Page 1

Pendorong Perubahan dan Pembaruan

SENIN 21 APRIL TAHUN 2014

KUCUR

NGOPAI

Fatmawati SP

Pendidikan Inklusif untuk ABK FATMAWATI mencoba menerapkan citacita yang amat begitu luhur dari seorang pahlawan nasional Kartini. Cita-cita itu adalah ingin memajukan pendidikan tanpa membedakan latar belakang sosial. Maka untuk mewujudkan cita-cita itu, Fatmawati membentuk PAUD/Taman Kanak-kanak (TK) Cerdas. Perjalanan membentuk PAUD ini berawal atas keprihatinannya melihat anak tetangganya yang dalam masa keemasan berlarian tanpa ada bimbingan. Bahkan mereka bernyanyi riang gembira, tapi yang dinyanyikan lagu-lagu untuk orang dewasa. Dari keprihatinan inilah yang membuat Fatmawati memiliki angan-angan mendidik anak sekitar rumahn y a u nt u k dididik

Eceran Rp 5.750

HALAMAN 53

Hayati Public Service sebagai Privat Service KOTA Banyuwangi sekarang bersih. Itu fakta. Semua orang mengakuinya. Tidak hanya orang Bumi Blambangan. Tapi, sekali lagi, semua orang! Begitu menginjakkan kaki di kota Sunrise of Java, semua orang luar daerah selalu mengucapkan satu kalimat ini: Banyuwangi bersih. Tak terkecuali rombongan investor dari Tiongkok beberapa waktu lalu. Pujian serupa juga selalu menjadi kesan pertama orang penting yang berkunjung ke Kota Gandrung. Mulai pengusaha, pejabat swasta,

hingga pejabat negara. Pujian-pujian itu tidak berakhir di tong sampah. Terbukti, tahun lalu Kota Kopi ini kembali merebut piala Adipura. Penghargaan tertinggi bidang kebersihan dan keindangan kota yang pernah diraih Banyuwangi sekitar 10 tahun silam. Banyuwangi memang bersih dan (mulai) indah. Itu tidak bisa dimungkiri. Tapi, tunggu dulu. Yang bersih itu di mana? Yang indah itu di mana? Kita tahu, juri Adipura biasanya hanya menilai bagian yang paling kelihatan. Seperti

sepanjang jalan protokol, pasar kota, dan spotspot tertentu. Itu wajar. Karena keterbatasan waktu, mereka tidak mungkin menilai sampai ke gang-gang. Atau kampung-kampung. Atau, menyusuri bantaran Kali Lo. Pertanyaan berikutnya: kalau yang dinilai hanya kebersihan di kanan-kiri jalan protokol, pasar kota, dan sejumlah titik yang kentara oleh mata, berarti tidak ada keterlibatan masyarakat dong. Betul sekali n  Baca Hayati Publik...Hal 63

CATATAN OLEH:

Samsudin Adlawi *

Diwarnai Protes Saksi Parpol

n

 Baca Pendidikan... Hal 63 TOHA/RaBa

Yuliati, S.Pd.AUD

Harus Menguasai Semua Bidang

BANYUWANGI – Proses rekapitulasi penghitungan perolehan suara hasil pileg terus berlanjut. Proses penghitungan suara untuk DPRD I Jatim sempat diwarnai ketegangan. Ketegangan dipicu dari hasil penghitungan PPK Tegaldlimo. Sebab, data-data yang dicantumkan belum valid. Saksi parpol minta PPK Tegaldlimo melakukan rekap ulang. Hingga berita ini ditulis masih terjadi debat panjang apakah PPK Tegaldlimo perlu merekap ulang atau tidak. Akar

PERJUANGAN Kartini tempoe doeloe dengan zaman sekarang memiliki kesamaan. Yaitu perjuangan emansipasi wanita dalam berbagai bidang. Peran wanita yang tidak hanya dalam bingkai keluarga ini membuat para wanita lebih mantap merambah dan menggapai cita-cita lebih tinggi. Salah satunya adalah, Yuliati, S.Pd. AUD Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Rahmatullah Banyuwangi ini adalah contoh sosok wanita yang tidak hanya berperan sebagai keluarga, namun berperan dalam mencetak anak usia dini yang memiliki karakter kuat. Tugas dan tanggung jawabnya ini tidak bisa dibilang enteng n

persoalan adalah terjadi selisih 20 suara antara suara sah dan tidak sah dengan total pemilih yang mengunakan hak pilih. Pantaun koran ini di lokasi rekapitulasi gedung wanita Parmita Kencana menyebutkan, saksi parpol ngotot agar dilakukan rekap ulang untuk PPK Tegaldlimo. Ketegangan terjadi saat mendekati akhir penghitungan untuk DPRD I Jatim. Semua pihak yang terlibat rekapitulasi akhirnya melakukan pengecekan n  Baca Diwarnai...Hal 63

 Baca Harus... Hal 63 ABDUL AZIZ/RaBa TOHA/RaBa

PEMBINAAN: Sejumlah remaja yang terjaring razia Satpol PP Genteng diberi pembinaan di kantor Kecamatan Genteng.

ADA APA LAGI

Arus Balik Liburan Lancar

Amankan 14 Remaja Mabuk Minuman Keras

KALIPURO - Menjelang akhir long weekend, arus lalu-lintas penyeberangan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, terpantau ramai lancar kemarin (20/4). Arus kedatangan penumpang dan kendaraan yang menyeberang dari Bali tampak cukup mendominasi aktivitas penyeberangan di pelabuhan yang berlokasi di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, tersebut.

GENTENG – Perilaku remaja Kota Genteng, tampaknya kian mengkhawatirkan. Meski seringkali dilakukan razia, masih saja ditemukan segerombolan remaja yang menggelar pesta minuman keras (miras) di tepi jalan. Seperti terlihat kemarin malam. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Genteng

GALIH COKRO/RaBa

KELUAR DARI KAPAL: Kendaraan roda empat berjalan pelan setelah keluar dari kapal di ASDP Ketapang kemarin.

GERDA/RaBa

JINAK: Salah seorang anggota komunitas pencinta reptil bercengkerama dengan ular.

Penyayang Reptil Unjuk Kebolehan PULUHAN penyayang binatang reptil Banyuwangi berkumpul di Taman Sri Tanjung, kemarin. Ada yang membawa ular, iguana, kura-kura, dan biawak. Mereka ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa hewanhewan tersebut tidak perlu dibunuh. ”Kami semua ini penyayang binatang reptil. Kami ingin tunjukkan kalau ular itu sejatinya bisa dijinakkan,’’ ujar Gita, salah seorang pencinta binatang reptil. (aif)

Uniknya, di saat bersamaan, kendaraan yang hendak menyeberang ke Pulau Dewata, terpantau cukup banyak. Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi sore kemarin (20/4), beberapa bus pariwisata yang menuju ke Bali tampak mengalir di pelabuhan kebanggaan masyarakat Bumi Blambangan tersebut. Bus pariwisata tersebut ditengarai

 Baca Arus Balik...Hal 63

berhasil merazia 14 remaja yang menggelar pesta miras di tepi Jalan Jenisari, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Empat belas remaja tersebut terjaring razia dua tahap. Pertama ada Satpol PP menemukan sembilan remaja menggelar pesta miras di sebuah gubuk di tepi jalan pada pukul 22.30 n  Baca Amankan...Hal 63

Mengunjungi Pameran Lukisan di Pantai Boom

Seniman Lokal Jadi Tuan Rumah di Daerah Sendiri Lukisan selama ini dikonotasikan sebagai karya seni berharga mahal. Namun, anggapan itu berhasil dijungkirbalikkan para seniman lukis Banyuwangi. Ini sekelumit ceritanya. SIGIT HARIYADI – MH. QOWIM, Banyuwangi BANYUWANGI kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini memang layak menyandang gelar terhormat sebagai kota seni. Banyak karya seni yang lahir di daerah yang kini mendapat julukan sebagai Kota Kopi ini. Seni musik, misalnya. Banyak seniman musik yang bisa bertahan hidup dengan hanya bermusik. Pun demikian

http://www.radarbanyuwangi.co.id

mengangkut siswa SMA/sederajat yang telah merampungkan ujian nasional (unas) Rabu lalu (16/4). Beruntung, fenomena itu tidak sampai terjadi antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang seperti saat menjelang long weekend Jumat lalu (18/4). Seperti diketahui, Jumat pagi lalu sempat terjadi antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang n

dengan seni tari. Tapi sayang, hal yang sama tidak berlaku bagi para seniman lukis Bumi Blambangan. Seniman lukis daerah ini harus hijrah ke daerah lain jika ingin bisa “hidup” dari hasil karyanya. Itu akibat minimnya apresiasi masyarakat lokal terhadap karya lukis para pelukis lokal. Menyikapi hal itu, komisi seni lukis Dewan Kesenian Blambangan (DKB) membuat satu gebrakan, yakni menggelar pameran jalanan seni lukis di Pantai Boom Banyuwangi, Minggu (20/4). Tujuannya, selain menjadi tempat berkumpulnya seniman lukis Banyuwangi, juga menjadi sebentuk upaya memasyarakatkan seni lukis kepada masyarakat. Dalam pameran tersebut sedikitnya ada 60 lukisan yang dipamerkan. Ada aliran realis, ekspresionis, impresionis, dan abstrak n  Baca Seniman...Hal 63

Satpol PP amankan 14 remaja mabuk miras Kota ini ternyata belum bersih dari mirasantika!

Ada info gerakan caleg kalah, PPK Sumbermalang dijaga ketat Harap maklum, lagi musimnya caleg stres!

MH. QOWIM/RaBa

GEBRAKAN BARU: Pengunjung menyaksikan karya lukisan yang dipajang di Pantai Boom. email: radarbwi@gmail.com/beritaraba@gmail.com


RADAR GENTENG Buruh Setubuhi Gadis

54

Jawa Pos

R A D A R

BERKARYA: Para pelukis asyik melukis beberapa objek yang disediakan panitia di Sun East Mall Genteng, kemarin. SHULHAN HADI/Raba

Seniman Melukis On The Spot

GENTENG – Ratusan pelukis kemarin menggelar aksi lukis on the spot. Kegiatan yang bertempat di halaman Sun East Mall Genteng tersebut diprakarsai Kelompok Pelukis Dan Seniman Genteng (KPSG). Selain melibatkan para pelukis senior, kegiatan yang mengundang banyak pengguna jalan itu lebih melibatkan para pelajar di sekitar Genteng. Menurut Windu Pamor, koordinator acara kegiatan ini, piahknay sengaja mengundang para pelajar untuk berpatisipasi. Selain untuk mengasah bakat yang dimiliki pelajar. Hal ini untuk mewadahi bakat siswa, lantaran ajang kreativitas seni, khususnya lukis di sekolah masih sangat jarang. “Lomba lukis

Senin 21 April 2014

B A N Y U W A N G I

itu biasanya setahun sekali,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, pelukis gaek Banyuwangi Moses Misdi juga menyempatkan hadir, pria yang sering mendapat undangan ke luar negeri ini mengaku perkembangan seni lukis di Banyuwangi cukup pesat. Bahkan dis menyatakan, untuk ukuran Kabupaten, Banyuwangi nomor satu. “Tidak ada yang mengalahkkan Banyuwangi,” ungkapnya. Pesatnya perkembangan ini ditandai dengan jumlah pelukis muda yang semakin banyak. Hal ini tak lepas dari peran pelukis yang lebih senior dalam membagikan ilmunya kepada generasi muda. Selain itu juga keuntungan Banyuwangi yang berdekatan dengan pulau Bali juga memberi dampak

terhadap pemasaran. “Banyuwangi dekat Bali, jadi sisi pemasaran karya juga bagus,” cetusnya. Suhariono Arisasongko, 13, siwa SMPN 2 Genteng mengaku baru pertama kali mengikuti lukis on the spot. Dirinya mengaku senang. Sebab di sekolah tidak pernah diadakan acara serupa. “Senang Mas, baru pertama kali,” tuturnya. Senada dengannya, Halim Hs siswi SMA Taman siswa juga merasa sangat berkesan mengikuti acara melukis bersama ini. Selain bisa bertemu sesama peminat lukis. Kegiatan ini memberinya pengalaman dan pelajarna baru. “Senang sekali, banyak teman dan ilmu baru,” pungkasnya. (sli/aif)

ROGOJAMPI – Diduga kuat telah menyetubui anak di bawah umur, Mispan Wahyu Effendi, 20, seorang buruh asal Dusun Krajan, Desa Bomo, Kecamatan Gambiran, dijebloskan ke ruang tahanan mapolsek setempat kemarin. Gadis di bawah umur yang menjadi korban nafsu bejat sebut saja namanya Saritem,14, yang tak lain adalah tetangga dari Mispan sendiri. Tempat tinggal antara pelaku dan korban hanya berjarak sekitar tiga rumah. Kapolsek Rogojampi Kompol Bagio SP mengatakan, kasus tersebut terungkap berawal dari keluhan korban kepada orang tuanya. Saritem mengeluh sakit pada kemaluannya. Merasa curiga, orang tua korban akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Mapolsek Rogojampi. “Laporan itu langsung kami tindaklanjuti dan pelakunya berhasil kami ungkap,” tuturnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan terungkap kalau perbuatan tak senonoh tersebut sudah dilakukan tersangka sebanyak empat kali terhitung sejak tanggal 4 April hingga 12 April

ABDUL AZIZ/RaBa

TERSANGKA: Effendi diamankan di Mapolsek Rogojampi.

2014. “Semuanya dilakukan di rumah tersangka,” sebutnya. Kini untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku dijerat dengn Undang-Undang Nomor 23/2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun kurungan penjara. (azi/aif)

Kartini Cilik Karangdoro Kirab TEGALSARI – Peringatan Hari Kartini dirayakan oleh anakanak TK di Desa Karangdoro dan Karangmulyo, Kecamatan Tegalsari. Mereka menggelar pawai budaya dengan mengenakan pakaian adat Jawa. Kegiatan tersebut dipusatkan di lapangan Pondok Pesantren Darussalam Karangdoro. Seluruh lembaga Taman KanakKanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ada di Desa Karangdoro dan Karangmulyo ikut ambil bagian. Di samping para kartini cilik yang memakai pakaian kebaya, anak laki-laki mengenakan pakaian adat Jawa dan pakaian khas Using. Menurut Ketua Gugus Paud/TK Desa Karangdoro dan Karangmulyo Binti Alfiah, acara ini bertujuan untuk mengingatkan perjuangan Kartini sebagai pahlawan

Tidak mau kalah d e n g a n a n a kanaknya, para ibu-ibu ini juga mengenakan adat pakaian Jawa. Setelah berkumpul, selanjutnya pawai berjalan menuju titik finish yang berada di Lapangan Kaligesing, Desa Karangmulyo. Kegiatan itu SHULHAN HADI/RaBa sempat mengunKENAKAN KEBAYA: Anak TK didampingi dang perhatian orang tuanya mengikuti karnaval hari Kartini. warga yang tinggal di sekitar loemansipasi wanita. “Sengaja kasi. Banyak warga yang berjejer digelar untuk memperingati menunggu pawai ini melintas. Aprilianto, 24, mengaku perjuangan Kartini,” ujarnya. Selain para peserta didik senang melihat pawai ini. berbaris dengan mengenakan ”Cukup menarik, biasanya pakaian adat, para wali murid kan cuma saat Agustusan,” juga terlibat secara langsung. ujarnya. (sli/aif )

Tolak Pembangunan Water Boom MUNCAR – Masyarakat RT 06/ RW 02, Dusun Sidomulyo, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar menyatakan penolakan atas rencana pembangunan water boom di daerahnya. Wantoro, salah seorang per wakilan masyarakat menyatakan, mereka menolak pembangunan karena khawatir jika sewaktu-waktu terjadi banjir akan membahayakan orang maupun tempat tersebut. Sikap ini mereka ambil setelah melakukan musyawarah dengan beberapa elemen masyarakat. Dia menegaskan, sikapnya bukan menolak pembangunan, namun tidak menghendaki jika pembangunan di tempat tersebut berupa water boom. “Kalau dijadikan perumahan kami setuju,” ujarnya. Mereka mengusulkan solusi pembangunan selain water boom. Dia berasalan, jika lokasi tersebut dijadikan perumahan, maka pembanguan tidak merubah bentuk tanah. Sedangkan jika digunakan

Wantoro mengaku pernyataan penolakan ini telah diteken warga. Selain itu, dia juga sudah melayangkan pernyataan ini kepada Bupati dan pihak-pihak terkait. Menanggapi hal tersebut, Camat Muncar Nuril Falah membenarkan jika warga menolak rencana pembangunan water boom. Menur ut Nur il, kades setempat telah mengumpulkan pihak terkait untuk menyikapi proyek SHULHAN HADI/RABA tersebut. Nuril mePICU PENOLAKAN: Papan pengumuman nambahkan, ketakubertuliskan ”Di sini akan dibangun water tan warga sebenarnya boom “sudah dipasang di lokasi. adalah kekhawatiran proyek galian tersebut sebagai water boom maka akan hanya untuk diambil pasirnya, ada galian dan timbuan yang bukan untuk dijadikan water mempengaruhi kondisi tanah. boom sungguhan. “Warga “ Kalau dibuat water boom khawatir water boom itu hanya nanti tanahnya kan dikeruk, modus untuk menggali tanah di sana,” ungkapnya. (sli/aif) nanti bisa rawan” ujarnya.

AGENDA KOTA

Paripurna LKPJ Bupati Anas HARI ini, Senin (21/4) Bupati Abdullah Azwar Anas akan menghadiri rapat paripurna DPRD dengan agenda penyampaian nota penjelasan bupati atas diajukannya LKPJ bupati tahun 2013 di ruang rapat paripurna DPRD Banyuwangi. (*) Lay Out/Grafis: Khoirul Muklis (Koordinator), Cahya Heriyanto, Ramada Kusuma Atmaja Pemimpin Redaksi/Penanggung jawab: Rahman Bayu Saksono Wakil Pemimpin Redaksi: Syaifuddin Mahmud Kepala Liputan: Agus Baihaqi Redaktur: Ali Sodiqin, A.F. Ichsan Rasyid Staf Redaksi Banyuwangi: Sigit Hariyadi, Niklaas Andries, Ali Nurfatoni Redaksi Situbondo: Edy Supriyono (Kabiro), Nur Hariri Redaksi Genteng: Abdul Aziz (Kabiro), Shulhan Hadi Fotografer: Galih Cokro Buwono Editor Bahasa: Minhajul Qowim J

Direktur: Samsudin Adlawi Pemasaran dan Pengembangan Usaha: Elly Irwan Suryanto, Gerda Sukarno Prayudha, W. Nugroho (Genteng), Samsuri (Situbondo) Iklan: Sidrotul Muntaha, Tomy Sila, Yusroh Abdillah Administrasi Iklan: Fitria Arifiana Desain Iklan: Mohammad Isnaeni Wardan Event: Benny Siswanto Keuangan: Citra Puji Rahayu

Wartawan Radar Banyuwangi dilarang menerima uang maupun barang dari sumber berita.

J

Kasir: Widi Ukiyanti Piutang: Anissa Windyah Sari Administrasi Pemasaran: Anisa Febriyanti Perpajakan: Cici Irma Setyani Administrasi Biro Situbondo: Dimas Ayu Dewi Fintari Penerbit: PT Banyuwangi Intermedia Pers. SIUPP:1538/SK/Menpen/ SIUPP/1999. Alamat Redaksi/Iklan: Jl. Yos Sudarso 89 C Banyuwangi, Telp: (0333) 412224-416647 Fax Redaksi: 0333-416647, Fax Iklan/Pemasaran: (0333) 415153, Biro Genteng: Jalan Raya Jember nomor 36 Genteng, Telp: (0333) 845860. Biro Situbondo: Jl. Wijaya Kusuma No. 60 Situbondo, Telp : (0338) 671982.

Wartawan Radar Banyuwangi dibekali dengan kartu pers yang dikenakan selama bertugas.

Website: www.radarbanyuwangi.co.id. Email: radarbwi@gmail.com, beritaraba@gmail.com, artikelradarbwi@gmail.com. Rekening: Giro Bank Mandiri Nomor Rekening 1430002019030. Surabaya: Yamin Hamid, Graha Pena Lt .15, Jl Ahmad Yani 88 Telp. (031) 8202259 Fax. (031) 8295473. Jakarta: Gunawan, Jl Raya Kebayoran Lama 17, Telp (021) 5349311-5, Fax. (021) 5349207. Tarif Iklan Display: hitam putih Rp 27.000/mmk, berwarna depan Rp 54.000/ mmk, berwarna belakang Rp 42.000/mmk, Iklan Baris Umum: Rp. 42.000/baris, Lowongan: Rp 53.500/baris, Sosial: Rp 24.000/mmk. Percetakan: Temprina Media Grafika, Jl Imam Bonjol 129 Jember Telp (0331) 320300. J Materi iklan/advertorial di luar tanggung jawab Radar Banyuwangi


Jawa P Ja Pos os

55

Senin Se Sen in 21 Apr Ap Aprilill 2 20 201 2014 014 01 R A D A R

B A N Y U W A N G I

Ipuk Festiandani Azwar Anas, Ketua Tim Penggerak PKK Banyuwangi

Membangun Daerah dari Lingkup Keluarga Predikat Kartini masa kini layak disematkan kepada Ipuk Festiandani Azwar Anas. Sebagai ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Banyuwangi, perempuan yang satu ini getol memperjuangkan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) perempuan di Bumi Blambangan.

Ipuk Festiandani Azwar Anas GALIH COKRO/RaBa

Banyak Belajar dari Wanita Sukses DI BALIK pria hebat, selalu ada perempuan hebat. Seperti itu pula gambaran sosok Ipuk Festiandani Azwar Anas. Sebagai istri orang nomor satu di lingkungan Pemkab Banyuwangi, yakni Bupati Abdullah Azwar Anas, Dhani selalu berusaha menyokong tugas-tugas suami yang sangat dicintainya tersebut. Tidak mudah memang menjalankan peran sebagai istri seorang kepala daerah. Karena itu, Dhani mengaku banyak belajar dari perempuan-perempuan yang telah berhasil menjadi pendamping orang-orang penting. Salah satunya, Ainun Habibi. Me nu r u t Dha n i , A i nu n Habibi merupakan sosok

perempuan yang telah berhasil mendampingi sang suami. Ainun rela mengorbankan jabatan agar bisa total mendampingi presiden ketiga RI tersebut. “Saya banyak belajar dari perempuan-perempuan yang sudah berhasil, seperti Ibu Ainun Habibi,” ujarnya. Dhani mengaku, sebagai pendamping Bupati Anas, selain mendoakan sang suami agar selalu dilimpahi kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas, dia juga berusaha mengoptimalkan peran sebagai ibu rumah tangga. “Saya bertugas membantu kebutuhan logistik suami saya. Saya juga harus mengoptimalkan tugas mengurus anak,” cetusnya.

Dikatakan, sukses seorang istri menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga akan memberikan efek yang luar biasa besar terhadap kinerja suami. “Ketika istri mampu menjalankan tugas dengan baik, kinerja suami akan optimal,” terangnya. Tidak hanya itu, Dhani juga selalu berupaya agar sang suami tetap fokus pada pekerjaan selama berada di luar rumah. “Intinya, sebagai pendamping suami, saya selalu berupaya agar ketika suami berada di luar rumah, beliau (Bupati Anas) tidak terbebani dengan urusan domestik rumah tangga, sehingga bisa fokus mengemban tugas-tugasnya,” pungkasnya. (sgt/als)

BIDIK OBYEK: Di sela-sela kesibukannya sebagai ketua PKK, Ny Dhani Anas menyempatkan diri menyalurkan hobi fotografinya.

DOK.RaBa

BERBAGAI langkah nyata telah dilakukan TP-PKK Banyuwangi di bawah kepemimpinan perempuan yang karib disapa Bu Dhani tersebut. Mulai pemberantasan buta aksara, aktif berperan dalam sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), memprakarsai terbentuknya kelompok pendukung ASI (air susu ibu), hingga terlibat langsung dalam upaya pemberantasan kemiskinan di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. Bahkan, selain menggelorakan gerakan mendukung ASI, Dhani juga berencana memperbanyak ruang pojok ASI di semua satuan

kerja (satker). Ruang Pojok ASI merupakan sebuah ruang khusus bagi ibu yang ingin tetap menyusui bayinya meskipun memiliki kegiatan di luar rumah. Sehingga pemberian ASI eksklusif masih bisa diberikan walaupun sang ibu bertindak sebagai karyawati pemerintah atau swasta Walaupun sepintas terkesan sepele, langkah-langkah yang telah dilakukan TP-PKK Banyuwangi tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, diakui atau tidak, kemajuan suatu daerah maupun bangsa sangat bergantung dengan peningkatan kehidupan lingkungan keluarga

masyarakatnya. Namun, Dhani tak mau bersikap jemawa dengan apa yang telah dilakukan TP-PKK Banyuwangi. Kepada wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, perempuan yang juga istri Bupati Abdullah Azwar Anas, ini mengaku terus melakukan koordinasi ke dalam di tubuh TP-PKK Banyuwangi. “Karena tugas PKK cukup besar dan berat. Maka koordinasi ke dalam harus terus dan sering dilakukan. Tentu dalam menjalankan tugas tersebut, PKK juga harus berkolaborasi dengan pihak lain,” ujarnya n  Baca Membangun...Hal 63


56

Jawa Pos R A D A R

Senin 21 April 2014

B A N Y U W A N G I

Sulisetyowati, Loper Koran Jawa Pos Radar Banyuwangi

Bangun Tidur Tiap Pukul 03.30 Profesi utamanya sebagai ibu ramah tangga. Di tengah kesibukan mengurus tugas itu, perempuan yang akrab disapa Sulis itu nyambi bekerja loper koran Jawa Pos Radar Bayuwangi untuk membantu suaminya. Bagaimana suka dan duka Sulis sebagai loper koran dengan puluhan pelanggan? WALAU profesi yang dijalani Sulis tidak biasa dilakukan kaum perempuan, namun Sulis mengaku enjoy menjalani profesi itu. Awalnya, Sulis mengaku canggung menjalani profesinya, namun setelah sekian tahun dijalani akhirnya terbiasa. Awal menjadi loper koran, misi utamanya hanya sebatas membantu suami saja. Namun, setelah sekian tahun, tugasnya tidak hanya sebatas membantu melainkan mulai berbagi tugas dengan suaminya. Sulis bertugas mengedarkan koran di wilayah Kecamatan Banyuwangi saja, sedangkan suaminya mengantarkan koran di luar Kecamatan Banyuwangi hingga mengurus distribusi koran sampai Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana Bali. “Pertama kali jadi loper sekitar tahun 2007. Saya pakai Honda Tiger milik suami. Banyak orang memperhatikan saya. Tapi saya cuek,” tutur Sulis. Bahkan, beberapa pelanggannya sempat bertanya kenapa harus pakai sepeda laki-laki, dan tidak menggunakan sepeda cewek saja. “Saya jawab apa adanya. Waktu itu saya hanya punya sepeda motor satu, ya Tiger itu,” katanya.

Walau pekerjaan yang ditekuni Sulis tergolong berat, namun dia menjalaninya dengan hati senang. Senang menjalani profesi itu karena memiliki kepuasan tersendiri, dan dapat membantu beban pekerjaan suaminya. Untuk menjalani profesi itu, setiap hari harus bangun pada pukul 03.30. Sebelum mengantarkan koran ke pelanggan, Sulis terlebih dahulu menjalankan tugas utamanya sebagai ibu ramah tangga. Dia mempersiapkan sarapan pagi untuk suami dan anak-anaknya. Selain memasak, Sulis juga harus menjalankan tugas lainnya untuk kebutuhan kerja suaminya, dan kebutuhan anak-anaknya untuk sekolah. Setelah tugas utamanya rampung, sekitar pukul 04.30, Sulis mulai beraktivitas menjalankan tugas profesinya. Pertama kali yang dia lakukan adalah menunggu datangnya koran di pertigaan Jalan Jalan Surati, Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi. Setelah armada koran yang membawanya dari percetakan datang, Sulis kemudian memilah beberapa koran yang akan diantar kepada setiap pelanggannya. Ada sekitar 30 orang pelanggan yang setiap hari didatangi Sulis. Selain mengantarkan koran kepada 30 langganannya, Sulis juga harus mengantarkan ratusan eksplempar koran untuk beberapa loper yang menjual eceran di beberapa titik. “Jika tidak ada hambatan, pekerjaan selesai sekitar pukul 06.30,” ungkapnya. Sulis bertekad untuk mengantarkan koran kepada pelanggannya sepagi mungkin. Jika koran pagi sekali sudah di tangan pembaca, maka pelanggannya bisa mengikuti

perkembangan informasi dari koran. Jika koran datangnya siang, maka pelanggannya jelas akan memilih mendapatkan informasi dari media elektronik. Karena sajian beritanya lebih pagi dari koran. Selain itu, Sulis juga harus berbagi kendaraan dengan anak sulungnya. Kendaraan yang digunakan Sulis ngeloper juga digunakan anaknya untuk sekolah. “Sebelum jam 06.00 saya sudah harus di rumah. Karena jam 06.00 sepedanya dibawa anak ke sekolah,” paparnya. Senang menjalani profesinya tidak berarti Sulis tidak memiliki duka selama menekuni pekerjaannya. Pengalaman pahit yang pernah dia alami selama menjalani pekerjaan sebagai loper adalah uang setoran dikemplang oleh beberapa loper binaannya. Jika setoran dikemplang, maka dirinya harus kerja keras menutupi setoran itu. Dari beberapa loper pengecer, ada yang konsekuen membayar setoran dan ada pula yang sedikit nakal. Namun, Sulis menekankan loper binaannya agar konsisten membayar setoran. Hambatan lain yang sering dia temukan adalah, pengiriman koran sering telat saat hujan turun. Pada saat musim hujan, dia harus menerobos hujan lebat demi koran datang tepat waktu. Ada banyak cara yang dia lakukan agar koran yang dibawahnya tidak basah dan tetap utuh tidak kena percikan air hujan saat sampai tangan pembaca. Ketepatan waktu koran sampai ke tangan pembaca merupakan komitmen Sulis. Apa pun hambatannya, selagi koran sudah datang harus sampai di tangan pembaca sebelum jam 06.00. Yang repot, kalau koran dari percetakan B A N Y U W A N G I

datangnya telat. Kalau koran datang siang, Sulis mengaku tidak bisa berbuat banyak dan harus siap-siap menerima cemoohan dari pelanggannya. Selain mendapat cemoohan pelanggan, koran telat datang juga bakal tidak laku. Menurutnya, menjual koran agak siang susah lakunya. Lebih enak menjual koran dipagi hari, dari pada jualan koran di siang hari. “Kalau hanya cemoohan dan omelan pelanggan sudah biasa, resiko profesi. Yang penting kita bertekad untuk terus memperbaiki dan tidak mengulangi kesalahan,” katanya. Setelah sekian menjalani profesi sebagai penjual koran di wilayah Kecamatan Banyuwangi, namun Sulis seringkali merambah ke kecamatan lain. Ini dilakukan karena dia menggantikan tugas suaminya jika berhalangan hadir. Maklum, suaminya, Yusuf, sering keluar kota saat melaksanakan tugas pekerjaan sebagai pelatih bola voli. Kalau hanya suami yang keluar kota, Sulis menjamin pekerjaan sebagai agen dan loper tidak akan terbengkalai. Sebaliknya, kalau dirinya keluar kota, bisa dipastikan suaminya lah akan keteteran mengerjakan tugas-tugasnya. “Saya jarang sekali keluar kota. Kalau ada kepentingan keluarga, lebih banyak suami yang keluar kota. Saya sudah biasa melaksanakan tugastugas suami,” akunya. (afi/als)

C E R D A S

UPTD Glenmore

Terus Monitor Pemberantasan Tributa

BERANTAS BUTA AKSARA: Peserta pembelajaran foto bersama usai proses pembelajaran. Ikut mendampingi Ka. UPTD dan Camat Glenmore.

GLENMORE - Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Glenmore, Drs. H.M. Edy Purwanto, M.M melakukan monitoring di SDN 3 Margomulyo, Dusun Ramiyah Barat, Desa Margomulyo, Kecamatan Glenmore. Ikut dalam rombongan UPTD, Wakil Ketua Dharma Wanita Glenmore Hj. Atik Purwati, M.Pd, Camat Glenmore Drs. Daniswora , M.Si, dan Bendahara Panitia Sedekah Ilmu Kusnadi S.Pd. Rombongan tim monitoring ini diterima oleh penilik PLS Hariyadi S.Pd, Pengurus K3S Drs. Tukiran Iboni M.Pd, Panitia Gugus Drs. M. Khozein Jauhari, Ka. SDN I Margomulyo Gigih Iryan S.S.Pd, Ka. SDN 2

Margomulyo Achmat Ali, S.Pd, dan Ka. SDN 3 Margomulyo. Dalam kesempatan tersebut Kepala UPTD Edy Purwanto dan Camat Danisworo melakukan dialog bersama warga belajar yang berjumlah 23 orang. Edy Purwanto meminta pada warga belajar untuk terus belajar walaupun sudah tua. “Ilmu itu penting. Agar tidak mudah dibohongi orang. Maka bapak dan ibu harus jadi orang yang pinter membaca,” kata Edy. Camat Danisworo juga memberi motivasi kepada warga belajar. “Bapak ibu coba tulis namanya sendiri-sendiri di buku,” pintanya kepada warga belajar. “Wah, ternyata bapak

dan ibu sudah pinter nulis. Selamat, ya. Mudah-mudah sukses,” imbuh Danisworo. Mendapat kunjungan tersebut, warga peserta belajar terlihat cukup senang. Pada saat monitoring pembelajaran, yang menjadi tutornya adalah Nanik Zulaikah, S.Pd, Suhartinah, S.Pd, Purwanto, S,Pd, Sudarmin, S.Pd, Umi Sundari, S.Pd, Susisti, S.Pd,,Suhastutik, S.Pd, dan Yunaningsih, S.Pd.I. Para tutor ini adalah guru SD yang secara ikhlas membimbing warga belajar tanpa imbalan uang. Pertemuan dilaksanakan tiap satu minggu 3 X pertemuan. Setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat mulai jam 15.00-17.00. (*/als)

BANYUWANGI

SITUBONDO

BANYUWANGI

• Admin Lapangan •

• Rumah Walet •

• Ketapang •

• Katana-Jimni-Panther •

Dbthkn Admin Lapangan Wanita usia 21-29 max single jjr mmpu bkrj dbwh tekanan, tegas, pny kndraan sendiri pend Min SMA diutamkn yg brpglmn. Lmrn krim ke Kantor Pemasaran Perum Sobo Water Spring Blok A1, Jl Ikan Wijinongko (per 3-an sblh barat SDN Model Bwi)

Jual Rmh Wallet Full Cor Tkt 2 Dkt Pantai Asb. Lua 200 Hub. 082336093287

Djl Tnh 2 Lksi 320 m SHM Blkg Ktr Pos Ktpng & 245 m Dpn Lanal H: 081336528447

Djl Katana Biru th ’93, Jimni 4x4 Pth th ’85, Panther Royal Biru th ’99 H: 08123461158

• Tanah Kapling • Jual Tanah Kapling, uk. 10x40m2 (2 kapling), SHM, Hrg 85 jt, H: 083847407631

SITUBONDO • Jl. Ry Kendit • Djl Ruko ± 151 L. 777m2 an Kusumawati Jl. Ry. Kendit RW 01/01 H: 081249107195

BANYUWANGI • STNK • Hlg STNK P 4093 WF an Drs. H. Moch. Saleh, Krajan 02/II, Kampungmandar

PEMBERITAHUAN Sehubungan dengan makin maraknya aksi penipuan yang meman faat kan iklan jitu di Koran Radar Banyuwangi kami himbau kepada masyarakat terutama pemasang iklan jitu di Radar Banyuwangi untuk was pada dan ber hati-hati. Bila Anda menerima telepon, SMS dengan mengatasnamakan petugas dari Radar Banyuwangi maka segera konfirmasi ke Radar Banyuwangi (0333) 412224. Ra dar Banyuwangi tidak ber tanggungjawab atas semua transaksi yang ter jadi selain pema sa ngan iklan secara resmi di Radar Banyuwangi.

SITUBONDO • Tanah Kapling • Djl Tanah 2 Kapling L 459m2 Alamat Jl. Anggrek Harga 170 Jt Hp. 08563639318

ISTIMEWA

BANYUWANGI

BANYUWANGI

BANYUWANGI

BANYUWANGI

• Nissan Grand Livina •

• Terios ‘09 •

• Panther •

Saatnya Punya Nissan G. Livina DP Ringan & Harga Spesial Big Sale !!! Hub: Andi 081359944425

Dijual Terios Tx Elegant 2009 Silver, Rp. 150 juta nego, Cash & Credit Tukar Tambah Hb. 08214219411

Dijual Phanter Lv 08/03 Silver Rp. 152 Juta Nego Cash & Credit Tukar Tambah Hb. 082142194111

• Promo Nissan • Brhdiah llgs Iphone 5S, Ipad Mini, Camera Canon, Vouch blj 500rb u/ pmblian Nissan dibln April. Showroom buka tiap hari 08.3019.00. Bengkel bka 08.30-19.30 (SninJum’at), 08.30-15.00 (Sbtu). 0333 4460222

• Yaris E 12 • Dijual New Yaris E 12 Matic, Hubungi: 081357396860


Jawa Pos

Senin 21 April 2014

RADAR SITUBONDO R A D A R

B A N Y U W A N G I

61

Pergoki Suami Selingkuh, Istri Dianiaya SITUBONDO - Nasib sial dialami Listiyani, 42, warga Dusun Pathek Barat, Desa Duwet, Kecamatan Panarukan. Bagaimana tidak, saat memergoki suaminya bersama perempuan selingkuhannya, perempuan dua anak ini justru jadi korban penganiayaan yang dilakukan AH, suaminya. Akibat dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu, Listiyani mengalami luka lebam pada pipi kiri. Konon, dirinya ditempeleng oleh pria 42 tahun itu. Selain membuat pipinya memerah, pendengaran sang istri juga terganggu. Data yang berhasil dikumpulkan, dugaan kasus KDRT yang dilakukan nelayan terhadap istrinya, berawal saat korban mendapat kabar yang menyebut bahwa suaminya berselingkuh dengan seorang janda di kampungnya. Mendapat informasi yang tidak enak didengar tersebut, korban langsung bergegas menuju rumah janda yang dimaksud. Begitu sampai, Listiyani terkejut bukan kepalang. Dirinya memergoki sang suami tengah berduaan dengan janda berinisial N, di Dusun Duwet Selatan, Desa Duwet. Ironisnya, AH yang tidak pulang-pulang sejak sepekan lalu itu langsung menampar perempuan yang dinikahinya pada Juli 1992 silam. “Saya

NUR HARIRI/RaBa

SIAP DISEBAR: Tanda pengenal sebagai peserta rekap hasil pemilu disiapkan petugas KPU kemarin (20/4).

KPU Rekap Hasil Pemilu Pagi Ini SITUBONDO – Rekapitulasi hasil perolehan suara partai politik, calon anggota DPR, DPD, dan DPRD tingkat I dan II, digelar pagi ini. “Rekapitulasi hasil pemilu akan dimulai jam 09.00 pagi besok (hari ini). Rapat tersebut digelar paling cepat dua hari. Dan biasanya tiga hari baru selesai,” kata Baino Ali Imron, Ketua KPUD Situbondo kemarin (20/4). Baino menjelaskan, rekapitulasi hasil suara pemilu di tingkat kabupaten digelar secara terbuka. Meski begitu, orang-orang yang bisa memasuki arena perhitungan sangat terbatas. Sehingga ada ketentuan pembatasan, terkait siapa saja yang diperbolehkan masuk ke Aula Januanuraga.

“Tidak semua orang bisa masuk. Tujuannya menjaga keamanan dan kelancaran rekapitulasi agar tidak molor. Jadi ada perwakilan, dari partai tiga orang ditambah oleh satu orang saksi, dari DPD hanya satu saksi. Dan, untuk yang lain ada panitia dan pengawas, undangan, serta petugas keamanan,” terang Baino. Data yang berhasil dikumpulkan, hingga sore kemarin (20/4), petugas terus melakukan sejumlah persiapan agar pelaksanaan rekapitulasi hasil pemilu hari ini digelar dengan aman dan nyaman. Beberapa petugas terlihat menata alat-alat di dalam aula serta mendirikan tenda di luar gedung bagi orang-orang partai yang hadir dan tidak

bisa masuk ke dalam aula. Selain itu, sejumlah persiapan rekapitulasi juga dilakukan di kantor KPUD Situbondo. Beberapa komputer atau laptop disiapkan, layar lebar plus LCD, serta tanda pengenal yang wajib digunakan oleh mereka yang bakal masuk juga siap disebar. KPU optimistis, rekapitulasi hasil pemilu akan berlangsung dengan lancar. Itu karena sejak perhitungan suara hingga rekapitulasi di tingkat PPK. Tidak ada kejadian yang sangat menonjol. “Kami berharap rekap hasil pemilu tetap berjalan aman. Semoga tidak ada kejadian yang menonjol. Karena dari pemungutan suara sampai pada tahap ini landailandai saja,” pungkasnya. (rri/als)

SUMBERMALANG – Kabar adanya dugaan yang mengarah pada pergeseran suara di Kecamatan Sumbermalang membuat beberapa komisioner KPUD, Panwaslu, serta aparat kepolisian Polres Situbondo menjaga ketat PPK kecamatan setempat. Sekitar pukul 23.00 Sabtu malam (19/4), terlihat sedikitnya tiga mobil yang keluar dari kantor KPUD Situbondo. Hampir tengah malam itu, ketiga mobil yang mengangkut beberapa komisioner KPU, Panwaslu, serta aparat kepolisian, bergenas menuju PPK Sumbermalang. Namun, hingga menjelang waktu subuh kemarin (20/4), mereka yang berada di PPK Sumbermalang tidak

menemukan adanya gerakan yang mencurigakan. “Ada kabar akan ada gerakan. Jadi kami ke sana mengecek situasi dan melakukan beberapa pembahasan seputar pemilu. Ternyata, sampai dini hari tadi tidak ada apaapa,” kata Ketua KPUD Situbondo, Baino Ali Imron. Data yang berhasil dikumpulkan, kabar yang diduga akan mengarah pada pergeseran hasil suara pemilu itu muncul karena ada informasi yang menyebutkan adanya dua orang calon legislatif yang perolehannya bersaing sangat ketat. Konon, suara dua orang calon legislatif itu diduga hanya selisih lima suara. “Katanya begitu. Yang jelas, kami tidak bisa menentukan itu benar atau tidak. Karena perhitungan suara tingkat kabupaten baru dilaksanakan besok (hari ini). Jadi, kami ke sana hanya melakukan penjagaan mengantisipasi adanya kabar itu,” papar Baino.

Menurutnya, pihak petugas masih melakukan pemeriksaan terhadap korban serta beberapa saksi. “Untuk korban langsung dimintakan visum ke RSUD Situbondo. Selain itu, kami akan segera memanggil terlapor AH untuk diminta keterangannya sebagai saksi,” kata AKP Wahyudi. (rri/als)

Ngemplang Uang Nasabah, Karyawan Koperasi Dipolisikan

PPK Sumbermalang Dijaga Ketat Gara-gara Kabar Adanya Gerakan dari Caleg Kalah

mau mencari suami. Karena dia tidak pulang dan tidak memberi nafkah selama satu minggu. Tapi tidak tahu, jadinya begini,” kata korban kepada wartawan. Kasubag Humas Polres Situbondo, AKP Wahyudi, membenarkan laporan KDRT yang dialami ibu dua anak tersebut.

SITUBONDO - Gara-gara tidak menyetorkan uang nasabah ke koperasi, tiga karyawan koperasi harus berurusan dengan polisi. Mereka diduga mengemplang uang koperasi hingga Rp 50 juta. Ketiga karyawan itu masing-masing berinisial MS, SN, dan RD. Mereka bekerja di Koperasi APING yang berada Jalan Hasan Asegaf, Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Situbondo. MS dan kawan-kawannya (dkk) dilaporkan oleh Amirudin, 44, warga Desa Kertosari, Kecamatan Asembagus, Situbondo. Data yang berhasil dikumpulkan, ketiga karyawan koperasi Aping ini, bertugas menjadi tukang tagih kepada para nasabah. Berawal dari tugas penagihan kepada nasabah itu, MS dkk ternyata tidak menyetorkan uang setoran

Berawal dari dugaan adanya selisih lima suara itu, kondisi di lapangan menjadi bahan pembicaraan yang cukup santer. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan jelek terjadi. Pihak KPU, Panwaslu, serta beberapa aparat polisi menjaga PPK Kecamatan Sumbermalang. Baino menegaskan, seluruh hasil rekapitulasi dari masing-masing kecamatan sebenarnya sudah masuk ke KPU. Tetapi untuk tetap menjaga kerahasiaan negara serta mematuhi jadwal rekapitulasi tingkat kabupaten, maka pihaknya baru akan mengumumkan hasil pemilu di Situbondo secara resmi setelah rekap tingkat kabupaten selesai. “Pasti diumumkan, tapi nunggu selesai,” katanya. Pihaknya meminta kepada seluruh masyarakat agar tidak berbuat yang bukan-bukan. Agar tahapan pemilu yang sudah hampir rampung. Bisa selesai dengan damai. (rri/als)

nasabah ke Koperasi. Kasus penggelapan yang dilakukan ketiganya, diduga sudah berulang kali. Hingga kerugian koperasi mencapai Rp 50 juta lebih. “Uang setoran nasabah, tidak disetorkan ke koperasi,” kata AKP Wahyudi Kasubag Humas Polres Situbondo, Sabtu (19/4). Aksi jahat tiga orang karyawan itu, baru terendus oleh pihak koperasi pada awal bulan Februari 2014 lalu. Mereka mengetahui dari adanya nasabah yang komplain karena uang setoran mereka tidak dibayarkan ke koperasi. Sementara nasabah yang komplain itu masih terus ditagih. Mengetahui ada yang tidak beres, pihak koperasi sudah berulang kali meminta agar uang koperasi yang tidak di-

setor segera disetorkan ke koperasi. Tetapi usaha itu siasia dan ketiga karyawan tidak menggubrisnya. “Setelah tahu begitu, pihak koperasi sempat menagih, tapi sudah tidak ada hasilnya,” imbuh Wahyudi. Humas Polres Situbondo ini menegaskan, laporan dugaan penggelapan yang dilakukan tiga karyawan koperasi itu sudah ditangani penyidik Reserse dan Kriminal. “Terlapor pastinya akan dipanggil untuk diperiksa terkait laporan dugaan penggelapan uang koperasi ini,” katanya. Apabila ketiga karyawan itu tidak mengindahkan panggilan polisi. Maka pihaknya akan menjemput paksa ketiganya. “Kalau tidak kooperatif, ya dijemput paksa,” tegasnya. (rri/c1/bay)

BALJEBOL BALI

JEMBER

BONDOWOSO

LUMAJANG

Bersaudara Bacokan, Satu Tewas, Satu Kritis

Kalah, Caleg Tutup Jalan BONDOWOSO – Seribu lebih warga Desa Brambang, Tlogosari, Bondowoso, masih kesulitan untuk keluar dari desanya dengan menggunakan kendaraan bermotor. Hal itu menyusul ditutupnya satu-satunya jalan menuju desa tersebut oleh salah seorang caleg yang kalah dalam pemilu legislatif (pileg) lalu. Akibat penutupan jalan itu, warga setempat terisolasi karena tidak bisa keluar atau masuk ke desanya. Warga pun tak bisa berbuat banyak karena akses jalan desa yang ditutup tersebut merupakan tanah hak milik caleg yang kalah tersebut. Bukan hanya itu. Sejumlah warga mengaku resah karena persediaan kebutuhan pokok mulai menipis. Hal itu lantaran mereka tak dapat berbelanja ke kota karena akses jalan tertutup total. Untuk berbelanja kebutuhan pokok, warga desa hanya mengandalkan kendaraan yang harus melalui jalan itu. Kepala Desa Brambang Darussolah Ettin mengaku tak dapat berbuat banyak. Padahal, akibat penutupan jalan itu, saat ini warganya tak mendapat pasokan kebutuhan pokok dari luar. Pasalnya, tanah yang digunakan untuk jalan tersebut memang hak milik perorangan. Pihaknya masih terus berupaya melakukan pendekatan terhadap pemilik tanah. “Kami tetap akan melakukan upaya

EKO SETIA BUDI/RADAR JEMBER/JPNN

DAMPAK KALAH PEMILU: Satu-satunya jalan menuju dan keluar Desa Brambang,Tlogosari, saat ini tidak bisa dilalui karena ditutup sang pemilik tanah, yang juga seorang caleg.

pendekatan agar jalan itu bisa dibuka kembali. Karena itu memang satu-satunya akses kami masuk dan keluar desa,” ujarnya kepada sejumlah wartawan. Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi, jalan desa yang berlokasi di Desa Kembang, Tlogosari, masih tertutup total. Jalan makadam berukuran sekitar empat meter tersebut saat ini diberi palang bambu, kayu, serta pasir. Akibatnya, jalan tersebut sama sekali tak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun empat. Penutupan jalan dilakukan Mastur, 60, sang pemilik tanah, yang digunakan untuk

jalan. Mastur mengaku kecewa setelah anaknya, Yuyun Yulistiowati, yang maju sebagai caleg dari PPP tidak terpilih. Padahal, warga desa sudah berjanji akan memilih anaknya. Menurut dia, warga memang memiliki hak untuk memilih siapa pun dalam pileg yang sudah selesai pekan lalu itu. Namun, pihaknya juga memiliki hak penuh terhadap jalan yang berada di atas tanah miliknya. “Tentu warga memiliki hak menentukan pilihannya. Sama seperti saya yang juga punya hak untuk menutup jalan yang berada di tanah milik saya ini,” tegasnya. (esb/har/jpnn/als)

LUMAJANG - Perselisihan tetangga yang terjadi antara Didik dan Bukhari, warga Krai, Yosowilangun, rupanya semakin rumit. Puncaknya terjadi Kamis (17/4) malam. Kedua saudara ipar yang rumahnya berdampingan itu terlibat saling bacok. Akibatnya, Didik Tewas di tempat dan Bukhari luka kritis setelah berduel di halaman rumah mereka. Informasi yang berhasil dihimpun, Didik dan Bukhari adalah saudara ipar. Keduanya dalam sepekan terakhir kerap terlibat cek-cok mulut. Bukan hanya satu persoalan dalam kehidupan keluarga dan bertetangga, tetapi cek-cok mulut juga kerap terjadi pada persoalan kecil. Puncaknya terjadi malam kemarin. Marzuki, salah seorang tetangga mengaku bahwa awalnya memang cekcok. Tetapi pada akhirnya, keduanya ter-

libat saling menantang caruk. “Didik dan Bukhari langsung caruk malam-malam. Warga berdatangan setelah salahsatunya roboh,” katanya. Informasi dari pihak keluarga, keduanya saling membacok dengan sabit yang digunakan ke kebun. Penyebab kejadiannya adalah kesalahfahaman antara dua saudara ipar tersebut. Kesalahfahaman yang berlarut-larut dan membuat ketegangan terjadi. Menurut istri Bukhari, Fatmi, suaminya terlibat saling bacok dipicu kesalahfahaman antara suaminya dengan ayahnya. Cekcok kemudian didengar oleh Didik, adik ipar yang berada di dalam rumah. Didik kata dia, tidak terima ayah mertuanya berselisih dengan Bukhari. “Lalu Didik menantang caruk ketika Bukhari ada di halaman rumah,” jelasnya kepada sejumlah wartawan. Tanpa disangka, akhirnya

konflik keduanya pecah. Keduanya saling bacok dan kalap di malam tersebut. Didik yang mengalami luka bacok di bagian kepala dan punggung akhirnya tewas. Sementara Bukhari mengalami luka sabetan sabit di bagian punggung segera diamankan Polsek Yosowilangun. Guna proses penyelidikan lebih lanjut, mayat Didik segera dilarikan ke Rumah Sakit Haryono Lumajang untuk dilakukan otopsi. Sementara Bukhari harus menjalani proses penyidikan di Mapolres Lumajang sesaat setelah kejadian. Meninggalnya Didik disambut isak tangis keluarga. Seluruh anggota keluarga pelaku juga tak kuasa menahan tangis melihat akhir kejadian ini yang sangat fatal. Sementara pihak kepolisian sektor Yosowilangung langsung mensterilkan lokasi kejadian. (fid/sh/jpnn/als)


62

Jawa Pos R A D A R

Senin 21 April 2014

B A N Y U W A N G I

Hj Dayu Ummu Kholisyah, S.ST, PNS Pemkab Banyuwangi

Bu Bidan yang Lakoni Tiga Profesi Mutiara dari Sobo. Mungkin itulah julukan yang diberikan kepada sosok Hj Dayu Ummu Kholisyah, S.ST. Dia memiliki tiga profesi yang dijalankan sekaligus dalam kehidupan sehari-harinya. PERTAMA, dia merupakan pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Banyuwangi yang bertugas di Puskesmas Kertosari. Selain sebagai seorang tenaga kesehatan sebagai bidan di pusat kesehatan masyarakat tersebut, istri dari Haji Sulistyono ini juga merupakan seorang pengusaha properti (perumahan). Di rumah, dia berperan sebagai ibu rumah tangga dari suami dan tujuh orang anaknya. Komplit. Tentu saja hal ini membutuhkan waktu, tenaga, dan kerja keras. Ketiga profesi itulah yang menjadi rutinitas yang dilakoni Hj Dayu Ummu Kholisyah setiap harinya. Sebelum beraktivitas, dia menyempatkan diri untuk berbaur bersama seluruh anggota keluarga. Kelebihan nikmat dan rezeki yang diberikan Allah kepada keluarganya tidak membuat lantas lupa akan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Selepas salat Subuh, dia masih menyempatkan diri untuk menyajikan sarapan untuk anak dan suami tercinta. Ini menjadi semacam ritual wajib yang dijalani oleh bidan Puskesmas Kertosari ini. Kemampuannya memasak menjadi bumbu perekat komunikasi dan

) RELIGIUS: Dayu Ummu Kholisyah dan suaminya Sulistyono (tengah haji. bersama mantan Kepala BTN M Amin saat menjalankan ibadah

emosional antar sesama anggota keluarga. “Ini wajib hukumnya. Saya tidak mau pakai orang lain untuk membantu untuk urusan keluarga seperti memasak,” ujarnya. Selain pagi, momen berkumpul bersama keluarga tetap menjadi daftar dalam kebiasaan keluarga ini. Selepas menjalani aktivitas dan rutinitas sepanjang hari yang melelahkan. Waktu sore dan malam hari kembali menjadi saat berkumpul bersama dalam berbagai bentuk kegiatan seperti makan malam atau nonton televisi bersama. Selepas menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, Dayu Ummu Kholisyah pun memu-

lai rutinitas pekerjaannya sebagai abdi negara. Mulai pukul 07.15 hingga 14.00 menjadi waktu untuk mendedikasikan seluruh kemampuannya kepada tanggung jawab yang diembannya. Pengabdian di Banyuwangi yang dimulai sejak 1997 paska hijrah dari Situbondo sejak pengangkatan pertamanya sebagai PNS di tahun 1993. Tuntas melaksanakan kewajiban di tempat kerja yang kini dipimpin Drg Wahyu Primawati ini, Ummu Kholisyah masih punya pekerjaan lain. Kali ini lebih mengarah pada tugas membantu sang suami yang menekuni bisnis properti. Di sinilah, ibu tujuh anak ini pun memperlihatkan bakat

MESRA: Dayu Ummu Kholisyah dan suaminya Sulistyono. ISTIMEWA

mengurus sebuah badan usaha. Mengunjungi proyek perumahan milik sang suami, dia tidak sungkan turut campur dalam urusan teknis pembangunan. Meski tidak semua bagian ditanganinya, setidaknya keikutsertaannya turut membantu beban kerja sang suami. “Ya, ngecek karyawan sampai soal keuangan menjadi bagian tugas tambahan,” ujarnya. Membantu suami memang menjadi dedikasi seorang istri dalam kehidupan rumah tangga. Inilah yang membuat Hj Dayu Ummu Kholisyah cukup termotivasi untuk membantu pekerjaan sang suami. Ini pula yang kemudian

membuatnya cukup berempati terhadap beban dan kerja keras sang suami dalam menjalankan bisnis perumahannya. Tidak jarang, dia juga bisa merasakan kesulitan yang dihadapi suami di lapangan. Itu dirasakannya saat membantu pemasaran unit rumah yang ditawarkan oleh perusahaan suaminya. “Paling sulit itu ya pemasaran. Memasarkan perumahan itu ternyata sulit juga,” bebernya. Namun, di balik kesulitan tersebut, rupanya Hj Dayu Ummu Khosliyah menemukan hikmahnya. Lewat strategi yang dirancangnya, dia berhasil meminimalisasi kesulitan

yang dihadapi. Capaian prestasi pun ditorehnya dengan peningkatan penjualan unit perumahan. Bulan April 2013 lalu, menjadi momen terbaiknya dengan dilepasnya 70 rumah ke tangan konsumen. Spirit profesionallitas dan pengabdian ibarat cahaya dalam keluarga. Ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa di balik sukses suami, ada perempuan tangguh yang senantiasa mendukungnya dalam berbagai kondisi dan kesulitan yang dihadapi. Benar-benar bisa menjadi simbol aktualisasi nilai-nilai perjuangan Kartini di zaman modern seperti saat ini. (nic/als)

Zeiniye, Ketua DPRD Kabupaten Situbondo

Jawab Keraguan dengan Bukti Nyata Zeiniye mengukir sejarah dalam perjalanan tata pemerintahan Kabupaten Situbondo. Dia merupakan perempuan kali pertama yang duduk di kursi Ketua DPRD Situbondo ZEINIYE tidak pernah menyangka jika dirinya akan dipercaya oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menduduki kursi jabatan Ketua DPRD periode 2009 - 2014. PPP Situbondo yang berhasil memenangkan pemilu legislatif (Pileg) dengan mengusung sebelas kursi berhak menempati kursi Ketua DPRD. Kala itu, (Alm) Kiai Fawaid yang menjabat sebagai Ketua DPC PPP tiba-tiba memanggilnya dan bertanya, “Kamu, kalau sambutan pakai teks atau tidak?” Zeiniye yang memang terbiasa berbicara di depan orang banyak tanpa teks menyampaikan apa adanya. Dari sanalah Kiai Fawaid kemudian meminta Zeiniye untuk memberikan sambutan sebagai ketua DPRD sementara. Sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawabnya kepada partai, Zeiniye menyanggupi apa yang menjadi instruksi Kiai Fawaid. “Kemudian ya mengalir saja, keesokannya dan sebulan setelah itu saya memimpin DPRD, kemudian ditetapkan secara definitif menjadi Ketua DPRD,” lanjutnya. Diakui Zeiniye, keberadaan dirinya sempat diremehkan, khususnya oleh kalangan eksternal komunitasnya. Ini karena Zeiniye yang seorang perempuan dan usinya masih muda belia. “Apalagi ada komunitas-komunitas tokoh kultur yang beranggapan bahwa perempuan itu tak layak memimpin, bahwa perempuan itu berada di nomor dua setelah laki-laki. Tapi semua itu saya hadapi,” terangnya. Sebagai manusia biasa, masa-masa awal memimpin DPRD, hatinya bertanya-tanya apakah dirinya mampu memimpin lembaga legislatif. Namun, karena dirinya sudah terbiasa di dunia organisasi sejak bangku SMA hingga setelah berkeluarga pun, rasa optimisme Zeiniye muncul. “Jadi sudah sangat terbiasa menjadi pimpinan. Sebab, selama ini posisi saya kebetulan selalu jadi ketua saat berorganisasi. Cuma saat duduk di kursi ketua DPRD, arealnya yang mungkin bebeda. Jadi butuh penyesuaian saja mulai karakter hingga strategi membangun komunikasi dan kebersamaan,” tandasnya.

Satu hal lagi yang membuat Zainiye kian mantap duduk di kursi DPRD. Bagi dia, saat diberi kesempatan untuk menjadi ketua DPRD inilah kesempatan untuk membuktikan diri bahwa perempuan juga bisa memimpin. “Jadi yang terpenting dijalani saja dengan maksimal dan dibuktikan kepada masyarakat bahwa kita bisa,” tegasnya. Zeiniye berpendapat, budaya yang menganggap perempuan di bawah lakilaki dalam bidang apa saja, hanya mitos yang diwariskan oleh budaya. Bagi dia, masyarakat Situbondo sudah bukan kapasyarakat yang menganut sitas lapisan masyarakat budaya tersebut.. hnya ketika dirinya menDia mencontohnya D, hanya pada masa-masa jadi ketua DPRD, tanyakan oleh sejumlah awal saja dipertanyakan pihak. Itu pun tidak sampai reaktif berakannya. “Paling hanya lebihan penolakannya. mampuan, mampukah? meragukan kemampuan, ya di tengah budayaa pa p Bisakah? Artinya pa-gitu tak perlu didebat. didee baat. t triarki yang begitu haa si s lk lkan an n pro r ro Sebab, hanya akan mengha menghasilkan an perpecah ah han an,, ti ttidak ida dakk ad da adaa kontra, konflik dan perpecahan, dibu bu bukt ukt k ikkan b ahwa ah hasilnya. Tapi, perlu di dibuktikan bahwa mamp mp pu,,” te tega gaasn nyaa. perempuan itu mampu,” tegasnya. dakk m enafi en afi fikkkan an n peranan per eran a an an Zeiniye juga tidak menafi bab, ba b,, llaki-laki akkii laaki yyang ang tte an ela lah lah sang suami. Sebab, telah atu t aanak naak itulah ittulah ullah u ah yang yan a ng memberikannyaa sa satu ikaan dukungan du uku ung ngan ngan an p enuh en h selalu memberikan penuh Sej ejak ak awal awa wal apapun wal apap ap ap pun n kepada dirinya. “S “Sejak iill ih h an saya s ayy a su u am ami mi yang menjadi p pilihan suami ngg. So oall kemudian kem mud dia i n saya mendukung. Soal kee nd d ala all a di di ada kendala-kendala ipeipeip lapangan ya itu d dipema,” ma , cahkan bersama,” terangnya. Saat menjatuh-kan pilihan kepada dunia politik, kata Zeiniye, suami dan keluarga besarnya tidak keberatan. Mereka semua mendukung. Demikian juga saat terpilih sebagai ketua DPRD. “Hanya saja memang ada warningwarning dari suami. Salah satu contohnya ke-

beradaan sekpri. Sekpri di DPRD kan lakilaki. Suami minta agar sekpri perempuan, agar bisa mendampingi kemana saja dan kapanpun,” ungkapnya. Warning kedua dari sang suami, dia diminta bekerja apa yang memang menjadi tugas utamanya harus dilakukan. Jika misalnya ada hal-hal yang sangat berisiko, maka Zeiniye diminta tidak pernah melakukannya. “Kalau bahasa suami, hal-hal yang sengat beresiko itu harus minta petunjuk kepada internal partai, juga melakukan komunikasi kepada (Alm) Kiai Fawaid baik sebagai sebaga ai or o angg an sebagai orang yang m embe beera bera rang nggmemberangkatkan, ketua k tu ke ua D DP C maupun maa up m p un un DPC seba se baga ba gaa i gu gguru u uru ru sebagai dan da n pengasuh peng pe ngaassuh ng p eesa sant sa ntt rree n, n ,”” pesantren,” rincinya. ((pri/als) (p ri/a ri /a alss)


Jawa Pos

Senin 21 April 2014

BERITA UTAMA R A D A R

63

B A N Y U W A N G I

Rekapitulasi tak Kunjung Selesai n DIWARNAI...

komisioner KPU Banyuwangi, Suherman. Namun sayang, hasil rekapitulasi suara parpol dan caleg DPRD tingkat kabupaten yang notabene paling ditunggutunggu masyarakat Bumi Blambangan masih belum bisa diketahui. Sebab, rekapitulasi penghitungan perolehan suara parpol dan caleg DPRD tingkat kabupaten, itu baru akan dilakukan setelah proses rekapitulasi suara partai dan

Sambungan dari Hal 53

Ternyata hanya terjadi kesalahan tulis pada jumlah suara sah. Pada form plano rekap suara ternyata sudah diperbaiki dan dibubuhi paraf pihak PPS. Kecuali saksi dari Partai Gerindra, saksi parpol lain sepakat dengan hasil penghitungan tersebut. Sedangkan saksi Gerindra mengisi form keberatan. Penghitunagn suara pun dianggap sesuai. Sementara itu, KPU Banyuwangi beserta jajaran, Panwaslu dan Panwascam masih sibuk “memelototi” hasil perolehan suara masing-masing parpol dan calon anggota legislatif (caleg). Perolehan suara parpol, caleg, maupun calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pun

GALIH COKRO/RaBa

SAMPAI MALAM: Anggota KPU mencatat hasil rekap di gedung Wanita Paramita Kencana, tadi malam.

dilaksanakan hingga tuntas. “Kami tidak bisa memprediksi sampai pukul berapa rekapitulasi perolehan suara tuntas.

Yang pasti, berdasar kesepakatan dengan saksi, proses rekapitulasi kali ini akan dilakukan hingga rampung,” ujar

Tingkat Kebersihan Cerminkan Keimanan Seseorang n HAYATI PUBLIK... Sambungan dari Hal 53

Soal kebersihan itu domain Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). Yang menyangkut kehijauan dan keindahan itu bagian Badan Lingkungan Hidup (BLH). Untuk membuat kota ini bersih, DKP cukup membuat jadwal penyapuan yang ketat sepanjang jalan protokol dan sejumlah titik. Utuk mempercantik dan merindangkan kota, DKP dan BLH juga tinggal tanam tanaman hias dan pohon naungan. Itu sudah cukup. Tidak perlu melibatkan masyarakat. Tapi masak kita hanya puas sampai di situ. Masak iya kita membuat kota ini bersih hanya untuk mengejar piala dan selembar kertas sertifikat. Tentu saja tidak. Kita harus bertekad bisa naik kelas. Menapak ke derajat yang lebih tinggi. kita harus hijrah. Kalau selama ini ada stigma kebersihan kota itu tanggung jawab pemerintah, maka mulai sekarang anggapan seperti itu harus diubah. Kebersihan kota menjdai milik kita semua. Kebersihan menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah bersama masyarakat harus membuat

lingkungan sekitar jadi bersih indah. Tidak hanya bersih dan indah kotanya. Tapi, juga bersih dan indah lingkungan sekitar tempat tinggal. Mulai rumah hingga gang/jalan masuk. Kantor dan sekolah juga. Pokoknya, mulai sekarang kampanye kebersihan harus menjadi gerakan masal. Menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan ternyata tidak mudah. Padahal, kita sangat akrab dengan jargon-jargon tentang kebersihan. Maklum, sejak sekolah dasar kita memang sudah dikenalkan dengannya. Siapa yang tidak kenal dengan jargon kebersihan itu pangkal dari kesehatan. Bahkan, bagi umat Islam lebih ekstrim lagi: kebersihan itu sebagian dari iman. Annadhafatu minal-iman. Artinya, tingkat kebersihan itu mencerminkan keimanan seseorang. sayangnya, kita ini baru jago menghafal jargon. Tapi, belum berada pada derajat pengamal. Akhirnya, slogan dan jargon hanya indah di tulisan. Belum indah di perbuatan. Sebenarnya tidak sulit mewujudkan jargon soal kebersihan indah dalam tulisan/pernyataan sekaligus dalam perbuatan. Sangat mudah. Cukup mengu-

bah mindset. Selama ini sebagian besar dari kita menganggap bahwa layanan publik itu ya untuk semua orang. Karena disediakan untuk semua orang, maka tanggung jawab public serivice itu diserahkan kepada pemerintah. Pemerintah dianggap tidak becus ketika fasilitas public service yang ada di wilayahnya tidak baik. Misal jalanan kotanya kotor, alunalun kotanya jorok, masyarakat dibiarkan membuang sampah sembarangan, dlsb. Anggapan seperti itu tidak salah. Pajak yang dibayarkan oleh rakyat, antara lain memang untuk mengongkosi kebersihan kota dan lingkungan. Tapi, tetap saja, tidak ada gunanya petugas DKP setiap pagi dan sore membersihkan kota kalau kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan masih minim. Buang sampah seenaknya dari dalam mobil yang sedang melintas, buang bungkus barang dan atau makanan di sembarang tempat. Kebiasaan buruk itu terjadi karena masyarakat belum memikili kesadaran bahwa sejatinya public service itu juga privat service. Kalau masyarakat menganggap faslitas umum seperti fasilitas pribadinya, maka ia akan berpikir ulang seribu

kali ketika hendak membuang bungkus permen di sembarang tempat. Sebaliknya, ia akan memasukkan plastik bungkus permen itu dalam saku celana atau bajunya sampai menemukan tempat sampah. Bungkus permen dan puntung rokok memang sesuatu yang remeh temeh. Tapi, kalau dari kecil dan sepele itu ternyata bisa mengubah mindset, kenapa tidak kita mulai sejak sekarang. Yuk kita mulai hari ini. Kalau kebetulan Anda kesulitan menemukan tempat sampah untuk membuang bungkus permen yang Anda nikmati, coba masukkan ke saku. Kalau itu merupakan pengalaman pertama, bisa jadi Anda akan tersiksa. Tapi, untuk menghilangkan siksa itu tips ini bisa dicoba: kalau bungkus permen itu saya buang di fasilitas umum ini berarti sama saja dengan saya menaruh bungkus permen itu di wajah saya! Kalau tips sederhana itu dilakukan secara masal dan masif, sangat mungkin dalam waktu singkat tidak akan ada lagi sampah di sekitar rumah, gang, dan jalan-jalan di kota tercinta ini walaupun hanya berupa plastik kecil bungkus permen. He he... (kaosing93@ gmail.com)

Satu Dermaga Sedang Diperbaiki n ARUS BALIK... Sambungan dari Hal 53

Selain diakibatkan peningkatan pengguna jasa penyeberangan Selat Bali pada libur Wafat Isa Almasih yang dirangkai akhir pekan tersebut, penumpukan kendaraan di kawasan pelabuhan kebanggaan masyarakat Bumi Blambangan, itu diindikasi merupakan efek beruntun pembangunan dermaga landing craft machine (LCM) di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kala itu, kepadatan penumpang di Pelabuhan ASDP Indonesia Ferry (IF) Ketapang terjadi sejak dini hari. Namun menjelang pukul 07.00, antrean ken-

daraan yang sempat menumpuk di halaman parkir pelabuhan tersebut berhasil diurai. Manager Operasional PT. ASDP IF Cabang Ketapang, Saharuddin Koto mengatakan, meski sempat mengalami kepadatan, peningkatan jumlah penumpang kapal Ferry di Pelabuhan Ketapang diprediksi hanya sekitar lima persen dibanding hari normal. “Memang pelabuhan cukup padat sejak dini hari tadi (kemarin). Kepadatan itu terutama disebabkan peningkatan kendaraan jenis bus dan kendaraan keluarga (KK). Tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penumpang pada hari-hari

normal, peningkatan pada long weekend kali ini hanya sekitar lima persen,” ujarnya kala itu. Sementara itu, saat kepadatan kendaraan di kawasan pelabuhan MB dan ponton berhasil diurai, giliran kendaraan yang menuju pelabuhan LCM mengalami antrean panjang sekitar pukul 09.00 Jumat. “Saya sudah antre sekitar satu jam, tetapi belum berhasil masuk ke area pelabuhan,” ujar Sumarjo, sopir truk asal Surabaya. Menurut Sumarjo, kepadatan kendaraan menuju Pelabuhan LCM Ketapang, itu diakibatkan antrean kapal yang hendak sandar di dermaga Pelabuhan Gilimanuk. Pasalnya, saat ini

tengah dilakukan perbaikan satu dermaga di Pelabuhan LCM Gilimanuk tersebut. “Jadi kapal yang hendak sandar harus antre. Mungkin itu yang menyebabkan penumpukan kendaraan di Pelabuhan Ketapang ini,” duganya. Dikonfirmasi terpisah, General Manager (GM) PT. ASDP IF Ketapang, Waspada Heruwanto menjelaskan, yang terjadi di pelabuhan LCM Gilimanuk bukanlah perbaikan dermaga melainkan pembangunan satu dermaga baru. “Selama ini dermaga di Pelabuhan LCM Gilimanuk memang dua unit. Saat ini dibangun satu dermaga baru,” jelasnya. (sgt/aif)

pan alokasi kursi DPRD dan caleg terpilih itu dijadwalkan berlangsung pada 11 Mei hingga 13 Mei mendatang. “Saat ini kami hanya melakukan rekapitulasi. Kami juga belum menentukan bilangan pembagi pemilihan (BPP). Tetapi jika caleg, parpol, maupun masyarakat melakukan hitung-hitungan sendiri, itu hak mereka. Kami tidak akan membatasi,” pungkas Suherman. (sgt/aif)

Cukup Diberi Pembinaan n AMANKAN... Sambungan dari Hal 53

tak lama lagi akan diketahui. Pasalnya, berdasar kesepakatan dengan seluruh saksi, proses penghitungan suara akan

caleg DPRD tingkat provinsi tuntas. “Mekanisme rekapitulasi penghitutang perolehan suara yang kami lakukan sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu legislatif,” terang Suherman. Suherman menambahkan, pasca rekapitulasi suara di tingkat kabupaten, KPU Banyuwangi akan menetapkan alokasi kursi DPRD Banyuwangi dan calon terpilih. Peneta-

Begitu ketahuan, kesembilan remaja tersebut langsung diamankan ke kantor Kecamatan Genteng. Mereka diberi pembinaan dan diminta membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi per-

buatannya lagi. Sementara itu, selain berhasil mengamankan sembilan remaja yang menggelar pesta miras, pada pukul 00.30, petugas Satpol PP Genteng kembali mengamankan empat remaja dan seorang pemudi yang juga menggelar pesta miras di sebuah rumah kosong di Jalan

Jenisari. Kelima remaja tersebut adalah Sef, 15, Shodik, 27, Khurul Anwari, 20, Randy, 20, dan Dwi Hermanto, 20. “Mereka juga kita bawa ke kantor kecamatan dan kita beri pembinaan,” kata Koordinator Lapangan Satpol PP Genteng, Rusmiadi. (azi/aif)

Awal Berdiri Hanya Sembilan Anak n PENDIDIKAN... Sambungan dari Hal 53

Rupanya, niat mulia itu tidak hanya didukung oleh sang suami, Multazim. Namun dukungan serupa berasal dari RT/RW dan tetangga sekitar yang akhirnya menambah semangat untuk merealisasikan PAUD Cerdas. Tanggal 9 April tahun 2008 adalah titik kebangkitan niat dari seorang Fatmawati. Mengambil momen Hari Kartini itu, PAUD Cerdas berdiri dengan jumlah peserta didik sembilan anak dengan tiga guru pendamping. Mereka menempati satu ruang yang disediakan oleh les-lesan Cerdas. Ruangan semi permanen beratapkan asbes, dan lantai terbuat dari semen, menjadi saksi bisu perjuangan Fatmawati. Sebagai bentuk perjuangan yang ikhlas itu, biaya anak pendidikan siswa pun tidak dia target. Kartini masa kini. Tampaknya, layak disematkan kepada Fatmawati. Perjuangannya untuk memberikan

pendidikan tanpa mengenal ras, suku, agama, maupun kondisi sekat lainnya kepada anak usia dini. Hal ini ditunjukkan dengan pelayanannya di PAUD Cerdas-nya dengan lebih memilih program pendidikan inklusif. Program ini adalah program pemerintah yang bertujuan untuk memberikan pelayanan pendidikan secara komprehensif sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Program inkusif yang ada di PAUD Cerdas ini terdiri dari kelas umum (Inklusif), kelas khusus (terapi kelompok). Jenis kelas khusus inilah yang membedakan PAUD Cerdas dengan PAUD lain yang ada di Banyuwangi. Dimana, kelas khusus ini berisi anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik. Yang termasuk ke dalam anak berkebutuhan khusus (ABK), antara lain tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa,

tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, dan anak dengan gangguan kesehatan. Melalui sentuhan kasih sayang yang diberikan oleh guru pengajarnya, anak ABK ini tumbuh dengan baik. Sosialiasi dengan anak kelas umum pun berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Bahkan di antara para siswa ABK ini pun memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki siswa seusia pada umumnya. “Terapi untuk ABK ini adalah rasa sosial. Di mana mereka harus berkumpul dengan para siswa lainnya. Target kami adalah ABK ini lebih mandiri, lepas dari ketergantungan dari orang lain. Saya sering merindukan jika PAUD yang ada di Banyuwangi ini juga menerima ABK ini. Mereka tidak boleh dipisahkan dengan kondisi. Sebab, ini adalah amanah pendidikan, di mana semua orang berhak mendapat pendidikan yang layak dan setara,” pungkas dosen IKIP PGRI Jember itu. (*/als)

Siap Menjadi TK Percontohan n HARUS... Sambungan dari Hal 53

Sebab, usia dini memiliki masa keemasan yang harus dididik dengan kemandirian dan kreativitas. Agar kelak saat dewasa bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Menurut pandangan Yuliati, hakikat perjuangan Kartini adalah tidak hanya menggugurkan peran utama dalam sebuah keluarga. Namun lebih dari itu, sukses di semua bidang adalah perjuangan Kartini saat ini. “Menurut saya, perjuangan Kartini modern adalah harus bisa menguasai semua bidang. Jika Kartini zaman dahulu memperjuangkan kesetaraan gender, Kartini sekarang harus bisa menguasai

semua bidang,” kata Yuliati. Yuliati menegaskan, untuk menggapai cita-cita itu, dia bersama teman-temannya berjuang melalui dunia pendidikan usia dini/TK. Mengapa lebih memilih usia dini? Sebab, usia dini merupakan pondansi dasar sebuah manusia. Jika dalam usia dini sang anak dididik dengan penanaman karakter, maka ke depan perilakunya akan sangat baik. Namun sebaliknya, jika si anak dalam masa usia dini tidak ditanamkan karakter, maka kecenderungan si anak tidak berkembang. “Inilah yang kami perjuangkan untuk Bangsa Indonesia ini, yaitu mencetak dan memperkokoh karakter anak,” cetusnya. Selama 14 tahun melayani pendidikan, TK Rahmatullah

bisa dikatakan sukses dalam mengemban misinya. Kini, dengan perjuangannya, TK Rahmatullah bersiap menjadi TK percontohan di Kabupaten Banyuwangi. Di usia itu, TK Rahmatullah pun telah mencetak prestasi. Raihan prestasi siswa-siswi Rahmatullah sangat membanggakan. Selain sering berlangganan juara drumband, prestasi ekstrakurikuler lainnya pun seabrek. “Alhamdulillah para siswasiswi di sini sangat kreatif. Dan, saya mewakili lembaga sekolah Rahmatullah mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu perjuangan Rahmatullah untuk mendidik anak menjadi generasi cerdas berakhlak mulia,” tukasnya. (*/als)

Berjanji Mobilisasi Lebih Banyak Seniman Gencar Kampanye Hidup Sehat n SENIMAN... Sambungan dari Hal 53

Berdasar bahan, ada yang menggunakan cat minyak, dan ada pula yang menggunakan cat akrilik. Harga lukisan yang ditawarkan pun sangat terjangkau, yakni mulai Rp 20 ribu per lukisan. Selamet Momo Hariyanto, koordinator pameran jalanan DKB mengaku, di bawah kepemimpinan Samsudin Adlawi, DKB semakin kreatif. “Sebab, dia mampu mendorong seniman-seniman untuk berkreasi,” ujarnya. Seniman yang karib disapa Momo ini mengatakan, banyak seniman lukis Banyuwangi yang sangat berbakat. Tetapi, mereka tidak bisa mencari makan di tanahnya sendiri. Mereka harus pergi ke Ubud, Bali, agar bisa hidup dari melukis. Momo menceritakan, dirinya pergi ke Ubud dan bertanya kepada pengusaha art shop di sana tentang siapakah penyuplai lukisan terbanyak dan siapakah pesaing terberat mereka. “Kelompok Banyuwangi dan kelompok Banyuwangi,” kata Momo menirukan jawaban orang tersebut. Kepada Momo, pengusaha art shop itu menjelaskan, se-

niman Banyuwangi-lah penyuplai lukisan terbanyak di Ubud. Tidak hanya itu, pesaing terberat seniman Banyuwangi yang eksis di Bali, itu adalah seniman Banyuwangi yang lain. Momo menegaskan, pendapat pengusaha itu bisa saja benar bisa saja salah. Yang jelas, itu menjadi satu pelecut semangat bahwa seniman Banyuwangi mampu mendirikan kota seni serupa Ubud di tanahnya sendiri. “Itulah semangat kami meng-Ubudkan Pantai Boom ini,” kata seniman lukis yang lama tinggal di Madinah tersebut. Lantas kenapa Pantai Boom yang dipilih menjadi lokasi pameran lukisan bertajuk “Ngelir Boom” (mewarnai Pantai Boom) tersebut? Menurut Momo, pilihan itu didasarkan pertimbangan lantaran saat ini Pantai Boom tengah “menggeliat”. Objek wisata yang berlokasi tak jauh dari pusat Kota Banyuwangi, itu semakin ramai dikunjungi wisatawan. “Kami ingin karya para pelukis Banyuwangi bisa dijual di daerah sendiri,” cetusnya. Sementara itu, Ketua DKB Samsudin Adlawi mengatakan, di mata masyarakat Banyuwangi, lukisan masih merupakan barang yang mewah. Sebab,

rata-rata harga lukisan sangat mahal dan tidak terjangkau masyarakat kalangan menengah ke bawah. Nah, DKB melalui komisi seni lukis ingin mengubah pandangan itu dengan menggelar pameran jalanan dan menjual lukisan murah. Dalam pameran yang digelar sejak pukul 06.00 tersebut, hingga pukul menjelang matahari terbenam tersebut, sedikitnya tujuh lukisan terjual. Menurut Leong, salah satu seniman lukis peserta pameran, masyarakat Banyuwangi ternyata suka lukisan realis magis atau black realisme. Maksudnya, lukisan-lukisan sosok yang background-nya gelap dan tidak jelas. “Seperti lukisan orang merokok malam hari atau sosok gandrung di malam hari yang hanya terlihat wajahnya separo,” katanya. Melihat antusiasme masyarakat yang begitu besar terhadap pameran lukisan tersebut, DKB berkomitmen terus menggelar pameran lukisan di Pantai Boom setiap Minggu. Namun demikian, bagi masyarakat yang ingin melihat-lihat lukisan karya seniman-seniman Banyuwangi tersebut, selain hari Minggu, bisa datang langsung ke NaguD Gallery di Jalan Brigjen Katamso (kantor

DPRD ke arah timur). Sebab, di hari selain Minggu, karyakarya seniman Banyuwangi tersebut dipamerkan di NaguD Gallery. “Bisa juga kunjungi web kami di nagudgallery.esy. es,” kata Kang Momo. Pada pameran yang akan datang, Momo berjanji akan memobilisasi lebih banyak seniman Banyuwangi. Selain itu, karya yang akan dipamerkan juga akan lebih bervariasi, misalnya lukisan-lukisan ukuran kecil dengan harga di bawah Rp 20 ribu. Sebab, tidak sedikit pengunjung yang menanyakan lukisan-lukisan yang biasa dijual di Pasar Sukawati, Bali, dengan harga murah tersebut. “Kalau besar, selain mahal juga sulit dibawa pulang, Mas,” tutur Adnan, salah satu pengunjung pameran. Sementara itu, Sekretaris DKB, Bambang Lukito mengatakan, selama ini Banyuwangi sudah berhasil “menjual” seni musik dan seni tari. Namun selama ini pula, seni lukis belum banyak dilirik masyarakat Bumi Blambangan ini. “Maka, DKB memprakarsai agar masyarakat Banyuwangi membiasakan diri menghargai karya seniman lukis lokal. Jangan justru orang lain yang menghargai,” pungkasnya. (aif)

n MEMBANGUN... Sambungan dari Hal 55

Dikatakan, koordinasi ke dalam diperlukan untuk mengetahui apa saja yang telah dilakukan TP-PKK Banyuwangi dan seberapa besar peran PKK terhadap masyarakat Bumi Blambangan ini. “Alhamdulillah saya didukung ibu-ibu PKK yang jiwa sosialnya sangat besar. Meski tidak digaji dan tanpa insentif, seluruh anggota PKK terus berupaya memberikan yang terbaik,” cetusnya. Seolah ingin merendah, Dha-

ni mengaku secara keseluruhan TP-PKK Banyuwangi belum bisa dibilang berhasil. Hanya saja, perempuan yang satu ini bertekad terus berjuang menyadarkan masyarakat untuk semakin peduli kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. “PKK akan terus melakukan kampanye hidup sehat. PKK juga selalu dilibatkan dalam pembelajaran keaksaraan fungsional, termasuk dilibatkan menjadi tutor pemberantasan buta aksara di Banyuwangi,” paparnya. Dhani menambahkan, masih banyak pekerjaan rumah (PR)

yang harus dilakukan TP-PKK Banyuwangi. Oleh karena itu, pihaknya selalu mengajak satuan kerja perangkat daerah (SKPD), instansi terkait, swasta, dan masyarakat untuk bekerja sama menyukseskan program pemberdayaan masyarakat. “Kami juga selalu berkoordinasi dengan Bapak Bupati sebagai pemegang keputusan, khususnya tentang apa saja yang ditemukan kader PKK. Sehingga keputusan yang kami ambil sama dengan apa yang diharapkan masyarakat dan Pemkab Banyuwangi,” pungkasnya. (sgt/als)

Perbaiki Keterwakilan Perempuan n PERLU... Sambungan dari Hal 64

Karena itulah, bapak dua anak ini mengatakan, juga dibutuhkan figur agar peranperan wanita itu semakin nyata keberadaannya. Ini juga agar perhatian-perhatian kepada dunia pendidikan, khususnya perempuan yang berada di kelas bawah juga bisa terkelola dengan baik. “Tidak hanya yang buta huruf, atau tidak tahu baca tulis,

atau bahkan mereka yang tidak berdaya secara ketuhanan, itu harus juga mendapat perhatian yang sama. Kalau turun ke lapangan, kita tanyakan ibu-ibu usia apakah Salat atau tidak? Mereka mengatakan, bagaimana bisa salat wong membaca bacaan salat saja saya tidak tahu. Itu warga yang tergolong muda, apalagi yang tua. Gerakan seperti itu masih kecil, memang ada, tapi masih sangat kecil, perlu ditingkatkan,”

jlentrehnya. Selain itu, lanjut Bupati, keterwakilan perempuan dalam pemerintahan juga harus terus diperbaiki. Sehingga, ke depan kian ada perhatian yang jauh lebih besar terhadap hak-hak perempuan. “Ketika idealisme kartini-kartini ini bersatu, memberikan ruang kepada perempuan untuk memulai menciptakan embrio membicarakan tataran bagaimana penerapan perjuangan idelismenya,” pungkasnya. (pri)


64

Jawa Pos R A D A R

B A N Y U W A N G I

Umi Kulsum Dadang Wigiarto, Ketua Tim Penggerak PKK Situbondo

Semua Demi Perempuan Raden Ajeng (RA) Kartini mampu berbuat berarti memperjuangkan hakhak kaumnya dalam keadaan serba keterbatasan. Perempuan-perempuan masa kini seharusnya mampu memberikan manfaat lebih dari apa yang telah dilakukan pahlawan pergerakan emansipasi wanita pada saat masa penjajahan tersebut. PEMIKIRAN tersebut diisampaikan Ny Hj Umi Kulsum Dadang Wigiarto. “RA Kartini sangat ulet, di zamannya beliau yang dikungkung, tapi masih bisa mencari ilmu dan memperjuangkan nasib kaumnya agar memperoleh kesempatan yang sama. Perempuan sekarang yang sudah merdeka, seharusnya bisa melampaui apa yang dicita-citakan Kartini. Namun, tentu tidak harus meninggalkan kodratnya sebagai perempuan,” katanya. Menurut Umi Kulsum, dirinya bersyukur bisa ditakdirkan mendampingi suaminya sebagai Bupati Situbondo. Sebab, itu memberikan kesempatan kepada dirinya untuk kian lebih maksimal mengabdikan diri kepada masyarakat. Salah satunya melalui wadah Tim

Penggerak (TP) PKK Kabupaten Situbondo. “Kalau bicara sempurna, tentu hasil yang kita capai masih jauh dari itu. Meski upaya yang kita lakukan sudah kita rasa maksimal, kita sadar hasilnya masih jauh dari maksimal. Namun, kita sudah melakukan langkah nyata dalam memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kami lakukan. Makanya, siapapun nanti pemimpinnya bisa meneruskan pondasi yang sudah kita bangun,” terang perempuan berkacama tersebut. Salah satu yang menjadi fokus TP PKK Situbondo saat ini, kata Umi Kulsum, adalah berpikir dan mencari jalan nyata meningkatkan kesejahteraan perempuan. Sebab, perempuan merupakan tolak ukur kesejahteraan dalam sebuah rumah tangga. “Kenapa bisa demikian? Ini karena posisi perempuan sebagai manajer dalam setiap rumah tangganya. Lalu, dari perempuan yang sejahteralah, potensi untuk melahirkan putra-putri yang sejahtera juga besar. Sejahtera yang kita maksud bagaimana ibu dalam keluarga mampu memberikan apa yang menjadi hakhak putra-putrinya, mulai pendidikan, kesehatan, sosial dan sebagainya,” papar Umi Kulsum. Ibu dua anak itu menilai, ada kemajuan signifikan dalam pola pikir perempuan di Kota Santri dewasa ini. Mereka sudah tidak lagi hanya memikirkan tugas perempuan secara tradisional, yakni di sumur,

PEDULI: Ny Umi Kulsum Dadang Wigiarto bersama siswa keaksaraan fungsional.

EDY SUPRIYONO/RaBa

Ingin Program PKK Dirasakan Warga UMI Kulsum lahir pada 15 Agustus 1968. Dia terlahir sebagai bungsu dari enam bersaudara. Orang tuanya bernama Moch. Rais dan Hosnah yang berdomisili di Kelurahan Patokan, Kecamatan Situbondo. Pertemuan Umi dengan Dadang Wigiarto terjadi saat keduanya sama-sama aktif dalam Badan Per wakilan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mochammad Serudji Jember pada tahun 1987 - 1991. Jalinan asmaranya berlabuh di pelaminan pada 9

Oktober 1992. Dari pernikahan tersebut, Umi dikaruniai dua orang anak. Yakni, Dimas Hidayatullah dan Ru’datul Mannaniyah. “Kalau saya sih telah mengkuti anjuran pemerintah sejak dulu dengan mengikuti KB suntik tiga bulan yang selanjutnya beralih ke KB suntik 1 bulan,” terangnya seraya mempromosikan program pemerintah tersebut. Sebagai konsekuensi dilantiknya sang suami, Dadang Wigiarto sebagai Bupati Situ-

bondo pada 6 September 2010, Umi Kulsum dilantik pula sebagai Ketua TP PKK Situbondo menggantikan Hj Tien Suroso. “Kalau keinginan saya dalam memimpin PKK ini sebenarnya sangat sederhana. Yakni, bagaimana gerakan TP PKK dengan sepuluh program Pokok PKK-nya menjadi bermanfaat dan dapat dirasakan masyarakat di Kabupaten Situbondo, terutama untuk pemberdayaan keluarga dan kesejahteraan keluarga,” papar Umi Kulsum. (pri/als)

Perlu Wadah Memperjuangkan Idealisme BUPATI Situbondo, Dadang Wigiarto, menilai ada kemajuan yang cukup signifikan dalam lompatan yang dilakukan Kartini-Kartini masa kini di Kabupaten Situbondo. Yakni, perannya dalam memasuki wilayah-wilayah yang dahulu masih dianggap tabu untuk ditempati perempuan. “Yang paling mencolok, saya melihat peran-peran kartinikartini masa kini di Kabupaten Situbondo yang sudah mulai berani masuk ke wilayahwilayah yang selama ini dianggap tabu. Misalnya, memimpin di sebuah lembaga atau terjun dalam peranan politik praktis,” terang Bupati Dadang. Su a m i Ny Um i Ku l s u m tersebut berpendapat, keadaan tersebut akan menjadi jauh lebih baik jika kekuatan perempuan-perempuan itu

bergabung menjadi sebuah wadah dalam memperjuangkan idealisme. “Bentuknya tidak harus organisasi formal. Yang penting ada persatuan dalam hal memperjuangkan idealisme,” katanya. Menurut Dadang, selama masih belum memiliki sarana perjuangan yang memadai, maka kekuatan dalam memperjuangkan idealisme perempuan tersebut akan sulit untuk terwujud. “Memang sudah ada lembaga-lem-

baga organisasi wanita, tapi tampaknya dukungan lembaga ini masih belum kongkrit betul, khususnya dalam memberikan peluang selebar-lebarnya dan masif kepada hak-hak perempuan belum tampak,” ungkapnya. n  Baca Perlu...Hal 63

DADANG WIGIARTO

kasur dan dapur, namun juga juga sudah berpikir jauh ke depan, khususnya tentang masa depan anakanaknya. Pola pikir yang semacam ini harus diapresiasi karena akan diikuti dengan perilaku yang sehat. “Artinya ada kesadaran dari perempuan maupun suaminya, dalam mempersiapkan pendidikan maupun masa depan anak-anaknya. Dari sinilah kita berharap bagaimana angka pernikahan di usia dini bisa terus terkikis habis,” paparnya. Umi mengakui, ada perbedaan yang sangat mencolok antara pola pikir masyarakat di pedesaan dan perkotaan. Di masyarakat pedesaan, kata dia, masih sangat mudah dijumpai angka pernikahan usia dini yang tinggi. Sehingga, ini menggangu program penuntasan pendidikan. “Makanya saat ke desa, kita datangi mereka dengan program peranan wanita menuju keluarga sehat sejahtera. Tapi, sayangnya kebanyakan masyarakat masih harus terus kita datangi terus menerus. Saat kita tinggal, sangat sulit sekali untuk melanjutkan apa yang sudah kita ajari kepada mereka,” paparnya. Umi Kulsum mengakui, PKK memang bukan lembaga yang mengelola dana pemerintah untuk dijadikan programprogram kepada masyarakat. PKK tidak memiliki program anggaran di APBD. Meski demikian, PKK selalu aktif untuk membantu pemerintah dalam mensukseskan program-programnya. “PKK aktif untuk melakukan kegiatan bersama dengan sejumlah SKPD (satuan kerja perangkat daerah). Misalnya, masalah penanganan gizi buruk kita menggandeng dinas kesehatan. Termasuk rumah pemberian gizi (RPG) sudah benar-benar kita manfaatkan keberadaannya. Kelompok pendukung ASI kita bentuk. Kita tekankan penggunaan Asi karena sangat bermafaat untuk anak di usia dini. Masalah penuntasan buta huruf, kita menggandeng dinas pendidikan,” terang Umi Kulsum. (pri/als)

Senin 21 April 2014

Radar Banyuwangi | 21 April 2014  

Pendorong Perubahan dan Pembaruan

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you