Page 1

Buletin

Edisi Oktober 2009




Menempuh Hidup Baru

“S

iap menempuh hidup baru!” ujar seorang kawan tergelak menjelang perjalanan ke Bukit Jimbaran, menyadarkan saya, Oktober masihlah awal dari sebuah rangkaian perjalanan panjang. Program redaksi yang “ketat” periode ini mulanya menyentakkan bathin saya. Mungkinkah saya yang selama ini hanya berkutat pada urusan surat-menyurat di Aka akan mampu memimpin ujung pena Aka? Syukur semangat kawan-kawan 2008 makin memantapkan hati. Apa pun yang terjadi, posisi nakhoda kapal redaksi ini telah dipercayakan ahyu Cover: W dan harus saya kemudikan dengan segenap kemampuan. a Widnyan Puji Tuhan, buletin edisi oktober pun terbit sesuai jadwal, dengan format dan tampilan baru. Dalam edisi ini, isu-isu yang hangat seputar kampus dan masyarakat Bali masih kami pilih sebagai fokus tulisan. Dalam Fokus Utama, misalnya, SK Rektor tentang kegiatan kemahasiswaan Unud masih dibahas. Masalah klasik kemah mahasiswa ini kini membawa perubahan baru dalam kegiatan OSPEK fakultas. Sementara pergolakan paten kebudayaan Indonesia oleh pihak asing kami munculkan dalam Fokus Khusus. Tentu tak hanya persoalan “berat” yang hadir. Fotografer Akademika misalnya, telah mempersiapkan foto-foto terbaik kehidupan masyarakat Tenganan dalam Potret. Dan tentu tak lengkap rasanya jika tak hadir Sudut Apresiasi yang memuat tulisan sastra. Buletin edisi Oktober ini hanya sebuah awal yang lain lagi bagi Akademika. Securam apapun perjalanan ke depan, satu kata “semangat” tetap menjadi mantra mujarab untuk menjalani kehidupan baru ini. Tentunya kepada kawan-kawan calon anggota Aka 2009 yang selalu bersemangat, dengan tangan terbuka kami ucapkan selamat bergabung. Selamat menempuh hidup baru di rumah merah. Sebuah rumah “kumuh”-meminjam istilah I Gusti Putu Artha- yang telah melahirkan banyak orang besar. Pemimpin Redaksi

Selecta, Tak Lekang oleh Waktu....................................................................................................3 Fokus Utama: Menyoal SK Rektor tentang Pengunduran Kemah.............................4 Perploncoan, Penting?.........................................................................................7 Pramuka Unud Kemah di Hotel..?...............................................................................................9 Aspirasi: Beasiswa tak Tepat Sasaran.........................................................................................10 Potret Masyarakat Tenganan.......................................................................................................12 Fokus Khusus: Problematika Hak Cipta di Bali...........................................................14 Hak Paten?.......................................................................................................17 Review: Young on Top..................................................................................................................18 Inglorious Basters...........................................................................................................19 Figur: Elfira Nacia...........................................................................................................................20 Mozaik Lingkungan: Berebut Air di 2015...................................................................................21

Buletin

Edisi Oktober 2009




SELECTA, TAK LEKANG OLEH WAKTU Fransiska E.L. Natalia*

T

ak hanya Bali yang memiliki tempat rekreasi dengan pemandangan indah dan udara sejuk seperti Bedugul. Di Jawa Timur pun dapat kita jumpai tempat rekreasi serupa dengan fasilitas berbeda. Selecta. Itulah nama taman rekreasi yang

Pesona Selecta tak pernah digerus waktu

menjadi kebanggaan masyarakat Malang, Jawa Timur. Suasana yang sejuk, indah dan nyaman didukung beberapa fasilitas seperti kolam berenang, kolam bermain, permainan out door, membuat Selecta menjadi salah satu tempat wisata favorit keluarga. Ini pulalah yang membuat rombongan Universitas Udayana menempatkan Selecta sebagai salah satu tempat tujuan rekreasi. Begitu memasuki areal parkir taman ini, deretan pedagang tanaman hias dan makanan khas Malang telah menyambut kami. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu berkunjung yang hanya satu setengah jam, kami pun segera memasuki areal taman. Kolam bermain lengkap dengan perahu yang dapat dilayari sendiri tampak menghiasi taman. Selain itu, terdapat pula kolam renang lengkap dengan pipa

Buletin

Edisi Oktober 2009

seluncur bak Waterboom mini dan tiga papan loncat dengan ketinggian berbeda. Beberapa ayunan dan permainan anakanak lain pun ikut melengkapi taman ini. Di taman ini terdapat pula rumah makan dan outlet-outlet pakaian yang mengusung tulisan Selecta sebagai ikon. Puas melihat-lihat, saya pun menelusuri sisi taman yang lainnya. Kali ini taman bunga dengan warna yang heterogen dan indah menyapa saya. Meskipun ini untuk kedua kalinya saya mengunjungi Selecta, suasananya masih tetap sama, kecuali beberapa perbaikan dan penambahan jenis dan warna bunga. Kenangan tentang Selecta yang tak terlupakan akhirnya menjadi kerinduan untuk kembali dan menikmati suasananya yang nyaman dan damai ini. Ternyata tak hanya saya yang menikmatinya. Banyak keluarga bersama anak-anak mereka memilih Selecta sebagai tempat rekreasi, meski pengunjung Selecta saat itu memang tak seramai saat liburan sekolah. Sayang, waktu yang terbatas membuat kami tak dapat menikmati keseluruhan areal taman yang memang sangat luas, sekitar 2 Hektar. Selecta telah banyak berbenah dan berubah menjadi Selecta yang lebih baik, dilihat dari segi fasilitas maupun keragaman tanaman yang menyemarakkan taman. Inilah yang membuat taman kebanggaan masyarakat Malang ini tak pernah dilupakan pengunjungnya. Suasananya yang menawan begitu membekas di hati. Tak heran jika Selecta tak lekang oleh waktu dan zaman. *Mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana




Menyoal SK Rektor tentang Pengunduran Kemah

Harapan Emas dalam Kendi Bocor “Seluruh kegiatan perkemahan hanya boleh dilakukan setelah semester satu berakhir, supaya kesetaraan meminimalisir perpeloncoan yang sering terjadi,” papar Prof. Dr. Ir. Sucipta, MP, Pembantu Rektor III Universitas Udayana (PR III Unud) perihal pengunduran kemah mahasiswa. Tapi benarkah harapan itu telah dibalut sistem yang tepat? Kemah sudah menjadi salah satu kegiatan wajib mahasiswa baru (maba) Unud. Hampir seluruh fakultas mengadakan kemah di awal tahun ajaran. Kegiatan outdoor ini merupakan perkenalan lanjutan maba dengan fakultas yang bersangkutan. Namun, kemah yang notabenenya merupakan wadah perkenalan dengan sesama mahasiswa baru ataupun senior kerap dijadikan ajang perpeloncoan. “Sekarang sudah nggak zamannya lagi perploncoan. Di universitas dalam dan luar negeri sudah tidak ada plonco-ploncoan lagi,” aku Prof. Dr. Ir. IGP Wirawan, PR IV Unud. Dan untuk memotong habis budaya plonco di Unud, SK Rektor pun dibuat, mengatur sejumlah kegiatan mahasiswa, termasuk kemah mahasiswa. SK Rektor yang mengacu pada SK Dikti no.38 tahun 2000 itu dihadirkan Rektor Unud pada tahun 2007 lewat penggantian format Gema Penerimaan Intelektual Muda Udayana (Gempita) dengan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa

Buletin

Edisi Oktober 2009

Baru (PKKMB) dan pelarangan kemah mahasiswa sebelum satu semester. Ketika itu, pelaksanaan larangan kemah di awal tahun ajaran diserahkan pada dekanat. Namun di tahun 2009, kebijakan itu dipertegas dan tak satu pun pihak dekanat mengizinkan mahasiswanya melakukan kemah sebelum melewati satu semester. Ini kemudian menimbulkan pro kontra di kalangan mahasiswa. Prof. Dr. Ir. I Nyoman Sucipta, MP menuturkan, SK ini diharapkan akan mengubah sistem perpeloncoan yang masih kerap terjadi di fakultas yang sering diadukan orang tua mahasiswa. “Diharapkan jika kemah atau ospek fakultas diundur hingga akhir semester pertama, tingkatan mahasiswa akan menjadi setara dan perpeloncoan dapat diminimalisir,” tegas Prof. Sucipta. Namun bagi fakultas yang telah mencanangkan kemah maba di awal tahun ajaran dalam program kerjanya, SK Rektor ini bencana. “Kami sudah menyusun program kerja dan dengan keluarnya SK ini program




kerja kami jadi carut-marut. Lagi pula sejak 2007 kegiatan kemah kami sudah tidak ada perploncoan,” ungkap I Putu Alit Surya Wibawa, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKH. Ungkapnya lagi, selama ini kemah di FKH lebih mengacu pada kegiatan ilmiah. Seluruh kegiatannya murni perkenalan dan pengabdian masyarakat. Setali tiga uang dengan Alit, Brahmaputra, ketua Badan Eksekutif Fakultas Ekonomi (BE FE) mengungkapkan bahwa kemah yang telah dipersiapkan tahun ini tak ada perploncoan sedikit pun yang langsung diamini Surya Prayoga. Surya menyayangkan waktu pengeluaran SK yang dinilai mepet, sehingga kegiatan survey panitia kemah pun menjadi sia-sia. “Kebetulan kami sudah mencari tempat untuk kemah maba di sebuah desa dan respon penduduk di sana sangat bagus bahkan antusias, namun begitu SK ini keluar, tidak terbayang betapa kecewanya mereka,” ungkap wakil ketua BE FE ini. Memang aneh jika kemah perkenalan

Buletin

Edisi Oktober 2009

diadakan dalam rentang waktu yang sangat jauh. Selain itu, keluarnya SK Rektor yang terkesan mepet ini juga mengganggu program kerja BEM-BEM fakultas. Untuk itu, beberapa BEM fakultas bersama BEM universitas pun melobi pihak rektorat dengan berbagai rasionalisasi agar kegiatan kemah di awal semester diizinkan. “Namun pertemuan itu tidak membuahkan hasil,” Alit Surya Wibawa menyayangkan dalam sebuah diskusi mahasiswa. Dalam pertemuan mahasiswa dengan rektorat, izin kegiatan kemah diserahkan rektorat secara penuh kepada pihak dekanat. Tetapi pihak dekanat justru melempar bola pada rektorat. Mahasiswa yang kehilangan akal pun terpaksa menuruti SK Rektor tersebut. Dengan demikian, seluruh BEM fakultas di Unud serentak mengundur jadwal kemahnya. Meski kenyataannya, banyak pihak menilai diundurnya kemah ini malah memperpanjang OSPEK bagi maba. Bagaimana tidak. Moment panjang




Students Association-red) harus dibentuk bulan ini (september-red). Kalau kemah dilakukan setelah satu semester, mungkin angkatan kami lagi yang mengerjakan HUT ESA tahun ini,” kata Putu Esha Dirtaiswara Kurniawan, ketua ESA, gusar. “Kenapa harus diundur, itu yang kami sesalkan. Kami bisa melakukan kemah tanpa perploncoan bulan ini (september-red),” ujar Alit Surya Wibawa berapi-api. Meski dengan alasan pemangkasan perploncoan, siapa yang menjamin tidak ada perploncoan hanya dengan mengundur jadwal kemah? Menurut Prof. IGP Wirawan, pengawasan akan dilakukan pada saat kemah mahasiswa berlangsung. Pengawas kemah dipercayakan langsung kepada Kemah mahasiswa perlu untuk menumbuhkan kecintaaan terhadap fakultas dekanat. Namun toh ini mengecewakan. Alit menjelaskan perihal kemah mahasiswa sejak dua tahun perihal jumlah mahasiswa FKH yang cukup lalu telah diserahkan pada pihak dekanat minim yang tentu berpengaruh dalam dan tetap menuai protes akibat masih setiap kegiatan. Keberadaan para maba adanya kesan perploncoan dalam kemah. sebenarnya diharapkan untuk ikut serta “Jika masih ada kegiatan dalam kegiatan kepanitiaan dalam waktu perploncoan di fakultas, jelas pihak dekanat dekat, sedangkan maba harus mengikuti akan dimintai pertanggungjawaban,” tegas Kemah Perkenalan Fakultas dulu sebelum calon Pembantu Rektor III Unud ini di dapat mengikuti kepanitiaan fakultas. tengah sebuah diskusi ramah tamah. Dalam kemah mahasiswa itulah terdapat Perlu diakui, meski dengan harapan perkenalan antara maba dan mahasiswa emas, sistem yang membalut penundaan lama. Sehingga jika diikutsertakan dalam kemah mahasiswa ini masih banyak kegiatan kepanitiaan tak ada lagi rasa bocornya. Diharapkan sistem yang baru canggung. Hal serupa dialami Himpunan ini mampu memangkas habis perploncoan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Inggris. hingga ke akarnya. Bisa? Kita lihat bulan “Kepanitiaan HUT ESA (English Januari depan!(lina,rina,dian) sebelum kemah ini dimanfaatkan di beberapa fakultas untuk mengadakan kumpul maba dengan dalih diskusi. “Tidak boleh itu. Kemah diundur untuk memangkas perploncoan bukannya malah ada yang lebih panjang lagi,” larang Prof. Wirawan, menanggapi hal tersebut. Bagi Alit, dan sejumlah ketua BEM lainnya, SK Rektor yang terkesan dipaksakan

Buletin

Edisi Oktober 2009




Perploncoan, Penting? Hawa panas siang tak melumerkan wajah sangar khas panitia OSPEK itu. Tak hanya satu atau dua orang. Hampir semua wajah panitia tertekuk. Dari yang cantik sampai yang tidak berbentuk sepertinya enggan tersenyum. Sesekali terdengar teriakan “Cepat dik… sudah masuk!” Gambaran itu menjadi lazim di maba dalam PKKMB sejak tahun 2008. setiap OSPEK Universitas Udayana (Unud). “Perpeloncoan memang perlu Ketertekanan mental pun membuat para dalam pengembangan pribadi mahasiswa maba berguguran, merepotkan panitia. baru,” tutur Ni Made Swasti Wulanyani S.Psi, Tak heran jika kemudian banyak komplain M.Erg,Psi. Wulan, sapaan akrab psikolog dilayangkan pihak orang tua, menganggap Unud ini, menyetujui dilaksanakannya kegiatan OSPEK sebagai perploncoan perploncoan jika bertujuan agar mahasiswa dengan kekerasan dan menentangnya. lebih disiplin dalam mengikuti perkuliahan. Sejarah menunjukkan perploncoan Hanya saja kegiatannya harus relevan bukan hal baru. Banyak sumber yang dan bermanfaat untuk kuliah. Kegiatan dapat diakses menyebutkan perpeloncoan plonco itu sendiri, menurutnya harus ada di Indonesia merupakan warisan unsur ilmiah, disiplin dan tata krama, serta pendidikan zaman kolonial yang terutama dikemas secara kreatif. dilakukan bagi kaum pribumi yang “Untuk memotong kekerasan hendak melanjutkan pendidikan. Bagi banyak pihak, istilah pelonco membawa trauma tersendiri. Bayangan akan sebuah OSPEK yang mengharuskan para maba melakukan hukuman fisik dan mental menghantui para orang tua. Terlebih dengan masih maraknya kisah-kisah kekerasan senior terhadap juniornya di layar kaca. Tak heran jika kemudian pihak rektorat “turun” Sejak tahun 2008, pihak rektorat turun tangan mengurusi maba menangani para

Buletin

Edisi Oktober 2009




yang sudah mendarah daging, memang kemah untuk para maba murni pengabdian diperlukan inovasi yang cukup ekstrim masyarakat. “Saya berharap mahasiswa baru yaitu pemotongan siklus kebiasaan tahunan tersebut dan melibatkan peran pihak respect terhadap seniornya karena betulbetul merasa segan. Junior hormat kepada berwenang,” ujar Wulan tersenyum. Pernyataan tersebut disambut seniornya karena merasa telah dibimbing. antusias oleh Dr. drh. Adi Suratma. MP, Bukannya karena rasa takut dan benci. salah seorang dosen Fakultas Kedokteran Kekerasan dalam OSPEK itu menunjukkan Hewan (FKH). Menurutnya, plonco bahwa kita masih memiliki mental bangsa tidak memberatkan mahasiswa. Namun terjajah,” ungkap Prof. Dr. Ir. IGP Wirawan, ia menekankan perploncoan yang Msc, Pembantu Rektor IV di sela-sela dilaksanakan harus murni sebagai proses sebuah diskusi ramah-tamah. Jadi siapa pun setuju bahwa pengenalan kampus, bukan ajang balas dendam. Namun jika kegiatan tersebut mahasiswa baru perlu dilatih displin dapat membahayakan atau menugaskan mengingat fase menjadi siswa tak sama maba membawa alat yang tidak berkaitan, dengan manjadi mahasiswa. Entah dengan istilah perploncoan atau yang lain. Tentu hal tersebut harus dilarang keras. “Kalau hanya bangun pagi dan ini dilakukan sebatas niat pembimbingan beberapa tugas saya kira tidak masalah,” papar Adi Suratma. Hal senada diungkapkan I Putu Alit Surya Wibawa, ketua BEM FKH dalam sebuah diskusi diskusi mahasiswa. “ Pe r p l o n c o a n sebenarnya merupakan suatu cara agar para maba melakukan sesuatu sesuai dengan yang diinstruksikan. Jadi bagaimana kita membuat para maba melakukan tugas-tugas yang diberikan itulah Keterkanan mental yang dialami mahasiswa baru seringkali membuat repot yang disebut plonco. panitia sendiri Bukannya dengan kekerasan tanpa alasan,” urai mahahasiswa murni, bukan ajang balas dendam atau semester VII itu. Ia mengakui, di FKH pamer senioritas yang melecehkan pribadi sendiri sudah tidak terjadi kekerasan dalam maba dengan kekonyolan hukuman fisik OSPEK sejak tahun 2007. Seluruh kegiatan dan mental yang tak perlu.(ria, lina, dian)

Buletin

Edisi Oktober 2009




P������� RAMUKA ����� UNUD ������ KEMAH ��� DI ��������� HOTEL...? “Pramuka Unud Kemah di Hotel...?” gurau seorang anggota saka banyangkara Tabanan dalam kemeriahan acara Bali Scout Gathering (BSG) UKM Pramuka Racana Udayana Mahendradatta.

A

Bertempat di pantai Peti Tenget, 90 ekor tukik yang berasal dari Turtle Conservation and Education Centre (TCEC) Serangan pun dilepas. “Sekarang sedang trend kegiatan pelestarian lingkungan dan perlu diteruskan serta dimodifikasi dengan tampilan baru,” ungkap Griya, pemandu pelepasan penyu. ”Kedepan mesti dibuat semacam sponsorship menggandeng perusahaan yang mempunyai budget,” tambah Kepala TCEC Serangan ini. Pelepasan tukik tak hanya dilakukan peserta dan panitia, tapi juga Kegiatan BSG melibatkan seluruh Pramuka di Bali mengundang perwakilan dari “Tujuannya mengumpulkan seluruh Unud, walikota Denpasar, Bupati Badung, pramuka Bali dalam satu wadah sekaligus dan kepada Desa Peti Tenget. Masyarakat memperkenalkan UKM Pramuka Racana sekitar dan wisatawan asing yang kebetulan Udayana Mahendratta,” ujar Abdi Pratama, lewat pun tak mau ketinggalan moment ini. Snorkling juga tak kalah ketua panitia kegiatan. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana seru, bertempat di Pantai Candidasa, (FKH Unud) itu menambahkan, kegiatan Karangasem, yang terkenal dengan yang berlangsung 11-13 Agustus 2009 ini keberagaman terumbu karang dan ikan tak sekadar acara kemah tapi mengarah ke hias. Dilanjutkan dengan atraksi yel, lomba memindahkan karet dengan mulut, lomba pengembangan soft skill. BSG berlangsung selama 3 hari, memindahkan tepung, dan games lain, merangkai acara seminar, pelepasan peserta tetap bersemangat hingga BSG tukik dan out bound. Seminar berlangsung ditutup pada pukul 17.00 . Walau kemah di hotel, toh kegiatan dengan antusias di hari pertama dan kedua, menghadirkan Suprapti Santy Sastra, Pramuka ini tak hanya sekadar acara hurahura dan tetap bermanfaat. (angga) Sutrisna Dewi dan Seri Malini. cara yang baru pertama kali dilaksanakan ini memang bertempat di Hotel Gatsu Indah, Denpasar.

Buletin

Edisi Oktober 2009




Beasiswa Tak Tepat Sasaran, Semua Di Buat Panas

”I

Okrina Tri Widanti*

tu tidak fair!” kata seorang kawan emosional. Ia baru saja mendapat kabar bahwa kakak kelasnya mendapatkan dua beasiswa di waktu yang bersamaan. Itu membuatnya kepanasan. Itu juga yang membuat banyak mahasiswa Universitas Udayana (Unud) kepanasan. Unud memiliki ribuan beasiswa. Baik dari pemerintah maupun swasta. Rektorat pun mengirimkan informasi ini ke fakultas. Sejauh ini masih oke. Lalu Fakultas menurunkan informasi ini ke Jurusan. Dan jurusan yang menentukan siapa yang berhak mendapatkan beasiswa ini. Di tahap informasi ini mahasiswa girang bukan kepalang. Segera ������� mendaftarkan diri dan mengumpulkan beberapa dokumen. Hanya dipertengahan jalan dokumen yang agak susah dan berbelit, menghambat. Hingga mahasiswa girang ini putus asa alias malas dan beasiswa pun tak jadi diambil. Petinggi mau tidak mau mengalihkan ke orang lain. Bisa jadi yang tengah mendapat beasiswa jenis lain kena untung. Ajaib. Itu adalah contoh mahasiswa malas. Lainnya? Terkadang informasi beasiswa tak bisa selalu diumumkan di depan kelas oleh dosen. Mahasiswa aktif mencari tahu beasiswa dan dokumen yang diperlukan di bagian kemahasiswaan. Tetapi mahasiswa Udayana kebanyakan sebodo amat. Jadilah informasi ini mengendap di kalangan mahasiswa yang dekat dengan dosen dan dengan bagian kemahasiswaan. Ya, yang dekat dengan kemahasiswaan atau dosen. Informasi beasiswa biasanya diumumkan dosen ke beberapa mahasiswanya. Berharap mahaiswa ini akan menginformasikan lagi ke teman-temannya. Tetapi mahasiswa

Buletin

Edisi Oktober 2009

ini pasti akan diam. Mengunci seluruh informasi beasiswa. Apalagi alasanya jika bukan ketidakinginan adanya saingan. Putuslah informasi itu. Parahnya lagi beasiswa yang berasal dari swasta biasanya meminta namanama mahasiswa dalam waktu singkat. Belum juga informasi menyebar nama harus disetor. Jadilah lagi-lagi rektorat/ dekanat mencari mahasiswa yang acap kali bertandang atau yang sudah dikenalnya. Seperti kasus kakak kelas yang diceritakan di atas. Tidak ada yang mendaftar, nama bolehlah asal comot. Ini diakui petinggi rektorat ketidak-fair-anya. Tetapi, jangan dikira petinggi-petinggi ini tak kewalahan mencari nama dalam waktu singkat. Bukan lagi menyalahkan petinggi kampus. Atau terus-terusan meratapi nasib yang tak kunjung mendapat beasiswa karena beasiswa telah diembat mahasiswa berkecukupan yang dekat dengan petinggi. Meski petinggi kampus harusnya bisa menginformasikan adanya ribuan beasiswa lewat banyak media. Atau bernego dengan pihak swasta agar beasiswanya sempat diinformasikan ke mahasiswa. Meski juga, mahasiswa harusnya lebih pro-aktif. Menjemput bola duluan selalu lebih baik kawan. Atau lakukanlah penyadaran diri sedini mungkin. Penyadaran diri untuk mahasiswa berkecukupan agar beasiswa bisa dimanfaatkan yang tak mampu. Ah, andai meski-meski itu bisa dilakukan. Bila tidak, mahasiswa akan kepanasan lagi melihat ’keajaiban’ masalah beasiswa ini. Dan petinggi kampus juga akan panas menerima tudingan curang. Panas, panas! *Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Udayana

10


Dicari: Perploncoan Tanpa Kekerasan Salah seorang alumni Unud yang kini menjadi wartawan handal di Jakarta berkata ia masih ingat betul wajah senior yang memakinya dalam sebuah kemah inisiasi, setelah sekian lama lulus kuliah. Syukur, ia tak melampiaskan dendam itu dengan mendaftarkan diri sebagai panitia OSPEK dan mengincar adik kelasnya. Dengan keadaan demikian, tak heran jika kemudian masyarakat Indonesia menuntut penghapusan perploncoan dan OSPEK. “Plonco” sendiri bukan kata angker. Istilah ini digunakan untuk menyebut mahasiswa baru yang masih awam atas likaliku kampus. Namun dalam prakteknya, kegiatan itu banyak diwarnai kekerasan atas arogansi senior. Hukuman mental dan fisik yang diberlakukan seringkali tidak mendidik. Pelecehan pribadi mahasiswa baru (maba) lewat tugas-tugas “kreatif” dan kata-kata yang tak patut seringkali tidak menimbulkan rasa hormat melainkan menanamkan benih dendam yang akan dilampiaskan pada juniornya. Ini melatarbelakangi SK Dikti no.38 tahun 2000 yang melarang perploncoan (yang identik dengan kekerasan) dalam OSPEK. Meski demikian, mengingat fungsinya sebagai ajang perkenalan pada kehidupan kampus, OSPEK tak bisa dihapus begitu saja. Unud pun bertindak melalui SK Rektor yang melarang kegiatan kemah sebelum satu semester. Dengan begitu, diharapkan gap maba dan mahasiswa lama menyempit serta kekerasan dalam OSPEK pun hilang dengan sendirinya. Alangkah naifnya, mengharap budaya plonco yang telah lama

Buletin

Edisi Oktober 2009

berbelok dan mengakar kuat di kalangan mahasiswa lenyap sendiri dalam kurun waktu enam bulan. Padahal jika ingin tegas dan serius, biarkan saja kemah mahasiswa dilaksanakan sesuai jadwal di awal tahun ajaran namun dengan pengawasan langsung dari pihak rektorat. Tak ada yang bisa menjamin penundaan kemah mahasiswa selama satu semester pasti menghilangkan perploncoan. Kalaupun dekanat telah diberi tanggung jawab mengawasi jalannya kemah, rasanya sangat jarang ada dekanat yang mau menginap berhari-hari untuk mengawasi mahasiswanya berkemah. Paling-paling setelah perkenalan dosen dan staf, kegiatan kemah kembali berada di bawah hegemoni atau kekuasaan tertinggi senior. Meski tanpa diawasi, mahasiswa seharusnya sadar untuk mengutamakan intelektualitas dalam mendidik maba. Seringkali mahasiswa lama mengeluh maba jadi kurang ajar karena tak mengalami OSPEK sekeras mereka. Tapi sudahkah kita bercermin? Saat pertama kali menginjakkan kaki di perguruan tinggi jangan-jangan kita pun pernah mendapat cap “kurang ajar”. Predikat “mahasiswa” harusnya menjadi tanggungjawab tersendiri. Dengan citra intelektualitas lebih, masyarakat menyebut mahasiswa sebagai agen perubahan atas situasi sosial yang carutmarut. Tapi kini tak banyak lagi kebanggaan tersisa akibat semakin jauhnya kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. Dan dengan budaya kekerasan OSPEK, tak heran jika kemudian timbul pertanyaan: Apa bedanya mahasiswa dengan preman?(Red)

11


Tenganan, Desa Tua Penuh Cerita

Agung Parameswara*

Tenganan Pegeringsingan terletak di Kecamatan Manggis, Karangasem. Berjarak sekitar 65 km dari Denpasar, Desa ini merupakan salah satu dari beberapa desa kuno Bali (Bali Aga). Pegringsingan berasal dari kata “geringsing”, produk tenun tradisional yang hanya ada di Tenganan. Desa Tenganan memiliki ciri khas tersendiri, diantaranya upacara Makarè-karè dan kain tenun Geringsing. Tenun Geringsing dianggap sakral karena bisa menjauhkan kekuatan magis jahat atau black magic. Geringsing diturunkan dari kata “gering” yang berarti sakit dan “sing” berarti tidak. Tenun geringsing biasa digunakan pemuda-pemudi Desa Tenganan saat upacara Mekarè-karè yang diselenggarakan tiap tahun dimana pemuda-pemudi Tenganan berkumpul melakukan ritual menghaturkan sembah kepada Dewa Indra untuk memohon keselamatan dari kekuatan magis.

berdarah usai Pemuda Tenganan perang pandan

Bocah-bocah Teng

anan bermain ayun

Buletin

Edisi Oktober 2009

an

12


Para “Penari Lanang” la duduk bersi menjelang upacara gan ersembahyan

p

Para gadis Tengan

an bercakap-cakap

enari Lanang” Salah seorang “P acara menari dalam up Makarè-karè *Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unud

Buletin

Edisi Oktober 2009

13


Menilik Problematika Hak Cipta di Bali

Harus Mulai Proaktif

“Booming” tarian Pendet yang dipergunakan dalam sebuah iklan pariwisata Malaysia menyuburkan wacana paten-mematen. Inventarisasi pun diisyaratkan kepada seluruh daerah di Indonesia. Tiga daerah termasuk Bali mengajukan hasil inventarisasinya ke pusat. Tapi benarkah pemerintah masih belum serius? elakangan berita klaim budaya depan, bukan tak mungkin Bali menjadi Indonesia oleh Malaysia sangat rentan akan pencurian budaya. menjadi konsumsi pokok masyarakat Hal tersebut dipaparkan Drs. Indonesia, seolah merangkai persoalan- Wayan Geriya seorang pemerhati budaya persoalan diplomatik yang telah terjadi yang juga pernah menjabat sebagai dosen antar kedua negara sebelumnya. Klaim aset- Antropologi Universitas Udayana (Unud), aset Indonesia memang telah berlangsung dalam kaitan kekayaan budaya Bali lama. Beberapa hasil budaya asli anak dengan pentingnya HKI di masa depan. bangsa seperti Batik, Reog Ponorogo, ”Bali memiliki pesona unicum, identitas unik yang mempesona yang akan menjadi permasalahan yang perlu dituangkan lewat HKI, kalau itu seni budaya dan kerajinan, serta diuangkan dalam hak paten kalau itu penemuan.” Menurutnya, permasalahan HKI di Bali sendiri sebenarnya bersifat krusial dan bisa saja menjadi polemik di masa mendatang karena produk kebudayaan Bali mulai beragam. Terlebih lagi pemasarannya mulai terbuka baik secara lokal maupun internasional. Permasalahan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Bali sebenarnya sudah ramai dibicarakan sekitar tahun 90-an yang kemudian menjadi sangat intensif pada kongres kebudayaan Indonesia dan Bali. “Benihnya itu pada jubelium perak pesta kesenian Bali tahun 2005”, ungkap Wayan Geriya. Forum sarasehan pernah diadakan, melibatkan banyak pemilik hak paten termasuk Prof. Dr. Ir. IGP Wirawan, M.Sc Nyoman Mudana, SH. MH dan Cokorda Sosrobahu, merumuskan Wayang, Keris bahkan Tari Pendet yang pentingnya HKI di masa depan. Dan jika nyata-nyata merupakan hasil kebudayaan tidak dikelola secara baik HKI akan menjadi klasik Bali juga diklaim negara jiran itu. Ke sengketa di masyarakat global.

B

Buletin

Edisi Oktober 2009

14


Menanggapi permasalahan klaim Universitas Udayana. “Cuma atas alasan terhadap kebudayaan Indonesia, antropolog klasik, yaitu biaya, mereka (seniman-red) berambut putih ini mengungkapkan, hal enggan mendaftarkan karya ciptanya,” ini seharusnya sudah dibicarakan sejak lama. Bukannya terbiasa menyikapi permasalahan tersebut secara reaktif, tetapi harus lebih dupayakan untuk proaktif. Tak hanya diam menunggu permasalahan muncul baru bereaksi. Menjadi sorotan hangat di masyarakat, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pun mencanangkan 1.000 HKI di Indonesia. Dan Bali sendiri telah mengajukan 87 kebudayaannya untuk mendapatkan HKI. “Persoalannya, saya kurang tahu rincinya, apakah hanya diajukan berupa list atau sudah diajukan inventarisasi inventor. Karena dalam mengajukan HKI dalam arti inventor, tidak cukup hanya dengan daftar nama keseniannya saja tapi perlu juga dicantumkan bagaimana elemen ini diinventor,” ungkapnya. Inventor berupa identitas dimana kebudayaan itu berkembang, kapan muncul, siapa penciptanya, bagaimana kondisi dan konservasinya. Inventor mencakup juga cerita, fungsi dan bentuk kebudayaan tersebut. Kaji kebudayaan secara Keberagaman budaya Bali menjadi incaran dunia inventor ini sangat penting dilakukan agar memliki data yang jelas. Di Indonesia, u n g k a p n y a . kurangnya data dasar ini lebih banyak Sementara di tempat berbeda, perspektif disebabkan kurangnya perhatian seniman seniman yang terkesan kurang aware dengan itu sendiri. HKI ini ditanggapi santai Mas Ruscitawati. “Permasalahannya, banyak seniman “Seniman memang lebih cenderung tidak mengetahui bagaimana membuat bermain dengan ekspresi, dan menghasilkan materi usulan, kemana diusulkan, apa yang buah karya lewat cara berseni mereka, harus dilengkapi, ke mana prosedur yang tanpa lebih mementingkan pematenan harus dilalui, berapa biayanya, berapa lama atau yang cenderung menjurus industri. harus menunggu,” paparnya. Seniman, ya seniman yang penting mampu Hal senada diungkapkan Nyoman mencurahkan segala ide kreatif mereka,” Mudana, SH. MH, dosen Fakultas Hukum ungkap seniman sekaligus sastrawan ini.

Buletin

Edisi Oktober 2009

15


Menurut Ruscitawati, pemerintah diajukannya 87 kebudayaan Bali ke dalam memang sempat mendata seni atau hasil seni HKI. Kurangnya sosialisasi menyebabkan Bali tapi hanya untuk dokumentasi bukan seniman tak tahu bentuk penghargaan yang menjurus pada hak cipta. Padahal peran akan didapat jika hak cipta telah diperoleh. serta pemerintah betul-betul diperlukan Berbeda dengan hak paten yang sudah jelas untuk menarik seniman terus berkarya dan mendapatkan penghargaan sangat tinggi. mendaftarkan karya-karyanya. Kalaupun Ini tentu menjadi kesangsian tersendiri. “Kalau ini mau serius digalakkan, belum ada kesadaran personal seniman untuk mendaftarkan karyanya, sudah bukan hanya seniman itu dihargai jika selayaknya pemerintah turun tangan untuk mencipta. Bagaimana rumusnya supaya melakukan sosialisasi dan penyadaran dia mendapatkan royalti atas karyanya. tersebut. Apalagi menyadari masih Maka secara bathin puas, secara lahir kentalnya budaya Bali yang de koh ngomong, juga mendapat reward,” ungkap Wayan enggan jika harus terkesan menonjolkan Geriya. Mengantisipasi masalah serupa, diri. Terlebih kebanyakan budaya Bali ia memandang perlu pengaturan hak cipta dalam undangadalah milik undang atau peraturan komunitas. “Setidaknya dia (seniman-red) pemerintah lebih jelas. “Memang mendapatkan achievement atas “Setidaknya yang menjadi prestasinya. Mendapat kepuasan dia (seniman-red) permasalah karena dihargai bukan sekedar mendapat achievement sekarang sulitnya penghargaan widya kusuma dan atas prestasinya. mendaftarkan kebudayaan dharma kusuma, tapi jika ada yang Mendapat kepuasan kita ke dunia memakai karyanya, terutama dipakai karena dihargai. Bukan sekedar penghargaan internasional. bangsa asing, harus ada kewajiban widya kusuma dan P a s a l n y a , untuk suatu royalti. dharma kusuma, tapi sebagaian besar jika ada yang memakai kebudayaan kita kepemilikannya bersifat komunal, karyanya, terutama dipakai bangsa asing, maksudnya tidak jelas siapa penciptanya, harus ada kewajiban untuk suatu royalti. tapi diakui secara kelompok. Sedangkan Maka dari itu filosofi yang dulu harus legalnya suatu hak cipta di mata dunia diubah, misalnya jika hasil karya dipakai internasional adalah berdasarkan orang lain kan puas,” tandasnya. Rumitnya masalah HKI, khususnya kepemilikan secara individual, disinilah yang jadi masalah sulitnya mendaftarkan di kalangan seniman di Bali, tak lain berakar kebudayaan kita agar diakui kelegalannya dari kurangnya sikap proaktif pemerintah dimata dunia internasional,” terang yang didukung sikap seniman tradisional Nyoman Mudana, yang juga sekretaris HKI yang kurang paham pentingnya sebuah pengakuan kekayaan intelektual terhadap Universitas Udayana tersebut. Belum lagi, seperti yang disadari hasil-hasil karyanya. Patut ditunggu sampai Wayan Geriya, masih ada hal-hal yang kapan polemik ini akan bertahan sebatas berpotensi menjadi masalah meski telah menjadi wacana publik.(giri,angga,andy)

Buletin

Edisi Oktober 2009

16


Hak Paten? Setelah wacana klaim kebudayaan beredar luas di kalangan masyarakat Indonesia, pemerintah pun secara reaktif meminta setiap daerah menginventarisasi kebudayaannya. Tapi benarkah kita telah betul-betul paham dan sadar? emang di masyarakat tentang Hak Cipta mencantumkan, Hak masih rancu pemahaman cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta antara istilah hak paten dengan hak cipta,� atau penerima hak untuk mengumumkan ungkap Nyoman Mudana, SH. MH, atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berbeda dengan hak merek dan hak paten yang konstitutif, hak cipta bersifat deklaratif. Pencipta atau penerima hak mendapat perlindungan hukum seketika setelah suatu ciptaan dilahirkan. Dengan kata lain hak cipta tidak perlu didaftarkan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI). Hal ini yang tampaknya cenderung membuat banyak seniman enggan berurusan dengan Ditjen HKI untuk mendaftarkan karya-karyanya. Subjek hak cipta tersebut tak hanya meliputi pemilik dan penciptanya. Negara pun bisa menjadi subjek hak cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah, Bagan Proses Pendaftaran Hak Cipta benda budaya nasional lain, folklore, menanggapi kebingungan esensi paten di hasil kebudayaan yang menjadi milik bersama dan ciptaan yang tidak diketahui masyarakat. “Kalau dilihat dari hukum HKI, penciptanya tapi belum diterbitkan. Dalam hasil curahan ide dan pikiran manusia dapat hal ini, negara, tanpa jangka waktu atau tak dibedakan menjadi 2, yaitu hak paten dan terbatas, memegang hak cipta atas foklore hak cipta, dimana yang tergolong hak cipta dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi adalah seni dan sastra serta biasanya tanpa milik bersama. (giri,angga,dian) didahului dengan pendaftaran karyanya tersebut, sedangkan yang tergolong hak paten menyangkut teknologi yang biasa diperbanyak dan diumumkan untuk tujuan komersil,� tambahnya. UU No.12 tahun 1997

“M

Buletin

Edisi Oktober 2009

17


Young On Top, Bertebaran Kata-kata Milyuner Dunia Nama Buku Penulis Penerbit

:Young On Top: 30 Rahasia Sukses Di Usia Muda : Billy Boen : Gagas Media

Young on Top is a place when you want to be tomorrow‌

B

egitu nikmat memetik tagline itu di cover belakang b u k u bertajuk Young on Top : 30 Rahasia Sukses di Usia Muda, karangan B i l l y B o e n . Siapa tak ingin sukses di usia muda? Billy Boen menjadi General Manager perusahaan Oakley di usia 26 tahun dan di usia 30 tahunnya, ia dipercaya mengawasi tiga perusahaan yang bernaung di MRA Group. Lewat buku pertamanya, Young On Top, Billy ingin membagi pengalaman dan motivasi untuk mengejar masa depan gemilang. Mulai dari kiat dasar di bagian pertama, buku setebal 276 ini mengajak pembaca untuk mencintai pekerjaannya, Do what you love and Love what you do. Setelah mampu mencintai pekerjaan, integritas

Buletin

Edisi Oktober 2009

dalam kariermu harus diterapkan. Meski fakta menunjukkan banyak orang sukses tak berintegritas, entah sampai kapan mereka bisa berada di puncak kariernya. Di bagian pertama buku ini Billy menulis Think Big. Untuk menjadi sukses, mulailah dengan bermimpi yang lebih besar. Tentunya mimpi itu harus dibarengi dengan ukuran kemampuan diri. Sebab tanpa disadari kita mampu mewujudkan mimpi besar itu, meski tak selalu sempurna. Dibagian kedua ada kiat Billy bertajuk Learn From Mistakes. Orang memang harus belajar dari kesalahan, sebagai salah satu langkah menuju sukses. Bukan hanya dari kesalahan diri sendiri tapi juga dari kesalahan orang lain. Di bagian ketiga, Billy mengajak untuk melaksanakan kiat ketika berperang dalam karier. Gaya penuturan Billy yang lugas membuat pembaca bersemangat. Terlebih diselipi realita-realita dunia kerja serta pengalaman Billy. Nilai plus untuk buku motivasi ini, banyak bertebaran quote dari para orang sukses dunia serta majalahmajalah bisnis bergengsi. Alhasil daftar pustaka buku ini pun luar biasa. Up To You and Do It, kata Billy mengakhiri bukunya. Kalau ingin sukses, baca buku ini, terapkan kiatnya. Seperti menerbangkan pesawat kertas, harus diberi hembusan angin yang kuat agar mampu mengangkasa.(Andy)

18


Inglourious Basterds : Pembunuhan Hitler Khas Tarantino

“S

etelah Tom Cruise kewalahan membunuh Hitler lewat Valkyre, Brad Pitt mencoba peruntungan bersama The Basterds, dikomandoi Quentin Tarantino�. Mengambil setting tahun 1941, cerita dibuka dengan pembunuhan sebuah keluarga keturunan Yahudi-Perancis oleh Kolonel Hans Landa (Christopher Waltz). Shosanna Dreyfus yang menjadi saksi pembunuhan tragis keluarganya di tangan para tentara Nazi, melarikan diri ke Paris dengan identitas baru. Untuk menyambung hidup ia bekerja di sebuah bioskop, yang lalu menjadi rancangan balas dendam. Di tempat lain, Letnan Aldo Raine (Brad Pitt) memimpin pasukan gerilya Yahudi-Amerika yang dikenal dengan sebutan The Basterds. Dengan hanya beranggotakan delapan orang, The Basterds merancang rencana untuk meruntuhkan kekuasaan Hitler yang diktator. Aksinya dimulai dengan menguliti kepala tentaratentara Nazi yang berukir simbol swastika. Dua skenario balas dendam pun berduet brutal dengan kesamaan kepentingan, membunuh Hitler. Skenario itu mendapat momen segar ketika para Nazi, termasuk Hitler, hadir dalam pemutaran film di bioskop Perancis, tempat Shosanna bekerja. Dapatkah rencana Shosanna dan The Basterds berjalan mulus? Tarantino mengemas Inglourious Basterds dengan sentuhan eksentiknya. Scene kekerasan berceceran darah sangat terasa di Inglourious Basterds. Brad Pitt dan Christoph Waltz pun patut menjadi sorotan. Pitt yang terlibat

Buletin

Edisi Oktober 2009

dalam The Curious Case of Benjamin Button semakin matang

dengan bermain di Inglourious Basterds. Namun, ia harus mengerahkan energi penuh, berduel dengan aktor antagonis Christoph Waltz. Musik film ini tak kalah eksentrik. Sejak awal telah muncul score yang menegakkan bulu roma. Ceritanya pun sungguh membuat penasaran. Mampukah mereka meruntuhkan Hitler?(andy) Judul Film Sutradara Distributor Durasi

: Inglourious Basterds : Quentin Tarantino : The Weinstein Company : 2 jam 32 menit

19


Elfira Nacia

60 : 40

eberuntungan. Ungkap Elfira K Nacia ketika ditanya tentang sederet prestasi yang berhasil dikoleksinya.

Selain bergelar juara II Mahasiswa Berprestasi tingkat Udayana (Mawapres), El, sapaan akrabnya, juga mengembangkan sayap dalam organisasi ekstra kampus seperti Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) sebagai koordinator wilayah III (Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB. NTT), Pergerakan A n g g o t a Muda IAKMI (PAMI), Youth Working G r o u p s PKBI Pusat Indonesia Tengah, Jr. PO Youth Councelling, dan Jr. PO Youth Camp Kisara PKBI Bali. Prestasi M a wa p r e s tingkat Udayana berhasil d i r a i h n ya setelah bersaing dengan mawapres-mawapres fakultas melalui serangkaian tes berupa tes psikologi, bahasa Inggris, dan presentasi karya tulis. El mengangkat tentang Hak Remaja Terhadap Pendidikan Khusus untuk Remaja yang Mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan. Dalam karya tulisnya, El mewacanakan remaja yang mengalami kehamilan tak diinginkan pun berhak mendapat pendidikan yang layak dan BK sebagai lembaga konseling di tingkat sekolah diharapkan mampu membantu

Buletin

Edisi Oktober 2009

siswa bermasalah tersebut. El yang kini menjabat sebagai Ketua BEM IKM periode 2008-2009 mengakui gampang-gampang susah untuk mengatur waktu antara kuliah dan organisasi. “Akademis dan organisasi harus mendekati seimbang, 60:40, 60 untuk akademis dan 40 untuk organisasi. Porsi akademis lebih banyak mengingat tujuan dasar kita kuliah adalah untuk mencari ilmu dan meningkatkan akademis”, ujarnya. Jika zaman sekarang mahasiswa cenderung apatis, menganggap akademis jauh lebih penting dan meremehkan kehidupan berorganisasi, tidak begitu halnya dengan wakil ketua Student Day 2009 ini. “Kurang afdol kalau kita hanya berprestasi di akademis. Pengalaman ikut organisasi itu bekal saat kita keluar dari universitas dan menghadapi dunia yang sebenarnya. Orang yang pernah berkecimpung dalam organisasi lebih bisa memahami suasana kerja dan manajemen konflik karena sudah terbiasa menghadapi perbedaan pendapat dalam organisasi”, selorohnya tajam. Banyak keuntungan yang bisa didapatkan dari aktif berorganisasi, diantaranya banyak teman, jejaring yang luas, pengalaman yang bertambah banyak, sebagai ajang pendewasaan diri sehingga bisa melatih kita bagaimana menempatkan diri di depan orang lain. “Meski terkadang hidup jadi kurang terurus gara-gara sibuk di organisasi, waktu tidur berkurang, tapi itu semua gak akan sia-sia karena ikut organisasi adalah investasi waktu, manfaatnya pasti akan kita rasakan ketika tamat dari universitas nanti dan terjun ke masyarakat. Jangan pernah takut anggapan bahwa aktif di organisasi akan menjatuhkan nilai akademis, kenyataannya banyak orang sukses diluar sana yang berlatar belakang dari aktif organisasi. Yang penting porsinya 60:40 dan mutualisme antara akademis dan organisasi”, tegas El.(dewi)

20


Berebut Air di 2015 Bali kita bukanlah pulau besar. Tapi pembangunan dan modernisasi terus bergulir seiring zaman dengan cepat di sini. Setiap saat sawah, hutan dan kebun berganti tiang-tiang beton. Sampai kapan ia mampu mendukung kehidupan modern yang tamak ini?

B

ali hanya sebuah pulau kecil seluas 5.636,66 km2. Meski lautan luas mengelilingi pesisir pulau Bali yang ramai, tanpa disadari penduduk Bali tengah mengalami defisit air. Parahnya, di tahun 2015, diperkirakan Bali akan mengalami jumlah defisit air yang jauh lebih besar, yaitu 27,6 miliar m3 per tahun. Lalu berapa m3 Bali mampu menyediakan air untuk warganya dalam 20 tahun ke depan? Nah, silakan berhitung! Menurut data Wahana Lingkungan Hidup Bali (WALHI Bali) kepadatan penduduk pulau Bali rata-rata 576 jiwa per km2. Data Biro Pusat Statistik (BPS) Bali tahun 2005 pun menunjuk jumlah penduduk di Bali tercatat sebanyak 3.247.772 jiwa. Angka yang cukup besar untuk sebuah pulau yang sangat kecil. Namun luas hutan

di Bali hanya mencakup 23,20% dari luas wilayah, yang terdiri dari kawasan Hutan Konservasi, Hutan Lindung dan kawasan Hutan Produksi. Diperkirakan di masa mendatang, konversi lahan pertanian akan semakin meningkat sehubungan memenuhi kebutuhan kegiatan pariwisata, kebutuhan pemukiman dan kegiatan usaha. “Di Bali ada sekitar 400 aliran sungai. Namun sekarang saja hanya sekitar 140 aliran sungai yang masih mampu mengalir hingga bermuara ke laut. Selebihnya ada yang telah kering, ada juga yang mengalir hanya jika musim hujan tiba,” ujar Agung Wardhana, direktur eksekutif WALHI Bali dalam diskusi bersama sejumlah mahasiswa Universitas Udayana (Unud). Dari tahun 2006 – 2007 saja, WALHI Bali telah mencatat beberapa daerah di Bali

Diterbitkan oleh: Pers Mahasiswa “Akademika” Universitas Udayana. Izin terbit SK Rektor Unud 499/SK/PT/07/OM/LA/83. Alamat Sekretariat: Kampus Unud, Jalan P.B Sudirman, Denpasar-Bali. E-mail: pers_akademika@yahoo.com Pelindung: Rektor Universitas Udayana Penasihat: Pembantu Rektor III Universitas Udayana Pembina: Prof. Dr. Ir. IGP Wirawan, Msc. Dewan Penasihat/Litbang: Intan Paramitha, Agus Purnomo, Astarini Ditha, Dwi Yuniati. Ketua Unit/Pemimpin Umum: Okrina Tri Widanti. Sekretaris Umum: Intan Resparani. Asisten Sekretaris Umum: Santhiari. Bendahara: Ria Medisina. Marketing: Angga Prayoga. Koordinator PSDM: Suarsana. Upgrading dan Organisasi: Eka Mulyawan, Dina Indrarahmeini. Diskusi: Krisna Murti. Pemimpin Redaksi: Dian Purnama. Redaktur Pelaksana: Lina Pratica Wijaya, Veroze Waworuntu, Putra Adnyana. Fotografer: Agung Parameswara. Staf Redaksi: Fransiska E.L Natalia, Astiti Muliantari, Giri Sujana, Wahyu Resta, Candra Wiguna, Oki Wirastuti, Happy Ari Satyani, Lukman Hakim, Wahyu Widnyana. Anggota: Ari Dwijayanthi, Surya Triana Dewi, Eka Satriawati, Rudy Simorangkir, Vellen Herlyana. Layout: Dian Purnama. Karikatur: Eka Mulyawan, Wahyu Widnyana

Buletin

Edisi Oktober 2009

21


telah mengalami kesulitan air. Daerahdaerah tersebut diantaranya Tirta Mas Mampeh di Kintamani, Denpasar, Negara, Batu Agung, Singaraja, Besakih (Karangasem), Semarapura (Klungkung), dan Nusa Penida. Masih menurut Agung Wardhana, persoalan tak hanya berakar dari kian menipisnya sumber air akibat aktivitas pariwisata yang melibatkan hutan di bagian hulu, tetapi juga masalah distribusi. Air akan lebih lancar dialirkan menuju falisitas-fasilitas pariwisata dibandingkan dengan tempat lain. “Membangun instalasi air di daerah Kubu misalnya, tentu membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan hanya mengalirkan air ke sebuah lapangan golf. Maka distribusi air di Bali pun tidak merata. Terlebih lagi kegiatan pariwisata kini banyak berpusat di pegunungan karena daerah pesisir sudah crowded. Hutanhutan tak lagi banyak berfugsi sebagai water catcher. Belum lagi di perkotaan dilaksanakan papingisasi sehingga air hujan run off, langsung ke laut. Tidak lagi ada daerah resapan air,� papar alumni fakultas hukum Atmajaya ini. Ironisnya permasalahan defisit air ini tak menuai banyak perhatian publik di Bali. Bahkan sengketa-sengketa antar subak dan sengketa air lainnya yang selama ini beredar tak pula ditanggapi serius. Boleh

Buletin

Edisi Oktober 2009

saja ilmu geografi menyebut air, tanah dan udara adalah sumber daya alam tak

Banyaknya aktivitas wisata di kawasan hulu membuat hutan tak banyak lagi berfungsi sebagai water catcher

terbatas. Tapi jika perilaku lingkungan tak diubah, dalam 10 tahun ke depan sumber kehidupan utama yang tampak melimpah itu akan jadi barang langka. Selebihnya, kita hanya mampu saling berebut.(dian)

22


Percikan

Ari Dwijayanthi*

A

;tentang gerimis

ngin semilir, bunga bermekaran, mendung, dan hujan gerimis di awal September. Alam menyuguhkannya lebih awal dari tahun sebelumnya. Seperti halnya dengan tiba-tiba dia datang dan mengajariku bahasa untuk mengeja kaktus yang hidup di tandusnya padang pasir. Mengajariku mengeja hujan lewat dialog antara abu dan air yang membuat mati. Kekeringan yang melanda hati. Bercampur bersama racikan kegundahan, kekecewaan, yang membuat hati semakin tandus dan gersang. Lalu untuk apa pula gerimis turun lebih awal di tahun ini. Mengobati kelaraan? Atau hanya sekedar menghibur? Aku tak tahu, karena gerimis menggeleng kemudian berlalu. Dan, gersanglah kembali. Tahukah, biasanya ketika kalender Caka sedang mendapati Sasih Kapat (Bulan Keempat) atau bulan Oktober di tahun Masehi. Barulah gerimis-gerimis itu turun. Memberikan harapan pada tanah yang mulai retak akibat panasnya matahari di bulan sebelumnya. Menumbuhkan benih-benih perkawinan putik dan benang sari. Agar berbunga. Banyak. Seolah kehidupan baru akan dimulai. Aku sangat menikmatinya. Aroma berbagai macam bunga mekar, aroma pandanwangi, aroma genteng basah dijatuhi gerimis. Bagiku itulah komposisi terharum yang pernah aku cium. Aku masih ingat ketika kecil. Di bulan-bulan ini aku berlomba-lomba mengumpulkan guguran bunga kamboja. Berlarian di

Buletin

Edisi Oktober 2009

padang ilalang menuju tempat tumbuhnya pandanwangi. Bermain-main di bawah gerimis sembari memergoki kupu-kupu yang sedang bercinta. Sangat indah. Aku juga masih ingat. Ketika memasuki bulan Oktober di kampungku, janur kuning bermuculan bergilir di tiap hari baik di bulan itu. Ya, pernikahan. Bulan ini dikenal sangat baik melakukan upacara pernikahan. Aku ingat itu. Aku pegang itu. Kendatipun orang katakan itu mitos. Warga desa akan berduyun-duyun datang ke Pura Ulun Suwi untuk memuja Betara Indra mengucapkan puja akan gerimis yang diturunkan. Tetapi tahun ini gerimis datang lebih awal. Dan belum aku lihat tanda-tanda kalau bunga akan bermekaran. Gerimis tahun ini beda. Gerimis tahun ini seolah memberi percikan. Memberikan tirta untuk meruwat jagat dari segala mala dan papa. Gerimis tahun ini tidak dihiasi dengan bunga-bunga bermekaran. Tidak dihiasi dengan janur kuning di depan rumah-rumah warga. Tapi gerimis tahun ini menjadi penyejuk untuk hati gelisah karena ribuan kekecewaan yang sudah ditelan dan tak sanggup lagi dimuntahkan. Akhirnya aku tahu. Gerimis tahun ini mengajariku mengeja hujan lewat dialog antara abu dan air yang berakhir dengan penghapusan airmata. *Mahasiswa Sastra Daerah, Fakultas Sastra Unud

23


Ria Medisina*

Menghilanglah!

Kemana saja? Sudah lelah berkelana.? Sudah lelah mencari jawaban atas tanyamu pada nasib? Sudah puas melihat apa yang kamu dambakan? Sudah kesal dengan gagalmu? Ingat, Dulu tanpa mengerti apa yang aku lakukan untukmu Kamu pergi tanpa memandangku. Mengaku menjadi pria tangguh Mengaku tidak harus merancang hidup seperti yang kulakukan Mengaku kuat dan tidak butuh pegangan Mengaku tidak ada yang bisa mengertimu Mengaku becus mengahadapi semuanya sendiri tanpa siapapun. Lihat, Mengapa secepat itu kembali dari hutan

Apakah ada binatang buas yang membuatmu takut Atau kamu ditolak oleh nasib? Barangkali jiwamu terlalu angkuh. Lalu setelah ini, pada siapa lagi kamu akan menantang air mata Apakah tidak cukup aku? Bahkan lukanya saja belum sembuh, kamu sudah bersiap menghunus pedang. Lalu apakah puas setelah melihatku berkeringat darah. Pergi saja! Aku tidak akan berjalan walau hanya seinci untuk mengejarmu. Puaskan nuranimu Peluk aku dengan dingin Aku beku Aku bisu Menghilanglah dariku. *Mahasiswi Farmasi FMIPA Unud

Prof. Bungkling Budaya kita dirampok! Pelanggaran Hak Cipta Kebudayaan! “Impas! Kita toh punya perampok -perampok Hak Cipta terbanyak nomor tiga di dunia�

Buletin

Edisi Oktober 2009

24

Harapan "emas" dalam kendi bocor  

perlawanan dari mahasiswa untuk birokrat kampus

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you