Page 1

Bondowoso, Dari kota pensiun ke Kota kampiun

Profil Lima Tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan


Bondowoso, Dari kota pensiun ke Kota kampiun Profil Lima Tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Tim Buku Penanggung Jawab Penulisan Maksum Asisten Fuad Ariyanto Riset dan Koleksi Data Meinia Prayesti Kurniasari Fotografer Aryana Yogiswara Editor Naskah T. Priyanto R. Desainer Sampul dan Halaman Okky Setiawan Grafis-Ilustrasi Hari Eddy Arenawan Penerbit Bagian Humas dan PDE Setda Kabupaten Bondowoso, 2013 Foto-foto dokumentasi Bagian Humas dan PDE Setda Kabupaten Bondowoso, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bondowoso Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bondowoso Dinas Binamarga dan Cipta Karya Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun Profil Lima Tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan Copyrigth 2013 pada Bagian Humas dan PDE Setda Kabupaten Bondowoso @ Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang (dilarang mengutip dan menggandakan sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Humas dan PDE Setda Kabupaten Bondowoso)

•ii•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Apresiasi

Tim Penulis Buku Tim buku ’Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun’ Profil Lima Tahun (20082013) Prestasi Pembangunan bekerja sangat keras dalam waktu yang terbatas. Hanya dua bulan berjalan sampai buku ini selesai. Banyak pihak, baik individu maupun lembaga (SKPD), di lingkungan Kabupaten Bondowoso yang sangat serius membantu penulisan, terutama memberikan data-data yang diperlukan tim buku ini. Bukan hanya itu. Beliau semua juga dengan amat terbuka memberikan informasi. Karena itu, tim buku ini memberikan apresiasi sekaligus mengucapkan terima kasih yang tinggi kepada Bupati, Bappeda, kepala-kepala dinas, dan kepala badan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang banyak membantu memudahkan penulisan buku ini. Secara khusus, tim buku ini menyampaikan terima kasih kepada: Bupati Kabupaten Bondowoso Bapak Drs H. Amin Said Husni yang memberikan kepercayaan kepada kami, tim buku, untuk menyusun dan menuliskan buku ini. Terima kasih juga kepada kepala-kepala SKPD, antara lain, Kepala Bappeda yang lama Bapak Ir Misnadi MM Kepala Bappeda yang baru Bapak Agung Trihandono SH, MM Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso dr H Mohammad Imron M.Kes Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Ir Matsakur MSi Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Hindarto SP MAp Kepala Dinas Pertanian Ir Wahyudi Triatmadji Kepala Bapemas yang lama (kini Kepala Dinas Koperindag) Drs Sukarna Siswandi MM Kepala Badan Ketahanan Pangan Ir. Dwi Wardana M.Si Sekretaris Dinas Pendidikan Bapak Drs. H. Suparto M.Pd Kepala Bagian Humas dan PDE Setda Kabupaten Bondowoso Jakfar Sodik S.Sos. MM

Tabik dan salam hormat

•iii•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

•iv•

PRESTASI PERTANIAN: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan piagam penghargaan kepada Bupati Bondowoso Drs H. Amin Said Husni M.Si karena mampu meningkatkan produksi beras di atas 5 persen, di Istana Negara Jakarta, (2011).


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Catatan Tim Buku

Senyum yang Enak Dibaca F

ormat penulisan dan style (gaya) penyajian isi buku di era serbadigital yang sangat industrialistis sekarang berubah nyaris total. Buku yang didesain dengan format penulisan dan gaya penyajian isi menggunakan narasi mengurai amat panjang tidak lagi disukai. Apalagi jika buku tersebut bukanlah buku referensi ilmiah. Masyarakat pembaca buku sekarang tidak memiliki banyak waktu. Di luar itu, mereka kini –para pembaca buku– telah menjadi masyarakat well informed yang mendapatkan informasi instan melalui banyak media online serta tayangan live televisi yang menyerbu sampai ke ruang publik yang sangat privat. Karena itu, informasi yang disampaikan dengan narasi panjang mengurai, hanya bermain bab demi bab, bagian demi bagian, dengan susunan yang terlalu sistematis, amat mulai ditinggalkan. Membaca buku yang hanya berbasis narasi panjang sungguh melelahkan. Tidak enak dibaca. Jadinya, bahan bacaan demikian itu terasa tidak perlu dibaca. Lalu, seperti apa format penulisan dan gaya penyajian isi buku yang diinginkan pembaca? Ringan dibaca. Enak dicerna pikiran. Nyaman disimak mata pembaca. Bagian-bagian penting isi buku disajikan dengan format yang membuat orang tersenyum. Maka, sesulit apa pun penyusunan buku, penyajiannya haruslah tetap smart. Banyak foto human interest. Kaya ilustrasi dan grafis. Menyenangkan pembaca. Bisa dibaca di mana pun. Tidak membutuhkan waktu khusus. Dengan kata lain, format penyajian buku modern ialah yang mudah dipahami. Enteng dibaca di mana pun. Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengikuti tren demikian. Lantas, membuat terobosan dalam menyampaikan informasi hasil pembangunan, khususnya program-program penurunan kemiskinan. Bupati Bondowoso Drs H. Amin Said Husni sadar betul bahwa kabupaten yang dipimpinnya sejak 2008 merupakan salah satu di antara enam kabupaten tertinggal di Jawa Timur. Upaya keras, terencana, dan terorganisasi tidak pernah lelah dijalankan. Selama lima tahun terakhir

sejak 2008 bekerja total, ibaratnya ’’berdarah-darah’’, untuk terus menekan jumlah penduduk miskin agar Kabupaten Bondowoso segera keluar dari barisan kabupaten tertinggal di Jawa Timur dan Indonesia. Upaya demi upaya untuk segera keluar dari barisan kabupaten tertinggal harus disampaikan kepada masyarakat. Agar masyarakat segera tahu dan mudah memahami semua ikhtiar Pemerintah Kabupaten Bondowoso guna menggapai kemajuan yang lebih baik pada masa depan. Karena itu, media informasi yang tepat dan pas pun harus dipilih. Salah satunya ialah melalui penulisan buku. Namun, format penulisan dan penyajian isi buku yang dimaksud haruslah yang enak dibaca. Menyenangkan pembaca. Halaman demi halaman nyaman disimak dengan tetap tidak mengurangi makna informasi yang hendak disampaikan kepada masyarakat. Maka, pilihan penulisan buku pun jatuh pada format penyajian yang human interest. Berbahasa jurnalistik. Bergaya tutur enak dibaca. Dengan penuturan informasi yang sarat gambar, ilustrasi, serta grafis. Kalaupun pada bagian-bagian tertentu isi buku mengundang rasa iba, dengan ilustrasi yang menarik, rasa iba itu tidak menghilangkan senyum optimistis yang inspiratif. Buku ini tidak hanya menyajikan potret tentang ketertinggalan Bondowoso. Buku ini juga menyajikan sisi lain wajah Bondowoso yang sarat senyum dan optimisme. Bahwa tidak ada yang mustahil. Misalnya, di balik masih banyaknya penduduk yang miskin, Bondowoso ternyata surplus beras. Bahwa di balik posisinya sebagai kabupaten yang masih tertinggal, Bondowoso ternyata mampu mengekspor kopi ke Swiss –salah satu negara Eropa yang sangat ketat menerapkan standar mutu produk impor. Semua senyum optimistis Bondowoso itu disajikan dengan indah dalam buku yang enak dan perlu ini. Silakan membaca. Insya Allah banyak manfaatnya. Insya Allah buku ini menyenangkan.

•v•

Salam Maksum Dkk


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Kata Pengantar Bupati Kabupaten Bondowoso

Meninggalkan Kota Pensiun Menuju Kota Kampiun Assalamu’alaikum wr wb

S

aya diberi amanah masyarakat Bondowoso untuk memimpin pemerintahan daerahnya sejak tahun 2008. Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Masyarakat Bondowoso ingin daerahnya lebih maju. Mereka berharap pembangunan semakin cepat dan kian merata. Karena itu –melalui amanah yang dipercayakan kepada saya sebagai kepala daerah–, masyarakat Kabupaten Bondowoso minta agar dalam waktu tidak terlalu lama mereka telah dapat menikmati buah pembangunan. Atau, dengan kata lain, melalui pembangunan yang semakin terencana dengan benar, melalui inovasi dan terobosan yang cerdas tanpa mengabaikan kearifan lokal, Bondowoso harus segara lebih maju. Masyarakat kian sejahtera. Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu kabupaten di antara lima kabupaten tertinggal di Provinsi Jawa Timur. Empat kabupaten lain ialah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan tetangga dekat Kabupaten Bondowoso, yakni Situbondo. Dengan pemahaman lain melalui amanah untuk memimpin pemerintahan daerah Kabupaten Bondowoso, sejatinya saya diminta masyarakat agar mempercepat langkah untuk membawa Bondowoso segera lepas landas keluar dari barisan daerah kabupaten tertinggal di Jawa Timur. Suatu daerah dinyatakan tertinggal jika, antara

lain, pertama, masih banyak warga yang miskin atau prasejahtera. Kedua, daerah tersebut mengalami keterbatasan akses informasi ke luar daerah. Dan, ketiga, banyak kawasan di daerah tersebut yang terisolasi karena terbatasnya infrastruktur. Karena itu, selama tahun ini (2008–2013), upaya keras saya bersama jajaran satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sebagai ujung tombak pelaksana teknis pembangunan bekerja keras untuk mempercepat Kabupaten Bondowoso keluar dari barisan daerah tertinggal. Sinergi antar-SKPD diperkuat dan disolidkan untuk bersama-sama membangun daerah. Tanpa harus menepuk dada, perlu saya sampaikan, hasil kerja keras SKPD-SKPD tersebut membuahkan hasil yang amat menggembirakan. Misalnya, Dinas Pertanian sejak tahun 2009 terus-menerus berhasil meningkatkan produksi padi. Dinas Kehutanan dan Perkebunan mulai mengekspor kopi Bondowoso ke Swiss. Dinas Pendidikan mendapatkan kucuran anggaran APBD yang sangat tinggi, yakni 49 persen, jauh di atas amanat UUD 1945 yang hanya mengamanatkan 20 persen dari APBN dan APBD untuk pendidikan. Dinas Peternakan memiliki program unggulan insentif sapi bunting. Bappemas memiliki program plesterisasi rumah warga yang masih berlantai tanah. Dan, Kantor Ketahanan Pangan terus meningkatkan jumlah lumbung pangan di berbagai kawasan rawan pangan, Bapemas memiliki program plesterisasi rumah penduduk, Bakesbang memiliki program bantuan

•vi•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

masjid dan keagamaan, serta dinas-dinas lain juga sangat keras bekerja. Sesuai tupoksi masing-masing mereka menjalankan pogramnya dan bersama-sama menjadi ujung tombak pembangunan Bondowoso agar meraih kemajuan sesuai visi dan misi pemerintah kabupaten Bondowoso. Mereka telah bekerja sangat baik untuk mengukir prestasi bersejarah dengan semangat dan motivasi yang tinggi. Karena itu saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada seluruh kepala SKPD, staf, dan seluruh jajarannya yang namanya tidak mungkin saya sebut satu per satu dalam buku dengan halaman yang terbatas ini. Saya juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang amat terhormat pimpinan dan seluruh anggota DPRD Kabupaten Bondowoso, musyawarah pimpinan daerah (muspida), pada kiai, pimpinan pesantren, tokoh perempuan, para pendidik, dan seluruh tokoh masyarakat di Kabupaten Bondowoso yang telah memberikan dukungan dan kerja sama yang sangat baik untuk membangun kabupaten Bondowoso. Semoga kerja sama dan sinergi yang baik itu terus berlanjut di waktu-waktu mendatang untuk mencapaikan prestasi yang lebih baik. Rentang 5 tahun bukanlah waktu yang panjang untuk menuai hasil maksimal. Tetapi, hasil-hasil nyata pembangunan daerah Kabupaten Bondowoso itu harus diapresiasi. Tujuannya, menjadi semangat dan inspirasi pada waktu-waktu berikutnya supaya Bondowoso cepat berkembang menjadi

daerah yang lebih maju. Lebih maju dari kemajuan yang sudah kita capai sekarang. Karena itu, saya menyambut gembira terbitnya buku berjudul: ’’Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun - Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pemba­ ngunan” ini. Buku ini saya anggap penting karena akan menyampaikan dengan menarik dan enak dibaca hasil-hasil pembangunan Kabupaten Bondowoso selama lima tahun terakhir. Dengan buku ini, para pembaca akan diajak menyimak dengan baik hasil nyata sejumlah program untuk mempercepat kemajuan Bondowoso, terutama pembangunan fisik dan sosial ekonomi yang dapat mempercepat Bondowoso keluar dari barisan daerah tertinggal. Insya Allah, buku ini sangat bermanfaat dan perlu dibaca. Amin. Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamit Thoriq

•vii•

Wassalamu’alaikum wr wb Bondowoso, 15 Januari 2013 Bupati Kabupaten Bondowoso

Drs H Amin Said Husni


ii

Tim Buku

iii Apresiasi Tim Penulis Buku

vCatatan Tim Buku Senyum yang Enak Dibaca

vi Kata Pengantar Bupati

Kabupaten Bondowoso

Meninggalkan Kota Pensiun Menuju Kota Kampiun

viii

Content

x Salam Pembuka

17 Teras

Istikamah untuk Lepas dari Kabupaten Tertinggal

Bangun Jalan Menembus Isolasi

1

Profil Bondowoso

3

Visi dan Misi

18 Teras Safari Jumat Safari Kecamatan

20 Teras Indikator Lolos dari Ketertinggalan

8

21 Bab 1

Sejarah

Menggapai Bondowoso Sehat

12 Teras

23 Bab 1

Miskin namun Surplus Padi

Posdaya di Gugus Depan

•viii•


17 Bab 2

47 Bab 4

69 Bab 7

Pemerataan Layanan Pendidikan

Ekspor Kopi Arabica ke Swiss

Ketahanan Pangan

31 Bab 2

55 Bab 5

71 Bab 7

49 Persen ABPD untuk Pendidikan

Pertanian

39 Bab 3

57 Bab 5

Peternakan dan Perikanan

Surplus Padi 117.500 Ton per Tahun

41 Bab 3

65 Bab 6

Daerah Basis Sapi Potong

Badan Pemberdayaan Masyarakat

45 Bab 4

67 Bab 6

Perhutanan dan Perkebunan

BLM PNPM Mandiri dan PPKT

Sinergi Intervensi Rawan Pangan

75 Bab 8

•ix•

Infrastruktur Jalan dan Irigasi

77 Bab 8 Menembus Dusun dengan Roda Besi

67 Profil Drs H. Amin Sadi Husni Kembangkan Botanik Menuju Agro-Tourism


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Salam Pembuka

Istikamah untuk Lepas dari Kabupaten Tertinggal K

abupaten Bondowoso merupakan salah satu di antara lima kabupaten tertinggal di Jawa Timur. Empat kabupaten lain yang masuk kategori kabupaten tertinggal ialah Bangkalan, Sampang, Situbondo, dan Pamekasan. Salah satu indikasi suatu daerah disebut tertinggal adalah masyarakat dan wilayahnya kurang berkembang. Parameternya, antara lain, masih besarnya jumlah penduduk miskin, banyaknya kawasan di daerah tersebut yang terisolasi, banyaknya rumah tinggal yang tidak layak huni, rendahnya partisipasi sekolah, dan buruknya kesehatan masyarakat. Dan ini pula, dari perspektif sistem nilai budaya, kecenderungan penduduk di daerah tertinggal ialah nrimo. Tak ngotot untuk berubah menjadi lebih baik. Menurut hasil registrasi penduduk tahun 2011, jumlah penduduk Kabupaten Bondowoso mencapai 745.267 jiwa). Mereka adalah 364.491 laki-laki dan 380.776 perempuan. Di antara jumlah penduduk sebesar itu, sebanyak 66.275 jiwa merupakan penduduk miskin. Lalu, warga penyandang cacat (2.631), penduduk lanjut usia yang tidak produktif (1.036), balita telantar (278), anak telantar (554), dan komunitas adat terpencil (6.136). Profil kependudukan seperti itu merupakan salah satu gambaran belum standarnya indeks pembangunan manusia (IPM). Meski terus meningkat sejak 2008 yang saat itu mencapai 61, 26; pada 2009 naik ke 61,11; lalu pada 2010 menjadi 62,94; dan pada 2011 berada di angka 63,81, IPM Bondowoso masih belum memadai. Demikian pula indeks kesehatan (IK) dan indeks harapan hidup (IHH). Meskipun sejak 2008 terus naik –pada tahu 2008 IHH Bondowoso mencapai 62, 69, tahun 2009 naik ke angka 63, 20, tahun 2010

naik lagi ke angka 63, 72, dan tahun 2011 bertengger di angka 64, 23. Ini semua belum mencerminkan IHH yang standar untuk ukuran kesehatan masyarakat masa kini. Indeks pendidikan (IP) Bondowoso selama empat tahun terakhir juga terus naik. Tahun 2008 angka IP Bondowoso mencapai 61, 09. Tahun 2009 naik menjadi 62, 41. Tahun 2010 naik ke angka 63, 45. Indeks daya beli (IDB) juga memperlihatkan kenaikan yang siknifikan. TahunTahun 2008 IDB Bondowoso baru mencapai 60, 02, tahun 2009 naik ke angka 60, 73, tahun 2010 naik lagi ke 61, 64, dan tahun 2011 bertengger di capaian indeks 62, 45. Dengan tren kemajuan pembangunan tersebut sejatinya Kabupaten Bondowoso bukanlah daerah yang tidak punya potensi untuk maju menjadi lebih baik. Babkan ke depan Bondowoso akan bergerak maju cepat meninggalkan label “Kota Pensiun menjadi Kota Kampiun” di Jatim. Kabupaten Bondowoso bukan daerah yang terkulai. Lihat saja capaian di sejumlah sektor dan bidang pembangunan, terutama untuk mempercepat pengurangan jumlah penduduk dan rumah tangga miskin, Bondowoso memiliki –meminjam terminologi kalangan pesantren– ikhtiar yang sangat istikamah untuk ’’berjuang’’ habis-habisan guna mempercepat kemajuan untuk segera menjadi kampiun. Bondowoso di bawah kepemimpinan Bupati Drs H. Amin Said Husni bekerja total seolah ’’berdarah-darah’’ untuk mempercepat kemakmuran masyarakatnya. Pemerintah Kabupaten Bondowoso kini dengan sangat antusias menemukan berbagai inovasi serta terobosan untuk segera keluar dari barisan kabupaten tertinggal di Indonesia dan Jawa Timur. Untuk layanan pendidikan, misalnya, pada 2007 dan 2010, Bondowoso memperoleh Anugerah Otonomi dari

•x•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

POTENSI WISATA: Situs Batu So’on di Desa Solor Kecamatan Cermee.

The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) sebagai daerah yang paling menonjol dalam inovasi layanan pendidikan. Salah satu yang perlu diapresiasi dari kebijakan layanan pemerataan pendidikan bagi peserta dan calon peserta didik itu ialah apa yang disebut sekolah satu atap dan sekolah afiliasi. Yakni, peserta didik tidak perlu jauh-jauh dari daerah tinggalnya untuk menempuh pendidikan lanjutan (SMP). Sudah disediakan layanan sekolah lanjutan di sekolah sebelumnya (sekolah dasar) bagi mereka. Tujuannya tentu saja untuk mengatrol partisipasi sekolah. Pada tahun 2009 dan 2010, Bondowoso meraih penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kabupaten yang dapat meningkatkan produksi padi di atas 5 persen per tahun. Prestasi paling anyar ialah Bondowoso meraih predikat sebagai kabupaten pengelola pendidikan anak usia dini (PAUD) terbaik ke-2 setelah Kabupaten Gorontalo. Dalam penyediaan anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan, Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga sangat serius. Lihat saja APBD tahun 2012. Di antara jumlah APBD 2012 yang mencapai Rp 1,1 triliun, sebesar Rp 517,55 miliar atau 49,49 persen dari APBD dikucurkan untuk program pendidikan. Angka itu jauh di atas amanat UUD 1945 yang meminta anggaran pendidikan dari APBN dan APBD hanya 20 persen. *** Totalitas Bondowoso untuk segera keluar dari barisan kabupaten tertinggal juga diperlihatkan di bidang pertanian, kesehatan, peternakan, serta ketahanan pangan. Misalnya, untuk pertanian, sekalipun merupakan daerah tertinggal, sejak 2009 Bondowoso sudah swasembada beras. Untuk peternakan, agar

•xi•

populasi ternak sapi terpelihara dengan baik, Dinas Peternakan dan Perikanan membuat terobosan yang sangat inovatif. Yakni, membuat program insentif sapi bunting (hamil) agar pemiliknya tidak menjual hewannya saat masih hamil. Besarannya tergolong banyak, yakni Rp 500 ribu. Dinas Pertanian dan Perkebunan pada tahun 2011 membuktikan bahwa Bondowoso tidak lama lagi keluar dari barisan kabupaten tertinggal. Tahun 2011, Bondowoso mulai mengekspor kopi ke Swiss –negeri di Eropa Barat yang dikenal sangat ketat melakukan uji kualitas mutu terhadap barang impor. Dan Kantor Ketahanan Pangan (KKP) terus memperbanyak lumbung pangan di daerah-daerah yang dianggap rawan pangan. KKP juga mendorong keanekaragaman konsumsi agar masyarakat di daerah-daerah yang terisolasi tidak hanya bergantung pada konsumsi beras. *** Lima tahun (2008–2012) di bawah kepemimpinan Bupati Drs H. Amin Said Husni memang bukan waktu memadai untuk membuat semua persoalan dan tantangan pembangunan Kabupaten Bondowoso terselesaikan. Masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang tersisa dengan tantangan yang masih lebih berat ke depan. Itu butuh waktu, tenaga, biaya, dan terobosan yang inovatif. Namun, upaya keras Pemerintah Kabupaten Bondowoso di bawah kepemimpinan Bupati Drs H. Amin Said Husni untuk mempercepat kemajuan, mempercepat kemakmuran, mempercepat pengurangan jumlah penduduk miskin, dan menjadikan Bondowoso segera keluar dari barisan kabupaten tertinggal di Jawa Timur dan Indonesia patut diapresiasi. (*)


Profil Bondowoso


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

•2•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Visi”

““TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA DAN BERMARTABAT”

Misi:

1. Peningkatan kualitas kehidupan keagamaan melalui peningkatan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. 2. Peningkatan kemampuan ekonomi masyarkat melalui pemberdayaan ekonomi rakyat dan revitalisasi sektor pertanian, perkebunan, kehutanan dan peternakan serta sektor jasa. 3. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan,pelatihan keterampilan serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat . 4. Peningkatan kualitas tata kepemerintahan yang baik dan peningkatan pelayanan publik prima. 5. Peningkatan kualitas demokrasi dan penegakan hukum melalui peningkatan kesadaran hukum masyarakat dan supremasi hukum.

•3•


Peta Kabupaten Bondowoso

Kabupaten Bondowoso

Letak geografis

Batas Wilayah Kabupaten Bondowoso

Koordinat 113°48’10” - 113°48’26’’ BT dan 7°50’10’’ - 7°56’41’’ LS

Utara Timur Selatan Barat

Provinsi Jawa Timur Sistem Pemerintahan Kabupaten Bupati Drs H. Amin Said Husni Luas Daerah 1.560,10 Km persegi Populasi (Jumlah Penduduk) 745.267 jiwa Kepadatan 454, 46 jiwa/km persegi Kode Area Telepon 0332 Pembagian administratif Kecamatan 23 Kelurahan 10 Desa 209 Alamat Website http:/www.bondowosokab.go.id

: Kabupaten Situbondo : Kabupaten Banyuwangi : Kabupaten Jember : Kabupaten Probolinggo

Posisi: Ibukota kabupaten Bondowoso berada di persimpangan jalur dari Besuki dan Situbondo menuju Jember. Wilayah: Bondowoso terdiri atas tiga wilayah: Barat wilayah pegunungan (bagian dari Pegunungan Iyang), bagian tengah wilayah dataran tinggi dan bergelombang, dan bagian timur merupakan pegunungan (bagian dari dataran tinggi Ijen). Bondowoso merupakan satu-satunya kabupaten di daerah Tapal Kuda Jawa Timur yang tidak memiliki garis pantai. Kondisi Alam: Kabupaten Bondowoso memiliki suhu udara yang sejuk berkisar 20,4 0C – 25,90 0C. Hal itu disebabkan kabupaten ini berada di antara beberapa pegunungan. Dalam hal ini pegunungan Kendeng Utara dengan puncaknya Gunung Raung dan Gunung Ijen di sebelah timur serta kaki pengunungan Hyang dengan puncak Gunung Argopuro, Gunung Krincing, dan Gunung Kilap di sebelah barat. Sedangkan di utara terdapat Gunung Alas Sereh, Gunung Biser, dan Gunung Bendusa. Letak Kabupaten Bondowoso tidak berada pada daerah yang strategis. Meskipun berada di tengah, namun Kabupaten Bondowoso tidak dilalui jalan negara yang menghubungkan antarpropinsi. Bondowoso juga tidak memiliki lautan. Ini yang menyebabkan Bondowoso sulit berkembang dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Jawa Timur. Sampai tahun 2012 Kabupaten Bondowoso masih tercatat sebagai salah satu kabupaten tertinggal di Indonesia dan di Jawa Timur. (*)


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

APRESIASI KULINER KHAS: Pamer piagam Pemecahan Rekor MURI Goreng Tape di Alun-alun Kabupaten Bondowoso, (2009).

•5•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

2007

2010

•6•

2011


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Buah Praktik Baik Pembangunan Daerah

2011

Bondowoso masih masuk kategori kabupaten tertinggal di Jatim. Juga di Indonesia. Toh itu bukan berarti tidak punya prestasi. Justru dengan posisi sebagai daerah tertinggal, pemerintah Kabupaten Bondowoso bekerja keras untuk mengejar kemajuan. Hasilnya selama lima tahun terakhir sejumlah praktik baik program pembangunan daerah membuahkan apresiasi berupa penghargaan. Tahun 2007 dan 2010, misalnya, Bondowoso meraih Otonomi Award dari The Jawapos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) untuk katgeori daerah paling menonjol dalam menemukan inovasi layanan pendidikan.Tahun 2011, Bondowoso kembali meraih Otonomi Award untuk kategori daerah paling menonjol inovasi pemberdayaan ekonomi lokal. Tahun 2009 dan 2010, Bondowoso memperoleh penghargaan dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai daerah yang berhasil meningkatkan produksi padi di atas 5 persen per tahun. Tahun 2011, Bondowoso kembali mengukir prestasi dari buah inovasi cerdas pengelolaan partisipasi pendidikan anak usia dini (PAUD). Bondowoso ditetapkan pemerintah pusat sebagai kabupaten dengan pengelolaan PAUD terbaik No 2 di Indonesia setelah Gorontalo. (*)

2011

•7•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

RUMDIN TEMPO DOELOE: Rumah dinas Bupati Bondowoso di masa lalu, tahun 1920-an

Sejarah B

ondowoso merupakan salah satu kabupaten tertua di Indonesia. Itu bisa dilihat dari perjalanan pemerintahan sejak masa kolonial Belanda. Menurut situs resmi Tropenmuseum, Belanda, alun-alun Kota Bondowoso –sebagai bagian dari tata kelola budaya pemerintahan daerah– telah ada sejak tahun 1927. Jika Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 maka alun-alun Kota Bondowoso sudah ada sejak 27 tahun sebelumnya. Tentu kondisi, suasana, dan topografi alun-alun saat itu jauh berbeda dengan wajah alun-alun Kota Bondowoso masa kini. Versi sumber-sumber lain menyebutkan bahwa semasa Pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki, Kabupaten Bondowoso mengalami kemajuan cukup baik. Itu disebabkan, antara lain, berfungsinya Pelabuhan Besuki yang menarik minat para pedagang dari luar Bondowoso. Ketika di kemudian hari penduduk Bondowoso kian padat maka dilakukan pengembangan wilayah. Dalam hal itu, antara lain, dengan membuka hutan ke arah tenggara Bondowoso. Dikisahkan saat itu Kiai Patih Alus usul agar Mas Astrotruno, putra angkat Bupati Ronggo Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas

untuk membuka hutan guna mengembangkan wilayah Bondowoso. Usul tersebutu diterima Kiai Ronggo-Besuki. Mas Astrotruno pun mengaku sanggup memikul tugas tersebut. Babak berikutnya Kiai Ronggo Suroadikusumo menikahkan Mas Astotruno dengan Roro Sadiyah, putri Bupati Probolinggo (saat itu) Joyolelono. Mertua Mas Astrotruno menghadiahkan kerbau putih “Melati” yang dongkol (tanduknya melengkung ke bawah) untuk jadi teman perjalanan dan penuntun mencari daerah-daerah yang subur. Praktis pengembangan wilayah ini dimulai pada 1789. Tujuannya, selain untuk politis juga untuk menyebarkan agama Islam sebab di sekitar wilayah yang dituju penduduknya masih menyembah berhala. Mas Astrotruno dibantu Puspo Driyo, Jatirto, Wirotruno, dan Jati Truno berangkat melaksanakan tugasnya. Mereka berjalan ke arah selatan. Mereka menerobos wilayah pegunungan sekitar Arak-arak “Jalan Nyi Melas”. Selanjutnya, rombongan menerobos ke timur sampai ke Dusun Wringin melewati gerbang yang disebut “Lawang Seketeng”. Nama-nama desa yang dilalui rombongan Mas Astrotruno, yaitu Wringin, Kupang,

•8•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Poler, dan Madiro. Berikutnya Mas Astrotruno Dkk bergerak menuju selatan ke desa Kademangan. Di desa ini mereka membangun pondok peristirahatan, Letaknya di barat daya Kademangan –diperkirakan di Desa Nangkaan sekarang. Desa-desa lain yang dituju ialah di utara. Yakni Glingseran, Tamben, dan Ledok Bidara. Ada pun di Barat terdapat Selokambang, Selolembu. sebelah timur adalah Tenggarang, Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Prajekan, dan Wonoboyo. Lantas di selatan terdapat Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang, Menampu, Kencong, dan Keting. Jumlah Penduduk pada waktu itu baru lima ratus orang. Tiap desa dihuni, dua, tiga, atau empat orang. Kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, di arah barat Sungai Kijing dan di utara Sungai Growongan (Nangkaan) yang dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, kurang lebih ±400 meter di utara alun-alun. Melelahkan pekerjaan membuka jalan dan wilayah baru saat itu. Berlangsung dari tahun 1789-1794. Untuk memantapkan wilayah kekuasaan, Mas Astrotruno pada tahun 1808 lalu diangkat menjadi demang dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno. Ada pun sebutannya ialah “Demang Blindungan”. Pembangunan kota pun dirancang. Rumah kediaman penguasa menghadap selatan di utara alun-alun. Alun-alun kota saat itu sejatinya adalah lapangan untuk memelihara kerbau putih kesayangan Mas Astrotruno. Di situ tumbuh rerumputan makanan ternak. Dalam perkembangannya lapangan itu menjadi alun-alun kota. Sedangkan di sebelah barat alun-alun kota dibangun masjid. Ketika pemerintah, Mas Astrotruno sering mengadakan berbagai tontonan, antara lain, aduan burung puyuh (gemek), sabung ayam, kerapan sapi, dan aduan sapi. Tujuannya untuk menghibur para pekerja. Tontonan aduan sapi diselenggarakan berkala dan menjadi tontonan di Jawa Timur sampai 1998. Atas jasa-jasanya kemudian Astrotruno diangkat sebagai Nayaka merangkap Jaksa Negeri. Dari ikatan Keluarga Besar “Ki Ronggo Bondowoso” sebuah sumber menyebutkan bahwa pada tahun 1809 Raden Bagus Asrah atau Mas Ngabehi Astrotruno dianggkat sebagi patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Ia dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso. Adapun tempat kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama

Blindungan. Dengan pembangunan demi penbangunan kota nama pun berubah menjadi Bondowoso –sebagai ubahan perkataan Wana Wasa. Makna Bondowoso kemudian dikaitkan dengan perkataan Bondo yakni modal atau bekal dan woso yang berarti kekuasaan. Makna seluruhnya ialah: “terjadinya negeri (kota) adalah semata-mata karena modal kemauan keras mengemban tugas (penguasa) yang diberikan kepada Astrotruno untuk membabat hutan dan membangun kota.” Meskipun Belanda bercokol di Puger dan secara administrtatif yuridis formal memasukan Bondowoso ke dalam wilayah kekuasaannya, dalam kenyataannya pengangkatan personel praja masih wewenang Ronggo Besuki. Karena itu tidak seorang pun yang berhak mengklaim lahirnya kota baru Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro. Hal ini juga dikuatkan dengan pemberian izin kepada Beliau untuk terus bekerja membabat hutan sampai akhir hayat Sri Bupati di Besuki. Pada tahun 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki dengan status Keranggan Bondowoso. Hampir bersamaan denga itu lalu mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, dengan predikat Ronngo I. Ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 H atau 17 Agustus 1819. Peristiwa itu kemudian dijadikan eksistensi formal Bondowoso sebagai wilayah kekuasaan mandiri di bawah otoritas kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember dan berlangsung antara 1829-1830. Pada 1830 Kiai Ronggo I mengundurkan diri. Kekuasaannya diserahkan kepada putra keduanya yang bernama Djoko Sridin yang pada waktu itu menjabat Patih di Probolinggo. Jabatan baru itu dipangku antar 1830-1858 dengan gelar M Ng Kertokusumo dengan predikat Ronggo II, berkedudukan di Blindungan sekarang Jalan S Yudodiharjo (Jalan Ki Ronggo) yang dikenal masyarakat Bondowoso sebagi “Kabupaten lama”. Setelah mundur, Ronggo I menekuni dakwah Islam. Ia bermukim di Kebun Dalem Tanggul Kuripan (Tanggul, Jember). Ronggo I wafat pada 19 Rabi’ulawal 1271 H atau 11 Desember 1854 dalam usia 110 tahun. Jenazahnya dimakamkan di sebuah bukit (Asta Tinggi) di Desa Sekarputih. Masyarakat Bondowoso menyebutnya sebagai “Makam Ki Ronggo”. (*)

•9•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

•10•


Teras


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Kabupaten dengan Surplus Padi Totalitas Bondowoso untuk Keluar dari Daerah tertinggal

U

daranya sejuk. Sekitar 15–25 derajat Celsius. Panorama alam indah. Toh, itu semua tak membuat Bondowoso menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Jatim. Mengapa? Sebab, letak geografis Bondowoso memang tidak strategis. Misalnya, kota kabupaten ini tidak dilalui jalan negara yang menghubungkan lalu lintas antarprovinsi. Juga, bukan daerah perlintasan kendaraan antarkota. Letaknya di tengah, hampir dikepung pegunungan. Dan tidak punya laut. Itu membuat perkembangan Bondowoso tidak sepesat kabupaten tetangganya, Jember dan Banyuwangi. Bondowoso juga termasuk salah satu kabupaten tertinggal di antara lima kabupaten di Jawa Timur. Empat kabupaten lainnya ialah Situbondo, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faisal Zaini, ketika berkunjung ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember pada 18 November 2012, menyatakan, terdapat 183 daerah kabupaten-kota tertinggal di Indonesia. Lima di antaranya berada di Jawa Timur. Dan, semua kabupaten tertinggal di Jatim berada di kawasan tapal kuda. Penentuan daerah tertinggal berdasar enam kriteria utama. Masing-masing ialah perekonomian masyarakat, sumber daya manusia (SDM), infrastruktur berupa prasarana, kemampuan keuangan lokal, aksesibilitas, dan karakteristik daerah. (kantor berita Antara) Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berusaha menggenjot pertumbuhan ekonomi

di wilayah tapal kuda. Sebagian besar di antara 3.779.000 warga miskin di Jawa Timur berada di wilayah tapal kuda yang meliputi Madura, Bondowoso, Situbondo, Jember, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Pasuruan. Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, sebuah survei menyebutkan bahwa Kabupaten Bondowoso tercatat sebagai daerah dengan konsentrasi kemiskinan sangat tinggi. (www. Tempointeraktif, 23 Januari 2010) Sampai saat ini, Bondowoso memang masih tercatat sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Meski demikian, selama lima tahun terakhir (2008–2013), Pemerintah Kabupaten Bondowoso di bawah kepemimpinan Bupati Drs H. Amin Said Husni bekerja sangat keras untuk terus menurunkan jumlah penduduk miskin. Hasilnya pun mulai terlihat. Dalam kurun lima tahun terakhir, angka kemiskinan terus menurun. Pada 2008, tingkat kemiskinan mencapai 22, 23 persen. Tahun 2009 turun menjadi 20, 18 persen dari 740.291 jiwa atau seluruh jumlah penduduk Bondowoso hasil registrasi akhir 2009. Tahun 2010 turun lagi menjadi 17, 89 persen. Dan tahun 2011 terus menurun menjadi 16, 68 persen dari 745.267 penduduk hasil registrasi penduduk pada akhir 2011. Menurut Statistik Daerah Kabupaten Bondowoso 2010 , dari Pendataan Sosial Ekonomi (PSE) 2005, diketahui rumah tangga miskin di Bondowoso berjumlah 159.798 kepala keluarga (KK). Tetapi menurut hasil survei sosial ekonomi nasional (susenas)

•12•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

PANEN RAYA: Para petani panen padi di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogosari.

2008, jumlah rumah tangga miskin mencapai 167.366 KK. Sebagian besar masuk kategori hampir miskin. Hanya sebagian kecil yang masuk kategori miskin dan sangat miskin. Sedangkan menurut hasil pada Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011 yang dirilis tahun 2012, penduduk miskin di Bondowoso sebesar 126.000 KK. Dari 126.000 KK miskin tersebut jumlah terbesar berada di Kecamatan Tlogosari sebanyak 10. 167 KK dan terkecil di Kecamatan Sempol sebesar 1.374 KK. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) –rilisnya diterima Bappeda Bondowoso tanggal 19 desember 2012–Jumlah penduduk miskin di Bondowoso memang terus menurun. Tahun 2008 sebesar 22,23 persen dari 152, 57 penduduk. Tahun 2009 turun ke 20, 18 persen dari 138, 65 penduduk. Tahun 2010 menjadi 17, 89 dari 131, 90 penduduk. Dan samppai 2011 jumlah penduduk miskin di Bondowoso hanya 123, 574 dari 745, 267 penduduk. Dalam buku Kabupaten Bondowoso dalam Angka 2012 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik Kabupaten Bondowoso –bekerja sama dengan Bappeda Kabupaten Bondowoso– tercatat keluarga prasejahtera pada 2010 berjumlah 109.105 keluarga dan pada 2011 sebanyak 107.501 keluarga. Toh, meski tercatat sebagai daerah miskin, tidak berarti Bondowoso loro lopo, meminjam istilah mantan Presiden Soeharto pada masa lau untuk menyebut ’’lemah dan tak punya apa-apa’’ (baca: miskin nan lemah). Bondowoso justru tercatat sebagai salah satu kabupaten di Jatim yang memi-

liki sejumlah prestasi sangat baik dengan sejumlah terobosan dan inovasi untuk segera keluar dari barisan kabupaten tertinggal di Jawa Timur. Misalnya, Bondowoso berhasil meningkatkan produksi padi lebih 5 persen dari target seluruh produksi sejak 2009. Karena berhasil menaikkan produksi padi lebih 5 persen itu pada tahun 2009 dan 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan pada Bupati Amin Said Husni. Data persediaan dan pengadaan beras yang dimonitor Bulog menyebutkan, selama 2011, pemasukan beras hampir terjadi tiap bulan. Dalam data di BPS dan Bappeda Bondowoso tercatat, jumlah persediaan awal pada Januari mencapai 11.651 ton dan pemasukan selama 2011 sebesar 46.282 ton. Sedangkan yang dikeluarkan 54.158 ton. Jadi, sampai akhir tahun masih ada persediaan beras 3.775 ton. Populasi ternak sapi terbaik di Jatim juga berada di Bondowoso. Peternak sapi memang berlomba menernakkan hewan piaraannya. Bukan saja karena menambah jumlah sapinya, melainkan juga karena Bupati Amin Said memiliki program yang cukup inovatif. Apa itu? Program insentif bagi pemilik sapi bunting. Pada 2011, di kabupaten ini terdapat 203.794 ekor sapi potong, sedangkan sapi perah hanya empat ekor. Populasi sapi potong memang jauh lebih banyak daripada ternak-ternak lain. Kambing hanya 31.312 ekor, domba 24.871 ekor, dan kuda hanya 958 ekor.

•13•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

ALAM NAN INDAH: Panorama Gunung Ijen di Bondowoso

Desa di Lereng Gunung K

epala Bappeda Kabupaten Bondowoso (ketika itu) Ir Misnadi MM (kini diganti oleh Drs. Agung Trihandono, SH, MM berterus terang mengakui bahwa daerahnya memang masih termasuk wilayah miskin. ’’Takdir’’ kemiskinan yang menimpa Bondowoso itu, menurut dia, antara lain disebabkan kondisi geografis. Sekitar 44 persen wilayah Bondowoso berupa lereng gunung. Sebagian desa terletak di lerenglereng gunung tersebut. Letak desa-desa yang cukup jauh dan terpencil itu sulit dijangkau infrastruktur, sehingga nyaris sangat terisolasi. Apalagi, tanah-tanah di lereng itu hampir tidak bisa dibudidayakan. Selain itu, kawasan Bondowoso termasuk lingkaran rawan bencana. Tingkat kemiringan dan tekstur tanah yang bervariasi menjadi salah satu penyebab terjadinya erosi (longsor). Tak kurang dari 15 kecamatan di kabupaten ini merupakan daerah rawan longsor. Di antaranya, Kecamatan Sempol, Sumberwringin, Tlogosari, Wringin, Tegalampel, Klabang, Pakem, Binakal, Curahdami, Grujugan, dan Maesan. Tanah longsor yang hampir terjadi tiap tahun itu sering melanda permukiman pedesaan serta merusak prasarana irigasi, air bersih, jalan dan jembatan, serta lahan-lahan

pertanian. Selain itu, kemiskinan dan keterbelakangan Kabupaten Bondowoso disebabkan sistem nilai budaya masyarakat. Sikap hidup dan orientasi sosial ikut memberikan kontribusi terhadap kemiskinan. ’’Masyarakat Bondowoso masih banyak yang bersikap nerimo. Kurang ngotot untuk berubah menjadi lebih baik,’’ beber Misnadi. Karena itu, ujar dia, tak banyak warga Bondowoso yang merantau untuk mencari kehidupan yang lebih maju. Jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Bondowoso yang bekerja di luar negeri juga sangat minim. Jumlah perantau ke luar daerah seperti ikut transmigrasi juga tergolong kecil. Dalam katalog BPS Bondowoso, pada 2010, hanya terdapat 12 keluarga yang ikut transmigrasi. Tahun berikutnya naik menjadi 30 keluarga. Kantong-kantong kemiskinan di Kota Tape itu tersebar merata di wilayah yang terdiri atas 23 kecamatan, 209 desa, 10 kelurahan, dan sekitar 1.379 dusun tersebut. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam setiap programnya selalu memprioritaskan upaya pengentasan kemiskinan. Ibaratnya ’’berdarah-darah’’ untuk mempercepat penurunan jumlah penduduk miskin.

•14•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

KELEMAHAN SEKALIGUS POTENSI: Lereng pegunungan dan perbukitan terjal. Dalam lima tahun pemerintahan Bupati Drs H. Amin Said Husni, program penurunan angka kemiskinan itu merupakan prioritas yang dilaksanakan melalui sinergi lintas SKPD (satuan kerja perangkat daerah). SKPD-SKPD tersebut, antara lain, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan-Perkebunan, Dinas Peternakan-Perikanan, Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagagan (Diskorpindag), Kantor Ketahanan Pangan, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, Dinas Sosial, Bapemas, Bakesbang dan BPD. Misalnya, melalui program Sekolah Afiliasi, Dinas Pendidikan (Dispendik) menyiapkan generasi yang lebih baik dalam olah pikir dan skill. Itu merupakan investasi pembangunan yang hasilnya baru bisa dirasakan pada masa depan. Dengan pendidikan yang lebih merata dan dengan mutu yang terus membaik, diharapkan generasi muda mendatang mampu meningkatkan sumber daya manusianya. Mereka pun diharapkan mendapatkan kesempatan kerja yang lebih layak dan pendapatan yang lebih baik. Dengan demikian, kelak kehidupan ekonomi mereka lebih makmur. Dan status sosial ekonomi pun akan meningkat. Hasil akhirnya, mereka diharapkan bisa mentas dari zona miskin. Untuk menembus desa-desa terpencil itu, Dispendik membangun beberapa Sekolah Satu Atap (untuk SD dan SMP) serta sekolah afiliasi. Sekolah ’’darurat’’ satu atau dua kelas yang berafiliasi dengan sekolah negeri terdekat. Program itu sudah dilakukan bupati sebelumnya,

Maschoed, yang kemudian dilanjutkan lebih fokus, lebih terarah, dan lebih terprogram pada era Bupati Amin Said Husni. Di bidang kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso bertugas mewujudkan masyarakat yang berkualitas, berdaya saing, aman, tertib, dan sejahtera. Untuk mewujudkan tujuan itu, Dinkes melakukan berbagai upaya melalui peningkatan pelayanan kesehatan yang merata dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat serta meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar. Untuk menjangkau desa-desa terpencil, Dinkes Kabupaten Bondowoso memberdayakan warga dengan membentuk Posdaya (Pos Pemberdayaan) Kesehatan di beberapa pedukuhan. Tak kurang dari 24 Posdaya sudah terbentuk di 24 pedukuhan. Posdaya murni merupakan partisipasi masyarakat. Untuk melayani masyarakat miskin, Dinkes juga punya program pelayanan kesehatan masyarakat miskin. Misalnya, melalui Jamkesnas-Jamkesda. Pada 2011, jumlah warga miskin yang masuk Jamkesnas-Jamkesda di Kabupaten Bondowoso mencapai 465.385 jiwa. Perinciannya, 426.247 jiwa ditanggung Jamkesnas dan 39.138 jiwa tanggungan Jamkesda. Dinkes juga sudah menyiapkan program apik untuk masyarakat miskin yang segera dijalankan pada 2013. Program tersebut ialah layanan gratis untuk perawatan kelas III di seluruh puskesmas di Bondowoso.

•15•


MENEMBUS KETERPENCILAN: Selama lima tahun terakhir (2008-2013), pemerintah Kabupaten Bondowoso terus membangun jalan dan jembatan baru,memelihara atau memperbaiki jalan dan jembatan lama yang menghubungkan antardesa (atas, kiri, dan kanan bawah).


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Bangun Jalan Menembus Isolasi U

paya pengentasan kemiskinan di bidang ekonomi lebih banyak ditangani Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan-Perkebunan, dan Dinas Peternakan-Perikanan. Dinas-dinas tersebut memberikan pelatihan, penyuluhan, serta pendampingan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani. Mereka juga membentuk kelompok-kelompok tani sebagai wadah diskusi dan memecahkan masalah secara bersama. Dengan peningkatan kemampuan dan keterampilan serta kerja sama kelompok, hasil usaha mereka diharapkan juga meningkat yang berdampak pada peningkatan pendapatan. Namun, seberapa pun besar hasil usaha para petani di desa terpencil itu tak akan ada gunanya tanpa akses jalan memadai yang menghubungkan produsen dengan konsumen. Karena itu, Dinas Pekerjaan UmumBina Marga Kabupaten Bondowoso sangat giat membangun jalan-jalan

baru untuk menembus desa-desa terpencil. Untuk Bahkan, Kabupaten Bondowoso membuka desa-desa baru untuk mendekatkan fasilitas pelayanan kepada warga desa terpencil. Misalnya, membuka Sekolah Satu Atap, sekolah afiliasi, serta Posdaya dan Poskesdes itu. Karena lokasi yang sulit, tak semua jalan baru itu berupa jalan aspal yang mulus. Tak sedikit yang hanya jalan makadam, bahkan jalan setapak. Pembangunan jalan dan pembukaan desa-desa baru itu sudah dilakukan pada era kepemimpinan Bupati Maschoed yang kemudian diteruskan dengan baik oleh Bupati Amin Said Husni selama lima tahun terakhir ini. Karena programnya memang bagus, Bupati Amin menindaklanjuti dengan melengkapi fasilitas, antara lain, memberikan tanah kas desa, balai desa, perangkat desa, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Membuka isolasi: Salah satu jembatan penghubung yang banyak dibangun di pedesaan Bondowoso.

•17•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Safari Jumat Safari Kecamatan

SAFARI JUMATAN: Bupati Bondowoso Drs H. Amin Said Husni M.Si memberikan sambutan di Desa Wonoboyo, Kecamatan Klabang, (2011).

P

redikat daerah tertinggal dengan tingkat kemiskinan tinggi membuat Pemerintah Daerah (pemda)Kabupaten Bondowoso bekerja ekstrakeras mengentas kemiskinan sekaligus membenahi diri. Dalam APBDP 2012, pemerintah kabupaten menaikkan alokasi anggaran penanggulangan kemiskinan, terutama dalam bentuk layanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Selain itu, menurut Bupati Amin Said Husni, volume anggaran dialokasikan untuk peningkatan kualitas tenaga kerja, penanganan penyandang

masalah sosial, peningkatan partisipasi masyarakat dalam membangun desa, pengembangan ekonomi perdesaan, dan bantuan stimulan perumahan swadaya. Pada tahun 2009 di Kabupaten Bondowoso terdapat 84 ribu lebih rumah warga yang tak layak huni. Secara bertahap melalui APBD, Pemda Kabupaten Bondowoso memberikan bantuan untuk pembangunan rumah-rumah tersebut. Pada 2012, APBD mengalokasikan anggaran untuk pembangunan 4 ribu lebih rumah tak layak

•18•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

huni. Dengan kondisi sebagai kabupaten tertinggal, Bondowoso terus berusaha untuk meningkatkan kualitas rumah penduduk yang tidak layak huni. Perlu diketahui tahun 2009 di seluruh Bondowoso terdapat 84. 379 rumah tidak layak huni (RTLH). Saat itu (2009) pemda kabupaten menangani perbaikan 3. 256 RTLH agar layak huni. Tahun 2010 jumlah RTLH turun menjadi 81. 123 rumah. Lalu yang diperbaiki pemda agar layak huni sebanyak 505 rumah. Tahun 2011 turun lagi menjadi 80. 618 RTLH diperbaiki sebanyak 1. 505 rumah. Tahun 2012 terus menurun menjadi 79. 113 RTLH diperbaiki sebanyak 4. 208 rumah. Karena RTLH terus diperbaiki maka tahun 2013 RTLH turun lagi menjadi 74. 904 rumah. Bantuan untuk warga miskin juga dilakukan Dinas Sosial Kabupaten Bondowoso melalui Program Bantuan Sosial. Termasuk, pemberian insentif untuk pengurus RT/RW sebesar Rp 250 ribu per bulan dan guru ngaji Rp 750 ribu per tahun. Ada juga bantuan untuk kemakmuran masjid sebesar Rp 2 juta per tahun. Tak kurang dari 1.000 masjid di kabupaten itu menerima bantuan. Bondowoso memang termasuk kota santri. Sekitar 95 persen penduduk memeluk agama Islam. Karena itu, Bupati Amin Said sebagai tokoh yang juga berlatar belakang santri gampang saja masuk melalui kegiatan-kegiatan keagamaan untuk menyampaikan misi pemerintahannya. Hampir tiap Jumat Bupati melakukan safari ke berbagai masjid untuk khotbah Jumat sekaligus menjadi imam salat. Usai salat Jumat, dia berdialog dengan warga, melihat program kelompok tani, memberikan bantuan, dan sebagainya. Tiap awal tahun anggaran bupati Bondowoso rutin melakukan kunjungan kerja ke seluruh kecamatan. Di situ, Bupati Amin Said menyampaikan program-program yang sudah dilakukan, sedang, dan yang akan dilakukan, lengkap dengan laporan pertanggungjawabannya. Terkait pendidikan, Bupati Bondowoso juga rutin melakukan safari tahunan ke kecamatan-kecamatan. Bupati menemui stake holder pendidikan untuk menyampaikan program pendidikan yang akan dijalankan.

Sosialisasi APBD: Setiap awal tahun anggaran Bupati Bondowoso H. Amin Said Husni dan Muspida selalu melakukan kerja ke kecamatan-kecamatan (atas dan bawah).

•19•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Indikator Lolos dari Ketertinggalan K

abupaten Bondowoso segera menanggalkan predikat daerah tertinggal. Paling tidak hal tersebut bisa dilihat turus menurunnya jumlah penduduk miskin. Selain itu, dilihat dari indiktor kondisi ekonomi, Kabupaten Bondowoso makin membaik. Misalnya, pertumbuhan ekonomi yang terus naik sejak 2009. Pada tahun 2007 pertumbuhan ekonomi Bondowoso hanya 5,51 persen. Tahun 2008 turun ke angka 5, 31 persen. Tahun 2009 turun lagi menjadi 5, 01 persen. Tetapi memasuki 2010 naik menjadi 5, 64 persen. Lalu tahun 2011 melonjak menjadi 6,2 persen. Struktur perekonomian Bondowoso meliputi tiga bidang. Masing-masing ialah pertanian (primer), manufaktur (sekunder), dan layanan (tersier). Selama kurun waktu tiga tahun, besaran PDRB Bondowoso meningkat cukup signifikan. Pada 2009, PDRB atas dasar harga berlaku sebesar Rp 6.254.349,92 juta; pada 2010 meningkat menjadi Rp 6.990.737,64 juta; dan pada 2011 mencapai Rp 7.829.864,85 juta. Kenaikan besaran PDRB itu berdampak pada PDRB per kapita yang juga naik. Pada 2009, PDRB per kapita tercatat Rp 8.536.893; tahun 2010 sebesar Rp 9.488.322; dan pada 2011 menembus Rp 10.567.803. Yang menggembirakan ialah Indeks Pembangunan

Pertumbuhan ekonomi Bondowoso pada tahun 2011

6,2%

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bondowoso pada tahun 2011

63,81

Manusia (IPM) di Bondowoso yang terus meningkat, meski tidak terlalu tajam. Dalam empat tahun terakhir –sejak 2008 sampai 2011 IPM Bondowoso terus meningkat. Tiga komponen IPM semuanya meningkat. Yaitu, indeks harapan hidup (kesehatan), indeks pendidikan, dan indeks paritas daya beli (lihat: IPM Bondowoso 2011, Bappeda – BPS Bondowoso, hal 24). Otomatis IPM Kabupaten Bondowoso pun naik dari 61,26 pada 2008; naik 62,11 (2009); 62,94 (2010); dan 63,81 (2011). Lambatnya kenaikan angka IPM itu, antara lain, disebabkan dampak investasi pembangunan pada sektor pendidikan dan kesehatan yang berlangsung jangka panjang. Baru terasa hasilnya pada masa depan. Karena itu, Nilai IPM tahun 2011 yang mencapai 63,81 belum mampu mengatrol posisi Kabupaten Bondowoso ke tingkat yang lebih tinggi. Tetap di posisi menengah bawah. Peningkatan status IPM berdasar klasifikasi sebagai berikut: <50 (rendah), 50 ≤ IPM <66 (menengah bawah), 66 ≤ IPM <80 (menengah atas), ≥80 (tinggi). (vide: www.ipm kab.bondowoso2011) Program-program yang sudah dan sedang akan dilakukan Pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk meningkatkan status daerah –termasuk pengentasan kemiskinan– sudah berada pada trek yang tepat. Perbaikan perekonomian masyarakat sudah dilakukan melalui sektor pertanian dan sektor-sektor lain. Pembangunan SDM dilaksanakan melalui pendidikan dan kesehatan. Pemerintah kabupaten juga terus memperbaiki dan membangun infrastruktur, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), serta memperbanyak jaringan untuk memudahkan warga masyarakat dalam mengakses informasi, layanan publik, dan lembaga keuangan. Tentu, perlu dukungan dan partisipasi masyarakat untuk menurunkan jumlah penduduk miskin serta mendorong Kabupaten Bondowoso segera lepas dari terali kabupaten tertinggal. Keluar dari barisan kabupaten tertinggal di Jatim dan di Indonesia. (*)

•20•


1

Menggapai Bondowoso Sehat


Perluas Layanan Kesehatan Warga Miskin Kemiskinan bukan hanya soal kelemahan sumber daya ekonomi. Justru karena masalah ekonomi, warga miskin juga rentan dengan masalah kesehatan. Mereka rentan lantaran tak mampu menjangkau layanan kesehatan yang murah sekalipun. Pemerintah Kabupaten Bondowoso, melalui Dinas Kesehatan, memberikan layanan kesehatan yang murah bagi warga miskin.

Drs H Amin Said Husni


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Posdaya di Gugus Depan

LAYANAN GIGFI SEHAT: Pengukuhan Pengurus dan Perawat Gigi Kabupaten Bondowoso di Puskesmas Nangkaan, (2011).

S

ejak 2008, layanan kesehatan yang diberikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso dititikberatkan pada keluarga miskin. Selain layanan yang mengacu pada program pemerintah pusat melalui Jamkesmas-Jampersal, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengalokasikan anggaran untuk Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah). Pada tahun anggaran 2010, Jamkesda digelontor anggaran Rp 2,4 miliar. Tak kurang dari 39.138 orang ditanggung Jamkesda. Sedangkan tanggungan Jamkesnas menjangkau 426.247 jiwa. Itu masih belum cukup. Keluarga miskin yang tak tertanggung Jamkesmas-Jamkesda tetap bisa menikmati

layanan kesehatan melalui Surat Pernyataan Miskin (SPM). Selain jaminan kesehatan, Dinkes membuat berbagai terobosan. Misalnya, membuka pos-pos layanan yang disesuaikan dengan kondisi geografis daerah. Dalam hal ini, antara lain, membuka pospos layanan kesehatan yang bisa dijangkau warga yang tinggal di desa-desa terpencil. Seperti diketahui, lebih dari 44 persen wilayah Bondowoso merupakan lereng gunung. Sebagian desa di kabupaten itu berada di lereng-lereng gunung tersebut. Mereka sulit dijangkau infrastruktur. Akibatnya, desa-desa tersebut amat

â&#x20AC;˘23â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

sulit mendapatkan fasilitas layanan publik seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan-layanan lain. Gugus paling depan dalam layanan kesehatan itu adalah Posdaya dan Posyandu. Pos tersebut murni untuk pemberdayaan masyarakat. Mulai tempat, tenaga, fasilitas seperti meja kursi dan fasilitas-fasilitas Lain. Tak kurang dari 24 Posdaya dibangun di 24 pedukuhan, di 22 desa terpencil. Kadinkes Kabupaten Bondowoso dr Mohammad Imron mengakui, jumlah Posdaya itu belum meng-cover 50 persen desa terpencil. Di Kabupaten Bondowoso terdapat 209 desa dan sekitar 1.500 dusun. Posdaya berada di bawah binaan Ponkesdes (Pondok Kesehatan Desa) yang berada di desa-desa

terdekat. Mereka dilatih memberikan penyuluhan kesehatan. Misalnya, membuat brosur, menyebar buletin, dan menyampaikan informasi masalahmasalah kesehatan. Relawan Posdaya juga dilatih mengoperasikan alat-alat kesehatan dasar seperti mengukur suhu tubuh, mengukur tekanan darah, dan melakukan pertolongan pertama. Operasional Posdaya disesuaikan dengan kegiatan desa masing-masing. Petugas Ponkesdes melakukan kunjungan rutin ke Posdaya minimal sebulan sekali. Dinkes juga menerima biaya operasional Puskesmas dari APBN melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Biaya tersebut dipakai untuk pembinaan posdaya.

Rekrut 157 Perawat PTT Ponkesdes di Kabupaten Bondowoso merupakan perluasan Polindes (Pos Bersalin Desa). Terdapat 157 Ponkesdes di kabupaten itu. Tiap-tiap Ponkesdes dilengkapi seorang bidan dan seorang tenaga medis. Dan untuk memperkuat tenaga medis, Bondowoso merupakan satu-satunya kabupaten di Jawa Timur yang merekrut tenaga perawat PTT (pegawai tidak tetap). Sejak 2010, Pemerintah Kabupaten Bondowoso merekrut 157 tenaga perawat yang ditempatkan di tiap Ponkesdes. Honor para perawat itu ditanggung bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan Pemeritah Provinsi Jatim dengan pembagian masing-masing 50 persen.

Kehadiran Ponkesdes, Posyandu, plus Posdaya ternyata berdampak positif bagi perluasan jangkauan layanan kesehatan. Dalam hal ini, dapat memudahkan masyarakat desa di daerah terpencil untuk mendapat layanan kesehatan. Dengan demikian, layanan terhadap warga yang sakit pun meningkat. Berikutnya, angka kematian ibu dan bayi kian menurun. Berdasar data dari Dinkes Kabupaten Bondowoso, angka kematian ibu pada 2009 tercatat 21 orang. Kemudian, dalam tiga tahun terakhir berturutturut, 2010, 2011, dan 2012, menurun masing-masing menjadi 20, 16, dan pada 2012 menurun lagi menjadi 8 orang. Adapun angka kematian bayi pada 2009 tercatat 230, menurun menjadi 213 pada 2010, turun lagi

Profil Kesehatan Kabupaten Bondowoso Posyandu Aktif 2009–2011 Penjelasan: Dari grafis ini –Profil Kesehatan Kabupaten Bondowoso– dapat dijelaskan bahwa jumlah Posyandu Aktif (Purnama Mandiri) naik pada 2009–2011. Pada 2011, di Kabupaten Bondowoso ada 1.048 Posyandu. Dari jumlah tersebut, Posyandu aktif mencapai 428 Posyandu (40,84%).

Grafik IV.1 Posyandu Aktif Tahun 2009 - 2011

•24•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

menjadi 190 pada 2011, dan pada 2012 (sampai awal Desember) terdapat 140 kematian bayi. Kesehatan ibu dan keluarga yang membaik itu memberikan kontribusi cukup berarti bagi keberhasilan pembangunan manusia. Dalam IPM Kabupaten Bondowoso disebutkan, angka harapan hidup (AHH) kabupaten itu pada 2011 tercatat 63,54 tahun, meningkat 0,31 tahun dibanding 2010 yang berada di angka 63,23 tahun. Artinya, usia penduduk Bondowoso pada 2011 bertambah 3,72 bulan dibanding tahun sebelumnya. Berkat kesadaran hidup sehat yang dikampanyekan Dinkes Bondowoso, tingkat pemanfaatan

sarana kesehatan –RS dan puskesmas– oleh penduduk tergolong tinggi. Terutama rawat jalan yang mencapai 97,5 persen dari jumlah penduduk. Pada 2011, jumlah kunjungan rawat jalan di puskesmas 650.372 orang, sedangkan rawat inap 13.514 (penduduk Kabupaten Bondowoso tahun 2011 sebanyak 740.737 jiwa). Sementara itu, kunjungan rawat jalan di Rumah Sakit Umum Dr H Koesnadi Bondowoso mencapai 62.287 orang dan rawat inap 13.514 orang. Kunjungan rawat jalan di Rumah Sakit Bhayangkara Bondowoso 7.961 orang dan rawat inap 2.534 orang. Kunjungan rawat jalan di RS Kusuma Bhakti 1.620 orang dan rawat inap 1.105 orang.

Pertumbuhan Desa Siaga 2009–2011 Grafik IV.2 Desa Siaga Aktif Tahun 2009 - 2011

Sumber: Buku Profil Kesehatan Kabupaten Bondowoso, 2012 Ilustrasi grafik pertumbuhan desa siaga Kabupaten Bondowoso ini menjelaskan bahwa jumlah Desa Siaga Aktif pada 2009–2011 meningkat. Pada 2011, Desa Siaga mencapai 218 desa. Di antara jumlah tersebut, 89 desa adalah Desa Siaga Aktif (40,83%). Pada tahun anggaran 2011, Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso mendapatkan alokasi anggaran Rp 66.599.302.796 (belanja langsung dan tidak langsung). Program atau kegiatan pokok yang dilaksanakan, sesuai dengan Peraturan Menteri dalam Negeri No 13 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, antara lain, upaya kesehatan masyarakat meliputi pemeliharaan dan pemulihan kesehatan serta penyediaan

biaya operasional dan pemeliharaan kesehatan. Selain itu, Program Perbaikan Gizi Masyarakat yang meliputi penanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A, dan kurang gizi mikro lain. Tentu, juga program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular, standardisasi pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan penduduk miskin, peningkatan pelayanan kesehatan balita dan lansia, peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak, pemberdayaan kader kesehatan, serta program peningkatan pelayanan kasus dampak zat berbahaya yang terkandung dalam asap rokok.

•25•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Untuk menjalankan program-program tersebut, Dinkes Kabupaten Bondowoso didukung sumber daya manusia (SDM), sarana, dan prasarana yang cukup. Kegiatan operasional itu dilakukan di Dinas Kesehatan, rumah sakit, maupun Puskesmas. Tenaga kesehatan di Dinas Kesehatan Bondowoso termasuk di UPTD (unit pelaksana teknis daerah)-nya, rumah sakit umum, RS Bhayangkara, dan RS Kusuma Bhakti mencapai 1.252 orang. Tenaga kesehatan tersebut berstatus pegawai negeri sipil (PNS), pegawai tidak tetap (PTT), dan

tenaga kontrak daerah. Sedangkan sarana dan prasarana berupa gedung, mobil-mobil dinas dan puskesmas keliling, kendaraan dinas roda dua, serta komputer. Kegiatan operasional Dinas Kesehatan dilaksanakan di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso dan di Gudang Farmasi Kabupaten (GFK). Pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Kabupaten Bondowoso, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Ponkesdes, dan Posyandu.

Persebaran Tenaga Kesehatan di Kabupaten Bondowoso Tahun 2011 Dinkes

Puskesmas

RS(RSUD,RS Bhayangkara, RS Kusuma Bhakti)

Dokter spesialis

0

0

23

2.

Dokter umum

3

42

30

3.

Dokter gigi (termasuk drg spesialis)

0

33

5

4.

Kesehatan Masyarakat

18

0

10

5.

Perawat (termasuk sarjana keperawatan)

6

369

212

6.

Bidan

9

280

36

7.

Tenaga Kefarmasian

4

24

22

8.

Sanitarian

10

27

8

9.

Tenaga gizi

4

24

11

10.

Fisioterapis

0

0

4

11.

Tenaga Keteknisian Medis

4

13

21

58

812

382

No

Jenis Tenaga Kesehatan

1.

JUMLAH

Sumber: Buku Profil Kesehatan Kabupaten Bondowoso, 2012

Tabel Rasio Sarana Kesehatan Dasar terhadap Penduduk di Kabupaten Bondowoso Tahun 2011 Sarana Kesehatan Dasar

Jumlah

Rasio per 100.000 penduduk

Puskesmas

25

3,37

Puskesmas Pembantu

63

8,51

Ponkesdes

157

21,20

Sumber: Buku Profil Kesehatan Kabupaten Bondowoso, 2012 Bagaimana dengan rumah sakit umum daerah (RSUD)? Sampai tahun 2012 ini, terdapat 3 (tiga) rumah sakit (RS). Masingmasing ialah Rumah Sakit Umum Dr H Koesnadi dengan jumlah tempat tidur 229

unit, Rumah Sakit Bhayangkara dengan 44 TT, dan Rumah Sakit Kusuma Bhakti dengan 35 TT. Rasio Rumah Sakit terhadap 100.000 penduduk sebesar 0,41. Artinya, satu Rumah Sakit melayani 243.902 penduduk.

â&#x20AC;˘26â&#x20AC;˘


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Infrastruktur kesehatan: Salah satu gedung puskesmas siap digunakan.

Tabel Rasio Sarana Kesehatan Rujukan terhadap Penduduk Kabupaten Bondowoso Tahun 2011 Sarana Kesehatan

Jumlah

Rasio per 100.000 penduduk

Rumah Sakit

3

0,41

Rumah Bersalin

1

0,14

Balai Pengobatan

5

0,68

Apotek

17

2,30

Sumber: Buku Profil Kesehatan Kabupaten Bondowoso, 2012

â&#x20AC;˘27â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Menuju Kabupaten Sehat Secara umum, visi pembangunan kesehatan Kabupaten Bondowoso adalah menuju masyarakat Bondowoso yang sehat, mandiri, dan berkeadilan. Sedangkan misinya ialah menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau serta memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat beserta lingkungannya. (vide: Profil Kesehatan Kabupaten Bondowoso 2011). Masyarakat juga berperan aktif dalam mewujudkan visi-misi itu. Indikator tersebut dapat dilihat dalam pengembangan Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang, antara lain, berupa terbentuknya Posyandu dan Posdaya di desa-desa. Posyandu dan Posdaya merupakan kegiatan yang tumbuh dari masyarakat untuk masyarakat. Pemenuhan kebutuhannya pun menjadi tanggung jawab bersama. Posyandu dan Posdaya merupakan ujung tombak terbentuknya desa siaga yang kelak membentuk Kabupaten Sehat. Ilustrasi grafik pertumbuhan desa siaga Kabupaten Bondowoso ini menjelaskan bahwa jumlah Desa Siaga Aktif pada 2009–2011 meningkat. Pada 2011, Desa Siaga mencapai 218 desa. Di antara jumlah tersebut, 89 desa adalah Desa Siaga Aktif (40,83%). Pada tahun anggaran 2011, Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso mendapatkan alokasi anggaran Rp 66.599.302.796 (belanja langsung dan tidak langsung). Program atau kegiatan pokok yang dilaksanakan, sesuai dengan Peraturan Menteri dalam Negeri No 13 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, antara lain, upaya kesehatan masyarakat meliputi pemeliharaan dan pemulihan kesehatan serta penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan kesehatan. Selain itu, Program Perbaikan Gizi Masyarakat yang meliputi penanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A, dan kurang gizi mikro lain. Tentu, juga program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular, standardisasi pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan penduduk miskin, peningkatan pelayanan kesehatan balita dan lansia, peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak, pemberdayaan kader kesehatan, serta program peningkatan pelayanan kasus dampak zat berbahaya yang terkandung dalam asap rokok. Untuk menjalankan program-program tersebut, Dinkes Kabupaten Bondowoso didukung sumber daya manusia (SDM), sarana, dan prasarana yang cukup. Kegiatan operasional itu dilakukan di Dinas Kesehatan, rumah sakit, maupun Puskesmas. Tenaga kesehatan di Dinas Kesehatan Bondowoso termasuk di UPTD (unit pelaksana teknis daerah)-nya, rumah sakit umum, RS Bhayangkara, dan RS Kusuma Bhakti mencapai 1.252 orang. Tenaga kesehatan tersebut berstatus pegawai negeri sipil (PNS), pegawai tidak tetap (PTT), dan tenaga kontrak daerah. Sedangkan sarana dan prasarana berupa gedung, mobil-mobil dinas dan puskesmas keliling, kendaraan dinas roda dua, serta komputer. Kegiatan operasional Dinas Kesehatan dilaksanakan di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso dan di Gudang Farmasi Kabupaten (GFK). Pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Kabupaten Bondowoso, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Ponkesdes, dan Posyandu.

•28•

Kehadiran Ponkesdes, Posyandu, plus Posdaya ternyata berdampak positif bagi perluasan jangkauan layanan kesehatan. Dalam hal ini, dapat memudahkan masyarakat desa di daerah terpencil untuk mendapat layanan kesehatan.’’ dr Mohammad Imron M.Kes Kepala Dinas Pendidikan


2

Pemerataan Layanan Pendidikan


Memperluas Pemerataan Layanan Pendidikan Dalam lima tahun terakhir Pemerintah Kabupaten Bondowoso berjuang ekstrakeras mendongkrak posisi daerah agar tidak masuk dalam kategori Kabupaten tertinggal, baik di Jawa Timur maupun di Indonesia. Upaya itu sekaligus merupakan perjuangan mengentas kemiskinan. Salah satu di antaranya ialah menaikkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalu peningkatan mutu pendidikan, pemeratan pendidikan, serta keterjangkauan memperoleh pendidikan bagi anak-anak usia daerah-daerah terpencil.

Drs H Amin Said Husni


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

49 Persen ABPD untuk Pendidikan K

abupaten Bondowoso bekerja sangat keras untuk memajukan pendidikan sebagai salah satu sarana untuk segera dapat keluar dari kemiskinan dan tidak lagi menjadi kabupaten tertinggal. Ketertinggalan memang berkaitan erat dengan kemiskinan dan kemiskinan berkorelasi dengan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat. Salah satu upaya dalam mengentas kemiskinan tersebut adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Antara lain melalui pendidikan. Tahun 2012, misalnya, Bupati Bondowoso Drs H. Ami Said Husni menunjukkan komitmen kerasnya untuk memajukan pendidikan dengan, antara lain, mengalokasikan 49 persen APBD 2012 untuk anggaran pendidikan. Jumlahnya mencapai Rp 517 juta dari total APBD 2012 yang mencapai Rp 1,1 triliun. Dengan pendidikan, kemampuan berpikir dan keterampilan seseorang bakal bertambah. Dengan begitu, diharapkan indeks pembangunan manusia (IPM) melalui pembangunan pendidikan di Bondowoso cepat terkatrol. Itu akan bisa tercapai jika tidak ada penduduk yang buta huruf dan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun berjalan. Itu semua memerlukan biaya yang sangat besar.

Di Bondowoso memang masih terdapat warga yang buta huruf. Yakni, orang yang tak bisa bacatulis huruf latin dan huruf lain. Mereka sulit belajar dan tak mampu menyerap pengetahuan. Pada 2010, terdapat 23,28 persen penduduk Bondowoso di atas usia 15 tahun yang buta huruf. Pada tahun berikutnya menurun menjadi 21,75 persen. Namun, Dinas Pendidikan Bondowoso masih harus bekerja keras untuk mencapai target penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Sebab, rata-rata lama sekolah bagi penduduk Bondowoso usia 15 tahun ke atas masih rendah. Pada 2009, rata-rata 5,49 tahun; 2010 (5,54); dan pada 2011 (5,66). Dengan kata lain, rata-rata belum lulus SD. Padahal, di Jawa Timur, rata-rata lama sekolah mencapai 7,34 tahun. Artinya, Bondowoso masih di bawah rata-rata kota di Jatim. (vide: ipm kab.bondowoso 2012).â&#x20AC;¨ Tingkat pendidikan penduduk Bondowoso juga tergolong rendah. Namun, yang menggembirakan, warga yang menamatkan sekolah SLTA dan perguruan tinggi terus bergerak naik. Pada 2010, penduduk yang tamat SLTA tercatat 57.305, naik menjadi 63.840 pada 2011. Sedangkan yang tamat perguruan tinggi 11.856 (2010) dan 21.735 (2011).

Jumlah Penduduk 15 Tahun Ke Atas Berdasarkan Tamat Pendidikan Tertinggi (2010-2011) Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan

2010

Tidak/Belum Pernah Sekolah

99.985

Tidak/Belum Tamat SD

116.205

159.391

77.896

68.672

Tamat SD/MI

165.854

Tamat SLTA/sederajat

57.305

Tamat SLTP/MTs

Tamat Perguruan Tinggi

2011

76.722

11.856

197.294 63.840 21.735

Sumber: IPM Kab.Bondowoso 2012

â&#x20AC;˘31â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Investasi pembangunan pendidikan itu mendapat dukungan penuh dari Pemkab Bondowoso. Dari APBD 2012 sekitar Rp 1,1 triliun, sebesar Rp 517.595,014 juta (sesudah PAK) atau sekitar 49,9 persen untuk pendidikan. Sedangkan untuk tahun anggaran 2013 sebesar Rp 509.264.549.350. (awal) Anggaran tersebut termasuk untuk bantuan pada siswa miskin. Pada 2012, Dispendik memberikan Bea Siswa Miskin Sekolah Dasar (BSM-SD) kepada 9.500 dengan nilai total Rp 3,420 juta. BSM-SMP pada 5.546 siswa dengan nilai total Rp 1.525.150

ribu, Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM) kepada 5.792 siswa dengan nilai total Rp 4.517.140 ribu. Selain itu, ada pemberian beasiswa kepada delapan Mahasiswa Politeknik dengan nilai total Rp 24 juta dan 125 mahasiswa S-1 dari keluarga kurang mampu dengan nilai Rp 375 juta. Dispendik juga memberikan BOSDA terhadap siswa Madrasah-Madrasah Diniyah dan guru swasta. Sekitar 40 ribu siswa dan 564 guru swasta mendapat bantuan dengan nilai total Rp 8.874.940 ribu.

Kabupaten PAUD: Mendikbud M. Nuh dan Bupati Bondowoso H. Amin Said Husni dalam acara sosialisasi gerakan Pendidikan Anak Usia Dini.

Kabupaten PAUD No 2 di Indonesia Untuk menumbuhkan dan memupuk semangat belajar sejak dini, Pemkab Bondowoso telah melakukan berbagai cara. Antara lain melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Beda dengan PAUD di daerah lain, di Bondowoso PAUD merupakan pendidikan usia dini yang holistik-integratif. Dalam hal ini ialah PUAD yang

mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, dan gizi yang melibatkan kemitraan sejumlah SKPD serta partisipasi lembaga perempuan. Penyelenggaraan PAUD tidak hanya diurus Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, tapi melibatkan hampir semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Tak kurang dari tujuh SKPD plus ketua

â&#x20AC;˘32â&#x20AC;˘


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

APRESIASI LAYAK ANAK: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar, memberikan penghargaan kepada Drs H. Amin Sadi Husni dalam rangka Deklarasi Kabupaten Bondowoso sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA), di Pendopo Kabupaten Bondowoso, (2012).

Tim Penggerak PKK (istri Bupati, Faizah Amin Said Husni) telah menandatangani Nota Kesepahaman tentang penyelenggaraan PAUD holistik-integratif. Adapun SKPD-SKPD tersebut ialah Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, Dinas Sosial, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Badan Pem-

berdayaan Masyarakat, dan Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Bondowoso. Dinas-dinas tersebut secara bersama-sama menyinergikan program dan peran masing-masing dalam mewujudkan penyelenggaraan PAUD holistik-integratif. Dengan Nota Kesepahaman itu, masing-masing pihak dapat memberdayakan potensi dan sumber daya untuk membina dan

â&#x20AC;˘33â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

mengembangkan PAUD. 
 ’’Hampir 98 persen dusun di Kabupaten Bondowoso sudah ada PAUD. Di desa terpencil pun ada PAUD,’’ kata Kepala Seksi PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso Dra Murni MSi. Karena itu, tak heran bila Kabupaten Bondowoso meraih beberapa predikat tingkat nasional di bidang PAUD. Pada 2011 Bupati Bondowoso Amin Said Husni terpilih sebagai peringkat Terbaik II dalam Pengelolaan Program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini. Sedangkan Tim Fasilitator Masyarakat menempati peringkat III Program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini. Peringkat Terbaik I Program PAUD ditempati Gorontalo. Sangat mungkin karena Pemerintah Kabupaten Gorontalo menggelontorkan dana yang lebih besar pada PAUD. Dari sisi jumlah PAUD, Bondowoso lebih banyak, yaitu 1.171 PAUD dengan jumlah anak 46.246 dan 2.064 tutor. ’’Rata-rata per kecamatan terdapat 25 PAUD. Paling banyak satu kecamatan terdapat 75 PAUD, termasuk Kelompok Bermain dan TK,’’ jelas Murni. Hampir semua lembaga mendirikan PAUD. Misalnya. pondok pesantren, ormas, Dharma Wanita, bahkan perorangan. Pada tahun anggaran 2012, Program PAUD mendapat anggaran sekitar Rp 3,6 miliar dan naik sekitar Rp 5, 8 miliar pada 2013. Para tutor PAUD umumnya relawan. Mereka hanya menerima honor tak lebih Rp 100 ribu per bulan.

’’Sangat jauh jika dibanding tutor PAUD di Gorontalo yang menerima Rp 250 ribu—Rp 750 ribu per bulan,’’ kata Drs Suparto, sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso. Besaran honor tutor di Gorontalo itu, antara lain, dilihat dari masa kerja dan pendidikan mereka. Jumlah PAUD di Gorontalo, lanjut Suparto, hanya sekitar 600 unit. Tutor PAUD di Bondowoso umumnya lulusan SMA atau sederajat. Yaitu, sekitar 65 persen. Dalam dua tahun terakhir, banyak tutor lulusan SMA itu yang melanjutkan kuliah. Sedangkan lulusan S1-S2 sekitar 12 persen. Sisanya lulusan SMP dan sederajat yang mengikuti Kejar Paket C. Selain untuk honor tutor, anggaran PAUD diberikan kepada lembaga dalam bentuk biaya operasional (BOP). Namun, tidak semua lembaga menerima BOP. Hanya sekitar 360 PAUD yang mendapat jatah. Kriteria penerima BOP antara lain dilihat dari usia lembaga, jumlah murid, jumlah tutor, dan masih ada lagi. BOP itu, antara lain, digunakan untuk peningkatan gizi anak. Sangat seriusnya program PAUD dengan anggaran yang tergolong besar, partisipasi masyarakat yang tinggi, serta kepedulian banyak pesantren untuk turut menyelenggarakan PAUD mengantarkan Kabupaten Bondowoso meraih prestasi yang bagus di tingkat nasional. Kabupaten di kaki Gunung Ijen itu dikategorikan sebagai kabupaten PAUD No 2 Indonesia.

Lahan Hibah SMPN Satap Salah satu misi pendidikan di Kabupaten Bondowoso adalah mewujudkan pemerataan dan perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh masyarakat.
 Padahal, sebagian besar desa-desa di Kabupaten Bondowoso terpencil di lereng gunung yang tak terjangkau fasilitas pendidikan. Untuk menjangkau anak-anak di desa-desa terpencil itu, Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Pendidikan membangun SD-SD afiliasi yang tersebar di desadesa terpencil. Tak kurang dari 22 lembaga berafiliasi dengan SD Negeri terdekat. SD afiliasi atau SD filial terdiri atas satu atau dua kelas di desa-desa terpencil. Kelas-kelas tersebut menempati Balai Dusun, rumah perangkat desa, rumah penduduk, atau tempat lain yang bisa digunakan.
Tenaga pengajar sekolah-sekolah itu

didatangkan dari SD induknya atau utusan dari SD induk. Administrasi –termasuk kepala sekolah— berada di SD induk. Fasilitas sekolah seperti mejakursi umumnya yang ada di rumah penduduk atau Balai Dusun. Sebagian sekolah malah tak menggunakan meja-kursi. Melainkan lesehan beralas tikar. Tapi, papan tulis didatangkan dari sekolah induk. Jika SD afiliasi itu sudah memenuhi syarat gedung, jumlah murid, dan kecukukupan guru, sekolah filial itu ditingkatkan statusnya menjadi sekolah regular. Selain itu, Dispendik Kabupaten Bondowoso juga membangun sekolah satu atap (Satap). Ada pun yang dimaksud sekolah satu atap ialah satu bangunan sekolah yang ditempati SD dan SMP. Saat ini terdapat 11 SMP Negeri Satap di seluruh Kabupaten Bondowoso. Yaitu, SMPN 2 Satap Grujugan, SMPN

•34•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

DRUM BAND TK: Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Kabupaten Bondowoso di Alun-alun Kabupaten Bondowoso, (2012).

3 Satap Maesan, SMPN 2 Satap Tlogosari, SMPN 2 Satap Jambesari, SMPN Satap Sumber Wringin, SMPN 3 Satap Tamanan, SMPN 2 Satap Sempol, SMPN 3 Satap Cermee, SMPN 2 Satap Pujer, SMPN 1 Satap Botolinggo, SMPN 2 Satap Botolinggo. Pembinaan SMP-SMP Satap tersebut diserahkan kepada SMP-SMP negeri yang sudah mapan. Sebagian guru-gurunya juga dari SMP induk. Sedangkan guru mata pelajaran umum sebagian diambil dari guru SD yang satu atap dengan SMP itu. Ijazah SMPN Satap mengikuti SMP induknya. Dampak kehadiran SMPN Satap itu sangat nyata. ’’Tingkat partisipasi sekolah naik dan drop out berkurang,’’ kata Drs Nyoman Sutama MM, Kabid SMA/SMK, Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso. ’’Kalau nggak ada itu (SMP Satap) susah anak-anak (desa terpencil) itu melanjutkan

sekolah,’’ lanjut Nyoman. Partisipasi masyarakat dalam pengadaan SMPN Satap juga besar. Misalnya, masyarakat Desa Lucu, Kecamatan Botolinggo, menghibahkan tanahnya untuk SMPN Satap. Di atas lahan seluas 5.494 meter persegi itu sebelumnya terdapat SD swasta yang diajukan untuk dinegerikan. Permohonan tersebut –sampai akhir 2012— masih dalam proses. Di belakang SD itu masih ada lahan kosong. Lahan itulah yang dipakai untuk SMPN Satap. Sebelum ada SMP Satap, Dispendik Kabupaten Bondowoso membuat 18 SMP Terbuka yang menginduk pada sekolah-sekolah negeri. Hanya, tidak semua SMP Terbuka itu punya murid. Tercatat lima SMPT sama sekali tak punya murid. Yaitu, SMPT Cermee, SMPT Jambesari DS, SMPT Pakem, SMPT Sukosari, dan SMPT Tlogosari.

•35•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

•36•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Sekolah Vokasi yang Menjanjikan Bekerja setelah lulus sekolah merupakan impian hampir semua orang tua. Sekolah yang mencetak tenaga siap pakai seperti itu tidak ada lain kecuali sekolah vokasi (kejuruan). Untuk memenuhi keinginan sebagian besar orang tua itu, Dispendik Kabupaten Bondowoso membangun banyak SMK. Di Bondowoso terdapat 18 SMK Negeri dan 20 SMK Swasta. ’’Itu masih banyak (SMK) yang belum kami keluarkan izinnya,’’ kata Nyoman Sutama. Bandingkan dengan SMAN yang hanya berjumlah sepuluh dan SMA Swasta juga sepuluh. Kelahiran SMK-SMK itu berdasarkan kebutuhan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap pengajuan kompetensi keahlian disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, keberadaan sekolahsekolah itu juga sangat mempertimbangkan lokasi. Misalnya, SMK di Sempol yang baru berdiri, ada kompetensi keahlian pembangkit tenaga listrik. Sebab, Sempol dekat dengan sumber daya alam geothermal Ijen. Di Prajekan ada kompetensi keahlian perikanan. Sebab, di situ terdapat sumber air tawar bagus, sehingga cocok untuk budi daya ikan air tawar. Sedikitnya terdapat 32 kompetensi keahlian, 23 prodi, dan enam bidang studi di seluruh SMK –negeri dan swasta— di Bondowoso. SMK memang favorit di kalangan pelajar dan orang tua di Bondowoso. ’’Dua-tiga tahun lalu SMK masih dianggap sekolah kelas dua. Sekarang sudah bersaing dengan SMA,’’ papar Nyoman. Antusiasme masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke SMK juga tinggi. Misalnya, ’’Pada 2011 di SMKN 4 saja (di kota Bondowoso) ada 394 siswa pendaftar. Yang diterima cuma 192 siswa (6 kelas),’’ kata Saefuddin Suhri SPd MPd, kabid Dikmen, Dispendik Kabupaten Bondowoso. Keperawatan, Teknik Suitsing (telekomunikasi), dan Agrobisnis Tanaman Perkebunan, merupakan kompetensi keahlian yang banyak diminati di SMKN 4. Antusiasme masyarakat pada SMK juga disebabkan setiap akhir tahun alumni yang dinilai sukses melakukan sosialisasi sekaligus promosi sekolah. ’’Mereka bilang ada yang digaji sampai Rp 21 juta per bulan,’’ Saefuddin menambahkan. Sosialisasi itu ternyata membawa banyak hasil. Selain itu, beberapa lulusan SMK mampu mem-

buka depot atau menjadi tenaga inti di rumah makan. Hampir semua SMK di Bondowoso bekerja sama dengan Disnakertrans untuk membuka peluang bekerja di luar negeri. Ada Bursa Kerja Khusus (BKK) yang merekrut lulusan SMK untuk disampaikan pada Disnakertrans. Lulusan yang bekerja ke luar negeri itu –Malaysia dan Brunei– ,antara lain, lulusan SMKN 1 kompetensi administrasi perkantoran dan akuntansi. Sedangkan SMKN 2 punya MoU dengan Korea Selatan untuk mempekerjakan lulusan kompetensi Jasa Boga. Selain itu, tak sedikit pula lulusan yang langsung diambil perusahaan. Umumnya, mereka pelajar yang melakukan praktik kerja industri (prakerin) di perusahan-perusahaan itu. Banyaknya kompetensi keahlian dengan sendirinya membutuhkan tenaga pengajar yang juga kompeten. Untuk tenaga pendidik normatif dan adaptif bisa diambil dari guru-guru umum. Sedangkan tenaga pengajar produktif disesuaikan dengan spektrumnya. Misalnya, kompetensi perkebunan diambilkan dari perguruan tinggi jurusan perkebunan dan seterusnya.

Karya siswa SMK: Outlet makanan minuman di salah satu sudut kota Bondowoso.

•37•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Karena itu, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Bondowoso dalam merekrut tenaga pengajar disesuaikan dengan usul dari Dispendik. Ada juga tenaga pengajar yang diambilkan dari kalangan profesional atau praktisi. Misalnya, kompetensi

keperawatan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan itu tentu sangat berpengaruh terhadap masa depan masyarakat yang pada perkembangannya akan membawa dampak positif pada kemajuan daerah.

Apresiasi Best Practice Bondowoso Bidang Pendidikan Kabupaten No 2 Pengelolaan PUAD di Indonesia 2011 Anugerah The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) sebagai daerah paling inovatif dalam layanan pendidikan 2010

Prestasi: Anugerah Otonomi Daerah untuk layanan pendidikan terbaik dari JPIP.

Prestasi Internasional Dalam hal prestasi, siswa Bondowoso tak mau kalah dengan kota-kota yang lebih maju. Setidaknya, Krisma Shandy Komarusman siswa SMPN 1 dua kali mencatat prestasi internasional. Yaitu peringkat II Olimpiade Astronomi di Italia pada 2008 dan peringkat III Olimpiade Matematika di Afrika.

Shandy juga tampil sebagai peringkat II di Olimpiade Sains tingkat nasional pada 2009. Di tingkat SD, Ahmad Aufar Thoriq menempati peringkat III Nasional (2010). Prestasi nasional lain ditorehkan Alfian Firman Apriliawan yang menempati peringkat II Nation Science Camp Fisika (2010).

Prestasi Nasional-Internasional Pelajar Bondowoso No

Nama Pelajar

Asal Sekolah

Prestasi

01

Krisma Shandy Komarusman

SMP Negeri 1 Bondowoso

• Peringkat II Astronomi 2008 di Itali • Peringkat III Olimpiade Matematika 2008 di Afrika • Peringkat II Olimpiade 2009 Sain Tingkat Nasional di Jakarta

02

Ahmad Aufar Thoriq menempati peringkat III Nasional (2010

SD

Peringkat III Ujina Nasional 2010

03

Alfian Firman Apriliawan

SD

Peringkat II National Science Camp Fisika 2010 di Jakarta

Sumber: Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso 2012

•38•


3

Peternakan dan Perikanan


Mempertahankan Populasi Sapi Bondowoso Salah satu satuan kerja (satker) yang menjadi bagian dari ujung tombak pelaksana program penurunan kemiskinan Kabupaten Bondowoso ialah Dinas Peternakan dan Perikanan. Sejumlah program dan kebijakan Dinas Peternakan yang berhubungan langsung dengan upaya pemberdayaan ekonomi rakyat ialah apa yang di lingkungan pemerintah daerah (pemda) Kabupaten Bondowoso populer dengan insentif Sapi Bunting, Sinkronisasi Sapi Berahi, Rumah Kompos Peternak, dan Sapi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. Melalui program-program tersebut, upaya mempertahankan populasi sapi Bondowoso maupun memperkuat basis ekonomi keluarga sama-sama dapat diwujudkan.

Drs H Amin Said Husni


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Daerah Basis Sapi Potong B

ondowoso dikenal luas sebagai salah satu daerah basis penghasil sapi potong di Jawa Timur. Keberadaan sapi pun pada sebagian besar penduduk Bondowoso bukan lagi sebagai simbol kekuatan ekonomi keluarga. Kepemilikan sapi tidak hanya menandakan kekayaan dan kemakmuran. Sapi di Bondowoso, sebagaimana di Madura, juga merupakan profil prestise keluarga. Semakin banyak memiliki sapi, semakin terkatrol gengsi sosial dan kulturalnya. Karena itu, bukan hanya penduduk pedesaan –yang kehidupannya masih bergantung pada alam yang tidak bisa dipisahkan dari kepemilikan sapi–, sangat banyak pula pekerja kantoran atau pegawai negeri yang punya banyak sapi. Karena sapi menjadi profil prestise sosial, kebanggaan terhadap sapi menjelmakan sikap sosial yang kosmis. Dalam hal ini, keberadaan sapi diistimewakan. Karena teramat bangga pada sapi sebagai simbol kehormatan sosial, sangat banyak penduduk Bondowoso yang membangun kandang sapi lebih bagus dibanding rumah tinggal pemiliknya sendiri. Dengan kata lain, sapi lebih diistimewakan dibanding manusia. Misalnya, kesehatan dan kebugaran sapi serta kebersihan kandang sapi lebih diutamakan dibanding kesehatan dan kebugaran pemiliknya serta kebersihan rumah tinggal sang tuan pemilik sapi. Tetapi, sistem nilai kultural yang mementingkan hewan tersebut justru menjadi potensi besar dalam mendukung pembangunan sektor peternakan. Buktinya, Kabupaten Bondowoso termasuk sepuluh besar daerah basis populasi sapi terbaik di Jawa Timur. Dari hasil Pendataan Sapi Potong dan Kerbau (PSPK) 2011, populasi sapi potong di Kabupaten Bondowoso tercatat 203.304 ekor atau 4,5 persen populasi sapi potong di Jawa Timur. Karena itu, Dinas Peternakan dan Perika-

nan (Disnakan) Kabupaten Bondowoso terus melakukan upaya untuk mempertahankan serta meningkatkan populasi sapi asli daerah. Upaya tersebut, menurut Dinas Peternakan dan Per­ ikanan, ter­utama ditujukan untuk mendukung pencapaian swasembada daging sapi dan kerbau (PSDS/K) pada 2014.

Insentif Sapi Bunting Beberapa program yang dilakukan Dinas Peternakan dan Perikanan untuk mempertahankan serta meningkatkan populasi sapi Bondowoso, antara lain, melalui insentif penyelamatan sapi betina produktif. Program itu diberi nama insentif sapi bunting. Program tersebut dilakukan karena tiap tahun ditengarai banyak terjadi pemotongan sapi betina produktif. Jika pemotongan sapi betina produktif tidak dicegah, pada masa depan populasi sapi Bondowoso bisa punah. Insentif sebesar Rp 500 ribu diberikan kepada pemilik sapi yang usia kebuntingan sapinya mencapai 5 bulan. ’’Insentif tersebut diberikan agar sapi bunting itu tidak dipotong. Kalaupun, harus dipotong, ya tunggu setelah sapi melahirkan,’’ kata Kadisnakan Kabupaten Bondowoso Hindarto SP MSi. ’’Biasanya petani ternak itu butuh uang sedikit, sapinya dipotong. Itu harus dicegah,’’ tegas Hindarto. Bagaimana cara mengetahui sapi betina sedang bunting? Disnakan melakukan pendataan pada saat melakukan inseminasi buatan (IB). Setelah menerima laporan adanya sapi bunting, Disnakan menurunkan tim teknis untuk melakukan pemeriksaan. Tentu petugas pemeriksanya adalah seorang dokter hewan. Tahap berikutnya, setelah benar-benar diketahui bahwa sapi memang positif bunting (hamil), peternak pemilik sapi tersebut mendapat kartu bunting.

•41•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Selanjutnya, telinga sapi bunting itu diberi tato sebagai tanda bunting. ’’Sapi-sapi yang telinganya ditato itu tidak boleh berkeliaran di pasar hewan atau di rumah potong hewan (RPH),’’ papar Hindarto. Insentif Rp 500 ribu diberikan saat jadwal pemeriksaan berikutnya. ’’Kami berikan kontan dan utuh,’’ kelakar pria murah senyum itu.

Program Insentif Penyelamatan Sapi Betina Produktif itu (insentif sapi bunting) dimulai pada tahun 2011. Menurut Hindarto, program yang dijalankan satkernya (Disnakan) tersebut berhasil menyelamatkan 1.288 ekor sapi. Tahun berikutnya, tahun 2012 ini, sapi bunting yang berhasil diselamatkan –tidak dijual dan tidak dipotong– naik menjadi 3.840 ekor.

Sinkronisasi Birahi Sapi Ada program inovatif lain dari Disnakan. Yakni, terobosan berupa memotivasi peternak untuk membuntingkan sapinya. Apalagi, ada subsidi IB bagi petani. Setiap melakukan IB, biasanya peternak membayar Rp 50 ribu kepada petugas. Setelah penyuntikan, akseptor dicatat dan mereka harus bertanda tangan. Pada kesempatan berikutnya, Disnakan mengembalikan Rp 10 ribu kepada peternak sebagai subsidi.

Cara itu juga membawa hasil. Buktinya, akseptor naik. Pada 2010 tercatat 45.678 akseptor, pada 2011 (46.932), dan sampai Oktober 2012 tercatat 45.202 ekor. ’’Sampai akhir tahun 2012 diperkirakan terdapat 50 ribu ekor sapi bunting,’’ kata Hindarto. Disnakan Kabupaten Bondowoso juga punya banyak cara untuk membuat sapi bunting. Misalnya, Program Sinkronisasi Berahi. Program itu diawali

INSENTIF SAPI BUNTING: Uji kehamilan sapi bunting di Desa Bukor, KecamatanWringin, (2012).

•42•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Bagaimana Program Insentif Sapi Bunting Dijalankan? Petugas Disnakan melakukan pemeriksaan sapi betina ketika menjalankan program inseminasi buatan (IB).

Jika ketahui ada sapi betina bunting, petugas IB melaporkan kepada petugas Disnakan (dokter hewan) yang berwenang memeriksa sapi hamil (bunting).

dengan membenahi alat reproduksi para sapi betina tersebut, kemudian disuntik hormon. Di antara sekitar 500 ekor yang disuntik, 400 ekor tersulut berahi. Saat itulah petugas menyuntikkan IB. ’’Rekayasa’’ yang dilakukan Disnakan itu tak banyak kendala karena dinas didukung dokter-dokter hewan mumpuni. Ada 12 dokter hewan yang memperkuat pasukan Disnakan. ’’Dokter-dokter kami sudah biasa melakukan bedah caesar pada sapi-sapi,’’ jelas Hindarto. Sekitar 36 ekor sapi di Bondowoso melahirkan secara caesar.

Kenaikan Akseptor Hasil Program Sinkronisasi Berahi Sapi Pada 2010 tercatat 45.678 akseptor sapi bunting. Pada 2011 tercatat 46.932 akseptor sapi bunting. Oktober 2012 tercatat 45.202 akseptor sapi bunting. Tahun 2012 mencapai 50 ribu akseptor sapi bunting.

SERTIFIKAT KEPEMILIKAN SAPI: Pemilik sapi menunjukkan kartu akseptor sapi bunting untuk mendapatkan insentif. Kartu ini sebagai identitas sah kepemilikan ternak sapi.

•43•

Petugas Disnakan (dokter hewan) memeriksa sapi betina yang dilaporkan hamil (bunting).

Jika hasil pemeriksaan positif hamil (bunting), pemilik sapi diberi kartu bunting.

Telinga sapi yang hamil (bunting) diberi tato. Sapi yang hamil (bunting) dilarang dijual dan dilarang dipotong.

Petugas Disnakan memberikan insentif Rp 500 ribu kepada pemilik sapi hamil (bunting).


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Rumah Kompos untuk Peternak

KONTES SAPI: Bupati Bondowoso, Drs H. Amin Said Husni, di Alun-alun Kabupaten Bondowoso, (2012).

Intel Penjaring Sapi yang Hendak Dijual Masih belum puas. Disnakan Bondowoso juga membentuk barisan ’’intel’’ untuk menjaring sapisapi betina produktif yang lolos ke pasar hewan atau RPH. Ada dua grup ’’intel’’ yang terdiri atas kelompok peternak. Yaitu, di Maesan dan Prajekan. Kelompok itu bertugas mencegah sapi betina produktif terjual atau dipotong. Mereka juga dibekali uang untuk membeli sapi. Jika si pemilik sangat butuh uang dan tak bisa dicegah untuk melepas sapinya, ’’intel’’ tersebut akan membelinya atau menukar dengan sapi jantan. Dua kelompok ’’intel’’ itu sedikitnya telah menyelamatkan 110 ekor sapi betina produktif, masing-masing 55 ekor. Program yang dimulai pada 2012 itu disebut Penjaringan Sapi Betina Produktif. Sebelumnya, program tersebut berupa Pengembangan Kawasan Pembibitan Sapi. Yaitu, penyelamatan plasma nutfah sapi peranakan unggul (sapi putih) yang dikembangkan di kelompok-kelompok peternak. Pada 2012, program itu diganti menjadi program Penjaringan Sapi Betina Produktif. Untuk mencegah sapi betina produktif keluar Bondowoso, Disnakan juga memasang baliho di pasar hewan berisi imbauan agar peternak tidak menjual sapi betinanya yang masih produktif. Dasar hukum imbauan itu adalah UU No 18/2099 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Disnakan Kabupaten Bondowoso punya peran strategis dalam program pengentasan kemiskinan. Beberapa programnya dicanangkan untuk menurunkan angka kemiskinan. Di antaranya, Program Bantuan untuk Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). Program itu bersinergi dengan Program Jalin Kesra Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Yakni, menyalurkan bantuan kambing kepada RTSM. Pada 2011, terdapat 2.031 KK menerima bantuan dan pada 2012 turun menjadi 1.641 KK. Masing-masing KK menerima empat ekor kambing. Disnakan Bondowoso juga bekerja sama dengan Disnak Provinsi Jatim dalam program bantuan sapi untuk lembaga masyarakat desa hutan (LMDH). Program yang dimulai pada 2011 itu telah memberikan 17 ekor sapi untuk satu lembaga (LMDH). Ada juga program terobosan dari Disnakan sendiri. Dalam hal ini ialah pembangunan sarana dan prasarana pengolahan bokashi. Disnakan membangun beberapa rumah kompos yang dikelola kelompok peternak. Di rumah kompos itu terdapat mesin untuk memotong jerani, mencampurnya dengan kotoran ternak, dan diolah menjadi kompos melalui proses fermentasi. Dalam waktu 10–14 hari, olahan itu sudah menjadi pupuk organik. Peternak bisa memakai atau menjual pupuk tersebut. Pada 2011, Disnakan membangun enam rumah kompos. Sedangkan pada 2012 mendirikan lima unit rumah kompos. Masing-masing rumah kompos dikelola satu kelompok peternak.

Sapi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Disnakan memilik banyak program, baik program otonom (mandiri) maupun sharing atau sinergi dengan pihak lain. Salah satunya adalah program Sapi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Selain kopi yang sudah diekspor ke Swiss, Bondowoso dikenal sebagai penghasil tembakau. Namun, petani tembakau tak selalu untung. Kadang rugi seperti pada 2012, harga tembakau merosot tajam setelah panen. Kerugian yang dialami petani bisa membuat miskin. Untuk membantu para petani itu, Disnakan Kabupaten Bondowoso memberikan sapi dari dana bagi hasil cukai tembakau. Pada 2012, terdapat dua kelompok yang menerima bantuan itu. Masing-masing kelompok –yang terdiri atas 50 sampai 70 orang– menerima 46 ekor sapi. (*)

•44•


4

Perhutanan dan Perkebunan


Ada Kopi di Balik Ketertinggalan Sekalipun Bondowoso masih masuk kategori kabupaten tertinggal di Jatim dan di Indonesia, tidak berarti alam daerah ini miskin. Kemiskinan dan ketertinggalan bukan disebabkan Bondowoso loro lopo â&#x20AC;&#x201C;tidak punya apa-apa. Namun karena letak geografisnya yang terisolasi. Tanah dan alam Bondowoso sejatinya subur dan gemah ripah. Buktinya, pada 2011 lalu, Bondowoso membuat sejarah. Untuk kali pertama Bondowoso malah mengekspor kopi Arabica â&#x20AC;&#x201C;buah tanah subur perkebunan Bondowosoâ&#x20AC;&#x201C; ke Swiss, salah satu negeri kaya di Eropa yang amat sulit membuka pintu masuk produk impor yang tidak berkualitas dunia.

Drs H Amin Said Husni


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Ekspor Kopi Arabica ke Swiss

KONSULTAN SERTIFIKASI KOPI: Judith, asal Belanda (tengah), melatih cara memilih kopi berkualitas ekspor pada petani Gapoktan di Desa Sukosari, Kecamatan Sumber Wringin, (2012).

L

ima tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Bondowoso ibarat ”berdarah-darah” memacu diri agar segera mentas dari ketertinggalan. Segenap perangkat pemerintahan kabupaten bersama masyarakat banting tulang bekerja sangat keras menggali seluruh potensi dan kemampuan untuk meningkatkan sekaligus memberdayakan ekonomi daerah. Terutama dalam hal ini ialah meningkatkan sumber daya alam dan manusia.

Tidak percuma. Kerja-kerja besar dengan amat keras itu mulai menghasilkan buah. Beberapa sektor produksi rakyat, misalnya, terus memperlihatkan perkembangan amat berarti. Simak saja, produksi padi mengalami surplus. Populasi sapi potong masuk sepuluh besar di Jawa Timur. Dan ini dia, sejak 2011, Bondowoso berhasil mengekspor kopi ke Swiss. Satu kontainer biji kopi, berisi 17.687,7 kg, diekspor melalui PT Indokom Citra Persada, Sidoarjo.

•47•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

BERSEJARAH: Ekspor perdana kopi rakyat Bondowoso ke Swiss sekaligus puncak acara gelar Pameran Produk Kopi Bondowoso, di Pendopo Kabupaten Bondowoso, (2012). Nilainya mencapai Rp 672.132.600. Bagaimana kisah sebuah kabupaten yang masuk kategori tertinggal bisa membuat terobosan sangat inovatif dengan mengekspor kopi buah alam perkebunan Bondowoso? ”Itu semua berawal dari rapat staf di lingkungan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Bondowoso,” kata Kepala Dishutbun Ir Matsakur MSi. Dia mengaku, dirinya terlebih dahulu menjaring pendapat stafnya tentang potensi perkebunan di Bondowoso. Dari jaring pendapat itu, muncul tiga komoditas unggulan, masing-masing adalah kopi, tembakau, dan tebu. ’’Tetapi yang paling cepat dikembangkan ialah kopi,” katanya seraya mengatakan bahwa kopi Bondowoso sudah punya brand. ”Java Coffee itu kan berasal dari Bondowoso,’’ beber Matsakur. Selain itu, di Bondowoso sudah terdapat sentral perkebunan milik PTP di Sempol, Belawan, dan Pancer.

Sedangkan luas lahan kopi rakyat mencapai 6.637 hektare. Melihat potensi itu, Matsakur meminta Puslit Koka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao) Indonesia di Jember untuk melakukan kajian khusus kopi Bondowoso. ’’Nah, ternyata Puslit Koka sudah punya kajian yang dilakukan Dr Surip Mawardi,’’ kenang Matsakur. Dia pun lantas meminta copy kajian tersebut untuk dilaporkan kepada Bupati Bondowoso Amin Said Husni. Setelah itu, Dishutbun merancang

•48•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

pembentukan kluster kopi di Bondowoso. Itu juga diawali dengan penjajakan pengembangan kopi yang dilakukan Puslit Koka dan Bank Indonesia di Jember. Berikutnya, pada 18 Oktober 2010 sampai Desember, dilakukan sosialisasi dan kegiatan pendampingan. Selanjutnya pemaparan hasil kajian pada 12 Januari 2011. ’’Waktu itu, Pak Bupati ada kegiatan di Desa Curahdami. Beliau langsung ke Dishutbun untuk memimpin paparan,’’ kata Matsakur. ’’Itulah tonggak terbentuknya kluster kopi di Bondowoso,’’ lanjut dia dengan bangga. Dalam acara yang juga dihadiri kelompok petani kopi itu, disepakati bahwa Pemerintah Kabupaten Bondowoso –dan beberapa lembaga lain– akan membina lima kelompok petani kopi. Satu kelompok terdiri atas 25 orang. Mereka tinggal dalam satu desa. Setelah beberapa kali pertemuan untuk menyamakan persepsi, lima kelompok tersebut studi banding kopi ke Kintamani, Bali, pada 1–3 Maret 2011. Pada 21 Maret tahun itu juga Bupati Amin Said Husni menandatangani nota kesepakatan dengan beberapa pihak untuk mengembangkan kluster kopi Arabica di

Kabupaten Bondowoso. Pihak pertama ialah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso. Sebagai pihak pertama, pemkab bertugas menyediakan infrastruktur, sarana-prasarana, dan memfasilitasi pelatihan serta pendampingan menuju terwujudnya kluster kopi Arabica di Bondowoso. Pihak kedua di antara enam pihak itu adalah pemimpin Bank Indonesia (BI) Jember Muhammad Nur Zainuddin. BI bertugas memfasilitasi pemberian

•49•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

bantuan teknis, pelatihan, dan penyediaan informasi untuk meningkatkan kompetensi serta kinerja petani kopi dalam kluster. BI juga memfasilitasi peningkatan akses pembiayaan. Pihak ketiga ialah Direktur Puslit Koka Jember Dr Ir Teguh Wahyudi MEng. Puslit Koka menyediakan tenaga ahli pendamping dalam pembinaan budi daya, pengolahan, dan pemasaran hasil untuk meningkatkan pendapatan petani melalui produksi serta mutu kopi spesial. Pihak keempat adalah Supardji, pimpinan Bank Jatim Cabang Bondowoso. Tugasnya adalah menyediakan pembiayaan sepanjang memenuhi ketentuan Bank Teknis. Pihak kelima adalah Administrator Perum Perhutani KPH Bondowoso Djohan Saputra SHut. Mereka menyediakan kawasan hutan yang dapat digunakan untuk pengembangan kluster kopi Arabica di Bondowoso. Lalu, ada Perum Perhutani sebagai mitra petani kopi dalam pengembangan kluster kopi di wilayah

hutan. Dan pihak keenam adalah Kepala Cabang PT Indokom Citra Persada, Sidoarjo, Asnawi Saleh. Perusahaan tersebut merupakan mitra yang memasarkan kopi. Masih ada lagi. Yakni Bambang Sriono, ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia Kabupaten Bondowoso. Asosiasi Petani Kopi Indonesia Bondowoso bertugas mengorganisasi petani dan kelompok tani di Kabupaten Bondowoso. Selain itu, mendukung dan berperan dalam pemberdayaan petani kopi untuk keberhasilan kluster kopi Arabica di Bondowoso. Dengan kerja keras dan sinergi yang harmonis dari para pihak itu, akhirnya Bondowoso berhasil mengekspor biji kopi Arabica ke Swiss, Negeri Keju, dan salah satu negara kaya yang sangat selektif mengimpor produk makanan dan bahan minuman. Luas areal kopi kluster mencapai 268,5 hektare, sedangkan luas areal kopi yang diekspor sekitar 17 persen atau 45,65 hektare.

Hasil Klusterisasi Uraian

Sebelum

Sesudah

Keterangan

Pascapanen

*Rajutan *Olah Kering

*Petik Merah *Olah Basah

Penjualan

Gelondong

Hs

Hs (Horn Skin)

Harga Basah

Rp 2.500

Rp 5.000

Gelondong

Harga Kering

Rp 17.000

Rp 38.000

Pasar

Lokal

Ekspor

17.687,7 Kg

Sumber: Dishutbun Kabupaten Bondowoso, 2012

Petik Kopi, Ubah Perilaku Petani Tak mudah membentuk kluster kopi Arabica di Bondowoso. Tantangan utamanya adalah kultur petani, termasuk kebiasaan mereka memetik kopi. Mereka biasa memetik kopi secara rajutan. Yakni, memetik biji kopi satu gerombol sekaligus tanpa dipilah-pilah. Setelah itu, mereka menjemur biji-biji kopi secara sembarangan. Misalnya, di halaman, bahkan di jalanan. ’’Jadi, kalau ada ayam di situ ya… kopinya rasa ayam. Kalau ada mobil atau motor lewat, ya… kopinya rasa ban,’’ kelakar Matsakur. Sekalipun para petani kopi sudah berstudi banding ke Kintamani, sudah tahu ada SOP (standard operational procedure), petik padi dan penanganan pascap-

anen, serta semua hal yang menyangkut peningkatan mutu kualitas ekspor, Dishutbun Kabupaten Bondowoso dan Puslit Koka tetap melakukan pendampingan. Tak sekadar memberikan pelatihan. ’’Para petani kopi itu umumnya orang Madura. Meraka bilang enggih (ya), tetapi belum tentu dilakukan,’’ kelakar Matsakur. Setelah dikluster, kebiasaan memetik kopi secara rajutan diubah. Hanya dipilih biji yang sudah merah (matang). Penjemuran juga harus dipara-para dua lapis. Kopi dijemur sampai kadar air mencapai 12 persen. Waktunya sekitar empat hari dibolak-balik. Penyortiran yang biasa dilakukan secara kering

•50•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

diubah sortir basah dan sebagainya. ’’Jadi, memetik kopi saja harus mengubah perilaku,’’ kata Matsakur bersemangat. Selama pembimbingan itu, petani mendapat pinjaman awal dari Bank Jatim sebesar Rp 500 juta untuk lima kelompok. Pinjaman tersebut ditujukan untuk menangkal rayuan pengijon yang tak pernah lelah menggoda petani. Harapan pemerintah Kabupaten Bondowoso membuncah ketika petani berhasil mengumpulkan kopi lebih dari 17 ton. Berarti, ada kesungguhan dari

petani. Ketika petani berdiskusi soal harga dengan eksporter, disepakati harga Rp 38.000 per kg. Padahal, sebelumnya, ketika mereka mengolah kopi secara tradisional, harganya cuma Rp 17.000 per kg. Sejak itu, petani lain mulai tertarik. Sebab, ternyata kopi Bondowoso punya nilai ekspor. Pembinaan terus dilakukan. Terutama, untuk memisahkan kopi Arabica dengan Robusta. Sebab, selama ini kebun petani bercampur antara Arabica dan Robusta. Pemerintah Kabupaten Bondowoso kini berfokus pada kopi Arabica. Pada 2013 ini, semua kopi Robusta

Standar Operasi Pengolahan Kopi Basah

Panen secara pilih, hanya buah merah (≥ 95%)

Pengemasan kopi horn skin (HS) kering dan penyimpanan sementara

Pengupasan kulit HS (hulling)

Sortasi buah hijau, kuning, kering, dan rusak secara manual

Perambangan buah ringan/ mengapung dengan air

Pengupasan kulit buah (pulping)

Penjemuran, tebal sekitar 10 cm, sampai kadar air <12 %

Fermentasi dalam ember berlubang atau karung plastik, 18–36 jam

Pemisahan sisa kulit secara manual dan perambangan kopi ringan dengan air

Sortasi, pengayakan, dan pengemasan

Pengiriman

Sumber : Dishutbun Bondowoso, 2012 diharapkan mulai berganti jenis Arabica setelah dilakukan sambung pucuk. Puslit Koka juga terus melakukan kajian layak ekspor. Dengan keberhasilan ekspor kopi itu, bantuan pun berdatangan. Di antaranya, dari Kementerian Pertanian, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Pemprov Jawa Timur, terutama alat-alat untuk prosesing bibit. Kelompok yang semula hanya lima membengkak menjadi 30 kelompok. Lima kelompok awal bertindak sebagai pembimbing.

Saat ini Dishutbun Kabupaten Bondowoso sedang memproses pengajuan perlindungan indikasi geografis ke Kemenkum HAM dengan brand Kopi Arabica Ijen-Raung. ’’Dengan demikian, kopi yang tak ditanam di kawasan itu tidak bisa disebut sebagai Kopi Arabica Ijen-Raung,’’ ujar Matsakur. Dishutbun juga sudah menyiapkan langkah lanjutan untuk 2013. Antara lain, merintis produksi kopi bubuk, membawa petani ke kebun Puslit Koka untuk mempelajari citarasa kopi, dan merintis pendirian koperasi petani kopi.

•51•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

UJI ADAPTASI: Tembakau varietas baru Maesan 1-2 di Kecamatan Tenggarang, (2012).

Maesan 1-2 Tembakau Khas Bondowoso Ada ungkapan bahasa Madura di kalangan petani Bondowoso, mon tak nanem bako, tak lake (Jika tak menanam tembakau, bukan lakilaki). Menanam tembakau, bagi sebagian pria Bondowoso, sudah jadi gaya hidup. Perkembangan areal tembakau di Bondowoso sejak lima tahun terakhir terus melebihi 9.000 hektare. Sekitar 80 persen lahan merupakan tembakau rajangan (Somporis), sisanya adalah tembakau krosok (Kesturi). Untuk meningkatkan kualitas tembakau, Dishutbun Kabupaten Bondowoso menggandeng Dr Jayadi dari Balai Penelitian Tanaman Serat dan Kapas (Balitas) Malang. Mereka berfokus menangani tembakau rajangan dulu. Road map peningkan mutu secara bertahap dimulai sejak 2010, yaitu dengan melakukan kajian pemupukan berimbang, pembenihan, intensifikasi tembakau, dan pelatihan. Tahun berikutnya, dilakukan kajian multilokasi, pembenihan, intensifikasi tembakau, dan

pelatihan. Pada 23 November 2011, Bupati Amin Said membuat paparan tentang pemurnian tembakau Bondowoso. Sekitar tiga bulan kemudian, tepatnya 20 Februari 2012, menteri pertanian mengeluarkan keputusan nomor 584/Kpts/SR.120/2/2012 dan 585/ Kpts/SR.120/2/2012 tentang Pemutihan Tembakau Rajangan Varietas Maesan 1 (dan Maesan 2) sebagai varietas unggul. Tahun itu juga dilakukan pengembangan kluster intensifikasi tembakau untuk peningkatan mutu dan produksi. Tembakau varietas Maesan 1 dan Maesan 2 (dulu varietas Somporis) adalah tembakau khas Bondowoso. ’’Ciri khasnya adalah bercahaya dan ada rasa manis, yang tak dimiliki varietas tembakau lain,’’ ujar Matsakur, setengah promosi. Kerja sama dengan Balitas terus dilanjutkan untuk mendapatkan rekomendasi bagi usaha tani (kelompok tani). Misalnya, dari sisi teknis, segi sosial dapat diterima masyarakat, dan secara ekonomi menguntungkan.

•52•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

PANEN PERDANA CABE HIBRIDA: Bupati Bondowoso Drs H. Amin Said Husni di Kecamatan Prajekan. Program ini merupakan kemitraan dengan PT. ABC, (2010).

Pasar Sub Terminal Agro Kini, Kabupaten Bondowoso sudah punya produk unggulan, kopi. Toh, kenyataannya, masih ada produk unggulan lain di kabupaten ini. Yakni, hortikultura. Misalnya, kubis, kentang, dan stroberi. Juga, buah rambutan, durian, dan alpukat. Ada empat kawasan penghasil buah dan sayuran. Yakni, Kecamatan Sempol, Sumber Wringin, Sukosari, dan Tlogosari. Kawasan tersebut dibimbing dan digerakkan sesuai potensinya. Titik simpul empat kawasan tersebut berada di Sumber Wringin. Di situ bakal dibangun sub terminal agro yang menjual semua jenis hasil petani di empat kawasan tersebut. Itulah Agropolitan. Sub terminal tersebut juga bakal punya link dengan Pasar Induk Puspa Agro di Surabaya. Pemda Kabupaten Bondowoso juga sudah membuat program untuk menyinergikan kegiatan semua instansi terkait untuk menggerakkan potensi tersebut. Misalnya, pembangunan pasar sub terminal bakal ditangani Dinas Koperasi,

Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Bondowoso; jalan ditangani Dinas PU; dan seterusnya. Jika pasar sub terminal itu terwujud, kelak petani sayur dan buah di Bondowoso lebih mudah mengirim hasil panennya ke pasar induk Puspa Agro di Surabaya. (*)

â&#x20AC;˘53â&#x20AC;˘

Ada empat kawasan penghasil buah dan sayuran Yakni, Kecamatan Sempol, Sumber Wringin, Sukosari, dan Tlogosari. Kawasan tersebut dibimbing dan digerakkan sesuai potensinya


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

EKSPOR PERDANA: Bupati Amin Said Husni meneken bungkus kopi rakyat Bondowoso yang akan diekspor ke Swiss, (2012).

Menggalakkan ekspor kopi: Presentasi hasil kajian ilmiah pembentukan klaster industri kopi.

â&#x20AC;˘54â&#x20AC;˘


5

Pertanian


Memberdayakan Petani Lewat Gerakan Botanik Salah satu persoalan geografis yang menimpa Bondowoso ialah sangat banyak desa terpencil dengan medan terjal. Amat sulit dilewati kendaraan umum. Kondisi ini merupakan tantangan bagi Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso dalam menjalankan program sektor pertanian. Namun, dengan integritas dan semangat tinggi mereka justru berhasil meningkatkan produksi beras daerah itu. Maka ada dua wajah Kabupaten Bondowoso yang berbeda. Satu sisi merupakan kabupaten tertinggal. Di sisi lain justru surplus beras.

Drs H Amin Said Husni


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Surplus Padi 117.500 Ton per Tahun D

ua kali Kabupaten Bondowoso mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena berhasil menaikkan produksi padi di atas 5 persen. Dua kali apresiasi presiden RI itu terhadap keberhasilan pembangunan pertanian masing-masing diraih pada 2009 dan 2010. Produksi padi di Bondowoso tiap tahun rata-rata mencapai 330.000 ton gabah kering giling atau setara dengan 214.500 ton beras. Padahal, konsumsi penduduk Bondowoso hanya 97.000 ton per tahun. Jadi, ada surplus 117.500 ton tiap tahun. Jumlah penduduk Kabupaten Bondowoso mencapai 740.737 jiwa. Dengan kalkulasi konsumsi per kapita per tahun sebesar 131 kg setara beras, berarti konsumsi tiap tahun penduduk sebesar 97.000 ton.

Banyak Program Unggulan Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang inovatif dan kreatif. Tidak kalah oleh satker (satuan kerja) lain seperti Dinas

Kehutanan dan Perkebunan atau Dinas Peternakan dan Perikanan. Untuk mempercepat peningkatan produksi beras, misalnya, Diperta menjalankan banyak program. Ada program Peningkatan Ketahanan Pangan (sinergi dengan Kantor Ketahanan Pangan). Ada program Peningkatan Kesejahteraan Petani. Ada pula Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian, lalu Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian, serta program dan Peningkatan Produksi Pertanian. Belum cukup. Masih ada pula Program Pemberdayaan Penyuluhan Pertanian; Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan; Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Produk Tanaman Hortikultura Berkelanjutan; serta Program Penyediaan dan Pengembangan Prasarana dan Sarana Pertanian. Program Peningkatan Ketahanan Pangan guna mendukung peningkatan produksi beras melalui bantuan infrastruktur pengelolaan lahan dan air diwujudkan dalam bentuk, antara lain, jaringan irigasi tingkat usaha tani dan pengadaan alat pengolah pupuk organik untuk mendukung Program Botanik (Bondowoso Pertanian Organik).

Produk Unggulan Bondowoso Padi, Jagung dan Ubi Kayu Tahun 2008 2009 2010 2011

LP 54.959 56.780 61.796 55.575

Padi Prodv 57,10 58,63 55,40 53,84

Produksi 313.816 332.901 342.350 320.752

Jagung Prodv 37,86 39,57 40,48 45,30

LP 43.156 43.454 41.259 42.333

Keterangan : 1. Luas Panen (LP) dalam Ha. 2. Prodv = Produktivitas dalam Kuwintal/Ha. 3. Produksi = Produksi dalam Ton

Produksi 163.389 171.947 167.016 191.768

LP 7.631 6.298 7.418 6.142

UbiKayu Prodv 202,45 206,11 209,43 140,47

Produksi 154.490 129.808 155.355 86.277

Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso, 2012

â&#x20AC;˘57â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Truk untuk Paguyuban Gapoktan Usaha peningkatan produksi hasil pertanian pada dasarnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani. Salah satu langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk meningkatkan kesejahteraan petani itu ialah menggerakkan tani remaja (anak petani) melalui PATRA (Pelatihan Anak Tani Remaja). Kegiatan tersebut bertujuan menggerakkan anak-anak petani agar mereka lebih mencintai pertanian. Mampu melanjutkan usaha orang tuanya dalam budi daya maupun agrobisnis. Kegiatan itu juga ditujukan untuk menyerap aspirasi petani serta pemangku kepentingan lain. Untuk menjalin kerja sama antara petani, pemangku kepentingan, dan pemerintah daerah, dilakukan rembuk madya dan mimbar sarasehan. Dengan rembuk itu, diharapkan semua kepentingan petani dapat terakomodasi dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Bondowoso. Upaya lain dalam mendukung kesejahteraan petani adalah membentuk Paguyuban Gapoktan Karya Sejahtera. Paguyuban tersebut dibentuk oleh Gapoktan se-Kabupaten Bondowoso. Paguyuban itu mampu memberikan angin segar

bagi petani, terutama dalam pemasaran produk. Paguyuban menampung produk-produk petani yang melimpah untuk dipasarkan ke Pasar Induk Puspa Agro di Jemundo, Sidoarjo. Tiap dua hari sekali paguyuban mengirim produk ke Puspa Agro. Bahkan, permintaan komoditas pertanian tertentu tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ketersediaan produk. ’’Petani kami belum mampu menyediakan komoditas dalam jumlah sangat besar,’’ kata Ir Wahjudi Triatmadji, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso. Untuk mendukung pemasaran ke Puspa Agro itu, Pemerintah Kabupaten Bondowoso membantu alat transportasi berupa satu unit truk untuk paguyuban. ’’Sebelum ada truk, hasil produksi diangkut dengan pikap. Biayanya sangat tinggi karena harus menggunakan tiga sampai empat pikap sekali jalan,’’ kata Wahyudi. Permintaan produk pertanian meningkat setelah Pemerintah Kabupaten Bondowoso rajin mengikuti pameran atau promosi gelar produk unggulan pertanian di beberapa daerah. Melalui program peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian, produk pertanian kabupaten ini mulai dikenal masyarakat secara nasional.

Inovasi Teknologi Pertanian Program Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian memang cukup komplet. Mulai menyediakan benih dalam program peningkatan produksi pertanian sampai pemasaran produk. Penyediaan benih dilakukan dengan menumbuhkan penangkar-penangkar benih yang terdapat di daerah itu. Penangkaran benih tersebut dibantu petugas dari Balai Pengujian Sertifikasi Benih (BPSB) agar menghasilkan benih berkualitas dan diminati pasar. Selain itu, pemkab punya UPTD benih yang mampu menghasilkan benih padi berkualitas. Dari sisi pelaku pertanian (petani), tak dapat dimungkiri, para penyuluh pertanian memegang peran sangat penting dalam membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pembinaan terhadap petani dilakukan terus-menerus melalui latihan dan kunjungan (laku), demplotdemplot pertanian di lahan petani, Sekolah Lapang

Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT), serta Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Tugas di lapangan yang cukup berat itu mengharuskan 175 penyuluh pertanian di Bondowoso memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Dengan demikian, mereka mampu memberikan penyuluhan kepada petani dengan materi-materi yang selalu up to date. Salah satu cara yang sudah dilakukan ialah memberikan bimbingan teknis kepada para penyuluh melalui berbagai media dan mendatangkan tenaga ahli di bidang pertanian yang memberikan tambahan inovasi teknologi kepada para penyuluh pertanian. Penyediaan demplot-demplot di lahan petani dilakukan agar petani mudah menyerap teknologi baru yang diberikan petugas lapangan dengan melihat langsung di petak-petak percontohan. Sebab, petani di Kabupaten Bondowoso tidak mudah menerapkan teknologi sebelum melihat langsung

•58•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

hasil teknologi tersebut. Keberadaan SLPPT yang didukung dana APBN juga ditujukan untuk mendukung peningkatan produksi, produktivitas, serta mutu tanaman pangan, terutama padi dan palawija. Tiap tahun, tak kurang dari 500 kelompok tani mengikuti SLTPP. Petani juga mendapat bantuan benih dan pupuk. Lantas, untuk meningkatkan produksi, produktivitas, dan mutu tanaman hortikultura, dilakukan pengembangan biofarmaka, Pengembangan Kawasan Sayuran Organik Bawang Merah, Pengembangan Kawasan Sayuran Organik Kentang, Sekolah Lapang GAP (Good Agricultural Practices) Sayuran Organik Bawang Merah, Sekolah Lapang GAP Sayuran Organik Kentang, dan Sekolah Lapang GAP Biofarmaka. Penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana pertanian diupayakan melalui rehabilitasi jaringan irigasi tingkat usaha tani, rehabilitasi jaringan irigasi desa, pembuatan embung, dan pembuatan sumur resapan.

Selain itu, pengembangan sarana dan prasarana (pemberdayaan P3A), pengembangan irigasi partisipatif, mesin pertanian, alat pengolah hasil pertanian, serta pembangunan Rumah Kompos dan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO). Di luar program dan kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso juga mendapatkan alokasi Program Pengembangan Usaha Agrobisnis Perdesaan (PUAP) yang diperoleh sejak 2008 sampai 2012. Sasaran program itu adalah Gapoktan. Jumlah Gapoktan yang memperoleh program PUAP sebanyak 138 Gapoktan (64 persen) di antara total Gapoktan se-Kabupaten Bondowoso. Program PUAP berbentuk bantuan modal kepada Gapoktan untuk disalurkan kepada anggota dalam bentuk pinjaman bergulir. Tujuannya, petani terhindar dari sistem ijon/tengkulak. Anggota Gapoktan bisa meminjam dana PUAP dengan bunga rendah yang sudah disepakati bersama oleh seluruh anggota Gapoktan. Pengembalian dilakukan dengan sistem yarnen (bayar setelah panen).

Gerakan Bondowoso Pertanian Organik Ketika Bupati Amin Said Husni mengawali tugasnya di Bondowoso, kabupaten itu sedang dilanda kelangkaan pupuk. Maka, pada awal 2009, para petani di seluruh Bondowoso dikumpulkan. Pertemuan tersebut menghasilkan satu kesepakatan, membuat pupuk organik melalui gerakan Bondowoso Pertanian Organik (Botanik).

Secara ringkas, latar belakang gerakan itu adalah peningkatan produktivitas dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Bondowoso melalui penggunaan varietas unggul, sarana dan prasarana produksi, ketersediaan dan kualitas air, serta kondisi agroklimat. Namun, untuk mencapai sasaran produksi

â&#x20AC;˘59â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

itu, Pemerintah Kabupaten Bondowoso masih menghadapi beberapa kendala. Misalnya, kandungan bahan organik di kawasan tersebut rata-rata di bawah 2 persen. Padahal, idealnya kandungan bahan organik harus mencapai 5 persen. Selain itu, terdapat penggunaan pupuk anorganik, terutama urea, yang tidak rasional, sehingga merusak sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Untuk mengatasi kendala tersebut, perlu dilakukan perbaikan terhadap struktur tanah dengan meningkatkan bahan organik tanah. Peningkatan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian pupuk organik ke dalam tanah. Kabupaten Bondowoso punya keunggulan komparatif dengan populasi ternak yang cukup tinggi, sehingga kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Sebagai dasar hukum gerakan itu, bupati mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) No 27/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Gerakan Bondowoso Pertanian Organik (Gerakan Botanik). Tahun 2010, lahir Keputusan Bupati Bondowoso No 520/660/430.42/2009 tentang Tim Koordinasi Gerakan Bondowoso Menuju Pertanian Organik dan Instruksi Bupati Bondowoso No 188.55/02/430.42/2010 tentang Pelaksanaan Gerakan Bondowoso Pertanian Organik (Gerakan Botanik) Tahun 2010. Selain tujuan utama mengatasi kelangkaan pupuk, gerakan itu sekaligus memanfaatkan potensi bahan baku yang tersedia; meningkatkan kandungan bahan organik tanah; memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah; serta meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik. Tujuan lain gerakan tersebut, meningkatkan kualitas dan daya saing produk, meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan petani, serta melestarikan ekosistem dan meningkatkan kesehatan konsumen. Gerakan Botanik membidik sasaran lahan pertanian yang minim bahan organik dan sumber

daya manusia pertanian. Lokasinya terdapat di 209 desa dan sepuluh kelurahan di 23 kecamatan di Bondowoso. Implementasi Gerakan Botanik dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, sosialisasi dan menggerakkan pembuatan serta penggunaan pupuk organik, menggunakan pupuk anorganik secara rasional, dan meningkatkan produktivitas. Kedua, menggerakkan penggunaan pestisida nabati, agensia hayati, dan musuh alami; meningkatkan penggunaan pupuk organik; mengurangi ketergantungan terhadap pupuk anorganik dan pestisida kimia; serta meningkatkan kualitas produk pertanian. Tahap ketiga menghasilkan produk pertanian organik dengan menjaga kualitas pasokan air irigasi, memfasilitasi sertifikasi produk yang dihasilkan pada lembaga sertifikasi kompeten, dan memfasilitasi jaringan pemasaran. Untuk meningkatkan koordinasi antarsatuan kerja yang terlibat langsung dalam Gerakan Botanik, bupati Bondowoso membentuk Tim Koordinasi Gerakan Botanik melalui Surat Keputusan No 520/660/430.42/2009 tentang Tim Koordinasi Gerakan Bondowoso Menuju Pertanian Organik. Monitoring, evaluasi, dan pelaporan Gerakan Botanik dilakukan tiap bulan di tingkat desa yang dibuat sekretaris desa, ditandatangani kepala desa selaku ketua posko desa, dan disampaikan kepada camat sebagai ketua posko kecamatan dengan tindasan Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Monitoring dan evaluasi pelaporan di tingkat kecamatan dilakukan tiap bulan, dibuat oleh sekretaris kecamatan, ditandatangani oleh camat, lalu disampaikan kepada bupati Bondowoso dengan tindasan kepala SKPD teknis terkait. Kriteria lahan yang dilaporkan menggunakan pupuk organik ialah pupuk organic granuler dengan dosis: 300 kg/ha dan pupuk organik curah dengan dosis: 1.000 kg/ha

Road Map Pelaksanaan Pertanian Organik No

Kegiatan

2009

1

Sosialisasi Pembuatan dan penggunaan pupuk organic

2

Gerakan Pembuatan dan penggunaan pupuk organic, penggunaan pestisida nabati, agensia hayati dan musuh alami

3

Pertanian Organik dalam bentuk cluster

2010

2011

2012

2013

Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso, 2012

â&#x20AC;˘60â&#x20AC;˘


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Target Kinerja Botanik (2009 – 2013) No

Target (Ha)

Uraian

2009

2010

2011

2012

2013

1

Penggunaan Pupuk Organik

10.000

15.000

20.000

25.000

30.000

2

Penggunaan Pestisida Nabati Agensia Hayati

-

500

1.000

1.500

2.000

3

Jumlah Kelompok Tani

431

665

745

833

921

4

Kecamatan

23

23

23

23

23

5

Desa

136

150

170

190

219

Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso, 2012

Realisasi Pelaksanaan Pertanian Organik (2009 – 2013) No

Realisasi (Ha)

Uraian

2009

2010

2011

2012

2013

1

Penggunaan Pupuk Organik

11.636

16.056

20.196

-

-

2

Penggunaan Pestisida Nabati Agensia Hayati

-

408

786

-

-

3

Kelompok Tani

556

586

608

-

-

4

Kecamatan Desa

23 158

23 187

23 194

-

-

Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso, 2012

Penghargaan Bidang Pertanian untuk Kabupaten Bondowoso Tanggal 22 Mei 2009

Penghargaan dari Presiden RI atas keberhasilan Kabupaten Bondowoso meningkatkan produksi beras diatas 5 (lima) persen.

2009

Penyuluh Pertanian Teladan Nasional Tahun 2009 a.n. Maryati SP.

2010

Petani Teladan Nasional Tahun 2010 a.n. M. Kholek ( Ketua Gapoktan MITRA TANI).

•61•

Tanggal 1 Desember 2010

Penghargaan dari Presiden RI atas keberhasilan Kabupaten Bondowoso meningkatkan produksi beras diatas 5 (lima) persen.

Tanggal 6 Juni 2011

Tanda kehormatan “SATYA LENCANA WIRA KARYA” dari Presiden RI.


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

SINERGI STAKE HOLDER DALAM GERAKAN BONDOWOSO PERTANIAN ORGANIK

PERBANKAN

Fasiltasi Permodalan

MASYARAKAT Tani

PEMDA/SKPD

Fasilitasi Pembinaan

ASOSIASI PETANI

• Asosiasi Produsen Pupuk Organik (APPONIK) • Asosiasi Petani dan Pedagang Hortikultura (APPH) • Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) • Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Seluruh Indonesia (APPSSI) • Rumah Tani • HIPPA/GHIPPA • Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia • KTNA

SINERGI ANTAR SKPD DALAM GERAKAN BOTANIK DISKOPERINDAG

Penyedia Alat dan Pemasaran

BLH

Pelestarian Kualitas Air

DIPERTA DISHUTBUN

KKP

Mutu Pangan

Pengawalan Teknologi

DINAS PENGAIRAN Sarana Pengairan

DISNAKKAN Pemanfaatan Limbah Ternak

•62•

Dinas PU Bina Marga & Cipta Karya Sarana Jalan


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

PANEN PADI ORGANIK Menteri Pertanian Anton Apriantono bersama Bupati Bondowoso Amin Said Husni mengangkat utasan padi organik Varietas Hibrida yang dipanen di Kecamatan Tlogosari.

â&#x20AC;˘63â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun KUALITAS TERBAIK: Patani Padi Bondowoso menunjukkan utasan padi ketika ia panen

•64•


6

Badan Pemberdayaan Masyarakat


Pasang Badan Menangkal Rentenir Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) merupakan salah satu satker (satuan kerja) di jajaran Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang turut diberi tugas di garis depan dalam pengentasan kemiskinan. Salah satu tugas Bapemas Kabupaten Bondowoso ialah menyalurkan bantuan, baik program bantuan dari pusat, provinsi, maupun program internal Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam program pemberantasan kemiskinan yang didanai APBD.

Drs H Amin Said Husni


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

BLM PNPM Mandiri dan PPKT P

rogram pusat yang dijalankan Bapemas Kabupaten Bondowoso ialah Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PNPM Mandiri. Seluruh kecamatan di Bondowoso menerima BLM. Sebanyak 22 kecamatan menerima BLM PNPM Mandiri Perdesaan dan satu kecamatan (Bondowoso) menerima BLM PNPM Mandiri Perkotaan. Jumlah bantuan yang diterima kecamatankecamatan tersebut bervariasi, bergantung kebutuhan. ’’Bantuan didasarkan pada kebutuhan masyarakat yang diusulkan melalui MAD (Musyawarah Antardesa),’’ kata Kepala Bapemas Drs Karna Siswandi MM. Dari musyawarah itulah diketahui proyek yang paling dibutuhkan. Itulah yang jadi prioritas. Misalnya, infrastruktur jalan, irigasi, sanitasi, sarana pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Adapun bantuan Pemerintah Provinsi Jatim berupa Program Pembangunan Kawasan Tertinggal (PPKT). Dana Rp 40 juta dibelikan 30 kambing, terdiri atas 28 ekor kambing betina lokal dan dua ekor kambing pejantan Boor. Kambing tersebut diserahkan kepada kelompok tani untuk dikembangkan.

’’Plesterisasi dikelola kelompok. Satu kelompok sepuluh rumah. Dengan demikian, anggarannya bisa mencukupi. Kalau tidak kelompok, mungkin dananya tak cukup,’’ lanjut Karna. Pada 2011, terdapat 1.000 rumah yang diplester. Tahun berikutnya (2012) naik menjadi 2.000 unit rumah. Tahun 2013 rencananya tetap 2.000 rumah. Program lain ialah Pundi Gakin. Program itu adalah program pengentasan kemiskinan di wilayah pedusunan. Wujudnya berupa bantuan permodalan kepada kelompok tani sebesar Rp 25 juta. Dengan modal tersebut, mereka membuka usaha simpan-pinjam untuk menangkal rentenir. Sampai akhir 2012, ada dua dusun yang menerima kucuran modal tersebut, masing-masing Rp 25 juta. Yaitu, Dusun Mengo dan dusun Berca Asri. Sebelumnya, pada 2011, hanya satu dusun yang menerima bantuan modal. Pada 2013, Bapemas akan membuat program Garda Mas. Program itu berupa revitalisasi Posyandu. Sasaran revitalisasi tersebut adalah Posyandu yang bersinergi dengan PAUD dan BKB (Bina Keluarga Berencana). Ada 219 Posyandu yang bakal direvitalisasi. *

Plesterisasi, Pundi Gakin, dan Garda Mas

Program Pemberdayaan Masyarakat Terkait Pemberantasan Kemiskinan

Lantas, program internal Kabupaten Bondowoso yang berasal dari APBD, antara lain, plesterisasi rumah-rumah warga. Di Bondowoso, masih banyak rumah penduduk yang berlantai tanah. Rumahrumah tersebut diplester semen. Masing-masing rumah dianggarkan Rp 1 juta.

•67•

BLM PNPM Mandiri dari Pemerintah Pusat PPKT dari Pemerintah Provinsi Jatim Plesterisasi dari ABPD Kabupaten Bondowoso Pundi Gakin dari APBD Kabupaten Bondowoso Garda Mas dari APBD Kabupaten Bondowoso (2013) Sumber: Data Primer, wawancara dengan kepala Bappemas Kabupaten Bondowoso, 12 Desember 2012


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Did You Know

?

PEDULI WARGA: Bupati Drs H. Amin Said Husni memulai program rehab rumah agar layak huni (atas). Program plesterisasi rumah penduduk yang masih berlantai tanah (bawah).

Plesterisasi Rumah Penduduk Miskin Di Bondowoso banyak rumah penduduk yang masih berlantai tanah. Rumah berlantai tanah diplester semen dengan anggaran Rp 1 juta per rumah. Plesterisasi dikelola kelompok. Satu kelompok beranggota 10 rumah. Pada 2011 terdapat 1.000 unit rumah yang sudah diplester. Tahun 2012 naik menjadi 2.000 unit rumah. Catatan : Tahun 2013 rencananya 2.000 unit rumah (tetap) akan diplester. Sumber: Data primer Bapemas Kabupaten Bondowoso, 2012

â&#x20AC;˘68â&#x20AC;˘


7

Ketahanan Pangan


Memetakan Daerah Rawan Pangan Kabupaten Bondowoso termasuk daerah rawan bencana. Misalnya, tanah longsor. Bencana tersebut sering berdampak pada kerawanan pangan bagi penduduk yang tinggal di daerah yang terkena longsor. Lebih dari itu, di sejumlah kawasan di Bondowoso, memang banyak kantong rawan pangan. Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso menjalankan tugas menangani daerah-daerah rawan pangan tersebut.

Drs H Amin Said Husni


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Sinergi Intervensi Rawan Pangan T

iap tahun Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Kabupaten Bondowoso melakukan pemetaan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Hasilnya, antara lain, berupa data. ’’Dari pemetaan, kami menentukan daerahdaerah rawan pangan. Lantas, diseleksi mana yang perlu diintervensi melalui kegiatan sinergi antarlembaga untuk menangani kerawanan

itu,’’ kata Ir Dwi Wardana MSi, kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso. Menurut Wardana, lembaga atau satuan kerja yang terkait dengan pemetaan dan intervensi adalah Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, dan kantor Badan Pusat Statistik. ’’Intervensi bisa berupa bantuan sosial pangan yang didanai APBD Kabupaten Bondowoso atau bantuan dari pemerintah pusat atau

Pengembangan Desa Mandiri Pangan NO

NAMA PROGRAM

JUMLAH LOKASI

1

Desa Mapan 2006

2 Desa

2

Desa Mapan 2007

2 Desa

3 4 5

Desa Mapan 2008 Desa Mapan 2009 Desa Mapan 2010

1 Desa 1 Desa 3 Desa

6

Desa Mapan 2011

4 Desa

7

Desa Mapan 2012

4 Desa

JUMLAH

17 Desa

LOKASI

SUMBER DANA

Desa Batu Salang, Kecamatan Cermee Desa Taman, Kecamatan Taman Krocok Desa Karanganyar, Kecamatan Tegalampel Desa Bendoarum, Kecamatan Wonosari Desa Wonosuko, Kecamatan Tamanan Desa Padasan, Kecamatan Pujer Desa Bercak, Kecamatan Cermee Desa Bercak Asri, Kecamatan Cermee Desa Kladi, Kecamatan Cermee Desa Purnama, Kecamatan Tegalampel Desa Mandiro, Kecamatan Tegalampel Desa Tanggulangin, Kecamatan Tegalampel Desa Jurangsapi, Kecamatan Tapen Desa Tamanan, Kecamatan Tamanan Desa Kalianyar, Kecamatan Tamanan Desa Sumber Kemuning, Kecamatan Tamanan Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari

APBN TP 2006 APBN TP 2006 APBN TP 2006 APBN TP 2006 APBN TP 2006

APBN TP 2006

APBN TP 2006

Sumber data: Kantor Ketahanan Pangan Bondowoso, 2012 Catatan: 1. Tujuan kegiatan pemberian bantuan langsung pengembangan modal usaha kelompok. 2. Pemberdayaan masyarakat dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki atau dikuasai untuk mewujudkan kemandirian pangan masyarakat. 3. Sumber dana APBN Tugas Pembantuan (TP) 2006–2012.

•71•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Pemerintah Provinsi Jatim,’’ ujarnya. Tetapi, tak jarang pula bantuan bisa berupa kegiatan fisik untuk meningkatkan derajat kehidupan masyarakat. Misalnya, pembangunan lantai jemur dan lumbung pangan. Sejak 2009 sampai 2012, tak kurang dari 35 lantai jemur dan lumbung pangan dibangun di berbagai desa dengan dana dari APBD kabupaten, APBD provinsi, serta APBN. Pembangunan lantai jemur dan lumbung pangan itu merupakan penyediaan prasarana dasar pembangunan pertanian. Selain itu, untuk meningkatkan kinerja pertanian di daerah dan meningkatkan ketahanan pangan. Meski sudah cukup banyak, Wardana menyatakan bahwa keberadaan lantai jemur dan lumbung pangan belum memadai jika dibanding jumlah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kabupaten Bondowoso. Saat ini saja, di seluruh Kabupaten Bondowoso terdapat 213 Gapoktan dan 2.288 kelompok tani. Karena itu, pada tahun-tahun mendatang, Pemerintah Kabupaten

Bondowoso terus membangun lantai jemur dan lumbung pangan. Ukuran lantai jemur yang dibangun di berbagai desa bervariasi, bergantung anggaran. Tetapi, biasanya berukuran 8 x 12 meter atau 8 x 18 meter. ’’Lantai terbuat dari semen yang dibentuk bergelombang,’’ tandas Wardana. Sementara itu, lumbung pangan merupakan bangunan permanen dari tembok, rata-rata berukuran 6 x 9 meter. Kapasitas standar sekitar 20 ton. Lumbung tersebut berfungsi sebagai penyimpan gabah, menyimpan stok pangan yang lain, serta untuk menahan harga beras di pasaran. Pembongkaran isi lumbung bergantung kesepakatan kelompok. Lahan tempat pendirian lumbung juga milik kelompok. Pada waktuwaktu tertentu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan bantuan Rp 20 juta untuk pengisian lumbung. Pada 2012, terdapat enam kelompok tani yang menerima bantuan tersebut.

TELADAN: Bupati H. Amin Said Husni ikut menanam bibit pohon untuk penghijauan.

•72•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Program P2KP Mendorong warga tidak bergantung pada beras dan terigu. Mendorong kaum perempuan memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami tanaman konsumsi nonberas dan terigu. Tanaman nonberas dan terigu dijadikan bahan pangan. Sumber: Kantor Ketahanan Pangan Bondowoso, 2012 Catatan: 1. Dana bersumber dari APBN, APBD Jatim, dan APBD Bondowoso. 2. Sudah melatih 41 kelompok perempuan di 41 desa.

â&#x20AC;˘73â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Produksi rakyat: Industri pengolahan gula merah yang terus dikembangkan di Bondowoso.

Desa Mandiri Pangan Program lain yang dijalankan KKP Kabupaten Bondowoso ialah Pengembangan Desa Mandiri Pangan. Tugas itu merupakan tugas kepembantuan yang didanai APBN. Bentuknya adalah bantuan langsung untuk pengembangan usaha kelompok. Program tersebut bertujuan memberdayakan masyarakat dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki agar mereka memiliki kemandirian pangan. Dalam lima tahun terakhir, tak kurang dari 13 desa mendapatkan bantuan.

Keanekaragaman Konsumsi Masih ada lagi program Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Bondowoso. Dalam hal ini, KKP mendorong masyarakat agar tidak bergantung pada bahan pangan pokok beras dan terigu. Melalui program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), mereka memberdayakan kelompok perempuan dalam memanfaatkan pekarangan rumah. Tanaman yang tumbuh di pekarangan diberdayakan sebagai bahan pangan. Dengan demikian, masyarakat mampu mengonsumsi aneka ragam pangan berbasis sumber daya lokal. Langkah tersebut sekaligus bisa meningkatkan gizi keluarga. Dengan dana APBN, APBD Provinsi Jatim, dan APBD Kabupaten Bondowoso, kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso, dalam lima tahun terakhir, sudah memberikan pelatihan kepada 41 kelompok perempuan di 41 desa. Kantor itu juga rajin menyebar poster-poster di instansi-instansi pemerintahan tentang pentingnya mengonsumsi aneka ragam bahan pangan. (*)

â&#x20AC;˘74â&#x20AC;˘


8

Infrastruktur Jalan dan Irigasi


Memperbanyak Infrastruktur Membuka Daerah Terpencil Salah satu masalah lokal yang menjadikan Kabupaten Bondowoso masuk kategori daerah tertinggal di Jawa Timur ialah kondisi geografis. Banyak wilayah terpencil yang sulit dijangkau. Mobilitas penduduk pun menjadi sangat terbatas. Karena itu, salah satu upaya untuk membuka isolasi daerah terpencil ialah mempercepat dan memperbanyak pembangunan infrastruktur pedesaan. Selama lima tahun (2008â&#x20AC;&#x201C;2013), Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Bina Marga dan Cipta Karya mempercepat pembangunan jalan dan jembatan pedesaan.

Drs H Amin Said Husni


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Menembus Dusun dengan Roda Besi

Hampir rampung: Jalan pedesaan banyak dibangun pemerintah Kabupaten Bondowoso (2008-2013).

S

angat banyak wilayah pedesaan di Bondowoso yang terpencil. Amat banyak pula dusun terisolasi. Jauh dari jalan raya. Minim sarana penghubung ke luar daerah. Bukan hanya mobilitas penduduk yang menjadi sangat terbatas,

melainkan juga terhambatnya interaksi sosial dengan wilayah lain yang lebih berkembang. Minimnya kontak sosial karena keterbatasan sarana penghubung mengakibatkan arus barang, terutama hasil pertanian setempat, sulit

â&#x20AC;˘77â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

menembus pasar yang jauh. Itulah pula yang menghambat kemajuan sosial dan ekonomi banyak warga di sejumlah desa terpencil. Pemerintah Kabupaten Bondowoso tak menyerah pada kondisi geografis daerahnya. Kondisi itu bukan takdir. Itu adalah tantangan yang harus dijawab melalui pembangunan infrastruktur yang cerdas buah dari perencanaan program yang inovatif. Kini selama lima tahun terakhir (2008–2013), berkat ketekunan membangun infrastruktur pedesaan, sudah sangat banyak daerah terisolasi yang terbuka. Bisa ditembus. Itu, antara lain, berkat pembangunan jalan-jalan baru. Pembukaan jalan-jalan baru tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup warga desa dan dusun-dusun terpencil.

Infrastruktur jalan yang memadai memang sangat vital untuk menggerakkan roda perekonomian, suplai, serta distribusi barang konsumsi dan kebutuhan pokok masyarakat. Ketersediaan jalan-jalan itu yang mulus dengan luas dan panjang yang memadai dengan sendirinya akan memudahkan masuknya kebutuhan, layanan, dan fasilitas-fasilitas lain ke desa, bahkan dusun. Misalnya, kebutuhan bahan pangan, fasilitas kesehatan, pendidikan, air bersih, serta listrik. Sebetulnya infrastruktur jalan ke berbagai desa dan banyak dusun terpencil itu sudah lama ada. Hanya, jalan-jalan yang sudah lama ada lebih banyak merupakan jalan setapak. Jalan beralas langsung tanah. Kemampuan tonase jalan seperti itu untuk menerima beban arus lalu lintas kendaraan berat sangat terbatas. Dengan kata lain,

Peningkatan Kualitas Jalan di Bondowoso 2008–2011

Tahun 2008 sepanjang 91,576 km

Tahun 2009 sepanjang 90,579 km

Tahun 2010 sepanjang 54,855 km

Tahun 2011 sepanjang 106,876 km

Total peningkatan kualitas jalan 2008–2011 sepanjang 343,886 km

Sumber: Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Bondowoso, 2012

TIDAK LAYAK: Jembatan lama tradisional (kiri), dan alat berat mengeruk saluran yang dangkal untuk memperbaiki irigasi (kanan).

•78•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

jalan tanah tak bisa dilalui kendaraan roda empat pengangkut barang dengan tonase besar. Karena itu, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Bondowoso sebagai SKPD yang membawahkan tupoksi pembangunan infrastruktur terus bekerja sangat keras guna meningkatkan kualitas jalan dengan banyak program pekerjaan pelebaran dan pemadatan jalan. Meski demikian, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya tidak main babat dalam menjalankan program perluasan dan peningkatan kelas jalan. Misalnya, dalam pembangunan jalan, baik jalan baru maupun meningkatkan kemampuan jalan melalui program pelebaran, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya berusaha tidak mencaplok lahan masyarakat. ’’Kalau lebar jalan sekitar 2,5 sampai 3 meter saja, tak sampai memakan lahan masyarakat,’’ kata Kepala Bidang Bina Marga Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Bondowoso Mohammad Harijadi ST. Kondisi geografis desa-desa dan dusun-dusun yang terjal dan berbukit memaksa petugas Dinas PU dan Bina Marga Kabupaten Bondowoso bekerja ekstrakeras. Tak jarang, kendaraan berat untuk memadatkan jalan tak bisa bekerja karena kondisi yang tak memungkinkan. Misalnya, Harijadi mencontohkan pembangunan jalan desa di daerah pegunungan di Desa Kupang Beringin di Kecamatan Pakem. ’’Alat angkut tak bisa masuk lantaran jalanan sangat sempit

dan berkelok. Ya, terpaksa kami memadatkan jalan menggunakan roda besi ukuran kecil,’’ kata Harijadi menceritakan pengalamannya. Itu pula yang mengakibatkan tidak semua jalan ke desa-desa dan dusun-dusun tersebut beraspal mulus. Ada yang harus puas dengan jalan makadam. ’’Tetapi, saya berharap tahun 2013 ini jalan-jalan yang belum diaspal sudah bisa segera teraspal semua,’’ harap Harijadi. Sesungguhnya, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya berusaha memenuhi tuntutan masyarakat yang menginginkan jalan kualitas hotmix. Jika terpaksa tidak bisa, Bina Marga akan menggunakan lapisan penetrasi (lapen) aspal. Apalagi, sepengalaman Harjadi, partisipasi masyarakat terhadap peningkatan jalan-jalan baru itu gampang-gampang sulit. Sosialisasi yang dilakukan harus dengan kehati-hatian tinggi. Terutama jika menyangkut lahan milik masyarakat. ’’Kadang ada penolakan, ya… Kalau seperti itu, tidak kami lanjutkan. Tapi, karena banyak yang butuh, akhirnya mereka bersedia juga,’’ tutur Harijadi. Tidak semua warga di banyak pedesaan di Bondowoso menolak pembangunan jalan. Jika masyarakat membutuhkan infrastruktur jalan, banyak pula di antara mereka yang bergotong royong. Mereka membangun jalan sendiri. Kalau kemudian tidak mampu menyelesaikan, barulah Dinas Bina Marga dan Cipta Karya

Infrastruktur Daerah pelosok: Pembangunan jalan dan jembatan untuk membuka isolasi wilayah terpencil.

•79•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

MULUS: Jalan Kabupaten Bondowoso yang dibangun Dinas Bina Marga dan Cipta Karya.

•80•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Serius: Menteri PU Joko Kirmanto dan Bupati Bondowoso H. Amin Said Husni meninjau pembangunan infrastruktur.

menindaklanjuti untuk menyelesaikan pembangunan jalan tersebut. Misalnya, pembangunan jembatan beton di Desa Kabuaran, Kecamatan Cermee, yang semula dibangun warga desa tersebut. Karena mereka tidak mampu menyelesaikan, pembangunannya diambil alih. Lalu, dilanjutkan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya. ’’Tahun 2013 ini, pembangunan jembatan tersebut kami realisasikan,’’ ujar Harijadi. Setiap tahun selalu saja ada jalan rusak. Apalagi, sekarang tidak sedikit truk yang lewat membawa beban melebihi tonase yang ditetapkan. ’’Umumnya truk-truk itu membawa kayu atau tebu,’’ kata Harijadi. Agar kerusakan tak bertambah parah, Dinas Bina Marga melakukan perawatan rutin pada jalan-jalan tersebut.

Panjang Jalan, Kondisi, dan Status Jalan di Bondowoso Total panjang jalan 1318,09 km. Sepanjang 594,97 km berkondisi baik. Sisanya, 713,12 km jalan beraspal rusak, jalan makadam, dan jalan tanah. Tiga jalan utama untuk keluarmasuk Bondowoso adalah jalan milik Provinsi Jatim. Yakni, jalan ArakArak–Bondowoso, Bondowoso–Situbondo, dan Bondowoso–Jember. Sumber : Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Bondowoso, 2012

•81•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

LAYANAN AIR BERSIH: Pembangunan jaringan pipa saluran air ke pedesaan untuk wilayah rawan air.

Pipa Air Berkilo-kilo Meter Tidak hanya membangun atau memperbaiki jalan dan jembatan yang jadi pekerjaan Dinas Marga dan Cipta Karya. SKPD bertupoksi membangun infrastruktur itu juga membangun fasilitas jaringan perpipaan untuk mengalirkan air bersih ke desa-desa terpencil di Bondowoso. Air bersih di desa-desa di Kabupaten Bondowoso dikelola Hippam (Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum) yang tersebar di desa-desa. Hal itu berbeda dari perkotaan yang pengelolaan layanan air layak konsumsinya dikelola PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Toh, tidak semua desa memiliki jaringan perpipaan air bersih. Sebab, tidak semua desa pula terdapat sumber mata air. Desadesa tanpa jaringan pipa tersebut umumnya mendapatkan air bersih dari sumur gali atau pompa tangan. Sedangkan di daerah rawan air, biasanya terdapat hidran umum (HU). Sejenis tangki air besar. Kapasitas tampungnya mencapai 3.000 liter. Sebagian besar HU tersebut merupakan bantuan PDAM yang bekerja sama dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Provinsi Jawa Timur. Mereka juga yang

menyuplai air ke HU tersebut. Pemasangan jaringan perpipaan selalu diawali dengan survei. Termasuk, kepemilikan sumber mata air. ’’Harus jelas, sumber mata air itu milik desa mana. Kalau kami salah langkah, masyarakat desa bisa marah yang marahnya belum tentu sembuh setahun,’’ kata Ir Saiful Islam MM, kepala bidang Permukiman, Air Bersih, dan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Bondowoso. Saiful mengisahkan, sumber mata air milik satu desa bisa digunakan desa lain karena posisi keberadaan sumber. Misalnya, sumber mata airnya di bawah, sedangkan permukimannya di atas. Dengan musyawarah antardesa, sumber mata air tersebut bisa digunakan gabungan warga dari desa lain yang posisinya di bawah. Sebab, pengaliran air ke HU atau keran umum (KU) di desa menggunakan teknik grafitasi. ’’Kalau menggunakan pompa air diesel, memakan biaya tinggi,’’ tutur Saiful, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang itu. Air bersih tersebut digunakan untuk berbagai

•82•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

MENJANGKAU PELOSOK: Pembangunan jaringan pipa air bersih (kiri) dan hidran umum untuk memenuhi kebutuhan air layak konsumsi di pedesaan (kanan)

Sarana Layanan Air Layak Konsumsi di Bondowoso Pipanisasi air dari sumber air bersih (mata air) ke desa-desa terpencil berakhir di keran umum (KU) atau hidran umum yang bisa menampung 3.000 liter air. Di daerah rawan air bersih –tidak ada jaringan pipa dan tidak sumber mata air– disediakan hidran umum (HU) dengan suplai air dari PDAM yang diangkut dengan mobil tangki air. HU dibangun melalui bantuan PDAM dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Pengelola Hippam (Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum) di desa setempat. Biaya bergantung kesepakatan. Sumber : Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Bondowoso, 2012.

keperluan oleh penduduk desa. Mulai mandi, mencuci, sampai minum. Sampai saat ini, terdapat sekitar 104 jaringan pipa Hippam di Kabupaten Bondowoso. Panjang pipa-pipa tersebut –dari sumber air ke tandon– bervariasi. Kadang sampai 2 km, 3 km, bahkan lebih. Setelah pipa tersedia dan air mengalir, Hippam itulah yang mengelola. Mereka berhak menarik iuran yang besarnya bergantung kesepakatan warga. Kesadaran masyarakat, menurut Saiful, merupakan kendala utama pemasangan jaringan pipa tersebut. ’’Kesadaran bahwa air merupakan kebutuhan dan mereka wajib memelihara. Sadar bahwa air itu untuk minum dan kebutuhan-kebutuhan konsumsi dasar lain,’’ katanya. Ada kalanya malah terjadi penyalahgunaan pemakaian air. Misalnya, keran dipotong, lalu disalurkan untuk keperluan irigasi. Tentu saja, ulah seperti itu merugikan banyak orang, mengancam ketertiban umum, sekaligus mengganggu keguyuban warga. Kalau itu yang terjadi, itu bukan lagi kewenangan teknis SKPD seperti Dinas Bina Marga dan Cipta Karya. ’’Kejadian seperti itu sudah ranah hukum,’’ tegas Saiful.

•83•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Kinerja Layanan Air Bersih dan Sanitasi 2008–2012 INDIKATOR Peningkatan dan Penye­ diaan Sarana Air Bersih

SARANA-PRASARANA DAN CAKUPAN PELAYANAN JUMLAH LOKASI Panjang pipa (M) BC (UNIT) HU (UNIT)

2008

2009

2010

2011

2012

JUMLAH

15 38.818 29 85

7 31.397 9 39

3 9.773 3 17

3 14.776 8 15

10 39.525 13 43

38 134.289 62 199

10

14

5

8

17

54

8.600

4.040

1.750

1.580

4.470

20.440

KU (UNIT) JUMLAH PELAYANAN (JIWA)

Keterangan: BC: Brond Captering (Penangkap Mata Air) BPT: Bak Pelepas Tekan HU : Hidran Umum KU : Keran Umum Sumber: Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Bondowoso, 2012

SANITASI INDIKATOR Peningkatan-Ketersediaan Air Limbah Pembangunan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Pembangunan Drainase

SARANAPRASARANA

2008

2009

2010

2011

2012

JUMLAH

Jumlah Lokasi (desa)

4

2

3

3

3

15

MCK++(unit) Cakupan Pelayanan (jiwa)

4 400

4 400

6 600

6 900

5 900

25 3.200

Jumlah Lokasi (desa) Drainase (M)

0 0

1 250

0 0

0 0

0 0

1 250

Sumber: Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Bondowoso, 2012

Berbekal 20 Waduk untuk Irigasi Selain Dinas Bina Marga dan Cipta Karya yang memiliki tupoksi terkait pembangunan infrastruktur daerah adalah Dinas Pengairan. Salah satu potensi alam yang dimiliki Bondowoso ialah topografi wilayah yang berbukit-bukit dengan memiliki banyak cekungan. Cekungan-cekungan tersebut menyimpan banyak sumber air yang

banyak dimanfaatkan untuk keperluan irigasi dan pertanian. Meski demikain Dinas Pengairan Kabupaten Bondowos tak sembarangan untuk menggali potensi alam tersebut untuk keperluan irigasi dan pertania. Pemanfaatan dan sistem pengelolaan SDA (sumber daya alam) tersebut mengacu

•84•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Hijau dan Subur: Salah satu areal persawahan penduduk di Kabupaten Bondowoso hasil pembangunan irigasi.

pada UU No 7/2004 dan peraturan irigasi kawasan pertanian-perkebunan. Juga selalu berkoordinasi dengan satker (satuan kerja) terkait sesuai tupoksi masing-masing. Sampai saat ini Bondowoso memiliki 20 (dua puluh) waduk lapangan yang berfungsi menyimpan kelebihan air di musim hujan. Lantas pada saat

musim kemarau air yang tersimpan dalam waduk dimanfaatkan untuk irigasi dan pertanian. Namun bukan tanpa masalah. Salah satunya ialah pengaian sawah ialah di daerah terjal. Di daerah dengan tofografi demikian resapan air sangat tinggi. Air pun mudah hilang atau mengalir ke hilir. Karena itu, pengaturannya harus bagus.

Persawahan Terasering Pemberdayaan petani di Bondowoso mengacu pada sistem pesawahan terasering. Saat ini sungai utama yang melewati Bondowoso adalah Sungai Sampean. Di sungai ini terdapat Bendungan Sampean Baru yang mengairi areal irigasi di Kabupaten Bondowoso kurang lebih 3000 Ha. Sungai utama, Sungai Sampean, memiliki 20 anak sungai dan 128 sumber mata air. Kakayaan kandungan alam Bondowoso ini dimanfaatkan untuk irigasi dan pertanian. Sistem pembagian air irigasi di Bondowoso

berdasarkan pada Rencana Tata Tanam (RTT) berdasarkan metode LPR–FPR (Luas Polowijo Relatif – Faktor Polowijo Relatif ). Dalam metode LPR–FPR faktor yang diperhitungkan, antara lain, jenis tanaman, ketersediaan air irigasi, pemberian air di lahan padi sebesar 1.20 liter/detik. Ada pun polowijo dibutuhkan 0.30 liter per detik. Dan, lahan tebu sebesar 0.45 liter per detik. Perbandingan kebutuhan air menurut metode LPR – FPR ialah polowijo : Padi : Tebu = 0.30 : 1.20 : 0.45. (*)

•85•


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Profil n Lima Tahu 13) (2008 – 20 nan Pembangu o Bondowos

S

Kembangkan Botanik Menuju Agro-Tourism

ampai akhir 2012, Kabupaten Bondowoso masih masuk kategori daerah tertinggal di Jawa Timur. Masih ada kawasan-kawasan kemiskinan di sejumlah kecamatan dan desa. Ada juga daerah rawan bencana, tanah longsor, gempa bumi, dan

angin puting beliung. Namun, dalam lima tahun terakhir (2008–2013), Bondowoso menunjukkan diri sebagai daerah yang berkembang cukup baik. Angka kemiskinan turun, pertumbuhan ekonomi stabil. Bahkan, pada 2011, pertumbuhan ekonomi

•86•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Profil Drs H. Amin Sadi Husni

mencapai 6,20 persen. Kini bahkan mengekspor kopi ke Swiss. Bupati Bondowoso, Drs H. Amin Said Husni, membeberkan strategi menemukan program terobosan untuk mempercepat kemajuan daerah yang dipimpinnya. Ketika hendak memimpin Bondowoso lima tahun silam, apa yang ada di pikiran Anda? Saat itu saya gundah. Mengapa Bondowoso sejak dulu dicap sebagai Kota Pensiun. Itu konotasi yang statis. Artinya, orang kalau sudah mau mati, tidak lagi produktif, baru ke Bondowoso. Itu tantangan yang harus dijawab. Tentu dengan kerja keras. Menemukan terobosan. Karena itu, pada awal saya bertugas, saya menginventarisasi berbagai masalah krusial. Apa sih yang sebetulnya dapat kami angkat. Melihat data-data makroekonomi selama beberapa tahun berjalan, potensi ekonomi unggulan di Bondowoso adalah pertanian. Sebesar 44,6 persen PDRB Kabupaten Bondowoso merupakan kontribusi sektor pertanian. Artinya apa? Artinya, duit yang beredar di Bondowoso, separonya adalah duit petani dan pelaku usaha pertanian. Tetapi, kenyataannya, justru banyak petani yang hidup miskin. Padahal, 58 persen, hampir 60 persen masyarakat Bondowoso, adalah petani. Dari situ saja sudah terlihat bahwa 44,6 persen duit yang beredar di Bondowoso itu diperebutkan sekitar 60 persen petani kita. Gambaran tersebut juga menjelaskan bahwa banyak petani yang belum menikmati kesejahteraan dari hasil pertanian. Kalau diihat lebih dekat, ternyata memang banyak petani Bondowoso hanya buruh tani. Bahkan, untuk petani yang memiliki tanah pun, pertanian mereka adalah pertanian subsisten. Hanya untuk menyambung hidup. Bukan usaha tani. Bukan untuk mengembangkan ekonomi produktif.

INSPIRATOR: Bupati Bondowoso, Drs H. Amin said Husni, me­ nuangkan kopi ke cangkir di halaman pendopo, Rabu (9 Januari 2013)

Apa kendala petani Bondowoso dalam mengembangkan ekonomi produktif? Untuk mengetahui kendala, saya diskusi dengan petani. Dari hasil diskusi itu diketahui, antara lain, banyak di antara mereka yang tidak punya lahan. Yang punya lahan pun banyak yang dilepas. Ada yang digadaikan. Ada pula yang disewakan. Yang digadaikan itu, begitu sudah tidak mampu bayar, lahan pun hilang. Lepas. Jadi, mereka yang semula punya tanah sepetak dua petak pun hilang. Lalu, mereka menjadi buruh tani.

â&#x20AC;˘87â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun Yang punya lahan pun pertanian pun, mereka sering harus mengerjakan lahannya dengan biaya tinggi. Mengapa? Di antaranya, mereka tidak bisa mengakses perbankan. Mereka mendapatkan dana pinjaman (bunga tinggi) dari rentenir. Mereka tidak punya bargaining power untuk menentukan harga. Belum lagi soal pupuk. Ketika musim tanam, pupuk langka. Kalaupun ada pupuk, harganya mahal. Akibatnya, menjadi pertanian biaya tinggi. Melihat kondisi itu, apa yang Anda lakukan? Yaaa, kendala itu yang saya urai. Untuk mengatasi kelangkaan pupuk, saya merumuskan gerakan terpadu yang saya beri nama Gerakan Botanik, kepanjangan dari Bondowoso Pertanian Organik. Mengapa pertanian organik? Pertama, mengatasi kelangkaan pupuk. Pupuk mahal, sedangkan di depan mata bahan baku berlimpah tidak dimanfaatkan. Kita mesti mengajari petani bagaimana memanfaatkan bahan baku itu menjadi pupuk organik. Selain itu, saya bantu mereka dengan pemberian alat pembuatan pupuk organik. Kita berikan

contoh. Pemerintah membuat demplot-demplot, lahan percontohan. Ada enam BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) di Bondowoso yang kita sediakan demplot. Masing-masing satu hektare untuk uji coba pupuk organik. Petani kita ini kan ingin melihat barangnya dulu. Kalau sudah tahu hasilnya bagus, baru mereka yakin dan mau melakukan. Tapi, kan tidak semua petani perlu melihat hasil dulu, baru percaya. Ya, betul. Karena itu, sementara kami bikin demplot-demplot dulu. Lalu, kami meyakinkan kelompok-kelompok tani yang sudah maju, yang bisa diajak gambling, kami tawarkan mau nggak mencoba ini (pupuk organik). Ternyata, ada beberapa kelompok tani yang mau. Selain itu, ada program SLTPP. Itu juga dalam rangka mempraktikkan langsung dan mengajari petani, memberikan transfer of knowledge dan sebagainya. Bagaimana Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengawal Gerakan Botanik? Kami bikin Road Map agar Gerakan Botanik tidak jalan secara alamiah. Misalnya, pada 2009 apa targetnya, 2010 apa targetnya, 2011 apa pula targetnya. Diharapkan, pada 2013 ini sudah ada satu kluster, satu kawasan yang mungkin luasnya tak terlalu besar, tapi fully organic. Sekarang kami sudah sampai di situ, yakni di Desa Jebung Lor, Kecamatan Tlogosari. Di desa itu kami kembangkan (fully organic). Apa manfaat Gerakan Botanik bagi petani? Dapat mengatasi sejumlah masalah sekaligus. Makin banyak petani yang menggunakan pupuk organik, dari tahun ke tahun bakal tidak ada lagi kelangkaan pupuk. Terutama, pupuk urea yang dulu paling dicari petani. Pada 2010â&#x20AC;&#x201C;2011, jatah pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Bondowoso sudah tidak 100 persen terpakai. Hanya terpakai delapan puluh sekian persen. Artinya, masyarakat sudah tidak lagi bergantung pada pupuk kimia. Mereka sudah beralih ke pupuk organik, sekaligus mengubah mindset. Jadi, untuk mencapai hasil yang mereka inginkan itu tidak selalu harus menggunakan pupuk urea.

KARYA PETANI BONDOWOSO: Bupati Bondowoso Drs H. Amin Said Husni M.Si melihat kemasan produk pupuk organik.

Seperti apa hasil pemakaian pupuk organik? Cukup bagus. Dari semula per panen cuma 5,6 ton per hektare, kini ada yang bisa mencapai delapan ton. Bahkan, di daerah tertentu, karena tanahnya cukup subur, air cukup, panen bisa mencapai belasan ton per hektare. Itu suatu yang luar biasa.

â&#x20AC;˘88â&#x20AC;˘


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Profil Drs H. Amin Sadi Husni

TANDA TANGAN MENTAN: Anton Apriantono disaksikan Bupati Bondowoso Amin Said Husni meresmikan pabrik pupuk ROBOG hasil kerja bareng Pemda Kabupaten Bondowoso dengan Alfa Omega Miracle. Gerakan Botanik melibatkan beberapa SKPD? Ujung tombak tentu Dinas Pertanian sendiri. Tetapi, kemudian bersinergi dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan serta Dinas Peternakan dan Perikanan. Untuk menjamin sistem jaringan irigasinya bagus, dilibatkan pula Dinas Pengairan. Selanjutnya, untuk memastikan bahwa ini ada market, kami libatkan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan. Agar program ini mencapai sasaran ketahanan pangan, Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Bondowoso juga dilibatkan. Terakhir, kami sudah bikin networking dengan Puspa Agro.

usaha. Kini mereka sudah kami kembangkan menjadi badan usaha koperasi. Usaha kelompok tani dan gabungan kelompok tani itu semula berupa usaha-usaha alamiah saja. Sekarang kami tingkatkan. Kami sediakan dana dari APBD untuk mendukung mereka membentuk koperasi. Kami buatkan badan hukum tanpa dipungut biaya. Dengan badan hukum, otomatis mereka bisa lebih mudah mengakses permodalan perbankan. Kegiatan usahanya juga lebih termanage, begitu juga pemasarannya lebih terjamin.

Apakah ada usaha lain untuk meningkatkan kesejahteraan petani? Tentu saja ada. Agar mereka tidak hanya menjadi petani subsisten, kami ajari mereka menjadi pengusaha tani. Pada saat yang bersamaan, kebetulan ada bantuan dari pemerintah pusat berupa PUAP (Pengembangan Usaha Agrobisnis Pedesaan). Ada bantuan modal Rp 100 juta per kelompok tani. Itu kami drop kepada petani-petani terpilih yang punya kemampuan mengembangkan

Apakah masa depan Bondowoso memang disetting sebagai daerah pertanian? Ya. Karena itu, saya sering meyakinkan masyarakat Bondowoso bahwa masa depan Bondowoso adalah pertanian. Tidak perlu bermimpi menjadi kabupaten industri kayak Sidoarjo, misalnya. Apalagi seperti Surabaya atau Gresik. Tidak perlu. Mimpi kita cukup mengembangkan Bondowoso sebagai kota pertanian. Sebab, andalannya memang di situ (pertanian, Red). Karena itu, dalam RPJP, Rencana Pembangunan Jangka Panjang daerah, sasaran kami adalah agro ditambah tourism. Jadi, AgroTourism. Dari situ, diharapkan akan terdongkrak potensi unggulan daerah.

â&#x20AC;˘89â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

OBJEK BARU WISATA: Wakil Gubernur Jawa Timur Saifulllah Yusuf bersama istri Ummu Fatma wisata arung jeram di sungai Bosamba, (2010).

Bosamba Rafting Distinasi Wisata Arung Jeram Tak hanya berkutat mengurangi jumlah penduduk miskin. Bukan hanya Ijen sebagai tujuan wisata. Bupati Bondowoso kini juga memperkenalkan arung jeram sebagai destinasi wisata. Objeknya di Sungai Sampeyan Baru yang dipopulerkan dengan kependekan ’’Bosamba’’. Potensi wisata Bondowoso seperti apa? Kami beruntung, banyak turis yang senang mengakses tujuan wisata lewat jalur utara. Jadi, Bromo, Besuki, Bondowoso. Misalnya, tamu-tamu yang ke Kawah Ijen, mereka stay di Bondowoso, kemudian ke tempat tujuan wisatanya, kemudian ke Bali atau ke Jogja. Dengan demikian, otomatis terjadi multiplier effect. Okupansi kamar hotel meningkat, ada restoran yang melayani para tamu, ada tour leader, dan lain-lain. Apakah ada pengembangan objek wisata lain? Ada. Kini kami sedang mengembangkan potensi wisata adventure arung jeram, Bosamba Rafting. Bosamba itu singkatan Bondowoso Sampeyan Baru. Sampeyan Baru itu adalah nama sungai utama di Bondowoso. Meski tidak dipasarkan masif seperti Songa, tamu kami, dari segi target, sudah overbook. Kami mengelola potensi itu bekerja sama dengan swasta lokal. Sementara kami berfokus ke Kawah Ijen dan Bosamba Rafting itu.

Apa kendala paling berat dalam mengembangkan sektor wisata di Bondowoso? Infrastruktur. Mana ada layanan pariwisata tanpa infrastruktur yang memadai. Karena itu, kami harus menangani infrastruktur yang cukup berat. Misalnya, jarak tempuh Bondowoso– lereng Ijen sekitar 60 km. Waktu pertama saya ke Bondowoso, kondisi sebagian besar jalan itu rusak parah. Karena rusah berat, waktu tempuh 60 km ke lereng Ijen hampir tiga jam. Jadi, kalau tidak hobi, orang datang sekali mungkin sudah kapok. Tidak mau datang lagi. APBD berat di situ untuk mengembangkan sektor wisata. Kami genjot di infrastruktur. Baru pada 2012 kami rampungkan. Jalan 60 km itu sekarang sudah mulus. Kalau itungitungan sederhana per 1 km Rp 1 miliar, berarti sudah Rp 60 miliar kami alokasikan di situ. Tapi, ada dampak multiplier tadi. Meski pengelolaan Kawah Ijen tidak di bawah pemda Kabupaten Bondowoso, melainkan di bawah BKSDA, dampak ekonominya bisa kami harapkan. Infrastruktur lain yang dibutuhkan ialah penginapan. Ada penginapan milik PTP. Kalau kawahnya, kan cagar alam, tidak bisa diapa-apakan. Jadi, kami tidak bisa membangun, mengubah, atau mengembangkan. Mungkin nanti kami siapkan infrastruktur pendukung seperti pemandian air panas, air terjun, dan lain-lain.

•90•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

HARUS BISA BACA TULIS: Pelaksanaan program pengentasan buta aksara di Desa Kretek Kecamatan Krocok, (2010).

Kurangi Kemiskinan Dengan Ekonomi dan Pendidikan Vokasi Pemeritah Kabupaten Bondowoso terus bekerja keras untuk mengurangi jumlah penduduk miskinnya. Disparitas atau ketimpangan wilayah terus diatasi, antara lain, melalui pembangunan infrastruktur Seperti apa kondisis ekonomi di Bondowoso saat ini? Secara relatif cukup dinamis. Terutama jika dilihat dari pertumbuhan perbankan. Data BI menyebutkan, dilihat dari perputaran uang diperbankan di Bondowoso dan banyaknya bank-bank baru yang buka, pertumbuhan perekonomian Bondowoso termasuk paling dinamis di antara kota-kota kabupaten di eks Karesidenan Besuki. Terutama kalau dilihat secara proporsional bahwa Bondowoso ini berada di tengah. Jadi, tidak bisa dibandingkan dengan Banyuwangi, Situbondo, atau Jember. Ekonomi Bondowoso adalah ekonomi destinasi. Orang yang mau ke Bondowoso memang tujuannya mau ke Bondowoso. Bukan orang yang sambil lalu. Beda kalau orang mau ke Pasuruan, Probolinggo, Banyuwangi, atau mau ke Bali. Mereka sambil lalu mampir beli rokok atau beli oleh-oleh. Bondowoso tidak seperti itu. Jadi, harus ada effort yang lebih untuk memutar roda ekonomi. Effort itulah yang harus kami lakukan. Sebagian penduduk Bondowoso masih hidup dalam kemiskinan. Bagaimana Anda

mengurangi disparitas? Di antaranya melalui infrastruktur. Kami harus membuka akses, terutama yang timpang itu kan di daerah-daerah tertinggal, terpencil, yang aksesnya susah. Karena itu, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu sektor yang mendapat porsi cukup besar. Jadi, belanja langsung pemerintah yang terbesar itu infrastruktur. Di antara total belanja langsung Pemerintah Kabupaten Bondowoso, 30 persen untuk infrastruktur. Kalau pada 2012 belanja langsung sekitar Rp 300 miliar, sekitar Rp 100 miliar lebih digunakan untuk infrastruktur. Tahun anggaran 2013 lebih besar lagi. Itu untuk jalan membuka daerah isolasi, air bersih, listrik, jaringan irigasi, termasuk rehabilitasi SD-SD di daerah terpencil. Selain pertanian, apa upaya lain untuk mempercepat kemajuan Bondowoso? Peningkatan kualitas SDM. Sebab, untuk mengangkat pertanian saja, kalau hanya bergantung secara alamiah, mungkin akan missing link. Anak-anak kita sudah tidak lagi menyukai pertanian, tetapi mereka tidak punya modal skill. Karna itu, kami kembangkan SMK-SMK. Di Bondowoso ini ada 35-an SMK (negeri dan swasta) yang kami kembangkan sesuai daerah masingmasing. Itu menjadi terobosan dan bagian penting dari total strategi pendidikan yang kami lakukan. Adapun yang kami maksud dengan strategi

â&#x20AC;˘91â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun pendidikan adalah pengalokasian anggaran dalam jumlah sangat besar untuk sektor pendidikan. Di dalamnya, antara lain, core-nya itu pendidikan keterampilan. Ini juga untuk membantu masyarakat yang napasnya tidak cukup panjang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Nah, mereka harus punya skill agar bisa mengarungi kehidupan menjadi lebih baik. Anggaran pendidikan Bondowoso mencapai 49,49 persen di antara seluruh APBD. Apakah itu lebih banyak terserap pada pendidikan keterampilan? Ya, antara lain di situ. Tapi, kalau bicara alokasi terbesar, memang harus diakui masih pada belanja pegawai. Dari total hampir Rp 500 miliar anggaran pendidikan, kami cukupi belanja pegawai, terutama gaji guru, tenaga pendidikan, termasuk sertifikasi. Ada juga belanja langsung untuk perbaikan gedung sekolah, penambahan ruang kelas baru,

perpustakaan, alat-alat peraga, dan sebagainya. Terakhir, kami membangun sekolah baru SMK Negeri 4 di Pancoran, Bondowoso Kota, dan yang akan dibuka SMK negeri di Sempol untuk ketenagalistrikan. Adakah pengaruh banyaknya SMK itu dengan tingkat pengangguran? Dalam empat tahun terakhir, pengaruhnya terhadap pengangguran cukup menonjol. Penurunan pada pengangguran terbuka cukup besar, hampir 2.000 orang. Laporan BPS terakhir, 2011 angka kemiskinan juga berkurang cukup signifikan. Terutama, kategori sangat miskin dan miskin. Semula, dua kelompok ini jumlahnya 19,6 persen (dari total penduduk). Pada 2011 turun menjadi 16,68 persen. Tahun 2008 ketika saya mulai masuk angka kemiskinan masih 22,23 persen Bondowoso menempati peringkat kedua nasional untuk partisipasi PAUD. Bisa dijelaskan? Pertama filososinya bahwa mendidik orang itu harus dimulai sejak dini dalam masa pertumbuhannya. Dari dasar pemikiran itu, yang harus digenjot sejak awal adalah pendidikan anak usia dini. Apakah itu TK, RA (Raudhatul Athfal), TPQ, atau PAUD dan sebagainya. Karena itu, kami membangun kesadaran publik dan mendorong partisipasi masyarakat untuk memberikan atensi yang lebih pada pendidikan anak usia dini. Kami dorong masyarakat secara swadaya, secara mandiri, untuk mengembangkan

Filososinya bahwa mendidik orang itu harus dimulai sejak dini dalam masa pertumbuhannya. Dari dasar pemikiran itu maka yang harus digenjot sejak awal adalah pendidikan anak usia dini.â&#x20AC;? â&#x20AC;˘92â&#x20AC;˘


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Profil Drs H. Amin Sadi Husni

DEMI PENDIDIKAN WARGA MISKIN: Bupati Bondowoso Drs H. Amin Said Husni M.Si menyerahkan beasiswa untuk peserta didik berprestasi dari keluarga miskin di Kecamatan Sukosari. Acara tersebut merupakan agenda rutin program Safari Pendidikan, (2011). sesuai kemampuannya. Bisa TPQ, RA, atau TK. Tempatnya pun tidak harus bagus. Mau di musala ya silakan atau di emperan rumahnya juga jadi. Nah, karena itu, yang terjadi kemudian ialah partisipasi dan kesadaran masyarakat sangat tinggi terhadap PAUD. Hampir di tiap dusun di Bondowoso ada PAUD. Bagaimana bisa timbul kesadaran yang tinggi sehingga partisipasi ke PAUD sangat tinggi? Ada banyak faktor. Di antaranya, kami pernah mendapatkan program PPAUD dari World Bank. Di Indonesia, hanya beberapa kabupaten yang mendapat bantuan program Pengembangan PAUD ini. Yakni, kabupaten yang punya komitmen terhadap pendidikan usia dini. Sebagai stimulan, lembaga yang punya komitmen terhadap PAUD mendapat bantuan

dari Bank Dunia. Mungkin ada ekspektasi di masyarakat, nanti bakal mendapat bantuan. Terus terang (bantuan), itu tidak banyak. Namun, efek stimulasinya cukup besar. Dampaknya, partisipasi masyarakat pada PAUD sangat besar. Seberapa besar dukungan APBD pada pengembangan PAUD? Tidak terlalu besar. Tapi, kesadaran masyarakat cukup tinggi. Kami imbangi (partisipasi itu) dengan pemberian insentif pada guru-guru PAUD. Meski jumlahnya sangat jauh dari memadai, bagi masyarakat, itu adalah bentuk perhatian Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Mereka merasa mendapat dukungan. Insentif itu hanya Rp 50 ribu, sekarang naik menjadi Rp 100 ribu per bulan. Tapi, ketika jumlah itu dikalikan 3.000-an orang, kan jumlahnya jadi miliar.

â&#x20AC;˘93â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

RAKYAT BONDOWOSO: Ekspor perdana kopi rakyat ke Swiss

Berdayakan Petani lalu Ekspor Kopi ke Swiss Salah satu terobosan untuk mempercepat kemajuan ekonomi Bondowoso yang berbasis pertanian ialah mengubah wawasan petani kopi agar berorientasi produksi. Hasilnya, sejak 2011, Bondowoso membuat sejarah. Ekspor kopi ke Swiss, negara Eropa Barat yang dikenal sangat sulit mengimpor komoditas bahan makanan dan minuman. Mengejutkan, Bondowoso bisa ekspor kopi rakyat ke Swiss, negara Eropa yang amat sulit menerima impor komoditas bahan makan. Bisa dijelaskan? Bondowoso ini sejak zaman kolonial dikenal sebagai daerah penghasil kopi. Bahkan, Java Coffee itu sudah menjadi trade mark kopi Bondowoso. Bagi coffee lover, Java Coffee tahunya ya… kopi

Bondowoso. Kopi Jampit, salah satu desa penghasil kopi di Bondowoso, pernah ikut kontes rasa kopi tingkat nasional. Dalam kontes itu, kopi Jampit ternyata berhasil mengalahkan kopi Toraja, kopi Lombok, juga kopi Aceh. Artinya, dari segi kualitas, citarasa, kopi Bondowoso sudah diakui. Tapi, selama ini kopi yang bagus di Bondowoso adalah kopi milik PTP XII yang menangani kopi dan sudah diekspor ke mana-mana. Sebaliknya, yang mengenaskan, petani-petani kopi di Sumberwringin –sekali lagi bahwa petani kami adalah petani subsisten– punya lahan. Namun, mereka mengelola kebun kopinya bermodal duit dari tengkulak. Mereka dikasih pinjeman dengan syarat kopinya dijual kepada yang memberi pinjeman. Harganya suka-suka yang memberi pinjeman karena kualitasnya juga asal-

•94•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Profil Drs H. Amin Sadi Husni

MENYORTIR KOPI EKSPOR: Petani Gapoktan kopi di Kecamatan Sumber Wringin.

asalan. Bandingkan, di PTP itu, harga kopi bisa mencapai Rp 40 ribu per kg. Sedangkan kopi rakyat tersebut, dihargai Rp 18 ribu per kg sudah bagus. Padahal, potensi (kopi) itu sangat besar karena lahannya luas dan orang sudah sangat lekat dengan kopi Bondowoso. Kemudian, dari ngobrol-ngobrol, diskusi ringan begitu, muncul gagasan kenapa tidak mengembangkan kopi menjadi sektor unggulan Bondowoso. Tadinya ada program dari Kementerian PDT, namanya Prukab, (produk unggulan kabupaten). Mas Hilmy (Hilmy Faisal Zaini), menteri PDT, tanya kepada saya apa produk unggulan Bondowoso? Saya bilang kopi. Meski waktu itu yang tergambar dalam benak saya, ya kopinya PTP. Setelah kami diskusikan lebih lanjut, ternyata kami punya peluang untuk mengembangkan kopi rakyat.

Caranya? Kopi itu kan luas. Berapa banyak biaya dan sumber daya lain yang akan kami keluarkan kalau kami kembangkan semuanya. Makanya, kami berfokus dengan bikin kluster. Kluster Arabica Rakyat. Dimulai dengan lima kelompok tani yang betul-betul kami dampingi. Mereka kami bina, kami kembangkan, dan kami bantu. Syukur ada bantuan dari BI Jember, yang salah satu CSR-nya dikembangkan untuk swadaya masyarakat. Nah, kami arahkan ke situ. Kami juga menggandeng Puslit Koka Jember. Mereka kami minta untuk mendampingi petani, bagaimana caranya agar kopi mereka mulai menanam, memetik, memproses, sampai finishing bisa setara dengan kopi PTP yang export quality.

â&#x20AC;˘95â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

MURI MINUM KOPI: Tenda dan stand kopi dalam acara minum kopi bersama, diikuti 2011 peminum kopi di Alun-alun Kabupaten dan sepanjang jalan sekitarnya, (2011).

MINUM KOPI BERSAMA: Bupati Bondowoso Amin Said Husni bersama Forum Pimpinan Daerah (FPD) minum kopi bersama pada acara Pemecahan Rekor MURI Minum Kopi. Acara diikuti 2011 peminum kopi di Alun-alun Kabupaten Bondowoso, (2011). Berapa lama pembinaan dari Puslit Koka? Enam bulan. Mereka dikumpulkan, permodalannya dibantu Bank Jatim waktu itu, juga kami carikan mitra pemasaran. Ketemulah

ekporter yang sudah punya jaringan di beberapa negara. Kami juga bekerja sama dengan Perhutani untuk memanfaatkan lahan-lahan mereka yang digunakan petani.

â&#x20AC;˘96â&#x20AC;˘


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Profil Drs H. Amin Sadi Husni

PIAGAM MURIN KOPI: Perwakilan Museum Rekor Indonesia (Muri) memperlihatkan piagam yuang diberikan kepada Bupati Bondowoso Amin Said Husni, (2011).

â&#x20AC;˘97â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun Ternyata, prosesnya lebih cepat dari yang saya duga. Hanya dalam tempo enam bulan, mereka sudah bisa memperbaiki kualitas kopi, dan sudah terkumpul satu kontainer, 18 ton. Saya minta ekporternya mencari pasar, dijajaki, bawa sampel, kemudian dipasarkan dengan sasaran Eropa. Dari sekian negara, ternyata yang tembus Swiss. Lalu, dilakukanlah ekspor perdana, terhitung enam bulan sejak kluster itu dibentuk. Tapi, hanya satu kontainer.

disertifikasi, sesuai dengan standar mereka, lolos. Itu terjadi pada 2011. Mungkin dalam waktu dekat ada kontrak dengan pembeli itu. Yang terakhir, ada tamu dari Seattle, Amerika Serikat. Mereka tertarik membeli dan mengundang kopi Bondowoso untuk ikut pameran kopi world class yang mereka gelar tiap tahun.

Bagaimana kelanjutan ekspor tersebut? Salah satu kendala kalau kita sudah bisnis ekspor adalah menjaga kontinuitas produk dan quality control. Karena itu, kelompok-kelompok tani terus kami kembangkan. Petani lain yang semula belum bergabung, setelah mendengar dari mulut ke mulut, akhirnya banyak yang berminat. Mereka kami bina juga, kami standardisasi. Jangan sampai antarkelompok terjadi perbedaan kualitas. Dalam tempo satu setengah tahun, sudah menjadi 30 kelompok tani. Produksi terakhir sudah 12 kontainer. Adakah feed back dari konsumen di luar negeri? Ya ada. Misalnya, ada buyer yang datang ke Bondowoso. Dari Belanda. Tidak sekadar membeli lewat jalur pemasaran, tapi ingin tahu sendiri bagaimana kebunnya, pengelolaannya, kontinuitas, dan komitmen terhadap lingkungannya. Mereka minta kopi Bondowoso

Apa sih keistimewaan kopi Bondowoso? Pertama, tidak begitu berpengaruh pada kesehatan lambung. Kedua, ada citarasa kecokelatcokelatan. Tamu dari Belanda itu malah minum kopi Bondowoso tanpa gula. Dia bilang, kalau pakai gula, bukan kopi lagi. Sementara ini kan baru produksi biji kopi. Kapan produksi dalam bentuk bubuk? Sebetulnya sudah. Sudah ada produksi berbentuk bubuk. Hanya, jumlahnya terbatas untuk pemasaran lokal. Jadi, kelompok-kelompok tani itu, untuk kepentingan pemasaran di tingkat lokal atau ikut pameran, sudah dalam bentuk bubuk. Itu juga sudah kami standardisasi. Bahkan, ada beberapa kelompok yang sudah mengembangkan kopi organik. Ada kendala lain? Kendala yang kini sedang kami hadapi adalah pergudangan. Sebab, untuk menjaga mutu dan untuk mencapai produksi dalam jumlah besar, perlu gudang. Itu yang sedang kami usahakan.

â&#x20AC;˘98â&#x20AC;˘


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Profil Drs H. Amin Sadi Husni

Gerakan Memakmurkan Masjid Anda dikenal sangat perhatian kepada pesantren, guru ngaji, masjid, dan lembagalembaga lain. Bisa dijelaskan? Saya dipandu oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk mencapai sasaran terwujudnya masyarakat Bondowoso yang Beriman, Berdaya, dan Bermartabat. Sederhananya, kami membangun bukan hanya jasmani, tapi juga fisik. Kalau pinjem istilah Orde Baru itu, membangun manusia Indonesia seutuhnya. Otomatis, pemerintah juga harus punya atensi terhadap pembinaan mental rohani, termasuk mengalokasikan anggaran untuk mendanai kegiatankegiatan yang berorientasi pada pembinaan akhlak. Terlebih kalau kita dihadapkan pada persoalan betapa masyarakat sekarang banyak yang pinter. Tapi, mental, akhlak, dan karakternya bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa. Karena itu, di Bondowoso, kami mengembangkan strategi memaksimalkan fungsi lembaga-lembaga keagamaan di masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya tercapainya sasaran pembangunan itu tadi. Misalnya, pondok pesantren, madrasah diniyah, masjid, guru-guru ngaji, dan lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya.

Pemkab menyediakan anggaran untuk guru ngaji. Berapa jumlah guru ngaji? Sekarang ada sekitar 5.600 guru ngaji. Jumlah itu yang di-cover dana pemerintah. Tiap tahun kami sediakan anggaran untuk insentif Rp 750.000/ orang/tahun bagi guru ngaji itu. Pada 2013, nilainya naik menjadi Rp 800 ribu/orang/tahun. Apresiasi itu ternyata cukup efektif untuk memotifasi para guru ngaji. Anda juga sering safari ke masjid dan memberikan khotbah Jumat. Bisa diceritakan? Semula orang membantu masjid itu kan kalau membangun. Di Bondowoso ada lebih dari seribu masjid. Kalau pemerintah membantu membangun masjid, dengan anggaran katakanlah Rp 10 jutaan per masjid, itu nggak akan jadi apa-apa. Sementara kalau membantu sebagian, yang lain iri. Kalau harus semua dibantu, berapa banyak anggarannya. Karena itu, saya mengubah mindset masyarakat, masjid itu bukan hanya membangunnya yang harus jadi perhatian. Tapi, mengisinya itu lho. Karena itu, saya menciptakan program bernama Gerakan Memakmurkan Masjid dengan memberikan dana kemakmuran Rp 2 juta/tahun. Idenya sederhana. Agar masjid tidak hanya untuk azan dan salat. Masjid harus jadi tempat mengecharge jamaahnya agar punya orientasi hidup yang positif dan produktif dengan kualitas keimanan yang bagus. Saya turun, tiap Jumat safari ke masjid-masjid desa. Kadang juga diminta mengisi khotbah untuk memotivasi mereka.

â&#x20AC;˘99â&#x20AC;˘

PANEN RAYA KOPI: Bupati Bondowoso Amin Said Husni memanen kopi rakyat di Desa Sumber Wringin, (2012).


Tentang aid H. Amin S Husni Nama: Drs. H. Amin Said Husni Tempat dan tanggal Lahir: Pamekasan 19 Agustus 1966. Pengalaman pendidikan: S-1 Fakultas Syariah, Institut Keislaman Hasyim Asy’ari, Tebu Ireng, Jombang. Pengalaman Organisasi:

Sekjen GP Ansor 1995 – 2000. Karir Politik • Anggota DPR RI 1999 – 2004 dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (DKB) PKB dari daerah pemilihan (dapil) 3 Bondowoso, Banyuwangi, dan Situbondo) • Anggota DPR RI 2004 – 2008 Karir Pemerintahan Bupati Bondowoso 2008-2013 Istri: Hj. Ny. Faizah Anak: 3 (tiga) orang) 1. Kavin Rabbany (17 tahun) 2.Fayruz Aquilla (16 tahun) 3. Rayda Zhavira ( 15 tahun) Ketiganya menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo


Profil Drs H. Amin Sadi Husni


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Kepala SKPD Bicara...

“Masyarakat Bondowoso gampang berpuas diri atas apa yang dimiliki. Mereka nerimo. Tidak ngotot untuk berubah menjadi lebih baik. Jiwa petualangannya kurang.” Ir. Misnadi M.Si Kepala Bappeda (dulu) kini Asisten Administrasi Umum

“Insentif sebesar Rp 500 ribu diberikan kepada pemilik sapi yang usia kebuntingan sapinya mencapai 5 bulan. ’’Insentif tersebut diberikan agar sapi bunting itu tidak dipotong. Kalaupun, harus dipotong, ya tunggu setelah sapi melahirkan.’’ Hindarto SP. M.Si Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan

•102•

“Di Bondowoso sudah terdapat sentral perkebunan milik PTP di Sempol, Belawan, dan Pancer. Sedangkan luas lahan kopi rakyat mencapai 6.637 hektare.” Ir. Matsakur M.Si Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

“Permintaan produk pertanian meningkat setelah pemerintah Kabupaten Bondowoso rajin mengikuti pameran atau promosi gelar produk unggulan pertanian di beberapa daerah. Melalui program peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian, produk pertanian kabupaten ini mulai dikenal masyarakat secara nasional.”

Profil Drs H. Amin Sadi Husni

“Pembangunan lantai jemur dan lumbung pangan itu merupakan penyediaan prasarana dasar pembangunan pertanian. Selain itu, untuk meningkatkan kinerja pertanian di daerah dan meningkatkan ketahanan pangan.” Ir Dwi Wardana MSi kepala Kantor Ketahanan Pangan

Ir Wahjudi Triatmadji Kepala Dinas Pertanian

•103•

“Plesterisasi dikelola kelompok. Satu kelompok sepuluh rumah. Dengan demikian, anggarannya bisa mencukupi. Kalau tidak kelompok, mungkin dananya tak cukup.” Drs Karna Siswandi MM. Kepala Bapemas (dulu) kini Kepala Dinas Koperindag


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

“Bondowoso kini terus membangun daerah dengan serius. Tidak terkecuali pembangunan lingkungan. Hasilnya mulai dirasakan. Misalnya, meraih apresiasi dari pihak ketiga berupa pernghargaan. Salah satu, di antara penghargaan yang diraih Kabupaten Bondowoso ialah Anugerah Adipura untuk kategori kota kecil.”

•104•


Profil lima tahun (2008-2013) Prestasi Pembangunan

Salam Penutup

Lima Tahun dengan Sejumlah Inspirasi L

ima tahun, alias 1.825 hari, bukanlah waktu yang panjang untuk perjalanan proses membangun guna meraih capaian masa depan yang lebih baik. Sangatlah tidak memadai memajukan daerah yang sejak awal merupakan daerah tertinggal. Banyak yang belum mencapai hasil yang diinginkan rakyat Kabupaten Bondowoso. Masih segudang masalah sosial budaya terkait kemiskinan dan ketertinggalan daerah. Namun, betapapun hasil yang dicapai untuk menyejahterakan warga Bondowoso belum memuaskan, sisi capaian, keberhasilan, serta praktik baik menjalankan program pemerintah kabupaten yang memperoleh apresiasi pihak lain sejak 2008 tetaplah layak disampaikan atau diperlihatkan kepada masyarakat. Ada sejumlah apresiasi yang diberikan pihak lain terhadap prestasi membangun daerah di Kabupaten Bondowoso, baik itu hasil program rutin maupun inovasi menyiasati kekurangan dan keterbatasan daerah. Misalnya, sejumlah peserta didik meraih prestasi tinggi dalam olimpiade pendidikan di tingkat internasional. Bondowoso juga terpilih sebagai kabupaten terbaik kedua tingkat nasional dalam pengelolaan dan mendorong partisipasi pendidikan anak usia dini (PAUD) di bawah Gorontalo yang meraih prestasi terbaik pertama. Masih dalam layanan pendidikan, pada tahun 2010, Bondowoso meraih Otonomi Award dari The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) sebagai kabupaten yang paling menonjol dalam

menemukan terobosan paling inovatif dalam layanan pendidikan. Di bidang pertanian, sebagai basis utama perekonomian, sejak 2009, Bondowoso berhasil memberikan lompatan optimistis berupa surplus padi. Ini merupakan sisi capaian perjuangan keras untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dasar masyarakat. Sejak 2011, Bondowoso berhasil mengekspor kopi ke Swiss. Satu kontainer biji kopi, berisi 17.687,7 kg, diekspor melalui PT Indokom Citra Persada, Sidoarjo. Nilainya mencapai Rp 672.132.600. Meski ekspor kopi tersebut belumlah bernilai besar, keberhasilan itu merupakan buah kerja keras bidang kehutanan dan perkebunan. Prestasi tersebut merupakan pendorong dan inspirasi agar ke depan Bondowoso segera lepas dari barisan kabupaten tertinggal di Indonesia dan di Jatim. Capaian demi capaian kemajuan daerah selama 5 tahun terakhir (2008â&#x20AC;&#x201C;2013) Kabupaten Bondowoso kian memberikan optimisme bahwa daerah tersebut memiliki masa depan yang bagus. Asalkan kita mau bekerja keras dan mengabdi pada harapan rakyat, ke depan Kabupaten Bondowoso bakal menjadi salah satu daerah di Jatim yang lebih maju. Mari kita terus berjuang. Mari kita terus bekerja dan bekerja keras. Insya Allah kita akan meraih hasil paripurna. Dan Bondowoso akan tercatat sebagai daerah berkembang maju dengan identitas kulturalnya yang tetap terpelihara dengan baik. Bondowoso segera menjadi daerah agraris yang kuat berbasis tradisi santri dan kesalehan sosial yang kukuh.

â&#x20AC;˘105â&#x20AC;˘


Bondowoso, Dari Kota Pensiun ke Kota Kampiun

Penulis Buku MAKSUM adalah wartawan senior di Surabaya. Selama menjadi wartawan Jawa Pos pada 1991– 2009 menjadi redaktur opini, redaktur halaman politik, penanggung jawab jajak pendapat (polling), redaktur resensi buku, dan direktur eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) 2005–2009. Menyelesaikan S-1 dan S2 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair. Menjadi tim pengajar kuliah globalisasi informasi pada Program Studi Hubungan Internasional (HI) FISIP Unair, manajemen redaksi media cetak di Program Studi Komunikasi Universitas Kristen Petra Surabaya, pengantar komunikasi dan media di FISIP Universitas Wijaya Kusuma (UWK), dan mengajar kajian media massa dan teknologi media pada program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Selama menjadi wartawan, sering melakukan liputan ke manca negara. Misalnya, liputan tentang Demokrasi Indonesia di Monash University, di Melbourne, Brisbane, dan Sydney, Australia, Amsterdam, Den Haag, Maastricht, Paris, Munchen, dan Belgia. Kota di Asia yang pernah dikunjungi, antara lain, Hongkong, Zen Chen Tiongkok, Kuala Lumpur, dan Singapura. Buku-buku yang ditulisnya, antara lain, Lubang-Lubang Pembantaian, Pemberontakan PKIMadiun 1948 (Grafiti, Jakarta, 1989); Green Force Kami Haus Gol Kamu (penyunting, SIWOPWI Jawa Timur, 1991); Eka Tjipta Widjaja, Kisah dan Liku-likunya Menjadi Konglomerat (penyunting bersama Dahlan Iskan, Jawa Pos, 1992); Wanita dan Pasar Tradisional (bersama Bagong Suyanto, Surabaya, Paramadwidya, 1992); Mencari Ideologi Alternatif (editor, Bandung, Mizan, 1994); Wawancara dan Pengumpulan Pendapat (Paramawidya, Surabaya, 1995); Mencari Pemimpin Umat (editor, Mizan 1999); Gunakan Hak Jawab dan Hak Koreksi (kontributor untuk buku Hinca I.P. Pandjaitan, Jawa Pos Press, 2004); Otonomi Daerah & Otonomi Award Dua Provinsi (kontributor, JPIP-Kemitraan-Uni Eropa, 2006); Memantau Daerah Menyemai Kemajuan, (kontributor, JPIP, 2007); Mentradisikan Kompetisi Memintas Kemajuan (kontributor, JPIP, 2007); Setinggi Langit Sejuta Inspirasi UMKM Mitra Bank Jatim (Bank Jatim, 2010); Dua Tahun Dua Brengos, Pergumulan Pakde Karwo-Gus Ipul dengan Masyarakat Jatim (Inti Media, 2011); 18 Ribu Hari Memikul Muhibah-Tahun Emas BPD Jatim (Bank Jatim, 2011); dan Senyum Perempuan dalam Koperasi (Dinas Koperasi-UMKM Jatim, 2011), 3600 Hari Mewujudkan Mimpi Istikamah Hasan Aminudin untuk Rakyat Kabupaten Probolinggo (Lutfansyah Media Tama, 2011), Wisata Eksotik Jatim (Disbudpar Jatim, 2011), Profil Investasi Jatim (BPM Jatim, 2012), Pesona Batik Jatim, Tipologi, dan Filosofi seri Mataraman dan seri Pesisiran (DiperindagDekranasda Jatim, 2012), dan Menandu Amanah, 50 Tahun Dipenda Jatim untuk Jawa timur (Dipenda Jatim, 2012). Saat ini menjadi ketua umum Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IKA FISIP) Universitas Airlangga 2008–2013, pengurus pusat Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Airlangga) 2012–2016. Pernah anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur 2003–2011. FUAD ARIYANTO adalah wartawan senior. Selama lebih dari seperempat abad (25 tahun) berkarir sebagai wartawan Jawa Pos. Sebelum pensiun pada Desember 2010, pernah menjadi redaktur olahraga, koordinator liputan, dan redaktur pelaksana Jawa Pos yang membawahkan kompartemen liputan metropolis. Liputan-liputan jurnalistik yang pernah dilakukan, antara lain, Olimpiade, Kejuaraan Dunia Sepak Bola FIFA World Cup, Kejuaraan Sepak Bola AntarNegara Eropa, Asian Games, serta Sea Games.

•106•


FESTIVAL MUHARRAM: Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faizal dan Bupati Bondowoso Amin Said Husni (pakai selendeng untaian bunga melati) bersama pejabat daerah (saat itu), dari kiri ke kanan, Danyon 514 Raider Letkol Inf. Franz Yohanes Purba, Dandim 0822 Letkol Inf. Kurniawan Firmusi Safrudin, Ketua Pengadilan Negeri Bondowoso, H. Badrun Zaini SH MH, Kepala Kejaksaan Negeri Bondowoso Razali SH, Ketua DPRD Bondowoso, H. Ahmad Dhafir SAP, dan Sekretaris Daerah, Drs H. Hidayat MSi.

â&#x20AC;&#x153;Laporan BPS terakhir, 2011 angka kemiskinan juga berkurang cukup signifikan. Terutama, kategori sangat miskin dan miskin. Semula, dua kelompok ini jumlahnya 19,6 persen (dari total penduduk). Pada 2011 turun menjadi 16,68 persen. Tahun 2008 ketika saya mulai masuk angka kemiskinan masih 22,23 persen.â&#x20AC;? Bupati Bondowoso Drs. H Amin Said Husni

Humas dan PDE Setda Kabupaten Bondowoso Jalan Amir Kusman no. 2 Tlp : 0332-421153, no Fax : 0332-423067 email : admin@bondowosokab.go.id website : www.bondowosokab.go.id

Bondowosokabmei2014  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you