Issuu on Google+

WACANA

10

RABU, 3 NOPEMBER 2010 / 26 DZULKAIDAH 1431 H

Palangka

Post

Membuka Mata Barat terhadap Islam (1) (Sebuah Pengalaman Rohani)

Penerbit : PT Media Palangka Pambelum

Sejak 15 Nopember 2001 SK Menteri Kehakiman dan HAM RI No : C-15977 HT.01.01.TH.2001 Tgl 24 Desember 2001 Pendiri Drs.H.Hidayatulah S. Kurik (1965-2005) Ir. B. Saptanoesa Wenthe, MM (1955-2008) Komisaris HM Ruslan AS Direktur Utama Ir. Rimbun Situmorang Direktur HM Hatta Esmada Ugang Pemimpin Umum/ Pemimpin Perusahaan HM Hatta Wakil Pemimpin Umum/ Pemimpin Perusahaan Esmada Ugang Pemimpin Redaksi Zulfirman Tandjung Dewan Redaksi Zulfirman Tandjung Ade Supriyadi, SP Ahmad Ruswandi S.Pi.SE Redaktur Pelaksana Chairil Supriadi S.Hut Redaktur M Jaini SE, Jonie Prihanto, Agustinus Djata, Rahmat Fauzi, S.Sos.I, M.Zainal, SH, M Haris Sadikin Staf Redaksi M Habibi SP, Wahyudi Hendra, Darlan, Arianata, Dewi Kencana Wati,

Sekretaris Perusahaan Arifin Adam Nasution Bag. Pengembangan SDM Drs Yansen A Binti MBA Manager Keuangan Sukardi A Karim Staf Keuangan Entai Natalia A.Md, M. Azmi Pjs. Manager Iklan Arifin Adam Nasution Staf Iklan Apritae SE, Novita SN, Lulu M., SE Pjs. Manager Sirkulasi & Pemasaran Rohmat Agus Susilo Staf Sirkulasi & Pemasaran Rosa Rusmadiyati SE.,Gajali, Riduan, Bagian Umum Budi Ariandi, Anwar Sanusi Pracetak Mustakim, Eko Murdiyanto, A. Priantoko Viroyyanizza, Ali Fakhrurrozi Hasibuan Bagian Percetakan Deriyanti, M.Yunus, Haliludin, Gunawan Hidayat, Kodrat Pangestu Aji, Syahroni (Montase), Suyatno Biro/Koresponden Daerah :

Oleh

I

NI adalah perjalanan paling aneh dalam hidup saya. Perjalanan begitu hangat. Penumpang lain, tanpa diduga, dapat sambutan ramah. Kami melaju dengan cepat. Hujan, salju, serikat pekerja kereta api, semuanya tak menghadirkan perbedaan. Semua bergegas ke depan.

Namun, saya tidak tahu, bagaimana saya berada di dalamnya. Terasa cukup aneh. Juga asing, kemana kereta ini akan melaju. Tujuannya, kemanapun itu, adalah tempat paling penting yang bisa saya bayangkan. Saya tahu, semua tampak meriah dan tak masuk akal. Tetapi, sesungguhnya itu adalah bagaimana saya merasakan tentang pergantian keyakinan saya menjadi seorang penganut Islam, yang diumumkan pekan lalu. Meskipun sarana dan mekanisme yang membawa saya ke

titik ini tetap misterius, keputusan tersebut akan menentukan setiap aspek kehidupan saya ke depan. Dengan tegas bisa saya katakan seperti berada di bawah rel kembar untuk mengekspresikan kegembiraan. Menanyakan penjelasan sederhana bagaimana saya, seorang wartawan Inggris, orang tua tunggal yang bekerja, beralih kepada agama yang paling tidak jadi favorit media Barat. Saya kira, saya akan menunjuk pada sebuah pengalaman rohani di sebah masjid di Iran, lebih dari

Lauren Booth

sebulan yang lalu. Tapi, pergerakan roda itu harus diputar kembali kepada Januari 2005, ketika saya sampai sendirian di Tepi Barat, untuk meliput pemilihan umum di sana untuk The Mail on Sunday. Sebelum kunjungan itu, saya tak pernah menghabiskan waktu bersama orang-orang Arab, atau Muslim. Sebuah pengalaman yang sangat mengejutkan. Namun, mungkin bukan untuk alasan yang saya harapkan. Begitu banyak yang kita ketahui tentang bagian dunia dan orang-orang pengikut ajaran Nabi Muhammad yang didasarkan pada keributan –sebagian orang mengatakan bias—dari kantor berita. Jadi, saat saya terbang menuju Timur Tengah, pikiran saya dijejali dengan istilah-istilah yang biasa muncul pada pukul

KARIKATURIAL (Rubrik ini tersaji atas kerja sama Palangka Post dengan www.inilah.com)

Pangkalan Bun : Rusdi Djuhrie Nanga Bulik : Gandhi Nuswantoro (Kabiro), Karamoi Suwartono Sukamara : Harteman SHI (Kabiro), Fahri M. Sampit : HM Baderi (Kabiro), Nafiri, Dharma Jaya, Arga Asmaradhana Kuala Pembuang : Aimansyah (Kabiro), Parnen Kasongan : Usman Sitepu S.Hut (Pjs Kabiro) Kuala Kurun : Gurnady SE (Kabiro), Anthoneal SH Pulang Pisau : Asrianor (Pjs.Kabiro), Kuala Kapuas : Randu Ramba SH (Kabiro), Rino Cahyono, Bhakti Lapro Giadi, Buntok : Beneryadi (Kabiro), Asliansyari Muara Teweh : Sun Rise S, Amd (Kabiro), Herman Puruk Cahu : Yohanes Silam (Kabiro) Tamiang Layang : Anigoru (Pjs Kabiro), Anwar Fauzi Perwakilan Jakarta : Hamdhani, Jl. Tebet Dalam IV J No.9B Tebet Jakarta 12810, Telp. (021) 8301379, 8300530 Fax (021) 8356630, Koresponden Jakarta : Thamrin Junus Alamat Redaksi : Jl RTA Milono Km 5,5 Bundaran Burung Telepon Bag. Umum/Iklan/ Redaksi (0536) 3224460 Fax. 0536-3224087 e-mail : redaksippost@yahoo.com Palangka Raya Kalimantan Tengah Bank BNI Cabang Palangka Raya No. 0083730676, Bank Pembangunan Kalteng (BPK) Palangka Raya No. 0100-003-000000092-7 Dicetak oleh PT MEDIA PALANGKA PAMBELUM Isi di luar tanggungjawab Percetakan

Editorial

Saatnya Bangsa Bangkit Total POSISI Indonesia sebenarnya sangat strategis dalam kajian percaturan politik maupun perekonomian internasional. Dengan sumber daya alam yang melimpah, seharusnya bangsa ini menjadi sebuah bangsa besar tanpa harus bergantung kepada pihak-pihak tertentu terkait masalah ekonomi dan sosial. Namun kenyataannya, saat perekonomian Amerika Serikat mulai ambruk, Indonesia juga ikutikutan terkena dampaknya. Sungguh sangat menyesakkan. Padahal dengan komposisi wilayah yang sedemikian luas, serta memiliki seluruh potensi bukan hanya gunung, daratan namun juga lautan, seharusnya bangsa ini bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Dan krisis ekonomi global mengena ke Indonesia patut juga menjadi pertanyaan mengapa rakyat kecil juga yang menderita karenanya. Inilah yang menjadi pertanyaan besar dari beribu macam pertanyaan yang mengapung di angkasa Indonesia. Peningkatan gerakan kearifan lokal sebagai bantalan pengaman krisis amat diperlukan agar Indonesia dapat mencukupi segala kebutuhannya sendiri dalam mewujudkan ketahanan pangan dan ketahanan energi. Indonesia bersama dengan Brazil dan Kongo disebut sebagai negara yang memiliki kekayaan hayati luar biasa. Tidak ada ceritanya Indonesia kekurangan pangan kalau kita pandai mengelolanya. Mari kita kelola kembali, go local, back to nature, agar kita betul-betul bisa membangun ketahanan pangan, tuturnya. Ini tentunya sangat menarik apalagi kalau kemudian bisa dikaitkan dengan kualitas pemberdayaan sektor non migas. Kita banyak memiliki potensi sektor non migas. Usaha pertanian, perkebunan, perikanan dan pariwisata serta sektor pemberdayaan usaha seperti pakaian tentunya akan bisa menggerakkan potensi ekonomi ke arah yang lebih baik. Yang paling penting adalah bagaimana pemerintah bisa menggerakkan sektor riil. Inilah yang seharusnya mampu dilakukan pemerintah kalau bangsa ini memang benar-benar memerlukan sebuah lompatan besar dalam kemajuannya. Bukankah kemajuan sebuah bangsa memang dipengaruhi kemampuan bangsa itu sendiri dalam membangun dirinya sendiri. Kalau bangsa ini juga tidak mampu membangun dengan diri dan kakinya sendiri tentunya mau dibawa kemana bangsa ini ke depan. Kita tentu bisa mengambil hikmah dari pernyataan seorang ktitikus sekaliber Joseph Stiglitz yang dikutip dari sebuah buku dimana yang penting untuk dicermati adalah kutukan sumber daya alam yang harus dihilangkan dari negara-negara berkembang. Kita semua diingatkan bahwa sumber daya alam yang kita miliki pada haekatnya dapat menjadi berkah, tetapi dapat juga menjadi kutukan. Dan itu sekarang terjadi di negara ini di mana terlalu bergantungnya kita pada sumber daya alam seperti minyak dan gas bumi namun kemudian kita tidak berdaya saat krisis perekonomian menghantam kita secara kuat. Oleh karenanya kesadaran yang paling baru adalah bagaimana pemerintah dan rakyat tentunya mampu membangun sebuah sistem bagaimana yang paling baik khususnya dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Ekonomi masyarakat harus digerakkan khususnya dalam bidang pertaian dan perkebunan serta perikanan. Jangan dibiarkan masyarakat itu hanya menjual produk mentah tanpa mampu negara ini membangun pabrik pengolahan hingga menghasilkan barang jadi. Dan itulah diperlukan komitmen yang kuat bukan sekedar menjadi ajang kampanye mencari keuntungan semata.***

22.00: ekstremis radikal, fanatik, kawin paksa, bom bunuh diri, dan jihad. Tak banyak brosur-brosur perjalanan. Pengalaman pertama saya, bagaimanapun, bahkan jauh dari positif. Saya sampai di Tepi Barat tanpa mantel. Otoritas bandara Israel menahan koper saya. Berjalan di sekitar pusat Ramallah, saya menggigil. Seorang wanita tua menggamit tangan saya. Dia berbicara cepat dalam bahasa Arab. Dia membawa saya ke sebuah rumah di pinggir jalan. Apakah saya diculik seorang teroris yang sudah agak tua? Selama beberapa menit, saya kebingungan. Saya melihatnya menuju lemari pakaian putrinya. Dia tarik sebuah mantel, topi, dan syal untuk saya. Saya kemudian dikembalikan ke jalanan di mana saya bertemu dia. Dia memberi ciuman dan menunjukkan dengan hangat jalan saya. Tak ada satu katapun yang saya pahami dalam perbincangan kami. Itu adalah tindakan murah hati yang takkan pernah saya lupakan. Dalam berbagai peristiwa, saya telah melihatnya ratusan kali. Namun, kehangatan ini sangat jarang terwakili oleh apa yang kita baca dan lihat dalam berita. Dalam tiga tahun berikutnya, saya beberapa kali melakukan perjalanan ke tanah pendudukan di mana sejarah Palestina pernah ada. Awalnya menjalankan tugas. Seiring berjalannya waktu, saya berkunjung sebagai bentuk solidaritas dengan yayasan dan kelompok pro-Palestina. Saya merasa tertantang oleh kesulitan yang dialami warga Palestina, apapun kepercayaannya. Penting untuk diingat, ada masyarakat Kristen di Tanah Suci selama 2.000 tahun dan mereka juga menderita di bawah pendudukan Israel yang ilegal. Secara gradual, saya pun mulai bisa mengekspresikan diri dalam ungkapan bahasa Arab. Misalnya,

Laurent Booth ucapan Masha Allah (Allah menghendaki), Alhamdulillah (ucapan puji syukur) mulai merayap ke dalam percakapan sehari-hari saya. Bukannya gugup menghadapi kelompok-kelompok Muslim, saya bahkan mulai ingin bertemu mereka. Itu adalah kesempatan untuk bersama-sama orang yang cerdas, pintar, dan di atas semua itu, baik dan murah hati. Saya berhenti istirahat di sini untuk berdoa selama 10 menit pada pukul 01.30 (Ada jadwal salat lima waktu setiap hari, waktunya berbeda sepanjang tahun, tergantung pada terbit dan terbenamnya matahari). Saya, tak ragu lagi, telah mulai mengalami perubahan pengertian politik. Masyarakat Palestina telah menjadi keluarga, bukannya tersangka teror. Dan, kota-kota komunitas Muslim bukanlah awal dari penghancuran. Perjalanan relijius? Hal ini tak pernah terjadi pada saya. Meskipun saya selalu berdoa, dan sejak kanak-kanak saya membaca cerita Yesus dan nabi-nabi pendahulunya yang saya dapatkan di sekolah, saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat sekuler. Mungkin, apresiasi budaya Islam, khususnya pada perempuanperempuan Muslim, yang pertama kali menarik saya ke arah yang lebih luas, yakni apresiasi Islam. bersambung

Pengungsi Korban Tsunami Dibayangi Penyakit Menular Oleh

E

NAM hari telah berlalu pascagulungan gelombang pasang tsunami “menghampiri” daratan dan menyapu dusun-dusun di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Kini, rasa takut dan cemas menghantui anak-anak di Bumi Sekkerei itu yang ikut merasakan d a h s ya t n ya b e n c a n a ya n g menewaskan ratusan orang itu. Batapa tidak, guncangan gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) pada Senin (25/10) malam sekitar pukul 21.40 WIB yang disertai gulungan gelombang pasang air laut tsunami dengan ketinggian mencapai 12 meter itu telah memporak-porandakan sebagian besar permukiman di wilayah pantai itu. Warga yang selamat, kini berdiam di pengungsian, ternyata bukan sesuatu yang membuat mereka, terutama kalangan anak-anak korban tsunami, bisa agak tenang. Saat ini, para pengungsi khususnya anak-anak dibayangibayangi penyakit menular akibat lingkungan dan lokasi pengungsian yang kurang memadai. Wilayah Mentawai juga merupakan satu wilayah yang masuk data endemis penyakit Malaria. Berbagai jenis penyakit lain juga berpotensi muncul dari bekas-bekas dataran yang disapu gelombang tsunami. Kondisi itu, diperparah memasuki hari keenam pascagempa dan

tsunami itu, bau menyengat dari korban-korban yang tewas belum ditemukan kian mencuat. Hingga kini, masih tercatat 96 orang korban hilang yang belum ditemukan jasadnya, sedangkan sebanyak 446 mayat telah ditemukan dan dikubur secara massal. Data posko utama tanggap darurat bencana tsunami Mentawai, di Kecamatan Sikakap, anak-anak mulai terserang penyakit gatal-gatal, inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA), demam. Data Posko Tanggap Darurat di Kecamatan Sikakap, Mentawai, Jumat (29/10) malam, menyebutkan banyak anakanak di pengungsian terserang penyakit gatal-gatal, ISPA dan demam. Arnalia, salah satu petugas posko tanggap darurat di Sikakap ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa anakanak sebagian sudah terserang penyakit demam, gatal-gatal dan ISPA. Penyakit yang menyerang tak hanya terhadap anak-anak, tetapi juga kaum ibu-ibu dan pengungsi dewasa serta masyarakat yang di Sikakap. Bahkan, ada ibu-ibu yang

Siri Antoni dan Aulia Rahmi

histeris dan pingsang karena anak-anak, suami dan anggota keluarganya meninggal dihantam gelombang tsunami yang terjadi pada Senin sekitar pukul 21.40 WIB. Menurut dia, banyak anakanak dan pengungsi yang dewasa terserang penyakit, karena ada sebagian korban tsunami lama terdampar menjelang dievakuasi. Kondisi itu, dampak korban sebagian banyak terminum air laut sehingga berdampak kepada fisiknya selama di pengungsian. Kini, korban yang selama dari gulungan gelombang tsunami masih berada di pengungsian pada wilayah perkampungannya --ke arah perbukitan--. Penyemprotan Dinas Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai meminta agar kawasan di Pulau Pagai yang telah mengeluarkan bau busuk segera disemprot desinfektan agar tidak membahayakan kesehatan sukare-lawan dan masyarakat. “Kami juga mengharapkan agar setiap sukarelawan diberikan vaksin dan masker dalam mengevakuasi mayat sehingga tidak membahayakan kesehatan,” ujar Koordinator Penanggulangan Bencana Wilayah Kecamatan Sikakap, Joskamatir, di Sikakap. Cukup banyak sukarelawan yang berkeinginan untuk terjun ke lapangan untuk mengevakuasi

mayat yang diperkirakan masih banyak belum dievakuasi. Sebagai alat pendukung tim juga membutuhkan kapal cepat terutama untuk menyebarkan bantuan logistik kepada korban yang berada di pengungsian. “Dalam pendistribusian logistik, kita memang terkendala minimnya alat transportasi, mengingat sulitnya medan untuk menembus kawasan yang terkena bencana, belum lagi kondisi cuaca yang kurang mendukung,” katanya. Terkait, tim Satgas hanya memiliki tiga kapal yang terus dioperasikan untuk mendistribusikan logistik, sedangkan bantuan harus disebarkan secara merata ke 14 desa. Sebanyak 14.983 orang juga dilaporkan masih mengungsi di daerah-daerah yang aman. Sementara, jumlah penduduk di Bumi Sikkerei tersebut sebanyak 76.421 orang. Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat belum bisa mengidentifikasi penyakit yang diderita korban gempa 7,2 SR disertai tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai akibat terkendala transportasi. “Sulitnya menyusuri wilayah Pa g a i S e l a t a n , K a b u p a t e n Kepulauan Mentawai mengakibatkan identifikasi penyakit belum bisa dilakukan. Kita baru bisa mendrop obat-obatan dan tenaga medis,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera

Barat, Rosmini akhir pekan di Padang. Dinas Kesehatan telah mengerahkan sejumlah tenaga kesehatan ke posko penanggulangan bencana di Kecamatan Sikakap, Kepulauan Mentawai. Tenaga kesehatan tersebut, akan melakukan penelusuran guna mendapatkan verikasi data pada 27 dusun di Pagai Selatan dan Pagai Utara. “Dari 27 dusun tersebut, terdiri atas enam dusun yang rata dengan tanah, 10 dusun yang mengalami kerusakan 50 persen dan 11 dusun yang mengalami kerusakan 30 persen. Di sana tercatat sebanyak 270 korban luka berat dan 142 luka ringan,” katanya. Untuk tahap awal tenaga kesehatan yang dikirim tersebut akan menelusuri sebanyak 16 dusun terparah. Sedangkan hasil rekapitulasi penyakit yang diidap oleh warga Mentawai dalam masa tanggap darurat baru bisa diinformasikan. Selain menginventarisir jenis penyakit dan jumlah penderita, tenaga kesehatan yang dikirim akan menyalurkan obat-obatan ya n g t e l a h d i d i s t r i b u s i k a n ke posko penanggulangan di Kecamatan Sikakap. Hingga kini, telah tersalur 4,5 ton obat-obatan terdiri dari bantuan Kementerian Kesehatan sebanyak tiga ton yang dikirimkan Jumat ini dan 1,5 ton bantuan dari provinsi. ***


02112010 -- Wacan