Page 1


S U B A Y A NG P O S

P AGE 2

Seribuan Jiwa Kampar Kiri Hulu Hidup di Kawasan SM, Syamsuar akan Bawa Menteri LHK ke Sana

Cagub Riau nomor 1, Drs H Syamsuar MSi menyusuri sungai Subayang Kampar Kiri Hulu untuk bersilaturrahmi dengan masyarakat.

K

AMPAR - Calon Gubernur Riau, Syamsuar benarbenar merasakan jeritan hati masyarakat 8 Desa di Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Mereka sudah tinggal berpuluh-puluh tahun di sana, tapi masih sangat terisolir. Wilayah yang ditempati warga itu masih masuk dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM). Sehingga sarana infrastruktur jalan sangat minim. Bahkan warga tidak mengenal yang namanya sarana komunikasi telepon seluler, apalagi jaringan internet. Cagub Riau nomor 1, Syamsuar sengaja blusukan ke Desa Aur Kuning, Kampar Hulu Kiri. Ia kesana menggunakan sampan pancung atau yang disebut Jonson oleh masyarakat setempat. Lebih kurang 2 jam, Syamsuar melintasi Sungai Subayang dari Desa Gema ke Desa Aur Kuning bersama H Saidin dan Ramadhan yang merupakan Anggota DPRD Kampar. Pemandangan alam yang sangat asri dengan pepohonan nan hijau membuat hati menjadi tenang dan damai. Belum lagi adanya penampakan binatang dari dalam hutan yang meminum air sungai. Monyet dan kera bergelantungan di pohon, sekelompok kerbau yang makan di padang rumput tepian sungai, babi hutan serta burung pemakan ikan yang berada di batu-batu sungai. Sepanjang perjalanan, Syamsuar juga tak melewatkan lambaian tangannya kepada masyarakat di tepian sungai maupun yang menaiki Jonson. Bahkan masyarakat yang sudah mengenalnya berbalas melambaikan tangan dengan jari telunjuk (satu). "Sungguh luar biasa perjalanan ke Desa Aur Kuning ini. Naik jonson satu-satunya transportasi untuk sampai ke Desa itu. Dari Desa Gema kita butuh waktu dua jam lebih untuk bisa bertemu dengan masyarakat di sana," kata Syamsuar yang sempat menepi sesaat dan duduk di kayu-kayuan tepi sungai. Masih dikatakan Bupati Siak dua periode ini, masyarakat Desa Aur Kuning yang terbilang terisolir ini sangat ramah, hidup sederhana dan menjaga hubungan kekeluargaan dengan sesama masyarakat. Mereka yang mayoritas bekerja sebagai petani getah ini hidup sangat sederhana. Hebatnya anak-anak mereka bisa sekolah hingga sarjana. Meskipun harus berjuang keras untuk mewujudkan cita-cita anak mereka yang ingin hidup lebih berguna lagi bagi keluarga dan daerah.

"Anak-anak yang melanjutkan pendidikan ke SMA sederajat harus pisah dari orangtua. Karena di Aur Kuning hanya ada Tk, SD dan SMP. Tapi mereka berhasil dan dapt beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Inilah hebatnya masyarakat Aur Kuning, yang ingin perubahan," sebut Syamsuar lagi. Contohnya, Racin (50) petani getah ini memiliki 5 orang anak. Anak ketiganya akan diwisuda pertengahan April 2018 ini di Yogyakarta. Anak pertama sudah menikah dan yang kedua bekerja di Batam dengan pendidikan terakhir SMK Pertanian. Dua orang lagi masih duduk di bangku Sekolah Dasar. "Kalau bisa di Desa ko ada SMA atau SMK. Jadi anak-anak kami ndak jauh lagi dari kami. Kami kan petani gatah nyo, biaya anak sekolah jauh itu besar juga. Untuk makan saja paspasan," kata Racin. Selain itu Ela (22) meminta kepada Cagub Riau, Syamsuar untuk membangun pondok pesantren atau sekolah agama di Desa Aur Kuning ini. "Kami mau juga anak-anak masuk ke sekolah agama. Tapi kalau bisa di kampung ini juga," sebut Ela. Dan ternyata, kebanyakan para ibu-ibu di Aur Kuning tidak paham betul soal daerah Suaka Margasatwa (SM). "Tidak ngerti, yang kami tahu kami payah bercocok tanam di sini. Banyak yang tidak boleh," ungkap lagi. Tetapi hal itu diluruskan oleh Asrul, tokoh pemuda di sana. Masyarakat tahunya selama ini mereka tinggal di hutan lindung bersama hewan - hewan liar yang dilindungi negara dan tidak boleh diburu bahkan dibunuh. "Pak Syam bisa bongkar isolasi di Siak, kami mohon juga buka juga isolasi di hutan tempat kami tinggal ini, Kampar Kiri Hulu. Orangtua kami sudah lebih lama tinggal di hutan Rimba Baling ini," kata Asrul. Delapan Desa yang menggunakan akses transportasi Jonson ini diantaranya Muara Bio, Batu Sanggat, Tanjung Beringin, Gajah Bertelur, Aur Kuning, Subayang Jaya, Pangkalan Serai, Desa Jalur Kiri. "Di delapan desa ini, kami sangat sulit sekali berkomunikasi dengan hp. Karena tidak ada jaringan telepon dari berbagai provider. Warga harus ke pusat kota dulu untuk mendapatkan

jaringan seluler. Kami juga minta ini dengan pak Syamsuar kalau nanti menjadi Gubernur," sebut Asrul lagi. Menanggapi aspirasi masyarakat Aur Kuning itu, Syamsuar akan mencarikan solusi agar status SM itu bisa keluar atau menjadi hutan sosial seperti yang sudah ada di Siak. Tentunya proses itu tidak mudah dan perlu waktu. "InsyaAllah saya akan bawa Bu menteri Siti ke Desa ini. Semoga doa kita bersama dapat tercapai, dan masyarakat di sini bisa mengolah lahan untuk pertanian serta infrastruktur jalan juga bisa dibangun di sini. Termasuk pengadaan jaringan listrik PLN, jaringan telekomunikasi dan lainnya," kata Syamsuar yang sempat

Masyarakat Padang Sawah Bongkar Lubuk Larangan

AMBIL IKAN: Euceu, warga pekanbaru asli Bandung, jawa barat, turut mengambil ikan yang dilempari dari dalam lubuk larangan ke dalam karung yang disediakan panitia (KASMONO)

KAMPARKIRI (subayang pos.CO) - Sejak pagi tadi, Ahad (16/9) hingga malam, masyarakat Kenegerian Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, menghadiri prosesi bongkar lubuk larangan (mancokou) di desa tersebut. Ramai. Tepian Sungai Subayang yang membelah Desa Padang sawah dan Desa Sungai Liti (satu kenegerian), padat pengunjung. Tidak hanya masyarakat tempatan, tapi juga tamu-tamu dari luar Kenegerian Padang Sawah. Mereka datang untuk melihat langsung prosesi tersebut serta turut membeli ikan hasil tangkapan baik dengan cara andil

(onggokan) atau lelang. Panitia pepalaksana sudah mempersiapkan pesta rakyat setahun sekali ini sejak beberapa hari lalu. Diawali dengan rapat bersama antara kepala desa, tokoh masyarakat dan ninik mamak. Persiapan seperti membuat pagar yang dipasang melintang sungai (bolek), dimulai sejak Sabtu. Jaring untuk menghalangi ikan keluar dari dalam lubuk, dipasang di bolek ini. ’’Mancokau ini pesta rakyat. Memang untuk masyarakat, termasuk uang dari hasil andil dan lelang ini dipersembahkan untuk pembangunan desa, ’’ ungkap Kades Padang Sawah, Ali Lubis di sela-sela kegiatan tersebut.

Peserta Takjub Naik Piyau

Satu andil ikan dijual dengan harga Rp20 ribu untuk masyarakat. Sedangkan untuk tamu Rp40 ribu. Beratnya sekitar 1 kilogram. Puluhan andil dibuat di atas lapangan di tepian sungai setelah sebelumnya dimasukkan ke dalam wadah besar yang terbuat dari kayu dan terpal. Sementara ikan-ikan ukuran besar dengan berat sekitar 1 kilogram ke atas dilelang dengan harga setinggi-tingginya. Prosesi mancokau ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisi seperti silat dan gondang oguong.(kasmono)

TRIBUNPEKANBARU.CO M, KAMPAR KIRI HULU Rintik hujan tak mengganggu keseriusan rombongan tim ekspedisi Sunga i Subayang. Tim ekspedisi dari Exploring Riau Community (ERC) itu sudah berkumpul di halaman Anjung Seni Idrus Tintin, kompleks Purna MTQ, Pekanbaru, pada Minggu (26/2/2017) pagi sekitar pukul 06.00

Rombongan ekspedisi Sungai Subayang Exploring Riau Community saat masih berada di Desa Gema, Kampar Kiri Hulu, Kampar

Lebih dari 200 orang mengikuti agenda perjalanan menuju sungai berlokasi di Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, itu. Mereka berasal dari beragam latar belakang dan profesi. Pagi itu, semuanya terlihat antusias, benar-benar hendak


S U B A Y A NG P O S

P AGE 3

Peserta Takjub Naik Piyau Menyusuri Sungai Subayang Sambungan dari hal. 1

menikmati perjalanan menuju Sungai Subayang. Beberapa bahkan mengikuti perjalanan dengan mengajak anggota keluarganya. Sedangkan Sodik, pria asal Pekanbaru, memilih mengikuti ekspedisi bersama ERC ke Sungai Subayang bersama teman-teman. "Keluarga nggak ikut. Saya berangkat sama teman-teman saja," ujar Sodik. Perjalanan pun dimulai. Secara bergantian kendaraan yang mengangkut rombongan ekspedisi dilepas menuju Sungai Subayang sekitar pukul 06.15 WIB. Rombongan dibagi kedalam tiga kelompok. Paling depan kelompok yang memandu perjalanan. Kemudian diikuti rombongan besar peserta yang mengikuti. Satu kelompok lagi berangkat paling akhir, sambil menunggu peserta lain yang belum hadir. Iring-iringan kendaraan peserta eksepedisi melaju hingga tiba Masjid Raya Lipat Kain. Sesampai di sana, rombongan berkumpul dan saling menunggu satu sama lain sebelum berkendara lagi menuju Gema. Setelah tiba di Gema, rombongan menyusun kendaraan masingmasing secara rapi, tertib dan beraturan. Ketua ERC Rudi Fajar pun membuka sambutan dengan memaparkan rencana perjalanan menuju Desa Batu Songgan dengan menggunakan piyau, sebutan masyarakat untuk perahu. "Dari Gema, kita akan melanjutkan perjalanan di sungai menggunakan piyau. Jika memungkinkan, kita akan naik piyau hingga ke Batu Songgan," kata Rudi Fajar. Sayang, rencana untuk melakukan perjalanan sungai menuju Batu Songgan terpaksa dibatalkan. Hal ini disebabkan tingginya air pasang di Sungai Subayang karena hujan yang mengucur deras di wilayah itu pada malam sebelumnya. Rudi Fajar pun kembali memberikan pengumuman pada seluruh peserta yang sudah menunggu untuk berangkat. "Kita tak bisa menuju lokasi di Desa Batu Songgan, karena air sungai sedang pasang dan arusnya cukup kuat. Sementara kita menunggu, perjalanan dimulai ketika arus sudah mulai tenang," jelasnya. Pengumuman tersebut sontak membuat para peserta tertegun. Pasalnya, niat untuk melakukan eksplorasi lokasi wisata di Desa Batu Songgan terpaksa putus di Desa Gema. Untuk mengganti batalnya perjalanan sungai ke Desa Batu Songgan, rute pun diubah dengan menggunakan piyau ke stasiun pemantau WWF yang berjarak sekitar 30 menit dari lokasi pemberhentian di Desa Gema.

Walaupun jaraknya dekat, sejumlah peserta cukup antusias mengikuti perjalanan sungai dengan menggunakan piyau. Seorang peserta rombongan bernama Indra Syukur mengatakan, naik perahu di aliran Sungai Subayang merupakan hal baru bagi dirinya. "Wah, ini yang pertama bagi saya. Biasanya, kalau mau liburan saya pilih ke Sumbar. Namun, ternyata di Riau ada juga yang unik seperti di Sungai Subayang," kata dia. Menurut dia, destinasi wisata menarik tak selamanya mempertunjukkan keindahan sebagai nilai jual. Tapi, harus ada hal unik yang mengundang rasa penasaran wisatawan. Sayangnya, fasilitas penunjang di Sungai Subayang bagi kenyamanan pengunjung atau wisatawan sangatlah minim. Indra bahkan mengkritik belum dibangunnya sarana dan prasarana penunjang seperti toilet, mushala dan tempat beristirahat bagi pengunjung di sana. "Sayang saja, fasilitas seperti toilet dan lain-lain malah belum ada. Walau begitu, secara keseluruhan hal yang saya rasakan hari ini cukup luar biasa," terang

Mancokau Lubuk Larangan, Menangkap Ikan Sekali Setahun di Sungai Subayang Waktu yang ditentukan untuk menangkap ikan di lubuk larangan Sungai Subayang, Desa Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, akhirnya tiba. Setahun menunggu, ratusan warga di Kabupaten Kampar, Riau, itu diperbolehkan masuk ke sungai dan menangkap ikan. Perangkap dipasang membentuk lingkaran dengan radius puluhan meter. Prosesi adat ini dimulai dengan pelemparan jaring pertama oleh orang yang dituakan atau yang disebut ninik mamak pada Minggu siang, 9 September 2018. Sabetan ikan pertama diangkat. Tak langsung diangkat ke darat, melainkan langsung dipotong dua di tengah sungai. Satu bagian di kembalikan ke sungai, sisanya dibawa ke darat untuk nantinya dimakan beramai-ramai. "Yang dikembalikan ke sungai sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur. Sementara yang dimakan merupakan bentuk syukur atas apa yang diberikan alam," kata Kepala Desa Aur Kuning, Damri. Damri menjelaskan, tradisi di lubuk larangan ini dikenal dengan istilah "mancokau". Sudah berlangsung secara turun temurun di lokasi yang berbatasan langsung dengan Hutan Rimbang Baling itu. Acara ini diiringi dengan musik tradisional setempat seperti calempong, gendang dan gong. Shalawat juga dilantunkan oleh pimpinan adat setempat, diikuti warga lainnya di tepi sungai. Pimpinan adat juga berdoa agar sungai yang masih asri itu tetap terjaga. Apalagi, beberapa lokasi di sungai yang tidak termasuk Menurut Damri, tradisi ini biasa dilakukan saat air sedang surut. Jauh sebelum itu, tokoh adat terlebih menentukan harinya dan diberitahukan ke ratusan kepala keluarga di sana

untuk meramaikannnya. Hasil tangkapan ikan beragam. Namun biasanya masyarakat lebih memburu ikan jenis Barau. Ikan ini dikenal dengan daging tebal dan manis, serta menjadi endemik di lokasi tersebut. Hasil tangkapan besar biasanya akan dilelang. Uangnya tidak diserahkan ke pemerintah desa, melainkan dipegang tokoh adat. Uang akan digunakan untuk pembangunan desa serta pembangunan tempat ibadah. "Biasanya untuk membangun mushalla di desa atau membantu perbaikannya," sebut Damri. Masyarakat yang ingin membawa ikan pulang, tambah Damri, terlebih dahulu membayar nominal yang disepakati. Untuk tahun ini, tokoh adat mematoknya Rp 15 ribu saja per ekor. "Uangnya dipegang 'nagowi' atau tokoh adat. Gunanya untuk pembibitan ikan lalu diletakkan ke sungai lagi," sebut Damri. Tak semuanya dibawa pulang, ada pula ikan yang disisihkan untuk dimasak kaum emak-emak. Warga juga membawa makanan pelengkap lainnya dari rumah. Nantinya dimakan secara bersama-sama di lokasi yang sudah ditentukan. "Tradisi ini juga mempererat silaturahmi antara masyarakat karena saling bahu membahu menangkap ikan dan memasaknya," ucap Damri. Dengan berakhirnya tradisi ini, masyarakat harus bersabar menangkap ikan di lubuk larangan ini untuk tahun depan. Masyarakat hanya boleh menangkap ikan di lokasi lain untuk menjaga ekosistem di sana. Bagi yang tertangkap tangan atau dilaporkan menangkap ikan di lubuk ini, sanksi adat sudah menunggu. Tokoh adat akan berembuk menentukan hukuman bagi pelanggar. "Bisa saja sanksinya membeli seribu benih ikan untuk ditaruh di lubuk larangan, atau menggantinya pakai uang," tegas Damri. Oleh M Syukur pada 12 Sep 2018, 14:27 WIB


S U B A Y A NG P O S

V O LUME 1 , I SSUE 1

P AGE 4

Batu Belah di Desa Batu Sanggan, Keindahan Panorama di Hulu Sungai Kampar Dalam perjalanan saya menyaksikan pemandangan suasana alam yang asri dan menakjubkan. Tambah pula ada batu belah atau orang kampung menyebutkan batu bolah yang memiliki cerita menarik yang diangkat warga dari Legenda Putri Linduang Bulan," ungkap Hardi. Menurut Hardi, selain wisata alam, juga ada wisata budaya yang bisa dinikmati yakni penobatan khalifah. Berbagai seni ditampilkan dalam penobatan ini. "Dalam waktu dekat akan ada penobatan Khalifah Batu Sanggan oleh Raja Gunung Sahilan," jelas Hardi. Sebagai dikutip dari http:// ranahminangnansalilikpulaupaco .blogspot.co.id/2015/12/ profil-kenegerian-batu- sanggan.html, desa ini terletak di hulu Sungai Subayang (anaknya Sungai Kampar Kiri), Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar. Kalau mau ke desa ini harus naik perahu, karena tak ada jalan darat. Sedangkan asal muasal nama batu belah itu, berdasarkan legenda yang berkembang di masyarakat, batu itu dibelah oleh orang berani dari Jawa. Pada masa dulu, Kenegerian Batu Sanggan kedatangan tamu yang tak diundang yaitu Gak Jao, Gak Jao artinya orang bagak dari Jawa. Dari cerita masyarakat bahwa Gak Jao adalah Patih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit yang datang ingin membawa Putri Lindung Bulan. Gak Jao dicirikan dengan manusia yang bertubuh tinggi besar, kedatangan Gak Jao membuat resah sehingga masyarakat bersembunyi meninggalkan kampung. Gak Jao kesulitan dalam mencari penduduk dan karena kesalnya Gak Jao mencincang sebuah batu besar sebanyak tiga kali dengan menggunakan pedang yang telah di asah di muara sungai kecil dan oleh sebab itu di beri nama Sungai Kiliran, dan batu yang di cincang tadi di beri nama Batu Bolah/Batu Belah, dan saat ini batu yang disebut Batu Bolah masih ada tepat di depan muara Sungai Batu Bolah. Untuk menuju ke desa ini, dari Pekanbaru bisa naik mobil atau sepeda motor sekitar tiga jam sampai di Pelabuhan Gema, dilanjut naik perahu bermesin (orang sana nyebutnya Robin (perahu kecil) dan Johnson (yang agak besar).

Keindahan panorama desa sanggan di hulu sungai kamapar, Batu belah di desa sanggan (tribun pekanbaru/nolpitos hendri)

Sekitar 30 menitan akan sampai di desa ini.Desa ini termasuk desa adat yang tentunya dihuni oleh masyarakat adat dan termasuk wilayah Minangkabau. Desa ini tergabung bersama delapan desa lain di sepanjang sungai membentuk kesatuan yang disebut Kekhalifahan Batu Sanggan. Dari namanya sudah ketahuan kalau Islam adalah agama para penduduknya. Tapi jangan khawatir, para penduduk di sini sangat menghargai orang lain, apapun itu latar belakangnya. Mereka sangat baik. Masyarakat di sana sangat ingin punya akses jalan darat, soalnya kalau lewat sungai biayanya sangat mahal. Kenegerian Batu Sanggan merupakan kenegerian induk di Kekhalifahan Batu sanggan, yang terdiri dari enam kenegerian termasuk Batu Sanggan. Kenegerian

lainnya yaitu Miring, Gajah Betalut, Terusan, Pangkalan Serai dan Aur Kuning. Seluruh kenegerian berada di sepanjang aliran sungai subayang dan Kenegerian Batu Sanggan berada di bagian paling hilir. Kenegerian Batu Sanggan diambil dari kata Sanggan artinya adalah sebuah Periuk Besar, nama ini telah di gunakan sejak zaman dulu. Ceritanya, dulu ada sebuah periuk yang ditenggelamkan oleh masyarakat di dasar muara sungai, sehingga sungai ini diberi nama dengan nama Sungai Sanggan, dan pada masa itu masyarakat Batu Sanggan sedang bermukim di sekitar muara sungai Batu Sanggan. Pada saat ini Kenegerian Batu Sanggan telah berpindah tempat ke seberang sungai yang berada

lebih ke hilir, perpindahan terjadi di sebabkan untuk mencari tempat tinggal yang lebih aman, karena masyarakat Batu Sanggan takut dengan ikan di muara sungai Batu Sanggan. Pada waktu itu ikan berukuran sangat besar dalam jumlah yang banyak selalu menakut-nakuti penduduk yang sedang berada di sungai, dan bahkan di kejar oleh ikan-ikan besar tadi. Pada Tahun 1978 terjadi bencana banjir besar di Sungai Subayang yang menyebabkan beberapa rumah penduduk hanyut terbawa air sungai di Sembilan Kenegerian yang berada di Kampar Kiri Hulu. Tidak ada korban jiwa namun kerugian berupa materi yang tanggung masyarakat, dan masyarakat berinisiatif memindahkan pemukiman ke tempat yang lebih tinggi. Bencana banjir beberapa tahun belakangan banjir yang terjadi menyebabkan terjadinya kelangkaan bahan pangan untuk beberapa minggu, karena sungai yang meluap sehingga tidak memungkin lagi untuk menggunakan jalur air untuk mendistribusikan bahan pangan. Pada tahun 1975 terjadi perpindahan penduduk yang cukup besar dari kampung, hal ini di sebabkan karena harimau selalu masuk ke dalam kampung pada waktu sore. Walaupun tidak ada korban jiwa, penduduk merasa khawatir dengan kejadian ini dan beberapa penduduk memutuskan untuk pindah. Pada saat sekarang perpindahan penduduk untuk ke luar kampung tetap terjadi, hal ini di sebabkan dengan di tetapkannya wilayah mereka sebagai kawasan lindung Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (SM BRBB), dan bagi mereka yang sudah mampu dalam hal ekonomi akan berupaya untuk pindah ke tempat yang lebih baik. Satu tradisi dari masyarakat sebagai bentuk kearifan lokal ada Lubuk Larangan, guna menjaga perkembang biakan ikan. Masyarakat mengelola sumber daya alam yang berkelanjutan khususnya pengelolaan sungai. Sejarah lubuk larangan pertama kali diselenggarakan tidak diketahui sacara pasti, ada masyarakat yang mengatakan ini mulai ada sejak tahun 1978 setelah terjadi banjir besar. Lubuk larangan memberikan nilai positif terhadap masyarakat, tidak hanya sebagai pemasukan kas kenegerian, lubuk larangan juga mampu memberikan rasa persaudaraan yang kuat (terlihat banyak masyarakat yang berada di luar ikut berpartisipasi saat menangkap ikan), menciptakan rasa kekompakan masyarakat, menumbuhkan rasa peduli terhadap kampung yang tinggi, dan berperan dalam pelestarian ikan dan sungai. Peraturan yang berlaku dalam lubuk larangan diantaranya, ikan yang hidup atau berada di dalam wilayah lubuk larangan tidak dibenarkan untuk diambil oleh siapapun, menurut masyarakat siapa saja yang melanggar dengan segaja akan mengalami bencana, seperti sakit yang tak pernah sembuh atau meninggal dunia.

Cagub Riau Arsyadjuliandi Rachman Janji Buka Akses Isolasi Kampar Kiri Hulu Inside Story

GORIAU.COM / penulis: ratna sari dewi

PEKANBARU - Calon Gubernur (Cagub) Riau, Arsyadjuliandi Rachman menyambangi Pulau Pencong di Desa Tanjung Belit Selatan, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, Minggu (18/2/2018). Cagub nomor 4 ini tiba di Pulau Pencong menyeberang Sungai Subayang menggunakan rakit pompong. Kenegerian Pulau Pencong sendiri letaknya di seberang Sungai Subayang. Untuk sampai ke tempat ini butuh waktu tiga jam perjalanan dari dari Pekanbaru hingga ke Desa Gema, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar. Dari Desa Gema masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan rakit pompong untuk menyeberang Sungai Subayang. Haji Musni, tokoh masyarakat Pulau Pencong mengaku baru kali ini ada Gubernur Riau sampai di tempatnya. Walaupun Andi Rachman saat ini sedang non aktif sebagai gubernur karena sedang cuti kampanye. "Kami mengucapkan terima kasih sekali pak Andi sudah mau sampai di desa kami yang terisolir ini," ujarnya.

Ia berharap kehadiran pak Andi sebagai cagub Riau bisa menuntaskan persoalan mendasar masyarakat Pulau Pencong. Di antaranya yakni pembangunan akses jalan kecamatan menuju jalan provinsi sepanjang 17 kilometer. Masyarakat juga berharap Andi Rachman mau membangun SMA di daerahnya. Apalagi saat ini ada delapan desa di sekitar kenegerian Pencong yang membutuhkan SMA. Ads Berbagai permintaan warga di atas disanggupi Andi Rachman. Menurutnya membuka akses isolasi daeah memang menjadi salah satu prioritasnya. Keseriusan Andi merealisasikan permintaan dapat dilihat anggota Kabupaten Kampar dan Provinsi Riau yang bisa mengusulkan penganggaran. Mereka yakni Repol anggota DPRD Kampar dan Masnur, anggota DPRD Riau. "Kalau jalan provinsi dari Kampar kiri menuju Payakumbuh akan kita kerjakan pada 2019. Untuk jalan kabupaten bisa direalisasikan dengan bantuan keuangan tapi atas usulan DPRD Kampar. Nah, ini tugas pak Repol dan pak Masnur. Ingatkan saya ya untuk merealisasikan ini," ujarnya. ***


P AGE 5

S U B A Y A NG P O S

ahad, 07 oktober 2018 27muharram 1440

Seribuan Jiwa Kampar Kiri Hulu Hidup di Kawasan SM, Syamsuar akan Bawa Menteri LHK ke Sana Sambungan dari hal 1/ InsyaAllah saya akan bawa Bu menteri Siti ke Desa ini. Semoga doa kita bersama dapat tercapai, dan masyarakat di sini bisa mengolah lahan untuk pertanian serta

infrastruktur jalan juga bisa dibangun di sini. Termasuk pengadaan jaringan listrik LN, jaringan elekomunikasi dan lainnya," kata Syamsuar yang sempat menyantap durian asli Kampar serta duku dan buah manggis. ***

Festival rimbang baling, di desa koto lamo

Phone: 115-0000-2255 Fax: 212-421-321 E-mail: subayang@gmail.com

Rombongan Ekspedisi Sungai Subayang Dijamu Makan Siang Menu Khas Kampar Kiri Hulu

We’re on the web S, ber_inspirasi.co.id

Warung ocu

Randai dan saluang, adalah kearifan local rimbang baling

PEKANBARU- Sepanjang perjalanan menuju Sungai Subayang di Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar, rombongan ekspedisi dari Explore Riau Community (ERC) selalu dipenuhi dengan ragam kuliner menarik. Kuliner-kuliner yang disajikan pun beragam. Mulai dari kuliner khas daerah setempat hingga kuliner modern sumbangan dari rombongan yang hadir disana. orang lebih itu. Sudah pernah dengan Kinjam? Kinjam adalah makanan khas daerah Kampar Kiri Hulu berupa manisan ubi yang diolah sedemikian rupa dan dimasak dengan air tebu.Hampir mirip dengan Kinjam, Kolak Konji juga merupakan kuliner khas daerah Kampar Kiri Hulu. Kolak Konji adalah kolak berbahan dasar labu cina. Disampaikan oleh Ketua ERC Rudi Fajar, kuliner -kuliner tersebut merupakan hasil sumbangan dari anggota yang mengikuti ekspedisi tersebut. "Ya itu hasil sumbangan dari teman-teman semua. Bukan dari pesan khusus atau bagaimana. Murni sumbangan karena masing-masing mengapresiasi perjalanan ini," kata Direktur RAPP ini. Menu-menu kuliner tersebut, hanya pengantar sebelum makan siang lho. Pada saat makan siang, menu khas yang disajikan jauh berbeda dan sangat menarik perhatian pecinta kuliner tradisional. Seorang anggota ERC Andrisman mengatakan, menu makan siang rombongan di Desa Gema dipesan langsung dan dimasak oleh warga setempat. "Menu makan siang rombongan ekspedisi adalah Pongek Ikan Asam Pokuo, Sambal Belacan Ambacang, Langkang Jengkol Balado dan Sambal Kacau Ikan Lado Hijau," kata Andrisman. Ia menjelaskan, dari menu-menu tersebut, sebelumnya ia pernah mencoba Sambal Kacau Ikan Lado Hijau dan Langkang Jengkol Balado. "Selebihnya saya baru makan dalam kegiatan ini. Seperti Pongek Ikan Asam Pokuo dan Sambal Belacan Ambacang saya baru coba pas disana," terangnya. Dijelaskannya juga, menu makan siang itu sengaja dipesan agar dimasak oleh masyarakat setempat sebagai bentuk kepedulian ERC pada warga tempatan.Selain untuk menunjang ekonomi setempat, pihaknya juga ingin agar rasa khas menu tersebut benar-benar terjamin orisinil dan asli. Tak hanya sampai disitu, ERC juga mendukung penuh terbangunnya ekonomi masyarakat sekitar sepanjang ekspedisi tersebut. "Misalnya, dengan meminta rombongan wajib berbelanja Rp. 50 ribu perkelapa pada para pedagang. Dengan demikian, para pedagang bisa mendapatkan keuntungan juga dengan kehadiran

Suasana makan siang, sebagian rombongan memilih makan sambil menikmati panorama Sungai Subayang yang elok. Laporan wartawan triibun pekanbaru, syahrul ramadhan TRIBUNPEKANBARU.COM

kita (ERC, red) disana," tandasnya. Dalam ekspedisi ke Sungai Subayang, rombongan Explore Riau Community (ERC) melakukan perjalanan untuk memperkenalkan destinasi wisata berbasis sungai di Kabupaten Kampar. Rombongan berangkat pada Minggu (26/2/2017) pagi dari Pekanbaru menuju Desa Gema di Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar. Walaupun perjalanan tidak sampai ke tujuan akhir di Desa Batu Songgan, namun rombongan yang mengikuti rangkaian acara merasa pSuas. Selain menikmati panorama di lokasi sekitar, rombongan juga merasa puas dengan menikmati perjalanan menggunakan Piyau, sebutan masyarakat setempat untuk perahu.(*)


S U B A Y A NG P O S

Page 6

PROFIL DIRI Seseorang lelaki yang sedang berproses membalikan kebiasannya, yang terbilang sangat anti dangan sebuah ajaran, pengetahuan, dan bahkan kebenaran. Yang terbiasa sehari-hari nya adalah bagaimana menjalani hidup tanpa tau sebuah toleransi, dan tidak mau tau konsekuensinya di balik itu. Berselangnya waktu, ntah kenapa ia mau berubah, mulai dari cara bicaranya, kebiasaan dan bahkan sikapnya turut berubah, pria tersebut mengingat dirinya untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang tidak berguna lagi, ngak bermanfaat, bahkan menyusahkan orang lain, ia beranggapan semua itu pasti akan merugikan

dirinya pada masa yang akan datang. Suatu waktu pemuda tersebut, mulai berenjak meninggalkan kebiasan2 buruk yang diturutinya, melakukan hal-hal yang baik, berbuat yang berguna, dan mendengarkan kata-kata yang bisa mengubah pola pikir untuk dirinya, demi menjadi seorang pemuda yang sesungguhnya. Pemuda yang bertanggung jawab, ber kepribadian, dan orang yang bermanfaat disekitarnya. Namanya akmal fadil, menurutnya, Sekelompok pemuda yang baik, pastilah ia akan membuat yang terbaik, dan melahirkan generasi-generasi yang baik, tidaklah ada manusia yang mau menjadikan dirinya untuk tidak baik. Begitupun dengan akmal, yang sedang berproses, menata kehidupan untuk mencapai keinginan yang hakiki, yaitu keinginan menjadi seseorang yang masuk dalam golongan orang baik. Kenapa aku sangat ingin menjadi salah satu dalam golongan itu?. Karna menurut aku, menjadi pribadi yang baik adalah langkah pertama sebelum kita berproses, bertindak dan mengendalikan berbagai hal yang menimpah kita, seperti halnya suatu masalah.

tugas design grafis  

mic.publisher

tugas design grafis  

mic.publisher

Advertisement