Page 1

Edisi No.002 Tahun 2009 • Infaq Rp 4.900,-

Akankah

Ramadhan Kali Ini Terlewatkan Kembali?

tawjih

4

Dari Imsak Menuju Salamatusshadr

nasihat

22

Bahaya Harta Haram

harakatuna

6

Akankah Ramadhan Kali Ini Terlewatkan Kembali?

‘aqidatuna

24

Ahamiyatu Tarbiyyah

lamhah tarikhiyyah

10

konsultasi syari’ah

28

Sejarah Dakwah Rasul Bagian 1

Hukum Membayar Zakat dengan Uang

qur’anuna

13

nisaa’

30

Shaum dalam Perspektif Qur’an Surah 2:183-184 Urgensi Tarbiyah bagi Muslimah

sunnah

18

thulaby

34

Kewajiban Kita Terhadap Al-Qur’an Urgensi Kaderisasi dalam Gerakan Dakwah Pemuda

fiqh

20

kisah

38

Mengenal Kaidah Fiqh

Dakwah yang Bijak


dari redaksi

Edisi No.002 Tahun 2009 • Infaq Rp 4.900,-

Edisi No.002 Tahun 2009

Akankah

Ramadhan Kali Ini Terlewatkan Kembali?

tawjih

4

Dari Imsak Menuju Salamatusshadr

nasihat

22

Bahaya Harta Haram

harakatuna

6

Akankah Ramadhan Kali Ini Terlewatkan Kembali?

‘aqidatuna

24

Ahamiyatu Tarbiyyah

lamhah tarikhiyyah

10

konsultasi syari’ah

28

Sejarah Dakwah Rasul Bagian 1

Hukum Membayar Zakat dengan Uang

qur’anuna

13

nisaa’

30

Shaum dalam Perspektif Qur’an Surah 2:183-184 Urgensi Tarbiyah bagi Muslimah

sunnah

18

thulaby

34

Kewajiban Kita Terhadap Al-Qur’an

fiqh

20

kisah

38

Mengenal Kaidah Fiqh

Urgensi Kaderisasi dalam Gerakan Dakwah Pemuda

Dakwah yang Bijak

Majalah Dakwah Islam

Al-Intimã’ Terbit 1 (satu) bulan sekali Infaq Rp 4.900,-

Penerbit Forum Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah Bandung Alamat Redaksi Jl. Cilengkrang II No. 48 Kel. Palasari Kec. Cibiru Bandung Telpon (022) 71196663 e-mail mdi.intima@gmail.com Pemimpin Umum / Redaksi M. Indra Kurniawan Sidang Redaksi Setiadi Yazid Taufiq Rizqon Ridwan Nurdin Mufti Rifan Fahrani M. Indra Kurniawan Ali Akbar, Putra Akbar Desain Grafis & Tata Letak Widesain Pemasaran, Iklan & Distribusi Ali Akbar Dadan Sundana Keuangan Agus Suryana Percetakan Dunia Offset. Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Setiap tulisan masuk tidak dikembalikan. Lampirkan foto copy identitas yang masih berlaku. Isi di luar tanggung jawab percetakan.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh…. Segala puji milik Allah yang dengan karunianya sempurnalah segenap kebaikan. Salawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada pengajar kebaikan, yang menunjukkan manusia kepada kebenaran, pemimpin dan imam kita, panutan dan kekasih kita, Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar hingga hari kiamat nanti. Ya Allah limpahkanlah keberkahan kepada kami di bulan Ramadhan ini. Amin… Pembaca budiman, pada edisi kedua ini, pertama yang ingin kami sampaikan kepada Anda—para pembaca—adalah ucapan terima kasih atas sambutan yang demikian hangat pada majalah Al-Intima’ edisi perdana. Respon Anda sungguh diluar dugaan kami. Banyak sekali saran dan kritik membangun yang masuk ke meja redaksi. Hal ini sungguh menjadi dorongan moril yang luar biasa bagi kami jajaran redaksi dan menambah kebahagiaan yang tiada tara. Diantara masukan berharga yang kami terima adalah; dorongan untuk memperbaiki penempatan halaman rubrik, usulan rubrik khusus muslimah, dan penjajagan kemungkinan menampilkan suplemen bagi remaja. Sebagian masukan tersebut telah kami coba akomodir, hasilnya adalah seperti yang Anda lihat saat ini. Mudahmudahan penataan yang kami lakukan akan semakin mempercantik majalah kita ini; dan yang terpenting adalah bisa membuat Anda semakin nyaman membaca. Pembaca budiman, beberapa waktu yang lalu kami sempat bersilaturahim ke kediaman KH. Hilmi Aminuddin, Lc. di Padepokan Madani Pager Wangi Lembang Kab. Bandung Barat, untuk meminta kesediaan beliau mengisi rubrik Taujih secara rutin. Alhamdulillah gayung bersambut, beliau mempersilahkan kami meringkas dan memuat taujih-taujih beliau di majalah kita ini. Taujih beliau kali ini tentu saja berkaitan dengan Ramadhan, Dari Imsak Menuju salamatusshadr, semoga menjadi siraman yang menyejukkan ruhiyah dan semakin memompa semangat kita dalam beramal. Rubrik Harakatuna pun menampilkan tulisan tentang Ramadhan yang ditulis oleh Ustadz Abdul Hakam. Disusul Lamhah Tarikhiyah, Fiqh, Qur’anuna, Sunnah, Nasihat, rubrik baru—Nisaa’ dan Thulaby, Aqidatuna, Konsultasi Syariah, dan yang terakhir Kisah. Kami berharap seluruh risalah ringkas ini dapat menambah semangat kita beribadah di bulan Ramadhan. Akhirnya kami persilahkan Anda segera melahap majalah ‘bergizi’ ini. Selamat membaca!


Surat Pembaca Ass. Selamat atas terbitnya majalah Al-Intima’ semoga menjadi ladang amal dan barokah bagi kita semua, amin! (hamba Allah-0815723XXXXX) cara berlanggan nya gimana nich ???? - Usman Alfarisi Alhamdulillah....ana dah punya Majalah Al-Intima dan sedah ana baca semuanya...Subhanallah...Barokallah...semoga dengan adanya Intima bisa selalu memberikan spirit dan motivasi bagi kader-kader dakwah serta ghirah yang tinggi dalam perjalanan Dakwah ini...Amiin...Selamat ya..... - Eva Puspitasari Allahu Akbar! Al-Intima’ keren bangets…tetep istiqomah ya…jangan gulung tikar…mudah-mudahan semakin diminati para aktivis Islam…! Aq/022922XXXXX) Ass. Al-Intima’ bagus…tapi…mana rubrik buat akhwatnya…? - Ummahat /0815710XXXX

2


editorial

Tekad Ramadhan Ramadhan datang kembali. Bagi kita hendaknya ada satu tekad yang tertanam dalam diri: Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Jangan biarkan ia berlalu tanpa membawa atsar ketaqwaan dalam jiwa. Ramadhan adalah terminal ruhani. Pada bulan ini para salafu shalih memfokuskan diri mereka pada ibadah. Bahkan sebagiannya saling berpamitan dan baru bertemu kembali saat shalat Ied digelar. Bagi mereka shaum Ramadhan benar-benar menjadi momen penempaan diri. Disinilah mereka mengisi jiwanya dengan bahan bakar keimanan. Memompa diri dengan ruku dan sujud di malam hari. Mendinginkan ruhaninya dengan tilawah Qur’an. Semakin bersih suci dengan zakat, infaq dan shadaqah. Kita mungkin belum bisa seperti mereka, karena konstruksi sosial kita hari ini seakan memaksa setiap kita untuk tidak lepas dari kesibukan dunia. Tapi paling tidak, tekad dan target peningkatan kualitas ketaqwaan harus selalu ada dan berusaha kita kejar. Pertama, mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai wahana pelatihan pengendalian diri. Kedua, jadikan Ramadhan momentum dan titik tolak peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah tabaraka wa ta’ala. Ketiga, jadikanlah Ramadhan bulan pembersihan diri, tazkiyatu nafs, sehingga kita menjadi orang yang senatiasa bertaqwa. Sekali lagi, mari kita bertekad dan mulai melangkah. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik. Bisa jadi ini Ramadhan kita terakhir bukan? Wallahu a’lam…

َ ‫ضا َن َش ْه ٌر ُم َب ا َر ٌك ا ْف َت َر‬ َ ‫َقدْ َج ا َء ُك ْم َش ْه ُر َر َم‬ ‫ض الل ُه‬ ُ‫لجن َِّة َو ُي ْغ ِلق‬ ُ ‫َع َل ْي ُك ْم ِص َي ا َم ُه ُي ْف َت ُح ِف ْي ِه َأ ْب َوا‬ َ ‫ب ْا‬ ‫لج ِح ْي ِم َو ُت َغ ُّل ِف ْي ِه ال َّش َي ِاط ْي ُن ِف ْي ِه‬ ُ ‫ِف ْي ِه َأ ْب َوا‬ َ ‫ب ْا‬ ِ ‫لَ ْي َل ٌة َخ ْي ٌر ِم ْن َأ ْل‬ ‫ف َش ْه ٍر َم ْن ُح ِر َم َخ ْي ُر َها َف َقدْ ُح ِر َم‬ Sungguh, telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan. Di dalam Ramadhan terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tak berhasil memperoleh kebaikan Ramadhan sungguh ia tidak akan mendapatkan itu buat selama-lamanya. (Ri-wayat Ahmad, Nasaa`i dan Baihaqy).

3


tawjih

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

Dari Imsak

Menuju Salamatusshadr Kita sudah banyak mendengar wejangan tentang hikmah dan fawaid (keutamaan) Ramadhan. Diantara keistimewaan-keistimewaan Ramadhan yang demikian banyak, yang paling menjadi kalimat jami’ah (kalimat umum), yang biasa didengar dimana-mana, disebutkan bahwa di bulan Ramadhan ini Allah menjanjikan maghfirah, wa rahmah, wa itqun minan nar. Ketiganya itu adalah pahala atau medali yang akan diberikan Allah SWT kepada orang yang memenangkan Ramadhan. Kita berharap dapat meraih maghfirah, wa rahmah, wa itqun minan nar, bukan hanya terasa sebagai janji-janji yang hangat di bulan Ramadhan, tapi insya Allah menjadi langkah-langkah yang terasa di bulan Ramadhan dan bulan-bulan sesudahnya; menjadi sikap dan perilaku yang bisa dirasakan sampai Allah mempertemukan kita kembali kepada Ramadhan berikutnya. Kekalnya curahan maghfirah, wa rahmah, wa itqun minan nar itu sangat tergantung pada kemampuan kita merealisasikan makna kalimat Ramadhan itu sendiri, yaitu kemampuan imsak (menahan diri). Inilah sesungguhnya hal yang paling mendasar yang harus dicapai di bulan Ramadhan. Sebagai manusia kita diberi oleh Allah SWT potensi rohani, akal, pikiran, dan jasad. Masing-masing potensi itu mempunyai thumuhat (obsesi)nya sendiri. Ada thumuhat fikriyah, ruhiyah, dan thumuhat jasadiyah, yang saling berlomba untuk mencapai yang tertinggi. Agar perlombaan—yang merupakan realitas dalam kehidupan—tidak melahirkan benturan-benturan, overlapping, bentrokan

4

yang mengakibatkan kelumpuhan, maka kita perlu memiliki kemampuan menahan diri. Dalam realitas kehidupan yang penuh perlombaan, penuh persaingan, penuh kompetisi ini, kita harus mampu mengendalikan diri. Agar semangat kompetisi itu bisa mencapai hal-hal yang positif dan produktif yang bisa dirasakan manfaatnya oleh diri kita, keluarga, masyarakat, umat, bangsa ini, bahkan oleh kemanusiaan pada umumnya. Kemampuan menahan diri (imsak) itulah yang membuat khutuwat (langkahlangkah) kita munazhomah (teratur), tertib, terencana, jelas arahnya, jelas targetnya, dan jelas sasarannya. Tanpa kemampuan pengendalian diri, banyak potensi berhamburan tidak terarah. Banyak potensi tidak produktif. Pengendalian diri yang saya maksud adalah meliputi kemampuan menahan diri dalam segala sepak terjang kehidupan kita; mampu menahan diri dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, politik, social, ekonomi, dan budaya. Seluruhnya harus terkendali. Jika kemampuan mengendalikan diri itu sudah mendominasi diri kita, Insya Allah kita akan bisa mencapai suatu kondisi yang paling mendasar dalam diri kita,


tawjih yaitu salamatusshadr (kelapangan dada), karena emosi kita bisa dikendalikan. Tidak mudah berprasangka, tidak mudah menyebarkan zhan, syak, atau curiga. Tidak tertarik untuk menyebarkan fitnah, menyebarkan isu yang sarana prasarana teknologinya kini semakin canggih, misalnya melalui short message sevice (sms), melalui internet atau melalui selebaran-selebaran. Salamatusshadr bisa dihasilkan dalam diri kita apabila masing-masing kita pandai menahan diri; tidak mudah terpancing gossip, isu, terseret pada perilaku yang merusak dan tidak bermanfaat; tidak terpancing oleh manuver-manuver yang memang sengaja dilontarkan oleh lawanlawan Islam dan lawan-lawan dakwah. Salamatusshadr akan memudahkan kita bergaul di masyarakat. Tanpa modal kemampuan menahan diri dan modal rahabatusshadr, salamatusshadr, pergaulan kemasyarakatan dan komunikasi social kita menjadi sempit, terbatas, terhambat, bahkan akan menghadapi berbagai benturan di sana sini. Keberhasilan meraih kemampuan pengendalikan diri dan keberhasilan menghidupkan kondisi ruhiyah—yang disebut salamatusshadr itu—insya Allah akan menimbulkan hal yang paling positif dalam kehidupan kita yaitu munculnya rasa tanggung jawab; tanggung jawab secara pribadi atau rumah tangga; atau dalam berjama’ah, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bahkan dalam pergaulan antar bangsa, antar umat, antar negara, antar komunitas. Dari rasa tanggung jawab inilah akan muncul rasa empati pada penderitaan dan kesulitan yang dialami sesama saudara di tengah-tengah umat, atau di tengah-tengah bangsa ini, atau sesama umat dalam kerangka kehidupan di dunia ini. Kita sebagai jama’ah dakwah yang membawa misi Islam rahmatan lil ‘alamin, tidak mungkin bisa melaksanakan misi tersebut, kalau kita tidak memiliki rasa tanggung jawab. Islam dan umatnya menuntut kader-kader dakwah untuk

tampil dengan penuh rasa tanggung jawab memperjuangkan kepentingan, nasib, dan kejayaan Islam wal muslimin. Rasa tanggung jawab itulah yang seharusnya mampu kita tampilkan di tengahtengah musyarakah ijtimai’yah kita, yaitu dengan menjadi anggota masyarakat yang paling merasa bertanggung jawab atas qodhoyah ummat (problema umat), atas situasi kondisi kehidupan yang ada di lingkungan kita, lingkungan bertetangga, lingkungan bermasyarakat, lingkungan bernegara dan lingkungan pergaulan antar bangsa, bahkan dalam ruang lingkup yang sempit sekali pun. Masyarakat, umat dan bangsa hanya akan menokohkan putra-putranya yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap qadhayah ummat; qadhayah Islam wal muslimin. Tanpa mampu menampilkan rasa tanggung jawab dan karya-karya yang terprogram, kita akan diabaikan oleh umat dan bangsa ini, disisihkan, tidak dipedulikan dan tidak dinilai.

Rasa tanggung jawab “dalam diri kita itulah yang akan mendorong umat ini memberikan kepercayaan dan menokohkan kita untuk mengelola dan mengatur kehidupan berbangsa dan

bernegara.

Dengan rasa tanggung jawab kita kokohkan dakwah ini. Dengan rasa tanggung jawab kita layani umat dan bangsa ini. Dan dengan rasa tanggung jawab kita pimpin, kita bimbing, kita kendalikan umat ini ke arah jalan yang ditunjukkan Allah dan Rasul-Nya, jalan kebahagiaan fii dunya wal akhirat.®

5


harakatunĂŁ

Oleh: Ustadz H. Abdul Hakam, Lc.

Akankah Ramadhan Kali Ini Terlewatkan Kembali?

Yang dirindukan itu kini hadir dan langsung menyapa: Wahai pecinta kebaikan sambutlah!! 1 Awal kehadirannya langsung membuat pintu-pintu rohmat, pintu-pintu langit dan pintu-pintu surga terbuka. Kebaikan yang menyertainya mengakibatkan pintupintu neraka sementara tertutup. Rahmat dan ampunan Allah yang dibawanya mempersempit gerak syetan, bahkan ia terbelenggu karenanya.2 Ia datang dan selama keberadaannya senantiasa hadir seluruh kebaikan. Pintu demi pintunya terbuka lebar. Pintu-pintu itu sangat memikat, terukir kata-kata yang sangat indah. Tertera diantaranya Rayyan, pintu yang langsung menghubung ke syurga. Terbaca dengan jelas diperuntukkan bagi pecinta puasa.3 Ruangan-ruangannya penuh dengan gemerlap kebaikan yang sangat mengagumkan. Di ruangan sana hembusan nafas yang kurang sedap berubah menjadi partikel aroma kasturi yang harum semerbak.4 Di bagian ruangan-ruangan itu terdapat tempat penukaran point pahala kebaikan, berjenjang dan meningkat. Point sunnah menjadi point pahala wajib, dan point wajib berlipat menjadi 10 sampai 700 point

6

pahala.5 Bahkan ada ruang eksklusif. Apa pun point kebaikan akan ditukar dengan point yang tak lagi terhitung nilainya. Lantaran point kebaikan itu terbungkus dalam kesabaran. Begitu juga point keikhlasan dalam berpuasa.6 Pintu-pintu dan ruangan-ruangan kebaikan yg sangat luas itu berjejer ke dalam dengan jarak tempuh perjalanan 29 - 30 hari. Semakin ke dalam semakin indah dan menakjubkan. Dibutuhkan semangat ekstra untuk merengkuh seluruh kebaikannya, dan semakin sampai ke ujung semakin tak tergambarkan kenikmatan dan kelezatan kebaikannya. Di sepertiga mendekati akhir batas ruangan, terdapat ruang ‘asyru awakhir’ . Disana berdatangan kebaikan dari segala arah. Diantara ruang itu ada sebuah panorama yang sangat indah dan mengagumkan, itulah kebaikan lebih dari seribu bulan. Kebaikan spesial itu memenuhi seluruh sudut angkasa raya, dikawal ribu-ribuan malaikat dalam pengawalan ketat Jibril


alaihissalam. Kebaikan spesial ini datang dan turun dengan penuh keteduhan, ketenangan, dan kesucian. Menghampiri rumah-rumah suci, memberi penghormatan kepada penghuni-penghuninya yang merindukan, mempersiapkan diri menyambutnya dengan penuh ketaatan dengan segenap kesabaran dan penghambaan diri. Kebaikan spesial ini hanya datang sekali, dalam sekali putaran roda bumi ini. Ia turun untuk memperingati turunnya kalam ilahi di Baiti Izzati langit dunia, yang kini jadi lentera hati ummat dan cahaya panduan abadi yang tak akan padam selamanya. Di akhir ujung perjalanan di ruang ini, mutiara-mutiara kebaikan berhamburan menghampiri pengunjungnya, lalu mencair menyirami akal dan kalbunya. Tumbuh berkembang menjadi taman-taman bunga hati yang sangat indah. Debu-debu dosa yang menempel, karat-karat kemaksiatan yang lama melekat, noda-noda dengki, iri, kikir, riya’, sum’ah, dan nokta-nokta lainnya yang mengotori indahnya hiasan diri terkelupas, rontok dan jatuh menghilang. Begitu keluar dari ruang kebaikan ini terasa seperti lahir dalam kesucian. Kebaikan itu sebelum keluar meneruskan perja-

harakatunã

hai Rabb setiap saat dan bukan hanya jadi pelaku kebaikan di hari-hari Ramadhan. Regukan kebaikan salama 20-30 hari penelusuran pintu-pintu dan ruang-ruang kebaikan itu diharapkan menjadi modal yang tidak habis. Hingga diberi kesempatan bertemu kembali…jika diizinkan.

Rasulullah bersama Ramadhan

Rasulullah sangat merindukan kehadiran Ramadhan. Kerinduan dengan penuh persiapan, penyambutan dan aktivitas amal. Setidaknya sejak dua bulan sebelumnya—Rajab dan Sya’ban—Rasulullah telah mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan memperbanyak dan meningkatkan amal kebaikan. Terutama berpuasa. Aisyah menjelaskan, bulan yang paling banyak Rasulullah melakukan puasa selain Ramadlan adalah Bulan Sya’ban.7 Memasuki bulan Rajab, suasana keberkahan Ramadhan sudah didengungkan. Beliau mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya untuk memperbanyak do’a keberkahan dan bisa bertemu dengan Ramadlan.8

Memasuki awal Rama“dhan, Rasulullah saw mulai

melipatgandakan amalamal kebaikannya. Beliau adalah orang yang paling dermawan, dan ketika memasuki Ramadhan beliau menjadi orang yang lebih dermawan lagi.9 Beliau pun bertadarus dan muraja’ah secara khusus bersama Jibril, yang selama ini menyampaikan ayat Qur’an secara bertahap dari Baitul Izzah kepadanya.9

lanannya, berpamitan dan meninggalkan pesan: “Jadilah kalian rabbaniyyin dan jangan jadi ramadhaniyyin. Jadilah penyambut dan pelaku kebaikan yang dirid-

Apa yang dilakukan Rasulullah di awal Ramadhan dan seterusnya dengan tensi amal yang terus meningkat seolah mengisyaratkan persiapan memasuki hari-hari akhir Ramadhan. Begitu memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah

7


harakatunã seakan memutus seluruh kenikmatan dan keindahan dunia. Mengisolasi diri, taqorrub, ta’abbud, mendekatkan diri kepada Allah dalam bentuk amalan khusus yang diajarkan kepada umatnya: full i’tikaf. Itulah pra syarat menyambut dan meraih malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Semua itu beliau lakukan sepanjang hayatnya pasca hijrah. Setelah beliau saw wafat, aktifitas yang sangat istimewa ini diteruskan oleh istri-istrinya dan diabadikan oleh para sahabat dan umatnya.10 Subhanallah…sungguh mulia engkau Ya rasulullah, panutan kami semua. Allahumma shalli ala Muhammad. Meski didera rasa lapar dan haus, ketinggian ruhiyah bulan Ramadhan mampu mengalahkan sekat-sekat jasad. Momentum ruhiyah ini dimanfaatkan Rasulullah untuk melipatgandakan berbagai aktifitas kerja keras hingga jihad, perang di medan tempur. Di bulan Ramadhan inilah beliau mengutus pasukan khusus sariyah pertama pimpinan Hamzah bin Abdul Muthallib untuk melakukan manuver perluasan wilayah dan pemantauan kekuatan musuh.

mengembalikan al-Qusdi ke pangkuan kaum Muslimin dalam perang Hittin. Itulah berbagai kebaikan, keberkahan, dan rahmat yang mengisi seluruh ruang Ramadhan. Sangatlah pantas kalau umat terbaik sepanjang sejarah di jagat raya ini senantiasa menantikan dan merindukan kehadirannya. Tidak hanya beberapa hari menjelang kedatangannya, bahkan sejak 6 bulan sebelumnya, mereka berdo’a kepada Allah agar bisa bertemu dan mangisi hariharinya dengan amal. Tiada lain, demi merengkuh kebaikan di dalamnya.12

Bagaimana dengan kita?

Sudah sekian kali Ramadlan kita lewati. Sudah sekian kali pula kita menyaksikan hiruk pikuk dan kesibukan manusia memanfaatkan bulan suci ini. Baik yang paham dengan amalan Ramadhan maupun yang tidak paham; muslim maupun non muslim; laki-laki, perempuan, anakanak, remaja, orang tua, kaya miskin, hingga para peminta, di pagi, siang, sore, dan malam hari. Perhatikan pula sirkulasi uang berputar dengan sangat cepat menjelajah seluruh lapisan masyarakat hingga pelosok-pelosok terpencil. Pesan-pesan singkat bertaburan

Momentum Ramadhan “ pula yang menyumbangkan

spirit kemenangan dalam perang pertama dan terbesar dalam sejarah ummat, yaumul furqon—perang Badar Kubro dengan kemenangan gemilang.

Fathu Makkah, tertaklukannya Kota Mekkah, juga memanfaatkan semangat ruhiyah ramadhan. Rihlah da’wah ini kemudian diteruskan hingga ke penaklukan Hunaian.11 Sejarah semangat ruhiyah Ramadhan ini terus bergulir dengan tersebarnya da’wah di wilayah Eropa, Andalusia Spanyol. Saat momentum Ramadhan pula tersemainya kembali ketenangan, kedamaian dan kerukunan di tanah Palestina, saat sang pahlawan, Sholahuddin Al-Ayyuby

8

mengisi space mungil yang selalu menjadi candu mata, jempol dan telinga ini. Di sana ada yang pandai memanfaatkan putaran peluang ini untuk kepentingan dunia dan berhasil meraup keuntungan besar. Di sebelahnya lagi ada yang terus mengasah ketajaman hati dan pikirannya untuk terus mendekat kepada Rabb karena sudah persiapan sebelumnya tentang kebutuhan


dunianya. Di sebelah sana lagi ada yang tergilas kecepatan rodanya hingga tak berdaya, bermalas-malas, dan tertidur berlamalama, toh tidur juga ibadah ungkapnya. Di sebelah sana ada yang terpelanting tertinggal jauh, lalu mengotori sepanjang perjalanannya dengan kemaksiatan dan bermandi lumpur dosa.

Dan disini, ada yang sa“ ngat cerdik menghitung pu-

taran waktunya merancang peta jalan, memperlebar jalan kebaikan mempersempit ruang kemaksiatan dan kemalasan, karena ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya baik akhirat maupun dunia dengan full ibadah, full kerja, full infaq, full da’wah dan full evaluasi diri. Tidak ingin potongan waktunya tercecer sedikitpun. Ia memperbanyak dan menjalin kuat dengan Rabbnya serta menabur kebaikan dan kemanfaatan antar sesama. Termasuk yang manakah kita?®

_________________________

1. ْ‫( يَا بَا ِغ َي خْالَ ْيرِ أَق ِْبل‬Wahai pecinta kebaikan sambutlah. (Sunan at-Tirmidzi no. 618) َ َ‫إِذَا دَخَ ل‬ 2. ‫اب َج َه َّن َم‬ َ ‫ش ْه ُر ر َ َم‬ ْ ‫اء وَ ُغلِّق‬ َّ ‫اب‬ ُ ‫َت أَب ْ َو‬ ُ ‫ضا َن ُف ِّت َح ْت أَب ْ َو‬ ِ ‫الس َم‬ َّ ‫ْسل َْت‬ ‫ني‬ ِ ‫الش َي‬ ِ ‫سل‬ ُ ‫اط‬ ُ َ‫( و‬Apabila telah masuk bulan Ramadlan pintu-pintu langit terbuka, pintupintu neraka jahannam tertutup dan syetansyetan terbelenggu (Hadist Bukhori no. 1766). 3. ‫ْسل َْت‬ َ ‫إِذَا دَخَ لَ ر َ َم‬ ِ ‫سل‬ ْ ‫اب جْالَ َّن ِة وَ ُغلِّق‬ ُ ‫ضا ُن ُف ِّت َح ْت أَب ْ َو‬ ُ َ‫اب َج َه َّن َم و‬ ُ ‫َت أَب ْ َو‬ َّ (Apabila telah masuk bulan Ramadlan ‫ني‬ ِ ‫الش َي‬ ُ ‫اط‬ pintu-pintu surga terbuka, pintu-pintu neraka jahannam tertutup dan syetan-syetan terbelenggu. (Hadist Bukhori no. 3035) 4. ‫ْسل َْت‬ َ ‫إِذَا كَ ا َن ر َ َم‬ ِ ‫سل‬ ْ ‫اب الرَّ ْح َم ِة وَ ُغلِّق‬ ُ َ‫اب َج َه َّن َم و‬ ُ ‫َت أَب ْ َو‬ ُ ‫ضا ُن ُف ِّت َح ْت أَب ْ َو‬ َّ ‫ني‬ (Apabila telah masuk bulan Ramaِ ‫الش َي‬ ُ ‫اط‬ dlan pintu-pintu rohmat terbuka, pintu-pintu neraka jahannam tertutup dan syetan-syetan terbelenggu. (Hadist Muslim no. 1784)

harakatunã

5. ‫الصائ ِ ُمو َن ي َ ْو َم الْ ِق َيا َم ِة‬ َّ ‫إ ِ َّن ِفي جْالَ َّن ِة بَابًا يُقَا ُل لَ ُه الرَّيَّا ُن ي َ ْدخُ لُ ِم ْن ُه‬ ‫( لاَ ي َ ْدخُ لُ ِم ْن ُه أ َ َح ٌد غ َْي ُر ُه ْم‬Sesungguhnya di surga ada pintu yang bernama Royyan tidak ada seorangpun yang masuk di dalamnya pada hari qiyamat kecuali orang-orang yang berpuasa. (Hadist Bukhori no. 1763) 6. ‫يح‬ ِ َّ‫الصائ ِ ِم أَطْ َي ُب ِع ْن َد ه‬ ِ ‫وَالَّ ِذي نَف‬ َّ ‫ْسي ب ِ َي ِد ِه خَلُلُوفُ ف َِم‬ ِ ِ ‫الل ت َ َعالَى ِم ْن ر‬ َ َ‫شرَاب َ ُه و‬ َ َ‫س ِك ي َ ْت ُركُ طَ َعا َم ُه و‬ ‫ش ْه َوت َ ُه ِم ْن أ َ ْجلِي‬ ْ ِ ْ‫ ( الم‬Demi Dzat yang diriku berada di tangannya, sungguh bau busuk mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma wangi kasturi, karena dia meninggalkan makanan, minuman dan syahwat nafsunya untukKu. (Hadist Bukhori no: 1761). ُ َّ‫ه‬ َ ‫ص َيا َم‬ 7. ‫ش ْه ٍر‬ ِ َّ‫سو َل ه‬ ِ َ‫اس َتكْ َمل‬ َ ‫الل‬ ْ ‫سل ََّم‬ َ َ‫صلَّى الل َعل َْي ِه و‬ ُ َ ‫وَ َما رَأَي ْ ُت ر‬ َ َ َ َ ُّ ‫( ق‬ ْ‫ك‬ ‫ص َيا ًما ِم ْن ُه ِفي ش ْع َبا َن‬ َ ‫َط إِلاَّ ر َ َم‬ ِ َ‫ضا َن وَ َما رَأي ْ ُت ُه ِفي ش ْه ٍر أ ثَر‬ saya tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa sempurna satu bulan kecuali Ramadlan, dan saya tidak melihat beliau berpuasa banyak seperti bulan Sya’ban. (Hadits bukhori: 601, 1833, 1834) ُ َّ‫ه‬ 8. ‫سل ََّم إِذَا دَخَ لَ ر َ َج ٌب قَا َل الل َُّه َّم بَارِكْ لَ َنا‬ َ ‫كَ ا َن ال َّن ِب ُّي‬ َ َ‫صلَّى الل َعل َْي ِه و‬ َ َ‫ ( ِفي ر َ َج ٍب و‬Rasulullah saw ‫ضا َن‬ َ ‫ش ْع َبا َن وَبَارِكْ لَ َنا ِفي ر َ َم‬ apabila masuk bulan Rajab berdo’a, ‘ ya Allah berilah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan beri keberkahan pula kami di bulan Ramadlan. (Hadist Ahmad : 2228) 9. ‫ « اللهم‬: ‫كان رسول اهلل صلى اهلل عليه وسلم إذا دخل رجب قال‬ ‫ وبلغنا رمضان‬، ‫ وشعبان‬، ‫( بارك لنا في رجب‬Rasulullah saw apabila masuk bulan Rajab berdo’a, ‘ ya Allah berilah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan temukanlan kami di bulan Ramadlan. (At-tabrani 4086) ُ َّ‫ه‬ 10. ‫اس وَكَ ا َن أ َ ْج َودُ َما‬ ِ َّ‫سو ُل ه‬ َ ‫الل‬ َ َ‫صلَّى الل َعل َْي ِه و‬ ُ َ ‫كَ ا َن ر‬ ِ ‫سل ََّم أ َ ْج َودَ ال َّن‬ ‫ني يَلْقَا ُه ِج ْبرِيلُ وَكَ ا َن يَلْقَا ُه ِفي كُ لِّ ل َْيلَ ٍة ِم ْن‬ َ ‫يَكُ و ُن ِفي ر َ َم‬ َ ‫ضا َن ِح‬ ُ َّ‫ه‬ َ ‫ر َ َم‬ ِ َّ‫سو ُل ه‬ ُ‫سل ََّم أ َ ْج َود‬ َ ‫الل‬ َ َ‫صلَّى الل َعل َْي ِه و‬ ُ َ‫س ُه الْقُرْآ َن َفلَر‬ ُ ِ ‫ضا َن ف َُي َدار‬ ْ‫خ‬ َ ‫سلَ ِة‬ (Rasulllah saw adalah orang ‫ال‬ ‫ب‬ ‫الر‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ر‬ ‫ي‬ ْ ِ َ ْ‫يح المْ ُر‬ ْ ِّ ِ ِ ِ yang paling dermawan, dan di bulan Ramadlan menjadi lebih dermawan lagi, ketika jibril menemuinya, dan Jibril setiap malam Ramadlan bertadarus al-quran bersama Rasulullah. Kedermawanan Rasulullah melebihi hembusan angin kencang. (Bukhori 1769) ُ َّ‫ه‬ ْ ‫ف الْ َع‬ 11. ‫اخرَ ِم ْن‬ ُ ‫سل ََّم كَ ا َن ي َ ْع َت ِك‬ ِ َ‫شرَ أْالَو‬ َ ‫أ َ َّن ال َّن ِب َّي‬ َ َ‫صلَّى الل َعل َْي ِه و‬ َّ‫ه‬ ُ َ َ‫ك‬ ‫اج ُه ِم ْن ب َ ْع ِد ِه‬ َ ‫ضا َن َح َّتى ت َ َوفَّا ُه الل ث َُّم ا ْع َت‬ َ ‫( ر َ َم‬sesungُ َ‫ف أزْو‬ guhnya Rasulullah saw beri’tikaf di sepuluh terakhir hingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelahnya. (Bukhori 1886) ُ َّ‫ه‬ 12. ‫ضا َن‬ َ ‫سل ََّم َغزَا َغزْوَ َة الْ َف ْت ِح ِفي ر َ َم‬ ِ َّ‫سو َل ه‬ َ ‫الل‬ َ َ‫صلَّى الل َعل َْي ِه و‬ ُ َ ‫أ َ َّن ر‬ (Rasulullah saw berperang dalam fathuh Makkah di bulan Ramadlan. (Bukhori 2940) ُ َّ‫ه‬ 13. ٍ ْ‫ضا َن إِلَى ُحنَين‬ َ ‫سل ََّم ِفي ر َ َم‬ َ ‫( خَ رَ َج ال َّن ِب ُّي‬Raَ َ‫صلَّى الل َعل َْي ِه و‬ sulullah saw keluar menuju ke Hunaian pada bulan Ramadlan. (Bukhori 3942) 14. ‫ كان السلف يدعون اهلل ستة أشهر أن‬: ‫قال املعلى بن الفضل‬ ‫( يبلِّغهم رمضان‬berkata al-Maalli bin al-Fadl, ‘salafussholeh berdo’a kepada Allah enam bulan agar bisa berjumpa Ramadlan. (Muhammad al-Uraifi, Robbaniyuun la romadhoniyun.)

9


lamhah tarik hiyyah

Sejarah Perjuangan Nabi Bagian I (Periode Makkiyah) Memahami sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW adalah sebuah keniscayaan bagi setiap muslim, terlebih lagi bagi aktivis harakah Islamiyah. Sirah Nabawiyah adalah salah satu komponen penting yang dapat mencerahkan akal seorang muslim dalam memahami agama yang dianut dan diperjuangkannya. Perjuangan Nabi SAW mencakup dua marhalah (periode), makkiyah dan madaniyah. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini menjadi isyarat tentang karakter, sifat, visi dan misi dinul Islam, serta bagaimana ia diperjuangkan. Mari kita simak lamhah tarikhiyah (lintasan sejarah) perjuangan Islam ini.Semoga menjadi inspirasi bagi gerak langkah perjuangan ummat: Masa Pra Kenabian

571 M: Kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam keadaan yatim. Ketika usia 3 bulan dalam kandungan, Abdulah ayahnya wafat di Yatstrib (Madinah) dalam perjalan pulang dari Syam. Ya, ia lahir dalam keadaan yatim, pada hari Senin, 9 Rabiul Awwal tahun Fil atau bertepatan dengan 20 April 571 M di Kampung Bani Hasyim. Sampai berumur 4 atau 5 tahun ia tinggal di dusun Bani Sa’ad. Pada masa inilah terjadi peristiwa pembelahan dada. Pada saat itu Nabi segera dikembalikan kepada Aminah. 576 M: Saat berusia 6 tahun Muhammad pergi bersama ibunya ke Madinah

10

dan tinggal selama sebulan di dusun Bani Najjar. Sepulang dari sana ditengah jalan di daerah Abwaa’, Aminah jatuh sakit dan kemudian wafat. Muhammad kemudian diperlihara oleh Ummu Aiman (budak peninggalan ayah bundanya). 578 M: Setelah yatim piatu, ia dipelihara oleh kakeknya, Abdul Mutahalib. Tapi saat beliau berusia 8 tahun, Abdul Muthalib wafat dalam usia 80 tahun. Selanjutnya Muhammad SAW dipelihara oleh Abdu Manaf (Abu Thalib). 583 M: Saat berusia 12 Muhammad pergi berdagang bersama pamannya ke Syam. Berkaitan dengan perjalan ini ada riwayat-riwayat tentang pertemuannya


dengan pendeta Bukhaira, tapi riwayatriwayat ini tidak dapat dipertanggungjawabkan walaupun tercantum dalam Sirah Ibnu Hisyam dan Syekh Al-Halabi. 586 – 591 M: Ini adalah masa diperkirakan Muhammad SAW mengikuti perang Fijar (umur 15-20 tahun), yakni perang antara keturunan Kinanah dengan Quraisy, disebabkan adanya pelanggaran Kinanah terhadap undang-undang yang berlaku saat itu. Pada saat berumur 20 tahun, Rasulullah SAE menjadi anggota Hilful Fudhul, sebuah perkumpulan yang bertugas menjaga keamanan dan memberikan perlindungan kepada orang yang dizalimi. 594 M: Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, Muhammad pernah menjadi penggembala. Dan saat berusia 24 tahun ia kembali berdagang ke Syiria membawa dagangan Khadijah binti Khuwailid 595 M: Muhammad SAW menikahi Khadijah.

Masa Kenabian (Periode Makkah)

610 M: Turunnya wahyu pertama di gua Hira. Tiga tahun lamanya berdakwah secara siriyyah (tertutup dan sembunyisembunyi). Pada masa inilah bergabungnya muslimin angkatan pertama (Khadijah, Zaid bin Tsabit, Ali bi Abi Thalib, Abu Bakr, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqash, Waraqah bin Naufal, Zubair bin Awwam, Abu Dzar Al-Ghifari, Umar bin Anbasah dan Sa’id bin Al-‘Ash.) Berita munculnya agama baru ini didengar oleh pemimpin-pemimpin Quraisy, akan tetapi mereka tidak menaruh perhatian. 613 M: Deklarasi dakwah Islam di bukit Safa mengundang masyarakat Quraisy. Dakwah terbuka dimulai setelah turun QS. Asy-Syu’ara: 14. Rasulullah memulai seruannya kepada kaum kerabatnya yang terdekat. Akan tetapi kebanyakan kerabatnya tersebut merasa enggan bahkan ada yang menentangnya dengan keras seperti Abu Lahab yang nama aslinya adalah Abdul Uzza. 614 - 616 M: Penindasan kaum muslimin oleh Quraisy. Tokoh-tokoh Quraisy

lamhah tarik hiyyah

melakukan penentangan, mereka mulai merasa terancam (pengaruh dan kekuasaannya). Ajaran tauhid, kepercayaan kepada akhirat, pembersihan jiwa, dan pembelaan kepada kaum lemah (diantaranya adalah ajaran persamaan derajat kecuali dengan takwa) amat memekakkan telinga mereka. Mereka melakukan upaya-upaya penumpasan dakwah Islam: Pertama, dengan cara menghasut masyarakat agar tidak menyenangi Islam (Abdul Uzza [Abu Lahab] menghasut kalangan laki-laki dan Aura [Ummu Jamil] menghasut kalangan wanita). Kedua, mengajak kompromi—tepatnya menyuap Nabi—agar berhenti dari dakwah, yang ditawarkan adalah harta, tahta dan wanita Ketiga, melakukan upaya tasykik (menanamkan keraguan) pada para pengikut Islam (lihat Ar-Ra’du: 43), tapi tidak berhasil menyurutkan tekad Nabi. Keempat, menggunakan cara kekerasan, yakni dengan menyiksa para pengikut Islam yang lemah (mereka yang tidak memiliki kabilah pelindung: Bilal bin Rabah, Sumayyah, Amr bin Yasir, Yasir, dll.) Kelima, mempresure pelindung Nabi (Abu Thalib) Keenam, melakukan penghinaan (mengejek saat Nabi beribadah, menyimpan kotoran di muka rumah Nabi, melempar kotoran, menjerat leher Nabi, menaburkan kotoran dan tanah ke kepala Nabi, dll.) Ketujuh, menyebarkan berita-berita bohong tentang Islam kepada para pemimpin kabilah (Contoh: menyebut Muhammad sebagai penyihir, penyair, peramal, dukun, dll). Akhirnya sebagian kaum muslimin hijrah ke Abyssinia (Habasyah). Sementara itu Nabi semakin gencar mendakwahkan Islam, diantaranya dengan memperkenalkan Islam kepada kabilah-kabilah yang datang ke Mekkah. Pada masa inilah diantaranya Nabi mendakwahi kabilah Aus dan Khazraj dari Madinah. Dikirimlah duta dakwah Islam ke sana, Mus’ab bin Umair. Beberapa waktu kemudian terjadilah peristiwa baiat Aqabah I (pernyataan berkomitmen pada Islam) dan baiat Aqabah II (pernyataan kesiapan membela

11


lamhah tarik hiyyah

dakwah Islam). 617 M: Pemboikotan Bani Hasyim dan kaum muslimin oleh Quraisy. Para pemuka Quraisy sepakat untuk tidak mengadakan jual beli, kawin mengawini dan transaksi lainnya dengan mereka. Pemboikotan berlangsung 3 tahun . 619 M: Penghentian pemboikotan. Wafatnya Abu Thalib dan Khadija, tahun duka cita. Tekanan-tekanan Quraisy berlangsung lebih brutal karena Nabi tak memiliki seseorang yang dapat melindunginya. 620 M: Nabi berdakwah ke Thaif dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk memberikan perlindungan dan pembelaan dari keganasan kafir Quraisy. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, Rasulullah malah dihinakan. Beliau kembali lagi ke Mekkah dengan cara mendapatkan jiwar dari Muth’im bin Adiy. Dalam kedukaan yang mendalam seperti inlah Nabi dihibur Allah ta’ala dengan peristiwa Isra dan Mi’raj.

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan

12

bahwa karakteristik marhalah makkiyah adalah sebagai berikut, 1. Fokus pada nasyrul mabadi wa ta’alimil Islam, menyebarkan prinsip dan ajaran Islam. 2. Bina-u syakhsiyyah al-islamiyyah adda’ iyyah, membentuk pribadi muslim yang da’iyyah. 3. Bina-u al-jama’ah, membentuk komunitas muslim. 4. Siriyyatu at-tandzim, merahasiakan struktur (komunitas). 5. Al-Ibti’adu ‘anishaddhi, menghindari bentrokan fisik (dengan musuh dakwah). 6. Al-Ibti’adu ‘an sahati al-ma’rakah, menghindari peperangan/pertempuran. 7. As-Shabru ‘alal bala-i wa al-adza, bersabar atas cobaan dan siksaan. 8. Talammusu al-quwwati al-qudrati ‘ala al-jama’ah, menggali kekuatan potensi komunitas dakwah. 9. Talammusu al-qa’ idatu al-ardhiyatu al-hamiyah, menggali basis teritorial pendukung. (Bersambung) ®


qurãnună

Oleh: Ustadz Drs. H. Saefuddin ASM.

Shaum Dalam Perspektif Al-Quran Surah 2:183-184 ‫ﱫﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ‬ ‫ﭰ ﭱ ﭲ ﭳﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿﮀ‬ ‫ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍﮎ ﮏ ﮐ ﮑ‬ ‫ﮒﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﱪ‬ “Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atasmu ibadah shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kalian bertaqwa» (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S : 2: 183-184) A. Tafsir Kalimat ayat : 183

Perkataan ‫( ُك ِت َب‬kutiba) adalah bentuk majhul dari ‫( َكت ََب‬kataba). ‫( َكت ََب‬kataba) berarti menulis dan ‫( ُك ِت َب‬kutiba) berarti ditulis . Kemudian jika disambungkan dengan perkataan (‘alaa) berarti fardlu. Oleh karena itu ‫( ُك ِت َب َعلَ ْي ُكم‬kutiba ‘alaikum) berarti difardlukan atas kamu sekalian. Yang dimaksud dengan ‫( ُك ْم‬kum); kamu sekalian disini adalah terkait dengan yang diseru yaitu orang mu’min. Artinya shaum itu hanya difardlukan atas orang mu’min. Oleh karena itu syarat sah shaum adalah mu’min. Orang kafir tidak akan diterima shaumnya. Perkataan ‫الص َيا ُم‬ ِّ (Al-Shiam) adalah bentuk isim Masdar dari ‫صو ُم‬ َ menurut ُ َ ‫ ي‬- ‫صا َم‬ bahasa berarti ‫( اإلمساك‬menahan) atau ‫الترك‬

(meninggalkan). Menurut Al-Raghib, perkataan ‫صيام‬ َ shaum menurut ِ shiam dan ‫صوم‬ bahasa artinya mencakup pada menahan diri dari perkataan, perbuatan, gerakan, perjalanan dan makanan, sehingga kuda yang ditambat pun bisa disebut ‫ الصائم‬yang shaum. Al-Shabuni memberikan definisi bahwa shaum itu ialah:

َّ َ‫الط َعام و‬ َّ ‫اك َع ِن‬ ُ ‫س‬ ‫اع َم َع ال ِّن َّي ِة ِم ْن‬ َ ‫اإل ِ ْم‬ ِ َ‫الشر‬ ِ ‫اب وَاجلِ َم‬ ِ َّ َ ْ ُ ُ َ ً ُ َ ‫َاب‬ ‫ن‬ ‫ت‬ ‫ج‬ ‫ا‬ ‫ب‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ك‬ ‫و‬ ‫س‬ ‫م‬ ‫الش‬ ‫وب‬ ‫ر‬ ‫غ‬ ‫ى‬ ‫ل‬ ‫إ‬ ‫ر‬ ‫ج‬ ‫ف‬ ‫ال‬ ‫وع‬ ‫ل‬ ‫ط‬ ُ ْ َ ْ ْ َ ِ ِ ِ ِ ُ ِ ِ ِ ِ َ‫ح‬ ُ‫ات وَ َع َدم ال َو ُقوع ِفى ح‬ .‫ات‬ ‫ر‬ ‫و‬ ‫امل ْ ُظ‬ ِ ‫املَرَّ َم‬ ِ َ ِ ِ

“Menahan diri dari makan, minum dan jima’ dengan niat ibadah shaum, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Kesempurnaan shaum adalah dengan menja-

13


qurãnună

uhi segala yang dilarang dan mengindari perbuatan yang diharamkan”. Menurut pengertian ini, yang dimaksud shaum itu ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya seperti makan, minum dan jima’ dengan dilandasi niat ibadah yang dimanifestasikan pula pada pencegahan diri dari perbuatan yang tidak diridhai Allah SWT. Dengan demikian, menahan lapar dan dahaga pun, kalau tidak dilandasi ibadah tidak termasuk shaum.Dalam definisi di atas juga ditekankan bahwa shaum itu waktunya adalah sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Oleh karena itu jika menahan lapar dan dahaga yang dilaksanakan di luar waktu tersebut, maka tidak termasuk shaum. Ibnu Katsir, memberikan definisi shaum adalah sebagai berikut َّ َ‫الط َعام و‬ َّ ‫اك َع ِن‬ ُ ‫س‬ َ ِ َ‫اب و‬ :َّ‫ص ٍة للِهَّ ِ َعز‬ َ ِ‫اع ب ِ ِن َّي ٍة خاَل‬ َ ‫اإل ِ ْم‬ ِ َ‫الشر‬ ِ ‫الوق‬ ِ َ َ ‫ُوس وَ َطهَ ارَتِهَ ا وَت َ ْن ِف َي ِتهَ ا ِم َن اإلِخْ ِتالَ ِط‬ ‫ف‬ ‫ن‬ ‫ال‬ ‫ة‬ ‫ا‬ ‫َك‬ ‫ز‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫ي‬ ‫ف‬ ‫ا‬ ‫ل‬ ‫وَ َج َّل‬ ُّ ْ ْ ِ ِ ِ ِ ِ‫م‬ ِ ‫الرَّدِي ْ َع ِة وَاألَخْ الَ ِق الرَّذِيْلَ ِة‬. “Shaum adalah menahan diri dari makan, minum dan senggama, dengan niat ikhlas karena Allah Azza Wajalla, yang mengandung hikmah mensucikan jiwa dan membersihkannya dari perbuatan yang tercela dan akhlak yang buruk”. Ibadah shaum telah difardlukan pula kepada umat terdahulu, sebagaimana ditandaskan firman-Nya:‫َك َما ُك ِت َب َعلَى الَّ ِذي ْ َن‬ ‫ ِم ْن َق ْبلِ ُك ْم‬.... “Sebagaimana telah difardlukan atas orang sebelum kamu......”. Yang dimaksud dengan “orang sebelum kamu”, adalah para Nabi dan umatnya, sejak Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad saw. Ayat ini menunjukkan bahwa shaum itu merupakan ibadah yang sangat tua, bukan hanya difardlukan kepada Nabi Muhammad saw saja, melainkan umat terdahulu pun telah menerima perintah shaum. Penegasan ini juga mengandung

14

arti dorongan agar kaum muslimin bisa melaksanakan ibadah shaum dengan sebaik-baiknya. Ibadah shaum pada awalnya difardlukan atas umat terdahulu, seperti Nabi Nuh, yaitu tiga hari setiap bulan , Nabi Dawud shaum selang sehari. Setelah turun ayat ini, tahun kedua Hijrah, maka yang diwajibkan itu adalah shaum Ramadhan, dan shaum tiga hari tiap bulan itu menjadi tathawwu yang hukumnya sunnat. Dengan demikian ungkapan sebagaimana difardlukan kepada umat terdahulu itu hukumnya, bukan waktunya. Adapun sasaran yang dituju oleh shaum adalah Taqwa, sebagaimana ditegaskanNya; ‫“ لَ َعلَّ ُك ْم ت َ َّتقُو َن‬Agar kalian bertawqa”. Kalimat ini merupakan penegasan tentang sasaran dan fungsi shaum difardlukan. Artinya ibadah itu harus mempunyai hikmah membentuk manusia taqwa. Taqwa dalam arti sempit adalah menahan diri dari perbuatan yang melanggar aturan Allah SWT, karena shaum itu pada dasarnya pengendalian.

Dengan demikian, tinggi rendahnya nilai ibadah shaum terletak pada kemampuan mengendalikan diri dari perbuatan yang melanggar aturan Allah SWT dan Rasul-Nya. Selama ibadah shaum itu belum membekas pada pengendalian diri, selama itu pula nilainya masih rendah. Rasul Saw َ ‫َم ْن َل ْم َي ْدع َق‬ bersabda:ِ ‫ول الزُّ ور‬ ِ َ َ ‫الع َم َل ب ِ ِه‬ ‫اج ٌة ِفى أ ْن َي َد َع‬ َ ‫َو‬ َ ‫فل ْي‬ َ ‫س ِهللِ َح‬ َ َ “Barangsiapa ‫ام ُه َوش َرا َب ُه‬ َ ‫ط َع‬. yang tidak meninggalkan ucapan kotor, maka tidak ada hajat bagi Allah dalam meninggalkan makan dan minumnya”. HR. Bukhari (w.256H), dan Abu Dawud (w.275H).


Penyarah hadits berpendapat bahwa ّ‫ه‬ yang dimaksud dengan ‫اج ٌة‬ َ ‫ َفلَ ْي‬tidak َ ‫س للِ ِ َح‬ ada hajat bagi Allah pada hadits tersebut berarti tidak ada hak menerima pahala dari Allah SWT. Dengan kata lain, orang yang shaumnya tidak membekas pada pengendalian diri dari perbuatan dosa tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT.

qurãnună

Selanjutnya Al-Ghazali memberikan penjelasan tentang langkah-langkah yang harus ditempuh agar ibadah shaum itu bernilai baik, yaitu: (1) Menahan pandangan dari sesuatu yang tercela dan dari hal-hal yang melengahkan diri dari dzikir. (2) Menahan lidah dari omongan yang tidak baik seperti dusta, mengumpat

Al-Ghazali membagi derajat shaum kepada tiga macam yaitu: Shaum Umum, Shaum Khushush, dan Shaum Khushushulkhushush. Shaum Umum (shaum orang-orang awam) ialah shaum yang dilakukan dengan hanya lapar dan dahaga dan tidak membekas pembinaan diri. mengadu-domba. (3) Menahan penShaum Khushush (shaum dan dengaran dari hal-hal yang dibenci Allah utama) ialah yang dilaku- SWT. (4) Menjaga anggota badan dari kan bukan hanya menahan berbagai perbuatan dosa dan mengendaperut dari makan yang subhat. (5) lapar dan dahaga, tapi juga likan Menyedikitkan makan waktu buka walaudisertai dengan menahan pun makanan yang halal. (6) Hati, pikiran pandangan, lisan, tangan, dan perasaan hendaknya senantiasa terkaki dan anggota badan kait dengan khauf dan roja’ kepada Allah SWT. Jika penjelasan di atas diperhatikan, lainnya dari perbuatan maka derajat shaum itu harus diraih dedosa. Shaum Khushushul- ngan menghindarkan diri dari perbuatan khushush (shaum paling yang tidak diridhai Allah SWT. Perbuatan tersebut, mencakup ucapan pendengaran, utama) ialah shaum yang penglihatan, maupun perasaan. dilakukan bukan hanya mengendalikan perut, farji, B. Tafsir kalimat ayat 184 ‫ﱫﭲ ﭳﱪ‬ dan anggota badan lainnya dari perbuatan dosa, tapi “hari-hari yang telah ditentukan”. juga mengendalikan pikiran Kalimat ini merupakan keterangan dan perasaan dari hal-hal waktu untuk kalimat sebelumnya. Dengan duniawi, sehingga pikiran demikian lengkapnya pengertian itu ialah: “Telah difardlukan kepadamu ibadah shadan perasaan tersebut ha- um pada hari-hari yang telah ditetapkan nya semata-semata terpusat bilangannya”. Yang dimaksud hari-hari yang telah ditentukan ialah: bulan Ramakepada Allah SWT.

dlan sebagaimana terungkap pada ayat lanjutannya pada ayat 185.

15


qurãnună

‫ﱫﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ‬ ‫ﭼ ﭽ ﭾ ﭿﮀ ﱪ‬

“Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan dan tidak shaum, maka hendaklah menggantinya di hari lain”. Dalam ayat ini tidak ditemukan batasan sakit atau pun perjalanan. Sakit yang bagaimana yang membolehkan buka. Perjalanan bagaimana dan sejauh mana jaraknya yang membolehkan buka itu. Asy-Syaukani, mengatakan bahwa sakit dikaitkan dengan shaum terdapat dua hal. Jika sakit itu menimbulkan bahaya tatkala memaksakan shaum, maka buka adalah azimah (kemestian). Sedangkan jika shaum tidak membahayakan, melainkan hanya dirasakan masyaqah (dirasakan

Umar ibn al-Khathab menerangkan: َّ‫ه‬ ُ َّ‫ه‬ ‫ضا َن‬ َ ‫سلَّ َم ِفي ر َ َم‬ َ ‫الل‬ َ َ‫صلَّى الل َعلَ ْي ِه و‬ ُ َ ‫َغزَوْن َا َم َع ر‬ ِ ‫ول‬ ِ ‫س‬ َ َ ْ ْ َ َ َ ‫يه َما‬ ‫ف‬ ‫َا‬ ‫ن‬ ‫ر‬ ‫ط‬ ‫ف‬ ‫أ‬ ‫ف‬ ‫ْح‬ ‫ت‬ ‫ف‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫ر‬ ‫د‬ ‫ب‬ ‫م‬ ‫و‬ ‫ي‬ ‫ت‬ ‫و‬ ‫ز‬ ‫غ‬ َ َ ٍ ْ َ َ ْ َ ِ ْ‫ْ َ ين‬ ِ ِ ْ ِ

“Kami mengalami perang bersama Rasul SAW di bulan Ramadlan dua kali, yaitu perang Badr dan Perang Fath Makkah, maka kami buka shaum pada kedua peristiwa tersebut.”(Hr. al-Turmudzi)

Sedangkan pada perjalanan lainnya (bukan pada peperangan), Rasul SAW tetap menjalankan shaum, sebagaimana dikemukakan oleh Abd Allah bin Abi Awfa sebagai berikut: َّ‫ه‬ ُ َّ‫ه‬ ‫صائ ِ ٌم‬ َ ‫سلَّ َم وَ ُه َو‬ َ ‫الل‬ َ َ‫صلَّى الل َعلَ ْي ِه و‬ ُ َ ‫سرْن َا َم َع ر‬ ِ ‫ول‬ ِ ِ ‫س‬ “Kami bepergian bersama Rasul SAW, dan beliau tetap menjalankan shaum.”(Hr. alBukhari).

kedua hadits “ini,Berdasar batasan perjalanan

itu ditentukan oleh tingkat kesulitannya, bukan oleh jaraknya yang ditempuh. Jika mengambil alternatif buka ketika diperjalanan, konsekuensinya mesti qadla di hari lain.

berat), maka buka itu hanyalah rukhshah (keringanan). Demikian pula kaitannya dengan safar (perjalanan). Bukan jarak yang menentukan boleh atau tidaknya berbuka, melainkan mendatangkan masyaqah ataukah tidak. Menurut al-Qasimi, sakit dan perjalanan yang membolehkan buka shaum adalah yang menimbulkan masyaqah. Artinya, walau agak sehat, tetapi jika diperkirakan bertambah sakit, maka boleh memilih buka dibandiing dengan memaksakan. Buka bagi orang sakit dan dalam perjalanan adalah rukhshah Jika seseorang melakukan shaum walau di perjalanan atau dalam keadaan sakit, maka sudah memenuhi kewajiban. Jika mereka berbuka, juga tidak mengapa, asalkan mengqadla di hari lain.

16

Kapan mengganti atau qadla shaum itu harus dilaksanakan? Dalam ayat ditegaskan ‫( َف ِع َّد ٌة ِمن أيَّام أُخَ ر‬qadla di hari lain). Kalimat ini mengisyaratkan tidak ditentukan hari yang mana atau bulan apa, yang penting jumlahnya harus terpenuhi sesuai dengan utang shaumnya. Sering ditemukan pertanyaan, mana yang paling baik jika sakit atau perjalanan, apakah shaum tepat waktu atau buka untuk qadla di lain waktu. Hamzah Al-Aslami bertanya kepada Rasul SAW mana yang paling baik? Beliau bersabda: ُ ‫شئ َْت َف‬ ِ ‫شئ َْت َفأ َ ْف‬ ِ ‫ص ْم وَإ ِ ْن‬ ِ ‫إ ِ ْن‬ ْ‫طر‬

“Shaumlah jika kau mau, dan buka jika kau mau.”(Hr. al-Bukhari)

Hadits ini mengisyaratkan boleh memilih antara tetap shaum di perjalanan atau berbuka, tergantung kepada kemampuan dan kemauan.


‫ﱫﮁﮂ ﮃﮄ ﮅ‬ ‫ﮆﱪ‬ “Orang yang tidak mampu shaum hendaklah memberi makan orang miskin.” Perkataan ‫ط ْيقُون َ ُه‬ ِ ُ‫ ي‬yang bentuk mashdarnya ‫ َطا َقة‬berarti “bisa shaum tapi repot”. َّ Menurut al-Asfahani, perkataan ‫الطا َقة‬ berarti ‫ نَفْي ال ُق ْدرَة‬kehilangan kekuatan, atau “sesuatu yang tidak bisa dikerjakan manusia kecuali dengan susah payah.” Perkataan ‫ط ْيقُون َ ُه‬ ِ ُ‫ ي‬, juga mencakup orang-orang yang tidak dimungkinkan untuk qadla, seperti yang sudah lanjut usia, wanita hamil, atau menyusui.

Abbas pernah dita“nyaIbnutentang wanita hamil

dan wanita menyusui dalam masalah shaum. Jawabnya, bahwa wanita hamil dan menyusui itu derajatnya sama dengan orang yang sudah lanjut usia. Mereka boleh meninggalkan shaum tapi wajib membayar fidyah yang diserahkan kepada orang miskin. Jadi ayat ini merupakan keringanan bagi orang yang tidak mampu shaum tepat waktu (di bulan Ramadlan), tidak pula di hari lain (untuk mengqadlanya). Kewajiban mereka untuk menggantinya adalah ‫َف ِف ْد َي ٌة َط َعام ِم ْس ِكي‬ fidyah dengan memberi makan orang miskin.

Ukuran fidyah, menurut Ibnu Abbas, minimal 1/2 (setengah) sha’ dari makanan pokok; 1/2 sha’ adalah + 1,75 liter. Satu hari diganti dengan satu ukuran tersebut. Ulama lain menentukan ukuran fidyah itu berdasar kepada kafarat sumpah, yaitu ‫ِم ْن‬

qurãnună

‫ط ت ُْط ِع ُم ْون أ ْهلِ ْي ُكم‬ َ ْ‫ أو‬seukuran dengan yang ِ ‫س‬ biasa dimakan sehari. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa ayat ini dimansuh oleh ayat berikutnya. Tatkala ayat ini turun, kaum muslimin mempunyai penafsiran yang berbeda. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa shaum itu sebagai takhyir. Artinya kaum muslimin diperbolehkan memilih antara shaum dan fidyah. Untuk menetapkan hukum, maka turun ayat perintah shaum bagi sipapun yang menyaksikan hilal ramadlan.

‫ﱫﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍﱪ‬ “Barangsiapa yang menambah kebaikan, maka kebaikan pula untuknya” Ayat ini masih berkaitan erat dengan masalah fidyah. Artinya, barangsiapa yang menambah fidyah sehingga melebihi ukuran biasa, maka itulah yang lebih baik. Menurut Al-Maraghi, pelaksanaan tathawwu’ (melebihkan ibadah) di sini, antara lain dengan cara: (1) Berfidyah dengan melebihi ukuran semestinya. (2) Memberi fidyah kepada satu orang miskin dengan melebihi kebutuhannya. (3) Melaksanakan shaum disertai fidyah.

‫ﱫﮏ ﮐ ﮑ ﮒﱪ‬ “Shaum adalah lebih baik bagimu” Menurut Asy-Syaukani, ayat ini menunjukan bahwa shaum itu lebih baik dari pada fidyah, sebagaimana telah terungkap hadits-hadits yang begitu banyak menerangkan keutamaan shaum.

‫ﱫﮓ ﮔ ﮕ ﮖﱪ‬ ”Jika kamu mengetahui.” Perkataan ‫“ ت َ ْعلَ ُمو َن‬mengetahui” di sini bisa diartikan mengetahui tentang ilmu keagamaan, bisa juga diartikan mengetahui tentang akibat atau keutamaan yang dihadapi. Dengan kata lain, shaum itu lebih baik dilakukan, jika telah diketahui dampaknya. Oleh karena itu jika shaum dipandang tidak membahayakan, walau dalam keadaan sakit atau di perjalanan, maka lebih baik dilakukan daripada fidyah atau qadla.®

17


sunnah

Kewajiban Kita Terhadap Al-Qur’an Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Di bulan yang mulia ini, sudah selayaknya bagi orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah tabaroka wa ta’ala berupaya memperbaharui hubungannya dengan Al-Qur’an. Mereka hendaknya merenungkan kembali kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikannya pada Al-Qur’an demi meraih keridhoan Allah tabaroka wa ta’ala. Kewajiban kita terhadap Al-Qur’an paling tidak ada empat: Pertama, hendaknya kita meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali petunjuk Al-Qur’an. Kita harus menjadikannya sumber hukum agama yang senantiasa dikaji dan digali, serta dijadikan rujukan. Kita telah mengetahui Rasulullah saw tatkala membenarkan Muadz bin Jabal saat bertanya kepadanya, “Dengan apa Anda menghukum?” Ia menjawab, “Dengan Kitabullah”. Begitupun Umar bin Khattab melarang banyak sahabat untuk berbicara kepada orang yang baru masuk Islam dengan hadits-hadits dan berbagai kejadian yang ada sebelum dipahamkan dahulu dengan Kitabullah terutama tentang hukum halal dan haram. Para tokoh tabi’in dan pengikut tabi’in, misalnya Sa’id bin Musayyib, tidak memberi izin kepada orang untuk menghimpun fatwa-fatwanya dikarenakan khawatir orang akan berpaling dari Kitabullah kepada katakatanya. Bahkan ia pernah merobek-robek lembaran kertas dari orang yang mencatat fatwa-fatwanya sembari berkata, “Engkau mengambil kata-kataku sementara meninggalkan Kitabullah. Engkau pergi lalu berkata, ‘Kata Sa’ id, kata Sa’ id?’ Berpegang teguhlah kepada Kitab Allah

18

kemudian Sunnah Rasul-Nya.” Kedua, kita wajib menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat karib, kawan bicara dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui tanpa menjalin hubungan dengan Al-Qur’an. Demikianlah salafu shalih mencontohkannya pada kita. Mereka demikian mercurahkan waktunya untuk Al-Qur’an sampai Rasulullah saw turun tangan untuk melarang mereka berlebih-lebihan di dalamnya, seperti termuat dalam hadits dimana Nabi menyuruh Abdullah bin Amru bin ‘Ash untuk mengkhatamkan Al-Qur’an cukup sekali dalam sebulan, sekali dalam 20 hari, atau sekali dalam seminggu, tidak boleh kurang dari seminggu, “Karena sesungguhnya istrimu mempunyai hak yang harus kau tunaikan, tamumu mempunyai hak yang harus kau tunaikan, dan jasadmu mempunyai hak yang harus kau tunaikan...” (HR. Bukhari Muslim) Utsman bin Affan melakukan sunnah Nabi ini dengan bersungguh-sungguh, ia membuka malam Jum’at dengan membaca Al-Baqarah sampai Al-Maidah; malam Sabtu surat Al-An’am sampai surat Hud; malam Ahad surat Yusuf sampai Maryam; malam Senin surat Thaha sampai AlQashash; malam Selasa surat Al-Ankabut sampai Shad; dan malam Kamis mengkhatamkannya.


sunnah Rasulullah saw bersabda tentang orang yang gemar membaca Al-Qur’an secara rutin, “Diantara hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah Al-Hallul Murtahil (orang yang singgah dan pergi).” Para sahabat bertanya, “Siapakah Al-Hallul Murtahil itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang mengkhatamkan Al-Qur’an lalu memulainya lagi dan orang yang memulai membaca Al-Qur’an kemudian mengkhatamkannya. Demikianlah, ia terus berada dalam keadaan singgah dan pergi bersama kitab Allah tabaroka wa ta’ala”

Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

Yang perlu kita renungkan adalah tidak sedikit diantara kita saat ini yang tidak memperhatikan sunnah Nabi saw ini, sebagian pelaku ibadah mengganti sunnah ini dengan cara membuat bacaan sendiri yang ditetapkan para mursyidnya, semisal amalan wirid, hizib, dan salawat. Dengan begitu secara tidak sadar mereka meninggalkan Kitabullah. Tentu saja ini bukan berarti haram membaca wirid, do’a-do’a dan hizib yang benar dan syar’i. Tapi disini perlu ditegaskan bahwa Kitabullah lebih utama. Ketiga, kita wajib memperhatikan adabadab terhadap Al-Qur’an, baik dalam membaca maupun mendengarnya. Kita hendaknya berusaha merenungkan dan meresapi isinya. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini turun

dengan kesedihan, maka jika kamu membacanya, hendaklah kamu menangis. Jika kamu tidak menangis, maka buatlah seolah-olah dirimu menangis.” Perhatikanlah bagaimana Umar bin Khattab pernah tersungkur pingsan ketika mendengar bacaan surat At-Thur, sampai beliau harus digendong oleh seorang sahabat yang bernama Aslam dan dibawa ke rumahnya. Beliau sakit selama tiga puluh hari. Seharusnya kondisi orang-orang beriman ketika membaca Al-Qur’an adalah sebagaimana yang difirmankan-Nya, “Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.” (QS. Az-Zumar: 23) Keempat, setelah kita beriman bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya. Di dalam Al-Qur’an terdapat hukumhukum individu dan hukum-hukum kemasyarakatan. Hukum-hukum yang berkaitan dengan kehidupan individual misalnya shalat, zakat, puasa, haji, taubat, serta akhlak, yang meliputi kejujuran, menepati janji, kesaksian dan amanat. Sedangkan yang berkaitan dengan kemasyarakatan contohnya: menegakkan hudud, jihad, dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam. Negara wajib melaksanakannya. Jika negara tdak melaksanakannya, ia bertanggung jawab di hadapan Allah tabaroka wa ta’ala. Itulah diantara kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang harus kita tunaikan. Semoga Allah tabaroka wa ta’ala membimbing kita semua. Amin... ®

19


fiq h

Mengenal Kaidah Fiqh (Bagian 1)

Al-Ashlu Fil Asyyaa-i al-Ibaahah Segala sesuatu pada dasarnya Mubah Maksud dari prinsip ini adalah bahwa hukum asal dari segala sesuatu yang diciptakan Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada yang haram kecuali apa-apa yang disebutkan secara tegas oleh nash yang shahih sebagai sesuatu yang haram. Dengan kata lain jika tidak terdapat nash yang shahih atau tidak tegas penunjukan keharamannya, maka sesuatu itu tetaplah pada hukum asalnya yaitu mubah. Kaidah ini disandarkan pada firman Allah swt, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu….” (QS. Al-Baqarah: 29) “Dan dia Telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya…” (QS. Al-Jatsiyah: 13) “Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin…” (QS. Luqman: 20) Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa segala apa yang ada di muka bumi seluruhnya adalah nikmat dari Allah yang diberikan kepada manusia sebagai bukti kasih sayang-Nya. Dia hanya mengharamkan beberapa bagian saja, itu pun karena hikmah tertentu untuk kebaikan manusia itu

20

sendiri. Dengan demikian wilayah haram dalam syariat Islam itu sangatlah sempit, sedangkan wilayah halal sangatlah luas. Berkenaan dengan hal ini Rasulullah saw bersabda,

‫ما أحل اهلل فى كتابه فهو حالل وما حرم فهو ح رام‬ ‫وما سكت عنه فهو عفو فاقبل وا من اهلل عافيته‬ ، ‫ والطبرانى‬، ‫فإن اهلل لم يكن لينسى شيئا (البزار‬ )‫ والبيهقى عن أبى الدرداء‬، ‫والحاكم‬

“Apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya adalah halal, dan apa yang diharamkan-Nya adalah haram; sedang apa yang didiamkan-Nya adalah dimaafkan (diperkenankan). Oleh karena itu terimalah perkenan dari Allah itu, karena Allah tidak akan pernah lupa sama sekali.” Kemudian Rasulullah saw membaca ayat (surat Maryam ayat 64): “Dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (HR. AlHakim). Dalam hadits lain disebutkan,

َّ‫ وحد‬،‫َّإن اهلل تعالى فرض ف رائض فال تض ِّي عوها‬ ،‫ وح َّرم أشياء فال تنتهكوها‬،‫حدوداً فال تعتدوها‬ ‫وسكت عن أشياء رحمة لكم غير نسيان فال‬ )‫ رواه الدارقطني وغي رُه‬،‫تب حث وا عنها (حديث حسن‬


“Sesungguhnya Allah telah menetapkan berbagai kewajiban, maka janganlah kamu menyia-nyiakannya; dan Dia telah menentukan beberapa batas maka janganlah kamu melanggarnya; dan Dia telah mengharamkan sesuatu, maka janganlah kamu melanggarnya; dan Dia telah mendiamkan sesuatu sebagai rahmat buat kamu, bukan karena lupa, maka janganlah kamu mencari-carinya.” (HR. Daruquthni) Kaidah ini tidak hanya berlaku pada masalah benda, tapi juga mencakup masalah amal, adat kebiasaan atau mu’amalah yang tidak termasuk urusan ibadah. Artinya seluruh amal, adat kebiasaan atau muamalah—yang tidak termasuk urusan ibadah—itu pada dasarnya mubah; tidak haram dan tidak terikat kecuali apa yang diharamkan dan ditegaskan oleh Pembuat Syariat. Dalam masalah ibadah ada kaidah lain. Imam Ahmad dan beberapa fuqaha ahli hadits mengatakan bahwa: Innal ashla fil ibaadati at-tauqiif “Pada dasarnya ibadah itu tauqif (bersumber pada ketetapan Allah dan Rasul).” Karena itu tidak boleh melakukan ibadah kecuali apa yang telah disyariatkan Allah. Nabi saw bersabda:

َ ‫َم ْن َأ ْح‬ ‫س ِف ي ِه َف ُه َو َر ٌّد (متفق‬ َ ‫دَث ِف ى َأ ْم ِرنَا َه َذا َم ا َل ْي‬

)‫عليه‬

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami, sesuatu nyang tidak ada dalam agama, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari Muslim).

ada seorang pun “Tidak yang diperkenankan

fiq h

Sedangkan dalam masalah adat dan mu’amalat, pada dasarnya dimaafkan. Tidak ada yang terlarang kecuali apa yang diharamkan Allah. Masalah jual beli, hibah, sewa menyewa, dan lain-lain adalah termasuk persoalan adat yang diperlukan manusia dalam kehidupan mereka. Syariat mengaturnya dengan adab yang baik, yaitu diharamkan apa yang menimbulkan kerusakan, diwajibkan apa yang harus diwajibkan, dimakruhkanya apa yang tidak pantas, dan dianjurkan apa yang mengandung kemaslahatan. Contoh masalah yang didasarkan pada prinsip ini adalah masalah ‘azl, yakni senggama terputus/mengeluarkan sperma di luar kemaluan wanita yang dilakukan untuk menghindari kehamilan. Jabir bin Abdullah berkata,

‫ُك َّن ا ن َْع زِل َوا ْل ُق ْرآن َي ْن زِل َف َل ْو َك َان َش ْيء ُي ْن َه ى َع ْن ُه‬ )‫َل َن َه ى َع ْن ُه ا ْل ُق ْرآن (البخارى‬

“Kami biasa melakukan ‘azl, sedangkan al-Qur’an masih turun. Seandainya hal tersebut dilarang, sudah tentu al-Qur’an melarangnya.” Ini menunjukan bahwa apa yang didiamkan oleh wahyu adalah tidak terlarang, dan mereka halal melakukannya sehingga ada nash yang melarangnya. Berkaitan dengan uraian di atas ditetapkanlah kaidah berikut ini, Laa tusyro’u ‘ibadatun illaa bi syar’illah, wa laa tuharramu ‘adatun illaa bitahriimillah… “Tidak boleh dilakukan suatu ibadat kecuali yang disyariatkan oleh Allah; dan tidak dilarang suatu adat kecuali yang diharamkan oleh Allah.” ®

mengada-adakan suatu cara ibadah dari dirinya sendiri, sebab hanya Allah Sang Pembuat Syariat yang berhak membuat cara-cara ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

21


nasihat

Bahaya Harta Haram Intisari ajaran shaum Ramadhan adalah al-imsak (pengendalian diri). Di bulan yang mulia ini Allah SWT memerintahkan kita untuk meninggalkan makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari; padahal 11 bulan sebelumnya hal ini merupakan sesuatu yang halal bagi kita. Namun, shaum Ramadhan adalah latihan keimanan. Ia adalah wahana penguatan jiwa untuk mencapai derajat takwa Salah satu nilai ketakwaan yang ditanamkan Ramadhan ke dalam jiwa kita adalah pengendalian diri dari memakan harta yang haram.

Fenomena zaman

Suatu saat Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya,

‫يأتى على الناس زمان ال تطاق العيشة فيهم‬ ‫إال بالمعصية حتى يكذب الرجل ويحلف فإذا‬ ‫كان ذلك الزمان فعليكم بالهرب قيل يا رسول‬ ‫اهلل وإلى أين المهرب قال إلى اهلل وإلى كتابه وإلى‬ )‫سنة نبيه (الديلمى عن أنس‬ “Akan datang suatu masa kepada manusia, yang didalamnya manusia tidak kuasa mencari penghidupan melainkan dengan cara maksiat, hingga seseorang berani berdusta dan bersumpah (palsu). Maka apabila masa itu telah datang, hendaklah kalian berlari.” Seorang sahabat bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, kemanakah kami harus berlari?” Rasulullah menjawab, “(Berlarilah) kepada Allah dan kepada kitab-Nya dan kepada sunnah Nabi-Nya”.

Jangan jadi pecundang

Sekelumit percakapan yang dimuat dalam hadits riwayat Ad-Dailami tersebut di atas mengisyaratkan kepada kita tentang suatu masa di mana jiwa manusia sudah begitu lemah dan cengeng menghadapi kehidupan, sehingga tak kuasa mencari sumber ma’ isyah (penghidupan) kecuali dengan cara maksiat, sehingga apa yang

22

dimakannya menjadi haram. Dalam hadits lain Nabi saw menyebut kondisi mental seperti ini dengan sebutan al-wahn (kelemahan jiwa), yakni bersarangnya penyakit hubbud dunya (cinta dunia) dan penyakit karohiyatul maut (takut mati). Penyakit inilah yang menyebabkan banyak manusia menjadi gelap mata, berpikiran sempit, dan tidak mau bekerja keras; ingin untung dari enteng tanpa memperhatikan halal dan haram. Walhasil, korupsi dan kolusi jadi membudaya; aksi tipu menipu semakin marak; perbuatan menyelisihi agama—seperti prostitusi, jual beli miras, judi, industi ‘hiburan’ pornografi dan pornoaksi—nyaris dianggap biasa. Bahkan dianggap sah—tentu saja sah menurut hawa nafsu mereka; bukan sah menurut syariat agama. Maha Benar Allah dengan firman-Nya, ”Seandainya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, benar-benar akan hancur langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya…” (QS. 23: 71)

Harta haram mengundang petaka

Memakan harta yang haram—baik haram disebabkan dzat maupun cara mendapatkannya—jelas harus dihindari karena sangat merugikan. Bukan hanya merugikan orang lain tapi juga merugikan diri sendiri. Kerugian-kerugian yang akan menimpa kepada diri sendiri diantaranya adalah: Pertama, do’a orang yang memakan harta haram tidak akan dikabul, amalnya tidak akan diterima dan diancam jadi penghuni neraka.


Sa’ad bin Abi Waqash pernah meminta dido’akan Nabi saw agar do’a-do’anya senantiasa dikabul. Maka Nabi bersabda,

،‫يا سعد أطب مطعمك تكن مستجاب الدعوة‬ ‫والذي نفس محمد بيده إن العبد ليقذف اللقمة‬ ،ً‫الح رام في جوفه ما يتقبل منه عمل أربعين يوم ا‬ ‫وأيما عبد نبت لحمه من سحت فالنار أولى به‬

)‫(طبرانى‬

”Hai Sa’ad, perbaiki makananmu, tentu do’amu akan dikabulkan. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya hamba yang memasukkan makanan haram di dalam mulutnya tidak akan diterima amalnya selama empat puluh hari. Dan siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari barang haram, neraka lebih utama baginya!” (HR. Thabrani). Kedua, orang yang memakan harta haram tidak akan dipedulikan Allah, dari pintu yang mana ia akan dimasukkan ke dalam Neraka Rasulullah bersabda,

‫من لم يبال من حيث كسب المال لم يبال اهلل‬ ‫من حيث أدخله النار‬ ”Siapa yang tidak memperdulikan dari mana ia mendapatkan harta, maka Allah tidak akan memperdulikan dari pintu yang mana ia akan dimasukkan ke dalam neraka”. (Hadits Ibnu Umar). Asal tahu saja, neraka itu ada beberapa pintu, dan setiap pintu memiliki kadar siksaan yang berbeda. Sedangkan orang yang tidak memperhatikan halal dan haram akan dimasukkan Allah SWT ke dalam neraka tanpa dipedulikan melalui pintu yang mana. Naudzubillahi min dzalik! Ketiga, orang yang memakan harta haram akan diremehkan setan la’natullah ’alaihi. Ia diremehkan karena perbuatan memakan harta haram itu sudah cukup memasukkannya ke dalam neraka dan ibadah yang dilakukannya tidak akan membawa manfaat.

nasihat ‫ دعوه‬:‫ فإن كان مطعم سوء قال‬،‫من أين مطعمه‬ ‫يتع ّب د ويجتهد فقد كفاكم نفسه َّإن اجتهاده‬ ‫مع أكل الح رام ال ينفعه‬ ”Sesungguhnya jika ada seseorang yang beribadah, setan akan berkata kepada kawan-kawannya, ’Lihatlah dari mana makanannya’. Jika makanannya berasal dari yang haram, maka setan berkata, ’Biarkan dia berpayah-payah dan bersungguh-sungguh (beribadah), sungguh telah cukup bagi kalian dirinya itu. Sesungguhnya kesungguhan beribadahnya beserta makan barang haram tidak akan membawa manfaat”. (HR. Muslim) Kiat-kiat Memelihara diri dari sumber penghasilan yang haram 1. Iman kepada Allah sebagai Ar-Razaq (Maha Pemberi Rizki). 2. Memohon pertolongan dan perlindungan Allah dalam setiap gerak langkah kehidupan. 3. Menghiasi diri dengan sifat sabar dan tangguh; syukur dan qona’ah. 4. Mengenal hakikat kesenangan dunia yang semu dan sementara, serta selalu mengingat kampung akhirat negeri yang abadi dan hakiki; agar selamat dari tipu daya syaithan. 5. Bermujahadah meraih ketakwaan; karena dengan syarat ketakwaanlah Allah menjadikan jalan keluar dari setiap problematika manusia dan memberikan rizki dari jalan yang tidak disangkasangka. 6. Bekerja keras dan tak kenal menyerah 7. Selalu berupaya menambah ilmu (keterampilan) dan pengetahuan (melek informasi) 8. Tidak memisahkan diri dari jama’ah mu’minin (berukhuwah islamiyah) Semoga Allah menanamkan jiwa takwa ke dalam diri kita dan senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus yang diridhoi-Nya. Amin... ®

‫ انظروا‬:‫ان الشاب إذا تعبد قال الشيطان ألع وانه‬ 23


‘aqidatuna

Oleh: M. Indra Kurniawan, S.Ag

Ahamiyatu Syahadatain Syahadatain adalah rukun Islam yang pertama. Ia adalah fondasi bagi tegaknya rukun-rukun yang lain. Artinya, semakin kokoh pemahaman dan penghayatan syahadatain, akan semakin kokoh pula komitmen terhadap rukun-rukun Islam secara khusus dan terhadap seluruh ajaran Islam secara umum. Dengan demikian, sangatlah penting mempelajari kalimat persaksian ini sehingga tumbuh kefahaman, keyakinan dan kemantapan iman. Syahadatain itu penting diantaranya karena beberapa alasan berikut ini:

Madkhalun Ilal Islam (Pintu gerbang masuk ke dalam Islam) Seseorang diakui sebagai seorang muslim diantaranya jika memenuhi tiga syarat: (1) Mengakui rububiyyah Allah, (2) Mengakui uluhiyah Allah, dan (3) Mengakui risalah Nabi Muhammad saw. Mengakui rububiyyah Allah Sesungguhnya manusia telah diciptakan oleh Allah ta’ala dalam keadaan fitrah, mengakui rububiyyah Allah ta’ala: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”. (QS. Al-A’raf, 7: 172) Seluruh manusia pasti mengakui Allah sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pemilik alam semesta. Tidak ada yang mengingkari hal ini kecuali para penganut faham materialis-atheis. Bahkan kaum musyrikin sekalipun mengakui rububiyyah Allah ini, seperti telah diungkapkan di dalam

24

Al-Qur’an: “Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ pasti mereka akan menjawab, ‘Allah’. Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran)” (QS. Al-Ankabut, 29: 61) “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu dengan (air) itu dihidupkannya bumi yang sudah mati?’ Pasti mereka akan menjawab, ‘Allah’ Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah,’ Tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti”(QS. Al-Ankabut, 29: 63) Mengakui uluhiyyah Allah dan Risalah Akan tetapi pengakuan akan rububiyyah Allah ini tidak otomatis menghantarkan mereka menjadi seorang muslim, kecuali menyempurnakannya dengan mengakui uluhiyyah Allah ta’ala dan mengakui Risalah Muhammad saw. Dengan kata lain—untuk menjadi seorang muslim—tidak cukup hanya dengan mengatakan: “Saya mengakui Allah adalah Pencipta”, “Saya mengimani Allah adalah Pemelihara”, “saya meyakini Allah adalah Pemilik langit dan bumi” tanpa disertai pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang wajib diiibadahi dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah yang membawa risalah dari-Nya, Laa ilaa-


ha illallaah Muhammadurrasulullah. Dari uraian di atas, jelaslah bagi kita pentingnya syahadatain: ia adalah kalimat pengakuan akan uluhiyyah Allah ta’ala dan kebenaran risalah Muhammad saw. Dengan kalimat inilah kita diakui sebagai seorang muslim, madkhalun ilal Islam.

Khulaashatu ta’aaliimil Islam (Intisari Ajaran Islam)

Intisari ajaran Islam itu ada dua: Pertama, beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya (lihat QS. 98: 5 dan 21: 25). Kedua, beribadah berlandaskan manhaj-Nya, yakni dengan cara ittiba’ (mengikuti) contoh teladan Nabi Muhammad saw (lihat:QS. 33: 21, 33: 36, dan 3: 31). Dua intisari ajaran Islam ini terkandung dalam syahadatain, Laa Ilaaha illa-llah Muhammadur-rasulullah. Jadi, segala bentuk peribadatan—yang dilakukan oleh seorang muslim secara fardhiyyan (individu) maupun secara jama’ iyyan (kolektif) - sesungguhnya bermuara kepada syahadatain ini; shalat, zakat, puasa, haji, jihad, penegakan hukum, tazkiyatu nafs, dakwah, akhlakul karimah, dan lain sebagainya, adalah implementasi syahadatain. Semua itu adalah konsekwensi amaliyah dari persaksian manusia di hadapan Allah ta’ala. Karena itulah syahadatain disebut sebagai intisari ajaran Islam.

Asasul Inqilab (Dasar-dasar Perubahan Total)

Syahadatain penting karena ia adalah asas perubahan total: individu dan masyarakat. Mari kita buka lembaran sejarah para sahabat seperti Umar bin Khattab, Mush’ab bin Umair, Salman Al-Farisi, Saad bin Abi Waqash, dan yang lainnya, apakah yang membuat performa, akal, hati, aktivitas, pemikiran dan aqidah mereka berubah total? Berikutnya renungkanlah kondisi bangsa Arab dahulu kala sebelum datangnya cahaya Islam; kebanyakan mereka terlilit kebodohan, kehinaan, kefakiran dan perpecahan. Mereka bukanlah bangsa yang diperhitungkan oleh 2 negara super power waktu itu (Romawi dan Persia). Tapi tiba-

‘aqidatuna

tiba berubah total menjadi bangsa yang memiliki pengetahuan, izzah, kekayaan dan rasa persaudaraan yang kokoh, sehingga mampu menggetarkan para tirani durjana. Apakah yang membuat semua itu terjadi? Tiada lain jawabannya, adalah karena cahaya Islam yang menggelora dalam dada senantiasa dihidupkan kalimat agung, Laa ilaaha illallaah Muhammadurrasulullah!

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri...” (QS. 13: 11)

Haqiqotu da’wati Rasuli (Hakikat Dakwah Rasul) Syahadatain penting karena ia adalah hakikat dakwah Rasulullah saw: “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia...” (QS. 7: 158) Hadits Nabi SAW menegaskan hal ini:

َ ‫َق‬ ُ ‫ال َر ُس‬ ‫ول اللهَّ ِ َص َّل ى اللهَّ ُ َع َل ْي ِه َو َس َّل َم ِل ُم َع ا ِذ ْب ِن‬ ‫ين َب َع َث ُه ِإ َل ى ا ْل َي َم ِن ِإن ََّك َس َت ْأ ِت ي َق ْو ًم ا َأ ْه َل‬ َ ‫َج َب ٍل ِح‬ َ‫اب َف ِإ َذا جِ ْئ َت ُه ْم َف ْاد ُع ُه ْم ِإ َل ى َأ ْن َي ْش َه دُ وا َأ ْن لا‬ ٍ ‫ِك َت‬ َّ‫لله‬ َّ‫لله‬ ُ ُ ‫ِإ َل َه ِإلاَّ ا َو َأ َّن ُم َح َّم ًدا َر ُس‬ ‫ول ا ِ َف ِإ ْن ُه ْم َأ َط ا ُع وا َل َك‬ ‫ب َِذ ِل َك َف َأخْ ِب ْر ُه ْم َأ َّن اللهَّ َ َق دْ َف َر َض َع َل ْي هِ ْم َخ ْم َس‬ ‫َص َل َو ٍات ِف ي ُك ِّل َي ْو ٍم َو َل ْي َل ةٍ َف ِإ ْن ُه ْم َأ َط ا ُع وا َل َك‬ ‫ب َِذ ِل َك َف َأخْ ِب ْر ُه ْم َأ َّن اللهَّ َ َق دْ َف َر َض َع َل ْي هِ ْم َص دَ َق ًة‬ َ ‫ت‬ ‫ُؤْخ ُذ ِم ْن َأ ْغ ِن َي ا ِئ هِ ْم َف ُت َر ُّد َع َل ى ُف َق َرا ِئ هِ ْم َف ِإ ْن ُه ْم‬ َ ‫َأ َط ا ُع وا َل َك ب َِذ ِل َك َف ِإ َّي‬ ‫اك َو َك َرا ِئ َم َأ ْم َوا ِل هِ ْم َواتَّقِ َد ْع َو َة‬ َّ‫لله‬ ‫اب‬ ٌ ‫ا ْل َم ْظ ُل و ِم َف ِإ َّن ُه َل ْي َس َب ْي َن ُه َو َب ْي َن ا ِ ِح َج‬ “Rasulullah bersabda kepada Muadz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman, “Kamu akan datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa

25


‘aqidatuna

Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orangorang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu hati-hatilah kamu terhadap kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap doanya orang yang dizalimi, sebab antaranya dan Allah tidak ada dinding pembatas.” (Bukhari Muslim). Bahkan ia pun adalah hakikat dakwah para rasul terdahulu: “Dan sungguh, kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut’...” (QS. 16: 36) “Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu (Muhammad), melainkan Kami wahyukan, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. 21: 25). Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk memahami, mengamalkan, dan mendakwahkannya kepada segenap umat manusia di muka bumi ini. “Dan kami tidak mengutus Engkau (Muhammad) melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. 34: 28)

Fadhaailun ‘adhziimah (Keutamaan/ganjaran yang besar)

Syahadatain itu penting karena mengandung keutamaan yang besar. Ali Juraisyah menyatakan bahwa dengan mengucapkan kalimat syahadat seseorang akan mendapatkan dua keuntungan, yaitu keuntungan duniawi dan keuntungan ukhrawi. Keuntungan di dunia adalah ia diakui sebagai seorang muslim, darah dan hartanya dilindungi. Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda,

َّ‫اس َح َّت ى َي ْش َه دُ وا َأ ْن لاَ ِإ َل َه ِإلا‬ َ ‫ُأ ِم ْر ُت َأ ْن ُأ َق ا ِت َل ال َّن‬ 26

َّ‫اللهَّ ُ و َأ َّن م َح م ًدا رس ُ لله‬ ‫الص لاَ َة َو ُي ؤْ ُت وا‬ َّ ‫يم وا‬ ُ َ َّ ُ َ ُ ‫ول ا ِ َو ُي ِق‬ َّ‫ال َّز َك ا َة َف ِإ َذا َف َع ُل وا َع َص ُم وا ِم ِّن ي ِد َم ا َء ُه ْم َو َأ ْم َوا َل ُه ْم ِإلا‬ ِ َّ‫ب َِح ِّق َه ا َو ِح َس ا ُب ُه ْم َع َل ى الله‬ “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, terperihalah darah dan harta benda mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisab mereka kepada Allah.” (Bukhari Muslim). Sepatah kalimat saja sudah cukup untuk melindungi darah dan harta seseorang, dan sekaligus memasukkannya ke dalam diinul Islam. Kita tidak diperintahkan untuk membedah dada seseorang untuk mengetahui isi hatinya, “Aku tidak diperintahkan untuk melubangi kalbu orang dan membelah dada mereka.” Oleh karena itu Nabi pernah menegur Usamah bin Zaid cukup keras karena telah membunuh seseorang dalam peperangan, padahal orang tersebut telah mengucapkan laa ilaaha illallah. Nabi tidak menerima alasan Usamah yang menyatakan bahwa orang tersebut mengucapkan laa ilaaha illallah hanya karena ingin menyelamatkan diri, bukan karena keimanan. Adapun keuntungan akhiratnya—lanjut Ali Juraisyah—ialah bahwa seseorang yang mengucapkan kalimat syahadat akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,

َ ‫َع ْن َأن ٍَس َع ْن ال َّن ِب ِّي َص َّل ى اللهَّ ُ َع َل ْي ِه َو َس َّل َم َق‬ ‫ال‬ َ ‫َي ْخ ُر ُج ِم ْن ال َّن ا ِر َم ْن َق‬ ‫ال لاَ ِإ َل َه ِإلاَّ اللهَّ ُ َو ِف ي َق ْل ِب ِه َوز ُْن‬ َّ‫ال لاَ ِإ َل َه ِإلا‬ َ ‫َش ِع ي َرةٍ ِم ْن َخ ْي ٍر َو َي ْخ ُر ُج ِم ْن ال َّن ا ِر َم ْن َق‬ ‫اللهَّ ُ َو ِف ي َق ْل ِب ِه َوز ُْن ُب َّرةٍ ِم ْن َخ ْي ٍر َو َي ْخ ُر ُج ِم ْن ال َّن ا ِر َم ْن‬ َ ‫َق‬ ‫ال لاَ ِإ َل َه ِإلاَّ اللهَّ ُ َو ِف ي َق ْل ِب ِه َوز ُْن َذ َّرةٍ ِم ْن َخ ْي ٍر‬

Dari Anas dari Nabi saw. bersabda, “keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah dn di hatinya ada seberat rambut kebaikan. Keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat gandum


kebaikan. Dan keluar dari neraka orang yang mengatakan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat zarrah kebaikan.” (Bukhari).

ُ َّ‫َع ن ُع ب ا َد َة ر ِض ي اللهَّ ُ َع ْن ُه َع ن ال َّن ِب ي َص َّل ى الله‬ ْ َ َ َ ْ ِّ َ‫ال َم ْن َش هِ دَ َأ ْن لاَ ِإ َل َه ِإلاَّ اللهَّ ُ َو ْح دَ ُه لا‬ َ ‫َع َل ْي ِه َو َس َّل َم َق‬ َ ‫َش ر‬ ‫يس ى‬ َ ‫ِيك َل ُه َو َأ َّن ُم َح َّم ًدا َع ْب دُ ُه َو َر ُس ولُ ُه َو َأ َّن ِع‬ َّ‫لله‬ ‫وح ِم ْن ُه‬ ٌ ‫َع ْب دُ ا ِ َو َر ُس ولُ ُه َو َك ِل َم ُت ُه َأ ْل َق َاه ا ِإ َل ى َم ْر َي َم َو ُر‬ ‫َوا ْل َج َّن ُة َح قٌّ َوال َّن ا ُر َح قٌّ َأ ْد َخ َل ُه اللهَّ ُ ا ْل َج َّن َة َع َل ى َم ا‬ ‫َك َان ِم ْن ا ْل َع َم ِل‬ Ubadah bin Shamit meriwayatkan dari Nabi saw. beliau bersabda, “Barangsiapa mengatakan tiada ilah selain Allah tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya dan Rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang dicampakkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah haq serta neraka itu haq. Allah akan memasukkannya ke surga, apapun amal perbuatannya.” (Bukhari). Selain itu, orang yang mengikrarkan syahadat akan mendapatkan syafaat Rasulullah di hari Kiamat. Seperti sabda

beliau,

‘aqidatuna

َ ‫يل َي ا َر ُس‬ َ ‫َع ْن َأبِي ُه َر ْي َر َة َأ َّن ُه َق‬ َ ‫ال ِق‬ ُ‫ول اللهَّ ِ َم ْن َأ ْس َع د‬ َّ‫لله‬ َ ‫اس ب َِش َف َاع ِت َك َي ْو َم ا ْل ِق َي ا َم ِة َق‬ ُ ‫ال َر ُس‬ ‫ول ا ِ َص َّل ى‬ ِ ‫ال َّن‬ َ‫اللهَّ ُ َع َل ْي ِه َو َس َّل َم َل َق دْ َظ َن ْن ُت َي ا َأ َب ا ُه َر ْي َر َة َأ ْن لا‬ ِ ‫َي ْس َألُ ِن ي َع ْن َه َذا ا ْل َح ِد‬ ‫يث َأ َح دٌ َأ َّو ُل ِم ْن َك ِل َم ا‬ ِ ‫َر َأ ْي ُت ِم ْن ِح ْر ِص َك َع َل ى ا ْل َح ِد‬ ‫اس‬ ِ ‫يث َأ ْس َع دُ ال َّن‬ َّ‫لله‬ ُ َ ‫ب َِش َف َاع ِت ي َي ْو َم ا ْل ِق َي ا َم ِة َم ْن َق‬ ‫ال لاَ ِإ َل َه ِإلاَّ ا َخ ا ِل ًص ا‬ ‫ِم ْن َق ْل ِب ِه َأ ْو ن َْف ِس ِه‬

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. ditanya, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di hari Kiamat? Rasulullah saw bersabda, “Aku telah mengira ya Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang tanya tentang hadits ini yang lebih dahulu daripada kamu, karena aku melihatmu sangat antusias terhadap hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari Kiamat adalah yang mengatakan la ilaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (Bukhari). Wallahu a’lam. ®

َ ‫َم‬ ‫دْخ ٌل ِإ َل ى ْا ِال ْس لاَ ِم‬ ‫خُ لاَ َص ُة َت َع ا ِل ْي ِم ْا ِال ْس لاَ ِم‬ ‫اس ْا ِإلن ِْق لاَ ِب‬ ُ ‫َأ َس‬

َّ ‫َأ َه ِم َّي ُة‬ ‫الش َه ا َدتـ ـَ ْي ِن‬

‫َح ِق ْي َق ُة َد ْع َو ِة ال َّر ُس ِل‬ ‫َف َض ا ِئ ٌل َع ِظ ْي َم ٌة‬ 27


konsultasi syari’ah

Hukum Membayar Zakat dengan Uang Bagaimanakah sesungguhnya hukum membayar zakat fitrah dengan uang? (Agus Gunadi Ismail – 0813205XXXXX) Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Ada yang membolehkan dan ada yang memilih sikap lebih hati-hati sehingga mereka tidak membenarkan membayar zakat fitrah dengan uang sebagai pengganti makanan pokok. Mereka yang membolehkan membayar zakat dengan uang diantaranya adalah AtTsauri, Imam Abu Hanifah, Al-Hasan, Atho dan Abu Ishak. Sementara yang tidak membenarkan membayar zakat fitrah dengan uang diantaranya adalah Al-Malikiyah, As-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah. Ibnu Hazm pun termasuk dalam kelompok yang tidak setuju membayar zakat fitrah dengan uang. Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya tentang hal ini, beliau menjawab: “Aku khawatir hal itu tidak mencukupi dan bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW”. Mereka yang membolehkan merujuk kepada hadits Nabi saw, “Cukupilah mereka (kaum miskin) pada hari ini…” Pengertian ‘mencukupi’ pada hadits ini menurut mereka bisa dilakukan dengan cara memberi makanan maupun memberi uang. Bahkan memberikan uang bisa jadi lebih utama karena banyaknya makanan malah membuat kaum miskin harus menjualnya untuk membeli kebutuhan lain yang juga penting. Dengan memberikan uang, kaum miskin dapat langsung memperoleh apa yang mereka butuhkan secepatnya. Ibnul Munzir menyatakan bahwa para sahabat membolehkan mengeluarkan zakat fitrah dengan ½ sha gandum dengan anggapan jumlah tersebut sebanding dengan 1 sha kurma dan tepung gandum.

28


‘konsultasi syari’ah Bercumbu dengan Istri Saat Shaum Ramadhan

Kita tidak boleh berhubungan seksual dengan istri di siang hari bulan Ramadhan, tapi apakah boleh sekedar bercumbu? (Abdullah0817671XXXX) Bercumbu dengan istri pada siang hari Ramadhan hukumnya bisa mubah dan bisa juga makruh. Bahkan bisa berakibat membatalkan puasa dan diwajibkan qadha. Hukumnya mubah (boleh) jika aman dari sesuatu yang bisa membatalkan puasa. Namun jika cumbu tadi (baik itu mencium, berangkulan, sentuhan, dan pandangan) tidak aman; dalam arti menjurus kepada sesuatu yang bisa membatalkan puasa, hukumnya menjadi makruh. Bahkan, cumbu yang berlebihan—seperti berpelukan dalam kondisi tanpa busana dan menyentuh kemaluan menurut kalangan Hanafi adalah makruh meski aman dari keluarnya mani dan jima. Menurut Hanafi, Syafi’I dan Hambali, bercumbu yang berakibat mengeluarkan mani adalah membatalkan puasa dan wajib qadha; tanpa disertai kaffarah. Sementara Maliki berpendapat bahwa keluarnya mani akibat bercumbu mengharuskan qadha dan kaffarah sekaligus.

Meninggalkan Puasa Tanpa Alasan

Bagimana hukum orang yang sengaja meninggalkan puasa tanpa ada alasan? (0229283XXXX) Ada hadits Nabi saw berkaitan dengan orang yang meninggalkan puasa Ramadhan secara sengaja, “Tali Islam dan pilar agama ini ada tiga. Di atas ketiganya Islam dibangun. Siapa yang meninggalkan salah satu darinya berarti ia kafir dan darahnya halal. Yaitu: (1) bersaksi tiada Tuhan selain Allah; (2) shalat wajib; (3) puasa Ramadhan.” (HR Abû Ya’lâ dan adDaylami). Abû Hurayrah ra. Juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, ”Siapa yang tidak berpuasa pada satu hari di bulan Ramadhan tanpa ada rukhsah yang Allah berikan, ia tidak bisa digantikan oleh puasa satu tahun meskipun ia puasa sepanjang itu.” Juga beliau bersabda, ”Siapa yang berbuka pada satu hari di bulan Ramadhan tanpa udzur dan sakit, puasa tersebut tak bisa digantikan oleh puasa satu tahun.” ®

29


nisaa’

Oleh: Ilin Ratna Tiara, S.Psi.I

Urgensi Tarbiyah Bagi Muslimah Seorang ibu ibarat sekolah... Apabila kamu siapkan dengan baik... Berarti kamu menyiapkan satu Bangsa yang harum namanya. Begitulah ungkapan salah seorang pujangga yang mengisyaratkan pentingnya peran seorang wanita untuk kebangkitan suatu bangsa. Begitu juga orang-orang bijak banyak yang mengaitkan keberhasilan para tokoh dan pemimpin dengan peran dan bantuan kaum wanita lewat ungkapan : “Di balik keberhasilan setiap pembesar ada wanita!” Luar biasa pentingnya keberadaan kaum wanita ini, sampai tolak ukur kebangkitan suatu bangsa dilihat dari kaum wanita. Bahkan, jika terjadi musibah atau tindak kriminal, ada yang mengatakan: ”Coba periksa kaum wanitanya!”. Dapat dipastikan bahwa jika wanita-wanita dalam suatu negeri itu baik, maka bangkitlah suatu negeri. Namun sebaliknya jika wanita dalam suatu negeri itu buruk akhlak dan moralnya, maka tunggulah kehancuran negeri tersebut. Muslimah-seorang wanita Muslimtentulah memiliki peranan yang sangat penting dibanding dengan wanita atau perempuan lainnya yang belum beriman. Dialah yang Allah panggil untuk menutup aurat, dialah yang diperintahkan untuk

30

shalat, zakat, shaum, sebagaimana Allah perintahkan pada kaum Muslimin seluruhnya. Dan dia pula yang menjadi rahasia dibalik kebangkitan suatu negeri. Sejarah Islam mencatat banyak kisah para wanita tangguh, diantaranya seperti kisah lembutnya seorang bunda Khadijah ra yang mendampingi Rasulullah SAW di awal risalah, atau kisah heroiknya asma binti Abu Bakar ra yang membawa makanan untuk Rasulullah saw dan Abu Bakar ra ke gua Tsur dalam keadaan hamil, dan juga kisah tegarnya seorang Asiah memelihara keimanannya, sementara suaminya adalah manusia paling sombong di kolong langit. Sungguh luar biasa apa yang telah dilakukan oleh wanita-wanita Muslimah pencatat sejarah yang menyisakan keimanan yang mendalam dihati orang-orang Muslim masa kini dan menjadi bukti bahwa peranan seorang Muslimah sangatlah penting untuk kebangkitan suatu negeri. Fenomena ini menyadarkan kita tentang pentingnya tarbiyah bagi wanita muslimah, karena sebagaimana kaum pria, mereka pun harus berperan dalam mengemban misi peradaban.


Tarbiyah merupakan sarana untuk menambah ilmu dan wawasan.

Tarbiyah adalah keniscayaan. Bila umat Islam menginginkan kejayaannya kembali tiada cara lain selain menempuh jalan ini. Dengannya Rasulullah mendidik para sahabat menemukan kembali jati diri dan kepribadiannya. Tarbiyah kita maknai sebagai proses pembinaan diri dan umat menuju arahan ideal dalam Islam. Tentunya dengan tarbiyah ini kita dituntut untuk senantiasa memperbaiki diri dengan terus menimba ilmu dan meningkatkan kualitas amal agar menuju jati diri yang sesuai dengan apa yang diharapkan Allah dan RasulNya dalam mengemban misi peradaban. Ilmu akan menjadi cahaya dalam melangkah. Dengan ilmu seseorang akan menjadi takut kepada Allah, karena ternyata pengetahuan yang dimiliki hanyalah sedikit bila dibanding dengan ilmu Allah yang teramat luas. Sehingga tumbuhlah ketakutan dan pengagungan yang luar biasa kepada Allah Swt. Ilmu juga akan mengangkat derajat seseorang disisi Allah dan di sisi manusia. Allah berfirman:

‫ﰈﰉﰊﰋ ﰌﰍﰎﰏ‬ ١١ :‫ﰐﰑ ﰒ ﰓ ﰔ ﰕ ﰖ المجادلة‬ “ ... niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat...” (QS al mujadillah: 11). Jika para muslimah memiliki ilmu dan wawasan yang luas, mereka akan mengetahui bagaimana caranya menjadi hamba Allah, mampu menjadi istri yang terbaik bagi suaminya, mampu memberikan pengajaran dan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, mengetahui jalanjalan kebaikan sehingga memiliki banyak peluang untuk beramal, serta mampu mengajarkan kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya. Ia pun tidak akan mudah ditipu dan dibohongi oleh pihak-pihak yang ingin menjerumuskannya. Begitulah tarbiyah, bisa mengajarkan berbagai hal pada wanita muslimah, dimana ia sebagai sarana untuk menambah ilmu serta meningkatkan kualitas dan kuantitas amal.

nisaa’

Dengan Tarbiyah muslimah dapat mendukung suami dalam dakwah

Salah satu sunah Rasulullah saw dalam kehidupan ini adalah menikah. Seorang Muslimah berhak menikah dengan orang yang bertakwa yang telah Allah tentukan baginya. Sebagaimana yang dicontohkan bunda Khadijah ra. Banyak contoh-contoh pernikahan dakwah yang dilakukan oleh shahabiyah terdahulu. Pernikahan yang mengutamakan esensi dakwah baik dalam bingkai pelaksanaanya, prosesnya maupun dalam menempuh mahligah rumah tangga. Tentunya menikah bagi seorang Muslimah bukanlah hanya sebatas kebutuhan psikologis dan biologis semata, namun menjadi penopang bagi suami dalam kerjasama kebaikan atau proyek peradaban. Sebagaimana dalam Firman Allah:

‫ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕﮖ‬ ‫ﮗﮘﮙﮚﮛ‬ ‫ﮜﮝﮞﮟ‬ ‫ﮠ ﮡ ﮢﮣ ﮤ ﮥ ﮦﮧ‬ ٧١ :‫ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ التوبة‬ “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:71) Sepasang suami istri yang mengikat komitmennya dijalan dakwah, harus saling bahu membahu untuk terus istiqamah mengemban misi peradaban Islam. Seorang muslimah yang terbina akan memahami posisi dirinya sebagai mitra suami dalam menjalankan tugas dakwah. Ia akan berusaha menbantu suami dalam melaksanakan amar makruf nahi munkar, baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakatnya. Ia akan memahami betul bagaimana menjadi seorang istri yang shalehah, yang senantiasa taat kepada suami

31


nisaa’

dalam kebaikan, menjaga kehormatan dan harta suami, serta menyenangkan bila dipandang. Muslimah yang terbina juga akan senantiasa mendukung dan memotivasi suami untuk selalu istiqomah di jalan dakwah, dan tidak akan menghalang-halangi suami dalam amal kebaikan. Langkahnya selalu terinspirasi oleh sosok Khadijah ra, istri Rosulullah yang secara total menyerahkan apa saja yang dimilikinya untuk kepentingan dakwah Islam, baik harta, waktu, serta jiwanya. Tarbiyah adalah jalan bagi seorang muslimah untuk dapat memahami, termotifasi dan membekali diri agar dapat melaksanakan tugas-tugas dan fungsinya sebagai seorang istri dalam membantu tugas suami dengan baik.

Dengan tarbiyah, muslimah telah memiliki modal untuk sukses mendidik anak.

Pemahaman akan nilai strategis seorang anak sebagai investasi pahala yang tak pernah putus bagi orang tuanya, akan memotivasi para muslimah untuk senantiasa memperhatikan dan bersemangat dalam mendidik anak-anaknya menjadi generasi rabbani, saleh dan muslih. Karena anak yang terlahir dalam kandungan seorang ibu -yang diharapkan dalam dunia Islambukanlah hanya sekedar buah pernikahan saja, akan tetapi sebagai penerus generasi

estafeta dakwah, yang akan memberatkan bumi ini dengan kalimah Laa Ilaha Ilallah.. Pada hakekatnya, tarbiyatul aulad adalah merupakan kewajiban dan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu, akan tetapi secara fitrah, muslimah akan lebih dekat interaksinya dengan anak-anak. Sementara seorang ayah seringkali lebih ba-

32

nyak berperan pada hal-hal yang bersifat strategis dalam pendidikan anak, adapun manajemennya lebih banyak ada di tangan ibu. Oleh karena itu, seorang muslimah dituntut untuk memiliki dan memahami banyak ilmu, ketrampilan, dan hal-hal lain terkait dengan pendidikan anak,sehingga anak-anaknya akan menjadi sukses dunia akherat. Ya..! sukses dunia akhirat, inilah citacita muslimah sejati !!.. Allah SWT berfirman:

‫ﮅﮆﮇﮈﮉﮊ ﮋ‬ ‫ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒﮓ ﮔ ﮕ‬ ٢١ :‫ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ الطور‬

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. AtThur ayat 21)

Jadi, ukuran kesuksesan “mendidik anak adalah

berhasil menjadikan anakanaknya sebagai penghuni syurga. Adapun kesuksesan-kesuksesan yang sifatnya dunia dan materi hakekatnya itu merupakan eksesoris yang akan mempercantik “kesuksesan hakiki menjadi penghuni syurga”.

Dengan Tarbiyah muslimah dapat eksis di tengah masyarakat untuk bekerja sama dan memberdayakan lingkungan masyarakat yang islami Selain aktif membangun nuansa Rabbani dalam lingkup keluarga, maka seorang Muslimah pun mesti berperan aktif dalam lingkungan masyarakat. Kehadiran musli-


mah di tengah lingkungan masyarakat harus memberi pengaruh positif, mencetak lukisan indah dan bukan melebur pada warna lukisan yang ada di masyarakat. Untuk itu seorang muslimah membutuhkan bekal-bekal motivasi, keberanian, kebijaksanaan dan ketrampilan. Hal-hal ini insya Allah akan didapatkannya di dalam proses tarbiyah yang intensif. Di sini muslimah akan mampu memerankan dirinya sebagi agent of change ke arah yang lebih baik, tanpa mengorbankan prinsip kebenaran yang telah diyakininya. Salah satu hadis Rosul saw yang dapat di jadikan pedoman dalam merekayasa masyarakat adalah hadis yang artinya : “Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya kalau dia tidak mampu maka cegahlah dengan lisannya, dan kalau dia tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman.” Di zaman yang serba terbuka dan modern ini, diperlukan kepekaan dan ketangkasan Muslimah dalam berperan aktif memperbaiki moral dan prilaku masyarakat yang sudah jauh dari nilai-nilai Islam. Seorang Muslimah dituntut agar bisa berdakwah dan beramar ma’ruf nahyi mungkar di tengah lingkungan masyarakat. Keimanan seorang muslimah akan dipertanyakan, jika tidak lagi memiliki kepekaan dan kepedulian sama sekali melihat kemungkaran dan permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Allah mengingatkan dengan firmanNya:

nisaa’

kepada kebaikan. Karena tidak ada jaminan bagi kita untuk bisa masuk syurga. Namun kita diperintahkan untuk terus bertakwa dan mengajak orang lain dalam kebaikan dan ketakwaan.

‫ﭝﭞﭟﭠﭡﭢ ﭣ‬ ‫ﭤ ﭥ ﭦﭧ ﭨ ﭩﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ‬ ١٨ :‫ﭯ ﭰ الحشر‬ “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah pada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasr:18)

‫ﭘﭙﭚ ﭛﭜﭝ‬ ٣ :‫ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ العصر‬ “ kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran” (QS. Al-‘Asr : 3)

biasa dahsyaat man“faatLuarTarbiyah bagi Mus-

limah. Di dalam aktifitas tarbiyah, muslimah akan mendapatkan banyak motivasi untuk selalu berbuat, berjuang dan melakukan banyak hal untuk peroleh keridhaanNya dalam ber‫ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ‬ibadah dan mengemban ‫ ﯸﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ‬misi peradaban Islam. Menjadi ibu ataupun istri ٢٥ :‫ﯿ األنفال‬ yang selalu dinanti dalam “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang- kebangkitan umat. Maka orang yang zalim saja di antara kamu. dan tarbiyah bagi muslimah Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaadalah suatu hal yang tidak an-Nya.” (QS. Al-Anfal:25) dapat dipisahkan dari diriAyat diatas seharusnya menjadi penyemangat bagi para muslimah untuk senan- nya. Maka.. sudahkah kita tiasa proaktif dalam menyeru masyarakat tarbiyah..?? ®

33


thulaby

Oleh: Syamsudin Kadir Ketua Bidang Kaderisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Wilayah Jawa Barat

Urgensi Kaderisasi dalam Gerakan Dakwah Pemuda (sebuah refleksi untuk aksi)

Melakukan pengkaderan adalah salah satu model perjuangan para nabi. Bersama para kader inti yang kuat dan tangguh, mereka berjuang menyebarkan dakwah dan mengatasi berbagai ujian dan rintangan yang dahsyat. Allah SWT. berfirman yang artinya: Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar (Qs. Ali Imran: 146)

Rasulullah SAW. merekrut dan mengkader Khadijah ra., perempuan yang pertama kali beriman dan juga istri beliau. Setelah itu Abu Bakar ra., sahabat karib beliau, Ali bin Abi Thalib ra., anak pamannya yang telah dibinanya sejak kecil, dan Zaid bin Haritsah ra., mantan budak beliau. Abu Bakar ra. pun meluaskan dakwahnya sendiri. Melalui dakwahnya, maka Usman bin Affan ra., Zubair bin Awwam ra., Abdul Rahman bin Auf ra., Sa’ad bin Abi Waqqash ra., dan Thalhah bin Ubaidillah ra., masuk Islam. Ke delapan orang ini merupakan para kader pertama yang masuk Islam, kemudian shalat, dan mem-

34

benarkannya. Rekruitmen ini kemudian berkembang hingga mencapai 60 sahabat pertama yang berasal dari berbagai kabilah di Mekah ketika itu. Para kader-kader dakwah terus bertumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka inilah yang senantiasa menjadi pewaris, menyebarkan dakwah dari zaman ke zaman, melintasi sahara tak bertuan, gunung dan samudera nan luas, menyeberangi negerinegeri nan jauh, mencapai benua-benua, sehingga Islam menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia yang kita cintai. Mudah-mudahan Allah SWT. membalas semua jasa mereka dan menganugerahkan


surga-Nya yang amat luas dan indah. Kita berharap agar kita termasuk golongan mereka, para generasi penyeru dakwah, dan dikumpulkan bersama-sama mereka kelak di surga-Nya, semoga! Allah Swt. Berfirman,

thulaby

Rekayasa kaderisasi atau pengkaderan memiliki kepentingan dalam upaya ini. Dalam dimensi ini, dakwah ‫ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ‬berorientasi membentuk ‫ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ‬kader-kader da’i yang siap memikul dan melanjutkan :‫ ﮇﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ النساء‬estafet dakwah, apalagi ٦٩ mengingat bahwa tumbuh “Dan barang siapa yang mentaati Allah suburnya kader adalah dan Rasul¬-Nya, mereka itu akan bersa- sasaran utama dakwah, ma-sama dengan orang-orang yang dianu- terutama pada level dakwah gerahi nikmat oleh Allah; yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang yang pemuda. Karena merekalah syahid, dan orang-orang saleh. Dan me- yang akan menggerakkan reka itulah teman yang sebaik-¬baiknya”. dakwah islam di masa de(Qs. an-Nisa’: 69). pan. Kaderisasi: Penyuluh Gerakan Dakwah Perjalanan dakwah ibarat sebuah kehidupan. Ia harus terus hidup secara dinamis atau terjaga kestabilannya. Mem¬pertahankan hidup yang demikian, bagi dakwah, tidak bisa ditempuh kecuali dengan menjaga kehidupan para peng¬geraknya. Kehidupan dakwah itu jauh lebih panjang dari kehidupan para pengusung atau penggeraknya. Oleh karena itu, kita mesti mengupayakan strategi untuk melanggengkan perjalanan dakwah tersebut, yaitu dengan melanggengkan kehidupan penggeraknya melalui regenerasi atau pengkaderan. Adalah musibah yang amat besar apabila kita lemah dalam mengkader. Rodaroda dakwah akan lambat berputar atau bahkan berhenti sama sekali, karena penggerak roda¬-roda itu kehilangan energi atau tidak ada sama sekali. Bahkan jumlah kader yang banyak tidak akan banyak membantu bila tidak diiringi oleh proses pembentukan kapasitas menuju kader berkualitas. Keseimbangan antara ekspansi rekrutmen kader dengan peningkatan kualitasnya adalah keseimbangan yang mesti difokuskan.

Karena itu, kaderisasi dalam dakwah pemuda adalah proses pembinaan dalam rangka pembentukan kader-kader dakwah di lingkungan medan dakwah, untuk kegemilangan dakwah di masa depan. Untuk meraih keberhasilan agenda ini, para penggerak dakwah dituntut memiliki keahlian membina (kafa’ah takwiiniyah), baik dari sisi penguasaan manhaj, penguasaan materi, pengua¬saan forum, pemahaman orientasi, dan sebagainya. Pemenuhan keahlian membina dapat diusahakan secara bersama dengan berbagai pelatihan dan pembekalan. Selain itu, dalam aktivitas ini, para penggeraknya juga dituntut melakukan segala upaya pengkaderan dengan bekal-bekal akidah, ibadah, akhlak, tsaqaafah (wawasan), dan sebagainya dengan baik sehingga dapat membentuk kader dakwah (rijaal ad-dakwah) generasi pelanjutnya memiliki kualifikasi kapasitas yang sesuai dengan orientasi pengkaderan. Karena pengkaderan adalah sebuah agenda penting maka mesti ada penyeimbangan, yaitu penyiapan tenaga pengkader, semacam Instruktur atau Pemandu kader yang terlatih dan berkualitas. Hal ini merupakan hikmah di balik keunikan firman Allah dalam Qs. al-Anfal: 65,

35


thulaby

‫ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄﮅ‬ ‫ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌﮍ‬ ‫ﮎﮏﮐﮑﮒﮓﮔ‬ ‫ﮕﮖ ﮗ ﮘﮙﮚﮛ‬ ٦٥ :‫األنفال‬

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sa¬bar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang yang kafir, disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. Begitulah al-Qur’an memberi kita inspirasi. Artinya, seorang kader yang berkualitas tinggi akan dapat mengalahkan sepuluh orang musuh (1:10), sedangkan seorang kader yang lemah kualitasnya hanya dapat mengalahkan dua orang musuh (1:2).

‫ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣﮤ‬ ‫ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫﮬ‬ ‫ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕﯖ‬ ٦٦ :‫ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ األنفال‬ “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka Jika ada di antara kalian seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan Jika di antara kalian ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah bersama orangorang yang sabar“ (Qs. al-Anfal: 66) Kaderisasi pengusung dakwah sangat ketat, karena itu ia juga selektif. Proses ini dalam perjalanan dakwah sesungguhnya bukan sesuatu yang asing. Untuk memilih nabi dan rasul pun, Allah memberlakukan proses ini. Sebagaimana firman-Nya,

‫ﮋﮌﮍﮎﮏﮐﮑﮒ‬ 36

٣٣ :‫ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ آل عمران‬ “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat”. (Qs. Ali Imran: 33-34)

Rasulullah SAW. pun “dalam perjalanan dakwah-

nya tidak selalu disibukkan dengan manuvernya ke masyarakat luas., tapi juga fokus untuk memperbanyak basis pejuang dakwahnya. Beliau berdakwah dengan metode yang berimbang antara kaderisasi sumber daya dan ekspansi ranah dakwah. Metode pengkaderan terpilih dilakukannya di rumah Arqam bin Abil Arqam ra., sehingga tercetaklah manusia sekaliber Abu bakar ra. dan Ali bin Abi Thalib ra. Proses pengkaderan yang beliau lakukan adalah dengan pemantauan intensif. Pemantauan itu dilakukan dengan memperhatikan beberapa kriteria sehingga proses kaderisasi yang dilakukan menghasilkan generasi yang unik dan mampu memberikan jawaban atau penyelesaian atas problematika dakwah yang sedang atau yang akan dihadapi di masa depan.

Apa yang dilakukan pada masa itu sepertinya masih relevan untuk dijadikan sebagai referensi kita saat ini. Yang penting adalah bahwa ekspansi gerakan dakwah


mesti diseimbangkan dengan penguatan basis pengusungnya, baik kuantitas maupun kualitasnya. Mengenai hal ini, Syaikh Mustafa Masyhur mengatakan bahwa ‚penjagaan keseimbangan antara sarana manuver dan sarana rekruitment dilakukan untuk menyelaraskan hasil manuver dakwah dengan kemampuan pengkaderan. Hal ini bertujuan agar tingkat pengkaderan tidak mengalami penurunan disebabkan banyaknya hasil manuver yang tidak tertangani proses pengkaderannya’. Masih berkaitan dengan ini, Syaikh Mustafa Masyhur sangat menekankan aktivitas pengkaderan dalam dakwah. Bahkan, menurut beliau, lebih baik melakukan pengurangan volume manuver dakwah untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan, antara hasil manuver dengan kemampuan pengkaderan, daripada menumpuk hasil manuver yang banyak dan rendah kualitasnya disebabkan oleh rendahnya proses pengkaderan.

Penutup Upaya perbaikan bukanlah gerakan sesaat yang muncul untuk kemudian mati selama-lamanya. Ia bukan pula upaya perbaikan yang kecil volume dan intervalnya di tengah gelombang kerusakan yang membahana dan semakin mendera kita. Tetapi ia adalah gerakan perbaikan yang kokoh memegang prinsip dan memiliki nafas panjang serta stamina yang seakan tiada pernah habis untuk menghadapi secara intensif gelombang jahiliyah dengan berbagai kiat, siasat dan berbagai cara. Jadi, hanya upaya perbaikan secara intensif yang mampu bertahan dan mengalahkan arus jahiliyah yang merambah hampir semua aspek kehidupan umat manusia. Selanjutnya, mudah-mudahan Allah SWT. memberi kekuatan kepada kita semua agar agenda pengkaderan atau penguatan basis utama gerakan dakwah terus berlanjut hingga Allah SWT. menakdirkan kita semua menjadi pengusung utama yang menemukan agama ini dengan sejarah kejayaannya, semoga! ÂŽ

thulaby

IDEALNYA SEORANG PEMUDA Ia Pribadi yang muslim, berhati emas berpotensi prima Yang di kala damai anggun Petaka kijang dari padang perburuan Yang di kala perang Perkasa bak harimau kumbang Ia perpaduan manisnya madu, pahitnya empedu Satu kali dengan kawan, lain kali dengan lawan Yang lembut dalam berbahasa Yang teguh membawa suluh Angannya sederhana, Citanya mulia Tinggi vitalitas dalam was- was Tinggi budi, rendah hati Ia lah sutera halus ditengah sahabat tulus Ia lah baja, ditentangnya musuh durhaka Ia ibarat gerimis atau embun tiris Yang memekarkan bunga - bunga Yang melambaikan tangkai - tangkai Ia juga topan beliung Yang melemparkan ombak menggunung Yang menggoncangkan laut ke relung - relung Ia lah gemiricik air ditaman sari, asri Ia juga penumpang segala belantara, segala sahara Ia lah pertautan agung iman Abu Bakar, Perkasa Ali, Papa Abu Dzar, teguhnya Salman Mandirinya ditengah massa yang bergoyang Ibarat lentera ulama ditengah gulita sahara Ia pilih syahid fisabilillah Atas segala kursi dan upeti Ia menuju bintang, menggapai malaikat Ia tentang tindak kufur, pola aniaya, dimana saja Maka nilainya pun membumbung tinggi Harganya semakin tak terperi Maka siapakah yang akan sanggup membelinya Kecuali Rabb-nya??

37


kisah

Dakwah yang Bijak “Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan…” Hasan Al-Banna seringkali dituduh sebagai ‘biang’ gerakan Islam garis keras yang tidak sungkan melakukan aksi-aksi terror untuk mencapai tujuannya. Kenyataannya tuduhan ini jauh panggang dari api. Jika kita menyelami perjalanan hidup Al-Banna secara utuh dengan hati yang dingin tanpa prasangka, pasti akan kita temukan dia tidaklah seperti yang dituduhkan banyak orang. Apalagi dianggap sebagai ‘biang’ teroris. Paling tidak ini tergambar dari potongan peristiwa dalam hidupnya saat Pemerintahan Mesir di bawah pimpinan An-Nuqrasyi mengeluarkan keputusan pembubaran jama’ah Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipimpin Al-Banna, sejak tanggal 8 Desember 1948. Saat itu terjadi ujian, cobaan, penculikan dan penyiksaan kepada anggota Ikhwan. Sebagian pemuda Ikhwan datang menemui Hasan Al-Banna untuk meminta izin melakukan perlawanan terhadap pemerintah sekuat tenaga. Tapi Al-Banna melarang dengan tegas rencana tersebut dan menjelaskan akibat buruk yang akan ditimbulkannya. Ia mengingatkan para pemuda itu dengan kisah Nabi Sulaiman saat menyele-

38

saikan persoalan dua wanita yang memperebutkan seorang bayi. Masing-masing bersikeras dan mengklaim bayi itu adalah anaknya. Karena itu, Nabi Sulaiman memutuskan agar anak tersebut dibelah menjadi dua. Wanita yang tidak melahirkan anak itu setuju mendapat separuh bagian, sedang wanita yang melahirkan anak itu tidak setuju. Ia kemudian merelakan bagiannya diberikan kepada lawannya, agar buah hatinya tetap hidup. Setelah itu Hasan Al-Banna berkata kepada para pemuda yang berniat melakukan pemberontakan, “Kita sekarang menjalankan peran seperti yang dilakukan sang ibu sejati”. Sikap bijak Hasan Al-Banna ini mengandung pelajaran penting bagi aktivis dakwah saat ini: 1. Betapapun demikian besar kebencian dan permusuhan manusia kepada dakwah, hendaknya tidak menghalangi seorang da’i mengambil sikap bijak demi kemaslahatan yang lebih besar dan menjaga diri dan masyarakat umum dari kemudhorotan yang mungkin timbul. Karena substansi dakwah adalah perbaikan dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Dalam kasus


di atas, Hasan Al-Banna lebih memilih bersabar atas penderitaan dibandingkan harus melakukan pemberontakan kepada pemerintahan yang sah walaupun zalim karena memikirkan kepentingan yang lebih besar bagi masyarakat umum. 2. Dakwah membutuhkan pemimpin yang memiliki hikmah dan tafaqquh fiddin (memahami agama). Sehingga gerakan dakwah akan terbimbing dengan benar ke arah tujuannya. 3. Dakwah Islam itu dilandasi kasih sayang dan jauh dari tindakan anarkhisme atau kekerasan. Tentu saja bukan berarti sifat tegas dan pembelaan diri harus dihapuskan dalam diri para mujahid dakwah. Hanya saja itu harus ditempatkan dan dipertimbangkan secara proporsional.

Mutia ra Hikma h

kisah

Semoga Allah SWT selalu membimbing dan melindungi kita dalam perjuangan dakwah ini.

‫ﯛﯜﯝﯞ ﯟﯠﯡﯢﯣ‬ ‫ﯤ ﯥ ﯦ ﯧﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ‬

‫ﯭ ﯮ ﯯ ﯰﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ‬ ‫ﯶ ﯷﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼﯽ ﯾ ﯿ ﰀ‬

٨٨ :‫ﰁ ﰂ هود‬

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (QS. Huud: 88) ®

anna Hasan Al-B

‫ وأنه حبيب إلى هذه‬،‫ ونحب أن يعلم قومنا أنهم أحب إلينا من أنفسنا‬- ‫عـاطــفة‬ ‫ وأن تزهق ثمنًا لمجدهم وكرامتهم‬،‫النفوس أن تذهب فداءً لعزتهم إن كان فيها الفداء‬

‫ وما أوقفنا هذا الموقف منهم إال هذه العاطفة التي‬،‫ودينهم وآمالهم إن كان فيها الغناء‬ ...‫ وأسالت مدامعنا‬،‫ فأقضت مضاجعنا‬،‫ وملكت علينا مشاع رنا‬،‫استبدت بقل وبنا‬

Kasih Sayang - Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai dari pada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, mengusai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami...

39


40


Al-Intima' edisi 02  

Ebook Al-Intima' edisi 02 // Free!! Sebarkan kebaikan!! // www.al-intima.com