Page 20

AN1MAGINE

Vol. 3 No. 6 Juni 2018

“Aku harap dia tidak pindah, sudah tidak ada kontak selama 15 tahun,” Karbin menjelaskan kepada Timox dan Adiyus. Tok

Gadis itu mengangguk sembari tersenyum padanya.

*

Tok Tok Karbin mengetuk pintu suatu rumah, rumah mungil dengan gaya minimalist dan banyak kaca. “Ya sebentar,” jawab seseorang di dalam. Kemudian seseorang tersebut bergerak, lalu terlihat di kaca pintu yang tembus pandang, dan membuka pintu tersebut. “Ya?” tanyanya. “Saya Karbin, apakah Ambar masih tinggal di sini?” jawab Karbin sembari bertanya balik. “Ambar?” teriak seseorang di dalam. Kemudian ada suara berlari ke arah pintu. “Kau mencari ibuku?” tanya gadis usia 14an tahun. “Iya, Ambar. Ibumu?”. Karbin berkernyit. “Iya, ibuku, telah meninggal 15 tahun yang lalu, saat melahirkanku,” jawabnya. “Oh maafkan saya,” kata Karbin. “Baiklah, kami berpamitan, maaf mengganggu kalian,” jelas Karbin. “Tidak masalah, apakah ada yang bisa kami bantu?” tanya wanita tersebut. “Maaf tidak ada,” kata Karbin. Kemudian dia berbalik arah di ikuti oleh Timox dan Adiyus. “Yaaah sia-sia ke sini,” kata Karbin di pikirannnya.

“Empat belas tahun, dia belum boleh kita libatkan dalam masalah ini”. Maung Bodas tampak keberatan. “Tapi bantuan dia kita perlukan,’ jawab Karbin. “Aku tahu, tapi ini melanggar aturan hukum, kita penegak hukum bukan?” Maung Bodas balik bertanya. “Saya tidak harus hadir di sana bukan?” celetuk gadis 14an tahun tersebut, mendadak muncul di ruangan tersebut. “Maaf, pikiran kalian seperti siaran radio yang jelas terdengar,” jelas gadis tersebut. “Baiklah, silakan masuk Diana,” kata Maung Bodas. “Kurasa usul Diana ada benarnya, dia tidak harus terlibat secara langsung,” kata Maung. “Bagaimana bisa membaca pikiran dari jarak jauh, Ambar tidak memiliki kekuatan sehebat itu?” jelas Karbin. “Oh… aku pikir kekuatan ibuku sama sepertiku, aku mampu membaca pikiran orang lain dalam radius sejuta kilometer,” Diana menjelaskan. “Wooow, kau luar biasa Diana!” teriak Karbin. “Ah aku rasa masalah kita tersolusikan,” kata Karbin. “Baiklah, selamat datang dalam tim spesial di bawah komando Presiden Selo Adimulyo, Diana.” Tangan Maung Bodas menjabat tangan Diana.

“Kenapa sia-sia?” tanya gadis itu sembari tetap memegang pintu.

Bersambung

Karbin menoleh. “Kau, kau bisa membaca pikiranku?” tanya Karbin. Wajah Karbin terlihat gembira.

enlightening open mind generations

www.an1mage.org

20

An1magine vol 3 no 6 juni 2018  

Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan en...

An1magine vol 3 no 6 juni 2018  

Jurnal majalah bulanan populer seni, desain, animasi, komik, novel, cerita mini, dan sains ringan yang dikemas dalam format education dan en...

Advertisement