Page 1


In s p i r a s i 2

Dinamika

Bondowoso

Suasana komplek pertanian milik Buharto di Desa Karang Melok Tamanan. (Photo : Gigih Hendra)

Buharto Kukuhkan Potensi Organik Bondowoso di Tingkat Nasional K

euletan dan kegigihan Buharto, petani asal Desa Karang Melok Tamanan, menekuni pertanian organik membuahkan hasil. Pria ini terpilih sebagai juara I pemilihan petani teladan JawaTimur 2013. Dengan demikian, pria ini berhak mewakili provinsi Jawa Timur ke ajang lomba yang lebih tinggi. Yakni, pemilihan petani teladan tingkat nasional 2013. “Setelah menjuarai lomba pemilihan petani teladan tingkat kabupaten, Buharto memang mewakili Kabupaten Bondowoso dalam pemilihan petani teladan tingkat Provinsi Jawa Timur. Ternyata, di tingkat provinsi, Buharto kembali terpilih sebagai petani teladan tingkat provinsi,” kata Kepala Dinas Pertanian Bondowoso, Ir. Wahyudi Triatmadji. Menurut Wahyudi Triatmadji, dengan terpilihnya Buharto sebagai petani teladan tingkat provinsi maka dia berhak mewakili Provinsi Jawa Timur dalam pemilihan petani teladan tingkat nasional 2013. Karena itu, dalam waktu dekat, pria ini akan dinilai oleh tim penilai lomba petani tingkat nasional. Buharto adalah sosok petani Bondowoso yang sukses mengembangkan pertanian organik sejak beberapa tahun lalu. Bersama Kelompok Tani Karya Tani 2 Karang Melok, pria kelahiran 9 September 1971 ini mengembangkan pertanian organik di persawahan setempat. Awalnya, alumnus Madrasah Aliyah Negeri tahun 1990 ini dianggap ‘gila’ o l e h petani setempat

• Wakili Jawa Timur Dalam Pemilihan Petani Teladan karena menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk pertaniannya. Namun, pria ini tetap tekun menggunakan pupuk organik. “Ya, terus terang saja, dulu, saya sering mendapat penilaian yang tidak sedap dari para petani. Saya kerap dianggap kurang waras karena menggunakan pupuk organik di lahan pertanian saya,” tutur Buharto. Namun, tambah Buharto, penilaian miring tersebut semakin memacu semangatnya untuk mengembangkan pertanian organik. Karena itu, dia terus mengembangkan pertanian organik. “Saya yakin, Tuhan itu menciptakan segala sesuatunya dengan seimbang. Karena itu, jika Tuhan menciptakan hama penyakit, pasti Tuhan juga menciptakan penangkalnya dari alam itu sendiri. Kalau sudah begitu, untuk apa kita menggunakan pupuk kimia dan obat-obatan kimia juga? Kenapa kita tidak menangkal serangan hama penyakit itu secara alamiah juga? Pertanian organik itu sunnatullah!” Berbekal keyakinan tersebut, ketua kelompok tani yang beranggotakan 35 orang ini ini terus melakukan uji coba pertanian organik. Selain itu, pria ini juga melakukan serangkaian uji coba penanganan serangan hama dan berbagai kendala lainnya secara natural. Pria ini terus menekuni pertanian organik! Hasilnya? Dari serangkaian uji coba tersebut, Buharto ternyata membuktikan bahwa pertanian organik mendatangkan nilai tambah yang luar biasa. Selain itu, Buharto juga membuktikan bahwa ‘profesi’ petani yang dige-

Susunan Redaksi Pembina : Bupati Bondowoso Penanggung Jawab : Sekretaris Daerah Bondowoso Pengarah : Kabag. Humas & PDE Pimpinan Redaksi : Kasubag. PDE & Pemberitaan

lutinya bukan ‘profesi’ yang remeh temeh. “Menjadi petani itu membanggakan. Petani itu tidak akan hidup susah,” kata Buharto. Kok? Buharto mengisahkan bahwa dengan pertanian organik yang digelutinya, dia bisa meningkatkan kesejahteraannya. Bagaimana tidak, dari per hektar lahan pertaniannya, Buharto bisa menangguk 12 ton. Bahkan, dengan pertanian organik, dia pernah menghasilkan produksi padinya sebanyak 15 ton per hektar. “Padahal, jika menggunakan pupuk anorganik, saya hanya bisa memanen padi antara 4 sampai 5 ton per hektar.” Selain itu, Buharto menjelaskan bahwa dengan sistim pertanian organik maka kerusakan lingkungan juga bisa dieliminir. Selain itu, ongkos produksi pertanian juga menjadi lebih murah. Karena, penggunaan zat-zat kimia akan berkurang. Karena itu, saat ini, pria ini terus mengembangkan pertanian organik dengan pola hulu ke hilir. Di kawasan lahan pertanian yang dikembangkannya, terdapat Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO), penggilingan padi, lantai jemur, lumbung pangan. “Peralatan itu ada yang dibeli sendiri namun banyak pula bantuan sarana dan prasarana dari Pemkab Bondowoso terutama Dinas Pertanian.”

Redaktur Eksekutif : Prima Yewe Staf Redaksi : Gigih Hendra Fotografer : Mohadi Dhany Nurcahyo Design Layout : Hari Utomo

Buharto menutup perbincangannya dengan menyatakan bahwa dirinya bersama Kelompok taninya akan terus mengembangkan pertanian organik yang dikelolanya. Bahkan dia menuturkan tentang obsesinya bahwa dia juga akan membuat pabrik pakan ternak (sapi) dan pakan ternak (ikan) di atas lahan kawasan pertanian yang sekaligus menjadi laboratoriumnya. Selain itu, dia juga bercita-cita mendirikan ‘sekolah’ pertanian organik di tempat tersebut. Soal status petani teladan yang disandangnya, pria ini hanya berujar singkat. “Memberikan manfaat kepada orang lain (petani) itu lebih bermakna dibandingkan penghargaan apa pun,” kata Buharto. Buharto benar. Mari menjadi khalifahNya yang memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada sekalian alam.(kiki/yewe)

Buharto. (Photo : Gigih Hendra)

Edi Suwito Tri “kenthir” Sugianto Alamat Redaksi : Jl. Letnan Karsono No.47 Bondowoso Diterbitkan Oleh : Bagian Humas & PDE Sekretariat Daerah Bondowoso


Dinamika

In s p i r a s i 3 Bondowoso

• Bupati Amin Said Husni Tanam Perdana Padi Organik

Bondowoso Akan Mengekspor Padi Organik

Bupati Amin Said Husni saat menyerahkan mesin perontok padi kepada Gapoktan.

Bupati Amin Said Husni ketika melakukan penanaman perdana padi organik di Wonosari. (Photo : Humas Pemkab Bondowoso)

Hasil uji coba ini akan disertifikasi sebagai beras organik dan akan diupayakan untuk bisa dipasarkan ke seluruh daerah. Bahkan, ekspor ke luar negeri. Kami juga sedang merintis pasar di luar negeri supaya produk padi organik Bondowoso bisa diekspor,

Wahyudi Triatmadji

H

anya berselang beberapa tahun sejak dicanangkan oleh Bupati Amin Said Husni tahun 2009 lalu, Gerakan Bondowoso Menuju Pertanian Organik atau lazim disebut Botanik tampaknya bakal membuahkan hasil yang cemerlang. Setelah bersertifikat, Bondowoso akan mengekspor beras organik ke negara-negara seperti Timur tengah, Eropa dan Amerika. Saat ini, Bondowoso sedang

mengembangkan produksi beras organik di Desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari. Pengembangan beras organik ini ditandai dengan penanaman perdana padi organik melalui kegiatan Sekolah Lapang Pengembangan Pupuk Organik (SL PPO) oleh Bupati Amin Said Husni di Desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari. Penanaman padi organik ini dilakukan untuk memperoleh pen-

gakuan (sertifikat) beras organik dari lembaga terkait. Karena itu, sistim penanamannya dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pertanian Organik. “Uji coba penanaman padi organik ini dimulai dengan pembentukan kluster untuk memproduksi beras organik murni yang bersertifikasi. Jadi dari hulu sampai hilirnya itu sudah betul-betul full organik. Ini merupakan rangkaian akhir dari gerakan Botanik yang kita harapkan sejak tahun 2009 sampai 2013,” ujar Bupati Amin Said Husni. Menurut Bupati Amin Said Husni, pengembangan padi organik ini dilakukan dengan bekerja sama dengan Perguruan Tinggi yang mengembangkan pertanian organik. Ihwal pengembangan padi organik ini, Kepala Dinas Pertanian Bondowoso, Ir. Wahyudi Triatmadji menyatakan bahwa dirinya akan melibatkan petani terlatih dalam pelaksanaan SL PPO ini. “Nanti, kami akan mendatangkan petani dari Tasikmalaya Jawa Barat yang berhasil mengekspor padi untuk melakukan pembinaan dan pelatihan di sini. Yang terpenting pertama adalah beras organik kita harus bersertifikat. Untuk pasar, menyusul,” kata Wahyudi Triatmadji. Menurut Wahyudi Triatmadji, pengembangan padi organik ini mer-

upakan rangkaian terakhir dari gerakan Botanik sesuai dengan road map Gerakan Botanik. “Hasil uji coba ini akan disertifikasi sebagai beras organik dan akan diupayakan untuk bisa dipasarkan ke seluruh daerah. Bahkan, ekspor ke luar negeri. Kami juga sedang merintis pasar di luar negeri supaya produk padi organik Bondowoso bisa diekspor, “ jelas Wahyudi Triatmadji. Menurutnya, untuk tahap awal, Dinas Pertanian Bondowoso melaksanakan uji coba (pilot project) penanaman padi organik di lahan seluas 25 hektar di Desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari. “Jika berhasil maka pola tanam organik ini akan diluaskan dan diratakan.” Desa Lombok kulon dipilih sebagai pilot project karena daerah itu memenuhi persyaratan untuk menghasilkan padi organik. Mulai dari suplai air dan lahan yang betul-betul bebas dari pestisida serta tidak tercemar dengan bahan kimia apapun. Perlakuan terhadap tanaman padi pun benar-benar dilakukan dengan sistim produksi pertanian organik. Nantinya, Pemkab Bondowoso akan mendukung mulai dari penyediaan bibit , pupuk, sampai agensi hayati dan insektisida nabati. (kiki/humas)


In s p i r a s i 4

Dinamika

Bondowoso

Penderita DB Meningkat, Dinkes Aktifkan Jumantik

D

inas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso kembali mengaktifkan juru pantau jentik (jumantik) nyamuk di setiap desa di Bondowoso. Para Jumantik ini memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya pemberantasan sarang nyamuk serta melakukan penyelidikan epidemiologi di tempattempat yang diduga banyak jentik nyamuk. Pengaktifan Jumantik ini dilakukan sehubungan dengan meningkatnya kasus Demam Berdarah (DB) di Kabupaten Bondowoso. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Bondowoso, penderita DB meningkat hampir 100 persen dibanding tahun 2012. Menurut Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Bondowoso, dr. Arif Sudibyo, sepanjang tahun 2012 tercatat 163 penderita DB (5 diantaranya meninggal dunia). Sedangkan di tahun 2013, sejauh ini sudah tercatat 169 kasus demam berdarah. “Memang ada peningkatan dari tahun lalu, sampai Mei ini saja kami sudah menerima ada 169 kasus DB di Bondowoso meski belum ditemukan kasus meninggal dunia,” kata Arif. Dijelaskan oleh Arif bahwa tingginya angka penderita DB di Bondowoso ini disebabkan oleh musim hujan yang masih berlangsung. Sehingga, memberi kesempatan nyamuk Aides Agepty untuk berkembang

biak. “Selain mengaktifkan Jumantik, kami juga melakukan survei jentik untuk mendukung dilakukannya fog-

kasus DB agar bisa segera mendapat penanganan dan pemberantasan nyamuk,” kata Arif. Sementara itu, terkait pen-

Selain mengaktifkan Jumantik, kami juga melakukan survei jentik untuk mendukung dilakukannya fogging pada area 200 meter kanan kiri dari lokasi penderita DB,

dr. Arif Sudibyo ging pada area 200 meter kanan kiri dari lokasi penderita DB,” ungkap Arif. Dinas Kesehatan Bondowoso juga mengimbau masyarakat Bondowoso untuk melakukan gerakan kebersihan di lingkungan masing-masing. Terutama, mengaktifkan gerakan 3M+. Yaitu, Menguras, Mengubur, dan Menutup tempat penampungan air yang berpotensi menjadi tempat jentik berkembang biak serta menggunakan obat anti nyamuk. “Kami juga meminta masyarakat untuk melapor ke puskesmas terdekat bila menemukan

anganan wabah difteri, Dinas Kesehatan Bondowoso secara serentak melaksanakan Kegiatan Sub PIN Difteri. Ini merupakan pemberian imunisasi putaran kedua setelah sebelumnya dilakukan pada November 2012. Menurut Arif, tujuan kegiatan Sub PIN difteri ini adalah untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit difteri pada anak umur di bawah 15 tahun dan untuk memutus mata rantai penularan penyakit difteri. Sasaran dari kegiatan Sub PIN Difteri ini adalah bayi usia 2 bulan s/d 36 bulan , anak usia 3 tahun s/d 7

tahun, dan anak usia 7 tahun s/d 15 tahun. “Kegiatan pada putaran 2 ini dilaksanakan selama 4 minggu di lokasi atau tempat tempat khusus seperti, sekolah, pondok pesantren, maupun yayasan,” jelas Arif. “Pada tahun 2013, kasus difteri yang ada di Bondowoso sebanyak 4 kasus. Namun, alhamdullilah, sampai Mei ini, tidak ada kasus kematian akibat difteri,” jelas Arif Sudibyo. Seperti diketahui, pada tahun 2011 lalu, Provinsi Jawa Timur dinyatakan KLB Wabah Difteri oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim. Karena, terdapat 665 kasus difteri dengan 20 kematian. Sedangkan di Bondowoso , pada tahun 2011, tercatat sebanyak 46 kasus difteri dengan 3 kematian dan tahun 2012 tercatat 19 kasus dengan 1 kematian. Sekadar untuk diketahui, penyakit difteri adalah penyakit berbahaya. Selain sangat menular juga bisa menimbulkan kesakitan dan kematian. Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae dengan gejala demam tinggi, nyeri telan, pusing dan terlihat selaput putih di tenggorokan dimana selaput putih tersebut dapat menutupi tengorokan dan akhirnya menghambat jalan nafas. Selanjutnya, racun dari bakteri difteri dapat menyebar ke seluruh tubuh dan dapat menyebabkan gagal jantung, gagal ginjal dan kelumpuhan.(kiki/dinkes)

Petugas sedang melakukan fogging atau pengasapan di komplek perumahan warga. (Photo : Ist)


Dinamika

In s p i r a s i 5 Bondowoso

Dikenal Santun, Tenaga Kerja Bondowoso Semakin Diminati Jepang

N

egeri Sakura Jepang semakin meminati tenaga kerja asal Bondowoso. Terbukti, permintaan terhadap tenaga kerja asal Bondowoso semakin meningkat. Peningkatan permintaan tenaga kerja asal Bondowoso ini disebabkan karena kinerja para pekerja Bondowoso dinilai baik. Saat ini, 5 tenaga kerja Bondowoso sedang mengikuti seleksi rekrutmen tenaga kerja untuk ditempatkan di negeri berjuluk Matahari Terbit tersebut. Perusaaan Jepang meminta 30 tenaga kerja asal Bondowoso. Sebelumnya, pada tahun 2010 lalu, dua tenaga terampil asal Bondowoso, Hariyansyah, warga Desa Cindogo Kecamatan Tapen, dan Samsul Arifin, warga Dusun Kluncing Desa Sukorejo Kecamatan Sumber Wringin, (keduanya alumnus SPMAN Bondowoso tahun 2010) diberangkatkan ke Jepang. Mereka menjadi peserta magang di PT A & F, perusahaan yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan, di Kawaminami, sebuah kota yang terletak di Distrik Koyu Provinsi Miyazaki. Meskipun mereka menjadi peserta magang namun mereka tetap diberi gaji yang cukup besar. Selain itu, mereka juga bisa mentransfer manajemen dan teknologi pertanian di Jepang. “Selain dikenal santun, sopan

dan berdedikasi baik, tenaga kerja asal Bondowoso dikenal tidak nekoneko. Karena itu, pekerja asal Bondowoso disukai perusahaan Jepang,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bondowoso, Ir. H. Kukuh Triyatmoko MM. Menurut Kukuh Triyatmoko, sejak penempatan kedua tenaga kerja asal Bondowoso itu, permintaan terhadap tenaga kerja Bondowoso meningkat. “Pokoknya, tenaga kerja Bondowoso. Begitulah permintaan dari perusahaan Jepang. Padahal, negeri Srilangka dan Laos juga menempatkan tenaga kerjanya.” Sementara itu, Kepala Bidang Pelatihan Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja (P3KK) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bondowoso, Asep T. Herjadi, menjelaskan bahwa penempatan kedua tenaga kerja asal Bondowoso di Negeri Sakura telah membawa perubahan besar bagi kesejahteraan kedua tenaga kerja tersebut. “Penempatan kedua tenaga kerja itu memang membawa perubahan besar bagi kesejahteraan keduanya. Dari pemantauan kami diketahui bahwa mereka telah memiliki tabungan, sedikitnya, senilai 200 juta rupiah. Padahal, mereka belum pulang ke Indonesia. Kalau punya tabungan senilai itu, masuk sejahtera

atau tidak?” kata Asep T. Herjadi. Saat ini, jelas Asep, Bondowoso kembali menyiapkan tenaga kerja untuk ditempatkan di Jepang. “Mereka masih mengikuti seleksi di Jakarta. Termasuk mengikuti pengenalan budaya masyarakat Jepang. Pengenalan budaya Jepang ini sangat penting dikenali tenaga kerja Bondowoso agar mereka tidak mengalami benturan-benturan budaya.” Sekadar diketahui, Pemkab Bondowoso melakukan kerja sama dengan Japan Indonesia Association For Economy Cooperation (JIAEC) melalui penempatan tenaga kerja sebagai tenaga trainee (peserta magang) di Jepang serta pengembangan inovasi di bidang pertanian. Penempatan tenaga kerja ini merupakan realisasi dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Bupati Bondowoso, Drs. H. Amin Said Husni, dengan President Director Japan Indonesia Association For Economy Cooperation (JIAEC). Nota kesepahaman ditandatangani setelah Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia (PSJ UI) Jakarta melakukan observasi (survey) tentang potensi Bondowoso di bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan pariwisata. Dengan kerja sama tersebut, tenaga terampil Bondowoso direkrut

sebagai peserta magang pada beberapa perusahaan di Jepang dengan sistim kontrak selama 3 (tiga) tahun. Dalam kerja sama tersebut, JIAEC berperan sebagai konsultan bagi perusahaan Jepang yang hendak menjalin hubungan kerjasama perekonomian dengan perusahaan Indonesia. Diantaranya, melalui alih teknologi dalam bentuk penerimaan peserta magang Indonesia yang akan ditempatkan pada beberapa perusahaan di Jepang. Dalam 35 tahun terakhir, JIAEC telah mengorganisir sekitar 12.000 siswa magang Indonesia yang ditempatkan pada 600 perusahaan di Jepang. Menurut Bupati Amin Said Husni, kerjasama antara Pemkab Bondowoso dengan PSJ UI dan JIAEC ini ibarat sinar matahari pagi yang memberi harapan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Kerjasama dengan Jepang ini merupakan bentuk pengabdian Pemkab Bondowoso dalam melayani kebutuhan masyarakat. Terutama, dalam menangani masalah kemiskinan dan mengurangi pengangguran di Bondowoso,” kata Bupati Amin Said Husni.(yewe/kiki)

Bupati Amin Said Husni saat menandatangani MOU pengiriman tenaga kerja magang ke Jepang. (Photo : Humas Pemkab Bondowoso)


In s p i r a s i 6 Dinamika Tata Kelola Keuangan Bondowoso Lebih Unggul Dari Kabupaten Tetangga Bondowoso

• Bondowoso Kembali Raih Predikat WTP

P

emerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso kembali menorehkan tinta emas dalam pengelolaan keuangannya. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) memberikan penghargaan kepada Pemkab Bondowoso dengan memberikan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kepada Bupati Bondowoso, Drs. H. Amin Said Husni, atas Laporan Keuangan Pemkab Bondowoso sebagaimana tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). Penghargaan ini adalah penghargaan kedua yang diperoleh Pemkab Bondowoso secara berturutturut sejak tahun 2012. Penghargaan prestisius ini diberikan BPK-RI melalui Kepala Perwakilan BPK Jawa Timur, Drs. Muzakkir, kepada Bupati Amin Said Husni. “Prestasi ini adalah hasil dari

komitmen dan kerja keras seluruh jajaran Pemkab Bondowoso untuk memastikan pelaksanaan APBD telah sesuai dengan peraturan perundangan dan akuntabel,” kata Bupati Amin Said Husni. Menurut Bupati Amin Said Husni, untuk meraih predikat WTP tidaklah mudah. Karena, standar akuntansi yang harus dipedomani semakin berat. “Karena itu, saya selalu mengingatkan kepada Sekretaris Daerah (Sekda) dan semua Kepala SKPD agar pengelolaan keuangan Pemkab harus sesuai standar akuntansi yang ada,” tuturnya. Bupati Amin Said Husni bersyukur bisa mendapatkan kembali opini WTP dari BPK. “Dengan kesungguhan, komitmen serta kerja keras, Bondowoso harus bisa mendapatkan WTP

Prestasi ini adalah hasil dari komitmen dan kerja keras seluruh jajaran Pemkab Bondowoso untuk memastikan pelaksanaan APBD telah sesuai dengan peraturan perundangan dan akuntabel,

Bupati Amin Said Husni seusai menerima penghargaan WTP. (Photo : Humas Pemkab Bondowoso)

Bupati Amin Said Husni lagi. Dan, alhamdulillah, akhirnya, kami bisa meraih WTP lagi dan ini yang pertama kali di wilayah Tapal Kuda,” ujar Bupati Amin Said Husni. Bupati Amin Said Husni menyatakan rasa syukurnya atas penerimaan penghargaan tersebut secara berturut–turut. Karena, hal ini menunjukkan bahwa kualitas tata kelola keuangan Pemkab B o n d o woso masih unggul atas kabupaten jiran (tetangga) lainnya. Seperti, Situbondo, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Jember dan Banyuwangi. Sementara itu, untuk lebih mengukuhkan tata kelola keuangan

yang lebih transparan serta akuntabel, Bupati Amin Said Husni menandatangani nota kesepahaman audit elektronik antara Pemkab Bondowoso dengan BPK-RI Perwakilan Jawa Timur di Gedung Sabha Bina Praja Pemkab Bondowoso, belum lama berselang. Menurut Bupati Amin Said Husni, penandatanganan nota kesepahaman ini bertujuan untuk melaksanakan audit laporan pengelolaan keuangan pemerintah kabupaten Bondowoso secara elektronik, dan bertahap. Dengan audit elektronik ini maka pengelolaan keuangan Pemkab Bondowoso akan mengarah pada suatu sistim pengelolaan, dan pertanggungjawaban keuangan daerah yang lebih transparan serta akuntabel. Karena, laporan keuangan dan sistim keuangan kabupaten Bondowoso akan dilaporkan secara elektronik, dan periodik, dari pemkab ke BPK. Melalui e-audit (istilah lazim audit elektronik) maka pengelolaan keuangan Pemkab Bondowoso akan lebih terjamin.Karena, pengelolaannya lebih transparan, dan lebih mudah dipertanggungjawabkan sesuai dengan peraturan yang ada. Bupati Amin Said Husni menambahkan bahwa Bondowoso adalah kabupaten ke 7 di Provinsi Jawa Timur yang menandatangani nota kesepahaman pelaksanaan e-audit dengan BPK-RI Perwakilan Jawa Timur. “Tentu saja, hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Bondowoso. Karena, kabupaten ini berada di papan utama. Yaitu, kabupaten yang dapat menerapkan sistem pengelolaan keuangan dan pertanggungjawaban keuangan secara elektronik kepada BPK.”(kiki/humas)


In s p i r a s i 7

Dinamika

Bondowoso

Program Padat Karya Serap 11 Ribu Tenaga Kerja maan masyarakat. Dalam keterangannya saat berkunjung ke Bondowoso, belum lama berselang, Menakertrans Yahya Muhaimin menjelaskan bahwa program tersebut dibagi menjadi dua bentuk kegiatan. Yaitu, padat karya produktif dan padat karya infrastruktur. Program ini ditargetkan dapat menyerap total tenaga kerja hingga 11 ribu orang lebih. Selain memperhatikan

potensi sumberdaya alam yang ada di wilayah, kata Yahya Muhaimin, orientasi padat karya yang dikucurkan tersebut mengutamakan semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat di pedesaan. “Titik fokus padat karya infrastruktur pada pembuatan dan rehabilitasi fisik. Misalnya, pembangunan dan pengerasan jalan di desa, saluran air, dan pembangunan jembatan di pedesaan yang dikerjakan

“

Yahya Muhaimin saat kuker ke Bondowoso. (Photo : Gigih Hendra)

P

rogram padat karya yang diberikan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, yang bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran menitikberatkan pada aspek gotong royong dan kebersa-

Titik fokus padat karya infrastruktur pada pembuatan dan rehabilitasi fisik. Misalnya, pembangunan dan pengerasan jalan di desa, saluran air, dan pembangunan jembatan di pedesaan yang dikerjakan oleh masyarakat desa setempat.

“

Yahya Muhaimin

oleh masyarakat desa setempat.� Sedangkan padat karya produktif, menurut Yahya Muhaimin, lebih diwujudkan pada pemberdayaan usaha. Seperti, budidaya ikan, ternak sapi, kambing, ayam dan kerajinan tangan anyaman. Dalam pelaksanaannya, ada petugas pendamping yang bertugas tidak hanya mengawasi saja namun juga merencanakan dan mengoordinasikan program padat karya ini. Sehingga, mampu menambah lapangan kerja bagi tenaga kerja baru secara optimal. Pada kunjungan kerjanya di Bondowoso, Menakertrans Yahya Muhaimin menyalurkan bantuan padat karya dan pelatihan wirausaha untuk 150 orang tua murid yang tersebar di kabupaten Bondowoso. Bantuan tersebut merupakan program padat karya yang bertujuan untuk menyerap pengangguran di pedesaan dan meningkatkan daya beli serta membantu pertumbuhan ekonomi pedesaan. Program yang dilaksanakan Kemenakertrans di seluruh wilayah Indonesia ditargetkan bisa menurunkan angka pengangguran pada tahun 2014. Setidaknya, menjadi 5 koma 1 persen. Sebelumnya, angka pengangguran ini mencapai 6 koma 32 persen.(kiki)

Kepala Disnakertrans Bondowoso Kukuh Triyatmoko saat melepas tenaga kerja asal Bondowoso. (Photo : Disnakertrans Bondowoso)


,

G a l e r i K e g iIan tsap ni r aBsui p8a t i Bondowoso

,te

Untuk mendukung terwujudnya visi dan misi Pemerintah Kabupaten Bondowoso yakni mewujudkan masyarakat yang beriman, berdaya dan bermartabat, Bupati Amin Said Husni terus melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan tema pembangunan yang diusungnya. Berikut ini adalah rangkaian kegiatan Bupati Amin Said Husni seperti kegiatan Musrenbang, melaksanakan tes urine bagi muspida Bondowoso, meresmikan Pasar Tamanan, meresmikan Jaringan Listrik Pedesaan, melakukan aksi sinergi kemanusiaan dan menyerahkan bantuan kepada pengusaha IKM - UMKM.

8

Photo-photo : by Humas Pemkab Bondowoso.


I n s p i r a s i I n s p i r a s i Amin Said Husni 9 B o n d o w o s o

Berpikir Positif Menebar Optimisme

Bondowoso

9


In s p i r a s i 10

Dinamika

Bondowoso

Suasana malam di Jl. Dr. Soetomo. (Photo : Gigih Hendra)

Menerangi Langit, Mencerahkan Geliat Ekonomi • BLH Pasang PJU Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bondowoso terus melakukan perubahan serta inovasi dalam pelayanan publiknya. Institusi tersebut tampaknya ingin melakukan perubahan paradigma tentang suasana malam di kabupaten Bondowoso. Kini, masyarakat tak lagi takut melakukan aktivitas di malam. Sebaliknya, masyarakat Bondowoso mulai bersahabat dengan suasana malam. Bahkan, melakukan aktivitas bisnis di malam hari bukan lagi menjadi sesuatu yang tak mungkin dilakukan. Di berbagai tempat mulai tumbuh dan berkembang aktivitas bisnis para pedagang kaki lima yang nobene menggerakkan ekonomi kerakyatan. Coba tengok suasana malam hari di Jalan Dr. Soetomo, Jalan A Yani dan Jalan Soecipto (Ki Ronggo)! Di tempat tersebut dijumpai banyak pedagang kaki lima yang melakukan aktivitas bisnisnya. Banyak kerumunan pembeli yang memburu kuliner ringan (camilan) di trotoar-trotoar. Ada pula yang tak sungkan-sungkan kongkow di trotoar. Mereka duduk bersila sambil menimati sajian khas berselera. “Kami menjual berbagai makanan khas ini sejak Pemkab Bondowoso memasang Penerangan Jalan Umum (PJU). Ternyata peminatnya banyak. Semakin malam semakin banyak yang kongkow di tempat ini. Mereka umumnya duduk-duduk sambil menikmati makanan yang saya jual,” ujar seorang pedagang kaki lima di Jalan Soetomo. Kisah senada diungkapkan pula oleh pedagang kaki lima lainnya di Jalan Soecipto. Katanya, “Sejak dipasangi

lampu, warga tidak lagi enggan untuk bercengkerama di tempat ini sambil menikmati sajian makanan yang kami jual,” ujar Yudi. Cerita yang diungkapkan pedagang di Jalan Dr. Soetomo dan Jalan Soecipto tersebut merupakan potret kehidupan malam setelah BLH memasangPJU di berbagai tempat di kota ini. Menurut Kepala BLH Bondowoso, Drs. H. Sudirman, pihaknya t e l a h memasang PJU di hampir seluruh kecamatan di Bondowoso. Untuk saat ini, pemasangan PJU tersebut dilakukan di daerahd a e r a h yang memiliki Saluran Te g a n g a n Menengah. “Khusus dalam kota m e n g gunakan bola lampu ukuran 250 watt sedangkan di daerah kecamatan menggunakan bola lampu ukuran 125

watt,” jelas Sudirman. Kata Sudirman, nantinya, pemasangan PJU juga akan dilakukan di daerah yang tidak memiliki Saluran Tegangan Menengah. “Untuk daerah yang tidak memiliki Saluran Tegangan Menengah, kami akan menggunakan solar cell (Pembangkit Listrik Tenaga Matahari),” tambah Sudirman.

Pemasangan PJU ini, kata Sudirman, memang dilakukan agar masyarakat Bondowoso merasa semakin aman beraktivitas di malam hari. Selain itu, juga untuk menggerakkan geliat ekonomi kerakyatan di malam hari. “Coba Anda lihat suasana malam di Maesan sampai Sempol di malam hari! Sudah cukup terang kan?” (yewe/kiki)

Geliat ekonomi kerakyatan di Jl. Dr. Soetomo. (Photo : Gigih Hendra)


Generasi Andal

In s p i r a s i 11 Bondowoso

• Sofia

Sang Entrepreneur Yang Ingin Mendirikan Sekolah Batik

Keinginannya sederhana, melestarikan batik khas Bondowoso. Namun, dari kesederhanaan obsesi tersebut, Sofia, warga Desa Sukosari Kecamatan Tamanan, melahirkan letupan-letupan baru dalam jiwanya. Wanita ini kini menjelma menjadi entrepreneur muda yang terbilang sukses menggeluti industri batik khas Bondowoso. Omzet usahanya mencapai puluhan juta rupiah per bulan dalam kurun waktu dua tahun sejak didirikannya, dua tahun lalu. Produk usahanya juga sudah merambah ke negeri Jiran, Malaysia. Para penggemar batik di negeri tersebut sangat meminati hasil industri batik Sofia. Sepetak tegal (ladang) yang tidak produktif milik orang tuanya menjadi tonggak sejarah perubahan hidup Sofia. Bermodal hasil penjualan ladang milik orang tuanya tersebut, wanita berusia 19 tahun ini memulai industri batiknya di rumahnya yang sangat sederhana di Tamanan. Ya, dengan modal 3 juta rupiah hasil penjualan ladang tersebut, alumnus

SMK Tamanan ini mengembangkan industri batiknya. Tak terlintas di benaknya bahwa industri kecil yang ditekuninya tersebut akan menembus pasar internasional seperti Malaysia. Dengan tenaga kerja yang awalnya hanya sebanyak 8 orang (kini 14 orang, red.), Sofia terus menekuni industri batiknya. Dengan semangatnya yang gigih, Sofia terus berinovasi menciptakan batik khas Bondowoso. Ternyata hasil karyanya tersebut sangat diminati pasar. Terbukti, permintaan terhadap batik yang diproduksinya terus meningkat. “Bermula dari pemasaran yang hanya menggunakan sistim gethok tular, saya pun menggunakan teknologi internet untuk memasarkan batik hasil kerajinan ini. Hasilnya, ternyata menggembirakan,” ujar Sofia. Berkat pemasaran melalui internet itulah, industri batik yang dikembangkannya semakin dikenal dunia. “Banyak pemesan batik yang berasal dari Malaysia,” tuturnya. Untuk sementara, katanya, pemesanan dari negeri Jiran tersebut ‘terpaksa’ dibatasi. Karena, dia masih sibuk melayani permintaan dari dalam negeri. “Terus terang saja, saya membatasi

pemesanan dari Malaysia karena banyaknya pesanan dari dalam negeri,” ujarnya sembari menjelaskan bahwa pembatasan pesanan tersebut disebabkan oleh keterbatasan tenaga kerja yang tersedia. Sofia memang menuturkan bahwa jumlah sumber daya manusia di perusahaannya memang menjadi kendala pengembangan usahanya. Katanya, untuk merekrut sumber daya manusia baru bukanlah hal mudah. “Merekrut karyawan di perusahaan ini bukan hal mudah. Sebab, mereka harus memiliki keahlian khusus terutama di bidang perbatikan. Karena itu, saya menggunakan tenaga-tenaga yang memiliki keahlian di bidang perbatikan. Seperti, tenaga desain yang saya rekrut dari kalangan yang pernah mengenyam ilmu perbatikan.” Dijelaskannya bahwa dirinya ‘berani’ melakukan pemasaran melalui internet setelah industri batiknya mendapat pengakuan berupa sertifikat dari Balai Besar Kerajinan Batik Indonesia. “Setelah mendapatkan batik mark itu, saya berani melakukan pemasaran online. Sebelumnya, hasil kerajinan batik saya hanya dipasarkan di tingkat lokal maupun regional. Seperti, Surabaya, Jakarta, Mataram dan Papua,” papar Sofia. Sofia berujar bahwa batik mark itu diperolehnya setelah Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso menguruskannya pada lembaga pemberi sertifikat tersebut. “Saya sangat berterima kasih pada Diskoperindag Bondowoso. Karena,

lembaga tersebut membantu menguruskan sertifikatnya. Sehingga, usaha yang saya tekuni ini bisa mendapatkan batik mark.” Wanita ini mengaku senang dan bangga setelah batik yang diproduksinya disukai dunia. Karena, keinginan untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan batik terpenuhi. Namun, wanita ini tidak lantas tinggi hati dan berhenti berkreasi. Sebaliknya, banyaknya pesanan batik yang diproduksinya memacu dirinya untuk terus berinovasi. “Saya akan terus berinovasi, melahirkan karya-karya baru terkait industri batik. Saya akan terus berkarya agar batik, khususnya batik khas Bondowoso, semakin lestari,” katanya sembari berujar bahwa dirinya bangga menekuni dunia usaha batik. Kini, alumnus sekolah jurusan batik di SMK Tamanan ini menikmati jerih payahnya di dunia usaha batik. Omzetnya terus membumbung. Dia juga semakin disibukkan dengan pemenuhan pesanan batik buatannya baik yang datang dari dalam megeri maupun yang berasal dari manca negara. Puaskah Sofia dengan industri batik yang digelutinya? Wanita ini ternyata masih menyimpan keinginan yang lain. Kepada pewarta tabloid ini, wanita muda ini berujar, “Saya ingin memiliki sekolah batik. Sekolah yang melahirkan entrepreneur-entrepreneur baru, khususnya di dunia batik,” ujarnya. Ya. Semoga keinginan mendirikan sekolah batik ini bisa terwujud. Sehingga, dunia usaha batik tidak hanya berkembang namun juga semakin lestari.(kiki/yewe)


In s p i r a s i 12

Laporan Utama B

Bondowoso

Bermartabat Dengan Infrastruktur Prestisius

upati Bondowoso, Drs. H. Amin Said Husni, tampaknya tak pernah berhenti berinovasi. Setelah menggemparkan dunia pertanian dengan program Bondowoso menuju Pertanian Organik (Botanik), orang nomer satu di jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso ini kembali akan meluncurkan program prestisius. Tak tanggung-tanggung, mantan anggota DPR RI ini rencananya akan meluncurkan dua proyek prestisius sekaligus. Yakni, proyek pengembangan kawasan agropolitan dan proyek jalan lingkar Bondowoso. Kedua proyek prestisius tersebut diperkirakan akan menelan biaya garap sekitar RP 50 milyar. Untuk mewujudkan kedua proyek tersebut, Bupati Amin Said Husni dikabarkan telah mengajukan permohonan pendanaan kepada Pusat Investasi Pemerintah di Kementerian Keuangan. “Pinjaman ini berbunga lunak. Nantinya, pinjaman tersebut akan digunakan untuk pengembangan kawasan agropolitan dan pembangunan jalan lingkar,” kata Kepala Bappeda Bondowoso, Drs. H. Agung Trihandono. Menurut Agung Trihandono, pinjaman dana pada Pusat Invetasi Pemerintah ini dilakukan karena APBD II Bondowoso dinilai sudah sehat. “Sehingga, dalam waktu lima tahun, kami yakin mampu mengembalikan dana pinjaman tersebut.” Untuk mendapatkan kucuran dana pinjaman tersebut, Pemkab Bondowoso sedang menyiapkan Detail Engineering Design (DED) atau rencana detil dari kedua proyek

Pinjaman ini berbunga lunak. Nantinya, pinjaman tersebut akan digunakan untuk pengembangan kawasan agropolitan dan pembangunan jalan lingkar,

Agung Trihandono

tersebut sebagai pemenuhan salah satu persyaratan pengajuan pinjaman. “Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan dana pinjaman tersebut. Salah satunya, Pemkab harus menyiapkan DED-nya. Nah. Pemkab Bondowoso, dalam hal ini, satker terkait diminta untuk menyiapkan DED itu.” Ihwal proyek pengembangan kawasan Agropolitan ini, jelas Agung Trihandono, dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Agropolitan Bondowoso yang sentra pelayanannya (Sub Terminal Agribis) akan dipusatkan di Desa Sumbergading. Pengembangan kawasan Aropolitan ini memiliki peran strategis dalam merangsang dan mendorong perekonomian wilayah, khususnya aspek pemasaran. “Sebab, kita bisa memotong jalur pertemuan antara buyer (pembeli) dan penjual. Dengan terpotongnya jalur pertemuan ini maka tingkat pertumbuhan ekonomi akan semakin tinggi. Karena, para petani bisa mendapatkan hasil dagangan yang optimal. Begitu pula dengan buyer akan semakin terbantu memenuhi kebutuhannya.” Jadi, nantinya, tambah Agung Trihandono, kawasan Agropolitan ini akan berfungsi seperti Puspa Agro di Sidoarjo. Untuk mewujudkan pengembangan kawasan tersebut maka Pemkab Bondowoso akan membangun beberapa fasilitas penunjang. Diantaranya, jalan penghubung antar kawasan, sub terminal, pasar komoditas agro, pusat pengembangan teknologi pertanian dan pengembangan kelembagaan usaha produkstif


Laporan Utama

masyarakat. “Tentu semuanya harus diawali dengan penyiapan SDM masyarakat lokal dan mengopti-

malkan sarana dan prasarana yang secara embrional. Intinya, semua pelaksanaan kegiatan di semua satker akan diarahkan untuk men-

Suasana panen strawberry di Sempol. (Photo : Bappeda Bondowoso)

In s p i r a s i 13 Bondowoso

dukung kawasan tersebut. Sebab, pengembangan kawasan Agropolitan ini memang harus dilakukan secara terpadu,” jelas Agung Trihandono.

Dijelaskan pula bahwa keberadaan kawasan Agropolitan ini nantinya juga berfungsi sebagai pintu gerbang menuju Kawasan Wisata Ijen yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan karena, sebelum menuju Ijen, mereka bisa menikmati komoditas agro kabupaten Bondowoso dan sarana rekreasi penunjang. S e l a i n pengembangan kawasan Agropolitan, papar Agung Trihandono, Pemkab Bondowoso juga akan membangun jalan lingkar Bondowoso. Katanya, pembangunan jalan lingkar ini juga dilakukan untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi Bondowoso. “Dengan infrastruktur ini maka pembangunan di Bondowoso akan mengalami percepatan. Pada akhirnya, laju pertumbuhan ekonomi juga akan semakin meningkat sesuai dengan misi dan visi Pemkab Bondowoso yakni mewujudkan masyarakat yang beriman, berdaya dan bermartabat,”


In s p i r a s i 14

Laporan Utama

apabila Jalan Lingkar Bondowoso ini terwujud maka transportasi di kota ini akan semakin lancar. Diharapkan, kelancaran transportasi ini akan semakin memacu pertumbuhan ekonomi Bondowoso yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,

Ir. Mudjianto kata Agung Trihandono. . Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Bondowoso, Ir. Mudjianto, menjelaskan bahwa, untuk mewujudkan proyek jalan lingkar ini, pihaknya akan meny-

iapkan DED-nya. “Termasuk detil bagaimana pembebasan tanahnya. Karena masalah pembebasan tanah ini akan disertai berbagai konsekuensi. Tapi, pembangunan jalan lingkar ini pada prinsipnya sudah memenuhi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kita,” kata Mudjianto. Katanya, pembangunan jalan lingkar ini akan dibagi menjadi 2 zona. Yaitu, zona barat dan zona timur. Untuk jalan lingkar zona timur, jelas Mudjianto, pembangunannya akan dimulai di kawasan jalan Pancoran hingga melewati Desa Koncer Kidul dan Desa Koncer Darulaman. Selanjutnya menuju Desa Bataan dan Pejaten. Untuk zona barat, pembangunan jalan lingkar akan dimulai di Desa Sukowiryo, Kembang, Curahdami, Poncogati, Locare dan Karanganyar, Selain Jalan Lingkar Utama, pembangunan jalan Lingkar Bondowoso ini juga akan dibangun Jalan Lingkar Alternatif dan Jalan Lingkar Dalam Kota (eksisting). Jalan Lingkar Bondowoso ini akan terhubung dengan Jalan Kolektor Primer (Provinsi). “Sehingga apabila Jalan Lingkar Bondowoso ini terwujud maka transportasi di kota ini akan semakin lancar. Diharapkan, kelancaran transportasi ini akan semakin memacu pertumbuhan ekonomi Bondowoso yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Mudjianto. Semoga pembangunan proyek prestisius ini membawa manfaat yang besar bagi Bondowoso. (kiki/yewe)

Bondowoso

Dipadukan Dengan Pengembangan Wisata Kawah Ijen dan Gunung Raung

R

encana pengembangan Kawasan Agropolitan sebenarnya dilakukan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di wilayah yang meliputi wilayah Kecamatan Sempol, Sumberwringin, Tlogosari dan Sukosari. Pengembangan itu dilakukan dalam upaya menggali dan mengangkat potensi wilayah di kawasan terpadu pengembangan pertanian yang didukung oleh sektor perdagangan dan pariwisata. Kawasan ini akan dikembangkan sebagai sentra usaha pertanian, perkebunan dan pariwisata unggulan dengan icon produk kopi rakyat (arabica dan robusta), strawbery, durian dan alpukat. Sedangkan komoditas lain yang juga dapat dikembangkan adalah perikanan air tawar, ternak, sayur dan tanaman kayu.

Kawasan agribis ini juga dipadukan dengan pengembangan wisata Kawah Ijen dan Gunung Raung dan sejalan dengan konsep pengembangan Agropolitan Regional Ijen oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Upaya mengangkat komoditas kopi rakyat melalui pengembangan kawasan terus menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2011 kelompok petani kopi di kawasan ini telah berhasil mengekspor kopi rakyat ke Swisz (Eropa) sebanyak 1 kontainer. Seiring dengan peningkatan mutu kopi Arabica Bondowoso, pengusaha kopi dari Eropa dan Amerika mulai berdatangan ke Bondowoso. Mereka berminat untuk mengimpor kopi Bondowoso yang dikenal memiliki special taste ini.(kiki/yewe)


Kontemplasi

In s p i r a s i 15 Bondowoso

Meneladani Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khatab

K

halifah Umar pernah didatangi puteranya saat dia berada di kantornya. Kemudian, bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi di rumah. Seketika itu Umar mematikan lampu ruangan dan si anak bertanya, “Kenapa Ayah mematikan lampu sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap? Dengan sederhana sang Ayah menjawab bahwa lampu yang digunakannya adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pemerintahan bukan urusan keluarga.” Umar Bin Khatab adalah khalifah kedua sesudah Abu Bakar, termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya. Pada jaman kekhalifahannya, Islam berkembang luas dari Timur hingga ke Barat. Kerajaan Persia dan Romawi Timur ditaklukkan dalam waktu hanya satu tahun. Sebutan “Al Faruq”, atau Sang Pembeda, adalah gelar yang diberikan Rasulullah Nabi Muhammad SAW untuk Umar bin Khattab. Konon, Umar dikaruniai tubuh yang tinggi dan besar. Tidak hanya itu, Umar memiliki tenaga yang kuat yang menurut riwayat sama dengan kekuatan 20 orang dewasa, saat itu. Umar adalah langganan juara gulat di semacam pasar malam yang ada dan merupakan tradisi di Mekkah saat itu. Khattab mendidik Umar dengan keras, tegas, dan disiplin. Pada masa itu hanya sedikit sekali yang bisa tulis-baca, dan Umar adalah salah satu dari yang sedikit itu. Umar mengetahui banyak sejarah Arab dan juga ilmu binatang. Umar pandai berbicara di depan orang banyak, dia dikaruniai suara yang berat dan berwibawa. Ini menggambarkan bahwa Umar adalah anak Quraish yang cerdas. Saat awal-awal Rasulullah mulai menyebarkan Islam, Umar adalah penghalang yang paling dahsyat. Kaum muslimin saat itu menderita karenanya, di sisi lain kaum Quraish merasa sangat terbantu oleh kehadiran Umar. Oleh karena itulah, Rasulullah memilih berdakwah dan beribadah diam-diam menghindari kezaliman Umar bin Khattab dan kaum kafir Quraish lainnya. Namun, Rasulullah atas petunjuk Allah mengetahui Umar lebih daripada yang lain. Rasulullah menyadari keistimewaan Umar, sebagaimana dia juga menyadari kelebihan “Amir bin Hisyam (Abu Jahal)” yang merupakan pemimpin kaum Quraish di Mekkah saat itu. Oleh sebab itu, Rasul pernah bermohon kepada Allah agar Dia sudi menolong perjuangan Islam dengan salah seorang yang lebih disukaiNya, antara dua “ain mim ra”, yaitu Umar atau Amir. Doa Rasul akhirnya dijawab Allah. Suatu ketika, Umar melihat Rasulullah sedang di dekat Kakbah dan membaca beberapa ayat dari AI Quran. Umar mencuri-curi dengar dan dia pikir ayat-ayat yang dibacakan Rasullullah adalah puisi karya pujangga hebat. Rasullullah mengulang-ulang ayat-ayat itu dan mengatakan bahwa ayat-ayat ini bukanlah puisi karya pujangga melainkan perkataan Allah yang disampaikan melalui Malaikat Jibril. Umar terpana. Dalam hatinya tebersit pemikiran, mungkin saja apa yang disampaikan Muhammad SAW itu adalah benar. Umar mengabaikan perasaan itu dan memilih untuk konsultasi dengan para pemimpin Quraish.

Oleh : Priyambudi S. Diadakan rapat mendadak dilah terlebih dahulu,” ujar Fathima. yang dihadiri oleh tokoh-tokoh pent- Entah kenapa, Umarpun ing suku Quraish. Keputusannya menuruti. adalah penyebaran agama Islam Selesai mandi, diterimanya harus dihentikan dan Muhammad daun-daun bertuliskan ayat-ayat Alharus dibunuh. Dicari sukarelawan Quran itu dari Fathima. Dibacanya yang bersedia dan mampu untuk itu. keras-keras. “Taa Haa, Kami tidak Umarpun mengajukan diri. menurunkan Al Quran ini kepadamu Suatu hari, yang sangat agar kamu menjadi susah, tetapi panas tahun 616 Masehi, Umar sebagai peringatan bagi orang yang menyandang pedang siap membunuh takut (kepada Allah) yaitu diturunkan Rasulullah. Dalam perjalanannya dari Allah yang menciptakan bumi dan menuju rumah Rasul, Umar bertemu langit yang tinggi. (yaitu) Tuhan Yang dengan Nu’aim bin Abdullah, salah Maha Pemurah yang bersemayam di seorang teman akrab Umar. Nu’aim atas Arsy. KepunyaanNyalah semua juga sudah menerima Islam saat itu, yang ada di langit dan di bumi, tapi Umar belum tahu. semua yang di antara keduanya dan Nu’aim melihat wajah Umar semua yang di bawah tanah. Dan, yang tegang. Diapun bertanya. Umar jika kamu mengeraskan ucapanmu, menjawab bahwa dia sedang menuju maka sesungguhnya dia mengetahui ke rumah Muhammad untuk mem- rahasia dan yang lebih tersembunyi. bunuhnya. Dialah Allah, tidak ada Tuhan yang Nu’aimpun menjawab, ”Hati- berhak disembah melainkan Dia (Dia hati. Kalau kamu sakiti Muhammad, mempunyai nama-nama yang baik maka kamu berurusan dengan kelu- (asmaul husna).” arga Hashim. Kamu tanggung sendiri Dibaca surat itu berkali-kali akibatnya!” sampai dia jatuh tersungkur. Umar marah. ”Rupanya, Dia merasa ayat-ayat itu kamu juga sudah menjadi Muslim? ditujukan khusus untuk dia, dengan Nu’aim menjawab, “Umar, jangan Taa Haa merujuk kepada seorang pikirkan saya! Tetapi, kamu pikir dulu kafir Umar. Umar tiba-tiba merasaadikmu dan adik iparmu! Dua-duanya kan ketakutannya pada Allah. Hatsudah memeluk Islam, mungkin inya berbisik, “Wahai Umar, sampai mereka sedang membaca Al-Quran kapan kamu akan tetap mengingkari saat ini.” jalan yang kamu sendiri mengetahui Umar kaget dan mengganti kebenarannya. Apakah belum datang arah langkah kakinya yang semula waktu bagimu untuk melihat kebeke rumah Muhammad SAW menjadi naran?” ke rumah Said bin Amir. Umar sangat Umar bangkit dan berkata sayang pada Fathima dan suaminya. kepada Said dan Fathima, “Saya tadi Tidak pernah terpikir olehnya bahwa datang sebagai musuh Islam. Sekaadik kandungnya memeluk Islam. rang, saya akan pergi sebagai saha Dia tidak mau memercayai bat Islam. Pedang ini tadinya untuk berita ini, ada keraguan dalam hat- membunuh Muhammad, sekarang inya bahwa berita itu bohong. saya sarungkan. Tunjukkan kepada Sesampainya di rumah Said, saya, di mana Muhammad sekarang Said dan Fatima sedang membaca berada! Saya hendak menemuinya. Al-Quran yang ditulis di daun-daun “Allahu Akbar,” tangis Said korma. Umar yang sudah ada di luar dan Fathima. mendengar sayup-sayup sebelum Umar bergegas melangakhirnya diketoknya pintu. kahkan kakinya ke rumah Arqam, “Siapa?” tanya Said. “Buka- seorang sahabat yang rumahnya kan pintu! Ini Umar!” teriak orang sering dipakai Rasul untuk berkumyang di luar. Said dan Fathima kaget pul dengan muslim yang lain. dan ketakutan. Umar mengetuk pintu. Sementara Said membukan “Siapa?” tanya seseorang dari pintu, Fathima menyembunyikan dalam. daun-daun bertuliskan ayat-ayat Al- “Umar bin Khattab,” jawabQuran. Umar masuk menyingkir- nya dengan lantang. Orang-orang kan Said. Fathima menyongsong yang berkumpul di dalam heboh. dan tersenyum. Wajah Umar merah “Umar datang. Umar datang. karena marah, dia bertanya dengan Apa yang akan terjadi gerangan?” suara menggelegar. Seseorang mengintip keluar. “Apa yang sedang kalian Dilihatnya Umar dengan pedang terbaca?” sandang dipinggangnya. Dia pun “Tidak ada, “ balas Fathima. enggan membuka pintu. “Saya dengar berita bahwa Hamzah, paman Muhamkalian sudah memeluk Islam.Katakan mad SAW, berkata, “Bukakan pintu! bahwa berita ini bohong!” Jika dia datang dengan maksud baik, “Apa pendapatmu, wahai kita terima. Kalau dia ingin membuat Umar, sekiranya kebenaran itu ada huru-hara, saya percaya kita bisa di pihak mereka?” balas Said. Umar mengalahkannya bersama-sama. langsung mencengkeram leher Said Pintu dibuka, Umar masuk. dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Hai Umar, apa perkara yang Fathima berkata, “Lepaskan membawamu ke sini?” tanya Hamzah. tanganmu dari suamiku. Jika kamu Para muslim yang lain bersiap-siap ingin mengatakan sesuatu, katakan mencabut pedang kalau kalau Umar pada saya, tapi jangan sentuh sua- tiba-tiba membuat keonaran. miku!” Mendengar keributan, Rasu Umar bertanya, “Katakan, lullah keluar dari biliknya dan berkala, apakah benar kalian sudah menjadi “Jangan ganggu dia! Biarkan dia muslim?” maju!” Fathima menjawab, “Ya, Umar maju menghampiri kami sudah menjadi muslim. Kamu Rasulullah dan Rasulullahpun berbisa saja membunuh kami jika kamu tanya, “Wahai Umar, Sampai kapan suka, tapi kami tidak akan mengganti kamu akan tetap mengingkari jalan keimanan kami.” yang kamu sendiri mengetahui kebe Umar tertegun. Kalimat yang narannya? Apakah belum datang sama didengar saat dia mengancam waktu bagimu untuk melihat kebeLubna budaknya. Keteguhan yang naran?” sama dia dengar dari saudara perem- “Benarlah waktu sudah puannya. datang bagi saya untuk melihat kebe Dilepaskannya Said. “Kalau naran. Saya datang ke sini untuk begitu, perlihatkan daun-daun yang mengikrarkan keimananku dalam kamu sembunyikan itu kepada saya Islam,” jawab Umar. sehingga saya bisa melihat isinya,” Rasulullah menggenggam pinta Umar. tangannya. Umar berkata dengan “Tidak, badanmu kotor. Man- suara yang bergetar, “Saya bersaksi

bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya”. Umar pun menjadi orang keempat puluh yang masuk Islam. Kaum muslimin yang hadir dalam majelis saat itu heboh. Allahu Akbar bergema di setiap pojok ruangan. Satu per satu datang menghampiri Umar dan menyelamatinya. Kegembiraan tidak hanya dimiliki kaum muslim saja. Malaikat Jibril datang dan berkata pada Rasulullah, Khalifah Umar bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang sangat disayangi rakyatnya karena perhatian dan tanggungjawabnya yang sangat luar biasa pada rakyatnya. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan pengawasan langsung dan sendirian berkeliling kota mengawasi kehidupan rakyatnya. Suatu malam, Abdurrahman bin Auf dipanggil oleh Khalifah Umar diajak pergi ke pinggir kota Madinah. “Malam ini, akan ada rombongan kafilah akan bermalam di pinggir kota” , kata Khalifah Umar kepada Abdurrahman bin Auf. “Kafilah ini membawa barang dagangan yang banyak. Maka, kita sebaiknya ikut menjaga keselamatan barang dari gangguan tangan-tangan usil! Demikian sang khalifah menjalankan tugasnya, turun tangan langsung untuk memastikan rakyatnya tidur dan hidup dengan tenang. Bahkan, malam itu, khalifah Umar mendesak Abdurahman untuk tidur sambi siaga. Sedangkan ia sendiri tetap terjaga hingga pagi hari. Khalifah Umar bin Khattab memang dikenal sebagai pemimpin yang selalu melakukan perbuatanperbuatan baik secara diam-diam. Orang yang ditolongnya sering tidak tahu bahwa penolongnya adalah khalifah yang sangat mereka cintai. Kisah lainnya, ketika Khalifah sedang “ronda” mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah kumuh. Dari jendela ia mendengar, sang ibu sedang berusaha menenangkan anaknya. Rupanya anaknya menangis karena kelaparan, sementara sang ibu tidak memiliki apapun untuk dimasak malam itu. Sang ibupun berusaha menenangkan sang anak dengan berpura-pura merebus sesuatu yang tak lain adalah batu agar anaknya tenang dan berharap anaknya tertidur karena kelelahan menunggu. Sambil merebus batu dan tanpa mengetahui kehadiran Khalifah Umar, sang ibupun bergumam mengenai betapa enaknya hidup khalifah negeri ini dibanding hidupnya yang serba susah. Khalifah Umar yang mendengar tidak dapat menahan tangisnya. Iapun pergi saat itu juga meninggalkan rumah itu. Malam itu juga ia menuju ke gudang makanan yang ada di kota, dan mengambil sekarung bahan makanan untuk diberikan kepada keluarga yang sedang kelaparan itu. Bahkan ia sendiri yang memanggul karung makanan itu dan tidak mengizinkan seorang pegawainya yang menemaninya untuk membantunya. Ia sendiri pula yang memasak makanan itu, kemudian menemani keluarga itu makan, dan bahkan masih sempat pula menghibur sang anak hingga tertidur sebelum ia pamit untuk pulang. Keluarga itu tidak pernah tahu bahwa yang datang mempersiapkan makanan buat mereka malam itu adalah khalifah Umar bin Khatab ! Masya Allah!! Bukan main dan bukan main-main ! Tentu kita semua rindu adanya pemimpin seperti di atas. Seperti, Umar yang FARUQ.


Inspirasi Bondowoso 02  

Inspirasi Bondowoso edisi 2 tahun ii 2013

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you