Page 1

WARTA PSE September 2008 Mengenal Karina, Caritas Indonesia Ensiklik Paus Benediktus XVI, Deus Caritas Est, menegaskan: bahwa pelayanan sosio pastoral adalah tugas hakiki Gereja. Dalam lingkungan kerja Gereja di Indonesia, ada komisi-komisi yang mengemban tugas tersebut seperti Komisi PSE, Komisi Justice and Peace, Komisi Migran dan Perantau, atau Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan, Jaringan Mitra Perempuan, Komisi Kerasulan Awam, dan Komisi Komunikasi Sosial. Selain komisi-komisi yang disebutkan di atas, sejak keputusan Sidang KWI 2005, digagas dan disiapkan sebuah struktur dan fungsi baru dalam bentuk sebuah lembaga pelayanan sosial dan kemanusiaan. Maka terbentuklah Yayasan Karina yang disahkan dengan akta notaris pada tanggal 17 Mei 2006. Kehadiran Karina mendapat dukungan positif dari keluarga besar Caritas internationalis. Karina merupakan kependekan dari Caritas Indonesia - (Ka)(r)itas (I)ndo(n)esi(a). Kata Caritas berasal dari bahasa Latin, caritas yang berarti cinta kasih. Dalam logo Karina terdapat empat buah gambar hati yang menggambarkan empat hubungan dasar yakni hubungan dengan Tuhan, sesama, diri sendiri dan alam. Di dalam masing-masing hubungan diusahakan agar cinta kasih diutamakan. Karina diusahakan agar menjadi sarana untuk mencintai Tuhan, mencintai sesama manusia seperti diri sendiri dan juga mencintai alam. Gambar empat hati

tersebut membentuk gambar jangkar. Jangkar atau sauh merupakan lambang harapan. Logo ini mengambil warna kuning emas, sebuah warna logam mulia yang dimaksudkan agar usahausaha kemanusiaan itu dilakukan demi kemuliaan martabat manusia. Kegiatan Utama Kegiatan utama Karina adalah untuk mengembangkan pelayanan sosial kemanusiaan tanpa membedakan agama, suku, ras, golongan dan sebagainya kepada semua manusia. Melalui Karina ini umat dapat menyampaikan belarasa mereka kepada siapa saja yang sedang mengalami penderitaan dalam bencana atau musibah. Visi Misi Karina Karina Indonesia memiliki visi: belarasa demi keutuhan martabat hidup manusia. Sedangkan misi karina adalah koordinasi, animasi, fasilitasi dengan membangun jejaring yang saling memberdayakan dan membangun keutuhan ciptaan dan mengembangkan semangat bela rasa yang inklusif, relevan, dan signifikant serta habitus baru. Nilai-nilai yang ditampilkan ialah: semartabat, keadilan sosial, damai dan demokrasi. Prinsip yang dipegang ialah: keterbukaan, kemitraan, vokasionalitas, solidaritas, subsidiaritas, pengarusutamaan gender, keberpihakan dan pembelaan terhadap yang lemah, transparan dan akuntabel, berkesinambungan, keutuhan ciptaan dan partisipasi. Di Keuskupan Surabaya Uskup Surabaya melalui Surat Keputusan No. 312/G.113/IX/2007, 28 September 2007 menegaskan bahwa Karina Keuskupan Surabaya secara ex officio ditangani oleh Komisi PSE Keuskupan Surabaya. Sangat tepat karena salah satu karya Komisi PSE sendiri merupakan wujud dari kerasulan sosio-pastoral itu. Terlebih mengingat salah satu keputusan bersama para seksi sosial paroki se Keuskupan Surabaya pada pertemuan tahun 2006 lalu di Puhsarang antara


lain mengembangkan penanganan bencana.

kerjasama

dalam

Baru setahun perjalanan Karina Keuskupan Surabaya, ada beberapa kegiatan yang telah dilakukan. Dapat dikatakan, Karina Keuskupan Surabaya masih fokus pada upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Beberapa pelatihan diikuti bersamaan dengan upaya Karina KWI meningkatkan kapasitas Karina keuskupan-keuskupan se Indonesia. Misalnya pelatihan Workshop Strategic Planning untuk penguatan kapasitas lembaga dalam perencanaan strategis, Project Cycle Management. Baru dua bulan penguatan kapasitas berjalan, secara kebetulan banjir melanda beberapa paroki di Keuskupan Surabaya. Pada saat itu secara tidak langsung Karina Keuskupan Surabaya menjalani lesson learned dalam menjalankan proyek tanggap darurat (project emergency response). Karina KWI datang ke Surabaya, duduk bersama dengan Karina Keuskupan Surabaya memfasilitasi dan merancang bersama bantuan tanggap darurat.

Karina KWI, Disaster Risk Reduction tentang pengurangan resiko bencana berbasis komunitas yang diikuti empat peserta dari Keuskupan Surabaya dan Finance Management dengan Zahir Software yang diikuti Nice Fifthantine. Seluruh biaya perjalanan, akomodasi dan biaya pelatihan ditanggung oleh International Caritas Family maupun Karina KWI. Pada bulan November, direncanakan Karina Keuskupan Surabaya akan mendapatkan kunjungan dari Karina KWI, Alexis Adam dari Secours Catholique France dan Barbara dari Caritas Italy dalam rangka needs assessment. Kunjungan tersebut bertujuan selain untuk melihat kelembagaan Karina juga akan mencari bentuk untuk mengembangkan pelayanan kerasulan sosio-pastoral di Keuskupan Surabaya.

Peristiwa duduk bersama ini sangat positif, mengingat selama ini pendonor seringkali bertindak sebagai dewa penyelamat yang begitu saja menyerahkan bantuan secara hirarkis, tidak mau tahu bagaimana pengelolaannya dan meminta pokoknya beres. Perencanaan bersama sebuah proyek justru memungkingkan terjadinya komunikasi tentang bagaimana sebaiknya proyek harus berjalan, sesuai dengan maksud pendonor dan selaras dengan kemampuan pelaksana proyek. Proyek tanggap darurat untuk korban banjir di tiga paroki berjalan sejak bulan MaretApril dan pelaporannya telah selesai.

Berkenaan dengan penyebarluasan penguatan kapasitas, pada minggu kedua November akan diadakan penguatan jaringan relawan yang mengundang kaum muda perwakilan dari parokiparoki. Kegiatan pelatihan dan pembentukan jejaring tanggap darurat dilaksanakan di area hutan Wungu, Madiun. Selain itu akan pula diadakan Strategic Planning Karina Keuskupan Surabaya, pelatihan pengurangan resiko bencana yang direncanakan diadakan pada bulan Februari 2009 dan Project Cycle Management. Ini semua dalam rangka peguatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia yang akan memperkuat Karina Keuskupan Surabaya. Sungguh menguntungkan Karina Keuskupan Surabaya memperoleh kesempatan belajar dalam working in Caritas agar tercipta institusi yang terpercaya, transparan, berdaya guna dan berkesinambungan demi pelayanan.

Sementara itu, upaya penguatan kapasitas kelembagaan maupun sumber daya manusia masih terus berjalan. Beberapa pelatihan dan pertemuan yang diikuti ialah, Project Strategic Management tentang manajemen proyek dan Report And Writing proposal Strategic Planning

Setelah memperkuat keberadaannya, kelak Karina Keuskupan Surabaya akan fokus pada rencana strategis pelayanan kerasulan sosio pastoral kemanusiaan, menjadi lembaga yang memiliki sumber daya manusia yang tangguh, transparan dan akuntabel dalam keuangan,


membangun jejaring dengan mitra dan relawan yang solid, memberikan pendampingan dengan pola pemberdayaan berbasis komunitas (paroki, stasi) dan dukungan dari lembaga donor. Akhir kata, Karina Keuskupan Surabaya setahun ini sedang mencari bentuk dan jati dirinya. Karina Keuskupan Surabaya merupakan lembaga pelayanan kerasulan sosio-pastoral, yang lebih menjadi animator dan fasilitator untuk pelayanan kemanusiaan terutama bagi korban bencana, bukan funding agency. Karina Keuskupan Surabaya akan terus melakukan penguatan ke dalam bagi timnya dan ke luar bersama jejaring International Caritas Family. Kelak Karina Keuskupan Surabaya tidak hanya menjadi pelaksana (implementing agency) proyek kemanusiaan, melainkan bekerja bersama sebagai mitra dalam karya pelayanan kerasulan sosio pastoral, semoga. (A. Luluk Widyawan, Pr, Ketua Komisi PSE dan Karina Keuskupan Surabaya) Menyingkap Benih Keprihatinan “Saya Tidak Tahu Kalau Saya Mampu” Ketika saya tiba di Jakarta dari Sri Lanka bulan Mei 2008 yang lalu, saya tidak bisa mendapatkan tiket untuk kembali ke Surabaya. Saya pun terpaksa menginap di rumah keluarga di daerah Serdang Baru Sunter Jakarta. Ketika berada di rumah tersebut, ada seorang pemuda yang nampak sedang mengalami masalah. Ketika diajak ngobrol, dia menanyakan pada saya tentang lowongan pekerjaan ? Saya tidak langsung menjawab pertanyaannya. Saya balik bertanya tentang nama, asal, dan tujuan berada di Jakarta. Ia ke Jakarta untuk mencari kerja. Di kampung, tidak bisa diharapkan karena tidak ada pekerjaan yang dapat menghasilkan uang. Mendengar alasan tersebut, salah seorang yang mendengarkan obrolan kami, langsung nyletuk

bahwa pemuda itu memiliki dua puluhan ekor sapi yang berkeliaran bebas di padang rumput. Mendengar informasi tersebut, saya langsung memberikan tanggapan. Ia mengakui bahwa ada sekitar 25 ekor sapi yang berkeliaran tanpa penggembalaan. Saya langsung memberi pernyataan konfrontatif kepadanya. “Kalau saya punya sapi sebanyak itu, dalam waktu dua atau tiga tahun, saya akan punya simpanan dana ratusan juta rupiah di bank atau koperasi. Saya tidak mau cari pekerjaan lain. Saya hanya tekun di bidang itu. Dalam waktu yang sangat dekat, saya akan sangat kaya dengan sapi-sapi tersebut.” Pemuda yang awalnya nampak tidak bersemangat, malah seperti dihipnotis lalu bertanya kepada saya dengan penuh antusias. Satu pertanyaan awal yang keluar dari mulutnya “bagaimana caranya. Dari sapi duapuluhan ekor, menjadi ratusan juta rupiah?” Saya secara perlahan mulai mengkalkulasi apa yang akan terjadi bila sapi-sapi itu dikandangkan dan dipelihara secara baik. Secara kasar, sapi 25 ekor kalau dihargai 4 juta rupiah berarti menjadi 100 juta. Tapi jangan dijual semua. Langkah awal jual 5 ekor. Dari lima ekor, dia bisa mendapatkan uang 20 juta. Dari dua puluh juta, beli sapi yang masih kecil seharga Rp. 2 juta , berarti bisa mendapatkan 10 ekor lagi. Pada langkah kedua, jual lagi 5 ekor sapi untuk mendapatkan dana 20 juta. Setelah itu beli lagi sapi sebanyak 10 ekor masing-masing seharga 2 juta. Diandaikan, setiap bulan dijual 5 ekor sapi yang ada di padang. Dengan demikian, ada lima kali proses penjualan. Dari setiap proses itu, dibelikan 10 ekor sapi yang masih kecil untuk dipelihara lagi. Dengan demikian, dalam waktu lima bulan (lima tahap), akan ada 50 ekor sapi. Memasuki bulan keenam, 10 ekor yang dibeli pada tahap pertama bisa langsung dijual dengan harga yang lebih dari harga pembelian terdahulu. Hasilnya, bisa dilihat secara nyata. Ketika saya menjelaskan hal itu, dia masih bertanya tentang pemasaran. Saya


katakan bahwa kebutuhan daging sapi di Indonesia setiap tahun selalu diimpor dari Australia dan negara-negara lain. Jadi ini merupakan peluang yang besar. Setelah mendengarkan apa saya sampaikan, secara spontan dia katakan : “Saya tidak tahu bahwa saya mampu’. Dengan bersemangat, dia pun bertanya tentang jadwal kapan laut agar ia segera kembali ke kampung halamannya untuk memelihara sapi. Pemuda itu, seperti tidak tahu apa yang harus dia perbuat di tengah kelimpahan yang mengelilinginya. Ia baru sadar bahwa dia dikelilingi oleh kelimpahan rejeki. Hal yang sama dialami oleh bangsa kita. Kita punya tanah subur, sawah luas, banyak hasil hutan, banyak rempah-rempah, namun masyarakat tetap saja dianggap miskin. Pemerintah lewat orang-orang yang dipercaya untuk mengelola potensi sosial ekonomi masyarakat, malah berbuat curang dengan meraup keuntungan sebesarnya untuk kepentingan pribadi. Masyarakat butuh ‘orang yang tepat’ untuk menyadarkan setiap elemen masyarakat bahwa ada kelimpahan di balik kemiskinan yang melanda bangsa ini. Masyarakat butuh orang yang mampu memberi semangat, inspirasi untuk bangkit dari pola pikir yang menjebak. Kehadiran mereka, mampu menggerakkan orang untuk maju, lebih baik dari hari kemarin, dan akan menjadi lebih baik di hari esok. (Eddy Loke) Menangkap Inti Konpernas XXI Jakarta Lampung 25 Agustus – 5 September 2008 Konpernas dimulai di Wisma Samadi Klender Jakarta tanggal 25 Agusus 2008. Perkenalan singkat para peserta dilanjutkan dengan eksposur ke perusahaan benih East West di Purwakarta tanggal 26 Agustus 2008. Para peserta mendapat wawasan tentang bagaimana

sebuah perusahaan mengembangkan pertanian modern. Para peserta diajak untuk melihat perusahaan yang menjadi ‘musuh’ pertanian lestari. Pada hari yang sama langsung kembali ke Jakarta dan terbang dengan pesawat ke Lampung. Tanggal 27 Agustus 2008, diadakan eksposur di beberapa lokasi dengan aneka ragam kegiatan sosial ekonomi. Ada tempat penggemukan sapi, usaha kecil pembibitan karet, kerajinan dan ternak ayam, pendidikan anak usia dini dan pengembangan koperasi dan sebagainya. Lokasi yang dikunjungi pun bervariasi. Ada dataran tinggi dan sekitar hutan gunung, ada wilayah pesisir pantai, wilayah dataran rendah. Selanjutnya, para peserta membuat evaluasi terhadap kegiatan tersebut. Tanggal 31 Agustus 2008, diadakan misa pembukaan konpernas. Ada beberapa pemikiran penting: Pertama, Komunitas Basis Gereja perlu mendapat nuansa baru dalam bidang pengembangan sosial ekonomi seperti adanya lembaga keuangan mikro (CU), pertanian organik. Komisi PSE tetap sebagai animator, kompas gerakan, pengawas dan evaluator. Pemahaman mengenai gerakan pertanian lestari bukan hanya pada hal-hal teknis daripada sikap hidup. Kedua, perlunya kesepakatan tentang visi, misi PSE yang disesuaikan dengan keputusan KWI. Dalam kaitan dengan ini, Ajaran Sosial Gereja harus tetap menjadi referensi dalam memperkuat landasan karya PSE. (dikutip dari Notulen Konpernas XXI ).


Agenda PSE 1. 18 – 19 2008 : Perayaan Hari Pangan Se Keuskupan Surabaya di Paroki St. Yusuf Blitar 2. 19 – 22 Oktober 2008 : Pelatihan Financial Management di Jakarta. 3. 28 – 30 Oktober 2008 : Evaluasi, Refleksi Karya PSE, APP dan PPSM Regio Jawa tahun 2008 dan Perencanaan tahun 2009 di Bandung.

REDAKSI WARTA PSE Penanggungjawab: Rm. A. Luluk Widyawan, Pr Pemimpin Redaksi: Eddy Loke Staff Redaksi : Eddy, Suparman, Budiawan

Warta PSE September 2008  

monthly socio economic

Advertisement