Page 1

FOR MEMBERS ONLY UNTUK AHLI SAHAJA

Al-Hikmah

Sept 28, Issue 05/09 (11th) 9 Syawal 1430

Ucapan dari Presiden & Ahli Jawatankuasa Kerja Persatuan Islam AlAl-Hikmah (Majlis Pentadbir) Presiden dan Ahli Jawatankuasa Kerja Persatuan Islam Al-Hikmah (Majlis Pentadbir) mengucapkan Salam Aidilfitri dan Maaf Zahir Batin kepada semua jemaah Al-Hikmah serta sahabat handai simpatisan yang dihormati. Rejab dan Syaban telah berlalu pergi. Kini datang bulan yang dinanti. Ramadan menjenguk kita sekali lagi. Ia datang dengan penuh erti. Kesyukuran, kemaafan dan keinsafan berputik dihati. Saat berkumpul di Syawal pagi. Semoga Allah (S.W.T) merahmati kita semua dalam menunaikan ibadah puasa ini. Dengan kasihnya Nabi (S.A.W) dan Ahlul Baitnya, semoga dapat memberikan syafaat kepada kita semua. Kami akhiri ucapan ini dengan serangkap pantun.

Kisah Yang Lalu Jangan Difikir Ampun Maaf Menyusun Jari Berjabat Tangan, Senyuman Terukir Maaf Diucap Seikhlas Hati Ampun Dan Maaf Harap Diberi Selamat Menyambut Syawal yang dinanti

Niaz M A Ali Managing Editor

Amir Mohd Executive Editor

Razman Abdullah Editor

Editorial Desk & Lailatul Qadr

2

Lailatul Qadr & Zakat/ Khummus

3

Current Affairs: National Day Rally

4

Sarahnadia Roisza Ismail Art Director

Apa Kata Wak Lampir

5

Faridah Zahra Senior Associate Editor

News & Events I

6

Nurul Hakimah Associate Editor

News & Events II

7

Youth: Sisters’ Outing

8

Disclaimer: We reserve the right to edit for brevity and content. We reserve the right to reject in part or total any articles submitted.


Al-Hikmah: Editorial Desk / Lailatul Qadr

Page 2

Dear Esteemed Readers, With Salams and Respects

By: Niaz M A Ali

As we leave the Month of Ramadan behind, and step into a Month of Merriment and festivities, a Month of rekindling ties and bonds between family and friends, a feeling of nostalgia creeps in - Will we be able to welcome the Blessed Month of Ramadan in the following years with good health and strong Iman? May the togetherness with your loved ones fill your soul with sweetness today May Allah Bless you with all your heart desires Eid Mubarak to one and all. May I take this moment to seek your forgiveness and pardon for any transgressions on our part, individually and as a Team.

Niaz M A Ali Managing Editor For and on behalf of the entire Team of the Publications Bureau

Hasil Ilham: Ustaz Aziz “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam Al-Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Al-Qadar itu? Malam Al-Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ar-Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” Surat ini menjelaskan kepada kita bahwa: Al-Qur’an diturunkan pada malam Al-Qdar, keutamaan malam Al-Qadar lebih baik dari seribu bulan, para malaikat dan Ar-Ruh turun ke bumi atau ke langit bumi, kandungan maknanya menunjukkan bahwa surat ini di Madinah dikuatkan oleh riwayat-riwayat dari Ahlul bait (sa) juga dari Ahlussunnah. Allah swt menamakan malam itu dengan malam Al-Qadar, maksudnya sudah jelas yaitu malam menetapan takdir. Yakni pada malam itu Allah swt menetapkan takdir segala persoalan dan kejadian dalam satu tahun, dari malam itu sampai malam Al-Qadar berikutnya. Penetapan takdir tentang: kehidupan dan kematian, rizki, kebahagian dan kecelakaan, dan lainnya. Hal ini seperti yang ditunjukkan di dalam surat Ad-Dukhkhan: “Di dalamnya diperjelas (dipilah-pilah) semua persoalan yang penuh hikmah. Yaitu persoalan yang besar dari sisi Kami, sesungguhnya Kami yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Ad-Dukhkhan: 4-6). Tidak ada persoalan besar yang penuh hikmah kecuali penetapan peristiwa dan kejadian secara pasti melalui takdir Ilahi. Dengan penjelasan tersebut juga dapat dipahami bahwa malam Al-Qadar terjadi secara berulang setiap tahun Qamariyah. Yaitu malam ditetapkannya takdir persoalan dan kejadian dalam satu tahun, dari malam itu sampai malam Al-Qadar berikutnya. Malam itu adalah malam Al-Qadar, malam diturunkannya Al-Qur’an sekaligus kepada Nabi saw. Kajian Riwayat Dalam tafsir Majma’ul Bayan: dari Hammad bin Utsman, dari Hassan bin Abi Ali, ia bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) tentang malam Al-Qadar. Beliau berkata: “Carilah malam itu di malam ke 19, malam ke 21 dan malam ke 23.” Allamah Thabathaba’i mengatakan: Dalam makna yang lain terdapat dalam sebagian riwayat carilah malam itu pada malam ke 21 dan malam ke 23. Seperti dalam riwayat yang disebutkan dalam tafsir Al-‘Ayyasyi: dari Abdul Wahid dari Imam Muhammad Al-Baqir (sa): Malam itu terjadi pada malam ke 23, muliakan malam itu karena Al-Amr, (persoalan) di dalamnya, jangan hinakan ia dengan perbuatan maksiat. Dalam Al-Kafi, dengan sanad dari Zurarah, ia berkata bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Takdir pada malam ke 19, Ibram (penetapan yang pasti) pada malam ke 21, dan Imdha’ (pengesahan) pada malam ke 23.”


Page 3

Al-Hikmah: Lailatul Qadr / Zakat & Khummus

Adapun dari jalur Ahlussunnah riwayat tentang malam Al-Qadar berbeda-beda dan bermacam-macam. Tapi yang masyhur di kalangan mereka adalah malam Al-Qadar terjadi pada malam ke 17, malam nuzulul Qur’an. Jika ingin tahu lebih detail, silahkan baca tafsir AdDurrul Mantsur, Jalaluddin As-Suyuthi. Dalam tafsir Ad-Durrul Mantsur, diriwayatkan dari Al-Khathib dari Ibnu Musayyab. Ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Aku melihat Bani Umayyah naik ke mimbarku, hal itu menyesakkan nafasku, maka Allah menurunkan surat Al-Qadar.” Riwayat dalam makna ini juga banyak diriwayatkan dari jalul para Imam Ahlul bait (sa) bahwa Allah swt menghibur Nabi-Nya saw dengan mengkaruniakan malam Al-Qadar kepadanya, dan menjadikannya lebih baik dari seribu bulan, yakni lebih baik dari masa kerajaan Bani Umayah. Humran bertanya kepada Imam Muhammad Al-Baqir (sa) tentang firman Allah “Kami turunkan Al-Qur’an pada malam yang penuh berkah” (Ad-Dukhkhan/44: 3). Beliau menjawab: “Ya, malam itu adalah malam Al-Qadar dan terjadi setiap tahun di bulan Ramadhan, sepuluh malam terakhir; dan Al-Qur’an tidak diturunkan kecuali pada malam Al-Qadar, Allah swt berfirman: “Pada malam itu diperjelas setiap persoalan yang penuh hikmah” (Qs. 44: 4). Beliau berkata: “Pada malam itu, tahun itu hingga tahun berikutnya ditetapkan takdir setiap sesuatu dari sisi baik dan buruknnya, ketaataan dan kemaksiatan, kelahiran dan ajalnya atau rizkinya. Takdir yang ditentukan dan qadha’ yang ditetapkan pada malam itu adalah sesuatu yang mahtum (pasti); dan Allah Azza wa jalla memiliki kehendak di dalamnya.” Ia bertanya lagi: Malam Al-Qadar lebih baik dari seribu bulan, apa maksudnya? Beliau menjawab: “Amal shaleh di dalamnya yakni shalat, zakat dan segala kebaikan lebih baik dari seribu bulan yang di dalamnya tidak terdapat malam Al-Qadar. Sekiranya Allah swt tidak melipatgandakan bagi kaum mukminin, niscaya mereka tidak akan mampu mencapainya, tetapi Allah melipatgandakan kebaikan bagi mereka.” Dalam tafsir Al-Burhan, dari Sa’d bin Abdillah, dengan sanad dari Abu Bashir, ia berkata: Aku bersama Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa), lalu beliau menyebutkan persoalan imam. Lalu beliau berkata: Pada malam Al-Qadar terjadi tambahan Ar-Ruh. Kemudian aku bertanya: Jadikan aku tebusanmu, bukankah Ar-Ruh itu malaikat Jibril? Beliau menjawab: Jibril bagian dari para malaikat, sedangkan ArRuh lebih agung dari para malaikat, bukankah Allah berfirman: “Turunlah para malaikat dan Ar-Ruh.”Allamah Thabathaba’i mengatakan: riwayat tentang malam Al-Qadar dan keutamaannya banyak sekali. Sebagian riwayat menyebutkan tentang tanda-tandanya yang tidak selalu mesti demikian, seperti terbitnya matahari di pagi hari tanpa sinar, terjadinya keseimbangan cuaca dan iklim. (Tafsir Al-Mizan oleh Allamah Thabathaba’i Malam AlAl-Qadar dan Pengampunan Dosa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan malam Al-Qadar dengan ibadah dan mengharap ampunan, ia diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (Al-Wasail 10: 358) Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Barangsiapa yang menghidupkan malam Al-Qadar, ia akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak bintang di langit, seberat gunung dan seluas samudra.” (Al-Mustadrak 7: 457) TandaTanda-Tanda orang yang celaka Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ada empat tanda orang yang celaka: kedua matanya keras (tak mampu menangis), rakus dalam mencari dunia, dan mengulang-ulang dosa.” (Mustadrak Al-Wasail 11: 366) Dosa yang tidak diampuni di Malam AlAl-Qadar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah membebaskan beribu-ribu manusia dari neraka setiap hari saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Khusus pada malam Jum’at dan hari Jum’at Allah swt membebaskan beribu-ribu manusia dari neraka setiap jam, yang semestinya mereka itu disiksa. Khusus pada hari terakhir bulan Ramadhan Allah swt membebaskan sejumlah manusia yang dibebaskan sejak awal bulan hingga hari yang terakhir. Khusus pada malam Al-Qadar Allah Azza wa Jalla memerintahkan malaikat Jibril untuk turun ke bumi bersama para malaikat pencatat amal…Pada malam ini mereka mengucapkan salam kepada setiap manusia yang menghidupkan malam itu dengan ibadah, shalat dan zikir. Para malaikat berjabatan tangan dengan mereka, dan mengaminkan doa mereka hingga terbit fajar. Ketika terbit fajar Jibril memanggil para malaikat: Wahai para malaikat, mari kita pergi. Para malaikat berkata: Wahai Jibril, apa yang telah diperbuat oleh Allah swt untuk hajat-hajat kaum mukminin dari ummat Muhammad saw. Jibril menjawab: “Sungguh Allah swt telah memperhatikan mereka malam ini, memaafkan kesalahan mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka kecuali empat orang.” Lalu Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya: “Peminum khomer, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang memutuskan silaturrahim, dan orang yang dengki. Ketika malam Idul Fitri tiba, yakni malam jawaiz, malam Allah swt menganugerahkan pahala kepada orang-orang yang beramal baik tanpa perhitungan.” (Al-Mustadrak 7: 429)

Sumbangkan Zakat Fitrah dan Khummus Anda Kepada PERSATUAN ISLAM ALAL-HIKMAH, sumbangan anda terjamin dalam penyelenggaraan Al-Hikmah Anda boleh menghubungi amil-amil Al-Hikmah yang telah dilantik: Barat Alpan Mahsuri - 93364839 Muhayat Atris - 92984318 Mohammod Baba - 91504227

Tengah Ismail Zainal - 91866464 Ibnu Jagad - 90678465

Utara Shaban Sulong - 97376307 Ramdan Sudar - 98343585 Ridha Farok - 98410397

Timur Sulaimi Samsan - 96406072 Razman Abdullah - 98000560


Al-Hikmah: Current Affairs / Hal Ehwal Semasa

Page 4

Amanat Hari Kebangsaan Summary of the National Day Rally Address by PM Lee Hsien Loong Delivered on Sin 16/08/09 at the National Cultural Centre, NUS. Extracted from Straits times, Mon 17/08/09. A large part of the PM’s speech was devoted to addressing the climate of rising religious fever which he acknowledged was an “unusually serious and heavy subject” for a national day rally. We will highlight this part of the speech here. PM Lee touched on 4 main issues relevant to Singapore:-

1. 2. 3.

Race and Religion. Economy. He said that the worst is over but warned the future is uncertain.

Health Care. PM Lee said that General Hospitals would work together with Community Hospitals. Patients who need long term medical supervision while they recover will be sent to Community Hospitals to recuperate. This will save them costs. Such patients will have access to Doctors and Specialists. 4. Progress over 5 Decades. This has been as expected but more needs to be done. Race and Religion:Religion:- PM Lee stressed upon 4 basic rules/guidelines for Religious harmony which he said that by abiding with these guidelines all groups will live together side by side in peace. [a] a] All groups must exercise tolerance and restraint. restraint He went on to say that, “Christians cannot expect this to be a Christian society. Muslims cannot also expect this to be a Muslim Society and this will also include the Buddhists, the Hindus and other groups. Mr. Lee added that, “Many faiths share this country, share the island. Each has different teachings, different practices.” This he elaborated meant that rules which apply only to one particular group cannot become laws that are enforced on everyone. Hence while Muslims do not drink alcohol, it is not banned here. Furthermore neither is gambling forbidden, although many religions disapprove of it. He emphasized that, “If we have to live together in peace,” then all have to adopt, “live and let live,” as our principle. [b] Keep Religion separate from Politics. Mr. Lee went on to say that, “Religion in Singapore cannot be the same as religion in America or in an Islamic country.” He cited the recent Iranian Presidential election which was fiercely contested, where the outcome disputed by supporters of President Ahmaddinejad and leading rival candidate Mir Hossein Mousavi and where both parties invoked Islam in their support. Mousavi’s supporters had a battle cry Allahu Akbar [Allah is great]. But Iran is Islamic, is Shia, so after the battle they came back. “It is one society,” he said. But PM Lee cautioned that if one group were to invoke religion in this manner in Singapore, others are bound to push back and invoke their work. “One side insists, “I am doing God’s work. The other side says, “I am doing my God’s Work,” and both sides say, “I cannot compromise.” These are absolute imperatives, duties. The result will be a clash between different religious groups which will tear us apart. [c] Government must remain secular. The Government’s authority comes from the people and it has to be neutral and fair to all said Mr. Lee. The laws are passed by Parliament elected by the people; they don’t come from a sacred book. PM Lee stressed that: We are not against religion, we uphold sound moral values.” “He went on to say, “We hold the ring so that all groups can practice their Faiths freely without colliding with one another in Singapore, and that’s the way Singapore has to be.” A secular government also did not mean that religious individuals cannot have views on national issues or that religious individuals cannot take part in politics. They are free to propagate their teachings on social and moral issues and have done so on issues like the integrated resorts and homosexuality, he noted. And obviously meaning Christians, Hindus, Muslims, Buddhists participate in politics, in Parliament. “We have people of all faiths in cabinet Too,” he said. The public debate, he stressed, cannot be on whose Religion is right or wrong, but on secular, rational considerations of public interest – on what makes sense for Singapore. [d] Maintain the common space that all Singaporeans share. The common space - when sharing meals, or at School and workplaces has to be neutral and at ease, said Mr. Lee. He noted that people of various Faiths had different Dietary needs – Muslims. Different views were also presented by different Faiths concerning whether Section 377A of the Penal Code which criminalizes sex between men, should be repealed. During the casino debate in 2004, leaders from the 4 major religious groups Buddhism, Hinduism, Islam and Christianity stepped forward to voice their opposition to the idea.


Page 5

Al-Hikmah: Wak Lampir

In 2007, Muslim religious leaders support for Hota paved the way for the Muslim Community to come forward under the same organ donation law as other Singaporeans. PM Lee acknowledged that religious persons who take part in politics will hold views that may be influenced by their religious beliefs. From the floor, Dr, Gillian Koh, a senior research fellow at the institute of Policy Studies felt that, “Faith based groups, will have to learn to make their cases based on moral reasoning that is accessible to people of all other Faiths.” Prof. ThioLi-ann, a law lecturer who is a staunch Christian and an advocate of religious views having a place in public debate said, “Anyone engaged in debate or political debate should always expect to be challenged and to forge better arguments to try and persuade others as to the merits of one’s own views – who has the better argument which best serves the common good. That is the essential question. Mr. Masagoes Zulkifli, MP for Tampines GRC, appreciates the common ground that a secular Government offers. “With our Government, we will always ensure the good of society is promoted, not a particular religious need or particular religion” he said. He added, “Muslims eat Halal Food, Hindus do not eat beef and some Buddhists are vegetarians.” “If we must serve everybody food which is halal, no beef and vegetarian, I think we will have a problem.” “We will never eat meals together,” he said. "So there will be halal food on one side, vegetarian food for those who need it and no beef for those who don’t eat beef.” “Let's share a meal together acknowledging that we are not the same,” he added. “Don’t discourage people from interacting, don’t make it difficult for us to be one people” he said. Likewise, rules were in place to keep all schools secular and religious groups which run mission schools accept this. The office environment should also be where all groups feel comfortable. “Staff has to be confident that they will get equal treatment even if they belong to a different faith from their management especially in Government Departments but also in the private sector,” he said. “I think it can be done because even if religious community service organizations often have people who don’t belong to hat religion working comfortably and happily in that organization,” he added. Mr. Lee noted that whatever other countries do, the 4 basic rules must apply to Singapore.” The basis for this, he went on to say is “practical reality in our society. It’s not any divine revelation. This is the only way all groups in Singapore can live in peace and harmony.”

Apa Kata Wak Lampir: Racial Harmony Apabila PM Lee memperkatakan hubungan antara kaum dan agama dalam ucapan Amanat Hari Kebangsaannya tempoh hari, Wak teringat zaman akhir 60an dan awal 70an dahulu ketika Wak masih kanak-kanak. Kampung Wak terbahagi kepada daerah Melayu dan daerah Cina dan keluarga Wak dan sebuah lagi keluarga Melayu berada di daerah kampong Cina pula. Jadi Wak terbiasa dengan budaya dan cara hidup masyarakat Cina kerana dibesarkan di daerah kampung Cina. Wak, abang dan adik Wak menghabiskan masa bermain-main dengan budak-budak Cina dan juga budak-budak Melayu di daerah Melayu, sehinggakan teman akrab Wak ialah seorang budak Cina, Ah Soon namanya. Kerana terlalu akrab, setelah Wak berkhatan pada cuti sekolah, dia pula ikut hendak berkhatan juga. Wak meminjamkan kain sarong serta rotan jongkit penegak sarong Wak kepada dia. Malah dia pernah mengikuti Wak solat Jumaat di Masjid Ba’alwi yang hanya beberapa kilometer dari kampung Wak. Ketika Hari Raya, emak akan memberi sepinggan kuih-muih kepada keluarga-keluarga Cina dan mereka akan membalasnya dengan sepinggan gula pasir pula. Begitu juga sebaliknya ketika Kong Hee Fatt Choy, kita pula yang akan memberi gula pasir kepada mereka setelah menerima makanan yang mereka tahu harus halal seperti kacang dan kuaci serta botol oren F&N kepada keluarga kami. Bila kita bergaduh, ibu dan bapa mereka akan memarahi anak mereka tanpa sedikitpun memarahi kita begitu juga ibu dan bapa kita yang hanya akan memarahi kita tanpa memarahi anak mereka. Kita seolah-olah telah meletakkan satu garis sempadan di mana kita mengetahui batas dan konsep KESEFAHAMAN dan TOLERANSI. TOLERANSI Kita yang beragama Islam pula sangat-sangat mengetahui bila kita tidak harus BERKOMPROMI terutama sekali dalam soal-soal sensitif seperti AGAMA dan MAKANAN kerana ketika itu kita baru sahaja mengalami Rusuhan Kaum pada tahun1964 dan kejadian pada Peristiwa 13 May 1969. Dalam suasana kampung yang bermasyarakat majmuk itu, kita berkesempatan untuk berinteraksi dan dalam process ini Wak telah dididik untuk mengetahui bila kita harus MEMAHAMI, MEMAHAMI bila kita boleh BERTOLERANSI dan apakah perkara yang tidak boleh kita BERKOMPROMI, BERKOMPROMI seperti halal dan haram serta shorga dan neraka. Wak takut budak-budak sekarang kerana interaksi yang terbatas dan dibatasi, mereka tidak tahu untuk menyesuaikan diri apabila mereka di dalam situasi di mana mereka harus MEMAHAMI dan tahu bila mereka boleh BERTOLERANSI dan tegas untuk tidak BERKOMPROMI. BERKOMPROMI Wak harap jangan pula mereka mencampuradukkan perkara yang Hak dengan yang Bathil dan perkara yang Haram dengan yang Halal. Wak tak mahu terwujud generasi Muslim yang bercelaru dan bersikap “semuaboleh”.


Al-Hikmah: Berita & Acara I / News & Events I

OGOS 2009

Page 6

Disusun oleh: Akhi Razman Abdul-

6 OGOS Sambutan malam Nisfu Shaban dirumah Akhi Shaban Sulong, dihadiri oleh anggota dan simpatisan Al-Hikmah. Penceramah yang menyerikan majis yang penuh berkah itu ialah Ustaz Mohd Bashir dan Ustazah Alawiyah. Dalam majlis tersebut Ustazah Alawiyah berkesempatan memohon doa restu diatas pemergian beliau ke Mashad Iran untuk melanjutkan pelajaran. 23 & 30 OGOS Telah berlangsungnya Tadarus Al-Quran malam Ramadhan anjuran Al-Hikmah yang dipimpin oleh Ustaz Shafiee untuk kaum Muslimin dan Ukhti Halijah memimpin kaum Muslimat. 27 & 28 OGOS Ceramah Ramadhan 2 malam anjuran Al-HUDA oleh penceramah undangan Ustaz Saiful Bahri dari Jakarta Indonesia, telah diadakan dirumah Akhi Mohsin dan Akhi Jahari. Anggota Al-Hikmah telah diundang untuk sama-sama menghadirinya. SEPTEMBER 2009 3 SEPTEMBER Allahyarham Aris Bin Kayat telah kembali ke rahmatullah pada 8.35 malam. Al-Hikmah mendoakan semoga roh beliau mendapat rahmat dan hidayat dari Allah SWT serta syafaat dari Rasullulah (SAW) dan Ahlulbait (as), tidak lupa juga kepada keluarga Allahyarham semoga sabar dan taqwa dalam menghadapi segala dugaan. 7 - 11 SEPTEMBER Ceramah Ramadhan 5 malam dan sambutan malam-malam Lailatul Qadr anjuran Al-Hikmah dengan penceramah, Ustaz Hasyim Adnan dari Cirebon, Indonesia telah diadakan dengan jayanya dirumah-rumah para anggota Al-Hikmah sepanjang 5 malam ini. Sebagai Ustaz yang telah lama mendalami bidang falsafah di Qom, Iran, ceramah pada malam-malam tersebut lebih menjurus kepada Filosofi atau Irfani. 5 - 19 SEPTEMBER Ceramah Ramadhan 15 malam berturut-turut oleh Syed Hadi Al-Qazwini dari Kanada telah dianjurkan olah Himpunan Belia Islam (HBI) di Imam Bargha. Anggota Al-Hikmah dipersilakan hadir. 12 SEPTEMBER Sambutan MALAM LAILATUL Qadr 23 Ramadhan telah diadakan di Imam Bargha bergabung bersama-sama HBI dan Persatuan Jaafari. Anggota Al-Hikmah telah menyumbangkan bacaan Al-Quran dan Noha/Nasyid pada malam itu. Al-Hikmah juga telah menyumbangkan sebanyak $500.00 dalam usaha turut serta menyelangarakan majlis malam itu. 20 SEPTEMBER Shalat Hari Raya Aidil Fitri dijangkan akan jatuh pada tanggal 20 September dan Al-Hikmah akan bergabung dengan HBI dan Persatuan Jaafari untuk shalat bersama disatu lokasi sebagai tanda ukhuwah diantara kita Jemaah Syiah Singapura.

Nisfu Syaban: Ustadz Bashir memberi ceramah Nisfu Syaban: Ustazah Alawiyah memberi ceramah


Al-Hikmah: Berita & Acara II / News & Events II

Hadirin di malam Nisfu Syaban

Page 7

Tadarus AlAl-Quran Ramadan bimbingan Ustadz Shafiee Salleh

Ceramah Ramadan oleh Ustadz Saiful Bahri anjuran AlAl-Huda

Ceramah Ramadan oleh Syed Hadi Al Qazwini anjuran HBI

Pengebumian jenazah alal-Marhum Aris Bin Kayat

Ceramah Ramadan oleh Ustadz Hasyim Adnan anjuran AlAl-Hikmah


Al-Hikmah: Youth

Page 8

Sisters’ Sisters’ Day Out A day was set aside for the sister's to get together for an outing with the view of bonding and reinforcing ties and to discuss the Blessed Month of Ramadan. The day was Sunday August 16. 2009. The Rendezvous point was at the Bugis MRT Station at 1100 hr's. The main subject was to learn more about perfumes, alcoholic and non alcoholic types. At Bugis Junction we learnt that perfumes containing alcohol were classified into 3 categories:-

1. Eau De Toilette, blended with 8-15% essential oils. 2. Eau De parfum, blended with 15-22% essential oils. 3. Eau De Cologne, blended with 4% essential oils. We venture out to nearby Arab Street to learn about perfumes without alcohol. such perfumes are called Attar and they are concocted from flower petals distilled in water and heated over low heat in under low pressure. At about 1220 hours when everyone was experiencing hunger pangs we went to the Zam Zam Restaurant for a hearty lunch after which we completed our Zuhr and Asar Obligations at the Sultan Mosque. After Prayers, we poke about the Blessed Month of Ramadan and at about 1545 hours, we called it a day and headed home. Have included some photos of our outing below and if you want to learn more about perfumes, please contact Sis Siti Fathimah.— written by Lina Diyana Roisza Bte Ismail

Al-Hikmah Newsletter September 2009  

Al-Hikmah Newsletter September 2009

Advertisement