Issuu on Google+

Halaman



SUARA | SEPT-1-2009

SEPT - I - 1 - 2009 12 Halaman

Free, GaK Bayar, gratuit, vrij, Majaanan, Gratis, Muryo, bu yao qian, Kostenlos,

Perjuangan Demi Supremasi Intelektual MAPRES ... pastinya setiap insan mahasiswa yang sudah menjalani kehidupan kuliah, sudah mengetahui arti kata ini. Paling tidak, tahu singkatannya apa (kalau masih ada yang belum tahu, jelas ada sesuatu yang tidak beres di sini) Ya, Mapres berarti mahasiswa berprestasi. Mahasiswa dengan sesuatu yang patut dibanggakan dari jerih payahnya selama ini menimba ilmu. Mahasiswa dengan sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan setelah banyaknya dana dan upaya yang dikeluarkan orang tua untuk membiayai kuliah mereka. Mahasiswa yang menjanjikan kontribusi dan tanggung jawab maksimal kepada lingkungannya, dan bahkan kepada bangsa dan negara. Mapres melambangkan suatu supremasi intelektual, sesuatu yang harusnya menjadi target perjuangan bagi setiap mahasiswa. ‘Intelektual’ di sini bukan sesuatu yang hanya diukur dari nilai kuantitatif, atau akademis, saja. ‘Intelektual’ mencakup kemampuan si mahasiswa memberikan kontribusi kepada masyarakat, bagaimana ia mampu mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari, dan bagaimana ia mampu bereaksi terhadap kondisi sekitarnya. Sudah terlalu banyak mahasiswa yang tidak memaksimalkan potensinya, atau bahkan menyianyiakan kehidupan akademisnya. Banyak mahasiswa yang sudah cukup senang dengan hanya dapat IP yang

memadai. Banyak pula yang ikutikutan organisasi hanya agar banyak dikenal orang. Yang paling parah, banyak mahasiswa yang tidak jelas kegiatannya apa; luntang-lantung di seputar kampus tanpa menghasilkan sesuatu yang bisa berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Janganlah jadi seperti itu. KOMPETISI Kompetisi menjadi Mapres bukan sekadar kompetisi demi mengejar status, kejayaan pribadi, atau bernarsis ria. Menjadi seorang Mapres berarti pembuktian sebuah perjuangan demi supremasi intelektual; dan bahwa sebuah jalur yang penuh tantangan dan tanggung jawab telah menanti di hadapan kita. Pemilihan Mapres adalah sesuatu yang lazim diselenggarakan di setiap kampus, tidak terkecuali di universitas kita tercinta, Universitas Indonesia. Lazimnya, setiap orang yang ingin menjadi kandidat Mapres harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dengan mengumpulkan sejumlah poin. Selain IP minimal, poin didapat dari keanggotaan organisasi ataupun rekomendasi dosen. Setelah

dok.istimewa Perjuangan menjadi mapres adalah perjuangan untuk menjadi mahasiswa yang sesungguhnya.

memenuhi persyaratan, tiap kandidat Mapres lalu dituntut untuk mempresentasikan diri mereka di hadapan dewan juri, sehingga akhirnya terpilih seorang mapres. Kompetisi menjadi mapres dimulai dari level fakultas, di mana akan disaring seorang Mapres untuk mewakili fakultasnya dalam level universitas. Pemenang di level universitas akhirnya akan berhadapan dengan mapres-mapres dari universitas lainnya, dalam level nasional. Pada dasarnya, seorang mapres haruslah memiliki kemampuan

Intelektualitas Memulai dengan hal kecil dapat membawa perubahan besar jika ditekuni dengan baik. Tradisi keilmuan yang mengakar pada diri para cendekiawan muslim patut kita jadikan uswah (teladan) bagi kita guna menjadi insan yang mulia dengan berilmu.

akademis yang baik, kepribadian yang menunjang, dan soft skill yang memadai. Seorang kandidat mapres tidak bisa hanya mengandalkan IP tinggi, banyak pengalaman organisasi, atau hanya prestasi di salah satu bidang tertentu saja. Selama proses kompetisi, kandidat mapres akan diberi banyak kesempatan untuk membuktikan kemampuan dan potensinya; misalnya dengan menulis dan mempresentasikan makalah. Setelah terpilih, bukan berarti sang mapres bisa bersantai-santai

menikmati kejayaan. Justru, tanggung jawab yang akan dipikul semakin besar; mapres terpilih lazimnya akan diberi banyak kesempatan untuk mengembangkan intelektualitasnya sehingga mampu memberikan sesuatu yang bisa berguna bagi masyarakat. Ini bukan masalah prestise, ini adalah suatu ajang pembuktian untuk mengemban tanggung jawab sebagai sosok yang telah menyisihkan banyak pejuang intelektual lainnya demi menjadi perwakilan fakultas, universitas, ataupun negara. ...bersambung ke halaman 2...

Kajian Ilmu

Nashr Hamid Abu Zayd, seorang tekstual liberal berpendapat bahwa al-Quran adalah produk budaya. Menurutnya, al-Quran terbentuk dalam realitas dan budaya selama lebih dari dua puluh tahun. Al-Quran juga mengubah budaya dan oleh sebab itu al-Quran dapat dikatakan produsen budaya. dok.istimewa

dok.istimewa

Sekilas Info Tentang

Profil Dosen: Drs. Zulfikar Zen, M.A. Dosen Ilmu Perpustakaan FIB UI ini dikenal sebagai pribadi yang aktif dalam organisasi dan kegiatan, karena menurut beliau dengan berorganisasi kita dapat memberikan kontribusi untuk pembangunan bangsa ini. dok.DIPI

GUESS GUESS GUESS


 SUARA | SEPT-1-2009 SAMBUT suara

Halaman

Dari Kami, Untukmu: Pejuang Budaya! Mentari pagi belum membuka pelupuk matanya. Perlahan, lantunan azan Subuh masuk ke sumsum tulang tubuh. Menggerakkan relung jiwa untuk bersujud pada-Nya. Doa dipanjatkan, hati dimantapkan. Menatap kembali suasana langit yang gelap. Menuju kampus tercinta FIB UI. Pakaian batik tersemat kuat. Perlengkapan dan tugas telah dipersiapkan sebaik mungkin. PSA Mabim tercinta telah menyambut.

SELAMAT DATANG DI FIB. SEMOGA HARIMU MENYENANGKAN! Itulah sambutan awal untuk maba FIB di depan stasiun UI. Setelah itu, teman-teman panitia dari bagian disiplin datang menyambut. Bila maba tidak telat atau tiba tidak lebih dari jam enam maka sebuah motivasi diterima maba. Lewat dari waktu yang telah ditentukan, teriakan dan wajah menyeramkan mungkin akan menjadi santapannya.

Inilah gambaran PSA Mabim yang dilaksanakan pada tanggal 18-19 Agustus untuk maba nonreguler, dan 20-21 Agustus untuk maba reguler. Plak-plok. ”Ayo cepat Dek! Mana tugasnya? Cepetan dek!”. Rombongan manusia berbaju batik bercelana hitam berbaris rapi di depan teater daun. Teman-teman FIB bergerak penuh semangat. Panitia bagian yel-yel pun bersiap. Menyiapkan gaya sebaik-sebaiknya. Inilah dunia penuh warna. Sebuah

momen penting. Mereka yang mengaku dirinya mahasiswa baru FIB wajib datang dan berartisipasi dalam acara ini: PSA Mabim FIB UI, dengan sebuah alunan aksara: Menggenggam Beragam Makna. Kegiatan PSA dan Masa Bimbingan mahasiswa baru FIB UI merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru 2009 FIB. Acara yang berlandaskan AD/ART

Pasal 7 ayat 1-5 IKM FIB UI ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah jabatan prestisius, yaitu status anggota biasa IKM FIB UI. Demi menuju sebuah peradaban yang fenomenal dalam jalinan persaudaraan yang mengikat di antara seluruh mahasiswa FIB. Mari kita putar memori sejenak ke beberapa bulan lalu. Kepanitiaan ini –PSA Mabim—diawali dari perebutan 350

mahasiswa FIB yang ingin menjadi bagian darinya. Akan tetapi, di antara mereka harus merelakan diri tak dapat berkontribusi dalam kepanitiaan ini. Hanya 210 mahasiswa FIB yang mendapatkan sebuah anugrah ikut mengabdi menyambut datangnya pejuang baru: Pejuang Budaya. Kepanitiaan PSA Mabim tahun ini berjalan dengan sebuah semangat tinggi demi menggenggam beragam makna. Sebuah makna yang berbaur di seantero kampus budaya. Heterogenitas makna harus disatukan dalam genggaman cita-cita mewujudkan peradaban budaya yang mapan. Acara ini dari kami untuk kalian: Pejuang Budaya, untuk ikut berjuang bersama kami di kampus ini. Menyatu dalam sebuah bungkusan acara yang membumi dan meresap dalam jiwa. Makna itu bersinergi dengan nilai-nilai yang kami tanam dalam PSA untuk pejuang budaya. Meresapkan nilai seni dan sastra merupakan keniscayaan mahasiswa budaya. Menjunjung tinggi nilai-nilai keilmuan berpadu dalam tri darma perguruan tinggi menuju UI 2012: kampus riset. Bergerak bersama identitas kampus rakyat. Jaket kuning menginginkan sebuah arti kepedulian mahasiswa untuk melihat lingkungan masyarakat di sekitar dinamika sosial. Itu semua menjadi murni dan paripurna dengan sentuhan akhir nilai religius. Semua itu, pergerakan, seni budaya, keilmuan, dan religius adalah harapan kami yang tersemat dalam dada kalian. Wahai pejuang budaya, kami menunggu kalian

PROFIL MAPRES TERPILIH FIB UI 2009

Quality Time Is Better Than Quantity Time Gemilang Sinatrya Dwi Putri, itulah nama lengkap dari Mahasiswa Beprestasi FIB UI 2009 ini. Ajang pemilihan Mahasiswa Berprestasi FIB UI kali ini berlangsung dari bulan Februari hingga April 2009. Puncak dari acara ini berlangsung pada 8 April 2009 dan bertempat di Auditorium Gedung IX FIB UI. Pada awalnya, perempuan yang biasa disapa Anggy ini mengaku terkejut ketika mengetahui dirinya terpilih untuk menjadi wakil Program Studi Rusia pada pemilihan Mahasiswa Berprestasi tahun ini. Menurut pengakuannya, Anggy jarang mengikuti kompetisi di bidang akademik. ”Ke perpus aja jarang,” ujarnya. Motivasi Anggy untuk mengikuti pemilihan mahasiswa berprestasi ini adalah untuk mengukur kemampuan dirinya. “Biar asyik,” katanya. Kepada SUARA, Anggy menceri-takan beberapa tahap yang dilaluinya selama proses pemilihan Mahasiswa Berprestasi FIB UI. “Awalnya, ketika nama kami sudah terdaftar dalam pemilihan mapres, kami harus mengisi semua syarat, yaitu curriculum vitae lengkap dengan prestasi-prestasi yang pernah diraih selama 5 tahun terakhir. Selain itu, kami juga harus membuat makalah yang sesuai dengan tema, tema makalah tahun ini adalah industri kreatif,” paparnya. “Setelah itu, jika lolos seleksi kami akan masuk ke babak semifinal 12 besar. Finalis 12 besar ini berkesempatan pergi ke luar kota, waktu itu kami pergi ke Bandung. Di luar kota, kami melakukan penelitian selama 3 hari. Selain itu, kami juga

harus membuat makalah, presentasi, ujian psikotes, bahasa Inggris, hingga pentas bakat,” tambahnya kemudian. Anggy menuturkan bahwa ia belum pernah mengikuti kompetisi seperti pemilihan mapres sebelumnya. Menurut Anggy, mahasiswa berprestasi yang ditekankan di sini adalah mahasiswa yang kreatif, yang bisa menghasilkan ide-ide kreatif. “Kalau hanya secara intelligent sih semua mahasiswa bisa ikut,” katanya. Saat di panggung, Anggy berusaha untuk tidak memperlihatkan ketegangannya. Meskipun cukup tegang pada saat itu, ia berusaha untuk tenang. “Kalau sudah di atas panggung itu sudah yang Maha Kuasa yang mengatur,” ujarnya. Ada satu hal yang cukup unik pada acara final kemarin. Jarak yang sangat singkat antara presentasi dan pentas kreatif membuat Anggy sempat bingung dengan kos-tumnya, sehingga dari awal acara hingga akhir Anggy mengenakan kostum untuk pentas. “Dandanannya dangdut banget,” katanya. “Tapi saya percaya Allah pasti akan membantu,” tambahnya. Perempuan yang suka tidur dan membaca komik ini meyatakan bahwa metode belajar yang ia gunakan cukup sederhana. Ia belajar ketika mau belajar. “Percuma kalo dipaksain belajar padahal nggak mood. Quality time lebih baik daripada quantity time, jadi meski belajar 5 jam sehari tapi sambil sms atau apalah, nggak akan maksimal,” jelasnya. Saat ini, selain menjalani rutinitas hariannya seperti menulis karya popular, nge-gym, mengikuti tari

klasik di Anjungan Jawa Barat, serta siaran di radio lokal, Anggy sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat UI yang akan berlangsung pada tanggal 13-15 Mei 2009. Anggy berusaha untuk lebih serius lagi membenahi hal-hal yang masih kurang pada waktu pemilihan Mapres FIB. Anggy berharap setelah terpilih menjadi Mapres ia dapat berpikiran lebih terbuka terhadap dunia di luar kampus (dunia kerja). Ia ingin memantapkan minatnya, terutama dalam bidang menulis. Satu kalimat yang disukai Anggy adalah Fun and Metal is Fundamental. Kalimat ini merupakan motto hidupnya sekaligus pesan untuk kita semua. (Fitri, Riska)

PELINDUNG: ALLAH SWT PENASiHAT: MAS MAMAN PENANGGUNG JAWAB: HERMAWAN NURADI PEMIMPIN REDAKSI: M. REZA RAMADHANI SEKRETARIS REDAKSI: NURUL IVAR FATURAHMI KOORDINATOR EDITOR: JULIA SARAH REDAKTUR JURNALIS: FATIMAH AZ ZAHRA REDAKTUR DESAIN: WAHID NURFIANTARA FOTOGRAFER: NADYA, ISNAINI FADHILA, PENI, NIZA, LU’LU KONTRIBUTOR: M. YESA, NILA RAHMA, FATIMAH, ZAINAL C. ERLANGGA, EKA, AMANDA FERDINA PATTISAHUSIWA, MARGARETHA CHRISNA SARI, KINANTI MUNGGARENI, NUR SA’ADAH DAN FITRI A.L , RISKA, HERMAWAN NURADI, KOORDINATOR RISET: SYAMSUDIN KOORDINATOR MARKETING: NILA RAHMA

ALAMAT SEKRETARIAT SUARA, FORMASI FIB UI: MUSHOLA FIB UI/ GD. IX LT. 1 FIB UI KAMPUS UI DEPOK, TELP. EMAIL: SUARAFIB@GMAIL.COM

www.formasi-fib-ui.org Foto: Nadil


Halaman

RISET suara



SUARA | SEPT-1-2009

Sedikit (Lagi) Tentang BOP Berkeadilan

oleh Johan Rio Pemungkas Hakim Mahkamah Mahasiswa UI

Bahwa sesungguhnya mahasiswa adalah pemudapemudi yang memiliki keyakinan kepada kebenaran dan telah tercerahkan pemikirannya serta diteguhkan hatinya saat mereka berdiri di hadapan kezaliman.

Sayangnya, hal itu sudah terjadi setahun lalu, akhirnya pun BOP-B disahkan melalui SK Rektor Nomor:432A/SK/R/ UI/2008. Akan tetapi, setelah satu tahun berjalan, cita-cita dari BOP Berkeadilan ternyata tak jua terwujud. BOP Berkeadilan bahkan banyak yang memplesetkannya menjadi BOP Berkezaliman karena banyak yang dizalimi oleh hal tersebut. Entah para “ksatria” kesma yang akhirnya tidak dilibatkan dalam tim penentuan BOP untuk mahasiswa baru, entah para mahasiswa baru yang ternyata masih berkeberatan dengan vonis yang diberikan, pun para mahasiswa lama (baca: angkatan 2008) yang banding terhadap BOP-Bnya tak juga dipenuhi. Mungkin juga para pengurus BEM UI maupun BEM fakultas yang telah bekerja ekstrakeras untuk mencerdaskan masyarakat luas tetapi malah dibredel dan dicaci, atau mungkin bahkan bapakbapak dan ibu-ibu birokrat kampus yang tidak bisa tidur nyenyak memikirkan hal apa yang akan terjadi jika BOP Berkeadilan masih tidak juga memuaskan para mahasiswa. Sesungguhnya mahasiswa adalah pemuda-pemudi yang telah tercerahkan pemikirannya dan berani berdiri di hadapan kezaliman

(Kalimat Pertama dari Pembukaan Undang-Undang Dasar Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia).

...Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri...(Potongan Surat Al Kahfi Ayat 13 dan 14). Tepat satu tahun tujuh bulan lalu, tepatnya tanggal 18 Januari 2008, untuk pertama kalinya Rektor UI-yang baru dilantik tanggal 13 Agustus 2007Prof. Dr. der Soz, Drs. Gumilar Rusliwa Somantri, menyampaikan isu kenaikan Biaya Operasional Pendidikan (BOP). BOP adalah uang bayaran semesteran kita semua, selaku mahasiswa UI. Isu itu kemudian ditanggapi oleh rekan-rekan BEM UI 2008 dengan mengajak seluruh rekan-rekan pengurus BEM Fakultas—saat itu— untuk memberikan pandangannya mengenai pernyataan Pak Gumilar

Inilah kemudian yang melatari lahirnya sesuatu yang bernama “BOP-Berkeadilan”. BOPBerkeadilan ini sebetulnya tidak hanya hasil kreativitas rektorat semata. Harus diakui bahwa mahasiswa berperan besar dalam membidani lahirnya BOP-B ini. Mulai dari melakukan studi banding ke IPB, ITB, dan UGM, sampai ikut dalam rapat–rapat perumusan bersama komponen Rektorat dan Dekanat. Di sini mungkin memang ada yang salah. Sejak awal, ketika mahasiswa diminta berunding oleh Rektor dan akhirnya menyetujui Pembiayaan Berkeadilan, maka kita ucapkan selamat tinggal bagi pergerakan mahasiswa. Itulah yang saya katakan ketika dimintai pendapat mengenai BOP Berkeadilan ini setahun lalu ketika masih diamanahkan sebagai Wakil Ketua BEM FIB UI 2008. Secara

Itu HUKUM PERGERAKAN kita! Itulah kenapa kita menolak BHMN! Menolak BHP ! tentang kenaikan BOP dan opsi yang diberikan oleh beliau. Opsi tersebut antara lain, menaikkan BOP sebesar Rp 300.000,00, pembayaran dilakukan dengan sistem per-SKS, atau dengan pembayaran yang bervariasi. Untuk opsi yang ketiga menurut Rektor alasannya adalah presentase mahasiswa yang mampu membayar BOP penuh sebesar 70%, dan sisanya—yang tidak mampu membayar BOP—adalah 30%. “Tidak selayaknya ada sekelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi yang ikut menikmati rendahnya biaya pendidikan di UI”, ujar beliau saat itu.

ekonomis saya sepakat, tetapi secara gerakan hal ini bersebrangan dengan apa yang saya yakini. Kenapa? Karena konsep BOP-B ini akan bisa meng-capture pembayar dengan ability to pay yang berbeda-beda, karena dalam istilah ekonomi setiap orang punya willingness to pay yang berbeda-beda. Ada yang mampu membayar lebih, namun ada pula yang kurang, dan BOP-B adalah konsep yang ideal bagi sistem pembayaran itu. Akan tetapi, konsep ini secara gerakan sangat tidak konsisten, paradoks! Kenapa? Karena

selama ini kita selalu memperjuangkan bahwa pendidikan adalah hak seluruh warga negara dan kewajiban pemerintah untuk menjaminnya. Jika pemerintah tidak sanggup sekarang, kita harus memeperjuangkannya hingga hak-hak itu terpenuhi. Itulah yang dimaksud dengan Hukum Pergerakan kita! Itulah kenapa kita menolak BHMN! Menolak BHP! Atau yang paling ekstrim ialah menolak pencabutan subsidi BBM! Jika BOP-B ini kita sahkan, maka sebenarnya kita menerima konsep BHMN-BHP secara filosofis dan substansinya.

suara REDAKSI

Assalammu’alaykum... Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam tak lupa kita panjatkan kepada Nabi Muhammad saw yang telah membawa kita dari zaman kebodohan hingga zaman ilmu pengetahuan ini. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Mungkin inilah ucapan syukur yang dapat mewakili kami saat ini. Akhirnya setelah melewati hari-hari panjang yang cukup melelahkan, koran SUARA ini dapat terbit dan dapat kita nikmati bersama. Ibarat mereguk sejuknya air gunung, kami mengharapkan koran SUARA dapat menjadi pelepas dahaga para pencinta berita. Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu terbitnya koran SUARA ini. Mungkin tak ada balasan riil yang dapat kami berikan pada kalian. Semoga apa yang kalian telah berikan mendapat balasan yang lebih baik dari Allah SWT di kemudian hari. Sekali lagi, selamat menikmati koran SUARA. Salam pers mahasiswa! Redaksi SUARA

suara PEMBACA Selamat atas terbitnya koran SUARA. Semoga dapat menjadi representasi suara mahasiswa yang sesungguhnya. -Noory Okthariza, Ketua BEM FIB UIAlhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT atas terbitnya SUARA. Semoga media ini dapat memberikan manfaat, terutama sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan informasi terkait dunia ke-FIB-an. Dan semoga Allah membalas kerja keras teman-teman yang telah merealisasikan hadirnya media ini di antara kita Hermawan Nuradi, Ketua FORMASI FIB UI-

Ijonk - Indonesia ‘07 Bismillah, untuk SUARA--Surat Kabar Humaniora--semoga langkah awal ini menjadi corong-corong suara hati muslim FIB yang mengatakan haq itu haq, yang batil itu batil. Mampu bergerak di depan peradaban zaman yang humanistik. Menjadikan para humaniora personal insani yang hakiki dengan Islam yang kaffah. Semoga koran SUARA FIB selalu bersuara kebenaran, dari awalpenerbitan ini hingga seterusnya -Margaretha Chrisna Sari, Indonesia ‘05 -


Halaman



SUARA | SEPT-1-2009

Mahasiswa, Politik, dan Gerakan

dok. Istimewa

Gerakan mahasiswa setidaknya memiliki dua fungsi sebagai proses perubahan, yaitu menumbuhkan perubahan sosial dan mendorong perubahan politik.

Gerakan mahasiswa 1998, mampu menggulingkan kekuasaan Soeharto.

Hakikat dari gerakan mahasiswa pada umumnya adalah perubahan. Ia tumbuh karena adanya dorongan untuk mengubah kondisi kehidupan yang ada untuk digantikan dengan situasi yang dianggap lebih memenuhi harapan. Gerakan mahasiswa setidaknya memiliki dua fungsi sebagai proses perubahan, yaitu me-numbuhkan perubahan sosial dan mendorong perubahan politik. Sebagai sebuah gerakan, perilaku politik mahasiswa dapatlah diamati secara empirik dan historis. Ada dua faktor yang menyebabkan perilaku politik mahasiswa dalam merespon fenomena yang ada. Pertama, kondisi objektif masyarakat yang penuh dengan ketidakadilan dan krisis sosial. Kedua, sistem pendidikan yang dipraktikkan di perguruan-perguruan tinggi telah mengangkat hak-hak demokrasi bagi mereka. Gerakan politik mahasiswa lebih didasarkan pada gerakan moral dan gerakan politik nilai yang sekaligus merupakan manifestasi fungsi mahasiswa sebagai fungsi sosial, moral, dan intelektual. Gerakan Mahasiswa sebagai Gerakan Moral dan Politik Nilai Kalau kita menganalisis secara jujur, aktivitas pergerakan mahasiswa seperti demonstrasi, orasi, seminar, kongres, pernyataan sikap, tuntutan, dan lain-lain sebenarnya merupakan aktivitas politik. Semua itu merupakan sarana komunikasi politik lisan dan tulisan. Dengan demikian, tak bisa dipungkiri bahwa gerakan mahasiswa merupakan gerakan politik. Namun, gerakan politik seperti apakah yang layak dimainkan pergerakan mahasiswa? Apa yang membedakannya dengan partai politik? Saya sepakat dengan pandangan yang mengatakan bahwa ge-rakan mahasiswa selain sebagai gerakan moral juga merupakan gerakan politik nilai dan bukan gerakan politik kekuasaan. Gerakan politik kekuasaan

merupakan area concern partai politik, bukan untuk gerakan mahasiswa. Jika ada aktivis mahasiswa yang bermain dalam area tersebut, seharusnya tidak mengatasnamakan gerakan mahasiswa, tapi lebih baik bergabung dalam partai politik. Gerakan politik nilai memang bersentuhan dengan aktivitas-aktivitas politik, menggunakan berbagai sarana komunikasi politik, dan memiliki target-target politik, tetapi bukan berkaitan dengan perebutan kekuasaan. Gerakan politik nilai dibangun bukan berorientasi kekuasaan se-perti partai politik, namun berorientasi pada terciptanya nilai-nilai ideal kebenaran, keadilan, kemanusiaan, profesionalitas, dan intelektualitas dalam seluruh aspek pengelolaan negara. Masalah kekuasaan lebih merupakan tugas partai politik. Gerakan mahasiswa hanya bertanggung jawab mengontrol dan mengawal transisi dan perkembangan demokrasi supaya tetap pada relnya, terlepas dari siapa yang berkuasa. Namun dalam pelaksanaannya, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk berkoordinasi dengan partai politik, LSM, dan lainlain ketika lembaga-lembaga tersebut menjunjung nilai-nilai moral universal seperti halnya gerakan mahasiswa. Dalam situasi seperti itu, politik mahasiswa tergolong ke dalam pressure politics. Gerakan mahasiswa berada di luar struktur dan lembaga politik. Dari sana mereka melakukan desakan supaya aspirasi dan perjuangan mereka dipenuhi melalui kebijakan yang dihasilkan oleh dan melalui lembaga-lembaga politik yang beroperasi. Jadi, mahasiswa tersebut tidak mengadakan kegiatan politik secara langsung. Politik mahasiswa ini le-bih merupakan bagian dari aktivitas masyarakat yang ditujukan kepada lembaga-lembaga politik dalam rangka memperjuangkan aspirasi dan kepentingan. Khusus masalah kepimpinan nasional maupun daerah, gerakan mahasiswa tidak

berkepentingan untuk mendukung seseorang menjadi presiden, gubernur, bupati, dan sebagainya. Namun, siapa pun yang naik ke pucuk pimpinan dan tidak menjalankan amanat rakyat akan senantiasa berhadapan dengan gerakan mahasiswa. Di samping sebagai gerakan politik nilai, gerakan mahasiswa juga merupakan gerakan moral (moral movement). Istilah ini sangat memesona karena berbicara tentang suara hati yang senantiasa merefleksikan kebenaran universal, menolak segala bentuk pelanggaran HAM, penindasan, kesewenang-wenangan, kedzaliman, dan otoritarianisme kekuasaan. Suara hati nurani inilah yang memberi energi konstan dan kontinyu bagi pergerakan mahasiswa. Ya, kekuatan moral (moral force) adalah kekuatan abadi yang tak pernah mati selama ada manusia yang jujur dengan nurani. Perpaduan antara gerakan moral dan gerakan politik nilai inilah yang menjadikan gerakan mahasiswa sebagai gerakan yang murni (genuine), unik, luas, lintas sektoral, antikekerasan, dan kontrol sosial yang teramat sulit dikooptasi oleh kepentingan politik kekuasaan an sich. Isu-isu yang diangkat terdiri dari berbagai masalah secara umum, baik masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, maupun keamanan. Kalaupun gerakan menukik menjadi tuntutan mundur penguasa seperti yang terjadi pada gerakan mahasiswa angkatan 1966, reformasi 1998, dan era Gus Dur tahun 2001, hal ini didasari standar nilai yang jelas bahwa pemerintah sudah tak mampu dan bukan dalam rangka menaikkan seseorang menjadi penggantinya. Diperlukan Pencerahan Moral dan Politik Sebagai sebuah kekuatan politik, hingga kini gerakan mahasiswa masih memiliki legitimasi moral yang kuat. Sayangnya, meskipun harapan tinggi masih diletakkan ke pundak mahasiswa, ada kecenderungan gera-

kan politik mahasiswa saat ini kurang kritis dan kian melempem dalam menanggapi berbagai permasalahan riil bangsa. Hal ini disebabkan sebagian mahasiswa saat ini dihinggapi virus pragmatisme dan apatisme. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh suhu akademis yang sangat tinggi; mulai dari biaya kuliah yang mahal, tugas-tugas yang menumpuk, sampai masa studi yang dibatasi sehingga sebagian mahasiswa tidak sempat (atau tidak mau?) memikirkan persoalan-persoalan di luar kampus. Selain itu, sistem pendidikan yang berlaku saat ini cenderung mendukung tersebarnya virus pragmatisme dan apatisme karena sepertinya hanya membentuk mahasiswa yang pintar dan terampil serta berorientasi kerja an sich untuk memenuhi permintaan pasar, tetapi tidak peduli dengan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, individualistis, bahkan hedonistis! Mereka mungkin tercerahkan secara akademis/ intelektual, tetapi bukan tercerahkan secara moral dan politik. Mereka juga mungkin kaya dengan teori-teori, tetapi sebenarnya miskin pengabdian. Virus ini telah sukses “membunuh� atau setidaknya “membonsai� karakter khas mahasiswa—seperti yang telah menghiasi sejarah bangsa ini--, yaitu idealisme dan daya kritis. Menilik realitas di atas, dibutuhkan sebuah rekayasa sosial yang bersifat konseptual dan sistematis untuk melakukan pencerahan moral dan politik terhadap mahasiswa sehingga mereka menyadari tanggung jawabnya yang bukan sekadar tanggung jawab akademis, namun juga tanggung jawab sosial, tangggung jawab moral, tanggung jawab intelektual, tanggung jawab politis, serta tanggung jawab sejarah. Keseluruhan tanggung jawab tersebut inheren dalam diri mahasiswa seiring dengan identitasnya sebagai agent of change. Dalam tataran praktis, ada

beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melakukan akselerasi pencerahan moral dan politik di kalangan mahasiswa. Pertama, mahasiswa perlu memiliki kesadaran ilmiah sebagai agent of change. Pemaknaan slogan ini bersifat dinamis dan kondisional. Pergerakan tidak hanya dipahami sebagai aksi turun ke jalan sebagai simbol perlawanan. Perubahan bisa dicapai dengan berbagai cara termasuk pendampingan kepada masyarakat untuk memberikan kesadaran yang mencerahkan. Pendampingan bisa dilakukan dengan mengayomi masyara-kat tertindas, memberikan dinamisasi pemikiran, malakukan bakti sosial, rumah belajar, dan community development sebagai bentuk kepedulian, serta pergerakan lain yang berbasis karya nyata (misalnya buku, membuat infrastruktur publik untuk desa tertinggal, atau penemuanpenemuan lain) sebagai kontribusi riil untuk bangsa. Kedua, menghidupkan kembali mimbar bebas di setiap kampus, baik tingkat universitas, fakultas, maupun jurusan. Ketiga, menggalakkan forum-forum diskusi berdasarkan disiplin ilmu tertentu tentang berbagai permasalahan dan isu yang berkembang di masyarakat. Keempat, menghidupkan pers mahasiswa sebagai sarana komunikasi, aktualisasi, dan artikulasi gagasan-gagasan cerdas mahasiswa untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan. Kelima, optimalisasi kegiatan-kegiatan pengkaderan di organisasi-organisasi kemahasiswaan yang diarahkan untuk mencetak ka-derkader mahasiswa dan calon pemimpin bangsa yang cerdas dan bermoral. Keenam, memperbanyak riset dan penelitian ilmiah yang berkaitan dengan masalah nyata di masyarakat sehingga pergerakan tidak sekadar cek kosong. Ketujuh, membangun organisasi-organisasi kemahasiswaan yang layak disebut student government yang mandiri dalam menentukan sikap tanpa tekanan birokrat atau pihak mana pun. Kedelapan, menentukan platform gerakan yang ideologis dan konkret, serta terbentuknya simpul-simpul jaringan yang masif dan tepat. Dengan demikian, akan terbentuk generasi baru mahasiswa Indonesia yang tercerahkan, memahami apa yang dibutuhkan masyarakat, kemudian bertindak nyata untuk berkontribusi. Dalam konteks ini, saya ingin menganalogikan kampus sebagai menara air. Menara air yang airnya menjadi sumber kehidupan. Digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Air untuk membersihkan segala kotoran, untuk mandi, mencuci, bahkan air sebagai pelepas dahaga. Begitulah filosofi menara air yang dilekatkan kepada kampus dengan mahasiswa sebagai penghuninya. Mahasiswa senantiasa memberi manfaat dan hadir di tengah kebutuhan masyarakat, serta membersihkan segala “kotoran� di negeri ini. Bukan seperti menara gading yang elitis, angkuh, dan terpental jauh dari masyarakat. Bukan pula seperti sinyalemen Amien Rais, gerakan mahasiswa masa kini pasif, karena manusianya sedang dibelenggu kenyamanan hidup. Lalu, bagaimana dengan Anda?***


Halaman

Sukses Berkat Keaktifannya Berorganisasi

Nama TTL Alamat

Keaktifannya dalam berorganisasi sejak menjadi mahasiswa telah membawanya sukses seperti kini… Perpustakaan. Meskipun beliau sangat aktif berorganisasi, beliau tidak mengurangi kredibilitasnya sebagai seorang dosen di jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. Setelah menyelesaikan S1-nya di jurusan Ilmu Perpustakaan Fakulatas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, beliau melanjutkan S2–nya di Leads Metropolitan University, Inggris pada jurusan Library and Information Departement. Kini, beliau pun masih melanjutkan S3-nya di jurusan Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Disela-sela kesibukannya sebagai dosen, beliau selalu menyempatkan waktu untuk berorganisasi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar ataupun dengan orang-orang yang memiliki profesi yang sama dengannya. “Kita ini kan masyarakat sosial,” ujarnya ketika ditanya mengapa b e l i a u senang

SUARA | SEPT-1-2009

: Drs. Zulfikar Zein, M.A. : Batusangkar, 12 Agustus 1951 : Jl. Daksinapati Barat IV Gg. Tenis 4 Rawamangun, Jakarta Timur

Pendidikan : S1 Jurusan Ilmu Perpustakaan, Univesitas Indonesia tahun 1988 S2 Library Science, Leed Metropolitan University, Inggris tahun 1988 Training Library Science, Ohio University, AS tahun 1985 Kurikulum Training Library Science, Brighton, Inggris tahun 1990 IT Training, National Library of Singapore tahun 2002

Drs. Zulfikar Zen, M.A.

Berawal dari menjadi seorang aktivis ketika mengecap pendidikan di bangku kuliah Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, Pak Zul -panggilan akrab beliaumengaku mendapat banyak pengalaman. Mulai dari mendapat banyak teman dari berbagai Negara, mendapat undangan khusus dari kerajaan Arab Saudi, dan juga pengalaman menarik lainnya yang belum tentu orang lain dapatkan. Diawali dengan aktif dalam organisasi ikatan jurusan yang disebut IMAJIP (IMASIP sekarang─red) dan sempat juga menjadi asdos dari Almrh. Ibu L. K. Somadikarta. Alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun 1982 itu, saat ini menjabat sebagai salah satu Sekjen Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) dan juga menjadi anggota dewan executive board Ikatan Pustakawan se-Asia Tenggara. Selain itu, kini beliau juga terlibat dalam pembuatan standar sarana dan prasarana pendidikan, menjadi pengurus badan perpustakaan masjid DKI Jakarta, serta menjadi pengajar di Universitas YARSI Jakarta, dan baru-baru ini juga menjadi pengajar di Universitas UHAMKA Jakarta di mata kuliah Manajemen



sekali berorganisasi. Bagi dosen yang pernah menjadi Dosen Teladan Universitas Indonesia di tahun 1992 ini, dengan berorganisasi kita dapat

Prestasi : Dosen Teladan UI tahun 1992 Menggagas Pendidikan Informasi dan Perpustakaan di Jakarta tahun 1994 Ikut serta menggagas Perpustakaan Islam di Istiqlal Jakarta tahun 1980-an Jabatan : Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan UI angkatan 19921995, 1995-1998 Ketua Program Pasca Sarjana JIP UI angkatan 20002002 Anggota Pengurus BPPM Indonesia tahun 1999sekarang Dosen Perpustakaan IARSI Jakarta 1995 sekarang Sekjen IPI tahun 1998-2002, 2006-2009 Dewan Eksekutif Pustakawan Asia Tenggara tahun 2006-2009 Dewan Eksekutif CONSAL Jakarta 1990, Singapura 2000, Manila 2006, Hanoi 2009 Menghadiri Konferensi IFLA di Bangkok 1993, Istambul 1996, dan Cina 1997

dok.DIPI

SEKILAS INFO TENTANG GUESS??? Apaan sih tuh? Guess adalah Dauroh Awal Fakultas yang diselenggarakan untuk mahasiswa FIB, khususnya mahasiswa baru. Acara ini rutin diadakan setiap tahun oleh LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) Formasi FIB UI. Tidak hanya sekadar rekreasi, kita juga akan disuguhi acara menarik, menyenangkan, dan menantang. (Hmm…jadi penasaran kan?). Acara ngapain aja yah??? Nah, ini dia yang paling seru! Selain akan menambah teman baru, kita juga dapat merasakan manisnya Ukhuwah Islamiyah. Selain itu, ada juga kajian dari ustadz-ustadz yang keren banget, training motivation dari lembaga trainer terkemuka seperti ABCo, Trasco, dan sebagainya yang Insya Allah akan membuat kita tidak mau pulang karena ketagihan mengikuti acara ini. Di sana, kita juga akan mendapatkan pembekalan dan pengetahuan mengenai fakultas tercinta ini, FIB UI. Jadi kita akan lebih mengenal medan FIB. Trus ada outbond menantang yang akan

menguji intelektualitas, kecepatan, ketangkasan, dan team work yang baik. Ada pula studi kasus dan nonton film bareng-bareng, tentunya film yang asyik dan

penasaran kan pengen ikut? So, buruan daftar! Trus kapan dong dan di mana tempatnya???

GUESS

bermanfaat. Ada juga mentoring, sehingga kita bisa lebih mengenal peserta yang ada. Acara yang paling ditunggu-tunggu adalah pentas seni, acara ini akan melatih kreatifitas dan kekompakan kita dengan peserta lainnya. Selain itu, GUESS ini akan diselenggarakan di bulan Ramadhan, jadi kita bisa nambahin amal dan pahala karena acaranya Insya Allah akan semakin mendekatkan kita pada-Nya. Wuihh

Insya Allah GUESS tahun ini akan diselenggarakan tanggal 11-13 September 2009, di Villa A.J Garden, Sawangan, Depok. Tempatnya asyik, seru, dan nyaman. Pemandangannya juga oke punya. Ada lapangan out bond juga. Pokoknya akan bikin ketagihan deh... Biayanya??? Insya Allah tidak mahal, dan tidak akan sampai jual rumah (^ ^). Biayanya tidak

akan lebih dari Rp 50.000. Murrraah kan...

BEM dan DPM FIB UI kayak Ijonk, Miko, bahkan WMA UI juga loh (Johan, Korea 2006).. (Wuih pasti karena ikutan GUESS tuh) Oh,jelas. {Jayus dikit ah, hhe}

So, tunggu apa lagi, yuk buruan ikutan. Teman-teman bisa langsung

Mau tahu siapa aja alumni GUESS

Terbukti secara ilmiah setelah mengikuti GUESS tidak akan sampe masuk RS malah sampe kena Syndrome Ketagihan. Dan terbukti secara fakta, alumni-alumninya jadi orang di FIB (Ya iyalah mereka kan juga orang) Maksudnya banyak dari lulusan GUESS jadi orang-orang hebat di FIB (Ah, masa sih?) Hhe.. Contoh Ketua dan Wakil Ketua BEM FIB UI (Mas Okta dan Mas Andi Arif yang ganteng2 itu lulusan GUESS loh. Ditambah juga banyak lulusan GUESS yang aktif di

GUESS


Halaman



SUARA | SEPT-1-2009

ALUMNI FIB

KAJIAN ILMU

Al-quran Produk Budaya? Jawaban untuk kaum tekstual liberalis Nashr Hamid Abu Zayd, seorang tekstual liberal berpendapat bahwa al-Quran adalah produk budaya. Menurutnya, al-Quran terbentuk dalam realitas dan budaya selama lebih dari dua puluh tahun. Al-Quran juga mengubah budaya dan oleh sebab itu alQuran dapat dikatakan produsen budaya. dok. Istimewa

Benteng keilmuan dan keimanan perlu kita dapatkan sebagai perisai untuk menghadang serangan para tekstual liberalis. Pendapat Nashr Hamid Abu Zayd sang-at problematis. Hal ini dapat dibuktikan melalui dua pertanyaan, yaitu kapan al-Quran menjadi produk budaya dan kapan al-Quran menjadi produsen budaya? Jika al-Quran menjadi produk budaya ketika wahyu selesai diturunkan, maka dalam rentang waktu wahyu pertama turun hingga selesai diturunkan, al-Quran berada dalam keadaaan pasif karena ia produk budaya Arab jahiliyah. Akan tetapi, pernyataan di atas adalah pernyataan yang salah karena ketika diturunkan secara gradual, al-Quran ditentang dan menentang budaya Arab jahiliyah saat itu. Jadi, al-Quran bukanlah produk budaya karena al-Quran bukanlah hasil kesi-nambungan dari budaya yang ada. Al-Quran justru membawa budaya baru dengan mengubah budaya yang ada. Oleh karena itu, al-Quran juga dapat dikatakan sebagai produsen budaya. Jika dikatakan bahwa al-Quran merupakan produk budaya sekaligus produsen budaya sejak awal wahyu diturunkan, maka hal ini membingungkan karena menggabungkan sebab (produsen) dan akibat (produk) pada situasi tertentu. Selain itu, Nashr Hamid mengabaikan kompleksitas yang terjadi di dalam kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan merupakan istilah abstrak yang tidak seharusnya menjadi pembentuk kebudayaan, manusia pun dapat membentuk kebudayaan. Rasulullah saw tidak dibentuk oleh budaya Arab jahiliyah, justru Rasulullah yang membentuk peradaban yang diridhoi Allah swt. Jadi, al-Quran bukanlah produk budaya Arab jahiliyah, tetapi justru kebudayaan Arab pada zaman Rasulullah saw adalah produk dari

al-Quran. Al-Quran juga bukanlah teks bahasa Arab biasa sebagaimana teksteks sastra Arab lainnya. Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, alQuran adalah bahasa Arab bentuk baru. Sejumlah kosa kata pada saat itu telah mengalami Islamisasi makna. Al-Quran meng-Islamisasi dan membentuk maknamakna baru dalam kosa kata bahasa Arab. Kata-kata penghormatan (muruwwah), kemuliaan (karamah), dan persaudaraan (ikhwah) misalnya, sudah ada sebelum zaman jahiliyah. Kata karamah yang sebelumnya bermakna memiliki banyak anak, harta, dan karakter tertentu yang merefleksikan kelaki-lakian, diubah alQuran dengan memperkenalkan unsur ketaqwaan (taqwa). Kata ikhwah yang berkonotasi kekuatan dan kesombongan kesukuan diubah maknanya oleh al-Quran menjadi gagasan persaudaraan yang dibangun atas dasar ke-imanan yang lebih tinggi daripada persaudaraan darah. (lihat Wan Moh Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practise of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of The Original Concept Islamization. Kuala Lumpur :ISTAC, 1998.). J ika al-Quran ditulis dengan bahasa Arab biasa, maka logikanya adalah Rasulullah saw ahli di bidang tulisan dan bacaan yang karena keahliannya itu dapat membawa perubahan mendasar pada masyarakat Arab waktu itu. Akan tetapi, ternyata Rasulullah saw adalah orang yang tidak dapat baca tulis (ummi). Jadi, sekalipun al-Quran disampaikan oleh Rasulullah saw pada ummatnya pada abad ke-7 M, hal ini tidak serta merta mengindikasikan bahwa al-Quran terbentuk dalam situasi

dan budaya yang ada pada abad ke-7 M. Al-Quran melampaui historiositasnya sendiri karena al-Quran dan ajarannya bersifat transhistoris. Kebenaran alQuran adalah kebenaran sepanjang zaman. Al-Quran bukanlah teks buatan manusia sebagaimana klaim Nashr Hamid karena al-Quran bukanlah katakata Muhammad saw. Allah berfirman, “Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benarbenar Kami potong urat tali jantungnya.” (Q. S. al-Haqqah: 44-45). Allah berfirman, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Q. S. al-Najm: 3-4). Sebenarnya bualan Nashr Hamid bukanlah bualan baru. Para orientalis sudah lama berusaha menolak otentisitas al-Quran sebagai wahyu Allah swt. Jika dulu mereka menyatakan bahwa al-Quran adalah karangan Muhammad saw, maka beberapa orientalis sekarang ini seperti Montgomery Watt dan W. C. Smith membual al-Quran adalah kalam Tuhan dan sekaligus kata-kata Muhammad saw. Ringkasnya, Nashr Hamid Abu Zayd dan para orientalis lainnya hendak memadamkan cahaya Islam. Akan tetapi, cahaya Islam tak akan redup dan tak akan pernah redup sampai kapan pun. Kini, Nashr Hamid telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir tahun 1996. Mari kita memahami, mengkaji, dan mengamalkan Islam secara kaffah sesuai dengan pemahaman yang shahih dari al-Quran dan al-Hadits.

Sukses Organisasi, Sukses Masa Depan Bilakah sebuah titik dalam tulisan itu selesai? Tak perlu ditunggu, goreskan saja huruf demi huruf hingga nantinya dapat terbaca dengan jelas dan berbinar. Membuka celah. Itulah yang seringkali ia lakukan semenjak dulu. Sulit ataupun mudah, menyenangkan maupun melelahkan, tidaklah menjadi masalah. Hal yang penting adalah menjalani saja terlebih dahulu, sisanya Yang Menciptakan saja yang memilihkan yang terbaik. Berbekal keyakinan itulah, semasa kuliah dulu Amanda Ferdina Pattisahusiwa—biasa dipanggil Manda—seringkali ’mencicipi’ kegiatan-kegiatan di kampus. Mulai dari tingkat jurusan seperti IMAJIP, tingkat fakultas seperti FORMASI dan SM FIB UI (sekarang menjadi BEM FIB), maupun tingkat universitas seperti RTC UI FM dan BEM UI. Padatnya aktivitas organisasi yang ia jalani berbanding lurus dengan nilai akademiknya. Baginya, adalah sebuah kenaifan jika seorang aktivis memiliki prestasi akademik yang buruk. ”Sepertinya nggak catchy saja jika seorang yang mengusahakan baksos untuk sekitar atau memfasilitasi terselenggaranya acara-acara kreatif untuk mahasiswa se-UI, tapi IPKnya ‘terjun payung’, atau bahkan langganan di ‘dataran rendah’ alias ber-IPK nasakom (nasib satu koma).” ujarnya. Memang hal ini bukanlah masalah keren atau tidak keren, catchy atau tidak catchy, tetapi lebih dari itu. Baginya, kehidupan akademik itu seperti pertanggungjawaban publik, setidaknya kepada orangtua. Oleh sebab itu, sepadat apapun aktivitas organisasinya, ia selalu berupaya untuk mempertahankan IPK di atas tiga. Saat ini, alumni Program

Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya tahun 2007 ini bekerja sebagai wartawan di Detik News. Memang, profesi pustakawan dan wartawan merupakan dua profesi yang berbeda, tetapi menurutnya keduanya masih berhubungan erat, sama-sama mengumpulkan, mengolah, mengemas, dan menyebarkan informasi meski dalam wujud yang berbeda. Kini ia pun sangat menyenangi pekerjaannya. ”Merupakan kepuasan tersendiri tatkala saya bertemu de-ngan sumber secara langsung, mencari dan mengkonfirmasi informasi sebenar-benarnya, apalagi ketika mengetahui sebuah informasi menjadi sebuah kebermanfaatan bagi seseorang yang membacanya. Uh.. manis rasa-nya,” tuturnya Disadur darisekali www.pakdenono.com (deyang pernah mendapat ngan perubahan danpenghargaan penekanan). sebagai Mahasiswa Berprestasi Bidang Organisasi FIB UI tahun 2007 ini. Memang diperlukan sebuah keberanian dan ketelitian berada di ranah ini. Akan tetapi, menjadi wartawan sebenarnya tidaklah sulit, cukup berbekal rajin bertanya dan rajin update informasi, liputan dapat berjalan lancar. Background-nya sebagai mahasiswi Program Studi Ilmu Perpustakaan telah banyak membantunya dalam menjalani aktivitas saat ini. Berpikir sistematis yang merupakan kunci terpenting saat melakukan liputan, mencari dan mengembangkan sebuah pecahanpecahan informasi, mengelola hingga mengemasnya sedemikian rupa juga didapatkannya di bangku kuliah. Ya, memang pada akhirnya, setiap skenario dalam kehidupan ini pasti tidaklah berdiri sendirian. Seperti halnya sebuah kalimat, pengalaman di masa lalu sangatlah berperan membentuk dan memaknai kalimat berikutnya hingga terbentuk sebuah paragraf kehidupan yang beresensi. Dan, bilakah sebuah titik dalam tulisan itu selesai? Tak perlu ditunggu, goreskan saja huruf demi huruf hingga nantinya dapat terbaca dengan jelas dan berbinar. (Ami)

Amanda: pojok kiri bawah

Nama : Amanda Ferdina Pattisahusiwa (Manda) Alamat : Mega Cinere, Depok Web/Email : www.lifeandmakelife.multiply.com / ferdina_ps@yahoo.com Aktivitas : Jurnalis Detik News (Detik.com) Riwayat Pendidikan Program Studi Ilmu Perpustakaan FIB UI (2002-2007) Program intervensi Sosial, Pascasarjana PSikologi UI (2009-sekarang) Riwayat Organisasi 2002-2005 Penyiar RTC UI FM 2003-2004 Staf kajian FORMASI FIB UI 2004-2005 Kadept. Pelatihan dan Kajian IMAJIP FIB UI 2005 Kabiro Humas Media SM FIB UI 2006-2007 Kabiro Media BEM UI Penerima beasiswa Supersemar 2004-2006 Mahasiswa berprestasi bidang organisasi FIB UI 2007


Halaman



SUARA | SEPT-1-2009

TOKOH FIB

Tanggung Jawab, Kunci Kesuksesan Hidup Saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain, dapat mengurus musala ini dengan segala waktu yang saya miliki sehingga orang lain dapat merasa nyaman untuk beribadah. Menjadi orang yang bertanggung jawab dapat membuat hidup menjadi sukses. Inilah salah satu hikmah yang SUARA dapatkan setelah melakukan wawancara dengan Pak Ngumar, marbot musala FIB UI. Bapak dari tiga orang anak ini sudah bekerja di UI lebih dari 20 tahun dan beliau telah memperoleh berbagai penghargaan. Meskipun hanya tamatan SD, berkat kerja keras dan kegigihannya, kini beliau dapat menggenggam hampir seluruh cita-citanya. Berikut ini adalah petikan wawancara yang dilakukan oleh SUARA pada tanggal 8 Mei 2009. Sudah berapa lama Bapak bekerja di Universitas Indonesia (UI)? Saya bekerja di UI sejak tahun 1980, kemudian saya diangkat menjadi PNS tahun 1981. Pada awalnya saya bekerja di bagian rumah tangga, lalu dipindahkan menjadi satpam selama 20 tahun. Setelah itu saya pindah lagi ke bagian pengadaan (percetakan), hingga akhirnya pada tahun 2002 ketika Musala FIB telah selesai dibangun, saya pindah ke sana. Bagaimana caranya Bapak sampai pindah kerja ke musala? Ketika saya masih kerja di bagian pengadaan, Pak Luthfi (ketua DKM FIB) sering minta tolong kepada saya untuk mengurus Musala FIB. Awalnya, beliau sering melihat saya

pergi ke MUI untuk melaksanakan salat berjamaah. Saya memang sering salat di sana karena dulu di FIB belum ada musala. Selanjutnya beliau meminta saya untuk mengurus musala, azan, dan bersih-bersih sehingga saya sering bolak-balik dari pengadaan ke musala. Beberapa saat kemudian saya minta dipindahkan ke bagian musala. Alhamdulillah, permintaan saya diterima. Apakah Bapak merasa nyaman bekerja di Musala? Ya, selama tujuh tahun saya kerja di musala, saya merasa nyaman. Di sini saya menjadi lebih mudah beri-badah sesuai dengan ajaran Rasulullah, beribadah tepat waktu, dan salat berjamaah. Bapak bekerja dari jam berapa hingga jam berapa? Seharusnya saya bekerja dari pukul delapan, tapi saya berinisiatif untuk datang lebih pagi, sekitar pukul enam, agar dapat lebih cepat membersihkan dan menyiapkan musala. Biasanya pagi-pagi kan sudah banyak orang yang mau beribadah, salat dhuha, ngaji, dll. Selain itu, saya juga bisa sambil berolahraga untuk menjaga kesehatan tubuh. Biasanya saya pulang setelah salat Isya, sekitar pukul delapan malam. Wah...lalu waktu untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga

kapan dong Pak? Alhamdulillah sekarang anak saya sudah pada besar, jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkan seperti dulu. Saya biasa berkumpul bersama keluarga di hari Minggu, sedangkan untuk istirahat ya...pintar-pintar saja dalam mengaturnya. Apa motivasi Bapak agar selalu giat dalam bekerja? Pertama, saya merasa harus bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang saya miliki. Kedua, saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat untuk keluarga dan masyarakat. Ketiga, saya selalu berusaha untuk mencintai pekerjaan saya, meskipun saya hanya tukang pel, saya mencoba untuk selalu bertanggung jawab dan Alhamdulillah saya mendapat banyak kemudahan dari Allah. Saat ini, apakah Bapak memiliki citacita yang belum tercapai? Dulu saya mempunyai banyak cita-cita. Pertama, saya ingin jadi pegawai negeri. Kedua, saya ingin memiliki rumah sendiri setelah saya menikah. Ketiga, saya ingin anak-anak saya berpendidikan, minimal tamat SMA. Keempat, saya ingin punya rumah yang kokoh. Alhamdulillah saat ini semuanya sudah tercapai.

Akan tetapi, ada satu yang belum, saya ingin sekali pergi haji. Pak, menurut Bapak sukses itu seperti apa? Biasanya sukses adalah tercapainya cita-cita dan keinginan kita. Akan tetapi, menurut saya arti sukses yang sesungguhnya ialah kita dapat mengumpulkan bekal untuk menghadap Allah SWT di akhirat. Apa yang menjadi prioritas Bapak saat ini?

Saat ini saya sedang memprio-ritaskan kenyamanan Musala FIB. Saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain, dapat mengurus musala ini dengan segala waktu yang saya miliki sehingga orang lain dapat merasa nyaman untuk beribadah. Apa harapan Bapak untuk para pemuda (khususnya mahasiswa)? Saya berharap para pemuda tidak pernah meninggalkan salat lima waktu. Tidak terlalu berfoyafoya karena saat ini adalah waktu untuk belajar sebagai bekal masa depan nanti, lalu harus saling tolongmenolong dan yang terakhir jadilah manusia yang bermanfaat untuk yang lain. Rencana Bapak selanjutnya apa Pak? Jika tiga tahun lagi saya diminta untuk pensiun, saya tidak memiliki rencana untuk buka usaha ataupun kegiatan lainnya. Saya ingin memprioritaskan waktu tua saya untuk beribadah kepada Allah SWT, mungkin saya akan ikut membantu mengurus masjid di dekat rumah. Akan tetapi, jika nanti saya tetap diminta untuk menjadi marbot musala FIB UI, dengan sangat senang hati saya akan menerimanya.

BIODATA Nama : Ngumar TTL : Kebumen, 25 Desember 1955 Agama : Islam Alamat : Jl. Parung RT 03 RW 04 Kampung Sudimampir Kel. Cimanggis Kec. Bojonggede, Bogor. Status : Menikah, 3 Anak ( 2 Putra, 1 Putri ) Pendidikan terakhir : Sekolah Dasar Istri : Subaniyah Anak : 1. Untung Subekti (pendidikan terakhir D3 Manajemen Informasi dan Dokumen Universitas Indonesia), sudah bekerja dan menikah. 2. Siti Fatimah (saat ini masih kuliah di Darul Qalam, sudah menikah). 3. Arif Hidayat (pendidikan terakhir: diterima SIMAK UI di FMIPA Universitas Indonesia jurusan Geografi tahun 2009). Penghargaan : 1. Penerima SALAM AWARD 2008 “Inspiring People in University of Indonesia�. 2. Karyawan Terbaik ke II FIB UI Tahun 2007. 3. Karyawan Terbaik ke I FIB UI Tahun 2006. 4. Penerima Penghargaan Presiden Tahun 2004 karena telah bekerja selama 20 tahun di UI. 5. Satpam Terbaik FIB UI Tahun 1988.


Halaman



SUARA | SEPT-1-2009

Tonggak Memulai dengan hal kecil dapat membawa perubahan besar jika ditekuni dengan baik. Tradisi keilmuan yang mengakar pada diri para cendekiawan muslim patut kita jadikan uswah (teladan) bagi kita guna menjadi insan yang mulia dengan berilmu. Menengok pada kenyataan sejarah, peradaban Islam yang sangat agung bertahan selama 524 tahun (132 H s.d. 656 H atau 749 M s.d. 1258 M), yakni zaman kekhalifahan Abbasiyah. Kekhalifahan Abbasiyah didirikan oleh keturunan al-Abbas, yaitu Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Al-Abbas adalah paman Nabi Muhammad. Kekhalifahan Abbasiyah, secara politis maupun keilmuan dibagi menjadi dua periode. Periode pertama, tahun 132 H s.d. 247 H (749 s.d. 861 M) memiliki sepuluh orang khalifah. Periode kedua tahun 247 H s.d. 656 H (861 s.d. 1258 M) dengan 27 khalifah. Periode kemajuan dan keemasan ada pada periode pertama. Para khalifah pada periode ini adalah 1) al-Saffah (749-753 M); 2) al-Manshur (753-774 M); 3) al-Mahdi (785-786 M); 4) alHadi (785-786 M); 5) Harun Al-Rasyid (786-808 M); 6) al-Amien (808-813 M); 7) al-Ma’mun (813-833 M); 8) alMu’tashim (833-842 M); 9) al-Wathiq (842-847 M); 10) al-Mutawakkil (847861 M). Selain stabilitas politik yang kuat, orientasi keilmuan yang tinggi merupakan kunci dari terwujudnya zaman keemasan Islam ini. Inti dari peradaban Islam adalah dihidupkannya ilmu pengetahuan melalui tradisi intelektual yang bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits. Salah satu tonggak dari zaman ini adalah adanya berbagai perpustakaan pribadi maupun publik yang sangat kondusif untuk berdiskusi, motivasi yang kuat untuk menuntut ilmu, kemampuan berinovasi, dan berkreasi juga dimiliki oleh orang-orang di dalamnya. Pada masa khalifah AlMa’mun (putra Harun Al-Rasyid), didirikanlah Bayt al-Hikmah di Baghdad untuk menampung seluruh kegiatan keilmuan. Bayt Al-Hikmah, perpustakaan dan pusat studi ini menciptakan tradisi intelektual yang selanjutnya membawa Abbasiyah menapaki kejayaannya. Koleksi perpustakaannya bermula dari koleksi

buku sains Abdullah Manshur (kakek Harun Al-Rasyid), Muhammad Al-Mahdi (bapak Harun Al-Rasyid), dan Harun Al-Rasyid, serta dilengkapi dengan berbagai buku terjemahan pada masa khalifah-khalifah selanjutnya. Bayt al-Hikmah memiliki koleksi yang cukup lengkap, yaitu buku-buku mengenai ilmu tradisional, kitab-kitab tafsir, Hadits/al-Kutub as Sittah, teologi, astronomi, matematika, sejarah, dan kedokteran, kitab-kitab sastra dan buku terjemahan. Koleksi yang dimiliki tak kurang dari 100.000 volume, sekitar 600.000 jilid buku, termasuk 2.400 Al-Quran berhiaskan emas dan perak yang disimpan di ruang terpisah. Pada masa alMa’mun, Bayt al-Hikmah ditambah koleksinya dengan mengirim utusan ke Byzantium untuk membeli bukubuku baru. Beliau juga tak segan-segan membayar penerjemah buku dengan harga mahal. Bahkan, Harun Al-Rasyid berani membayar para pe-nerjemah buku-buku asing ke dalam bahasa Arab dengan emas seberat timbangan terjemahannya. Orang-orang di dalamnya mengkaji ilmu-ilmu tradisional Islam dan ilmu sosial kemanusiaan serta ilmu alam dari kebudayaan asing yang berkembang pesat saat berada di tangan muslim. Melimpahnya materi hasil terjemahan menjadikan Bayt alHikmah juga berfungsi sebagai lembaga penelitian, observatorium, dan tempat untuk melakukan eksperimen serta berdiskusi. Banyak ilmuwan muslim yang terkenal pada abad ke-9 hingga abad ke-13 memiliki akar pendidikan di Baghdad. Sedangkan Bayt alHikmah adalah think tank terbesar yang tak ada bandingannya di abad ke9 hingga abad ke-13. Bayt al-Hikmah berfungsi sebagai akademi yang tak kalah dengan Academia, biasa disebut dengan Academia Plato pada zaman Yunani. Saat kehancuran menimpa peradaban Yunani, Romawi, Mesir, dan Persia, Islam justru mengalami kejayaan yang luar biasa. Ketika Abbasiyah

Peradaban Islam telah memberikan banyak pelajaran berharga yang tidak dapat kita temukan dalam peradaban manapun dii dunia ini. Untuk itu, pantaslah kita untuk terus mempelajari dan mengamalkan apa yang telah ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim zaman dulu. berdiri, ternyata warisan ilmu semua peradaban tersebut tersebar di sekitar Baghdad. Di sebelah barat Baghdad terdapat perpustakaan besar warisan Yunani dan di sebelah timurnya terdapat tradisi keilmuan Persia yang tinggi. Sementara itu, di Konstantinopel (kini Istanbul) dan Edessa (Tenggara Turki) terdapat beberapa perpustakaan yang menyimpan manuskrip (naskah) berharga berbahasa Yunani dan Syriac. Jundi Shapur (kini di Iran) juga meninggalkan sekolah Sasaniyah yang kaya dengan manuskrip berharga. Para ulama cendekia muslim kemudian menggali warisan kemanusiaan itu demi memperkaya pemahaman dan pengamalan Islam. Bayt al-Hikmah menghasilkan banyak pakar ilmu. Dalam ilmu Fiqih, terdapat nama imam empat madzhab yaitu Imam Abu Hanifah (700-767 M), Imam Malik (713-795 M), Imam Syafi’i (767-820 M), Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M). Dalam bidang filsafat ketuhanan, alam, manusia, dan etika terdapat al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Ghazali, Fakhr al Din al-Razi, dan Ibnu Maskawih. Al-Razi adalah insan pertama yang membedakan penyakit cacar

IKLAN

BUAT

KA UCU.....

dengan measles serta penyusun buku pertama tentang kedokteran anak. Selain sebagai filosof, Ibnu Sina menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Karya Al-Qanun fi at Tibb merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Ilmuwan muslim lainnya, Al-Haythomi, membuktikan bahwa benda mengirim cahaya ke mata, hasil penelitiannya ini menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Astronom muslim, al-Fazari, orang pertama yang menyusun astrolobe. Ahli Kimia, Jabir ibn Hayyan, menemukan bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Al-Khawarizmi, ahli matematika sekaligus astronom, menciptakan ilmu aljabar, kata aljabar sendiri berasal dari bukunya yang berjudul al-Jabr wa al-Muqobalah. AtTabari, al-Biruni, dan al-Mas’udi adalah sejarawan Islam yang terkenal. Islam tidak membedakan antara pengetahuan agama dan dunia (sekuler) sehingga para ulama begitu antusias dalam menggali semua ilmu pengetahuan, baik yang berdasar pada wahyu maupun penalaran observasi. Antusiasme ini didukung dengan penghargaan dari para penguasa dan pengusaha terhadap keilmuan. Mereka menjadi donatur pembangunan masjid, madrasah, ataupun lembaga pendidikan. Pengadaan buku-buku pun didukung oleh mereka secara moral maupun material. Pada masa itu, semua buku merupakan hasil tulisan tangan sehingga harganya pun menjadi mahal. Tak pelak, barang mewah ini hanya dapat dibeli oleh orang kaya sebagai koleksi pribadi dan umum. Seseorang yang memiliki perpustakaaan di rumahnya akan menjadi terpandang dan mulia saat didatangi tamu yang tertarik untuk membicarakan ilmu. Fungsi umat manusia mempelajari sejarah antara lain adalah untuk melihat masa lalu, mempelajari, dan mengambil hikmah dari suatu fenomena. Kejayaan muslim yang bertahan hingga lima

seperempat abad itu menyimpan banyak hikmah. Kebangkitan sebuah peradaban bukanlah hasil perjuangan dalam jangka pendek. Banyak sekali perjuangan para cendekia pada masa itu dan sebelumnya yang berjuang sepenuh hati dengan harta dan jiwa yang dapat kita ambil hikmahnya. Pada dasarnya, jatuh bangunnya suatu peradaban tergantung pada kondisi manusia-manusia dalam peradaban itu sendiri. Kekalahan dan kehancuran suatu peradaban disebabkan oleh tindakan mereka sendiri. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT, “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui,” (QS Al-Anfal: 53). Memulai dengan hal kecil dapat membawa perubahan besar jika ditekuni dengan baik. Tradisi keilmuan yang mengakar pada diri para cendekiawan muslim patut kita jadikan uswah (teladan) bagi kita guna menjadi insan yang mulia dengan berilmu. Budaya membaca dan berdiskusi adalah sekian dari usaha kita untuk membawa perubahan besar. Motivasi yang kuat dalam menuntut ilmu sehingga memperkaya pemahaman dan pengamalan Islam merupakan hal mendasar untuk dimiliki oleh setiap muslim. Aktivitas keilmuan para cendekiawan muslim tak lepas dari ilmu, iman, dan amal. Ketajaman pikiran dan kejernihan hati penting dimiliki para penuntut ilmu. Salah satu bentuk pemerolehan ilmu adalah dengan membaca yang disertai oleh pendekatan diri kepada Allah. Begitu pentingnya membaca, sampaisampai, firman Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad melalui Jibril berbunyi, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.” Maka dari itu, bacalah! [Nila]


Halaman



SUARA | SEPT-1-2009

SENI DAN BUDAYA Lintang : teman Mahar

Mahar Merah

andai waktu menjamah dan mengembalikan rambut hitammu dihadapanku mendalami dingin yang tersisip di lekuk jiwa

aura dingin dan kelembapan seroja ranting putih itu menelungkupi kau dari atas pada suatu siang satu alat gendang menemuimu di bawah pohon yang kau tiduri

kau pernah bertutur di satu duduk rumput ilalang yang romantis tentang rambut putih, warna hitam, serta pigmen, baju baju sobek lusuh di kerah kau juga ceritakan merah, lila, hingga ungu warna yang tiba di lengkung langit senja dan temaram pias seperti baju kita kenakan melukisi garis pelangi perih di hati adakah kau kelamkan laut gerak gerak pasir yang bersujud di kakimu dan angin yang hinggap sengaja pada kecerdasan serta rahang utuhmu yang begitu kutakjubi nuragamu membuat aku-mereka terkesima buaya putih di jalanan, kota di kelilingi warna tiada. Dan keklasikan terabadi saat kau luasai angka, menjumlahnya kau adalah satu gemintang di cakrawala

alam nugrahai halwa untukmu batu baterai dan pasang setia radio tua yang berputar pada musim karnaval dua ekor sayap menggurati medali Lintang dan kau tampak hijau bermesraan alam menyusuri senyum hangat dari dua guru tua, sungai yang kau takjubi kelelembapan seroja dan riuh riak arus cokelat menjelma penghargaan sejak langkis untuk kali pertama mengunjungi atap di sekolah itu di tubir pohon itulah kau menjelma zigomorf mahar merah 2 Mei 2009 ada gadis di lautan jilbab

adikmu dengan rambut merah seperti gemetar pantai menunggu ayah dengan jaring jaring di bawah kelaras yang tak pernah kembali menguning seperti kematian tak berulang tiba. Lintang: garis bumi adakah laki laki sehebat ayahmu yang membuat jembatan dari ujung cokelat halaman rumah sampai meninggi ke laut langit yang tergeletak biru memilih kau pergi, ke sekolah rongga dua beratap lubang daripada menelusupkan jaring bersamanya

di antara lautan jilbab ada harap seorang tukang bubur ayam tentang minyak, cabai, beras, dan tarif angkutan yang dapat terbayar

pijakan dengan sandal karet hitam yang begitu setia membiarkan gerigi rodamu menziarahi kisaran hari kau cerdas sendirian bersama pohon kelapa yang melayang di dada awan dalam kotak kecil pendidikan di hari negeri orang orang kaya membeli terali dan meningkari kebodohan

di antara lautan jilbab ada gadis tak berjilbab melamar jadi anak indonesia, berbekal puisi yang ia buat

yang tersisa adalah labirin dan rempahan rempahan angin kauaku memancari cita cita atas kerah baju kita yang selalu sobek Lintang dan piagam seragam putih andai waktu melawat dinas pendidikan menyungkur sujud di atas senyap kakimu yang telanjang pun klemensiku tidak akan pernah tiba berpahatan menitiki garis kesunyian sepanjang nyanyian stanza jelata jelata dan pejal dosa padamu 2 Mei 2009

tak pernah tersiar dengan benar lagipula tak ada yang mau dengar

Aku bertaruh pada tiap kancing kemejamu pada tiap kancing kemejamu aku bertaruh tentang mimpi-mimpi yang mengalir lewat liurmu di atas kepala orang-orang yang mengaduh masuk ke telinga orang-orang yang sudah payah lelah aku bertaruh tentang kursi mahal yang kau beli dengan uang hasil barter peluh orang-orang yang tak lagi diam nanti saat kau menang

Lintang : Teman Mahar dan Mahar Merah karya Margaretha Chrisna Sari ada gadis di lautan jilbab dan Aku bertaruh pada tiap kancing kemejamu karya Kinanti Munggareni


Halaman

10 SUARA | SEPT-1-2009

FIB KITA

Pelajaran Pahit yang Menyisakan Tanda Tanya

10 November 2008 Tanggal ini akan tercatat dalam sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya sebagai awal dari masa yang kelam, ditandai dengan keluarnya Surat Keterangan (SK) pembekuan dari pihak Dekanat FIB kepada 11 Himpunan Mahasiswa Program Studi Arab, Arkeologi, Filsafat, Ilmu Perpustakaan, Indonesia, Inggris, Jawa, Jepang, Prancis, Rusia, dan Sejarah. Alasan di balik kebijakan ini adalah pelanggaran 11 HM Prodi terhadap larangan pihak Rektorat UI untuk mengadakan acara inisiasi mahasiswa baru (maba) di luar kampus. Dengan dikeluarkannya SK ini, otomatis seluruh HM Prodi yang dibekukan tidak dapat menjalankan program kerja seperti seharusnya karena dilarang menggunakan fasilitas kampus sama sekali. Hal ini berlangsung selama lima bulan, sesuai dengan isi dalam SK tersebut. Selama lima bulan, lingkungan kampus yang biasanya selalu ramai dengan acara-acara yang sebagian besar diselenggarakan oleh HM Prodi nampak jauh lebih lengang daripada hari-hari sebelumnya. Para pengurus HM Prodi diliputi kegelisahan dan frustrasi karena banyaknya program kerja yang tidak bisa dijalankan. Selama lima bulan pula, FIB bagaikan menyimpan ‘api dalam sekam’, akumulasi dari kekecewaan dan kekesalan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan. Sampai akhirnya, pada tanggal 10 April, pembekuan resmi berakhir. HM Prodi yang terkena hukuman kini ‘dicairkan’ kembali dan siap untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala. Namun, apa saja dampak dari kebijakan pembekuan ini? Apa sebenarnya pangkal dari semua permasalahan ini? Apakah memang benar kebijakan pembekuan adalah hukuman yang paling tepat dan mendidik bagi HM Prodi, yang diibaratkan seperti ’anak yang nakal terhadap orang tua’? Lalu, akan seperti apa hubungan dekanat dan HM Prodi di masa depan? Pertanyaan yang paling penting adalah apa yang selanjutnya akan terjadi di fakultas tercinta kita ini? Pangkal Permasalahan

Agar dapat memahami masalah secara menyeluruh, kita perlu kembali ke satu semester yang lalu, tepatnya beberapa bulan setelah pene-rimaan maba angkatan 2008. Seperti biasa, sebagian besar HM Prodi telah menyiapkan acara khusus untuk menginisiasi maba prodi masing-ma-sing, sehingga mendapat keanggotaan HM Prodi. Sesuai tradisi yang biasanya sudah mengakar kuat, acara akan diadakan di luar kampus. Namun, tanpa peringatan sebelumnya, tiba-tiba muncul sebuah kebijakan dari rektorat yang kemudian diperantarakan lewat Dekanat FIB untuk melarang seluruh kegiatan di luar kampus yang melibatkan maba. Pada akhirnya, dapat terlihat bahwa yang ingin dilarang sebenarnya adalah acara inisiasi HM Prodi di FIB, yang biasanya diadakan pada waktu yang berdekatan (atau bahkan bersamaan) dan di kawasan yang sama, yaitu Puncak. Hal ini membuat para panitia inisiasi dari tiap-tiap HM Prodi seperti ‘kebakaran jenggot’. Persiapan berbulan-bulan terancam sia-sia karena larangan yang disosialisasikan secara mendadak tanpa melalui proses komunikasi dengan HM Prodi yang bersangkutan. Hal yang terjadi selanjutnya adalah sebanyak 11 HM Prodi memilih untuk mengabaikan SK larangan, yang antara lain sudah ditandatangani oleh BEM dan DPM FIB, dan tetap mengadakan acara inisiasi mahasiswa baru. Tidak lama kemudian, konsekuensinya pun tiba, yaitu pembekuan 11 HM Prodi selama 5 bulan. Jika dilihat dari sudut pandang dekanat, mungkin hukuman memang layak diberikan kepada HM Prodi yang telah melanggar peraturan tertulis. Namun, apakah hukuman berupa pembekuan memang cara yang paling benar untuk menertibkan HM Prodi yang dianggap membandel? Bukankah ini justru bersifat kontraproduktif dan akan mematikan fungsi dari HM Prodi yang berperan sebagai wadah aktivitas mahasiswa? HM Prodi yang dibekukan mengalami kerugian besar, salah satu buktinya adalah acara BritBash yang diselenggarakan oleh HM Prodi

IKMI (Ikatan Mahasiswa Inggris) yang terpaksa mudik dari kawasan FIB ke PSJ (Pusat Studi Jepang) karena izin penyelenggaraan atas nama HM Prodi telah dicabut. Tidak hanya pemindahan lokasi, banyak pula materi acara yang terpaksa dihapus sehingga acara ini pun kehilangan greget serta potensi pemasukan. Sebagian HM Prodi berusaha menyikapi kondisi pascapembekuan dengan mencoba membangun kembali komunikasi dengan pihak dekanat. Akan tetapi, komunikasi berlangsung cukup ruwet dan tidak menghasilkan apa-apa. Situasi bertambah parah saat acara Festival Budaya—agenda tahunan FIB yang juga merupakan acara kebanggaan dan paling dinanti-nanti di fakultas kita ini—dicekal dan tidak bisa diselenggarakan di lingkungan kampus FIB. Padahal, ini adalah acara BEM FIB yang seharusnya tidak terpengaruh oleh kebijakan pembekuan. Namun, nampaknya pihak yang memegang otoritas ingin menghukum HM Prodi lebih jauh lagi karena memang HM Prodi berpartisipasi aktif dalam acara ini sebagai peserta, terutama dalam kompetisi Petang Kreatif (PK) yang sarat muatan prestise. Dies Mortalis: Sebuah Protes Dies mortalis merupakan aksi yang digagas oleh pihak-pihak yang merasa prihatin terhadap apa yang terjadi di FIB. Nama acara ini sendiri merupakan plesetan dari acara dies natalis. Acara yang berlangsung pada hari Jumat, tanggal 4 Desember 2008 ini (yang tadinya sudah di-plot sebagai tanggal penyelenggaraan PK) dibuka dengan orasi, pertunjukan drama, parodi, dan lain-lain. Acara ini bertujuan untuk menunjukkan pemberontakan terhadap belenggu kreativitas yang disimbolisasikan dengan tidak diizinkannya penyelenggaraan Festival Budaya pada tahun itu, sekaligus menuntut komunikasi dengan pihak dekanat mengenai masalah ini. Isu pembekuan juga diangkat ke permukaan oleh pihak mahasiswa yang merasa yakin bahwa hukuman pembekuan tersebut tidak selayaknya diberikan kepada HM Prodi disebabkan tidak adanya landasan hukum maupun rasio yang

benar-benar konkret. Pada akhirnya, pertemuan antara pihak dekanat dengan perwakilan masing-masing HM Prodi pun terjadi. Sayangnya, belum ada perkembangan berarti dari pertemuan tersebut, selain janji lisan dari pihak dekanat untuk melanjutkan komunikasi di lain hari. Dies Setelah peristiwa Mortalis, pihak dekanat, rektorat— yang diwakili Pak Komaruddin selaku Manajer Kemahasiswaan UI—serta ketua-ketua HM Prodi melangsungkan komunikasi yang kemudian memberikan harapan untuk menyatukan pikiran. Namun, status HM Prodi tetaplah beku, tidak ada kompromi mengenai hal itu. Pembekuan pun terus berlaku dan tidak ada lagi yang dapat dilakukan para pengurus HM Prodi selain berusaha untuk tetap menjaga eksistensi organisasi dalam status ‘beku’. Dampak Dari Pembekuan Menurut beberapa ketua HM Prodi yang dihubungi secara terpisah, jelas bahwa pembekuan telah mengakibatkan dampak negatif yang cakupannya cukup luas. Febriannisa, Ketua HM Prodi Inggris, menuturkan bahwa salah satu dampak terbesar adalah terhambatnya kaderisasi di dalam HM Prodi itu sendiri. HM Prodi tidak dapat leluasa menyelenggarakan event, yang merupakan wadah aktualisasi bagi mahasiswa baru. Akibatnya, keanggotaan jadi terkesan mubazir. Menjadi anggota HM Prodi bukan lagi menjadi suatu kebanggaan atau sesuatu yang diimpikan karena fungsi dari HM Prodi itu sendiri sudah dibatasi. Di masa depan, hal ini bisa berdampak dari menurunnya minat mahasiswa nonanggota HM Prodi untuk mengikuti prosedur menjadi anggota, apalagi bila HM Prodi belum menemukan solusi untuk menyiasati dilema mengenai penyelenggaraan inisiasi nantinya. Memang, pembekuan tidak otomatis mematikan kegiatan organisasi HM Prodi itu sendiri, tapi dengan ketidakmampuan untuk mengakses fasilitas kampus, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka telah kehilangan banyak ruang gerak maupun kesempatan. Mahasiswa baru, yang mungkin

pemahamannya mengenai pembekuan dan politik kampus tergolong kurang, bisa saja berpikir bahwa HM Prodinya sudah menjadi organisasi ilegal. Oleh karenanya, lebih baik tidak usah diikuti daripada terkena masalah. Salah seorang mahasiswa angkatan 2008 yang belum menjadi anggota di HM Prodinya mengakui, “Tadinya saya ingin mengikuti prosedur susulan untuk menjadi anggota HM, tapi sekarang tidak terlalu tertarik. Kelihatannya nggak ada manfaat nyata yang bisa dipetik, apalagi kalau nanti kena masalah lagi. Saya kan kuliah prioritasnya untuk belajar, jadi rasanya nggak ada masalah untuk nggak ikut HM Prodi.” Inilah yang ditakutkan Febri dan Ketua HM Prodi lainnya, bahwa HM Prodi perlahan kehilangan esensi dan daya tarik bagi mahasiswa program studi bersangkutan. Di tengah kesemrawutan merencanakan program kerja yang terhambat dan manuver untuk mengantisipasi kebijakan dekanat, para pengurus HM Prodi juga harus ingat untuk melakukan konsolidasi internal. Setiap anggota, terutama yang masih baru, harus ditekankan lagi mengenai esensi dari HM Prodi se-hingga intern organisasi menjadi lebih kuat meskipun sempat dibekukan. “Yang penting, kuat dulu dari dalam,” kata Febri. “Prioritas kita sekarang bagaimana memberdayakan ide-ide dari jumlah anggota yang banyak, supaya HM Prodi bisa lebih berkembang lagi,” tambahnya. Di lain pihak, Boik, Ketua HM Prodi Sejarah, juga mengkhawatirkan dampak dari kurangnya event terhadap kualitas mahasiswa FIB nantinya. “Kampus macam apa yang nyaris tidak ada kegiatannya selama setengah tahun? Kalau dibandingkan dengan FE dan FISIP yang bisa mengadakan 10-20 acara selama periode waktu itu, ber-arti mahasiswa kita sudah ketinggalan jauh satu semester. Pembekuan membuat mahasiswa kita jadi melempem!” ujarnya. Tak bisa dipungkiri, mengurus suatu event memang bertujuan untuk mengasah kemampuan berorganisasi, ...bersambung ke halaman 11...


Halaman

IMPERIALISME BARU

...sambungan halaman 1... Jangan termakan stereotip bahwa yang bisa menjadi mapres hanyalah orang dengan IP 3.8, atau orang yang pengalaman organisasinya bila dituliskan bisa mencapai berlembar-lembar. Untuk menjadi seorang mapres, yang lebih diperlukan sebenarnya adalah kepercayaan diri, kekuatan mental, dan kemampuan untuk berpikir kritis. Sebenarnya, semua orang bisa saja menjadi mapres walaupun perjuangannya jelas sama sekali tidak ringan. Lalu, bagaimana dengan pelaksanaan pemilihan mapres di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya? Kompetisi yang baru saja berakhir ini

...sambungan halaman 10...

kepanitiaan, dan berbagai soft skill lain yang terdapat pada mahasiswa. Tidak hanya untuk mahasiswa, minimnya event juga membawa kerugian bagi citra FIB secara umum. Kondisi Terkini Tanggal 10 April menandai tepat lima bulan sejak SK pembekuan keluar, yang berarti masa hukuman telah berakhir. Namun, tidak sertamerta setiap HM Prodi dapat kembali aktif seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Dekanat memberikan syarat untuk setiap ketua HM Prodi menandatangani perjanjian tertulis, yang isinya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Namun, menurut para ketua HM Prodi yang telah dihubungi, perjanjian itu hanya mengikat ketua dari HM Prodi yang bersangkutan secara individual, bukannya secara organisasi. Menurut Riyan, Ketua HM Prodi Ilmu Perpustakaan, bila HM Prodi tetap ngotot melakukan inisiasi

SUARA | SEPT-1-2009

SEPUTAR FIB

RESENSI Buku yang berjudul Imperialisme Baru adalah buku terbaru terbitan Gema Insani Press yang membahas tentang gambaran imperialisme dalam kehidupan seharihari masya-rakat Indonesia. Buku Imperialisme Baru ini ditulis dengan menggunakan bahasa yang tidak rumit sehingga orang awam pun dapat membaca dan memaknainya secara lebih komprehensif. Buku ini menjelaskan berbagai persoalan kontemporer pemikiran Islam di Indonesia. Pembahasannya sederhana namun mendalam, berangkat dari fakta, sehingga membuat pembahasan menjadi lebih konkret. Namun demikian, buku ini agak dangkal pemaknaannya bagi kalangan mahasiswa yang memiliki daya intelektualitas tinggi. Buku ini menjelaskan tentang perkembangan imperialisme sejak zaman penjajahan sampai sekarang, sejak masa orientalis klasik memutarbalikkan Islam sampai dengan zaman orientalis modern, dari cara yang keras sampai cara yang paling halus, inilah yang disebut imperialisme baru. Buku ini juga menjelaskan bentuk gerakan Islam liberal dalam mempengaruhi Islam dan siapa saja tokoh-tokohnya. Selain itu, masyarakat yang membaca buku ini akan mengetahui siapa-siapa saja atau organisasi apa saja di balik gerakan

11

bahwa kebangkitan Islam, kebangkitan negara, masyarakat, atau individu muslim harus dimulai dengan budaya ilmu. Sebab kepemimpinan yang benar adalah kepemimpinan berpikir, bukan kepemimpinan ekonomi atau militer. Peradaban dunia saat ini yang mengandalkan kepemimpinan ekonomi dan militer sebagai kepemimpinan unggulannya adalah peradaban yang jauh dari kemanusiaan. Banyak negara yang egois dengan nasionalismenya memperdaya dan memiskinkan negara-negara lain. Oleh karena itu, jangan bermimpi negeri-negeri Islam akan memimpin dunia Barat apabila tradisi ilmu belum membudaya dalam masyarakat.

Islam liberal. Di samping itu, buku ini juga menyajikan situs-situs penting yang berkaitan dengan liberalisasi. Yang paling penting dan yang paling ditekankan dalam buku ini adalah bagaimana membangkitkan umat dengan tradisi ilmu. Tradisi ilmu dalam Islam telah diajarkan Rasulullah semenjak ayat al-Quran yang pertama turun, yaitu Iqra’, bacalah. Ayat ini telah mengubah sahabat-sahabat Rasulullah dari orang-orang jahiliyah yang suka mabuk-mabukkan, main perempuan, berleha-leha, serta menipu, menjadi orang-orang yang senang dengan ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia. Jadi, tidak ada kata lain telah menghasilkan nama Gemilang Sinatrya Dwi Putri, atau yang biasa disapa ‘Anggi’, dari Program Studi Rusia (lihat ‘Quality Time Is Better Than Quantity Time’), yang selanjutnya akan berjuang mewakili nama fakultas dalam Pemilihan Mapres tingkat UI. Namun, ternyata masih banyak masukan dari pihak mahasiswa kepada penyelenggaraan Mapres FIB 2009 yang telah berlangsung. Di antaranya adalah Alfi dari Program Studi Inggris, yang menuturkan bahwa “Sosialisasi mengenai pemilihan mapres masih belum maksimal, sehingga banyak mahasiswa FIB yang tidak tahu-menahu mengenai kompetisi ini sampai babak final. Selain itu, akan lebih baik lagi kalau kandidat di luar pada semester selanjutnya, sanksi akademis akan diberikan kepada ketua HM Prodi bersangkutan, tidak lagi kepada organisasinya. Walaupun tidak ada rincian akan seperti apa sanksi akademis yang diberikan, dapat ditebak bahwa sanksi itu akan cenderung berat. Saat ini, beberapa HM Prodi sudah resmi ‘cair’. Akan tetapi, masih ada juga beberapa HM Prodi yang sedang mengurus rincian prosedural, seperti HM Prodi Sejarah. Meskipun demikian, mereka pun mengusahakan untuk menyelesaikan semua proses secepat mungkin karena akan merugikan bila terus tertunda. Masa Depan Setelah semua yang telah terjadi, lalu bagaimana langkah HM Prodi di masa depan agar dapat mencegah masalah yang sama tidak terulang kembali? Febri menegaskan bahwa HM Prodi akan bersikap taktis dan lebih cermat dalam menganalisis kondisi nantinya. Bila perlu, ada wacana

Data buku: Judul : Imperialisme Baru Penulis : Nuim Hidayat Penerbit : Gema Insani Press, Jakarta 2009 Tebal : 292 hlm; 20,3 cm

mapres juga diberi pembekalan selama kompetisi, seperti dikarantina atau sebagainya.” Tentunya, masih diperlukan usaha yang lebih giat lagi dari setiap insan perkuliahan FIB UI untuk memotivasi mahasiswa FIB UI untuk mengejar impian dan keinginan menjadi mapres; karena status ini bukanlah sekadar status yang dipakai untuk gengsi-gengsian, melainkan suatu bentuk supremasi intelektual. Perjuangan menjadi mapres adalah perjuangan untuk menjadi mahasiswa yang sesungguhnya…. (Raven)

untuk mengubah konsep inisiasi HM Prodi menjadi di dalam kampus. Pada dasarnya, semua ketua HM Prodi yang dihubungi menegaskan pentingnya komunikasi antara pihak dekanat dengan HM Prodi. Minimnya komunikasi ini mengakibatkan banyak terjadi kesalahpahaman dan silang pendapat. Masing-masing pihak haruslah lebih aktif mencari waktu untuk bertukar pikiran. Boik menyarankan, untuk membahas masalah ini di kemudian hari, perlu diadakan 5-6 kali pertemuan berkala, bukan hanya 2 kali seperti yang terjadi menjelang pembekuan. Intinya, masing-masing pihak harus bertemu secara rutin dengan mengenyampingkan kepentingan sendiri sejenak, untuk menyatukan pikiran dan visi. Cukup sekali itu saja pembekuan terjadi pada begitu banyak HM Prodi di FIB. Sambil berharap semua pihak terkait akan mampu bersikap bijaksana dan mendapatkan

FIB NYENI

Kamis, 23 April 2009 (narasumber: Ibnu Rizal-Prancis’06) FIB Nyeni merupakan suatu rangkai-an acara seni dan budaya yang berada di bawah naungan UKSB (Unit Kegiatan Seni dan Budaya) Dekanat FIB UI. Rangkaian acara ini diselenggarakan pada tanggal 22-28 April 2009. Kepa-nitiaan FIB Nyeni ini terlihat berbeda dari kepanitiaan yang lain. Mengapa? Hal ini disebabkan rangkaian acara FIB Nyeni tidak memiliki PO perorangan, setiap acara dilakukan secara komunal alias ‘keroyokan’. Persiapan acara ini sendiri sudah dimulai sejak satu bulan sebelum acara berlangsung, tetapi baru benar-benar dipersiapkan satu minggu sebelum hari-H. Hari Rabu, bersamaan deng-an pembukaan acara FIB Nyeni,

Lensa Massa menjadi pengisi acara awal dengan memutarkan film-film pendek serta ulasan filmnya. Keesokan harinya, Kamis, bergantian, Markas Sastralah yang menjadi pengisi acara. Sebenarnya, siapa saja dapat menjadi pengisi acara jika ingin menampilkan karyanya, tidak harus dari suatu komunitas di FIB, bebas, yang penting berani tampil. FIB Nyeni pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008. Tahun ini, yang merupakan tahun kedua, FIB Nyeni sudah lebih baik daripada sebelumnya. Hal ini terlihat dari adanya beberapa kemajuan, yaitu adanya pameran fotografi, serta buku antologi yang dibuat oleh markas sastra. Salah satu acara yang diminati oleh sivitas akademika FIB adalah sayembara puisi. Hal ini terbukti dari banyaknya jumlah puisi yang masuk ke alamat email panitia, yaitu berjumlah sekitar seribu puisi. Puisi-puisi tersebut diseleksi hingga tersisa 53 puisi yang pada akhirnya disatukan dalam antologi puisi. Tujuan diselenggarakan FIB Nyeni adalah untuk menghidupkan semangat berseni, berbudaya, dan berilmu di FIB. Selain itu, tema acara ini pun tidak hanya seputar kesenian dan kebudayaan, tetapi juga dilingkupi dengan ilmu. (Nur sa’adah dan Fitri A.L.)


Halaman

12 SUARA | SEPT-1-2009

Creative Idea by DWI disini

2,5 % adalah milik mereka

Dari Ibnu Abbas r. bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz ke negeri Yaman –ia meneruskan hadits itu– dan didalamnya (beliau bersabda): “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan mereka zakat dari harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.

NAKSI Nasihat Kebaikan Formasi Ramadhan Bulan Penuh Hikmah

Forum Amal dan Studi Islam Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

SUARA Marketing: Ami-08170872215

Put Your Adds Here


Suara_agustus_I_2009