Issuu on Google+

“Membangun Membangun Harapan Kalimantan Barat menjadi Daerah Industri Maju dan Perdagangan yang Tangguh Tangguh” MEMORI JABATAN KEPALA DINAS (13 13 Januari J 2009 – 30 September 2010) Oleh :

Drs. Dody Surya Wardaya, MM

DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT 2010


KATA SAMBUTAN Alhamdulillah, puji syukur saya haturkan kepada Alloh SWT berkat terselesaikannya Buku Memori Jabatan ini. Merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanat yang sangat berat, dipercayakan untuk memimpin Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat selama periode 2009 - 2010. Dinas yang sangat strategis bagi perekonomian Kalimantan Barat karena kinerjanya berhubungan langsung terhadap kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Buku Memori Ini merupakan rekaman berbagai peristiwa dan kejadian yang melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat selama masa kepemimpinan saya. Buku ini merupakan salah satu bentuk laporan pertanggungjawaban saya, khususnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan secara umum kepada masyarakat Kalimantan Barat. Tentunya, selama kurun waktu tersebut masih banyak kegiatan-kegiatan sektor industri dan perdagangan yang belum dapat tertangani dengan semestinya, masih banyak kekurangan, serta belum dapat memuaskan semua pihak. Sehingga ke depannya, saya sangat berharap Kinerja Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat bagi kemakmuran masyarakat Kalimantan Barat dapat lebih ditingkatkan. Akhir kata, saya ucapkan Selamat Bekerja bagi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat yang baru saja dilantik beserta segenap staf, semoga apa yang kita cita-citakan bersama “ Terwujudnya Industri yang maju dan Perdagangan yang tangguh guna mendukung Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Barat “ akan menjadi kenyataan. Pontianak, September 2010

Drs. Dody Surya Wardaya, MM i


…….

intinya

adalah bagaimana Dinas Perindustrian dan

Perdagangan Prov. Kalimantan Barat ke depannya dapat mengembangkan Industri Agro dan Manufaktur di Kalimantan Barat melalui akselerasi pertumbuhan Kawasan Industri serta pengembangan klaster industri pengolahan berbasis sumber daya lokal, ditunjang penguatan dan pemberdayaan IKM yang didukung dengan sistem logistik daerah yang kuat dan terintegrasi dengan sistem logistik Nasional dan Global dengan tetap fokus pada Keamanan dan Perlindungan konsumen dalam negeri untuk menjadi daerah dengan produk-produk yang mampu berdaya saing di tingkat lokal, nasional, regional, maupun di tingkat global……

13 januari 2009 – 30 september 2010


RINGKASAN EKSEKUTIF UMUM 1. Buku Memori Jabatan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat periode 2009 -2010 merupakan salah satu wujud pertanggungjawaban kepada para pemangku kepentingan yang telah memberikan kepercayaannya. Buku ini menguraikan peranan, tupoksi, visi, misi, rencana strategis, kelembagaan, capaian, evaluasi, kendala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat selama kurun waktu 2009 – 2010.

2. Bersama buku ini, disertakan pula harapan-harapan di masa depan bagi sektor industri dan perdagangan Kalimantan Barat, serta harapan bagi para aparatur yang berjuang di dalamnya. Rekaman perjalanan selama satu tahun sembilan bulan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Kepala Dinas selanjutnya dalam memulai pengabdiannya untuk mengemban amanat yang sama.

PERANAN INDAG BAGI PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT 3. Sektor industri dan perdagangan memiliki peranan yang sangat penting dalam menggerakan roda perekonomian di Kalimantan Barat. dalam beberapa tahun terakhir, kedua sektor tersebut masuk dalam tiga besar penyumbang PDRB Kalimantan Barat. Namun demikian khusus untuk sektor industri, dalam satu dasawarsa terakhir, peranannya mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sedangkan jika melihat perkembangan produksi komoditi-komoditi primer terutama dari sektor perkebunan dan pertambangan yang saat ini cenderung naik, dapat dipastikan bahwa Kalimantan Barat banyak kehilangan potensi nilai tambah.

4. Sementara itu sektor perdagangan menunjukkan geliat yang positif dan peranannya makin meningkat. Walaupun perdagangan luar negeri Kalimantan Barat masih didominasi produk-produk hulu dan masih sangat tergantung pada negara tujuan ekspor tradisional seperti US, China, Korea, Jepang dan Singapura.

5. Beberapa isu strategis yang muncul antara lain Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 28 tahun 2008 Tentang Kebijakan Industri Nasional, OVOP, PP Nomor 24 Tahun 2009 Teentang Kawasan Industri, Alsintan Center, Industri Kreatif, Kompetensi Inti, pengembangan industri berbasis SDA, Klaster Keramik, Sistem Logistik Nasional dan Daerah, Perdagangan Lintas Batas, ii


revitalisasi pasar, AC-FTA, Sosek Malindo, BPSK, Perlindungan Konsumen dsb.

TUPOKSI, VISI MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS 6. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan didasari Peraturan Gubernur Nomor 49 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat. Di dalamnya dijabarkan mengenai tugas dan fungsi, struktur organisasi, serta tanggung jawab masing-masing unit kerja yang ada di dalamnya.

7. Visi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat “terwujudnya industri yang maju dan perdagangan yang tangguh guna mendukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat� merupakan cita-cita segenap aparatur Dinas, yang diimplementasikan ke dalam tiga misi. Secara singkat misi-misi tersebut adalah menumbuhk kembangkan sektor industri, mengembangkan perdagangan dalam dan luar negeri, serta meningkatkan profesionalisme aparatur. Rencana strategis Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat memuat tujuan, sasaran, serta program dan kegiatan yang menjadi kerangka kerja.

KELEMBAGAAN 8. Organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat berdasarkan Pergub Nomor 49 tahun 2008, dipimpin oleh satu orang Kepala Dinas, satu orang Sekretaris, serta empat Kepala Bidang, selain itu terdapat empat UPT yang masing-masing dikepalai oleh satu orang Kepala Unit setingkat Kepala Bidang. Selain itu terdapat satuan-satuan kerja yang menangani kegiatan-kegiatan yang didanai oleh APBN/dekonsentrasi. Personil secara keseluruhan berjumlah 179 orang dengan komposisi berdasarkan tingkat pendidikan adalah 60 % berpendidikan SMA ke bawah dan sekitar 40 % berpendidikan S1 ke atas. Dari segi sarana fisik, saat ini Dinas kekurangan Ruang kerja. Gedung kantor yang dulu digunakan untuk aparatur Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat kini digunakan untuk SKPD lain. Kendaraan Roda Empat sangat terbatas dan umumnya sudah dalam keadaan tua. Perlengkapan kantor sudah cukup memadai ditambah dengan adanya fasilitas koneksi internet. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat telah memilik website dengan alamat www.disperindag.kalbarprov.go.id.

9. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat mendapat dana Kegiatan setiap tahunnya dari Dana APBD Pemda Kalimantan Barat dan Dana iii


APBN (dekonsentrasi) Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. Secara garis besar, progamprogram kegiatan tersebut antara lain ; Program Pengembangan Industri Agro dan Hasil Hutan (IKAHH), Program Pengembangan Industri Logam, Mesin, Elektronika dan Aneka (ILMEA). Program Pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM), program Peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri, Program perlindungan konsumen, program pengembangan pasar lelang daerah, program peningkatan kerja sama internasional, program pengembangan dan peningkatan ekspor, serta program peningkatan daya saing produk unggulan ekspor. Disamping itu terdapat program-program kegiatan yang berhubungan dengan kinerja seperti program pelayanan kemetrologian, peningkatan kualitas pelayanan publik, peningkatan sarana-prasarana, pengembangan sistem pelaporan, Peningkatan pengelolaan aset daerah, pengembangan perencanaan indag, pelayanan administrasi kantor.

PENCAPAIAN SASARAN 10. Selama kurun waktu 2009-2010 laju rerata pertumbuhan sektor industri Kalimantan Barat berkisar 1 – 2 % per tahun. Di Bidang Industri Manufaktur, saat ini terdapat Industri Galangan Kapal dengan nama PT Steadfast Marine yang berlokasi di Pontianak. Negara pembeli produk-produknya antara lain Belanda dan Singapura. Kalimantan Barat juga telah menjadi pusat percontohan pengembangan alat mesin dan pertanian (ALSINTAN) dengan program ALSINTAN CENTER. Beberapa Komoditi Unggulan Kalimantan Barat telah disetujui oleh Pemerintah Pusat Melalui Perpres Nomor 28 Tahun 2008 Tentang Kebijakan Industri Nasional untuk dikembangkan dalam jangka menengah 2010-2014, yaitu Industri Berbasis Karet dan Kelapa sawit.

11. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat berupaya menginisiasi terbentuknya klaster industri hilir dan industri penunjang karet, mengingat besarnya potensi karet Kalimantan Barat. Roadmap Pengembangan Industri Unggulan Karet Kalimantan Barat telah diserahkan secara langsung oleh Sekretaris Daerah Prov. Kalimantan Barat kepada Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Investasi pada acara Rapat Kerja Teknis Industri dan Perdagangan 2010. Sedangkan untuk pengembangan industri berbasis sawit, saat ini sudah sampai pada penyamaan persepsi dan mobilisasi stakeholder untuk mencapai sebuah komitmen mengenai pentingnya penumbuhan industri hilir berbasis sawit di Kalimantan Barat.

12. Saat ini sedang difasilitasi rencana pembangunan kawasan industri di Kalimantan Barat, yaitu Kawasan Industri Semparuk, Kawasan Industri Mandor, Kawasan Industri Sungai Ringin, dan Kawasan Industri Tayan. Tidak ketinggalan, diselenggarakan juga sosialisasi Kawasan Industri bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. iv


13. Dalam rangka pengembangan ILMEA dan IKM Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat memberikan dukungan penuh terhadap Pengembangan Alsintan Center (TOT dan Workshop) sebagai salah satu Pilot Project Nasional dalam pengembangan Alsintan di luar Pulau Jawa. Di tahun 2009, Kalimantan Barat menempatkan satu IKM nya yang bergerak di bidang tenun mendapatkan penghargaan UPAKARTI yang diserahkan langsung oleh Presiden Republik Indonesia. Dukungan pengembanan OVOP serta pelatihan CEFE rutin dilakukan untuk pengembangan IKM Kalimantan Barat. Selain itu pameran-pameran untuk memfasilitasi IKM dalam rangka promosi produk menjadi sebuah agenda wajib.

14. Laju inflasi selama periode 2009 – 2010 berkisar antara 4,08 – 5 %. Dalam rangka pengembangan perdagangan Kalimantan Barat, Dinas Perindustrian dan Perdagangan setiap tahun mengadakan Pasar Lelang Forward komoditi agro. Sosialisasi Resi Gudang diberikan kepada masyarakat, pelaku usaha serta aparatur itu sendiri. Selain itu untuk memperluas pasar, Dinas membangun Griya Kerajinan di Pulau Bali, yang merupakan daerah tujuan wisata internasional.

15. Untuk mengatasi lonjakan harga pada saat menjelang Hari Besar Keagamaan secara rutin diselenggaraan pasar murah. Dinas juga memfasilitasi pembangunan pasar-pasar tradisional dan pasar perbatasan di kabupaten / kota. Tercatat di tahun 2009 terdapat 6 kabupaten/kota yang mendapatkan dana DAK Kementerian Perdagangan dan pada tahun 2010 menjadi tujuh kabupaten/kota.

16. Dalam kaitannya dengan perlindungan konsumen, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat rutin melakukan pengawasan peredaran minuman beralkohol, pengawasan barang beredar, pengawasan BDKT, peneraan dll.

17. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat gencar melakukan promosi produk-produk dalam negeri serta mengkampanyekan gerakan Aku Cinta Indonesia.

18. Dalam kaitannya dengan perjanjian kerja sama internasional, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat setiap tahun andil dalam pertemuan Sosek Malindo tingkat provinsi. Dalam Pertemuan tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat berperan sebagai ketua Tim Teknis Ekonomi Prov. Kalimantan Barat.

19. Dinas Perindustrian dan Perdagangan ikut akti dalam mempromosikan produk atau komoditi Kalimantan Barat ke Mancanegara melalui even-even pameran, diantaranya Event China Asean Expo VI di Nanning China, Sanghai Expo, Pameran Festival Indonesia di Melbourne Australia, La Beaute Internastional di Kuching Sarawak.

v


20. Dalam mendukung kinerja ekspor Kalimantan Barat, Dinas rutin mengadakan sosialisasi, pelatihan, bimbingan teknis terkait ekspor-impor, pengolahan komoditi ekspor, mutu, serta standardisasi Dinas juga concern terhadap masalah perdagangan lintas Batas, dengan rutin memberikan penyuluhanpenyuluah didaerah-daerah perbatasan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat berperan aktif dalam Forum Kinerja Ekspor Kalimantan Barat.

21. Selama kurun waktu tersebut, Aset Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat mengalami penambahan, antara lain satu buah kendaraan dinas untuk operasioanl Kepala Dinas serta tiga buah kendaraan bermotor roda dua. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat seharusnya sudah membangun gedung tambahan pada tahun ini, namun terkendala oleh kasus hukum yang melibatkan salah seorang anggota Panitia Pengadaaan, sehingga proses pembangunan belum dapat dilanjutkan.

22. Dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat, laboratoriumlaboratorium di lingkungan Dinas selalu dipelihara akreditasinya. Pelatihanpelatihan teknis bagi petugas laboratorium selalu diadakan secara rutin.

23. Dinamika komposisi kepegawaian mewarnai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat selama kurun waktu 2009 – 2010. Tercatat lebih kurang 10 orang pegawai telah memasuki masa pensiun sedangkan pegawai baru tercatat berjumlah 12 orang. Dalam meningkatkan kapasitas SDM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat telah mengirimkan dua orang pegawainya mengikuti kursus pengawasan peneraan di Pusdiklat Kemetrologian Kementerian Perdagangan untuk menjadi petugas pengawas barang dan jasa yang bersertifikat. Dinas juga memfasilitasi tiga orang pegawai yang mengikuti beasiswa program master (S2). Dua orang melanjutkan sekolah di pulau Jawa dan satu orang di luar negeri yaitu di Inggris.

KENDALA DAN PERMASALAHAN 24. Kendala yang dihadapi Kalimantan Barat dalam pengembangan industri yaitu keterbatasan akan sumber energi (listrik), keterbatasan infrastruktur penunjang, belum tumbuh dan berkembangnya kawasan industri, belum adanya insentif (regulasi dan infrastruktur), serta masih kurangnya litbang terapan.

25. Di sektor perdagangan, Kalimantan Barat masih terkendala dengan belum adanya Sistem Logistik Daerah. Ekspor Kalimantan Barat masih didominasi oleh produk-produk hulu terutama karet dan kayu. Perdagangan Lintas Batas masih banyak menyisakan masalah, terutama masalah penyelundupan. Daya saing produk yang rendah serta ekonomi biaya tinggi turut mempengaruhi kinerja perdagangan. Pengawasan beredar dan perlindungan konsumen masih terkendala oleh persoalan klasik, kurangnya tenaga atau SDM. vi


HARAPAN MASA DEPAN 26. Harapan ke depan bahwa Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat dapat berperan lebih aktif untuk mendorong penumbuhan kawasan industri di Kabupaten/kota, mendorong pengembangan industri unggulan Kalimantan Barat, pengembangan industri hilir berbasis CPO, mendorong pengembangan industri pendukung sektor pertanian melalui program Alsintan center, serta mendorong pengembangan industri kreatif.

27. Sementara untuk sektor perdagangan diharapkan dapat meningkatkan produk ekspor, diversifikasi produk ekspor, serta diversifikasi pasar ekspor. Mendorong pengembangan perdagangan lintas batas, mendorong terbentuknya sistem logistik daerah, serta mendorong terbentuknya lembaga penyelesaian sengketa konsumen dan Unit Kemetrologian di kabupaten / kota.

28. Aparatur Dinas Perindustrian dan perdagangan Prov. Kalimantan Barat diharapkan terus meningkatkan kompetensinya di tengah-tengah era globalisasi dan modernisasi.

vii


DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN………………………………………………………………………………… RINGKASAN EKSEKUTIF………………���…………………………………………………… DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………. DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………………………….. BAB. 1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………… 1.1 LATAR BELAKANG…………………………………………………………….. 1.2 TUJUAN……………………………………………………………………………….. 1.3 SISTEMATIKA PENULISAN……………………………………………….. BAB. 2 PERANAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN BAGI PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT…………………….

i ii viii ix 1 2 3 3

5 2.1 GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH…………………………… 6 2.2 DINAMIKA PERTUMBUHAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN…………………………………………………………

2.3 ISU-ISU STRATEGIS……………………………………………………………. BAB. 3 TUPOKSI, VISI DAN MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS…… 3.1 TUGAS POKOK DAN FUNGSI……………………………………………. 3.2 VISI DAN MISI…………………………………………………………………….. 3.3 RENCANA STRATEGIS……………………………………………………….. BAB. 4 KELEMBAGAAN……………………………………………………………………….. 4.1 ORGANISASI……………………………………………………………………….. 4.2 KONDISI PERSONIL…………………………………………………………… 4.3 SARANA DAN PRASARANA……………………………………………….. 4.4 ANGGARAN………………………………………………………………………… 4.5 KEGIATAN………………………………………………………………………….. BAB. 5 PENCAPAIAN SASARAN………………………………………………………….. 5.1 SEKTOR INDUSTRI…………………………………………………………….. 5.2 SEKTOR PERDAGANGAN………………………………………………….. 5.3 MANAJEMEN KANTOR………………………………………………………. BAB. 6 KENDALA DAN PERMASALAHAN………………………………………….. 6.1 INDUSTRI…………………………………………………………………………….. 6.2 PERDAGANGAN………………………………………………………………….. BAB. 7 HARAPAN MASA DEPAN…………………………………………………………. 7.1 INDUSTRI……………………………………………………………………………. 7.2 PERDAGANGAN………………………………………………………………….. 7.3 PROFESIONALISME APARATUR……………………………………….. 7.4 PENUTUP…………………………………………………………………………….. LAMPIRAN………………………………………………………………………………………………

viii

7 8 13 14 15 16 20 21 22 23 24 25 26 27 35 49 53 54 56 60 61 64 66 67 68


DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN I

ANGGARAN TAHUN 2009……………………………………………..

68

LAMPIRAN II ANGGARAN TAHUN 2010…………………………………………….

69

LAMPIRAN III TABEL PENCAPAIAN SASARAN TA. 2009…………………… 70 LAMPIRAN IV REALISASI BELANJA TRIWULAN III TA 2010…………….

72

LAMPIRAN V DAFTAR ASET……………………………………………………………….. 73

ix


PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG

D

rs. Dody Surya Wardaya, MM menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat berdasarkan Keputusan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 821.22/03/BKD-B Tanggal 13 Januari 2009 Tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dari dan dalam Jabatan Struktural Eselon II di Lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Selama Masa Bakti 2009 – 2010, Dinas Perindustrian dan Perdagangan telah melaksanakan berbagai kegiatan, baik kegiatan desentralisasi maupun kegiatan dekonsentrasi, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yang tercantum dalam Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 49 Tahun 2008 Tentang Tugas pokok, fungsi, dan tata kerja Dinas Pada saat dilantik menjadi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalbar Perindustrian dan Perdagangan Provinsi pada tahun 2009 di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalimantan Barat Kalimantan Barat. Selama masa itu pula, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat telah menghasilkan berbagai capaian dan prestasi, serta menghadapi berbagai tantangan dan kendala dalam pelaksanaan tugas pembangunan serta pembinaan terhadap aparatur. Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai berbagai kegiatan dan pelaksanaan kegiatan yang ditempuh selama masa bakti 2009 – 2010, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat perlu menyusun suatu naskah memori masa jabatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat yang memuat BAB I

PENDAHULUAN

2


capaian, prestasi, tantangan, dan kendala dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dan dalam pembangunan kapasitas kelembagaan untuk menjadi sebuah organisasi yang moderen dan akuntabel sesuai dengan cita-cita reformasi birokrasi Republik Indonesia.

1.2 TUJUAN Selain sebagai bentuk pertanggungjawaban Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat masa bakti 2009 – 2010 kepada para pemangku kepentingan yang telah memberikan mandat dan kepercayaan, Buku Memori Masa Jabatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat diharapkan

dapat menjadi masukkan bagi Kepala Dinas selanjutnya dalam melakukan tugasnya. Dengan demikian diharapkan terjadi kesinambungan kebijakan dan berbagai kegiatan yang telah berjalan dengan baik.

Drs. Dody Surya Wardaya, MM Ka. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat 2009 - 2010

1.3 SISTEMATIKA PENULISAN Sistematika Buku Memori ini adalah sebagai berikut : BAB 1. PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan latar belakang, maksud dan tujuan, serta sistematika penulisan Buku Memori.

BAB I

PENDAHULUAN

3


BAB 2. PERANAN SEKTOR PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN BAGI PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT Bab ini menjelaskan gambaran kondisi perekonomian Kalimantan Barat terutama sektor industri dan perdagangan, serta peranan Dinas Perindustrian dan Perdagangan di dalamnya. BAB 3. TUPOKSI, VISI DAN MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS Bab ini menjelaskan secara ringkas tugas pokok dan fungsi, visi dan misi, serta rencana strategis Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat. BAB 4. KELEMBAGAAN Bab ini menjelaskan kondisi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat saat ini, meliputi kondisi personil, sarana dan prasarana, anggaran, serta kegiatan yang dilaksanakan. BAB 5. PENCAPAIAN SASARAN Bab ini menjelaskan capaian sasaran dan kegiatan pembangunan bidang industri dan perdagangan BAB 6. KENDALA DAN PERMASALAHAN Bab ini menjelaskan kendala dan permasalahan yang dihadapai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalbar dalam pelaksanaan tugas pembangunan BAB 7. HARAPAN MASA DEPAN Bab ini berisi harapan Kepala Dinas terhadap upaya melanjutkan visi dan misi dan peningkatan peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam pembangunan industri dan perdagangan di Kalimantan Barat. BAB I

PENDAHULUAN

4


PERANAN SEKTOR PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN BAGI PEREKONOMIAN KALIMANTAN BARAT


2.1 GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Sektor industri dan perdagangan memiliki peranan yang sangat penting dalam menggerakkan roda perekonomian di Kalimantan Barat. Sektor industri dan perdagangan masuk dalam tiga besar penyumbang PDRB Kalimantan Barat dalam beberapa tahun terakhir. Peranan Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran terhadap Pertumbuhan PDRB Kalbar Tahun 2008 - 2009

Lapangan Usaha

Atas Dasar Harga Berlaku (Miliar Rupiah)

2008 Industri Pengolahan 8.872,54 Perdagangan, Hotel, 11.349,12 dan restoran Produk Domestik 48.414,40 Regional Bruto (PDB) Kalbar (sumber : BPS Prov. Kalbar tahun 2009)

Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (Miliar rupiah)

2009 9.678,11 12.743,53

2008 4.909,10 6.518,08

2009 4.963,70 6.838,01

53.865,79

27.682,85

29.001,84

Laju Pertumbu han (persen) 2009 1,11 4,91 4,76

Tabel di atas menunjukkan pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami pertumbuhan sebesar 4, 91 %, sedangkan sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 1,11 %. Struktur perekonomian Kalimantan Barat pada Tahun 2009 masih didominasi oleh tiga sektor yaitu sektor Pertanian, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta sektor Industri Pengolahan. Ketiga sektor tersebut kontribusinya dalam PDRB mencapai 67,48 %. Struktur PDRB Kalbar menurut Lapangan usaha (persentase), yang menunjukkan kontribusi tiga sektor utama NO 1 2

Lapangan Usaha Industri Pengolahan Pertanian, Peternakan, kehutanan, dan Perikanan 3 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 4 Dll. PDRB Kalbar (sumber : BPS Prov. Kalbar tahun 2009)

BAB II

2008 18,33 26,51

2009 17,97 25,85

23,44

23,66

100

100

PERANAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

6


2.2

DINAMIKA PERTUMBUHAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

Peranan sektor industri bagi perekonomian Kalimantan Barat cukup besar jika dilihat dari kontribusinya terhadap nilai PDRB. Namun demikian dalam satu dasawara terakhir, peranannya mengalami penurunan cukup signifikan. Kontribusi sektor industri terhadap perekonomian Kalimantan Barat pada tahun 2000 sebesar 24,15 % persen, namun menurun menjadi 17,97 % pada tahun 2009. Tren menurun itu akan terus terjadi, dan diperkirakan pada tahun 2013 peranan sektor industri terhadap PDRB Kalimantan Barat hanya 14 % (Bappeda Prov. Kalbar 2009 % BPS Kalbar, 2010) Jika melihat perkembangan produksi komoditi-komoditi primer terutama dari sektor perkebunan dan pertambangan yang saat ini cenderung meningkat, dapat dipastikan bahwa Kalimantan Barat banyak kehilangan potensi nilai tambah yang sangat besar. Penurunan sektor industri terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja industri kayu. Sedangkan perkembangan usaha industri pengolahan berbasis sumber daya alam lainnya seperti perkebunan dan pertanian masih sangat lambat. Itupun masih dalam bentuk industri hulu yang peningkatan nilai tambahnya relatif kecil. Sektor perdagangan, di sisi lain memberikan peranan yang penting dalam perekonomian Kalimantan Barat dengan menggeser peranan sektor industri. Meskipun demikian, perdagangan Kalimantan Barat secara umum masih dihadapkan berbagai masalah. Perdagangan luar negeri Kalimantan Barat masih didominasi oleh produk-produk hulu dengan dominasi beberapa komoditi (karet dan kayu). Total dan nilai volume ekspor Kalimantan Barat masih sangat fluktuatif dan masih tergantung pada negara tujuan ekspor tradisional seperti US, China, Korea, Jepang, dan Singapura.

BAB II

PERANAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

7


Perdagangan dalam negeri Kalimantan Barat menunjukkan tingkat efektivitas dan efisiensi distribusi yang masih rendah, ditandai dengan margin distribusi perdagangan dalam negeri yang sangat berfluktuatif. Tingkah integrasi antara Pasar, Pengumpul, grosir, dan pengecer masih lemah. Produk-produk konsumsi yang beredar di Kalimantan Barat umumnya berasal dari Pulau Jawa bahkan ada yang berasal dari negera tetangga. Bahan kebutuhan pokok masyarakat yang berasal dari Kalimantan Barat sendiri yaitu ikan, sebagian daging, unggas, dan telur.

2.3 ISU-ISU STRATEGIS Berdasarkan poin-poin di atas, terdapat isu-isu strategis sektor industri dan perdagangan yang menjadi fokus perhatian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat sepanjang tahun 2009 – 2010. Isu-isu tersebut berkembang baik dalam skala daerah, nasional, maupun internasional.

1. Sektor Industri PERPRES No. 28 Tahun 2008 Tentang Kebijakan Industri Nasional (KIN). Salah satu

 Tindak lanjut

pendekatan yang dilakukan untuk mengimplementasikan peraturan tersebut adalah mekanisme Bottom up ; Pengembangan Industri Pengolahan Komoditi Unggulan daerah menuju Kompetensi Inti Industri Daerah.  Dalam Kebijakan tersebut, Karet dan Kelapa Sawit ditetapkan sebagai Komoditi Unggulan Daerah Kalimantan Barat. Pengembangan Industri pengolah berbasis kedua komoditi tersebut menjadi prioritas nasional.  Peta Panduan Pengembangan Industri berbasis karet Kalbar saat ini telah disusun, dan sedang dalam proses pengkajian Kementerian Perindustrian RI sebagai tindaklanjut Perpres 28/2008 tentang KIN.  Pengembangan IKM dengan fokus pada Pengembangan kompetensi inti kabupaten/kota dan Ovov. Saat ini Kabupaten / kota sedang BAB II

PERANAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

8


menyusun dan atau memperbaharui peta panduan pengembangan Kompetensi inti Industri dan OVOP di Kabupaten / kota di Kalbar.  Penumbuhan industri turunan karet, CPO, dan Kelapa terpadu

Penumbuhan dan Pengembangan Kawasan Industri Daerah sebagai Sarana untuk mengembangkan Industri yang berwawasan lingkungan serta memberikan kemudahan dan daya tarik investasi sebagai Tindak lanjut

PP No 24 Tahun 2009 Tentang

Kawasan Industri. Sebagian besar menjadi kewenangan daerah (dahulu menjadi pembinaan. 

kewenangan

Pusat)

dalam

perijinan

dan

Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Pedoman teknis Kawasan Industri.

 Pembangunan ALSINTAN (alat dan mesin pertanian) CENTER  Pengembangan Klaster Industri, terutama

Keramik

Klaster Industri

(yang telah disetujui dan dianggarkan melalui APBD

dan APBN Kementerian Perindustrian sejak tahun 2007), yang merupakan salah satu dari 6 prioritas pengembangan klaster industri Nasional.  Pengembangan Industri Kreatif yang berbasis Agro dan TI (teknologi Informasi). Industri kreatif Indonesia didefinisikan sebagai Industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Beberapa tindakan yang telah dilakukan pemerintah RI untuk mengembangkan industri kreatif antara lain : a. Undang-undang No 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, yaitu pada Bab VI Pasal 17 yang menyatakan bahwa Desain produk industri mendapat perlindungan hukum b. Undang-undang No 31 tahun 2000 tentang Desain Industri dalam perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual

BAB II

PERANAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

9


c.

d. e.

f.

g.

Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 20/MPP/Kep/I/2001 tentang Pembentukan Dewan Desain Nasional/Pusat Desain Nasional (PDN) Pusat Desain Nasional (PDN) sejak tahun 2001 s/d 2006 telah memilih 532 desain produk terbaik Indonesia Tahun 2006, Departemen Perdagangan RI memprakarsai peluncuran Program Indonesia design Power yang beranggotakan Departemen Perdagangan RI, Departemen Perindustrian RI, Kementerian Koperasi dan UKM, serta Kamar Dagang Indonesia (KADIN). Tahun 2007, Departemen Perdagangan RI meluncurkan hasil studi Pemetaan Industri Kreatif Indonesia dan menetapkan 14 subsektor industri kreatif indonesia berdasarkan studi akademik atas klasifikasi baku Usaha Industri Indonesia (KBLI) yang diolah dari data Badan Pusat statistik dan sumber data lainnya (asosiasi, komunitas kreatif, lembaga pendidikan dan lembaga penelitian). Tahun 2008, Departemen Perdagangan RI meluncurkan dua buah buku mengenai Pengembangan Ekonomi Kreatif

Pengembangan Industri Kreatif menuju Visi Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. Indonesia 2025 dan

2. Sektor Perdagangan  Penguatan Sistim Logistik Nasional dan Daerah. Walaupun sampat saat Buku ini disusun, Peraturan Perundangannya belum selesai dibahas, namun harus segera di atasi agar Kalimantan Barat tidak tertinggal. Peran sektor Perdagangan dalam perekonomian nasional yang semakin penting baik secara kualitas maupun kuantitas. Secara kuantitas dapat terlihat dari PDB yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Secara kualitas dapat dari kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengedepankan kualitas jasa perdagangan, seperti; perbaikan pelayanan publik, iklim usaha, infrastruktur terkait ekpor impor, pembanguan sekaligus BAB II

PERANAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

10


revitalisasi dan harmonisasi pasar tradisional-pasar modern, penyediaan kebutuhan pokok, stabilisasi harga, serta sinergi pengembangan UKM dan petani di bidang perdagangan.  Penyerapan tenaga kerja di bidang perdagangan secara nasional maupun di wilayah Kalbar menunjukkan angka yang signifikan.  Peningkatan kinerja ekspor Indonesia yang terkait dengan kinerja ekspor daerah. Peningkatan diversifikasi produk ekspor dan diversifikasi pasar tujuan ekspor. Perdagangan Lintas Batas, Pelaksanaan pembangunan, dan pengembangan National Single Window (NSW) untuk pelayanan perijinan ekspor-impor.  Kerja sama dan diplomasi perdagangan  Kerja

sama

Bilateral

:

Sosek Malindo

antara

pemerintah Indonesia dengan Malaysia  Kerja sama regional ; Asean-Mitra dialog Asean yang telah menjalin kerja sama dalam bentuk Asean-China Free Trade Area (AC-FTA). 

Stabilisasi harga bahan pangan dan kecukupan pasokan, seperti bahan-bahan sembako dan komoditi penting lainnya antara lain; Beras, Gula, Minyak goreng, kedelai, dan terigu.

Pengendalian disparitas harga antar daerah

yang tinggi yang hakikatnya dapat mengganggu stabilitas ekonomi nasional.  Konversi minyak tanah ke gas bersubsidi  Peredaran pupuk bersubsidi  Peredaran beras bersubsidi  Perdagangan antar pulau 

Pemberdayaan Pasar Tradisional dan UMKM  Perluasan akses pasar produk UMKM

dengan

membuka gerai, kios, dan fasilitasi produk UMKM masuk dalam jalur ritel modern.  Penciptaan jaringan kemitraan UMKM, pembentukan waralaba lokal  Pengenalan/promosi kuliner tradisional nusantara dan produk pangan UMKM BAB II

PERANAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

11


Bimbingan teknis

penerapan ISO, pengemasan (packaging), dan Branding kepada UMKM  Perlindungan Konsumen dan Pengamanan perdagangan  Perlindungan Produsen domestik  Perlindungan konsumen  Pembentukan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya masyarakat (LPKSM)

Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)

 Pembentukan

 Pembentukan Badan nasional (BPKN)

perlindungan

Konsumen

 Pengawasan barang beredar  Kemetrologian; Peningkatan SDM

terkait pengawasan barang seperti PPBJ (Petugas Pengawas barang dan Jasa), PPNS-PK (Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perlindungan Konsumen)  Pasar Komoditi terorganisir  Perdagangan berjangka komoditi 

Pasar lelang forward (PLF) Provinsi

 Sistem resi gudang  Pengembangan Citra indonesia

Program Promosi

Ekspor Nasional

 Pengembangan Ekonomi Kreatif  Gerakan Aku Cinta Cinta Indonesia”

BAB II

Indonesia

(ACI); Logo “100%

PERANAN SEKTOR INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

12


TUPOKSI, VISI DAN MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS


3.1 TUGAS POKOK DAN FUNGSI

D

inas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 49 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat. Adapun Tugas Pokok Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat berdasarkan Peraturan Gubernur tersebut adalah : 1. Dinas Perindustrian dan Perdagangan mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintah provinsi di bidang perindustrian dan perdagangan, melaksanakan tugas dekonsentrasi dan tugas lainnya yang diserahkan oleh Gubernur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Dinas Perindustrian dan Perdagangan dipimpin oleh seoarang Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana yang termaksud pada tugas pokok di atas, Dinas Perindustrian dan Perdagangan memiliki fungsi : 1. Perumusan kebijakan teknis di Bidang Industri Kimia, agro, dan hasil hutan; Industri logam, mesin, elektronika, dan aneka; Perdagangan dalam negeri dan kemetrologian; serta perdagangan luar negeri; 2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang Industri Kimia, agro, dan hasil hutan; Industri logam, mesin, elektronika dan aneka; Perdagangan dalam negeri dan kemetrologian; serta perdagangan luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; BAB. III TUPOKSI, VISI DAN MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS

14


3. Pelaksanaan tugas di bidang industri kimia, agro, dan hasil hutan; industri logam, mesin, elektronika, dan aneka; perdagangan dalam negeri dan kemetrologian; serta perdagangan luar negeri sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku; 4. Penyelenggaraan monitoring, evaluasi dan pelaopran pelaksanaan tugas di bidang Industri kimia, agro, dan hasil hutan; industri logam, mesin, elektronika, dan aneka; perdagangan dalam negeri dan kemetrologian; serta perdagangan luar negeri; 5. Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas dan fungsi di bidang industri kimia dan hasil hutan; industri logam, mesin, elektronika, dan aneka; perdagangan dalam negeri dan kemetrologian; serta perdagangan luar negeri; 6. Pengelolaan administrasi kepegawaian, keuangan dan aset, serta urusan umum di lingkungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan; 7. Pelaksanaan tugas dekonsentrasi, tugas pembantuan dan tugas lainnya di bidang perindustrian dan perdagangan; 8. Pelaksanaan tugas Organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat pada saat dekonsentrasi, tugas buku ini disusun sedang dalam pembahasan pembantuan dan tugas dengan Pansus DPRD, mengikuti perkembangan lingkungan strategis daerah dan lainnya di bidang nasional terutama berkaitan dengan perindustrian dan reorganisasi Kementerian perindustrian dan perdagangan yang diserahkan Kementerian Perdagangan dalam kaitannya dengan RPJMN 2009 – 2014. oleh Gubernur.

3.2 VISI DAN MISI Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat mencanangkan sebuah visi yang menjadi cita-cita segenap jajaran aparatur di dalamnya yaitu :

“ Terwujudnya Industri yang maju dan Perdagangan yang

tangguh guna mendukung Kalimantan Barat “

Pertumbuhan

Ekonomi

BAB. III TUPOKSI, VISI DAN MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS

15


Adapun misi yang diemban dalam pencapaian visi di atas adalah :

1. Menumbuhkembangkan sektor Industri untuk dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan Perindustrian Kalimantan Barat 2. Mengembangkan Perdagangan

dalam dan luar negeri sehingga dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan sektor Perdagangan Daerah Kalimantan Barat

3. Meningkatkan Profesionalisme aparatur untuk dapat berperan nyata (eksis) dalam pembangunan Bidang Industri dan Perdagangan Daerah Kalimantan Barat serta meningkatkan sarana dan prasarana kerja BAB. III TUPOKSI, VISI DAN MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS

16


3.3. RENCANA STRATEGIS Rencana Strategis Dinas Perindustrian dan Perdagangan tertuang dalam Dokumen Renstra Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat periode 2008 – 2013. Rencana strategis tersebut merupakan serangkaian rencana tindakan dan strategi mendasar yang dibuat secara bersama-sama antara pimpinan dan seluruh komponen organisasi untuk diimpelementasikan oleh seluruh jajaran dalam rangka pencapaian visi dan misi.

TUJUAN

MISI

Rencana strategis Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat secara ringkas dapat digambarkan dalam sebuah diagram sebagai berikut : 1. Menumbuhkembangkan sektor industri untuk dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan perindustrian Kalbar

2. mengembangkan perdagangan dalam dan luar negeri sehingga dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan sektor perdagangan Kalbar

3. meningkatkan profesionalisme aparatur untuk dapat eksis dalam pembangunan bidang indag Kalbar, serta meningkatkan sarana dan prasarana kerja

1.meningkatkan daya saing Industri Kalbar

2.Meningkatkan kelancaran distribusi penggunaan produk dalam negeri, perlindungan konsumen, pengamanan perdagangan, dan mengembangkan perdagangan yang tertib, efisien, transparan dan berdaya saing

4. meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan dunia usaha yang prima dan profesional

3.Meningkatkan kelancaran perdagangan luar negeri,

SASARAN

tumbuh dan berkembangnya sektor industri Kalbar (1)

Tumbuh dan berkembangnya IKM di Kalbar (1)

Peningkatan efisiensi distribusi perdagangan dalam negeri (2)

Peningkatan pelayanan UPT Dinas Perindag Prov. Kalbar kepada masyarakat dan dunia usaha (4)

Peningkatan perlindungan konsumen (2)

Peningkatan kesejahteraan, kualitas aparatur dan sarana prasarana (4) Peningkatan pelaporan perencanaan

Peningkatan ekspor daerah, dan pengendalian impor (3)

kerja, koordinasi dan monev (4)

Pelaksanaan pelayanan administrasi perkantoran (4)

BAB. III TUPOKSI, VISI DAN MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS

17


Kebijakan Strategis yang menjadi dasar dalam pelaksanaan kegiatan sektor industri dan perdagangan Kalimantan Barat digolongkan sesuai misi yang dijalankan yaitu :

misi 1. Menumbuhkembangkan sektor Industri untuk dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan Perindustrian Kalimantan Barat Kebijakan strategis yang ditetapkan : a. Mendorong penumbuhan dan pengembangan industri dan perdagangan berbasis kawasan melalui bantuan dan fasilitasi teknis dan kelembagaan, peralatan, manajerial dan pemasaran. b. Mengupayakan penerapan pengembangan industri berdasarkan pola klaster melalui penyediaan informasi teknologi, fasilitasi instruktur, fasilitator, narasumber, peningkatan upaya konsultasi dan advokasi untuk pengembangan usaha, koordinasi dan sinkronisasi program dengan instansi terkait di pusat dan daerah. c. Mendorong dan menumbuhkembangkan IKM melalui pelatihan kewirausahaan, pelatihan teknis dan manajerial, serta penyediaan informasi pengolahan komoditi dan pasar terutama industri pengolahan yang berbahan baku lokal dan atau sumberdaya kultural/budaya seetempat, serta penyediaan tempat konsultasi dan teknis.

misi 2. Mengembangkan perdagangan dalam dan luar negeri sehingga dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan sektor perdagangan Kalimantan Barat. Kebijakan strategis yang ditetapkan adalah : a. Mengupayakan ketersediaan bahan pokok, barang strategis dan barang lainnya bagi masyarakat serta peningkatan pemasaran produk daerah. BAB. III TUPOKSI, VISI DAN MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS

18


b. Meningkatkan perlindungan konsumen melalui pengawasan barang beredar dan operasionalisasi serta kapasitas kemetrologian c. Meningkatkan diversifikasi produk dan tujuan ekspor, kerjasama perdagangan, dan pengendalian impor.

misi 3. Meningkatkan profesionalisme aparatur untuk dapat berperan nyata (eksis) dalam pembangunan bidang industri dan perdagangan Kalimantan Barat, serta meningkatkan sarana dan prasarana kerja Kebijakan strategis yang ditetapkan adalah : a. Peningkatan pelayanan dan perbaikan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan Laboratorium b. Pemberian insentif beban kerja dan kehadiran sesuai peraturan yang berlaku yang mendorong peningkatan kinerja c. Mengupayakan peningkatan sarana dan prasarana secara bertahap dan peningkatan kualitas SDM melalui pemerataan Pendidikan dan pelatihan d. Mengupayakan perencanaan kerja yang transparan dan pengelolaan keuangan sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan serta pelaporan secara tepat waktu e. Penyediaan wadah konsultasi dan koordinasi perencanaan antara kab/kota dan provinsi serta pemerintah pusat f. Penyediaan dukungan operasional pelayanan administrasi perkantoran.

BAB. III TUPOKSI, VISI DAN MISI, SERTA RENCANA STRATEGIS

19


BAB 4 KELEMBAGAAN


4.1 ORGANISASI Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 49 Tahun 2008 Tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat, dibantu oleh seorang Sekretaris dan empat orang Kepala Bidang. Di lingkungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan terdapat tiga Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang masing-masing unit dikepalai oleh seorang Kepala UPT. Kepala UPT tersebut bertanggungjawab kepada Kepala Dinas. sekretaris dan para kepala Bidang dalam sebuah acara. dari kiri ke kanan : Dra. Martha Sinyor (Sekretaris) M. Yusuf, SH. MH (Kabid PDN) Drs. Burhanudin (Kabid (PLN) Ir. Yenni Susilawati (Kabid ILMEA) Ir. Arham A Hamzah, M.Sc (Kabid IKAHH)

Bidang-Bidang yang terdapat di lingkungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat yaitu: 1. Bidang Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan; 2. Bidang industri Logam, Mesin, Elektronika, dan aneka; 3. Bidang Perdagangan Dalam Negeri dan Kemetrologian 4. Bidang Perdagangan Luar Negeri Sedangkan Unit Pelayanan teknis yang terdapat di lingkungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat yaitu : 1. Unit Pengawasan dan Sertifikasi Mutu Barang (UPSMB) Pontianak 2. Unit Pelatihan Industri Kecil Menengah (UPIKM) Pontianak 3. Unit Pelayanan Kemetrologian Pontianak

BAB IV

KELEMBAGAAN

21


4. Unit Pelayanan Kemetrologian Singkawang Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat juga memiliki satuan-satuan kerja yang mengelola kegiatan-kegiatan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. Satuan-satuan kerja tersebut diidentifikasi berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan yaitu: 1. Satuan kerja Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (PIKM) 2. Satuan Kerja Penataan Struktur Industri (Industri Keramik) 3. Satuan Kerja Pengembangan Ekspor Daerah 4. Satuan Kerja Pengembangan ekspor daerah (pameran) 5. Satuan Kerja Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri 6. Satuan Kerja Pengembangan Perdagangan dalam negeri(operasionalisasi Pasar Lelang Daerah) Selain diperkuat oleh unit-unit kerja yang tersebut di atas, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat juga ditunjang oleh peran instansi vertikal Kementerian Perindustrian yang berkedudukan di Kalimantan Barat. Instansi Vertikal yang dimaksud adalah : 1. Badan Riset dan Standardisasi (Baristand) Indutri dan Perdagangan Pontianak 2. Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMTI) Pontianak

4.2 KONDISI PERSONIL Untuk menyelenggarakan Tugas Pokok dan Fungsi seperti yang diamanatkan dalam Peraturan Gubernur Kalimantan Barat No 49 Tahun 2008, serta untuk menjalankan visi dan misi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimatan Barat didukung oleh Sumber Daya Aparatur dari berbagai tingkatan dan latar belakang pendidikan. Personil yang tercatat saat ini berjumlah 179 orang yang tersebar di Sekretariat, Bidang-bidang dan UPT-UPT.

BAB IV

KELEMBAGAAN

22


Gambaran tingkat pendidikan dan sebaran personil di lingkungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalbar Tahun 2010 UNIT KERJA

DINAS PERINDAG PROV. KALBAR UPSMB PONTIANAK UP KEMETROLOGIAN PONTIANAK UP KEMETROLOGIAN SINGKAWANG UPIKM PROV. KALBAR TOTAL

TINGKAT PENDIDIKAN SARMUD SMA SMP

SD

JUMLAH

S2

S1

8 2 2 -

22 13 6 3 5

5 1 4 2

56 14 15 5 9

2 2 1 1 1

-

93 32 28 9 17

12

49

12

99

7

0

179

Berdasarkan tabel di atas dapat di simpulkan bahwa, secara umum kondisi personil didominasi oleh personil dengan tingkat pedidikan SMA ke bawah yaitu berjumlah 109 orang atau sekitar 59 % dari seluruh personil. Sedangkan personil dengan tingkat pendidikan D3 ke atas berjumlah 76 orang atau 41 % dari seluruh personil. Diantara sejumlah personil tersebut, terdapat personil yang mengemban tugas sebagai pejabat fungsional, yaitu jabatan Arsiparis, Penera, dan Penguji Mutu Barang.

4.3 SARANA DAN PRASARANA Secara administrasi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan memiliki dua buah gedung kantor, yaitu gedung yang beralamat di Jl. Sutan Syahrir dan Gedung yang beralamat di Jl. Sutan Abdurrahman. Namun yang digunakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan hanya satu gedung yaitu yang berada di Jl Sutan Syahrir. Sedangkan Gedung yang di Jl. Sutan Abdurrahman digunakan oleh SKPD lain. Bidang-bidang yang sebelumnya menempati gedung tersebut ditempatkan menjadi satu di gedung yang sekarang digunakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Karena kapasitas gedung tidak memungkinkan, satu bidang saat ini menempati ruang pelatihan UPIKM. Sarana kendaraan operasional terutama kendaraan roda empat saat Gedung di Jl. Sutan Abdurrahman Pontianak yang kini digunakan oleh SKPD lain.

BAB IV

KELEMBAGAAN

23


ini sangat terbatas, dan umumnya sudah dalam keadaan tua. Sedangkan penunjang kerja lainnya seperti peralatan komputer, peralatan meubelair, serta perlengkapan kantor sudah cukup memadai (lampiran). Fasilitas internet sudah tersedia dan sangat membantu kelancaran kerja.

Gedung Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat Jl. Sutan syahrir Pontianak

4.4. ANGGARAN Sumber pembiayaan kegiatan Dinas Perindstrian dan Perdagangan Berasal dari dana APBD Provinsi Kalimantan Barat serta dana Dekonsetrasi APBN Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan (lampiran).

4.5 KEGIATAN Program dan kegiatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat dilakukan dalam upaya untuk mencapai visi dan misi yang diemban. Secara garis besar, program dan kegiatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat pada Tahun Anggaran 2009 – 2010 dikelompokkan berdasarkan pencapaian misi adalah sebagai berikut :

misi 1. Menumbuhkembangkan sektor Industri untuk dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan Perindustrian Kalimantan Barat Program yang dijalankan adalah : 1. Program Pengembangan Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan (dana APBD) 2. Program Pengembangan Industri Logam, Mesin, Elektronika, dan Aneka (ILMEA) (dana APBD) 3. Program Pengembangan IKM (dana APBD dan APBN)

BAB IV

KELEMBAGAAN

24


4. Program Penataan Struktur Industri(Klaster Keramik) (dana APBN)

misi 2. Mengembangkan perdagangan dalam dan luar negeri sehingga dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan sektor perdagangan Kalimantan Barat. Program yang dijalankan adalah : 1. Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam negeri (dana APBD dan dana APBN) 2. Program Perlindungan Konsumen (dana APBD) 3. Program pengembangan Psar Lelang Daerah Kalbar (dana APBN) 4. Program Peningkatan Kerjasama Perdagangan Internasional (dana APBD) 5. Program peningkatan dan pengembangan ekspor (dana APBD dan APBN) 6. Program Peningkatan daya saing produk unggulan ekspor (dana APBD)

misi 3. Meningkatkan profesionalisme aparatur untuk dapat berperan nyata (eksis) dalam pembangunan bidang industri dan perdagangan Kalimantan Barat, serta meningkatkan sarana dan prasarana kerja Program yang dijalankan adalah : 1. Peningkatan pelayanan kemetrologian 2. Peningkatan kualitas pelayanan publik 3. Peningkatan sarana dan prasarana 4. Peningkatan kapasitas sumber daya aparatur 5. Peningkatan pengembangan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan 6. Peningkatan pengelolaan aset daerah 7. Peningkatan pengembangan perencanaan indag 8. Pelayanan administrasi kantor

BAB IV

KELEMBAGAAN

25


PENCAPAIAN SASARAN


S

elama kurun waktu 2009 – 2010 tentunya sudah banyak capaiancapaian kegiatan yang dihasilkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat. Capaian tersebut bukan hanya dalam skala nasional namun juga dalam skala internasional. Mengingat perannya yang strategis bagi perekonomian Kalimantan Barat yang bergerak dinamis, pencapaian tersebut bukanlah akhir dari sebuah pekerjaan, melainkan awal dari proses pencapaian visi dan misi, dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Barat yang lebih luas.

5.1 PENCAPAIAN SEKTOR INDUSTRI Pencapaian sektor industri terkait dengan misi pertama yang diperjuangkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat yaitu “Menumbuhkembangkan sektor Industri untuk dapat

memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan Perindustrian Kalimantan Barat”. Agenda yang ditetapkan dalam mencapai misi di atas yaitu menumbuhkembangkan sektor industri untuk dapat memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan perindustrian Kalimantan Barat melalui pemanfaatan sumber daya daerah yang mempunyai daya saing, peningkatan teknologi, penyebaran informasi, profesionalisme pelaku usaha, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif. Tujuan strategisnya adalah untuk meningkatkan daya saing industri Kalimantan Barat dengan dua sasaran strategis yaitu Laju rerata pertumbuhan ekonomi sektor industri sebesar 1 – 2 % per tahun dan Tumbuh dan berkembangnya industri kecil dan menengah (IKM).

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 27


Hal – hal yang telah dicapai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat Selama kurun waktu 2009 – 2010 dapat dirangkum sebagai berikut;

Sasaran 1. Pertumbuhan sektor industri pada PDRB Kalbar 1- 2 % Strategi utama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat dalam upaya mencapai target pertumbuhan industri sebesar 1 – 2 % per tahun melalui 4 pendekatan, yaitu : 1. Pengembangan Kompetensi Inti karet melalui pengolahan penumbuhan IKM compo crepe dan peningkatan mutu Bokar untuk industri crumb rubber 2. Pengembangan dan Penguatan Klaster industri utama keramik 3. Menumbuhkembangkan Kawasan Industri termasuk dukungan pengembangan sektor industri pengolahan dan industri pendukung pertanian di KUAT Kalbar. Dalam lima tahun terakhir kecuali tahun 2007, pertumbuhan perekonomian Kalimantan Barat masih dibawah laju pertumbuhan ekonomi Nasional. Salah satu penyebab lambatnya pertumbuhan perkenomian Kalbar adalah terjadinya perubahan struktur ekonomi Kalbar pada lima tahun terakhir di Kalimantan Barat. Peranan sektor industri

pada PDRB Kalbar mengalami penurunan bahkan berada diposisi ke-tiga setelah sektor perdagangan dan pertanian. Dibandingkan tahun 2009, peranan sektor industri turun 6,18 point dibandingkan tahun 2000 (sebesar 24,15%) menjadi 17,97 %, dibandingkan sektor perdagangan yang naik 3,89 point dalam waktu yang sama dan sektor pertanian yang cenderung stabil peranannya yaitu berkisar 26 – 27 %. Kalimantan Barat saat ini telah mempunyai industri perkapalan dengan teknologi yang cukup tinggi, terutama jenis-jenis Kapal untuk pengerjaan pengeboran minyak yang tidak hanya mampu memenuhi

permintaan pasar dalam negeri, tetapi juga pasar ekspor antara lain

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 28


Belanda dan Singapura (sejak 2005 s/d 2009 telah dihasilkan 15 (lima belas) Kapal dengan 5 (lima) diantaranya memenuhi pesanan Belanda dan Singapura, serta menyusul 2 (dua) unit sedang dalam pekerjaan untuk pesanan Negara Belanda). Dan tampaknya industri Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH saat galangan kapal ini ke depannya akan menerima cindera mata dari PT Stead Fast Marine Pontianak yang bergerak di bidang industri perkapalan pesat perkembangannya seiring dengan kebutuhan angkutan air untuk mendukung pengembangan kebun kelapa sawit dan distribusi produknya. Kalimantan Barat juga telah menjadi salah satu pusat

percontohan pengembangan alat mesin dan pertanian di luar Jawa dengan program Alsintan Centre antara Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, IPB Bogor, dan Pemda Provinsi Kalimantan Barat. Alsintan centre ini Peralatan mesin pertanian yang berada di Alsintan Center diharapkan menjadi institusi pendukung penguatan pengembangan pertanian di Kalimantan Barat. Beberapa

komoditi unggulan Kalimantan Barat

telah disetujui

oleh pemerintah melalui Peraturan Presiden nomor 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional bahwa industri pengolahan yang diunggulkan di provinsi Kalimantan Barat untuk dikembangkan dalam jangka menengah 2010 – 2014 dan jangka Panjang 2010 – 2020 adalah industri

berbasis Karet dan Kelapa Sawit.

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 29


Untuk pengembangan industri di

Terpadu

Kawasan Usaha Agribisnis

pada tahun 2009 diarahkan pada pengembangan industri

Alsintan IKM di KUAT Kakap, Kompetensi inti karet pengolahan compo crepe, penumbuhan sentra industri pangan di di KUAT Singkawang, dan upaya identifikasi dan penghimpunan data pendukung untuk pendirian alsintan centre di Kuat Kakap atau Kuat Singkawang. Tahun 2010 akan terus diupayakan pengembangan Kawasan Industri melalui dukungan operasional Manajer KUAT Singkawang dan kegiatankegiatan lainnya dalam a.l. bantuan peralatan pengolahan, pelatihan dan bimtek. Sebagai wujud pengimplementasian

Perpres Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Kawasan Industri serta Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35 Tentang Pedoman Teknis Kawasan Industri. Saat ini sedang difasilitasi rencana pembangunan kawasan industri di Kalimantan Barat, yaitu Kawasan

Bersama dengan asisten II Setda Prov. Kalbar dan Kepala Biro Hukum Kementerian Perindustrian RI (paling kanan) dalam acara sosialisasi Kawasan Industri

Industri Semparuk (KIS) di Kabupaten Sambas, Kawasan Industri Tayan di Kabupaten sanggau, Kawasan Industri Sungai Ringin di Kabupaten sintang, serta Kawasan Industri Mandor di Kabupaten Landak. namun masih terkendala kesiapan SDM dan infrastruktur daerah, sehingga perlu perhatian khusus untuk melakukan percepatan Kawasan Industri karena hingga saat ini Kalimantan Barat belum memiliki.

Program IKAHH Program Pengembangan Industri Kimia Agro dan Hasil Hutan (IKAHH) sebagai salah satu upaya untuk mencapai target pertumbuhan sektor industri 1-2% per tahun pada tahun 2009-2010 meliputi kegiatan dukungan

Klaster Keramik melalui Penetapan Standar 'Grade Bahan Baku

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 30


Keramik Kalbar dan Partisipasi pada pameran & simposium perkeramikan nasional di Jakarta Tahun un 2009 yang sangat berguna untuk ekspansi pasar produk olahan bahan baku keramik Kalbar. Selain itu telah dilakukan upaya-upaya upaya Penumbuhan

dan pengembangan sentra industri makanan di KUAT Singkawang mengingat Singkawang sebagai salah satu tujuan wisata Kalbar dan dan menjadi salah satu tempat industri makanan berkembang di kalbar.

Program Pengembangan Kompetensi Inti Karet kalbar Strategi trategi pengembangan industri Dinas Perindustrian Perindustrian dan Perdagang Perdagangan Provinsi Kalbar ditujukan untuk meningkatkan perkembangan industri pengolahan karet. sebagai antisipasi turunnya kinerja industri perkayuan daerah serta pengembangan IKM. Pengembangan Industri ini selain dilakukan untuk pengembangan industri pengolahan daerah yang unik dan kompetitif, juga uga dilakukan untuk mengantisipasi gejolak harga karet di Kalbar yang selalu menjadi masalah bagi petani karet selama ini. Selanjutnya Dinas Perindustrian Perind dan Perdagangan Provinsi Kal Kalimantan Baratrr selama 5 tahun terakhir berupaya menginisiasi terbentuknya klaster

industri hilir dan industri in penunjang karet. mengingat sangat besarnya potensi karet. Untuk industri dari karet, beberapa komoditi potensial seperti inti karet menjadi fokus pembinaan di 5 tahun terakhir. Pada tahun 2008 juga telah dapat di fasilitasi penyediaan diaan alat proses pengolahan karet sebanyak 1 unit di Kabupaten Pontianak sebagai upaya untuk menguatkan rantai nilai sekaligus value added di tingkat petani karet (kelompok

BAB V

Hal ini dilakukan

Sekretaris Daerah Prov. Kalimantan Barat, Drs. H. Syakirman menyerahkan Peta Panduan Pengembangan Industri Unggulan Prov. Kalbar kepada Staf Ahli Menteri Perindustrian RI Pada saat acara Rakernis Indag 2010 di Pontianak

PENCAPAIAN SASARAN 31


tani) pada klaster karet terpadu Kalbar. Pada tahun 2010 direncanakan Kabupaten Sintang akan mendapatkan bantuan satu Unit Pengolahan karet dari Kementerian Perindustrian RI.

Pengembangan Industri berbasis Sawit Pengembangan komoditi sawit sebagai Industri Unggulan Kalimantan Barat seperti yang diamanatkan dalam Perpres Nomor 28 Tahun 2008 Tentang Kebijakan Industri Nasional sedang digiatkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Saat ini kegiatan untuk pengembangan tersebut telah sampai pada tahap penyamaan persepsi dan mobilisasi stakeholder, terutama Pemerintah Daerah (Kabupaten/kota, Provinsi, dan Pusat), pengusaha sawit, lembaga Pendidikan dan Penelitian. Direncanakan awal bulan Oktober 2010 akan dilakukan inisiasi komitmen antar daerah untuk mengembangkan Industri Turunan CPO di Kalimantan Barat. Pengembangan industri turunan sawit diharapkan dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah Kalimantan Barat di tingkat Nasional dan Regional.

Program ILMEA Sedangkan Program Pengembangan Industri Logam Mesin elektronika dan Aneka (ILMEA) pada tahun 2009, dengan kegiatan diutamakan pada Pemeliharaan jaringan sistim informasi Indag yang berguna sebagai wahana informasi dan promosi industri kalimantan Barat serta dukungan pengembangan alsintan center (TOT dan

Alsintan Center yang berlokasi di Kabupaten Kubu Raya

workshop) sebagai Salah satu pilot

project nasional dalam pengembangan alsintan di luar pulau jawa.

BAB V

Plt Sekda Prov. Kalimantan Barat Drs. MH Munsin, MH memperhatikan dengan serius keterangan dari teknisi alsintan pada saat acara TOT dan Workshop di Alsintan Center tahun 2010

PENCAPAIAN SASARAN 32


Sasaran 2. Tumbuh dan berkembangan industri kecil dan menengah (IKM). Berdasarkan Sensus Ekonomi 2006, BPS Kalbar, struktur industri Kalbar berdasarkan skala usaha menunjukan populasi Industri Kalbar

didominasi oleh IKM sebesar 39.740 UU (99,5 %) namun hanya mempunyai pendapatan Rp. 1,27 trilyun (18,5 %) dari pendapatan seluruh industri di Kalbar pada tahun 2006) sedangkan industri besar/sedang dengan populasi 204 unit usaha (0,5%) mempunyai pendapatan sebesar Rp. 5,59 trilyun (81,5%). Dengan demikian sebenarnya struktur industri Kalbar masih didominasi peranannya oleh industri sedang/besar terhadap PDRB Kalbar. Namun peranan IKKR tetap menjadi penting karena berdasarkan sensus ekonomi 2006 BPS Kalbar tersebut tercatat menampung 88.660 orang tenaga kerja atau 67 % total tenaga kerja industri. Pada akhir tahun 2009 koperasi “Jasa Menenun Mandiri Sintang� menerima Penghargaan Upakarti 2009 untuk jasa kepeloporan. Lembaga tersebut mampu membina, mengembangkan, sekaligus memasarkan produk tenun adat tersebut hingga ke Eropa sehingga Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, M.H berpose bersama dengan penerima penghargaan Upakarti usai penyerahan menjadi produk kreatif yang penghargaan oleh Presiden RI. Susilo Bambang Yudhoyono.pada bernilai tinggi di dunia internasional. tahun 2009 Contoh sukses lainnya industri kecil yang mampu mengolah hasil sumber daya alam adalah Aneka manisan buah-buahan hutan “Kaisar� CapkalaBengkayang (Nominasi Upakarti 2009 kategori IKM Modern) yang mampu menggunakan buah-buahan hutan yang kurang berharga menjadi

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 33


produk aneka manisan yang bernilai ekonomis tinggi, bahkan berupaya melestarikan tanaman penghasil tersebut untuk diambil buahnya. Di tahun yang sama IKM Mujur Kaliga Pontianak mendapatkan Juara

Pertama Konvensi Gugus Kendali Mutu IKM Tingkat Nasional. Penghargaan tersebut diberikan kepada IKM yang mampu melaksanakan Sistem Manajemen Mutu, baik terhadap organisasi maupun produk yang dihasilkan. Untuk mengembangkan dan memajukan IKM Kalimantan Barat, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat selama kurun waktu 2009 – 2010 telah melakukan beberapa kegiatan diantaranya pengadaan klinik IKM, fasilitasi IKM Kalimantan Barat pada Partisipasi pameran baik lokal maupun nasional, dukungan terhadap Dekranasda Kalimantan Barat, pengembangan OVOP, program pelatihan dan bimbingan teknis. Salah satu kegiatan yang rutin diselenggarakan setiap tahun adalah pelatihan untuk penumbuhan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Christiandy Sanjaya, MM wirausahawan baru yang dikenal beserta Ibu, saat meninjau pameran yang digelar di Halaman Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalbar dengan nama Pelatihan CEFE (Creation Of Enterprises Formation of Enterpreuners) Ovop atau One Village One Product pertama kali digulirkan di Jepang oleh Gubernur Provinsi Oita Mr. Hiramitsu Pada Tahun 1979. Latar belakang yang mendasari ide tersebut adalah; Konsentrasi dan kepadatan populasi di perkotaan dan kesepian populasi dipedesaan, sehingga perdesaan menghilangkan vitalitasnya dan menurunkan kegiatan ekonomi; Untuk menghidupkan kembali vitalitas pedesaan, perlu dibangkitkan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan skala dan ukuran pedesaaan tersebut; Perlu mengurangi rasa ketergantungan masyarakat desa yang tinggi terhadap pemerintah daerah dan perlu menciptakan inisiatif dan semangat revitalisasi dalam masyarakat desa. Di Indonesia OVOP merupakan salah satu langkah untuk menuju klasterisasi industri sektor IKM, gerakan tersebut mulai direalisasikan tahun 2008 oleh Kementerian Perindustrian RI, bersama instansi terkait lainnya. Prinsip OVOP yaitu Mengembangkan produk yang diterima global dengan tetap memberikan nilai keistimewaan pada invensi nilai tambah lokal dan mendorong menciptakan kemandirian masyarakat.

BAB V

Metode pelatihan CEFE (Creation Of Enterprises Formation of Enterpreuners) disebut juga Competency based Economies through Formation of Enterprises) diperkenalkan pertama kali oleh GTZ Jerman, sebuah lembaga yang concern terhadap pembangunan masyarakat kecil di negara-negara berkembang. Metode ini menggarap pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, serta mengembangkan usaha yang telah ada melalui pengembangan enterpreuner yang sistematis dan melalui suatu metodologi untuk memulai dan mengoperasikan sebuah usaha. Keistimewaan CEFE antara lain menghubungkan lembaga keuangan dan lembaga jasa pendukung, mansyaratkan peserta untuk membuat rencana bisnis yang aktual, menyampaikan konsep-konsep enterpreunership perusahaan melalui percobaan dan latihan pengetahuan kegiatan yang disajikan dalam konsep kurva emosional. Selain itu metodologi CEFE menekankan pada pengembangan kepercayaaan dan kecakapan dari orang-orang “publik� yaitu membangun kompetensi

PENCAPAIAN SASARAN 34


Beberapa Kegiatan pameran IKM yang dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat Dari kiri ke kanan : Wakil Gubernur Kalimantan Barat sedang membuka Pameran Industri Kreatif Di Halaman Kantor Dinas, Kepala Dinas memberikan sambutan pada Kegiatan Nusantara Expo di Pontianak, Partisipasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dalam Kegiatan SMESCO di Pontianak.

5.2 PENCAPAIAN SEKTOR PERDAGANGAN Pencapaian di sektor perdagangan terkait dengan misi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat yaitu “Mengembangkan

perdagangan dalam dan luar negeri sehingga dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan sektor perdagangan Kalimantan Barat�. Dalam melaksanakan misi tersebut telah ditetapkan agenda yang dijalankan yaitu : 1. Membina perdagangan dalam negeri sehingga dapat memberi kontribusi nyata dalam pembangunan sektor perdagangan daerah Kalbar melalui pengembangan pasar yang terintegrasi, penciptaan iklim usaha yang kompetitif, pengendalian inflasi, perlindungan konsumen, pengamanan perdagangan dan mendorong penumbuhan dan pengembangan sektor produksi perdagangan dalam negeri guna pemberdayaan pasar dalam negeri, penciptaan tertib usaha dan upaya perlindungan konsumen. 2. Membina perdagangan luar negeri sehingga dapat memberi kontribusi nyata Aktivitas bongkar muat di pelabuhan Pontianak dalam pembangunan sektor perdagangan daerah Kalbar melalui penegmbangan kerjasama sub regional,

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 35


pengembangan pasar yang terintegrasi, penciptaan iklim usaha yang kompetitif, mendorong penumbuhan dan pengembangan sektor produksi perdagangan dalam dan luar negeri guna peningkatan ekspor, penciptaan tertib usaha dan upaya pengendalian impor. Hal-hal yang telah dicapai dalam kurun waktu 2009 – 2010 adalah sebagai berikut :

Sasaran 3 Peningkatan efisiensi distribusi perdagangan dalam negeri 

Laju Inflasi inflasi di Kalimantan Barat berada pada kisaran 4,08–5 %  Pelaksanaan pemasaran produk agro melalui pasar lelang (kali) yang 

telah dilakukan secara optimal sebanyak 3 kali Penyedian Griya Kerajinan Di Pulau Bali Untuk memfasilitasi pemasaran produk IKM Kalimantan Barat, dan sebagai entry point untuk pasar ekspor Daerah yang memperoleh Dana DAK Kementerian Perdagangan untuk pembangunan pasar tradisional sebanyak 7 Kabupaten / Kota yaitu Kab. Bengkayang, Kab. Landak, Kab. Ketapang, Kab. Sambas, Kab. Sintang, Kab. Sekadau, Kab. Melawi pada 2010

Upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka pengembangan perdagangan dalam negeri Kalimantan Barat kurun waktu tahun 2009 - 2010 antara lain: 1. Terwujudnya suatu sistem penyaluran dan pemasaran hasil produksi dalam negeri yang lebih berdaya guna dan berhasil guna sehingga dapat menunjang berbagai sektor antara lain : sektor-sektor produksi untuk ekspor dan memberikan kepastian berusaha serta melindungi produsen/petani produsen. 2. Terjaminnya pemasaran hasil produksi dalam negeri serta perluasan pasar dalam negeri dan luar negeri.

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 36


3. Terciptanya tata kerjasama antara tiga pelaku ekonomi terhadap ekonomi lemah dan koperasi dengan kegairahan berusaha. 4. Meningkatnya pengetahuan perdagangan golongan ekonomi lemah serta memberikan kesempatan pelayanan konsultasi pihak perdagangan yang memerlukannya. 5. Terbinanya secara efektif seluruh pengusaha yang bergerak di bidang perdagangan barang dan jasa, memiliki SIUP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 6. Upaya – upaya memfasilitasi penyediaan sarana pasar yang memadai di kabupaten kota melalui dana pemerintah pusat mengingat keterbatasan anggaran daerah (provinsi dan kabupaten kota) Untuk ketersediaan barang pokok masyarakat pada tahun 2009 - 2010, secara umum lancar dan tidak terjadi kelangkaan barang-barang tersebut. Walaupun demikian pada hari-hari besar keagamaan tetap terjadi fluktuasi harga sebagai akibat tingginya permintaan barang-barang pokok tertentu seperti minyak goreng dan mentega, gula dan telur. Namun demikian dengan bantuan pihak dunia usaha, khususnya untuk gula pasir gejolak harga tersebut dapat diatasi terutama melalui operasi pasar yan dilakukan melalui operasi pasar murah di 14 Kabupaten/kota. Terobosan kegiatan dalam upaya memasarkan produk-produk di Kalbar khususnya produk agro dilakukan oleh Dinas Perindag Prov. Kalbar melalui kegiatan-kegiatan sbb:

Perluasan pemasaran produk agro Kalbar melalui operasionalisasi pasar lelang (Pasar Lelang Forward Komoditi agro ) Sejarah pasar lelang komoditi dimulai di sentra-sentra produksi karet Sumatera Utara pada akhir tahun 1980-an. Kegiatan tersebut kemudian meluas ke berbagai daerah dan dengan komoditi Yang juga beragam. Disebut Pasar Lelang Forward karena penyerahan barang dilakukan pada waktu yang disepakati di masa datang (forward contract). Kegiatan lelang di mana terjadi transaksi saat itu juga (cash and carry) disebut Pasar lelang Spot. Mekanisme pasar lelang forward merupakan cara penyimpanan produk pertanian dengan biaya paling rendah karena komoditasnya disimpan di alam di mana dia tumbuh, berkembang, dipanen dan kemudian diserahkan kepada pembeli. Pelaksanaan Pasar Lelang forward Komoditi di Indonesia di bawah binaan Kementerian Perdagangan RI melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI)

Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani produsen melalui pengembangan pasar yang berkeadilan dan bermartabat, dengan cara memutus rantai pemasaran, pembentukan harga yang wajar, memperluas akses dan informasi pasar, membantu petani

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 37


merencanakan tingkat dan jenis produksi usaha tani yang lebih pasti, dan menambah variasi pasar yang dapat diakses petani.

Sosialisasi Pasar Lelang dan Sistem Resi Gudang Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan pasar lelang dan UU Nomor 9 Tentang Resi Gudang kepada pelaku usaha di Kalimantan Barat dengan sasarannya yaitu membudayanya sistem transaksi model pasar lelang lokal di daerah Kalimantan Barat, serta diterimanya konsep Resi Gudang sebagai salah satu cara memecahkan masalah yang dihadapi petani.

Resi Gudang (Warehouse Receipt) merupakan salah satu instrumen penting, efektif dan negoitable (dapat diperdagangkan) serta swapped (dipertukarkan) dalam sistem pembiayaan suatu negara. Resi Gudang juga dapat dipergunakan sebagai jaminan (collateral) atau diterima sebagai bukti penyerahan barang dalam rangka pemenuhan kontrak derivatif yang jatuh tempo, sebagaimana yang terjadi dalam suatu kontrak berjangka. Dengan demikian Resi Gudang dapat memfasilitasi pemberian kredit bagi dunia usaha atau petani dengan agunan inventori atau barang yang disimpan di gudang. Resi Gudang sebagai alas hak (document of title) atas barang, dapat digunakan sebagai agunan, karena Resi Gudang dijamin dengan komoditas tertentu, yang berada dalam pengawasan pihak ketiga (Pengelola Gudang) yang terakreditasi

Griya Kerajinan Kalimantan Barat Tujuan pengadaan Griya kerajinan yang berlokasi di Pulau Bali adalah sebagai sarana bagi IKM Kalimantan Barat untuk mempromosikan produknya. Pulau Bali merupakan salah satu daerah Tujuan Wisata Dunia yang paling diminati. Ratusan ribu bahkan jutaan Turis Mancanegara mendatangi Pulau tersebut sepanjang tahun. Griya Kerajinan Kalimantan Barat selain berfungsi untuk promosi produk IKM, dapat juga berperan sebagai entry point bagi Dunia Internasional untuk mengenal lebih jauh daeah Kalimantan Barat. Griya Kerajinan Kalimantan Barat saat ini berlokasi di Jl. Melati Kuta Bali. Produk kerajinan yang dipamerkan antara lain, kain tenun, Tikar, Anyaman, Ukiran kayu, Manikmanik dll.

Ibu Frederika Cornelis, S.Pd ketika meninjau Griya Kerajinan Kalimantan Barat di Bali

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 38


Misi dagang lokal serta Peningkatan Kinerja antar Pulau Menyadari masih rendahnya konektivitas ekonomi antar pulau di Indonesia, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memprioritaskan peningkatan perdagangan antar pulau untuk lima tahun ke depan. Hal tersebut dikemukan Presiden saat memberikan sambutan pada Pembukan National Summit, Oktober 2009 di Jakarta. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat sebagai instansi yang diserahi tanggung jawab bidang perdagangan Kalimantan Barat, selama dua tahun terakhir intensif melakukan kerja sama dengan Pemerintah Daerah yang ada di luar Pulau Kalimantan. Tujuannya adalah untuk menjalin hubungan dagang antara pelakupelaku usaha Kalimantan Barat dengan Pelaku usaha daerah lainnya, untuk memperluas pasar domestik terkait produk-produk Kalimantan Barat, serta menjalin kerjasama dalam upaya menekan angka disparitas harga kebutuhan pokok antar daerah. Kerja sama yang telah dilakukan dalam kurun waktu dua tahun terakhir yaitu dengan daerah Yogyakarta, Semarang, Makassar, Batam.

Penyelenggaraan pasar murah Penyelenggaraan Pasar Murah merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Merupakan kegiatan yang dilakukan dalam menjelang Hari Besar Keagamaan. Tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk membantu masyarakat guna mendapatkan barang kebutuhan pokok dengan harga murah, sekaligus untuk mengantisipasi lonjakan harga. Pada tahun-tahun yang lalu kegiatan ini lebih dikenal dengan istilah Operasi Pasar. Pada Tahun 2010, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat menyelenggarakan kegiatan pasar murah di Kota Pontianak, berkenaan dengan Hari Raya Idul Fitri. Barang-barang yang dijual berupa kebutuhan pokok berupa Beras, minyak goreng, telur, dll.

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 39


Dari kiri ke kanan; suasana pasar murah; partisipasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan; Anggota DPRD Komisi B ketika meninjau kegiatan pasar murah

Fasilitasi Pembangunan Pasar tradisional dan perbatasan di kab/kota Revitalisasi pasar tradisional saat ini memang sedang digalakkan hal ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan Perdagangan Dalam Negeri yaitu Peningkatan Penataan Sistem Distribusi Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan jasa, kepastian usaha dan daya saing produk domestik. Revitalisasi pasar tradisional bertujuan untuk peningkatan jaringan distribusi guna menunjang pengembangan sistem logistik nasional melalui kegiatan prioritas Pengembangan Sarana Distribusi Perdagangan dengan merevitalisasi pasar tradisional baik berupa pembangunan pasar baru maupun rehabilitasi

pasar yang ada dengan prinsip BANA (Bersih

Aman Nyaman dan Tertib). Pemerintah

melalui

Dana

Alokasi

Khusus

Kementerian

Perdagangan RI telah merevitalisasi pasar tradisional yang ada di kabupaten / Kota di Kalimantan Barat. Sementara Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat sepanjang tahun 2009-2010 berperan untuk memfasilitasi pemerintah kab/kota serta memonitor proses kegiatan tersebut.

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 40


Adapun bantuan dana yang diperoleh dari pemerintah Pusat yang digelontorkan kepada kabupaten / kota di Kalimantan Barat sepanjang tahun 2009 – 2010 yaitu :

Dana Alokasi Khusus (DAK) pada tahun 2009 sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 6

Kab/ kota Kabupaten Sekadau Kabupaten Kayong Utara Kabupaten Kubu Raya Kabupaten Sanggau Kabupaten Bengkayang Kota Singkawang Jumlah Total

Jumlah anggaran (rupiah) 432.000.000 819.000.000 860.000.000 605.000.000 2.000.000.000 815.000.000 5.531.000.000

Dana Stimulus Fiskal Tahun 2009 Kota Pontianak

:

Rp.

15 milliar

Dana Tugas Pembantuan Tahun 2010 : No 1 2 3 4 5 6 7

Kab/ kota Kabupaten Sambas Kabupaten Ketapang Kabupaten Melawi Kabupaten Bengkayang Kabupaten Landak Kabupaten Sekadau Kabupaten Sintang Jumlah Total

BAB V

Jumlah anggaran (rupiah) 947.400.000 743.500.000 738.700.000 713.700.000 669.900.000 633.700.000 697.200.000 5.144.100.000

PENCAPAIAN SASARAN 41


Pengawasan Peredaran Minuman Beralkohol Dinas Perindustrian dan Perda Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Peredaran minuman beralkohol saat ini Perdagangan Prov. Kalimantan sudah dicabut. Raperda penganti saat ini sedang dalam tahap pengesahan oleh DPRD Prov. Kalimantan Barat. Barat Melakukan Pengawasan Raperda tersebut disesuaikan dengan Keppres Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Peredaran Minuman Beralkohol Minuman Beralkohol. Raperda hanya membahas pengendalian peredaran dan tidak termasuk berdasarkan Perda Nomor 3 Tahun masalah pengawasannya karena menjadi kewenangan pemerintah Kabupaten / kota. Teknis pengendalian akan 2009 Tentang Pengawasan dan diatur lebih lanjut dalam SK Gubernur. Segala hal yang dengan kegiatan pengendalian dibebankan Pengendalian Peredaran Minuman berkaitan kepada APBD dan tidak diperkenankan melakukan kepada dunia usaha atau asosiasi. Beralkohol. Kegiatan ini pungutan Pengendalian yang dimaksud adalah untuk minuman B dengan Kadar Alkohol 5-20 % dan Golongan berdasarkan pertimbangan yang Golongan C dengan kadar Alkohol 20 – 55 %. Sedangkan minuman A dengan kadar alkohol 1 – 5 % merupakan terdapat pada Keppres Nomor 3 Golongan kewenangan Pusat. Tahun 1997 yang menyatakan bahwa minuman beralkohol dapat menimbulkan kerugian terhadap kesehatan, ketertiban, serta ketentraman masyarakat sehingga perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian terhadap produksi, peredaran, dan penjualannya.

Sasaran 4. Peningkatan Perlindungan Konsumen Upaya-upaya yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat dalam kaitannya dengan perlindungan konsumen bertujuan untuk : 1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri 2. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan / atau jasa 3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen. 4. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 42


5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha 6. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.

Pengawasan Barang Beredar Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memberikan perlindungan terhadap konsumen. salah satu cara caranya adalah dengan melakukan pengawasan terhadap barang-barang yang beredar, barang-barang dalam keadaan terbungkus (BDKT), LPG dan pengawasan terhadap tera/tera ulang, contoh untuk tera pompa ukur BBM SPBU. Lingkup pengawasan meliputi barang dan/atau jasa yang beredar di pasar, barang yang dilarang beredar di pasar, barang yang diatur tata niaganya, perdagangan barang-barang dalam pengawasan, serta pola distribusinya. Untuk tahun 2010 telah dilakukan kegiatan pengawasan barang beredar di 11 kabupaten/kota dari 14 kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Barat. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat juga berperan aktif dalam menghadapi isu yang sedang hangat di masyarakat, terkait banyaknya kasus tabung gas elpiji 3 kg yang meledak ketika

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 43


digunakan. Koordinasi terus dilakukan dengan dengan pihak-pihak terkait seperti, PT Pertamina, Dinas yang menangani perdagangan di kab/kota, lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat dll dalam rangka pengawasan peredaran Tabung elpiji 3 kg beserta aksesoris pendukungnya. Sosialisasi penggunaan peralatan elpiji ke masayarakat turut pula di selenggarakan. Dalam kaitannya dengan Hari Besar keagamaan (Idul Fitri), Dinas Perindustrian dan Perdagangan telah melakukan kegiatan pengawasan terhadap pompa ukur BBM di SPBU yang terdapat di Jalur mudik, serta pengawasan Barang dalam keadaan terbungkus (BDKT) di swalayanswalayan di kota Pontianak, Singkawang, dan Pemangkat.

Kegiatan Pengawasan Barang Dalam Keadaan Terbungkus (BDKT)

Perlindungan Konsumen Dalam rangka kegiatan perlindungan konsumen, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat telah melakukan beberapa kegiatan di tahun 2010, diantaranya pertemuan teknis Kemetrologian di Batam yang dihadiri oleh seluruh Pemerintah Provinsi, memfasilitasi pemerintah kabupaten/kota dalam rangka pembentukan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), pembentukan Tim dalam rangka Tertib Ukur di Pasar Tradisional di Kota Pontianak. Kendaraan operasional kemetrologian, bantuan Kementerian Perdagangan RI

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 44


Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat terus menerus melakukan peningkatan pelayanan kemetrologian, dengan pemeliharaan sistem mutu laboratorium metrologi UPT Kemetrologian baik yang ada Pontianak maupun Singkawang. Pelatihan-pelatihan teknis terus dilakukan bagi petugas-petugas tera di lapangan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat turut aktif mempromosikan produk-produk Indonesia dan aktif mengkampanyekan logo “ Aku Cinta Indonesia”, salah satunya dengan menyematkan pin logo ACI tersebut dalam pakaian kerja sehari-hari. Gambar dimunculkan dengan tampilan warna-warni dan huruf INDONESIA yang terpotong-potong. Makna dari Logo ACI tersebut adalah, warna-warni mempresentasikan warna dari laut bumi Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Warna-warni juga merefleksikan keragaman kreatifitas bangsa Indonesia. Sementara huruf yang seolah terpotong menunjukkan bahwa kreatifitas bangsa Indonesia mampu tampil melampaui batas. Hal ini juga menjadi ekspresi tekad bersama dalam kesadaran kolektif membangun identitas Indonesia sebagai bangsa yang kreatif. Logo ACI memiliki dua makna; Versi Dunia Logo ACI bermakna “ kami ingin menyatakan pada dunia bahwa setiap karya rupa cipta Indonesia dibuat dengan seratus persen cinta kami sebagai orang Indonesia , apa yang dibeli, apa yang dikenakan, apa yang dinikmati apa yang dipajang…..adalah refleksi diri dan rasa menghargai budaya, paham pakem tradisi dan tentunya bukti cinta tanpa syarat kepada tanah air. “ Semua ‘Jadi’ atas nama cinta Yang abadi” Versi Lokal “Ekpresi tekad bersama dan dukungan kepada sesama dalam kesadaran kolektif membangun identitas Indonesia sebagai bangsa kreatif. Cinta kami seratus persen pada Indonesia hadir absolut tanpa tanda tanya. Semua tergambar jelas ketika kami memakai, mencecap, menggenggam, mencipta, apalagi yang harus diragukan, di hati kami hanya ada Indonesia. Diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada hari rabu 22 april 2009 di Balai Sidang Jakarta bersamaan dengan pelaksanaan Jakarta International Handicraft Fair XI (INACRAFT 2009)

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 45


Sasaran 5. Peningkatan Ekspor daerah serta terkendalinya impor Hal – hal yang dilaksanakan dan dicapai dalam rangka peningkatan Ekspor dan Pengemdalian Impor Kalimantan Barat pada kurun waktu 2009 – 2010 antara lain : Laju Peningkatan nilai ekspor daerah sebesar 7 % per tahun. Neraca perdagangan yang surplus sebesar 100%. Nilai impor yang menurun 9 % pada tahun 2009. Selama kurun waktu tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan ikut aktif dalam kerjasama luar negeri dengan Malaysia yang disebut dengan

Sosek Malindo pada tingkatan provinsi. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat berperan sebagai ketua Tim Teknis Bidang Ekonomi mewakili Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. adapun maksud dan tujuan diselenggarakannya kegiatan tersebut adalah untuk memantapkan kerja sama yang saling menguntungkan antara Pihak Sarawak Malaysia dan Kalimantan Barat dalam penyelenggaraan pembangunan yang efektif dan efisien. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat tururt berpartisipasi aktif dalam pertemuan UE-EAGA Biz-Tech Partnership yang diselenggarakan di Kota Miri Sarawak Malaysia pada tahun 2009. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk menjalin kerja sama di bidang ekonomi sehingga dapat memperkecil ketimpangan pembangunan ekonomi di antara sesama BIMP-EAGA

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 46


Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat membentuk Forum Peningkatan Kinerja Ekspor yang melibatkan lintas sektoral terkait (interdep), diantaranya Bea-Cuka, BPS, Pelindo, dll. Forum tersebut mengemban fungsi dan tugas antara lain : 1. Melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja ekspor daerah kalimantan barat 2. Menginventarisasi permasalahan / kendala ekspor untuk dicarikan solusi pemecahan masalah ekspor secara terkoordinasi 3. Peningkatan dan pengembangan ekspor komoditi potensial di daerah kalbar Di lapangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat aktif memberikan penyuluhan, bimbingan teknis bagi dunia usaha maupun petani yang menggeluti pengolahan komoditi ekspor, seperti karet, CPO, tengkawang, dll. Tujuan kegiatan tersebut bukan hanya menyoroti masalah pengelolaan produksi, tetapi juga menyoroti standar mutu komoditi ekspor, sehingga dapat dihindari kendala ekspor yang terkait mutu komoditi yang berlaku di pasar internasional. Dalam rangka Peningkatan kinerja ekspor dan pengendalian impor, Dinas perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat juga telah melakukan Kegiatan Klinik Konsultasi Ekspor yang memang diarahkan untuk menjadi ajang pusat informasi dan konsultasi ekspor-impor bagi dunia usaha dan masyarakat yang berminat dalam perdagangan luar negeri. Tidak ketinggalan perdagangan lintas batas tetap dibina agar lebih banyak mendatangkan efek positif daripada ekses negatif yang saat ini sering menjadi sorotan (misal illegal trade dalam kasus gula dan bokar) melalui kegiatan Pembinaan perdagangan lintas batas.

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 47


Kegiatan dalam rangka mempromosikan produk-produk ekspor Kalimantan Barat dilakukan dengan berbagai upaya antara lain dengan keikutsetaan pada event-event pameran, baik yang diselenggarakan di dalam negeri maupun di luar. Pameran yang rutin diikuti di dalam negeri adalah Pameran pada Festival Jakarta Fair. Sedangkan event pameran di luar negeri yang diikuti selama kurun waktu 2009 – 2010 yaitu; Pameran internasioanal LA Beaute Internasional 2009 yang diselenggarakan di Kuching Sarawak Malaysia, yang diikuti oleh empat negara, Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura; Pameran Festival Indonesia yang diselenggarakan di Melbourne Australia, merupakan Ajang promosi perdagangan pariwisata dan investasi indonesia yang terbesar; Keikutsertaan pada

Event China Asean Expo VI di Nanning Gangxi China yang diikuti oleh 10 negara Asean ditambah China. Pada Event China Asean Expo tersebut Kalimantan Barat dipilih untuk mewakili Tampilan Stand Indonesia, menjadi ‘city of charm’ Indonesia. Maksud city of charm adalah konsep atau tema yang digunakan untuk stand Indonesia bernuansa Kalimantan Barat dengan menampilkan Bangunan khas, Budaya (tari dan lagu), produk potensial, serta pariwisata Kalimantan Barat. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat juga turut berperan serta dalam partisipasi Kalimantan Barat dalam ajang World Sanghai Expo di kota Sanghai China.

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 48


5.3 PENCAPAIAN PENINGKATAN MANAJEMEN KANTOR Kegiatan- kegiatan yang dilakukan dalam upaya untuk peningkatan kinerja manajemen Perkantoran Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat, bersumber pada upaya pencapaian misi ke-tiga dari Rencana strategis Dinas. Misi ketiga tersebut berbunyi : “Meningkatkan profesionalisme

aparatur untuk dapat berperan nyata (eksis) dalam pembangunan bidang industri dan perdagangan Kalimantan Barat, serta meningkatkan sarana dan prasarana kerja� Beberapa hal yang telah dilakukan selama kurun waktu 2009-2010 antara lain;

Peningkatan kualitas pelayanan dan peningkatan kualitas SDM dan Laboratorium. Di Bidang kemetrologian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat mendapatkan bantuan dua buah kendaraan operasional kemetrologian. Bantuan tersebut sangat berguna untuk meningkatkan kinerja kemetrologian dalam pelaksanaannya di lapangan dalam kaitannya dengan perlindungan konsumen yang notabene adalah masyarakat. Kegiatan yang selama ini dilakukan di bidang Kemetrologian meliputi peneraan alat UTTP (alat ukur, takar, timbang, dan perlengkapannya), sekaligus menumbuhkan kesadaran di masyarakat mengenai pentingnya peneraan. Selain itu pengawasan terhadap BDKT (barang dalam keadaan terbungkus) juga selalu ditingkatkan. Kemetrologian terus menerus melakukan sosialisasi, penyuluhan, serta bimbingan kepada pelaku usaha serta masyarakat. Dalam menjaga kualitas pelayanannya, laboratorium metrologi selalu di pelihara akreditasinya. Akreditasi yang dimaksud adalah akreditasi Penerapan Sistem Manajemen Mutu untuk Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi, ISO 17025. Peningkatan kualitas Petugas Penera terus dijaga dengan memberikan pelatihan-pelatihan terkait kemetrologian.

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 49


Kerjasama dan koordinasi lintas instansi baik antar pemerintah daerah maupan Kementerian Perdagangan RI dilakukan secara kontinya. Kemetrologian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat ikut aktif dalam pertemuan teknis kemetrologian, seperti pertemuan yang dilakukan di Batam pada tahun 2009. Pertemuan teknis kemetrologian (Pertekmet) merupakan sebuah forum guna menggali aspirasi dan pertukaran informasi diantara para penyelenggara kemetrologian dalam merumuskan arah kebijakan teknis di bidang kemetrologian secara nasional. Sementara itu, laboratorium pengujian dan Kalibrasi UPSMB juga selalu menjaga kualitas pelayanannya. Pelatihan-pelatihan teknis bagai para Analis laboratorium rutin di lakukan baik sifatnya in house training maupun pelatihan ke Direktorat PPMB Kementerian Perdagangan RI. Kegiatan untuk menjaga mutu pengujian menjadi sebuah keharusan, seperti Audit internal, uji banding, revisi berkala terhadap dokumen mutu laboratorium, survilance untuk menjaga akreditasi laboratorium dalam penerapan ISO 17025. Pelayanan terhadap dunia usaha menjadi kegiatan wajib, seperti bimbingan teknis, layanan kalibrasi ke perusahaanperusahaan dalam bentuk safari kalibrasi.

KOORDINASI Rapat kerja teknis setiap tahun diadakan, baik rapat kerja dengan biaya APBD maupun APBN. Rapat kerja tersebut melibatkan Pemerintah Pusat, Pemerintah Kabupaten/kota, swasta, masyarakat, pelaku usaha dsb. Secara umum tujuan kegiatan tersebut adalah untuk konsolidasi, konsultasi, serta sinergi program antar stake holder terkait. Tercatat beberapa rapat kerja yang diselenggerakan oleh Dinas Perindustrian dan perdagangan Prov. Kalimantan Barat antara Lain Rapat Kerja Teknis Industri dan Perdagangan Kalimantan Barat, Rapat Koordinasi PIKM yang diselenggarakan di Pontianak, Rapat Koordinasi Perdagangan Kalimantan Barat juga diselenggarakan di Pontianak. Selain sebagai penyelenggara, Dinas juga aktif mengikuti rapat kerja yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. Beberapa diantaranya adalah Rapat Kerja

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 50


Perdagangan Oleh Kementerian Perdagangan RI di Jakarta, Rapat Kerja Industri Oleh Kementerian Perindustrian RI, Rakornas Pengembangan IKM melalui Pondok Pesantren Oleh Kementerian Perindustrian di Bukit Tinggi, Rapat Koordinasi IKM Wilayah Barat oleh Kementerian Perindustrian di Kota Bandung dll.

SARANA DAN PRASARANA Selama kurun waktu 2009 -2010, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat banyak melakukan pembenahan fasilitas kerja. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja aparatur, dan Instansi secara keseluruhan. Tercatat dalam kurun waktu tersebut, Dinas mengadakan Kendaraan Operasional meliputi 3 Unit Kendaraan bermotor roda dua, serta empat unit kendaraan roda empat yang diperuntukan bagi para kepala UPT. Selain itu Dinas juga melakukan peremajaan peralatan perkantoran dengan mengadakan peralatan Komputer disertai alat pendukungnya serta peralatan meubelair, Perbaikan Ruang Rapat OffRoom, dan Perbaikan Mushola. Dinas juga membangun Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG) serta membangun website untuk mengekspos secara langsung hal-hal terkait industri dan perdagangan. Website Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat dapat diakses melalui internet dengan alamat;

www.disperindag.kalbarprov.go.id.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat pada tahun 2010 seharusnya sedang / telah membangun gedung tambahan, namun terkendala adanya persoalan hukum yang dihadapi salah satu anggota panitia pengadaaan. Proses pembangunan untuk sementara belum dapat dilanjutkan. Dinas juga telah mendirikan Klinik Kemasan, Koperasi Pegawai, serta rehabilitasi Kantin yang menggunakan bahan-bahan sisa, pengaturan area parkir bagi kendaraan Pegawai maupun tamu.

BAB V

PENCAPAIAN SASARAN 51


APARATUR Selama kurun waktu 2009 -2010 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat mengalami dinamika jumlah aparatur. Tercatat kurang lebih sepuluh orang pegawai memasuki masa pensiun. Namun selama kurun waktu tersebut Dinas juga mendapatkan tambahan tenaga baru bejumlah sekitar delapan orang berpendidikan sarjana (S1). Pelepasan dua orang pegawai yang telah memasuki masa pensiun Diharapkan tenaga baru tersebut dapat lebih meningkatkan kinerja Dinas. Peningkatan kapasitas aparatur turut menjadi perhatian, Pelatihanpelatihan bagi aparatur terus dilakukan, seperti Pelatihan Kebendaharaan, Pelatihan Pengurusan Barang, Pelatihan Penyusunan Rencana Program dan Kegiatan, Pelatihan Penyusunan LAKIP, Pelatihan Pengolahan Data APBN, serta Pelatihan-pelatihan teknis bagi aparatur di UPT. Selain itu selama kurun waktu tersebut Dinas mengirimkan dua orang pegawai untuk pelatihan pengawasan penera selama delapan bulan, untuk dibina menjadi pengawas penera yang bersertifikat. Dinas juga mengirimkan tiga orang pegawai untuk mengikuti program beasiswa pendidikan jenjang master (S2). Dua orang bersekolah di Pulau Jawa, sedangkan satu orang menimba ilmu di Inggris. Diharapkan sekembalinya mereka, akan dapat meningkatkan kinerja Dinas. Pembinaan mental kerohanian rutin dliaksanakan setiap bulan yang diikuti oleh seluruh jajaran pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat. hal tersebut bertujuan untuk menambah keimanan serta untuk mempererat hubungan (Silaturrahim) antar pegawai antar tingkatan.

BAB V

Penyampaian materi kerohanian oleh seorang penceramah pada acara pembinaan mental kerohanian

PENCAPAIAN SASARAN 52


KENDALA DAN PERMASALAHAN


6.1 INDUSTRI Walaupun peranan industri sangat strategis bagi Kalimantan Barat, dalam pengembangannya dihadapkan pada beberapa isu dan permasalahan utama sehingga sulit untuk tumbuh dan berkembang secara cepat. Bahkan seperti yang telah diuraikan sebelumnya pada RPJMD Kalbar 2008-2013 diproyeksikan laju pertumbuhan sektor industri rata-rata 1,98 persen per tahun dan pada tahun 2013 diperkirakan kontribusi sektor industri Kalbar tinggal sebesar 13,98 persen dari PDRB Kalbar. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya terobosan untuk mendongkrak laju pertumbuhan sektor industri Kalbar terutama yang berkaitan dengan isu dan permasalahan utama pengembangan sektor strategis ini. Isu dan permasalahn utama adalah : 1. Keterbatasan Energi termasuk listrik, dimana industri identik dengan penyediaan energi. Saat ini Kalimantan Barat tidak/belum mempunyai atau dialokasikan energi murah untuk percepatan pengembangan aktivitas nekonomi utamanya industri. Demikian pula untuk penyediaan listrik yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan utama dan menjadi momok bagi investasi di Kalbar. Wacana pengaliran gas dari natuna ke Kalbar dapat merupakan satu langkah awal solusi penyediaan energi murah bagi industri di Kalbar. Untuk kedepannya cetak biru pengembangan industri nasional terutama pengembangan industri di luar P. Jawa harus disertai cetak biru penyediaan energy & infrastruktur pendukungnya dan upaya-upaya pengamanan kebutuhan (industri) dalam negeri.

BAB VI

KENDALA DAN PERMASALAHAN

54


2. Keterbatasan Infrastruktur Penunjang, seperti halnya listrik & energy murah, Kalbar dihadapkan kepada kurang layaknya penyediaan infrastruktur dasar pengembangan aktivitas ekonomi termasuk industri seperti Pelabuhan, air bersih, jalan/transportasi. Pelabuhan Pelabuhan Dwikora Pontianak Pontianak sudah sulit untuk dikembangkan karena berada di pusat kota dan melalui alur sungai Kapuas yang relatif dangkal. 3. Belum tumbuh & Berkembangnya Kawasan Industri yang dapat memacu percepatan pengembangan sektor industri pengolahan di Kalbar. Sejalan dengan terbitnya PP nomor 24 tahun 2009 tentang Kawasan Industri, Kalimantan Barat masih jauh tertinggal dalam penyediaan kawasan tersebut, hal ini terutama karena terhambat dalam penyediaan infrastruktur, juga diduga karena Kawasan Industri masih merupakan hal yang baru bagi daerah kalbar. Untuk itu fasilitasi dan asistensi penumbuhan kawasan industri dari pemerintah akan sangat membantu percepatan pertumbuhan sektor industri Kalbar. 4. Belum ada insentif (regulasi & Infrastruktur) dari Pemerintah untuk pengembangan Industri (utamanya industri hilir berbasis Komoditi Unggulan Kalbar) terutama komoditi sawit & Karet sesuai dengan Perpres 28/2008 tentang Kebijakan Industri Nasional (KIN) dan SK Gubenur 505/2002 tentang komoditi unggulan. Sampai saat ini masih sulit tumbuh industri berbasis komoditi unggulan provinsi (karet dan sawit) selain industri Crumb Rubber dab Industri CPO.

BAB VI

KENDALA DAN PERMASALAHAN

55


5. Masih kurangnya litbang terapan untuk pengembangan komoditi unggulan/potensial Kalbar. Sebagaimana menjadi dasar pengembangan daya saing nasional adalah kreatifitas dan inovasi, maka sudah saatnya pengembangan komoditi unggulan daerah terutama yang telah menjadi komitmen antara pusat dan daerah dan tertuang dalam Perpres 28 tahun 2008 tentang KIN harus didampingi oleh lembaga litbang yang berkompeten karena akan sulit bagi Siklus inovasi daerah untuk menyediakan lembaga litbang terkait dalam waktu singkat.

6.2 PERDAGANGAN Kinerja perdagangan Kalimantan Barat masih dihadapkan pada sejumlah permasalahah. Baik permasalahan eksternal maupun internal permasalahan.

Ekspor – Impor Krisis finansial dunia di tahun 2009 secara tidak langsung ikut mempengaruhi kinerja ekspor Kalimantan Barat. Tercatat pada tahun 2009 nilai ekspor Kalimantan Barat turun sebesar 42,93 % dari nilai ekspor tahun sebelumnya. Diperkirakan untuk tahun 2010 perekonomian dunia akan membaik, demikian juga dengan Kalimantan Barat. Ekspor Kalimantan Barat masih didominasi oleh produk-produk hulu terutama karet dan kayu. Nilai ekspor Kalimantan Barat juga sangat fluktuatif, tergantung pada negara tujuan ekspor tradisional seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Korea, dan Singapura. BAB VI

KENDALA DAN PERMASALAHAN

56


Kalimantan Barat hingga saat ini masih belum memiliki pelabuhan ekspor. Beberapa komoditi unggulan Kalimantan Barat, akhirnya harus ‘transit’ terlebih dahulu ke daerah lain sebelum diekspor ke luar negeri. Tentunya hal tersebut menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

Perdagangan Lintas Batas Letak wilayah Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, selain memberikan keuntungan juga memberikan dampak negatif yang tidak sedikit. Perdagangan Ilegal Lintas Batas marak terjadi. Banyaknya pintu-pintu masuk atau pintu keluar yang ilegal (jalur tikus) menjadi penyebab maraknya aksi penyelundupan. Peredaran barang-barang produksi negara tetangga yang masuk ke wilayah Kalimantan Barat tanpa prosedur yang benar, menimbulkan banyak kekhawatiran, seperti terancamnya produk-produk nasional serta isu kesehatan.

Daya Saing dan Ekonomi Biaya Tinggi Indonesia secara umum masih memiliki permasalahan Daya saing dan Ekonomi Biaya Tinggi. Berbagai survei yang memperesentasikan daya saing seperti Index Ease of Doing Bussines, Logistic Performance Index Freedom, dan Global Compettiveness Index, masih menempatkan Indonesia pada peringkat yang lebih rendah dibanding negara-negara pesaing utamanya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, India, dan China dalam ekspor dan investasi. Daya saing yang rendah disebabkan oleh ekonomi biaya tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh Aspek institusional, aspek infrastruktur, dan aspek logistik. Pada aspek institusional, Indonesia dihadapkan pada permasalahan seperti adanya indikasi: korupsi dan penyalahgunaan wewenang, belum terjaminnya keamanan berusaha (penegakan hukum belum berjalan baik), dan kurang efektifnya peraturan perundangundangan (belum konsisten antara peraturan yang ditetapkan dengan pelaksanaan di lapangan).

BAB VI

KENDALA DAN PERMASALAHAN

57


Dalam hal infrastruktur, Indonesia tidak terkecuali Kalimantan Barat dihadapkan pada permasalahan klasik seperti sarana jalan raya, sarana listrik, dan sarana telekomunikasi yang masih harus banyak dibenahi. Dalam aspek logistik, masih tingginya biaya logistik merupakan salah satu faktor utama penyebab ekonomi biaya tinggi. Hal itupun masih terkait dengan sistem sarana dan prasarana yang tidak kondusif.

Sistem Logistik Salah satu permasalahan dan tantangan utama terkait dengan perdagangan dalam negeri adalah kualitas sistem logistik nasional dan Daerah yang memberikan dampak yang siginifikan pada terjadinya ekonomi biaya tinggi. Sistem distribusi barang dan belum optimalnya sistem distribusi komoditas strategis bahan pokok kebutuhan masyarakat banyak masih belum memadai, ditandai dengan masih panjangnya rantai distribusi, terjadinya disparitas harga antar wilayah, dan fluktuasi harga di tingkat konsumen dalam kondisi tertentu seperti pada saat hari besar keagamaan. Belum optimalnya sistem distribusi tersebut merupakan dampak dari jaringan distribusi yang belum tertata baik, belum tersedianya data yang akurat tentang harga dan permintaan barang di tingkat konsumen, belum transparannya ketersediaan pasokan di tingkat produsen serta terbatasnya sarana penyimpanan (pergudangan, silo, pendingin) di tingkat produksi. Hal tersebut pada satu sisi mengakibatkan pengambil kebijakan di bidang Perdagangan, Pertanian, dan Industri kesulitan menyesuaikan kebijakan yang perlu diambil. Sementara di sisi lain, petani, peternak, dan produsen tidak dapat menyesuaikan tingkat produksinya sesuai kondisi yang terjadi. Hal ini turut memicu munculnya masalah lain yaitu belum optimalnya sinergi kebijakan perdagangan antar pulau untuk mendukung peningkatan transaksi perdagangan antar pulau dan masih belum optimalnya peran UMKM dalam perdagangan domestik. Tidak meratanya sistem distribusi nasional juga disebabkan oleh aktivitas perdagangan yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga BAB VI

KENDALA DAN PERMASALAHAN

58


perlu daya dorong pengembangan perdagangan ke luar Pulau Jawa. Faktor koordinasi dengan Pemda terutama berkaitan konsep strategis rantai pasokan dengan negara lain, termasuk lintas batas, menjadi tantangan utama.

Perlindungan Konsumen Lingkup kegiatan perlindungan konsumen begitu luas baik skala nasional maupun skala Kalimantan Barat. Besarnya lingkup kegiatan perlindungan konsumen terkait dengan jumlah konsumen yang harus dilindungi dan luasnya jenis kegiatan yang berkaitan dengan perlindungan konsumen serta banyaknya jenis produk yang harus diawasi. Hal ini masih menjadi permasalahan serius karena upaya perlindungan konsumen belum dapat dilakukan secara optimal. Jumlah konsumen yang harus dilindungi di Kalimantan Barat sebanyak jumlah penduduk Kalimantan Barat itu sendiri yaitu sekitar 4,5 juta jiwa. Sementara jenis kegiatan yang berkaitan dengan perlindungan konsumen meliputi aspek metrologi, pengamanan pasar dalam

negeri, standardisasi, pengawasan barang beredar, pengujian mutu, sampai kepada penanganan kasus dan pengaduan konsumen. Semakin terbukanya Indonesia termasuk Kalimantan Barat di dalamnya terhadap globalisasi mengakibatkan semakin beragamnya produk yang ditawarkan kepada konsumen, sehingga pengawasan barangpun semakin kompleks. Sementara itu SDM bidang perlindungan konsumen seperti Petugas Pengawas Barang dan Jasa (PPBJ), Penera, Penyidik Pegawai Negeri Sipil-Perlindungan Konsumen (PPNS-PK) di Kalimantan Barat masih sangat terbatas. Bahkan bisa dikatakan teramat sangat sedikit jika dibandingkan dengan permasalahan yang ada. Sementara itu, di sisi kelembagaan, Kalimantan Barat belum memiliki Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).

BAB VI

KENDALA DAN PERMASALAHAN

59


HARAPAN MASA DEPAN


7.1 INDUSTRI Impian Kalimantan Barat adalah menjadi Daerah Industri Baru di luar pulau Jawa Pada tahun 2020 berbasis pada komoditi unggulan, industri kreatif dan telematika yang semakin berkembang dengan ditunjang IKM yang tangguh. Untuk mencapai impian tersebut perlu disusun Strategi pengembangan industri saat ini dan kedepan. Strategi tersebut berlandaskan pada beberapa skenario terhadap pemecahan masalah utama di Kalbar terutama insentif pemerintah kepada Pemerintah daerah dan dunia usaha untuk pengembangan industri di luar Pulau Jawa (dan Sumatera) dalam penyediaan listrik, energi murah, infrastruktur penunjang, dukungan litbang, percepatan penumbuhan kawasan industri dan dukungan dan penguatan basis pasar lokal (nasional) serta ekspansi pasar luar untuk komoditi-komoditi yang dihasilkan. Untuk itu dalam Jangka 5 (lima) tahun kedepan 2009 – 2014, strategi pengembangan industri daerah adalah :

Mendorong Penumbuhan Kawasan Industri di Kab/Kota, dimana pada tahun 2009 dan 2010 merupakan tahun penting untuk Kabupaten dan Kota serta Provinsi meletakan pondasi percepatan penumbuhan kawasan industri yang dapat dilakukan sejalan dengan penyusunan Revisi Rencana Tata Ruang baik di Kabupaten/Kota, Tata Ruang KAPET Khatulistiwa, Tata Ruang Pontianak Metropolitan Area yang sedang dilakukan saat ini, dimana dokumen tersebut dapat menjadi dokumen promosi investasi Kalbar. Pemerintah daerah juga mendorong beroperasinya kawasan industri yang sudah dirintis misalnya Kawasan Industri Semparuk (KIS) Sambas, Kawasan Industri Tayan, Kawasan Industri Sungai Ringin, Kawasan Industri, dan Kawasan Industri Mandor.

BAB VII

HARAPAN MASA DEPAN

61


Mendorong pengembangan Industri Unggulan Kalbar sesuai dengan Perpres 28 tahun 2008 tentang KIN yaitu Karet dan Kelapa Sawit serta Klaster pengolahan bahan baku keramik. Pemerintah daerah saat ini sedang mendorong berdirinya industri barang jadi karet dari latek dan pemenuhan utilisasi kapasitas produksi pabrik crumb rubber yang ada melalui penguatan teknologi di tingkat petani. Scenario Pengembangan industri kompon karet padat dan cair serta industri turunannya skala menengah dan kecil terutama untuk pasar lokal dan regional menjadi salah satu target utama untuk kondisi keterbatasan infrastruktur dan energi saat ini. Sedangkan untuk penumbuhan industri turunan CPO sangat diperlukan campur tangan pemerintah melalui insentif dan disinsentif untuk mendorong pengembangan industri hilir CPO dalam negeri khsusnya diluar P. Jawa dan Sumatera mengingat karaketristik pelaku bisnis CPO pada umumnya (lihat kondisi Komoditi Unggulan sesuai Perpres 28/2008)

Industri Kecil Menengah Compo Crepe CU Bima - Sintang (pengolah karet kualitas jelek petani untuk memenuhi standar ind. Karet lokal dan nasional)

Mendorong pengembangan Industri pendukung sektor pertanian (dan pertambangan) terutama melalui program ALSINTAN Centre dan Industri Perkapalan. Alsintan centre Kalbar telah menjadi salah satu icon pengembangan alat mesin pertanian di luar Pulau Jawa, dan program ini akan sangat membantu upaya Kalbar dan nasional dalam pengembangan pertanian menuju ketahanan pangan dan penumbuhan usaha agribisnis yang berdaya

BAB VII

HARAPAN MASA DEPAN

62


saing. Sedangkan pengembangan industri perkapalan Kalimantan Barat akan sangat membantu percepatan penumbuhan industri perkapalan tersebut sebagai salah satu produk ekspor industri Kalbar yang berdaya saing cukup tinggi dan untuk mendukung pengembangan agribisnis dan agroindustri kelapa sawit serta bisnis pertambangan daerah (utamanya industri kapal ponton dan kapal penarik sebagai alat transportasi utama penyediaan logistic dan pengangkutan hasil).

Produk Industri Perkapalan PT Steadfast Marine pontianak

Mendorong Pengembangan Industri Kreatif yang berbasis Warisan & Budaya luhur daerah utamanya industri kerajinan (misalnya IKM Tenun adat, anyaman dll) dan IKM

berbasis bahan baku lokal yg mempunyai keunggulan komparatif. (mis. Lidah buaya) Pemilihan ini didasarkan pada penggunaan sumber daya yang tersedia (budaya, hasil alam, dan ketrampilan) yang dikreasikan dengan landasan informasi,teknologi &inovasi, kerja keras, keunggulan membangun network (baik ke belankang rantai supply dan kedepan rantai demand) dengan tidak putus asa menggunakan infrastruktur yang ada dan selalu mensubtitusi kelemahan yang ada dengan kekuatan dan peluang yang tersedia.

BAB VII

HARAPAN MASA DEPAN

63


Mendorong Pengembangan Industri telematika,

berlawanan dengan kondisi keterbatasan infrastruktur dan energi, infrastruktur telekomunikasi utamanya telepon dan internet oleh pihak swasta tumbuh sangat pesat dan bersaing. Akibat tersedianya jaringan internet murah, tumbuh komunitas IT Kalbar yang mampu telah mampu menghasilkan produk-produk a.l. software, web design, komik/animasi dll dan komunitas tersebut mampu meningkatkan kompetensinya secara mandiri, merupakan potensi dalam pengembangan industri di Kalbar. Pengembangan industri ini dapat dilakukan hampir tidak terbatas seiring dengan cepatnya perubahan teknologi informasi serta yang diproduksi adalah ide, kreatifitas dan skill pelaku industri tersebut. Dimana sumberdaya ide, kreatifitas dan skill adalah tak terbatas pada manusia.

7.2 PERDAGANGAN Menyadari masih banyaknya persoalan-persoalan Sektor Perdagangan khususnya di Kalimantan Barat yang belum terselesaikan dalam waktu yang sangat singkat (2009 – 2010), harapan-harapan ke depan tentunya menjadi tugas dan tanggung jawab segenap aparatur Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat untuk mewujudkannya. Beberapa hal yang menjadi harapan dan otomatis menjadi tugas dan tanggung jawab Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat dalam memajukan sektor Perdagangan Kalimantan Barat antara lain: Peningkatan kinerja ekspor agar dapat berperan secara optimal dalam Perekonomian Kalimantan Barat Strategi yang perlu dijalankan antar lain :  Meningkatkan Produk ekspor serta diversifikasi produk ekspor bernilai tambah tinggi, terutama untuk produk-produk yang berbasis pada sumber daya alam serta memanfaatkan teknologi tingkat menengah.  Mendorong ekspor produk kreatif dan jasa, terutama yang dihasilkan oleh Usaha Kecil Menengah (UKM)

BAB VII

HARAPAN MASA DEPAN

64


 Mengupayakan diversifikasi pasar ekspor agar tidak bergantung pada negara tertentu dan mengupayakan melakukan ekspor pada negara tujuan akhir di mana produk akan dikonsumsi.  Mendorong pemanfaatan berbagai skema preferensi perdagangan dan kerjasama Perdagangan Internasional (contoh; kerjasama sosek malindo)  Mendorong pengembangan ekspor wilayah perbatasan yang dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Meningoptimalkan peran strategis PLB/PPLB yang ada di wilayah Kalimantan Barat (Aruk, Jagoibabang, Entikong, Jasa, dan Badau)  Mendorong peningkatan kualitas promosi ekspor, pengembangan pasar, pengembangan SDM bidang Ekspor, peningkatan pengawasan dan pengendalian mutu barang, pengembangan standardisasi bidang perdagangan, peningkatan fasilitasi ekspor dan impor.

Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri Strategi yang perlu dijalankan antara lain :  Meningkatkan integrasi perdagangan antar daerah melalui pengembangan jaringan distribusi perdagangan, untuk mendorong kelancaran arus barang sehingga ketersediaan barang dan kestabilan harga dapat terjaga.  Meningkatkan iklim usaha perdagangan, melalui persaingan usaha yang sehat dan pengamanan perdagangan, untuk mendorong pengembanan usaha kecil menengah, peningkatan usaha ritel tradisional dan modern, termsuk pola kerjasama yang saling menguntungkan.  Mendorong terciptanya pengelolaan resiko harga, transparansi harga, pemanfaatan alteranatif pembiayaan dan efisiensi distribusi melalui peningkatan efektivitas perdagangan berjangka, sisitem resi gudang, dan pasar lelang forward.  Meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dengan memaksimalkan potensi pasar domestik melalui pemanfaatan daya kreasi bangsa  Memperkuat kelembagaan perdagangan Kalimantan Barat yang mendorong terwujudnya persaingan usaha yang sehat, efektivitas

BAB VII

HARAPAN MASA DEPAN

65


perlindungan konsumen serta menciptakan perdagangan berjangka, sistem resi gudang, dan pasar lelang yang efisien. Fokus kegiatan yang bisa dilakukan kedepannya untuk menjalankan strategi di atas antara lain :  Peningkatan kelancaran distribusi bahan pokok  Pengembangan kelembagaan dan pelaku usaha perdagangan  Pemberdayaan dagang kecil dan menengah  Pengembangan ekonomi kreatif  Peningkatan penggunaan produk dalam negeri termasuk kampanye ‘Aku Cinta Indonesia’  Pembinaan dan pengawasan pasar lelang.  Penguatan lembaga perlindungan konsumen daerah  Peningkatan tertib ukur  Peningkatan efektifitas pengawasan barang beredar dan jasa.

7.3 PROFESIONALISME APARATUR Berbicara mengenai industri dan perdagangan berarti berbicara mengenai globalisasi serta modernisasi. Isu-isu seputar industri dan perdagangan yang melanda dunia tentunya juga akan dirasakan sampai ke Kalimantan Barat. Masalah-masalah yang terjadi di dunia akan dirasakan dampaknya hingga ke Kalimantan Barat. Demikian halnya dengan kelembagaan. Konsep pengelolaan kelembagaan, baik pengelolaan laboratorium maupun pengelolaan kantor administrasi merujuk pada standar dunia. Laboratorium Metrologi dan Laboratorium UPSMB harus menerapkan standar internasional dalam pengelolaannya (ISO 17025), agar hasil ujinya dapat diterima secara internasional. Selama penerapan standar tersebut, laboratorium mendapatkan proses pengawasan yang kontinyu. Minimal setahun sekali harus diadakan Audit internal lalu pengawasan yang lebih tinggi adalah survaillance yang dilakukan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) selanjutnya proses reakreditasi (peremajaan akreditasi). Sistem manajemen perkantoran Dinas Perindustrian dan perdagangan Prov. Kalimantan Barat memang belum menggunakan standar internasional. Namun paling tidak Dinas harus mulai menerapkan

BAB VII

HARAPAN MASA DEPAN

66


konsep-konsep manajemen perkantoran modern seperti yang berlaku di dunia. Oleh Pemerintah Pusat dikenal dengan istilah reformasi birokrasi. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat, sedikit demi sedikit harus mulai merubah paradigma mengenai instansi pemerintah. Instansi pemerintah yang tampak tua di tengah-tengah arus perubahan global disebabkan antara lain karena gedungnya kusam, lampunya redup, pegawainya tidak diurus dengan baik, respon terhadap keluhan lambat, kurang tanggap, banyak melakukan kesalahan, usia pegawainya rata-rata sudah tua, tingkat turnover –nya rendah, model pakaian yang ketinggalan jaman, dan yang lebih penting lagi produk dan jasa yang ditawarkan dari waktu ke waktu tetap sama. Aparatur Dinas Perindustrian dan Perdagangan dituntut dua hal yaitu ke luar : harus bisa mengikuti perubahan yang terjadi di dunia, dan ke dalam (lingkungan kantor), harus bisa menjadi agen perubahan itu sendiri. Aparatur dituntut untuk terus meningkatkan kapasitasnya, pengetahuannya, penguasaan terhadap teknologi, serta penguasaan bahasa internasional. Dengan demikian, akan terus dapat berperan di masa depan dan bukan malah justru terlindas perubahan jaman.

PENUTUP Pada akhirnya, ‘muara’ dari semua itu adalah Bagaimana Dinas

Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat ke depannya dapat mengembangkan Industri Agro dan Manufaktur di Kalimantan Barat melalui akselerasi pertumbuhan kawasan industri serta pengembangan klaster industri pengolahan berbasis sumber daya lokal, ditunjang penguatan dan pemberdayaan IKM yang didukung dengan sistem logistik daerah yang kuat dan terintegrasi dengan sistem logistik Nasional dan Global dengan tetap fokus pada Keamanan dan Perlindungan konsumen dalam negeri untuk menjadi daerah dengan produk-produk yang mampu berdaya saing di tingkat lokal, nasional, regional, dan global. BAB VII

HARAPAN MASA DEPAN

67


LAMPIRAN


68

Rekapitulasi Anggaran APBD dan APBN TA. 2009 Disperindag Prov. Kalbar beserta realisasinya

No

Unit Kelembagaan Belanja Tidak Langsung

1

Belanja Langsung Dinas Perindag Prop. Kalbar

2

Unit Pelatihan Industri Kecil dan

3

APBD (Rp. 000) 9,395,497,000

11,613,262,131 7,711,338,500

APBN (Rp. 000)

Realisasi (APBD) (Rp. 000) % 8,635,694,262 91.91%

4,053,137,000

10,969,451,341 7,465,750,016

94.46% 2,981,139,419 96.82%

813,801,631

790,133,697

97.09%

Unit Pelayanan Kemetrologian

1,130,771,000

1,038,815,438

91.87%

4

Unit Pelayanan Kemetrologian

657,451,000

532,097,943

80.93%

5

Unit Pelayanan Pengawasan Jumlah

1,142,654,247 19,605,145,603

87.90% 93.32%

1,299,900,000 21,008,759,131

4,053,137,000

Rekapitulasi Anggaran PAD TA. 2009 Disperindag Prov. Kalbar beserta realisasinya No 1 2 3

Unit Kelembagaan Unit Pelayanan Kemetrologian Pontianak Unit Pelayanan Kemetrologian Singkawang Unit Pelayanan Pengawasan Sertifikasi Mutu Barang Jumlah

Jumlah (Rp. 000) 199,500,000

Realisasi (Rp. 000) 344,424,205

172.64%

########

44,100,000

49,691,100

112.68%

########

522,540,200

73,440,000

14.05%

161.79%

766,140,200

467,555,305

61.03%

%

Rekapitulasi Anggaran APBN TA. 2009 Disperindag Prov. Kalbar beserta realisasinya No

SATUAN KERJA

1 2

Pemberdayaan IKM KALBAR PERDAGANGAN DALAM NEGERI

3 4 5

PERDAGANGAN LUAR NEGERI PASAR LELANG KALBAR KLASTER KERAMIK JUMLAH

Jumlah (Rp. 000) 1,926,137,000 550,000,000

Realisasi (Rp. 000) 1,270,109,200 372,643,719

65.94% 67.75%

817,000,000 260,000,000 500,000,000 4,053,137,000

662,415,500 253,150,000 422,821,000 2,981,139,419

81.08% 97.37% 84.56% 73.55%

%

Realisasi (APBN) (Rp. 000) %

73.55%


ANGGARAN BELANJA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN TA.2010 Dana Dekonsentrasi (APBN) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat TA. 2010

No 1 2 3 4 5 6

Satuan Kerja Pengembangan IKM Struktur Industri Pengembangan Ekspor Promosi Dagang Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri Pengembangan Pasar Lelang Jumlah Total

Anggaran

(dalam Rupiah) 1.275.777.000 500.000.000 600.000.000 260.000.000 615.187.000 334.000.000 3.584.964.000

Anggaran Belanja Langsung (APBD) per Bidang dan Sekretariat TA. 2010

No 1 2 3 4 5

UNIT KERJA Sekretariat Bidang ILMEA Bidang PLN Bidang PDN Bidang IKAHH

ANGGARAN (dalam Rupiah) 2,640,000,000 833,460,000 764,784,000 722,500,000 691,589,500

Jumlah Total

5.652.233.500

Anggaran Belanja Langsung (APBD) per UPT TA. 2010

No 1 2 3 4

UNIT Metrologi PNK Metrologi SNK UP IKM UPSMB Jumlah Total

ANGGARAN (dalam Rupiah) 1,255,739,000 1,014,072,400 1,054,655,000 1,174,300,000 4,498,766,400

69


PENGUKURAN PENCAPAIAN SASARAN TAHUN 2009

70 SASARAN REALISASI

PROSENTASE PENCAPAIAN RENCANA TINGKAT CAPAIAN

KET

7

No.

URAIAN

INDIKATOR

RENCANA TINGKAT PENCAPAIAN (TARGET)

1

2

3

4

5

6

Laju pertumbuhan ekonomi sektor industri pada PDRB Kalimantan Barat 2 Tumbuh dan berkembangan industri Perolehan penghargaan IKM kecil dan menengah kalbar di forum nasional dan internasional (prsh)

1.25%

1.11%

88.80%

1

2

200.00%

3 Meningkatkan efisiensi dstribusi

4.08% 3

4.91% 3

83.10% 100.00%

1 th

1th

100.00%

5

7

140.00%

RERATA

105.77%

14

14

100.00%

14

14

100.00%

Tertuang pada Lakip UP Kemetrologian Pontianak dan Singkawang

100%

161.79%

161.79%

Tertuang pada Lakip UP Kemetrologian Pontianak dan Singkawang

RERATA

120.60%

100%

117%

117.33%

1

1

100.00%

100%

60%

60.00%

RERATA

92.44%

100%

71%

71.43%

100%

93%

92.86%

RERATA

82.14%

1 Tumbuh dan berkembang sektor industri

4 Peningkatan Perlindungan Konsumen dan Pencapaian Target Pendapatan Asli Daerah melalui

Besarnya nilai laju inflasi Jumlah pelaksanaan pemasaran produk agro melalui pasar lelang (kali) Jumlah Pasar yang terhubung untuk pemasaran produk IKM Kalbar di Bali Jumlah daerah yang memperoleh Dana DAK Kementerian Perdagangan untuk pembangunan pasar

Terlaksananya Pengawasan Barang Beredar di Kab/kota Terlaksananya Pengawasan kemetrologian legal di Kota/kab

Pencapaian target Kemetrologian

PAD

5 Peningkatan Ekspor daerah, Terpromosikannya Produk terkendalinya impor dan Pencapaian Ekspor Kalbar di dalam dan target PAD UPSMB Pontianak Luar negeri 3 kali/tahun, Laju Peningkatan nilai ekspor daerah sebesar 7,55 % per tahun, neraca perdagangan yang surplus Tercapainya hubungan kerjasama regional Peningkatan Kapasitas dan Pelayanan unit sertifikasi mutu barang daerah dan pencapaian target PAD

6 Meningkatnya kesejahteraan Indeks kepuasan pegawai pegawai yang mendorong terhadap tingkat kesejahteraan peningkatan kinerja pegawai pegawai Indeks kepuasan pegawai terhadap pelayanan ketatausahaan

penghargaan Upakarti 2009 dan Juara I GKM IKM Tk. Nasional

Tahun 2009 nilai ekspor Kalbar tumbuh minus (- 9 %) dibanding 2008

Tertuang pada Lakip UPSMB Pontianak


SASARAN REALISASI

PROSENTASE PENCAPAIAN RENCANA TINGKAT CAPAIAN

KET

7

No.

URAIAN

INDIKATOR

RENCANA TINGKAT PENCAPAIAN (TARGET)

1

2

3

4

5

6

7 Meningkatkan kualitas aparatur dan Indeks kepuasan pegawai sarana dan prasarana guna terhadap pelayanan mendukung perindustrian dan penerapan disiplin perdagangan Kalimantan Barat

100%

86%

85.71%

Indeks kepuasan pegawai terhdap sangsi pelanggaran disiplin pagawai Indeks kepuasaan pegawai terhadap penghargaan dan prestasi kerja tingkat Pemenuhan kebutuhan barang dan jasa tingkat Berfungsinya barang dan jasa tingkat Pemenuhan kebutuhan sarana dan tingkat Berfungsinya sarana dan prasarana

100%

79%

78.57%

100%

79%

78.57%

100%

71%

71.43%

100%

71%

71.43%

100%

64%

64.29%

100%

57%

57.14%

RERATA

72.45%

100%

79%

78.57%

6

6

100.00%

RERATA

89.29%

80%

80.00%

8 Meningkatnya perencanaan kerja dan pengelolaan keuangan sesuai dengan peraturan perundang undangan yang didukung Peningkatan koordinasi, monitoring dan evaluasi

tingkat Kesesuaian pelaksanaan tugas pokok instansi dengan perencanaan dan ketentuan tersedianya dokumen perencanaan

9 Pelaksanaan pelayanan Administrasi Tingkat Kecukupan selama 100% Perkantoran setahun RATA-RATA PENCAPAIAN KINERJA

103.50%


Rekapitulasi Anggaran APBN dan APBD TA. 2010 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalbar Bulan September/triwulan III No

Program

APBN 1

Jumlah Anggaran Rp

3,584,964,000

keuangan sd September 2,338,189,272

1,275,777,000

934,084,000

Persentase Realisasi keuangan Fisik 65.22%

Keterangan

2

Pemberdayaan IKM KALBAR DIPA NO. 0142/019-05.3/XVI/2010 Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri

73.22%

75%

615,187,000

400,623,122

65.12%

65.00%

3

DIPA NO. 090.02.130042/2010 Pengembangan Pasar Lelang daerah

334,000,000

164,350,000

49.21%

50.0%

4

DIPA NO. 090.07.130042/2010 Peningkatan dan pengembangan ekspor

600,000,000

372,720,000

62.12%

65%

260,000,000

154,991,900

59.61%

60%

500,000,000

311,420,250

62.28%

65%

5,652,333,500

3,074,954,006

54.40%

2,640,000,000

1,124,117,106

43%

DIPA NO. 0195/090-03.3/XVI/2010 5

6

Peningkatan dan pengembangan ekspor (promosi dagang) DIPA NO. 0195/090-06.3/XVI/2010 Penataan struktur Industri (keramik) DIPA NO. 019.02.130007/2010

APBD I

SEKRETARIAT

1

PROGRAM PELAYANAN ADMINISTRASI PERKANTORAN

796,256,000

490,251,306

62%

65%

2

PROGRAM PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA KANTOR

1,044,660,000

141,660,000

14%

15%

3

PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS SUMBER DAYA APARATUR

128,500,000

83,230,000

65%

65%

4

PROGRAM PENINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM PELAPORAN CAPAIAN KINERJA DAN KEUANGAN PROGRAM PENINGKATAN PENGELOLAAN ASET DAERAH PROGRAM PENINGKATAN PENGEMBANGAN PERENCANAAN INDAG PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI DAN PERDAGANGAN BERBASIS KAWASAN DI KALBAR PROGRAM PENGEMBANGAN BERBASIS KOMPETENSI INTI KARET KALBAR

126,000,000

94,965,800

75%

75%

26,500,000

26,500,000

100%

100%

368,520,000

287,510,000

78%

80%

67,930,000

7,865,566

12%

15%

0%

0%

II

BIDANG PLN

764,784,000

408,723,400

53%

55%

1

PROGRAM PENINGKATAN KERJASAMA PERDAGANGAN INTERNASIONAL

185,000,000

40,787,400

22%

30%

2

PROGRAM PENINGKATAN DAN PENGEMBANGAN EKSPOR

579,784,000

367,936,000

63%

65%

III

BIDANG PDN

722,500,000

535,965,500

74%

75%

1

PROGRAM PENINGKATAN EFISIENSI PERDAGANGAN DALAM NEGERI

524,450,000

381,820,500

73%

75%

2

PROGRAM PERLINDUNGAN KONSUMEN

198,050,000

154,145,000

78%

80%

IV

BIDANG IKAHH

691,589,500

295,657,000

43%

45%

1

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KIMIA, AGRO, DAN HASIL HUTAN

691,589,500

295,657,000

43%

45%

V

BIDANG ILMEA

833,460,000

710,491,000

85%

85%

1

PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI LOGAM, MESIN, ELEKTRONIKA DAN ANEKA PROGRAM PENGEMBANGAN INDUSTRI

602,581,000

590,856,000

98%

98%

230,879,000

119,635,000

52%

55%

9,237,297,500 5,413,143,278

59%

60%

5 6 7

8

2

81,634,000

-

KECIL MENENGAH

JUMLAH APBN + APBD


LAPORAN MUTASI BARANG PROVINSI KAB/KOTA UNIT SATKER

: : : :

KALIMANTAN BARAT KOSONG DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROV. KALBAR DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROV. KALBAR

NOMOR Urt

Kode Barang

Kode Lokasi : 11.26.00.12.01.01

SPESIFIKASI BARANG Register

Nama/Jenis barang

Merk Type

No. Sertifikat No. Pabrik No. Chasis/Mesin

Bahan

Asal/cara Perolehan Barang

Tahun Beli/ Perolehan

Ukuran Barang/ Konstruksi (P,S,D)

Kondisi Satuan

11

JUMLAH (AWAL)

(B,RR, RB )

Barang

12

13

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

01.01.11.04.01

0001

Tanah utk Bangunan Ktr Pemerintah

-

HPL No. 65

-

APBN

1978

-

1

bid

B

1

2

01.01.11.04.01

0001

Tanah utk Bangunan Ktr Pemerintah

-

HPL No. 56

-

APBN

1982

-

1

bid

B

3

01.01.11.04.01

0001

Tanah utk Bangunan Ktr Pemerintah

-

HPL No. 427

-

PEMDA

1987

-

1

bid

B

4

01.01.11.04.01

0001

Tanah utk Bangunan Ktr Pemerintah

-

HPL No. 410

-

APBN

1975

-

1

bid

5

01.01.11.04.01

0001

Tanah utk Bangunan Ktr Pemerintah

-

HPL No. 22

-

APBN

1979

-

1

6

01.01.11.04.02

0001

Tanah utk Bangunan Gd. Sekolah

-

HPL No. 391

-

APBN

1986

-

7

01.01.11.03.09

0001

Tanah utk Bangunan Gd. Minyak Sr

-

HPL No. 01

-

APBN

1972

8

01.01.11.04.01

0001

Tanah utk Bangunan Ktr Pemerintah

-

HPL No. 11

-

APBN

1973

9

01.01.11.01.03

0001

Tanah utk Perumahan

-

HPL No. 1494

-

APBN

10

01.01.11.01.03

0001

Tanah utk Perumahan

-

HPL No. 239

-

11

01.01.11.01.03

0001

Tanah utk Perumahan

-

HPL No. 53

12

01.01.11.01.03

0001

Tanah utk Perumahan

-

HPL No. 360

13

01.01.11.01.03

0001

Tanah utk Perumahan

-

14

01.01.11.01.03

0001

Tanah utk Perumahan

15

03.11.01.01.01

0001

16

03.11.01.01.01

17

03.11.01.01.01

18

Harga 14

MUTASI/PERUBAHAN Berkurang Jumlah Jumlah Barang Harga

JUMLAH (AKHIR)

Bertambah Jumlah Jumlah Barang Harga

15

16

17

18

1,420,000

-

-

-

-

1

5,680,000

-

-

-

-

1

19,500,000

B

1

16,000

bid

B

1

916,752

1

bid

B

1

109,280

-

1

bid

B

1

-

1

bid

B

1

1982

-

1

bid

B

APBN

1961

-

1

bid

-

APBN

1978

-

1

-

APBN

1982

-

1

HPL No. 359

-

APBN

1982

-

-

HPL No. 369

-

APBN

1983

Gd. Ktr Dinas Prov. KalBar.

-

HPL No. 65

-

APBN

0001

Gd. Ktr Dinas Prov. KalBar.

-

HPL No. 65

-

0001

Gd. Ktr Dinas Prov. KalBar.

-

HPL No. 56

-

03.11.01.01.01

0001

Gd. Ktr UPT-UKM Ptk

-

HPL No. 427

19

03.11.01.01.01

0001

Gd. Ktr UPT-Metrologi Ptk

-

20

03.11.01.01.01

0001

Gd. Instalasi UP-Kemetrologian

21

03.11.01.01.01

0001

22

03.11.01.01.01

23 24

19

20

21

1

1,420,000

1

5,680,000

-

-

-

1

16,000

-

-

-

1

916,752

-

-

-

-

-

-

-

-

1

109,280

25,000

-

-

-

-

1

25,000

30,000

-

-

-

-

1

30,000

1

3,814

-

-

-

-

1

3,814

B

1

1,800,000,000

-

-

-

-

1

1,800,000,000

bid

B

1

1,566,000

-

-

-

-

1

1,566,000

bid

B

1

325,000

-

-

-

-

1

325,000

1

bid

B

1

666,614

-

-

-

-

1

666,614

-

1

bid

B

1

325,000

-

-

-

-

1

325,000

1978

-

1

bid

B

1

68,000,000

-

-

-

-

1

68,000,000

APBN

2008

-

1

bid

B

1

408,094,150

-

-

-

-

1

408,094,150

APBN

1982

-

1

bid

B

1

80,342,000

-

-

-

-

1

80,342,000

-

APBN

1987

-

1

bid

B

1

1,300,000,000

1

1,300,000,000

-

-

-

-

HPL No. 410

-

APBN

1975

-

1

bid

B

1

321,973,000

1

321,973,000

-

-

-

-

-

HPL No. 22

-

APBN

1979

-

1

bid

B

1

135,755,778

1

135,755,778

-

-

-

-

Gd. Instalasi UP-Kemetrologian

-

HPL No. 22

-

APBN

1979

-

1

bid

B

1

135,755,778

1

135,755,778

-

-

-

-

0001

Gd. Sekolah SMTI

-

HPL No. 391

-

APBN

1986

-

1

bid

B

1

15,030,000

-

-

-

-

1

15,030,000

03.11.01.04.02

0001

Gd. Perbengkelan SMTI

-

HPL No. 391

-

APBN

1986

-

1

bid

B

1

3,510,000

-

-

-

-

1

3,510,000

03.11.01.04.02

0001

Gd. Laboratorium SMTI

-

HPL No. 391

-

APBN

1986

-

1

bid

B

1

2,000,000

-

-

-

-

1

2,000,000

25

03.11.02.03.01

0001

Gd. Perumahan

-

HPL No. 53

-

APBN

1978

-

1

bid

RB

1

7,195,000

-

-

-

-

1

7,195,000

26

03.11.02.03.01

0001

Gd. Perumahan

-

-

-

APBN

1978

-

1

bid

RB

1

3,377,798

-

-

-

-

1

3,377,798

27

03.11.02.03.01

0001

Gd. Perumahan

-

HPL No. 369

-

APBN

1983

-

1

bid

B

1

325,000

-

-

-

-

1

325,000

28

03.11.02.03.01

0001

Gd. Perumahan

-

HPL No. 239

-

APBN

1961

-

1

bid

B

1

60,000,000

-

-

-

-

1

60,000,000

29

03.11.02.03.01

0001

Gd. Perumahan

-

HPL No. 1.494

-

APBN

1982

-

1

bid

B

1

5,533,166

-

-

-

-

1

5,533,166

30

03.11.02.03.01

0001

Gd. Perumahan

-

HPL No. 359

-

APBN

1984

-

1

bid

B

1

4,275,000

-

-

-

-

1

4,275,000

31

03.11.02.03.01

0001

Gd. Perumahan

-

HPL No. 360

-

APBN

1982

-

1

bid

B

1

2,675,000

-

-

-

-

1

4,384,425,130

1,913,917,308

-

Harga

19,500,000

JUMLAH

1

Ket. Barang

JUMLAH

2,675,000 2,470,507,822


NOMOR Urt

Kode Barang

SPESIFIKASI BARANG Register

Nama/Jenis barang

No. Sertifikat No. Pabrik No. Chasis/Mesin

Bahan

Asal/cara Perolehan Barang

Tahun Beli/ Perolehan

Ukuran Barang/ Konstruksi (P,S,D)

Kondisi Satuan

11

JUMLAH (AWAL)

(B,RR, RB )

Barang

Harga

JUMLAH (AKHIR)

Bertambah Jumlah Jumlah Barang Harga

Barang

Harga

1

2

3

5

6

7

8

9

10

12

13

15

16

17

18

19

02.03.01.01.03

0001

Kend. Bermotor Roda Empat

Innova

1TR6539119

besi

APBD

2008

-

1

unit

B

1

199,500,000

-

-

-

-

1

33

02.03.01.01.02

0001

Kend. Bermotor Roda Empat

Mitsubishi

4G18-A10228

besi

HIBAH

2005

-

1

unit

B

1

140,000,000

1

140,000,000

-

-

-

-

34

02.03.01.01.03

0001

Kend. Bermotor Roda Empat

Timor

6S-727720

besi

PROYEK

1997

-

1

unit

B

1

35,000,000

1

35,000,000

-

-

-

-

35

02.03.01.01.03

0001

Kend. Bermotor Roda Empat

Kijang

7 K-0019552

besi

PROYEK

1996

-

1

unit

B

1

30,000,000

1

30,000,000

-

-

-

36

02.03.01.01.03

0001

Kend. Bermotor Roda Empat

Kijang ST

7 K-0151293

besi

PROYEK

1997

-

1

unit

B

1

55,000,000

-

-

-

37

02.03.01.01.03

0001

Kend. Bermotor Roda Empat

Kijang Super

5 K-9112472

besi

PROYEK

1992

-

1

unit

B

1

22,500,000

1

22,500,000

-

-

-

-

38

02.03.01.01.03

0001

Kend. Bermotor Roda Empat

Kijang Super

SK-9274082

besi

PROYEK

1995

-

1

unit

B

1

24,200,000

1

24,200,000

-

-

-

-

39

02.03.01.01.03

0001

Kend. Bermotor Roda Empat

Kijang

-

besi

-

1996

-

1

unit

B

1

30,000,000

-

-

-

-

1

30,000,000

40

02.03.01.01.03

0001

Kend. Bermotor Roda Empat

Daihatsu box

-

besi

APBD

2008

-

1

unit

B

1

177,200,000

-

-

-

-

1

177,200,000

41

02.03.01.05.01

0001

Kend. Bermotor Roda Dua

Supra

KEVFE-1191384

besi

HIBAH

1998

-

1

unit

B

1

6,795,000

1

6,795,000

-

-

-

-

42

02.03.01.05.01

0001

Kend. Bermotor Roda Dua

Yamaha RXS

3 HB-1161170

besi

PROYEK

1995

-

1

unit

B

1

4,800,000

1

4,800,000

-

-

-

-

43

02.03.01.05.01

0001

Kend. Bermotor Roda Dua

Yamaha IIR

-

besi

PROYEK

1995

-

1

unit

B

1

4,500,000

1

4,500,000

-

-

-

-

44

02.03.01.05.01

0001

Kend. Bermotor Roda Dua

Honda Win

HAE-2102996

besi

PROYEK

1993

-

1

unit

B

1

2,038,000

1

2,038,000

-

-

45

02.03.01.05.01

0001

Kend. Bermotor Roda Dua

Y.Yupiter Z

2P2-176279

besi

HIBAH

2008

-

1

unit

B

1

11,961,300

-

-

-

-

1

11,961,300

46

02.06.02.01.15

0001

Podium kayu

-

-

kayu

APBD

1992

-

1

buah

RB

1

300,000

-

-

-

-

1

300,000

47

02.06.01.05.40 0001-0003 Kaligrafi ukiran kayu

-

-

kayu

APBD

1992

-

1

buah

RB

1

150,000

-

-

-

-

1

150,000

48

02.06.01.05.40 0001-0002 Tugu khatulistiwa besar

-

-

kayu

APBD

1992

-

1

buah

RB

1

120,000

-

-

-

-

1

120,000

49

02.06.01.05.40 0001-0002 Rumah adat dayak

-

-

kayu

APBD

1992

-

1

buah

RB

1

150,000

-

-

-

-

1

150,000

50

02.06.01.05.40 0001-0002 Perisai

-

-

kayu

APBD

1992

-

1

buah

RB

1

125,000

-

-

-

-

1

125,000

51

02.06.01.05.40

-

-

kayu

APBD

1992

-

1

buah

RB

1

125,000

-

-

-

-

1

125,000

52

02.06.02.06.28 0001-0003 Lambang Garuda Pancasila

-

-

kayu

APBD

1992

-

1

buah

RB

1

180,000

-

-

-

-

1

180,000

53

02.06.02.06.29 0001-0006 Gbr. Presiden & Wakil

-

-

kayu&kaca

APBD

1992

-

1

buah

B

1

180,000

-

-

-

-

1

180,000

54

02.06.01.05.06 0001-0002 Papan Nama Instansi

-

-

kayu

APBD

1992

-

1

buah

B

1

3,000,000

-

-

-

-

1

3,000,000

55

02.06.02.06.32 0001-0002 Tiang Bendera

-

-

kayu

APBD

1992

-

1

buah

B

1

600,000

-

-

-

-

1

600,000

56

02.06.04.01.04 0001-0002 Meja Kerja P. Eselon II

-

-

kayu

APBD

-

-

2

buah

B

2

134,000

-

-

-

-

2

134,000

57

02.06.04.03.04 0001-0002 Kursi kerja P. Eselon II

-

-

kayu&busa

APBD

-

-

2

buah

B

2

700,000

-

-

-

-

2

700,000

58

02.06.04.01.05

-

-

kayu

APBD

-

-

2

buah

B

2

380,000

-

-

-

-

2

380,000

59

02.06.04.01.05 0001-0005 Meja Kerja P. Eselon III

-

-

kayu

APBD

-

-

6

buah

B

6

1,600,000

-

-

-

-

6

1,600,000

60

02.06.04.03.05 0001-0005 Kursi kerja P. Eselon III

-

-

kayu

APBD

-

-

6

buah

B

6

2,100,000

-

-

-

-

6

2,100,000

0001

Mandau

Kursi tamu

JUMLAH

14

MUTASI/PERUBAHAN Berkurang Jumlah Jumlah Barang Harga

32

0001

4

Merk Type

753,338,300

-

269,833,000

JUMLAH

20

199,500,000

1

55,000,000

-

-

483,505,300


NOMOR Urt 1

SPESIFIKASI BARANG

Kode Barang

Register

Nama/Jenis barang

Merk Type

No. Sertifikat No. Pabrik No. Chasis/Mesin

2

3

4

Bahan

Asal/cara Perolehan Barang

Tahun Beli/ Perolehan

Ukuran Barang/ Konstruksi (P,S,D)

Kondisi Satuan

11

JUMLAH (AWAL)

(B,RR, RB ) Barang

Bertambah Jumlah Jumlah Barang Harga

6

8

9

10

-

-

besi & busa

APBD

-

-

26 buah

RB

26

3,460,000

-

-

-

-

26

3,460,000

62

02.06.04.03.06 0001-0014 Kursi kerja P. Eselon IV

-

-

besi & busa

APBD

-

-

21 buah

RB

21

4,150,000

-

-

-

-

21

4,150,000

63

02.06.04.01.08 0001-0065 Meja kerja Peg.Non Struktural

-

-

besi & busa

APBD

-

-

68 buah

RB

68

6,135,000

-

-

-

-

68

6,135,000

64

02.06.02.01.19 0001-0005 Meja Rapat

-

-

besi & busa

APBD

-

-

9 buah

RB

9

675,000

-

-

-

-

9

675,000

65

02.06.02.01.10 0001-0015 Meja Rapat

-

-

besi & busa

APBD

-

-

6 buah

RB

6

5,500,000

-

-

-

-

6

5,500,000

66

02.06.04.02.04 0001-0002 Meja Rapat P. Eselon II

-

-

besi & busa

APBD

-

-

2 buah

RB

2

200,000

-

-

-

-

2

200,000

67

02.06.04.04.04 0001-0004 Kursi Rapat P. Eselon II

-

-

besi & busa

APBD

-

-

4 buah

RB

4

300,000

-

-

-

-

4

300,000

68

02.06.04.05.04 0001-0004 Kursi hadap P. Eselon II

-

-

besi & busa

APBD

-

-

4 buah

RB

4

400,000

-

-

-

-

4

400,000

69

02.06.04.05.05 0001-0006 Kursi hadap P. Eselon III

-

-

besi & busa

APBD

-

-

6 buah

RB

6

380,000

-

-

-

-

6

380,000

70

02.06.04.03.08 0001-0018 Kursi kerja staf

-

-

besi & busa

APBD

-

-

18 buah

RB

18

488,000

-

-

-

-

18

488,000

71

02.06.02.01.31 0001-0013 Kursi Kayu jok

-

-

besi & busa

APBD

-

-

11 buah

RB

11

390,000

-

-

-

-

11

390,000

72

02.06.02.01.34 0001-0112 Kursi lipat

-

-

besi & busa

APBD

-

-

139 buah

RB

139

3,885,000

-

-

-

-

139

3,885,000

73

02.06.02.01.30 0001-0010 Kursi putar

-

-

besi & busa

APBD

-

-

13 buah

RB

13

2,650,000

-

-

-

-

13

2,650,000

74

02.06.02.01.28 0001-0005 Kursi tamu (sofa)

-

-

kayu & busa

APBD

-

-

RB

7

9,250,000

-

-

-

-

7

9,250,000

75

02.06.01.04.01 0001-0032 Lemari besi/metal

-

-

Besi

APBD

-

-

41 buah

RB

41

8,095,000

-

-

-

-

41

8,095,000

76

02.06.01.04.12 0001-0009 Lemari Kaca

-

-

besi & kaca

APBD

-

-

6 buah

RB

6

3,375,000

-

-

-

-

6

3,375,000

77

02.06.01.04.06 0001-0007 Brankas

-

-

Besi

APBD

-

-

1 buah

RB

1

9,475,000

-

-

-

-

1

9,475,000

78

02.06.01.04.04 0001-0036 Filling besi/metal

-

-

Besi

APBD

-

-

2 buah

RB

2

8,907,000

-

-

-

-

2

8,907,000

79

02.06.01.04.12 0001-0009 Lemari Kayu/kaca

-

-

besi & kaca

APBD

-

-

22 buah

RB

22

3,700,000

-

-

-

-

22

3,700,000

80

02.06.02.01.01

0001

Lemari kayu

-

-

kayu

APBD

-

-

7 buah

RB

7

2,550,000

-

-

-

-

7

2,550,000

81

02.06.04.02.04

0001

Meja panjang

-

-

kayu

APBD

-

-

6 buah

RB

6

825,000

-

-

-

-

6

825,000

82

02.06.00.00.00

0001

Meja Mesin Tik

kayu

APBD

6 buah

RB

6

210,000

-

-

-

-

6

210,000

83

02.06.02.04.06 0001-0015 Kipas angin

-

-

Elektronik

APBD

-

-

2 buah

RB

2

3,350,000

-

-

-

-

2

3,350,000

84

02.06.02.04.02 0001-0016 AC Sentral

-

-

Elektronik

APBD

-

-

1 buah

RB

1

8,250,000

-

-

-

-

1

8,250,000

85

02.06.02.04.02 0001-0003 AC Split

-

-

Elektronik

APBD

2006

-

2 buah

RB

2

22,500,000

-

-

-

-

2

22,500,000

86

02.06.02.04.02 0001-0003 AC Exhaust Fan

-

-

Elektronik

APBD

2006

-

1 buah

RB

1

75,000

-

-

-

-

1

75,000

87

02.06.02.06.50 0001-0001 Tape recorder

-

-

Elektronik

APBD

1996

-

2 buah

RB

2

2,400,000

-

-

-

-

2

2,400,000

88

02.06.02.06.03 0001-0001 Televisi

-

-

Elektronik

APBD

2006

-

2 buah

RB

2

1,050,000

-

-

-

-

2

1,050,000

89

02.06.00.00.00

kayu

APBD

2003

12 buah

RB

12

295,000

-

-

-

-

12

White board

JUMLAH

112,920,000

19

Harga

5

0001

20

KET

Barang

02.06.04.01.06 0001-0019 Meja kerja P. Eselon IV

set

19

Berkurang Jumlah Jumlah Barang Harga

JUMLAH (AKHIR)

61

7

12

Harga

MUTASI/PERUBAHAN

JUMLAH

20

295,000 112,920,000


NOMOR Urt

Kode Barang

SPESIFIKASI BARANG Register

Nama/Jenis barang

Merk Type

No. Sertifikat No. Pabrik No. Chasis/Mesin

4

Bahan

Asal/cara Perolehan Barang

Tahun Beli/ Perolehan

Ukuran Barang/ Konstruksi (P,S,D)

Kondisi Satuan

11

JUMLAH

(B,RR, RB )

Barang

Harga

12

19

20

MUTASI/PERUBAHAN Berkurang Jumlah Jumlah Barang Harga

JUMLAH (AKHIR)

Bertambah Jumlah Jumlah Barang Harga

KET

Barang

Harga

19

20

1

2

3

5

6

8

9

10

90

02.06.02.01.61

0001

Tikar kayu permadani

-

-

kayu

APBD

2003

-

1 buah

B

1

125,000

-

-

-

-

1

125,000

91

02.06.02.04.03

0001

AC Flor Standing

-

-

Elektronik

APBD

2004

-

2 buah

B

2

22,000,000

-

-

-

-

2

22,000,000

92

02.06.01.05.40

0001

Siller Injak

-

-

besi

APBD

2005

-

4 buah

B

4

15,290,000

-

-

-

-

4

15,290,000

93

02.06.02.04.02

0001

AC

-

-

Elektronik

APBD

2006

-

2 buah

B

2

6,957,500

-

-

-

-

2

6,957,500

94

02.06.01.05.40

0001

Mesin Air

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

B

1

325,000

-

-

-

-

1

325,000

95

02.06.02.06.05

0001

Genset

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

B

1

27,240,000

-

-

-

-

1

27,240,000

96

02.06.01.04.04

0001

Filling Kabinet

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

44 buah

B

44

9,240,000

-

-

-

-

44

9,240,000

97

02.06.01.01.02

0001

Mesin tik manual

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

15 buah

B

15

6,250,000

-

-

-

-

15

6,250,000

98

02.06.01.01.12

0001

Mesin Fotocopy

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

B

1

25,000,000

-

-

-

-

1

25,000,000

99

02.06.01.02.11

0001

Mesin Kalkulator

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

B

1

150,000

-

-

-

-

1

150,000

100 02.06.02.03.01

0001

Vacuum Cleaner

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

B

1

1,500,000

-

-

-

-

1

1,500,000

101 02.06.00.00.00

0001

Vacuum Friyer

-

-

Elektronik

APBD

2005

-

1 buah

B

1

43,749,000

-

-

-

-

1

43,749,000

102 02.06.00.00.00

0001

Spinner Dryer

-

-

Elektronik

APBD

2005

-

1 buah

B

1

6,250,000

-

-

-

-

1

6,250,000

103 02.06.00.00.00

0001

Spinner Dryer

-

-

Elektronik

APBN

2005

-

1 buah

B

1

9,625,000

-

-

-

-

1

9,625,000

104 02.06.00.00.00

0001

Monitor komputer

-

-

Elektronik

APBN

-

2

unit

B

2

-

-

-

-

2

105 02.06.00.00.00

0001

Printer komputer

-

-

Elektronik

APBN

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

106 02.06.00.00.00

0001

Keyboard Komputer

-

-

Elektronik

APBN

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

107 02.06.00.00.00

0001

Meja Komputer

-

-

Elektronik

APBN

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

108 02.06.00.00.00

0001

Speaker komputer

-

-

Elektronik

APBD

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

109 02.06.00.00.00

0001

Mouse komputer

-

-

Elektronik

APBD

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

110 02.06.00.00.00

0001

Monitor

-

-

Elektronik

APBD

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

111 02.06.00.00.00

0001

Printer komputer

-

-

Elektronik

APBD

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

112 02.06.00.00.00

0001

Keyboard Komputer

-

-

Elektronik

APBD

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

113 02.06.00.00.00

0001

Speaker komputer

-

-

Elektronik

APBD

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

114 02.06.00.00.00

0001

Mouse komputer

-

-

Elektronik

APBD

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

115 02.06.00.00.00

0001

Meja Komputer

-

-

Elektronik

APBD

-

1

unit

B

1

-

-

-

-

1

116 02.06.00.00.00

0001

Note book (laptop)

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

4

unit

B

4

84,675,000

-

-

-

-

4

84,675,000

117 02.06.00.00.00

0001

UPS baterai

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1

unit

B

1

3,400,000

-

-

-

-

1

3,400,000

118 02.06.00.00.00

0001

Stabiliser

Elektronik

APBD

2003

-

1

unit

1

650,000

-

-

-

-

1

2003

2006

JUMLAH

172,946,000

63,734,000

499,106,500

JUMLAH

172,946,000

63,734,000

650,000 499,106,500


NOMOR

Urt

Kode Barang

1

2

SPESIFIKASI BARANG

Register

Nama/Jenis barang

Merk Type

No. Sertifikat No. Pabrik No. Chasis/Mesin

4

3

Bahan

Asal/cara Perolehan Barang

Tahun Beli/ Perolehan

Ukuran Barang/ Konstruksi (P,S,D)

5

6

7

8

9

10

119 02.06.00.00.00

0001

Modem

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

120 02.06.00.00.00

0001

Scanner

-

-

Elektronik

APBD

2003

121 02.06.00.00.00

0001

CPU komputer

-

-

Elektronik

APBD

2003

122 02.06.00.00.00

0001

CPU komputer

-

-

Elektronik

APBD

123 02.06.00.00.00

0001

Printer komputer

-

-

Elektronik

124 02.06.00.00.00

0001

Peralatan komputer

-

-

Elektronik

125 02.06.00.00.00

0001

Komputer

-

-

126 02.06.00.00.00

0001

Note book (laptop)

-

127 02.06.00.00.00

0001

Komputer

-

128 02.06.00.00.00

0001

Komputer

129 02.06.00.00.00

0001

130 02.06.00.00.00

0001

131 02.06.00.00.00

Kondisi Satuan

11

JUMLAH (AWAL)

(B,RR, RB )

Barang

12

13

Harga

Berkurang Jumlah Jumlah Barang Harga

JUMLAH (AKHIR)

Bertambah Jumlah Jumlah Barang Harga

KET

Barang

15

16

17

18

-

-

-

-

1

1,200,000

-

-

-

-

1

1,200,000

24

28,800,000

-

-

-

-

24

28,800,000

3

3,296,100

-

-

-

-

3

3,296,100

RR

1

700,000

-

-

-

-

1

700,000

RR

1

500,000

-

-

-

-

1

500,000

16 unit

RR

16

118,695,000

-

-

-

-

16

118,695,000

-

1 unit

B

1

13,600,000

-

-

-

-

1

13,600,000

-

2 unit

B

2

17,700,000

-

-

-

-

2

17,700,000

2007

-

1 unit

B

1

8,850,000

-

-

-

-

1

8,850,000

APBD

2007

-

1 unit

B

1

1,500,000

-

-

-

-

1

1,500,000

APBD

2007

-

1 unit

B

1

23,000,000

-

-

-

-

1

23,000,000

Elektronik

APBD

2007

-

3 unit

B

3

4,635,000

-

-

-

-

3

4,635,000

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 unit

RB

1

2,500,000

-

-

-

-

1

2,500,000

-

Elektronik

APBD

2003

-

2 unit

RB

2

38,775,000

-

-

-

-

2

38,775,000

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 unit

RB

1

10,725,000

-

-

-

-

1

10,725,000

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 unit

RB

1

500,000

-

-

-

-

1

500,000

Sound system

-

-

Elektronik

APBD

2006

-

1 unit

B

1

25,084,000

-

-

-

-

1

25,084,000

0001

LCD Proyektor+layar

-

-

Elektronik

APBD

2007

-

1 unit

B

1

16,356,000

-

-

-

-

1

16,356,000

0001

Layar proyektor

-

-

Elektronik

APBD

2007

-

1 unit

B

1

1,300,000

-

-

-

-

1

1,300,000

139 02.06.00.00.00

0001

Camera digital

-

-

Elektronik

APBD

2008

-

1 unit

B

1

5,997,600

-

-

-

-

1

5,997,600

140 02.06.00.00.00

0001

AC

-

-

Elektronik

APBD

2007

-

6 unit

B

6

48,525,000

-

-

-

-

6

48,525,000

141 02.06.00.00.00

0001

Almari kaca/buffet kaca

-

-

Elektronik

APBD

2008

-

3 buah

B

3

6,088,500

-

-

-

-

3

6,088,500

142 02.06.00.00.00

0001

Note book (laptop)

-

-

Elektronik

APBD

2008

-

1 unit

B

1

14,960,000

-

-

-

-

1

14,960,000

143 02.06.00.00.00

0001

Meja & kursi

-

-

besi

APBD

2003

-

14 buah

RB

14

35,163,000

-

-

-

-

14

35,163,000

144 02.06.00.00.00

0001

Rak besi/metal

-

-

besi

APBD

2003

-

1 buah

RB

1

175,000

-

-

-

-

1

175,000

145 02.06.00.00.00

0001

Rak kayu

-

-

kayu

APBD

2007

-

31 buah

RR

31

6,384,999

-

-

-

-

31

6,384,999

146 02.06.00.00.00

0001

Meja kerja 1 biro

-

-

kayu

APBD

2007

-

1 buah

RR

1

5,490,000

-

-

-

-

1

5,490,000

147 02.06.00.00.00

0001

Meja rapat kayu

-

-

kayu

APBD

2007

-

1 buah

RR

1

36,000,000

-

-

-

-

1

36,000,000

148 02.06.00.00.00

0001

Kursi rapat rangka besi

-

-

besi & kayu

APBD

2007

-

20 buah

RR

20

7,290,000

-

-

-

-

20

RR

-

1 unit

RR

-

24 unit

RR

2004

-

3 unit

RR

APBD

2004

-

1 unit

APBD

2004

-

1 unit

Elektronik

APBD

2006

-

-

Elektronik

APBD

2007

-

Elektronik

APBD

2007

-

-

Elektronik

APBD

Printer Canon IP 200

-

-

Elektronik

Server & modul

-

-

Elektronik

0001

UPS/stabiliser TA.2007

-

-

132 02.06.00.00.00

0001

Cabin Over Head Proyektor

-

133 02.06.00.00.00

0001

Proyektor LCD infokus

-

134 02.06.00.00.00

0001

Camera digital

135 02.06.00.00.00

0001

Sound system

136 02.06.00.00.00

0001

137 02.06.00.00.00 138 02.06.00.00.00

JUMLAH

1

489,090,199

JUMLAH

19

Harga

5,300,000

1 unit

14

MUTASI/PERUBAHAN

20

1

5,300,000

7,290,000 489,090,199

21


NOMOR Urt

Kode Barang

1

2

SPESIFIKASI BARANG Register

Nama/Jenis barang

Merk Type

No. Sertifikat No. Pabrik No. Chasis/Mesin

4

5

6

149 02.06.00.00.00

0001

3

Kursi Sofa jati

-

-

150 02.06.00.00.00

0001

Kursi tunggu rangka besi

-

151 02.06.00.00.00

0001

Kursi kerja sandaran tinggi

-

152 02.06.00.00.00

0001

Meja dan kursi

153 02.06.00.00.00

0001

Kursi rapat

154 02.06.00.00.00

0001

155 02.06.00.00.00

Bahan

Asal/cara Tahun Perolehan Beli/ Barang Perolehan

Ukuran Barang/ Konstruksi (P,S,D)

Kondisi Satuan

8

9

10

kayu & busa

APBD

2007

-

1

-

besi& busa

APBD

2007

-

-

busa & besi

APBD

2007

-

-

-

kayu & busa

APBD

2006

-

-

kayu & busa

APBD

2008

Kursi kerja

-

-

kayu & busa

APBD

0001

Kursi makan

-

-

kayu & busa

156 02.06.00.00.00

0001

Pesawat telepon

-

-

157 02.06.00.00.00

0001

Intermedia telepon

-

158 02.06.00.00.00

0001

Facsimile

159 02.06.00.00.00

0001

TOA PA Amplifier

160 02.06.00.00.00

0001

161 02.06.00.00.00 162 02.06.00.00.00

JUMLAH (AWAL)

(B,RR, RB ) Barang

20

Berkurang Jumlah Jumlah Barang Harga

JUMLAH (AKHIR)

Bertambah Jumlah Jumlah Barang Harga

Barang

11

12

15

16

17

18

RR

1

2,600,000

-

-

-

-

1

2,600,000

4 buah

RR

4

9,600,000

-

-

-

-

4

9,600,000

2 buah

B

2

5,048,000

-

-

-

-

2

5,048,000

-

37 buah

RR

37

72,717,150

-

-

-

-

37

72,717,051

-

9 buah

B

9

11,880,000

-

-

-

-

9

11,880,000

2008

-

20 buah

B

20

35,486,000

-

-

-

-

20

35,486,000

APBD

2008

-

120 buah

B

120

50,886,000

-

-

-

-

120

50,886,000

Elektronik

APBD

2003

-

9 buah

RB

9

1,400,000

-

-

-

-

9

1,400,000

-

Elektronik

APBD

2003

-

3 buah

RB

3

888,000

-

-

-

-

3

888,000

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

RB

1

1,700,000

-

-

-

-

1

1,700,000

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

RB

1

170,000

-

-

-

-

1

170,000

TOA Elektrik

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

RB

1

1,500,000

-

-

-

-

1

1,500,000

0001

Microphone stand

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

RB

1

150,000

-

-

-

-

1

150,000

0001

Microphone mixer

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

1 buah

RB

1

150,000

-

-

-

-

1

150,000

163 02.06.00.00.00

0001

Microphone/Wireless mic

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

3 buah

RB

3

600,000

-

-

-

-

3

600,000

164 02.06.00.00.00

0001

Wireless meeting amplifier

-

-

Elektronik

APBD

2007

-

1 buah

B

1

7,990,000

-

-

-

-

1

7,990,000

165 02.06.00.00.00

0001

Alat uji garam

-

-

-

APBD

2005

-

1 buah

RB

1

5,000,000

-

-

-

-

1

5,000,000

166 02.06.00.00.00

0001

Pemadam kebakaran

-

-

besi

APBD

2003

-

3 buah

RB

3

1,050,000

-

-

-

-

3

1,050,000

167 02.06.00.00.00

0001

Dispenser

-

-

Elektronik

APBD

2003

-

7 buah

RB

7

2,100,000

-

-

-

-

7

2,100,000

168 02.06.00.00.00

0001

Mesin Pengolahan Crepe

-

-

-

-

2008

-

1 buah

B

1

953,371,000

-

-

-

-

1

953,371,000

169 02.06.00.00.00

0001

Mesin Pembuat arang briket

-

-

-

-

2008

-

1 buah

B

1

195,660,000

-

-

-

-

1

195,660,000

170 02.06.00.00.00

0001

Mesin Pembuat arang briket

-

-

-

-

2008

-

1 buah

B

1

9,955,000

-

-

-

-

1

9,955,000

171 02.06.00.00.00

0001

Perkakas bengkel

-

-

-

-

2008

-

1 buah

B

1

41,220,000

-

-

-

-

1

41,220,000

1,411,121,150

JUMLAH

19

Harga

set

JUMLAH

19

Harga

MUTASI/PERUBAHAN

20

1,411,121,051


NOMOR Urt

Kode Barang

1

2

SPESIFIKASI BARANG Register

Asal/cara Tahun Ukuran Perolehan Beli/ Barang/ Barang Perolehan Konstruksi (P,S,D)

Kondisi JUMLAH (AWAL) Satuan

No. Sertifikat No. Pabrik No. Chasis/Mesin

4

5

6

8

9

10

15

16

-

-

-

APBD

2009

-

1 paket

B

-

-

-

-

1

13,200,000

1

13,200,000

11

Harga

12

19

20

Berkurang Bertambah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Barang Harga Barang Harga

KET

Merk Type

3

Barang

JUMLAH (AKHIR)

Nama/Jenis barang

Bahan

(B,RR, RB )

MUTASI/PERUBAHAN

17

18

Barang

Harga

19

20

172 02.06.00.00.00

0001

Barang kerajinan lainnya

173 02.06.00.00.00

0001

Air Conditioner (AC)

panasonic/Gree

-

Elektronik

APBD

2009

-

4 unit

B

-

-

-

-

4

20,000,000

4

20,000,000

174 02.06.00.00.00

0001

Notebook (laptop)

Lenovo SL400X

-

Elektronik

APBD

2009

-

2 unit

B

-

-

-

-

2

34,320,000

2

34,320,000

175 02.06.00.00.00

0001

Komputer/PC

LenovoH-210

-

Elektronik

APBD

2009

-

2 unit

B

-

-

-

-

2

27,390,000

2

27,390,000

176 02.06.00.00.00

0001

Printer

HP 3015 dn

-

Elektronik

APBD

2009

-

1 unit

B

-

-

-

-

1

13,750,000

1

13,750,000

177 02.06.00.00.00

0001

Kendaraan roda 2

Y.Jupiter Z

-

mesin

APBD

2009

-

3 unit

B

-

-

-

-

3

45,540,000

3

45,540,000

178 02.06.00.00.00

0001

Sistem Informasi

-

-

-

APBD

2009

-

1 paket

B

-

-

-

-

1

326,800,000

1

326,800,000

179 02.06.00.00.00

0001

Sistem Jaringan Info

-

-

-

APBD

2009

-

1 paket

B

-

-

-

-

1

128,300,000

1

128,300,000

180 02.06.00.00.00

0001

Telepon

-

-

-

APBD

2009

-

1 paket

B

-

-

-

-

1

17,985,000

1

17,985,000

181 02.06.00.00.00

0001

Instalasi Listrik

-

-

-

APBD

2009

-

1 paket

B

-

-

-

-

1

35,242,000

1

35,242,000

182 02.06.00.00.00

0001

Meubelir

Apollo/Fantoni

-

kayu

APBD

2009

-

1 paket

B

-

-

-

-

1

70,900,000

1

70,900,000

183 02.06.00.00.00

0001

Gorden

-

-

-

APBD

2009

-

1 paket

B

-

-

-

-

1

43,585,000

1

43,585,000

184 02.06.00.00.00

0001

LCD Proyektor lengkap

sanyo

-

-

APBD

2009

-

1 unit

B

-

-

-

-

1

33,198,000

1

33,198,000

185 02.06.00.00.00

0001

Konstruksi Perbaikan gedung

-

-

beton

APBD

2009

-

1 paket

B

-

-

-

-

1

242,400,000

1

242,400,000

186 02.06.00.00.00

0001

Camera Digital

-

-

Elektronik

APBD

2009

-

1 unit

B

-

-

-

-

1

4,000,000

JUMLAH

1,056,610,000 JUMLAH TOTAL

4,000,000

1,056,610,000 6,522,860,872


Kantor : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Kalimantan Barat Jl. Sutan Syahrir No. 2 Pontianak 78116 Telp. 0561-732610 Fax. 0561-766128


Buku Memori Jabatan Ka. Disperindag Kalbar Periode 2009-2010