Page 1

Edisi No.001 Tahun 2009 • Infaq Rp 4.900,-

Berita Kemenangan Islam 12 tawjih

Taujih Bagi Kader Dakwah di Lembaga Legislatif Oleh KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

9 lamhah tarikhiyyah

Episode Panjang Menuju Pembebasan Konstantinopel

19 sunnah

Keutamaan Shalat Berjama’ah

30 konsultasi syari’ah Ramadhan Sebentar Lagi... Apa yang Harus Kita Siapkan?


Edisi No.001 Tahun 2009

Majalah Dakwah Islam

Al-Intimã’ Terbit 1 (satu) bulan sekali Untuk kalangan sendiri Infaq Rp 4.900,Penerbit Forum Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah Bandung Alamat Redaksi Jl. Cilengkrang II No. 48 Kel. Palasari Kec. Cibiru Bandung Telpon (022) 71196663 e-mail mdi.intima@gmail.com Pemimpin Umum / Redaksi M. Indra Kurniawan Sidang Redaksi Taufiq Rizqon Ridwan Nurdin Mufti Rifan Fahrani M. Indra Kurniawan Ali Akbar Desain Grafis & Tata Letak Widesain Pemasaran, Iklan & Distribusi Ali Akbar Dadan Sundana Keuangan Agus Suryana Percetakan Dunia Offset. Redaksi menerima tulisan dari pembaca. Setiap tulisan masuk tidak dikembalikan. Lampirkan foto copy identitas yang masih berlaku. Isi di luar tanggung jawab percetakan.

dari redaksi Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh…. Segala puji milik Allah yang dengan karunianya sempurnalah segenap kebaikan. Salawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada pengajar kebaikan, yang menunjukkan manusia kepada kebenaran, pemimpin dan imam kita, panutan dan kekasih kita, Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan benar hingga hari kiamat nanti. Ya Allah limpahkanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan. Amin… Pembaca budiman, pada edisi kedua ini, pertama yang ingin kami sampaikan kepada Anda—para pembaca— adalah ucapan terima kasih atas sambutan yang demikian hangat pada majalah Al-Intima’ edisi perdana. Respon Anda sungguh diluar dugaan kami. Banyak sekali saran dan kritik membangun yang masuk ke meja redaksi. Hal ini sungguh menjadi dorongan moril yang luar biasa bagi kami jajaran redaksi dan menambah kebahagiaan yang tiada tara. Diantara masukan berharga yang kami terima adalah; dorongan untuk memperbaiki penempatan halaman rubrik, usulan rubrik khusus muslimah, dan penjajagan kemungkinan menampilkan suplemen bagi remaja. Sebagian masukan tersebut telah kami coba akomodir, hasilnya adalah seperti yang Anda lihat saat ini. Mudahmudahan penataan yang kami lakukan akan semakin mempercantik majalah kita ini; dan yang terpenting adalah bisa membuat Anda semakin nyaman membaca. Pembaca budiman, beberapa waktu yang lalu kami sempat bersilaturahim ke kediaman KH. Hilmi Aminuddin, Lc. di Pondok Madani Pager Wangi Lembang Kab. Bandung Barat, untuk meminta kesediaan beliau mengisi rubrik Taujih secara rutin. Alhamdulillah gayung bersambut, beliau mempersilahkan kami meringkas dan memuat taujih-taujih beliau di majalah kita ini. Taujih beliau kali ini tentu saja berkaitan dengan Ramadhan, Dari Imsak Menuju salamatusshadr, semoga menjadi siraman yang menyejukkan ruhiyah dan semakin memompa semangat kita dalam beramal. Rubrik Harakatuna seperti sebelumnya, mencoba menggelorakan semangat dan memperluas wawasan Anda tentang gerakan dakwah Islam. Disusul Lamhah Tarikhiyah, Fiqh, Qur’anuna, Sunnah, Nasihat, rubrik baru—Muslimah, Aqidatuna, Konsultasi Syariah, dan yang terakhir Kisah. Kami berharap seluruh risalah ringkas ini dapat menambah semangat kita beribadah di bulan Ramadhan. Akhirnya kami persilahkan Anda segera melahap majalah ‘bergizi’ ini. Selamat membaca!


Surat Pembaca “Kami ucapkan selamat atas terbitnya majalah AlIntima’, semoga membawa pencerahan dan semangat baru bagi dakwah Islam”. - Yuli Rachmatiah, S.Pd (Ketua Yayasan LDP2M Permata) “Selamat atas terbitnya majalah Al-Intima’…semoga majalah ini menjadi referensi untuk rekonstruksi konsistensi terhadap keyakinan, prinsip, dan nilai-nilai ilahi. Barakallah…!” – Indra Kusumah, S.Psi., M.Si. (Direktur TRUSTCO Bandung) “Semoga Allah SWT melimpahkan keistiqomahan dan menjadikannya amal salih, amiin. Barakallahu fiikum!” – Ari Yanuar, MT (Ketua Deputi Kemahasiswaan PKS Jawa Barat) “Wilujeng medal majalah Al-Intima’ mugia sing lungsur langsar dina raraga manggul amanah da’wah!” – Ki Udin (Ketua Biro Wilayah Bandung Raya Majalah Bina Da’wah DDII Jawa Barat) “Semoga terbitnya majalah Al-Intima’ membawa keberkahan. Majalah seperti ini sangat dinantikan para muharik da’wah” – Agus Andi Setyawan (Managing Director Fast Management Institute)

2


harakatunã

Berita Kemenangan Islam Abad 15 H adalah abad kebangkitan Islam. Riak-riak kebangkitan ini dari hari ke hari kian terasa. Bagi mereka yang bergerak bersama denyut nadi umat pasti merasakannya. Karena itulah mereka terus bergerak dengan semangat yang tak pernah padam. Tapi di sisi lain kita pun melihat sekelompok orang dari umat ini yang memandang masa depan dengan pesimis. Tak ada gelora perjuangan dalam dadanya. Tak terlintas dalam benaknya kemauan untuk bergerak. Mereka ini bukanlah ahli maksiat, bahkan bisa jadi mereka adalah hamba-hamba Allah yang taat dan ikhlash. Tetapi renggangnya mereka dari realitas perjuangan umat menyebabkan hati-hati mereka selalu dirundung duka. Padahal kemenangan Islam sudah di depan mata, Insya Allah.

Berita Kemenangan dari AlQuran

Dalam surah At-Taubah ayat 32-33 kita mendapatkan berita gembira bahwa Allah akan senantiasa menolong hamba-hambaNya dan mengokohkan agama-Nya. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”

Makna seperti ini terulang dalam surahsurah lainnya diantaranya adalah dalam QS. Ash-Shaff: 8-9 dan Al-Fath: 28. Dalam tafsirnya Ibnu Katsir mengemukakan beberapa hadits yang menegaskan tentang dimenangkanya Islam atas segala agama. Diantaranya adalah hadits riwayat Muslim, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT telah memperlihatkan kepadaku bumi bagian timur dan bagian baratnya, dan kekuasaan umatku akan mencakup bumi yang aku lihat itu.” Berita kemenangan yang lain yang disebutkan Al-Qur’an adalah firman Allah SWT, “Dan Allah telah berjanji kepada orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan benar-benar Dia akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang tetap kafir

3


harakatunã

sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nuur: 55) Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini merupakan janji Allah untuk menjadikan umat Muhammad menjadi pemimpin bumi, pemimpin manusia dan penguasa mereka. Dengan mereka negara akan menjadi makmur sentosa. Hal ini terbukti dengan futuhat berbagai daerah oleh umat Islam, seperti Makkah, Khaibar, Bahrain, seluruh Jazirah Arab, dan Yaman. Sementara itu jizyah dari Majusi Hajar dan beberapa daerah Syam terus mengalir.

orang-orang yang menindas dan berlaku sombong. Berita lain yang diungkapkan Al-Qur’an tentang kemenangan adalah janji Allah untuk menolong orang-orang mu’min ( arRuum: 47; Yunus: 103; al-Baqarah: 214). Allah pun berjanji untuk mengagalkan tipu daya orang kafir (at-Thariq: 15-17; alAnfal: 36; Yunus: 81-82; al-Anfal: 36; Ali Imran: 12-13). Untuk itu semua Allah akan mendatangkan Kaum yang Dia cintai yang siap menolong agama-Nya. Ibnu Katsir berkata, “Barangsiapa yang tidak mau menolong agama Allah dan menjalankan syariatNya, maka Allah akan menggantikan mereka dengan orang yang lebih baik dari mereka, lebih kuat dan lurus pendiriannya.” (lihat Muhammad: 38, an-Nisaa: 133, Fathir: 16-17). Perjuangan para penolong agama Allah ini akan senantiasa didukung Allah SWT diantaranya dengan cara memperlihatkan bukti-bukti kebenaran Al-Qur’an, “Kami perlihatkan kepada mereka tandatanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar…” (Fushilat: 53).

Pada masa Abu Bakr, Khalid bin Walid berhasil menembus Parsi; Abu Ubaidah menguasai Syam; Amr bin Ash membuka Mesir. Secara beruntun beberapa daerah Syam, Basrah, dan Damaskus dapat dibebaskan. Pada masa Umar bin Khattab seluruh Syam bebas, Mesir dikuasai dan sebagian Persia berhasil direbut; kekuasaan Romawi dari hari ke hari semakin Berita Kemenangan dari berkurang. Bahkan pada Sunnah Berita kemenangan dari sunnah Nabi masa Utsman bin Affan banyak sekali dimuat dalam kitab-kitab kekuasaan Islam sudah hadits shahih, tapi kemudian banyak dilumenembus wilayah Cina. pakan orang. Diantara berita kemenangan

Syaikh Yusuf Qaradhawy mengatakan bahwa janji Allah kepada umat yang beriman ini adalah janji yang abadi dan kontinuitas. Artinya kemenangan dan kekuatan pada masa Khulafaur Rasyidin bisa diwujudkan kembali dengan syarat: Iman, Amal saleh, menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Berita kemenangan juga diisyaratkan dalam kisah-kisah para Rasul, misalnya dalam kisah perjuangan Nabi Musa (alQashash: 4-6) yang menegaskan bahwa Allah menunaikan iradahnya untuk mengokohkan kedudukan kaum mustadh’afin dan menghancurkan kekuasaan

4

Islam tersebut adalah:

Tersebarnya Islam di seluruh Dunia “Islam akan mencapai wilayah yang dicapai siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah yang mewah maupun yang sederhana kecuali akan memasukkan agama ini ke dalamnya…” (HR. Ahmad).

Eropa akan dikuasai Umat Islam Abdullah bin Amru bin Ash mencatat hadits dari Rasulullah yang ditanya, “Kota mana yang akan lebih dahulu dibebaskan Islam, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Herakliuslah (Konstan-


tinopel / Istambul) yang akan dibebaskan terlebih dahulu!” Nubuwwah tersebut terbukti pada Abad ke-9 Hijriyah, bertepatan dengan abad ke-15 Masehi. Tepatnya pada hari Selasa, 20 Jumadil Ula 857 H / 29 Mei 1453 M. Pembebasan Konstantinopel pada saat itu dipimpin oleh seorang Komandan muda Utsmani berusia 23 tahun yang bernama Muhammad bin Murad atau dikenal juga dengan sebutan Muhammad Al-Fatih. Saat ini kita masih menunggu nubuwwah kedua yaitu dibebaskannya Roma (Italia). Insya Allah negeri ini akan segera kita kuasai. Syaikh Yusuf Qaradhawy menduga pembebasan Roma ini akan terjadi dengan perantaraan pena dan diplomasi. Wallahu a’lam.

Meluasnya kekuasaan Islam di Timur dan Barat “Sesungguhnya Allah SWT telah memperlihatkan kepadaku bumi bagian timur dan bagian baratnya, dan kekuasaan umatku akan mencakup bumi yang aku lihat itu.” (HR. Muslim)

Kemakmuran Umat Islam “Hari kiamat tidak akan terjadi hingga harta umat Islam demikian melimpah dan berlebih, hingga orang yang mempunyai harta kesulitan mencari orang yang mau menerima sedekahnya, dan jika ingin memberikan hartanya kepada seseorang, orang yang akan diberikan harta tersebut berkata, ‘Aku tidak memerlukannya’” (Hadits Muttafaq ‘alahi)

harakatunã

nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian. “ (HR. Ahmad, al-Bazzar, dan Thabrani).

Kemenangan Islam atas Yahudi Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kalian akan memerangi Yahudi hingga kalian mampu memukul mundur mereka, kemudian batu akan berkata, ‘Wahai orang Islam, ini ada Yahudi di belakangku, bunuhlah dia.’” (Hadits Muttafaq alaih)

Bertahannya Kelompok Islam

Diriwayatkan dari Umar, Mughirah, Tsaubah, Abu Hurairah, Qurrah bin Iyas, Jabir, Imran bin Husain, Uqbah bin Amir, Jabir bin Samrah, dan Abi Umamah bahwa Nabi saw bersabda, “Sekelompok umatku akan terus menang atas agama yang lain, mengalahkan musuh mereka, mereka tidak terganggu oleh orang-orang yang menentang mereka, kecuali sedikit cobaan yang menimpa mereka hingga datang keputusan Allah, dan mereka terus seperti itu.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, dimanakah mereka berada?” Rasulullah menjawab: “Mereka berada di Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis.” (HR. Thabrani)

Datangnya Pembaharu Setiap Abad

“Sesungguhnya Allah mengutus bagi umat ini pada awal setiap seratus tahun orang yang memperbaharui agamanya.” (HR. Abu Daud)

Kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah “Masa kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa kekhalifahan atas manhaj kenabian, selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, kemudian datang masa kerajaan yang buruk/zalim (mulkan ‘aadhon) selama beberapa masa, selanjutnya datang masa kerajaan dictator (mulkan jabariyyan) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan (terulang lagi) khilafah ‘ala minhajin

5


harakatunã

Turunnya Al-Masih

Para ahli hadits menyebutkan bahwa hadits-hadits yang datang tentang masalah turunnya Al-Masih ini mencapai batas mutawatir. Sebanyak 40 hadits, yang terdiri dari hadits shahih dan hasan—tidak ada yang dhaif—telah disebutkan oleh Allamah Maulana Anwar al-Kasymiri dalam bukunya At-Tashriihu bimaa tawaatara fii nuzuulil masiih.

Datangnya Al-Mahdi

Dalam hadits yang sangat banyak disebutkan tentang akan datangnya seorang penguasa yang berpegang teguh dengan ajaran Islam. Ia datang setelah masa-masa kebobrokan dan kerusakan. Ia menegakkan agama Allah di muka bumi ini, dan memenuhinya dengan keadilan, sebagaimana dunia ini pernah penuh dengan kebobrokan dan kerusakan. Mengenai hal ini cukuplah kita menyimak hadits berikut, “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga dunia ini penuh dengan kezaliman, ketidakadilan, dan permusuhan, kemudian seseorang keluar dari ahli baitku yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan, sebagaimana dunia telah penuh dengan kezaliman, ketidakadilan, dan permusuhan.” (HR. al-Hakim).

Berita Kemenangan dari Sejarah

Dari sejarah perjuangan umat, kita akan dapati berita kemenangan Islam. Renungkanlah pertolongan Allah yang selalu datang ketika dibutuhkan. Perhatikanlah sejarah Hijrah, Perang Badar, dan Perang Khandaq. Cermatilah saat Allah menolong Khalifah Abu Bakar melawan kaum murtadin yang disesatkan nabi-nabi palsu (Musailamah, Sajjah, Aswad Al-Unsi, Thulaihah Al-Asadi, dll); melawan para penentang zakat. Bacalah sejarah perang Salib, dalam perang ini kaum salibis pernah menguasai Palestina selama 90 tahun, tapi kemudian munculah Imaduddin Zanki, Mahmud Asy-Syahid, dan Shalahuddin Al-Ayubi sehingga Palestina kembali dapat dikuasai. Peperangan di Mesir berakhir dengan ditawannya Louis IX di Dar Ibn Luqman

6

di Manshuriah. Kata Syaikh Yusuf AlQaradhawy hal ini mengisyaratkan bahwa umat Islam bisa saja ‘tertidur’ atau ‘sakit’, namun ia tidak akan ‘mati’, selama di dalam darah umat Islam masih mengalir darah aqidah dan selama ada orang yang memimpin mereka untuk menegakkan Laa Ilaaha Illallaah. Lihatlah bagaimana Khilafah Abbasiyah runtuh oleh Pasukan Tar-tar yang beringas hingga darah mengalir bagaikan sungai dan sungai Dajlah menghitam karena banyaknya kitab-kitab karya peradaban Islam yang dibuang ke sungai tersebut. Tapi tak lebih dari 2 tahun setelah peristiwa tersebut, terjadi 2 mukjizat Islam. Pertama, Islam dapat mengalahkan bangsa Tar-tar dalam peperangan ‘Ain Jalut yang lagendaris, di bawah pimpinan Mamluki yang saleh, Saifudin Qathiz, dan dengan bala tentara Mesir, pada tanggal 25 Ramadhan 658 H. Tepat 2 tahun setelah jatuhnya Baghdad. Padahal bangsa-bangsa di dunia pada saat itu menganggap bahwa pasukan Tar-tar adalah pasukan yang tak terkalahkan. Kedua, Bangsa Tar-tar yang menjajah menjadi pemeluk agama bangsa yang dijajahnya. Pada zaman modern kita menyaksikan perlawanan heroik melawan penjajahan yang digerakkan umat Islam di atas semangat jihad, Abdul Qadir al-Jazairi di Aljazair; Amir Abdul Karim al-Khatabi di Maroko; Umar Mukhtar di Libya; Syaikh Izuddin al-Qassam di Palestina. Bernard Lewis dalam bukunya Barat dan Timur Tengah, mengakui bahwa gerakan-gerakan keagamaanlah penggerak berbagai perang

Saat ini kita masih menu “dibebaskannya Roma (Italia

segera kita kuasai. Syaikh pembebasan Roma ini akan pena dan diploma


kemerdekaan di seluruh negeri-negeri Islam melawan penjajah.

Berita Kemenangan dari Realita

Jika sekilas memandang, tak dapat dipungkiri, umat Islam kini memang ‘berpenyakit’; Islam menjadi lemah karena orang-orang yang berlebihan dalam agama dan orang-orang yang meninggalkannya sama sekali. Tauhid melemah ditandai dengan munculnya fenomena kemusyrikan di manamana; keberagamaan melemah ditandai dengan banyaknya umat yang meninggalkan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya; muncul pula tasawuf-tasawuf yang menyimpang dari syariat; tradisi Islam yang pokok melemah, sementara kekakuan yang merupakan warisan periode fanatik dianggap ajaran Islam; lemah pula akal islami untuk berkarya bagi peradaban, malah menjadi konsumen pemikiran orang lain; akhlak Islam yang pokok juga melemah; dusta, khianat dan keserakahan menjadi pemandangan biasa; kezaliman merajalela; budaya syura nyaris ditinggalkan.

Antara Kemarin dan Hari ini Tetapi ketimpangan ini tak akan berlangsung lama, insya Allah. Bila kita jeli melihat kondisi umat ini, nampaklah kepada kita umat kini tengah bangkit dari keterpurukannya. Dalam bukunya Trend Islam 2000, Murad Hoffman mengemukakan hal tersebut. Dia melihat ‘sedikit optimisme’ setelah membandingkan anta-

unggu nubuwwah kedua yaitu a). Insya Allah negeri ini akan h Yusuf Qaradhawy menduga n terjadi dengan perantaraan asi. Wallahu a’lam.

harakatunã

ra kondisi umat di abad ini dengan kondisi umat di 1 abad sebelumnya. Antara lain ia mengungkapkan bahwa pada tahun 1800-an kondisi tempat-tempat suci di Makkah dan Madinah amat kotor, tidak aman, dan tersebar khurafat. Bahkan minum-minuman keras dan pelacuran terjadi di sekitar tanah Haram atau di tanah Haram itu sendiri; shalat tidak dilakukan teratur oleh para jama’ah haji. Sedangkan saat ini kondisi tersebut telah berubah total. Dulu mayoritas orientalis mempelajari Islam dengan sikap kebencian dan permusuhan. Tapi kini mulai muncul sikap empati dan menghargai.

Pada abad ini berbagai gerakan keagamaan muncul membangunkan umat. Islam masuk dalam agenda politik. Contohnya adalah gerakan al-Ikhwan al-Muslimun yang dibangun Hasan al-Banna di Mesir. Dulu Barat memprediksi Islam akan segera lenyap. Tapi kini tak ada seorang pun yang akan menduga seperti itu. Bagaimana mungkin terjadi sedangkan perkembangan Islam di Barat kini demikian cepat. Maka para Jenderal NATO memprediksi bahwa pada masa yang akan datang perseruan militer bukan lagi terjadi antara Barat dan Timur, akan tetapi antara Utara dan Selatan. Dan Islam adalah musuh yang perlahan tapi pasti akan segera muncul menjadi kekuatan penentang.

7


harakatunã

Gerakan Pembaharuan terus berlangsung

Gerakan pembaharuan ini terus bergerak tiada henti membangkitkan umat membentuk generasi Islami. Mereka mengembalikan kepercayaan manusia kepada Islam dan membangkitkan harapan mereka untuk melihat kemenangan Islam. Musuh-musuh Islam melakukan berbagai tipu daya untuk menjauhkan umat dari mereka. Tapi upaya itu tidak akan pernah berhasil. “Mereka memikirkan tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (al-Anfal: 30)

Kebangkitan Islam dan Pengaruhnya

Gerakan kebangkitan Islam telah menyebar ke Barat dan Timur, cahayanya menyebar ke negari-negeri Islam dan terus merambah ke seluruh dunia menebar hidayah. Kebangkitan Islam menggugah kesadaran akal, memenuhi hati dengan keimanan dan semangat untuk beramal.

8

Kebangkitan Islam juga menunjukkan dirinya dalam kancah pemikiran; perbaikan suluk; kebangkitan ekonomi dan politik; juga dalam medan jihad.

Kekuatan Arus Gelombang Islam

Umat Islam memiliki kekuatan iman dan kekuatan manhaj. Hal ini diperkuat Paul Schmidt dalam bukunya Islam Kekuatan Masa Depan yang menyebutkan bahwa ada tiga pilar kekuatan umat Islam, yakni (1) Kekuatan Islam sebagai agama, (2) Tersedianya sumber-sumber kekayaan alam, (3) Suburnya keturunan pada umat Islam. Menurutnya jika tiga pilar ini kokoh dan umat Islam bersatu diatasnya, maka bahaya laten Islam merupakan ancaman akan punahnya Eropa dan bangkitnya Islam menjadi pemimpin dunia. Dari uraian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa tak ada alasan lagi bagi kita untuk pesimis menatap masa depan yang cemerlang. Al-Mustaqbal li haadzad diin, masa depan adalah milik Islam, demikian kata Sayyid Qutb. (Disarikan dari Al-Mubasyiraati bintishaaril Islami, Syaikh Yusuf Qaradhawy)


lamhah tarik hiyyah

Episode Panjang Menuju Pembebasan Konstantinopel Gaung pembebasan Konstantinopel telah bergema di kalangan kaum muslimin semenjak Rasulullah SAW menyampaikan sabdanya, dari Abu Qubail, ia berkata: “Kami pernah berada di sisi Abdullah bin Amr bin al-Ash, ia ditanya: “Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” , kemudian Abdullah meminta peti kitabnya yang masih tertutup. Abu Qubail berkata: “Kemudian ia mengeluarkan sebuah kitab dari padanya. Lalu Abdullah berkata: ‘Ketika kami sedang menulis di sekeliling Rasulullah SAW tiba-tiba beliau ditanya: ‘Yang manakah diantara dua kota yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” Kemudian Rasulullah menjawab: “Kota Heraklius akan ditaklukkan terlebih dahulu, yakni Konstantinopel.” Menurut Husain hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dan terdapat di dalam AlMustadrak di beberapa tempat. Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, juga disepakati oleh Al-Bani di dalam Silsilah Al-haditsish Shahihah 1/8. Pembebasan Konstantinopel seperti yang diprediksikan Rasulullah di atas, terjadi setelah melewati masa yang amat panjang, yakni 8 abad sejak Rasulullah menyampaikan sabdanya. Berikut kami sajikan kepada para pembaca time line pembebasan Konstantinopel yang mudahmudahan semakin mengokohkan keimanan kepada Rasulullah SAW; memunculkan sifat optimisme memandang masa depan walaupun saat berada dalam kesulitan; dan menjadi inspirasi bagi gerakan Islam untuk mematangkan perencanaan dan konsisten pada sebuah program.

627 Masehi

Rasulullah SAW melayangkan surat dakwah pada kaisar Romawi, Heraklius.

629 Masehi

Terjadi perang Mu’tah yang dilatarbelakangi pembunuhan da’i-da’i Islam oleh orang-orang Ghasasanah (negara satelit Romawi). Dalam perang ini Romawi mengirim bantuan 100.000 orang pasukan dan dibantu oleh sekutunya orang-orang Qadha’ah sebanyak 100.000 orang, sehingga total pasukan berjumlah 200.000 orang, sedangkan jumlah pasukan kaum muslimin adalah 3.000 orang. Pertempuran dalam perang ini berlangsung imbang selama 7 hari. Pasukan muslim yang dipimpin Khalid bin Walid kemudian mundur teratur, langkah ini dipuji Rasulullah SAW.

9


lamhah tarik hiyyah 630 Masehi

Terjadi perang Tabuk, karena terdengar kabar bahwa Romawi telah memobilisasi pasukannya untuk menyerang Madinah. Jumlah pasukan kaum muslimin saat itu antara 30.000 sampai 50.000 orang, mereka keluar dari Madinah menuju Tabuk yang berjarak 600 km dari Madinah. Namun ketika pasukan sampai di Tabuk, pasukan Romawi telah mundur.

648 Masehi

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, atas usulan Mu’awwiyah kaum muslimin membangun armada angkatan laut sebanyak 1600 kapal. Hal ini dibutuhkan untuk pengamanan wilayah Afrika Utara yang telah dikuasai kaum muslimin, dan juga dibutuhkan untuk pembebasan Romawi. Karena tidak seperti Persia yang terkonsentrasi dalam suatu wilayah daratan, Romawi wilayahnya terletak di tiga benua yang dibatasi oleh Laut Tengah dan ibukotanya, Konstantinopel, terletak di selat yang mengantarai Laut Tengah dengan Laut Mati. Dari manapun arahnya, penyerangan ke arah Konstantinopel lewat Asia atau Afrika harus melewati laut. Oleh karena itu selain diperlukan angkatan darat yang kuat, angkatan laut akan sangat menentukan.

650 Masehi

Armada Islam yang dipimpin Abdullah bin Abu Sarah bertemu Armada Romawi di Mount Phoenix yang dipimpin Kaisar Konstantin II. Armada Romawi hancur lebur, konon 20.000 orang pasukannya

10

tewas. Pertempuran ini sangat menentukan. Selangkah lagi kaum muslimin akan menghampiri ibukota Romawi. Namun sayang, kemelut yang terjadi di Madinah akibat timbulnya fitnah terhadap Khalifah Utsman bin Affan membuat Mu’awiyah lebih tertarik mengurus persoalan dalam negeri.

668 Masehi

Pada masa kekhalifahan Mu’awiyah, kaum muslimin menyerang Romawi dengan menggunakan dua jalur, laut dan darat. Dari laut armada Islam dikerahkan ke Hellespont menuju Laut Marmara sampai ke Selat Bosporus. Dari darat, mereka menerobos Asia kecil menuju kota Chalcedon yang berada di selat Bosporus. Pasukan darat kemudian dijemput armada laut dan diseberangkan ke pantai kota benteng Konstantinopel. Namun sayang, kekuatan benteng Konstantinopel diluar perhitungan Muawiyah. Benteng itu sukar ditembus. Kesulitan lebih besar lagi ketika pasukan Romawi menggunakan senjata terbarunya yang disebut Greek Fire atau Wet Fire. Senjata ini berupa bola-bola berisi cairan naftha yang dilontarkan dan pecah sehingga bertebaran di permukaan laut. Kemudian dari atas benteng pasukan Romawi menembakkan panah api ke laut, sehingga laut pun terbakar. Pasukan muslim hancur dalam penyerbuan ini. Salah seorang sahabat yang rumahnya pertama kali dikunjungi Rasulullah ketika hijrah, Abu Ayyub Al-Anshary, syahid dan dikubur di balik dinding Konstantinopel yang kokoh itu. Berikutnya kaum muslimin menghin-


dari pengepungan langsung terhadap ibu kota Romawi, pertempuran-pertempuran darat selanjutnya selama berabad-abad diarahkan untuk menyempitkan wilayah Romawi.

717 Masehi

Maslamah bin Abdul Malik meninggal pada saat melakukan pengepungan Konstantinpel. Peristiwa ini terjadi pada masa kekhalifahan Sulaiman bin Abdul Malik (Bani Umayyah).

717 – 719 Masehi

Ini adalah masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, pada masanya pengepungan Konstantinopel terhenti, pasukan Islam ditarik mundur.

1389 Masehi

Sultan Murad I bin Urkhan menyerang semenanjung Balkan. Menaklukan Adrianapole dan menjadikannya sebagai ibukota. Dia memperluas wilayah dan menguasai Shopia ibukota Bulgaria dan Salanika ibukota Yunani. Juga mengalahkan Serbia.

1396 Masehi

Atas dorongan Paus, orang-orang Eropa bergerak ke Konstantinopel untuk menyerang Beyzid I bin Murad yang sedang melakukan pengepungan Konstantinopel. Namun pasukan besar tersebut dapat dikalahkan oleh Beyzid. Tapi Timurlank dengan pasukan Tartarnya menyerbu tempat ini. Mereka memasuki Ankara dan menghancurkan sejumlah besar pasukan Utsmaniyah. Lalu menahan Sultan Beyzid yang kemudian meninggal dalam tahanannya. Timurlank mengembalikan pemerintahan-pemerintahan Anatolia kepada pemiliknya. Pemerintahan-pemerintahan Eropa ini lalu memisahkan diri seperti Bulgaria, Serbia, dan Valacie.

1420 – 1451 Masehi

Ini adalah masa pemerintahan Murad II bin Muhammad, ia mengepung Konstantinopel dan mengembalikan seluruh pemerintahan yang memisahkan diri ke dalam perlindungan pemerintahannya. Juga berusaha mengembalikan pemerin-

lamhah tarik hiyyah

tahan-pemerintahan Eropa (Bulgaria, Serbia, dan Valachie) serta menguasai Albania.

1452 Masehi

Sultan Muhammad II memerintahkan pasukannya mendirikan benteng di pantai selat Bosporus. Benteng itu dikerjakan selama 3 bulan, lalu mereka bertahan mengepung Konstantinopel.

1453 Masehi

suatu malam arma“daPada Turki Utsmani menyusur

selat Bosporus menuju Konstantinopel. Sebanyak 70 buah kapal terpaksa diseret ke darat sejauh 5 km untuk kemudian dilayarkan lagi di laut. Romawi memang memasang rantai-rantai besar yang menghalangi perjalanan laut. Pada malam itu meriam-meriam Turki menyalak dengan dahsyatnya. Seiring kegoncangan dalam benteng, masuklah tentara Islam menyerbu. Pertempuran pecah di laut dan juga di benteng. Pagi subuh, 29 Mei 1453 M jatuhlah Konstantinopel ke tangan kaum muslimin. Pekik takbir menggema dimanamana. Terealisir sudah janji Rasulullah SAW, melalui perjalanan panjang perjuangan kaum muslimin.

Saat ini kita sedang menanti dan terus bergerak untuk merealisasikan janji Rasulullah berikutnya: Menaklukkan Roma (Italia). Insya Allah. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Wa li-Llahil hamd! 

11


tawjih

Dakwah di Lingkaran Kekuasaan

Masuk dalam lingkaran kekuasaan adalah bagian penting dari misi dakwah. Allah SWT berfirman:

ِ‫مُصَدِ ُ لقاَّذِيبَيْنَيَدَيْه‬ ‫مُبَارَك‬ ُ‫وَهَذاكَِتابٌَنأْزَلْنَاه‬ ٌ َ ّ )92 : ‫األية (اآلنعام‬..‫وَلُِتنْذِرَُأمَّ الُْقرَى وَمَنْ حَوْلَهَا‬ Inilah Kitab (alquran) yang Kami turunkan; yang diberkahi; membenarkan kitabkitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya.

Dalam ayat ini disebutkan kalimat Walitundzira ummal qura: ‘agar kamu memberi peringatan kepada ummal qura’. Ummal Qura arti harfiahnya adalah ibukota atau penduduk ibukota. Wa man haulahaa dan sekitar ibukota. Di dalam kitab tafsir disebutkan bahwa ummal qura’ itu haitsu yaskunuu fiihaa al-qadaatul muttaba’uun, dimana tinggal disana para pemimpin yang diikuti. Ini artinya Ibukota adalah pusat kekuasaan, pusat perubahan, dan pusat pengambil keputusan. Dakwah harus walitundzira ummal quraa’ agar dapat mempengaruhi pusat kekuasaan dan pusat perubahan, serta men-shibghah (mewarnai) pusat-pusat pengambil keputusan. Kenapa mesti demikian? Jawabannya adalah karena Islam menginginkan perubahan yang sistemik bukan perubahan yang parsial dan tambal sulam. Jika kita menjauhi atau bahkan membenci perjuangan dakwah menuju pusat kekuasaan, pusat perubahan dan pusat pengambil keputusan. Kita akan menjadi umat yang termarginalkan, tersisih, tidak berperan, dan tidak diperhitungkan. Umat hanya akan menjadi komoditi nonmigas di saat-saat pemilu dan pilkada, dan tidak menjadi umat yang menentukan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kondisi seperti ini perubahan sistemik tidak akan terjadi; betapapun rajinnya kita bekerja keras di tengah-tengah kaum fuqoro’ dan masaakin yang termarginalkan itu; betapapun kita kerja keras di tengah-tengah komunitas-komunitas yang tersisihkan. Gerak langkah perjuangan

12

dakwah kita harus mencapai ummal qura’. Sehingga muara alur perjuangan di tengah-tengah rakyat dan di tengah-tengah pusat kekuasaan bertemu. Untuk menghasilkan perubahan dan pembaharuan yang sistemik, yang Insya Allah bermanfaat bagi semua. Dalam ayat lain surat al-qashash ayat 59, disebutkan hal yang sama:

‫مِهَارَسُوال‬ ‫حَتىيَبْعَثَ ُأ‬ ‫ل‬ َ‫وَمَاَانَرَبُّك‬ ‫ك‬ َّ ‫مُهْلِكَْاُقرَى‬ ّ ‫فِي‬ )59 : ‫األية (القصص‬..‫يَْتُلو عََليِْهمْ آيَاتِنَا‬ Dan tidak sekali-kali Rabb-Mu membinasakan suatu negeri sehingga di ibukotanya dibangkitkan seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami.

Pengiriman Rasul sudah diakhiri dengan Muhammad SAW, akhirul anbiyaa’ wal mursalin. Tapi misi kerasulan tetap berjalan diwarisi oleh umatnya. Dan


tawjih

Taujih Bagi Kader Dakwah di Lembaga Legislatif Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

mudah-mudahan kita semua diakui oleh Allah SWT sebagai waratsatul anbiyaa ‘ wal mursalin. Yang mengemban risalah Islamiyah. Bukan hanya di tengah-tengah masyarakat, tapi juga fii ummiha. Yatluu ‘alaihim aayaatinaa di pusat-pusat kekuasaan, pusat kekuatan, pusat perubahan dan pusat pengambil keputusan. Kita –yatluu ‘alaihim aayaatinaamembacakan ayat-ayat Allah; menyampaikan hidayah Allah, menyampaikan hidayah rasulullah. Sehingga Insya Allah bangsa dan Negara ini bisa berubah secara substantive, bisa berubah secara sistemik.

Kader Dakwah & Lembaga Legislatif

Kader dakwah harus masuk ke lembaga legislatif, walaupun ia tahu isinya macammacam orang, macam-macam kepentingan, macam-macam ideologi, macammacam kelakuan. Lembaga ini hendaknya dijadikan laboratorium pengembangan diri kader dakwah untuk menjadi rijalud

daulah; menjadi negarawan dan negarawati. Selain itu, di lembaga legislatif kader dakwah hendaknya mempunyai peran advokasi; membela kepentingan rakyat, kepentingan dakwah, dan kepentingan umat. Mereka harus menjadi payung politik bagi seluruh aktivitas keislaman yang dilakukan oleh jama’ah, partai, ormas, dan yayasan manapun. Jangan pilih-pilih ormas ini – ormas itu, madzhab inimadzhab itu, kecuali yang disepakati oleh ahli sunnah wal jama’ah sebagai kelompok yang sesat. Kader dakwah di lembaga legislatif juga memiliki peran sebagai penterjemah. Sebagaimana kita ketahui, aturan-aturan, produk-produk legislative, undang-undang dasar, perundang-undangan, dan perda-perda, biasanya menggunakan kalimat-kalimat umum. Maka disinilah kader dakwah berperan menerjemahkan kalimat-kalimat umum itu untuk kepentingan Islam dan muslimin! Terjemahkanlah untuk kepentingan umat! Terjemahkanlah untuk kepentingan dlu’afa! Para kader dakwah harus menjadi mutarjimun ijaabiyyun (penterjemah positif) dari undang-undang, perda, dan produk-produk legislasi. Berikutnya, para kader dakwah harus berperan sebagai iron stock dari umat ini. Kita membutuhkan kader-kader negarawan-negarawati yang siap mengelola supra struktur dan infra struktur Negara. Kita butuh kader-kader perjuangan Islam ini di semua level penyelenggara Negara. Para kader dakwah harus menjadi yang paling terdepan. Terakhir yang harus dicamkan para kader dakwah di lembaga legislatif adalah bahwa mereka memiliki peran investigative. Mata dan telinga mereka harus melihat dan mendengar lebih banyak tentang kehidupan berbangsa dan bernegara dibanding kader dakwah yang berada di luar. Gali inforamasi, kenali sikap, agenda-agenda, juga kemungkinan adanya konspirasikonspirasi yang akan merusak kehidupan berbangsa dan bernegara; merusak Islam dan muslimin, merusak dakwah atau mengancam dakwah. 

13


qurãnună

Ma’rifatul Qur’an Ta’riful Qur’an Menurut bahasa, “Qur’an” berarti “bacaan”, pengertian seperti ini dikemukakan dalam Al-Qur’an sendiri yakni dalam surat Al-Qiyamah, ayat 17-18: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. (Karena itu), jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya”.

Adapun menurut istilah Al-Qur’an berarti:“Kalam Allah yang merupakan mu’ jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad, yang disampaikan secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah”.

Kalamullah

Al-Qur’an adalah kalamullah, firman Allah ta’ala. Ia bukanlah kata-kata manusia. Bukan pula kata-kata jin, syaithan atau malaikat. Ia sama sekali bukan berasal dari pikiran makhluk, bukan syair, bukan sihir, bukan pula produk kontemplasi atau hasil pemikiran filsafat manusia. Hal ini ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam AlQur’an surat An-Najm ayat 3-4: “…dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa naf-

14

sunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)…” Tentang kesucian dan keunikan AlQur’an ini perhatikanlah kesaksian objektif Abul Walid seorang jawara sastra pada masa Nabi saw: “Aku belum pernah mendengar kata-kata yang seindah itu. Itu bukanlah syair, bukan sihir dan bukan pula kata-kata ahli tenung. Sesungguhnya Al-Qur’an itu ibarat pohon yang daunnya rindang, akarnya terhujam ke dalam tanah. Susunan katakatanya manis dan enak didengar. Itu bukanlah kata-kata manusia, ia tinggi dan tak ada yang dapat mengatasinya.” Demikian pernyataan Abul Walid.


qurãnună

Mu’jizat Mu’ jizat artinya suatu perkara yang luar biasa, yang tidak akan mampu manusia membuatnya karena hal itu di luar kesanggupannya. Mu’ jizat itu dianugerahkan kepada para nabi dan rasul dengan maksud menguatkan kenabian dan kerasulannya, serta menjadi bukti bahwa agama yang dibawanya benar-benar dari Allah ta’ala.

Al-Qur’an adalah mu’jizat “ terbesar Nabi Muhammad

tidak akan sanggup (QS. 17: 88). Selain itu, kemukjizatan Al-Qur’an juga terletak pada isinya. Perhatikanlah, sampai saat ini Al-Qur’an masih menjadi sumber rujukan utama bagi para pengkaji ilmu sosial, sains, bahasa, atau ilmu-ilmu lainnya. Menurut Miftah Faridl, banyak ayatayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia, apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (7: 158) yang hidup pada awal abad ke enam Masehi (571-632 M) Berbagai kabar ghaib tentang masa lampau (tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba’, Tsamud, ‘Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa, dll) dan masa depan pun menjadi bukti lain kemu’ jizatan AlQur’an. Sementara itu jika kita perhatikan cakupan materinya, nampaklah bahwa Al-Qur’an itu mencakup seluruh aspek kehidupan: masalah aqidah, ibadah, hukum kemasyarakatan, etika, moral dan politik, terdapat di dalamnya.

saw. Kemu’jizatannya itu diantaranya terletak pada fashahah dan balaghah-nya, keindahan susunan dan gaya bahasanya yang tidak ada tandingannya. Karena gaya bahasa yang demikian itulah Umar bin Khatthab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur’an awal surat Thaha yang dibaca oleh Al-Munazzalu ‘ala qalbi Muhamadiknya Fathimah. Abul mad saw Al-Qur’an itu diturunkan khusus keWalid, terpaksa cepat-cepat pada Nabi Muhammad saw. Sedangkan pulang begitu mendengar kalam Allah yang diturunkan kepada beberapa ayat dari surat nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw— seperti Taurat yang diturunkan kepada Fushshilat.

Karena demikian tingginya bahasa AlQur’an, mustahil manusia dapat membuat susunan yang serupa dengannya, apalagi menandinginya. Orang yang ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah ditantang oleh Allah ta’ala: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad) buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar.” (QS. Al-Baqarah: 23) Allah sendiri kemudian menegaskan bahwa tidak akan pernah ada seorang pun yang mampu menjawab tantangan ini (QS. 2: 24). Bahkan seandainya bekerjasama jin dan manusia untuk membuatnya, tetap

Nabi Musa atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa—tidak bisa dinamakan dan disebut sebagai Al-Qur’an. Demikian pula hadits qudsi tidak bisa disamakan dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan Allah ta’ala kepada Nabi Muhammad saw dengan berbagai cara : 1. Berupa impian yang baik waktu beliau tidur. 2. Kadang-kadang wahyu itu dibawa oleh malaikat Jibril dengan menyerupai bentuk manusia laki-laki, lalu menyampaikan perkataan (firman Allah) kepada beliau. 3. Kadang-kadang malaikat pembawa wahyu itu menampakkan dirinya dalam bentuk yang asli (bentuk malaikat), lalu mewahyukan firman Allah kepada

15


qurãnună beliau. 4. Kadang-kadang wahyu itu merupakan bunyi genta. Inilah cara yang paling berat dirasakan beliau. 5. Kadang-kadang wahyu itu datang tidak dengan perantaraan malaikat, melainkan diterima langsung dari Hadirat Allah sendiri. 6. Sekali wahyu itu beliau terima di atas langit yang ketujuh langsung dari Hadirat Allah sendiri.

Al-Manquulu bi-ttawaatir

Al-Qur’an ditulis dalam mushaf-mushaf dan disampaikan kepada kita secara mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang), sehingga terpelihara keasliannya. Berikut sekilas sejarah pemeliharaan Al-Qur’an sejak masa Nabi hingga pembukuannya seperti sekarang. Pada masa Nabi Al-Qur’an dihafal dan ditulis di atas batu, kulit binatang, pelapah

Al-Qur’an yang telah diterimanya. Menurut riwayat, di tahun beliau wafat, ulangan diadakan oleh Jibril dua kali. Ketika Nabi wafat, Al-Qur’an telah dihafal oleh ribuan manusia dan telah ditulis semua ayat-ayatnya dengan susunan menurut tertib urut yang ditunjukkan oleh Nabi sendiri. Berdasarkan usulan Umar bin Khattab, pada masa pemerintahan Abu Bakar diadakan proyek pengumpulan Al-Qur’an. Hal ini dilatar belakangi oleh peristiwa gugurnya 70 orang penghafal Al-Qur’an dalam perang Yamamah. Maka ditugaskanlah Zaid bin Tsabit untuk melakukan pekerjaan tersebut. Ia kemudian mengumpulkan tulisan Al-Qur’an dari daun, pelapah kurma, batu, tanah keras, tulang unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur’an.

upaya pengumpul“anDalam Al-Qur’an ini, Zaid bin Tsabit bekerja sangat teliti. Sekalipun beliau hafal AlQur’an seluruhnya, tetapi masih memandang perlu mencocokkan hafalannya dengan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan dua orang saksi. Selanjutnya, Al-Qur’an ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaranlembaran yang diikatnya dengan benang, tersusun menurut urutan ayatayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan Rasulullah saw.

tamar dan apa saja yang bisa dipakai untuk ditulis. Kemudian setahun sekali Jibril melakukan repetisi (ulangan), yakni dengan menyuruh Nabi memperdengarkan

16

Pada masa Utsman terjadi ikhtilaf tentang mushaf Al-Qur’an, yakni berkaitan dengan ejaan, qiraat dan tertib susunan surat-surat. Oleh karena itu atas usulan Huzaifah bin Yaman, Utsman segera membentuk panitia khusus yang dipimpin Zaid


bin Tsabit beranggotakan Abdullah bin Zubair, Saad bin Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk melakukan penyeragaman dengan merujuk kepada lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ditulis pada masa khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh Hafsah, isteri Nabi saw. Al-Qur’an yang dibukukan oleh panitia ini kemudian dinamai “Al-Mushaf ” dan dibuat lima rangkap. Satu buah disimpan di Madinah—dinamai “Mushaf AlImam”—dan sisanya dikirim ke Mekkah, Syiria, Basrah dan Kufah. Sementara itu lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ditulis sebelum proyek ini segera dimusnahkan guna menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf, satu bacaan , dan satu tertib susunan surat-surat.

Al-Muta’abbadu bitilawatih Membaca Al-Qur’an itu bernilai ibadah. Banyak sekali hadits yang mengungkapkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah

qurãnună

merupakan bentuk ibadah kepada Allah yang memiliki banyak keutamaan, diantaranya adalah: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah akan memberi pahala kepadamu karena bacaan itu untuk setiap hurufnya 10 kebajikan. Saya tidak mengatakan kepada kalian bahwa ‘Alif-Laam-Mim’ itu satu huruf, tetapi ‘alif ’ satu huruf, ‘Laam’ satu huruf dan ‘Miim’ satu huruf ” (HR. Hakim). “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi cahaya bagimu di bumi dan menjadi simpanan (deposito amal) di langit.” (HR. Ibnu Hibban). “Orang yang mahir dalam membaca AlQur’an bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan barangsiapa membaca AlQur’an, sementara ada kesulitan (dalam membacanya), maka baginya dua pahala. “ (HR. Bukhari & Muslim).

‫َتعْ ِريـفُ اْ ُلقرْآ ِن‬ ِ‫َكالَم ُ اهلل‬

ِ ْ‫َامل‬ ُ‫ــُعْجز‬

Bٍ‫ـُنَزَّلعَلىََقلْ ِبمُحَمَّد‬ ُ ْ‫َامل‬

‫ـوَات ِر‬ ُ ‫َاملْـَْتُق‬ َ ‫وْل بِا َّلت‬

‫الْ ُـقـرْآن‬

ِ‫لاِوَتـِه‬ َ ‫َاملْــَُتعَبَّدُ بِت‬ 17


sunnah

Keutamaan Sholat Berjama’ah Salah satu sunnah Nabi SAW yang seringkali kurang diindahkan oleh umat Islam adalah shalat berjamaa’ah di masjid. Kurangnya perhatian umat Islam pada sunanul huda ini telah mencapai tingkat yang memprihatinkan. Karena bukan hanya kalangan awam saja yang meninggalkannya, tapi juga tidak sedikit kalangan khusus— santri, ustadz, dan tokoh agama—yang meninggalkannya. Padahal jika kita simak berbagai hadits Nabi Muhammad SAW, tentu akan kita dapati perhatian yang demikian kuat dari generasi terbaik itu pada ibadah sunnah muakkad ini. Shalat berjama’ah di masjid amat ditekankan perintahnya oleh Rasulullah SAW. Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah,

‫رَسُول‬ ‫ يا‬: ‫ فَق َال‬، ‫رَجُل أعْمَى‬ َ ٌ B َّ‫ َأَتى النيب‬: ‫َق َال‬ ِ ْ‫ لَيسَ لِي َقائِدٌ ُيَقودُنِي إىل ال‬، ِ‫اهلل‬ ‫ َفسََأ َل‬، ِ‫مَسْجد‬

ُ‫ أنْ يُرَخِّصَ لَه‬- ‫ صلى اهلل عليه وسلم‬- ِ‫رَسُول اهلل‬ َ ‫َفَق َال‬،ُ‫َفلَّمَاوَلَّىدَعَاه‬،ُ‫َفرَخَّصَلَه‬،ِ‫َفيُصَليفِيبَيْتِه‬ ِّ . ْ‫نَعَم‬: ‫هَلَتسْمَعُ النِّدَاءَبِالصَّالَةِ ؟ )) َق َال‬ ْ (( : ُ‫لَه‬ ِ ‫ (( َف‬: ‫َق َال‬ .)‫سلم‬ ‫أجبْ ))(رواه‬ ِ ‫م‬ ُ

Ada seorang buta datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun yang menuntun saya untuk datang ke masjid”; kemudian laki-laki buta itu minta keringanan/dispensasi kepada beliau agar diperkenankan shalat di rumahnya. Nabi SAW pun mengizinkannya; tetapi ketika ia bangkit untuk pulang, beliau SAW bertanya kepadanya: “Apakah kamu mendengar panggilan untuk shalat (adzan)?”. Laki-laki buta itu menjawab: “Ya (saya mendengar)”. Nabi SAW bersabda: “(Kalau begitu)Kamu harus datang ke masjid”. Hadits di atas dengan jelas menginformasikan tentang penekanan perintah shalat berjama’ah, seorang buta sekalipun—bahkan yang tidak memiliki penuntun—tetap harus datang ke masjid jika mendengar seruan adzan.

18

Selain itu, shalat berjama’ah pun memiliki keutamaan daripada shalat sendirian. Sebuah hadits masyhur muttafaq ‘alaih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menerangkan hal ini,

،B ِ‫ أنَّ رَسُول اهلل‬: ‫عن ابن عمر رضي اهلل عنهما‬

‫ صَالَةُ الْجَمَاعَة أْف َض ُل مِنْ صَالَةِ الَْفذبِسَبْ ٍع‬: ‫َق َال‬ ْ ِّ )‫دَرَجَة (متفق علي ِه‬ َ‫وَعِشْ ِرين‬ ً َ ٌ َ

Dari Ibnu ‘Umar r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah


itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat”. Sungguh sangat rugi orang yang melewatkan begitu saja keutamaan ini. Wahai saudaraku, bukankah ini seharusnya yang kita kejar demi meraih keridhoan Allah SWT? Demi membuktikan kecintaan kita pada-Nya? Demi meraih kebaikan bagi kehidupan kita? Takutlah kepada Allah, karena sifat malas shalat berjama’ah di masjid—khususnya shubuh dan isya—adalah ciri orang munafik. Hal ini dijelaskan sendiri oleh beliau,

sunnah

merangkak…” Oleh karena itu marilah kita berupaya sekuat tenaga menghidupkan sunnah shalat berjamaah ini. Agar keislaman kita terpelihara dan terhindar dari kesesatan serta kemunafikan. Sahabat Nabi SAW, Abdullah bin Mas’ud berkata,

َ ‫ مَنْ سَرَّهُ أنْ يَلَْقى ا‬: ‫ َق َال‬، d ‫وعن ابن مسعود‬ ‫هلل‬

ِ‫يُحَافِظعََلىهؤُ َالءِالصََّلوَات‬ ْ ْ‫َفل‬،‫َتعَالَىغدًامُسْلِمًا‬ َ ‫َفإنَّا‬،َّ‫حَيْثُيُنَادَىبِِهن‬ ‫صلىاهلل‬-‫هللشَرَعَلِنَِبيِّكم‬

ِ ْ‫وَإنَّهُنَّ مِن‬،‫سُنَنَ اهلُدَى‬-‫عليهوسلم‬ ،‫سُنَناهلُدَى‬ ُ‫وَلَوْأنَّ ُكمْصَلَّيُْتمْيفبُيُوتِكمكَمَايُصَليهذااُملَت َخلف‬ ُ ِّ ‫سُنَّةِب‬ ُ ‫فِيبَيْتِهِلََترَْكُتمْسُنَّ نَةِب‬ ‫يِّكم‬ َ‫وَلَوَْترَِّْكُتمْ ن‬،ْ‫يِّكم‬ ُ‫عَنْهَاَّالمُنَافِقٌمَعُْلوم‬ ‫وَلََقدْرَأيُْتنَاوَمَايََت َخلَّفُ إ‬،ْ‫لَ َضَللُْتم‬

َ‫))بَيْن‬2((‫يُهَادَى‬،ِ‫لرَّجُليُؤَتىبه‬ ُ ‫وَلََقدْكَانَا‬،ِ‫النَِّفاق‬

َ ِ ‫الرَّجَُل‬ . ) ‫سلم‬ ‫(رواه‬. ِّ‫حَتى يَُقامَ يف الصَّف‬ َّ ‫يْن‬ ِ ‫م‬ ُ َ ُ

‫ (( لَيْسَ صَالَةٌ أثَْق َل عََلى‬: B ِ‫ قال رَسُول اهلل‬: ‫َق َال‬ ‫وَلَوْيَعَْلمُونَمَا‬،ِ‫اُملنَافِقِنيَمِنْصَالَةِلاَفجْ ِروَالعِشَاء‬ ْ )‫فِيِهمَا َألَتوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا )) (متفق علي ِه‬ ََ ٌ

“Tidak ada shalat—berjama’ah—yang dirasakan berat oleh orang munafik, kecuali shalat fajr (shubuh) dan isya. Seandainya mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada keduanya, pasti mereka akan mendatangi keduanya walaupun harus

“Siapa saja diantara kalian yang ingin bertemu dengan Allah SWT sebagai muslim maka ia harus benar-benar menjaga shalat-shalat ketika terdengar suara adzan. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi SAW sunanul huda (tuntunan-tuntunan yang penuh petunjuk) dan sesungguhnya shalat jama’ah itu termasuk sunanul huda. Seandainya kalian shalat di rumahmu sebagaimana kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah, niscaya kamu sekalian telah meninggalkan sunnah Nabi, dan seandainya kamu sekalian meninggalkan sunnah Nabi, niscaya kamu tersesat. Sungguh pada masa Nabi tiada seorang pun tertinggal dari shalat berjama’ah kecuali orang munafik yang jelas-jelas munafik. Sehingga terjadi ada seorang (sahabat) dipapah oleh dua orang sehingga ia bisa berdiri pada salah satu barisan” (HR. Muslim). Mari saudaraku, tekadkan dalam hati untuk selalu menjaga shalat berjama’ah di masjid. Jangan lupa ajak keluarga dan tetangga-tetangga kita untuk melaksanakannya. Insya Allah dengan sunnah ini umat Islam akan menjadi umat yang solid; terpelihara rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuannya. Semoga. 

19


fiqih

Sejarah Pembentukan Hukum Islam Periode Rasul Periode Rasul merupakan masa awal pembentukan hukum Islam. Pada periode yang tidak berlangsung lama inilah—lebih kurang 22 tahun—terwariskan dasar-dasar pembentukan hukum yang sempurna. Periode ini terdiri dari dua fase yang berbeda: Fase pertama, yaitu masa Rasul di Mekah, lamanya 12 tahun, lebih beberapa bulan, sejak kerasulan beliau hingga hijrah ke Madinah. Pada fase ini belum ada arahan pembentukan hukum amaliyah dan penyusunan undang-undang perdata, perdagangan, keluarga, dsb. Ayat-ayat Qur’an yang turun pada masa itu sebagain besar berbicara tentang aqidah, akhlak, suritauladan dan sejarah perjalanan orang-orang terdahulu. Dalam tinjauan historis hal ini dapat kita fahami karena pada fase ini fokus perhatian Rasul adalah pada pengenalan prinsip-prinsip Islam, mengajak orang bertauhid dan meninggalkan penyembahan berhala, serta berusaha menyelamatkan para pengikut Islam dari orang-orang yang merintangi dakwah. Kaum muslimin pada saat itu masih lemah secara kuantitas dan belum memiliki pemerintahan sendiri. Fase Kedua, yaitu sewaktu Rasul berada di Madinah, lamanya hampir 10 tahun, sejak hijrah beliau hingga wafatnya. Dalam fase ini, Islam benar-benar telah tegak dengan kuantitas pengikut yang besar dan memiliki pemerintahan sendiri. Kebutuhan pembentukan hukum dan penyusunan undang-und a n g

20

menjadi sebuah keniscayaan untuk mengatur hubungan internal, eksternal, baik dalam keadaan perang maupun damai. Oleh karena itu, di Madinah telah disyariatkan hukum perkawinan, talak, waris, utang piutang, dsb. Dan surah-surah Madaniyah (surah-surah yang turun setelah hijrah) banyak mengandung ayat-ayat hukum, selain ayat-ayat aqidah, akhlak dan kisah-kisah.

Wewenang pembentukan hukum dalam periode ini

Dalam periode ini, wewenang pembentukan hukum sepenuhnya berada di tangan Rasul. Apabila kaum muslimin dihadapkan pada suatu permasalahan, mereka segera menyampaikannya pada Rasul. Beliau sendiri yang langsung menyampaikan fatwa hukum, meneyelesaikan sengketa, dan menjawab berbagai pertanyaan. Keputusan hukum tersebut kadang-kadang dijawab oleh ayat-ayat Qur’an yang diwahyukan kepada Rasul, dan kadang-kadang beliau berijtihad. Apa yang datang dari Rasul menjadi hukum bagi kaum muslimin dan menjadi undang-undang yang wajib ditaati, baik yang datangnya dari Allah maupun dari ijtihad beliau sendiri.


Namun ini bukan berarti pintu ijtihad tertutup sama sekali bagi selain Rasul. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa sebagaian sahabat telah berijtihad di masa hidup Rasulullah. Ali bin Abi Thalib diberi arahan oleh Nabi cara memutuskan hukum ketika diutus ke Yaman untuk menjadi hakim. Muadz bin Jabal pun sebelum diutus ke Yaman pernah ditanya oleh Nabi: “Dengan apa engkau akan mengambil keputusan, apabila dihadapkan kepadamu suatu masalah yang tidak engkau temukan di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul?”, Muadz menjawab: “Aku akan berijtihad dengan pendapatku”. Rasul kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah, yang telah menyesuaikan utusan Rasulullah dengan apa yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya.” Amr bin Ash pada suatu hari pernah diperintah oleh Nabi dengan sabdanya: ”Putuskanlah perkara ini!” . Amr bertanya: ”Apakah kau akan berijtihad, sedangkan engkau ada ya Rasulullah?”. Rasul menjawab: “Ya! Kalau engkau benar, maka engkau akan memperoleh dua pahala, dan kalau salah, maka akan memperoleh satu pahala.” Meskipun demikian, kewenangan para sahabat untuk berijtihad adalah hanya pada situasi-situasi khusus dan sifatnya dalam rangka tathbiq (penerapan / pelaksanaan hukum) dan tidak dalam rangka tasyri’ (pembentukan / pembuatan hukum). Di samping itu hasil ijtihad para sahabat tentang suatu masalah tidaklah menjadi ketetapan hukum bagi kaum muslimin secara umum atau mengikat mereka, kecuali ada ikrar (legalisasi) dari Rasul.

Sumber pembentukan hukum Sumber pembentukan hukum dalam periode Rasul ini ada dua, yaitu: wahyu ilahi dan ijtihad Rasul (ijtihad nabawi). Jadi apabila datang permasalahan diantara kaum muslimin yang membutuhkan ketentuan hukum (terjadi sengketa, pertanyaan, atau permohonan fatwa), ada dua kemungkinan yang akan terjadi: Pertama, Allah menurunkan wahyu kepada nabi untuk menetapkan keputusan. Contohnya adalah turunnya wahyu untuk menjawab pertanyaan sahabat tentang:

fiqih

perang di bulan haram (2: 217) dan tentang arak dan judi (2: 219). Kemungkinan kedua adalah suatu hukum diputuskan dengan ijtihad nabawi. Ijtihad ini pun pada suatu waktu merupakan ta’bir ilham Ilahi yang diberikan Allah kepada nabi, dan di waktu yang lain praktis merupakan hasil dari kesimpulankesimpulan yang beliau ambil sendiri dengan berorientasi kepada kemaslahatan.

ijtihadi“yahHukum-hukum yang nabi tidak mem-

peroleh ilham dari Allah, yakni yang bersumber dari pandangan pribadi beliau disebut hukum nabawi; hukum ini tidak akan diakui Allah, kecuali kalau ternyata benar. Jika ternyata salah, maka Allah akan mengadakan pembetulan.

Contoh nyata mengenai hal ini adalah peristiwa penetapan hukum bagi tawanan perang Badar. Saat itu belum ada syariat tentang tawanan perang, karenanya nabi berijtihad dengan memusyawarahkan hal ini dengan para pembesar di kalangan sahabat. Abu bakar memberikan pandangan agar para tawanan itu dikenakan tebusan sebagai imbalan pembebasannya, “Mereka adalah kaummu dan kerabatmu, biarkanlah mereka tetap hidup, barangkali Allah menerima taubat mereka, lalu ambilah fidyah dari mereka, yang berfungsi memperkuat sahabat-sahabatmu.”, demikian pendapat Abu bakar. Sedangkan Umar bin Khattab berpendapat bahwa para tawanan itu harus dibunuh, “Mereka telah membohongi dan mengusir engkau, maka hadapkanlah mereka kemari dan penggallah leher-leher mereka, mereka adalah tokoh-tokoh kafir, sedangkan Allah akan memberimu kecukupan bukan dari uang tebusan.”, demikian alasan Umar. Rasulullah kemudian lebih memilih pendapat Abu Bakar, yang kemudian ternyata Allah mengadakan pembetulan

21


fiqih

dengan turunnya ayat: “Tidak patut ada beberapa tawanan bagi nabi, sehingga ia pecah belahkan (musuh) di bumi; kamu suka kepada harta benda dunia, padahal Allah menghendaki (pahala) akhirat.” (QS. Al-anfal: 67). Contoh lain berkaitan dengan ijtihad nabawi yang diralat firman Allah adalah peristiwa pemberian izin Nabi kepada beberapa orang untuk tidak turut dalam peperangan Tabuk dengan alasan adanya udzur. Allah mengadakan pembetulan keputusan Nabi tersebut dengan menurunkan firman-Nya: ”Allah memberi maaf kepadamu, mengapa engkau izinkan mereka, sebelum nyata bagimu orang-orang yang benar, dan (sebelum) engkau tahu orang-orang yang berdusta?” (QS. At-taubah: 43).

demikian da“patDengan disimpulkan bahwa

perhitungan pribadinya yang berorientasi pada kemaslahatan, dan juga musyawarah dengan para sahabat. Adapun prinsip-prinsip umum yang menjadi landasan pembentukan hukum, secara garis besar ada 4 prinsip:

Berangsur-angsur (tadarruj) Proses pembentukan hukum Islam terjadi secara berangsur-angsur. Hukumhukum syariat tidak datang secara sekaligus berbentuk undang-undang, ia datang bertahap mengikuti berbagai peristiwa dan kejadian. Tadarruj ini memiliki hikmah sebagai berikut: a. Memudahkan ummat dalam mengenal materi demi materi undang-undang yang mengatur kehidupannya. b. Memudahkan ummat dalam memahami masalah-masalah hukum secara sempurna. c. Menjadi ilaj (obat) untuk memperbaiki jiwa-jiwa yang keras agar siap menerima taklif agama tanpa bosan, kesulitan atau keengganan.

pembentukan hukum pada periode Rasul ini dapat dikatakan seluruhnya Menyedikitkan peraturan-peraturadalah bersumber dari an Allah, meskipun ada ijtiKelahiran hukum-hukum syariat adalah semata-mata karena adanya kebutuhan had Rasul. Karena pada manusia dalam menjamin kemaslahatanakhirnya keputusan tetap nya, maka seyogyanya pembentukan huharus sesuai dengan apa kum-hukum itu dibatasi menurut relevanyang dikehendaki Allah. si kebutuhan dan kemaslahatan manusia. Qur’an dan Sunnah melarang memperJika ijtihad itu benar Allah banyak pertanyaan yang menyebabkan akan membiarkannya, dan menjadi ketetapan hukum. Allah SWT berfirman: (QS. Al-Maidah: jika salah maka akan segera 101) mendatangkan pembetulan Rasulullah bersabda: atau ralat. ”Yang paling besar dosanya bagi orang Pedoman pembentukan hukum pada periode ini

Dalam upaya memberikan keputusan hukum yang merujuk kepada sumbersumber tasyri, Rasulullah selalu menunggu datangnya wahyu sebelum memutuskan sesuatu; dan kalau ternyata wahyu tidak turun, beliau menyadari, bahwa persoalannya telah diserahkan kepada ijtihad beliau dengan berlandaskan kepada undang-undang Ilahi dan jiwa tasyri, serta

22

Islam terhadap orang Islam, adalah orang bertanya-tanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan bagi kaum muslimin, kemudian diharamkan terhadap mereka karena pertanyaannya”. Beliau juga bersabda: ”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kamu sia-siakan, dan telah meletakkan pembatasan-pembatasan, maka janganlah kamu melampauinya, dan telah mengharamkan


beberapa perkara, maka janganlah kamu melanggar, dan telah mendiamkan beberapa perkara, sebagai rahmat atas kamu dan bukan karena lupa, maka janganlah kamu mencari-carinya.”

Mempermudah dan memperingan (taisir dan takhfif)

Prinsip memberikan kemudahan dan keringanan adalah karakter syariat Islam yang sangat menonjol. Allah SWT berfirman: “Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran” (QS. 2:185). Allah juga berfirman: “Allah hendak meringankan (keberatan) dari kamu, manusia itu dijadikan (bersifat) lemah.” (QS. An-Nisaa: 28). Di firman-Nya: ”Dan tidak dijadikan bagi kalian dalam agama satu perkara yang berat.” (QS. AlHaj: 78). Dalam hadits shahih diriwayatkan bahwasanya apabila dipilihkan kepada nabi dua hal, maka Nabi mesti memilih yang lebih mudah diantara keduanya, asal saja tidak mengandung dosa. Dalam syariat Islam, jika ada situasi-situasi khusus, dimana hukum-hukum yang telah ditetapkan ternyata mengandung kesulitan, maka sudah pasti disyariatkan rukhshah (keringanan), maka dihalalkan apa yang semula haram, manakala timbul keadaan yang memaksa. Diperbolehkan meninggalkan kewajiban apabila timbul kesulitan dalam melaksanakannya. Keadaan terpaksa, sakit, bepergian, lupa, ketidaksengajaan, ketidaktahuan, adalah hal-hal yang dianggap udzur yang menuntut adanya keringanan.

fiqih

Ka’bah. b. Perubahan ketentuan masa iddah bagi wanita yang ditinggal mati suaminya dari setahun menjadi 4 bulan 10 hari. c. Nabi pernah melarang ziarah kubur, kemudian memperkenankannya. Selain itu, syariat Islam pada masa itu juga membiarkan tradisi manusia yang ada, sepanjang tidak bertentangan dengan sendi-sendi agama dan tidak menimbulkan bahaya. Contoh: Islam membiarkan masalah kekufuan dalam perkawinan; membiarkan ikatan kekeluargaan dalam hukum waris, dll.

Peninggalan periode ini

Periode rasul ini telah mewariskan sumber tasyri pertama, yaitu wahyu Ilahi (ayat-ayat ahkam), dan ijtihad Rasul (hadits-hadits ahkam). Materi-materi himpunan nash-nash ini tidak banyak, jumlah ayat-ayat ahkam tentang ibadah dan hubungannya dengan jihad ada 140 ayat. Jumlah ayat-ayat yang berkenaan dengan muamalat, jinayat (pidana), dan persaksian, kira-kira ada 200 ayat. Semuanya tersebar dalam berbagai surah. Sementara jumlah hadits-hadits ahkam kira-kira berjumlah 4500 hadits, hal ini seperti diungkapkan oleh Ibnul Qayyim dalam A’lamul Muwaqqi’ in. Sebagian besar menjelaskan kandungan Al-Qur’an yang mujmal (global) atau sebagai taqrir (pengakuan) atau taukid (penguat). Selebihnya berupa ketentuan-ketentuan hukum yang tidak disebutkan dalam AlQur’an. 

Pembentukan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia Bukti berlakunya prinsip ini merujuk pada beberapa kenyataan yang terjadi bahwa pada suatu saat Allah telah menentukan hukum sesuatu, kemudian dinyatakan tidak berlaku lagi, karena dipandang tidak relevan lagi dengan kemaslahatan manusia, contohnya: a. Perubahan ketentuan kiblat dari baitul Maqdis ke Baitullah,

23


Nasihat

Orang Mu’min Tidak Mungkin Berdusta َ‫يُطبَعُ الْمؤُمِنُ عََلى الْ َخلاَ ِل ُكلِهَا اِلاَّ اْخلِيَانََة وَاْ َلكذِب‬ ْ ِّ semua watak/sifat-sifat, kecuali khianat “Orang mu’min (pada dasarnya) diberi dan dusta.” (HR. Ahmad).

ُ ‫قِيللَهَُأ‬ ُ ‫قِيللَهَُأ‬ ُ ‫َأ‬ ََ‫َذابًاَفَق َاللا‬ َ ‫يَكونُالْمُؤْمِنُبَخِيلاًَفَق َالنَعَمَْف‬ َ ‫يَكونُالْمُؤْمِنُجَبَانًاَفَق َالنَعَمَْف‬ َّ ‫يَكونُالْمُؤْمِنُك‬

“Apakah ada orang mu’min yang pengecut?” Nabi bersabda: “Ada.” Beliau ditanya lagi: “Apakah ada orang mu’min yang kikir?” Beliau bersabda: “Ada” Kemudian ditanya lagi: “Apakah ada orang mu’min yang pendusta?” Beliau menjawab: “Tidak ada.” (HR. Imam Malik)

‫بَة‬ َ ‫عَال‬ َ ‫مَنْ َق َال لِصَِبيّ َت‬ ٌ ‫كِذ‬ ْ َ‫هَاك ُثمَّلَمْ يُعْطِهِ فِِهي‬

“Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil: ‘Kemarilah, kuberi ini’ Kemudian tidak memberi, maka dia itu telah berdusta” (HR. Ahmad)

ِ ‫وَسَطِْا‬ َ‫رَكَلكذِبَوَإِنْكَان‬ ‫ل‬ ‫رَكلِمرَاءَوَإِنْكَانَمُحِقًّاوَبِبَيْتٍفِي‬ ‫نَأَازعِيْمٌبِبَيْتٍفِي ِلْا‬ ْ‫جَنَّةِملَنَْت َا‬ ْ‫رَبَضجَنَّةِلِمَنَْت َا‬ ُ‫مَا ِزحًا وَبِبَيْتٍ فِي َأعَْلى اْ َجلنَّةِ لِمنَ حَسُنَ خُُلُقه‬ ْ “Saya dapat menjamin suatu rumah di kebun sorga untuk orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia benar. Dan menjamin suatu rumah di pertangahan sorga bagi orang yang tidak berdusta meskipun bergurau. Dan menjamin satu rumah di bahagian yang tinggi di sorga bagi orang yang baik budi pekertinya. (HR. Abu Daud)

‫رُك اْ َلكذِبَ فِي اْلِمزَا ِح وَاْلِمرَاءَ وَاِنْ كَانَ صَادًِقا‬ َ ‫حَتى يَْت‬ َّ ُ‫لاَ يُؤْمِنُ اْلعَبْدُ اْإلِيْمَانَ ُكلَّه‬ “Tidak sempurna iman seorang hamba, sehingga ia meninggalkan dusta di dalam kelakar dan meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar.”

ِ‫َذبَ اْلعَبْدُ َتبَاعَدَ عَنْهُ اْ َملَلكُ مَيْلاً مِنْ فَِت ِن مَاجَاءَ بِه‬ َ ‫إَِذا ك‬ “Apabila seseorang manusia berdusta, maka malaikat menjauh satu mil, karena terasa ada bau busuk yang dibawanya” (HR. Turmudzi).

24


‘aqidatuna

Yahudi, Nasrani, dan Islam: Sama Tapi Beda Yahudi, Nasrani, dan Islam itu sama…tapi beda. Persamaan ketiga agama ini setidaknya diakui oleh tokoh Yahudi dan Nasrani pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup. Yahudi dan Islam itu sama tapi beda Diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika turun ayat 85 surat Ali Imran,“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”, berkatalah orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad SAW, “Sebenarnya kami ini muslimin (orang-orang Islam)”. Mendengar ungkapan kaum Yahudi tersebut, Nabi Muhammad bersabda: “Allah telah mewajibkan kaum muslimin berhaji ke Baitullah”. Orang-orang Yahudi itu menyanggah: “Tidak diwajibkan (berhaji ke baitullah) kepada kami”. Saat itu turunlah firman Allah SWT, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim ; barangsiapa memasukinya (Baitullah) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu)

dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 96-97).

Nasrani dan Islam itu sama tapi beda

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab At-Thabaqat yang bersumber dari al-Azraq bin Qais, bahwa ketika Uskup Najran dan wakilnya menemui Nabi Muhammad SAW dan mendengar penjelasan beliau tentang agama Islam, mereka berkata: “Kami telah lebih dahulu masuk Islam sebelum Anda”. Nabi SAW bersabda: “Kalian telah berdusta, karena ada tiga hal yang menghalangi kalian masuk Islam, yaitu: Kalian mengatakan bahwa Tuhan mempunyai anak; Kalian makan daging babi; dan Kalian bersujud kepada patung”. Kedua orang Nasrani itu bertanya: “Kalau begitu siapakah bapaknya Isa?”. Pada saat itu Rasulullah SAW tidak mengetahui bagaimana harus menjawabnya. Maka turunlah firman Allah SWT sebagai tuntunan kepada Rasulullah untuk menjawabnya: “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: «Jadilah» (seorang manusia), Maka jadilah dia. (apa yang telah kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (QS.

25


‘aqidatuna

Ali Imran: 59-60). Setelah mendengar firman Allah SWT ini, Uskup Najran dan wakilnya ini tetap merasa ragu dan membantahnya. Maka turunlah firman Allah SWT selanjutnya, “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka Katakanlah (kepadanya): «Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 61-62).

Kaum Yahudi menganut aqidah tauhid sebagaimana kaum muslimin, tetapi fanatisme kelompok telah menghalangi mereka beriman kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir. Padahal mereka telah mengetahui nama dan tanda-tandanya dari kitab yang ada pada mereka. Berkenaan dengan hal ini Ibnu Hatim meriwayatkan berita dari Sa’id atau Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas—sahabat Nabi SAW: Dahulu—sebelum Islam masuk ke Yastrib / Madinah—kaum Yahudi selalu berdo’a memohon pertolongan kepada Allah dengan menyebut-nyebut nama Muhammad sebagai Rasul terakhir yang disebutkan dalam kitab mereka agar dapat mengalahkan kaum Aus dan kaum Khazraj.

Muhammad SAW meng“ ajak utusan Nasrani Najran

itu melakukan mubahalah, yakni masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat berdo’a kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta, tetapi mereka tidak berani dan memilih membayar jizyah (sejenis pajak untuk jaminan perlindungan) sebagai tanda tunduk kepada pemerintahan Madinah. Ini menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW.

Yahudi, Nasrani, dan Islam itu memiliki persamaan karena satu rumpun, sama-sama agama langit yang bersumber dari firman Allah. Hanya saja dalam perkembangannya—menurut pandangan Islam—ajaran agama yang dianut Yahudi dan Nasrani telah terkontaminasi.

26

Akan tetapi setelah Allah mengutus Rasul dari kalangan bangsa Arab, mereka kufur kepadanya, dan mereka ingkari apa yang mereka katakan tentang Muhammad


SAW sebelumnya. Oleh karena itu Muadz bin Jabal, Bisyr ibnul Barra dan Dawud bin Salamah mengingatkan mereka: “Wahai kaum Yahudi! Takutlah kalian kepada Allah dan masuk Islamlah kalian, karena kalian dahulu telah minta pertolongan kepada Allah memakai nama Muhammad untuk mengalahkan kami, di saat kami musyrik (belum masuk Islam). Kalian memberi kabar bahwa sesungguhnya Muhammad akan diutus, dan kamu mengemukakan sifat-sifat Muhammad dengan sifat yang ada padanya”. Berkatalah tokoh Yahudi Bani Nadhir yang bernama Salam bin Masykam, “Dia (Muhammad) tidak memenuhi sifat-sifat yang kami kenal, dan dia bukan yang kami terangkan kepadamu”. Saat itulah Allah SWT menurunkan firman-Nya: “Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka , padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.”(QS. Al-Baqarah: 89). Sedangkan penyimpangan Nasrani menurut pandangan Islam adalah mencakup tiga hal: 1. Penyimpangan dalam konsep ketuhanan, ditandai dengan keyakinan bahwa Isa / Yesus adalah anak Allah dan menjadikannya salah satu oknum dalam trinitas. 2. Penyimpangan dalam syariat, ditandai dengan menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah. Contoh: membolehkan memakan daging babi. 3. Penyimpangan dalam peribadatan, ditandai dengan melakukan tata cara peribadatan yang tidak diperintahkan Allah. Contoh: berdo’a, tunduk, atau sujud di hadapan patung. Demikianlah, semoga kedamaian dan kesejahteraan selalu tercurah kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah. 

‘aqidatuna

27


konsultasi syari’ah Dikutip dari Buku Panduan Lengkap Ibadah Ramadhan oleh Tim Konsultan Sharia Consulting Center (SCC)

Ramadhan Sebentar Lagi… Apa yang harus kita siapkan? Pertanyaan: Assalamu’alaikum….Ustadz, kita sekarang sudah masuk bulan Rajab menjelang Sya’ban dan sebentar lagi masuk bulan suci Ramadhan. Apa yang harus kita siapkan? (Abidin 08522186XXXX) Jawaban: Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh… Saudara Abidin yang dirahmati Allah, sebagai muslim kita memang harus selalu ‘siaga ibadah’. Terlebih lagi bulan yang sedang kita jalani saat ini—Rajab dan Sya’ban—adalah bulan yang istimewa, karena menjadi pintu gerbang rajanya bulan, yakni bulan Ramadhan. Paling tidak ada 4 hal yang harus kita siapkan menjelang datangnya Ramadhan: Pertama, persiapan mental. Islam menganjurkan agar dalam melaksanakan amal salih harus didahului dengan niat. Bahkan dalam beberapa amal salih, niat itu merupakan syarat atau rukun dari amal yang akan dilaksanakan. Secara psikologis niat atau motivasi sangat membantu amal yang akan dilakukan dan member dampak yang sangat positif. Niat akan memunculkan semangat dan ketahanan seorang muslim dalam mengerjakan ibadah. Oleh karena itu niat menjadi pilar utama dalam beribadah. Ramadhan adalah bulan penuh ibadah yang akan dilakukan orang-orang beriman selama sebulan. Oleh karenanya diperlukan kesiapan mental dalam menyongsong berbagai macam bentuk ibadah tersebut, khususnya puasa, bangun malam, tarawih dan lain-lain. Tanpa persiapan mental

28

yang prima, maka orang-orang yang beriman akan cepat loyo dalam beribadah atau bahkan meninggalkan sebagian ibadah sama sekali. Kesiapan mental sangat dibutuhkan pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dan sebagainya sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusyuan ibadah Ramadhan. Padahal, kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Kedua, persiapan spiritual. Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti membaca alqur’an, shaum sunnah, dzikir, do’a dan lain-lain. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah saw mencontohkan pada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana diriwayatkan ‘Aisyah ra berkata:

ْ َ‫صَلىا ُهللعََليْهِوَسََلم‬ ‫مَل‬ ُ ُ‫وَمَارََأيْت‬ َّ ِ‫رَسُولاهلل‬ َ ‫اسْتِك‬ ‫صِيَام شهر قط إال رمضان وما رأيته يف شهر أكثر منه‬ )‫(رواه مسلم‬

‫صياما يف شعبان‬

“Saya tidak melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya


kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim) Bulan Sya’ban adalah bulan dimana amal salih diangkat ke langit. Rasulullah saw bersabda: Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya:

konsultasi syari’ah )‫(رواه البخاري ومسلم‬

ِ‫َذنِْبه‬

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan.” (HR Bukhari & Muslim)

ِ‫إ‬ ‫مَاصُوْمُمِنْشَعْبَاِن‬ ‫رَكصُوْمُمِنْشَهْ ٍرمِنَالشُّهُوْ ِرَت‬ ْ‫كَمْمِنْصَائِ لٍَميْسَلَهُمِن‬ َ‫عَطشُ وَلََأم ت‬ َ ْ‫صِيَاِمِهلاَّاْجلُوْعُوَ لا‬ ْ َ‫رَمَضان‬ )‫(رواه النسأئي وابن ماجه‬ َ َ‫يَغَف ُلالنَّاسُعَنْهُبَيْنَرَجَبَ َو‬ ْ ٌ‫َذ َاكشَهْر‬:‫َق َال‬ ِ‫“ وَهُوَشَهْرٌيُرَْفعُفِيْهِاَْأل لَُّإ‬Berapa banyak orang yang bepuasa tidak ُّ‫عْمَالىرَبِّاْلعَلَامِيْنََفُأحِب‬ mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan ‫ َانْيُّرَْفعَعَمَلِيوََنأَاصَاِئمٌ(رواهامحدوأبوداودوابنحزمية‬dahaga” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah) )‫والنسائي‬

“Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban”. Rasul saw bersabda: “Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan itu diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta. Oleh karena itu aku suka amalku diangkat sedang aku dalam keadaan puasa” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah). Ketiga, persiapan intelektual. Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dikarenakan puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka. Dua orang yang mengamalkan ibadah yang sama tidak otomatis mendapatkan hasil yang sama. Rasulullah saw menginformasikan ada dua kelompok orang yang sama-sama melakukan ibadah puasa, sedangkan hasilnya yang pertama mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukannya, sementara yang lain Cuma mendapat lapar dan dahaga. Rasul saw bersabda:

ْ‫مَاَقدَّمَمِن‬ ‫رََهُ َت‬ ‫رَمَضانَإِيْمَنًااوَاحْتِسَابًاَغَف ل‬ َ َ‫مَنْصَام‬

Keempat, persiapan Fisik dan Materi. Fisik dan materi sangat menopang ibadah di bulan Ramadhan yang dilakukan seorang muslim. Seorang muslim tidak akan mampu berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini: 1. Menyikat gigi dengan siwak (HR Bukhari dan Abu Dawud) 2. Berobat dengan berbekam (al-hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. 3. Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah saw kepada sahabat Abdullah bin Mas’ud ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut (HR Al-Haitsami) Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal, untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusyu, dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusyuan ibadah Ramadhan. Wallahu a’lam. 

29


30


kisah

Thaha Husain dan Hasan Al-Banna Thaha Husain menulis buku berjudul Mustaqbalu ats-Tsaqafah Fi Misr yang menimbulkan kehebohan di Mesir. Sebagian orang memuji dan sebagian lain mencacinya. Hasan Al-Banna—Mursyid Amm AlIkhwan Al-Muslimun—diundang untuk memberikan tanggapan terhadap buku tersebut. Lima hari sebelum acara, AlBanna mulai membaca buku yang akan dibedah tersebut di kereta setiap pulang pergi ke sekolah. Pada hari yang telah ditentukan, ia berangkat menuju kantor Syubbanul Muslimin. Ternyata kantor telah dipenuhi para ahli ilmu, sastrawan, dan tokoh pendidikan. Hasan Al-Banna kemudian naik mimbar dan mengawali pemaparannya dengan memuji Allah SWT dan membaca shalawat untuk Rasulullah SAW. Setelah itu beliau mengkritik buku dengan ungkapanungkapan yang terdapat dalam buku itu sendiri. Al-Banna mengungkap beberapa alinea buku dan menunjukkan nomor halamannya. Sementara para hadirin terkagum pada kuatnya hapalan dan kecerdasannya. Pada acara penutupan, Sekretaris Jenderal Syubbanul Muslimin memberi kabar

kepada Hasan Al-Banna, bahwa Thaha Husain ikut menghadiri pertemuan di tempat tersembunyi. Pada hari berikutnya, Thaha Husain meminta bertemu Hasan Al-Banna dan ia menyanggupi. Maka terjadilah perbincangan yang membuat Thaha Husain terkagum pada Hasan Al-Banna. Setelah itu Thaha Husain berkata, “Andai lawanlawanku seperti Hasan, tentu aku menjabat tangan mereka sejak hari pertama. Wahai Ustadz Hasan, saya mendengar kritikanmu dan terkagum padamu. Kritikan seperti ini tidak dimiliki orang lain selain engkau.� Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari penggalan kisah perjalanan dakwah Hasan Al-Banna di atas? Kisah di atas paling tidak mengandung hikmah sebagai berikut: 1. Perbedaan pendapat adalah suatu keniscayaan yang akan selalu terjadi sepanjang zaman ilaa yaumil qiyaamah. Rasa-rasanya tidak pernah dan tak akan pernah terjadi manusia di muka bumi

31


kisah

ini sepakat dalam seluruh urusannya. 2. Langkah pertama terbaik manakala terjadi perbedaan pendapat adalah membuka dialog yang sehat dan sopan, dengan didasari niat mencari pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran. 3. Tokoh dan pemimpin umat hendaknya mampu memberikan teladan kepada umat untuk bersikap dewasa dalam menghadapi perbedaan. Mereka yang berbeda pendapat seharusnya berupaya saling memahami sudut pandang dan landasan berfikirnya masing-masing, dengan begitu diharapkan substansi permasalahan dapat diketahui dengan jelas. Dengan kata lain pihak pro dan kontra hendaknya berupaya saling mengenal dan memahami argumentasi masing-masing. Bukankah seringkali terjadi kekacauan dan keributan serta debat kusir yang berkepanjangan tanpa konklusi, disebabkan masing-masing

pihak belum memahami dan atau tidak berusaha memahami argumentasi ‘lawan’? 4. Tokoh dan pemimpin umat hendaknya selalu memelihara dan meningkatkan integritas dan kapabilitas dirinya. 5. Perbedaan pendapat ‘sekeras’ apa pun sebaiknya tidak membuat seseorang kehilangan akal sehat dan kedewasaannya. Dialog jangan sampai dianggap sebagai ajang pamer otot-otot intelektual yang hasil akhirnya adalah menang atau kalah. 6. Pihak-pihak yang berbeda pendapat harus jujur kepada kebenaran, seraya menghormati kepada ‘lawan’ yang berbeda pendapat dengannya. Mereka adalah tawanan kebenaran, dimanapun kebenaran berada maka ia tunduk kepadanya. Wallahu a’lam bishawab. 

Al-Banna dalam Risalah Da’watuna

‫ففيم الخالف إذن؟ ولماذا ال يكون رأينا مجاال للنظر‬ ‫عندهم كرأيهم عندنا؟ ولماذا ال نتفاهم في جو الصفاء‬ ‫والحب إذا كان هناك ما يدعو للتفاهم؟ هؤالء أصحاب‬ ‫رسول اهلل صلى اهلل علية وسلم كان يخالف بعضهم بعضا‬ ‫ فهل أوقع ذلك اختالفا بينهم في قلوبهم؟‬،‫في اإلفتاء‬ ...‫وهل فرق وحدتهم أو فرق رابطتهم؟ اللهم ال‬

…mengapa masih harus ada perpecahan? “ Mengapa pendapat kami tidak dijadikan bahasan

oleh mereka sama seperti kami terhadap pendapat mereka? Mengapa kita tidak berusaha untuk saling memahami dalam suasana penuh cinta, jika ada banyak alasan yang mengharuskan untuk itu? Para sahabat Rasulullah saw. juga sering berbeda dalam memutuskan hukum. Tapi adakah itu kemudian memecah-belah hati mereka? Sama sekali tidak…

32


Al-Intima' edisi 01  

Ebook Al-Intima' edisi 01 // Free!! Sebarkan kebaikan!! // www.al-intima.com

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you