga terlihat bebarapa orang penduduk yang merasa asing melihat kedatangan team. Desa itu adalah Desa Pilubang yang

terletak di Kecamatan IV Angkat Kabupaten Agam Sumatera Barat atau sekitar 5 Km dari kota Bukittinggi menuju Payakumbuh atau sekitar 4,5 jam perjalanan darat dari SMEC Pekanbaru. Bendera marawa adalah bendera kebesaran masyarakat Minang Kabau, yang terdiri dari tiga warna; merah,hitam dan kuning. ketiga warna tersebut mewakili tiga luhak yang ada di daerah Minangkabau yaitu Luhak Tanah Datar yang memiliki warna kuning, Luhak Agam dengan warna merah dan Lima

puluh Kota dengan warna hitam. Selain dua bendera marawa yang berdiri megah tersebut, bendera marawa lainnya dengan ukuran setinggi 2,5 meter juga didirikan berjejer sepanjang jalan menuju Masjid. Ya, tandanya akan ada perayaan di desa tersebut. Hari itu Jum’at tanggal 10 Agustus 2013, tiga hari setelah hari Raya Idul Fitri 1433 H. team redaksi memasuki desa Pilubang pada pukl 15.00, dan kebetulan salah satu dari team mempunyai seorang sahabat yang tinggal di desa tersebut yang bernama Almos. Almos mengajak kami jalan- jalan berkeliling kampung Pilubang sambil melihat persiapan penduduk setempat untuk kegiatan suatu perayaan. Perayaan itu ialah perayaan


Multi News nantikan oleh masyarakat perantau. Meraka yang selama ini berjauhan, tapi pada malam itu mereka berjumpa dalam satu hidangan. Seperti yang dirasakan oleh team yan g ikut pada perhelatan tersebut, waktu itu team SMEC Realita bergabung dengan perantau yang datang dari Pekan Baru, dari Medan, Jakarta dan team redaksi sendiri dari Balikpapan. Pada hari puncak pelaksanaan, sekitar pukul 07.30, penduduk sudah berduyun- duyun ke tempat pelaksanaan kegiatan yang tidak begitu jauh dari masjid. Pagi itu adalah acara pelepasan karnaval yang akan mengarak anak- anak yang akan mengikuti perlombaan menbaca Al-Qur’an. Semua peserta lomba baik yang laki-laki “ Semua peserta lomba baik yang laki-laki maupun maupun peremperempuan di dandani dengan busana bernuansa Arab.” puan di dandani dengan busana bernuansa Arab. Iringan-iringan semarak. Mereka menunggu saat disini adalah kehadiran dari tersebut terdiri dari, pembawa makan malam bersama pada masyarakat dari perantauan bendera, barisan pakaian tradipukul 00.00 yang sudah disediauntuk menghadiri acara ini, sional Minangkabau, Marching kan oleh panitia penyelenggara,. bahkan jumlah mereka melBand, barisan sepeda ontel, baCara mereka makan juga unik. ebihi daripada tradisi pulang risan pasukan berkuda, pencak mereka makan di daun pisang kampung pada waktu lebaran. silat dan sepeda hias dan banyak yang sudah dipotong-potong Dan kebetulan sejak 10 tahun lagi barisan-barisan lainnya yang belakangan ini, perayaan khatam sebesar kertas pembungkus nasi panjangnya mencapai sekitar untuk ukuran setengah lebar kerAl-Qur’an ini diselenggarakan tas koran. kemudian nasi beserta 400 m. Dan pagi itu hampir beriringan dengan hari raya Idul semua penduduk yang berjumdaging lembu yang sudah dimaFitri. sak dari siang tadi di tumpahkan lah sekitar 400 KK keluar untuk Sekitar pukul 22.20, penduduk menghadiri pelepasan karnaval ke daun tersebut. Satu hidangan yang datang dari perantauan tersebut. Mulai dari anaka-anak, daun di tempati oleh 4 orang, bergerak menuju ke masjid, remaja, sampai orang-orang tua, saat itulah yangaling dinantisehingga suasana bertambah

tidak luput dalam kegembiraan. Setelah mendengarkan pengarahan dari bapak Camat, dan pembacaan do’a, sekitar pukul 08.30 rpmbongan mulai bergerak meninggalkan lokasi. Mereka akan berjalan mengelilingi lima desa tetangga lainnya. SEmentara rombingan barisan sedang dalam perjalanan, para ibu-ibu dikampung tersebut sudah mulai berangkat ke masjid membawa nasi putih yang ditempatkan didalam panci, kemudian dibungkus dengan kain, sambil mereka junjung di atas kepala. Sedangkan untuk lauknya sudah dipersiapkan di salah satu ruangan di mesjid, yang cukup untuk memberi makan untuk 2000 orang. Sekitar pukul 11.00 siang, para ibu- ibu yang tinggal di desa Pilubang atau yang datang dari perantauan mendapat antrian pertama untuk menikmati makan siang, sebelum rombongan karvanval, kembali ke lokasi acara. Baru sekitar jam 12.00, begitu

rombongan sudah kembali dari perjalanan mereka, semua penduduk kampung datamg ke lokasi masjid untuk kembali makan bersama. Caranyapun sama seperti cara mereka makan, pada malam sebelumnya, satu hidangan untuk empat orang. Waktu makan siang dibatasi sampai pukul 13.00, karena masjid akan dipakai untukefunaikan shalat dzuhur. Khusus untuk anak-anak yang akan mengikuti perlombaan, mereka disediakan tempat khusus di salah satu rumah penduduk. Pada jam 13.00, sebagian penduduk pulang ke rumah dan sebagian lagi masih tinggal di masjid. Karena, pada pukul 15.00 acara perlombaan baca Al-Qur’an akan dimulai.

Ada sekitar 23 anak yang ikut pada perlombaan tersebut. Sekitar pukul 17.30, semua perserta sudah mendapatkan gilirannya, untuk tampil dan juri langsung mengumumkan

pemenang pada saat itu juga. pemenangnya dibagi menjadi, juara III putra dan putri, juara II putra dan putri, juara I putra dan putri dan juara ‘pamuncak’ atau juara umum. Dan menjelang maghrib semua yang hadir kembali kerumah masing-masing. Pada malam harinya, setelah shalat Isya, masyarakat kembali berkumpul di masjid, termasuk semua perserta lomba. Kehadiran mereka yaitu untuk menunggu pembagian hadiah yang sudah disediakan oleh panitia, setelah mendengarkan ceramah agama. Begitulah acara demi acara yang redaksi ikuti selama berada di desa Pilubang. Ingin rasa nya, kembali ke desa tersebut pada perayaan tahun berikutnya.


Smec magazine