Issuu on Google+

Susunan acara sebagai berikut :

WARTA PSE Juli 2008 Keuskupan Surabaya Siap Menggelar Perayaan Hari Pangan Sedunia Di Blitar Tanggal 16 Oktober ditetapkan sebagai Hari Pangan Sedunia. Keuskupan Surabaya lewat panitia dari Regio II yang telah terbentuk memutuskan untuk merayakan Hari Pangan Sedunia tanggal 18 – 19 Oktober 2008 di Kompleks Gereja Katolik St. Yusuf Blitar, SMA Katolik Diponegoro, SDK St. Maria, Blitar. Perayaan ini akan diisi dengan pelatihan budidaya Blimbing, Sidat (belut) dan Pengolahan Sampah Organik yang akan diadakan pada tanggal 18 Oktober 2008. Sedangkan tanggal 19 Oktober, akan diisi dengan misa syukur yang dipimpin oleh Bapak Uskup Surabaya Mgr. V. Sutikno Wisaksono, Pr, upacara HPS, Bazar HPS, demo dan lomba masak. Visi Misi Kegiatan Visi dari kegiatan ini adalah terwujudnya habitus (kebiasaan) untuk mencintai, mengatur dan memberdayakan lingkungan melalui aksi nyata. Sedangkan misi yang dibangun dari kegiatan ini adalah untuk kembali ke alam dengan melaksanakan diversifikasi makanan non beras, kembali memanfaatkan makanan lokal non beras demi hidup yang sehat, mencintai dengan lingkungan dengan memilah dan mengolah sampah agar menjadi berkat bagi lingkungan dan manusia, serta mengolah makanan secara sehat dan bergizi.

Tanggal 18 Oktober 2008 09.00 pendaftaran 10.00 diklat budidaya blimbing 12.30 makan siang 13.00 studi lapangan 18.00 makan malam 19.00 temu akrab 21.30 tidur malam Tanggal 19 Oktober 2008 06.30 misa pagi – oleh uskup surabaya 09.00 upacara pembukaan 09.30 bazaar HPS, demo masak 13.30 penutup & makan siang Yang hadir pada kesempatan ini adalah wakil dari seluruh paroki se keuskupan Surabaya. Setiap paroki mengutus 3 orang peserta. Sementara untuk paroki – paroki se regio II yang menjadi tuan rumah, akan menampilkan berbagai produk unggulan untuk dipamerkan pada kesempatan itu. Dengan demikian, keikutsertaan mereka, akan lebih banyak dari paroki-paroki yang lain. Pertemuan Seksi Sosial Regio II CU di Regio II Maju Pesat Temu Karya PSE Regio II yang berlangsung di Mojokerto 20 Juli 2008 telah memberikan gambaran yang sangat transparan tentang karya sosial di setiap paroki. Berikut ini, gambaran singkat mengenai kegiatan sosial. Paroki St. Yosef Mojokerto Berbagai kegiatan sosial dilakukan oleh SSP St. Yosef Mojokerto seperti anak asuh, penanganan kesehatan, bantuan sembako dan pengembangan credit union. Saat ini ada


wacana baru untuk melakukan merger 3 koperasi yang membentuk satu primer yang kuat.

yang cukup besar dan kuat dengan anggota yang cukup banyak.

Paroki St. Mara Tak Bernoda Tulungagung Paroki Tulungagung dalam laporannya, menginformasikan bahwa dalam 4 bulan terakhir ini mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Kalau dalam temu akrya di Pare bulan Februari 2008 yang lalu, SSP mengalami kesulitan dalam pendanaan kegiatan. Namun saat ini telah mendapatkan jalan keluarnya. Program penghijauan demi pengamanan sumber air di beberapa titik rawan akan dilakukan pada awal musim hujan tahun 2008. Penghijauan menjadi program untuk merehabilitas sumber air yang menjadi keprihatinan akhir-akhir ini.

Paroki St. Yusuf Blitar Paroki St. Yusuf dalam 4 bulan terakhir ini tetap menangani anak asuh khususnya yang sekolah di sekolah katolik mulai dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah lanjutan. Selain itu juga membantu anak-anak yang sekolah di Seminari. Mengenai koperasi di paroki St. Yusuph Blitar cukup menggembirakan, karena ada CU Bintang Timur yang cukup kuat dan besar, CU Bintang Timur dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Anggota CU Bintang Timur yang cukup banyak didukung dengan karyawan, pengurus dan tempat pelayanan yang cukup memadai, maka CU Bintang Timur cukup berkembang dengan pesat.

Paroki St. Mateus Pare Paroki Pare melanjutkan program yang telah direncanakan sebelumnya. Program bedah rumah sudah mulai dilaksanakan, bahkan di beberapa stasi sudah selesai dikerjakan. Sementara pendataan terhadap rumah umat di stasi yang kurang layak huni terus dilakukan. Penanganan dan bantuan para janda / duda kurang mampu juga terus dilakukan. Program pengembangan koeprasi dilakukan dengan pendampingan terhadap koperasi yang saat ini ada. Paroki St. Petrus Paulus Wlingi Bapak Mukadi sebagai ketua SSP st. Petrus Paulus Wlingi dalam laporannya tetap melanjutkan program penanganan jompo, anak asuh, donor darah, sementara dalam program pengembangan credit union, masih mengalami banyak kendala. Pengalaman gagal dalam penanganan koperasi di masa lalu masih menjadi bayangan dalam melangkah untuk memulai gerakan itu lagi. Paroki St. Maria Blitar Program pendidikan menjadi perhatian yang cukup serius dari SSP St. Maria Blitar, sementara program lain seperti warung murah, sembako dan kegiatan lain berjalan seiring. Di Paroki St. Maria Blitar sudah ada satu koperasi

CU berkembang pesat Berdasarkan laporan dari para peserta temu karya, di Regio II ada 11 CU yakni CU St, Yosef Mojokerto, Mugi Lestari Mojokerto, Sumber Kasih Mojokerto, Adi Karya tani Pare, Dana Abadi Pare, Karya Bersama Pare, Tri Guna Bhakti St, Maria Blitar, Bintang Timur St. Yusuph Blitar, Rahayu Tulungagung, Bahtera Tulungagung, dan Bahtera Sejahtera Tulungagung. Hampir setiap paroki di Regio II memiliki koperasi kecuali dari dua paroki di kota Kediri yang tidak menghadiri pertemuan ini. Anggota dari 11 CU tersebut ada 2.748 orang dengan kekayaan koperasi yang dimiliki 7.258.278.024. (Andreas Suparman, Sekretaris PSE Regio II) Pengakuan seorang sopir Kesuksesanku Karena Doa Sang Istri Malam itu sekitar pukul 19.00. Saya menumpang angkutan kota LYN I dari terminal angkutan kota Pasar Kupang menuju Benowo. Perjalanan terasa sangat lama karena padatnya kendaraan


roda empat maupun roda dua menuju ke arah barat. Saya duduk di depan dekat sopir. Pak Sopir mengaku bernama Sholeh. Obrolan ringan pun mulai terlontar sambil membunuh kejenuhan akibat macet. Ia pun melontarkan berbagai gagasan menarik dan jernih. Awalnya Pak Sholeh menjadi sopir bis pariiwisata yang mengantar warga yang ingin mengunjungi makam wali songo. Berkunjung ke tempat-tempat seperti itu ternyata berpengaruh bagi pengembangan kehidupan rohaninya. Pak Sholeh mulai menggalakkan doa keluarga. Doa yang diajukan terus-menerus, pasti akan didengar Tuhan, begitu keyakinannya. Setiap keberangkatannya ke luar kota, Pak Sholeh selalu meminta bantuan sang istri untuk mendoakannya. “Berkat doa itu, saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam perjalanan’, katanya. Berkat doa itu pula, ketiga anaknya menggapai kesuksesan. Anak pertama jadi polisi berpangkat cukup tinggi di Semarang, anak kedua menjadi pegawai negeri di pemkot surabaya dan anak ketiga bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Walaupun ketiga anaknya sudah bekerja, Pak Sholeh tidak berhenti bekerja. Saat ini, Pak Sholeh menjadi sopir angkutan kota agar selalu berada dekat keluarga. Penampilannya sangat bersahaja. Keinginannya tidak muluk-muluk. Pak Sholeh menjadi orang merdeka, orang bebas. Ia berjerih payah mendapatkan uang. Bertutur ramah dengan penumpang. Ia pun tidak melontarkan keluhan bila kekurangan pemasukan akibat kurang penumpang. Prinsipnya sangat sederhana. Berapa pun yang ia dapatkan hari ini, merupakan berkat yang harus disyukuri. Maklum. Banyak sarjana yang nganggur. Banyak pejabat yang tidak bekerja namun mendapat banyak uang. Banyak orang yang korupsi. Banyak orang yang menyelewengkan jabatan karena uang. Banyak orang yang mendapatkan uang, bukan dari keringatnya sendiri. Padahal, uang akan terasa bermanfaat, akan terasa berguna ketika diperoleh dari cucuran keringat sendiri. Uang

yang diperoleh dari hasil perjuangan sendiri, akan terasa nikmat. Pemanfaatannya pun, bisa terarah. Di balik sikap pesimis banyak pihak terhadap nasib bangsa kita saat ini, masih ada pahlawanpahlawan yang secara jujur berjuang, memeras keringat untuk kehidupan keluarga. Kehidupannya terbilang mapan. Anak-anaknya, sudah mandiri berkat perjuangan Pak Sholeh. Ia mengasalkan kesuksesannya pada doa sang istri. Doa sang istri mampu menggoreskan tinta emas di hati Pak Sholeh, sehingga ketika ia berkarya, ia merasa ada dukungan doa dari orang yang sangat dicintainya. Doa itulah yang kemudian membangun kekompakan, rasa kebersamaan, rasa cinta antar anggota keluarga. Ketika kebersamaan dalam keluarga tercipta dalam ‘bingkai cinta’ , segala sesuatu yang dirancang bersama, akan terwujud. Artinya, apabila setiap anggota keluarga merasa bahwa sesama anggota keluarga turut mendukung, mendoakannya dalam setiap perjuangan, perasaan itu menjadi inner spirit (dorongan dari dalam) untuk meningkatkan daya juang, untuk bertahan dalam cobaan, untuk menghadapi tantangan dengan semangat pantang menyerah. Dengan demikian, Doa yang dilandasi cinta yang tulus kepada seseorang, akan mengubah dunia. Pak Sholeh sudah membuktikan hal itu. Saya pun diam-diam ingin mencontohi teladan pak Sholeh. Ternyata, kita bisa meraih makna kehidupan ini dari siapa saja. Kita bisa belajar dari tukang becak, sopir, penjual keliling, pengemis, pemulung dan sebagainya. Tergantung dari keterbukaan kita untuk menerima kelebihan orang lain sebagai inspirasi untuk meningkatkan kualitas diri. Mereka memiliki pribadi yang unik, punya sejarah kehidupan yang penuh tantangan, punya keinginan tersendiri, punya rahasia untuk sukses, punya resep untuk menjalani kehidupan ini. Kita pun bisa belajar banyak dari mereka, Kalau bersikap lebih terbuka terhadap berbagai hal, warna kehidupan kita bisa lebih bervariasi


karena irama kehidupan kita juga ditentukan oleh hasil refleksi atas interaksi kita dengan sesama. Sejauhmana kita berinteraksi dengan sesama ? Kualitas diri kita, ditentukan oleh sejauhmana kita berinteraksi dengan sesama serta menimba manfaat dari interaksi tersebut. Kalau selama ini kita hanya ingin belajar dari orang-orang ternama, sudah saatnya kita mulai berbelok arah untuk belajar dari orang kecil yang memiliki keutamaan yang besar seperti kegigihan, keuletan, sikap pantang menyerah. Pak Sholeh, seorang sopir angkot bisa jadi nara sumber untuk belajar tentang kehidupan. (Eddy Loke) Hari Pangan Sedunia 2008 Ketahanan Pangan dan Lingkungan Hidup Jumlah penduduk Indonesia tahun 2008 sebesar 220 juta jiwa dan pasti akan terus bertambah. Pertumbuhan ini tentu berpengaruh pada kebutuhan pangan. Jika konsumsi beras per kapita sebesar 115 kg / tahun, maka jumlah yang harus dipenuhi tahun ini sebesar 25.3 juta ton. Agar persediaannya aman, kita butuh lahan seluas 8.7 juta ha . Lahan riil tahun ini setelah dikurangi dengan pengalihan fungsi lahan sawah ke lahan non pertanian, luas lahan pertanian tahun ini 11.4 juta ha. Walaupun lahan tersebut masih luas, namun tidak disertai dengan minat orang muda untuk terlibat dalam bidang pertanian. Dengan demikian, lahan mulai tidak ditangani sementara kebutuhan akan pangan semakin banyak seiring dengan pertumbuhan penduduk. Bersamaan dengan kondisi tersebut, perubahan iklim di Indonesia mempersulit para petani untuk menentukan masa tanam. Berkatian dengan kondisi kritis yang demikian, ada beberapa himbauan yang menarik. a. Mengembangkan pertanian organik yang meminimalkan pemakaian pupuk anorganik dan beralih ke pmakaian pupuk kompos. b. Menanam beraneka ragam sumber pangan seperti jagung, ketela, ubi, sukun, kelapa,

sayur dan buah. Hal ini perlu disertai dengan kemandirian untuk pembuatan pupuk kompos, pestisida alami, budidaya padi . c. Masyarakat dipacu untuk mengusahakan tenak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, ikan. Ternak ini berfungsi sebagai tabungan, penghasil kotoran yang dikombinasikan dengan pupuk kompos, tenaganya juga bisa untuk membajak dan dagingnya dapat meningkatkan mutu gizi keluarga. Untuk itu dikembangkan sumberdaya lokal ( local wisdom.). Kalau bisa bikin sendiri, kenapa harus beli. d. Merancang kegiatan penanaman pohon seperti sengon, jati, mahoni, kruing dan merbau. Saat ini hutan sebagai penyangga kebutuhan air di saat musim kemarau dan pelindung laju air perlu mendapat perhatian serius. Untuk mengurangi hal ini, dibutuhkan kegiatan penanaman pohon penghijauan, pohon buah, pohon industri (seperti yang sudah diungkapkan di atas). e. Untuk mendukung kegiatan para petani, perlu ada koperasi simpan pinjam, Credit union yang mendukung kegiatan para petani. Artinya, ada sebuah badan keuangan mikro yang ada di sekitar tempat tinggal para petani yang bisa mendukung kegiatan para petani. Credit union dianggap sangat strategis untuk menjawabi kebutuhan para petani akan modal dalam bertani. (diringkas dari buku Hari Pangan Sedunia 2008 “ Hak atas Pangan : Ketahanan Pangan & Lingkungan Hidup�.) Pelatihan Managemen Keuangan Jakarta, 25-29 Agustus 2008 Nice: Saya bisa belajar dari Keuskupan lain Karina KWI ingin memperkuat jaringan dengan Karina Keuskupan lewat program capacity building. Artinya, setiap Karina Keuskupan bisa


mengakses berbagai produk Karina KWI untuk mematangkan dirinya secara organisatoris. Tanggal 25 – 29 Agustus 2008, diadakan pelatihan manajemen keuangan dengan sistem akuntansi ZAHIR yang diadakan di Hotel Arcadia Jakarta. Dari Keuskupan Surabaya, Nice Fifthantine Putriandini diutus untuk mengikuti pelatihan ini mewakili Karina Keuskupan Surabaya. Pengalamannya mengelola keuangan Gratia merupakan salah satu rekomendasi untuk mengikuti pelatihan tersebut. Para peserta dari berbagai Keuskupan di Indonesia memperoleh penjelasan mulai dari sejarah Zahir, bagaimana zahir bekerja, cara membuat kode akun, pengelolaan kantor, transaksi bank disertai implikasi praktis dalam menjalankan zahir. Diharapkan setiap peserta bisa menularkan dan menerapkan managemen keuangan zahir di setiap keuskupannya. Persoalannya, apakah setiap keuskupan bisa menerima metode pengelolaan keuangan seperti ini ? Pasti dibutuhkan waktu yang cukup lama, baik untuk sosialisasi maupun untuk menguji perbandingan sistem pengelolaan keuangan zahir dengan metode yang lain. Walaupun demikian, metode apapun yang akan dipakai tentu punya satu tujuan yakni agar keuangan bisa dikelola secara transparan agar bisa dimanfaatkan secara bertanggungjawab. Konsep bertanggungjawab bukan hanya aspek transparansi tetapi aspek manfaat uang tersebut bagi program pastoral umat. Kalau tidak, uang yang ada di setiap lembaga ‘diperlakukan’ seolah-olah miliki pribadi yang bisa dipakai untuk apa saja yang penting sepengetahuan para pengelola. Nice ketika dihubungi mengatakan bahwa ada banyak hal positif dari pelatihan ini. “Saya bisa belajar banyak tentang pengelolaan keuangan dari setiap Keuskupan. Sebuah kesempatan yang baik untuk belajar bersama”, katanya. Nice pun bertekad untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola keuangan di Karina Keuskupan

Surabaya. Selamat berkarya, semoga hal-hal baru bisa diterapkan di Keuskupan Surabaya. BERITA DUKA Telah meninggal dunia dengan tenang : Bapak Yohanes Tri Handoko, Ketua Seksi Sosial Paroki Mater Dei Madiun di Madiun tanggal 20 Juli 2008. Segenap pengurus PSE Keuskupan dan Komisi PSE Regio I – IV mengucapkan turut berduka cita. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan

AGENDA PSE 1. 19 – 20 September 2008 : Rapat Koordinasi antar Komisi di Sansana Krida Jati Jejer Tawas 2. 18- 19 Oktober 2008 : Perayaan HPS di Blitar UCAPAN BAHAGIA Telah menikah Elisabeth Widyastuti (Putri Bapak AJ. Soemarsono (mantan Ketua PSE Regio III) dengan Lukas Arisono 2 Agustus 2008 di Gereja Katolik Mater Dei Madiun Pengurus Komisi PSE Keuskupan Surabaya mengucapkan selamat berbahagia.


Warta PSE Juli 2008