Page 1

Edisi No.008 Tahun 2010 • Infaq Rp 4.900,- (Luar Kota Bandung tambah ongkos kirim)

Spirit Kebangkitan Dakwah

...betapa pun kita dituntut untuk me­­res­pon situasi dan kondisi saat ini de­ngan proporsionalitas yang menuntut porsi le­bih di bidang politik, tetap saja ti­dak bo­leh mengabaikan amal tarbawi (pembinaan), amal tsaqafi (penambahan wawa­san), amal khairi (sosial), dan amal ijti­ma’i (kema­syarakatan).


Al-Kalam Digital For BB : Rp 88.000 Al-Kalam Digital For PC : Rp 150.000 (Mushaf & DVD) Pemesanan/Info hubungi : Yadi 0857.2030.5929

Rekening a.n Sandi Mulyadi : BCA No. 7750577711 • Bank Muamalat No. 9225216137


dari redaksi Edisi No.008 Tahun 2010

Edisi No.008 Tahun 2010 • Infaq Rp 4.900,- (Luar Kota Bandung tambah ongkos kirim)

Spirit Kebangkitan Dakwah

...betapa pun kita dituntut untuk merespon situasi dan kondisi saat ini dengan proporsionalitas yang menuntut porsi lebih di bidang politik, tetap saja tidak boleh mengabaikan amal tarbawi (pembinaan), amal tsaqafi (penambahan wawasan), amal khairi (sosial), dan amal ijtima’i (kemasyarakatan).

Majalah Dakwah Islam

Al-Intimã’ Terbit 1 (satu) bulan sekali Infaq Rp 4.900,-

Penerbit Forum Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah Bandung Alamat Redaksi Jl. Cilengkrang II No. 48 Kel. Palasari Kec. Cibiru Bandung Telpon (022) 92230564 e-mail mdi.intima@gmail.com Pemimpin Umum Bahruzin Pemimpin Redaksi M. Indra Kurniawan Sidang Redaksi Setiadi Yazid, Taufiq Rizkon Paroli, Bahruzin Peni Rusmustikawati M. Indra Kurniawan Desain Grafis & Tata Letak Widesain Pemasaran, Iklan & Distribusi Ridwan Nurdin Mufti Engkus Kusnadi Keuangan Agus Suryana Percetakan Dunia Offset.

Segala puji milik Allah yang dengan karunianya sempurna­ lah segenap kebaikan. Salawat dan salam semoga dilimpah­ kan Allah SWT kepada pengajar kebaikan, yang menunjukkan manusia kepada kebenaran, pemimpin dan imam kita, panu­ tan dan kekasih kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar hingga hari kiamat. Sungguh sangat bahagia rasanya kami dapat hadir kemba­ li di hadapan Anda bertepatan dengan datangnya bulan Ra­ madhan. Tentu saja kami berharap, kehadiran kami dapat memberikan setitik kobaran semangat beribadah di bulan barokah ini. Pembaca budiman, diantara sekian banyak kritikan yang masuk ke redaksi adalah masukan tentang jadwal terbit maja­ lah yang belum teratur. Kami menyadari kekurangan tersebut dan terus berusaha memperbaikinya. Tapi sampai saat ini, masih saja ada kendala. Kami berharap, di masa yang akan datang hal ini dapat kami tanggulangi. Insya Allah… Dengan segala kekurangan yang ada, kami tetap patut bersyukur, karena sambutan para aktivis dakwah pada majal­ ah ini dari hari ke hari semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan semakin bertambahnya agen / distributor majalah Al-Intima di beberapa daerah. Alhamdulillah…Kami mohon doanya…mudah-mudahan terus berkembang. Para pembaca budiman, akhirnya kami persilahkan Anda segera menyimak sajian kami kali ini: Inspirasi Ramadhan. Selamat membaca!

Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Setiap tulisan masuk tidak dikembalikan. Lampirkan foto copy identitas yang masih berlaku. Isi di luar tanggung jawab percetakan.

1


Redaksi menerima surat pembaca melalui facebook. Kunjungi kami di Facebook: Majalah Dakwah Islam Al-Intima Eva Ps El Hidayah Asyik ada edisi baru lagi.... siap-siap untk membeli... hee... (pelanggan setia).. Syukran

Majalah Dakwah Islam Al-Intima Dicari! Mujahid dakwah yang siap mewakafkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk bersama-sama berjuang membangun majalah dakwah

Ahmad Rofiqi sinergi gerakan Islam sudah ana beli dan baca. kalau mau nulis bisa di rubrik atau tema apa ya?

Islam Al-Intima'. Disukai berkafa'ah syar'i, bisa mencurahkan ide melalui tulisan, dan atau menyukai dunia jurnalistik, berdomisili di daerah Bandung Raya. Imam Soetopo kalau ada panduan untuk remaja, lebih menarik buat refernsi, ana tunggu

Majalah Dakwah Islam Al-Intima Bebas Pak! Pokoknya antum tulis aja, nanti redaksi yang akan menempatkannya....ditunggu pak! Ummu Hafiy af1 nanya, infaqx kmrn ktka sdh d tgn kok jd rp. 7000 y? ap mgkn kl d luar wilayah + ongkir?? jzk

Majalah Dakwah Islam Al-Intima Insya Allah pak, nunggu sampai halamannya nambah dulu...^_^

Majalah Dakwah Islam Al-Intima Ya, harga bandrol Rp 4.900,- , luar kota Bandung ketentuan harganya diserahkan kepada agen/distributor, karena tambah ongkos

Febry Qobil Akhmad PEngen Bacaa

Akh Rovi Mau nanya, kalau di Jakarta belinya dimana yah?

kirim. Dhan Ismail kalau di malaysia bgaimana pula ya?

Syamsudin Kadir Alhamdulillah, tulisanku bisa masuk... Majalah Dakwah Islam Al-Intima Boleh, tapi siap menanggung ongkos kirimnya tidak?

Main Nurhamda akh rovi k depok aja "BURSA NURUL FIKRI" insyaallah jual.....

Zukhruf El Habibah hmm..masukan nih agar dibuat jadwal pasti kpn terbitnya mjlh,,

Majalah Dakwah Islam Al-Intima ‎@ Zukhruf: Kami sedang berusaha...mudahmudahan ALLAH memberi kekuatan kepada kami. Mohon do'anya ya...

daftar isi taujih • Tamayyuz di Mihwar Muassasi............................. 4 harakatuna • Inspirasi Ramadhan................................. 10 tazkiyah • Ummatun Qoimah......................................... 16 sunnah • Pembahasan Tentang Puasa Bagi......................... Orang-orang Yang Memiliki Udzur............................. 20 qur'anuna • Bekal Dakwah............................................. 26 2

ijtima'iyyah • Tiga Asas Pembangunan Masyarakat........... Islam........................................................................... 30 tatsqif • Urgensi Kekuasaan (Bag.2)................................ 34 thulaby • Meniti Ombak................................................. 38 misykat • Pahala............................................................. 40

Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


e

to di

ria l

Sungguh Beruntung Orang-orang yang Bertaqwa Sesungguhnya kita sangat berhajat pada shaum Ramadhan. Karena ia dapat menghan­ tarkan kita pada ketaqwaan. Sungguh beruntung orang-orang yang bertaqwa. Bagi mereka telah Allah tetapkan curahan rahmat-Nya, “…dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa…" (Al-A’raf, 7: 156).

Tidak hanya itu, bagi mereka pun Allah Ta’ala akan selalu menunjukkan jalan keluar dari setiap kesulitan dan memberinya rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka, “…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…” (At-Thalaq, 65: 2 – 3)

Orang bertaqwa akan dimudahkan seluruh urusannya, “…dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (At-Thalaq, 65: 4)

Dosa-dosanya dihapus dan pahalanya dilipatgandakan, “… dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan menghapus kesalahan-kesala­ hannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.”(At-Thalaq, 65: 5)

Limpahan hidayah selalu tercurah padanya, sehingga ia mampu membedakan mana yang benar, dan mana yang salah, mana yang haq dan mana yang batil, “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan ( petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, dapat juga diartikan disini sebagai pertolongan).” (Al-Anfal, 8: 29)

Negeri orang-orang yang bertaqwa akan diberi keberkahan dari langit dan bumi, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf, 7: 96)

Jadi, adakah di antara Anda yang ingin menjadi orang-orang bertaqwa?

3


Tamayyuz

di Mihwar Muassasi Oleh: k.h. hilmi aminuddin, lc.

Mahawiru ad-da’wah Ikhwani wa akhawati fillah, saat ini gera­ kan dakwah kita memiliki rakizah siyasiah, yakni stressing atau titik tekan pada bidang politik. Hal ini perlu saya garis bawahi, me­ ngingat ada beberapa hal yang kadangkadang menyebabkan kita mengalami ke­ terje­bakan situasional. Misalnya ada yang mengatakan atau menganggap kita masuk ke dalam mihwar siyasi (era politik). Pa­dahal dalam manhaj kita, hanya di­ke­ nal mahawir arba’ah (empat era) yang dida­ lamnya tidak ada mihwar siyasi (politik) sebagaimana halnya tidak ada mih­­war tarbawi (era pembinaan). Ke­empat mihwar dakwah tersebut ialah mihwar tan­zhimi (struktural), mihwar sya’­bi (masyarakat), mihwar muassasi (kelembagaan) dan mih­­ war daulah (negara). Di setiap mihwar dari empat mihwar dakwah tersebut ter­ kandung amal siyasi (aktivitas politik) de­ ngan tingkat persentase yang berbeda-beda, karena amal siyasi adalah bagian tidak ter­ pisahkan dari amal da’wi (aktivitas dak­ wah) kita. 4

Ikhwani wa akhawati fillah, seringkali dalam menghadapi situasi, kondisi-kondisi, aksi-aksi dan tantangan-tantangan tertentu kita lupa untuk merujuk atau kembali ke manhaj (pedoman). Padahal penguasaan kita akan manhaj, insya Allah cukup baik, apakah itu di ruang lingkup manhaj asasi, yakni Alquran dan Sunnah ataupun di ru­ ang lingkup produk ijtihad jama’ah ki­ta yang tentunya juga bersumber dari Alqur­­'an dan Sunah. Langkah-langkah per­ juangan dalam bentuk manhaj amali (pe­ do­man aktivitas) tersebut cukup untuk da­ pat merespon dan mengantisipasi segala perkembangan. Hanya saja kita seringkali lupa merujuk ke manhaj tersebut. Boleh jadi karena keterdesakan kita di lapangan atau kesibukan yang demikian padat. Agar lebih jelas, saya ingin sedikit meng­ ulang penjelasan-penjelasan tentang stress­ ing di masing-masing mihwar. Pada mihwar tan­zhimi, rakizatul amal (stressing kerja) kita berupa bina syakhshiyah islamiah dan syakhshiyah da’iyah atau mewujudkan so­ sok pribadi islami dan pribadi da’iah. Juga Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


!

taujih bagaimana kita berusaha mengokohkan mish­daqiyah syakhsyiah islamiyah dan mish­daqiyah syakhshiyah da’iyah atau kre­ di­bi­litas pribadi islami dan kredibilitas pri­ badi da’iyah. Di era atau mihwar tanzhimi tersebut yang selalu kita ukur dan evaluasi adalah tingkat pertumbuhan kader dalam ar­ti per­ tum­buhan dan perkembangan kader-ka­ der kita secara internal. Bahkan ketika ki­ ta mengukur, mengevaluasi di­ri dari se­gi eksternal, yang kita lihat pun sejauh ma­ na pertumbuhan calon kader yang dapat direkrut menjadi kader. Ja­di di ma­sa itu orientasinya adalah perekru­tan, pembina­ an, pertumbuhan dan perkem­bangan ka­ der-kader dakwah. Kemudian dakwah kita berkembang dan memasuki mihwar atau era sya’bi. Di era ini kita mulai ber-sya’biah atau mensosi­ alisasikan diri, kader-kader dan program-

membuat langkah-langkah mukadimah menuju mihwar muassasi berupa pendiri­ an yayasan, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan lain seba­gainya. Na­mun beberapa perubahan ce­pat yang terjadi yang antara lain dipicu dan dipa­ cu oleh globalisasi ekonomi, politik dan lain-lain serta krisis ekonomi selain ten­ tu saja sebab utamanya adalah tadbirul­ lah (rekayasa Allah), membuat peluang un­tuk memunculkan diri dalam bentuk ke­­lembagaan formal terbuka lebar. Kita menyebut­nya mihwar muassasi dan bukan mihwar siyasi, walaupun memang dalam mihwar muassasi sebagaimana halnya di mihwar tanzhimi dan sya’bi terkandung aspek-aspek siyasi. Dan karena di mihwar muas­sasi ini sudah menyentuh aspek ke­ lembagaan politik, maka persentase amal siyasi­nya pun meningkat. Upaya memantapkan langkah-langkah

Di era atau mihwar tanzhimi tersebut yang selalu kita ukur dan evaluasi adalah tingkat pertumbuhan

kader...

program dakwah kita di masyarakat. Sasa­ ran yang ingin dicapai di mihwar ini adalah mishdaqiyah syakhshiyah ijtima’iyah atau kredibilitas sebagai pribadi yang diterima di masyarakat. Kita berupaya keras agar kader-kader kita memiliki kredibilitas ter­ sebut. Di mihwar sya’bi ini kita bukan ha­ nya menerapkan tolak ukur kuantitas be­ rupa pertumbuhan dan perkembangan ka­ der, melainkan juga sejauh mana kaderkader yang kita miliki memberi pengaruh di masyarakat. Ikhwani wa akhawati fillah, di mihwar tanzhimi kita sudah mulai melaksanakan program-program yang merupakan mu­ kadimah ke arah mih­war sya’bi. Begitu pula di mihwar sya’bi, kita sudah melakukan langkah-langkah pen­dahuluan yang sekali­ gus merupakan mu­kadimah untuk menuju mihwar muas­sasi. Alhamdulillah, Allah Ta’ala memberikan peluang yang mempercepat masuknya kita ke mihwar muassasi. Kita memang sudah

secara struktural dan operasional di mihwar mu­assasi ini juga akan menyentuh sektor amal siyasi. Sekali lagi saya tegaskan bahwa amal siyasi merupakan sektor. Sebab bila ki­ta mengatakan mihwar kini sebagai mih­ war siyasi berarti kita terjebak ke dalam amal juz’i dan sekaligus harakah juz’iah, seperti halnya kita tidak bisa mengatakan sebagai mihwar tarbawi agar tidak terjebak juga pada juz’iyah atau keparsialan. Jadi setiap mihwar memiliki beragam amal se­ suai dengan syumuliah dan takamuliah amal Islam. Ikhwani wa akhawati fillah, karena itu di setiap mihwar dibutuhkan adanya tawazun antar amal. Tawazun adalah proporsiona­ litas dalam pemberian peran-peran, penda­ yagunaan dan pengerahan potensi-potensi SDM. Kata proporsionalitas me­nunjukkan adanya ketepatan atau akurasi penyaluran potensi sesuai dengan tuntutan medan dan situasi-kondisi serta aksi-aksi yang kita la­ kukan. 5


Oleh karena itu, ikhwani wa akhawati fillah, betapa pun kita dituntut untuk me­­ res­pon situasi dan kondisi saat ini de­ngan proporsionalitas yang menuntut porsi le­ bih di bidang politik, tetap saja ti­dak bo­leh mengabaikan amal tarbawi (pembi­naan), amal tsaqafi (penambahan wawa­san), amal khairi (sosial), amal ijti­ma’i (kema­ syarakatan) dan lain-lain. Ma­salah stressing atau penekanan di sektor tertentu pada saat tertentu adalah hal yang biasa. Misalnya di bulan Rama­dhan kita meliburkan halaqahhalaqah tar­ba­wi internal, karena kita ingin me­res­pon amal khairi dan taabbudi (i­ba­ dah) di bulan mulia tersebut. Kita berkon­ sen­trasi meningkatkan tadayyun sya’­bi (ke­ be­ragamaan masyarakat) karena ter­dapat ka­­tsafah furshah (peluang yang luas) di bu­ lan Ramadhan. Ikhwani wa akhawati fillah, mihwar mua­ ssasi ini akan terus berkembang ditandai de­ngan bertambahnya muassasah atau lem­ baga infrastruktur sosial politik kemasya­ rakatan baik yang kita bangun sendiri atau yang kita warnai (muassasah yang diba­ ngun oleh ikhwah seperjuangan dalam Is­ lam, yaitu ormas atau parpol), dan nan­ tinya juga kita bisa melebarkan sa­yap de­ ngan memasuki secara langsung lem­bagalembaga suprastruktur dan infrastruk­tur kenegaraan. Hal ini merupakan bagian dari mihwar muassasi dan merupa­kan langkahlangkah awal yang akan men­jembatani ma­

pra struktur kenegaraan. Lembaga infra­ struktur dan suprastruktur negara akan kita masuki jika tingkat proporsi penye­ baran SDM dan pengaruh kita di ru­ang ling­kup kelembagaan infrastruktur ke­ma­ syarakatan atau sosial politik su­dah mema­ dai. Barulah kemudian kita melang­kah ke dalam mihwar daulah. Dalam hal ini ingin saya ingatkan bahwa setiap mihwar memiliki perimbangan pro­ porsi amal yang berbeda-beda dan da­pat berubah-ubah. Hendaknya hal ini te­tap da­ lam ruang lingkup tawazun dan keter­pa­ duan amal islami. Tamayyuz Langkah-langkah amal kita harus muta­ mayyiz. Kita bergaul bersama, berpacu, na­ mun nahnu mutamayyyizun (kita ber­beda). Kata tamayyuz mengandung penger­ti­an keberbedaan yang mengandung keistime­ wa­an. Jadi bukan asal beda, melainkan mu­ ta­mayyiz ’an ghairina, yang mengandung keistimewaan dari la­innya. Ki­ta mengeta­ hui slogan yang dikumandangkan oleh As­ sya­hid Sayyid Quthb, yaitu yakhtalithun walakin yatamayyazun, ki­ta berbaur, ber­ gaul, bersilaturahmi, ber­tawashau bil haq, ber-tawashau bis shabri, tawashau bil mar­ hamah dengan seluruh lapisan umat, na­ mun nahnu muta­mayyizun, kita berbeda. Tamayyuz, kespe­sifikan ini penting agar menjadi arahan yang memudahkan masya­ rakat untuk mendukung kita.

...setiap mihwar memiliki perimbangan proporsi amal yang berbeda-beda dan dapat berubah-ubah. Hendaknya hal ini tetap dalam ruang lingkup tawazun dan keterpaduan amal islami. suknya kita, Insya Allah, mus­taqbalan (di masa mendatang) ke dalam mihwar daulah. Hal penting yang harus kita perhatikan di dalam mihwar muassasi ialah bahwa kita bukan sekadar memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan, melainkan juga me­ ngupayakan bagaimana akidah, fikrah dan manhaj kita mewarnai infrastruktur so­ sial politik di masyarakat atau infrastruk­ tur kenegaraan dan kemudian akhirnya su­ 6

Pertama-tama tamayyuz kita adalah da­ lam ruang lingkup SDM. Kita ha­rus mu­ ta­­ma­yy­ iz fii rijal. Kita harus sang­gup me­ nampilkan tamayyuz fii rijal, keistime­waan SDM atau personil. Ikhwani wa akhawati fillah, dalam mema­ suki mihwar muassasi yang kedudukannya merupakan langkah-langkah mukadimah menuju mihwar daulah, rijalud da’wah atau SDM dakwah kita seyogianya sekaligus Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


!

taujih ju­ga memiliki bobot dan bakat yang akan di­kem­bangkan menjadi rijalud daulah atau sosok negarawan yang memiliki visi kene­ garaan yang baik. Kita sudah memiliki kader-kader yang berbasis akidah, fikrah dan minhaj yang baik. Kini tinggal berupaya ba­gaimana ki­ ta mengekspresikan diri dan mengaktua­ lisasikan diri secara atraktif. Bukan berarti kita riya, melainkan semata-mata dalam kerangka ‘isyhadu bi anna muslimin”, sak­ sikan kami ini orang-orang Islam. Kita men­coba memperjelas, mengedepankan

aqidah kita. Kemudian idealisme yang be­sar yang dibangun oleh fikrah kita dan langkah-langkah kerja yang tertib teratur yang dibangun oleh manhajiah kita. Kesemuanya itu menjadi modal dalam menunaikan ruhul badzli wa tadhhiyah ka­ re­na dilandasi niat yang khalishan li waj­ hillah ta’ala. Ruhul badzli wa tadhhiyah adalah modal motivasi, militansi dan vita­ li­tas stamina yang dibangun oleh akidah, fik­rah, akhlak dan semangat ibadah kita. Kesemuanya itu menjadi modal utama da­ lam tamayyuz fii adaa yang kemudian di­

...SDM dakwah kita seyogianya sekaligus ju­ga memiliki bobot dan bakat yang akan dikembangkan menjadi rijalud daulah atau sosok negarawan yang memiliki visi kenegaraan yang baik. tam­pi­lan produk islamisasi rijal kita. Paling tidak ada lima kespesifikan, ke­ unikan atau keistimewaan yang, Alhamdu­ lillah, dimiliki oleh jamaah kita, yaitu: 1. Mutamayyiz fii rijal (keistimewaan SDM) 2. Mutamayyiz fi adaa (keistimewaan pe­ nunaian tugas) 3. Mutamayyiz fii intaj (keistimewaan sen­tuhan produk) 4. Mutamayyiz fii khidmah (keistimewaan pe­layanan) 5. Mutamayyiz fii muamalah (keistime­ waan bermasyarakat) Keistimewaan yang pertama ialah mu­ tamayyyiz fii rijal atau keistimewaan per­ sonil dakwah. Keistimewaan personil dak­ wah atau SDM ini dilandasi oleh tamay­ yuz fii aqidah, fikrah, minhaj dan akhlaq. Modal utama berupa keistimewaan da­lam akidah, fikrah, minhaj dan akhlak sa­ngat berdayaguna dalam membangun mishda­ qiyah syakhshiayah da’iyah (kredi­bilitas pribadi muslim dan da’iyah). Namun keistimewaan SDM ini harus di­ tun­jang oleh tamayyuz fii adaa atau keis­ timewaan dalam penunaian tugas. Ja­di ki­ta harus mutamayyiz fii adaa. Dalam me­nu­ naikan tugas, kita memiliki modal berupa motivasi yang tinggi yang dibangun oleh

to­pang pula oleh kemampuan dalam, pe­ ren­­canaan (takhtith) dan pengelolaan (ida­ riah). Kelengkapan modal tersebut membuat kita mutamayyiz fi adaa, istimewa dalam penunaian tugas. Kita tidak menjadi orangorang yang menunaikan tugas secara infi­ radiyah, sekenanya, seketemunya dan sea­ danya di lapangan, melainkan benar-benar mutamayyiz fii adaa karena di back up oleh faktor-faktor mental, moral dan ideal ser­ta faktor-faktor konsepsional, berupa peren­ canaan dan pengelolaan yang baik. Jika kita berhasil menampilkan adaa’ul wazhaif (pe­nunaian tugas secara baik), insya Allah ke­is­ti­mewaan kita akan muncul di tengah ma­syarakat. Apalagi bila diikuti dengan keistimewaan produk-produk yang kita hasilkan yang menimbulkan kesan dan pengaruh yang kuat di masyarakat karena mau tidak mau masyarakat memang menilai dan meng­ ukur masalah produktivitas. Karena itu, keistimewaan yang ketiga yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii intaj. Program-program yang kita gulirkan harus terasa hasilnya di masyarakat. Sudah tentu yang dimaksudkan terasa, tidak sela­ lu harus dalam bentuk produk materi. Bah­ kan sebagian besar yang kita miliki bu­kan 7


berupa produk materi, melainkan pende­ katan ilmi, shihhi, ijtima’i, ma’nawi dan sebagainya. Ikhwani wa akhawati fillah, sudah se­wa­ jar­nya­lah masyarakat mengharap dan me­ nung­­gu produk-produk nya­ta yang di­ha­ sil­kan oleh parpol-parpol dan kelompokkelompok organisasi yang menjamur be­ la­kangan ini. Oleh karena itu kita ha­rus mampu menyajikan produk yang muta­ may­yiz kepada masyarakat jika ingin men­ dapatkan sambutan publik yang baik. Tamayyuz dalam produk bukan diukur dari segi kuantitasnya, melainkan dari segi kualitas sentuhannya yang terasa di hati masyarakat. Ikhwani wa akhawati fillah, tamayyuz yang berikutnya yang juga harus kita miliki ialah tamayyuz fii khidmatan lis muslimin (keistimewaan dalam pelayanan kepada muslimin), khidmatan lin naas (pelayanan kepada manusia), sehingga kita akan tampil mu­­tamayyiz fii khidmah (istimewa dalam pe­layanan). Ada pepatah Arab berbunyi, “An-naas yuwalluna man yakhdimuhum,” (manusia akan memberikan wala atau loya­ litas kepada orang-orang yang melayani­ nya). Karenanya ada juga pepatah lain, “Say­yidul qaum khaadimuhum” (Pemimpin su­at­ u kaum/bangsa adalah pelayan bagi ka­ um tersebut).

kan, namun yang lebih penting adalah ba­ gai­mana kerja keras kita, mengupayakan terjaminnya kemaslahatan masyarakat da­ lam dua hal yang digariskan Allah dalam Q.S. Quraisy: (1)Terjaminnya masyarakat dari kebutu­ han-kebutuhan hidupnya yang asa­si ‫وع‬ ٍ ‫( أَ ْط َع َم ُه ْم ِم ْن ُج‬terbebasnya dari kelapa­ ran) dan (2) Kebutuhan akan rasa aman atau terbe­ bas dari ketakutan, ketidakpastian, inti­ midasi, kediktatoran dan kezhaliman (‫) َو َءا َمَ�ن ُه ْم ِم ْن َخ ْو ٍف‬. Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan ‫ِم‬ ْ ‫ الَ َخ ْو ٌف َعلَيْه‬atau masalah qalb (hati) dan ‫َوالَ ُه ْم‬ ‫ حَْي َزنُو َن‬atau berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasadiyah. Ruang lingkup pelayanan kita harus meliputi ke­ dua aspek tersebut. Dalam masalah pelayanan ini, hal yang perlu saya garis bawahi bahwa itu meliputi garis vertikal ke atas, yakni upaya kita mem­pengaruhi decision making dalam hal po­li­tik, hukum dan perundang-undangan de­ngan cara aktif memberikan usulan, kri­ tik dan koreksi. Kemudian juga meliputi ga­ris vertikal ke bawah, yakni upaya kita meng­gulirkan produk-produk dalam ru­ ang lingkup ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, tsa­qafiyah, shihhiyah dan fanniyah di te­ ngah masyarakat.

...Tamayyuz dalam produk bukan diukur dari segi kuantitasnya, melainkan dari segi kualitas

sentuhannya yang terasa di hati masyarakat. Bila kita tampil sebagai lembaga yang pa­ling piawai memberikan pelayanan ke­ pa­da masyarakat, maka ia pun akan men­ dapatkan sambutan lebih dibanding de­ ngan yang lain. Pelayanan kepada masya­ rakat tidak harus selalu diartikan pelayanan fi­sik, materi yang bersifat langsung, sim­ bo­lik, atraktif dan promotif, misalnya pe­ mim­pin datang memberikan bantuan ma­ teri kepada bawahannya. Hal itu hanya me­ rupakan sebagian kecil dari ruang lingkup pelayanan kepada masyarakat. Me­mang hal itupun perlu juga sekali-kali kita laku­ 8

Produk-produk dalam ruang lingkup ver­­tikal ke bawah akan menjadi basis dari upaya meluncurkan produk siyasah wal qanun ke atas, dimana siyasah wal qanun ke atas akan memayungi dan melindung­ ­i segala aktivitas pelayanan kita ke ba­wah. Artinya segala aktivitas kita yang menyebar di masyarakat perlu mendapat perlindu­ ngan politik dan hukum. Sebaliknya segala aktivitas yang berkaitan dengan ma­sa­lah politik dan hukum perlu mendapat­kan ba­ sis berupa produk dan ker­ja nyata kita di bidang ijtima’iyah, khairiyah, ilmi­yah, fan­ Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


!

taujih

Inti muamalah adalah bagaimana ki­ta menyebarkan kebaikan di tengah masya­rakat dengan dibingkai akhlaqul karimah niyah, iqtishadiyah dan sebagainya. Akhirnya, ikhwani wa akhawati fillah, ta­ may­yuz kelima yang harus kita miliki ada­ lah tamayyuz fii muamalah. Cara agar ki­ ta tampil beda dan istimewa dalam bermu­ amalah (bergaul) adalah bila kita bermu­ amalah bil ihsan. Allah berfirman, ‫ال ْحسان‬ ‫هل جزاء الحسان إال‬ ُ َ ِ ْ‫َ ْ َ َ ُ إْ ِ ْ َ ِ ِ َّ إ‬ “Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula)."

Dalam hadits juga disebutkan bahwa Allah menyuruh kita berbuat ihsan dalam se­gala urusan. Yang dimaksud dengan ih­ san adalah kebaikan-kebaikan, apakah be­ ru­pa kebaikan materi, sulukiyah, maupun si­kap dan perilaku. Dalam menyalurkan kebaikan-kebaikan tersebut hendaknya ki­ ta membingkainya dengan akhlaqul kari­ mah. Sebab betapa pun besar kebaikan

‫متيز‬

‫متميز يف رجال‬ ‫متميز يف أدى‬ ‫متميز يف إنتاج‬ ‫متميز يف خدمة‬ ‫متميز يف معملة‬

yang di­be­rikan, jika cara memberikannya ti­dak di­ser­tai dengan adab dan kesantunan, ma­ka ia akan lebih dirasakan sebagai peng­ hi­naan dan bukan kebaikan. Inti muamalah adalah bagaimana ki­ta menyebarkan kebaikan di tengah masya­ rakat dengan dibingkai akhlaqul karimah. Maka masyarakat pun akan melihat bah­ wa kita mutamayyiz fii muamalah, istime­ wa dalam berinteraksi di masyarakat. Se­ bab upaya menanamkan pengaruh di ma­ syarakat, pada hakikatnya adalah bagaima­ na kita merebut hati orang. Selain berupaya membuka hati mereka melalui programprogram yang kita selenggarakan dengan baik, juga harus dengan kekuatan ta’abudi dan taqarrub kita kepada Allah, karena mi , kunci hati ada di tangan Allah. Dengan kekuatan ikhtiar dan doa ki­ ta berharap kepada semoga Allah mem­bu­ kakan hati-hati mereka. Wallahu a’lam 

‫حماور أرباعة‬

‫ حمور تنظيمي‬.1

‫بناء شخصية إسالمية و دعية‬

‫ حمور شعيب‬.2

‫مصدقية شخصية إجتماعية‬

‫ حمور مؤسسي‬.3 ‫ حمور دولة‬.4 9


Oleh: FARID nU'MAN

َ‫َ َ ُّ َ ذَّ َ َ ُ ُ َ َ َ ْ ُ ُ ِّ َ ُ َ َ ُ َ لَ ى‬ ‫بع‬ ‫الين آمنوا ك ِتب عليكم الصيام كما ك ِت‬ ِ ‫يا أيه ا‬ َ ُ َّ َ ْ ُ َّ َ َ ْ ُ ْ َ ْ َ َّ‫ذ‬ ‫الين ِمن قب ِلكم لعلكم تتقون‬ ِ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajib­ kan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al-Baqarah, 183)

P

uji dan syukur marilah kita panjat­ kan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada ki­ ta bertemu kembali dengan bulan penuh rahmat, berkah dan maghfirah; bulan Ra­ madhan. Bulan mulia ini disebut Nabi SAW seba­ gai ‘syahru ummati’ (bulan ummatku). Ke­ da­tangannya dihantar dua bulan agung, yak­ni Rajab yang disebut ‘syahrullah’ (bu­ lan Allah) karena merupakan satu dari em­ pat bulan haram, dan Sya’ban yang disebut ‘bulanku’ oleh baginda Rasulullah SAW. Bu­­lan ini adalah bulan peluang bagi ummat Muhammad SAW untuk mengoptimalkan amal ibadat dan berbagai amal shalih, seka­ ligus memaksimalkannya untuk meraih pahala yang dilipatgandakan dari amal ke­ bajikan yang sama di bulan lainnya. Ramadhan disebut oleh Yusuf Qaradawi sebagai madrasah mutamayyizah (sekolah istimewa), yang dibuka oleh Islam setiap ta­ 10

hun untuk proses pendidikan praktis me­na­ nam­kan seagung-agung nilai dan setinggitinggi hakikat: la’allakum tattaqun…, agar kamu bertaqwa. Semua aktivitas ibadah yang digiatkan di dalam­nya sebagaimana dicontohkan Nabi, diantara­nya shaum, ti­ la­wah qur’an, qiyamulail, dan i’tikaf, di­ tam­bah ‘ibadah maliyah; zakat, infaq dan sedekah, merupakan riyadhotu ruh (lati­han ruhani) untuk menggapai jenjang ‘ubudi­ yah tertinggi itu (taqwa). Inilah target dan obsesi kita di bulan yang penuh berkah ini, sekaligus inspirasi dalam gerak langkah hi­ dup kita di sebelas bulan berikutnya. Inspirasi Shaum Di bulan Ramadhan kita menahan diri da­ri lapar dan dahaga serta syahwat di si­ ang hari karena Allah. Ini adalah inspira­ si ten­tang pentingnya tazkiyah an-nafs (pem­­­ber­si­han jiwa), dengan mematuhi pe­­­rin­tah-perintah-Nya, menjauhi segala la­­ra­ng­an-Nya, dan melatih diri untuk me­ nyem­purnakan ibadah kepada Allah se­ma­ ta. Kalau saja mau, di bulan ini kita bi­sa saja makan, minum, bersetubuh de­ngan pasangan kita, dan tiada seorang pun yang mengetahui. Akan tetapi kita mening­gal­ kan semua itu semata-mata karena Allah SWT. Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


harakatuna Shaum Ramadhan juga menginspirasi kita tentang kesederhanaan dan menjauhi sifat israf (berlebih-lebihan) dalam makan dan minum sebagaimana diperintahkan Allah SWT, ِّ ُ‫َ َ ُ ْ ْ َ ل‬ ُ ُ َ َْ‫ك َم ْسج ٍد َو لُكُوا َو ر‬ ‫اش ُبوا‬ ‫يَا بَ يِن آد َم خذوا ِزينتكم ِعند‬ ِ َ‫ا‬ َ‫ا‬ ْ ُ ُ ُ‫ح‬ ْ‫ر‬ َّ ْ‫ر‬ ُ ُّ َ ‫َول تسفوا إنه ل يب ال ُمسف‬ ‫ني‬ ِ ِِ ِ ِ

“…Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan.” (Al-A’raf, 31)

Shaum menanamkan ajaran Islam yang mensejajarkan tuntutan jasmani dengan tuntutan rohani, dan mencegah agar jangan sam­pai unsur yang satu mengalahkan un­ sur yang lain. Islam memandang serasinya dua kebutuhan jasmani dan rohani dapat membantu manusia dalam menunaikan tugas hidupnya di dunia untuk menghadapi ke­hi­dupannya di akhirat. Shaum mendidik

guhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah, 2: 168)

Shaum adalah ‘pemberontakan’ pada kon­st­ ruk­si sosial dan budaya yang su­dah men­­tra­disi: makan 3 kali sehari, mi­num mi­­ni­­mal 2 liter sehari, tidur 8 jam dalam se­­ ha­ri, dan lain sebagainya. Pemberonta­kan seperti ini menanamkan sifat tajarrud, me­ lepaskan diri dari ikatan-ikatan tradisi dan ha­nya terikat pada kaidah-kaidah Allah SWT, me­nanamkan ciri orisinalitas dan keoten­tikan tersendiri. Tidak terpengaruh oleh ide atau gagasan lain walaupun berbi­ cara atas nama kemajuan dan gaya hidup. َ‫ْ َ ً حَ ْ ه‬ ََْ َ َ ْ َ ْ َ ‫هلل ِصبغة َون ُن ُل اَعبِ ُدون‬ ِ ‫هلل َومن أحس ُن ِم َن ا‬ ِ ‫ِصبغة ا‬

“Shibghah (celupan) Allah. dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (Al-Baqarah, 2: 138)

Shaum mendidik ja­ngan sampai manusia menjadi budak pe­rutnya, sibuk memasukkan berbagai makanan... ja­ngan sampai manusia menjadi budak pe­ rutnya, hidup di dunia ini sekedar untuk makan dan minum, atau siang malam ha­ nya sibuk memasukkan berbagai macam makanan dan minuman ke dalam perutnya. Selain itu, shaum menginspirasi kita ten­ tang pentingnya menahan diri dari maka­ nan dan minuman yang haram, melatih jiwa agar mampu menahan diri dari nafsu serakah, tamak dan rakus. Melatih diri un­ tuk menjaga pola hidup bersih. Bersih hati dan batin dari kemusyrikan dan kemaksi­ atan. Bersih dari harta yang haram, seperti riba (bunga), korupsi, manipulasi dan men­­cu­­ri. Ber­sih lahir dan lingkungan dari ber­ba­gai macam kotoran. َْ‫أ‬ ً‫اَ ا‬ ُ ُ‫َ َ ُّ َ َّ ُ ل‬ َّ َ َ‫ا‬ ‫يا أيها انل‬ ‫اس كوا ِم َّما يِف ال ْر ِض َحلل َطيِّبًا َول تت ِب ُعوا‬ َّ ُ َ ُ َّ ُ ْ ٌ‫ك ْم َع ُد ٌّو ُمبني‬ َ ُ َ ‫ان إِنه ل‬ ِ ‫خطو‬ ِ ‫ات الشيط‬ ِ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesung­

Inspirasi Tilawah Al-Qur’an Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, َ ْ ُ َّ‫َ ْ ُ َ َ َ َ ذ‬ َّ َ ِّ َ َ ً ُ ُ ُْ ‫ات‬ ِ ‫الي أن ِزل ِفي ِه الق ْرآن هدى لِلن‬ ِ ‫شهر رمضان‬ ٍ ‫اس وبين‬ ْ َ ْ َّ َ َ ْ ُْ َ َ ُْ َ َ ُ ْ ‫ان ف َم ْن ش ِه َد ِمنك ُم الشه َر فليَ ُص ْم ُه َو َم ْن‬ ‫ق‬ ِ ‫ِمن الهدى والفر‬ ُ ُ ُ ُ َ َ ُ َّ َ ْ ٌ َّ َ َ َ َ‫اَ َ َ ً َ ْ لَ ى‬ ُ‫كم‬ ‫كن مريضا أو ع سفر ف ِعدة ِمن أيامٍ أ‬ ِ‫خر ي ِريد اهلل ب‬ َ ُ َ َ َّ ْ ُ ْ ُ َ َْ‫ْ ُ رَْ ِ َ اَ ُ ُ ُ ُ ٍ ْ ُ ر‬ َ ‫بوا‬ ُ ِّ‫ك ر‬ ‫اهلل‬ ‫اليس ول ي ِريد بِكم العس و تِلك ِملوا ال ِعدة و تِل‬ َ‫لَ ى‬ َ ُ ْ َ ُ َّ َ ُ َ ‫ع َما ه َداك ْم َول َعلك ْم تشك ُرون‬ “…bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Al-Baqarah, 2: 185).

dan di bulan ini malaikat Jibril turun un­ tuk memuraja’ah (mendengar dan menge­ cek) bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah. Imam Az-Zuhri pernah berkata: “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Qur’an”.

11


salafu shalih mencurahkan waktunya untuk tilawah Al-Qur’an sampai Rasulullah SAW pernah melarang mereka berlebihan Ramadhan mengingatkan kita tentang wajibnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat karib, kawan bicara dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai hari berlalu tanpa menjalin hubungan dengan Al-Qur’an. Demikianlah salafu shalih men­ contohkannya pada kita. Mereka demikian mencurahkan waktunya untuk Al-Qur’an sam­pai Rasulullah SAW pernah turun ta­ ngan untuk melarang mereka berlebih-lebi­ han di dalam membacanya. Hal ini di­se­ but­kan dalam hadits dimana Nabi menyu­ ruh Abdullah bin Amru bin ‘Ash untuk meng­khatamkan Al-Qur’an cukup sekali dalam sebulan, sekali dalam 20 hari, atau sekali dalam seminggu, tidak boleh kurang dari seminggu, “Karena sesungguhnya istrimu mempunyai hak yang harus kau tunaikan, tamumu mempunyai hak yang harus kau tunaikan, dan jasadmu mempunyai hak yang harus kau tunaikan...” (HR. Bukhari Muslim)

Utsman bin Affan memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam seming­ gu, ia membuka malam Jum’at dengan mem­ba­ca Al-Baqarah sampai Al-Maidah; ma­lam Sabtu surat Al-An’am sampai su­ rat Hud; malam Ahad surat Yusuf sampai Mar­yam; malam Senin surat Thaha sampai Al-Qashash; malam Selasa surat Al-Anka­ but sampai Shad; dan malam Kamis meng­ khatamkannya. Sedangkan di bulan Rama­ dhan ia mengkhatamkannya setiap hari. Rasulullah SAW bersabda tentang orang yang gemar membaca Al-Qur’an secara ru­ tin, “Diantara hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah AlHallul Murtahil (orang yang singgah dan pergi).” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Hallul Murtahil itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an lalu memulainya lagi dan orang yang memulai membaca Al-Qur’an kemudian 12

mengkhatamkannya. Demikianlah, ia terus berada dalam keadaan singgah dan pergi bersama kitab Allah tabaroka wa ta’ala”

Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau meng­ ambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

Semua ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan esensi da­ sar diturunkannya Al-Qur’an untuk di­ta­ dabburi, difahami, dan diamalkan. ُ ُ َّ َ َ ْ َ‫َ ٌ َ ْ َلنَْ ُ ي‬ َّ َ َ‫ك ُمب‬ ‫ار ٌك ليَِدبَّ ُروا آيَاتِ ِه َوليَِتَذك َر أولو‬ ‫ِكتاب أنز اه إِل‬ َْ‫أ‬ َْ‫ال ب‬ ‫اب‬ ‫ل‬ ِ

“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turun­ kan kepadamu penuh dengan berkah supa­ ya mereka memperhatikan ayat-ayat­Nya dan supaya mendapat pelajaran orangorang yang mempunyai fikiran.” (Shad, 29)

Kegiatan tilawah Al-Qur’an mengins­ pira­si kita agar mampu membina di­ ri menjadi orang-orang Rabbani sebaga­ imana dise­butkan di dalam firman-Nya, ُ ُّ َ َ ْ ُ ْ‫َ اَ َ َ رَ َ ْ ُ ْ َ ُ ُ ْ َ َ َ ح‬ ‫انلبُ َّو َة ث َّم‬ ‫كتاب والكم و‬ ِ ‫ش أن يؤ ِتيه اهلل ال‬ ٍ ‫ما َكن ِلب‬ َُ ً َ َّ ُ ُ ْ ََ ُ ْ ُ ُ ‫كن كونوا‬ ِ ‫يقول لِلن‬ ِ ‫ون ا‬ ِ ‫هلل ول‬ ِ ‫اس كونوا ِعبادا يِل ِمن د‬ ْ ِّ َْ ُْ َ َ ُ َ ُ ْ ُ ْ ُ َ َ ِّ َّ َ َ َ‫ون الكت‬ ‫اب َوبِ َما كنتُ ْم تد ُر ُسون‬ ‫ربانِيني بِما كنتم تعلم‬ ِ

"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu me­nga­jar­ kan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali Imran, 79)

Sebagian mufasirin menyebutkan bah­ wa rab­bani ialah orang yang sempurna il­ mu dan takwanya kepada Allah SWT. Se­ dang­kan Imam Ibn Jabir al-Thabari, yang dikenal de­ngan sebutan Imamul Mufassi­rin menga­takan bahwa rabbani adalah seseo­ rang yang memenuhi beberapa kualifikasi, yaitu: 1. Faqih, memahami agama Islam dengan sangat baik. Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


harakatuna Alim, memiliki ilmu pengetahuan. Bashir bis siyasah, ‘melek’ politik. Bashir bit tadbir, ‘melek’ manajemen. Qaim bi syu-un al-ra’iyah bima yusli­ huhum fi dun-yahum wa dinihim, me­ laksanakan segala urusan rakyat yang mendatangkan kemaslahatan mereka, baik dalam urusan dunia maupun aga­ ma. Dengan tilawah Al-Qur’an kita berharap dapat menumbuhkan karakter ummatun qa’imah, golongan yang berlaku lurus, se­ per­ti Abdullah bin Salam yang diberi lim­ pahan nikmat iman oleh Allah SWT.

2. 3. 4. 5.

َْ َ َ َ ُ ْ َ ٌ َ َ ٌ َّ ُ َ‫اء م ْن أَ ْهل الْكت‬ َ َ‫هلل آن‬ ‫اء‬ ِ ً ‫لي ُسوا س َو‬ ِ ‫ات ا‬ ِ ‫اب أمة قائِمة يتلون آي‬ ِ ِ ِ َّ َ ُ َْ ْ َُ ْ ‫ج ُدون‬ ‫اللي ِل وهم يس‬ “Mereka itu tidak sama; di antara ahli Ki­ tab itu ada golongan yang berlaku lurus, me­re­ka membaca ayat-ayat Allah pada be­ be­ra­pa waktu di malam hari, sedang mere­ ka juga bersujud (shalat).” (Ali Imran, 113)

Inspirasi Qiyamu Ramadhan Ibadah yang sangat ditekankan Rasulul­ lah SAW di malam Ramadhan adalah qiya­ mu ramadhan atau yang biasa dikenal de­ ngan shalat tarawih. Rasulullah SAW ber­­ sab­da: “Barangsiapa yang melakukan qiyam dengan penuh iman dan perhitungan, naka diampuni dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘alaihi).

Qiyamu Ramadhan menginspirasi ki­ta tentang pentingnya taqorrub dan komuni­ kasi intensif dengan Allah SWT. Sebulan lamanya kita dilatih melaksanakannya, a­gar selepas Ramadhan kita terbiasa melak­ sa­nakan qiyamu lail. Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benarbenar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan

akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Qiyamullail adalah sarana berkomunika­ si seorang hamba dengan Rabb-nya. Sang ham­ba merasa lezat di kala muna­jat dengan Pen­ciptanya. Ia berdoa, beristighfar, ber­tas­­ bih, dan memuji Sang Pencipta. Dan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pe­nyayang, se­suai dengan janji­nya, a­kan men­cin­tai ham­ba yang men­dekat ke­pada­nya. Kalau Allah SWT. men­cintai se­or­ ang hamba, ma­ ka Ia akan mempermudah se­mu­a aspek ke­ hi­dupan hambaNya. Dan mem­­beri berkah atas semua aktivitas seorang hamba, baik ak­ti­vitas di bidang dak­wah, pen­didikan, e­ko­nomi, sosial, budaya, maupun politik. Sang hamba akan dekat dengan Rabbnya, diampuni dosanya, di­hormati oleh sesa­ma, dan menjadi penghu­ni surga yang disedi­ akan untuknya. Seorang muslim yang kontinu menger­ jakan qiyamullail, pasti dicintai dan dekat dengan Allah SWT. Karena itu, Rasulullah SAW. menganjurkan kepada kita, “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)

Jika kita ingin mendapat kemuliaan di sisi Allah dan di mata manusia, amalkanlah qiyamullail secara kontinu. Dari Sahal bin Sa’ad r.a., ia berkata, “Malaikat Jibril a.s. datang kepada Nabi SAW. lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, hiduplah sebebas-bebasnya, akhirnya pun kamu akan mati. Berbuatlah semaumu, pasti akan dapat balasan. Cintailah orang yang engkau mau, pasti kamu akan berpisah. Kemuliaan orang mukmin dapat diraih dengan melakukan shalat malam, dan harga dirinya dapat ditemukan dengan tidak minta tolong orang lain.”

Qiyamullail adalah sarana berkomunika­si seorang hamba dengan Rabb-nya. Ia berdoa, beristighfar, bertas­bih,

dan memuji Sang Pencipta.

13


Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalat malamlah pada waktu orang-orang tidur, kalian

akan masuk surga dengan selamat

Orang yang shalat kala orang lain lelap ter­­tidur, diganjar dengan masuk surga. Ka­bar ini sampai kepada kita dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi da­­ ri Abdullah bin Salam dari Nabi SAW., be­ li­­au bersabda,

“Barangsiapa yang memberi ifthar kepada orang-orang yang shaum, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang shaum tersebut” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalat malamlah pada waktu orang-orang tidur, kalian akan masuk surga dengan selamat.”

Di akhir bulan Ramadhan kaum mus­li­­ min menunaikan zakat fitrah yang bertu­ juan untuk menyucikan orang yang melak­ sanakan shaum dan untuk memban­tu fakir miskin. Zakat, infaq dan shadaqah menginspirasi kita agar selalu memiliki solidaritas dan kepedulian kepada sesama. Selain dalam rangka mematuhi perintah Allah, zakat ju­ga memiliki hikmah menumbuhkan si­ kap menolong yang lemah, mewujudkan pemerataan, membersihkan jiwa kikir dan mewujudkan persaudaraan (lihat: PokokPokok Ajaran Islam, DR. Miftah Faridl). Bu­kan hanya saat Ramadhan saja, tetapi ju­ga di bulan-bulan lainnya.

Seorang dai yang ingin berhasil dakwah­ nya, harus menabur kasih sayang kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal itu dapat digapai dengan wajah yang berseri-seri, me­­ngucapkan salam, mengulurkan bantu­ an, silaturahim, dan pada malam ha­ri me­ mo­­hon kepada Allah diawali de­­ngan qiya­ mulail. Tapi sayang, yang melaksana­kan qiyamulail secara kontinu sangat se­dikit jumlahnya. Semoga kita ter­masuk kelom­ pok yang sedikit ini dan berhak ma­suk sur­ ga tanpa dihisab. Rasululah saw. ber­sab­da, “Seluruh manusia dikumpulkan di tanah lapang pada hari kiamat. Tiba-tiba ada pang­gilan dikumandangkan dimana orang yang meninggalkan tempat tidurnya, maka berdirilah mereka jumlahnya sangat sedikit, lalu masuk surga tanpa hisab. Baru kemudiaan seluruh manusia diperintah untuk diperiksa.”

Inspirasi Zakat, Infaq dan Shadaqah Rasulullah SAW adalah orang yang pa­ ling pemurah, dan di bulan Ramadhan beli­ au lebih pemurah lagi. Kebaikan Rasulullah SAW di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus karena begitu cepat dan banyaknya. Dalam hadits disebut­kan, “Sebaik-baik sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan” (HR. Al-Baihaqi, Al-Khatib dan At-Turmudzi).

Salah satu bentuk shadaqah yang dianjur­ kan adalah memberikan ifthar (santapan buka shaum). Seperti sabda Nabi SAW, 14

Inspirasi I’tikaf I’tikaf adalah puncak ibadah Ramadhan. Karena pada hakekatnya inti ibadah Rama­ dhan adalah upaya menahan diri (imsak) dari makan dan minum dan segala sesuatu yang membatalkannya di siang hari, de­ ngan harapan dapat menahan diri dari se­ gala yang diharamkan Allah. Sementara i’tikaf bukan hanya menahan diri dari ma­ kan dan minum, tetapi menahan diri untuk tetap tinggal di masjid, taqarrub kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala akti­ vitas keduniaan. Itulah sunnah yang selalu dilakukan Ra­ su­lullah pada bulan Ramadhan, seperti di­ sebutkan dalam hadits: “Adalah (Nabi SAW) beri’tikaf pada sepu­ luh hari terakhir dalam bulan Ramadhan sampai Allah ‘azza wa jalla mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sesudah itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Selama melakukan i’tikaf orang tidak bo­ Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


harakatuna leh bersetubuh dengan istri, karena hal itu membatalkan i’tikaf. Hal ini sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an,

ُ ُ َ َّ ُ ٌ ‫ك ْم ُه َّن بَِل‬ ِّ ‫ك ْم يَلْلَ َة‬ َ َ‫الصيَامِ َّ َ ُ ى‬ ‫اس‬ ‫أ ِحل ل‬ ِ‫الرفث إِل نِسائ‬ َ ُ ْ َ‫َ ُ ْ َ َ ْ ُ ْ بَِ ٌ َ ُ َّ َ َ ُ َ َّ ُ ُ ْ خ‬ ‫لكم وأنتم لاس لهن ع ِلم‬ ‫اهلل أنك ْم كنتُ ْم تتَانون‬ ُ ُ َ َ ْ‫َ ْ ُ َ ُ ْ َ َ َ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ َ ْ ُ ْ َ آ‬ ‫اشوه َّن‬ ِ‫أنفسكم فتاب عليكم وعفا عنكم فالن ب ر‬ ُ َ ُ َ ََ َ َُْ َ ُ َ َ َْ‫ك ْم َو لُكُوا َو ر‬ ‫وابتغوا ما كتب اهلل ل‬ ‫اش ُبوا َح ىَّت يَتبَينََّ لك ُم‬ َْ‫أ‬ َ ْ َْ َ َ ْ ُ َْ‫أ‬ ْ ِّ ‫جر ُث َّم أت ُّموا‬ َْ‫خ‬ َ‫الصيَام‬ ‫الخَْيْ ُط ال ْبيَض ِم َن الي ِط السو ِد ِمن الف‬ ِ ِ َ ْ َ ُ َ‫ىَ َّ ْ َ اَ ُ َ ُ ُ َّ َ َ ْ ُ ْ ا‬ َ َْ ‫اج ِد تِلك‬ ِ‫إِل اللي ِل ول تب ر‬ ِ ‫اشوهن وأنتم ع ِكفون يِف المس‬ َ َ َ َ ُ َ ْ َ َ‫َ ا‬ َّ ُ ُ ُ ِّ‫ك يُبَين‬ ُ َ ْ‫لناس لَ َعلَّ ُهم‬ ُ ِ ِ ‫اهلل آياتِ ِه ل‬ ِ ‫هلل فل تقربوها كذل‬ ِ ‫حدود ا‬ َ ُ َ ‫ي َّتقون‬ “…Janganlah kamu bercampur dengan istriistrimu ketika kamu sedang i’tikaf di dalam masjid…” (Al-Baqarah, 2: 187)

Tempat i’tikaf harus di dalam masjid, ti­ dak boleh di surau, mushalla, rumah, atau tempat-tempat lain. Selama i’tikaf tidak bo­ leh keluar dari masjid, kecuali untuk ke­ perluan-keperluan sangat mendesak, se­per­ ti buang hajat, mandi, berobat, atau makan. Hal ini dijelaskan dalam hadits berikut: Dari ‘Aisyah, ia berkata: “Ketika I’tikaf Rasulullah SAW pernah mengeluarkan kepalanya dari dalam masjid kepada saya, lalu saya sisir rambutnya. Beliau tidak masuk ke dalam rumah, kecuali ada keperluan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibadah yang penting ini sering dianggap berat oleh kaum muslimin, sehingga ba­ nyak yang tidak melakukannya. Imam AzZuhri berkata, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf, padahal Rasulullah ti­dak pernah meninggalkannya sejak beli­a­u datang ke Madinah sampai beliau wafat”.

I’tikaf menginspirasi kita untuk membas­ mi virus al-wahn di dalam jiwa. Kita teri­

ngat hadits Nabi SAW, “Hampir datang masanya bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana menge­ rumuni makanan di atas meja makan.” Ada yang bertanya: “Apakah saat itu ki­ ta sedikit?” Beliau menjawab: “Justru sa­ at itu kalian banyak, tetapi laksana bu­ ih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dalam dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, sedangkan Allah telah melemparkan ke dalam hati kalian penya­kit Al Wahn,” Ada yang bertanya: “Apakah Al Wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati!” (HR. Ibnu Majah)

I’tikaf mengingatkan kita tentang ubudi­ yah dan pengagungan Allah Rabbul ‘alamin. De­ngannya manusia membuktikan, bahwa di­ri­nya bukan hamba dunia dan bukan pe­ ng­ag­ ung dunia. Memang demikianlah se­ harusnya sikap seorang hamba beriman. Karena Rasulullah SAW bersabda: “Apabila umatku mengagungkan dunia, maka dicabutlah kehebatan Islam darinya. Kemudian apabila meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, terdindinglah keberkahan wahyu”. (HR. Turmudzi).

Khatimah Marilah kita bangkitkan semangat beri­ badah di bulan Ramadhan ini dengan lan­ dasan iman. Jadikan shaum, tilawah AlQur’­an, qiyamu Ramadhan, zakat, infaq, sha­daqah. i’tikaf dan ibadah lain­nya seba­ gai riyadhotu ruh dalam meniti jen­jang ketaqwaan. Jangan biarkan Rama­dhan le­ wat tanpa menanamkan inspirasi.  Maraji’ Panduan Lengkap Ibadah Ramadhan, Tim Konsultan Sharia Consulting Center (SCC) Fiqih Puasa, DR. Yusuf Qaradawi Akhlak Seorang Muslim, Muhammad Al-Ghazaly http://www.dakwatuna.com/2007/keutamaan-qiyamullail/ 60 Pedoman Amaliah Ramadhan, Drs. Muhammad Thalib Pokok-Pokok Ajaran Islam, DR. Miftah Faridl

‘Aisyah ra.: “Ketika I’tikaf Rasulullah SAW pernah mengeluarkan kepalanya dari dalam masjid kepadaku, lalu kusisir rambutnya. Beliau

tidak masuk ke dalam rumah, kecuali ada keperluan.”

15


tazkiyah

Ummatun Qo'imah َ ُ ْ َ ْ ُ َ ْ َّ َ َ َ َ ُ ْ َ ٌ َ َ ٌ َّ ُ َ‫اء ۗ م ْن أَ ْهل الْكت‬ ً ‫لَيْ ُسوا َس َو‬ ‫ج ُدون‬ ‫هلل آناء اللي ِل وهم يس‬ ِ ِ ‫ات ا‬ ِ ِ ‫اب أمة قائِمة يتلون آي‬ ِ ِ ْ ْ‫آ‬ ْ َ ْ ُْ َ َ ْ َََْ َ ُ ُْ ْ َ َ ُ َ ْ ‫وف وينهون ع ِن المنك ِر‬ ِ ‫هلل َواليَْومِ ال ِخ ِر َويأم ُرون بِالمع ُر‬ ِ ‫﴾ يؤ ِمنون بِا‬١١٣﴿ َ َ ْ‫ْ َ ر‬ ََُْ ََ َ ٰ‫َ ُ َ ئ‬ َ ُ ََُ َّ ‫ك م َن‬ َ ‫الصال‬ َْ‫خَْ ر‬ ‫خ‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫وا‬ ‫ل‬ ‫ع‬ ‫ف‬ ‫ي‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫و‬ ﴾١١٤﴿ ‫ني‬ ‫ي فل ْن‬ ِ ِ‫ح‬ ِ ِ ِ‫ات وأول‬ ِ ‫ارعون يِف الي‬ ِ ‫ويس‬ ٍ َ ‫يم بال ْ ُم َّتق‬ ٌ َ ُ ُ َْ ُ ﴾١١٥﴿ ‫ني‬ ِ ِ ‫يكف ُروه ۗ َواهلل ع ِل‬ “Mereka itu tidak sama; di antara ahli Kitab itu ada golongan yang ber­ la­ku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa wak­tu di ma­lam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat). Mereka beri­man ke­ pa­da Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'­ ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (menger­ja­ kan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka ti­dak dihalangi (menenerima pahala) nya; dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran, 113 – 115).

M

ereka yang terobsesi dan ber­ cita-cita meraih jenjang ke­taq­ waan melalui ibadah Ramadhan, sebaiknya tidak melewatkan ayat ini begi­tu saja. Karena di dalamnya memuat ten­tang karakteristik orang-orang yang ber­taq­wa. Sifat-sifat ummatun qo’imah, go­lo­ng­an orang-orang yang berlaku lurus, men­da­ patkan petunjuk, menetapi perintah Allah, dan tidak bergeming darinya. 16

Dalam suatu riwayat dikemukakan : Ketika Abdullah bin Salam, Tsa’labah bin Sa’yah, Usaid bin Sa’yah, As’ad bin ‘Abd dan beberapa orang lain­nya da­ ri kaum Yahudi masuk Islam, beri­man membenarkan Muhammad dan mencin­tai Islam, berkatalah pendeta-pendeta Yahu­di dan orang-orang kufur di antara mereka: “Tidak akan iman kepada Muhammad Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


dan pengikutnya kecuali orang-orang yang paling jahat di antara ka­mi, karena sekiranya mereka itu orang-o­rang yang paling baik dia antara kami, ti­dak akan meninggalkan agama nenek mo­yangnya dan pergi ke agama lain”. Maka Allah menurunkan ayat tersebut yang menegas­ kan adanya perbedaan di antara orang Ya­ hudi yang jujur karena beriman kepada Muhammad dan yang kufur kepadanya (Di­ri­wayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, atThabarani, Ibnu Mandah dari Ibnu Abbas).

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Rasulullah SAW mengakhirkan sha­lat ‘Isya, didapatinya di dalam masjid orang-orang sedang menunggu shalat. Ma­ ka ber­sab­dalah beliau: “Ketahuilah, se­sung­guhnya tak ada seorang pun dari pe­nganut agama lain yang ingat kepada Allah (shalat) di saat malam begini, selain kalian”. Maka turunlah ayat tersebut di atas yang melukiskan sifat-sifat kaum mu’minin (Di­riwayatkan oleh Ahmad bersumber dari Ibnu Mas’ud).

Karakteristik Muttaqin

َ ُ ْ َ ْ ُ َ ْ َّ َ َ َ َ َُْ ‫ج ُدون‬ ‫هلل آناء اللي ِل وهم يس‬ ِ ‫ات ا‬ ِ ‫يتلون آي‬

Mereka membaca Al-Qur’an di waktu ma­­lam, dan melakukan shalat tahajjud. Ra­su­lullah SAW bersabda tentang orangorang seperti ini, “Tidak boleh dengki, kecuali kepada dua orang; laki-laki yang didatangkan Allah kepadanya Al-Qur’an, lalu ia menetapinya (membaca) di malam dan siang hari, dan laki-laki yang didatangkan Allah harta, lalu ia menginfakkannya di malam dan siang hari” (Hadits Muttafaq Alaih)

Dalam hadits lain beliau bersabda, “Ummatku yang paling mulia adalah hamalatul qur’an (pengemban Al-Qur’an)

dan ashabul lail (orang yang senantiasa ibadah di malam hari)…” (HR. Thabrani). ْ‫َ يَْ آ‬ َ ُ ُْ ‫ال ْومِ ال ِخ ِر‬ ‫هلل و‬ ِ ‫يؤ ِمنون بِا‬

Mereka beriman kepada Allah serta kepa­ da sejumlah kitab dan rasul. Mengi­mani hari akhir, serta yakin adanya kebangkitan sesudah mati dan kenikmatan-kenikmatan surga. Keimanan mereka adalah keimanan yang jujur, tidak diliputi keraguan, apalagi kemunafikan. Allah Ta’ala berfirman, َ ُ ْ ُ ْ َ َّ َ َ ُ َُ َ ُ َ َ ‫ون ذَّال‬ ‫ول ث َّم ل ْم يَ ْرتابُوا‬ ‫إِنما المؤ ِمن‬ ِ ِ‫هلل ورس ه‬ ِ ِ ‫ين آمنوا بِا‬ َ ُ ٰ‫ئ‬ َ َ َ ُ َ َ َ ‫اه ُدوا بأَ ْم َواله ْم َوأ ْن ُفسه ْم ف‬ ‫هلل ۚ أولِك ه ُم‬ ‫ا‬ ‫يل‬ ‫ب‬ ‫س‬ ‫وج‬ ِ ِ ِ ِ‫ِ ِ ي‬ ِِ ِ َ ُ َّ ‫الصا ِدقون‬

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (AlHujurat, 49: 15) ْ‫آ‬ َّ َ ُ ُ َ ْ َ ُ َّ ‫َو ِم َن‬ ‫هلل َوبِاليَْ ْومِ ال ِخ ِر َو َما ه ْم‬ ِ ‫انل‬ ِ ‫اس من يقول آمنا بِا‬ َ‫ب ُم ْؤمنني‬ ِِ ِ “Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah, 2: 8). َ ْ ْ َ ْ ْ َْ َ َُْ ‫وف َو َين َه ْون َع ِن ال ُمنك ِر‬ ِ ‫َويأم ُرون بِالمع ُر‬

Karakteristik ummatun qo’imah selan­jut­ nya adalah mereka selalu berusaha me­ng­ ajak orang lain dan membimbing mere­ka kepada yang seharusnya, yaitu amar ma’­ ruf (agar bertauhid dan mengikuti Na­­bi Muhammad SAW) atau tentang yang se­ ha­rusnya dicegah (kekafiran, kemusyri­kan, serta mengikuti berhala dan thaghut), yaitu

Tidak boleh dengki, kecuali pada dua orang; laki-

laki yang didatangkan Allah kepadanya Al-Qur’an, ia membacanya di malam dan siang hari, dan laki-laki yang didatangkan Allah harta, ia menginfakkannya di malam dan siang hari 17


tazkiyah melalui nahi munkar. Amar ma’ruf nahi munkar juga dilaku­ kan agar tegaklah nilai-nilai islam dalam seluruh aspek kehidupan. Ustadz Hasan Al-Banna menyebutkan tiga alasan me­nga­­ pa seorang mu’min harus beramar ma’ruf nahi munkar. Pertama, alasan solidari­tas sosial. Masyarakat itu ibarat satu bangu­nan. Kerusakan pada satu bagian akan berpe­ ngaruh pada bagian yang lain. Amar ma’ruf na­hi munkar hakikatnya adalah upaya men­ce­­­gah menjalarnya kerusakan itu. Sia­ pa pun harus sadar bahwa kebebasan atau hak pribadi melakukan sesuatu dibatasi kebebasan atau hak orang lain. Kedua, ala­ san kemanusiaan dan kasih sayang. Kita adalah saudara, karenanya merasa sedih bila melihat keburukan yang ada pada se­ sa­ma saudara. Karena terdorong kasih sa­ yang itulah kita punya alasan untuk turut campur dengan beramar ma’ruf nahi mun­ kar. َ‫ُ ْ ُ ى‬ ْ ْ ْ‫َ ح‬ َ َ ْ ٰ ِ‫ع إ‬ ‫اد‬ ‫يل َر ِّبك بِالِك َم ِة َوال َم ْو ِعظ ِة الحَْ َسن ِة ۖ َو َجا ِدل ُه ْم‬ ‫ل َس ِب‬ ِ َ َ َْ ُ َ َّ ْ َِ‫َّ ي‬ َ َّ ۖ ‫ه أح َس ُن ۚ ِإن َر َّبك ه َو أعل ُم بِ َم ْن َضل ع ْن َس ِبي ِل ِه‬ ‫بِال يِت‬ َ ‫َو ُه َو أَ ْعلَ ُم بال ْ ُم ْهتَ ِد‬ ‫ين‬ ِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl, 125)

Hikmah ialah perkataan yang tegas dan be­nar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Ketiga, alasan ke­be­naran. Kita wajib beramar ma’ruf nahi mun­kar karena kebenaran harus dibela, ji­ ka tidak hancurlah langit dan bumi akibat ha­wa nafsu dan ulah tangan manusia. َ َ ُ َ َ ْ َ ُّ َْ‫َ َ َّ َ َ ح‬ ُ َْ‫َّ َ َ ُ أ‬ ‫ات َوال ْرض َو َم ْن‬ ‫اءه ْم لف َس َد ِت السماو‬ ‫ول ِو اتبع الق أهو‬ َ ُ ْ ُ ْ ْ ْ َ ْ ُ َ ْ ْ ْ ُ َ ْ َ َ ْ َ َّ ‫يهن ۚ بل أتيناهم بِ ِذك ِر ِهم فهم عن ِذك ِر ِهم مع ِرضون‬ ِ ‫ِف‬

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan

bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka, tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (Al-Mu’minun, 71) َ ُ ََُ َْ‫خَْ ر‬ ‫ات‬ ِ ‫ارعون يِف الي‬ ِ ‫ويس‬

Mereka bersegera mengerjakan berbagai ke­ba­jikan, berpacu dalam mengerjakan ber­ba­gai ketaatan kepada Allah Ta’ala. Me­ re­ka melakukan amal saleh dengan penuh ke­senangan, tidak merasa enggan dalam me­laksanakannya. Al-Maraghi berkata: Ayat ini memakai kata as-sur’ah (ber­ se­gera/cepat-cepat), bukannya al-‘aja­ lah (buru-buru), karena kata per­ta­ ma mempunyai pengertian men­da­hu­­ lukan apa-apa yang harus dida­hu­lu­kan, dan ini adalah pekerjaan yang ter­pu­ji. Lawan katanya adalah al-ibtha’ (mem­ perlambat). Sedang kata yang kedua a­da­lah mendahulukan apa-apa yang se­ ha­rusnya tidak dida­hulukan. Oleh ka­re­ na itu Rasulullah SAW bersabda, “Ter­ buru-buru adalah peker­jaan setan, dan ketenangan merupakan sifat yang Maha Penyanyang.” Lawan ka­ta­nya adalah alanat (tenang) yang ter­masuk sifat terpuji.

Inilah diantaranya sifat-sifat atau karak­ teristik ummatun qo’imah: selalu membaca Al-Qur’an, seraya menegakkan shalat tahaj­ jud, beriman kepada Allah dan hari akhir, beramar ma’ruf nahi munkar, dan selalu bersegera dalam kebajikan. Jika kita mampu menetapinya, insya Allah kita akan diikutkan menjadi golong­ an orang-orang yang saleh dari umat Ra­ sulullah Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui siapakah orangorang yang bertakwa, yang menjauhi ke­ ka­firan, ke­musy­ri­kan, dan perbuatan-per­ buatan buruk.  Maraji: Asbabun Nuzul, Imam Jalaluddin Assuyuthi Tafsir Al-Maraghi, Ahmad Mushafa Al-Maraghi Haditsu Tsulasa, Hasan Al-Banna Tafsir Ibnu Abbas dalam Al-Kalam versi 1.0

Hikmah ialah perkataan yang tegas dan be­nar 18

yang dapat membedakan antara hak dengan bathil

Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


19


sunnah

Pembahasan Tentang Puasa

Bagi

Orang-Orang Yang Memiliki Udzur Oleh: uSTADZ FARID NU'MAN HASAN

“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah bagi­nya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggal­ kan itu pada hari-hari yang lain. dan wa­ jib bagi orang-orang yang berat menjalan­ kannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah, 184)

dibolehkan berbuka bagi setiap jenis pe­ nya­kit, sampai rasa sakit di jari-jari dan tergigit, lantaran keumuman ayat ten­ tang hal ini.” (Al Mughni, 6/149. Mawqi’ Islam)

Ini juga pendapat Imam Bukhari, Imam ‘Atha, dan ahluzh zhahir (tekstualist) seper­ ti Imam Daud dan Imam Ibnu Hazm Al Andalusi. Namun, pendapat yang lebih aman dan selamat adalah bahwa penyakit yang boleh bagi penderitanya untuk meninggalkan pu­a­sa adalah penyakit yang membuatnya uasa Ramadhan diwajibkan ke­ sulit dan berat berpuasa, dia tidak mampu, pa­da setiap umat Islam, baik laki- dan bisa membahayakan dirinya jika dia laki atau perempuan, baligh, berakal, berpuasa. Dengan demikian, seseorang ti­ dan sedang tanpa udzur (halangan). Orang- dak bermain-main dengan syariat, hanya orang yang memiliki udzur, diperkenankan dengan alasan sakit yang sebenarnya tidak ti­dak melaksanakan puasa. Udzur-udzur menyulitkannya. tersebut adalah: sakit, safar, dan kesulitan Imam Ibnu Qudamah mengomentari menjalankan puasa. ayat di atas, katanya,

P

Sakit Yang Bagaimana? Sebagian ulama mengatakan bahwa sega­ la macam sakit, walau ringan, boleh untuk tidak puasa. Alasan mereka adalah karena ayat ini tidak merincinya. Jadi, karena ke­ mut­lakan ayat ini maka semua macam sakit boleh membuat seseorang tidak puasa dan wajib diganti di hari lain. Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi Rahi­ mahullah mengatakan dalam kitabnya Al Mughni: “Diceritakan dari sebagian salaf bahwa 20

“Sakit yang dibolehkan untuk berbuka adalah sakit keras yang bisa bertambah parah karena puasa atau dikhawatiri lama sembuhnya.” (Ibid)

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah per­nah di tanya: “Kapankah orang sakit boleh berbuka?” Dia menjawab: “Jika dia tidak mampu (puasa).” Ditanyakan lagi: “Semacam demam?” Beliau menjawab: “Sakit apa pun yang lebih berat dari demam.” (Ibid) Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


Dialog ini menunjukkan bahwa beliau hanya mengkhususkan sakit tertenu sa­ja yakni yang memberatkan bagi si penderi­ tanya. Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili Ha­ fizhahullah mengatakan tentang standar sakit yang boleh berbuka puasa: “Yaitu sakit berat yang jika puasa beratnya semakin parah atau khawatir dia celaka, atau khawatir dengan puasa akan menambah sakit atau memperlama kesembuhan. Jika seorang puasa tidaklah mendatangkan mudharat baginya seperti sakit kudis, sakit gigi, jari, bisul, dan yang semisalnya, maka ini tidak boleh berbuka.” (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 3/75. Maktabah Al Misykah)

Inilah pendapat yang lebih kuat, karena Allah Ta’ala berfirman: ”Maka bertakwalah kamu kepada Allah me­ nurut kesanggupanmu“ (At Taghabun, 16)

jadi tertimpa hal yang buruk.” (Fiqhus Sunnah, 1/442)

Safar yang Bagaimana? Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang safar boleh tidak puasa, baik ia ti­ dak berpuasa sebelum berangkat atau ke­ti­ ka berangkat. Hal ini ditegaskan oleh bebe­ rapa hadits berikut: Dari Hamzah bin Amru Al Aslami Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Wahai Rasulullah, saya punya kekuatan untuk berpuasa dalam safar, apakah salah saya melakukannya?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Itu adalah rukhshah dari Allah, barang siapa yang mau mengambilnya (yakni tidak puasa) maka itu baik, dan barang siapa yang mau berpuasa maka tidak ada salahnya.” (HR. Muslim No. 1121. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra, no. 7947. Ibnu Khuzaimah No. 2026)

Hadits di atas adalah bagi yang merasa Jadi, selama masih ada kesanggupan ma­ ‘kuat’ dan ‘sanggup’, ada pun bagi yang ka berpuasalah. Jangan menyerah begitu ke­pa­ya­han puasa dalam perjalanan maka saja hanya karena penyakit ringan seperti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih panu, kudis, keseleo kaki, dan sejenisnya. me­ng­anjurkan berbuka saja. Adapun jika orang yang sakit keras me­ mak­sakan diri untuk puasa, maka puasanya Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, te­tap sah, walau hal itu dibenci (makruh), katanya:“Bahwa Rasulullah Shallallahu lan­taran dia telah menyiksa diri sendiri ‘Alaihi wa Sallam keluar pada tahun Fath dan menolak keringanan yang Allah dan (penaklukan) menuju Mekkah pa­da saat RasulNya berikan. Ramadhan. Dia berpuasa hingga sam­ Allah Ta’ala berfirman: pai pinggiran daerah Ghanim. Manusia “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al Baqarah, 2: 185)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah me­ nga­takan: “Jika orang sakit berpuasa dan hal itu membawanya pada keadaan yang menyulitkan, maka puasanya sah, tetapi hal itu makruh karena dia menentang rukhshah (dispensasi) yang Allah Ta’ala sukai, dan dengan itu dia bisa

juga berpuasa bersamanya. Dikata­kan kepadanya: “Wahai Rasulullah, nam­ paknya manusia kepayahan berpuasa.” Kemudian Beliau meminta segelas air sete­ lah asar, lalu beliau minum, dan manusia melihatnya. Maka sebagian manusia berbuka, dan sebagian lain tetap berpuasa. Lalu, disampaikan kepadanya bahwa ada orang yang masih puasa.” Maka Beliau bersabda: “Mereka durhaka.” (HR. Muslim No. 1114. Ibnu Hibban No. 2706, An Nasa’i No. 2263. At Tirmidzi No. 710. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No.7935)

selama masih ada kesanggupan berpuasalah.

Jangan menyerah hanya karena penyakit ringan seperti panu, kudis, keseleo kaki, dan sejenisnya. 21


sunnah Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sal­ lam pernah mengkritik orang yang ber­pu­ a­sa dalam keadaan safar dan dia ke­su­sahan karenanya. “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tengah dalam perjalanannya. Dia melihat seseorang yang dikerubungi oleh manusia. Dia nampak kehausan dan kepanasan. Ra­ sulullah bertanya: “Kenapa dia?” Mereka men­jawab: “Seseorang yang puasa.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ber­sab­da: “Tidak ada kebaikan kalian ber­ pu­asa dalam keadaan safar.” (HR. Muslim No. 1115)

Tetapi, jika orang tersebut kuat dan mam­ pu berpuasa, maka boleh saja dia berpuasa sebab berbagai riwayat menyebutkan hal itu, seperti riwayat Hamzah bin Amru Al Aslami radhiallahu ‘anhu di atas. Ini dikuatkan oleh riwayat lain­nya, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma: “Tidak ada kesulitan bagi orang yang berpu­ a­sa, dan tidak ada kesulitan bagi yang ber­ bu­ka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berpuasa dalam safar dan juga berbuka.” (HR. Muslim No. 1113)

Dengan men-tawfiq (memadukan) ber­ ba­gai riwayat yang ada ini, bisa disimpulkan bah­wa anjuran dasar bagi orang yang safar adalah berbuka. Namun, bagi yang kuat dan sanggup untuk berpuasa maka boleh sa­ja berbuka atau tidak berpuasa sejak a­wal­nya. Namun bagi yang sulit dan lelah, ma­ka lebih baik dia berbuka saja. Wallahu a’lam. Dalam konteks ‘boleh buka dan boleh puasa’ bagi yang sanggup, lalu manakah yang lebih utama? Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah me­ ring­kas sebagai berikut: “Menurut Abu Hanifah, Malik, Syafi’i,

puasa adalah lebih utama bagi yang kuat menjalankannya, dan berbuka le­ bih utama bagi yang tidak kuat. Ahmad mengatakan: “berbuka lebih uta­ma.” Sedangkan Umar bin Abdul Aziz ber­ kata: “Yang paling utama dari keduanya adalah yang paling mudah. Barangsiapa yang lebih mudah puasa saat itu, dan mengqadha setelahnya justru berat, maka berpuasa baginya adalah lebih utama.” (Fiqhus Sunnah, 1/443)

Bolehkah Berbuka Sebelum Berangkat? Jika seseorang sedang puasa Ramadhan, lalu di waktu tengah berpuasa, dia hendak melakukan safar, bolehkah dia berbuka se­ be­lum berangkat? Dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Saya menemui Anas bin Malik, dan dia hendak safar, dan sudah bersiapsiap dengan kendaraannya, serta sudah mengenakan pakaian safar. Lalu dia minta disediakan makanan, lalu dia makan. Maka saya bertanya kepadanya: “Apakah ini sunah?” Dia menjawab: “Ini sunah.” Kemudian dia berangkat dengan kendaraannya. (HR. At Tirmidzi No. 799, katanya: hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 799) Ja’far berkata, rari Ubaid bin Jubeir Ra­ dhiallahu ‘Anhu, katanya: “Aku bersama Abu Bashrah Al Ghifari, seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah perahu dari daerah Fusthath (Mesir) saat Ramadhan. Tiba-tiba dia me­ nawarkan dan menyaji­kan sarapannya.” Ja’far berkata dalam ha­ditsnya: belumlah meninggalkan rumah-rumah dan dia me­ ng­a­jak ke meja makan. Dia (Abu Bash­ rah) berkata: “Mendekatlah.” Aku berkata: “Bukankah engkau masih me­ lihat rumah-rumah?” Berkata Abu Bash­

anjuran dasar bagi orang yang safar adalah berbuka. Bagi yang kuat dan sanggup untuk

berpuasa maka boleh sa­ja berbuka atau tidak berpuasa sejak a­wal­nya. Namun bagi yang sulit dan lelah, ma­ka lebih baik dia berbuka saja 22

Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


Para ulama ijma’ (sepakat) bahwa seorang musafir diperbolehkan tetap qashar selama ia tidak bermaksud menetap di suatu tempat, walau singgahnya itu selama bertahun-tahun.(Fiqhus Sunnah, 1/243) rah: “Apakah engkau tidak suka sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?” Ja’far berkata dalam haditsnya: ma­ka dia memakannya.”(HR.Abu Daud No.2412 di­ sha­hihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 2412)

Dua riwayat ini sangat jelas menerangkan bah­wa berbuka sebelum safar adalah boleh, bah­kan para sahabat menyebutnya sunah nabi. Berapakah Jarak Safar Yang Membolehkan Untuk Berbuka? Tidak ada keterangan khusus tentang hal ini. Kasus ini sama halnya dengan jarak di­ bo­lehkannya qashar, juga tidak ada kete­ rangan khusus. Sedangkan Imam Ibnul Mundzir menyebutkan ada 20 pendapat ten­tang jarak untuk dibolehkannya qashar. Oleh karena itu, jarak yang sudah diboleh­ kan bagi seseorang untuk berbuka adalah sebagaimana dibolehkannya untuk qashar. Ini­lah pendapat para ulama muhaqqiq (pe­ neliti). Berkata Syaikh Sayyid Sabiq rahimahu­ llah:

Dalam hal tenggang waktu dibolehkan­ nya qashar, Imam Ibnul Mundzir berkata dalam penelitiannya bahwa: Para ulama ijma’ (sepakat) bahwa seorang musafir diperbolehkan tetap qashar selama ia tidak bermaksud akan terus menetap di suatu tempat, walau singgahnya itu selama bertahun-tahun. (Fiqhus Sunnah, 1/243)

Inilah pandangan yang sangat kuat ber­ dasarkan dalil yang kuat pula, baik perilaku Rasulullah dan para sahabat, beserta pemi­ kiran yang cerdas dari para ulama peneliti seperti Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnul Mundzir, Syaikh Sayyid Sabiq, dan lain-lain. Wallahu a’lam.

Orang Yang Kesulitan Menjalankan Puasa Orang yang kesulitan menjalankan pua­ sa adalah orang-orang yang sudah sama sekali tidak mampu puasa kapan pun, se­ hing­ga mesti diganti dengan fidyah, seper­ ti orang jompo, sakit menahun yang tipis kemungkinan sembuh. Adapun bagi yang masih mampu puasa di hari lain, maka “Safar yang membolehkan berbuka gan­tinya adalah qadha puasa di hari lain, se­ba­ga­imana bunyi ayat sebelumnya. Ini­ adalah safar yang membuatnya boleh lah ketetapan buat pekerja keras, musafir pula qashar shalat. Begitu pula rentang (termasuk di antaranya supir jarak jauh), waktu waktu yang membolehkan untuk sakit, dan semisalnya, yang ada kemung­ berbuka bagi seorang musafir, yaitu kinan dapat melakukan puasa ketika libur selama jangka waktu dibolehkan pula atau sehat. mengqashar…” (Fiqhus Sunnah, 1/444) Sedangkan wanita haid dan nifas, bukan­ Qashar dapat dilakukan jika, (1) Sudah nya ‘boleh tidak berpuasa’ tetapi memang keluar dari daerahnya, (2) Jarak yang su­ ‘tidak boleh berpuasa.’ Tentu dua kalimat dah layak, patut, dan pantas disebut seba­ ini berbeda makna dan ketentuan. ga­i perjalanan (safar). Mengingat dalil-dalil Wanita hamil dan menyusui juga terma­ yang ada satu sama lain saling bertentang­ suk kelompok yang berat untuk puasa. Ha­ an. Inilah pandangan para imam muhaqi­ nya saja para ulama berbeda apakah dia qin (peneliti) seperti Imam Ibnu Taimiyah, termasuk menggantinya dengan qadha di Imam Ibnul Qayyim, Imam Asy Syaukani, hari lain, ataukah fidyah memberikan ma­ Asy Syaikh Sayyid Sabiq, Ustadz Ahmad kanan ke fakir miskin. Hasan dan lainnya. (3) Per­jalanannya bu­ Mereka yang menyatakan qadha dalilnya kan perjalanan maksiat. adalah firman Allah Ta’ala: 23


sunnah “Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpua­ sa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pa­ da hari-hari yang lain.” (Al Baqarah, 184)

Sedangkan mereka yang menyatakan fid­ yah dalilnya adalah kalimat selanjutnya: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpu­ a­sa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (Al Baqarah, 184)

Perbedaan pandangan ulama dalam hal ini sangat wajar, sebab memang ayat ter­se­ but tidak merinci siapa sajakah yang ter­ma­ suk orang-orang yang berat menjalan­kan­ nya. Dalam hadits pun tidak ada perinci­ annya. Adapun tentang qadha seca­ra khu­ sus, ayat di atas menyebut musafir dan o­rang yang sakit. Sedangkan ayat ten­tang fid­yah, tidak dirinci. Nah, khusus ibu hamil dan menyusui, ji­ka kita melihat keseluruhan pandangan ula­ma yang ada, bisa kita ringkas seperti yang dikatakan Imam Ibnu Katsir. (Tafsir Al Quran al Azhim, 1, 215. Darul Kutub al Mishriyah) bahwa ada empat pandangan/ pendapat ulama: Pertama, kelompok ulama yang mewa­ jibkan wajib qadha dan fidyah sekaligus. Ini adalah pandangan Imam Ahmad dan Imam Asy Syafi’i, jika Si Ibu mengkhawatiri ke­selamatan janin atau bayinya. Kedua, kelompok ulama yang mewajib­ kan fidyah saja, tanpa qadha. Inilah panda­ ngan beberapa sahabat Nabi, seperti Abdullah bin ‘Abbas, dan Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Dari ka­la­ ngan tabi’in (murid-murid para sahabat) adalah Said bin Jubeir, Mujahid, dan lain­ nya. Kalangan tabi’ut tabi’in (murid para tabi’in) seperti Al Qasim bin Muhammad dan Ibrahim an Nakha’i. Ketiga, kelompok ulama yang mewajib­

kan qadha saja, tanpa fidyah. Inilah penda­ pat jumhur (mayoritas) ulama. Seperti madz­hab Hanafi, Abu Ubaid, dan Abu Tsaur. Sedangkan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal ikut pendapat ini, jika se­bab­nya karena mengkhawatiri keselama­ tan ibu, atau keselamatan ibu dan janin (bayi) sekaligus. Keempat, kelompok ulama yang menga­ ta­kan tidak qadha, tidak pula fidyah. Demikianlah berbagai perbedaan ter­se­ but. Nah, pendapat manakah yang seba­ iknya kita ikuti. Seorang ahli fiqih abad ini, Al ‘Allamah Syaikh Yusuf Al Qaradhawy hafizhahullah, dalam kitab Taisiru Fiqh (Fiqhus Siyam) memberikan jalan keluar yang bagus. Beliau berkata: “Banyak ibu-ibu hamil bertepatan bulan Ramadhan, merupakan rahmat dari Allah bagi mereka, jika tidak dibebani kewajiban qadha, namun cukup dengan fidyah, di samping hal ini merupakan kebaikan untuk faqir dan miskin dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan materi. Namun bagi ibu-ibu yang masa melahirkannya jarang, sebagaimana umumnya ibu-ibu di masa kita saat ini dan di sebagian besar negara Islam, tertutama di kota-kota, kadang-kadang hanya mengalami dua kali hamil dan dua kali menyusui selama hidupnya. Maka, bagi mereka lebih tepat pendapat jumhur, yakni qadha (bukan fidyah).”

Jadi, jika wanita tersebut sulit puasa kare­ na sering hamil dan selalu melalui bulan Ramadhan saat hamil, maka bagi dia fidyah saja. Ada pun, jika hamilnya jarang, karena masih ada waktu atau kesempatan di waktu tidak hamil, maka wajib baginya qadha sa­ ja. Inilah pendapat yang nampaknya adil, seimbang, sesuai ruh syariat Islam. Walla­ hu a’lam. 

merupakan rahmat dari Allah bagi ibu hamil, jika cukup dibebani dengan fidyah di samping merupakan kebaikan untuk faqir dan miskin yang membutuhkan pertolongan materi.

24

Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


25


BEKAL DI JALAN DAKWAH Kilasan Tafsir Al-Muddattsir Ayat 1-7 Oleh: iman sulaiman, lc.

َ َ َ َّ َ َ ِّ َّ ُ ْ َ ُّ َ َ َ َ َ َ َ ََْ ْ ُ ِّ ِّ‫ر‬ ْ ْ َ ْ ُ ﴾٤﴿ ‫﴾ و ِثيابك فطهر‬٣﴿ ‫﴾ وربك فكب‬٢﴿ ‫﴾ قم فأن ِذر‬١﴿ ‫يا أيها المدثر‬ ْ َ َ ِّ َ َ ْ ‫اص‬ ْ ُ ْ َ َ ْ ُّ َ ُ ْ َ ْ َ ْ ُ‫َ اَ َ ْ ن‬ ﴾٧﴿ ‫ب‬ ِ‫﴾ ولِربك ف ر‬٦﴿ ‫﴾ ول تمن تستك رِث‬٥﴿ ‫والرجز فاهجر‬

"Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah per­ ingatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan jangan­ lah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah." (Al-Muddatstsir: 1-7) Asbabun Nuzul Ada tiga riwayat yang menyebutkan ten­ tang sebab turunnya surat Al-Muddattsir: Pertama, dari Yahya bin Abu Katsir berkata, ”Saya bertanya kepada Abu Salamah bin Abdurrahman, tentang ayat Al-Qur­’an yang pertama kali turun, dia men­jawab, ’Ya ayyuhal Mudattsir’. Saya kata­kan, ’Orang-orang mengatakan bahwa yang pertama kali turun adalah "Iqra bis­mi­ rabbikalladzi khalaq". Abu Salamah men­ ja­wab, ”Saya bertanya kepada Jabir bin Abdullah seperti yang kamu tanyakan ke­ padaku, dan saya juga katakan kepadanya seperti yang kamu katakan kepadaku, ma­ ka dia menjawab, tidak aku sampaikan ke­ cu­ali apa yang disampaikan Rasulullah dimana beliau bersabda, ’Aku diam di gua 26

Hira. Setelah melewati beberapa waktu sa­ ya turun lalu tiba-tiba saya dipanggil, ma­ ka saya menoleh ke sebelah kanan, tapi ti­ dak melihat apa-apa, melihat ke sebe­lah ki­ ri tapi tidak melihat apa-apa, melihat ke depan dan tidak melihat apa-apa, meli­ hat ke belakang dan tidak melihat apaapa, saya mengangkat kepala dan meli­ hat sesuatu, lalu saya berlari kepada Khadijah dan berkata: ’Selimutilah aku dan siramilah dengan air dingin’. Maka Khadijah menyelimutiku dan menyiramiku de­­ngan air dingin. Lalu turunlah ayat: Wa­ hai orang yang berselimut" (HR.Bukhari)

Kedua, dari Jabir bin Abdullah, dia men­ de­ngar Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


qur’anuna ”Kemudian wahyu terputus beberapa wak­ tu, maka ketika saya berjalan tiba-tiba men­de­ngar suara dari langit, aku angkat pan­danganku ke arah langit dan ternyata ada malaikat yang mendatangiku di gua Hira duduk di atas kursi antara langit dan bumi, aku berlari hingga hampir ja­ tuh dan mendatangi istriku lalu ku kata­ kan selimutilah, selimutilah aku, maka Allah menurunkan, ”Wahai orang yang berselimut.”

Ibnu katsir memadukan antara riwayat pertama dan kedua dengan menyimpulkan bah­wa surat Al-Mudattsir adalah surat yang pertama turun setelah berakhirnya ma­sa jeda (tidak turun wahyu kepada Rasu­ lullah setelah turun wahyu yang pertama). Ketiga, Ibnu Abbas menceritakan bahwa: Walid bin Mughirah membuat makanan dan mengundang para pembesar Quraisy untuk berkumpul. Saat makan mereka menggunjingkan Nabi Muhammad, sebagian berkata bahwa dia itu tukang sihir, sebagian yang lain membantahnya, sebagian lagi berkata, dia dukun namun sebagian yang lain membantahnya, sebagian lagi berkata, dia itu penyair sebagian yang lain membantahnya, maka sebagian mengatakan dia terkenah sihir, maka mereka bersepakat atas itu. Gunjingan mereka sampai kepada Nabi dan membuat beliau bersedih, termenung dan menggigil lalu berselimut, turunlah ayat, ”Wahai orang yang berselimut” (AzZuhri dan Thabarani)

Tugas Dakwah Perintah berdakwah yang disampaikan Allah kepada Rasulullah dalam surat AlMudat­tsir adalah perintah yang sangat be­ rat. Pertama, karena Rasulullah seorang di­ ri harus memberikan ancaman kepada se­

mua manusia, mengancam dari berbagai ke­bu­ru­kan di dunia dan mengancam de­ ngan api neraka di akhirat. Serta menga­rah­ kan mereka ke jalan keselamatan se­be­lum terlambat waktunya. Dakwah meru­pa­kan kewajiban yang berat dan sulit se­ka­li­pun beliau seorang Nabi. Kedua, ka­re­­na bi­asa­ nya manusia melakukan pem­bangkang­ an bahkan perlawawanan kepada o­rang yang menyampaikan ancaman, dan keti­ ga, Rasulullah memberi peringatan ke­pa­da orang-orang yang sesat, sementara me­re­ka tidak sadar dengan kesesatannya. Sekalipun merupakan tugas yang berat, tetapi tiada pilihan lain kecuali harus di­ lak­sanakan karena ia merupakan wujud ka­ sih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Allah tidak rela membiarkan mereka ber­ ge­limang dalam kesesatan lalu masuk ne­ raka. Allah tidak mendapat keuntungan sama sekali dari ketaatan para hamba-Nya sebab Allah tidak menjadi lebih mulia kare­ na ketaatan mereka atau menjadi hina ka­ rena kemaksiatan mereka. Agar tugas berat ini bisa ditunaikan Allah memberikan bekal kepada Rasulullah pada ayat-ayat berikutnya. Agungkanlah Tuhanmu Dakwah ini hanya akan bisa dilakukan apabila kita hanya mengagungkan Allah dan menganggap kecil semua yang selain Allah. Semua orang, semua nilai dan semu­a hakikat adalah kecil, hanya Allah Yang Maha agung. Ketika dakwah dilakukan, ma­­ka berbagai kendala akan segera meng­ hadang, baik yang berasal dari musuh mau­ pun yang muncul dari diri kita sendiri, ma­ ka semua kekuatan yang menghalangi la­ junya dakwah adalah kecil di hadapan Allah SWT. Sebagaimana yang Allah firman­kan, "Dan (Kami telah mengutus) kepada pendu­

Perintah berdakwah kepada Rasulullah adalah perintah yang sangat be­rat. Rasulullah seorang di­ri harus memberikan ancaman dari ke­bu­ru­kan dunia dan api neraka di akhirat kepada se­mua manusia. Dakwah meru­pa­kan kewajiban

yang berat dan sulit se­ka­li­pun beliau seorang Nabi. 27


duk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib, maka ia berkata:"Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan. Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka.Dan syaithon menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalang-halangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orangorang yang berpandangan tajam, dan (juga) Karun, Fir'aun dan Haman. Dan sesaungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa buktibukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tidalah mereka orangorang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka itu) Ka­mi siksa disebabkan dosanya, maka dian­tara mereka ada yang Kami timpakan kepa­da­ nya hujan batu kerikil dan diantara me­ re­ka ada yang ditimpa suara keras yang meng­gun­tur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami teng­ gelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hen­ dak menganiaya mereka, akan tetapi me­re­ ka­lah yang menganiaya diri mereka sen­di­ri. Perumpamaan orang-orang yang mengam­ bil pelindung-pelindung selain Allah ada­ lah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. " (Al-'Ankabuut: 36- 41)

Ayat-ayat di atas menyatakan bahwa ke­ ku­atan kaum 'Ad, Tsamud, Firaun, Haman dan Qarun adalah kecil dan lemah bagaikan sa­rang laba-laba ketika menyimpang dari jalan Allah. Maka hari ini pun kita harus memandang bahwa sehebat apa pun keku­ 28

atan negera adi daya, Amerika, Eropa, Zio­ nis Israel dan yang lainnya adalah kecil ka­ re­na mereka menyimpang dari jalan Allah. Di sisi lain dakwah pun sering berbentu­ ran dengan kepentingan kita, apakah ke­ pen­ti­ngan pribadi, keluarga, bisnis, politik dan sebagainya, maka kita pun harus bisa menjadikan semua kepentingan itu kecil yang agung hanyalah keridhaan Allah da­ lam mengemban amanah dakwah ini. Sucikanlah Pakaianmu Dalam bahasa Arab kata "pakaian" sering dipakai sebagai kiasan dari hati, akhlak dan amal. Langkah kedua yang harus dilakukan seorang da'i adalah mensucikan hati, agar dakwah ini dilakukan semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah, bukan untuk mencari kekayaan, jabatan, ketenaran dan sebagainya. Di awal dakwahnya Rasulullah ditawari harta, wanita dan kedudukan o­leh orang Quraisy, maka Rasulullah to­ lak semua tawaran tersebut karena me­ mang itu bukan menjadi tujuan dakwah. Memang dalam dakwah dibutuhkan dana, kekuatan bahkan kekuasaan, tetapi semu­­a itu hanyalah sarana yang tidak boleh dijadi­ kan tujuan. Seorang da'i pun harus menghiasi dirinya de­ngan akhlak-akhlak terpuji, seperti keju­ ju­ran, tawa'dhu, lemah lebut, kasih sayang, keberanian dan sebagainya. Juga harus men­su­cikan amalnya dari perbuatan syirik dan bid'ah. Tinggalkan Kemaksiatan Untuk mensucikan jiwa (tazki­yatun nafs) ada dua langkah yang harus ditempuh, ya­i­ tu takhliyah (membersihkan diri dari sifatsfat buruk) dan tahliyah (menghiasi diri dengan akhlak-akhlak terpu­ji). Jadi sete­ lah menghiasi diri de­ngan akhlak-akhlak yang baik, ke­wa­jiban berikutnya adalah men­sucikan diri dari akhlak-akhlak tercela, seperti riya, sombong, ce­pat marah dan se­ bagainya. Merupakan keunikan dalam Islam, di­ ma­na seseorang bisa menerima il­mu apa pun dari orang lain, sekalipun orang yang mengajarkan tidak baik akh­laknya. Orang mau menerima teori ilmu ma­te­matika, per­ tanian, atau ekonomi, se­ka­li­pun orang yang mengajarkannya di­ke­tahui suka ju­ Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


qur’anuna di, zina atau peminum. Tapi orang tidak akan menerima agama kecuali dari orang yang dikenal sebagai orang yang bersih. Se­ dikit saja ada cacat yang tampak dalam akh­ laknya, maka berbondong-bon­dong orang akan meninggalkannya. Oleh karena itu seorang da'i harus was­ pada dengan segala bentuk kemaksiatan bahkan hendaknya dia tidak dekat-dekat dengan tempat yang diasumsikan sebagai tempat maksiat sekalipun dia tidak terlibat di dalamnya. Jangan Memberi Lalu Mengharap Lebih Besar Ada tafsir lain dari makna di atas, yaitu ”wala tamnun tastaktsir” artinya: ”Janganlah kamu memberi lalu menganggap banyak pemberianmu”. Sayid Qutub dalam Fi Zhi­ lalil Qur'an mengatakan: ”Dakwah ini tidak akan tegak dalam jiwa yang menghitung-hitung pengor­ ba­nannya. Karena pengorbanan a­kan terasa sangat berat yang tidak bi­sa ditanggung oleh jiwa kecuali saat melupakannya, atau dia tidak menyadarinya karena dia tenggelam dalam perasaan bersama Allah, dia menganggap bahwa semua yang dipersembahkan adalah berasal dari karunia dan pemberian Allah SWT.”

Arti lain dari ”wala tamnun tastaktsir” adalah jangan merasa lemah untuk mem­ per­banyak kebaikan. Karena pada hakikat­

nya dakwah adalah memberi, seorang da’i adalah produsen dari segala bentuk kebaik­ an yang akan dinikmati oleh keluarga, te­ tang­ga dan orang-orang yang ada di seki­ tarnya, baik yang dekat maupun yang jauh. Sabar karena Allah Karakter dakwah adalah panjang jalannya, be­rat bebannya, banyak kendalanya dan se­ di­kit orang yang menempuhnya. Para da’i memiliki tugas yang berat, menuntut ma­ nusia agar membebaskan diri dari hawa nafsu, lamunan-lamunan, adat dan ke­bi­­ a­­sa­an mereka; memberontak kepa­da syah­ wat, penyembahan nenek moyang, tra­­di­­ si kaum yang menyimpang dan su­p­ri­­or­ i­ tas kelas mereka. Seorang da’i ju­ga bertu­ gas memberikan sebagian yang dimili­ki kepada saudaranya, dan mematu­hi ke­ ten­tuan-ketentuan Allah dalam bentuk pe­rintah dan larangan, halal dan haram. Sementara itu kebanyakan ma­nu­sia me­ nen­tang dakwah. Para da’i meng­ha­da­pi bentuk perlawanan yang menggu­nakan se­ gala bentuk senjata: harta, kekua­saan, ke­ kuatan, wibawa, pengaruh dan se­ba­gainya. Tidak ada jalan lain bagi para da’i kecuali ha­rus berpegang teguh dengan keyakinan ser­­ta bersenjantakan kesabaran dalam meng­hadapi kekuatan dan kekuasaan yang ti­ra­ni ini. Wallahu a'lam bishawab.  Maraji’ Tafsir Ibnu Katsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutub Shabar Satu Prinsip Gerakan Islam, Yusuf Al-Qaradhawi

Karakter dakwah adalah panjang jalannya, berat bebannya, banyak kendalanya dan sedi­kit orang yang menempuhnya.

Para da’i memiliki tugas yang berat, menuntut manusia agar membebaskan diri dari hawa nafsu, lamunan-lamunan, adat dan ke­biasaan mereka; memberontak kepa­da syahwat, penyembahan nenek moyang, tra­­di­­si kaum yang menyimpang dan superi­­o­ri­tas kelas mereka. 29


ijtima'iyyah

Tiga Asas Pembangunan

Masyarakat Islam

I

slam adalah agama yang universal. “Tiada kami mengutus kamu (Muhammad), Ia tidak ditujukan untuk suku bangsa melainkan untuk (menjadi) rah­mat bagi a­ta­u ras tertentu yang ada di muka bu­ semesta alam.” (Al-Anbiya, 107) mi ini. Tidak pula ditujukan untuk gen­der Kebaikan, kedamaian, dan kesejahteraan dan strata sosial tertentu. Statement Sang serta rahmat itu dapat dirasakan apabila Pencipta Alam, Allah Ta’ala dalam Alumat manusia bersedia berserah diri ke­ Qur’an, dan bayan rasul-Nya, Muhammad pada agama-Nya, dinul Islam. Mau berhim­ SAW, demikian terang dan je­las: pun dengan ikhlash, penuh ketundukan di “Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), bawah naungannya. Siap mewarnai seluruh as­pek kehidupannya dengan shibghah melainkan kepada umat manusia Allah, sebaik-baik celupan dari Allah. Seba­ seluruhnya sebagai pembawa berita gaimana firman-Nya: gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba, 34: 28)

Rasulullah SAW bersabda, “Bahwasanya seluruh Nabi itu diutus secara khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia yang berkulit merah maupun berkulit hitam.” (lihat: Fiqhus Sunnah, Juz I hal. 8)

Islam datang membawa rahmat bagi selu­ ruh alam. Membawa kebaikan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi semesta alam. Allah Ta’ala berfirman, 30

“Shibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.”(Al-Baqarah, 2: 138)

Dalam Tafsir Ibnu Abbas dijelaskan: Shibghatallāhi, yakni hendaklah kalian me­ngikuti Agama Allah SWT. Wa man ahsanu minallāhi shib-ghatan, dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya daripada Allah, yakni daripada AgamaNya. Wa nahnu lahū ‘ābidūn, dan hanya kepada-Nya-lah kami beribadah, yakni katakanlah bah­wa kami adalah orangAl-Intima’ No.008 Agustus 2010


orang yang mengkhu­suskan ibadah dan tauhid kepada-Nya se­mata.

Jadi, jika kita menghendaki kehidupan yang baik, haruslah kita masuk ke dalam Islam secara paripurna. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah, 208)

Masyarakat Terbaik Masyarakat terbaik adalah masyarakat Islam pada masa Nabi. Kurun terbaik ada­ lah kurun para Nabi dan para sahabat-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran, 3: 110)

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya (generasi tabi’in [murid-murid para shahabat]), kemudian yang setelahnya (generasi tabi’ut tabi’in [murid-murid para tabi’in]).” (HR. Al Bukhari no. 2458) “Aku diutus pada kurun (masa) yang terbaik dari Bani (keturunan) Adam.” (HR. Al Bukhari dari shahabat Abu Hurairah)

Bagaimana Nabi SAW Membangun Masyarakat Terbaik? Muhammad Al-Ghazaly dalam Fiqhus Sirah menyebutkan bahwa sejak Rasulullah tinggal menetap di Madinah, beliau sibuk mencurahkan perhatian untuk meletakkan

dasar-dasar yang sangat diperlukan guna menegakkan tugas risalahnya, yaitu: 1. Memperkokoh hubungan umat Islam dengan Tuhan-nya. 2. Memperkokoh hubungan intern umat Islam, yaitu antara sesama kaum musli­ min. 3. Mengatur hubungan antara umat Islam dengan kalangan non muslim. Ketiga hal itu diwujudkan Rasulullah SAW dengan: 1. Pembangunan masjid sebagai pusat dak­wah dan ibadah. 2. Mempersaudarakan antara kaum an­ shor (muslimin Yatsrib) dan muhajirin (muslimin Makkah). 3. Penandatanganan Piagam Madinah Apa yang dilakukan oleh Nabi SAW ter­ se­but menjadi pelajaran dan te­ladan ba­gi umat Islam saat ini, bahwa pembangunan masyarakat itu harus diawali dengan pe­ man­cangan tiga asas: Pertama, pembinaan iman dan taqwa. Kedua, mem­perkokoh ukhuwah islamiyah (soliditas ummat). Ke­ ti­ga, membangun hubungan kerjasama dan perjanjian dengan kalangan non mus­lim. Pembinaan Iman dan Taqwa Pada masa Nabi SAW, hal ini diwujudkan de­ngan pembangunan masjid. Yusuf Qaradawi menyatakan bahwa fungsi mas­ jid pada masa itu adalah sebagai pusat bim­ bi­ngan dan perbaikan umat, tempat ber­ ku­m­pul untuk ibadah dan belajar pe­nge­ tahuan, tempat pendidikan, ajang un­tuk saling mengenal, dan parlemen untuk ber­ musyawarah. Implementasinya pada masa kini dapat diperluas dengan cara merevitalisasi ak­ti­ vitas dakwah dan pendidikan untuk mem­ bangun aqidah dan fikrah umat. Mengga­

Pada masa Nabi SAW pembinaan iman dan takwa diwujudkan de­ngan pembangunan masjid. Yusuf

Qaradawi menyatakan bahwa fungsi mas­jid pada masa itu adalah sebagai pusat bim­bi­ngan dan perbaikan umat, tempat ber­ku­mp ­ ul untuk ibadah dan belajar pe­nge­tahuan, tempat pendidikan, ajang un­tuk saling mengenal, dan parlemen untuk ber­musyawarah. 31


ijtima'iyyah la­kan bimbingan kepada masyarakat se­ hing­ga mengenal Allah dan Rasul-Nya. Mem­bi­na kultur Islam di tengah-tengah masya­­ra­­kat dengan cara mempraktekkan sya­­ri­­ah Islam yang dimulai dari individu dan keluarga. Membangun sarana dan pra­ sa­ra­na pendidikan baik berupa pesantren, ma­dra­sah, sekolah, kampus, perguruan ting­­­­gi atau pun lembaga pendidikan lain­ nya. Lebih jauh lagi, secara rinci, perbaikan iman dan taqwa hendaknya dilakukan de­ ngan cara membiasakan masyarakat ber­ pegang pada etika dan kesopanan. Mem­be­ rantas prostitusi, menghancurkan prak­tek perjudian, memerangi miras dan obat-obat terlarang, melarang pornografi, menutup klub-klub malam, mengontrol media hi­ buran, dan lain sebagainya. Dengan begitu, insya Allah terbukalah pintu-pintu keberkahan dari langit dan bu­ mi. Allah Ta’ala berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (Al-A’raf, 7: 96)

Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah Persaudaraan, soliditas, persatuan dan kesatuan adalah asas tegaknya sebuah ko­ munitas atau masyarakat. Kaum muslimin melandasinya atas dasar keimanan. Sehing­ ga ia menjadi kekuatan yang dahsyat. “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara…” (Al-Hujurat, 49: 10)

Rasulullah SAW bersabda,

‫ي‬ َ ْ‫ال ُْم ْؤِم ُن لِل ُْم ْؤِم ِن َكالُْ�بْ�نيَا ِن يَ ُش ُّد َ�ب ْع ُض ُه َ�ب ْع ًضا َو َشبَّ َك َ�ب ن‬ ‫أَ َصابِ ِع ِه‬ “Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain bagaikan bangunan yang

sebagiannya menyangga sebagian yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

‫ال ُْم ْسلِ ُم أَ ُخو ال ُْم ْسلِ ِم لاَ يَ ْظلِ ُم ُه َولاَ يُ ْسلِ ُم ُه‬

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Mus­ lim yang lain, ia tidak meremehkannya, ti­ dak menghinakannya, dan tidak menye­ rahkannya (kepada musuh).” (HR Muslim)

ِ ُ‫ني فيِ َ�ت َو ِّاد ِه ْم َوَ�تر م‬ ‫اح ِه ْم َوَ�ت َعا ُط ِف ِه ْم َمثَ ُل‬ َ ِ‫َمثَ ُل ال ُْم ْؤِمن‬ َ ‫جَْس ِد‬ َ ‫جَْس ِد إِ َذا ْاشتَ َكى ِمنْ ُه ُع ْض ٌو تَ َد َاعى لَُه َسائِ ُر ال‬ َ ‫ال‬ ‫حُْمى‬ َّ ‫الس َه ِر َوال‬ َّ ِ‫ب‬

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam cinta, kekompakan, dan kasih sayang bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh juga ikut menjaga dan berjaga.” (HR Bukhari)

Ukhuwah Islamiyah melenyapkan fa­na­ tisme kesukuan ala jahiliyah. Meruntuhkan perbedaan yang didasarkan pada a­sal ke­ tu­ru­nan, warna kulit dan asal-usul kedae­ rahan atau kebangsaan. Membangkit­kan perasaan mengutamakan ke­pentingan ber­ sama dalam suka dan duka. Membangun hubungan kerjasama dan perjanjian dengan kalangan non muslim Muhammad Al-Ghazaly menyatakan bah­wa Rasulullah SAW telah menetapkan atu­ran-aturan yang sangat toleran, melam­ pa­ui kebiasaan yang berlaku di zaman yang pe­nuh dengan fanatisme kesukuan dan ke­ cong­kakan ras. Ketika itu dunia me­ngira bah­wa Islam adalah agama yang ti­dak da­ pat menerima prinsip hidup berdampingan de­ngan agama lain dan me­ngira bah­wa ka­ um muslimin tidak merasa puas sebe­lum men­jadi umat satu-satunya yang ada di du­ nia dan menindas setiap ma­nu­sia yang di­ ang­gap keliru, lebih-le­bih orang yang bera­

Ukhuwah Islamiyah melenyapkan fa­na­tisme kesukuan ala jahiliyah. Meruntuhkan perbedaan yang didasarkan pada ke­tu­ru­nan, warna kulit, kedae­rahan/kebangsaan.

Membangkit­kan perasaan mengutamakan ke­ pentingan ber­sama dalam suka dan duka.

32

Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


Landasan hubungan muslim dan non muslim adalah berbuat baik dan adil. Berbuat baik

adalah memberi lebih dari apa yang men­jadi haknya. Sedangkan adil adalah memberi hak kepada pemiliknya tanpa mengu­rangi. Kedua hal itu dituntut dari seti­ap muslim dalam bersikap kepada semua ma­ nu­sia selama ti­dak menentang dan memerangi orang Islam, serta menindas pemeluknya. ni mencoba hendak melawan! Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beli­ au menyaksikan orang-orang Yahudi te­ lah lama bermukim di kota itu dan hidup bersama kaum musyrikin. Beli­au sama se­ ka­li tidak berfikir menga­tur siasat untuk me­nyingkirkan atau me­mu­suhi me­reka. Bah­kan dengan niat baik, beliau me­neri­­ ma kenyataan adanya orang-orang Yahu­ di itu dan adanya paga­nisme di kota itu. Beberapa waktu kemu­dian be­lia­­u mena­ warkan perjanjian perdamaian kepa­da dua golongan itu atas dasar kebe­basan masingmasing pihak me­meluk aga­manya sendiri (Fiqhus Sirah, hal.313-314). Dalam Al-Mitsaaq al-Islamiy yang disu­ sun oleh Al-Ittihad al-Alamiy li Ulama alMuslimin (Persatuan Ulama Islam Sedunia) dimuat tentang dasar pijakan hubungan muslim dengan non muslim adalah dua ayat berikut, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orangorang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orangorang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orangorang yang zalim.” (Al-Mumtahanah, 8-9)

Ayat di atas telah merangkum dua per­ ka­ra: berbuat baik dan adil. Berbuat baik adalah memberi lebih dari apa yang men­

jadi haknya. Sedangkan adil adalah mem­ beri hak kepada pemiliknya tanpa mengu­ rangi. Kedua hal itu dituntut dari seti­ap muslim dalam bersikap kepada semua ma­ nu­sia meskipun mereka kafir selama ti­dak menentang dan memerangi orang Islam, serta menindas pemeluknya. Dua ayat di atas tidak boleh dipertentang­ kan dengan ayat berikut yang ada dalam Al-Qur’an, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)’, dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah, 120).

Karena ayat ini memiliki konteks yang berbeda. Dalam Lubanun Nuqul fi Asbabun Nuzul karya Imam Jalaluddin Assuyuthi disebutkan bahwa ayat ini diturunkan ber­ kenaan dengan kaum Yahudi Madinah dan kaum nashara Najran yang berharap Nabi SAW shalat menghadap kiblat mereka. Ke­ tika Allah Ta’ala membelokkan kiblat itu ke Ka’bah, mereka merasa keberatan. Me­ reka berkomplot dan berusaha agar Nabi SAW menyetujui kiblat sesuai dengan aga­ ma mereka. Tidak boleh pula dipertentangkan de­ ngan potongan ayat berikut, “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, 33


ijtima'iyyah niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Ali Imran, 3: 28)

karena kelanjutannya adalah, “….kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran, 3: 28)

Tentang ayat di atas, Ahmad Musthafa Al-Maraghi berkata bahwa: Allah SWT mela­rang kaum mu’min me­ mi­hak orang-orang kafir, baik urusan kelu­arga, persahabatan jahiliyah, kare­ na tetangga, dan sebagainya, yang si­ fat­nya persahabatan atau teman seper­ gaulan…Tetapi jika ternyata memihak dan berteman dengan kaum kafir itu me­­ngandung kemaslahatan bagi kaum mu’min, hal itu dibolehkan. Sebab Nabi Muhammad sendiri pernah bersekutu de­­ ngan Bani Khuza’ah, padahal mere­ka tetap dalam kemusyrikannya. Diboleh­ kan pula orang Islam mempercayai pemeluk agama lain, dan bermu’amalah dengan baik dalam masalah-masalah keduniaan. (Tafsir Al-Maraghy, hal. 244).

Selanjutnya Al-Maraghi menegaskan: “Sesungguhnya orang-orang mu’min me­ ninggalkan orang-orang kafir dalam hal bersekutu adalah suatu keharusan, dalam kondisi bagaimana pun, kecuali jika merasa takut terhadap sesuatu yang mereka kha­watirkan dari orang-

orang kafir. Dalam ke­adaan seperti itu, diperbolehkan berjaga-jaga terha­dap mereka sesuai dengan rasa kekhawati­ ranmu…sebab kaidah syariat mengata­ kan, bahwa menolak kerusakan (mafsa­ dah) hendaklah didahulukan daripada menarik manfaat. Bila mengambil orang-orang kafir hanya sebagai teman, di­bolehkan, demi menolak bahaya. Ten­ tunya, dibolehkan dalam rangka meng­ ambil kemanfaatan-kemanfaatan bagi kaum mus­limin. Jika demikian tidak a­da yang mencegah suatu negara Islam bersahabat dengan negara non muslim, selama dapat menarik keutamaankeutamaan bagi kaum muslimin, yang terkadang untuk menolak bahaya atau menarik kemanfaatan…para ulama te­ lah mengambil keputusan hukum dari ayat ini akan bolehnya taqiyyah. Yakni, hendaknya seseorang mengatakan atau me­­lakukan perbuatan yang bertentangan de­ngan kebenaran, dalam rangka mence­ gah bahaya yang datang dari musuh…” (Tafsir Al-Maraghi, hal. 244–245)

Ringkasnya, kaum muslimin diperboleh­ kan bersekutu dengan non muslim dalam rangka menghindarkan bahaya atau mewu­ judkan kemaslahatan. Wallahu a’lam. Maraji Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq Tafsir Ibnu Abbas dalam Al-Kalam versi 1.0 Penerbit CV. Diponegoro Fiqhus Siroh, Muhammad Al-Ghazaly Konsep Islam Solusi Utama bagi Ummat, Yusuf Qaradawi Madah Tarbiyah, Lembaga Kajian Manhaj Tarbiyah 25 Prinsip Islam Moderat (Piagam Persatuan Ulama Islam Sedunia), Pusat Konsultasi Syari’ah Asbabun Nuzul, CV. Diponegoro Tafsir Al-Maraghi III, CV. Toha Putra Semarang

Dibolehkan pula orang Islam mempercayai pemeluk agama lain, dan bermu’amalah dengan baik 34

dalam masalah-masalah keduniaan. (Tafsir Al-Maraghy, hal. 244).

Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


tatsqif

Urgensi Kekuasaan (Bagian Kedua)

Oleh: USTADZ KHOZIN ABU fAQIH, LC.

Kekuasaan Menghapus Kendala Beragama Sebagian manusia mempunyai akal dan hati yang terbuka, sehingga mudah mene­ rima dakwah Islam, tetapi ada sebagian orang yang sulit menerima dakwah Islam karena melihat banyaknya tantangan yang dihadapi oleh kaum muslim. Sedangkan, yang lainnya ingin masuk Islam, namun tidak berani karena ada ancaman dari pa­ ra penguasa atau orang-orang yang pu­nya kekuasaan. Orang-orang seperti ini, su­lit bi­sa masuk Islam, jika Islam dalam ke­a­ da­an lemah. Oleh karena itu, perkembangan Islam sangat lambat, ketika dalam keadaan lemah. Bahkan musuh-musuhnya tidak merasa segan menyiksa dan menindas kaum mu­ slimin, tetapi setelah Islam berkuasa, maka perkembangan Islam semakin pesat dan musuh-musuhnya berpikir seribu ka­li, ke­ tika hendak menodai Islam atau menya­kiti kaum muslimin.

Ketika Rasulullah SAW. berada di Mak­­ kah dan pengikutnya masih sedikit, kafir Quraisy dengan terang-terangan menen­­­ tang dan menindas siapa saja yang masuk Islam. Sehingga, beberapa o­rang yang ter­ta­ rik masuk Islam merasa ta­kut masuk Is­lam. Padahal bukti-bukti ke­be­na­rannya telah terpampang dengan je­las di hadapan mere­ ka, dan kredibilitas pembawa risalah pun telah diakui oleh ma­sya­rakat luas. Akan tetapi, karena ti­dak ada kekua­sa­an yang mendukung, bebe­rapa to­koh Qura­isy dan sebagian besar masya­rakatnya me­no­lak ma­suk Islam, bahkan memilih me­musuhi Islam dan menuduh pembawa ri­salahnya dengan berbagai tu­duhan, seperti gila, ahli sihir, dukun, dan sebagainya. Perhatikan dialog singkat di masa-masa awal kenabian berikut. Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan dalam ‘Tarikhul Umam Wal Muluk’ dari Sa’id bin Jubair, bahwa Ibnu Abbas berkata: “Ketika turun ayat, “Dan berilah peri­ nga­tan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’araa: 214) Rasulullah SAW. keluar dari rumah me­ nu­ju bukit Shafa, kemudian berseru de­ ngan keras, ‘Wahai Bani Fulan, Wahai Bani Abdil Muthalib, Wahai Bani Abdi Manaf!’ Maka mereka pun berkumpul di sekitar beliau. Kemudian beliau ber­ tanya, ‘Bagaimana menurut kalian, ji­ka aku menghabarkan kepada kalian bah­ wa satu pasukan berkuda keluar dari ba­ lik bukit ini, apakah kalian percaya kepa­ daku?’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak pernah mengetahuimu berdusta.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya aku pemberi peri­ngatan kepada kalian sebelum da­ tang­nya siksa yang pedih.’ Maka Abu Lahab berkata, ‘Celaka engkau, hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami!’ kemudian ia bangkit dan pergi. Setelah itu turunlah ayat, “Binasalah kedua 35


tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa…(Al-Masad)

Memang, ketika Islam tidak mempunyai kekuasaan, maka sebagian manusia meno­ lak masuk Islam, bahkan memusuhi Islam, meski bukti-bukti telah jelas, sejelas sinar matahari di waktu zhuhur. Akan te­tapi, ke­ tika beliau sudah mempunyai kekuasaan di Madinah, maka musuh-musuh Is­lam di Madinah takut menampakkan permusu­ han kepada kaum muslimin, hingga mere­ ka memilih berlaku nifaq. Ketika ke­ku­as­ a­ an Islam semakin meluas, maka yang ber­ gabung dengan Islam pun semakin ba­nyak. Allah SWT. menggambarkan hal tersebut dalam firman-Nya, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondongbondong, maka bertasbihlah dengan me­ mu­ji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3)

Selain itu, jika kaum muslimin ber­­ku­a­ sa dan keadilan ditegakkan, maka ma­nu­si­a akan merasakan keamanan, ke­ti­ka ma­nu­ sia mendapatkan rasa aman ma­ka hatinya akan terbuka dan menerima dak­wah Islam. “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Quraisy: 1-4)

Secara implisit ayat tersebut menyatakan, bahwa perintah beribadah kepada Allah SWT. akan direspon oleh manusia jika me­ reka dalam keadaan sejahtera dan a­man. Ketika orang hidup serba kekurang­an, ma­ ka fikiran dan hatinya akan terkuras untuk me­me­nuhi tuntutan fisik dan keluar­ganya, se­hing­ga akal sehatnya ku­rang ber­fung­ si untuk memikirkan aga­ma. Ka­rena itu,

Rasu­lullah SAW. menga­jarkan agar u­mat­ nya berlindung dari keka­firan dan ke­fa­ ki­ra­ n. Abu Bakrah meriwayatkan bahwa Ra­ sulullah SAW. setiap pagi dan petang selalu membaca doa berikut tiga kali,

ُ ‫اللَّ ُه َّم إ يِِّن أَ ُعوُذ بِ َك ِم ْن ال‬ ‫ْك ْف ِر َوالْ َف ْق ِر اللَّ ُه َّم إ يِِّن أَ ُعوُذ‬ ِ ‫بِ َك ِم ْن َعذ‬ ‫َاب الْ َق رْبِ الَ إِلََه إِالَّ أَنْ َت‬

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Tiada tuhan yang berhak diibadahi, melainkan Engkau.” (HR. Abu Daud)

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW. berdoa,

ِّ ‫اللَّ ُه َّم إ يِِّن أَ ُعوُذ بِ َك ِم ْن الْ َف ْق ِر َوالْ ِقلَّ ِة َو‬ ‫الذلَِّة َوأَ ُعوُذ بِ َك‬ ‫ِم ْن أَ ْن أَ ْظلِ َم أَ ْو أُ ْظل ََم‬

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, minoritas dan kehinaan. Serta Aku berlindung kepada-Mu dari perilaku menzhalim atau dizhalimi.” (HR. Abu Daud)

Apabila Islam berkuasa, maka keadilan akan ditegakkan, sehingga manusia akan merasa aman. Sebab masing-masing manu­ sia merasa akan mendapatkan haknya. Ma­ ka, jika manusia sudah merasa aman, ma­ka akal sehatnya pun akan muncul, se­hing­ga ia akan memilih ajaran Allah SWT. Se­ba­ liknya, apabila kezhaliman yang berkuasa, maka manusia diliputi rasa takut. Dan, ke­ ti­ka rasa takut menyelimuti, maka akal se­ hat pun hilang, sehingga manusia mu­dah ditipu oleh orang lain. Oleh karena itu, para pe­nguasa diktator di sepanjang sejarah se­ la­lu menakut-nakuti rakyatnya dengan si­ hir dan sejenisnya, menebar kekaca­uan, men­ciptakan permusuhan, serta membu­ da­­yakan penindasan, sehingga ma­syarakat selalu dicekam ketakutan. Dan, akhirnya me­reka mudah ditipu dan diarahkan sesuai

perintah beribadah kepada Allah SWT. akan direspon, jika manusia dalam keadaan aman sejahtera 36

Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


tatsqif keinginan penguasa. Ini dipertegas oleh Allah SWT. dalam fir­man-Nya, “Dan Allah telah berjanji kepada orangorang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menja­dikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagai­ mana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka da­ lam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah

perbaiki, bukan menghancurkan dan me­ru­ sak; kemampuan untuk mewujudkan keadi­ lan dan rasa aman, bukan menciptakan kezhali­man dan pemaksaan; kemampuan untuk meningkatkan taraf hidup dan sis­ tem kehidupan manusia, bukan me­mero­ sot­kan individu atau kelompok ma­sya­rakat ke taraf hidup binatang. Inilah kekhalifahan yang dijanjikan o­leh Allah SWT. untuk orang-orang yang beri­ man dan beramal shalih, di mana Allah SWT. men­­jan­jikan bahwa mereka akan ber­ ku­asa di muka bumi, sebagaimana orangorang mukmin yang shalih dahulu berkuasa un­­tuk mengimplementasikan manhaj yang dike­hendaki oleh Allah SWT., menegakkan kea­dilan yang diinginkan-Nya, dan mem­ bim­bing manusia menapaki langkah-lang­ kah menuju kesempurnaan yang telah dite­

ke­tika rasa takut dirubah menjadi rasa a­man,

karena kekuasaan berada di tangan orang-orang yang beriman dan beramal sha­lih, ma­ka manusia dapat beribadah ke­pada Allah SWT. dengan benar... orang-orang yang fasik.” (An-Nuur: 55)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa ke­ tika rasa takut dirubah menjadi rasa a­man, karena kekuasaan berada di tangan orangorang yang beriman dan beramal sha­lih, ma­ka manusia dapat beribadah kepa­da Allah SWT. dengan benar, tanpa mense­ kutu­kan-Nya dengan apa pun. Sayyid Quthb rahimahullah berkata, “Kekhalifahan bukan sekedar kerajaan, kemenangan, dominasi, dan pemerintahan di muka bumi. Akan tetapi, merangkum semua itu dengan syarat dipergunakan untuk melakukan perbaikan, pemakmuran, pembangunan, dan mengimplementasikan manhaj yang telah ditetapkan oleh Allah SWT., agar dilalui oleh umat manusia untuk mencapai kesempurnaan di dunia yang telah ditakdirkan, dan kemuliaan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT.

Kekhalifahan di muka bumi adalah ke­ mam­puan untuk memakmurkan dan mem­

tapkan-Nya pada saat penciptaan manusia pertama. Adapun orang-orang yang ber­ kuasa untuk menimbulkan kerusakan di bumi, menyebarkan kesewenang-wenang­ an dan kezhaliman, serta membawa manu­ sia menuruni tangga taraf hidup binatang, maka mereka bukan diberi kekhilafahan, tetapi sedang diuji dan difitnah dengan ke­­­ku­as­­ a­an, atau sedang digunakan untuk me­ng­uji masyarakat yang mereka pimpin. Hakikat kekhalifahan seperti ini dapat dipahami dari petikan ayat, َّ‫يَ َ ِّ نََّ َ ُ ْ َ ُ ذ‬ َ َ‫ْ َ ى‬ ‫ارتض ل ُه ْم‬ ‫الي‬ ِ ‫َولُمكن لهم ِدينه ُم‬

“Dan, sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlai-Nya untuk mereka”

Pengokohan agama dapat terjadi jika a­­ ga­­ma telah kokoh dalam hati, aktivitas ke­ hi­dupan dan pengendaliannya. Dengan de­ mikian, Allah SWT. telah menjajikan ke­pa­ da kaum mukminin bahwa Ia akan mem­ berikan kekuasaan kepada mereka dan 37


men­­­ja­dikan agama mereka yang telah diri­ dlai-Nya sebagai pengendali dunia. Kare­ na agama itulah yang memerintahkan per­ baikan, keadilan, pemuliaan diri dari jeba­ kan syahwat bumi, pemakmuran bumi, dan pemanfaatan secara optimal segala ke­­ka­yaan alam, potensi, dan sumber daya yang disediakan Allah SWT. di dalamnya, dengan tetap mengorientasikan segala akti­ vitas ha­nya untuk Allah SWT. semata.” 1) Kekuasaan Menjamin Kemaslahatan Manusia Islam diturunkan untuk menjaga lima hal penting yang menjadi hak asasi manu­ sia; yaitu agama, jiwa, kehormatan, harta, akal. Akan tetapi, kelima hal tersebut a­kan menjadi terlantar jika Islam tidak mempu­ nyai kekuasaan. Agama akan menjadi obyek pelecehan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab, jika tidak ada kekuasaan yang me­ lin­­dunginya. Betapa banyak saat ini o­rang melecehkan Allah SWT., Rasul-Nya, dan sya­­ri­’at-Nya, namun tiada yang mem­be­la­ nya. Kalau pun ada, hanya sekedar protes dan kecaman. Sementara itu, orang yang me­lecehkan tetap berkreasi membuat pele­ ce­han yang lebih hebat. Pada saat Islam mempunyai kekuasaan, maka orang tidak berani melecehkan aga­ ma dalam bentuk apa pun. Karena masya­ rakat sadar, jika melecehkan agama akan berhadapan dengan kekuatan yang dapat memberi hukuman kepada mereka.

“Membunuh hewan di hutan lindung adalah kriminal yang tidak dapat dimaafkan. Akan tetapi, membunuh satu masyarakat utuh (karena yang dibunuh muslim), maka itu masalah yang masih perlu diperbincangkan.”

Pada saat umat Islam mempunyai keku­ asaan, nyawa muslim, bahkan non muslim sangat berharga, sehingga orang tidak mu­ dah mengalirkan darah. Sebab manusia sa­ dar, kalau membunuh pada akhirnya akan dibunuh oleh pemerintahan Islam. Saat ini, kehormatan benar-benar dite­ lan­jangi, karena tidak ada yang melindu­ nginya. Banyak penyebar fitnah yang tidak segan-segan membuat berita bohong yang mencederai kehormatan ulama, aktivis Is­ lam, atau tokoh-tokoh Islam. Bahkan tidak sedikit politisi yang mengarang cerita un­ tuk menjatuhkan kehormatan lawan-lawan politiknya. Padahal, jika Islam berkuasa, maka seorang yang menuduh orang baikbaik berzina, maka ia akan mendapat huku­ man cambuk 80 kali. Harta pun mengalami nasib yang sama, ditelantarkan karena tidak ada kekuasaan Islam yang melindunginya. Perampasan harta rakyat terjadi di mana-mana, sehing­ ga kaum musliimin yang sedang melaku­ kan shalat pun tidak memperoleh rasa a­­ man atas sepatu yang ditinggalkan di de­ pan masjid. Bahkan perampasan kekaya­ an dilakukan oleh orang-orang yang seha­ rusnya menjaganya.

Agama akan menjadi obyek pelecehan manusiamanusia yang tidak bertanggung jawab, jika tidak

ada kekuasaan yang me­lin­dunginya.

Jiwa dan nyawa manusia pada saat ini sangat murah, sehingga karena hal yang remeh, seseorang tidak segan-segan meng­ a­lirkan darah. Terutama darah mus­lim, sa­ at ini mudah dialirkan, karena tidak ada kekuasaan yang membelanya, sehingga se­ orang penyair berkata,

‫َر‬ ُ ‫َ�قتْ ٌل فيِ غَابَ ٍة َجرِيمٌَْة الَ ُ�ت ْغَ�تف‬ ِ ‫َوَ�قتْ ُل َش ْع ٍب آ ِم ٍن ق‬ ‫َضيٌَّة فِْ�ي َها نَ َظ ٌر‬ 38

Demikian juga akal, ia tidak mendapat­ kan perlindungan dari aturan atau kebija­ kan. Sehingga hal-hal yang merusak akal dibiarkan leluasa tumbuh dan berkembang. Pabrik pembuat minuman keras, perusa­ haan yang menghasilkan narkoba, dan lem­ baga-lembaga yang merusak akal se­hat be­ bas beroperasi, karena minimnya per­hatian pemerintah, sedikitnya kepedulian para penegak hukum dan tidak berdayanya a­tu­ Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


tatsqif ‫ال تَ ْد ُخل َْها إمَِّنَا‬ َ ‫إِ َذا َم َرْر َت بَِ�ب ْل َد ٍة لَيْ َس فِ َيها ُسل‬ َ َ‫ْطا ٌن ف‬ ِ ‫ْطا ُن ِظ ُّل اللَّ ِه َوُرمحُْ ُه ىِف األَ ْر‬ ‫ض‬ َ ‫السل‬ ُّ

ran yang membatasi gerak mereka. Apabila lima kebutuhan dasar manusia di atas tidak mendapatkan perlindungan, maka kekacauan akan terjadi di mana-ma­ na, kesengsaraan akan mewabah, ketakutan me­nye­bar, dan akhirnya masyarakat ber­ jalan menuju kehancuran. Al-Qarafi mengatakan, “Aturan tidak akan stabil, kecuali ada yang mengawasi secara cermat terhadap benih-benih fitnah, agar apinya segara dipadamkan, sebelum ditunggangi oleh orang-orang zhalim, sehingga muncul­ lah berbagai keinginan nafsu, dan ma­ sya­rakat selalu dalam kekacauan. Ini semua dapat memudahkan orangorang hina menguasai orang-orang mu­ li­a dan tangan-tangan keji dapat mem­ permainkan kehormatan serta kekayaan manusia. Tidak diragukan bahwa ini merupakan penghalalan terhadap kehormatan agama dan dunia.”

“Apabila kamu melewati negara yang tidak ada penguasanya, maka jangan memasukinya. Sebab kekuasaan itu naungan Allah SWT. dan tombak-Nya yang ada di bumi.” (HR. Al-Baihaqi dari Anas bin Malik ra.)

Kekuasaan dapat melindungi orang yang dizhalimi, agar mendapat jaminan keaman­ an, sehingga agama, jiwa, kehormatan, har­ ta, dan akalnya tidak diganggu oleh o­rangorang yang zhalim. Sedangkan, o­rang yang zhalim dapat dicegah dan di­sadar­kan, agar tidak semena-mena dan me­rajalela dalam kezhalimannya. Jika tidak ada kekuasaan, maka kehidupan manusia seperti ikan di lautan, atau seperti binatang di hutan, di mana yang besar dan kuat akan memangsa yang lebih kecil dan lemah.

Jika tidak ada kekuasaan, maka kehidupan manusia seperti ikan di lautan, atau binatang di hutan, yang besar dan kuat memangsa yang lebih kecil dan lemah Al-Amidi mengatakan, “Sulitnya manusia tunduk dan perbedaan keinginan dapat menghilangkan tujuan syari’at. Di samping itu munculnya ber­ bagai fitnah ketika pemimpin me­ning­gal, menunjukkan pentingnya menegak­kan pemimpin yang lain. Sebab jika terlam­ bat, maka kehidupan akan kacau dan masing-masing orang akan sibuk dengan dirinya sendiri di bawah pengurus yang diikuti, sehingga pada akhirnya me­ ngarah kepada kehancuran. Dengan de­ mi­kian, menegakkan kepemimpinan me­ ru­pa­kan kemashlahatan kaum muslimin yang terpenting dan kedudukan agama yang teragung.”

Oleh karena itu, sangatlah tepat kalau dinyatakan bahwa kekuasaan merupakan na­­ungan yang amat teduh di bumi dan o­­ bat yang menjaga kesehatan serta menyem­­ buhkan yang sakit. Rasulullah SAW. ber­ sabda,

Para ulama menyimpulkan bahwa ke­ku­ asaan Islam harus ditegakkan untuk men­ capai empat tujuan, yaitu sebagai berikut: 1. Mewujudkan rasa aman, sehingga ma­ syarakat tidak merasa ketakutan, sebab kejahatan akan mendapatkan imbalan yang setimpal. 2. Menegakkan keadilan, sehingga ke­zha­ liman dapat diminimalisir, atau dihi­ langkan dari muka bumi. 3. Mewujudkan kemakmuran, sehingga tidak ada masyarakat yang kelaparan tanpa pertolongan, sakit tanpa pengo­ batan, dan miskin tanpa bantuan. 4. Membimbing manusia untuk meng­ ham­bakan diri kepada Allah SWT. se­ mata ser­ta menegakkan syari’at-Nya. Dan, tujuan inilah yang terpenting, se­ bab ti­ad ­ a gunanya rasa aman, keadilan, dan kemakmuran, jika nantinya akan men­dapat siksa di hari kiamat. ) Fi zhilalil Qur’an, 5/291-293 dengan sedikit perubahan

1

39


misykat

Keutamaan

Shaum Ramadhan ُ ‫النَِّة بَابًا ُ�ي َق‬ َ َ‫ ق‬S ‫َّب‬ َْ‫ال « إ َِّن ىِف ج‬ ‫ يَ ْد ُخ ُل‬، ‫الريَّا ُن‬ َّ ِ‫ أَ َّن الن ى‬- ‫ رضى اهلل عنه‬- ‫َو َع ْن َس ْه ِل بْ ِن َس ْع ٍد‬ َّ ‫ال لَُه‬ ُ ‫ الَ يَ ْد ُخ ُل ِمنْ ُه أَ َح ٌد َغْ�ي ُرُه ْم ُ�ي َق‬، ‫الصائِ ُمو َن َ�ي ْوَم الْ ِقيَ َام ِة‬ ‫ الَ يَ ْد ُخ ُل ِمنْ ُه أَ َح ٌد‬، ‫ومو َن‬ َّ ‫ال أَيْ َن‬ َّ ‫ِمنْ ُه‬ ُ ‫الصائِ ُمو َن َ�فَ�ي ُق‬ » ‫ فَإِ َذا َد َخلُوا أُ ْغلِ َق‬، ‫َغْ�ي ُرُه ْم‬

Dari Sahl bin Sa’ad ra bahwa Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya di dalam sorga terdapat sebuah pintu yang diberi nama Rayyan, kelak di hari kiamat, orang-orang yang bershaum akan melaluinya, dan dilarang masuk selain mereka, dan jika mereka sudah masuk semua, maka pintu itu ditutup”. (HR. Bukhari Muslim, Turmudzi & Nasai)

َ َ‫ ق‬S ‫َّب‬ ‫ َوَم ْن‬، ‫َّم ِم ْن َذنْبِ ِه‬ َّ ِ‫ أَ َّن الن ى‬- ‫ رضى اهلل عنه‬- ‫َو َع ْن أَىِب ُه َرْ�ي َرَة‬ َ ‫ال « َم ْن قَ َام لَْ�يلَ َة الْ َق ْد ِر إِميَانًا َو ْاحتِ َسابًا ُغ ِف َر لَُه َما َ�ت َقد‬ » ‫َّم ِم ْن َذنْبِ ِه‬ َ ‫َص َام َرَم َضا َن إِميَانًا َو ْاحتِ َسابًا ُغ ِف َر لَُه َما َ�ت َقد‬ Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang bangun (beribadah) di malam lailatul qadar dengan penuh iman dan semata-mata karena Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa yang shaum di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan semata-mata karena Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lewat”. (HR. Bukhari Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Nasai)

َ َ‫ ق‬S ‫َّب‬ ‫ات َما َ�بْ�يَ�ن ُه َّن إِ َذا‬ َّ « ‫ال‬ َّ ِ‫َع ْن أَىِب ُه َرْ�ي َرَة أَ َّن الن ى‬ ٌ ‫جُْم َع ِة َوَرَم َضا ُن إ ىَِل َرَم َضا َن ُم َك ِّف َر‬ ُ ‫الصل ََو‬ ُ ‫جُْم َع ُة إ ىَِل ال‬ ُ ‫خَْم ُس َوال‬ ْ ‫ات ال‬ َ ‫ْاجَ�تنَ َب ال‬ » ‫ْكبَائِ َر‬ Dari Thalhah bin Karizz ra, bahwa Nabi saw bersabda, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Shalat lima waktu, dari jum’at ke jum’at yang lain, dari ramadhan ke ramadhan yang lain, merupakan penebus dosa-dosa antara keduanya, selama dihindari dosa-dosa besar”. (HR. Muslim)

َ َ‫ ق‬S ‫َّب‬ ‫ال « َم ْن َص َام َرَم َضا َن مُثَّ أَْ�تَ�ب َع ُه ِستًّا ِم ْن‬ ِّ ‫وب األَنْ َصار‬ َّ ِ‫ أَ َّن الن ى‬- ‫ رضى اهلل عنه‬- ‫ِى‬ َ ُّ‫َع ْن أَىِب أَي‬ َّ ‫َش َّو ٍال َكا َن َك ِصيَا ِم‬ » ‫الد ْه ِر‬ Dari Abu Ayyub ra bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang shaum di bulan Ramdhan, kemudian diikuti shaum 6 hari di bulan syawal, maka ia seperti shaum setahun.” (HR. Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasai dan Ibnu Majah)

40

Al-Intima’ No.008 Agustus 2010


Al-Intima' edisi 08  

Ebook Al-Intima' edisi 08 // Free!! Sebarkan kebaikan!! // www.al-intima.com

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you