Issuu on Google+

WARTA PSE Desember 2008 Mengenal Jaringan Tanggap Darurat Karina KWI

Hari kedua dilanjutkan pembahasan tentang manajemen bencana. Peserta dibekali tentang hal-hal seputar siklus bencana, apa saja yang harus kita punyai sebagai standard minimum untuk respon situasi darurat; apakah itu sumber daya, kapasitas atau mandat dari organisasi kita. Sesi ini dibawakan oleh narasumber dari PMI Pusat, Bapak John Mamoedi. Dinamika kelompok yang diberikan pada sesi assessment (kajian/pengumpulan data) bukan untuk melihat hasilnya saja, tapi ternyata proses persiapan dan pembagian tugas yang jelas juga menjadi sorotan di sini.

Fakta bancana di Indonesia yang semakin meningkat, baik jenis dan tingkatnya, memerlukan respon yang lebih terorganisir dan professional. Munculnya lembaga caritas Indonesia menjadi satu titik tolak kepedulian gereja Katolik di Indonesia dalam hal respon bencana yang lebih terencana. Salah satu langkah strategis adalah membentuk dan memperkuat jejaring tim tanggap darurat antar keuskupan. Penguatan jejaring harus didukung oleh program peningkatan kapasitas respon darurat bukan hanya dari segi teknis di lapangan tapi juga soal prinsip manajerial.

Dari pelatihan ini tampak jelas bahwa bahwa dalam melakukan beberapa pekerjaan, kita cenderung langsung mengerjakannya dan jarang sekali duduk dan memikirkan rencana dan tugas masing-masing pihak yang terlibat. Kita bisa bayangkan bila ini terjadi pada waktu tanggap darurat, ketika organisasi kita diberi tugas untuk assessment tapi tanpa tahu apa yang harus dikaji, di mana dan meminta info kepada siapa.

Kegiatan ini diadakan selama 3 hari di Wisma Samadi, Klender, Jakarta tanggal 24 – 26 November 2008 dihadiri 26 perwakilan keuskupan dari 37 keuskupan yang diundang. Romo Ismartono, SJ mengungkapkan latar belakang dan mekanisme kerja ERP Karina KWI baik selama situasi bencana maupun nonbencana. Para peserta juga diberi tugas untuk ikut langsung terlibat dalam mekanisme kerja ERP ini melalui sebuah scenario bencana. Yang menjadi tekanan dalam sesi tersebut adalah tentang pembagian tugas dan alur yang jelas selama tanggap darurat supaya bantuan dapat disalurkan dengan baik.

Sharing pengalaman tanggap darurat dari 2 wakil keuskupan, yaitu Mas Hany dari Karina Surabaya dan Pak Dominikus Renaldi dari Caritas Makassar. Dari Keuskupan Surabaya, cukup menarik. Pengalaman yang dibagikan yaitu tanggap darurat bermula dari sekelompok orang yang mempunyai hobi dan kepedulian yang sama. Saat itu, belum tahu apa dan siapa itu Karina. Yang penting saat ini, banyak nyawa terbantu. Begitu juga dengan Caritas Makassar yang “lahir� bukan dari bencana dan tim ER yang dibentuk pun belum pernah merespon situasi darurat, sampai ketika terjadi Banjir di Palopo pada awal November 2008 yang lalu.

Dibekali Sharing


Dari sharing dan input /pertanyaan yang diajukan oleh peserta lain, dapat disimpulkan bahwa: Tanggap darurat tidak cukup berhenti sampai pemberian bantuan dan evakuasi korban. Perlu adanya sebuah rencana yang strategis tentang kesiapsiagaan dan mitigasi bencana agar situasi darurat di masa depan yang sudah diantisipasi dapat direspon dengan baik. Kesiapsiagaan ini bukan hanya menyangkut hal-hal teknis di lapangan tapi juga menyangkut hal-hal prinsip/ manajerial organisasi. Terbentuk Jaringan Di akhir pertemuan, para peserta sepakat untuk membentuk jejaring Emergency Response tingkat regional dan nasional. Untuk meningkatkan kualitas jaringan, akan diadakan pertemuan relawan sekitar bulan Maret bagi aktivis dari region Jawa. Selain itu, ada kontak pribadi dari Caritas Makasar untuk mengadakan pelatihan relawan di Makasar. Tugas ke depan adalah memelihara jaringan tersebut agar bermanfaat bagi relawan dan sesame khususnya sesame yang tertimpa bencana. (Hany Hendra ) Menyingkap Benih Keprihatinan Gereja Justru Menjauhkan Saya Dari Tuhan Seorang ayah yang sudah bertahun-tahun tidak ke gereja bertemu saya secara kebetulan dalam perjalanan ke Kupang NTT baru-baru ini. Kami duduk bersebelahan di pesawat Batavia tujuan Kupang. Karena melihat saya berdoa secara katolik sebelum keberangkatan pesawat, beliau nyletuk membuka pembicaraan. “Bapak seorang katolik ?”, katanya dengan nada ingin tahu. Saya pun mengiayakan pertanyaannya. Dia pun melanjutkan pembicaraan bahwa dulu, dia juga beragama katolik. Sekarang masih beragama katolik namun jarang ke gereja. Dulu rajin ke gereja. Agama katolik yang dirasakannya dulu

adalah agama yang mewartakan kasih, agama yang menampilkan pastor yang bersahabat, agama yang menghadirkan pastor yang pandai berkotbah, pandai membaca situasi umat, pandai membaca dan merefleksikan kitab suci secara mendalam dan dibagikan kepada umat dalam kotbah.. Agama katolik yang dihayatinya dulu digambarkan lewat kehadiran pastor yang meluangkan waktu untuk bertegur sapa dengan umat, sosok pastor yang tidak merasa tahu segala, yang tidak berlagak ‘seolah-olah’ (bandingkan dengan filosofi ojo dumeh). Mendengar sharing yang diungkapkan, rasa ingin tahuku berkembang. Saya secara spontan menanyakan, bagaimana bapak menghayati iman katolik saat ini. Bapak tadi langsung menjawab: saat ini saya masih katolik. Namun saya jarang ke gereja. Karerna gereja justru menjauhkan saya dari Tuhan. Saya pun langsung menanyakan penyebabnya. Dengan tenang, bapak tadi langsung menjawab. “Sekarang, gereja menampilkan wajah para pastor yang sibuk. Sibuk dengan kegiatan menelpon , ber-sms, mengakses internet dan sibuk bepergian entah kemana. Kegiatan seperti membaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan, kegiatan seperti berdoa, membaca dan merenungkan kitab suci, kegiatan seperti mempersiapkan kotbah secara tertulis dianggap sebagai kegiatan yang menjemukan, melelahkan, bahkan merepotkan. Akibatnya, ada kondisi internal yang stagnan, tidak berkembang, tidak meningkat. Secara kualitas, terjadi penurunan kualitas secara personal dalam diri para pastor. Kondisi internal ini justru ‘menjauhkan dirinya dari Tuhan’, katanya bapak tadi langsung memberikan argumentasi. Kondisi di mana pastor berada jauh dari Tuhan, secara langsung atau tidak langsung akan menularkannya kepada umat lewat kotbah, tutur kata dan tingkah laku. Saya pun bertanya, mengapa jarangnya bapak ke gereja disebabkan oleh kotbah pastor ? Bapak ini secara gamblang mengatakan bahwa dia sudah bekerja berat selama 6 hari berturut-turut. “Saya butuh


‘kekuatan spiritual, sentuhan, bimbingan rohani dari kotbah pastor. Saya pergi ke gereja untuk mendapatkan sapaan rohani lewat kotbah. Sapaan ini yang menguatkan semangat saya untuk kembali bekerja. Karena saya tidak mendapatkan sapaan itu, saya pun mengambil kesimpulan justru para pastor, para murid yang dipilih Yesus adalah pihak yang membuat orangorang merasa bosan untuk bertemu Yesus. Artinya, yang menjauhkan saya dari Yesus, yang menjauhkan saya dari Tuhan adalah para pastor dengan kotbah-kotbahnya yang tidak dipersiapkan secara baik.” Mendengar sharing pengalamannya yang berapiapi, saya justru lupa menanyakan namanya sampai kami tiba di Kupang. Bapak ini rencananya akan kembali ke Surabaya setelah bertugas di Kupang beberapa hari. Obrolan ini sangat menantang. Sengaja saya tampilkan dalam tulisan ini untuk dijadikan kajian refleksif. Umat katolik sangat berperan aktif dalam kehidupan menggereja. Mereka membangun gereja, mereka melengkapi semua fasilitas yang ada dalam gereja, mereka mendukung semua acara liturgis dengan semangat partisipatif. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan social. Mereka pun mengalokasikan dana pribadinya untuk kepentingan gereja. Saat ini, setelah semua fasilitas terpenuhi lewat partisipasi yang penuh dari umat. Para pemimpin umat dan/atau para pastor perlu secara terbuka mengakui ketimpangan itu, dan ‘menjaga keseimbangan’ dengan memberikan ‘yang terbaik’ kepada umat. Kalau tidak, para pastor justru menjadi actor yang menjauhkan umat dari Tuhan. (Eddy Loke)

2. Pengobatan anak dari Ibu Natalia Sidoarjo Rp. 1.000.000 3.

Pengobatan Ny. Anastasia Tulungagung Rp. 1.000.000

4. Pembelian Rombong Yulius Wonokromo Surabaya, Rp. 1.000.000 5. Bantuan modal usaha pembuatan roti Ibu Lasmi Blitar Rp. 1.000.000 6. Perbaikan rumah Ibu MM. Boinah Blitar Rp. 1.000.000 7.. Perbaikan rumah kelompok belajar di Madiun Rp. 1.500.000 8. Pengobatan Ibu Maria Sujana Widodaren Rp. 2.000.000 9. Proyek ternak puyuh Ibu ana Maria dari Blitar Rp. 1.500.000 10. Proyek Briket Batu bara Alphonzeus Blitar, Rp. 1.500.000 11. Dana Usaha Rosario – Ferdinandus Umen HKY Surabaya Rp. 1.000.000 12. Dana Usaha Nasi Kuning Antonius Hadian, Rp. 1.000.000 13. Dana Pengobatan ibu Maria Immaculata, Sidoarjo, Rp. 1.500.000 14. Kursus CU dari Rembang Rp. 1.500.000.-

Daftar Penerima Dana Bantuan Melalui Komisi PSE April-Desember 2008 1. Usaha warung sego sambal Karol Ngagel Rp. 1.000.000

15 Operasi Dionisius Wely Sidoarjo 1.500.000

Rp.

16 Operasi Prostat – Anton Munaryo Blitar, Rp. 1.000.000 17 Usaha Ternak Ayam – Tri Shakti Mojokerto Rp. 1.000.000


18 Usaha Bintang Anugerah – Suseno Mojokerto, Rp. 1.000.000

Program Komisi PSE Tahun 2009

19. Usaha Minuman Kesehatan – Dorothea Mojokerto Rp. 1.000.000

Menjelang akhir tahun 2008, Komisi PSE Keuskupan Surabaya ingin memperkenalkan program strategis yang akan diadakan selama tahun 2009. Tidak tertutup kemungkinan ada penambahan kegiatan atau pengurangannya mengingat kondisi konkrit yang akan dialami pada tahun 2009. Beberapa program, kami cantumkan berikut ini :

20. Usaha Pracangan – Romanus Djoko Mojokerto Rp. 1.000.000 21. Usaha Jamur Tiram Sugiatmoko Mojokerto Rp. 1.000.000 22. Usaha Pracangan M. Situmorang Mojokerto Rp. 1.000.000

1.

Evaluasi CU untuk mengetahui perkembangan gerakan CU di paroki dan Stasi. Diharapkan kegiatan ini bisa melahirkan rencana strategis untuk gerakan CU di Keuskupan Surabaya. Ada suatu harapan agar di setiap paroki ada lembaga keuangan mikro yang menggerakkan roda perekonomian umat dan masyarakat sekitar.

2.

Pertanian organik. Kegiatan ini bertujuan untuk merangsang kesadaran idealis dan minat terhadap pertanian organik. Kegiatan yang diadakan berupa sosialisasi peduli organik, sharing pertanian organik dengan Rm. Sapta dari KPPT Salatiga. Diharapkan ada pembelajaran langsung yang terjadi di satu vikep. Satu paroki. Setiap Vikep (Madiun, Cepu, Blitar, Kediri ) ada satu paroki yang merintis pertanian organik. Pertanian organik juga menjadi media pewartaan yang sangat efektif.

3.

Pelatihan Peduli Bencana dengan melakukan pemetaan daerah rawan bencana di Cepu, Ngawi, Bojonegoro, Pare, Kediri, Blitar dan Wlingi. Selain itu akan ada pelatihan tentang ERT (Emergency Response Team) yang melatih para peserta untuk terlibat dalam kegiatan tanggap darurat.

23. Usaha Pracangan Ardi Ngagel Rp. 1.000.000 Total

Rp. 27.000.000

KETUA DAN PENGURUS INTI KOMISI PSE KEUSKUPAN SURABAYA Mengucapkan : SELAMAT HARI NATAL 25 DESEMBER 2008 & TAHUN BARU 2009 Kepada: 1. Romo Kepala Paroki se Keuskupan Surabaya 2. Romo Vikep I – VII 3. Romo Moderator Komisi PSE Kevikepan 4. Ketua Komisi PSE se Indonesia 5. Ketua Seksi Sosial Paroki se Keuskupan Surabaya 6. Ketua Dewan Paroki se Keuskupan Surabaya 7. Ketua dan Pengurus Komisi PSE Kevikepan 8. Ketua Stasi/ Wilyah Lingkungan se Keuskupan Surabaya 9. Para Pembaca setia WARTA PSE


4. Pendataan Sosial demi peningkatan pelayanan sosial. Ada 7 utusan dari Keuskupan Surabaya yang akan mengikuti pelatihan di tingkat regio Jawa. Diharapkan para peserta bisa memiliki kemampuan untuk melakukan pendataan sosial sekaligus mengharapkan agar di setiap paroki dan kevikepan, ada data valid tentang karya sosial. 5. Pertemuan Aktivis Seksi Sosial Paroki se Keuskupan Surabaya untuk mengevaluasi karya sosial di setiap paroki. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan kesegaran dan inspirasi sekaligus memperkuat komitmen untuk memantapkan 3 gerakan strategis PSE Keuskupan Surabaya yakni CU, pertanian organik dan peduli bencana. Kegiatan ini diharapkan bisa memberikan wawasan alternatif dan kreativitas dalam melahirkan kebijakan pelayanan sosial di setiap paroki. 6.

Mengadakan Sosialisasi Ajaran Sosial Gereja dalam Konteks Keuskupan Surabaya. Kegiatan ini meliputi pendalaman buku kumpulan dokumen ASG. Ajaran Sosial Gereja diharapkan jadi tonggak sebuah gerakan peningkatan kualitas pelayanan sosial.

7.

Merevisi buku Panduan Seksi Sosial Paroki Keuskupan Surabaya. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan masukan, ide dari seksi sosial Paroki sekaligus memohon kesediaan Bapak Uskup untuk memberikan masukan tentang buku tersebut. Untuk diketahui, Komisi PSE Keuskupan Surabaya memiliki buku penuntun bagi Seksi Sosial. Kegiatan mengedit ulang, merevisi dan menambahkan sesuatu yang sesuai dengan kondisi sekarang, tentu harus melibatkan seksi sosial.

REDAKSI WARTA PSE Penanggungjawab : Rm. A. Luluk Widyawan, Pr Pemimpin Redaksi Eddy Loke Staff Redaksi : Eddy, Suparman, Budiawan


Warta PSE Desember 2008