Page 1

48

Tjoa

Digital Camera interview

Alex Tjoa

Alex

Tinggal di Swedia, namun besar di Palembang. “Dalam fotografi saya menganut konsep ‘wabi-sabi’, keindahan dari ketidaksempurnaan”, ujarnya. FRANS GUNTERUS

Selendang biru di Oia, Santorini, 2012

Diabadikan sewaktu matahari terbit. Menggunakan jarak fokus 14 mm, 1/500 detik pada f/5.6, ISO 320, lensa Canon EF 14mm f/2.8L II USM, dengan pencahayaan alami. Edisi 65/VI/Januari 2015

* Fotografer asal Indonesia yang saat ini berdomisili di Swedia. * Menyelenggarakan workshop fotografi di Santorini, Yunani, bekerja sama dengan salah satu hotel terbaik di dunia, Perivolas Hotel. * Menyukai mendalami fotografi landscape, fashionscape, dan food.

Edisi 65/VI/Januari 2015

49


50

Digital Camera interview

Salad semangka dan tomat cherry, 2014 (Atas)

Piring seng dan sendok perak sterling dalam dengan “The Curves of Time” yang harmonis.

Wedang angsle, 2014 (Tengah)

Dengan mangkuk, sendok keramik antik dan mangkou batok kelapa. Jarak fokus 105 mm, 4 detik pada f/22, ISO 100.

Tape ketan hijau, 2014 (Kanan atas)

Minuman khas dengan perasan jeruk serta wedang uwuh. Jarak fokus 100 mm, 1/3 detik pada f/32, ISO 100.

Wedang secang & bir Jawa, 2014 (Paling kanan atas)

Cara untuk mempromosikan kekayaan kuliner Indonesia ke dunia internasional. Jarak fokus 105 mm, 1/15 detik pada f/5.7, ISO 100.

P

erkenalan saya dengan Alex Tjoa terbilang cukup unik. Saya mengenalnya lewat suami dari teman keponakan saya, saat mereka berkunjung ke rumah. Ia menceritakan sepupunya fotografer profesional yang kini tinggal di Visby, Gotland, Swedia. Melihat karya-karya di website pribadi Alex Tjoa, saya pun takjub. Alex Tjoa adalah salah satu fotografer wanita profesional di Swedia. Ia menggeluti fotografi lanskap, fashionscape (pemotretan fashion di landscape), dan juga fotografi kuliner. Salah satu karyanya–lanskap indah di Santorini, Yunani– dihargai oleh penduduk Santorini. Alhasil, tawaran kerja sama dari Perivolas Hotel–salah satu hotel terbaik di dunia di sana–untuk mengadakan workshop fotografi pun datang. Workshop diadakan di hotel dengan desain arsitektur yang unik, indah, dan berselera tinggi itu. “Suatu berkat yang sangat saya syukuri karena konsep fotografi dan workshop saya sungguh seirama dengan konsep Perivolas. Kami semua

Edisi 65/VI/Januari 2015

Alex Tjoa

menghargai connoisseurship”, ungkapnya. Peserta workshop dapat merekam keindahan hotel yang eksklusif ini, dengan interior rumah gua (cave house) yang unik. Sebagai info, Perivolas adalah hotel yang tertutup karena ingin menjaga privasi tamunya yang rata-rata adalah CEO perusahaan besar dunia. Workshop gelaran Alex ini ditujukan bagi ‘connoisseur photographers’. Secara harafiah, ‘connoisseur’ berarti ‘a person who has expert knowledge of something, espescially an art, food, or drink, and is qualified to judge and appreciate its quality’. Bisa diartikan, connoisseur photographer adalah fotografer yang menghargai dan menikmati keindahan dan kualitas dalam hidup. Workshop ini lumayan mahal. Bertarif US$ 3850 (sekitar Rp 48 jutaan) termasuk biaya akomodasi hotel, dengan pangsa pasar para eksekutif. “Tidak hanya memotret, mereka juga belajar mengasah intuisi alami, mendengarkan kata hati, dan bersabar”. Meski memperoleh nama di negeri orang, Alex tumbuh di Palembang, Sumatera Selatan.

“Sewaktu kecil, saya tinggal di masyarakat urban yang sederhana. Saya tidak paham apa itu sunset?” “Sewaktu kecil, saya tinggal di masyarakat urban yang sederhana. Saya tidak pernah menyaksikan apalagi paham apa itu sunset? Kalau sekarang, saya adalah landscape photographer yang gemar mengambil foto sewaktu magic hour. Itu adalah sebuah keajaiban bagi seorang anak desa yang dulu hanya dapat melongo kagum melihat keindahan foto-foto di majalah seperti National Geographic.” Masa SMA Alex dihabiskan di Lahat, Sumatera Selatan. Ia menempuh S1 teknik arsitektur di ITENAS, Bandung. Berkat beasiswa, Alex meneruskan sekolahnya di Principia, sebuah liberal arts college di Elsah, Illinois, USA. Selanjutnya, ia juga mengambil gelar S2 di bidang Industrial Logistics di Molde University College, Norwegia. Terlepas dari jalur akademis, sejak

kecil, saya sangat menyukai seni apalagi menggambar. Beberapa kali saya dihukum di kelas gara-gara asyik menggambar. “Segala sesuatu yang berhubungan dengan keindahan mudah membuat saya lupa waktu. Naluri seni dan keindahan mengalir kuat dalam jiwa saya, semua sumber kreativitas tak habis-habisnya mengalir dari Sang Pencipta”. Untuk Alex, lanskap yang paling berkesan adalah desa kecil Oia, Santorini, Yunani. “Tiga puluh tahun rasanya tidak cukup untuk mengenali desa dengan pemandangan yang menakjubkan dan magis itu”.

FOTO KULINER YANG KHAS

Selain lanskap, Alex juga menekuni fotografi kuliner. “Saat ini saya sedang membuat food photography berbagai jenis wedang (minuman hangat) Indonesia untuk sebuah buku. Tujuan proyek ini adalah memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia di dunia luar”. Fotografi kuliner karya Alex sangat khas. Memiliki lengkungan-lengkungan serupa dengan simbol yin-yang. Dalam pengambilan foto-foto

DI DALAM TAS Alex menggunakan Canon EOS 5D Mark II sebagai perangkat utama. Ada beberapa lensa andalannya. Canon EF 24-105mm f/4L IS USM untuk fotografi lanskap dan makanan. Lensa Canon EF 14mm f/2.8L II USM untuk lanskap, arsitektur, dan fashionscape. Ia juga menggunakan Canon EF 100mm f/2.8 Macro USM untuk fotografi makanan dan Canon EF 70200mm f/2.8L IS USM untuk portrait. Untuk pemotretan di studio dan fashionscape, ia menggunakan Profoto

Edisi 65/VI/Januari 2015

51


52

Digital Camera interview DI BALIK FOTO “Pempek goes gourmet! SAYA INGIN MENGUNDANG REAKSI, DARI SUDUT PANDANG DUNIA TIMUR DAN BARAT DARI PEMBENTURAN INI.

Persiapan

Ini adalah foto pempek buatan sendiri ketika tinggal di Swiss. Saya ingin mengundang reaksi, apa yang terjadi jika makanan “kampung” tidak terkenal di dunia barat dibenturkan dengan gelas cognac keren hasil desainer Denmark, Rikke Hagen.

Alex Tjoa Komposisi

Saya juga ingin mendapat reaksi bagaimana jika gelas minuman diisi dengan makanan. Keindahan gelas ini harus dapat juga dinikmati oleh orang yang tidak mengonsumsi alkohol seperti saya. Komposisinya sederhana saja. Minimalis. Less is more.

Kamera & lensa

Bagi saya, fotografi bukan hanya soal mengambil foto, tapi lebih sebagai sebuah medium untuk mengasah pemikiran kreatif. Foto diambil dengan Canon 5D Mark II, menggunakan tripod Gitzo, jarak fokus 85 mm, 1/15 detik pada f/11, ISO 100.

TIP PAKAR

Tip Alex Tjoa untuk menjadi connoisseur photographers..

1

Kontrol cahaya

Manfaatkan pencahayaan alami yang diffuse, yang menghasilkan bayangan yang soft.

2

Hindari oncamera flash

Saya tidak pernah menggunakan flash built-in. Jika pencahayaan tidak optimal, saya menggunakan sumber cahaya artifisial dengan softbox seperti Profoto B1.

3

Sabar, matang, & waktu yang

wedang ini, Alex terinspirasi oleh pemikiran Oscar Neimeyer dalam bukunya “The Curves of Time” tentang keharmonisan alam yang mirip prinsip Tao. “The Curves of Time bukan hanya dapat diterapkan dalam foto lanskap, tapi juga foto makanan. Termasuk foto sepiring salad semangka yang akan terasa lebih indah bila dinikmati sambil mendengarkan lagu “Cavatina” permainan gitar Ana Vidovic yang mengalun lembut bagaikan aliran air menyusuri batu-batu anak sungai. Salah satu tugas saya sebagai food photographer adalah menciptakan foto makanan yang menggugah selera”. Saat memotret kuliner, seringkali Alex hendak memadukan dua hal berbeda ibarat ‘ivory and ebony’ atau ‘the beauty and the beast’. “Saya terinspirasi oleh pernyataan Dr. Wayne Dyer Edisi 65/VI/Januari 2015

“Beautiful or ugly are standards of the physical world, not the Tao [God, Good]”. Sewaktu di Italia, saya memadukan budaya Cina dan perjalanan Marcopolo. Elisa, seorang anak gadis muda Italia saya beri konstum antik Cina dengan sulaman tangan yang halus.” Tidak hanya itu, ada prinsip lain yang juga dianut fotografer yang sudah sudah mengunjungi 40 negara dan tinggal di 8 negara ini, yaitu konsep ‘wabi-sabi’yang berasal dari negeri Sakura, Jepang. Wabi-sabi berarti keindahan dari ketidaksempurnaan. “Konsep wabi-sabi memiliki pandangan bahwa kesempurnaan tidak harus diraih dengan menjadi sempurna, namun dengan menyisakan ketidaksempurnaan itu sendiri”. Alex menerapkan konsep ini seperti dalam foto apel yang tidak mulus dengan mangkuk Royal

Copenhagen seharga 10 juta rupiah. “Saya suka membenturkan dua hal berbeda dalam foto saya. Kesempurnaan dan ketidaksempurnaan, timur dan barat, barang rongsokan dan sendok silver sterling antik, pempek Palembang di dalam gelas cognac Normann Copenhagen”. Bahkan, foto kuliner unik dengan hidangan khas Palembang ini dipublikasi di blog resmi Normann Copenhagen. Karya ini menjadi cara mempromosikan makanan tradisional Indonesia di dunia internasional.

BE YOURSELF!

Sebagai fotografer internasional, Alex tentunya juga terinspirasi dari karya-karya fotografer lain. Siapa saja panutannya? “Dalam bekerja, saya cenderung seperti Anne Geddes, cermat, tenang, dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan

Marcopolo-Cina, Palazzo Ducale, Venice, Italia, 2012 (Paling atas) Ini adalah foto komposit. Saya rekam arsitekturnya dulu dengan f/16 karena saya ingin detail bangunan dengan shutter speed yang cukup cepat. Lalu saya shot Elisa, si model.

Santorini, Yunani, 2012 (Atas)

Direkam sewaktu matahari terbenam. Jarak fokus 24 mm, 30 detik pada f/14, ISO 100.

Kawah Putih, Ciwidey, 2013 (Kanan atas)

Dengan komposisi minimalis. Jarak fokus 50 mm, 1/200 detik pada f/9, ISO 100.

baik. Di bidang wedding photography, saya suka Joe Buissink dengan foto-fotonya yang merekam kenangan indah bagi pasangan pengantin karena kemampuannya melihat aura pernikahan yang acapkali tidak kasat mata. Inspirasi bagi fotografi karya Alex juga didapatkan dari bidang arsitektur. “Saya suka hasil karya arsitek John Pawson yang minimalis yang menekankan kerapian kerja dan detail serta menggunakan bahan-bahan bangunan berkualitas tinggi seperti papan kayu douglas fir”. Dunia fotografi Indonesia patut bangga memiliki srikandi fotografi yang berkiprah di dunia internasional. Kiprah Alex Tjoa tidak sebatas di bidang fotografi namun juga dalam berbagai kegiatan sosial baik ketika berada di Norwegia maupun di Amerika. Pesannya untuk

tepat Untuk menciptakan sebuah foto yang bagus, diperlukan kesabaran, persiapan konsep dan properti yang matang, serta timing yang tepat.

4

Ambil foto yang baik di lokasi Perhatikan komposisi dan pencahayaan.

5

Pemikiran kreatif

Bereksperimenlah. Berpikir di luar kotak.

“Saya suka membenturkan dua hal berbeda. Kesempurnaan dan ketidaksempurnaan” para fotografer muda: “Just like in life, you need to be yourself when it comes to photography. Dalam perjalanan mengembangkan seni fotografi, kita dapat belajar dari atau mencontoh orang lain. Namun, setelah mulai berkembang berjalanlah sesuai dengan pola jati diri kita sendiri. Sesuai dengan panggilan ‘soul and passion’ kita sendiri.” “Be your self!”, katanya, lagi, menyudahi perbincangan. Lihat foto-foto Alex Tjoa lainnya di www.alextjoa.com Edisi 65/VI/Januari 2015

53

Digital Camera magazine, January 2015, Alex Tjoa  

Digital Camera magazine, Indonesia, January 2015, features a six-page interview about Alex Tjoa photography. Author: Frans Gunterus.

Digital Camera magazine, January 2015, Alex Tjoa  

Digital Camera magazine, Indonesia, January 2015, features a six-page interview about Alex Tjoa photography. Author: Frans Gunterus.

Advertisement