Page 5

BALJEBOL

Rabu 6 November 2013

BALI

JEMBER

BONDOWOSO

33

LUMAJANG

ADA APA LAGI

Sekdes Sumbersuko Nyabu LUMAJANG - Sekretaris Desa (Sekdes) Sumbersuko, Kecamatan Sumbersuko Saiful Bin Mustaka ditangkap polisi setelah menggelar pesta sabu-sabu sekitar pukul 19.00. Penangkapan ini dilakukan Satuan Reskoba (Satreskoba) Polres Lumajang, setelah dua bulan melakukan pengintaian. Menurut AKP Amin Sujandono, Kasatreskoba Polres Lumajang, penangkapan dilakukan polisi kemarin karena berbagai bukti telah kuat. “Kami tangkap di rumahnya setelah mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu,” terang Amin Sujandono kepada sejumlah wartawan. Amin menjelaskan, petugas mendatangi rumah tersangka di Dusun Suko I, RT 05, RW 01 Desa/Kecamatan Sumbersuko secara diam-diam. Baru ketika bukti-buktinya kuat dan waktunya tepat, Sekdes tersebut langsung diciduk. Hasilnya, sejumlah barang bukti ditemukan di dekat Sekdes kelahiran 20 Oktober 1965 itu. Diantaranya seperangkat alat hisap sabu-sabu dalam bentuk botol obat formula 44 berisi air yang ujungnya ada dua sedotan. Polisi juga mengamankan satu bungkus rokok berisi 2 dua buah pipet yang diduga berisi sisa sabu-sabu. Barang bukti lain yang disertakan adalah ada lima buah plastik klip yang diduga masih berisi sisa sabu, sebuah skop sabu yang terbuat dari sedotan warna putih, sebuah sedotan warna putih, dan sebuah korek api jenis gas. Atas penangkapan itu, petugas kepolisian segera melakukan pemeriksaan. Sejak kemarin, petugas langsung menahan tersangka di Mapolres Lumajang. “Langsung kami tahan,” tegas Amin. Dari hasil pemeriksaan sementara, Amin mengungkapkan, sekdes ini juga melibatkan seorang temannya berinisial AB, dalam mengonsumsi sabu-sabu. (fid/wnp/JPNN/aif) JUMAI/RADAR JEMBER/JPNN

NAHAS: Truk bermuatan kayu sengon ini berjalan mundur akibat tidak bisa melewati tanjakan di Jl Merak, Patrang, Senin malam.

EKONOMI BISNIS

Rem Blong, Truk Muatan Sengon Tabrak Tebing JEMBER – Akibat rem yang tidak berfungsi saat melewati tanjakan, sebuah truk Fuso bernopol P 8634 UM yang disopiri Syafi’i, 55, warga Desa/Kecamatan Bangsalsari, menabrak tebing jalan. Bahkan, sebelumnya truk tersebut menabrak tiang telepon dan penerangan jalan umum (PJU) di Jl Merak, Lingkungan Poreng, Kelurahan Slawu, Kecamatan, Senin (4/11) pukul 22.00. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hanya, setengah badan truk yang sarat dengan muatan

kayu sengon itu terperosok ke lubang dan berhenti setelah bak belakang menabrak tebing di sisi utara jalan. Kedua ban belakang masuk ke selokan yang cukup dalam. Akibat beratnya muatan kayu membuat roda depan terangkat. Menurut Syafi’i, kecelakaan itu terjadi karena rem truk yang tidak berfungsi saat dirinya melewati jalan yang menanjak. Dia mengungkapkan, menjelang tanjakan di depan MTs Negeri 2 Jember, dirinya sudah memindah perseneling truk gigi 1. Baru berjalan 200 meter, truk

berhenti di jalan yang cukup menanjak. “Saat mau jalankan dengan pelanpelan, ternyata tidak kuat dan akhirnya berjalan mundur,” ungkapnya. Truk yang sarat dengan muatan kayu sengon ini akhirnya berjalan mundur. “Saat berjalan mundur sudah coba saya rem. Ternyata rem sama sekali tidak berfungsi,” akunya. Ketika rem tidak berfungsi, Syafi’i sempat panik karena di utara jalan banyak rumah. Sedangkan di sisi selatan ada jurang yang cukup dalam. Untuk mencegah jatuhnya korban,

Syafi’i mengarahkan laju truknya yang berjalan mundur itu ke sisi kanan. Truk akhirnya langsung menabrak tiang PJU. Truk baru berhenti setelah roda belakang masuk selokan dan menabrak tiang telepon dan tebing jalan. Dirinya memilih banting setir ke kiri karena di sisi kanan ada jurang dan kolam pancing. “Saya masih bersyukur truk masuk ke selokan, daripada masuk jurang atau menabrak rumah warga,” ujar Syafi’i. Kayu sengon yang diangkutnya berasal dari Arjasa. (jum/ram/har/JPNN/aif)

NUR HARIRI/RaBa

PASCA IDUL ADHA: Salah seorang pedagang saat melayani pembeli di Pasar Mimbaan.

Harga Cabai Kembali Normal SITUBONDO - Dua pekan pasca Idul Adha, harga sejumlah kebutuhan dapur mulai turun. Bahkan, di Pasar Mimbaan, Panji, penurunan harga hampir terjadi pada semua bumbu masak. “Sekarang harganya turun semua. Cabai, ranti, bawang, dan yang lain juga turun. Harganya hampir sama dengan sebelum Lebaran lalu,” kata Kikin, salah seorang pedagang di Pasar Mimbaan. Data yang diperoleh koran ini, beberapa harga bumbu masak yang harganya naik-turun dan saat ini kembali normal adalah cabai, ranti, dan bawang. Menurut Kikin, cabai rawit per kilogram saat ini Rp 18 ribu. Sebelumnya, harga cabai rawit Rp 37 ribu per kilogram. “Sebelum Lebaran, harga cabai kecil juga Rp 18 ribu. Kini harga cabai besar juga turun dari Rp 40 ribu ke Rp 15 ribu,” kata Kikin. Normalnya harga juga terjadi pada ranti dan bawang. Saat Idul Adha lalu harga ranti Rp 12 ribu, dan harga tomat Rp 40 ribu. “Seminggu ini harga satu kilo ranti tiga ribu, dan tomat enam ribu,” terangnya. Salah seorang pembeli, Maryam, 38, mengaku senang dengan normalnya harga sejumlah kebutuhan dapur tersebut. Dia berharap hal itu bertahan lama dan tidak melejit naik secara tiba-tiba. “Ya senang. Semoga harga seperti ini terus. Kalau naik, jangan mengejutkan,” katanya. (rri/c1/als)

Pesta Miras, Lalu Bunuh Diri JEMBER - Warga yang tinggal di komplek perumahan Bumi Tegal Besar, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates, kemarin (5/11) sekitar pukul 11.00 WIB dibuat geger. Pasalnya Roni Dwi Prasetyo, 27, warga yang tinggal di Blok BS 18, perumahan setempat, ditemukan tewas tergantung dengan seutas tali kabel di kamar rumahnya. Padahal, malam sebelumnya korban sempat berpesta miras dengan temantemannya. Dugaan sementara, korban yang berprofesi sebagai instalatir listrik itu tewas karena bunuh diri. Belum diketahui secara pasti, apa motif korban mengakhiri hidupnya. Namun tak jauh dari jasad korban, polisi menyita secarik kertas yang berisi tulisan kekecewaan korban kepada istrinya. Berdasarkan informasi yang di-

NUR HARIRI/RaBa

HORMATI LELUHUR: Muhammad Guntur (kiri) saat memandikan keris miliknya kemarin (5/11).

Suroan, Warga Kalibagor Cuci Keris SITUBONDO - Berbagai cara dilakukan untuk menghormati leluhur. Di Desa Kalibagor, Kecamatan Situbondo, seorang kolektor benda pusaka memanfaatkan bulan Suro untuk mencuci keris pusaka (jamasan). Seperti yang dilakukan Muhammad Guntur kemarin. Dirinya memanfaatkan tahun baru Islam untuk mengelurkan sejumlah benda pusaka miliknya. Benda pusaka berupa keris itu dibersihkan kemudian dimandikan menggunakan kembang setaman. “Pakai kembang setaman,” kata Guntur singkat. Menurut seorang kakek itu,

salah satu keris yang dibersihkan bernama Kala Monyeng. Keris tersebut konon memiliki khasiat bisa menawarkan bisa alias racun. “Seperti namanya, keris ini memiliki simbol kalajengking. Keris ini memiliki khasiat mengobati gigitan hewan berbisa, seperti ular dan lain,” terang Guntur. Saat ini, tradisi mencuci keris banyak ditinggalkan orang. Tetapi, bagi Guntur, mencuci keris tidak hanya bertujuan menghormati para leluhur, tapi juga bisa membuat bendabenda kuno tersebut bertahan lama dan tidak rusak. “Agar tetap bagus walaupun anakanak sekarang jarang suka,”

katanya sambil tersenyum. Pantauan koran ini, selain mencuci keris koleksinya, Guntur juga membersihkan benda pusaka lain, seperti tanduk macan. Benda pusaka yang satu ini tergolong unik. Karena terdiri atas sejumlah organ harimau. “Ini ada gigi, taring, dan mata harimau. Ini dibungkus menggunakan kulit harimau,” terangnya. Menurutnya, setiap tanggal 1 Suro semua pusaka miliknya itu dibersihkan dengan air kembang. “Tidak semua saya keluarkan, tidak boleh. Jadi, setiap 1 Suro itu dimandikan demi menghormati peninggalan para leluhur,” pungkas Guntur. (rri/c1/als)

himpun, Senin (4/11) korban sempat merayakan ulang tahun yang ke-27. Malam harinya, korban merayakan ultahnya dengan temantemannya di kawasan Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, dengan menggelar pesta minuman keras. “Tapi nggak tahu yang diminum miras jenis apa,” kata Ali, salah satu warga di lokasi kejadian. Usai pesta miras, korban pun pulang ke rumahnya sekitar pukul 04.00 WIB. Setibanya di rumah, korban yang dikaruniai satu orang anak ini tidur di kamar belakang. Beberapa jam kemudian, Diah, 21, istri korban, menuju kamar itu untuk membangunkan korban.

Namun saat akan dibuka, ternyata pintu itu dalam kondisi terkunci dari dalam. Diah semakin curiga, karena beberapa kali kamar diketuk, korban sama sekali tidak menjawab. Karena curiga, Diah kemudian memanggil Sugito, tetangganya. Tanpa buang waktu lagi, Sugito langsung mendobrak pintu itu. Begitu pintu terbuka, korban sudah ditemukan menggantung dengan seutas tali kabel yang diikatkan ke atap kamarnya. Melihat pemandangan itu, Diah langsung berteriak histeris. Puluhan warga sekitar berdatangan dan berusaha menenangkan istri korban. Sementara tubuh korban yang saat itu

masih tergantung, langsung diturunkan. Petugas dari Polres Jember yang mendapatkan laporan kejadian segera turun ke lokasi kejadian. Dari lokasi, petugas menyita sejumlah barang bukti berupa kabel dengan panjang 1,5 meter yang digunakan korban mengakhiri hidupnya. Selain itu, petugas juga menyita surat wasiat korban yang diduga ditulis sebelum korban bunuh diri. “Inti surat wasiat itu adalah korban mengaku kecewa pada istrinya. Karena pas hari ulang tahun korban, istri korban menolak diajak berhubungan badan,” ungkap polisi yang memeriksa. Istri korban sendiri, menurut polisi, mengaku menolak ajakan suaminya itu karena saat itu anak korban yang masih berumur sekitar tiga tahun sedang sakit. (jum/ram/hdi/JPNN/aif)

Radar Banyuwangi 6 November 2013  

Jawa Pos Radar Banyuwangi

Radar Banyuwangi 6 November 2013  

Jawa Pos Radar Banyuwangi

Advertisement